The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Standar Asuhan Keperawatan RSUD Bintan tahun 2023 merupakan standar asuhan yang disusun berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Rizka Nur Hikmawati, 2023-06-30 17:10:56

Standar Asuhan Keperawatan

Standar Asuhan Keperawatan RSUD Bintan tahun 2023 merupakan standar asuhan yang disusun berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)

Keywords: #SDKI,#SLKI,#SIKI,#RSUDBintan

21 ERAWATAN BINTAN erfusi perifer tidak efektif perawatan (D.0015) LKI) Intervensi Keperawatan (SIKI) selama 1x24 jam,diharapkan iteria hasil: Pencegahan Syok (I.02068), Perawatan sirkulasi (I.02079) Observasi □ Monitor status kardiopulmonal(frekuensi dan kekuatan nadi,frekuensi napas,TD,MAP,) □ Monitor status oksigenasi(oksimetri nadi,AGD) □ Monitor Status cairan(masukan dan haluaran,turgor kulit,CRT) □ Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil □ Periksa riwayat alergi □ Periksa nadi perifer 9mis: nadi perifer,edema,pengisian kapiler,warna,suhu,ABI) □ Identifikasi factor resiko (mis DM, perokok,orang tua,hipertensi,kolesterol tinggi) □ Monitor panas,nyeri,atau bengkak,pada ekstremitas Terapeutik □ Berikan oksigen untuk mempertahankan sirkulasioksigen □ >94% □ Persiapan intubasi dan ventilasi mekanis,jika perlu □ Pasang jalur IV,jika perlu □ Pasang kateter urin untuk menilai produksi urin,jika perlu □ Lakukan skintest untuk mencegah reaksi alergi □ Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah pada daerah keterbatasan perfusi. □ Hindari pengukuran tekanan darah pada daerah keterbatasan perfusi. □ Lakukan pencegahan infeksi. □ Lakukan perawatan kaki dan kuku. Edukasi □ Jelaskan penyebab/factor resiko syok □ Jelaskan tanda dan gejala awal syok □ Anjurkan melapor jika menemukan/merasakan tanda dan gejala awal syok □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral □ Anjurkan berhenti merokok □ Anjurkan berolahraga rutin □ Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan ( mis: rasa sakit yang tidak hilang,luka tidak sembuh) Kolaborasi □ Kolaburasi pemberian IV jika perlu □ Kolaborasi pemberian tranfusi darah,jika perlu □ Kolaburasi pemberian anti inflamasi jika perlu g Cukup meningkat Meningkat 4 4 4 5 5 5 g Cukup menurun Menurun 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 g Cukup membaik Membaik 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5


STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPAATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RISIKO PERF Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Risiko perfusi renal tidak efektif (D.0016) Definisi : Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke ginjal. Dibuktikan dengan □ Kekurangan volume cairan □ Embolisme vaskuler □ Vaskulitis □ Hipertensi □ Disfungsi ginjal □ Hiperglikemia □ Keganasan □ Pembedahan jantung □ Bypass kardiopulmonal □ Hipoksemia □ Hipoksia □ Asidosis metabolic □ Trauma □ Sindrom kompartemen abdomen □ Luka bakar □ Sepsis □ Sindrom respon inflamasi sistemik □ lanjut usia □ Merokok □ Penyalahgunaan zat Setelah dilakukan tindakan keperawata Perfusi renal meningkat dengan krite Perfusi renal (L.02013) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menuru Jumlah urin 1 2 Meningkat Cukup meningk Nyeri abdomen 1 2 Mual 1 2 Muntah 1 2 Distensi abdomen 1 2 Memburuk Cukup memburu Tekanan darahratarata 1 2 Kadar urea nitrogen darah 1 2 Kadar kreatinin plasma 1 2 Tekanan darah sistolik 1 2 Tekanan darah diastolic 1 2 Kadar elektrolit 1 2 Keseimbangan asam basa 1 2 Bising usus 1 2 Fungsi hati 1 2


22 ERAWATAN BINTAN FUSI RENAL TIDAK EFEKTIF perawatan (D.0016) n Keperawatan (SLKI) Intervensi Keperawatan (SIKI) an selama 1x 24 jam,diharapkan eria hasil : Pencegahan syok (I.02068) Observasi □ Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dankekuatan nadi, frekuensi napas, TD, MAP □ Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD) □ Monitor status cairan (masukan dan haluaran,turgor kulit, CRT) □ Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil □ Periksa riwayat alergi Terapeutik □ Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasioksigen >94% □ Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis □ pasang jalur IV □ Pasang kateter urin untuk menilai produksi urin □ Lakukan skintest untuk mencegah reaksi alergi Edukasi □ jelaskan penyabab/faktoir risiko syok □ Jelaskan tanda dan gejala awal syok □ Anjurkan melapor jika menemukan/merasakantanda dan gejala awal syok □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian IV □ Kolaborasi pemberian transfuse darah □ Kolaborasi pemberian antiinflamasi un Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 kat Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 uk Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KE RSUD KABUPATEN DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RISIKO PERFU Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) RISIKO PERFUSI SEREBRAL TIDAK EFEKTIF (D.0017) Definisi : Beresiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak. Faktor resiko □ Keabnormalan masa protrombin darah ataumasa tromboplastin parsial □ Penurunan kinerja ventrikel kiri □ Arterosklerosisi aorta □ Diseksi arteri □ Fibrilasi atrium □ Tumor otak □ Stenosis karotis □ Miksoma atrium □ Aneurisma serebri □ Koagulopati(mis anemia sel sabit) □ Dilatasi kardiomiopati □ Koagulasi intravaskuler diseminata □ Embolisme □ Cedera kepala □ Hiperkolesterolemia □ Hipertensi □ Endokarditis infektif □ Katup prostetik mekanis □ Stenosis mitral □ Neoplasma otak □ Infark miokard akut □ Sindrom sick sinus □ Penyalahgunaan zat □ Terapi trombolitik □ Efek samping tindakan (mis tindakan operasi by pass) Kondisi Klinis terkait : □ Stroke □ Cedera kepala Setelah dilakukan tindakan keperawata diharapkan Perfusi cerebral meningkat Perfusi Serebral (L.0214 KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Tingkat kesadaran 1 2 Kognitif 1 2 Meningkat Cukup Meningkat Sakit kepala 1 2 Gelisah 1 2 Kecemasan 1 2 Agitasi 1 2 Demam 1 2 Memburuk Cukup memburuk Tekanan arteri ratarata 1 2 Tekanan intrakranial 1 2 Tekanan darah sistolik 1 2 Tekanan darah diastolik 1 2 Refleks saraf 1 2


23 EPERAWATAN N BINTAN USI SEREBRAL TIDAK EFEKTIF perawatan (L.0017) awatan Intervensi Keperawatan (SIKI) n selama X jam, dengan kriteria hasil : 4) Manajemen peningkatan tekanan intrakranial(I.06194) Observasi □ Identifikasi penyebab peningkatan TIK (mis lesi gangguan metabolisme, edema sebral) □ Monitor tanda/ gejala peningkatan TIK ( mis tekanan darah meningkat, tekanan nadi melebar, bradicardia, pola napas ireguler, kesadaran menurun) □ Monitor MAP (mean arterial presure) □ Monitor CVP (Central Venous presure), jika perlu □ Monitor PAWP, jika perlu □ Monitor PAP, jika perlu □ monitor ICP (intra cranial presure) jika tersedia □ Monitor CPP (cerebral perfusion presure) □ Monitor gelombang ICP □ Monitor setatus pernapasan □ Monitor intake dan output cairan □ Monitor cairan serobro-spinalis (mis warna, konsistensi) Terapeutik □ Minimalkan stimulus dengan menyediakan lingkungan yang tenang □ Berikan posisi semi fowler □ Hindari manuver valsava □ Cegah terjadinya kejang □ Hindari penggunaan PEEP □ Hindari pemberian cairan iv hipotonik □ atur ventilator agar PaCO2 optimal □ Pertahankan suhu tubuh normal Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian sedasi dan anti konvulsan, jikaperlu □ Kolaborasi pemberian diuretik osmosis, jika perlu □ Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika perlu Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


□ Aterosklerotik aortik □ Infark Miokard Akut □ Diseksi arteri □ Embolisme □ Endokarditis Infektif □ Fibrilasi atrium □ Hiperkolesterolemia □ Hipertensi □ Dilatasi kardiomiopati □ Koagulasi intravaskuler diseminata □ Miksoma atrium □ Neoplasma otak □ Segmen ventrikel kiri akinetik □ Sindrom sick sinus □ Stenosis karotid □ Stenosis mitral □ Hidrosefalus □ Infeksi otak (mis meningitis, ensefalitis, abses serebri)


24


STANDAR ASUHAN KEP RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : D Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Keperawa (SLKI) Defisit Nutrisi (D.0019) Definisi : Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. b.d □ Kurangnya asupan makanan □ Ketidakmampuan menelan makanan □ Ketidakmampuan mencerna makanan □ Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien □ Peningkatan kebutuhan metabolisme □ Faktor ekonomi (mis. Finansial tidak mencukup) □ Faktor psikologis (mis. Stress, keengganan untuk makan) d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif Obyektif □ Bera badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal Minor : Subyektif □ Cepat kenyang setelah makan □ Kram/nyeri abdomen □ Nafsu makan menurun Obyektif □ Bising usus hiperaktif Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan status nutrisi membaik den Status nutrisi (L.03030) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Porsi makanan yang dihabiskan 1 2 Kekuatan otot pengunyah 1 2 Kekuatan otot menelan 1 2 Serum albumin 1 2 Verbalisasi keinginan untuk meningkatkannutrisi 1 2 Pengetahuan tentang pilihanmakanan yang sehat 1 2 Pengetahuan tentang pilihanminuman yang sehat 1 2 Pengetahuan tentang standarasupan nutrisi yang tepat 1 2 Penyiapan dan penyimpanan makanan yangaman 1 2 Penyiapan dan penyimpanan minuman yang aman 1 2 Sikap terhadap makanan/minuman sesuai dengan tujuan kesehatan 1 2


25 ERAWATAN BINTAN DEFISIT NUTRISI perawatan (D.0019) atan Intervensi Keperawatan (SIKI) selama 1x24 jam, gan kriteria hasil : Manajemen nutrisi (I.03119) Pemantauan nutrisi (I.03123), Pemberian makanan (I.03125), Pemberianmakanan parenteral (I.03127) Observasi □ Identifikasi status nutrisi □ Identifikasi adanya alergi dan intoleransi makanan □ Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient □ Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik □ Monitor asupan makanan □ Monitor berat badan □ Monitor hasil pemeriksaan laboratorium □ Identifikasi faktor yang mempengaruhi asupan gizi □ Identifikasi perubahan berat badan □ Identifikasi pola makan □ Identifikasi kemampuan menelan □ Identifikasi kelainan eliminasi (diare) □ Monitor mual muntah □ Monitor asupan oral □ Monitor warna konjungtiva □ Monitor hasil laboratorium □ Identifikasi makanan yang diprogramkan □ Identifikasi kemampuan menelan □ Monitor kebocoran, infeksi, dan komplikasi metabolik (hiperlipidemia, peningkatan kadar trigliserida, trombositopenia, disfungsi platelet) □ Cek cairan nutrisi total parenteral untuk meyakinkan bahwa jenis nutrisi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien □ Monitor berat badan setiap hari □ Monitor masukan dan output cairan □ Monitor kadar albumin, protein total, alektrolit, profillipid, glukosa darah, kimia darah. □ Monitor urin apakah mengandung glukosa, benda keton, dan protein Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


□ Otot pengunyah lemah □ Otot menelan lemah □ Membran mukosa pucat □ Sariawan □ Serum albumin turun □ Rambut rontok berlebihan □ Diare Meningkat Cukup meningkat Sedan Perasa an cepat kenyan g 1 2 3 Nyeri abdomen 1 2 3 Sariawan 1 2 3 Rambut rontok 1 2 3 Diare 1 2 3 Memburuk Cukup memburuk Sedan Berat badan 1 2 3 Indek masa tubuh 1 2 3 Frekuensi makan 1 2 3 Nafsu makan 1 2 3 Bising usus 1 2 3 Tebal lipatan kulittrisep 1 2 3


26 ng Cukup menuru n Menuru n 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 n g Cukup membai k Membai k 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 Terapeutik □ Lakukan oral hygiene sebelum makan □ Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai □ Timbang berat badan □ Ukur antropometrik komposisi tubuh □ Periksa mulut untuk residu pada akhir makan □ Lakukan kebersihan tangan dan mulut sebelum makan □ Sediakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan □ Berikan posisi duduk atau semi fowler saat makan □ Berikan makanan hangat □ Sediakan sedotan □□ Pertahankan teknik steril ketika mempersiapkan dan memberikan cairan nutrisi total parenteral □ Lakukan perawatan rutin aseptik pada akses vena sentral □ Pertahankan kecepatan aliran yang konstan □ Pertahankan intake nutrisi per oral walaupun sedikit ketika memungkinkan □ Dorong pemberian nutrisi bertahap, dari parenteral menuju enteral, sesuai indikasi □ Pertahankan pencegahan infeksi Edukasi □ Informasikan hasil pemantauan □ Anjurkan orang tua atau keluarga membantu memberi makan kepada pasien Kolaborasi □ Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan □ Pastikan insersi intravena cukup paten untuk pemberian nutrisi intravena (pemasangan infus sentral) □ Gunakan infus sentral hanya untuk cairanhiperosmolar atau nutrisi berkalori tinggi (seperti 10%dextrose, 2% asam amino) □ Yakinkan cairan nutrisi total parenteral yang dimasukkan bukan melalui infus sentral mempunyai osmolaritas kuang dari 900mOSml/L □ Pasang infus intravena sentral □ Pertahankan kepatenan jalur infus sentral


STANDAR ASUH KEPERAWATAN R KABUPATEN BINT DIAGNOSIS KEPERAWATA Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Diare (D.0020) Definisi : Pengeluaran feses yang sering, lunak dan tidak berbentuk. b.d Fisiologi □ Inflamasi gastrointestinal □ Iritasi gastrointestinal □ Proses infeksi □ malabsorpsi Psikologis □ Kecemasan □ Tingkat stress tinggi Situasional □ Terpapar kontaminan □ Terpapar toksin □ Penyalahgunaan laksatif □ Penyalahgunaan zat □ Program pengobatan (mis. Agen tiroid, analgesic, pelunak feses, ferosulfat, antasida, cimetidine dan antibiotik) □ Perubahan air dan makanan □ Bakteri pada air d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif Obyektif □ Defekasi lebih dari tiga kali dalam 24 jam □ Feses lembek atau cair Setelah dilakukan tindakan kepera diharapkan eliminasi fekal memb Eliminasi fekal (L.04033) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Kontrol pengeluaran feses 1 2 Meningkat Cukup meningk Keluhan defekasi lama dan sulit 1 2 Mengejan saat defekasi 1 2 Distensi abdomen 1 2 Urgency 1 2 Nyeri abdomen 1 2 Kram abdomen Memburuk Cukup memburuk Konsistensi feses 1 2 Frekuensi BAB 1 2 Peristaltic usus 1 2


27 HAN RSUD TAN AN : DIARE perawatan (D.0020) awatan Intervensi Keperawatan (SIKI) awatan selama 1x24 jam, baik dengan kriteria hasil : Manajemen diare (I.03101) Pemantauan cairan (I.03121) Observasi □ Identifikasi penyebab diare (mis. Inflamasi, gastrointestinal, iritasi gastrointestinal, proses infeksi, malabsorpsi, ansietas, stress, efek obat-obatan, pemberian botol susu) □ Identifikasi riwayat pemberian makanan □ Identifikasi gejala invaginasi □ Monitor warna, volume, frekuensi, dan konsistensi tinja □ Monitor tanda dan gejala hypovolemia (mis. Takikardia, nadi teraba lemah, tekanan darah turun, turgor kulit turun, mukosa mulut kering, CRT melambat, BB menurun) □ Monitor iritasi dan ulserasi kulit di daerah perianal □ Monitor jumlah pengeluaran diare □ Monitor keamanan penyiapan makanan □ Monitor frekuensi dan kekuatan nadi □ Monitor frekuensi napas □ Monitor tekanan darah □ Monitor waktu pengisian kapiler □ Monitor berat badan □ Monitor elastisitas atau turgor kulit □ Monitor jumlah, warna dan berat jenis urine □ Monitor kadar albumin dan protein total □ Monitor hasil pemeriksaan serum □ Monitor intake dan output cairan □ Identifikasi factor resiko ketidakseimbangancairan Terapeutik □ Berikan asupan cairan oral □ Pasang jalur intravena □ Berikan cairan intravena □ Ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit n Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 kat Sedang Cukup menuun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 k Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5


Minor : Subyektif □ Urgency □ Nyeri/kram abdomen Obyektif □ Frekuensi peristaltic meningkat □ Bising usus hiperaktif


28 □ Ambil sampel feses untuk Analisa feses ataukultur feses □ Atur waktu pemantauan cairan sesuai dnegankondisi pasien □ Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi □ Anjurkan makanan porsi kecil dan seringsecara bertahap □ Anjurkan menghindari makanan pembentukgas, pedas dan mengandung laktosa □ Anjurkan melanjutkan pemberian ASI □ Jelaskan tujuan pemantauan cairan □ Informasikan hasil pemantauan cairan Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian obat antinotilitas □ Kolaborasi pemberian □ antispasmodic/spasmolitik


STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : DISFUNGSI MO RencanaAsuhanKeperaw Diagnosis Keperawatan (SDKI) LuaranKeperawata Disfungsi motilitas Gastrointestinal (D.0021) Definisi : Peningkatan,penurunan,tidak efektif atau kurangnya aktifitasperistaltik gastrointestinal b.d □ Asupan enteral □ Intoleransi makanan □ Imobilisasi □ Makanan kontaminan □ Malnutrisi □ Pembedahan □ Efek agen farmakolofgis(mis:narkotik/opiate,antibiotic,laksatif,an astesia) □ Proses Kecemasan Tanda dan gejala mayor Subyrktif □ Mengungkapkan flatus tidak ada □ Nyeri/kram abdomen Objektif □ Suara peristaltic berubah( tidak ada,hipoaktif,hiperaktif) Tanda dan gejala minor Subyektif □ Merasa mual Objektif □ Residu lambung menurun/meningkat □ Muntah □ Regurgitasi □ Pengosongan lambung cepat □ Distensi abdomen □ Diare □ feses kering dan susah keluar □ feses keras. Setelah dilakukan tindakan keperawa diharapkamotilitas gastrointestinal me hasil : Motilitas Gastrointestinal (L.03023) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Seda Nyeri Kram abdomen Mual Muntah Regurgitasi Distensi abdomen Diare 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 Meningkat Cukup meningkat Seda Suara peristaltic 1 2 3 Pengosongan lambung 1 2 3 Flatus 1 2 3


29 ERAWATAN BINTAN OTILITAS GASTROINTESTINAL watan (D.0021) an (SLKI) IntervensiKeperawatan (SIKI) tan selama 1x24 jam, embaik dengancriteria Managemen nutrisi(I.03119), Pengontrolan infeksi (I.14551) Observasi □ Identifikasi status nutrisi □ Identifikasi alergi dan intoleransi makanan □ Identifikasi makanan yang disukai □ Identifikasi kebutuhan kaloridan jenis nutrien □ Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik □ Monitor asupan makanan □ Monitor berat badan □ Monitor hasil pemeriksaan laboratorium □ Identifikasi pasien-pasien yang mengalami penyakit infeksi menular Terapeutik □ Lakukan oral hygiene sebelum makan jika perlu □ Fasilitasi menentukan pedoman diet(mis: piramida makanan) □ Sajikan makanan secara menarikatau suhu yang sesuai □ Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi □ Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein □ Berikan suplemen makanan,jika perlu □ Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastric jika asupan oral dapat ditoleransi □ Terapkan kwaspadaan universal(mis: cuci tangan aseptic,gunakan alat pelindung diri) □ Tempatkan pada ruang tekanan positifuntuk pasien yang mengalami imunitas menurun. □ Tempatkan pada ruang isolasi negative pada pasien dengan resiko penularan droplet atau udara. □ Sterilisasi dan desinfektan alat-alat □ Gunakan hepafilterpada area khusus □ Beri tanda pada pasien penyakit khusus. Edukasi □ Anjurkan posisi duduk,jika mampu □ Ajarkan diet yang diprogramkan □ Ajarkan cuci tangan dengan benar □ Ajarkan etika batuk atau bersin Kolaburasi □ Kolaburasi pemberian medikasi sebelum makan(mis:Pereda nyeri,antiemetic)jika perlu □ Kolaburasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kaloridan jenis nutrient yang dibutuhkan,jika perlu ang Cukup meningkat Meningkat 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 ang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : Rencana Asuhan Kepe Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Hipervolemia (D.0022) Definisi : Peningkatan volume cairan intravaskuler, interstisiel, dan/atau intraseluler. b.d □ Gangguan mekanisne regulasi □ Kelebihan asupan cairan □ Kelebihan asupan natrium □ Gangguan aliran balik vena □ Efek agen farmakologis (mis. Kortikosteroid, chlorpropamide, tolbutamide, vincristine, tryptilinescarbamazepine) d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif □ Ortopnea □ Dispnea □ Paroxymal nocturnal dyspnea (PND) Obyektif □ Edema anasarka dan/atau edema perifer □ Berat badan meningkat dalam waktu singkat □ Jugular Venous Pressure (JVP) dan/atau Central Venous □ Refleks hepatojugular positif Minor : Subyektif Obyektif □ Distensi vena jugularis □ Terdengar suara napas tambahan □ Hepatomegali □ Kadar Hb/Ht turun □ Oliguria □ Intake lebih banyak dari output (balans cairan positif) □ Kongesti paru Setelah dilakukan tindakan keperawat diharapkan keseimbangan cairan m hasil: Keseimbangan cairan (L.03020) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Asupan cairan 1 2 Output urin 1 2 Membrane mukosa lembab 1 2 Asupan makanan 1 2 1 2 Meningkat Cukup meningkat Edema 1 2 Asites 1 2 Konfusi 1 2 Memburk Cukup memburuk Tekanan darah 1 2 Frekuensi nadi 1 2 Kekuatan nadi 1 2 Tekanan arteri rata-rata 1 2 Berat badan 1 2


30 ERAWATAN BINTAN HIPERVOLEMIA erawatan (D.0022) awatan Intervensi Keperawatan(SIKI) tan selama 1x24 jam, meningkat dengan kriteria Manajemen hipervolemia (I.03114) Pemantauan cairan (I.03121) Observasi □ Periksa tanda gejala hypervolemia (misalnya ortopnea,dyspnea, edema, suara napas tambahan) □ Identifikasi penyebab hypervolemia □ Monitor status hemodinamik (frekuensi jantung, tekanandarah, MAP) □ Monitor intake ouput cairan □ Monitor tanda hemokonsentrasi □ Monitor tanda peningkatan tekanan osmotik plasma(kadar protein dan albimun meningkat) □ Monitor kecepatan infus secara ketat □ Monitor frekuensi dan kekuatan nadi □ Monitor frekuensi napas □ Monitor tekanan darah □ Monitor berat badan □ Monitor waktu pengisian kapiler □ Monitor elastiisitas atau turgor kulit □ Monitor jumlah, warna dan berat jenis urin □ Monitor kadar albumin dan protein total □ Monitor hasil pemeriksaan serum □ Monitor intake dan output cairan Terapeutik □ Timbang berat badan setiap hari □ Batasi asupan cairan dan garam □ Tinggikan kepala tempat tidur 30-40o □ Identifikasi tanda-tanda hypervolemia □ Identifikasi faktor risiko ketidakseimbangan cairan □ Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi □ Anjurkan melapor haluaran urin <0,5ml/kg/jam dalam 6jam □ Anjurkan melapor jika BB bertambah >1kg dalam sehari □ Ajarkan cara mengukur dan mencatat asupan danhaluaran cairan □ Ajarkan cara membatasi cairan □ Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian diuretic □ Kolaborasi penggantian kehilangan kalium akibat diuretik Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN BI DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RencanaAsuhanKepe Diagnosis Keperawatan (SDKI) LuaranKeperawata HIPOVOLEMIA (D.0023) Definisi : Penurunan volume cairan intra vaskuler, interstisiil, dan atau intraseluler b.d □ Kehilangan cairan aktif □ Kegagalan mekanisme regulasi □ Peningkatan permeabilitas kapiler □ Kekurangan intake cairan □ Evaporasi d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif □ Tidak tersedia Obyektif □ Frekuensi nadi meningkat □ Nadi teraba lemah □ Tekanan darah menurun □ Tekanan nadi menyempit □ Turgor kulit menurun □ Membran mukosa kering □ Volume urine menurun □ Hematokrit meningkat Minor : Subyektif □ Merasa lelah □ Menegluh haus Setelah dilakukan tindakan keperawatan volume cairan adekuat atau memba Hipovolemia (L.03028) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Se Kekuatan nadi 1 2 Out put urine 1 2 Membran mukosa lembab 1 2 Pengisian vena 1 2 Meningkat Cukup meningkat Se Orthopnea 1 2 Dyspnea 1 2 Paroxsiymal Nocturnal Dyspnea (PND) 1 2 Edema Anasarka 1 2 Edema perifer 1 2 Berat Badan 1 2 Distensi Vena Jugularis 1 2 Suara napas tambahan 1 2 Kongesti paru 1 2 Perasaan lemah 1 2 Rasa haus 1 2 Konsentrasi urine 1 2 Memburuk Cukup memburuk Se Frekuensi nadi 1 2 Tekanan darah 1 2 Tekanan nadi 1 2 Turgor kulit 1 2 Jugular Venous Pressure (JVP) 1 2


31 ERAWATAN INTAN HIPOVOLEMIA erawatan (D.0023) an (SLKI) IntervensiKeperawatan (SIKI) n selama 1x24 jam, diharapkan aik dengan kriteria hasil : Manajemen Hipovolemik(I.03116) , Manajemen Syok Hipovolemik (I.02050) Observasi □ Periksa tanda dan gejala hipovolemia ( mis. Frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit,turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urine menurun,hematokrit meningkat, haus, lemah) □ Monitor intake dan out put cairan □ Monitor status kardiopulmonaln( frekuensi dan kekuatan nadi, frekuensi nafas, TD, MAP) □ Monitor status oksigenasi ( oksimetri nadi, AGD ) □ Monitor status cairan ( masuk dan haluaran, turgor kulit, CRT ) □ Periksa tingkat kesadaran dan respon pupil □ Periksa seluruh permukaan tubuh terhadap adanya DOTS ( deformitiy / deformitas, open wound/ luka terbuka, tenderness/ nyeri tekan, swelling/ bengkak) Terapeutik □ Hitung kebutuhan cairan □ Berikan posisi modified trendelenburg □ Berikan asupan cairan oral □ Pertahankan jalan nafas paten □ Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen > 94 % □ Persiapan intubasi dan ventilasi mekanis, jika perlu □ Lakukan penekanan langsung ( direct presure ) pada perdarahan eksternal □ Berikan posisi syok ( modified trendelenberg ) □ Pasang jalur IV berukuran besar ( mis.no 14 atau 16) □ Pasang cateter urine untuk menilai produksi urine □ Pasang selang naso gastrikuntuk dekompresi lambung edang Cukup mening kat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 edang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 edang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


Obyektif □ Pengisiian vena menurun Hemoglobin 1 2 3 □ Suhu tubuh meningkat □ Konsentrasi urine meningkat Hematokrit 1 2 3 Central Venous Pressure 1 2 3 □ Berat badan turun tiba-tiba Refluks 1 2 3 Kondisi klinis terkait : □ Penyakit Addison □ Trauma atau perdarahan □ Luka bakar □ AIDS □ Penyakit Crohn hepatojugular Berat Badan 1 2 3 □ Muntah □ Diare Hepatomegali 1 2 3 □ Kolitis Ulseratif □ Hipoalbumenia Oliguria 1 2 3 Intake cairan 1 2 3 Status Mental 1 2 3 Suhu tubuh 1 2 3


32 3 4 5 □ Ambil sample darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit Edukasi □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral □ Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian cairan IV isotonik (mis. Nacl, RL ) □ Kolaborasi pemberian cairan IV IV hipotonis (mis. Glukosa 2,5 %, Nacl 0,4 %) □ Kolaborasi pemberian cairan koloid (mis. Albumin, plasmanate) □ Kolaborasi pemberian produk darah 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : KESIAPAN PENING Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Kesiapan Peningkatan Keseimbangan Cairan (D.0025) Definisi : Pola ekuilibrium antara volume cairan dan komposisi kimia cairan tubuh yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik dan dapat ditingkatkan. b.d □ Gagal jantung □ Sindrom iritasi usus □ Penyakit addison □ Makanan enteral atau parenteral d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif □ Mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan keseimbangan cairan Obyektif □ Membran mukosa lembab □ Asupan makanan dari cairan adekuat untuk kebutuhan harian □ Turgor jaringan baik □ Tidak ada tanda edema atau dehidrasi Minor : Subyektif □ (tidak tersedia) Obyektif □ Urine berwarna kuning bening dengan berat jenis dalam rentang normal □ Haluaran urine sesuai dengan asupan □ Berat badan stabil Setelah dilakukan tindakan keperawat diharapkan keseimbangan cairan m Keseimbangan Cairan (L.03020) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Asupan cairan 1 2 Haluaran urine 1 2 Kelembaban membran mukosa 1 2 Asupan makanan 1 2 Meningkat Cukup meningk at Edema 1 2 Dehidrasi 1 2 Asites 1 2 Konfusi 1 2 Memburuk Cukup membur uk Tekanan darah 1 2 Denyut nadi radial 1 2 Tekanan arteri ratarata 1 2 Membran mukosa 1 2 Mata cekung 1 2 Turgor kulit 1 2 Berat badan 1 2


33 ERAWATAN BINTAN GKATAN KESEIMBANGAN CAIRAN erawatan (D.0025) awatan Intervensi Keperawatan (SIKI) tan selama 1x24 jam, meningkat dengan kriteria hasil : Manajemen cairan (I.03098) Observasi □ Monitor status hidrasi (misal frekuemsi nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian kapiler,kelembabpan mukosa, turgor kulit, tekanandarah) □ Monitor berat badan harian □ Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (misal hematokrit, Na, K, Cl, berat jenis urin, BUN) □ Monitor status hemodinamik ( misal MAP, CVP,PCWP jika tersedia) Terapeutik □ Catat intake output dan hitung balance cairan □ Berikan asupan cairan, sesuai kebutuhan □ Berikan cairan intravena, jika perlu Edukasi □ Anjurkan asupan cairan adekuat Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian diuretik, jika perlu Sedang Cukup mening kat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KEPER RSUD KABUPATEN BIN DIAGNOSIS KEPERAWATAN : KETIDAKSTABIL Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027) Definisi : Variasi kadar glukosa darah naik/turun dari rentang normal b.d Hiperglikemia □ Disfungsi pankreas □ Resistensi insulin □ Gangguan toleransi glukosa darah □ Gangguan glukosa darah puasa Hipoglikemia □ Penggunaan insulin atau obat glikemik oral □ Hiperinsulinemia (misal insulinoma) □ Endokrinopati (misal kerusakan adrenal atau pituitari) □ Disfungsi hati □ Disfungsi ginjal kronis □ Efek agen farmakologis □ Tindakan pembedahan neoplasma □ Gangguan metabolik bawaan (mis. Gangguan penyimpanan lisosomal, galaktosemia, gangguan penyimpanan glikogen) d. Gejala dan tanda: Mayor : Subyektif Hipoglikemia: □ Mengantuk □ Pusing Hiperglikemia □ lelah atau lesu Obyektif Hipoglikemia □ Gangguan koordinasi □ Kadar glukosa dalam darah/ urine rendah Hiperglikemia □ Kadar glukosa dalam darah/urine tinggi Setelah dilakukan tindakan keperawata diharapkan kadar glukosa darah berad dengan kriteria hasil : Kestabilan Kadar Glukosa darah (L.0 KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Koordinasi 1 2 Tingkat kesadaran 1 2 Meningkat Cukup meningka Mengantuk 1 2 Pusing 1 2 Lelah/ lesu 1 2 Rasa lapar 1 2 Gemetar 1 2 Berkeringat 1 2 Mulut kering 1 2 Rasa haus 1 2 Perilaku aneh 1 2 Kesulitan bicara 1 2 Memburuk Cukup memburuk Kadar glukosa dalam darah 1 2 Kadar glukosa dalam urine 1 2 Palpitasi 1 2 Perilaku 1 2 Jumlah urine 1 2


34 RAWATAN NTAN LAN KADAR GLUKOSA DARAH perawatan (D.0027) awatan Intervensi Keperawatan(SIKI) an selama 2x24 jam, da pada rentang normal 03022 ) Manajemen hiperglikemia (I.03115) dan Manajemen hipoglikemia (I.03115) Manajemen hiperglikemia (I.03115) Observasi □ Identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia □ Identifikasi situasi yang menyebabkan kebutuhaninsulin meningkat □ Monitor kadar gula darah □ Monitor tanda dan gejala hiperglikemia (mis. Poliuri,polidipsi, polifagia, pandagan kabur, sakit kepala) □ Monitor intake dan output cairan □ Monitor keton urine, kadar anlisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik, dan frekuensinadi Terapeutik □ Berikan asupan cairan oral □ Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia tetap ada atau memburuk □ Fasilitasi ambulasi jika ada hipotensi ortostatik Edukasi □ Anjurkan menghindari olahraga saat kadar glukosadarah lebih dari 250 mg/dl □ Anjurkan monitor kadar glukosa darah secaramandiri □ Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga □ Ajarkan indikasi dan pentingnya pengujian ketonurine, jika perlu □ Ajarkan pengelolaan diabetes (mis. Penggunaan insulin, obat oral, monitor asupan cairan, penggantian karbohidrat, dan bantuan profesionalkesehatan) Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian insulin □ Kolaborasi pemberian cairan IV □ Kolaborasi pemberian kalium Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 at Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 k Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


Minor : Subyektif Hipoglikemia: □ Palpitasi □ Mengeluh lapar Hiperglikemia: □ Mulut kering □ Haus meningkat □ Jumlah urine meningkat Obyektif Hipoglikemia □ Gemetar □ Kesadaran menurun □ Perilaku aneh □ Sulit bicara □ Berkeringat Hiperglikemia □ Jumlah urine meningkat Kondisi Klinis terkait: □ Diabetes melitus □ Ketoasidosis diabetik □ Hipoglikemia □ Hiperglikemia □ Diabetes gestasional □ Penggunaan kostikosteroid □ Nutrisi parenteral total (TPN)


35 Manajemen Hipoglikemia (I.03115) Observasi □ Identifikasi tanda dan gejala hipoglikemia □ Identifikasi kemungkinan penyebab hipoglikemia Terapeutik □ Berikan karbohidrat sederhana □ Berikan glukagon, jika perlu □ Berikan karbohidrat kompleks dan protein sesuaidiet □ Pertahankan kepatenan jalan nafas □ Pertahankan akses IV □ Hubungi layanan medis darurat, jika perlu Edukasi □ Anjurkan membawa karbohidrat sederhana setiapsaat □ Anjurkan memakai identitas darurat yang tepat □ Anjurkan monitor kadar glukosa darah □ Anjurkan diskusi dengan tim perawatan diabetes tentang penyesuaian program pengobatan □ Jelaskan interaksi antara diet, insulin/ agen oral,dan olahraga □ Ajarkan pengelolaan hipoglikemia (mis. Tanda dan gejala, faktor risiko, dan pengobatan hipoglikemia) □ Ajarkan perawatan mandiri untuk mencegah hipoglikemia (mis.mengurangi insulin/ agen oral dan/ atau meningkatkan asupan makanan untuk berolahraga) Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian dekstrose □ Kolaborasi pemberian glukagon


STANDAR ASUHAN KEPER RSUD KABUPATEN BIN DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RESIK Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Keperawat (SLKI) Resiko Defisit Nutrisi (D.0032) Definisi : Berisiko mengalami asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Dibuktikan dengan □ Ketidakmampuan menelan makanan □ Ketidakmampuan mencerna makanan □ Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien □ Peningkatan kebutuhan metabolisme □ Faktor ekonomi (mis. Finansial tidak mencukupi) □ Faktor psikologis (mis. Stress, keengganan untuk makan) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 nutrisi membaik dengan kriteria hasil : Status nutrisi (L.03030) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Porsi makanan yang dihabiskan 1 2 Kekuatan otot pengunyah 1 2 Kekuatan otot menelan 1 2 Serum albumin 1 2 Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi 1 2 Pengetahuan tentang pilihan makanan yang sehat 1 2 Pengetahuan tentang pilihan minuman yang sehat 1 2 Pengetahuan tentang standar asupan nutrisi yang tepat 1 2 Penyiapan dan penyimpanan makanan yang aman 1 2 Penyiapan dan penyimpanan minuman yang aman 1 2 Sikap terhadap makanan/minuman sesuai dengan tujuan kesehatan 1 2 Meningkat Cukup meningkat Perasaan cepat kenyang 1 2 Nyeri abdomen 1 2 Sariawan 1 2 Rambut rontok 1 2 Diare 1 2 Memburuk Cukup memburuk Berat badan 1 2 Indeks massa tubuh 1 2 Frekuensi makan 1 2 Nafsu makan 1 2 Bising usus 1 2 Tebal lipatan kulit trisep


36 RAWATAN NTAN KO DEFISIT NUTRISI perawatan (D.0032) tan Intervensi Keperawatan(SIKI) 1x24 jam, diharapkan status Manajemen nutrisi (I.03119) Manajemen gangguanmakan (I.03123) Observasi □ Identifikasi status nutrisi □ Identifikasi adanya alergi dan intoleransimakanan □ Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient □ Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastric □ Monitor asupan makanan dan keluarnya makanan dan cairan serta kebutuhan kalori □ Monitor berat badan □ Monitor hasil pemeriksaan laboratorium Terapeutik □ Lakukan oral hygiene sebelum makan □ Fasilitasi menentukn program diet □ Sajikan makanan secara menarik dan suhu yangsesuai □ Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi □ Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein □ Berikan suplemen makanan □ Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastric jika asupan oral dapat ditoleransi □ Timbang berat badan secara rutin □ Diskusikan perilaku makan dan jumlah aktivitasfisik yang sesuai □ Berikan penguatan positif terhadap keberhasilantarget dan perubahan perilaku Edukasi □ Anjurkan posisi duduk, jika mampu □ Ajarkan diet yang diprogramkan □ Anjurkan membuat catatan harian tentangperasaan dan situasi pemicu pengeluaran makanan Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan □ Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan, dan target berat badan Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN BI DIAGNOSIS KEPERAWATAN : Risiko Disfun Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Resiko Disfungsi Motilitas Gastrointestinal (D.0033) Definisi : Resiko peningkatan,penurunan atau tidak efektifnnya aktivitas peristaltic pada sistem gastrointestinal Faktor Resiko: □ Pembedahan abdomen □ Penurunan sirkulasi gastrointestinal □ Intoleransi makanan □ Refluks gastrointestinal □ Imobilitas □ Proses penuan □ Infeksi gastrointestinal □ Efek agen Farmokologis (mis.antibiotik, laksatif, narkotika/opiat) □ Prematuritas □ Kecemasan □ Stres □ Kurangnnya sanitasi pada persiapan makanan Kondisi Klinis Terkait: □ Pembedahan abdomen atau usus □ Malnutrisi □ Anemia □ Kecemasan □ Kanker empedu □ Kolesistektomi □ Infeksi pencernaan □ Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) □ Dialisis peritoneal □ Terapi radiasi □ Multiple organ dysfunction syndrome Setelah dilakukan tindakan keperawa gastrointestinal membaik Motilitas Gastrointestinal (L KRITERIA HASIL Menurun Cukupmenur un se Nyeri 1 2 Kram abdomen 1 2 Mual 1 2 Regurgitasi 1 2 Distensi abdomen 1 2 Diare 1 2 KRITERIA HASIL meningkat Cukup meningkat se Suara peristaltik 1 2 Pengosong an Lambung 1 2 Flatus 1 2


37 ERAWATAN INTAN ngsi Motilitas Gastrointestinal perawatan (D.0033) awatan Intervensi Keperawatan (SIKI) atan selama 1x24 jam, motilitas L.030 23) Edukasi Diet (I.12369) Observasi □ Identifikasi kemampuan pasien dan keluargamenerima informasi □ Identifikasi tingkat pengetahuan saat ini □ Identifikasi kebiasaan pola makan saat ini dan masalalu □ Identifikasi persepsi pasien dan keluarga tentang dietyang diprogramkan □ Identifikasi keterbatasan finansial untukmenyediakan makan Terapeutik □ Persiapan materi media dan alat peraga □ Jadwalkan waktu yang tepat untuk memberikanpendidikan kesehatan □ Berikan kesempatan pasien dan keluarga bertanya □ Sediakan rencana makanan tertulis, jika perlu Edukasi □ Jelaskan tujuan kepatuhan diet terhadap kesehatan □ Informasikan makanan yang diperbolehkan dan dilarang □ Informasikan kemungkinan interaksi obat danmakanan, jika perlu □ Ajurkan mempertahankan posisi semi fowler (30- 40derajat) 20-30 menit setelah makan □ Anjurkan mengganti bahan makanan sesuai dengandiet yang diprogramkan □ Ajurkan melakukan olahraga sesuai toleramsi □ Ajarkan cara membaca label dan memilih makananyang sesuai □ Ajarkan cara merencanakan makanan yang sesuaiprogram □ Rekomendasi resep makanan yang sesuai dengan diet,jika perlu Kolaborasi □ Rujuk keahli gizi dan sertakan keluarga, jika perlu dang Cukup meningkat meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 edang Cukup menurun menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN BI DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RISI RencanaAsuhanKepe Diagnosis Keperawatan (SDKI) LuaranKeperawat RISIKO HIPOVOLEMIA (D.0034) Definisi : Berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskuler, intertisial, dan/atau intraseluler. Faktor risiko □ Kehilangan cairan secara aktif □ Gangguan absorbs cairan □ Usia lanjut □ Kelebihan berat badan □ Status hipermetabolik □ Kegagalan mekanisme regulasi □ Evaporasi □ Kekurangan intake cairan □ Efek agen farmakologis Kondisi klinis terkait : □ Penyakit Addison □ Trauma/perdarahan □ Luka bakar □ AIDS □ Penyakit Crohn □ Muntah □ Diare □ Kolitis ulseratif Setelah dilakukan tindakan keperawata status cairan membaik dengan kriter Status cairan (L.03028) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun S Kekuatan nadi 1 2 Out put urine 1 2 Membran mukosa lembab 1 2 Pengisian vena 1 2 Meningkat Cukup meningkat S Orthopnea 1 2 Dyspnea 1 2 Paroxsiymal Nocturnal Dyspnea (PND) 1 2 Edema Anasarka 1 2 Edema perifer 1 2 Berat Badan 1 2 Distensi Vena Jugularis 1 2 Suara napas tambahan 1 2 Kongesti paru 1 2 Perasaan lemah 1 2 Rasa haus 1 2 Konsentrasi urine 1 2 Memburuk Cukup memburuk S Frekuensi nadi 1 2 Tekanan darah 1 2 Tekanan nadi 1 2 Turgor kulit 1 2 Jugular Venous Pressure (JVP) 1 2 Hemoglobin 1 2 Hematokrit 1 2


38 ERAWATAN INTAN IKO HIPOVOLEMIA erawatan (D.0034) tan (SLKI) IntervensiKeperawatan (SIKI) n selama 1x24 jam,diharapkan ria hasil : Manajemen Hipovolemik (I.03116),Pemantauan cairan (I.03121) Observasi □ Periksa tanda dan gejala hipovolemia ( mis. Frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urine menurun,hematokrit meningkat, haus, lemah) □ Monitor intake dan out put cairan □ Monitor frekuensi dan kekuatan nadi □ Monitor frekuensi napas □ Monitor tekanan darah □ Monitor berat badan □ Monitor waktu pengisian kapiler □ Monitor elastisitas atau turgor kulit □ Monitor jumlah, warna dan berat jenis urin □ Monitor kadar albumin dan protein total □ Monitor hasil pemeriksaan serum (mis. osmolaritasserum, hematocrit, natrium, kalium) □ Identifikasi faktor risiko ketidakseimbangan cairan Terapeutik □ Hitung kebutuhan cairan □ Berikan posisi modified trendelenburg □ Berikan asupan cairan oral □ Atur interval waktu pemantauan sesuai kondisipasien □ Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral □ Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak □ Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan □ Informasikan hasil pemantauan Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


Central Venous Pressure 1 2 Refluks hepatojugular 1 2 Berat Badan 1 2 Hepatomegali 1 2 Oliguria 1 2 Intake cairan 1 2 Status Mental 1 2 Suhu tubuh 1 2


39 3 4 5 Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian cairan IV isotonik (mis. Nacl RL ) □ Kolaborasi pemberian cairan IV IV hipotonis (mis.Glukosa 2,5 %, Nacl 0,4 %) □ Kolaborasi pemberian cairan koloid (mis. Albumin,plasmanate) □ Kolaborasi pemberian produk darah 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KEPER RSUD KABUPATEN BINTAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RESIKO KET Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Resiko ketidakseimbangan cairan (D.0008) Definisi : Berisiko mengalami penurunan, peningkatan atau percepatan perpindahan cairan dari intravaskuler, interstisial atau intraselular Dibuktikan dengan □ Prosedur pembedahan mayor □ Trauma/perdarahan □ Luka bakar □ Aferesis □ Asites □ Obstruksi intestinal □ Peradangan pancreas □ Penyakit ginjal dan kelenjar □ Disfungsi intestinal Setelah dilakukan tindakan keperawat diharapkan keseimbangan cairan m Keseimbangan cairan (L.03020) KRITERIA HASIL Menuru n Cukup menuru n Asupan cairan 1 2 Output urin 1 2 Membrane mukosa lembab 1 2 Asupan makanan 1 2 1 2 Mening kat Cukup mening kat Edema 1 2 Dehidrasi 1 2 Asites 1 2 Konfusi 1 2 Membur uk Cukup membu ruk Tekanan darah 1 2 Frekuensi nadi 1 2 Kekuatan nadi 1 2 Tekanan arteri rata-rata 1 2 Berat badan 1 2


40 RAWATAN N TIDAKSEIMBANGAN CAIRAN perawatan (D.0036) awatan Intervensi Keperawatan (SIKI) tan selama 1x24 jam, meningkat dengan kriteria hasil : Manajemen cairan (I.03098) Pemantauan cairan (I.03121) Observasi □ Monitor status hidrasi (membran mukosa lembab, denyutnadi adekuat, takanan darah ortostatik) □ Monitor hasil laboratorium yang relevan dengan retensicairan □ Monitor status hemodinamik □ Monitor tanda vital □ Monitor indikasi kelebihan cairan/retensi □ Monitor status gizi □ Monitor apakah pasien mengalami kekurangan cairan □ Kaji kapilary refil □ Kaji turgor kulit □ Monitor berat badan □ Monitor asupan dan pengeluaran □ Monitir kadar serum dan elektrolit urin □ Monitor kadar albumin dan protein total □ Monitor tekanan darah, denyut jantung, dan statuspernafasan Terapeutik □ Hitung atau timbang popok dengan baik □ Timbang berat badan setiap hari dan monitor status pasien □ Jaga intake asupan yang akurat dan catat output □ Tentukan jumlah dan jenis intake/asupan cairan sertakebiasaan eliminasi □ Tentukan faktor resiko yang mungkin menyebabkan ketidakseimbangan cairan Edukasi Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian cairan intravena Sedan g Cukup mening kat Mening kat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedan g Cukup menuru n Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedan g Cukup membai k Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RESIKO KETID Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Keperaw (SLKI) Risiko ketidakseimbangan elektrolit (D.0037) Definisi : Berisiko mengalami perubahan kadar serum elektrolit Dibuktikan dengan : □ Ketidakseimbangan cairan (mis. Dehidrasi dan intoksikasi air) □ Kelebihan volume cairan □ Gangguan mekanisme regulasi (mis. Diabetes) □ Efek samping prosedur (mis. Pembedahan) □ Diare □ Muntah □ Disfungsi ginjal □ Disfungsi regulasi endokrin Setelah dilakukan tindakan keperawatan se diharapkan keseimbangan elektrolit men hasil : Keseimbangan elektrolit (L.03021) KRITERIA HASIL Membur uk Cukup membu ruk Se Serum natrium 1 2 Serum kalium 1 2 Serum klorida 1 2 Serum kalsium 1 2 Serum magnesium Serum fosfor 1 2


41 ERAWATAN BINTAN DAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT perawatan (D.0037) watan Intervensi Keperawatan (SIKI) elama 1x24 jam, ningkat dengan kriteria Pemantauan elektrolit (I.03122) Manajemen elektrolit (I.03102) Observasi □ Identifikasi penyebab ketidakseimbangan elektrolit □ Monitor kadar elektrolit serum □ Monitor mual muntah dan diare □ Monitor kehilangan cairan □ Monitor tanda dan gejala hypokalemia (kelemahan otot, interalQT memanjang, gelombat T datar atau terbailk, depresi segmen ST, gelombang U, parestesia, penurunan reflex, anoreksia, kosntipasi, motilitas usus menurun, pusing, dperesi pernapasan) □ Monitor tanda gejala hyperkalemia ( peka rangsang, gelisah, mual, muntah, takikardia mengarah bradikardia, fibrilasi/takikardia ventrikel, gelombang T tinggi, gelombang P datar, kompleks QRS tumpul, blok jantung mengarah asistol) □ Monitor tanda gejala hiponatremia (disorientasi, otot berkedut,sakit kepala, membrane mukosa kering, hipotensi postural, kejang, letargi, penurunan kesadaran) □ Monitor tanda gejala hipertantermia (haus, demam, mual muntah, gelisah, peka rangsang, membrane mukosa kering,takikardia, hipotensi, letargi, konfusi, kejang) □ Monitor tanda gejala hipokalsemia (peka rangsang, tanda chvostek/spasme otot wajah, tanda trousseau/spasme karpal,kram otot, interval QT memanjang) □ Monitor tanda gejala hiperkalsemia (nyeri tulang, haus, anoreksia, letargi, kelemahan otot, segmen QT memendek, gelombang T lebar, kompleks QRS lebar, intervalPR memanjang) □ Monitor tanda gejala hipomagnesia (depresi pernapasan, apatis, tanda Vhvostek, tanda Trousseau, konfusi, disritmia) □ Monitor tanda gejala hipermagnesia(kelemahan otot, hiporefleks, bradikardia, depresi SSP, letargi, koma) □ Monitor adanya nilai abnormal elektrolit □ Monitor manifestasi klinis ketidakseimbangan elektrolit (perut kembung, kejang) □ Monitor adanya kehilangan carian elektrolit □ Catat intake output cairan Terapeutik □ Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien □ Pertahankan akses intravena Edukasi □ Dokumentasikan hasil pemantauan □ Informasikan hasil pemantauan Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian cairan intravena berisi elektrolit □ Kolaborasi pemberian suplemen elektrolit dan g Cukup membai k Membai k 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KEP RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RISIKO KETID DARAH Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0038) Definisi : Risiko terhadap variasi kadar glukosa darah dari rentang normal. Faktor risiko: □ Kurang terpapar informasi tentang manajemen diabetes □ Ketidaktepatan pemantauan glukosa darah □ Kurang patuh pada rencana manajemen diabetes □ Manajemen medikasi tidak terkontrol □ Kehamilan □ Periode pertumbuhan cepat □ Stress berlebihan □ Penambahan berat badan □ Kurang dapat menerima diagnosis Kondisi klinis terkait □ Diabetes militus □ Ketoasidosis diabetik □ Hipoglikemia □ Diabetes gestasional □ Penggunaan kortikosteroid □ Nutrisi parenteral total (TPN) Setelah dilakukan tindakan kep diharapkan kestabilan kadar glukos kriteria hasil : Kestabilan Kadar Glukosa darah (L.0 KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Koordinasi 1 2 Tingkat kesadaran 1 2 Meningkat Cukup meningkat Mengantuk 1 2 Pusing 1 2 Lelah/ lesu 1 2 Rasa lapar 1 2 Gemetar 1 2 Berkeringat 1 2 Mulut kering 1 2 Rasa haus 1 2 Perilaku aneh 1 2 Kesulitan bicara 1 2 Memburuk Cukup memburuk Kadar glukosa dalam darah 1 2 Kadar glukosa dalam urine 1 2 Palpitasi 1 2 Perilaku 1 2 Jumlah urine 1 2


42 PERAWATAN BINTAN DAKSTABILAN KADAR GLUKOSA perawatan (D.0038) awatan Intervensi Keperawatan(SIKI) perawatan selama 1x24 jam, sa darah meningkat dengan 03022 ) Manajemen hiperglikemia (I.03115) dan Manajemen hipoglikemia (I.03115) Manajemen hiperglikemia (I.03115) Observasi □ Identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia □ Identifikasi situasi yang menyebabkan kebutuhaninsulin meningkat □ Monitor kadar gula darah □ Monitor tanda dan gejala hiperglikemia (mis. Poliuri,polidipsi, polifagia, pandagan kabur, sakit kepala) □ Monitor intake dan output cairan □ Monitor keton urine, kadar anlisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik, dan frekuensinadi Terapeutik □ Berikan asupan cairan oral □ Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejalahiperglikemia tetap ada atau memburuk □ Fasilitasi ambulasi jika ada hipotensi ortostatik Edukasi □ Anjurkan menghindari olahraga saat kadar glukosadarah lebih dari 250 mg/dl □ Anjurkan monitor kadar glukosa darah secaramandiri □ Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga □ Ajarkan indikasi dan pentingnya pengujian keton urine, jika perlu □ Ajarkan pengelolaan diabetes (mis. Penggunaan insulin, obat oral, monitor asupan cairan, penggantian karbohidrat, dan bantuan profesionalkesehatan) Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian insulin □ Kolaborasi pemberian cairan IV □ Kolaborasi pemberian kalium Sedang Cukup mening kat Meningkat 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


43 Manajemen Hipoglikemia (I.03115) Observasi □ Identifikasi tanda dan gejala hipoglikemia □ Identifikasi kemungkinan penyebab hipoglikemia Terapeutik □ Berikan karbohidrat sederhana □ Berikan glukagon, jika perlu □ Berikan karbohidrat kompleks dan protein sesuaidiet □ Pertahankan kepatenan jalan nafas □ Pertahankan akses IV □ Hubungi layanan medis darurat, jika perlu Edukasi □ Anjurkan membawa karbohidrat sederhana setiapsaat □ Anjurkan memakai identitas darurat yang tepat □ Anjurkan monitor kadar glukosa darah □ Anjurkan diskusi dengan tim perawatan diabetestentang penyesuaian program pengobatan □ Jelaskan interaksi antara diet, insulin/ agen oral,dan olahraga □ Ajarkan pengelolaan hipoglikemia (mis. Tanda dangejala, faktor risiko, dan pengobatan hipoglikemia) □ Ajarkan perawatan mandiri untuk mencegah hipoglikemia (mis.mengurangi insulin/ agen oral dan/ atau meningkatkan asupan makanan untuk berolahraga) Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian dekstrose □ Kolaborasi pemberian glukagon


STANDAR ASUHAN KEP RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Keperawa Risiko Syok (D.0039) Definisi : Berisiko mengalami ketidakcukupan aliran darah ke jaringan tubuh, yang dapat mengakibatkan disfungsi seluler yang mengancam jiwa Dibuktikan dengan: □ Hipoksemia □ Hipoksia □ Hipotensi □ Kekurangan volume cairan □ Sepsis □ Sindrom respons inflamasi sistemik (systemic inflammatory response syndrome/ SIRS) Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat syok menurun denga Tingkat syok (L.03032) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Kekuatan nadi 1 2 Output urin 1 2 Tingkat kesadaran 1 2 Saturasi oksigen 1 2 Meningkat Cukup meningkat Akral dingin 1 2 Pucat 1 2 Rasa haus 1 2 Konfusi 1 2 Letargi 1 2 Asidosis metabolic Memburuk Cukup memburuk Tekanan arteri rata-rata 1 2 Tekanan darah sistolik 1 2 Tekanan darah diastolic 1 2 Tekanan nadi 1 2 Pengisian kapiler 1 2 Frekuensi nadi 1 2 Frekuensi napas 1 2


44 ERAWATAN BINTAN : RISIKO SYOK perawatan (D.0039) tan(SLKI) Intervensi Keperawatan (SIKI) selama 1x24 jam, an kriteria hasil : Pencegahan syok (I.02068) Pemantauan cairan (I.03121) Observasi □ Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dan kekuatan nadi, frekuensi napas, TD, MAP) □ Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD) □ Monitor status cairan (masukan haluaran, turgor kulit, CRT) □ Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil □ Periksa riwayat alergi □ Monitor frekuensi dan kekuatan nadi □ Monitor frekuensi napas □ Monitor tekanan darah □ Monitor berat badan □ Monitor waktu pengisian kapiler □ Monitor elastisitas atau turgor kulit □ Monitor jumlah, warna dan berat jenis urin □ Monitor kadar albumin dan protein total □ Monitor hasil pemeriksaan serum □ Monitor intake dan output cairan □ Identifikasi tanda-tanda hypovolemia □ Identifikasi tanda-tanda hypervolemia □ Identifikasi factor risiko ketidakseimbangan cairan Terapeutik □ Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >94% □ Persiapan intubasi dan ventilasi mekanis, jika perlu □ Pasang jalur IV, jika perlu □ Pasang kateter urine untuk menilai produksi urine, jika perlu □ Lakukan skin test untuk mencegah reaksi alergi □ Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien □ Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi □ Jelaskan penyebab/factor risiko syok □ Jelaskan tanda dan gejala awal syok □ Anjurkan melapor jika menemukan/merasakan tanda gejala awal syok □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral □ Anjurkan menghindari allergen □ Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan □ Informasikan hasil pemantauan, jika perlu Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian IV, jika perlu □ Kolaborasi pemberian transfuse darah, jika perlu □ Kolaborasi pemberian antiinflamasi, jika perlu Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


STANDAR ASUHAN KEP RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : GANGG Rencana Asuhan Keperaw Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Keperawa (SLKI) Gangguan Eliminasi Urin (D.0040) Definisi : Disfungsi eliminasi urin b.d □ Penurunan kapasitas kandung kemih □ Iritasi kandung kemih □ Penurunan kemampuan menyadari tanda-tanda gangguan kandung kemih □ Efek tindakan medis dan diagnostik ( misal. Operasi ginjal, operasi saluran kemih, anasthesi, dan obatobatan □ Kelemahan otot pelvis □ Ketidakmampuan mengakses toilet ( Mis. Imobilisasi ) □ Hambatan lingkungan □ Ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan eliminasi □ Outlet kandung kemih tidak lengkap ( mis. Anomali saluran kemih kongenital ) □ Imaturitas ( pada anak usia < 3 tahun) d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif □ desakan berkemih ( urgensi ) □ urine menetes ( dribbling ) □ sering buang air kecil □ nokturia □ mengompol □ enuresis Obyektif □ Distensi kandung kemih □ Berkemih tidak tuntas ( hesitancy) □ Volume residu urine meningkat Setelah dilakukan tindakan keperawatan se pengosongan kandung kemih yang leng Eliminasi urine (L.04034) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Sed Sensasi berkemih 1 2 Meningkat Cukup meningkat Se Desakan berkemih ( urgensi ) 1 2 Distensi kandung kemih 1 2 Berkemih tidak tuntas ( hesitancy ) 1 2 Volume residu urine 1 2 Urine menetes ( dribbling) 1 2 Nocturia 1 2 Mengompol 1 2 Enuresis 1 2 Diuria 1 2 Anuria 1 2 Memburuk Cukup membur uk Se Frekuensi BAK 1 2 Karakteristik Urine 1 2


45 ERAWATAN BINTAN GUAN ELIMINASI URINE watan (D.0040) atan Intervensi Keperawatan (SIKI) elama 1x24 jam, diharapkan gkapt dengankriteria hasil : Manajemen eliminasi urine (I.04152), latihanberkemih (I.04149 ) Observasi □ Identifikasi tanda dan gejala retensi atau inkontinensia urine □ Identifikasi faktor yang menyebabkan retensiatau inkontinensia urine □ Monitor eliminasi urine ( misal, frekuensi, konsistensi, aroma, volume, dan warna □ Periksa kembali penyebab gangguan berkemih( kognitif, kehilangan ektremitas/fungsi ekstremitas, kehilangan penglihatan ) Terapeutik □ Catat waktu-waktu dan haluaran berkemih □ Batasi asupan cairan, jika diperlukan □ Ambil sampel urine tengah ( Midstrem ) ataukultur □ Hindari penggunaan kateter indweling □ Siapkan area toilet yang aman □ Sediakan peralatan yang dibutuhkan dekat dan mudah dijangkau ( mis. Kursi komede, pispot, urinal ) Edukasi □ Ajarkan tanda dan gejala infeksi salurankemih □ Ajarkan mengukur asupan cairan danhaluaran urine □ Ajarkan mengambil spesimen urine midstrem □ Ajarkan mengenali tanda berkemih dan waktuyang tepat untuk berkemih □ Ajarkan terapi modalitas penguatan otot-otot panggul/berkemih □ Anjurkan minum yang cukup, jika tidak ada kontraindikasi □ Anjurkan mengurangi minum menjelang tidur ang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 edang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 edan g Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5


Minor : Subyektif ( tidaktersedia ) Obyektif □ ( tidak tersedia ) Kondisi Klinis Terkait □ Infeksi ginjal dan saluran kemih □ Hiperglikemia □ Trauma □ Kanker □ Cedera/tumor/infeksi medulaspinalis □ Neuropati diabetik □ Neuropati alkoholik □ Stroke □ Parkinson


Click to View FlipBook Version