51 Karakteristik bunga yang dijelaskan dapat menjadi ciri khas penting dalam identifikasi dan klasifikasi tanaman ini di alam liar. D. Gamat Pari sebagai Obat Tradisional Ampelocissus rubiginosa merupakan tumbuhan perdu dari family Vitaceae dan berasal dari Kalimantan Tengah. Secara empiris, tanaman umbi gamat pari telah dipercaya memiliki berbagai khasiat. Salah satunya adalah penggunaannya sebagai obat luka baik luar maupun dalam setelah melahirkan dan operasi. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki potensi dalam pemulihan dan pengobatan tradisional (Anwar et al., 2018). Arnida et al. (2015) melaporkan bahwa umbi gamat pari memiliki efek antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Dua bakteri tersebut merupakan patogen yang dapat menyebabkan berbagai infeksi pada manusia. Sifat antibakteri tanaman ini dapat membantu mengatasi infeksi bakteri tersebut. Staphylococcus aureus merupakan bakteri pathogen yang bersifat invasif. Infeksi Staphylococcus aureus dapat menyebabkan bakterimia, endocarditis, osteoartikular, osteomyelitis akut hematogen, infeksi pada kulit dan jaringan lunak, meningitis, infeksi paru-paru (Hujjatusnaini et al., 2022), sedangkan Escherichia coli merupakan salah satu bakteri pathogen yang dapat menimbulkan suatu gejala penyakit apabila masuk ke tubuh inangnya dan mampu beradaptasi serta bertahan di dalam tubuh manusia, selanjutnya akan menyerang system imun dan menimbulkan penyakit (Hujjatusnaini et al., 2022). Infeksi Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dapat menyebabkan berbagai kondisi kesehatan yang serius. Penggunaan gamat pari sebagai obat tradisional menunjukkan potensi dalam mengatasi infeksi bakteri dan mungkin membantu mempercepat proses penyembuhan. Selain dapat menghambat bakteri umbi Ampelocissus rubiginosa memiliki efek sebagai antiplasmodium, plasmodium adalah salah satu jenis parasit yang mana dapat menginfeksi manusia terutama yang hidup di daerah tropis maupun sub tropis. Plasmodium dapat
52 menginfeksi tubuh manusia yang dapat menyebabkan penyakit malaria yang berbahaya bahkan dapat menyebabkan kematian (Turalely et al., 2018). Rotama et al., 2019 melaporkan bahwa umbi Ampelocissus rubiginosa memiliki efek antiinflamasi. Inflamasi merupakan proses tubuh untuk merespon infeksi atau kerusakan jaringan, yang ditandai dengan kalor (panas), rubor (merah), tumor (bengkak), dolor (sakit), dan gangguan fungsi (Halim, 2018). Penggunaan tanaman obat tradisional seperti gamat pari dapat menjadi alternatif yang berharga, terutama di daerah yang memiliki tradisi pengobatan herbal. Tanaman ini dapat memberikan solusi alami dan mungkin memiliki manfaat tanpa efek samping yang signifikan. Efek antiplasmodium tanaman ini memiliki implikasi kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di daerah dengan risiko tinggi terkena malaria. Penggunaan tanaman ini dapat menjadi upaya untuk pengendalian penyakit tersebut. Secara keseluruhan, penjelasan ini memberikan gambaran tentang potensi penggunaan gamat pari sebagai obat tradisional, terutama dalam mengatasi infeksi bakteri dan mencegah penyakit malaria. Meskipun penggunaan tanaman ini telah bersifat empiris, tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi efek dan keamanan penggunaannya secara ilmiah. E. Manfaat Gamat Pari sebagai Sumber Terapi Alternatif Penggunaan gamat pari sebagai obat alternatif berasal dari praktik masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Penggunaan tanaman ini sebagai sumber terapi telah menjadi kebiasaan turuntemurun dalam budaya mereka. Gamat pari mempunyai kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Kandungan senyawa-senyawa ini memberikan potensi besar pada tanaman ini sebagai tanaman berkhasiat obat (Qamariah et al., 2019) sehingga potensi gamat pari sebagai tanaman berkhasiat obat sangat besar dan perlu dikembangkan mengenai informasi gamat pari tersebut. Karena kandungan senyawa metabolit sekunder
53 yang dimiliki, potensi gamat pari sebagai tanaman berkhasiat obat sangat besar dan perlu terus dikembangkan. Hal ini menunjukkan bahwa informasi lebih lanjut mengenai tanaman ini dapat memberikan wawasan baru terkait penggunaannya sebagai terapi alternatif. Masyarakat Dayak telah lama memanfaatkan ramuan gamat pari sebagai obat alternatif untuk berbagai macam penyakit. Praktik ini mencerminkan pengetahuan dan kepercayaan masyarakat terhadap manfaat kesehatan dari tanaman ini. Kandungan gamat pari menyediakan berbagai manfaat sebagai sumber terapi, termasuk kemampuannya dalam mengobati luka luar maupun luka dalam. Selain itu, memiliki sifat antibakteri, antiplasmodium, antiinflamasi, dan potensi positif pada penyakit diabetes dan kolesterol (Anwar, 2018). Dalam konteks kesehatan, gamat pari menunjukkan keberagaman manfaat yang dapat diandalkan sebagai alternatif terapi. Penggunaan tanaman ini sebagai sumber terapi alternatif dapat memberikan opsi pengobatan yang lebih alami dan holistik. Manfaat gamat pari mencakup pengobatan berbagai penyakit, termasuk luka, infeksi bakteri, malaria, peradangan, diabetes, dan masalah kolesterol. Hal ini menunjukkan potensi tanaman ini dalam kontribusi terhadap pengobatan penyakit yang kompleks. Informasi dari sumber terbaru, seperti kajian Qamariah et al. (2019) dan Anwar (2018), memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan dan peningkatan pemahaman mengenai gamat pari sebagai sumber terapi alternatif. Dengan demikian, gamat pari tidak hanya diakui sebagai bagian dari tradisi pengobatan masyarakat Dayak, tetapi juga memperlihatkan potensi besar sebagai sumber terapi alternatif yang memiliki manfaat kesehatan yang beragam. Pentingnya pengembangan informasi dan penelitian lebih lanjut menjadi pokok untuk mendukung penggunaan tanaman ini secara lebih luas dalam konteks medis. F. Teknik Sediaan Gamat Pari untuk Terapi Kesehatan Gamat pari diakui memiliki potensi sebagai jamu atau obat tradisional untuk kesembuhan dari berbagai macam penyakit. Penggunaannya dapat mencakup pengobatan luka, infeksi,
54 peradangan, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Terdapat berbagai teknik sediaan yang dapat digunakan untuk memanfaatkan gamat pari sebagai bahan terapi. Beberapa teknik tersebut melibatkan pengolahan dan penyajian tanaman ini dalam bentuk yang dapat mudah dikonsumsi atau diterapkan, seperti ekstrak, seduhan, kapsul, atau ramuan minum. Proses meramu gamat pari sebagai bahan terapi melibatkan langkah-langkah tertentu. Salah satu cara umum adalah dengan mempersiapkan umbi gamat pari, membersihkannya, dan mengolahnya sesuai dengan kebutuhan sediaan yang diinginkan. Misalnya, untuk membuat ramuan minum, umbi dapat direbus atau diseduh dengan air panas. Dalam tradisi jamu, gamat pari dapat diintegrasikan sebagai salah satu bahan utama. Proses penyeduhan atau pencampuran dengan bahan-bahan jamu lainnya dapat menjadi cara populer dalam memanfaatkannya. Salah satu teknik sediaan yang umum adalah membuat ekstrak gamat pari. Proses ekstraksi melibatkan pengambilan senyawa aktif dari tanaman tersebut, yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan dasar dalam berbagai formulasi terapeutik. Jika diinginkan, gamat pari juga dapat diolah menjadi kapsul untuk kemudahan konsumsi. Proses ini melibatkan pengeringan dan pengolahan yang sesuai untuk menjaga kualitas dan konsentrasi senyawa aktif tanaman. Meskipun gamat pari dapat dimanfaatkan sebagai jamu atau obat tradisional, penting untuk mencari saran dari ahli atau praktisi kesehatan sebelum mengonsumsinya secara rutin. Ini untuk memastikan bahwa penggunaan tanaman ini sesuai dengan kondisi kesehatan individu dan tidak berpotensi menimbulkan masalah kesehatan tambahan. Teknik sediaan dan cara meramu gamat pari sebagai bahan terapi, dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Simplisia Kering Gamat Pari (Rajangan)
55 Gambar 16. Simplisia Kering Gamat Pari Supaya gamat pari bisa dimanfaatkan dengan baik maka dibuat dalam bentuk simplisia (umbi kering). Adapun cara pembuatan simplisia gamat pari sebagai berikut. a. Pemilihan dan Pemilahan Bahan baku Memilih gamat pari berkualitas tinggi. Pastikan bahan baku yang digunakan telah melewati proses pemilahan untuk memastikan kualitas dan kebersihan yang optimal. b. Pencucian Cuci gamat pari secara hati-hati untuk menghilangkan kotoran atau kontaminan lainnya. Pastikan menggunakan air bersih yang sesuai standar kebersihan. c. Pengeringan Keringkan gamat pari dengan metode yang sesuai, seperti pengeringan alami atau menggunakan mesin pengering pada suhu yang terkontrol. Pastikan proses pengeringan dilakukan secara higienis untuk mencegah kontaminasi. d. Pengayakan Setelah pengeringan, ayak gamat pari untuk menghilangkan bagian yang tidak diinginkan atau sisa-sisa yang mungkin masih ada. Proses pengayakan membantu mendapatkan simplisia yang lebih halus. e. Pemotongan dan Penggilingan
56 Potong gamat pari sesuai kebutuhan dan giling menjadi bentuk simplisia yang lebih kecil. Penggilingan dapat dilakukan dengan menggunakan alat penggiling yang sesuai. f. Pengemasan Simpan simplisia gamat pari dalam wadah yang sesuai untuk menjaga kebersihan dan menghindari paparan kelembapan. Pastikan pengemasan dilakukan dengan baik untuk memper-tahankan kualitas simplisia. g. Labelling Memberikan label yang jelas pada kemasan yang mencakup informasi penting seperti nama bahan, tanggal produksi, dan instruksi penyimpanan. h. Penyimpanan Menyimpan simplisia gamat pari di tempat yang kering dan sejuk untuk mencegah pertumbuhan jamur atau bakteri. Pastikan penyimpanan dilakukan sesuai dengan persyaratan kebersihan. 2. Simplisia Gamat Pari (Serbuk) Gambar 17. Simplisia Serbuk Gamat Pari (Sumber: Anwar et al., 2018) Berikut adalah alternatif cara konsumsi simplisia gamat pari dalam bentuk sediaan serbuk. a. Pemilihan dan Pemilahan Bahan Baku
57 Memilih gamat pari berkualitas tinggi. Lakukan pemilahan untuk memastikan bahan baku yang digunakan dalam kondisi optimal dan bebas kontaminan. b. Pencucian Cuci gamat pari secara hati-hati untuk menghilangkan kotoran atau kontaminan lainnya. Pastikan menggunakan air bersih yang sesuai standar kebersihan. c. Pengeringan Keringkan gamat pari dengan menggunakan metode pengeringan yang sesuai, seperti pengeringan alami atau mesin pengering pada suhu yang terkontrol. Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam bahan baku. d. Penggilingan Menggiling gamat pari yang telah kering menjadi serbuk menggunakan alat penggiling yang sesuai. Pastikan serbuk yang dihasilkan memiliki tekstur yang halus dan seragam. e. Pengayakan Setelah pengeringan dan penggilingan, serbuk gamat pari untuk memisahkan partikel yang kasar dan memastikan konsistensi ukuran partikel serbuk. Langkah ini membantu mendapatkan serbuk dengan kualitas yang lebih baik. f. Pengemasan Simpan simplisia gamat pari dalam wadah yang sesuai untuk menjaga kebersihan dan menghindari paparan kelembapan. Pastikan pengemasan dilakukan dengan baik untuk mempertahankan kualitas simplisia. g. Labelling Memberikan label yang jelas pada kemasan yang mencakup informasi penting seperti nama bahan, tanggal produksi, dan instruksi penyimpanan. h. Penyimpanan
58 Menyimpan simplisia gamat pari di tempat yang kering dan sejuk untuk mencegah pertumbuhan jamur atau bakteri. Pastikan penyimpanan dilakukan sesuai dengan persyaratan kebersihan. i. Analisis Kualitas Melakukan analisis kualitas secara periodik untuk memastikan serbuk gamat pari memenuhi standar kualitas yang diinginkan. 3. Air Rebusan Gamat Pari Gambar 18. Air Rebusan Gamat Pari (Sumber: Anwar et al., 2018) Berikut adalah alternatif cara konsumsi simplisia gamat pari dalam bentuk sediaan rebusan. 1. Pemilihan dan Persiapan bahan Baku a. Memilih umbi gamat pari yang segar dan berkualitas baik. b. Membersihkan umbi bawang dayak dan memastikan kandungan zat aktif yang optimal. c. Memotong bagian umbi menjadi bagian-bagian kecil sesuai kebutuhan. 2. Pengukuran Bahan Menentukan jumlah umbi gamat pari yang akan digunakan berdasarkan resep atau dosis yang diinginkan. 3. Perebusan dan Penyeduhan
59 Memanaskan air hingga mendidih, lalu tambahkan potongan gamat pari ke dalam air panas. Biarkan mendidih selama beberapa menit untuk mengeluarkan senyawa-senyawa aktif. Proses ini dapat memakan waktu tergantung pada kebutuhan rebusan dan kondisi bahan. 4. Penyaringan dan Pemisahan Setelah proses penyeduhan, saring cairan untuk memisahkan serat dan potongan umbi. Gunakan saringan halus atau kain kasa bersih untuk menyaring rebusan gamat pari. Hal ini bertujuan untuk memisahkan cairan dari ampas atau serpihan bahan lainnya. 5. Pemberian Rasa (Opsional) Untuk meningkatkan cita rasa atau manfaat lainnya, Anda dapat menambahkan bahan-bahan penambah rasa atau pemanis alami, seperti madu atau jahe. 6. Pendinginan Membiarkan seduhan gamat pari yang telah disaring agar mencapai suhu yang nyaman untuk dikonsumsi. 7. Pengemasan (Opsional) Jika tidak akan dikonsumsi segera, sediaan gamat pari dapat memasukkan seduhan ke dalam wadah kedap udara dan simpan di tempat yang sejuk atau dalam kulkas. 8. Penyajian Jika langsung dikonsumsi, sajikan seduhan gamat pari dalam cangkir atau gelas, dan berikan instruksi penyajian yang sesuai. 9. Labelling (Opsional) Jika seduhan gamat pari akan disimpan untuk digunakan nanti, berikan label pada wadah yang mencakup informasi penting seperti tanggal penyeduhan dan cara penyimpanan. 10.Analisis Kualitas (Opsional)
60 Jika seduhan gamat pari akan dijual atau digunakan secara teratur, lakukan analisis kualitas secara periodik untuk memastikan keamanan dan konsistensi produk. 4. Kapsul Gamat Pari Gambar 19. Kapsul Gamat Pari (Sumber: Anwar et al., 2018) Berikut adalah alternatif cara konsumsi simplisia umbi gamat pari segar dalam bentuk kapsul. 1. Pemilihan dan Persiapan Bahan Baku a. Memilih bahan baku yang segar dan berkualitas baik. b. Mempersiapkan bahan dengan membersihkannya untuk menghilangkan tanah dan kotoran dan memastikan kandungan zat aktif yang optimal. c. Memotong umbi menjadi bagian-bagian kecil sesuai dengan kebutuhan. 2. Pengeringan a. Meletakkan potongan-potongan umbi gamat pari di tempat yang terkena sinar matahari atau menggunakan alat pengering sesuai dengan prinsip pengeringan tanaman. b. Mengeringkan potongan gamat pari dengan menggunakan metode pengeringan yang sesuai.
61 c. Memastikan gamat pari benar-benar kering untuk mengurangi kadar air dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme. 3. Penggilingan Proses penggilingan dilakukan jika sediaan gamat pari yang diinginkan atau yang akan dikapsulasi dalam bentuk serbuk, yaitu dengan menggiling gamat pari yang telah kering menjadi serbuk halus menggunakan alat penggiling atau alat tumbuk yang sesuai, yang bersih dan steril. 4. Pengisian Kapsul (Kapsulasi) a. Sediaan dalam bentuk serbuk, maka dilakukan pengisian kapsul dengan campuran serbuk umbi gamat pari menggunakan mesin pengisian kapsul. b. Pastikan setiap kapsul terisi secara merata. 5. Penutupan Kapsul Menutup kapsul secara hati-hati untuk mencegah kebocoran atau kontaminasi. Gunakan alat penutup kapsul yang bersih dan steril. 6. Pemeriksaan Kualitas Melakukan pemeriksaan kualitas terhadap kapsul yang dihasilkan, termasuk pengecekan keutuhan kapsul, berat kapsul, dan konsistensi kualitas lainnya. 7. Pengemasan Melakukan pengemasan dengan menempatkan kapsul dalam wadah kemasan yang sesuai, hindari paparan langsung sinar matahari, dan pastikan penyegelan yang baik untuk menjaga kualitas produk. 8. Labelling dan Informasi Produk a. Berikan label pada kemasan yang mencakup informasi penting seperti nama produk, komposisi, dosis, tanggal produksi, dan instruksi penggunaan.
62 b. Menyertakan informasi keamanan dan tanggal produksi untuk memberikan kejelasan kepada pengguna. 9. Penyimpanan Kapsul dalam kondisi penyimpanan yang sesuai agar tetap terjaga kestabilan dan kebersihan produk. 10.Analisis Kualitas Melakukan analisis kualitas secara periodik untuk memastikan bahwa sediaan kapsul umbi gamat pari tetap memenuhi standar kualitas yang diinginkan. 5. Ekstrak Gamat Pari Gambar 20. Ekstrak Gamat Pari Sediaan dalam bentuk ekstrak gamat pari merupakan bentuk yang umum digunakan dalam penelitian dan pengembangan produk kesehatan. Ekstrak ini memiliki keunggulan karena dapat mengkonsentrasikan senyawa aktif yang terkandung dalam gamat pari, memudahkan dosis dan pemberian, serta memperpanjang masa simpannya. Berikut adalah ulasan mengenai sediaan ini dan tahapan pembuatannya. 1. Ekstrak gamat pari memungkinkan penggunaan yang lebih mudah dan praktis dalam penelitian. Keunggulan ini terletak pada konsentrasi senyawa aktif yang lebih tinggi, sehingga penelitian dapat dilakukan dengan dosis yang lebih terkontrol. 2. Jika diperlukan, lakukan proses pengeringan atau pengolahan awal untuk mengurangi kadar air dalam gamat pari. Pastikan
63 kondisi pengeringan tidak merusak senyawa aktif yang terkandung. 3. Menggiling gamat pari hingga bentuk yang lebih mudah diekstrak. Penggilingan ini membantu dalam memperluas permukaan kontak dan memfasilitasi proses ekstraksi. 4. Proses ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut yang sesuai, seperti etanol atau air, untuk mengekstrak senyawasenyawa aktif gamat pari. Proses ekstraksi dapat dilakukan secara maserasi (merendam dalam pelarut) atau dengan menggunakan metode ekstraksi tertentu, seperti Soxhlet. 5. Melakukan penyaringan dan pemisahan cairan. Penyaringan campuran untuk memisahkan cairan ekstrak dari sisa-sisa bahan. Cairan yang diperoleh merupakan ekstrak gamat pari yang mengandung senyawa aktif yang diinginkan. 6. Jika pelarut yang digunakan adalah volatile, lakukan pengurangan pelarut dengan evaporasi atau alat-alat khusus. Pastikan pelarut yang digunakan tidak meninggalkan residu berbahaya. 7. Pengeringan dan pemurnian ekstrak dilakukan dengan metode yang aman dan sesuai untuk meminimalkan kandungan air. Lakukan tahapan pemurnian lanjutan jika diperlukan untuk meningkatkan kemurnian ekstrak. 8. Melakukan pengujian kualitas terhadap ekstrak, termasuk uji senyawa aktif, kadar air, dan kontaminan potensial. Pastikan sesuai dengan standar yang berlaku dan sesuai dengan tujuan penelitian. 9. Pengemasan dan penyimpanan ekstrak gamat pari dalam wadah yang sesuai dan kedap udara. Simpan ekstrak pada suhu dan kondisi penyimpanan yang direkomendasikan untuk menjaga stabilitas dan kemurnian ekstrak. Dengan mengikuti tahapan-tahapan ini, sediaan dalam bentuk ekstrak gamat pari siap digunakan untuk penelitian. Penting untuk melibatkan ahli kimia atau penelitian dalam tahapan pembuatan
64 ekstrak untuk memastikan integritas senyawa aktif dan keamanannya. G. Kajian Ilmiah Potensi Gamat Pari 1. Penelitian Relevan Tentang Potensi Gamat Pari Adapun penelitian relevan mengenai potensi gamat pari (Ampeloccissus rubiginosa L.) sebagai berikut. a) Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Deka Rotama, dkk. (2019) yang berjudul “Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Umbi Tawas Ut (Ampeloccissus rubiginosa L.) pada Mencit secara Topikal”. Pada penelitian ini menyatakan bahwa ekstrak etanol umbi tawas ut (Ampeloccissus rubiginosa L.) terbukti memilki efek antiinflamasi topikal yang mana adanya penghambatan inflamasi dan penurunan jumlah sel neutrophil pada kulit punggu mencit jantan yang diinduksi karagenin 3%. b) Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Trinita dan Melinda Ayu (2023) yang berjudul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Akar Tawas Ut (Ampelocissus rubiginosa L.) terhadap Kadar Glukosa Darah, Kolestrol Total dan Trigliserida Mencit Diabetes yang Diinduksi Aloksan”. Pada penelitian ini menjukkan bahwa pemberia ekstrak etanol tawas ut (Ampelocissus rubiginosa L.) mempunyai aktivitas untuk menurunkan kadar glukosa darah, kolestrol total, dan trigliserida darah mencit diabetes yang diinduksi dengan aloksan. c) Berdasatkan penelitian yang dilakukan oleh Khoerul Anwar, Muhammad Riswandi, dan Nurlely (2019) yang berjudul “Perbandingan Aktivitas Analgetik Infusa dan Ekkstrak Etanol Umbi Tawas Ut (Ampelocissus rubiginosa L.)”. Dari penelitian ini melaporkan bahwa umbi tawas ut (Ampelocissus rubiginosa L.) mempunyai kemampuan aktivitas analgetik yang kuat. 2. Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder Gamat Pari Gamat pari (Ampelocissus rubiginosa L.) pada umbinya mempunyai kandungan senyawa kimia, yaitu flavonoid, alkaloid,
65 tannin, triterpenoid, dan saponin. Adapun ditunjukkan pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Hasil Uji Fitokimia Senyawa Aktif Gamat Pari No. Golongan Senyawa Umbi Bawang Dayak 1. Flavonoid Jingga, Merah Bata, Merah Muda, Merah Tua (+) 2. Alkaloid Meyer Endapan Putih (+) Dragendrof Endapan Jingga (-) Bouchardat Endapan Cokelat (+) 3. Tanin/Fenol Cokelat Kehitaman, Biru Kehitaman (+) 4. Terpenoid Steroid Hijau Kebiruan (-) Triterpenoid Orange, Jingga Kecokelatan (+) 5. Saponin Busa Permanen (+) a. Flavonoid Flavonoid adalah sebuah senyawa metabolit sekunder yang berasal dari polifenol yang memiliki sifat polar, memiliki 15 atom karbon dalam konfigurasi C6-C3-C6. Flavonoid berperan sebagai antiinflamasi dengan menghambat pelepasan asam arakidonat, selain itu flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan cara menginaktifkan radikal bebasa atau memperkuat fungsi antioksidan endogen atau enzimatik (Arifin & Ibrahim, 2018). Adapun parameter flavonoid yang terkandung di dalam tumbuhan yakni jingga, merah bata, merah tua, dan merah muda.
66 Gambar 21. Uji Senyawa Flavonoid dalam Gamat Pari Uji senyawa flavonoid pada gamat pari dilakukan dengan menggunakan reagen tertentu, yang menghasilkan endapan berwarna seperti jingga, merah bata, merah muda, atau merah tua. Hasil ini menunjukkan adanya flavonoid dalam sampel, senyawa yang memiliki peran penting sebagai antioksidan dalam gamat pari. Fungsi utama flavonoid sebagai antioksidan adalah melindungi selsel tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Saat flavonoid berinteraksi dengan reagen, terjadi pembentukan senyawa kompleks berwarna yang dapat menonjolkan keberadaan flavonoid dalam sampel. Dalam konteks gamat pari, flavonoid tidak hanya berfungsi sebagai inaktifasi radikal bebas dengan mendonorkan elektron atau menangkap radikal, tetapi juga memperkuat fungsi antioksidan endogen atau enzimatik di dalam tubuh. Kolaborasi antara flavonoid dan sistem antioksidan tubuh, seperti glutation peroksidase atau superoksida dismutase, meningkatkan kapasitas tubuh dalam melawan stres oksidatif. Dengan demikian, uji ini tidak hanya memberikan konfirmasi keberadaan flavonoid pada gamat pari, tetapi juga mencerminkan peran pentingnya sebagai agen antioksidan dalam menjaga keseimbangan redoks dan kesehatan sel tubuh. b. Alkaloid Alkaloid adalah senyawa yang mengandung paling sedikitnya 1 atom nitrogen di dalam struktur cicin heterosiklik. Alkaloid mempunyai peran sebagai antimikroba dan antioksidan (Ain et al., 2016; Hanafiah et al., 2017). Pada uji senyawa alkaloid ini ditunjukkan dengan 3 cara uji yakni uji meyer yang menghasilkan endapan berwarna putih, uji dragendrof menghasilkan endapan
67 berwarna jingga, sedangkan pada uji bouchardat menghasilkan endapan berwarna merah. (a) (b) (c) Gambar 22. (a) Uji Meyer, (b) Uji Dragendrof, (c) Uji Bouchardat Senyawa alkaloid dalam gamat pari dapat diidentifikasi melalui tiga cara uji berbeda, yaitu uji Meyer, uji Dragendorff, dan uji Bouchardat, yang masing-masing menghasilkan endapan berwarna putih, jingga, dan merah. Hasil ini mencerminkan adanya alkaloid dalam sampel gamat pari. Fungsi alkaloid sebagai senyawa antimikroba menjadi jelas dalam uji Meyer, di mana endapan putih menunjukkan potensi antimikroba yang dapat melindungi gamat pari dari infeksi atau kontaminasi mikroba patogen. Uji Dragendorff, dengan endapan berwarna jingga, menandakan sifat antimikroba yang dapat membantu mempertahankan kestabilan produk dan melawan pertumbuhan mikroba selama penyimpanan. Di sisi lain, uji Bouchardat dengan endapan berwarna merah mengindikasikan sifat antioksidan alkaloid, yang berperan dalam melawan kerusakan oksidatif yang mungkin terjadi selama proses penyimpanan atau pemrosesan gamat pari. Dengan demikian, kombinasi sifat antimikroba dan antioksidan alkaloid memberikan gamat pari daya tahan terhadap kontaminasi mikroba dan memperpanjang masa simpannya, menjadikannya sebagai produk yang unggul dalam menjaga kualitas dan keamanan. c. Tanin Tanin adalah golongan senyawa polifenol yang terdiri atas cicin benzene yang berikatan dengan gugus hidroksil. Tanin berperan sebagai astringent yang menyebabkan pori-pori kulit mengecil, pendarahan ringan berhenti, kontaksi luka meningkat, dan luka menutup. Selain itu, tanin juga berperan sebagai antimikroba dan
68 antioksidan untuk menjaga dan mencegah area luka tidak rusak yang diakibatkan adanya radikal bebas serta menghambat pertumbuhan bakteri pathogen di daerah sekitar luka (Heryadi & Iskandar, 2020). Adapun parameter uji senyawa tanin adalah cokelat kehitaman dan biru kehitaman. Gambar 23. Uji Senyawa Tanin dalam Gamat Pari Senyawa tanin dalam gamat pari dapat diidentifikasi melalui uji yang menghasilkan endapan berwarna cokelat kehitaman dan biru kehitaman. Respons reaksi warna ini mencerminkan keberadaan tanin dalam sampel. Dalam konteks gamat pari, tanin memiliki fungsi multi-fungsi yang mendukung perawatan kulit dan penyembuhan luka. Sifat astringent tanin membantu mengecilkan pori-pori kulit, meningkatkan kontraksi luka, dan menghentikan pendarahan ringan. Selain itu, tanin berperan sebagai antimikroba dengan mencegah pertumbuhan bakteri patogen di sekitar area luka, menjaga kebersihan dan mencegah infeksi. Sebagai antioksidan, tanin melindungi area luka dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas, mendukung integritas sel, dan mempercepat proses penyembuhan. Dengan identifikasi tanin melalui uji ini, tidak hanya dilakukan pengenalan senyawa, tetapi juga memahami peran pentingnya dalam kualitas gamat pari sebagai produk perawatan kulit yang efektif dan mendukung penyembuhan luka. d. Steroid/ Triterpenoid Steroid merupakan senyawa organik yang larut dalam lemak, yang mempunyai empat cincin yang dalam orientasi perhydrocyclopentano fenantrena sedangkan triterpenoid merupakan senyawa metabolit sekunder turunan dari terpenoid yang berbentuk siklik atau asiklik dan sering mempunyai gugus alkohol, aldehida,
69 atau asam katboksilat. Steroid dan triterpenoid memiliki kemampuan untuk mempromosikan fibroblast yang akan mensintesis kolagen dan akan mendukung struktur daerha yang mengalmai proses penyembuhan luka (Hanafiah et al., 2019). Untuk parameter senyawa steroid adalah berwarna hijau kebiruan dan senyawa triterpenoid ialah berwarna orange, jingga, dan kecokelatan. (a) (b) Gambar 24. (a) Uji Steroid, (b) Uji Triterpenoid Senyawa steroid dalam gamat pari saat diuji akan menghasilkan endapan berwarna hijau kebiruan, sementara senyawa triterpenoid menunjukkan variasi warna seperti oranye, jingga, dan kecokelatan. Warna-warna tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tanda identifikasi senyawa, tetapi juga merinci peran khusus senyawa tersebut dalam mendukung proses penyembuhan luka. Uji yang menunjukkan warna hijau kebiruan mengindikasikan keberadaan senyawa steroid, yang memiliki efek merangsang aktivitas fibroblast. Fibroblast adalah sel yang berperan penting dalam pembentukan kolagen, suatu protein utama yang mendukung struktur dan kekuatan jaringan ikat dalam proses penyembuhan luka. Sebaliknya, senyawa triterpenoid, yang menunjukkan warna yang beragam, juga berkontribusi pada pengembangan jaringan ikat dengan merangsang fibroblast. Dengan cara ini, kedua senyawa tersebut, steroid dan triterpenoid, bekerja secara sinergis dalam gamat pari untuk mempromosikan aktivitas fibroblast dan sintesis kolagen, menjadikannya pilihan yang potensial untuk perawatan luka dan mendukung kesehatan kulit secara keseluruhan. e. Saponin
70 Saponin merupakan jenis glikosida yang mengandung bagian karbohidrat (mono atau oligosakarida) yang mana terikat dengan aglikon. Saponin berperan sebagai antiseptik, merangsang proliferasi sel epidermis dan mempengaruhi kecepatan migrasi keratinosit ke daerah luka, sehingga dapat meningkatkan epitelisasi luka. Untuk parameter senyawa saponin ialah busa permanen. Gambar 25. Hasil Uji Senyawa Saponin Senyawa saponin dalam gamat pari dapat diidentifikasi melalui uji busa permanen, di mana terbentuknya busa yang stabil dan tahan lama adalah ciri khas sifat-sifat saponin. Saponin dalam gamat pari memiliki peran penting dalam mendukung perawatan kulit dan proses penyembuhan luka. Pembentukan busa yang permanen menjadi indikator keberadaan saponin, yang memiliki sifat antiseptik untuk melawan pertumbuhan bakteri patogen di sekitar luka. Selain itu, saponin merangsang proliferasi sel epidermis, membantu dalam peningkatan pertumbuhan dan peremajaan jaringan epitel. Pengaruh saponin tidak hanya terbatas pada itu; senyawa ini juga mempengaruhi kecepatan migrasi keratinosit, sel yang krusial dalam penyembuhan luka. Dengan merangsang migrasi keratinosit ke daerah luka, saponin dapat meningkatkan epitelisasi luka, yaitu pembentukan lapisan epitel yang mempercepat proses penyembuhan. Dengan uji busa permanen sebagai penanda kehadiran saponin, gamat pari menunjukkan potensinya sebagai pilihan yang efektif untuk perawatan luka, memanfaatkan sifat-sifat saponin yang mendukung aspek antiseptik dan proses penyembuhan kulit.
71 KOMBINASI BAWANG DAYAK & GAMAT PARI SEBAGAI BAHAN TERAPI SINDROM METABOLIT BERDASARKAN HASIL RISET A. Kadar Kolesterol pada Penderita Hyperlipidemia 1. Definisi Kolesterol KOLESTEROL merupakan penyebab utama penyakit kardiovaskular yang merupakan salah satu penyakit kronis dan menjadi salah satu masalah serius di negara maju maupun negara berkembang. WHO (World Health Organizatition) dan Organisasi Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) menyatakan bahwa penyebab utama kematian di beberapa negara Asia adalah penyakit jantung. Penyakit jantung koroner utamanya disebabkan oleh kelainan miokardium akibat insufisiensi aliran darah koroner karena aterosklerosis. Aterosklerosis merupakan salah satu penyakit degeneratif arteri besar dan menengah yang ditandai dengan penumpukan lipid dan fibrosis (Nuralifah et al., 2020). Etiologi aterosklerosis adalah multifaktorial, namun ada berbagai kondisi yang erat hubungannya dengan aterosklerosis yaitu hiperlipidemia, hipertensi, kebiasaan merokok, diabetes mellitus, olahraga, keturunan, dan stres (Sarwindah, 2020). Hyperlipidemia merupakan suatu kondisi meningkatnya konsentrasi lipid yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi trigliserida, LDL (Low Density Lipoprotein), dan kolesterol darah melebihi batas normal pada manusia > 200 mg/dL (Sarwindah, 2020) dan pada hewan coba dalam penelitian seperti mencit (Mus musculus) > 82 mg/dL (Fajherin, 2015). Keadaan ini dapat ditimbulkan karena peningkatan peroksidasi lipid yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh seperti di organ hati (Sarwindah,
72 2020), dan kadar tinggi tersebut mencerminkan perubahan lipoprotein yang disebabkan oleh produksi berlebih, katabolisme yang berkurang maupun keduanya (Heryadi & Iskandar, 2020). 2. Faktor yang Mempengaruhi Kadar Kolesterol Al-Rahmad et al., (2016) melaporkan bahwa penyakit jantung koroner umumnya terjadi karena peningkatan kadar kolesterol yang tidak stabil karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol di antaranya yaitu genetik, usia, jenis kelamin, dan IMT (Indeks Massa Tubuh). Berikut penjelasan yang lebih lanjut mengenai beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol. a. Genetik Sebanyak 80% kolesterol di dalam darah secara alami diproduksi oleh tubuh. Adanya faktor genetik (keturunan) menyebabkan seseorang memproduksi kolesterol lebih banyak dibandingkan orang lain walaupun hanya mengonsumsi sedikit makanan yang mengandung kolesterol atau lemak jenuh. Adanya unsur homocystine dalam darah yang merupakan unsur genetik juga dapat memicu peningkatan aktivitas sel platelet hyper-coagulation, gangguan fungsi lapisan dalam pembuluh darah (endothelium) dan oksidasi kolesterol LDL. Apabila seseorang memiliki Familial Hypercholesterolmia (Keturunan Hiper-kolesterolmia) akan menyebabkan kadar kolesterol tinggi yang turun-menurun dalam anggota keluarga dan juga dapat menempatkan seseorang memiliki risiko tinggi terkena serangan jantung lebih awal (Al-Rahmad et al., 2016). Hyperkolesterolemia adalah kondisi di mana kadar kolesterol dalam darah lebih tinggi dari batas normal. Ada dua jenis utama hyperkolesterolemia: hyperkolesterolemia primer dan sekunder. Hyperkolesterolemia primer, juga dikenal sebagai hyperkolesterolemia familial, jenis inilah yang memiliki komponen genetik yang signifikan. Penjelasan lebih rinci mengenai korelasi antara hyperkolesterolemia dan faktor genetik bahwa hyperkolesterolemia primer sering kali bersifat familial atau dapat diwariskan. Kondisi
73 ini dapat terjadi karena adanya mutasi genetik yang mengarah pada gangguan dalam metabolisme kolesterol. Mutasi pada gen yang mengode protein seperti apolipoprotein B (ApoB) dan reseptor LDL (LDLR) dapat menyebabkan kelainan dalam pengangkutan dan pengeluaran kolesterol dari darah. Reseptor LDL berperan dalam menghilangkan kolesterol berlebih dari darah. LDL (Low Density Lopoprotein) sering disebut sebagai "kolesterol jahat" karena membawa kolesterol ke sel-sel tubuh. Mutasi pada gen-gen yang mengatur produksi, pengangkutan, atau penghilangan LDL dapat meningkatkan risiko hyperkolesterolemia. Sedangkan HDL, atau "kolesterol baik," membantu mengeluarkan kolesterol dari sel-sel dan arteri. Gangguan dalam gen-gen yang terlibat dalam metabolisme HDL (High Density Lipoprotein) juga dapat berkontribusi terhadap hyperkolesterolemia. Adanya variasi genetik yang umum disebut sebagai polimorfisme genetik dapat memengaruhi respons individu terhadap diet atau pengobatan. Beberapa orang mungkin lebih rentan terhadap peningkatan kadar kolesterol karena faktor genetik ini. Meskipun ada faktor genetik yang kuat, gaya hidup dan faktor lingkungan juga memiliki peran penting dalam mengontrol kadar kolesterol. Pola makan, tingkat aktivitas fisik, dan faktor lingkungan lainnya dapat memodulasi ekspresi gen dan memengaruhi metabolisme kolesterol. Dalam kasus hyperkolesterolemia primer, tes genetik dapat membantu mengidentifikasi mutasi genetik yang mendasarinya. Pemahaman terhadap faktor genetik ini dapat membantu dalam merancang strategi pengelolaan dan pengobatan yang lebih efektif, termasuk penerapan perubahan gaya hidup dan penggunaan obatobatan jika diperlukan. b. Usia dan Jenis Kelamin Secara teori, faktor usia dan jenis kelamin mempengaruhi kadar kolesterol darah. Pada masa anak-anak, wanita memiliki nilai kolesterol yang lebih tinggi dibandingkan pria. Pria menunjukkan penurunan kolesterol yang signifikan selama masa remaja, dikarenakan adanya pengaruh hormon testosteron yang mengalami
74 peningkatan pada masa itu. Laki-laki dewasa di atas 20 tahun umumnya memiliki kadar kolesterol lebih tinggi dibandingkan wanita (Al-Rahmad et al., 2016). Setelah wanita mencapai menopause, prevalensi meningkatnya kadar kolesterol mencapai 5- 19% dan risiko hyperkolesterolmia tertinggi pada usia ≥ 60 tahun yaitu sebesar 3.19 kali. Sedangkan pada pria yang berusia 40-59 tahun berisiko sebesar 3,26 kali mengalami hyperkolesterolmia dan menurun pada usia ≥ 60 tahun menjadi 2.05 kali. Hal tersebut disebabkan karena berkurangnya aktifitas hormon estrogen setelah wanita mengalami menopause (Ujiani, 2015). Seiring bertambahnya usia, terjadi perubahan dalam metabolisme tubuh. Pada umumnya, kadar kolesterol total dan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) cenderung meningkat seiring penuaan. Faktorfaktor ini dapat disebabkan oleh peningkatan resistensi insulin, penurunan aktivitas fisik, dan perubahan hormon. Seiring usia, individu mungkin mengalami akumulasi faktor risiko lainnya, seperti gaya hidup yang kurang sehat, kelebihan berat badan, dan penurunan tingkat aktivitas fisik. Semua ini dapat berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol. Kebiasaan makan juga dapat berubah seiring usia, dan pola makan yang kurang sehat dapat meningkatkan risiko hyperkolesterolemia. Bertambahnya usia, tubuh mengalami perubahan dalam metabolisme yang dapat memengaruhi kadar kolesterol. Umumnya, terjadi peningkatan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) seiring penuaan. Faktorfaktor ini dapat dipengaruhi oleh beberapa aspek, termasuk peningkatan resistensi insulin. Resistensi insulin yang meningkat seiring bertambahnya usia dapat menyebabkan peningkatan produksi kolesterol dan menghambat penghilangan kolesterol dari darah. Selain itu, penurunan aktivitas fisik yang sering terjadi pada usia lanjut juga dapat berkontribusi pada perubahan profil lipid, termasuk peningkatan kadar kolesterol. Perubahan hormonal, seperti menurunnya kadar estrogen pada wanita setelah menopause, juga dapat memengaruhi metabolisme kolesterol. Semua faktor ini bersama-sama menciptakan lingkungan yang memfasilitasi peningkatan kadar kolesterol seiring penuaan. Pemahaman
75 mendalam terhadap mekanisme ini dapat membantu dalam merancang pendekatan pencegahan dan manajemen yang lebih efektif terkait dengan kesehatan kardiovaskular pada populasi usia lanjut. Hormon seks, terutama estrogen pada wanita, memiliki pengaruh pada metabolisme kolesterol. Estrogen diketahui memiliki efek protektif terhadap kesehatan jantung dengan mem-bantu menjaga tingkat kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) yang tinggi. Oleh karena itu, sebelum menopause, wanita cenderung memiliki kadar kolesterol total yang lebih rendah dibandingkan pria sebaya. Hormon seks, khususnya estrogen pada wanita, memainkan peran penting dalam mengatur metabolisme kolesterol dan memiliki dampak positif pada kesehatan jantung. Estrogen diketahui memiliki efek protektif terhadap sistem kardiovaskular dengan berbagai mekanisme, salah satunya adalah menjaga tingkat kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) tetap tinggi. Kolesterol HDL dikenal sebagai "kolesterol baik" karena membantu mengangkut kolesterol dari jaringan dan arteri ke hati untuk dikeluarkan dari tubuh. Oleh karena itu, sebelum mencapai masa menopause, wanita cenderung memiliki kadar kolesterol total yang lebih rendah dibandingkan pria sebaya. Efek positif estrogen pada kolesterol ini membantu melindungi wanita dari risiko penyakit jantung pada periode sebelum menopause. Namun, setelah menopause, produksi estrogen menurun secara signifikan, sehingga wanita pascamenopause dapat mengalami peningkatan kadar kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) dan penurunan kadar kolesterol HDL, meningkatkan potensi risiko penyakit jantung. Oleh karena itu, pemahaman mengenai peran hormonal ini tidak hanya memberikan wawasan tentang perbedaan kadar kolesterol antara pria dan wanita, tetapi juga relevan dalam konteks manajemen risiko kardiovaskular terutama pada populasi wanita pascamenopause. Setelah menopause, produksi estrogen menurun, dan ini dapat berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol LDL dan penurunan kadar kolesterol HDL. Sebagai hasilnya, wanita pascamenopause memiliki risiko peningkatan kadar kolesterol dan
76 risiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Setelah menopause, wanita mengalami penurunan produksi estrogen, hormon seks yang memiliki dampak signifikan pada metabolisme lipid. Estrogen, yang pada dasarnya bertindak sebagai faktor pelindung, memiliki efek menguntungkan terutama terhadap kadar kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) dan kolesterol HDL (High Density Lipoprotein). Setelah menopause, penurunan kadar estrogen dapat menyebabkan perubahan dalam komposisi lipid tubuh. Secara khusus, terjadi kecenderungan peningkatan kadar kolesterol LDL, yang sering disebut sebagai "kolesterol jahat." LDL memiliki peran penting dalam membawa kolesterol ke jaringan dan arteri, sehingga peningkatan kadar LDL dapat meningkatkan risiko pembentukan plak aterosklerotik dan penyakit jantung. Di samping itu, penurunan kadar estrogen juga berdampak pada kolesterol HDL, atau "kolesterol baik," yang berfungsi untuk mengeluarkan kolesterol dari sel dan arteri. Kehilangan efek protektif estrogen pada kolesterol HDL dapat mengakibatkan penurunan tingkat HDL, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Sebagai akibat dari perubahan metabolisme lipid ini, wanita pascamenopause cenderung memiliki risiko peningkatan kadar kolesterol secara keseluruhan. Peningkatan kadar kolesterol LDL dan penurunan kadar kolesterol HDL dapat menjadi faktor risiko yang signifikan untuk penyakit jantung koroner dan masalah kardiovaskular lainnya pada wanita setelah melewati masa menopause. Oleh karena itu, manajemen kesehatan kardiovaskular pada wanita pascamenopause sering kali melibatkan pemantauan dan tindakan pencegahan yang lebih intensif terkait dengan kontrol kadar kolesterol dan gaya hidup sehat. Selain pengaruh hormonal, perbedaan genetik antara pria dan wanita juga dapat memainkan peran penting dalam memengaruhi respons tubuh terhadap faktor-faktor yang memengaruhi kolesterol. Genetika memiliki dampak langsung pada regulasi berbagai komponen dalam metabolisme lipid, yang mencakup produksi, pengangkutan, dan penghilangan kolesterol. Perbedaan genetik antara pria dan wanita dapat mencakup variasi dalam ekspresi gen
77 dan polimorfisme genetik. Polimorfisme genetik merujuk pada variasi dalam urutan DNA yang dapat memengaruhi cara tubuh merespons faktor-faktor tertentu, seperti diet atau obat-obatan. Beberapa gen yang terlibat dalam metabolisme kolesterol, seperti gen-gen yang mengkode reseptor LDL atau enzim yang terlibat dalam sintesis kolesterol, dapat memiliki variasi genetik yang memengaruhi cara tubuh mengelola kolesterol. Selain itu, perbedaan genetik juga dapat memainkan peran dalam menentukan tingkat kolesterol basal pada pria dan wanita. Beberapa individu mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk memiliki kadar kolesterol yang lebih tinggi atau lebih rendah. Oleh karena itu, respons terhadap perubahan gaya hidup, seperti diet atau aktivitas fisik, dapat bervariasi antarindividu berdasarkan faktor-faktor genetik ini. Usia dan jenis kelamin memainkan peran penting dalam korelasi dengan hyperkolesterolemia melalui interaksi yang kompleks antara faktor genetik, hormonal, dan lingkungan. Pemahaman ini dapat membantu dalam merancang strategi pencegahan dan manajemen yang lebih tepat sesuai dengan kebutuhan individu berdasarkan faktor-faktor tersebut. Pemahaman tentang perbedaan genetik antara pria dan wanita dalam konteks metabolisme kolesterol dapat memberikan wawasan lebih mendalam dalam merancang pendekatan pencegahan dan manajemen yang spesifik berdasarkan faktor genetik individu. Identifikasi polimorfisme genetik dan pemahaman terhadap cara gen-gen tertentu berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan dapat menjadi dasar untuk pengembangan strategi personalisasi dalam manajemen kesehatan kardiovaskular. c. IMT (Indeks Massa Tubuh) Risiko tingginya kadar kolesterol dalam darah apabila menerapkan pola makan yang mengandung lemak jenuh yang tinggi dan energi yang tinggi. Pola makan yang sehat seperti mengurangi konsumsi lemak jenuh dan juga memperbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan dapat menurunkan kadar kolesterol sekitar 5-10% bahkan lebih. Pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan tubuh mengalami kelebihan berat badan. Kelebihan berat badan
78 akan mengakibatkan perubahan kadar lipid darah dan mengakibatkan aterosklerosis. Hubungan status gizi dengan kadar kolesterol darah adalah melalui resistensi insulin. Resistensi insulin menyebabkan hipersekresi dari sel beta pankreas, sehingga menimbulkan hiperinsulinemia dan berpengaruh pada gen yang menyebabkan gangguan metabolisme lemak yaitu peningkatan kadar LDL dan penurunan kadar HDL (Al-Rahmad et al., 2016). IMT mencerminkan proporsi antara berat badan dan tinggi badan, memberikan perkiraan kasar mengenai komposisi tubuh. Individu dengan IMT yang tinggi cenderung memiliki lebih banyak lemak tubuh. Lemak tubuh, terutama yang terdapat di sekitar organ dalam (lemak viseral), dapat berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Akumulasi lemak tubuh, terutama di area viseral, dapat meningkatkan resistensi insulin dan merangsang produksi kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein). Peningkatan kadar kolesterol LDL merupakan faktor risiko utama untuk pengembangan hyperkolesterolemia. Akumulasi lemak tubuh, terutama di area viseral atau sekitar organ dalam, menjadi faktor yang berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Lemak tubuh, selain berfungsi sebagai sumber energi, juga menyimpan kolesterol. Peningkatan kandungan lemak, terutama di area viseral, sering kali terkait dengan obesitas, yang pada gilirannya dapat meningkatkan resistensi insulin. Resistensi insulin merupakan kondisi di mana selsel tubuh tidak merespons insulin secara efisien, menyebabkan peningkatan kadar glukosa dan insulin dalam darah. Resistensi insulin yang terjadi akibat akumulasi lemak tubuh dapat merangsang hati untuk memproduksi lebih banyak kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein). Kolesterol LDL, yang sering disebut sebagai “kolesterol jahat”, membawa kolesterol dari hati ke sel-sel tubuh dan arteri. Peningkatan kadar kolesterol LDL merupakan faktor risiko utama untuk pengembangan hyperkolesterolemia, kondisi di mana terdapat kolesterol darah yang tinggi. Peningkatan kolesterol LDL dapat berperan dalam pembentukan plak aterosklerotik pada dinding arteri. Plak ini dapat menyempitkan pembuluh darah, meningkatkan
79 risiko penyakit jantung koroner, dan berkontribusi pada masalah kardiovaskular lainnya. Oleh karena itu, akumulasi lemak tubuh yang menyebabkan resistensi insulin dan merangsang produk kolesterol LDL dapat menjadi faktor pendorong utama terjadinya hyperkolesterolemia, memperburuk risiko kesehatan kardiovaskular. Strategi pencegahan dan manajemen hyperkolesterolemia perlu melibatkan perubahan gaya hidup untuk mengurangi lemak tubuh, pengelolaan berat badan, dan kontrol resistensi insulin sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan kardiovaskular secara optimal. Individu dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang tinggi sering kali mengalami peningkatan resistensi insulin, suatu kondisi di mana sel-sel tubuh tidak merespons insulin secara efisien. Resistensi insulin adalah fenomena yang dapat memicu sejumlah konsekuensi kesehatan, terutama dalam hal metabolisme lipid. Dalam konteks IMT tinggi, akumulasi lemak tubuh, terutama di area viseral, cenderung menjadi penyebab utama resistensi insulin. Resistensi insulin memengaruhi regulasi metabolisme kolesterol di dalam tubuh. Ketika sel-sel tubuh tidak dapat merespons insulin dengan baik, hati merespons dengan meningkatkan produksi dan pelepasan kolesterol ke dalam darah. Kolesterol yang dilepaskan oleh hati, terutama kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) atau “kolesterol jahat” dapat mengakibatkan peningkatan kadar kolesterol total dalam darah. Akibatnya, profil lipit individu dengan IMT tinggi dapat mengalami perubahan yang tidak diinginkan, termasuk peningkatan kadar kolesterol LDL. Kondisi ini merupakan faktor risiko utama bagi pengembangan hyperkolesterolemia, yang dapat membawa risiko lebih tinggi terhadap penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, pemahaman terhadap hubungan antara IMT tinggi, resistensi insulin, dan dampaknya pada profil lipid memberikan dasar penting dalam pengelolaan kesehatan kardiovaskular. Upaya pencegahan dan pengelolaan resistensi insulin, seperti perubahan gaya hidup dan kontrol berat badan, dapat menjadi strategi yang efektif mengatasi risiko kesehatan kardiovaskular pada individu IMT tinggi. Resistensi insulin dapat meningkatkan kadar kolesterol total, termasuk kolesterol LDL. Resistensi insulin juga dapat
80 menyebabkan penurunan kadar kolesterol HDL (High Density Lipoprotein), yang memiliki peran penting dalam mengangkut kolesterol dari jaringan dan arteri. IMT juga sering mencerminkan pola makan dan tingkat aktivitas fisik seseorang. Gaya hidup yang kurang sehat, termasuk diet tinggi lemak dan rendah aktivitas fisik, dapat meningkatkan risiko obesitas dan hyperkolesterolemia. IMT dapat mencerminkan dampak langsung dan tidak langsung dari gaya hidup terhadap metabolisme lipid. Diet tinggi lemak dan rendah aktivitas fisik dapat secara langsung memengaruhi kadar kolesterol, sementara akumulasi lemak tubuh juga dapat berkontribusi melalui resistensi insulin. Pengukuran IMT dan evaluasi profil lipid sering digunakan bersama-sama untuk mengevaluasi risiko kesehatan kardiovaskular. Pengelolaan hyperkolesterolemia sering melibatkan intervensi pada faktor-faktor yang memengaruhi IMT, seperti perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, dan pengendalian berat badan. 3. Dampak yang Ditimbulkan oleh Kolesterol Peningkatan kadar kolesterol yang berlebihan dapat menimbulkan sejumlah dampak negatif pada sistem kardiovaskular dan kesehatan jantung secara keseluruhan. Ketika kolesterol terakumulasi secara berlebihan, dapat menyebabkan penumpukan plak ateroskletorik di dinding pembuluh darah, suatu kondisi yang dikenal sebagai aterosklerosis. Aterosklerosis menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan berpotensi menghambat aliran darah yang lancar (Andersen, 2018). Proses aterosklerosis menjadi salah satu penyebab utama jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya. Pembuluh darah yang menyempit mengharuskan jantung untuk memompa darah dengan kekuatan yang lebih besar untuk menjaga aliran darah yang memadai ke seluruh tubuh. Peningkatan beban kerja ini dapat menyebabkan penurunan kualitas kesehatan jantung, meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner, dan menyebabkan gangguan fungsi jantung. Selain itu, kadar kolesterol yang berlebih juga dapat menjadi pemicu penyakit lain, seperti hipertensi. Penumpukan plak
81 aterosklerotik dapat menciptakan tekanan tambahan pada dinding pembuluh darah, menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih kaku dan meningkatkan tekanan darah. Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, merupakan faktor risiko utama untuk berbagai masalah kardiovaskular, termasuk stroke, gagal jantung, dan penyakit ginjal. Jika kadar kolesterol yang tinggi tidak dikelola dengan baik secara berkelanjutan, potensi untuk mengembangkan penyakit jantung koroner dan penyakit kardiovaskular lainnya semakin besar. Oleh karena itu, pengelolaan kadar kolesterol melalui perubahan gaya hidup sehat, diet seimbang, dan jika diperlukan, obat-obatan, dapat menjadi langkah yang krusial untuk mencegah dampak negatif pada kesehatan jantung dan sistem kardiovaskular secara keseluruhan. 4. Khasiat & Manfaat Umbi Bawang Dayak dan Gamat Pari sebagai Terapi Kolesterol Pada umumnya tumbuhan umbi bawang dayak dan gamat pari hanya dianggap sebagai tumbuhan liar yang tumbuh di pedalaman hutan dan disepelekan oleh sebagian besar orang, faktanya kedua tumbuhan tersebut memiliki kandungan yang mampu membasmi penyakit kompleks salah satunya adalah penyakit sindrom metabolit seperti kolesterol. Meskipun sering dianggap sebagai tumbuhan liar yang tumbuh di pedalaman hutan dan kadang-kadang disepelekan, tumbuhan umbi bawang dayak dan gamat pari ternyata memiliki potensi besar dalam mengatasi penyakit kompleks, khususnya sindrom metabolik seperti kolesterol tinggi. Bawang dayak mengandung senyawa antioksidan seperti flavonoid dan polifenol yang dapat melawan radikal bebas dan memberikan manfaat pada kesehatan metabolik, termasuk penurunan kadar kolesterol. Sementara itu, gamat pari, yang ditemukan di perairan tropis, kaya akan asam lemak omega-3 dan memiliki sifat antiinflamasi. Kedua tumbuhan ini, yang sering tumbuh di lingkungan alami, menunjukkan potensi dalam mengelola kondisi kesehatan terkait sindrom metabolik. Namun, penting untuk mencatat bahwa penggunaan herbal ini sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga
82 medis atau ahli herbal, mengingat perbedaan respons tubuh individu dan potensi interaksi dengan obat-obatan lainnya. meskipun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara lebih mendalam manfaat dan risiko penggunaan kedua tumbuhan ini dalam konteks kesehatan metabolik. Tumbuhan umbi bawang dayak dan gamat pari telah terbukti memiliki efikasi yang cukup tinggi dalam mengontrol, bahkan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Penelitian sebelumnya, yang dilakukan oleh Prayitno et al., (2018) dan Rotama et al., (2019), memberikan bukti bahwa senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam kedua tumbuhan ini memiliki peran yang efektif dalam menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa tumbuhan umbi bawang dayak dan gamat pari mengandung senyawa metabolit sekunder yang memiliki sifat penurun kadar kolesterol. Dengan adanya bukti ilmiah ini, diketahui bahwa kedua tumbuhan ini dapat memberikan kontribusi positif dalam manajemen kadar kolesterol. Menariknya, efektivitas umbi bawang dayak dan gamat pari dalam mengontrol dan menurunkan kadar kolesterol menunjukkan kemiripan dengan obat sintetik yang umumnya digunakan, seperti simvastatin. Simvastatin adalah obat golongan statin yang dikenal efektif dalam menurunkan kadar kolesterol dengan menghambat produksi kolesterol di hati. Fakta bahwa tumbuhan ini dapat memiliki efek serupa membuka peluang untuk mempertimbangkan pendekatan alami dalam pengelolaan kadar kolesterol tanpa ketergantungan pada obat-obatan sintetik. Meskipun temuan ini menarik, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara rinci mekanisme kerja senyawa metabolit sekunder dalam mengurangi kadar kolesterol dan sejauh mana tumbuhan ini dapat digunakan sebagai bagian dari strategi terapeutik yang lebih luas untuk kesehatan kardiovaskular. Selain itu, konsultasi dengan profesional kesehatan tetaplan penting untuk memastikan bahwa penggunaan tumbuhan ini sesuai dan aman, terutama jika ada kondisi kesehatan atau penggunaan obat-obatan tertentu yang perlu diperhatikan.
83 Tumbuhan umbi bawang dayak dan gamat pari tidak hanya terbukti efektif dalam menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh, tetapi juga memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang bermanfaat untuk mengatasi beberapa penyakit lainnya. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder dalam kedua tumbuhan ini dapat memiliki dampak positif pada berbagai aspek kesehatan. Mereka dapat membantu mengatur kadar gula darah, menjadikannya relevan dalam pengelolaan diabetes. Selain itu, tumbuhan ini juga dilaporkan memiliki hepatoprotektif, yang dapat melindungi hati dari kerusakan dan membantu dalam pencegahan serta pengelolaan penyakit hati. Sifat diuretik dan antrikristalisasi dan senyawa tertentu dalam tumbuhan ini dapat berperan dalam mengurangi pembentukan batu ginjal. Selain itu, sifat antiinflamasi dan antimikroba dari senyawa metabolit sekunder dapat memberikan dampak positif pada berbagai penyakit dan kondisi kesehatan dengan membantu tubuh melawan infeksi dan meredakan peradangan. Meskipun demikian, penting untuk mencatat bahwa penggunaan tumbuhan ini sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga medis atau ahli herbal untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya, terutama jika ada kondisi kesehatan tertentu atau penggunaan obat-obatan yang perlu diperhatikan. Perlu juga dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendalami mekanisme kerja dan potensi penggunaan tumbuhan ini dalam konteks pengobatan yang lebih luas. 5. Potensi Ekstrak Umbi Bawang Dayak dan Gamat Pari sebagai Terapi Kolesterol Nor Mila et l., (2024) melakukan penelitian potensi kombinasi umbi bawang dayak dan gamat pari terhadap penurunan kadar kolesterol secara in vivo pada hewan coba mencit Balb/c yang diinduksi suplemen olahan (jeroan) dan kuning telur puyuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika umbi bawang dayak dan gamat pari terbukti mampu menurunkan kadar kolesterol. Formulasi dari sediaan ekstrak kombinasi umbi bawang dayak dan gamat pari dirancang dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%.
84 Secara keseluruhan data pada kombinasi ekstrak umbi bawang dayak dan gamat pari berpotensi dalam menurunkan kadar kolesterol hewan coba, pada seluruh taraf konsentrasi sediaan. Signifikansi didukung dengang uji statistik menunjukkan bahwa hasil analisis varians pengaruh kombinasi ekstrak umbi bawang dayak dan gamat pari tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan kada kolesterol pada signifikansi 1%. Perbandingan rerata penurunan kadar kolesterol sebelum dan sesudah pemberian treatment dari kombinasi ekstrak umbi bawang dayak dan gamat pari yang secara statistik menggambarkan konsentrasi efektif dalam penurunan kadar kolesterol. Gambar 26. Perbandingan Rerata Penurunan Kadar Kolesterol Sebelum dan Sesudah Pemberian Treatment Kombinasi Ekstrak Umbi Bawang Dayak dan Gamat Pari (Sumber: Nor Mila, 2024) Penurunan kadar kolesterol paling tinggi yaitu pada kelompok hewan coba yang diberi sediaan kombinasi ekstrak umbi bawang dayak dan gamat pari P3 (25%). Berdasarkan data hasil penurunan kadar kolesterol pada mencit penderita hiperlipidemia dapat disimpulkan bahwa sediaan kombinasi ekstrak umbi bawang dayak dan gamat pari memiliki potensi dalam menurunkan kadar kolesterol apabila dilihat dari perbandingan rerata sebelum dan sesudah pemberian treatment kombinasi ekstrak umbi bawang dayak dan gamat pari pada masing-masing kelompok hewan coba. 116.25 101.25 111.5 136.5 117.5 108.25 111.25 82.5 80.75 121.5 94.75 84.25 0 50 100 150 P1 (-) P2 (+) P3 (25%) P4 (50%) P5 (75%) P6 (100%) Rerata Kadar Kolesterol Mencit (mg/dL) Sebelum Sesudah
85 Kandungan flavonoid dan alkaloid yang tinggi berpotensi memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi yang sistem kerjanya berperan sebagai antioksidan serupa dengan hormon estrogen yaitu sebagai efek kardioprotektif melalui kinerja perbaikan profil lipid (Adawiah et al., 2015). Kandungan flavonoid dan alkaloid yang tinggi dalam tumbuhan seperti umbi bawang dayak dan gamat pari memiliki potensi besar sebagai agen antioksidan yang efektif. Flavonoid adalah kelompok senyawa fitokimia yang dikenal karena sifat antioksidannya, sedangkan alkaloid juga memiliki kemampuan antioksidan tertentu. Antioksidan bekerja dengan menghentikan atau memperlambat kerusakan sel-sel tubuh yang disebabkan oleh radikal bebas, molekul yang dapat menyebabkan stres oksidatif dan merusak sel-sel. Efek antioksidan dari flavonoid dan alkaloid ini juga terkait dengan sistem hormonal, khususnya dengan hormon estrogen. Hormon estrogen dikenal memiliki peran dalam melindungi jantung dan pembuluh darah, memberikan efek kardioprotektif. Kinerja antioksidan yang tinggi dari darah, memberikan efek kardioprotektif. Kinerja antioksidan yang tinggi dari senyawa-senyawa ini dapat meniru atau mendukung efek hormon estrogen, menghasilkan efek kardioprotektif yang serupa. Salah satu aspek utama dari efek kardioprotektif ini adalah melalui perbaikan profil lipid. Profil lipid yang seimbang, dengan kadar kolesterol yang terkendali, khususnya dengan menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan meningkatan kolesterol baik (HDL), merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan jantung. Senyawa flavonoid alkaloid dapat membantu mengatur metabolisme lipid, mengurangi oksidasi LDL, dan meningkatkan efisiensi transportasi kolesterol oleh HDL. Secara keseluruhan, mekanisme kerja antioksidan dari kandungan flavonoid dan alkaloid ini dapat menyediakan perlindungan terhadap stres oksidatif pada jantung dan pembuluh darah, memberikan efek kardioprotektif yang melibatkan perbaikan profil lipid. Oleh karena itu, konsumsi tumbuhan yang kaya akan flavonoid dan alkaloid dapat menjadi bagian dari pendekatan alami untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan mencegah penyakit jantung.
86 Perbaikan profil lipid, yang mencakup penurunan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), trigliserida, dan peningkatan HDL (kolesterol baik), dapat dicapai melalui berbagai aktivitas tubuh, salah satunya adalah olahraga aerobik. Olahraga aerobik telah terbukti efektif dalam menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida, serta meningkatkan kadar HDL. Penelitian oleh Rachman et al., (2022) menyoroti bahwa aktivitas olahraga aerobik dapat memberikan manfaat signifikan terhadap perbaikan profil lipid, sehingga menjadi komponen penting dalam strategi pencegahan penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, flavonoid, salah satu senyawa yang ditemukan dalam tumbuhan seperti umbi bawang dayak dan gamat pari, memiliki potensi berkontribusi dalam perbaikan profil lipid. Sistem kerja flavonoid dapat menghambat enzim HMG-CoA reduktase, yang berperan dalam pembentukan kolesterol di hati. Ini dapat mengurangi produksi kolesterol, khususnya kolesterol LDL yang cenderung meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Penelitian oleh Maghfirah et al., (2016) menyoroti peran flavonoid dalam mengatur aktivitas HMG-CoA reduktase. Selain itu, flavonoid juga diketahui dapat meningkatkan aktivitas Lechitin Cholesterol Acyl Transferase (LCAT). LCAT merupakan enzim yang berperan penting dalam metabolisme lipid, terutama dalam transfer asam lemak ke kolesterol, membentuk senyawa yang kurang berbahaya dan lebih mudah diangkut oleh HDL. Ini memberikan kontribusi pada peningkatan kadar HDL, yang memiliki efek protektif terhadap penyakit kardiovaskular. Sistem kerja flavonoid juga dapat memengaruhi ekskresi asam empedu. Asam empedu, yang dikeluarkan bersama feses, merupakan bagian dari siklus ekskresi kolesterol. Flavonoid dapat memfasilitasi proses ini, yang mengarah pada penurunan kadar kolesterol dalam tubuh. Penelitian oleh Hidayanti et al., (2021) menyoroti pentingnya mekanisme ini dalam mencapai efek penurunan kadar kolesterol. Dengan demikian, kombinasi olahraga aerobik dan konsumsi tumbuhan yang kaya flavonoid, seperti umbi bawang dayak dan gamat pari, dapat menjadi strategi holistik untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular melalui perbaikan profil lipid. Meskipun
87 temuan ini menarik, perlu diingat bahwa efek individu dapat bervariasi, dan konsultasi dengan profesional kesehatan tetaplah penting dalam mengintegrasikan dengan tepat jenis olahraga dan pola makan ke dalam kehidupan sehari-hari. Kolesterol dalam darah biasanya terikat dengan lipoprotein, molekul kompleks yang berperan dalam transportasi lemak dan kolesterol ke seluruh tubuh. Lipoprotein sendiri dihasilkan oleh asam linoleat, yang umumnya ditermukan pada tumbuhan. Asa linoleat adalah salah satu jenis asam lemak esensial, yang berarti tubuh manusia tidak dapat mensintesisnya sendiri dan harus diperoleh dari makanan. Asam lemak ini bersifat jenuh dengan memiliki ikatan rantai karbon 18. Keberadaan asam linoleat dan pengikatannya dengan lipoprotein serta kolesterol memberikan dampak penting pada regulasi kadar kolesterol dalam tubuh. Asam linoleat, yang umumnya ditemukan dalam sumber-sumber makanan tumbuhan seperti minyak biji-bijian dan kacang-kacangan, berperan dalam sintesis lipoprotein. Lipoprotein ini kemudian berfungsi sebagai “pembawa” kolesterol dalam aliran darah. Pengikatan antara lipoprotein yang dihasilkan oleh asam lionelat dengan kolesterol menghasilkan kompleks lipoprotein-kolesterol. Ini memungkinkan transportasi kolesterol ke seluruh tubuh, termasuk ke jaringan dan organ yang membutuhkannya. Pentingnya asam linoleat terletak pada pengaruhnya terhadap kadar kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein), yang sering disebut sebagai “kolesterol jahat”. Asam linoleat dapat berkontribusi pada penekanan atau pengurangan kadar LDL dalam darah. Ini penting karena tingginya kadar LDL dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Menariknya, meskipun asam linoleat memengaruhi kadar LDL, tidak ada pengaruh yang signifikan pada kadar HDL (High Density Lipoprotein) yang sering disebut sebagai “kolesterol baik”. HDL memiliki peran penting dalam membersihkan kolesterol berlebih dari pembuluh darah, dan keberadaan asam linoleat tidak menghambat fungsi ini. Penelitian yang dilakukan oleh Rachman et al., (2022) menegaskan bahwa mekanisme ini dapat memainkan peran dalam mengelola profil lipid
88 dengan menekan kadar LDL tanpa mengganggu kadar HDL. Sebagai hasilnya, konsumsi asam linoleat melalui makanan tumbuhan dapat dianggap sebagai strategi potensial dalam menjaga keseimbangan kolesterol dalam tubuh dan melindungi kesehatan jantung. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa pola makan secara keseluruhan atau faktor-faktor gaya hidup lainnya juga memiliki dampak pada kesehatan kardiovaskular secara keseluruhan. B. Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes 1. Definisi Diabetes Diabetes adalah suatu gangguan metabolik yang dicirikan oleh adanya peningkatan kadar glukosa darah, yang dikenal sebagai hiperglikemia. Peningkatan kadar glukosa ini disebabkan oleh kerusakan pada fungsi insulin dan sekresi insulin oleh pankreas. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh sel-sel pankreas dan berperan penting dalam mengatur kadar glukosa dalam darah. Diabetes melibatkan ganggunan pada metabolisme tubuh, terutama dalam pengaturan glukosa. Normalnya, glukosa merupakan sumber energi utama untuk sel-sel tubuh. Namun, pada individu dengan diabetes, proses regulasi glukosa terganggu, menyebabkan peningkatan kadar glukosa dalam darah. Insulin berperan dalam membantu sel-sel tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi atau menyimpannya untuk digunakan nanti. Pada diabetes tipe 2, yang merupakan bentuk diabetes yang paling umum, terjadi penurunan sensitivitas sel terhadap insulin (resistensi insulin), sehingga insulin tidak dapat berfungsi dengan efektif. Pada diabetes tipe 1, yang merupakan bentuk diabetes yang kurang umum, pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup. Ini disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel pankreas yang memproduksi insulin (Ayu & Puspita, 2020). Kadar glukosa darah dapat bervariasi sepanjang hari, terutama setelah makan. Setelah mengonsumsi makanan, tubuh melepaskan glukosa ke dalam darah sebagai respons terhadap pencernaan dan penyerapan nutrisi. Pada individu tanpa diabetes, insulin dihasilkan
89 untuk membantu sel-sel menyerap glukosa. Namun, pada individu dengan diabetes, regulasi ini terganggu, menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah setelah makan merupakan karakteristik yang umum pada diabetes. Ini disebut sebagai respons post-prandial. Pada kondisi normal, tubuh dapat mengatasi peningkatan ini dengan cepat, tetapi pada individu dengan diabetes, regulasi glukosa setelah makan terhambat. Kadar glukosa darah yang meningkat setelah makan pada individu dengan diabetes biasanya kembali normal dalam waktu 2 jam. Ini mencerminkan respons tubuh terhadap makanan dan usahanya untuk mengembalikan kadar glukosa ke dalam rentang normal. Manajemen diabetes melibatkan berbagai strategi, termasuk pengaturan pola makan, olahraga teratur, dan penggunaan obat-obatan atau insulin. Monitoring kadar glukosa darah secara teratur juga merupakan bagian penting dari manajemen diabetes untuk memastikan bahwa kadar glukosa tetap dalam rentang target yang ditetapkan oleh profesional kesehatan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fatimah (2015), diabetes merupakan suatu gangguan kesehatan yang ditandai oleh beberapa karakteristik utama. Gangguan ini terkait dengan hiperglikemia, yaitu peningkatan kadar glukosa darah, dan juga melibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Faktor kunci yang terlibat dalam diabetes adalah kekurangan insulin, baik secara relatif (kurangnya respons sel terhadap insulin) atau absolut (kurangnya produksi insulin oleh pankreas). Hiperglikemia adalah kondisi di mana kadar glukosa dalam darah melebihi batas normal. Ini dapat terjadi ketika insulin tidak bekerja dengan efektif atau ketika pankreas tidak dapat menghasilkan insulin yang cukup. Hiperglikemia menjadi ciri utama diabetes dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan jika tidak dikelola dengan baik. Diabetes memengaruhi metabolisme berbagai makronutrien, termasuk karbohidrat, protein, dan lemak. Karena insulin terlibat dalam pengaturan penggunaan dan penyimpanan nutrisi, kekurangan insulin atau resistensi insulin dapat mengakibatkan ketidakseimbangan metabolisme.
90 Gejala yang dialami oleh penderita diabetes mencakup beberapa hal seperti: Polidipsia: Kebutuhan akan minum air yang berlebihan, disebabkan oleh peningkatan pembuangan cairan tubuh sebagai respons terhadap hiperglikemia. Polyuria: Produksi urin yang berlebihan, juga sebagai respons terhadap hiperglikemia dan kebutuhan tubuh untuk mengeluarkan kelebihan glukosa. Polifagia: Nafsu makan yang meningkat secara berlebihan, karena tubuh tidak dapat menggunakan glukosa dengan efisien untuk memenuhi kebutuhan energi. Penurunan Berat Badan: Meskipun nafsu makan meningkat, penderita diabetes dapat mengalami penurunan berat badan karena tubuh menggunakan cadangan lemak dan protein sebagai sumber energi. Kesemutan: Gangguan saraf perifer dapat menyebabkan sensasi kesemutan atau mati rasa pada ekstremitas. 2. Faktor yang Mempengaruhi Kadar Diabetes Menurut Kemenkes (2013), faktor faktor diabetes dibagi menjadi 2, yaitu: a) Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi 1) Usia Usia dapat memengaruhi risiko terjadinya diabetes mellitus, dan hal ini dapat dijelaskan dengan beberapa faktor yang berkaitan dengan proses penuaan. Redaksi tersebut menyebutkan bahwa penderita diabetes mellitus cenderung berumur 45 – 64 tahun, yang merupakan rentang usia yang masih produktif (Soegondo, 2011). Menurut Notoatmodjo (2012) menyatakan bahwa pada aspek psikologis dan mental taraf berfikir seseorang semakin matang dan dewasa. Seiring bertambahnya usia, risiko terkena diabetes mellitus cenderung meningkat. Proses penuaan dapat memengaruhi respons
91 sel terhadap insulin dan fungsi pankreas, yang dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah. Proses penuaan sering kali menyebabkan penurunan sensitivitas sel terhadap insulin, yang disebut sebagai resistensi insulin. Resistensi insulin menjadi faktor penting dalam perkembangan diabetes tipe 2, yang sering kali muncul pada usia yang lebih tua. Selain faktor biologis, perubahan gaya hidup seiring bertambahnya usia juga dapat berkontribusi pada peningkatan risiko diabetes. Penurunan aktivitas fisik, perubahan pola makan, dan peningkatan berat badan sering terjadi seiring bertambahnya usia, dan hal ini dapat memperburuk resistensi insulin. Aspek psikologis dan mental yang dijelaskan dalam redaksi juga memainkan peran. Meskipun pada umumnya proses perkembangan mental semakin baik seiring bertambahnya usia, tekanan psikologis, stres, dan perubahan kehidupan dapat memengaruhi pola makan dan gaya hidup, yang kemudian dapat berdampak pada risiko diabetes. Usia juga berkaitan dengan kesehatan umum seseorang. Pada usia yang lebih tua, mungkin lebih banyak muncul komorbiditas atau penyakit penyerta seperti tekanan darah tinggi atau penyakit jantung, yang dapat meningkatkan risiko diabetes. Dengan demikian, usia bukan hanya merupakan faktor risiko bagi diabetes mellitus, tetapi juga mencerminkan kompleksitas perubahan biologis, psikologis, dan gaya hidup yang dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Penting untuk memahami bahwa faktor-faktor lain seperti genetika, pola makan, dan tingkat aktivitas fisik juga berperan dalam pengembangan diabetes. Upaya pencegahan dan manajemen diabetes pada populasi yang lebih tua dapat melibatkan pendekatan holistik yang mencakup pengawasan kesehatan secara menyeluruh dan perubahan gaya hidup yang sehat. 2) Riwayat keluarga dengan DM (anak penyandang DM) Menurut Hugeng dan Santos (2017) menyatakan bahwa riwayat keluarga atau faktor keturunan memiliki peran penting dalam membawa informasi genetik yang dapat memengaruhi perilaku seseorang. Faktor keturunan mencakup informasi genetik yang
92 diwariskan dari generasi ke generasi. Gen merupakan bagian dari kromosom, struktur genetik dalam sel manusia, yang membawa informasi genetik yang menentukan berbagai karakteristik fisik dan perilaku. Riwayat keluarga atau faktor keturunan dapat dianggap sebagai “unit informasi pembawa sifat”. Ini berarti bahwa informasi genetik yang dimiliki oleh anggota keluarga dapat memainkan peran dalam menentukan sifat-sifat tertentu, termasuk perilaku. Beberapa studi genetika telah menunjukkan bahwa banyak perilaku manusia, termasuk kecenderungan terhadap penyakit tertentu atau respons terhadap lingkungan, dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Misalnya, kecenderungan genetik dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit tertentu, termasuk penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, atau kecenderungan perilaku seperti kecanduan. Riwayat keluarga sering menjadi fokus penelitian genetika untuk memahami bagaimana informasi genetik dapat berperan dalam penentuan sifat-sifat tertentu. Studi genetika keluarga dapat membantu mengidentifikasi pola pewarisan genetik dan menilai risiko genetik suatu kondiri tertentu. Kromosom dalam sel manusia membawa gen-gen yang dapat memengaruhi sifat-sifat tertentu. Oleh karena itu, informasi genetik yang diwariskan melalui riwayat keluarga dapat memiliki korelasi dengan perilaku tertentu. Ini termasuk kecenderungan terhadap kebiasaan hidup, respons terhadap stres, atau bahkan kecenderungan terhadap penyakit tertentu. Pemahaman tentang riwayat keluarga dan faktor keturunan memiliki implikasi penting dalam kesehatan perilaku. Individu yang menyadari riwayat keluarga mereka dapat lebih waspada terhadap risiko tertentu dan mungkin mengambil tindakan preventif atau memodifikasi gaya hidup mereka untuk mengurangi risiko tersebut. Dengan demikian, redaksi tersebut menekankan bahwa informasi genetik yang diwariskan melalui faktor keturunan dapat memiliki dampak pada perilaku seseorang dan memiliki implikasi penting dalam pemahaman dan manajemen kesehatan. Responden yang memiliki keluarga dengan DM harus waspada. Risiko menderita DM bila salah satu orang tuanya menderita DM
93 adalah sebesar 15%. Jika kedua orang tuanya memiliki DM adalah 75% (Diabetes UK, 2010). Redaksi tersebut memberikan informasi tentang risiko diabetes mellitus (DM) pada seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan DM. Redaksi menunjukkan bahwa responden yang memiliki keluarga dengan DM (Diabetes Mellitus) perlu meningkatkan kewaspadaannya terhadap risiko terkena penyakit tersebut. Faktor keturunan dapat memainkan peran penting dalam penentuan risiko seseorang terkena DM. Jika seseorang memiliki anggota keluarga yang menderita DM, hal ini dapat mencerminkan kombinasi faktor genetik dan lingkungan yang berkontribusi pada penyakit tersebut. Informasi kemudian memberikan tingkat risiko spesifik berdasarkan jumlah orang tua yang menderita DM. Jika salah satu dari orang tua mengidap DM, risiko seseorang untuk mengalami DM dinyatakan sebesar 15%. Sementara itu, jika kedua orang tua memiliki DM, risiko tersebut meningkat drastis menjadi 75%. Jika kedua orang tua mengidap-nya, mungkin perlu melakukan langkah-langkah pencegahan lebih intensif, seperti memantau pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, dan menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin. 3) Riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir bayi > 4000 gram atau pernah menderita DM saat hamil (DM Gestasional) Riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4.000 gram atau pernah menderita Diabetes Mellitus (DM) saat hamil, yang dikenal sebagai Diabetes Gestasional (DMG), memiliki implikasi kesehatan tertentu. Melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4.000 gram, atau yang dikenal sebagai makrosomia, dapat menjadi tanda potensial adanya masalah dalam manajemen gula darah selama kehamilan. Penderita diabetes gestasional cenderung memiliki risiko melahirkan bayi dengan berat yang lebih besar, karena kadar gula darah yang tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan janin. Diabetes gestasional adalah kondisi di mana wanita mengalami peningkatan kadar gula darah selama kehamilan. Kondisi ini dapat
94 meningkatkan risiko makrosomia, yang pada gilirannya dapat menyebabkan komplikasi persalinan dan kesehatan bayi. Bayi yang lahir dengan berat yang lebih besar dapat meningkatkan risiko komplikasi persalinan, seperti persalinan sulit atau perlunya tindakan seperti operasi caesar. Ukuran bayi yang besar juga dapat meningkatkan risiko cedera pada ibu dan bayi selama proses persalinan. Makrosomia dan diabetes gestasional juga dapat meningkatkan risiko kesehatan pada bayi di kemudian hari. Bayi yang lahir dengan berat yang lebih besar memiliki risiko meningkat untuk mengembangkan penyakit metabolik seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular saat dewasa. Riwayat melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4.000 gram atau mengalami diabetes gestasional menekankan pentingnya manajemen gula darah selama kehamilan. Pemantauan gula darah secara teratur, perubahan pola makan, dan aktivitas fisik dapat membantu mengelola konfisi ini dan mengurangi risiko komplikasi. Wanita yang memiliki riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir yang besar atau diabetes gestasional mungkin perlu dipantau lebih lanjut untuk risiko kesehatan mereka dan bayi di masa depan. Pemantauan kesehatan secara teratur dan perubahan gaya hidup dapat membantu mengurangi risiko terjadinya komplikasi yang terkait dengan diabetes dan makrosomia. Dengan memahami konsekuensi dari riwayat melahirkan dengan berat lahir lebih dari 4.000 gram atau diabetes gestasional, dapat diambil langkah-langkah pencegahan dan manajemen yang sesuai untuk meminimalkan risiko kesehatan bagi ibu dan bayi. Dalam rangkah pencegahan dan manajemen risiko kesehatan bagi ibu dan bayi dengan riwayat melahirkan bayi berberat lebih dari 4.000 gra atau Diabetes Gestasional (DMG), beberapa langkah penting dapat diambil selama kehamilan dan pasca persalinan. Pertama, pemantauan gula darah secara rutin selama kehamilan menjadi kunci, memungkinkan identifikasi perubahan kontrol gula darah dan penyesuaian manajemen yang tepat. Pola makan sehat dengan memperhatikan asupan karbohidrat, lemak, dan protein, serta melibatkan diri dalam aktivitas fisik yang aman selama
95 kehamilan, juga menjadi langkah-langkah penting untuk mengontrol gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin. Setelah persalinan, manajemen gula darah harus terus diperhatikan dengan perubahan pola makan, aktivitas fisik teratur, dan penggunaan obat-obatan jika diperlukan. Pemantauan kesehatan bayi yang teliti setelah kelahiran menjadi aspek penting, termasuk pemantauan pertumbuhan dan perkembangan mereka. Pendidikan dan dukungan dari tim kesehatan, yang melibatkan dokter kandungan, ahli gizi, dan perawat, memberikan informasi yang cukup tentang manajemen diabetes, perubahan gaya hidup, dan pentingnya pemantauan kesehatan bayi. Perencanaan kehamilan yang terencana dengan dukungan tim kesehatan dapat membantu menilai dan mengelola risiko kesehatan dengan lebih efektif. Selain itu, melibatkan laktasi dan menjaga pola makan yang sehat selama menyusui merupakan langkah-langkah tambahan untuk mendukung kesehatan ibu dan bayi. Pemeriksaan kesehatan rutin dan kunjungan ke dokter secara teratur menjadi kebijakan yang sangat penting dalam memantau dan mengelola kesehatan secara keseluruhan. Kolaborasi yang erat dengan tim kesehatan membantu memastikan bahwa langkahlangkah ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan spesifik setiap individu, menciptakan pendekatan yang terkoordinasi dan efektif. b) Faktor risiko yang dapat dimodifikasi 1) Overweight/berat badan lebih (indeks massa tubuh > 23kg/m2) Salah satu cara untuk mengetahui kriteria berat badan adalah dengan menggunakan Indeks Masa Tubuh (IMT). Berdasarkan dari BMI atau kita kenal dengan Body Mass Index di atas, maka jika berada di antara 25-30, maka sudah kelebihan berat badan dan jika berada di atas 30 sudah termasuk obesitas. 2) Aktivitas fisik kurang
96 Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur sangat bermanfaat bagi setiap orang karena dapat meningkatkan kebugaran, mencegah kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot serta memperlambat proses penuaan. Olahraga harus dilakkan secara teratur. Macam dan takaran olahraga berbeda menurut usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan dan kondisi kesehatan. Jika pekerjaan sehari-hari seseorang kurang memungkinkan gerak fisik, upayakan berolahraga secara teratur atau melakukan kegiatan lain yang setara. Kurang gerakatau hidup santai merupakan faktor pencetus diabetes (Nabil, 2012). 3) Merokok Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara merokok dengan kejadian DM tipe (p = 0,000). Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Houston yang juga mendapatkan bahwa perokok aktif memiliki risiko 76% lebih tinggi terserang DM Tipe 2 dibanding dengan yang tidak (Irawan, 2010). Dalam asap rokok terdapat 4.000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua di antaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan yang bersifat karsinogenik. 4) Hipertensi (TD > 140/90 mmHg) Menurut Nabil (2012) menyatakan bahwa jika tekanan darah tinggi, maka jantung akan bekerja lebih keras dan risiko untuk penyakit jantung dan diabetes pun lebih tinggi. Seseorang dikatakan memiliki tekanan darah tinggi apabila berada dalam kisaran > 140/90 mmHg. Karena tekanan darah tinggi sering kali tidak disadari, sebaiknya selalu memeriksakan tekanan darah setiap kali melakukan pemeriksaan rutin (Nabil, 2012). 3. Dampak yang Ditimbulkan oleh Diabetes Dampak yang ditimbulkan bagi penderita diabetes adalah terganggunya kadar gula darah, tetapi penyakit ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan komplikasi pada organ vital, selain berdampak pada fisik penderita diabetes juga berdampak pada
97 psikologis. Menurut Sutawardana et al., (2016) menyatakan bahwa komplikasi kronik ketika peningkatan gula di dalam darah yang berlangsung ters-menerus, akan berdampak terjadinya angiopatik diabetic, atau gangguan pada semua pembuluh darah diseluruh tubuh. Dampak psikologis yang dirasakan oleh penderita meliputi perubahna emosi seperti stress, cemas, takut, merasa sedih, tidak berdaya, dan merasa tidak ada harapan dan putus asa dan stress. Widodo (2014) menyatakan bahwa seorang penderita diabetes harus dapat memahami bahwa stress dapat memicu kenaikan kadar gula darah yang mana pasaien harus berupaya meredamnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh S.A. Nugroho & Purwanti (2010) menyatakan bahwa stress bisa memperburuk keadaan pasien dan berpengaruh terhadap kadra glukosa darah. Stres dapat meningkatkan kadar glukosa dalam darah dapat menstimulus endokrin untuk mengeluarkan ephinefrin. Efek dari ephinefrin mengakibatkan timbulnya proses glikoneogenesis di dalam hati, sehingga melepaskan glukosa dalam darah dengan jumlah yang besar (Syam et al., 2014). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kusnanto et al., (2019), keadaan stres dapat memunculkan dampak negatif yaitu meningkatkan sekresi katekolamin, dalam kondisi stres yang dapat memicu terjadinya glikogenolisis, hipoglikemia atau dapat terjadi hiperglikemia. 4. Khasiat & Manfaat Umbi Bawang Dayak dan Gamat Pari sebagai Terapi Diabetes Tanaman ini telah secara digunakan oleh masyarakat Dayak sebagai tanaman obat secara turun temurun. Secara empiris bawang dayak ini telah digunakan oleh masyarakat local untuk mengobati berbagai macam penyakit salah satunya adalah diabetes. Bawang dayak memiliki kandungan senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid memiliki sifat yang protektif terhadap kerusakan sel β yang mana sebagai penghasil insulin dan dapat mengembalikan sensitivitas reseptor insulin pada sel dan bahkan dapat meningkatkan sensitivitas
98 insulin (Mokoginta et al., 2020). Ikram & Jayali, 2023 menyatakan bahwa flavonoid dapat meregenerasi sel beta pancreas dan dapat membantu merangsang sekresi insulin. Khairunnisa M. Thaib & Antasionasti, 2022 melaporkan pada percobaan untuk menguji aktifitas efek hipoglikemia yang mana dengan cara menyuntikkan ekstrak bawang dayak secara oral terhadap hewan uji tikus jantan. Hewan coba tersebut sebelumnya sudah diinduksi dengan glukosa terlebih dahulu. Hasilnya dari ekstrak tersebut menunjukkan hasil aktivitas penurunan kadar glukosa darah yakni pada 50 mg/kgBB. Adapun aktifitas penghambatan terhadap enzim α-glukosidase juga ditunjukkan oleh ekstrak bawang dayak. Adapun peran dari enzim ini adalah sebagai pengurai pada proses polisakarida menjadi monokasarida. Akibat dari aktifitas enzim ini kadar glukosa darah akan meningkat. Demikian pula halnya dengan Gamat pari (Ampelocissus rubiginosa L.) merupakan salah satu tanaman berkhasiat obat yang berasal dari Kalimantan Tengah. Secara empiris masyarakat Kalimantan Tengah menggunakan gamat pari sebagai obat liver, nyeri, dan obat sakit perut (Anwar et al., 2018). Tanaman gamat pari ini terkandung senyawa fitokomia yang meliputi tanin, alkaloid, flavonoid, dan saponin (Zerlina, 2013). Nurhalimah, dkk (2015) melaporkan bahwa senyawa tanin yang terdapat di dalam gamat pari memiliki fungsi sebagai adstringen, yakni zat yang berkaitan dengan jaringan yang mempunyai fungsi untuk membekukan protein, sehingga membran mukosa pada kulit dapat menjadi kering sehinggan terbentuk pembatas (thick junction) yang memiliki sifat resisten terhadap faktor inflamasi eksternal. Alkaloid memiliki kemampuan sebagai analgetik perifer dengan menurunkan produksi PGEZ, serotonin, dan histamine pada lambung yang diinduksi dengan asam asetat. Hal ini berkaitan dengan aktivitasnya sebagai antiinflamasi yang mana alkaloid diketahui dapat menghambat kerja siklooksigenasi dan lipooksigenase sehingga produksi pada prostaglandin dan leukotriene juga terhambat (Qamariah et al., 2019). Bustanul et al (2018) menyatakan bahwa kandungan senyawa flavonoid mempunyai fungus sebagai antioksidan, radang, bakteri
99 pathogen dan memiliki kemampuan antioksidan yang bisa mencegah terjadinya luka akibat adanya radikal bebas. Kandungan saponin yang terdapat di dalam gamat pari memiliki fungsi dalam penyembuhan luka dengan meningkatkan produksi kolagen serta mempercepat proses epitelisasi (Anwar, 2018). Sejalan dengan penelitian Trinita (2023) melaporkan bahwa senyawa fitokimia yang terkandung di dalam gamat pari yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin memiliki potensi sebagai agen antidiabetes dan antihiperlipidemia. Hasil dari penelitian Trinita (2013) melaporkan bahwa menunjukkan ekstrak etanol dari gamat pari mempunyai aktivitas untuk menurunkan kadar gula darah, kolestrol total dan trigliserida darah pada mencit diabetes yang diinduksi dengan menggunakan aloksan. Penurunan kadar gula darah mencit dalam penelitian ini dihitung sesuai yang akan terjadi sebelum serta sesudah dilakukannya treatment mengguna-kan memakai ekstrak umbi Perbandingan mengenai kadar gula darah pada mencit diabetes dan mencit yang sudah dilakukan treatment menunjukkan bahwa data sediaan umbi bawang dayak dan gamat pari memiliki potensi dalam menunrunkan kadar gula darah pada hewan coba, di mana konsentrasi 75% merupakan konsemtrasi yang mempunyai potensi yang paling efektif dibandingkan dengan konsentrasi yang lebih tinggi pada mencit penderita diabetes secara in vivo. Perbandingan rerata kadar gula darah mencit sebelum dan setelah diberikan perlakuan, yang mana disajikan pada Gambar 27 berikut.
100 Gambar 27. Perbandingan Rerata Penurunna Kadar Gula Darah Mencit Sebelum dan Sesudah Pemberian Treatment Kombinasi Ekstrak Umbi Bawang Dayak dan Gamat Pari (Fakhrunnisa Atila, 2024) Redaksi tersebut mencatat bahwa penurunan kadar gula darah mencit sebelum dan sesudah perlakuan tertinggi terjadi dengan pemberian kombinasi ekstrak umbi bawang dayak dan gamat pari pada konsentrasi P5 (75%), di mana kadar gula darah mencapai 79,25 mg/dL. Hal ini mengindikasikan potensi kombinasi ini dalam menurunkan gula darah pada hewan percobaan. Kandungan flavonoid yang terdapat dalam umbi bawang dayak dan gamat pari diyakini memiliki peran dalam mengembalikan fungsi jaringan pankreas dengan meningkatkan pelepasan insulin oleh sel-sel pankreas. Selain itu, flavonoid juga diketahui meningkatkan sensitivitas sel perifer terhadap insulin, yang berarti sel-sel tubuh lebih responsif terhadap insulin yang diproduksi, sehingga membantu menurunkan kadar gula darah. Analisis tersebut menunjukkan bahwa kombinasi umbi bawang dayak dan gamat pari mungkin memiliki keunggulan dalam mengurangi kadar gula darah dibandingkan dengan penggunaan tunggal dari masing-masing bahan. Potensi sinergisitas antara keduanya mungkin meningkatkan efektivitas dalam menangani kondisi hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi. Namun, diperlukan lebih banyak penelitian untuk 134.25 159.75 136 128 175.5 135.5 81.25 75 66.25 72.5 79.25 77.25 P1(-) P2 (+) P3 (25%) P4 (50%) P5 (75%) P6 (100%) Sebelum Sesudah