2 Waktu dan keyakinan. Disiplin butuh waktu, maka itu rencanakan setiap hari
untuk bicara dan mendengar anak. Jangan lupa berikan keyakinan pada anak
bahwa ibu serius dan peduli pada anak.
3 Penguatan positif
Riset membuktikan bahwa lebih efektif menggunakan penguat positif
daripada menggunakan penguat negatif atau hukuman. Hukuman memang
menghentikan tingkah laku negatif, namun tidak mengajarkan anak
bagaimana memperbaiki tingkah lakunya. Lebih jauh lagi akan menumbuhkan
rasa dendam dan anak kehilangan harga dirinya. Penguat positif
memberikan kesempatan anak untuk bertingkah laku baik, menumbuhkan
rasa percaya diri, memberikan rasa mandiri dan rasa berhasil. Ada beberapa
penguat positif yaitu
a. Penguat sosial berupa senyum, pujian verbal/lisan.
b. Penguat kegiatan berupa hak-hak istimewa.
c. Penguat primer berupa stiker, bintang, balon.
46
4 Beberapa teknik yang dapat dilakukan jika anak bertingkah laku negatif:
a. Distraksi (mengalihkan perhatian).
b. Pengarahan positif. Berikan anak tingkah laku alternatif dan
ajarkan penyaluran emosi yang bisa diterima secara sosial.
c. Mengingatkan untuk memberi nama pada perasaan anak
(verbalisasi perasaan).
d. Konsekuensi logis, yaitu apa yang terjadi harus secara alamiah
mengikuti tingkah laku anak. Misalnya anak merubuhkan balok
yang dibangun temannya, maka anak harus membangunnya
kembali. Dengan demikian konsekuensi logis membantu anak
untuk melihat adanya hubungan antara tingkah laku anak
dengan dampak tingkah lakunya pada orang lain.
47
e. Memberi pilihan, membuat anak bertanggung jawab dengan
tingkah lakunya. Caranya berikan anak dua pilihan yang mengarah
pada tingkah laku yang diharapkan. Misalnya: ”kamu mau
membereskan balok yang kecil dulu atau yang besar dulu?”
bukan “kamu mau bereskan balok ini nggak?”.
f. Memberikan sentuhan yang menyenangkan. Usap punggung anak
jika anak kelihatan kesal atau tegang.
g. Kontak mata sangat penting. Bahwa setiap kali orangtua melihat
secara langsung pada anak, maka anak mengurangi tingkah laku
negatifnya.
48
4. Toleransi
a. Pengertian
Toleransi bisa berarti sikap terbuka dan saling menghormati terhadap perbedaan.
Sikap itu hendaknya ditanamkan sejak dini pada anak, untuk menghindari konflik.
Masyarakat Indonesia yang beragam dari berbagai aspek, membutuhkan sikap toleransi
untuk menjaga keutuhan. Meskipun tak dipungkiri kenyataan munculnya konflik di
berbagai daerah akibat perbedaan tersebut. Hal itu menjadi isyarat pentingnya
mengajarkan sikap toleransi kepada anak sejak dini. Sebenarnya, arti kata toleransi
adalah sikap terbuka dan menghormati perbedaan. Meski kaitan toleransi lebih sering
pada perbedaan suku dan agama. Toleransi juga berarti menghormati dan belajar dari
orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak
stereotipe yang tidak adil, sehingga tercapai kesamaan sikap. Anak dapat diperkenalkan
konsep tentang toleransi sejak dini, yaitu pada sekitar usia empat tahun. Sebelum
mencapai usia tersebut, bukan berarti anak tidak akan sama sekali menyerap berbagai
contoh atau mengetahui nilai-nilai toleransi tersebut. Sejak usia satu tahun, alam bawah
sadar anak dapat menyerap contoh yang dilakukan oleh orangtua dan orang-orang di
sekelilingnya.
49
Namun pada usia dua tahun, sebagian besar anak masih cenderung memiliki sifat
egosentris. Artinya, anak menganggap bahwa dirinya adalah segalanya. Yang membuat
mereka sulit berbagi atau belum bersedia bermain dengan orang lain. Disinilah peran
penting orangtua dalam menanamkan nilai toleransi kepada anaknya. Terutama,
menstimulasi anak agar dia siap menerima keberadaan orang lain. Secara bersamaan,
juga menanamkan karakter toleran terhadap orang lain yang berbeda dari dirinya.
Banyak orangtua yang hidup dalam komunitas yang beragam dan memiliki teman-teman
yang memiliki perbedaan asal-usul, jenis kelamin, agama, dan sebagainya. Mengajari
toleransi pada anak-anak, sebaiknya dimulai dari sikap orangtua yang menghargai
perbedaan-perbedaan itu dengan baik, yaitu dengan menjadi diri mereka sendiri, tanpa
sikap yang dibuat-buat.
Lingkungan rumah dan sekolah memegang peranan penting dalam mengembangkan
toleransi beragama. Jika lingkungan rumah atau sekolah yang ditemui anak bersifat
heterogen maka anak dapat memahami perbedaan agama dan kebiasaan yang dilakukan
masing-masing agama. Terutama, anak-anak di masa depan dihadapkan dengan era
globalisasi yang mengharuskan mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki
latar belakang berbeda. Sehingga, pemahaman keragaman merupakan hal penting bagi
masa depan anak-anak. Apalagi kelak jarak antar negara dan benua sudah semakin
dekat berkat kemajuan teknologi. Seperti peraturan lain, toleransi harus diajarkan
dengan cara yang bijak. Meskipun anak belum bisa bicara, mereka biasanya melihat dan
meniru perilaku orangtuanya. Anak-anak, usia berapa pun, akan mengembangkan
kemampuan mereka dengan mencontoh perilaku dan penghargaan dari orang-orang
yang dekat dengan mereka.
50
b. Tips Mengenalkan Toleransi
1. Tunjukkan sikap menghargai orang lain.
Tinggal di lingkungan perumahan memungkinkan
pertemuan dengan para tetangga dengan budaya,
agama, dan kebiasaan yang beragam. Bergaul dan
selalu menghargai satu sama lain akan memberi
contoh bertoleransi yang baik pada anak.
2. Memberikan contoh
Orang tua dapat mengajarkan toleransi dengan
memberikan contoh-contoh dengan cara mereka
sendiri. Membicarakan tentang toleransi dan sikap
menghargai akan membantu anak memahami nilai
apa yang ingin Anda tanamkan pada diri mereka.
3. Hati-hati berbicara.
Ingatlah bahwa anak-anak selalu mendengar perkataan Anda. Jadi, hati-hatilah jika
membicarakan kebiasaan orang-orang yang berbeda dengan diri Anda. Meskipun
hanya candaan, ini akan terserap pada pikiran si anak dan dapat memengaruhi
sikapnya.
51
4. Cermat memilih mainan, buku dan musik
Ingatlah pengaruh media sangat besar dalam
membentuk perilaku anak. Fokuskan pembicaraan
dengan anak mengenai pandangan negatif
(stereotype) yang tidak adil dan mungkin
terpapar di media seperti film dan cerita-cerita
pada buku.
5. Jawab dengan jujur
Pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kebiasaan
beragama dan berbudaya yang berbeda harus dijawab
dengan jujur dan mencerminkan sikap menghormati.
6. Carilah komunitas yang beragam
Berilah kesempatan anak untuk bermain dan beraktivitas dengan orang lain yang
berbeda dengan diri mereka. Misalnya ketika memilih sekolah, tempat berlibur, atau
penitipan anak, carilah tempat yang populasinya beragam. Jika orangtua mengajarkan
toleransi pada anak sejak dini, mengajari cara menghargai orang lain, serta
menunjukkan model perilaku memperlakukan orang lain secara baik, niscaya anak
akan menanamkan sikap yang sama seiring perkembangannya
52
5. Kemandirian
a. Pengertian Kemandirian
Kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang
dewasa. Jika definisi mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan
seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang
lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan dengan tugas
perkembangan. Adapun tugas-tugas perkembangan untuk anak usia dini adalah belajar
berjalan, belajar makan, berlatih berbicara, koordinasi tubuh, kontak perasaan dengan
lingkungan, pembentukan pengertian, dan belajar moral. Apabila seorang anak usia dini
telah mampu melakukan tugas perkambangan, ia telah memenuhi syarat kemandirian.
Tetapi, untuk membentuk kemandirian anak usia dini itu gampang-gampang susah. Hal
ini tergantung dari orangtua anak dalam memperhatikan pertumbuhan dan
perkembangan psikologis anak. Tentu saja ini merupakan tugas orangtua untuk selalu
mendampingi anaknya, sebab orangtua adalah lingkungan yang paling dekat dan
bersentuhan langsung dengan anak. Peran orangtua atau lingkungan terhadap
tumbuhnya kemandirian pada anak sejak usia dini merupakan suatu hal yang penting.
Hal ini mengingat bahwa kemandirian pada anak tidak bisa terjadi dengan sendirinya.
Anak perlu dukungan, seperti sikap positif dari orangtua dan latihan-latihan ketrampilan
menuju kemandiriannya.
53
Dalam menanamkan kemandirian pada anak, hindarilah perintah dan ultimatum
karena dapat membuat anak selalu merasa berada di bawah orangtua dan tidak
mempunyai otoritas pribadi. Disiplin dan rasa hormat tetap bisa dilatih tanpa Anda
menjadi galak pada anak. Mengarahkan, mengajar serta berdiskusi dengan anak akan
lebih efektif daripada memerintah, apalagi bila perintah tidak didasari dengan alasan
yang jelas. Lama kelamaan anak akan bergantung pada perintah atau larangan Anda
dalam melakukan segala sesuatu. Senantiasa katakan dan tunjukkan cinta, kasih sayang
serta dukungan pada balita secara konsisten, hal ini akan meningkatkan rasa percaya
dirinya. Dengan demikian dia akan lebih yakin pada dirinya, serta tidak ragu untuk
mencoba hal-hal yang baru. Orangtua juga harus bersikap positif pada anak, seperti:
memuji, memberi semangat atau memberi pelukan hangat sebagai bentuk dukungan
terhadap usaha mandiri yang dilakukan anak. Adanya penghargaan atas usaha anak
untuk menjadi pribadi mandiri, terlepas dari apakah pada saat itu ia berhasil atau tidak.
Dengan tumbuhnya perasaan berharga, anak akan memiliki kepercayaan diri yang
sangat dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang selanjutnya. Betapapun kotornya
anak pada saat ia mencoba makan sendiri, betapapun tidak rapinya anak pada saat ia
mencoba mandi sendiri, betapapun lamanya waktu yang dibutuhkan anak untuk
memakai kaus kaki dan memilih sepatu atau baju yang tepat, hendaknya orangtua tetap
sabar untuk tidak bereaksi negatif terhadap anak, seperti mencela atau meremehkan
anak. Apabila orangtua/lingkungan bereaksi negatif atau tidak menghargai usaha anak
untuk mandiri, maka hal ini akan berdampak negatif pada diri anak, seperti anak bisa
tumbuh menjadi seorang yang penakut, tidak berani memikul tanggung jawab, tidak
termotivasi untuk mandiri dan cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah.
54
Selain itu, untuk menjadi pribadi mandiri, seorang anak juga perlu mendapat
kesempatan berlatih secara konsisten mengerjakan sesuatu sendiri atau
membiasakannya melakukan sendiri tugas-tugas yang sesuai dengan tahapan
usianya. Orangtua atau lingkungan tidak perlu bersikap terlalu cemas, terlalu
melindungi, terlalu membantu atau bahkan selalu mengambil alih tugas-tugas yang
seharusnya dilakukan anak, karena hal ini dapat menghambat proses pencapaian
kemandirian anak. Kesempatan untuk belajar mandiri dapat diberikan orangtua
atau lingkungan dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan pada anak untuk
melakukan tugas-tugas perkembangannya. Namun demikian peran orangtua atau
lingkungan dalam mengawasi, membimbing, mengarahkan dan memberi contoh
teladan tetap sangat diperlukan, agar anak tetap berada dalam kondisi atau situasi
yang tidak membahayakan keselamatannya. Bagi anak-anak usia dini, latihan
kemandirian ini bisa dilakukan dengan cara melibatkan anak dalam kegiatan praktis
sehari-hari di rumah, seperti melatih anak mengambil air minumnya sendiri,
melatih anak untuk membersihkan kamar tidurnya sendiri, melatih anak buang air
kecil sendiri, melatih anak menyuap makanannya sendiri, melatih anak untuk naik
dan turun tangga sendiri, dan sebagainya.
55
Selain bersikap positif dan selalu mendukung anak, praktek kemandirian juga perlu
diajarkan kepada anak melalui materi ketrampilan hidup dengan konsep-konsep
sederhana. Seperti contoh: si anak diajarkan untuk mengerti bahwa semua barang
miliknya (sepatu, mainan, boneka, buku cerita dll) diperoleh karena orangtua bekerja
untuk mendapatkan penghasilan supaya mampu membeli semua yang dia butuhkan.
Karena itu, perlu adanya sikap tegas terhadap anak bahwa tidak semua yang dia
inginkan harus dipenuhi pada saat itu juga. Perlu ada waktu menunggu atau
mengajarkan si anak untuk menabung terlebih dahulu sebelum membeli sesuatu.
Dengan konsep seperti itu, dalam diri anak akan tertanam nilai untuk menghargai jerih
payah orangtua sekaligus belajar menjadi pribadi mandiri. Materi yang bersifat akademis
bisa dikatakan sebagai salah satu dari sekian banyak mata pelajaran yang harus
dipelajari anak. Yang utama adalah ketrampilan anak untuk menjadi seorang yang
mandiri. Banyak manfaatnya jika pelajaran mengenai kemandirian diberikan pada anak
usia dini. Tidak hanya teori, melainkan mengajak anak untuk mempraktekannya dengan
konsep-konsep sederhana tanpa harus menunggu lulus SMA atau lulus Perguruan Tinggi.
Tentu hasilnya akan lebih efektif dan maksimal jika hal itu diajarkan pada usia dini.
Semakin dini usia anak untuk berlatih mandiri dalam melakukan tugas-tugas
perkembangannya, diharapkan nilai-nilai serta ketrampilan mandiri akan lebih mudah
dikuasai dan dapat tertanam kuat dalam diri anak. Untuk menjadi pribadi mandiri,
memang diperlukan suatu proses atau usaha yang dimulai dari melakukan tugas-tugas
yang sederhana sampai akhirnya dapat menguasai ketrampilan-ketrampilan yang lebih
kompleks atau lebih menantang, yang membutuhkan tingkat penguasaan motorik dan
mental yang lebih tinggi. Dalam proses untuk membantu anak menjadi pribadi mandiri
itulah diperlukan sikap bijaksana orangtua atau lingkungan agar anak dapat terus
termotivasi dalam meningkatkan kemandiriannya.
56
b. Mendidik Kemandirian Anak Usia Dini
Secara bertahap dan dengan media apa adanya, anak dapat bermain, berlatih dan
belajar mengeksplorasi mengekploitasi semua kemampuan yang ada dalam diri mereka.
Halaman rumah atau lahan kosong sekitar rumah bisa menjadi tempat bagi mereka
untuk mengembangkan sikap mandiri melalui aktivitas petualangan. Yang lebih penting
pada masa ini anak mempunyai energi lebih yang harus disalurkan atau
diimplementasikan melalui kegiatan yang bernilai edukasi tinggi seperti bermain
bersama. Pribadi yang mandiri adalah kemampuan hidup yang utama dan salah satu
kebutuhan setiap manusia di awal usianya. Anak meskipun usianya masih muda namun
diharuskan memiliki pribadi yang mandiri. Alasan mengapa hal ini diperlukan? karena
ketika anak terjun ke lingkungan di luar rumah sudah tidak tergantung kepada orang
tua. Misalnya, ketika anak sudah mulai bersekolah, orangtua tidak mungkin selalu
menemani mereka tiap detiknya. Mereka harus belajar mandiri dalam mencari teman,
bermain, dan belajar.
Pada faktanya semua usaha untuk membuat anak menjadi mandiri sangatlah penting
agar anak dapat mencapai tahapan kedewasaan sesuai dengan usianya. Orangtua dan
pendidik di harapkan dapat saling bekerja sama untuk membantu anak dalam
mengembangkan kepribadian mereka. Anak akan mandiri jika di mulai dari keluarganya
dan hal ini menyebabkan tingkat tingkat kemandirian seseorang berbeda-beda satu
sama lain. Hal ini di sebabkan oleh faktor yang mempengaruhi kemandirian tersebut.
Muhammad Asrori menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian
adalah: keturunan orang tua, pola asuh orang tua, sistem pendidikan di sekolah, sistem
pendidikan di masyarakat.
57
Anak yang mandiri untuk ukuran anak usia dini terlihat dengan ciri-ciri:
1 Dapat melakukan segala aktivitasnya secara sendiri meskipun tetap
dengan pengawasan orang dewasa.
2 Dapat membuat keputusan dan pilihan sesuai dengan pandangan,
pandangan itu sendiri di perolehnya dari melihat prilaku atau perbuatan
orang-orang di sekitarnya.
3 Dapat bersosialisasi dengan orang lain tanpa perlu di temani orang tua.
4 Dapat mengontrol emosinya bahkan dapat berempati terhadap orang lain
Penanaman sifat kemandirian ini harus dimulai sejak anak pra sekolah.
Tetapi harus dalam kerangka proses pekembangan manusia, artinya
orangtua tidak boleh melupakan bahwa anak bukanlah miniatur orang
dewasa, sehingga ia tidak bisa dituntut menjadi orang dewasa sebelum
waktunya, serta orangtua harus mempunyai kepekaan terhadap setiap
proses perkembangan anak dan menjadi fasilitator bagi
perkembangannya.
58
Dari uraian di atas dapat dinyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi perhatian
dalam menanamkan kemandirian pada anak sejak dini sebagai berikut:
1. Kepercayaan
Suasana sekolah yang terasa asing dan berat bagi
anak karena harapan orangtua dan guru agar
menjadi anak yang baik, maka perlu ditanamkan
rasa percaya diri dalam diri anak dengan
memberikan kepercayaan untuk melakukan
sesuatu yang mampu dilakukan sendiri.
2. Kebiasaan
Dengan memberikan kebiasaan yang baik kepada anak
sesuai dengan usia dan tingkat perkembangannya,
misalnya, membuang sampah pada tempatnya,
melayani dirinya sendiri, mencuci tangan, meletakkan
mainan pada tempatnya.
3. Komunikasi
Komunikasi merupakan hal penting dalam
menjelaskan tentang kemandirian kepada anak
dengan bahasa yang mudah dipahami.
4. Disiplin
Merupakan proses yang dilakukan oleh pengawasan
dan bimbingan orangtua dan guru yang konsisten.
Dengan mengajarkan disiplin kepada anak sejak dini,
berarti kita telah melatih anak untuk bisa mandiri di
masa datang dimana kunci kemandirian anak adalah
sebenarnya ada di tangan orangtua dan guru.
59
c. Jenis - Jenis Kemandirian
Kemandirian sosial dan emosi
Kemandirian fisik dan fungsi tubuh
Kemandirian intelektual
Menggunakan lingkungan untuk belajar
Membuat keputusan dan lingkungan
60
C. Penyelenggaraan Program Pemberdayaan
Orangtua pada Pendidikan Anak Usia Dini
1. Tahapan Pelaksanaan Program
Mekanisme Program Pembelajaran PAUD Berbasis Keluarga (Parenting) meliputi 5
tahapan implementasi, yaitu: (a) Tahap persiapan; (b) Tahap penyusunan program;
(c) Tahap pelaksanaan program; (d) Tahap evaluasi internal; dan (e) Tahap monitoring
dan evaluasi.
A. B. PEPNRYOUGSRUANMAN C. PEPLRAOKSGARNAAMAN
PERSIAPAN
1. Pendalaman kelompok Dokument3aPe . si: www4. .gKSeoobsoiuatlguishlaeasni.c&PorPoemgnrdaamtaan 7. Kelompok pertemuan orangtua D.
sasaran t
rP DAKITN ANJUTL
a o Keterlibatan orangtua di
gr kelompok/kelas anak
a
So 5. Penyusunan Rancangan m
s Program P
2. Pendalaman sumber i P Keterlibatan orangtua dalam
daya dukungan la B kegiatan bersama
K Hari konsultasi orangtua
6. Penyiapan Perangkat Kunjungan rumah
Program
Lainnya (situasional)
8. Pendampingan Program
E.
MONITORING
Gambar 1. Diagram Tahapan Program Pemberdayaan Orangtua
pada Pendidikan Anak Usia Dini
61
a. Tahap Program Persiapan
Tahap pertama ini berisi (1) Pendataan Kelompok Sasaran dimana program parenting
akan dilaksanakan dan (2) Pendataan Sumber-Sumber Dukungan. Dari hasil pendataan
yang dilakukan diharapkan tersusun (3) Peta Sosial, berupa informasi mengenai
pelaksanaan program yang sekurang-kurangnya menggambarkan sebaran kelompok
sasaran program, potensi individu, potensi kelembagaan, dan potensi sosial lainnya.
Dalam tahap ini dirumuskan kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh keluarga kelompok
sasaran, termasuk di antaranya informasi dan pengetahuan yang perlu diketahui,
dukungan pihak mana saja yang bisa dimanfaatkan, dan sumber daya apa saja yang
dimiliki oleh keluarga sebagai kelompok sasaran sehingga bisa dirumuskan kekuatan dan
kelemahan yang dimiliki. Pada tahap ini juga ditentukan apakah pemberdayaan dilakukan
secara daring atau luring.
62
b. Tahap Penyusunan Program
Peta Sosial yang didapat dari Tahap Persiapan Program, dilanjutkan dengan
(4) Sosialisasi dan Pendataan Kebutuhan Program. Kegiatan ini merupakan pemberian
informasi mengenai kekuatan dan kelemahan kelompok sasaran yang dirumuskan dalam
Peta Sosial kepada pihak-pihak terkait. Pada kegiatan ini pihak-pihak yang harus
dilibatkan sekurang-kurangnya sesuai dari hasil pendataan yang ada, biasanya terdiri
dari: pengelola program, orangtua anak usia dini, kepala desa atau ketua RW/RT, tokoh
masyarakat, unsur lembaga sosial (masyarakat), pelaku dunia usaha, dan unsur lainnya
yang memiliki kemampuan untuk menyukseskan program. Program kemudian disusun
dalam (5) Penyusunan Rancangan Program untuk dirumuskan program yang akan
dijalankan. Tahap ini menentukan kurikulum kecakapan dasar keorangtuaan yang perlu
dirancang untuk berjalannya program parenting.
Kurikulum kecakapan dasar keorangtuaan meliputi dorongan atau motivasi yang perlu
disampaikan kepada orangtuauntuk meyakinkan pentingnya peran serta mereka dalam
pembelajaran dan pengasuhan anak usia dini, pembimbingan perilaku, pemecahan
masalah dan pengambilan keputusan, kendali diri sebagai orang tua, dan membangun
empati. Terbentuknya kurikulum ini membawa mekanisme program parenting ke tahap
berikutnya, yaitu (6) Penyiapan Perangkat Program. Termasuk di dalamnya adalah sarana
dan prasarana yang diperlukan dalam menjalankan kurikulum yang telah dirancang,
misalnya ruangan tempat pertemuan, atau media belajar lainnya seperti papan tulis,
lembar informasi (seperti leaflet, brosur, poster, dll), perangkat audio visual (VCD,
proyektor, komputer, radio, TV, dll), komik atau bulletin, buku atau majalah mengenai
tumbuh kembang anak dan parenting, dan lain sebagainya. Hasil dari tahap ini adalah
(7) Program Parenting (Penguatan PAUD Berbasis Keluarga). Jika dilaksanakan secara
daring maka program disusun dengan mengedepankan ketersediaan media digital yang
dipilih.
63
c. Tahap Pelaksanaan Program
Beberapa alternatif bentuk kegiatan yang bisa dilakukan dalam melaksanakan
program parenting, di antaranya adalah:
1. Kelompok Pertemuan Orangtua;
2. Keterlibatan Orangtua di Kelompok/Kelas Anak;
3. Keterlibatan Orangtua dalam Kegiatan Bersama;
4. Hari Konsultasi Orang tua;
5. Kunjungan Rumah;
6. Pertemuan daring;
7. Kegiatan Lain yang sesuai dengan kebutuhan dan atau potensi sosial
yang sudah melekat di masyarakat.
64
d. Tahap Evaluasi Internal
Evaluasi internal merupakan penilaian terhadap proses berjalannya suatu program.
Dengan demikian dapat diketahui apakah kekuatan dan kelemahan yang ada dalam
setiap pelaksanaan program. Melalui evaluasi ini juga bisa diketahui apakah tujuan dari
program parenting yang ditetapkan sebelumnya bisa tercapai. Aspek yang dievaluasi
meliputi partisipasi para pihak yang terlibat, seperti kehadiran dan keaktifan orang tua;
perubahan perilaku yang diharapkan dan proses berjalannya kegiatan yang
diselenggarakan serta pengetahuan, sikap dan keterampilan orangtua dalam
penyelenggaraan PAUD. Pada pemberdayaan daring dapat dilihat apakah proses
komunikasi dapat terlaksana dengan baik, interaksi dan ketersediaan sinyal serta aplikasi
atau media digital yang digunakan. Evaluasi internal dapat dilakukan melalui kuesioner,
pengamatan, wawancara, checklist, diskusi atau dapat menggunakan format kesan,
pesan, dan saran kegiatan, dan dengan melihat jumlah kehadiran peserta. Tujuan dari
evaluasi internal ini adalah untuk mengetahui efektivitas dan keberhasilan program yang
telah dilaksanakan. Waktu evaluasi dapat dilaksanakan selama proses berlangsung dan
pada akhir kegiatan.
e. Tahap Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan monitoring dan penilaian pelaksanaan program yang dilaksanakan oleh pihak
luar. Pihak-pihak yang bisa melakukan monitoring dan evaluasi di antaranya adalah:
Direktorat PAUD, Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota dan Lembaga Mitra
(Himpaudi, IGTKI, Forum PAUD, dan pihak lain yang berkepentingan).
65
2. Evaluasi Program Pemberdayaan Orangtua
a. Pengertian
Evaluasi program Pemberdayaan Orang Tua di Satuan PAUD adalah sebuah proses
untuk menilai atau mengukur ketercapaian penyelenggaraan Parenting yang
dilaksanakan dalam sebuah lembaga PAUD atau lembaga lainnya.
b. Tujuan
Evaluasi program Pemberdayaan Orang Tua di Satuan PAUD bertujuan untuk:
a. Mengetahui ketercapaian penyelenggaraan Parenting dalam lembaga PAUD
atau lembaga lainnya.
b. Memperbaiki proses penyelenggaraan yang dilaksanakan oleh pengurus
program.
c. Sebagai umpan balik dalam penyempurnaan bentuk-bentuk kegiatan,
metode dan penyelenggaraan Parenting dalam mendukung
keberlangsungan program.
PAUD
66
c. Metode
Beberapa metode yang dapat digunakan dalam melaksanakan evaluasi program adalah:
a. Focus Group Discussion b. Angket c. Wawancara dan Observasi
(Diskusi Fokus)
d. Pelaksanaan
a. Evaluasi program pemberdayaaan orangtua dilaksanakan oleh pengurus
program bersama pengelola PAUD dan pendamping.
b. Waktu pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan secara rutin minimal per
semester.
67
e. Komponen yang di Evaluasi
a. Program Kegiatan b. Pelaksanaan Kegiatan c. Hasil Kegiatan
f. Indikator Hasil Program
a) Gizi
1. Orangtua bisa mengatur makanan bergizi secara minimal (rencana menu).
2. Orangtua bisa membuat menu makanan dari bahan makan lokal.
3. Pertumbuhan fisik anak terlihat secara signifikan.
68
b) Kesehatan
1. Orangtua bisa melakukan penaganan
pertama kecelakaan pada anak.
2. Orangtua bisa menerapkan pola hidup
bersih dan sehat.
c) Perawatan
1. Orangtua mampu melakukan perawatan
kebersihan badan pada anak.
2. Orangtua mampu melakukan perawatan
ketika anak sakit.
d) Pengasuhan
Orangtua bisa menerapkan pengasuhan dengan memberikan bimbingan
stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak
69
e) Pendidikan
1. Orangtua mampu menerapkan perilaku
mendidik di dalam rumah.
2. Orangtua mampu membuat jadwal
sederhana dalam kehidupan sehari-hari
(bercerita, memasak bersama, dll).
f) Perlindungan
1. Orang tua memahami dan menerapkan hak-hak anak dalam keluarga.
2. Orangtua menerapkan lingkungan rumah yang aman dan nyaman untuk
bermain anak dirumah.
70
g. Indikator Perencanaan dan Pelaksanaan Kegiatan T
1. Program direncanakan bersama orangtua.
2. Program direncanakan dan terjadwal.
3. Ada program yang memberikan dampak luas minimal 2x dalam setahun,
seperti seminar ,lokakarya, FGD, Sarasehan, Curah Pendapat, dll.
4. Memiliki Adminstrasi Pelaksanaan Program.
5. Peserta aktif menghadiri setiap kegiatan minimal 50 % dari total jumlah
peserta.
6. Orangtua berkomunikasi di rumah selaras dengan di sekolah.
7. Orangtua membuat APE dari bahan yang ada dirumah.
8. Orangtua bisa mengimbaskan hasil pengetahuan kepada orangtua yang lain.
71
D. Bentuk Program Pemberdayaan Orangtua
di Satuan Pendidikan Anak Usia Dini
Pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan bertujuan untuk meningkatkan
kepedulian dan tanggung jawab Bersama, mendorong penguatan pendidikan karakter
anak, meningkatkan kepedulian keluarga, membangun sinergisitas antara satuan
pendidikan dengan keluarga dan masyarakat serta mewujudkan lingkungan satuan
pendidikan yang aman, nyaman dan menyenangkan. Bentuk-bentuk pelibatan keluarga
tersebut adalah:
1. Kegiatan Pertemuan Orangtua (Kelas Orangtua)
Pengertian Kegiatan Pertemuan Orangtua (Kelas Orangtua) merupakan wadah
komunikasi bagi orangtua/keluarga untuk saling berbagi informasi dan pengetahuan
dalam melaksanakan pendidikan anak usia 0-6 tahun. Sedangkan tujuan
diselenggarakan Kelas orangtua diharapkan dapat meningkatkan kesadaran,
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan orangtua dalam melaksanakan PAUD di lingkungan
keluarganya sendiri dan untuk saling berbagi informasi dan strategi dalam pengasuhan
anak.
Gambar 2. Kegiatan Pertemuan Orangtua
72
Sedangkan jenis kegiatan yang dilakukan pada kegiatan pertemuan orangtua tersebut
dapat berbentuk:
Curah pendapat berupa saling mengemukakan pendapat antar orangtua tentang
pengalaman mereka dalam pengasuhan anak.
Sarasehan berupa pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan
pendapat (prasaran) para ahli mengenai masalah anak.
Simulasi merupakan kegiatan praktek yang dilaksanakan oleh kelompok.
Belajar keterampilan tertentu merupakan kegiatan yang lebih diarahkan pada
pemberian pelatihan secara individu atau kelompok dengan tujuan peningkatan atau
penguasaan keterampilan tertentu.Contoh: mengolah makanan ringan yang aman,
bergizi, bervariasi dan berimbang; membuat permainan edukatif dari bahan daur ulang
dan lain-lain.
1. Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan kelas orangtua disesuaikan dengan kesepakatan bersama.
2. Materi
Penetapan materi disesuaikan dengan kebutuhan peserta dan topik.
3. Narasumber
Narasumber dapat berasal dari unsur tenaga pendidik/ guru/ pengelola/
penilik/orang tua, namun dapat juga mendatangkan ahli dari luar. Apabila
pengurus kesulitan mendapatkan narasumber dapat meminta bantuan dari
pendamping mitra kerja.
4. Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan dibedakan menjadi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan
evaluasi akhir kegiatan.
73
a. Persiapan
Persiapan dalam hal sarana prasarana seperti tempat pertemuan, papan tulis
atau papan flanel, pengeras suara, media lain yang diperlukan, tempat duduk,
formulir kehadiran dan lain sebagainya.
b. Proses Kegiatan
Pembukaan, yang meliputi: penjelasan tentang topik bahasan, memperkenalkan
narasumber yang hadir, menyampaikan latar belakang tentang topik yang
dibahas, meminta narasumber menyampaikan materi atau bahasannya. Sesudah
penyajian oleh narasumber, anggota yang hadir diminta menyampaikan
pendapatnya dan notulis membuat catatan jika anggota masih malu atau belum
menyampaikan pendapatnya secara spontan. Untuk menghindari tidak
terjadinya dialog antar peserta yang hadir, dapat dimulai dengan curah
pendapat (setiap anggota diminta mengajukan pendapatnya tanpa dikomentari
yang lain), dilanjutkan dengan pembahasan dari apa yang telah disampaikan
peserta. Pada saat curah pendapat dibuat catatan di papan tulis atau kertas
manila.
Diskusi terbuka.
Pada tahapan penarikan kesimpulan, peserta sendiri yang merumuskannya
dengan dibantu oleh narasumber. Evaluasi Evaluasi dapat dilakukan dengan dua
tahap yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil.
74
2. Keterlibatan Orangtua di Kelas Anak
Pengertian Keterlibatan Orangtua di Kelas Anak merupakan Kegiatan yang
melibatkan orangtua/keluarga dalam bentuk: (1) bermain bersama anak di kelas;
(2) membantu pendidik dalam proses pembelajaran di/kelas; dan (3) sebagai bentuk
pembelajaran bagi orangtua tentang proses belajar anak. Sedangkan tujuannya adalah
menselaraskan antara program pembelajaran di lembaga PAUD dan di rumah.
Gambar 3. Keterlibatan Orangtua
di Kelas di KB Matahari
1 Persiapan
Orangtua/keluarga bersama dengan pengurus dan pengelola lembaga,
menetapkan waktu, orangtua yang terlibat, kelas yang akan dimasuki, dan
pengelompokannya.
75
2
Pembekalan oleh pengurus dan pengelola dilakukan agar orangtua terlibat
langsung dalam kegiatan anak. Pembekalan yang diberikan mencakup:
- Tata cara dan sikap orangtua/keluarga selama di dalam kelas.
- Kegiatan yang dapat dilakukan dan batasan-batasannya. Kesepakatan antara
orangtua/keluarga dan pendidik terkait dengan kegiatan yang akan
dilakukan dalam pembelajaran, antara lain:
1 Membantu pendidik dalam menata alat main.
2 Menyambut kedatangan anak.
3 Mengikuti main pembukaan.
4 Mengamati pelaksanaan pembelajaran anak.
5 Membuat APE.
6 Mengikuti kegiatan makan bersama anak.
7 Mengikuti kegiatan penutup.
8 Diskusi bersama pendidik untuk membahas kegiatan hari itu.
9 Menjadi sumber belajar.
3 Pelaksanaan
Sesuai dengan tata cara yang telah disepakati bersama antara
orangtua/keluarga dan pendidik.
76
4 Pemantauan
Pemantauan dilakukan dalam bentuk pencatatan oleh Pengelola terhadap
kegiatan yang dilakukan orangtua selama bersama anak di kelas. Pencatatan
tersebut meliputi sikap, bahasa atau kalimat yang digunakan dan kegiatan yang
dilakukan.
5 Evaluasi
Evaluasi dilakukan tidak untuk memberi skor pada orangtua tetapi lebih berupa
balikan terhadap kegiatan yang sudah berjalan. Evaluasi dilakukan melalui
diskusi secara kekeluargaan. Evaluasi dibagi menjadi 3 topik yakni:
1 Diskusi tentang sikap dan kegiatan orang tua.
2 Diskusi tentang efektivitas kegiatan yang sudah berjalan.
3 Penilaian orangtua tentang manfaat kegiatan yang diikuti.
77
3. Orang Tua menjadi Narasumber
Orang tua yang memiliki profesi , seperti : Polisi, dokter, dosen, pedagang dll bisa
menjadi narasumber dalam kegiatan belajar anak yang disebut sebagai Kelas Inspirasi.
Materi yang disampaikan disesuaikan dengan tema yang sedang dipelajari anak-anak.
Seperti tema ”Robot Sahabatku”, guru mengundang orang tua murid yang merupakan
dosen Teknik Elektro menjadi guru tamu dan membawa robot asli di hadapan
anak-anak. Anak bebas bertanya dan berekplorasi tentang robot yang disajikan oleh
narasumber.
Gambar 4. Ekplorasi Robot
bersama Narasumber dari Orang
tua di PAUD Bunda Ganesa
78
4. Pentas Akhir Tahun
Pentas akhir tahun diselenggarakan sebagai bentuk performa anak-anak dalam
kegiatan panggung seni dan kreativitas. Bisa juga bermaksud untuk menampilkan
semua karya anak-anak selama satu tahun pelajaran dalam bentuk pameran. Kegiatan
ini melibatkan keluarga dan pihak-pihak lain seperti sponsor, tata panggung dan
kebutuhan lainnya.
Gambar 5. Keterlibatan Orangtua
dalam Pentas Akhir Tahun di
PAUD Bunda Ganesa
79
5. Keterlibatan Orangtua dalam Kegiatan Bersama
Pengertian keterlibatan orangtua dalam acara bersama adalah kegiatan yang
melibatkan orangtua dalam pelaksanaan kegiatan penunjang pembelajaran yang
dilakukan di luar kelas. Sedangkan tujuan adalah mendekatkan hubungan antara
orangtua, anak, dan lembaga PAUD serta meningkatkan peran orangtua dalam proses
pembelajaran.
a. Jenis Kegiatan
Rekreasi, bermain di alam, perayaan hari besar, atau kunjungan edukasi, berkebun,
memasak bersama, bazzar, outbond, dan kegiatan lainnya berada di luar lingkungan
kelas/sekolah.
Tahapan Kegiatan
a Melakukan Identifikasi tempat kegiatan.
b Menetapkan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan.
c Menetapkan waktu kegiatan.
Menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan
Menetapkan nara sumber yang sesuai dengan jenis kegiatan
Mengorganisasikan kegiatan
80
Menjelaskan aturan-aturan yang harus ditaati semua pihak selama kegiatan
Melakukan pemantauan terhadap aktivitas yang dilakukan
Mencatat kejadian-kejadian penting
Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan. Aspek yang dievaluasi
sekurang-kurangnya mencakup keterlibatan keluarga dan interaksi dalam
dan antar keluarga.
- Dokumen 6. Keterlibatan Orang Tua dalam
Kegiatan Bersama Di Kelompok Bermain Matahari -
81
6. Hari Konsultasi Orangtua
Pengertian hari konsultasi orangtua adalah hari-hari tertentu yang dijadwalkan oleh
pengurus PAUD Berbasis Keluarga dan pengelola lembaga sebagai hari bertemunya
antara orangtua dengan pengelola dan atau ahli untuk membahas tentang
pertumbuhan dan perkembangan anak serta masalah-masalah lain yang dihadapi anak.
Konsultasi dapat dilakukan secara individual atau secara bersama. Hal-hal yang bersifat
khusus atau pribadi, sebaiknya dikonsultasikan secara individual. Akan lebih baik jika
ada tenaga ahli yang dapat dihadirkan saat konsultasi. Pada hari konsultasi orangtua,
juga dapat dijadwalkan untuk melakukan penilaian perkembangan anak dengan
menggunakan kartu DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak) sesuai jadwal
masing-masing anak. Sedangkan tujuan hari konsultasi orangtua adalah meningkatkan
kemampuan orangtua dalam melakukan pendidikan anak usia dini di dalam keluarga.
Dokumen 7. Orangtua
Berkumpul dalam kegiatan
Hari Konsultasi
82
Berikut ini adalah tahapan pelaksaan hari konsultasi orangtua
a. Pengelolaan
Kegiatan ini dirancang oleh pengurus dan pengelola lembaga sebagai kegiatan rutin
yang waktunya disesuaikan dengan kebutuhan. Apabila ditemukan kasus-kasus
spesifik, pengurus atau pengelola lembaga atau dapat memberikan rujukan kepada
tenaga profesional, misalnya dokter, bidan, psikiater, psikolog, tokoh agama (ulama,
pendeta, biksu, dll), orangtua yang memiliki pengalaman keberhasilan dalam mendidik
anak-anak atau pihak-pihak lain yang kompeten. Pengurus dan pengelola lembaga
berkewajiban untuk menjaga rahasia yang disampaikan oleh keluarga, sehingga
keluarga dapat menyampaikan persoalan secara lugas tanpa ada kecurigaan atau
kekhawatiran.
i. Proses Kegiatan
Kegiatan ini dirancang oleh pengurus dan pengelola lembaga sebagai kegiatan
rutin yang waktunya disesuaikan dengan kebutuhan. Apabila ditemukan kasus-kasus
spesifik, pengurus atau pengelola lembaga atau dapat memberikan rujukan kepada
tenaga profesional, misalnya dokter, bidan, psikiater, psikolog, tokoh agama (ulama,
pendeta, biksu, dll), orangtua yang memiliki pengalaman keberhasilan dalam
mendidik anak-anak atau pihak-pihak lain yang kompeten. Pengurus dan pengelola
lembaga berkewajiban untuk menjaga rahasia yang disampaikan oleh keluarga,
sehingga keluarga dapat menyampaikan persoalan secara lugas tanpa ada
kecurigaan atau kekhawatiran.
83
ii. Tahapan Kegiatan
1 Mengidentifikasi narasumber untuk dijadikan konsultan sesuai dengan kebutuhan.
2 Menghubungi narasumber untuk memastikan kesediaan waktu.
3 Menetapkan waktu konsultasi, tempat, dan mekanisme konsultasi.
4 Menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan, seperti ruangan konsultasi,
format konsultasi, dan lain-lain.
5 Mencatat semua informasi penting yang disampaikan oleh keluarga.
Melakukan evaluasi kegiatan yang mencakup; tempat kegiatan yang digunakan, waktu
yang dipergunakan, kredibilitas (kemampuan) nara sumber, Pendekatan konsultasi, dan
partisipasi orang tua.
7. Kunjungan Rumah
Pengertian kunjungan Rumah adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengurus atau
pengelola program yang dapat melibatkan pendamping atau narasumber, dalam rangka
mempererat hubungan, menjenguk, atau membantu menyelesaikan permasalahan
tertentu yang dilakukan secara kekeluargaan. Sedangkan tujuannya adalah:
a Menjalin silaturahmi antara keluarga dengan pengurus dan lembaga pendidikan
anak usia dini.
b Menggali informasi tentang pola-pola pendidikan orangtua dalam keluarga.
c Menemukan pemecahan masalah secara bersama terhadap masalah yang
dihadapi oleh orangtua di rumah.
84
- Gambar 8. Pendidik Melakukan Kunjungan Rumah -
1) Pengelolaan
Kegiatan ini dirancang oleh pengurus dan pengelola PAUD sebagai kegiatan
insidental sesuai dengan kebutuhan. Dalam kunjungan rumah ini diusahakan peserta
yang ikut dalam kunjungan rumah tidak lebih dari 3 orang (1 orang pengurus, 1 orang
pengelola PAUD dan 1 orang tenaga ahli Hal ini untuk menghindari agar orang yang
dikunjungi tidak merasa terbebani / direpotkan.
2) Sasaran Kegiatan
Kegiatan ini tidak saja diperuntukkan untuk orangtua, tetapi untuk seluruh anggota
keluarga yang serumah, misalnya; ibu, ayah, kakak, nenek, kakek, baby sitter, pembantu,
dan anggota keluarga lain yang tinggal serumah dengan anak usia dini.
85
3) Proses Kegiatan
Kunjungan rumah sedapat mungkin menghindari sifat interogasi. Saran hanya
diberikan jika diminta atau jika suasananya memungkinkan, sehingga tidak terkesan
menggurui. Keluarga lain yang ikut serta dalam kunjungan rumah dapat berperan
menjadi orang yang sedang belajar atau menjadi narasumber.
4) Tahapan Kegiatan
a. Melakukan identifikasi keluarga-keluarga yang akan dikunjungi.
b. Melakukan kontak/komunikasi dengan keluarga yang akan dikunjungi
dengan menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan, waktu yang dibutuhkan,
dan proses kegiatan yang akan dilaksanakan.
c. Menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan berupa lembar
pengamatan atau alat-alat dokumentasi lainnya.
d. Memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan kepada
semua anggota keluarga yang ada di rumah.
e. Mengajak keluarga untuk berbagi pengalaman tentang hal-hal yang terkait
dengan peningkatan gizi, pemeliharaan kesehatan, perawatan, pengasuhan,
pendidikan, dan pendidikan untuk anak-anak dalam keluarga.
f. Mengajak orangtua untuk melakukan permainan bersama anak di dalam
keluarga dengan mengoptimalkan alat permainan edukatif yang ada dalam
keluarga.
g. Mengajak keluarga untuk merefleksikan apa yang sudah dilakukan saat itu.
h. Melakukan evaluasi kegiatan dengan aspek yang diuji seperti; waktu yang
dipergunakan, kredibilitas narasumber, pendekatan kunjungan, dan
partisipasi orang tua.
86
8. Pertemuan Daring dengan Orangtua
Pertemuan daring dengan orangtua adalah kegiatan yang dilakukan secara daring
oleh pengurus atau pengelola dengan orangtua dalam rangka menyelesaikan
permasalahan anak atau pelaksanaan sebuah program. Bentuk-bentuk program
pertemuannya bisa mengacu pada bentuk luring seperti pertemuan orang tua,
keterlibatan orangtua dalam kelas, orang tua menjadi narasumber, kegiatan bersama,
konsultasi permasalahan anak, namun dilaksanakan dengan menggunakan media digital
tanpa tatap muka secara langsung.
87
E. Bentuk - Bentuk Keterlibatan Orangtua di Rumah
Banyak sekali hal yang dapat dilakukan orangtua di rumah untuk mendukung
tumbuh kembang anak. Setiap keluarga mempunyai cara-cara sendiri dalam mengasuh
anak. Cara-cara yang baik tentu perlu dilanjutkan, namun cara yang tidak sesuai dengan
perkembangan anak harus dirubah. Oleh sebab itu orangtua perlu terus belajar.
Adapun bentuk-bentuk dukungan orangtua terhadap tumbuh kembang anak ketika
berada di rumah sebagai berikut :
1. Menumbuhkan budi pekerti pada anak
Beberapa contoh penumbuhan budi pekerti:
Senyum Berpamitan Membiasakan anak Membiasakan anak
sapa salam ketika pergi membawa barangnya berperilaku sopan
sendiri santun
MILK
Membantu pekerjaan Membiasakan Membiasakan anak Meminta maaf
di rumah sesuai menjalankan perintah makan sendiri ketika salah
usianya agama
88
2. Menciptakan lingkungan rumah yang aman dan menyenangkan
Anak usia dini sangat membutuhkan suasana keluarga yang nyaman karena akan
sangat mendukung perkembangannya. Ranah perkembangan anak usia dini mencakup
6 (enam) aspek yaitu:
Berkembangnya Berkembangnya Berkembangnya daya
keimanan ketaqwaan kemampuan fisik, gerak nalar/kognitif
dan perilaku positif
kasar dan halus
Berkembangnya Berkembangnya Berkembangnya
kemampuan berbahasa kemampuan bersosialisasi kemampuan seni
dan pengendalian emosi
dan kemampuan
berkomunikasi
Contoh kegiatan yang dilakukan oleh orangtua untuk menciptakan lingkungan rumah
yang aman ramah dan menyenangkan diantaranya, mengatur jam dan program televisi
yang ditonton, membiasakan anak membaca buku, latih anak untuk melindungi diri dari
kekerasan, mengatur penggunaan gadget, pilih permainan yang bisa dimainkan seluruh
anggota keluarga, komunikasi yang efektif, dorong anak bermain demgan kakak adik
dan tetangga, sambut anak ketika pulang sekolah.
89
3. Membiasakan pola hidup bersih sehat
Semua orang ingin sehat dan bugar sehingga dapat melaksanakan berbagai
aktivitas dengan baik. Perilaku hidup bersih dan sehat untuk anak usia dini antara lain
mencakup;
a. Memberi ASI eksklusif tanpa makanan tambahan sejak lahir hingga usia 6 bulan.
b. Memberikan makanan pendamping ASI sejak usia 6 bulan dan melanjutkan
pemberian ASI.
c. Menimbang setiap bulan mulai usia 1 bulan hingga 60 bulan (5 tahun).
d. Menggunakan air bersih untuk memasak, mandi, cuci dan kebutuhn minum.
e. Mandi dan mencuci tangan pakai sabun.
f. Menggunakan jamban sehat untuk BAK dan BAB.
g. Memberantas jentik nyamuk 1 minggu sekali dengan menguras, menimbun,
menutup tempat berkembangnya nyamuk.
h. Membiasakan kegiatan berolahraga untuk kebugaran anak, melakukan aktivitas
fisik seperti berlari, berjalan setiap hari.
i. Tidak merokok terlebih di dalam rumah atau didekat anak.
j. Makan dengan gizi yang seimbang termasuk buah dan sayur.
k. Pastikan Bunda memiliki buku kesehatan ibu dan anak.
l. Bawa anak ke posyandu dan jangan lupa bawa KMS.
90
4. Mencegah dan menanggulangi kekerasan pada anak
Peran orangtua dalam melindungi anak dari kekerasan seksual dengan cara
mengenalkan anggota tubuh yang harus dilindungi dan tidak boleh ada yang bisa
menyentuhnya kecuali, bunda , ayah, dan dokter didampingi orangtua, mengajarkan
anak cara bereaksi yang tepat jika bagian-bagian tubuh yang dilindungi disentuh orang
lain dengan cara lari dan berteriak, tidak mau, jangan, tolong.
91
F. Rangkuman
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga,
masyarakat dan pemerintah. Keluarga merupakan tempat pendidikan
pertama dan utama bagi anak. Keluarga merupakan tempat anak belajar
sejak dalam kandungan hingga perjalanan usia anak memasuki rumah
tangga sendiri. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat
mendasar dalam mengoptimalkan semua potensi anak.
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga,
masyarakat dan pemerintah. Keluarga merupakan tempat pendidikan
pertama dan utama bagi anak. Keluarga merupakan tempat anak belajar
sejak dalam kandungan hingga perjalanan usia anak memasuki rumah
tangga sendiri. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat
mendasar dalam mengoptimalkan semua potensi anak.
Pemberdayaan orangtua di satuan PAUD dapat dilaksanakan secara daring
mengingat kondisi pandemi covid-19 yang mengharuskan anak belajar di
rumah. Media digital yang digunakan dapat beragam sesuai dengan
ketersediaan dan kondisi satuan PAUD dan orangtua.
Fungsi pendidikan keluarga adalah: biologis atau reproduksi, protektif atau
perlindungan, afeksional atau perasaan, ekonomi, edukatif, sosialisasi,
religius, rekreasi, dan pengendalian sosial.
92
Penanaman Pendidikan Karakter meliputi: Keteladanan, Kejujuran,
Kedisplinan, Toleransi dan Kemandirian.
Penyelenggaraan Program Permberdayaan Orangtua pada Pendidikan Anak
Usia Dini meliputi: Tahap Program Persiapan, Tahap Penyusunan Program,
Tahap Pelaksanaan Program, Tahap Evaluasi Internal dan Tahap Evaluasi dan
Monitoring.
Bentuk Program Pemberdayaan Orangtua di satuan PAUD meliputi: Kegiatan
Pertemuan Orangtua/Kelas Orangtua, Keterlibatan Orangtua di Kelas Anak,
Orangtua menjadi Narasumber, Pentas Akhir Tahun, Keterlibatan Orangtua
dalam kegiatan Bersama, Hari Konsultasi, Kunjungan Rumah, dan Pertemuan
Daring dengan orangtua yang masing-masing mempunyai jenis-jenis
kegiatan yang sangat bervariasi yang dapat dikembangkan oleh satuan
PAUD.
Bentuk-bentuk keterlibatan orangtua di rumah antara lain: menumbuhkan
budi pekerti pada anak, menciptakan lingkungan rmah yang aman dan
menyenangkan, membiasakan pola hidup bersih dan sehat, mencegah dan
menanggulangi kekerasan pada anak.
93
BAB IV PENUTUP
Modul Penyelenggaraan Program Pemberdayaan Orang Tua di Satuan PAUD ini
disusun sebagai acuan dalam menyelenggarakan keterlibatan orang tua di lembaga
Pendidikan Anak Usia Dini sehingga penyelenggaraannya dapat dilaksanakan sesuai
dengan rambu-rambu yang telah dirumuskan. Pemberdayaan orang tua diawali dengan
pemahaman tentang pengertian dan fungsi keluarga, penanaman karakter dalam
keluarga serta penyelenggaraan program yang melibatkan orang tua. Program
keterlibatan tersebut seperti kelas orang tua, keterlibatan orangtua di dalam kelas,
orang tua menjadi narasumber, keaktifan orang tua dalam pentas kelas akhir tahun,
keterlibatan bersama di luar kelas, parenting, hari konsultasi anak, kunjungan ke rumah,
dan pertemuan daring dengan orangtua. Program pemberdayaan orangtua dilakukan
secara bertahap dengan beberapa langkah yakni persiapan, pelaksanaan dan evaluasi
program. Indikator ketercapaian program juga dijelaskan agar proses evaluasi berjalan
baik dan dapat ditindaklanjuti (follow up).
Modul Penyelenggaraan Program Pemberdayaan Orang Tua di Satuan PAUD ini
dilengkapi dengan lampiran yang dapat membantu peserta diklat dalam melaksanakan
tugas mandiri. Pada akhirnya, diharapkan Penyelenggaraan Program Pemberdayaan
Orang Tua di Satuan PAUD dapat bermanfaat bagi para orangtua/keluarga sebagai
pendidik pertama dan utama serta bagi pengelola PAUD dan lembaga terkait lainnya
dalam rangka menyelaraskan antara pendidikan yang dilakukan di lembaga PAUD
dengan pendidikan di rumah sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat
tercapai secara optimal. Modul ini juga diharapkan dapat memotivasi satuan PAUD
selalu melibatkan peran orang tua dalam pendidikan putra putrinya, Dinas Pendidikan
maupun stake holder lain yang terkait dengan PAUD diharapkan untuk lebih
memperhatikan dalam pemberian layanan terbaik bagi anak usia dini.
94
DAFTAR PUSTAKA
Dewantara, Ki Hajar. Pendidikan. , 2004. Yogyakarta: Majelis Luhur Pengurus Taman
Siswa.
Friedman ,T. (1999). The Lexus and the Olive Tree: Understanding Globalization
Holloway , Susan D.dan Bruce Fuller (1999). “Families and Child Care: Divergent
Viewpoints.” Annals of the American Academy of Political and Social Science, Vol. 563,
The SilentCrisis in U. S. Child Care (May), pp. 98-115
Laporan Konsultan Individu Parenting (2011). Direktorat Pembinaan PAUD. Program
Pengembangan dan Pendidikan Anak Usia Dini. Tidak diterbitkan
Masganti Sit (2007), “Mengajarkan Kejujuran Pada Anak Usia Dini.” Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Balitbang Depdiknas.
Megawangi,Ratna (2009) Pendidikan Karakter. Bogor: Indonesia Heritage Foundation
Menjadi orangtua hebat dalam mengasuh anak (2014). Direktorat Bina Keluarga
Balita dan Anak. BKKBN
Patmonodewo, Soemiarti (2000) Pendidikan Anak Prasekolah, Jakarta: Rineka Cipta.
Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Keluarga (2012).
Direktorat PPAUD. Ditjen PAUDNI. Kemdikbud.
Permendikbud No.30/2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan
Pendidikan.
Perdirjen no 127/2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Pelibatan Keluarga Pada
Penyelenggaraan Pendidikan di PAUD
Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang
Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19).
95