The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by M. Hafid, 2023-11-21 11:53:30

Kisah Keteladanan Nabi Muhammad Saw

Nabi Muhammad Saw

Keywords: Nabi Muhammad Saw

300 Ampunilah dosa kami sebagai tebusan selagi kami tegar dalam ketakwaan, Teguhkanlah pendirian kami dalam peperangan. Berikanlah kepada kami ketentraman hati. Kami tidak ingin hidup jika musuh mengalahkan kami. Mendengar syair itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Allah merahmatinya." Para sahabat hafal bahwa jika Rasulullah صلى الله عليه وسلم memohon ampunan bagi seseorang, orang itu akan mati syahid demikianlah yang terjadi pada Amir bin al Akwa dalam pertempuran ini. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 128 Jalannya Pertempuran Khaibar Orang-orang Yahudi Khaibar yang hendak berangkat ke kebun sangat terkejut melihat kedatangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan pasukannya pagi-pagi sekali. "Itu Muhammad, demi Allah, Muhammad dan pasukannya!" Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Allahu Akbar! Runtuhlah Khaibar! Allahu Akbar! Runtuhlah Khaibar! Jika kita tiba di pelataran suatu kaum, maka amat buruklah bagi orang-orang yang layak mendapat peringatan!" Setelah mendirikan markas, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajak seluruh pasukannya berdoa, "Ya Allah, Rabb langit yang tujuh serta apa-apa yang dipayunginya. Rabb bumi yang tujuh dan apa-apa yang dikandungnya, Rabb setan-setan dan apa yang disesatkannya. Sesungguhnya kami mohon kepada Mu kebaikan dusun ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa pun yang ada di dalamnya. Kami berlindung kepadaMu dari kejahatan dusun ini, kejahatan penduduknya, dan kejahatan apapun yang ada di dalamnya. Majulah Dengan nama Allah." Pada malam menjelang penyerbuan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Besok aku benar-benar akan menyerahkan bendera kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya juga dicintai Allah dan rasul-Nya." Para sahabat sangat berharap bahwa merekalah yang terpilih esok harinya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memanggil Ali bin Abi Thalib, saat itu Ali sedang sakit mata namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengusap dan berdoa agar Allah menyembuhkan mata menantunya itu. Mata Ali pun sembuh dan ia memimpin pasukan hebat yang terdiri atas rangkaian banteng-banteng yang kuat. Pertempuran seru meletus berhari-hari. Pemimpin Yahudi khaibar maju sambil bersyair, "Khaibar sudah mengenal, akulah Marhab, memanggul senjata tajam pahlawan berpengalaman."


301 Amir bin Akwa maju menghadapinya sambil bersyair, "Khaibar sudah mengenal, Akulah Amir, memanggul senjata tajam pahlawan petualang." Dalam duel seru, Marhab menebas tempurung Amir sehingga ia gugur dan syahid. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda tentang Amir, "Sesungguhnya dia memperoleh dua pahala, dia telah berusaha dan telah berjuang. Tidak banyak orang Arab yang berjalan seperti dia." Kini Ali bin Abi Thalib maju dan membalas syair Marhab dengan garang. Dalam duel Ali berhasil membunuh Marhab. Perang khaibar terjadi pada bulan Muharram tahun ke tujuh Hijriyah. Sekitar 1500 pasukan nabi menghadapi 10.000 orang pasukan Khaibar, akan tetapi Rasulullah صلى الله عليه وسلم berhasil mengalahkan lawan yang begitu besar itu. Kaum muslim kehilangan 18 jiwa sedangkan pihak musuh kehilangan 93 jiwa. Kemenangan Setelah itu satu persatu pemimpin Yahudi jatuh dalam pertempuran dahsyat. Benteng Naim takluk setelah Marhab terbunuh. Benteng Ash Sha'ab bin Muadz direbut dengan cara dikepung selama tiga hari. Ketika itu persediaan makanan kaum muslimin sudah sangat tipis, hingga mereka kelaparan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun berdoa dan akhirnya pasukannya bangkit sehingga berhasil menaklukkan benteng itu. Di dalamnya, banyak terdapat ternak-ternak gemuk untuk dimakan. Benteng Az Zubair dikepung selama 3 hari. Namun mereka bisa bertahan karena mempunyai mata air sendiri. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan serangan untuk merebut mata air. Setelah mata air dapat direbut, Benteng Az Zubair pun takluk. Orang-orang Yahudi di benteng Ubay menantang duel satu lawan satu. Semua pahlawan Yahudi yang maju berduel berhasil ditaklukkan oleh para pahlawan Islam. Kemudian Abu Dujanah yang kepalanya diikat kain merah jika sudah bertekad mati, memimpin pasukan komando masuk dan menyusup ke dalam benteng. Setelah bertempur seru, benteng Ubay pun takluk. Benteng An Nizar adalah benteng yang sangat kuat karena letaknya tinggi dan susah diserang. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan penggunaan manjaniq atau pelontar batu besar. Maka dinding-dinding benteng jebol dan pasukan muslim pun akhirnya membanjir masuk untuk menaklukkan musuh. Ketiga benteng yang tersisa dikepung selama 14 hari. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa sempat terjadi pertempuran di benteng Al Qamush. Namun kedua benteng yang lain: Al Wathih dan As Sulalim menyerahkan diri lewat perundingan. Orang Yahudi meminta mereka yang di benteng tidak dibunuh, anak-anak tidak ditawan dan mereka siap meninggalkan Khaibar dengan segenap keluarga, menyerahkan semua harta kekayaan Khaibar yang berupa tanah, emas, perak, kuda, keledai dan baju-baju perang.


302 Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun menyetujui hal itu seraya bersabda, "Aku juga membebaskan kalian dengan perlindungan Allah dan rasulNya apabila kalian tidak menyembunyikan sesuatu pun dariku." Mereka setuju. Namun orang Yahudi memang licik. Beberapa dari mereka ketahuan menyembunyikan harta di balik reruntuhan. Maka mereka pun dibunuh, karena melanggar perjanjian, sebagai pembalasan atas terbunuhnya beberapa sahabat atas tindakan mereka. Selesailah sudah penaklukan Khaibar. Allahu Akbar! Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 129 Pembagian Harta Rampasan dan Kedatangan Ja'far Rasulullah صلى الله عليه وسلم ingin agar orang-orang Yahudi pergi dari Khaibar. Namun sebagian orang Yahudi itu berkata, "Wahai Muhammad berilah kami kesempatan untuk tetap berada di tanah ini agar kami bisa mengolah dan menanganinya. Kami lebih berpengalaman daripada kalian." Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun berpendapat bahwa mereka benar. Beliau dan para sahabat tidak mempunyai cukup tenaga untuk mengolah tanah-tanah pertanian Khaibar yang lebih luas. Karena itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun setuju untuk mengijinkan Yahudi mengolah tanah itu dan membagi hasil panen dengan kaum muslimin. Tanah Khaibar berjumlah 36 kelompok. Setiap kelompok dibagi menjadi 100 bagian sehingga jumlah totalnya sebanyak 3.600 bagian. Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kaum muslimin mendapat separuhnya. Beliau mendapat satu bagian seperti halnya kaum muslimin yang lain. Sisanya dikhususkan untuk para wakil beliau dan urusan umum kaum muslimin. Orang-orang muslim yang ikut dalam perjalanan perjanjian Hudaibiyah mendapat masing-masing satu bagian-bagian, entah mereka itu ikut dalam perang Khaibar atau tidak. Alasannya berkat jasa mereka jugalah kaum Muslimin dapat menaklukkan Khaibar. Setiap kuda yang ikut mendapat 2 bagian, penunggangnya mendapat 3 bagian, sedangkan pejalan kaki mendapat satu bagian. Rampasan Khaibar ini begitu banyak sampai Ibnu Umar berkata, "Sebelumnya kami tidak pernah merasa kenyang, sebelum kami bisa menaklukkan Khaibar." Aisyah pun berkata, "Saat Khaibar ditaklukkan, kami bisa kenyang karena makan kurma". Setelah kembali ke Madinah kaum Muhajirin mengembalikan apa yang dulu pernah diberikan oleh kaum Anshor, yakni berupa pohon dan buah kurma, karena kini mereka telah memiliki banyak pohon dan buah kurma di Khaibar.


303 Di Madinah Ja'far bin Abi Thalib dan rombongannya telah tiba dari Habasyah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم begitu gembira melihat Ja'far sehingga beliau bersabda, "Demi Allah aku tidak tahu, karena aku gembira dengan penaklukan Khaibar dan kedatangan Ja'far." Ja'far dan rombongannya pun masing-masing mendapatkan satu bagian tanah Khaibar. Shafiyah Di antara para tawanan terdapat Shafiyah binti Huyay. Ia adalah Putri Huyay bin Al Akhtab, pemimpin Bani Nadhir yang menghasut Quraisy untuk menyerang Madinah dalam Perang Khandaq. Suaminya, Kinanah bin Abul Huqaiq, dibunuh akibat berkhianat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم karena menyembunyikan harta Bani Nadhir. Shafiyah binti Huyay diberikan kepada Dihyah bin Al Khalifah. Namun, seorang sahabat merasa iba kepada putri bangsawan Yahudi itu. Ia mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau menyerahkan Shafiyah binti Huyai, putri pemimpin Quraidhah dan Bani Nadhir kepada Dihyah? Shafiyah hanya pantas dimiliki oleh engkau." Untuk menjaga kehormatan Shafiyah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta Dihyah mengambil tawanan yang lain. Beliau menawarkan kepada Shafiyah agar masuk Islam. Shafiyah pun menerimanya. Setelah itu Shafiyah pun menerima pinangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan kebebasannya sebagai mahar. Di Ash Shaba', dalam perjalanan pulang ke Madinah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyelenggarakan walimah nikah. Ummu Sulaim merias Shafiyah. Untuk makan, dihidangkan kurma, makanan dari tepung, dan keju. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada di sana selama tiga hari. Pada saat itu, beliau melihat memar-memar biru pada wajah Shafiyah, lalu beliau bertanya, "Ada apa ini?" "Wahai Rasulullah, sebelum engkau mendatangi kami, aku bermimpi melihat bulan seakan akan terlepas dari tempatnya dan jatuh ke bilikku. Aku menceritakan mimpi ini kepada suamiku dan aku tidak menyebutnyebut dirimu sedikit pun, namun ia menempeleng wajahku." Rasulullah صلى الله عليه وسلم tersenyum dan memberikan kata-kata menghibur, "Rupanya engkau dianugerahi kerajaan yang ada di Madinah." Pada saat itu ada seorang wanita Yahudi bernama Zaenab binti Al Haris yang mencoba membunuh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan mengirimkan daging domba beracun. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menggigit satu kunyahan, tapi segera memuntahkannya kembali sambil bersabda, "Tulang ini mengabarkan kepadaku bahwa di dalam daging disusupi racun." "Apa yang membuatmu melakukan perbuatan itu?" tanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Zainab binti Al Haris. "Aku berkata kepada diriku sendiri, Kalau memang Muhammad adalah seorang raja, maka ia pasti akan mati memakan daging itu. Tetapi jika ia seorang nabi, tentu Allah akan memberitahunya."


304 Tadinya Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan melepaskan wanita itu, namun karena ada seorang sahabat bernama Bisyr bin Al Barra yang meninggal karena memakan daging tersebut maka Zaenab binti Al Harits pun diqishash. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 130 Rasulullah Melarang Hidup Meminta-minta Ketika kaum muslimin yang hijrah ke Habasyah tiba kembali ke Madinah, sekali lagi Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat beberapa dari mereka biasa hidup enak tanpa bekerja. Maklum selama di Habasyah, mereka hidup dari pemberian-pemberian Najashi yang baik budi. Di Madinah, sebagian mereka bahkan hidup dari zakat. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun menganjurkan agar mereka mau bekerja. "Orang miskin itu bukanlah orang yang tidak mendapatkan satu atau dua suap makanan, akan tetapi orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai harta kekayaan dan merasa malu meminta-minta kepada orang lain secara paksa," demikian nasihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada orang-orang itu. Ajaran yang dibawa Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah ajaran kebesaran jiwa. Tidak boleh ada orang hidup dari jerih payah orang lain, walaupun hidupnya sendiri dihabiskan untuk beribadah di masjid. Alasannya tidak ada orang yang lebih utama dibandingkan orang lain selain karena amal dan pekerjaannya. Sebaliknya Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga melihat ada orang yang menghimpun harta kekayaan dari rampasan perang dengan perasaan khawatir hartanya itu akan habis jika disedekahkan. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang melakukan penimbunan harta dan mengharuskan mereka bersedekah kepada orang yang miskin dan sengsara. "Tidaklah benar-benar beriman kepada Allah orang yang mati dalam keadaan kenyang, sementara itu tetangganya kelaparan," demikian sabda beliau. "Barangsiapa yang mempunyai kelebihan belanja maka ia harus menyisihkan bagi orang yang tidak cukup belanjanya. Barang siapa yang mempunyai kelebihan harta maka sisihkanlah kepada orang yang kekurangan. Barangsiapa yang tidak memiliki kepedulian terhadap orang-orang Islam maka ia bukan dari golongan mereka." Ajaran ini mengguncangkan hati para hartawan, bahkan ada yang mau menyerahkan seluruh hartanya. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga mencegah tindakan berlebihan seperti itu dengan bersabda, "Simpanlah sebagian hartamu karena sebaik-baik sedekah adalah pemberian orang kaya". Muru'ah adalah harga diri. Salah satu yang termasuk muru'ah adalah menjaga diri agar jangan memberatkan orang lain, harus belajar cukup dengan apa yang ada, belajar menahan susah dan derita, jangan


305 menggantungkan harapan selain kepada Allah. Seperti disebut dalam pepatah Arab "anjing kurap yang mencari makan lebih mulia dari singa besar dalam kandang". Kekuatan Keyakinan Rasulullah Rintangan demi rintangan terus diatasi Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Beliau terus berusaha memperbaiki kehidupan islami yang sedang dibangun bersama pengikutnya. Salah satu rahasia besar kesuksesan beliau adalah keyakinan yang amat kuat kepada Allah َالَعَت وَ ُسْب . ى َحانَهُ Suatu ketika dalam perang Dzatur riqa di tengah perjalanan yang begitu melelahkan, pasukan muslimin menemukan sebuah pohon rindang. Para sahabat meminta Rasulullah صلى الله عليه وسلم beristirahat di bawah pohon itu, sementara mereka sendiri berpencar mencari tempat berlindung dari sengatan matahari. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menggantungkan pedangnya di pohon tersebut dan tertidur. Tiba-tiba muncullah seorang musyrik. Dengan cerdik ia berjalan tenang seolah-olah dirinya merupakan bagian dari pasukan muslim. Ditujunya tempat Rasulullah صلى الله عليه وسلم berteduh, lalu dengan cepat ia mengambil pedang Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan menodongkannya ke dada beliau. "Apakah engkau takut kepadaku?" seringai orang itu. "Tidak," jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم tegas dan tenang. Orang itu merasa heran karena sudah pasti sesaat lagi ia akan menusukkan pedangnya ke dada Rasulullah, "Lalu siapa yang bisa menghalangi dari tindakanku?" "Allah!" Seketika itu juga, orang musyrik itu gemetar, pedangnya terlepas dan tanpa daya ia duduk di hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Dengan tangkas, beliau segera mengambil kembali pedangnya dan mengacungkannya ke dada orang itu. "Sekarang siapa yang bisa menghalangi dari diriku?" tanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Orang itu menjawab, "Jadilah sebaik-baik orang yang menjatuhkan hukuman." Beliau bersabda, "Kalau begitu bersaksilah bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah." "Aku berjanji kepadamu untuk tidak memusuhimu dan tidak akan bergabung bersama orang-orang yang memusuhimu," kata orang itu. Beliau memanggil para sahabatnya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Beliau sama sekali tidak memarahi orang itu. Bahkan beliau melepaskan orang itu yang kemudian pulang dan berkata kepada kaumnya, "Aku baru saja menemui orang yang paling baik."


306 Keyakinan Rasulullah صلى الله عليه وسلم berasal dari kekuatan cinta kepada Allah. Beliau berdoa, "Ya Allah aku memohon dan meminta agar aku selamanya mencintai-Mu, dan mencintai orang yang cinta kepada-Mu serta mencintai pekerjaan yang dapat membawa aku untuk mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta kepadaMu itu lebih daripada aku mencintai diriku dan keluargaku dan lebih dari rinduku pada air yang tawar pada kala panas. Bersambung


307 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 131 Umroh Qadha Tidak terasa setahun sudah berlalu sejak perjanjian Hudaibyah disepakati. Rasulullah صلى الله عليه وسلم segera memanggil para sahabat agar siap-siap berangkat melakukan umratul qadha atau umroh pengganti. Seruan itu disambut dengan penuh semangat. Kali ini 2000 sahabat berangkat dengan mengenakan pakaian ihram. Mereka tidak membawa senjata kecuali pedang yang disarungkan. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم tetap waspada terhadap penghianatan, karena itu beliau memerintahkan Muhammad bin Maslamah memimpin 100 pasukan berkuda untuk berangkat mendahului rombongan haji. Kaum muslimin berangkat ke Mekah dengan hati penuh rindu untuk berthawaf di sekeliling Ka'bah. Kaum Muhajirin sudah terlalu lama menunggu untuk melihat lagi tempat mereka dilahirkan. Mereka ingin lagi menghirup udara tanah suci yang harum dengan penuh rasa hormat dan syahdu. Mereka ingin menyentuh bumi suci yang penuh berkah tempat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dilahirkan dan tempat Wahyu pertama diturunkan. Sesuai dengan perjanjian Hudaibyah, ketika orang-orang Quraisy mengetahui kedatangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya mereka segera keluar dari Mekah. Penduduk Mekah mendirikan tenda tenda di bukit-bukit sekitar Mekah dari bukit Abu Qubais atau dari Hiro. Mereka melihat dengan penuh rasa ingin tahu bekas kawan-kawan mereka yang dulu pernah mereka usir. Umroh Qadha Begitu Ka'bah terlihat kaum muslimin serentak berseru, "Labaik, Labaik!" Di depan Ka'bah Rasulullah صلى الله عليه وسلم membiarkan lengan kanan atasnya terbuka sambil mengucapkan, "Ya Allah berikanlah rahmat kepada orang yang hari ini telah memperlihatkan kemampuan dirinya." Kemudian beliau menyentuh Hajar Aswad (batu hitam) dan berlari-lari kecil. Setelah menyentuh Rukun Yamani di sudut selatan, beliau melakukan perjalanan biasa sampai kembali menyentuh Hajar Aswad, kemudian berlari-lari lagi berkeliling sampai tiga kali dan selebihnya berjalan biasa. Setiap kali beliau berlari, 2000 sahabat ikut berlari-lari, setiap kali Rasulullah صلى الله عليه وسلم berjalan mereka pun serentak ikut berjalan. Semua ini sangat mempesona orang-orang Quraisy, hilanglah anggapan mereka bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan sahabatnya adalah orang-orang yang lemah dan dalam keadaan sulit.


308 Gerak kaum muslimin di umrah Qadha itu menunjukkan siapa golongan yang mulia. Bukanlah disebut mulia orang yang berumah besar dan bermobil mewah. Orang yang mulia adalah orang yang membangun umat, membuka selubung kebodohan, memberi peringatan, menuntut hak yang terampas, memberi ingat dari lalai. Itulah orang yang mulia, meski tempat tinggalnya hanya gubuk buruk dan pakaiannya hanya baju bertambal. Setelah selesai thawaf, beliau melakukan Sa'i antara Safa dan Marwah. Setelah selesai melakukan Sa'i, sementara hewan-hewan kurban berada di Marwah, beliau berkata, "Di sinilah tempat menyembelih hewan qurban dan setiap tempat di Mekah dapat dijadikan tempat untuk menyembelih hewan qurban." Kemudian beliau menyembelih hewan qurban dan mencukur rambut di Marwah. Demikian pula kaum muslimin, mereka melakukan seperti apa yang beliau lakukan. Setelah itu, beliau mengutus orang-orang agar pergi ke Ya'jaj untuk menggantikan orang-orang yang telah diberi tugas menjaga persenjataan, agar mereka dapat melaksanakan manasik umroh. Mereka kemudian datang dan melaksanakan manasik. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tinggal di Mekah selama tiga hari. Pagi-pagi pada hari keempat orang-orang musyrik mendatangi Ali dan berkata, "Katakanlah kepada sahabatmu agar meninggalkan tempat kami, karena waktunya sudah habis." Maka Nabi صلى الله عليه وسلم pun keluar meninggalkan Mekah dan singgah di Saraf. Ketika hendak keluar meninggalkan Mekah mereka diikuti oleh putri dari Hamzah yang berjalan sambil memanggil, "Paman ......! Paman ......!" Kemudian ia dihampiri dan diambil oleh Ali. (sesampai di Madinah) Ali, Ja'far dan Zaid berebut untuk mengurusnya. Namun Nabi صلى الله عليه وسلم memutuskan bahwa yang berhak untuk mengurusnya adalah Ja'far, karena istri Ja'far adalah saudara dari ibu putri Hamzah tersebut (saudara perempuan ibu sama kedudukannya dengan ibu) Dalam masa 3 hari di Mekkah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menerima lamaran seorang wanita bernama Maimunah. Usianya 26 tahun. la adalah Bibi Khalid bin Walid. Rasulullah صلى الله عليه وسلم ingin sekali mengundang orang-orang Quraisy dalam pesta pernikahannya. Namun orang-orang itu menolak dan meminta beliau bersama para sahabatnya keluar dari Mekah karena waktu yang disepakati telah habis. Maka, Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya pun berangkat pulang. Bersambung


309 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 132 Islamnya Khalid bin Walid Perbuatan kaum muslimin yang menjauhi minuman keras, tidak berbuat maksiat dan tidak rakus dalam hal makan minum membuat hati Khalid bin Walid sangat tertarik. Ditambah lagi bibinya sendiri telah menikah dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Khalid berkata kepada kawan-kawannya, "Sekarang sudah nyata bagi orang yang berpikiran sehat bahwa Muhammad bukan tukang sihir, juga bukan seorang penyair. Apa yang dikatakannya adalah firman Tuhan alam semesta ini. Setiap orang yang mempunyai hati nurani berkewajiban menjadi pengikutnya." Ikrimah bin Abu Jahal ngeri mendengarnya. Dia langsung berkata, "Khalid, bukankah para pengikut Muhammad telah melukai ayahmu, juga membunuh paman dan sepupumu? Demi Allah, aku tidak akan masuk Islam dan berkata-kata seperti itu!" "Itu hanya semangat jahiliyah. Tetapi sekarang, setelah kebenaran itu bagiku sudah jelas, demi Allah, aku mengikut agama Islam!" Abu Sufyan kemudian memanggil Khalid, "Benarkah apa yang kudengar tentang engkau?" Ketika Khalid membenarkan, Abu Sufyan memerah wajahnya, "Demi Latta dan Uzza, kalau itu benar, niscaya engkaulah yang akan kuhadapi sebelum Muhammad!" "Dan memang itulah yang benar, dan apa pun yang akan terjadi,"Kemarahan Abu Sufyan meledak. Ia maju hendak menyerang Khalid. Namun lkrimah menahannya seraya berkata, "Sabar Abu Sufyan, seperti engkau, aku juga khawatir kelak akan mengatakan sesuatu seperti kata-kata Khalid itu dan ikut ke dalam agamanya. Kamu akan membunuh Khalid karena pandangan hidupnya itu, padahal mungkin kelak seluruh Quraisy sependapat dengan dia. Sungguh aku khawatir jangan-jangan sebelum bertemu Muhammad lagi tahun depan, seluruh Mekkah sudah menjadi pengikutnya!" Sejak menjadi seorang muslim, sejarah hampir tidak pernah mencatat kekalahan pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Ketika menghadapi 240.000 pasukan Romawi, pasukan muslim yang lebih jauh lebih kecil jumlahnya menjadi ragu. Khalifah Abu Bakar berkata, "Demi Allah, semua kekhawatiran keraguan mereka akan hilang dengan kedatangan Khalid!" Perang Mut'ah Khalid bin Walid segera pergi ke Madinah dan menggabungkan diri dengan kaum muslimin. Tidak lama kemudian menyusul pula dua orang pembesar Quraisy Amru bin Ash dan Utsman bin Tolkhah, mereka diikuti juga oleh banyak penduduk Mekah.


310 Kemenangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم terhadap Mekah tampaknya tinggal menunggu waktu. Namun sebelum itu terjadi, 15 orang yang dikirim ke perbatasan Syam dibunuh oleh pihak Romawi. Maka pada bulan Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriyah atau 629 masehi Rasulullah صلى الله عليه وسلم memanggil tiga ribu prajurit pilihan. Beliau menyerahkan tampuk kepemimpinan pasukan kepada Zaid bin Haritsah sambil bersabda, "Kalau Zaid gugur maka Ja'far bin Abu Tholib yang memegang tampuk kepemimpinan, dan jika Ja'far gugur maka Abdullah bin Rawahah yang memegang tampuk kepemimpinan. Pasukan berangkat diiringi doa dan ucapan selamat dari masyarakat ramai. Rasulullah صلى الله عليه وسلم turut mengantar sampai ke luar kota dan berpesan, "Jangan membunuh wanita, bayi, orang-orang buta, dan anak-anak. Jangan menghancurkan rumah-rumah atau menebangi pepohonan. Allah menyertai dan melindungi kalian. Semoga kalian kembali dengan selamat." Zaid bin Haritsah merencanakan untuk menyergap musuh dengan tiba-tiba. Namun ketika tiba di Ma'an mereka amat terkejut. Syuhrabil gubernur Heraklius telah menghimpun pasukan yang terdiri atas orang-orang Yunani dan orangorang Arab. Heraklius sendiri mengerahkan pasukan Romawi untuk membantu pasukan lawan yang tengah menanti pasukan muslimin yang berjumlah 200.000 orang!" Para pemimpin tentara muslimin agak ragu. Apakah mereka harus maju atau meminta bala bantuan dari Madinah. Namun, Abdullah bin Rawahah yang terkenal sebagai seorang ksatria dan pemberani berkata, "Saudara-saudara apa yang tidak kita sukai justru itu yang kita cari sekarang ini yaitu mati syahid. Kita memerangi musuh itu bukan karena perlengkapan, bukan karena kekuatan juga bukan karena jumlah orang yang banyak, melainkan kita memerangi mereka hanyalah karena agama, juga yang dengan itu Allah telah memuliakan kita. Oleh karena itu marilah kita maju. Kita akan memperoleh satu dari dua pahala ini menang atau mati syahid." Kata-kata Abdullah bin Rawahah ini melambungkan semangat pasukan. "Ibnu Rawahah memang benar!" Abdullah bin Rawahah ini adalah seorang penulis dan penyair yang untaian syair-syairnya meluncur dari lidah yang kuat dan indah didengar. Semenjak memeluk Islam dibuktikannya kemampuan bersyair itu untuk Islam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta Abdullah untuk lebih tekun lagi membuat syair. Gugurnya Tiga Pahlawan Di desa Masyarief kedua pasukan bertemu. Namun dengan cerdik, pasukan muslim membelok ke Mu'tah. Tempat itu dianggap jauh lebih baik sebagai tempat bertahan. Di mu'tah inilah terjadi pertempuran dahsyat yang jarang disaksikan sejarah karena jumlah kedua pasukan berbeda begitu jauh.


311 Zaid bin Haritsah bertempur dengan gagah berani. Saat itu hampir tidak ada satu pahlawan pun yang bisa menyaingi kehebatannya. Ia bertempur dan bertempur sampai akhirnya sepucuk tombak menghantamnya dengan telak. Zaid bin Haritsah jatuh ke tanah dan gugur sebagai syuhada. Sesuai dengan pesan Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,Ja'far bin Abu Tholib mengambil bendera Zaid dan maju memimpin pasukan. Usia Kakak Ali bin Abi Tholib ini baru 33 tahun. Ja'far benar-benar pemuda tampan cerdas dan berani. Ia maju dan bertempur dengan semangat menyala bagai api yang mengamuk. Ketika tangan kanannya ditebas hingga putus Ja'far meraih bendera dengan tangan kiri namun tidak lama kemudian tangan kiri ini juga lepas karena sabetan pedang. Dengan kekuatan yang tersisa Ja'far mempertahankan bendera dengan kedua pangkal lengannya sampai seorang prajurit Romawi membelah tubuh Ja'far. Pemuda tampan ini gugur. Ibnu Umar yang saat itu bertempur di sampingnya mengatakan, "Kuhitung ada 50 luka di tubuhnya, namun tidak satu pun yang terdapat di bagian punggung." Kedua lengan Ja'far yang putus diganti Allah dengan sepasang sayap sehingga Ja'far dapat terbang kemana pun ia mau. Karena itulah Ja'far dijuluki Ath Thayar atau penerbang atau Dzuljanahain atau orang yang memiliki dua sayap. Kini giliran Abdullah bin Rawahah yang menjadi panglima. Ia yang mengibarkan bendera, tetapi hatinya ragu sejenak sambil berkata, "Oh diriku! Mengapa engkau masih ragu atau terpaksa? Jika pertempuran telah dimulai dan genderang bertalu-talu, mengapa kulihat engkau masih membenci surga?" Kemudian Abdullah bin Rawahah maju dengan gagah sampai akhirnya juga gugur. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 133 Khalid bin Walid Menjadi Komandan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Zaid dan Ja'far telah diangkat kepadaku di surga di atas ranjang emas. Aku juga melihat ranjang Abdullah, tetapi agak miring dibanding ranjang kedua temannya." "Mengapa Ya Rasulullah?" tanya para sahabat keheranan. "Sebab yang dua orang itu terus maju, tapi Abdullah sempat agak ragu walau ia terus maju juga." Rasulullah صلى الله عليه وسلم tahu benar betapa penting dan berbahayanya perang kali ini. Karena itu beliau sengaja memilih 3 panglima perang yang pada waktu malam bertaqorrub mendekatkan diri kepada Allah, sedang pada siang hari menjadi pendekar pejuang agama. Tiga orang ini tidak berkeinginan kembali karena mereka bercita-cita mati syahid dalam perjuangan.


312 Di Madinah kaum muslimin mendapat gambaran jalannya pertempuran dari wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Beliau bersabda, "Zaid mengambil bendera lalu dia gugur. Kemudian Ja'far mengambilnya dan dia pun gugur. Selanjutnya Abu Rawahah mengambilnya dan dia pun gugur..." Air mata menetes menuruni kedua pipi Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Setelah itu beliau bersabda lagi, Salah satu dari Pedang Allah mengambil bendera itu dan akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Siapakah Pedang Allah yang dimaksud Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Di Mu'tah, Tsabit bin Akram meraih bendera sambil berseru, "Saudara-saudara kaum muslimin! Mari kita mencalonkan salah seorang dari kita!" "Engkau sajalah." "Tidak saya tidak akan mampu." Kaum muslimin kemudian menunjuk Khalid bin Walid yang baru saja memeluk Islam. Khalid mengubah taktik dengan menimbulkan berbagai pertempuran kecil. Ia mengulur ulur waktu sampai tibanya perang. Sementara itu Khalid bertempur dengan gagah sampai sembilan pedangnya patah dan yang tersisa hanya sebatang pedang lebar model Yaman. Malam hari pun tiba, Khalid bin Walid segera menyusun pasukannya untuk menjalankan strategi baru. Keesokan harinya rencana Khalid itu membuat musuh gentar. Mereka melihat debu bertebangan tanda adanya pergerakan pasukan besar yang datang dari mana-mana di belakang pasukan muslim. "Mereka mendapat bantuan besar!" seru orang-orang Romawi. Padahal yang tampak sebagai gerakan pasukan besar itu adalah akibat strategi Khalid yang menarik pasukan depan ke belakang dan menaruh pasukan belakang ke depan pasukan yang berada di belakang. Mereka berpencar dan melakukan gerakan seolah-olah datang pasukan besar dari Madinah. Setelah bertempur dengan saling mengintip kekuatan, pelan-pelan Khalid bin Walid menarik mundur pasukannya dengan tetap mempertahankan susunan tempur. Pasukan Romawi pun mengundurkan diri dengan perasaan lega. Kalau 3.000 orang saja sudah sedemikian tangguh, apalagi jika pasukan bantuannya datang, demikian pikir mereka. ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Dampak Pertempuran Mu'tah Sementara itu rasa haru memenuhi hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم karena gugurnya ketiga panglima muslim.


313 Mereka pergi ke rumah Ja'far dan melihat istrinya Asma bin Umair sedang membuat adonan roti sementara itu anak-anaknya sudah dimandikan diminyaki dan dibersihkan. Saat itu Asma belum tahu nasib yang menimpa suaminya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memeluk dan mencium anak-anak Ja'far dengan air mata berlinang. "Ya Rasulullah demi ayah bundaku," tanya Asma gelisah. "Mengapa anda menangis? Apakah ada hal-hal yang menimpa Ja'far dan kawan-kawannya?" "Ya hari ini mereka gugur," jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan air mata yang terus bergulir membasahi pipinya. Maka menangislah Asma, begitu sedih sehingga para wanita berdatangan menghiburnya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pulang dan berkata kepada para istrinya, "Keluarga Ja'far jangan dilupakan buatkan makanan untuk mereka. Mereka sekarang dalam kesusahan". Kemudian ketika dilihatnya putri Zaid bin Haritsah datang, beliau membelainya sampai menangis. Ketika para sahabat bertanya, "Mengapa Rasulullah صلى الله عليه وسلم menangisi para syuhada yang masuk surga?" Rasulullah menjawab bahwa itu adalah air mata seseorang yang kehilangan sahabatnya. Di Madinah orang-orang tidak menyetujui penarikan mundur itu. Pasukan Khalid pun dicemooh, "Hai orang-orang pelarian! Kamu lari dari jalan Allah!" Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Mereka bukan pelarian melainkan orang-orang yang akan tampil kembali, Insyaallah." Sementara itu pertempuran Mu'tah telah menimbulkan rasa kagum yang luar biasa di kalangan suku-suku Arab kepada kaum muslimin. Selama ini, mereka menganggap siapa pun yang berniat memusuhi Romawi sama saja dengan mencari mati. Namun melihat pasukan kecil muslim mampu bertempur dan bisa mengundurkan diri tanpa kerugian besar membuat mereka yakin bahwa pasukan muslim pasti mendapat pertolongan Allah dan pemimpin mereka benar-benar utusan Allah. Maka berbondong-bondonglah Bani Sulaim, Asyja, Ghafatan, Fazarah, dan lainnya masuk Islam. Padahal sebelumnya mereka sangat keras memusuhi Islam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم amat prihatin dengan anak-anak Ja'far karena beliau penyayang anak-anak dan sering memberi mereka nasehat. Diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah menasehati seorang anak yang sedang berjalan dengan ayahnya, "Ingatlah kamu jangan berjalan di depannya, dan kamu jangan melakukan perbuatan yang dapat membuatnya mengumpatmu karena marah, dan kamu jangan duduk sebelum ia duduk, dan kamu jangan panggil ia dengan namanya." Bersambung


314 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 134 Quraisy Melanggar Perjanjian Hudaibyah Mendadak terjadilah peristiwa menggemparkan. Pada suatu malam, Bani Bakr yang merupakan sekutu orang Quraisy menyerang musuh lamanya, Bani Khuza'ah. Pada saat itu, Bani Khuza'ah tengah tertidur lelap di pangkalan air milik mereka sendiri yang bernama Al Watir. Setelah perjanjian Hudaibyah, Bani Bakr memihak Quraisy, sedangkan Bani Khuza'ah menggabungkan diri dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Serangan mendadak itu membuat Bani Khuza'ah terdesak dan kewalahan. Dalam pertempuran itu, diamdiam pihak Quraisy membantu Bani Bakr. Padahal itu merupakan pelanggaran besar terhadap perjanjian Hudaibyah. Rupanya orang Quraisy sudah tidak takut lagi kepada kaum muslimin. Mereka mengira, kaum muslimin sudah hancur dalam pertempuran Mu'tah. Bani Khuza'ah lari berlindung di sekitar Ka'bah. Di tempat itu orang-orang Bani Bakr sendiri mengingatkan pemimpin mereka untuk tidak perang di tanah suci Kabah, "Wahai Naufal, kita sudah memasuki tanah suci. Ingat Tuhanmu, Tuhan mu!" Namun Naufal bin Muawiyah Ad Diali, pencetus serbuan ini, menjawab dengan kasar, "Tidak ada Tuhan pada hari ini wahai Bani Bakr! Lampiaskan dendam kalian. Demi Allah, kalau perlu kalian boleh mencuri di tanah suci. Apakah kalian tidak ingin melampiaskan dendam di tanah suci?" Akhirnya Bani khuza'ah baru benar-benar bisa menyelamatkan diri dari pembantaian setelah mereka mundur dan meminta perlindungan di rumah keluarga Budail bin Warqa Al khuza'i. Setelah itu tanpa menunggu lebih lama lagi, Amr bin Salim Al khuza'i cepat-cepat pergi ke Madinah menemui Rasulullah .صلى الله عليه وسلم Ia bertemu dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan beberapa sahabat di dalam masjid. Di tempat itu ia membacakan syairnya. "Ya Robbi, aku mengingatkan Muhammad tentang persahabatan ayah kami dan ayahnya pada masa lalu...... Quraisy telah menghianatimu dalam perjanjian..... Mereka mendesak hingga ke Ka'bah dan membunuh kami saat sedang ruku dan sujud kepada Ilahi." Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Engkau pasti akan dibela wahai Amir bin Salim." Saat itu muncul awan mendung di langit, beliau bersabda, "Mendung ini akan memudahkan pertolongan bagi bani Kaab (sebutan lain untuk bani Khuza'ah)" Dalam Al Quran surat Al Anfal ayat 55-56, Allah berfirman, ُ̲وَن ُ ْؤمِ َلا ي َفرُوا فَهُمْ َن كَ ̽ ِ߳ҧ ا ا ِّب ِعْنَد ا ҧِ߹ ҧن َشرҧ ا ҧ߱وَ Ү ا


315 Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang kafir, karena mereka itu tidak beriman. Surah Al-Anfal (8:55) َن ̽ ِ߳ҧ َتҧُقوَن ا َلا ي ُهمْ ةٍ وَ َمرҧ ِفي ُكلِّ َْنُق ُضوَن َعهْ َدُهمْ ҧ ي ْنهُمْ ثمُ َ̊ا َهْد َت مِ (Yaitu) orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, Kemudian setiap kali berjanji, mereka menghianati janjinya, sedang mereka tidak takut (kepada Allah). Surah Al-Anfal (8:56) Quraisy Mengutus Abu Sufyan Tindakan para pemuda Quraisy membantu Bani Bakr sangat disesali oleh pemimpin mereka. Karena itu, mereka mengutus Abu Sufyan sendiri pergi ke Madinah untuk menguatkan kembali perjanjian dan memperpanjang waktunya. Sampai di tujuan, Abu Sufyan tidak langsung menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,tetapi menemui putrinya, ummu Habibah, yang sudah menjadi isteri Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Di rumah ummu Habibah, Abu Sufyan masuk dan ingin duduk di tikar tempat biasa Rasulullah صلى الله عليه وسلم duduk. Ummu Habibah segera melipat tikar itu sebelum diduduki ayahnya. "Hai putriku, apakah engkau lebih sayang pada tikar itu dari pada aku?" keluh abu Sufyan. "Ini tikar Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,padahal ayah adalah orang musyrik yang kotor. Saya tidak ingin ayah duduk di atasnya." "Demi Allah, rupanya ada yang tidak beres denganmu setelah berpisah denganku." Setelah itu, Abu Sufyan langsung menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Ia bicara panjang lebar membujuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم agar memperpanjang perjanjian. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم sama sekali tidak menanggapinya. Abu Sufyan belum putus asa, ia pergi ke Abu Bakar dan meminta agar Abu Bakar membujuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Namun Abu Bakar berkata, "Aku tidak sudi melakukannya." Kemudian giliran Umar bin Khattab yang diminta Abu Sufyan agar mau membujuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Umar menjawab, "Layakkah aku meminta pertolongan bagi kalian kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم ? Demi Allah, walau hanya pasir yang ada di tanganku, tentu pasir itu akan kupergunakan untuk melawan kalian!" Untuk terakhir kalinya, Abu Sufyan mencoba meminta tolong kepada Ali bin Abi Thalib yang saat itu sedang bermain dengan Hasan dan Husain bersama Fathimah Az Zahra istrinya. Namun, dengan lembut Ali menjawab, "Jika Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah mengambil keputusan, tidak seorang pun dari kami yang bisa menarik keputusan beliau."


316 Gelaplah rasanya dunia ini bagi Abu Sufyan. Ia telah meminta-minta kepada orang-orang yang dulu pernah disiksanya sampai akhirnya terusir dari Mekah. Ia kembali pulang dengan membawa kabar buruk itu bagi kawan-kawannya. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص د ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل م َّ Bagian 135 Surat Hathib bin Abi Balta'ah Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan semua orang untuk mengadakan persiapan. Beliau memberi tahu bahwa sasaran mereka kali ini adalah Mekah. Beliau pun berdoa, "Ya Allah buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar ini, hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba." Namun seorang sahabat yang bernama Hathib bin Abi Balta'ah menulis surat kepada Quraisy tentang rencana ini. Surat itu dibawa oleh Sarah, salah seorang budak wanita yang diberi uang oleh Hathib. Setelah menyembunyikan surat dalam gulungan rambutnya wanita itu pun berangkat. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم diberi wahyu tentang hal tersebut sehingga beliau cepat menyuruh Ali Bin Abi Thalib dan Al Miqdad menyusul pembawa surat itu. Keduanya pun memacu kudanya kencang-kencang. Mereka berhasil menyusul Sarah dan berkata, "Serahkan surat yang kau bawa!" "Aku tidak membawa sepucuk surat pun." Ali dan Al Miqdad meggeledah hewan tunggangan dan barang bawaan wanita itu dengan teliti. Ketika tidak juga menemukan apa yang dicari, Ali Bin Abi Thalib berkata, "Aku bersumpah bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah berbohong, jika engkau tidak menyerahkan surat itu, kami benar-benar akan memeriksa dirimu!" Mengetahui kesungguhan Ali, wanita itu pun menyerahkan suratnya. Setelah surat itu sampai di tangannya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memanggil Hathib, "Apa ini wahai Hathib?" "Rasulullah," jawab Hathib, "demi Allah, saya tetap beriman kepada Allah dan Rasulullah. Sedikit pun tidak ada perubahan pada diri saya. Namun, saya mempunyai seorang anak dan keluarga di tengah-tengah Quraisy. ltu sebabnya saya hendak memberitahu mereka." Umar bin Khatab maju dan berkata, "Rasullulah, serahkan kepada saya, akan saya penggal lehernya. Orang ini bermuka dua." Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Wahai Umar, sesungguhnya ia pernah ikut dalam Perang Badar. Apakah kau tahu kalau Allah meninggikan martabat orang yang turut dalam Perang Badar, lalu Allah menitahkan, "Berbuatlah sekehendak kalian, kalian Ku ampuni?"


317 Umar pun menangis sambil berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Saat berhadapan dengan musuh, kemampuan menyimpan rahasia menjadi sangat penting. Abu Hurairah melaporkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda, "Manusia lebih banyak tergelincir karena mulutnya daripada karena kakinya." Kerahasiaan dalam gerakan ke Mekah ini diperlukan agar pasukan muslimin mampu memberikan kejutan, sehingga Mekah bisa takluk tanpa pertumpahan darah. Pasukan Muslim Berangkat Akhirnya berangkatlah pasukan muslim. Saat itu adalah tahun ke-8 Hijriyah. Di tengah perjalanan, suku demi suku datang bergabung. Karena itu ketika tiba di Marr Az Zhahran, jumlah mereka mencapai 10.000 orang! Jumlah yang belum pernah disaksikan dalam sejarah Madinah. Pihak Quraisy yang sampai saat itu belum tahu adanya bahaya akhirnya mulai curiga. Mereka mengutus Abu Sufyan untuk mengetahui apa yang terjadi. Suatu malam ketika Abu Sufyan sedang mengintai, dipergoki Abbas paman Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Abbas membawa Abu Sufyan ke perkemahan kaum muslimin. Keesokan harinya Ia diterima Rasulullah صلى الله عليه وسلم di dalam Tenda beliau. "Kasihan engkau Abu Sufyan," sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم" .Bukankah sudah saatnya bagimu mengetahui, bahwa tiada Tuhan selain Allah?" "Demi ayah dan ibuku," jawab Abu Sufyan. "Engkau Sungguh orang yang murah hati, mulia dan menjaga hubungan kekeluargaan. Aku memang sudah menduga bahwa tiada Tuhan selain Allah itu sudah mencukupi segalanya." "Kasihan engkau wahai Abu Sufyan," demikian sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم lagi. "Bukankah tiba waktunya engkau harus mengetahui bahwa aku Rasulullah?" "Demi Ayah Ibuku engkau sungguh bijaksana, pemurah dan suka menjaga hubungan kekeluargaan, namun untuk mengakui engkau adalah utusan Allah masih ada ganjalan di hatiku. Akhirnya, Abbas pun turun bicara, "Celaka engkau Abu Sufyan bersaksilah bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, sebelum beliau menghukum mati engkau karena permusuhan keras yang telah engkau lancarkan pada Islam!" Abu Sufyan pun memeluk Islam. Kemudian Abbas berbisik, "Wahai Rasulullah Abu Sufyan adalah orang yang suka membanggakan diri, maka berilah dia sedikit kebanggaan."


318 "Baiklah," sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم" ,Barangsiapa yang berlindung di rumah Abu Sufyan, dirinya akan aman. Barangsiapa yang memasuki Masjidil Haram, juga akan aman." Setelah itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta Abbas memperlihatkan keagungan pasukan muslim. Dari atas bukit, Abbas dan Abu Sufyan melihat pasukan lewat barisan demi barisan. Begitu melihat bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم dikelilingi pasukan Muhajirin dan Anshar, Abu Sufyan berkata, "Tidak seorang pun sanggup menghadapi mereka Abbas, kerajaan keponakanmu akan menjadi besar!" "Wahai Abu Sufyan, ini bukan kerajaan melainkan kenabian," "Kalau begitu akan lebih bagus lagi." Untuk mengelabui musuh, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengirim patroli kecil di bawah pimpinan Abu Qatadah ke arah Batan ldam 30 mil dari Madinah ke arah Syria. Tujuan ekspedisi ini untuk memberi kesan kepada orang Quraisy bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan mengadakan serangan ke sana, bukan ke Mekah. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ِل ُم َحمد ّلِ َعلَى ُم َح اَلل َّم َّ ٍد َو َعلَى آ Bagian 136 Fathu Mekkah Setelah pasukan Islam lewat, Abbas berkata kepada Abu Sufyan, "Selamatkanlah kaummu." Maka cepat-cepat Abu Sufyan juga memacu tunggangannya memasuki Mekah sambil berseru, "Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad telah datang membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian lawan. Barang siapa yang masuk rumahku, akan selamat! Barangsiapa yang menutup pintu rumahnya, akan selamat! Barang siapa yang memasuki Masjidil Haram, juga selamat!" Namun tidak semuanya menuruti Abu Sofyan, lkrimah bin Abu Jahal memimpin sepasukan Quraisy untuk melawan. Saat itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah membagi pasukannya untuk memasuki Mekah dari tiga jurusan. Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid, sayap kiri dipimpin Zubair bin Awwam, sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memimpin pasukan dari dataran tinggi Kida. Sa'ad bin Ubadah berseru, "Hari ini adalah hari pembantaian. Hari ini diperbolehkan melakukan segala hal yang dilarang di Kabah." Rasulullah صلى الله عليه وسلم berulang-ulang membaca surat al-Fath dengan suara sangat merdu. Beliau tidak memasuki Mekah seperti seorang penakluk namun jutru menundukkan kepala tanda syukur kepada Allah.


319 Karena itu, beliau menunjukkan wajah tidak suka ketika dilihatnya pasukan Khalid bin Walid bertempur karena diserang oleh pasukan Ikrimah. Namun akhirnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Ketentuan Allah selalu lebih baik." Pasukan Quraisy terkalahkan dan lkrimah melarikan diri. Tiba di depan Ka'bah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghampiri Hajar Aswad, menciumnya dan berthawaf keliling Ka'bah. Beliau menunjuk dengan busur ke arah 360 buah berhala di sekeliling rumah Suci sambil membacakan ayat Alquran, ا ِط َل َكاَن َزُهوقًا َ ب ْ ҧن ال Ү ا ِط ُلۚ ا َ ب ْ ق وَ َزَهَق ال َحҨ ْ ال َ قُ ْل َˡاء وَ Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Surah Al-Isra' (17:81) Maka berhala-berhala itu pun dirobohkan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم masuk ke dalam Ka'bah dan bertakbir di ke empat sudutnya. Beliau melihat di dalam Ka'bah ada gambar nabi Ibrahim ااسلام عليه dan Nabi Ismail ااسلام عليه sedang bermain undian anak panah. Beliau mengutuk orang yang membuat gambar itu. Setelah itu Bilal naik ke atas Ka'bah dan beradzan karena waktu sholat Dhuhur telah tiba. Sebelumnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم hanya mempunyai 3.000 tentara dalam Perang Khandaq menghadapi 10.000 pasukan Quraisy dan sekutunya. Kini mendadak beliau muncul di depan Mekah dengan 10.000 prajurit. Quraisy begitu terkejut dan ketakutan sehingga tidak mampu memberi perlawanan kecuali menyerah. ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Quraisy Berbondong-bondong Masuk Islam Rasulullah صلى الله عليه وسلم kemudian mengucapkan khotbah di hadapan orang-orang Mekah. "Tiada ilah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia-lah Allah yang telah menepati janji-Nya memenangkan hambanya Muhammad dan mengalahkan musuh-musuh-Nya dengan diri-Nya sendiri." "Sesungguhnya segala macam balas dendam, harta, dan darah semuanya berada di bawah kakiku ini, kecuali penjaga Ka'bah dan pemberi air minum kepada jamaah haji." "Wahai kaum Quraisy, sesungguhnya Allah telah mencabut dari kalian kesombongan jahiliyah dan mengagungkan keturunan. Semua orang berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah." "Wahai kaum Quraisy menurut pendapat kalian, tindakan apakah yang hendak ku ambil terhadap kalian?" Orang-orang Quraisy menjawab, "Tentu yang baik-baik, wahai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia."


320 Beliau pun bersabda, "Pergilah kalian semua! Kalian semua bebas!" Setelah itu berbondong-bondonglah penduduk Mekah masuk Islam. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم membaiat kaum laki-laki Quraisy untuk senantiasa taat kepada Allah dan Rasulullah. Setelah itu giliran kaum wanita di antara mereka. Di antara mereka, hadir Hindun bin Uthbah, istri Abu Sufyan. Ia menyamar karena dulu telah bertindak kejam terhadap Hamzah pada perang Uhud. Tanpa memegang tangan para wanita itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم membaiat mereka agar tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, dan tidak berbohong. Di tengah-tengah Baiat itu, Hindun menyela, "Demi Allah aku terlalu sering mengambil uang Abu Sufyan, aku tidak tahu apakah hal itu di halalkan atau tidak?" Abu Sufyan yang saat itu hadir berkata, "Aku halalkan semua hartaku yang pernah kau ambil." "Apakah engkau Hindun binti Utbah?" tanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم . "Ya aku adalah Hindun binti Utbah." jawab Hindun. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menoleh kepada Abu Sufyan, "Maafkan ia atas perbuatannya yang lalu, semoga Allah memaafkanmu." Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah seorang pemaaf, tidak akan pernah ada dalam sejarah seseorang yang mampu memberi maaf seperti yang dilakukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada orang-orang Quraisy. Padahal orang-orang Quraisy inilah yang dulu membunuh para pengikut Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,menghina, mencaci, melukai, memboikot, mengusir, dan memerangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,tetapi ketika justru Rasulullah صلى الله عليه وسلم mempunyai kekuatan untuk membalas, beliau bersabda, "Kamu semua bebas..." Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ِل ُم َحمد ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو اَللَّ َعلَى آ Bagian 137 Fadhalah Hari ketika Makkah ditaklukkan Allah melalui tentara Islam dikenal dalam sejarah dengan nama Fathu Mekah. Pada hari itu amarah dan kebencian meledak di hati Fadhalah bin Umair. Ia tidak menerima Mekah takluk begitu saja. Diam-diam, ia pergi mencari Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Ketika dilihatnya beliau sedang berthawaf, Fadhalah segera mengikuti dari belakang. Di balik bajunya tersembunyi sebilah pisau mengkilat siap dihunus dan dihunjamkan. Fadhalah semakin dekat semakin dekat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Tangan Fadhalah


321 masuk ke balik bajunya untuk mencabut pisau. Pikirannya dipenuhi hasrat membara untuk membunuh .صلى الله عليه وسلم Rasulullah Tetapi tepat saat itu juga, Rasulullah صلى الله عليه وسلم langsung menoleh kepadanya dan menegur, "Apakah ini Fadhalah?" Agak terkejut, Fadhalah menjawab, "Ya, Saya Fadhalah, wahai Rasulullah." "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم . "Tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya memikirkan Allah." Rasulullah صلى الله عليه وسلم tersenyum. Beliau meletakkan tangannya yang sejuk di atas dada Fadhalah sambil bersabda, "Mohon ampun kepada Allah.... " Perlahan-lahan hati Fadhalah menjadi tenang. Ia kemudian berkata, "Begitu beliau melepaskan tangannya dari dadaku, aku merasa tidak seorang pun yang lebih aku cintai daripada beliau." Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Fadhalah dipanggil seorang wanita cantik. Wanita itu dulu pernah disukai oleh Fadhalah. Wanita itu ingin mengajak Fadhalah bicara, namun Fadhalah berkata, "Tidak, Allah dan Islam telah melarangku bicara bebas dengan wanita yang belum halal bagiku. Aku baru saja melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghancurkan semua berhala. Agama Allah itu sangat jelas dan nyata, sedangkan kemusyrikan adalah kegelapan." Sejak hari itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang orang berperang di tanah suci Mekah. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Mekah telah diharamkan oleh Allah, bukan oleh manusia. Tidak boleh bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menumpahkan darah dan mencabut pohon di Mekah." Fadhalah bisa merasakan kasih sayang Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang begitu besar. Kasih sayang betul-betul membanjiri hati beliau yang amat lapang itu. Karena itu, tampak pada mulut beliau berupa keramahan, pada mata beliau berupa air mata, dan pada tangan beliau berupa kedermawanan. Kasih sayang adalah sifat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang paling menonjol dan tak seorang pahlawan pun berhasil menyamainya. Shalat Kemenangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertamu ke rumah sepupunya Ummu Hani binti Abu Thalib. Beliau mandi dan sholat kemenangan sebanyak 8 rokaat. Saat itu, dua orang musyrik cepat-cepat meminta perlindungan kepada Ummu Hani. Ali bin Abu Tholib berkeras ingin membunuh dua orang itu. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Kami melindungi siapa pun yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani." Setelah itu beberapa penjahat besar yang paling keras memusuhi Islam diadili. Sebagian diampuni dan sebagian dihukum mati. Istri Ikrimah bin Abu Jahal menghadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan meminta agar suaminya diampuni. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengabulkannya. Istri Ikrimah pun menjemput suaminya yang lari ke Yaman. Ikrimah kembali ke Mekah dan masuk Islam.


322 Miqyas bin Subabah dihukum mati. Miqyas pernah masuk Islam, namun ia kemudian membunuh seorang Anshor dan kembali murtad setelah bergabung dengan orang-orang musyrik. Al Haris bin Nufail dihukum mati karena ia dulu sering kali menyiksa dan mengganggu Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Habbar bin Al Aswad diampuni. Ia dulu yang mengguncang unta Zainab, putri Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Zainab yang saat itu sedang hamil, jatuh dan keguguran. Setelah masuk Islam, Habbar menjadi seorang muslim yang taat. Saat itu, muncullah kekhawatiran di kalangan orang Anshor. Salah seorang di antara mereka bertanya kepada saudara Anshornya, "Apakah menurut kalian Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan menetap di Mekah setelah Allah memberi kemenangan?" Orang-orang yang ditanya saling bertatapan sedih. Mereka sungguh tak ingin hal itu terjadi. Ketika itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedang berdoa di Shafa sambil mengangkat kedua tangan. Begitu selesai, beliau segera menghampiri kerumunan Anshor dan bertanya, "Apa yang kalian bicarakan?" "Tidak ada apa-apa, wahai Rasulullah." Namun, karena kekhawatiran yang terus mebesar, akhirnya mereka menyampaikannya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Beliau pun bersabda, "Aku berlindung kepada Allah. Tempat hidupku adalah tempat hidup kalian dan tempat matiku adalah tempat mati kalian." Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 138 Menghancurkan Berhala-berhala lain Penaklukan Mekah terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Allah memberikan kemenangan besar kepada kaum muslimin justru pada saat mereka tengah menunaikan ibadah shaum. Lima hari sebelum Ramadhan berakhir. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengirim Khalid bin Walid beserta 30 penunggang kuda untuk menghancurkan berhalaberhala Uzza di Nakhlah. Berhala ini milik Quraisy dan Bani Kinanah. Khalid merobohkannya, kemudian kembali. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya, "Apakah engkau melihat sesuatu?" "Tidak," jawab Khalid.


323 "Kalau begitu, engkau belum benar-benar merobohkannya. Kembali lagi ke sana dan robohkan!" demikian sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Dengan perasaan bergejolak, Khalid kembali sambil menghunus pedang. Namun, ketika sampai di tujuan, Khalid dihadang seorang wanita berkulit hitam tanpa baju yang menggeraikan rambut. Orang-orang menjerit melihat tingkah wanita. Khalid segera menebasnya sampai mati. Ketika ia kembali ke Mekkah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Dulu aku mengira kalau-kalau Uzza akan disembah selama-lamanya di negeri kalian ini." Selain itu Amr bin Ash juga diutus untuk menghancurkan berhala Suwa' milik Bani Hudhail di Ruhath. Ketika Amir bin Ash tiba di sana, penjaga Suwa' bertanya, "Apa maumu?" "Aku diperintahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk menghancurkan Suwa" "Engkau tidak akan sanggup!" jawab penjaga sambil melotot. "Mengapa?" tanya Amr bin Ash geram. "Karena engkau akan dihalangi!" seru penjaga dengan yakin. "Hingga detik ini, engkau masih juga berada dalam kebatilan!" seru Amr bin Ash gemas. "Celakalah engkau. Apakah engkau pikir berhala itu bisa mendengar dan melihat?" Kemudian Amr bin Ash menghancurkan Suwa' sampai berkeping-keping. Setelah itu, ia bertanya kepada penjaga, "Bagaimana menurut pendapatmu?" "Kalau begitu, aku pasrah kepada Allah", jawab penjaga. Sa'ad bin Zaid beserta duapuluh pasukan diutus Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk menghancurkan Manat. Berhala itu dulunya milik suku Aus, Khazraj, Ghassan, dan lainnya. Di tempat itu juga muncul dukun wanita berkulit hitam yang bertelanjang sambil mengutuk Sa'ad. Sa'ad membunuhnya dan menghancurkan berhalanya. Sungguh tak layak berhala disembah, karena Allah Maha Kaya. Dialah yang memiliki kerajaan bumi dan langit beserta bintang-bintang, bulan-bulan, asteroid-asteroid, komet-komet, dan segala yang ada di alam semesta ini Ancaman Hawazin dan Tsaqif Kini kaum Muhajirin sudah tenang. Mereka dapat kembali ke rumah mereka dan dapat berhubungan lagi dengan keluarga mereka di Mekah yang sekarang telah memeluk islam. Hati semua orang sudah yakin bahwa islam telah meraih kemenangan.


324 Namun setelah limabelas hari fathu mekah, tiba tiba tersiar berita yang membuyarkan semua harapan perdamaian. Kabilah Hawazin dan Tsaqif yang tinggal di pegunungan tidak jauh dari Mekah sudah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kaum Muslimin. Pasukan Hawazin dipimpin oleh Malik bin Auf. Ia membawa serta semua harta, wanita, dan anak-anak. Seorang tua bijaksana yang sudah buta, Duraid bin Ash Shima bertanya, "Mengapa sampai harus membawa wanita, harta, dan anak-anak?" "Aku ingin setiap prajurit menjadi bersemangat karena tak ingin istri, anak, dan hartanya dirampas jika mereka kalah," jawab Malik bin Auf. "Wahai Malik, tidak pantas engkau membawa penduduk Hawazin ini ke tengah pasukan. Bawalah mereka pulang dan bertahanlah di tempat kita tinggal yang aman dan terlindung. Setelah itu hadapilah orang-orang Muslim dengan pasukan inti. Jika engkau menang, keluarga dan hartamu tetap aman. Jika engkau kalah, setidaknya harta dan keluargamu tetap terlindung." Namun Malik tidak mau mendengar suara bijak ini. Ia bahkan mengusir Duraid dan berkata, "Aku tidak mau lagi nama Duraid bin Ash Shima disebut-sebut!" Tanggal enam Syawal tahun 8 Hijriyah Rasulullah صلى الله عليه وسلم meninggalkan Mekah dengan 12 ribu pasukan termasuk 2 ribu orang Mekah yang memeluk Islam. Menjelang petang muncul seorang penunggang kuda ia melaporkan bahwa Hawazin membawa seluruh harta dan ternak mereka. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tersenyum dan bersabda, "Itu adalah harta rampasan milik orang-orang muslim besok hari, jika Allah menghendaki. Jumlah pasukan yang besar itu membuat sebagian prajurit muslim berkata dengan bangga, "Kali ini kita tidak mungkin bisa dikalahkan."Sebuah pernyataan yang keliru dan mengakibatkan bencana. Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendengar gerakan musuh di Thaif, beliau mengirim mata-mata yaitu seorang sahabat bernama Abdullah Bin Abu Hadrod al Aslamy. Abdullah melakukan pengintaian dan membenarkan persiapan musuh. Sebagai persiapan, Rosulullah صلى الله عليه وسلم meminjam 100 baju perang dan perangkat senjata kepada Sufyan bin Umayyah yang saat itu belum masuk Islam. Bersambung


325 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ِل ُم َحمد ّلِ َعلَى ُم َح اَلل َّم َّ ٍد َو َعلَى آ Bagian 139 Perang Hunain Malam Rabu tanggal 10 Syawal pasukan muslim tiba di lembah Hunain. Namun diam-diam Malik bin Auf dan pasukannya sudah tiba lebih dulu di sana. Malik menyusupkan pasukannya di tengah kegelapan malam. Ia menyebarkan mereka di setiap jalan masuk ceruk tersembunyi dan celah celah bukit. Selepas sholat subuh Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyerahkan bendera dan membagi-bagikan tugas kepada setiap komandan. Setelah itu beliau memerintahkan agar pasukan muslim berangkat. Tiba-tiba saja di dalam keremangan subuh, serangan panah yang gencar dan serentak datang seperti hujan. Pasukan musuh membuka serangan, mereka menyerbu turun didahului oleh seorang laki-laki yang menunggang unta merah. Ia membawa Bendera Hitam di ujung tombak. Setiap kali menemui seorang muslim tombak itu dihantamkannya kuat-kuat. Maka tanpa terkendalikan lagi pasukan muslim lari kocar-kacir. Perasaan takut dan gentar begitu kuat menghantui perasaan mereka, sehingga mereka lari tanpa menghiraukan teman-temannya lagi. Abu Sufyan yang baru saja dikalahkan saat Fathu Makah, tersenyum sambil berkata, "Mereka tidak berhenti lari sebelum sampai ke laut." Beberapa orang Mekah yang baru masuk Islam seperti Suaiba bin Usman berkata, "Sekarang aku dapat membalas Muhammad, dulu ia yang membunuh ayahku pada perang Uhud." Kalada bin Hanbal berkata, "Sekarang sihir Muhammad sudah tidak mempan lagi." Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang saat itu duduk di atas keledai putihnya menunjukkan ketabahan yang luar biasa. Ketika semua pengikutnya berlarian mundur, beliau tetap di tempat ditemani beberapa sahabatnya. Beliau memanggil-manggil orang yang berlarian. "Hai orang-orang, kamu mau kemana? Mau kemana? aku adalah Rasulullah! Aku adalah Muhammad bin Abdullah." Namun orang-orang tidak peduli, sebab yang mereka pikirkan hanya menyelamatkan diri sendiri. Saat itu Abu Sufyan memegang tali kekang keledai dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abbas memegangi pelananya agar keledai Rasulullah صلى الله عليه وسلم itu tidak melarikan diri karena ketakutan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم turun dari keledainya dan berdoa, "Ya Allah turunkanlah Pertolonganmu." Kemenangan Selesai berdoa Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan pamannya, Abbas, untuk memanggil para prajurit. Abbas adalah laki-laki bersuara lantang. Kemudian ia menyeru, "Manakah saudara-saudara Anshar yang telah


326 memberi tempat dan pertolongan? Manakah saudara-saudara Muhajirin yang telah berikrar di bawah pohon? Kemarilah saudara-saudara. Rasulullah صلى الله عليه وسلم masih hidup!" Di kemudian hari Abbas menuturkan pengalamannya itu, "Demi Allah seakan-akan perasaan mereka saat mendengar teriakanku ini seperti perasaan seekor induk sapi terhadap anaknya." Suara Abbas menggema berulang-ulang ke seluruh lembah. Terjadilah mukjizat Allah. Orang-orang Anshor yang diingatkan akan baiat Aqobah segera teringat pada sosok Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan janji mereka untuk melindungi beliau. Mendengar nama Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,orang-orang Muhajirin teringat bahwa mereka telah berjuang begitu bersusah-payah bersama beliau. Kehormatan mereka tersentuh sehingga dengan penuh semangat orangorang Muhajirin dan Anshar berseru dari segala penjuru,"Labbaik! Labbaik! Kami datang! Kami datang!" Sekelompok pasukan muslim berdatangan ke tempat Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada dan bertempur dengan dahsyat. Alangkah beratnya menahan serbuan musuh yang sudah di ambang kemenangan. Melihat para sahabatnya memberikan perlawanan sengit, dengan semangat yang makin melambung Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Sekarang pertempuran benar-benar berkobar. Allah tidak menyalahi janji kepada Rasul-Nya" Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyebarkan segenggam kerikil pada musuh sambil bersabda,"Wajah-wajah buruk!" Tidak lama kemudian pasukan musuh terpukul berantakan. Mereka lari meninggalkan semua istri, anak, dan harta mereka. 70 musuh terbunuh. Sebanyak 6.000 tawanan, 22.000 unta, 40.000 kambing dan 4.000 uqiyah perak direbut kaum Muslimin. Pasukan Muslim terus mengejar musuh sampai ke atas. Di tempat ini Hawazin dihancurkan sama sekali. Duraid si buta juga terbunuh. Malik bin Auf lari ke dalam kota Tha'if dan berlindung di sana. Dalam perang Hunain ini Abu Sufyan sedang memegang tali kekang kuda Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Ketika pasukan muslim kocar-kacir Abu Sufyan bersiap untuk syahid dengan tangan kanan menangkis serangan lawan dan tangan kiri memegang tali kekang. Setelah pasukan muslim balik memukul, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menatap Abu Sufyan berlama-lama seraya berkata, "Oh saudaraku Abu Sufyan bin Harits..." Mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan itu, Abu Sofyan menangis haru dan air matanya membasahi kaki .صلى الله عليه وسلم Rasulullah Bersambung


327 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 140 Perang Thaif Saat itu turunlah Firman Allah قَ ْد َ َلمْ تُ ْغ ِن َعْن ُ ْكم ل َشْ̿ ُ ْكم فَ َ ْت ُ ْكم كَْثرَ˔ُ ب َ ҫعجْ ْذ ǫ Ү َْوَم ُحَْ̲ ٍينۙ ا ي ۙ وَ َيرةٍ ثِ ا ِطَن كَ ا ҧِ ߹ُفي َموَ ْر نَ َصر ُض َكمُُ ҫ ُُكم اҡْ ْ ي َضاقَ ْت َ̊لَ َ ˄ًا و ا ِبمَ َن ُتمْ ُم ْدِˊ ِر̽ ْ ي ҧ ل ҧ وَ ْت ثمُ َ رَ ُحˍ Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Surah At-Taubah (9:25) وََ̊ َلىٰ رَ ُسوِࠀِ ǫَْ̯زَل ا ҧَ ߹ُس ِك̀نَتَُه َ̊ ҫ ҧ َن ُ فِر̽ ̦ َكاِ ْ ء ا ُ ِ َߵ َجَزا َوَذஈ ُرواۚ فَ َن كَ ̽ ҧ ߳ثم ِ ҧذ َب ا ˔َرَ ْوَها وََ̊ ْ م َ ǫَْ̯زَل ُجُ̲وًدا ل ҫ َين وَ ِ̲ مُ ْؤمِ ْ َلى ال Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Surah At-Taubah (9:26) Pasukan muslim mengepung kota Tha'if. Mereka kemudian menyerang dengan manjaniq dan "tank". Tank ini berbentuk seperti rumah kura-kura yang besar. Para prajurit maju dan dengan sengaja berlindung di bawahnya untuk mengebor dinding. Namun musuh yang cerdik menuangkan besi panas hingga "tank" itu terbakar. Pertempuran keras merebut benteng tidak berhasil. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memakai cara lain. Beliau memerintahkan agar kebun kurma dan anggur Thaif yang terkenal itu dibakar dan ditebang. Namun, karena pihak musuh memohon agar beliau tidak melakukan itu. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun membatalkan perintahnya. Beliau juga berkata kepada musuh, "Siapa pun yang turun dari benteng dan datang ke sini maka dia bebas."


328 Maka 20 orang pun turun dan bergabung dengan pasukan muslimin. Dari merekalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengetahui bahwa musuh mempunyai persediaan makanan yang cukup untuk bertempur berbulan-bulan. Karena itu beliau memutuskan untuk menarik mundur pasukannya. Salah seorang sahabat berkata, "Ya Rasulullah berdoalah bagi kemalangan orang-orang Bani Tsaqif di Thoif." Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang bijak dan penyayang malah berdoa, "Ya Allah berikanlah petunjuk kepada penduduk Tsaqif dan berkahilah mereka." Karena pengepungan akan berlangsung lama, Naufal bin Muawiyah memberi saran kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم , "Wahai Rasulullah, mereka itu seperti serigala di dalam lubangnya. Apabila engkau terus menungguinya tentu akhirnya engkau dapat mengambilnya. Namun ia pun tidak seberapa berbahaya jika engkau tinggalkan.." Mengembalikan Tawanan Thaif Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya meninggalkan kota Thaif. Di Ji'rona, mereka berhenti untuk membagikan harta rampasan dan para tawanan perang. Di antara para tawanan ada seorang wanita tua yang berkata kepada para sahabat, "Kamu tahu bahwa aku masih saudara sesusuan dengan pemimpin kamu itu?" Setengah tidak percaya mereka membawa wanita itu ke hadapan .صلى الله عليه وسلم Rasulullah Ternyata Rasulullah صلى الله عليه وسلم segera mengenalinya walau pun sudah begitu lama tidak bertemu dengan wanita itu. Dia adalah Syaimah binti Al Harist, Putri Halimah as-Sa'diyah, ibu susuan Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Rasulullah segera menghamparkan jubahnya, dan mempersilahkan Syaimah duduk di situ. Ketika beliau bertanya apakah dia ingin tinggal bersama beliau, Syaimah lebih memilih pulang kembali ke kabilahnya. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun membebaskan Syaimah. Setelah itu datanglah para Utusan dari Bani Hawazin. Mereka meminta agar Rasulullah صلى الله عليه وسلم memulangkan harta, wanita, dan anak-anak yang tertawan. "Rasulullah, di antara para tawanan itu terdapat juga bibi-bibimu dari pihak ayah dan ibu-ibu yang dulu pernah memeliharamu. Jika sekiranya kami menyusui Haris bin Abi Syimr atau Nu'man bin Al Mundzir, kemudian ia datang melihat keadaan kami seperti yang kami alami sekarang ini, tentu kami manfaatkan dan kami mintai belas kasihnya. Konon pula engkau yang sudah mendapat pengasuhan yang terbaik...." Para utusan ini mengingatkan bahwa ketika kecil dulu Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah dirawat di lingkungan mereka. Hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang penyayang amat terharu mendengarnya. Tahu berterimakasih dan mengingat budi orang lain sudah menjadi bawaan sifat Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Beliau pun bertanya, "Anak-anak dan istri-istri kamu ataukah harta kamu yang lebih kamu sukai."


329 "Rasulullah kami disuruh memilih antara harta dan sanak keluarga kami?" "Mengembalikan istri-istri dan anak-anak kami tentu lebih kami sukai." Di hadapan pasukannya Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengumumkan bahwa beliau dan keluarganya melepaskan anakanak dan kaum wanita Hawazin. Melihat itu, serentak para sahabat pun segera melepaskan para tawanan dengan berkata, "Apa yang ada pada kami, kami serahkan kepada Rasulullah." Rasulullah صلى الله عليه وسلم akhirnya menaklukkan Tha'if dengan cara sederhana. Beliau menawarkan kepada Malik bin Auf untuk masuk Islam dan seluruh keluarga serta hartanya akan dikembalikan, ditambah 100 ekor unta. Akhirnya pemimpin pasukan musuh di Perang Hunain itu memeluk Islam di ikuti kaumnya. Bersambung


330 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 141 Pembagian Harta Rampasan Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendahulukan mereka yang baru masuk islam dalam pembagian harta rampasan perang. Hati mereka masih lemah dan perlu diikat lebih erat ke dalam Islam dengan cara yang cerdik dan bijaksana. Seratus ekor unta diberikan kepada Abu Sufyan yang masih juga bertanya, "Bagaimana dengan anakku Yazid? Bagaimana pula dengan anakku Muawiyah?" Maka, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberikan kepada Yazid dan Muawiyah masing-masing 100 ekor unta. Demikianlah, begitu murah hatinya beliau, sampai orang-orang yang baru memeluk Islam itu mengerumuni beliau untuk meminta harta hingga Rasulullah صلى الله عليه وسلم terdesak ke sebuah pohon dan mantelnya yang terlepas pun diambil orang. "Wahai saudara-saudara, kembalikan mantelku!" Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم" .Demi diriku yang ada di tanganNya. Andaikan aku memiliki semua tanaman di Tihamah, tentu aku akan memberikannya kepada kalian hingga kalian tidak menyebut aku sebagai orang yang kikir, takut, dan dusta." Kemudian beliau berdiri disamping unta milik beliau dengan sebelah tangan memegang punuk unta. Beliau mengangkat sebiji gandum dan bersabda, "Wahai semua orang, demi Allah aku tidak lagi menyisakan harta rampasan kalian, termasuk pula sebiji gandum ini kecuali seperlimanya, dan seperlimanya itu pun sudah ku serahkan kepada kalian." Keputusan Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk memberikan sejumlah besar harta kepada yang baru memeluk Islam sangatlah tepat. Karena tidak semua orang memeluk Islam dengan akalnya. Banyak orang di dunia ini perlu ditarik kepada kebenaran dengan perut dan nafsunya. Setelah itu barulah beliau memanggil Zaid bin Tsabit yang bertugas membagi-bagikan sisa harta rampasan kepada para sahabat Muhajirin dan Anshor. Masing-masing mendapat 4 ekor unta dan 40 domba. Sedangkan para penunggang kuda masing-masing mendapat 12 ekor unta dan 120 domba. Jumlahnya tentu tidak seberapa dibanding dengan yang lain. Kebijakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini pun, mulanya tidak dipahami, sehingga ada segolongan sahabat yang kecewa. Kemenangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kaum muslimin bersumber dari ketakwaan. Inilah janji Allah untuk orang bertaqwa 1. Hidup berkah 2. Furqonan atau mampu memisahkan baik dan buruk 3. Albusyro yaitu kegembiraan 4. Bersama Allah


331 5. Dicintai Allah 6. Yusra atau diberi kemudahan 7. Merajan atau diberikan jalan keluar dari kesulitan 8. Tidak sulit rezeki 9. Mendapat ampunan Allah 10. Hasanah Khoiron yang mendapat kebaikan. Orang-orang Anshar Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendengar para sahabat Anshar berbisik-bisik tentang kebijakannya. Bukankah Ansharlah yang bertempur gigih sehingga mereka membalikkan keadaan menjadi kemenangan pada perang Hunain? Kemudian, mengapa orang lain yang justru melarikan diri dalam pertempuran yang menikmati hasilnya? "Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bertemu dengan masyarakatnya sendiri," demikian kata mereka. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم Alaihi Wasallam datang ke tempat Anshor berkumpul dan bertanya, "Saudara-saudara Anshor aku mendengar bahwa ada perasaan kalian yang mengganjal terhadap aku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat, atau Allah memberi petunjuk kepada kalian? Bukankah kalian dulu miskin, lalu Allah membuat kalian kaya, lalu juga menyatukan hati kalian?" Anshar menjawab, "Memang Allah dan Rasulullah juga yang lebih bermurah hati." Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Saudara-saudara Anshar mengapa kalian tidak menjawab kata-kataku"? "Dengan apa harus kami Jawab ya Rasulullah? Segala kemurahan hati dan kebaikan itu ada pada Allah dan Rasul-Nya juga." Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Ya sungguh, demi Allah, kalau kamu mau tentu kamu masih dapat mengatakan: engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan orang, kamilah mempercayaimu, engkau ditinggalkan orang, kamilah yang menolongmu, engkau diusir kamilah yang memberimu tempat, engkau dalam kesengsaraan, kamilah yang menghiburmu. Saudara-saudara Anshar masih adakah sekelumit juga rasa keduniaan itu dalam hatimu terhadap harta itu? Aku telah mengambil hati satu golongan kaum supaya mereka sudi menerima Islam, sedang terhadap keislamanmu aku sudah percaya. Tidakkah kamu rela saudara-saudara Anshar apabila orang-orang itu pergi membawa kambing membawa unta, dan kamu pulang membawa Rasulullah ke tempat kamu? Demi Dia yang memegang hidup Muhammad! Kalau tidak karena hijrah, tentu aku termasuk orang Anshar. Jika orang menempuh suatu jalan di celah gunung dan Anshar menempuh jalan yang lain, niscaya aku akan menempuh jalan Anshar. Allahumma Ya Allah rahmatilah, orang-orang Anshar, anak-anak dan cucu-cucu Anshar." Dari hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Sebenarnya perumpamaan sahabat yang baik dan buruk itu bagaikan pembawa parfum dan peniup api. Maka pembawa parfum adakalanya memberi


332 engkau atau engkau memberinya atau engkau mendapat bau harum darinya. Adapun yang membawa api jika tidak membakar pakaianmu maka engkau akan mendapat bau busuknya." Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َحمد اَللَّ Bagian 142 Zainab Wafat Kata-kata itu diucapkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan penuh harap, penuh cinta, dan penuh sayang kepada mereka yang pernah memberi janji setia kepada beliau. Rasa haru menyesak di dalam dada semuanya sehingga seluruh orang Anshar menangis sambil berkata, "Kami rela dengan Rasulullah sebagai bagian kami." Setelah itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم kembali ke Mekah untuk berumrah. Selesai umroh Rasulullah صلى الله عليه وسلم menunjuk 'Attab bin Asid dan Muadz bin Jabal untuk mengajar orang-orang untuk memperdalam Al Quran dan menjalankan ajaran agama. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun kembali ke Madinah. Kini di seluruh Jazirah Arab tidak ada lagi yang berani mengganggu atau mencela Islam. Gembira sekali kaum Anshor dan Muhajirin. Semua merasa bahwa Allah telah membuka jalan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan membebaskan tanah suci. Mereka gembira karena penduduk Mekah telah mendapatkan hidayah dengan memeluk Islam termasuk beragam kabilah Arab yang telah tunduk dan taat kepada agama Islam ini. Apalagi kemudian berbagai utusan kabilah-kabilah Arab yang lain berdatangan dan menyatakan memeluk Islam di hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Namun segala ketentraman di dunia ini pasti ada kurangnya. Saat itulah, Zainab putri Rasulullah صلى الله عليه وسلم wafat. Sejak jatuh dari unta dan mengalami keguguran kandungan, Zaenab memang tidak pernah sembuh. Kini keturunan Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang masih hidup tinggal Fatimah az-Zahra, karena Ummu Kultsum dan Rukayah juga telah lebih dulu meninggalkan dunia. Rasulullah صلى الله عليه وسلم teringat betapa lembutnya Zainab dan betapa indah kesetiaannya kepada suaminya Abul Ash bin Ar-Rabi'. Hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedih sekali. Namun dalam keadaan sedih pun Rasulullah tidak pernah lupa dengan kebiasaan beliau selalu pergi ke pelosok-pelosok sampai ke ujung kota. Beliau tengok orang yang sakit dan beliau hibur orang yang menderita.


333 Umamah Putri Zaenab. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Qotadah, ketika kami sedang menunggu Rasulullah صلى الله عليه وسلم pada waktu Dhuhur dan Ashar, keluarlah Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama Umamah di atas bahunya. Kemudian kami sholat di belakangnya jika Rasul sujud Umamah dilepaskan dan jika bangkit dari sujudnya Umamah dipangku, sedang waktu kepalanya diangkat dari sujud, Umamah diambil lagi. Kelahiran Ibrahim Allah pun menurunkan rahmat dan kasih sayang untuk menghibur hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang sedang berduka. Kemudian lahirlah putra Rasulullah صلى الله عليه وسلم dari rahim Mariah seorang budak Mesir yang dihadiahkan Mauqauqis kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Saat itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah lewat 60 tahun. Alangkah bahagianya hati beliau, putra laki-laki itu beliau beri nama Ibrahim. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberi sedekah uang untuk setiap helai rambut Ibrahim kepada para fakir miskin. Seorang wanita bernama Ummu Saif diangkat menjadi ibu susu Ibrahim. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyediakan pula 7 ekor kambing yang setiap hari diperah susunya untuk keperluan Ibrahim. Hampir setiap hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengunjungi Ibrahim. Beliau sangat senang melihat Ibrahim tumbuh sehat. Senyum bayi itu seperti cahaya pelita yang menghangatkan hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Suatu hari dengan penuh perasaan gembira Rasulullah صلى الله عليه وسلم menggendong Ibrahim dan memanggil Aisyah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya "Bukankah besar sekali persamaan Ibrahim dengan diriku?" Namun Aisyah tidak mengiyakannya, demikian pula dengan istri-istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang lain. Aisyah dan istri2 Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat sedih karena tidak bisa memberi beliau seorang keturunan. Padahal mereka sangat menyayangi beliau. Karena itu, begitu melihat kegembiraan Rasulullah صلى الله عليه وسلم menggendong Ibrahim, mereka menunjukkan wajah kurang suka. Apa yang terjadi pada istri-istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangatlah wajar karena pada zaman itu belum pernah kaum wanita diperlakukan sedemikian baik. Begitu sayangnya mereka kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم sampai-sampai mereka menganggap beliau lebih menyayangi istri yang satu dibandingkan yang lain. Pertentangan Ini akhirnya meresahkan hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Beliau memisahkan diri dari para istrinya. Karena sudah lebih dari sebulan Rasulullah صلى الله عليه وسلم hidup menyendiri, kaum muslimin menjadi gelisah. Mereka takut kalau ternyata Rasulullah صلى الله عليه وسلم menceraikan istri-istrinya. Umar Bin Khattab datang menengok Rasulullah صلى الله عليه وسلم di tempat pengasingannya. Umar menangis melihat punggung Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang berbekas tikar kasar. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghibur sahabatnya itu dengan mengatakan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih berharga daripada harta seluruh bumi beserta isinya. Setelah itu giliran Umar yang menghibur beliau. Umar terus bicara dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم sampai beliau merasa terhibur dan tertawa. Kemudian, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjelaskan kepada kaum muslimin bahwa beliau tidak menceraikan istri-istri beliau.


334 Kemudian turunlah firman Allah yang menegur istri-istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Kalau saja Rasulullah صلى الله عليه وسلم sampai menceraikan mereka, karena mereka sudah begitu menyusahkan, niscaya Allah akan menggantikan mereka dengan wanita-wanita lain yang lebih baik. Akhirnya para ibu kaum muslimin itu pun sadar dan hidup rukun seperti sedia kala. Tidak ada laki-laki yang memperlakukan istri-istrinya sebaik Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Beliau senang bergurau dan senang melihat mereka bergurau. Dari hadis riwayat Bukhari, dari Aisyah berkata, "Saya pernah melumurkan adonan tepung ke wajah Saudah dan ia pun membalas melumurkan adonan tepung di wajah saya sehingga membuat Rasulullah صلى الله عليه وسلم tertawa." Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َحمد اَللَّ Bagian 143 Perang Tabuk Setelah bertempur dengan kaum muslimin di perang Mu'tah, Kaisar Romawi tahu bahwa seluruh penduduk Jazirah Arab sudah sangat terpesona dengan kaum muslimin. Buktinya akhir-akhir ini semakin banyak kabilah Arab yang memeluk Islam. "Jika ini dibiarkan, pengaruh Romawi di wilayah-wilayah Arab yang ku kuasai akan hancur," demikian pikir Kaisar Romawi. "Tidak ada jalan lain selain menghancurkan agama baru itu sampai ke akarnya." Maka orang Romawi segera menyiapkan sebuah pasukan sebanyak 40000 orang. Termasuk di dalamnya adalah kabilah-kabilah Arab yang menganut agama Nasrani. Mereka akan memusnahkan tentara muslim dengan membuat orang lupa akan pengunduran diri tentara muslim yang sangat cerdik pada perang Mu'tah. Keadaan di Madinah pun menjadi genting. Orang-orang munafik memperparahnya dengan menyebarkan desas-desus tentang kedatangan pasukan Romawi. Begitu gawatnya keadaan sampai-sampai ketika orang Anshar mengetuk pintu rumahnya, Umar Bin Khattab keluar sambil bertanya, "Apakah orang-orang Romawi sudah tiba?" Situasi tambah mengkhawatirkan karena saat itu adalah musim panas menjelang musim gugur yang dikenal sebagai musim maut yang sangat mencekam di padang pasir. Panas telah mencapai derajat tertinggi. Semua orang lebih suka berdiam diri di rumah atau di kebun daripada bepergian sehingga jalan-jalan di Madinah tampak lebih sepi daripada hari-hari biasanya. Namun tidak ada jalan lain bagi Rasulullah صلى الله عليه وسلم selain mengumumkan keberangkatan perang. Beliau memberitahu kabilah-kabilah yang telah memeluk Islam agar bersiap dengan pasukan sebesar mungkin.


335 Keputusan Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini sangat cermat dan bijaksana sebab jika beliau menunggu musim panas berlalu orang Romawi akan masuk lebih jauh ke dalam wilayah Islam. Akan tetapi ketika itu buah-buahan sudah mulai masak dan siap dipanen. Perjalanan jauh di bawah panas matahari yang luar biasa ke perbatasan Romawi akan merupakan perjalanan yang sangat sulit. Apalagi Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga mengharapkan bahwa setiap orang memberikan hartanya untuk pasukan yang memerlukan biaya besar. Maka ketika seruan jihad berkumandang, bagaimanakah sikap kaum muslimin? Ketika mendengar ada bahaya Rasulullah صلى الله عليه وسلم selalu berusaha untuk menyerang lebih dahulu. Menyerang punya beberapa kelebihan yaitu: leluasa menentukan sasaran, dapat menarik mundur pasukan jika situasi tidak menguntungkan, prajurit penyerang biasanya lebih siap dan lebih bersemangat dibandingkan dengan prajurit yang bertahan. Persiapan Rasulullah Begitu sulit dan beratnya perjalanan yang akan ditempuh kaum muslimin, membuat sikap orang terbagi dua golongan: kaum munafik yang menolak pergi dan kaum beriman yang menyambut seruan Rasulullah صلى الله عليه وسلم tanpa ragu lagi. Para sahabat yang berharta bahkan berlomba-lomba untuk bersedekah. Utsman bin Affan yang sebelum itu telah menyiapkan kafilah ke Syam sebanyak 200 ekor unta lengkap dengan barang dagangan ditambah uang 200 uqiyah, memberikan 100 ekor unta beserta seluruh barang yang diangkutnya. Jumlah itu masih ditambah dengan uang seribu dinar yang diletakkan dalam bilik Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Beliau menerimanya dan bersabda, "Tidak ada yang membahayakan Utsman karena apa yang dilakukannya setelah hari ini." Akan tetapi Usman tidak berhenti sampai disitu. Ia mengeluarkan sedekah lagi, lagi, dan lagi sampai seluruhnya berjumlah 900 ekor unta, 100 kuda dan sejumlah besar uang tunai. Abdurrahman bin Auf datang menyerahkan 200 uqiyah perak. Abu Bakar adalah orang yang pertama menyerahkan sedekahnya ke tangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Abu Bakar menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya sejumlah 4.000 dirham. "Wahai Abu Bakar, apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?" tanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم . "Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya," demikian jawab Abu Bakar. Umar bin Khattab yang melihat hal itu dan hendak menyerahkan separuh hartanya, berkata, "Aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar dalam perlombaan kebaikan untuk selama-lamanya." Orang-orang berdatangan menyerahkan apa saja yang mereka miliki, banyak atau sedikit. Ada yang menyerahkan 70 wasaq kurma atau hanya satu atau dua mud kurma karena hanya itu saja yang mereka


336 miliki. Kaum wanita berbondong-bondong menyerahkan perhiasan mereka tidak ada satupun orang beriman yang merasa sayang pada hartanya demi perjuangan di jalan Allah. Bahkan orang-orang yang paling miskin pun berdatangan bukan untuk menyerahkan sesuatu namun minta agar disertakan dalam pasukan. Dengan terharu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم terpaksa menolak mereka dengan bersabda, "Aku sudah tidak punya lagi kendaraan untuk kalian." Maka orang-orang itu pun pulang sambil menangis. Jadi nyatalah bawa harta benda itu perlu. Perlu sangat. Orang Islam harus berupaya menjadi kaya raya karena dengan kekayaan itulah dia akan mempertinggi kemuliaan budi, budaya, dan agamanya. Namun harta benda itu adalah alat bukan tujuan. Tujuan sebenarnya ialah ingat pada Allah menuju Ridha Allah dan menegakkan jalan Allah Sabilillah. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 144 Orang-orang Munafik Sementara orang-orang Mukmin dari berbagai kabilah berdatangan untuk bergabung bersama sambil berlomba membawa sedekah ke Madinah, orang-orang munafik malah berbisik-bisik. Mereka mencaricari alasan untuk tidak ikut di antara sesama mereka, terdengarlah cemoohan kepada ajakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم . "Jangan kalian berangkat dalam keadaan udara panas ini," demikian ajak mereka kepada yang lain. Tentang perkataan ini turunlah firman Allah ى سُ َو تَعَالَ ْب َحانَهُ َط ۡ ِحي مُ َ ل ҧن َجہَҧنمَ ِ ا اؕ وَ َسقَ ُطوۡ ۡ˗نَۃِ فِ ۡ ؕ اََلا ِفى ال ّنى ِ ۡ َلا تَۡف˗ِ ۡ وَ ُل ائۡ َذۡن ّلى ِ ُقوۡ ҧ ҧم ۡن ي ۡ ̲ۡہُم ۡ و َن َ مِ ِر̽ ۡ ٰکفِ ۃ஍ ِԴل Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah". Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. {At-Taubah 9:49 / (التوبة {( "Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata janganlah kamu berangkat atau pergi berperang dalam panas terik ini." Katakanlah, "Api neraka jahanam itu lebih sangat panas, jika mereka mengetahui."


337 Abdullah bin Ubay bin Salul ketika itu berkemah di sebuah tempat bersama sekelompok pengikutnya. Mereka menolak berangkat bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم ke medan perang. Orang-orang yang hatinya terpendam kebencian terhadap Islam mengambil kesempatan ini. Mereka menghasut banyak orang, menghalang-halangi dan menanamkan rasa enggan mereka untuk pergi. Banyak orang yang telah munafik semakin menjadi lebih munafik. Mereka berkumpul di rumah Sulaim, orang Yahudi. Jika dibiarkan orang-orang ini pasti akan merajalela menebar kerusakan. Karena itulah Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutus Thalhah bin Ubaidillah untuk membubarkan mereka. Thalhah datang dan membakar rumah Sulaim. Orang-orang di dalam rumah kalang kabut melarikan diri, salah seorang patah kakinya karena terjatuh. Sementara itu yang lain memaksa menerobos api dan melarikan diri ke sana kemari. Tindakan keras Rasulullah صلى الله عليه وسلم itu berhasil mencegah mereka untuk tidak lagi mengulangi perbuatan semacam itu. Kemudian pasukan muslim berangkat. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memimpin 30000 orang ke perbatasan Romawi nun jauh di utara. Namun masih ada yang tertinggal. Padahal mereka adalah orang-orang yang tidak diragukan lagi keislamannya. Siapa dan mengapa? Orang-orang munafik menghindar dari satu bahaya pertempuran, tetapi akan menanggung kehinaan akibat tindakan pengecutnya. Mereka tidak punya Iffah. Iffah adalah kemampuan menahan diri. Gunanya untuk mengekang diri jangan sampai suka menempuh kepuasan sesaat yang akhirnya akan membawa kemelaratan. Abu Khaitsamah Ketika pasukan berangkat, kaum wanita dan anak-anak melepas mereka dengan penuh semangat. Bahkan banyak yang naik ke loteng agar dapat melihat dengan lebih leluasa. Debu halus mengepul ke udara disertai ringkikan kuda. Inilah pasukan dahsyat yang siap menembus padang pasir dengan tidak lagi mempedulikan udara panas, rasa haus dan lapar. Semua itu demi mendapat kecintaan Allah dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Namun beberapa orang belum tergerak hatinya untuk ikut padahal mereka bukanlah kaum munafik. Di antaranya adalah abu Khaitsamah, Kaab bin Malik, Murarah bin Ar Rabi, Hilal bin Umayyah. Setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan pasukannya telah berjalan beberapa hari. Abu Khaitsamah tiba di rumah. Hari itu benar-benar sangat panas sampai hampir tak tertahankan. Kedua istri Abu Khaitsamah bangkit dan menyambutnya dengan penuh cinta. Abu Khaitsamah berbaring di atas alas empuk yang telah disediakan istri-istrinya. Tenda yang sudah terbuka membuat angin mengalir masuk segar, apalagi tidak lama kemudian kedua istrinya itu masuk sambil membawa apa yang dia inginkan. Yang satu kendi sejuk yang telah ditaruh lama di tempat teduh, yang lain adalah makanan segar untuk memuaskan perut yang lapar. Namun begitu merasakan semua kenikmatan ini pikiran Abu Khaitsamah melayang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan pasukannya.


338 Ia berkata dalam hati, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم sekarang tengah terpanggang terik matahari dan diterpa angin panas, sedangkan Abu khaitsamah bersantai-santai di kemah yang sejuk, menikmati makanan yang tersedia dan bersenang ria ditemani para wanita cantik ini? Ini benar-benar tidak pantas dan tidak adil!" Seketika itu Abu Khaitsamah bangkit dan berkata kepada kedua istrinya, "Demi Allah, aku tidak akan masuk ke tenda kalian sebelum aku menyusul Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Tolong siapkan perbekalanku, aku akan pergi mengejar beliau." Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم tiba di daerah Tabuk, seseorang berkata, "Ada pengendara datang!" "Ia adalah Abu Khaitsamah," sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Abu Khaitsamah menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,beliau memaafkan dan mendoakan Abu Khaitsamah. Untuk menghindarkan bahaya yang sangat besar, seseorang harus menghindarkan kenikmatan yang sebentar saja, itulah gunanya iffah dan untuk mencapai kepuasan besar serta abadi, seseorang perlu teguh, tahan menyebrangi kesakitan dan penderitaan yang sebentar. Itulah gunanya syajaah atau keberanian. Abu Khaitsamah adalah contoh orang yang memiliki dua hal ini. Iffah dan syajaah tidak bisa dipisahkan seperti dua sayap burung. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 145 Perjalanan Pasukan Usro Pasukan ini dinamakan pasukan Usro artinya pasukan yang berangkat dalam keadaan penuh kesulitan. Dalam perjalanan, pasukan melewati Al Hijr. Dahulu tempat ini merupakan kediaman kaum Tsamud yang durhaka. Di lembah itu orang-orang mengambil air untuk persediaan minum mengingat jalan masih sangat jauh. Namun, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Janganlah kalian minum air di sini dan jangan pula dipergunakan untuk berwudhu. Adonan gandum yang telah kalian campurkan dengan air tadi berikan saja kepada unta, jangan kalian makan sedikit pun. Jangan kalian memasuki tempat-tempat yang dahulu dipergunakan kaum Tsamud untuk menganiaya diri mereka sendiri, nanti kalian akan tertimpa musibah seperti yang menimpa mereka, kecuali jika kalian adalah orangorang yang suka menangis jika mengingat dosa." Rasulullah صلى الله عليه وسلم segera mempercepat jalannya melewati lembah tersebut sambil menundukkan kepala. Di suatu tempat, pasukan berkemah dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpesan,


339 "Malam ini janganlah kalian keluar jika tidak disertai seorang teman." Pesan itu disampaikan karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم tahu bahwa tempat itu tidak pernah dilalui orang, dan hembusan pasir yang ganas sering mengubur orang maupun binatang. Akan tetapi malam itu ada dua orang yang melanggar pesan Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Salah seorang menghilang dibawa angin dan yang satu lagi tewas tertimbun pasir. Perjalanan kembali dilanjutkan, tetapi para sahabat sangat khawatir karena persediaan air mereka kini tidak cukup. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun berdoa. Dengan izin Allah ىَالَعَت وَ ُهَحان َبْس , ُawan hitam datang bergulunggulung dan turunlah hujan lebat yang memenuhi kebutuhan semua orang. Pada lain saat, dalam perjalanan itu persediaan makanan menipis dan para sahabat menderita kelaparan. Mereka meminta izin kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم agar diperbolehkan menyembelih unta-unta. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan agar semuanya mengumpulkan makanan yang tersisa. Setelah terkumpul Rasulullah صلى الله عليه وسلم berdoa. Setelah itu Beliau berkata, "Ambillah dan penuhilah kantong-kantong kalian." Maka para sahabat memenuhi kantong-kantong mereka sampai penuh. Kemudian mereka makan sampai kenyang, namun makanan itu masih tersisa. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mengucapkan kalimat syahadat dan bersabda, "Tidaklah seorang hamba pun yang mengucapkan kalimat itu tanpa ragu, maka kelak ketika berhadapan dengan Allah, ia pasti akan masuk surga." Keberanian Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya menantang kekuatan yang jauh lebih besar, bersumber pada rasa percaya diri. Orang Islam adalah kaum yang sepatutnya percaya kepada diri sendiri. Sebab kekuatan yang ada pada dirinya digantungkannya kepada kekuatan yang mengatur alam, yaitu Allah ىَالَعَت وَ . ُسْب َحانَهُ Pasukan Romawi Mundur Akhirnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم tiba di Tabuk. Mereka segera menyiapkan diri untuk bertempur. Di hadapan pasukannya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpidato dengan penuh semangat. Beliau mengingatkan akan kebaikan dunia dan akhirat yang bisa dicapai dengan berjuang sungguh-sungguh. Beliau juga memberi kabar gembira dan kabar kemenangan pasukan yang tadinya begitu letih, kini berubah menjadi pasukan berhati baja yang siap mati membela Islam. Kebulatan tekad pasukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini terdengar oleh musuh. Keberanian Romawi ciut mendengar kehebatan pasukan Muslim menyeberangi gurun tandus dan cuaca yang sangat panas dan ganas dengan bekal seadanya. Tidak akan ada satu pun kekuatan yang mampu menahan pasukan setangguh itu. Dihantui rasa takut, pasukan Romawi yang tersohor itu pun bergerak mundur sebelum lawannya terlihat. Mereka berpencar dan kembali ke daerah masing-masing.


340 Kemenangan tanpa bertempur ini melambungkan nama pasukan Islam. Berduyun-duyun, para pembesar di daerah-daerah perbatasan Romawi mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk berdamai. Para penduduk Jarba, Adzruh dan Aila menyatakan tunduk di bawah pemerintahan Muslim. Penduduk suatu daerah yang tunduk kepada pemerintah muslim namun tetap mempertahankan agama mereka, wajib membawa jizyah berupa sejumlah uang. Dengan demikian pasukan muslim akan datang membela apabila suatu saat musuh menyerang daerah itu. Penduduk Aila yang beragama Nasrani adalah termasuk di antara mereka yang membayar jizyah. Yuhanah bin Ru'bah pemimpin Aila datang dengan salib emas di dadanya. Ia membawa hadiah dan menandatangani perjanjian damai. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun memberinya mantel tenunan Yaman dan menerima Yuhanah dengan santun. Namun Ukaidir bin Abdul Malik Al Kindi, orang Nasrani yang memimpin penduduk Dumatul Jandal, malah meminta bantuan pasukan Romawi untuk melawan tentara muslim. Maka, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan Khalid bin Walid beserta 500 pasukan berkuda untuk melawannya. Dengan diam-diam tapi sangat cepat Khalid bin Walid menyerang pada waktu malam. Ia berhasil menawan Ukaidir yang tengah berburu lembu liar. Maka Dumatul Jandal pun takluk. Mereka menyerahkan 2.000 unta, 800 kambing, 400 wasaq gandum, dan 400 baju besi. Ukaidir pun masuk Islam di hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan menjadi sekutu kaum muslimin. Keperkasaan pasukan muslim bersumber dari rasa percaya kepada Allah ىَالَعَت وَ yang saja Siapaُ . سْب َحانَهُ َو تَعَالَى Allah kepada percaya ُهَحان َبْس ُmaka dia tidak akan merasa takut mengarungi lautan kehidupan. Dia tidak percaya bahwa akan ada kekuatan di alam ini yang sanggup merintanginya kalau tidak diizinkan oleh َو تَعَالَى Allah ُهَحان َبْس . ُDia tidak percaya bahwa dia akan ditimpa bahaya, kalau tidak telah tertulis lebih dahulu dalam ilmu Allah. Dia selalu berbaik sangka kepada Allah ىَالَعَت وَ . ُسْب َحانَهُ Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 146 Tiba di Madinah Duapuluh hari lamanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم tinggal di Tabuk. Setelah itu beliau pulang bersama ribuan pasukan muslim. Mereka berhasil meraih kemenangan tanpa mengalami serangan sedikit pun. Namun bahaya sebenarnya belum berakhir. Khususnya bagi Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri.


341 Dalam perjalanan pulang ini Rasulullah صلى الله عليه وسلم melewati jalan di sebuah bukit. Saat itu beliau ditemani oleh Ammar bin Yasir yang memegang tali kekang unta Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Hudzaifah bin Al-Yaman yang berjalan di depan. Diam-diam 12 orang munafik yang ikut pasukan muslim datang mengendap-endap. Mereka berniat membunuh Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Ini adalah kesempatan baik yang telah lama mereka tunggu dari sejak berangkat. Ketika itu pasukan muslim justru sedang berada di lembah jauh di bawah mereka. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kedua sahabatnya mendengar gerakan 12 orang itu. Mereka bertiga menoleh ke belakang. Orang-orang munafik itu terkejut dan melarikan diri. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan Hudzaifah untuk mengejar. Pengajaran itu sampai hampir berhasil karena Hudzaifah sudah bisa menjangkau unta-unta mereka dengan pukulan tongkatnya. Namun orang-orang itu berhasil berbaur di tengah pasukan muslim sehingga tidak terlihat lagi. Walaupun mereka berusaha menutupi wajah, Hudzaifah berhasil mengetahui nama-nama mereka dan memberitahukannya hanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم saja. Sejak itu Hudzaifah dijuluki sebagai orang yang dapat memegang rahasia Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Setelah 55 hari meninggalkan Madinah, pasukan muslim kembali. Dari jauh terlihat samar-samar sebuah gundukan gunung. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Itu adalah gunung Uhud, ia mencintai kami dan kami pun mencintainya." Orang-orang di Madinah mendengar kedatangan pasukan dari kejauhan. Maka para wanita dan anak-anak keluar rumah untuk menyongsong pasukan dengan gembira. Mereka mengucapkan syair seperti yang dulu pernah dikumandangkan ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berhijrah dan tiba di Madinah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berangkat ke Tabuk pada bulan Rajab dan tiba pada bulan Ramadan. Ini merupakan peperangan terakhir bagi beliau. Apa yang kemudian terjadi pada orang yang meninggalkan perang? Tidakkah mereka malu berhadapan dengan pasukan yang kembali dengan kemenangan ini? Keempat macam sifat hati itu adalah: 1. Hati yang bersih di dalamnya ada pelita yang bersinar itulah hati orang mukmin. 2. Hati yang tertutup, adalah hati orang kufur 3. Hati yang terbalik, adalah hati orang munafik dia mengetahui kemudian mengingkari dia melihat kemudian buta. 4. Hati yang didalamnya terkandung iman dan nifaq. Orang-orang yang Tidak Ikut Berperang Begitu tiba di Madinah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم langsung masuk ke masjid dan sholat dua rakaat. Orang-orang munafik menjadi gelisah. Maka berduyun-duyunlah mereka menghadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan mengemukakan


342 berbagai alasan, bahkan sampai bersumpah. Jumlah mereka mencapai 80 orang lebih. Meskipun tahu bahwa semua alasan itu dibuat-buat, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menerimanya, tetapi beliau serahkan apa yang ada di hati َو تَعَالَى Allah kepada mereka . ُسْب َحانَهُ Sedangkan Kaab bin Malik, Murarah bin Ar Rabi dan Hilal bin Umayyah berterus terang bahwa mereka lalai. Sebenarnya mereka dalam keadaan kuat dan mampu, namun mereka memutuskan untuk tidak berangkat. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Apa yang kalian katakan memang tidak bohong. Pergilah sampai Allah َو تَعَالَى ".persoalanmu sendiri menentukanُ سْب َحانَهُ Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang kaum muslimin bercakap-cakap dengan ketiganya. Kaab menuturkan semua orang menjauhkan diri dari kami dan mereka berubah sikap terhadap kami sehingga aku merasa seolah-olah bumi yang kupijak ini bukanlah bumi yang kukenal!" Sementara Murarah bin Ar Robi dan Hilal bin Umayyah menghabiskan hari-hari mereka dengan berdiam diri di dalam rumah dan terus menangis penuh rasa sesal, Kaab yang masih muda dan berwatak keras tetap keluar rumah. Puluhan hari sudah ketiganya terasing entah sampai kapan, bahkan istri-istri mereka pun diperintahkan menjauh. Ketika itu datanglah sepucuk surat dari Raja Ghassan kepada Kaab bin Malik, "Kudengar Muhammad telah mengucilkan dirimu. Tuhan tidak akan membuat dirimu hina dan nista. Datanglah kepadaku engkau pasti kuterima dengan baik." Kaab berkata pada dirinya sendiri, "Ini juga termasuk cobaan!" Setelah itu, dilemparkannya surat itu ke dalam api. Berbeda dengan kedua temannya, Kaab masih terus datang ke masjid untuk sholat berjamaah. Dia bahkan memberi salam kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Namun Kaab tidak bisa mendengar apakah Rasulullah صلى الله عليه وسلم membalas salamnya atau tidak. Kaab menuturkan, "Kemudian aku sholat di dekat Rasulullah صلى الله عليه وسلم sambil melirik kearah beliau. Ternyata pada saat aku masih sholat beliau memandangku, namun setelah selesai sholat dan aku menoleh kepadanya beliau yang memalingkan muka". Baru setelah 50 hari kemudian turunlah firman Allah yang memberi ketiganya ampunan. Bagi Kaab bin Malik, Murarah Bin Ar-Rabi' dan Hilal bin Umayyah hari itu adalah hari paling membahagiakan sejak mereka dilahirkan kedunia! َو تَعَالَى Allah Sesungguhnya, "bersabda صلى الله عليه وسلم Rasulullah ُهَحان َبْس ُmengulurkan tangannya pada waktu malam supaya orang-orang yang berbuat salah pada waktu siang bertobat, dan dia mengulurkan tangannya waktu siang agar orang-orang yang berdoa pada waktu malam bertobat sampai terbit matahari dari tenggelamnya. (hadits riwayat muslim dari Anas) Bersambung


343 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 147 Masjid Dhirar Sejak sebelum kaum muslimin hijrah, di Madinah ada seorang pendeta Nasrani bernama Abu Amir. Ia adalah orang terpandang di suku Kha'raj. Setelah Islam menyebar luas Abu Amir pun menunjukkan kebencian kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para pengikutnya. Bahkan diam-diam Abu Amir telah menghasut Quraisy agar memerangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Namun ketika akhirnya Mekah ditaklukan, Abu Amir berpaling ke Romawi. Kaisar Heraklius mengizinkan Abu Amir tinggal di wilayah Romawi agar bisa bersama-sama menyusun rencana jahat terhadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Dari tempat yang baru itulah Abu Amir menulis surat kepada orang-orang munafik Madinah. Ia menceritakan bahwa Heraklius siap membantu. Namun lebih dahulu harus dibangun sebuah markas agar orang-orang dapat berkumpul untuk melaksanakan rencana jahat terhadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Maka dengan cerdik orang-orang munafik Madinah membangun sebuah markas. Markas tersebut bukan berbentuk rumah atau benteng melainkan sebuah masjid. Padahal di dekat situ sudah ada masjid Quba yang didirikan Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Jika orang-orang menanyakan hal ini, kaum munafik itu beralasan supaya pada malam-malam yang sangat dingin orang di sekitar sini bisa mendapat tempat shalat yang lebih dekat. Masjid ini telah selesai dibangun sebelum Rasulullah صلى الله عليه وسلم berangkat ke Tabuk. Orang-orang munafik mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta agar beliau sudi kiranya shalat di sana. Tujuan utama mereka adalah, jika Rasulullah صلى الله عليه وسلم mau sholat di sana maka masjid itu tidak akan lagi dicurigai. Namun ketika itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Kami sekarang mau berangkat, insya Allah nanti setelah pulang." Sebelum Rasulullah صلى الله عليه وسلم tiba di Madinah dari Tabuk, Jibril turun membawa berita tentang masjid Dhirar yang dibangun untuk memecah belah dan membuat orang kembali kafir. Maka begitu tiba di Madinah beliau memerintahkan kepada beberapa sahabat untuk menghancurkan Masjid itu sampai rata dengan tanah. Setelah gembira karena meraih kemenangan dari Romawi dan orang munafik, kembali kesedihan menimpa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ibrahim Wafat Khadijah melahirkan dua anak laki-laki untuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم yaitu Qosim dan Thahir, namun keduanya meninggal ketika masih bayi di pangkuan ibunya.


344 Setelah Khadijah wafat berturut-turut ketiga putri Rasulullah صلى الله عليه وسلم meninggal hingga yang tersisa hanyalah Fatimah Az-Zahra. Karena itu kita dapat memahami betapa besarnya rasa sayang Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Ibrahim anaknya yang lahir dari Mariyah. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ibrahim si bayi mungil jatuh sakit yang sangat menghawatirkan. Tatkala ajal Ibrahim sudah dekat Rasulullah صلى الله عليه وسلم diberitahu. Karena begitu sedih Rasulullah صلى الله عليه وسلم berjalan sambil memegang dan bertumpu pada tangan Abdurrahman bin Auf. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengambil bayi itu dari pangkuan ibunya ke pangkuannya sendiri. Hati beliau seolah remuk redam, tangan beliau menggigil saat memeluk Ibrahim. Dengan rasa pilu yang begitu mencekam sanubari Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Ibrahim kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah." Air mata Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengalir melihat bayinya sedang menarik nafas terakhir. Mariyah dan adiknya Shirin menangis menjerit-jerit. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم membiarkan mereka begitu. Setelah itu tubuh Ibrahim tidak bergerak lagi, nyawanya telah kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Oh Ibrahim kalau bukan karena soal kenyataan dan janji yang tidak dapat dibantah lagi bahwa kami akan segera menyusul orang yang mendahului kami, tentu kesedihan kami akan lebih dalam daripada ini." Beliau diam sejenak kemudian bersabda lagi, "Air mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka tapi kami hanya dapat berkata apa yang telah menjadi kehendak Allah dan bahwa kami, sungguh sedih terhadapmu wahai Ibrahim." Beliau memandang Mariyah dan Shirin dengan penuh kasih. Beliau meminta keduanya lebih tenang dan berkata, "Ia akan mendapatkan inang pengasuh dari surga. " Pada saat itu terjadilah gerhana matahari, para sahabat berkata bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim, namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Matahari dan bulan adalah tanda kebesaran Allah yang tidak akan terjadi karena kematian atau kehidupan seseorang, kalau kamu melihat hal itu, berlindunglah dan berdzikirlah kepada Allah dengan melakukan shalat." Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 148 Rasulullah صلى الله عليه وسلم Sholat di dalam Ka’bah Rasulullah masuk ke dalam Ka’bah bersama Usamah dan Bilal. Setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم menutup pintu Ka’bah, Rasulullah berdiri membelakangi pintu Ka’bah, Rasulullah melangkah ke depan tiga hasta kemudian Rasulullah berhenti, sehingga dua tiang berada sebelah kirinya dan satu tiang berada di sebelah kanan Rasulullah. Di belakang Rasulullah ada tiga tiang, karena al-Haram pada waktu itu didirikan atas enam batang tiang. Kemudian Rasulullah sholat di situ.


345 Setelah selesai sholat Rasulullah berjalan-jalan di dalam Ka’bah, bertakbir di setiap sudutnya, lalu menyebut kalimah Tauhid, kemudian Rasulullah membuka pintu, ketika itu masyarakat Quraisy sudah memenuhi ruang masjid bersaf-saf, menunggu apa yang akan disampaikan oleh Rasulullah kepada mereka. Rasulullah memegang pintu Ka’bah, sedang masyarakat Quraisy menunggu di bawah, Rasulullah bersabda: "Tiada Tuhan melainkan Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, benar janji-Nya, membantu hamba-Nya, mengalahkan golongan Ahzab, ingatlah setiap warisan lama, setiap warisan Jahiliah serta harta benda atau darah, semuanya di bawah kakiku ini, kecuali penjaga Baitullah dan pemberi minum para Jemaah Haji. Ingatlah, pembunuhan secara sengaja dengan menggunakan cemeti dan rotan dendanya terlalu berat, yaitu seratus ekor unta, empat puluh darinya dalam keadaan sedang mengandung. Wahai masyarakat Quraisy, sesungguhnya Allah telah melenyapkan kesombongan jahiliah, sikap bermegahan dengan membanggakan keturunan, sebenarnya manusia itu adalah keturunan Adam sedang Adam diciptakan dari tanah. Kemudian Rasulullah membaca ayat Alquran: ِ اؕ ا فُوۡ َتَعارَ ِ َل ل ِ آئ َ قَˍ ٰن ُ ۡكم ُشُعوۡ ًԴ وҧ نۡ ٰثى وَ َجَعلۡ ٍر وҧ اُ کَ ۡن ذَ Էҧ˭َ لَۡقٰ̲ ُ ۡكم ّمِ ِ ُس ا ہَا النҧا Ҩ ي اَتۡ ٰق ُ ۡكم ٰԹَۤ َمُ ۡكم ِعۡنَد ا ّ߹ ٰ ِ کۡرَ َ ҧن ҧن ا ِ ؕ ا َ ٌۡيم َخِˍۡير ا ّ߹ ٌ ٰ َ̊لِ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. {Al-Hujurat 49:13 / (الحجرات {( Kemudian Rasulullah menyambung sabdanya: "Wahai kaum Quraisy, apa yang kamu fikirkan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kamu semua?" Jawab mereka: "Tentulah baik, karena saudara orang yang mulia, anak dari saudara kami yang mulia". Maka jawab Rasulullah: "Sesungguhnya aku berkata kepada kalian seperti Yusuf telah berkata kepada saudara-saudaranya: Tidak ada cela atas kamu di hari ini, Ayo berjalanlah, kamu semua bebas." Kunci Ka'bah dikembalikan kepada penjaganya Setelah semuanya itu, Rasulullah وسلم عليه الله صلى duduk kembali di dalam Masjid, Ali bin Abi Talib (r.a) berdiri dan menemui Rasulullah sambil memegang kunci pintu Ka’bah, dan berkata: "Wahai Rasulullah, berilah tugas menjaga Ka’bah dan tugas memberi minum kepada kami, semoga Allah memberi sholawat kepada engkau". (dalam riwayat yang lain yang mengajukan permohonan Abbas)


346 Rasulullah bersabda: "Untuk Utsman bin Talhah" Karena itu dijemput dan dibawalah Utsman bin Talhal ke depan Rasulullah dan Rasulullah berkata: "Ini kunci untuk engkau, hari ini adalah hari kebaikan dan menunaikan janji". Menurut riwayat Ibn Sa'ad dalam kitabnya al-Tabaqat, Rasulullah telah berkata kepada Utsman Ketika penyerahan kunci itu dengan sabdanya: "Ambillah kunci ini untuk selama-lamanya, ia tidak akan dirampas kecuali oleh orang yang zalim, sesungguhnya Allah telah meletakkan amanatnya kepada kamu, dan makanlah segala sesuatu rezeki yang sampai kepadamu dari rumah Allah ini dengan ma'ruf". Bilal berazan di atas Ka'bah Ketika masuk waktu sholat Rasulullah pun menyuruh Bilal (r.a) memanjat ke atas Ka’bah untuk menyuarakan azan dari atas Ka’bah. Sholat pembukaan Ka'bah atau sholat syukur Pada hari itu Rasulullah masuk ke dalam rumah Ummu Hani binti Abi Talib, untuk bersuci kemudian sholat delapan rakaat di dalam rumahnya, ketika itu adalah waktu dhuha, ada orang menyangka Rasululluh sholat dhuha, yang sebenarnya Rasulullah sholat kemenangan atas pembukaan kota Mekah. Pada waktu itu Ummu Hani pun memberi perlindungan kepada dua orang mertuanya, maka kata Rasulullah: "Kami melindungi orang yang dilindungi oleh Ummu Hani". Sebelumnya saudaranya Ali bin Abi Talib menuntut untuk membunuh mereka berdua, namun Ummu Hani telah menutup pintu rumahnya, karena itulah maka Ummu Hani bertanya kepada Rasulullah dan Rasulullah pun memberi penegasan kepada Ummu Hani. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 149 Hari pertama pembukaan Mekah Penghalalan darah beberapa penjahat Rasulullah menghalalkan darah sembilan orang pelaku kejahatan Mekah, Rasulullah memerintahkan agar supaya kesembilan penjahat Mekah dibunuh, walaupun mereka terikat pada tirai Ka’bah, mereka ialah: 1. ~ Abd al-Uzza bin Khatal, 2. ~ Abdullah Ibni Abi Surah, 3. ~ Ikrimah bin Abi Jahal, 4. ~ Al-Harith bin Nufail bin Wahab,


347 5. ~ Muqis bin Sababah, 6. ~ Habbar bin Aswad, 7. ~ dua penyanyi wanita milik Ibn Khatal, keduanya ini sering mencaci Rasulullah melalui nyanyian mereka, dan 8. ~ Sarah hamba perempuan milik seorang Bani Abdul Muttalib, dia yang membawa risalah dari Hatib bin Abi Baltaah. Ada pun Ibni Abi Surah, telah dibawa oleh Utsman ke hadapan Rasulullah, dia menjadi orang yang dekat dengan Rasulullah, karenanya ia terhindar dari ancaman pembunuhan, malah Rasul telah menerima pengakuan Islamnya, sebelumnya Rasulullah menangguhkan untuk menerimanya, dengan harapan akan ada orang di kalangan sahabat yang bertindak membunuhnya, karena dia sebelumnya sudah memeluk Islam dan ikut berhijrah kemudian dia murtad dan lari pulang ke Mekah. Ikrimah bin Abi Jahal telah melarikan diri ke negeri Yaman, namun isterinya telah berusaha mendapatkan perlindungan, maka Rasulullah pun memberi jaminannya, dengan itu dia telah berusaha untuk mendapat kembali suaminya yang lari, setelah bertemu, dia turut pulang ke Mekah dan memeluk Islam. Ketika Ibni Khatal ditemui, sedang terikat di tirai Ka’bah, setelah dilaporkan kepada Rasulullah, maka Rasulullah berkata: "Bunuh saja". Maka Ibni Khatal pun dibunuh. Ada pun Muqais bin Sababah telah dibunuh oleh Namilah bin Abdullah, Muqais sebelumnya telah memeluk Islam, tiba-tiba terjadi peristiwa, Muqais menyerang seorang lelaki Anshor menyebabkan terbunuhnya lelaki Anshor, kemudian dia murtad dan lari menyertai kaum musyrikin ke Mekah. Al-Harith merupakan orang yang paling menyakiti Rasulullah ketika di Mekah. Dia telah dibunuh oleh Ali bin Abi Talib. Habbar bin al-Aswad adalah orang yang menganggu Zainab binti Rasulullah ketika akan berhijrah, dan menyebabkan Zainab terjatuh sehingga terjadi keguguran, namun dia telah lari dari Mekah, kemudian memeluk Islam dan menjadi orang baik. Seorang dari dua penyanyi telah dibunuh, sedang yang kedua telah diberi jaminan keselamatan, karena dia memeluk Islam, sebagaimana terjadi kepada Sarah yang juga ikut memeluk Islam. Kata ibnu Hajar: Abu Ma'syar telah menyebut tentang mereka yang telah dideklarasikan darahnya halal, mereka ialah al-Harith bin Talatil al-Khuzai'e, dia telah dibunuh oleh Ali. Al-Hakim menyebut bahwa di antara mereka yang dihalalkan darahnya ialah Kaab Zuhair, cerita tentang dia, akhirnya dia memeluk Islam dan bersyair memuji Rasulullah. Ada pun perihal Wahsyi bin Harb dan Hind binti Utbah berakhir dengan memeluk Islam, sedang Arnab hamba perempuan Ibnu Khatal telah terbunuh, juga Ummu Saad sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Ishak, dengan itu maka genaplah jumlah mereka yang dibunuh, ketika Pembukaan Mekah.


348 Safwan bin Umaiyah dan Fudhalah bin Umar memeluk Islam Safwan bin Umaiyah tidak termasuk di antara tokoh yang dihalalkan darahnya, namun sifatnya sebagai pemimpin besar di dalam masyarakat, membawa dia mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri, karena itu dia melarikan diri, dan dimintakan jaminan keamanan dari Rasulullah oleh Umair bin Wahab al-Jumahi. Rasulullah pun menerima. Sebagai tanda atas permintaan Umair itu, Rasulullah memberikan surbannya yang dipakai. Ketika memasuki kota Mekah. Amir pun segera mendapatkan Safwan yang akan menaiki kapal layar menuju ke negeri Yaman. Amir cepat-cepat menangkap Safwan, dan memberi tahu kepadanya bahwa dia telah meminta kepada Rasulullah untuk memberi waktu kepada Safwan selama dua bulan, sebelum diputuskan, akan tetapi Rasulullah telah menjawab dengan sabdanya: "Aku beri empat bulan". Maka dengan itu Safwan pun memeluk Islam. Sebenarnya isterinya sudah memeluk Islam terlebih dahulu dari dia, dan Rasulullah telah mengakui dengan akad pertama mereka dahulu. Fudhalah adalah seorang pejuang yang berani, dia telah datang menghampiri Rasulullah ketika sedang berthawaf dengan tujuan untuk membunuh Rasulullah. Akan tetapi ketika Rasulullah berseiringan dengan Fudhalah, memberi tahu dia tentang rencana jahatnya yang terpendam di dalam hatinya, sehingga dia memeluk Islam. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ِل ُم َحمد ّلِ َعلَى ُم َح اَلل َّمٍد َّ َو َعلَى آ Bagian 150 Hari Kedua Pembukaan Mekah Pada keesokan hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم tampil kembali di depan masyarakat Quraisy di Mekah, setelah memuji َو تَعَالَى Allah kepada bertahmid dan :bersabda Rasulullahُ , سْب َحانَهُ َو تَعَالَى Allah sesungguhnya, sekalian manusia Wahai" ُهَحان َبْس ُtelah mengharamkan bumi Mekah sejak langit dan bumi ini diciptakan, maka Mekah menjadi haram. Pengharaman Allah itu, sampai dengan tiba hari qiamat. Tidak halal orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menumpahkan darah, atau menebang pohon”. Kemudian apabila ada orang yang mempermasalahkan peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah, di Mekah, maka jawab kepada mereka: َو تَعَالَى Allah Sebenarnya“ ُهَحان َبْس ُtelah mengizinkan kepada Rasulnya saja dan tidak kepada yang lainnya, itu pun hanya untuk saat tertentu saja, nah kini pengharaman berlaku kembali seperti pada hari kemarin, oleh karena itu kepada semua yang hadir di antara kamu berkewajipan menyampaikan perihal ini kepada yang tidak hadir".


349 Dalam riwayat lain disebutkan: “Tidak mematahkan durinya, tidak membuang buruannya, tidak mengambil barang yang tercecer kecuali orang yang mengenalinya, dan tanah lapangnya tidak bisa untuk buang air (air kecil atau air besar).” Abbas menyela: "Wahai Rasulullah kecuali batang Izkhir, karena itu untuk hamba-hamba dan rumah mereka". Jawab Rasulullah: "Ya kecuali batang Izkhir". Peristiwa sebelumnya, Khuza'ah telah membunuh seorang lelaki dari Bani Laith untuk membalas dendam atas pembunuhan seorang anggota qabilah mereka. Sehubungan dengan perkara ini maka, Rasulullah bersabda: "Wahai kalian Khuza'ah, hindarkan tanganmu dari pembunuhan, sebenarnya pembunuhan terlalu banyak, walaupun itu bisa memberi manfaat. Sebelumnya kamu telah membunuh mangsa kamu dan kini biarlah aku yang membayar ganti rugi (pampasan)nya, akan tetapi siapa pun yang membunuh setelah pemberitahuanku ini, maka keluarganya harus memilih di antara dua pilihan, bila mereka mau darah maka darah pembunuhan, atau bila mereka mau tebusan ganti rugi maka pampasanlah yang harus dibayar". Dalam riwayat lain; Maka berdirilah seorang berketurunan Yaman yang dikenali sebagai Abu Syah menyeru: "Wahai Rasulullah! Tuliskanlah itu untukku", maka kata Rasulullah: "Ayo tuliskanlah untuk Abu Syah". Kecurigaan Kaum Anshor Setelah selesai semua urusan mengenai pembukaan Mekah yang merupakan tanah air dan tanah tumpah darah Rasulullah, maka beberapa orang Anshor mencurigai sesuatu, dan mereka berbisik-bisik di antara mereka: "Apakah engkau berpendapat, bahwa setelah membantu Rasulullah hingga kembali di tanah airnya ini, akankah Rasulullah kemudian menetap di sini?". Pada saat itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedang menadah tangannya, berdoa di atas bukit Safa', setelah selesai dari doanya itu kemudian Rasulullah bertanya: "Apa yang kamu bicarakan tadi?". Jawab mereka: "Tidak ada apa-apa, wahai Rasulullah". Rasulullah صلى الله عليه وسلم kemudian mendesak, mengenai apa yang mereka bisikkan itu, sampai kemudian mereka bercerita yang sebenarnya, maka Rasulullah menegaskan:


Click to View FlipBook Version