Cerita Rakya OKI
Asal-usul berdirinya Daerah OKI
Penulis
SITI ROMELAH
SITI MUHAJIRIYATI
ERLIN MARLETA
dan
GURU-GURU OKI
Penerbit
Judul Buku
CERITA RAKYAT OKI
penulis
Copyright © 2015 by penulis
Diterbitkan oleh:
(Penerbit)
Desain cover:
Editor: SITI ROMELAH
SITI MUHAJIRIYATI
Layouter:
Terbit: (bulan dan tahun)
ISBN: Hak Cipta dilindungi undang-undang Dilarang
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan bentuk
dan cara apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit.
2 | Judul Buku
Sambutan
BUPATI OGAN KOMERING ILIR
H. ISKANDAR,SE
Assalamualaikum Warahmatullahi wabaraktuhu
Alhamdulillahi, puji syukur kita panjatkan. Izinkan
saya mengapresiasi para Guru-guru Kabupaten Ogan
Komering Ilir yang berhasil mengumpulkan ide dan
gagasan mereka dalam bentuk buku “Cerita Rakyat OKI”
Mereka adalah guru-guru kreatif dari mulai guru SD,
SMP, SMA dan guru SMK.
Buku ini disusun sebagai hasil dari Pelatihan “Bengkel
Sastra bagi Tenaga Pendidik” yang diselenggarakan oleh
Balai Bahasa Sumatera Selatan. Guru juga sebagai ujung
tombak Pendidikan kita, untuk itu apapun yang dilakukan
guru dalam bentuk peningkatan guru, harus diapresiasi
dengan baik. Apresiasi tidak mesti berbentuk materi,
tetapi bisa peningkatan kualitas guru itu sendiri.
Kami menyambut baik dengan diterbitkannya buku
Cerita Rakyat OKI, karena dengan diterbitkannya buku
ini dapat memberikan berbagai sejarah tentang asal-usul
daerah yang berada di Wilayah Ogan Komering Ilir. Buku
ini juga akan memberikan informasi tentang sejarah asal
mula berdirinya daerah OKI bagi masyarakat terutama
Judul Buku | 3
sekolah-sekolah, serta untuk mendukung Gerakan literasi
nasional
Akhirnya, semoga buku ini dapat membawa manfaat
bagi Kabupaten Ogan Komering Ilir sesuai dengan
harapan kita semua. Kepada para guru yang menulis
dalam buku ini, insyaallah akan menjadi amal jariah yang
pahalanya akan terus mengalir. Aamiin
Wasalamualaikum warahmatulahi wabarakatuhu
Kayuagung, Januari 2021
Bupati OKI
H. Iskandar,S
4 | Judul Buku
Sambutan
Kepala Dinas Pendidikan OKI
H. Muhammad Amin,S.Pd.MSi
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu,
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa, atas berkah dan innayah jualah buku Kumpulan
Cerita Rakyat kabupaten Ogan Komering Ilir ini akhirnya
berhasil diterbitkan.
Buku ini merupakan kumpulan dari Cerita Rakyat
kabupaten Ogan Komering Ilir yang dihimpun menjadi
sebuah buku. Karya cerita rakyat yang ada dalam buku
ini merupakan hasil dari Pelatihan Bengkel Sastra bagi
Tenaga Pendidik yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa
Sumatera Selatan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan
Ogan Komering Ilir beberapa waktu yang lalu.
Peserta Pelatihan merupakan guru-guru dari tingkat
SD, SMP, SMA dan SMK yang ada dikabupaten Ogan
Komering Ilir. Dalam pelatihan tersebut peserta
menggali cerita rakyat dari sumber-sumber yang ada.
Selaku Kepala Dinas Pendidikan sangat menyambut
baik dengan diterbitkannya buku ini. Semoga buku ini
dapat bermanfaat dalam usaha mengenalkan kepada para
Judul Buku | 5
siswa dan masyarakat serta dapat memotivasi para
tenaga pendidik untuk mengembangkan karya inovasi
dibidang Pendidikan lainnya. Buku ini juga untuk
menambah wawasan rakyat kabupaten Ogan Komering
Ilir dan mencoba untuk menggugah masyarakat agar
lebih mencintai sastra daerah di lingkungan kita sendiri
terutama di sekolah-sekolah.
Dengan diterbitkannya buku ini dijadikan sebagai
sumber pengetahuan tentang asal-usul berdirinya daerah
yang ada di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Wassalam
Kayuagung, Januari 2021
Kepala Dinas
H.Muhamad
Amin,S.Pd,M.Si
6 | Judul Buku
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah atas segala
rahmad dan karuniaNya, sehingga buku yang
berjudul “Cerita Rakyat OKI” ini dapat kami
selesaikan. Buku ini disusun sebagai hasil dari
pelatihan Bengkel Sastra bagi Pendidik yang
diselenggarakan oleh Balai Bahasa Sumatera
Selatan.
Buku ini berisi tentang asal-usul daerah di
lingkungan kabupaten Ogan komering Ilir, sehingga
dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat
khususnya di sekolah-sekolah.
Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh
dari sempurna, untuk itu mohon kritik dan sarannya.
Akhirnya kami sampaikan terima kasih kepada
Bapak Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan OKI
serta Balai Bahasa Sumsel dan semua pihak atas
penyusunan buku ini. Semoga Allah senantiasa
meridhoi. Amin.
Ogan Komering Ilir, 28-01-2021
Penyusun
Judul Buku | 7
Daftar isi
Sambutan Bupati OKI- H. Iskandar,S.E………………………....ii
Sambutan Kepala Dinas Pendidikan- H.M.
Amin,SPd,M.Si…...iii
Pengantar Penulis……………………………………………….iv
Daftar Isi…………………………………………………………v
Langkuse dan Putri Rambut Putih-Budi Agung S………………6
Pangeran Mad-Siti Romelah……………………………………13
Legenda Putri Gelam-Siti Muhajiriyati………………………...20
Kisah Sang Alim-Siti Muhajiriyati……………………………..31
Kisah Desa Lubuk Seberuk-Erlin Marleta……………………...43
Bucit Si Pesilat Lidah…………………………………………..53
Asal Mula Desa Ulak Kedondong-Baswarina…………………60
Asal Mula Desa Sukaraja-Sultan Takdir………………………66
Puyang Yusuf dan Puyang Sulaiman-Ummi
Zakiyah…………68
Asal-usul Talang/Ulak Bungor/Sriguna-
Masdalena…………...74
Asal Mula desa Pampangan-Suhaimi………………………….80
Pangeran Batun-Fitriani……………………………………….86
Asal Mula Desa Sugih Waras-Hendarlina…………………….92
Asal-usul Pulau Gemantung-………………………………….95
Petori Seriang Kuning-Sulastri………………………………..107
Asal Mula Desa Sepang-Linia,S.Pd………………………………………
Tentang Penulis……………………………………………….
8 | Judul Buku
1. LANGKUSE DAN PUTRI RAMBUT
PUTIH
Oleh: Budi Agung Sudarmanto
Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan
Pada suatu ketika, di masa Sunan Palembang, di
sebuah desa yang bernama Perigi, di wilayah
Kayuagung, hiduplah sepasang kakak beradik yang
bernama Langkuse dan Putri Rambut Putih. Langkuse
adalah seorang kakak yang gagah perkasa, sakti, dan
sangat bertanggung jawab. Tutur kata dan budi
bahasanya sangat halus. Dia adalah seorang pertapa
yang banyak menghabiskan hidup menyendiri di
hutan yang jauh dari desanya. Meski tidak selalu
berinteraksi dengan masyarakat sekitar, dia tetap
ramah bertegur sama bila bertemu tetangga di
sekitarnya atau orang yang ditemuinya. Dia juga
sangat ringan tangan dalam membantu sesama. Akan
tetapi, dia akan sangat marah –dan kesaktiannya
akan dikeluarkannya– bila ada orang yang
menyinggung perasaan atau menghina dirinya.
Sang adik, Putri Rambut Putih, adalah seorang
gadis yang sangat cantik. Kecantikannya sangat
dikenal oleh masyarakat sekitar, bahkan sampai di
Palembang. Putri ini rambutnya hitam, panjang, nan
bergelombang. Saking panjangnya, rambut itu
sampai tergerai ke tanah. Putri Rambut Putih adalah
gadis tercantik di desa Perigi. tidak ada gadis lain
yang mampu mengalahkan kecantikannya. Tidak
Judul Buku | 9
mengherankan bila banyak orang yang memuji
kecantikannya.
Sebutan ‘Putri’ untuk Putri Rambut Putih,
sebenarnya, bukanlah karena dia anak raja, sultan,
atau penguasa, melainkan karena kesaktian yang
dimilikinya. Pada dasarnya Putri ini sangatlah baik
hatinya. Dia juga suka menolong dan ramah dengan
tetangganya. Akan tetapi, seperti juga sang
kakaknya yang bernama Langkuse, jangan pernah
ganggu atau lukai perasaannya. Di balik kecantikan
dan kebaikan hatinya, Putri ini memiliki sikap yang
mengimbangi kebaikannya. Bila tersinggung atau
terlukai hatinya, dia bisa sangat sombong, congkak,
dan juga suka menghina sesuka hatinya. Sudah
banyak bujang yang datang dan ingin melamarnya,
tetapi selalu ditolak karena tidak sesuai dengan
kemauan hatinya. Bahkan, bila keterlaluan mereka
bisa dicaci dan dihina oleh Putri tersebut. Yang
paling parah adalah kepala para pelamar itu diludahi
oleh Sang Putri. Bila Sang Putri meludah, seketika
itu juga rambut orang yang diludahi berubah
menjadi putih. Karena kesaktiannya inilah dia
dikenal sebagai Putri Rambut Putih.
Penduduk desa tersebut sangatlah rukun dan
damai. Mereka hidup dari berladang, bertani,
membuat periuk dari tanah liat, dan mencari ikan di
sungai (di anak sungai Komering). Mereka begitu
bersemangat menjalani roda kehidupan yang telah
10 | J u d u l B u k u
ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Bagi yang tidak
berladang, mereka bercocok tanam atau bertani di
sawah. Sawah terhampar luas di bagian pinggir desa.
Pohon padi yang masih hijau karena baru saja
ditanam maupun yang sudah menguning, dan siap
dipanen, sungguh menjadi penyejuk mata dan jiwa
pemandangnya. Hasil panen padi yang melimpah
semakin menambah kesejahteraan masyarakat
Perigi.
Selain berladang dan bertani, di waktu
luangnya –terutama kaum perempuannya– memiliki
kesibukan yang tidak kalah pentingnya. Mereka
memiliki kemampuan membuat periuk. Periuk hasil
kerajinan tangan para perempuan ini –baik gadis
maupun yang sudah berkeluarga– sangat terkenal
indah dan kualitasnya. Peruk hasil karya masyarakat
Perigi ini, biasanya, selain dijual di sekitar wilayah
desa mereka atau Kayuagung, juga dikirim ke
Palembang sebagai wilayah yang lebih besar dan
lebih banyak pembelinya. Begitu terkenalnya
kualitas periuk desa Perigi ini menjadikan pesanan
selalu saja mengalir ke sana.
Kemahsyuran akan kecantikan Putri ini pada
akhirnya terdengar juga oleh Sunan Palembang. Ia
mengutus beberapa anak buahnya untuk melamar
Putri Rambut Putih. Salah seorang utusan Sunan
menghadap Putri. Tanpa diduga, Putri itu meludahi
kepalanya. Sesaat kemudian rambut utusan itu
J u d u l B u k u | 11
langsung berubah menjadi berwarna putih. Utusan
ini pulang dan melaporkan apa yang terjadi atas
dirinya kepada Sunan. Sunan menjadi sangat murka.
Selanjutnya, ia menyuruh beberapa anak buahnya
untuk menyelidiki kekuatan Putri Rambut Putih. Bila
terpaksa, Sunan juga bermaksud akan menculiknya.
Utusan tersebut melakukan penyelidikan secara
diam-diam. Dari hasil penyelidikannya diketahuilah
bahwa Putri yang –dianggap– sombong itu memang
memiliki kebiasaan yang tidak dimiliki oleh manusia
kebanyakan. Dia masih belum ingin menikah,
sehingga semua pinangan dan lamaran dari siapapun
pasti ditolaknya, tidak terkecuali dari Sunan. Hasil
penyelidikan yang lain adalah bahwa Putri
mempunyai seorang kakak yang sangat sakti
bernama Langkuse. Utusan kemudian pulang dan
melaporkan hasil penyelidikannya. Sunan terkejut,
tetapi tidak berputus asa. Ia mencari akal untuk
membunuh Langkuse.
Upaya pertama yang dilakukan oleh Sunan
adalah mengadu Langkuse dengan seekor kerbau
ganas. Pada waktu itu Sunan sudah mendengar
bahwa ada seekor kerbau yang sangat ganas yang
tinggal di dekat hutan di ujung desa. Di kedua
telinga kerbau itu terdapat sarang lebah. Bisa
dibayangkan apa yang akan terjadi apabila lebah-
lebah ini mengamuk. Bisa terjadi malapetaka yang
sangat mengerikan bagi orang-orang di sekitarnya.
12 | J u d u l B u k u
Ini juga membuktikan betapa ganasnya kerbau itu.
Ia akan sangat murka apabila mencium bau manusia.
Hanya orang-orang yang memiliki kemampuan
lebihlah yang tak gentar menghadapinya.
Inilah siasat yang akan dipakai oleh Sunan.
Sunan menyuruh seseorang untuk menjemput
Langkuse agar mau menghadapnya. Langkuse
mempunyai firasat yang tidak enak. Dia merasa,
kedatangan Sunan akan membawa malapetaka.
Setelah bertemu Sunan, rupanya dia diperintahkan
untuk menangkap kerbau ganas itu. Sunan yakin
bahwa Langkuse tidak bisa mengalahkan binatang
jahat itu. Sunan yakin Langkuse akan mati dihabisi
kerbau ganas itu. Apabila itu terjadi, dia bisa
meminang Putri Rambut Putih dengan mudah. Tanpa
berpikir panjang Langkuse segera berangkat
mencari kerbau ganas yang dimaksud. Rupanya
kerbau itu lebih dulu telah mencium bau Langkuse.
Lalu, kerbau ganas itu mengamuk seakan dunia akan
terbelah, Langkuse siap menghadapi serangan
kerbau itu. Begitu kepala kerbau menyodok badan
Langkuse, pecahlah kepala kerbau ganas itu beserta
badannya, dan matilah kerbau ganas itu seketika itu
juga. Kemudian kepala kerbau itu dibawa pulang oleh
Langkuse ke dusun untuk diserahkan kepada Sunan.
Utusan Sunan yang pada waktu itu menyaksikan
langsung bergegas melapor ke Sunan. Betapa
kagetnya Sunan karena Langkuse bisa membunuh
J u d u l B u k u | 13
binatang ganas itu dengan mudahnya. Kepala kerbau
yang dibawa ke desa menjadi buktinya. Mendapat
laporan utusannya, Sunan sangat kecewa. Dia tidak
menyangka kalau Langkuse bisa membunuh kerbau
ganas tersebut dengan mudahnya. Agak bergidik
juga dia dengan apa yang baru saja dilakukan oleh
Langkuse. Seekor kerbau seganas dan sebuas itu
bisa dikalahkan dan dibunuh oleh Langkuse dalam
waktu yang sangat singkat. Pasti sangat digdaya
orang ini, katanya dalam hati.
Meskipun demikian Sunan tidak kehabisan akal.
Dia masih saja mencari akal untuk membunuh
Langkuse. Ia mulai mencari siasat lain. Ia
mengetahui bahwa di desa Perigi itu juga terdapat
sumur yang sangat dalam dan luas. Sunan menyuruh
anak buahnya untuk memasangi dasar sumur itu
dengan tombak–tombak yang ditancapkan menjulang
ke atas. Setelah dasar sumur itu terisi perangkap
berupa tancapan tombak yang menghadap ke atas,
pada salah satu tombaknya diletakkan cincin milik
Sunan untuk kemudian harus diambil oleh Langkuse.
Sunan memerintahkan anak buahnya untuk
memanggil Langkuse kembali. Setelah Langkuse tiba,
Langkuse diajak menuju dekat sumur. Di sana telah
banyak orang yang berkumpul untuk menyaksikan
apa yang akan terjadi.
Langkuse, sekali lagi, diperintahkan Sunan –
dengan segala akal bulusnya– untuk mengambil cincin
14 | J u d u l B u k u
Sunan yang ‘terjatuh’ di dalam sumur. Langkuse
menuruti perintah Sunan dengan sebaik-baiknya.
Dengan kesaktiannya, dia sudah bisa tahu bahwa di
dalam sumur penuh dengan tombak-tombak tajam
yang menjulang ke atas. Langkuse kemudian
melompat terjun ke dalam sumur. Begitu Langkuse
terjun, semua tombak yang ada di dasar di sumur
patah terkena badan Langkuse. Meski tombak-
tombak itu patah semua, tetapi Langkuse sedikit
pun tidak mengalami luka atau sakit di sekujur
tubuhnya. Bahkan tubuhnya pun tidak berdarah
sama sekali. Dengan cepat dia muncul kembali ke
permukaan dengan membawa cincin yang dimaksud.
Lebih mengherankan lagi saat utusan Sunan dan
semua orang yang ada di situ melihat Langkuse
segar bugar tanpa ada cidera apapun juga.
Sunan beserta hulubalangnya pulang ke
Palembang. Sesampai di Palembang Sunan bertanya
kepada para hulubalangnya “Siapa di antara kalian
semua yang sanggup menangkap Putri Rambut
Putih?” Ternyata seluruh hulubalang tak seorang
pun yang sanggup menangkap Putri itu. Karena tidak
ada yang bisa, Sunan memerintahkan ke para
hulubalangnya untuk membuat sungai dari dusun
Teloko sampai dengan Tanjung Agung. Berangkatlah
hulubalang untuk membuat sungai. Setelah sungai
selesai dibuat, Sunan beserta hulubalangnya
menyusuri sungai dengan menggunakan sebuah kapal.
J u d u l B u k u | 15
Sesampainya di wilayah desa Tanjung Agung, Sunan
naik ke darat dan berjalan kaki menuju desa Perigi
yang jaraknya sekitar dua kilometer.
Sementara itu, cuaca sangat cerah, dan
seperti biasa Putri Rambut Putih sedang membuat
priuk dari tanah di bawah rumahnya. Pada saat itu
Sunan dan hulubalangnya bermaksud untuk menculik
Sang Putri. Dengan segala upayanya, Sunan
kemudian berhasil menculik Sang Putri. Orang
kampung yang melihat kejadian itu langsung melapor
ke Langkuse yang pada saat itu sedang mandi.
Langkuse rupanya kelihatan santai-santai saja.
Kemudian, bergegaslah Langkuse menuju Tanjung
Agung tempat kapal Sunan berlabuh. Sesampainya di
sana Langkuse melompat ke kapal Sunan dan
rombongan. Saat akan melompat ke kapal itu
Langkuse ditertawai oleh Sunan dan para
hulubalangnya. Mereka tidak percaya kalau Langkuse
bisa melompat ke kapal, apalagi mengaramkannya.
Ketika Langkuse akan melompat, keluarlah ucapan
atau kutukannya yaitu “Mundur sedepuh maros
sebidang ngumong”, yang artinya “mundur selangkah
maju sekuat kilat.” Lalu, melompatlah Langkuse ke
kapal dan kapal itu menjadi hancur. Langkuse segera
mengambil adiknya yang pada saat itu sedang
pingsan dan mengendongnya ke darat, sementara
Sunan beserta hulubalangnya berenang ke tepi.
Ketika Langkuse melompat ke darat tusuk konde
16 | J u d u l B u k u
(tangubai) putri rambut putih jatuh ke sungai. Kini
tempat terjatuhnya tusuk konde itu diberi
nama “Lubuk Tangubai”
Langkuse segera pulang ke dusunnya,
sementara Sunan dengan rasa kecewa pulang ke
Palembang. Sesampai di Palembang Sunan
bersumpah yaitu mulai saat ini “Keturunanku tidak
akan pernah selamat apabila mengawini orang
Dusun Kayuagung, khususnya Desa Perigi.”
Setelah itu Langkuse dan Putri Rambut Putih
hidup bahagia karena tidak ada lagi yang berani
menggangu mereka.
J u d u l B u k u | 17
2. PANGERAN MAD
Asal Mula daerah MESUJI
Oleh: Siti Romelah, S.Pd, M.Pd
SMPN 1 Mesuji Raya
Dahulu kala di sebuah desa yang bernama Sirah
Pulau Padang berdampingan dengan wilayah Kayuagung,
hiduplah Pangeran Djugal bersama istrinya. Beberapa
tahun kemudian dikaruniai dua orang putra yang bernama
Pangeran Muhamad Ali dan adiknya adalah Pangeran
Muhamad Batun. Tidak terasa kedua anaknya tumbuh
dewasa dan kelihatan gagah perkasa. Kedua orang tuanya
sangat menyayanginya.
Pangeran Muhamad Ali adalah seorang kakak yang
gagah perkasa, sakti, dan sangat tampan parasnya, tetapi
agak sedikit sombong. Tutur kata dan budi bahasanya
sedikit kasar. Dia adalah seorang Pangeran yang senang
hidup hura-hura, mengumbar kesenangan di sana-sini.
Setiap hari tak lepas dari minuman tuaknya. Bila
kesenangannya diganggu, akan sangat marah sampai ke
ubun-ubun. Karena sifatnya itulah penduduk sekitar
sungkan menyapanya. Pangeran juga tidak peduli dengan
keadaan disekitarnya.
Putra keduanya adalah Pangeran Muhammad Batun,
seorang adik yang mempunyai wajah jelek bertotol-totol
18 | J u d u l B u k u
dari kakaknya. Namun tutur katanya sangat santun dan
menghormati kepada yang lebih tua. Kebaikannya sangat
dikenal oleh masyarakat sekitar, bahkan sampai ke
Lampung. Dia juga seorang yang gagah, arif bijaksana,
sakti mandraguna, peramah dan suka menolong rakyat
kecil. Kepeduliannya dengan masyarakat sangat tinggi.
Tidak mengherankan bila banyak orang yang memujinya.
Selain itu juga mempunyai sifat rendah hati.
Kehidupan Pangeran Muhamad Ali sangat dipenuhi
dengan kesenangan dunia, dia juga mempunyai kesaktian
menghilangkan tubuhnya dari pandangan orang lain
apabila bahaya mengancamnya. Bila kakinya sudah
menghentakan bumi sebanyak tiga kali maka
menghilanglah dirinya dari penglihatan orang. Karena
mempunyai kelebihan itulah dia sangat sombong, siapa
saja yang tidak menuruti kehendaknya akan ditentang.
Pangeran Djugal sebagai orang tuanya sudah sering
menginngatkan, tetapi tidak dihiraukannya.
Berbeda dengan kehidupan Pangeran Muhammad
Batun sangat sederhana, kesehariannya mengembara dan
selalu membantu rakyat kecil yang membutuhkan. Karena
kesederhanaannya dan juga berparas yang kurang
tampan maka rakyat tidak mengenalnya bila beliau
seorang Pangeran. Suatu ketika mengambil bubung
minumnya, terdengarlah suara, “ Haus...haus..haus...Nak,
J u d u l B u k u | 19
adakah kisanak seteguk air” tertahanlah tempat minum
tadi ditangannya lalu diberikannya kepada Aki tua yang
berpakaian kumal itu. Padahal air di dalam tinggal sedikit
lagi. “Terima kasih Nak, engkau sangat baik,” ucap aki
tua tadi. “Sama_sama Ki,” tutur Pangeran. Beliau rela
kehausan demi Aki tua itu. Ketika pangeran
mengembalikan bubung minum ke pinggangnya, Aki tua
tadi sudah tidak ada lagi di sampingnya. Ternyata Aki
meninggalkan sesuatu yang terbungkus kain berwarna
putih. Pangeran tidak berani membukanya. Tetap
dibawanya dan berniat akan dikembalikan pada Aki tadi.
Di malam hari beliau bermimpi, bahwa dalam balutan kain
putih itu terdapat batu emas yang dapat membantu
pangeran apabila menemui kesulitan.
Satu tahun berikutnya Pangeran Djugal memanggil
kedua putranya. “Wahai putraku, ayahanda sudah merasa
tidak kuat lagi untuk memimpin wilayah ini. Untuk itu
yang duduk di singgasana ini, Pangeran muhammad
Batun.” Tutur Pangeran Djugal dengan bijaksana.
Mendengar perkataan Ayahandanya Pangeran
Muhammad ali pun membantah, “Bukankah aku anak
tertua yang memimpin wilayah ini Ayah, kenapa harus
Pangeran Batun?” dengan Murkanya putra pertamanya
keluar dari Istana. Dia pergi tak tahu rimbanya.
Pangeran Djugal hanya dapat terdiam melihat perlakuan
putranya yang menyakitkan hati. Begitu juga dengan
20 | J u d u l B u k u
Adiknya tak banyak bicara dan hanya menuruti keinginan
dari Ayahandanya, sebagai rasa bakti kepada orang
tuanya. Sedangkan Pangeran Muhammad ali untuk
menghilangkan rasa kekecewaan dan kemarahannya,
pergilah ke hutan belantara. Alasan Sang Pangeran
memilih Adiknya, karena Kakaknya bersifat sombong dan
angkuh serta mementingkan kesenangan sendiri. Berbeda
dengan Adiknya yang santun dan bijaksana, walau
berparas kurang tampan.
Setelah terjadi perselisihan itu, Sang Pangeran
Djugal sudah merasa tua dan sakit-sakitan. Beliau tak
kuat lagi untuk berjalan, hanya dapat berbaring lemah di
atas ranjang kayu yang berukir dan berwarna keemasan.
Sudah beberapa tabib yang mengobatinya tapi tetap
tidak ada perubahan yang menyolok. Putra Pangeran
Batun sangat kasihan melihat keadaan Ayahandanya.
“Putraku Batun aku titip wilayah ini, pimpinlah daerah ini
dengan baik. Pikirkanlah kebutuhan rakyat kecil.
Ayahanda sudah tak kuat lagi.” Tutur Pangeran Djugal
kepada putra kedua dihadapan para abdi dan
hulubalangnya. Rakyat akan gembira apabila Pangeran
Batun yang memimpinnya. “Apakah paduka pantas untuk
memimpin wilayah ini, Yanda,” ucap Pangeran yang
bijaksana itu. “Dengan kejujuran dan rasa pengabdian
yang tinggi, kamu akan dapat memimpin wilayah ini,”
nasihat Pangeran Djugal. Akhirnya Putra kedua beliau
J u d u l B u k u | 21
menuruti permintaan Yandanya, untuk mengemban dan
mengabdi pada wilayahnya.
Penduduk menyambut gembira atas
kepemimpinannya Pangeran Batun, diwujudkan dengan
saling memberi antar penduduk apa yang dia punya.
Beliau memerintah dengan arif bijaksana dan sering
membantu rakyat kecil yang membutuhkan. Pangeran
juga sangat adil dan tidak berat sebelah dalam
menyelesaikan sesuatu perselisihan yang terjadi di
wilayah itu. Kesehatan Ayahanda Pangeran Batun kian
lama kian memburuk. Sebagai anak yang berbakti segala
upaya untuk menyembuhkan sudah dilakukannya. Pada
Akhirnya Pangeran Djugal telah wafat, dipanggil
menghadap Sang Pencipta. Semua penduduk sangat
kehilangan, karena selama memimpin beliau sangat
memikirkan rakyat kecil. Kini semua penduduk sedang
berkabung.
Penduduk desa tersebut sangatlah rukun dan
damai. Mereka hidup dari berladang, bertani, dan
mencari ikan di sungai anakan sungai Ogan. Mereka
begitu senang dan bersemangat menjalani kehidupan
yang telah ditentukan oleh Sang Penguasa Semesta. Bagi
yang tidak berladang, mereka bercocok tanam atau
bertani di sawah. Hamparan sawah yang luas di bagian
pinggir desa yang kelihatan hijau. Pepohon berdaun lebat
22 | J u d u l B u k u
dan padi yang masih hijau sudah menguning dan siap
panen, sungguh membuat hati merasa sejuk dan dingin
dari pemandang mata. Hasil panen padi yang melimpah
semakin menambah kesejahteraan masyarakat Siraah
Pulau Padang sepanjang Kayuagung. Supaya rakyat selalu
meningkatkan ibadahnya, Pangeran Batun mendirikan
beberapa surau di Wilayah itu.
Beberapa tahun kemudian datanglah Pangeran Ali
dengan membawa bala-balanya dengan senjata lengkap.
Dia berniat untuk merebut daerah kekuasaan ini.
Pangeran Batun telah mendengar berita itu dari abdinya,
kalau mereka sudah sampai di gerbang perbatasan
sebelah timur. Beliau tetap tenang dan tidak gegabah
dengan berita itu. Selang beberapa lama “Pangeran
Batun, aku Kakakmu datang ha...ha... ha...akan menduduki
singgasana Ayahanda,” teriak Sang Pangeran yang
sombong itu. Sang Adik keluar menuju ke balkon depan
sembari berkata, “O Kakanda tercinta, apa kabar, Dinda
sangat rindu karena kita sudah beberapa tahun tak
bertemu, marilah kita berbicara dengan santai.”
Pangeran Ali maju beberapa langkah dengan berucap,
“Jangan banyak omong Dinda, dengan paksa, aku akan
menduduki wilayah ini, karena yang seharusnya Kakakmu
ini yang memimpinnya.” Bicaranya begitu lantang dan
menunjuk ke arah Pangeran Batun. Tak jauh beda,
Adiknya dengan tegas menyatakan, tidak akan
J u d u l B u k u | 23
menyerahkan wilayah ini karena sesuai pesan ayahanda
kepadanya. Akhirnya pecahlah perang mulut pada
akhirnya perang senjata.
Keduanya beradu kekuatan dan kesaktian. “Ayo
Dinda bunuh aku kalau bisa, keluarkan kesaktianmu,”
tantang Kakaknya. Ketika Pangeran Batun akan
menghunuskan pusaka ke arah kepala, Pangeran Ali
menghilang, dan berada dibelakangnya begitu
seterusnya. Demikian juga dengan Pangeran Batun,
begitu mendapat serangan dari kakaknya dapat
menyerang balik dengan mudah karena mempunyai
kesaktian batu emas dari Aki tua yang pernah
ditemuinya. Perselisihan mereka pun semakin panas dan
tak dapat dielakan lagi. Keesokan harinya Pangeran Ali
bersama komplotannya menyerang kembali dari belakang
adiknya, tetapi dengan sigapnya Pangeran Batun
menyerang balik dengan tidak sengaja memegang
tengkuk Kakaknya, yang ternyata menjadi kelemahannya.
Akhirnya Pangeran Ali bersama pengikutnya mengakui
kekalahannya.
Mereka pergi menuju menyusuri sungai ogan ke
arah barat menuju sungai Kabung Mesuji dan hijrah
untuk membuka daerah baru yang merupakan cikal bakal
dari Marga Mesuji. Pangeran Muhammad Ali bersama
pengikutnya membuka perladangan atau huma dengan
24 | J u d u l B u k u
cara “sonor” . Sonor adalah membuka ladang dengan
membakar lahan rawa kemudian ditabur benih gabah
yang mereka dapat dari sanak saudara. Akhirnya banyak
berdatangan ke sungai Kabung Mesuji, seperti suku sirah
Pulau Padang, suku Sugi Waras, suku Kayuagung bahkan
suku Palembang sampai ke Lampung Tulang Bawang.
Setelah beberapa tahun terus penduduknya
bertambah dan dusunnya menunjukan peningkatan
kesejahteraannya, Pangeran Muhammad Ali mendapatkan
penghargaan dengan gelar “Pangeran Mad” dari Ki Kabung
yang merupakan sesepuh di dusun tersebut. Gelar
“Pangeran Mad” mempunyai simbol berupa obor-obor
berwarna putih. Hal ini menandakan bahwa Pangeran Mad
sebagai raja adat di Mesuji. Beliau mensyahkan warga
kampung tua di Mesuji berasal dari Palembang, sirah
Pulau Padang, Kayuagung dengan sebutan Marga Mesuji.
Kampung Tua di Mesuji itu adalah, Wiralaga, Sungai
Sidang, sungai Cambai, sungai Badak, Nipah Kuning, sri
Tanjung, Kagungan Dalam, Talang Batu, dan Labuhan
Batin. Kampung-kampung tersebut berada di pinggiran
sungai. Mata pencaharian masyarakatnya selain
berladang, mencari ikan dan menebang kayu berarti hasil
alam yang dimanfaatkanya. Selanjutnya hasil usaha dijual
di Jakarta menggunakan kapal kayu yang mereka buat
sendiri. Dengan jarak tempuh dua hari dua malam dengan
melewati sungai dan laut sampailah ke Jakarta. Alasan
J u d u l B u k u | 25
memilih menggunakan jalur laut karena pada saat itu
belum ada jaln darat menuju Bandar Lampung karena
masih banyak hutan belantara.
Pangeran Mad yang tadinya bersifat sombong,
angkuh dan keras kepala, kini menjadi pemimpin yang arif
bijaksana, peramah dan suka menolong pada rakyat kecil.
Beliau menyadari apa yang dilakukan selama ini salah dan
melanggar norma-norma yang berlaku. Sehingga
penduduknya sangat mengagumi kebaikannya dan
keramahanya. Beliau sering menyapa lembut kepada
penduduknya. Selain itu beliau juga sering berbagi. Tak
ketinggalan Pangeran Mad mendirikan surau disetiap
dusun itu dengan harapan rakyatnya selalu mendekatkan
dirinya pada Sang Pencipta. Demikian dengan Pangeran
Batun yang tetap menjalankan amanah dari Ayahandanya
dengan memimpin wilayah Sirah Pulau Padang sampai
Kayuagung dengan sifatnya yang selalu rendah hati. Kini
kedua Pangeran itu telah menjadi panutan rakyatnya.
Mereka juga menjalin persaudaran kembali yang kala itu
sempat dirundung perselisihan yang hebat. Pangeran Ali
yang diberi gelar Pangeran Mad dan Pangeran Batun
menjalani kehidupan yang tenang, rukun, damai bersama
penduduknya dengan tempat yang berbeda
26 | J u d u l B u k u
3. LEGENDA PUTRI GELAM
OLEH SITI MUHAJIRIYATI, S.Pd., M.Pd.
SMPN 2 Mesuji Raya
Tersebutlah kisah seorang putri nan cantik
jelita dari kerajaan Kuto besi (Lempuing saat ini).
Kecantikannya tersohor hingga seantero negeri.
Rambut panjangnya hitam legam berkilau, menambah
kecantikannya. Karena kecantikannya, banyak
pemuda dari keluarga terpandang juga para
pangeran dari kerajaan tetangga yang ingin
mempersunting sang putri. Salah satu pemuda
tersebut ada yang mengena di hati sang putri,
namun tidak berani untuk menyampaikan kepada
baginda raja.
J u d u l B u k u | 27
Pemuda yang menarik perhatian sang putri
merupakan panglima kerajaan yang gagah dan
tampan. Banyak pula gadis yang terpesona
karenanya. Banyak juga para orang tua yang ingin
menjadikannya sebagai menantu. Secara diam-diam
panglima tersebut juga menaruh hati pada sang
putri. Mereka saling berpandangan saat sang putri
dengan sembunyi-sembunyi melihat panglima sedang
melatih para prajurit kerajaan.
“Lihat, dia menoleh ke sini…” bisiknya pada
dayang pengasuhnya. Dayang pun ikut
memperhatikan kearah halaman kerajaaan.
Demikianlah dengan beberapa cara, mereka saling
mencuri pandang.
Karena terlalu sering mengiringi sang putri
untuk sekedar melihat panglima berlatih, dayang
itupun memiliki perasaan yang sama terhadap sang
panglima. Tumbuhlah sedikit demi sedikit rasa iri
dan dengki pada sang putri. Perasaan iri itu
bertambah kuat sebab kelihatannya sang panglima
membalas perhatian sang putri.
Suatu pagi di taman keputrian sang putri
sedang menikmati indahnya bunga. Si dayang
menemui putri gelam yang sedang bersenandung. Ia
membisikkan sesuatu ke telinga sang putri.
“panglima mengajak putri bertemu di pondok nanti
28 | J u d u l B u k u
malam”, bisiknya dengan hati-hati. Putri Gelam
terkejut dan menoleh.
“Benarkah?” tanyanya menyakinkan. Antara
heran dan kagum atas keberanian panglima.
“Bagaimana kalau nanti diketahui raja dan
menjadi masalah?” tanya sang putri pada dayangnya.
“Kita harus hati-hati pergi ke sana, jangan
sampai diketahui oleh raja”, demikian si dayang
memberi bujukan. Putri gelampun mengangguk
setuju. Meski di dalam hati sangat was-was, sebab
ayahnya pasti akan marah bila sampai mengetahui
hal ini. Adat kebiasaan kerajaan tidak membenarkan
dua orang bujang dan gadis bertemu tanpa
sepengetahuan atau pendampingan keluarga.
Pertemuan hanya boleh dilakukan bila telah terjadi
kata sepakat untuk mengikat pernikahan.
Sejak itu sang putri merasa tidak tenang, ada
rasa was-was yang menghantuinya. Seperti ada yang
sedang mengawasi gerak-geriknya. Meski pertemuan
itu masih di area kerajaan. Ada tempat bersantai di
pingggir laut (istilah sungai saat itu), pondok yang
terlindung oleh beberapa pohon besar.
Saat malam menjelang, semakin bimbang Putri
Gelam, antara Bahagia bertemu kekasih hati, dengan
pelanggaran yang akan dilakukannya. Namun dengan
bujukan dan jaminan keamanan dari dayang, ia pun
bertekad menemui sang Panglima.
J u d u l B u k u | 29
Dengan mengendap-endap di temaram obor,
putri Gelam dan dayangnya akhirnya sampai juga di
pondok yang dituju. Mereka melihat sekeliling yang
tampak sepi, menunggu dalam keremangan.
“Tuan putri tunggu di sini, saya akan
memantau sekeliling. Menjaga putri dari jarak jauh’,
bisik dayang-dayang ditelinga putri Gelam. Putri pun
mengangguk tanda setuju. Lalu dengan sigap dayang-
dayang itu berlalu. Tak lama terdengar suara burung
pipit beberapa kali.
“Cuit….cuit…ciit”, lalu sesosok tegap berada
tak jauh dari pondok. Putripun keluar dari
persembunyiannya. Kedua sejoli itu bertemu, ada
rasa ragu menggamang dalam hati.
“Salam Putri Gelam, hamba Panglima”, ucap
sosok itu…temaram obor kecil menerangi teras
pondok tempat mereka bertemu. Jantungnya
berdegup kencang.
“Oh, eh, iya Panglima”, jawab Sang putri
terbata.
“Hamba merasa tersanjung mendapat
undangan Putri Gelam untuk bertatap di sini”, ucap
Panglima dengan lirih.
“Ooh, bukankah Panglima yang mengundang
saya ke sini?” tanya Putri Gelam. Keduanya saling
bertatapan, ada sebersit tak enak di hati.
30 | J u d u l B u k u
“Maaf Putri, sebaiknya kita waspada. Lebih
baik putri segera Kembali ke kediaman”, Panglima
memberi saran, ia curiga ada sesuatu yang tidak
baik akan terjadi.
“Terima kasih, saya akan Kembali…”, belum
sempat Putri Gelam berjalan Kembali ke kerajaan,
obor-obor telah menerangi tempat itu. Membuat
ketakutan di hati Sang Putri.
“Ini jebakan Putri”, demikian bisik tegas
Panglima. Firasatnya benar. Bahkan tak lama Sang
raja pun telah tiba di tempat itu.
“Putri Gelam telah berbuat tidak senonoh!”
“Putri Gelam telah berzina!” dan beberapa
teriakan lain yang membuat Putri Gelam terpojok
dan tak dapat berkata sepatah pun. Raja terlihat
murka, menghampiri keduanya dengan sangat marah.
“Engkau telah mencoreng nama baikku, tak
dapat menjaga kecantikan wajahmu dengan
keluhuran budi pekerti!” ucap raja dengan sangat
marah, Putri menangis memohon maaf.
“Maafkan Ananda, Ananda tidak melakukan
apa-apa, kami hanya bertemu di sini”, ucap Putri
Gelam dengan berlinang air mata. Panglima hanya
terpaku dengan menunduk tak berani menatap Raja.
“Karena engkau telah mencoreng wajahku,
maka engkau akan kusumpah menjadi buruk rupa”,
J u d u l B u k u | 31
lalu raja meminta orang kepercayaannya untuk
mengubah Putri Gelam menjadi buruk rupa dengan
kekuatan magis yang dimiliki. Putri Gelam hanya
menangis tersedu menerima hukuman dari
ayahandanya.
“Selanjutnya pergilah dari kerajaan ini dan
jangan Kembali lagi”, perintah raja Kuto besi. Malam
itu, Putri gelam berjalan terlunta-lunta dengan
segala cacian dan makian yang menerpanya.
Tibalah ia di sebuah lebak yang yang dipenuhi
dengan tumbuhan gelam. Untuk melindungi dirinya ia
membuat pondok dengan tiang tiga buah pohon
gelam yang hidup berdekatan. Rambutnya yang
Panjang, tak lagi menyibak ke belakang.
Digunakannya untuk menutupi wajahnya yang buruk
rupa. Penyesalan yang tiada henti membuatnya
selalu berlinang air mata. Tinggal menyendiri di
tempat sepi agar tak bertatap dengan orang. Hingga
beberapa tahun kemudian…
Putri Gelam melihat ada seorang yang
tersasar ke tempat itu, ia seorang pemuda yang
gagah. Melihat pemuda itu kelaparan dan pingsan di
bawah sebatang pohon, maka diberinya pertolongan.
Hingga pemuda itu sembuh, tapi tak pernah tahu
bagaiman wajah penolongnya.
“Terima kasih, karena aku sudah sehat, maka
aku akan mencari makanan keluar”, ucap pemuda itu.
32 | J u d u l B u k u
Putri pun hanya mengangguk tanpa berkata dan
memperlihatkan wajahnya. Lalu ia pergi dengan
membawa alat berburu seadanya.
Selesai berburu, pemuda itu tidak langsung
ke pondok. Ia bersembunyi di balik semak.
Dilihatnya perempuan berambut panjang yang
menutupi wajahnya itu duduk di teras pondok.
Pemuda itu menunggu untuk melihat wajah wanita
yang menolongnya. Tiba-tiba angin menerpa
perempuan yang tak menyadari ada yang
mengawasinya. Tersibaklah rambut di depan
wajahnya. Terperangah kaget sang pemuda, sebab
dilihatnya wajah yang sangat buruk rupa. Ia pun
menyadari sebab ditutupnya wajah wanita yang
menolongnya.
“Aku akan membalas kebaikannya, biarlah aku
ikut tinggal bersamanya, toh aku juga sudah diusir
juga oleh ayahanda”, berkata dalam hati si pemuda,
lalu keluar dari persembunyian dan pulang Kembali
ke pondok. Ia membawa beberapa burung dan kelinci
hutan.
“Aku sudah pulang, aku akan menyiangi burung
ini, tolong dimasak nanti”, ucap si pemuda. Putri
Gelam mengangguk dan menuju ke belakang.
“Maaf, aku adalah pangeran Tapa lanang dari
negeri Bayang-bayang, Ayahku Raja Mangku Bumi”,
berkata si pemuda selesai mereka menyantap
J u d u l B u k u | 33
makanan. Pangeran tapa Lanang memperkenalkan
diri.
“Aku diusir oleh ayahku sebab fitnah yang
dilakukan oleh adik tiriku. Ibuku sudah meninggal
saat aku berusia tujuh tahun sebab sakit keras.
Adik tiriku menuduhkan perbuatan yang yang tidak
aku kerjakan sebab takut aku akan ditunjuk untuk
menggantikan ayahanda”, berhenti sejenak sambil
menghela napas Panjang. Sementara Putri gelam
hanya diam mendengarkan. Ada perasaan senasip
namun ia enggan untuk menceritakannya.
“Aku pun terlunta-lunta hingga menemukan
tempat tersembunyi ini. Marilah kita hidup saling
membantu”, ucap Pangeran Tapa Lanang yang dibalas
dengan anggukan oleh Putri Gelam.
Sejak saat itu mereka saling bahu membahu
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada beberapa
sayuran yang ditanam oleh Pangeran. Hingga
beberapa waktu berselang, tumbuhlah perasaan
saying pada keduanya, namun tidak ada yang mampu
untuk mengutarakan.
Malam itu putri gelam berdiri di teras pondok
memandang bulan purnama. Terlihat anggun meski
dilihat dari belakang. Rambutnya sesekali menyibak
sebab angin sepoi menerpa wajahnya. Pangeran Tapa
lanang yang duduk tak jauh di belakangnya tiba-tiba
tak dapat menahan gejolak hatinya. Ia pun berdiri
34 | J u d u l B u k u
dan menghampiri Putri Gelam, dengan ragu
dipeluknya Putri Gelam dari belakang. Putri tak
bergeming, berkecamuk gemuruh dalam hatinya.
Tiba-tiba Guntur dan kilat menyambar dengan
keras. Kilatannya menimpa wajah sang putri.
Keduanya meloncat kaget dan terlihatlah oleh
pangeran bahwa wajah wanita di depannya telah
berubah menjadi wanita yang cantik jelita. Ia
mengambil tempayan dan turun ke lebak, lalu
diambilnya air lebak nan bening itu. Pangeran berlari
ke arah sang putri.
“Berkacalah dengan air tempayan ini, wajahmu
telah berubah”, sambil menyodorkan tempayan
kearah putri. “Percayalah…”, ucap pangeran Tapa
Lanang.
Dengan ragu-ragu Putri Gelam menghampiri
tempayan berisi air itu menyibak rambut
diwajahnya, maka terlihatlah wajah cantiknya
bergoyang dalam air. Ia pun tersenyum bahagia.
“Eh…Oh… benar, wajahku telah Kembali seperti
semula”, ucapnya dengan haru. Butiran air menetes
ke pipinya tanpa terasa, rasa Bahagia dan haru
membuatnya berlinang. Iapun mengucap syukur atas
nikmat Yang Kuasa.
Maka malam itu menjadi malam yang Panjang,
duduk berdampingan di teras pondok, Putri
J u d u l B u k u | 35
Gelampun menceritakan kisah hidupnya pada
Pangeran Tapa Lanang.
“Kisahmu sangat mirip dengan kisah hidupku,
kita bernasib sama. Maukah Putri hidup bersama
denganku?” tanya Pangeran Tapa Lanang. Putripun
mengangguk tanda setuju, Bunga cinta bersemi
diantara kedua, saling menerima apa adanya, meski
sebelumnya terlihat buruk rupa. Keduanya sepakat
untuk mengarungi kehidupan Bersama.
Konon kehidupan mereka semakin membaik,
tempat yang tadinya sepi mulai bertambah dengan
kedatangan penduduk baru, sehingga tempat itu
menjadi sebuah kampung. Keluarga kecil itu semakin
lengkap dengan hadirnya dua orang putra dan putri
mereka.
Perubahan keadaan kampung itu menarik
perhatian desa tetangga, sehingga tersiarlah
tentang ketampanan dan kecantikan pemimpin des
aitu. Kabar angin itu terdengar hingga ke telinga
adik tiri Pangeran Tapa Lanang yang telah
menggantikan ayahnya Raja mangku Bumi. Kemudian
ia pun menyuruh orang untuk menyelidiki kebenaran
cerita itu.
Setelah mendapatkan kebenaran warta bahwa
yang memimpin kampung baru itu adalah kakak
tirinya, raja Bayang-bayang tak dapat tidur
nyenyak. Ia selalu dihantui perasaan takut Pangeran
36 | J u d u l B u k u
Tapa Lanang akan merebut kekuasaannya. “Sebelum
ia merebut kekuasaanku, maka aku harus
membunuhnya terlebih dahulu”, demikian terlintas
dalam benaknya.
Keesokan harinya ia membawa prajurit
kerajaan untuk memusnahkan kampung Pangeran
Tapa Lanang. Prajurit yang bersenjata lengkap
bergegas mengikuti perintah rajanya. Sesampai di
sana, tak terelakkan lagi pertempuran terjadi.
Dalam pertempuran itu putra Pangeran Tapa Lanang
gugur. Menyaksikan putranya gugur, Pangeran Tapa
Lanang sangat putus asa. Ia pun menceburkan diri
dalam kubangan lumpur hingga tenggelam. Melihat
kejadian itu Putri Gelam menangis terus menerus
hingga tempat itu menjadi sebuah danau.
Konon Pangeran Tapa Lanang berubah menjadi
seekor ikan besar yang hidup di danau itu. Adapun
putri gelam menjadi burung putih berleher panjang
yang setia menunggu di pinggir danau. Putra putri
mereka pun berubah menjadi pohon gelam yang
tumbuh subur di sekitar danau. Maka hingga kini
danau itu disebut dengan nama danau Teluk Gelam.
Sumber:
https://www.morgesiwe.com/2016/03/legenda-
danau-teluk-gelam.html
J u d u l B u k u | 37
4. KISAH SANG ‘ALIM
(LEGENDA PANGERAN HAJI MALIAN,
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR)
OLEH: SITI MUHAJIRIYATI, S.Pd., M.Pd.
SMP NEGERI 2 MESUJI RAYA
Sang ‘Alim, seorang Pesirah Kayuagung pada
tahun 1908. Sang ‘Alim juga seorang kiyai penyiar
agama Islam di kala itu. Beliau memiliki dua orang
putri yang cantik, dari dua orang isteri. Isteri
pertama meninggal Ketika berada di Mekah saat
menunaikan ibadah haji. Isteri kedua merupakan
seorang wanita lembut dan berhati mulia. Kehidupan
keluarga kecil yang menjadi tauladan bagi segenap
rakyat pada masa itu.
Pagi itu suasana begitu cerah, kicau burung
pipit bersahutan memperindah suasana hari. Hari
yang ceria untuk memulai perjalanan. Keluarga Sang
‘Alim sedang makan pagi di ruang tengah.
“Alhamdulillah, mari kita nikmati rejeki pagi
ini”, ucap Sang ‘Alim kepada kedua putrinya.
“Nach…ini ada ikan betok dan gulai daun
labu”, berkata sang isteri sambal menyendukkan ke
piring suami serta anak-anaknya. Dengan lembut dan
sabar dilayani ketiga orang yang disayanginya
menyantap masakannya.
38 | J u d u l B u k u
“Tadi Ayuk ikut membantu menyiapkan
makanan ini, Yah”, sanjungnya pada putrinya yang
cantik. Diliriknya sang putri yang tersipu, Sang ‘Alim
mengangguk tanda memperhatikan.
“Nanti Adek bantu ibu membersihkan rumah
dan mencuci piring”, usul putri kedua dengan manja.
“Hemmm….bagus. Nanti Ayuk jadi kut ayah ke
Marga seberang?”, tanya Sang ‘Alim mengingatkan.
Sang putri pertama mengangguk, sudah jadi
kebiasaaannya untuk ikut menyiarkan agama Islam
Bersama sang ayah. Terutama untuk menjelaskan
tentang fiqih keputrian pada ibu-ibu di desa.
Selesai menyelesaikan sarapan pagi, kedua
ayah dan anak bersiap melakukan perjalanan.
Dibantu seorang yang menyiapkan perahu. Desa
tujuan berada di seberang sungai, berada di
hamparan lebak. Perjalanan melewati indahnya
kelopak bunga Telepok (Teratai) putih yang indah.
Tangan mungil menyentuh kelopak bunga yang
menggoda hati.
“Subhanallah…”, bisik Sang “alim hamper tak
terdengar. Sibakan perahu mengangetkan
cengkerama burung putih. Terdengar lagi bisik
kekaguman pada Sang pencipta.
“Alhamdulillah sudah terlihat pondoknya,
sebentar lagi kita sampai”, ucap pembawa perahu
dengan lega. Sang ‘Alim tersenyum sambil
J u d u l B u k u | 39
mengangguk. Mereka beranjak dari perahu tenda
langsung melangkah ke pondok marga tempat
pertemuan.
Kerio marga menyambut kedatangan Sang
‘Alim dengan gembira. Keduanya dipersilahkan naik
ke rumah. Sang putri diajak masuk ke dalam
berkumpul dengan istri kerio dan ibu-ibu yang telah
berkumpul di sana. Minuman serta cawisan telah
disiapkan. Ada kue gandos yang dibuat dari tepung
beras putih. Ada juga kue ingkok dari tepung beras
ketan.
“Mari, silakan dinikmati hidangan ala
kadarnya”, demikian Sang Kerio marga menunjukkan
keramah-tamahannya. Sang alim menikmati cawisan
sambal melepas dahaga dan menghormati upaya
warga yang menyambut kedatangannya.
“Bagaimana keadaan marga akhir-akhir ini?”
tanya Sang ‘Alim memulai pembicaraan.
“Alhamdulillah keadaan marga aman dan
tentram. Tanaman tumbuh subur, dan cukup untuk
kehidupan sehari-hari”, jawab kerio dengan sopan.
Beliau mengangguk dan tersenyum. Lalu memandang
wajah warganya satu persatu. Warga tak berani
menatap balik pada sorot mata yang tajam itu.
“Alhamdulillah…, pada kesempatan ini akan
saya uraikan tentang puasa. Dua pekan lagi kita akan
melaksanakan puasa Ramadhan”, Sang ‘Alim memulai
40 | J u d u l B u k u
siarnya. Warga yang hadir mengangguk tanda
mengerti.
“Puasa Ramadhan ini bersifat wajib bagi
pemeluk agama Islam. Dimulai dari sebelum terbit
fajar hingga terbenam matahari. Hendaknya semua
warga di marga ini dapat melaksanakan kewajiban
puasa Ramadhan tahun ini. Kecuali bagi yang boleh
tidak melaksanakan oleh sebab tertentu”, menghela
nafas sejenak, lalu melayangkan pandangan pada
semua yang hadir.
“Pertama, orang yang sakit, sehinga
bertambah parah bila ia berpuasa. Kedua, seorang
musafir, orang sedang dalam perjalanan jauh,
ketiga, orang yang sudah udzur. Keempat, wanita
yang sedang mengandung, menyusui, nifas, dan haid”,
lanjut Sang ‘Alim memberi penjelasan.
Demikianlah pertemuan hari itu diakhiri
dengan sholat dzuhur berjamaah. Mereka Kembali
dengan perahu tenda yang ditumpangi saat
berangkat pagi tadi. Secara rutin Sang ‘Alim
mengunjungi marganya secara bergantian, sekaligus
menyampaikan ajaran Islam secara bertahap pada
warganya.
Malam yang hening Sang “Alim sedang
memanjatkan doa bagi kesejahteraan warga dan
keluarga usai sholat tahajud. Bunyi jangkrik
terdengar begitu jelas berirama. Sesekali ditimpali
J u d u l B u k u | 41
sahutan burung hantu dari pohon mangga di samping
rumah.
‘Assalamu alaikum!” terdengar orang memberi
salam sambil memanggil Sang ‘Alim. Ada juga suara
gaduh yang mengikutinya kemudian. Sang ‘Alim
terhennyak menyahut salam dan tergugah dari
kekhusukkannya. Sang isteri yang ikut terbangun
mengintip dari celah jendela. Menunggu suaminya
membukakan pintu.
“Ada apa ini?” tanya Sang ‘Alim setelah pintu
terbuka. Beberapa orang yang di belakang
memegangi seorang lelaki memakai sarung di
wajahnya. Terlihat garang wajah orang-orang saat
itu.
“Ini ada seorang yang ketahuan mencuri di
rumah warga, namun tidak mengaku, padahal jelas-
jelas dia ada di sekitar rumah itu”, jelas orang yang
pertama sampai. Rupanya ia sedang mendapat tugas
ronda malam itu.
Beberapa orang ada yang memukuli si pencuri.
Suara serta teriakan warga yang datang menambah
riuh suasana. “Sabar, mari kita masuk dan duduk
Bersama di dalam”, ajak Sang ‘Alim menenangkan.
Maka masuklah mereka untuk menyelesaikan
masalah pencurian itu.
“Coba, siapa tuan rumah yang didatangi
pencuri ini?” tanya Sang ‘Alim pada yang hadir.
42 | J u d u l B u k u
Seorang mengangkat tangan dan dengan sedikit
terbata menceritakan kejadian sebenarnya.
“Beberapa hari ini istri saya menyampaikan
bahwa ayamnya setiap hari berkurang. Padahal kami
tidak menjual atau menyembelih. Lalu mala mini saya
sengaja untuk berjaga di halaman dekat kendang
ayam. Maka tertangkaplah pencuri ini”, cerita lelaki
kurus dengan sarung dilehernya.
“Saya tidak mencuri ayamnya, Saya ikut
berjaga malam ini, ini salah paham belaka!” teriak
pencuri dengan lantang.
“Sudah! Jangan mengelak, sudah jelas
tertangkap masih mengelak!” teriak yang lain.
Suasana Kembali gaduh, sebab yang tertuduh tetap
menyangkal tidak melakukan perbuatan itu.
Sang ‘Alim mengangkat kedua tangannya,
semua warga terdiam dan menunggu keputusan.
“Mari kita selesaikan dengan bijak, tolong bawa
maju orang itu”, sambil menunjuk sang tertuduh.
Sambil dipegang dua orang di kiri serta kanan sang
tertuduh dibawa ke hadapan Sang ‘Alim.
“Lepaskan tangan kanannya”, perintah Sang
‘Alim dengan penuh wibawa. Tangan pencuri itupun
dilepaskan, terdengar hembusan napas kesal dari
para warga.
J u d u l B u k u | 43
“Apakah engkau ditangkap saat berada di
rumah bapak ini?” tanya Sang ‘Alim.
“Ya, tetapi saya tidak mencuri ayam saya ikut
berjaga malam ini”, jawab si pencuri mengelak.
“Bohong!, Bohong!....”, teriak warga
bersahutan, Sang “Alim Kembali mengangkat
tangannya, memberi isyarat untuk diam.
“Sekarang coba jabat tangan saya”, pinta
Sang ‘Alim pada tertuduh. Si tertuduh mengulurkan
tangan dengan ragu, Sang ‘Alim dengan cepat
menyambut tangannya. Genggaman erat Sang ‘Alim
membuat si tertuduh tidak berkutik. Dari sela-sela
kedua tangan yang berjabat erat itu keluar asap
hitam.
“Ma….af Pesirah, saya memang mencuri
ayamnya….”, terbata memberi pengakuan dengan
muka yang merah. Pengakuan yang disambut dengan
teriakan warga. Demikianlah salah satu ilmu yang
dimiliki Sang ‘Alim untuk membuat orang berkata
jujur. Hukumanpun dijatuhkan sesuai dengan adat
yang disepakati.
Terdengar adzan Subuh berkumandang, si
pencuri diamankan. Warga Kembali ke rumah untuk
bersiap ke surau menunaikan sholat. Kejadian dini
hari itu masih menjadi bahan perbincangan warga.
Selang beberapa hari kemudian sudah pudar pula,
hari-hari berlalu seperti biasanya.
44 | J u d u l B u k u
Hari itu Sang ‘Alim beserta keluarga berniat
menuju kampung halaman sang isteri untuk
menjenguk orang tua yang sedang sakit. Lewat
kampung tersebut ada di daerah Ulu, sekitar satu
hari perjalanan di siang hari. Pagi buta keluarga
tersebut berangkat dari rumah melewati sungai
Ogan.
“Bawa seperlunya saja Dek”, demikian saran
Sang ‘Alim pada isterinya. Sang isteri menyiapkan
beberapa pakaian untuk ganti serta bekal makanan
dalam perjalanan. Nasi liwet, ikan, serta sambal
yang dibungkus terpisah dengan daun pisang. Tak
lupa dibawanya dua sisir pisang yang sudah
menguning ranum.
“Sudah siap Kak, ayo anak-anak…”, ajak sang
isteri sambil menjinjing sangkek.
Mereka berangkat dengan didampingi dua
orang penggayuh perahu. Perjalanan menuju daerah
Ulu melewati sungai nan luas, keluasan itu sebab
adanya hamparan lebak di sekitar sungai. Sebutan
sungai pada saat itu hingga sekarang di daerah
kayuagung adalah laut.
Pemandangan yang indah mewarnai perjalanan
itu. Lebak yang penuh dengan bunga telepok warna-
warni. Bunga yang membentuk rumpun dengan
daerah yang berbeda-beda. Taman ciptaan semesta
alam yang patut disyukuri.
J u d u l B u k u | 45
“Subhanallah….”, demikian berulang kali
terucap dari bibir Sang ‘Alim, memuji keagungangan
ciptaan-Nya. Menjelang siang, beberapa perahu
bertemu bersimpangan. Diantaranya adalah perahu
para pedagang. Mereka membawa berbagai hasil
bumi untuk dibawa ke Palembang atau daerah
lainnya. Ada ikan salai, juga terasi, dan rempah-
rempah.
“Dek…, bersiaplah….bentar lagi sampai!” ucap
Sang ‘Alim memberi tahu istri serta anaknya yang
berada di dalam tenda. Dermana tempat berlabuh
sudah mulai terlihat, hanya beberapa tonggak kayu
untuk menambatkan perahu. Seorang penggayuh
akan tinggal di perahu, sedang lainnya ikut
membantu membawakan bawaan Sang ‘Alim. Mereka
akan berjalan kaki menuju kampung tujuan dengan
melewati sebuah hutan kecil yang lebat. Bungi
siamang telah menyambut kedatangan mereka di
dermaga. Ada dua pondok untuk beristirahat para
pengayuh perahu tenda yang singgah di sana.
Tak lama mereka menyandarkan perahu,
beristirahat sejenak di teras pondok. Sekedar
untuk makan minum dan mengisi perut. Bekal yang
dibawa cukup untuk berlima.
“Alhamdulillah…, hati-hati menjaga perahu
ya”, pesan Sang ‘Alim pada penjaga perahu. Mereka
bersiap melanjutkan perjalanan. Sang “Alim ikut
46 | J u d u l B u k u
membawa buntalan di bahunya. Ia berjalan dengan
membawa serta tongkat kayu di tangannya.
Bergegas kelima orang itu menuju jalan di belakang
dermaga.
Perjalanan melewati menuju hutan dengan
pepohonan yang lebat di kiri kanannya. Suara
siamang makin ramai bersahutan. “Kung….kung…..!
Kung…..! Kung!” demikian bunyinya. Sesekali ada kera
yang menyeberang jalan, ada juga babi hutan yang
menyelinap cepat ke rerimbunan semak.
“Berhenti sebentar….”, pinta Sang “Alim
sambil membentangkan tangannya. Memberi isyarat
pada isteri dan kedua putrinya untuk berlindung di
belakangnya. Suasana berubah mencekam, semua
terdiam menunggu dengan cemas. Namun suara
siamag serta burung beterbangan makin terdengar
riuh.
“Hahahaha…..!” suara tertawa dari balik
semak mengejutkan mereka. Lalu keluarlah empat
orang dengan tampang beringas membawa parang
panjang. Ternyata ada perompak menghadang
mereka.
“Jangan takut Pesirah, serahkan hartamu,
maka akan kuampuni diri dan keluargamu!” ucap sang
perompak dengan lantang. Mereka mengepung
keluarga itu dari empat penjuru.
J u d u l B u k u | 47
“Sabar, mari kita bicara baik-baik, kami
hanya membawa beberapa makanan dan pakaian”,
ucap Sang ‘Alim dengan tenang.
“Tidak percaya, serahkan hartamu!’ ucap sang
perompak sambil mengangkat parangnya. Ia berlari
untuk membacokkan parang Panjang ke tubuh Sang
“Alim. Alhamdulillah beliau bisa menghindar, tapi
tanpa disangka seorang perompak lain membacok
dari sisi kiri, dengan sigap ditangkisnya tebasan
parang dengan tangan kirinya.
“Haahh…!” sang perompak terkejut sebab
tebasan itu berbunyi seperti ber temu besi dengan
besi. Tangan kiri Sang ‘Alim tidak terluka sama
sekali.
“Ia kebal…!” teriak perompak kedua. Yang lain
ikut terperangah. Tiba-tiba pemimpin perompak
memegang kaki Sang ‘Alim.
“Saya mohon maaf, saya akan bertobat, saya
ingin menjadi murid kiyai” demikianlah permohonan
pemimpin perompak yang diikuti oleh ketiga
pengikutnya.
“Sebaiknya kalian segera bertobat dan
mengikuti ajaran Islam”, suaranya Sang ‘Alim
dengan penuh wibawa.
“Kami bersedia, Kiyai”, ucap keempat
perompak hampir serempak. Kiayai adalah sebuatan
48 | J u d u l B u k u
untuk Sang “Alim sebagai penyiar agama Islam
sebelum menggantikan ayahnya menjadi seorang
pesirah. Adapun ilmu kekebalan yang dimilikinya tak
pernah digunakan sebelum ada kejadian yang
mendesak.
Merekapun melanjutkan perjalanan kembali,
keempat perompak ikut serta mengikuti Sang ‘Alim
hingga menuju kampung tujuan dengan selamat.
Keempat perompak itu akhirnya ikut mengabdi di
rumah Sang “Alim untuk lebih dalam mempelajari
agama Islam.
Menginjak usia lanjut, Sang ‘Alim mendirikan
sekolah Islamiah di daerah Tangjung Raja. Para guru
sekolah didatangkan dari Saudi Arabia. Sekolah itu
untuk mendidik putra-putrinya. Meski beliau dikenal
sebagai pangeran danseorang ulama, tetapi Haji
Malian bukanlah merupakan sosok yang angker. Ia
sangat akrab, dan memberikan pengajaran dengan
cara yang santai, seperti sambil minum kopi dan
bercerita, namun penuh hikmah.
Sekolah ini sampai sekarang masih ada dan
telah dihibahkan kepada Muhammadiyah. Beliau
meletakkan jabatannya pada tahun 1927 karena
merasa sudah udzur. Beliau berhenti dengan hormat
dan digantikan oleh putranya, haji Ali Muhammad
Nur.
=TAMAT=
J u d u l B u k u | 49
5. KISAH ASAL DESA LUBUK SEBERUK
Oleh: Erlin Marlenta, S.Pd.,M.Si.
SMPN 3 Kayuagung
Alkisah, dahulu kala ada seorang raja Syahwan
yang bijaksana hidup rukun dan damai bersama warga
sehingga sang raja sangat dicintai warganya. Raja sangat
memikirkan kesejahteraan rakyatnya sehingga di
kerajaan itu semua hidup serba berkecukupan. Beliau
memiliki dua orang putra yang sangat tampan. Kedua
putra beliau memiliki hobi yang berbeda. Putra pertama
yang bernama Pangeran Prawiro, dia memiliki hobi
berburu ke dalam hutan mencari binatang buruan seperti
babi hutan, rusa dan burung yang menjadi koleksi di
kerajaan. Namun pangeran lebih senang berburu rusa
karena sedangkan adiknya Pangeran Depati sangat suka
memancing ikan. Terutama ikan baung ikan gabus dan
ikan si hitam. Pangeran Depati memiliki kesaktian bisa
berjalan di atas air. Pangeran Depati sebaenar tidak
sukan makan ikan. Hasil pancingannya selalu diberikan
pada masyarakat yang kurang mampu. Mereka memiliki
wajah yang sangat tampan serta memiliki sifat yang
mulia sama halnya seperti sang raja
Pada suatau hari, kedua pangeran dipanggil oleh
sang raja untuk menghadap.
50 | J u d u l B u k u