Tabungan mudharabah
Deposito mudharabah
Musyarakah
Jumlah Dana Syirkah temporer
EKUITAS
Modal disetor
Tambahan modal disetor
Saldo laba (rugi)
Jumlah Ekuitas
Jumlah Kewajiban, Dana Syirkah temppor
b. LAPORAN LABA-RUGI
Berbagai elemen pada laporan laba ruginy
PSAK pos-pos umum. Melalui mengamati ketet
memberikan laporan laba ruginya yang memuat, na
140
xxx
xxx
xxx
rer dan ekuitas xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
ya perbankan syariah tersusun melalui acuan terhadap
tapan pada PSAK yang berkaitan, perbankan syariah
amun tidak dibatasi dalam berbagai pos meliputi:
Pendapatan PT Bank
mudharib
Lapora
Periode 1 Januar
Pengelolaan Dana
Pendapatan dari jual beli:
Pendapatan marjin murab
Pendapatan neto salam pa
Pendapatan neto is
paralel
Pendapatan dari sewa:
Pendapatan neto ijarah
Pendapatan dari bagi hasil:
Pendapatan bagi
mudharabah
Pendapatan bagi
musyarakah
Pendapatan usaha utama
lainnya
k Syariah “X”
an Laba Rugi
ri s.d. 31 Desember 20X
oleh bank sebagai
bahah Xxx
aralel Xxx
stishna Xxx
hasil Xxx
hasil
Xxx
Xxx
Xxx
141
Jumlah Pendapatan Pengelolaan
mudharib
Hak pihak ketiga atas bagi hasil
Pendapatan Usaha Lainnya
Pendapatan imbalan
perbankan
Pendapatan imbalan inv
terikat
Jumlah Pendapatan Usaha
Lainnya
Beban Usaha
Beban kepegawaian
Beban
administrasi
Beban penyusutan
amortisasi
Beban usaha
lain
Jumlah Beban Usaha
Laba (Rugi) Usaha
142
n Dana oleh bank sebagai
Xxx
(xxx)
jasa xxx
vestasi Xxx
dan (xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
Xxx
Pendapatan dan Beban
Nonusaha
Pendapatan nonusaha
Beban
nonusaha
Jumlah Pendapatan (Beban) Nonu
Laba (Rugi) sebelum Pajak
Beban Pajak
Laba (Rugi) Neto Periode
Berjalan
usaha Xxx
(xxx)
Xxx
Xxx
(xxx)
Xxx
143
c. Laporan Arus Kas
( Nam
Laporan
Pada tahun yang terakhir (
Uraian Catatan
Arus kas dari operasi
Pendapatan netto
Penyesuaian terhadap
pendapatan netto
Kas netto dari kegiatan
operasional
Depresiasi
Provisi rekening ragu-ragu
Provisi untuk zakat
Provisi untuk pajak
Zakat yang dibayarkan
Pajak yang dibayarkan
Keuntungan dari rekening
investasi tidak terbatas
Keuntungan dari penjualan
aktiva tetap
Depresiasi dari aktiva yang
144
ma Bank )
n Arus Kas
( tahun ) dengan ( tahun lalu )
xxx ( tahun ) xxxx( tahun )
Unit Moneter Unit Moneter
x.xxx.xxx --
-- --
-- --
--
x.xxx.xxx --
x.xxx.xxx --
--
xx.xxx --
-- --
(xxx.xxx) --
--
xxx.xxx
-- --
x. xxx.xxx --
disewakan
Provisi untuk penurunan nilai
investasi pada surat-surat
berharga
Piutang ragu-ragu
Pembelian aktiva tetap
Arus kas netto dari operasi
Arus dari kegiatan investasi
Penjualan real estate yang
disewakan
Pembelian real estate yang
disewakan
Penjualan real estate
Investasi pada surat-surat
berharga
Kenaikan pada investasi
mudharabah
Penjualan persediaan
Penjualan istishna‟
Kenaikan netto pada piutang
Arus kas netto dari kegiatan
investasi
Arus kas dari kegiatan
-- --
(x.xxx) (xxx.xxx)
--
xx.xxx.xxx --
--
--
-- --
xx.xxx.xxx --
--
--
(x.xxx.xxx) --
x.xxx.xxx --
x.xxx.xxx
(x.xxx.xxx) --
--
x.xxx.xxx --
xxx.xxx --
x.xxx.xxx
--
145
keuangan
Kenaikan netto pada rekening
investasi tidak terbatas
Kenaiakn netto pada rekening
koran
Deviden yang dibayarkan
Kenaikan pada saldo kredit
dan biaya-biaya (penurunan)
pada biaya yang dikeluarkan
(accrud expenses)
Kenaikan pada saham
minoritas
Penurunan pada aktiva lain
Penurunan arus kas dari
kegiatan pembiayaan
Kenaikan/penurunan uang
kas dan setara kas
Kas dan setara kas pada awal
tahun
Kas dan setara kas pada akhir
tahun
146
x.xxx.xxx --
xxx.xxx --
--
(xxx.xxx) --
xxx.xxx --
xx.xxx.xxx --
xx.xxx.xxx --
d. Laporan Perubahan Modal atau Laporan Laba Ditah
( Na
Laporan p
Untuk tahun yang terakhir (
Uraian Modal Disetor Cadangan
Unit Moneter Moneter y
Saldo per tahun
Emisi ( ) saham xxx.xxx.xxx sah
Pendapatan netto --
Keuntungan xxx.xxx
dibagikan xxx.xxx.xxx xxx.xx
Transfer ke xxx.xxx.xxx xxx.xxx
cadangan x.xxx.xx
Neraca per ( tahun
)
Pendapatan netto
Keuntungan
dibagikan
Transfer ke
cadangan
Saldo per tahun
han
ama Bank )
perubahan Modal
tahun ) dengan ( tahun yang lalu )
Unit Unit Moneter Laba Ditahan Total
yang Umum --
xxx.xxx.xxx
-- -- x.xxx.xxx -- x.xxx.xxx
(x.xxx.xxx)
x xxx.xxx x.xxx.xxx --
xx xxx.xxx x.xxx.xxx
(x.xxx.xxx) xxx.xxx.xxx
x.xxx.xxx
--
--
x xxx.xxx x.xxx.xxx xxx.xxx.xxx
xx x.xxx.xxx x.xxx.xxx
147
e. Laporan Sumber-sumber dan penggunaan Dana Za
(Na
Laporan Sumber dan Penggun
Untuk tahun yang te
Uraian Ca
Sumber-sumber zakat dan sumbangan
Zakat jatuh tempo dari bank
Zakat jatuh tempo dari para pemilik
rekening
Sumbangan
Total sumber zakat
Penggunaan zakat dan sumbangan
Zakat untuk fakir dan miskin
Zakat untuk Ibnu Sabil
Zakat untuk ghairimin dan membebaskan
budak
Zakat untuk mu‟allaf
Zakat untuk fisabilillah
Zakat untuk amil zakat ( biaya administrasi
dan umum )
148
akat, Infak dan Shadaqah
ama Bank)
naan Dana Zakat, Infak dan Shadaqah
erakhir dengan tahun lalu
atatatan xxxx ( tahun ) xxxx ( tahun )
Unit Moneter Unit Moneter
x.xxx.xxx --
xxx.xxx --
xxx.xxx --
x.xxx.xxx --
xxx.xxx --
xxx.xxx --
xx.xxx --
xxx.xxx --
xxx.xxx --
xxx.xxx --
Total penggunaan dana
Kenaikan ( penurunan ) sumber-sumber
terhadap penggunaan
Zakat dan sumbangan yang belum
dibagikan pada awal tahun
Zakat dan sumbangan yang belum
dibagikan pada akhir tahun
f. Laporan Sumber-sumber dan Penggunaan Dana Qa
( Na
Laporan Sumber dan Pen
Untuk tahun yang terakh
Uraian Cat
Saldo awal
Pinjaman kebajikan
Sumber-sumber dana Qardhul Hasan
Alokasi dari rekening koran
Alokasi dari pendapatan yang dilarang
x.xxx.xxx --
x.xxx.xxx --
x.xxx.xxx --
x.xxx.xxx --
ardul Hasan
ama bank )
nggunaan Dana Qardhul Hasan
hir ( tahun ) dengan (tahun lalu )
tatan xxxx ( tahun ) xxxx ( tahun )
Unit Moneter Unit Moneter
xxx.xxx xxx.xxx
xxx.xxx xxx.xxx
xxx.xxx xxx.xxx
149
syariah ( haram )
Sumber diluar bank
Total sumber dana selama tahun ini
Penggunaan Qardhul Hasan
Pinjaman kepada para pelajar
Pinjaman kepada para pengrajin
Penyelesaian rekening koran
Total penggunaan selama tahun ini
Saldo akhir tahun
Pinjaman kebajikan
Dana tersedia untuk pinjaman
150
xxx.xxx xxx.xxx
xxx.xxx xxx.xxx
xxx.xxx xxx.xxx
xxx.xxx
xxx.xxx xxx.xxx
xxx.xxx xxx.xxx
xxx.xxx
xxx.xxx
xxx.xxx xxx.xxx
xxx.xxx
xxx.xxx
BAB VIII
TIGA PRINSIP DASAR CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY (CSR)
A. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)
Merupakan aktivitas yang perusahaan laksanakan selaku
wujud tanggung jawabnya pada lingkungan sekitarnya mereka
berdiri. Corporate social responsibiltiy (CSR) selaku sebuah
konsep, pesat perkembangannya semenjak sekitar tahun 1980
sampai 1990 selaku suara serta respons keprihatinannya
berbagai kelompok masyarakat serta jaringan setingkat global
dalam mendongkrak perilaku responsibilitas, fairness, serta etis
perusahaan dimana tidaklah sekadar terbatasi dalam
perusahaan, namun terhadap stakeholders serta masyarakat
ataupun komunitas di sekitarnya daerah operasi ataupun
kerjanya.
Corporate social responsibility (CSR) oleh Untung (2009)
yakni komitmennya dunia usaha ataupun perusahaan dalam
memberikan keikutsertaannya untuk mengembangkan
perekonomian secara berkelanjutan melalui menggarisbawahi
tanggung jawabnya secara sosial serta menekankan pada
keselarasan diantara perhatiannya dalam segi lingkungan,
sosial, serta ekonomis. Persoalan sosial di dekade akhir menjadi
lebih rumit serta penerapan desentralisasi menempatkan
corporate social responsibility (CSR) selaku sebuah rancangan
yang diharap bisa memberi opsi lain untuk memberdayakan
penduduk miskin. Kotler dan Nancy (2005) menjelaskan,
corporate social responsibility (CSR) yakni loyalitas perusahaan
dalam menumbuhkan kesejahteraannya penduduk dengan
praktik usaha secara baik serta memberikan kontribusi berupa
sejumlah sumber dayanya. World Business Council for Sustainable
Development mengemukakan bahwa corporate social responsibility
(CSR) merupakan janji berkelanjutan oleh kalangan usaha
dalam menerapkan perilaku etis serta berkontribusi dalam
pembangunan perekonomian seperti mendongkrak mutu
kehidupannya pegawai dan keluarganya, serta masyarakat
151
ataupun komunitas lokal serta luas Elkington (1999)
menjelaskan, suatu perusahaan yang memperlihatkan
tanggung jawabnya secara sosial mampu memberi atensi pada
peningkatan kualitasnya; penduduk, terutama komunitas lokal;
juga lingkungan. Triple Bottom Line 3P yakni: 1. Profit
pendukung labanya perusahaan. 2. People diamana mendorong
kesejahteraannya penduduk. 3. Planet mendongkrak
kualitasnya lingkungan.
B. Triple Bottom Line
Tiga Syarat Penting Corporate Social Responsibility (CSR)
1. Tindakan dilakukan dengan sadar dan tahu (dijalankan oleh
pribadi yang rasional).
2. Adanya kebebasan pada tempat pertama (bukan dalam
keadaan dipaksa atau terpaksa).
3. Individu yang melaksanakan suatu tindakan memanglah
berkeinginan melaksanakan tindakan tersebut (bersedia
serta mau).
Corporate social responsibility (CSR) yakni strateginya
perusahaan dimana mengakomodasi kepentingan serta
kebutuhan stakeholders, serta muncul semenjak masa di mana
perusahaan sadar sustainability lebih esensial dibanding pada
sekadar laba. Corporate social responsibility (CSR) bisa
dinaytakan selaku keikutsertaan perusahaan pada sasarannya
pembangunan berkelanjutan (sustainable development) melalui
pengelolaan imbas (meminimalisasi imbas negatif serta
memaksimalkan imbas positif) pada stakeholders. Kemudian
juga berkaitan kuat pada sustainable development, dimana pada
pelaksanaan kegiatannya sebuah diharuskan melandaskan
ketetapannya pada imbas terhadap lingkungan serta sosial
buka hanya berdasar pada laba serta hasil yang didapatkan.
Corporate social responsibility (CSR) bisa memberikan
dampak positif bagi penduduk; namun bergantung juga pada
kapasitas serta orientasi organisasi ataupun lembaga lainnya,
khususnya pemerintahan. Studi Bank Dunia (2002)
152
memperlihatkan peranan pemerintahan seperti meningkatkan
kemampuannya lembaga, membuat insentip, dukungan politik
untuk penggiat corporate social responsibility (CSR), keterlibatan
sumber daya, serta penumbuhan ketetapan dimana
menyehatkan pasar,
Ada tiga pendekatan pada langkan penyusunan
tanggung jawab sosial itu meliputi:
1. Pendekatan kepentingan bersama
Pendekatan kepentingan bersama yakni berbagai ketetapan
moral wajib berdasar terhadap standard kebebasan,
kewajaran, serta kebersamaan secara bertanggung jawab.
2. Pendekatan moral
Pendekatan moral yakni tindakan ataupun ketetapan yang
berdasar terhadap prinsip kesantunan melalui pemahaman
bahwasanya hal yang dilaksanakan tidaklah merugikan
ataupun berlawanan pada berbagai pihak lainnya dengan
disengaja.
3. Pendekatan manfaat
Pendekatan manfaat yakni rancangan tanggung jawab sosial
dimana berdasar terhadap berbagai nilai bahwasanya hal
yang perusahaan laksanakan memberikan manfaat kuat
dengan adil untuk berbagai pihak dengan kepentingan.
Triple bottom line mempunyai konsep pembangunan
planet, profit, serta people.
1. Lingkungan (Planet)
Planet ataupun lingkungan yakni suatu hal yang tak
bisa terlepas ataupun terikat pada semua elemen pada
153
kehidupannya individu. Keuntungan ataupun profit dimana
termasuk sesuatu yang pokok pada sektor bisnis
mengakibatkan perusahaan selaku penggiat bisnis
mengutamakan profit namun tidak memperdulikan upaya
dalam pelestarian lingkungan. Dampaknya lingkungan
rusak pada beragam daerah karena lalainya tanggung jawab
perusahaan dalam pencemaran, polusi, maupun iklim yang
berubah.
Penggiat usaha terkait aktivitas mempertahankan
lingkungan tetap lestari bisa meminimalkan pemakaian
sumber daya alam yang berlebihan melalui pemanfaatan
teknologi eco friendly. Melalui turut menjaga lingkungannya,
perusahaan mampu memperoleh banyak keuntungan
dimana khususnya pada aspek kenyamanan serta
kesehatan, diluar menjaga kelangsungan sumber daya.
2. Keuntungan (Profit)
Keuntungan ataupun profit yakni sasaran mendasar
pada tiap aktivitas usaha, dimana dalam memperoleh
keuntungan sebesar mungkin perusahaan akan melakukan
upaya efisiensi pada anggarannya serta mendongkrak
produktivitasnya. Efisiensi anggaran bisa dilaksanakan
melalui menekan penggunaan bahan dasar serta
pengurangan anggaran semaksimal mungkin. Adapun
langkah meningkatkan produktivitas melalui pembenahan
kinerja manajemen dengan menyederhanakan proses,
penekanan waktu proses produksinya, menurunkan
aktivitas yang kurang efisien, serta membentuk keterkaitan
berjangka panjang terhadap stakeholder.
3. Masyarakat yang Memangku Kepentingan (People)
Masyarakat ataupun people yakni stakeholder berharga
untuk perusahaan, dikarenakan sokongannya diperlukan
sekali untuk kontinuitas kehidupan, kemajuan serta
keberadaan perusahaan.
154
Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawabnya
dalam memberikan pengaruh serta manfaat pada
masyarakat. Perusahaan dalam mempertahankan
keberlangsungannya tidaklah bisa sekadar berfokus pada
kepentingannya saja dalam memperoleh keuntungan,
namun perlu juga untuk memberikan kepeduliannya pada
keadaan masyarakat, misalnya membuat aktivitas dalam
membatu serta mendukung keperluannya masyarakat.
Rasa peduli perusahaan tersebut mampu
meningkatkan image baiknya dalam media. Melalui hal
tersebut, krusial untuk perusahaan guna melangsungkan
keterkaitan pada masyarakat secara baik, sehingga bisa
menyejahterakan masyarakat serta memberikan manfaat
untuk perusahaan sendiri.
Menurut Renal Khasali stakeholder bisa dibagi dalam
lima kategori meliputi:
1. Stakeholder Primer, sekunder, serta marginal.
Tiga stakeholder tersebut tersusun berdasar pada skala
prioritasnya. Stakeholder terpeting yakni primer, kemudian
sekunder, barulah marjinal. Namun susunan tersebut bisa
berganti dengan seiring waktu.
2. Stakeholder internal
Merupakan stakeholder yang ada pada lingkup
perusahaan meliputi manajemen, pegawai, serta pemegang
saham ataupun shareholder. Sementara stakeholder eksternal
ada pada luar lingkup perusahaan meliputi pers,
pemerintah, masyarakat, serta lainnya.
3. Stakeholder tradisional serta masa depan.
Masyarakat serta pegawai yakni stakeholder tradisional
sementara stakeholder masa depan yakni yang diprediksi
akan memberi pengaruh terhadap perusahaan meliputi
konsumen potensial, peneliti, serta mahasiswa.
4. Vocal minority serta Silent majority
Vocal minority yakni pendukung aktif sementara silent
majority yakni pendukung pasif
155
5. Proponents, uncommitted, serta opponents.
Proponents yakni golongan pendukung perusahaan,
pihak yang tidak memperdulikan yakni uncommitted,
sementara yang memprotes perusahaan yakni opponents.
Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan implementasi
tanggung social bisa membagi kelompok masyarakat dalam
beberapa model pengembangan. Model pengembangan
masyarakat bisa dilakukan menurut model pengembangan
yang dilakukan oleh Suharto (1997) yang membagi masyarakat
kedalam tiga kelompok model pengembangan:
1. Pengembangan masyarakat setempat yakni langkah yang
bertujuan mewujudkan majunya ekonomi serta sosial untuk
masyarakat. Pengembangannya tersebut yakni proses
hubungan diantara masyarakat sekitar yang didukung oleh
pekerja sosial.
2. Perencanaan sosial yakni langkah pragmatis dalam
menetapkan tindakan serta keputusan untuk menyelesaikan
suatu permasalahan sosial meliputi kenakalan remaja,
pengangguran, kesehatan, serta kemiskinan. Pekerja sosial
mempunyai peranan untuk perencanaan sosial dimana
memandangnya selaku “konsumen”. Perencana sosial
dilihat selaku ahli pada pelaksanaan penelitian, menganalisa
kebutuhan serta permasalahan masyarakat, juga identifikasi,
pelaksanaan, serta evaluasi berbagai program layanan
kemanusiaan.
3. Aksi sosial yakni ubahan mendasar pada struktur serta
kelembagaan masyarakat, dengan mekanisme pembagian
kekuasaan, penentuan keputusan, serta sumber distribusi.
Selain melakukan program pemberdayaan masyarakat
sekitar perusahaan juga melakukan kerjasama kemitraan dengan
masyarakat sekitar. Pola kemitraan dengan masyarakat bisa
dilakukan dengan beberapa model/scenario kemitraan. Model
kemitraan yang dikembangkan oleh Wibisono (2007) yakni mitra
156
perusahaan pada pemerintahan ataupun pada masyaralak
sekitarnya melalui skenario meliputi:
1. Pola Kemitraan Produktif
Pola dengan penempatan mitra selaku subjek serta
pada paradigma common interest (kepentingan umum).
Prinsip simbiosis mutualisme ataupun saling memberikan
keuntungan amat kentara dalam pola ini. Perusahaan
memiliki rasa peduli terkait lingkungan serta sosial yang
besar, pemerintahan memberi iklim kontributif untuk sektor
bisnis serta penduduk memberi dukungan positif pada
perusahaan. Hingga bisa saja mitra terlibat dalam pola
resource-based partnership ataupun keterkaitan dengan basis
sumber daya, ataupun mitra diberikan peluang sebagai
bagiannya shareholder.
2. Pola Kemitraan Semi Produktif
Pola dengan komunitas serta pemerintah ataupun
masyarakat diasumsikan selaku permasalahan serta objek
eksternal perusahaan. Perusahaan tidaklah mengetahui
berbagai program pemerintahan, pemerintahan tidak
memberi iklim kontributif pada sektor bisnis serta
masyarakat juga pasif dalam bersikap. Pola tersebut
berpatokan terhadap kepentingan berjangka singkat serta
tidak ataupun belum memunculkan sense of belonging (rasa
mempunyai) dalam pihaknya masyarakat serta dalam
pemerintahan yakni low benefit. Kerja sama masih
mengutamakan elemen public relation ataupun kariatif
dimana komunitas serta pemerintah ataupun masyarakat
diasumsikan lebih selaku objek.
3. Pola Kemitraan Kontra Produktif
Pola ini mampu berlangsung apabila perusahaan
bertumpu terhadap pola sederhana dimana sekadar
memprioritaskan kesejahteraan shareholder yakni mencari
profit (keuntungan) semaksimal mungkin. Fokusnya
perusahaan ada dalam caranya untuk dapat memproduksi
profit dengan sebanyaknya, sedangkan hubungannya pada
157
komunitas serta pemerintah ataupun masyarakat hanyalah
sekadar pemanis.
C. Manajemen Corporate Social Responsibility (CSR)
Gassing (2016) menjelaskan, ada empat tahap manajemen
public relation yang berkaitan pada program kerjanya corporate
social responsibility (CSR) dimana tujuannya yakni mengoreksi
permasalahan yang public relation supaya berperan selaku
permasalahan yang melibatkannya juga.
1. Defining Corporate Social Responsibility (CSR) Problem
Menganalisa kondisi, seperti latar belakang supaya
memperoleh cerminan secara spesifik terkait suatu
permasalahan yang sedang serta hendak divisi public relation
hadapi.
2. Programming and Planning
Menyusun rencana serta membuat pemikiran taktis.
Melalui, menyusun tujuan ataupun prediksi dimana hendak
diraih dalam masa mendatang.
3. Communication and Action
Memulai untuk bertindak berdasar pada strategi serta
rencana yang telah disusun. Bersamaan dengan
melaksanakan aksi, penting juga untuk mempertahankan
komunikasi antar aspek. Komunikasi serta aksi tersebut
wajib dilaksanakan ketika mempergunakan saluran yang
sesuai supaya membentuk pengertian serta menghindari
permasalahan pada komponen perusahaan dikarenakan
salah komunikasi.
4. Evaluation
Tahap paling akhir pengukuran kesuksesan sebuah
program. Pengukuran dilaksanakan mempergunakan
penilaiannya brand awareness, perubahan sikap serta opini
dengan dukungan data kuantitatif. Perolehannya tersebut
berperan selaku pertimbangan untuk program selanjutnya.
158
D. Faktor Yang Mempengaruhi Corporate Social Responsibility
(CSR)
Princes of Wales Foundation (Untung: 2009) menjelaskan
terdapat lima hal esensial dimana bisa berpengaruh ke
penerapan corporate social responsibility (CSR), yakni:
1. Pemberdayaan manusia ataupun human capital.
Corporate social responsibility (CSR) sendiri tujuannya
yakni memberdayakan penduduk tidak untuk memperdaya
penduduk, dengan tujuan membuatnya bisa mandiri.
2. Environments dimana berbincang terkait.
Corporate social responsibility (CSR) dilihat pula pada
lingkupnya lingkungan ataupun stakeholder di mana kita
ada. Adapun mayoritas pengukurannya yakni melalui
pandangan sebesar apa dana yang dilontarkan. Pada
dasarnya bukanlah tentang dana semata, dana tersebut
berperan selaku nilai dikarenakan terdapat nilai intangible
dimana krusial sekali, yang mana berarti terdapat suatu hal
yang dana tidaklah bisa nilai ataupun dapat dikatakan nilai
etika ataupun integritas.
3. Good Corporate Governance (GCG)
Good corporate governance (GCG) yakni suatu sistem
terkait cara aset perusahaan dialokasi mengikuti “kuasa”
serta “hak”. Good corporate governance (GCG) sendiri
mempunyai dua sifat yakni ke dalam ataupun internal
dimana berkaitan pada transparansi, yang membuat
terdapat pengukuran perusahaan publik berdasar pada
keterbukaan informasinya, serta sifat mengatur keluar
ataupun eksternal dimana berkaitan pada lingkungan
berada, jika hendak melaksanakan suatu hal untuk
penduduk artinya diharuskan memahami hal yang mereka
perlukan, tidak semata hal yang kita inginkan untuk
perbuat, artinya dibutuhkan untuk berkomunikasi
komunikasi lebih dulu apabila ingin menyusun program.
4. Social Cohesion
Corporate social responsibility (CSR) sendiri tujuannya
untuk memberdayakan penduduk bukan memanjakannya,
159
dimana pada implementasinya harus menghindari
timbulnya kecemburuan secara sosial. Namun
mempersatukan setiap kelompok untuk menyokong satu
sama lainnya dalam bersama meraih tujuannya.
5. Economic Strength
Economic Strength yakni langkan pemberdayaan
lingkungan dalam bidang perekonomian ke arah mandiri.
E. Manfaat Penerapan Konsep TBL Terhadap Program
Corporate Social Responsibility (CSR)
Adapun sejumlah manfaat dari penerapan ini pada
perusahaan mulai langsung ataupun tidaknya, meliputi:
1. Menekan anggaran operasional.
2. Pegawai relatif semakin puas serta loyal pada perusahaan
yang berkomitmen pada corporate social responsibility (CSR).
3. Mendongkrak pelayanan, kualitas produk, juga berfokus
terhadap konsumen.
4. Mendongkrak popularitas akan image perusahaan terkait
rasa peduli pada lingkungan serta masyarakat.
5. Memenuhi tanggung jawab lingkungan serta sosial dimana
mampu mempermudah terwujudnya sustainable development.
F. Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)
Sustainable development bukan sesuatu yang asing lagi
untuk masyarakat pada umumnya saat ini. Ide tersebut telah
ada dan diawali saat Brundtland Comission menyusun serta
mengartikan pembangunan berkelanjutan itu, dimana
prinsipnya yakni “mencukupi kebutuhan saat ini dengan tidak
perlu mempertaruhkan untuk mencukupi kebutuhannya
generasi mendatang. Perolehan dari Earth Summit Rio de
Jeneiro Brazil 1992, menghasilkan kesepakatan ubahan pola
pembangunan, melalui economic growth (pertumbuhan
ekonomi) berganti sustainable development (pembangunan
berkelanjutan). Adapun Pembangunan Berkelanjutan yakni
besaran kapital ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, personal,
160
politik yang diberikan antar generasi menuju generasi
selanjutnya setidaknya sama.
Evaluasi untuk kepentingannya pembangunan yang
berjangka panjang menciptakan rasa sadar dalam melindungi
tersedianya sumber daya. Usaha pengelolaan dalam
memanfaatkan sumber daya di Indonesia untuk pembangunan
dilaksanakan dengan penentuan pembangunan berjangka
panjang dimana dirancangkan pada rencana pembangunan
berkelanjutan dengan wawasan lingkungan hidup. Konsep
tersebut termasuk pengembangan serta adaptasi dari
pembangunan dimana kita kenal dengan sustainable development
secara global.
Konsep itu sendiri di Indonesia, khususnya definisinya
mendapati pertumbuhan seiring lebih banyak dikenalnya
berbagai hal dasar dimana belumlah masuk pada
pertimbangannya pembangunan berjangka panjang. Pengertian
resminya konsep itu ada pada UU RI No. 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 ayat 3 dimana
isinya meliputi:
Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana yang
memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke
dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan,
kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi
masa depan.
Pengertian tersebut yakni pengembangan konsep
pembangunan degan wawasan wawasan lingkungan selaku
arahnya pembangunan nasional berangka panjang dimana
semenjak awalnya direncanakan di tahun 1982. UU RI No. 4
Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup Bab 1, Pasal 1, ayat 13 menjelaskan:
Pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar
dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya
secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan
untuk meningkatkan mutu hidup.
161
Sebelum melaksanakan kajian ubahan pengertian pada
dua UU itu, diperlukan pemahaman dulu terkait berbagai
istilah esensial ataupun kata kuncinya dimana dipergunakan
pada pengertian itu. Deskripsi ini merupakan definisi ataupun
penjelasan berbagai istilah tersebut.
Lingkungan yakni sebuah perpaduan ruang dimana ada
berbagai makhluk meliputi manusia, tumbuhan, juga hewan,
adapun benda mati meliputi air, batuan, tanah, juga udara
dimana saling melangsungkan keterkaitan secara timbal balik
pada sebuah proses dimana disebut dengan kehidupan.
Keterkaitan tersebut serupa dengan sebuah sistem, dimana
kemudian lingkungan juga disebut ekosistem. Keterkaitan
tersebut bisa terjadi dikarenakan tiap unsurnya lingkungan
tersebut bisa memerankan tiap fungsi ekologi, yakni fungsi
dalam menjaga keseimbangannya pada lingkungan terkait
mekanisme kehidupan.
Sumber daya yani tiap komponen ataupun unsur pada
lingkungan dimana bisa dipergunakan dalam melaksanakan
aktivitas yang menghasilkan ataupun bisa disebut juga
kegiatan sebagai kegiatan produksi. Umumnya, sumber daya
dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni sumber daya
manusia serta alam. Berdasar pada sifat, sumber daya alam
sendiri dikelompokkan dalam renewable resources (sumber daya
terbarukan) serta unrenewable resources (sumber daya tidak
terbarukan). Renewable resources sendiri yakni sumber daya
dengan kemampuan untuk memulihkan dirinya dengan
natural dalam situasi tertentu, misalnya tumbuhan, udara, serta
air. Unrenewable resources yakni sumber daya tanpa
kemampuan untuk membuat dirinya pulih kembali, misalnya
batu bara, minyak serta lainnya, apabila penggunaannya
dilaksanakan dengan terus-terusan mampu mengakibatkan
sumber dayanya itu menghilang.
Jika dicermati pengertian pada dua UU itu, akan bisa
ditemukan dua hal dasar, yakni:
1. Penggunaan kata menggunakan dan mengelola sumber
daya secara bijaksana dalam pembangunan yang
162
berkesinambungan (pada UU No.4/82) diganti dengan
memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke
dalam proses pembangunan (pada UU No.23/97).
Perubahan itu memiliki makna bahwasanya dalam
penafsiran terdahulu (UU No.4/82) mengelola sumber daya
termasuk sesuatu yang dipisahkan dari melaksanakan
pembangunan dimana diusahakan synergic ataupun sejalan.
Sedangkan dalam pengertian yang dikembangkan (UU No.
23/97), proses mengelola lingkungan hidup, seperti sumber
dayanya, diharuskan termasuk bagiannya pembangunan.
Pengertian pada UU No. 23/97 menekankan pemeliharaan
serta pemanfaatan sumber daya lingkungan termasuk aspek
yang tak bisa dipisahkan pada kelangsungannya aktivitas.
Pengelolaan, penggunaan, serta ketersediaan sumber daya
sendiri termasuk pertimbangan semenjak tahapan
permulaan pada perencanaan pembangunan.
2. Pengertian pada UU No. 23/97 menyebutkan dengan
menyeluruh tujuannya pembangunan dan mencakup
pandangan pemberdayaan dengan penggunaan kata
menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup dan
jangka panjang melalui penyebutan generasi masa kini dan
generasi masa datang. Penggunaan kata menjamin
kemampuan, dan kesejahteraan bermakna bahwasanya
pada langkah melaksanakan pembangunan di dalamnya
harus mencakup langkah memberdayakan masyarakat
dalam seluruh bidang supaya bisa dipergunakan selaku
modal mendasar dalam berusaha mendongkrak taraf
kehidupan. Penggunaan kata generasi masa kini dan
generasi masa depan bermakna bahwasanya pembangunan
wajib dilakukan melalui berbagai cara dimana bersamaan
bisa menjaga kelestariannya sumber daya yang
membuatnya bisa bertindak selaku cadangannya sumber
daya untuk generasi masa mendatang supaya menjalankan
aktivitas pembangunan sehingga bisa menjadi penjamin
kesejahteraan, kemampuan, serta mutu kehidupannya.
163
Sedangkan pada UU No.4/82 sekadar disebutkan tujuannya
pembangunan yakni “meningkatkan mutu hidup”.
Berdasar pada pengertiannya pembangunan
berkelanjutan dengan wawasan lingkungan diharuskan
merefleksikan karakteristik ataupun ciri-ciri meliputi:
1. Program pembangunannya direncanakan ataupun
disiapkan berlandaskan sumber daya alam yang tersedia.
Dalam tahapan persiapan, program pembangunannya telah
melewati pertimbangan beragam opsi dalam memanfaatkan
ketersediaan sumber daya, serta pendukungnya dalam tiap
opsi pemanfaatannya, juga kapabilitas dalam mengadakan
dari tempat lain terkait sumber daya yang dibutuhkan.
Misalnya: mayoritas luasan lahan pada sebuah daerah desa
termasuk area dimana hanya ada rerumputan, dimana
untuk minoritas penduduknya rerumputan itu termasuk
makanan untuk ternaknya. Area itu tidak dengan langsung
bermanfaat untuk mayoritas penduduknya desa, serta pada
situasi itu penduduk juga tidak memperdulikan status
kepemilikannya itu. Dasarnya lahan itu bisa berperan selaku
sumber daya pembangunannya daerah tersebut untuk
mendorong mutu serta kesejahteraan kehidupan
penduduknya. Permasalahannya, mekanisme pembangunan
seperti bagaimana yang seharusnya dilakukan pada
pemanfaatan sumber daya lahannya itu. Sejumlah faktor
pokok dimana harus diperhatikan ketika menetapkan opsi
dalam memanfaatkan sumber daya dalam permisalan
tersebut yakni:
a. Apakah peluang saat ini berwujud sumber makanan
ternak mampu menyokong dalam ekspansi peternakan
intens yang ternaknya sejenis ambing, domba, kerbau,
serta sapi;
b. Apakah terdapat opsi lain pemanfaatan area itu diluar
pemanfaatan rerumputannya bagi peternakan,
contohnya pertanian, perumahan, serta lain-lain;
164
c. Apakah ada ketersediaan sumber daya lainnya dimana
dibutuhkan selaku penunjang serta pendukung
terlaksananya program terpilih? Contohnya, pilihannya
yakni mengembangkan peternakan dengan intens,
diperlukan evaluasi terkait sasaran serta tujuannya,
berbagai hal teknis berhubungan pada pelaksanaannya
meliputi: mengadakan bibit dalam peternakan,
meningkatkan kemampuannya penduduk terkait yang
akan berpartisipasi beternak, probabilitas pasar untuk
penampung produknya ternak tersebut, serta lainnya.
2. Program pembangunan mempergunakan sumber daya
dalam meraih sasaran yang ada sekarang melalui
pertimbangan pada kesediaan sumber dayanya dalam
mencapai sasaran pembangunan pada generasi ke
depannya. Contohnya pemakaian renewable resources
(sumber daya terbarukan), yakni hutan, usahawan hutan
melaksanakan penebangan dalam hutan selaku sumber
dayanya pada perusahaan kayunya. Bila usahawan itu
memelihara hutannya seperti pelaksanaan reboisasi, artinya
pepohonan dalam wilayah penebangan tersebut bisa terjaga
yang mana membuat perusahaan kayunya bisa terus
bertahan hingga keturunannya. Melalui metode itu,
memanfaatkan hutan dalam mendongkrak kualitas serta
kemakmuran kehidupan sekarang tidak menghilangkan
kesempatannya generasi selanjutnya dalam melakukan
pembangunan melalui penggunaan sumber daya serupa.
Contohnya pemakaian unrenewable resources (sumber daya
tidak terbarukan), yakni batubara, didorong kemajuan serta
penemuan beragam rekayasa teknologi, sekarang beragam
aktivitas pembangunan memerlukan pemanfaatan batubara,
dimana kita ketahui batubara sendiri tidaklah bisa
terbarukan, yang berarti pemakaian berkelanjutan mampu
mengakibatkan bahan itu habis tidak tersisa. Jika generasi
sekarang menghadapi permasalahan dimana diharuskan
mempergunakan banyak batubara yang mana diduga
165
generasi mendatang tidak akan kebagian batubara tersebut
dikarenakan habis. Artinya generasi saat ini harus berupaya
menemukan rekayasa teknologi lainnya supaya
memungkinkan untuk mempergunakan sumber daya
lainnya. Sehingga bisa mengulur kesediaan batubara serta
dengan perlahan meminimalkan ketergantungan pada
pemakaiannya.
3. Program pembangunan dengan orientasi terhadap
peningkatan serta pemberdayaan kualitas SDM (sumber
daya manusia) di masa terkini serta masa mendatang
dimana berperan selaku sasaran juga pelaku dari program
selaku aktualisasi oleh pemberian jaminan kualitas hidup,
kesejahteraan, serta kemampuan masyarakat. Standard
mutu SDM pada program pembangunan itu dimana hendak
diraih dalam generasi terkini yakni keadaan permulaan
dalam perbaikan kualitasnya SDM generasi mendatang,
begitupun seterusnya. Artinya, program pembangunan ini
mempergunakan standard mutu SDM dengan sifat progresif
antar generasi. Contohnya: standard penetuan mutu pekerja
berdasar pada tingkatan pendidikan, dimana dalam
dasawarsa 80-an standard mutu yang hendak diraih yakni
menyelesaikan tingkatan SD. Kemudian dalam dasawarsa
90-an, pekerja tamatan SD termasuk keadaan umum yang
mana ditentukan standard baru yakni menyelesaikan
Tingkatan SMP. Sama halnya pada tiap periode selanjutnya,
standard itu dengan menerus meningkat.
Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan mempunyai beberapa sifat dimana direfleksikan
melalui karakteristik serta ciri-cirinya, meliputi:
1. Berdasar pada perencanaan secara adaptif serta dinamis.
Berarti, program pembangunan dibentuk melalui
perancangan yang luwes dimana pada perjalanannya waktu
pelaksanaan ditemui berbagai faktor dasar yang tidak
diduga ketika perancangan bisa diakomodasi pada
perancangan itu tersebut. Artinya memberikan kesempatan
166
ataupun ruang dalam melaksanakan penyesuaian ataupun
perbaikan bersamaan pada berjalannya pelaksanaan
pembangunan. Kondisi tersebut tentunya bukan ditujukan
dalam membenarkan ataupun memberikan peluang pada
pelaksanaan sebuah perancangan asal-asalan ataupun
ceroboh. Namun dalam merespons ataupun menanggapi
ubahan yang berlangsung dalam keadaan lingkungan
selepas pembuatan perancangan itu. Ubahan tersebut lebih
dimaksudkan pada ubahan dikarenakan fenomena natural
meliputi angin topan ataupun gempa bumi. Supaya bisa
memperkirakan ataupun mengantisipasi ubahan selaku
imbas dari sebuah aktivitas yang dirancangkan, baiknya
program pembangunan dibentuk dengan terpadu, mulai sisi
kegiatannya hingga rancangan kegiatannya juga perolehan
yang hendak diraih, supaya bisa menghindarkan adanya
tumpang tindih kewenangan ataupun kegiatan antar sektor.
2. Berpijak terhadap kesediaan sumber daya lokal ataupun
setempat. Berarti, program pembangunan dibentuk guna
meningkatkan ataupun mendapatkan hasil kegunaan
sumber daya lokal ataupun setempat. Artinya, sumber daya
lokal yakni yang diandalkan, sedangkan sumber daya
eksternal termasuk penunjang ataupun pendukung.
Adapun suatu hal selaku pertimbangannya yakni
pemakaian sumber daya tersebut bukan sekadar guna
kebutuhannya generasi saat ini, namun mendatang juga.
Membuat pelaksanaannya program pembangunan harus
diiringi oleh usaha pengelolaannya sumber daya itu. Usaha
pengelolaannya renewable resources yakni perawatan dengan
sifat pelestarian keberadaannya sumber daya. Sementara
pada unrenewable resources usaha pengelolaannya lebih pada
penekanan efisiensi penggunaan supaya meminimalkan
perilaku boros, juga usaha dalam mencari sumber daya
lainnya selaku opsi pengganti sumber dayanya.
3. Progresif, berarti program pembangunan berpatokan
terhadap suatu ukuran ataupun standard dimana dengan
menerus mengalami peningkatan. Perbaikan kualitas
167
kehidupan selaku sasaran pembangunan dengan senantiasa
berjalan dalam penyelenggaraan pembangunan. Contohnya
pada program yang tujuannya mendongkrak
pendapatannya keluarga dalam daerah yang kekurangan,
dalam sebuah periode bisa mempergunakan standard
pencapaian perolehan pembangunan meliput mendorong
kemampuannya penduduk supaya bisa menyajikan
makanan 3 kali sehari terhadap keluarganya. Kemudian
pada periode selanjutnya, standard tersebut mungkin
memerlukan peningkatan, contohnya semua anak pada
daerah itu diharuskan bisa menghadiri sekolah.
Berkaitan pada pengertian sifat, serta ciri pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan lingkungan, adapun sejumlah
prinsip pada penyelenggaraannya yakni:
1. Terpadu ataupun integratif
Program pembangunan haruslah sebuah serangkaian
aktivitas dimana saling mendukung serta terkait. Kondisi
itu memberikan kemungkinan dalam berjalannya aktualisasi
dengan terpadu program itu yang bisa membuat
menghindarkan berlangsungnya aktivitas tumpang tindih
dimana bisa membuat sasarannya program menjadi kacau.
2. Membentuk kemandirian
Pemberdaya SDM pada aktualisasi program pembangunan
bermaksud meminimalkan ketergantungannya SDM pada
sokongan ataupun bantuan untuk mendorong mutu
kehidupan serta taraf kesejahteraannya dengan berbagai
usaha yang dilaksanakan melalui pengerahan
kemampuannya pribadi.
3. Membentuk keadilan antargenerasi
Penggunaan sumber daya alam dalam memperbaiki kualitas
kehidupan haruslah berlandasan terhadap evaluasi
bahwasanya generasi selanjutnya memerlukan juga sumber
daya itu untuk memperbaiki kualitas kehidupannya.
Artinya, penggunaan sumber daya terkini memerlukan
168
usaha dalam memelihara kesediaannya sumber daya dalam
masa mendatang juga.
Artinya, bisa dikatakan pembangunan berkelanjutan
yakni sebuah rancangan pembangunan yang pada
pelaksanaannya tidak melupakan hal yang seharusnya
diwariskan pada generasi mendatang.
F. Coorporate Social Responsibility (CSR) dalam Pembangunan
Berkelanjutan
Adapun suatu diskusi yang terangkat pada sektor
perusahaan saat ini, yakni coorporate social responsibility (CSR).
Diskusi tersebut dipergunakan perusahaan untuk berperan
menjelang ekonomi ke pasar bebas, dimana perkembangannya
sudah menjalin banyak keterikatan pada perekonomian dunia
melalui terciptanya APEC, AFTA, serta lainnya, dimana
memacu beragam perusahaan seluruh dunia dengan
bersamaan menjalankan kegiatannya untuk memakmurkan
penduduk dalam lingkungannya.
Dasarnya adanya corporate social responsibility (CSR) yakni
untuk menguatkan keberadaan perusahaan dalam suatu
wilayah, melalui menciptakan kerja sama diantara stakeholders
dengan bantuannya perusahaan melalui penyusunan berbagai
program untuk mengembangkan penduduk sekitar. Ataupun
pada definisi kemampuannya perusahaan dalam
menyesuaikan pada lingkungan sekitarnya, stakeholders serta
komunitas yang berkaitan padanya, secara global, nasional,
ataupun lokal. Sehingga pengembangannya corporate social
responsibility (CSR) selanjutnya berpatokan terhadap
sustainability development ataupun pembangunan berkelanjutan.
Melalui pandangan perusahaan, dimana keberlanjutan
dimaksudkan selaku sebuah program imbasnya berbagai
perintisan usaha, berdasar pada konsep rekanan serta
kemitraan tiap stakeholders. Terdapat lima aspek yang membuat
konsep keberlanjutan krusial meliputi:
1. Misi lingkungan
169
2. Kesediaan anggaran,
3. Terimplementasi pada ketetapan (pemerintah, perusahaan,
serta masyarakat)
4. Tanggung jawab sosial,
5. Mempunyai nilai laba.
Prinsip keberlanjutan tersebut mengutamakan
perkembangan, terutama pada penduduk yang kekurangan
untuk melaksanakan pengelolaan pada lingkungan serta
kapabilitas institusinya untuk melaksanakan pengelolaan pada
pembangunan, juga strateginya yakni kapabilitas dalam
mengintegrasi dimensinya sosial, ekologi, serta ekonomi
dimana menghargai kemajemukannya sosial budaya serta
ekologi. Selanjutnya pada proses pengembangan diharapkan
tiga stakeholders memberikan dukungan sepenuhnya, meliputi;
masyarakat, pemerintah, serta perusahaan.
Melalui mengamati uraian di atas, diperoleh terdapatnya
keterkaitan kuat diantara pembangunan berkelanjutan serta
corporate social responsibility (CSR), sebab intinya
mengutamakan tiga prinsip yakni environment, society,
economy, dimana sejalan pada piramida keberlanjutan. Oleh
karenanya implementasi corporate social responsibility (CSR)
secara kontinuitas mampu menyokong perwujudan
sustainability development.
Pembangunan berkelanjutan mempunyai hubungan
pada corporate social responsibility (CSR) pada tujuannya
perusahaan dimana bukanlah sekadar memperoleh laba serta
perkembangan berkonsekuensi penting. Perusahaan
diharuskan menyadari dirinya selaku bagiannya sistem sosial
serta lingkungan, yang membuatnya juga diperlukan
menyadari terdapatnya batasan sumber daya alam serta
menyadari tanggung jawab secara bersamaan terkait
pengembangan serta pemakaian sumber daya sosial yang
membuatnya memahami imbas yang mampu timbul dari tiap
tindakannya. Pembangunan berkelanjutan sebuah entitas bisa
terjaga melalui adanya keselarasan secara menguntungkan
170
diantara aspek lingkungan, sosial, serta ekonomi. Sehingga,
hadirnya perusahaan akan dirasa bermanfaat untuk penduduk
sekitarnya serta berperan pada keseharian penduduk tersebut.
Perusahaan dengan programnya, pada aspek pemberdayaan
ekonomi bisa menyokong pengurangan kemiskinan.
Kinerjanya perusahaan terkait ekonomi berhubungan pada
seberapa jauh ia bisa berdampak secara perekonomian pada
penduduk mulai secara langsung ataupun tidaknya.
Adapun konsepnya corporate social responsibility (CSR)
dimana mempergunakan sustainable development ataupun
pembangunan berkelanjutan termasuk dalam ethical theory,
dikarenakan menjelaskan bahwasanya tujuannya sustainable
development yakni merespons kebutuhan terkini dengan tidak
perlu menyinggung kapabilitas dalam menjaga generasi
mendatang dalam pemenuhan apa yang ia butuhkan. Sunaryo
(2015) menegaskan kembali mengenai konsep sustainable
development, pada sustainable development terkandung
maksudnya dari pembangunan dengan wawasan berjangka
panjang, dimana mencakup rentang waktu diantara generasi
serta berusaha dengan cukup menyajikan lingkungan sehat
serta sumber daya untuk menyokong kehidupan. Menurut GB
Nayenggita (2019) Ada dua tipe dari konsepnya corporate social
responsibility (CSR), yakni definisi luas serta sempit, dimana
pada definisi luas berhubungan kuat pada sasaran meraih
sustainable economic activity ataupun aktivitas perekonomian
berkelanjutan. Keberlanjutannya aktivitas perekonomian
bukanlah sekadar berkaitan pada tanggung jawab sosial namun
bersangkutan pula pada accountability ataupun akuntabilitas
perusahaan pada bangsa, penduduk, juga dunia. Pada proses
tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan, tidak akan
jauh dari konsep sustainable development. Karena dengan
menggunakan konsep pembangunan berkelanjutan akan
memberikan efek jangka panjang untuk perusahaan itu sendiri.
Dibutuhkan peran stakeholder, seperti peran masyarakat
berkualitas untuk terciptanya kondisi yang baik antara pemberi
manfaat dan penerima manfaat dan kualitas serta kuantitas
171
masyarakat sekitar perusaahan itu sendiri. Theresia (2018)
mengungkapkan bahwa teori stakeholder merupakan setiap
pemangku kepentingan ikut menetapkan kinerjanya
perusahaan, seperti kinerjanya terkait sosial. Institusi
diasumsikan selaku pihak dengan kemampuan terbaik untuk
mengelola serta mengawasi investasinya, mulai aspek sistem
informasi, pengetahuan, ataupun sumber dayanya.
Brundtland Report oleh WECD menjelaskan,
mempertahankan kelangsungan artinya menjaga serta
memproduksi kembali sumber daya yang sudah terpakai. Rasa
yakni konsumen dimana terbentuk dari corporate social
responsibility (CSR) bisa menyokong perkembangan
perekonomian. Corporate social responsibility (CSR) pada
perusahaan termasuk fungsi esensial untuk pengembangan
lingkungan sosialnya yang membuat pengembangannya
mampu beriringan pada pengembangannya perusahaan
tersebut.
Berdasarkan Internationa; Business Leaders Forum
terdapat delapan tipe aktivitas corporate social responsibility
(CSR) dalam menyokong penguatan kerekatan sosial, yakni:
1. Membentuk perasaan menghormati satu dengan lainnya
serta kepercayaan, dibentuk melalui menumbuhkan
kegiatan corporate social responsibility (CSR) dimana menuju
ke terwujudnya situasi akrab diantara masyarakat.
2. Membantu peningkatan kualitas kehidupan serta
pengurangan kemiskinan, bisa dilaksanakan contohnya
melalui mengembangkan berbagai usaha kecil di sekitarnya
wilayah perusahaan, juga menyokong pemasaran
produknya.
3. Mendukung penanganan tindak kriminal, melalui upaya
pemberian pemberdayaan supaya penduduk sekitarnya
tidak terjerumus pada sesuatu yang negatif.
4. Meminimalkan konflik yakni wujud corporate social
responsibility (CSR) mendasar serta memegang peranan kuat
pada usaha memperkuat kerekatan sosial.
172
5. Menyediakan pelayanan sosial ketika kondisi sulit, dan
berpartisipasi mengembangkan kebersamaan sosial.
6. Memberikan dukungan pada social local entrepreuners.
7. Memberikan dukungan pada aktivitas kebudayaan serta
memelihara warisannya budaya.
8. Menyokong toleransi antar etnis, agama, serta lainnya.
173
DAFTAR PUSTAKA
Abul a‟la al Maududi, 2005. Asas Ekonomi Islam al Maududi.
Surabaya: PT. Bina Ilmu
Adiwarman A. Karim. 2010. Ekonomi Mikro Islam. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Akhmad Mujahidin, Etika Bisnis dalam Islam (Analisis Terhadap
Aspek Moralitas Pelaku Bisnis), Jurnal Hukum Islam,
Vol. 4, No. 2, Desember 2005
Akhmad Nor Zharoni, Bisnis dalam perspektif Islam (telaah atas
konsep keagamaan dalam kehidupan ekonomi), dalam
Jurnal MAZAHIB, Volume IV, No. 2, Desember 2007
Amalia. 2013. Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap
Corporate Social Responsibility Disclosure di Bursa Efek
Indonesia. Media Riset Akuntansi Vol 3 No 1
Al-Qur‟an Dan Terjemahnya, Departemen Agama.
Bowen. 1953. “Social Responsibility of Businessman.
Cahya, Bayu Tri dan Umi Hanifah, “Meretas Aktualitas Islamic
Social Report: Sebagai Corporate Social Responsibilities
Framing Berbasis Syariah (Dalam Pendekatan Filosofis)”,
Jurnal BISNIS, Vol. 4, No. 1, Juni 2016.
Cahya, Bayu Tri, “Islamic Social Report: Ditinjau Dari Aspek
Corporate Governance Strength, Media Exposure Dan
Karakteristik Perusahaan Berbasis Syariah Di Indonesia
Serta Dampaknya Terhadap Nilai Perusahaan”, Disertasi,
Medan: Program Doktor Ekonomi Syariah Pascasarjana
UINSU, 2017.
Cahya, Bayu Tri, A. Nuruddin dan A. Ikhsan, “Islamic Social
Reporting: From the Perspectives of Corporate
Governance Strength, Media Exposure and the
Characteristics of Sharia Based Companies in Indonesia
and its Impact On Firm Value” IOSR Journal Of
174
Humanities And Social Science (IOSR-JHSS,) Vol. 22,
Issue 5, Ver. 10, May. 2017
Chamhuri, Siwar & Hossain, Tareq. (2009). An analysis of Islamic
CSR concept and the opinions of Malaysian managers.
Management of Environmental Quality: An International
Journal. 20. 290-298. 10.1108/14777830910950685.
Fitria, Soraya dan Dwi Hartanti. Islam Dan Tanggung Jawab
Sosial:“Studi Perbandingan Pengungkapan Berdasarkan
Global Reporting Initiative Indeks Dan Islamic Social
Reporting Indeks”. Purwokerto: Simposium Nasional
Akuntansi 13, 2010.
Haerani, Farida. 2017. STRATEGI CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY (CSR) DALAM RANGKA
MENINGKATKAN REPUTASI PERU. Volume 4 Nomor
1 Desember 2017 Page: 637 – 655 doi:
http://doi.org/10.5281/zenodo.125 7791. hlm, (638)
Haniffa, R. 2002. Social Reporting Disclosure-An Islamic
Perspective”, Indonesian Management & Accounting
Research, Vol. 2
Hendrik, Budi Untung. 2008. Corporate Social Responsibility.
Jakarta: Sinar Grafika.
Jamal Ma‟mur Asmani, Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfud, Surabaya:
Khalista, 2007, hlm
Kurnia, Afdal dkk. 2019. Sustainable Development dan CSR.
Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat
Vol. 6 No. 3
Modul 3 CSR dan Tanggung Jawan Perusahaan Terhadap
Konsumen. 2019. Universitas Widyatama.
Muhammad. 2008. Metodologi Penelitian Ekonomi Islam
Pendekatan Kuantitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
175
Muhammad DDjakfar. 2007. Etika Bisnis dalam Perspektif Islam,
UIN Malang Press.
Muhammad Sulaiman, Ph. D & Aizuddinur Zakaria, Jejak Bisnis
Rasul, Penerbit Hikmah, 2010 Musaq Ahmad, Busines
Ethics in Islam, Pustaka Al-Kautsar, 2001
Mustaq, Ahmad. 2001. Etika Bisnis Dalam Islam. Jakarta: Pustaka
Al_Kautsar
Modul Certified Accountant. 2017. Pelaporan Korporat. Jakarta:
IAI
Saptari, Ari. 2015. Manajemen Pembangunan Berkelanjutan.
Jakarta: Universitas Terbuka Modul
Siregar, Saparudin, dkk. 2016. Akuntansi Syariah: Meletakkan
Nilai-NIlai Syariah Islam dalam Akuntansi. Medan:
Madenatera
Solihin, Ismail, 2009, Corporate Social Responsibility From Charity
To Sustainability, Jakarta, Salemba Empat
Sudrajat, AB. 2020. CSR Untuk Pembangunan Berkelanjutan.
Kuningan: Suara Kuningan
Suharto, Edi, 2007, Pekerjaan Sosial Di Dunia Industri,
Memperkuat Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR),
Bandung, PT. Refika Aditama
Suryani & Hendrayani. 2015. Metode Riset Kuantitatif Teori dan
Aplikasi pada Penelitian Bidang Manajemen dan
Ekonomi Islam. Jakarta: Prenamedia Group
Theresia. 2018. Analisis Penerapan Sustainable Development Goals
(Sdgs) Pada Beberapa Anggota Indonesia Global
Compact Network (IGCN). National Conference of
Creative Industry: Sustainable Tourism Industry for
Economic Development Universitas Bunda Mulia,
Jakarta, 5-6 September 2018 ISSN No: 2622-7436. hlm,
(944).
176
Wibisono, Yusuf, 2007, Membedah Konsep Dan Aplikasi CSR,
Gresik, Fanscho Publishing
Zam Saidi dan Hamid Abidin, Menjadi Bangsa Pemurah: Wacana
Dan Praktek Kedermawanan Sosial di Indonesia, (Jakarta:
Piramedia, 2004), hlm. 60.
Yusuf Qardhawi. 1997. Norma Dan Etika Ekonomi Dalam Islam.
Jakarta: Gema Insani Pers
Yulius P. Hermawan, Asas-Asas peraturan Yang Baik:Gagasan
PemPembentukan Pentukan
Undang-Undang Berkelanjutan, (Jakarta: Rajawali Press, 2007),
UU Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal
UU Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas
177
BIODATA PENULIS
Ersi Sisdianto,M.Ak, adalah Dosen
Akuntansi Asisten Ahli di Departemen
Perbankan Syari‟ah dan Akuntansi Syari‟ah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung. Gelar Magister Akuntansi
diperoleh dari Universitas Mercu Buana
Jakarta pada tahun 2018. Beliau merupakan
salah satu dosen yang mengajar pada mata
kuliah, pasar modal, akuntansi manajemen, akuntansi perbankan
dan praktik, akuntansi pertanggungjawaban sosial dan
lingkungan, akuntansi menengah dan analisis laporan keuangan
perbankan syari‟ah, fokus riset beliau saat ini adalah dibidang
akuntansi pertanggungjawaban sosial dan akuntansi manajemen.
Dakun, M.Ak adalah Dosen luar biasa
diberbagai Universitas salah satunya yaitu
dosen luar biasa pada PKN STAN
Kementerian Keuangan Gelar Magister
Akuntansi diperoleh dari Universitas Mercu
Buana Jakarta pada tahun 2018 dengan
mendapatkan predikat mahasiswa terbaik
pada angkatan 2016 Beliau merupakan salah
satu dosen yang mengajar pada mata kuliah
pendidikan karakter mahasiswa PKN STAN Kementerian
Keuangan seperti pendidikan pancasila dan kewarganegaraan.
Riset beliau saat ini adalah bidang akuntansi keuangan dan
akuntansi pertanggungjawaban social.
178