1. PSAK 106 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Musyarakah.
2. PSAK 105 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Mudharabah,
3. PSAK 104 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Istishna‟,
4. PSAK 103 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Salam,
5. PSAK 102 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Murabahah,
6. PSAK 101 (Revisi 2006) tentang Penyajian Laporan
Keuangan Syariah,
7. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan Syariah,
IAI selaku organisasi yang mempunyai kewenangan untuk
menentukan standard audit serta akuntansi keuangan untuk
beragam industri termasuk komponen esensial pada
perkembangan bank syariah, adapun ekonomi syariah tidaklah
bisa berkembang serta berjalan secara baik dengan tidak
terdapatnya standard akuntansi keuangan secara tepat.
Standard tersebut diperlukan sekali untuk
mengakomodasi beda esensi diantara operasionalnya Syariah
pada bank konvensional. Melalui hal tersebut, di 25 Juni 2003
disepakati nota kesepahaman diantara IAI pada Bank Indonesia
selaku kerja sama pembentukan beragam standard akuntansi
syariah, seperti melaksanakan kerja sama pelatihan serta riset
dalam berbagai bidang sejalan pada kompetensi IAI.
127
F. Pengguna dan Kebutuhan Informasi Akuntansi Syariah
Pengguna laporan keuangan yakni:
1. Investor potensial ataupun sekarang
2. Pemiliknya dana titipan
3. Pemiliknya dana syirkah temporer
4. Pemiliknya dana qardh
5. Pemantau syariah
6. Penerima serta pembayar wakaf, shodakoh, serta zakat
7. Pegawai
8. Konsumen
9. Pemasok serta mitra usaha lain
G. Dasar Hukum Akuntansi Syari’ah
Dasar hukumnya Akuntansi Syariah yakni pada Al
Quran, Ijma (kesepakatannya ulama), Sunah Nabawiyyah,
„Uruf (kebiasaan adat) dimana tidak berlawanan pada Syariah,
serta Qiyas (persamaannya kejadian tertentu). Berbagai kaidah
Akuntansi Syariah, mempunyai ciri-ciri khas yang
membedakannya pada kaidahnya Akuntansi biasa. Kaidah
Akuntansi Syariah sejalan pada berbagai norma umat islam
serta mencakup disiplin pengetahuan sosial dimana fungsinya
yakni selaku pelayanan masyarakat di lokasi implementasi
akuntansi itu.
H. Paradigma Transaksi Syari‟ah
Transaksi syari‟ah mengacu terhadap paradigma
bahwasanya Tuhan menciptakan dunia selaku sarana serta
amanah kebahagiaan kehidupan untuk semua umat dalam
meraih kesejahteraannya secara spiritual serta material.
Paradigma tersebut memberikan penekanan bahwasanya tiap
kegiatan umat mempunyai nilai ilahiah serta akuntabilitas
dimana menaruh akhlak serta perangkat syari‟ah selaku
parameter buruk serta baik, salah serta benar kegiatan usaha.
Syari‟ah yakni ketetapan hukum islam selaku pengatur
kegiatan umat dimana berisikan larangan serta perintah, mulai
yang berkaitan pada interaksi vertikal pada Tuhan ataupun
interaksi horizontal pada sesamanya. Prinsip syari‟ah yang
128
secara umum berlaku pada aktivitas muamalah secara hukum
mengikat seluruh pelakunya serta pemangku kepentingannya
perusahaan pelaksana transaksi secara syari‟ah. Akhlak yakni
etika serta norma yang berisikan berbagai nilai moral pada
hubungan antar makhluk supaya hubungannya bisa harmonis,
sinergis, serta saling memberikan keuntungan.
Prinsip dasarnya paradigma syari‟ah yakni multi
paradigma holistik, memuat semua dimensi wilayah makro
serta mikro pada hidup manusia dimana saling berkaitan.
Pertama, dimensi mikro tersebut yakni seseorang yang beriman
pada Allah SWT juga mematuhi seluruh larangan serta aturan
pada hasil ijtihad, Fiqh, Al Hadist, serta Al-Qur‟an. Landasan
tauhid dibutuhkan dalam meraih tujuannya syari‟ah yakni
membentuk al ihsan serta al a‟dl (keadilan sosial) juga
kebahagiaan akhirat maupun dunia. Penggapaian tujuannya
syariah itu dilaksanakan mempergunakan etika serta faith
(motal iman), piety (taqwa), birr/righteoneus (kebaikan), worship
(ibadah), fardh/responsibility (tanggung jawab), ikhtiyar/free will
(usaha), Habluminannas serta Habluminallah (hubungan pada
manusia serta Allah), serta blessing (barokah).
Kedua, dimensi makro yakni memuat area sosial,
ekonomi, serta politik. Dimensi sosial memprioritaskan amanah
serta kepentingan umum. Dimensi ekonomi melaksanakan
usaha secara halal, menunaikan kewjiban zakat, serta menaati
larangannya bunga. Kemudian dimensi politik menjunjung
kerja sama serta musyawarah. Pada kerangka konseptualnya
akuntansi syari‟ah tersebut, disampaikan bahwasanya
penyelenggaraan akuntansi syari‟ah tujuannya yakni
mewujdukan keadilan sosial-ekonomi; serta selaku sarana
beribadah dalam pemenuuhan kewajiban pada Allah SWT,
individu serta lingkungan melalui keiktsertaa institusi pada
aktivitas perekonomian. Produk final teknik akuntansi syari‟ah
ayakni data akuntansi secara tepat dalam penghitungan zakat
serta tanggung jawab pada Allah SWT berdasar pada taqwa,
iman, serta moral. Melalui hal tersebut akuntansi syari‟ah
selaku alat dalam mempertanggungjawabkan, diwakilkan
129
informasi akuntansi syari‟ah berbetuk laporan keuangan
dimana tidaklah mengarah lagi terhadao pengoptimalan
keuntungan laba, namun memberikan pesan modal untuk
menstimulasi perilaku adil serta etis pada seluruh pihak.
Sumber: CA -Pelaporan Korporate
I. Asas Transaksi Syari’ah
1. Ukhuwah (Persaudaraan): Artinya transaksi syariah
mengutamakan nilai bersama untuk mendapatkan manfaat,
yang membuat individu tidak diperbolehkan memperoleh
laba namun merugikan individu lainnya. Prinsip tersebut
berdasar pada tafahun (saling mengerti), ta‟aruf (saling
mengenali), takaful (saling menjamin), ta‟awun (saling
membantu), tahafu (saling beraliansi), serta saling bersinergi
2. „Adalah (Keadilan): artinya senantiasa menaruh suatu hal
terhadap yang mempunyai hak serta senada pada
kedudukannya. Implementasi prinsip tersebut pada
ketetapan muamalah yakni tidak memperbolehkan
terdapatnya elemen:
a. Bunga/riba jenis serta bentuk apapun, termasuk riba
fadhl/ nasiah.
b. Kezaliman, pada lingkungan, individu lainnya, ataupun
diri pribadi.
c. Pertaruhan ataupun sikap spekulatif serta bukan
berkaitan pada produktivitas (maysir).
130
d. Unsur tidak jelas, eksploitasi serta manipulasi data juga
tidak terdapatnya harga, kuantitas, kualitas, kriteria,
serta kualitas objek ataupun eksploitasi dikarenakan
sebelah pihak tidak mengetahui perjanjiannya (gharar).
e. Haram ataupun seluruh hal yang terlarang pada As-
sunnah serta Al-quran.
3. Maslahah (Kemaslahatan): yakni seluruh wujud manfaat
serta kebaikan dimana berdimensi ukhrawi serta duniawi,
spiritual serta material, juga kolektif serta individual.
4. Tawazum (Keseimbangan): transaksi perlu
mempertimbangkan keseimbangan aspek spiritual serta
material, publik serta privat, riil serta keuangan, sosial serta
bisnis, juga kesetaraan pelestarian serta pengembangan.
5. Syumuliyah (Universalisme): transaksi syariah bisa
dilaksanakan untuk, dengan, serta oleh seluruh pihak
dengan kepentingan tanpa melihat golongan, rasa, agama,
serta suku sejalan pada semangat rahmatan lil alamin.
Sumber : Modul CAPelaporan korporate
J. Ciri-ciri Transaksi Syari’ah
Penerapan transaksi yang sejalan pada asas serta
paradigma transaksi syariah wajib sesuai pada persyaratan
serta ciri-ciri meliputi:
1. Prinsip kebebasan melaksanakan transaksi berlaku selama
objek halal serta baik
2. Transaksi hanya dilaksanakan berdasar pada prinsip saling
ridho serta paham
131
3. Uang fungsinya hanya selaku satuan untuk mengukur nilai
serta alat tukar, bukanlah selaku komoditas
4. Tidak memuat elemen kezaliman
5. Tidak memuat elemen riba
6. Tidak memuat elemen haram
7. Tidak memuat elemen gharar
8. Tidak memuat elemen masyir
9. Transaksi dilaksanakan berdasar pada sebuah kesepakatan
secara benar serta jelas supaya saling menguntungkan serta
tidak memberikan kerugian
10. Tidak mengaplikasikan prinsip time value of money ataupun
nilai waktu dari uang
11. Tidak memuat elemen kolusi melalui penyuapan (risywah)
12. Tidak terdapat distorsi nilai dengan merekayasa permintaan
(najasy)
Ciri-ciri itu bisa diaplikasikan dalam transaksi usaha
dimana sifatnya ataupun non komersial.
Sumber : CA Modul pelaporan korporate
K. Tujuan Laporan Keuangan
Adapun tujuannya laporan keuangan yakni menyajikan
informasi terkait posisi keuangan, perubahan posisinya, serta
kinerjanya dimana memberikan manfaat untuk mayoritas
132
penggunanya untuk mengambil keputusan. Sejumlah
tujuannya yang lain yakni:
1. Informasi ketaatan perusahaan syariah pada prinsip syariah,
dan informasinya aset, beban, pendapatan, serta kewajiban
dimana tidak sejalan pada prinsip syariah apabila ada serta
bagaimanakah penggunaan serta perolehannya.
2. Mendorong ketaatan pada prinsip syariah di seluruh
aktivitas usaha serta transaksi.
3. Informasi terkait tingkatan laba investasi dimana
didapatkan pemilik dana serta penanam modal juga
informasi terkait pelaksanaan kewajiban fungsi sosialnya
perusahaan syariah seperti mengelola serta menyalurkan
infaq, zakat, wakaf, serta sedekah.
4. Informasi dalam menyokong evaluasi pada pelaksanaan
tanggung jawabnya pada amanah untuk menjaga dana,
menginvestasikan ke tingkatan laba secara layak.
L. Wujud Laporan Keuangan
Laporan keuangannya perusahaan syariah mencakup:
1. Posisi keuangan, tersaji selaku neraca. Menyediakan
informasi terkait sumber daya yang dikontrol, solvabilitas,
likuiditas, serta struktur keuangan jug kapabilitas dalam
menyesuaikan pada lingkungan.
2. Informasi kinerja, tersaji pada laporan laba rugi serta
dibutuhkan untuk penilaian perubahan potensialnya
sumber daya perekonomian dimana mempunyai
kemungkinan untuk dikontrol dalam masa mendatang.
3. Informasi perubahan posisi keuangan, bisa dibentuk
berdasar pada pengertian dana meliputi semua sumber
daya keuangan, kas, aset, ataupun modal kerja. Kerangka
tersebut tidaklah mengartikan dengan spesifik terkait dana,
namun dengan laporan tersebut bisa diperoleh kegiatan
pendanaan, investasi, serta operasi semasa pelaporan.
4. Informasi lainnya, meliputi penjabaran terkait aktualisasi
fungsi sosialnya.
133
5. Catatan serta jadwal tambahan, yakni menampung
informasi ekstra seperti mengungkapkan ketidakpastian
serta risiko yang memberikan perusahaan pengaruh.
M. Asumsi Dasar
1. Dasar akrual
Laporan keuangan tersaji berdasar pada akrual,
artinya pengaruhnya transaksi serta kejadian lainnya diakui
ketika berlangsung (serta bukan ketika kas ataupun yang
setara kas dibayar ataupun diterima) serta diberitahukan
melalui catatan juga dilaporkan. Tetapi, pada perhitungan
pemasukan yang tujuannya membagi perolehan
mempergunakan dasar kas. Kondisi tersebut diakibatkan
prinsip bagi hasil usaha berdasar pada pembagian hasil,
hasil ataupun pemasukan tersebut yakni laba bruto.
2. Kelangsungan usaha.
Laporan keuangan normalnya tersusun berdasar
dugaan kelangsungan usahanya perusahaan syariah dimana
hendak melangsungkan usahan dalam masa mendatang.
Melalui hal tersebut, perusahaan syariah dianggap tidak
berkeinginan ataupun bermaksud mengurangi ataupun
melikuidasi skala usaha miliknya secara material.
134
N. Karakteristik Kualitatif Informasi Keuangan Syariah
Karakteristik ini termasuk ciri khusus dimana
menjadikan data pada laporan keuangan bermanfaat untuk
pemakainya. Ada 4 karakteristik inti meliputi:
1. Relevan
Artinya yakni mempunyai kapabilitas dalam
mempengaruhi keputusannya pengguna terkait ekonomi
melalui membantunya melaksanakan evaluasi masa depan,
terkini, ataupun lampau melalui mengoreksi ataupun
menegaskan perolehan evaluasi mereka pada masa lampau.
2. Mampu dimengerti
Kualitas pentingnya data pada lampiran keuangan
yakni kemudahan dalam dimengerti penggunanya dengan
segera. Artinya, pengguna dianggap mempunyai wawasan
secara cukup terkait kegiatan bisnis serta ekonomi,
akuntansi, juga kapabilitas dalam memahami informasi
secara wajar melalui ketekunannya. Tetapi, informasi rumit
dimana sebenarnya dituliskan pada laporan tidaklah bisa
dihapuskan dikarenakan penilaian bahwasanya
informasinya sukar dimengerti pengguna tertentu.
3. Bisa dibandingkan
Pengguna diharuskan bisa membandingkan laporan
keuangannya perusahaan syari‟ah tiap periode supaya bisa
teridentifikasi trend (kecenderungan) posisi serta kinerjanya
keuangan. Supaya bisa melaksanakan perbandingan,
informasinya terkait ketetapan akuntansi dimana
dipergunakan pada pembentukan laporan juga perubahan
ketetapan beserta pengaruhnya pun wajib diungkap
meliputi ketaatan terkait standar akuntansinya juga.
4. Andal
Merupakan suatu yang terbebas oleh definisi
kesesatan, salah material, serta bisa dipergunakan
penggunanya selaku penyajian secara jujur ataupun tulus
135
dari hal dimana sebenarnya harus disajikan ataupun dengan
wajar diharap bisa disajikan. Supaya informasi bisa
diandalkan artinya diharuskan sesuai dengan sejumlah hal
meliputi:
a. Tercatat serta tersaji sejalan pada realitas serta substansi
yang senada pada prinsip syari‟ah serta bukanlah
sekadar wujud hukumnya.
b. Merefleksikan secara jujur transaksi maupun kejadian
lain yang semestinya tersaji ataupun yang diharap bisa
tersaji secara wajar.
c. Didasarkan pada evaluasi secara sehat untuk
menghadapi kondisi tertentu serta ketidakpastiannya
peristiwa.
d. Wajib mengarah pada kebutuhan umumnya pengguna
serta bukanlah untuk suatu pihak saja.
e. Lengkap dalam batasan biaya serta materialitas.
O. Unsur-Unsur Laporan Keuangan
Sejalan pada karakteristiknya, laporan keuangannya
perusahaan entitas syari‟ah, yakni mencakup:
1. Elemen laporan keuangan yang merefleksikan aktivitas
komersial meliputi:
a. Posisi keuangan
Aspek yang langsung berhubungan pada
pengukurannya keuangan diartikan meliputi:
1) Asset, yakni sumber daya dibawah kekuasaan
perusahaan syari‟ah selaku akibatnya kejadian di
masa lampau serta manfaatnya perekonomian di
masa mendatang yang diharap mampu didapatkan.
2) Dana syirkah sementara, yakni uang yang diperoleh
selaku investasi dalam suatu waktu oleh seseorang
ataupun pihak lain, serta perusahaan syari‟ah berhak
menginvesatasikan serta mengelola uang itu melalui
pendistribusian hasil investasinya berdasar pada
persetujuan.
136
3) Kewajiban, yakni utangnya perusahaan syari‟ah s
penyelesaiannya diharap menyebabkan arus k
manfaat perekonomian.
4) Ekuitas, yakni hak resi jual terkait asset perusah
sementara serta kewajiban. Ekuitas bisa disu
pemegang saham, penyisihan penyesuaian peme
Contoh penyusunan laporan posisi keuangannya pe
LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA)
PT Bank S
Laporan Posisi Keua
Per 31 Desem
Aset
Kas
Penempatan pada Bank Indonesia
Giro pada bank lain
Penempatan pada bank lain
Investasi pada efek/surat berharga
Piutang:
saat ini yang muncul dikarenakan kejadian masa lampau,
keluar dari aset perusahaan syari‟ah dimana memuat
haan syari‟ah selepas pengurangan seluruh dana syirkah
ubklasifikasi selaku saldo keuntungan, setoran modal
eliharaan modal, serta penyisihan saldo keuntungan.
erbankan syariah:
Syariah “X”
angan (Neraca)
mber 20X1
Xxx
Xxx
Xxx
Xxx
Xxx
Xxx
137
Murabahah
Salam
Istishna
Ijarah
pembiayaa:
Mudharabah
Musyarakah
Persediaan
Tagihan dan kewajiban akseptasi
Aset ijarah
Aset istishna dalam penyelesaian
Penyertaan pada entitas lain
Aset tetap dan akumulasi penyusutan
Aset lainnya
Jumlah Aset
KEWAJIBAN
Kewajiban segera
Bagi hasil yang belum dibagikan
138
Xxx
Xxx
Xxx
Xxx
Xxx
Xxx
Xxx
Xxx
Xxx
Xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
Simpanan
Simpanan dari bank lain
Utang:
Salam
Istishna
Kewajiban kepada bank lain
Pembiayaan yang diterima
Utang pajak
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjen
Pinjaman yang diterima
Kewajiban lainnya
Pinjaman subordinasi
Jumlah Kewajiban
DANA SYIRKAH TEMPORER
Dana syirkah temporer dari bukan bank:
Tabungan mudharabah
Deposito mudharabah
Dana syirkah temporer dari bank:
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
nsi xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
139