The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sarkawisingkil, 2023-09-19 21:43:27

Kurikulum Muatan Lokal Aceh

Fiqih Kelas X
MUTIAWATI, S.Ag

101 a. Salah seorang yang beraqad meninggal dunia b. Pemutusan wakalah oleh orang yang mewakilkan c. Salah seorang dari yang beraqad menjadi gila d. Salah satu pihak yang mewakilahkan sakit e. Belum mencapai usia dewasa 4. Definisi Sulhu yang benar adalah : a. Akad perjanjian untuk menghilangkan dendam b. Akad perjanjian untuk menghilangkan dendam permusuhan, pertikaian atau perbantahan c. Akad perjanjian untuk menghilangkan dendam permusuhan, pertikaian atau persekutuan d. Akad perjanjian untuk menghilangkan dendam permusuhan, persahabatan atau perbantahan e. Akad perjanjian untuk menghilangkan dendam pertemanan, pertikaian atau perbantahan 5. Yang bukan merupakan macam-macam sulhu, adalah : a. Perdamaian antara muslim dengan non muslim b. Perdamaian dalam urusana muamalah c. Perdamaian antara Imam dengan pemberontak d. Perdamaian antara suami istri e. Perdamaian antara Imam dengan Ulama B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan benar! 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Wakalah dan Sulhu 2. Berikan contoh wakalah yang dibolehkan dalam urusan ibadah 3. Jelaskan macam-macam Shulhu 4. Kemukakan contoh Sulhu yang ada dalam kehidupan sehari-hari 5. Mengapa Wakalah dibolehkan hanya dalam bidang muamalah saja.


102 Tanggapan Orang Tua tentang Implementasi Materi ini Sikap Pengetahuan Ketrampilan Paraf Orang Tua BAB DHAMMAN DAN KAFALAH 8


103 PETA KONSEP Mengkritisi Sekitar Kita DHAMMAN DAN KAFALAH KAFALAH Menunjukkan Sikap Peduli Terhadap Sesama DHAMMAN Pengertian dan Hukum Ketentuan Dhamman Hikmah Dhamman dan Kafalah Ketentuan Kafalah Pengertian dan Hukum


104 Sering sekali terjadi kasus-kasus yang membutuhkan penjaminan dan penanggungan dikalangan masyarakat. Misalnya kasus di kalangan perekonomian, perbankkan, penegakan hukum semua membutuhkan adanya jaminan dan kepastian hukum. Dikalangan Perbankkan misalnya beragam kasus kredit macet yang kian menjadi masalah nasional. Kini persoalan kredit macet bukan hanya merupakan masalah perbankan semata. Akan tetapi ikut menghambat perkembangan perekonomian di Tanah Air. Apalagi lembaga perbankan yang selama ini melayani nasabah di penjuru Nusantara juga bertindak selaku pemegang agunan. Khususnya jaminan atas sejumlah dana yang dipinjam masyarakat melalui program penyaluran kredit. Namun, ketika terjadi kredit macet maka Bank yang mempunyai kedudukan sebagai kreditur pemegang hak tanggungan pertama punya hak untuk menjual obyek jaminan Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri Kasus lain tentang penjaminan juga terjadi dalam rangka penegakan hukum. Sering sekali hakim atau polisi mengalami kegagalan menangkap penjahat. Disaat para penjahat dapat ditangkap terkadang mereka dengan mudah lolos atau lari sehingga kejahatan yang harus diungkapkan untuk mendapatkan kepastian hukum menjadi terbengkalai atau tidak dapat dilaksanakan. Untuk mengatasi kasus-kasus seperti diatas, ketika orang-orang membutuhkan interaksi dengan Jaminan, islam memberikan sebuah isyarat hukum agar ada penjaminan atau penangguhan kepada orang lain agar orang yang sedang dalam proses


105 hukum tadi tidak meninggalkan tempat atau lari sehingga sulit dicari atau ditemukan. Apalagi dizaman sekarang ini, sangat sulit bila tidak diberlakukan adanya penjamin dalam banyak mu’amalat, seperti hutang dan lain-lainn A. Dhamman 1. Pengertian Dhamman Memperkaya Khazanah AKTIVITAS SISWA 1 Diskusikan dengan teman-temanmu: 1. Bagaimana Penjaminan yang dilakukan terhadap kredit Macet oleh Perbankkan, apakah sudah sesuai dengan aturan syariat? 2. Carilah contoh-contoh lain tentang penjaminan dan penagguhan yang sering terjadi dalam masyarakat.


106 Dhamman adalah suatu ikrar atau lafadz yang disampaikan berupa perkataan atau perbuatan untuk menjamin pelunasan hutang seseorang. Dengan demikian, kewajiban membayar hutang atau tanggungan itu berpindah dari orang yang berhutang kepada orang yang menjamin pelunasan hutangnya. Contoh : Misalnya, Ahmad mempunyai hutang kepada Fahmi dan ingin memintanya, kemudian Hasan yang dibenarkan bertindak berkata, “utang tersebut berada dalam tanggunganku dan aku yang menanggungnya”. Dengan cara seperti itu, Hasan menjadi damin (penanggung) dan Ahmad berhak meminta piutangnya pada Hasan. Jika Hasan tidak menepati janjinya, Ahmad meminta Fahmi membayar hutang. 2. Dasar Hukum Dhamman hukumnya boleh dan sah dalam arti diperbolehkan oleh syariat Islam, selama tidak menyangkut kewajiban yang berkaitan dengan hak-hak Allah. Firman Allah SWT dalam Qs. Yusuf : 72 نَا َ ُل بَ ِعيٍر َوأ ِ ِه ِح ْم َء ب َم ْن َجا َمِل ِك َوِل ْ صَوا َع ال ُ ُ ْفِقد وا نَ ُ قَال م ٌ ِ ِه َز ِعي ب Artinya : “ Penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya". Ayat yang mulia ini menunjukkan adanya syari’at pemberian jaminan. Dalam ayat ini, jaminan dilakukan dengan badan, karena mereka menjamin dan bertanggung jawab kepada Nabi Ya’qûb dengan badan mereka. Ini syariat orang sebelum kita yang juga menjadi syariat bagi kita selama tidak ada syariat kita yang menyelisihi syari’at orang sebelum kita itu.


107 Sabda Rasulullah saw. : "Penghutang hendaklah mengembalikan pinjamannya dan penjamin hendaklah membayar” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi) Sabda Rasulullah saw. : “Sesungguhnya ada jenazah yang dibawa ke hadapan Nabi Saw. lalu para sahabat berkata:”Ya Rasulullah kami mohon jenazah ini dishalatkan!”, Tanya Nabi: “Adakah harta pusaka yang ditinggalkan?”, Jawab sahabat:”Tidak”, lalu Nabi Tanya lagi:”Apakah ia punya hutang?”, jawab sahabat:”Punya, ada tiga dinar”, kemudian Nabi bersabda:” Shalatkan temanmu itu!”, lantas Abu Qatadah ra. berkata:”Ya Rasulullah, Shalatkanlah ia dan saya yang menjamin hutangnya!”. Kemudian Nabi Saw. menshalatkannya” (HR. Bukhari 6. Syarat dan Rukun Dhamman Adapun rukun Dhamman adalah sebagai berikut: a. Penjamin (Dhammin) Syarat Penjamin : 1) Dewasa (Baligh) 2) Berakal sehat 3) Atas kemauan sendiri (tidak terpaksa) 4) Orang yang diperbolehkan membelanjakan harta 5) Mengetahui jumlah atau kadar hutang yang diambil b. Orang yang dijamin hutangnya (madmun ‘anhu) Syarat orang yang dijamin, yaitu orang yang berdasarkan hukum diperbolehkan untuk membelanjakan harta. c. Penagih yang mendapat jaminan (Madmun Lahu) Syarat orang yang menagih hutang, dia diketahui keberadaannya oleh yang menjamin d. Harta yang dijamin Syaratnya : 1) diketahui jumlahnya 2) diketahui ukurannya 3) diketahui kadarnya 4) diketahui keadaannya


108 5) diketahui waktu jatuh tempo pembayaran d. Lafal / ikrar Syarat Lafaz /ikrar yaitu dapat dimengerti yang menunjukkan adanya jaminan serta pemindahan tanggung jawab dalam memenuhi kewajiban pelunasan hutang dan jaminan ini tidak dibatasi oleh sesuatu, baik waktu atau keadaan tertentu. 7. Hikmah Dhamman Hikmah Dhamman adalah sebagai berikut : a. Terbentuknya sikap tolong menolong dan persaudaraan b. Munculnya rasa aman dari peminjam (penghutang). c. Munculnya rasa lega dan tenang dari pemberi hutang d. Menjamin akan mendapat pahala dari Allah Swt B. Kafalah 1. Pengertian kafalah Kafalah menurut bahasa berarti menanggung. Menurut istilah arti kafalah adalah menanggung atau menjamin seseorang untuk dapat dihadirkan dalam suatu tuntutan hukum di Pengadilan pada saat dan tempat yang ditentukan. 2. Dasar Hukum kafalah Para fuqaha’ bersepakat tentang bedanya kafalah dan masalah ini telah dipraktekkan umat Islam hingga kini. Firman Allah Swt. Dalam Qs. Maryam : 66 : ا و ِن َمْوثِقً ُ ْؤت ُ ى ت َّ ُكْم َحت َمعَ ُ ْر ِسلَه ُ ِ قَا َل ل ال َ ْن أ ِ ِه إ نِي ب َّ ن ُ ت ْ تَأ ََّّللاِ لَ ِم َن ُل َو ِكي ٌل و هْم قَا َل ََّّللاُ َعلَى َما نَقُ ُ ُ َمْوثِقَ ْوه ما آتَ َّ ُكْم فَلَ ِ َحا َط ب ُ ْن ي َ أ Artinya: “Yakub berkata: "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika


109 kamu dikepung musuh". Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Yakub berkata: "Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)". Sabda Rasulullah Saw. : “Penjamin adalah orang yang berkewajiban membayar” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). 3. Syarat dan Rukun Kafalah Rukun kafalah sebagai berikut: a. Kafīl, yaitu orang berkewajiban menanggung b. Aṣīl, yaitu orang yang hutang atau orang yang ditanggung akan kewajibannya c. Makfūl Lahu, yaitu orang yang menghutangkannya d. Makfūl Bihi, yaitu orang atau barang atau pekerjaan yang wajib dipenuhi oleh orang yang ihwalnya ditanggung (makfūl ‘anhu). Adapun Syarat kafalah adalah sebagai berikut: a. Syarat kafīl adalah baligh, berakal, orang yang diperbolehkan menggunakan hartanya secara hukum, tidak dipaksa (rela dengan kafalah). b. Ashīl tidak disyaratkan baligh, berakal, kehadiran dan kerelaannya, tetapi siapa saja dapat ditanggung (dijamin oleh kafīl). c. Makfūl Lahu disyaratkan dikenal oleh kafīl (orang yang menjamin). d. Makfūl Bihi disyaratkan diketahui jenis, jumlah, kadar atau pekerjaan atau segala sesuatu yang menjadi hal yang ditanggung/dijamin. 4. Macam-macam kafalah Kafalah terbagi menjadi dua macam, yaitu : a. Kafalah jiwa dan Kafalah harta. Kafalah jiwa dikenal pula dengan sebutan Dammul wajhi (tanggungan muka), yaitu adanya kewajiban bagi penanggung untuk menghadirkan orang yang ditanggung kepada yang ia janjikan tanggungan (makfūl lahu). Seperti ucapan: ”Aku jamin dapat mendatangkan Ahmad dalam persidangan nanti”. Ketentuan ini boleh selama menyangkut hak manusia, namun bila sudah berkaitan dengan


110 hak-hak Allah tidak sah kafalah, seperti menanggung /mengganti dari had zina, mencuri dan qiṣaṣ. Sabda Rasulullah Saw.: “Tidak ada kafalah dalam masalah had” (HR. Baihaqi). b. Kafalah harta adalah kewajiban yang harus dipenuhi kafil dalam pemenuhan berupa harta. 5. Berakhirnya kafalah Kafalah berakhir apabila kewajiban dari penanggung sudah dilaksanakan dengan baik atau si makfūl lahu membatalkan akad kafalah karena merelakannya. 6. Hikmah kafalah Adapun hikmah yang dapat diambil dari kafalah adalah sebagai berikut: a. Adanya unsur tolong menolong antar sesama manusia. b. Orang yang dijamin (ashīl) terhindar dari perasaan malu dan tercela. c. Makfūl lahu akan terhindar dari unsur penipuan. d. Kafīl akan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Karena telah menolong orang lain. Setelah mempelajari materi Dhamman dan kafalah diharapkan siswa memiliki perilaku : Setelah mempelajari materi Dhamman dan Kafalah diharapkan siswa : 2. Memiliki rasa peduli terhadap sesama manusia 3. Memiliki rasa tanggung jawab 4. Memiliki rasa saling tolong menolong sesama manusia 5. Mampu melaksanakan tugas yang diembankan dengan penuh tanggung jawab 6. Memiliki rasa empati kepada orang yang sedang membutuhkan bantuan 7. Memiliki rasa percaya diri diantara sesama manusia Menerapkan Perilaku Mulia


111 1. Dhamman adalah suatu ikrar atau lafaz yang disampaikan berupa perkataan atau perbuatan untuk menjamin pelunasan hutang seseorang. Jadi kewajiban membayar hutang berpindah dari orang yang berhutang kepada orang yang menjamin pelunasan hutangnya. 2. Rukun Dhamman adalah adanya Dhammin (penjamin), Mamun’alaihi’ (Orang yang dijamin), Madmun lahu (penagih), hutang atau sesuatu yang di jamin dan Sighat atau lafal 3. Kafalah termasuk jenis dhaman (tanggungan), tetapi lebih khusus pada tanggungan badan. Jadi, kafalah adalah orang yang diberbolehkan bertindak atau (berakal sehat) berfungsi menunaikan hak yang wajib ditunaikan orang lain atau berjanji menghadirkan hak tersebut di pengadilan. 4. Syarat dan rukun Kafalah adalah adanya Kaafil (penjamin), Ashiil (yang berhutang), Makful lahu dan Makful bihi (yang ditanggungkan) 5. Macam-macam Kafalah yaitu Kafalah yaitu Kafalah Jiwa dan Kafalah Harta. A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e yang dianggap sebagai jawaban yang paling benar 1. Menanggung hutang seseorang atau mengembalikan barang atau menghadirkan seseorang ke tempat yang ditentukan disebut : a. Ariyah b. Jual Beli c. Hiwalah d. Aqad Qiradl e. Dhoman Rangkuman Evaluasi


112 2. Di bawah ini adalah syarat Dhammin (orang yang menjamin)kecuali : a. Sehat b. Mengetahui adanya jaminan c. Baligh d. Berakal e. Atas kehendak sendiri 3. Orang yang mempunyai kewajiban menanggung disebut : a. Kafil b. Makful Alaihi c. Makful Lahu d. Makful Bihi e. Ashil 4. Dalam Kafalah orang yang berhutang atau orang yang ditanggung disebut : a. Makful Bihi b. Ashil c. Kafil d. Makful Alaihi e. Makful Lahu 5. Di bawah ini yang merupakan macam-macam dari Kafalah adalah : a. Kafalah jiwa dan raga b. Kafalah lahir dan bathin c. Kafalah Harta dan kedudukan d. Kafalah Harta dan benda e. Kafalah jiwa dan harta B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan benar! 1. Jelaskan apa yang dimaksud Dhamman dan Kafalah 2. Berikan contoh Dhamman Kafalah 3. Jelaskan perbedaan Dhamman dan Kafalah


113 4. Jelaskan Kapan Kafalah dikatakan berakhir 5. Jelaskan 3 bentuk pelaksanaan Kafalah Tanggapan Orang Tua tentang Implementasi Materi ini Sikap Pengetahuan Ketrampilan Paraf Orang Tua


114 Daftar Putaka DR. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc, Zakat Dalam Perekonomian Modern, Gema Insani, Jakarta, 2002 DR. Musthafa Dib Al-Bugha, Fikih Islam Lengkap, Penjelasan hukum Islam Mazhab Syafi’I, Media Zikir,Solo, 2017 Drs. Moh. Nafi’ CH, M.M, Haji dan Umrah Sebuah Cerminan Hidup, Emir, Penerbit Erlangga, 2002 Ghazaly. Abdul Rahman, dkk. Fiqh Muamalat. Jakarta: Kencana Predana Media Group, 2010 H. Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Sinar Baru Algensindo, 2016 Hasan Ayub, Fiqih Ibadah, Panduan Lengkap beribadah sesuai Sunnah Rasulullah, Cakra Lintas Media, Jakarta 2010 Kementerian Agama Islam RI, Fikih kurikulum 2013 MA kelas X. Jakarta: Kementerian Agama, 2014. Kementerian Agama RI, 2011, Al-Quran dan Tafsir, Jakarta, Kementerian Agama RI Kementerian Agama, Al-Quran dan Terjemahan dan Tafsir perkata Bandung, 2010 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA kelas X, 2017


Click to View FlipBook Version