dari tempat kami tinggal, entah ke mana aku tak tahu.
Aku pun tak ingin diam, pergilah aku untuk mencari
pekerjaan, karena jika aku tetap berdiam di sini, hanya
akan membebani Deni. Lelah menyusuri ibu kota sejenak
kutatap matahari. “Oh Tuhan. Terasa sekali cobaan yang
saat ini kujalani..” ungkapku dalam hati. Dengan jaket
lusuh kuusap keringat di dahiku, sejenak aku berhenti di
sebuah rumah makan khas Tegal. Satu jam aku diam di
sana, sang pemilik mungkin risau dengan kedatanganku, ia
menghampiriku, kukira ia mau memarahiku, ternyata ia
malah membawakan segelas the dengan sepiring nasi dan
lauknya. Ia memberikannya kepadaku, dengan logat
medok Jawanya ia bertanya kepadaku.“Kamu ini dari
mana mau ke mana? Kok kelihatannya bingung gak
karuan?” 101ampo ibu warteg itu.“Saya mau nyari kerja
Bu, tapi saya juga gak tahu ke mana saya harus
mencarinya” jawabku. Waktu itu aku bercerita dengan ibu
itu sembari kulahap makanan yang ia berikan, usut demi
usut ternyata si ibu itu punya saudara yang mau buka
restoran dan butuh tenaga kerja, ia menawarkan
pekerjaan itu padaku, dengan besar hati kuterima
tawaran baik si ibu itu. Dan aku hanya diberikan sobekan
kertas yang berisi alamat saudara ibu itu, untuk keesokkan
harinya ku jumpai ke sana. Aku pamit dengan berulang-
ulang kuucap terima kasih padanya. Ya ibu itu mungkin
dewa penolong yang dikirimkan Tuhan waktu itu.
Pulanglah kembali aku ke tempat temanku Deni.
Tak lama akhirnya bercerita bahwa ia sudah dapat
pekerjaan baru. Dengan senang aku juga menceritakan,
bahwa mulai besok aku punya pekerjaan. Yah!! Kami
bersenda gurau lepas dari beban, yang hari lalu membuat
jera kami berdua. Namun di tengah kami tertawa
B u n g a R a m p a i | 101
bercanda, terbersit di pikirku bahwa mungkin hari ini
adalah hari terakhirku dengannya untuk bersama
dengannya, serentak kami berhenti dari tawa yang dari
tadi kami guraukan. Ia memandangku, seakan ia juga
mempunyai pikiran sama denganku. Benar saja, ia
menundukkan kepalanya dan kulihat ia terharu, tapi
terlalu kuat untuk kami meneteskan air mata, karena kita
tahu kita laki-laki, dan ayahku pun tak pernah
mengajarkan untuk menangis. Ia hanya menepuk
pundakku, dan berkata. “Ky, apa Kamu yakin mau kerja?
Aku khawatir kamu ini baru di sini, lalu tempat kita sangat
jauh berbeda?” 102ampo dia.“Ini sudah menjadi
tantangan buatku Den, Kamu tahu, Aku pergi dari rumah
ya untuk bekerja kalau pun, ada banyak yang kau
khawatirkan tentangku di sana, akan kuhadapi semuanya,
karena sebelum aku di sini, aku sudah banyak dengar
tentang ibu kota, yang kukira itu mitos ternyata benar
kurasakan, ini nyata! Kau tenang saja.. Kita memang
harus jalani ini.” Jawabku dengan mencoba menguatkan
hatinya. Ia mulai tenang ketika mendengar ucapku tadi.
Sebelum keesokkan harinya kita berpisah tak lupa
ia memberiku alamat barunya di tempat ia akan kerja.
Untuk suatu saat nanti jika aku ingin pulang 102kampung,
ia menyuruhku untuk 102berpamitan padanya. Detik jam
mulai menunjukkan pukul 06.00 di situlah kami mulai
berjabat tangan untuk berharap esok atau nanti kita
102bisa berjumpa lagi. Aku pun mulai melangkahkan kaki
menuju ke tempat yang dimaksud ibu Warteg. Berjalan
terus berjalan sampailah aku ke tempat yang kutuju, di
sebuah ruko di kawasan Sunter Paradis (102Ampong Utara)
di situ memang terlihat ada sebuah ruko yang kukira baru
dibangun, untuk dijadikan rumah makan.Tak butuh waktu
102 |B u n g a R a m p a i
lama kusambangi tempat itu, kusapa yang ada di situ,
kulihat alamat yang kubawa, 103tempat yang
diberitahukan aku yang dimaksud ibu Warteg saudara
beliau. Mereka menyambutku dengan ramah, dan ternyata
tempat itu baru mau dibuka. Keesokkan harinya, hari
pertama Restoran itu dibuka kebetulan Restoran itu
bertema chinees food, aku serba bingung, semua barang
yang ku pegang saat itu sangat asing. Maklum untuk hal
memasak aku sangat kaku, mungkin karena saja dulu aku
tak pernah mau ketika diajarkan memasak oleh ibuku.
Namun ini yang harus kujalani, sedikit demi sedikit aku
diajarkan oleh koki restoran tersebut. Tak jarang aku kena
marah, bahkan sering kudimaki olehnya ketika salah
melakukan sesuatu yang dipintanya. Aku pun tak peduli
hal itu, karena dalam benakku yang penting aku dapat gaji
aku pulang membawa uang.Satu minggu berlalu aku mulai
membiasakan diri di sana, mulai kupaham pekerjaanku
saat itu. Dan sebulan berlalu aku mendapatkan gaji
pertamaku. Senang sekali aku waktu itu, saat pertama kali
kupegang uang sekitar 700 Ribu Rupiah. Hari demi hari
kemudian aku dapat teman baru di sana, namanya Ika, ia
kukenal saat makan di tempatku kerja, ia adalah seorang
waitress di salah satu Bar di kawasan Kemayoran. Kukenal
ia awalnya karena kusuka, lalu kupacarilah dia. Dan
ternyata saat itu aku mencintai orang yang salah, hingga
akhirnya aku terjerumus dengan hal-hal 103yang tidak
baik, sehingga setiap harinya aku terus melakukan
kekhilafan, menjalani kehidupan yang kelam dengan
pergaulan yang tidak baik, dan di situ aku menjadi
pecandu Narkoba. Pada akhirnya, gaji kedua dan
seterusnya tak pernah ada sisa.Gaya pacaran kami
103dapat dibilang mirip seperti film yang berjudul “Radit
B u n g a R a m p a i | 103
& Jani”, Kegelapan dalam hidup baru kurasa pada masa
itu, meski terkesan Glamor dan tak baik, tapi aku
dengannya merasa nyaman. Setiap aku pulang kerja, ia
selalu menemuiku, kami selalu menghabiskan malam hari
bersama, di jalan, kadang di taman untuk sekedar
nongkrong, kadang tak jarang jika ia sedang banyak uang
kami sering nonton Bioskop. Memang jauh sekali dari
kehidupan aku sebelumnya, seakan aku lupa akan niatku
ke Jakarta. Hingga pada suatu hari, aku dan Ika pun ada
masalah, saat itu aku sudah mulai sadar, bahwa hidup
yang saat ini kujalani, tidaklah baik.Ika mulai bingung
dengan tingkahku, setiap Ika menemuiku, aku selalu
menghindar, bahkan tak jarang aku menyuruhnya untuk
pulang. Hingga suatu hari ketika bulan keempat aku di
sana, aku mulai merasakan penyesalan dalam hidup.
Bayangkan 7 hari lagi waktu itu aku harus pulang,
merayakan hari Raya Idul Fitri, bersama keluarga. Dan aku
ingat, aku punya janji pada ibu, bahwa suatu saat nanti
aku pulang aku ingin sekali membawakan baju lebaran
untuknya. Aku mulai mejauhi Ika, mulai 104serius pada
kerjaan, berharap THR nanti 104dapat buat beli baju
ibuku. Dengan cepat waktu berlalu, sehingga waktu untuk
aku pulang tinggal 5 hari lagi. Aku mulai mengundurkan
diri dari Restoran itu, dan ketika pikirku berharap
mendapat THR besar, ternyata malah gajiku dipotong.
Restoran sepi pembeli waktu itu.“Ya Tuhaan. Berat sekali
cobaan ini!!!” Dan keesokkan harinya aku pulang dengan
begitu saja ke luar dari Restoran, dengan bekal sisa gaji
400 ribu apakah 104bisa aku membeli baju untuk ibu? Tak
mau berpikir panjang, aku menumpangi bajaj untuk
singgah di tempat Deni bekerja. Dan sesampainya di sana
ternyata Deni juga mengalami nasib yang sama, dan malah
104 |B u n g a R a m p a i
gajinya belum diberi dari Bosnya. Namun ternyata ia
punya uang simpanan, sehingga akhirnya ia memaksa ke
luar dari pekerjaannya. Sebelum aku pulang, Deni
mengantarkanku, untuk membeli baju sesuai janjiku pada
ibu, sesampainya di sana dapatlah baju Kebaya, yang
kurasa pas untuk ibu. Lega rasanya saat baju itu sudah di
tanganku. Tinggal bagaimana aku bisa pulang, sementara
uang semakin menipis.Sesampainya di kosan Deni, kami
kembali merenung, termenung dan bingung, “bagaimana
kita 105bisa pulang Den?” tanyaku. “Emang uang Kamu,
habis semua Ky?” jawabnya. Ia merasa bingung denganku,
aku pun menceritakan yang sesungguhnya terjadi.
“Okelah, tak perlu ada yang disesali, semuanya sudah
terjadi, jadikan ini pelajaran buat kamu Ky!” ujarnya
dengan bijak. “kamu harus ingat Ky, mereka di
105kampung menantikan kesuksesanmu, berharap Kamu
pulang dengan keberhasilanmu! Kalau begini, apa yang
mau kau ceritakan pada mereka?” sambungnya. “Entahlah
Den, aku juga bingung, kenapa aku harus terjerumus
dalam hal seperti itu?!” kataku. Semua jadi hening, Deni
seakan tak mau bicara denganku, setelah dia tahu yang
sesungguhnya. Ketika semuanya membisu, tiba-tiba pintu
kosan Deni ada yang mengetuk.“Asalamualaikum!” suara
dari luar. Deni pun membukanya. “Eh Pak Akim ada apa
yah?” 105tanya Deni.“Kamu gak, pulang 105kampung Den,
lusa kan lebaran?” tanya Pak Akim. “Pengen sih Pak,
105hanya gak ada buat ongkos!” ujar Deni. “Nah,
kebetulan, saya mau ngirim barang ke daerah Kuningan,
kira-kira Kamu tahu jalannya nggak? Soalnya saya nggak
hafal jalan menuju Kuningan.” seru Pak Akim.Kebetulan
Pak Akim adalah sopir truk expedisi. “Kalau kamu tahu,
barengan aja, biar sekalian ada teman saya di jalan.”
B u n g a R a m p a i | 105
sambungnya. “Oh, boleh-boleh Pak Akim, kebetulan juga
saya hafal jalan ke kuningan!” jawab Deni. Tuhan memang
sangat adil, di saat seperti ini, Tuhan memberikan kami
jalan untuk kami bisa pulang ke 106kampung halaman.
Lalu tak ingin menyia-nyiakan waktu aku dan Deni pun,
segera bergegas menuju mobil Pak Akim, dan perjalanan
menuju 106kampung halaman pun dimulai.Yang biasanya
waktu dari Jakarta ke Kuningan hanya 8 jam kini, 12 jam
perjalanan, karena memang macet, mungkin juga karena
memang arus mudik Lebaran. Sekitar adzan maghrib aku
pun sampai di rumah tercinta dan bertemu orang-orang
yang kurindukan. Turun dari mobil box pak Akim, aku tak
106sabar menahan rindu pada mereka,langsung kulari dan
memeluk ibu, yang sudah berdiri di pintu rumahku, yang
sedari tadi menunggu kepulanganku.
Air mata tak 106tertahankan lagi, kupeluk ibu dan
meminta maaf padanya. Dan keesokkan harinya takbir
berkumandang, akhirnya aku 106bisa merayakan lebaran
di sini, di 106kampung halamanku. Oh Tuhan ini
perjalanan hidup yang sangat berharga untukku, aku
berjanji untuk tak melakukan hal buruk yang telah
kualami, untuk di kemudian hari. Terima kasih juga untuk
orang-orang yang telah berbaik hati kepadaku. Semoga
kalian mendapatkan kebahgiaan dan kemakmuran dalam
hidup. Terima kasih juga buat sahabatku Deni, hari lalu
hari ini sampai nanti hari menutup mataku tak akan ku
lupa perjuangan hidup bersamamu.
******
106 |B u n g a R a m p a i
14.SAHABAT YANG KURINDUKAN
Karya :Eis Efriliana N.P.
Oh iya sebelumnya kenalin nama aku Yani dan
sahabat aku Nada. Walaupun aku dan Nada kenal
Cuma pas waktu SMK Sahabat adalah sebuah sosok
yang bisa mengerti dan membuat kita tertawa
bagaimanapun itu caranya. Aku sekarang kuliah di
Yogyakarta sedangkan sahabatku kuliah di negeri
tirai bambu China.tapi tak memperngaruhi
persahabatan kami, karena persahabatan tidak
diukur dengan lama tidaknya kita kenal dia tapi
dengan ketulusan dan pengorbanan. Sekarang kami
terpisah jauh bahkan beda negara tapi aku yakin
suatu saat nanti aku dan Nada akan ketemu lagi.
Nada adalah sahabatku sekaligus inspirasiku
sejak aku kenal dia waktu smk sampai dengan
sekarang tak bersamanya aku masih tetap
terinspirasi olehnya. Aku senang dan sekaligus
bangga karena punya sahabat Nada. Aku dan Nada
juga mempunyai banyak kesamaan diantaranya kami
suka ikut lomba. Pernah kami ikut lomba sampai
basah-basahan karena hujan dan ikhlas jauh-jauh di
perjalanan kira-kira satu jam Cuma buat lomba
doang dan itu tidak akan aku lupain. Aku dan Nada
juga suka minum es Cappucino dan kami minum
cappuccino gak ingat waktu pagi-pagi jam 9 minum
cappuccino bahkan penjualnya juga baru buka
memang benar-benar, jadi kangen aku sama Nada.
Tapi bukankah aku memang lagi menceritakan
B u n g a R a m p a i | 107
kekangenan ku sama Nada. Dan satu lagi yang perlu
kalian tahu aku sama Nada suka banget yang
namanya jalan-jalan untuk ngilangin bosan dan buat
refreshing otaklah. Pokoknya aku sama Nada itu
banyak samanya gak keceritaan kalau aku ceritain.
Sebenarnya sih aku mau cerita tapi masih
bingung mau cerita apa ya soalnya banyak cerita ku
dan Nada itu. Ya baiklah aku cerita ini aja waktu itu
minggu, 24 April 2015 mungkin satu tahun yang
lalulah aku dan Nada berencana ke pernikahan
teman kami Helda dimana hari itu dia khataman Al-
Qur’an. Tadinya Nada bilang mau pergi jam 12 siang
dan aku tunggu-tunggu tapi nada gak dating-datang
juga. Karena lama terus aku sms Nada untuk
memastikan jam berapa berangkat katanya jam 1
siang dan dia masih memakai jilbab katanya bentar
lagi otw. Dan Nada tiba di rumahku kurang lebih jam
1 siang. Tanpa menunggu waktu lama kami langsung
otw ke rumah Helda teman kami dan tiba-tiba di
perjalanan cuaca kurang bersahabat dan hujan pun
turun dan kami memutuskan untuk berteduh karena
hujannya cukup deras kalau kami teruskan takutnya
basah kuyup dan kami pun berteduh di sebuah
parkiran kecil yang kiranya kami tidak kehujanan
karena dilindungi oleh atap walaupun parker itu
kecil. Tidak lama kemudian kurang lebih setengah
jam kami berteduh dan hujannya sudah mulai reda
dan kami melanjutkan perjalanan ke rumahnya
Helda.
Sampai di rumah Helda dan Alhamdulillah
acaranya belum dimulai sehingga kami bisa
108 |B u n g a R a m p a i
mengikuti acara itu secara menyeluruh sempurna.
Acara belum dimulai dan pengantin dan temanku
mita yang nemanin ngatamkan masih dirias dan
dimake up. Aku dan Nada menunggu tadinya sih
Nada yang mau nemanin Helda khataman tapi
karena Nada haid tidak jadi dan Nada nyuruh aku
tapi udah ada gantinya jadi kami berdua jadi
peserta saja hmm peserta kataku salah-salah bukan
maksudku jadi pendengar setia hehe. Setelah selesai
dirias dan orang-orang yang lain pada udah datang
dan acara pun dimulai dengan bacaan surah al-
dhuha yang dibuka oleh mempelai penganatin
wanita. Setengah jam kemudian acara puncak yang
ditunggu-tunggu pun akan segera dilakukan yaitu
pelemparan permen dan uang logam kepada para
hadirin dan disambut senang oleh anak-anak,
dewasa maupun orang tua. Dan acara khataman
selesai setelah pembacaan doa khatam Al-Qur’an
setelah itu mempelai pengantin dan teman-teman
yang membantu khataman berkeleliling bersalaman
menyalami semua tamu yang hadir menghadari
acara itu disela itu juga di sajikan makanan untuk
para tamu yang sudah ikhlas menghadiri acara ini.
Waktunya makan untuk kami para tamu untuk
mengisi perut yang sudah terasa agak lapar, tapi
Nada gak makan karena dia sakit perut gak enak
makan. Aku juga jadi gak enak makan khawatir
karena Nada terus-terusan sakit perut, namanya
juga sahabat gak mungkin aku bisa tenang kalau
sahabatku lagi sakit ataupun susah dan aku tak bisa
membantunya. Aku selesai makan dan Nada ngajak
pulang karena perutnya sangat sakit dan dia juga
B u n g a R a m p a i | 109
nyuruh aku yang bawa motornya padahal aku gak
bisa karena motor laki ada giginya, aku bisanya
motor yang gak ada giginya walaupun sempat bisa
aku mengendarai motor gigi tapi udah 5 tahunan
sekarang gak pernah bawa lagi, dan aku mencoba
meyakinkan diriku untuk bisa mengendarai motor MX
yang disuruh Nada, demi sahabatku apapun akan aku
lakukan apalagi hanya mengendarai motor aja,
nyawa juga kalau perlu ku berikan. Tapi mau pulang
sendalku gak ada ada yang bawa dan aku juga gak
mau pulang kalau gak pakai sendalku sendiri emang
egois aku padahal Nada lagi sakit tapi aku masih
mentingin aku sendiri maaf da, tapi kata Nada juga
terserah aku ya udah aku nunggu sendalku lah,
setelah sekian lama kami nunggu akhirnya orang
yang bawa sendalku datang juga dan kami langsung
pulang setelah dapat ku pakai sendalku kembali.
Aku mencoba meyakinkan diriku untuk
mengemudikan sepeda Nada yang gak pernah ku
kendarai dan biasanya Cuma duduk manis aja di
belakang sekarang harus duduk di depan
mengendarainya demi sahabatku Nada. Dan aku
hidupin motornya dan mulai berjalan dengan
dibantu arahan dari Nada dan Alhamdulillah aku bisa
walaupun amatiran maklum lama gak pernah
mengendarainya ya Alhamdulillah masih bisa dan
ternyata enak dan aku jadi suka dan mau juga punya
motor MX nantilah mungkin kalau aku udah kerja. Di
perjalanan kami selalu mengobrol karena bagiku
berkendara berdua tapi gak ngobrol sama aja
dengan sendiri begitu juga dengan jalan kaki atau
110 |B u n g a R a m p a i
apa lah. Di perjalanan kami tertawa karena olahku
yang baru mengendarai motor gigi lagi dan aku
nanya macam-macam sama Nada bagaimana caranya
mengendarakan motornya dengan baik dan aku
senang dan tidak terlalu khawatir lagi karena dia
bisa tertawa walaupun dalam keadaan sakit,
memang sahabatku Nada ku ini gak pernah ngeluh
kalau sakit malah dia sembunyiin.
Tak terasa sampailah di rumahku aku dan Nada
berhenti dan aku bertanya kembali apakah dia bisa
mengendarai motornya sampai rumah karena
rumahku dan Nada jauh kurang lebih 20 menit
ditempuh dengan motor. Tapi lagi-lagi Nada bisa
meyakinkanku bahwasanya dia bisa dan aku sebagai
sahabatnya percaya bahwa dia bisa karena bukanlah
orang yang mudah menyerah ataupun putus asa.
Setelah kiranya Nada sampai aku sms dia apakah dia
sudah sampai rumahnya dan ternyata Alhamdulillah
dia udah sampai rumah, dan aku pun senang
dengarnya dan sakit perutya juga lumayan gak sakit
lagi katanya. Dan sekarang aku menunggu Nada
kembali ke Indonesia dan kami bertemu kembali dan
melakukan semua hal sama-sama lagi bersama TIM
RANNYSA. Sukses sahabat di sana di China ambillah
ilmu sebanyak mungkin di sana dan bawa pulang ke
Indonesia dan ubahlah Indonesia sahabat.
***********
B u n g a R a m p a i | 111
15.PERSAHABATAN
Karya : Raffi Ahmad H
Namaku Ara Monika biasa dipanggil ara. Aku
hanyalah gadis biasa yang terlahir dari keluarga
sederhana. Cantik? Aku juga gadis tidak populer yang
memiliki wajah di bawah rata-rata alias biasa-biasa saja
tidak ada yang bisa kubanggakan, otakku pun sangat
tumpul, hanya satu yang patut diacungi jempol pantang
menyerah selalu mencoba dan mencoba walau selalu gagal
dan gagal lagi dan hobiku adalah memasak.
Setiap hari aku selalu membantu ibuku di kedai
kecil-kecilan depan rumah. walaupun begitu hidupku
sangatlah damai tidak ada yang menggangguku sejak
taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama
dan kedamaian itu berubah saat kakiku menginjak sekolah
tingkat pertama (SMP), kalian pasti tahu anak-anak yang
memasuki masa remaja pasti sangat menjengkelkan
bahkan mereka akan mengkritik cara berpakaian, berjalan
dan hal-hal sepele lainnya, mungkin mereka yang biasa
disebut populer akan sangat membutuhkan kritikan-
kritikan itu tapi tidak bagiku, aku tidak peduli dengan apa
yang orang lain katakan tentang styleku.
Hari ini adalah kelas pertamaku di Sekolah
Menengah Pertama setelah menjalani serangkaian Masa
Orientasi Siswa (MOS) selama tiga hari berturut-turut,
sangat melelahkan karena bertingkah seperti orang gila,
menuruti semua kemauan kakak-kakak panitia masih
teringat di kepalaku bagaimana salah satu kakak panitia
memintaku akting drama di depan seluruh siswa-siswi
MOS.
112 |B u n g a R a m p a i
“Heiii kamu, maju?” Aku yang saat itu tengah
memikirkan entah apa itu tak mendengar saat salah satu
dari kakak panitia memanggilku dan parahnya dia adalah
panitia yang paling sadis menurut teman-teman
seangkatan lainnya.
“Apa kamu tuli, hah!”
“Heiii!!!”
“Ara, sssttt…” untungnya sahabatku Kasih
menyadarkanku dari lamunan panjang tak berujung,
dicubitnya lenganku seraya cengengesan ke arah panitia
dan tanpa sadar aku menjadi pusat perhatian semua
anggota MOS hari itu.
“Ada apa?” ujarku dengan nada sedikit kesal
sebelum menyadari apa yang terjadi dan aku sangat malu
padahal selama hidupku aku berusaha bersembunyi tanpa
menimbulkan masalah namun kali ini sepertinya akulah
yang telah memulai masalah, aku tidak tahu apa yang
akan terjadi ke depan. Apakah aku sanggup melewati
masa-masa SMP-ku? Mengingatnya saja membuatku ingin
memngubur diri ke dalam inti bumi, mungkin sedikit
berlebihan.
“Sayang, mengapa kau tinggalkan aku hiks… hiks…!”
“Aku mencintaimu sayang, kumohon jangan tinggalkan
aku hu… hu… hu…!”
“Bagaimana aku menjalani hidup tanpamu di sisiku
huaaa…!” Aku meraung-raung seperti orang gila dan
menjadi bahan tertawaan, akting ditinggalkan kekasih
bahkkan aku tidak memiliki pasangan untuk menjadi
lawan main, lucu sekali. Setidaknya mereka menyediakan
seorang laki-laki untuk kulampiaskan saat itu bukannya
meraung-raung akting sendirian bahkan telingaku saja
rasanya mau tuli mendengar teriakan dari mulutku
B u n g a R a m p a i | 113
sendiri.
Aku berharap apa yang terjadi waktu itu tak ada yang
mengingatnya, aku harap mereka lupa ingatan dan tak
mengenaliku.
“Sial, bagaimana bisa aku bernafas selama tiga
tahun di sekolah ini setelah kejadian memalukan itu.”
desisku.
“aku benar-benar malu, ugh.”
“Araaa…!!!”
“Oh, kenapa gadis itu suka sekali berteriak.” aku
mengalihkan pandanganku dan berkacak pinggang
menyambut Kasih, dia adalah sahabatku sejak duduk di
sekolah dasar (SD).
“Kamu ini, kenapa harus berteriak?” kamu pikir aku tuli,
hah?”
“Hei, hei lihatlah ratu drama kita ini sedang kesal
rupanya.” ujarnya sesampainya di depanku, aku hanya
mendelik kesal.
“Oh ayolah, ini hari pertama kita, Ara. Kelas baru,
teman baru dan wajah-wajah tampan yang baru.”
“Bahkan aku akan jadi lelucon baru, apa Kamu
bahagia?”
“Ya, aku bahagia,” dia memelukku seraya memamerkan
senyum pepsodent.
“Wah, bagaimana bisa gadis licik sepertimu menjadi
sahabatku.”
“Takdir, Ara.”
“Takdir yang menakutkan, heh.”
“Hei, Kamu benar-benar keterlaluan,” kami tertawa
bersama. Beginilah caraku dan Kasih menjalin
persahabatan sejak bertahun-tahun lalu. Tidak ada yang
tidak saling mengetahui rahasia masing-masing, kami akan
114 |B u n g a R a m p a i
selalu terbuka jika ada masalah yang mengganggu.Aku dan
Kasih melangkah menyusuri sepanjang koridor, tidak
banyak anak-anak yang datang karena hari masih terlalu
pagi, kami sengaja janjian untuk datang lebih awal agar
dapat memilih tempat duduk yang strategis.
“Kelas kita yang mana?” tanyaku pada Kasih.
“Kelas 1C,” jawabnya.
“Aku rasa kita ada di kelas yang buruk.”
“Ya, itu sesuai dengan otak kita yang tumpul,” ujar
Kasih sambil tertawa geli.
“Menurut teman-teman saat MOS kelas 1A adalah
kelas terbaik di sekolah ini dan kelas menengah yaitu
kelas 1B dibilang pintar juga tidak dan dibilang bodoh juga
tidak artinya netral.” tambahnya.
"Berarti benar kelas kita yang terburuk,” ucapku.
“Aku rasa begitu.”
“Oh, aku menyesal.”
“Menyesal kenapa?”
“Terlahir menjadi anak yang bodoh, mengapa dulu
waktu kecil aku tidak rajin belajar,” keluhku seraya
menelungkupkan kedua tanganku ke wajah.
“Ara, kamu masih bisa diandalkan di dapur, kok,” kata
Kasih kemudian dengan nada jahil. Berpura-pura
menghibur.“Aissshhh… Kamu ini.”
Setelah berjalan sekian lama, aku dan Kasih
menemukan habitat kami maksudnya kelas 1C yang berada
paling ujung jauh dari populitas anak-anak berotak tajam.
“Akhirnya,” ujarku.Kasih yang menurutku sedikit pecicilan
terlebih dahulu mengambil tempat duduk di paling pojok
dan tentunya satu paket, “Sungguh tempat duduk yang
strategis, jauh dari jangkauan guru.”
“Kamu sangat ahli memilih tempat,” kataku pada Kasih
B u n g a R a m p a i | 115
dengan bangga yang disebut hanya tersenyum dibuat-buat
seraya mengangguk-angguk. Mungkin orang-orang mengira
kami sengaja datang pagi-pagi ke sekolah karena
menginginkan tempat duduk paling depan, salah besar.
Bagi anak-anak otak tumpul tempat duduk paling belakang
adalah suatu kebanggaan dan tempat duduk paling depan
adalah bencana sangat berbeda dengan tanggapan anak-
anak kelas terbaik dan kelas menengah yang berlomba-
lomba duduk di paling depan dan berharap menjadi
perhatian guru, mereka adalah orang-orang yang memuja
popularitas.
“Tentu saja, itu keahlianku,” ujar Kasih.
Beberapa menit kemudian anak-anak mulai
berdatangan dan memasuki kelas masing-masing begitu
juga dengan kelas 1C di hari pertama saja sudah membuat
keributan ada yang berkenalan, ada yang iseng melempar
kertas dan keributan-keributan lain sepertinya tidak ada
rasa canggung di antara mereka atau mungkin juga
mereka sudah saling kenal saat MOS.
“Lihatlah, otak mereka bahkan lebih tumpul daripada
kita?” bisik Kasih padaku, matanya memperhatikan anak-
anak sekelas.
“Mereka hanya belum dewasa,” kataku asal-
asalan.
“Memangnya Kau sendiri sudah dewasa?”
“A-ah… entahlah.” krik… krik… krik…
Tidak lama kemudian bel sekolah berbunyi
pertanda bahwa kelas akan dimulai, kegaduhan yang
terjadi beberapa waktu lalu kini mulai senyap seiring
langkah kaki wali kelas kami memasuki ruangan 1C.
Tak… tak… tak… suara dari high hell terdengar sangat
jelas di lantai. “Aku rasa wali kelas kita sama
116 |B u n g a R a m p a i
mengerikannya dengan kelas ini?” bisik Kasih lagi ini yang
kedua kalinya dia berbisik padaku.
“Mungkin,” ujarku tak berminat.
Pintu kelas terbuka. “Selamat pagi, anak-anak,”
sapa wanita setengah baya yang baru saja memasuki
ruangan. Buku-buku tebal melekat erat dalam
pelukannya. Tampang guru mereka itu tidak begitu sangar
malah terkesan ramah hanya suaranya saja yang menjadi
point. Point untuk menakut-nakuti murid yang kurang
kasih sayang dalam artian lain.
"Pagiii…!!!” anak-anak 1C ber-koor-ria membalas sapaan
wali kelas.
“Perkenalkan nama ibu Sri Muliasih, ibu memegang
kendali kelas ini alias wali kelas dan ibu akan bertemu
kalian di mapel IPA. Oke, berhubung ini hari pertama kita
gunakan untuk perkenalan. Satu-satu maju ke depan kelas
memperkenalkan diri masing-masing.”
Mataku membelalak seketika sementara Kasih
terkikik geli. “Hahaha… tampangmu kayak orang habis
modal,” mati-matian Kasih menahan tawanya. Kalau saja
tidak ada bu Sri yang berdiri mentereng bersinar-sinar
memasang tampang mengintimidasi di depan kelas
mungkin dia sudah tertawa sekeras-kerasnya. Kasih tahu
kalau aku orangnya paling ‘demam orang banyak’. Lihat
aja sekarang tampangku kocak abis sambil mengkeret
ketakutan, maju aja belum. Nyaliku sudah ciut 99,9
persen. Yang 1 persen Cuma buat nafas sama bertahan
agar tidak ambruk.
“Kita absen sesuai abjad,” kata bu Sri kemudian.
"Ara Monika, maju!”
“Damn it!” aku baru ingat kalau nama depanku
berawal dari huruf abjad pertama. Meskipun sudah
B u n g a R a m p a i | 117
dipanggil, aku tidak berani maju bahkan aku tidak
bergeser sedikitpun dari tempat duduk yang semakin
memanas. Karena pantat semakin ditekan ke bangku,
menahan emosi yang campur aduk. Rasa takut dan tidak
percaya diri adalah yang terbesar.
Ibu sri memelototi seisi kelas berusaha mencari
pemilik nama yang tak kunjung beranjak dari tempat
duduknya dan mengulang dengan keras. “Ara Monika,
maju!”
Kasih menyenggol lenganku, nyaris saja aku berteriak.
“Apaan sih…-” “Buruan maju sana. Bu sri udah manggil-
manggil sambil melotot gitu,” kata Kasih.
“Nggak mau,” bisikku bersikukuh dan tanpa kusadari
kasih menyerigai.
“Bu?!” Kasih mengacung-acungkan tangan ke atas.
Aku menatap tajam padanya namun tak digubris, jahat.
Bu sri menatap kasih. “Kamu yang namanya Ara
Monika,” katanya kemudian.
“Bukan, Bu. Tapi ini,” kasih menunjuk langsung ke
samping tepat di depan hidungku.
“Oh my god, kasih sudah gila,” umpatku dalam
hati. Kasih hanya senyam-senyum dengan wajah dibuat
sepolos mungkin.
“Nggak bakalan mati berdiri, kok,” ujarnya
berpura-pura menghibur.
“Oh, damn… damn… damn…!” aku mendengus kesal.
Dalam hatiku kesal setengah mati.
“Kamu maju sekarang,” kata bu Sri sambil menunjukku
dengan penggaris tapi aku tetap tak bergeming dengan
wajah pucat pasi bak vampire.
Setengah kesal akhirnya bu Sri menggunakan kata-
kata ancaman. “Maju sekarang atau ibu suruh kamu
118 |B u n g a R a m p a i
memperkenalkan diri di depan anak-anak satu sekolah?”
Dengan terpaksa dan dibarengi langkah terseok-seok
layaknya kuda patah kaki aku maju ke depan kelas.
Suasana mencekam terasa seperti sedang main film
horror, tidak ada yang berbicara dan tertawa melihat
tingkahku kecuali satu manusia nista yang duduk sebangku
denganku, Kasih. Dia mati-matian menahan diri agar tidak
ber-haha-ria.
“Oke, Ara bertahanlah tidak sampai digigit dan
mati. “Just sometimes” daripada mati beneran kalau
disuruh memperkenalkan diri di depan anak-anak satu
sekolah. Lebih memalukan. Cukuplah pengalaman
memperkenalkan identitasku di depan teman satu kelas
****************
16.BANYAK HANTU DI SEKOLAHKU
Karya : Muhammat Irsyad Abidin
Namaku Alex, aku sekolah di salah satu SMP
Negeri di Kotaku. Aku kelas 3 SMP, aku adalah siswa yang
aktif di Organisasi PRAMUKA, dan aku memegang jabatan
penting di PRAMUKA sebagai Sekretaris. Sahabat-
sahabatku Reva, Tio, Ranto, Aldo, Hasan, Anis, dan Lili.
Mereka bilang aku sahabat yang baik, pendengar curhat
yang baik, dewasa, suka memberi, tegas, setia kawan.
Aku sangat bersahabat dengan mereka, semenjak kelas 1
SMP kami sudah bersahabat dan nggak pernah pisah
sampai kapanpun. Itu komitmen kami. PRAMUKA
mengadakan acara penyeleksian buat PRATAMA PRAMUKA
yang baru yang biasa kita sebut LDK. Jadi, aku ngajar
adik-adik kelasku. Sahabatku yang masuk di PRAMUKA
B u n g a R a m p a i | 119
cuma Ranto dan Anis dan yang lain nggak ikutan. Suasana
kelas yang bersahabat, asik, nggak ngebosenin, rame, dan
bikin betah yang membuat aku nggak mau pergi
meninggalkan sekolah, jadi pengen SMP terus. Aku duduk
dengan Aldo, dibelakangku ada Lili dan Hasan, di depanku
ada Anis dan Reva, di depannya lagi ada Ranto dan Tio.
Kita semua suka bercanda di kelas, kita kompak banget
dan nggak pernah musuhan.PRAMUKA mengadakan acara
penyeleksian bagi para anak kelas 1 dan 2 yang yang akan
menjadi pengurus termasuk PRATAMA PRAMUKA, para
penrurus kelas 3 mengadakan rapat saat itu. Termasuk
aku salah satunya. Saat rapat, sahabatku Anis, awalnya
nggak setuju saat Adnan, PRATAMA PRAMUKA kami,
memutuskan acara LDK di sekolah, karena denger-denger
nih, di sekolah kita ternyata banyak hantunya. Tapi Adnan
nggak percaya akan hal itu. Dia tetap bersih keras mau
ngadain acara LDK di sekolah. Ranto malah ngasih ide,
lebih baik LDK di gunung.
“Justru itu malah lebih banyak hantunya kali,
Ran..,”
“ Yang bener aja kamu !!”, kata Anis.
Tapi ya emang kenyataannya juga gitu sih,
di gunung malah lebih bahaya. Jadi kita bingung mau
dimana kita ngadain acara itu. Akhirnya kita diskusiin
sama guru-guru juga. Pak Romli, dia guru sekaligus
Pembina PRAMUKA. Dia lebih setuju kalau LDK diadakan di
sekolah aja, apalagi udah dapet persetujuan dari Pak
Komar sebagai Kepala Sekolah. Jadi ya udah deh, kita
semua akhirnya mutusin untuk ngadain acara LDK di
sekolah. Hummmmm, emang bener-bener hasil rapat yang
120 |B u n g a R a m p a i
ngebetein. Kata ku dalam hati.Aku nggak nyangka,
ternyata banyak juga siswa-siswa yang antusias mau jadi
PRATAMA PRAMUKA dan Pengurus PRAMUKA.
Aku berdiri di belakang barisan antara Anis dan
Ranto dan juga Rani salah satu temen aku di kelas. Waktu
semakin cepat berlalu, Pak Romli udah memberi banyak
pengarahan dan nasihat ke semua siswa, Kepala Sekolah
dan guru-guru yang lain juga. Acara pembukaan LDK pun
berakhir, kita semua beristirahat. Aku, Anis, Ranto, Rani,
Bagus, Haris, Riski, dan Cahya beserta anak PRAMUKA
yang lain rapat di ruang PRAMUKA membuat strategi buat
nanti malam. Adnan mengutarakan, nanti malam bakalan
ada acara yang namanya “Jurit Malam” pada tengah
malam. Acara itu acara puncak dimana adik-adik kelas
kita bakal diberi tantangan. Tantangannya menurutku
sangat menyeramkan, yang bener aja, masa kita-kita
sebagai kakak kelas disuruh berada di salah satu tempat
yang gelap gitu. Salah satu tempat/pos itu harus ada 2
orang yang nungguin. Kita sebagai kakak kelas PRAMUKA
yang professional harus mau. “ Ya mau nggak mau
sebenernya, yang bener aja, masa aku harus berada di
tempat gelap gitu sih, nanti kalau ada penampakan yang
tiba-tiba dateng gimana, hhuuuuuhhhh serrreeeeemmm,
nggak mau ahhh!!” kata Anis. Dia emang penakut banget.
Adnan sebagai PRATAMA PRAMUKA dan Riski sebagai Wakil
Pratama, lagi menentukan siapa aja orang-orang yang
akan ditempatin di pos 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Semua guru
yang ikut, yaitu Pak Romli, Pak Sigit, Bu Tini, Bu Lira dan
Pak Radit ikutan nemenin jalannya rapat. Beberapa jam
telah berakhir, waktu menentukan jam 8 malam, udah
saatnya semua adik kelas makan malam. Anis dan Rani
B u n g a R a m p a i | 121
sebagai Seksi Konsumsi menyiapkan makan malam. Semua
adik kelas dikumpulin di aula dan mereka makan bersama.
Setelah makan malam berakhir, kita semua ngadain rapat
lagi, sedangkan yang lain membuat permainan sama adik-
adik kelas beserta para guru.Rapat berlangsung lagi, kali
ini rapatnya tentang nentuin dimana dan siapa aja kita
berpasangan dan membuat suatu rencana untuk tantangan
bagi adik kelas kita. Di pos 1, Adnan sama Ranto, mereka
bertempat di lantai 2, di pos 2, aku dan Rey.Oh my
God..nggak mungkin, aku sampe nggak percaya, kenapa
aku bisa dipilih sama Bagas ditempat yang itu, di lantai 2
pintu ke 28..itu kan gelap dan serem banget !!. Kataku
sambil mengelus dada. Di pos 3, ditempatin sama Chika
dan Haris. Di pos 4, ada Cahya sama Sinta, mereka
nempatin ruangan deket pos satpam, pos 5 ada Nindy
sama Asep, mereka di aula. Yang di pos 6, ada Anis sama
Riski, di lantai dasar sekolah, dan terakhir ada Dio dan
Ratna, mereka nempatin pos terakhir yaitu pos 7, di
tengah-tengah lapangan basket sekolah kita.
Adnan bilang, “Teman-teman, kalian masing-
masing pos harus punya tantangan yang nanti bakal
dikasih ke adik kelas kita. Mereka satu persatu jalan dari
pos 1 sampai pos 7, kalian harus galak, tegas, dan buat
mereka takut. Tenang aja, saya udah minta izin sama
semua guru, kita boleh melakukan hal itu sama adik kelas
kita, asal masih dibatas kewajaran, setuju semuanya??!!!”
.Semua menjawab, “ SETUJUUUUUUUUU!!!”.Tapi
jujur, sebenernya aku nggak, karena aku nggak bisa galak
sama orang. Rapat ditutup, kita semua buat barisan
melingkar, berdoa menurut agama dan kepercayaan
masing-masing agar semua selamat dan nggak terjadi
122 |B u n g a R a m p a i
apapun yang kita nggak harapkan. Berdoa selesai, semua
berpencar, masing-masing menuju ke pos yang udah
disuruh sama Bagas waktu rapat. Termasuk aku, sama Rey
menuju pos 2 di lantai 2 pintu 28.
“ Rey, gelap banget disini, nggak bisa apa
lampunya dinyalain aja?”, kataku sambil ketakutan
megang leher karena berinding. “ Ya nggak bisa lah Lex,
inget, kita tuh lagi LDK.
Kita mau ngerjain adik-adik kelas kita, masa
lampunya mau dinyalain, gimana bisa serem ntar
suasananya nggak asik dong..!!”, kata
Rey.Gila…suasananya bener-bener sunyi, sepi, gelap. Aku
nggak tau apa yang dilakukan temen-temen PRAMUKA
yang lain. Mereka buat rencana apa untuk adik-adik kelas.
Tapi aku dan Rey udah buat rencana yang cukup bagus
untuk adik kelas yang akan ke pos kita. Setelah satu jam
setengah kita duduk berdua di depan kelas pintu 28 lantai
2, tiba-tiba ada yang datang, Firman, anak kelas 1. Dia
datang dengan bawa satu batang lilin sendirian, awalnya
aku takut, aku pikir itu adalah lilin yang melayang sendiri,
pas ngedeket, ternyata itu si Firman.
“ Sebutin nama, kelas,ukuran sepatu, makanan
kesukaan terus udah gitu push-up 10 kali !!!”, kata Rey.
Firman langsung simpen lilinnya di lantai, dia
langsung ngelakuin apa yang Rey suruh. Kasian sebenernya
disiksa gitu, tapi ya mau gimana lagi, emang harusnya
begitu. Setelah Firman selesai push-up, dia berdiri lagi
sambil menunggu hal apa yang bakal dia dapetin dari aku
dan Rey.
B u n g a R a m p a i | 123
“ Sekarang kamu nyanyi lagu Potong Bebek Angsa
tapi semua nadanya pake ‘I’ “, kata aku ke Firman. Udah
gitu, Firman nyanyi sesuai yang aku suruh.. “piting bibik
ingsi, misik di kiwili, nini minti dinsi, dinsi impit kili, siring
kikiri, siring kikinin, lilililililili lili…”, Firman nyanyi. “
“ Sekarang kamu nyanyi lagu itu lagi tapi pake
“o”, sambil jalan menuju pos 3, yang keras ya!!!”.Firman
jalan menuju pos 3 sambil nyanyi lagu Potong Bebek Angsa
tapi pake “o”. Hahahahahahahahhahahaha, aku dan Rey
ketawa aja terbahak-bahak ngetawain si Firman, sampe
aku sakit perut.Aku nggak tau kira-kira di pos 3 si Firman
bakal diapain sama Haris dan Chika. Sambil nunggu adik
kelas yang lain datang lagi ke pos aku dan Rey, aku
mainan hp aja, aku smsan sama Rere, Virlie, dan Tria, aku
kabari mereka semua dan certain apa aja yang udah
terjadi pas LDK. Tiba-tiba, aku merasa merinding banget,
seluruh bulu kudukku berdiri, aku bingung apa yang udah
terjadi. Aku lihat ke sekitar, semua tetep sepi, gelap, dan
aku lihat Rey disampingku, dia malah asik aja bermain HP.
Pintu 28 letaknya deket banget sama kamar mandi. Aku
nggak mau ngelihat ke arah kamar mandi itu, bener-bener
nggak mau ngelihat. Kenapa aku nggak mau lihat, karena
aku tau apa yang ada disana. Aku lihat sesuatu disana
walaupun jauh dan samar-samar. Tapi aku makin
penasaran pengen lihat, padahal hatiku berkata jangan.
Tapi rasa penasaran selalu bertanya-tanya. Ku beranikan
diri melihat kearah sana.
“Astaghfirullah!!”, kataku keras-keras. Apa yang
telah aku lihat tadi, aku lihat sosok perempuan bermuka
rata, berambut panjang, dan berbusana putih, masuk ke
124 |B u n g a R a m p a i
kamar mandi cewek. Aku langsung terkejut, aku meluk
Rey tanpa disengaja.
“Gila! Lex, kenapa sih lo? Kok tiba-tiba meluk gue,
kenapa lo Lex? Haha!!”, kata Rey. “ Aku lihat hantu
tau!!”, kataku sambil ngedorong Rey dan ngehindar dari
dia.
“ Hahh!!, yang bener aja, masa ada hantu di
sekolah, salah lihat kali lo!”, kata Rey nggak percaya.
Huft, aku bener-bener nggak habis pikir kenapa hal itu
bisa terjadi. Aku nggak nyangka aku bisa lihat yang kayak
gitu. Serem banget wujudnya, aku nggak mau lagi ikutan
yang kayak gini, aku nyesel banget udah ikutan acara
kayak gini. Setelah beberapa jam kemudian, sekitar jam 3
pagi, udah sekitar 50 orang adik kelas datang ke pos aku
dan Rey. Aku capek, lelah, letih, aku pengen banget
tiduran dan istirahat. Rey malah tidur aja, aku mutusin
untuk pergi ke pos 5, posnya Nindy dan Asep. Karena si
Rey ngebosenin banget, aku jalan sendiri menuju ruang
depan aula, karena pos 5 ada di depan aula. Aku nggak
tau kenapa, pas aku jalan, kayak ada yang ngikutin. Aku
lihat dibelakangku, nggak ada siapapun yang ngikutin, tapi
setelah aku terusin jalan lagi, kayak ada yang ngikutin
lagi. Terus dan terus dibelakangku ngikutin aku, pas aku
lihat ke belakang tarnyata… ”POCONG!!!!!!” ada pocong di
belakang aku, deket banget, bentuknya tinggi besar,
mukanya serem banget. Aku langsung lari tergesa-gesa,
aku ngedeketin Nindy dan aku peluk dia. “ Buset, Ndy,
kamu pasti nggak akan percaya apa yang aku ceritain, aku
lihat pocong tadi!!”, kata aku ke Nindy. Sama aja
ternyata, Nindy nggak percaya sama yang udah aku bilang
barusan, sama aja kayak Rey, Asep juga nggak percaya.
B u n g a R a m p a i | 125
Aku bête, kenapa sih semua nggak ada yang percaya aku,
kenapa di sekolah ini banyak hantunya.
Karena aku ngerasa takut dan ngerasa di pos 5
nggak aman, mending aku ke ruang guru aja. Setelah
beberapa lama aku istirahat dan menenangkan diri di
ruang guru, aku jadi ngerasa pengen kencing. Akhirnya
dengan terpaksa aku kencing ke kamar mandi ditemenin
sama Bu Lira karena aku takut ngelihat hantu lagi. Pas aku
udah selesai buang air kecil, aku beranjak menuju ruang
guru lagi, aku nggak mau lagi ke pos 2, biar aja Rey disana
sendiri, aku nggak mau lagi kesana. Aku jalan bersama
dengan Bu Lira, tapi, Bu Lira ganti baju. Aku bingung
kapan Bu Lira ganti bajunya. Pas aku tanya, “Bu, ko Ibu
ganti baju, tadi kan pake baju warna biru muda, kenapa
sekarang pake baju putih? Ganti bajunya kapan Bu?”,
tanyaku dengan nada sangat penasaran.Nggak aku
bayangkan, ternyata itu bukan Bu Lira, dia nengok ke
arahku, ternyata itu adalah gadis muka rata yang aku lihat
di depan kamar mandi cewek waktu aku bersama dengan
Rey tadi. “Haahhhhhh!!! Ko bisa!!!”.. aku lari dengan
kencang menuju ruang guru, aku lihat disana ada Bu Lira,
dia sedang duduk sambil minum teh hangat, dia
menggunakan baju warna biru muda dan tersenyum
padaku. Aku yakin, itu Bu lira yang asli, lalu yang dari tadi
mengantarku ke kamar mandi siapa? Apa benar dari tadi
aku ditemani ke kamar mandi bersama dengan hantu? “Oh
my Good !!”, bener-bener hal yang sangat menyeramkan
dalam hidupku, tapi aku ingin ikutan LDK kayak gini lagi.
126 |B u n g a R a m p a i
17.HITAM DAN PUTIH
Karya : Nia Triyulia Sari
Hari ini cuaca cerah,sesuai dengan ramalan
cuaca di televisi kemarin. Sambil mendengarkan lagu aku
menulis bait demi bait puisi. Oh ya,perkenalkan namaku
Nia,aku duduk dibangku kelas 2 SMP. Nama
lengkapku?mungkin kalian tidak akan
memerlukannya,karena saat memanggilku kalian hanya
akan menggunakan kata “Nia”. Akan kuceritakan kepada
kalian sebuah cerita pendek karyaku sendiri.
Bersiaplah!untuk masuk ke dalam duniaku.
‘Hai’sapa mereka,aku hanya bisa membalas
sapaan mereka sembari melambaikan tangan.Ya, mereka
adalah orang yang sama dimana merekalah orang yang
menjadi penyebab aku menuliskan cerita ini.
Sekumpulan anak-anak perempuan yang
beranggotakan 3-8 orang yang sering disebut ‘gangster’
sedang duduk-duduk didepan kelas sembari menunggu
waktu istirahat usai. Tapi ketahuilah kami bukan gangster.
Ya,setiap hari kami seperti itu,tempat yang sama,orang
yang sama. Bukan berarti dalam artian kami memilih-milih
teman, tapi memang hanya teman-teman ini yang selalu
ada disampingku. Tertawa bersama, sedih bersama,
seperti keluarga yang erat. Persahabatan yang
membuatku merasa sangat nyaman hari itu. Membuat
setiap orang akan berpikir 2 kali jika ingin meningalkan
mereka. Melindungi satu sama lain, membela satu sama
lain, mengingatkan satu sama lain, semuanya dilakukan
bersama. Kami mempercayai satu sama lain, sehingga
apapun yang kita sembunyikan mereka pasti tahu. Ya
B u n g a R a m p a i | 127
dapat dipastikan sebaik apapun kau menyembunyikannya
tetap saja, mreka pasti tahu. Sama halnya denganku.
“Aku menyukai seseorang” jawabku saat mereka
terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang
membuatku bingung
“Woah...siapa?siapa?” hanya gelengan kepalaku
yng menjawab mereka. Namun lambat laun mereka pasti
tahu, kini mereka telah benar-benar tahu.
Setiap orang pasti pernah menyukai lawan jenis
bukan? Ya, pasti. Itulah yang terjadi padaku sekarang.
Semuanya mungkin berpikir bahwa aku masih terlalu kecil
untuk memikiran itu semua, apalagi tentang cinta. TIDAK!
Saat itu bukanlah tentang cinta, tetapi tentang rasa suka.
Hari itu mungkin akan menjadi hari
yang paling mengesankan bagiku. Karena apa? karena
pada hari itu lelaki yang kusuka selama bertahun-
tahun..,juga disukai oleh temanku. Yeah,memang aku
tidak memliki hak untuk cemburu,iri,dendam. TIDAK SAMA
SEKALI! Tetapi, setidaknya dia tahu bahwa orang yang dia
sukai sekarang adalah orang yang kusukai. Bahkan dia
baru mengenalnya kali ini. Lantas, siapa yang harus
mundur?dia atau aku?
Sore itu, sekitar pukul 17.00 sesaat
setelah aku selesai menuliskan beberapa bait puisi yang
menceritakan isi hatiku sekarang. Lamunanku buyar
seketika setelah bayangan putih melewati diriku.
Hening…hanya ada aku dirumah saat itu. Mencoba
mengingat benda apa tadi, sama seperti membuat nyaliku
kian menciut. Benda tadi lebih mirip seperti setengah
badan manusia yang tertutup kain putih. Mungkin saat itu
pikiranku sedang kacau, entah masalah persahabatan,
128 |B u n g a R a m p a i
entah masalah sekolah,semuanya berkecambuk menjadi
satu.
Keesokan harinya, saat bel istirahat pertama
berbunyi “Mari ke kantin” ajak mereka. Aku tak ingin
sebenarnya pergi ke kantin, tapi perutku yang meronta-
ronta untuk makan inilah yang mendesakku ke kantin
“Ya”. Saat di kantin tiba-tiba salah satu temanku (panggil
saja Dyah) menunjuk-nunjuk seorang lelaki yang tak lain
adalah orang yang kusuka. Senyuman kecil mengukir
diwajahku untuk menghibur, bukan kata menghibur,
tetapi menambah semangat Dyah (temanku yang
menyukai orang yang kusuka). Bahkan pernah suatu hari,
saat pagi-pagi dia membahas ‘lelaki itu’, tepat saat aku
memasuki kelas “Nia,aku tadi bertemu dengannya bahkan
aku memasuki gerbang bersamaan dengannya.” hanya
senyuman kecil yang menjawab dirinya, aku tak tahu lagi
harus menjawab apa, cemburu tidak bisa, marah tidak
bisa, kecewa pun tidak bisa. Bahkan pernah dia seharian
penuh menceritakan ‘lelaki itu’ hanya dia bukan aku yang
bercerita..ya, hanya Dyah seorang.., temanku yang lain
hanya bisa melihat sambil sesekali memandang wajahku,
mengkin maksud mereka ingin memastikan bagaimana
raut wajahku sekarang, bagaimana kondisi hatiku
sekarang,aku takkan marah teman,karena dia bukan
siapa-siapaku ‘aku baik-baik saja’.
Untuk kali ini mungkin aku tak bisa
diganggu, aku hanya merenung di kamar sendirian,
mendengarkan lagu sambil membaca catatan putih berisi
bait demi bait puisi…’Galau?TIDAK!!’ aku tidak pernah
merasakan rasa itu sampai kini. Hanya yang terjadi kini
adalah aku tidak ingin diganggu..,menyendiri hanya itu
yang ada dipikiranku sekarang, hingga pada akhirnya aku
B u n g a R a m p a i | 129
memutuskan untuk membaca larik demi larik puisiku.
Menciptakan puisi adalah kegemaranku, menuangkan
kreativitas kita dalam bentuk sastra tulis yang indah. Hari
itu tidak ada yang mengubah moodku ‘berantakan’ itu
yang terjadi padaku sekarang. Tapi untunglah, ingatan
tentang teman-temanku mampu mengubah moodku
‘happy’. Aku tertawa saat mengingat mereka pernah
melontarkan kata-kata lelucon bahkan kita tertawa
meskipun tidak ada sesuatu yang berbau lucu. Aku
bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan teman,
sahabat, sekaligus keluarga seperti mereka. Sama seperti
persahabatan-persabahatan pada umumnya, banyak
cobaan, banyak rintangan, yang seakan-akan ingin
merusak persahabatan ini. Rasa egois, ingin menang
sendiri, individualis, merasa tak membutuhkan satu sama
lain. Semua cobaan datang silih berganti bak semut yang
berebut gula. Puncak diujinya persahabatan kita mungkin
saat keegoisan memenuhi diri kita masing-masing.
Keegoisan yang mampu meretakkan jantung pertahanan
persahabatan ini. Bahkan persahabatan kami pernah putus
karena perbedaan pendapat, pemaksaan kehendak, dan
sifat buruk kita sendiri, membuat hari itu sangat kacau
balau.
Sepulang sekolah, pikiranku kacau, berantakan
sangat tak ingin diganggu kubanting semua buku yang ada
di rak buku, mencari catatan putih kumpulan puisiku yang
kutaruh di rak buku tempo hari. ‘Yak’ kutemukan dia,
segera ku raih bolpoint disampingnya dan berlari menuju
kamar tempatku menuliskan semua keluh kesahku.
‘Tuhan, andaikan aku memiliki teman yang bisa ku ajak
bicara sekarang, teman yang mampu mengerti
kesedihanku sekarang’ tulisku “Aku bisa menemanimu”
130 |B u n g a R a m p a i
tampak seseorang membisikkan hal itu tepat di telingaku.
Kututup mataku rapat-rapat seketika setelah aku
menengok ke belakang. Seorang laki-laki paruh baya
dengan bibir pucat, mata yang melotot nan merah sampai-
sampai mengeluarkan darah dan meneteskannya di
tempat tidurku, wajah yang keriput dengan tangan-tangan
yang tak meyisakan daging, serta ditambah dengan
mulutnya yang keseluruhan hanyalah gigi taring.“Allahu
akbar” kubuka mataku seketika nampak langit-langit
kamar dengan suasana sejuk pagi. Jadi, itu hanya ‘MIMPI’.
Pagi itu, kujalani rutinitasku sehari-hari sampai
berada di depan gerbang. Saat itu juga aku melihat ‘lelaki
itu’ masuk ke sekolah.Aku pun berjalan dengan cepat,
berlalu didepan orang-orang yang mungkin akan berpikiran
‘Mengapa dia tergesa-gesa?’ yang aku tahu sekarang
hanyalah untuk hari ini aku tak ingin melihat wajahanya,
aku tak ingin menatap wajahnya. Aku menginjakkan
langkah pertama kakiku dikelas.
“Nia, aku tadi bertemu dengannya di depan
gerbang.”sambut Dyah. Aku tak menghiraukannya karena
aku tahu dia berbohong, mungkin karena dia ingin
dianggap, ingin diperhatikan, ingin mendapat kasih sayang
lebih dari kami semua. Sudahlah, setiap hari setiap kali
kebohongan itu terucap dari mulutnya, setiap kali itu juga
aku dan kami menjawab dengan senyuman kagum.
Saat waktu istirahat pertama usai, kulihat dia
lewat didepan kelasku, aku yang saat itu berada di dalam
kelas langsung memalingkan wajahku seketika setelah ia
lewat “Aku bisa menemanimu”. Tiba-tiba kata tersebut
terdengar lagi, ‘Darimana asalnya?mengapa setiap kali aku
merasa kacau, merasa berantakan, merasa tak berguna,
merasa serba salah suara itu pasti ada?’
B u n g a R a m p a i | 131
Duduk dan berdiam diri dikelas saat bel istirahat
kedua dibunyikan hanya itu yang ada dipikiranku saat ini.
Saat itu pikiranku melayang ‘Suka, suka, dan suka.’ Tuhan
tahu bahwa aku menyukainya. Kebanyakan dari kalian
mungkin penasaran dengan paras ‘lelaki itu’… dia mungkin
tak setampan Christiano Ronaldo, suaranya tak sebagus
Justin Bieber..ya itulah
‘Menyukai tak harus memiliki’ kata- kata itu
membungkamku saat kubaca di salah satu puisi kakakku
yang tertempel di almari kayunya. Hari itu, saat itu,
menit itu semuanya mengubahku, 4 kata yang mengubah
hidupku, 4 kata yang merusak keinginanku,4 kata yang
sangat berpengaruh.
Mungkin dengan cara itu Tuhan memberitahuku,
mengingatkanku, bahwa tak seharusnya kau memilikinya.
Kau tak sesempurna perempuan lain, kau tak secantik
perempuan lain. Ingatlah!!!
‘Jika saat kebanyakan perempuan yang menyukai
laki-laki, memiliki fakta bahwa laki-laki tersebut juga
menyukainya. Mungkin ini kisahku yang berbeda, kisahku
yang tak berujung, kisahku yang tak tahu dimana
awalnya, dan aku pun tak tahu bagaimana cara
mengakhiri ini.
Bagaimana caraku melupakan dia. Tapi setidaknya
aku bersyukur aku hanya menyukainya, tidak
mencintainya.
Tapi bagaimanapun posisi hatiku, setidaknya dia
pernah disini, didalam hatiku. Setidaknya aku masih
memiliki keluarga yang mampu menjagaku dengan
baik,yang mampu merubah diriku.
Saat sahabat yang selama ini kupercaya, yang
selama ini ada di sisiku tiba-tiba menghilang saat aku
132 |B u n g a R a m p a i
membutuhkannya. Saat tiba-tiba semua berubah 180
derajat berbanding terbalik, saat mereka yang dulu
mampu merubah sikapku yang sekarang tanpa mereka
sadari.
Saat sahabatku melontarkan kebohongan demi
kebohongan dari mulutnya membuatku hanya diam, diam,
dan diam. Menyaksikan drama kebohongan dalam hidup
ini. Bahkan aku juga tetap tersenyum saat dia
mengatakan semua kebohongan itu…kami tak ingin
hartamu, tak ingin kekayaanmu, yang kami inginkan
sekarang adalah kejujuranmu kepada kami. Sederhana
bukan?
Jika memang kejujuran itu kau anggap sederhana,
lalu kenapa tak bisa kau lakukan?
Apakah sangat sesederhana itu hingga kejujuran itu
kau remehkan???’tulisku di catatan diary berwarna hitam
yang sudah lama tak ku genggam. Disampingnya terletak
buku kumpulan puisiku berwarna putih dimanabeberapa
menit yang lalu kuletakkan disana sebelum aku
menuliskan catatan di diary ku.
“Aku bisa menemanimu” kata-kata itu yang terus
terdengar di telingaku beberapa hari ini. Sudah,tak perlu
lagi menengok kebelakang, tak perlu lagi
mendeskripsikannya, tak perlu lagi melihatnya sudah
cukup.
Hal sama yang aku pikirkan saat ini tentang lelaki
yang kusuka, tak ingin melihatnya, tak ingin mendengar
cerita tentangnya, tak ingin membicarakan dia. Biarkan
dia pergi jauh, sejauh jauhnya, bahkan aku menyesal
telah mengenalnya. Mungkin karena aku pernah
menyukaimu, saat itu Dyah menjauhiku.
PERSAHABATANKU HANCUR! Karena aku mengenalmu.
B u n g a R a m p a i | 133
Andai aku tak mengenalmu Dyah pun juga tidak akan
mengenalmu. Ini bukan sepenuhnya salahmu, tapi ini
murni kesalahanku karena aku menyukai orang sepertimu.
Tuhan, tolong bantu aku untuk melupakan dia, mugkin
tidak untuk hari ini. Tapi aku yakin aku pasti bisa
melupakannya.
***********
134 |B u n g a R a m p a i