21 ERAWATAN BINTAN erfusi perifer tidak efektif perawatan (D.0015) LKI) Intervensi Keperawatan (SIKI) selama 1x24 jam,diharapkan iteria hasil: Pencegahan Syok (I.02068), Perawatan sirkulasi (I.02079) Observasi □ Monitor status kardiopulmonal(frekuensi dan kekuatan nadi,frekuensi napas,TD,MAP,) □ Monitor status oksigenasi(oksimetri nadi,AGD) □ Monitor Status cairan(masukan dan haluaran,turgor kulit,CRT) □ Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil □ Periksa riwayat alergi □ Periksa nadi perifer 9mis: nadi perifer,edema,pengisian kapiler,warna,suhu,ABI) □ Identifikasi factor resiko (mis DM, perokok,orang tua,hipertensi,kolesterol tinggi) □ Monitor panas,nyeri,atau bengkak,pada ekstremitas Terapeutik □ Berikan oksigen untuk mempertahankan sirkulasioksigen □ >94% □ Persiapan intubasi dan ventilasi mekanis,jika perlu □ Pasang jalur IV,jika perlu □ Pasang kateter urin untuk menilai produksi urin,jika perlu □ Lakukan skintest untuk mencegah reaksi alergi □ Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah pada daerah keterbatasan perfusi. □ Hindari pengukuran tekanan darah pada daerah keterbatasan perfusi. □ Lakukan pencegahan infeksi. □ Lakukan perawatan kaki dan kuku. Edukasi □ Jelaskan penyebab/factor resiko syok □ Jelaskan tanda dan gejala awal syok □ Anjurkan melapor jika menemukan/merasakan tanda dan gejala awal syok □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral □ Anjurkan berhenti merokok □ Anjurkan berolahraga rutin □ Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan ( mis: rasa sakit yang tidak hilang,luka tidak sembuh) Kolaborasi □ Kolaburasi pemberian IV jika perlu □ Kolaborasi pemberian tranfusi darah,jika perlu □ Kolaburasi pemberian anti inflamasi jika perlu g Cukup meningkat Meningkat 4 4 4 5 5 5 g Cukup menurun Menurun 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 g Cukup membaik Membaik 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5
STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPAATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RISIKO PERF Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Risiko perfusi renal tidak efektif (D.0016) Definisi : Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke ginjal. Dibuktikan dengan □ Kekurangan volume cairan □ Embolisme vaskuler □ Vaskulitis □ Hipertensi □ Disfungsi ginjal □ Hiperglikemia □ Keganasan □ Pembedahan jantung □ Bypass kardiopulmonal □ Hipoksemia □ Hipoksia □ Asidosis metabolic □ Trauma □ Sindrom kompartemen abdomen □ Luka bakar □ Sepsis □ Sindrom respon inflamasi sistemik □ lanjut usia □ Merokok □ Penyalahgunaan zat Setelah dilakukan tindakan keperawata Perfusi renal meningkat dengan krite Perfusi renal (L.02013) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menuru Jumlah urin 1 2 Meningkat Cukup meningk Nyeri abdomen 1 2 Mual 1 2 Muntah 1 2 Distensi abdomen 1 2 Memburuk Cukup memburu Tekanan darahratarata 1 2 Kadar urea nitrogen darah 1 2 Kadar kreatinin plasma 1 2 Tekanan darah sistolik 1 2 Tekanan darah diastolic 1 2 Kadar elektrolit 1 2 Keseimbangan asam basa 1 2 Bising usus 1 2 Fungsi hati 1 2
22 ERAWATAN BINTAN FUSI RENAL TIDAK EFEKTIF perawatan (D.0016) n Keperawatan (SLKI) Intervensi Keperawatan (SIKI) an selama 1x 24 jam,diharapkan eria hasil : Pencegahan syok (I.02068) Observasi □ Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dankekuatan nadi, frekuensi napas, TD, MAP □ Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD) □ Monitor status cairan (masukan dan haluaran,turgor kulit, CRT) □ Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil □ Periksa riwayat alergi Terapeutik □ Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasioksigen >94% □ Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis □ pasang jalur IV □ Pasang kateter urin untuk menilai produksi urin □ Lakukan skintest untuk mencegah reaksi alergi Edukasi □ jelaskan penyabab/faktoir risiko syok □ Jelaskan tanda dan gejala awal syok □ Anjurkan melapor jika menemukan/merasakantanda dan gejala awal syok □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian IV □ Kolaborasi pemberian transfuse darah □ Kolaborasi pemberian antiinflamasi un Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 kat Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 uk Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KE RSUD KABUPATEN DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RISIKO PERFU Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) RISIKO PERFUSI SEREBRAL TIDAK EFEKTIF (D.0017) Definisi : Beresiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak. Faktor resiko □ Keabnormalan masa protrombin darah ataumasa tromboplastin parsial □ Penurunan kinerja ventrikel kiri □ Arterosklerosisi aorta □ Diseksi arteri □ Fibrilasi atrium □ Tumor otak □ Stenosis karotis □ Miksoma atrium □ Aneurisma serebri □ Koagulopati(mis anemia sel sabit) □ Dilatasi kardiomiopati □ Koagulasi intravaskuler diseminata □ Embolisme □ Cedera kepala □ Hiperkolesterolemia □ Hipertensi □ Endokarditis infektif □ Katup prostetik mekanis □ Stenosis mitral □ Neoplasma otak □ Infark miokard akut □ Sindrom sick sinus □ Penyalahgunaan zat □ Terapi trombolitik □ Efek samping tindakan (mis tindakan operasi by pass) Kondisi Klinis terkait : □ Stroke □ Cedera kepala Setelah dilakukan tindakan keperawata diharapkan Perfusi cerebral meningkat Perfusi Serebral (L.0214 KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Tingkat kesadaran 1 2 Kognitif 1 2 Meningkat Cukup Meningkat Sakit kepala 1 2 Gelisah 1 2 Kecemasan 1 2 Agitasi 1 2 Demam 1 2 Memburuk Cukup memburuk Tekanan arteri ratarata 1 2 Tekanan intrakranial 1 2 Tekanan darah sistolik 1 2 Tekanan darah diastolik 1 2 Refleks saraf 1 2
23 EPERAWATAN N BINTAN USI SEREBRAL TIDAK EFEKTIF perawatan (L.0017) awatan Intervensi Keperawatan (SIKI) n selama X jam, dengan kriteria hasil : 4) Manajemen peningkatan tekanan intrakranial(I.06194) Observasi □ Identifikasi penyebab peningkatan TIK (mis lesi gangguan metabolisme, edema sebral) □ Monitor tanda/ gejala peningkatan TIK ( mis tekanan darah meningkat, tekanan nadi melebar, bradicardia, pola napas ireguler, kesadaran menurun) □ Monitor MAP (mean arterial presure) □ Monitor CVP (Central Venous presure), jika perlu □ Monitor PAWP, jika perlu □ Monitor PAP, jika perlu □ monitor ICP (intra cranial presure) jika tersedia □ Monitor CPP (cerebral perfusion presure) □ Monitor gelombang ICP □ Monitor setatus pernapasan □ Monitor intake dan output cairan □ Monitor cairan serobro-spinalis (mis warna, konsistensi) Terapeutik □ Minimalkan stimulus dengan menyediakan lingkungan yang tenang □ Berikan posisi semi fowler □ Hindari manuver valsava □ Cegah terjadinya kejang □ Hindari penggunaan PEEP □ Hindari pemberian cairan iv hipotonik □ atur ventilator agar PaCO2 optimal □ Pertahankan suhu tubuh normal Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian sedasi dan anti konvulsan, jikaperlu □ Kolaborasi pemberian diuretik osmosis, jika perlu □ Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika perlu Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
□ Aterosklerotik aortik □ Infark Miokard Akut □ Diseksi arteri □ Embolisme □ Endokarditis Infektif □ Fibrilasi atrium □ Hiperkolesterolemia □ Hipertensi □ Dilatasi kardiomiopati □ Koagulasi intravaskuler diseminata □ Miksoma atrium □ Neoplasma otak □ Segmen ventrikel kiri akinetik □ Sindrom sick sinus □ Stenosis karotid □ Stenosis mitral □ Hidrosefalus □ Infeksi otak (mis meningitis, ensefalitis, abses serebri)
24
STANDAR ASUHAN KEP RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : D Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Keperawa (SLKI) Defisit Nutrisi (D.0019) Definisi : Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. b.d □ Kurangnya asupan makanan □ Ketidakmampuan menelan makanan □ Ketidakmampuan mencerna makanan □ Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien □ Peningkatan kebutuhan metabolisme □ Faktor ekonomi (mis. Finansial tidak mencukup) □ Faktor psikologis (mis. Stress, keengganan untuk makan) d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif Obyektif □ Bera badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal Minor : Subyektif □ Cepat kenyang setelah makan □ Kram/nyeri abdomen □ Nafsu makan menurun Obyektif □ Bising usus hiperaktif Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan status nutrisi membaik den Status nutrisi (L.03030) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Porsi makanan yang dihabiskan 1 2 Kekuatan otot pengunyah 1 2 Kekuatan otot menelan 1 2 Serum albumin 1 2 Verbalisasi keinginan untuk meningkatkannutrisi 1 2 Pengetahuan tentang pilihanmakanan yang sehat 1 2 Pengetahuan tentang pilihanminuman yang sehat 1 2 Pengetahuan tentang standarasupan nutrisi yang tepat 1 2 Penyiapan dan penyimpanan makanan yangaman 1 2 Penyiapan dan penyimpanan minuman yang aman 1 2 Sikap terhadap makanan/minuman sesuai dengan tujuan kesehatan 1 2
25 ERAWATAN BINTAN DEFISIT NUTRISI perawatan (D.0019) atan Intervensi Keperawatan (SIKI) selama 1x24 jam, gan kriteria hasil : Manajemen nutrisi (I.03119) Pemantauan nutrisi (I.03123), Pemberian makanan (I.03125), Pemberianmakanan parenteral (I.03127) Observasi □ Identifikasi status nutrisi □ Identifikasi adanya alergi dan intoleransi makanan □ Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient □ Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik □ Monitor asupan makanan □ Monitor berat badan □ Monitor hasil pemeriksaan laboratorium □ Identifikasi faktor yang mempengaruhi asupan gizi □ Identifikasi perubahan berat badan □ Identifikasi pola makan □ Identifikasi kemampuan menelan □ Identifikasi kelainan eliminasi (diare) □ Monitor mual muntah □ Monitor asupan oral □ Monitor warna konjungtiva □ Monitor hasil laboratorium □ Identifikasi makanan yang diprogramkan □ Identifikasi kemampuan menelan □ Monitor kebocoran, infeksi, dan komplikasi metabolik (hiperlipidemia, peningkatan kadar trigliserida, trombositopenia, disfungsi platelet) □ Cek cairan nutrisi total parenteral untuk meyakinkan bahwa jenis nutrisi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien □ Monitor berat badan setiap hari □ Monitor masukan dan output cairan □ Monitor kadar albumin, protein total, alektrolit, profillipid, glukosa darah, kimia darah. □ Monitor urin apakah mengandung glukosa, benda keton, dan protein Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
□ Otot pengunyah lemah □ Otot menelan lemah □ Membran mukosa pucat □ Sariawan □ Serum albumin turun □ Rambut rontok berlebihan □ Diare Meningkat Cukup meningkat Sedan Perasa an cepat kenyan g 1 2 3 Nyeri abdomen 1 2 3 Sariawan 1 2 3 Rambut rontok 1 2 3 Diare 1 2 3 Memburuk Cukup memburuk Sedan Berat badan 1 2 3 Indek masa tubuh 1 2 3 Frekuensi makan 1 2 3 Nafsu makan 1 2 3 Bising usus 1 2 3 Tebal lipatan kulittrisep 1 2 3
26 ng Cukup menuru n Menuru n 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 n g Cukup membai k Membai k 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 Terapeutik □ Lakukan oral hygiene sebelum makan □ Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai □ Timbang berat badan □ Ukur antropometrik komposisi tubuh □ Periksa mulut untuk residu pada akhir makan □ Lakukan kebersihan tangan dan mulut sebelum makan □ Sediakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan □ Berikan posisi duduk atau semi fowler saat makan □ Berikan makanan hangat □ Sediakan sedotan □□ Pertahankan teknik steril ketika mempersiapkan dan memberikan cairan nutrisi total parenteral □ Lakukan perawatan rutin aseptik pada akses vena sentral □ Pertahankan kecepatan aliran yang konstan □ Pertahankan intake nutrisi per oral walaupun sedikit ketika memungkinkan □ Dorong pemberian nutrisi bertahap, dari parenteral menuju enteral, sesuai indikasi □ Pertahankan pencegahan infeksi Edukasi □ Informasikan hasil pemantauan □ Anjurkan orang tua atau keluarga membantu memberi makan kepada pasien Kolaborasi □ Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan □ Pastikan insersi intravena cukup paten untuk pemberian nutrisi intravena (pemasangan infus sentral) □ Gunakan infus sentral hanya untuk cairanhiperosmolar atau nutrisi berkalori tinggi (seperti 10%dextrose, 2% asam amino) □ Yakinkan cairan nutrisi total parenteral yang dimasukkan bukan melalui infus sentral mempunyai osmolaritas kuang dari 900mOSml/L □ Pasang infus intravena sentral □ Pertahankan kepatenan jalur infus sentral
STANDAR ASUH KEPERAWATAN R KABUPATEN BINT DIAGNOSIS KEPERAWATA Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Diare (D.0020) Definisi : Pengeluaran feses yang sering, lunak dan tidak berbentuk. b.d Fisiologi □ Inflamasi gastrointestinal □ Iritasi gastrointestinal □ Proses infeksi □ malabsorpsi Psikologis □ Kecemasan □ Tingkat stress tinggi Situasional □ Terpapar kontaminan □ Terpapar toksin □ Penyalahgunaan laksatif □ Penyalahgunaan zat □ Program pengobatan (mis. Agen tiroid, analgesic, pelunak feses, ferosulfat, antasida, cimetidine dan antibiotik) □ Perubahan air dan makanan □ Bakteri pada air d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif Obyektif □ Defekasi lebih dari tiga kali dalam 24 jam □ Feses lembek atau cair Setelah dilakukan tindakan kepera diharapkan eliminasi fekal memb Eliminasi fekal (L.04033) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Kontrol pengeluaran feses 1 2 Meningkat Cukup meningk Keluhan defekasi lama dan sulit 1 2 Mengejan saat defekasi 1 2 Distensi abdomen 1 2 Urgency 1 2 Nyeri abdomen 1 2 Kram abdomen Memburuk Cukup memburuk Konsistensi feses 1 2 Frekuensi BAB 1 2 Peristaltic usus 1 2
27 HAN RSUD TAN AN : DIARE perawatan (D.0020) awatan Intervensi Keperawatan (SIKI) awatan selama 1x24 jam, baik dengan kriteria hasil : Manajemen diare (I.03101) Pemantauan cairan (I.03121) Observasi □ Identifikasi penyebab diare (mis. Inflamasi, gastrointestinal, iritasi gastrointestinal, proses infeksi, malabsorpsi, ansietas, stress, efek obat-obatan, pemberian botol susu) □ Identifikasi riwayat pemberian makanan □ Identifikasi gejala invaginasi □ Monitor warna, volume, frekuensi, dan konsistensi tinja □ Monitor tanda dan gejala hypovolemia (mis. Takikardia, nadi teraba lemah, tekanan darah turun, turgor kulit turun, mukosa mulut kering, CRT melambat, BB menurun) □ Monitor iritasi dan ulserasi kulit di daerah perianal □ Monitor jumlah pengeluaran diare □ Monitor keamanan penyiapan makanan □ Monitor frekuensi dan kekuatan nadi □ Monitor frekuensi napas □ Monitor tekanan darah □ Monitor waktu pengisian kapiler □ Monitor berat badan □ Monitor elastisitas atau turgor kulit □ Monitor jumlah, warna dan berat jenis urine □ Monitor kadar albumin dan protein total □ Monitor hasil pemeriksaan serum □ Monitor intake dan output cairan □ Identifikasi factor resiko ketidakseimbangancairan Terapeutik □ Berikan asupan cairan oral □ Pasang jalur intravena □ Berikan cairan intravena □ Ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit n Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 kat Sedang Cukup menuun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 k Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5
Minor : Subyektif □ Urgency □ Nyeri/kram abdomen Obyektif □ Frekuensi peristaltic meningkat □ Bising usus hiperaktif
28 □ Ambil sampel feses untuk Analisa feses ataukultur feses □ Atur waktu pemantauan cairan sesuai dnegankondisi pasien □ Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi □ Anjurkan makanan porsi kecil dan seringsecara bertahap □ Anjurkan menghindari makanan pembentukgas, pedas dan mengandung laktosa □ Anjurkan melanjutkan pemberian ASI □ Jelaskan tujuan pemantauan cairan □ Informasikan hasil pemantauan cairan Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian obat antinotilitas □ Kolaborasi pemberian □ antispasmodic/spasmolitik
STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : DISFUNGSI MO RencanaAsuhanKeperaw Diagnosis Keperawatan (SDKI) LuaranKeperawata Disfungsi motilitas Gastrointestinal (D.0021) Definisi : Peningkatan,penurunan,tidak efektif atau kurangnya aktifitasperistaltik gastrointestinal b.d □ Asupan enteral □ Intoleransi makanan □ Imobilisasi □ Makanan kontaminan □ Malnutrisi □ Pembedahan □ Efek agen farmakolofgis(mis:narkotik/opiate,antibiotic,laksatif,an astesia) □ Proses Kecemasan Tanda dan gejala mayor Subyrktif □ Mengungkapkan flatus tidak ada □ Nyeri/kram abdomen Objektif □ Suara peristaltic berubah( tidak ada,hipoaktif,hiperaktif) Tanda dan gejala minor Subyektif □ Merasa mual Objektif □ Residu lambung menurun/meningkat □ Muntah □ Regurgitasi □ Pengosongan lambung cepat □ Distensi abdomen □ Diare □ feses kering dan susah keluar □ feses keras. Setelah dilakukan tindakan keperawa diharapkamotilitas gastrointestinal me hasil : Motilitas Gastrointestinal (L.03023) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Seda Nyeri Kram abdomen Mual Muntah Regurgitasi Distensi abdomen Diare 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 Meningkat Cukup meningkat Seda Suara peristaltic 1 2 3 Pengosongan lambung 1 2 3 Flatus 1 2 3
29 ERAWATAN BINTAN OTILITAS GASTROINTESTINAL watan (D.0021) an (SLKI) IntervensiKeperawatan (SIKI) tan selama 1x24 jam, embaik dengancriteria Managemen nutrisi(I.03119), Pengontrolan infeksi (I.14551) Observasi □ Identifikasi status nutrisi □ Identifikasi alergi dan intoleransi makanan □ Identifikasi makanan yang disukai □ Identifikasi kebutuhan kaloridan jenis nutrien □ Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik □ Monitor asupan makanan □ Monitor berat badan □ Monitor hasil pemeriksaan laboratorium □ Identifikasi pasien-pasien yang mengalami penyakit infeksi menular Terapeutik □ Lakukan oral hygiene sebelum makan jika perlu □ Fasilitasi menentukan pedoman diet(mis: piramida makanan) □ Sajikan makanan secara menarikatau suhu yang sesuai □ Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi □ Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein □ Berikan suplemen makanan,jika perlu □ Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastric jika asupan oral dapat ditoleransi □ Terapkan kwaspadaan universal(mis: cuci tangan aseptic,gunakan alat pelindung diri) □ Tempatkan pada ruang tekanan positifuntuk pasien yang mengalami imunitas menurun. □ Tempatkan pada ruang isolasi negative pada pasien dengan resiko penularan droplet atau udara. □ Sterilisasi dan desinfektan alat-alat □ Gunakan hepafilterpada area khusus □ Beri tanda pada pasien penyakit khusus. Edukasi □ Anjurkan posisi duduk,jika mampu □ Ajarkan diet yang diprogramkan □ Ajarkan cuci tangan dengan benar □ Ajarkan etika batuk atau bersin Kolaburasi □ Kolaburasi pemberian medikasi sebelum makan(mis:Pereda nyeri,antiemetic)jika perlu □ Kolaburasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kaloridan jenis nutrient yang dibutuhkan,jika perlu ang Cukup meningkat Meningkat 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 ang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : Rencana Asuhan Kepe Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Hipervolemia (D.0022) Definisi : Peningkatan volume cairan intravaskuler, interstisiel, dan/atau intraseluler. b.d □ Gangguan mekanisne regulasi □ Kelebihan asupan cairan □ Kelebihan asupan natrium □ Gangguan aliran balik vena □ Efek agen farmakologis (mis. Kortikosteroid, chlorpropamide, tolbutamide, vincristine, tryptilinescarbamazepine) d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif □ Ortopnea □ Dispnea □ Paroxymal nocturnal dyspnea (PND) Obyektif □ Edema anasarka dan/atau edema perifer □ Berat badan meningkat dalam waktu singkat □ Jugular Venous Pressure (JVP) dan/atau Central Venous □ Refleks hepatojugular positif Minor : Subyektif Obyektif □ Distensi vena jugularis □ Terdengar suara napas tambahan □ Hepatomegali □ Kadar Hb/Ht turun □ Oliguria □ Intake lebih banyak dari output (balans cairan positif) □ Kongesti paru Setelah dilakukan tindakan keperawat diharapkan keseimbangan cairan m hasil: Keseimbangan cairan (L.03020) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Asupan cairan 1 2 Output urin 1 2 Membrane mukosa lembab 1 2 Asupan makanan 1 2 1 2 Meningkat Cukup meningkat Edema 1 2 Asites 1 2 Konfusi 1 2 Memburk Cukup memburuk Tekanan darah 1 2 Frekuensi nadi 1 2 Kekuatan nadi 1 2 Tekanan arteri rata-rata 1 2 Berat badan 1 2
30 ERAWATAN BINTAN HIPERVOLEMIA erawatan (D.0022) awatan Intervensi Keperawatan(SIKI) tan selama 1x24 jam, meningkat dengan kriteria Manajemen hipervolemia (I.03114) Pemantauan cairan (I.03121) Observasi □ Periksa tanda gejala hypervolemia (misalnya ortopnea,dyspnea, edema, suara napas tambahan) □ Identifikasi penyebab hypervolemia □ Monitor status hemodinamik (frekuensi jantung, tekanandarah, MAP) □ Monitor intake ouput cairan □ Monitor tanda hemokonsentrasi □ Monitor tanda peningkatan tekanan osmotik plasma(kadar protein dan albimun meningkat) □ Monitor kecepatan infus secara ketat □ Monitor frekuensi dan kekuatan nadi □ Monitor frekuensi napas □ Monitor tekanan darah □ Monitor berat badan □ Monitor waktu pengisian kapiler □ Monitor elastiisitas atau turgor kulit □ Monitor jumlah, warna dan berat jenis urin □ Monitor kadar albumin dan protein total □ Monitor hasil pemeriksaan serum □ Monitor intake dan output cairan Terapeutik □ Timbang berat badan setiap hari □ Batasi asupan cairan dan garam □ Tinggikan kepala tempat tidur 30-40o □ Identifikasi tanda-tanda hypervolemia □ Identifikasi faktor risiko ketidakseimbangan cairan □ Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi □ Anjurkan melapor haluaran urin <0,5ml/kg/jam dalam 6jam □ Anjurkan melapor jika BB bertambah >1kg dalam sehari □ Ajarkan cara mengukur dan mencatat asupan danhaluaran cairan □ Ajarkan cara membatasi cairan □ Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian diuretic □ Kolaborasi penggantian kehilangan kalium akibat diuretik Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN BI DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RencanaAsuhanKepe Diagnosis Keperawatan (SDKI) LuaranKeperawata HIPOVOLEMIA (D.0023) Definisi : Penurunan volume cairan intra vaskuler, interstisiil, dan atau intraseluler b.d □ Kehilangan cairan aktif □ Kegagalan mekanisme regulasi □ Peningkatan permeabilitas kapiler □ Kekurangan intake cairan □ Evaporasi d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif □ Tidak tersedia Obyektif □ Frekuensi nadi meningkat □ Nadi teraba lemah □ Tekanan darah menurun □ Tekanan nadi menyempit □ Turgor kulit menurun □ Membran mukosa kering □ Volume urine menurun □ Hematokrit meningkat Minor : Subyektif □ Merasa lelah □ Menegluh haus Setelah dilakukan tindakan keperawatan volume cairan adekuat atau memba Hipovolemia (L.03028) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Se Kekuatan nadi 1 2 Out put urine 1 2 Membran mukosa lembab 1 2 Pengisian vena 1 2 Meningkat Cukup meningkat Se Orthopnea 1 2 Dyspnea 1 2 Paroxsiymal Nocturnal Dyspnea (PND) 1 2 Edema Anasarka 1 2 Edema perifer 1 2 Berat Badan 1 2 Distensi Vena Jugularis 1 2 Suara napas tambahan 1 2 Kongesti paru 1 2 Perasaan lemah 1 2 Rasa haus 1 2 Konsentrasi urine 1 2 Memburuk Cukup memburuk Se Frekuensi nadi 1 2 Tekanan darah 1 2 Tekanan nadi 1 2 Turgor kulit 1 2 Jugular Venous Pressure (JVP) 1 2
31 ERAWATAN INTAN HIPOVOLEMIA erawatan (D.0023) an (SLKI) IntervensiKeperawatan (SIKI) n selama 1x24 jam, diharapkan aik dengan kriteria hasil : Manajemen Hipovolemik(I.03116) , Manajemen Syok Hipovolemik (I.02050) Observasi □ Periksa tanda dan gejala hipovolemia ( mis. Frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit,turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urine menurun,hematokrit meningkat, haus, lemah) □ Monitor intake dan out put cairan □ Monitor status kardiopulmonaln( frekuensi dan kekuatan nadi, frekuensi nafas, TD, MAP) □ Monitor status oksigenasi ( oksimetri nadi, AGD ) □ Monitor status cairan ( masuk dan haluaran, turgor kulit, CRT ) □ Periksa tingkat kesadaran dan respon pupil □ Periksa seluruh permukaan tubuh terhadap adanya DOTS ( deformitiy / deformitas, open wound/ luka terbuka, tenderness/ nyeri tekan, swelling/ bengkak) Terapeutik □ Hitung kebutuhan cairan □ Berikan posisi modified trendelenburg □ Berikan asupan cairan oral □ Pertahankan jalan nafas paten □ Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen > 94 % □ Persiapan intubasi dan ventilasi mekanis, jika perlu □ Lakukan penekanan langsung ( direct presure ) pada perdarahan eksternal □ Berikan posisi syok ( modified trendelenberg ) □ Pasang jalur IV berukuran besar ( mis.no 14 atau 16) □ Pasang cateter urine untuk menilai produksi urine □ Pasang selang naso gastrikuntuk dekompresi lambung edang Cukup mening kat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 edang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 edang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
Obyektif □ Pengisiian vena menurun Hemoglobin 1 2 3 □ Suhu tubuh meningkat □ Konsentrasi urine meningkat Hematokrit 1 2 3 Central Venous Pressure 1 2 3 □ Berat badan turun tiba-tiba Refluks 1 2 3 Kondisi klinis terkait : □ Penyakit Addison □ Trauma atau perdarahan □ Luka bakar □ AIDS □ Penyakit Crohn hepatojugular Berat Badan 1 2 3 □ Muntah □ Diare Hepatomegali 1 2 3 □ Kolitis Ulseratif □ Hipoalbumenia Oliguria 1 2 3 Intake cairan 1 2 3 Status Mental 1 2 3 Suhu tubuh 1 2 3
32 3 4 5 □ Ambil sample darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit Edukasi □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral □ Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian cairan IV isotonik (mis. Nacl, RL ) □ Kolaborasi pemberian cairan IV IV hipotonis (mis. Glukosa 2,5 %, Nacl 0,4 %) □ Kolaborasi pemberian cairan koloid (mis. Albumin, plasmanate) □ Kolaborasi pemberian produk darah 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : KESIAPAN PENING Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Kesiapan Peningkatan Keseimbangan Cairan (D.0025) Definisi : Pola ekuilibrium antara volume cairan dan komposisi kimia cairan tubuh yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik dan dapat ditingkatkan. b.d □ Gagal jantung □ Sindrom iritasi usus □ Penyakit addison □ Makanan enteral atau parenteral d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif □ Mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan keseimbangan cairan Obyektif □ Membran mukosa lembab □ Asupan makanan dari cairan adekuat untuk kebutuhan harian □ Turgor jaringan baik □ Tidak ada tanda edema atau dehidrasi Minor : Subyektif □ (tidak tersedia) Obyektif □ Urine berwarna kuning bening dengan berat jenis dalam rentang normal □ Haluaran urine sesuai dengan asupan □ Berat badan stabil Setelah dilakukan tindakan keperawat diharapkan keseimbangan cairan m Keseimbangan Cairan (L.03020) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Asupan cairan 1 2 Haluaran urine 1 2 Kelembaban membran mukosa 1 2 Asupan makanan 1 2 Meningkat Cukup meningk at Edema 1 2 Dehidrasi 1 2 Asites 1 2 Konfusi 1 2 Memburuk Cukup membur uk Tekanan darah 1 2 Denyut nadi radial 1 2 Tekanan arteri ratarata 1 2 Membran mukosa 1 2 Mata cekung 1 2 Turgor kulit 1 2 Berat badan 1 2
33 ERAWATAN BINTAN GKATAN KESEIMBANGAN CAIRAN erawatan (D.0025) awatan Intervensi Keperawatan (SIKI) tan selama 1x24 jam, meningkat dengan kriteria hasil : Manajemen cairan (I.03098) Observasi □ Monitor status hidrasi (misal frekuemsi nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian kapiler,kelembabpan mukosa, turgor kulit, tekanandarah) □ Monitor berat badan harian □ Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (misal hematokrit, Na, K, Cl, berat jenis urin, BUN) □ Monitor status hemodinamik ( misal MAP, CVP,PCWP jika tersedia) Terapeutik □ Catat intake output dan hitung balance cairan □ Berikan asupan cairan, sesuai kebutuhan □ Berikan cairan intravena, jika perlu Edukasi □ Anjurkan asupan cairan adekuat Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian diuretik, jika perlu Sedang Cukup mening kat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KEPER RSUD KABUPATEN BIN DIAGNOSIS KEPERAWATAN : KETIDAKSTABIL Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027) Definisi : Variasi kadar glukosa darah naik/turun dari rentang normal b.d Hiperglikemia □ Disfungsi pankreas □ Resistensi insulin □ Gangguan toleransi glukosa darah □ Gangguan glukosa darah puasa Hipoglikemia □ Penggunaan insulin atau obat glikemik oral □ Hiperinsulinemia (misal insulinoma) □ Endokrinopati (misal kerusakan adrenal atau pituitari) □ Disfungsi hati □ Disfungsi ginjal kronis □ Efek agen farmakologis □ Tindakan pembedahan neoplasma □ Gangguan metabolik bawaan (mis. Gangguan penyimpanan lisosomal, galaktosemia, gangguan penyimpanan glikogen) d. Gejala dan tanda: Mayor : Subyektif Hipoglikemia: □ Mengantuk □ Pusing Hiperglikemia □ lelah atau lesu Obyektif Hipoglikemia □ Gangguan koordinasi □ Kadar glukosa dalam darah/ urine rendah Hiperglikemia □ Kadar glukosa dalam darah/urine tinggi Setelah dilakukan tindakan keperawata diharapkan kadar glukosa darah berad dengan kriteria hasil : Kestabilan Kadar Glukosa darah (L.0 KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Koordinasi 1 2 Tingkat kesadaran 1 2 Meningkat Cukup meningka Mengantuk 1 2 Pusing 1 2 Lelah/ lesu 1 2 Rasa lapar 1 2 Gemetar 1 2 Berkeringat 1 2 Mulut kering 1 2 Rasa haus 1 2 Perilaku aneh 1 2 Kesulitan bicara 1 2 Memburuk Cukup memburuk Kadar glukosa dalam darah 1 2 Kadar glukosa dalam urine 1 2 Palpitasi 1 2 Perilaku 1 2 Jumlah urine 1 2
34 RAWATAN NTAN LAN KADAR GLUKOSA DARAH perawatan (D.0027) awatan Intervensi Keperawatan(SIKI) an selama 2x24 jam, da pada rentang normal 03022 ) Manajemen hiperglikemia (I.03115) dan Manajemen hipoglikemia (I.03115) Manajemen hiperglikemia (I.03115) Observasi □ Identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia □ Identifikasi situasi yang menyebabkan kebutuhaninsulin meningkat □ Monitor kadar gula darah □ Monitor tanda dan gejala hiperglikemia (mis. Poliuri,polidipsi, polifagia, pandagan kabur, sakit kepala) □ Monitor intake dan output cairan □ Monitor keton urine, kadar anlisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik, dan frekuensinadi Terapeutik □ Berikan asupan cairan oral □ Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia tetap ada atau memburuk □ Fasilitasi ambulasi jika ada hipotensi ortostatik Edukasi □ Anjurkan menghindari olahraga saat kadar glukosadarah lebih dari 250 mg/dl □ Anjurkan monitor kadar glukosa darah secaramandiri □ Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga □ Ajarkan indikasi dan pentingnya pengujian ketonurine, jika perlu □ Ajarkan pengelolaan diabetes (mis. Penggunaan insulin, obat oral, monitor asupan cairan, penggantian karbohidrat, dan bantuan profesionalkesehatan) Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian insulin □ Kolaborasi pemberian cairan IV □ Kolaborasi pemberian kalium Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 at Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 k Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
Minor : Subyektif Hipoglikemia: □ Palpitasi □ Mengeluh lapar Hiperglikemia: □ Mulut kering □ Haus meningkat □ Jumlah urine meningkat Obyektif Hipoglikemia □ Gemetar □ Kesadaran menurun □ Perilaku aneh □ Sulit bicara □ Berkeringat Hiperglikemia □ Jumlah urine meningkat Kondisi Klinis terkait: □ Diabetes melitus □ Ketoasidosis diabetik □ Hipoglikemia □ Hiperglikemia □ Diabetes gestasional □ Penggunaan kostikosteroid □ Nutrisi parenteral total (TPN)
35 Manajemen Hipoglikemia (I.03115) Observasi □ Identifikasi tanda dan gejala hipoglikemia □ Identifikasi kemungkinan penyebab hipoglikemia Terapeutik □ Berikan karbohidrat sederhana □ Berikan glukagon, jika perlu □ Berikan karbohidrat kompleks dan protein sesuaidiet □ Pertahankan kepatenan jalan nafas □ Pertahankan akses IV □ Hubungi layanan medis darurat, jika perlu Edukasi □ Anjurkan membawa karbohidrat sederhana setiapsaat □ Anjurkan memakai identitas darurat yang tepat □ Anjurkan monitor kadar glukosa darah □ Anjurkan diskusi dengan tim perawatan diabetes tentang penyesuaian program pengobatan □ Jelaskan interaksi antara diet, insulin/ agen oral,dan olahraga □ Ajarkan pengelolaan hipoglikemia (mis. Tanda dan gejala, faktor risiko, dan pengobatan hipoglikemia) □ Ajarkan perawatan mandiri untuk mencegah hipoglikemia (mis.mengurangi insulin/ agen oral dan/ atau meningkatkan asupan makanan untuk berolahraga) Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian dekstrose □ Kolaborasi pemberian glukagon
STANDAR ASUHAN KEPER RSUD KABUPATEN BIN DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RESIK Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Keperawat (SLKI) Resiko Defisit Nutrisi (D.0032) Definisi : Berisiko mengalami asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Dibuktikan dengan □ Ketidakmampuan menelan makanan □ Ketidakmampuan mencerna makanan □ Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien □ Peningkatan kebutuhan metabolisme □ Faktor ekonomi (mis. Finansial tidak mencukupi) □ Faktor psikologis (mis. Stress, keengganan untuk makan) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 nutrisi membaik dengan kriteria hasil : Status nutrisi (L.03030) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Porsi makanan yang dihabiskan 1 2 Kekuatan otot pengunyah 1 2 Kekuatan otot menelan 1 2 Serum albumin 1 2 Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi 1 2 Pengetahuan tentang pilihan makanan yang sehat 1 2 Pengetahuan tentang pilihan minuman yang sehat 1 2 Pengetahuan tentang standar asupan nutrisi yang tepat 1 2 Penyiapan dan penyimpanan makanan yang aman 1 2 Penyiapan dan penyimpanan minuman yang aman 1 2 Sikap terhadap makanan/minuman sesuai dengan tujuan kesehatan 1 2 Meningkat Cukup meningkat Perasaan cepat kenyang 1 2 Nyeri abdomen 1 2 Sariawan 1 2 Rambut rontok 1 2 Diare 1 2 Memburuk Cukup memburuk Berat badan 1 2 Indeks massa tubuh 1 2 Frekuensi makan 1 2 Nafsu makan 1 2 Bising usus 1 2 Tebal lipatan kulit trisep
36 RAWATAN NTAN KO DEFISIT NUTRISI perawatan (D.0032) tan Intervensi Keperawatan(SIKI) 1x24 jam, diharapkan status Manajemen nutrisi (I.03119) Manajemen gangguanmakan (I.03123) Observasi □ Identifikasi status nutrisi □ Identifikasi adanya alergi dan intoleransimakanan □ Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient □ Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastric □ Monitor asupan makanan dan keluarnya makanan dan cairan serta kebutuhan kalori □ Monitor berat badan □ Monitor hasil pemeriksaan laboratorium Terapeutik □ Lakukan oral hygiene sebelum makan □ Fasilitasi menentukn program diet □ Sajikan makanan secara menarik dan suhu yangsesuai □ Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi □ Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein □ Berikan suplemen makanan □ Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastric jika asupan oral dapat ditoleransi □ Timbang berat badan secara rutin □ Diskusikan perilaku makan dan jumlah aktivitasfisik yang sesuai □ Berikan penguatan positif terhadap keberhasilantarget dan perubahan perilaku Edukasi □ Anjurkan posisi duduk, jika mampu □ Ajarkan diet yang diprogramkan □ Anjurkan membuat catatan harian tentangperasaan dan situasi pemicu pengeluaran makanan Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan □ Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan, dan target berat badan Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN BI DIAGNOSIS KEPERAWATAN : Risiko Disfun Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Resiko Disfungsi Motilitas Gastrointestinal (D.0033) Definisi : Resiko peningkatan,penurunan atau tidak efektifnnya aktivitas peristaltic pada sistem gastrointestinal Faktor Resiko: □ Pembedahan abdomen □ Penurunan sirkulasi gastrointestinal □ Intoleransi makanan □ Refluks gastrointestinal □ Imobilitas □ Proses penuan □ Infeksi gastrointestinal □ Efek agen Farmokologis (mis.antibiotik, laksatif, narkotika/opiat) □ Prematuritas □ Kecemasan □ Stres □ Kurangnnya sanitasi pada persiapan makanan Kondisi Klinis Terkait: □ Pembedahan abdomen atau usus □ Malnutrisi □ Anemia □ Kecemasan □ Kanker empedu □ Kolesistektomi □ Infeksi pencernaan □ Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) □ Dialisis peritoneal □ Terapi radiasi □ Multiple organ dysfunction syndrome Setelah dilakukan tindakan keperawa gastrointestinal membaik Motilitas Gastrointestinal (L KRITERIA HASIL Menurun Cukupmenur un se Nyeri 1 2 Kram abdomen 1 2 Mual 1 2 Regurgitasi 1 2 Distensi abdomen 1 2 Diare 1 2 KRITERIA HASIL meningkat Cukup meningkat se Suara peristaltik 1 2 Pengosong an Lambung 1 2 Flatus 1 2
37 ERAWATAN INTAN ngsi Motilitas Gastrointestinal perawatan (D.0033) awatan Intervensi Keperawatan (SIKI) atan selama 1x24 jam, motilitas L.030 23) Edukasi Diet (I.12369) Observasi □ Identifikasi kemampuan pasien dan keluargamenerima informasi □ Identifikasi tingkat pengetahuan saat ini □ Identifikasi kebiasaan pola makan saat ini dan masalalu □ Identifikasi persepsi pasien dan keluarga tentang dietyang diprogramkan □ Identifikasi keterbatasan finansial untukmenyediakan makan Terapeutik □ Persiapan materi media dan alat peraga □ Jadwalkan waktu yang tepat untuk memberikanpendidikan kesehatan □ Berikan kesempatan pasien dan keluarga bertanya □ Sediakan rencana makanan tertulis, jika perlu Edukasi □ Jelaskan tujuan kepatuhan diet terhadap kesehatan □ Informasikan makanan yang diperbolehkan dan dilarang □ Informasikan kemungkinan interaksi obat danmakanan, jika perlu □ Ajurkan mempertahankan posisi semi fowler (30- 40derajat) 20-30 menit setelah makan □ Anjurkan mengganti bahan makanan sesuai dengandiet yang diprogramkan □ Ajurkan melakukan olahraga sesuai toleramsi □ Ajarkan cara membaca label dan memilih makananyang sesuai □ Ajarkan cara merencanakan makanan yang sesuaiprogram □ Rekomendasi resep makanan yang sesuai dengan diet,jika perlu Kolaborasi □ Rujuk keahli gizi dan sertakan keluarga, jika perlu dang Cukup meningkat meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 edang Cukup menurun menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN BI DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RISI RencanaAsuhanKepe Diagnosis Keperawatan (SDKI) LuaranKeperawat RISIKO HIPOVOLEMIA (D.0034) Definisi : Berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskuler, intertisial, dan/atau intraseluler. Faktor risiko □ Kehilangan cairan secara aktif □ Gangguan absorbs cairan □ Usia lanjut □ Kelebihan berat badan □ Status hipermetabolik □ Kegagalan mekanisme regulasi □ Evaporasi □ Kekurangan intake cairan □ Efek agen farmakologis Kondisi klinis terkait : □ Penyakit Addison □ Trauma/perdarahan □ Luka bakar □ AIDS □ Penyakit Crohn □ Muntah □ Diare □ Kolitis ulseratif Setelah dilakukan tindakan keperawata status cairan membaik dengan kriter Status cairan (L.03028) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun S Kekuatan nadi 1 2 Out put urine 1 2 Membran mukosa lembab 1 2 Pengisian vena 1 2 Meningkat Cukup meningkat S Orthopnea 1 2 Dyspnea 1 2 Paroxsiymal Nocturnal Dyspnea (PND) 1 2 Edema Anasarka 1 2 Edema perifer 1 2 Berat Badan 1 2 Distensi Vena Jugularis 1 2 Suara napas tambahan 1 2 Kongesti paru 1 2 Perasaan lemah 1 2 Rasa haus 1 2 Konsentrasi urine 1 2 Memburuk Cukup memburuk S Frekuensi nadi 1 2 Tekanan darah 1 2 Tekanan nadi 1 2 Turgor kulit 1 2 Jugular Venous Pressure (JVP) 1 2 Hemoglobin 1 2 Hematokrit 1 2
38 ERAWATAN INTAN IKO HIPOVOLEMIA erawatan (D.0034) tan (SLKI) IntervensiKeperawatan (SIKI) n selama 1x24 jam,diharapkan ria hasil : Manajemen Hipovolemik (I.03116),Pemantauan cairan (I.03121) Observasi □ Periksa tanda dan gejala hipovolemia ( mis. Frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urine menurun,hematokrit meningkat, haus, lemah) □ Monitor intake dan out put cairan □ Monitor frekuensi dan kekuatan nadi □ Monitor frekuensi napas □ Monitor tekanan darah □ Monitor berat badan □ Monitor waktu pengisian kapiler □ Monitor elastisitas atau turgor kulit □ Monitor jumlah, warna dan berat jenis urin □ Monitor kadar albumin dan protein total □ Monitor hasil pemeriksaan serum (mis. osmolaritasserum, hematocrit, natrium, kalium) □ Identifikasi faktor risiko ketidakseimbangan cairan Terapeutik □ Hitung kebutuhan cairan □ Berikan posisi modified trendelenburg □ Berikan asupan cairan oral □ Atur interval waktu pemantauan sesuai kondisipasien □ Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral □ Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak □ Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan □ Informasikan hasil pemantauan Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
Central Venous Pressure 1 2 Refluks hepatojugular 1 2 Berat Badan 1 2 Hepatomegali 1 2 Oliguria 1 2 Intake cairan 1 2 Status Mental 1 2 Suhu tubuh 1 2
39 3 4 5 Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian cairan IV isotonik (mis. Nacl RL ) □ Kolaborasi pemberian cairan IV IV hipotonis (mis.Glukosa 2,5 %, Nacl 0,4 %) □ Kolaborasi pemberian cairan koloid (mis. Albumin,plasmanate) □ Kolaborasi pemberian produk darah 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KEPER RSUD KABUPATEN BINTAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RESIKO KET Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Resiko ketidakseimbangan cairan (D.0008) Definisi : Berisiko mengalami penurunan, peningkatan atau percepatan perpindahan cairan dari intravaskuler, interstisial atau intraselular Dibuktikan dengan □ Prosedur pembedahan mayor □ Trauma/perdarahan □ Luka bakar □ Aferesis □ Asites □ Obstruksi intestinal □ Peradangan pancreas □ Penyakit ginjal dan kelenjar □ Disfungsi intestinal Setelah dilakukan tindakan keperawat diharapkan keseimbangan cairan m Keseimbangan cairan (L.03020) KRITERIA HASIL Menuru n Cukup menuru n Asupan cairan 1 2 Output urin 1 2 Membrane mukosa lembab 1 2 Asupan makanan 1 2 1 2 Mening kat Cukup mening kat Edema 1 2 Dehidrasi 1 2 Asites 1 2 Konfusi 1 2 Membur uk Cukup membu ruk Tekanan darah 1 2 Frekuensi nadi 1 2 Kekuatan nadi 1 2 Tekanan arteri rata-rata 1 2 Berat badan 1 2
40 RAWATAN N TIDAKSEIMBANGAN CAIRAN perawatan (D.0036) awatan Intervensi Keperawatan (SIKI) tan selama 1x24 jam, meningkat dengan kriteria hasil : Manajemen cairan (I.03098) Pemantauan cairan (I.03121) Observasi □ Monitor status hidrasi (membran mukosa lembab, denyutnadi adekuat, takanan darah ortostatik) □ Monitor hasil laboratorium yang relevan dengan retensicairan □ Monitor status hemodinamik □ Monitor tanda vital □ Monitor indikasi kelebihan cairan/retensi □ Monitor status gizi □ Monitor apakah pasien mengalami kekurangan cairan □ Kaji kapilary refil □ Kaji turgor kulit □ Monitor berat badan □ Monitor asupan dan pengeluaran □ Monitir kadar serum dan elektrolit urin □ Monitor kadar albumin dan protein total □ Monitor tekanan darah, denyut jantung, dan statuspernafasan Terapeutik □ Hitung atau timbang popok dengan baik □ Timbang berat badan setiap hari dan monitor status pasien □ Jaga intake asupan yang akurat dan catat output □ Tentukan jumlah dan jenis intake/asupan cairan sertakebiasaan eliminasi □ Tentukan faktor resiko yang mungkin menyebabkan ketidakseimbangan cairan Edukasi Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian cairan intravena Sedan g Cukup mening kat Mening kat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedan g Cukup menuru n Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedan g Cukup membai k Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KEPE RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RESIKO KETID Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Keperaw (SLKI) Risiko ketidakseimbangan elektrolit (D.0037) Definisi : Berisiko mengalami perubahan kadar serum elektrolit Dibuktikan dengan : □ Ketidakseimbangan cairan (mis. Dehidrasi dan intoksikasi air) □ Kelebihan volume cairan □ Gangguan mekanisme regulasi (mis. Diabetes) □ Efek samping prosedur (mis. Pembedahan) □ Diare □ Muntah □ Disfungsi ginjal □ Disfungsi regulasi endokrin Setelah dilakukan tindakan keperawatan se diharapkan keseimbangan elektrolit men hasil : Keseimbangan elektrolit (L.03021) KRITERIA HASIL Membur uk Cukup membu ruk Se Serum natrium 1 2 Serum kalium 1 2 Serum klorida 1 2 Serum kalsium 1 2 Serum magnesium Serum fosfor 1 2
41 ERAWATAN BINTAN DAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT perawatan (D.0037) watan Intervensi Keperawatan (SIKI) elama 1x24 jam, ningkat dengan kriteria Pemantauan elektrolit (I.03122) Manajemen elektrolit (I.03102) Observasi □ Identifikasi penyebab ketidakseimbangan elektrolit □ Monitor kadar elektrolit serum □ Monitor mual muntah dan diare □ Monitor kehilangan cairan □ Monitor tanda dan gejala hypokalemia (kelemahan otot, interalQT memanjang, gelombat T datar atau terbailk, depresi segmen ST, gelombang U, parestesia, penurunan reflex, anoreksia, kosntipasi, motilitas usus menurun, pusing, dperesi pernapasan) □ Monitor tanda gejala hyperkalemia ( peka rangsang, gelisah, mual, muntah, takikardia mengarah bradikardia, fibrilasi/takikardia ventrikel, gelombang T tinggi, gelombang P datar, kompleks QRS tumpul, blok jantung mengarah asistol) □ Monitor tanda gejala hiponatremia (disorientasi, otot berkedut,sakit kepala, membrane mukosa kering, hipotensi postural, kejang, letargi, penurunan kesadaran) □ Monitor tanda gejala hipertantermia (haus, demam, mual muntah, gelisah, peka rangsang, membrane mukosa kering,takikardia, hipotensi, letargi, konfusi, kejang) □ Monitor tanda gejala hipokalsemia (peka rangsang, tanda chvostek/spasme otot wajah, tanda trousseau/spasme karpal,kram otot, interval QT memanjang) □ Monitor tanda gejala hiperkalsemia (nyeri tulang, haus, anoreksia, letargi, kelemahan otot, segmen QT memendek, gelombang T lebar, kompleks QRS lebar, intervalPR memanjang) □ Monitor tanda gejala hipomagnesia (depresi pernapasan, apatis, tanda Vhvostek, tanda Trousseau, konfusi, disritmia) □ Monitor tanda gejala hipermagnesia(kelemahan otot, hiporefleks, bradikardia, depresi SSP, letargi, koma) □ Monitor adanya nilai abnormal elektrolit □ Monitor manifestasi klinis ketidakseimbangan elektrolit (perut kembung, kejang) □ Monitor adanya kehilangan carian elektrolit □ Catat intake output cairan Terapeutik □ Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien □ Pertahankan akses intravena Edukasi □ Dokumentasikan hasil pemantauan □ Informasikan hasil pemantauan Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian cairan intravena berisi elektrolit □ Kolaborasi pemberian suplemen elektrolit dan g Cukup membai k Membai k 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KEP RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : RISIKO KETID DARAH Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Kepera (SLKI) Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0038) Definisi : Risiko terhadap variasi kadar glukosa darah dari rentang normal. Faktor risiko: □ Kurang terpapar informasi tentang manajemen diabetes □ Ketidaktepatan pemantauan glukosa darah □ Kurang patuh pada rencana manajemen diabetes □ Manajemen medikasi tidak terkontrol □ Kehamilan □ Periode pertumbuhan cepat □ Stress berlebihan □ Penambahan berat badan □ Kurang dapat menerima diagnosis Kondisi klinis terkait □ Diabetes militus □ Ketoasidosis diabetik □ Hipoglikemia □ Diabetes gestasional □ Penggunaan kortikosteroid □ Nutrisi parenteral total (TPN) Setelah dilakukan tindakan kep diharapkan kestabilan kadar glukos kriteria hasil : Kestabilan Kadar Glukosa darah (L.0 KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Koordinasi 1 2 Tingkat kesadaran 1 2 Meningkat Cukup meningkat Mengantuk 1 2 Pusing 1 2 Lelah/ lesu 1 2 Rasa lapar 1 2 Gemetar 1 2 Berkeringat 1 2 Mulut kering 1 2 Rasa haus 1 2 Perilaku aneh 1 2 Kesulitan bicara 1 2 Memburuk Cukup memburuk Kadar glukosa dalam darah 1 2 Kadar glukosa dalam urine 1 2 Palpitasi 1 2 Perilaku 1 2 Jumlah urine 1 2
42 PERAWATAN BINTAN DAKSTABILAN KADAR GLUKOSA perawatan (D.0038) awatan Intervensi Keperawatan(SIKI) perawatan selama 1x24 jam, sa darah meningkat dengan 03022 ) Manajemen hiperglikemia (I.03115) dan Manajemen hipoglikemia (I.03115) Manajemen hiperglikemia (I.03115) Observasi □ Identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia □ Identifikasi situasi yang menyebabkan kebutuhaninsulin meningkat □ Monitor kadar gula darah □ Monitor tanda dan gejala hiperglikemia (mis. Poliuri,polidipsi, polifagia, pandagan kabur, sakit kepala) □ Monitor intake dan output cairan □ Monitor keton urine, kadar anlisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik, dan frekuensinadi Terapeutik □ Berikan asupan cairan oral □ Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejalahiperglikemia tetap ada atau memburuk □ Fasilitasi ambulasi jika ada hipotensi ortostatik Edukasi □ Anjurkan menghindari olahraga saat kadar glukosadarah lebih dari 250 mg/dl □ Anjurkan monitor kadar glukosa darah secaramandiri □ Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga □ Ajarkan indikasi dan pentingnya pengujian keton urine, jika perlu □ Ajarkan pengelolaan diabetes (mis. Penggunaan insulin, obat oral, monitor asupan cairan, penggantian karbohidrat, dan bantuan profesionalkesehatan) Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian insulin □ Kolaborasi pemberian cairan IV □ Kolaborasi pemberian kalium Sedang Cukup mening kat Meningkat 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
43 Manajemen Hipoglikemia (I.03115) Observasi □ Identifikasi tanda dan gejala hipoglikemia □ Identifikasi kemungkinan penyebab hipoglikemia Terapeutik □ Berikan karbohidrat sederhana □ Berikan glukagon, jika perlu □ Berikan karbohidrat kompleks dan protein sesuaidiet □ Pertahankan kepatenan jalan nafas □ Pertahankan akses IV □ Hubungi layanan medis darurat, jika perlu Edukasi □ Anjurkan membawa karbohidrat sederhana setiapsaat □ Anjurkan memakai identitas darurat yang tepat □ Anjurkan monitor kadar glukosa darah □ Anjurkan diskusi dengan tim perawatan diabetestentang penyesuaian program pengobatan □ Jelaskan interaksi antara diet, insulin/ agen oral,dan olahraga □ Ajarkan pengelolaan hipoglikemia (mis. Tanda dangejala, faktor risiko, dan pengobatan hipoglikemia) □ Ajarkan perawatan mandiri untuk mencegah hipoglikemia (mis.mengurangi insulin/ agen oral dan/ atau meningkatkan asupan makanan untuk berolahraga) Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian dekstrose □ Kolaborasi pemberian glukagon
STANDAR ASUHAN KEP RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN Rencana Asuhan Kep Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Keperawa Risiko Syok (D.0039) Definisi : Berisiko mengalami ketidakcukupan aliran darah ke jaringan tubuh, yang dapat mengakibatkan disfungsi seluler yang mengancam jiwa Dibuktikan dengan: □ Hipoksemia □ Hipoksia □ Hipotensi □ Kekurangan volume cairan □ Sepsis □ Sindrom respons inflamasi sistemik (systemic inflammatory response syndrome/ SIRS) Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat syok menurun denga Tingkat syok (L.03032) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Kekuatan nadi 1 2 Output urin 1 2 Tingkat kesadaran 1 2 Saturasi oksigen 1 2 Meningkat Cukup meningkat Akral dingin 1 2 Pucat 1 2 Rasa haus 1 2 Konfusi 1 2 Letargi 1 2 Asidosis metabolic Memburuk Cukup memburuk Tekanan arteri rata-rata 1 2 Tekanan darah sistolik 1 2 Tekanan darah diastolic 1 2 Tekanan nadi 1 2 Pengisian kapiler 1 2 Frekuensi nadi 1 2 Frekuensi napas 1 2
44 ERAWATAN BINTAN : RISIKO SYOK perawatan (D.0039) tan(SLKI) Intervensi Keperawatan (SIKI) selama 1x24 jam, an kriteria hasil : Pencegahan syok (I.02068) Pemantauan cairan (I.03121) Observasi □ Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dan kekuatan nadi, frekuensi napas, TD, MAP) □ Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD) □ Monitor status cairan (masukan haluaran, turgor kulit, CRT) □ Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil □ Periksa riwayat alergi □ Monitor frekuensi dan kekuatan nadi □ Monitor frekuensi napas □ Monitor tekanan darah □ Monitor berat badan □ Monitor waktu pengisian kapiler □ Monitor elastisitas atau turgor kulit □ Monitor jumlah, warna dan berat jenis urin □ Monitor kadar albumin dan protein total □ Monitor hasil pemeriksaan serum □ Monitor intake dan output cairan □ Identifikasi tanda-tanda hypovolemia □ Identifikasi tanda-tanda hypervolemia □ Identifikasi factor risiko ketidakseimbangan cairan Terapeutik □ Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >94% □ Persiapan intubasi dan ventilasi mekanis, jika perlu □ Pasang jalur IV, jika perlu □ Pasang kateter urine untuk menilai produksi urine, jika perlu □ Lakukan skin test untuk mencegah reaksi alergi □ Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien □ Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi □ Jelaskan penyebab/factor risiko syok □ Jelaskan tanda dan gejala awal syok □ Anjurkan melapor jika menemukan/merasakan tanda gejala awal syok □ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral □ Anjurkan menghindari allergen □ Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan □ Informasikan hasil pemantauan, jika perlu Kolaborasi □ Kolaborasi pemberian IV, jika perlu □ Kolaborasi pemberian transfuse darah, jika perlu □ Kolaborasi pemberian antiinflamasi, jika perlu Sedang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5
STANDAR ASUHAN KEP RSUD KABUPATEN B DIAGNOSIS KEPERAWATAN : GANGG Rencana Asuhan Keperaw Diagnosis Keperawatan (SDKI) Luaran Keperawa (SLKI) Gangguan Eliminasi Urin (D.0040) Definisi : Disfungsi eliminasi urin b.d □ Penurunan kapasitas kandung kemih □ Iritasi kandung kemih □ Penurunan kemampuan menyadari tanda-tanda gangguan kandung kemih □ Efek tindakan medis dan diagnostik ( misal. Operasi ginjal, operasi saluran kemih, anasthesi, dan obatobatan □ Kelemahan otot pelvis □ Ketidakmampuan mengakses toilet ( Mis. Imobilisasi ) □ Hambatan lingkungan □ Ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan eliminasi □ Outlet kandung kemih tidak lengkap ( mis. Anomali saluran kemih kongenital ) □ Imaturitas ( pada anak usia < 3 tahun) d.d gejala dan tanda Mayor : Subyektif □ desakan berkemih ( urgensi ) □ urine menetes ( dribbling ) □ sering buang air kecil □ nokturia □ mengompol □ enuresis Obyektif □ Distensi kandung kemih □ Berkemih tidak tuntas ( hesitancy) □ Volume residu urine meningkat Setelah dilakukan tindakan keperawatan se pengosongan kandung kemih yang leng Eliminasi urine (L.04034) KRITERIA HASIL Menurun Cukup menurun Sed Sensasi berkemih 1 2 Meningkat Cukup meningkat Se Desakan berkemih ( urgensi ) 1 2 Distensi kandung kemih 1 2 Berkemih tidak tuntas ( hesitancy ) 1 2 Volume residu urine 1 2 Urine menetes ( dribbling) 1 2 Nocturia 1 2 Mengompol 1 2 Enuresis 1 2 Diuria 1 2 Anuria 1 2 Memburuk Cukup membur uk Se Frekuensi BAK 1 2 Karakteristik Urine 1 2
45 ERAWATAN BINTAN GUAN ELIMINASI URINE watan (D.0040) atan Intervensi Keperawatan (SIKI) elama 1x24 jam, diharapkan gkapt dengankriteria hasil : Manajemen eliminasi urine (I.04152), latihanberkemih (I.04149 ) Observasi □ Identifikasi tanda dan gejala retensi atau inkontinensia urine □ Identifikasi faktor yang menyebabkan retensiatau inkontinensia urine □ Monitor eliminasi urine ( misal, frekuensi, konsistensi, aroma, volume, dan warna □ Periksa kembali penyebab gangguan berkemih( kognitif, kehilangan ektremitas/fungsi ekstremitas, kehilangan penglihatan ) Terapeutik □ Catat waktu-waktu dan haluaran berkemih □ Batasi asupan cairan, jika diperlukan □ Ambil sampel urine tengah ( Midstrem ) ataukultur □ Hindari penggunaan kateter indweling □ Siapkan area toilet yang aman □ Sediakan peralatan yang dibutuhkan dekat dan mudah dijangkau ( mis. Kursi komede, pispot, urinal ) Edukasi □ Ajarkan tanda dan gejala infeksi salurankemih □ Ajarkan mengukur asupan cairan danhaluaran urine □ Ajarkan mengambil spesimen urine midstrem □ Ajarkan mengenali tanda berkemih dan waktuyang tepat untuk berkemih □ Ajarkan terapi modalitas penguatan otot-otot panggul/berkemih □ Anjurkan minum yang cukup, jika tidak ada kontraindikasi □ Anjurkan mengurangi minum menjelang tidur ang Cukup meningkat Meningkat 3 4 5 edang Cukup menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 edan g Cukup membaik Membaik 3 4 5 3 4 5
Minor : Subyektif ( tidaktersedia ) Obyektif □ ( tidak tersedia ) Kondisi Klinis Terkait □ Infeksi ginjal dan saluran kemih □ Hiperglikemia □ Trauma □ Kanker □ Cedera/tumor/infeksi medulaspinalis □ Neuropati diabetik □ Neuropati alkoholik □ Stroke □ Parkinson