The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul 5 - Penyelenggaraan Program Pemberdayaan Ortu di Satuan PAUD

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lenarustika29, 2022-11-03 23:13:59

Modul 5 - Penyelenggaraan Program Pemberdayaan Ortu di Satuan PAUD

Modul 5 - Penyelenggaraan Program Pemberdayaan Ortu di Satuan PAUD

PENYELENGGARAAN PROGRAM
PEMBERDAYAAN ORANG TUA DI SATUAN PAUD

Bahan Ajar Diklat Lanjut

Direktorat Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Tahun 2021

Diklat Lanjut

MODUL 5

Penyelenggaraan Program Pemberdayaan Orang Tua
di Satuan PAUD

PENULIS
Prof. Dr. Gunarti Dwi Lestari, M.Si, M.Pd.
Dr. Widia Winata, S.Pd.I, M.Pd.
Dr. Siti Saroh, M.Pd.

PENATA LETAK (Desainer)
Sarah Nur Fajriyati

Direktorat Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

2021

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengopi sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial
tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

KATA PENGANTAR

Dengan semakin tersebarnya pendidikan anak usia dini semakin disadari
pentingnya untuk melakukan upaya peningkatan kompetensi pendidik PAUD. Melalui
jalur formal telah berkembang program studi yang mengkhususkan pada pendidikan
anak ini. Namun tidak semua pendidik memiliki kesempatan dan kemampuan untuk
mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, sementara pelayanan pendidikan yang
bermutu tidak dapat ditunda. Sehingga Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan PAUD dan Dikmas memandang perlu untuk mengembangkan
pendidikan dan pelatihan bagi tenaga pendidik secara berjenjang yaitu tingkat dasar,
tingkat lanjutan dan tingkat mahir.

Pada diklat tingkat lanjutan ini, pendidik PAUD yang telah menyelesaikan
pendidikan tingkat dasar diberi bekal pembelajaran tentang pemberdayaan orangtua
untuk meningkatkan kemampuannya dalam mendidik anak di rumah dan memiliki
kemampuan untuk melibatkan orangtua untuk meningkatan kualitas dalam kegiatan
belajar dan mengajar. Dengan semakin meningkatnya pengetahuan dan keterlibatan
orangtua dalam pendidikan anak dhiarapkan akan semakin meningkatkan kualitas
pendidikan. Semoga bahan ajar tingkat lanjutan ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta,
Direktur Pembinaan Guru PAUD dan DIKMAS
Dr. Santi Ambarrukmi, M.Ed.
NIP. 196508101989022001
00820 198603 1 005

i

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................................................................................................ ii

BAB I Pendahuluan .................................................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................................ 1
B. Tujuan Modul ............................................................................................................................................. 5
C. Ruang Lingkup ....................................................................................................................................... 7
D. Pengguna Modul ................................................................................................................................... 8
E. Petunjuk Belajar ................................................................................................................................. 9

BAB II Rencana Penyampaian Materi ............................................................................................ 10
A. Kompetensi ................................................................................................................................................ 10
B. Materi/Sub Materi ......................................................................................................................... 11
C. Strategi/Metode Penyajian ............................................................................................. 13
D. Alat dan Bahan .................................................................................................................................. 13
E. Evaluasi .......................................................................................................................................................... 14

F. Alokasi Waktu ........................................................................................................................................ 14
G. Langkah-Langkah Penyajian Materi ................................................................... 15
H. Sumber Belajar ................................................................................................................................... 16

BAB III Program Pemberdayaan Orangtua di Satuan PAUD

A. Dasar Pemikiran ................................................................................................................................ 17
B. Penanaman Pendidikan Karakter pada Anak Usia Dini ............. 34
C. Penyelenggaraan Program Pemberdayaan Orangtua

pada Pendidikan Anak Usia Dini .................................................................................... 61

D. Bentuk - Bentuk Program Pemberdayaan Orangtua
pada Pendidikan Anak Usia Dini .................................................................................... 72

E. Bentuk - Bentuk Keterlibatan Orangtua di Rumah ........................ 88
F. Rangkuman ................................................................................................................................................. 92

ii

BAB IV Penutup .................................................................................................................................................. 94

Daftar Pustaka ......................................................................................................................................................... 95
Lampiran - Lampiran 1 Contoh Agenda Pertemuan ............................................ 96

Lampiran 2 Contoh Daftar Hadir Pertemuan ....................... 97
Lampiran 3 Contoh Rencana Pelibatan Orangtua ......... 98
Lampiran 4 Contoh Agenda Kegiatan Pertemuan .......... 99
Lampiran 5 Contoh Hasil Pertemuan .................................................. 99
Lampiran 6 Contoh Format Kesan/Pesan/Saran .......... 100
Lampiran 7 Contoh Buku Kas .......................................................................... 100
Lampiran 8 Contoh Format Evaluasi Program .................... 101
Praktek Baik ........................................................................................................................... 103
Tugas Mandiri .......................................................................................................................... 116
Soal Latihan ............................................................................................................................ 117
Kunci Jawaban ..................................................................................................................... 122

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Anak adalah amanah yang harus diperhatikan gizi dan kesehatannya, dirawat,
diasuh, dididik, dan dilindungi seoptimal mungkin. Hal itu dilakukan supaya anak
menjadi orang yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat, cerdas, ceria,
sehingga berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan
anak usia dini adalah adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar
yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai
dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan
untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak
memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan
pada jalur formal, nonformal, dan informal, sedangkan tujuan Pendidikan anak usia
dini adalah untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang
tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki
kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi
kehidupan di masa dewasa.

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat
dan pemerintah. Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi
anak. Keluarga merupakan tempat anak belajar sejak dalam kandungan hingga
perjalanan usia anak memasuki rumah tangga sendiri. Oleh karena itu, keluarga
memiliki peran yang sangat mendasar dalam mengoptimalkan semua potensi anak.

1

Keluarga sebagai lembaga pendidikan informal dilindungi dalam Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional. Sebagaimana dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara,
“Keluarga adalah lingkungan pendidikan yang pertama dan utama.” Dengan demikian,
peran keluarga dalam hal pendidikan bagi anak, tidak dapat tergantikan sekalipun
anak telah dididik di lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Untuk itu,
keluarga harus memiliki kemampuan dalam melaksanakan proses peningkatan gizi
dan kesehatan, perawatan, pengasuhan, pendidikan dan perlindungan.

Kenyataan yang dijumpai di masyarakat, masih banyak keluarga yang belum
memahami peran penting tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga agar mereka dapat
memberikan dukungan kepada anak usia dini secara lebih optimal melalui program
pemberdayaan orangtua yang anaknya mendapatkan layanan PAUD.

Keselarasan pendidikan yang dilaksanakan di lembaga PAUD dan di rumah yang
dilakukan oleh para orangtua diakui oleh para ahli pendidikan sebagai salah satu
faktor penentu keberhasilan pendidikan anak secara menyeluruh. Oleh karena itu
penting kiranya para pendidik yang berada di Satuan PAUD memfasilitasi
penyelenggaraan program pemberdayaan orangtua sebagai upaya keselarasan dan
keberlanjutan antara pendidikan yang dilakukan di lembaga dan pendidikan yang
dilakukan di rumah. Bahan ajar program pemberdayaan orangtua pada pendidikan
anak usia dini dimaksudkan sebagai rujukan bagi para pendidik PAUD dalam
menyelenggarakan PAUD yang memiliki keterkaitan dengan pendidikan di rumah.

Munculnya banyak lembaga PAUD perlu diimbangi dengan kualitas layanan yang
optimal. Fakta di lapangan masih banyak lembaga yang memberikan layanan
seadanya, terlebih di pedesaan. Kebanyakan lembaga tersebut melayani anak-anak
dengan latar belakang kemampuan sosial ekonomi yang rendah, sehingga kontribusi
dalam bentuk dana yang diberikan orangtua juga minim, akibatnya kemampuan
Satuan PAUD dalam menyediakan sarana dan prasarana terbatas. Demikian juga
dengan honor yang diberikan kepada pendidik serta biaya untuk operasional bulanan
tidak bisa optimal.

2

Faktor pendidikan orangtua yang rendah berdampak pada pengetahuan mereka
tentang pentingnya perannya dalam PAUD, pada umumnya mereka beranggapan
bahwa pendidikan adalah tanggung jawab pendidik karena mereka sudah membayar
dan menyekolahkan anaknya. Jadi anak “bisa” atau “tidak bisa”, “pandai” atau “tidak
pandai” adalah tanggung jawab pendidik, bukan tanggung jawab orangtua. Kondisi ini
mengakibatkan seringnya terjadi kesenjangan antara pendidikan dan pengasuhan di
“sekolah” dengan yang terjadi di rumah.

Upaya menjembatani kesenjangan pengetahuan dan penerapan pengasuhan
yang mungkin terjadi, maka pendidik secara rutin perlu menjalin kerjasama dengan
orangtua. Melalui kerjasama , pendidik mendorong orangtua untuk terlibat menjadi
“guru” yang paling penting bagi anak.

Program keterlibatan orangtua merupakan alternatif yang dapat digunakan
untuk meningkatkan kerjasama pendidik dan orangtua serta meningkatkan peran
orangtua dalam PAUD. Soemiarti Patmonodewo menyatakan bahwa keterlibatan
orangtua yaitu suatu proses dimana orangtua menggunakan segala kemampuan
mereka, guna keuntungan mereka sendiri, anak-anaknya, dan program yang dijalankan
anak itu sendiri (Patmonodewo 2000: 23).

3

Program keterlibatan orangtua ini mendorong orangtua untuk terlibat dalam
PAUD baik di lembaga kelompok bermain maupun di rumah. Program keterlibatan
orang tua ini meliputi keterlibatan dalam komunikasi dua arah antara pendidik dan
orang tua, keterlibatan orang tua sebagai relawan, kerjasama dengan masyarakat,
pengasuhan, dan pembelajaran di rumah serta pengambilan keputusan dan advokasi,
hal ini diatur dalam Permendikbud No.30/2017 tentang pelibatan keluarga pada
penyelenggaraan Pendidikan, serta Perdirjen no 127/2017 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pelibatan Keluarga Pada Penyelenggaraan Pendidikan di PAUD. Pelibatan
keluarga dalam Permendikbud disebutkan sebagai proses dan/atau cara keluarga
untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan guna mencapai tujuan
pendidikan nasional. Keterlibatan orangtua ini memuat komponen-komponen
pendukung model serta strategi dalam melaksanakan model keterlibatan orangtua
dalam pendidikan anak usia dini.

Pemberdayaan Orang Tua di Satuan PAUD juga memperhatikan kondisi
masyarakat Indonesia yang saat ini berada dalam masa pandemi covid-19.
Pemberdayaan bisa dilaksanakan secara luring dan daring. Secara luring dapat
dilakukan di daerah-daerah zona hijau dengan memperhatikan protokol kesehatan.
Sementara secara daring dilaksanakan dengan menggunakan media digital yang
tersedia. Pelaksanaan pemberdayaan melalui daring mengacu pada Surat Edaran
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan
Pendidikan dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19).

4

B. Tujuan Modul

1. Tujuan Umum

Setelah mengikuti pelatihan ini para pendidik dapat menyusun dan melaksanakan
program keterlibatan orangtua, dalam pendidikan anak sejak dini baik di rumah
maupun di sekolah sehingga dapat mengoptimalkan seluruh aspek perkembangan
anak.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus program keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak usia
dini agar orangtua dapat:

a. Membangun komunikasi dua arah yang positif antara orangtua-pendidik

dan pendidik-orangtua untuk kemajuan perkembangan anak.

b. Melibatkan orangtua sebagai volunteer/relawan dalam kegiatan

pembelajaran dan kegiatan administrasi untuk mendukung program
lembaga dan kemajuan perkembangan anak.

c. Mengoptimalkan peran orangtua dalam pengasuhan yang tepat untuk

menstimulasi perkembangan anak.

d. Mengoptimalkan peran orangtua dalam memberikan layanan kesehatan

dan gizi anak.

5

e. Mengoptimalkan peran orangtua dalam membantu pembelajaran anak di

rumah sesuai dengan saran-saran pendidik.

f. Melibatkan orangtua dalam pengambilan keputusan-keputusan melalui

organisasi atau persatuan pendidik-orangtua untuk pengembangan
lembaga.

g. Menyusun program pemberdayaan orangtua baik secara daring maupun

secara luring dengan menggunakan media digital yang tersedia.

h. Melaksanakan program pemberdayaan orangtua di satuan PAUD.

6

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup materi bahan ajar yang akan diberikan kepada peserta pelatihan
berjenjang tingkat lanjutan adalah sebagai berikut:

1. Dasar pemikiran tentang berbagai sudut pandang sosialisasi dan

pengasuhan pada anak usia dini yang dapat mempengaruhi terhadap
pelaksanaan program pemberdayaan orangtua.

2. Peran dan fungsi keluarga sebagai materi dasar untuk memahami

pendidikan parenting.

3. Suasana kekeluargaan dan keharmonisan dalam keluarga sebagai

prasyarat bagi berlangsungnya pengasuhan yang baik.

4. Penanaman pendidikan karakter yang dilakukan oleh orangtua pada anak

usia dini.

5. Pemanfaatan moda daring dan luring dalam pemberdayaan orangtua di

satuan PAUD.

7

D. Pengguna Modul

1. Pelatih Diklat Berjenjang Tingkat lanjut.
2. Peserta pelatihan diklat Berjenjang tingkat lanjut.
3. Penyelenggara diklat Berjenjang tingkat lanjut.
4. Pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan dalam pemberdayaan

orangtua di Satuan PAUD.

8

E. Petunjuk Belajar

Agar dapat mencapai tujuan bahan ajar ini, para peserta hendaknya mengikuti
petunjuk belajar di bawah ini:

1. Baca petunjuk belajar dan tujuan umum bahan ajar ini dengan seksama.
2. Baca dan pahami kompetensi setiap kegiatan belajar dalam bahan ajar

ini.

3. Baca dan pahami kompetensi dan indikator capaian yang diharapkan

dalam bahan ajar ini.

4. Baca dan pahami uraian materi dari kegiatan belajar dalam bahan ajar

ini termasuk empat studi kasus yang ditulis di akhir bahan ajar ini.

5. Kerjakan soal-soal latihan dengan baik dan jangan membuka kunci

jawaban bila Saudara sedang mengerjakannya.

6. Baca kembali dengan cermat uraian materi yang belum saudara pahami

berdasarkan hasil latihan

9

BAB II
RENCANA PENYAJIAN

MATERI

A. Kompetensi

1. Menjelaskan dua sudut pandang dalam pendidikan anak dalam
keluarga.

2. Menjelaskan peran dan fungsi orangtua dalam pendidikan dan
perkembangan anak usia dini.

3. Menjelaskan penanaman pendidikan karakter pada anak usia dini.

4. Menyusun dan melaksanakan pengembangan program pemberdayaan
orangtua di Satuan PAUD

10

B. Materi/Sub Materi

1. Dasar pemikiran tentang berbagai sudut pandang keluarga

dan pendidikan anak usia dini yang dapat mempengaruhi
terhadap pelaksanaan program pemberdayaan orangtua.

2. Peran dan fungsi keluarga dalam pendidikan dan

perkembangan anak.
a Pengertian keluarga
b Fungsi Keluarga
c Suasana kekeluargaan & keharmonisan dalam keluarga

3. Penanaman pendidikan karakter pada anak usia dini

a Keteladanan
b Kejujuran
c Kedisiplinan
d Toleransi
e Kemandirian

11

4. Dasar pemikiran tentang berbagai sudut pandang keluarga

dan pendidikan anak usia dini yang dapat mempengaruhi
terhadap pelaksanaan program pemberdayaan orangtua.

5. Peran dan fungsi keluarga dalam pendidikan dan

perkembangan anak.
a Pengertian keluarga
b Fungsi Keluarga
c Suasana kekeluargaan & keharmonisan dalam keluarga

6. Penanaman pendidikan karakter pada anak usia dini

a Keteladanan
b Kejujuran
c Kedisiplinan
d Toleransi
e Kemandirian

12

C. Strategi/Metode Penyajian

Metode pembelajaran yang digunakan dalam pelatihan berjenjang adalah
ceramah, penugasan kelompok, curah pendapat, simulasi dan praktek.

D. Alat dan Bahan

1 LCD 8 Kertas folio
2 Bahan paparan 9 Meja & kursi
3 Kertas plano & HVS 10 Gambar-gambar ayah, ibu, anak & guru
4 Spidol besar & kecil 11 Video
5 Kertas origami 12 Lagu & lirik
6 Gunting 13 Media digital
7 Kertas notes

13

E. Evaluasi

Tes (tertulis, lisan), observasi, refleksi,
praktek dan simulasi.

F. Alokasi Waktu

Teori: 2 jampel + Praktek: 3 jampel = 5 Jampel
Alokasi per jam pelajaran adalah 60 menit

143

G. Langkah-langkah Penyajian Materi

Langkah-langkah penyajian materi dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Waktu/menit Materi dan sub materi Metode penyajian

2 jam pelajaran 1. Sudut pandang tentang keluarga dan PAUD Presentasi materi,
(2 x 60 menit) diskusi, curah
2. Peran dan fungsi keluarga pendapat, bermain
peran dan
a. Pengertian keluarga pemberian tugas.
b. Fungsi keluarga
c. Suasana kekeluargaan dan keharmonisan

dalam keluarga
3. Penanaman pendidikan karakter pada anak

usia dini
a. Keteladanan
b. Kejujuran
c. Kedisiplinan
d. Toleransi
e. Kemandirian

3 jam pelajaran 4. Praktek penyelenggaraan program Curah pendapat,
3 x 60 menit) Pemberdayaan Orang Tua di Satuan PAUD: diskusi kelompok
dan bermain peran.
a. Tahap - tahap program:

Persiapan program
Penyusunan program
Pelaksanaan program
Evaluasi Internal
Monitoring dan evaluasi

b. Bentuk - bentuk kegiatan:
Kegiatan pertemuan orangtua/ kelas
orangtua
Keterlibatan orangtua di kelas anak
Orangtua menjadi narasumber

Pentas akhir tahun
Keterlibatan orangtua dalam kegiatan
bersama
Hari konsultasi
Kunjungan rumah

Pemberdayaan orangtua melalui moda
daring dan luring

15

H. Sumber Belajar

1 Modul 2 Bahan bacaan 3 Tayangan video 4 Media digital
dan studi kasus

I. Media Pembelajaran

Media pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran ini
antara lain:

1 Laptop 2 LCD projector 3 Media digital

16

BAB III
PROGRAM PEMBERDAYAAN

ORANG TUA PADA PAUD
A. Dasar Pemikiran

1. Dua Sudut Pandang (Perspektif) terhadap Keluarga dan PAUD

Salah seorang tokoh yang berpengaruh dalam dunia pendidikan di Indonesia
adalah Ki-Hajar Dewantara yang telah mengilhami lahirnya perguruan Nasional
Taman Siswa di Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 1922. Tahun pertama berdirinya
Taman Siswa ini dimulai dibukanya sekolah yang diberi nama “Taman Lare” atau
“Taman Anak”. Konsep Ki-Hajar Dewantara tentang pendidikan dituangkan melalui “Tri
Sentra Pendidikan” yang dikembangkan di Perguruan Taman Siswa, yaitu sentra
keluarga, sentra perguruan dan sentra masyarakat. Dalam konteks sentra keluarga,
pendidikan keluarga telah melahirkan konsep “among”, dimana konsep among ini
menuntut para orang tua untuk bersikap, yaitu: (a) ing ngarso sung tolodo, (b) ing
madya mangun kasra, (c) tut wuri handayani. Dalam konteks sentra keluarga, Ki-Hajar
Dewantara sangat peduli dalam memperhatikan, bahkan meminta para orang tua
untuk mendidik anak-anak sejak usia dini(alam keluarga). Alam keluarga itu adalah
suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan kesusilaan dan
kesosialan, sehingga boleh dikatakan, bahwa keluarga itu tempat pendidikan yang
lebih sempurna sifat dan wujudnya dari pada tempat-tempat lainnya,
guna untuk melangsungkan pendidikan ke arah kecerdasan budi
pekerti (pembentukan watak individual) dan sebagai persediaan
hidup kemasyarakatan (Ki- Hajar Dewantara, 1961 : 374).

17

Pentingnya pendidikan keluarga bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di
kemukakan lebih lanjut oleh Ki-Hajar Dewantara (1961) bahwa alam keluarga, adalah:
(a) alam pendidikan yang permulaan, pendidikan pertama kalinya bersifat pendidikan
dari orang tua yang berkedudukan sebagai guru (penuntut), sebagai pengajar dan
sebagai pemimpin, (b) di dalam keluarga itu anak-anak saling mendidik, (c) di dalam
keluarga anak-anak berkesempatan mendidik diri sendiri, karena di dalam hidup
keluarga itu mereka tidak berbeda kedudukannya, (d) didalam keluarga orang tua
sebagai guru dan penuntun, sebagai pengajar, sebagai pemberi contoh dan teladan
bagi anak-anak. Apabila interaksi sosial anak dalam keluarga kurang baik, maka
kemungkinan besar interaksi anak dalam masyarakat pada umumnya juga kurang
baik. Jadi di samping fungsinya dalam peranan umum, keluarga juga merupakan
kerangka sosial yang pertama, yaitu tempat manusia belajar berkembang sebagai
makhluk sosial. Sesuai dengan sifat pendidikan keluarga, orang tua Di dalam keluarga
anak pertama-tama belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar
bekerja sama, bantu membantu.

Di sinilah berarti dia sudah belajar untuk menjadi makhluk sosial. Pengalaman
dalam interaksi keluarga turut membantu cara-cara untuk bertingkah laku nyata
dalam masyarakat kelak. Keluarga adalah pendidik pertama, utama dan kodrat.
Wewenang secara kodrat yang dimiliki orang tua dalam mendidik anaknya tidak
dapat diganggu gugat sebab anak adalah hak orang tua. Tetapi karena alasan-alasan
tertentu hak orang tua ini dapat dicabut, misalnya karena orang tuia menjadi gila.
Kehidupan keluarga penuh dengan sikap gotong royong serta toleransi. Juga keluarga
merupakan peletak dasar utama bagi pendidikan keagamaan. Di samping itu juga
pendidikan budi pekerti, tertanam dalam lingkungan keluarga secara kuat dan murni,
sehingga tidak dapat pusat-pusat pendidikan lain menyamainya. Dalam pandangan Ki
Hajar Dewantara kedewasaan bisa diartikan sebagai kesempurnaan hidup yakni
kehidupan dan penghidupan anak-anak yang selaras dengan alamnya dan masyarakat.
Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan secara umum sebagai daya upaya untuk
mewujudkan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek) dan
jasmani anak, menuju ke arah masa depan yang lebih baik.

18

Kedewasaan akan tercapai pada akhir windu ketiga, yaitu tercapainya
kesempurnaan hidup selaras dengan alam anak dan masyarakat. Selain itu ajaran yang
tidak kalah penting adalah sebagai sistem among, yang antara lain berbunyi:

a Ing ngarso sung tulodho:

Artinya sebagai pemimpin apabila sedang di depan harus dapat
memberi contoh yang baik, yang meliputi kebaikan budi
pekertinya, kepandaiannya, dan keterampilannya.

b Ing madyo mangun karso:

Artinya sebagai pemimpin apabila sedang berada di tengah
harus dapat membangun, bergotong royong bersama dengan
orang-orang yang dipimpinnya. Tidak hanya bisa memerintah,

namun juga harus dapat dan mau “tandang gawe”, yaitu
diperintah oleh kemauannya sendiri.

c Tut wuri Handayani:

Artinya sebagai pemimpin apabila sedang berada di belakang
harus dapat mendorong dan memberi semangat (nyurung
karep) kepada semua teman-temannya.

Menurut Ki Hajar rasa cinta, rasa bersatu, perasaan serta
keadaan jiwa pada umumnya, sangat bermanfaat untuk
berlangsungnya suatu proses pendidikan.

19

Dengan memahami dasar-dasar filosofi dari sudut pandang ini diharapkan
program-program yang akan dikembangkan oleh pendidik dalam memberikan
pelayanan PAUD menjadi lebih terarah dan berdaya guna.
Terdapat dua sudut pandangan utama yang dijadikan dasar melakukan sosialisasi
dalam mendidik anak usia dini di masyarakat, yaitu:

a Sudut pandang pertama adalah berorientasi pada
keluarga (family oriented) yang menekankan
kepada keutamaan orangtua sebagai pendidik,
pembimbing moral/karakter, dan pengasuh dari
anak-anakya.
b Sudut pandang kedua adalah berorientasi pada
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang cenderung
berpandangan terpisah dengan keluarga. Sudut
pandang ini didasari seperangkat pengetahuan
tentang sosialisasi dini dan penekanan pada
penelitian tentang tahap-tahap perkembangan anak
yang umum /universal (Holloway dan Fuller 1999: 98).

Dua sudut pandang ini masing-masing menghasilkan dua tanggapan yang berbeda
terhadap perumusan kebijakan serta pelaksanaan program perawatan dan pengasuhan
anak. Bagi mereka yang memiliki sudut pandang yang berorientasi keluarga
menginginkan perolehan deskriptif tentang tujuan, nilai-nilai karakter dan praktek
orangtua serta pilihan-pilihan program perawatan dan pengasuhan yang men-
cerminkan sudut pandang ini. Sedangkan pada sudut pandang
pendidikan anak usia dini, lebih mendorong kepada petunjuk
universal yang berdasarkan pada keahlian profesional untuk dapat
menjamin kualitas serta diharapkan orangtua akan memilihnya
sesuai dengan nilai-nilai tingkat pendidikannya (Holloway dan
Fuller 1999: 99-115).

20

Berdasarkan Permendikbud 30 tahun 2017 Pelibatan Keluarga pada
Penyelenggaraan Pendidikan bertujuan untuk: meningkatkan kepedulian dan tanggung
jawab bersama antara Satuan Pendidikan, Keluarga, dan Masyarakat terhadap
Penyelenggaraan Pendidikan; mendorong Penguatan Pendidikan Karakter Anak;
meningkatkan kepedulian Keluarga terhadap pendidikan Anak; membangun sinergitas
antara Satuan Pendidikan, Keluarga dan Masyarakat dan mewujudkan lingkungan
Satuan Pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Pelibatan Keluarga
dilakukan dengan prinsip: persamaan hak; semangat kebersamaan dengan berasaskan
gotong-royong; saling asah, asih, dan asuh; dan mempertimbangkan kebutuhan dan
aspirasi Anak. Sasaran Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan meliputi:
Satuan Pendidikan; Komite Sekolah; Keluarga; dan Masyarakat.

Untuk mengakomodasi dua sudut pandang yang menyebar ini (divergent), bahan
ajar diklat berjenjang untuk tingkat lanjutan mengemukakan dua topik penting dalam
program pemberdayaan orangtua. Pertama adalah dari sudut pandang yang
berorientasi kepada orangtua dirancang program-program yang berkaitan dengan
penanaman pendidikan karakter anak yang dilakukan oleh orangtua (pada Poin B).
Sedangkan topik yang dapat mengakomodasikan sudut pandang PAUD, dikemukakan
program-program yang melibatkan orangtua dalam rangka meningkatkan kualitas
pembelajaran dalam lembaga PAUD (pada Poin C).

Dua jenis program pemberdayaan dari dua sudut pandang yang berbeda, masih
tetap membutuhkan suatu prasyarat bagi penanaman pendidikan karakter anak serta
partisipasi orangtua, yaitu adanya suasana kekeluargaan dan keharmonisan keluarga.
Namun sebelum prasyarat-prasyarat pemberdayaan keluarga tersebut dapat
dipahami, ada baiknya peserta diklat mendapatkan materi tentang peran dan fungsi
keluarga terlebih dahulu.

21

2. Peran dan Fungsi Keluarga dalam Pendidikan dan Perkembangan Anak

Keluarga adalah lingkungan pertama bagi anak, disinilah pertama kali ia
mengenal nilai dan norma. Karena itu keluarga merupakan pendidikan tertua yang
bersifat informal dan kodrati. Pendidikan di lingkungan keluarga berfungsi untuk
memberikan dasar dalam menumbuhkembangkan pertumbuhan dan perkembangan
anak sebagai makhluk individu, sosial, susila dan religius.
Adapun peran lembaga pendidikan keluarga, yaitu:

a.

Merupakan pengalaman pertama bagi masa kanak-kanak, pengalaman
ini merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan
berikutnya, khususnya dalam perkembangan pribadinya. Kehidupan
keluarga sangat penting, sebab pengalaman masa kanak-kanak akan
memberi warna pada perkembangan berikutnya.

b.

Pendidikan di lingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan
emosional anak untuk tumbuh dan berkembang, kehidupan emosional
ini sangat penting dalam pembentukan pribadi anak. Hubungan
emosional yang kurang dan berlebihan akan banyak merugikan
perkembangan anak.

c.

Keluarga akan membentuk pendidikan moral, keteladanan orangtua di
dalam bertutur kata dan berperilaku sehari-hari akan menjadi wahana
pendidikan moral bagi anak di dalam keluarga tersebut, guna
membentuk manusia susila.

22

1. Pengertian Keluarga

Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga yang berarti
“anggota”, “kelompok kerabat”. Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang
yang masih memiliki hubungan darah bersatu. Keluarga inti (nuclear family) terdiri
dari ayah, ibu dan anak-anak mereka. Definisi keluarga menurut Burgess, dkk dalam
Friedman (1998) yang berorentasi pada tradisi dan digunakan secara luas sebagai
referensi:

a.

Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan dengan ikatan
perkawinan, darah dan ikatan adopsi.

b. Para anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam

satu rumah tangga atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka
tetap menganggap rumah tangga tersebut sebagai rumah mereka.

c. Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalam

peran-peran sosial keluarga seperti suami-istri, ayah dan ibu, anak
laki-laki dan anak perempuan dan saudara lainnya.

d. Keluarga sama-sama menggunakan kultur yang sama yaitu kultur yang

diambil dari masyarakat dengan beberapa ciri unik tersendiri.

23

Menurut pandangan sosiologis, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu:

a. Dalam arti yang sempit: keluarga ini hanya terdiri atas ayah, ibu, dan

anak. Keluarga semacam ini disebut keluarga inti atau keluarga batih
(nuclear family).

b. Dalam arti yang luas: keluarga ini meliputi semua pihak yang ada

hubungan darah atau keturunan. Jadi, bukan hanya terdiri atas ayah,
ibu, dan anak, tetapi juga meliputi kakek, nenek, paman, bibi, dan
keponakan. Keluarga dalam arti ini bisa disebut keluarga besar, atau
keluarga luas (extended family), klan ataupun marga.
Selain itu, berikut adalah pengertian keluarga menurut beberapa ahli, yaitu:

a. Menurut Whall dalam Friedman (1998), mendefinisikan keluarga sebagai

kelompok yang mengidentifikasi diri dengan anggotanya terdiri dari dua
individu atau lebih, asosiasinya dicirikan oleh istilah-istilah khusus yang
boleh jadi tidak diikat oleh hubungan darah atau hukum, tapi berfungsi
sedemikian rupa sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai
sebuah keluarga.

b. Departemen Kesehatan dalam Effendy (1998) mendefinisikan keluarga

sebagai unit terkecil dari masyarakat terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah
satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

24

c. Menurut Friedman dalam Suprajitno (2004) mendefinisikan bahwa

keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama
dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran
masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga.

d. Menurut Departemen Depkes RI tahun 1983, keluarga adalah salah satu

kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama sebagai suatu
kesatuan atau unit masyarakat terkecil dan biasanya tetapi tidak selalu
ada hubungan darah, ikatan perkawinan atau ikatan lain, mereka hidup
bersama dalam satu rumah atau tempat tinggal biasanya di bawah
asuhan seorang kepala rumah tangga dan makan dari satu periok.

e. Menurut Depkes RI tahun 1988, keluarga adalah unit terkecil dari

masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang
tinggal dan berkumpul di suatu tempat di bawah suatu atap dalam
keadaan saling ketergantungan.

f. Menurut Salvicion, keluarga adalah dua atau lebih individu yang

tergabung karena ikatan darah, hubungan perkawinan atau
pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain dan di dalam peranannya masing-masing
dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

25

Dari batasan-batasan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga adalah:

a. Unit terkecil masyarakat atau keluarga adalah suatu kelompok
b. Terdiri dari dua orang atau lebih dan pertalian darah
c.

Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah

d. Hidup dalam satu rumah tangga
e.

Di bawah asuhan kepala rumah tangga

f. Berinteraksi satu sama lain
g.

Setiap anggota keluarga menjalankan perannya masing-masing

26

2. Fungsi Keluarga

Sebuah pranata keluarga memiliki sejumlah fungsi yang sesuai dengan
harapan-harapan masyarakat. Fungsi dari keluarga itu adalah meliputi:
a. Fungsi Biologis atau Reproduksi
Setiap pria dan wanita memiliki kebutuhan biologis
dalam bentuk kebutuhan seksual. Berdasarkan
pemenuhan kebutuhan biologis tersebut pada
hakikatnya akan menuju pada pengembangbiakan
keturunan (anak). Dengan demikian, keluargapun
berfungsi sebagai sarana reproduksi atau sarana
untuk mengembangkan dan melanjutkan keturunan
manusia di muka bumi ini secara sah. Kebutuhan akan
keterlindungan fisik, seperti kesehatan jasmani, dapat
pula digolongkan pada kebutuhan biologis.

b. Fungsi Protektif atau Perlindungan
Keluarga dapat menjalankan fungsi protektif atau
fungsi memberikan perlindungan bagi seluruh anggota
keluarga. Di antara alasan seseorang melangsungkan
perkawinan dan membentuk keluarga adalah untuk
mendapatkan rasa adanya jaminan dan perlindungan
dalam keterjaminan dan keterlindungan hidupnya, baik
secara fisik (jasmani) maupun psikologis (rohani).

27

c. Fungsi Afeksional atau Perasaan
Fungsi afeksional (perasaan) anak, terutama pada
saat masih kecil, berkomunikasi dengan lingkungan
dan orangtuanya dengan keseluruhan kepribadiannya.
Pada saat anak masih kecil ini fungsi afeksi atau
perasaannya memegang peranan sangat penting. Ia
dapat merasakan dan menangkap suasana perasaan
yang meliputi orangtuanya pada saat anak
berkomunikasi dengan mereka. Dengan kata lain, anak
peka sekali dengan iklim emosional (perasaan) atau
afeksional yang meliputi keluarganya.
d. Fungsi Ekonomis
Fungsi ekonomi keluarga sangat penting bagi kehidupan keluarga, karena merupakan
pendukung utama bagi kebutuhan dan kelangsungan keluarga. Fungsi ekonomi keluarga
meliputi pencarian nafkah, perencanaan serta penggunaannya. Pelaksanaan fungsi
ekonomi keluarga oleh dan untuk semua anggota keluarga mempunyai kemungkinan
menambah saling pengertian, solidaritas, dan tanggung jawab bersama dalam keluarga
itu. Pemenuhan fungsi ekonomi keluarga ini harus mesti dilakukan secara wajar, artinya
tidak kekurangan dan tidak pula berlebihan, karena jika kekurangan atau berlebihan
dapat membawa pengaruh negatif bagi anggota keluarga itu sendiri.

28

e. Fungsi Sosialisasi
Fungsi sosialisasi mempunyai kaitan yang sangat erat
dengan fungsi pendidikan, karena dalam fungsi
pendidikan terkandung upaya sosialisasi, dan demikian
pula sebaliknya. Anak memperoleh sosialisasi yang
pertama di lingkungan keluarganya. Orang tuanya
mempersiapkannya untuk menjadi anggota
masyarakat yang baik. Dengan melaksanakan fungsi
sosialisasi ini dapat dikatakan bahwa keluarga
berkedudukan sebagai penghubung anak dengan
kehidupan sosial di masyarakat.
f. Fungsi Edukasi
Fungsi edukatif atau fungsi pendidikan keluarga merupakan salah satu tanggung jawab
yang paling penting yang dipikul oleh orangtua. Keluarga merupakan lingkungan
pendidikan yang pertama bagi anak. Orang yang berperan melaksanakan pendidikan
tersebut adalah ayah dan ibunya. Kehidupan keluarga sehari-hari pada saat-saat tertentu
beralih menjadi suatu situasi pendidikan yang dihayati oleh anak-anaknya. Dalam
lingkungan keluarga anak dididik dari mulai belajar berjalan, bersikap, perilaku
keagamaannya, pengetahuan serta kemampuan lainnya. Memang karena sekarang
berbagai kemampuan yang harus dikuasai anak begitu kompleks, maka tidak semua hal
dapat diajarkan atau dididik oleh orang tua, sehingga anak-anak harus sekolah. Namun
demikian, pendidikan di keluarga tetap merupakan dasar atau landasan utama bagi anak
(khususnya dalam pembinaan kepribadian) untuk mengembangkan pendidikan
selanjutnya.

29

g. Fungsi Religius

Keluarga mempunyai fungsi religius. Artinya, keluarga berkewajiban memperkenalkan dan
mengajak anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan beragama. Untuk
melaksanakannya orangtua sebagai tokoh inti dalam keluarga serta anggota keluarga
lainnya harus terlebih dahulu menciptakan iklim atau suasana religius dalam keluarga itu.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana religius antara lain
meliputi tiga aspek, yaitu:

Aspek fisik, yang berupa penyediaan lingkungan fisik yang
mengandung nilai dan ciri keagamaan seperti fasilitas untuk
1. pelaksanaan ibadah, dekorasi dan hiasan yang bernafas keagamaan.

2. Aspek emosional (perasaan) yang dapat menggugah rasa keagamaan.

Aspek sosial berupa hubungan sosial antar anggota keluarga sendiri,
dan antara keluarga dengan pihak luar keluarga (misalnya dengan
3. mesjid) yang dilandasi kehidupan kegamaan.

30

h. Fungsi Pengendalian Sosial
Keluarga dapat berperan sebagai agen pengendali
sosial (social control) bagi anggotanya. Keluarga dapat
melakukan upaya pencegahan (preventif) terhadap
anggotanya agar tidak melakukan perilaku
menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku di
masyarakat. Keluarga juga dapat melakukan upaya
kuratif, misalnya dengan mengingatkan, menyadarkan,
ataupun menghukum anggota keluarganya.
i. Fungsi Rekreatif
Fungsi rekreatif ini tidak berarti keluarga seolah-olah harus berpesta-pora atau selalu
berekreasi di luar rumah. Rekreasi itu dirasakan orang apabila ia menghayati suatu
suasana yang tenang dan damai, jauh dari ketegangan batin, segar, dan santai serta
kepada yang bersangkutan memberikan perasaan bebas terlepas dari kesibukan
sehari-hari. Keluarga dapat menjalankan fungsi rekreatif dengan menciptakan suasana
keluarga yang akrab, ramah, dan hangat di antara anggotanya. Suasana keluarga yang
kering dan gersang sukar untuk mengembangkan rasa nyaman dan santai pada
anggotanya, sehingga mereka akan lebih senang mencari hiburan di luar rumah. Fungsi
rekreatif sangat penting bagi anggota keluarga, karena dapat menjamin keseimbangan
kepribadian anggota keluarga, mengurangi ketegangan perasaaan, meningkatkan saling
pengertian, memperkokoh kerukunan dan solidaritas keluarga, dan meningkatkan rasa
kasih sayang.

31

3. Suasana Kekeluargaan dan Keharmonisan dalam Keluarga

Keharmonisan keluarga berkaitan erat dengan suasana hubungan perkawinan yang
bahagia dan serasi serta harmonis. Keharmonisan keluarga sendiri mempunyai
beberapa aspek, yakni:

a Terciptanya kehidupan beragama dalam rumah.
Berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa keluarga yang tidak
religius yang penanaman komitmennya rendah atau tanpa nilai agama
sama sekali cenderung terjadi pertentangan konflik dan percekcokan
dalam keluarga, dengan suasana yang seperti ini, maka anak akan merasa
tidak betah di rumah dan kemungkinan besar anak akan mencari
lingkungan lain yang dapat menerimanya.

b Menyediakan waktu bersama keluarga Keluarga yang harmonis selalu
menyediakan waktu untuk bersama keluarganya, baik itu hanya sekedar
berkumpul, makan bersama, menemani anak bermain dan mendengarkan
masalah dan keluhan-keluhan anak, dalam kebersamaan ini anak akan
merasa dirinya dibutuhkan dan diperhatikan oleh orangtuanya, sehingga
anak akan betah tinggal di rumah.

32

c Berkomunikasi yang baik dalam keluarga komunikasi merupakan dasar bagi
terciptanya keharmonisan dalam keluarga. komunikasi yang baik dalam
keluarga juga akan dapat membantu remaja untuk memecahkan permasalahan
yang dihadapinya di luar rumah, dalam hal ini selain berperan sebagai
orangtua, ibu dan ayah juga harus berperan sebagai teman, agar anak lebih
leluasa dan terbuka dalam menyampaikan semua permasalahannya.

d Saling sopan santun dalam keluarga Keluarga yang harmonis adalah keluarga
yang memberikan tempat bagi setiap anggota keluarga menghargai perubahan
yang terjadi dan mengajarkan ketrampilan berinteraksi sedini mungkin pada
anak dengan lingkungan yang lebih luas.

e Jangan ada perselisihan dan pertengkaran dalam keluarga. Jika dalam keluarga
sering terjadi perselisihan dan pertengkaran maka suasana dalam keluarga
tidak lagi menyenangkan. Dalam keluarga harmonis setiap anggota keluarga
berusaha menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan mencari
penyelesaian terbaik dari setiap permasalahan.

f Adanya hubungan erat antar anggota keluarga. Hubungan yang erat antar
anggota keluarga juga menentukan harmonisnya sebuah keluarga, apabila
dalam suatu keluarga tidak memiliki hubungan yang erat maka antar anggota
keluarga tidak ada lagi rasa saling memiliki dan rasa kebersamaan . Hubungan
yang erat antar anggota keluarga ini dapat diwujudkan dengan adanya
kebersamaan, komunikasi yang baik antar anggota keluarga dan saling
menghargai.

33

B. Penanaman Pendidikan Karakter pada

Anak Usia Dini
1. Keteladanan

Setiap orangtua harus bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Interaksi anak
pertama kalinya pastilah dengan orang yang berada didekatnya yaitu orang tua.
Anak-anak akan melihat, mengamati, sampai meniru apa yang diucapkan dan dilakukan
orang tua. Oleh sebab itulah orangtua perlu membekali diri untuk bisa menjadi teladan
yang baik. Berikut ulasan enam konsep yang perlu dimiliki oleh setiap orang tua:
a. Berilmu

Orang tua yang pandai dapat mendidik anak-anaknya dengan baik. Orang tua perlu
memiliki pengetahuan tentang pokok-pokok pendidikan menurut syariat agamanya
masing-masing. Seperti umat Islam misalnya, mengusai hukum dan prinsip-prinsip
etika Islam dan kaidah-kaidah dalam syari’at Islam. Ilmu pengetahuan lain yang perlu
dimiliki orangtua antara lain ilmu tentang kebutuhan anak untuk membantu kesulitan
belajar atau memahami sesuatu dalam perkembangan pendidikan di rumah maupun
di sekolah. Ilmu yang dimiliki orangtua merupakan ilmu yang mampu memenuhi
kebutuhan fisik, fikir dan jiwa anak.

Seorang ibu sebaiknya sebelum mengandung mulai meluaskan wawasan tentang
bagaimana menjadi orangtua yang baik agar dapat mendidik anak dengan optimal.
Begitu juga dengan seorang ayah,perlu meluaskan wawasan sebelum memiliki
keturunan. Keseimbangan pengetahuan yang dimiliki ibu dan ayah akan semakin
mendukung pendidikan anak di rumah. Jika ada ketidakseimbangan pengetahuan
tentang membesarkan dan mendidik anak maka bisa terjadi mis komunikasi antar ibu
dan ayah. Misalnya seorang ayah memahami makan yang banyak itu sudah cukup
untuk pertumbuhan anak sedangkan ibu memahami pentingnya dan besar pengaruh
gizi makanan untuk pertumbuhan dan kecerdasan anak.

34

b. Taqwa
Bila seorang beriman menuntut ilmu maka seharusnya akan bertambah

keimanannya dan ketaqwaannya. Ini merupakan ciri kepribadian seseorang yang
beragama muslim. Orangtua yang bertaqwa akan mendidik anak-anaknya bertakqwa
juga pada Tuhan YME dengan benar. Orang yang berilmu dan bertakqwa menjadi
yakin akan kebesaran TuhanNya, tidak sombong dan hidupnya untuk ibadah semata.
Suasana keluarga yang bertaqwa amat berpengaruh dalam menyiapkan pribadi anak.
Adanya ketaqwaan dalam mendidik dan memperlakukan anak-anak akan
menghasilkan anak-anak yang juga bertaqwa. Suasana rumah tenang, damai, dipenuhi
suasana untuk banyak mengingat Allah, akan mendukung anak menjadi tenang yang
membentuk pribadi yang percaya diri dan tenang. Melalui suasana rumah tersebut
akan melahirkan sikap dan kepribadian anak yang stabil dan khusu’. Selain itu anak
bisa lebih tampil percaya diri dalam tugas menuntut ilmu untuk menjadi manusia
yang berilmu dan bertaqkwa.

35

c. Ikhlas
Keikhlasan mendorong orangtua untuk melaksanakan metode pendidikan yang

direncanakan dan memperhatikan kebutuhan anak secara berkelanjutan. Keikhlasan
akan memberikan semangat pada orangtua untuk tidak berputus asa memberikan
pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Baik ibu maupun ayah akan lebih
merasa puas dengan keberhasilan yang dicapai anak, tidak mensisipkan
kepentingan-kepentingan pribadi dalam mendidik anak. Keiklhasan orangtua akan
mendidik anak menjadi ikhlas dalam perkataan dan perbuatan. Betapa bahagianya
seorang anak yang tumbuh dan berkembang di dalam naungan orang-orang yang
ikhlas. Tak terdengar kata-kata yang kasar, hardikan atau pukulan namun yang ada
kasih sayang, doa dan harapan kapada Tuhan Yang Maha Esa. Membentuk jiwa anak
yang bersih, lembut dan penurut pada orangtua dan patuh pada perintah Tuhan,
sebagaimana orangtua mereka mencontohkan dalam kesehariannya.

36

d. Santun
Sikap santun adalah suatu pembiasaan tingkah laku seseorang pada orang lain, baik

di dalam rumah atau di masyarakat yang menampilkan kelembutan, ramah,
penyanyang dan suka menolong. Karena dari sikap santun dapat menunjukan
kepribadian seseorang dalam memahami sifat-sifat Tuhan, sebagaimana Tuhan YME
mengasihi semua makhluk dan menyayangi orang-orang yang beriman. Orang tua
sebaiknya memiliki kesantunan perkataan dan perbuatan. Santun dalam perkataan
adalah senantiasa mengucapkan hal-hal yang baik saja, lembut, merendahkan
suaranya. Sedangkan santun dalam perbuatan adalah lemah lebut, suka menolong
orang lain, dan beraktivitas secara teratur. Kesantunan yang dimiliki ibu sejak masih
mengandung maka dapat melahirkan anak-anak yang santun baik perkataan maupun
perbuatan.

37

e. Tanggung Jawab
Tanggung jawab akan mendorong pendidik untuk memperhatikan, mengarahkan

anak kepada hal-hal yang baik. Amanah dalam mendidik untuk setiap orangtua,
semata-mata karena tanggungnjawab pada Tuhan YME. Sudah seharusnya sikap
tanggung jawab akan tampil dalam setiap tugas atau amanah yang telah dibebankan
pada orang tua. Sebagai orang yang beragama akan melakukan tanggung jawabnya
dengan yang terbaik karena semata merasa Tuhan mengawasinya dan yang
memberikan penilaian dan ganjaran yang sesuai dengan perbuatannya. Tanggung
jawab orang tua terhadap pendidikan anak yaitu memperhatikan kebutuhan anak
dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanggung jawab dunia seperti
mendidik keilmuan duniawi, kebutuhan kehidupan, sampai anak-anak berhasil dan
bahagia di dunia. Sedangkan tanggung jawab akhirat seperti memenuhi kebutuhan
spiritualnya, agar anak juga terpenuhi kejiwaan, akhlak baiknya, hingga mendidik anak
meraih kebahagiaan kekal di syurgaNya. Kurang bertanggungjawabnya orang tua
dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya bisa mengakibatkan masalah
kenakalan anak. Anak menjadi nakal karena merasa kurang diperhatikan oleh kedua
orang tuanya.

Orangtua yang sibuk hanya memperhatikan kebutuhan ekonomi saja bagi
keluarganya bukanlah orangtua yang sudah bertangung jawab. Masing -masing ayah
dan ibu harus tahu tugas dan fungsinya. Ayah memiliki tanggung jawab sebagai
kepala keluarga, ibu juga punya tangungjawab atas rumah tangganya dan anak. Anak
mempunyai tanggung jawab menuntut ilmu, patuh pada kedua orangtua dan
menjalankan tugas ibadahnya. Tanggung jawab yang telah diatur dalam ajaran agama
apapun termasuk Islam, yang berarti bila meninggalkan akan terkena sangsi dari
Tuhan YME. Bila orangtua tidak mencontohkan tanggung jawab yang benar maka
anak juga tidak bisa mengambil contoh yang benar dari orang tuanya.

38

f. Sabar
Sabar adalah ketegaran dalam mempertahankan prinsip dan kebenaran,

mengupayakan langkah-langkah pendidikan dan menghadapi kesulitan dalam
mendidik. Kedewasaan tercermin dari sifat sabar, baik, menerima, berikhtiar. Orangtua
yang sabar dapat mengendalikan diri, siap menghadapi kendala dalam menegakkan
kebenaran. Ketika anak mulai menunjukkan jati dirinya, adakalanya membuat orangtua
”kewalahan” menghadapinya. Namun ketika orangtua sabar membimbing anak,
menerima kelebihan dan kekurangannya, akan membuat anak merasa diterima dan
mau mengikuti arahan orang tua. Sikap sabar akan membuahkan kebahagiaan dan
kemanisan. Ketika anak membuat ”ulah”, orangtua sabar menghadapinya maka
kebahagiaan dan kemanisan hidup dapat ditemui. Sikap sabar akan memberikan
kekuatan jiwa dan menimbulkan tenaga atau semangat baru. Semangat untuk tidak
menyerah dalam memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak. Bahkan sifat
sabar mudah menular pada orang-orang disekitarnya. Sikap sabar pada orangtua pada
akhirnya dapat melunakkan hati yang keras, dan menjadikan anak mau mengerti apa
yang diarahkan dari orangtua mereka.

39

Demikianlah ulasan keenam sifat keteladan orang tua. Pemahaman yang luas
dan benar amat menunjang terbentuknya keteladanan yang lengkap dan mudah
untuk diikuti oleh anak. Tugas mendidik adalah bukan tugas yang ringan karena harus
memperhatikan tujuan yang dicapai, keadaan anak yang membawa fitrahnya, serta
beragam bentuk lingkungan. Untuk mencapai tujuan pendidikan diperlukan bekal,
tidak hanya teori atau penerapan pengalaman, melainkan berupa kekuatan batin.
Kekuatan yang mampu membuat strategi serta menjalankannya dilakukan sambil
bersaing dengan kondisi lingkungan yang mengitarinya. Keteladanan orang tua
merupakan hal amat penting dalam pendidikan enam sifat keteladanan itu dapat
direalisasikan dalam kesehariannya yang memberikan pengaruh pendidikan
keteladanan pada anak dan sikap hidup pada lingkungannya.

40

2. Kejujuran

Kejujuran merupakan salah satu fondasi penting dalam membina hubungan dengan
diri sendiri dan orang lain. Meskipun kejujuran begitu penting dalam kehidupan, namun
kejujuran merupakan hal yang sulit dilakukan. Seseorang selalu tergoda untuk melakukan
kebohongan dan kecurangan disebabkan ingin mendapatkan sesuatu lewat jalan pintas.
Oleh sebab itu, kejujuran memerlukan keberanian menunda kesenangan sementara
untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi. Kejujuran merupakan kebiasaan, oleh sebab
itu sebaiknya sikap ini dibiasakan sejak anak usia dini. Penanaman nilai-nilai kejujuran
pada anak usia dini dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan kognitif
dan pendekatan belajar sosial.

Pendekatan kognitif digunakan untuk menumbuhkembangkan pengetahuan dan
kesadaran anak terhadap pentingnya bersikap jujur. Pendekatan belajar sosial yang
dilakukan lewat percontohan dan penguatan digunakan untuk membiasakan anak
melakukan perbuatan jujur lewat peniruan dan pembiasaan. Kedua pendekatan ini
sebaiknya dipahami dan digunakan para orang tua, guru, dan para orang dewasa lainnya
dalam mengajarkan nilai-nilai kejujuran pada anak usia dini. Kita dapat menanamkan sifat
jujur ini, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dibarengi dengan keteladanan, harus
senantiasa selaras antara kata dan tindakan. Jangan sampai sikap kita justru
mengajarkan ketidakjujuran. Misal saat istirahat siang, ada tamu mengetuk pintu. Karena
agak malas menemui lalu kita bilang, “Nak, katakan pada tamu, bapak tidak ada. Sedang
keluar kota.” Saat demikian, tindakan dan sikap kita itu akan lebih ditangkap dari pada
kata-kata kita yang mengajarkan kejujuran. Seorang ibu diharapkan selalu menanamkan
dan mencontohkan nilai-nilai kejujuran pada anaknya. Tidak hanya itu, ia juga menyuruh
anaknya untuk berjanji selalu jujur dan tidak akan pernah berdusta sebagai perwujudan
nilai iman. Sang anak itu pun meresapi pesan ibundanya. Dan berjanji di depan ibunya
untuk selalu jujur, sampai tertanam itu pun tertancap kokoh di hatinya. Saat ia pamit
pergi menempuh perjalanan yang jauh, sekali lagi ibunya menyuruhnya memperbaharui
janjinya; tidak akan berdusta.

41

3. Kedisiplinan

a. Pengertian Disiplin
Disiplin adalah cara untuk mengoreksi atau memperbaiki dan mengajarkan pada

anak tentang tingkah laku yang baik tanpa merusak harga diri anak (tidak boleh
membuat anak merasa jelek atau tidak berharga sebagai manusia). Anak usia dini
ciri-ciri sebagai berikut: rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, imajinasi yang
tinggi, minat yang luas, tidak takut salah, berani mengambil resiko, senang hal-hal
baru, senang menjelajah lingkungan dengan bergerak, senang melempar pasir,
mendorong teman, merebut mainan dan sulit berbagi dalam berbagai hal. Tidak hanya
orang dewasa, sifat disiplin sangat penting ditanamkan pada anak-anak sedini
mungkin. Mungkin di usia anak-anak yang masih belum mempunyai tanggung jawab
yang besar, kedisiplinan bukanlah hal yang penting. Namun bila sifat disiplin tersebut
ditanamkan pada anak-anak kita sejak masa kanak-kanak, tentu akan menjadi sebuah
modal yang sangat berharga bagi buah hati kita kala dewasa kelak.

Menanamkan sifat disiplin bagi anak-anak tentu bukanlah hal yang mudah,
membutuhkan sebuah pembiasaan dan ketekunan, dan tentunya dengan bantuan dari
orang tua. Sebagai orang tua yang menginginkan buah hatinya menjadi anak yang
disiplin, sifat disiplin itu sendiri harus tertanam di dalam hati orang tua. Dengan kata
lain, semua harus dimulai dari orang tua, yang nantinya akan ditransfer atau diajarkan
kepada anak. Akan menjadi sia-sia bagi kita, jika menginginkan buah hatinya menjadi
anak yang disiplin, namun kita sendiri kurang disiplin. Disiplin sangat erat
hubungannya dengan tanggung jawab dan peraturan. Tanggung jawab kita dengan
buah hati kita tentu berbeda. Namun di dalam menaati peraturan, tentu sangat
membutuhkan keselarasan. Orang tua dan anak harus menaati peraturan atau norma
yang berlaku di tengah keluarga. Norma dan peraturan di dalam sebuah keluarga,
tentu akan berbeda antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain. Oleh karena
itu, orang tua harus bertanggung jawab secara penuh dalam mendidik anak agar
menaati peraturan atau norma di dalam keluarga kita masing-masing. Menanamkan
sifat disiplin kepada anak, harus dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Orang
tua, atau sebagai orang yang lebih dewasa tentu harus peka dalam hal ini, bisa
memulainya dengan cara membuatkan jadwal makan, tidur, mandi, dan
aktivitas-aktivitas yang lain. Hal ini sangat penting agar buah hati kita belajar
bagaimana cara menghargai waktu dan menaati peraturan.

42

b. Tujuan Penanaman Disiplin pada Anak Usia Dini

1 Mengajarkan tingkah laku apa yang diharapkan.

2 Memberitahu kenapa anak harus melakukan tingkah laku tersebut

3 Mengajarkan tingkah laku mana yang tidak diharapkan pendidik

4 Memberitahu kenapa anak harus meninggalkan tingkah laku tersebut

5 Memberikan gambaran kepada anak bagaimana perasaan orang tua
terhadap tingkah laku anak.

43

Kadang-kadang disiplin diartikan sebagai hukuman (“anak ini harus didisiplinkan” yang
artinya “anak ini harus dihukum”). Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara
disiplin dan hukuman seperti yang tergambar dalam tabel berikut ini:

Tabel. 3.1 Perbedaan Disiplin dengan Hukuman

Disiplin Hukuman

1. Mengajarkan anak bagaimana bertingkah 1. Mengatakan kepada anak bahwa anak
laku. buruk.

2. Membuat anak mengerti kenapa tingkah 2. Tidak mengajarkan apa yang
lakunya salah. seharusnya dilakukan anak.

3. Tidak merusak rasa percaya diri anak. 3. Membuat anak kadang tidak mengerti
hubungan antara hukuman dengan
4. Memberikan kesempatan anak untuk tingkah lakunya yang salah.
memperbaiki tingkah laku.
4. Biasanya tidak ada hubungannya
5. Membuat anak bertanggung jawab atas dengan kesalahan anak.
tingkah lakunya.

“Mama tidak tahu apa yang kamu “Ayo berhenti berhenti nangisnya
inginkan, tolong katakan dengan baik nanti mama kurung di kamar mandi!
agar mama tahu” Mama pusing dengar kamu menangis.
Kamu ingin apa sih!”

44

c. Kiat-kiat sukses dalam mendisiplinkan anak usia dini

1 Gunakan komunikasi positif yaitu:

a. Gunakan bahasa positif dan ucapkan dengan jelas (tidak bertele-tele)

Contoh: katakan: “semuanya berjalan”

b. KISS (Keep Information Short & Simple). Katakan dengan singkat apa

yang ingin disampaikan, jelas dan padat.
Contoh: katakan: ”semuanya duduk, ibu akan segera cerita”

c. Jelas dalam mengkritik dan memberikan pujian. Jika anak butuh

dikritik maka pisahkan anak dari tingkah lakunya. Gambarkan dengan
jelas kesalahan anak dan katakan apa yang harus dikerjakan.

d. Terimalah perasaan anak. Dengarkan anak tanpa mengkritik dan

menilai. Hargai pikiran dan perasaan anak, bahkan ketika mereka
sedang marah atau bertingkah laku negatif. Latih anak untuk
mengungkapkan marahnya dengan lisan daripada memukul atau
menggigit.

e. Mendengarkan anak dengan penuh perhatian. Salah satu cara untuk

memperbaiki komunikasi adalah mendengar aktif, jongkok untuk bisa
melakukan kontak mata, beri perhatian penuh.

f. Bicaralah dengan ekspresi wajah, bahasa tubuh dan nada suara yang

pas. Riset membuktikan bahwa 70%-80% pesan dikirim oleh bahasa
tubuh dan nada suara. Buatlah ketiganya pas dengan pesan yang ingin
disampaikan.

g. Kendalikan nada suara. Jangan berteriak atau memanggil dari tempat

yang jauh dari anak (3 meter). Dekati anak dan bicara padanya dengan
lembut.

45


Click to View FlipBook Version