yang terbeli ada di depan mata. Itu namanya rezeki tak
diduga-duga.
Kebiasaan pulang setiap lebaran masih aku jalani
bersama suami dan anak-anak. Mudik kali ini membawa
berkah banget. Seperti biasa aku dan suami silaturahmi ke
rumah teman-temanku dari masa SD. Sahabat sejati dalam
suka maupun duka, beliau bersuamikan sahabatku juga.
Seorang dokter dan berpasangan dengan arsitek itulah dr Rini
Listyaningrum dan Fajar Hidayat sepasang suami istri yang
dua-duanya adalah sahabatku sejak SD hingga sekarang.
Pertemuannya dengan beliau setiap tahun selalu memberikan
kesan buat aku dan suami.
Biasalah kalau ketemu kita curhat, masuklah masalah
rumah yang masih ngontrak, dengan polos aku utarakan
bahwa kami mempunyai uang tiga puluh juta, tetapi ingin
punya rumah terserah jadinya kayak apa. Aku minta dibuatin
sama Fajar, seorang arsitek muda. Ternyata gayung
bersambut, tanpa pikir panjang langsung dieksekusi oleh
beliau. Aku sama suami hanya bisa terbengong menyaksikan
ke Maha Besaran Allah. Ternyata betul banget bahwa
silaturahmi itu akan memanjangkan umur dan mendatangkan
rezeki yang tidak diduga-duga.
Setelah aku kembali ke Depok akhirnya sering telepon
Fajar untuk menanyakan kelanjutan tawarannya. Selang
beberapa lama aku dikirim desain rumah yang aku sendiri
enggak paham. Tampak bagian depan, samping, belakang
dan sebagainya. Dari situ disepakati waktu mengerjakan,
teknis material dan tukang yang akan dikirim.
! Dd Publishing43!
!
Sebulan sebelum mulai mengerjakan, Fajar sudah
mengrim tukang untuk pembuatan batako. Setelah itu proses
pembangunan rumah dimulai. Dalam suasana lebaran haji,
rumahku sudah hampir terselesaikan. Fajar sempat menyam-
paikan rumahnya kira-kira belum dikeramik, belum diplafon.
Aku bilang, enggak masalah, yang penting kami enggak
ngontrak lagi.
Pembangunan rumah yang memakan waktu kurang
lebih tiga bulan membuat aku antara percaya dan tidak.
Semua itu juga dirasakan oleh suami serta kedua orang tuaku
dan saudara-saudara dekat. Bagaimana tidak, rumah dengan
kondisi siap huni, aku dan suami tinggal terima kunci untuk
memasukinya, yang lebih membuat terharu, rumah yang akan
kami tempati adalah rumah yang sudah dikeramik, diplafon,
dicat dan siap huni.
Fajar dan dr Rini, istrinya, berpesan, “Nih, Pril,
rumahnya aku serahkan, kekurangan biaya bisa dicicil
semampumu, jangan sampai dipaksakan apalagi sampai
anak-anak nggak beli susu.”
Jawaban itu membuat aku dan suami bahagia, terharu.
Sungguh semua di luar dugaan kami. Ketulusan dan
keikhlasan membantu menjadi sebuah panutan yang luar
biasa buat kami berdua.
Cita-cita memiliki sebuah istana sendiri menjadi
kenyataan, sesuai yang kita rencanakan. Manusia hanya bisa
berencana, tetapi Allah punya sekenario yang kadang di luar
dugaan, pastinya yang terbaik buat kita.
44 P! erahu Layar
Tanpa berpikir panjang, aku segera merencanakan
pindah ke istana baruku. Walaupun hanya di depan rumah
pindahnya, tetapi itu justru membuat lebih lama proses
pemindahan barang-barangnya. Posisi rumah masih sama,
rumah yang paling ujung dengan tetangga kanan kiri kebun
milik orang. Setiap habis isya, hanya terdengar suara kodok
yang sahut-menyahut dan gemericik air sungai di depan
rumah. Situasi itu yang tidak aku dapatkan di tempat lain.
Suatu keberkahan yang aku rasakan dari sebuah
persahabatan panjang. Persahabatan dari masa-masa sekolah
kelas 1 SD hingga sama-sama mengaruhi bahtera rumah
tangga yang terus masih kita jalin. Mungkin hanya bertemu
setahun sekali, tetapi membawa keberkahan yang luar biasa.
Maka, nikmat mana lagi yang akan kau dustakan?
! Dd Publishing45!
!
Hadirnya Buah Hati Ketiga
M emasuki biduk rumah tangga di tahun ketiga di
rumah kontrakan, sudah banyak sekali nikmat
yang bertambah-tambah yang Allah tunjukkan
sebagai bukti dari sebuah ayat yang menyatakan. Jika sudah
mampu menikah segeralah, maka Allah akan mencukupkan
segalanya. Dari modal nol sampai ngontrak di satu rumah,
punya dua motor itu sesuatu banget buat aku dan suami.
Ternyata benar bahwa masing-masing anak Allah yang
menjamin rezekinya. Anak-anak itu bukan minta makan
sama kita, tetapi Allah sudah jamin rezekinya.
Target berikutnya setelah punya rumah adalah punya
momongan ketiga. Itu planingnya, ikhtiar tetap dilakukan.
Walaupun ada trauma dengan anak
kedua dari proses kelahiran sama
perawatan Mas Zaid sampai usia satu
tahun. Trauma itu tidak boleh berke-
lanjutan, keyakinan banyak anak banyak
rezeki masih hangat di memori, sehingga
trauma itu perlahan ditepis dengan
keyakinan Allah akan memudahkan
keinginan baik kita.
Allah ijabah doa-doaku. Di tahun
ketiga pasca sesar, aku dinyatakan hamil
lagi. Alhadulillah kehamilan ketiga ini
46 P! erahu Layar
aku dibuat lebih tegar menghadapi kenyataan, lebih kuat
dengan kondisi aktivitasku yang semakin padat, di mana
harus memegang dua anak-anak yang masih balita. Hal ini
sangat berdampak terhadap karakter anak berikutnya. Ketika
kita tidak dimanjakan oleh keadaan dan yakin kita kuat,
Insyaallah anak yang kita lahirkan menjadi kuat dan lebih
dewasa. Ingat banget nasihat yang mengatakan kalau ingin
memiliki anak hebat, maka jadilah ibu yang hebat. Itu yang
menjadikan aku semakin termotivasi untuk mencetak
generasi-generasi hebat.
Kondisi kehamilanku untuk anak ketiga menjelang
kelahiran ternyata hasil USG terbaca bahwa posisi kepala
masih di atas. Setelah konsul dengan bidan favoritku dan
konsultasi dengan dokter, tidak ada jalan lain selain harus
menjalani sesar yang kedua. Karena sudah mendapatkan
rambu-rambu untuk sesar, sementara aku hanya seorang guru
honor yang terbang dari satu sekolah ke sekolah lain dan
suamiku hanya karyawan swasta, akhirnya dipilh jalan sesar
di bidan yang memiliki kerja sama dengan rumah sakit.
Dipilihlah bidan yang dekat rumah Ibu mertua, sehingga
sampai proses persalinan kami menggunakan jasa beliau.
Kebetulan beliau bekerja di Rumah Sakit Pelni, bareng
dengan adik iparku. Diputuskan aku menjalani operasi sesar
di Rumah Sakit Sentra Medika, bertepatan tanggal 17
Agustus 2007.
Proses kehamilan selama sembilan bulan dinikmati
banget tanpa ada keluhan. Pagi-pagi orang-orang berangkat
upacara, aku berangkat ke kamar operasi untuk menjalani
sesar kedua. Masuk ruangan operasi sudah tidak sepanik
! Dd Publishing47!
!
sesar pertama, karena sudah menguasai medan. Hanya zikir
yang senantiasa kulantunkan, semoga operasi berjalan lancar.
Tepat pukul 08.30, lahirlah putri kami yang kemudian
langsung diazankan oleh suami. Beda dengan sesar pertama,
pasca sesar kedua aku langsung dibawa ke rumah bidan untuk
penanganan berikutnya.
Setelah penanganan selama tiga hari di tempat praktik
bidan baru, aku diizinkan pulang. Alhamdulillah, kepulangan
anak kami yang ketiga sudah menempati rumah sendiri.
Mungkin ini rezeki anak, pikirku. Acara aqiqah sederhana
sambil tasyakuran menempati rumah baru menjadi
kebahagian tersendiri buat kami berdua.
Masa pemulihan pasca operasi, aku mengalami sedikit
kendala, karena harus bolak-balik konsul ke bidan. Hasil
pemeriksaan setelah sepekan operasi jahitanku mengalami
infeksi, sehingga harus dilakukan perawatan khusus. Di
sinilah uji nyali kesabaran seorang suami dalam menangani
istrinya. Dengan penuh kesabaran, Mas Budi merawat luka,
menyiramkan NaCl setiap satu jam sekali, mengeluarkan
kotoran-kotoran yang masih tertinggal di dalam, di samping
merawat sang bayi juga. Sampai luka benar-benar sembuh,
barulah perawatan bisa aku lakukan sendiri. Setitik jarum
luka belum tertutup, sangat berpengaruh dengan bekas luka
jahitan lainnya, sehingga aku pun harus hati-hati menjaga
supaya bekas luka segera kering kembali.
Sama halnya dengan dua kakaknya, aku termasuk ibu
yang mempunyai produksi ASI yang sedikit, sehingga mau
dipacu apa pun si bayi tetap kurang asupan ASI. Dengan
48 P! erahu Layar
sedikit kecewa, maka anak ketiga pun juga memerlukan susu
formula pendamping ASI.
Anak ketiga perempuan kami sepakat memberikan
nama Shafuro Fauziyyah dengan nama panggilan Roro yang
artinya ratu. Berharap menjadi sosok wanita yang sabar
mempertahankan kebenaran dan menjadi ratu buat anak-
anaknya kelak.
Roro tumbuh menjadi anak yang sangat mandiri sejak
usia dini. Di usianya yang masih tiga tahun, sudah mandiri
dalam life skilnya, sehingga saat aku meninggalkannya untuk
mengajar tidak terlalu kerepotan. Dia tidak rewel ketika aku
harus berangkat kerja, malah melambaikan tangan sambil
memberikan senyuman, seolah-olah mengucapakn selamat
jalan buat Umi. Semua itu membuat aku menjadi tenang
selama di sekolah. Ketika dua kakaknya harus sekolah, Roro
akan segera meluncur ke rumah mbahnya/budenya, untuk
mencari teman bermain selama ditinggal aku, suami dan
kakaknya. Kedewasaanya berangsur bertambah dengan
semakin bertambah usia. Orang bilang dewasa belum
waktunya. Namun menurutku tidak ada masalah, karena
setiap orang pasti bertambah umur, tetapi belum tentu
bertambah dewasa.
Karakter itu yang membuatku semakin yakin bahwa
Roro akan melesat lebih cepat dalam segala bidang, baik life
skill maupun prestasi, asal aku bisa membimbingnya dengan
baik. Dengan keyakinan yang dibarengi ikhtiar, hal itu masih
aku lakukan sampai sekarang bersama suami, mendampingi
buah hati, mendidik dan memberikan tauladan terbaik.
! Dd Publishing49!
!
Masa-Masa Sekolah
Mbak dan Mas
M anusia boleh berencana, tetapi rencana Allah
yang terbaik, begitu juga dengan diriku. Planing
yang sudah kubuat dari progam jangka pendek,
jangka menengah sampai jangka panjang seolah-olah harus
berputar seratus delapan puluh derajat. Secara matematika,
hitungan antara pemasukan dan pengeluaran tidak balance,
alias banyak banget kurangnya. Namun, ketika diyakini
dengan keimanan bahwa Allah akan
mencukupkan kebutuhan kita, maka janji
Allah itu benar.
Seorang guru honor dan karyawan
swasta dengan penghasilan pas-pasan.
Akan tetapi, alhamdulilh pas. Pas mau
beli rumah ada rezekinya, pa mau ganti
motor ada rezekinya, pas mau masukin
anak-anak sekolah ada rezekinya.
Anakku yang pertama sudah mulai
sekolah, menyusul berikutnya Mas Zaid.
Keduanya sengaja kami pilikan masuk
50 P! erahu Layar
sekolah di SDIT Al Qolam, karena aku dan suami merasa
kurang dalam mengawasan di siang hari. Aktivitasku yang
langsung bersinggungan dengan dunia pendidikan dengan
segala problem yang ada, membuat aku trauma melepas
anak-anaku mengeyam pendidikan yang jauh dari penga-
wasanku. Mungkin itu hanya kekhawatiranku yang berle-
bihan saja. Kadang-kadang kalau baru pulang kerja,
mergokin segerombolan anak muda yang berkerumun enggak
jelas, rasa ketakutan dan kekhawatiranku menjadi-jadi.
Riwayatku punya tetangga seorang pemabuk juga menjadi
alasan untuk memasukkan anak-anakku di SDIT terbaik
menurutku.
Menurut rencanaku dan suami, anak-anak akan kami
masukkan ke pesantren, selepas mereka lulus SD dengan
banyak pertimbangan tadi. Uang pangkal dan SPP yang
cukup menguras gajiku dan suami, sementara diabaikan demi
untuk mendapatkan kualitas pendidikan dengan karakter
yang menonjol. Aktivitas suami sebelum ke kantor adalah
mengantar anak-anak ke sekolah dengan tipe anakku yang
beraneka ragam. Yang satu maunya diantar sampai depan
pintu kelas, yang satu lagi cukup di depan gerbang. Yang satu
maunya dimanja yanga satu lagi maunya dilepas, jadi abinya
harus pintar bermain peran.
Walaupun sekolah di tempat yang cukup elite
menurutku, tetapi aku dan suami tetap mengajarkan nilai-
nilai kesederhanaan kepada anak-anak. Jadi jangan heran,
kalau teman-temannya bawa uang jajan lima ribu anakku
cukup dua ribu, kalau makan teman-temannya pada bawa
ayam, anakku cukup 3T; telur, tahu, tempe, kalau teman-
! Dd Publishing51!
!
temannya bawa snack hamburger, anak-anakku cukup bekal
biskuat saja. Alhamdulillah sifat tersebut menancap tajam
dalam pribadi mereka.
Bapak ibu guru yang sangat kooperatif terhadap
perkembangan anak-anak, membuatku salut akan pengor-
banan mereka. Kepiawaiannya mengajarkan karakter sebagai
habbit perlu diacungkan jempol, yang paling terasa adalah
saat nasihat-nasihat bapak ibu guru menancap tajam dalam
hatinya untuk selalu diingat dan dilaksanakan di mana saja
dan kapan saja. Setelah aku pelajari dengan seksama, ternyata
mereka mengajar menggunakan hati nurani, sehingga para
siswanya pun menerima dengan hati yang paling dalam dan
itu yang memberikan dampak yang luar biasa.
Walaupun aku dan suami sepakat menyekolahkan
anak-anak kami di SDIT yang notabene berangkat pagi
pulang sore, tetapi pengawasan dan pendampingan selama di
sekolah maupun rumah tetap menjadi kewajibanku juga
sebagai orang tua. Karena pendidikan seseorang itu tidak bisa
kita serahkan sepenuhkan pada pihak sekolah, melainkan
orang tua juga mempunyai peran yang sangat penting dalam
membantu kesuksesan bapak ibu guru di sekolah,
mengantarkan kesuksesan buat anak-anak kita. Jadi, sekolah
menjadi tanggung jawab pemerintah, guru dan orang tua.
Tidak dipenggal satu-satu, tetapi menjadi satu sistem.
Itu membuatku paham banget, bagaimana kondisi dan
kemampuan anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah.
Dengan tiga anak, tiga karakter, membuat aku dituntut untuk
selalu belajar, belajar dan belajar.
52 P! erahu Layar
Pengetahuan dan pemahaman agama yang sangat
minim baik pada diriku maupun suami menjadi alasan juga
dalam mengambil keputusan untuk memilih sekolah tujuan.
Atas dasar itu juga, kami memutuskan memilih SDIT Al
Qolam sebagai rujukan. Pengalaman kami tidak boleh
terulang pada anak cucu, niatan untuk memasukkan anak ke
pesantren masih menunggu saat mereka lulus.
Perlahan, tetapi pasti, rencana-rencana yang sudah
direncanakan ada yang sesuai target pelaksanaan, ada juga
yang tidak langsung terlaksana. Banyak hal masih disimpan
oleh Allah yang nantinya akan dijadikan sebagai kado
istimewa buat hamba-hambanya yang senantiasa sabar dalam
kondisi apa pun.
! Dd Publishing53!
!
Survei Bareng
M endampingi anak-anak belajar di rumah
kooperatif dengan guru di kelas banyak yang aku
dapatkan. Selain mengetahui perkembangan
anak-anak selama di sekolah yang lebih penting jadi tahu
karakter guru kelas yang memegang anakku. Subhanallah,
walaupun profesinya sama-sama guru, tetapi aku banyak
belajar tentang bagaimana mengajar dengan hati. Materi yang
tidak kudapatkan selama belajar di bangku kuliah. Hasilnya
bisa langsung aku praktikkan di rumah dan di sekolah tempat
aku mengajar.
Dalam perjalanan waktu tak terasa sudah mendampingi
Mbak (panggilan kesayangku buat Alifa, putri pertamaku)
sampai kelas empat dan Mas (panggilan
kesayanganku) Zaid kelas tiga.
Suatu hari, aku dikejutkan dengan
sebuah pertanyaan dari Mas. “Mi, kok
temen-temen pada masuk ke rumah
pesantren, aku mau, boleh nggak?”
Awalnya aku tidak terlalu meng-
gubris permintaan itu, karena dalam
pikiranku targetnya masih lama.
Suatu hari ada sebuah tanyangan
yang aku ikuti tentang perjalan Musa,
seorang anak kecil hafidz Qur’an. Entah
54 P! erahu Layar
kenapa diri ini dibuat menangis, terharu, dan bergumam
dalam hati, Bahagia banget itu ya orang tuanya. Dari situlah
keinginanku menjadikan anak-anak penghafal Qur’an yang
semula hanya biasa-biasa saja seperti mendapatkan energi
positif yang kuat sehingga tekadku semakin membara.
Setiap hari berhadapan dengan dunia pendidikan di
lapangan dengan berbagai kasus yang muncul dari pergaulan
bebas, broken home, salah asuh dan sebagainya. Ini menjadi
bahan diskusi bersama suami dalam menentukan pilihan
terbaik buat putra putri kami. Ditambah kekhawatiranku yang
cukup besar, asal melihat gerombolan anak-anak di jalan
pikiranku sudah negative thinking.
Kondisi-kondisi di atas menjadi bahan pertimbangan
aku dan suami untuk merevisi ulang progam jangka panjang
kami. Awalnya aku dan suami berniat memasukkan anak-
anak ke pesantren setelah lulus SD, akhirnya aku per-
timbangkan lagi. Keinginan mencetak anak-anak menjadi
penghafal dan pengamal Qur’an semakin kuat. Langkah awal
yang aku lakukan bersama suami adalah melakukan survei ke
beberapa pesantren, setelah sebelumnya bertanya ke sana
kemari. Jujur kami tidak ada pengetahuan sama sekali terkait
dunia kepesantrenan.
Akhirnya, bismillah, suatu hari aku berdua bersama
arjunaku datang ke salah satu pesantren hafiz di daerah Pal
Kelapa Dua, Jakarta Timur. Sambutannya luar biasa, sambil
menyaksikan anak-anak yang masih kecil-kecil dengan
keluguan dan kepolosannya ketika aku tanya sudah hafal tiga
juz. Bertemu Ustaz mengemukakan maksud dan tujuan,
! Dd Publishing55!
!
Alhamdulillah disambut baik, malah pulang-pulang dapat
hadiah buku sebagai bahan motivasi kami.
Survei selanjutnya aku dan suami meluncur ke daerah
Bojong Sari, setelah tahu di sana ada pesantren tahfiz. Waktu
itu yang aku rasakan jauh banget dari ujung ke ujung.
Memasuki area masjid tidak ada tanda-tanda sebuah
pesantren, karena dikelilingi rumah-rumah penduduk yang
padat. Akhirnya Abi (panggilan suami) bertanya ke orang
pesantren yang kami maksud. Ternyata memang tidak salah
rute yang aku tempuh.
Sebuah sawung sederhana memanjang di sebelahnya,
ada rumah sederhana dan tidak banyak anak berkeliaran. Dari
kejauhan, setelah pintu masuk, terlihat seorang ibu paruh
baya dengan jilbab panjang dan penampilan yang sangat
sederhana sedang duduk di sawung. Sambil bertanya ke
seorang anak tentang maksud dan tujuan, aku dan suami
diantar menuju suatu tempat untuk bertemu Umi.
Beberapa menit kemudian datanglah Umi yang tidak
lain adalah sosok wanita yang aku lihat dari kejauhan tadi.
Setelah mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan kami,
alhamdulillah banget diterima denga baik dan senang sekali
seandainya anak-anak kami mau bergabung di pesantren
tersebut. Pesantren yang aku survei adalah pesantren Al
Muqorobin tenarnya AMQ. Sangat luar biasa dan aku acungi
jempol di AMQ itu menerima anak yang benar-benar masih
balita. Artinya, anak yang belum bisa baca, belum bisa
mandiri, masih ngompol, masih ingusan, masih nagis-
nangisan, itu diterima dengan sambutan yang luar biasa.
Kondisi tersebut semakin memantapkan aku dan suami untuk
56 P! erahu Layar
mengutarakan maksud dan tujuan tersebut kepada anak-anak
di rumah.
Keinginan aku dan suami sudah mantap, tetapi masih
dihidden dulu di depan anak-anak. Meski demikian,
pengertian bahwa kelak kalian akan masuk ke pesantren
sudah disosialisasikan ke anak-anak sejak TK, sehingga
mereka paham bahwa maunya Umi dan Abi itu anak anak
belajar di pesantren. Mengubah pola pikir yang selama ini
salah. Waktu itu orang masih beranggapan bahwa pesantren
adalah tempatnya anak-anak nakal. Aku dan suami mencoba
menjelaskan bahwa anggapan itu salah, justru pesantren itu
tempatnya orang-orang hebat, karena di pesantren dilatih life
skill, di samping mengaji dan ibadah lainnya. Dari situlah
anak-anak menjadi paham dan mengetahui kemauan umi dan
abinya.
Survei masih terus kita lakukan. Setelah ke AMQ
survei berikutnya ke pesantren yang menjadi rujukan anak
lanang, di daerah Kemang, Bogor. Mencari ke sana kemari,
bertanya dari satu orang ke orang lain, enggak ada yang tahu.
Ternyata setelah telepon ke sumbernya, Masyaallah aku dan
suami berdiri tepat di depan pintu gerbang pesantren. Nama
pesantrennya AL Hikmah. Sambil menunggu Ustaz datang
melihat satu dua anak usia masih belia banget sedang asyik
dengan Qur’an. Tak lama aku dan suami menunggu
datanglah Ustaz Irfan menemui kami.
Pemaparan tentang visi dan misi pesantren Al Hikmah
ke depan semakin menambah keyakinan aku dan suami untuk
menitipkan anak-anak kami di pesantren. Sebelum bertemu
Ustaz, abinya sudah menawarkan ke Mas Zaid, karena
! Dd Publishing57!
!
kebetulan anaknya dibawa supaya bisa melihat suasana
pesantren.
Abinya bertanya, “Kalau dites, diterima, langsung
nginep mau nggak, Mas Zaid?”
“Mau, Bi, entar tinggal Umi antar bajunya ke sini,”
jawab Mas Zaid antusias.
Setelah Ustaz Irfan melakukan evaluasi bacaan Mas
Zaid, ternyata aku dan suami tidak boleh kecewa dengan hasil
yang diterima. Hasilnya Zaid belum bisa gabung di Al
Hikmah. Akhirnya semua dikembalikan ke Allah, kita pulang
untuk mencari solusi terbaik.
Menjadi evaluasi buat aku dan suami untuk tetap
istiqomah dengan tekad kami berdua untuk memutuskan
pesantren mana yang akan dipilih. Niat aku dan suami
diutarakan ke anak-anak untuk menjadi bahan diskusi
bersama mereka.
Hasil musyawarah antara aku, suami dan anak-anak,
sepakat mau masuk pesantren AL Muqorobin dua-duanya.
Keputusan ini merupakan langkah awal, tidak hanya buat aku
pribadi, tetapi buat suami dan juga buat Mbak Lifa dan Mas
Zaid. Keinginan Mbak Lifa masuk Darul Qur’an Mulia
setelah lulus SD dan kemauan Mas Zaid untuk mengikuti tes
kembali di Al Hikmah. AMQ menjadi masa persiapan
mereka berdua sebagai ajang training awal, kawah
condrodimuko kalau orang Jawa bilang. Rasa syukur yang
kami rasakan ketika Mbak Lifa dan Mas Zaid mengambil
suatu keputusan yang sangat kami harapkan.
58 P! erahu Layar
Awalnya aku dan suami sedikit ragu untuk membujuk
anak-anak bersedia masuk pesantren AMQ, melihat sarana
dan prasarana yang sangat terbatas sekali. Ketika melihat
sarana dan prasarana di AMQ ciut hati ini melepas, tetapi
ketika melihat Umi Syahidah, Ustazah yang sangat
menginspirasi aku sosok perempuan yang sangat sederhana
penampilannya, tetapi sangat luar biasa keilmuannya tentang
Al-Qur’an. Seorang hafizah dengan lima sanad yang sudah
didapatkannya menguatkan dan menyakinkan saya dan suami
untuk menitipkan putra putri kami kepada beliau dan bisa
mendapat transfer ilmu dari beliau.
Kami selalu memanjatkan doa sepanjang hari. “Ya
Robb, satukan hati putra putri kami dengan teman-temannya
dengan para ustaz dan ustazahnya, dalam kebaikan dan
ketaatan, jangan cerai-beraikan mereka dalam pertikaian dan
perselisihan. Sehingga mereka merasa nyaman tinggal di
pesantren dengan teman-temannya dan ustad ustazahnya.”
! Dd Publishing59!
!
Mengawali Perjalanan
di Pesantren
M asuk menjadi bagian dalam keluarga besar
pesantren Al Muqorobin menjadi kenyataan.
Pilihan jatuh di sana, karena AMQ bersedia
menerima kondisi anak apa adanya, hal ini yang sangat
memotivasi aku dan suami untuk ambil peran besar sebagai
orang tua dalam mendampingi putra putri kami selama
mengikuti kegiatan di pesantren Muqorobin.
Sebuah keputusan yang membutuhkan kesungguhan
yang luar biasa, baik aku dan suami sebagai orang tua
maupun kesungguhan dari puta putri kami. Memancangkan
tekad untuk tidak mengeluh pastikan
azzamnya semakin meninggi, supaya
cita-cita tidak sekadar mimpi, tetapi bisa
menjadi sesuatu yang terealisasi di masa
yang akan datang. Sebuah ikhtiar pan-
jang yang harus dilalui bersama. Cita-
cita menjadi hafiz dan hafizah yang kelak
bisa memakaikan mahkota buat umi dan
abinya.
Hari pertama melepas dua buah
hati sekaligus untuk dititip di AMQ.
Ternyata ‘TITIP’ itu mempunyai makna
menurut KH. Hasan A Sahal.
60 P! erahu Layar
1. Huruf “T” pertama adalah tega. Aku dan suami harus tega
meninggalkan anak-anak di pondok pesantren. Meyakin-
kan pada diriku dan suami bahwa di pesantren putra-
putriku dididik bukan dibuang, diedukasi bukan dipenjara.
Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan
dan perjuangan.
2. Huruf “I” adalah ikhlas. Aku dan suami juga harus ikhlas
anak-anak menjalani proses pendidikan itu dilatih,
ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dibatasi
waktu tidur dan sebagainya.
3. Huruf “T” kedua adalah tawakal. Setelah menetapkan hati
untuk tega dan ikhlas, aku dan suami hanya menyerahkan
semua pada Allah. Senantiasa berdoa Karena pesantren
bukan tukang sulap, yang dapat mengubah begitu saja
santri-santrinya. Kita hanya berusaha, Allah azza wa
jalla mengabulkan doa.
4. Huruf “I” kedua adalah Ikhtiar.Untuk poin ini yang utama
adalah dana. Tidak semua pondok merupakan lembaga
amal. Banyak pondok yang tidak menggaji ustaznya, masa
harus dibebani dengan membiayai santrinya juga. Imam
Syafi’i sendiri berpesan mengenai syarat menuntut ilmu
adalah dirham (baca: uang/rupiah). Insyallah, semua yang
dibayarkan kita 100% kembali pada anak-anak kita.
5. Huruf “P” adalah percaya. Percayalah bahwa anak-anak
kami akan dibina, betul-betul dibina. Semua yang
didapatkan di pondok adalah bentuk pembinaan. Jadi
kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun,
! Dd Publishing61!
!
percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Jadi, jangan
salah paham, jangan salah sikap, jangan salah persepsi.
Aku dan suami harus siap mental, menata hati supaya
anak-anak juga bisa menuntut ilmu dengan tenang. Mbak
Lifa dan Mas Zaid juga harus belajar menikmati proses
selama menuntut ilmu di AMQ. Menjaga adab dengan para
Ustaz dan Ustazah, supaya ilmu yang didapatkan akan
memberikan keberkahan sepanjang masa.
Masa-masa awal mungkin merupakan masa-masa yang
mengagetkan buat mereka berdua sampai-sampai mereka
berniat kabur dari pesantren. Alhamdulillah bisikan malaikat
lebih kuat sehingga memutuskan bertahan untuk meyenang-
kan hati umi dan abinya. Mengubah habbit yang biasa enak
di rumah harus bersusah payah di pesantren, yang bisa
nyaman di rumah harus berpayah payah di pesantren, yang
biasa instan di rumah harus berproses selama di pesantren,
dan ini butuh waktu bagi Mbak dan Mas untuk bisa belajar
dan berlatih secara step by step.
Aku dan suami juga harus mempersiapkan banyak hal.
Meluruskan presepsi-presepsi yang salah. Anggapan orang,
kita memasukkan anak-anak ke pesantren enak, karena
setelah masuk dilepas di rumah, tinggal berdua, selanjutnya
nambah adik lagi. Sudah gede dikit masukin pesantren lagi,
enggak usah ngurus. Presepsi yang salah, tetapi ya silakan
saja, namanya juga sawang sinawang kalau orang Jawa
bilang. Masing-masing orang tua di keluarga pastinya punya
visi misi sendiri. Kebetulan visi misi aku dan suami adalah
bersama di dunia sampai di akhirat. Silakan menuntut ilmu
apa saja boleh, yang jelas, kuasai dulu Al-Qur’an. Alasannya
62 P! erahu Layar
mungkin aku dan suami sama-sama tidak mendalami ilmu
agama dan bukan berasal dari keturunan yang pandai dalam
hal agama, apalagi masalah kepesantrenan sehingga aku dan
suami pengen banget anak-anak bisa menguasai Al-Qur’an.
Selama proses perjalanan waktu, Allah berikan cobaan
demi cobaan. Tiga bulan awal Allah uji dengan penyakit
gatal-gatal, tetapi aku dan suami barus bisa menyakinkan ke
anak-anak bahwa itu bisa diobati dan akan hilang dengan
sendirinya, walaupun tega enggak tega juga. Akhirnya proses
itu pun bisa dilewati. Berjalannya waktu, muncullah konflik,
baik antar teman atau home sick. Maka aku dan suami pun
mulai memotivasi anak-anak dan kembali ke tujuan awal.
Perjalanan waktu setahun dilewati dengan suka dan duka oleh
Mbak dan Mas.
Sejak saat itu, panggilan kesayangan untuk anak-anak
aku tambah. Biasanya hanya menyebut Mbak atau Mas, sejak
masuk pesantren aku menyebut dengan panggilan kesa-
yangan Mbak Lifa al hafizah Umi dan Mas Zaid al hafiz Umi.
Aku yakin dengan sebutan itu maka akan menjadi doa buat
mereka.
Tahun berikutnya anak ketiga kami, Teteh Roro,
menyusul menjadi santri AMQ. Teteh Roro mempunyai
kemauan masuk ke pesantren sejak masih duduk di bangku
TK, mungkin karena tidak ada teman di rumah sehingga
selalu merengek minta masuk pesantren. Akhirnya kita ikuti
kemauannya. Begitu lulus TK, Teteh Roro langsung menjadi
santri AMQ. Karena masuknya atas dasar kemauan sendiri
jadi melepasnya lebih tenang karena sudah siap dengan
segala konsekuensinya. Masa satu tahun tiga anak-anak kami
! Dd Publishing63!
!
siap dididik di AMQ dengan segala peraturannya. Hanya
senandung doa yang selalu aku lantunkan, “Ya Robb-ku
titipkan putra putri kami ketika jauh dari kami untuk selalu
Kau bimbing ke jalan yang Engkau ridai.”
64 P! erahu Layar
Hadirnya Kakak Hebat
P erjalanan mengarungi bahtera rumah tangga dengan
rencana yang sudah aku susun bersama sang arjuna
terlaksana satu per satu, sesuai target kita. Dari target
punya rumah yang sebelumnya menjadi kontraktor, punya
motor sendiri-sendiri, pendidikan anak sampai target jumlah
anak yang kita inginkan dengan rentang waktu yang sudah
direncanakan bersama. Sebagian target pun ada yang
mengalami percepatan atau perlambatan. Target pendidikan
anak-anak mengalami percepatan, karena targetnya masuk
pesantren setelah lulus SD, tetapi Alhamdulillah baru kelas
empat dan lima sudah mau dipindahkan.
Target berikutnyat yang sedang
diupayakan adalah mendapatkan momongan
sebelum Teteh Roro masuk ke pesantren,
sehingga suasana rumah tidak terlalu sepi.
Keyakinan kami mungkin masih primitive
menurut orang-orang, tetapi aku dan suami
yakini betul, banyak anak banyak rezeki.
Sehingga keinginan menambah momongan
masih semangat banget. Mungkin juga
karena aku hanya dua bersaudara, jadi
keluarga korban KB, sekarang jadi pengen
punya KB juga ‘Keluarga Besar’.
! Dd Publishing65!
!
Saat Teteh Roro masih TK, Allah ijabah doaku dengan
kehamilan yang keempat. Proses kehamilan tidak ber-
masalah, alias enggak pakai mabuk sampai proses persalinan.
Aku masih rajin konsul dengan Bidan Yusneli. Keinginanku
untuk sesar, tetapi tidak mau disteril sangat cocok untuk aku
konsultasikan ke beliau. Aku pun dipilihkan dokter yang
menurut beliau bisa menjadi solusi buatku.
Aktivitasku di kehamilan keempat ini agak ribet,
karena setelah tahun 2010 aku diangkat menjadi Pegawai
Negeri Sipil ditambah kesibukanku mendampingi ibu-ibu
Majelis Ta’lim di Setu Citayam. Oleh sebab itu, di tahun 2012
ini aku harus menjalani kegiatan PLPG untuk guru selama
kurang lebih dua puluh hari. Hal ini yang akhirnya membuat
aku harus rajin konsultasi dengan Yusneli untuk menentukan
waktu yang tepat untuk sesar. Setelah ada keputusan bahwa
tanggal 2 Juli sudah harus cek in akhirnya diputuskan bahwa
tanggal 28 Juni aku menjalani operasi sesar.
Alhamdulillah operasi berjalan lancar, seorang bayi
perempuan yang sangat cantik. Belum selesai pemulihan, aku
sudah harus pulang bersama bayiku, karena harus lanjut
mengikuti kegiatan PLPG. Dengan terpaksa bayiku yang
baru lahir harus aku titipkan ke Ibu mertua. Selama masa
dinas dengan kondisi pasca sesar membuat semua harus aku
nikmati perjalanannya. Dari pengerjakan tugas, praktik-
pratik dan sebagainya. Allah berikan kemudahan dengan
teman-teman yang sangat luar biasa, membantuku dari mau
masuk kelas, mengerjakan tugas dan sebagainya. Akhirnya
waktu dua puluh hari itu aku lalui dengan sukses. Ya,
kendalanya pasti ada, karena habis sesar harus peras ASI,
66 P! erahu Layar
akibatnya kakinya bengkak, tetapi itu semua dinikmati dan
disyukuri saja.
Saat pulang, suami menjeput sambil mengabarkan
dengan penuh kehati-hatian bahwa bayiku dirawat di rumah
sakit, karena kuning, jadi harus masuk incubator. Deg!
Seketika jantungku bedebar keras, pertanyaan bertubi-tubi
pun aku lemparkan pada suami.
Kata suami, “Tenang, Dik, semua sudah diurus sama
Mbak, Ibu, Bulek dan Adik-adik, jadi nggak usah risau.”
Pantas saja selama pelatihan hampir tiap hari Mbak
Yuli dan Ibu dari Magelang telepon, kasih saran jaga
kesehatan habis sesar, hati-hati dan sebagainya.
Enggak ada pilihan lain, sesampainya di rumah, aku
minta bayiku diambil untuk dibawa pulang. Alhamdulillah
dikabulkan suami, akhirnya si bayi dilakukan perawatan di
rumah. Tidak membeda-bedakan dengan yang lain, aku dan
suami langsung mengadakan walimatul aqiqah secara
sederhana dan memberi nama Aleiza Nadhiroh Yusroh.
Aleiza wanita yang cantik, seolah-olah Allah tunjukkan
kesempurnaan dalam penciptaannya pada putri kami. Bayi
perempuan dengan kulit putih, alis lancip, dan muka cantik.
Sampai-sampai teman-teman berkomentar, “Salah kali itu
ambil bayinya, wkwkwk ….”
Setiap kali menggendongnya aku selalu takjub dengan
kesempurnaan penciptaan-Nya. Nadhiroh aku ambil dari
nama dosenku saat PLPG, dosen yang menurutku cerdas dan
luar biasa. Yusroh, senantiasa berharap si anak diberikan
kemudahan dalam segala urusan.
! Dd Publishing67!
!
Waktu berlalu dan Teteh Roro harus nyantri di AMQ.
Alhamdulillah Aleiza menjadi penghibur kami berdua. Di
saat semua Mbak, Mas dan Teteh jauh dari Umi dan Abi,
maka saat-saat kangen dengan mereka, Aleiza menjadi obat
rindu buat kami.
Usia Aleiza menginjak dua tahun, tetapi kemapuan
jalan dan bicara belum lancar. Awalnya aku hanya berpikir
biasa, belum waktunya mungkin. Harusnya dengan usianya
itu sudah keluar kata-kata susu, mama, bobok, tetapi ini
belum sama sekali. Kemahiran jalan juga belum bisa dan
giginya juga belum ada yang tumbuh. Hal itu yang membuat
aku dan suami harus segera mencari solusi. Akhirnya, suatu
hari, aku ajak Aleiza ke rumah teman yang seumuran. Aku
dan suami memperhatikan anak yang seumuran dengan
Aleiza, ternyata ada keterlambatan pada Aleiza, ini baru
diagnose asal-asalan saja.
Kondisi ini membuat aku dan suami harus mengambil
langkah untuk konsul, mencari pengobatan maupun terapi.
Dengan bantuan Bidan Yusneli yang baik hati, kami
disarankan untuk konsul ke RSCM bagian tumbuh kembang.
Saran itu langsung diikuti. Persiapan dari pagi hari, karena
terbayang antrean di sana. Selama perjalanan banyak orang-
orang yang tertarik dengan kecantikan dan kelincahan putri
kami, sampai aku dan suami ragu-ragu untuk melanjutkan
pemeriksaan.
“Ini mah bayi sehat, kenapa dibawa-bawa ke rumah
sakit, entar juga bisa jalan bisa ngomong,” komentar orang-
orang yang kami temui di jalan.
68 P! erahu Layar
Namun keraguan itu aku tepis. Bismillah saja, kalau
memang tidak ada penyakit, ya, Alhamdulillah, tetapi kalau
ada sesuatu, biar segera diantisipasi.
Hasil konsul dengan dokter spesialis tumbuh kembang,
Aleiza disarankan untuk CT scan, untuk melihat anatomi
kepalanya. Akhirnya kita ikuti dengan melakukan CT scan,
tetapi di RS PIK tempat adik iparku dinas, supaya biaya bisa
ditekan. Walhasil tanpa dibius cukup diberi obat tidur selama
proses CT scan. Selama prose itu pula, aku fokuskan lisan ini
untuk menyebut asma-Mu, tidak peduli lagu apa yang
dipasang di handset telingaku.
Hasil CT scan yang kemudian dikonsulkan kembali ke
dokter dinyatakan bahwa ada rongga kosong di bagian otak
kecilnya, sehingga Aleiza mengalami keterlambatan per-
kembangan. Solusinya tidak diberikan, dokter hanya
memastikan bahwa Aleiza akan bisa, tetapi butuh waktu yang
lebih lama dari teman-teman sebayanya, jadi orang tua juga
harus sabar. Dan disarankan untuk mengkonsumsi susu tinggi
DHA yang harganya lumayan di atas rata-rata. Kita ikuti
nasihat dokter tersebut. Kurang lebih empat bulan berikutnya
mulailah gigi-giginya tumbuh hingga lengkap. Hanya puji
syukur senaniasa aku panjatkan kehadirat-Mu, ya Robb.
! Dd Publishing69!
!
Ombak dan Badai Itu
Menguatkan Layar
K ondisi yang berbeda dengan anak-anak yang lain,
membuat aku dan suami sepakat memberikan
teman buat Kakak di rumah dengan hadirnya anak
kami yang kelima pada tanggal 15 April 2017, melalui sesar
yang keempat. Ternyata memberikan dampak yang luar biasa
buat Kakak Aleiza. Hadirnya Haidar yang nantinya akan
menjadi seorang shadow buat kakaknya.
Anak-anak yang sudah merasa nyaman di pesantren
dengan aktivitas menghafal Al-Qur’an dan Kakak Aleiza
yang menjadi penghibur aku dan suami di rumah,
membuktikan kapal yang berlayar itu
tidak selamanya berjalan tenang, kadang
harus bergelut dengan angin atau ombak.
Ketika angin dan ombak itu bisa
dikalahkan, maka bisa dipastikan kapal
itu mempunyai kekuatan yang bisa
diandalkan. Sama halnya dengan
kehidupan berumah tangga, tidak selalu
indah untuk dilalui, kadang ada kerikil-
kerikil yang harus dilalui, untuk
membuat sepasang suami istri menjadi
saling memotivasi, menguatkan dalam
menghadapi ujian bersama.
70 P! erahu Layar
Sama hal dengan aku dan suami, di saat menikmati
kenyamanan anak-anak belajar di pesantren, Allah uji dengan
kondisi ekonomi. Mas Budi harus dirumahkan dan pindah
tempat kerja. Saat suami harus berpindah dari satu kantor ke
kantor lain, otomatis sangat mempengaruhi biaya sekolah
anak-anak yang ada di pesantren. Akan tetapi, itu kita jalani
bersama. Prinsipnya, yang penting pembayaran uang
pesantren terlunasi. Satu tahun, dua tahun, kita lalui dengan
selalu iktiar, semoga Allah cukupkan segala sesuatunya.
Si Mbak sudah saatnya masuk SMP dan sesuai janjinya
akan berusaha bisa masuk ke pesantren kembali. Kemudahan
yang Allah berikan selama mengikuti tes, akhirnya diterima
juga di Darul Qur an Mulia yang seleksinya cukup ketat.
Uang pangkal yang cukup menguras tabunganku dan suami,
tidak menjadi kendala, karena Mbak Lifa sudah memberikan
sesuatu yang terbaik buat umi dan abinya.
Allah uji kesabaran juga dengan kondisi suamiku yang
semakin tidak jelas statusnya di kantor barunya. Aku
diskusikan lagi bersama suami, untuk mencari jalan terbaik
buat semuanya. Akhirnya dipilihlah jalan keluar untuk
mencoba buka usaha sendiri. Merintis usaha dari awal, di
tengah-tengah biaya yang sedang membengkak untuk
kebutuhan tiga anakku di pesantren. Aku dan suami mencoba
buka usaha jualan obat dan herbal dengan menyewa ruko di
pinggir jalan.
Tiba saatnya Kakak haru sekolah di usianya ke lima,
survei dilakukan ke sekolah alam. Setelah melihat kondisi
Kakak Aleiza, aku disarankan untuk ke psikolog,
memeriksakan diri dan konsultasi untuk mendapatkan solusi.
! Dd Publishing71!
!
Aku dan suami menjalani saran tersebut, kita mendapatkan
tiga paket kosultasi, yaitu kosultasi anak dengan psikolog,
konsultasi orang tua dengan psikolog dan konsultasi bersama.
Hal itu tidak aku lakukan sebelumnya, karena memang tidak
ada referensi dari dokter RSCM untuk kelanjutan pemerik-
saan pada waktu itu.
Proses baru harus aku jalani bersama. Ternyata hasil
pemeriksaannya, Kakak Aleiza harus menjalani berbagai
macam terapi. Ada terapi motorik, terapi wicara dan berjalan.
Disarankan mencari lembaga untuk menjalani terapi-terapi
tersebut. Setelah aku survei ke berbagai lembaga untuk
menjalani terapi, ternyata biayanya lumayan mahal,
sementara kondisi keuanganku pas-pasan. Namun tanpa
putus asa, suamiku keluar masuk rumah sakit untuk
menanyakan apakah ada fasilitas tumbuh kembang.
Ternyata tidak semua rumah sakit ada. Perjalanan
pulang survei disempatkan mampir ke RS HGA Depok,
masih sama yang ditanyakan yaitu fasilitas untuk pasien
tumbuh kembang. Alhamdulillah ada, tetapi tidak menerima
layanan BPJS, sementara fasilitas yang akan aku pakai adalah
fasilitas BPJS. Ada sedikit pesan yang menyisakan harapan,
perawat di HGA menyampaikan sedang proses diurus kerja
sama antara rumah sakit dan BPJS.
Akhirnya karena terbatasnya biaya, sementara tidak
ada layanan dari BPJS aku dan suami menyatakan istirahat
dulu untuk terapi Kakak. Sekali terapi biayanya hampir
Rp.350.000, dan Kakak harus menjalani terapi setiap hari.
Ada terapi sensorik integrasi, akupasi, wicara dan fisioterapi,
dari hari Senin sampai Sabtu, enggak ada kosongnya dan
72 P! erahu Layar
biayanya harus mengorbankan tiga kakaknya. Pertimbangan
itu yang membuat Kakak Aleiza harus mengalah untuk tidak
menjalani terapi.
Ternyata rencana Allah lebih indah, di saat keputusan
kami, Kakak istirahat dulu, tiba-tiba ada panggilan dari RS
HGA untu konsul dengan dokter spesialis tumbuh kembang.
Bagaikan mendapatkan setetes air di tengah gurun, aku dan
suami langsung respons panggilan dari rumah sakit. Dari
subuh aku dan suami sudah mempersiapkan diri untuk
bertemu dokter dengan membawa banyak harapan.
Pukul 09.00 nama Aleiza diminta masuk ruangan. Aku
dan suami mendampinginya dan hasilnya, Kakak Aleiza
harus menjalani berbagai macam terapi. Hari berikutnya aku
dan suami mencoba menjalani terapi fisioterapi baru. Hari itu
aku dan suami dikabarkan bahwa Aleiza harus tiap hari
mejalani terapi dengan jadwal yang akan dibuat oleh rumah
sakit. Yang lebih membuat aku dan suami ternganga, batas
waktu terapi tidak bisa ditentukan kapan selesainya. Ujian
kesabaran buat kami untuk bisa mendampingi Kakak
menjalani terapi. Setiap hari bolak-balik ke rumah sakit
dengan birokrasi yang cukup panjang dan melelahkan. Akan
tetapi yakinlah, banyak hikmah yang akan aku dapatkan.
Aku tidak bisa meninggalkan tugas di sekolah,
akhirnya suami yang dengan rajin dan sabar membawa Kakak
ke rumah sakit dengan mengajak adiknya juga. Pokoknya
enggak kebayang repotnya, membawa dua anak-anak
sekaligus mengurus berkas-berkas dan menunggu terapi.
Terapi hanya libur sehari dalam sepekan, aku pun tidak bisa
membantu apa-apa terkait amanah di sekolah yang harus aku
! Dd Publishing73!
!
jalankan. Lebih kepikiran lagi, kalau musim hujan harus
bolak-balik ke rumah sakit sehari dua kali dengan membawa
dua anak-anak. Entahlah, keajaiban apa yang Allah berikan,
sehingga aku dan suami ringan saja menjalaninya.
Aturan terapi yang lebih ketat dari sekolah semakin
memotivasi untuk membuat Kakak bisa segera sembuh.
Bertemu dengan anak-anak berkebutuhan khusus di klinik
tumbuh kembang, membuat aku dan suami semakin
bertambah-tambah rasa syukurnya. Ternyata kasih sayang
Allah kepada hambanya kadang tak dirasakan oleh hambanya
sendiri. Ada yang sudah menjalani terapi lima tahun, sepuluh
tahun, tetapi masih sabar menjalani, walaupun harus tiap hari
ke rumah sakit dengan membawa kondisi anak yang kadang
orang pun mencibirnya.
Berjalannya waktu, Kakak masuk TK dan tetap
menjalani terapi. Pagi sekolah, siang terapi atau sebaliknya.
Speec delay diagnose yang aku dapatkan ternyata berpe-
ngaruh ke pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh yang
lain.
Banyak hikmah yang aku dapat, bertemu dengan orang
tua yang hebat-hebat dengan semangat menjalani berbagai
upaya untuk putra putrinya yang berkebutuhan khusus.
Menularkan energi positif untuk saling menyemangati,
mencetak anak-anak hebat di tengah keterbatasan fisik, tetapi
tidak menyurutkan kemampuannya untuk melejitkan potensi.
Tidak ada keinginan apa-apa dari aku maupun suami.
Setelah merasakan nikmatnya memiliki anak-anak yang
senantiasa dekat dengan Al- Qur’an, maka keinginan yang
74 P! erahu Layar
sama untuk Aleiza. Kami ingin Aleiza menjadi al hafizah
dengan segala keterbatasannya. Aku dan suami yakin, Kakak
pasti bisa!
! Dd Publishing75!
!
Badai Pasti Berlalu
A ktivitas membuka kios obat herbal dan kosmetik di
pinggir jalan yang dijalani oleh suami hampir
berjalan empat tahun. Di tahun keempat menjalani
usaha semakin banyak godaan yang harus dijalani. Usaha
menjadi tidak maksimal, karena setiap hari harus bolak-balik
mengantar Kakak terapi. Kondisi anak-anak tidak bisa
ditinggal ketika aku harus berangkat pagi-pagi. Akhirnya
hasil yang didapat dengan pengeluaran tidak seimbang dan
aku putuskan bersama suami untuk melanjutkan usaha di
rumah.
Bangunan rumah yang sudah terlalu lama ditempati,
juga harus direnovasi untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan. Kejadian di luar yang diper-
kirakan, pondok pesantren di depan
rumah mengalami kebakaran, sehingga
santrinya diungsikan ke bangunan baru
yang kebetulan bersebelahan dengan
rumah tinggal kami. Momen itu aku
gunakan bersama suami untuk membuka
usaha baru di rumah, berupa warung
sederhana.
Kondisi itu pun tidak maksimal,
karena Kakak yang aktivitasnya kadang
tidak bisa terkontrol, sehingga barang-
76 P! erahu Layar
barang dagangan di etalase menjadi rusak dan berantakan.
Suamiku harus mengurus surat pagi dan sore mengantar
terapi, hal itu membuat usaha di rumah juga tidak maksimal.
Pilihannya memang pahit, karena suami harus memilih di
rumah dengan segala kerepotannya mengurus rumah, anak
dan dagangan. Namun tidak ada pilihan lain.
Kami bertukar peran. Aku menjadi bapak yang mencari
nafkah untuk keluarga dan suami di rumah dengan segala
kerepotanya. Keputusan itu sudah dipertimbangkan masak-
masak antara aku dan suami, sehingga kita tidak saling me-
nyalahkan. Karena setiap masalah akan dibicarakan bersama,
kadang melibatkan anak-anak juga dalam mengambil sebuah
keputusan.
Gulungan ombak besar kadang membuat batu karang
di tengah lautan menjadi semakin kokoh. Kondisi ekonomi
yang tidak stabil, sementara anak-anak tetap harus di
pesantren, Kakak harus menjalani terapi setiap hari dan suami
yang harus meninggalkan pekerjaan. Semua itu tenyata
membuat aku dan suami semakin kuat dan semakin bijak.
Anak-anak kita ajak diskusi dan diberikan motiasi, bahwa
kondisi ekonomi yang sedang dialami tidak boleh
menyurutkan dalam belajar, menghafal Qur’an, tidak boleh
menyurutkan dalam menggapai cita-cita. Banyak jalan
menuju Roma, jadi anak-anak dimotivasi untuk mencari
progam beasiswa untuk kelanjutan pendidikannya.
Kadang memang kita harus memilih pilihan yang
semuanya pahit. Namun di balik semua itu, kita tidak tahu
ada sesuatu yang indah yang Allah siapkan buat kita. Sama
halnya aku dan suami, harus memilih pilihannya pahit. Kalau
! Dd Publishing77!
!
aku yang berhenti, prosedurnya terlalu rumit dan panjang,
sehingga harus memilih suami yang berhenti kerja dan
menjaga anak-anak di rumah.
Kehadiran Haidar di tengah-tengah kami sudah
dipersiapkan untuk menjadi shadow buat kakaknya. Ini sudah
aku ajarkan dari usia batita untuk bisa mengawasi dan
menjaga serta melindungi kakaknya. Terlihat saat dua-
duanya aku masukkan ke rumah tahfiz balita. Kiriman-
kiriman foto dari Ustazah selama KBM terbaca jelas, kalau
selama KBM pun Dedek Haidar lebih fokus memperhatikan
kakaknya, belajar dan beraktivita di kelas. Kadang Dedek
harus hilang konsentrasinya. Ucok, nama panggilannya,
karena darah kami Jawa, tetapi wajah dan postur anakku ini
mirip sekali dengan orang Batak. Saat dibawa ke sekolah,
teman-teman menyebutnya Ucok. Akhirnya sampai sekarang
panggilan itu melekat.
Saat sekolah, Ucok yang rajin membawakan tas
kakaknya. Saat ada bau-bau yang kurang sedap, dia yang
rajin menengok pampers kakaknya, siapa tahu ada sesuatu
yang harus dibersihkan. Saat Kakak tidak terlihat di rumah,
dia yang akan repot mencari. Jadi status sebagai shadow
sudah sangat melekat pada dirinya, seolah-olah Ucok sudah
paham bahwa Kakak butuh perhatian khusus. Saat main
bersama teman-temannya pun dia akan senantiasa
mengawasi kakaknya atau hanya sebatas mengamati Kakak
yang sedang main di sekitar rumah.
Kondisi yang kami alami membutuhkan kesabaran,
baik dari aku, suami maupun anak-anak. Alhamdulilah, Allah
karuniakan kepadaku anak-anak yang saleh dan saleha
78 P! erahu Layar
sehingga bisa memahami kondisi yang sedang terjadi. Hal itu
memang sudah aku latih sejak kecil bersama suami. Seperti
kebiasaan hidup sederhana, saat kondisi memaksa, misalnya
tidak ada lauk pun mereka akan menerima. Kebiasaan
menggunakan barang yang masih bisa dimanfaatkan
walaupun itu barang bekas sudah hal yang biasa, mereka pun
memakai baju, sepatu atau sandal dari sepupu, tidak ada rasa
malu atau sungkan. Kebiasaan tidak menonton televisi atau
asyik dengan handphone juga dilatih sejak kecil. Sehingga
saat menginjak remaja, aku dan suami mengalami kendala
ekonomi, mereka justru memberikan support dan motivasi
buatku dan suami. Kata-katanya cukup simpel, tetapi mak
jleb banget, baik Mbak, Mas maupun Teteh Roro. Saat tak
ada uang belanja ataupun ada masalah yang harus
diselesaikan, sesuatu yang harus diputuskan, jawabannya
sama. “Sabar, Umi, tenang aja, masih ada Allah, minta aja
sama Allah.”
Jawaban itu yang akhirnya membuatku bangkit, yang
sebelumnya loyo menjadi termotivasi, tadinya tidak berdaya
akhirnya punya kekuatan. Ternyata itu semua aku dapatkan
langsung dari buah hatiku bukan dari orang lain. Ya Robb,
nikmat mana lagi yang akan kau dustakan.
! Dd Publishing79!
!
Perjuangan Hafizah Umi 1
P erjalanan Mbak Lifa dari permulaan datang ke Al
Muqorobin mengukir sejarah indah. Pertama datang
menyaksikan teman-teman seusianya yang sudah
terlebih dahulu menjadi santri di AMQ memberikan energi
positif, terutama buat diriku dan suami. Bagaimana tidak,
anak usia masih sangat muda, kisaran sepuluh tahun, sudah
disibukkan dengan hafalan-hafalan Qur’an, jauh dari
kenikmatan dunia. Kenikmatan bermain gadget, kenikmatan
bermanja-manja dengan orang tuanya, kenikmatan berfoya-
foya dan kenikmatan dunia lainnya. Usia sepuluh tahun sudah
disibukkan dengan hafalan-hafalan Qur‘an, ada yang meng-
hafal di atas ayunan, ada yang sambil tiduran bahkan sampai
tertidur, ada yang sambil melakukan
aktivitas kesenangannya dan segala rupa
gaya ada.
Melihat perjuangan orang tuanya
yang rela melepas demi untuk mencari
ilmu dan menggapai kasih sayang-Mu,
aku dan suami merasa iri dan tertinggal
selangkah lebih maju dengan mereka.
Namun melihat perjuangan orang tuanya
dan anak-anaknya, kami bangkit kembali
dan tidak ada kata terlambat untuk mela-
kukan kebaikan. Teman-teman angkatan
Mbak Lifa lumayan banyak, ada Sabita
80 P! erahu Layar
yang hobinya menulis, anak pendiam yang gemar membaca,
terkesan sederhana, tetapi hafalannya bikin aku dan suami
geleng-geleng. Sadila, gadis kecil yang cantik dengan
kelincahannya. Aisyah Hambali yang manis. Fatiya yang
penampilan apa adanya. Safa dengan kepolosannya. Ratna
yang sangat supel. Kak Hanung yang luwes dan Kak Faiza
yang sangat sederhana. Keunikannya sama, mereka adalah
pejuang-pejuang yang sedang menghafal Qur’an. Keunikan
itu yang selalu membuatku terharu dengan perjuangan yang
dilakukan.
Setahun di AMQ memberikan warna dan habbit
tersendiri buat Mbak Lifa. Kebiasaan ibadah yaumiyyah
mulai ringan dikerjakan dan menjadi kebutuhan, kebiasaan
menghafal Qur’an mengejar ketinggalan dengan teman-
teman memberikan semangat tersediri. Yang lebih penting
adalah adab yang didapatkan dari ustazahnya, adab terhadap
guru, terhadap orang tua dan terhadap sesama mulai ada
peningkatan. Ditambah cita-cita mau masuk ke Darul Qur’an
Mulia menjadi lebih memacu semangat menghafal.
Di awal masuk, Mbak Lifa masih belajar tahsin untuk
memperbaiki mahraj hurufnya, kemudian baru mulai
menghafal dari juz 30, 29, 28, 27, 26 dan kembali ke juz 1, 2,
dan seterusnya. Keterbatasan sarana yang masih sangat
sederhana di AMQ membuat aku dan suami senantiasa
memberikan motivasi Mbak Lifa bahwa ilmu yang ada di
Umi Syahidah harus dipelajari dan digali supaya beliau juga
rida menularkan ilmunya.
Putriku yang satu ini memang sedikit rempong
dibandingkan yang lain. Setiap pekan penelponan yang
! Dd Publishing81!
!
keluar air mata, kadang sebagai orang tua menjadi iba dan
tidak tega. Akan tetapi, itu ujian yang harus dilalui. Kalau
penyakit home sicknya melanda, hanya satu permintaannya,
pulang ke rumah, walaupun di rumah juga cuma tidur
sebentar, kemudian balik lagi ke pesantren.
Buat aku dan suami dipertemukan dengan orang tua
yang hebat-hebat setiap sebulan sekali menjadi kebahagian
tersendiri, karena dengan acara silaturahmi tersebut bisa
saling menyemangati antara satu dengan yang lain, selain
mendapatkan suplemen tausiyah-tausiyah dari Umi Syahidah
sebagai modal utama dalam mendampingi anak-anak. Ketika
dipertemukan dengan orang tua yang mempunyai satu visi
dam misi yang sama akan saling menguatkan. Namun saat
bertemu dengan teman atau kawan yang memiliki visi dan
misi berbeda, maka pembicaraannya tidak seperti gayung
bersambut.
Di tahun kedua sudah ada contoh kakak kelas yang
menjadi suri tauladan, ada Kak Faiza yang penampilan
sederhana dan pendiam ternyata sudah ziyadah tiga puluh juz
dan mendapat beasiswa 100% di Darul Qur’an Mulia. Mbak
Lifa semakin semangat mencapai target untuk menyusul
beliau. Aku dan suami pun tidak boleh kendor semangatnya.
Kita rajin menanyakan tips-tips dan referensi tentang dunia
pesantren, karena kami tidak paham tentang hal tersebut.
Alhamdulillah, orang tua yang juga seorang ustaz selalu
memotivasi kami dalam membersamai anak-anak.
Di akhir tahun kedua, Mbak Lifa mencoba mengikuti
tes bersama Fatiya, adiknya Kak Faiza, untuk bisa tembus di
Darul Qur’an Mulia. Tes yang dilakukan sampai beberapa
82 P! erahu Layar
kali dari pemberkasan dan sebagainya. Akhirnya apa yang
menjadi cita-cita Mbak Lifa masuk ke Darul Qur’an Mulia
menjadi kenyataan.
Prestasi yang didapat memberikan kesan tersendiri buat
aku dan suami. Ternyata Mbak Lifa mempunyai kemampuan
yang harus terus digali. Keterbatasan ilmu aku dan suami
kadang membuat aku malu dengan anak-anak. Kami berpikir
yang penting hafal Qur’an dalam target waktu sekian tahun.
Ternyata itu salah besar, setelah tahu betapa ilmu Allah
sangat luas bahkan sampai usia kita habis pun tidak akan
cukup mempelajari ilmu-Nya.
Sejak masuk ke AMQ, suamiku mulai rajin
mengikutkan Mbak Lifa dalam lomba-lomba MHQ,
walaupun pulang tidak dengan kemenangan, tetapi itu
menjadi sejarah tersendiri dalam hidupnya. Awal ikut lomba
tidak keluar sepatah dua kata pun, ketika harus tampil di atas
panggung bahkan semua hafalannya menjadi hilang seketika,
karena masih demam panggung.
Bertahap, tahun berikutnya mulai
ada keberanian sedikit demi sedikit,
ada satu dua soal yang terjawab.
Alhamdulillah, lima kali ikut di
tahun 2017 bisa membawa pulang
piala sebagai juara dua kategori
MHQ sepuluh juz putri tingkat Kota
Depok. Hal yang sangat diimpikan
membawa pulang piala kejuaraan.
! Dd Publishing83!
!
Perjuangan Hafizah Umi 2
C ita-cita menjadi santri di Darul Qur’an Mulia
akhirnya bukan sekadar cita-cita, tetapi menjadi
sebuah kenyataan. Setelah menjalani berbagai
seleksi tes, maka dinyatakan lulus sebagai santri di DQM.
Persahabatan yang selama ini terjalin bersama di Muqorobin
harus berpisah, karena waktu masing-masing memiliki jalan
yang berbeda. Sabita, Sadila dan Ririn yang melanjutkan di
Mafaza untuk fokus memutqinkan hafalannya, sementara
Fatiya dan Mbak Lifa melanjutkan di Darul Qur’an Mulia.
Perpisahan untuk sementara waktu guna menjalani proses
dalam menuntut ilmu yang suatu saat nanti akan Allah
pertemukan dengan kesuksesan dan keberhasilan masing-
masing.
Kondisi pesantren Darul Qur’an
Mulia jauh berbeda dangan Al
Muqorobin. Pesantren dengan sistem
yang sudah tertata rapi dituntut untuk
disiplin dalam segalanya, sehingga di
awal masuk, aku sudah menyepakati
syarat yang harus dipenuhi oleh Mbak
Lifa, yaitu selama menjadi santri di
DQM targetnya harus selesai ziyadah,
kalau tidak maka tingkat berikutnya
harus mengikuti rencana umi dan abinya,
84 P! erahu Layar
alias tidak bisa memilih sendiri kelanjutan sekolahnya.
Saat awal-awal mencari pesantren merasa bahwa AMQ
sudah jauh banget menurut ukuranku, ternyata DQM dua kali
lebih jauh dari sebelumnya, sehingga menjadi arena berlatih
buatku melepas anak yang semakin jauh pesantrennya.
Berharap ini menjadi ladang pahala buat aku dan suami.
Pesantren AMQ sangat cukup menempa dari sisi
kedewasaan dan rasa syukur atas keberadaanya, sehingga
tahap sosialisasi berjalan tanpa ada kendala. Yang membuat
sedikit kerja keras adalah meningkatkan motivasi belajar,
karena di DQM tidak hanya fokus menghafal Qur’an saja,
tetapi belajar akademik juga. Kemampuan mengatur waktu
sangat dibutuhkan. Memanajemen waktu antara belajar
akademik, mengerjakan tugas dari sekolah dan menghafal
Qur’an harus benar-benar diterapkan. Di awal masuk, Mbak
Lifa masih harus ikut tahsin belum bisa masuk kelas tahfiz.
Berlangsung tiga bulan baru masuk kelas tahfiz dan siap
menghafal dari awal kembali. Hafalan sebelum-sebelumnya
harus diulang dari awal.
Jumlah santri yang di DQM menjadi tantangan untuk
bisa memilih teman yang sebenarnya. Kalau di AMQ hanya
beberapa, maka di DQM memiliki teman yang jumlahnya
ribuan dari berbagai nusantara sebagian besar adalah putra
putri Ustaz dan Ustzah Khobir. Dituntut kepandaiannya
memilih teman yang bisa memotivasi dalam belajar segala
hal.
Menginjak tahun kedua, Mbak Lifa mengikuti momen
agenda tahunan di Kota Depok yaitu MHQ tingkat kota.
! Dd Publishing85!
!
Hasilnya, Mbak Lifa memberikan hasil terbaik dengan
menjadi juara kedua MHQ kategori sepuluh juz. Momen
yang tidak akan terlupakan buat Mbak Lifa bisa
mempersembahkan sesuatu yang terbaik serta membawa
nama baik DQM di tingkat Kota Depok. Akhirnya, cita-cita
memiliki piala di rumah pun menjadi kenyataan.
Selama menjadi santri di DQM sering mengikuti lomba
yang diadakan oleh pesantren atau lembaga lain. Tujuan
utamanya memang harus selalu diluruskan niatnya bahwa
lomba yang diikuti dijadikan sebagai ajang murojaah,
sehingga kalaupun menang dan dapat juara anggap itu adalah
bonus yang Allah berikan.
Keberanian dan rasa percaya dirinya sudah mulai
terbaca. Di awal-awal mengikuti lomba masih teringat cerita
suamiku, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya
sampai jurinya bilang baca QS 2:1-5 itu pu tidak ada yang
terjawab. Semua yang dihafalkan hilang, begitu ceritanya.
Berangsurnya waktu, mengikuti lomba terus dan sekarang
sudah mulai terbiasa bicara di depan audien tanpa ada rasa
canggung.
Memasuki tahun ketiga, Mbak Lifa mencoba mengikuti
seleksi beasiswa di Turki, tetapi hanya sampai tiga babak
penyisihan. Kataku, itu sudah sesuatu banget buat aku.
Walaupun tidak lolos, setidaknya menjai pengalaman
tersendiri dalam mengikuti progam beasiswa. Hal ini juga
dilatarbelakangi keinginan suami untuk mencari solusi
penyelesaian pendidikan melalui jalur basiswa dan itu
menjadi tantangan buat Mbak.
86 P! erahu Layar
Target akademik yang cukup tinggi dan menguras
tenaga bagi siswa yang memilki kemampuan pas-pasan
seperti anakku menjadi target hafalan yang sudah disepakati
tidak tercapai. Aku juga memahami hal tersebut, sehingga
aku pun tidak memaksakan ke anakku.
Sesuai perjanjian awal, kalau target tidak tercapai,
maka ummiya yang memberikan alternative sekolah
berikutnya. Mbak Lifa hanya mencapai target hafalan sampai
sepuluh juz dari tiga puluh juz yang direncanakan, sehingga
dia juga menerima keputusan umi dan abinya.
Sebelumnya aku dan suami sudah mempersiapkan
alternatif pesantren dengan seleksi beasiswa tahfiz, karena
kalau menggunakan jalur regular sangat mahal, sementara
kondisi ekonomi keluarga masih morat-marit. Pilihannya
jatuh di pesantren Al Islah yang lokasinya tidak jauh dari
rumah. Perkembangan psikolgis Mbak Lifa masih dalam
taraf pendampingan belum bisa dilepas.
Usia baya masa remaja menjadi PR buat uminya untuk
senantiasa mendampingi dan memberikan solusi serta
memposisikan sebagai teman, jadi tidak ada kesan
menggurui, ibarat layang-layang masih tarik ulur. Ada
saatnya diulur benangnya, tetapi di waktu lain masih perlu
juga ditarik, supaya tidak lepas kendali dan akhirnya copot.
Keinginan aku dan suami akhirnya disetujui oleh buah
hatiku. Mengikuti tes masuk di pesantren Al Islah angkatan
pertama dan anakku ada diurutan pertama. Akhirnya Mbak
dinyatakan diterima di Al Islah dan menjalani masa-masa
SMA bersama teman-teman barunya.
! Dd Publishing87!
!
Mbak, Sang Juara Umi dan Abi
T iga tahun menuntut ilmu di Darul Qur’an Mulia
memberikan nuansa tersendiri buat Mbak Lifa baik
suka maupun duka. Menempuh sebuah perjuangan
ganda belajar akademik sambil menyelesaikan hafalan
Qur’annya. Bukan hal yang mudah menurutku, butuh
perjuangan yang luar biasa. Saat lulus dan targetnya belum
tercapai dan mau menerima keputusan uminya untuk
melanjutkan di pondok pesantren Al Islah sudah merupakan
jawaban yang sangat menyenangkan.
Langkah ini diambil karena aku juga teringat nasihat
seorang teman, bahwa menghafal Al-Qur’an itu tidak bisa
dimadu dengan yang lain. Qur’an adalah sesuatu yang
maunya dimanja, karena harus diulang,
diulang dan diulang sepanjang hayat
terutama bagi para penghafal Qur’an. Al
Islah menjadi pilihanku, karena pesan-
tren yang masih baru dan memberikan
fasilitas beasiswa di samping jumlah
santrinya yang masih sedikit, sehingga
berharap masih bisa terpantau.
Hari pertama masuk pesantren Al
Islah dipertemukan dengan Ustazah
Neneng yang luar biasa sabarnya.
Ustazah dengan sabar membimbing,
mengarahkan dan meluruskan kembali,
88 P! erahu Layar
baik dari penampilan maupun perilakunya, karena tiga tahun
di DQM membuat Mbak berubah dari berbagai sisi. Aku
menyadari hal itu, memang sedang terjadi perubahan dari
masa anak-anak menjadi remaja, sehingga aku sementara
baru mengikuti saja kemauannya sambil diluruskan.
Anak seusia Mbak itu mendidiknya bagaikan main
layang-layang, kadang dibiarkan terulur terus, kadang perlu
ditarik. Ini yang aku alami. Tetap aku ikat dengan doa. Allah
berikan Ustazah yang sangat sabar untuk menyelami dan
membersamai Mbak Lifa sampai dia paham kemauan umi
dan abinya,
Setahun belajar di Al Islah dengan kemauan berubah
yang sangat kuat, pastinya banyak rintangan dan hambatan
yang dialami oleh Mbak Lifa, sehingga butuh menguatkan
diri. Tahun kedua, banyak hal yang kadang mengganggu
kenyamanan uminya. Rasa jenuh mulai melanda ditambah
ada sedikit konflik yang membutuhkan kesabaran dan waktu
yang bisa menjawab, sehingga aku dan suami hanya bisa
memotiasi dengan kalimat mau pindah ke mana saja tidak
akan menyelesaikan masalah, karena ketika pindah masalah
tidak akan selesai justru muncul masalah baru. Jadi Mbak
harus bersabar, biarkan Allah yang menunjukkan solusinya
pada waktu yang tepat. Dengan berat hati, walaupun aku tahu
Mbak sangat tidak nyaman, karena posisinya serba salah,
tetapi aku dan suami mencoba untuk tetap bertahaan hingga
masa kelulusan tiba.
Kondisi pandemik yang mengharuskan pulang dan
menjalani proses belajar sampai kurun waktu hampir empat
bulan sangat membantu untuk menyusun semangat dari
! Dd Publishing89!
!
rumah. Sehingga saat pandemik terbaca kegiatan pembe-
lajaran di rumah sangat maksimal, ibadah yauniyyah juga
maksimal, nambah hafalan juga maksimal. Akhinya di awal
tahun ajaran tetap harus kembali ke pesatren dengan tetap
memperhatikan potokol keehatan. Satu per satu sahabatnya
pindah, sementara Mbak tetap bertahan mengikuti nasihat
umi dan abinya.
Di tahun kedua ini juga Mbak dipercaya menjadi
mudabirah, membantu Ustazah dalam penanganan santri. Di
Islah, Mbak sering diberikan kepercayaan untuk mengikuti
lomba-lomba, walaupun tidak ada satu pun yang menang,
tetapi tetap semangat memberikan yang terbaik.
Di tahun ketiga banyak target yang harus dituntaskan,
mulai tasmi 5 juz, 10 juz, 20 juz, persiapan ujian akademik
dan aktivitas kepesantrenan. Keinginannya hanya satu, bisa
mendapatkan beasiswa untuk kelanjutan pendidikannya di
SEBI melalui jalur beasiswa tahfiz. Di akhir bulan Desember
dengan bantuan ustaznya dari pemberkasan sampai
pengumuman, Mbak tuntas menyelesaikannya. Dan hasilnya,
Mbak Lifa dinyatakan lolos seleksi di STIE Sebi lewat jalur
beasiswa tahfiz. Sujud syukur aku panjatkan, karena cita-cita
melanjutkan kuliah lewat jalur beasiswa akhirnya Allah
ijabah.
Di tahun ketiga juga sahabatnya harus off dari Al Islah,
sehingga Mbak Lifa benar-benar merasakan perjuangan
sendiri. Namun Alhamdulillah, hal itu tidak menyurutkan
dalam belajar dan mencapi target-targetnya.
90 P! erahu Layar
Perjalanan waktu tiga tahun akhirnya dilaluinya. Detik
detik terakhir mengikuti Ujian sekolah dan ujian pesantren
sudah dituntaskan. Masa belajar di Pondok Pesantren Al Islah
diakhiri dengan acara tasyakuran bersama santri santri Al
Islah Angkatan 1 secara sederhana namun sangat khikmat.
Kesempatan itu pula Mbak Lifa dinobatkan sebagai Santri
berprestasi yang berhasil menyelesaikan ziyadah 30 juz dan
mutqin 20 juz serta berhasil masuk Perguruan Tinggi melalui
beasiswa tahfidz Qur an.
Sang juara Umi memberikan hasil terbaik sepanjang
proses perjalanan menempuh cita-cita. “Ketika engkau
menikmati proses dalam menuntut ilmu dengan lika-liku
perjuanganmu, maka Allah akan memberikan hadiah terbaik
buatmu, Nak. Barakallah atas kesuksesan Mbak, ‘sang juara’
Umi dan Abi.”
! Dd Publishing91!
!
Perjalanan Al Hafiz Umi 1
P erjalanan sekolah di Al Qolam dilalui Mas hingga
kelas tiga semester awal yang akhirnya menetapkan
pilihan lanjut di pesantren AMQ. Masih terlihat
sangat kecil ukuran kelas empat SD sudah harus masuk
pesantren, tetapi bagiku dan suami, progam percepatan ini
adalah kesepakatan antara kami dan Mas Zaid sendiri yang
ingin fokus menghafal Al-Qur’an. Walaupun temannya
hanya beberapa ada Noval, Hanif, Faiz, Dzaki, Qurtubi,
Sapei, Anas, kalau dihitung tidak sampai sepuluh untuk siswa
laki-lakinya. Semua itu tidak mengurangi semangat untuk
tetap mondok di sana.
Hal yang mengesankan, seorang anak belum masuk
TK, tetapi orang tuanya sudah meng-
ikhlaskan anaknya untuk dididik menjadi
penghafal Qur’an. Menjadi sebuah tam-
paran besar buatkua dan suami. Ternyata
sebagai orang tua, kami merasa tertinggal
dengan para orang tua hebat lainnya.
Pandangan yang sangat memoti-
vasi melihat seorang bocah laki-laki kecil
yang duduk termenung sambil bergu-
mam, mengulang hafalan Qur’annya,
tiba tiba menangis, mungkin merindukan
orang tuanya. Kakaknya mendekat,
92 P! erahu Layar