The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Studi Kitab Kitab Tafsir Modern Kontemporer.pdf

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Asmuni Asmuni, 2023-06-21 03:36:54

Studi Kitab Kitab Tafsir Modern Kontemporer.pdf

Studi Kitab Kitab Tafsir Modern Kontemporer.pdf

41 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r juga seorang anggota komisaris partai nasilonalis di desanya, Sehingga rumah nya digunakan sebagai markas politik dan juga sebagai pusat informasi.41 Adapun riwayat pendidikan yang dienyam oleh Sayyid Qutub diantara nya ia mengenyam pendidikan dasar selama kurang lebih 4 tahun di desa tempat ia tinggal. Kemudian ketika ia berusia 10 tahun ia sudah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an nya sehingga memiliki gelar Al-hafizh. Melihat bakat keagamaan yang sangat dalam di miliki sang anak, akhirnya orang tua dari sayyid qutub memindahkan anak untuk melanjutkan pendidikan nya di Tajhiziah Daar Ulum(nama lama universitas kairo yang terkenal dengan bidang pengkajian sastra arab dan kegamaan dan juga tempat Hasan al-banna menyelesaikan S1 nya). Kemudian Sayyid Qutub berhasil menyelesaikan studi S1 nya pada bidang sastra di tahun 1933 dan juga gelar diploma dalam bidang tarbiyah.42 Ketertarikan beliau pada bidang politik sudah mulai tertanam dari ia masih berstatus mahasiswa. Ia memiliki berbagai kegiatan sastra politik dan pemikiran yang kongkrit yang kritis, sehingga ia dan kawan-kawan nya banyak menerbitkan sajak-sajak ataupun esai nya di koran-koran, media dan juga sering berceramah dengan ceramah-ceramah kritis nya dari mimbar ke mimbar. Di antara karya beliau adalah 1. At-Tashwir al-Fann fi al-Qur’an 2. Masyahid al-Qiyamah fi al-Quran 3. Al-‘Adalah al-Ijtima’iyyah fi al-Isla 4. Hadza ad-din 5. Al-Mustaqbal li hadza ad-din 6. Khashaish Ath-Tashwir al-Islami 41 Nuim Hidayat, Sayyid Qutub dan Kejernihan Pemikiran nya (Jakarta:Gema Insani, 2015) h. 16 42 Sayyid Qutub, Fi Zhilal Al-Qur’an, diterjemahkan As’ad dkk, (Jakarta: Gema Insani Press 1992) jilid 12 h. 286


42 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r 7. Ma’alim fi ath-Rhariq B. Gambaran Kitab Kitab fi ziilal al-Quran merupakan kitab tafsir modern yang salah satu fokus pembahasannya adalah kepada haraki (pergerakan). Kitab tafsir ini terdiri dari delapan jilid yang dicetak oleh percetakan baerut (daar al-Syuruq) dan dicetak pada tahun 2003. Sayyid Qutub tidak melibatkan dalam tafsirnya pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Beliau lebih menitik beratkan karyanya pada problematikan yang terjadi dan muncul dalam kehidupan kaum muslimin. Dan karena itu, kitab ini juga disebut sebagai buku pedoman dalam masalah pendidikan, dakwah dan petunjuk jalan.43 Dr. A. Husnul Hakim Imzi, MA. menjelaskan terkait pondasi pondasi yang mendasari penafsiran Sayyid Qutub. Di antaranya adalah: 1. Menghilangkan kerenggangan yang sudah cukup jauh antara kaum muslimin dengan al-Quran. 2. Menyadarkan kaum muslimin atas urgensi pergerakan yang ditopang oleh nilai nilai al Quran dan mentalitas jihad. 3. Membekali kaum muslimin dengan petunjuk yang dapat membawa kaum muslimin kepada kepribadian yang islami 4. Mendidik kaum muslimin dengan pendidikan yang qur’ani yang sempurna. 5. Menjelaskan petunjuk jalan yang dapat membawa kaum muslimin menuju tuhannya. 6. Menjelaskan kesatuan tema dalam al-Quran. 43 A. Husnul Hakim Imzi. Ensiklopedi Kitab Kitab Tafsir. Cetakan II. 2019. Depok: Lingkar Studi al-Quran (eLSiQ). h. 213


43 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r C. Metode dan Corak Penulisan Kitab tafsir fi ziilal al-Quran ditulis dengan metode tahlili. Yang salah cirinya adalah tartibul mushafi. Mengikuti urutan mushaf al-Quran yakni dari surat al-Fatihah sampai surat an Nas. Adapun metode yang digunakan dalam memaparkan penafsirannya. Beliau menjelaskan secara umum tentang surah yang akan ditafsir. Misalnya pada surat al-Fatihah beliau terlebih dahulu menjelaskan berapa jumlah ayat pada surat yang akan dibahas. Pun beliau menjelaskan bahwa surat al-Fatihah secara global mengandung konsep aqidah al Islamiyah.44 Adapun corak dalam penafsiran beliau. Merupakan corak baru dalam penafsiran al-Quran. yaitu bercorak haraki yang menjelaskan tentang pergerakan serta bermanhaj fikri (logis) dan tarbawi (pendidikan. 45 D. Karakteristik Dalam menuliskan tafsirnya Sayyid Quthub mula mula menjelaskan kandungan umum surat yang akan ia tafsirkan. Salah satu pembahasan awalnya adalah sabab nuzul serta keutamaan surat tersebut dan munasabah tersebut. Dan sebagai penutup diakhir penafsirannya. Beliau menjelaskan tentang masalah masalah yang terdapat di surat tersebut. baik dari segi tema, balaghah, seni dan pergerakan. E. Contoh Kitab Salah satu contoh yang dapat kita lihat dari tafsir ini adalah ketika penafsirnya menjelaskan suatu ayat kemudian mengaitkannya dengan permasalahan yang terjadi dimasa tersebut. Misalnya pada surah al-Nisa: 44 Qutub, Sayyid. Fi Ziilal al-Qur’an. Jilid 1. 2003. Beirut: Daar al-Syuruq. h. 21 45 Ensiklopedi Kitab Kitab Tafsir. Cetakan II. 2019. h. 216


44 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r ًۭ ا ًۭ َّ ا مْوقُوتً ٰـبً ُمْؤ ِمنِ َ ين ِ كتَ ْ ٰوةَ َ ك ْ انَت َ علَى ٱل َّن َّ ٱلصلَ ِ إ ‘‘Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.’’ Ahli Dzahir mengambil ayat ini sebagai dasar bahwasanya tidak adanya qodho sholat yang telah lewat waktunya karena itu akan menyebabkan sia-sia dan tidak sah karena sesungguhnya sholat itu tidak sah kecuali pada waktunya yang telah ditentukan. Sehingga kapan saja tertinggal waktunya, maka tidak ada jalan baginya untuk mengulang atau mengqodho sholat tersebut. Beda halnya dikalangan jumhur ulama yang mengatakan bahwa sah sholat seseorang yang terlewat waktu yang telah ditentukan waktunya. Oleh sebab itu mengawali takbir pada awal waktu merupakan tindakan yang amat mulia, sedangkan mengakhirkan waktu merupakan suatu yang dikategorikan makruh.46 Salah satu karakteristik dari penyajian kitabnya sayyid Qutub memulai penafsirannya dengan sebuah pendahuluan. Yang didalamnya terdapat keutamaan dari surah yang akan dibahas oleh Sayyid Qutub. Dalam hal ini pemakalah mengutip penafsiran beliau dari Surah Al Ikhlas. beliau menyebutkan bahwa surah Al Ikhlas merupakan surah yang pendek namun sebanding dengan sepertiga AlQuran. hal beliau dasarkan kepada hadits Nabi Muhammad SAW.47 Kemudian diakhir penafsirannya beliau tutup dengan tema yang berkaitan dengan surah yang dibahas. Misalnya pada akhir penafsiran surat Al Ikhlas. beliau menyebutkan bahwa surah ini memantapkan tauhid islam. Sebagaimana surah Al Kafirun yang menjelaskan tentang ketauhidan. Dan Rasulullah SAW disaat 46 Sayyid Qutb, Fi Zilal al-Qur’an (Minbar al-Tauhid wa al-Jihad), jilid 3 h. 268 47 Qutub, Sayyid. Fi Ziilal al-Qur’an. Jilid 8. 2003. Beirut: Daar al-Syuruq. h. 4002


45 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r melaksanakan sholat fajr beliau membaca kedua surah ini. Yaitu surah Al Kafirun dan surah Al Ikhlas.48 ٰى ُكْم ۟ فِ َّ ى ٱَّللِ َ ح َّق ِ ج َه ِادِه ُ ۦ ۚ هَو ْ ٱجتَبَ ِهدُوا ٰ َو َج ْ ُ يكم ِ ب َ ةَ أ َّ ِ ۚ مل ِ ين ِ م ْن َ ح َرجٍ َو َم َ ا جعَ َل َ علَ ُ يْكْم فِ ِ ى ٱلد ۟ وتَ ُكونُوا َ َ ا علَ ُ يْكْم ُك َون َّ ٱلر ُس ُول َ ش ِهيدً ِ ا ليَ ذَ وفِ َى هٰ ُم ْسِل ِم َ ين ِ من قَ ُ بْل َ ْ ُ ۚ هَو َ س َّمٰى ُكُم ٱل َ ِهيم ِ َبْر ٰ إ و َءاتُ َ ٰوةَ َّ ٱلصلَ ۟ قِ ُيموا َ ِ اس ۚ فَأ َء َ علَى ٱلنَّ ُش َهدَآ َ َّ ٱَّللِ ُ هَو َ مْولَ ٰى ُكْم ۖ فَنِ ْعم ِ ۟ ب ِص ُموا و ْ ٱعتَ َ َّ ٱلز َكٰوةَ ۟ وا ِص ُير ٱلنَّ َ ونِ ْعم ٰى َ َمْولَ ْ ٱل ۟ فِ َّ ى ٱَّللِ َ ح َّق ِ ج َه ِادِهۦ Pada ِهدُوا ٰ ج َو َbeliau menjelaskan bahwa jihad adalah berperang melawan musuh-musuh, jihad melawan diri sendiri, melawan kerusakan, melawan kejahatan dan sebagainya. Dan Allah telah mengamanahi kita semua dengan ini yaitu jihad. Dan Allah telah memilih kita dari hamba hambanya yang lain, Untuk mengemban amanah yang agung ini. Beliau juga menjelaskan bahwa selayaknya kita bersyukur dan menyambut beban ini dengan berbuat kebaikan. 49 F. Kekurangan dan Kelebihan 1. Kelebihan a. Menurut Ibnu Hayyan, bahasa dan sastra yang digunakan dalam tafsir ini sangat memadai b. Menurut Abu al – Mundhir, salah satu kelebihan tafsir ini adalah kejelian dan ketelitian Sayyid Quthub dalam menafsirkannya c. Menurut Ibnu Khaldum, dari segi I’rob, segi bahasa, dan balaghahnya adalah yang terbaik 2. Kekurangan 48 Qutub, Sayyid. Fi Ziilal al-Qur’an. Jilid 8. 2003. Beirut: Daar al-Syuruq. h 4005 49 Qutub, Sayyid. Fi Ziilal al-Qur’an. Jilid 4. 2003. Hlm.2446


46 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r a. Menurut Ibnu Al – Mundhir, kitab ini terlalu membela pemahamannya b. Sebagian ulama, sebagaimana keterangan yang di kutip oleh Abu Hayyan, menganggap bahwa Sayyid Quthb mempropagandakan aliran sesat50 50 https://almizan.uin-suka.ac.id/id/kolom/detail/309/pemikiran-sayyidqutub-dalam-tafsir-fi-zhilalil-quran


47 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r LAMPIRAN 1. Penafsiran surat al-Fatihah 2. Penafsiran surat Al Ikhlas 3. Penafsiran surat Al Hajj ayat 78 tentang jihad


48 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r


49 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r


50 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r


51 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r BAB V Tafsir al-Mizan BAB V Tafsir al-Mizan “Karya Muhammad Husain Thabathaba'i” (Irfan Zuhdi dan Al-Fath As-Siddiq) A. Biografi Sayyid Muhammad Husain al-Thabathaba’i Thabathaba’i memiliki nama lengkap al-Sayyid Muhammad Husain bin al-Sayyid Muhammad bin Muhammad Husain bin alMirza ‘Ali Ashghar Syaikh al-Islam al-Thabathaba’i al-Tabriz alQadhi. Beliau lahir di kota Tabriz, Iran (Persia), pada tanggal 29 Zulhijjah tahun 1321 H dalam keluarga ulama yang banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka. Pada masa kehidupannya, ayah Husain Al-Thabathaba’i–yang bernama Muhammad–merupakan salah seorang ulama terkenal, tidak saja di Tabriz tapi juga di berbagai daerah lainnya di Iran. Dia adalah keturunan seorang ulama besar; Mirza Ali Ashgar Syaikh al-Islam yang dikenal sebagai salah seorang ulama terhormat di Tabriz. Sementara kakeknya, al-Sayyid Muhammad Husain, adalah salah seorang murid terbaik dari pengarang al-Jawahir dan Syaikh Musa Kasyif al-Githa. Bila diruntun sampai ke atas, maka dapat ditemukan bahwa nasab keluarganya bersambung hingga kepada ‘Ali ibn Abi Thalib. Dengan demikian, al-Thabathaba’i adalah keturunan Rasulullah Saw. Kehidupan masa kecil Thabathaba’i sangatlah sulit. Sejak berumur lima tahun, ia telah menjadi seorang piatu karena ditinggal wafat ibunya. Empat tahun kemudian ia kembali menjadi yatim setelah ayah tercinta menyusul ibunya. Belum lagi dengan tidak adanya penghasilan tetap untuk menyangga kebutuhan hidup yang disertai dengan menjauhnya para sahabat dan teman kerabat. Situasi ini semakin diperparah lagi dengan sejumlah kesulitan lainnya. Keadaan sosial-ekonomi yang tidak stabil dan buruk melanda daerahnya sebagai imbas dari invasi Rusia. Namun, semua kesempitan hidup tersebut tidak membuatnya berputus asa, sebaliknya itu semua


52 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r ia jadikan sebagai sarana untuk mempraktekkan kehidupan ‘irfani dengan cara melatih jiwa dan hatinya dari pengaruh keduniawian. Tanah kelahiran Husain Al-Thabathaba’i menjadi “sekolah” pertama baginya untuk mengenyam pendidikan. Wali yang diamanahi oleh ayahnya untuk mengurus segala keperluannya, mendatangkan seorang guru privat yang datang ke rumah. Proses belajar sistem privat ini dijalani Thabathaba’i selama enam tahun dari 1922 sampai 1928. Di kota ini pula, dia berkenalan dengan ilmu pengetahuan langsung dari keluarganya yang terkenal sebagai keluarga ulama, dan secara tidak langsung dia belajar dari kaumnya yang merupakan komunitas yang akrab dengan berbagai pengetahuan, baik pengetahuan keislaman maupun pengetahuan umum. Thabathaba’i mulai mengkaji berbagai buku klasik yang berisi tentang agama dan bahasa Arab sambil mempelajari ilmu-ilmu dasar yang diberikan oleh para gurunya. Selain itu, dia juga mulai mempelajari beberapa bidang ilmu seperti gramatika, sintaksis, retorika, fikih, ushul fikih, logika dan filsafat serta apa yang disebut olehnya sebagai “spiritual science”. Proses belajar keseluruhan bidang ilmu tersebut ditekuninya dalam waktu selama tujuh tahun sejak tahun 1928, dan dia menamatkan semuanya pada tahun 1935. Pada tahun yang sama Thabathaba’i melanjutkan pelajarannya secara formal di universitas Syi’ah di kota Najaf, Irak. Di Universitas ini, Thabathaba’i meneruskan kajian ilmu naqliyah, seperti syari’ah dan prinsip-prinsip jurisprudensi. Dalam bidang fikih, Thabathaba’i belajar dengan dua orang syaikh terkemuka pada waktu itu, yakni: Syaikh Mirza dan Muhammad Husain Na’ini. Dia juga mempelajari dan menekuni beberapa cabang ilmu aqliyah, seperti filsafat dan esoteris. Di sisi lain, ia turut mendalami ilmu esoteris, spiritual atau ‘lrfani, dengan menelaah berbagai karya filsafat klasik, diantaranya, al-Syifa karya Ibn Sina dan al-Asfar al- ‘Arba’ah karya Sadr al-Din Syirazi. Masa belajar Thabathaba’i di Najaf memakan waktu hampir sepuluh tahun lamanya. Selama kurun waktu itu, dia menggali semua sumber ilmu pengetahuan. Sehingga akhirnya dia mampu menguasai berbagai ilmu tersebut dengan baik dan sempurna, mulai dari fikih, tasawuf atau ‘irfani, matematika sampai filsafat.


53 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r Adanya agresi Uni Sovet atas Iran mengharuskan Husain AlThabathaba’i untuk pindah dari kota kelahirannya, Tabriz, ke kota suci Qom. Sehingga kepindahannya ini lebih bernuansa sosial-politik ketimbang intelektual. Di Universitas Qom ini Thabathaba’i memasuki dan mengalami masa kecemerlangan dalam karir intelektualnya. Dari kota Qom, Thabathaba’i mulai dikenal orang secara luas, terutama mereka yang datang dari kalangan akademis. Karena di kota suci ini, dia menemukan lingkungan yang kondusif sebagai seorang ‘arif sekaligus ilmuwan. Suatu keadaan dan situasi yang belum–atau sulit–ditemuinya tatkala berada di Tabriz. Selama berada di Qom, kegiatan ilmiah Thabathaba’i dapat dikelompokkan dalam empat bagian, yaitu: pertama, menghidupkan kembali ilmu-ilmu aqliyah; kedua, memberikan pengaruh kepada masyarakat dalam pemikiran dan akhlak; ketiga, memberikan bimbingan kepada mereka yang telah mapan dalam berpikir tentang filsafat dan ilmu kalam; keempat, menulis berbagai buku dan artikel lainnya, baik berbahasa Arab maupun Persia.51 B. Deskripsi Kitab Tafsir Al-Mizan Tafsir ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1375 H di Teheran, Iran. Dan 18 tahun berselang, kitab ini telah masuk ke cetakan ketiga yang diedarkan oleh Mu’assasah al A’lami, Beirut. Tafsir ini pertama kali ditulis oleh Syaikh Thabathaba’I pada saat diminta muridnya untuk materi kuliah yang beliau sampaikan. Kala itu, beliau menjadi pengajar di Qum. Materi yang ditulisnya pun beragam disiplin ilmu. Kitab tafsir ini sengaja diberi nama Al-Mizan dikarenakan banyaknya pendapat yang dipaparkan oleh Thabathaba’I dari berbagai ahli ilmu, seperti sirah, ahli hadis dll. Beliau juga menulis tafsirnya ini berdasarkan berbagai kitab lain sebagai rujukannya yang dianggap relevan dan bisa mendukung penafsirannya.52 51 https://tafsiralquran.id/sayyid-muhammad-husain-al-thabathabaiarsitek-tafsir-al-mizan/ diakses pada 19 Februari 16.45 52 Amrillah Achmad, “Telaah Tafsir al-Mizan Karya Thabathabai” dalam jurnal Tafsere (UIN Alauddin Makassar. 2021) vol. 9 . No. 2, h. 254-255


54 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r C. Karakteristik dan Corak Kitab Tafsir Al-Mizan Syaikh Thabathaba’I memiliki latar belakang ajaran Syiah, namun kitab tafsir Al-Mizan juga dikenal di kalangan umat muslim Sunni. Hal ini dikarenakan kitab yang ditulisnya itu memiliki sumber penafsiran bil ma’tsur dan juga kitab ini dikenal sebagai tafsir quran bil quran. 53 Dalam memberikan penjelasan pada tafsirnya, Syaikh Thabathaba’I memberikan data yang banyak. Data yang diberikan merupakan data yang bersumber dari mufassir lainnya, ahli hadis, ahli sirah, filosof maupun ahli ilmu lainnya. Kemudian, beliau dalam menjelaskan sebuah ayat merujuk pada ahli tafsir lainnya maupun ahli hadis lalu beliau menyatakan menolak atau menerima dari pendapat yang telah dituliskan sebelumnya sekaligus menghubungkan antar satu ayat dengan ayat lainnya. Lalu karakteristik selanjutnya, kitab tafsir ini menafsirkan suatu ayat dengan cara melihat keterkaitan antara ayat satu dengan yang lainnya dengan bantuan hadis. Hadis nya pun tidak dijelaskan secara detail mengenai sanadnya. Namun hanya memberikan dari pemilik kitab hadis tersebut. Kitab tafsir ini juga tidak menampilkan riwayat israiliyyat. Syaikh Thabathaba’I dalam kitabnya juga menjelaskan tafsir dari sisi kebahasaannya, seperti I’rab, maupun balaghahnya. 54 Secara sistematis, urutan penulisan tafsir al-Mizan adalah nama surat, status surat dan jumlah ayat, ayat atau kelompok ayat alQur’an yang akan ditafsirkan baru kemudian penjelasan. Dalam penjelasannya dengan riwayat terkadang beliau menyusulnya dengan riwayat yang lain, begitu juga terkadang menjelaskan secara filosofis dan ilmiyyah yang lain dari suatu ayat. Dengan demikian, berdasarkan uraian diatas, keberadaan tafsir al-Mizan dapat dikategorikan sebagai tafsir bil ra’yi dengan metode tahlili dan corak falsafy. 55 53 Ahmad Fauzan, “Manhaj Tafsir Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an karya Muhammad Husain Tabataba’i” dalam jurnal Al Tadabbur (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2018) vol. 3 . No. 2, h. 118 54 Ahmad Fauzan, vol. 3 . No. 2, h. 126-128 55 Ahmad Fauzan, vol. 3 . No. 2, h. 130


55 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r D. Contoh Penafsiran Kitab Tafsir Al-Mizan Tampilan pada a wal Surat al-Fatihah


56 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r Di bawah halaman kitabnya terdapat footnote dari ayat yang dicantumkan pada tafsirannya. Pada kitab tafsir ini pula, Syekh Thabathaba’i menampilkan beberapa ayat yang ingin ditafsirkannya. Baru ketika sudah selesai pada ayat terakhir, beliau kembali mencantumkan ayat selanjutnya dan kembali menampilkan beberapa ayat yang ingin beliau tafsirkan.


57 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r BAB VI Adhwa al-Bayan BAB VI Tafsir Adhwa al-Bayan “Karya Muhammad al-Amin asy-Syinqithi” (Siti Khalifah, Ahmad Sahal Nahrawi & Siti Ana Rohana) A. Biografi Asy-Syinqithi Nama lengkapnya adalah Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Al-Jukni Asy-Syinqithi. beliau lahir pada tahun 1325 H / 1907 M, di desa Tinbah, wilayah pemerintahan Kifa, di daerah Syinqith, saat ini dikenal dengan negara Meuritania. Beliau ditinggal mati orang tuanya ketika masih kecil di saat masih belajar membaca Juz’mma. adapun nama bapaknya ialah Muhammad Al-Mukhtar bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Ahmad Nuh bin Muhammad bin Sayidi Ahmad bin Al-Mukhtar. Meskipun begitu, beliau mampu menyelesaikan hafalannya 30 juz pada usia 10 tahun di bawah bimbingan pamannya. dari pamannya juga beliau memperoleh pelajaran sastra Arab beserta selukbeluknya Sirah Nabawiyah, ilmu fiqih, dari mazhab Maliki.56 Ketika beranjak dewasa sekitar tahun 1367 H/1947 M. Ia melakukan perjalanan darat menuju Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji dengan niat untuk dapat kembali lagi ke negaranya. Akan tetapi, sesampainya di Arab Saudi ia memutuskan untuk menetap di sana. di antara sebabnya adalah pertemuannya dengan dua orang ulama di Arab Saudi, Abdullah az-Zahim dan Abdul Aziz bin Shalih yang memperkenalkannya pada madzhab Hambali dan manhaj salaf. Ia kemudian melakukan diskusi tentang berbagai persoalan fikih dan akidah yang semakin memantabkannya untuk menetap di Arab Saudi. dan inilah awal mula ia dikenal sebagai ulama yang 56A.Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-Kitab Tafsir (Depok: eLSiQ, 2019), h.231.


58 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r menguasai berbagai bidang keilmuan; fikih, tafsir, hadis, bahasa dan sebagainya yang memberinya kesempatan untuk dipercaya sebagai salah seorang pengajar tafsir di Masjid Nabawi. Diantara guru-buru beliau yang telah berjasa besar dalam mengajarkan berbagai disiplin ilmu syariah kepada beliau ialah: 1. Syaikh Muhammad bin Shalih, yang dikenal dengan Ibnu Ahmad Al-Afram. 2. Syaikh Ahmad Al-Afram bin Muhammad al-Mukhtar. 3. Syaikh Al-Alamah Ahmad bin Umar. 4. Al-Faqih (pakar fikih) yang bernama Muhammad An-Ni’mah bin Zaidan. 5. Al-Faqih Al-Kabir (senior pakar fikih) yang bernama Ahmad bin Mud. 6. Al-Alamah yang sangat luas ilmunya yang bernama Ahmad Fala bin Aduh, dan masih banyak guru-guru yang lainnya. Beliau pernah berkata, “Saya telah menimba semua disiplin ilmu dari semua syaikh itu, baik nahwu, sharaf, ushul, balaghah, tafsir dan hadits. Adapun ilmu mantiq dan adabul baths dan munadzarah (adab mengkaji dan berdiskusi) saya dapatkan secara otodidak57 Di saat haji itulah Syinqithi yang awalnya bermazhab Maliki memiliki kecenderungan ke arah pemikiran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Di tanah Arab inilah beliau menetap dalam beberapa tahun untuk belajar tafsir di Masjid Nabawi yang saat itu di bawah kekuasaan raja Abdul Aziz namun pada akhirnya ia tetap konsisten dengan mazhab awalnya maliki.58 57http://www.alsofwa.com/25179/syaikh-muhammad-al-amin-asysyinqithi-1325-h-1393-h.html diakses pada 8 Maret 2023 58A.Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-Kitab Tafsir,h.231.


59 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r Ketika beliau merasa semakin mantap untuk tinggal di Saudi Arabia dan memulai belajar di Masjid Nabawi, ternyata di sana banyak dijumpai halaqah halaqah diskusi tentang 4 mazhab. Namun syinqithi Sendiri lebih tertarik untuk mempelajari dan mendalami tafsir. Hal ini dilakukannya selama kurang lebih 30 tahun. Dan beliau wafat pada hari Kamis pagi 17 Dzulhijjah 1393 H 1973M, dimakamkan di Makkah al-mukarramah. Diantara karya-karyanya : a. Adlwa’al-Bayan fi Idhah al Qur’an bil Qur’an. b. Man' Jawaz al Majaz al Munazzal. c. Muzakkirat al Ushul ‘ala Raudhat an Nadzir. d. Adab al Bahts wa al Munadzarah. e. Daf lham al Idhtirab 'an Ayi al Kitab. B. Gambaran Umum Kitab Adhwa’ Al Bayan Nama lengkap kitab ini adalah Adlwa’Al-Bayan Fi Idhah al Qur’an bil Qur’an, yang seluruhnya berjumlah sembilan jilid. dicetak pertama kali di percetakan 'Alm al kutub, Beirut, pada tahun 1383 H. Kemudian dicetak ulang dipercetakan Ibn Taimiyah, Kairo, pada tahun 1408 H. Adapun awal mula penyusunannya adalah pada tahun 1386 H. Penyusunan kitab ini melalui metode Imla’ (didiktekan) sampai jilid tujuh saja. akhir surat al-mujadalah, sebab beliau meninggal dunia kemudian disempurnakan oleh salah seorang muridnya, 'Athiyah muhammad salim, sampai dua jilid. Di dalam kitab ini, disertakan juga makalah makalah AsySyinqithi, antara lain, an Nasikh wal Mansukh, Man Jawaz al Majaz 'an al Munazzal, dan Daf Iham al Idhtirab, sehingga seluruhnya


60 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r berjumlah 10 jilid. Dengan demikian, yang secara khusus membicarakan tafsir adalah sembilan jilid.59 1. Jilid 1= 549 halaman, dimulai dengan surat Al-Fatihah di akhiri dengan surat Al-An’am. 2. Jilid 2= 469 halaman, dimulai dengan surat Al-A’raf diakhiri dengan surat Al-Hijr. 3. Jilid 3= 519 halaman, dimulai dengan surat Bani Israel di akhiri dengan surat Maryam. 4. Jilid 4= 499 halaman, dimulai dengan surat thaha diakhiri dengan surat Al-Hajj. 5. Jilid 5= 561 halaman, dimulai dengan surat al-Hajj di akhiri dengan surat An-Nur. 6. Jilid 6= 397 halaman, dimulai dengan surat Al-Furqon diakhiri dengan surat Ghofir. 7. Jilid 7= 557 halaman, dimulai dengan surat Fushilat diakhiri dengan surat Al Mujadallah. 8. Jilid 8= 580 halaman, dimulai dengan surat Al-Hasyr diakhiri dengan surat Al Hasyr. 9. Jilid 9= 468 halaman, dimulai dengan surat At Tin diakhiri dengan surat An-Nas.60 Kita tafsir ini tidak membicarakan seluruh ayat-ayat Alquran sebagaimana kitab-kitab tafsir yang lain, Sebab banyak ayat yang tidak dibahas dan ditafsirkannya. Kitab ini bisa dibilang kitab tafsir yang spesifik dan menggunakan metode yang spesifik juga. Yakni hanya menafsirkan ayat-ayat Alquran secara ijmal baik menyangkut lafaz maupun makna kandungannya. Namun beliau menjelaskannya 59A.Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-Kitab Tafsir, h. 233. 60http://syeevaulfa.blogspot.com/2015/02/tafsir-adhwaulbayan.html?m=1


61 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r pada ayat-ayat yang lain yang semakna, baik makna literal maupun kontekstualnya. Sementara metodologi yang diterapkan oleh penerusnya yakni muridnya sendiri pada dua jilid yang terakhir adalah juga mengikuti metode gurunya tersebut. hanya saja meski terkadang menyimpang dari metode gurunya tersebut, Ia juga memahami ayatayat yang memiliki kesesuaian walaupun hal itu tidak dinyatakan oleh gurunya. adapun tujuan penyusunan kitab ini sebagaimana yang diungkapkan di bab mukadimah yaitu: “Pada saat itu saya melihat mayoritas umat Islam banyak menyimpang dari Alquran, bahkan ayatayat Al Qur’an dibuang ke belakang dihiraukan serta mereka tidak memiliki kecintaan terhadap janji-janjinya saya sadar bahwa orang yang telah dikarunia pemahaman terhadap Alquran akan memiliki keinginan kuat untuk berhikmah kepadanya yaitu dengan cara menjelaskan kandungan-kandungan ayatnya memperlihatkan keindahannya menghilangkan kemungkinannya dalam pemahamannya menerangkan hukum-hukumnya serta mendorong untuk melaksanakannya" Kemudian ditutup perkataan beliau ini dengan pernyataan."Paling tidak terdapat dua alasan yang sangat mendasar dari penyusunan kitab ini pertama menjelaskan ayat-ayat Alquran dengan Alquran juga kedua menjelaskan hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah fiqhiyah beserta dalil-dalilnya tentunya pada ayat-ayat Ahkam yang diperkuat oleh hadis maupun pendapat para ulama kemudian mentarjehnya dibarengi dengan argumenargumen yang kuat.”61 C. Metode dan Corak Dalam menafsirkan ayat, Asy Syinqithi menggunakan metode Muqaran (perbandingan). Antara ayat dengan ayat, ayat dengan hadis, 61A.Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-Kitab Tafsir,h.233.


62 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r atau pendapat pendapat para ulama. contoh penafsiran beliau antara ayat dengan ayat adalah: َو ُهَو َخْي ٌر لَ ُكْم) ْن تَ ْكَر ُهْوا َشْيئًا َ َو َعسى أ ) Di sini “kebaikan” tidak disifatkan dengan “banyak”. Karena “kebaikan” disifatkan dengan “banyak” telah disifatkan pada surah al-Nisa: 19 َو يَ ْجعَ َل للاُ فِ ْي ِه َخْي ًرا َكثِ ْي ًرا) ْن تَ ْكَر ُهْوا َشْيئًا َ ُمْو ُه َّن فَعَ َسى أ (فَِا ْن َكِر ْهتُ 62 . Asy-Syinqithi juga mendasarkan penafsirannya kepada pendapat para sahabat, tabi’in, dan mufassir-mufassir lainnya. Antara lain : At Thabari, Ibn Katsir, Al Qurthubi, dan Az Zamakhsyari. Sedangkan untuk hadis, beliau mendasarkan pada kutub as sittah, pendapat Fiqh dari empat mazhab. Namun, yang sering di kutip dalam masalah hukum adalah Al Qurthubi, An Nawawi, dan Ibn Quddamah.63 Sedangkan corak penafsiran beliau adalah corak Fiqh, di sebabkan beliau seorang yang menekuni bidang Fiqh dan menjadi pengajar bidang tersebut baik di Madinah ataupun di Riyadh.64 Dalam penafsirannya, beliau selalu konsisten terhadap manhaj ahlus-sunnah wal-jama’ah, dan ulama-ulama salaf dalam hal penetapan sifat-sifat Allah, Qadha’, Qadar, dan lain-lain. dan beliau sangat detail dalam menerangkan ayat-ayat hukum. berkenaan dengan ayat-ayat hukum, beliau menampilkan beberapa pendapat 62http://makalahpendidikanislamlengkap.blogspot.com/2015/07/tafsiradwaul-bayan.html di akses pada 8 Maret 2023. 63 A.Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, h.236. 64http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=884208&val= 12586&title=DISTINGSI%20TAFSIR%20ADHWAU%20ALBAYAN%20FI%20IDHAH%20AL-QURAN%20BI%20AL-QURAN di akses pada 8 Maret 2023


63 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r ulama beserta dalilnya masing-masing, Lalu mentarjihnya tanpa fanatik pada madzhab tertentu. Demikian juga dalam persoalan terkait ilmu kalam, beliau juga menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan umat Muslim, namun tetap konsisten mengikuti metode ulama salaf.65 D. Karakteristik Penafsiran Karakteristik penafsiran beliau, yang pertama menjelaskan dahulu beberapa kata yang kurang jelas maknanya. tanpa menyebut nama surat, keutamaan, dan qira’atnya. 66 yaitu penjelasan terhadap kata. baik berupa kata benda, kata kerja, ataupun huruf (kata sambung) yang mempunyai lebih dari satu arti. Ataupun juga kata yang masih samar artinya, kemudian dijelaskan maksudnya dengan menggunakan ayat itu sendiri ataupun ayat yang lain. di sebabkan hal inilah beliau menamai tafsirnya dengan Adlwau al-Bayan. 67 Kemudian beliau menafsirkan, dengan secara runtut dari Al Fatihah sampai An Nas. Namun, yang membedakan kitab ini dengan kitab tafsir lainnya adalah dalam satu surat beliau tidak selalu memulai penafsirannya dari ayat pertama. Misalkan dalam surah Al Baqarah, beliau menafsirkan langsung pada ayat kedua. dan semua ayat dalam satu surat tidak seluruhnya ditulis dan ditafsirkan. Jadi, setelah ayat kedua beliau menafsirkan ayat ketiga dan langsung pada ayat ketujuh. ayat yang ditafsirkan juga tidak selalu ditulis penuh (dari awal hingga akhir ayat). Misalkan pada ayat kedua beliau hanya 65A.Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-Kitab Tafsir,h. 235-236. 66A.Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-Kitab Tafsir, h. 234. 67http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=884208&val= 12586&title=DISTINGSI%20TAFSIR%20ADHWAU%20ALBAYAN%20FI%20IDHAH%20AL-QURAN%20BI%20AL-QURAN di akses pada 8 Maret 2023


64 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r ِقْي َنkalimat dari menafsirkan ُمتَّ ْ ل menyebutkan seringkali Beliau. ُ هدً ِى ل ayat yang lain untuk memberikan penjelasan terhadap satu ayat.68 Meskipun demikian, kitab tafsir ini dari segi jumlah jilid dan halamannyatergolong besar. Di karenakan banyaknya ayat yang beliau sebut untuk memberikan penjelasan makna dari suatu ayat, ditambah dengan penyebutan hadits-hadits Nabi saw, dan ditambah lagi mengutip pendapat para ulama dari berbagai madzhab. E. Contoh Penafsiran 1. Contoh penafsiran al-Syanqithi yang menggunakan metode tahlili. Dari referensi yang ditemukan, metode yang terdapat dalam Tafsir Adlwa’ Al Bayan adalah metode tahlili (analisis), dimana beliau memberikan penafsiran secara terperinci, yaitu menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai segi. Hal ini dapat dilihat ketika al-Syanqithi menafsirkan ayat-ayat alQur’an, seperti yang terdapat pada surat an-Nisa’ ayat 2 yang membahas tentang masalah anak-anak yatim. ُهُ تَعَالَى ِ قَ يتَ ِاء ْول ِإ َكِر َيمِة ب ْ َمَر َّ َّللاِ تَعَالَى فِ َ ي هِذِه ْ اْليَ ِة ال َ ُهْم ْ اْليَةَ. أ ْمَوالَ َ َامى أ يَتَ ْ َ : وآتُوا ال َامى يَتَ ْش ْ ْم ال َ يَ َ ، ولَ ُهْم ْم ُم َور َوالَ ْ َمأ ْ اء ال َ َّن َ هذَ ْ ا اإلِ يتَ َ ِكنَّهُ بَيَّ َن َ هذَا أ ا، ولَ ِل َك َ ش ْر ًط َ ِر ْط ُ هنَا فِي ذَ تَ ْوِل ِه ِل َك فِي قَ َ ، وذَ ِ ُ ينَاس ُّ الر ْشِد ِ مْن ُهْم َّانِي: إ َام َى.والث يَتَ ْ ُوغُ ال َّو ُل: بُل ِن ْ:اْلَ َش ْر َطْي ِ ِ ِه َ م ْش ُر ٌ وط ب ب َام َى ح يَتَ ْ ُوا ال َ ى: و ْابتَل ُهْم تَعَالَ ْمَوالَ َ ِهْم أ ْي لَ ِ ْم ِ مْن ُهْم ُ ر ْشدًا فَ ْادفَعُوا إ ْن ْ آنَستُ ِ ِذَا بَلَغُوا النِ َك َ اح فَإ تَّى إ Artinya :“dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka,,,” Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah Swt., telah memerintahkan untuk memberikan kepada anak yatim harta mereka. Disini tidak disyaratkan satu syaratpundalam masalah pemberian harta kepada 68 Al-Syanqithy, Adhwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an (Saudi: Dar Alam Al Fawaid, t.th.) Jilid 1, h. 55.


65 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r anak-anak yatim itu, akan tetapi pada firmanberikutnya, Allah Swt., menjelaskan bahwa pemberian harta kepada anak-anak yatim itu dikaitkan dengan dua syarat, yaitu: Pertama, anak-anak yatim itu sudah mencapai usia baligh. Kedua, mereka mempunyai kemampuan untuk mengelola harta, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah surat an-Nisa’ ayat 6, Artinya :“dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya”. Penamaan mereka dengan nama “anak yatim” pada dua ayat di atas itu, pada hakikatnya didasarkan pada sifat yang dimiliki oleh mereka ketika mereka belummencapai usia akil baligh. Sebab menurut ijma’, anak yatim tidak lagi disebut yatimsetelah ia mencapai usia baligh. Hal serupa juga terdapat dalam firman Allah suratasy-Syu’ara ayat 46: َي َّ الس ِق ْ ل َ س ِ اج فَأ ِد َ ين ُ َح َر ﴿٤٦ ﴾ةُ Artinya :“Maka tersungkurlah Ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah)” Maksudnya mereka adalah orang-orang yang dulunya pernah menjadi ahli- ahli sihir, sebab perbuatan sihir tidak mungkin dibarengi dengan perbuatan sujudkepada Allah. Sebagian ulama berpendapat, bahwa yang dimaksud memberikan kepada anak yatim harta mereka adalah memberikan nafkah dan pakaian kepada mereka ketika mereka masih berada di bawah bimbingan. Abu Hanifah berkata, “Dalam kondisi apapun, apabila seorang anak yatim telah mencapai usia 25 tahun, maka harta miliknya harus diberikan kepadanya karenapada saat itu ia telah dewasa, dan kemampuannya dalam menentukan arah hidupnyapun sudah tidak diragukan lagi. 2. Contoh penafsiran yang menggunakan metode muqaran. Satu contoh bahwa al-Syanqithi menggunakan metode muqarin ini adalah ketika al-Syanqithi menafsirkan surat Thaha ayat 87;


66 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r َ نَاه ْوِم فَقَذَفْ قَ ْ ْو َز ً ار ِ ا م ِن ز ِ ينَة ال َ ْنَا أ ُ ا حِ مل ِكنَّ ٰ نَا ولَ ِك َ ْ ِ َمل َ نَا مْو ِعدَ َك ب ْخلَ ْف َ َ وا ما أ ُ َّ ى الس ِامِر ُّي قَال قَ ْ ل َ ِل َك أ ٰ ا فَ َكذَ ﴾٨٧﴿ Arinya :“mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengankemauan Kami sendiri, tetapi Kami disuruh membawa beban-beban dariperhiasan kaum itu, Maka Kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya". ُهُ تَعَالَى ُهْم ْول َج لَ ْخ َر قَ َ َّ ى الس ِامِر ُّي فَأ قَ ْ ل َ ِل َك أ َ نَاها فَ َكذَ ْوِم فَقَذَفْ قَ ْ ْو َز ً ار ِ ا م ْن ِ ز ِ ينَة ال َ ْنَا أ ُ ا حِ مل ِكنَّ َ : ولَ َج َسدًا لَهُ ُ خَو ِع ْج ٌ ار ًل بُ َ و ع ْمٍر َ و و ُش ْعبَةُ َ َح ْر َف أ ْ َ هذَا ال َ َرأ َي.قَ ُ م َوسى فَ ِ نَس لَهُ ِ وإ َ ُه ُكْم لَ ِ َ وا هذَا إ ُ فَقَال ِ اع ِل ُ م َج َّر فَ ْ ِ ا لل نً ِ ِة ُ مبَي ُم َخفَّفَ ْ ِم ِيم ال ْ َح ِاء َ ، وال ْ ال ِ ِفَتْح ْنَا ب ُّي َ ح َمل ِك َسائِ ْ َ ، وال َ ، و َح ْمَزةُ ْن َ ع ِ اصٍم َع هُ َ َرأ ا. وقَ َ دً و َحْف نَافِ ٌع َ ، و ٌص َ ع ْن َ ع ِ اصٍم ْاب ُن َ كثِ ٍير َ ، و » نَا ْاب ُن َ ع ِامٍر َ ْ ُحِ مل « ُم َشدَّدَةِ ْ ِم ِيم ال ْ و َك ْسِر ال َح ِاء َ ْ ِ َضِ م ال ب َمْفعُ ِول ْ َمْبنِيًّ ِ ا لل . ْنَا lafadz Pada ملِ ح ُada beberapa ulama yang berbeda pendapat tentang bacaannya. Abu Amr dan Syu’bah dari ‘Ashim, Hamzah dan Kisa’I membaca lafadzhummilna dengan hammalna, dengan fathah huruf ha dan mim dalam bentuk mabnifail mujarad, sementara Nafi’, Ibnu Katsir, Ibnu ‘Amir dan Hafs dari Ashim membacanya dengan hummilna, dengan dhammah huruf ha, kasroh huruf mim yang bertasydid dalam bentuk mabni maf’ul. Contoh lain adalah ketika al-Syanqithi menafsirkan surat al-An’am ayat141; ُهُ تَعَالَى َمذْ ُك ِور قَ ُ هنَا، ْول ْ َح ِق ال ْ ِ َهذَا ال ُمَر ِاد ب ْ َم ُ اء فِي ال عُلَ ْ َف ال َ َ ح َص ِادِه ْ اْليَةَ ْ .اختَلَ َ وا حقَّهُ يَ ْوم َ : وآتُ َ ، و ِمَّم ْن َمْف ُر َ وضةُ ْ َح ُّق ُ هَو َّ الز َكاةُ ال ْ َم ِاء َ : هذَا ال عُلَ ْ ِ م َن ال َ ال َ ج َم َ اعةٌ ْو َ َل؟ فَقَ َ َ ال َو َه ْل ُ هَو َ مْن ُس ٌوخ أ قَ َ ، و َّ الض َّح ُ اك َح ِنَفيَّ ِة ْ َ ، و ْاب ُن ال َح َس ُن َ ، و ْاب ُن َ زْيٍد ْ ُ نَس ْ ب ُن َ م ِال ٍك َ ، و ْاب ُن َ عبَّ ٍ اس َ ، و َط ُاو ٌس َ ، وال َ ِ َهذَا أ ب ، َ ، و َغ و َس ِع ٍيد ٍ نَس َ َ ِ ُّي، نَقَلَهُ ْ اب ُن َ كثِ ٍير َ ع ْن أ ْر ُطب قُ ْ َ عْن ُهُم ال ُم َسيَّ ِب َ ، و َم ِال ٌك َ ، ونَقَلَهُ ْ َو َس ِعيدُ ْ ب ُن ال ِر ِه َما، ْي ُم َسيَّ ْ َ، و َس ِعيدُ ْ ب ُن ال ِ ُر ْ ب ُن َ زْيٍد َح َس ُن َ، و َجاب ْ ٌ نَس َ، وال َ ِن َ عبَّ ٍ اس َ، وأ َونَقَلَهُ ْ اب ُن َ جِر ٍير َ ع ِن ْ اب ِب َ ، وقَتَادَةُ، ِ ِه َّ الز َكاةَ، ُمَرادُ ب ْ َس ال ْي ْوٌم: لَ َ ال قَ .وقَ َ َ ، و َّ الض َّح ُ اك َ ، و ْاب ُن َ زْيٍد َح ِنَفيَّ ِة ْ َو َط ُاو ٌس َ ، و ُم َح َّمدُ ْ اب ُن ال َما ِنَّ َوإ َ ، و ِ الض ْغ قَ ْب َضةَ ْ َح َص ِاد ال ْ ال َ َم َس ِاك ِ ين يَ ْوم ْ نَّهُ يُ ْع ِط َي م ْن َ ح َض َر ِ م َن ال َ ِ ِه أ ُمَرادُ ب ْ ِل َك، َث َ ، و ْ نَحَو ال ذَ ُّي ْ ب ُن َ ال َ عِل ِ ُّي َ : وقَ ْر ُطب قُ ْ َ ال ال ُو ُج ِ وب َ ، و َح َملَهُ بَ ْع ُض ُهْم َ علَى النَّ ْد ِب، قَ ْ َو َح َملَهُ بَ ْع ُض ُهْم َ علَى ال َم ِ ال ِ س ْ َ، و َس ِعيدُ ْ ب ُن ُ جبَ ْيٍر َ، و ُم َج ِ اهدٌ ُ : هَو َ ح ٌّق فِي ال َ، و َح َّمادٌ َح َكُم ْ ِن َ، و َع َط ٌ اء َ، وال ُح َسْي ْ َو ال َّ ى الز َكاةِ، ِ ِه ْ نَدبًا َمَر َّ َّللاُ ب َ أ


67 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r Artinya: “dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya,,” Dalam menafsirkan ayat di atas, al-Syanqithi membandingkan beberapa pendapat ulama. Di antaranya adalah Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Thawus, al-Hasan,Ibnu Zaid, Ibnu al-Hanafiyyah, AdhDhahak, Sa’id bin Musayyab dan Malik yangberpendapat bahwa yang dimaksud hak pada ayat ini adalah zakat yang diwajibkan. Sedangkan al-Qurtubi mengatakan kalau yang dimaksud itu bukan zakat, melainkan memberi kepada orang-orang miskin yang dating pada saat panen sekedarsegenggam, seikat atau yang sepadan dengan itu. Ali bin al-Husain, ‘Atha’, al-Hakam, Hammad, Sa’id bin Jubair dan Mujahid berpendapat kalau itu merupakan hakdalam harta diluar zakat yang Allah perintahkan sebagai sunnah. Kemudian ‘Atha’ sebagaimana dikutip oleh Ibnu Jarir berpendapat bahwa itu adalah hak yang wajib diluar zakat, dan tidak dibatasi dengan ukuran tertentu. sedangkan apabila ditinjau dari segi sumber, kitab Tafsir Adlwa’ alBayan fi Idhahi Qur’an ini menggunakan pendekatan tafsir bi alma’tsur dan bi al-ra’yi sekaligus, atau dengan kata lain menggabungkan antara riwayah dan dirayah, yakni pengambilan sumber panafsirannya berasal dari ayat al-Qur’an itu sendiri, hadits Nabi Saw, pendapat para sahabat dan tabi’in, serta tidak meninggalkan ra’yunya sendiri. Dalam penafsirannya, al-Syinqithi jarang menggunakan ra’yunya sendiri, namun beliau lebih banyak menggunakan ayat-ayat al-Qur’an itu sendiri, hadits danpendapat ulama-ulama lain dalam penafsirannya. F. Kelebihan dan Kekurangan Di antara kelebihannya adalah berikut ini : 1. Menjelaskan makna ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an (Tafsir Qur’an bi lQur’an). Hal ini sesuai dengan kesepakatan para ulama yang menyebutkan bahwa tafsir yang paling mulia dan utama adalah menafsirkan ayat-ayat kitabullah dengan menggunakan


68 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r (ayat-ayat lainnya) kitabullah. Sebab tidakada seorangpun yang lebih tahu makna kalamullah kecuali Allah SWT sendiri. 2. Menjelaskan hukum-hukum yang terkandung dalam semua ayat yan dijelaskan dalam kitab ini yang disandarkan kepada dalil-dalil shahih dari sunnah Nabawiyyah dan pendapat para ulama, kemudian dipilihkan pendapatyang terkuat tersebut tanpa rasa fanatik mazhab. 3. Dilengkapi penjelasan tambahan. Seperti contohnya pembahasan tentangbeberapa masalah kebahasaan (Lughah) dan hal-hal yang diperlukannyaseperti sharaf (pembahasan tentang perubahan suatu kata) dan i’rab(pembahasan tentang kedudukan kata dalam suatu kalimat), penyebutan syair-syair arab sebagai penguat serta analisis terhadap masalah-masalah yangdibutuhkan dalam menafsirkan sebuah ayat seperti masalah ushuliyah (yangpokok) dan kalam (akidah) yang dilandasi sanad-sanad hadis. 4. Menjelas pemikiran Ahli sunnah dan mendebat aliran-aliran sesat. Di antara kekurangan kitab tafsirnya ialah : 1. Pencantuman hadits sebagai sumber tafsir yang terkadang tidak diseleksi terlebih dahulu kualitasnya dan juga tidak disebutkan kualitas haditsnya. 2. Dalam penafsirannya, al-Syanqithi seorang pengarang tafsir juga banyak mengutip pada kitab tafsir sebelumnya. Kemudian dalam memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an beliau banyak menggunakan pendapat dari para ulama lainnya, baik dari ulama hadits, fiqh dan ulama tafsir. 3. Ada puluhan ayat atau lebih yang tidak ditafsirkan.


69 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r BAB VII Tafsir al-Tahrir Wa Tanwir BAB VII Tafsir al-Tahrir Wa Tanwir “Muhammad Al Tahir Ibnu Asyur” (Ahmad Dermawan & Milzam Zulfahmi) A. Biografi Ibnu Asyur Ibnu Asyur memiliki nama lengkap Muhammad al-tharir ibn Muhammad al-thahir ibnu Asyur.69 Keturunan keluarga ‘Asyûr adalah keluarga yang terkenal di Tunis, karena memiliki posisi ilmiah dan jabatan di di pemerintahan. Ibnu ‘Asyûr dilahirkan pada tahun 1296 H/1879 M di kota Mousha, yang terletak di sebalah utaraTunisia. Ibnu ‘Asyûr tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang mencintai ilmu pengetahuan. Pendididkanya diperhatikan penuh oleh ayah, ibu dan kakeknya. Mereka semua menginginkan cucunya menjadi orang yang terhormat sebagaimana nenek moyang mereka. Ibnu ‘Asyûr mulai belajar al-Qur’an sejak usia 6 tahun. Setelah itu, ia menghafal Matan al-Jurûmiyyah dan mempelajari 69 Dari garis keturunan Ibnu Asy’ûr ini lahir para intelektual, qâdhi, dan mufassir, serta orangorang yang memangku jabatan penting lainya dari abad 11 sampai 14 H/ 17-20 M. Diantara keturunan Ibnu ‘asyûr yang tercatat dalam sejarah adalah Muhammad Thâhir Ibnu ‘Abdul Qadîr Ibnu ‘Asyûr seorang sastrawan, qadhi, dan mufti yang menjadi objek pembahasan makalah ini. Nama lainya adalah seorang mufassir dan putranya, Muhammad Fadhil Ibnu ‘Asyûr (w. 1390 H/ 1970 M) seorang ilmuwan, politikus dan kolumnis yang terkenal di Tunis. Kata „Asyûr merupakan isim kunyah (nama marga) dari sebuah keluarga besar dari keturunan Al-Idrisyi AlHusyaimiyah, nenek moyang para pemuka masyarakat di Maroko. Salah satu anggota keluarga ini yaitu Ibnu ‘Ayûr hijrah dan menetap di Tunis.


70 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r bahasa Perancis. Baru pada usia 14 tahun, Ibnu ‘Asyûr tercatat sebagai murid pada Universitas Az-Zaitunah ( 1310 H/ 1893 M).70 Disana ia belajar ilmu syariah (fiqh, dan ushûl fiqh), bahasa Arab, hadits, sejarah, dan lain-lain. Setelah belajar selama tujuh tahun di Universitas Az-Zaitunah, Ibnu ‘Asyûr berhasil menempuh gelar sarjana tahun 1317 H/ 1899 M.71 Belajar di Universitas Az-zaitunah nampaknya belum memenuhi dahaganya dalam menuntut ilmu. Di waktu luangnya, Ibnu ‘Asyur membaca buku-buku tafsir, buku al-Milâl wa al- Nihâl, menghafal hadits-hadits, syair-syair Arab dari masa pra Islam hingga sesudahnya, membaca buku-buku sejarah dan lain-lain. Ilmu yang diperolehnya dari Azzaitunah dan aktivitas keilmuwanya membentuk kepribadian dan iktelektualitasnya yang tinggi. Di samping itu perhatian ayah dan akkeknya yang menambahkan akhlak mulia kepada Ibnu ‘Asyûr, memberi pengaruh besar pada pribadinya sebagai ulama yang bersahaja di Tunis. Ibnu ‘Asyur wafat pada 1393 H/ 1973 M. B. Karya-karya Ibnu’Asyûr Dengan latar belakang keluarga dan lingkungan yang mencintai ilmu, dengan berbekal kejeniusan, ketekunan, keikhlasan, dan komitmen pada pendidikan serta kewara‟anya menjadikan Ibnu ‘Asy’ûr sebagai pribadi yang mengabdikan diri pada ilmu, dengan 70 Syeikh Muhammad al-Thâhir Ibnu ‘Asyûr dan metodologinya dalam tafsir Ibnu ‘Asyûr, al-Tahrîr wa al-Tanwîr jilid.1, h. 25-26 71 Jam’ al Jami’ al ‘Azham, h. 56-57


71 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r menjadi guru dan tokoh agama. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengajar dan menulis buku. Dua bukunya yang fenomenal, tafsir al-Tahrîr wa Al-Tanwîr dan Maqashîd al-Syarî‟ah al-islâmiyah menjadi rujukan utama bagi para mufassir. Berikut ini karya-karya ilmiah yang ditulis Ibnu ‘Asyûr: a. Al- Tahrîr wa Al-Tanwîr. b. Al- Nadzar al-fasîh „Inda madhâyiq al-Andzâr fi al-Jâmi‟ alShahîh. Kitab ini adalah karya Ibn Asyur yang cukup terkenal dimana berisikan pandangan dan argumentasi beliau mengenai hadishadis yang di al-jami’ah shohih yang ada di karya imam albukhori. c. Kasyfu al-Mughthiy min al-Ma‟âni wal al-Fadhi wa al-Waqî‟ah fi al-Muwatha‟ d. Al-Tadhîh wa al-Tashîh. e. Maqâshid al-Syarî‟ah al-Islâmiyah. Kitab yang berisi penjelasan beliau mengenai maqosidus syari’ah. f. Wajîz al-Balâghah. g. Ushûl al-Insya wa al-Khithâbah. h. Syarah al-Muqaddimah al-Adabiyah li syarh al-Imâm al-Marzûqi Ali Diwân al-Hamashah li Abi Tamâm. i. Naqd al-Ilmi li kîtab al-Islâm wa Ushûl al-Hikâm. j. Ushûl an-Nadzhâm al-Ijtimâ‟iy fi al-Islam.


72 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r Kitab yang berisi pandangan dan argumentasi beliau mengenai sebab-sebab kebangkitan umat islam dan sebab-sebab kemunduran umat islam dan lain sebagainya. k. Alaîsa al-Subhu bi Qarîb. Kitab yang berisikan tentang pandangan beliau mengenai gerakan-gerakan islahiah, gerakan ini misalkan perbaikanperbaikan di bidang Pendidikan dan lain sebagainnya. l. Qisbah al-Maûlid. C. Latar Belakang Penulisan Kitab Yang melatar belakangi penulisan tafsir al-tahrir wa al-tanwir ialah di mulai pada 1431 H/ 1923 M, setelah beliau naik jabatan dari qâdhi menjadi mufti. Tafsir 30 juz, ditulisnya dalam 15 jilid kitab, dalam waktu 39 tahun. Meskipun diselingi dengan penulisan karyakarya lain, buku maupun makalah, beliau tetap bersungguh-sungguh menyelesaikan penulisan tafsirnya. Ini berkat keikhlasan, tekad kuat untuk menulis tafsir yang menyatukan antara kemaslahatan dunia dan akhirat.72 Selama penulisan tafsir, kondisi sosial politik Tunis mengalami dinamika sedemikian rupa. Berbagai peristiwa, perubahan dan peralihan besar terjadi pada masyarakat Tunis saat itu. Masyarakat Tunis saat itu sedang berusaha merebut kemerdekaanya dari penjajah. Sementara gerakan reformasi dan pembaharuan yang dipelopori 72 Ibnu ‘Asyûr, Tahrîr al-Tanwîr, pada lembaran pertama tauhid


73 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r Muhammad Abduh di Mesir (1849/ 1905), setelah merebak ke berbagai belahan negara Islam, tidak terkecuali Tunis. Ide-ide pembaharuan Muhammad Abduh mulai mempengaruhi intelektual Tunis, tidak terkecuali Ibnu ‘Asyûr.73 Saat itu Muhammad Abduh di Mesir, menghimbau agar umat Islam melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan. Himbauan ini nampaknya juga bergema di Tunis. Ibnu ‘Asyûr merespon himbauan tersebut dan bergerak mereformasi pendidikan dan menyampaikannya di berbagai seminar. Tidak hanya itu, Ibnu ‘Asyûr pun ikut terjun dalam gerakan reformasi yang terjadi. Hasilnya adalah dibangunya cabang-cabang Azzaitunah di berbagai kota di Tunis. Kualitas pendidikanpun ditingkatkan dengan menambahkan ilmu-ilmu selain ilmu syari’ah, seperti matematik, kimia, filsafat, sejarah dan bahasa Inggris. Menelaah bagian pembukaan tafsir Ibnu ‘Asyûr membuktikan bahwa Ibnu ‘Asyûr memiliki cara tersendiri dalam menafsirkan AlQur`an. Dari sini bisa ditelusuri jejak-jejak keterlibatan Ibnu ‘Asyûr dalam gerakan reformasi di Tunis. Sejak awal penulisan tafsirnya, Ibnu ‘Asyûr selalu menjaga komitmen untuk menjadikan penafsiranya sebagai sebuah kritik bukan taqlîd. Sisi pembaharuan Ibnu ‘Asyûr dapat dicermati dan obsesinya menafsirkan Al-Qur`an dengan memunculkan hal-hal baru yang belum pernah ditulis dalam tafsir-tafsir sebelumnya. Ini dengan tujuan untuk menjadikan tafsirnya sebagai penengah dari tafsir-tafsir lainya. 73 Ibnu Asyûr Jam al Jâmi‟ al- A‟dhzim, h.50


74 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r Menurut Ibnu ‘Asyûr, membatasi penafsiran pada tafsir bi al-ma‟tsur akan menelantarkan isi kandungan Al-Qur’an yang memang tidak akan pernah habis untuk dibahas.74 Menurut Ibnu ‘Asyûr diantara sebab terbelakangnya ilmu tafsir, adalah kecenderungan yang berlebihan terhadap tafsir bil ma‟tsûr. Juga karena besarnya kecenderungan para ulama menulis hanya dengan penukilan, dengan alasan takut keliru dalam menafsirkan. Akibatnya orang menjadikan tafsir bi al-ma‟tsûr sebagai satu-satunya metode penafsiran. Bahkan karena terlalu berpegang pada metode tafsir bi al-ma‟tsûr, maka tafsir dengan riwayat lemah sekalipun tetap digunakan, padahal ada penafsiran dengan nalar yang lebih tepat. Pada akhirnya, tafsir yang hanya sekedar penukilan dari tafsirtafsir sebelumnya, dapat membatasi pemahaman terhadap Al-Qur`an dan mempersempit maknanya. Contoh nyata dari pembaharuan Ibnu ‘Asyûr bisa dilihat pada nama tafsirnya yang semula berjudul Tahrîr al Ma’nâ al Sadîd wa Tanwîr al ‘Aql al jadîd (Memilih Makna yang Tepat dan Mencerahkan Akal yang Baru dari AL-Qur`an). Akan tetapi kemudian judul tafsirnya disingkat menjadi al Tahrîr wa al-Tanwîr. D. Gambarang umum isi tafsir al-tahrir wa al-Tanwir Kitab tafsir ini merupakan salah satu kitab ternama abad 14 H yang cukup di kenal kedalaman pembahasannya, ia di terbitkan 74 Ibnu ‘Asyûr, Tahrîr al-Tanwîr, jilid 1, hal. 7


75 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r pertama kali oleh ‘Isa al-baby al-Halaby, kairo, tahun 1384 H atau 1964 M. Bagi para pengkaji tafsir, kitab ini juga di anggap tidak terlalu jilimet. Ia memiliki keunggukan dalam hal pengungkapan maknamakna yang tersirat yang sering kali tidak terpikir oleh para mufassir yang lain. Ibn ‘Asyur menjelasakan sendiri tujuan penulisan tafsir ini : “Keinginan saya untuk melahirkan sebuah karya tafsir yang cukup monumental sudah cukup lama, yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat, yang memuat berbagai keilmuan dana balaghah, dan di harapkan bisa menjelaskan secara detil tentang keilmuan dan keumuman syari’at, serta memerinci keluhuran akhlak yang kesemuannya menyatu dei tengan-tengah pembahasan” Ibn Asyur pertama kali membahasa beberapa ilmu yang terkait dengan tafsir : A. Pengertian tafsir dan ta’wil, serta keberadaan ilmu tafsir sebagai disiplin ilmu tersendiri. B. argumentasi kebolehan menafsirkan al-Qur’an dengan menggunakan metode tafsir bi ar-ra’yi di sertai pengertian tentangnya. Dalam hal ini, ibn Asyur menunjukkan bukti sejarah, di mana para sahabat juga banyak menggunakan bi ra’yi semata, tanpa dukungan keilmuan-keilmuan terkait. C. Tujuan yang seharusnya di miliki oleh seorang mufassir. D. Asbab al-nuzul E. Qiro’at


76 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r F. Kisah-kisah G. Menyebutkan nama-nama al-Qur’an, tertib ayat dan surah. H. Pengertian surah dan menjelaskan al-Qur’an dengan hadis pada masa Nabi. I. Beberapa makna yang di kandung oleh redaksi ayat adalah makna asli. Artinya, di dalamnya terkandung beberapa makna dan maksud yang mungkin lebih banyak dari apa yang di maksud oleh ayat. J. Kemukjizatan al-Qur’an inilah yang membedakannya dengan Bahasa Arab selain Al-Qur’an.75 K. Karakteristik tafsir al-Tahrîr wa al-Tanwîr. Untuk melihat karakteristik sebuah tafsir, bisa dilihat dari berbagai aspek. Seperti tujuan menafsirkan, sumber penafsiran, gaya bahasa, corak penafsiran, sistematika penulisan, aliran madzhab yang diikuti, dan lain sebagainya. Namun di sini penulis memfokuskan pada karakteristik Tafsir al-tahrir wa al-Tanwir secara spesifik di mana beliau Ibnu Asyur memulai dengan menyebutkan nama surah di sertai dengan penjelasan sekitar keutamaannya dan keutamaan pembacanya, namun menyebut urutan surah dari segi turunannya, munasabah dengan surah sebelum dan sesudahnnya, menjekasakan tujuan umum surah, bilangan ayat, dan terakhir menjelaskan kandungan surah, baru kemudian menafsirkannya. 75 Dr. A. Husnul Hakim IMZI, M.A. Ensiklopedi Kitab-kitab Tafsir (Depok : Lingkar Studi al-Quran (elSiQ), 2019), hal. 239-241


77 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r Ibn Asyur sangat concern terhadap unsur kebahasaan dan keterkaitan (munasabah) antara ayat satu dengan ayat lainnya. Dalam hal ini, beliau banyak merujuk kepada al-Razi (Mafatih al-Ghaib), dan al-Biqa’i (Nazham al-Durar), hanya saja tidak di semua ayat , sebagaimana al-Biqa’i. Dalam hal ini, ibn Asyur berkata : ‘Saya tidak menyebut surah kecuali dengan menjelaskan tujuannya, agar si pembaca bisa fokus kepada penafsiran mufrodat, sehingga seakan-akan ini merupakan paragraf yang terpesah dari penafsiran. Saya juga sangat memberi perhatian terhadap tafsir mufrodat dan seluk beluk bahasa Arab dengan perbedaan pada kamus bahasa yang baku dan otoritatif” Sedemikian konsistennya, sehingga setiap pembahasan selalu menggunakan pendekatan bahasa tersebut. Menurut beliau, sebuah penafsiran tidak hanya di dasarkan pada Riwayat (ma’tsur) semata, sebab tidak mungkin di batasi luasnya kandungan makna al-Qur’an tersebut, juga tidak hanya bersumber dari apa yang dipahami dari para sahabat dan tabi’in. Padahal memahami ayat al-Qur’an di butuhkan ra’yu (pemikiran) demi mencakup beberapa sisi dari ayat tersebut. Beliau juga banyak perujuk kepada tafsir al-kasysyaf, khususnya dari segi balaghahnya, juga kitab al-Muharror al-wajiz (ibn Athiyah), Mafatih al-ghaib(ar-razi), Ruh al-Ma’ani (al-Alusi), juga para mufasir lainya. Dalam bab mukadimah kitabnya akan terlihat bahwa ibn Asyur termasuk ulama yang membolehkan menggunakan teori-teori


78 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r ilmiah untuk memahami ayat, terutama yang terkait dengan iptek dan alam. Apa saja yang di hasilkan dari sebuah teori ilmiah memiliki keterkaitan dengan ayat. Sebab kenyataan ilmiah merupakan kebenaram hakiki yang bersifat independent, baik yang melakukan penelitian tersebut memahami ayat tersebut maupun tidak. Di samping itu di dunia ilmiah memiliki Batasan-batasan sendiri yang disepakati di kalangan ilmuan. Di tafsir ini juga akan tampak, Ketika menjelaskan sisi kemukjizatan al-Qur’an, kebenaran yang bersifat logis dan rasional, sehingga kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu akan sulit di bantah, Kemukjizatan ini berada di setiap surah di dalam al-Qur’an.76 Sementara berkenaan dengan ayat-ayat hukum, beliau tetap menjelaskan tetapi tidak bertele-tele, dengan tetap menjaga eksistansi ijtihad sebagai sesuatu yang independent. Hal ini, bisa di lihat pada penafsiran Asyur pada ayat : يعلمون الناس السحر (al-Baqarah :102). Dalam kaitan ini, beliau menjelaskan: “Islam memang menberikan peringatan dan kecaman keras terhadap prakter sihir di beberapa tempat. Namun, yang di tuju bukan 76 Dr. A. Husnul Hakim IMZI, M.A. Ensiklopedi Kitab-kitab Tafsir (Depok : Lingkar Studi al-Quran (elSiQ), 2019), hal. 241-242


79 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r sihirnnya itu sendiri tetapi rusaknnya akidah dan rendahnnya akhlak. Para ulama sendiri berselisih pendapat tentang hakikat sihir.” Dalam hal ini, yang di tegaskan oleh Asyur adalah masalah hukumnya, yakni apa hukuman yang murtad, sebab Asyur menganggap orang yang melakukan sihir di anggap delah murtad. Jadi beliau tidak memasukkannya dalam persoalan akidah. Karajteristik tafsir ini adalah selalu berpedoaman kepada akal untuk memahami syariat. Karena itu, akan banyak kita jumpai penjelasan sekitar teologi, pendapat para mufasir yang di sertai dengan keritikana yang argumentative dan rasioanal. Secara khusus bisa di lihat pada penjelasan beliau berkenaan dengan sihir, kisah harutMarut, dan kisah-kisah israliyat, yang oleh sementara mufassir justru di jadikan sebagai sumber penafsirannya. Dalam kaitan ini beliau berkata : “Bagi mereka yang suka meneliti kisah-kisah dalam al-Qur’an makan akan banyak di temukan kisah-kisah yang berbau jhurafat dan tidak masuk akal yang di buat oleh kaum yahudi, yang biasa di kutip oleh para mufassir, seperti ibn Athiyah, al-baidhawi, al-Razi, Ibn Katsir, al-Qurthubi, Ibn Rif’ah, yang Sebagian besar bersumber dari ka’ab al-Akhbar (mantan ahli kitab). Bhkan, kisah-kisah tersebut kadang dinisbahkan oleh mereka kepadaNbi Saw, dan para sahabat dengan sanad yang tidak jelas. Yang lebih mengherankan adalahbagaimana tokoh sekelas imam Ahmad bin Hambal. Atau beliau terkecoh oleh perawi-perawinnya, yang di antarannya terdapat


80 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r nama Musa bin jubair, seorang ahli ilmu kala., Namun menurut Abd al-Hakim, bahwa Riwayat tersebut adalah sahih hanya saja sumbernya dari berita-berita kaum yahudi. Dengan demikian, Riwayat batil, tetapi perawinnya tetap benar atas apa yang mereka telah riwayatkan tersebut.”77 Sementara dalam masalah ilmu kalam, Ibn Asyur mengikuti mazhab Ahl al-sunnah Asy’ariyah. Hanya saja, beliau tidak terlalu Panjang lebar masalah ini. Beliau berkeyakinan bahwa masalah kalam bukanlah inti dari pembahsan tafsir.78 77 Dr. A. Husnul Hakim IMZI, M.A. Ensiklopedi Kitab-kitab Tafsir (Depok : Lingkar Studi al-Quran (elSiQ), 2019), hal. 243-244 78 Dr. A. Husnul Hakim IMZI, M.A. Ensiklopedi Kitab-kitab Tafsir (Depok : Lingkar Studi al-Quran (elSiQ), 2019), hal. 244


81 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r L. Contoh Penafsiran Tafsir Al-Tahrir Wan Al-Tanwir


82 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r


83 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r


84 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r


85 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r BAB VIII Tafsir Shafwah At Tafasir & Rawai’ul Bayan BAB VIII Tafsir Shafwah At Tafasir & Rawai’ul Bayan “Karya Muhammad Ali Ash-Shabuni” (Bayan Rahman & Asri Nurul Jannah)


86 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r BAB IX Tafsir al-Aisar BAB IX Tafsir Al-Aisar “Karya Abu Bajar Jabir Al-Jazairi” (Muhammad Arif & Abdul Aziz) A. Biografi dan Latar Belakang Penulisan Tafsir Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dilahirkan di Algeria pada tahun 1342 H/ 1921 M. Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir bin Jabir Al-Jazairi. Ayahnya bernama Musa bin ‘Abdul Qadir. Ibunya adalah seorang yang solehah dan pandai dalam mendidik anak. Ayah dan ibunya berbangsa al-Jazair. Al-Jazairi merupakan seorang ulama hadits yang zuhud yang terkenal di Madinah. Nama lengkap beliau diambil dari nama ayahnya dan nama tempat kelahirannya, yaitu abu bakar (nama panggilan beliau), Musa bin ‘Abdul Qadir (diambil dari nama ayahnya), al-Jazairi (diambil dari tempat kelahirannya). Sehingga beliau lebih dikenal dengan nama Abu Bakar Jabir al-Jazairi. Kedua orang tuanya berasal dari dua keluarga yang sangat terkenal komitmen dengan keshalihannya dalam menghafal al-Qur‘an al-Karim. Hal seperti itulah yang selalu diwariskan dan dijadikan semacam adat di tengah kehidupan keluarga al-Jazairi. Akan tetapi ayahnya al-Jazairi sendiri justru menekuni tasawuf. Al-Jazairi hidup dalam keadaan yatim, karena ketika umurnya kurang lebih dari satu tahun, ayahnya telah meninggal dunia. Oleh karena itu, al-Jazairi diasuh oleh seorang ibu dengan bantuan pamanpamannya dari keluarganya. Al-Jazairi memulai belajar Al-Qur’an ketika beliau masih muda saat umurnya baru dua belas tahun. Beliau mulai menempuh pendidikan awalnya di rumahnya sendiri, kemudian


87 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r dipindahkan ke ibu kota Algeria dan bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah.79 Al-Jazairi adalah seorang syaikh, alim, ahli tafsir, dan seorang da‘i. Perkumpulan beliau dalam berdakwah dan pendidikan sangatlah banyak, beliau juga cukup andil dalam penulisan karya tulis Islam dan ceramah-ceramah. Dia juga banyak melakukan kunjungan ke berbagai negara dalam rangka menyebarkan dakwah Islam dan ishlah. beliau adalah seorang yang fasih, dan ilmunya sangat luas. 1. Pendidikan dan Profesi Al-Jazairi mulai menekuni pendidikan yang pertama kali adalah di Negerinya atau tempat kelahirannya. Keberhasilannya dalam menghafal Al-Qur’an al-Karim dijadikan sebagai bekal ilmu untuk belajar ke berbagai kota, ditambah dengan hafalan Al-Muqaddimah Al-Ajurrumiyyah dalam ilmu gramatika bahasa Arab (nahwu) dan Manzhumah Ibnu Asyir dalam fikih yang bermadzhab Maliki. Dari sinilah, beliau pindah ke Bukrah untuk belajar kepada seorang ulama, yang bernama Syaikh Nu‘aim an-Nu‘aimi. Pada saat al-Jazairi belajar di Bukrah, beliau mendengar kabar bahwa di desanya (Jazair) kedatangan seorang ulama yang bernama Syaikh Isa Ma‘thuqi. Hal itu yang menjadikannya kembali ke kampung halamannya untuk belajar bahasa Arab, fikih, manthiq, mushthalah hadits, dan ushul fikih kepada ulama tersebut. Pada saat itu usia beliau menginjak usia remaja. Setelah beliau selesai mendalami ilmu dari Syaikh Isa Ma‘thuqi, beliau pergi ke ibu kota untuk mengamalkan ilmunya yaitu mengajar di salah satu sekolah swasta. Dari sinilah beliau mulai kehidupan yang baru. Di tengah kesibukannya mengajar, beliau masih 79 Diyan Fatmawati, Penafsiran Abu Bakar Jabir Al-Jazairi Terhadap Ayat-Ayat Yang Berkaitan Tentang Lingkungan Hidup Dalam Tafsir Al-Aisar, Skripsi pada Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo Semarang, 2015, h. 47.


88 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r merasa ilmunya belum sempurna dan melanjutkan belajar kepada Syaikh ath-Thayyib al-Uqbi, yang merupakan salah satu rekan dari alAllamah Ibnu Badis. Kepada al-Allamah Ibnu Badis beliau mulai menekuni pengajaran (agama Islam) dalam beberapa tahun. Setelah beberapa tahun kemudian akhirnya beliau dan keluarganya pergi ke Madinah al Munawwarah Saudi Arabia untuk belajar, mengajar, mendalami, serta menekuni beberapa pengajaran (agama Islam) dengan berbagai ulama, diantaranya Syaikh Umar Birri, Syaikh Muhammad al-Hafizh, Syaikh Muhammad al-Khayal, dan Syaikh Abdul Aziz bin Shalih, ketua para hakim kota Madinah dan Khathib Masjid Nabawi. Selain itu beliau juga berusaha menyempurnakan belajarnya tentang ilmu Syar’i, maka beliau mulai menghadiri pengajaran ilmiyah para Ulama yang terkemuka untuk mendapatkan ijazah. Setelah pendidikannya selesai dia mendapatkan “Ijazah” (izin pengajaran) dari Pimpinan Qadhi Makkah al-Mukarramah, dengan demikian al-Jazairi dapat mengajar di Masjid Nabawi, sehingga dia memiliki pengajaran khusus dibawah bimbingannya sendiri, di Masjid Nabawi beliau mengajar tafsir ayat-ayat Al-Qur’an, hadits dan yang lainnya. Selain itu beliau juga sangat disibukkan dengan berbagai kegiatan ilmiyah, diantaranya sebagai dosen dibeberapa Madrasah dibawah Departemen Pendidikan, dan pengajar di Ma‟had Darul Hadits di Madinah al-Munawwarah. Al-jazairi merupakan dosen salah satu dari generasi pertama yang mengajar di Jami‘ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) pada tahun 1380 H, hingga masa pensiunnya tahun 1406 H. 80 80 Diyan Fatmawati, Penafsiran Abu Bakar Jabir Al-Jazairi Terhadap Ayat-Ayat Yang Berkaitan Tentang Lingkungan Hidup Dalam


89 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r Selang satu tahun, dengan sifat ketekunannya dan lemah lembut al-Jazairi memperoleh ijin mengajar di Masjid Nabawi dari komite kehakiman Makkah Al-Mukarramah. Di saat itu beliau mendaftarkan diri ke Fakultas Syari‘ah di Riyadh dan berhasil memperoleh gelar “Lc”. Sejak itulah beliau mencurahkan waktu, tenaga, dan ilmunya untuk mengajar di Masjid Nabawi, dimana masjid itu merupakan masjid yang didatangi dan dirindukan oleh ribuan kaum muslimin dari penjuru dunia. a. Diantara guru-guru di negerinya (al-Jazair) sebagai berikut 1) Syaikh Nu‘aim an-Nu’aimi 2) Syaikh Isa Mu’tauqi 3) Syaikh Thoyib al-Uqbi b. Sedangkan guru-gurunya yang di Madinah antara lain: 1) Syaikh Umar Barri 2) Syaikh Muhammad al-Hafizh 3) Syaikh Muhammad Khoyal B. Gambaran Umum kitab Aisar Al-Tafasir Tafsīr al-Aisar ini di tulis oleh seorang ulama hadits Madinah yaitu Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, yang berupaya menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan pemahaman Salafus Salih, suatu kitab tafsir yang diharapkan memudahkan kaum muslimin dalam memahami ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an, sebagaimana namanya “al-Aisar” (yang termudah). Oleh karena itu beliau dalam menyusun kitab tafsirnya dalam bentuk pelajaran yang berkesinambungan dan saling terkait, menjelaskan kata-katanya secara literal, menjelaskan maknanya secara global, kemudian yang terakhir dalam penafsirannya Tafsir Al-Aisar, Skripsi pada Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo Semarang, 2015, h. 49.


90 | S t u d i K i t a b - K i t a b T a f s i r M o d e r n - K o n t e m p o r e r menyebutkan satu persatu pelajaran yang dapat diambil dan diamalkannya.81 Aisar al-Tafasir li Kalami al-Aliyyi al-Kabir (tafsir Al-Qur’an termudah) ini merupakan kitab tafsir Al-Qur’an yang ringkas yang menekankan pada penafsiran manhaj salaf dalam masalah akidah, asma, dan sifat Allah. Dimana tafsir ini menggunakan empat sumber referensi antara lain Jami’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsīr al-Jalalain, oleh al-Mahalli dan as-Suyuthi, Tafsīr al-Maraghi, dan Tafsir al-Karim ar-Rahman. 1. Keistemewaan Tafsir al-Aisar adalah sebagai berikut: a. Berukuran sedang, tidak terlalu ringkas yang dapat mengurangi pemahaman, dan tidak terlalu panjang agar pembaca tidak bosan dalam membacanya. b. Mengikuti manhaj salaf dalam masalah akidah, asma‘, dan sifat. c. Konsisten untuk tidak keluar dari empat madzhab (Hanafi, Syafii, Hambali, Hanafi) dalam masalah-masalah fikih. d. Bersih dari tafsir israiliyyat (kisah-kisah yang berasal dari orang Yahudi), baik yang shahih maupun yang lemah, kecuali yang menjadi tuntutan pemahaman ayat, dan memang diperbolehkan untuk meriwayatkannya. e. Mengesampingkan perbedaan pendapat dalam penafsirannya. f. Mengikuti pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dalam kitab tafsirnya Jami‘ al-Bayan fi Tafsīr Al-Qur’an, jika terjadi perbedaan tafsirannya tentang makna ayat diantara para mufassirīn (ulama yang ahli dalam bidang tafsir). Tetapi kadang kala ada yang tidak memakai pendapat Ibn Jarir ath-Thabari dalam penafsiran terhadap beberapa ayat. g. Menjauhkan tafsir ini dari masalah-masalah tata bahasa (nahwu), balaghah, dan bentuk-bentuk argumen bahasa. 81 Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur’an al-Aisar, jilid I, (Jakarta: Darus Sunnah: 2008), h. XX.


Click to View FlipBook Version