The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini mengangkat tema kelompok tanaman yang berpotensi sebagai alternatif obat tradisional, dengan fokus khusus pada potensi umbi bawang dayak dan gamat pari

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Fakhrunnisa Atila, 2024-03-21 17:32:38

Umbi Ajaib khas Kalimantan (Bawang Dayak dan Gamat Pari)

Buku ini mengangkat tema kelompok tanaman yang berpotensi sebagai alternatif obat tradisional, dengan fokus khusus pada potensi umbi bawang dayak dan gamat pari

Keywords: #bawang dayak #gamat pari

Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta: (1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak ciptaan pencipta atau memberi izin untuk itu, dapat dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) (2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait, dapat dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)


Umbi Ajaib Khas Kalimantan (Bawang Dayak & Gamat Pari) Dr. Noor Hujjatusnaini, M.Pd. Nor Mila, S.Pd. Fakhrunnisa Atila, S.Pd.


BUKU REFERENSI UMBI AJAIB KHAS KALIMANTAN (BAWANG DAYAK & GAMAT PARI) Jumlah Halaman: 116 halaman Ukuran Buku: 15 x 23 Cetakan Pertama, Februari 2024 Penulis: 1. Dr. Noor Hujjatusnaini, M.Pd. 2. Nor Mila, S.Pd. 3. Fakhrunnisa Atila, S.Pd. Editor : Dr. Astuti Muh Amin, M.Pd. Desain Sampul : Tata Letak : Neni Maryani Redaksi: JL. Brigjen Katamso, Batam Instagram : anbooks.publishing WhatsApp : 0819-1294-8420 Wattpad : Anbooks_Publishing Gmail : [email protected] Hak Cipta dilindungi Undang-undang All right reserved Isi di luar tanggung jawab percetakan


UCAPAN TERIMA KASIH Bismillahirrahmanirrahim. Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT., Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan karunia dan hidayah-Nya, sehingga buku referensi berjudul “Umbi Ajaib Khas Kalimantan (Bawang Dayak & Gamat Pari)” ini dapat terselesaikan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa setiap langkah yang kami tempuh hanyalah berkat rahmat-Nya. Penyusunan buku referensi ini merupakan perjalanan panjang yang penuh dedikasi dan kerja keras. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah turut serta dalam menyukseskan pembuatan buku referensi ini. Pertama-tama, kami mengucapkan terima kasih kepada penelaan materi dan penelaah desain yang telah memberikan kontribusi berharga dalam menyempurnakan isi dan tampilan buku referensi ini. Masukan dan saran yang diberikan menjadi pijakan penting bagi peningkatan kualitas karya ini. Selanjutnya, penghargaan yang setinggi-tingginya kami tujukan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan moril dan menjadi bagian integral dalam proses penyelesaian buku referensi ini. Tanpa dukungan dan semangat yang diberikan, pencapaian ini tidak akan terwujud. Buku referensi ini bukan hanya sekadar karya individual, tetapi juga merupakan bagian kontribusi pemikiran bersama dalam satu payung penelitian yang lebih luas. Oleh karena itu, kami ingin mengungkapkan terima kasih atas peran serta dari berbagai pihak-pihak terkait lainnya yang telah membantu dalam keseluruhan proses penelitian ini. Terakhir, semoga buku referensi ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan pemerhati pendidikan secara umum. Dengan demikian, upaya kami dalam penulisan ini tidak hanya menjadi sebuah pencapaian pribadi,


tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas. Sekali lagi, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah turut serta dalam perjalanan ini. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan berkah-Nya kepada kita semua. Penulis


KATA PENGANTAR Indonesia, sebagai negara yang dianugerahi kekayaan alam hayati yang melimpah, menjadi lumbung biodiversitas dengan berbagai spesies tanaman yang belum sepenuhnya terdokumentasi. Tanaman, selain menjadi bagian integral dari lingkungan, juga memiliki manfaat penting sebagai obat tradisional, membawa sejarah panjang penggunaan oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Pada masa lalu, masyarakat tradisional telah menggali kearifan lokal dengan memanfaatkan tanaman sebagai sumber pengobatan. Namun, seiring perkembangan zaman, obat-obatan sintetik menggantikan peran obat tradisional secara signifikan. Meskipun demikian, sebagian masyarakat masih mempertahankan praktik tradisional ini secara turun-temurun. Buku ini mengangkat tema kelompok tanaman yang berpotensi sebagai alternatif obat tradisional, dengan fokus khusus pada potensi kombinasi umbi bawang dayak dan gamat pari. Kedua tanaman ini telah menunjukkan potensinya dalam mengatasi penyakit kolesterol, hasil dari penelitian laboratorium in vivo oleh Kusuma, et al., (2016), dan pendalaman lebih lanjut oleh Munawarah (2018). Penelitian lebih lanjut yang akan dilakukan secara in vivo diharapkan dapat memberikan bukti spesifik terkait efektivitas formulasi ini pada hewan coba. Informasi dari kajian potensi kombinasi ini diharapkan menjadi acuan dan referensi bagi penggunaan tanaman sebagai obat, khususnya dalam menangani penurunan kadar kolesterol dan gula darah. Kesadaran penulis akan keterbatasan buku ini dalam merangkum semua manfaat yang terkandung dalam bawang dayak dan gamat pari diakui. Oleh karena itu, kritik, saran, dan kontribusi pendapat dari semua pihak sangat diharapkan untuk


menyempurnakan buku ini. Akhir kata, besar harapan penulis bahwa kehadiran buku ini tetap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, mahasiswa, maupun peneliti selanjutnya dalam upaya penggalian manfaat yang terkandung dalam umbi bawang dayak dan gamat pari. Palangka Raya, Februari 2024 Penulis


DAFTAR ISI UCAPAN TERIMA KASIH................................................... 5 KATA PENGANTAR............................................................. 7 DAFTAR ISI........................................................................... 9 DAFTAR GAMBAR .............................................................11 DAFTAR TABEL................................................................. 13 PENDAHULUAN ................................................................ 14 SEJARAH BAWANG DAYAK & GAMAT PARI............... 18 A. Bawang Dayak (Eleutherine americana L. Merr)..... 18 B. Gamat Pari/Tawas Ut (Ampelocissus rubiginosa L.)..... .................................................................................... 20 MENGENAL POTENSI BAWANG DAYAK...................... 22 A. Distribusi Geografis Persebaran Bawang Dayak ..... 22 B. Taksonomi Bawang Dayak ........................................ 23 C. Morfologi Bawang Dayak.......................................... 24 D. Bawang Dayak sebagai Obat Tradisional ................. 26 E. Manfaat Bawang Dayak sebagai Sumber Terapi Alternatif.......................................................................... 27 F. Teknik Sediaan Bawang Dayak untuk Terapi Kesehatan......................................................................... 27 G. Kajian Ilmiah Potensi Bawang Dayak ...................... 36 MENGENAL POTENSI GAMAT PARI............................. 47 A. Distribusi Geografis Persebaran Gamat Pari ........... 47 B. Taksonomi Gamat Pari .............................................. 47 C. Morfologi Gamat Pari................................................ 48 D. Gamat Pari Sebagai Obat Tradisional ...................... 51 E. Manfaat Gamat Pari sebagai Sumber Terapi Alternatif 52


F. Teknik Sediaan Gamat Pari untuk Terapi Kesehatan.. .................................................................................... 53 G. Kajian Ilmiah Potensi Gamat Pari ............................ 64 KOMBINASI BAWANG DAYAK & GAMAT PARI SEBAGAI BAHAN TERAPI SINDROM METABOLIT BERDASARKAN HASIL RISET ....................................... 71 A. Kadar Kolesterol pada Penderita Hyperlipidemia ... 71 B. Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes............ 88 C. Alternatif Sediaan Inovatif Kombinasi Umbi Bawang Dayak dan Gamat Pari.................................................. 103 GLOSARIUM .................................................................... 106 DAFTAR PUSTAKA.......................................................... 108 BIOGRAFI PENULIS ........................................................113


DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Umbi Bawang Dayak .......................................... 24 Gambar 2. Daun Bawang Dayak........................................... 24 Gambar 3. Akar Bawang Dayak............................................ 25 Gambar 4. Bunga Bawang Dayak ......................................... 25 Gambar 5. Simplisia Kering Umbi Bawang Dayak ............... 28 Gambar 6. Simplisia Serbuk Umbi Bawang Dayak ............... 29 Gambar 7. Air Rebusan Umbi Bawang Dayak ...................... 31 Gambar 8. Kapsul Umbi Bawang Dayak............................... 33 Gambar 9. Ekstrak Ethanol Bawang Dayak........................... 35 Gambar 10. Senyawa Flavonoid dalam Umbi Bawang Dayak41 Gambar 11. (a) Uji Meyer, (b) Uji Dragendrof, (c) Uji Bouchardat............................................................................. 42 Gambar 12. Uji Senyawa Tanin/Fenol................................... 43 Gambar 13. Uji Senyawa Steroid/Triterpeoid........................ 44 Gambar 14. Uji Senyawa Saponin......................................... 46 Gambar 15. Akar/Umbi Gamat Pari ...................................... 49 Gambar 16. Simplisia Kering Gamat Pari ............................. 55 Gambar 17. Simplisia Serbuk Gamat Pari ............................. 56 Gambar 18. Air Rebusan Gamat Pari .................................... 58 Gambar 19. Kapsul Gamat Pari............................................. 60 Gambar 20. Ekstrak Gamat Pari............................................ 62 Gambar 21. Uji Senyawa Flavonoid dalam Gamat Pari......... 66 Gambar 22. (a) Uji Meyer, (b) Uji Dragendrof, (c) Uji Bouchardat............................................................................. 67 Gambar 23. Uji Senyawa Tanin dalam Gamat Pari................ 68 Gambar 24. (a) Uji Steroid, (b) Uji Triterpenoid ................... 69


Gambar 25. Hasil Uji Senyawa Saponin ............................... 70 Gambar 26. Perbandingan Rerata Penurunan Kadar Kolesterol Sebelum dan Sesudah Pemberian Treatment Kombinasi Ekstrak Umbi Bawang Dayak dan Gamat Pari .................................... 84 Gambar 27. Perbandingan Rerata Penurunna Kadar Gula Darah Mencit Sebelum dan Sesudah Pemberian Treatment Kombinasi Ekstrak Umbi Bawang Dayak dan Gamat Pari ..................... 100 Gambar 28. Sediaan Inovatif Umbi Bawang Dayak & Gamat Pari ...................................................................................... 103


DAFTAR TABEL Tabel 1. Hasil Uji Fitokimia Senyawa Aktif Umbi Bawang Dayak .............................................................................................. 40 Tabel 2. Hasil Uji Fitokimia Senyawa Aktif Gamat Pari......... 65


14 PENDAHULUAN INDONESIA dengan kekayaan alamnya yang luar biasa, menyimpan rahasia keberagaman hayati yang memukau. Dalam perbendaharaan alam yang melimpah, terdapat berbagai tanaman dan biota laut yang memiliki potensi luar biasa dalam mendukung kesehatan manusia. Salah satu kekayaan yang menonjol adalah umbi bawang dayak dan gamat pari, dua elemen yang tidak hanya memperkaya biodiversitas Indonesia tetapi juga menjadi objek penelitian mendalam dalam dunia ilmu kesehatan. Buku referensi ini mengajak pembaca untuk menjelajahi potensi luar biasa dari senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam umbi bawang dayak dan gamat pari. Melalui kajian teoritis yang mendalam dan analisis eksperimental laboratorium secara in vivo, buku ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai potensi kombinasi unik dari kedua bahan alam ini dalam menurunkan kadar penyakit yang terkait dengan sindrom metabolik. Sindrom metabolik yang sering kali melibatkan peningkatan kadar kolesterol dan gula darah (diabetes), merupakan tantangan kesehatan global yang memerlukan pendekatan holistik. Oleh karena itu, tujuan akhir dari tulisan ini adalah merinci dan menyajikan gambaran lengkap tentang potensi kombinasi umbi bawang dayak dan gamat pari sebagai bahan terapi yang dapat efektif menurunkan kadar kolesterol dan gula darah. Dengan pengetahuan dan pemahaman yang didapat dari buku ini, diharapkan pembaca dapat melihat keajaiban alam Indonesia dalam menghadapi tantangan kesehatan modern. Semoga buku ini menjadi sumber inspirasi bagi peneliti, praktisi kesehatan, dan masyarakat umum untuk lebih memahami dan memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia guna meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan kita semua. Kolesterol sebagai salah satu penyakit degeneratif, menjadi sorotan utama dalam dunia kesehatan. Keadaan ini termanifes-


15 tasikan ketika tubuh mengalami peningkatan kadar kolesterol secara berlebihan, melampaui batas normal yang telah ditentukan. Peningkatan kadar kolesterol total darah pada tubuh dewasa, yang seharusnya berkisar di bawah 150 mg/dL, menjadi sebuah indikator yang signifikan. Jika kadar kolesterol total darah melewati batas ini, seseorang dapat dikategorikan menderita kondisi yang dikenal sebagai hyperlipidemia. Kondisi hyperlipidemia ini memiliki implikasi serius terhadap kesehatan, karena dapat menjadi pemicu berbagai penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai kolesterol, penyebab peningkatannya, serta upaya pencegahan dan pengelolaannya sangatlah penting. Buku referensi ini hadir sebagai sumber informasi yang komprehensif dan terpercaya untuk membantu membuka wawasan dan memberikan pemahaman yang lebih baik terkait dengan isu kesehatan ini. Dalam bab-bab selanjutnya, buku ini akan membahas secara rinci tentang kolesterol, hyperlipidemia, serta strategi pencegahan dan pengelolaannya. Informasi yang disajikan diharapkan dapat memberikan pemahaman yang holistik, sehingga pembaca dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan kardiovaskular mereka. Selain masalah kolesterol, diabetes juga merupakan salah satu bentuk kelainan degeneratif yang signifikan. Diabetes adalah penyakit kronis yang muncul ketika tubuh tidak dapat memproduksi insulin dengan cukup efektif, menghasilkan kondisi metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia kronis, serta disertai dengan kelainan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak (Lolok et al., 2019). Penyakit ini menjadi perhatian serius karena dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan, serta potensi komplikasi yang dapat mempengaruhi berbagai sistem tubuh. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai diabetes menjadi kunci untuk pencegahan, pengelolaan, dan penanganan yang efektif. Dengan melibatkan berbagai aspek metabolisme, diabetes menggambarkan kompleksitas tubuh manusia dan menuntut pendekatan holistik dalam penanganannya.


16 Penyakit kolesterol dan diabetes merupakan dua kondisi kesehatan dengan tingkat risiko kematian yang cukup tinggi. Meskipun upaya untuk mengatasi risiko akibat kadar kolesterol berlebih dapat dilakukan dengan menggunakan antibiotik, perlu diingat bahwa penggunaan antibiotik dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek samping yang serius, bergantung pada jenis, dosis, dan durasi penggunaannya. Menghadapi tantangan ini, pendekatan "back to nature" muncul sebagai alternatif yang menjanjikan dalam penyediaan pengobatan. Konsep ini menekankan pemikiran untuk kembali menggali manfaat dari alam sebagai sumber terapi, dengan dampak risiko medis yang minim, biaya yang lebih terjangkau, dan ketersediaan yang relatif mudah. Dengan mengembangkan pendekatan ini, diharapkan dapat diciptakan solusi pengobatan yang lebih holistik dan ramah lingkungan. Melibatkan aspek-aspek alami dari lingkungan sekitar, pendekatan "back to nature" membuka peluang baru untuk mengurangi risiko efek samping yang serius, sekaligus mendukung kesehatan secara menyeluruh. Penggunaan bahan alam lokal di suatu daerah, yang secara turuntemurun diwariskan, merupakan bagian tak terpisahkan dari keberlanjutan budaya. Kearifan lokal suatu bangsa dapat tercermin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bidang kesehatan (Syafrizal & Calam et al., 2019). Dalam konteks ini, tulisan ini membahas eksplorasi metode dan potensi kombinasi umbi bawang dayak serta gamat pari sebagai bahan terapi sindrom metabolik. Pentingnya memahami dan menggali potensi kedua bahan alam tersebut menjadi sorotan utama dalam penelitian ini. Adat lokal yang mengaitkan umbi bawang dayak dan gamat pari dengan nilai-nilai terapeutik menjadi landasan bagi eksplorasi lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konsentrasi kombinasi umbi bawang dayak dan gamat pari yang efektif dalam menurunkan kadar penyakit yang terkait dengan sindrom metabolik melalui pendekatan laboratoris. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat tercipta pemahaman yang lebih mendalam mengenai manfaat dan potensi penggunaan bahan alam lokal dalam merespon


17 tantangan kesehatan modern. Selain itu, eksplorasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada upaya pelestarian budaya dan memperkuat hubungan antara tradisi lokal dan penelitian ilmiah.


18 SEJARAH BAWANG DAYAK & GAMAT PARI A. Bawang Dayak (Eleutherine americana L. Merr) PADA lintasan sejarah perkembangannya, bawang dayak telah dikenal dengan berbagai nama lokal, antara lain dikenal sebagai bawang sabrang, bawang mekah, bawang hutan, bawang kambe, atau bawang berlian. Tanaman ini memiliki akar dalam keberadaan Pulau Kalimantan, menjadikannya tanaman asli dari pulau tersebut. Oleh karena itu, masyarakat di luar Kalimantan menyebutnya dengan sebutan "bawang berlian atau bawang sabrang" karena untuk memperolehnya, mereka harus 'nyabrang' atau menyeberang ke Pulau Kalimantan. Di sisi lain, masyarakat suku Dayak, yang mendapatkan bawang dayak dari hutan, lebih cenderung menyebutnya "bawang hutan atau bawang kambe." Keberadaan tanaman ini di alam liar menjadi sebagian dari gaya hidup dan tradisi masyarakat suku Dayak. Selain itu, karena bawang dayak memiliki manfaat kesehatan yang signifikan, masyarakat Melayu sering menyebutnya dengan sebutan "bawang mekah." Melalui beragam nama lokal ini, tercermin kekayaan budaya Indonesia dan cara berinteraksi manusia dengan lingkungannya. Nama-nama tersebut bukan hanya mencerminkan variasi linguistik, tetapi juga mencirikan bagaimana masyarakat setempat memberikan makna dan nilai kepada tanaman yang bermanfaat ini. Bawang dayak (Eleutherine americana L. Merr) terbukti memiliki potensi besar sebagai bahan baku obat, mengandung sejumlah senyawa aktif seperti alkaloid, glikosida, flavonoid, fenolik, dan steroid. Senyawa-senyawa ini telah dikenal lama sebagai unsur penting dalam pembuatan obat. Masyarakat lokal di Pulau Kalimantan telah lama memanfaatkan bawang dayak sebagai obat untuk penyakit kanker, baik dengan cara mengeringkan


19 umbinya atau mengunyah umbi segar. Kelebihan bawang dayak tidak hanya terletak pada kandungan senyawa aktifnya, tetapi juga dalam aspek budidaya. Tanaman ini dapat ditanam dengan mudah, tidak tergantung pada musim, dan memiliki waktu panen yang relatif singkat, yaitu sekitar 2-3 bulan setelah proses tanam. Meskipun memiliki bentuk yang mirip dengan bawang merah, umbi bawang dayak memiliki warna yang lebih merah dan rasa yang lebih pahit. Dengan kombinasi kandungan senyawa yang bermanfaat dan kemudahan budidayanya, bawang dayak menjadi pilihan yang menarik dalam pengembangan obat-obatan alami. Penelitian dan eksplorasi lebih lanjut terhadap tanaman ini dapat membuka potensi baru dalam pengobatan penyakit serta mendukung upaya pelestarian tumbuhan obat tradisional. Suku Dayak, sebagai penduduk asli Pulau Kalimantan, telah mendiami seluruh daratan Kalimantan sejak zaman dahulu. Sebelum kemajuan dunia pengobatan dan pengetahuan medis seperti yang kita kenal saat ini, suku Dayak mengandalkan kearifan lokal mereka dan memanfaatkan sumber daya alam, terutama tanaman yang tumbuh di hutan, sebagai solusi pengobatan. Salah satu tanaman yang menjadi bagian penting dalam sistem pengobatan tradisional suku Dayak adalah bawang dayak (Eleutherine americana L. Merr), khususnya dalam pengobatan penyakit kanker. Bawang dayak telah menjadi bagian integral dari warisan budaya dan pengobatan suku Dayak di Kalimantan. Sebelum munculnya konsep modern dokter dan obat-obatan, masyarakat Dayak telah meresapi manfaat kesehatan dari bawang dayak, khususnya dalam bentuk umbi segar. Penggunaan tanaman ini mencerminkan kearifan lokal mereka dalam mengatasi penyakit secara alami, memanfaatkan kekayaan alam setempat sebagai sumber pengobatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Masyarakat asli Kalimantan telah lama menyadari kegunaan dan manfaat yang terkandung dalam bawang dayak. Awalnya, mereka menemukan penggunaan yang inovatif dengan menggunakan air seduhan dari bawang dayak untuk mengawetkan telur. Proses ini memungkinkan telur tetap awet hingga tiga bulan lamanya. Selain


20 sebagai bahan pengawet, warna merah alami yang terdapat dalam bawang dayak ternyata juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami untuk makanan. Inisiatif ini mencerminkan kreativitas dan pengetahuan mendalam masyarakat lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam setempat untuk keperluan sehari-hari. Penggunaan bawang dayak tidak hanya terbatas pada kegunaan medis, tetapi juga melibatkan pemanfaatan dalam aspek lain, seperti pengawetan makanan dan pewarna alami, memberikan nilai tambah ekonomis dan fungsional dari tanaman ini. Dengan demikian, bawang dayak menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dan budaya masyarakat Kalimantan. B. Gamat Pari/Tawas Ut (Ampelocissus rubiginosa L.) Selain bawang dayak, Kalimantan Tengah juga kaya akan tanaman obat, salah satunya adalah gamat pari (Ampelocissus rubiginosa L.), sebuah tumbuhan perdu dari famili Vitaceae yang memiliki asal-usul di Kalimantan Tengah. Tanaman ini, yang dikenal sebagai tawas ut oleh masyarakat Dayak, memiliki sejarah panjang digunakan sebagai obat tradisional. Secara empiris, umbi gamat pari dipercaya memiliki beragam manfaat, khususnya dalam hal pengobatan luka, baik luka luar maupun luka dalam pasca melahirkan atau operasi. Masyarakat Dayak telah mengembangkan cara pengolahan umbi gamat pari dengan merebusnya dalam air mendidih. Rebusan tersebut kemudian diberikan kepada ibu pasca melahirkan hingga mereka merasa pulih. Inisiatif masyarakat Dayak dalam memanfaatkan gamat pari sebagai obat tradisional mencerminkan pengetahuan mendalam mereka terhadap kekayaan tanaman setempat. Pemanfaatan tanaman ini sebagai obat tradisional tidak hanya menciptakan keberlanjutan budaya, tetapi juga menyediakan alternatif pengobatan alami yang telah terbukti secara empiris efektif dalam mengatasi berbagai kondisi kesehatan. Selain itu, masyarakat Dayak tidak hanya menggunakan bawang dayak dan gamat pari sebagai pengobatan luka, tetapi juga sebagai sarana untuk mengatasi berbagai penyakit lainnya. Pendekatan ini


21 muncul karena tingginya tingkat keakraban dan kepercayaan masyarakat Dayak terhadap sumber daya alam sekitar yang memiliki sifat penyembuhan. Kondisi ini mencerminkan semangat semboyan "back to nature" yang telah menjadi prinsip panduan masyarakat Dayak sejak zaman dahulu. Kekuatan penyembuhan yang terkandung dalam bawang dayak dan gamat pari menjadi alternatif utama ketika masyarakat Dayak berhadapan dengan berbagai masalah kesehatan. Kepercayaan mereka pada kearifan alam lokal sebagai sumber obat telah membentuk pola pikir dan kebiasaan dalam mengatasi penyakit secara tradisional. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Dayak telah lama menerapkan konsep "back to nature" sebagai bagian integral dari gaya hidup dan sistem pengobatan mereka.


22 MENGENAL POTENSI BAWANG DAYAK A. Distribusi Geografis Persebaran Bawang Dayak BAWANG dayak sebagai tanaman langka dan endemik, hanya dapat ditemukan di Borneo (Kalimantan) dengan populasi yang terbatas, namun memiliki beragam manfaat yang signifikan. Meskipun jumlahnya tidak banyak, keberadaan bawang dayak memiliki potensi besar dan dapat dianggap sebagai sumber daya yang berharga. Oleh karena itu, penanaman dan pengembangan bawang dayak secara potensial sangatlah mungkin dan penting. Sebaran bawang dayak tersebar merata di dataran Kalimantan, meliputi wilayah pedalaman hingga perbatasan menuju ke kota. Keberagaman lokasi penyebarannya menunjukkan adaptabilitas bawang dayak terhadap berbagai kondisi lingkungan. Dengan pola sebaran yang meluas, bawang dayak dapat diakses oleh masyarakat baik di daerah pedalaman maupun di daerah perkotaan, memperkuat potensinya sebagai sumber daya lokal yang bernilai. Dengan memperhitungkan pentingnya bawang dayak dan keragaman distribusinya, langkah-langkah untuk budidaya dan pelestarian tanaman ini menjadi semakin relevan dan mendesak. Hal ini tidak hanya akan menjaga keberlanjutan sumber daya alam, tetapi juga akan memastikan ketersediaan bawang dayak sebagai bahan berharga yang mendukung kesejahteraan masyarakat lokal. Bawang dayak akan mengalami pertumbuhan yang subur terutama di daerah berpasir. Hal ini disebabkan oleh preferensi tanaman ini terhadap kondisi tanah yang bersifat pasir, karena perbanyakan umbi bawang dayak di tanah yang bersifat liat dapat menghambat pertumbuhan dan pembesaran umbi, sehingga pertumbuhan tanaman tidak mencapai tingkat maksimal. Tanah liat cenderung membatasi pergerakan dan pertumbuhan umbi bawang


23 dayak, yang dapat mengakibatkan pertumbuhan yang tidak optimal dan lambat. Oleh karena itu, tanah berpasir dianggap lebih mendukung pertumbuhan bawang dayak karena memungkinkan perbanyakan umbi yang lebih efisien. Sebaliknya, tanah yang memiliki kadar air tinggi dan sifat liat dapat menyebabkan pembusukan pada umbi bawang dayak. Kondisi tanah yang tidak mampu mengalirkan air dengan baik dapat menciptakan lingkungan yang terlalu lembab, menjadi pemicu utama proses pembusukan pada umbi bawang dayak. Oleh karena itu, pemilihan lokasi tanam dengan tanah berpasir dan kemampuan drainase yang baik menjadi faktor penting dalam budidaya bawang dayak yang sehat dan produktif. B. Taksonomi Bawang Dayak Bawang dayak atau yang dikenal dengan bawang sabrang memiliki nama latin Eleutherine americana L. Merr. Bawang dayak memiliki beberapa nama daerah antara lain bawang sabrang, bawang tiwei, bawang kapal, bawang siyem, teki tabrang, dan luluwan sapi. Tanaman ini membutuhkan panas matahari secara langsung dan berkembang biak dengan umbi. Berikut merupakan klasifikasi taksonomi dari bawang dayak. Kingdom : Plantae (tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (berumbi) Superdivisi : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (berbunga) Kelas : Liliopsida (berkeping satu atau monokotil) Subkelas : Liliidae Ordo : Liliales Famili : Iridaceae Genus : Eleutherine Spesies : Eleutherine americana L. Merr (Harlita et al., 2018)


24 C. Morfologi Bawang Dayak 1. Umbi Gambar 1. Umbi Bawang Dayak (Sumber: Harlita et al., 2018) Umbi bawang dayak, atau dikenal sebagai bawang sabrang, memiliki bentuk yang serupa dengan umbi bawang merah. Struktur umbi bawang dayak terdiri dari lapisan-lapisan yang berbeda ketebalannya, meskipun setiap lapisannya memiliki karakteristik ketebalan yang berbeda dengan bawang merah yang biasanya memiliki lapisan bulbus yang lebih lembut. Salah satu ciri khas utama dari umbi bawang dayak adalah ketiadaan bau yang menyengat, dan umbi ini tidak mengeluarkan zat yang dapat menyebabkan mata terasa perih, seperti yang sering kali terjadi pada bawang merah. 2. Daun Gambar 2. Daun Bawang Dayak (Sumber: Harlita et al., 2018) Bawang dayak merupakan salah satu varietas anggrek tanah, ditandai dengan pertumbuhan daun yang menjulang sejajar dari pangkal umbinya. Daun bawang dayak menampilkan ciri khasnya yang mirip dengan daun ilalang, dengan garis-garis searah yang


25 menghiasi strukturnya. Daun ini bersifat tunggal, terletak berhadapan satu sama lain, dan memiliki warna hijau muda yang menyerupai palem. Secara morfologi, daun bawang dayak memiliki bentuk pita dengan panjang sekitar 15-20 cm dan lebar 3-5 cm, memberikan tampilan yang khas dan memikat. 3. Akar Gambar 3. Akar Bawang Dayak (Sumber: Harlita et al., 2018) Tanaman bawang dayak diketahui memiliki sistem akar serabut yang kuat. Ketika ditanam dalam wadah pot berdiameter 5 cm, dalam waktu 45 hari, seluruh pot akan terisi oleh akar serabut yang tumbuh dengan pola melingkar. Fenomena ini menunjukkan kemampuan pertumbuhan dan pengembangan akar pada bawang dayak, yang mampu secara efisien mengambil nutrisi dan air dari media tumbuhnya. 4. Bunga Gambar 4. Bunga Bawang Dayak (Sumber: Harlita et al., 2018) Bunga pada tanaman bawang dayak memiliki penampilan yang menyerupai bunga anggrek tanah dengan warna dominan putih. Bunganya memiliki ciri khas berwarna putih, ukuran mungil, dan


26 terdiri dari enam kelopak yang indah. Karakteristik ini menambah pesona estetika dari tanaman bawang dayak, memberikan sentuhan keindahan pada fase berbunga dari siklus pertumbuhannya. D. Bawang Dayak sebagai Obat Tradisional Penggunaan obat tradisional kini semakin menjadi pilihan utama dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan. Hal ini disebabkan oleh persepsi bahwa obat tradisional dianggap lebih aman dibandingkan dengan obat sintetis. Selain itu, aspek ekonomis seperti harga yang lebih terjangkau turut menjadi pertimbangan, dan risiko efek samping juga dianggap lebih rendah dibandingkan dengan obat-obatan sintetis. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan obat tradisional tidak serta-merta bebas dari risiko efek samping. Jika tidak digunakan dengan tepat, obat tradisional dapat memberikan manfaat yang kurang optimal bahkan dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional di Kalimantan Tengah adalah bawang dayak (Eleutherine americana L. Merr) seperti yang telah dilaporkan dalam penelitian oleh Prayitno et al. pada tahun 2018. Tanaman ini memiliki potensi sebagai sumber pengobatan alami, namun perlu diingat bahwa penggunaannya perlu mematuhi aturan dan dosis yang tepat agar memberikan hasil yang optimal dan aman. Salah satu manfaat bawang dayak (Eleutherine americana L. Merr) yang telah diakui secara tradisional adalah sebagai obat anti kolesterol. Hampir seluruh bagian tanaman ini mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, termasuk alkaloid, glikosida, flavonoid, fenolik, dan steroid. Khususnya, bagian umbinya telah dikenal untuk memiliki sifat pengobatan yang luas, digunakan dalam penanganan berbagai kondisi kesehatan seperti disuria, radang usus, disentri, penyakit kuning, luka, bisul, diabetes melitus, hipertensi, penurunan kadar kolesterol, dan bahkan dalam upaya pencegahan kanker payudara (Prayitno et al., 2018).


27 E. Manfaat Bawang Dayak sebagai Sumber Terapi Alternatif Perkembangan pemakaian obat tradisional semakin berkembang pesat, hal ini didukung oleh kecenderungan manusia dalam melakukan pengobatan secara alami atau kembali ke alam (back to nature). Salah satu tanaman obat yang berasal dari Kalimantan adalah bawang dayak yang dijadikan sebagai sumber terapi alternatif pengobatan berbagai penyakit. Tanaman ini mempunyai bentuk dan jenis yang beragam serta sudah secara turun temurun digunakan masyarakat suku Dayak sebagai obat berbagai jenis penyembuhan penyakit (Arwati et al., 2018). Penemuan manfaat bawang dayak sebagai sumber terapi alternatif ini berawal dari kebiasaan masyarakat suku Dayak yang menggunakan bawang dayak sebagai obat berbagai macam penyakit yang kemudian dilakukan penelitian oleh berbagai kalangan, sehingga ditemukan banyak sekali manfaat bawang dayak sebagai pengobatan alternatif (Dengen et al., 2018). Potensi bawang dayak sebagai tanaman obat multifungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan informasi mengenai bawang dayak. Ramuan bawang dayak sudah lama dimanfaatkan masyarakat Dayak sebagai obat alternatif untuk berbagai macam penyakit, tetapi untuk informasi kepada masyarakat mengenai cara cara pengolahan dan manfaat dari ramuan bawang dayak masih minim. Adapun beberapa manfaat yang dimiliki dalam kandungan senyawa dari bawang dayak untuk sumber terapi atau pengobatan alternatif di antaranya mengobati ambien, nephrolithiasis, diabetes mellitus, hipertensi, hepatitis, tuberkulosis, sinusitis, asam urat, kolesterol, dan rematik (Widians et al., 2020). F. Teknik Sediaan Bawang Dayak untuk Terapi Kesehatan Bawang dayak yang telah cukup umur siap dimanfaatkan sebagai jamu atau obat bagi kesembuhan berbagai penyakit. Berikut


28 beberapa penjelasan terkait teknik sediaan dan cara meramu umbi bawang dayak sebagai bahan terapi pengobatan. 1. Simplisia Kering Umbi Bawang Dayak Gambar 5. Simplisia Kering Umbi Bawang Dayak (Sumber: Budiman et al., 2018) Agar umbi bawang dayak dapat dimanfaatkan dengan baik biasanya dibuat dalam bentuk simplisia (umbi kering). Berikut cara pembuatan simplisia umbi bawang dayak. 1. Pemilihan Bahan Baku a. Memilih umbi bawang dayak yang sudah cukup matang dan sehat, dan memastikan tidak ada kerusakan atau tanda-tanda busuk pada umbinya. b. Mencabut umbi bawang dayak dengan hati-hati agar tidak rusak. 2. Pembersihan dan Persiapan a. Membersihkan umbi bawang dayak dengan hati-hati untuk menghilangkan tanah dan kotoran lainnya. b. Meniriskan umbi yang telah dicuci agar kandungan airnya berkurang. c. Memotong umbi menjadi bagian yang sesuai untuk penyajian. d. Menjemur umbi di atas kawat kasa atau tikar sambal dibolakbalik untuk memastikan bahwa umbi telah benar-benar kering. e. Melakukan proses penjemuran selama kurang lebih 1-2 hari jika di dalam ruangan f. Meangin-anginkan umbi bawang dayak di atas nampan bambu. 3. Pengolahan


29 Umbi bawang dayak dapat diolah menjadi sediaan jamu atau obat melalui berbagai metode, seperti pengeringan atau penggilingan, sesuai dengan kebutuhan dan jenis sediaan yang diinginkan. 4. Pembuatan Ramuan a. Mengolah umbi bawang dayak dengan berbagai bentuk sediaan, dan diolah sesuai dengan keperluan. b. Beberapa bentuk sediaan dapat menggunakan metode konsumsi yang paling sesuai, apakah melalui pengolahan menjadi ekstrak, serbuk, atau bentuk sediaan lainnya. c. Penting untuk mencari informasi lebih lanjut atau berkonsultasi dengan ahli herbal atau praktisi pengobatan tradisional untuk memastikan bahwa penggunaan bawang dayak sesuai dengan kebutuhan dan tidak menimbulkan dampak negatif pada kesehatan. 2. Simplisia Umbi Bawang Dayak (Rajangan) Gambar 6. Simplisia Serbuk Umbi Bawang Dayak (Sumber: Budiman et al., 2018) Cara lain dalam mengonsumsi bawang dayak sebagai pengobatan adalah dalam bentuk serbuk kering. Kandungan senyawa aktif bawang dayak dalam bentuk serbuk kering menyerupai kandungan senyawa aslinya. Berikut cara pembuatan serbuk kering umbi bawang dayak. 1. Pemilihan Bahan Baku


30 Memilih umbi bawang dayak yang matang dan sehat, serta tidak ada kerusakan atau tanda-tanda busuk, sesuai dengan kualitas yang diinginkan. 2. Pembersihan dan Persiapan a. Membersihkan umbi bawang dayak untuk menghilangkan tanah dan kotoran lainnya. b. Meniriskan umbi yang telah dicuci agar kandungan airnya berkurang. c. Mengiris tipis-tipis umbi dengan ketebalan 3 mm. d. Melakukan proses penjemuran selama kurang lebih 1-2 hari jika di dalam ruangan. e. Mengeringkan menggunakan oven dengan suhu 30℃ hingga kadar air berkurang 10% selama 2-3 hari atau dapat menggunakan cara pengeringan dengan tidak terkena cahaya matahari secara langsung hingga mengering. f. Menggiling irisan bawang kering hingga menjadi serbuk. 3. Pengolahan Pengolahan umbi bawang dayak bisa menjadi sediaan jamu atau obat, sesuai dengan kebutuhan dan jenis sediaan yang diinginkan. 4. Pembuatan Ramuan a. Ramuan umbi bawang dayak dapat digunakan dengan berbagai bentuk sediaan, dan diolah sesuai dengan keperluan. b. Sediaan serbuk dapat dikemas menggunakan kapsul ataupun seduh langsung. c. Informasi lebih lanjut untuk memastikan tata cara dan dosis penggunaan bawang dayak, agar sesuai dengan kebutuhan dan tidak menimbulkan dampak negatif pada kesehatan. 3. Air Rebusan Umbi Bawang Dayak


31 Gambar 7. Air Rebusan Umbi Bawang Dayak (Sumber: Budiman et al., 2018) Simplisia umbi bawang dayak biasanya diramu menjadi ramuan seduhan untuk dijadikan obat. Berikut adalah alternatif cara konsumsi simplisia umbi bawang dayak segar dalam bentuk seduhan langsung. 1. Pemilihan dan Persiapan Bahan Baku a. Memilih bahan baku berkualitas tinggi b. Membersihkan umbi bawang dayak dan memastikan kandungan zat aktif yang optimal. c. Memotong bagian umbi menjadi bagian kecil untuk memudahkan proses infus 2. Pengeringan (opsional) Tahapan ini merupakan proses opsional, pengeringan potongan umbi bawang dayak ini bertujuan untuk membantu mengurangi kadar air dan meningkatkan daya tahan produk. 3. Penyeduhan Memanaskan air hingga mendidih, lalu tambahkan potongan umbi bawang dayak ke dalam air panas. Biarkan mendidih selama beberapa menit untuk mengeluarkan senyawa-senyawa aktif. 4. Penyaringan


32 Setelah proses penyeduhan, saring cairan untuk memisahkan serat dan potongan umbi. Gunakan saringan halus atau kain kasa bersih. 5. Pemberian Rasa (Opsional) Untuk meningkatkan cita rasa atau manfaat lainnya, Anda dapat menambahkan bahan-bahan penambah rasa atau pemanis alami, seperti madu atau jahe. 6. Pendinginan Membiarkan seduhan bawang dayak yang telah disaring agar mencapai suhu yang nyaman untuk dikonsumsi. 7. Pengemasan (Opsional) Jika tidak akan dikonsumsi segera, Anda dapat memasukkan seduhan ke dalam wadah kedap udara dan simpan di tempat yang sejuk atau dalam kulkas. 8. Penyajian Jika langsung dikonsumsi, sajikan seduhan bawang dayak dalam cangkir atau gelas, dan berikan instruksi penyajian yang sesuai. 9. Labelling (Opsional) Jika seduhan bawang dayak akan disimpan untuk digunakan nanti, berikan label pada wadah yang mencakup informasi penting seperti tanggal penyeduhan dan cara penyimpanan. 10. Analisis Kualitas (Opsional) Jika seduhan bawang dayak akan dijual atau digunakan secara teratur, lakukan analisis kualitas secara periodik untuk memastikan keamanan dan konsistensi produk. 4. Kapsul Umbi Bawang Dayak


33 Gambar 8. Kapsul Umbi Bawang Dayak (Sumber: Budiman et al., 2018) Berikut adalah alternatif cara konsumsi simplisia umbi bawang dayak segar dalam bentuk kapsul. 1. Pemilihan dan Persiapan Bahan Baku a. Memilih bahan baku berkualitas tinggi, dalam hal ini, umbi bawang dayak. b. Mempersiapkan bahan dengan membersihkannya dan memastikan kandungan zat aktif yang optimal. 2. Pengeringan Mengeringkan potongan umbi Bawang Dayak dengan menggunakan metode pengeringan yang sesuai. Pastikan umbi benar-benar kering untuk mengurangi kadar air. 3. Penggilingan (Opsional) Proses penggilingan dilakukan jika sediaan umbi bawang dayak yang diinginkan atau yang akan dikapsulasi dalam bentuk serbuk, yaitu dengan menggiling umbi bawang dayak yang telah kering menjadi serbuk halus menggunakan alat penggiling yang bersih dan steril. 4. Pengirisan (Opsional) Proses pengirisan dilakukan jika sediaan umbi bawang dayak yang dikapsulasi yang diinginkan dalam bentuk irisan saja, yaitu dengan cara mengambil 3 siung bawang dayak, menghilangkan


34 kulitnya setebal 1 cm. Selanjutnya memotong umbi menjadi enam bagian (potongan lebih kecil). 5. Pengisian Kapsul (Kapsulasi) a. Jika sediaan dalam bentuk serbuk, maka dilakukan pengisian kapsul dengan campuran serbuk umbi bawang dayak menggunakan mesin pengisian kapsul. Pastikan setiap kapsul terisi secara merata. b. Jika sediaan dalam bentuk irisan, maka langkah selanjutnya memasukkan irisan umbi bawang dayak ke dalam kapsul hingga penuh. Biasanya, hasilnya akan mengisi sekitar 5-6 kapsul, tergantung pada ukuran kapsul yang digunakan. 6. Penutupan Kapsul Menutup kapsul secara hati-hati untuk mencegah kebocoran atau kontaminasi. Gunakan alat penutup kapsul yang bersih dan steril. 7. Pemeriksaan Kualitas Melakukan pemeriksaan kualitas terhadap kapsul yang dihasilkan, termasuk pengecekan keutuhan kapsul, berat kapsul, dan konsistensi kualitas lainnya. 8. Pengemasan Melakukan pengemasan dengan menempatkan kapsul dalam wadah kemasan yang sesuai, hindari paparan langsung sinar matahari, dan pastikan penyegelan yang baik untuk menjaga kualitas produk. 9. Labelling Berikan label pada kemasan yang mencakup informasi penting seperti nama produk, komposisi, dosis, tanggal produksi, dan instruksi penggunaan. 10.Penyimpanan Kapsul dalam kondisi penyimpanan yang sesuai agar tetap terjaga kestabilan dan kebersihan produk. 11.Analisis Kualitas


35 Melakukan analisis kualitas secara periodik untuk memastikan bahwa sediaan kapsul umbi bawang dayak tetap memenuhi standar kualitas yang diinginkan. Dengan mengikuti tahapan ini, sediaan kapsul umbi bawang dayak dapat dihasilkan dengan kualitas terbaik, siap untuk dikonsumsi sebagai suplemen atau obat tradisional. 5. Ekstrak Umbi Bawang Dayak Gambar 9. Ekstrak Ethanol Bawang Dayak Sediaan dalam bentuk ekstrak merupakan metode pengolahan bahan tumbuhan untuk mendapatkan senyawa-senyawa aktif yang terkandung di dalamnya. Ekstrak digunakan dalam banyak penelitian dan penggunaan medis karena memungkinkan konsentrasi zat aktif yang lebih tinggi daripada bahan baku aslinya. Sediaan dalam bentuk ekstrak merupakan solusi efektif untuk memperoleh senyawa-senyawa aktif dari bahan tumbuhan seperti bawang dayak. Ekstrak dapat berupa cairan (ekstrak cair) atau serbuk (ekstrak kering), tergantung pada metode ekstraksi yang digunakan. Pemilihan metode ekstraksi biasanya didasarkan pada jenis senyawa yang diinginkan dan karakteristik bahan baku. Berikut adalah sediaan dalam bentuk ekstrak dan tahapan pembuatannya hingga siap digunakan untuk penelitian. 1. Pemilihan dan Persiapan Bahan Baku a. Memilih bahan baku berkualitas tinggi, dalam hal ini, umbi bawang dayak. b. Mempersiapkan bahan dengan membersihkannya dan memastikan kandungan zat aktif yang optimal.


36 2. Pemilihan Metode Ekstraksi Memilih metode ekstraksi yang sesuai, seperti ekstraksi pelarut (misalnya, metode maserasi atau perkolasi) atau ekstraksi nonpelarut (misalnya, ekstraksi CO2 superkritis). Metode ini akan menentukan jenis ekstrak yang dihasilkan. 3. Esktraksi Proses ekstraksi melibatkan pengekstrakan senyawa-senyawa aktif dari bahan baku menggunakan pelarut atau metode lainnya. Pada umumnya, ekstraksi dilakukan secara berulang untuk memaksimalkan hasil. 4. Pemurnian dan Pengeringan Setelah ekstraksi, lakukan tahap pemurnian untuk menghilangkan zat-zat yang tidak diinginkan. Kemudian, cairan ekstrak dapat diuapkan atau dikeringkan untuk mendapatkan ekstrak kering. 5. Penentuan Kandungan dan Karekterisasi a. Menganalisis untuk menentukan kandungan senyawasenyawa aktif dalam ekstrak. b. Karakterisasi melibatkan identifikasi komponen utama dan penilaian kualitas ekstrak. 6. Penyimpanan Menyimpan ekstrak dalam kondisi yang sesuai untuk menjaga kestabilan dan keberlanjutan kualitasnya. 7. Penggunaan Ekstrak untuk Penelitian Ekstrak yang telah dihasilkan siap digunakan untuk penelitian, baik untuk uji aktivitas biologis, uji toksisitas, atau analisis lainnya sesuai dengan tujuan penelitian yang diinginkan. G. Kajian Ilmiah Potensi Bawang Dayak 1. Penelitian Relevan tentang Potensi Bawang Dayak Beberapa penelitian sebelumnya terkait potensi umbi bawang dayak sebagai bahan terapi pengobatan penyakit degeneratif seperti


37 kolesterol dan diabetes telah banyak dilakukan di antaranya sebagai berikut. a. Penelitian yang dilakukan oleh Kusuma, Anjar Mahardian., Asarina, Yupin., Rahmawati, Yeni Indah., & Susanti. 2016. Efek Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dan Ubi Ungu (Ipomoea batatas L.) terhadap Penurunan Kadar Kolesterol dan Trigliserida Darah pada Tikus Jantan menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol bawang dayak dan ekstrak etanol ubi ungu dengan dosis 200 mg/KgBB pada tikus yang diinduksi kolesterol dengan kuning telur puyuh 10 ml/KgBB dapat menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida pada tikus serta tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara keduanya. Namun pemberian ekstrak bawang dayak menunjukkan penurunan kadar kolesterol dan trigliserida lebih besar dibandingkan dengan pemberian ekstrak ubi ungu. b. Penelitian yang dilakukan oleh Prayitno, Budi., Mukti, Bayu Hari., & Lagiono. 2018. Optimasi Potensi Bawang Dayak (Eleutherine sp.) Sebagai Bahan Obat Alternatif menunjukkan bahwa kandungan yang dimiliki bawang dayak sangat beragam terutama senyawa flavonoid, naftakuinon beserta turunannya. Uji dari beberapa senyawa dan ekstrak menunjukkan aktivitas senyawa sebagai antiinflamasi, antikanker, antimikroba, antidiabetes, antihipertensi dan antivirus. c. Penelitian yang dilakukan oleh Taufiq. 2022. Uji Efek Analgesik Ekstrak Etanol Umbi Bawang Dayak (Eleutherine americana L. Merr) pada Mencit Jantan (Mus musculus) menunjukkan bahwa ekstrak umbi bawang dayak mengandung alkaloid, glikosida, flavonoid, fenolik, steroid dan tanin. Flavonoid dapat berperan sebagai analgesik yang mekanisme kerjanya menghambat kerja enzim siklooksigenase (COX) yang berperan dalam menstimulasi pelepasan mediator nyeri.


38 d. Penelitian yang dilakukan oleh Andryani, Yani., Dewajanti, Anna Maria., & Simamora, Adelina. 2022. Aktivitas Antioksidan dan Anti Hiperkolesterolmia Ekstrak Umbi Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa [Mill.] Urb) menunjukkan bahwa kandungan yang dimiliki ekstrak bawang dayak salah satunya adalah senyawa flavonoid yang memiliki sifat antioksidan. Temuan dalam penelitian ini pemberian ekstrak umbi bawang dayak dosis 150 mg/kgBB merupakan dosis yang efektif yang mampu menurunkan kadar kolesterol darah total secara signifikan pada hari ke-14, sama seperti pengaruh simvastatin sehingga dapat mencapai kadar kolesterol yang normal. e. Penelitian yang dilakukan oleh Putra, Aditya Maulana Perdana & Sari, Ratih Pratiwi. 2018. Aktivitas Kombinasi Ekstrak Bawang Dayak – Metformin Terhadap Gula Darah Mencit menunjukkan bahwa hasil pengujian kontrol hiperglikemik membenarkan penggunaan tradisional bawang dayak dalam pengelolaan diabetes mellitus yang kinerja dari tanaman obat tersebut dengan menghambat alphaglucosidase yang mampu menurunkan kadar glukosa postprandial dan juga memperbaiki kerusakan sel beta pankreas sehingga meningkatkan sekresi insulin secara langsung. f. Penelitian yang dilakukan oleh Lolok, Nikeherpianti., Rahmat, Haidir., & Wijayanti, Putri Mega. 2019. Efek Antidiabetes Kombinasi Ekstrak Kulit Bawang Dayak dan Kulit Bawang Merah Pada Mencit yang Diinduksi Aloksan menunjukkan bahwa senyawa yang terkandung dalam ekstrak kulit bawang dayak dan kulit bawang merah yang mampu menurunkan kadar glukosa darah yaitu senyawa flavonoid yang memiliki sifat antioksidan yang berperan dalam menetralkan radikal bebas pada mencit (Mus musculus) yang diinduksi aloksan. g. Penelitian yang dilakukan oleh Kumalasari, Eka., Maharani, Syifa., & Putra, Aditya Maulana Perdana. 2020. Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr) terhadap Kadar Gula Darah Mencit Putih


39 (Mus musculus) yang Diinduksi Glukosa menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun bawang dayak memiliki aktivitas sebagai penurun kadar gula darah pada mencit putih yang diinduksi glukosa dan mempunyai efek yang hampir sama dengan kontrol positif (Glibenklamid) yaitu pada dosis 50 mm/kgBB dan pada ekstrak bawang dayak ini mengandung senyawa flavonoid yang dapat menurunkan kadar gula darah mencit dengan mekanisme kerja dari senyawa tersebut yaitu dapat menghambat reabsorpsi glukosa dari ginjal dan meningkatkan sekresi insulin sehingga dapat menurunkan kadar gula darah. h. Penelitian yang dilakukan oleh Haidir, Yoga Purnama., Saputri, Gusti Ayu Rai., & Hermawan, Dessy. 2022. Uji Efektivitas Kombinasi Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dan Daun Insulin (Tithonia diversifolia) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Diinduksi NA2Edta menunjukkan bahwa ekstrak umbi bawang dayak dan daun insulin mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, fenolik, saponin, dan tanin. Tanin berperan sebagai agen hipoglikemik dengan menghambat alphaglucosidase yang berpotensi untuk menunda absorpsi glukosa setelah makan sehingga menghambat kondisi hiperglikemia. 2. Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder Bawang Dayak Beberapa senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam kandungan umbi bawang dayak (Eleutherine americana L. Merr) yang peranannya sangat berpotensi dalam mengatasi penyakit degeneratif seperti kolesterol dan diabetes yang berdasarkan hasil uji studi metabolit sekunder umbi bawang dayak (Eleutherine americana L. Merr) yang digunakan dalam penelitian eksperimen laboratoris diukur secara kualitatif meliputi alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan triterpenoid yang dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.


40 Tabel 1. Hasil Uji Fitokimia Senyawa Aktif Umbi Bawang Dayak No. Golongan Senyawa Umbi Bawang Dayak 1. Flavonoid Jingga, Merah Bata, Merah Muda, Merah Tua (+) 2. Alkaloid Meyer Endapan Putih (+) Dragendrof Endapan Jingga (-) Bouchardat Endapan Cokelat (+) 3. Tanin/Fenol Cokelat Kehitaman, Biru Kehitaman (+) 4. Terpenoid Steroid Hijau Kebiruan (+) Triterpenoid Orange, Jingga Kecokelatan (+) 5. Saponin Busa Permanen (+) (Sumber: Fakhrunisa Atila & Nor Mila, 2024) a. Flavonoid Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa fenol alam terbesar yang ditemukan dalam semua tumbuhan berpembuluh (buah dan sayuran). Pada umumnya, jenis tumbuhan yang mengandung beberapa macam flavonoid dan hampir setiap jenis tumbuhan mengandung profil flavonoid yang khas. Berdasarkan strukturnya, semua flavonoid merupakan turunan senyawa induk flavonoid yang memiliki sejumlah sifat yang sama. Aglikon flavonoid yang terdapat dalam tumbuhan memiliki berbagai bentuk strukturnya. Semuanya mengandung atom karbon dalam inti dasarnya yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat mampu atau tidak dalam membentuk cincin ketiga (Ningsih et al., 2023). Parameter senyawa flavonoid dalam tumbuhan dibuktikan dengan terbentuknya endapan berwarna jingga, merah bata, merah muda, maupun merah tua.


41 Gambar 10. Senyawa Flavonoid dalam Umbi Bawang Dayak Pada uji senyawa flavonoid dalam tumbuhan, parameter ini sering diuji menggunakan metode reaksi endapan dengan senyawa pembentuk kompleks tertentu. Ketika senyawa flavonoid dalam sampel tumbuhan berinteraksi dengan ion logam, seperti besi (Fe^3+) atau aluminium (Al^3+), pembentukan kompleks terjadi, menghasilkan endapan yang memiliki warna khas, seperti jingga, merah bata, merah muda, atau merah tua. Warna endapan yang terbentuk bergantung pada jenis senyawa flavonoid dan jenis ion logam yang terlibat dalam reaksi. Proses ini melibatkan penyulutan elektron, yang dapat mengubah konformasi molekuler dan menyebabkan perubahan warna pada endapan. Uji endapan berwarna ini sering digunakan sebagai indikator kualitatif untuk mengidentifikasi keberadaan flavonoid dalam sampel tumbuhan. Pengamatan visual terhadap warna endapan memberikan petunjuk awal yang berguna dalam analisis kualitatif, meskipun metode analisis kuantitatif yang lebih akurat juga dapat diterapkan, seperti spektrofotometri atau kromatografi, untuk memperoleh informasi yang lebih rinci. Secara kimia, senyawa ini merupakan asetal yaitu hasil kondensasi gugus hidroksil gula dengan gugus hidroksil dari komponen aglikon. Sementara itu, gugus hidroksil sekunder di dalam molekul gula juga mengalami kondensasi membentuk cincin oksida (Ningsih et al., 2023). b. Alkaloid Alkaloid merupakan senyawa kimia bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, dan biasanya bergabungan sebagai bagian dari sistem siklik. Senyawa alkaloid


42 yang terkandung dalam tumbuhan yang berpotensi sebagai sumber nitrogen dan hasil metabolisme (Maisarah et al., 2023). Senyawa ini yang terkandung dalam tumbuhan ditunjukkan dengan adanya endapan putih menggunakan penambahan reagen meyer, terbentuk endapan jingga jika menggunakan penambahan reagen Dragendrof dan terbentuk endapan cokelat jika menggunakan penambahan reagen Bouchardat. (a) (b) (c) Gambar 11. (a) Uji Meyer, (b) Uji Dragendrof, (c) Uji Bouchardat Pada uji kualitatif senyawa alkaloid, penambahan reagen Meyer, Dragendorff, dan Bouchardat digunakan untuk memberikan indikasi mengenai keberadaan alkaloid dalam sampel. Penambahan reagen Meyer, yang umumnya mengandung larutan iodium dalam KI, dapat menghasilkan endapan putih. Endapan putih ini merupakan tanda adanya alkaloid tertentu yang dapat bereaksi dengan iodium dan membentuk senyawa kompleks. Sebaliknya, penambahan reagen Dragendorff, yang biasanya terdiri dari larutan bismut nitrat dan kalium iodide, menghasilkan endapan jingga atau merah cokelat. Warna jingga ini khususnya menandakan keberadaan alkaloid tertentu yang bereaksi positif terhadap reagen Dragendorff. Sementara itu, penambahan reagen Bouchardat, yang umumnya berupa larutan asam pikrat dalam etanol, dapat menghasilkan endapan cokelat. Warna cokelat ini dapat menunjukkan keberadaan alkaloid tertentu yang bersifat basa dan bereaksi positif terhadap reagen Bouchardat. Penyebab perbedaan warna endapan dalam reaksi ini dapat disebabkan oleh variasi struktur kimia dan gugus fungsional yang dimiliki oleh alkaloid yang hadir dalam sampel. Oleh karena itu,


43 kombinasi penggunaan reagen Meyer, Dragendorff, dan Bouchardat dapat memberikan informasi lebih rinci tentang jenis alkaloid yang mungkin terdapat dalam suatu sampel. Meskipun metode ini memberikan indikasi kualitatif yang kuat, analisis lebih lanjut menggunakan teknik kromatografi atau spektrofotometri mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi alkaloid secara spesifik. c. Tanin/Fenol Tanin merupakan senyawa dengan jumlah gugus hidroksil fenolik yang banyak dan terdapat dalam kelompok tumbuhtumbuhan. Senyawa ini berperan sebagai antioksidan karena memiliki kemampuan dalam menstabilkan fraksi lipid. Selain itu, tanin juga memiliki keaktifan dalam menghambat lipoksigenase (Sampepana et al., 2020). Uji fitokimia senyawa tanin dalam tumbuhan ditandai dengan terbentuknya endapan warna cokelat kehitaman dan biru kehitaman, maka tumbuhan tersebut dinyatakan positif mengandung senyawa tanin/fenol. Gambar 12. Uji Senyawa Tanin/Fenol Uji kualitatif senyawa tannin sering melibatkan penggunaan beberapa reagen yang dapat bereaksi dengan senyawa fenolik tersebut, menghasilkan endapan dengan warna khas. Salah satu reagen yang umum digunakan adalah reagen besi (III) klorida. Ketika senyawa tannin terbentuk atau hadir dalam sampel tumbuhan, interaksi dengan reagen ini akan menunjukkan hasil yang dapat diamati secara visual. Penambahan reagen besi (III) klorida pada sampel tumbuhan yang mengandung senyawa tannin dapat menghasilkan endapan dengan dua warna utama, yaitu cokelat kehitaman dan biru kehitaman. Pembentukan endapan cokelat kehitaman dapat disebabkan oleh adanya senyawa tannin yang bereaksi dengan ion besi (III) untuk membentuk senyawa kompleks


44 yang berwarna gelap. Warna ini biasanya terjadi karena adanya oksidasi senyawa fenolik oleh ion besi. Selain itu, terbentuknya endapan biru kehitaman juga dapat terjadi dalam kondisi tertentu. Reaksi ini mungkin melibatkan pembentukan senyawa kompleks antara senyawa tannin dan besi (III) dengan kondisi reaksi yang khusus. Warna biru kehitaman ini dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai karakteristik senyawa tannin dalam sampel. Dengan demikian, hasil positif dari uji ini, yang ditandai dengan terbentuknya endapan cokelat kehitaman atau biru kehitaman, menunjukkan bahwa sampel tumbuhan tersebut mengandung senyawa tannin atau senyawa fenolik. Meskipun uji ini memberikan informasi kualitatif yang kuat, identifikasi lebih lanjut tentang jenis dan konsentrasi tannin dapat memerlukan teknik analisis lebih lanjut, seperti spektrofotometri atau kromatografi. d. Steroid/Triterpenoid Steroid merupakan senyawa dengan susunan karbon yang berasal dari enam satuan isopropana dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik atau skualena. Senyawa ini berstruktur siklik dan rumit. Sebagian besar steroid berupa alkohol, aldehida, atau asam karboksilat. Sedangkan triterpenoid merupakan senyawa berbentuk kristal, tidak berwarna, dan memiliki titik leleh yang tinggi (Khafid et al., 2023). Untuk menguji adanya senyawa steroid dalam suatu tumbuhan biasanya menggunakan uji LicbermanBurchard yang ditunjukkan dengan terbentuknya endapan berwarna biru atau hijau. Gambar 13. Uji Senyawa Steroid/Triterpeoid


45 Uji Licberman-Burchard (Lic-Bur) digunakan sebagai metode kualitatif untuk mendeteksi senyawa steroid dalam tumbuhan. Dalam uji ini, reagen Licberman-Burchard, yang terdiri dari asam pikrat dan asam sulfurat (H<sub>2</sub>SO <sub>4</sub>), diaplikasikan pada sampel tumbuhan. Reagen ini bereaksi dengan gugus keto pada cincin D senyawa steroid, membentuk senyawa kompleks yang pemberi warna. Hasil reaksi ini ditunjukkan dengan terbentuknya endapan berwarna biru atau hijau, yang mengindikasikan keberadaan senyawa steroid dalam sampel. Warna biru atau hijau yang muncul berasal dari nukleus steroid dalam senyawa kompleks tersebut. Uji Licberman-Burchard memberikan informasi kualitatif yang kuat mengenai keberadaan senyawa steroid, namun, untuk identifikasi yang lebih spesifik dan kuantifikasi, metode analisis lanjutan seperti kromatografi atau spektrometri dapat diterapkan. Dengan demikian, jika uji Licberman-Burchard menunjukkan terbentuknya endapan berwarna biru atau hijau, itu menandakan adanya senyawa steroid dalam sampel tumbuhan. Warna yang muncul adalah hasil dari reaksi spesifik antara reagen LicbermanBurchard dengan gugus keto pada cincin D senyawa steroid. Meskipun uji ini memberikan indikasi kuat tentang keberadaan steroid, untuk identifikasi yang lebih rinci dan kuantifikasi, metode analisis lain seperti kromatografi atau spektrofotometri mungkin diperlukan. e. Saponin Saponin merupakan suatu glikosida yang terdapat dalam berbagai jenis tumbuhan. Saponin ada pada seluruh tumbuhan dengan konsentrasi yang tinggi pada bagian-bagian tertentu dan dipengaruhi oleh varietas tanaman serta tahapan pertumbuhan. Saponin berpotensi sebagai bentuk penyimpanan karbohidrat atau waste product dari metabolisme tumbuhan. Senyawa ini juga memiliki rasa pahit yang kuat dan dapat menyebabkan bersin serta iritasi pada


46 selaput lendir (Putri et al., 2023). Untuk menguji adanya senyawa saponin pada tumbuhan biasanya akan ditunjukkan dengan terbentuknya busa permanen. Gambar 14. Uji Senyawa Saponin Uji saponin pada tumbuhan sering dilakukan melalui metode uji busa, yang memanfaatkan sifat surfaktan atau deterjen dari senyawa saponin. Saponin memiliki struktur kimia yang terdiri dari bagian hidrofobik dan hidrofilik, memungkinkannya mengurangi tegangan permukaan air dan membentuk busa. Sebagai surfaktan alami, saponin dapat menurunkan tegangan permukaan air dan membentuk busa saat bersentuhan dengan air. Proses ini melibatkan pembentukan gelembung yang stabil, dan keberadaan saponin dalam sampel tumbuhan dapat ditunjukkan oleh terbentuknya busa permanen setelah pemberian reagen saponin pada sampel. Busa permanen ini mengindikasikan bahwa sampel mengandung saponin dalam jumlah yang cukup untuk membentuk busa yang stabil. Meskipun uji busa memberikan indikasi kualitatif yang kuat tentang adanya saponin, untuk identifikasi yang lebih spesifik atau kuantifikasi, metode analisis lanjutan seperti kromatografi atau spektrofotometri dapat diterapkan. Dengan demikian, uji busa merupakan pendekatan sederhana namun efektif dalam mendeteksi keberadaan senyawa saponin pada tumbuhan. Dengan demikian, uji busa pada tumbuhan adalah metode kualitatif yang sederhana namun efektif untuk mendeteksi keberadaan senyawa saponin. Meskipun uji ini memberikan indikasi kuat tentang adanya saponin, identifikasi lebih lanjut atau kuantifikasi mungkin memerlukan teknik analisis lanjutan, seperti kromatografi atau spektrofotometri.


47 MENGENAL POTENSI GAMAT PARI A. Distribusi Geografis Persebaran Gamat Pari AMPELOCISSUS rubiginosa L. adalah salah satu tanaman yang berasal dari marga suku Vitaceae yang pertama kali dipublikasi oleh Planchon pada tahun 1887 yang mana berdasarkan Vitis latifolia. Persebaran gamat pari (Ampelocissus rubiginosa L.) mencakup wilayah yang luas, terutama di kawasan Asia, Australia, Afrika, dan Amerika Tengah. Marga ini terdiri dari 95 jenis tanaman dan memiliki pusat keanekaragaman utama di kawasan Malesia, di mana sebanyak 39 jenis ditemukan. Kawasan Malesia, termasuk Borneo dan Filipina, dianggap sebagai pusat keaneka-ragaman utama untuk Ampelocissus (Dalimuthe, 2016). Ciri khas yang membedakan Ampelocissus dari kerabatnya termasuk rambut yang berwarna putih hingga merah di seluruh permukaan umbinya, adanya sulur pada tangkai, perbungaan malai dengan bunga berbilangan 4-5, cakram bunga beralur 5-10, dan potongan melintang dengan biji yang berbentuk huruf. Habitat alami Ampelocissus terdapat di hutan subtropis dan tropis (Wen, dkk 2013). Dengan demikian, persebaran geografis gamat pari mencakup wilayah tropis dan subtropis, dengan fokus utama di kawasan Malesia, khususnya Borneo dan Filipina, yang dianggap sebagai pusat keanekaragaman utama untuk tanaman ini. Distribusi geografis ini mencerminkan adaptasi Ampelocissus terhadap lingkungan hutan. B. Taksonomi Gamat Pari Gamat pari merupakan sebuah tanaman perdu dari kelompok famili Vitaceae dan berasal dari Kalimantan Tengah. Gamat pari mempunyai habitus liana merambat. Klasifikasi Gamat Pari


48 Kingdom : Plantae Divisi : Pteridophyta Kelas : Marattiopsida Ordo : Vitales Famili : Vitaceae Genus : Ampelocissus Spesies : Ampelocissus rubiginosa L. (Latif, 1982) C. Morfologi Gamat Pari 1. Daun Daun gamat pari (Ampelocissus rubiginosa L.) memiliki warna hijau yang umumnya terkait dengan fotosintesis, proses di mana tanaman menghasilkan makanan mereka sendiri. Bentuk daunnya adalah oval, memberikan karakteristik yang khas dan mudah dikenali. Tulang daun gamat pari adalah menyirip, yang berarti adanya suatu pola percabangan dan jaringan pembuluh yang mendukung struktur daun. Tulang daun yang menyirip dapat membantu dalam distribusi nutrisi dan air di dalam daun. Daun gamat pari memiliki daun tunggal dengan tangkai. Helaian anak daun, yang merupakan bagian dari daun utama, berjumlah 3-9. Keterangan ini menunjukkan variasi dalam jumlah helaian anak daun, yang bisa memberikan kompleksitas dan keindahan pada struktur daun. Helaian anak daun memiliki bentuk bundar telur dengan pangkal yang menirus. Bentuk bundar telur memberikan variasi visual yang menarik pada morfologi daun gamat pari. Pangkal yang menirus menambah dimensi artistik pada struktur daun tersebut. Tepi daun gamat pari bergerigi, menunjukkan adanya gigi-gigi kecil atau indentasi pada tepi daun. Karakteristik ini dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap herbivora dan juga memberikan estetika yang unik pada daun.


49 2. Akar/Umbi Gambar 15. Akar/Umbi Gamat Pari (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Akar gamat pari (Ampelocissus rubiginosa L.) memiliki bentuk mirip dengan umbi-umbian dan memiliki warna hitam kemerahan. Bentuk akar yang menyerupai umbi memberikan karakteristik yang unik dan dapat berperan sebagai tempat penimbunan zat cadangan. Sifat umbi mendeskripsi umbi sebagai suatu badan yang membengkak, bangun bulat seperti kerucut, atau tidak beraturan, menggambarkan variasi bentuk yang dimungkinkan oleh akar gamat pari. Umbi sering kali berfungsi sebagai tempat penimbunan zat cadangan yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman dalam kondisi tertentu. Pada umbi akar gamat pari, terdapat rambut halus berwarna merah di ujung umbi. Rambut ini dapat berperan sebagai struktur penyerapan air dan nutrisi, serta memberikan kontribusi dalam interaksi dengan lingkungan sekitar. Morfologi akar gamat pari, dengan bentuk umbi-umbian, warna hitam kemerahan, dan keberadaan rambut halus berwarna merah, mencerminkan adaptasi tanaman ini terhadap lingkungan tempatnya tumbuh. Bentuk umbiumbian dapat memberikan kelebihan dalam penyimpanan zat cadangan, yang mungkin dibutuhkan dalam kondisi lingkungan yang tidak stabil. Selain itu, rambut halus berwarna merah pada ujung umbi dapat memberikan efisiensi penyerapan dan interaksi yang optimal dengan substrat tanah. Analisis morfologi akar ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang struktur dan adaptasi tanaman gamat pari di alam liar.


50 3. Bunga Gamat pari memiliki jenis perbungaan yang bervariasi, mulai dari malai hingga tirsus. Malai adalah suatu susunan bunga yang terdiri dari bunga-bunga yang letaknya sejajar pada sumbu utama, sedangkan tirsus adalah perbungaan yang terletak pada batang utama dan memanjang. Bunga pada gamat pari memiliki bilangan kelopak dan mahkota bunga sebanyak 4-5, menunjukkan pola simetri pada struktur bunga. Hal ini menciptakan karakter estetika yang khas pada tanaman ini. Cakram bunga gamat pari memiliki alur sebanyak 5-10, memberikan tambahan karakteristik visual dan keindahan pada bunga. Alur-alur ini dapat berperan dalam proses penyerbukan dan penyerahan serbuk sari. Bentuk kelopak bunga yang seperti mangkok menciptakan corak visual yang menarik dan membedakan bunga gamat pari dari jenis tanaman lainnya. Kepala sari dan putik bunga gamat pari memiliki bentuk melonjong, menambah dimensi estetika dan melibatkan potensi peran penting dalam proses reproduksi tanaman. Putik gamat pari memiliki beralur empat, menunjukkan kompleksitas dan keindahan dalam struktur bunga serta dapat berperan dalam interaksi dengan serbuk sari selama proses penyerbukan. Bakal buah pada gamat pari berjumlah dua, yang dapat menjadi ciri khas pada fase pembentukan buah dan perkembangan tanaman ini. Potongan biji yang berbentuk huruf T menjadi karakteristik unik lainnya. Morfologi ini memberikan informasi tentang struktur internal dan potensi reproduksi tanaman. Perbungaan tarsus memanjang, di mana tarsus memanjang pada perbungaan gamat pari sehingga menciptakan penampilan yang khas dan dapat berperan dalam penyerbukan dan penyebaran serbuk sari. Pada perbungaan tarsus, bunga gamat pari memiliki bilangan 4, kelopak seperti mangkok, dan kepala sari yang melonjong, memberikan kesinambungan estetika dengan bunga pada jenis perbungaan lainnya. Analisis morfologi bunga gamat pari memberikan pemahaman mendalam tentang struktur dan adaptasi tanaman ini, serta menciptakan gambaran visual yang indah dan unik.


Click to View FlipBook Version