The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Tenti Febri, 2024-03-29 11:27:05

RESTRUKTURIASASI PORTOFOLIO

UAS COMPUTATIONAL THINGKING

Keywords: UAS CT RESTRUKTURISASI PORTOFOLIO

Format Checklist Kelengkapan Bahan Portofolio untuk Topik Pendalaman Pemahaman CT Nama: Tenti Febri Satia NIM: A2G823020 No Topik Artefak Apakah artefak portofolio tersedia? (Y/T) 1 Pendalaman pemahaman CT Hasil diskusi pada bagian Ruang Kolaborasi (dapat berupa slide presentasi/laporan) Y Feedback yang diberikan kelompok lain pada saat Demonstrasi Kontekstual Y Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata Y 2 CT dalam Kurikulum Eksplorasi Konsep (hasil pendalaman pembahasan) Y Hasil diskusi pada bagian Ruang Kolaborasi (dapat berupa slide presentasi/laporan) Y Feedback yang diberikan kelompok lain pada saat Demonstrasi Kontekstual Y Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata Y 3 CT dalam problem solving Lembar kerja mahasiswa pada eksplorasi konsep. Y Hasil diskusi dan penilaian pada ruang kolaborasi. Y


No Topik Artefak Apakah artefak portofolio tersedia? (Y/T) Hasil pada demonstrasi kontekstual. (Bagian 1-3 diulang sebanyak 3 kali untuk pertemuan 4 hingga 6.) Y Lembar kerja pada koneksi antar materi Y Hasil refleksi pada aksi nyata Y 4 CT dan proyek Hasil Lembar Kerja Reflektif Individual (01.03 dan 02.02). Y Hasil kerja pada Ruang Kolaborasi. Y Feedback yang diberikan dosen lain pada saat Demonstrasi Kontekstual. Y Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata. Y 5 Integrasi CT dalam mata pelajaran Hasil Lembar Kerja Reflektif Individual (2.3 Y Hasil kerja pada Ruang Kolaborasi. Y Feedback yang diberikan dosen lain pada saat Demonstrasi Kontekstual. Y Hasil lembar kerja pada Koneksi Antar Materi. Y Hasil refleksi dan RPP dari Aksi Nyata. Y


LEMBAR REFLEKTIF Nama: Tenti Febri Satia NIM: A2G823020 No Pertanyaan Reflektif Jawaban 1. Apakah artefak yang Anda miliki lengkap? Jika tidak lengkap, tuliskan persentase jumlah artefak portofolio yang berhasil Anda kumpulkan. Artefak yang saya miliki lengkap 2. Bacalah kembali capaian pembelajaran yang diberikan pada setiap awal topik. Apakah artefak yang Anda kumpulkan sudah menggambarkan pencapaian tersebut? Jika dikaitkan dengan pencapaian pembelajaran pada setiap topik, tuliskan kelebihan atau kekurangan dari artefak portofolio yang Anda miliki. Jika ada kekurangan, bagian apa saja yang perlu Anda tambahkan atau koreksi? Jika jawaban Anda panjang, kerjakanlah pada lembar terpisah dari tabel ini. Artefak yang telah saya kumpulkan pada topik 1 sampai dengan topic 5 mampu menggambarkan capaian pembelajaran yang diberikan pada awal topic. Namun, terdapat kekurangan, diantaranya: a. Pada topic 1, pembentukan disposisi CT masih belum terlihat dan belum mampu dipahami dengan baik. b. Pada topic 2, posisi CT dalam tatanan global masih belum dapat dipahami dengan baik.


POST RESTRUKTURISASI Nama: Tenti Febri Satia NIM: A2G823020 No Pertanyaan Reflektif Jawaban 1 . Fondasi CT apa sajakah yang Anda gunakan dalam restrukturisasi portofolio Anda? Jelaskan pada bagian mana saja fondasi CT tersebut dimanfaatkan! Dalam restrukturisasi portofolio, semua fondasi Computational Thinking (CT) digunakan seperti abstraksi, algoritma, dekomposisi, dan pola dapat digunakan untuk membantu dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Berikut adalah fondasi. CT yang saya gunakan dalam merestrukturisasi portofolio: Dekomposisi: Digunakan untuk memecah masalah restrukturisasi portofolio menjadi bagian yang lebih kecil dan lebih mudah dipahami. Pengenalan Pola Digunakan untuk mengidentifikasi pola atau tren terkait dengan restrukturisasi portofolio. Abstraksi Digunakan untuk megidentifikasi ide-ide umum dalam memecahkan masalahserta mengurangi detail yang tidak penting. Algoritma Digunakan untuk mengembangkan prosedur atau langkah-langkah yang


No Pertanyaan Reflektif Jawaban sistematis untuk menyelesaikan masalah restrukturisasi portofolio dan mencapai tujuan. Dengan menggunakan fondasi CT seperti dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi dan algoritma. dalam restrukturisasi portofolio, saya dapat membuat keputusan yang lebih baik dan lebih efektif dalam mengelola portofolio. 2. Secara struktur, apakah portofolio Anda sudah terdekomposisi dengan baik? Ya, portofolio saya sudah terdekomposisi dengan baik. Terdapat beberapa ciri-ciri portofolio yang terdekomposisi dengan baik dan saya rasa portofolio yang saya buat sudah sesuai. Struktur yang jelas, setiap bagian dari portofolio terkait erat dengan tujuan dan topik yang ditetapkan. Terdiri dari bagian-bagian yang terpisah. Setiap bagian menggambarkan suatu aspek yang spesifik Dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang diinginkan. Terlihat kemajuan dalam topik maupun antar topik Pada portofolio aksi nyata dilengkapi dengan refleksi. 3 . Apakah setiap bagian dari portofolio Anda telah terabstraksi dengan baik? Ya, portofolio saya sudah terabstraksi dengan baik. Terdapat beberapa ciri-ciri portofolio yang terabstraksi dengan baik dan saya rasa portofolio yang saya buat suudah sesuai, yakni:


No Pertanyaan Reflektif Jawaban Mampu menggambarkan konsep umum atau prinsip dasar yang terkait dengan bidang atau topik tertentu, dan bukan hanya fokus pada detail teknis atau spesifik dari setiap item yang disertakan. Dapat diterapkan pada situasi yang berbeda dan tidak hanya terbatas pada satu proyek atau tugas tertentu. Memiliki kerangka konseptual yang kuat 1. Menghindari detail yang tidak perlu 4. Apakah secara keseluruhan portofolio Anda telah terabstraksi dengan baik? Ya, portofolio saya sudah terabstraksi dengan baik. Terdapat beberapa ciri-ciri portofolio yang terabstraksi dengan baik dan saya rasa portofolio yang saya buat sudah sesuai, yakni: Mampu menggambarkan konsep umum atau prinsip dasar yang terkait dengan bidang atau topik tertentu, dan bukan hanya fokus pada detail teknis atau spesifik dari setiap item yang disertakan. Dapat diterapkan pada situasi yang berbeda dan tidak hanya terbatas pada satu proyek atau tugas tertentu. Memiliki kerangka konseptual yang kuat Menghindari detail yang tidak perlu 5. Apakah kalimat, gambar atau sajian lainnya diuraikan secara runut, jelas, sistematis dalam bahasa yang mudah dipahami Ya, kalimat, gambar atau sajian lainnya diuraikan secara runut, jelas, sistematis dalam bahasa sehingga mudah dipahami.


No Pertanyaan Reflektif Jawaban pembacanya? 6. Apakah Anda merasa puas dengan portofolio Anda? Jelaskan alasan dari jawaban Anda! Ya, saya merasa puas dengan portofolio yang saya buat. Saya mengerjakan portofolio dengan sungguh-sungguh dan mengikuti arahan/petunjuk dalam penyusunan portofolio. 7 Hal baru apa saja yang Anda peroleh dari penyusunan portofolio ini? Hal yang saya peroleh dalam penyusunan portofolio antara lain: 1. Pemahaman lebih dalam cara menyusun portofolio CT yang baik 2. Mengenal pola dan sistematisasi dalam penyusunan portofolio 3. Mengetahui keterampilan yang saya miliki selama perkuliahan atau topik CT 8. Mengacu ke mata pelajaran yang akan Anda, ampu, apa rencana tindakan nyata saya dalam penerapan CT dalam mata pelajaran yang saya ampu? Rencana tindakan nyata saya dalam penerapan CT dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia antara lain: Menekankan pada pemahaman konsep dasar dalam Bahasa Indonesia dengan lebih baik, misal mengajukan pertanyaan reflektif yang menuntut pemikiran kritis, dan mengidentifikasi hubungan antara konsepkonsep tersebut. Mendorong siswa untuk mengembangkan aktivitas dan keterampilan mereka dalam memecahkan masalah. Melalui identifikasi masalah, memahami informasi yang relevan, dan mengembangkan solusi yang


No Pertanyaan Reflektif Jawaban masuk akal. Mengoptimalkan diskusi dan kolaborasi serta membantu siswa memahami konsep dan mengeksplorasi masalah. Diskusi dengan memberikan pertanyaan reflektif yang menantang siswa untuk berpikir kritis, sementara kolaborasi dapat membantu siswa melihat masalah dari berbagai perspektif dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang konsep. Menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir kritis secara keseluruhan. Misalnya mengembangkan tugas dan proyek yang menantang siswa untuk menggunakan keterampilan berpikir kritis mereka secara menyeluruh, menyelesaikan masalah yang kompleks, dan mempertimbangkan berbagai perspektif dan sudut pandang.


TUGAS RUANG KOLABORASI - TOPIK 1 Nama: Tenti Febri Satia Nim: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Nama/No. Kelompok: 1. Tenti Febri Satia 2. Sindi Dwi Safitri No. Induk / Nama Mahasiswa : 1. 2. 3. Hasil Diskusi secara umum : CT adalah proses penyelesaian masalah dengan efektif dan efisien dan menyeluruh tanpa batasan baik menggunakan computer secara lagsung maupun tidak. Adapun manfaat dari CT adalah mendorong kemampuan problem solving yang efektif, membantu melatih kreatifitas, membentuk pola pikir yang logis dan terstruktur, bekerja menjadi lebih professional dan efisien. CT sendiri memiliki 4 fondasi yang membantu memudah kan CT untuk melakukan berbagai kegiatan yaitu: a. Dekomposisi yaitu pemecahan masalah dengan mengklasifikasikan sesuai dengan jenisnya atau pembagian masalah dari yang terbesar sampai terkecil sehingga masalah itu bias diselesaikan. b. Pengenalan pola yaitu menganalisis persoalan atau mendeteksi keadaan objek. c. Abstraksi yaitu mengeliminasi bagian-bagian yang tidak relevan dari suatu masalah. d. Algoritma yaitu menggunakan langkah secara sistematis agar persoalan dapat terselesaikan. Manfat yang didapatkan setelah mempelajari CT adalah sebagai calon guru professional dapat mengimplementasikan CT di dalam mata pelajaran dan membiasakan siswa untuk menggunakan CT dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu dapat melatih saya untuk berpikir kritis, logis, sistematis dan terstruktur dalam memecahkan masalah sehari-hari.


Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT. 1. Memasak nasi 2. Penyelesaian persoalan baju sobek 3. Mencuci pakaian kotor 4. Mencuci pring kotor Penerapan fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari. A. Jawaban yang sudah tepat Mahasiswa diberikan tuas-tugas berupa laporan oleh dosen setelah pembelajaran 1. Dekomposisi: Laporan terdiri dari berbagai kegiatan sehingga seorang mahasiswa sebaiknya meilihat laporan bukan sebagai satu kesatuan, tetapi dari bagian-bagiannya. Sehingga ketika pengerjaan dia akan berfokus pada laporan tidak sebagai satu tugas yang besar, melainkan sebagai kumpulan tugas-tugas kecil. 2. Pengenalan pola: kerap laporan yang kita kerjakan meliputi sebuah source code yang harus kita buat, tes dan kemudian kita jelaskan. Biasanya seorang mahasiswa akan memulai dengan bagian pemodelan dari source code tersebut dulu, baru berlanjut ke bagian algoritma dan kemudian soure codenya itu sendiri. Terakhir baru penjelasan dari source code . 3. Abstraksi: abstraksi yang dapat diambil adalah ketika pengerjaan laporan, apa yang diminta oleh sourec code dan seperti apa narasi dan penjelasannya. 4. Algoritma: langkah-langkah yang perlu diambil ketika mengerjakan laporan, seperti pembuatan model dahulu, baru algoritma kemudian source code beserta narasi dan penjelasannya. B. Jawaban yang kurang tepat Mencuci pakaian kotor 1. Dekomposisi: dekomposisi akan dilakukan ketika kita akan melihat pakaian yang akan dicuci, ketika memilih pakaiannya kita akan mengetahui jenis pakaian yang menunjukkan


bahwa pakaian mana yang akan dicuci atau tidak. 2. Pengenalan pola: pengenalan pola akan dilakukan ketika kita akan menentukan dan mengelompokkan apa saja proses yang akan dilakukan, seperti memisahkan pakaian sesuai dengan kegunaannya, menyiapkan ember dan alat cuci, proses mencuci, menjemur, dan lainnya. 3. Abstraksi: dalam pakaian ini yaitu kita bias menemukan pakaian mana yang kotor, dan kita akan mengidetifikasi pakaian menurut tingkat kekotorannya. 4. Algoritma, setelah 3 tahap di atas terlewati, kita akan bias mengurutkan pemecahan masalah dari mencuci pakaian. Dimulai dari memilih pakaian, menyiapkan alat, mencuci pakaian memeras, dan yang terakhir menjemurnya.


TUGAS DEMONSTRASI KONTEKSTUAL - TOPIK 1 Nama: Tenti Febri Satia Nim: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Nama/No. Kelompok 1. Tenti Febri Satia 2. 2. Sindi Dwi Safitri 3. No. Induk/Nama Mahasiswa Feedback/Pertanyaan Tanggapan/Solusi 1. Apakah Computational Thinking bias diterapkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia? Berikan contoh penerapannya! (Sinta Yulianti) Bisa, karena CT merupakan konseptualisasi solusi. CT berfokus pada cara berpikir dalam menemukan cara menyelesaikan persoalan baik dengan atau tanpa komputer. CT dapat dimanfaatkan semua orang dengan berbagai macam persoalan. Contohnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia dapat menyelesaikan masalah dalam hal menulis teks puisi. Penyelesaian menulis teks puisi dapat dilakukan melalui beberapa fondasi yang ada pada CT meliputi dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi dan algoritma. Dengan menerapkan CT, maka akan terbiasa berpikir sistematis dan menemukan solusi yang efektif, efesien dan optimal dalam menghadapi persoalan yang sederhana maupun yang kompleks. (Sindi Dwi Safitri) 2. Sebelumnya kelompok Anda menjelaskan bahwa mengerjakan tugas membuat laporan merupakan contoh penerapan fondasi CT, jelaskan mengapa mengerjakan laporan termasuk penerapan CT! Dalam mengerjakan tugas laporan termasuk penerapan CT karena dalam pengerjaan tugas tersebut kita secara tidak sengaja telah menerapkan CT, Kita tidak bisa lansung pada tahap penyelesaian tugas, tentu saja kita harus melakukan identifikasi masalah terlebih


serta jelaskan mengapa pentingnya CT dalam kehidupan sehari-hari? (Patimah Zaura) dahulu, mengaitkan pola soal yang pernah kita kerjakan, membagi besaran-besaran yang dibutuhkan sehingga kita bisa menyelesaikan sesuai alur pengerjaan untuk menemukan jawaban. Dari langkah-langkah tersebut sudah merupakan penerapan fondasi CT. Pentingnya CT dalam kehidupan sehari-hari karena CT dapat membantu kita dalam penyelesaian masalah secara lebih mudah, terarah dan sangat luas tanpa batas penerapannya. Dengan disadari atau tidak kita telah menerapkan CT dalam kehidupan seharihari. Seperti pada saat kita ingin mencuci pakaian. Pemikiran Komputasional merupakan cara yang benar-benar tepat untuk memecahkan masalah dengan menentukan solusi langkah demi langkah terperinci untuk masalah tersebut. Selain itu, dengan berfikir secara komputasional kita dapat mengatur rencana kedepannya dengan lebih mudah sehingga kita bisa menyusun strategi sebaikbaiknya untuk mencapai tujuan dari rencana yang telah dibuat. Dengan CT kita bisa menemukan strategi yang efektif dan efisien. (Tenti Febri Satia)


TUGAS REFLEKSI AKSI NYATA - TOPIK 1 Nama: Tenti Febri Satia Nim: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia 1. Apa harapan/target anda dalam mengikuti mata kuliah ini? Jawaban: Harapan saya mengikuti mata kuliah ini adalah dapat memahami konsep penerapan CT dalam permasalahan, sehingga permasalahan yang saya alami dapat diselesaikan dengan efektif, efisien, dan optimal. 2. Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan setelah mempelajari CT? Jawaban: Pemahaman baru yang saya dapatkan dari mempelajari CT adalah ternyata konsep CT sangat dekat dan dapat diterapkan dalam semua persoalan yang ada termasuk persoalan sederhana. 3. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadan CT dalam kehidupan Anda? Jawaban: Secara tidak sadar ternyata saya telah menerapkan konsep CT dalam beberapa persoalan, meskipun tidak semua fondasi diterapkan ke dalamnya. 4. Bagaimana perasaan Anda setelah belajar mengenai CT? Jawaban: Saya merasa bersemangat dan senang, karena banyak hal yang terkadang saya pikirkan dengan rumit, ternyata dengan menerapkan konsep CT hal tersebut menjadi lebih efektif untuk diselesaikan 5. Apa potensi kendala yang mungkin Anda alami selama mengikuti kuliah ini? Jika ada, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengantisipasinya? Jawaban: Kendala yang mungkin saya alami ketika mengikuti kuliah CT adalah tenggang waktu pengerjaan tugas. Karena pada saat bersamaan banyak tugas yangb juga harus dikerjakan. Tindakan yang


saya lakukan untuk mengantisipasinya adalah dengan mengelompokkan tugas yang termudah, kemudian membuat target penyelesaian pribadi.


Mulai Dari Diri – Topik 2 Nama: Tenti Febri Satia Nim: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia 1. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT di dalam Kurikulum Merdeka? Jawaban: Menurut saya adanya keberadaan CT di dalam kurikulum merdeka sangat baik dan akan berdampak sangat positif. Karena dengan adanya CT siswa akan menciptakan solusi- solusi untuk menyelesaikan persoalan- persoalan secara sistematis, kritis, analitis, dan kreatif. Dengan demikian diharapkan dapat mengasah keterampilan problem solving yang efektif, efisien, dan optimal. Keberadaan CT pada Kurikulum Merdeka menurut saya sangat berpengaruh pada proses pembelajaran siswa, karena karakteristik utama dari Kurikulum Merdeka yang mendukung pemulihan pembelajaran adalah pembelajaran berrbasis projek untuk mengembangkan soft skill dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila, fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi serta fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang berdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peseta didik. 2. Karena CT berada dalam kurikulum, CT dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipelajari oleh peserta didik. Menurut Anda mengapa CT tidak diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri? Jawaban: CT adalah keterampilan yang diperlukan oleh semua orang, tidak terbatas pada computer scientist. CT adalah literasi berpikir. Maka dari itu CT tidak diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri karena CT merupakan suatu keterampilan yang digunakan pada semua mata pelajaran. Selain itu CT adalah proses berpikir dalam memformulasikan persoalan dan ber strategi dalam memilih solusi yang paling efektif, efisien, optimal yang digunakan untuk mendukung pemecahan masalah di semua disiplin ilmu. Dengan demikian CT tidak dapat diajarkan secara teoritis, melainkan perlu ditularkan oleh guru kepada siswanya.


3. Pada saat Anda membaca referensi-referensi yang ditugskan oleh dosen Anda, bagian mana yang: Paling menarik untuk Anda? Mengapa? Paling sulit untuk diajarkan? Mengapa? Jawaban: Hal yang paling menarik adalah besarnya manfaat atau peran penting CT dalam dunia pendidikan dan dalam kehidupan sehari-hari. CT seharusnya terintegrasi dalam beberapa mata pelajaran, bukan diajarkan sebagai sebuah mata pelajaran khusus. Adapun kesulitannya adalah bagaimana mengimplementasikan CT pada pembelajaran di sekolah dengan keanekaragaman peserta didik serta menyederhanakan konsep CT agar peserta didik bisa memahami dan mengimplementasikannya dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.


Eksplorasi Konsep -Topik 2 Nama: Tenti Febri Satia Nim: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Eksplorasi Konsep Navigasi 3 1. Istilah yang belum dipahami dalam Cp Jawaban: Fase D-F Kelas VII-XII a. Strategi algoritmik b. Data diskrit c. Justifikasi Eksplorasi Konsep Navigasi 4 1. Menurut Anda, bagaimana posisi CT di Indonesia jika dibandingkan keberadaannya di beberapa Negara lain yang sudah berupaya terlebih dahulu untuk memasukkan CT ke dalam kurikulumnya? Jawaban: CT sangat berpengaruh dengan keterampilah berfikir seseorang, di mana seseorang tersebut mampu melibatkan gaya berfikir komputasi dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Pengembangan CT di Indonesia belum terlalu diterapkan, tetapi Indonesia mulai bergabung dengan satu organisasi yang bernama Bebras Indonesia yang didirikan pada tahun 2004, namun Indonesia mulai bergabung dengan organisasi ini sejak 2016. Bebras Indonesia mempunyai suatu kegiatan yang dapat mengubah cara berfikir manusia agar mampu berfikir secara komputational. Bebras Indonesia dikelola Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) bermitra dengan universitas regional. Unuversitas bertugas mengkoordinasi sekolag-sekolah. Adapun kategori CT Bebras di Indonesia siaga untuk siswa SD dan sederajat, penggalang untuk siswa SMP sederajat dan penegak untuk siswa SMA sederajat. Di Amerika Serikat CT sudah menjadi sebuah kurikulum yang wajib bagi siswa tingkat pendidikan menengah (SMA) di mana kurikulum tersebut dikhususkan untuk mempersiapkan siswa dalam mengambil Ilmu Komputer di Universitas. Tujuan dari


Kurikulum CT tidak lain untuk melatih dan membiasakan seorang siswa dalam berfikri kreatif, logis dan terstruktur. Saat ini pemerintah mulai menggalakkan kembali penerapan CT dalam Kurikulum terbaru yaitu Kurikulum Merdeka. Dalam kurikulum SD, CT diintegrasikan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPAS. Untuk jenjang SMP dan SMA, CT secara eksplisit terdapat pada mata pelajaran informatika. Namun karena CT adalah literasi berpikir yang perlu dilatih secara terus menerus, maka tidak cukup hanya dilatih pada mata pelajaran Informatika saja. CT sangat disarankan diintegrasikan pada seluruh mata pelajaran lain. Eksplorasi Konsep Navigasi 5 Nama: Tenti Febri Satia Fase (A/B/C/D/E/F) D-F CP Fase D Pada akhir fase D, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional untuk menghasilkan beberapa solusi dari persoalan dengan data diskrit bervolume kecil serta mendisposisikan berfikir komputasional dalam bidang lain terutama dalam literasi, numerasi, dan literasi sains (computationally literate). CP Fase E Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan strategi algoritmik standar pada kehidupan sehari-hari maupun implementasinya dalam system computer, untuk menghasilkan beberapa solusi persolan dengan data diskrit bervolume besar. CP Fase F Pada akhir fase F, peserta didik mampu menganalisis beberapa strategi algoritmik secara kritis dalam menghasilkan banyak alternative solusi untuk satu persoalan dengan memberikan justifikasi efisiensi, kelebihan, dan keterbatasan dari semua alternative solusi, kemudia memilih dan menerapkan solusi terbaik, paling efisien, dan optimal dengan merancang struktur data yang


lebih kompleks dan abstrak. Kata yang belum diketahui maknanya Makna yang didapat setelah mencari tahu: 1. Strategi Algoriitmik 2. Data Diskrit 3. justifikasi 1. Kumpulan metode atau teknik untuk memecahkan masalah guna mencapai tujuan yang ditentukan, yang dalam hal ini deskripsi metode atau teknik tersebut dinyatakan dalam suatu urutan langkah-langkah penyelesaian. 2. Data diskrit adalah data yang nilainya memiliki kemungkinan nilai terbatas dan antar nilai satu dengan yang lainnya terpisah, contohnya jumlah siswa dalam satu kelas. 3. Justifikasi dalam penelitian adalah memberikan alasan atau bukti bahwa hipotesis atau teori yang dikemukakan dalam penelitian benar atau tidak. Tuliskan pemaknaan mengenai CP tersebut setelah Anda memahami setiap istilah yang terdapat pada CT tersebut 1. CP Fase D: Pada fase D, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasil untuk menghasilkan beberapa solusi dari persoalan dengan data yang bulat dengan volume yang kecil dan membiasakan berfikir komputasional dalam bidang lain terutama dalam literasi, numerasi, dan pengetahuan yang melatih kecakapan terhadap sains. 2. CP Fase E: Peserta didik mampu menerapkan strategi pemecahan masalah yang menggunakan langkah-lagkah logis sehingga mendapatkan solusi yang efisien dalam kehidupan sehari-hari. 3. CP Fase F: Peserta didik mampu menganalisis strategi yang bersifat logis secara kritis


sehingga menghasilkan banyak alternative solusi untuk satu persoalan dan menganalisis nama solusi yang tebaik dari beberapa alternatif solusi yang ditemukan.


Computational Thinking Ruang Kolaborasi Topik 2 Nama/NIM anggota 1: Nama/NIM anggota 2: Nama/NIM anggota 3: Siti Stalis Fiana Darazah, S. Pd. (A2G823002) Ghea Reiva Igusmi Putri, S. Pd. (A2G823014) Tenti Febri Satia, S. Pd. (A2G823020) Fase (A/B/C/D/E/F) Fase E dan Fase F CP Fase E CP Fase F Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan strategi algoritmik standar pada kehidupan sehari-hari maupun implementasinya dalam sistem komputer, untuk menghasilkan beberapa solusi persoalan dengan data diskrit bervolume besar. Pada akhir fase F, peserta didik mampu menganalisis beberapa strategi algoritmik secara kritis dalam menghasilkan banyak alternatif solusi untuk satu persoalan dengan memberikan justifikasi efisiensi, kelebihan, dan keterbatasan dari semua alternatif solusi, kemudian memilih dan menerapkan solusi terbaik, paling efisien, dan optimal dengan merancang struktur data yang kompleks dan abstrak. Istilah dan makna dari kata-kata yang sudah disepakati oleh kelompok: Fase E: 1. Peserta didik: anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jenjang dan jenis pendidikan. Pada CP ini, kata peserta didik merujuk pada peserta didik di fase E (Kelas X).


2. Implementasi: pelaksanaan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu, pada CP ini, kata implementasi berarti melaksanakan strategi algoritmik standar dalam sistem komputer. 3. Algoritmik standar: cara/langkah untuk memecahkan masalah. Pada CP ini kata algoritmik standarb ermakna menerapkan strategi langkah untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam sistem komputer. Fase F: 1. Justifikasi efisiensi: merujuk pada proses memberikan alasan atau pembenaran terkait efisiensi suatu kegiatan atau system. Ini melibatkan penilaian atau analisis yang menjelaskan mengapa suatu tindakan atau keputusan dianggap efisien dalam mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks pendidikan atau bisnis misalnya, “justifikasi efisiensi” dapat merujuk pada penyusunan argument atau alasan yang menunjukkan bahwa suatu program, kebijakan, atau tindakan spesifik dilakukan dengan cara yang paling efisien dalam penggunaan sumber daya tersedia, seperti waktu, tenaga kerja, atau dana untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kata-kata yang dipahami sebagai makna yang berbeda oleh anggota kelompok. Diskusikan lebih lanjut tentang perbedaan makna tersebut! Diskusikan juga dengan konsep pada saat eksplorasi konsep! Fase E: 4. Data diskrit bervolume besar - Data diskrit adalah data yang diperoleh dengan cara mencacah atau menghitung. - Data diskrit adalah data berupa angka yang hanya menampilkan angka dan dihitung dalam jumlah bilangan bulat seperti angka yang muncul dalam dadu yang hanya dapat memunculkan angka 1 sampai 6. Fase F: 1. Kompleks: - Kompleks (Sebagai kata benda) artinya himpunan, kesatuan, kelompok. Contohnya kompleks perumahan; tempat atau lingkungan berbagai rumah. - Kompleks (Sebagai kata sifat) artinya mengandung beberapa unsur yang pelik, rumit, sulit, dan saling berhubungan. - Kompleks adalah suatu kesatuan yang terdiri dari sejumlah bagian, khususnya yang memiliki


bagian yang saling berhubungan dan saling ketergantungan. 5. Abstrak -Abstrak (dalam literatur) suatu penjelasan singkat mengenai isi pada suatu artikel atau tulisan. - Abstrak (sebagai kata sifat) abstrak merupakan suatu hal yang tidak berwujud;tidak berbentuk Tuliskan pemaknaan mengenai CP yang dibahas di kelompok, sesuai pemahaman bersama seluruh anggota kelompok! Fase E merupakan bagian jenjang satuan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat untuk kelas X. Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan strategi pemecahan masalah menggunakan langkah-langkah logis sehingga mendapatkan solusi berbentuk data diskrit bervolume besar dalam kehidupan sehari-hari. Fase F merupakan bagian jenjang satuan pendidikan SMA atau sederajat yang ditujukan pada kelas XI dan XII, fase ini diharapkan peserta didik mampu menganalisis beberapa metode atau teknik pemecahan masalah secara kritis dalam menghasilkan banyak akternatif solusi. Satu persoalan dengan memberikan justifikasi efisiensi, kelebihan, keterbatasan dari semua alternatif solusi. Tentunya dengan memilih alternatif solusi yang terbaik, agar hasil yang ingin dicapai dapat secara optimal dan efisien dengan merancang struktur data yang kompleks.


Demonstrasi Kontekstual - Topik 2 Nama: Tenti Febri Satia Nim: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Nama/NIM: Tenti Febri Satia,S.Pd (A2G823020) Fase Istilah yang baru diketahui maknanya Makna dari istilah D Diskrit Disposisi Computation Literate (literasi komputasional) Diskrit artinya tidak saling berhubungan (lawan dari kontinu). Objek yang dibahas dalam Matematika Diskrit - seperti bilangan bulat, graf, atau kalimat logika - tidak berubah secara kontinu, tetapi memiliki nilai yang tertentu dan terpisah. Disposisi artinya mendisposisikan berpikir komputasional (CT) dalam bidang literasi, numerasi, dan literasi sains berarti mengintegrasikan elemenelemen kunci berpikir komputasional ke dalam pendekatan pembelajaran dalam materi-materi pembelajaran tersebut. Ini tidak hanya tentang mengajarkan keterampilan


komputer atau pemrograman, tetapi juga tentang mengembangkan cara berpikir yang terkait dengan pemecahan masalah, analisis data, dan pemahaman konsep-konsep kompleks. Computation Literate (literasi komputasional) mengacu pada kemampuan seseorang untuk memahami, menggunakan, dan berpartisipasi secara efektif dalam dunia komputasi atau komputasi. Seseorang yang dianggap "computationally literate" memiliki pemahaman yang baik terhadap konsepkonsep komputasi, keterampilan dalam menggunakan alat dan teknologi komputasi, serta kemampuan untuk berpikir komputasional. Tuliskan pemahaman yang Anda dapat dari presentasi rekan Anda mengenai CP CT pada fase yang berbeda dari fase yang Anda kerjakan dalam kelompok! Fase Pemaknaan CP D Pada fase D, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional untuk menghasilkan beberapa solusi dari persoalan dengan data yang tidak saling berhubungan (lawan dari kontinu) bervolume kecil serta sikap mengkomunikasikan ide-ide matematis, bekerja dalam kelompok, bertanya, menjawab pertanyaan, dan


menyelesaikan masalah berpikir komputasional dalam bidang lain terutama dalam literasi, numerasi, dan literasi sains dengan menerapkan pemikiran komputasi.


Elaborasi Pemahaman - Topik 2 Nama: Tenti Febri Satia Nim: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Berdasarkan pemahaman mahasiswa terkait CP CT yang mengacu pada Lembar Kerja pada Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, dan Demonstrasi Kontekstual, Dosen dapat meluruskan pemahaman mahasiswa yang kurang tepat atau mengkoreksi pemahaman yang salah terkait CT dalam Kurikulum Merdeka dan posisi CT dalam tatanan global. Jika masih ada pertanyaan seputar CT dalam kurikulum merdeka dan posisi CT dalam tatanan global, tuliskan pertanyaan-pertanyaan tersebut! Setelah itu, diskusikanlah pertanyaanpertanyaan tersebut dengan dosen, maupun rekan mahasiswa lainnya! Pertanyaan Elaborasi pemahaman CT 1. Bagaimana Computational Thinking dapat diterapkan langsung kepada peserta didik dalam pembelajaran? 2. Bagaimana menilai perkembangan CT pada peserta didik sehingga dapat mengamati perubahan cara berfikirnya dalam pembelajaran?


Koneksi Antar Materi - Topik 2 Nama: Tenti Febri Satia Nim: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia CP Bahasa Indonesia CP CT Keterkaitan CP Bahasa Indonesia dengan CP CT Fase D (Umumnya untuk kelas VII, VIII dan IX SMP/MTs) Pada akhir fase D, peserta didik memiliki kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan bernalar sesuai dengan tujuan, konteks sosial, dan akademis. Peserta didik mampu memahami, mengolah, dan menginterpretasi informasi paparan tentang topik yang beragam dan karya sastra. Peserta didik mampu berpartisipasi aktif dalam diskusi, mempresentasikan, dan menanggapi informasi nonfiksi dan fiksi yang dipaparkan; Peserta didik menulis berbagai teks untuk menyampaikan pengamatan dan pengalamannya dengan lebih terstruktur, dan menuliskan tanggapannya terhadap paparan dan bacaan menggunakan pengalaman dan pengetahuannya. Peserta didik mengembangkan kompetensi diri melalui pajanan berbagai teks untuk penguatan karakter. Fase D (Umumnya untuk kelas VII, VIII dan IX SMP) Pada akhir fase D, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional untuk menghasilkan beberapa solusi dari persoalan dengan data diskrit bervolume kecil serta mendisposisikan berpikir komputasional dalam bidang lain terutama dalam literasi, numerasi, dan literasi sains (computationally literate). Keterkaitan kedua fase tersebut adalah kemampuan menerapkan berpikir komputasional dalam menginterpretasi informasi yang beragam untuk menghasilkan solusi dari persoalan dengan data diskrit bervolume kecil. Mendisposisikan berpikir komputasional dalam bidang literasi, berbahasa, berkomunikasi dan bernalar sesuai dengan konteks untuk mengembangkan kompetensi diri.


Fase E (Umumnya untuk kelas X SMA/MA/SMK/MAK) Pada akhir fase E, peserta didik memiliki kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan bernalar sesuai dengan tujuan, konteks sosial, akademis, dan dunia kerja. Peserta didik mampu memahami, mengolah, menginterpretasi, dan mengevaluasi informasi dari berbagai tipe teks tentang topik yang beragam. Peserta didik mampu menyintesis gagasan dan pendapat dari berbagai sumber. Peserta didik mampu berpartisipasi aktif dalam diskusi dan debat. Peserta didik mampu menulis berbagai teks untuk menyampaikan pendapat dan mempresentasikan serta menanggapi informasi nonfiksi dan fiksi secara kritis dan etis. Fase E (Umumnya untuk kelas X SMA) Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan strategi algoritmik standar pada kehidupan sehari-hari maupun implementasinya dalam sistem komputer, untuk menghasilkan beberapa solusi persoalan dengan data diskrit bervolume besar. Kaitan kedua fase adalah Peserta didik mampu menerapkan strategi algortimik standar untuk penyelesaian masalah seperti mengolah, menginterpretasi dan mengevaluasi informasi dari berbagai teks tentang topic yang beragam. Peserta didik mampu mengimplementasikan strategi algoritmik standar dalam menulis berbagai teks dan menanggapi informasi secara kritis dan etid melalui data diskrit bervolume besar. Fase F (Umumnya untuk kelas XI dan XII SMA/MA/SMK/MAK) Pada akhir fase F, peserta didik memiliki kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan bernalar sesuai dengan tujuan, konteks sosial, akademis, dan dunia kerja. Peserta didik mampu memahami, Fase F (Umumnya untuk kelas XI dan XII SMA) Pada akhir fase F, peserta didik mampu menganalisis beberapa strategi algoritmik secara kritis dalam menghasilkan banyak alternatif solusi untuk satu persoalan Kaitan kedua fase adalah peserta didik mampu menganalisis beberapa strategi algoritmik melalui aktualisasi diri dengan memberikan alternative solusi. Peserta didik diberikan justifikasi efisiensi dalam mengkreasikan gagasan dan pendapat.


mengolah, menginterpretasi, dan mengevaluasi berbagai tipe teks tentang topik yang beragam. Peserta didik mampu mengkreasi gagasan dan pendapat untuk berbagai tujuan. Peserta didik mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan berbahasa yang melibatkan banyak orang. Peserta didik mampu menulis berbagai teks untuk merefleksi dan mengaktualisasi diri untuk selalu berkarya dengan mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia di berbagai media untuk memajukan peradaban bangsa. dengan memberikan justifikasi efisiensi, kelebihan, dan keterbatasan dari semua alternatif solusi, kemudian memilih dan menerapkan solusi terbaik, paling efisien, dan optimal dengan merancang struktur data yang lebih kompleks dan abstrak.


Aksi Nyata Topik - 2 Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia 1. Bagaimana perasaan Anda saat menelaah lebih lanjut mengenai CP CT dalam pertemuan kuliah ini? Jawaban: Perasaan saya setelah menelaah lebih lanjut CP CT dalam pertemuan ini adalah saya menjadi sadar bahwa ada banyak hal yang belum saya ketahui dan perlu saya pelajari dan cari tahu lebih lanjut tentang CT. Saya sangat tertarik dengan keterampilan CT terutama ketika dihubungkan dengan CP mata pelajaran yang akan saya ampu. Setelah mempelajari CT lebih lanjut mengenai tahapan CT saya mengetahui bahwa konsep CT berkaitan dengan CP pembelajaran di sekolah yang disesuaikan dengan fase peserta didik. 2. Tuliskan pengetahuan-pengetahuan baru yang Anda dapatkan dari pertemuan ini! Jawaban: Pengetahuan baru yang saya dapatkan dari pertemuan ini adalah: a. Mengetahui keterkaitan CP CT dengan CP Bahasa Indonesia b. Saya mampu memahami istilah baru dalam CT yang kemudian diaplikasikan pada CP setiap fase (fase A,B,C,D,E,F). c. Mengetahui bahwa konsep CT sangat dekat dengan kita dan dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dan kemampuan berpikir tersistem dan kritis peserta didik, dengan menyesuaikan fase peserta didik itu sendiri.


EKSPLORASI KONSEP & RUANG KOLABORASI – Topik 3 LK 02.04 Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Nama : Tenti Febri Satia, S. Pd. NIM : A2G823020 Jenjang : SD, SMP, SMA Judul Soal : Memindahkan Dadu No Pertanyaan Jawaban 1 Tuliskan solusi untuk masing-masing soal! Persoalan Bebras ini dapat diselesaikan dengan melakukan proses penelusuran atau membayangkan jumlah titik dadu bagian atas jika digulirkan ke petak (jalur) selanjutnya. Akan tetapi tetap harus mempertimbangkan jumlah titik yang berada di dasar dan permukaan dadu (jika dijumlahkan selalu berjumlah 7). Contohnya : sisi 6 berlawanan dengan sisi 1. sisi 5 berlawanan dengan sisi 2, sisi 4 berlawanan dengan 3, begitu sebaliknya. Jenjang SD: Solusi : jawaban yang benar adalah 5. Hal ini dikarenakan dadu bergerak sebanyak 6 kali, saat mencapai petak terakhir, sisi dadu dengan jumlah 2 titik berada di dasar. Jadi, kesimpulannya sisi dadu yang berjumlah 5 titik berada di bagian atas dadu. Dan sisi dadu yang berjumlah 2 titik berada di sisi bawah dadu.


Jenjang SMP Solusi : jawaban yang benar adalah 3. Hal ini dikarenakan dadu bergerak sebanyak 7 kali, saat mencapai petak terakhir, sisi dadu dengan jumlah 4 titik berada di dasar. Jadi, kesimpulannya sisi dadu yang berjumlah 3 titik berada di bagian atas dadu. Dan sisi dadu yang berjumlah 4 titik berada di sisi bawah dadu. Jenjang SMA Solusi: jawaban yang benar adalah 4. Hal ini dikarenakan dadu bergerak sebanyak 9 kali, saat mencapai petak terakhir, sisi dadu dengan jumlah 3 titik berada di dasar. Jadi, kesimpulannya sisi dadu yang berjmlah 4 titik berada di bagian atas dadu. Dan sisi dadu yang berjumlah 3 titik berada di sisi bawah dadu. Mengingat aturan awal, yaitu sisi dadu yang berlawanan bila dijumlahkan sama dengan 7. 2 Tuliskan langkah-langkah berpikir anda hingga mendapatkan solusi dari masingmasing soal! jika Anda menggunakan lebih dari satu cara berpikir, tuliskan pada jenjang mana Anda gunakan dalam menyelesaikan soal ini! Langkah - langkah jenjang SD: Untuk mendapatkan jawaban yang akurat dalam menyelesaikan persoalan ini, kita dapat menggunakan sebuah dadu. Apabila tidak terdapat dadu, kita dapat menggunakan sebuah benda berbentuk kubus, lalu menuliskan angka-angka sesuai pola pola penempatan angka pada dadu. Kemudian posisikan dadu sesuai dengan gambar di posisi awal. Selanjutnya gulirkan dadu ke depan, belakang, kiri atau kanan sesuai dengan arah yang ditentukan pada persoalan. Pada persoalan SD ini langkah-langkah menentukan angka pada sisi atas dadu saat berada di petak hijau antara lain: Bergulir 3 langkah ke Depan: 2, 6, dengan


posisi dadu: bawah 5, atas 2, samping kanan 3, samping kiri 4, depan 6, belakang 1 lalu digulingkan 2 langkah kesamping kanan menjadi 3, 2 Jadi angka yang berada di atas adalah 5. Langkah - langkah jenjang SMP: Untuk mendapatkan jawaban yang akurat dalam menyelesaikan persoalan ini, kita dapat menggunakan sebuah dadu. Apabila tidak terdapat dadu, kita dapat menggunakan sebuah benda berbentuk kubus lalu menuliskan angka-angka sesuai pola penempatan angka pada dadu. Kemudian posisikan dadu sesuai dengan gambar di posisi awal. Selanjutnya gulirkan dadu ke depan, belakang, kiri atau kanan sesuai dengan arah yang ditentukan pada persoalan. Pada persoalan SMP ini langkah-langkah menentukan angka pada sisi atas dadu saat berada di petak hijau antara lain adalah: Bergulir 3 langkah ke Depan: 2, 6, dengan posisi dadu: bawah 5, atas 2, samping kanan 3, samping kiri 4, depan 6 belakang 1 Bergulir lagi 2 langkah kesamping kanan menjadi 3, 2. Jadi angka yang berada di atas adalah 5 dengan posisi dadu menjadi: bawah 2, atas 5, samping kanan 4, samping kiri 3, depan 6, belakang 1. Selanjutnya Bergulir 1 langkah ke belakang dengan posisi dadu menjadi 6 dibawah 1 atas, 3 samping kiri, 4 samping kanan, 2 bawah, 5 atas. dan bergulir kekanan posisi dadu menjadi dibawah angka 4 sehingga angka yang berada di atas adalah 3.


Langkah - langkah jenjang SMA Untuk mendapatkan jawaban yang akurat dalam menyelesaikan persoalan ini, kita dapat menggunakan sebuah dadu. Apabila tidak terdapat dadu, kita dapat menggunakan sebuah benda berbentuk kubus lalu menuliskan angka-angka sesuai pola penempatan angka pada dadu. Kemudian posisikan dadu sesuai dengan gambar di posisi awal. Selanjutnya gulirkan dadu ke depan, belakang, kiri atau kanan sesuai dengan arah yang ditentukan pada persoalan. Pada persoalan SMA ini langkah-langkah menentukan angka pada sisi atas dadu saat berada di petak hijau antara lain: Bergulir 3 langkah ke Depan: 2,6, dengan posisi dadu: bawah 5, atas 2, samping kanan 3, samping kiri 4, depan 6 belakang 1 Bergulir lagi 2 langkah kesamping kanan menjadi 3,2 Jadi angka yang berada di atas adalah 5 dengan posisi dadu menjadi: bawah 2, atas 5, samping kanan 4, samping kiri 3, depan 6, belakang 1. Selanjutnya Bergulir 1 langkah ke belakang dengan posisi dadu menjadi 6 dibawah 1 atas, 3 samping kiri, 4 samping kanan, 2 bawah, 5 atas, dan bergulir kekanan posisi dadu menjadi di bawah angka 4 sehingga angka yang berada di atas adalah 3, depan 2 belakang 5, samping kanan 6, samping kiri 1. Kemudian bergulir ke belakang 2 langkah sehingga posisi dadu bagian bawah angka 3 sehingga angka yang berada di atas adalah 4. 3 Identifikasi 4 fondasi CT yang anda gunakan dalam menyelesaikan Dekomposisi


persoalan ini! Dekomposisi pada penyelesaian persoalan ini adalah saat menguraikan persoalan menjadi bagian kecil yang lebih sederhana. Memahami soal kemudian menentukan arah perputaran dadu (ke depan atau belakang, ke kanan atau ke samping). Pengenalan Pola Pada persoalan ini, pola yang dapat diindentifikasi adalah bahwa jumlah angka pada sisi dadu yang saling berlawanan adalah 7, seperti 1 berlawanan dengan 6, 5 dengan 2, dan 3 dengan 4. Abstraksi Melakukan penggerakan atau memutar dadu dari petak pertama ke petak kedua dan melihat sisi permukaan dadu menunjukkan jumlah berapa. Lakukan gerakan tersebut sesuai dengan pola petak sampai di petak hijau. Algoritma Algoritma pada penyelesaian persoalan ini adalah memecahkan permasalahan secara berurutan dan sistematis. Dalam hal ini urutannya adalah membuat alat peraga, menggulirkan dadu sesuai dengan urutan lintasan pola atau alur petak, mengamati titik dadu yang berada di atas (berlawanan dengan sisi dasar dadu), mencata, lalu menyimpulkan. 4 Adakah contoh pada kehidupan seharihari mengimplementasikan konsep yang ada pada soal ini? Contoh dalam kehidupan sehari-hari yang mengimplementasikan konsep yang ada pada soal ini adalah permainan ular tangga dan catur. Pada kedua permainan ini terdapat tujuan atau sasaran yang pasti yaitu menuju garis finish dan memakan raja. Jika pada permainan catur, setiap pion catur memiliki pola berjalan yang bermacam-macam ada yang berbentuk L, horizontal, vertical maupun diagonal (yang mana


perlu merancang strategi). Selain itu, dalam kedua permainan ini juga memiliki lintasan serupa yang terdiri dari banyak petak yang berderet. 5 Tuliskan perbedaan kompleksitas persoalan untuk masing-masing jenjang yang terdapat pada soal ini! Perbedaan kompleksitas persoalan untuk masingmasing jenjang yaitu pada jumlah dan bentuk lintasan atau petak, yaitu sebagai berikut: Jenjang SD terdapat 5 lintasan dengan bentuk lintasan meju ke depan sebanyak 3 petak dan ke samping 2 petak. Jenjang SMP terdapat 7 lintasan atau petak, bentuk lintasan bergulir maju ke depan 3 petak, ke samping kanan 2 petak, mundur 1 petak, dan 1 petak ke samping kanan. Jenjang SMA terdapat 9 lintasan atau petak dengan bentuk lintasan bergulir maju 3 petak, ke samping kanan 2 petak, lalu mundur 1 petak, kemudian ke samping kanan 1 petak dan terakhir mundur 2 petak. Tabel 3.1: Penilaian Teman Kelompok Penilaian dari Teman Kelompok Lembar Kerja yang Dinilai : Tenti Febri Satia, S. Pd. Kriteria Penilaian Anggota 1 (Ahmad Haris) Anggota 2 (Aidul Muzaqi) Anggota 3 (Siti Stalis Fiana Darazah) Anggota 4 (Ghea Reiva Igusmi Putri) Apakah cara mengerjakan soal yang dituliskan dapat dipahami? B (Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? A (Sangat Baik) B (Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) Apakah cara mengerjakan dapat menimbulkan A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) B (Baik)


keambiguan? Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar? A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) B (Baik) Apakah 4 fondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) B (Baik) A (Sangat Baik) Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) Tabel 3.2: Perbaikan yang perlu dilakukan Nomor Soal Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan 1 Cara menjawab soal Perlu dijabarkan lebih rinci lagi jawaban yang dituliskan, agar lebih kompleks dan sistematis. 3 Penjelasan mengenai 4 fondasi CT kurang lengkap Perlu diberikan penjelasan dalam 4 fondai CT agar kalimat yang dijelaskan lebih mudah dipahami. 3 Tata Penulisan Perhatikan tata penulisan jawaban pada lembar kerja soal nomor 3 poin algoritma menyatu dengan poin abstraksi. Tabel 3.3: Rubrik Penililaian untuk Masing-masing Kriteria A = Sangat Baik B = Baik C = Cukup D = Kurang Jika 3 soal memenuhi kriteria Jika hanya 2 soal memenuhi kriteria Jika hanya 1 soal memenuhi kriteria Jika ketigatiganya tidak memenuhi kriteria


Computational Thinking Topik 3 Subtopik 2 Eksplorasi Konsep dan Ruang Kolaborasi Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia 2.04.01 Lembar Kerja Mahasiswa 4 (Literasi Membaca pada tes PISA) Nama/NIM: Tenti Febri Satia, S.Pd (A2G823020) Literasi Membaca Mengapa literasi membaca dibutuhkan oleh siswa? Literasi membaca sangat penting bagi siswa karena dapat membantu mereka memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk berhasil di sekolah dan di kehidupan sehari-hari. Literasi membaca juga dibutuhkan oleh siswa agar siswa mampu memahami sebuah makna dan informasi dari bacaan yang dibacanya. Berikut alasan pentingnya literasi membaca bagi siswa: Siswa dapat mengembangkan keterampilan membaca Meningkatkan kemampuan berbahasa Siswa dapat memperoleh pengetahuan Meningkatkan kemampuan akademik Pengertian dari literasi membaca pada tahun 2018 adalah kemampuan untuk mengerti, menggunakan, merefleksikan teks untuk suatu tujuan. Literasi membaca juga mencakup siswa memiliki motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks. Apa makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam konteks literasi membaca? 1. Mengerti teks: Memahami informasi pada teks kemudian mengintegrasikan informasi dari teks dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. 2. Menggunakan teks: Menerapkan informasi yang didapatkan dalam teks ke dalam kehidupan sehari-hari maupun ke dalam ilmu yang lain. 3. Merefleksikan teks: Proses mengkaji atau memikirkan kembali isi teks yang telah dibaca atau dipelajari. Pada proses ini, seseorang membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan, menganalisis dan mengevaluasi teks


dengan tujuan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang topik yang dibahas dalam teks tersebut. 4. Memiliki motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks: Keinginan yang mendorong seseorang untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks. Apa saja jenis teks yang digunakan pada tes PISA untuk literasi membaca? Pada tes PISA 2018 jenis atau tipe teks yang digunakan untuk literasi membaca adalah teks deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, instruksi, interaksi, dan transaksi. Terdapat 6 level progress pada reading literacy. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level 1b diberikan sebagai contoh. Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1b Siswa dapat menemukan sebuah informasi yang mudah didapat dari sebuah teks sederhana. Informasi yang dicari biasanya sering diulang di dalam teks. Informasi yang dicari juga bisa dinyatakan dalam gambar dan grafik sehingga memudahkan siswa menemukan informasi tersebut. 1a Siswa dapat menentukan letak informasi eksplisit dalam teks seperti mengetahui topic utamanya, tujuan penulis membuat teks tersebut, atau membuat keterkaitan sederhana antara teks tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Siswa secara eksplisit diarahkan untuk memikirkan fakto -faktor yang relevan antara tugasnya dan teks yang diberikan. 2 Siswa dapat menentukan letak informasi yang tersirat, informasi yang perlu disimpulkan dan memenuhi syarat tertentu. Siswa dapat menentukan gagasan utama dari teks, memahami keterkaitan atau menafsirkan arti teks ketika informasi dituliskan secara tersirat dan siswa perlu membuat kesimpulan. Pada level ini, siswa dapat menentukan perbandingan dan keterkaitan antara teks dengan pengetahuan di luar teks tersebut. 3 Siswa dapat menemukan, dan juga dalam beberapa kasus mengenali hubungan antara beberapa potongan informasi yang harus memenuhi beberapa kondisi. Mereka juga dapat mengintegrasikan beberapa bagian teks untuk mengidentifikasi gagasan utama, memahami hubungan, atau


menafsirkan makna kata atau frasa. 4 Siswa dapat menemukan dan mengatur beberapa informasi yang disematkan. Dalam tugas interpretasi lainnya, siswa mendemonstrasikan pemahaman dan penerapan kategori dalam konteks yang tidak biasa. Selain itu, siswa pada level ini dapat menggunakan pengetahuan formal atau publik untuk berhipotesis atau mengevaluasi secara kritis sebuah teks. 5 Siswa dapat menemukan dan mengatur beberapa potongan informasi yang tertanam secara mendalam, menyimpulkan informasi dalam teks yang relevan. Tugas reflektif memerlukan evaluasi kritis atau pembuatan hipotesis, dengan memanfaatkan pengetahuan khusus. Baik tugas interpretasi dan refleksi membutuhkan pemahaman yang lengkap dan terperinci tentang teks yang konten atau bentuknya tidak dikenal. 6 Siswa dapat membuat banyak kesimpulan, perbandingan, dan kontras yang mendetail dan tepat. Mereka menunjukkan pemahaman yang lengkap dan rinci dari satu atau lebih teks dan dapat mengintegrasikan informasi dari lebih dari satu teks. Siswa dapat berhipotesis tentang atau secara kritis mengevaluasi teks yang kompleks pada topik yang tidak dikenal, dengan mempertimbangkan berbagai kriteria atau perspektif dan menerapkan pemahaman canggih dari luar teks. 02.04.02 Lembar Kerja Mahasiswa 4 (Literasi Matematika pada tes PISA) Nama/NIM: Tenti Febri Satia, S.Pd (A2G823020) Literasi Matematika Mengapa literasi matematika dibutuhkan oleh siswa? Dalam pendidikan, literasi matematika menjadi kunci penting untuk memahami materi pelajaran matematika secara lebih baik. Kemampuan literasi matematika akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep matematika yang lebih kompleks dan meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah. Literasi matematika penting karena menekankan pada kemampuan siswa untuk menganalisis, memberi alasan dan mengomunikasikan ide secara efektif pada pecahan masalah matematis yang mereka temui. Bagian literasi matematika yang meliputi: merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan berguna untuk menghubungkan konteks masalah dengan matematika dan dengan demikian memecahkan masalah. Pengertian dari literasi matematika 2012 juga digunakan pada tahun 2015 dan 2018. Literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk memformulasikan sebuah situasi secara matematika, menggunakan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika, dan menginterpretasikan hasil matematika untuk berbagai konteks. Apa makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam literasi matematika?


4. Memformulasikan sebuah situasi secara matematika: Merumuskan situasi secara matematis meliputi mengidentifikasi peluang untuk menerapkan dan menggunakan matematika dalam menyelesaikan masalah tertentu, menyediakan struktur dan representasi matematika, mengidentifikasi variabel, dan menyederhanakan asumsi - asumsi dalam menyelesaikan masalah. 5. Menggunakan konsep, fakta, prosedur dan penalaran matematika: Menggunakan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep matematika, fakta, prosedur, dan logika matematika untuk memecahkan masalah atau situasi matematika yang kompleks. Hal ini dapat melibatkan pemilihan algoritma yang tepat, penggunaan rumus atau persamaan yang sesuai, dan membuat asumsi yang tepat tentang situasi yang diberikan. 6. Menginterpretasikan hasil matematika: Memahami arti dari jawaban atau hasil yang dihasilkan dari analisis matematika, Ini melibatkan menghubungkan hasil matematika kembali ke masalah awal atau situasi dunia nyata yang diberikan, mengevaluasi keandalan hasil tersebut, dan mengekstrak informasi yang relevan dari hasil matematika untuk membantu memecahkan masalah atau memperluas pemahaman tentang situasi yang diberikan. Terdapat 6 level progress pada literasi matematika. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1 Level 1 - Foundation Siswa mampu memahami konsep matematika dasar dan menggunakannya dalam situasi sederhana. Mereka dapat mengidentifikasi dan menghitung dengan menggunakan operasi matematika dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mereka dapat memahami bilangan bulat dan pecahan, serta membandingkan dan mengurutkannya. 2 Level 2 - Developing Siswa mampu menggunakankan konsep matematika dalam situasi yang lebih kompleks. Mereka dapat memahami konsep geometri, pengukuran, dan statistik. Mereka dapat menggunakan rumus matematika dan menghitung dengan menggunakan konsep yang lebih kompleks seperti perbandingan, proporsi, dan persentase. 3 Level 3 - Proficient Siswa mampu mengintegrasikan dan menggeneralisasi konsep matematika. Mereka dapat menggunakannya dalam situasi yang kompleks dan menyelesaikan masalah yang lebih abstrak. Mereka dapat menggunakan aljabar, trigonometri, dan kalkulus untuk memecahkan masalah matematika yang lebih kompleks.


Click to View FlipBook Version