kesimbangan, kejujuran, humanisme, dan spiritualnya guna
pemuasan bagi mitra bisnisnya. Dalam Islam, prinsip
pelaksanaan transaksi ekonomi digolongkan dalam 4 pilar,
yakni : pertanggungjawaban, kehendak bebas, keseimbangan
(adil), dan tauhid. Kesuksesan pelaku bisnis tidak lantas
membuatnya bertindak mubadzir, tidak bermewah-mewahan
dan tetap hidup wajar dan sederhana. Pelaku bisnis harus tetap
memberikan perhatian bagi yang haram dan halal, dengan
demikian produk dan jasa dalam kondisi yang halal dan
menghindari yang haram.
Alquran memberikan penawaran petunjuk dan prinsip
dasar bagi orang-orang yang beriman guna kebaikkan perilaku
etis pada bisnis. Dalam Alquran, etika bisnismemiliki prinsip
yang digolongkan dalam 4 hal:
1. Kebebasan (Freedom, al-Hururiyah)
Seseorang tidak dapat membayangkan
kecenderungan transaksi dan perdagangan yang ada,
sampai hak kelompok sekaligus individu guna
memindahkan dan memiliki sebuah kekayaan mendapat
pengakuan tanpa paksaan dan secara bebas. Terdapat
beberapa hak kelompok sekaligus individu yang diakui oleh
Alquran yaitu:
a. Persetujuan mutual
b. Perdagangan yang legal
c. Penghormatan dan pengakuan kekayaan pribadi
2. Keadilan / Persamaan
Secara tegas dinyatakan maksud wahyu yang ada
ialah perwujudan persamaan dan keadilan. Adapun dua
judul besar yang menjadi kategori keadilan bisnis ini
mengacu ajaran Alquran:
a. Imparatif (Bentuk Perintah)
Dimana berisi kandungan rekomendasi dan
perintah yang berrhubungan dengan perilaku bisnis
dengan kategori, yakni:
1) Sebaiknya kontrak, kesepakatan, dan janji dipenuhi.
45
2) Jujur dalam takaran dan timbangan
3) Bayaran, gaji dan kerja
4) Benar, tulus hati, dan jujur
5) Kompeten dan efisien
6) Seleksi mengacu keahlian
7) Verifikasi dan investigasi
b. Perlindungan
Keadilan yang diterapkan pada perilaku bisnis, Alquran
sudah memberikan petunjuk pasti bagi orang-orang
yang berima, yakni berfungsi menjadi alat pelindung.
c. Dalam Etika Bisnis Islam, terdapat ketentuan yang
terlarang dan tidak diperbolehkan, mencakup:
1) Sejumlah bisnis yang tidak sah
2) Ingkar janji
3) Kebohongan
4) Tidak jujur
5) Penipuan
6) Riba.
d. Sejumlah jenis etika bisnis Islam yang menjadikan tidak
sahnya sebuah bisnis yakni:
1) Tindakkan yang memicu pemaksaan dan kerusakan
2) Monopoli
3) Proteksionisme
4) Pelanggaran dalam pembayaran hutang dan gaji
5) Penentuan harga yang fix oleh pemerintah
6) Penimbunan
7) Patnership yang invalid
8) Tidak menghargai prestasi
9) Melakukan hal yang melambungkan harga
10)Mengonsumsi hak milik orang lain
Sifat lain Rasulullah yang menjadi sifat tambahan yakni
saja‟ah, yang berarti berani. Terdapat kemampuan dan
kemauan nilai bisnis, responsi, ketepatan dalam keputusan
yang diambil, analisis data, dan kemampuan dalam
46
pengambilan keputusan. Nilai-nilai etika islam yang mampu
memberikan dorongan bisis yang sukses dan berumbuh yakni:
1. Konsep Ihsan
Ihsan ialah seseorang yang bekerja dengan
bersungguh-sungguh, memiliki dedikasi tinggi dan tidak
kenal menyerah demi tujuan yakni optimalisasi, dengan
demikian diperoleh hasil maksimal, hal ini bmengacu pada
optimalisme bukan perfeksionisme. Perfeksionalisme tidak
disarankan, sebab agar dapat dicapai manusia
kemungkinannya kecil. Segala yang sempurna hanya
dimiliki Allah Swt., manusia hanya berupaya agar mampu
mendekati kesempurnaan itu sendiri.
Negara Jepang terdapat konsep yang serupa, dimana
ditilahnya dikenal dengan Kaizen yang berarti unending
improvement. Orang Jepang tidak pernah melupakan
pelaksanaan konsep Kaizen pada kehidupannya termasuk
kegiatan sehari-hari dan pekerjaannya, oleh karenanya
mampu bersaing dengan negara lain secara baik.
2. Itqan
Dimana berbuat secara teratur dan teliti. Sehingga
kualitas produk yang dihasilkan harus mampu dijaga. Allah
SWT sudah menjanjikan siapapun yang bersungguh-
sungguh maka akan ditunjukkan jalan pencapaian yang
paling tinggi. Kembali kepada Jepang dan bangsa Barat,
nyatanya merekapun melakukan penerapan konsep itqan
ini yang mereka laksanakan dengan penerapan TQC (Total
Quality Control). Sehingga mutu produksi terus diawasi
dimana yang dimaksud yakni mutu barang dagangan,
dengan upaya gar mampu lebih baik.
3. Konsep hemat
Konsep unggulan Protestan ethics-nya Weber pada
dasarnya selaras dengan konsep Islam. Semenjak 14 abad
yang lalu Nabi Muhammad SAW telah mengajarkannya
kepada seluruh umat. Dimana manusia sebaiknya tidak
47
bertindak mubadzir dan bertindak hemat. Sebab boros ialah
teman syaitan. Akan tetapi hemat yang dimaksud bukanlah
kikir, hanya saja harta yang dimliki hanya digunakan pada
hal dengan manfaat bagi dirinya dan orang lain. Oleh
karenanya uang yang lain dapat disisihkan dan ditabung.
Tabungan yang dihasilkan nantinya bisa dimanfaatkan dan
diinvestasikan, yang pada waktunya akan dimanfaatkan
sebagai modal usaha dan prduksinya. Secara berkelanjutan
terdapat hasil tambahan bagi orang tersebut yang secara
otomatis akan membawa pada kehidupan agama yang lebih
baik.
4. Kejujuran dan Keadilan
Kejujuran (honesty) dalam Islam menjadi pilar yang
vital, dikarenakan jujur ialah sebutan lainnya dari
kebenaran. Islam secara tegas memberikan larangan dalam
bertindak menipu, berbohong atau bentuk lainnya.
Larangan ini disebabkan karena secara luas kebenaran dan
nilai berpengaruh pada pihak yang bertransaksi secara
langsung dalam perdagangan. Sementara dalam Islam
keadilan (justice) memiliki arti dengan suka sama suka
(antarraddiminkum) dimana bagi kedua pihak tidak ada yg
didzolimi (la tazlimuna wa la tuzlamun).
5. Kerja Keras
Bentuk usaha kerja keras ini misalnya usaha dalam
bidang bisnis. Dalam kerja keras ini memilki kepuasan batin
tersendiri dimana tidak bisa dinikmati profesi lain. Pada
dunia bisnis, yag diutamakan yakni prestasi lalu berlanjut
pada prestise, bukan sebaliknya. Umumnya orang yang
mengedepankan prestise tidak memiliki kemampuan untuk
maju, sebab dikatakan maju jika memiliki pretasi. Kerja
keras ini menjadi awal atas prestasi, dalam hal ini mencakup
dalam segala aspek bidang. Kemauan keras (azam) ini bisa
menjadi penggerak motivasi guna melakukan pekerjaan
dengan sungguh-sungguh. Bangsa yang berhasil akrena
48
orang-orangnya yang bersedia memperbaiki nasib, tahan
menderita dan bekerja keras Pekerjaan dakwah yang
dilaksanakan Rasul pula menjadi cerminan kerja keras, yang
mana akhirnya dapat berjaya.
49
BAB V
ISLAMIC CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
(CSR)
A. Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Perspektif Islam
Corporate social responsibility (CSR) dalam sudut pandang
Islam ialah praktik bisnis yang secara Islami mempunyai
tanggung jawab etis. Perusahaan memasukan berbagai norma
agama Islam di dalam operasinya yang ditandai dengan
terdapatnya komitmen ketulusan dalam menjaga kontrak
sosial. Oleh karenanya, praktik bisnis dalam kerangka corporate
social responsibility (CSR) Islami meliputi suatu rangkaian
aktivitas bisnis dalam wujudnya. Walaupun tidak dibatasi
jumlah kepemilikan profit, jasa, dan barangnya, akan tetapi
beberapa upaya untuk pendayagunaan dan perolehannya
dibatasi oleh aturan haram dan halal syari‟ah.
Berdasar perspektif Islam, tujuan dari pelaksanaan
corporate social responsibility (CSR) harus untuk menciptakan
kebajikan bukan lewat beberapa kegiatan yang di dalamnya
memuat unsur riba, akan tetapi mengacu praktik yang
diperintahkan Allah dalam bentuk wakaf, sedekah, infak, dan
zakat. Corporate social responsibility (CSR) juga harus
mengedepankan nilai ketulusan hati dan kedermawanan. Sikap
ini lebih dicintai Allah dibandingkan berbagai ibadah
mahdhah. Rasulullah SAW bersabda, “Memenuhi keperluan
seorang mukmin lebih Allah cintai dari pada melakukan dua
puluh kali haji dan pada setiap hajinya menginfakan ratusan
ribu dirham dan dinar”. Rasulullah SAW dalam hadist lainnya
juga bersabda, “Jika seorang muslim berjalan memenuhi
keperluan sesama muslim, itu lebih baik baginya daripada
melakukan tujuh puluh kali thawaf di Baitullah.”
Pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) dalam
Islam juga termasuk suatu cara mereduksi berbagai
permasalahan sosial yang ada di masyarakat dengan menjaga
keseimbangan distribusi kekayaan di masyarakat dan
mendorong produktivitas masyarakat. Islam mencegah
50
terjadinya distribusi kekayaan sebatas pada beberapa orang
saja dan mengharuskan supaya distribusi kekayaan terjadi
pada seluruh anggota masyarakat. Allah Berfirman : “supaya
harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di
antara kamu” (QS. Al hasyr: 7).
Praktik corporate social responsibility (CSR) dalam Islam
berorientasi kepada etika bisnis islami. Perusahaan dalam
operasionalnya harus bersih dari segala macam modus praktik
korupsi serta sepanjang operasionalnya memberikan jaminan
layanan sebaik mungkin, dimana ini juga mencakup layanan
terpercaya bagi setiap produknya. Secara tegas hal ini juga
termuat dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman: “Maka
sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu
kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan
timbangannya” (QS. al-A‟raf ayat 85).
Sehingga, apabila motivasi (niat) melaksanakan praktik
corporate social responsibility (CSR) adalah untuk membantu
masyarakat yang memerlukan, niscaya dapat digolongkan
dalam ghairu mahdhoh. Artinya, walaupun pada asalnya
program tersebut bukanlah ibadah, akan tetapi semata sebab
berharap ridha Allah SWT untuk membantu orang lain, maka
pelakunya akan memperoleh pahala selayaknya beribadah. Jika
niatnya seperti ini, maka dalam melaksanakan corporate social
responsibility (CSR) keuntungannya bukan hanya perusahaan
akan semakin dekat dengan masyarakat. Akan tetapi,
pengelolanya juga akan memperoleh pahala dan semakin dekat
dengan Allah SWT.
Jika tidak seperti itu, atau bisa dikatakan bahwa program
corporate social responsibility (CSR) tersebut sebatas bermotif
ekonomi semata, maka pahala ibadah tidak akan diperoleh,
sebab sedari semula sudah terealisasi dari nilai- nilai teologis
yang sejak merencanakan program sejatinya bisa disetting.
Sebab inilah, betapa rugi perusahaan yang menjalankan
program corporate social responsibility (CSR) sebatas
menginginkan memperoleh keuntungan duniawi yang sifatnya
51
sesaat, dan sama sekali terpisah dari berbagai nilai teologis
yang transenden ukhrowiyah.
B. Pandangan Islam Terhadap Corporate Social Responsibility
(CSR)
Konsep corporate social responsibility (CSR) dalam Islam
tidak sama dengan konsep corporate social responsibility (CSR)
yang dikembangkan di barat. Yusuf dan Bahari (2011)
memaparkan bahwa perbedaannya meliputi:
1) Dasar atau prinsip-prinsip nilai dan budaya.
2) Perkembangan nilai-nilai dan budaya.
Corporate social responsibility (CSR) dalam Islam dibentuk
berdasarkan epistemologi Islam dan tasawuf (pandangan
dunia) yang tidak sama dengan corporate social responsibility
(CSR) yang dikembangkan di Barat. Farook (2007)
menerangkan, secara Islam tanggung jawab sosial perusahaan
tidak berbeda dengan tanggung jawab sosial dari tiap muslim,
yakni menentang atau melarang yang salah dan menjalankan
yang benar. Definisi salah (al-bathil) dan benar (al-haq) bisa
dimaknai sebagai dua konsep yang tumpang tindih. Benar
(haq) secara hukumnya mengarah kepada seluruh yang
dianjurkan atau diperbolehkan (halal), sementara salah (bathil)
mengarah kepada seluruh yang tidak dianjurkan atau tidak
diperbolehkan (haram).
Berdasarkan sudut pandang hukum Islam Farook (2007)
menerangkan, “benar” mengarah kepada yang seharusnya
sementara “salah” mengarah kepada yang tidak adil. Tanggung
jawab sosial yang dimiliki perusahaan bukan sesuatu yang
baru dalam Islam. Selama 14 abad terakhir ini, tanggung jawab
sosial sudah mulai eksis serta diaplikasikan. Tanggung jawab
sosial kerap dibahas dalam Al-Qur'an. Al Qur'an dimana
senantiasa mengkaitkan petumbuhan ekonomi dengan
kesuksesan bisnis yang sangat dipengaruhi oleh etika
pengusaha dalam menjalankan bisnisnya. Islam
memperhatikan bisnis lewat aspek moral guna mendapat
untung yang semaksimal mungkin. Kondisi ini memperlihat-
52
kan bahwa Islam berhubungan dengan moralitas dan
perekonomian, dimana dua hal ini tidak bisa dipisahkan.
Terkait aspek tersebut juga ditegaskan oleh Nabi Muhammad
SAW dalam hadist yang diriwayatkan oleh Malik bin Anas:
“Seorang pekerja/karyawan berhak untuk setidaknya
mendapatkan makanan yang baik dan pakaian dengan ukuran
yang layak dan tidak dibebani dengan kemampuan untuk
bekerja di luar batas”. (Malik, 795, 2: 980).
Kelestarian lingkungan juga dipertimbangkan dalam
Islam sebagai sebuah tanggung jawab sosial. Seluruh usaha
bisnis wajib memastikan kelestarian lingkungan (QS Al-
Baqarah ayat 205)
Artinya: “Dan apabila ia berpaling dari kamu, ia berjalan di
bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak
tanamtanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai
kebinasaan”.
Di dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana Islam
melihat kelestarian lingkungan. Seluruh usaha nonbisnis atau
bisnis wajib memastikan kelestarian lingkungan. Sangat dekat
dan tidak dapat dipisahkan hubungan antara lingkungan
dengan manusia. Islam dengan terang tidak memperbolehkan
suatu hal yang berbahaya bagi lingkungan atau individu.
Isalam dalam bidang kesejahteraan sosial mendorong
untuk melakukan amal kepada orang-orang yang memiliki
keterbatasan kemampuan dalam bekerja dan kepada orang-
orang yang memerlukan lewat qard hasan (pinjaman
kesejahteraan) dan sadaqah (QS AtTaghaabun ayat 16).
Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut
kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah
53
nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-
orang yang beruntung”.
Ayat tersebut menerangkan tanggung jawab sebagai
orang yang menganut Islam untuk menolong orang lain lewat
kontribusi sumbangan dan amal, serta kekikiran di dalam Islam
adalah sebuah kekejian. Yusuf dan Bahari (2011) juga
menjelaskan, selain berpengaruh terhadap kesejahteraan sosial,
sebuah pinjaman kebajikan juga bisa bermanfaat ganda untuk
perusahaan dan individu. Pertama, memperoleh formasi
jaringan bisnis baru yang bisa menjadikan keuntungan
meningkat. Kedua, pinjaman kebajikan bisa membentuk citra
positif bagi perusahaan dan seseorang. Sabda Nabi Muhammad
Saw. dalam hadits yang diriwayatkan oleh Salman bin Amir,
“Sedekah bagi kaum miskin adalah amal. Dan amal untuk
keluarga memiliki dua keuntungan, yaitu bermanfaat bagi
Allah dan memperkuat persaudaraan” (HR. Tirmizi, 1993:
Hadis Nomor 653).
Penyataan tersebut memperlihatkan bahwa konsep
keadilan dan konsep tanggung jawab sosial sudah lama ada
dalam Islam, selama seperti Nabi Muhammad Saw yang
membawa kehadiran. Nabi Muhammad Saw menciptakan
keadilan serta mewujudkan tanggung jawab sosial sesuai
dengan ketetapan dalam Al Qur'an. Tidak berbeda juga dengan
praktik Nabi Muhammad Saw dalam menerapkan keadilan
dan tanggung jawab sosial dalam masyarakat yang menjadi
sumber pedoman untuk membimbing generasi berikutnya,
dimana ini disebut dengan As Sunnah. Al Qur'an dengan As
Sunnah sudah sangat harmonis dalam menegakkan keadilan
yang sejati. Tugas dari keberadaan umat muslim di muka bumi
yakni sebagai khalifah yang adil dan hamba yang taat kepada
Allah.
Hubungan kedua tugas utama ini harus selaras dan satu
sama lainnya tidak boleh dipisahkan. Setiap individu sebagai
hamba yang menyembah Allah berkewajiban untuk
54
menjadikan segala apa yang terjadi dalam hidupnya sebagai
wujud pengabdian kepada Allah yang sempurna. Terkait ini,
diperlukan pemahaman terkait sebuah konsep dalam arti yang
lebih luas. Hal ini bermakna bahwa setiap individu tidak hanya
dituntut untuk melakukan ibadah khusus saja, akan tetpai juga
ibadah umum yang lain dengan niat yang benar, wajib
memastikan bahwa seluruh tindakannya sesuai syariah, serta
semua kegiatan yang membawa kesejahteraan bagi alam dan
manusia sesuai kondisi tertentu. Kewajiban corporate social
responsibility (CSR) Islam merupakan tanggung jawab seseorang
dalam sebuah perusahaan untuk memberi dampak positif bagi
lingkungan dengan maksud guna melestarikan lingkungan
alam dan memberdayakan masyarakat yang lemah.
Sayyid Qutb menyatakan, Islam memiliki prinsip
pertanggungjawaban yang selaras dalam seluruh ruang
lingkup dan bentuknya. Antara suatu masyarakat dengan
masyarakat yang lain, antara individu dengan sosial, antara
individu dengan keluarga, serta antara jiwa dengan raga.
Tanggung jawab sosial mengarah kepada kewajiban
perusahaan untuk memberikan perlindungan serta
berkontribusi kepada masyarakat di mana perusahaan tersebut
berada.
Tiga domaian tanggung jawab sosial yang diemban
sebuah perusahaan, meliputi:
1. Para Pelaku Organisasi, terdiri dari:
a. Hubungan Perusahaan dengan Pekerja.
1) Hak Pribadi.
Apabila seorang pekerja mempunyai permasalahan
fisik yang menjadikannya tidak bisa mengerjakan
suatu tugas atau apabila seorang pekerja di masa lalu
sudah berbuat salah, maka sang majikan tidak
diperbolehkan menginformasikan berita itu. Apabila
dilakukan, maka akan melanggar hak pribadi dari
pekerja tersebut.
55
2) Akuntabilitas.
Walaupun pekerja atau majikan satu sama lainnya
secara sengaja saling menipu, akan tetapi mereka
berdua tetap harus mempertanggungjawabkan segala
tindakannya di hadapan Allah SWT. Contohnya,
Rasulullah SAW tidak menahan upah siapapun.
3) Penghargaan terhadap keyakinan pekerja.
Seorang pengusaha muslim dilarang memperlakukan
pekerjanya seolah-olah dalam Islam tidak berlaku
pada saat waktu kerja. Misalnya, pekerja muslim
harus diberi waktu istirahat apabila mereka sakit dan
tidak bisa bekerja, tidak boleh dipaksa untuk
melakukan sesuatu yang berlawanan degan aturan
moral Isalam, diberikan waktu untuk mengerjakan
shalat, serta lainnya. Keyakinan para pekerja
nonmuslim juga harus dihargai guna menegakkan
keseimbangan dan keadilan.
4) Upah yang adil.
Upah dalam organisasi Islam harus direncanakan
secara adil baik bagi majikan ataupun pekerja. Ketika
hari pembalasan tiba, Rasulullah SAW akan menjadi
saksi untuk meraka yang mempekerjakan buruh yang
sudah menyelesaikan pekerjaannya, akan tetapi tidak
diupah.
5) Keputusan perekrutan, promosi bagi pekerja.
Islam mendorong kita supaya memperlakukan
seluruh muslim dengan cara yang adil. Contohnya,
dalam merekrut, proses promosi, serta berbagai
keputusan lainnya di mana manajer dalam menilai
kinerja setiap orang, keadilan dan kejujuran
merupakan suatu keharusan.
b. Hubungan Pekerja dengan Perusahaan
Banyak permasalahan etis yang menyangkut
hubungan antara perusahaan dengan pekerja, khususnya
berhubungan dengan masalah konflik kepentingan,
56
kerahasiaan, dan kejujuran. Sehingga, seorang pekerja
dilarang membocorkan rahasia perusahaan kepada
orang luar dan dilarang menggelapkan uang perusahaan.
Terjadinya praktik tidak etis lainnya apabila para
manajer menambahkan harga palsu untuk pelayanan
dan makanan dalam pembukuan keuangan
perusahaannya. Kebanyakan dari mereka menipu sebab
menganggap bahwa dirinya dibayar rendah serta
menginginkan memperoleh upah yang adil. Selain itu
juga bisa dikarenakan ketamakkan. Bagi pekerja Muslim,
Allah SWT memperingatkan dengan jelas di dalam Al-
quran: “Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan
perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang
tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak
manusia tanpa alasan yang benar”.
Pekerja Muslim yang sadar akan makna dalam
ayat tersebut, sepatutunya tidak berbuat yang tidak etis.
c. Hubungan Perusahaan dengan Pelaku Usaha Lain
1) Distributor.
Berhubungan dengan distributor, etika bisnis
menjelaskan individu dalam bernegosiasi harus
dengan harga yang adil serta dilarang mengambil
keuntungan berdasar kekuasaan atau bagian yang
lebih besar. Guna menghindari adanya
kesalahpahaman untuk ke depannya, Allah SWT
sudah memberi perintah kepada kita untuk secara
tertulis membuat perjanjian kewajiban bisnis.
Transaksi gharar antara pemasok dengan perusahaan
juga tidak diperbolehkab dalam Islam. Bukan hanya
masalah menyangkut diperbolehkannya praktik
agensi secara umum, pedagang juga tidak
diperbolehkan mencampuri sistem pasar bebas lewat
suatu perantaraan. Perantaraan seperti ini
berkemungkinan memicu inflasi harga.
57
2) Konsumen atau pembeli. Pembeli sepatutnya
menerima barang dengan harga yang wajar dan
dalam kondisi baik . Para pembeli juga harus
diberitahukan apabila ada kekurangan pada barang.
Beberapa praktik yang dalam islam dilarang saat
berhubungan dengan pembeli atau konsumen:
a) Dilarang mengambil bunga atau riba
b) Membeli barang curian
c) Bersumpah palsu untuk mendukung sebuah
penjualan
d) Menjual barang rusak atau palsu
e) Menimbun dan manipulasi harga
f) Menggunakan timbangan atau alat ukur yang
tidak tepat
3) Pesaing.
Walaupun beberapa negara barat menyatakan dirinya
sebagai kawasan berdasar pada prinsip persaingan
pasar, beberapa publikasi bisnis utama akan
menunjukkan bahwa suatu bisnis akan berupaya
menang serta mengalahkan para kompetitornya.
Melalui mengalahkan para kompetitornya, suatu
perusahaan kemudian akan bisa mendapatkan hasil
ekonomi melebihi rata-rata lewat praktik monopoli
harga dan penimbunan.
2. Lingkungan Alam
Muslim senantiasa didorong untuk terus menghargai
alam. Allah juga sudah menunjuk keindahan alam sebagai
tanda kebesaran-Nya. Islam menekankan peran individu
sebagai khalifah di bumi dengan menjadikannya
bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Seorang
pengusaha muslim dalam perannya sebagai khalifah
diharapkan dapat memelihara alam. Paham
environmentalisme bisnis memiliki kecenderungan
mutakhir di mana suatu usaha secara proaktif
memperhatikan lingkungannya dengan sangat cermat, ini
58
bukanlah sesuatu yang baru. Beberapa contoh semakin
memberikan kejelasan pentingnya hubungan Islam dengan
lingkungan alam, polusi lingkungan dan hak-hak
kepemilikan, perlakuan terhadap binatang, serta polusi
lingkungan terhadap berbagai sumber alam yang sifatnya
“bebas”, contohnya air dan udara.
3. Kesejahteraan Sosial Masyarakat
Tidak hanya bertanggung jawab terhadap pihak-
pihak yang berkepentingan dalam usaha serta lingkungan
alam sekitarnya saja, kaum muslim dengan organisasi
tempatnya bekerja juga diharapkan memperhatikan
kesejahteran umum masyarakat di mana mereka berada.
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah
kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan
harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah
amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al
A‟raf: 57).
Kecenderungan bisnis modern untuk melaksanakan
kegiatan sosial sudah mengubah arah bisnis. Selama ini
dunia bisnis yang terkesan hanya mencari untung (profit-
oriented) akan mengubah citranya menjadi organisasi yang
mempunyai tanggung jawab sosial terhadap lingkungan
dan masyarakat. Sebuah usaha yang dijalankan ialah
dengan mengadakan tanggung jawab sosial perusahaan
(TSP) atau corporate social responsibility (CSR).
Corporate social responsibility (CSR) secara nonstruktur
telah lama bekermbang di dunia bisnis, khususnya bisnis
yang tergolong hight-risk business semacam usaha
penebangan hutan dan pertambangan. Kurang lebih lima
tahun terkahir ini, corporate social responsibility (CSR) sudah
merambah ke hampir seluruh bidang bisnis. Model
penerapan corporate social responsibility (CSR) di lembaga
usaha bisnis juga sudah sangat berbeda dengan nilai dan
orientasinya.
59
Implentasi corporate social responsibility (CSR) sekarang
ini tidak sebatas pada usaha perusahaan untuk membayar
utang sosial yang dikarenakan proses bisnis yang
dijalankan, akan tetapi menjadi tanggung jawab sosial yang
wajib untuk dilaksanakan perusahaan yang bersangkutan.
Bahkan melampaui dari hal tersebut, corporate social
responsibility (CSR) seakan dimaksudkan guna berkompetisi
dalam meningkatkan citra dan nilai perusahaan di mata
pasar dimana hal ini berujudng kepada komersialitas
perusahaan.
Seperti yang sudah diketahui bahwa dalam lima
tahun terakhir ini corporate social responsibility (CSR) menjadi
primadona dan buah bibir bagi berbagai perusahaan di
belahan dunia termasuk Indonesia. Tidak sedikit
perusahaan yang seakan-akan berkompetisi untuk
mengekspose diri dalam berbagai kegiatan sosial, para
perusahaan ini bergiat membentuk citra diri sebagai
perusahaan yang peduli akan permasalahan sosial dan
lingkungan.
Pelaksanaan corporate social reporting sudah mengubah
wajah bisnis dalam pandangan masyarakat, studi oleh
Davon Winder terkait “Caused-Related Marketing (CRM) dan
Corporate social responsibility (CSR” )yang bertajuk “CSR
Threat or Opportunity” memberikan hasil yaitu 46%
konsumen memberikan pendapat bahwa perusahaan yang
mengaplikasikan corporate social reporting mempunyai
kinerja yang lebih baik, serta sejumlah 60% konsumen
terkesan terhadao bisnis yang bertanggung jawab terhadap
ethical practices, masyarakat, atau lingkungan. Sementara
sejumlah 95% konsumen yang turut serta dalam program
caused-related marketing mengetahui bahwa keuntungan yang
diperoleh perusahaan akan disalurkan berbentuk perbuatan
baik dan donasi.
Secara rinci implementasi corporate social responsibility
(CSR) dalam Islam harus memenuhi komponen-komponen
yang menjadikannya ruh sehingga bisa membedakan
60
perbedaan antara corporate social responsibility (CSR) secara
universal dengan corporate social responsibility (CSR) dalam
perspektif Islam, yakni: Al-Adl
4. Al-Adl
Keadilan adalah perlakuan dan pengakuan yang
selaras antara kewajiban dan hak. Keadilan bisa juga
bermakna sebuah sikap yang tidak memihak ke salah satu
pihak atau tidak berat sebelah, memberikan sesuatu kepada
orang sesuai akan haknya. Bersikap secara adil bermakna,
tidak bertindak sewenang-wenang, menurut terhadap
hukum dan peraturan yang sudah ditetapkan, bertindak
jujur, mengerti mana yang salah dan benar, serta
mengetahui hak dan kewajiban.
Islam sudah mengharamkan seluruh hubungan usaha
atau bisnis yang di dalamnya terkandung kezaliman serta
mengharuskan terpenuhinya keadilan yang diterapkan
dalam perjanjian bisnis, kontrak-kontrak, dan hubungan.
Sifat keadilan atau keseimbangan dalam bisnis yakni saat
korporat dapat memposisikan seluruh hal pada tempatnya.
Terkait melakukan aktivitas dalam dunia bisnis, Islam
mewajibkan untuk berbuat adil yang diarahkan kepada hak
alam semesta, hak lingkungan sosial, dan hak orang lain.
Sehingga, keseimbangan sosial dan keseimbangan alam
harus senantiasa terjaga bersamaan dengan operasional
usaha bisnis dalam al- Quran Surat Huud ayat 85.
Hukum Islam memuat prinsip-prinsip universal yang
harus terus diperhatikan. Secra urut meliputi. tauhid,
keadilan, amarma‟rufnahimunkar, al-Hurriyah (kemerde-
kaan), al-Musawwa (persamaan), al-Ta‟awun (tolong
menolong), serta al-Tasamuh (Toleransi). Sehingga, keadilan
termasuk prinsip dalam hukum Islam.
Al-Quran menggunakan definisi yang tidak sama
untuk istilah atau kata yang memiliki sangkut-paut dengan
keadilan. Bahkan kata yang dimanfaatkan dalam
menunjukkan wawasan atau sisi keadilan juga tidak
61
senantiasa berakar dari kata „adl. Beberapa kata sinonim
semacam hukm, qisth, serta lainnya dipergunakan oleh al-
Quran dalam definisi keadilan. Sementara kata „adl dalam
berbagai bentuk penggunaan dan pengertiannya, kaitannya
yang langsung dengan segi keadilan tersebut („adl dalam
arti tebusan dan ta‟dilu, dalam arti mempersekutukan
Tuhan) boleh saja hilang.
5. Al-Ihsan
Ihsan yakni berbuat baik, tanpa terdapatnya suatu
kewajiban untuk menjalankan perbuatan itu. Ihsan dalam
sistem sosial merupakan perfection dan beauty. Bisnis yang
didasari dengan unsur ihsan dimaksudkan sebagai transaksi
yang baik, perilaku dan sikap yang baik, proses niat, dan
berusaha memberi keuntungan lebih pada stakeholders.
Apabila ditinjau dari sisi ajaran Ihsan, maka perbuatan
corporate social responsibility (CSR) tidak perlu mengharap
imbalan dari orang yang sudah dibantu. Terlebih lagi
apabila yang dibantu ialah masyarakat miskin yang dalam
segala aspek kehidupannya serba terbatas.
Islam sebatas menganjurkan dan menmerintahkan
perbuatan baik bagi kemanusiaan, supaya amal yang
manusia lakukan bisa memberikan nilai tambah serta
meningkatkan derajat manusia baik kelompok ataupun
individu. Implementasi corporate social responsibility (CSR)
yang penuh dengan semangat ihsan akan dimiliki saat
kelompok atau individu berkontribusi dengan semangat
berbuat serta ibadah sebab untuk mendapatkan ridho Allah
swt.
6. Manfaat
Konsep ihsan yang sudah diterangkan tersebut
seharusnya memenuhi unsur manfaat bagi kesejahteran
masyarakat (eksternal maupun internal perusahaan).
Perbankan pada dasarnya sudah memberi manfaat terkait
operasional yang beroperasi di bidang jasa yakni jasa
62
pembiayaan, penyimpanan, serta produk atau fasilitas
lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat. Konsep manfaat
dalam corporate social responsibility (CSR), bukan hanya
sebatas kegiatan ekonomi, akan tetapi lebih dari itu.
Pada dasarnya, perusahaan telah memberikan
manfaat terkait operasional yang bergerak dalam bidang
produksi yang sangat diperlukan masyarakat. Konsep
manfaat dalam corporate social responsibility (CSR), bukan
hanya sebatas kegiatan ekonomi, akan tetapi lebih dari itu.
Perusahaan sudah sepatutnya tidak statis dan memberikan
manfaat yang lebih luas, contohnya berhubungan dengan
bentuk philanthropi dalam aspek-aspek sosial semacam
pelestarian lingkungan, pemberdayaan kaum marginal,
kesehatan, dan pendidikan.
7. Amanah
Konsep amanah dalam usaha bisnis dalah itikad dan
niat yang perlu untuk diperhatikan yang berhubungan
dengan mengemudikan suatu perusahaam maupun
mengelola sumber daya (manusia dan alam) secara makro.
Entitas yang mengaplikasikan corporate social responsibility
(CSR), harus menjaga dan memahami amanah masyarakat
seperti contohnya menghindari perbuatan tidak terpuji
dalam tiap aktivitas bisnis dan menciptakan produk yang
berkualitas.
Perusahaan yang mengaplikasikan corporate social
responsibility (CSR), wajib untuk paham serta menjaga
amanah masyarakat. Contohnya menghindari perbuatan
tidak terpuji dalam tiap aktivitas bisnis dan menciptakan
produk yang berkualitas. Amanah dalam perusahaan bisa
dijalankan dengan amanah dalam pembayaran pajak, jujur
kepada konsumen, serta lainnya. Realisasi amanah dalam
skala makro bisa dengan melakukan perbaikan sosial.
63
Berdasarkan sudut pandang Islam, ada tiga bentuk
implementasi yang dominan terkait kebijakan perusahaan
dalam mengemban corporate social responsibility (CSR), yakni:
1. Corporate social responsibility (CSR) terhadap para pelaku
dalam perusahaan
Sebuah upaya perusahaan dalam membentuk image
dan reputasi yang baik dapat dilakukan dengan
program corporate social responsibility (CSR) atau tanggung
jawab sosial perusahaan. Secara umum kita berasumsi atau
berfikir bahwa perusahaan berorientasi untuk memperoleh
untung sebesar mungkin. Memang benar bahwa prioritas
utama perusahaan adalah mendapatkan untung sebsar-
besarnya dengan sumber daya yang seefisien mungkin.
Namun prioritas utama perusahaan bukan keuntungan saja,
akan tetapi reputasi yang baik dan eksistensi juga
merupakan sesuatu yang krusial yang dihararpkan
perusahaan. Perusahaan bertanggung jawab terhadap
berbagai pihak yang berkepentingan, di antaranya yakni
pemegang saham, konsumen, karyawan, dan pemerintah.
Secara keseluruhan bukan sebatas pertanggung jawaban
dalam bentuk finansial saja, namun juga dalam bentuk
lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Stakeholder meliputi pemilik atau investor, pemasok,
kreditor, masyarakat, pemerintah, karyawan, dan
pelanggan. Islam menunjang terciptanya hubungan
kemitraan antara para pelaku bisnis dengan para
stakeholders eksternal maupun internal perusahaan dalam
hal saling menguntungkan dan terkait kebaikan.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam al-Quran Surat
Al-Maidah ayat 2:
64
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar
kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)
binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id,
dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang
mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan
keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan
janganlah sekali-kali kebencianmu kepada sesuatu kaum
karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada
mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
berat siksa-Nya” (Al-Maidah:2).
2. Corporate social responsibility (CSR) terhadap lingkungan
alam.
Berdasarkan sudut pandang hukum Islam (fiqh),
tanggung jawab manusia terhadap lingkungan dan
pelestarian lingkungan sebenarnya telah lama
diperbincangkan. Akan tetapi, dalam literatur-literatur fiqh
dan tafsir, berbagai isu ini dikupas secara terpisah-pisah dan
generik, belum utuh dan spesifik. Kondisi tersebut bisa
dimaklumi sebab masyarakat pada masa itu belum
menghadapi krisis lingkungan seperti kondisi terjadi kini.
Ada banyak cara sebuah perusahaan dalam
melaksanakan program corporate social responsibility (CSR).
Seperti turun langsung dalam bantuan pendidikan,
mengajak masyarakat membuat kreativitas yang bisa
dikomersilkan, membantu masyarakat dalam pengelolaan
lingkungan seperti penanaman pohon, hingga
memaksimalkan bank sampah sesuai jenisnya, dan
sebagainya. Corporate social responsibility (CSR) diatur dalam
UU No. 40 Tahun 2007 terkait perseroan terbatas, tentang
65
kewajiban pemberian corporate social responsibility (CSR) ini
terbatas pada perusahaan atau perseroan yang aktivitas
usahanya berkaitan dan/atau di bidang sumber daya alam.
Adapun corporate social responsibility (CSR) khusus
lingkungan hidup diatur dalam UU No. 32 Tahun 2009
terkait Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup
dimana menguraikan, semua orang yang menjalankan
kegiatan usaha memiliki kewajiban untuk:
a. Taat akan ketentuan mengenai kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup atau mutu lingkungan hidup;
b. Menjaga kelangsungan fungsi lingkungan hidup;
c. Memberi informasi yang berkaitan dengan
pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup secara
tepat waktu, terbuka, akurat, dan benar.
Bagian utama yang harus diperhatikan juga terkait
corporate social responsibility (CSR) ialah lingkungan alam.
Lingkungan alam bisa nerwikid lingkungan alam abiotik
maupun biotik, baik yang tidak bisa diperbarui ataupun
yang dapat diperbarui. Fenomena perubahan musim,
kepunahan, teracuninya rantai makanan, pemanasan global,
dan hujan merupakan dampak dari tindakan yang tidak
bertanggung jawab. Oleh karenanya, korporat harus terlihat
dalam perbaikan lingkungan, selalu proaktif dan
mendukung pelestarian lingkungan, dan berlaku ramah
lingkungan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam al-
Quran Surat Huud ayat 61:
Artinya: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka
shaleh. Shaleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah,
sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia Telah
menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya [726], Karena itu mohonlah ampunan-Nya,
Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya
66
Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan
(doa hamba-Nya)” (Huud:61).
3. Corporate social responsibility (CSR) terhadap kesejahteraan
sosial secara umum.
Perusahaan bukan hanya bertanggung jawab kepada
pihak yang memiliki kepentingan, lingkungan alam, dan
usahanya saja, akan tetapi juga sepatutunya memperhatikan
kesejahteraan umum masyarakat. Islam senantiasa
menyuruh untuk berbuat dermawan kepada kaum
marginal, miskin, dna lemah. Diterangkan dalam Al-quran
Surat An-Nisa ayat 75, yaitu:
Artinya: “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan
Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki,
wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa:
Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah)
yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari
sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau”
(An-Nisa:75).
Islam sangat mendukung corporate social responsibility
(CSR) sebab sudah jelas bahwa bisnis memicu berbagai
masalah sosial, sehingga perusahaan bertanggung jawab
dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial tersebut.
Menurut Beekum (2004), bisnis memmerlukan sumber daya
alam guna keberlangsungan usahanya, oleh karenanya
perusahaan memiliki tanggung jawab untuk
memeliharanya. Secara tidak langsung Islam menganggap
bisnis sebagai entitas yang kewajibannya terpisah dari
pemiliknya, terdapatnya corporate social responsibility (CSR)
akan dapat mengembangkan niat baik perusahaan itu.
67
C. Implementasi corporate social responsibility (CSR)
Keikutsertaan perusahaan dalam tanggung jawab moral
dan sosial bisa diimplementasikan dalam berbagai aktivitas
bisnis perusahaan. Ini ditujukan supaya tanggung jawab moral
dan sosial tersebut sungguh-sungguh terlaksana. Supaya bisa
dilaksanakan implementasi tersebut, maka perusahaan wajib
mengetahui suatu kondisi internal yang memungkinkan
terciptanya tanggung jawab moral dan sosial itu.
1. Pendekatan Corporate Social Responsibility (CSR)
Wibisono (2007) memaparkan, secara umum ada
empat model pola tanggung jawab sosial perusahaan yang
diaplikasikan di Indonesia yakni, mendukung atau
bergabung dalam suatu konsorsium, bermitra dengan pihak
lain, melalui organisasi atau yayasan sosial perusahaan, dan
pendekatan langsung. Tanggung jawab sosial perusahaan
apabila dilihat dari motivasinya dikelompokkan dalam
empat dimensi, meliputi: community development, corporate
community relations, corporate philanthropy, dan corporate
giving.
Corporate Social Responsibility (CSR) kerap
didefinisikan sebagai bentuk kegiatan donasi yang
dilakukan perusahaan atau sebatas perusahaan yang
mentaati aturan dan hukum yang berlaku (contohnya,
mentaati aturan seperti tidak memperkerjakan tenaga kerja
di bawah umur, mentaati standar upah minimum, serta
lainnya). Padahal sesungguhnya, ketaatan perusahaan
terhadap hukum dan kegiatan donasi (philanthropy) berbeda
dengan corporate social responsibility (CSR). Ketaatan
perusahaan terhadap hukum dan kegiatan donasi sebatas
syarat minimum supaya perusahaan bisa diterima
masyarakat dan supaya bisa beroperasi.
Bisa diketahui bahwa kegiatan philanthrophy ialah
kegiatan yang sifatnya charity (amal). Kegiatan amal sendiri
tidak membutuhkan komitmen yang berlanjut dari
perusahaan. Berakhirnya tanggung jawab perusahaan pada
suatu kegiatan philanthropy bersamaan dengan berakhirnya
68
kegiatan amal yang dilakukannya. Bukan hanya sebatas
sumbangan perusahaan atau philanthropy saja, corporate
social responsibility (CSR) yakni suatu komitmen dari semua
stakeholders perusahaan yang secara bersamaan untuk
bertanggung jawab terhadap berbagai permasalahan sosial.
Sehingga, corporate social responsibility (CSR) tidaklah
sumbangan dari seorang maupun beberapa stakeholder
perusahaan (contohnya, berupaya menyisihkan keuntungan
dari pemegang saham untuk suatu kegiatan sosial), namun
hal ini adalah tanggungan dari semua stakeholders.
2. Tahapan Perumusan Kegiatan Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan
Menurut Kotler (2005) terdapat beberapa tahapan
yang dilakukan para perencana program dan manajer untuk
merumuskan keputusan yang tepat untuk menjalankan
tanggung jawab sosial perusahaan, yang meliputi:
a. Memilih suatu masalah sosial
Ini adalah tahap awal yang krusial untuk dijalankan
guna memutuskan satu dari banyaknya permasalahan
sosial yang hendak didukung. Keputusan awal ini
berperngaruh besar terhadap hasil dan program
selanjutnya.
b. Berinisiatif untuk membentuk kegiatan yang
menyangkut permasalahan sosial
Saat permasalahan sosial sudah ditentukan, manajer
akan ditantang untuk menemukan inisiatif yang hendak
diakukannya untuk memperhatikan permasalahan sosial
itu.
c. Mengembangkan dan melaksanakan rencana program
Terkait tahap ini, keputusan yang diambil mencakup hal-
hal penting terkait siapakah mitra yang akan dipih dan
apakah pelaksanaan kegiatan harus bermitra dengan
pihak lainnya ataukah tidah.
69
d. Evaluasi hasil
Pelaksanaan pengukuran secara berkesinambungan
dalam kegiatan investasi finansial dan marketing bagi
perusahaan mempunyai suatu catatan yang panjang,
dengan data base yang menyediakan anlisis
pengembalian investasi, pengalaman yang cukup lama
didalam membangun sistem acuan yang canggih, serta
melakukan perbandingan terhadap aktivitas saat ini
dengan standar dan target.
D. Prinsip Islamic Corporate Social Responsibility (CSR)
Prinsip diartikan sebagai aturan dasar, awal, dan dasar.
Juhaya (1995) memberikan definisi komprehensif dari prinsip
yaitu awal yang merupakan titik almabda (keberangkatan).
Prinsip secara terminologi merupakan kebenaran menyeluruh
yang secara alami termuat dalam hukum Islam serta adalah
titik mula pembangunannya. Hal tersebut ialah suatu bentuk
hukum dasar serta menciptakan seluruh cabang. Sehingga,
didapat kesimpulan bahwa prinsip ialah fundamental atau
dasar yang dimanfaatkan guna mendasari praktek kerja.
Pelaksanaan Islamic corporate social responsibility (CSR)
menurut Yusuf dan Bahari (2011) bisa dikelompokkan dalam
tiga dimensi tanggung jawab hubungan, meliputi:
a. Hubungan tanggung jawab terhadap Allah.
b. Hubungan tanggung jawab terhadap manusia.
c. Hubungan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Pelaksanaan Islamic Corporate Social Responsibility (CSR)
adalah perwujudan dari tiga hubungan yang kuat serta satu
sama lainnya saling terkait. Guna memaksimalkan tiga
hubungan tersebut, maka dalam pelaksanaan Islamic corporate
social responsibility (CSR) harus mengacu kepada berbagai
prinsip keesaan Allah, persaudaraan atau solidaritas, keadilan,
serta khalifah. Empat prinsip tersebut ditujukan guna
mewujudkan prinsip kelima yakni menciptakan kemaslahatan
atau manfaat publik untuk alam dan manusia.
70
Mewujudkan kemaslahatan dalam perusahaan
merupakan tujuan pokok dalam menjalankan seluruh kegiatan
binis dimana mencakup juga pelaksanaan Islamis corporate social
responsibility (CSR). Maka dari hal tersebut, seluruh
pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) dalam
perusahaan haruslah meninggalkan larangan apapun yang
dicegah dalam Islam serta mengacu kepada aturan halal yang
digariskan oleh Islam. Seluruh prinsip tersebut diaplikasikan
dengan sebuah tujuan yakni pengabdian yang sempurna
kepada Allah SWT. Seluruh prinsip tersebut akan diuraikan
dengan singkat sebagai berikut:
1. Keesaan (Tauhid)
Menurut fitrahnya, agama manusia adalah tauhid.
Allah menciptakan manusia dengan naluri beragama, yakni
agama tauhid. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Ar-
Ruum [30] ayat 30:
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus
kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia
telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada
perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Menurut Islam, tujuan dari syariah yaitu hanya
percaya pada satu tuhan, yakni Allah Swt, iman atau
kepercayaan merupakan sesuatu yang krusial untuk
kesejahteraan manusia (falah). Iman kepada Allah adalah
landasan yang tepat untuk mendasari hubungan bersama
orang lain, dimana ini memungkinkan individu untuk
bersikap peduli dan menghormati. Iman kepada Allah juga
memberikan penapis moral, yang dibutuhkan dalam
distribusi dan alokasi sumber daya berdasar kepada
keadilan sosial-ekonomi dan persaudaraan. Selain itu, iman
71
dalam Islam juga merupakan motivasi untuk distribusi
kekayaan yang adil dan pemenuhan kebutuhan.
2. Kekhalifahan
Menurut Chapra (1992), prinsip kekhalifahan
merupakan penurunan dari prinsip tauhid (keesaan) yang
menerangkan perilaku dan tujuan manusia untuk mengatur
keadilan dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari
iman (kepercayaan). Manusia bukan hanya menjadi hamba
yang taat kepada Allah SWT, namun juga diharuskan untuk
menjalankan ibadah umum yang lain, seluruh aktivitas yang
mengembangkan potensi serta membawa kesejahteraan
alam dan manusia sesuai akan suatu kondisi, dengan niat
yang benar serta memastikan bahwa seluruh tindakan
tersebut tidak bertentangan dengan aturan syariah. Selain
itu, Al Mawdudi (1967) memberikan penafsiran kata
“khalifah” sebagai “wakil Allah di bumi”. Manusia sebagai
khalifah dipercayai untuk mengelola alam yang melibatkan
hubungan antar manusia dan hubungan antara manusia
dengan makhluk ciptaan Allah (tumbuhan, hewan, dan
lingkungan). Manusia dibanding dengan segala makhluk
ciptaan Allah adalah yang tertinggi derajatnya. Maka dari
hal tersebut, Allah memilih manusia untuk mejadi
pemimpin di muka bumi. Sebagaimana Allah berfirman
dalam QS AlAn‟am ayat 165:
Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-
penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu
atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk
mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan
sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”.
72
3. Keadilan
Menurut Salim (1994), “al-Adl” berarti “al-inshaf wa
al-sawiyyat” yang berarti: mempersamakan dan berada di
pertengahan. Aladl secara etimologis bermakna al-istiwa
(keadaan lurus) dan juga berarti: moderat, sederhana,
sesuai, sama, seimbang, adil, dan jujur (Asse, 2010). Allah
menciptakan segala sesuatu dengan seimbang dan
sempurna, seperti yang difirmankan dalam QS AlMulk [67]
ayat 3 dan 4:
الَّ ِذٌ َخ َل َق َس ْج َع َس َمب َوا ٍد ِطجَبقًب َمب رَ َزي ِفٍ َخ ْل ِق ال َّز ْح َم ِن ِم ْن رَفَب ُو ٍد فَب ْر ِج ِع ا ْل َج َص َز هَ ْل
رَ َزي ِم ْن فُطُى ٍرثُ َّم ا ْر ِج ِع ا ْلجَ َص َز َك َّزرَ ُْ ِن ََ ْنقَلِ ْت إِلَ ُْ َك ا ْل َج َص ُز َخب ِسئًب َوهُ َى َح ِسُز
Artinya: “Dialah yang menciptakan tujuh langit berlapis-
lapis. Tidakkah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang
pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah
sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat. Kemudian
ulangi pandangan (mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya
pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan
cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih” (Q.S. al-
Mulk [67]: 3-4)
Seluruhnya mungkin untuk Allah sebab Maha Kuasa
Allah yang dengan sempurna bisa melaksanakan tujuan dan
kehendak-Nya, yakni kebaikan, kasih, dan cinta pada
,makhluk ciptaannya. Manusia sebagai khalifah sepatutnya
mengaplikasikan berbagai sifat tersebut serta memenuhi
kewajibannya lewat keadilan dan tanggung jawab sosial
dengan maksud guna menjaga keselarasan dalam
masyarakat (Mohammed, 2007). Allah memerintahkan
manusia supay berlaku adil, dimana perintah ini termuat
dalam QS An-Nisaa‟ [4] ayat 58. Allah dalam ayat ini
memerintahkan bahwa dalam menetapkan hukum di antara
manusia, manusia harus berlaku adil, jika manusia berlaku
tidak adil, maka akan pincang dan terjadi diskriminasi
dalam kehidupan masyarakat.
73
إِ َّن َّللَّا َ يَأْمُ ُر مُ ْم أَ ْن ت ُ َؤ دُّ وا ا ْْل َمَ اوَاتِ إِىَ ٰى أَهْ يِهَا َو إِذَ ا َح نَ ْم ت ُ ْم بَيْ َه
اىى َّاسِ أَ ْن تَ ْح نُ مُ ىا بِاىْعَدْ ِه ۚ إِ َّن َّل َّلا َ وِ ِع مَّ ا يَ ِع ظُنُ ْم بِهِ ۗ إِ َّن َّل َّلا َ مَ ا َن
سَ ِم يعًا بَ ِص ي ًر ا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,
dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-
baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat”.
4. Persaudaraan
Persaudaraan dalam Islam umum disebut “ukhuwah”
dimana artinya “memperhatikan”. Munculnya perhatian ini
sebab tidak terjadi perbedaan di antara semua pihak yang
bersaudara, oleh karenanya kemudian makna ini
berkembang, sehingga didapatkan definisi ukhuwah yaitu
setiap keserasian dan persamaan dengan pihak lain, baik
persamaan dari segi persusuan maupun keturunan, dari sisi
bapak, ibu, ataupun keduanya (Shihab, 1996). Membentuk
hubungan persaudaraan antar sesama muslim dalam Islam
merupakan sesuatu yang penting. Persaudaraan yang
dimaksud ini adalah menurut ikatan agama dan iman dan
juga menurut ikatan geneologi. Baik dalam AlQuran atau al-
Hadits banyak nash yang menekankan bahwa antar sesama
muslim adalah bersaudara. Seperti firman Allah yang
termuat dalam surat Al-Hujuraat [49] ayat 10 berikut:
Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya
bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan)
antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat rahmat”.
74