250 Setelah menyisihkan hak kaum fakir dan miskin beliau membagi-bagikan tanah itu untuk kaum Muhajirin yang hidup menumpang dan tidak mempunyai tanah garapan. Dengan demikian kaum Muhajirin kini bisa mandiri tanpa harus lagi menggantungkan bantuan kepada kaum Anshor. Hanya ada dua orang Anshor yang mendapat pembagian tanah ini, Abu Dujana dan Sahl bin Hunaif. Mereka memang sudah terdaftar sebagai orang-orang miskin. Sampai sebelum Bani Nadhir terusir, sekretaris Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah seorang Yahudi. Pengangkatan orang Yahudi ini bertujuan untuk memudahkan penulisan dan pengiriman surat dalam bahasa Ibrani dan Asiria. Akan tetapi setelah orang-orang Yahudi pergi, Rasulullah صلى الله عليه وسلم khawatir apabila jabatan penting itu masih ada di tangan orang di luar Islam. Karena itulah beliau memilih Zaid bin Tsabit seorang pemuda cerdas untuk menjadi sekretaris beliau. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menugasi Zaid bin Tsabit mempelajari kedua bahasa itu. (Di kemudian hari, Zaid bin Tsabit inilah yang mengumpulkan Al Quran pada masa Khalifah Abu Bakar dan dia pula yang kembali mengawasi pengumpulan Al-Quran pada masa Khalifah Usman bin Affan.) Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 106 Badar Terakhir Suasana Madinah pun menjadi tentram setelah Bani Nadhir dikeluarkan. Hati mereka semua lega dengan suasana yang begitu tenang tentram dan aman. Al Muhajirin kini dapat hidup mandiri berkat tanah-tanah yang dibagikan dan itu membuat orang-orang Anshor turut bergembira. Namun peristiwa Perang Uhud sudah hampir setahun berlalu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم teringat ancaman Abu Sufyan yang diucapkan ketika Perang Uhud berakhir, "Yang sekarang ini untuk peristiwa Perang Badar. Sampai jumpa tahun depan." Kata-kata itu adalah tantangan untuk bertempur lagi di lembah Badar. Rosululloh صلى الله عليه وسلم mewaspadai apa yang akan dilakukan orang-orang Quraisy. Kekhawatiran beliau ternyata benar-benar terjadi karena tidak lama kemudian, tibalah seorang utusan Quraisy dan membawa sebuah pesan Utusan Quraisy itu bernama Nu'aim bin Mas'ud. Ia tiba di Madinah dan mengabarkan: "orang-orang Quraisy telah mengerahkan tentaranya dalam jumlah yang begitu besar dan tidak ada taranya dalam sejarah bangsa Arab. Tentara besar itu kini sudah bergerak ke lembah Badar, mereka siap memerangi kalian sekaligus meluluhlantakkan kalian hingga tidak bersisa. Jika kalian berani pergi ke lembah Badar."
251 Mendengar berita itu banyak kaum muslimin menunjukkan keengganannya. "Lebih baik kita abaikan saja tantangan itu." Akan tetapi Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadi marah terhadap sikap lemah dan ingin mundur itu. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bahkan bersumpah bahwa beliau akan tetap pergi ke Badar walau seorang diri. Melihat kemarahan Rasulullah صلى الله عليه وسلم itu, lenyaplah rasa ragu dan takut di hati kaum muslimin. Mereka segera pulang ke rumah dan menyiapkan segala sesuatunya. Bekal makanan senjata dan berpamitan kepada keluarga yang ditinggalkan. Setelah itu 1500 orang prajurit muslim di bawah komando Rasulullah صلى الله عليه وسلم langsung berangkat meninggalkan Madinah. Sebenarnya Abu Sofyan sendiri enggan berperang pada tahun ini, musim kering tengah mengganas. Harapan Abu Sufyan sebenarnya agar perang diadakan pada waktu lain saja. Namun ia terlanjur melepaskan kata-kata tantangan pada Perang Uhud akhir itu. Karena itu ia tidak mungkin tidak berangkat memenuhi tantangannya sendiri. Hal itu akan membuat cemar Quraisy di mata orang-orang Arab. Akhirnya Abu Sufyan memutuskan untuk mengirim Nu'aim masuk ke Madinah. Nu'aim disuruhnya mengeluarkan kata-kata untuk menggertak kaum muslimin dan melemahkan semangat mereka. Walaupun demikian Abu Sufyan tetap memimpin pasukan sebesar 2000 orang. Mereka keluar dari Mekkah tidak dengan semangat sebesar dulu ketika menyongsong Perang Uhud. Apalagi mereka juga mendengar bahwa kaum muslimin telah menanti mereka di lembah badar dengan semangat tinggi. Syaja'ah adalah keberanian. Orang yang disebut berani adalah orang yang tidak gentar menghadapi bahaya dan menghindarkan bahaya yang lebih besar. Ia maju menghadapi kesulitan karena yakin bahwa dibalik kesulitan itu akan lahir sebuah kebahagiaan. Kemenangan Pasukan Quraisy sudah berjalan selama 2 hari dan tiba di Zahran dan bermalam di Majannah, sebuah pangkalan air di daerah itu. Namun hati Abu Sufyan semakin berat. Ia memikirkan lagi akibat perperangan dengan kaum muslimin. Ketakutan membayangi hatinya. Puncaknya Abu Sufyan berusaha mencari alasan untuk pulang. Abu Sufyan berkata kepada teman-temannya, "Saudara-saudara Quraisy, sebenarnya yang cocok buat kita hanyalah dalam musim subur, sedang sekarang kita dalam musim kering. Saya sendiri mau kembali pulang, maka dari itu pulang sajalah kamu sekalian."
252 Tidak ada yang menentang pendapat itu karena semua prajurit Mekah juga dilanda ketakutan yang sama. Akhirnya pasukan Quraisy pun kembali pulang. Sementara itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kaum muslimin terusmenerus menantikan mereka selama 8 hari. Kesempatan itu digunakan kaum muslimin untuk berdagang. Perdagangan itu menghasilkan keuntungan yang banyak. Kaum muslimin pun kembali ke Madinah dengan gembira, karena Allah telah memberikan keberuntungan yang demikian besar. "Berita mengejutkan, saudara-saudara!" seru seorang Arab pedalaman kepada orang-orang di sukunya. "Orang-orang Quraisy mengundurkan diri sebelum bertempur, sementara Muhammad dan para sahabatnya menunggu mereka di Badar selama berhari-hari!" Temannya berdiri dan meludah ke tanah, "Pengecut! Padahal mereka telah memukul Muhammad di Uhud! Jika terus begini, kesudahan orang-orang Mekkah sudah dapat diramalkan dari sekarang!" Dengan demikian, Perang Badar terakhir itu benar-benar telah menghapus kemenangan Quraisy pada perang Uhud. Tindakan pengecut Quraisy yang menarik diri sebelum tiba di tempat pertempuran telah membuat nama mereka tercemar melebihi ketika mereka kalah pada Perang Badar pertama. Sementara itu walaupun pasukannya mendapatkan kemenangan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tetap waspada. Terbukti, tidak lama setelah itu terdengar berita bahwa pasukan Bani Ghafatan dari Najd tengah berkumpul untuk menyerang Madinah dalam jumlah yang sangat besar. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 107 Perang Sobekan Kain Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyerahkan kepemimpinan Madinah kepada Abu Dzar Al-Ghifari, kemudian Beliau berangkat bersama pasukannya secara diam-diam. Tujuannya menyergap musuh sebelum mereka sempat mempersiapkan diri. Abu Musa Al-Asy'ari menceritakan perang itu."Waktu itu, setiap 6 orang dari kami bergantian menaiki seekor unta. Kemudian telapak kaki pecah-pecah. Telapak kaki saya sendiri pecah dan kuku-kukunya copot. Waktu itu, kami membalut kaki-kaki kami dengan sobekan kain, karena itu aku menyebut peperangan ini dengan Dzatur Riqo atau sobekan kain. Sejumlah 400 orang sahabat dipimpin Rasulullah صلى الله عليه وسلم berhasil melakukan serangan mendadak terhadap kumpulan pasukan Bani Ghatafan di Nakhl. Allah ىَالَعَت وَ ُهَحان َبْس ُmenurunkan rasa takut di hati pasukan
253 musuh yang jumlahnya jauh lebih besar itu sehingga mereka lari pontang-panting tanpa bertempur sama sekali. Harta dan kaum wanita ditinggalkan begitu saja untuk ditawan pasukan muslim. Setelah kemenangan gemilang itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya bersiap diri menghadapi serangan balik musuh. Dalam keadaan seperti itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم memimpin sahabatnya melakukan shalat khauf (shalat dalam keadaan takut). Satu kelompok berbaris bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,sedangkan kelompok yang lain menghadap musuh. Kelompok pertama kemudian sholat bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم lalu Beliau berdiri tegak ketika kelompok pertama menyempurnakan shalatnya. Setelah itu kelompok pertama tadi mundur dan berbaris menghadapi musuh sedangkan kelompok kedua maju dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengimami mereka meneruskan sholatnya yang belum selesai. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم duduk sementara mereka menyempurnakan shalat, kemudian mereka mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Dalam pertempuran ini, dua orang sahabat, satu dari Muhajirin dan satu dari Anshar mendapat giliran jaga malam, sedangkan saudara-saudara mereka yang lain beristirahat. Sahabat Muhajirin melakukan salat malam dan terkena panah musuh, tetapi dicabutnya panah itu dengan tenang dan meneruskan sholatnya. Demikian sampai tiga kali. Ketika sahabat Anshar itu mengetahuinya dia bertanya, "Mengapa kamu tidak memberi tahu aku?" "Engkau sedang membaca satu surat dan aku tidak ingin memutuskannya," jawab sahabat Muhajirin. Sifat pengecut tidak akan kita temukan dalam kisah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya. Jika menjadi pengecut, ilmu kita akan padam. Orang lain bahkan diri sendiri tidak akan mendapat manfaatnya. Orang pengecut pekerjaannya akan sia-sia. Duduknya di bawah tidak berani di atas dia hanya menjadi pengikut tidak berani diikuti. Bani Musthaliq Setelah kemenangan pada Perang Badar kedua Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan para penyair muslim untuk menyebarkan syiar Islam tentang kemenangan dan kegagalan pasukan Quraisy. Tidak hanya sampai di situ para penyair itu juga mencela Abu Sufyan dan pasukannya. Hal itu tidak dibiarkan oleh sekutu Quraisy yang paling kuat yaitu Bani Musthaliq. Bani Musthaliq adalah penguasa perdagangan. Mereka mempunyai banyak harta dan budak-budak kulit hitam, selain itu mereka membiarkan orang-orang Quraisy menjadi pemimpin mereka karena orang-orang Quraisy-lah yang tinggal di dekat Kabah tempat patung-patung Tuhan mereka diletakkan. Bani musthaliq mengutus para penyairnya menemui Abu Sufyan untuk menghibur pemimpin Quraisy itu. Para penyair melantunkan kata-kata cacian bagi Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya. Al Haris pemimpin Bani Musthaliq juga mengajak suku-suku di sekitar Bani Musthaliq untuk berkumpul menyusun pasukan. Semua suku yang mendukungnya adalah mereka yang bertempat tinggal di tepi laut merah.
254 Selanjutnya Bani Musthaliq maju sebagai komandan perang Pasukan gabungan itu. Bendera kini diserahkan orang Quraisy kepada Al Haris. Dari kemampuan tempur Al Haris memang lebih pantas menjadi Panglima dibandingkan Abu Sufyan. Di bawah kepemimpinannya semua persiapan pasukan di lakukan dengan sungguh-sungguh. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengetahui bahwa pasukan ini akan menyerang Madinah, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pergi meninjau wilayah musuh untuk mengetahui tempat terbaik bagi kaum muslimin apabila harus bertempur. Setelah mengadakan musyawarah dengan para sahabatnya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memutuskan untuk menyambut pasukan musuh. Yang menakjubkan adalah cara Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjinakkan hati Abdullah bin Ubay yang sebenarnya sangat membenci kaum muslimin. Abdullah bin Ubay ditugasi pemimpin pasukan Anshor dari suku Khazraj. Rasulullah صلى الله عليه وسلم kemudian mengundi di antara istri-istrinya, Siapakah di antara mereka yang akan diajak mengikuti pertempuran. Ternyata nama Aisyah yang keluar. Maka Aisyah bisa dinaikkan ke unta yang khusus disediakan untuk beliau. Penyair berperan penting dalam Perang urat syaraf. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah berkata kepada Hasan bin Tsabit seorang penyair. "Wahai Hasan, engkau berjuang melawan orang kafir dan Jibril selalu bersamamu. Ketika sahabatku bertempur menggunakan senjata, engkau bertempur dengan kata-katamu." Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 108 Juwairiyah binti Harits Sejumlah1500 pasukan muslim diperintahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk bergerak dengan cepat sehingga musuh kesulitan mengetahui di mana pasukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada. Kemudian di sebuah tempat yang memang sudah ditetapkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم saat meninjau musuh, pasukan muslim menyerang dengan kecepatan tinggi secepat kilat. Pertempuran itu terjadi di medan terbuka. Hujan panah jarak jauh pasukan muslim membuat musuh tercerai-berai, sehingga begitu pasukan utama muslim tiba, dengan mudah mereka membuat kocar-kacir barisan musuh. Pada akhir pertempuran 200 orang prajurit Bani Musthaliq tertawan. Sejumlah harta berupa unta, kuda dan barang-barang lain dapat direbut. Al Haris komandan tertinggi musuh, jatuh tersungkur dihantam panah. Putrinya ikut menjadi tawanan.
255 Para tawanan dan harta dibagi-bagikan kepada pasukan. Putri Al Haris bernama Barrah menjadi bagian seorang muslim yang miskin. Muslim ini menghendaki keluarga Barrah menebusnya dengan harta. Namun Barrah sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Karena itu, Barrah menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan mengadu, "Saya adalah Putri Al Haris pemimpin Bani Musthaliq. Lelaki yang menawan saya lebih menginginkan harta daripada menjadikan saya istri atau budaknya, bantulah saya untuk memerdekakan diri saya." Rasulullah صلى الله عليه وسلم Alaihi Wasallam berpikir dalam-dalam. Apabila Barrah dibebaskan dan kembali ke tengah kaumnya, ia sangat mungkin akan membangkitkan kaumnya untuk membalas kekalahan mereka. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengetahui dari wajah Barrah yang matanya memancarkan kecerdasan dan keberanian bahwa ia bukan gadis biasa. Dia akan mampu menerjang berbagai rintangan. "Apa kamu mau jalan keluar yang lebih baik dari itu?" tanya Rasulullah. "Apa itu?" "Aku akan membayar uang tebusan mu, lalu akan menikahimu." Barras setuju dan ia masuk Islam. Setelah menjadi istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,namanya menjadi Juwairiyah. Kini Bani Musthaliq sekutu dekat orang Quraisy, menjadi sekutu dekat Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkat pernikahan ini. Mereka merasa terhormat tuan putrinya menjadi istri Rasulullah. Setelah itu, banyaklah kaum Bani Musthaliq yang memeluk Islam. Subhanallah. Hasutan Abdullah bin Ubay Setelah memetik kemenangan gemilang itu. Pasukan muslim kembali berbaris pulang ke Madinah. Di Telaga Al Muraisy mereka singgah sebentar untuk beristirahat dan memberi minum ternak. Di tempat itu terjadi pertengkaran antara pelayan Umar bin Khattab bernama Jahjah Bin Said Al Ghifari dengan Sinan bin Webr Al Jasni. Keduanya saling bertengkar hebat sampai Sinan berteriak memanggil kaumnya, "Wahai kaum Anshar!" Jahjah pun membalas dengan teriakan, "Wahai kaum Muhajirin!" Orang-orang pun berdatangan termasuk Abdullah bin Ubay, Dengan berang, Abdullah bin Ubay berkata kepada orang-orang munafik yang mengelilinginya, "Mereka (Muhajirin) adalah menyaingi dan mengungguli kita di negeri kita sendiri. Demi Allah antara kita dan orang-orang Quraisy ini (Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kaum Muhajirin adalah suku Quraisy) tak ubahnya seperti yang dikatakan orang, "Gemukkan anjingmu agar menerkammu!" Demi Allah, jika kita telah sampai di Madinah, orang yang mulia pasti akan mengusir kaum yang hina (Muhajirin)!" Zaid bin Arqam mendengar kata-kata yang sangat berbahaya ini lalu ia cepat-cepat melaporkan hal itu kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Mendengar itu Umar bin Khattab yang berada di samping Rasulullah berkata, "Wahai Rasulullah, perintahkan saja Abbad bin Bisyr untuk membunuh Abdullah bin Ubay!"
256 Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, "Bagaimana, wahai Umar jika kelak orang-orang bicara bahwa Muhammad telah membunuh salah seorang sahabatnya? tidak aku tidak akan membunuhnya!" Seketika itu juga Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengeluarkan perintah agar kaum muslimin segera berangkat. Walau dengan keheranan karena belum cukup beristirahat pada hari sepanas itu, kaum muslimin segera mengikuti perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Hari itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kaum muslimin berjalan terus melampaui malam sampai keesokan harinya. Ketika Rasulullah memerintahkan pasukannya berhenti untuk beristirahat semua orang jatuh tertidur karena begitu lelah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم sengaja mengajak pasukannya berjalan terus sehari semalam agar kelelahan, ini akan membuat semua orang melupakan hasutan Abdullah bin Ubay yang mengatakan bahwa nanti di Madinah orang Anshar akan mengusir kaum Muhajirin. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 109 Surat Al Munafiqun Saat itu turunlah Surat Al Munafiqun, ْنهَ ز مِ Ҩ َع ҫ ْخِرَجҧن اҡْ ُ ي َ ل ِدينَةِ مَ ْ َلى ال Ү ِئنْ رَ َجْعنَا ا َ وَن ل ُ ُقول َ ِكҧن ي ஈ ـ َ ل َين وَ ِ̲ مُ ْؤمِ ْ ل ِ ̥ وَ ِرَ ُسوِࠀِ ل ҧزُة وَ عِ ْ ال ِ ҧ߹ِ ҫَ ذҧلۚ وَ ا اҡْ مُوَن َْعلَ َين َلا ي قِ نَافِ مُ ْ ال Mereka berkata: Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. Surah Al-Munafiqun (63:8) Sesampainya di Madinah, putra Abdullah bin Ubay yang juga bernama Abdullah, menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم . "Ya, Rasulullah," panggil Abdullah, "Saya dengar Tuan ingin membunuh ayahku. Jika benar Tuan ingin melakukannya, perintahkanlah aku. Aku bersedia membawa kepalanya di hadapanmu. Demi Allah, tidak ada orang dari suku Khazraj yang dikenal lebih baik sikapnya kepada orangtuanya daripada aku. Aku takut engkau akan memerintahkan orang selain aku untuk membunuhnya sehingga jiwaku tidak tahan melihat pembunuh ayahku berjalan di tengah masyarakat, lalu aku membunuhnya pula. Ini berarti aku membunuh seorang mukmin karena seorang kafir sehingga aku menjadi penghuni neraka."
257 Akan tetapi, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Bahkan kita akan bertindak lemah lembut dan berlaku baik kepadanya selama dia masih tinggal bersama kita." Justru setelah itu, sempitlah ruang gerak Abdullah bin Ubay. Setiap kali ia mengemukakan pendapat, seketika itu pula kaumnya menentang dan mengencamnya. Melihat keadaan itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya sambil tersenyum kepada Umar bin Khattab, "Bagaimana pandanganmu sekarang, wahai Umar? Demi Allah, seandainya engkau membunuhnya pada hari kau katakan kepadaku, 'Bunuhlah dia' niscaya orang-orang akan ribut. Namun, seandainya aku perintahkan kamu untuk membunuhnya sekarang, apakah kamu akan membunuhnya juga?" Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya demikian karena saat itu lidah bercabang Abdullah bin Ubay sudah habis kekuatannya. Tidak usah dibunuh pun ia sudah sama sekali tidak berdaya. Umar Bin Khattab pun mengakui pandangan jauh Rasulullah صلى الله عليه وسلم" ,Demi Allah, aku telah mengetahui bahwa keputusan Rasulullah صلى الله عليه وسلم lebih besar berkahnya daripada pendapatku." Bunda Aisyah Kehilangan Kalung Dalam perjalanan pulang ke Madinah setelah melawan Bani Musthaliq inilah, terjadi suatu peristiwa yang mengganggu ketentraman hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Kejadian ini mengenai istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang ikut dalam peperangan kali ini, yaitu Aisyah. Penuturan Aisyah kejadian ini, setelah selesai peperangan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bergegas pulang dan memerintahkan orang-orang agar segera berangkat pada malam hari. Pada saat semua orang sedang berkemas-kemas hendak berangkat aku keluar untuk membuang hajat, kemudian aku kembali hendak bergabung dengan rombongan. Pada saat itu kuraba raba kalung di leher ku, ternyata sudah tak ada lagi. Kemudian aku kembali lagi ke tempat aku mau buang hajat tadi, untuk mencari-cari kalung hingga dapat ku temukan kembali. Pada saat aku sedang mencari-cari kalung, datanglah orang-orang yang bertugas melayani unta tungganganku. Mereka sudah siap segala-galanya, mereka menduga aku telah berada di dalam haudaj (rumah kecil yang terpasang di punggung unta), sebagaimana dalam perjalanan. Oleh sebab itu haudaj mereka angkat, kemudian diikatkan pada punggung unta. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa aku tidak berada di dalam haudaj, karena itu mereka segera memegang tali kekang lalu mulai berangkat! Ketika aku kembali ke tempat perkemahan tidak ku jumpai seorang pun yang masih tinggal. Semua telah berangkat. Dengan berselimutkan jilbab Aku berbaring di tempat itu. Aku berpikir pada saat mereka mencari-cari aku tentu mereka akan kembali ke tempatku. Demi Allah pada saat aku sedang berbaring tiba-tiba Shafwan bin Mu'atthal lewat. Agaknya ia bertugas di belakang pasukan. Dari kejauhan, ia melihat bayang-bayangku. Ia mendekat lalu berdiri di depanku. Ia
258 sudah melihat dan mengenalku sebelum kaum wanita dikenakan wajib berhijab. Ketika melihatku, Ia berucap, "Innalillahi wa innailaihi roojiun! Istri Rasulullah?" Aku pun terbangun oleh ucapannya itu. Aku tetap menutup diriku dengan jilbabku. "Demi Allah, saya tidak mengucapkan satu kalimat pun dan aku tidak mendengar ucapan dari nya kecuali ucapan innalillahi wa innailaihi roojiun itu. Kemudian dia merendahkan untanya lalu aku menaiki unta itu ia berangkat menuntun unta kendaraan yang aku naiki sampai kami tiba di Nahri Adh Dhahirah tempat pasukan turun beristirahat." Di sinilah mulai tersiar fitnah tentang diriku. Fitnah ini bersumber dari mulut Abdullah bin Ubay bin Salul." Aisyah Jatuh Sakit "Lihat Mengapa istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berjalan bersama orang yang bukan muhrimnya?" seru Abdullah bin Ubay. Mungkinkah mereka ternyata saling menyukai?" Beberapa orang muslim termakan oleh hasutan ini sehingga berita bohong itu tersiar dengan cepat. Kali ini, bukan saja oleh Abdullah bin Ubay, tetapi juga diperkuat oleh orang-orang lain. Aisyah sendiri tidak mengetahui adanya berita bohong itu karena beliau jatuh sakit begitu tiba di Madinah. Aisyah menuturkan, "Setibanya di Madinah, kesehatanku terganggu selama sebulan. Saat itu rupanya orang-orang sudah banyak mendesas-desuskan berita bohong itu, sedangkan aku belum mendengar sesuatu mengenainya. Hanya saja, aku tidak melihat kelembutan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang biasa ku rasakan ketika aku sakit. Beliau hanya masuk lalu mengucapkan salam dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu?" Setelah agak sehat, aku keluar pada suatu malam bersama ummy Masthah untuk membuang hajat. Waktu itu kami belum membuat kakus. Pada saat kami pulang tiba-tiba kaki ummu Masthah terantuk hingga kesakitan dan terlontar ucapan dari mulutnya, "Celaka si Masthah!" Ia pun ku tegur, "Alangkah buruknya ucapanmu itu mengenai seseorang dari kaum Muhajirin yang turut serta dalam Perang Badar!" Ummu Masthah bertanya, "Apakah anda tidak mendengar apa yang dikatakannya?" Ia kemudian menceritakan kepadaku berita bohong yang tersiar sehingga sakitku bertambah parah.... Malam itu aku menangis hingga pagi. Air mataku terus menetes dan aku tak dapat tidur. Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta pendapat para sahabatnya tentang Aisyah. "Wahai Rasulullah, Para istrimu adalah keluargamu kami tidak mengetahui tentang mereka kecuali kebaikan," jawab para sahabat. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memanggil Bariroh pelayan perempuan bunda Aisyah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم Alaihi Wasallam bertanya, "Apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan dari Aisyah?"
259 Barirah berkata, bahwa ia tidak mengetahui Aisyah kecuali bahwa Aisyah adalah orang yang sangat baik, akhirnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم berdiri di atas mimbar. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 110 Rasulullah pun Terganggu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Wahai kaum muslimin siapa yang akan membela ku dari laki-laki yang telah menyakiti keluargaku (dengan menyebarkan berita bohong)? Demi Allah, aku tidak mengetahui dari keluargaku kecuali yang baik. Sesungguhnya mereka orang-orang yang menyebarkan berita bohong itu telah menyebut nama seorang laki-laki (shofwan) yang aku tidak mengenal yaitu kecuali sebagai orang yang baik." Berita bohong tersebut telah menyakiti hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan keluarganya. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang mengunjungi Aisyah yang saat itu memang sedang dirawat di rumah orangtuanya. Aisyah menuturkan. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang ke rumahku. Saat itu Ayah Ibuku berada di rumah. Ayah Ibuku menyangka bahwa tangisku telah menghancurluluhkan hatiku. Sejak tersiar berita bohong itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah duduk di sisiku. Selama sebulan dia tidak mendapatkan wahyu tentang diriku. Ketika duduk Rasulullah صلى الله عليه وسلم membaca puji syukur ke hadirat Allah ىَالَعَت وَ Aisyah Ya, "bersabda laluُ سْب َحانَهُ aku telah mendengar mengenai apa yang dibicarakan orang tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah Allah َو تَعَالَى ُهَحان َبْس ُpasti akan membebaskan dirimu. Jika engkau telah melakukan dosa minta ampun kepada Allah َو تَعَالَى ".Nya kepada bertobatlah danُ سْب َحانَهُ Selesai Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengucapkan itu, tanpa kurasakan, air mataku bertambah bercucuran. Kemudian aku katakan kepada Ayahku, "Ayah, berilah jawaban kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengenai diriku." Ayahku menjawab, "Demi Allah aku tidak tahu bagaimana harus menjawab." Aku katakan pula kepada Ibuku, "Ibuku berilah jawaban mengenai diriku" Dia pun menjawab, "Demi Allah aku tidak tahu bagaimana harus menjawab." Lalu aku berkata, "Demi Allah Sesungguhnya kalian telah mendengarkan itu, sehingga kalian telah membenarkannya. Jika aku katakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah, Allah Maha Mengetahui bahwa aku tidak bersalah. Pasti kalian akan membenarkan aku. Demi Allah aku tidak menemukan perumpamaan untuk diriku dan kalian, kecuali sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf Alaihissalam, "Sebaiknya aku bersabar kepada Allah sajalah aku mohon pertolongan atas apa yang kalian lukiskan."
260 Air mata Abu Bakar pun berlinang ketika putrinya difitnah. Dia berkata, "Demi Allah belum pernah disebutsebut ada persoalan semacam ini pada masa jahiliyah, padahal ketika itu orang tidak menyembah Allah. Tetapi sekarang pada masa memancarkan sinar Kemuliaan Islam orang-orang mengabarkan berita bohong seperti ini kepada keluarga kita!" Firman Allah Setelah itu Aisyah berbaring di atas tempat tidur, ia dalam keadaan lemah. Saat itu mendadak Rasulullah صلى الله عليه وسلم َو تَعَالَى Allah karena lemah terkulai juga ُهَحان َبْس ُsedang menurunkan firmannya. Keringat beliau bercucuran karena beratnya Wahyu yang diturunkan, ̽ ِ߳ҧ ҧن ا Ү ا ْ ْنهُم ِ ُكلِّ اْمِرٍئ مِ َ ُ ْكمۚ ̦ َ˭ٌْير ل ْل ُهوَ َ َ ُ ْكمۖ ب ُوُه َشرҤا ل ب َ َلا َتحْس̑ ْ̲ ُ ْكمۚ مِ َةٌ فْ ِك ُعْصب Ү ُوا ِԴْلا ۚ َن َˡاء ِ ثمْ Ү ْلا َن ا َس َب مِ َ˖ َما اكْ َذا ٌب َعِظٌيم َࠀُ َ̊ ْ ْنهُم ҧلىٰ كِ ْبرَُه مِ ҧِ߳ي تَوَ ا وَ Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiaptiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Surah An-Nur (24:11) ْوَلا ل ٌك ُمِˍ ٌين َ فْ Ү َذا ا ஈ وا َهـ ُ قَال َ˭ْيرًا وَ ْ نُْف ِسهِم ҫ َ̲ا ُت ِبˆ مُ ْؤمِ ْ ال ُ̲وَن وَ مُ ْؤمِ ْ ْذ َ ِسمْعُتمُوُه َظҧن ال Ү ا Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata. Surah An-Nur (24:12) ْوَلا َ ل ۚ َ ُشهَ َداء ََعةِ ْرب ҫ ِبˆ ْهِ ي ُوا َ̊لَ َˡُ وَن اء ب َكاذِ ْ ئِ َك ِعْنَد ا ҧُ ِ߹همُ ا̦ ஈ ـ َ ول Ҭ فَˆ شهَ َداءِ تُوا ِԴل Ҩ ҭ ˆَ ي مْ َ ْذ ل Ү فَا Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Surah An-Nur (24:13) ْوَلا َ ل َذا ٌب َعِظٌيم َ و َ̊ ̀هِ فِ ǫفَ ْضُتمْ مَ ҧسُ ْكم ِفي َما ҫ َ ل ةِ اҡِ ْٓخرَ ا وَ َ َْحمُتُه ِفي ا Ҩ߱نْي ُ ْكم وَرَ ْ ي َ̊لَ فَ ْض ُل ا ҧِ߹
261 Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. Surah An-Nur (24:14) ْذ Ү ِعْن ا ُهوَ ِنًا وَ ّ ُونَُه َهي ب َ َتحْس̑ ِ̊ ْلمٌ وَ َ ُ ْكم ِبهِ َس ل ْ̿ َ ِهُ ْكم َما ل ا فْوَ ҫ وَنِبˆ ُ تَُقول ْ ِسَ̱˗ِ ُ ْكم وَ ҫل ْونَُه ِبˆ قҧ َعِظٌيم تَلَ َد ا ҧِ߹ (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Surah An-Nur (24:15) ْوَلا َ ل َ ஈ و َذا ُْبهتَا ْ َ˪انَ َك َهـ ُ ب ِبهَஈَ ذا س̑ َ م َكلҧ ǫْ ن نَتَ نَا ҫ َ ُكوُن ل َ ُتمْ َما ̽ ْ ْذ َ ِسمْعُتمُوُه قُل Ү ٌن َعِظٌيم ا Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar. Surah An-Nur (24:16) ǫْ ن تَُع ي وُدو َعِ ُظُُكم ҫ َين ا ҧ߹ُ ِ̲ ْنُتمْ ُم ْؤمِ ْن كُ Ү ًَدا ا ǫب ҫ ِِمثِْࠁِ ا ل Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. Surah An-Nur (24:17) ُين ِّ َ ُب ي ٌيم َح َ ل ِ َԹِ تۚ وَ و ا ҧَ̊ ߹ُ َ ُُكم اҡْٓ ِكٌيم ا ҧ ߹ُل dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Surah An-Nur (24:18) ҧن Ү ا ا ۚ وَ ةِ اҡِ ْٓخرَ ا وَ َ ٌيمِفي ا Ҩ߱نْي ِ ǫل ҫ َذا ٌب َ̊ ْ هُم َ َن ǫَٓمُ̲وا ل ̽ ِ߳ҧ فَا ِحَشُة ِفي ا ْ يَع ال ِ ǫْ ن ˓َش̑ ҫ وَن Ҩ َن ُِيحب ̽ ا و ҧِ߳ مُ َلا تَْعلَ ǫنُْتمْ ҫ َن َْعَلمُ وَ ҧ ߹ُي Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. Surah An-Nur (24:19) ْوَلا َ ل ُوٌف رَ و ِحٌيم َ ҧن ا ҧ ߹َرَء ǫ ҫ َْحمُتُه وَ ُ ْكم وَرَ ْ ي َ̊لَ فَ ْض ُل ا ҧِ߹ Dan sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).
262 Surah An-Nur (24:20) َԹَ و َطا ِنۚ ْ ِت ال ҧش̑ي ا َلا تَ˖ҧُˍِعوا ُخُطوَ َن ǫَٓمُ̲وا ̽ ِ߳ҧ يهَا ا Ҩǫ ْوَلا ҫ َ ل مُ ْن َكِرۚ وَ ْ ال َف ْحَشاءِ وَ ْ ِԴل ُمرُ ҭ ˆَ نҧُه ي Ү َطا ِن فَا ْ ِت ال ҧش̑ي ا َ˖ҧْˍِع ُخُطوَ َم ْن ي ஈ ـ َ ل ًَدا وَ ǫب ҫ َ˨ٍد ҫ ْن ǫ ْ̲ ُ ْكم مِ َْحمُتُه َما َزَكىٰ مِ ُ ْكم وَرَ ْ ي َ̊لَ ٌيم ِكҧن فَ ْض ُل ا ҧِ߹ ا ҧِ َ ߹ُسميٌع َ̊لِ وَ ۗ ُ َم ْن َ̼ َشاء َُزّكي ِ ا ҧ̽ ߹َ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Surah An-Nur (24:21) Setelah menerima wahyu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memandang Aisyah dengan tersenyum sambil bersabda, "Bergembiralah, ya Aisyah Sesungguhnya Allah telah membebaskan kamu." Bersambung
263 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ِل ُم َحمد ّلِ َعلَى ُم َح اَلل َّم َّ ٍد َو َعلَى آ Bagian 111 Allah Telah Membebaskan Aisyah Ibunya Aisyah berkata, "Berdiri dan berterimakasihlah kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Aisyah menjawab, "Tidak. demi Allah aku tidak akan berterima kasih kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,Sebab aku tidak akan memuji siapa pun kecuali Allah. Karena Dia-lah yang menurunkan pembebasanku." Sebelum peristiwa itu Abu Bakar membiayai Masthah karena kekerabatannya dan kemiskinannya. Namun setelah peristiwa itu Abu Bakar berkata, "Demi Allah saya tidak akan membayarnya lagi karena ucapannya kepada Aisyah." Allah subhanahu wa ta'ala berfirman َن ِفي َس مُهَا ِجِر̽ ْ ال َين وَ َ َساكِ م ْ ال ْرَٰبى وَ ُق ْ ǫوِلي ال ُ ْؤتُوا Ҭ ǫْ ن ي ҫ ҧسَعةِ ال ُ ْكم وَ ْ̲ َف ْض ِل مِ ْ و ال ُ ǫول تَ ِل Ҭ ҭ ˆَ َلا ي و ۖ َ ِ َ ْعُف ِˌ̀ ِل ا ҧ ߹وا ي ْ ل وَ َلا ǫ ُحواۗ ҫ َ ْصفَ ي ْ ل ا ҧ ߹ُغَُفوٌر رَ و ِحٌيم َ وَ َ ُ ْكمۗ ا ҧ ߹ُل َ ْغفِرَ ǫْ ن ي ҫ وَن Ҩ ُتحِب Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Surah An-Nur (24:22) Mendengar firman ini Abu Bakar berkata, "Demi Allah sungguh aku ingin mendapat ampunan Allah." Setelah itu ia kembali membiayai Masthah. Sementara itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم segera membacakan firman Allah itu kepada kaum muslimin. Para penyebar fitnah yaitu Masthah bin Utsatsah, Hasan bin Tsabit dan Hamnah binti Jahsy, dihukum hadd (didera) sebanyak 80 kali cambukan. Yahudi Menghasut Selain orang Quraisy yang menyembah berhala, pihak lain yang paling keras memusuhi kaum muslimin adalah orang Yahudi. Para pemuka Yahudi Bani Nadhir yang telah terusir tidak tinggal diam dari tempat tinggal mereka yang baru di Khaibar, mereka mulai melancarkan permusuhan. Rencana baru para Yahudi ini adalah menghasut orang-orang Arab agar memerangi Madinah. Para pemuka Bani Nadhir datang ke Mekah menemui para Pembesar Quraisy. "Pasukan kami akan bergabung dengan tuan-tuan untuk menyerang Madinah," kata para pemuka Yahudi.
264 "Bagaimana dengan Yahudi Bani Quraizhah yang masih tinggal di Madinah" tanya seorang Pembesar Quraisy. Mereka tinggal di Madinah sekedar untuk mengelabui Muhammad. Kalau tuan-tuan sudah datang mereka akan bergabung dengan tuan-tuan." Orang-orang Quraisy masih terlihat ragu. Perselisihan mereka dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dimulai karena ajaran َو تَعَالَى Allah menyembah orang mengajak Islam ُهَحان َبْس ُdan melarang bersujud pada berhala. Bukankah orang Yahudi juga mengaku bahwa Tuhan mereka adalah Allah? Orang Quraisy ingin mengetahui pendapat Yahudi tentang ajaran Islam. "Tuan-tuan Yahudi," "Tuan-tuan adalah golongan ahli kitab yang mula-mula, lebih dulu dari orang Nasrani dan muslim. Menurut tuan-tuan Siapakah yang lebih baik, agama kami yang menyembah berhala atau agama Muhammad?" Seharusnya orang Yahudi menjawab bahwa agama Rasulullah صلى الله عليه وسلم lebih baik karena orang Yahudi juga menyembah Allah صلى الله عليه وسلم .Namun karena kebenciannya yang sangat kepada kaum muslimin orang Yahudi Bani Nadhir menjawab, "Tentu agama tuan-tuan yang lebih baik, sebab tuan-tuan yang lebih benar dari dia," Allah menurunkan Firman dalam surat An-Nisa ayat 51-52 yang mengecam pernyataan orang Yahudi itu. ْ م َ ǫل وا ҫ َفرُ َن كَ ِ ҧِߴ̽ وَن ل ُ ُقول َ ي ال ҧطاغُو ِت وَ ِت وَ ْ ِجب ْ ُ̲وَنِԴل ُ ْؤمِ ِك˗َا ِب ي ْ َن ال ا مِ ً ǫوتُوا نَ ِصيب Ҭ َن ̽ ِ߳ҧ َلى ا Ү ا ˔ ُؤ َرَ ஈ َن َهـ ǫْ هَد ٰى مِ ҫ َلاءِ َسِˌً̀لا َن ǫَٓمُ̲وا ̽ ِ߳ҧ ا Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Surah An-Nisa' (4:51) ئِ َك ஈ ـ َ ǫول ا Ҭ ِص ًير ْن َتجِ َد َࠀُ نَ َع ِن ا ҧ ߹ُفَلَ ْ َل ا ҧ ۖ߹ُوَ َم ْن ي ُ َعَنهُم َ َن ل ̽ ِ߳ҧ ا Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barang siapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Surah An-Nisa' (4:52) Bersambung
265 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح لل مد َّ Bagian 112 Pasukan Ahzab Setelah itu, para pemuka Yahudi itu pergi berkeliling menemui para pemimpin kabilah Ghatafan serta semua pihak yang ingin membalas dendam kepada kaum muslimin. Orang-orang Yahudi ini sangat aktif menghimpun dukungan, mereka memuji-muji berhala Quraisy dan menjanjikan bahwa kali ini pasukan muslim pasti akan bisa di habisi sampai ke akar-akarnya. Usaha keras ini berhasil. Puncaknya berangkatlah 10000 orang Pasukan gabungan berbagai suku Arab yang memusuhi kaum muslimin. 4000 orang di antaranya adalah orang-orang Quraisy, selebihnya adalah dari suku-suku Qois Ailan, Banu Fazarah, Asyja Sulai, Banu Saad, dan lain-lain. Pemimpin seluruh pasukan ini adalah Abu Sufyan dengan kesepakatan bahwa jika sudah tiba di Madinah tampuk kepemimpinan akan digilir setiap hari kepada setiap pemimpin suku yang lain. Orang-orang Mekah termasuk anak-anak dan kaum wanitanya bersorak-sorai mengiringi kepergian pasukan raksasa itu. Abu Sufyan kini bisa tersenyum. "Muhammad dan Madinah akan tumpah," pikir Abu Sufyan. "Tidak ada suatu kekuatan pun yang bisa membendung pasukan sebanyak ini. Cuma dua pilihan bagi Muhammad, bertahan sampai mati di kotanya atau pergi mengungsi ke tempat yang jauh!" Ketika mengetahui keberangkatan pasukan musuh, kaum muslimin merasa amat terkejut. Kini seluruh kabilah Arab sudah bersatu untuk memusnahkan mereka. Apa yang harus dilakukan kaum muslimin rasanya sudah tidak mungkin melawan dengan ke luar kota seperti pada perang Uhud. Kini jumlah lawan yang datang lebih banyak lagi, tiga kali lipat dari dahulu yang mereka hadapi. Ribuan manusia bersenjata lengkap ditunjang dengan barisan berkuda dan unta tak mungkin dihadapi dengan cara berhadap-hadapan muka secara langsung. Rasulullah صلى الله عليه وسلم segera mengajak para sahabat berunding. Semuanya sepakat bahwa mereka harus bertahan di Madinah tidak ada cara lain. Namun itu saja belumlah cukup, sebab pasukan musuh sebesar itu akan mampu merebut rumah demi rumah dan jalan demi jalan di Madinah yang akan dipertahankan kaum muslimin. Apa lagi keberadaan kaum wanita anak-anak dan orang orang tua akan menambah beban pasukan yang bertahan. Seorang sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم akhirnya menemukan jawabannya. Menggali Parit "Ya Rasulullah" demikian sahabat itu mengajukan usul. "Dulu jika kami orang-orang Persia sudah dikepung musuh, kami membuat parit di sekitar kami."
266 Orang yang mengajukan usul itu adalah Salman Al Farisi. Salman si orang Persia. Usul cerdik itu segera diterima oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,dan para sahabat segera mulai menggali parit di sekitar kota Madinah. Jumlah kaum muslimin ada 3000 orang, setiap 10 orang ditugasi menggali parit sepanjang 40 Hasta. Karena itulah Perang ini disebut perang Khandaq atau perang Parit atau perang Ahzab atau Perang sekutu. Disebut Perang sekutu karena pasukan yang dihadapi kaum muslimin adalah pasukan persekutuan beberapa Kabilah Arab. Maka dimulailah perlombaan itu. Manakah yang lebih dulu kaum muslimin menyelesaikan parit ataukah pasukan ahzab tiba di Madinah. Menyadari bahwa waktu sangat penting dalam keadaan ini, semua orang pun bekerja keras. Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri terjun dalam penggalian itu, begitu kerasnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم ikut bekerja, seorang sahabat bernama Al Barra bin Azib berkata: 'Pada waktu perang Ahzab Saya melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menggali parit dan mengusung tanah galian sampai saya tidak dapat melihat dada beliau yang berbulu lebat karena tebalnya tanah yang menempel dan melumurinya.' Kaum Muhajirin dan Anshor bekerja sambil melantunkan syair penuh semangat. 'Kami adalah orang-orang yang telah berbaiat kepada Muhammad untuk setia kepada Islam selama kami masih hidup.' Ucapan ini dijawab oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم' .Ya Allah Sesungguhnya tiada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka Berkatilah kaum Anshor dan Muhajirin.' Tiba tiba di suatu bagian, galian tertunda karena ada sebuah batu besar yang begitu kuat dan tak bisa dipisahkan oleh para sahabat. Mereka pun melapor, "Rasulullah, sebuah batu menghambat kelancaran kami dalam penggalian parit." "Biarkan aku yang turun," sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Beliau pun turun dan menghancurkan batu sambil mengucapkan "Bismillah, ...." Batu yang keras itu pun hancur seperti pasir. Pada saat itu Allah memberi Rasulullah صلى الله عليه وسلم penglihatan tentang masa depan kaum muslimin. Roti dan Kurma Setelah pukulan pertama Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Allahuakbar! aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah aku benar-benar bisa melihat istana-istana yang bercat merah saat ini." Setelah itu, beliau menghantam untuk kali keduanya batu keras yang tersisa sampai sebagiannya hancur menjadi pasir. Saat itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Allahu akbar aku diberi tanah Persia, demi Allah saat ini aku bisa melihat istana Madain yang bercat putih."
267 "Bismillah, ... sambil mengucapkan itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghantam sisa terakhir batu itu sampai hancur menjadi pasir. Beliau pun bersabda, "Allahu akbar! aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah dari tempatku ini aku bisa melihat pintu pintu gerbang Shan'a." Di kemudian hari, setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم wafat semua negeri yang beliau sebut itu takluk dalam pelukan Islam. Saat menggali Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengganjal perut beliau dengan 2 buah batu untuk menahan lapar. Para sahabat yang lain pun melakukan hal yang sama. Melihat ini Jabir bin Abdullah meminta izin kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk pulang sebentar. Sampai di rumah Jabar bertanya kepada istrinya. "Aku tidak akan membiarkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kelaparan. Apakah kamu mempunyai sesuatu? "Ya aku punya gandum dan seekor anak kambing." Kemudian Jabir memasak daging kambing dalam priuk dan memasukkan tepung gandum ke dalam pembakaran roti. Setelah itu ia menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan berkata, "Ya Rasulullah aku ada sedikit makanan. Datanglah engkau bersama seorang atau dua orang sahabatmu." Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya, " berapa banyakkah makanan itu?" Jabir menyebutkan jumlah makanannya yang sedikit itu. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Itu cukup banyak dan baik. Katakanlah kepada istrimu jangan diangkat masakan itu dari atas tungku dan jangan mengeluarkan roti dari bahan bakarnya, sebelum aku datang ke sana". Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم memanggil para sahabat Anshar dan Muhajirin. "Wahai para penggali parit mari kita datang, sesungguhnya Jabir memasak makanan besar. Mendengar itu, Jabir sampai mengangakan mulut. Bagaimana makanan sedikit itu cukup buat seluruh orang? Ternyata makanan itu cukup untuk membuat semua orang kenyang, bahkan masih tersisa. Pada saat lain, Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga membagikan setangkup kurma kepada begitu banyak orang. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 113 Serangan Gencar Dalam penggalian itu orang-orang munafik menunjukkan rasa enggan, mereka sengaja menampakkan diri seperti orang lesu dan tidak memiliki kemampuan. Banyak yang diam-diam melarikan diri ke rumah
268 masing-masing. Sementara setiap Sahabat Muslim pasti meminta izin kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم jika mempunyai suatu keperluan. Kemudian setelah selesai kembali lagi bekerja pada penggalian. Parit telah selesai digali, ketika pasukan musyrik datang. Melihat jumlah musuh sebesar itu orang-orang munafik dan mereka yang lemah jiwanya seketika menggigil ketakutan. Mereka langsung berprasangka َو تَعَالَى Allah kepada buruk َو تَعَالَى Allah, "hati dalam berkata mereka sampai rasulnya danُ سْب َحانَهُ danُ سْب َحانَهُ rasul-nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu daya." Pasukan musyrik terkejut sekali ketika melihat ada parit yang terlalu lebar di depannya untuk diseberangi. Ini perbuatan orang pengecut! Jadi mereka sambil berputar-putar mencari rongga parit yang sempit untuk dilompati, Amarah mereka menggelegak bukan main. Belum pernah dalam sejarah peperangan orang Arab melakukan strategi seaneh ini. Sambil tersenyum, pasukan muslim mewaspadai gerakan musuh. Dengan tangkas mereka menghujani anak panah, lawan yang mencoba mendekati parit. Kemudian muncul sekelompok penunggang kuda Quraisy yang tangguh. Mereka adalah Amir bin Abdul Wudd, Ikrimah Bin Abu Jahal, Dhirar bin Khattab dan lain-lain. Dengan nekat mereka terjun ke parit dan berhasil sampai ke seberang. Namun Ali bin Abi Thalib dan beberapa orang muslim mengepung tempat itu. Melihat Ali bin Abi Thalib, Amir bin Abdu Wudd yang pemberani, menantang duel. Ali pun menghadapinya. Mereka berputar-putar dan suara denting pedang beradu demikian kerasnya, masing-masing memekik nyaring ketika mereka saling menebas dan menangkis. Ali bin Abi Thalib berhasil merobohkan musuhnya. Kaum muslimin yang lain berhasil mendesak para prajurit Quraisy ke tepi parit sehingga mereka mundur tunggang langgang. Ikrimah bin Abu Jahal sampai meninggalkan tombaknya melihat serangan ganas para prajurit muslim. Ketika dalam keadaan segenting seperti itu, lagi-lagi kaum muslimin dikhianati. Pengkhianatan Yahudi Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berhijrah ke Madinah ada tiga kelompok Yahudi di kota itu, mereka adalah: Bani Qainuqa, Bani Nadhir dan Bani Quraizhah. Namun, akibat ulahnya sendiri Bani Qainuqa dan Bani Nadhir terusir dari Madinah. Kepada pemimpin Bani Quraizhah inilah Huyay bin Khattab pemimpin Bani Nadhir datang menghasut. Kaab bin Asad Al Quraizhy pemimpin Bani Quraizhah akhirnya membukakan pintu bentengnya setelah Huyay menggedor berkali-kali. "Kaab, aku datang bersama Quraisy dan Ghatafan berikut para pemimpin mereka. Semuanya sudah berjanji kepadaku untuk tidak pulang sebelum dapat membinasakan Muhammad dan para pengikutnya."
269 Mendengar kata-kata Huyay, Kaab menjawab, "Celakalah engkau Huyya! Tinggalkan aku dari urusanku! Aku tidak melihat diri Muhammad melainkan sosok orang yang jujur dan menepati janji!" Namun Huyay terus membujuk-membujuk dan membujuk sampai akhirnya Kaab pun setuju untuk mengkhianati kaum muslimin. Mulailah Bani Quraizhah mengincar benteng tempat kaum wanita dan anakanak Muslim berlindung yang dijaga Hasan bin Tsabit. Shaffiyah binti Abdul Muthalib Bibi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan adik perempuan Hamzah melihat ada seorang laki-laki Yahudi datang mengendap-ngendap mengelilingi benteng, Shafiyyah segera memberi tahu Hasan bin Tsabit, "Wahai Hasan, lihat ada orang Yahudi mengelilingi benteng ini. Demi Allah aku khawatir ia akan menunjukkan titik lemah benteng ini kepada pasukannya Yahudi padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat sedang bertempur di garis depan. Hampiri orang itu dan bunuh dia!" "Engkau tahu sendiri bahwa aku bukanlah orang yang mahir dalam bunuh membunuh," jawab Hasan. Shaffiyah yang gagah berani itu mengambil sepotong tiang dan memukul orang Yahudi itu sampai mati. Karena tindakannya ini, kaum Yahudi tidak berani terang-terangan menyerang benteng yang mereka kira dijaga dengan kuat. Apa yang akan dilakukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat, ketika mengetahui bahwa Bani Quraizhah berniat menikam dari belakang? Orang Yahudi adalah pedagang dan ilmuwan yang jauh lebih unggul dari Anshor yang terdiri atas Aus dan Khazraj. Namun, ketika melihat pemeluk Islam meningkat pesat, orang Yahudi khawatir mereka akan kalah dalam perdagangan dan pengetahuan. Kemudian mereka menolak kerasulan Muhammad صلى الله عليه وسلم dan mentertawakan ajaran beliau. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 114 Kaum Muslimin Sangat Terkejut Tentu saja Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya terkejut setelah mendengar Yahudi Bani Quraizhah telah membelot ke pihak musuh. Ini berarti pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu harus membagi pasukan dalam dua kelompok pertempuran. Keadaan ini benar-benar memberatkan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutus Saad bin Muadz pemimpin suku Aus yang pernah menjadi sekutu sekaligus pelindung bani Quraizhah ditemani Sa'ad bin Ubadah pemimpin suku Khazraj dan beberapa orang sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta mereka mengecek keadaan bani Quraizhah.
270 Para sahabat itu kemudian pergi menemui bani Quraizhah yang telah mengurung diri dalam benteng mereka. Saad bin Muadz mencoba mengingatkan perjanjian damai yang berisi saling bantu antara kaum muslimin dan bani Quraizhah. "Antara kami dan Muhammad tidak ada ikatan apa-apa dan tidak ada perjanjian apa-apa," jawab bani Quraizhah kepada Saad bin Muadz. Saad berusaha menyadarkan bani Quraizhah terhadap risiko yang akan mereka hadapi karena membelot dari perjanjian dengan kaum muslimin. Saad meminta mereka agar tetap mau menjadi sekutu dengan segala kejujuran sebagaimana pada masa-masa lalu dan tetap menjaga hak kedua belah pihak agar tidak mengecewakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم pada saat-saat sulit seperti ini. Namun jawaban bani Quraizhah sangat kasar dan menghina. Saad bin Muadz marah sekali sampai terjadi perang mulut antara Saad bin Muadz dan bani Quraizhah. Akhirnya Saad dan para sahabat yang lain pulang dengan hati kesal. "Biarkan mereka menentang dirimu, sebab jika dilayani hanya akan menambah ramai pertengkaran antara kita dan mereka," hibur Sa'ad bin Ubadah kepada Saad bin Muadz. Saad bin Muadz menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan melapor, "Ya Rasulullah, mereka telah melanggar perjanjian sebagaimana dulu dilakukan suku Adhal dan Qarah." Mendengar itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Allahu akbar, Bergembiralah wahai kaum muslimin!" Saad masuk Islam pada usia 31 tahun. Pada usia 37 tahun Ia pergi menemui Syahidnya. Hari-hari keislaman sampai wafatnya diisi semua dengan karya-karya gemilang dalam berbakti kepada Allah dan rasulnya. Suara Kaum Munafik Kata-kata hiburan Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang penuh semangat itu tidak ditanggapi dengan baik oleh orang-orang munafik dan mereka yang lemah Iman. Memang benar, keadaan seperti itu membuat hampir seluruh sahabat dilanda kecemasan. Alquran melukiskan bahwa keadaan kaum muslimin waktu itu sedang diuji dengan guncangan yang amat dahsyat sampai-sampai tidak tetap lagi penglihatan mereka. Terasa sesak naik sampai ke tenggorokan dan mereka menyangka bermacam-macam terhadap Allah. Akan tetapi bagaimanapun keadaannya orang yang imannya kuat tidak beranjak dari sisi Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Berbeda halnya dengan orang-orang munafik. Mereka berkata, "Muhammad berjanji kepada kita semua bahwa suatu saat kita akan merebut kekayaan Kaisar Persia dan Romawi. Nyatanya? Hari ini saja tidak seorang pun dari kita merasa aman, bahkan untuk sekedar pergi ke jamban."
271 Suara-suara Sumbang yang lain juga terdengar, "Muhammad rumah kami saat ini sedang kosong tak berpenghuni. Ijinkanlah kami keluar dari barisan tempur untuk pulang ke rumah masing-masing karena rumah kami terletak di luar Madinah." Para sahabat setia menjadi marah, "Mereka sungguh-sungguh penghianat. Ya Rasulullah, ijinkanlah kami memenggal leher-leher mereka!" Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak ingin memaksa seseorang untuk bertempur. Beliau mengijinkan orang-orang lemah iman itu untuk pulang, biarlah hanya orang-orang yang mampu menghadapi bahaya dan benar-benar menginginkan mati syahid saja yang tetap bertahan di barisan pasukan. Orang-orang lemah iman justru akan menularkan rasa takutnya kepada banyak orang. Dan penilaian Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini tepat sekali. Setelah perginya orang-orang pengecut, barisan tempur yang tersisa justru semakin bulat tekadnya untuk bertempur dan berjuang. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyampaikan wahyu Allah bahwa, jika orang melarikan diri dari kematian, seandainya pun bisa hanya akan mengecap kesenangan dunia sebentar saja. Tak layak seorang lari dari bencana, padahal bencana itu datang atas izin Allah dan Allah-lah yang satu-satunya sumber pertolongan dan perlindungan. Pasukan Quraisy Mulai Putus Asa Rasulullah صلى الله عليه وسلم merancang suatu strategi baru. Beliau ingin menawarkan kepada pasukan Ghathafan sepertiga hasil perkebunan Madinah jika mereka mau kembali pulang. Tidak ragu lagi. Orang Ghathafan pasti akan menyambut baik dan jika mereka pulang pasukan musuh yang tersisa tinggal 4 ribu prajurit Quraisy. Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta pendapat terlebih dahulu kepada Saad bin Muadz dan Sa'ad bin Ubadah sebagai pemimpin penduduk asli Madinah. "Ya Rasulullah Jika Allah yang memerintahkan kami pasti tunduk dan patuh" demikian jawab keduanya, "namun jika ini pendapat Tuan kami tidak sependapat. Dulu orang Ghathafan tak pernah merasakan kurma Madinah, kecuali dengan membeli atau sedang diundang jamuan padahal waktu itu kami semua masih musyrik. Lalu mengapa kini setelah Allah memuliakan kami dengan Islam kami harus menyerahkan harta kami seperti itu? Demi Allah kami tidak akan memberikan sesuatu kepada mereka kecuali tebasan Pedang." Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengangguk setuju, "ini memang pendapatku sendiri sebab aku melihat orang-orang Arab menyerang kita dengan panah." Pertempuran dilanjutkan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan agar prajuritnya tidak menampakkan diri kecuali dengan berbaju besi lengkap. Namun Saad bin Mu'adz terkena panah hingga menembus urat tangannya. Saat itu ia hanya mengenakan baju besi yang pendek. Doa Saad pada waktu itu adalah, "Ya Allah Sesungguhnya engkau tahu bahwa aku amat mencintai Jihad melawan orang-orang yang mendustakan Rasulullah dan mengusirnya. Ya Allah, jika engkau masih
272 menyisakan sedikit peperangan melawan orang-orang Quraisy, berikanlah sisa kehidupan kepadaku agar aku bisa memerangi mereka karena Engkau semata." Nah pada suatu malam pasukan Quraisy yang sudah hampir kehilangan akal untuk menerobos parit mencoba kembali menyeberangi parit dengan pasukan berkuda pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal. Pasukan muslim menebarkan hujan panah. Dalam gelap Rasulullah صلى الله عليه وسلم berhasil memanah Ikrimah sehingga pasukan musuh terperosok dan kembali mundur. Abu Sufyan mengirim surat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang isinya menuduh Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai pengecut, Abu Sufyan menantang muslimin untuk bertempur di lapangan terbuka. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tersenyum dan membalas surat itu. Isinya mengatakan bahwa dalam waktu dekat ini beliau memang akan keluar menemui mereka untuk mengikis habis berhala-berhala Quraisy di Mekah. Pada hari-hari ini kesabaran memang menjadi senjata terampuh untuk meraih kemenangan. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 115 Rasulullah Mengutus Nu'aim bin Mas'ud Bersabar bukan berarti berdiam diri. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memanggil Nu'aim bin Mas'ud yang baru saja masuk Islam dan hal itu tidak diketahui oleh musuh. Pada masa jahiliyah Nu'aim sangat erat bersahabat dengan bani Quraizhah dan Ghathafan. "Ya Rasulullah, sesungguhnya kaum saya tidak mengetahui keislaman saya. Karena itulah silahkan kalau mau berbuat apa saja yang engkau inginkan terhadap diri saya," kata Nu'aim. Rosululloh صلى الله عليه وسلم menjelaskan rencananya kepada Nu'aim, setelah itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Laksanakanlah rencana ini, Nu'aim karena suatu pertempuran itu memang penuh tipu daya." Apa yang dilakukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah strategi yang luar biasa untuk memecah-belah musuh. Atas perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,Nu'aim pergi menemui bani Quraizhah. Nu'aim berkata, "Kalian semua telah tahu betapa aku sangat mencintai kalian”. "Kami memang tidak menaruh curiga sama sekali kepada-mu," jawab bani Quraizhah. Nu'aim melanjutkan, "Sebenarnya orang-orang Quraisy dan Ghathafan tidak sama dengan kalian sebab ini adalah negeri kalian. Di sini lah kalian menyimpan harta dan istri-istri kalian. Sementara itu harta dan istriistri orang Quraisy serta kekuatan ada di tempat masing-masing. Lagipula pengepungan sudah berjalan terlalu lama.
273 Orang Quraisy dan Ghathafan mulai kehabisan bekal. Kuda-kuda dan unta-unta mereka sudah semakin kurus karena rumput di sekitar Madinah telah menggundul. Sebentar lagi mereka akan pulang, sementara kalian akan ditinggalkan sendiri untuk menghadapi Muhammad dan pengikutnya. Mengapa kalian sampai hati menghianati Muhammad? Bukankah kalian mengetahui bahwa Muhammad itu sangat jujur dan setia? Ia pasti akan membela kalian jika kalian dalam kesulitan seperti yang tertera dalam perjanjian di antara kalian dan Muhammad. Jika pasukan al-Ahzab datang posisi kalian akan terjepit. Yang pasti kalian tidak akan mampu menghadapi Muhammad dan para pengikutnya, jika kalian dan mereka saling berhadapan langsung." "Apa yang harus kami lakukan?" tanya orang Yahudi itu bingung. "Minta sandera dari pihak Quraisy dan Ghathafan. Dengan demikian keduanya tidak akan pulang melainkan bertempur bersama kalian. Janganlah kalian mau disuruh menyerang sebelum sandera-sandera dari pihak Ahzab ada di tangan kalian," jawab Nu'aim bin Mashud. Bani Quraizhah menyetujui usul yang menurut mereka sangat baik ini. Musuh Terpecah Belah Kemudian secara diam-diam Nuaim melanjutkan visinya, ia pergi ke perkemahan bani Ghathafan yang juga sahabatnya. Kepada mereka Nuaim berkata, "Sebenarnya bani Quraizhah merasa menyesal telah memusuhi Muhammad. Mereka enggan meneruskan pertempuran di pihak kalian. Hati-hati, mereka akan berpurapura meminta sandera kepada kalian, padahal sandera itu akan diserahkan kepada Muhammad, agar Muhammad memaafkan perbuatan mereka." Mendengar itu para pemimpin Ghathafan dan Quraisy jadi ragu-ragu terhadap bani Quraizhah. Abu Sufyan pun menulis surat kepada Kaab pemimpin bani Quraizhah. "Kami sudah cukup lama tinggal di tempat ini dan mengepung Muhammad. Menurut hemat kami, besok kalian harus sudah menyerbu Muhammad dari belakang dan kami akan menyusul." "Besok hari Sabtu," tulis Kaab. "Pada hari Sabtu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun." "Cari hari Sabtu lain saja sebagai pengganti Sabtu besok," geram Abu Sufyan dalam surat balasannya. "Sebab besok Muhammad sudah harus diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Muhammad sedang kamu tidak turut serta dengan kami, persekutuan kita dengan sendirinya bubar dan kamulah yang akan kami serbu lebih dahulu sebelum Muhammad!" Bani Quraizhah tidak berani melanggar pantangan pada hari Sabtu. Mereka mengulangi jawaban itu dengan tambahan bahwa ada golongan mereka yang dapat kemurkaan Tuhan karena telah melanggar hari Sabtu, sehingga berubah menjadi monyet dan babi. Kemudian bani Quraizhah malah meminta sandera dari pihak Ahzab untuk ditahan di benteng mereka agar yakin bahwa orang Quraisy dan Ghathafan tidak akan pergi begitu saja.
274 Mendengar itu, yakinlah pasukan Ahzab bahwa apa yang dikatakan Nu'aim benar. Keraguan besar segera melanda pasukan Ahzab. Jika bani Quraizhah tidak menyerang dari belakang, mereka terpaksa harus menyerang dari depan melalui parit. Padahal parit itu tidak akan diseberangi dengan cara bagaimanapun. Karena orang Quraisy menolak menyerahkan sandera. Yakinlah bani Quraizhah bahwa mereka akan ditinggalkan. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 116 Topan Selama perang Ahzab yang mencekam itu tak henti-hentinya Rasulullah صلى الله عليه وسلم berdoa siang dan malam merendahkan diri kepada Allah memohon agar pasukan Ahzab dikalahkan dan diguncangkan. Pada suatu malam, angin topan mengamuk melanda Madinah dan sekitarnya. Kaum muslimin segera berlindung dibalik pagar pertahanan. Rasa dingin begitu menusuk tulang. Pada saat itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم berseru mengalahkan deru angin, "Adakah orang yang bersedia mencari berita musuh dan melaporkannya kepada ku, mudah-mudahan Allah menjadikannya bersamaku pada hari kiamat!" Semua sahabat terdiam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengulangi seruannya sampai tiga kali, Namun semua sahabat dicekam dahsyatnya topan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun berseru, "Bangkitlah wahai Hudzaifah, carilah berita dan laporkan kepadaku!" Hudzaifah bangkit dan mendengarkan pesan Rasulullah صلى الله عليه وسلم" ,Berangkatlah mencari berita musuh dan janganlah engkau melakukan tindakan apa pun." Hudzaifah berangkat dengan membawa panah. Ia berjalan dengan susah payah melawan angin. Hudzaifah menuturkan sendiri pengalamannya. Aku berjalan seperti orang yang sedang dicengkeram kematian, hingga tiba di markas musuh. Kulihat Abu Sufyan sedang menghangatkan punggungnya di perapian. Aku segera memasang anak panah pada busur ku, namun aku teringat pesan Rasulullah صلى الله عليه وسلم , "Janganlah engkau melakukan tindakan apapun!" Kalau aku panah pasti akan kena pahanya. Pada saat itu, angin dan tentara Allah sudah mengobrak-abrik musuh, menerbangkan kuali, memadamkan api, dan menumbangkan perkemahan. Abu Sufyan bangkit dan berkata, "Wahai kaum Quraisy setiap orang hendaknya melihat siapa teman duduknya."
275 Aku segera memegang tangan orang yang berada di sampingku lalu bertanya, "Siapakah Anda?" Dia menjawab, "Fulan bin Fulan" Selanjutnya Abu Sufyan berkata, "Wahai orang-orang Quraisy! Demi Allah. Sesungguhnya kalian tidak tinggal di tempat yang layak. Kuda unta dan ternak kita banyak yang mati. Bani Quraizhah telah mengkhianati janjinya kepada kita. Badai ini membuat peralatan dapur kita kocar-kacir, tidak dapat menyalakan api, dan tidak satu tenda pun yang berdiri tegak. Oleh karena itu, pulanglah kalian. Aku sendiri juga akan pulang." Bergerak ke Bani Quraizhah Hudzaifah pulang dengan bersusah payah dan melaporkan apa yang dilihatnya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Beliau menyelimuti Hudzaifah dengan kain yang biasa digunakan untuk sholat. Hudzaifah pun tertidur sampai pagi. Kemudian, sambil bergurau. Rasulullah صلى الله عليه وسلم membangunkan Hudzaifah. "Bangun, wahai tukang tidur!" Kaum muslimin memandang tempat yang baru saja beberapa jam lalu dipenuhi ribuan musuh bersenjata lengkap itu, kini kosong, kecuali serpihan tenda dan peralatan lain yang berserakan di sana-sini. Berakhirlah Perang Khandaq pada tahun kelima Hijriah. Ketika semuanya telah terpana. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Segala puji bagi Allah. Dialah yang telah menolong hambanya dan memberi kekuatan kepada tentaranya. Dialah yang mengalahkan pasukan Ahzab dengan dirinya sendiri. Orang-orang Quraisy tidak akan pernah lagi menyerang ke sini. Sebaliknya, kita yang akan memerangi mereka. Kalian yang akan memasuki Mekah, lalu menghancurkan patung patung nya." Kaum muslimin bertakbir. Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan diliputi rasa syukur dan bangga dengan kemenangan ini. Mereka telah melewati cobaan yang teramat berat. Sejak saat itu mereka yakin dakwah mereka akan menjadi ajaran baru yang dihormati dan di tunggu-tunggu kedatangannya. Namun masih ada persoalan yang menggantung dengan bani Quraizhah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan kaum muslimin melakukan sholat Ashar di depan perkampungan bani Quraizhah. Dengan ketaatan yang mengagumkan, kaum muslimin yang sudah sangat lelah dalam perang Ahzab itu mengikuti perintah tersebut. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberikan bendera kepada Ali bin Abi Tholib. Namun, begitu Ali tiba di depan benteng bani Quraizhah, ia mendengar orang-orang Yahudi mencaci-maki Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan hendak mencemarkan nama istri-istri beliau. Rasulullah صلى الله عليه وسلم segera menampakkan diri dan mendadak semua cacian itu berhenti. "Wahai golongan kera, Allah sudah menghinakan kamu, bukan? Allah sudah menurunkan murkanya kepada kamu sekalian bukan?" Demikian seru Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Kaum muslimin mengepung bani Quraizhah selama 25 hari terus menerus. Bersambung
276 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 117 Keputusan Saad Bin Muadz Setelah dikepung sekian lama, bani Quraizhah mengirim utusan. Mereka ingin kepungan dihentikan agar mereka bisa pergi seperti bani Qainuqa dan bani Nadhir. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم menolaknya sebab pengkhianatan bani Quraizhah jauh lebih berbahaya daripada kedua suku Yahudi itu. Akhirnya bani Quraizhah pun menyerah tanpa syarat. Rasulullah صلى الله عليه وسلم setuju untuk mengangkat Saad bin Muadz sebagai Hakim untuk menjatuhkan hukuman kepada bani Quraizhah. Tindakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini sangat adil dan murah hati karena Saad bin Muadz dan suku Aus yang dipimpinnya dulu bersahabat dengan bani Quraizhah seperti halnya persahabatan Khazraj dengan bani Qainuqa. Bani Quraizhah sendiri menyambut gembira keputusan itu, Baik kaum muslimin maupun bani Quraizhah menyatakan rela atas keputusan yang akan diambil Saad bin Muadz. Pada saat itu Saad masih berada di kemah seorang tabib wanita yang dengan sukarela mengobati para prajurit muslim yang terluka. Saad dinaikkan ke atas unta dengan tangan terbalut dan menuju ke perkampungan bani Quraizhah. Dengan tenang Saad memikirkan apa yang akan diputuskannya. Saad teringat betapa baiknya perlakuan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada orang Yahudi, beliau senantiasa mengingatkan para sahabatnya agar berbuat baik kepada mereka. Namun kebaikan itu dibalas Yahudi dengan tipu daya, kelicikan, kerusakan ekonomi dan penyebaran desas-desus untuk menjatuhkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Jika bani Quraizhah dimaafkan dan dilepaskan mereka akan berlaku seperti halnya bani Nadhir dan bani Qainuqa, yang terus melancarkan permusuhan. Bukankah kedatangan pasukan Ahzab akibat hasutan Huyay bin Akhtab, pemimpin bani Nadhir? Jika tidak datang pertolongan Allah kemungkinan besar kaum muslimin dari wanita hingga anak-anak akan musnah dibantai oleh musuh. Di hadapan kaum muslimin dan orang Yahudi Saad bin Muadz berkata, "Aku memutuskan untuk membunuh kaum pria bani Quraizhah, membagi harta benda mereka serta menawan anak-anak dan kaum wanitanya." Hukuman itu pun dilaksanakan. Setelah itu kaum Muslimin kembali ke Madinah dalam keadaan yang amat disegani oleh seluruh suku yang ada di Jazirah Arab sampai ke pelosok Jazirah. Perintah Berjilbab Islam adalah agama yang sangat menghormati kaum wanita. Sebelum Rasulullah صلى الله عليه وسلم diutus, kebanyakan hubungan kaum wanita dengan kaum laki-laki tidak lebih baik dari hubungan antara hewan betina dengan hewan jantan.
277 Di Arab dan beberapa tempat lain, kaum wanita biasa mempertontonkan diri untuk memamerkan kecantikan dengan berbagai perhiasannya kepada orang-orang lain selain suaminya. Wanita-wanita seperti itu biasa bertukar pandang dan saling melontarkan kata-kata pujian yang manis kepada kaum lelaki. Wahyu yang dibawa Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatur hubungan antara wanita dan pria menjadi hubungan yang saling membantu sebagai sesama saudara dengan penuh kasih sayang. Hak dan kewajiban wanita serta lakilaki sama. Hanya saja, dengan cara yang sopan, laki-laki diberi kelebihan dalam beberapa hal. Peristiwa diganggunya wanita muslimah oleh orang Yahudi dan munafik membuat Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpikir sungguh-sungguh untuk mencegahnya. Seandainya para Muslimah menutup auratnya, tentu mereka akan lebih dikenal dan terjaga. Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri telah lebih dahulu memberi contoh dengan memerintahkan istri-istrinya mengenakan hijab (tabir) jika ada tamu yang datang ke rumah beliau. Dalam keadaan ini, turunlah firman Allah, َ̲ا ِت ِبغَ ْيرِ مُ ْؤمِ ْ ال َين وَ ِ̲ مُ ْؤمِ ْ ُ ْؤُذوَن ال َن ي ̽ ِ߳ҧ ا َ ثْمً و ا ُمِˍينًا Ү ا وا ُبهْتَاًԷ وَ لُ ُوا فَقَ ِد ا ْح˗َمَ ب َ ˖َس̑ َما اكْ Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. Surah Al-Ahzab (33:58) ِ َߵ َԹ ْن َˡَلاِبِِ̿بهҧنۚ َذஈ ِْيهҧن مِ َين َ̊لَ ِ ُ ْدن َين ي ِ̲ مُ ْؤمِ ْ ال َساءِ ِ ̮ َك وَ ِ َنَات ب ا ِˡَ ك وَ قُ ْل ِ ҡҫْزوَ Ҩ ۗ َا النҧِبي يه Ҩǫ ҫ ْ َن ُ ْؤَذ̽ َلا ي َن فَ فْ ُْعرَ ǫْ ن ي ǫْ دَنىٰ ҫ ҫ ِحيمًا ا رَ َكاَن ا ҧ ߹ُغَُفورً وَ Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Surah Al-Ahzab (33:59) ِئنْ َ ل ҧ َنҧَ ك ِِبهمْ ثمُ نُ ْغِري َ ل ِدينَةِ مَ ْ مُ ْرِجُفوَنِفي ال ْ ال ٌض وَ َمرَ ْ وِِبهم َن ِفي قُلُ ̽ ِ߳ҧ ا مُنَافِ ُقوَن وَ ْ ال ˗َهِ َْ̱ ي مْ َ ل Ү ي َلا ًلا َُيجاِورُ ونَ َك فِيهَا ا ҧلا قَلِ Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, Surah Al-Ahzab (33:60)
278 َين ِ ُعون يًلا َمل ۖ ْ لُوا تَْق˗ِ ِ قُ˗ّ Ҭُ˭ِ ذوا وَ ا ثُقِ ُفوا ǫ ǫيْنَمَ ҫ dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. Surah Al-Ahzab (33:61) َة ًلا ُ نҧ ب ِدي ْ ِ߹ تَ ة ا ҧ ِ ُس̑نҧ ل ِتجَدِ ْن َ َ ˍ ُلۖ َول ْ م ْن قَ ِ ْوا َن َ˭لَ ِ̽߳ҧ ِ߹ ِفي ا س̑ ا ҧ Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. Surah Al-Ahzab (33:62) Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 118 Jilbab Yang Menutup Dada Setelah itu, turunlah Perintah agar kaum muslimah mengenakan jilbab yang menutup dada, قُ ْل ا ҧن ا ҧَ ߹َخِˍ ٌير ِبمَ Ү ۗ ا ْ هُم َ ǫْزَكىٰ ل ِ َߵ ҫ ۚ َذஈ َْيحَف ُظوا فُرُوَُݨمْ ْ َصاِرِهمْ وَ ǫب ҫ ْن ضوا مِ Ҩ َُغ َين ي ِ̲ مُ ْؤمِ ْ ل ِ َ ْصنَُعوَن ̥ ي Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Surah An-Nur (24:30) قُ ْل مْنهَ َ ҧلا َما َظهَرَ و ِ Ү َن ِزيََ̱تهُ ҧن ا ِد̽ ْ ُب َلا ي َْيحَف ْظَن فُرُوَُݨ ҧن وَ ْ َصاِرِهҧن وَ ǫب ҫ ْن َ ْغ ُض ْض َن مِ َ̲ا ِت ي مُ ْؤمِ ْ ل ِ ̥ َلىٰ ْ َن ِ ُبخمُ ِرِهҧن َ̊ ْضرِˊ َ ي ْ ل اۖ وَ َԴِِئهҧن ْو ǫٓ ǫ ҫ ُ ُعوَِِ̦تهҧن ب ِ ҧلا ل Ү َن ِزيََ̱تهُ ҧن ا ِد̽ ْ ُب َلا ي ُوِِبهҧنۖ وَ ُج ْو ̀ ǫ ҫ َِني ْو ب ǫ ҫ اِِنهҧن ْخوَ Ү ْو ا ǫ ҫ ُُعوَِِ̦تهҧن ب ْنَاءِ ǫب ҫ ْو ǫ ҫ ْنَاِِئهҧن ǫب ҫ ْو ǫ ҫ ُُعوَِِ̦تهҧن ب َԴءِ ٓǫ ǫوِلي َين َْ̎يرِ Ҭ ِو التҧاِبعِ ҫ اُنهُ ҧن ǫ ǫيْمَ ҫ ْت كَ َ ْو َما َمل ǫ ҫ َساِِئهҧن ِ ْو ̮ ǫ ҫ اِِتهҧن ǫَ خوَ ҫ َِني ْو ب ǫ ҫ اِِنهҧن ْخوَ Ү ا ِ َن الرّ مِ َةِ ْرب Ү َˡَ ن ا ا ِل ْلا ̽ ِ߳ҧ ِّطْف ِل ا ǫِو ال ҫ ْن ِزيَِِ̱تهҧنۚ وَ َين مِ ُ ْعَلمَ َما ُْيخفِ ي ِ ҧن ل هِ ْرُˡلِ ҫ ْ َن ِبˆ َ ْضرِˊ َلا ي ۖ وَ َساءِ ِت الِّ̱ ا َعْورَ َلىٰ ْظهَرُوا َ̊ َ ي ْ م َ ل مُ ْؤمِ ْ Ҩَه ال ǫي َِجميًعا ҫ َلى ا ҧِ߹ Ү ُوا ا ُ̲وَن تُوب ُحوَن ҧْ ُكم تُْفلِ َعل َ ل Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan
279 perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau puteraputera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau puteraputera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." Surah An-Nur (24:31) Jilbab artinya pakaian longgar menutup aurat wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Kerudung berarti tudung yang menuntup kepala, leher, dan dada wanita. Hijab adalah tabir atau dinding penutup. Purdah adalah pakaian luar atau tirai berjahit. Cadar adalah penutup wajah sehingga mata saja yang tampak. Islam mewajibkan jilbab dan kerudung. Hijab hukumnya Sunnah, Purdah atau cadar serta sarung tangan tidak diwajibkan. Merindukan Mekkah Dalam tahun-tahun pertama di Madinah itu, beberapa muslimah Muhajirin pun sudah melahirkan. Di antaranya adalah putri Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,Fatimah az-Zahra putra pertama Fatimah bernama Hasan dan yang kedua bernama Husein. Rosulullah صلى الله عليه وسلم sangat senang bermain dengan kedua cucunya itu. Suatu ketika, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memandangi dalam-dalam Hasan dan Husain yang sedang berlarian di hadapannya. Anak-anak ini lahir di perantauan, sama sekali belum mengenal Mekah, tanah air mereka. Hasan mengejar Husein yang bersembunyi di dalam kamar. sambil berteriak kegirangan, Husein kabur dan melompat ke punggung kakeknya. Fatimah hendak mencegah perbuatan itu, namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengisyaratkan agar mereka dibiarkan. Fatimah yang sangat dekat dengan ayahnya itu segera menangkap isyarat lain di mata Rasulullah صلى الله عليه وسلم . "Mengapa ayah tampak berduka?" tanya Fatimah lembut. "Bukankah Ayah baru saja membuat kemenangan yang belum pernah dilakukan Suku Arab mana pun dengan mengalahkan pasukan Ahzab dan bani Quraizhah? atau Ayah kini sedang teringat kepada almarhumah Ibuku, Khadijah?" Rasulullah صلى الله عليه وسلم hanya menjawab dengan linangan air mata yang bergulir di kedua pipi beliau. Fatimah tahu yang paling baik ialah membiarkan ayahnya tercinta bermain dengan cucu-cucu sampai dukanya hilang. Bersama suaminya, Ali bin Abi Thalib, Fatimah menarik kesimpulan bahwa duka Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah akibat kerinduan beliau kepada Mekah, tanah air kaum Muhajirin. apalagi, saat itu adalah bulan Dzulhijjah, saat musim haji akan segera tiba.
280 Akhirnya, Ali bin Abi Thalib dan Fatimah pun larut dalam kedukaan itu. mereka terkenang negeri tempat mereka dibesarkan. Bagaimanakah keadaan Mekah kini setelah mereka tinggal kan? Walau kebun-kebun hijau Madinah menyejukkan hati, hamparan kota putih Mekkah, juga selalu terindukan siang malam. Semua kaum Muhajirin sangat rindu untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Sebagai penduduk Mekah, mereka jugalah pemilik Rumah Tua Ka'bah yang diberkati. Kini, Quraisy merintangi kaum muslimin pergi berhaji. Itu benar-benar tidak adil, karena siapa pun bisa berhaji ke Mekah. Dari dahulu, pihak-pihak yang bermusuhan selalu bisa saling bertemu dengan damai di Mekah dalam bulan haji. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 119 Berhaji Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengumumkan bahwa tahun itu kaum muslimin akan berangkat haji ke Mekah. Maka berangkatlah Rasulullah صلى الله عليه وسلم beserta 1400 orang muslim. Semuanya mengenakan pakaian ihram untuk menunjukkan bahwa mereka berniat beribadah, bukan berperang. Selain pedang di pinggang, tidak ada lagi senjata yang mereka bawa. Kaum muslimin juga membawa 70 unta yang akan disembelih selesai berhaji. Istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang terundi mengikuti perjalanan ini adalah ummu Salamah. Namun orang-orang Quraisy sangat khawatir mendengar keberangkatan ini. "Ini pasti tipu muslihat Muhammad agar bisa menyerang kita," seru para pemimpin Mekah. Maka orang-orang Quraisy mengutus Khalid bin Walid beserta 200 orang pasukan berkuda untuk menghalangi kaum muslimin. Sementara itu di daerah Usfan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan rombongannya bertemu dengan seseorang dari bani Kaab. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya kepadanya tentang keadaan Mekah. "Mereka sudah mendengar tentang perjalanan Tuan ini!" sahut orang itu. "Lalu mereka berangkat dengan mengenakan pakaian kulit harimau. Mereka bersumpah bahwa mereka akan menghalangi perjalanan Tuan."
281 "Oh, kasihan orang Quraisy," kata Rasulullah صلى الله عليه وسلم" .Mereka sudah lumpuh karena peperangan. Apa salahnya kalau mereka membiarkan kami? Kalau aku sampai binasa, itu yang mereka harapkan." Kalau Allah memberiku kemenangan mereka akan berbondong-bondong masuk Islam. Tetapi mereka pasti akan berperang saat mereka punya kekuatan. Aku akan terus berjuang sampai Allah memberi kemenangan atau leherku ini terpenggal. Untuk menunjukkan bahwa mereka tidak ingin berperang. Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta seorang Pandu untuk memimpin di jalan sulit berliku di pegunungan untuk menghindari pasukan Khalid bin Walid yang sudah menunggu di daerah Kira Al Ghamim. Rombongan itu berhasil melewati pasukan berkuda musuh dan berhenti di Hudaibiyah. "Ya Rasulullah di lembah ini tidak ada air, tidak cocok untuk tempat berhenti," ujar seorang sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengambil anak panah dan menancapkannya ke dasar sebuah sumur kering. Ketika ditarik memancarlah air yang tiada habisnya. Saling Tukar Utusan Kedua pihak kini saling memikirkan langkah selanjutnya. Orang Quraisy sudah siap berperang namun mereka mengirim dulu Budail bin Warko dan beberapa orang ke perkemahan kaum muslimin. Tujuan Budail untuk berunding sekaligus mengetahui kekuatan lawan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Budail, "Sesungguhnya kami datang bukan untuk memerangi seseorang, tetapi untuk melakukan haji. Rupanya orang-orang Quraisy sudah buta akibat peperangan. Jika mereka menghendaki damai dan membiarkan kami berhaji berarti mereka masih punya nyali. Tetapi jika mereka menghendaki perang maka demi Allah aku pasti akan melayani mereka sampai aku menang atau Allah menentukan lain," "Akan kusampaikan perkataanmu ini kepada mereka," kata Budail. Namun orang Quraisy belum puas. Mereka mengirim Hulais bin Al Qamah. Melihat kedatangan Hulais dari jauh, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "itu adalah Hulais, Dia berasal dari kaum yang sangat menghormati hewan kurban. Lepaskanlah hewan-hewan kurban kita. Melihat banyaknya hewan kurban Hulais terharu, "Tidak selayaknya orang-orang Quraisy menghalangi mereka memasuki Masjidil Haram." Hulais kembali dan Mengatakan agar kaum muslimin tidak dihalangi, orang-orang Quraisy marah kepada Hulais. kemudian mereka mengirim Urwah bin Mas'ud sebagai utusan ketiga. Urwah pun bertemu Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang memegangi janggut, sambil bicara. Namun setiap kali itu pula Al Mughiroh, salah seorang sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menepis tangannya. Padahal sebelum masuk Islam Al Mughiroh sering dilindungi Urwah.
282 Kecintaan Al-Mughirah kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم membuatnya tidak bisa membiarkan Urwah menyentuh beliau walau hanya sesaat. Setelah jelas mengetahui maksud kedatangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,Urwah pun kembali. "Wahai saudaraku Quraisy," demikian kata Urwah, "Aku pernah menemui Kaisar dari Kisra. Demi Allah tidak pernah kulihat seorang raja yang diperlakukan para sahabat seperti Muhammad, mengagungkannya. Setiap kali Muhammad berwudhu para sahabat berebut menyediakan airnya. Setiap ada helai rambut Muhammad jatuh mereka akan mengambilnya dan aku tidak akan diserahkan kepada orang lain walau harus mati. Terimalah tawaran Muhammad." Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 120 Ikrar Ridhwan Orang-orang Quraisy masih belum mau menerima kedatangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kaum muslimin. Kini Rasulullah yang mengirim utusan. Semula beliau memerintahkan Umar bin Khattab. Namun Umar berkata, "Saya khawatir orang Quraisy akan menindak saya, mengingat di Mekkah tidak ada pihak Bani Adi yang akan melindungi saya. Quraisy sudah cukup mengetahui permusuhan saya dan tindakan tegas saya kepada mereka. Saya ingin menyarankan orang yang lebih baik daripada saya yaitu Utsman bin Affan." Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutus menantunya Utsman bin Affan. Tugas Usman adalah berusaha meyakinkan bahwa kaum muslimin benar-benar berniat melaksanakan Haji. Usman pun memasuki Mekah di bawah perlindungan (jiwar) Aban bin Said. Melihat Usman para pemimpin Quraisy berkata, "Utsman, kalau tidak mau berthawaf di Ka'bah berthawaflah." "Aku tidak akan melakukannya sebelum Rasulullah berthawaf," jawab Usman. Kedatangan kami kemari hanya untuk berziarah ke rumah suci dan memuliakannya. Kami ingin menunaikan kewajiban ibadah di tempat ini. Kami telah datang membawa binatang kurban setelah disembelih kami pun akan kembali pulang dengan damai." "Tapi kami telah bersumpah bahwa kalian tidak boleh masuk ke Mekkah tahun ini," sanggah seorang Pembesar Quraisy. Terjadilah perdebatan seru yang alot tidak ada yang mau mengalah, masing-masing melontarkan argumen. Akibatnya lama sekali Utsman bin Affan tidak kembali. Kaum muslimin pun sudah sangat gelisah. Mereka takut Utsman dibunuh secara licik. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengumpulkan para sahabatnya di bawah sebatang pohon. Mereka semua bersumpah setia untuk tidak
283 meninggalkan tempat itu sebelum membalas kematian Utsman bin Affan, kemudian disebut baiat Ridwan. Allah menurunkan firman-nya مُ ْ ِضيَ ا ҧَ ߹ُعِن ال قَ ْد رَ َ ل ْ ǫَԶَبهُم ҫ ْيهِمْ وَ َة َ̊لَ ҧس ِك̀نَ َْ̯زَل ال ҫ فَˆ وِِبهمْ َعِلمَ َما ِفي قُلُ فَ ةِ ُعونَ َك َتحْ َت ال ҧش َجرَ اِي َ ُب ْذ ي Ү َين ا ِ̲ ً ْؤم ا ِ ِريب ْ˗ ً˪ا قَ فَ Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Surah Al-Fath (48:18) Perjanjian Hudaibiyah Alangkah leganya kaum muslimin ketika tidak lama sesudah itu, Utsman bin Affan kembali ke perkemahan dalam keadaan selamat. Sungguh pun begitu ikrar Ridhwan tetap berlaku sebagai tanda kesetiaan dan kekompakan umat Islam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bahagia sekali dengan kekompakan umatnya sebab terlihat jelas eratnya hubungan kasih sayang sesama mereka. Selain itu nyata sekali terlihat bahwa kaum muslimin sangat besar keberaniannya. Mereka bersedia menghadapi maut tanpa ragu-ragu lagi. Utsman bin Affan berhasil meyakinkan orang Quraisy bahwa kaum muslimin benar-benar ingin berhaji. Namun, karena Quraisy sudah mengirim Khalid bin Walid dengan membawa panji perang, mereka takut orang akan mengatakan bahwa mereka adalah penakut jika mengizinkan kaum muslimin memasuki Mekah. Maka perundingan pun berlanjut terus. Kali ini Suhail bin Amr menjadi juru runding Quraisy. Setelah lama berunding, akhirnya disepakati beberapa hal penting berikut: Rasulullah صلى الله عليه وسلم harus pulang tahun ini dan bisa berhaji tahun depan. Saat itu kaum muslimin tidak boleh membawa senjata kecuali pedang yang disarungkan. Orang Quraisy tidak boleh menghalangi dengan cara apa pun. Gencatan senjata selama 10 tahun tidak boleh ada yang menyerang pihak mana pun. Selama 10 tahun itu, barang siapa yang ingin bergabung dengan kaum muslimin dipersilahkan. Begitu juga yang ingin bergabung dengan Quraisy. Jika ada suku yang telah menggabungkan diri diserang oleh pihak yang lain itu berarti perang. Siapa pun orang Quraisy yang bergabung kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم tanpa izin walinya maka ia harus dikembalikan. Sementara itu siapa pun dari pihak Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang bergabung dengan Quraisy tidak boleh dikembalikan lagi. Perjanjian ini kemudian dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah, terjadi pada tahun ke-6 Hijriyah atau 628 masehi. Setelah perjanjian ini, Bani Khuzaah langsung bergabung dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Sementara itu lawannya, Bani Bakr bergabung dengan pihak Quraisy. Bersambung
284 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 121 Ketidakpuasan Umar Umar bin Khatab tidak puas dengan isi perjanjian itu. Ketidakpuasannya ini ditunjukkan setelah terjadi insiden saat penulisan perjanjian. Saat itu Ali bin Abi Thalib mendapat tugas Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk menulis perjanjian itu. "Tulislah Bismillahirohmanirohim!" Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Ali. "Stop!" seru Suhail. "Nama Arrohman dan arrohim ini tidak kukenal. Tulislah dengan bismika allahumma (dengan nama-mu Ya Allah)". "Tulislah dengan nama-mu Ya Allah," Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Ali. "Lalu, tulislah: "Ini adalah perjanjian damai yang ditetapkan antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin Amr." Namun delegasi Quraisy itu kembali menolak. "Jika kami mengakui bahwa engkau Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangimu. Karena itu tulislah namamu dan nama ayahmu." "Baik. Hapuslah kata Rasulullah. Tulislah Muhammad bin Abdullah," sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Sebagaimana para sahabat lain yang hadir, Ali bin Abi Thalib sudah memuncak kemarahannya kepada delegasi Quraisy itu, sehingga ia berkata, "Tidak ya Rasulullah! Demi Allah aku tidak sudi menghapus kata itu." Akhirnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri yang menghapus kata-kata itu. Melihat hal itu Umar bin Khattab berkata kepada Abu Bakar yang duduk disampingnya, "Bukankah dia itu Rasulullah?" "Memang betul," jawab Abu Bakar. "Bukankah kita ini orang-orang Islam?" "Memang betul!" "Bukankah mereka itu orang-orang musyrik?" "Memang betul!" "Lalu Mengapa kita mau direndahkan dalam soal agama kita?" seru Umar berapi api.
285 Abu bakar menenangkan Umar dengan kata-kata tegas, "Umar duduklah di tempatmu aku bersaksi bahwa dia Rasulullah." Namun hampir semua sahabat berpendapat seperti Umar. Mereka merasa agama mereka telah dilecehkan dengan perjanjian ini. Bukan saja mereka gagal berhaji tahun ini tetapi juga harus menerima bahwa orang musyrik itu seolah merendahkan Allah dan rasulnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Kemudian terjadilah sebuah peristiwa yang membuat para sahabat semakin tidak menyukai perjanjian ini. Kisah Abu Jandal Belum lagi kering tinta perjanjian itu, tiba-tiba muncul Abu Jandal. Pemuda itu adalah anak Suhail bin Amr si perunding Quraisy. Para sahabat sangat terkejut menyaksikan kedua kaki Abu Jandal dalam keadaan terbelenggu sehingga ia berjalan tertatih-tatih. Rupanya ia berhasil melepaskan diri dari Mekah dan hendak menggabungkan diri dengan saudara-saudara muslimnya. Namun begitu melihat anaknya itu, Suhail berseru, "Ini adalah orang pertama yang ku tuntut Agar engkau mengembalikannya." "Kami tidak melanggar isi perjanjian ini sampai kapan pun," jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم . "Demi Allah kalau begitu aku tidak akan menuntutmu karena sesuatu apa pun" kata Suhail. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Kalau begitu, berilah dia jaminan perlindungan karena aku." "Aku tidak akan memberinya jaminan perlindungan karena dirimu," tukas Suhail. "Lakukanlah!" pinta Rasulullah صلى الله عليه وسلم lagi. "Aku tidak akan melakukannya," jawab Suhail. Suhail melangkah cepat ke arah Abu Jandal dan memukul keras-keras anaknya itu. Suhail mencengkeram kerah baju Abu Jandal dan menyeretnya untuk dikembalikan kepada Quraisy. Abu Jandal berseru, "Semua orang muslim, Apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik yang akan menyiksaku karena Agamaku ini?" Kaum Muslimin merasa geram. Hampir-hampir saja kaki mereka bergerak untuk datang melawan perjanjian yang sudah ditandatangani. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Wahai Abu Jandal bersabarlah dan tabahlah karena Allah akan memberikan jalan keluar kepadamu dan orang-orang yang terdzalimi seperti dirimu. Kami sudah mengukuhkan perjanjian dengan mereka. Kami telah membuat perjanjian persetujuan dengan mereka atas peristiwa seperti ini dan mereka pun sudah memberikan sumpah atas nama Allah kepada kami. Maka kami tidak akan melanggarnya."
286 Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat ke sekeliling dan menangkap wajah pengikutnya yang tampak sangat tidak puas. Hal inilah yang membuat para sahabat tidak menuruti perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم sesaat setelah itu. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 122 Nasihat Ummu Salamah Rosululloh صلى الله عليه وسلم kemudian bersabda "Bangkitlah dan sembelihlah hewan qurban!" Para sahabat Saling pandang. Apa? Jadi Rasulullah صلى الله عليه وسلم menganggap bahwa mereka telah selesai berhaji? Bukankah mereka sama sekali belum berthawaf? Bahkan sama sekali belum melihat Ka'bah? Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengulangi perintahnya sampai tiga kali. Tidak ada satu pun sahabat yang beranjak. Semua diam termangu atau menunduk. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerhatikan wajah mereka. Bahkan Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab juga menolak. Dengan perasaan gundah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم masuk ke dalam tenda Ummu Salamah, diceritakannya semua kelakuan para sahabat kepada istrinya itu. Ummu Salamah mengerti betul betapa kecewanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Kemudian Ummu Salamah mengajukan sebuah saran yang menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaannya, persis seperti yang dulu dilakukan oleh Khotijah untuk membangkitkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam masa-masa sulit penuh kegelapan. "Wahai Rasulullah Apakah engkau ingin mereka melaksanakan perintah itu?" tanya Ummu Salamah. "Keluarlah tetapi jangan berbicara sepatah kata pun kepada salah seorang dari mereka. Sembelihlah ternak kurban anda sendiri, Lalu panggilan tukang cukur dan bercukurlah." Rasulullah صلى الله عليه وسلم kemudian keluar tanpa bicara sepatah kata pun dia melaksanakan saran dari Ummu Salamah. Setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyembelih kurban dan bercukur segera saja para sahabat melakukan hal yang sama. Suasana yang tadinya murung penuh kebingungan, kini berubah menjadi ceria. Suara gembira para sahabat terdengar saat menyembelih kurban dan saling bergantian mencukur rambut. Sebagian ada yang mencukur rambut dan sebagian lain hanya memangkas rambut. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tersenyum dan bersyukur kepada Allah karena telah memberinya seorang istri yang begitu cerdas dan bijak. "Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut," doa Rasulullah صلى الله عليه وسلم .
287 Sebagian orang yang mendengarnya jadi gelisah. Mereka pun bertanya "Dan mereka yang berpangkas rambut Ya Rasulullah?" Para Wanita Mukminah "Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang bercukur rambut," doa Rasulullah صلى الله عليه وسلم lagi. Para sahabat masih gelisah, mereka bertanya lagi, "dan mereka yang berpangkas rambut, Ya Rasulullah? "Dan mereka yang ber pangkas rambut," jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم akhirnya. "Rasulullah, mengapa doa buat yang bercukur saja yang dinyatakan, bukan buat yang berpangkas rambut?" "Karena mereka sudah tidak ragu-ragu," demikian jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Umar bin Khattab sangat menyesal karena sempat menyangsikan keputusan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam perjanjian Hudaibiyah. Apalagi setelah itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم membacakan surat al-fath yang menegaskan bahwa dalam perjanjian itu Allah telah memberi kemenangan yang nyata. Legalah hati Umar mendengar firman Allah ini. ً˪ا ُمِˍينًا ˗ْ Էҧ فَ˗َ ْحنَا َߵَ فَ Ү ا Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, Surah Al-Fath (48:1) Umar berkata, "Setelah itu, aku terus-menerus melakukan berbagai amal, sedekah Shaum, sholat dan berusaha membebaskan diri dari apa yang telah kulakukan saat itu. Aku selalu dibayangi kelakuan itu. Aku selalu berharap semoga semua itu merupakan kebaikan." Tidak lama setelah mereka tiba kembali di Madinah datanglah serombongan wanita mukmin yang melarikan diri dari Quraisy. Kemudian menyusullah para wali mereka yang menuntut agar wanita-wanita itu dikembalikan sesuai dengan perjanjian Hudaibiyah. Akan tetapi Rasulullah صلى الله عليه وسلم menolaknya, karena dalam perjanjian disebutkan bahwa kaum wanita tidak termasuk mereka yang harus dikembalikan. Dalam Alquran surat Al Mumtahanah membenarkan tindakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini. Թَ Ү َن ǫَٓمُ̲وا ا ̽ ِ߳ҧ يهَا ا Ҩǫ ҫ مْ ُتمُوُهҧن ُم ْؤ ْن َ̊لِ Ү يمَاِِنهҧنۖ فَا Ү Դِ ǫَْ̊ لمُ ҫ ِحنُوُهҧن ۖ ا ҧ߹ُ ا ٍت فَاْم˗َ َ̲ا ُت ُمهَا ِجرَ مُ ْؤمِ ْ ال َكمُُ َˡاء َلا ا َ̲ا ٍت ف َذ َ مِ هُ َ وَن ل Ҩ َِيحل َلا ُهمْ ْ وَ هُم َ ُكفҧاِرۖ َلا ُهҧن ِ˨ ҥل ل ْ َلى ال Ү ǫنْفَُقواۚ ҧن ۖ ˔َْرِجُعوُهҧن ا ǫٓتُوُهمْ َما ҫ َ و َذا Ү ǫْ ن تَْن ِك ُحوُهҧن ا ُ ْكم ҫ ْ ي َلا ُجَ̲ا َح َ̊لَ وَ
288 ǫنْفَُق وا َما ҫ ُ ҫل ْسˆ َ̿ ْ ل ǫنْفَ ْقُتمْ وَ وا َما ҫ ُ ҫل ْسˆ ا ِر وَ افِ كَوَ ْ ال َصمِ ِس ُكوا ِبعِ َلا تُمْ ُهҧنۚ وَ ُجورَ ǫ Ҭ ُوُهҧن َ ǫٓتَُْ̿˗م ْ̿ ۖ َْيحُُكم ب ِ ُ ْكم ُحْ ُكم ا ҧِ߹ ل ْ َذஈ ُكم واۚ َ̲ ۚ ٌيم َحِكٌيم ا ҧَ̊ ߹ُلِ وَ Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orangorang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suamisuami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Surah Al-Mumtahanah (60:10) Dalam surat yang sama pula Allah memerintahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk mengatakan janji setia kepada para mukminah itu. Mereka harus berjanji tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak berzina, tidak membunuh anak-anaknya, tidak berbuat dusta, dan tidak akan mendurhakai Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Para mukminah itu pun menerimanya. Abu Bashir Ada satu orang lagi yang mempunyai nasib seperti Abu Jandal namanya Abu Basir. Ia datang ke Madinah dan minta agar Rasulullah صلى الله عليه وسلم mau menerimanya, Namun, belum lama ia menikmati hidup sebagai muslim yang merdeka di Madinah, datanglah surat dari Azhar bin Auf dan Akhnas bin Syariq yang ditujukan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,yakni meminta agar Abu Bashir dikembalikan. Surat itu dibawa oleh seorang lakilaki dari bani Amir yang disertai seorang budak. "Abu Basir," sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم" ,Kita telah membuat perjanjian dengan pihak mereka seperti yang sudah kau ketahui. Penghianatan menurut agama kita tidak dibenarkan. Semoga Allah membuat engkau dan orang-orang Islam yang ditindas bersamamu memperoleh kelapangan dan jalan keluar. Pulanglah engkau kembali ke dalam lingkungan masyarakatmu." "Rasulullah," kata Abu Bashir, "Saya akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik yang akan menyiksa saya karena agama saya ini." Namun, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengulangi kata-kata beliau tadi. Akhirnya, Abu Basir pun dibawa oleh kedua orang tadi. Di Dzulhulaifah, belum jauh dari Madinah, mereka beristirahat dan makan kurma. Abu Bashir berkata kepada orang dari bani Amir, "Demi Allah aku ingin sekali melihat pedangmu yang bagus itu, hai fulan."
289 Tanpa curiga utusan Quraisy itu menghunuskan pedang dan memperlihatkannya kepada Abu Basir sambil berkata, "Boleh, demi Allah memang ini adalah benda yang bagus. Ia sudah cukup kenyang malang melintang bersamaku." "Tolong Perlihatkan kepadaku, Aku ingin melihat dan memeriksanya," kata Abu Basir. Begitu pedang itu ada di tangannya, Abu Bashir menusukkannya ke utusan Quraisy itu sampai meninggal dunia. Seketika itu juga budak yang menyertai mereka berlari ke Madinah sambil berteriak-teriak. Budak itu Terus Berlari memasuki masjid. Melihat kehadirannya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Sepertinya orang itu sedang ketakutan." Budak itu berlari ke hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم sambil berkata "Teman Tuan membunuh teman saya, saya pun agaknya akan dibunuhnya pula." Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 123 Kelompok Abu Bashir Tidak lama kemudian datanglah Abu Bashir dengan membawa pedang terhunus. Abu Bashir tahu bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat teguh memegang perjanjian. Jika saat itu ia menetap di Madinah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم pasti akan memulangkannya kembali. Maka Abu Bashirpun berkata, "Rasulullah, jaminan Tuan sudah terpenuhi dan Allah sudah melaksanakannya buat tuan. Tuan menyerahkan saya ke tangan mereka dan dengan agama saya ini saya tetap bertahan supaya saya jangan dianiaya atau dipermainkan karena keyakinan agama saya ini." Setelah berkata begitu Abu Bashir pergi meninggalkan Madinah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tahu maksud Abu Bashir. Beliau pun memandang kagum orang itu karena keberaniannya. Dalam hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengharapkan Abu Bashir mempunyai anak buah. Sesuai dugaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم Abu basir tidak kembali ke Mekah ia pergi ke daerah Al Ish. Tempat itu adalah jalur perdagangan Quraisy menuju Syam, tepat di tepi laut. Kepergian Abu Bashir ke daerah ini didengar oleh kaum muslimin yang tinggal di Mekah. Mereka juga mendengar betapa kagumnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم pada keberanian Abu Bashir. Maka diam-diam 70 muslim yang selama ini hidup tertindas di Mekah pergi menyusul Abu Bashir. Abu Jandal tentu saja berada di antara mereka itu.
290 Ketika mereka tiba, kaum muslim yang tertindas itu mengangkat Abu Bashir sebagai pemimpin. Mulai sejak itulah mereka menyerang setiap kafilah dagang Quraisy yang lewat. Ini berbahaya! Sangat berbahaya! gerutu seorang pemimpin Quraisy, "Kita tidak bisa menyalahkan Muhammad karena para pengikutnya itu tidak lari ke Madinah! Mau tidak mau kita harus meminta Muhammad menampung mereka ke Madinah agar jalur dagang kita aman!" "Tapi itu tidak sesuai dengan perjanjian Hudaibiyah, " jawab yang lain. "Kita terpaksa mengalah, tidak ada jalan lain, bukan!" Akhirnya orang Quraisy meminta Rasulullah صلى الله عليه وسلم menerima Abu Bashir dan pasukannya. Mereka sadar bahwa orang yang imannya sangat kuat lebih berbahaya daripada membebaskannya. Dengan demikian, gugurlah Salah satu isi perjanjian yang mengatakan bahwa orang muslim yang melarikan diri dari Quraisy harus dikembalikan. Kini setiap muslim Mekah bisa bergabung setiap saat dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya di Madinah. Ini adalah salah satu tanda kemenangan kaum muslimin. Istri-istri Rasulullah Kedudukan yang telah Rasulullah صلى الله عليه وسلم berikan kepada para istrinya belum pernah didapati oleh wanita-wanita Arab sebelum mereka. Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat lembut, selalu tersenyum, dan penuh kasih sayang kepada para isterinya. "Laki-laki terbaik di antara kamu adalah yang berlaku paling baik kepada isterinya," demikian sabda beliau. Maka wajar saja, isteri-isteri Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadi sedikit manja. Mereka begitu mencintai Rasulullah صلى الله عليه وسلم sehingga saling berebut perhatian Beliau. Aisyah sangat cemburu jika Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedang memberi perhatian kepada Hafshah, demikian pula sebaliknya. Bahkan Aisyah sampai cemburu kepada almarhumah Khadijah. Hal seperti itu tentu mengganggu ketentraman hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Tidak cukup sampai di situ, para ibu kaum muslimin itu pun mengeluh kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentang keserderhanaan hidup mereka. Dengan mata berkaca-kaca, beberapa istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah memohon agar Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga memperhatikan pakaian mereka yang sederhana. Para ibu kaum Muslimin itu tahu bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah pemimpin negara yang cukup besar saat itu. Dengan mudah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan dapat memberikan mereka pakaian dari sutra, kain katun mesir, dan baju halus dari Yaman. Bahkan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bisa saja memberikan setiap isterinya perhiasan dari emas. Jadi, mengapa mereka harus hidup sederhana. Dengan cara halus, Rasululllah صلى الله عليه وسلم berusaha menyadarkan para isteri beliau. Sebagai isteri Rasulullah صلى الله عليه وسلم , mereka tidak sama dengan wanita-wanita lain. Mereka memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki wanita
291 lain, yaitu bersuamikan Rasulullah صلى الله عليه وسلم .Mereka harus menjadi wanita penyabar dan patuh kepada suami sehingga pantas diteladani oleh isteri-isteri sahabat. Namun, isteri-isteri beliau secara halus tetap menuntut agar Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberi uang belanja yang lebih layak. Karena sudah tidak ada jalan lain. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun memutuskan hidup terpisah dari isteri-isterinya. Masalah yang harus dihadapi masih segunung, termasuk ancaman Yahudi dari Khaibar. Para isteri yang harusnya menentramkan malah mengeruhkan batin Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Mengetahui hal tersebut, Abu Bakar datang dan memarahi Aisyah. Umar bin Khatab juga memarahi putrinya Hafshah. Akhirnya para isteri Rasulullah صلى الله عليه وسلم itu menyadari kelalaian mereka. Sambil menangis, mereka memohon ampun pada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan mereka. Rasululllah صلى الله عليه وسلم memaafkan mereka dan kembali hidup tenteram seperti semula. Bersambung KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 124 Seruan Rasulullah agar Bekerja Di Madinah masih ada orang-orang muslim yang hidup tanpa rumah dan tanpa pekerjaan. Mereka ini tinggal di masjid dan hidup tenang dari harta zakat yang diberikan oleh orang lain. Setiap hari yang mereka lakukan adalah berdzikir dan sholat di masjid. Sebagian masyarakat sangat menghormati orang-orang yang tiada henti-hentinya berdzikir, sholat, dan berdoa itu. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menemukan salah seorang di antara mereka yang benar-benar mengkhususkan dirinya untuk beribadah. Orang itu terlihat begitu kurus karena sholat setiap siang dan malam hari. Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga melihat kekaguman orang-orang kepada laki-laki tadi. Dahi Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedikit berkerut sehingga beliau bertanya kepada orang-orang, "Siapa yang memberi dia makan?" "Saudaranya ya Rasulullah." jawab seseorang. "Saudaranya itu jauh lebih ahli ibadah daripada dia," demikian Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Setelah itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun menghimbau semua orang yang hidup menganggur agar mau bekerja. Jika kita masih mempunyai kaki dan tangan, tidak ada alasan untuk tidak bekerja. Yang terbaik bagi seseorang adalah makan dari hasil pekerjaannya sendiri.
292 Rasulullah صلى الله عليه وسلم menceritakan kisah Nabi Daud. Walaupun dia seorang raja yang berkuasa dia tetap makan dari hasil pekerjaannya sendiri. Maka tersentaklah orang-orang, ternyata ibadah itu mempunyai arti sangat luas. Bekerja untuk menafkahi keluarga termasuk ibadah besar jika diniatkan dengan ikhlas karena Allah semata. Sejak itu kaum muslimin pun bekerja dengan giat. Apa pun yang halal mereka kerjakan, apalagi banyak ladang-ladang gembala dan sumur-sumur peninggalan orang Yahudi yang kini menjadi milik kaum muslimin. Bekerja sebagai gembala, pencari kayu bakar dan pembuat tembikar jauh lebih baik daripada orang yang terus berdiam diri di masjid hanya untuk berdzikir. Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah teladan kesungguhan yang sempurna. Apabila beliau telah memusatkan perhatiannya pada ibadah, maka dipusatkan lah perhatiannya sepenuhnya. Dan apabila melaksanakan suatu pekerjaan lain maka takkan beliau sudahi pekerjaan itu sebelum benar-benar selesai. Larangan Minum Khamr Setelah itu muadzin Rasulullah صلى الله عليه وسلم berseru, "Setelah adzan, orang mabuk jangan ikut sholat!" Maka banyaklah kaum muslim yang mulai mengurangi minum khamr sedapat mungkin. Namun Umar kembali berkata lagi, "Ya Allah jelaskanlah kepada kami hukum khamr itu. Jelaskanlah dengan tegas Ya Allah. Hal ini menyesatkan pikiran dan harta." Umar berkata begitu karena pernah ada sekelompok muslimin Anshor dan Muhajirin yang berkelahi sambil mabuk. Khamr betul-betul membuat mereka saling menarik janggut dan memukul kepala orang lain. Akhirnya turun ayat yang melarang khamr dengan tegas, ْن ََعم ِل ْزَلاُم ِرْجٌس مِ ҫ اҡْ َصا ُب وَ نْ ҫ اҡْ ِسرُ وَ ْ̿ مَ ْ ال َخمْرُ وَ ْ ا ال نҧمَ Ү َن ǫَٓمُ̲وا ا ̽ ِ߳ҧ يهَا ا Ҩǫ ҫ َԹُ حوَن ҧْ ُكم تُْفلِ َعل َ ُوُه ل ب َطا ِن فَا ْجَ˗نِ ْ ال ҧش̑ي Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Surah Al-Ma'idah (5:90) ا نҧمَ Ү ا ِر كْ َع ْن ذِ َ ُصҧدكمُْ ي ِسرِ وَ ْ̿ مَ ْ ال َخمْ ِر وَ ْ ِفي ال َ ْغ َضاء َ ب ْ ال َة وَ َعَداوَ ْ ُُكم ال ََْ̲̿ َع ب ُوقِ ǫْ ن ي ҫ َطا ُن ْ ِري ُد ال ҧش̑ي ̽ ۖ فَهَ ْل ُ ҧصَلاةِ َعِن ال وَ ا ҧِ߹ ǫنُْتمْ ُمَْ̲تهُوَن ҫ
293 Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dengan jalan (meminum) khamar dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari sholat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Surah Al-Ma'idah (5:91) Begitu ayat ini turun para sahabat langsung menghentikan kebiasaan minum khamr. "Semua umatku selamat kecuali orang-orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan" (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim) Termasuk orang-orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan adalah orang yang dengan bangga menceritakan perbuatan hinanya agar mendapat pujian serta kekaguman dari teman-temannya. Kerajaan Romawi dan Persia Saat Rasulullah صلى الله عليه وسلم hidup, ada dua kerajaan besar yang saling bermusuhan, yaitu Romawi dan Persia. Perang di antara keduanya menghasilkan kemenangan yang silih berganti. Pada suatu saat Romawi yang menang, pada saat yang lain Persialah yang menaklukkan lawannya. Pada mulanya Persia yang menang, mereka menguasai Palestina dan Mesir, menaklukkan Baitul Maqdis atau Yerusalem dan berhasil merebut salib besar (the truth cross) yang disucikan orang Romawi yang beragama Kristen. Setelah itu berganti Romawi yang menang. Mereka berhasil merebut kembali Mesir, Syam, dan Palestina. Heraklius, kaisar Romawi saat itu memenuhi nazarnya dengan berziarah ke Yerusalem sambil berjalan kaki untuk mengembalikan salib besar ke tempatnya semula. Nama dua kerajaan besar itu benar-benar menggetarkan hati para penguasa-penguasa kecil di daerah sekitarnya. Tidak ada sebuah kerajaan kecil pun yang mempunyai pikiran untuk menentang kehendak kedua kekaisaran itu. Yang mereka inginkan adalah berdamai dengan keduanya. Termasuk hal itulah yang selama ini telah dilakukan oleh negeri-negeri Arab. Yaman dan Irak berada di bawah pengaruh Persia. Sementara itu Mesir sampai ke Syam dibawah kekuasaan Romawi. Bersambung
294 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 125 Utusan Kepada Heraklius Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah ragu sedikit pun untuk mengajak orang kepada agama yang benar, agama yang akan menyelamatkan manusia dari kesengsaraan tiada batas di akhirat nanti. Apalagi perjanjian Hudaibiyah sudah menjamin bahwa tidak akan ada peperangan dengan orang Quraisy selama 10 tahun kecuali jika perjanjian itu dilanggar oleh salah satu pihak. Maka ini adalah saatnya menyebarkan dakwah seluas mungkin tanpa takut dihambat oleh orang Quraisy. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutus Dihyah bin Khalifa Al Kalbi untuk menyampaikan surat kepada Heraklius, yang saat itu sedang berada di Baitul Maqdis. Surat Rasulullah صلى الله عليه وسلم itu berbunyi, Bismillahirrohmanirrohim Dari Muhammad bin Abdullah kepada Heraklius pemimpin Romawi. Kesejahteraan bagi siapa pun yang mengikuti petunjuk. Masuklah Islam niscaya tuan akan selamat. Masuklah Islam niscaya Allah akan melimpahkan pahala kepada tuan dua kali lipat. Namun jika tuan berpaling maka tuan akan menanggung dosa rakyat Arisiyin. ََ̱̲ا ْ َي ب اءٍ َسوَ َِكلمَةٍ َلىٰ Ү ْوا ا َ َعال ِك˗َا ِب تَ ْ ǫْ ه َل ال َ قُ ْل ْع ًضا َԹ ҫ َْع ُضنَا ب ِ˯َذ ب َتҧ َلا ي َشْ̿˄ًا وَ َلا ُ̮ ْشرِ َك ِبهِ ҧلا ا ҧ ߹َوَ Ү َد ا ُ ҧلا نَْعب ǫ ُ ْكم ҫ ََْ̲̿ ب وَ مُوَن ْسلِ Էҧҫُ م وا ا ْشهَ ُدوا ِبˆ ُ ْوا فَُقول ҧ ل ْن تَوَ Ү ۚ فَا ْن ُدوِن ا ҧِ߹ ْرَԴًԴ مِ ǫ ҫ Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Surah Ali 'Imran (3:64) Pada saat itu kebetulan Abu Sufyan dan rombongan pedagang Quraisy sedang berada di Darussalam. Heraklius mengundang mereka dalam pertemuan yang dihadiri oleh para pembesar Romawi. "Siapa di antara kalian yang mempunyai ikatan darah yang paling dekat dengan orang yang mengaku sebagai nabi itu?" tanya penerjemah Heraklius. "Akulah orang yang paling dekat hubungan darahnya dengan dia," jawab Abu Sufyan. "Mendekatlah kemari!" minta Heraklius. (Kisah di kemudian hari) Heraklius adalah penguasa Romawi Timur atau Byzantium yang ibukotanya di Konstantinopel. Sepeninggal nabi, Khalifah Abu Bakar mendengar tentang gerakan pasukan Romawi yang
295 membahayakan Negara Islam. Abu Bakar mengirim pasukan di bawah komando Amr Bin Al As Suara, Bilal bin Hasanah dan Yazid bin Abu Sofyan beberapa hari sebelum Abu Bakar wafat. Pasukan muslim berhasil mengusir pasukan Byzantium untuk selamanya. Heraklius dan Abu Sufyan "Bagaimana nasibnya di tengah kalian?" tanya Heraklius melalui penterjemahnya. "Dia adalah orang terpandang di antara kami," jawab Abu Sufyan. Lalu Heraklius terus bertanya tentang Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang selalu dijawab Abu Sufyan dengan jujur. Akhirnya Heraklius berkata, "Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah kalian menuduhnya pembohong sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya? Engkau menjawab tidak. Memang aku tahu, tidak mungkin dia berdusta terhadap manusia dan terhadap Allah. Aku sudah menanyakan kepadamu apakah yang mengikutinya dari kalangan orang-orang yang terpandang ataukah orang-orang yang lemah? Engkau katakan, orang-orang lemahlah yang paling banyak mengikutinya Memang begitulah pengikut para rasul. Aku sudah menanyakan kepadamu adakah seseorang yang murtad dari agamanya karena benci terhadap agamanya itu setelah dia memasukinya? Engkau katakan tidak ada. Memang begitulah Jika iman sudah meresap ke dalam hati. Aku sudah menanyakan kepadamu Apakah dia pernah berkhianat? Engkau katakan tidak pernah. Memang begitulah para rasul memang tidak pernah berkhianat. Aku sudah menanyakan kepadamu apakah yang diperintahkan'? Engkau katakan bahwa dia menyuruh kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengannya, melarang kalian menyembah berhala, menyuruh kalian mendirikan shalat, bersedekah, jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika yang engkau katakan ini benar, maka dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini. Jauh-jauh sebelumnya aku sudah menyadari bahwa orang yang seperti dia akan muncul dan aku tidak menduga bahwa dia berasal dari tengah masyarakat kalian. Andaikata aku bisa bebas bertemu dengannya, aku lebih memilih bertemu dengannya. Andaikan aku berada di hadapannya, tentu akan kubasuh kedua telapak kakinya." Setelah itu Heraklius meminta surat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dibacakan sampai selesai. Segera saja suara gaduh terdengar di sana-sini. Setelah memeluk Islam, Abu Sufyan pun berkata, "Sejak saat itu aku yakin akan kemenangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga akhirnya Allah memberiku petunjuk untuk memeluk Islam." Bersambung
296 KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 126 Surat kepada Kisra, Raja Persia Jika surat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dibaca dan diterima dengan hormat oleh orang Romawi, tidak demikian halnya dengan orang-orang Persia. Surat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada Kisra raja Persia itu berbunyi "Bismillahirrohmanirrohim. Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra pemimpin Persia. Kesejahteraan bagi siapa pun yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan utusan-Nya, bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah semata yang tiada sekutu baginya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku menyeru tuan dengan seruan Islam. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada seluruh manusia untuk memberi peringatan kepada orang yang hidup dan orang yang membenarkan perkataan atas orangorang kafir. Masuklah Islam niscaya tuan akan selamat. Namun jika tuan menolak, maka dosa orang orang Majusi ada di pundak tuan." Setelah membaca surat itu, Kisra merobek-robek surat Rasulullah صلى الله عليه وسلم sambil berkata, "Seorang budak yang hina dina dari rakyatku pernah menulis namanya sebelum aku berkuasa," Setelah mendengar apa yang dikatakan Kisra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Allah akan mencabik-cabik kerajaannya." Setelah itu Kisra menulis surat kepada Badzan, Gubernur di Yaman. Isinya, "Utuslah dua orang yang gagah perkasa untuk menemui orang dari Hijaz ini (maksudnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم (dan setelah itu, hendaklah mereka berdua membawanya untuk menemuiku. Ketika dua orang suruhan itu tiba di hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,beliau menyuruh mereka menemuinya lagi besok. Ternyata pada saat yang sama, Kisra dibunuh oleh Syiruyyah, putranya sendiri. Terbuktilah sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم bahwa kerajaan Kisra akan tercabik-cabik. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengetahui hal ini dari wahyu dan meneruskannya kepada kedua utusan itu. Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta kedua utusan itu pulang dan menyampaikan surat yang mengajak Badzan memeluk Islam. Penghujung surat berbunyi, "Apabila tuan mau masuk Islam, kuberikan apa yang menjadi milik tuan dan mengangkat tuan sebagai pemimpin kaum tuan." Syiruyyah sendiri melarang Badzan menyerang Rasulullah صلى الله عليه وسلم jika tidak ada perintah darinya. Hal inilah yang membuat Badzan dan seluruh rakyat Yaman memeluk Islam.
297 Surat kepada Muqauqis, Raja Mesir Selain kepada kedua kerajaan besar itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga menulis surat kepada para penguasa yang lain. Hatib bin Abi Balta'ah diperintahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk menyampaikan surat beliau kepada Juraij bin Mata, penguasa Mesir dengan gelar Muqauqis. Surat beliau berbunyi, Bismillahirrohmanirrohim, Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Muqauqis, Raja Qibti (Mesir). Keselamatan bagi siapa pun yang mengikuti petunjuk. Amma Ba'd. Aku menyeru tuan dengan seruan Islam, niscaya Allah akan memberikan pahala kepada tuan dua kali lipat. Namun jika tuan berpaling maka tuan akan menanggung dosa seluruh penduduk Qibti." Surat Rasulullah صلى الله عليه وسلم itu kemudian ditutup dengan ayat ke 64 Surat Ali Imron, seperti yang juga disampaikan kepada Heraklius. َلا ُ̮ ْشرِ ҧلا ا ҧ ߹َوَ Ү َد ا ُ ҧلا نَْعب ǫ ُ ْكم ҫ ََْ̲̿ ب ََ̱̲ا وَ ْ َي ب اءٍ َسوَ َِكلمَةٍ َلىٰ Ү ْوا ا َ َعال ِك˗َا ِب تَ ْ ǫْ ه َل ال َ قُ ْل َԹ ҫ َْع ُضنَا ب ِ˯َذ ب َتҧ َلا ي َشْ̿˄ًا وَ ِ َك ِبه ْع ًضا مُوَن ْسلِ Էҧҫُ م وا ا ْشهَ ُدوا ِبˆ ُ ْوا فَُقول ҧ ل ْن تَوَ Ү ۚ فَا ْن ُدوِن ا ҧِ߹ ْرَԴًԴ مِ ǫ ҫ Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Surah Ali 'Imran (3:64) Hathib menambahkan, "Kami mengajakmu kepada Islam yang Allah telah mencukupkannya dari agama yang lain. Sesungguhnya nabi Ini menyuruh semua manusia yang paling ditekan Quraisy, yang paling dimusuhi Yahudi, dan yang paling dekat dengan orang Nasrani (Muqauqis dan rakyatnya adalah pemeluk Nasrani) Setiap nabi yang sudah mengenal suatu kaum, maka kaum itu adalah umatnya yang pasti mereka harus menaati nya. Tuan termasuk orang yang sudah mengenal nabi ini." Muqauqiss menjawab, "Memang aku telah memperhatikan agama nabi ini dan kutahu bahwa dia tidak memerintahkan untuk menghindari agama Almasih, tidak pula seperti tukang sihir yang sesat atau dukun yang suka berdusta. Kulihat dia membawa tanda kenabian dengan mengeluarkan yang tersembunyi dan mengabarkan yang rahasia. Aku akan mempertimbangkannya."
298 Kemudian, Muqauqis menulis surat yang isinya, Bismillahirrohmanirrohim, Kepada Muhammad bin Abdullah dari Muqauqis, pemimpin Qibti. Kesejahteraan bagi Tuan. Amma Ba'd. Saya telah membaca surat tuan dan bisa memahami isinya, serta apa yang tuan serukan. Saya sudah tahu bahwa ada seorang nabi yang masih tersisa. Menurut perkiraan saya dia akan muncul dari Syam. Saya hormati utusan tuan dan kini kukirim 2 gadis yang mempunyai kedudukan terhormat di masyarakat Qibti, dan beberapa lembar kain. Saya hadiahkan pula seekor baghal agar dapat tuan pergunakan sebagai tunggangan. Salam sejahtera bagi tuan. Nah dua gadis itu adalah Maria dan Shirin. Maria kemudian menjadi istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Shirin menikah dengan Hasan bin Tsabit al-Anshari. Bersambung.. KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم ُهَّم َص ّلِ َعلَى ُم َح َّمٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح اَلل مد َّ Bagian 127 Surat kepada Najasyi, Raja Habasyah Selain itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga menulis surat kepada Najasyi, raja Habasyah yang menerima kaum muslimin yang mengungsi ke negerinya. Amir bin Umayyah adh Dhamri menyampaikan surat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang berbunyi, Bismillahirohmanirohim, Dari Muhammad Rasulullah kepada Najasyi pemimpin Habasyah (Habsyi). Kesejahteraan bagi siapa pun yang mengikuti petunjuk, amma ba'd. Aku memuji bagi tuan kepada Allah yang tiada ilah selain Nya. Dialah penguasa yang Maha Suci, yang memberi kesejahteraan memberi perlindungan dan yang berkuasa. Aku bersaksi bahwa Isa bin Maryam adalah roh Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam yang perawan, baik, dan menjaga kehormatan diri lalu dia mengandung Isa dari roh-Nya dan tiupan-Nya sebagaimana Dia menciptakan Adam dengan tangan-Nya. Aku menyeru kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya dan senantiasa mentaati-Nya, dan hendaklah tuan mengikuti aku, beriman kepada apa yang diberikan kepadaku. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah dan aku menyeru tuan dan pasukan tuan kepada Allah Azza wa Jalla. Aku sudah mengajak dan memberi nasihat maka terimalah nasihatku. Kesejahteraan bagi siapa pun yang mengikuti petunjuk. Begitu Najasyi menerima surat Rasulullah صلى الله عليه وسلم ia langsung mengangkat surat itu dan meletakkannya di depan matanya. Ia turun ke lantai dari singgasananya, lalu masuk Islam di hadapan Ja'far bin Abu Thalib yang masih berada di sana bersama para pengungsi Muslim.
299 Najasyi membalas surat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang menyetujui bahwa Nabi Isa memang benar seorang utusan Allah yang lahir dari Maryam yang suci. Najasyi juga menyatakan bahwa ia memeluk Islam dan menyatakan sumpah setia kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga meminta Najasyi agar mengirim pulang Ja'far bin Abi Tholib ke Madinah. Najasyi pun menyediakan dua perahu. Turut pula dalam rombongan itu Amir bin Umayyah sang pembawa surat. Najasyi wafat pada bulan Rajab tahun ketujuh Hijriyah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersedih hati atas kematiannya dan menyelenggarakan shalat ghaib. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mengirim surat yang sama isinya kepada pengganti Najasyi. Akan tetapi sejarah tidak mencatat apakah penggantinya juga memeluk Islam atau tidak. Perang Khaibar Setelah orang Quraisy setuju untuk berdamai, kini ada satu musuh yang tidak kalah berbahaya. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang kini berkumpul di Khaibar, Kota Benteng yang sangat kuat. Para penghuni Khaibar inilah yang dulu menghasut pasukan Quraisy untuk menyerang Madinah dalam Perang Khandaq. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengetahui bahwa jika dibiarkan mereka akan menempuh cara yang lebih berbahaya untuk membasmi kaum muslimin. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun menyiapkan pasukannya, namun beliau paham bahwa pertempuran yang mereka hadapi akan sangat berat. Karena itu yang boleh bergabung hanya orang-orang yang benar-benar siap berjihad. Maka berkumpulah orang-orang yang gagah berani yang terdiri atas 1400 pasukan berjalan kaki dan 100 penunggang kuda. Diam-diam Abdullah bin Ubay mengirim pesan kepada orang-orang Khaibar, "Muhammad hendak mendatangi kalian. Bersiap siagalah dan kalian tak perlu takut. Jumlah dan kekuatan kalian sangat banyak sementara kaum Muhammad hanya sedikit dengan persenjataan terbatas". Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta dua petunjuk jalan. Keduanya menunjukkan empat jalan yang dapat ditempuh kaum muslimin agar kedatangan mereka tidak diketahui orang-orang Yahudi di Khaibar. Jalan-jalan itu bernama Syasy (kacau), Hathib (sial), Huzn (kesedihan), Marhab (selamat datang). Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun memilih melewati jalan Marhab. Setelah shalat ashar Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta bekal makanan. Karena hanya sedikit, beliau disuguhi tepung gandum yang tidak seberapa banyak. Rasulullah صلى الله عليه وسلم kemudian mengolah tepung itu sehingga menjadi cukup buat beliau dan semua orang. Seorang penyair bernama Amir bin Akwa melantunkan karyanya, "Kalau bukan karena engkau ya Allah, Kami tidak akan mendapatkan hidayah. Tidak pula sholat dan bersedekah.