The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fitrifitrisalsabilah, 2022-09-23 02:42:37

MODUL DASAR-DASAR AGRIBISNIS

BAB VIII
e-Agribusiness1
8.1 Teori e-Agribusiness

Agribisnis lazimnya didefinisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan
mulai proses produksi, panen, pasca panen, pemasaran dan kegiatan lainnya
yang berkaitan dengan kegiatan pertanian tersebut (Soekartawi, 2003).
Karena peran ICT (Information, Communication and Technology) juga
merambah pada kegiatan pertanian, maka muncullah istilah e-Agriculture dan
e-Agribusiness. Jadi e-Agriculture dan e-Agribusiness pada dasarnya adalah
pemanfaatan ICT dalam bidang pertanian atau bisnis di bidang pertanian.
Dengan kata lain e-Agribusiness adalah e-business di bidang pertanian.
Definisi serupa juga disampaikan oleh Ingale et al. (2007).

Sebelum menlanjutkan ke pokok bahasan yang kedua
ada baiknya Anda menonton video pada link di bawah

berikut https://youtu.be/FgAVg0Amd98
Judul Video : Inilah Layanan TaniInstan dari TaniHub!

Sudah Coba?
Nama Akun : TaniHub

1 Soekartwai. 2007. e-Agribusiness : Teori dan Aplikasinya. Makalah Seminar Nasional
Teknologi Informasi (SNATI). Yogyakarta

101

8.2 Perkembangan Teori ’e-Agribusiness’
Seperti dituliskan sebelumnya, e-Agribusiness adalah e-Commerce atau

e- business di bidang bisnis pertanian. Lantas
apakah itu ‘e- business?’ Ditinjau dari kata ’e’
(elektronika) dan ’business’ (bisnis), maka
pengertian e-business dapat diartikan sebagai
kegiatan bisnis melalui jasa elektronika. Karena

kegiatan bisnis itu pada dasarnya adalah trasaksi
barang dan jasa, maka e- business adalah transaksi barang dan jasa dengan
menggunakan jasa elektronika. Bila komoditasnya pertanian, maka sering
digunakan istilah e-Agribusiness. Karena perkembangan teknologi yang begitu
besar, maka penggunaan jasa elektronika dalam bisnis juga berkembang
secara pesat. Antara lain, dari teknologi audio dan video ke teknologi
komputer; kemudian kini berkembang menuju teknologi web atau internet.
(Soekartawi, 2007)

Lazimnya teknologi ini dikelompokkan menjadi tiga besar, yaitu
teknologi audio-video, komputer dan komputer yang terakses internet. Ketiga
hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Soekartawi, 2006):

1. Pengertian ‘Teknologi Audio dan Video’, dalam
konteks ini, adalah telepon, voice mail
telephone, radio, audio, televisi, vidiotape,
video text, video messaging. Dengan
teknologi audio dan video, maka bukan saja
dokumen perdagangan barang dan jasa saja
yang dapat dilaksanakan dengan cara ini, tetapi
juga bahan promosinya dapat disimpan di audio-kaset, video-kaset,
dsb-nya.

102

2. Pengertian ‘Teknologi Komputer’ atau sering disebut ‘Computer
Assisted Technology’ dalam konteks ini adalah
sistem transaksi barang dan jasa yang
dilaksanakan dengan menggunakan jasa
komputer; atau sering dikenal pula dengan
istilah Computer Assisted Trading. Penggunaan
multimedia seperti animasi, graphics, power

point, VCD, CD-ROM, dan berbagai software komputer sering
digunakan dalam cara ini.
3. Pengertian ‘Teknologi Web atau Internet’ dalam
perdagangan sering pula dikenal dengan nama ‘On-
line Trading’ atau ‘Web-based Trading’ (WBT). Cara
ini banyak dipakai dalam sistem perdagangan
sekarang ini dengan istilah yang lebih dikenal dengan
nama ‘e-commerce’. Dalam Web, berbagai fasilitas Data Information
Technologies (misalnya: bulletin board, Internet, e-mail, tele-
collaboration, chatting) dapat dimanfaatkan. Kini, sistem perdagangan
yang menggunakan piranti lunak (software) omputer menjadi semakin
tersedia, CISCOM, SCORM, ORACLE, EVALUTECH, dsb-nya.

Penjelasan tentang e-commerce atau e- business seperti di atas juga
diperkuat oleh National Institute of Standards and Technology (NIST)
Department of Commerce Amerika Serikat dalam mendefinisikan e-commerce,
yaitu:

‘...e-commerce or e-business is any activity that utilizes some form of
electronic communication in the inventory, exchange, advertisement,

distribution, and/or payment for goods and services...’.

Dalam perkembangan lebih lanjut, maka e-commerce/e-business ini
lebih banyak menggunakan jasa mobile-phone dan internet. Karena itu banyak
sekali dijumpai iklan, penawaran dan pembelian barang dan jasa melalui
internet. Bahkan banyak pula dijumpai banyak perusahaan yang sudah

103

mempunyai Website sendiri. Pembahasan soal ini juga pernah disampaikan
oleh penulis (Soekartawi, 2006, dan Sudaryanto and Soekartawi, 2006).
Untuk alasan praktis, maka perkembangan teori e-Agribusiness barangkali
dapat dijelaskan:

1. Kalau kegiatan bisnis menggunakan jasa informasi elektronik,
dinamakan e-Business.

2. Kalau e-Business tersebut sebagian besar (>50%) bergerak di bidang
pertanian, maka dinamakan e-Agribusiness.

Kalau disimak lebih lanjut, maka perkembangan e-Agribusiness juga
mengikuti kaidah yang umum dipakai untuk menjelaskan teori proses adopsi-
inovasi, di mana mereka cepat menguasai informasi, maka mareka itulah yang
cepat pula memperoleh kesempatan-kesempatan terlebih dahulu. Apakah itu
kesempatan sosial, ekonomi, politik atau lainnya. Dengan kata lain makin
besar jarak antara mereka yang menguasai dan yang tidak menguasai
informasi (sering dikenal dengan istilah digital divide), makin kurang
menguntungkan bagi tujuan pembangunan. Untuk itu digital divide ini perlu
dipangkas.

8.3 Pentingnya e-Agribusiness
e-Agribusiness menjadi penting dan banyak dipakai para businessmen

bukan saja untuk produk- produk pertanian tetapi juga produk lain yang
berkaitan dengan pertanian, misalnya bidang jasa pertanian (Soekartawi,
2005). Keunggulan e- Agribusiness, antara lain adalah karena pertimbangan
sebagai berikut:
• Mengurangi biaya.

Sebagai contoh: Komunikasi bisnis yang semula dilaksanakan dengan
menggunakan telpon jarak jauh, fax dan surat-menyurat dapat digantikan
dengan mengirim e-mail, chatting sehingga biaya menjadi lebih murah.
• Menghemat waktu.
Komunikasi dengan cara- cara lama seperti penggunaan telpon, fax dan
surat-menyurat tentu memerlukan waktu yang lama. Maka dengan

104

memanfaatkan internet, apakah itu melalui teknik mengirim e-mail, teknik
chatting, maka waktu dapat dihemat.
• Mengintegrasikan supply chain secara lebih mudah dan singkat.
Dengan memanfaatkan internet, maka betapapun kompleksnya mekanisme
perdagangan (misalnya supply chain), dapat disederhanakan dengan
mekanisme yang tersedia di internet.
• Menjadi ajang promosi yang ‘mendunia’ dengan biaya yang
murah.
Dengan memanfaatkan internet, maka perusahaan tersebut menampakkan
market exposure yang dapat diketahui oleh masyarakat dunia
• Merupakan diversifikasi pembentukan keuntungan perusahaan
Disamping keuntungan yang dihasilkan dari cara-cara lama yang tidak
menggunakan internet, kini ada alternatif baru, yaitu bisnis dengan
memanfaatkan internet yang merupakan revenue stream baru.
• Memperpendek waktu product cycle
Dengan memanfaatkan internet, maka product cycle menjadi lebih pendek,
sehingga proses berbisnis menjadi lebih banyak, dan pada akhirnya
keuntungan juga akan lebih besar.
• Meningkatkan customer loyality
Dalam bisnis modern, maka masalah kepuasan pelanggan menjadi acuan.
Makin loyal pelanggan, makin baik bagi perkembangan perusahaan.
Pemanfaatan internet, dalam banyak kenyataan, mampu meningkatkan
loyalitas pelanggan ini.

Menurut Soekartawi (2002) dalam bukunya ’Manajemen Pemasaran
Hasil-Hasil Pertanian: Teori dan Aplikasinya’ menyatakan bahwa e-
Agribusiness itu adalah suatu alat saja untuk memasarkan produk-produk
pertanian melalui keunggulan internet. Karena merupakan alat, maka e-
Agribusiness akan berhasil atau tidak, amat tergantung dari:

• Koneksi internetnya (apakah komputernya tersambung dengan internet
secara baik dan cepat);

105

• Kualitas alatnya itu sendiri (software yang dipergunakan dan tampilan
serta kelengkapan informasi yang tersedia); dan

• Bagaimana kualitas orang yang mengaplikasikan alat tersebut (sangat
tergantung dari kepiwaian orang yang mengoperasikannya)

8.4 Mekanisme e-Agribusiness

Ada tiga aktor dalam mekanisme e-

Agribusiness ini, yaitu peran produsen, peran

konsumen dan peran media.

a) Peran Produsen

Produsen menawarkan produknya melalaui internet. Tentu saja agar

promosi penjualan ini dapat menarik minat konsumen, maka peran

penampilan, peran kelengkapan informasi yang tersedia, peran

kemudahan dan juga peran harga barang menjadi penting.

b) Peran Konsumen

Sebagai calon pembeli, konsumen berhak untuk memperoleh informasi

yang lengkap, agar tidak kecewa dikemudian hari. Informasi ini dapat

berupa harga, kualitas, cara pengiriman barang, berapa hari barang

dikirim, cara pembayaran, dan sebagainya.

c) Peran Media

Penampilan informasi di media internet harus disusun dan ditampilkan

sedemikian rupa agar menarik perhatian konsumen. Informasi yang ada

di media bukan saja harus lengkap tetapi juga bisa menimbulkan

keinginan calon konsumen untuk membeli. Disini peran ahli internet, ahli

komputasi dan ahli teknologi informasi menjadi penting.

106

Dalam banyak hal juga tersedia fasilitas ’e- shopping’ atau belanja
melalui internet. Dalam konteks ini, konsumen yang mau membeli barang,
dapat memilih pembelanjaannya atau barangnya melalui cara yang disebut
dengan ‘shopping cart (SC)’. Dalam SC ini data barang-barang yang telah
dipilih dan akan dibeli dapat disimpan. Berdasarkan data di SC inilah maka
konsumen akan membayar.

Dengan demikian teknik pembelian di e- Agribusiness ini mirip dengan
kalau kita belanja di pasar swalayan (supermaket). Pembeli mengambil kereta
dorong untuk tempat barang-barang yang akan dibeli. Kalau nantinya sudah
dekat dengan tempat pembayaran atau pada saat pembayaran, kemudian
pembeli tidak jadi membeli, maka barang dikeluarkan dari kereta dorong.
Dalam konteks e-shopping, hal ini dilakukan dengan melakukan klik ’cancel’.

Begitu pula dengan cara pembelian melalui internet. Disitu
menggunakan apa yang dikenal dengan istilah ‘shopping cart’, yang biasanya
berupa formulir dalam web, dan dibuat dengan kombinasi CGI (Common
Gateway Interface), database, dan HTML (HyperText Markup Language).
Barang- barang yang sudah dimasukkan ke ’shopping cart’ masih bisa
dikeluarkan dari daftar yang ada di ’shopping cart’ (atau lazim dinamakan di-
cancel), manakala pembeli berniat untuk membatalkan membeli barang
tersebut.

Selanjutnya, bila saja pembeli ingin membayar barang yang akan dibeli,
maka pembeli diharuskan mengisi formulir transaksi pembelian. Biasanya
formulir ini juga dapat dipakai apakah pembeli akan membayar melalui
transfer uang atau melalui kartu kredit. Karena itu di formulir tersebut ada
bagian atau kolom yang menanyakan identitas pembeli serta nomor kartu
kredit. Agar keamanan dapat dijaga dan kartu kredit tidak disalah-gunakan,
maka pelaksana e-Agribusiness senantiasa menjaga kredibilitas. Misalnya,
agar informasi yang tertulis di formulir pembelian atau pembayaran tersebut
tidak disalahgunakan (bila jatuh ke orang yang tidak bertanggung jawab),
maka pihak penyedia jasa e- Agribusiness lazimnya mengusahakan agar
pengiriman data pembelian atau pembayaran tersebut berjalan secara aman,

107

dengan menggunakan standar keamanan (security) tertentu. Hal seperti ini
memang harus dilakukan.

Setelah proses pembayaran selesai, maka kini tiba gilirannya produsen
mengirim barang. dapat dilaksanakan melalui jasa pos, jasa angkutan darat,
laut atau jasa angkutan lainnya ke rumah pembeli. Teknik seperti ini sering
pula dinamakan dengan istilah ’cybershop’ atau online shop’. Lazimnya setelah
barang diterima, maka pembeli diwajibkan untuk mengirim konfirmasi kalau
barangnya sudah diterima. Protes atau complaint biasanya juga diberikan
dalam tenggang waktu tertentu.

8.5 Kendala dalam e-Agribusiness dan solusinya
Walaupun e-Agribusiness mempunyai kelebihan atau keunggulan yang

luar biasa, namun e-Agribusiness juga mempunyai kelemahan- kelemahan
tertentu. Kelemahan ini, antara lain dapat
dituliskan sebagai berikut:
a) Tidak semua tempat tersambung dengan fasilitas jaringan internet. Jadi

masalah tersedianya infrastruktur ini menjadi amat penting.
b) Tidak semua konsumen dapat melakukan transaksi dengan teknik e-

Agribusiness ini. Hal ini disebabkan mungkin karena ketidak-tahuan dan
karena melakukan suatu hal yang tidak biasa atau tidak lazim.
c) Tidak semua tempat tersedia piranti lunak atau software untuk e-
Agribusiness ini. Kalaupun juga ada, sering juga masih mahal. Memang
kini sudah mulai banyak tersedia software software khusus untuk
membuat sistem e- Agribusiness ini, seperti Intershop Online (produk
Intershop Communications), Merchant Server (produk Microsoft Corp),
Electronic Commerce Suite (produksi iCat), dan sebagainya.
d) Tidak semua orang mempunyai kartu kredit. Kalau juga mempunyai kartu
kredit, kadang- kadang banyak konsumen yang masih ragu, karena
pertimbangan keamanan. Khawatir kalau informasi kartu kredit yang
diberikan akan disalah-gunakan pihak lain yang tidak bertanggung jawab.
e) Kesulitan yang disebabkan karena ciri produk pertanian itu sendiri,
misalnya sifatnya bulky (volumenya besar tetapi nilainya kecil), produknya

108

kadang-kadang musiman, standarisasi antar negara mungkin berbeda,
dsb- nya.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Banyak cara untuk mengatasi
berbagai kendala dalam e-Agribusiness. Teknologi sepertinya saling berlomba,
Ada masalah, ada saja bagaimana caranya mengatasi masalah tersebut.
Begitu pula dengan berbagai masalah yang muncul pada e- Agribusiness ini.
a) Masalah Pembayaran

Kini masalah pembayaran yang selama ini diragukan konsumen adalah
masalah yang berkaitan dengan apakah ada alternatif pembayaran selain
dengan pembayaran melalui kartu kredit. Ada beberapa alternatif
pembayaran, yaitu:
• Mendaftarkan kartu kredit agar kartu kredit tersebut dikenal terlebih

dahulu. Jadi pihak penjual juga tidak ragu atas kebsahan kartu kredit
tersebut.
• Membuat e-cash di Internet yang biasanya dibuka sendiri oleh
pembeli yang biasanya sering membeli dengan teknik cybershop ini.
• Mempunyai cash card yang fungsinya hampir sama dengan ATM.
• Menunjuk Bank tertentu sebagai partner (pembayaran melalui Bank).

b) Masalah Keamanan
Baik penjual/produsen maupun konsumen sering pula dikeluhkan dengan
masalah keamanan ini. Mengapa? Karena dalam prakteknya, berbelanja
di web memerlukan koneksi ke internet dan mengetahui bagaimana
melakukan browsing untuk melaksanakan transaksi elektronik yang aman,
dan hal-hal seperti ini tidak atau kurang dipahami. Pada perusahaan
besar, mereka mengandalkan pada Microsoft Internet Explorer dan
Netscape Navigator. Umumnya, baik Microsoft maupun Netscape, bekerja
sama dengan perusahaan kartu kredit (misalnya: Visa atau MasterCard),
dan perusahaan-perusahaan internet security seperti V eriSign. Mereka
lazimnya telah membuat standar khusus yang membuat transaksi melalui
web menjadi sangat aman. Bahkan, Visa dan MasterCard menyediakan

109

jaminan keamanan 100 persen kepada pengguna kartu kreditnya yang
digunakan cybershop ini.
C) Tersedianya e-Agribusiness
Tersedianya e-Agribusiness ini belum banyak di Indonesia. Sekarang yang
ada barangkali hanya RisTI Shop. Risti, yaitu Divisi Riset dan Teknologi
Informasi milik PT. Telkom, menyediakan prototipe layanan e-Business
untuk penyediaan informasi produk peralatan telekomunikasi dan non-
telekomunikasi. Web ini juga telah mendukung proses transaksi secara
online.

Evaluasi Materi 8

Jawablah pertanyaan di bawah ini:
1. Jelaskan apa yang dimaksud e-Agribusiness ?
2. Apa pentingnya e-Agribusiness ?
3. Bagaimana mekanisme e-Agribusiness ?
4. Berikan contoh usaha agribisnis yang telah menggunakan e-Agribusiness?
5. Salah satu platform agribisnis yang sedang popular adalah tanihub,

jelaskan mengenai platform tersebut!

110

BAB IX
Strategi Pengembangan Agribisnis

9.1 Perkembangan Usaha Agribisnis
Globalisasi dan industrialisasi yang digembar-gemborkan oleh negara-

negara maju telah memberikan persepsi yang semakin sempit bagi sektor
pertanian dan semakin luas bagi sektor industri. Sektor industri dijadikan
tanda (image) bagi kemajuan suatu bangsa. Industrialisasi bagi negara-
negara maju merupakan keunggulan komparatif dan kompetitif yang sangat
tidak mungkin dilampaui oleh negara-negara yang belum maju dalam waktu
singkat, karena keterkaitan antar negara sering menjadi ketergantungan yang
bersifat kronis (dengan kecenderungan "menjajah").

Kondisi ini harus diperbaiki dengan langkah awal adalah merubah cara
pandang pertanian kepada konsep yang lebih progresif yang berorientasi
pertumbuhan dan pemerataan serta pelestarian lingkungan. Agribisnis adalah
cara pandang baru dalam melihat pertanian. Ini berarti bahwa pertanian tidak
hanya kegiatan usahatani (on farm activities) tetapi juga kegiatan di luara
usahatani (off farm activities). Dengan demikian, pertanian tidak hanya

111

berorietasi produksi (production oriented) tetapi juga berorientasi pasar
(market oriented), tidak hanya dilihat dari sisi permintaan (demand side)
tetapi juga dari sisi penawaran (supplay side). Dalam hal ini, pertanian tidak
hanya bercocok tanam, beternak, menambak ikan, dan berkebun tetapi juga
bagaimana menyediakan sarana produksinya, bagaimana memproses
outputnya, bagaimana memasarkan outputnya, dan bagaimana keterlibatan
lembaga penunjang (seperti perguruan tinggi, perbankan, LSM, dan lainnya).

Cara pandang baru pertanian ini memberikan perubahan konsep dalam
melihat pertanian, sehingga secara teoritis pertanian mampu menjadi sektor
yang memimpim (a leading sector) dalam era globalisasi.

Konsep baru ini menawarkan bisnis yang tidak hanya menguntungkan
bagi sektor pertanian tetapi juga menguntungkan bagi pembangunan bangsa.
Bagaimana tidak, jika kegiatan bisnis on farm yang bersifat berkelanjutan
(sustainable) tetapi tidak memberikan kontribusi margin yang besar
dikembangkan secara bersama dan integratif dengan kegiatan bisnis di off
farm yang bersifat tidak sustainable tetapi memberikan kontribusi keuntungan
yang sangat besar, sehingga sektor pertanian dapat melakukan cross margin
dan cross business sustainability yang melibatkan rakyat banyak.

Meskipun demikian, konsep baru yang ditawarkan ini tidak berarti
langsung bisa diaplikasikan, walaupun secara nyata, selain masih ada
perbedaan konsep dalam memandang agribisnis antara akademisi (terutama
posisi agroindustri), juga dapat dikatakan bahwa agribisnis memiliki
keunggulan komparatif dan kompetitif dibandingkan bisnis lain diluar
pertanian dalam konteks agribisnis. Hal ini karena pada saat ini banyak aturan,
peran dan kebijakan yang masih tidak friendly bagi agribisnis.

Walaupun demikian, ada dua hal penting yang dapat disepakati adalah
bahwa pertama, pengembangan pemikiran dan kemungkinan aplikasi dari
sistem agribisnis ini harus ditindak lanjuti, dan kedua, bahwa pada masa yang
akan datang, apa pun alasannya, pengembangan agribisnis yang sebagian
besar berorientasi pada rakyat kecil, berprinsip pemerataan, dan berfalsafah
keberlanjutan (sustainability) harus menjadi prioritas pembangunan.

112

Secara faktual, peran pengusaha agribisnis sangat nyata dampaknya,
terutama dalam menyerap tenaga kerja, menghasilkan sumbangan Produk
Domestik Bruto (PDB) yang besar, serta melahirkan banyak wirausahawan
(entrepreneur). Agribisnis telah memberikan landasan yang kuat bagi
pengusaha dan banyak dari mereka yang tumbuh besar seperti Mercu Buana,
Bogasari, Indofood, Pokphand, Astra, Cipendawa, Sinarmas, Barito Pasifik,
Bakrie, dan lainnya.

Jika agribisnis telah terbukti mampu melahirkan banyak pengusaha
besar, maka seharusnya tidak sulit untuk menciptakan pengusaha agribisnis
berskala kecil. Namun tingkat kemudahannya sangat tergantung pada aspek
makro dan mikro dari perekonomian nasional.

Secara mikro, pengusaha agribisnis kian dituntut untuk lebih mengerti
pasar, perlu lebih memahami dasar-dasar hukum permintaan dan penawaran
untuk dapat memperkirakan harga yang akan dihadapinya, perlu lebih
tanggap terhadap perubahan teknologi, perlu memperhatikan azas konservasi
dalam setiap aktivitas usaha yang dilakukannya, perlu menguasai cara-cara
pemanfaatan kredit, dan berbagai masalah lainnya. Dengan kata lain,
pengusaha agribisnis dituntut untuk tidak hanya berorientasi produksi
(product oriented) seperti yang selama ini dilakukan, tetapi lebih diarahkan
untuk berorientasi bisnis (business oriented).

Secara makro, semakin dituntut pula berbagai kebijakan fiskal dan
moneter serta berbagai kerjasama internasional yang dapat menciptakan
kondisi yang kondusif. Terutama, dampak globalisasi perekonomian yang
terus bergulir yang menciptakan pasar yang lebih bebas bagi komoditas-
komoditas yang diperdagangkan secara internasional.

Dengan situasi seperti ini, maka pengembangan pengusaha agribisnis
semakin relevan dan semakin penting artinya bagi pertumbuhan
perekonomian nasional khususnya munculnya pengusaha-pengusaha baru.
Hal ini sangat penting untuk diperhatikan bukan hanya karena pada massa
yang akan datang peran swasta semakin besar tetapi karena lahirnya dan
berkembangnya pengusaha baru akan menimbulkan suatu pertumbuhan
ekonomi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusaha-pengusaha

113

agribisnis yang tumbuh dan berkembang dalam jumlah yang banyak, selalu
menyumbang terhadap peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja serta
pertumbuhan ekonomi secara nasional.

9.2 Strategi Pengembangan Agribisnis

Strategi umum yang perlu diambil dapat
dimulai dengan menjadikan pembangunan berbasis
agroindustri sebagai jalur pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain,
pembangunan ekonomi nasional dapat dimulai dengan lebih memproyeksikan
Indonesia sebagai Negara Agroindustri, sehingga secara konsisten
perekonomian Indonesia dapat menjadi pertanian yang bercirikan agribisnis
(agribusiness base economic).
Menurut Pusat Studi Pembangunan IPB ada empat bentuk kebijakan lintas
sektoral yang perlu diambil dalam rangka pengembangan pengusaha
agribisnis nasional, yaitu pertama;
1. Farming Reorganization yang memperhatikan pentingnya usaha untuk
mengatasi masalah keterbatasan (smallness) pengusaha agribisnis.
Perlu kiranya kebijakan reorganisasi, terutama dalam hal reorganisasi
usaha, sehingga dapat tercapai diversifikasi usaha yang menyertakan
usaha komoditas-komoditas yang bernilai tinggi. Selain itu, reorganisasi
manajemen sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh skala
manajemen yang lebih besar yang tidak selalu harus economics of
scale, tetapi mengarah pada economics of scope.
2. Small-scale Industrial Modernization. Pengembangan agroindustri
merupakan inti dari pengembangan pengusaha agribisnis. Dalam hal
ini kebijakan modernisasi kegiatan indutri perlu menjadi fokus

114

perhatian utama. Modernisasi yang perlu dilakukan menyangkut
modernisasi teknologi berikut seluruh perangkat penunjangnya,
modernisasi sistem, organisasi, dan manajemen, serta modernisasi
dalam pola hubungan dan orientasi pasar.
3. Services Rasionalization. Pengembangan layanan agribisnis merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan pengusaha
agribisnis. Rasionalisasi lembaga penunjang, terutama lembaga
pemasaran, lembaga keuangan (financial institution), dan lembaga
penelitian akan meningkatkan efisiensi dan daya saing pengusaha
agribisnis berskala kecil, baik di dalam
4. Agribusiness Integration. Kebijakan di atas perlu dilaksanakan dalam
bentuk kebijakan agribisnis terpadu, yang mencakup beberapa bentuk
kebijaksanaan :
a) Kebijakan pengembangan produksi dan produktivitas di tingkat

perusahaan (firm level policy).
b) Kebijakan tingkat sektoral untuk mengembangkan seluruh kegiatan

usaha sejenis.
c) Kebijakan di tingkat sistem agribisnis yang mengatur keterkaitan

antara beberapa sektor.
d) ebijakan ekonomi makro yang mengatur seluruh kegiatan

perekonomian yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung
terhadap pengusaha agribisnis.

Komitmen dan loyalitas terhadap proses produksi yang lebih luas
menjadi alasan pokok dari sistem hubungan antara pengusaha agribisnis
(kecil- menengah-besar), karena life cycle produk agribisnis relatif pendek,
musiman, perishabel, dan voluminous yang mengharuskan penerapan konsep
Just In Time. Dengan karakteristik demikian, persoalannya bukan bagaimana
pengusaha agribisnis berskala kecil menjadi besar dan menggeser yang besar,
tetapi bagaimana pengusaha agribisnis berskala kecil tumbuh berkembangan
menopang pengusaha menengah dan besar.

115

Penerapan Just In Time proses produksi, tetapi semua aspek yang
menyebabkan sia-sia (waste) harus dieliminasi, sehingga diperoleh kondisi.
Dengan demikian, praktek-praktek bisnis yang dilakukan secara tidak adil oleh
pengusaha besar, seperti penundaan pembayaran dan bahkan pembatalan
pembayaran dengan alasan produk-produk pertanian yang dipasarkan tidak
laku dapat dieliminasi.

9.3 Konsep Pengembangan Agribisnis
Pada saat bangsa-bangsa di dunia sangat memprihatinkan

kondisi bumi akibat proses modernisasi yang tidak berorientasi pada
keberlanjutan generasi, berbagai solusi disampaikan untuk sama-sama
memikirkan bagaimana nasib bumi ini. Namun, faktor dominansi bangsa-
bangsa maju masih terlihat jelas terutama pada bangsa-bangsa di belahan
dunia ke tiga. Mereka mendapat serangan gencar terhadap isu pengrusakan
bumi tersebut, sehingga bangsa-bangsa yang umumnya sedang membangun
ini harus mendapat tekanan dan berbagai proteksi. Indonesia, sebagai contoh
sering menjadi sorotan media internasional terutama dalam pengelolaan
hutan tropikanya (isu pembakaran hutan sedang marak dan berada pada
kondisi membahayakan). Mungkin mereka lupa, bahwa Indonesia sebenarnya
telah mencanangkan pembangunan yang berwawasan lingkungan jauh
sebelum isu pengrusakan bumi itu sendiri diperdebatkan.

Saat ini pun, Indonesia telah mulai melakukan inovasi baru dalam
pembangunan wilayah, yaitu dengan mengembangkan kawasan-kawasan
Agribisnis modern yang bertumpu pada teknologi frontier yang berwawasan
lingkungan. Pembangunan wilayah dengan konsep pengembangan kawasan
agribisnis modern tersebut sangat menarik dan merupakan alternatif terbaik
pada saat ini dan masa yang akan datang, dalam rangka memperbaiki
lingkungan global dari ancaman kerusakan. Sebagai contoh, dibangunya
kebun buah nasional Mekar Sari, Taman Bunga, dan lainnya, merupakan
langkah yang tepat sebagai acuan dalam pembangunan wilayah.

Perubahan global drastis yang saat ini sedang berjalan, menunjukkan
bahwa manusia sudah mulai lebih rasional dalam menyiapkan keberlanjutan

116

kehidupan generasi selanjutnya. Dengan demikian, konsep pengembangan
kawasan agribisnis modern harus memiliki ciri sustainability dan berwawasan
lingkungan. Sustainability merupakan pandangan ke depan untuk melihat
bagaimana kontribusi kawasan agribisnis modern tersebut terhadap
pengembangan wilayah yang ditinjau dari semua aspek sudut pandang. Di lain
pihak berwawasan lingkungan menjadi wahana bagi kawasan agribisnis untuk
resistant terhadap segala gangguan alam dan manusia serta menghindari
kerusakan sumberdaya alam yang lebih lanjut.

Untuk mencapai keseimbangan dari kedua faktor di atas, maka
pendekatan sumberdaya alami merupakan kekuatan pengembangan kawasan
agribisnis modern. Hal ini berimplikasi untuk menjadikan bioteknologi (dari
hulu ke hilir) sebagai basis pengembangan, yang dapat memudahkan
melakukan pendekatan alamiah tersebut. Sebagai indikator, pemanfaatan
senyawa-senyawa kalsiteran kimia berbahaya bagi ekosistem pada tahun-
tahun lampau telah mendatangkan protes keras dari aktivis-aktivis
lingkungan, sehingga teknologi biologis memiliki keunggulan komparatif dan
keunggulan kompetitif untuk dikembangkan. Ini berarti bahwa
pengembangan kawasan agribisnis modern membutuhkan dukungan tenaga
terdidik dan terampil di bidang bioteknologi. Beberapa negara maju seperti
USA, Belanda, Australia dan Taiwan telah membuktikan keberhasilan praktek-
praktek di atas.

Pertanyaan mendasar adalah bagaimana
strategi, pendekatan, sasaran dan
mekanisme pengembangannya, sehingga
proyek tersebut dapat dilaksanakan
secara sempurna. Saat ini masih selalu
menjadi catatan kalangan perbankan di Indonesia
bahwa proyek agribisnis adalah proyek yang berisiko
tinggi.

117

Oleh karena itu pengembangan kawasan agribisnis modern harus
dimulai dari peta sumberdaya (alam dan manusia) kawasan yang akan
dikembangkan tersebut. Skenario pengembangan yang menyangkut strategi,
pendekatan, sasaran dan mekanisme pengembangannya harus secara tajam
dirumuskan agar keseluruhan skenario itu dapat dioperasionalkan secara
nyata (tangible).

9.4 Pembangunan Wilayah Agribisnis
Pengembangan kawasan agribisni modern perlu memperkenalkan

pikiran-pikiran yang lebih rasional, metode-metode yang lebih baik, dengan
penggunaan teknologi tepat guna, dan lain sebagainya. Kreativitas pikiran
harus menjawab berbagai hal yang dapat diperbuat oleh masyarakat. Para
perencana, pemikir dan pelaksana pengembangan harus dapat membantu
masyarakat untuk mandiri.

Untuk itu perlu dilakukan pendekatan-pendekatan dalam
mengembangan kawasan agribisnis sebagai dasar dalam melakukan
perencanaan wilayah. Diantara pendekatan-pendekatan tersebut antara lain:

1. Pendekatan Spatial: Agroklimatologi, ekologi, agronomi, kemampuan
tanah, geografi dan topografi serta flora dan fauna, dijadikan indikator-
indikator penting untuk pengembangan kawasan. Aspek sumberdaya
alam dan lingkungan harus mendapatkan perhatian sejak awal sebelum
ekologi itu sediri mengalami kerusakan sebagai akibat perlakuan
manusia untuk kepentingan pembangunan dalam memenuhi kebutu

2. Pendekatan Sosial Budaya: Diarahkan pada studi dan pemahaman
mengenai cara hidup (way of life) masyarakat berdasarkan lantar
belakang dimensi kulturalnya.

3. Pendekatan Kesejahteraan: Meneliti keterkaitan berbagai sektor
Kawasan seperti: agribisnis, industri, perdagangan dan jasa,
kesejahteraan keluarga, pekerjaan, sumber pendapatan, distribusi
pendapatan dan lainnya. Selainitu, secara lebih mendalam berupaya
untuk menggali dan mengembangkan berbagai sumber daya alam dan

118

manusia, dana dan daya serta pola-pola dan kualitas kepemimpinan
dalam masyarakat untuk mengejar ketertinggalannya.
4. Pendekatan sosial politik: Menciptakan kondisi sosial politik yang stabil
untuk mendukung kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan
pengembangan kawasan dan masyarakat luas.
5. Pedekatan Kualitas:119Berdasarkan peningkatan kualitas dan
perspektif masyarakat imana mereka hidup, seperti pendidikan,
perumahan, kesehatan, pelayanan umum, perilaku setiap individu dan
pergaulan antara keluarga di dalam masyarakat.

Evaluasi Materi 9

Jawablah pertanyaan di bawah ini:
1. Bagaimana seharusnya pengembangan sistem agribisnis di Indonesia ?
2. Sebutkan dan jelaskan pendekatan-pendekatan dalam mengembangan

kawasan agribisnis sebagai dasar dalam melakukan perencanaan wilayah?
3. Apa maksud pendekatan sosial dalam pengembangan Agribisnis ?

119

DAFTAR PUSTAKA

Buchari Alma. 2008. Kewirausahaan. Bandung. Alfabeta.

Cahyono, S. dan D.S. Tjokropandojo. 2012. Peran Kelembagaan Petani
dalam Mendukung Keberlanjutan Pertanian sebagai Basis
Pengembangan Ekonomi Lokal. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
B SAPPK V2N1:15-23.

Krisnamurthi, Bayu. Pengertian Agribisnis. 2020. Bogor. Puspaswara bekerja
sama dengan FEM IPB.

Kusnadi, Nunung. 2016. Dasar-Dasar Agribisnis. Tangerang Selatan. Penerbit
UT

Nelson A.G., G.L. Casler, and O.L. Walker. 1978. Making Farm Decision in a
Risky World: A guide book. South Eastern Agricultural Extension, USDA,
Oregon State-Cornell- Oklahoma State Universities.

Noviatirida, W. 2011. Analisis Bentuk Kerja Sama Petani dengan Lembaga-
Lembaga Pendukung Pengembangan Agribisnis Kakao di Kenagarian
Sekucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang
Pariaman. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Andalas Padang.
Padang.

Saragih, Bungaran. 2018. Agribisnis: Paradigma baru pembangunan ekonomi
berbasis pertanian. Bogor. PT Penerbit IPB Press.

Saragih, Bungaran 2001. Suara dari Bogor Membangun Sistem Agribisnis.
Yayasan USESE bersama dengan Sucofindo

Silitonga, Chrisman, 1995, Kebijaksanaan Pemerintah Dalam Pengembangan
Agribisnis, Pangan No. 24 Vol. VI, 1995, Jakarta.

Soekartawi. 2003. AGRIBISNIS Teori dan Aplikasi. Jakarta. PT Raja Grafindo
Persada.

Suryana. 2014. Kewirausahaan Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta.
Salemba Empat.

120

KUNCI JAWABAN

Evaluasi Materi 1

1. a
2. a
3. a
4. d
5. d

Evaluasi Materi 2

1. d
2. a
3. b
4. b
5. c
6. c
7. d
8. a
9. a
10. c

Evaluasi Materi 3

1. b
2. c
3. a
4. d
5. b
6. a
7. d
8. d
9. a
10. c

121

Evaluasi Materi 4

1. b
2. a
3. c
4. b
5. b
6. a
7. b
8. d
9. b
10. c

122

Modul dasar-dasar agribisnis ini membahas
pengetahuan dasar agribisnis yang meliputi
pengertian agribisnis, ruang lingkupnya, peranan
agribisnis dalam perekonomian, konsep
subsistem-subsistem agribisnis, kelembagaan,
kemitraan, risiko agribisnis, peran teknologi dan
informasi bagi e-Agribusiness serta strategi
pengembangan agrsibisnis.
Dengan modul ini diharapkan dapat memudahkan
mahasiswa untuk mempelajarai agribisnis dilihat
secara sistem maupun bisnis.

123


Click to View FlipBook Version