Bunga Rampai
Antologi Cerpen
Penulis
Copyright@2021 by Kartini
Penyunting :Sri Hayati
Penerbit:
Presiden Jaya Offset
Kediri 2021
Terbit: April 2021
ISBN: ........
Hak Cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
dengan bentuk dan cara apa pun tanpa izin tertulis dari
penerbit.
2 |B u n g a R a m p a i
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas
karunia-Nya penulis berusaha mencoba
membukukan tulisan siswa SMP Negeri 3
Kediri terkait tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia
tentang Menulis Cerpen.
Kumpulan cerpen ini sengaja penulis bukukan
dengan harapan sebagai dokumentasi sejarah luar biasa
yang bisa dibaca untuk diketahui oleh pembaca baik pada
masa sekarang sebagai introspeksi diri untuk menentukan
langkah efektif demi keselamatan generasi muda
terutama peserta didik dan pendidik untuk melakukan
aktivitasnya sehari-hari. Sedangkan pada masa mendatang
dengan harapan bisa dijadikan dokumentasi sejarah luar
biasa dalam dunia pendidikan karena dengan membaca
karya anak, pembaca tahu akan karakter siswa pada usia
remaja SMP secara umum yang bisa dijadikan pedoman
untuk memberikan pembinaan karakter agar dapat
tercapai tujuan pendidikan.
Tulisan ini murni dari isi hati dan gagasan siswa
yang dikemas oleh penulis dalam bentuk Antologi Cerpen
yang diberi judul “Bunga Rampai” karena tema dan isi
Bunga Rampai | 3
cerpen bermacam-macam yang tentunya juga dipengaruhi
dari latar belakang kehidupan siswa sebagai penulis juga
bermacam-macam.
Penulis hanya mengubah sedikit dan menambah
dari segi isi,kebahasaan meliputi kosa kata, struktur
kalimat,serta ejaan agar layak untuk dibaca. Namun perlu
dimaklumi gaya penulis terkait dengan kemampuan siswa
dalam berliterasi apakah siswa itu sudah terampil dan
terbiasa membaca dan menulis apakah belum masih
tampak. Semua ide yang ditulis itu ada yang murni karya
sendiri,ada pula yang mengambil dari berbagai sumber
diubah disesuaikan dengan inspirasi siswadengan tujuan
mampu menyajikan cerpen dengan bahasa yang
menarik,komuniktif dan efektif, namun ada pula yang
karyanya hanya begitu saja dengan menjiplak dari
internet atau dari teman, dan ada juga yang hanya
sekedar menyelesaikan tugas terkait dengan tanggung
jawab sebagai siswa.Oleh karena itu penulis mengubah
dan menambahnya agar layak untuk dibaca.
“ Tak ada gading yang tak retak” penulis sebagai
manusia biasa yang tentunya tak pernah lepas dari salah
ataupun cacat. Oleh karena itu kritik atau saran pembaca
sangatlah penulis harapkan demi perbaikan tulisan ini.
Kediri, April 2021
Penulis.
4 |B u n g a R a m p a i
Daftas Isi
Halaman
Kata Pengantar .................................................. 3
Sekapur Sirih ..................................................... 7
Tentang Penulis.................................................. 8
1. Sungai Bersih, Banjir pun Pergi, karya Affifah Nur
Azizah....................................................10
2. Ketika Senja Berpulang, karya Achmad Bima Putra
Ramadhan...............................................15
3. Pertama dan Terakhir,karya Alina Putri Amelia S.23
4. Antara Kita, karya Ana Nur Aini......................30
5. Seorang Anank yang Berhasil, karya Alice
Leonardo................................................39
6. Apa Adannya, karya Ellen Evelyn K.P...............46
7. Rafi dan Dinda, karya Tanaya Maritza
Mandagi..................................................55
8. Rinduku Kenanganku, karya
Ghefira...................................................61
9. Kado Terakhir untuk Sahabat, karya Mei
Safira.....................................................73
10. Rumah Petaka, karya Novia Kusuma ...............81
11. Rajin Belajar, karya Fanesa Ambarani..............89
12. Dompet Temuan Pengubah Nasib, karya Revano..91
13. Merantau Karya :Syabilla Dinda Rahmad T........96
14. Sahabat yang Kurindukan, karya Elisa Efriliana
N.P......................................................107
15. Persahabatan, karya Raffi Ahmad H...............112
16. Banyak Hantu di Sekolahku, karya Muhammad
Irsyad Abidin..........................................119
Bunga Rampai | 5
17. Hitam dan Putih, karya Nia Triyulia Sari..........127
6 |B u n g a R a m p a i
Sekapur Sirih
Assalammualaikum.
Segala puji bagi-Mu YaAllah , yang telah memberikan
rahmad, taufiq, serta hidayah hingga dapat
terselesaikannya buku ini.
Buku ini merupakan hasil dari sebuah proses
berkarya dari anak-anak SMP Negeri 3 Kediri dalam
kegiatan berliterasi. Sebuah hasil yang membanggakan
kita semua karena untuk menghasilkan sebuah karya
sastra diperlukan proses pengamatan, perenungan, dan
pengungkapankembali, serta dengan kekayaan bahasa
yang dimiliki maka tercipta sebuah buku yang dapat kita
nikmati bersama.
Kami sampaikan terimakasih kepada bapak ibu guru
pembimbing yang dengan penuh kasih sayang telah
menuntun, membimbing ,dan mengantarkan imajinasi
anak-anak ke dalam gerbang dunia sastra. Semoga karya
mereka dalam buku ini bukanlah karya terakhir mereka,
tetapi karya ini menjadi pelecut semangat untuk
menorehkan karya sastra – karya sastra berikutnya.
Selamat untuk anak-anakku semua, juga bapak ibu
pembimbing.
Terimakasih. Wassalammualaikum Wr.Wb.
Bunga Rampai | 7
Tentang Penulis
KARTINI,lahir di Kediri tanggal 10 Juni 1966.
Menyelesaikan pendidikan Diploma 2 jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Negeri
Malang tahun 1987.Penulis menyelesaikan Sarjana jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas
Terbuka Tahun 2005. Penulis mengajar Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Kota Kediri sejak
Agustus 1993. Sebelumnya mengajar di SMP Negeri Bendo
Pare, yang sekarang beralih nama SMP Negeri 1
Pare.Penulis diangkat menjadi guru sebagai CPNS sejak 1
Januari 1989 di SMP Negeri Bendo Pare.
Penulis memilih Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
karena sesuai dengan hobi sejak kecil yang suka membaca
dan menulis. Kebetulan keluarga penulis memiliki hobi
yang sama sehingga mendapat dukungan penuh dari
keluarga.
8 |B u n g a R a m p a i
SRI HAYATI, lahir di Kediri, tanggal 1 Januari
1963. Menyelesaikan pendidikan Diploma 1 di IKIP Malang
jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tahun
1983. Penulis menyelesaikan S1 jurusan Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia di Universitas Terbuka tahun 2005.
Penulis diangkat sebagai CPNS sejak 1 Maret tahun 1984 di
SMP Negeri 3 Kota Kediri sampai sekarang. Penulis
mengajarkan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, sesuai
dengan ijazah, dan hobi menggeluti sastra bidang
pementasan drama dan puisi.
Bunga Rampai | 9
1.SUNGAI BERSIH, BANJIR PUN PERGI
Karya: Affifah Nur Azizah
Pada siang hari, di sebuah hutan yang sangat lebat
terdapat rumah tua, rumah itu tidak ada
penghuninya.Terlihat sungai yang cukup besar di
dalamnya,Sungai Cikeas namanya.Hutan tersebut selalu
ditutupi pohon-pohon besar.Air sungainya pun sangat
jernih dan menyegarkan, sangat indah untuk dilihat.
Pada suatu hari, terdengar bahwa sebentar lagi di
pinggir hutan akan di bangun sebuah pabrik besar, pabrik
pengolah bahan-bahan industri. Pabrik tersebut
rencananya akan di bangun tepat menghadap sungai
Cikeas.Warga di sekitar hutan itupun terkejut mendengar
kabar tersebut, terutama Pak Diyan yang sering
menjelajah hutan itu.Ia berpikir bahwa nantinya pabrik
industri tersebut akan membuang limbah-limbah hasil
olahannya ke sungai. Jika itu terjadi, kelangsungan
hidupnya akan terancam. Ia tidak ingin sampai hal itu
terjadi.
Sungai Cikeas terasa sejuk karena di sekitarnya
terdapat pohon-pohon yang ditanam oleh Pak Diyan dan
Pak Joko.Mereka adalah laki-laki rajin yang sering
membersihkan hutan dan ia di perintahkan oleh Pak Sakti
pemilik hutan itu, supaya tetap menjaga kebersihan hutan
tersebut. Suatu hari, Pak Joko berencana untuk
mengunjungi sungai.Ia ingin bertemu dengan Pak Diyan.
Karena sudah beberapa hari tidak bertemu. Pak Joko pun
jarang pergi ke hutan itu, karena ia sakit dan kondisinya
pun sudah tua.
10 |B u n g a R a m p a i
Setelah menelusuri hutan lebat.Pak Joko bertemu
dengan Pak Diyan di tepi sungai.Kemudian mereka saling
berbincang-bincang.
“Pak Diyan,bagaimana kabarnya Pak?sudah lama kita
tidak ketemu”kata Pak Joko
“Alhamdulillah Pak,saya baik-baik saja”jawab Pak
Diyan,”hanya masalahnya hutan yang biasa kita pakai
untuk berburu akan dijadikan pabrik industri.”
“Wah gimana nih Pak?hoby kita tak tersalurkan lagi
dong?”ucap Pak Joko”Apalagi pabriknya di dekat
sungai,pasti mereka membuang limbahnya di sungai”
“Itulah yang saya takutkan Pak,pasti air sungai akan
tercemar.Belum lagi limbah udara yang disebabkan oleh
asap pabrik.”imbuh Pak Diyan.”Gimana solusinya ya Pak?”
“Waduh....,bingung juga saya Pak,pasti akan
menimbulkan polusi yang membahayakan warga
sekitar”jawab Pak Joko.
Tidak terasa sudah pukul lima sore, mereka belum
menemukan solusi masalah yang mereka hadapi. Namun,
mereka berdua kembali ke atas hutan karena hujan turun
dengan derasnya dan mereka pulang ke rumah masing-
masing.Pak Diyan dan Pak Joko telah sepakat untuk
meneruskan pembicaraan keesokan harinya.
Keesokan harinya, pukul enam pagi, pak Joko yang
awal datang ke hutan itu, setelah Pak Joko duduk di
bawah pohon besar ternyata Pak Diyan datang
menghampirinya karena mereka ingin melanjutkan
pembicaraan yang terpotong kemarin. Belum sempat
mereka berbincang, tiba-tiba terdengar orang yang sedang
berjalan ke arah mereka, tanpa mereka melihat ke arah
belakang.Ternyata yang datang adalah Pak Sakti dan
putranya bernama Bisma.Ia melihat keadaan hutan. Pak
B u n g a R a m p a i | 11
Sakti memanggil Pak Diyan dan Pak Joko, mereka berdua
segera menemui Pak Sakti.Pak Sakti pun mengajak mereka
untuk pergi ke tepi hutan. Setelah sampai di sana,Pak
Sakti sangat terkejut dan ia tidak percaya apa yang di
lihatnya.Ia melihat truk besar yang ada di sana. ia juga
melihat banyak pekerja yang sedang sibuk mempersiapkan
alat-alat dan sebagainya. Nampaknya mereka ingin
membangun sesuatu di pinggir hutan itu.
Pak Diyan dan Pak Joko sangat ketakutan, ia
menceritakan tentang rencana pembangunan pabrik besar
di pinggir hutan di ceritakannya kepada Pak Sakti.
Jantungnya berdetak, dan wajanya memucat. Kemudian
Pak Sakti dan putranya memutuskan untuk pergi dari
hutan itu, ia tidak percaya apa yang telah di katakan oleh
Pak Diyan dan Pak Joko.
Sudah hampir dua bulan pabrik itu berdiri.Pak
Diyan dan Pak Joko semakin khawatir saja.Tidak lama
kemudian mereka mengabari teman-temannya untuk
datang ke hutan dan mereka memberikan solusi. Mereka
tidak tahu harus berbuat apa, mereka hanya menunggu
apa yang akan terjadi untuk selanjutnya.
Keesokan harinya Jemi adalah anaknya Pak Joko.Ia
sedang berjalan di sekitar pabrik tiba-tiba ia terkejut
melihat di pinggir sungai banyak tumpukan sampah dan
kayu-kayu sisa pembangunan terapung di sungai. Terlihat
sangat kotor dan berbau menyengat sehingga dapat
mengganggu pernapasan manusia.Ia segera pulang ke
rumah untuk memberitahukan apa yang terjadi di hutan.
Sesampainya di rumah, Jemi segera memberitahu
Pak Joko, ia melihat dengan jelas bahwa para pekerja
pabrik membuang sampah dengan seenaknya
saja.Kebetulan di rumah Jemi sedang ada pak Diyan dan
12 |B u n g a R a m p a i
teman-temannya.Segera mereka berbicara untuk
mengatasi masalah ini.
Pukul satu siang, semua berkumpul di hutan.
Setelah semuanya datang Pak Sakti dengan muka serius
menerangkan semua masalah yang mungkin akan
mengancam kehidupan hutan. Semua dengan tenang
mendengarkan Pak Sakti berbicara semuanya
mengelurakan ide-ide.Namun, semuanya hampir putus asa
dan merasa bingung
Namun, lain halnya dengan Jemi, ia cukup cerdik
untuk menyelesaikan masalah ini. Sejak tadi, terlihat
sangat santai tanpa mengeluarkan pendapat. Hari sudah
sore, saat semua terlihat bingung tiba-tiba Jemi angkat
tangan, sepertinya ia ingin mengeluarkan pendapat.
“Selamat sore Bapak-bapak…..” Jemi berkata.
“Kita memang sedang dihadapkan pada masalah yang
sangat sulit, kita semua tidak boleh panik ataupun merasa
takut, kita harus menyelesaikan masalah ini dengan baik,
saya punya usul, apakah Bapak-bapak setuju membuat
bencana dan merusak pabrik yang sudah di bangun?” tanya
Jemi.
“Apa maksudmu membuat bencana?” tanya Pak Sakti.
“Maksudku adalah membuat bencana banjir agar
pembuatan pabrik tidak bisa di lanjutkan.” jawab Jemi.
“Bagaimana caranya Nak?” tanya Pak Sakti.
“Tenang, untuk masalah seperti ini bisa menyerahkan
semuanya kepada kami dan Bapak tinggal menunggu
hasilnya saja.” kata Jemi menjawab dengan tenang.
“Apakah benar itu semua?” tanya Pak Sakti.
“Benar Pak, kami akan menyelesaikan dan menyelamatkan
hutan ini” jawab Jemi, berbicara dengan yakin.
B u n g a R a m p a i | 13
“Saya akan menyerahkan kepada kalian semua. Apakah
semuanya siap?” tanya Pak Sakti.
“Siiiaaaapppp,,,,,,” jawab serentak.
Pada pagi harinya, semua para penghuni hutan kembali
untuk melaksanakan rencana Jemi dan semua orang yang
datang membagagi-bagi tugas masing-masing. Pertama
bekerja adalah Jemi, ia dengan beberapa orang pergi ke
pembangunan pabrik dan sungai. Tiba-tiba hujan pun
turun.Semakin lama hujan turun semakin lebat.
Semua orang yang berada di pabrik panik.Air sungai meluap
dan mulai menggenangi area pabrik, bahan-bahan
bangunan belum sempat di selamatkan sudah hancur
terbawa arus sungai.Para pekerja tidak berani
menyelamatkan alat-alat yang hanyut karena terbawa
arus sungai yang sangat deras.Bukit-bukit mulai
melongsorkan tanah.Semua alat tidak bisa digunakan
lagi.Bangunan pabrik hampir jadi, setelah turun hujan
yang sangat deras, kini sudah rata dengan tanah.
Para pekerja sangat kebingungan, mereka tidak bisa
berbuat apa-apa lagi.Mereka hanya melihat bangunan
yang baru saja mereka bangun sudah hancur. Mereka tidak
tahu apakah ini akandilanjutkan atau tidak. Mereka
menunggu keputusan dari bos.
Hujan pun turun, mereka terlihat sangat sedih, kesal dan
juga marah. Para pekerja pergi dari tempat pembangunan
pabrik dan meninggalkan semua alat perlengkapan.Mereka
segera melapor apa yang baru saja terjadi di hutan.
Keesokannya, Pak Sakti mengumpulkan orang yang telah
membuat.Pak Sakti ingin berterimakasih kepada semuanya
karena telah berhasil menyelamatkan hutan dan
pemcemaran limbah pabrik industri.Semua terlihat sangat
senang dan bahagia.Kini pembangunan pabrik di hutan
14 |B u n g a R a m p a i
tidak di lanjutkan lagi.Hutan bebas dari ancaman polusi
dan limbah pabrik.Semua warga di sekitar hutan
menjalani kehidupan seperti biasanya dan mereka hidup
dengan tenang.
***************
2.KETIKA SENJA BERPULANG
Karya : Achmad Bima Putra Ramadhan
Cahaya kuning di langit mulai memudar. Warna
jingga keemasan sayup-sayup mulai menghilang. Elok
duduk termangu di beranda rumahnya. Seakan sedang
menunggu sesuatu. Secangkir teh hangat terhidang di
depannya. Secarik kertas beserta pena melengkapi
lamunannya. Elok tengah berfikir, membayangkan
sesuatu. Elok menyeduh teh hangatnya. Aroma khas
melati meyeruak hingga ke tulang rusuk.
Sebuah motor bebek berhenti tepat di depan
rumah Elok. Seorang pria dengan setelan jaket jeans
bersepatu pantofel turun dari motor itu. Ia melepas
helmnya. Terlihat pria dengan kulit sawo matangbrambut
putih tak merata mulai berjalan menghampiri Elok.
“Ayah,” sapa Elok.
Lelaki itu mencium kening Elok. Elok tersenyum.
Elok mencium tangan Ayahnya tanda kesopanan anak pada
orang tua.
“Ayo kita masuk,” ajak Ayah Elok. Sebuah rumah kecil
nan rapi menjadi tempat tinggal mereka berdua. Warna
putih sangat mendominasi rumah itu. Lantai nya
B u n g a R a m p a i | 15
berkeramik hitam dengan dinding dilapisi batu alam.
Tampak pada langit-langit rumah terlukis sebuah awan
yang menghidupkan suasana. Elok duduk di ruang tegah
bersama Ayahnya. Mereka hanya tinggal berdua. Ibu Elok
sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu akibat
penyakit komplikasi yang sudah lama hinggap di tubuhnya.
Saat itu elok berusia 15 tahun.
“ Elok kemarilah,” panggil Ayahnya.
“ Ada apa ayah ?,” tanya Elok.
“ Ayah ingin membicarakan sesuatu,”
Elok sangat antusias ingin mendengarkan dengan
seksama. Senyum simpulterrgambar di wajah Ayahnya
membuat Elok semakin tertarik.
“ Begini Elok, kamu sudah dewasa dan Ayah juga sudah
semakin tua. Ayah tidak ingin mengganggu aktivitasmu
karena Ayah,”
“ Apa maksud Ayah ?,” tanya Elok dengan raut wajah
bingung.
“ Ayah ingin.......,” belum sempat Ayahnya mengatakan
inti pembicaraan. Terdengar suara ketukan pintu dari luar
rumah.
‘ Tok....tok....tok ’
“ Assalamualaikum,”
“ Waalaikumsalam,”
Elok membuka pintu rumahya. Seorang wanita
berparas cantik berdiri tepat di hadapannya. Wanita
dengan setelah gamis biru ber kerudung tosca sangat
anggun. Umurnya tak jauh dari usia Ayah Elok.
“ Maaf tante, tante sedang mencari siapa ?,” tanya Elok
ramah.
“ Pak Rusman nya ada,? “ jawab wanita itu tak kalah
ramah.
16 |B u n g a R a m p a i
“ Ada kok tante. Barusan Ayah pulang. Silakan masuk,”
Elok mempersilakan masuk wanita itu.
Wanita itu tengah aysik berbincang-bincang dengan
Ayahnya. Elok membawakan minuman dan camilan dari
dapur
“ Silakan diminum tante,” Elok memberikan nampan yng
berisi makanan dan minuman.
“ Terimakasih nak,”
Elok berjalan menuju kamarnya. Melemparkan
tubuhnya pada kasur empuk itu. Sesekali Elok menatap
keluar. Tampak rembulan sedang memancarkan aura
indahya. Pun bintang-bintang yang gemerlapan di
angkasa. Elok tersenyum melihat semua itu. Elok kembali
menutup jendela kamarnya. Elok memperhatikan langit-
langit kamarnya. Sembari memikrkan sesuatu yang sedari
tadi mengganjal di pikirannya. Elok mencoba menerka
siapa sebenarnya wanita itu.
“ Siapa sebenarnya wanita itu ? Kenapa ayah sangat akrab
dengannya. Padahal sejak Ibu meninggal Ayah jarang
sekali berbincang dengan wanita seusianya. Tapi mengapa
mereka sangat asyik sekali ?,” tanya Elok dalam hati.
Elok mengambil foto ibunya. Ia merasa sangat
rindu. Tak terasa air mata jatuh dari pelupuk matanya.
“ Ibu aku tak ingin siapapun menggantikan posisimu
sebagai ibuku. Meskipun kita sekarang sudah berbeda
alam. Tapi aku yakin. Kau masih menyayangiku, bahkan
aku merasa kalau Ibu selalu ada di sampingku, bahkan
sampai saat ini Ibu pasti ada di sampingku,” Ucap Elok
sembari memeluk dan mencium foto Ibunya.
Air mata itu terus bercucuran. Setetes dua tetes
air mata yang jatuh menggambarkan betapa sayang dan
rindunya Elok pada Ibunya. Elok mencoba menutup
B u n g a R a m p a i | 17
matanya berharap mimpi indah akan datang dalam
tidurnya.
Gemericik suara air jatuh membangunkan Elok dari
tidurnya. Aroma khas tanah basah menyeruak hingga ke
rongga hidung.Sinar mentari tak se terang biasanya. Sinar
itu seakan padam tertutupi oleh awan hitam.
Elok menyibakkan gorden kamarnya mencoba
menghirup udara luar. Elok berjalan keluar kamar menuju
ruang makan. Ayahnya sudah menunggu disana. Se
mangkuk sup panas beserta susu segar menjadi hidangan
makan kala itu. Elok menuangkan sup itu secukupnya ke
dalam wadahnya. Elok memakan sup itu dengan lahap.
Ayah Elok tersenyum melihatnya.
“ Enak ya?, “ tanya Ayah Elok.
“ Enak sekali Ayah. Masakan Ayah selalu enak,” jawab
Elok sambil terus memakan sup itu.
“ Elok Ayah mau membicarakan sesuatu. Ayah ingin
melanjutkan pembicaraan tadi malam ,”
“ Oh iya. Elok juga tidak sabar ingin mendengarkan.
Sepertinya sangat seru sekali, “ jawab Elok sangat
antusias.
“ Begini Elok Ayah sebenarnya mau mengatakan kalau
sebentar lagi kamu....,”
“ Apa Ayah ?,”
“ Kamu sebentar lagi akan memiliki ibu baru, “ Ucap Ayah
Elok sambil tersenyum.
Elok yang mendengarkan hal itu sangat kaget.
Bagai disambar petir di siang bolong. Elok menunduk ia
menangis. Hal yang selama ini tidak ia inginkan nyatanya
harus terjadi. Akan ada ibu baru yang akan menggantikan
posisi almarhum ibunya. Ayah Elok sangat bingung melihat
perubahan raut wajah anaknya.
18 |B u n g a R a m p a i
“ Elok kenapa kamu menangis?, “
“ Bukannya seharusnya kamu bahagia karena akan punya
ibu baru yang bisa menemanimu dan menyenangkan, “
Elok masih terdiam tak mau menjawab. Bibir Elok
seakan kaku mendengar semuanya. Tubuhnya lemas tak
berdaya.
“ Elok kenapa kamu menangis? Tolong jawab pertanyaan
Ayah nak ,” Tanya Ayah Elok memastikan
Elok mengangkat wajahnya dan menjawab
“ Ayah bukannya Ayah tahu betapa sayangnya Aku pada
almarhumah ibu? ,” Elok terus menangis. Meja makan
yang tadinya dipenuhi makanan sekarang berubah menjadi
lautan tangisan Elok.
“ Ayah tahu nak, “
“ Lantas mengapa Ayah ingin menikah lagi? Bolehkah aku
tahu apa alasan Ayah?, “ Jawab Elok
“ Ayah tak ingin mengganggu aktivitasmu. Ayah juga ingin
ada yang menjaga dan merawat saat Ayah tua kelak. Ayah
tahu betapa sayangnya kamu pada almarhum Ibu. Tolong
Elok mengertilah, “ Suara Ayah Elok memelan mencoba
menenangkan Elok.
“ Aku masih belum bisa menerimanya Ayah, “ Elok bangkit
dari ruang makan. Berjalan menuju kamar meninggalkan
Ayahnya terduduk sendirian.
“ Elok kamu mau kemana, “ teriak Ayah Elok
“ Biarkan Aku sendiri, “ Elok menutup pintu kamarnya
dengan keras. Ia mengunci kamarnya menghempas
tubuhnya ke kasur empuknya. Menutup telinga rapat-
rapat. Ucapan Ayahnya masih saja terngiang di telinganya
membuatnya menangis sejadi-jadinya.
“ Elok keluarlah nak, “ Ayah Elok memohon dari luar
kamar. Elok tak menggubri. Ia terus menangis, menangis,
B u n g a R a m p a i | 19
dan menangis. Kamar mungil itu kini di banjiri air mata.
Bibir Elok bungkam. Tubuhnya kaku tak bisa di gerakkan.
“ Elok Ayah mohon keluarlah nak. Ayah bisa jelaskan.
Ayah Mohon Elok mengertilah,” Suara itu terus saja
terdengar. Elok mengambil foto ibunya dan memeluknya.
Tetesan air mata berjatuhan membasahi foto mungil itu.
Rasa rindu itu kian membesar.
Hujan tadi menjadi pertanda luka yang akan
tumbuh di hati Elok. Elok mencoba menenangkan diri.
Memejamkan matanya berharap keajaiban datang. Ia
masih tak terima dengan apa yang dikatakan Ayahnya
tadi. Hal itu membuat hati Elok hancur berkeping-keping.
Elok membenarkan posisi bantalnya. Menyandarkan kepala
pada dinding kasurnya. Menatap langit-langit kamarnya
yang di sinari oleh mentari pagi. Hujan sudah reda. Namun
dentingan air dari dinding masih saja terdengar. Elok
mencoba tak memikirkan sesuatu seakan tiada hal yang
terjadi. Mata itu terpejam. Mata sebam karena banjir air
mata
“ Elok, “ suara wanita tak asing memanggilnya
“ Kemarilah nak, “ ajak wanita itu. Sinar putih mengkilap
terpancar dari tubuhnya. Paras cantik nan mempesona
membuat siapa saja terpukau dibuatnya.
“ Ibu, “ Mata Elok berkaca-kaca. Berlari memeluk tubuh
itu. Menangis melepas rasa rindu.
“ Maafkan Ibu nak, Ibu belum sepenuhnya menyayangimu.
Ibu tak bisa menjagamu hingga kamu dewasa, “ Ucap
wanita itu sembari terus memeluk Elok erat.
‘” Ibu kemana saja? Kenapa Ibu tidak pulang. Kami rindu
Ibu. Tidakkah Ibu tahu? Ayah ingin menikah lagi dan itu
membuatku punya Ibu baru. Aku tak rela Ibu. Aku tak
ingin hal itu terjadi. Aku hanya ingin Ibu. Aku tak ingin ibu
20 |B u n g a R a m p a i
baru. Rena temanku punya Ibu baru. Ia selalu disiksa, tak
pernah sedikitpun mendapat kasih sayang. Aku tak mau
seperti itu ,” Elok kembali meneteskan air mata.
Menceritakan keluh kesahnya. Menceritakan hal yang
terjadi tadi.
“ Nak. Apa yang dikatakan ayahmu itu benar. Kamu sudah
dewasa dan Ayah sudah beranjak tua. Kami hanya ingin
yang terbaik buat kamu Elok. Mungkin jika Ibu berada di
posisi Ayah, Ibu juga akan melakukan hal yang sama.
Isilah masa mudamu dengan kegiatan yang akan kamu
ingat kelak sampai tua nak. Ayah hanya ingin kamu
bahagia. Ayah tidak ingin mengganggu aktivitasmu hanya
dengan menjaga Ayah. Ibu mohon mengertilah. Kamu
sudah beranjak dewasa. Kamu bukan anak-anak lagi.
Kamu harus bisa menerima kenyataan itu Elok, “ kata-kata
itu membuat Elok luluh.
Elok tersenyum. Elok merasa salah kepada
Ayahnya. Ia malu. Kenapa ia tidak mendengarkan
penjelasan Ayahnya.
“ Baik bu. Aku akan mengikuti keinginan Ayah. Aku akan
mencoba menerima kenyataan ini. Aku akan selalu
berusaha menyayangi ibu baruku,” Kata-kata itu keluar
lantang dari mulut Elok.
“ Kamu pasti bisa nak,” tegas ibunya.
Elok memeluk ibunya erat-erat. Ibu Elok mencium
keningnya. Melambaikan tangan pergi jauh. Kini jarak
antara Elok dan Ibunya sangat jauh. Elok melambaikan
tangannya. Tetesan air mata berguguran dari matanya.
Cahaya putih itu samar-samar menghilang. Gelap.
Kamar itu berantakan. Elok menatap langit-langit
kamarnya. Mencoba menerima kenyataan. Elok menghela
nafas panjang. Senja itu muncul lagi. Warna kuningnya
B u n g a R a m p a i | 21
sangat indah. Membuat semua insan terpukau. Garis tipis
warna merah memadukan suasana. Semilir angin
menyentuh tubuh Elok. Elok mencoba keluar kamar.
“Ayah, “
“ Ada apa Elok ?,” tanya ayahnya tersenyum
“ Maafkan Elok. Elok tidak mendengarkan penjelasan Ayah
dulu. Maafkan Elok yang keras kepala.
“ Tidak apa-apa nak. Semua hal butuh proses. Dan tidak
semua ibu tiri itu jahat nak. Ayah yakin tante Lea pasti
akan menyayangimu seperti anaknya sendiri, “ jelas Ayah
“ Baik yah, “
Senja itu kembali menceritakan sebuah kisah.
Melukiskan sebuah kenangan yang tak semua orang
rasakan. Senja itu menjadi batas antara kesedihan dan
kebahagiaan. Elok tersenyum bahagia. Memeluk erat
Ayahnya.
“Aku mengikuti keinginan Ayah. Apa pun yang membuat
Ayah bahagia. Aku akan bahagia pula,“ Elok tersenyum
meyakinkan Ayahnya.
**************
22 |B u n g a R a m p a i
3.PERTAMA DAN TERAKHIR
Oleh: Alina Putri Amelia S
Berawal dari sebuah foto di instagram yang tidak
sengaja ku temukan. “Yahh...Ini dia...”,ucapku, sudah
lama sebenarnya aku mencari sebuah tempat yang dapat
mengasah kemampuan menulisku dan aku menemukannya.
Stella Anastasia, ya dari akun instagram itu aku
berkenalan dengan grup Lentera Literasi ini. Aku pun
mengirin pesan melalui media Instagarm tersebut atau
bahasa gaulnya DM ya, hehehe.
“Assalamualaikum Kak, Kak saya mau tanya tentang grup
yang ada di postingan Kakak, boleh?” tanyaku.
“Wa’alaikumsalam Dik, iya Dik boleh kok”, jawab kak
Stella.
“Kak, itu grup apa? Sepetirnya menarik ya Kak, saya ada
niat untuk join disitu, hehehe”, tanyaku
“Oh,itu grup kepenulisan Dik, kalau Adik mau join nanti
Kakak tanyakan dulu ya dengan adminnya, karena grup itu
juga bukan punya kakak”, balas kak Stella.
“Oh, grup kepenulisan ya Kak, udah lama aku mencari
grup yang seperti itu. Tolong tanyain dulu ya Kak, makasih
sebelumnya”, balasku.
“Dik, kalau mau join bisa langsung hubungi id_line inia y,
namanya kak Nisa, nanti kamu bisa tanya lebih lanjutnya
sama dia”. Balas kak Stella.
“Alhamdulillah, iya kak terima kasih kak.”
“Sama-sama dik .”
Tak lama dari situ aku pun langsung menghubungi kontak
tersebut. “Assalamualaikum Kak, maaf sebelumnya, saya
mau tanya tentang grup kepenulisan yang kakak geluti
dong”pesanku.
B u n g a R a m p a i | 23
“Wa’alaikumussalam,iya dik, grup kepenulisan yang
mana ya?, Lentera Literasi?” Jawabnya tak lama
kemudian.
“Iya kak,iya grup itu”jawabku dengan antusias.
“Ehm,iya kenapa dik, Adik mau gabung, tapi punya
wattpad gak?” tanyanya kembali.
“Iya kak pengen gabung tapi nggak punya wattpad
kak”jawabku. Entah kenapa, kak Nisa tidak menjawab
pesannya lagi. Sampailah di lain hari ketika aku sedang
bermain handphone, tak sengaja kepencet kontak kak
Nisa.
“Maaf dik teleponnya ga diangkat tadi,ada apa dik?”
balasnya melalui ketikan.
“Iya,gak apa-apa Kak, maaf tadi nggak sengaja kepencet
tadi”jawabku.
“Oh, iya. Gimana dik masih mau join gak di grup
Lentera?” tanyanya.
“Nah,iya Kak masih.” ketikku sambil diimbuhi dengan
emotikon senyum yang sumringah.
“Baiklah,sekarang tulis biodatanya dan tulis satu paragraf
tentang Bulan” balasnya.
“Baik Kak.”
Kemudian dengan segera aku langsung mengirimnya,dan
Alhamdulillah tak lama dari situ, Telolet-telolet...Anda
mendapatkan sebuah undangan grup dari Nisa...
Awalnya sempat takut untuk memperkenalkan diri,
takut nanti dikacangin kalau bahasa gaulnya, takut nanti
tidak dihiraukan, dsb. Akhirnya aku memberanikan diri
untuk mengikuti obrolan. Ketika aku masuk ke kolom
chat, ada salah satu member yang bertanya. “Nah, Mifta
mana lagi ini?” tanyanya. “Hai Semua, perkenalkan aku
Miftahul Hidayati newmem disini, bisa dipanggil Mifta,Mita
24 |B u n g a R a m p a i
atau apa ajalah heheh.”Tulisanpertamaku disitu. Alhasil
paramemberpun saling mengajak kenalan denganku.
Dengan hangat meerka menyambutku. Sungguh tak seperti
apa yang aku bayangkan selama ini, ternyata mereka
sangatlah baik, tidak ada ketidakpedulian, mereka saling
sayang-menyayangi, keseruan di antara mereka selalu saja
timbul entah karena satu orang yang muncul ataupun
karena banyak orang yang saling bercerita lucu satu sama
lain. Naomi, Onta, Tante Des, Tohka, Aing, Azky
dannama-nama unik lainnya yang entah mereka ciptakan
sendiri atau emang udah panggilan di dunia nyatanya yang
jelas itu sungguh unik dan menark bagiku kaerna ini
adalah grup kepenulisan offline pertamaku, dan aku selalu
berdoa kelak kedepannya semua member di grup itu dapat
menjadi orang yang berperan dalam kemajuan bangsa dan
negara melalui kesuksesannya di dunia literasi. Awal
perkenalan begitu sangat mengesankan,mereka semua
memberiku warna yang tidak hanya dalam tulisan namun
juga melalui dunia nyata, aku seringterbawa suasan
seketika sedang ikut chat disitu, tanpa sadarnya di dunia
nyata aku mengeluarkan tawa kecil maupun menggelegar
sehingga menyebabkan orang di sekitar bertanya-tanya,
“Eh,ngapo kau ni mif ketawo dewek?” Berhubung karena
aku orang Palembang, jadi bahasa sehari-hari di rumah
maupun di sekolahpun memakai bahasa Palembang. Di
Lenlit juga sering aku memakai bahasa itu karena ada juga
anak lenlit yangberasal dari Palembang dan namanya pun
sama denganku. Si Mifta Aing, masih SMP dan sekarang dia
mau masuk SMA, anak imut, seru bin lucu dan kocak, eh
sama saja kali ay seru dan kocak itu. Ah, apapun lah
namanya, dan di saat kami memakai bahasa daearh
palembang, para member yang lainpun seolah
B u n g a R a m p a i | 25
memekikkan telinga kami. Haahaha, meskipun suaar
mereka tak terdengar namun semuanya telah tergambar
melalui tulisan mereka yang seakan
menggelegarkanjagatraya“WOOOOOOOOOIIIIIIIIIIII,JANGAN
PAKE BASA DAERAHLAGI.............” begitu lah sedikit
cuplikannya. Hahahaha.... Mereka juga tidak malu-malu
dalam mengungkapkan sesuatu, bahasa gaulnya gak jaim
ya. Meskipun, tidak mengenal satu sama lain di dunia
nayta, tidak pernah bertemu di dunia nyata, entah
mengapa jiwa ini seolah- olah telah terpaut dengan
merka. Akhir-Akhir ini memang aku sangat sibuk, karena
ini adalah masa-masa kesibukan itu benar-benar ada,
yaitu di masa kelas 11 SMA, SMA oh SMA, ini benar-benar
masa berjihad kecilku. Oke, kembali ke topik.
Jadi kemarin aku juga pernah ikut lomba antar grup
Kepenulisan di media sosial Line, Saat itu kornologisnya
sangat keren. Awalnya aku mengirim semua syarat-syarat
guna mengikuti perlombaan tersebut,menscreeenshot dan
menambahkan banyak official account, lalu mengeditnya
menjadi beberapa kolase foto. Ini lomba kepenulisan grup
pertama yang aku ikuti. Sebelum lomba ada banya sekali
persiapan yang telah kami lakukan, waktu itu aku ingat,
lomba itu di selenggaarkan sehari sebelum aku mengikuti
Kompetisi Sains Madrasah (KSM). Disitu terkadang aku
mearsa galau. Merana aku merana.Akubelajar untuk
pandai-pandai mengatur waktu, walaupun persiapan untuk
mengikuti KSM tersebut sudah sangatlah lama dan sangat
membutuhkan perjuangan yang bergitu besar namun aku
tetap mengikuti lomba kepenulisan tersebut. Saat itu
sedang diadakan gladi resik, jadi aku sempat hadir sekitar
satu jam supaya benar-benar tata cara perlombaannya.
26 |B u n g a R a m p a i
Dan alhamdulillah setelah sekitar satu jam, aku pun
diperbolehkan izin untuk persiapan mengikuti KSM. Tiba
saaatnya perlombaan, sungguh aku tak tau kapan waktu
tepatnya pelaksanaan lomba tersebut.Atau aku lupa aku
tak tau, mungkin suatu pertanda dari Tuhan saat itu
sekitar pukul tujuh aku melihat handphone dan tak
sengaja meminta hotspot dari handphone ayahku.Di situ
aku pun terkejut melihat pemberitahuan dari line,
Miftaaa miftaaa dimana miftaaaa????? Banyak sekali
yang mencariku saaat itu, alhamdulillah sekali sekitar
sepuluh atau lima belas menit dari perlombaan di mulai
aku melihatnay, dan di grup perlombaan tersebut telah
diharuskan untuk absen serta mengganti nama profil dan
foto profil sesuai dengan ketentuan yang ditentukan oleh
panitia. Sungguh aku sangat gugup pada saat itu, kak
Nabila selaku ketua perlombaan sepertinya begitu pusing.
karena satu dan lain hal yang belum terselesaikan. Kami
semua pun kuarng lebih merasakan itu juga. Oh iya Edo
yang saat itu terlihat sedikit emosional karena pihak
panitia dari perlombaan tersebut agak
Sedikit mengulur waktu dan itu membuat kami
jenuh menunggu. Kak Nabila sudah membagi tugas
masing-masing,ada yang mengcopy soal kemudian
mempastenya di grup yang disediakan panitia untuk
perlombaan dan kami pun mendiskusikannya. Sungguh
sangat memprihatinkan dikarenakan kendala jaringan dan
baterai.Beberapa member saaat perlombaan banyak yang
hilang lalu muncul karena jaringan, termasuk aku, saat itu
Handphone ku benar-benar habis baterai, persentase
baterainya hanya 1 dan saat itu telah memasuki detik-
detik terakhir,dan tetttttttttttttttt... tamat sudah riwayat
handpone itu, aku pun langsung panik melihatnya, karena
B u n g a R a m p a i | 27
itu sekitar setengah jam dari itu aku sering tida ikut
menjawab kaerna tugasku pada saat itu membantu
menjawab bersama Ira, dan aku sangat berdoa semoga Ira
senantiasa lancar dalam menjawabnya, sinyalku yang
memakaihotspot hilang-hilangan bateraiku mati hidup
seperti orang yang sedang mati suri. Orang tuaku yang
sedang berada di dekatku saat itu pun menyabarkanku,
karena ingin sekali rasanaya aku menghempaskan dengan
keras handpone tersebut. Dan alhamdulillahnya menjelang
pertanyaan pertanyaan terakhir kalau tidak salah hanya
sekitar3 pertanyaan terkahir hp tersebut hidup dan sedikit
bersahabat 3 persen baterainya dan masih
bertahan.Alhamdulillah, namun mungkin ini belum
jalanNya, ketika pengumuman grup yang lolos ke babak
pertama,ternyata grup kami telah terhenti perjalanannya
sampai di situ, sungguh sangat miris bagi kami namun ini
lah kenyataannya. Kami pun saling menyemangati, teman-
teman di grup pun menghibur kami. Namun tak apa,
akuselalu percaya kata-kata sederhana berikut “Kegagalan
adalah awal dar kesuksesan, asalkan engkau jangan
menyerah, jangan menyerah dan jangan menyerah”.
Alhamdulillah aku selalu menunggu kesempatan yang
seperti itu lagi. Sungguh pengalaman yang mengesankan,
didetik-detik terkahi, rseakan-akan ada yang memanggilku
untuk membuka handphone dan ..... (kok jadi cerita hor
ya). Semangat untuk Kak nabila, Mifta,Edo, Ira dan siapa
lagi ya saya lupa. Hahahah.... udah keseruan lain di Lenlit
sebenarnya sangatlah banyak, yang takmungkin semuanya
saya ceritakan di sini, yaa meskipun saya masih terbilang
baru ya.Pernahmungkin baru-baru ini terjadi, salah satu
member Lenlit yang namanya Gilbert. Tak sengaja
ngepoin timeline aku, dan dia pikir itu adalah Mifta sang
28 |B u n g a R a m p a i
member lama. Dia banyak banget komenin foto aku,
kurang lebih kata-katanya begini “Eh,lu yang mana nyet?”
saat mengomentari fotoaku bersama kedua temanku,
hahahaha... agak sedikit canggung juga aku, karena
sebelumnya memang pernah berkenalan lewat grup Lenlit
sama Gilbert, namun belum terlalu dekat jadi gimana
gitu. Oke waktu itu sedang ada percakapan antar grup
Lenlit, ya biasalah Lenlit memang selalu up to date ya,
jarang sekali sepi bagai kuburan karena para-para
membernya sendirilah yang menjadi hantu yang
bergentayangan dengan kata-katanya.
Jadi disuatu percakapan itu salah satu member
bilang “Eh,Gilbert itu Mifta newmem kali”. Kemudian
dibales “Iya apa?Masa sih, aduh gawat mana gue udah
soak lagi”
Aku waktu itu geli sendiri membacanya kemudian
aku jawab “iya aku newemem disini, btw soak itu apa?”
kataku.
Dia jawab “Haduh,maaf banget ya Mifta kirain
kamu Mifta yang lama jadi aku komen-komenin foto kamu
deh, soak itu sok akrab” disertai emotikon tertawa yang
menggelikan.
“Hahahaha, gapapa . aku welcome kok dengan semua
orang”.
Dari pengalaman salah nama itu aku bisa -lebih
dekat lagi dengan para newmem yang asyik-asyik dan
menggelitik. Aku selalu berharap semoga aku dan yang
lainnya selalu setia di grup Lentera Literasi ini dan kami
dapat bertemu di dunia nyata.
AAMIIN.
************
B u n g a R a m p a i | 29
4. ANTARA KITA
Karya: Ana Nur Aini
Suara alarm itu membangunkanku, kulihat jam yang ada
diatas meja menunjukkan pukul 5 pagi. Aku langsung
mengambil handuk dan bergegas kekamar mandi, setelah
selesai bersiap-siap aku langsung turun kebawah untuk
sarapan bersama keluargaku. Setelah sarapan aku
langsung berpamitan kepada kedua orang tuaku.
“Ayah! ibu! Sela berangkat kesekolah dulu.” Kataku
sambil mencium kedua tangan orang tuaku.
“Hati-hati di jalan.” Kata ayah.
“Iya. Assalamualaikum.” Ucapku dan memberikan salam.
“ Waalaikumsalam.” Jawab mereka.
Dipagi hari seperti ini jalanan masih cukup sepi karena
sekarang masih pukul 6. Aku mengayuh sepedaku dengan
riang sambil menikmati udara pagi yang menyejukkan.
Perjalanan dari rumah ke sekolah hanya memerlukan
waktu sekitar 15 menit sesampainya aku disekolah,
sekolah masih sangat sepi belum ada murid yang datang
selain aku. Setelah memarkirkan sepeda aku berjalan
melewati taman yang kebetulan berada di sebelah tempat
parkir sepeda. Disana aku melihat Pak Mamat tukang
kebun sekolah sedang menyiram tanaman yang ada
ditaman. Lalu aku menghampirinya.
“ Selamat pagi Pak Mamat.” Sapaku padanya.
“ Asstaghfirullah, neng Sela ngagetin bapak saja.”
Katanya sambil mengelus dada.
Aku tersenyum dan meminta maaf kepada Pak
Mamat karena merasa tidak enak sudah membuatnya
kaget. “Hehehe, maaf Pak saya tidak bermaksud
mengagetkan bapak.” Kataku kepada Pak Mamat.
“Iya tidak apa-apa neng.” Ucap Pak Mamat, lalu ia
bertanya kepadaku.
“Tumben neng Sela sudah datang sepagi ini?.” Tanya
Pak Mamat.
30 |B u n g a R a m p a i
“Iya Pak hari ini saya ada jadwal piket, jadi saya harus
datang pagi.” Jawabku.
“Oh begitu!.” Ucapnya lagi.
“Iya. Yasudah kalau begitu saya permisi ke kelas dulu
Pak.” Kataku pada Pak Mamat.
“Oh, iya silahkan neng.” Kata Pak Mamat.
Akupun pergi dari taman dan langsung menuju ke
kelasku untuk melaksanakan piket. Sesampainya dikelas
aku terheran karena tidak biasanya Gita teman
sebangkuku dan sekaligus sahabatku sudah datang sepagi
ini. Karena penasarn aku bertanya padanya,
“Hai Git, tumben jam segini kamu udah datang?.”
Sapaku pada Gita.
“Hai Sel, iya aku nungguin kamu dari tadi.” Katanya
padaku.
“Nungguin aku?, emangnya ada apa kok kamu rela
dateng pagi-pagi Cuma buat nungguin aku?.” Tanyaku
padanya
“Emm.... aku mau pinjem catatan yang kemarin dong. aku
belum selesai nyatet kemarin takutnya nanti disuruh
ngumpulin lagi, hehehe.”
“Oh, yaudah itu ambil aja di dalam tas.” Kataku sambil
berlalu mengambil sapu untuk piket.
“Oke, makasih Sela kamu emang sahabat terbaik aku.”
Katanya dan mengambil buku yang ada didalam tasku.Aku
hanya mengangguk dan tersenyum, lalu kulanjutkan
piketku.
Kelasku sudah mulai ramai anak-anak yang lain sudah
pada datang. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 7
dan pelajaranpun dimulai.
“Selamat pagi anak-anak.” Sapa Bu Nita pada seluruh
murid.
Lalu semuanya menjawab dengan serempak “Selamat
pagi Bu.” Dan pelajaranpun dimulai.
Bel istirahatpun berbunyi setelah Bu Nita keluar
dari kelas Aku dan Gita langsung pergi ke kantin untuk
mengisi perut kami yang sudah berbunyi dari tadi.
B u n g a R a m p a i | 31
Sesampainya di kantin “Sel kamu mau pesen apa?.” tanya
Gita padaku.
“Emm... aku bakso sama es jeruk aja.” kataku padanya.
“Oke.” jawab Gita dan pergi ke penjual bakso.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya pesanan
kami datang. Aku dan Gita langsung memakannya, selesai
makan aku pamit ke Gita karena aku ingin ke toilet.
“Git aku ke toilet dulu ya.” kataku padanya.
“Oke. Tapi jangan lama-lama.” jawabnya.
“Iya, sebentar doang.” lalu aku langsung berlari ke
toilet.
Saat aku akan keluar dari toilet aku mendengar ada
beberapa anak perempuan yang ngomongin tentang murid
baru.
“Eh Rin kamu tau nggak sih kalau di sekolah kita bakal
ada murid baru.” kata Keysa.
“Yang bener kamu?, kira-kira muridnya cewek apa cowok
ya?” tanya Rita.
“Denger-denger sih cowok.” jawab Keysa.
“Wah... semoga saja cowoknya ganteng ya.” harap Rita
“Iya.” jawab Keysa antusias, lalu mereka tertawa
bersama.
Setelah suara mereka tidak terdengar lagi baru aku
keluar dari toilet. Ternyata yang berbicara tadi adalah
Rita dan Keysa, mereka adalah teman sekelasku. Lalu aku
kembali ke kantin untuk menemui Gita dia pasti sudah
menungguku. Sesampainya aku di kantin benar dugaanku
Gita langsung membanjiriku dengan pertanyaan. “ Kamu
dari mana aja sih kok ke toilet lama banget?” tanyanya.
“Iya maaf. Tadi aku nggak sengaja dengerin
percakapannya Rita sama Keysa.” jawabku.
“Emangnya mereka ngomongin apa?” tanyanya lagi
“Tadi sih aku dengar katanya bakal ada murid baru di
sekolah kita.” kataku
“Serius kamu?” tanya Gita lagi
“Ya, yang aku dengar sih tadi gitu.” jawabku, lalu ia
menganggukkan kepalanya.
32 |B u n g a R a m p a i
Bel masuk pun berbunyi Aku dan Gita bergegas
kembali ke kelas. Kami tidak ingin terlambat masuk kelas
karena sebentar lagi adalah pelajaran matematika.
Sesampainya Aku dan Gita dikelas untung saja Bu Dewi
belum datang. Setelah beberapa menit akhirnya Bu Dewi
datang dan pelajaranpun dimulai.
Setelah 2 jam pelajaran berlangsung, akhirnya bel
pulang berbunyi. Aku dan Gita langsung merapikan buku-
buku kami dan bergegas pulang. Sesampainya di parkiran
kami berpisah aku mengambil sepedaku dan langsung
menjalankannya menuju rumah.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Kamu sudah pulang Sela?” tanya Ibuku
“Iya Bu. Sela masuk ke kamar dulu ya.” kataku dan ibu
hanya menganggukkan kepalanya.
Sesampainya aku dikamar kuletakkan tasku di atas
meja belajar dan merebahkan tubuhku dikasur. Tak terasa
aku tertidur, saat aku terbangun kulihat jam menunjukkan
pukul 5 sore aku bergegas mandi. Setelah 15 menit aku
keluar daei kamar mandi, lalu kuambik buku-bukuku di
dalam tas dan mulai belajar. Sekitar setengah jam aku
belajar kulihat sudah pukul 6 sore, kudengar suara adzan
maghrib aku langsung mengambil wudhu dan bergegas
sholat. Selesai sholat aku turun ke bawah disana ada ayah
dan ibuku sedang menonton televisi di ruang keluarga.
Lalu aku menghampiri mereka dan ikut menonton televisi.
Sekarang sudah pukul 8 malam aku dan
keluargaku sedang makan malam. Di meja makan suasana
sangat hening tidak ada yang berbicara sama sekali,
selesai makan aku izin kepada ayah dan ibuku untuk pergi
ke kamar. “ayah, ibu aku ke kamar dulu ya.” Kataku
sopan.
“Yasudah, jangan terlalu malam kalau tidur.” kata Ayah.
“Iya ayah.” jawabku.
Sampai dikamar kubuka aplikasi chat di ponselku,
ada banyak sekali pesan dari grup kelas dan juga dari Gea.
B u n g a R a m p a i | 33
Dia bilang kalau besok dia nggak bisa masuk sekolah
karena ada acara keluarga dan aku disuruh menyampaikan
kepada sekertaris di kelasku. Setelah selesai melihat-lihat
pesan yang ada di grup kelas yang isinya hanya teman-
temanku yang bertanya soal pr, ada juga meminta
jawaban dari pr yang diberikan tadi. Aku langsung
mematikan ponselku dan bergegas tidur.
Keesokan harinya sinar mentari
membangunkanku. Kulihat jam yang ada diatas meja
sudah menunjukkan pukul 06.30 aku langsung buru-buru
ke kamar mandi. Setelah beberapa menit aku bersiap-siap
aku langsung turun kebawah dan berpamitan kepada
kedua orang tuaku.
“Ayah, ibu Sela berangkat dulu ya.” pamitku sambil
berlari keluar rumah.
“Sela kamu enggak sarapan dulu?.” tanya Ibu.
“Enggak Bu nanti aja disekolah.” kataku.
Tidak lupa kuucapkan salam “Assalamualikum.”
“Waalaikumsalam.” jawab kedua orang tuaku.
“Hati-hati jangan buru-buru.” kata Ayah.
“Iya.” jawabku sambil mengayuh sepeda.
Kulihat jam dipergelangan tangganku jam sudah
menunjukan pukul 06.15 yang artiya pelajaran akan
dimulai 15 menit lagi. Sementara jalanan sekarang sangat
macet, aku terburu-buru sampai tidak melihat ada batu
didepanku,aku terjatuh dan lututku berdarah. Tetapi aku
langsung berdiri karena tidak ingin terlambat langsung ku
kayuh lagi sepedahku secepat mungkin agar cepat sampai
disekolah.
Sesampai disekolah pintu gerbang sudah ditutup,
dan ini sudah pukul 07.10 itu artiya aku sudah terlambat
10 menit, ditambah lagi lututku sangat sakit karena
terjatuh tadi. Kalau aku masuk pasti aku akan dapat
hukuman, tapi kalau aku tidak masuk masak aku harus
pulang lagi. Aku bingung, sampai akhirnya aku merasa ada
yang menepuk bahuku lalu aku menoleh ke belakang
34 |B u n g a R a m p a i
terlihat seorang cowok dengan tubuh tinggi, berkulit putih
dan ia mengunakan seragam yang sama sepertiku.
“Lo telat juga ya?” tanya cowok itu
“I...iya.” jawabku gugup karena dipandang seperti itu
olehnya
“Kok lo bisa telat kenapa?” tanyanya lagi. Aku merasa
cowok ini sangat kepo, aku tidak suka dengan orang yang
selalu ingin tahu urusanku. “Kok kamu kepo banget sih?,
mending kamu pergi deh.” usirku pada cowok itu.
“Gue kan Cuma nanya, kok lo jadi ngegas sih. Padahal
tadi gue mau bantuin lo buat masuk ke dalem tanpa
ketahuan telat.” katanya sambil berlalu pergi.
“Tunggu dulu,” kataku. “Kamu beneran mau bantuin
aku?” tanyaku padanya.
“Tadinyasih gitu, tapi gue kan udah lo usir ya berarti
nggak jadilah.” Katanya dan kembali berjalan
meninggalkanku.
“Eh tunggu dulu.” ucapku sambil menarik tangan cowok
itu.
“Tolong bantuin aku dong!, iya deh aku salah maaf. Tapi
kamu jadi bantuin aku kan?” kataku sambil memohon
padanya.
“Emm... gimana ya, yaudah ayo lo ikut gue.” ajak cowok
itu, lalu akupun mengikutinya. Setelah sampai di belakang
sekolah aku baru sadar kalau aku masuk bagaimana
dengan sepedaku?.
“Eh tunggu dulu, terus sepeda aku gimana?” tanyaku
padanya
“Yaudah taruh sini aja!” kata cowok itu.
“Nanti kalau hilang gimana?” tanyaku padanya
“Enggak bakalan hilang.” kata cowok itu meyakinkanku,
“Ayo mau masuk nggak? lama banget sih mikirnya.” kata
cowok itu.
“Iya maulah.” Kataku sambil menyandarkan sepedaku ke
dinding gedung belakang sekolah. Aku baru tahu kalau di
belakang sekolah ada pintunya, “Kok kamu bisa tau sih
kalau di belakang sekolah ada pintunya?.” Tanyaku sambil
B u n g a R a m p a i | 35
berjalan di belakangnya. Bukannya menjawab
pertanyaanku cowok itu malah tersenyu.
Saat sudah di dalam cowok itu bertanya padaku “Lo
mau masuk ke kelas?, ini masih jam pelajaran percuma lo
masuk pasti bakal dapat hukuman.”
“Oh iya juga ya, trus gimana dong?” tanyaku padanya.
“Mending kita ke UKS dulu, lihat itu lutut lo luka.” kata
cowok itu dan menunjuk lututku yang terluka.
“Yaampun aku sampek lupa kalu lutut aku luka.” kataku
sambil memandang luka di lututku.
“Ya udah ayo gue anter lo ke UKS.” ajak cowok itu.
Lalu aku berjalan disampingnya untuk menuju UKS,
sesampainya di UKS cowok itu langsung mengambil kotak
P3K yang berada diatas meja dan langsung mengobati
lukaku, aku hanya bisa memandangnya dalam diam.
Selesai mengobati lukaku ia lalu pamit untuk pergi, tapi
belum sempat ia keluar dari UKS. Setelah ia pergi tak
lama suara bel istirahat berbunyi aku langsung keluar dari
UKS dan bergegas menuju kelas.
Bel masukpun berbunyi. Bu Nita datang disusul
seorang murid cowok di belakangnya, aku kaget ternyata
cowok itu adalah cowok yang menolongku tadi pagi.
Seketika kelas menjadi ramai apalagi para cewek yang
heboh sendiri.
“Selamat pagi anak-anak.” sapa Bu Nita, “Hari ini kita
kedatangan teman baru, silahkan perkenalkan diri
kamu!.” ucap Bu Nita lalu mempersilahkan cowok itu
memperkenalkan dirinya.
“Terima kasih Bu,” lalu ia mulai memperkenalkan
dirinya, “Hai semuanya perkenalkan nama saya Bramasta,
kalian bisa panggil saya Bram.” lalu anak-anak kembali
ramai, dan Bu Nita mempersilakan Bram untuk duduk di
kursi kosong yang ada di sebelahku.
“Hai, tadi pagi kita belum sempat kenalan ya?, kenalin
nama gue Bramasta, lo bisa panggil gue Bram. Kalau nama
lo siapa?” ucapnya sambil mengulurkan tangan padaku.
Akupun menyambut uluran tangannya dan
36 |B u n g a R a m p a i
memperkenalkan diriku, “Nama aku Sela.” Lalu dia
tersenyum. Teguran dari Bu Nita memecah pembicaraan
kami dan akhirnya kamipun kembali fokus pada pelajaran.
Belpun berbunyi menandakan bahwa kegiatan
belajar mengajar hari ini telah selesai. Setelah Bu Nita
keluar dari kelas akupun bersiap untuk pulang, tiba-tiba
tanganku di tarik oleh Bram membuat aku kembali
terduduk.
“Ada apa ya.” tanyaku padanya.
“Lo mau pulang sekarang?” tanyanya padaku.
Lalu aku menganggukkan kepala dan kembali berdiri, tapi
lagi-lagi tanganku di tarik olehnya. Karena sudah sangat
kesal tanpa sengaja aku membentaknya, “ADA APA LAGI
SIH!!” Untung saja di kelas hanya tinggal kami berdua jadi
aku tidak terlalu malu karena tidak pernah aku berteriak
sekeras ini.
“Santai dong guekan cuma mau nawarin lo buat pulang
bareng.” ucapnya dengan gaya sok keren.
“Ya harusnya kamu bilang dari tadi, jadinya aku nggak
perlu teriak-teriak kekamu.” kataku sambil berdiri dan
berjalan keluar kelas.
“Iya maaf. Jadi gimana maunggak?” tanyanya sambil
berlari mengejarku.
“Nggak usah aku kan bawa sepeda.” tolakku dengan halus
lalu melanjutkan berjalan.
“Ya sudah kalau begitu. Tapi aku antar kamu ambil
sepeda boleh dong?” imbuh Bram
“Iya.” jawabku dan berjalan mendahuluinya.
Saat sudah sampai di halaman belakang ia kembali
menarik tanganku, “Ada apa lagi sih Bram?.”tanyaku
padanya. Tapi yang membuatku heran kenapa ia kayak
kebingungan, lalu tiba-tiba ia memegang tanganku dan
berkata padaku.
“Lo mau nggak jadi cewek gue? ya gue tau mungkin ini
emang terlalu cepat tapi jujur gue udah suka sama lo
sejak pertama kali gue ngeliat lo.”
B u n g a R a m p a i | 37
Jujur aku sangat kaget sampai sampai aku bingung
harus menjawab apa. Bagiku ini terlalu cepat karena aku
baru bertemu dengannya tadi padi dan sekarang dia
menembakku.
“Sebelumnya maaf Bram, bagiku ini terlalu cepat bahkan
kita baru bertemu tadi pagi.” kataku tidak enak padanya.
“Iya gue tau mungkin lo belum siap, dan bener kata lo
kita bahkan baru ketemu tadi pagi. Jadi gue bakal terima
apapun jawaban lo.”
“Makasih karena kamu udah mau ngertiin aku, dan
mungkin untuk saat ini lebih baik kita menjadi teman
dulu.” kataku padanya. Aku dapat melihat raut wajahnya
yang kecewa meskipun ia menutupinya dengan tersenyum
dan berkata, “Iya enggak apa kok gue tau mungkin lo
belum siap.”
Lalu ia kembali memegang tanganku dan berkata,
“Tapi beneran ya kita bakal tetap jadi teman?, gue nggak
mau kalau setelah kejadian ini lo jadi ngehindar dari
gue!.”
“Iya Bramasta.” ucapku padanya sambil tersenyum.
Setelah kejadian kemarin kami tetap menjadi teman
baik, bahkan hubungan kami sekarang semakin baik. Tidak
ada diantara kami yang berubah, semua masih sama
seperti dulu sebelum Bram mengungkapkan perasaannya
kepadaku. Ditambah lagi dengan keberadaan Gita
kamipun menjadi sahabat yang selalu berbagi suka
maupun duka. Aku merasa hidupku sangat beruntung
karena banyak sekali orang-orang yang menyayangiku
dengan tulus.
*************
38 |B u n g a R a m p a i
5. SEORANG ANAK YANG BERHASIL
Karya : Alice Leonardo
Di sebuah desa hiduplah seorang anak laki-laki
bernama Sutino yang saat ini masih berumur 13 tahun. Ia
tinggal bersama ibunya Sutiani. Saat ini Sutino duduk di
bangku kelas VIII. Mereka tinggal disebuah rumah yang
sederhana. Sutino merupakan anak yang sangat rajin dan
suka membantu orang lain. Setiap hari ibunya Sutino
bekerja sebagai tukang pencuci pakaian. Sutino merasa
kasihan terhadap ibunya, yang setiap hari mencari uang
untuk membiyayai sekolahnya dan memenuhi kebutuhan
sehari-hari yang lain.
Untuk membahagiakan ibunya, Sutino selalu
belajar dengan rajin. Terkadang seusai pulang sekolah,
Sutino berusaha membantu untuk meringankan beban
ibunya. Ia mengumpulkan barang-barang bekas, kemudian
menjualnya. Dari hasil yang diperolehnya tersebut, Sutino
dapat membeli peralatan sekolah dan sebagian uangnya
diberikan kepada ibunya. Tetapi terkadang ibunya tidak
mau menerima pemberian uang dari Sutino. Ibunya
menyuruh supaya sebagian uangnya ditabung saja. Karena
ibunya merasa bahwa, uang dari penghasilan mencuci
pakaian itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Walaupun mereka makan dengan lauk-pauk
yang sederhana.
Pada pagi hari yang cerah sewaktu Sutino
berangkat ke sekolah, ia bertemu dengan seorang kakek
tua. Kakek tua itu terlihat seperti orang yang sedang
B u n g a R a m p a i | 39
kelaparan. Melihat kakek tua itu Sutino merasa kasihan.
“Selamat pagi Kek..” sapa Sutino”Kakek lapar ya?”
“Ah enggak kok Nak,kakek menunggu seseorang.udah
jajian.”Jawab kakek
“Sudahlah Kek,gak usah bohong.Aku ngerti kalau kakek
lapar,” Ucapku ”Aku ikhlas berbagi bekal dengan Kakek.”
“Baiklah nak,terimakasih telah mau berbagi bekal
denganku.”Jawab kakek
Akhirnya Sutino memberikan separuh bekal makanan
dan minuman yang dibawanya dari rumah tadi. Sutino
merasa senang sekali melihat kakek tua itu makan hingga
kenyang. Kemudian Sutino berpamitan kepada kakek tua
itu, dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke
sekolah. Sewaktu Sutino berpamitan, tidak lupa kakek tua
itu mengucapakan terimah kasih dan mendoakannya
supaya kelak menjadi anak yang berhasil.
Sesampai di sekolahnya, Sutino langsung menuju ke
kelasnya. Disaat pelajaran berlangsung Sutino belajar
dengan sangat rajinnya. Ia selalu memerhatikan
penjelasan materi yang dijelaskan oleh gurunya. Disaat
bel istirahat berbunyi Sutino lebih memilih untuk pergi
keperpustakaan sekolah, dari pada ke kantin sekolah. Ia
lebih senang membaca buku untuk menambah wawasan
ilmunya.
Pada hari Minggu Sutino tidak seperti halnya anak-
anak yang lainnya. Ia menghabiskan waktu libur
sekolahnya dengan kegiatan, membantu orang tuanya
untuk membersihkan rumah. Biasanya, pada sore hari
40 |B u n g a R a m p a i
Sutino mengambil air bersih di air terjun yang terletak
diatas bukit. Air bersih itu digunakan untuk air minum dan
mandi. Kira-kira jarak dari rumah ke air terjun itu adalah
2 km.
Hari ini, seperti biasa Sutino berangkat ke sekolah
untuk mencari ilmu. Kali ini suasananya berbeda dengan
hari-hari yang sebelumnya. Sutino berangkat ke sekolah
dengan menggunakan sepeda. Sepada itu biasanya
digunakan ibunya untuk mengantarkan pakaian. Sutino
hanya menggunakan sepeda, untuk keperluan yang sangat
penting saja.
Ia akan belajar kelompok dirumah temannya, yang
terletak jauh dari desa tempat tinggal Sutino. Seusai
pelajaran, Sutino dan teman-temannya mulai berangkat
belajar kelompok. Tetapi ada masalah yang terjadi ketika
Sutino menaiki sepedanya. Ternyata ban sepeda Sutino
bocor, dan sepedanya tidak bisa digunakan.
“Ada apa dengan sepedamu No?” Tanya Ridwan
“Gak tahu ini, kayaknya bocor,” Jawab
Sutiono”Padahal tadi pagi baik baik saja”
“Waduh.....gimana ini?”kata Deni”Padahal rumah
Ahmad masih jauh”
“Jangan-jangan ini semua ulah Beni CS,kan Beni gak
suka sama kamu No?”Kata Ridwan lagi
“Jangan suudzon dulu kawan.....”Ucap Sutino
Tetapi Sutino merasa tanggapan teman-temannya
itu salah. Sutino berpikir bahwa, Beni tidak mungkin
B u n g a R a m p a i | 41
melakukan hal seperti ini. Sutino dan teman-temannya
akhirnya pergi untuk mencari tukang tambal ban. Mereka
tidak ingin masalah kecil ini menjadi besar.
Malam harinya, Sutino belajar untuk menghadapi
Ulangan Harian Agama Islam besok pagi. Ia ingin
mendapatkan nilai yang sangat baik. Supaya ibunya
senang karena anak satu-satunya ini bisa menjadi anak
yang pandai. Di saat ulangan harian agama telah tiba
Sutino dapat mengerjakan jawaban soal dengan mudah.
Berbeda dengan Beni yang kelihatannya bingung mencari
jawaban soal kesana kemari. Karena kemarin malam Beni
tidak belajar, ia menonton televisi hingga larut malam.
Hasil ulangan harian agama pun telah dibagikan.
Keinginan Sutinopun tercapai. Ia mendapatkan nilai yang
tertinggi dikelas yaitu mendapatkan nilai 100. Beni yang
gelisah menunggu pembagian kertas ulangannya karena
tidak bisa mengerjakan soal dengan isian yang benar. Ia
mendapatkan nilai 68.
Ibu guru menyuruh Beni untuk belajar kepada
Sutino. Agar nilai-nilai Beni menjadi lebih baik lagi. Beni
tidak mau dengan perintah yang di anjurkan oleh ibu guru,
ia membantahnya. Karena Beni menganggap tanpa
bantuan Sutinopun ia pasti bisa mendapatkan nilai yang
lebih baik. Sesampai dirumah Sutino memperlihatkan hasil
ulangannya tadi kepada ibunya. Ibunya sangat senang
karena anaknya selalu mendapatkan nilai yang bagus.
Suatu ketika Sutino terpilih untuk mewakili
sekolahannya. Ia terpilih untuk mengikuti lomba cerdas
cermat tunggal siswa antar SMP, sedesa Sidodadi. Beni
yang mendengar berita itu merasa kesal terhadap Sutino.
42 |B u n g a R a m p a i
Ia menyindir Sutino bahwa hal itu hanya keberuntungan
yang ia dapat sementara saja. Disaat lomba cerdas cermat
telah dimulai, dengan percaya dirinya Sutino dapat
menjawab pertanyaan dengan benar. Akhirnya ia
mendapatkan juara ke-1 lomba cerdas cermat tunggal
siswa antar SMP, se-Desa. Ia mendapatkan sebuah piagam
dan uang tunai sebesar Rp.500.000,-
Selanjutnya Sutino akan diwakilkankan lagi untuk
mengikuti lomba cerdas cermat tunggal siswa antar SMP,
sekecamatan Sidodadi. Mendengar hal itu ibunya sangat
senang dan bangga terhadap anaknya itu. Sesampai
dirumah ibunya membuatkan duacangkir teh untuk
diminum bersama anaknya, sebagai peringatan
keberhasilan anaknya itu. Walaupun hanya perayaan yang
sangat sederhana. Sutino merasa senang sekali, karena
bisa membuat ibunya bangga terhadapnya. Tak lupa Bu
Sutiani bersyukur atas keberhasilan yang telah diberikan
oleh Tuhan YME kepada anaknya itu.
Setelah satu hari libur sekolah, karena semua guru
harus rapat Dinas. Sutino kembali lagi masuk sekolah. Ia
mendapat perlakuan yang sangat baik dari teman-
temannya dan semua guru-gurunya. Pada waktu pelajaran
IPS, ibu guru yang mengajar di ruang kelas Sutino
mengatakan. Bahwa, Sutino adalah salah satu murid yang
dapat menjadi contoh terbaik untuk siswa yang lainnya.
Disaat cerdas cermat tunggal siswa antar SMP,
sekecamatan Sidodadi telah dimulai. Sutino berusaha agar
dia bisa membanggakan sekolahannya dan ibunya lagi. Ia
sangat-sangat teliti dalam menjawab semua pertanyaan
yang ditanyakan oleh juri. Namun sayangnya hasil usaha
B u n g a R a m p a i | 43
Sutino tak seberapa membanggakan. Kali ini ia
mendapatkan juara ke-2 dalam rangka lomba cerdas
cermat tunggal siswa antar SMP, sekecamatan Sidodadi.
Hadiah yang diperolehnya yaitu piagam dan uang tunai
sebesar Rp 500.000,00.
Bu Sutiani dan Kepala Sekolahnya tetap merasa
bangga kepada Sutino. Karena masih bisa mendapatkan
juara ke-2. Sutino merasa kecewa, tetapi ia tidak akan
putus asa atas ketidakberhasilannya untuk menjadi juara
ke-1.
Beni mengejek Sutino, “ Kenapa Kau ini tidak bisa
membanggakan sekolah kita untuk menjadi juara ke-1? ”
Sutino menjawab “ Mungkin ini adalah nasib yang
telah diberikan oleh Tuhan kepadaku, untuk berusaha lagi
supaya menjadi anak yang berhasil.”
“ Ah…. Itu paling cuma alasanmu saja!” Beni
berbicara dan kemudian meninggalkan Sutino begitu saja
tanpa mendengarkan lagi penjelasan dari Sutino.
Suatu hari , disekolahnya Sutino diumumkan
bahwa, Dinas Pendidikan Kota mengadakan kegiatan
lomba membuat cerpen untuk meningkatkan miat siswa
dalam literasi. Dengan aturan cerpen yang dibuat bertema
membahagiakan orang lain, harus mencapai seribu kata,
dan hasil dari karya anak itu sendiri . Semua cerpen
tersebut, sebelumnya akan diseleksi. Mana cerpen yang
paling bagus dan menarik untuk dibaca serta memenuhi
syarat menulis cerpen.
Lomba membuat cerpen itu diadakan untuk anak-
44 |B u n g a R a m p a i
anak SD kelas V dan VI dan seluruh siswa SMP, MTS, SMA,
dan SMK. Setiap sekolah diambil 1 pemenang cerpen yang
terbaik dan cerpen yang lainnya akan dibukukan,
kemudian diletakkan di perpustakaan sekolah. Setelah itu
akan diseleksi manakah sekolah yang cerpennya paling
baik. Dan akan mendapatkan sebuah piagam, uang tunai,
dan cerpennya akan diterbitkan diseluruh majalah
Surabaya oleh Dinas Pendidikan kota Surabaya.
Mendengar pengumuman itu Sutino berusaha
membuat sebuah cerpen yang menarik untuk dibaca.
Cerpen itu ia beri judul “ Seorang Anak yang Berhasil ”.
Setelah berusaha dan tidak kenal putus asa, akhirnya
Sutino adalah pemenang cerpen yang terbaik di
sekolahnya. Kemudian cerpen Sutino dan cerpen-cerpen
dari sekolah lainnya diseleksi oleh Dinas Pendidikan kota
Surabaya. Sutino tidak menyangka bahwa cerpennyalah
yang menjadi pemenang ke-1 se-kota Surabaya.
Mendengar berita tersebut Bu Sutiani langsung jatuh
pingsan. Ternyata anaknya itu memang benar-benar
berhasil membuat orang tuanya sangat merasa bahagia.
**************
B u n g a R a m p a i | 45
6. APA ADANYA
Karya: Ellen Evelyn K.P
Perkenalkan,aku Millie seorang gadis,yang sedang
duduk di bangku SMP kelas VIII dan hanya memiliki
seorang teman. Bisa dibilang aku merupakan anak yang
beruntung, karena orang tuaku masih bisa
menyekolahkanku hingga aku duduk di bangku SMP saat
ini. Tapi, ada satu hal, yang membuatku tidak percaya
diri, yaitu aku memiliki tubuh yang gendut. Hal itu
membuatku merasa rendah diri. Banyak teman-teman
yang tak suka denganku, itulah sebabnya aku hanya
memiliki seorang teman.
Aku pergi ke sekolah menggunakan sepeda motor
yang tentu saja diantar oleh pengantarku sehari
harinya.Memang orang tuaku sangat jarang mengantarku
ke sekolah, itu karena mereka sibuk dengan pekerjaanya
masing masing,tetapi aku tidak terlalu
mempermasalahkan hal itu,karena hal itu juga tidak akan
berpengaruh terhadap kehidupanku.
”Teng Teng Teng” tak terasa bel tanda masuk
sekolah pun berbunyi, aku segera masuk ke kelas, tadinya
aku duduk di pinggir halaman sekolah, sekarang aku sudah
berada di kelas dan aku memutuskan untuk duduk
sebangku dengan Alan, yang mana satu-satunya anak yang
mau duduk denganku. Alan adalah anak yang pendiam
dan sangat baik.
Waktu pelajaran pertama pun dimulai...
Aku mengikuti pelajaran,selayakya murid lain.
Angin siang menerpa wajahku melalui jendela,
membuatku merasa bahwa hidupku sangatlah
46 |B u n g a R a m p a i
menyedihkan. Aku terus termenung hingga jam pelajaran
hampir selesai. Bu Rosa, begitulah orang-orang biasa
memanggilnya. Ya, dia adalah guruku. Hari ini, beliau
memberikan materi yang tidak terlalu banyak, hal itu
cukup melegakan, karena aku dapat menghabiskan waktu
untuk beristirahat.
Pelajaran pun usai, tiba saatnya untuk
beristirahat. Aku dan Asher memutuskan untuk membeli
makanan di kantin. Aku tak langsung menyantapnya di
kantin, aku memilih untuk membawa dan menyantap
makananku ke dalam kelas. Hal itu kulakukan untuk
menghindari beberapa celotehan yang akan dilontarkan
oleh anak-anak yang tak menyukaiku. Mereka akan
mengejek dan mempermalukanku di depan anak-anak
serta orang-orang yang ada di kantin. Tentu saja hal itu
akan membuatku malu dan sedih, oleh karena itu
keputusanku untuk makan di dalam kelas sudah benar.
Saat tiba di kelas, aku melihat suasana ramainya
kelas. Mereka semua asyik makan sambil bercengkrama.
Di situ aku merasa sedih karena aku hanya memiliki
seorang teman,sedangkan yang lain memiliki banyak
teman, sehingga mereka dapat saling bercerita dan
tertawa, selama makan aku terus memikirkan hal itu,
padahal biasanya aku mengabaikannya,memang aku
memiliki badan yang gendut tapi aku tidak peduli dengan
itu,aku kira orang tidak melihat dari penampilan tetapi
dari sikap yang kita miliki.Aku berusaha mendekati
mereka dan mereka menjauh dengan sendirinya seakan
tidak mau menerimaku, inilah ternyata yang dimaksud
”body shaming.” Setelah itu pelajaran terus berlanjut,
aku mencari cara agar orang tidak hanya berteman dengan
B u n g a R a m p a i | 47
orang yang berbadan ideal tetapi juga dengan orang yang
memiliki badan seperti ku.
Akhirnya bel tanda pulang sekolah pun tiba, aku
segera mengemasi barangku dan segera pulang, setelah
tiba dirumah aku langsung mandi karena tidak tahan
dengan panas yang ada di tubuh ini.Setelah mandi, aku
segera memakai skincare yang biasa aku pakai.Tiba – tiba
ada notifikasi pesan yang berbunyi di handphoneku dan
ternyata itu Asher, kukira orang lain tapi siapa juga yang
mau mengirim pesan untukku.
“ Millie, kamu sibuk nggak? Kalau tidak ayo kita nonton
film bareng malem ini,mumpung weekend ” Ajak Alan
Sebelum aku menjawab pesan dari Alan, aku mulai
memikirkan apa yang akan dipikirkan oleh orang-orang
terhadapku nantinya.Mereka pasti akan menertawakanku
karena aku gendut dan mereka akan berkata bahwa aku
tidak layak untuk berada disampingnya. Tetapi pada
akhirnya, aku tetap mengiyakan ajakan Alan untuk pergi
menonton film bersama.
“Tidak aku tidak sibuk, mari kita nonton
bareng!”Jawabku
“Oke,aku tunggu ya di Cinema 31!” Balas Alan
“Baiklah.”Balasku kembali.Setelah aku membalas pesan
Asher dengan tujuan menerima ajakannya, aku segera
bersiap-siap dan berdandan apa adanya.
Setelah waktu perjalanan yang cukup lama,
akhirnya aku tiba di Cinema 31. Di dalam, aku melihat
Alan sedang duduk sendirian dan menunggu kedatanganku,
tanpa lama-lama lagi aku langsung
menghampirinya.Sebelum menonton film, kami berdua
memutuskan untuk membeli dua tiket dan satu popcorn
48 |B u n g a R a m p a i
rasa caramel. Genre yang kita pilih untuk kami tonton
pada saat ini adalah komedi.
Selama film berlangsung, kami berdua sering sekali
terbahak-bahak dan sering ku rasakan bahwa Alan sedang
memandangiku yang sedang tertawa. Entahlah, apa
maksud dari pandangannya itu. Tetapi aku tidak terlalu
memikirkannya karena mungkin Asher senang dapat
melihatku tertawa seperti ini.
Waktu berlalu dengan cepat, hingga film yang kami
tonton telah usai. Aku dan Alan memutuskan untuk
pulang. Aku segera berpamitan dan melangkah untuk
bergegas pulang, tetapi tiba-tiba Alan menarik tanganku
dan berkata, “Makasih ya,udah mau nonton bareng, mau
aku anter pulang?” Aku sedikit terkejut, karena tidak
biasanya Alan ingin mengantarkanku pulang seperti ini.
Hingga aku memutuskan untuk menolaknya,“Iya sama-
sama, oh nggak usah aku pulang sendiri aja. Gapapa kok.”
Untungnya Alan langsung mengiyakan, “Oh ya udah, ati-
ati yaa!” “Iyaa.” Setelah sampai di rumah aku segera
berganti baju dan istirahat. Karena besok adalah hari
Senin maka aku harus tidur lebih awal.
Keesokan harinya..
Jam telah menunjukkan pukul lima, aku segera
bangun untuk bersiap-siap ke sekolah agar tidak
terlambat, karena hari ini upacara bendera.Setelah siap
aku segera menuruni anak tangga dengan cepat dan
dengan lahap menyantap makanan untuk sarapan yang
sudah disediakan oleh bibi diatas meja makan. Setelah
selesai menyantap sarapanku, aku segera memakai kaos
kaki dan sepatuku dengan cepat. Sebelum berangkat, tak
lupa aku berpamitan kepada kedua orang tuaku terlebih
dahulu. Hingga, ketika aku telah siap, aku akhirnya
B u n g a R a m p a i | 49
berangkat ke sekolah dengan rambut model kunciran ekor
kuda yang ada di kepalaku.
Sesampainya aku disekolah, aku menuju kelasku
dengan wajah yang tertunduk ke bawah, karena aku takut
terkena ejekan dari anak lain atau bahkan kakak-kakak
kelasku. Aku memutuskan untuk mempercepat langkahku
menuju kelas, agar aku dapat dengan cepat menghindari
tatapan-tatapan itu. Ya, tatapan-tatapan yang dihasilkan
oleh mereka yang tak suka kepadaku.
Akhirnya aku tiba di kelas, aku tak menyangka
ternyata Alan telah datang dan menyambutku dengan
berkata, “Selamat Pagi!” Aku pun merasa bingung, karena
tak biasanya Alan sebahagia ini. Kemarin, ia telah
mengajakku untuk menonton film bersama, sekarang ia
menyambutku dengan sebahagia ini. Menurutku beberapa
hari ini sikapnya memang sedikit aneh. Tapi kutepis
semua pikiran aneh tentang Alan yang bersarang di
pikiranku. Dengan bahagia dan nada ceria aku
menjawabnya,“Pagi juga!” Seperti biasa kita duduk
berdua dan kita berceloteh tentang hal-hal yang mungkin
tidak penting untuk dibicarakan.
Teng..Teng..Teng...
Bel masuk sekolah pun berbunyi,sehingga aku dan
Alan harus menghentikan pembicaraan ini lalu kita berdua
segera berbaris di barisan kelas 8 untuk mengikuti upacara
dengan khidmat. Setelah upacara usai, anak-anak
termasuk aku dan Alan kembali ke kelas. Pada saat berada
di dalam kelas aku mendengarkan bisikan teman ku yang
waktu itu aku ingin dekati berkata,“Ehh guys, liat deh si
Millie deket banget sama Alan,padahal Millie kan gendut
banget, kok mau sih si Alan.Mendingan sama aku ga ya sih
?” dalam hati aku pun berkata, “Kalau begini caranya aku
50 |B u n g a R a m p a i