The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Kelas L_Semester 2, 2024-04-21 08:09:51

Modul Ajar Belajar dan Pembelajaran

Kelompok 1

Keywords: Belajar dan Pembelajaran

MODUL AJAR BELAJARDAN PEMBELAJARAN Dosen Pengampu: Anak Agung Dewi Sutyaningsih, S.Pd, M.Pd


UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA K E L A S : L S E M E S T E R : 2 IDENTITAS PENYUSUN T A H U N A J A R A N 2 0 2 3 / 2 0 2 4 Ni Putu Raina Cantika Dewi/2311031057/09 Ni Putu Raini Dewi Lestari/2311031056/08 Ni Made Sri Dewi Dharmayanti/2311031063/11 Ni Komang Shanti Kusuma Dewi/2311031059/10 Ni Kadek Subening Metia Putri/2311031069/13 Gusti Ayu Dhyana Paramita /2311031076/15 Pande Made Dwi Maheswari Buana/2311031004/01 Ni Putu Diah Agustina Putri/2311031032/02 Ni Kadek Winda Natasya/2311031037/03 Ni Kadek Della Aryastuti/2311031065/12 Ni Ketut Suryani/2311031044/04 Ni Ketut Kania Agustin/2311031049/05 Putu Yuli Purnasari/2311031050/06 Ni Kadek Mona Prawistya Giri/2311031075/14 Ni Ketut Mas Ayu Marini Putri/2311031055/07


Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan sehingga dengan berkat dan rahmat-Nya telah selesai modul ajar belajar dan pembelajaran. Tidak lupa diucapkan terima kasih kepada ibu Dosen Anak Agung Ayu Dewi Sutyaningsih, S.Pd., M.Pd. selaku pembimbing dalam mata kuliah Belajar dan Pembelajaran, serta semua pihak yang telah turut memberikan kontribusi dalam penyusunan paper hasil observasi. Tentunya, tidak akan bisa maksimal jika tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Dalam penyusunan modul ajar disadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari dalam tata bahasa penyampaian dan keterbatasan pengetahuan. Oleh karena itu, dengan rendah hati menerima kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar dapat memperbaiki dan demi kesempurnaan penyusunan modul ajar belajar dan pembelajaran. Diharapkan semoga dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya. Selain itu, dapat menambah pengetahuan dan pemahaman bagi pembaca. KELOMPOK 1 Penyusun Kata Pengantar Denpasar, 20 April 2024


Hakikat Pembelajaran dan 05 12 Pendekatan Pembelajaran Metode Pembelajaran Demonstrasi, Eksperimen, Simulasi, Inquiri, dan Unit 04 03 02 01 11 Teori Belajar Metode Pembelajaran Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi, Kerja Kelompok, dan Pemberian Tugas 10 Teori Belajar Behavioristik, Kognitif, dan Konstruktivis Belajar dan Pembelajaran Kelompok Model Pembelajaran Sistem Perilaku 09 Hakikat dan Faktor Hasil Belajar Model Pembelajaran Personal Pengertian, Hakikat, CiriCiri Belajar, dan Pilar-Pilar Belajar Menurut UNESCO Model Pembelajaran Interaksi Sosial 08 SUB MATERI KELOMPOK 1 Kelompok 1 07 14 Kelompok Model Pembelajaran Pengolahan Informasi Pengembangan TP dan ATP Serta Konsep Penyusunan Modul Ajar 06 13 Model Pembelajaran Perencanaan Pembelajaran


Modul Ajar Belajar dan Pembelajaran Identitas Penulis Fase : A Alokasi Waktu : 45 menit Penulis. : Kelompok 1 Instansi : Universitas Pendidikan Ganesha Tujuan Pembelajaran Asesmen Awal Peserta didik mampu menguasai Hakikat Belajar dan Pilar Pendidikan UNESCO Peserta didik menguasai konsep dasar Belajar. • Bagimana konsep dasar mengenai Belajar ? Target Peserta Didik Model Pembelajaran Sarana Media Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. 1) Komputer/Laptop 2) Proyektor 3) Jaringan Internet Cooperative Learning


Kegiatan Pembelajaran Hakikat Belajar & Pilar Pendidikan UNESCO Pertemuan ke-1 Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup 1.Melakukan apersepsi (salam, sapa, cek kehadiran peserta didik). 2.Menyanyikan lagu wajib nasional "Satu Nusa Satu Bangsa". 3.Ice Breaking "tepuk semangat" Menyampaikan tujuan pembelajaran kelompok model pembelajaran perilaku. 4. 5.Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. Peserta didik diberikan kesempatan untuk menanyakan mengenai hal yang belum dipahami dalam aktivitas pembelajarannya 1. Peserta didik menyimpulkan materi dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya. 2. Pendidik menanyakan perasaan dan pemahaman peserta didik (kegiatan refleksi). 3. 4.Menutup pembelajaran. 1.Peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Peserta didik menyimak materi yang ditayangkan melalui slide di depan kelas tentang hakikat belajar dan pilar pendidikan UNESCO. 2. Peserta didik menyimak video-video tentang hakikat belajar dan pilar pendidiman UNESCO. 3. 4.Setiap kelompok menganalisis video dan materi yang dipaparkan. 5. Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Peserta didik diberi penguatan pemahaman dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusinya. 6.


Definisi Belajar Pada dasarnya terdapat banyak ahli yang menyatakan pendapat mengenai pengertian belajar baik secara umum maupun secara khusus, antara lain: Bower dalam buku Theories of Learning (Konstruktivisme) W.S Winkel (Kognitif) Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, yang mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan kematangan. Belajar merupakan perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman, belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami sesuatu yaitu mempergunakan panca indera. Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan pemahaman, ketrampilan, dan nilai-sikap. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya Drs. Slameto (Konstruktivisme) Cronbach (konstruktivisme) Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain. Secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses secara sadar untuk mendapat informasi yang baik.


Makna Belajar Belajar Sebagai Proses Belajar Sebagai Hasil Belajar sebagai proses diperoleh dari sudut pandang yang didasari oleh setiap usaha dan kerja keras seseorang melalui tahapan-tahapan yang tersusun seperti ketika berusaha menaiki anak tangga dan menapakinya dari yang terendah menuju yang tertinggi dengan satu per satu secara bertahap atau berproses menaiki anak tangga tersebut. Belajar sebagai hasil dilihat dari perubahan yang tampak sekaligus menjadi dampak setelah seseorang melakukan kegiatan belajar. Makna belajar sebagai hasil tersebut ditinjau darikebiasaan masyarakat melabelkan kesuksesan seseorang sebagai bentuk dari belajar. Sedangkan belajar dalam ranah ini memiliki 2 makna yang tersirat sebagai berikut: • Pertama, belajar yang diartikan sebagai hasil dari belajar melalui kegagalan yang terus diperbaiki. Seseorang akan meraih kesuksesan setelah ia belajar dari kegagalan yang ia lewati sebelumnya. • Kedua, belajar yang diartikan sebagai hasil dari pendidikan dari lembaga formal (menjadi siswa atau mahasiswa) dan nonformal (sebagai santri atau belajar mandiri). Belajar yang ditinjau dari makna tersebut tentunya terkait erat dengan pengetahuan teroritis yang peserta diidik terapkan di kehidupannya, sehingga pengalaman belajarnya berperan sebagai hasil yang menjadi pembeda antara yang belajar dan tidak belajar. Proses merupakan langkah awal seseorang terjun dalam dunia belajar. Sedangkan hasil merupakan sebuah nilai yang akan muncul dari sebuah proses. Makna belajar tidak sebatas tentang formal dan nonformal saja, melainkan seluruh rangkaian peristiwa yang manusia alami dan dijadikan sebuah pembelajaran serta mengambilnya sebagai bekal di kesempatan hidup berikutnya merupakan makna belajar seutuhnya.


Ciri-Ciri Belajar Ciri-ciri belajar adalah sebagai berikut. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif). Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.


Ciri-ciri Perubahan Perilaku yang Termasuk Hasil Belajar Ciri-ciri Perubahan Perilaku yang Termasuk Hasil Belajar 1. Perubahan Intensional Karakteristik ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan adanya perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan tertentu, ketrampilan dan seterusnya. 2. Perubahan Positif-Aktif Perubahan sebagai ciri belajar bersifat positif dan aktif. Bersifat positif maksudnya perubahan itu bersifat baik, bermanfaat, dan sesuai yang diharapkan oleh individu. Perubahan bersifat aktif maksudnya perubahan terjadi dalam diri individu merupakan hasil dari usahanya. 3. Perubahan Efektif-Fungsional Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni berhasil guna. Artinya perubahan tersebut membawa pengaruh, makna, dan manfaat tertentu bagi siswa. Perubahan bersifat fungsional artinya perbahan itu relatif permanen dan siap dibutuhkan setiap saat. 4. Perubahan yang Berkesinambungan Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. 5. Perubahan yang Bersifat Permanen Perubahan perilaku yang terjadi karena proses belajar, bersifat permanen dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. 6. Perubahan yang Bertujuan dan Terarah Peserta didik yang melakukan kegiatan belajar pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Dengan tujuan tersebut, maka tindakan siswa akan lebih terarah. 7. Perubahan Perilaku Secara Keseluruhan Perubahan perilaku belajar bukan hanya memperoleh pengetahuan semata, melainkan meliputi perubahan keseluruhan perilaku pada diri seseorang yang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan secara keseluruhan dalam hal sikap dan keterampilan.


Ciri-ciri Perubahan Perilaku yang Tidak Termasuk Hasil Belajar Ciri-ciri Perubahan Perilaku yang Tidak Termasuk Hasil Belajar Perubahan perilaku yang disebabkan oleh faktor genetik atau bawaan sejak lahir. Misalnya, sifat-sifat kepribadian yang muncul sejak lahir seperti kecerdasan, kepekaan emosional, atau kecenderungan tertentu. Perubahan perilaku yang disebabkan oleh faktor fisik atau kesehatan. Misalnya, perubahan perilaku akibat penyakit atau gangguan kesehatan seperti demensia, gangguan mood, atau gangguan neurologis. Perubahan perilaku yang disebabkan oleh faktor lingkungan eksternal yang tidak terkait dengan proses belajar. Misalnya, perubahan perilaku akibat pengaruh budaya, norma sosial, atau tekanan lingkungan. Perubahan perilaku yang disebabkan oleh faktor psikologis atau emosional yang tidak terkait dengan proses belajar. Misalnya, perubahan perilaku akibat stres, trauma, atau gangguan mental.


Pilar Pendidikan Menurut UNESCO Belajar untuk mengetahui, bertujuan mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami dan mengembangkan pengetahuan yang mereka peroleh. Belajar untuk mengetahui mencakup semua aspek pendidikan, termasuk pembelajaran di dalam dan di luar kelas. Di dalam kelas, siswa diajarkan untuk mempelajari berbagai topik dari disiplin ilmu yang berbeda, sedangkan di luar kelas mereka diajarkan untuk mengembangkan kreativitas mereka sendiri, seperti melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pengalaman kehidupan sehari-hari. Dalam era digital seperti sekarang, belajar untuk mengetahui juga termasuk belajar untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam memperoleh pengetahuan. Sebagai contoh, siswa dapat memanfaatkan internet dan media sosial untuk mencari informasi dan berdiskusi tentang topik tertentu Learning to Know (Belajar untuk Mengetahui) Belajar untuk melakukan, bertujuan mengembangkan kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari. Belajar untuk melakukan mencakup semua aspek kegiatan di dalam dan di luar kelas. Di dalam kelas, siswa diajarkan untuk mengembangkan kemampuan praktis seperti memecahkan masalah, membuat proyek, dan mengorganisir kegiatan kelas. Di luar kelas, siswa diajarkan untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi melalui kegiatan ekstrakurikuler dan engalaman kehidupan sehari-hari.Dalam era digital seperti sekarang, belajar untuk melakukan juga termasuk belajar untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam memecahkan masalah dan berinovasi. Sebagai contoh, siswa dapat belajar membuat program komputer atau aplikasi untuk menyelesaikan masalah tertentu atau memudahkan kehidupan sehari-hari. Learning to Do (Belajar untuk melakukan)


Pilar Pendidikan Menurut UNESCO Belajar untuk hidup bersama, bertujuan mengembangkan kemampuan siswa dalam hidup bersama dalam masyarakat yang multikultural dan global. Belajar untuk hidup bersama mencakup semua aspek kegiatan di dalam dan di luar kelas. Di dalam kelas, siswa diajarkan untuk mengembangkan sikap dan nilai yang menghargai perbedaan dan mempromosikan kerja sama antarindividu, kelompok, dan bangsa. Selain itu, siswa juga diajarkan untuk memahami hak asasi manusia, demokrasi, perdamaian, dan keadilan sosial. Di luar kelas, siswa diajarkan untuk mengembangkan kemampuan sosial elalui kegiatan ekstrakurikuler dan pengalaman kehidupan sehari-hari. Siswa juga dapat berpartisipasi dalam kegiatan komunitas atau relawan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Learning to Live Together (Belajar untuk hidup bersama) Belajar untuk menjadi, bertujuan mengembangkan kemampuan siswa dalam mengembangkan potensi diri dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Belajar untuk menjadi mencakup semua aspek kegiatan di dalam dan di luar kelas. Di dalam kelas, siswa diajarkan untuk mengembangkan kemampuan intelektual seperti berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Selain itu, siswa juga diajarkan untuk mengembangkan kemampuan emosional seperti mengelola emosi dan berkomunikasi dengan efektif. Di luar kelas, siswa diajarkan untuk mengembangkan kemampuan spiritual melalui kegiatan seperti meditasi atau refleksi diri. Siswa juga dapat mengembangkan potensi diri melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga atau seni. Learning to Be (Belajar untuk menjadi)


DAFTAR RUJUKAN Saefullah. (2012). Psikologi Perkembangan dan Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia. (Diakses 11 Maret 2024). tiawati, S. M. (2018). Telaah Teoritis: Apa Itu Belajar ?. Helper, 35(1), 33. https://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/helper/article/view/1458 (Diakses 11 Maret 2024). Syah, Muhibbin. (2013). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. (Diakses 11 Maret 2024)


MODULAJAR Belajar dan Pembelajaran Identitas Penulis Fase : A Alokasi Waktu : 45 menit Penulis. : Kelompok 1 Instansi : Universitas Pendidikan Ganesha Peserta didik mampu menguasai Hakikat Belajar dan Pilar Pendidikan UNESCO Tujuan Pembelajaran Asesmen Awal Peserta didik menguasai konsep dasar Belajar. • Bagimana konsep dasar mengenai Belajar ? Target Peserta Didik Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. Sarana Media 1) Komputer/Laptop 2) Proyektor 3) Jaringan Internet Model Pembelajaran Cooperative Learning


Kegiatan Pembelajaran Pertemuan ke-1 Pendahuluan 1.Melakukan apersepsi (salam, sapa, cek kehadiran peserta didik). 2.Menyanyikan lagu wajib nasional "Garuda Pancasila” 3.Ice Breaking "tepuk tunggal, ganda" 4.Menyampaikan tujuan pembelajaran 5.Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. Kegiatan Inti 1.Peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Peserta didik menyimak materi yang ditayangkan melalui slide di depan kelas tentang Teori-teori belajar 2. Peserta didik menyimak video-video tentang teori-teori belajar behavioristik, jean peaget dan vygotsky 3. 4.Setiap kelompok menganalisis video dan materi yang dipaparkan. 5. Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Peserta didik diberi penguatan pemahaman dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusinya. 6. Penutup Peserta didik diberikan kesempatan untuk menanyakan mengenai hal yang belum dipahami dalam aktivitas pembelajarannya 1. Peserta didik menyimpulkan materi dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya. 2. Pendidik menanyakan perasaan dan pemahaman peserta didik (kegiatan refleksi). 3. 4.Menutup pembelajaran. Hakikat dan Faktor Hasil Belajar


Hasil belajar adalah indikator keberhasilan siswa atau peserta didik dalam memahami dan menguasai materi yang diajarkan. Lebih khusus, hasil belajar mencakup pemahaman konsep, penguasaan keterampilan, serta kemampuan menerapkan pengetahuan dalam konteks praktis.Menurut penelitian yang diterbitkan dalam "Journal of Educational Psychology," hasil belajar adalah indikator penting dari pencapaian pendidikan. Ini menunjukkan bahwa hasil belajar berperan dalam mengevaluasi efektivitas sistem pendidikan Gogne membagi hasil belajar dalam 5 kategori, yaitu (dalam Enina Diron, 2011): Definisi Hasil Belajar a)Informasi verbal. Informasi verbal adalah kesanggupan untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulis. Pemilikan informasi verbal memugkinkan individu berperan dalam kehidupan. c) Strategi kognitif. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah b) Keterampilan intelektual. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang keterampilan intelektual sendiri dari diskriminasi jamak, konsep konkret dan terdefinisi,dan prinsip.


d)Sikap. Sikap Adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut a)Keterampilan motorik. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan rangkaian tegas jasmani dalam urusan dankoordinasi, sehingga berwujud otomatisme gerak jasmani. Pengertian Hasil Belajar Menurut Para Ahli a) Arsyad (2005) Menyatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku dari sisi pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik setelah mengalami proses belajar. c)Sudjana (2009) Menyatakan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang didapatkan peserta didik setelah menerima pengalaman belajar. b) Mudjiono (2006) Menyatakan bahwa hasil belajar adalah puncak dari proses belajar baik dalam bentuk dampak pengajaran dan dampak pengiring.


d)Purwanto (2011) Menyatakan bahwa Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang terjadi pada peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. e)Coyle, Carter, Campbell dan Talor (2014) Menyatakan bahwa hasil belajar adalah pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dari peserta didik yang dapat ditunjukkan atau didemonstrasikan melalui kemampuan seperangkat tes yang bersesuaian. f) Omer Hamalik (2016) Menyatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri seseorang (Peserta Didik) yang dapat diamati dan diukur yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan. g) Cammilleri & Cammilleri (2020) Menyatakan bahwa hasil belajar adalah bukti bahwa pembelajaran telah tercapai yang dapat terlihat dari peningkatan kemampuan dan keterampilan dalam bentuk pengetahuan, sikap, tingkah laku, dan level keterampilan. Pengertian Hasil Belajar Menurut Para Ahli


Jenis-Jenis Hasil Belajar Menurut Benjamin Bloom, seorang psikolog pendidikan dari Amerika Serikat, jenis-jenis hasil belajar dibagi menjadi 3 yaitu: a)Kognitif Kognitif adalah jenis hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan intelektual siswa. Hasil belajar kognitif ini dibagi ke dalam enam tingkatan, mulai dari yang paling rendah hingga paling tinggi, yaitu: - Knowledge (pengetahuan), yaitu hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam mengingat informasi yang sudah dipelajarinya. - Comprehension (pemahaman), yaitu hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memahami dan menafsirkan informasi. - Application (Penerapan), yaitu kemampuan bagaimana siswa menerapkan hasil pembelajarannya pada situasi tertentu. - Analysis (Analisis), yaitu kemampuan siswa untuk melihat bagian-bagian dari satu kesatuan yang utuh. - Synthesis (Sintesis), yaitu kebalikan dari analisis. Sintesis merupakan kemampuan menyatukan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam satu kesatuan yang utuh - Evaluation (Evaluasi/Penilaian), yaitu kemampuan siswa dalam membuat pertimbangan terhadap situasi tertentu, nilai, atau ide yang mencakup kemampuannya dalam membentuk suatu pendapat mengenai suatu hal dan mampu mempertanggungjawabkan pendapatnya tersebut.


Jenis-Jenis Hasil Belajar b)Afektif Afektif adalah jenis hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan emosional siswa, seperti perasaan, minat, sikap dan kepatuhan terhadap moral. Jenis hasil belajar yang satu ini juga dibagi ke dalam beberapa tingkatan, yaitu: - Receiving (sikap menerima), yaitu kemampuan yang dimiliki siswa dalam mengembangkan suatu kesadaran akan suatu hal. - Responding (memberikan respons), yaitu kemampuan siswa dalam menunjukkan minat aktif pada sesuatu. - Valuing (nilai), yaitu kemampuan siswa dalam memberikan penilaian terhadap suatu kejadian, apakah itu termasuk hal yang baik atau buruk.- Organization (mengatur), yaitu siswa dapat mengombinasikan dua nilai yang berbeda sehingga membentuk satu nilai baru yang bersifat universal dan terciptanya perbaikan nilai secara umum. - Characterization (karakteristik), yaitu siswa sudah mampu memadukan semua nilai. Hal ini bisa dilihat dari kepribadian dan tingkah lakunya. c)Psikomotorik Jenis hasil belajar ini berhubungan dengan pengembangan kemampuan dalam hal gerak seperti otot. Hasil belajar ini dibagi menjadi enam tingkat keterampilan, yaitu: - Keterampilan gerak dasar - Gerak refleks - Kemampuan perseptual - Kemampuan di bidang fisik - Gerakan-gerakan terampil - Keterampilan kompleks, seperti gerakan ekspresif dan interpretative


Contoh Hasil Belajar Berikut ini beberapa contoh hasil belajar siswa pada beberapa mata pelajaran. A.Dapat mengidentifikasi, merumuskan, dan memecahkan masalah dalam mata pelajaran Kimia. B.Membangun model probabilitas yang berfungsi untuk mengukur risiko dari sistem asuransi, dan menggunakan data serta teknologi untuk menarik kesimpulan statistik yang sesuai. C.Menggunakan vektor dasar, desain 3D, video, dan teknologi web dalam menciptakan karya seni dalam mata pelajaran Seni. D.Menerapkan perhitungan untung-rugi dalam kegiatan jual-beli barang yang telah dipelajari dalam mata pelajaran Matematika. E.Mengidentifikasi karakteristik dari struktur tubuh manusia dan menjelaskan fungsi struktur tersebut seperti yang telah dipelajari dalam mata pelajaran Biologi. F.Mampu membaca alat ukur, seperti jangka sorong dan mikrometer sekrup dalam mata pelajaran Fisika. G.Memahami fungsi dan cara membaca peta tipografı dalam mata pelajaran Geografi. Tujuan dan Manfaat Belajar A.Tujuan Hasil Belajar Untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau symbol. B.Manfaat Hasil Belajar a) Menambah pengetahuan b) Lebih memahami sesuatu yang belum dipahami sebelumnya c) Lebih mengembangkan keterampilannya d) Memiliki pandangan yang baru atas sesuatu hal e) Lebih menghargai sesuatu dari pada sebelumnya.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar A.Menurut Rusman (2012) membahas faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa menjadi dua faktor, yaitu faktor fisiologis dan faktor psikologis, - Faktor fisiologis dijelaskan sebagai faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik yang dapat mempengaruhi belajar siswa, meliputi kelelahan, cacat secara fisik yang menurunkan semangat belajar. - Faktor psikologis dejelaskan sebagai faktor yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan, meliputi kecerdasan, minat, bakat, motivasi, perhatian, dan kognitif peserta didik. B.Faktor eksternal siswa terdiri atas dua macam, yakni : - Faktor lingkungan : faktor lingkungan merupakan faktor luar yang memengaruhi hasil belajar peserta didik. Faktor ini meliputi lingkungan fisik (alam) contohnya suhu udara yang panas atau dingin dan lingkungan sosial (pergaulan) contohnya teman teman yang sering diajak bergaul. - Faktor Instrumental : faktor instrumental contohnya yaitu 1. Keadaan lingkungan keluarga, contohnya tidak ada keteladanan atau kedisiplinan dalam belajar yang diajarkan oleh orang tua. 2. Keadaan lingkungan sekolah, contohnya metode pembelajaran yang digunakan dalam kelas serta harmonisasi kelas dalam proses pembelajaran 3. Keadaan lingkungan masyarakat, contohnya mengikuti kegiatan positif yang menunjang pembelajaran.


TEORI BELAJAR Modul Ajar Behavioristik, Kognitif, dan Konstruktivis ini materi 3


BELAJAR DAN PEMBELAJARAN MODUL AJAR IDENTITAS PENULIS Fase : A Alokasi Waktu : 45 menit Penulis : Kelompok 3 Instansi : Universitas Pendidikan Ganesha Peserta didik dapat memahami terjadinya proses belajar dan implementasi menurut Teori Belajar Behavioristik dari Pavlov, Thordike dan Skinner Peserta didik dapat memahami terjadinya proses belajar dan implementasi menurut Teori Belajar Kognitif dan Konstruktivisme dari Jean Peaget Peserta didik dapat memahami terjadinya proses belajar dan implementasi Teori Belajar Konstruktivisme dari Vygotsky Tujuan Pembelajaran Asesmen awal Peserta Didik menguasai teori-teori belajar behavioristik, kognitif dan konstruktivis Target peserta didik sarana media Peserta didik reguler/ tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. 1.Komputer / Laptop 2.Proyektor 3.Jaringan Internet 4.Cooperative Learning


Kegiatan Pembelajaran Teori-Teori Belajar Pertemuan ke-3 Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup 1.Melakukan apersepsi (salam, sapa, cek kehadiran peserta didik). 2.Menyanyikan lagu wajib nasional "Garuda Pancasila” 3.Ice Breaking "tepuk tunggal, ganda" 4.Menyampaikan tujuan pembelajaran 5.Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. Peserta didik diberikan kesempatan untuk menanyakan mengenai hal yang belum dipahami dalam aktivitas pembelajarannya 1. Peserta didik menyimpulkan materi dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya. 2. Pendidik menanyakan perasaan dan pemahaman peserta didik (kegiatan refleksi). 3. 4.Menutup pembelajaran. 1.Peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Peserta didik menyimak materi yang ditayangkan melalui slide di depan kelas tentang Teori-teori belajar 2. Peserta didik menyimak video-video tentang teori-teori belajar behavioristik, jean peaget dan vygotsky 3. 4.Setiap kelompok menganalisis video dan materi yang dipaparkan. 5. Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Peserta didik diberi penguatan pemahaman dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusinya. 6.


Teori belajar behavioristik Pavlov (1849-1936) Ivan Petrovich Pavlov merupakan ahli psikologi dari Rusia yang mengemukakan bahwa individu dapat dikendalikan dengan cara stimulus alami yang tepat untuk mendapatkan respons yang diinginkan Proses dimana suatu stimulus/rangsangan yang awalnya tidak memunculkan respon tertentu, diasosiasikan dengan stimulus kedua yang dapat memunculkan. Secara sederhananya, pengkondisian klasik merujuk pada sejumlah prosedur pelatihan dimana satu stimulus/rangsangan muncul menggantikan stimulus yang lainnya dalam mengembangkan suatu respon. classical conditioning


yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (salah satunya sebagai reinforce), maka reflex dan stimulus lainnya akan meningkat. Dari penelitian sebelumnya, Pavlov kemudian mencetuskan dua hukum belajar: yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika reflex yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforce, maka kekuatannya akan menurun. Law of Respondent Conditioning Law of Respondent Extinction (1) Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas tugas belajar, (2) Membantu siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi-situasi yang mencemaskan atau menekan Contoh Implementasi dalam kelas


Teori Behavioristik Thorndike (1874-1949) Teori belajar Thorndike disebut teori “Connectionism” , karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini juga disebut teori "Trial and Error" Thorndike menemukan 3 hukum pokok: 1.Hukum Latihan: hubungan antara stimulus dan respon akan menjadi kuat bila sering digunakan, dan sebaliknya akan menjadi lemah jika tidak digunakan 2. Hukum Akibat: satu tindakan atau perbuatan yang menghasilkan rasa puas (menyenangkan) cenderung diulang, sebaliknya tindakan atau perbuatan yang menghasilkan rasa tidak puas (tidak menyenangkan) akan cenderung tidak diulang. 3. Hukum Kesiapan: proses belajar akan berhasil dengan baik bila siswa memiliki kesiapan Teori ini menganggap bahwa belajar terjadi melalui interaksi antara stimulus dan respon yang akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon adalah reaksi atautanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikanoleh guru. Perubahan perilaku dianggap sebagai indikator belajar. Pengukuran menjadi hal penting dalam teori ini untuk melihat perubahan tingkah laku. Teori Behavioristik Skinner (1904-1990) implementasinya adalah penguatan positif, dimana mengapresiasi peserta didik


Teori belajar Kognitif Jean piaget 1896-1980 A S P E K D A S A R T E O R I K O G N I T I F K E M A T A N G A N P E N G A L A M A N I N T E R A K S I E K U I L I B R A S I P R O S E S T A H A P S E N S O R I M O T O R ( 0 - 2 T H ) T A H A P P R E - O P E R A S I O N A L ( 2 - 7 T H ) T A H A P O P E R A S I K O N K R I T ( 7 - 1 1 T H ) T A H A P O P E R A S I F O R M A L ( > 1 2 T H ) T A H A P S E N S O R I M O T O R Y A I T U A N A K M E M I L I K I B E B E R A P A P E M A H A M A N T E N T A N G K O N S E P A N G K A D A N M E N G H I T U N G . - T A H A P P R E - O P E R A S I O N A L Y A I T U A N A K - A N A K B A R U H A N Y A D I P E R K E N A L K A N D E N G A N B E N T U K D A N W A R N A . - T A H A P O P E R A S I K O N K R I T Y A I T U A N A K S U D A H M U L A I D I A J A R K A N T E N T A N G O P E R A S I P E N J U M L A H A N , P E N G U R A N G A N D A N P E R K A L I A N . - T A H A P O P E R A S I F O R M A L Y A I T U A N A K S U D A H M A M P U B E R P I K I R A B S T R A K .


Teori Belajar Kontruktivisme Jean Piaget Prinsip dalam KBM Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri yang aktif Tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa Mengajar adalah membantu siswa dalam mengajar Proses Skemata Asimilasi Akomodasi Ekuilibras IMPLEMENTASI Skemata contohnya adalah jika kita menghormati orang lain, orang lain akan memperlakukan kita dengan hal yang sama. -Asimilasi contohnya cara berpikir itu akan terus digunakan dalam berinteraksi dengan orang lain sebelum ada fakta. -Akomodasi contohnya berbalik, jika kita menghormati orang, belum tentu orang akan menghormati kita. -Ekuilibrasi contohnya penghormatan bisa dibalas penghormatan bisa juga dibalas penipuan.


Prinsip-Prinsip Pembelajaran Sosial ZPD Masa Magang Kognitif Pembelajaran Termidiasi Tahapan Konsep ZDP Mengembangka n Pemahaman Berlatih secara mandiri Kinerja yang dikembangkan Deautomatisasi kinerja Kolaborasi dalam pembelajaran seperti berdiskusi saat pembelajaran di kelas. -ZDP (Zone of Proximal Development) seperti memberikan panfuan sesuai perkembangan anak. -Peningkatan Keterlibatan Siswa seperti kegiatan praktik pembelajaran.


MODUL AJAR BELAJARDAN PEMBELAJARAN TEORI-TEORI I-TEORI BELAJAR


IDENTITAS PENULIS Fase : A Alokasi Waktu : 45 menit Penulis : Kelompok 1 Instansi : Universitas Pendidikan Ganesha BELAJARDAN PEMBELAJARAN BELAJARDAN PEMBELAJARAN MODUL AJAR Peserta didik dapat memahami terjadinya proses belajar menurut Teori Belajar Kognitif dari Piaget Peserta didik dapat memahami terjadinya proses belajar menurut teori belajar Konstruktivist dari Vygotsky Peserta didik dapat memahami proses belaja menurut Teori Belajar Pemrosesan Informasi Peserta didik dapat memahami terjadinya proses belajar menurut Teori Belajar Sosial Peserta didik dapat memahami keunggulan dan kelemahan masing-masing teori pembelajaran Peserta didik dapat memahami implikasi teori belajar terhadap proses pembelajaran. Peserta didik sudah memahami definisi belajar Peserta didik pada awalnya belum memahami konsep teori - teori belajar setelah mempelajari keseluruhan materi pada pembelajaran teori belajar ini, peserta didik dapat memahami konsep teori - teori belajar Peserta didik pada awalnya belum memahami implikasi dari teori - teori belajar setelah mempelajari keseluruhan materi pada pembelajaran teori belajar ini, peserta didik dapat menerapkan teori belajar dalam pembelajaran untuk mendukung tugas keprofesian dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang mendidik agar membangun sikap (karakter Indonesia), pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Peserta didik reguler/ tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. 1) Kompute/ laptop 2) Proyektor 3) Jaringan Internet 4) Cooperative Learning


TOPIK:TEORI-TEORIBELAJAR TOPIK:TEORI-TEORIBELAJAR KEGIATAN PEMBELAJARAN Pertemuan ke - 4 Guru menyapa siswa dan menanyakan kesiapan mereka untuk belajar. Kelas dilanjutkan dengan do’a Guru mengecek kehadiran siswa Guru memulai dengan pertanyaan pemantik yang relevan dengan teori belajar, seperti "Apa yang menurut kalian membuat seseorang belajar?" atau "Bagaimana cara kalian belajar paling efektif?". Melakukan diskusi singkat untuk menampung berbagai ide dan pengalaman belajar dari peserta didik. Guru menjelaskan secara singkat tentang tujuan pembelajaran dan cakupan materi teori belajar yang akan dibahas dalam modul ajar. KEGIATAN PENDAHULUAN KEGIATAN INTI A) Pemaparan materi: Guru menyampaikan materi teori belajar secara interaktif dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran, seperti: Penceritaan: Guru menceritakan kisah atau contoh nyata tentang penerapan teori belajar dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi kelompok: Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil untuk berdiskusi tentang konsep-konsep teori belajar. Presentasi: Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas. Simulasi: Guru mengajak peserta didik untuk melakukan simulasi penerapan teori belajar dalam situasi tertentu. Guru memastikan bahwa semua peserta didik memahami materi dengan baik dengan memberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi. B) Penerapan teori: Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk menerapkan teori belajar dalam berbagai konteks, seperti: Menganalisis kasus pembelajaran: Peserta didik menganalisis kasus pembelajaran yang diberikan dan menjelaskan bagaimana teori belajar dapat diterapkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Merancang strategi belajar: Peserta didik merancang strategi belajar mereka sendiri berdasarkan pemahaman mereka tentang teori belajar. Menilai efektivitas pembelajaran: Peserta didik menilai efektivitas pembelajaran mereka sendiri dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. KEGIATAN PENUTUP Ringkasan materi: Guru bersama-sama dengan peserta didik merangkum poin-poin penting dari materi teori belajar yang telah dibahas. Refleksi: Guru mengajak peserta didik untuk merefleksikan pembelajaran mereka dan membagikan kesan serta manfaat yang mereka dapatkan. Penutup: Guru memberikan kesimpulan dan penekanan pada poin-poin penting dari materi teori belajar. Guru memberikan tugas mandiri kepada peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut tentang teori belajar.


1) Pendahuluan Belajar adalah proses di mana individu memperoleh informasi melalui pengalaman, pengamatan, atau instruksi yang dilakukan secara sadar. Pada presentasi ini akan dijelaskan teori - teori belajar yaitu teori belajar kognitif, konstruktivis, pemrosesan informasi, dan belajar sosial. Juga menginformasikan tentang tokoh dibalik teori - teori tersebut, kekurangan, dan keunggulannya. 2) Teori Belajar Kognitif dan implikasinya Jean Piaget adalah tokoh yang mengemukakan teori belajar kognitif. Ia telah meneliti mengenai tahapan perkembangan pribadi yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Teori kognitif adalah teori yang mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang mampu diukur dan mampu diamati. Piaget membagi perkembangan kognitif anak menjadi 4 tahap yaitu tahap sensorimotor (usia 18-24 bulan), tahap pra-operasional (2-7 tahun), tahap operasional konkret (7-11 tahun), dan tahap operasional gens (11-15 tahun). Sensorimotor Anak belajar memahami dunia melalui koordinasi pengalaman sensorik (melihat dan mendengar) dengan tindakan motoric seperti menggapai dan menyetuh. Pra-operasional Anak baru berpikir pada Tingkat simbolik, namun belum bisa menggunakan operasi kognitif Opersional Konkret Anak secara mental bisa merepresentasikan peristiwa dan objek, dan terlibat dalam permainan simbolik. Operasional Gens Anak berpikir pada tingkat gens dan dapat menggunakan logika dan operasi kognitif. Teori belajar kognitif memiliki implikasi penting dalam pembelajaran yang menekankan pada proses belajar dan pemahaman, bukan hanya pada hasil belajar. Teori kognitif menekankan pada pembelajaran bermakna, di mana informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Ini berarti bahwa belajar memahami lebih bermakna dari belajar menghafal. Implikasi dari teori belajar kognitif ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang berpusat pada siswa dalam pembelajaran, di mana mereka dianggap sebagai pembuat pengetahuan dan pemahaman. Ini mendorong pendekatan pembelajaran yang lebih aktif, berpusat pada proses belajar, dan berhubungan dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. URAIAN MATERI


Social Learning Pembelajaran terjadi seiring dengan adanya interaksi bersama orang dewasa, atau teman sebaya yang lebih cakap. Cognitive Apprenticeship Proses yang meningkatkan kemampuan anak dengan interaksi dengan orang – orang yang lebih ahli, orang dewasa, atau teman yang lebih cakap. Zone of Proximal Development Diberikan suatu kasus, jika tidak dapat memecahkan masalah sendiri, namun berhasil jika mendapatkan bantuan Mediated Learning menekankan peran interaksi sosial dan alat budaya dalam perkembangan kognitif. Dengan terlibat dalam aktivitas dengan dukungan dari orang lain yang lebih berpengetahuan, pembelajar dapat mengakses pengetahuan dan keterampilan baru, sehingga meningkatkan kemampuan kognitif mereka. Jean Piaget Lev Vygotsky 3) Teori Belajar Konstruktivisme dan implikasinya Lev Semenovich Vygotsky adalah tokoh yang mengemukakan teori belajar konstruktivisme, yang berasal dari Rusia. Menurut Vygotsky, ”Manusia tidak seperti hewan yang hanya bereaksi terhadap lingkungan, manusia memiliki kapasitas untuk mengubah lingkungan sesuai keperluan mereka”. Vygotsky berpendapat bahwa pembelajaran akan efektif dan efisien apabila anak belajar secara kooperatif dengan anak lain dalam suasana dan lingkungan yang mendukung, dalam bimbingan seseorang yang lebih mampu. URAIAN MATERI Empat prinsip pembelajaran menurut Lev Vygotsky: Teori belajar konstruktivisme memiliki beberapa implikasi penting dalam pembelajaran seperti, menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor yang membuat situasi kondusif agar terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Implikasi dari teori belajar konstruktivisme ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang berpusat pada siswa dalam pembelajaran. Ini mendorong pendekatan pembelajaran yang lebih aktif, berbasis proyek, sosial, refleksi, dan konstruksi, yang semuanya penting dalam membantu siswa memahami dan menerapkan konsep pembelajaran dalam konteks nyata.


Receiving the stimulus situation Fase seseorang memperhatikan stimulus, menangkap, dan memahaminya. Kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. Storage Fase penyimpanan informasi kedalam memori jangka pendek atau jangka panjang Stage of acquition Fase saat individu membentuk asosiasi antara informasi baru dan informasi yang lama Retrieval fase mengingat kembali informasi yang ada dalam memori. Empat Fase Utama 4) Teori Belajar Pemrosesan Informasi Menurut Indrapangastuti, teori belajar pemrosesan informasi adalah proses memperoleh informasi, mengolah, menyimpan, dan mengingat kembali informasi yang dikontrol oleh otak. Teori belajar pemrosesan informasi Gagne merupakan teori yang menganggap bahwa belajar adalah proses pemrosesan informasi yang dilakukan oleh individu. URAIAN MATERI Teori Pemrosesan Informasi memiliki beberapa implikasi penting dalam konteks pembelajaran yang dapat mempengaruhi cara siswa mengingat dan memahami materi. Siswa akan mengingat informasi dengan lebih baik jika mereka memahaminya, memberi makna, mengelaborasinya, dan mempersonalisasikannya. Implikasi dari teori ini menunjukkan pentingnya pemahaman dan pengelolaan memori yang efektif dalam proses pembelajaran. Pendidik harus mempertimbangkan cara menerapkan strategi ini dalam kegiatan belajar mereka untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dan retensi informasi oleh siswa. Penerima informasi pertama didalam tubuh manusia. Disini informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, bertahan dalam waktu singkat, dan mudah terganggu atau berganti. Berisi seluruh memori yang dimiliki individu, kapasitasnya tidak terbatas, informasi yang tersimpan tidak mudah terganggu atau terlupakan. Long Term Memory Sensory Receptor Memori yang mampu menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu. Kapasitasnya terbatas, memori didalamnya hanya mampu bertahan selama 15 detik jika tanpa upaya pengulangan, dan bentuk informasi dapat berubah namun dengan inti yang sama. Short Term Memory Long Term Memory 3 Komponen Utama Robert Mills Gagne


Prinsip Teori Belajar Sosial Albert Bandura 4 proses untuk mentukan pengaruh sebuah model terhadap seseorang individu Albert Bandura 5) Teori Belajar Sosial Teori belajar sosial merupakan salah satu teori belajar yang menyatakan bahwa perilaku yang baru dapat dibentuk dengan cara mengamati dan meniru orang lain. Teori belajar sosial menjelaskan bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan, lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melaluiperilakunya sendiri. Teori belajar sosial menekankan pentingnya lingkungan dan interaksi sosial dalam proses belajar. Bandura berpendapat bahwa lingkungan dan perilaku seseorang saling mempengaruhi, dan perilaku individu dibentuk oleh interaksi antara lingkungan, perilaku, dan proses psikologi individu itu sendiri. Ini berarti bahwa individu belajar tidak hanya melalui reaksi stimulus atau rangsangan, tetapi juga akibat dari interaksi antara lingkungan dengan pengetahuan kognitif individu itu sendiri. URAIAN MATERI Implikasi dari Teori Belajar Sosial menunjukkan bahwa pendekatan yang berfokus pada observasi, interaksi sosial, pemilihan model yang tepat, konteks yang tepat, dan motivasi dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana individu berinteraksi dan belajar dari orang lain. Prinsip ini menekankan bahwa perilaku dapat diasosiasikan dengan konteksnya, sehingga perilaku tersebut menjadi kebiasaan. Asosiasi Prinsip ini menjelaskan bahwa perilaku yang menghasilkan hasil positif (ganjaran) atau negatif (hukuman) menjadi lebih cenderung diulangi. Penguatan Prinsip ini menekankan bahwa individu dapat belajar perilaku baru melalui observasi dan imitasi perilaku orang lain. Observational Learning Prinsip ini menekankan bahwa individu memainkan peran aktif dalam menentukan perilaku mana yang akan ditiru dan frekuensi serta intensitas peniruan yang akan dijalankan. Mediasi Internal Prinsip ini menekankan bahwa individu dapat belajar dan mengembangkan keterampilan baru melalui observasi dan imitasi perilaku orang lain. Pengembangan Keterampilan Proses Perhatian Individu belajar dari sebuah model hanya ketika mereka mengenali dan mencurahkan perhatianterhadap fitur-fitur pentingnya. Proses Reproduksi Motorik Setelah seseorang melihat sebuah perilaku baru dengan mengamati model, pengamatan tersebut harus diubah menjadi tindakan. Prosesini kemudian menunjukkan bahwa individu itu dapat melakukanaktivitas yang dicontohkan oleh model tersebut. Proses Penyimpanan Pengaruh sebuah model akan bergantung pada seberapa baik individumengingat tindakan model setelah model tersebut tidak lagi tersedia. Proses Penegasan Individu akan termotivasi untuk menampilkan perilaku yang dicontohkan jika tersedia insentifpositif atau penghargaan. Perilaku yang ditegaskan secara positif akan mendapat lebih banyak perhatian, dipelajari dengan baik, dan dilakukan lebih sering.


DAFTARRUJUKAN B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson. (2010). Theories of Learning (Teori Belajar), alih bahasa: Tri Wibowo B.S., Cet. III. Jakarta: Prenada Media Group. (Diakses 13 Maret 2024). Paul Suparno. (2006). Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. (Diakses 13 Maret 2024). Sereliciouz. (2021). Teori Belajar Sosial – Pengertian, Prinsip, Implementasi. (Diakses 13 Maret 2024).


MODUL AJAR BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN HAKIKAT PEMBELAJARAN DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN


IDENTITTAS PENULIS Fase : A Alokasi Waktu : 45 Menit Penulis : Kelompok 1 Instansi : Universitas Pendidikan Ganesha TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Peserta didik dapat memahami mengenai hakikat pembelajaran. 2. Peserta didik dapat memahami konsep pendekatan pembelajaran. Pessertas didik dapat mengidentifikasi situasi yang tepat untuk menerapkan pendekatan pembelajaran tertentu. 3. Peserta didik dapat mengembangkan keterampilan sosial seperti kerjasama, komunikasi, dan kepemimpinan. 4. ASESMEN AWAL Peserta didik dapat memahami pengertian dari Hakikat Pembelajaran dan Konsep Pendekatan Pembelajaran. Misalnya: Apakah peserta didik dappat mengidentifikasikan pengertian dari Hakikat Pembelajaran? 1. Siapa yang bisa menjelaskan bagaimana Konsep Pendekatan Pembelajaran? 2. 1. Komputer/Laptop 2.Proyektor 3.Jaringan Internet Cooperative Learning MODUL AJAR BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN AJAR DAN PEMBELAJARAN Target Peserta Didik Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam memahami dan mencerna materi ajar Sarana Media Model Pembelajaran


KEGIATAN PEMBELAJARAN TOPIK : HAKIKAT PEMBELAJARAN DAN KONSEP PENDEKATAN PEMBELAJARAN Melakukan apersepsi (salam, sapa, cek kehadiran peserta didik). 1. 2. Menyanyikan lagu wajib nasional "Satu Nusa Satu Bangsa". 3. Ice Breaking "tepuk semangat" Menyampaikan tujuan pembelajaran metode-metode pembelajaran: Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi, Kerja Kelompok & Pemberian Tugas. 4. Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. 5. Peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. 1. Peserta didik menyimak materi yang ditayangkan melalui slide di depan kelas tentang hakikat belajar dan pilar pendidikan UNESCO. 2. Peserta didik menyimak video-video tentang hakikat belajar dan pilar pendidiman UNESCO. Setiap kelompok menganalisis video dan materi yang dipaparkan. 3. 4. Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Peserta didik diberi penguatan pemahaman dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusinya. 5. Pertemuan Ke-5 PENDAHULUAN KEGIATAN INTI PENUTUP Peserta didik diberikan kesempatan untuk menanyakan mengenai hal yang belum dipahami dalam aktivitas pembelajarannya 1. Peserta didik menyimpulkan materi dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya. 2. Pendidik menanyakan perasaan dan pemahaman peserta didik (kegiatan refleksi). 3. 4.Menutup pembelajaran.


Berdasarkan undang-undang No. 20/2003 Bab I Ayat 20, Pembelajaran adalah sebuah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pengertian Menurut Para Ahli Menurut Winkel (1991) dalam Siregar (2014:12), pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami siswa. Kata pembelajaran diambil dari kata dasar "ajar" ditambah awalan "pe" dan akhiran "an" menjadi kata "pembelajaran" , diartikan sebagai proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar (Susanto 2013: 19). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dengan sengaja dirancang untuk memudahkan siswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Pendekatan pembelajaran adalah sudut pandang atau cara pandang yang digunakan oleh guru atau sumber belajar dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran berhubungan dengan tujuan, materi, metode, strategi, model, dan evaluasi pembelajaran. Pendekatan pembelajaran dapat mempengaruhi kualitas dan hasil pembelajaran yang dicapai oleh peserta didik. Pengertian Menurut Para Ahli Menurut Roy Killen (1998), menanamkan strategi ini sebagai istilah strategi pembelajaran langsung (Direct Introduction) karena materi pembelajaran tersebut langsung disampaikan kepada siswa. URAIAN MATERI HAKIKAT PEMBELAJARAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN


Heuristik berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein, yang berarti “Saya Menemukan” strategi ini berkembang menjadi sebuah strategi pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa dalam memahami materi pembelajaran dengan menjadikan “heuriskein (saya menemukan) ” sebagai acuan. Pengembangan Kemampuan Berpikir. 1. Latihan Keterampilan Khusus (pemahaman). 2. Latihan Menemukan Sesuatu. 3. Tekanan Utama Pembelajaran Dalam Strategi Heuristik Discovery Metode discovery (penemuan) diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, sebelum sampai pada generalisasi (Suryosubroto). Inquiry Metode inquiry adalah metode pembelajaran yang menekankan pada aktifitas siswa pada proses berpikir secaa kritis dan analitis (Wina Sanjaya). Macam-Macam Strategi Pembelajaran Heuristik URAIAN MATERI KONSEP PEMBELAJARAN HEURTISTIK


Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental (developmentally appropriate) siswa. Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung (independent learning group). Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning). Mempertimbangkan keragaman siswa (diversity of students). Memperhatikan multi intelegensi (multiple intelligences) siswa. Menggunakan teknik-teknik bertanya (questioning) untuk meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment). Langkah-Langkah Penerapan Strategi Pembelajaran Heuristik KELEBIHAN Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. 1. Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan). 2. KELEMAHAN Pendekatan ini kurang cocok bagi peserta didik yang lamban. 1. Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah. 2. URAIAN MATERI


Istilah ekspositori berasal dari konsep eksposisi yang berarti memberi penjelasan. Dalam konteks pembelajran, eksposisi merupakan strategi yang dilakukan guru untuk mengatakan atau menjelaskan fakta-fakta, gagasan-gagasan dan informasi-informasi penting lainnya kepada para pembelajar. Jadi, strategi pembelajaran ekspoditori adalah strategi pembelajran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seseorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pembelajaran secara optimal. KONSEP PEMBELAJARAN EKSPOSITORI dilakukan dengan cara penyampaian materi pembelajaran secara verbal artinya bertutur secra lisan yang merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini. materi yang disampaikan adalah materi pembelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang. materi yang disampaikan adalah materi pembelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang. Berorientasi Pada Tujuan Prinsip Komunikasi Prinsip Berkelanjutan Prinsip Kesiapan URAIAN MATERI Karakteristik Strategi Ekspositori Prinsip - Prinsip


KELEBIHAN Guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pelajaran dengan demikian ia dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampikan. KELEMAHAN Gaya komunikasi yang satu arah menyebabkan kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran terbatas dan juga bisa mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa terbatas dengan apa yang diberikan olah guru URAIAN MATERI


Hutauruk, N. E. Hutauruk, Novri Elisabeth. Pendekatan Ekspository Dan Heuristik, Blogger, 21 Sept. 2018, novrielisabethhutauruk.blogspot.com/2018/09/pendekat an-ekspository-dan-heuristik.html?m=1. Accessed 21 Apr. 2024. “Kelompok 2 - PENDEKATAN PEMBELAJARAN.” Scribd, www.scribd.com/document/527579768/kelompok-2- PENDEKATAN-PEMBELAJARAN. Accessed 21 Apr. 2024. Strategi Pembelajaran Ekspositori Dan Heuristik, 21 Sept. 2018, melisamurzanita.blogspot.com/2018/09/strategipembelajaran-ekspositori-dan.html?m=1. Accessed 21 Apr. 2024. DAFTAR PUSTAKA


DEFINISI DAN UNSUR-UNSUR MODEL PEMBELAJARAN MODUL AJAR BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


Click to View FlipBook Version