MODUL
DASAR-DASAR AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN DAN KEHUTANN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
1
MODUL
DASAR-DASAR
AGRIBISNIS
Disusun oleh :
FITRI, S.P., M.Si
Program Studi Agribisnis
Fakultas Pertanian dan Kehutanan
Universitas Sulawesi Barat
2
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT karena
atas rahmat-Nya, Modul Dasar-Dasar Agribisnis ini
dapat diselesaikan. Modul ini merupakan salah
satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh,
sistematis dan menarik. Didalamnya memuat
seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan
didesain untuk membantu mahasiswa menguasai
tujuan belajar yang spesifik.
Modul ini bertujuan agar mahasiswa mampu menguasai konsep
agribisnis, peranan agribisnis dalam perekonomian, organisasi perusahaan
agribisnis, kemitraan usaha, produksi dan pemasaran, pembiayaan agribisnis,
lembaga pendukung dan pelayanan agribisnis serta strategi pengembangan
agribisnis agar berbagai permasalahan dapat dipecahkan.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian modul ini. Saya menyadari bahwa masih
banyak kekurangan dalam modul ini, oleh karena itu Saya menunggu
masukan, kritik dan saran dari berbagai pihak dalam rangka penyempurnaan
modul ini.
Majene, September 2022
Fitri, S.P., M.Si
198711052022032003
3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………. 3
DAFTAR ISI …….………………………………………………………………………….. 4
DAFTAR GAMBAR …….…………………………………………………………………. 6
PETUNJUK MODUL …….……………………………………………………………….. 7
TINJAUAN MATA KULIAH …….………………………………………………………. 8
BAB I Pengertian dan Ruang Lingkup Agribisnis …….……………………. 10
1.1 Agribisnis Sebuah Paradigma …….…………………………………………. 10
1.2 Definis Agribisnis …………………….….…………………………………………. 13
1.3 Sistem Agribisnis …………………….….……………………………………….. 17
1.4 Ruang Lingkup Agribisnis …………………….….……………………………. 19
1.5 Peran Agribisnis dalam Perekonomian Indonesia ….….……………… 21
Evaluasi Materi 1 ………………….….…………………………………………………. 23
BAB II Subsistem Hulu (Up-Stream Agribusiness) ………………….….……. 25
Evaluasi Materi 2 ………………….….…………………………………………………. 29
BAB III Subsistem Usaha Tani (On-Farm Agribusiness) ………………….. 32
3.1 Ruang Lingkup ……….……………………………………………………………. 32
3.2 Budidaya Tanaman ……….……………………………………………………… 33
3.3 Analisis Ekonomi Budidaya Tanaman ….………………………………….. 35
3.4 Titik Impas ……….………………………………………………………………… 40
Evaluasi Materi 3 ………………….….…………………………………………………. 41
BAB IV Subsistem Hilir (Down-Stream Agribusiness) ………………….…… 48
4.1 Pengolahan Hasil (Agroindustri) ……….……………………………………. 44
4.2 Peranan Agroindustri bagi Perekonomian Indonesia …………………. 47
4.3 Konsep Value Added ….…………………………………………………………. 50
4.4 Pemasaran Produk Agribisnis/Agrimarketing….…………………………. 53
Evaluasi Materi 4 ………………….….…………………………………………………. 60
BAB V Subsistem Layanan Pendukung Agribisnis ………………….………… 63
4
5.1 Lembaga Pendukung Agribisnis ……….……………………………………. 64
5.2 Konsep Kelembagaan ……….…………………………………………………… 67
5.3 Kelembagaan dalam Sistem Agribisnis ……….…………………………… 69
Evaluasi Materi 5 ………………….….…………………………………………………. 73
BAB VI Kemitraan Agribisnis ………………….……………………………………… 74
6.1 Konsep Kemitraan Usaha Agribisnis ……….………………………………. 75
6.2 Pengembangan Kemitraan Usaha Agribisnis ……….…………………… 77
6.3 Pelaksanaan Kemitraan Usaha Agribisnis ……….………………………. 79
Evaluasi Materi 6 ………………….….…………………………………………………. 86
BAB VII Risiko Agribisnis ………………….…………………………………………. 88
7.1 Definisi Risiko dan Ketidakpastian ……….…………………………………. 88
7.2 Sumber Risiko ……….…………………………………………………………….. 91
7.3 Jenis Risiko ……….………………………………………………………………… 92
7.4 Sikap Individu terhadap Risiko ……….……………………………………… 94
7.5 Sistem Leasing ……….…………………………………………………………… 96
Evaluasi Materi 7 ………………….….………………………………………………… 100
BAB VIII e-Agribusiness ………………….…………………………………………. 101
8.1 Teori e-Agribusiness ……….………………………………………………….. 101
8.2 Perkembangan Teori e-Agribusiness ……….……………………………. 102
8.3 Pentingnya e-Agribusiness ……….…………………………………………. 104
8.4 Mekanisme e-Agribusiness ……….………………………………………….. 106
8.5 Kendala dalam e-Agribusiness dan Solusinya ……….………………… 108
Evaluasi Materi 8 ………………….….………………………………………………… 110
BAB IX Strategi Pengembangan Agribisnis ………………….…………………. 111
9.1 Perkembangan Usaha Agribisnis ……….………………………………….. 111
9.2 Strategi Pengembangan Agribisnis ……….……………………………….. 114
9.3 Konsep Pengembangan Agribisnis ……….……………………………….. 116
9.4 Pembangunan Wilayah Agribisnis ……….…………………………………. 118
Evaluasi Materi 9 ………………….….………………………………………………… 119
DAFTAR PUSTAKA ……….….…………………………………………………………. 120
KUNCI JAWABAN ……….….……………………………………………………………. 121
5
DAFTAR GAMBAR
1.1 Kegiatan Pertanian Masa Lampau …………………………………………… 11
1.2 Kegiatan Pertanian saat ini …………………………………………………….. 11
1.3 Sistem Agribisnis ..…………………………………………………………………. 18
6.1 Pola Kemitraan Inti Plasma ..………………………………………………….. 81
6.2 Pola Kemitraan Sub Kontrak ..………………………………………………… 82
6.3 Pola Kemitraan Dagang Umum ..……………………………………………. 83
6.4 Pola Kemitraan Keagenan ..……………………………………………………. 84
7.1 Hubungan Fungsi Kepuasan dan Pendapatan ..………………………… 95
7.2 Transaksi Dasar Leasing ..……………………………………………………… 98
7.3 Mekanisme Transaksi Leasing ..……………………………………………… 99
6
PETUNJUK MODUL
A. kriteri pemakai
Modul ajar ini ditujukan khususnya bagi mahasiswa semester tiga
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Universitas
Sulwesi Barat.
B. Prasyarat Pemakai Modul Ajar
Untuk dapat memahami isi modul ini maka disyaratkan pembaca telah
memiliki pengetahuan ilmu pengantar pertanian atau telah mengikuti mata
kulias Pengantar Ilmu Pertanian dan Kehutanan.
c. Petunjuk Penggunaan Modul Ajar
Modul ajar ini tersusun secara sistimatis dimana setiap bab untuk satu
atau dua kali pertemuan tatap muka di kelas dengan waktu 3 x 50 menit setiap
pertemuan. Dan dalam setiap bab dilengkapi dengan materi, link youtube dan
jurnal terkait materi serta evaluasi. Pembaca dituntun untuk dapat mengikuti
setiap bab sesuai urutan.
d. Kegunaan Modul Ajar
Modul ajar ini dapat digunakan sebagai referensi dan bahan tutorial
bagi mahasiswa.
7
TINJAUAN MATA KULIAH
a. Identitas Mata Kuliah : Dasar-Dasar Agribisnis
Nama Mata Kuliah : AGB 063220 / 3 SKS
Kode Mata Kuliah/SKS : 3 (tiga)
Semester : 16 Pertemuan
Jumlah Pertemuan
b. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)
• Adapun CPMK yang ingin dicapai adalah :
1. Mampu menguasai konsep dan ruang lingkup agribisnis berdasarkan
teori yang ada
2. Mampu menguasai konsep sistem dan usaha agribisnis
3. Mampu memahami konsep kelembagaan dan pemibayaan agribisnis
4. Mampu memahami peran teknologi informasi dalam agribisnis
5. Mampu memberikan solusi / strategi dalam permasalahan agribisnis
yang ada di tengah masyarakat.
• Adapun Capaian pembelajaran khusus (subcpmk/berdasarkan materi),
adalah agar mahasiswa :
BAB I : Mampu menjelaskan dan memahami pengertian,sejarah
perkembangan agribisnis dan peran agribisnis dalam
perekonomian di Indonesia.
BAB 2 : Mampu menjelaskan dan menguasai konsep Subsistem
hulu/up-stream agribusiness
BAB 3 : Mampu menjelaskan dan menguasai konsep subsistem
usahatani / on-farm agribusiness
8
BAB 4 : Mampu menjelaskan dan menguasai konsep subsistem
Hilir/down-stream agribusiness (pengolahan dan
pemasaran)
BAB 5 : Mampu menjelaskan dan menguasai konsep subsistem jasa
layanan pendukung agribisnis (konsep kelembagaan)
BAB 6 : Mampu menjelaskan kemitraan agribisnis
BAB 7 : Mampu menjelaskan Resiko dan Ketidakpastian dalam
agribisnis serta pembiayaan.
BAB 8 : Mampu menjelaskan dan menguasai konsep e-Agribusiness
BAB 9 : Mampu menjelaskan Strategi pengembangan Agribisnis
9
BAB I
Pengertian dan Ruang Lingkup Agribisnis
1.1 Agribisnis Sebuah Paradigma
Secara umum pertanian adalah suatu kegiatan manusia yang termasuk
didalamnya yaitu bercocok tanam, peternakan, perikanan dan juga
kehutanan. Pengertian pertanian dalam arti sempit hanya mencakup pertanian
sebagai budidaya penghasil tanaman pangan padahal kalau kita tinjau lebih
jauh kegiatan pertanian dapat menghasilkan tanaman maupun hewan ternak
demi pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
Sebelum lebih jauh kita membahas tentang agribisnis, hal pertama
yang perlu dipahami adalah sejarah pertanian itu sendiri. Pada awalnya
pertanian dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam bentuk
berburu atau mengumpulkan makanan berupa buah dan daging yang
diperoleh dari alam liar. Sejalan dengan perkembangan pengetahuan dan
teknologi yang dikuasai manusia, cara-cara pertanian tersebut berubah
mengarah kepada upaya membudidayakan tanaman dan hewan.
Berdasarkan sejarahnya, pertanian adalah way of life atau gaya hidup.
Pertanian sebagai gaya hidup tentunya memiliki ciri-ciri khusus yang tidak
dimiliki oleh pertanian modern. Sebagai gaya hidup pertanian dilakukan hanya
untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagai upaya untuk mempertahankan
hidup di pedesaan yang bergantung pada alam. Kegiatan pertanian yang
dilakukan pada awalnya sangat bergantung pada alam. Campur tangan
manusia pada masa itu sangat minim seperti yang dilakukan dalam bentuk
berburu atau hunting and gathering. Kemudian pertanian dilakukan dalam
bentuk perladangan berpindah atau slash and burn. Mereka melakukan hal ini
karena hanya mengandalkan proses alam, belum memiliki pengetahuan atau
teknologi untuk mengendalikannya. Sampai beberapa abad kemudian,
manusia sudah menggunakan teknologi sederhana untuk bercocok tanam.
10
Gambar 1.1 Kegiatan Pertanian Masa Lampau
Gambar 1.2 Kegiatan Pertanian saat ini
Sejarah panjang bahwa pertanian sebagai gaya hidup banyak
mempengaruhi cara pandang kita terhadap pertanian. Pertanian sering
dikaitkan dengan kehidupan di pedesaan, kehidupan yang serba alami.
Posisinya yang berada di pesedasaan membuat pertanian dikaitkan dengan
kemiskinan, ketertinggalan dan ke kurang sejahteraan. Tidak heran jika
sampai saat ini pertanian dianggap sektor yang paling tidak menarik.
11
Pandangan masyarakat terhadap pertanian berdampak pada minat
investor untuk menginvestasikan modalnya di sektor pertanian. Pertanian
menjadi kurang diperhatikan oleh para pemilik modal. Investasi di bidang
pertanian dianggap menjadi tugas pemerintah (publik) karena hanya
pemerintah yang mau menanggung kerugian. Akibatnya, sektor pertanian
menjadi semakin tertinggal. Peran sektor pertanian dalam perekonomian
nasional menjadi semakin kecil.
Kebutuhan pangan sampai saat ini belum bisa dihasilkan oleh sektor
selain sektor pertanian. Perkembangan teknologi sampai saat ini belum
mampu menghasilkan makanan sintetis yang dapat menggantikan makanan
yang dihasilkan oleh sektor pertanian Gizi makanan seperti karbohidrat,
protein, lemak, dan serat makanan, sampai saat ini hanya dihasilkan oleh
sektor pertanian.
Tidak seorang pun tidak setuju dengan peranan pertanian seperti
dipaparkan di atas. Tidak ada orang yang membantah bahwa pertanian
mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Namun demikian
mengapa pertanian semakin dilupakan orang? Di sinilah pentingnya
memandang pertanian bukan hanya dari sisi produksi (on-farm) saja tetapi
harus dilihat dari sisi yang lebih luas (off-farm).
Bungaran Saragih yang merupakan tokoh nasional dibidang agribisnis
mengemukakan bahwa pertanian memerlukan cara pandang baru, paradigma
baru, yang menempatkan pertanian dalam posisi yang jauh lebih penting dan
mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Paradigma
tersebut secara sederhana diartikan sebagai persepsi intelektual atau
pandangan (view) terhadap sesuatu yang dapat diterima oleh seseorang atau
masyarakat dalam bentuk konsep atau pemikiran untuk memahami
bagaimana suatu fenomena (alam dan sosial) bekerja. Agribisnis sebagai
paradigma baru dalam memahami pertanian berarti ada konsep atau
pemikiran baru dalam memahami pertanian. Paradigma baru yang memahami
pertanian dengan mengkaitkan antara on-farm dan off-farm secara utuh yang
disebut sistem agribisnis.
12
“ Kita tidak memandang pertanian hanya sebatas petani yang
membudidayakan tanaman atau hewan, namun kita menggunakan kacamata
agribisnis dalam memotret pertanian. Agribisnis memandang sektor pertanian
secara utuh, bukan hanya sektor primer tetapi mulai dari kegiatan pertanian
yang menyediakan input sampai dengan kegiatan pertanian dalam
pengolahan hasil pertanian, pemasaran, dan jasa penunjang pertanian
(agriservices). Dengan cara pandang seperti ini maka kontribusi sektor
pertanian dalam pengertian agribisnis menjadi sangat besar. Di waktu yang
akan datang, peran sektor pertanian dalam pengertian agribisnis menjadi
semakin besar.
“ Agribisnis merupakan paradigma atau cara baru
dalam memandang pertanian (agribusiness as a new way to
look agribusiness), atau dapat pula disebut bahwa agribisnis
merupakan cara yang lebih utuh memandang pertanian secara
keseluruhan (agribusiness as a better and complete way to
look agriculture)
.. Krisnamurthi, 2020 ..
1.2 Definisi Agribisnis
Saat ini agribisnis menjadi perhatian, agribisnis merupakan salah satu
bisnis bahkan merupakan “megasektor” yang menjadi sumber ketersediaan
pangan, pengembangan bio-fuel, industry obat-obatan, kosmetik, dan
agrowisata. Namun apa sebenanrnya definisi agribisnis ? Davis dan Goldberg
(1956) yang dikenal sebagai “Fathers of Agribusiness” dan merupakan penulis
pertama yang menjelaskan tentang agribisnis menyatakan bahwa,
13
“Agribusiness is the sum total of all operations involved in
the manufacture and distribution of farm supplies;
production operations on the farm; and the storage,
processing, and distribution of farm commodities and items
made from them."
Davis dan Goldberg, 1956
Agribisnis adalah penjumlahan total dari seluruh kegiatan yang
menyangkut manufaktur dan distribusi dari sarana produksi pertanian,
kegiatan yang dilakukan usahatani, serta penyimpanan, pengolahan, dan
distribusi dari produk pertanian; serta produk-produk lain yang dihasilkan dari
produk pertanian.
Definisi di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud agribisnis
mencakup seluruh kegiatan mulai dari memproduksi dan distribusi input
sampai dengan distribusi hasil pertanian. Perhatikan bahwa on-farm, atau
usahatani, sebagai kegiatan yang sering disebut secara umum sebagai
pertanian, hanya merupakan salah satu bagian dari agribisnis.
Definisi di atas mengarahkan pemahaman agribisnis dari dua sisi, 1)
agribisnis sebagai perusahaan dan 2) agribisnis sebagai suatu sistem.
Agribisnis sebagai perusahaan merupakan pemahaman agribisnis di level
perusahaan secara individu, sedangkan agribisnis sebagai sistem merupakan
pemahaman agribisnis sebagai kumpulan perusahaan-perusahaan yang
membentuk suatu sistem. Berikut penjelasannya :
a. Agribisnis sebagai usaha
Secara Bahasa agribisnis berasal dari dua kata, yaitu Agri yang berasal
dari bahasa inggris Agriculture yang berarti pertanian. Sedangkan bisnis
berarti kegiatan usaha. Nah, dapat kita simpulkan bahwa agribisnis adalah
usaha komersial (bisnis) di bidang pertanian (dalam arti luas) dan bidang-
bidang yang berkaitan langsung dengan pertanian tersebut. Menurut
(Masyhuri, 2000) Bidang-bidang yang berkaitan itu adalah sebagai berikut :
14
1) Usaha produksi dan distribusi alat-alat atau mesin pertanian, sarana
produksi pertanian dan input pertanian lainnya (agroindustri hulu);
2) Usaha tania tau budidaya pertania.
3) Pengolahan dan manufacturing hasil pertanian serta pemasarannya
(agroindustri hilir);
4) Kegiatan penunjang seperti penyediaan kredit, asuransi pertanian
pelatihan, konsultasi, dan transportasi.
Jadi perlu digaris bawahi bahwa kita melihat pertanian bukan hanya
pada aspek budidaya namun segala usaha yang berkaitan dengan penyediaan
sarana produksi pertanian sampai produk tersebut berada di tangan
konsumen. Istilahnya, from land to table. Kita melihat pertanian dari kacamata
agribisnis, dimana pertanian bukan hanya di sawah namun segala usaha yang
terkait dengannya.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan, bahwa agribisnis adalah
usaha atau bisnis yang dilakukan dalam bidang pertanian untuk mendapatkan
keuntungan, baik bisnis atau usaha pengadaan sarana produksi/input
pertanian, usahatani, usaha pengelolaan dan pengolahan pasca panen,
pengangkutan, pemasaran, dan berbagai usaha yang terkait sampai produk
tersebut ada di meja makan.
b. Agribisnis sebagai sistem
Agribisnis akan lebih mudah jika dipahami sebagai suatu sistem. Sistem
agribisnis mempelajari pertanian bukan hanya sebagai kegiatan menghasilkan
produk pertanian primer (usahatani), tetapi mempelajari keseluruhan aktivitas
yang terkait dari mulai penyediaan input pertanian sampai dengan pemasaran
hasil pertanian dan berbagai kegiatan penunjang. Pemahaman seperti ini
penting dalam memahami pertanian, dan karenanya pemahaman ini
mempunyai implikasi luas. Pemahaman sistem agribisnis berarti menilai peran
sektor pertanian tidak hanya dari kemampuan sektor tersebut dalam
menghasilkan pangan (food) dan serat (fibre), tetapi perlu dinilai dari semua
15
kegiatan yang terkait dengan kegiatan produksi tersebut. Karena agribisnis
adalah sebuah sistem maka ia memiliki subsistem.
Sektor agribisnis sebagai bentuk modern dari pertanian primer,
menurut Bungaran Saragih (2010) paling sedikit mencakup empat subsistem,
yakni subsistem agribisnis hulu (upstream agribusiness), yaitu kegiatan
ekonomi yang menghasilkan dan perdagangan sarana produksi pertanian
primer (seperti industri pupuk, obat-obatan, bibit/benih, alat dan mesin
pertanian, dan lain-lain); subsistem usahatani (on-farm agribusiness) yang
pada masa lalu disebut sebagai sektor pertanian primer; subsistem agribisnis
hilir (downstream agribusiness), yaitu kegiatan ekonomi yang mengolah hasil
pertanian primer menjadi produk olahan, baik dalam bentuk yang siap untuk
dimasak atau siap untuk disaji atau siap untuk dikonsumsi beserta kegiatan
perdagangannya di pasar domestik dan internasional; dan subsistem jasa
layanan pendukung seperti lembaga keuangan dan pembiayaan, transportasi,
penyuluhan, dan layanan informasi agribisnis, penelitian dan pengembangan,
kebijakan pemerintah, asuransi agribisnis, dan lain-lain.
Agribisnis menurut Soekartawi (2013) adalah suatu kesatuan kegiatan
usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi,
pengolahan hasil dan pemasaran yang ada hubungannya dengan pertanian
dalam arti luas. Yang dimaksud dengan ‘ada hubungannya dengan pertanian
dalam artian yang luas’ adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan
pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa :
Agribisnis adalah suatu sistem rangkaian usaha-
usaha (bisnis) mulai dari usaha pengadaan sarana produksi
pertanian, usahatani, usaha pascapanen, penyimpanan dan
pengemasan produk pertanian, industri pengolahan produk
pertanian, dan berbagai usaha yang mengantarkan produk
(berbasis) pertanian sampai ke konsumen, serta sejumlah
kegiatan atau lembaga penunjang yang melayaninya.
16
“
“
1.3 Sistem Agribisnis
Sebelumnya telah kita pahami bahwa agribisnis memiliki lingkup yang
lebih jaun dari sekedar Bertani, bercocok tanam atau pertanian primer. Tetapi
agribsnis adalah sejumlah usaha yang terangkai dalam suatu sistem yang
terdiri dari beberapa subsistem. Krisnamurthi (2020) secara komperehensif
memaparkan ada 4 susbsistem agribisnis, yaitu :
1 Subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness)
Kegiatan usaha yang menghasilkan dan memperdagangkan sarana
produksi pertanian primer (seperti industri pupuk, obat-obatan,
bibit/benih, serta alat dan mesin pertanian)
2 Subsistem usahatani (on-farm agribusiness)
yang juga disebut sebagai sektor pertanian (primer) / usahatani
3 Subsistem agribisnis hilir (down-stream agribusiness)
Kegiatan usaha yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk
olahan, baik dalam bentuk siap dimasak atau digunakan (ready to
cook/ready for use) maupun siap dikonsumsi (ready to eat) beserta
kegiatan pemasaran dan perdangannya di pasar domestik maupun
internasional.
4 Subsistem jasa layanan pendukung
Seperti lembaga keuangan dan pembiayaan, transportasi, penyuluhan
dan layanan informasi agribisnis, penelitian dan pengembangan,
kebijakan pemerintah dan asuransi agribisnis.
17
… Sistem Agribisnis …
AGRIBISNIS HULU USAHATANI AGRIBISNIS HILIR
(up-stream agribusiness) (on farm agribusiness)
(down stream
•pupuk •penanaman, agribusiness)
•bibit pemupukan, panen
•alat dan mesin •Tanaman obat, •pascapanen
•pestisida pangan-rempah dan •penyimpanan
•obat-obatan hortikultur •pengolahan produk
•sarana produksi lain •Tanaman serat, •distribusi
perkebunan - •pemasaran
kehutanan •eceran
•Peternakan-
perikanan
Subsistem penunjang / kelembagaan
(supporting institution and activities)
Bank, R&D, asuransi, pendidikan, penyuluhan, Latihan, konsultas,
kebijakan pemerintah, dan lain-lain
Gambar 1.3 Sistem Agribisnis
Setiap subsistem terdiri atas kegiatan-kegaiatan usaha. Usaha-usaha
tersebut dapat berdiri sendiri maupun bergbung dalam kelompok. Dapat pula
berbentuk perusahaan besar yang memiliki kegiatan usaha di beberapa
subsistem. Berdasarkan gambar 1 kita dapat melihat bahwa subsistem
penunjang memberikan jasa layanan kepada ketiga subsistem lainnya.
Pengembangan sistem agribisnis yang baik ditentukan oleh kinerja tiap-tiap
subsistem pendukungnya. Tiap subsistem tersebut memiliki keterkaitan satu
sama lain, baik secara ke depan (forward) maupun ke belakang (backward).
18
Penjelasan mengenai subsistem-subsistem diatas akan di bahas pada modul
selanjutnya.
Agribisnis sebagai suatu sistem dimana terdapat subsistem-subsistem
yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling terkait satu dengan yang lain.
Sebagai contoh, subsistem agribisnis hulu membutuhkan umpan balik dari
subsistem usahatani agar dapat memproduksi sarana produksi yang sesuai
dengan kebutuhan budidaya pertanian. Sebaliknya, keberhasilan pelaksanaan
operasi subsistem usahatani bergantung pada sarana produksi yang dihasilkan
oleh subsistem agribisnis hilir. Selanjutnya, proses produksi agribisnis hilir
bergantung pada pasokan komoditas primer yang dihasilkan oleh subsistem
usahatani. Subsistem jasa layanan pendukung, seperti telah dikemukakan,
keberadaannya tergantung pada keberhasilan ketiga subsistem lainnya. Jika
subsistem usahatani atau agribisnis hilir mengalami kegagalan, sementara
sebagian modalnya merupakan pinjaman maka lembaga keuangan dan
asuransi juga akan mengalami kerugian. Berdasarkan hal tersebut, agribisnis
mejadi satu konsep yang memandang pertanian secara utuh dan
komperehensif, sekaligus suatu konsep untuk menelaah dan menjawab
berbagai tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pertanian.
Untuk membantu memahami pengertian agribisnis, yuk
kita simak video berikut. Link video :
https://youtu.be/ecc-5916SJ4
1.4 Ruang Lingkup Kegiatan Agribisnis
Adapun ruang lingkup agribisnis yaitu :
a. Pertanian
Pertanian dalam arti luas adalah proses menghasilkan bahan pangan, ternak,
serta produk-produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya
tumbuhan dan hewan. Pemanfaatan sumber daya ini terutama berarti budi
daya(cultivation, atau untuk ternak: raising). Sedangkan pertanian dalam arti
sempit adalah proses menghasilkan bahan makanan.
19
b. Perkebunan
Merupakan usaha tani di lahan kering yang ditanami dengan tanaman industri
yang laku di pasar, seperti : karet, kelapa sawit, tebu, cengkeh , dan lain- lain.
c. Peternakan
Merupakan usaha tani yang dilakukan dengan membudidayakan ternak.
Usaha ternak dibedakan atas:
• Peternakan unggas (ayam dan itik)
• Peternakan kecil (kambing,domba,kelinci,babi dan lain-lain)
• Ternak besar (kerbau,sapi dan kuda)
d. Perikanan
Perikanan adalah semua kegiatan yang terorganisir berhubungan dengan
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari
praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang
dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.
• Perikanan tangkap, dapat dibedakan menjadi perikanan perairan (sungai
dan danau) dan perikanan air laut.
• Perikanan budidaya, dapat dibedakan dalam perikanan kolam, perikanan
rawa, perikanan empang dan perikanan tambak.
e. Kehutanan
Adalah kegiatan pertanian yang dilakukan untuk memproduksi atau
memanfaatkan hasil hutan, baik yang tumbuh atau hidup secara alami
maupun yang telah dibudidayakan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa kegiatan agribisnis
merupakan (a) kegiatan yang berbasis pada
keunggulan sumberdaya alam (on- farm agribusiness)
yang terkait erat dengan penerapan teknologi dan
keunggulan sumber daya manusia bagi perolehan nilai
tambah yang lebih besar (off-farm
agribusiness); serta (b) kegiatan yang memiliki ragam
kegiatan dengan spektrum yang sangat luas, dari skala
20
usaha kecil dan rumah tangga hingga skala usaha
raksasa, dari yang berteknologi sederhana hingga yang
paling canggih, yang kesemuanya itu saling terkait dan
saling mempengaruhi. Dalam usaha mempercepat laju
pertumbuhan sektor agribisnis terutama dihadapkan
dengan kondisi petani kita yang serba lemah (modal,
skill, pengetahuan dan penguasaan lahan) dapat
ditempuh melalui penerapan sistem pengembangan
(system of development) agribisnis.
1.5 Peran Agribisnis dalam Perekonomian di Indonesia
Peranan agribisnis dalam perekonomian
Indonesia sangat penting, dan bahkan
derajat kepentingannya diduga akan
semakin meningkat, terutama setelah
sektor industri pertambangan dan minyak
bumi mengalami penurunan produksi yang
sangat mengkhawatirkan. Penggerakan sektor agribisnis memerlukan
kerjasama berbagai pihak terkait, yakni pemerintah, swasta, petani, maupun
perbankan, agar sektor ini mampu memberikan sumbangan terhadap devisa
negara. Kebijakan dalam hal peningkatan investasi harus didukung oleh
penciptaan ikiim investasi Indonesia yang kondusif, termasuk juga dalam
birokrasi, akses kredit, serta peninjauan peraturan perpajakan dan tarif pajak
untuk sektor agribisnis (Gumbira dan Febriyanti, 2005)
Sektor agribisnis memiliki peran strategis dalam pembangunan
perekonomian nasional. Hal ini digambarkan melalui kontribusi yang nyata
dalam penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bioenergi,
penyerapan tenaga kerja, sumber pendapatan, dan sumber devisa negara.
Berbagai peran tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan perekonomian
nasional, diantaranya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia,
21
mempercepat pertumbuhan konomi, mengurangi kemiskinanadan
menyediakan lapangan kerja (Kementrian Pertanian 2009).
Besar dan luasnya peranan agribisnis dalam perekonomian nasional
tidak terlepas dari fungsi agribisnis, yaitu:
v Menghasilkan bahan mentah atau komoditas primer baik bahan pangan,
serat, bangunan, atau bahan lainnya;
v Menghasilkan produk antara atau barang jadi baik pangan, bahan pembuat
tekstil, bahan bangunan, obat-obatan, dan sebagainya;
v Menyerap tenaga kerja dari yang unskilled sampai yang skilled;
v Menyumbang pada pendapatan nasional dan pertumbuhan ekonomi; dan
Menghasilkan devisa negara melalui kegiatan ekpor maupun pariwisata.
Dalam perekonomian Indonesia, agribisnis mempunyai peranan yang
sangat penting sehingga mempunyai nilai strategis. Peranan agribisnis adalah
sebagai berikut.
o Peranan agribisnis dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto)
sangat besar. Peranan agribisnis dalam penyerapan tenaga kerja.
Karakteristik teknologi yang digunakan dalam agribisnis bersifat
akomodatif terhadap keragaman kualitas tenaga kerja sehingga tidak
mengherankan agribisnis menjadi penyerap tenaga kerja nasional yang
terbesar.
o Peranan agribisnis dalam perolehan devisa.selama ini selain ekspor
migas, hanya agribisnis yang mampu memberikan net-ekspor secara
konsisten. Peranan agribisnis dalam penyediaan bahan pangan.
Ketersediaan berbagai ragam dan kualitas pangan dalam jumlah pada
waktu dan tempat yang terjangkau masyarakat merupakan prasyarat
penting bagi keberhasilan pembangunan di Indonesia.
o Peranan agribisnis dalam mewujudkan pemerataan hasil pembangunan
(equity). Pemerataan pembangunan sangat ditentukan oleh „teknologi‟
yang digunakan dalam menghasilkan output nasional, yaitu apakah
bias atau pro terhadap faktor- faktor produksi yang dimiliki oleh rakyat
banyak. Saat ini faktor produksi yang banyak dimiliki oleh sebagian
22
besar rakyat adalah sumber daya lahan, flora dan fauna, serta sumber
daya manusia. Untukmewujudkan pemerataan di Indonesia perlu
digunakan teknologi produksi output nasional yang banyak
menggunakan sumber daya tersebut, yaitu agribisnis.
Evaluasi Materi 1
Untuk membantu mengevalusi/mengukur tingkat pemahaman Anda
terhadap materi ini, cobalah Anda kerjakan soal-soal Pilihan Ganda di bawah
ini. Pada setiap soalnya, pilihlah satu jawaban yang menurut Anda benar.
1) Pertanian sebagai gaya hidup memiliki ciri-ciri khusus yang tidak dimiliki
oleh pertanian modern, yaitu ....
a. meningkatkan kesejahteraan pelaku bisnis sektor pertanian
b. hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup
c. meningkatkan penyerapan tenaga kerja
d. meningkatkan perolehan tambahan devisa negara
2) Agribisnis sebagai paradigma baru dalam memahami pertanian berarti
memahami ....
a. pertanian dengan mengaitkan antara on-farm dan off-farm secara utuh
b. pertanian dalam arti yang seluas-luasnya
c. sistem on-farm dan off-farm secara terpisah
d. pertanian hanya sebagai kegiatan budidaya
3) Industri agrokimia dalam sistem agribisnis termasuk dalam subsistem ....
a. agribisnis hilir
b. agribisnis hulu
c. usahatani
d. jasa dan penunjang
23
4) Berikut ini adalah subsistem agribisnis kecuali ..........
a. pengadaan dan penyediaan faktor produksi.
b. budidaya tanaman dan atau ternak.
c. Hilir (pengolahan dan pemasaran)
d. perkebunan
5) Sektor agribisnis berperan dalam perekonomian nasional melalui hal
dibawah ini, kecuali ....
a. pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB)
b. perolehan devisa
c. penyediaan pangan dan bahan baku industri
d. peningkatan kemanan nasional
24
BAB II
Subsistem Hulu (Up-Stream Agribusiness)
Subsistem hulu (up-stream agribusiness) biasa disebut dengan
subsistem input, agroinput, atau subsistem sarana produksi. Pada subsistem
ini didalamnya mencakup kegiatan usaha yang menghasilkan dan
memperdagangkan sarana produksi pertanian primer (seperti industri pupuk,
obat-obatan, bibit/benih, serta alat dan mesin pertanian).
Sarana produksi (input) adalah bahan/sarana yang digunakan sebagai
input dalam proses produksi untuk menghasilkan output. Input mencakup
produk-produk yang dipasok untuk produksi pertanian (Ricketts and Rawlins,
2001). Input agribisnis terbagi menjadi dua yaitu, input utama dan input
penunjang. Input agribisnis dibagi menjadi tiga tipe yaitu:
1. Input utama agribisnis, terdiri atas lahan, pupuk, obat-obatan kimia
(pestisida), serta alat dan mesin pertanian
2. Input penunjang, seperti solar, bensin, oli motor, transmisi dan oli
hidrolik dibutuhkan untuk menjaga traktor, truk, dan mesin pertanian
tetap berfungsi; bibit dan kapur dibutuhkan oleh produsen tanaman;
dokter hewan dibutuhkan untuk menjaga kesehatan hewan ternak;
keranjang, tas, karung, krat dibutuhkan dalam pengemasan dan
pengangkutan; kayu dan bangunan dibutuhkan sebagai tempat
berlindung manusia, ternak, dan tanaman.
3. Input yang sering terabaikan fungsinya, seperti besi dan baja yang
sewaktu-waktu dibutuhkan untuk pemeliharaan bangunan pertanian;
benih, tanaman, dan pohon dibutuhkan untuk tanaman dan produksi
hutan; keperluan lain seperti listrik, air, gas, telepon; kredit, asuransi,
dan pelayanan jasa pemerintah dan swasta.
Lahan
Lahan diperlukan sebagai tempat untuk melaksanakan usaha budidaya
tanaman maupun ternak. Lahan pertanian dapat dibedakan dengan tanah
pertanian. Jika lahan pertanian adalah tanah yang dipersiapkan untuk
25
usahatani misalnya sawah maka tanah pertanian adalah tanah yang belum
tentu diusahakan untuk usaha pertanian. Dengan demikian tanah pertanian
selalu lebih luas daripada lahan pertanian.
Pupuk
Pupuk merupakan bahan organik atau anorganik, alami atau sintetis,
yang menyuplai tanaman dengan nutrisi untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk
dikenal dengan istilah pupuk makro dan mikro. Pupuk komersil biasanya
dibuat dengan menggabungkan bahan makanan tanaman tertentu untuk
memperoleh perbandingan spesifik dan jumlah nutrien tanaman.
Pestisida
Keberadaan pestisida ini muncul di pertengahan abad 19 pada saat
manusia mulai terganggu akibat persaingan dengan serangga dan hewan lain
terhadap buah dan tanaman mereka. Selain itu gangguan juga muncul
persaingan antara tanaman dengan tanaman lain yang tidak diinginkan. Oleh
karena keberhasilan penemuan di bidang biologi dan kimia, kini alang-alang,
serangga, dan penyakit dapat ditangani dengan obat-obatan kimia sintetis.
Pestisida terbagi menjadi tiga tipe utama yaitu herbisida, insektisida, dan
fungisida. Pestisida kemudian dibagi lagi menjadi tiga yaitu fumigants,
defoliants,
Pestisida terbukti sangat membantu meningkatkan produksi hasil
tanaman, namun di sisi lain karena pestisida adalah bahan kimia beracun,
pemakaian pestisida berlebihan dapat menjadi pencemar bagi tanaman, air,
dan lingkungan hidup. Residu sejumlah bahan kimia yang ditinggalkan melalui
berbagai siklus, langsung atau tidak langsung, dapat sampai ke manusia,
terhirup melalui pernafasan, dan masuk ke saluran pencernaan bersama
makanan. Oleh karena itu pestisida perlu ditangani dengan baik dan hati-hati.
Seiring berkembangnya penggunaan pestisida, industri pemasok
pestisida juga semakin dibutuhkan. Dengan demikian membuka lapangan
kerja bagi masyarakat, baik sebagai pekerja, distributor, pedagang, peneliti
dan lain-lain.
26
Semua input agribisnis tersebut saat ini dapat diperoleh di toko
pertanian yang banyak tersebar di seluruh daerah. Toko pertanian ini biasanya
menyediakan berbagai produk dan jasa pertanian. Jasa pertanian yang
dimaksud antara lain penyewaan alat penyemprot pestisida, traktor, truk, dan
jasa perbaikan alat pertanian lainnya.
Toko pemasok input pertanian dapat dibagi
menjadi tiga kategori , yaitu koperasi petani,
perusahaan gabungan, dan perusahaan kecil milik
perseorangan.
1. Koperasi petani
Koperasi petani adalah lembaga yang paling banyak menjual input
pertanian. Produk yang biasanya tersedia di koperasi petani adalah pupuk,
kapur tani, benih/ bibit, bensin, obat-obatan, dan pakan.
2. Toko rantai pasok petani
Toko dengan tipe ini biasanya mampu melayani konsumen full time karena
produk yang ditawarkan beragam, dimulai dari peralatan pertanian
(traktor, pupuk, pakan, benih, truk, peralatan kebun, perangkat keras),
pakaian, dan berbagai produk lain. Contoh dari toko jenis ini adalah
WalMarti dan K- Mart
3. Toko milik perseorangan (Agen atau Pengecer)
Toko dengan tipe ini biasanya dikelola oleh keluarga sendiri dan/ atau
merekrut pekerja pada saat musin-musim tertentu saja. Toko ini biasanya
menyediakan pakan, benih, pupuk dan berbagai input pertanian lain.
Alat Mesin Pertanian
Alat mesin pertanian adalah susunan dari alat-alat yang kompleks yang
saling terkait dan mempunyai sistem transmisi (perubah gerak), serta
mempunyai tujuan tertentu di bidang pertanian dan untuk
mengoperasikannya diperlukan masukan tenaga. Alat mesin pertanian
bertujuan untuk mengerjakan pekerjaan yang ada hubungannya dengan
pertanian, seperti alat mesin pengolahan tanah, alat mesin pengairan, alat
27
mesin pemberantas hama, dan sebagainya. Dengan penggunaan alat mesin
pertanian, ketepata waktu dalam aktivitas pertanian dapat lebih ditingkatkan,
dapat mengurangi kejenuhan dalam pekerjaan petani, dan tenaga kerja dapat
dialokasikan untuk melakukan usaha tani lain atau kegiatan di sektor lain yang
bersifat kontinu.
Alat dan mesin pertanian paling besar pemanfaatannya pada saat
pengolahan tanah. Pengolahan tanah tidak hanya merupakan kegiatan lapang
untuk memproduksi hasil tanaman, tetapi juga berkaitan dengan kegiatan
lainnya seperti penyebaran benih/ penanaman bibit, pemupukan,
perlindungan tanaman dan panen. Oleh karena itu
perkembangan dalam tujuan serta metode
pengolahan tanah diikuti pula dengan
perkembangan dalam desain peralatan baik
dari segi bahan maupun bentuk alat
Perusahaan alat pertanian sangat beragam
dan tidak membatasi produk mereka pada alat
pertanian saja. Sejak tahun 1980 telah terjadi merger manufaktur alat
pertanian, pengurangan jumlah dealer, dan perubahan tipe traktor yang
diproduksi. Setiap tahunnya banyak pengguna alat dari bidang non pertanian
yang membeli produk dari industri alat dan mesin pertanian seperti
perusahaan lanscape, kontraktor bangunan, pelatihan golf, dan rumah
tangga.
Setelah alat dan mesin pertanian tidak banyak lagi dijual melalui
manufaktur, maka hal tersebut digantikan oleh perusahaan dagang besar,
dimana mereka memiliki jaringan langsung ke dealer-dealer. Secara umum,
perusahaan alat dan mesin pertanian ini telah banyak membantu petani dalam
meningkatkan produktivitas dan keuntungan.
28
Agar lebih memahami materi di atas, silakan
simak video melalui link berikut :
https://youtu.be/hkR0spEnuf0
Judul video : Alat dan Mesin Pertanian Buatan Indonesia
Lebih Canggih daripada Produk Impor
Nama akun : CapCapung
Evaluasi Materi 2
Untuk membantu mengevalusi/mengukur tingkat pemahaman Anda
terhadap materi ini, cobalah Anda kerjakan soal-soal Pilihan Ganda di bawah
ini. Pada setiap soalnya, pilihlah satu jawaban yang menurut Anda benar.
1. Apa yang dimaksud dengan agribisnis ?
a. Aktivitas pemasaran di bidang agribisnis
b. semua aktivitas usaha atau bisnis mulai dari pengadaan dan
penyaluran sarana produksi sampai kepada pemasaran produk-
produk yang dihasilkan oleh usaha tani dan agroindustri yang
saling terkait satu sama lain.
c. semua aktivitas usaha atau bisnis mulai dari penyaluran sarana
produksi sampai kepada pemasaran produk-produk yang
dihasilkan oleh usaha tani dan agroindustri yang saling terkait satu
sama lain.
d. semua aktivitas usaha atau bisnis mulai dari pengadaan dan
penyaluran sarana produksi sampai kepada pemasaran produk-
produk yang dihasilkan oleh usaha tani maupun agroindustry,
serta aktivitas penunjang yang saling terkait satu sama lain.
29
2. Apa yang dimaskud subsistem agribisnis hulu ?
a. kegiatan ekonomi atau bisnis (produksi dan perdagangan) yang
menghasilkan sarana produksi seperti bibit, pupuk, mesin
pertanian, dan industri obat-obatan (pestisida).
b. kegiatan ekonomi atau bisnis (produksi dan perdagangan) yang
menghasilkan alat-alat pertanian di hulu
c. kegiatan yang menghasilkan sarana produksi seperti bibit, pupuk,
mesin pertanian, dan industri obat-obatan (pestisida).
d. Semua kegiatan yang dilakukan di desa atau hulu untuk
mempersiapkan lahan pertanian
3. Subsistem hulu disebut juga subsistem …
a. Agribisnis pertanian
b. faktor input (pengadaan sarana produksi pertanian)
c. pemasaran
d. agroindustri
4. Kegiatan usaha yang termasuk dalam subsistem hulu adalah …
a. Pedagang rambutan
b. Toko pupuk
c. Pedagang sayur
d. Jasa keuangan
5. Yang tidak termasuk usaha atau kegiatan dibidang agribisnis adalah
a. Toko pupuk
b. Pedagang sayur
c. Pedagang obat
d. Koperasi
6. Yang dimaksud input produksi …
a. Semua kegiatan sebelum menanam
b. Barang yang menunjang terlaksananya kegiatan produksi.
30
c. bahan/sarana yang digunakan sebagai input dalam proses
produksi untuk menghasilkan output
d. Rangkaian kegiatan yang meliputi seluruh tahapan kegiatan
produksi barang dan atau jasa dari awal hingga akhir kegiatan
yaitu produk dapat dihasilkan.
7. Di bawah ini yang bukan merupakan faktor produksi, yaitu …
a. Tanah
b. Modal
c. Keahlian
d. Buah
8. Alat yang diperlukan untuk melakukan kegiatan usahatani dan atau
budidaya ternak antara lain ..
a. cangkul, arit, sprayer
b. cangkul, ember, air
c. Parang, pisau, mesin drill
d. Cangkul, arit, mesin drill
9. Yang termasuk sarana produksi, yaitu :
a. Bibit
b. Kayu
c. Buah
d. Wereng
10. Pengendalian terhadap organisme pengganggu tanaman dapat
dilakukan dengan cara kimiawi yaitu dengan mengunakan senyawa
kimia yang meracuni penyebab gangguan atau disebut dengan …
a. fungsida
b. peptisida
c. pestisida
d. insektisida
31
BAB III
Subsistem Usaha Tani (On Farm Agribusiness)
3.1 Ruang Lingkup
Subsistem usahatani adalah kegiatan yang memanfaatkan sarana
produksi yang telah tersedia untuk menghasilkan produk pertanian yang
memiliki nilai ekonomi. Usahatani adalah ilmu yang mempelajari cara petani
mengelola input atau faktor-faktor produksi (tanah, tenaga kerja, modal,
pupuk, benih) secara efektif, efisien dan kontinu untuk menghasilkan produksi
yang tinggi sehingga pendapatannya meningkat. Baik buruknya subsistem ini
akan berdampak langsung terhadap situasi keuangan subsistem input dan
subsistem keluaran agribisnis (W. David Downey dan Steven P. Erickson,
2009).
Penyediaan sarana produksi sangat penting untuk menunjang
terlaksananya kegiatan budidaya tanaman (usahatani). Kegiatan budidaya
tanaman dan atau ternak dapat berhasil dan berjalan lancar
jika sumber daya tersedia dalam jumlah yang memadai
ditunjang dengan suplai yang kontinyu. Penyediaan
sarana produksi diharapkan tepat jumlah dan tepat
waktu saat dibutuhkan yaitu menjelang kegiatan
budidaya akan dilakukan. Kegiatan budidaya tanaman
pada dasarnya adalah upaya untuk mengalokasikan input produksi secara
efisien untuk memperoleh pendapatan yang maksimum.
Keberhasilan kegiatan budidaya tanaman dipengaruhi oleh:
1. Lahan (luas lahan, status, elevasi, dan sebagainya).
2. Jenis tanaman (jenis, varietas, jumlah bibit yang ditanam, dan
sebagainya).
3. Sarana produksi yang digunakan ditinjau dari segi kuantitas,
kualitas, cara aplikasi, dan sebagainya.
4. Peralatan yang digunakan (sabit, cangkul, garu, dan sebagainya).
5. Kuantitas tenaga kerja, kualitas tenaga kerja, dan sebagainya.
32
3.2 Budidaya Tanaman
Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam budidaya tanaman
antara lain perbanyakan tanaman, persiapan lahan, penanaman,
pemeliharaan (penyiraman, penyiangan, penyulaman, pemupukan,
pengendalian hama dan penyakit, penjarangan, penanaman tanaman penutup
tanah, dan lain-lain), pemanenan, dan pasca panen.
1. Perbanyakan tanaman
Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara generatif
dan vegetatif. Perbanyakan secara generatif
dilakukan melalui penyemaian biji di persemaian. Penyemaian dilakukan
dengan menaburkan biji secara hati-hati dalam barisan dengan
pengaturan jarak antar barisan. Bibit dapat dipindahkan ke kantong plastik
dan dipelihara sampai siap ditanam di lahan.
2. Persiapan lahan
Metode yang digunakan untuk
melakukan persiapan lahan bermacam-
macam, tergantung dari kondisi fisik dari lahan yang akan ditanami. Pada
lahan bekas sawah, penyiapan lahan dilakukan secepatnya setelah panen
padi, baik tanpa pengolahan tanah maupun dengan pengolahan tanah.
Tanpa pengolahan tanah dapat dilakukan utamanya pada tanah yang
mempunyai tekstur ringan yaitu dengan membersihkan lahan (Syukur dan
Rifianto, 2013). Penyiapan lahan dengan sistem olah tanah dapat
dilakukan dengan bajak, traktor, sapi, kerbau, cangkul, dan lain- lain.
Lahan yang sudah dibersihkan, dibajak atau dicangkul, kemudian
dibiarkan terkena sinar matahari selama beberapa hari untuk mendorong
33
terjadinya dekomposisi bahan-bahan organik. Selanjutnya untuk budidaya
beberapa jenis tanaman perlu dibuatkan bedengan.
3. Penanaman
Penanaman benih atau bibit dilakukan dengan pengaturan jarak tanam di
dalam barisan dan jarak antar barisan tergantung pada sifat pertumbuhan
tanaman. Beberapa jenis tanaman memerlukan lanjaran (penopang).
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman dapat dilakukan dengan penyiraman, penyiangan,
pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, dan lain sebagainya.
Penyiraman dilakukan untuk menjamin kebutuhan air bagi tanaman dapat
terpenuhi dengan baik.
5. Pemanenan dan pasca panen
Pemanenan dapat dilakukan jika buah telah memenuhi kriteria panen.
Setelah panen, buah dapat disimpan atau diolah lebih lanjut menjadi
produk lainnya.
Silakan simak video menarik ini, pria lulusan ITS
menjadi petani milenial kentang melalui link
berikut : https://youtu.be/uqQIO7NE_dE
Nama akun : CapCapung
Judul video : lulusan ITS Memilih Jadi Petani Kentang
Dan Kembangkan Pertanian Di Kampung Hingga Ke
Mancanegara
34
3.3 Analisis Ekonomi Budidaya Tanaman
a. Teori Produksi
Dalam proses produksi pertanian atau budidaya dibutuhkan bermacam-
macam faktor produksi seperti tenaga kerja, modal, tanah dan manajemen
pertanian. Tenaga kerja meliputi tenaga kerja dalam keluarga dan luar
keluarga. Faktor produksi modal sering diartikan sebagai uang atau
keseluruhan nilai dari sumber-sumber ekonomi non manusiawi ( Mubyarto,
1994). Sering juga modal diartikan sebagai semua barang dan jasa yang
sudah di investasikan dalam bentuk bibit, obat- obatan, alat-alat pertanian
dan lain-lainnya sumbangan faktor produksi tanah dalam proses produksi
pertanian yaitu berupa unsur-unsur hara yang terkandung di dalamnya
yang menentukan tingkat kesuburan suatu jenis tanah. Faktor produksi
yang tidak kalah pentingnya dalam produksi pertanian adalah manejemen
pertanian yang berfungsi mengkoordinir faktor-faktor produksi lainnya agar
dapat menghasilkan output secara efisien (Tohir, 1993).
Dalam melakukan usaha pertanian, seorang pengusaha atau
petani akan selalu berfikir bagaimana ia mengalokasikan
sarana produksi (input) yang dimiliki seefisien mungkin untuk
mendapatkan hasil produksi yang maksimal. Dalam istilah
ekonomi pendekatan ini disebut dengan memaksimalkan
keuntungan atau profit maximization.
Di lain pihak, manakala petani dihadapkan pada keterbatasan biaya
dalam melaksanakan usaha, maka mereka tetap mencoba untuk
mendapatkan keuntungan dengan kendala biaya yang dihadapi petani,
sebagai akibat keterbatasan sumber ekonomi yang ia miliki. Suatu tindakan
yang dapat dilakukan adalah bagaimana memperoleh keuntungan yang
lebih besar dengan penekanan biaya produksi yang sekecil-kecilnya.
Pendekatan tersebut sering dikenal dengan istilah meminimumkan biaya
atau cost minimization.
35
Prinsip dari kedua pendekatan tersebut dapat dikatakan sama,
karena keduanya berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang
maksimum yaitu dengan mengalokasikan penggunaan input yang seefisien
mungkin. Kedua pendekatan tersebut mungkin dapat pula dikatakan
sebagai pendekatan serupa tapi tak sama . ketidakksamaan ini tentu saja
kalau dilihat dari "sifat" petani yang bersangkutan.
Petani besar atau pengusaha besar selalu atau seringkali berprinsip
bagaimana memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya karena tidak
dihadapkan pada keterbatasan biaya. Sebaliknya untuk petani kecil atau
petani subsisten sering bertindak dengan keterbatasan pemilikan
sumberdaya yang mereka miliki (Soekartawi, 1994).
Analisis ekonomi usaha budidaya tanaman dan atau ternak antara lain
berupa perhitungan biaya, penerimaan, pendapatan, dan titik impas.
b. Biaya Produksi
Biaya produksi didefinisikan sebagai pengeluaran yang dikeluarkan oleh
perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi atau biaya-biaya yang
dikeluarkan dalam proses produksi, baik secara tunai maupun tidak tunai.
Biaya usahatani adalah biaya yang dikeluarkan untuk sewa lahan, pembelian
semua sarana produksi, penyusutan alat, dan upah tenaga kerja serta biaya
lainnya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi.
Biaya produksi digolongkan dalam 2 kategori yaitu:
a. Biaya tidak tetap
b. Biaya tetap
Biaya tidak tetap atau biaya variable adalah biaya yang berubah
menurut tinggi rendahnya produksi. Rumus biaya tidak tetap total adalah:
TVC = ∑(Pxxi)
keterangan:
TVC = biaya tidak tetap total/Total Variabel Cost;
Px = harga faktor produksi variabel;
xi = jumlah faktor produksi variabel.
36
Pengeluaran yang tergolong biaya variabel antara lain biaya pembelian
sarana produksi (seperti pembelian benih, pupuk, pestisida, dan lain-
lain) dan biaya tenaga kerja.
Faktor produksi tenaga kerja adalah setiap usaha yang dikeluarkan
sebagian atau seluruh kemampuan jasmani dan rohani yang dimiliki manusia
dan atau kemampuan fisik mesin yang digunakan untuk kegiatan produksi
barang dan atau jasa. Ukuran untuk biaya beberapa jenis tenaga kerja dalam
kegiatan pertanian adalah:
1) Tenaga mesin. Contohnya adalah biaya sewa mesin pengolah lahan (hand
tractor), pengangkut hasil panen, dan pengolah hasil panen. Jika petani
menyewa hand tractor maka biaya sewa tergolong dalam biaya variabel.
Jika petani membeli hand tractor maka biaya pembelian tergolong dalam
biaya tetap.
2) Tenaga kerja manusia. Ukuran yang umum digunakan adalah upah harian,
upah bulanan, atau upah borongan. Jumlah tenaga kerja yang dicurahkan
pada suatu kegiatan diukur dengan hari kerja pria. Konversi berdasarkan
ukuran: 1 hari orang kerja (HOK) pria = 7 jam kerja; 1 HOK wanita = 0,7
HOK pria; dan 1 HOK anak-anak = 0,5 HOK pria.
Contoh
Suatu kegiatan dilakukan seorang pria dengan waktu kerja 4 jam hari-1
selama 5 hari dan seorang wanita dengan waktu kerja 3 jam hari-1 selama 1
hari.
Tenaga kerja pria=(4 jam hari-1 x 5 hari x1HOK pria) : 7 jam kerja =2,8 HOK.
Tenaga kerja wanita = (3 jam hari-1 x 1 hari x 0,7 HOK pria) : 7 jam kerja =
0,3 HOK.
Biaya tetap adalah biaya tetap yang dikeluarkan produsen berapapun
jumlah produk yang dihasilkan. Rumus biaya tetap adalah:
TFC = k
37
keterangan:
TFC = biaya tetap total/Total Fixed Cost;
k = konstanta.
Pengeluaran yang tergolong biaya tetap antara lain biaya sewa lahan, sewa
gedung, dan penyusutan alat. Biaya penyusutan alat dihitung untuk alat
yang dibeli dan dimiliki petani. Rumus biaya penyusutan adalah:
Harga beli-harga jual
Biaya penyusutan = Jumlah alat x ________________ x Masa pakai
Umur teknis
Contoh
Petani membeli 10 buah cangkul untuk kegiatan usahatani 1 ha untuk
1 musim tanam. Harga beli cangkul Rp100.000,00 buah-1. Umur teknis
cangkul adalah 4 tahun. Umur teknis adalah jangka waktu di mana alat masih
dapat berfungsi dengan baik. Petani tidak menjual cangkul tersebut setelah
cangkul rusak misalnya hingga umur 4 tahun. Cangkul digunakan sejak masa
pengolahan lahan hingga panen atau sekitar 4 bulan.
Biaya penyusutan cangkul = = 10 buah ha-1 mt-1 x ((Rp100.000,00 buah-1
– 0) : (4 tahun x 12bulan)) x 4 bulan = Rp 83.333,00 ha-1 mt-1
Biaya total/Total Cost (TC) adalah penjumlahan dari biaya tetap dan
biaya variabel. Rumus biaya total adalah:
TC = TFC + TVC
keterangan:
TC = biaya total/Total Cost;
TFC = biaya tetap total/Total Fixed Cost;
TVC = biaya variabel total/Total Variabel Cost.
38
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menghitung biaya usahatani
antara lain:
1) Ukuran. Perlu standarisasi ukuran dalam melakukan analisis ekonomi
usahatani misalnya biaya per hektar atau per tahun.
2) Kualitas faktor produksi dan hasil produksi. Perlu memperhitungkan
kualitas hasil produksi sebagai contoh apakah dalam bentuk gabah kering
giling atau beras. 3) Kuantitas faktor produksi dan hasil produksi. Apakah
faktor produksi yang digunakan dalam satu kali musim tanam atau
beberapa kali musim tanam? Apakah panen dilakukan satu kali atau
beberapa kali?
4) Harga beli dan harga jual. Petani kadangkala membeli faktor produksi
beberapa kali dalam satu kali musim tanam dengan harga beli yang
berbeda-beda.
5) Perhitungan ganda. Pada usahatani dengan dua atau lebih jenis tanaman,
suatu kegiatan dapat dilakukan untuk kedua jenis tanaman misalnya
pemupukan dan penyiangan. Perhitungan ganda harus dihindari saat
menghitung biaya tenaga kerja.
3. Penerimaan dan Pendapatan
Penerimaan adalah hasil penjualan dari sejumlah hasil produksi
tertentu kepada pihak lain. Rumus untuk menghitung penerimaan adalah:
Penerimaan = Harga jual x Jumlah produksi
Jika kegiatan budidaya berhasil maka akan diperoleh produktivitas yang tinggi
dan sekaligus juga pendapatan yang tinggi. Pendapatan mempunyai dua
pengertian yaitu:
1. Pendapatan kotor adalah penerimaan seseorang atau suatu badan usaha
selama periode tertentu sebelum dikurangi dengan pengeluaran-
pengeluaran usaha.
2. Pendapatan bersih adalah sisa penghasilan dan laba setelah dikurangi
semua biaya, pengeluaran, dan penyisihan untuk depresiasi serta
kerugian-kerugian yang bisa timbul.
39
Pendapatan merupakan jumlah seluruh uang yang akan diterima oleh
seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu. Pendapatan
terdiri dari upah atau penerimaan tenaga kerja, pendapatan, dan kekayaan
seperti sewa, bunga serta pembayaran transfer atau penerimaan dari
pemerintah (tunjangan sosial) (Samuel dan Nordhaus, 2003). Laba total (total
profit)/keuntungan/pendapatan: keseluruhan jumlah laba yang diterima
karena dijualnya sejumlah produk tertentu atau penerimaan dikurangi dengan
biaya produksi. Dengan demikian pendapatan dirumuskan sebagai berikut:
Pendapatan = Penerimaan total – Biaya produksi total
3.4 Titik Impas
Titik impas/Break Even Point (BEP) adalah suatu keadaan pada saat
hasil yang diperoleh sama dengan modal yang dikeluarkan atau disebut titik
impas. Fungsi dari analisis BEP antara lain untuk mengetahui saat usaha tidak
mendapat keuntungan dan juga tidak mengalami kerugian (titik balik modal).
Pengertian titik impas menurut Suratiyah (2006):
1. Titik impas harga penjualan untuk mengetahui berapa besar harga
penjualan yang layak untuk produk yang dihasilkan agar tidak menderita
kerugian.
2. Titik impas penerimaan adalah batas minimal penerimaan yang harus
diterima sehingga usahanya hanya dapat mengembalikan modal.
3. Titik impas volume produksi adalah titik impas produksi merupakan batas
minimum produksi yang harus dihasilkan dari sejumlah biaya produksi
yang telah dikeluarkan selama proses produksi terhadap harga pokok
yang berlaku. Rumus titik impas adalah:
4.
BEP = biaya tetap
1 – (biaya variable : hasil penjualan)
40
BEP harga produkP= Biaya produksi total
BEP volume produksi = produksi total
Biaya produksi total
Harga jual ditingkat petani
Evaluasi Materi 3
Pilihlah satu jawaban yang benar dari beberapa alternatif jawaban yang
tersedia.
1. Apa yang dimaksud subsistem usahatani …
a. pengadaan sarana dan penyaluran sarana produksi pertanian antara
lain terdiri dari benih, bibit, makanan ternak/tumbuhan, pupuk, obat
pemberantas hama dan penyakit, lembaga kredit, bahan bakar, alat-
alat mesin, dan peralatan produksi pertanian.
b. kegiatan yang memanfaatkan sarana produksi yang telah tersedia
untuk menghasilkan produk pertanian yang memiliki nilai ekonomi.
c. Kegiatan usaha untuk mengolah produk pertanian menjadi barang
setengah jadi atau barang jadi
d. Kegiatan usaha untuk memperdagangkan sarana produksi
2. Yang tidak termasuk kegiatan usahatani adalah ...
a. Penanaman
b. Persiapan lahan
c. pemasaran
d. Pemupukan
3. Keberhasilan kegiatan budidaya dipengaruhi oleh ...........
a. karakteristik lahan.
b. kegiatan pengolahan hasil
41
c. pemasaran hasil
d. manajemen pemasaran
4. Yang tidak termasuk faktor produksi adalah …
a. Lahan
b. Tanah
c. Modal
d. Pinjaman
5. Suatu keadaan pada saat hasil yang diperoleh sama dengan modal yang
dikeluarkan disebut …
a. profit maximization
b. Break event poin (BEP)
c. Total fix cost (TFC)
d. Revenue
6. Penerimaan seseorang atau suatu badan usaha selama periode tertentu
sebelum dikurangi dengan pengeluaran-pengeluaran usaha disebut …
a. Pendapatan kotor
b. Pendapat bersih
c. Revenue
d. Break event poin (BEP)
7. Yang tidak termasuk biaya variabel adalah …
a. pembelian benih
b. pembelian pupuk
c. pembelian pestisida
d. pembelian traktor
8. Yang termasuk biaya tetap adalah …
a. pembelian benih
b. pembelian pupuk
42
c. pembelian pestisida
d. pembelian traktor
9. Penyediaan sarana produksi di lahan sangat penting untuk menunjang
terlaksananya kegiatan …
a. Budidaya
b. Distribusi
c. Pemasaran
d. Pengolahan produk
10. Seorang petani menghasilkan cabe 1 ton. Harga per kilo nya
adalah Rp 50.000, berapakah jumlah penerimaan petani tersebut ?
a. Rp 500.000
b. Rp 5.000.000
c. Rp 50.000.000
d. Rp 500.000.000
43
BAB IV
Subsistem Hilir (Down-Stream Agribusiness)
Subsistem agribisnis hilir merupakan rangkaian kegiatan usaha yang
mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan, baik dalam bentuk
siap dimasak atau digunakan (ready to cook/ready for use) maupun siap
dikonsumsi (ready to eat) beserta kegiatan pemasaran dan perdangannya di
pasar domestik maupun internasional.
Kegiatan ekonomi yang termasuk dalam subsistem agibisnis hilir ini
antara lain adalah industri pengolahan makanan, industri pengolahan
minuman, industri pengolahan serat (kayu, kulit, karet, sutera, jerami) industri
jasa boga industri farmasi dan bahan kecantikan, dan lain-lain beserta
kegiatan perdagangannya.
Contoh:
• Produk makanan dan minuman
• Industri serat alam
• Industri biofarmaka
• Industri agro-wisata dan estetika
4.1 Pengolahan Hasil (Agroindustri)
Agroindustri adalah suatu perusahaan yang mengolah bahan baku
pertanian, termasuk tanah dan tanaman serta ternak menjadi produk olahan,
baik produk antara (intermediate product) maupun produk
akhir (finish product (Arifin, 2004). Kegiatan
pengolahan sangat bervariasi, mulai dari
membersihkan dan grading (penanganan pasca
panen), industri pengolahan makanan dan
minuman, industri biofarmaka, industri bioenergi, industri
pengolahan hasil ikutan (by-product) serta agrowisata. Agroindustri
memproses bahan yang berasal dari tumbuhan atau hewan melalui
pengolahan, pengawetan, perubahan fisik, perubahan kimia, pengepakan,
44
dan distribusi pemasaran. proses dapat dilakukan mulai dari level yang paling
rendah seperti pencucian, sortasi, dan proses yang menyebabkan perubahan
kimia, struktur, fisik, dan lain-lain.
Agroindustri dapat dikategorikan berdasarkan tingkatan bahan baku
yang diubah. Tujuan dari perubahan bentuk ini adalah untuk membuat
menjadi bentuk yang lebih berguna, meningkatkan daya simpan, mebuat
bentuk yang lebih mudah diangkut, dan meningkatkan nilai gizi. Dalam proses
pengubahan bahan baku tersebut tentu memerlukan syarat utama anatara
lain modal investasi, teknologi, dan manajerial.
kegiatan agroindustri dapat berlangsung di tiga tempat, yaitu :
1. Dalam rumah tangga yang dilakukan oleh anggota rumah tangga
petani penghasil bahan baku.
2. Dalam bangunan yang terpisah dari tempat tinggal tetapi masih dalam
satu pekarangan, dengan menggunakan bahan baku yang dibeli di
pasar, dan menggunakan tenaga kerja terutama dari keluarga.
3. Dalam perusahaan kecil, sedang atau besar yang menggunakan buruh
upahan dan modal yang lebih intensif dibandingkan dengan industri
rumah tangga
Karakteristik bahan baku pada agroindustri terbagi tiga, antara lain
musiman, tidak tahan lama, dan banyak jenisnya (variatif) (Austin, 1981):
45
1. Musiman
Bahan baku untuk agroindustri banyak terdapat pada akhir siklus produksi
tanaman/ ternak. Meskipun pasokan bahan baku biasanya tersedia hanya
selama satu atau dua periode singkat selama tahun, namun permintaan untuk
produk relatif konstan sepanjang tahun. Hal tersebut berbeda dengan
produsen non agroindustri seperti pabrik makanan yang harus bersaing
dengan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan dan masalah
manajemen persediaan, penjadwalan produksi, dan koordinasi antara
pengolahan, produksi, dan pemasaran segmen dari rantai pertanian ke
konsumen.
2. Tidak tahan lama/ mudah rusak
Berbeda dengan bahan baku yang digunakan dalam nonagroindustri, bahan
baku pertanian agroindustri bersifat tidak tahan lama dan mudah rusak. Oleh
karena itu, produk agroindustri membutuhkan kecepatan yang lebih besar dan
perhatian dalam menangani dan menyimpan, yang mana kegiatan ini dapat
mempengaruhi kualitas gizi makanan produk dengan mengurangi kerusakan
atau kerusakan bahan baku. Namun, untuk pengolahan secara sederhana
dapat membuat produk pertanian lebih bertahan lama seperti asinan buah-
buahan, dendeng ikan dan daging, ikan asin, telur asin, saos tomat, dan lain-
lain.
3.Beragam
Karakteristik terakhir dari agroindustri adalah beragamnya kuantitas dan
kualitas/ nilai bahan baku. Ketidakpastian kuantitas dikarenakan perubahan
cuaca atau kerusakan tanaman atau ternak dari penyakit. Kuantitas yang
beragam ini menyebabkan terjadinya variasei nilai atau harga pokok
sepanjang tahun. Sedangkan beragamnya kualitas dikarenakan standar baku
bahan baku yang sulit dipahami, meskipun telah ada kemajuan dalan rekayasa
genetik hewan dan tumbuhan. Beragamnya bahan baku ini memberikan
tekanan tambahan bagi agroindustri dalam penjadwalan produksi dan
pelaksanaan pengawasan kualitas.
46
Berikut contoh agroindustri yang dapat dilihat
memalui link youtube di bawah ini :
https://youtu.be/-aZOSWWofbc
nama akun : EDUTAINMENT TRANS7 OFFICIAL
judul video : Kepoin Pabrik Pembuatan Selai Nanas | SI UNYIL
4.2 Peranan Agroindustri bagi Perekonomian Indonesia
Dalam kerangka pembangunan pertanian, agroindustri merupakan
penggerak utama perkembangan sektor pertanian, terlebih dalam masa yang
akan datang posisi pertanian merupakan sektor andalan dalam pembangunan
nasional sehingga peranan agroindustri akan semakin besar. Agroindustri
memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi suatu
negara dikarenakan oleh 4 faktor. Pertama, agroindustri adalah metode utama
transformasi bahan mentah pertanian menjadi produk akhir yang dapat
dikonsumsi. Kedua, agroindustri merupakan sektor yang banyak dilaksanakan
di negara berkembang. Ketiga, produk agroindustri menjadi produk ekspor
utama bagi negara berkembang. Keempat, produk agroindustri memegang
peranan penting bagi pemberian nutrisi bagi masyarakat.
Pengembangan agroindustri diarahkan agar dapat tercipta keterlibatan
yang erat antara sektor pertanian dan sektor industri yang dapat
menumbuhkan kegiatan ekonomi, khususnya di pedesaan. Pengembangan
suatu usaha di pedesaan ditujukan untuk membantu petani dalam
meningkatkan pendapatan melalui kegiatan pengolahan, sekaligus
47
memperluas kesempatan kerja. Bertambahnya lapangan kerja akan menyerap“
angkatan kerja yang ada sehingga dapat mengurangi pengangguran.
Agrondustri sebagai sektor bisnis tidak terlepas dari tujuan utama pelaku-
pelaku usaha yaitu meningkatkan keuntungan dan nilai tambah.
“ Agroindustri mempunyai peranan penting
karena mampu menghasilkan nilai tambah
(added value) dari produk pertanian
Peranan agroindustri dalam pembangunan nasional lebih jelasnya dapat
diuraikan sebagai berikut :
1. Pintu masuk pertanian
Sebagian besar produk pertanian, termasuk
produk subsisten, yang diproses sampai batas
tertentu. Melihat hal tersebut, sebuah negara tidak
dapat memanfaatkan sumber daya pertanian tanpa
agroindustri. Sebagai contoh adanya mesin penggilingan beras. Pengolahan
oleh mesin tersebut menghemat waktu dan tenaga dan menjadi produk yang
penting bagi konsumen.
Agroindustri tidak hanya reaksioner, mereka juga menghasilkan
permintaan baru/ lain ke sektor pertanian untuk output pertanian yang lebih
banyak. Sebuah pabrik pengolahan dapat membuka peluang tanaman baru
kepada petani, dengan demikian menciptakan pendapatan tambahan. Dalam
beberapa kasus lain bahkan banyak petani subsisten yang memasuki pasar
komersial.
Dalam program pembangunan daerah, agroindustri telah menjadi alat
pertimbangan ekonomi untuk pengembangan infrastruktur pedesaan seperti
jalan penghubung yang menyediakan akses ke bahan baku, instalasi listrik
untuk pabrik operasi, atau fasilitas irigasi. Agroindustri juga dapat berfungsi
48
sebagai poin utama penggerakan ekonomi melalui koperasi untuk petani kecil
dan masyarakat yang terkai kegiatan pembangunan.
Hal terpenting yang perlu menjadi catatan adalah bahwa
terjadinya indusrialisasi pedesaan sangat mempengaruhi rangsangan
pengembangan agroindustri di masyarakat pedesaan. Pengembangan ini juga
Ketika agroindustri harus didukung oleh pasrtisipasi masyarakat.
berkembang, masyarakat Ketika agroindustri berkembang, masyarakat
pada umumnya akan meningkatkan usaha
pada umumnya akan taninya. Dengan demikian kegiatan
meningkatkan usaha agroindustri dan pertanian ini menyerap
taninya.
banyak tenaga kerja dibandingkan industri
manufaktur yang memperkerjakan kurang dari angkatan kerja.
2. Landasan sektor Manufaktur
Pentingnya agroindustri di sektor manufaktur negara-
negara berkembang sering tidak disadari
sepenuhnya. Agroindustri sangat penting bagi negara dengan pendapatan
rendah dibandingkan negara industri maju. Tahap awal industrialisasi dapat
terlihat dari pemberdayaan sumber daya alam suatu negara. Meskipun sektor
manufaktur sedikit sekali berperan terhadap pengembangan industri, namun
tidak pada agroindustri. Semakin banyak jumlah penduduk akan
meningkatkan kebutuhan pertumbuhan industri makanan dan minuman
olahan. Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan permintaan konsumen,
perusahaan manufaktur untuk agroindustri seperti mesin pertanian, mesin
pengolahan akan ikut meningkat. Dan lebih jauh, perkembangan agroindustri
dalam sektor manufaktur dapat meningkatkan kapasitas lapangan pekerjaan
49
3. Penggerak Ekspor
Pada negara berkembang sumber daya alam merupakan hal yang
paling penting dalam mempengaruhi kegiatan pertanian. Hasil pertanian
tersebut terbukti memiliki permintaan internasional yang tinggi karena
kapasitas produksi sering melebihi kebutuhan konsumsi lokal. Berdasarkan hal
ini, hasil pertanian tersebut memiliki peluang untuk diekspor. Oleh karena itu
sebuah negara harus mampu mengolah bahan baku menjadi bentuk yang
sesuai untuk ekspor. Nilai tambah ekspor produk agroindustri cenderung lebih
tinggi dibandingkan produk manufaktur lain karena ekspor produk lain
tersebut masih bergantung pada komponen impor. Ekspor produk agroindustri
dari waktu ke waktu cenderung meningkatkan persentase nilai tambah
domestik melalui peningkatan pengolahan bahan baku. Misalnya; Pengolahan
kapas diperluas untuk tekstil tenun dan pakaian manufaktur, bangkai sapi
yang diolah menjadi produk daging segar potong atau produk kalengan, biji
kopi diubah menjadi produk kopi bubuk instan.
4. Perbaikan nutrisi
Telah diperkirakan bahwa lebih dari satu milyar orang pada negara
berkembang mengalami kekurangan gizi. Dengan menyediakan pendapatan
dan lapangan kerja bagi petani berpenghasilan rendah dan agroindustri dapat
memperbaiki pola makan masyarakat dan merangsang peningkatan produksi
pangan bagi perekonomian dalam negeri. Selain itu, industri pengolahan
makanan sangat penting bagi kepastian gizi masyarakat akibat
ketergantungan mereka pada saluran makanan komersil. Proyek agroindustri
dapat memiliki konsekuensi nilai gizi yang buruk apabila tidak hati-hati
dirancang, dan tidak diperiksa/ diawasi oleh para ahli dibidangnya untuk
mencegah efek yang tidak diinginkan.
4.3 Konsep Value Added
Nilai tambah atau value added adalah suatu pertambahan nilai suatu
komoditas karena mengalami proses pengolahan, pengangkutan ataupun
penyimpanan dalam suatu produksi. Dimana barang yang telah hilang
50