The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Tenti Febri, 2024-03-29 11:27:05

RESTRUKTURIASASI PORTOFOLIO

UAS COMPUTATIONAL THINGKING

Keywords: UAS CT RESTRUKTURISASI PORTOFOLIO

4 Level 4 - Advanced Siswa mampu memecahkan masalah matematika yang sangat kompleks dan menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang konsep matematika. Mereka dapat mengembangkan model matematika dan melakukan analisis statistik yang kompleks. 5 Level 5 - Innovative Siswa mampu memecahkan masalah matematika yang belum pernah dilihat sebelumnya dan menunjukkan pemahaman yang sangat mendalam tentang konsep matematika. Mereka dapat mengembangkan dan menerapkan metode baru untuk memecahkan masalah matematika. 6 Level 6 - Visionary Siswa mampu melakukan riset matematika dan mengembangkan teori baru. Mereka dapat melakukan analisis matematika yang sangat kompleks dan membuat kontribusi signifikan dalam bidang matematika. 02.04.03 Lembar Kerja Mahasiswa 4 (Literasi Sains pada tes PISA) Nama/NIM: Tenti Febri Satia, S.Pd (A2G823020) Literasi Sains Mengapa literasi sains dibutuhkan oleh siswa? Literasi sains dibutuhkan karena mampu mengembangkan pola pikir dan perilaku siswa dalam kemampuan berpikir ilmiah. Literasi sains juga memiliki manfaat yang sangat besar dalam kehidupan siswa, salah satu alasannya yaitu literasi sains dapat membantu siswa dalam memahami dunia sekitar mereka dengan lebih baik. Dengan pemahaman tentang sains, siswa dapat memahami proses alami dan fisika yang terjadi di alam semesta, termasuk bagaimana benda bekerja, mengapa benda dapat bergerak dan bagaimana kehidupan tumbuh dan berkembang.


Literasi sains adalah kemampuan untuk terlibat aktif dalam masalah dan ide yang berhubungan dengan sains. Kompetensi yang diperlukan oleh seseorang yang memiliki literasi dalam sains adalah kemampuan untuk menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah, dan menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah. Jelaskan masing-masing kompetensi di bawah ini! 2. Menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah: Kompetensi ini mengacu pada kemampuan untuk memahami dan menjelaskan fenomena alami atau buatan manusia menggunakan bahasa ilmiah yang tepat dan akurat. Untuk dapat menjelaskan fenomena secara ilmiah, siswa harus memahami konsep-konsep ilmiah yang berkaitan dengan fenomena tersebut, dan mampu menjelaskannya dengan menggunakan kata - kata dan istilah ilmiah yang benar. 3. Mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah: Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan siswa untuk merancang pertanyaan ilmiah yang tepat , serta mengevaluasi pertanyaan - pertanyaan yang telah diajukan . Siswa harus dapat merumuskan pertanyaan ilmiah yang spesifik , dapat diuji , dan dapat dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode ilmiah yang tepat . 4. Menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah: Kompetensi ini mengacu pada kemampuan siswa untuk mengumpulkan dan menganalisis data secara ilmiah, serta menyimpulkan sesuatu dari data yang telah dikumpulkan. Siswa harus dapat menggunakan alat atau teknik ilmiah yang tepat untuk mengumpulkan data, serta mampu menganalisis data dan bukti - bukti dengan menggunakan metode ilmiah yang sesuai. Selain itu, siswa juga harus mampu memahami dan menjelaskan hasil analisis data secara akurat dan jelas, serta mengaitkan hasil analisis tersebut dengan pertanyaan - pertanyaan ilmiah yang diajukan. Terdapat 6 level progress pada literasi sains. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1b 1b : Deskripsi Siswa dapat mendeskripsikan informasi sains yang lebih kompleks. Mereka dapat menjelaskan konsep sains dasar, seperti cara kerja gravitasi atau perbedaan antara padat, cair, dan gas . 1a Level 1a: Identifikasi S iswa mampu mengidentifikasi informasi dasar dan fakta-fakta dalam konteks sains. Mereka dapat mengenali fakta sederhana tentang benda-benda di sekitar mereka, seperti benda-benda yang dapat terapung atau tenggelam di air .


2 Level 2: Penjelasan Siswa mampu menjelaskan fenomena alam atau peristiwa sains dengan menggunakan konsepkonsep ilmiah yang telah dipelajari. Mereka dapat menjelaskan mengapa benda terapung di air atau bagaimana fotosintesis berlangsung. 3 Level 3: Analisis Siswa dapat menganalisis informasi sains dengan lebih kritis dan mampu membuat inferensi berdasarkan bukti-bukti yang ada. Mereka dapat mengevaluasi hasil eksperimen dan menarik kesimpulan berdasarkan data. 4 Level 4: Evaluasi Siswa mampu mengevaluasi informasi sains dan membuat keputusan berdasarkan informasi tersebut. Mereka dapat mengevaluasi informasi sains yang bertentangan dan memutuskan informasi mana yang paling dapat dipercaya. 5 Level 5: Sintesis Siswa mampu mengintegrasikan dan mengaplikasikan konsep-konsep sains dalam situasi yang lebih kompleks. Mereka dapat merancang dan melaksanakan eksperimen sendiri untuk menjawab pertanyaan ilmiah dan membuat kesimpulan dari data yang diperoleh. 6 Level 6: Evaluasi Kritis Siswa mampu melakukan evaluasi kritis terhadap informasi sains yang kompleks dan memperdalam pemahaman mereka tentang konsep - konsep sains. Mereka dapat mengevaluasi bukti - bukti ilmiah yang kompleks dan mempertanyakan asumsi dan dugaan dugaan yang mendasari informasi tersebut. 02.04.04 Lembar Kerja Mahasiswa 4 (Literasi Finansial pada tes PISA) Nama/NIM: Tenti Febri Satia, S.Pd (A2G823020) Literasi Finansial Mengapa literasi finansial dibutuhkan oleh siswa? Literasi finansial dibutuhkan oleh siswa karena mampu membentuk karakter dan kebiasaan siswa dalam mengelola keuangan mereka, dalam mengahadapi tantangan di masa depan. Pengetahuan dan pengalaman keuangan yang ditanamkan akan terinternalisasi dalam diri anak sehingga membentuk karakter dan kebiasaan


mengelola keuangan mereka di masa depan sebagai suatu budaya baik, seperti mengenal makna uang, kebiasaan menabung, hingga mendahulukan kebutuhan dari keinginan bahkan nilai-nilai berbagi . Seseorang yang memiliki literasi finansial adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial. Selain itu, dia juga memiliki kemampuan, motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahamannya untuk membuat keputusan yang efektif pada berbagai konteks masalah-masalah finansial. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat. Literasi finansial juga memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi. Jelaskan apa makna dari istilah-istilah berikut ini: 1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial: Ini berarti memahami konsep - konsep finansial seperti investasi, bunga, inflasi, dan risiko. Seseorang yang memiliki literasi finansial akan memahami bagaimana mengelola uang mereka dengan baik dan membuat keputusan finansial yang cerdas. Dalam literasi finansial, perlu kita memahami konsep dan resiko finansial untuk menghindari kesalahan saat implementasi literasi finansial. 2. Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial: Ini berarti dapat menggunakan pengetahuan dan pemahaman finansial untuk membuat keputusan finansial yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, membuat anggaran, menginvestasikan uang, atau memilih jenis tabungan yang sesuai. 3. Motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial: Ini berarti memiliki motivasi dan kepercayaan diri untuk menggunakan pengetahuan dan pemahaman finansial dalam kehidupan sehari-hari. Seorang yang memiliki literasi finansial yang tinggi akan merasa percaya diri dalam mengambil keputusan finansial dan memiliki motivasi untuk mempelajari lebih lanjut tentang topik keuangan. 4. Berbagai konteks masalah-masalah finansial: Ini berarti memahami masalah finansial yang muncul dalam berbagai situasi, seperti saat membeli rumah, membeli mobil, atau memilih asuransi. Seseorang dengan literasi finansial yang baik akan dapat memahami konsekuensi dari keputusan finansial mereka dan mempertimbangkan berbagai pilihan yang tersedia sebelum membuat keputusan. 5. Meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat : Ini berarti bahwa literasi finansial dapat membantu individu dan masyarakat untuk memahami dan mengelola keuangan mereka dengan lebih baik , dan pada gilirannya , meningkatkan kualitas hidup mereka . Hal ini dapat meliputi kemampuan untuk menghemat uang , membuat perencanaan keuangan yang lebih baik , dan menghindari masalah finansial yang dapat mempengaruhi kesejahteraan hidup seseorang dan masyarakat secara keseluruhan . 6. Memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi : Literasi finansial juga dapat membantu seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi dengan lebih baik . Sebagai contoh , dengan pemahaman tentang konsep investasi , seseorang dapat memilih jenis investasi yang sesuai untuk mengembangkan uang mereka . Dengan pemahaman tentang bagaimana mengelola uang mereka dengan baik , seseorang dapat membangun kredibilitas keuangan yang baik dan memperoleh akses ke sumber daya finansial yang


lebih besar . Dengan pemahaman tentang bagaimana mengelola risiko , seseorang dapat mengambil keputusan finansial yang cerdas dan meminimalkan risiko finansial yang mungkin terjadi . Semua ini dapat membantu seseorang menjadi lebih efektif dalam kegiatan ekonomi mereka , seperti menjalankan bisnis , membeli properti , atau mengelola investasi mereka . 5. Meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat: Ini berarti bahwa literasi finansial dapat membantu individu dan masyarakat untuk memahami dan mengelola keuangan mereka dengan lebih baik, dan pada gilirannya, meningkatkan kualitas hidup mereka. Hal ini dapat meliputi kemampuan untuk menghemat uang, membuat perencanaan keuangan yang lebih baik, dan menghindari masalah finansial yang dapat mempengaruhi kesejahteraan hidup seseorang dan masyarakat secara keseluruhan. 6. Memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi: Literasi finansial juga dapat membantu seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi dengan lebih baik. Sebagai contoh, dengan pemahaman tentang konsep investasi, seseorang dapat memilih jenis investasi yang sesuai untuk mengembangkan uang mereka. Dengan pemahaman tentang bagaimana mengelola uang mereka dengan baik, seseorang dapat membangun kredibilitas keuangan yang baik dan memperoleh akses ke sumber daya finansial yang lebih besar. Dengan pemahaman tentang bagaimana mengelola risiko, seseorang dapat mengambil keputusan finansial yang cerdas dan meminimalkan risiko finansial yang mungkin terjadi. Semua ini dapat membantu seseorang menjadi lebih efektif dalam kegiatan ekonomi mereka, seperti menjalankan bisnis, membeli properti, atau mengelola investasi mereka. 02.04.05 Lembar Kerja Mahasiswa 5 (Latihan soal tes PISA) Nama/NIM : Tenti Febri Satia, S.Pd. (A2G823020) Jenjang : SMP Mata Pelajaran yang diampu :Bahasa Indonesia Unit/no. unit : Reading/3 Judul Soal : Graffiti NO Pertanyaan Jawaban 1 Tuliskan solusi untuk soal ini Persoalan yang dibahas pada soal ini adalah mengenai 2 opini orang mengenai grafiti yang ada di lingkungan sekitar yang cukup mengganggu dan merusak fasilitas publik. Adapun solusi yang bisa dihadirkan untuk mengatasi maraknya grafiti liar yang ada di lingkungan sekitar adalah dengan memberikan pengawasan yang cukup ketat pada lingkungan / fasilitas publik


yang ada dengan menggunakan cctv ataupun petugas keamanan yang menjaga daerah/fasilitas tersebut, lalu menindak pelaku grafiti liar. Selain itu, perlu disadari juga bahwa para seniman grafiti liar mungkin kesulitan untuk mencari wadah yang bisa menampung kreativitasnya dalam berkarya, sehingga sebaiknya pemerintah setempat menyediakan wadah untuk seniman tersebut berkarya dan menghargai karya tersebut agar tidak melakukan grafiti liar pada fasilitas/ruang publik lagi. 2 Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini Langkah berpikir yang dilakukan dalam menemukan solusi pada permasalahan ini adalah sebagai berikut: 1. Memahami permasalahan dengan membaca literatur terkait (yaitu surat opini yang ditulis oleh kedua belah pihak). 2. Menelaah permasalahan dengan membandingkan opini yang telah diberikan. 3. Memikirkan solusi yang sekiranya imbang dan tidak memihak satu pihak saja. 3 Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini Dekomposisi Dekomposisi dengan mengelompokkan, mengumpulkan data, dan menganalis data lalu memilah bagian-bagian permasalahan mengapa grafitti merusak fasilitas masyaraka . dan juga bumi sehingga dapat di cari solusi dari permasalahan yang timbul. Pengenalan Pola Pengenalan pola dilakukan dengan memahami bagaimana pola pelaku grafiti liar dalam menjalankan aksinya, yaitu dengan melakukan aksi secara diam-diam dan dilakukan pada ruang publik yang kosong seperti dinding-dinding yang memungkinkan untuk di grafiti. Abstraksi Abstraksi dilakukan dengan penghapusan grafiti yang ditemukan diruang-ruang publik, dan juga dengan penindakan pelaku grafiti agar ada efek jera bagi pelaku grafiti . Algoritma Algoritma yang dilakukan dengan mencari cara bagaimana masalah ini tidak terulang kembali yaitu dengan memberikan wadah kepada para grafitti liar untuk menunjukkan kreativitasnya dan tentunya hal ini sesuai aturan dan tidak mengganggu masyarakat.


Nama/NIM : Tenti Febri Satia, S.Pd. (A2G823020) Jenjang : SMP Mata Pelajaran yang diampu :Bahasa Indonesia Unit/no. unit : Matematics/7 Judul Soal : Speed of Racing Car NO Pertanyaan Jawaban 1 Tuliskan solusi untuk soal ini Solusi pertanyaan 7.1:1 Dari persoalan ini, diketahui bahwa dari garis start, track lurus terpanjang adalah 1,5 km , sehingga jawabannya adalah opsi B. Solusi pertanyaan 7.2:1 Dari persoalan ini, diketahui bahwa posisi kecepatan terendah pada putaran kedua adalah 1,3 km, sehingga jawaban yang tepat adalah opsi C. Solusi pertanyaan 7.3:1 Dengan melihat kecepatan mobil yang berada pada jarak di antara 2,6 km sampai 2,8 km, maka dapat diketahui bahwa kecepatan mobil bertambah atau naik, sehingga jawaban yang tepat adalah opsi B. Solusi pertanyaan 7.4:1 Adapun jawaban yang sesuai pertanyaan adalah opsi B karena gambar track mobil paling tepat sesuai dengan kecepatan yang terekam pada grafik adalah opsi B. 2 Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini Langkah berpikir yang dilakukan dalam mendapat solusi dari permasalahan ini adalah sebagai berikut: 1. Membaca grafik dan memahami grafik secara keseluruhan. 2. Memahami persoalan yang ditanyakan pada soal. 3. Mengamati kembali grafik untuk menemukan jawaban yang dicari pada soal.


4. Memilih jawaban yang paling tepat dan sesuai. 3 Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini Dekomposisi Dekomposisi yang di lakukan dengan membaca dan memahami grafik terlebih dahulu kemudian menganalisis grafik untuk melihat posisi kecepatan yang tinggi. Pengenalan Pola Pengenalan pola yang dilakukan pada penyelesaian masalah ini adalah dengan mengetahui dan memahami pola lintasan yang ada pada soal. Abstraksi Abstraksi dilakukan dengan penghapusan menghilangkan halhal yang tidak diperlukan saat penyelesaian masalah, contohnya adalah ketika akan mencari posisi kecepatan terendah, maka tidak perlu melihat posisi kecepatan yang tinggi, begitupun sebaliknya. Nama Anggota Kelompok: 1. Siti Stalis Fiana Darazah, S.Pd. (A2G823002) 2. Ahmad Haris, S.Pd. (A2G823006) 3. Aidul Muzaqi, S.Pd. (A2G823013) 4. Ghea Reiva Igusmi Putri, S.Pd. (A2G823014) 5. Tenti Febri Satia, S.Pd. (A2G823020) Tebel 3.1 Penilaian Teman Kelompok Penilaian dari teman kelompok Kriteria Penilaian Anggota 1 (Ahmad Haris) Anggota 2 (Aidul Muzaqi) Anggota 3 (Siti Stalis Fiana Darazah) Anggota 4 (Ghea Reiva Igusmi Putri) Apakah cara mengerjakan soal yang dituliskan dapat dipahami? B (Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? A (Sangat Baik) B (Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik)


Apakah cara mengerjakan dapat menimbulkan keambiguan? A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) B (Baik) Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar? A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) B (Baik) Apakah 4 fondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) B (Baik) A (Sangat Baik) Apakah contoh masalah seharihari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) A (Sangat Baik) Tabel 3.2: Perbaikan yang perlu dilakukan Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan Cara menjawab soal Perlu dijabarkan lebih rinci lagi jawaban yang dituliskan, agar lebih kompleks dan sistematis. Penjelasan mengenai 4 fondasi CT kurang lengkap Perlu ditambahkan penjelasan mengenai 4 fondai CT agar kalimat yang dijelaskan lebih mudah difahami. Tabel 3.3: Rubrik Penililaian untuk Masing-masing Kriteria A = Sangat Baik B = Baik C = Cukup D = Kurang Jika 3 soal memenuhi kriteria Jika hanya 2 soal memenuhi kriteria Jika hanya 1 soal memenuhi kriteria Jika ketiga-tiganya tidak memenuhi kriteria


Computational Thinking Topik 3 Subtopik 2 Ruang Kolaborasi Presentasi dan Diskusi Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Kelompok SMAN 1 Kota Jambi Hal yang Perlu Diperbaiki Masukan atau Saran Proses pengerjaan kurang efektif karena terlalu banyak diskusi yang dilakukan yang kurang fokus pada permasalahan yang dituju Sebaiknya diskusi dijalankan dengan efektif, pembahasan dilakukan hanya menyangkut hal-hal krusial terkait masalah yang akan dipecahkan.


Computational Thinking TOPIK 3 DEMONSTRASI KONTEKSTUAL: SEL. 09.2-T3-9 Nama/NIM: Tenti Febri Satia, S. Pd./A2G823020 Jenjang/mata pelajaran yang diampu: SMA/Bahasa Indonesia Nomor.Unit: Reading 3 Judul soal: Graffiti No Pertanyaan Jawaban 1. Tuliskan solusi untuk soal ini! Pertanyaan 3.1 Menyajikan pendapat mengenai graffiti Pertanyaan 3.2 2 orang yang beropini mengenai grafiti yang ada di lingkungan sekitar yang mengganggu dan merusak fasilitas publik. Pertanyaan 3.3 Saya setuju dengan surat yang ditulis oleh Shopia karena menunjukkan bagaimana iklan begitu dihargai padahal banyak iklan yang menjiplak ide dari graffiti yang ada tanpa meminta izin secara resmi. Pertanyaan 3.4 Jika dilihat dari isi surat pendapat Shopia lebih bisa diterima karena Shopia menyatakan pendapatnya dengan fakta-fakta yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Sedangkan untuk gaya penulisan saya lebih suka gaya penulisan yang dilakukan Helga karena gaya bahasanya terstuktur sehungga mudah dipahami. Selain itu, solusi dalam mengatasi maraknya grafiti liar yang ada di lingkungan sekitar, salah satunya memberikan pengawasan yang cukup dengan adanya petugas keamanan atau CCTV, perlu disadari bahwa para seniman grafitti liar perlu wadah untuk mengeksplorasikan karyanya sehingga sebaiknya pemerintah mengambil alih untuk menyediakan tempat sebagai bentuk penghargaan dalam berkarya. 2. Tuliskan langkahlangkah berpikir Anda Pertanyaan 3.1 Langkah-langkah berpikir dalam menemukan solusi


hingga mendapat solusi dari permasalahan ini! 1. Membaca isi dari dua orang beropini 2. Menentukan isi dari kedua surat. 3. Membandingkan kedua isi surat untuk menemukan kesamaan dan perbedaan dari tujuan Shopia dan Helga 4. Menentukan jawaban yang benar dari empat pilihan yang ada. Pertanyaan 3.2 Langkah-langkah berpikir dalam menemukan solusi 1. Memahami dan mengidentifikasi permasalahan dengan membaca literatur terkait (yaitu surat opini yang ditulis oleh kedua belah pihak) 2. Menelaah permasalahan dengan membandingkan opini yang telah diberikan. 3. Memikirkan dan bertindak untuk mencari solusi yang sekiranya imbang dan tidak memihak satu pihak saja. Pertanyaan 3.3 Langkah-langkah berpikir dalam menemukan solusi 1. Membandingkan kedua surat 2. Menyimpulkan kedua isi surat 3. Memilih surat mana yang lebih disukai 4. Menginterpretasikan surat yang disukai Pertanyaan 3.4 Langkah-langkah berpikir dalam menemukan solusi 1. Memahami isi kedua surat 2. Memilah surat yang dinilai dari isi dan gaya penulisan


3. Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini Dekomposisi, menjabarkan informasi dari kedua surat sehingga menjadi bagian-bagian tentang alasan mengapa graffiti liar menganggu. Pengenalan Pola, menganalisis secara mendalam untuk mengetahui dan memahami surat. Abtraksi, mengenyampingkan informasi yang tidak perlu dan berfokus pada informasi yang dibutuhkan. Algoritma, menyusun langkah-langkah untuk menyelesaikan dan menarik kesimpulan.


Computational Thinking TOPIK 3 Koneksi Antar Materi Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Nama anggota 1 : Siti Stalis Fiana Darazah, S. Pd. (A2G823002) Nama anggota 2 : Ahmad Haris, S. Pd. (A2G823006) Nama anggota 3 : Aidul Muzaqi, S. Pd. (A2G823012) Nama anggota 4 : Ghea Reiva Igusmi Putri, S. Pd. (A2G823014) Nama anggota 5 : Tenti Febri Setia, S. Pd. (A2G823020) Kesamaan dan perbedaan tipe soal Bebras dan PISA/AKM sebagai berikut: Persamaan: Soal Bebras dan PISA/AKM menilai kemampuan siswa dalam berbagai aspek keterampilan komputasional, termasuk pemahaman algoritma, pemecahan masalah, dan pemikiran komputasional seseorang Soal-soal pada kedua jenis ujian ini sering disusun dengan pendekatan berbasis konteks, peserta didik diminta untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi situasi dunia nyata. Soal Bebras dan PISA/AKM memberikan penekanan pada pengembangan pemikiran kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan matematika dan komputasional. Kedua jenis ujian menekankan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah, yang melibatkan pemikiran kritis dan analitis. Perbedaan: Soal Bebras cenderung lebih fokus pada komputasi dan pemikiran komputasional, sementara soal PISA/AKM memiliki fokus yang lebih luas termasuk literasi matematika, literasi sains, dan literasi membaca. Soal-soal pada Bebras sering kali dirancang untuk menantang pemikiran komputasional dan algoritma secara lebih langsung, sedangkan saol PISA/AKM dapat memiliki berbagai format soal yang mencakup pemecahan masalah dan literasi berbagai disiplin ilmu. PISA/AKM menyajikan konteks dan situasi ujian yang lebih luas dan mencakup berbagai disiplin ilmu, sedangkan Bebras lebih terfokus pada konteks komputasional. Kesamaan dari langkah penyelesaian kedua jenis persoalan sebagai berikut: Meskipun soal Bebras dan soal PISA/AKM memiliki fokus dan konteks yang berbeda, ada beberapa kesamaan dalam langkah-langkah umum penyelesaian kedua jenis persoalan ini: Langkah pertama dalam menyelesaikan kedua jenis persoalan adalah memahami dengan baik pertanyaan atau persoalan masalah yang diberikan. Bacalah soal dengan cermat, mengidentifikasi informasi yang relevan, dan memahami apa yang diminta oleh pertanyaan. Setelah memahami soal, perlu menganalisis masalah secara lebih mendalam. Ini melibatkan pemecahan masalah dan pemikiran analitis untuk mengidentifikasi cara yang paling efektif dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.


Kemudian perlu merencanakan pendekatan atau strategi yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah. Ini melibatkan pemilihan metode atau teknik yang paling sesuai untuk konteks soal, baik itu dalam konteks komputasional (Bebras) atau literasi matematika (PISA/AKM) Menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari. Dalam hal Bebras, ini bisa melibatkan penggunaan konsep-konsep komputasional seperti algoritma atau pemikiran komputasional. Dalam hal soal PISA/AKM, dapat menerapkan konsep matematika atau literasi yang sesuai dengan situasi. Setelah menemukan solusi atau jawaban, perlu menguji kebenaran solusi mereka. Ini melibatkan pengecekan kembali apakah solusi sesuai dengan persyaratan soal dan apakah langkah-langkah yang diambil telah dilakukan dengan benar. Langkah terakhir melibatkan refleksi terhadap solusi yang ditemukan. Pertimbangkan apakah ada cara alternatif untuk menyelesaikan masalah, apa yang dapat dipelajari dari proses tersebut, dan bagaimana penerapan konsep-konsep tertentu dapat ditingkatkan di masa depan.


Computational Thinking TOPIK 3 AKSI NYATA SEL.09.2-T3-12 Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia 1. Pengalaman menarik apa saja yang Anda dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk menyelesaikan berbagai jenis persoalan? Anda bisa menceritakan keberhasilan dan kegagalan yang Anda alami dalam mempelajari topik ini. Jawaban: Pengalaman menarik saya adalah ketika mengerjakan berbagai macam soal yang harus menerapkan CT untuk menyelesaikan masalah baik itu soal Bebras maupun soal PISA, dengan mengerjakan soal-soal tersebut dapat melatih saya untuk menigkatkan kemampuan CT apalagi saat menempatkan proses berikir yang saya lakukan dalam 4 fondasi CT. Meskipun sampai saat ini kadang saya masih kesulitan untuk meneempatkan proses berpikir saya kedalam 4 fondasi CT karena memang sulit menjelaskan apa yang kita pikirkan kedalam sebuah kalimat, namun dengan diskusi bersama teman dan juga arahan dari dosen saya mulai memahami cara menempatkan proses berpikir yang saya lakukan ke dalam 4 fondasi CT. Keberhasilan yang saya alami ketika mempelajari CT adalah saya bisa lebih berfikir sistematis dalam memecahkan sebuah permasalahan yang kompleks. Kegagalan yang saya alami adalah ketika saya tidak bisa memilah masalah melalui langkah-langkah dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Akan tetapi setelah saya ulangi dan terus belajar saya menjadi lebih paham dan terbiasa menggunakan berpikir komputasi dalam setiap persoalan yang saya hadapi. 2. Apakah terjadi perubahan cara berpikir yang Anda alami setelah mempelajari topic CT dalam problem solving? Jawaban: Iya, terjadi banyak perubahan dengan cara berpikir saya khususnya dalam hal problem solving. Saya bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien, termasuk mengevaluasi dan memecahkan masalah secara sistematis, mengeksplorasi solusi alternatif, dan mengevaluasi hasil akhir. 3. Apakah ada perbaikan yang dapat Anda lakukan terhadap cara mengajar Anda nantinya setelah mempelajari CT dalam problem solving? Jawaban:


Setelah mempelajari topik CT dalam problem solving, saya dapat mengevaluasi dan memperbaiki cara mengajar saya untuk memastikan bahwa saya menyediakan contoh yang beragam dari masalah yang dapat dipecahkan dengan menggunakan CT dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menggunakan metode CT dalam situasi yang berbeda. Saya juga dapat menyediakan umpan balik yang berkualitas tinggi dan memberikan dukungan individu kepada siswa yang memerlukannya untuk memperkuat pemahaman mereka tentang CT dan bagaimana mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah. Perbaikan yang akan saya lakukan saat mengajar saya juga akan mulai melatih peserta didik saya nantinya untuk dapat melakukan CT salah satu cara yang mungkin akan saya terapkan adalah dengan memberikan soa -soal problem solving sesuai tingkat kemampuan peserta didik secara rutin agar peserta didik nantinya akan terbiasa dan melatih kemampuan CT agar dapat berkembang. Harapannya mereka dapat menerapkan kemampuan CT untuk menyelesakan masalah dengan efektif, efisien, dan optimal dalam kehdupan seharihari.


Pertanyaan Reflektif Eksplorasi Konsep – Topik 4 SEL.09.2-T4-2. Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Tuliskan hal baru apa sajakah yang Anda dapatkan dari makalah "Infusing Computational Thinking in an Integrated STEM Curriculum : User Reactions and Lessons Learned" (Back et al., 2021)! Tuliskan juga intisari dari hal - hal yang sudah Anda pelajari dari makalah tersebut! Jawaban: Hal baru yang saya dapatkan dari makalah "Infusing Computational Thinking in an Integrated STEM Curriculum : User Reactions and Lessons Learned" (Back et al., 2021) adalah STEM dan CT memiliki kaitan erat pada bidang pemodelan, penalaran, dan problem solving. Sebuah proyek STEM memiliki beberapa unsur yait : nama proyek, deskripsi singkat proyek outline, tujuan pembelajaran, driving questions, produk akhir, hands-on activity, asesmen, dan resources. Komponen CT dalam integrasinya dengan proyek STEM yaitu: kosakata CT, abstraksi, algoritma, komunikasi, conditional logic, pengumpulan data, strktur data, analisis dan representasi, data dekomposisi, pengenalan pola, pemodelan dan simulasi. Ada beberapa hal yang menjadi intisari dari makalah tersebut yaitu: 1. Berfokus pada contoh implementasi konsep CT dan keterampilannya yang diimplementasikan pada berbagai bidang meliputi ilmu komputer, matematika, sains, studi sosial, bahasa dan seni. 2. Implementasi pada makalah berfokus pada proyekmultifase yang ditujukan untuk mengembangkan definisi operasional pemikiran komputasi dengan sumber daya yang sesuai untuk kebijakan dan perubahan kurikulum. 3. Implementasi dan integrasi CT di dalam berbagai disiplin ilmu didasarkan pada berbagai bidang keilmuan yang mengarahkan, mengorientasikan dan mengajarkan keterampilan pemecahan masalah, berpikir logis, dan berpikir secara algoritma. 4. Cara mengimplementasikan CT secara konkret di kelas yang diwujudkan melaui keterlibatan aktif peserta didik dalam memecahkan suatu masalah menggunakan konsep


CT seperti abstraksi, dekomposisi, dan menggunakan bahasa CT seperti input, output data.


Pertanyaan Reflektif Eksplorasi Konsep – Topik 4 SEL.09.2-T4-2a Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Nama Tenti Febri Satia, S.Pd NIM A2G823020 Judul Proyek STEM yang Dipilih Proyek Blind Stick Sumber https://belajarstem.id/2021/10/03/proyek-blind-stick/ Deskripsi Singkat tentang Proyek STEM yang Dipilih Blind Stick merupakan sebuah alat bantu bagi penyandang tuna netra saat berjalan. Dengan melengkapi sensor jarak dan Arduino, Blind Stick dapat memudahkan pengguna untuk mengetahui hambatan yang ada di depannya. Dalam pembelajran guru dapat menjadiakan proyek Blind Stick sebagai STEM challenge bagi siswa dengan permasalahan yang disajikan yaitu masalah yang berkaitan dengan penyandang tuna netra. Siswa diminta berpikir untuk menentukan alat apa saja yang diperlukan untuk membuat Blind Stick, apa kegunaan alat-alat tersebut, bagaimana desain alatnya, kemudian membuat alat tersebut berdasarkan desain yang ditentukan.


Ruang Kolaborasi – Topik 4 SEL.09.2-T4-4. Ruang Kolaborasi Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia 1. Proyek STEM sebelum diintegrasikan dengan CT Nomor Kelompok SMAN 11 KOTA JAMBI Anggota Kelompok 1. Siti Stalis Fiana Darazah, S. Pd. (A2G823002) 2. Ahmad Haris, S. Pd. (A2G823006) 3. Aidul Muzaqi, S, Pd. (A2G823013) 4. Ghea Reiva Igusmi Putri, S. Pd. (A2G823014) 5. Tenti Febri Satia, S. Pd. (A2G823020) Judul Proyek STEM yang Dipilih Desain dan Konstruksi Prototype KIT Proyek STEM Sebagai Media Pembelajaran IPA SMP Secara Daring pada Topik Aplikasi Listrik Dinamis Sumber Zulirfan, Z., Yennita, Y., Rahmad, M., & Purnama, A. (2021). Desain dan konstruksi prototype kit proyek STEM sebagai media pembelajaran IPA SMP secara daring pada topik aplikasi listrik dinamis. Journal of Natural Science and Integration, 4(1), 40-49. Deskripsi Singkat tentang Proyek Mengidentifikasi dan mendesain tiga proyek STEM sederhana yang dapat dibangun sebagai aplikasi konsep Listrik Dinamis. Ketiga proyek STEM tersebut adalah Proyek Eksplorasi Kandungan Energi


STEM yang Dipilih Listrik Buah-buahan, Proyek Pembuatan Model Alarm Banjir, dan Proyek Pembuatan Model Pembangkit Listrik Mikrohidro. Untuk keperluan ketiga proyek STEM siswa tersebut, peneliti telah membangun KIT dengan tahapan meliputi: pemilihan alat dan bahan, perakitan, dan validasi pakar. 2. Proyek STEM setelah diintegraikan dengan CT Nomor Kelompok SMAN 11 KOTA JAMBI Anggota Kelompok 1. Siti Stalis Fiana Darazah, S. Pd. (A2G823002) 2. Ahmad Haris, S. Pd. (A2G823006) 3. Aidul Muzaqi, S, Pd. (A2G823013) 4. Ghea Reiva Igusmi Putri, S. Pd. (A2G823014) 5. Tenti Febri Satia, S. Pd. (A2G823020) Nama Proyek Desain dan Konstruksi Prototype KIT Proyek STEM Sebagai Media Pembelajaran IPA SMP Secara Daring pada Topik Aplikasi Listrik Dinamis Deskripsi Singkat Proyek Mengidentifikasi dan mendesain tiga proyek STEM sederhana yang dapat dibangun sebagai aplikasi konsep Listrik Dinamis. Ketiga proyek STEM tersebut adalah Proyek Eksplorasi Kandungan Energi Listrik Buah-buahan, Proyek Pembuatan Model Alarm Banjir, dan Proyek Pembuatan Model Pembangkit Listrik Mikrohidro. Untuk keperluan ketiga proyek STEM siswa tersebut, peneliti telah membangun KIT dengan tahapan meliputi: pemilihan alat


dan bahan, perakitan, dan validasi pakar. Outline Proyek I. Pendahuluan • Orientasi • Apresiasi • Motivasi • Pemberian acuan II. Kegiatan Pembelajaran 1. Guru menampilkan sebuah video mengenai hukumhukum pada gas ideal dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. 2. Guru menanyakan terkait dengan video, yaitu: 3. “Berdasarkan video animasi tersebut, informasi apa saja yang dapat kalian peroleh berkaitan dengan sifat gas?” 4. Guru memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari materi yang akan disampaikan, yaitu mengenai gas ideal. 5. Kemudian siswa diberi kesempatan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang telah diamati yang sudah dilakukan. 6. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok beranggotakan maksimal lima anak dalam satu kelompok. 7. Siswa diberi tugas berupa membuat sebuah poster, video, ataupun leaflet yang berkaitan dengan gas ideal yaitu “Bahaya meletakkan gas di ruang tertutup”. Tugas tersebut dikerjakan secara kelompok dan dikumpulkan pada 2 minggu


berikutnya. 8. Untuk melaksanakan tugas tersebut, guru meminta siswa untuk melakukan observasi mengenai gas ideal, aplikasi dalam kehidupan sehari-hari melalui kajian pustaka dan data kasuskebocoran gas di masyarakat, berupa: Membaca buku teks atau sumber yang relevan. Mengumpulkan informasi melalui internet. Observasi langsung ke masyarakat. 9. Mengumpulkan data atau informasi melalui diskusi kelompok guna menemukan solusi pada masalah kasus kebocoran gas dimasyarakat terkait materi pokok yaitu gas ideal. 10. Siswa berdiskusi secara kelompok menyusun makalah perencanaan proyek. 11. Siswa saling bertukar informasi dengan kelompok lain melalui kegiatan diskusi mengenai gas ideal. Dengan ditanggapi aktif oleh siswa dari kelompok lainnya sehingga diperoleh sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelompok. Kemudian dengan menggunakan metode ilmiah yang terdapat pada buku pegangan siswa atau pada lembar kerja yang disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap disiplin, aktif, kreatif, tanggung jawab, dan kritis. 12. Guru menyampaikan aturan presentasi 13. Dari beberapa kelompok siswa diambil salah satu perwakilan kelompok untuk diminta mempresentasikan hasil observasi mereka. 14. Guru memonitor jalannya presentasi kelompok.


15. Siswa yang sedang tidak mempresentasikan hasil diskusinya menjawab pertanyaan guru. 16. Siswa mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan dan ditanggapi oleh kelompok yang mempresentasikan. 17. Siswa bertanya atas presentasi yang dilakukan dan siswa lain diberi kesempatan untuk menjawabnya. 18. Siswa menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan berupa: Laporan hasil observasi secara tertulis tentang gas ideal. 19. Menjawab pertanyaan yang terdapat pada buku pegangan siswa atau lembar kerja yang telah disediakan. 20. Siswa bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan beberapa pertanyaan kepada siswa. 21. Siswa memperhatikan guru yang sedang memberikan penjelasan ulang tentang materi yang telah didiskusikan berdasarkan hasil presentasi kelompok yang telah mempresentasikan hasilnya 22. Siswa bersama-sama dengan guru menyimpulkan kembali hasil diskusi agar tidak terjadi miskonsepsi III. Kegiatan Penutup 1. Siswa membuat rangkuman tentang materi yang telah disampaikan yaitu materi gas ideal. 2. Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilakukan. 3. Siswa diminta untuk mengerjakan soal yang


berhubungan dengan gas ideal. 4. Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya yaitu tentang tekanan dan energi kinetik menurut teori kinetik gas. 5. Guru mengingatkan siswa untuk mengumpulkan tugas berupa video, poster, atau leaflet maksimal 2 minggu ke depan. 6. Guru menugaskan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya. 7. Salah satu siswa diminta untuk membaca dan memimpin doa penutup pembelajaran. Tujuan Pembelajaran Situasi pada saat pembelajaran akan merangsang siswa untuk aktif dan kreatif, sehingga lambat laun dapat memupuk sikap positif siswa tentang kreativitas. Kebebasan dan kepercayaan yang diberikan kepada siswa dalam setiap proses pembelajaran dapat meningkatkan kepercayaan diri, keberanian, dan rasa tanggungjawab mereka dalam belajar. Hal ini dapat menjadi modal bagi mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang kreatif tidak hanya dalam pembelajaran yang berlangsung, juga bagi kehidupan mereka yang sesungguhnya di luar konteks pembelajaran. Driving Question Apakah siswa Mampu menciptakan proyek yang sesuai dengan perintah dan materi gas ideal? Produk Akhir Penerapan metode STEM berbasis proyek pada materi gas ideal dirancang untuk meningkatkan kreativitas siswa. Pemilihan metode pembelajaran ini, mempertimbangkan


aspek yang ada dalam metode pembelajaran STEM berbasis proyek dan kesesuaian kurikulum yang mengarahkan siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Proyek siswa berbentuk poster, vidio, ataupun leaflet sebagai bentuk media komunikasi dengan masyarakat luas. Dapat digunakan sebagai media pendukung proses pembelajaran yang efektif dan mengasyikan bagi siswa. Perpaduan metode STEM berbasis proyek merupakan perpaduan yang efektif karena melibatkan peran aktif siswa dan meningkatkan kreativitas siswa untuk belajar. Hands-on Activities Perancangan materi pada gas ideal Asesmen Tahap persiapan meliputi pembuatan Rencana Program Pembelajaran (RPP) mengenai materi gas ideal. Rencana Program Pembelajaran (RPP) ini disusun dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Siswa diberikan banyak kesempatan untuk mengekspresikan kegiatannya dalam belajar. Dalam makalah ini model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dibantu dengan instrumen penilaian proyek berupa pembuatan video, poster, maupun leaflet. Pembuatan video, poster, maupun leaflet memiliki tujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa. Resources yang Dibutuhkan A. Observasi dan wawancara untukmendapatkan gambaran awal mengenai proses pembelajaran pada mata pelajaran Fisika di kelas. B. Mengidentifikasi permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran dan hasil wawancara di kelas.


C. Menyusun dan mempersiapkan instrumen yang akan digunakan dalam penelitian seperti silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan lembar kerja siswa. D. Mempersiapkan media pembelajaran yang akan digunakan. Integrasi CT dalam proyek STEM (Baek et al., 2021) Abstraksi: Pembuatan proyek melalui penerapan metode STEM dapat meningkatkan kreativitas siswa. Dengan pembuatan proyek siswa akan lebih kreatif dalam menerapkan konsep gas ideal dalam kehidupan seharihari. Pada proses pembelajaran metode STEM berbasis proyek, diharapkan dalam diri siswa akan tertanam sikap aktif dan terampil. Proyek yang dilakukan siswa dapat berbentuk poster, video, ataupun leaflet sebagai bentuk media komunikasi siswa dengan masyarakat luas. Proses pembuatan proyek ini melalui beberapa tahap yang meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap penulisan laporan, dan tahap presentasi. Penilaian akan dilakukan pada setiap tahap proses pembuatan proyek, mulai dari perencanaan hingga tahap presentasi menggunakan rubrik khusus penilaian proyek. Dari pembuatan proyek ini menghasilkan media komunikasi berupa poster, video, dan leaflet. Salah satu contoh dari proyek yang dikembangkan siswa mengenai materi gas ideal yaitu bahaya akan tabung gas yang diletakkan di ruang tertutup. Proyek tersebut merupakan salah satu aplikasi dari materi gas ideal dalam kehidupan sehari-hari. Algoritma:


Menyusun langkah-langkah sintaks pembelajaran dalam penerapn metode stem pada materi gas ideal Komunikasi: Siswa melakukan presentasi hasil penelitian mengenai materi gas ideal Conditional Logic: Penggunaan logika dalam bentuk IF-ELSE untuk mengidentifikasi siswa aktif dalam bertindak dan aktif berpikir misalnya siswa akan aktif jika siswa dapat manghubungkan pengretahuan baru dengan pemahan awal mereka Pengumpulan Data: a. Observasi dan wawancara untuk mendapatkan gambaran awal mengenai proses pembelajaran pada mata pelajaran Fisika di kelas. b. Mengidentifikasi permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran dan hasil wawancara di kelas. c. Menyusun dan mempersiapkan instrumen yang akan digunakan dalam penelitian seperti silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan lembar kerja siswa. d. Mempersiapkan media pembelajaran yang akan digunakan. Struktur Data, Analisis dan Representasi Data: Menggunakan data-data yang telah didapati dari hasil pengumpulan data siswa yang dapat menyimpulkan dan


mempresentasikan materi gas ideal Dekomposisi: Proyek yang dilakukan siswa dapat berbentuk poster, video, ataupun leaflet sebagai bentuk media komunikasi siswa dengan masyarakat luas. Proses pembuatan proyek ini melalui beberapa tahap yang meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap penulisan laporan, dan tahap presentasi. Pengenalan Pola: Mengidentifikasi siswa yang mampu bersikap aktif dan trampil. Pemodelan dan Simulasi: Salah satu contoh dari proyek yang dikembangkan siswa mengenai materi gas ideal yaitu bahaya akan tabung gas yang diletakkan di ruang tertutup. Proyek tersebut merupakan salah satu aplikasi dari materi gas ideal dalam kehidupan sehari-hari. Nama Kelompok : 1. Siti Stalis Fiana Darazah, S. Pd. (A2G823002) 2. Ahmad Haris, S. Pd. (A2G823006) 3. Aidul Muzaqi, S, Pd. (A2G823013) 4. Ghea Reiva Igusmi Putri, S. Pd. (A2G823014) 5. Tenti Febri Satia, S. Pd. (A2G823020)


3. Perbedaan antara proyek STEM sebelum dan sesudah diintegrasikan dengan CT adalah sebagai berikut: Proyek STEM sebelum Diintegrasikan dengan CT: 1. Produk akhirnya adalah surat lamran pekerjaan. 2. Memiliki kompetisi dengan penelian namun dapat dperbaiki. Proyek STEM Setelah Diintegrasikan dengan CT: 1. Hasil akhirnya adalah menghasilkan media komunikasi berupa poster, video, dan leaflet. 2. Memiliki kompetisi dengan penelian namun dapat dperbaiki


Elaborasi Pemahaman – Topik 4 Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia Nomor Kelompok SMA Negeri 11 Kota Jambi Anggota Kelompok 1. Siti Stalis Fiana Darazah, S. Pd.(A2G823002) 2. Ahmad Haris, S. Pd. (A2G823006) 3. Aidul Muzaqi, S, Pd. (A2G823013) 4. Ghea Reiva Igusmi Putri, S. Pd.(A2G823014) 5. Tenti Febri Satia, S. Pd. (A2G823020) Nama Proyek Desain dan Konstruksi Prototype KIT Proyek STEM Sebagai Media Pembelajaran IPA SMP Secara Daring pada Topik Aplikasi Listrik Dinamis Catatan-catatan Perbaikan yang Perlu Dilakukan Berdasarkan Masukan Dari Dosen dan Kelompok Lain Tanggapan dari Kelompok SMP Negeri 10 Kota Jambi Berikut adalah catatan-catatan perbaikan yang perlu dilakukan pada desain dan konstruksi prototype KIT Proyek STEM sebagai media pembelajaran IPA SMP secara daring pada topik aplikasi listrik dinamis: Kesesuaian Materi Pembelajaran: Pastikan materi pembelajaran yang disampaikan melalui KIT sesuai dengan kurikulum IPA SMP dan relevan dengan topik aplikasi listrik dinamis. Keterjangkauan Bahan dan Alat: Desain KIT harus mempertimbangkan ketersediaan dan keterjangkauan bahan dan alat bagi peserta didik, sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan percobaan dengan mudah.


Kemudahan Montase dan Penggunaan: Konstruksi KIT harus dirancang sedemikian rupa sehingga mudah dipasang, digunakan, dan disimpan oleh peserta didik. Keamanan: Pastikan KIT dan komponennya aman digunakan oleh peserta didik, termasuk penggunaan sumber daya listrik yang aman dan sesuai standar. Keterlibatan Peserta didik: Desain KIT harus mendorong keterlibatan aktif peserta didik dalam pembelajaran, misalnya melalui eksperimen langsung dan diskusi. Kemudahan Akses dan Pembagian Materi: KIT harus dirancang agar mudah diakses dan dibagikan secara daring kepada peserta didik.


Aksi Nyata – Topik 4 SEL.09.2-T4-7 Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia 1. Pengalaman apa saja yang Anda dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam proyek STEM? Jawaban: Pengalaman yang saya dapatkan adalah mendapatkan wawasan baru tentang mengintegrasikan CT ke dalam proyek STEM, hal ini akan mengarah pada proyek STEM dan menjadi lebih efektif, efisien dan memiliki hasil optimal dengan memanfaatkan dan menerapkan keempat fondasi CT. Integrasi CT dalam proyek STEM membantu alur berpikir menjadi lebih terstruktur dan runtut. Saya belajar konsep pemecahan masalah melalui integrasi CT dalam proyek STEM, juga bagaimana keduanya saling terkait satu sama lain. 2. Bagaimana perasaan Anda pada saat mengerjakan modul ini? Jawaban: Saya senang mengerjakan modul ini karena dapat lebih memahami manfaat dari penerapan CT dalam kehidupan dan penelitian. Saya juga merasa antusias dan bersemangat karena diperlukan pemahaman lebih untuk dapat mencermati dan melakukan analisis untuk penyelesaian penugasan dan proyek yang ada. 3. Jelaskan bagaimana rencana Anda dalam mengintegrasikan CT di dalam proyek STEM di kelas yang Anda ajar kelak! Jawaban: Saya akan mengintegrasikan CT ke dalam proyek STEM di kelas yang akan diajarkan pada masa mendatang. Saya akan berusaha membuat kelas yang menyenangkan yang mendorong peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Saya akan menanamkan pada mereka kebiasaan berfikir secara terstruktur dengan menerapkan CT dalam tugas kelas yang mereka kerjakan. Proyek yang mereka lakukan bisa berskala


kecil atau besar. Penting untuk mengambil pendekatan yang terukur, dan terpenting adalah langkah-langkah yang dilakukan efektif dan efisien, hal ini akan mengarah pada hasil yang maksimal. Kemudian ke depannya, jika hendak mengintegrasikan CT dalam proyek STEM yang dipilih dalam suatu kelas, saya berencana mengemasnya dalam satu LKPD (Lembera Kerja Peserta Didik). Rencana ini bertujuan agara selama proses pembelajaran berlangsung, peserta didik akan lebih mudah memahami tahapan kegiatan yang perlu dilakukan dan mampu merancang solusi atas pemecahan masalah yang ada.


Eksplorasi Konsep – Topik 5 Lembar Kerja Reflektif Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia 1. Intisari apa saja yang Anda dapatkan saat mempelajari makalah "Bringing computational thinking to K-12: what is Involved and what is the erole of the computer science education community" (Barr & Stpehenson , 2011)? Jawaban: a. Berfokus pada contoh implementasi konsep CT dan keterampilannya yang diimplementasikan pada berbagai bidang Ilmu Komputer, Matematika, Sains, Studi Sosial, Bahasa dan Seni. b. Implementasi pada makalah berfokus pada proyek multifase yang ditujukan untuk mengembangkan definisi operasional pemikiran komputasi untuk K - 12 bersama dengan sumber daya yang sesuai untuk kebijakan dan perubahan kurikulum . c. Implementasi dan integrasi CT di dalam berbagai disiplin ilmu didasarkan pada berbagai bidang keilmuan yang mengarahkan dan mengajarkan mengoreintasikan keterampilan pemecahan masalah, berpikir logis, dan berpikir secara algoritma. d. Cara mengimplementasikan CT secara konkrit di kelas yang diwujudkan melalui keterlibatan aktif peserta didik dalam memecahkan suatu masalah menggunakan konsep CT seperti abstraksi, dekomposisi, dan menggunakan bahasa CT seperti input, output, data. 2. Tuliskan juga kaitan makalah tersebut dengan mata pelajaran yang Anda ampu! Masingmasing kelompok hanya perlu mengisi satu lembar kerja reflektif. Jawaban: - Konsep CT pengumpulan data diimplementasikan dengan kegiatan menganalisis unsur-unsur kebahasaan dalam teks yang dipelajari.


- Konsep CT analisis data diimplementasikan dengan kegiatan mengidentifikasi pola untuk tipe kalimat yang berbeda. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan identifikasi struktur dan unsur kebahasaan sebuah teks. - Konsep CT representasi data dan analisis data diimplemenasikan dengan kegiatan menginterpretasi pola dari kalimat yang berbeda. - Konsep CT abstraksi diimplementasikan dengan menggunakan perumpamaan dan metafora. - Konsep CT otomatisasi diimplementasikan dengan menggunakan spiller checker. - Konsep CT algoritma dan prosedur menuliskan diimplementasikan dengan instruksi. - Konsep CT dekomposisi persoalan diimplementasikan dengan menuliskan kerangka tulisan. - Konsep CT simulasi diimplementasikan dengan melakukan peragaan ulang dari sebuah cerita.


Eksplorasi Konsep – Topik 5 Lembar Kerja Mahasiswa Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia A. Materi Ajar: Menulis Teks Drama Fondasi CT Implementasi pada materi ajar yang sudah pernah dibuat Algoritma Peserta didik menganalisis hal-hal yang dibutuhkan untuk membuat teks drama. Hal-hal yang dibutuhkan yaitu: Tema, tokoh, penokohan, membuat kerangka alur, dan dialog. Laptop digunakan untuk menulis teks drama, dan perangkat dari berbagai sumber untuk menemukan ide-ide cerita untuk menulis teks novel. Dekomposisi Peserta didik dibantu oleh guru merancang drama berdasarkan pengetahuan dan ideide peserta didik yang telah dipelajari. Pada tahap ini peserta didik merancang kerangka karangan teks drama. Menyusun ide-ide atau gagasan dan menentukan tema, tokoh, alur, dan dialog yang akan digunakan untuk mengembangkan cerita dalam teks drama. Pengenalan pola Peserta didik dibantu oleh guru untuk menentukan langkah-langkah praktis menulis teks novel dan meninggalkan hal-hal yang tidak diperlukan agar waktu lebih efektif, efisien, dan optimal. Abstraksi Peserta didik melaksanakan semua rancangan terkait proyek menulis teks drama. Perencanaan mulai dari merancang kerangka karangan, mengembangkan kerangka karangan, menuliskan ide cerita kedalam dialog dengan struktur yang telah dipelajari.


B. Langkah-langkah Pembelajaran Deskripsi Kegiatan Pendahuluan 1. Guru membuka kelas dengan salam, berdoa, memberi motivasi, presensi, dan mengkondisikan peserta didik agar siap belajar. 2. Guru membangun apersepsi terkait materi yang akan dipelajari. 3. Guru menyampaikan KD, indikator, dan tujuan pembelajaran. 4. Guru dan peserta didik menyampaikan kontrak pembelajaran yang akan berlangsung. Kegiatan Inti (Project Based Learning) Fase- 1: Penentuan pertanyaan mendasar: Guru mengemukakan pertanyaan esensial yang bersifat eksplorasi pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik berdasarkan pengalaman belajarnya yang bermuara pada penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Tema apa saja yang biasa digunakan dalam drama? Siapa saja tokoh yang ada dalam teks drama? Bagaimana penokohan yang bisa digunakan oleh penulis? Alur apa saja yang bisa digunakan dalam penulisan teks drama? Fase-2: Mendesain Perencanaan Proyek Guru memberikan lembar kerja peserta didik kerangka novel, lalu peserta didik membuat perencanaan menulis teks drama dengan cara membuat kerangka novel yang telah disediakan oleh guru untuk dikembangkan saat mulai menulis drama. Fase-3: Menyusun Jadwal Pembuatan Guru dan peserta didik menentukan dan bersepakat jadwal pembuatan dan pengumpulan penulisan drama.


Guru memfasilitasi peserta didik untuk menyusun langkah alternatif, jika ada sub aktivitas yang molor dengan waktu yang telah dijadwalkan. Fase-4: Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek Guru memberikan LKPD mengembangkan alur kerangka teks drama dengan memerhatikan isi dan kebahasaan drama. Peserta didik mulai mengembangkan kerangka yang telah dibuat dan menghasilkan drama yang utuh sesuai dengan isi dan kebahasaan drama. Guru memonitoring terhadap aktivitas peserta didik selama mengerjakan proyek membuat drama. Fase- 5: Menguji Hasil Guru melakukan penilaian hasil kerja peserta didik dengan mengacu pada rubrik penilaian yang bertujuan mengetahui ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberikan umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik. Fase-6: Mengevaluasi Pengalaman Guru dan peserta didik melakukan refleksi mengenai kesulitan-kesulitan, cara mengatasinya dan perasaan pada saat mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapi terhadap aktivitas dan hasil kerja yang sudah dilakukan. Penutup 1. Peserta didik bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari. 2. Peserta didik mencermati penjelasan guru terkait rencana tindak lanjut pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya. 3. Peserta didik dan guru berdoa mengakhiri kegiatan pemeblajaran.


Ruang Kolaborasi – Topik 5 SEL.09.2-T5-4. Ruang Kolaborasi Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia NIM/nama anggota 1: NIM/nama anggota 2: 1. Siti Stalis Fiana Darazah, S. Pd. (A2G823002) 2. Ahmad Haris, S. Pd. (A2G823006) 3. Aidul Muzaqi, S, Pd. (A2G823013) 4. Ghea Reiva Igusmi Putri, S. Pd. (A2G823014) 5. Tenti Febri Satia, S. Pd. (A2G823020) Mata pelajaran: Bahasa Indonesia Materi ajar: Teks Drama Tujuan pembelajaran: Melalui kegiatan diskusi kelompok , peserta didik dapat menganalisis struktur dan kaidah kebahasaan drama yang terdapat pada naskah drama atau pentas secara benar dan tepat . Deskripsi penyampaian materi sebelum integrasi CT Memberikan pemahaman singkat tentang apa itu drama. Menjelaskan struktur dan kaidah kebahasaan drama dan memberikan contoh naskah drama yang mencerminkan setiap struktur teks drama. Peserta didik akan diajak untuk mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana struktur tersebut mempengaruhi alur cerita dan perkembangan karakter dalam drama . Setiap kelompok akan diberikan satu naskah untuk dianalisis struktur dan kaidah kebahasaannya. Deskripsi penyampaian Peserta didik diajak untuk memecahkan naskah drama menjadi


materi setelah integrasi CT beberapa bagian seperti prolog, dialog, dan epilog. Guru memberikan contoh kepada peserta didik cara mengidentifikasi struktur dan kaidah kebahasaan teks drama. Peserta didik diajarkan dalam mengidentifikasi dan menganalisis hal-hal yang berhubungan dengan struktur dan kaidah kebahasaan yang terdapat dalam teks drama. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok , dan guru memberikan arahan serta langkah-langkah dalam menganalisis struktur dan kaidah kebahasaan teks drama. Penjelasan konsep CT yang diintegrasikan pada materi ajar 1. Dekomposisi Pada teks drama, dekomposisi dapat diterapkan dengan membagi naskah drama menjadi prolog, dialog, dan epilog. Peserta didik akan diajak untuk memahami bahwa dengan memecah masalah menjadi bagian yang lebih kecil, mereka dapat menganalisis struktur teks drama secara mendalam. 2. Pengenalan Pola Pada teks drama, peserta didik akan diajak untuk mengenali struktur dan kaidah kebahasaan teks drama. Pengenalan pola memungkinkan peserta didik untuk mengidentifikasi bagian -bagian yang penting dalam teks drama yang saling berhubungan. 3. Abstraksi Dalam teks drama, peserta didik diajak untuk mengenali informasi penting, seperti struktur dan kaidah kebahasaan yang memiliki pengaruh besar dalam drama. Abstraksi membantu peserta didik untuk fokus pada inti masalah yang akan dianalisis. 4. Algoritma Dalam teks drama, peserta didik dapat menggunakan algoritma untuk menganalisis struktur dan kaidah kebahasaan . Misalnya mereka dapat menggunakan


algoritma untuk mencari prolog, dialog, dan epilog dalam naskah drama. Algoritma membantu peserta didik dalam menganalisis dengan langkah langkah yang terstruktur. Tuliskan perbedaan yang terdapat pada materi ajar yang belum diintegrasikan dengan CT dan materi ajar yang telah diintegrasikan dengan CT! Materi ajar tentang teks drama yang belum diintegrasikan dengan CT lebih berfokus pada pemahaman naratif, ekspresi seni, dan unsur sastra dalam teks drama. Sebaliknya, materi yang telah diintegrasikan dengan CT akan menonjolkan pengembangan keterampilan komputasional, penerapan pola berpikir komputasional, analisis menggunakan strategi komputasional, dan penerapan teknologi dalam pemahaman interpretasi teks drama. Integrasi CT dalam materi ajar bertujuan untuk menghubungkan aspek komputasional dengan pemahaman teks drama, mendorng penggunaan teknologi, dan memperkaya keterampilan berpikir sisiwa dengan pendekatan komoutasional.


Demonstrasi Kontekstual – Topik 5 SEL.09.2-T5-5. Demonstrasi Kontekstual Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia NIM / Nama anggota Kelompok yang presentasi: 1. Patimah Zaura, S.Pd. (A2G823007) 2. Tuti Mardianti, S.Pd. ( A2G823009) 3. Andrian Prama, S.Pd. (A2G823017) 4. Sindi Dwi Safitri, S.Pd. (A2G823018) NIM / Nama anggota Kelompok yang memberikan evaluasi: 1. Siti Stalis Fiana Darazah, S. Pd. (A2G823002) 2. Ahmad Haris, S. Pd. (A2G823006) 3. Aidul Muzaqi, S, Pd. (A2G823013) 4. Ghea Reiva Igusmi Putri, S. Pd. (A2G823014) 5. Tenti Febri Satia, S. Pd. (A2G823020) Mata pelajaran: Bahasa Indonesia Materi ajar: Buku Fiksi dan Nonfiksi Ide baru yang didapatkan terkait integrasi CT di dalam mata pelajaran: Peserta didik mampu mengidentifikasi jenis dan struktur buku fiksi dan nonfiksi dalam bentuk peta konsep (mind mapping) Canva. Fitur mind mapping yang ada di Canva dapat mendekomposisi berbagai jenis buku fiksi dan membantu peserta didik dalam memahami dan nonfiksi. Dan menyusun algoritma dari kedua struktur buku fiksi dan nonfiksi. Terakhir peserta didik dapat mengelompokkan struktur buku fiksi dan nonfiksi.


Evaluasi/saran untuk kelompok yang sedang presentasi: Berikanlah pemahaman lebih terpusat kepada peserta didik terhadap materi peta konsep (mind mapping) canva agar peserta didik lebih mudah mengidentifikasi jenis dan struktur buku fiksi dan nonfiksi. Gunakan symbol dan gambar yang jelas, tambahkan ilustrasi atau contoh agar Peserta didik n dapat menggunakan fitur mind mapping yang ada di canva.


Koneksi Antar Materi – Topik 5 SEL.09.2-T5-7. Koneksi Antar Materi Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia NIM/nama anggota 1: NIM/nama anggota 2: NIM/nama anggota 3: NIM/nama anggota 4: NIM/nama anggota 5: 1. Siti Stalis Fiana Darazah, S. Pd. (A2G823002) 2. Ahmad Haris, S. Pd. (A2G823006) 3. Aidul Muzaqi, S, Pd. (A2G823013) 4. Ghea Reiva Igusmi Putri, S. Pd. (A2G823014) 5. Tenti Febri Satia, S. Pd. (A2G823020) Kesimpulan mengenai integrasi CT ke dalam mata pelajaran: Pengintegrasian CT dalam mata pelajaran yaitu ke dalam mata pelajaran mampu meningkatkan kemampuan keterampilan berpikir kritis, kreatif dan logis, peserta didik secara signifikan karena dalam penyelesaian masalah peserta didik hanya berfokus pada hasilnya saja. Tetapi harus memikirkan solusi untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan empat fondasi CT yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma agar menemukan solusi dari permasalahan tersebut secara efektif, efisien dan optimal sesuai dengan mata pelajaran tersebut. Strategi untuk mengintegrasikan CT ke dalam mata pelajaran: Cara mengintegrasikan CT ke dalam mata pelajaran yaitu guru memahami terlebih dahulu mengenai konsep CT. Kemudian guru perlu berlatih dan merfelksikan apa yang telah guru pelajari. Setelah itu guru menggali lebih jauh mengenai materi pelajaran agar dapat mengajak peserta didik berpikir dan menerapkan teknologi dan pedagogi yang tepat. Guru dapat mempelajari CPTF (Computational Thinking


Pedagogical Framework) dimana peserta didik akan mengalami proses belajar menggunakan CT. Integrasi CT dalam mata pelajaran Bahasai Indonesia dapat dilakukan pada kegiatan memahami, menalar, menulis, membaca. Bidang mata pelajaran merupakan fokus pembelajaran sedangkan CT merupakan suatu cara tercepat untuk proses pembelajaran mencapai CP (Capaian Pembelajaran).


Aksi Nyata – Topik 5 Lembar Kerja Reflektif Nama: Tenti Febri Satia, S.Pd NIM: A2G823020 Kelas: Bahasa Indonesia 1. Pengalaman apa saja yang Anda dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam mata pelajaran yang Anda ampu? Apakah ada kendala yang Anda hadapi? Jawaban: Pengalaman yang saya dapatkan dalam proses integrasi CT ke mata pelajaran yakni saya menjadi tahu bahwa CT dapat diintegrasikan dalam pembelajaran. Selain itu, saya mulai meraba raba untuk menerapkan CT di dalam pembelajaran yang akan saya ampu nanti. Hal ini akan saya upayakan dalam rangka menumbuhkan sikap dan kemampuan berpikir kritis dan terstruktur pada siswa yang saya ajar. Selain itu saya juga mengetahui bagaimana memecahkan permasalahan dari suatu teks atau materi agar dapat menjadi lebih efektif, efisien, dan optimal Saya juga dapat membuat materi yang akan disampaikan dapat membuat hal umum menjadi terperinci. Dengan terperincinya materi yang akan disampaikan dapat membuat hal umum menjadi khusus dan membuat kita menjadi mengkiritisi materi yang akan diberikan kepada peserta didik. Peserta didik dapat menerima materi yang akan disampaikan dengan runtut dan menambah keingintahuan mereka . Pengaplikasian CT pada mata pelajaran bahasa Indonesia mengasah kemampuan problem solving peserta didik. Kendala yang saya alami yakni saya kesulitan memahami dengan baik bagaimana integrasi CT yang tepat diterapkan dalam pembelajaran. Saya masih harus memahami lebih dalam lagi, meskipun memang hal tersebut adalah sebuah tantangan bagi saya. Kendala lain yang dihadapi adalah bagaimana untuk menerapkan fondasi CT guna menemukan solusi atau langkah pembelajaran yang efektif. 2. Bagaimana perasaan Anda pada saat mengerjakan modul ini? Jawaban:


Click to View FlipBook Version