Modul Ajar Belajar dan Pembelajaran Fase Alokasi Waktu Penulis Instansi : A : 45 Menit : Kelompok 1 : Universitas Pendidikan Ganesha IDENTITAS PENULIS 1) Peserta didik dapat memahami konsep dasar dari model pembelajaran. 2) Peserta didik dapat mengidentifikasi dan menjelaskan unsur-unsur utama yang membentuk sebuah model pembelajaran Peserta didik memahami definisi dan unsur - unsur model pembelajaran. Misalnya: 1) Apakah peserta didik masih mengingat definisi dari model pembelajaran? 2) Siapa yang bisa menyebutkan unsur - unsur dari model pembelajaran? Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam memahami dan mencerna materi ajar 1) Komputer/Laptop, 2) Proyektor, 3) Jaringan Internet. Cooperative Learning
KEGIATAN PEMBELAJARAN PERTEMUAN KE-6 TOPIK : DEFINISI DAN UNSURUNSUR MODEL PEMBELAJARAN 1) Pendidik menyapa peserta didik dan menanyakan persiapan mereka untuk belajar. 2) Pendidik melakukan doa bersama 3) Peserta didik mengecek kehadiran siswa 4) Pesertta didik memulai dengan pertanyaan pemantik yang relevan dengan materi ajar, seperti "Apa yang kalian ketahui tentang model pembelajaran dan unsurunsurnya?" 5) Pendidik bersama peserta didik melakukan diskusi singkat untuk menampung berbagai ide dan pengalaman belajar dari peserta didik. 6) Pendidik menjelaskan secara singkat tentang tujuan pembelajaran dan cakupan materi yang akan dibahas dalam modul ajar. 1) Peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang oleh pendidik. 2) Peserta didik menyimak materi yang ditayangkan melalui slide di depan kelas tentang definisi dan unsur-unsur model pembelajaran. Peserta didik menyimak video-video tentang definisi dan unsur-unsur model pelajaran. 3) Setiap kelompok menganalisis video dan materi yang dipaparkan. 4) Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. 5) Peserta didik diberi penguatan pemahaman oleh pendidik dan peserta didik lainnya dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusinya. 1) Peserta didik diberikan kesempatan untuk menanyakan mengenai hal yang belum dipahami dalam aktivitas pembelajarannya kepada pendidik. 2) Peserta didik menyimpulkan materi dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya. 3) Pendidik menanyakan perasaan dan pemahaman peserta didik (kegiatan refleksi). 5) Pendidik menutup pembelajaran.
bahan ajar Model pembelajaran ialah suatu kerangka konseptual yang menggambar prosedur atau langkah-langkah yang sesuai secara sistematis dalam mengelompokkan sebuah pengalaman kegiatan belajar peserta didik untuk dapat mencapai sebuah tujuan belajar tertentu, dan mempunyai fungsi sebagai suatu pedoman atau panduan bagi perancang pembelajaran dan pendidik dalam menyusun serta melaksanakan kegiatan belajar. Dalam model pembelajaran, terdapat strategi yang menjelaskan operasional, alat, atau teknik yang digunakan peserta didik dalam prosesnya. 1) Arend Menurut Arend, model belajar merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematik dalam pengorganisasian pengalaman belajar guna mencapai kompetensi belajar. 2) Saefuddin dan Berdiati Menurut Saefuddin & Berdiati, model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan sistem belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. 3) Trianto Menurut Trianto, model pembelajaran adalah perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutor. 4) Joyce dan Weil Menurut Joyce & Weil, model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang bahkan dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau lingkungan belajar lain.
Joyce & Weil dalam buku Models of Teaching menyatakan bahwa setiap model pembelajaran memiliki karakteristik umum masing-masing yang dibedakan berdasarkan unsur-unsurnya, yaitu: 1) Sintaks Tahapan atau langkah-langkah kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran sesuai dengan model tertentu. Ini mencakup urutan kegiatan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. 2) Sistem Sosial Sistem sosial merujuk pada situasi atau suasana, dan norma yang berlaku dalam model pembelajaran. Ini mencakup interaksi antara pendidik dan peserta didik, serta antar sesama peserta didik atau kelompok. Sistem sosial ini memengaruhi dinamika belajar dalam kelas dan harus dipertimbangkan oleh pendidik sebelum menerapkan model pembelajaran tertentu. 3) Prinsip Reaksi Prinsip reaksi adalah pola kegiatan yang menggambarkan cara pendidik merespons dan memperlakukan peserta didik. Hal ini mencakup sikap dan respon pendidik terhadap peserta didik, seperti memberikan dukungan, menekankan pada diskusi, atau memberikan perhatian pada contoh-contoh spesifik. 4) Sistem Pendukung Kondisi atau syarat yang diperlukan untuk terlaksananya suatu model pembelajaran seperti setting kelas dan sistem intruksional 5) Dampak Instruksional Merujuk pada hasil belajar yang langsung dicapai dengan mengarahkan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang diharapkan. 6) Dampak Pengiring Hasil belajar lainnya yang timbul dari proses pembelajaran, yang merupakan akibat dari suasana belajar yang dialami langsung oleh peserta didik tanpa arahan langsung dari pendidik. Dengan memahami karakteristik ini, pendidik dapat merencanakan dan mengimplementasikan model pembelajaran dengan lebih efektif, memastikan bahwa semua aspek penting dipertimbangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. bahan ajar
daftar pustaka Indrawati. (2011). Perencanaan Pembelajaran Fisika: Model-Model Pembelajaran. Jember: Universitas Jember. Julaeha, S., & Erihardiana, M. (2022). Model Pembelajaran dan Implementasi Pendidikan HAM dalam Perspektif Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional. Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal, 4(1), 133-144. Khoerunnisa, P., & Aqwal, S. M. (2020). Analisis Model-Model Pembelajaran. Fondatia: Jurnal Pendidikan Dasar, 4(1), 1–27. Mirdad, J. (2020). Model-Model Pembelajaran (Empat Rumpun Model Pembelajaran). (Indonesia Jurnal Sakinah) Jurnal Pendidikan dan Sosial Islam, 2(1), 14–23. Tibahary, A. R., & Muliana. (2018). Model-model Pembelajaran Inovatif. Scolae: Journal of Pedagogy, 1(1), 54–64.
Fase : A Alokasi Waktu : 45 Menit Penulis : Kelompok 7 Instansi : Universitas Pendidikan Ganesha BELAJAR DAN PEMBELAJARAN peserta didik mampu memahami pengertian kelompok model pembelajaran dan pengolahan informasi peserta didik mampu memahami pengelompokan dan tahapan model pembelajaran pada kelompok model pengolahan informasi peserta didik mampu memahami model pembelajaran inkuiri dengan metode pictorial riddle peserta didik mampu memahami kelebihan dan kekurangan model pengolahan informasi TUJUAN PEMBELAJARAN ASSESMENT AWAL KELOMPOK MODEL PEMBELAJARAN DAN PENGOLAHAN INFORMASIMMOODDUULL AAJJAARR TARGET PESERTA DIDIK SARANA MEDIA komputer / laptop proyektor jaringan internet Peserta didik reguler/tipikal : umum, tidak ada kesulitan dalam memahami dan mencerna materi ajar Peserta didik menguasai model pembelajaran dan pengolahan informasi. Bagaimana menguasai model pembelajaran dan pengolahan informasi? IDENTITAS PENULIS MODEL PEMBELAJARAN cooperative learning
KEGIATAN PEMBELAJARAN TOPIK : KELOMPOK MODEL PEMBELAJARAN DAN PENGOLAHAN INFORMASI Delaying tasks and putting off important responsibilities can lead to wasted time. Procrastination often results in rushed work or missed deadlines, causing unnecessary stress and inefficiency. Pendahuluan Melakukan apersepsi (salam, sapa, cek kehadiran peserta didik). Menyanyikan lagu wajib nasional "Garuda Pancasila” Ice Breaking "tepuk tunggal, ganda" Menyampaikan tujuan pembelajaran Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. Meetings that lack clear agendas or stretch longer than necessary can consume a significant portion of your day. Similarly, engaging in unproductive discussions or gossip can be a time sink. PERTEMUAN KE-7 Kegiatan Inti Peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 3-5 orang oleh pendidik. Peserta didik menyimak materi yang ditayangkan melalui slide di depan kelas tentang definisi dan unsur-unsur model pembelajaran. Peserta didik menyimak video-video tentang definisi dan unsur - unsur model pelajaran. Setiap kelompok menganalisis video dan materi yang dipaparkan. Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Peserta didik diberi penguatan pemahaman oleh pendidik dan peserta didik lainnya dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusinya. Kegiatan Inti Ringkasan materi: Guru bersama-sama dengan peserta didik merangkum poin-poin penting dari materi yang dibahas. Refleksi: Guru mengajak peserta didik untuk merefleksikan pembelajaran yang didapatkan. Penutup: Guru memberikan kesimpulan pada poin-poin penting dari materi teori belajar. Guru memberikan tugas mandiri kepada peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut tentang teori belajar.
URAIAN MATERI Delaying tasks and putting off important responsibilities can lead to wasted time. Procrastination often results in rushed work or missed deadlines, causing unnecessary stress and inefficiency. 1.Model Pembelajaran Pengolahan Informasi Model pembelajaran pengolahan informasi adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. 2. Pengelompokan dan Tahapan Model Pembelajaran pada Kelompok Model Pengolahan Informasi I. Berpikir Induktif ( Inductive Thinking) : Model pembelajaran ini beranggapan bahwa kemampuan berpikir seseorang tidak dengan sendirinya dapat berkembang dengan baik jika proses pembelajaran dikembangkan tanpa memperhatikan kesesuaiannya dengan kebutuhan berpikir seseorang. Beberapa Strategi Berpikir Induktif (Joyce, Weil, dan Calhoun, 2000). 2. Pencapaian Konsep (Concept Attainment) : Model pencapaian konsep adalah model pembelajaran yang dirancang untuk menata atau menyusun data sehingga konsepkonsep penting dapat dipelajari secara tepat dan efisien. 3. Memorisasi (Mnemonics) : Model ini diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa menyerap dan mengintegrasikan informasi sehingga siswa-siswa dapat mengingat informasi yang telah diterima dan dapat mengulang kembali pada saat tertentu. 4. Advance Organizers : Model ini dikembangkan berdasarkan pemikiran Ausubel tentang materi pembelajaran, struktur kognitif. 5. Saintifik Inkuiri (Scientifics Inquiry) : model ini adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa di dalam menyelesaikan masalah melalui suatu kegiatan ilmiah (saintifik) dengan membandingkan masalah dengan kondisi nyata pada areal ilmiah. 6. Inquiry training : Model ini diarahkan untuk mengajarkan siswa suatu proses dalam rangka mengkaji dan menjelaskan suatu fenomena khusus. 7. Synectics : Sinektik salah satunya didesain oleh Gordon yang pada dasarnya diarahkan untuk mengembangkan kreativitas
URAIAN MATERI Delaying tasks and putting off important responsibilities can lead to wasted time. Procrastination often results in rushed work or missed deadlines, causing unnecessary stress and inefficiency. Delaying tasks and putting off important responsibilities can lead to wasted time. 3. Model Pembelajaran Inkuiri dengan Metode Pictorial Riddle Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah yang telah disampaikan sebelumnya oleh guru melalui gambar, peragaan, atau situasi yang sesungguhnya. Metode pictorial riddle adalah suatu metode atau teknik yang untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil maupun besar. Suatu riddle biasanya berupa gambar dipapan tulis,papan poster atau diproyeksikan dari suatu transparansi, kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan riddle tersebut Tahapan Model Pembelajaran Inkuiri dengan Metode Pictorial Riddle Penyajian masalah Siswa diundang ke dalam suatu permasalahan berupa peristiwa yang menimbulkan teka-teki. Permasalahan yang diberikan ditampilkan dalam bentuk gambar Mengadakan eksperimen dan pengumpulan data Pengumpulan dan verifikasi data Merumuskan penjelasan : Mengadakan analisis inkuiri : Mengidentifikasi masalah secara berkelompok Melakukan pengamatan berdasarkan pada riddle (gambar) Siswa melakukan diskusi Siswa melakukan tanya jawab
URAIAN MATERI Delaying tasks and putting off important responsibilities can lead to wasted time. Procrastination often results in rushed work or missed deadlines, causing unnecessary stress and inefficiency. 4. Aplikasi Model Pembelajaran Kelompok Model Pengolahan Informasi dalam Kegiatan Pembelajaran 8 fase proses pembelajaran pengolahan informasi: 1. Motivasi 2. Pemahaman 3. Pemerolehan 4. Penahanan 5. Ingatan Kembali 6. Generalisasi 7. Perlakuan 8. Umpan Balik 9 langkah yang diperhatiakn oleh tenaga pendidik yang berkaitan dengan pengolahan informasi: 1. Melakukan Tindakan 2. Memberikan Informasi 3. Merangsang peserta didik 4. Menyampaikan isi pembelajaran 5. Memberikan bimbingan 6. Memberikan penguatan 7. Memberikan umpan balik 8. Melaksanakan proses penilaian 9. Memberikan kesempatan 5. Kelebihan dan Kekurangan Model Pengolahan Informasi KELEBIHAN : 1.Melatih penalaran kasual Pembentuk-an konsep dan hasil 2. 3.Efektivitas meningkat Membantu penerapan ilmu 4. 5.Meningkatkan keaktifan KEKURANGAN : Jika seorang pendidik tidak dapat menyampaikan materi secara kreatif dan menarik, maka peserta didik tidak akan memahami informasi yang disampaikan, sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA Rafiqa, R. (2015). Teori Pengolahan Informasi: Perspektif Pendidikan. Komunida: Media Komunikasi Dan Dakwah, 5(2). Rehalat, A.(2014). Model pembelajaran pemrosesan informasi. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 23(2), 1-10. Rafiqa, R.(2015). Teori Pengolahan Informasi: Perspektif Pendidikan. Komunida: Media Komunikasi Dan Dakwah, 5(2).
MODUL AJAR Belajar dan Pembelajaran Fase Alokasi Waktu Penulis Instansi : A : 45 Menit : Kelompok 1 : Universitas Pendidikan Ganesha Identitas Penulis Peserta didik mampu menguasai Model Tujuan Pembelajaran Asesmen Awal Peserta didik menguasai Model Pembelajaran Interaksi Sosial • Bagaimana Model Pembelajaran Interaksi Sosial ? Pembelajaran Interaksi Sosial Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. Target Peserta Didik 1. Komputer/Laptop 2. Proyektor 3. Jaringan Internet Sarana Media Model Pembelajaran Cooperative Learning
Kegiatan Pembelajaran Pertemuan ke-8 Topik: Model Pembelajaran Interaksi Sosial Kegiatan Pembuka 1. Pendidik mengucapkan salam. 2. Pendidik menanyakan kabar kepada peserta didik 3. Pendidik mengajak peserta didik untuk berdoa. 4. Pendidik melakukan absensi kepada peserta didik. 5. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini Kegiatan Inti 1. Peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 5 orang. 2. Peserta didik memahami dan menyimak materi yang diberikan melalui slide power point di depan kelas tentang model pembelajaran interaksi sosial. 3. Peserta didik mencatat dan menganalisis setelah itu membuat karya dari materi yang telah dipaparkan. 4. Peserta didik mempresentasikan hasil dari karya kelompoknya. 5. Peserta didik diberikan penguatan dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang sudah presentasi. Kegiatan Penutup 1. Peserta didik diberikan kesempatan untuk bertanya apabila ada yang kurang dipahami. 2. Pendidik menanyakan perasaan dan pemahaman peserta didik(refleksi). 3. Peserta didik diberikan rencana tindak lanjut (RTL) dengan berupa informasi materi selanjutnya dan tugas di rumah. 4. Pendidik mengakhiri pembelajaran dan dilanjutkan doa bersama untuk pulang.
Model Pembelajaran adalah sebagai suatu desain yang menggambakan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa dan salah satu komponen utama dalam menciptakan suasana belajar ialah aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antar individu (seseorang) dengan kelompok dan kelompok, Tanpa adanya interkasi sosial maka tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Proses sosial adalah suatu interaksi atau hubungan timbal balik atau saling mempengaruhi antar manusia yang berlangsung sepanjang hidupnya (Tarigan, S. A. S. 2019). Tentang model pembelajaran yang termasuk Jenis model interaksi sosial (Juliarta, W. 2018). : 1. Kerja Kelompok Metode kerja kelompok adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan mengerjakan tugas tertentu untuk mencapai tujuan pengajaran, dan mereka bekerja sama dalam memecahkan masalah atau melaksanakan tugas. metode kerja kelompok ialah kerja kelompok dari beberapa individu yang bersifat pedagogik yang didalamnya terdapat hubungan timbal balik (kerja sama). Kelebihan metode kerja kelompok 1. Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka. 2. Dapat memberikan kesempatan pada para siswa untuk lebih menggunakan ketrampilan bertanya dalam membahas suatu masalah. • Kelemahan metode kerja kelompok 1. Kerja kelompok terkadang hanya melibatkan para siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang. Bahan Ajar Pengertian Model Pembelajaran Interaksi Sosial
2. Pertemuan Kelas Model pertemuan kelas adalah model pembejaran yang terjadi didalam kelas yang melibatkan pendidik dan peserta didik yang bekerja sama untuk menciptakan suasana belajar yang hangat dan damai didalamnya demi terciptanya pembelajaran yang optimal. Model pertemuan kelas ini guru dituntut untuk bersikap hangat, sabar kepada peserta didik, terampil dalam mengelola hubungan interpersonal dan berkepribadian yang baik demi terciptanya suasana kelas yang baik. • Kelebihan metode pertemuan a. Dapat mengetahui karakteristik masing-masing siswa. b. Dapat membuat siswa senang karena bisa berkumpul dengan temanteman yang belum dan yang sudah mereka kenal. c. Siswa dapat menanyakan secara langsung jika ada yang tidak dimengerti kepada guru. d. Dapat memecahkan masalah secara langsung • Kelemahan metode pertemuan a. Membutuhkan tenaga yang lebih banyak. b. Terkadang ada ketidak cocokan antara siswa dengan siswa ataupun guru. 3. Sosial Inquiry Inquiry merupakan pendekatan pembelajaran di mana siswa menemukan, menggunakan variasi sumber informasi dan ide untuk lebih memahami, suatu permasalahan, topik, atau isu. Hal ini tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan tetapi juga melalui investigasi, eksplorasi, mencari, bertanya, meneliti, dan mempelajari. • Kelebihan metode pembelajaran inquiry a. Mengembangkan keteramapilan sosial, bahasa, dan membaca b. Mengonstruksi pemahaman mereka c. Termotivasi untuk membentuk pengalaman tingkat tinggi • Kekurangan metode pembelajaran inquiry a. Memerlukan perubahan kebiasaan cara belajar siswa yang menerima informasi dari guru apa adanya, ke arah membiasakan belajar mandiri dan berkelompok dengan mencari dan mengolah informasi sendiri. b. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Bahan Ajar
4. Bermain Peran Bermain peran (role playing) merupakan sebuah permainan di mana para pemain memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan berkolaborasi untuk membuat sebuah cerita bersama. Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Kelebihan Metode Role Playing a. Siswa melatih dirinya untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan diperankan. b. Siswa akan berlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. c. Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah. Kekurangan Metode Role Playing a. Sebagian anak yang tidak ikut bermain peran menjadi kurang aktif. b. Banyak memakan waktu c. Memerlukan tempat yang cukup luas 5. Simulasi Sosial Simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Model pembelajaran ini diterapkan didalam dunia pendidikan dengan tujuan mengaktifkan kemampuan yang dianalogikan dengan proses sibernetika misalnya, dalam proses simulasi ini dilakukan dengan menggunakan simulator. Kelebihan Model Pembelajaran Simulasi 1. Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak 2. Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa Kelemahan Model Pembelajaran Simulasi 1. Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan. Bahan Ajar
Daftar Rujukan Tarigan, S. A. S. (2019). Interaksi dengan area sekitar. Malang. Jurnal Sosial. 89-95. Juliarta, W. (2018). Jenis Interaksi Sosial Dalam Pembelajaran. Bandung. Jurnal Ilmu Sosial, 140-144.
Peserta didik mampu memahami dan menguasai mengenai Kelompok Model Pembelajaran Personal Belajar dan Pembelajaran Modul Ajar IDENTITAS PENULIS Model Pembelajaran Personal Tujuan Pembelajaran Fase : A Alokasi Waktu : 45 menit Penulis : Kelompok 1 Instansi : Universitas Pendidikan GaneshaAsesmen Awal Peserta didik mengetahui prinsipprinsip dasar model pembelajaran personal, seperti pengajaran tanpa arahan, pertemuan kelas, dan sistem konseptual. Target Peserta Didik Peserta didik reguler/tipikal: Umumnya dapat dengan mudah mencerna dan memahami materi ajar, namun perlu pengembangan pada aspek-aspek tertentu. Sarana Media 1) Komputer/Laptop. 2) Proyektor. 3) Jaringan Internet Model Pembelajaran Cooperative Learning
Mengawali sesi dengan memberikan salam, sapaan hangat, dan melakukan cek kehadiran peserta didik. 1. 2.Menyanyikan lagu wajib nasional "Satu Nusa Satu Bangsa". 3.Memulai sesi dengan ice breaking sederhana yaitu "tepuk semangat". Menyampaikan tujuan pembelajaran dari kelompok model pembelajaran personal. 4. 5.Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan selama sesi pembelajaran. Belajar dan Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran TOPIK: KELOMPOK MODEL PEMBELAJARAN PERSONAL Pendahuluan Pertemuan ke-9 Kegiatan Inti Peserta didik dibagi dalam pasangan, masing-masing terdiri dari dua orang dengan kemampuan dan latar belakang yang berbeda. 1. Setiap pasangan menyimak materi tentang model pembelajaran personal, lalu berdiskusi untuk memahami dan menganalisisnya secara bersamasama. 2. Setiap pasangan menyaksikan video implementasi model pembelajaran personal, mencatat poin-poin penting, dan berkolaborasi dalam analisisnya. 3. Pasangan melakukan analisis bersama terhadap materi dan video, memahami konsep-konsep yang disajikan, dan mengaitkannya dengan materi pembelajaran. 4. Setiap pasangan mempresentasikan hasil analisis mereka kepada kelas dengan menggunakan pendekatan cooperative learning. 5. Peserta didik memberikan umpan balik positif terhadap presentasi pasangan lain, memperkuat pemahaman mereka tentang materi pembelajaran. 6. Penutup Peserta didik diberi kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami. 1. 2.Mereka merangkum pokok-pokok materi yang dipelajari. Pendidik meminta peserta didik untuk merenungkan pengalaman pembelajaran dan membagikan pemahaman serta perasaan mereka. 3. Pembelajaran personal ditutup dengan pesan untuk terus mengembangkan kesadaran diri dan kemandirian dalam belajar. 4.
Belajar dan Pembelajaran Bahan Ajar Model Pembelajaran Personal Pertemuan ke-9 Pembelajaran personal adalah pendekatan yang bertujuan untuk memusatkan perhatian pada perkembangan individu, mendorong kemandirian produktif, dan meningkatkan kesadaran diri serta tanggung jawab siswa. Model ini menempatkan fokus pada pertumbuhan dan perkembangan unik setiap siswa, mengakui bahwa setiap individu memiliki kebutuhan dan potensi yang berbeda. 1. Mendorong kemandirian produktif Melalui pendekatan yang mendukung dan memfasilitasi, pembelajaran personal bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan kemandirian yang memungkinkan mereka untuk belajar secara mandiri dan produktif. 2. Meningkatkan kesadaran diri dan tanggung jawab Proses pembelajaran ini bertujuan untuk membantu siswa memahami diri mereka sendiri secara lebih baik, termasuk kekuatan, kelemahan, dan nilai-nilai mereka, serta meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Tujuan Model Pembelajaran Personal Pengertian
Belajar dan Pembelajaran Bahan Ajar Model Pembelajaran Personal Pertemuan ke-9 Pendekatan di mana guru memfasilitasi eksplorasi dan penemuan siswa tanpa memberikan arahan langsung. Contoh : Seorang guru memberikan proyek penelitian kepada siswa dan membiarkan mereka menentukan topik yang diminati serta cara untuk menjelajahinya 1. Pengajaran Non Directive Kelompok Model Pembelajaran Personal 2. Synthetic Learning Integrasi informasi dari berbagai sumber untuk menciptakan pemahaman yang lebih komprehensif. Contoh : siswa membaca artikel, menonton video, dan berpartisipasi dalam diskusi kelompok untuk mendapatkan pemahaman yang holistik tentang topik tertentu. 3. Awareness Training Meningkatkan kesadaran diri siswa terhadap diri mereka sendiri dan lingkungan sekitarnya. Contoh : Guru memfasilitasi kegiatan refleksi diri dan diskusi kelompok tentang nilai-nilai, sikap, dan keyakinan siswa untuk membantu mereka memahami diri sendiri secara lebih baik.
Belajar dan Pembelajaran Bahan Ajar Model Pembelajaran Personal Pertemuan ke-9 Memberikan platform untuk diskusi dan refleksi yang mendalam antara guru dan siswa. Contoh : Guru menyelenggarakan pertemuan kelas mingguan dimana siswa dapat berbagi pengalaman pembelajaran, memberikan umpanbalik tentang proses pembelajaran, dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran mereka. 4. Classroom Meeting Kelompok Model Pembelajaran Personal 5. Aktualisasi Diri Kelompok pembelajaran personal ini bertujuan untuk membantu siswa mencapai potensi maksimal mereka dan mengembangkan diri secara holistik. Contoh : Seorang guru menggunakan pendekatan pembelajaran personal untuk membantu siswa mengidentifikasi dan mengembangkan minat, bakat, dan tujuan hidup mereka. 6. Sistem Konseptual Kelompok pembelajaran personal ini melibatkan pengembangan pemahaman konsep-konsep kunci dalam suatu bidang studi atau kehidupan. Contoh : Seorang guru menggunakan pendekatan pembelajaran personal untuk membantu siswa membangun sistem konseptual mereka.
Belajar dan Pembelajaran Bahan Ajar Model Pembelajaran Personal Pertemuan ke-9 Model pembelajaran personal merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada perkembangan individu siswa, mendorong kemandirian produktif, serta meningkatkan kesadaran diri dan tanggung jawab mereka. Dalam konteks pembelajaran, model ini memperhatikan kebutuhan dan potensi unik setiap siswa, memfasilitasi eksplorasi tanpa arahan langsung, dan mendorong integrasi informasi dari berbagai sumber. Melalui pendekatan ini, siswa dapat lebih memahami diri mereka sendiri, mengembangkan kemandirian dalam belajar, dan memperkuat hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Dalam kelompok pembelajaran personal seperti pengajaran non directive, synthetic learning, awareness training, classroom meeting, aktualisasi diri, dan sistem konseptual, siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, merenungkan nilai-nilai, sikap, dan keyakinan mereka, serta membangun sistem konseptual yang kokoh dalam bidang studi tertentu. Dengan demikian, model pembelajaran personal memberikan landasan yang kuat bagi siswa untuk mencapai potensi maksimal mereka, mengembangkan kepribadian secara holistik, dan menjadi pembelajar mandiri yang bertanggung jawab. KESIMPULAN
Belajar dan Pembelajaran Daftar Pustaka Model Pembelajaran Personal Aunurrahman (2010). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Rusman. (2016). Model-Model Pembelajaran – Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional. Winataputra, Udin S. (2001). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Depdiknas.
10 Belajar dan Pembelajaran MODUL AJAR Identitas Penulis Fase : A Alokasi Waktu : 45 Menit Penulis : Kelompok 1 Instansi : Universitas Pendidikan Ganesha Tujuan Pembelajaran Peserta didik mampu menguasai Kelompok Model Pembelajaran Sistem Perilaku Peserta didik menguasai Kelompok Model Pembelajaran Personal Bagaimana kelompok Model Pembelajaran Personal? Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. 1) Komputer/Laptop, 2) Proyektor, 3) Jaringan Internet Asesmen Awal Target Peserta Didik Sarana Media Model Pembelajaran Cooperative Learning
1.Melakukan apersepsi (salam, sapa, cek kehadiran peserta didik). 2.Menyanyikan lagu wajib nasional "Satu Nusa Satu Bangsa". 3.Ice Breaking "tepuk semangat" 4.Menyampaikan tujuan pembelajaran kelompok model pembelajaran perilaku. 5.Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. PENUTUP Peserta didik diberikan kesempatan untuk menanyakan mengenai hal yang belum dipahami dalam aktivitas pembelajarannya 1. Peserta didik menyimpulkan materi dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya. 2. Pendidik menanyakan perasaan dan pemahaman peserta didik (kegiatan refleksi). 3. 4.Menutup pembelajaran. Topik: Kelompok Model Pembelajaran Sistem Perilaku Kegiatan Pembelajaran Pertemuan ke-10 kegiatan inti 1.Peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Peserta didik menyimak materi yang ditayangkan melalui slide di depan kelas tentang kelompok model pembelajaran sistem perilaku. 2. Peserta didik menyimak video-video tentang implementasi rumpun model pembelajaran sistem perilaku. 3. 4.Setiap kelompok menganalisis video dan materi yang dipaparkan. 5. Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Peserta didik diberi penguatan pemahaman dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusinya. 6. PENDAHULUAN
Bahan Ajar A. Pengertian Model Pembelajaran Sistem Perilaku Model adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Secara umum istilah belajar dimaknai sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Dengan pengertian demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik. Dengan demikian model pembelajaran dapat diartikan kerangka konseptual atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik (Tahrim, dkk., 2021). Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan pengertian model pembelajaran perilaku adalah kerangka konseptual atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik yang didasari pada tanggapan atau reaksi peserta didik terhadap rangsangan atau lingkungan. Semua model pembelajaran rumpun ini didasarkan pada suatu pengetahuan yang mengacu pada teori perilaku, seperti teori belajar perilaku, teori belajar sosial, modifikasi perilaku, atau perilaku terapi. Model-model pembelajaran rumpun ini mementingkan penciptaan lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan perilaku secara efektif sehingga terbentuk pola perilaku yang dikehendaki. Ciri-ciri sistem model perilaku atau Behavioral Models yaitu: a. Seluruh model pada kelompok ini didasarkan pada hasil sharing kajian teori-teori secara umum, yang kemudian dipersandingkan/diintegrasikan dengan teori-teori perilaku (yang dikondisikan). b. Beberapa teori yang mendasari: teori-teori belajar secara umum, teori belajar sosial, teori modifikasi perilaku, dan teori-teori terapi perilaku. c. Secara umum menekankan pada perubahan perilaku yang terlihat (observable) dibanding perilaku-perilaku secara psikologis atau perilaku yang tidak bisa diamati. d. Penerapan prinsip-prinsip stimulus terkontrol dan reinforcement yang menjadi dasar penerapan model pembelajaran interaktif dan mediasi belajar terkondisikan, baik pada pembelajaran secara individu maupun kelompok. e. Pengembangan kemampuan belajar melalui fakta-fakta, konsep-konsep dan keterampilan dipandang sama baiknya untuk mereduksi tingkat kecemasan maupun untuk memperoleh kegiatan relaksasi individu.
B. Prinsip-Prinsip dalam Model Pembelajaran Sistem Perilaku Adapun prinsip-prinsip dalam model pembelajaran sistem perilaku, diantaranya: 1.Perilaku sebagai fenomena yang bisa diamati dan diidentifikasi Pada dasarnya, sebuah stimulus dapat memunculkan perilaku yang juga dapat menimbulkan konsekuensi, serta dapat diperkuat dengan kemungkinan bahwa sebuah stimulus yang sama akan memunculkan perilaku yang diperkuat tersebut. Sebagai timbal baliknya, konsekuensi negatif tidak akan persis sama dengan perilaku yang ditimbulkan. 2.Kebutuhan terhadap tingkah laku yang kurang adaptif Masyarakat kita seringkali beranggapan bahwa ada beberapa siswa yang memiliki phobia terhadap pelajaran dalam bidang-bidang tertentu, yang tidak bisa diubah atau dihilangkan. Kunci penyelesaian masalah ini adalah belajar menangani pengaruh dalam mendekati materi pelajaran tersebut. 3.Tujuan tingkah laku adalah hal yang khusus, terpisah, dan bergantung pada individu Walaupun teori-teori dari para ahli psikologi perilaku telah lama digunakan untuk merancang materi instruksional, semisal simulasi, yang juga digunakan oleh sejumlah siswa, kerangka ahli psikologi perilaku cenderung khusus, terpisah, dan bergantung pada individu. Respon yang persis sama tidak berarti diproses dari stimulus asli yang juga serupa. Sebaliknya, tidak ada dua orang yang akan memberikan respon pada stimulus yang sama dengan cara yang juga persis sama. 4.Teori tingkah laku fokus pada “hal-hal yang ada disini dan terjadi saat ini” Peran proses pembentukkan perilaku seseorang yang sudah terjadi tidaklah terlalu ditekankan dalam hal ini, karena perilaku manusia yang cenderung bersifat optimis dan tidak berdiam dan terlarut dalam masa lalu. Masalah yang terasa semakin sulit sebenarnya hanya membutuhkan upaya-upaya kecil untuk mengatasinya. C. Rumpun Model-Model Pembelajaran Sistem Perilaku Rumpun model pembelajaran Sistem Perilaku ini didasarkan pada the body of knowledge yang kita sebut teori perilaku (behavior theory). Istilah-istilah lain seperti teori belajar, teori belajar sosial, modifikasi perilaku, atau perilaku terapi digunakan oleh para ahli yang merujuk pada setiap model dalam kelompok ini. Model pembelajaran perilaku mementingkan penciptaan lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan perilaku secara efektif sehingga terbentuk pola perilaku yang dikehendaki. Adapun jenis-jenis model dalam rumpun model pembelajaran sistem perilaku ini, yaitu:
1. Model Belajar Cara Belajar dari Pembelajaran Menguasai (Mastery Learning) Pembelajaran menguasai (Mastery Learning) adalah kerangka berpikir dalam merencanakan rangkaian instruksional, yang dirumuskan oleh John B. Carrol (1971) dan Benjamin Bloom (1971) (Hanip, dkk., 2020). Di Indonesia model belajar tuntas (Mastery Learning) ini dipopulerkan oleh Badan Pengembangan Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan. Belajar tuntas atau Mastery Learning menyajikan suatu cara yang sistematik, menarik dan ringkas untuk meningkatkan unjuk kerja siswa ke tingkat pencapaian suatu pokok bahasan yang lebih memuaskan. Menurut Carroll model mastery learning ini memandang belajar di sekolah sebagai rentetan tugas belajar yang jelas. Dalam setiap tugas, siswa maju dari ketidaktahuan mengenai fakta atau konsep tertentu ke pengetahuan atau pemahaman mengenai fakta atau konsep tersebut, atau dari ketidakmampuan melakukan suatu perbuatan ke kemampuan melakukannya. (Wahyuningsih, 2020). Menurut model ini, dalam kondisi belajar tertentu, waktu yang dipergunakan dan waktu yang dibutuhkan tergantung pada karakteristik tertentu dari individu serta karakteristik pengajarannya. Belajar tuntas memandang masing-masing siswa sebagai individu yang unik, yang berbeda antara satu dengan lainnya, yang mempunyai hak yang sama untuk mencapai keberhasilan belajar optimal. Block memandang bahwa individu itu pada dasarnya memang berbeda, namun setiap individu dapat mencapai taraf penguasaan penuh asalkan diberi waktu yang cukup untuk belajar sesuai dengan tingkat kecepatan belajar individualnya (Hanip dkk., 2020). Jadi, yang membedakan satu individu dengan individu lainnya dalam belajar adalah waktu. Artinya, ada individu yang dapat menguasai sesuatu dengan penuh dalam waktu singkat dan ada yang memerlukan waktu lebih lama, namun pada akhirnya individu akan mencapai penguasaan penuh. Prinsip bahwa anak harus diberi kesempatan untuk belajar sesuai dengan kecepatannya sendiri merupakan prinsip menghargai kodrat individu.
Cimino memandang belajar tuntas sebagai suatu group-based approach (pendekatan kelompok) untuk mengindividualisasikan pembelajaran di mana siswa sering dapat belajar secara kooperatif dengan teman-teman sekelasnya (Hanip dkk., 2020). Belajar tuntas merupakan satu cara untuk mengindividualisasikan pembelajaran di dalam setting pembelajaran berkelompok tradisional. Langkahlangkah yang harus diambil guru untuk melaksanakan belajar tuntas (mastery learning) mencakup: 1)Memecah-mecah mata pelajaran ke dalam sejumlah unit belajar yang lebih kecil (misalnya pengajaran dua mingguan), menetapkan tujuan pembelajaran untuk setiap unit belajar, dan mengurutkan unit-unit belajar tersebut berdasarkan tingkat kesulitannya (diawali dengan yang paling mudah). 2)Memberikan pretest untuk unit pelajaran yang akan disajikan. 3)Membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar kecil. 4) Siswa mempelajari unit pelajaran pertama dalam kelompok belajarnya masing-masing. 5)Melaksanakan tutorial individual bagi siswa yang berkesulitan. 6)Melaksanakan tes formatif pada akhir setiap unit pelajaran. 7)Memberikan materi penghubung tambahan (supplementary instructional connectives) untuk membantu siswa mengatasi kesulitan belajar pada unit itu sebelum pembelajaran kelompok dilanjutkan ke unit pelajaran berikutnya. 8)Memberikan pengarahan kepada siswa yang telah mencapai penguasaan penuh untuk unit pelajaran ini. 9)Memberikan tes sumatif untuk mengecek ketuntasan belajar siswa bagi seluruh mata pelajaran. 10)Jika pada hasil tes sumatif tersebut siswa tidak menunjukkanketuntasan, maka guru menggunakan strategi-strategi korektif/pengayaan hingga ketuntasan dicapai.
2. Instruksi Langsung Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) merupakan salah satu model pengajaran yang dirancang khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Yang dimaksud dengan pengetahuan deklaratif (dapat diungkapkan dengan kata-kata) adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Beberapa keunggulan terpenting dari instruksi langsung ini adalah adanya fokus akademik, arahan dan kontrol guru, harapan yang tinggi terhadap perkembangan siswa, sistem manajemen waktu, dan atmosfer akademik yang cukup netral. Dua tujuan utama dari instruksi langsung adalah memaksimalkan waktu belajar siswa dan mengembangkan kemandirian dalam mencapai dan mewujudkan tujuan pendidikan. Perilaku-perilaku guru yang tampak berhubungan dengan prestasi siswa sesungguhnya juga berhubungan dengan waktu yang dimiliki siswa dan rating kesuksesan mereka dalam mengerjakan tugas, yang pada gilirannya juga berhubungan erat dengan prestasi siswa. Oleh karena itulah, perilaku yang berkaitan erat dengan instruksi langsung memang dirancang untuk membuat sebuah lingkungan pendidikan yang berorientasi akademik dan juga terstruktur serta mengharuskan siswa untuk terlibat aktif (dalam tugas) saat pelaksanaan instruksi langsung. Model instruksi langsung terdiri dari lima tahap aktivitas; yakni orientasi, presentasi, praktik yang terstruktur, praktik dibawah bimbingan, dan praktik mandiri. Namun, penerapan model ini harus didahului oleh diagnosis yang efektif mengenai pengetahuan atau skill siswa untuk memastikan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan skill untuk menapaki beberapa proses dan mampu mendapatkan level akurasi (kecermatan, ketelitian, ketepatan) praktik dalam model ini
1)Tahap orientasi, dimana kerangka kerja pelajaran dibangun. Ada tiga langkah yang sangat penting dalam meng-goal-kan tujuan tahap ini, yakni guru memaparkan maksud dari pelajaran dan tingkattingkat performa dalam praktik, guru menggambarkan isi pelajaran dan hubungannya dengan pengetahuan dan atau pengalaman sebelumnya. 2) Tahap presentasi, yakni menjelaskan konsep atau skill baru dan memberikan pemerataan serta contoh. Pada kasus apapun, akan sangat membantu jika guru mentransfer informasi materi atau skill baru, baik secara lisan maupun secara visual, sehingga siswa akan memiliki dan dapat mempelajari representasi visual sebagai referensi dalam awal pembelajaran. 3)Tahap praktik yang terstruktur. Guru menuntun siswa melalui contoh-contoh praktik dan langkahlangkah di dalamnya. Biasanya, siswa melaksanakan praktik dalam sebuah kelompok, dan menawarkan diri untuk menulis jawaban. 4) Tahap praktik dibawah bimbingan guru, memberikan siswa kesempatan untuk melakukan praktik dengan kemauan mereka sendiri. Peran guru dalam tahap ini adalah mengontrol kerja siswa, dan jika dibutuhkan, memberikan respon yang korektif ketika dibutuhkan. 5)Tahap mandiri, siswa melakukan praktikum dengan caranya sendiri tanpa bantuan dan respon balik dari guru. Model ini, sebagaimana namanya adalah bimbingan dan pemberian respons balik secara langsung. Rancangannya dibentuk untuk meningkatkan dan memelihara motivasi melalui aktivitas mengandalkan diri sendiri dan penguatan ingatan terhadap materimateri yang telah dipelajari.
Assertive Training merupakan latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada individu yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung. Willis menjelaskan bahwa assertive training merupakan teknik dalam konseling behavioral yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam kenyataan (Hanip dkk., 2020). Fokusnya adalah mempraktekkan melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh sehingga individuindividu diharapkan mampu mengatasi ketiak memadainya dan belajar mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang terbuka itu. Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa assertive training dapat membantu peserta didik untuk bergaul dan bersikap lebih percaya diri dalamkomunikasi perorangan, dan kelompokserta memanfaatkan dialog atau interaksi juga mampu mandiri dalam bergaul dan tegas dalam mengambil keputusan. Melalui bermain peran yang intensif,pengungkapan perasaan dengan lebih terbuka dan tetap menghargai hak-hak orang lain, dapat mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif, yakni peningkatan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal para siswa yang merupakan salah satu syarat terwujudnya rasa percaya diri. Selain itu, pemberian assertive training dapat melatih keterampilan dalam mengemukakan pendapat, melatih keberanian untuk tampil didepan orang banyak, keterampilan komunikasi efektif dalam bergaul, cara untuk menolak dengan baik dalam berkomunikasi, dan sebagainya. 3. Assertive Training
Assertive Training adalah suatu pelatihan tingkah laku yang dapat dikolaborasikan dengan berbagai macam teknikyang dirancang untuk membantu dalam membimbing individu berinteraksiatau menyesuaikan diri dengan orang lain sehingga individu mampu mengembangkan, menyatakan serta mengekspresikan perasaan, pikiran serta tindakan secara bebas tanpa mengganggu orang lain ataupun membuat orang lain merasa terancam. Prosedur umum dalam latihan asertif adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi masalah, yaitu dengan menganalisis permasalahan siswa secara komprehensif yang meliputisituasisituasi umum dan khusus di lingkungan yang menimbulkan kecemasan, pola respon yang ditunjukkan, faktor-faktor yang mempengaruhi, tingkat kecemasan yang dihadapi, motivasi untuk mengatasi masalahnya, serta sistem dukungan. 2)Analisis situasi, yaitu dengan menunjukkan kepada siswa bahwa terdapat banyak alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalahnya tersebut. Identifikasi alternatif penyelesaian masalah. 3)Menetapkan alternatif penyelesaian masalah. Bersama-sama siswa berusaha untuk memilih dan menentukan pilihan tindakan yang dianggap paling sesuai, mungkin, cocok, layak dengan keinginan dan kemampuansiswa serta memiliki kemungkinan peluang berhasil paling besar. 4)Mencobakan alternatif yang dipilih. Dengan bimbingan, secara bertahap siswa diajarkan untuk mengimplementasikan pilihan tindakan yang telah dipilih. 5)Dalam proses latihan, hendaknya diperhatikan hal-hal yang terkait dengan kontak mata, postur tubuh, gerak isyarat, ekspresi wajah, suara, pilihan kalimat, tingkat kecemasan yang terjadi, serta kesungguhan dan motivasinya.
4. Model Belajar Dari Simulasi Model pembelajaran simulasi merupakan model pembelajaran yang membuat suatu peniruan terhadap sesuatu yang nyata, terhadap keadaan sekelilingnya (state of affaris) atau proses. Model pembelajaran ini dirancang untuk membantu siswa mengalami bermacam-macam proses dan kenyataan sosial dan untuk menguji reaksi mereka, serta untuk memperoleh konsep keterampilan pembuatan keputusan.Pendekatan simulasi dirancang agar mendekati kenyataan dimana gerakan yang dianggap kompleks sengaja dikontrol, misalnya, dalam proses simulasi ini dilakukan dengan menggunakan simulator. Ada 4 peran guru dalam model simulasi : 1) Menjelaskan Untuk mengadakan pembelajaran berdasarkan simulasi, para pemain harus memahami aturan-aturan yang cukup memadai untuk bisa melaksanakan aktivitas-aktivitas simulasi. 2) Mewasiti Simulasi yang diterapkan dalam ruang kelas dirancang untuk bisa memberikan keuntungan dalam pendidikan. Guru harus mengontrol partisipasi siswa dalam permainan untuk memastikan bahwa keuntungan simulasi benar-benar bisa didapatkan. 3) Melatih Guru harus bertindak sebagai pelatih ketika dibutuhkan, memberikan nasihat pada pemain untuk memudahkan mereka dalam bermain dengan lebih baik yakni untuk memaksimalkan kemungkinan-kemungkinan simulasi secara penuh. 4) Mendiskusikan Dalam sesi ini, diperlukan diskusi tentang bagaimana eratnya kaitan simulasi tersebut dengan dunia nyata, kesulitan dan pandangan apa yang dimiliki siswa, dan hubungan apa yang bisa ditemukan antara simulasi dengan materi yang dipelajari.
Model ini memiliki tahap sebagai berikut: 1) Sintagmatik Tahap 1: Orientasi Guru Guru menyajikan topik yang akan dibahas dan konsep yang akan digunakan dalam aktivitas simulasi. Selain itu, guru juga memberikan penjelasan mengenai simulasi jika saat itu adalah saat pertama siswa melakukan simulasi. Guru juga perlu menyajikan ikhtisar dari permainan (mengemukakan prosedur). Tahap 2: Latihan Peran Pada tahap ini, guru menyusun sebuah skenario yang menyusun sebuah skenario yang memaparkan peran, aturan, proses, skor, jenis keputusan yang akan dibuat dan tujuan simulasi. Guru mengatur siswa pada peran yang bermacam-macam dan memimpin praktik dalam jangka waktu singkat untuk memastikan bahwa siswa telah memahami semua arahan dan bisa melaksanakan perannya masing-masing. Tahap 3: Proses simulasi Siswa berpartisipasi dalam permainan atau simulasi, dan guru juga memainkan perannya sebagai wasit dan pelatih. Secara periodik, permainan simulasi bisa dihentikan sehingga siswa dapat menerima umpan balik, mengevaluasi performa dan keputusan mereka, dan mengklarifikasi kesalahan-kesalahan konsepsi. Tahap 4: Pemantapan dan debriefing Berdasarkan hasil yang diperoleh, guru dapat membantu siswa fokus pada hal-hal berikut : a) Menggambarkan kejadian dan persepsi serta reaksi mereka b) Menganalisis proses c) Membandingkan simulasi dengan dunia nyata d) Menghubungkan aktivitas dengan materi pelajaran e) Menilai serta merancang kembali suatu simulasi Karakter Model Pembelajaran Simulasi
5. Model Pembelajaran Kontrol Diri a. Definisi Kontrol Diri atau self control Dalam kamus psikologi disebutkan, definisi kontrol diri atau self control adalah kemampuan individu untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri dan kemampuan untuk menekan atau menghambat dorongan yang ada. Hurlock (1990) mengatakan kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya (Putranta, 2018). Tujuannya adalah agar pendidikan bukan hanya menciptakan pengetahuan saja, tapi juga mampu membentuk perilaku positif dari sebuah pembelajaran melalui pengontrolan diri pada perilaku yang negatif. Ciri-ciri kontrol diri menurut Hurlock, ada dua kriteria yaitu: 1) Emosi dapat diterima bila reaksi masyarakat terhadap pengendalian emosi adalah positif. 2) Efek yang muncul setelah mengontrol emosi tidak membahayakan fisik dan psikis individu. b. Pendekatan belajar kontrol/pengendalian diri Pendekatan belajar kontrol/pengendalian diri bertolak dari keyakinan bahwa perilaku peserta didik merupakan hasil belajar. Karena itu peserta didik harus diberi kemudahan untuk belajar bagaimana bertanggung jawab secara moral atas lingkungan personal dan sosial memahami dirinya secara utuh. Joice, Bdalam bukunya memberikan ilustrasi tentang model self-control ini (Putranta, 2018). Diceritakan ada seorang anak bernama Susan yang sebenarnya memiliki kemampuan baik. Namun belakangan hari nilai mata pelajarannya mengalami penurunan. Kemudian seorang guru Bahasa Inggris bernama Mr. Long menanyakan cara belajar Susan. Ternyata Susan belajar sambil menonton televisi bersama adiknya, dibarengi dengan bercakap-cakap dan ngemil serta bermain handphone. c. Sintaks/Alur Pelaksanaan Pembelajaran Fase 1: Penyampaian Tujuan dan mempersiapkan siswa Fase 2: Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan Fase 3: Latihan terbimbing dan penerapan konsep
Hanip, S. P. N., Anwar, F. S., & Salim, A. (2020). Model Pengajaran Sistem Perilaku: Belajar Dari Simulasi. Literasi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 11(2), 113-123. Putranta, H. (2018). Model pembelajaran kelompok sistem perilaku: Behavior system group learning model. Universitas Negeri Yogyakarta. Tahrim, T., Patawari, F., Tanal, A. N., Nurjanah, S., & Rahmat, S. (2021). Inovasi Model Pembelajaran. Edu publisher. Wahyuningsih, E. S. (2020). Model Pembelajaran Mastery Learning Upaya Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa. Deepublish. Daftar Rujukan
Target Peserta Didik 1.) Komputer/Laptop, 2) Proyektor, 3) Jaringan Internet Tujuan Pembelajaran Peserta didik dapat memahami tentang materi pelajaran melalui berbagai cara penyampaian (ceramah). 1. Peserta didik dapat meningkatkan partisipasi aktif dalam proses pembelajaran dengan berinteraksi langsung dengan guru dan teman sekelas (tanya jawab). 2. Peserti didik dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang dalam diskusi kelompok. 3. Peserta didik dapat meningkatkan keterampilan komunikasi dan kerjasama melalui kolaborasi dalam kerja kelompok. 4. Peserta didik dapat menguasai materi pelajaran dan mampu menerapkan pengetahuan serta keterampilan yang diperoleh melalui pemberian tugas yang relevan dan bermakna. 5. MODUL AJAR Identitas Penulis Fase : A Alokasi Waktu : 45 Menit Penulis : Kelompok 1 Instansi : Universitas Pendidikan Ganesha Peserta didik menjawab pertanyaan singkat tentang perbedaan antara metode ceramah dan tanya jawab. Peserta didik berpartisipasi dalam diskusi kelompok untuk mengidentifikasi manfaat metode diskusi dalam pembelajar Peserta didik memilih satu metode pembelajaran dan membuat poster atau esai pendek tentang prinsip-prinsip dasar dan contoh penerapannya. Asesmen Awal Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. Sarana Media Model Pembelajaran Cooperative Learning
PERTEMUAN KE-11 PENDAHULUAN 1.Melakukan apersepsi (salam, sapa, cek kehadiran peserta didik). 2. Menyanyikan lagu wajib nasional "Satu Nusa Satu Bangsa". 3.Ice Breaking "tepuk semangat" Menyampaikan tujuan pembelajaran metode-metode pembelajaran: Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi, Kerja Kelompok & Pemberian Tugas. 4. 5.Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. KEGIATAN INTI 1.Peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Peserta didik menyimak materi yang ditayangkan melalui slide di depan kelas tentang metode-metode pembelajaran Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi, Kerja Kelompok, dan Pemberian Tugas 2. Peserta didik menyimak video-video tentang implementasi atau penggunaan metode-metode pembelajaran tersebut di kelas. 3. 4. Setiap kelompok menganalisis video dan materi yang dipaparkan. 5. Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Peserta didik diberi penguatan pemahaman dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusinya. 6. PENUTUP Peserta didik diberikan kesempatan untuk menanyakan mengenai hal yang belum dipahami dalam aktivitas pembelajarannya. 1. Peserta didik beserta pendidik menyimpulkan materi dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya. 2. 3.Pendidik menanyakan perasaan dan pemahaman peserta didik (kegiatan refleksi). 4.Menutup pembelajaran.
BAHAN AJAR PENGERTIAN Metode ceramah adalah cara penyampaian informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang biasanya bersifat pasif dalam kegiatan pembelajaran. Metode ini dianggap sebagai cara paling efisien dalam menyampaikan informasi tanpa perlu banyak bahan rujukan atau literatur, tergantung pada kemampuan komunikasi personalitas guru seperti suara, gaya bahasa, sikap, dan kefasihan berbicara (Fifadhilni, 2014). KARAKTERISTIK Karakteristiknya adalah penyampaian informasi secara satu arah dan bisa dianggap monoton jika tidak dihidupkan dengan keterampilan mengelola suasana kelas dan gaya berbicara. LANGKAH - LANGKAH Langkah-langkah Penggunaan dengan Persiapan materi yang baik, penyampaian yang jelas dan terstruktur, menggunakan contoh yang relevan, serta interaksi minimal antara guru dan peserta didik. TUJUAN Metode Ceramah ini bertujuan untuk Memberikan pemahaman yang lebih baik tentang materi pelajaran kepada peserta didik dan memotivasi mereka untuk belajar lebih lanjut. KELEBIHAN Metode ceramah memiliki beberapa keunggulan. Pertama, mudah mengendalikan situasi dan kondisi kelas. Kedua, dapat diikuti oleh banyak siswa. Ketiga, pelaksanaannya relatif mudah. Keempat, meskipun materinya luas, namun bisa disampaikan dalam waktu singkat. Terakhir, metode ini dapat menekankan pada materi yang penting. KEKURANGAN Namun, kekurangan dari metode ceramah termasuk membuat siswa menjadi pasif, mengandung unsur paksaan, sulit mengetahui pemahaman siswa, cenderung mempengaruhi siswa yang lebih responsif secara visual, dan cenderung membuat pembelajaran menjadi terlalu verbal dan membosankan jika dilakukan dalam waktu yang lama.
PENGERTIAN KARAKTERISTIK LANGKAH - LANGKAH TUJUAN KELEBIHAN Metode diskusi adalah kegiatan dimana sejumlah orang membicarakan bersama tentang suatu topik atau masalah, mencari solusi berdasarkan fakta atau berdasarkan pengetahuan, ide, dan perasaan beberapa anggota yang berpengaruh. Agar produktif, partisipan harus memperhatikan, berpikiran terbuka, menghormati, dan menerima kontribusi orang lain serta meminta klarifikasi saat ada ide yang tidak dipahami. Karakteristiknya yaitu Ciri khas metode diskusi meliputi: Pemecahan permasalahan secara bersama-sama melalui diskusi. Interaksi lisan terarah antara peserta didik baik dalam kelompok kecil maupun dengan seluruh kelas, untuk berbagi ide, pandangan, dan pengalaman mereka. Pertukaran informasi antar peserta didik untuk memecahkan permasalahan. Langkah-langkah Penggunaan dengan Menyediakan panduan atau pertanyaan yang relevan, memfasilitasi diskusi agar tetap terarah dan produktif, memberikan kesempatan bagi semua peserta didik untuk berpartisipasi. Tujuan metode ini yaitu Mendorong pemikiran kritis, meningkatkan pemahaman melalui pertukaran gagasan, dan membangun keterampilan berkomunikasi dan kolaborasi. Kelebihannya termasuk merangsang kreativitas peserta didik, mengembangkan sikap menghargai, memperluas wawasan, dan membina keterampilan musyawarah. KEKURANGAN Namun adapun juga kelemahannya meliputi pembicaraan yang bisa menyimpang, tidak cocok untuk kelompok besar, informasi yang terbatas, dan mungkin dikuasai oleh pembicara yang dominan.
PENGERTIAN KARAKTERISTIK LANGKAH - LANGKAH TUJUAN KELEBIHAN Metode tanya jawab merupakan strategi pengajaran di mana guru mengajukan pertanyaan kepada murid untuk meninjau pemahaman sebelumnya, memusatkan perhatian, dan melakukan evaluasi. Ini dapat berperan sebagai apersepsi, selingan, dan evaluasi dalam pembelajaran. Karakteristik Ciri metode tanya jawab adalah pertanyaan-pertanyaan dapat muncul dari guru maupun dari peserta didik, sedangkan jawaban juga dapat berasal dari guru maupun dari peserta didik. Masing-masing saling melengkapi, baik memberikan pertanyaan maupun jawaban. Penggunaan metode tanya jawab secara tepat dalam proses pembelajaran dapat mendorong kreativitas berpikir peserta didik. Dalam menggunakan metode tanya jawab, guru mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan kepada anak didik dengan mengacu dan tidak menyimpang dari materi pelajaran yang sedang dibahas. Langkah-langkahnya meliputi persiapan, kegiatan pembukaan dengan pertanyaan yang relevan, kegiatan inti dengan penggunaan beragam keterampilan bertanya, dan kegiatan akhir meliputi rangkuman, evaluasi, dan tindak lanjut (Mukrimaa, 2014). Tujuan metode ini yaitu Mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, memperjelas pemahaman mereka tentang materi pelajaran, dan meningkatkan retensi informasi. Kelebihan metode ini termasuk kemampuannya untuk menarik minat siswa, mengetahui kemajuan mereka, serta merangsang keterlibatan dan keberanian dalam menjawab. KEKURANGAN Namun, kelemahannya termasuk kurangnya respons dari siswa yang tidak aktif atau tidak memperhatikan, serta kurangnya keterampilan bertanya dari guru yang dapat menghambat pencapaian tujuan pembelajaran (Mukrimaa, 2014).
PENGERTIAN KARAKTERISTIK LANGKAH - LANGKAH TUJUAN Metode kerja kelompok merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru dengan cara mengkondisikan peserta didik berada dalam suatu kelompok sebagai satu kesatuan dan kemudian memberikan tugas untuk dapat dibahas dalam kelompok tersebut. Kerja kelompok dapat melatih siswa untuk berpikir dan bekerja sama, sehingga pengetahuan yang mereka dapatkan akan lebih banyak (Ngaisah dkk, 2023). Metode kerja kelompok mempunyai beberapa ciri khas, di antaranya: Adanya kerja sama yang dilakukan antara peserta didik dalam satu kesatuan tugas kelompok, Adanya suatu usaha untuk mengembangkan kekuatan dalam mencari dan menemukan bahan- bahan untuk menyelesaikan tugas kelompok, dan Memunculkan keaktifan peserta didik dalam memecahkan tugas kelompok. Pemilihan topik/tugas kerja kelompok Pembentukan kelompok sesuai tujuan Pembagian topik/tugas Proses kerja kelompok Pelaporan hasil kerja kelompok Penilaian kerja kelompok Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman individu atas ilmu yang diberikan dan memfasilitasi transfer pengetahuan. Selain itu, model ini juga menjadi sarana untuk belajar bersosialisasi dengan orang lain, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan (Yusuf, 2021). KELEBIHAN Pembelajaran berkelompok mempermudah penyelesaian tugas sekolah dari SD hingga perguruan tinggi dengan memanfaatkan kelebihan masing-masing individu. Selain itu, juga memperkuat silaturahmi dan meningkatkan kemampuan komunikasi yang baik. KEKURANGAN Pada pembelajaran kelompok, seringkali waktu digunakan untuk ghibah atau ngerumpi, mengganggu efektivitas tugas dan peran kelompok. Selain itu, ada anggota kelompok yang tidak aktif, menyebabkan hanya beberapa orang yang aktif mengerjakan tugas.
PENGERTIAN KARAKTERISTIK TUJUAN LANGKAH - LANGKAH Metode pemberian tugas merupakan suatu metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan memberikan kewajiban berupa pekerjaan/tugas rumah kepada peserta didik untuk dapat mengukur kedalaman pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah mereka peroleh. Metode ini dapat mengaktifkan siswa untuk mempelajari sendiri sendiri suatu masalah dengan jalan membaca sendiri, mengerjakan soal sendiri, sehingga apa yang mereka pelajari dapat mereka rasakan berguna untuk mereka dan akan lebih lama mereka ingat (Kamsir, 2021). Diberikan kepada peserta didik perorangan, kelompok, atau kelas. Bisa diselesaikan di dalam atau di luar sekolah. Fokus bisa pada satu bidang studi atau integrasi beberapa bidang studi. Ditujukan untuk meninjau pelajaran baru, mengingat kembali pelajaran sebelumnya, latihan, atau mengumpulkan informasi untuk memecahkan masalah lainnya. Menumbuhkan proses belajar yang eksploratif Mendorong perilaku kreatif Membiasakan berpikir komprehensif Memupuk kemandirian dalam proses pembelajaran. Metode ini terdiri dari tiga fase: pemberian tugas, pelaksanaan tugas, dan pertanggungjawaban tugas. Guru memberikan tugas dengan pertimbangan tujuan, jenis tugas yang dimengerti siswa, instruksi jelas, dan waktu yang cukup. Selanjutnya, guru memberikan bimbingan agar siswa dapat melaksanakan tugas dengan baik dan mandiri. Pada fase pertanggungjawaban, siswa melaporkan hasil kerjanya kepada guru, yang kemudian dinilai sesuai kemampuannya (Oktafia, 2023). KELEBIHAN Mengisi waktu luang dengan hal-hal konstruktif memiliki beberapa manfaat, seperti memupuk rasa tanggung jawab dalam tugas, menanamkan kebiasaan belajar giat, dan memberikan tugas yang praktis. KEKURANGAN Tugas sering diselesaikan dengan meniru, karena perbedaan individu menyebabkan beberapa siswa merasa sulit sementara yang lain merasa mudah. Tugas yang sulit dapat memengaruhi ketenangan mental siswa.
Fifadhilni, S. M. (2014). Teknik Kombinasi Metode Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Riau. Kamsir. (2021). Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Metode Resitasi dengan Media Gambar pada Mata Pelajaran IPA Materi Struktur dan Fungsi Tumbuhandi Kelas VIII-1 Semester 1 SMPN 4 Bolo Tahun Pelajaran 2020/2021. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 1(2), 345- 350. Mukrimaa. (2014). Metode Belajar dan Pembelajaran. Universitas Pendidikan Indonesia. https://drive.google.com/file/d/1851Yn1s0duwoIRvPwraB6AFoVhvoC_- j/view? usp=drivesdk. Ngaisah, S., Yadi, F., & Pratama, A. (2023). PENGARUH METODE KERJA KELOMPOK TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJAR CAKRAM WARNA KELAS IV SD. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 8(2), 1112-1122. Oktifa, N. (2023). Penerapan Metode Resitasi Dalam Pembelajaran. Akupintar.id. Diakses pada 7 Maret 2024, melalui https://akupintar.id/info-pintar/- /blogs/penerapanmetode-resitasi-dalam-pembelajaran. Tim Pengampu Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran. (Tanpa Tahun). E- Modul Belajar dan Pembelajaran. Universitas Pendidikan Ganesha. Yusuf. (2021). Kerja Kelompok, Manfaat, Maksud, dan Metodenya. Edumaster. Diakses pada 7 Maret 2024, melalui https://www.google.com/amp/s/edumasterprivat.com/kerja-kelompok-manfaatmaksud-dan-metodenya/.
ModulAjar BelajardanPembelajaran Identitas Penulis Fase : A Alokasi Waktu : 45 Menit Penulis : Kelompok 1 Instansi : Universitas Pendidikan Ganesha Tujuan Pembelajaran Asesmen Pembelajaran Target peserta didik Sarana media Model pembelajaran Peserta didik mampu menguasai Metode-metode pembelajaran: Demonstrasi, Eksperimen, Simulasi, Inkuiri, dan Pengajaran Unit Peserta didik mengenal model-model pembelajaran ceramah, diskusi, tanya jawab, kerja kelompok, dan penugasan Misalnya: • Apa tujuan dari metode ceramah, diskusi dan tanya jawab? • Bagaimana langkah-langkah pelaksanaan metode kerja kelompok dan penugasan? Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. 1) Komputer/Laptop, 2) Proyektor, 3) Jaringan Internet Cooperative Learning
Pendahuluan Pertemuan ke-12 Kegiatan inti Penutup 1.Melakukan apersepsi (salam, sapa, cek kehadiran peserta didik). 2.Menyanyikan lagu wajib nasional "Satu Nusa Satu Bangsa". 3.Ice Breaking "tepuk semangat" Menyampaikan tujuan pembelajaran metode-metode pembelajaran: Demonstrasi, Eksperimen, Simulasi, Inkuiri & Pengajaran Unit. 4. 5.Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. 1.Peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Peserta didik menyimak materi yang ditayangkan melalui slide di depan kelas tentang metode-metode pembelajaran demonstrasi, eksperimen, simulasi, inkuiri, dan pengajaran unit. 2. Peserta didik menyimak video-video tentang implementasi atau penggunaan metode-metode pembelajaran tersebut di kelas. 3. 4.Setiap kelompok menganalisis video dan materi yang dipaparkan. 5. Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Peserta didik diberi penguatan pemahaman dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusinya. 6. Peserta didik diberikan kesempatan untuk menanyakan mengenai hal yang belum dipahami dalam aktivitas pembelajarannya 1. Peserta didik beserta pendidik menyimpulkan materi dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya. 2. Pendidik menanyakan perasaan dan pemahaman peserta didik (kegiatan refleksi). 3. 4.Menutup pembelajaran.
A. Metode Pembelajaran Demontrasi • Pengertian Metode demonstrasi adalah metode membelajarkan dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pembelajaran yang relevan dengan pokok bahasan yang sedang disajikan. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat–alat bantu pembelajaran seperti benda benda miniatur, gambar, perangkat alat–alat laboratorium dan lain–lain. • Tujuan a.Untuk memperlihatkan proses suatu peristiwa sesuai bahan ajar b.Untuk memperlihatkan proses suatu peristiwa agar mudah dipahami oleh siswa • Karakteristik Metode demonstrasi ini lebih sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan, suatu proses maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan. • Langkah-langkah a. Tahap persiapan yang meliputi: Merumuskan tujuan yang harus dicapai peserta didik setelah proses pembelajara berakhir, mempersiapkan garis besar langkah – langkah demonstrasi yang akan dilakukan, melakukan. uji coba. b. Tahap pelaksanaan yang meliputi : Tahap persiapan, yaitu pengaturan posisi duduk yang memungkinkan seluruh peserta didik bisa memerhatikan, pemberian introduksi awal agar peserta didik tahu tujuan pembelajaran & tugas-tugas apa yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Tahap pelaksanaan demontrasi, yaitu dimulai dengan kegiatan-kegiatan yang memotivasi peserta didik untuk berpikir, kesempatan peserta didik untuk turut akif dalam proses demonstrasi, pemberian kesempatan didik untuk mencoba. Tahap akhir di mana peserta didik diberi tugas-tugas tertentu yang kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses penyampaian tujuan pembelajaran • Kelebihan • Kekurangan a.Perhatian siswa lebih terpusat kepada guru dan proses belajar mengajar b.Dapat membimbing siswa ke arah berpikir yang sama dalam proses pembelajaran c.Siswa lebih memahami materi dengan jelas dari hasil pengamatan d.Beberapa persoalan yang menimbulkan pertanyaan dapat diperjelas melalui proses demonstrasi a.Semua siswa tidak dapat melihat dan mengamati keseluruhan peristiwa yang didemonstrasikan b.Alat-alat yang digunakan dalam demonstrasi susah didapat c.Peserta didik banyak mengabaikan perhatian dalam proses pengamatan d.Tidak semua hal dapat didemonstrasikan dikelas e.Memerlukan banyak waktu f.Diperlukan ketelitian dan kesabaran dari pihak peserta didik dan guru
B. Metode Pembelajaran eksperimen • Pengertian Metode eksperimen adalah salah satu metode pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas peserta didik melakukan percobaan dan membuktikan sendiri proses dan hasil percobaan sehingga guru hanya bertindak sebagai pembimbing. Metode eksperimen adalah metode yang memungkinkan guru dapat mengembangkan keterbitan fisik dan mental, serta emosional siswa. • Tujuan Penggunaan metode ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah. Dengan eksperimen siswa menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya. • Karakteristik (1) Memberikan kesempatan kepada peserta didikmenyimpulkan fakta-fakta, informasi atau data yang diperoleh. (2) Melatih peserta didik merancang, mempersiapkan, melaksanakan dan melaporkan percobaan. (3) Melatih peserta didik menggunakan logika berpikir induktif untuk menarik kesimpulan dari fakta, informasi atau data yang terkumpul melalui percobaan. • Langkah-langkah a. Percobaan awal, pembelajaran diawali dengan melakukan percobaan yang didemonstrasikan guru atau dengan mengamati fenomena alam. Demonstrasi ini menampilkan masalah-masalah yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari. b. Pengamatan merupakan kegiatan siswa saat guru melakukan percobaan. Siswa diharapkan untuk mengamati dan mencatat peristiwa yang terjadi saat eksperimen berlangsung. c. Hipotesis awal, siswa dapat merumuskan hipotesis sementara berdasarkan hasil pengamatannya. d. Verifikasi, kegiatan untuk membuktikan dari dugaan awal yang telah dirumuskan dan dilakukan melalui kerja kelompok. Siswa diharapkan merumuskan hasil percobaan dan membuat kesimpulan dan selanjutnya dapat melaporkan hasilnya. e. Aplikasi konsep, merupakan kegiatan memberikan contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan teori dan percobaan yang sudah dipelajari • Kelebihan • Kekurangan a. Dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku. b. Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi, suatu sikap yang dituntut dari seorang ilmuan. c. Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaannya yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia a.Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan eksperimen. b. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, anak didik harus menanti untuk melanjutkan pelajaran. c. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dengan teknologi