The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sarkawisingkil, 2023-09-19 21:43:27

Kurikulum Muatan Lokal Aceh

Fiqih Kelas X
MUTIAWATI, S.Ag

1 PETA KONSEP BAB SUMBER HUKUM ISLAM 1 SUMBER HUKUM ISLAM AL QURAN HADIST IJTIHAD Menunjukkan perilaku ikhlas dan taat beribadah Kedudukan dan fungsi Al-Quran sebagai sumber hukum Islam Kedudukan dan fungsi Hadits sebagai sumber hukum Islam Kedudukan dan fungsi ijtihad sebagai sumber hukum Islam


2 Cermati bacaan berikut! Telah menjadi ketetapan bahwa salah satu konsekuensi Tauhid Rububiyah adalah meyakini ke-Esaan Allah dalam mengatur seluruh makhluk-Nya. Agar kehidupan makhluk-Nya berjalan dengan teratur, Allah ta’ala telah menetapkan undang-undang berupa aturan hidup yang harus dijalankan oleh hamba-Nya. Bersifat universal dan berlaku dalam setiap waktu dan kondisi, seluruh petunjuk tersebut telah sempurna termaktub di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Allah SWT telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya untuk memutuskan hukum sesuai dengan tuntunan-Nya yang termaktub dalam Al-Quran. Kewajiban tersebut merupakan pokok keimanan. Menjadi bukti keimanan seseorang terhadap keEsaan Allah SWT. Banyak sekali ayat-ayat Allah yang menyebutkan tentang kewajiban tersebut, diantaranya Allah Swt. berfirman, “... barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (Q.S. alMā’idah/5:44). Ayat tersebut mendorong manusia, terutama orang-orang yang beriman agar menjadikan al-Qur’ān sebagai sumber hukum dalam memutuskan suatu perkara, sehingga siapa pun yang tidak menjadikannya sebagaisumber hukum untuk memutuskan perkara, ia dianggap tidak beriman. Hukum-hukum Allah Swt. yang tercantum di dalam al-Qur’ān sesungguhnya dimaksudkan untuk kemaslahatan dan kepentingan hidup manusia itu sendiri. Allah Swt. sebagai pencipta manusia dan alam semesta Maha Mengetahui terhadap apa yang diperlukan agar manusia hidup damai, aman, dan sentosa. .Namun pada kenyataannya masih banyak orang-orang yang mengaku beriman yang belum menjadikan al-Qur’ān dan hadis sebagai pedoman hidupnya. Banyak pelanggaran terhadap hukum Islam, seperti: pencurian, perampokan, korupsi, perzinaan, dan kemaksiatan lainnya tidak diputuskan dengan ketentuan ketentuan Al-Quran. Mengkritisi Sekitar Kita AKTIVITAS SISWA 1


3 A. Pengertian Sumber Hukum Islam Gambar 1.1 Kita-kitab sumber hukum islam Sumber hukum islam adalah segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat mengikat,yaitu peraturan yang apabila dilanggar akan menimbulkan sanksi yang tegas dan nyata. Sumber Hukum Islam ialah segala sesuatu yang dijadikan pedoman atau yang menjadi sumber syari’at islam yaitu Al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad (Sunnah Rasulullah SAW) Sumber hukum Islam merupakan suatu rujukan atau dasar yang utama dalam Memperkaya Khazanah


4 pengambilan hukum Islam. Sumber hukum Islam, artinya sesuatu yang menjadi pokok dari ajaran islam. Sumber hukum Islam bersifat dinamis, benar, dan mutlak, serta tidak pernah mengalami kemandegan, kefanaan, atau kehancuran. Pada umumnya ulama Fiqih sependapat bahwa sumber utama hukum islam adalah Al-Quran dan Hadis. Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegang kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnahku (Hadis).” (H.R. Baihaqi). Disamping itu para ulama fiqih menjadikan Ijtihad sebagai salah satu dasar hukum islam stelah Al-Quran dan Hadis. B. Pengertian, Kedudukan dan Fungsi Al-Quran 1. Pengertian Alquran Gambar 1.2 Mushaf Al-Quran sebagai sumber hukum utama Al-Quran berasal dari Bahasa Arab yaitu dari kata Qara’a-yaqra’u-qira’atanqur’anan, yang artinya sesuatu yang dibaca atau bacaan. Menurut Istilah, Al-Quran adalah wahyu Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup umat manusia. Al-Quran adalah kitab suci umat islam yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, menjadi ibadah bagi yang membacanya. 2. Kedudukan Al-Quran


5 Al Quran merupakan sumber hukum yang pertama dan utama dalam Islam sehingga semua penyelesaian persoalan harus merujuk dan berpedoman kepadanya. Berbagai persoalan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat harus diselesaikan dengan berpedoman pada Al Quran, tidak boleh ada satu aturan pun yang bertentangan dengan Al-Quran. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa (4) :105 Allah berfirman : ْي َك لَ ِ نَا إ ْ ْن َزل َ َّا أ ِن ِ َم إ ا َّا ِس ب بَ ْي َن الن َ ُكم ِلتَ ْح َح ِقِّ ْ ِال ِكتَا َب ب ْ ال َخائِنِي َن َخ ِصي ًما ْ َوال تَ ُك ْن ِلل َرا َك ََّّللاُ َ أ Artinya :” Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat” (An-Nisa’ :105) Dalam ayat yang lain Allah berfirman yaitu dalam Qs. An-Nisa’ (4) : 59 : ِط َ وا أ ُ َمن ِذي َن آ َّ َها ال ُّ ي سو َل َ ُ ر وا ال َّ ُ يَا أ ِطيع َ وا ََّّللاَ َوأ ُ يع لَى ِ ُ إ وه ُّ رد ُ ْم فِي َش ْيٍء فَ ُ ْن تَنَا َز ْعت ِ ُكْم فَإ وِلي األ ْمِر ِمْن ُ َوأ ِل َك يَ ْوِم اآل ِخِر ذَ ْ َوال َّللِ ِا َّ و َن ب ُ ُ ْؤ ِمن ْم ت ُ ُكْنت ْن ِ سو ِل إ ُ ر َوال َّ ََّّللاِ ِويال ْ ن تَأ ُ ْح َس َ ر َوأ ٌ َخْي Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Qs. An-Nisa’ (4) : 59) Berdasarkan kedua ayat diatas bahwa Al-Qur’ān adalah sumber dari segala sumber hukum baik dalam konteks kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Namun demikian, hukum-hukum yang terdapat dalam Kitab Suci al-Qur’ān ada yang bersifat rinci dan sangat jelas maksudnya, dan ada yang masih bersifat umum dan perlu pemahaman mendalam untuk memahaminya.


6 3. Fungsi Al-Quran Al-Quran berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat. Sesuai dengan firman Allah dalam Qs. Al-Isra’:9 : مْؤ ِمنِي َن ُ ْ ر ال ُ بَ ِشِّ ُ َوي م ُ َو قْ َ َي أ تِي ِه َّ ْرآ َن يَ ْهِدي ِلل قُ ْ ن َهذَا ال َّ ِ إ َّ ِ ال ي ًرا ْج ًرا َكب َ هْم أ ُ ن لَ َّ َ َحا ِت أ صاِل و َن ال َّ ُ ِذي َن يَ ْعَمل Artinya :” Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,”( Qs. AlIsra’:9) Al-Quran adalah kitab Allah yang terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Seluruh manusia yang hidup sejak Al-Quran diturunkan sampai akhir zaman wajib menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidupnya. 4. Kandungan Al-Quran Para ulama mengelompokkan hukum yang terdapat dalam al-Qur’ān kedalam beberapa bagian, yaitu seperti berikut. a. Akidah atau Keimanan Akidah atau keimanan adalah keyakinan yang tertancap kuat di dalam hati. Akidah terkait dengan keimanan terhadap hal-hal yang ghaib yang terangkum dalam rukun iman, yaitu iman kepada Allah Swt. malaikat, kitab suci, para rasul, hari kiamat, dan qada/qadar Allah Swt. b. Syari’ah atau Ibadah Hukum ini mengatur tentang tata cara ibadah baik yang berhubungan langsung dengan al-Khāliq (Pencipta) yaitu Allah Swt. yang disebut dengan‘ibadah mahdlah, maupun yang berhubungan dengan sesama makhluknya yang disebut dengan ibadah gairu mahdlah. Ilmu yang mempelajari tata cara ibadah dinamakan ilmu fikih.; 1) Hukum Ibadah Hukum ini mengatur bagaimana seharusnya melaksanakan ibadah yang sesuai dengan ajaran Islam. Hukum ini mengandung perintah untuk mengerjakan śalat, haji, zakat, puasa dan lain sebagainya.


7 2) Hukum Mu’amalah Hukum ini mengatur interaksi antara manusia dengan sesamanya, seperti hukum tentang tata cara jual-beli, hukum pidana, hokum perdata, hukum warisan, pernikahan, politik, dan lain sebagainya. c. Akhlak atau Budi Pekerti Selain berisi hukum-hukum tentang akidah dan ibadah, al-Qur’ān juga berisi hukum-hukum tentang akhlak. Al-Qur’ān menuntun bagaimana seharusnya manusia berakhlak atau berperilaku, baik akhlak kepada Allah Swt., kepada sesama manusia, dan akhlak terhadap makhluk Allah Swt. yang lain. Pendeknya, akhlak adalah tuntunan dalam hubungan antara manusia dengan Allah Swt.– hubungan manusia dengan manusia – dan hubungan manusia dengan alam semesta. Hukum ini tecermin dalam konsep perbuatan manusia yang tampak, mulai dari gerakan mulut (ucapan), tangan, dan kaki. d. Hukum. Hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran al-Qur’an berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia. Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al-Qur’an banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil) e. Sejarah / Kisah-kisah Al-Qur’an sebagai kitab suci bagi umat Islam banyak menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu, baik kisah-kisah orang yang beriman dan taat kepada Allah Swt maupun kisah orang-orang yang ingkar kepada Allah Swt. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.


8 f. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi. Al-Qur’an adalah kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia. Allah Swt. yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik. -Qur’an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi C. Pengertian, Kedudukan, Fungsi dan macam-macam Hadis 1. Pengertian Hadis Istilah hadits pada dasarnya berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata “Al-hadits” yang artinya adalah perkataan, percakapan atau pun berbicara. Menurut istilah Hadis adalah segala perkataan, perbuatan dan ketetapan (taqrir) nabi Muhammad SAW. Gambar 1.3 Kitab-kitab hadits sebagai sumber hukum islam Mengacu kepada definisi tersebut, Hadis Nabi Saw dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu : a. Hadis Qauliyah, yaitu hadis yang didasarkan atas segala perkataan dan ucapan Nabi Saw. Misalnya sabda Nabi Saw yang menegaskan bahwa rukun iman itu ada 6 dan rukun islam itu ada lima. b. Hadis Fi’liyah, yaitu Hadis yang didasarkan atas segenap perilaku dan AKTIVITAS SISWA 2 : Diskusikan bersama teman-temanmu : Mengapa banyak sekali terjadi tindak kekerasan, pembunuhan, perzinaan, korupsi dan lain-lain dikalangan umat islam!


9 perbuatan Nabi Saw. Misalnya perbuatan-perbuatan Rasul tentang tatacara mengerjakan Shalat dan menunaikan ibadah Haji. c. Hadis Taqririyah, yaitu Hadis yang disandarkan pada persetujuan Nabi Saw atas apa yang dilakukan para sahabatnya. Nabi Saw membiarkan penafsiran dan perbuatan sahabatnya atas suatu hukum Aallah dan Rasul Nya. Diamnya Rasul Saw menandakan persetujuan. Hadis terdiri dari beberapa bagian yang saling terkait satu sama lain. Bagian-bagian hadis tersebut antara lain sebagai berikut : a. Sanad, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang menyampaikan hadis dari Rasulullah saw sampai kepada kita sekarang ini b. Matan, yaitu isi atau materi hadis yang disampaikan Rasulullah saw. c. Rawi, yaitu orang yang meriwayatkan hadis 2. Kedudukan Hadis Kedudukan Hadits atau Sunnah sebagai sumber hukum islam yang kedua setelah Al-Quran, hadits berada satu tingkat di bawah Al-Qur’an. Artinya, jika sebuah perkara hukumnya tidak terdapat di dalam Al-Qur’an, maka yang harus dijadikan sandaran berikutnya adalah hadits tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt dalam QS Al Hasyr/59 : 7 : وا ََّّللاَ َّقُ َوات هوا ُ ُ فَاْنتَ َها ُكْم َعْنه َو َما نَ ُ وه خذُ ُل فَ ُ سو ُ ر َو َما ال َّ م ......آتَا ُكُ ِعقَا ِب ْ ُ ال ََّّللاَ َشِديد ن َّ ِ إ Artinya: “........ dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (Q.S. al-Ḥasyr/59:7) Dan Firman Allah Swt dalam Qs An-Nisa’:80. berikut: نَا َك ْ ْر َسل َ َما أ ى فَ َّ َول ََّّللاَ َو َم ْن تَ َ َطا َع سو َل فَقَ ْد أ ُ ر ال َّ ِ ُ ِطع َم ْن ي ًظا ِهْم َحِفي ْي َعلَ Artinya: “Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya ia


10 telah menaati Allah Swt. Dan barangsiapa berpaling (darinya), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.” (Q.S. an-Nisā’/4:80) 3. Fungsi hadis Fungsi hadis terhadap al-Qur’ān dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu sebagai berikut: a. Menjelaskan ayat-ayat al-Qur’ān yang masih bersifat umum contohnya adalah ayat al-Qur’ān yang memerintahkan shalat. Perintah shalat dalam al-Qur’ān masih bersifat umum sehingga diperjelas dengan hadis-hadis Rasulullah saw. tentang shalat, baik tentang tata caranya maupun jumlah bilangan raka’at-nya. b. Memperkuat pernyataan yang ada dalam al-Qur’ān seperti dalam al-Qur’ān terdapat ayat yang menyatakan, “Barangsiapa di antara kalian melihat bulan, maka berpuasalah!” Kemudian ayat tersebut diperkuat oleh sebuah hadis yang berbunyi, “...berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya ...” (H.R. Bukhari dan Muslim) c. Menerangkan maksud dan tujuan ayat yang ada dalam Al-Qur’ān misal, dalam Q.S. at-Taubah/9:34 dikatakan, “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, kemudian tidak membelanjakannya di jalan Allah Swt., gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih!” Ayat ini dijelaskan oleh hadis yang berbunyi, “Allah Swt. tidak mewajibkan zakat kecuali supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati.” (H.R. Baihaqi) d. Menetapkan hukum baru yang tidak terdapat dalam Al-Qur’ān Maksudnya adalah bahwa jika suatu masalah tidak terdapat hukumnya dalam al-Qur’ān, diambil dari hadis yang sesuai. Misalnya, bagaimana hukumnya seorang laki-laki yang menikahi saudara perempuan istrinya. Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah hadis Rasulullah saw : “Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :”Dilarang seseorang mengumpulkan (mengawini secara bersama) seorang perempuan dengan saudara perempuan dari ibunya”. (H.R.Bukhari). 4. Macam-macam Hadis Ditinjau dari segi perawinya, hadis terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu seperti berikut: a. Hadis Mutawattir


11 Hadis mutawattir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi, baik dari kalangan para sahabat maupun generasi sesudahnya dan dipastikan di antara mereka tidak bersepakat dusta. Contohnya adalah hadis yang berbunyi: Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya adalah neraka.” (H.R. Bukhari, Muslim) b. Hadis Masyhur Hadis masyhur adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih yang tidak mencapai derajat mutawattir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’³n sehingga tidak mungkin bersepakat dusta. Contoh hadis jenis ini adalah hadis yang artinya, “Orang Islam adalah orang-orang yang tidak mengganggu orang lain dengan lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Tirmizi) c. Hadis Ahad Hadis aḥad adalah hadis yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua orang perawi, sehingga tidak mencapai derajat mutawattir. Dilihat dari segi kualitas orang yang meriwayatkannya (perawi), hadis dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sebagai berikut.: a. Hadis Saḥiḥ, adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rasulullah saw., tidak tercela, dan tidak bertentangan dengan riwayat orang yang lebih terpercaya. Hadis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah (hujjah). b. Hadis Ḥasan, adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat, dan tidak bertentangan. Sama seperti hadis śaḥiḥ, hadis ini dijadikan sebagai landasan mengerjakan amal ibadah. c. Hadis Dha’īf, yaitu hadis yang tidak memenuhi kualitas hadis sahih dan hadis Ḥasan. Para ulama mengatakan bahwa hadis ini tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, tetapi dapat dijadikan sebagai motivasi dalam beribadah.


12 d. Hadis Maudu’, yaitu hadis yang bukan bersumber kepada Rasulullah saw. atau hadis palsu. Dikatakan hadis padahal sama sekali bukan hadis. Hadis ini jelas tidak dapat dijadikan landasan hukum, hadis ini tertolak. D. Pengertian, Kedudukan, Fungsi dan Bentuk-bentuk Ijtihad 1. Pengertian Ijtihad Kata ijtihād berasal bahasa Arab ijtahadayajtahidu-ijtihadan yang berarti mengerahkan segala kemampuan, bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga, atau bekerja secara optimal. Secara istilah, ijtihād adalah mencurahkan segenap tenaga dan pikiran secara sungguh-sungguh dalam menetapkan suatu hukum.Orang yang melakukan ijtihād dinamakan mujtahid. Gambar 1.4 Para ulama bermusyawarah menetapkan hukumhukum 2. Kedudukan Ijtihad Kedudukan Ijtihad dalam sumber hukum islam adalah sebagai sumber hukum islam ke tiga setelah Al-Quran dan hadis. Ijtihād dilakukan jika suatu persoalan tidak ditemukan hukumnya dalam Al-Qur’ān dan hadis. Namun demikian, hukum yang dihasilkan dari ijtihād tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’ān maupun Hadis. AKTIIVITAS SISWA 3 : Diskusikan bersama teman-temanmu : Kemukakan contoh hukum-hukum islam yang bersumber kepada Hadis, yang didalam Al-Quran hanya bersifat perintah secara umum saja


13 Artinya: “Dari Mu’az, bahwasanya Nabi Muhammad saw. ketika mengutusnya ke Yaman, ia bersabda, “Bagaimana engkau akan memutuskan suatu perkara yang dibawa orang kepadamu?” Muaz berkata, “Saya akan memutuskan menurut Kitabullah (al-Qur’ān).” Lalu Nabi berkata, “Dan jika di dalam Kitabullah engkau tidak menemukan sesuatu mengenai soal itu?” Muaz menjawab, “Jika begitu saya akan memutuskan menurut Sunnah Rasulullah saw.” Kemudian, Nabi bertanya lagi, “Dan jika engkau tidak menemukan sesuatu hal itu di dalam sunnah?” Muaz menjawab, “Saya akan mempergunakan pertimbangan akal pikiran sendiri (ijtihādu bi ra’yi) tanpa bimbang sedikitpun.” Kemudian, Nabi bersabda, “Maha suci Allah Swt. yang memberikan bimbingan kepada utusan Rasul-Nya dengan suatu sikap yang disetujui Rasul-Nya.” (H.R. Darami) Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda : Artinya: “Dari Amr bin Aś, sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda, “Apabila seorang hakim berijtihād dalam memutuskan suatu persoalan, ternyata ijtihādnya benar, maka ia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia berijtihād, kemudian ijtihādnya salah, maka ia mendapat satu pahala.” (H.R. Bukhari dan Muslim) 3. Fungsi Ijtihad Fungsi Ijtihad adalah untuk menetapkan hukum sesuatu yang tidak ditemukan dalil hukumnya dalam Al-Quran ataupun Hadis. Ijtihad sudah pernah dilakukan semenjak Rasullah SAW masih hidup. Pada saat itu ada beberapa sahabat yang melakukan Ijtihad, yaitu pada saat mereka berada jauh dari Rasulullah SAW. Pada saat itu dua orang sahabat melakukan perjalanan jauh. Ditengah perjalanan mereka hendak melakukan shalat dhuhur tetapi mereka tidak mendapati air


14 untuk berwudhuk, akhirnya mereka bertayammum. Setelah selesai Shalat mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba mereka menemukan air dan waktu shalat masih ada. Akhirnya kedua sahabat tersebut melakukan Ijtihad. Sahabat yang pertama berwuduk dan mengulang kembali shalatnya, tetapi sahabat yang kedua tidak berwudhuk dan tidak mengulang lagi shalatnya. Setelah mereka kembali mereka menemui Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang mereka lakukan. Rasulullah SAW menjawab :“Bagi orang yang berwudhuk kembali dan shalat lagi akan mendapat tambahan pahala dan bagi yang tidak berwudhuk dan tidak mengulangi lagi shalatnya Rasulullah memujinya, karena ia telah melakukan Ijtihad yang tepat”. Setelah Rasulullah SAW wafat banyak para sahabat yang melakukan Ijtihad, mereka berijtihad apabila menghadapi masalah yang tidak ditemukan nasnya didalam Al-Quran dan Hadis. 4. Bentuk-bentuk Ijtihad a. Ijma’ Ijma’ adalah kebulatan pendapat semua ahli ijtihad pada suatu masa atas suatu masalah yang berkaitan dengan syariat. Karena sulitnya dilakukan ijma’ pada masa sesudah para sahabat . b. Qiyas (ra’yu) Qiyas adalah menetapkan hukum atas suatu perbuatan yang belum ada ketentuannya, berdasarkan sesuatu yang sudah ada ketentuannya dengan memperhatikan kesamaan antara kedua hal itu. Misalnya menetapkan hukum haram ganja, heroin, morfin dan sebagainya yang secara eksplisit tidak ada ketentuan dalam Al-Quran dan Hadis dengan menyamakan pada haramnya Khamar, karena keduanya sama-sama memiliki sifat yang memabukkan. c. Maslahah Mursalah Maslahah Mursalah yaitu kemaslahatan atau kebaikan yang tidak disinggungsinggung syara’ untuk mengerjakan atau meninggalkannya, sedangkan jika dilakukan akan membawa manfaat atau terhindar dari keburukan. Contoh pada waktu pengumpulan Al-Quran pada masa Abu Bakar Shiddiq dan Usman bin Affan. Tidak ada Nas yang melarang atau menyuruh melakukannya, namun mengingat kemaslahatan umat dikemudian hari para sahabat menyepakatinya. AKTIVITAS SISWA 4 : Kemukakan contoh-contoh lain dari Ijtihad, yang pernah dilakukan oleh para ulama di Indonesia


15 E. Hukum Taklifi dan Hukum Wad’i 1. Pengertian Hukum Taklifi menurut bahasa adalah hukum pemberian beban. Sedangkan menurut istilah adalah ketentuan Allah SWT yang menuntut mukallaf (baligh) untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan atau berbentuk pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan. Contoh tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan, Firman Allah SWT dalam AlQuran surah Al-Baqarah : 110 : ز َكاةَ وا ال َّ ُ َوآت صالةَ موا ال َّ ُ قِي َ َوأ Artinya :”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat” (Qs. Al-Baqarah :110) Tuntutan Allah dalam ayat tersebut melahirkan kewajiban untuk melaksanakan shalat bagi setiap mukallaf dan menunaikan zakat bagi setiap orang yang telah memenuhi syarat wajibnya. Contoh tuntutan untuk meninggalkan perbuatan, Firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Isra’:33: ……… ُ ت َوال تَقْ َح ِقِّ ْ ِال ِال ب ََّّللاُ إ َ رم َّ تِي َح َّ َس ال َّ ْف وا الن ُ ل Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT, melainkan dengan sesuatu alasan yang benar….”(Qs.Al-Isra’:33) Tuntutan dalam ayat terserbut bersifat pasti yakni dilarang membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah SWT. Jika larangan itu dilanggar maka pelakunya dianggap berdosa dan pasti akan mendapat hukuman. Sedangkan hukum Wad’i adalah ketentuan Allah SWT yang mengandung pengertian bahwa terjadinya sesuatu merupakan sebab, syarat atau penghalang bagi adanya sesuatu hukum. Misalnya shalat menjadi sebab adanya kewajiban berwudhuk lebih dahulu.


16 2. Kedudukan dan fungsi Kedudukan dan fungsi hukum taklifi menempati posisi yang utama dalam ajaran islam. Karena hukum taklifi membahas sumber hukum islam yang utama, yaitu Al-Quran dan Hadis dari segi perintah-perintah Allah SWT dan Rasul yang wajib dikerjakan dan larangan-larangan Allah SWT dan Rasul yang wajib ditinggalkan. Mempelajari dan memahami hukum taklifi dan hukum wad’I serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim/muslimah 3. Macam-macam hukum Taklifi dan hukum Wad’i Hukum Taklifi terbagi ke dalam lima bagian, seperti berikut : a. Wajib (Fardhu), yaitu aturan Allah SWT yang harus dikerjakan, dengan konsekuensi bahwa jika dikerjakan akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan akan berakibat dosa. Misalnya ibadah shalat, puasa dan sebagainya. b. Sunnah (Mandud), yaitu tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan dengan konsekuensi jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan karena berat untuk melakukannya tidaklah berdosa.Misalnya ibadah śalat rawatib, puasa Senin-Kamis, dan sebagainya. c. Haram (Tahrim), yaitu larangan untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau perbuatan. Konsekuesinya adalah jika larangan tersebut dilakukan akan mendapatkan pahala, dan jika tetap dilakukan, akan mendapatkan dosa dan hukuman. Misalnya larangan meminum minuman keras/narkoba/khamar, larangan berzina, larangan berjudi dan sebagainya. d. Makruh (Karahah), yaitu tuntutan untuk meninggalkan suatu. Misalnya adalah mengonsumsi makanan yang beraroma tidak sedap karena zatnya atau sifatnya e. Mubah (Al-Ibahah), yaitu sesuatu yang boleh untuk dikerjakan dan boleh untuk ditinggalkan. Tidaklah berdosa atau berpahala jika dikerjakan ataupun ditinggalkan.


17 Adapun Hukum Wad’i adalah merupakan ketentuan-ketentuan Allah SWT yang mengatur tentang Sebab, Syarat, Mani’(penghalang), Batal (fasid), Azimah dan Rukhsah. 1. Sebab Menurut istilah syara’ sebab adalah suatu keadaan atau peristiwa yang dijadikan sebagai sebab adanya hukum, dan tidak adanya keadaan atau peristiwa itu, menyebabkan tidak adanya hukum. Contohnya : Tergelincir matahari menjadi sebab wajibnya shalat zuhur. Dengan demikian jika matahari belum tergelincir maka shalat zuhur belum wajib. 2. Syarat Syarat ialah suatu yang dijadikan syar’I (hukum Islam) sebagai pelengkap terhadap perintah syar’i. Tidak sah suatu perintah syar’i kecuali adanya perintah tersebut. Contohnya: Menutup aurat merupakan salah salah satu syarat sahnya shalat. Dengan demikian orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya, maka shalatnya tidak sah. 3. Mani’ (penghalang) Mani’ adalah suatu keadaan atau peristiwa yang ditetapkan syar’I menjadi penghalang adanya hukum atau membatalkan hukum. Contohnya : Najis yang ada di badan atau pakaian orang yang sedang mengerjakan shalat menjadi penghalang bagi adanya hukum atau membatalkan hukum. 4. Azimah Azimah adalah peraturan Allah SWT yang asli dan tersurat pada Nas (AlQuran dan Hadis) dan berlaku umum. Contohnya : Kewajiban shalat lima waktu dan puasa Ramadhan 5. Rukhsah Rukhsah adalah ketentuan yang disyariatkan oleh Allah SWT sebagai keringanan yang diberikan kepada mukallaf dalam keadaan-keadaan khusus. Contohnya: Bagi orang yang dalam perjalanan jauh diberi keringanan (rukhsah) untuk mengerjakan shalat jama’ qashar


18 Setelah proses pembelajaran materi Sumber Hukum Islam diharapkan siswa mampu berperilaku sebagai berikut : 1. Gemar membaca dan mempelajari Al-Quran dan Hadist sebagai pedoman hidup 2. Gemar mengajarkan Al-quran dan Hadis kepada orang lain 3. Melaksanakan setiap amalan ibadah dengan berpedoman kepada hukum-hukum islam yang terdapat dalam Al-Quran danm Hadis 4. Kritis terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi dengan selalu berpegang teguh kepada Al-Quran dan Hadis 5. Menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi dengan merujuk kepada AlQuran dan Hadis. 6. Mencintai orang-orang yang senantiasa mempelajari dan mengamalkan ajaranajaran Al-Quran dan Hadis 1. Sumber Hukum Islam adalah segala sesuatu yang dijadikasn acuan dan pedoman dalam menetapkan hukum Islam. 2. Sumber Hukum Islam ada 3 yaitu Al-Quran, Hadis dan Ijtihad 3. Al-Quran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril untuk disampaikan kep[ada manusia untuk AKTIVITAS SISWA 5 : Apakah kamu sudah mengamalkan hukum Taklifi dan hukum Wad’i dalam kehidupanmu sehari-hari? Kemukakan contoh hukum Taklifi dan hukum Wad’I yang sudah kamu kerjakan Rangkuman Menerapkan Perilaku Mulia


19 4. dijadikan pedoman hidup 5. Hadis adalah setiap perkataan, perbuatan dan taqrirnya Nabi 6. Ijtihad adalah berusaha keras dan bersungguh2 menggunakan akal pikiran untuk merumuskan dan menetapkan hukum atas suatu perkara yang tidak ditemukan kepastian hukumnya dalam Al-Quran maupun Hadist 7. Ulama usul Fiqih membagi hukum syara’ menjadi dua bagian, yaitu hukum Taklifi dan hukum Wad’i. Macam-macam hukum Taklifi yaitu: wajib, sunah, mubah, haram,dan makruh sedangkan macam hukum wad’I yaitu Sebab, Syarat, Mani’(penghalang), Batal (fasid), Azimah dan Rukhsah. A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e yang dianggap sebagai jawaban yang paling benar 1. Alquran merupakan wahyu Allah yang disampaikan kepada umat manusia untuk dijadikan pedoman hidup. Sehubungan dengan itu Al-Quran dinamakan…. a. Al-Furqan b. An-Nur c. Asy-Syifa d. Al-Huda e. Az-Zikru 2. Menetapkan hukum atas suatu perbuatan yang belum ada ketentuannya, berdasarkan sesuatu yang sudah ada ketentuannya dengan memperhatikan kesamaan antara kedua hal itu disebut … a. Hadist b. Ijma’ c. Qiyas d. Maslahah Mursalah e. Al-urf 3. Hadits yang diriwayatkan oleh satu, dua, tiga orang atau lebih namun tidak mencapai tingkat mutawatir.disebut .. Evaluasi


20 a. Hadits Mutawatir b. Hadits Shahih c. Hadits Hasan d. Hadits Ahad e. Hadits Dhaif 4. Seseorang atau sekelompok orang yang menyampaikan hadis dari Rasulullah saw sampai kepada kita sekarang ini di sebut …. a. Sanad b. Rawi c. Sahabat d. Tabi’in e. Tabi’ut tabi’in 5. Salah satu funfsi hadis terhadap Al-Quran adalah sebagai Bayan At-Tasyri’ yang artinya…. a. Menjelaskan ayat-ayat Al-Quran yang masih umum b. Mempertegas hukum-hukum yang disebut dalam Al-Quran c. Menghapus suatu hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Quran d. Memberikan koreksi terhadap ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan hukum e. Mewujudkan suatu hukum atau ajaran yang tidak tercantum dalam Al-Quran B. Jawablah pertanyaan berikut dengan ringkas dan tepat 1. Jelaskan macam-macam sumber hukum islam 2. Jelaskan fungsi Hadis terhadap Al-Quran 3. Jelaskan syrat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang Mujtahid 4. Jelaskan macam-macam Hadis 5. Kemukakan beberapa contoh hasil Ijtihad Majelis Ulama Indonesia


21 Tanggapan Orang Tua tentang Implementasi Materi ini Sikap Pengetahuan Ketrampilan Paraf Orang Tua PETA KONSEP BAB HAJI DAN UMRAH 2


22 Cermati Wacana berikut ini ! Jumlah jama’ah haji di Indonesia semakin bertambah. Orang yang saat ini bergelar haji sudah semakin banyak dibanding zaman orde lama juga orde baru. Semakin banyak orang yang mampu membiayai dirinya pergi haji. Bahkan terakhir antrean haji saat ini sudah sampai 2026. Ini sungguh luar biasa. Haji merupakan sebuah ritual ibadah yang termasuk rukun Islam yang ke lima. Dan tujuan dari haji adalah untuk mendapat ridha Allah. Sehingga predikat haji yang mabrur ditujukan bagi mereka yang hajinya Allah terima. Indikator nyata dari haji yang mabrur adalah pribadinya semakin baik, semakin shaleh dan semakin bertakwa. Shalat jama’ah rajin, zakat dan sedekah semakin sering, suka menolong yang lemah, ucapannya baik, rendah hati dan dosa-dosa dia jauhi. Namun Fenomena yang kita lihat banyak haji di Indonesia tapi angka dosa besar dan kriminalitas juga meningkat tajam. Yang namanya kemusyrikan, pembunuhan, perzinaan, perampokan, korupsi, narkoba dan penipuan marak di mana-mana. Di antara mereka yang melakukan dosa-dosa besar seperti korupsi juga banyak yang bergelar Haji. Ini sungguh sangat disayangkan ternyata Haji belum mampu merubah perilaku seseorang. Pengertian Haji dan Umrah Ketentuan Haji dan Umrah Praktek Haji dan Umrah HAJI DAN UMRAH Membiasakan sikap kerjasama dan gotong royong Mengkritisi Sekitar Kita


23 Sebenarnya banyak hikmah dan ibrah bisa digali dalam pelaksanaan ibadah haji untuk mencapai perubahan perilaku sebagai Muslim, apalagi perilaku modern yang sarat dengan nilai-nilai universal. Namun, sayang dalam praktiknya banyak jamaah haji belum bisa menangkap hikmah dan ibrah ibadah setahun sekali tersebut yang bagi mayoritas jamaah haji hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Sehingga, tidak banyak perubahan yang didapatkan pasca ibadah haji. A. Haji 1. Pengertian Haji Kata haji berasal dari bahasa Arab yang artinya menyengaja atau menuju. AKTIVITAS SISWA Diskusikan dengan teman-temanmu : 2. Kenapa banyak orang sudah melaksanakan ibadah Haji tetapi perbuatannya belum perbuatannya belum mencerminkan peribadi yang yang bisa menjadi Teladan. 3. Bagaimana hukumnya bagi orang-orang yang sudah mampu dan mempunyai syratsyarat untuk melaksanakan ibadah haji tetapi belum melaksanakannya. Memperkaya khazanah


24 Maksudnya adalah sengaja mengunjungi Baitullah (Ka’bah) di Mekah untuk melakukan ibadah kepada Allah Swt. pada waktu tertentu dan dengan cara tertentu secara tertib. Gambar 2.1. Umat islam sedang melaksanakan ibadah haji Adapun yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari bulan Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Puncak pelaksanaan ibadah haji pada tanggal 9 Zulhijah yaitu saat dilangsungkannya ibadah wukuf di padang Arafah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain. Menurut istilah, haji adalah sengaja mengunjungi Ka’bah dengan niat beribadah pada waktu tertentu dengan syarat-syarat dan dengan cara-cara tertentu pula. Haji juga diartikan menyengaja ke Mekah untuk menunaikan ibadah thawaf, sa’i, wukuf di Arafah dan menunaikan rangkaian manasik dalam rangka memenuhi perintah Allah Swt. dan mencari ridha-Nya. Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Hukum melaksanakan ibadah haji adalah wajib bagi yang mampu melaksanakannya, sebagaimana dijelaskan dalam alQur’ān surat Ali Imran ayat 97. Allah Swt. berfirman: ِ َّ َوَِّلل ُ َكا َن آ ِمنًا َ َو َم ْن دَ َخلَه َرا ِهيم ْب ِ م إ ُ ِّنَا ٌت َمقَا ِ فِي ِه آيَا ٌت بَي ْي لَ ِ بَ ْي ِت َم ِن ا ْستَ َطا َع إ ْ ج ال ُّ َّا ِس ِح َع َر لَى الن ِيال َو َم ْن َكفَ ِه َسب ِمي َن عَالَ ْ ي َع ِن ال ٌّ ََّّللاَ َغنِ ن َّ ِ فَإ Artinya: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran/3:97) Kewajiban haji adalah sekali dalam seumur hidup. Apabila ada yang melaksanakan haji lebih dari sekali, hukumnya sunah. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra.sebagai berikut. “Rasulullah


25 saw. berkhutbah kepada kami, beliau berkata,‘Wahai sekalian manusia, telah diwajibkan haji atas kamu sekalian.’Lalu al-Aqra bin Jabis berdiri kemudian berkata, ‘Apakah kewajiban haji setiap tahun ya Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Sekiranya kukatakan ya, tentulah menjadi wajib, dan sekiranya diwajibkan, engkau sekalian tidak akan mampu. Ibadah haji itu sekali saja. Siapa yang menambahi itu berarti perbuatan sukarela saja.” 2. Syarat, rukun dan wajib Haji a. Syarat-syarat Haji Syarat haji terbagi ke dalam dua bagian, yaitu syarat wajib haji dan syarat sah haji. Syarat haji ialah perbuatan-perbuatan yang harus dipenuhi sebelum ibadah haji dilaksanakan. Apabila syarat-syaratnya tidak terpenuhi, gugurlah kewajiban haji seseorang. Para ulama ahli fikih sepakat bahwa syarat wajib haji adalah sebagai berikut: 1) Islam 2) Berakal (tidak gila) 3) Baligh 4) Ada muhrimnya 5) Mampu dalam segala hal (misalnya dalam hal biaya, kesehatan, keamanan, dan nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan) Sedangkan Syarat sah haji adalah sebagai berikut : 1) Islam 2) Baligh 3) Berakal 4) Merdeka. b. Rukun-rukun Haji Rukun haji adalah perbuatan-perbuatan yang harus dilaksanakan atau dikerjakan sewaktu melaksanakan ibadah haji, dan tidak dapat diganti dengan membayar Dam, apabila ditinggalkan, ibadah hajinya tidak sah. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut: 1) Ihram. Ihram adalah berniat mengerjakan


26 ibadah haji atau umrah yang ditandai dengan mengenakan pakaian ihram yang berwarna putih dan membaca lafadz, “Labbaika Allahumma hajjan.” (bagi yang akan melaksanakan ibadah haji), dan membaca lafadz, “Labbaika Allahumma umratan.” (bagi yang berniat umrah). Gambar 2.2 Para jamaah Haji sedang berpakaian ihram Ibadah haji dan umrah harus diawali dengan ihram. Apabila dengan sengaja jamaah miqat tanpa ihram, maka dia harus kembali ke salah satu miqat untuk berihram. Apabila jamaah telah berihram, maka sejak itu berlaku semua larangan ihram sampai tahallul. 2) Wukuf Wukuf, yaitu hadir di padang Arafah pada tanggal 9 Djulhijjah dari tergelincirnya matahari hingga terbenam. Wukuf adalah bentuk pengasingan diri yang merupakan gambaran bagaimana kelak manusia dikumpulkan di padang Mahsyar. Gambar 2.3. Jamaah haji sedang wuquf di arafah Wukuf di Arafah merupakan saat yang tepat untuk mawas diri, merenungi atas seperti yang pernah dilakukan, menyesali dan bertaubat atas segala dosa yang dikerjakan, serta memikirkan seperti yang akan dilakukan untuk menjadi muslim yang taat kepada Allah Swt. Selama wukuf perbanyaklah berzikir, tahmid, tasbih, tahlil, dan istighfar. Berdoalah sebanyak mungkin, karena doa yang kita panjatkan dengan ikhlas dan khusyu’ akan dikabulkan oleh Allah Swt. Wukuf yang dicontohkan Rasulullah saw. diawali dengan shalat


27 berjama’ah dzuhur dan ashar dengan jama’ takdim qashar. Setelah itu, dilanjutkan dengan khutbah guna memberikan bimbingan wukuf, seruan-seruan ibadah, dan memanjatkan doa kepada Allah Swt. Pelaksanaan wukuf di Arafah hanya terjadi sekali dalam setahun, yaitu setelah matahari tergelincir (melewati pukul 12 siang) pada tanggal 9 Dzulhijjah bila pada waktu tersebut jamaah tidak wukuf, maka hajinya tidak sah. 3) Thawaf Thawaf adalah berputar mengelilingi Ka’bah dan dilakukan secara berlawanan dengan arah jarum jam dengan posisi Ka’bah di sebelah kiri badan. Thawaf dimulai dari Hajar Aswad dan diakhiri di Hajar Aswad pula, dilakukan sebanyak tujuh kali putaran. Gambar 2.4 Gambar uamat islam sedang melakukan Thawaf Para ulama sepakat bahwa thawaf ada tiga macam, yaitu: a) Thawaf Qudum, yaitu thawaf yang dilakukan ketika jamaah haji baru tiba di Mekah. b) Thawaf Ifadhah, yaitu thawaf yang dilakukan pada hari qurban setelah melontar jumrah aqabah. Inilah thawaf yang wajib dilakukan pada waktu haji. Apabila ditinggalkan, maka hajinya batal. c) Thawaf Wada’, yaitu thawaf perpisahan bagi jamaah yang akan meninggalkan Mekah. Adapun Thawaf Sunnah adalah thawaf yang dilakukan kapan saja sesuai dengan kemampuan jamaah. Syarat sah Thawaf Syarat sah thawaf adalah sebagai berikut. (1) Niat (2) Menutup aurat (3) Suci dari hadas (4) Dilakukan sebanyak tujuh kali putaran


28 (5) Dimulai dan diakhiri di hajar aswad (6) Posisi Ka’bah di sebelah kiri orang yang berthawaf (7) Dilaksanakan di dalam Masjidil Haram 4) Sa’i Sa’i adalah berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali yang dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah. Sa’i dilakukan setelah pelaksanaan ibadah thawaf. Gambar 2.5 umat islam sedang melaksanakan ibadah Haji Syarat sah sa’i Syarat sah sa’i adalah sebagai berikut: a) Dilakukan sebanyak tujuh kali putaran (berawal di bukit Shofa dan berakhir di bukit Marwah) b) Dilakukan setelah thawaf ifadhah atau setelah thawaf qudum. c) Menjalani secara sempurna jarak Shofa-Marwah dan Mar wahShofa. d) Dilakukan di tempat sa’i. 5) Tahallul Tahallul adalah mencukur atau memotong rambut kepala sebagian atau seluruhnya minimal tiga helai rambut. Tahallul dilakukan setelah melontar jumrah aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, yang disebut dengan tahallul awwal. Setelah jamaah melakukan tahallul awal ini larangan-larangan haji kembali dibolehkan kecuali berhubungan suami isteri. Tahallul tsani dilakukan


29 setelah thawaf ifadhah dan sa’ Gambar 2.6 Jamaah haji sedang melakukan Tahallul 6) Tertib Tertib yaitu berurutan dalam pelaksanaan mulai ihram hingga tahallul. c. Wajib Haji Wajib Haji adalah segala sesuatu yang wajib dikerjakan dan apabila tidak dilakukan maka harus membayar denda atau dam dan Hajinya tetap sah. Adapun yang termasuk wajib Haji yaitu : 1. Ihram dari Miqat, Yaitu memakai pakaian Ihram yang dimulai dari tempattempat yang sudah ditentukan yaitu Miqat Makani dan Miqat Zamani. 2. Bermalam di Muzdalifah selama 2 atau 3 malam, pada hari Tasyrik (tanggal 11,12 dan 13 Zulhijjah) 3. Melempar Jumrah Aqabah 7 kali denagn batu pada tanggal 10 Zulhijjah 4. Melempar Jumrah tiga-tiganya, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah pada tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah. Melemparnya 7 kali tiap-tiap Jumrah 5. Meninggalkan segala yang diharamkan dalam Ihram. 3. Jenis-jenis Haji Dari segi pelaksanaannya, ibadah haji terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu: 1) Haji Tamattu’ Haji tamattu’ yaitu melaksanakan umrah terlebih dahulu kemudian menggunakan pakaian ihram lagi untuk melaksanakan manasik haji. Jenis haji inilah yang mudah dan paling banyak dilaksanakan jama’ah haji Indonesia. Namun demikian, pelaksanaan haji jenis ini diwajibkan membayar dam atau berpuasa sepuluh hari, yaitu tiga hari pada waktu di tanah suci dan tujuh hari setelah kembali ke tanah air. 2) Haji Ifrad Haji ifrad adalah berihram dan berniat dari miqat hanya untuk haji. Dengan kata lain, mengerjakan haji terlebih dahulu kemudian mengerjakan umrah. Jenis haji ini cukup sulit dilaksanakan bagi jamaah haji Indonesia, terutama yang tidak


30 terbiasa mengenakan kain ihram. Sebab, semenjak jama’ah tiba di Mekkah, mereka tidak boleh melepas kain ihram hingga tiba hari raya Idul Adha atau setelah pelontaran jumrah aqabah. Jemaah yang melaksanakan ibadah haji ifrad tidak diwajibkan membayar dam. 3) Haji Qiran Haji qiran adalah melaksanakan haji dan umrah dengan satu kali ihram. Artinya, apabila seorang jamaah haji memilih jenis haji ini, maka jamaah tersebut berihram dari miqat untuk haji dan umrah secara bersamaan. Jamaah yang melakukan jenis haji ini diwajibkan memotong hewan qurban. B. UMRAH 1. Pengertian, Hukum dan Waktu Umrah Umrah adalah mengunjungi ka’bah (Baitullah untuk melaksanakan serangkaian kegiatan ibadah (thafaf, sa’i, tahallul dengan syarat yang telah ditetapkan dalam Al Quran maupun Sunnah Rasul. Umrah salah satu kegiatan ibadah dalam islam yang hampir mirip dengan ibadah Haji, ibadah ini dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa syarat dan rukunnya. Hukum melaksanakan Umrah adalah Sunnah bagi setiap muslim yang mampu melaksanakannya, baik mampu secara materi maupun non materi. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum melaksanakan umrah adalah wajib bagi orang yang belum melaksanakannya tetapi iua mampu melaksanakannya . Tetapi sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ibadah umrah itu hukumnya sunnah muakkad bagi orang yang mampu melaksanakannya. Dasar hukum pelaksanaan ibadah umrah adalah firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah : 196 : AKTIVITAS SISWA : Diskusikan : 1. Mengapa umat islam wajib melaksanakan ibadah Haji 2. Ceritakan sejarah diwajibkan pelaksanaan ibadah Haji bagi umat Islam


31 …….. ِ َّ َِّلل ُ ْمَرةَ ع ْ ج َوال َّ َح ْ موا ال تِ ُّ َ َوأ Artinya :” Sempurnakanlah ibadah Haji dan Umrah karena Allah SWT……..” ( QS. Al-Baqarah : 196) Ibadah Umrah dapat dilaksanakan kapan saja kecuali pada hari Arfah yaitu tanggal 10 Zulhijjah dan hari Tasyrik yaitu pada tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah. 2. Syarat, rukun dan wajib Umrah a. Syarat Umrah Syarat-syarat Umrah adalah : 1) Beragama Islam 2) Baligh 3) Berakal sehat 4) Merdeka (bukan budak) 5) Mampu b. Rukun Umrah 1) Niat Ihram dan miqat 2) Thawaf 3) Sa’i 4) Tahallul ( gunting rambut) 5) Tertib c. Wajib Umrah 1) Niat ihram Umrah di Miqat 2) Meninggalkan larangan selama ihram C. Keutamaan Haji dan Umrah Setiap ibadah yang diperintahkan Allah Swt. memiliki hikmah dan keutamaankeutamaan yang satu dengan lainnya berbeda-beda sebagai bentuk saling melengkapi dan menyempurnakan. 1. Keutamaan Ibadah Haji Adapun yang termasuk keutamaan-keutamaan ibadah haji di antaranya adalah sebagai berikut:


32 a. Haji merupakan amal paling utama ketika Rasulullah saw. ditanya mengenai amal yang paling utama, maka beliau menjelaskan bahwa amal yang paling utama adalah beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, berjihad di jalan Allah, dan haji yang mabrur. Adapun haji yang mabrur maksudnya adalah orang yang sekembalinya dari melaksanakan ibadah haji perilakunya berubah menjadi lebih baik. b. Haji merupakan jihad Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah dialog di dalam sebuah hadis sebagai berikut. “Ya Rasulullah, bolehkah kami ikut berperang dan berjihad bersama engkau semua?’ Jawab Rasul, ‘Bagi engkau ada jihad yang lebih baik dan lebih indah, yaitu haji, haji yang mabrur.’ Ujar A’isyah ra. pula, ‘Setelah mendengar jawaban dari Rasulullah saw. ini aku tak pernah lagi meninggalkan ibadah haji.” (HR. Bukhari dan Muslim) c. Haji menghapus dosa. Diriwayatkan dari Amar bin Ash, “Tatkala Allah Swt. telah menanamkan di hatiku, aku datang menemui Rasulullah saw. lalu berkata, ‘Ulurkanlah tanganmu agar aku berbaiat kepadamu.’ Rasulullah pun mengulurkan tangannya, tetapi aku masih mengatupkan telapak tanganku. Maka beliau bertanya, ‘Bagaimana engkau ini wahai Amar?’ Ujarku, ‘Aku akan mengajukan syarat.’ ‘Apa syaratnya?’ Tanya Rasulullah. ‘Yaitu agar aku diampuni.’ Ujarku. Maka beliau bersabda, ‘Tidaklah engkau tahu bahwa Islam itu menghapuskan keadaan sebelumnya, begitu juga hijrah menghapuskan apa yang sebelumnya, juga haji menghapuskan apa yang sebelumnya.” (HR. Muslim) 4) Pahala ibadah haji adalah surga Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Umrah kepada umrah menghapuskan dosa yang terdapat di antara keduanya, sedang haji yang mabrur tidak ada ganjarannya selain surga.” (HR. Bukhari Muslim) 2. Keutamaan ibadah Umrah Adapun keutamaan ibadah Umrah adalah : a. Umrah adalah Jihad sebagaimana Ibadah Haji b. Bisa menghapus dosa-dosa c. Dijauhkan dari kemiskinan d. Hidup menjadi lebih berkah e. Memperoleh ketenangan jiwa


33 Setelah mempelajari materi Haji dan Umrah diharapkan siswa mampu menampilkan perilaku : 1. Ikhlas dalam setiap pekerjaan yang dilakukan 2. kerja sama , dan tolong menolong sebagai implementasi hikmah dari ibadah Haji dan Umrah, 3. menjaga persatuan dan kesatuan, 4. menghargai perbedaan dengan sesama 1. Ibadah Haji merupakan rukun Islam yang ke lima yang diwajibkan bagi orang islam yang mampu. 2. Haji adalah sengaja mengunjungi Baitullah (Ka’bah) di Mekah untuk melakukan ibadah kepada Allah Swt. pada waktu tertentu dan dengan cara tertentu secara tertib. 3. Umrah adalah mengunjungi ka’bah (Baitullah untuk melaksanakan serangkaian kegiatan ibadah (thafaf, sa’I, tahallul dengan syarat yang telah ditetapkan dalam Al Quran 4. Melaksanakan ibadah Haji dan Umrah harus memperhatikan syarat-syarat dan rukunrukunnya sehingga pelaksanaannya menjadi sempurna. 5. Ibadah Haji merupakan amal ibadaha yang paling utama, merupakan Jihad, Menerapkan Perilaku Mulia Rangkuman AKTIVITAS SISWA: Diskusikan dengan teman-teman kalian: Bagaimana pendapat kalian tentang orang yang pergi Haji setiap tahun, apa hukumnya? Menerapkan Perilaku Mulia


34 membersihkan jiwa dan dapat menghapus dosa-dosa. A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e yang dianggap sebagai jawaban yang paling benar 1. Segala sesuatu yang harus dikerjakan ketika melaksanakaan ibadah haji merupakan pengertian…. a. syarat wajib haji b. syarat sah haji c. rukun haji d. wajib haji e. sunnah haji 2. Berikut ini yang tidak termasuk rukun haji adalah …. a. tamattu’ b. ihram c. thawaf d. sa’i e. tahalul 3. Thawaf yang dilakukan ketika pertama kali memasuki Masjidil Haram dinamakan Thawaf …. a. qudum b. ifadah c. wada d. nadzar e. tamattu’ 4. Mengelilingi Ka’bah di Baitullah sebanyak tujuh kali merupakan pengertian …. a. wukuf b. ihram c. thawaf d. sa’i e. mabit Evaluasi


35 5. Melaksanakaan ibadah umrah terlebih dahulu baru kemudian melaksanakaan ibadah haji dinamakan … a. mabrur b. qiran c. tamattu’ d. ifrad e. ihram A. Jawablah pertanyaan berikut dengan ringkas dan tepat! 1. Jelaskan Pengertian Haji dana Umrah 2. Kemukakan Syarat-syarat, rukun dan wajib Haji dan Umrah 3. Jelaskan perbedaan antara Haji dan Umrah 4. Uraikan secara singkat sejarah diwajibkan ibadah Haji bagi umat IUslam 5. Jelaskan hikmah dari pelaksanaan ibadah haji dan Umrah Tanggapan Orang Tua tentang Implementasi Materi ini Sikap Pengetahuan Ketrampilan Paraf Orang Tua


36 PETA KONSEP BAB ZAKAT 3 ZAKAT KETENTUAN ZAKAT MACAM-MACAM ZAKAT HIKMAH ZAKAT


37 Indonesia adalah salah satu negeri yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan hasil bumi berlimpah Dengan potensi sumber daya alam yang telah Allah berikan untuk negeri tercinta ini, seharusnya dapat membuat rakyat yang tinggal di negeri ini merasakan bagaimana hidup dengan sejahtera. Realitanya tidaklah seperti yang kita bayangkan. Bangsa ini masih saja mencerminkan kebalikan dari kata sejahtera yang dapat kita jumpai di berbagai tempat baik diperkotaan ataupun dipedesaan. Kebalikan dari kata sejahtera tidak lain ialah Kemiskinan, tercatat menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Pada bulan maret 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan) di Memiliki kepekaan sosial Mengkritisi Sekitar Kita


38 Indonesia mencapai 27,77 juta orang, bertambah dibandingkan dengan kondisi pada september 2016 yang sebesar 27,76 juta orang. Apabila 27,77 juta orang yang termasuk penduduk miskin dibandingkan dengan 260 juta orang jumlah seluruh penduduk Indonesia. Maka akan terPlihat angka 27,77 juta orang merupakan angka yang tidak terlalu besar hanya 10,64% dari jumlah keseluruhan penduduk negeri ini. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) angka garis kemiskian maret 2017, hanya ada di angka Rp 385.621/bulan di perkotaan dan Rp 361.496/bulan di pedesaan. Maksudnya penduduk yang memiliki pendapatan dibawah Rp 385.621 di perkotaan dan Rp 361.496 di pedesaan, maka termasuk dalam katagori penduduk miskin. Dan dari tabel ini kita juga dapat menyimpulkan untuk penduduk yang memiliki penghasilan Rp 400.000/bulan maka bukanlah termasuk katagori penduduk miskin. Lalu pertanyaanya, penduduk yang memiliki penghasilan Rp 400.000/bulan bukan termasuk katagori penduduk miskin? bayangkan jika ada keluarga yang terdiri dari suami istri serta mempunyai 2 orang anak, mereka tentunya memiliki kebutuhan untuk dipenuhi seperti sandang, pangan, dan papan untuk suami,istri dan kedua anaknya sedangkan penghasilan suami hanya Rp 400.000/bulan. Apa yang mereka bisa penuhi dengan uang Rp 400.000 dalam sebulan? Apakah keluarga ini tetap bukan katagori penduduk miskin? Inilah kondisi dari perekonomian bangsa ini sekarang. Bagaimana solusi dari permasalahan bangsa ini? Islam memberikan salah satu solusi pengentasan kemiskinan yaitu melalui zakat. Zakat menjadi salah satu instrumen kebijakan fiskal Rasulullah SAW untuk membuat umat islam saat itu menjadi umat yang sejahtera. Dan instrumen zakat ini juga digunakan oleh para sahabat. Sumber: http://www.dakwatuna.com/2017/10/13/89044/zakat-sebagai-solusi-dari-kemiskinanbangsa/#ixzz5Qhov8gu0 AKTIVITAS SISWA 1 Diskusikan bersama teman-temanmu : 1. Bagaimana tentang Fenomena yang terjadi ditengah masyarakat kita, banyak orang kaya tetapi tidak mengeluarkan zakat. 2. Mengapa penyaluran zakat di Indonesia belum mampu menjadi solusi pemberantasan kemiskinan


39 A. Pengertian dan Hukum Zakat Zakat menurut bahasa (lughat) artinya tumbuh, berkembang, subur. Menurut istilah, zakat adalah sebagian harta yang telah diwajibkan oleh Allah swt untuk diberikan kepada orang yang berhak menerimanya sebagaiman yang telah dinyatakan dalam Al Qur’an atau boleh juga diartikan pemberian yang wajib diberikan dari harta tertentu, menurut sifatsifat dan ukuran kepada golongan tertentu. Zakat merupakan bagian dari rukun Islam yakni rukun yang ketiga. Perintah wajib mengeluarkan zakat ialah pada tahun kedua Hijriah atau sebelum perintah puasa Ramadan. Kata zakat disebutkan secara beriringan dengan kata salat pada 82 ayat di dalam AlQur’ān. Allah Swt. telah menetapkan hukum wajib atas zakat sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’ān, Sunnah Rasul, dan Ijma ulama. Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi penegakan syariat Islam. Oleh sebab itu, hukum menunaikan zakat adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Allah swt berfirman dalam (QS. Al-Bayyinah: 98 : 5). موا ُ ُِقي َء َوي حنَفَا ُ الِدِّي َن ُ ِصي َن لَه م ْخِل وا ََّّللاَ ُ ُ د ُ ِال ِليَ ْعب روا إ ُ ِم ُ َو َما أ َمِة ِّ ِ قَي ْ ن ال ُ ِل َك ِدي َوذَ ز َكاةَ وا ال َّ ُ ُ ْؤت َوي صالةَ ال َّ Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ke-taatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya Memperkaya Khazanah


40 mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Qs. Al-Bayyinah (98): 5) Allah juga berfirman dalam Qs. AlBaqarah : 43: را ِكِعي َن َم َع ال َّ وا ُ َوا ْر َكع ز َكاةَ وا ال َّ ُ َوآت صالةَ موا ال َّ ُ قِي َ َوأ Artinya : “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (Qs. AlBaqarah : 43) Rasulullah saw bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; mendirikan salat; melaksanakan puasa (di bulan Ramadan); menunaikan zakat; dan berhaji ke Baitullah (bagi yang mampu)” (HR. Muslim). Dalam Kitab Al-Ausath dan Ash-Shagir, Imam Thabrani meriwayatkan dari Ali r.a bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: Artinya, “Allah Swt. mewajibkan zakat pada harta orang-orang kaya dari kaum muslimin sejumlah yang dapat memberikan jaminan kepada orangorang miskin di kalangan mereka. Fakir miskin tidak akan menderita kelaparan dan kesulitan sandang pangan melainkan disebabkan perbuatan golongan orang kaya. Ingatlah bahwa Allah Swt. akan mengadili mereka secara tegas dan menyiksa mereka dengan azab yang pedih akibat perbuatannya itu.” (HR. Thabrani) B. Syarat dan Rukun Zakat Syarat dalam ibadah zakat, yaitu syarat yang berkaitan dengan subjek zakat/muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) dan objek zakat (harta yang dizakati). 1. Syarat zakat yang berhubungan dengan subjek atau pelaku (muzakkī : orang yang terkena wajib zakat) adalah sebagai berikut. a. Islam, b. Merdeka c. Baligh d. Berakal. 2. Syarat-syarat yang berhubungan dengan jenis harta (sebagai objek zakat) adalah sebagai berikut. a. Milik Penuh Artinya penuhnya pemilikan, maksudnya bahwa kekayaan itu harus berada dalam kontrol dan dalam kekuasaan yang memiliki, (tidak bersangkut di dalamnya hak orang lain), baik kekuasaan pendapatan maupun kekuasaan


41 menikmati hasilnya. b. Berkembang Artinya harta itu berkembang, baik secara alami berdasarkan sunatullāh maupun bertambah karena ikhtiar manusia. Makna berkembang di sini mengandung maksud bahwa sifat kekayaan itu dapat mendatangkan income, keuntungan atau pendapatan. c. Mencapai Nisab Artinya mencapai jumlah minimal yang wajib dikeluarkan zakatnya. Contohnya nisab ternak unta adalah lima ekor dengan kadar zakat seekor kambing. Dengan demikian, apabila jumlah unta kurang dari lima ekor, maka belum wajib dikeluarkan zakatnya. d. Lebih dari kebutuhan pokok Artinya harta yang dimiliki oleh seseorang itu melebihi kebutuhan pokok yang diperlukan oleh diri dan keluarganya untuk hidup wajar sebagai manusia. e. Bebas dari Hutang Artinya harta yang dimiliki oleh seseorang itu bersih dari hutang, baik hutang kepada Allah Swt. (nażar atau wasiat) maupun hutang kepada sesama manusia. f. Berlaku Setahun/Haul Suatu milik dikatakan genap setahun menurut al-Jazaili dalam kitabnya Tanyinda al-Haqā’iq syarh Kanzu Daqā’iq, yakni genap satu tahun dimiliki. Adapun yang termasuk rukun zakat adalah sebagai berikut: 1. Pelepasan atau pengeluaran hak milik pada sebagian harta yang dikenakan wajib zakat. 2. Penyerahan sebagian harta tersebut dari orang yang mempunyai harta kepada orang yang bertugas atau orang yang mengurusi zakat (amil zakat). 3. Penyerahan amil kepada orang yang berhak menerima zakat sebagai milik. C. Orang-orang yang berhak menerima zakat Orang yang berhak menerima Zakat Mal adalah sesuai dengan firman Allah dalam Qs. At-Taubah: 60 : ِة فَ َّ مَؤل ُ ْ َوال َها ْي عَاِمِلي َن َعلَ ْ ِن َوال َم َسا ِكي ْ َرا ِء َوال فُقَ ْ صدَقَا ُت ِلل َما ال َّ َّ ِن إ َو ِل ََّّللاِ ِي ِرِمي َن َوِفي َسب غَا ْ ِِّرقَا ِب َوال َوفِي ال هْم ُ ُ وب ُ ل ِل ُ ِ ق ي سب ِن ال َّ اِ ْب ٌم ٌم َح ِكي ََّّللاُ َعِلي َو ََّّللاِ ِم َن ِري َضةً فَ Artinya : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-


42 orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orangorang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Qs. At-Taubah: 60 Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa golongan yang berhak mendapat zakat (muzakki) ada 8 golongan yaitu : 1) Orang Fakir, yaitu orang yang melarat karena sama sekali tidak mempunyai mata pencaharian. 2) Orang miskin, yaitu orang yang melarat karena penghasilannya tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. 3) ‘Amil, yaitu orang yang bertugas melaksanakan pengumpulan dan pembagian zakat kepada orang yang berhak menerimanya 4) Muallaf yaitu orang yang baru beberapa saat masuk agama islam. 5) Untuk memerdekakan hamba atau budak 6) Gharim, yaitu orang yang berhutang demi untuk mencukupi kebutuhan hidup yang primer 7) Fisabilillah, yaitu berbagai bentuk usaha dan perjuangan untuk menyebar luaskan agama islam serta mempertahankannya 8) Ibnu Sabil, yaitu orang yang sedang dalam perantauan sedang bekal perjalanannya sangat kurang D. Macam-macam zakat Secara garis besar zakat dibagi dua yaitu zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (harta) 1. Zakat Fitrah (jiwa) Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap orang islam pada akhir bulan Ramadhan untuk membersihkan jiwa. Zakat fitrah berupa makanan pokok pada setiap daerah masing-masing dengan ukuran 1 sa’ (3,1 liter atau 2,5 kg), dapat juga diganti dengan uang seharga bahan makanan pokok tersebut. Waktu yang paling utama mengeluarkan zakat fitrah adalah setelah terbenam matahari pada akhir bulan Ramadhan sampai menjelang dilaksanakannya shalat Idul Fitri. Dari Ibn Umar ia berkata: Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri(berbuka) bulan ramadhan sebanyak satu sha’(3,1 liter) kurma


43 atau gandum atas tiap-tiap orang muslim merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan”(HR Bukhari Muslim), dalam hadits Bukhari disebutkan “mereka membayar fitrah itu sehari atau dua hari sebelum hari raya” Zakat fitrah diwajibkan pada kedua tahun hijrah, yaitu tahun diwajibkannya puasa bulan ramadhan untuk mensucikan orang yang berpuasa dari ucapan kotor dan perbuatan yang tidak ada gunanya, untuk memberi makanan pada orang-orang miskin dan mencukupkan mereka dari kebutuhan dan meminta-minta pada hari raya. Zakat ini merupakan pajak yang berbeda dari zakat-zakat lain, seperti memiliki nisab, dengan syarat-syaratnya yang jelas, pada tempatnya. Para fuqoha’ menyebut zakat ini dengan zakat kepala, atau zakat perbudakan atau zakat badan. Yang dimaksud dengan badan disini adalah pribadi, bukan badan yang merupakan dari jiwa dan nyawa. Adapun hikmah dari kewajiban zakat fitrah adalah penyucian diri bagi orang yang berpuasa dari kebatilan dan kekotoran, untuk memberi makan kepada orangorang miskin serta sebagai ras syukur kepada Allah atas selesainya menunaikan kewajiban puasa. Dibawah ini akan diterangkan beberapa waktu dan hukum membayar zakat fitrah antara lain: 1. Waktu yang di bolehkan yaitu dari awal ramadhan sampai hari penghabisan ramadhan 2. Waktu wajib, yaitu mulai terbenam matahari penghabisan ramadhan 3. Waktu yang lebih baik (sunnat), yaitu dibayar sesudah shalat subuh sebelum pergi sholat hari raya “Dari Ibn Abbas, ia berkata: telah diwajibkan oleh rasulullah saw zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang puasa dan memberi makan bagi orang miskin, barang siapa yang menunaikannya sebelum sholat hari raya maka zakat itu diterima, dan barang siapa membayarnya sesudah sholat hari raya maka zakat itu sebagai sedekah biasa”(HR Abu Dawud dan Ibn Majah) 4. Waktu makruh, yaitu membayar fitrah sesudah hari raya tetapi sebelum terbenam matahari pada hari raya 5. Waktu haram, yaitu dibayar sesudah terbenam matahari pada hari raya 2. Zakat Mal (harta) Zakat Mal yaitu zakat yang harus dikeluarkan sebab seseorang memiliki suatu barang.


44 Adapun harta kekayaan yang wajib dizakatkan adalah : a. Zakat Emas dan Pe Emas dan perak yang dikenakan zakat adalah emas yang berbentuk kepingan atau batangan bukan yang dipakai sebagai perhiasan. Sedangkan emas yang dipakai sebagai perhiasan, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mewajibkan zakat dan ada pula yang tidak mewajibkannya. Gambar 3.2 Emas Islam telah mensyariatkan wajibnya zakat pada emas dan perak. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah : 34 : ِف َّضةَ ْ َه َب َوال َّ زو َن الذ ْكنِ ُ ِذي َن يَ َّ َو ِل ال ِي َها فِي َسب ونَ ُْنِفقُ َوال ي ِليٍم........ ََّّللاِ َ ِعَذَا ٍب أ ه ْم ب ُ فَبَ ِِّش ْر Artinya : ……..Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih” (QS. At-Taubah : 34) Dan dalam QS. At-Taubah : 35 berikutnya berfirman : هْم ه ُ ِجبَا ُ ِ َها ُ ْكَوى ب فَت َ م َّ ِر َج َهن َها فِي نَا ْي ُ ْح َمى َعلَ ي َ يَ ْوم َما ُكْن وا وقُ ُكْم فَذُ ِس ْم ألْنفُ ُ َما َكنَ ْزت ه ْم َهذَا ُ ر ُ هو ُظ ُ َو هْم ُ ُ وب ُ جن َو ْ ُ م ُ ت زو َن تَ ْكنِ ُ Artinya : “pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu".(QS. At-Taubah : 35) Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah yang artinya :


45 “Tidak ada seorangpun yang mempunyai emas dan perak yang dia tidak berikan zakatnya, melainkan pada hari kiamat akan dijadikan hartanya itu beberapa keeping api neraka. Setelah dipanaskan didalam neraka Jahannam, kemudian digosongkan pada lambung, dahinya dan punggungnya, dengan kepingan itu. Setiap kepingan itu dingin, akan dipanaskan kembali. Pada (hitungan) satu hari lamanya 50 ribu tahun, sehingga Allah menyelesaikan urusan dengan hambanya” (H.R. Muslim) Zakat emas dan perak yaitu jika waktunya telah cukup setahun dan telah sampai ukuran emas yang dimilikinya sebanyak 20 misqal yakni 20 dinar setara dengan 85 atau 96 gram. Sedangkan perak adalah 200 dirham atau 672 gram keatas, dan masing-masing zakatnya 2,5%. b. Zakat Pertanian (segala macam hasil bumi) Hasil bumi wajib dikeluarkan zakatnya jika sudah mencapai nishab yaitu 5 wasaq (650 kg). Adapun kadar zakatnya ada dua macam,yaitu: Pertama, jika pengairannya alamiah (oleh hujan atau mata air) maka kadar zakatnya adalah 10%. Kedua, jika pengairannya oleh tenaga manusia atau binatang maka kadar zakatnya adalah 5%. Gambar 3.3 Hasil pertanian Mengenai zakat tumbuh-tumbuhan, Allah SWT telah menetapkannya dalam Qs. AlAn'am ayat 141 : َّ ْخ َل رو َشا ٍت َوالن ُ َر َم ْع رو َشا ٍت َو َغْي ُ َّا ٍت َم ْع َجن َ ْن َشأ َ ِذي أ َّ هَو ال ُ َو ما َن َّ ر و َن َوال ُّ ُ زْيت َوال َّ ُ ه ُ ُكل ُ م ْختَِلفًا أ ز ْر َع ُ َوال َّ ٍه ِ متَ َشاب ُ َر َو َغْي ِ ًها متَ َشاب ُ ُ ه َّ ِن وا إ ْسِرفُ ُ َوال ت َ َح َصاِدِه يَ ْوم ُ ه َّ َحق وا ُ َمَر َوآت ْ ث َ ِذَا أ َمِرِه إ وا ِم ْن ثَ ُ ُكل م ْسِرفِي َن ُ ْ ب ال ُّ ُ ِح ال ي


46 Artinya: "Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun, dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan yang tidak sama (rasanya). Makanlah buahnya (yang bermacam-macam itu) bila berbuah, dan tunaikanlah haknya dari hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkannya zakat); dan jangan lah kamu berlebihan, sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan". (Qs. Al-An'am ayat 141) Dan juga Q.S. Al-Baqoroh: 267 : ما َّ َو ِم ْم ُ ِّبَا ِت َما َك َسْبت ِ وا ِم ْن َطي ْنِفقُ َ وا أ ُ َمن ِذي َن آ َّ َها ال ُّ ي َ ْخ َر يَا أ ْجنَا َ أ ِآ ِخِذي ِه ْم ب ُ ْست و َن َولَ ُْنِفقُ ُ ت ِي َث ِمْنه َخب ْ موا ال ُ م لَ ُكْم ِم َن األ ْر ِض َوال تَيَ َّ ي َحِميدٌ ٌّ َغنِ ََّّللاَ ن َّ َ موا أ ُ َوا ْعلَ ُضوا فِي ِه ُ ْغِم ْن ت َ ِال أ إ Artinya: "Hai orang orang yang beriman, belanjakanlah (zakatkanlah) sebagian yang baik-baik dari harta yang kamu usahakan dan dari apa yang Kami keluarkan untuk kamu dari bumi, Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Q.S.Al-Baqoroh:267) c. Zakat Barang Galian Yang dimaksud barang galian yaitu segala yang dikeluarkan dari bumi yang berharga seperti timah, besi, emas, perak, dll. Adapula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan barang galian ialah segala sesuatu yang dikeluakan (didapatkan) oleh seseorang dari laut atau darat (bumi), selain tumbuh-tumbuhan dan makhluk bernyawa. Zakat Barang Galian Gambar 3.3. Barang galian dikeluarkan setiap mendapatkannya tanpa nisab, kadar zakatnya adalah 2,5 %.


47 Perhatikan Sabda Rasulullah SAW berikut: "Bahwa Rasululloh SAW telah menyerahkan ma'adin (barang Galian) kepada Bilal bin Al-Harts Al-Muzanny, Ma’adin (barang Galian) itu hingga kini tidak diambil darinya, melainkan zakat saja." (H.R. Abu Daud dan Malik) Hadits diatas menunjukkan bahwa barang Galian atau ma'adin itu ada zakatnya dan menyatakan bahwa dari ma'adin itu tidak diambil melainkan zakat saja. Dari kedua keterangan tersebut bisa dipahami bahwa zakat yang diambil dari ma'adin itu adalah zakat emas dan perak, yaitu 2,5%. d. Zakat Rikaz (Harta Temuan/Harta Karun Yang dimaksud Rikaz adalah harta (barang temuan) yang sering dikenal dengan istilah harta karun. Tidak ada nishab dan haul, besar zakatnya 20%. Rasulullah SAW bersabda :“Sesungguhnya Nabi SAW bersabda mengenai harta kanzun (simpanan lama) yang didapatkan seseorang ditempat yang tidak didiami orang: Jika engkau dapatkan harta itu ditempat yang didiami orang, hendaklah engkau beritahukan, dan jika engkau dapatkan harta itu ditempat yang tidak didiami orang, maka disitulah wajib zakat, dan pada harta rikaz, (zakatnya) 1/5". (H.R. Ibnu Majah) Maksud dari hadits diatas adalah barang siapa yang mendapatkan dalam suatu penggalian harta simpanan orang bahari atau menemukannya di suatu desa yang tidak didiami orang, maka ia wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 1/5 atau 20% dari harta yang didapat tersebut. Zakat rikaz dikeluarkan oleh penemunya sekali saja, ketika ia menemukan rikaz tersebut. e. Zakat Binatang Ternak Segala ternak yang dipelihara untuk diperkembang biakkan dan telah sampai nisab diwajibkan membayar zakatnya. Para Ulama sepakat bahwa unta, sapi, kerbau, kambing dan domba wajib dikeluarkan zakatnya. Syarat Zakat hewan ternak : a) Syarat wajib zakat hewan ternak adalah pemiliknya beragama Islam, mencapai nisab dan sudah sempurna satu haul. Adapun saling


48 memindahkan hewan ternaknya dengan cara yang salah maka hal itu tidak menggugurkan haulnya. Dan memindahkan hewan ini dimakruhkan jika bermaksud melarikan diri dari kewajiban berzakat. b) Dalam hewan ternak, disyaratkan kepemilikan selama satu haul, jika kepemilikan hilang sebentar saja sebelum satu haul kemudian kembali lagi maka haulnya terputus dan dimulai haul yang baru. c) Hewan ternak yang diwajibkan adalah hewan yang digembalakan. “Pada unta yang digembalakan pada setiap jumlah yang mencapi 40 ekor unta, zakatnya adalah 1 ekor bintu labun.” (HR Abu Dawud) d) Hewan ternak yang diwajibkan bukan hewan yang dipekerjakan. “Tidak diwajibkan zakat pada sapi yang dipekerjakan.” (HR Thabrani, Abu Dawud, Baihaqi) Adapun ketentuan aturan zakatnya adalah sebagai berikut: 1) Unta Kewajiban zakat unta dijelaskan Nabi dalam haditsnya dari Anas ra. Menurut riwayat Al-Bukhari yang menyampaikan sabda Nabi yang artinya: “Setiap 24 ekor unta atau kurang, Gambar 3.4 Unta maka zakatnya seekor kambing betina. Untuk setiap 5 ekor unta, jika jumlahnya 25 sampai 35 ekor, maka zakatnya satu ekor anak unta betina berumur 1-2 tahun atau satu ekor anak unta jantan berumur 3-4 tahun;jika jumlahnya 36 ekor sampai 45 ekor, zakatnya 46 sampai 60 ekor unta, zakatnya adalah seekor unta betina berumur 3-4 tahun”. (HR Bukhari) Nisab Unta Zakat Jenis Umur 5-9 1 ekor kambing 2 tahun lebih


49 10-14 2 ekor kambing 2 tahun 15-19 3 ekor kambing 2 tahun 20-24 4 ekor kambing 2 tahun 25-35 1 ekor unta betina 1 tahun 36-45 1 ekor unta betina 2 tahun 46-60 1 ekor unta betina 3 tahun 61-75 1 ekor unta betina 4 tahun 76-90 2 ekor unta betina 2 tahun 91-120 2 ekor unta betina 3 tahun 121-129 3 ekor unta betina 2 tahun Setiap 40 ekor, 1 ekor unta betina berumur 2 tahun, Setiap 50 ekor, zakatnya anak unta betina berumur 3 tahun dan apabila memiliki 30 ekor unta, zakatnya 2 ekor anak unta betina berumur 2 tahun dan 1 berumur 3 tahun 4) Sapi / kerbau Gambar 3.5 Kerbau dan sapi Kewajiban zakat sapi/kerbau dijelaskan Nabi dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Mu’adz ra. “Rasulullah Saw mengutusku ke Yaman, lalu beliau memerintahkan aku untuk mengambil zakat berupa seekor tabi’a dari setiap 30 ekor sapi dan musinnah dari setiap 40 ekor sapi.” (HR Malik, Abu Dawud)


50 Nisab sapi/kerbau Nisab sapi/kerbau Zakat Jenis Umur 30 – 39 1 ekor sapi/kerbau betina 1 tahun 40-59 1 ekor sapi/kerbau betina 2 tahun 60-69 2 ekor sapi/kerbau betina 1 tahun 70-79 2 ekor sapi/kerbau betina 1 dan 2 tahun 80-89 2 ekor sapi/kerbau betina 2 tahun 90-99 3 ekor sapi/kerbau betina 1 dan 2 tahun Hitungan selanjutnya untuk setiap 30 ekor sapi/kerbau zakatnya 1 ekor anak sapi/kerbau berumur 1 tahun. Dan setiap 40 ekor sapi/kerbau zakatnya ….anak sapi/kerbau yang telah berusia 2 tahun 5) Kambing/domba Gambar 3.5 Domba dan kambing Nisab zakat unta Nisab kambing/domba Zakat Jenis Umur 40-120 1 ekor kambing/domba betina 2 tahun


Click to View FlipBook Version