bisa di bully.” Secara tidak sadar aku pun melamun,
hingga tiba-tiba Alan membuyarkan lamunanku dan
berkata, “Eh,Mill kamu kenapa?” aku menjawab Asher,
“E-eh gapapa kok.” Jam pertama merupakan jam
pelajaran Bu Lily. Beliau merupakan guru IPA kami.
Setelah itu, Bu Lily menjelaskan pelajaran IPA sampai bel
istirahat berbunyi.
Waktu istirahat, aku dan Alan seperti biasa pergi
ke kantin untuk membeli makanan dan aku pun sudah
selesai membayar,sedangkan Asher masih mengantri
membayar sehingga aku memutuskan untuk menunggunya
di luar keramaian kantin itu, tiba-tiba segerombolan anak
yang suka mem-bullyku di kelas datang mengampiriku
serta berkata, “Eh Mill,kamu kenapa sih deket-deket sama
Alan?Sadar diri dong kamu tu gendut banget, kok deketnya
sama cowok seganteng Alan!” Aku tidak menjawab satu
kata pun dan hanya bisa menundukkan kepala dan
segerombolan itu meninggalkanku,Alan pun datang
menghampiriku serta berkata, “Ayo Mill, kita kembali ke
kelas.” “Iya”, aku menjawabnya dengan suara pelan.
Akhirnya kita memakan makanan yang sudah kita
beli di kantindan berbincang- bincang.Ketika sedang
berbincang dengan Alan, aku memutuskan untuk
menanyakan tentang satu hal “Al,kamu kenapa kok mau
deket sama aku? kamu kan tau kalo aku itu gendut, tidak
seperti anak perempuan lain yang berbadan ideal dan
cantik” dengan lembut Alan menjawab, “Karena, kamu
sempurna apa adanya.Gendut bukanlah suatu penghalang
yang dapat membuatmu rendah diri. Lihatlah, dengan
keadaanmu seperti ini kamu memiliki pribadi yang rendah
hati, tidak seperti perempuan lain yang tidak memiliki
B u n g a R a m p a i | 51
sikap yang baik. Mungkin ada, namuntidak ada yang sebaik
dirimu.”
Aku sedikit terkejut dengan kata-kata yang
dilontarkan oleh Alan, aku tidak menyangka bahwa ia
ternyata memilih mendukungku dan memilihku. Maka aku
menjawab dan mengakui hal yang sering terjadi padaku
kepada Alan, “Sebenarnya aku sering di bully oleh
segerombolan anak-anak perempuan dikelas ini,kalau aku
mendekatimu aku akan selalu dibully,jadi lebih baik kita
menjaga jarak Al.” Alan sedikit tercengang, lalu ia
menjawab, “Hah?, jangan gitu dong udah jangan
didengerin omongan mereka.” Aku tetap berpendirian
teguh di dalam pendapatku, tetapi tetap saja aku
memikirkan hal itu.
Bel masuk pun berbunyi, selama pelajaran
berlangsung aku hanya meratapi kehidupanku yang malang
ini, bisa dikatakan aku tak terlalu memperhatikan
pelajaran yang diajarkan oleh guruku. Aku merasa
bimbang dengan keputusan yang sudah kukatakan kepada
Alan. Karena, jika aku menjaga jarak dengannya, dengan
siapa lagi aku akan berteman?
Tak terasa, bel pulang pun berbunyi.Aku bergegas
pulang. Sesampainya di rumah aku pun menangis di kamar
dan berkata kepada diriku sendiri mengapa aku dilahirkan
untuk mempunyai tubuh yang gendut. Tiba-tiba Alan pun
mengirim pesan “Mill,besok ada sesuatu yang harus aku
omongin ke kamu.” Aku hanya membaca pesan darinya
dan tidak membalasnya, maka aku segera beristirahat.
Esok harinya,aku berangkat ke sekolah dan
menemui Alan di kelas.Lalu aku bergegas menanyakan
kepada Alan perihal hal apa yang akan dibicarakannya
kepadaku.
52 |B u n g a R a m p a i
“Ada apa Al?” Alan menjawab, “Sebenarnya...”
“Apa Al?” kataku.
Alan menjawab dengan pelan, “Sebenarnya aku
suka kepadamu Mill, hal itu kurasakan sejak kita memulai
awal masa SMP ini.Aku suka kamu apa adanya karena
kamu tidak seperti anak perempuan lain,kamu lebih
rendah hati dan baik.”
Aku tak percaya dengan apa yang telah dikatakan
oleh Alan saat ini. Memang aku sudah merasakan beberapa
keanehan beberapa hari ini, tetapi hal itu tidak
membuatku berpikir bahwa Alan menyukaiku.
“Ka..ka..kaamu suka aku?” Tanyaku
“Iya Mill.”
“Jadi kita akan menjadi sahabat atau lebih dari sahabat?”
kataku.
“Aku ingin kita menjalin hubungan yang lebih
serius.”Aku ingin menekankan bahwa apa yang dikatakan
oleh Alan ini bukanlah sebuah khalayan semata, sehingga
aku bertanya padanya,
“Tapi Al, apa kau yakin dengan apa yang sudah kau
katakan?”
Dengan senyumnya yang manis Alan menjawab,
“Tentu Mill. Jadi apakah kau mau menerimaku?”
“Iya Al, aku mau.”
“Terimakasih Mill, kita akan selalu bersama ya.”
“Aku yang seharusnya berterimakasih padamu Al.”
Waktu pelajaran pun dimulai,aku sampai tak
dapat fokus dalam mendengarkan pelajaran yang
disampaikan,karena aku masih memikirkan perihal
bagaimana bisa Alan mau menerimaku dengan keadaanku
yang bertubuh gendut seperti ini. Dan aku merasa sangat
tidak percaya dengan hal ini. Padahal diluar sana masih
B u n g a R a m p a i | 53
banyak perempuan yang lebih baik dan cantik daripadaku.
Tapi, mungkin dewi fortuna sedang berpihak padaku,
sehingga aku dapat bersama dengan Alan walaupun
keadaanku yang seperti ini.Pada saat di kelas kita berdua
menjadi semakin dekat dan selalu bercengkrama serta
tertawa bersama.
Waktu pun berjalan cepat,hubungan kami berdua
berjalan baik. Hingga pada waktu ini ,aku memiliki niat
untuk kurus.Dengan dukungan Al aku berolahraga,menjaga
porsi makan, serta menerapkan pola hidup
sehat.Sehingga, seiring berjalannya waktu aku berhasil
bertubuh ideal, karena meskipun aku dulunya
gendut,masih ada orang yang mau mendukungku dalam
suka maupun duka dan selalu setia bagaimanapun
keadaanku.
Waktu terus berlalu dengan cepat, hingga akhirnya
kita sudah berada di kelas 9.Ketika hendak melanjutkan
perjalananku, tanpa sengaja aku telah mendengarkan Alan
sedang berbincang-bincang dengan segerombolan
perempuan yang biasa membullyku itu, “Bayangkan, jika
kalian semua waktu itu berada di posisi Millie dan
anggaplah Millie yang membully kalian, apa yang akan
lakukan? Apakah kalian akan bisa diam saja dan tidak
melawan?”
“Iya,kami minta maaf akan hal itu Al.” Kata
segerombolan itu dengan wajah yang tertunduk karena
mereka merasa bersalah. Al menjawab, “Tidak usah
meminta maaf kepadaku, tetapi minta maaflah langsung
kepada Millie.”
Anak-anak perempuan di kelasku yang dulu sering
membully aku sekarang mau berteman denganku dan
mereka meminta maaf, “Millie, aku minta maaf ya dulu
54 |B u n g a R a m p a i
aku sering membullymu, aku sadar bahwa gendut bukan
menjadi penghalang untuk berteman, sekarang aku bisa
membayangkan jika aku ada di posisimu waktu itu aku
juga tidak bisa berbuat apa- apa.” Sebenarnya aku sedikit
tidak rela, tetapi karena Alan mendukungku untuk
memaafkannya, sehingga dengan tulus aku memaafkan
mereka, “Iya, aku maafkan.” Akhirnya kita semua
berteman baik dan hubunganku dengan mereka berjalan
baik tanpa adanya permusuhan hingga lulus SMP.
**************
7. RAFI DAN DINDA
Karya : Tanaya Maritza Mandagi
Namaku Dinda. Umurku 17 tahun. Sekarang aku
duduk di kelas 11 atau kelas 2 SMA. Aku memiliki sahabat
laki - laki dari kecil. Dia adalah Rafi.Aku kenal Rafi sejak
kecil. Dia tinggal di dekat rumahku. Dia pun satu sekolah
denganku.Kita memang sangat dekat, saking dekatnya
teman temanku disekolah sering mengira jika aku adalah
pacarnya. Padahal kita hanya sebatas sahabat saja. Aku
sudah menganggap dia sebagai kakakku sendiri karena dia
selisih satu tahun sama aku.
Hari ini adalah hari Senin, hari yang sangat cerah
diiringi oleh kicauan burung yang menambah suasana
menjadi lebih menyenangkan. Aku menunggu Rafi di teras
rumah. Kurang lebih sudah sekitar 15 menit aku
menunggunya. Seperti itulah yang biasanya kulakukan
setiap pagi, menunggu Rafi menjemputku untuk pergi ke
sekolah bersama. 3 menit kemudian Rafi datang dengan
menggunakan motor Vario hitamnya. Dan tentu saja
B u n g a R a m p a i | 55
dengan memperlihatkan wajahnya yang sangat tampan.
“Dinn!!”panggilnya sambil melihatku dan tersenyum manis
kepadaku. “Iya iyaaa, tunggu bentar!” Lalu aku langsung
pamit pada orang tuaku. ~cuss aku dan Rafi langsung
berangkat menuju sekolah...
“Tettt tett”
Bel pulang berbunyi sangat keras. Aku tidak
langsung pulang ke rumah karena Rafi mengajakku ke
sebuah toko boneka.Aku heran mengapa Rafi
membelikanku boneka Beruang berwarna coklatdisana. Ia
juga membelikanku bunga.Setelah kita diparkiran dia
mengatakan sesuatu yang menjawab pertanyaanku yang
daritadi muncul di otakku.
“Aku mengajakmu kesini karena aku ingin ada kenang
kenangan antara aku sama kamu, karena sebentar lagi aku
lulus dan mungkin aku jarang ketemu sama kamu Din...”
aku langsung bertanya padanya,
“Ha?! Jarang ketemu? Apa maksudmu?” Lalu dia
menjawab dengan wajahnya yang terlihat sangat
sedih,”Aku akan kuliah diluar kota Dinn..” Akupun
menjawab dengan raut wajahku yang sedih, “Yahh,
berarti nanti nggak ada yang bakal beliin aku siomay pas
aku laper malem malem dongg...”Rafi langsung
menenangkan ku dengan mengajakku beli es krim dan
langsung pulang kerumah. Setelah pulang kerumah aku
sedih banget. Aku pasti kesepian banget kalo nggak ada
Rafi... Entah gimana jadinya kalo nggak ada Rafi. Rafi
selalu nemenin aku pergi kemana mana, dia adalah orang
yang selalu nasihatin aku kalo aku salah, dia selalu
menjadi orang yang bikin hari hari ku lebih menyenangkan
walaupun aku hampir setiap hari berantem sama dia. Tapi
kalo nggak ada Rafi hari – hariku jadi sepi...
56 |B u n g a R a m p a i
Hari ini adalah hari saat Rafi wisuda,aku
melihatnya ketika ia keluar dari rumahnya dengan
mengenakan kemeja berwarna putih dibalut dengan jas
warna hitam. Ya, hari ini dia terlihat sangat tampan. Aku
sampai lupa kalo itu adalah Rafi. Dia menyapaku dengan
ramah, “Hai Dinn!” Aku langsung terbangun dari lamunan
ku ketika melihat Rafi, “Ehh iya, hai Fiii! Selamat wisuda
hari ini ya Fii..”Rafi pun tersenyum,”Iya Dinn, makasih
ya.. Aku berangkat dulu ya Dinda..”Lalu aku melambaikan
tanganku padanya... Ya! Besok Rafi langsung pergi
meninggalkan ku untuk kuliah di Yogyakarta. Keesokan
harinya aku pergi ke stasiun untuk mengantar Rafi. Di sana
aku menangis di tengah keramaian stasiun, apakah aku
sangat kehilangan? Hingga meneteskan air mata yang tidak
terhingga. Entahlah, yang pasti aku sekarang sangat sedih.
Lalu Rafi pun menenangkanku dan ia pun berkata,”Dinda,
jangan menangis,aku hanya pergi kuliah saja.Jika Kau
membutuhkanku Kau bisa mengirimkan pesan atau
menelfonku... Aku janji aku akan kembali saat liburan.
Dinda Kamu mau nggak janji sama aku?”. Lalu Dinda
menjawab dengan terisak – isak,”J-janji apa Fii?”. Rafi
pun menjawab,”Tolong jaga hati buat aku Din, selama
aku nggak ada di samping Kamu... Aku sayang sama Kamu
lebih dari sahabat.” Seketika Dinda pun terbelalak, tak
percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rafi barusan.
“Fii.. Kamu serius? Jangan becanda deh ga lucu!”ucap
Dinda. “Apa si Din?? Siapa yang becanda?? Aku serius sama
Kamu. Plis ya Din janji sama aku.. Jaga hati kamu buat
aku...” ucap Rafi serius. “Oke Fi. Aku janji! Aku
sebenernya juga punya perasaan yang sama kayak
kamu..”ucap Dinda sambil mengusap pipinya yang
B u n g a R a m p a i | 57
dipenuhi oleh airmatanya. “Sungguh Din? Alhamdulillah
kalau Kamu juga punya rasa yang sama” ucap Rafi sambil
tersenyum bahagia pada Dinda. “Ya,sudah Din aku masuk
ke kereta ya Din, jaga dirimu baik baik, jangan telat
makan, sholatnya jangan lupa, kalau ada apa apa bilang
sama aku ya, dan satu lagi jangan lupa janjimu. Aku
sayang kamu Din..” ucap Rafi dengan matanya berkaca
kaca.“Oke siap Fi, aku juga sayang Kamu!! Jaga diri baik
baik Fi...”kalimat terakhir yang diucapkan Dinda untuk
Rafi sebelum Rafi berjabat tangan dengan orang tuanya.
“Ma, Pa, aku berangkat dulu ya..”pamit Rafi pada orang
tuanya sambil berjabat tangan dengan mereka. Setelah itu
Rafi pergi meninggalkan mereka...“Sudah Dinda.. Jangan
sedih begitu, tenang saja Rafi akan pulang. Sudah, ayo
kita pulang..”ajak mama Rafi padaku. “Iya Tante
Rina..”jawabku pada mama Rafi dengan nada yang sedih.
“Sudah sudah, ayo kita pulang jangan sedih gitu dong ya
Dinda!” ucap papa Rafi seraya meraih pundakmu. “Siap
Om Andi!” jawabku dengan menampilkan senyum tipis di
wajahku. Mereka memang sudah sangat dekat denganku,
aku sudah menganggap mereka seperti keluargaku sendiri.
Satu tahun kemudian, Rafi menyatakan
perasaannya padaku dan menembakku sekaligus. Aku pun
menerimanya.Setelah kami resmi berpacaran Rafi menjadi
lebih perhatian padaku, setiap hari kami telfonan,
terkadang ia pulang ketika sabtu-minggu dan kmi saling
bertukar cerita satu. Setelah menjadi pacarnya,aku sering
berpikir bahwa “Apakah Rafi tidak dekat dengan cewek
lain? Apakah dia serius denganku? Apakah dia tidak melirik
cewek lain?” Tetapi Rafi selalu meyakinkanku bahwa dia
tidak macam macam di sana dan katanya “Hatinya hanya
untukku”. Dengan mudahnya aku mempercayai kata – kata
58 |B u n g a R a m p a i
nya itu. Tak jarang pula rasa rindu menerpaku secara tiba-
tiba. Memang sulit untuk pacaran dengan jarak jauh.
Hari ini adalah wisuda SMA-ku.Aku sangat berharap
bahwa Rafi bisa dating, tapi nyatanya apa? Dia tidak
datang. Hanya orang tuaku, adikku, dan orang tua Rafi
saja yang datang. Ya, aku sangat kecewa dengan Rafi, tapi
aku tau bahwa Rafi sedang sibuk dengan kuliahnya.
Wisuda berjalan dengan lancar walaupun tidak ada Rafi.
Setelah lulus, aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta.
Kenapa tidak menyusul Rafi di Yogyakarta saja? Karena
orang tuaku memilihkanku untuk kuliah di Jakarta, jadi
aku menurut dengan kata orang tuaku saja.
Setelah menjalani 2 bulan menjadi mahasiswi,
aku tentu masih tidak lupa dengan janjiku terhadap Rafi
bahwa kami akan melepas rindu besok. Tetapi, Rafi
mengirimku sebuah pesan tadi pagi bahwa ia tidak bisa
pulang besok. Ia mengatakan bahwa ia masih banyak tugas
yang harus ia kerjakan katanya sih “Nggak bisa ditunda”
ya sudah akhirnya aku memaklumi alasannya itu. Saat hari
menjelang sore aku membuka Instagramku lalu aku
melihat Story Instragam Rafi. Dan aku pun terkejut
setelah melihat story-nya. Kenapa? Karena storynya itu
berisikan fotonya dengan seorang cewek. Aku langsung
menanyakan hal itu pada Rafi lewat Instagram. “Fi,yang di
story-mu itu siapa?” tanyaku. “Temen aku Dinn..”jawab
Rafi. “Temen doang apa lebih?” tanyaku kepo. “Temen
aja Din, ngga usah mikir yang aneh aneh deh. Aku ngga
macem-macem di sini..” jawab Rafi. “Hmm” jawabku
singkat.
Makin ke sini menurutku hubungan ku dengan Rafi
makin merenggang. Rafi mulai sibuk dengan kuliahnya
seolah dia telah melupakanku. Yang awalnya kami
B u n g a R a m p a i | 59
ketemuan satu bulan 2 kali menjadi 2 bulan sekali. Yang
biasanya kita selalu setiap hari telfonan sekarang ga
pernah bisa kalau diajak telfonan, dia juga tidak memberi
kabar padaku, pesanku saja dibalasnya 1 jam atau 2 jam
kemudian bahkan terkadang pesanku hanya di bacasaja.
Kalo ditanya, dia masih perhatian apa enggak sama aku?
Jawabanku adalah tidak. Dia saja kalau bukan akuduluan
yang mengirim pesan dia ngga bakal menghubungiku. Aku
sekarang curiga dengan perubahan sikap Rafi. Ada apa
dengannya? Apa sudah ada cewek lain di hatinya?
Karena aku sudah tidak tahan dengan sikapnya yang
seperti ini,aku memutuskan untuk janjian dengannya
untuk pulang minggu depan. Aku ingin berbincang
dengannya dan tentu saja aku ingin menanyakan apa
alasannya ia berubah menjadi Rafi yang sekarang. Kuharap
dia bisa datang dan benar saja saat ku-chat dia Rafi
menjawab bahwa memang minggu depan dia berada di
rumah. Okelah, jadi minggu depan aku akan bertemu
dengannya!
Satu minggu kemudian,seperti janjiku minggu lalu,
hari ini aku janjian dengan Rafi. Sekarang aku sudah
berada di kedai kopi yang biasa kita kunjungi tiap
bulannya. Setelah sekitar 10 menit aku menunggu,
akhirnya Rafi pun datang dengan menggunakan kaos warna
hitam dengan celana jeans-nya. Dia tampil lebih segar dan
lebih tampan hari ini. “Hai Fii!!!” panggilku saat
melihatnya berjalan ke arahku dan tersenyum manis
padaku. “Hai Dinn!!!” jawabnya dengan wajah yang
terlihat sangat bahagia. Setelah itu aku dan Rafi saling
bertukar cerita, bercanda tawa bersama, dan tentu saja
aku menanyakan banyak hal tentang perubahannya.
60 |B u n g a R a m p a i
Ketika dia kutanya kenapa dia berubah mulai dari dia
yang sering tidak bisa pulang, kalau balas pesan selalu
lama, jarang telfonan sama aku, dan juga perhatiannya
padaku ikut berubah jawaban darinya adalah...”Aku ngga
berubah Dinn, aku cuma lagi sibuk aja sama kuliahku...
Makanya aku jadi jarang buka hp,jarang kasih kabar dan
telfonan sama Kamu,dan juga jarang pulang. Maaf ya Din
kalau misal aku berubah..” jawab Rafi. “Tapi Kamu di
sana ngga main sama cewek lain kan??” tanyaku dengan
menatap wajahnya. “Ngga Dinn,percaya deh sama aku..”
jawab Rafi meyakinkan Dinda. “Okelah Fii..”Jawabku
dengan mempercayai kata-kata Rafi. Keesokan harinya
Rafi langsung kembali ke Yogyakarta.
**********************
8.RINDUKU KENANGANKU
Karya : Ghefira
Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin
sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir
danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas
di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan
sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh
dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang
menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang
sahabat, membuat hidupku lebih berarti.
Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu
semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu
membuatku semakin penasaran. “Ya sudahlah, mungkin
hanya perasaanku saja”
B u n g a R a m p a i | 61
Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas
peralatan lukisku dan mengendarai sepeda menyusuri
jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya
pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang
mulai redup.Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi
Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang
yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di
bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang
airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap
keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek
rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang
telat.Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan
sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.
“Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu? Aku
mencarimu!” Kata Diana
“Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah
pohon. Maaf, udah buatmu khawatir.”
“Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.”
“Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…!”
Kesal Diana
Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar
khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut
ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka
kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia
selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu
kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya
dunia di laut lepas.
Lintang segera membersihkan dirinya karena takut
ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak
semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang
biasanya tampak,namun kala itu hati tomboynya bisa luluh
dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi
62 |B u n g a R a m p a i
yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba
ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan
nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang
dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya,
mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat
tidur dan beristirahat.
Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang
dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi
SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh
nyata membawa ia larut dalam impian.
“Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti
lagi gambar aku kan? Kejut Lintang
“Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada
objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..
Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan
teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan
karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi
lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa
biasa dengan sikap mereka itu.
“Aku mau cerita..tapi……….”serius Lintang_
“Cerita aja…ada apa? “ menatap Lintang kebingungan
Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia
bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini
sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring
tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari
telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang
tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..
“Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)
“Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman
belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? “khawatir
Diana
“Aku sakit apa? Mana ayah?”
B u n g a R a m p a i | 63
“Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu.
Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar.
Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng,
kan kamu udah janji kemaren.”
“Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir
gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di
sampingmu..”
“Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap
rangkingku. Hhaha…”
“Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku
bisa. Hhehe”
“Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”
“Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan
kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu
juga akan ke sini. Bye !!”
“Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"
Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada
seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan
kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang
tampak murung, Diana segera menghampirinya.
“Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya
Diana heran
“Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”
“Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa
yang membuatmu sedih?” penuh heran
“Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada
kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya
nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal
aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum
pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”
“Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik
kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya.
64 |B u n g a R a m p a i
Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu
ya..”
“Thanks.. siapa namamu?”
“Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)
Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis
lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas
lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu
keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.
(Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya
berkata.
Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana
yang sedang melamun segera menghampirinya.
“Diana, kenapa kamu?”
“Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”
“Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu
seperti ini!”
“Ii..iya bu.”
“Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu
pikiranmu seperti ini?’
“Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan
sepertinya penyakitnya parah.”
“Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita
menjenguknya” ajak bu Tari
“Ibu mau menjenguknya? “
“Iya,, nggak apa-apa kan?”
“I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana
Ibu Tari adalah guru yang paling disukai banyak
siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau
memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah.
Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.
Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia
semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan
B u n g a R a m p a i | 65
pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia
mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-
sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan.
Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung
duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi
pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di
penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa
dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat
menjenguk Lintang.
Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah.
Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong
sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di
samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang
gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri,
ternyata gadis biola itu.
“Hai, belum pulang?" Sapa Diana
“Hmmn. Belum Diana’
“Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari
“Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana
“Iya, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal
Lizy”
“Ohh, namamu Lizy ya?”
“Iya, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”
“Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya
Diana. Kamu mau ikut?”
“Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai
membakarkulitnih..”ajakLizy“Hhhhaha….” Sambung Diana
Diana meletakkan sekeranjang buah yang di
bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga
jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat
ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka
66 |B u n g a R a m p a i
bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada
kumpul.
“Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy
“Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar
sambil menunduk.
Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!”
teriaknya
“Bagaimana kamu bisa di sini Zy?”
“Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan
ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”
“Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana
“A..ku, sakit Leukimia..”
Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang
berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket
Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan
dasinya..
“Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan
membuat kalian kecewa”
“Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain
basket lagi..” sahut Deva
“Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir
Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari
Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen
ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes
di pipinya. Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva
teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main
lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang
sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah
semuanya membeku.
Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka
dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera
pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa
B u n g a R a m p a i | 67
tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam
hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang.
Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik
mencari uang.
“Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang
“Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”
“Ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang
jika kondisiku stabil”
“Cepat sembuh, ya”
Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil
menulis di buku diarynya.
Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang
masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan
Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana
menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan
tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas
rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya.
Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan
dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran
melihatnya.
Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya
menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang
merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil
bernyanyi.
Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua
terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi,
sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar.
Diana membuka pembicaraan.
“Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di
sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola
ternyata… itu kamu, Lizy!”
68 |B u n g a R a m p a i
“Iya,, thanks. Aku sengaja memainkannya karena
semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan
ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di
waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat
seorang gadis sedang melukis.”
“waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada
kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian
juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali
bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu
memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti
jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”
“Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya
atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai
keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek
gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan
dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa
bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.”
Diana tak ingin membuat hati teman-temannya
terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di
hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis
simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva
sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah
mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa.
Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu
sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.
“Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum?
Sembarangan aja duduk.” Judes Diana
“Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang
“Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.”
Sebel Diana
“Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu.
Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa
B u n g a R a m p a i | 69
dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung
kesempatan buat kalian.”
“Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai
Lizy
“Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak)
“LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva
“Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang
untuk menulis namamu ya.. hahaha
“Hhuuhh…”
Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang.
Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi
mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari
mereka selalu bersama.
Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi
yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang
tomboy dan disenangi banyak orang.
“Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia
membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?”
pertanyaan runtun dari Deva
“Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan
mau wawancara kan?” jawab Diana
“Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu
keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang
sekolah” tegas Lizy
Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam
pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa
harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone
Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang
membawa handphone, suara di seberang membawa berita
buruk.
Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka
lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis
70 |B u n g a R a m p a i
terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya
bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka
Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong
lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah.
Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun
semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga
sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva.
Menganggap mereka sebagai anaknya.
Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata
membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba
dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan
semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan
mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat
mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas
berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva
bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran
membuat ia segera membuka dan membacanya seperti
sedang lomba baca puisi.
Sahabatku impianku
Cita-citaku imajinasiku
Bukan hal yang salah memiliki mimpi
Bukan hal yang salah mempunyai tujuan
Tujuan seperti sinar
Kesana lah kita berlari
Dan untuk itulsh kita hidup
Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan
Membuat kita sulit melihat
Sehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhenti
Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri
B u n g a R a m p a i | 71
“Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena
fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah.
Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya.
“Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.
Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana
berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang
melintas di pipinya.
“Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai”
“Waahh..keren.!”
Mereka menatap terpesona lukisan yang
melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah
karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka
masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku.
Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya
sekedar untuk mengenang Lintang.
72 |B u n g a R a m p a i
9. KADO TERAKHIR UNTUK SAHABAT
Karya : Mei Safira
Lima hari sebelum kawanku pindah jauh
disana.Selepas makan siang, aku langsung kembali
beranjak ketempat aku bermain dengan sahabatku.
“Hei, kemana saja kamu?Daritadi aku nungguin” Tanya
sahabatku yang bernama Alvi.
“Tadi aku makan siang dulu” jawabku sambil menahan
perut yang penuh dengan makan siang “Ah ya sudah, ayo
kita lanjutkan saja mainnya” sahut Alvi.
Tidak lama saat aku dan Alvi sedang asyik bermain
congklak, Rafid adiknya Alvi 73ias73a menghampiri kami
berdua.
“Kak, aku mau bilang” kata Rafid
“Bilang apa?” sahut Alvi penasaran
“Kata bapak, sebentar lagi kita pindahan” jawab Rafid
“Hah? Pindah kemana?” tanyaku memotong pembicaraan
mereka
“Ke Bengkulu” jawab Rafid dengan singkatnya “Ya udah
kak, ayo disuruh pulang sama ibu disuruh makan siang
dulu” ajak Rafid ke Alvi
“Iya deh… ehm.. Alma, aku pulang dulu ya aku mau
makan siang” ujar Alvi
“Eh, iya deh aku juga mau pulang kalau gitu” sahutku tak
mau kalah
Sesampainya dirumah aku langsung masuk ke
dalam kamar dan entah kenapa perkataan Rafid yang
belum pasti tersebut, terlintas kembali di
pikiranku.“Andai perkataan tersebut benar, tak terbayang
bagaimana perasaanku nanti.”Ujarku pada cermin yang
menatapku datar “Sudahlah daripada aku memikirkan
B u n g a R a m p a i | 73
yang belum pasti lebih baik aku mendengarkan 74ias74
saja” ujarku sambil beranjak mengambil mp3.Tak lama
kemudian aku mendengar sebuah pembicaraan, yang aku
tau suaranya sudah 74ias74ante lagi bagiku yaitu orang
tuaku dan orang tua Alvi sahabatku.Aku mencoba
mendekati pintu kamar untuk mendengarkan pembicaraan
itu. Tak lama tanganku berkeringat dingin, aku sudah
mendapatkan inti pembicaraan ternyata benar apa yang
dikatakan Rafid kepada Alvi tadi siang bahwa mereka akan
pindah kurang lebih sebulan lagi.
Lemas sudah tubuhku setelah mendengar kabar itu,
tiba-tiba ibu mengetuk kamarku dan mengagetkanku yang
sedang bingung itu.
Tok tok tok…
“Alma, kamu mengunci pintu kamarmu ya?” Tanya ibu
sambil mencoba membuka pintu
“Engga kok” jawabku dengan lemasnya “Kamu
kenapa..ayoo buka kamarmu!!” teriak ibu
“Iya… sebentar” sahutku sambil membuka pintu.
“Ngapain kamu mengunci kamar?” Tanya ibu.
“Nggak kenapa-napa… tadi aku memang lagi duduk di
depan pintu” jawabku sambil menoleh ke ruang tamu yang
berhadapan dengan kamar tidurku.
“Ya sudah, tadi orang tuanya Alvi bilang kalau mereka
ingin pindah bulan depan”
“Iya aku sudah tau” sahutku kembali ke kamar tidur.
“Oh kamu tidak sedih kan?” Tanya ibu yang
menghampiriku.
“…” tak kujawab pertanyaan ibu.
“Hm.. sudahlah tak usah dibahas dulu.. sana tidur siang
dulu biar nanti malam 74ias mengerjakan PR” ujar ibu
sembari mengelus-elus rambutku.
74 |B u n g a R a m p a i
“Iya..” jawabku singkat.
Esoknya tepat di hari Minggu, matahari pagi
menyambutku. Suara ayam berkokok dan jam beker
menjadi satu. Sampai sampai ibukku menyuruhku untuk
tidakbermalas malasan.
“Alma, ayoo bangun..perempuan ngga baik bangun
kesiangan” ujar ibu sambil melipat selimutku.
“Sebentar dulu lah.. aku masih ngantuk.” Sahutku sambil
menarik selimut ditangan ibu.
“Itu Alvi ngajak kamu main.. ayoo bangunn!!” ujar ibu
kembali sambil menggeleng gelengkan kepala.
“Oh oke oke” sahutku semangat karena ingat bahwa Alvi
akan pindah satu bulan lagi. Lalu, aku langsung beranjak
dan segera lari keluar kamar tidur untuk madi dan
sarapan. Setelah itu Alvi tiba-tiba menghampiri rumahku
“Assalamu’alaikum, Alma!!” panggil Alvi dari depan
rumah.
“Waalaikumsallam iyaaa!!” sahut ibuku yang beranjak
keluar rumah.
“Oh ibunya Alma, ada Alma nya ngga?” Tanya Alvi.
“Alma nya lagi sarapan, sebentar ya tunggu dulu aja. Sini
masuk.” Jawab ibuku.
“Iya terima kasih.” Sahut Alvi
Ketika aku sedamg asyik asyiknya sarapan , Alvi
mengagetkanku. “Alma, makan terus kau ini” ujar Alvi
sambil tertawa.
“Yee, ngagetin saja kamu ini. Aku laper tau” sahutku
sambil melanjutkan sarapan.
“Kok gak bagi-bagi aku sih” Tanya Alvi sambil menyengir
kuda.
“Kamu mau, nih aku ambilin ya” jawabku sambil
mengambil piring.
B u n g a R a m p a i | 75
“Hahaha… tidak aku sudah makan, kau saja sana gendut”
sahut Alvi sambil tertawa terbahak bahak.
“Ya sudah.” Jawabku kembali sambil membuang
muka.Tak berapa lama kemudian, sarapanku habis lalu
Alvi mengajakku bermain games.
“Sudah kan, ayoo main sekarang” ajak Alvi semangat.
“Aduh, sebentar ding. Perutku penuh sekali ini” sahutku
lemas karena kebanyakan makan.
“ Ah ayolahh, makanya jangan makan banyak-banyak.
Kalau gitu kapan mau dietnya” ujar Alvi menyindirku.
“ Ya sudah ya sudah.. ayoo mau main apa?” ajakku masih
malas.
“Sobat yuk tempur- tempuran” jawab Alvi semangat
seperti pahlawan jaman dulu.
“Hah, okedeh” sahutku sambil menyalakan laptop milik
ayah.
Kemudian, aku dan Alvi bermain games kesukaan
kami berdua. Kami bermain bergantian, besar besaran
skor, dll tidak berapa lama ibunya Akvi memanggilnya
untuk pulang.
“Assalamu’alaikum ada Alviny ngga?”Tanya ibunya Alvi
sambil tersenyum demganku.
“Ada-ada.. Alvi! Ibumu mencarimu” kataku pada Alvi yang
sedang asyik bermain.
“Iya… sebentar lagi, emangnya kenapa?” Tanya Alvi.
“Aku tidak tau, sana pulang dulu. Kasian ibumu” ujarku
sambilnmematikan permainan.
“Huh… iya iya” sahut Alvi beranjak pulang kerumahnya.
Tak berapa lama, Alvi mengagtkanku saat aku
sedang asyik melanjutkan permainan yang sedang aku
mainkan.
“Alma!!” panggil Alvi sambil menepuk pundakku.
76 |B u n g a R a m p a i
“Apa?” jawabku kaget.
“Aku oengen bilang sesuatu nih, hentikan dulu mainnya”
ujar Alvi.
“Iya!!” jawabku agak kesal.
“Jadi gini.. dengarkan ya.. ternyata aku akan pindah 3
hari lagi” cerita Alvi.
“Hah? Kok dipercepat??” sahutku memotong pembicaraan
Alvi.
“Aku juga tidak tau, kau sudah memotong pembicaraanku
saja. Sudah ya aku harus pulang ini..bye!” ujar Alvi
beranjak keluar rumah.
“Tunggu Kau serius??” tanyaku dengan penuh ketidak
percayaan.
“Serius… dua rius malahan” jawab Alvi sambil memakai
sandal.
“Oh oke.. bye!!” sahutku kembali.
Setelah Alvi pulang kerumahnya, aku langsung kari
ke dalam kamar dam mengunci diri. Aku tidak tau apayang
harus ku lakukan sedangakan sahabatku sendiri ingin
pindahan. Terlintas di pikiranku untuk memberikan Alvi
sahabatku sebuah kadonyang mungkin isinya 77ias Alvi
mengingat persahabatan antara kita selamanya walaupun
sampai akhir hayat nanti kita tak akan dipertemukan lagi.
Ku ambil buku diary dan kutuliskan cerita-cerita
persabatanku dengan Alvi. Tak lama kemudian terpikirkan
suatu hadiah yang akan ku kasih di hari dia pindahan
nanti. Lalu aku ambil uang simpanan yang ku simpan di
dompetku 77ias77a 77ias77-pikir uangnya cukup untuk
memberikan hadiah untuk Alvi.
Besoknya sehabis pulang sekolah, aku langsung
berlari menuju 77ias sepstu dekat rumahku.Ku lihat-lihat
B u n g a R a m p a i | 77
seoatu yang cukup menarik perhatianku, tiba-tiba ada
seorang bapak-bapak yang menghampiriku.
“Hai nak, kamu mencari sepatu apa?” Tanya seorang
bapak yang menurutku pemilik 78ias sepatu tersebut.
“I.. iya pak, maaf ada sepatu futsal tidak?” tanyaku
sambil celingak celinguk ke segala rak sepatu.
“Oh, ada kok banyak.. untuk apa? Kok perempuan nyari
sepatu futsal?”Tanya pemilik 78ias sepatu itu sambil
tertawa melihatku yang masih polos.
“Bukan untukku pak, tapi untuk sahabatku” jawabku
dengan polosnya.
“Teman yang baik ya, memangnya temanmu mau ulang
tahun?” Tanya pemilik 78ias itu.Entah kapan pemilik 78ias
itu berhenti bertanyaku.
“Iya” jawabku bohong karenatak mau ditanya-tanya lagi.
“Ok, sebentar ya. Bapak ambilkan dulu sepatu yang bagus
untuk sahabatmu” ujar pemilik 78ias sepatu itu sambil
berjalan sambil berjalan ke sebuah rak sepatu.
“Sip, Pak” sahutku.
Besoknya disekolah, aku sering bengong sendiri
sampai-sampai guruku bertanya kenapa aku seperti itu. Ku
jawab saja dengan jawaban yang singkat karena aku sedag
memikirkan bahwa besoklah dimana aku akan berpisah
dengan sahabatku sendiri. Sepulang sekolah, aku langsung
berlari memasuki kamar lagi, mengurung diri hingga
malam.Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku
78ias78a intip lewat jendela kamar.Tak lama kemudian
juga ibu memanggilku untuk keluar kamar sebentar.
“Alma, ayoo keluar sebentar. Ada Alvi nih.” Ajak ibu
sambil membuka pintu kamarku
“Iya….” Jawabku beranjak keluar kamar
78 |B u n g a R a m p a i
“Nah kamu sudah disini, jadi begini besok kan Alvi mau
pindah ayoo berpamitan dulu” ujar ibuku
“Alma!!”peluk ibunya Alvi kepadaku.
“Maafin tante sama Alvi beserta keluarga ya jika punya
salah sama kamu, 79ias79ante ada sesuatu buat kamu.”
Kata ibunya Alvi sambil memberiku sekotak coklat
“I...i..iya” sahutku tak 79ias menahan perasaan dan
sejenak ku ingat bahwa aku juga punya hadiah untuk Alvi.
“Alvi, ini ada hadiah buat kamu.Terima ya” ujarku mulai
menangis.
“Iya. Alma jangan nangis dong” jawab Alvi
“Aku…”sahutku semakin sedih
“Sudah kamu tidak usah sedih nanti suatu saat kalian
79ias ketemu kembali kok, ibu yakin” kata ibu sambil
menghapus air mata ku
“Yaudah, Alma jangan nagis ya… oh ya 79ias79ante kasih
nomor telepon tante biar nanti kalau Alma kangen sama
Alvi 79ias SMS atau telepon ya” ujar ibunya Alvi sambil
menghapus air matanya pula yang hendak menetes.
“Iya…”jawabku sambil masih menangis.
Malam pun tiba, Alvi dan keluarganya pun berpamit
dan harus segera pulang.Aku pun kembali ke tempat tidur
dan mulai menangis. Ku gigit bantal yang ada di dekatku
tak tahan aku melihat hal tadi
Esoknya, tepat di pagi hari. Suara mu]obil kijang
mengagetkanku dan bergegas aku keluar. Ku lihat Alvi dan
keluarganya sudah bersiap-siap untuk berangkat, tubuhku
mulai lemas ibu pum mengagetkanku untuk segera bersiap
siap sekolah.Sebenarnya aku ingin tidak sekolah dulu hari
itu tapi bagaimana juga pendidikan yang utama.Aku
bergegas ke sekolah tapi sebelum itu, aku berpamitan
dengan Alvi lagi.
B u n g a R a m p a i | 79
“Alvi!!” panggilku dari jauh.
“Alma!!” jawabnya sambil mendekatiku.
“Jaga dirimu baik-baik disana ya kawan, semoga banyak
teman-teman barumu disana dan jangan lupakan
aku”ujarku mulai meneteskan air mata
“Iya, kamu tenang. Kalau kamu sedih kepergianku ini
tidak akan nyaman”sahutnya sambil memberiku tissue.
“Iya… terima kasih”jawabku kembali sambil menghapus
air mata dengan tissue yang diberikan Alvi.
“Oh iya Alma, thanks ya buat kadonya itu bagus banget..
aku juga udah baca suratnya.. terima kasih banyak ya..
akan ku jaga terus kadomu” ujar Alvi menatpku
“Iya sama-sama karena mungkin itu kado terakhirku
untukmu kawan” sahutku sambil tersenyum tak
menunjukkan kesedihan lagi.
“Kau memang sahabat terbaikku selamanya”kata-kata
terakhir Alvi yang ia ucapkan padaku.
Disitulah aku berpisah dan disitulah aku harus
menempuh hidup baru, juga makna dari sebuah
persahabatan tanpa menilai kekurangan seorang sahabat.
******************
80 |B u n g a R a m p a i
10. RUMAH PETAKA
Karya : Novia Kusuma
Perkenalkan namaku Cinta, orang-orang biasa
memanggilku “Anak Setan”. Mungkin, karena kemampuan
yang aku miliki yaitu melihat hantu atau indigo. Aku
melanjutkan pendidikanku sekarang di sebuah universitas
yang ada di daerah Jogjakarta, Jawa Tengah.
Kemampuanku ini sudah menjadi turun temurun.
Mamaku adalah seorang Paranormal. Dia orang yang
berparas cantik,tinggi dan putih, namanya Reni. Ayahku
pun juga mempunyai kemampuan indigo. Dia bukan orang
yang keras, dia lemah lembut namun tegas kepada
anaknya, namanya Deni. Ya, memang satu keluarga kami
adalah indigo dan kami pun tak menghiraukan hal tersebut
karena jika kami tidak menganggu, mereka pun juga tidak
akan mengganggu.
Hingga pada suatu malam itu yang mungkin kita
tidak 81las melupakannya.10 tahun yang lalu saat aku
menginjak kelas 4 Sekolah Dasar, keluargaku berniat
pindah ke daerah Malang Jawa Timur. Kami pindah karena
Ayahku ditugaskan di daerah tersebut. Setelah berkemas,
kami pun berangkat.
Di tengah perjalanan, entah mengapa ayahku
menabrak seekor kucing hitam, mungkin ayahku
mengantuk dan tak melihat ada kucing yang sedang lewat.
Akhirnya, keluargaku pun berhenti dan mengkafani kucing
tersebut lalu menguburkannya, karena menurut mitos jika
menabrak seekor kucing lalu kucing itu mati dan tidak
menguburkannya akan terjadi hal-hal buruk yang menimpa
keluarga kita.
B u n g a R a m p a i | 81
Setelah itu, kamipun melanjutkan perjalanan.
Awalnya perjalanan ini 82las a-lancar saja. Tetapi, lama
kelamaan ada kejadian-kejadian aneh yang kita alami.
Dari ada seorang nenek-nenek di pinggir jalan yang seperti
bilang “jangan” dengan raut muka cemas, sebuah mobil
sedan di depan mobil kita yang menabrak sebuah bus,
hingga banyak hantu saat kita akan sampai di rumah yang
akan kami pindahi.
Sesaat kita sampai di rumah tersebut, kami
disambut dengan keluarga-keluarga kami yang ada di
sana. Menurutku, rumah itu besar, mewah dan megah.
“Selamat 82las a di rumah baru, Kak” Sahut Tanteku
kepada Ayahku.
“Makasih Sil. Kamu nginep disini berapa minggu?” Tanya
Ayahku
“Dua minggu-an aja deh kak, lama-lama ntar siapa yang
ngurus rumahku hehe” Jawab Tanteku.
Aku dan Mama berniat berjalan-jalan melihat
dalam rumah. Tak disangka ada sebuah ruangan yang
keluargaku pun tak tahu itu ruangan apa dan anehnya lagi,
ruangan itu tak ada kuncinya.
“Mungkin Cuma gudang, Mah” Pikirku.
Akhirnya kamipun meninggalkan ruangan tersebut
dan lanjut melihat-lihat ruangan lainnya.Keluargaku
mempunyai tradisi, yaitu jika ada salah satu keluarga ada
yang pindah, keluarga lainnya yang rumahnya dekat akan
menginap beberapa minggu ataupun bulan.
Tak lupa, esok harinya kami mengadakan
pengajian sekaligus berkenalan dengan orang-orang
disekitar. Dan entah mengapa tetangga-tetangga samping
rumah jarang ada yang 82las a.
“Ada yang gak beres dari rumah ini” Ujar mama.
82 |B u n g a R a m p a i
“Udahlah Mah, kita lanjutin pengajian dulu” Jawab
Ayah.Setelah pengajian selesai, keluargaku beres-beres
lalu istirahat dan tidur.
Sekitar jam 12 malam aku dengar Mama teriak-
teriak gak jelas, karena khawatir takut terjadi apa-apa,
akhirnya aku bergegas ke kamarnya Mama. Dan benar
dugaanku, dipojok kamar mama ada sesosok hitam besar
dan sesosok wanita cantik yang ganggu tidur Mama dan
Ayah. Aku yang gak berani ngapa-ngapain hanya 83las
baca ayat-ayat Al-Qur’an. Anehnya, mereka tak kunjung
pergi malah tertawa dan berkata “Iki omahku, ngaliho”
yang artinya “Ini rumahku, pergilah”
Mama berusaha berkomunikasi baik dengan mereka.
“Kamu kenapa ada disini? Ini rumah keluarga saya, saya
sudah pindah kemarin” Tanya Ayah ke mereka.
“Kowe salah, iki omahku” (Kamu salah, ini rumahku)
Jawab mereka
“Maaf, tapi ini rumah keluarga saya sekarang” Ujar
Mama
Akhirnya Mama membaca ayat-ayat dan mereka
pergi.Aku yang gak berani tidur sendiri akibat itu, aku
memutuskan tidur bersama Ayah dan Mama.
Esok harinya, aku sekolah di sekolahan yang baru. Seperti
biasa, aku punya teman baru.Istirahat 83las a, ada sesosok
anak kecil seumuranku duduk di sebelahku.
“Kamu anak baru ya?” Sapa anak itu
“Iya, kamu siapa?”
“ Namaku Icha. Dulu aku juga anak baru, tapi karena
sering dibully, aku depresi dan bunuh diri di sekolah ini”
Jawabnya
“Maaf ya”
“Iya tidak apa-apa. Kamu mau jadi temanku?” Sahutnya
B u n g a R a m p a i | 83
“Mauu”
Karena aku bicara dengan hantu, teman-teman
sekelas keheranan aku seperti bicara sendiri.
“Cin, kamu bicara dengan siapa?” Tanya Tika teman
baruku dengan menghampiriku.
“Ee… Enggak kok, aku Cuma latihan drama buat dirumah”
Jawabku dengan gelagapan.
“Drama?” Tanyanya
“Iya, keluargaku ngadain lomba drama gitu dirumah”
Jawabku
“Ohh.. yasudah cin lanjutin dulu aja” Ujarnya dan pergi.
Aku bermain dengan Icha layaknya seorang
manusia. Sepulang sekolah, Icha ikut
denganku.Sesampainya dirumah, Icha tidak berani masuk
ke dalam rumahku.
“Dia jahat, aku takut” Tunjuk Icha ke pohon depan
rumahku
Ternyata sosok besar hitam dan wanita cantik itu
berada di pohon tersebut. Icha pergi karena takut.
Sore berganti malam, hal-hal mistis terjadi lagi.Kali ini,
yang menjadi sasaran sosok itu adalah tante. Setelah
makan malam, tante berteriak sekencang kencangnya
sambil tertawa
“Kowe kabeh ngaliho, iki omahku, iki omahku, iki
omahku, hahahaha” (Kalian semua pergilah, ini
rumahku,ini rumahku, ini rumahku, hahahaha)
Sontak semua keluarga yang ada di rumah terkejut.
Aku, Mama, dan Ayah mendatangi Tante mencoba untuk
menenangkannya.
“Dik.. sadar dik, istighfar dek..” Teriak Mama
84 |B u n g a R a m p a i
“Iki omahku, kowe kabeh rak berhak ning kene” (Ini
rumahku, kalian semua tidak berhak ada disini) Jawab
sosok hantu itu di dalam tubuh tante,
“Mbak, mbah, pak, panjenengan sinten?” (Mbak,
nek/kek, pak, kamu siapa?) Tanya Ayah dengan baik-baik,
“Aku sing ndue omah iki, wiwit cilik aku ning kene. Kowe
ngaliho iki omahku hahahahaha” (Saya yang punya rumah
ini, dari kecil saya disini. Kalian pergilah, ini rumahku
hahahahaha) Ujarnya
“Kulo, kaleh kluarga kulo sampun pindah 85las a mriki”
(Saya dan keluarga saya sudah pindah disini) Jawab Ayah,
“Ora iso! Iki omahku leee.. duduk omahmu” (Tidak 85las!
Ini rumahku bukan rumahmu) Teriaknya
Tante berteriak-teriak seperti itu hingga 2 jam. Karena
Mama dan Ayah sudah kewalahan dengan hantu-hantu
tersebut, kami memutuskan untuk meminta bantuan
kepada kyai. Dan aku memanggil Icha untuk membantu
juga.
Tiba-tiba, tante lemas. Sepertinya hantu itu sudah
pergi dari tubuh tante. “Hahahahaha, aku seneng arek
iki” Teriak Ayah yang ternyata kerasukan sosok yang
keluar dari tubuh tante. Sosok di dalam tubuh Ayah
membuat Ayah lari ke dapur, Ayah memasukkan
tangannya ke dalam blender yang menyala. Sosok itu
membuat Ayah mengambil pisau dan menusuk-nusuk kaki
Ayah. Mama yang tak tega hanya 85las menangis,
menangis dan menangis. Aku, Mama, dan Tante seperti di
ikat keras oleh tali yang tak kelihatan. Kami tak 85las
membantu Ayah, kami tak 85las bergerak kemana-mana.
“Maafkan aku, Ayah” Teriakku sambil menangis
Ayah layaknya diseret oleh hantu tersebut. Kepala
yang di benturkan sekeras kerasnya di tembok membuat
B u n g a R a m p a i | 85
Ayah bercucuran darah dan 86las a mati. Di situ, aku,
mama dan tante hanya 86las menangis sekencang
kencangnya tak tega melihat ayah disiksa.
Sekitar 1 jam akhirnya kyai itu 86las a.
“Bismillahirrahmannirrahim….” Kyai membacakan ayat-
ayat Al-Qur’an yang akhirnya 86las melapaskan tali yang
mengikat kita,Sementara Ayah yang belum sadarkan diri
masih saja disiksa oleh sosok wanita tersebut. Aku berlari
menghampiri Ayah dan memeluknya,
“Ayahku tidak salah apa-apa! Jangan sakiti Ayahku”
Rintihku sambil bercucuran air mata,
“Kowe bayi ora eruh opo-opo! Minggato” (Kamu anak
kecil tidak tahu apa-apa! Pergilah) Aku terlempar dan tak
sadarkan diri.
Setelah aku dapat membuka mata, rumahku layaknya
kapal yang pecah. Ayah yang masih saja disiksa oleh
wanita tersebut, Tante dirasuki sosok hitam besar dan
teriak-teriak tidak jelas. Semua hancur. Kini hanya
Aku,Mama, Pak Kyai dan Icha yang dapat menolong
mereka.
Aku, Icha, Mama, dan Pak Kyai bekerja sama dan
menguak misteri yang tak pernah kita duga
sebelumnya.Aku meminta Icha bertanya mengapa,
kenapa, dan siapa sosok tersebut. Ternyata, dahulu ada
sebuah keluarga yang tinggal di rumah ini. Sekitar 20
tahun yang lalu, terjadi pembantaian yang mengakibatkan
1 orang meninggal yaitu sang istri. Dalang dari sebuah
pembantaian tersebut tak lain adalah suaminya sendiri.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia bersumpah
membenci semua keluarga yang tinggal dirumahnya
dahulu. Sosok besar hitam tersebut adalah penunggu
rumah tersebut sekaligus perempuan itu.
86 |B u n g a R a m p a i
Ayah yang 87las a setengah mati karena disiksa oleh
sosok wanita tersebut dan Tante yang luka luka karena
dirasuki sosok hitam besar langsung dibawa ke rumah sakit
terdekat. Mereka dirawat inap selama kuang lebih 3
minggu.
Akhirnya, setelah mengetahui kebenaran tersebut
kami memutuskan untuk meninggalkan rumah tersebut
setelah Ayah, Tante sembuh dan pindah ke daerah
Jogjakarta,Jawa Tengah. Kami meninggalkan rumah itu
dengan penuh kelegaan dan tak berniat untuk menjualnya
karena takut 87las an87 korban selanjutnya setelah
keluarga kami. Biarkan mereka hidup di tempatnya
sendiri, kami tak akan mengganggu.
Karena Tante masih mengalami trauma berat,
Tante memutuskan untuk ikut kami pindah.Icha menjadi
teman baikku dan ikut aku berpindah juga.Sementara
Ayah yang tak mempunyai jari tangan kiri lagi,
memutuskan untuk menutup mata batinnya karena ingin
87las bekerja dan tak mau diganggu oleh hal-hal mistis
lagi.Mama tetap menjadi paranormal dan masih
menekuninya.
Kami hidup bahagia di tempat yang baru dan
semoga saja tak ada hal-hal seperti itu yang terulang
lagi.Jujur, kami sangat trauma berat akibat kejadian 10
tahun silam itu.
Inginku menutup mata batin setelah itu, namun aku
masih memiliki Icha dan tak jadi menutup mata
batin.Menurutku, memang kami yang salah. Mengapa tak
mencari tahu sumber-sumber dari rumah itu dahulu. Andai
dahulu kami mencari tahu dulu tentang seluk beluk rumah
itu, mungkin kami tak akan ditimpa kejadian yang tak
kami inginkan.
B u n g a R a m p a i | 87
Setelah semua mengetahui bahwa aku dapat melihat
hantu, tak banyak orang yang mau berteman denganku
dengan 88las an takut terjadi apa-apa. Di Sekolah Dasar
baruku dahulu aku hanya memiliki 2 teman, melanjutkan
di SMP aku hanya memiliki 3 teman. Di SMA aku hanya
memiliki 2 teman, dan teman yang setia menemaniku
disaat apapun dan kapanpun hanyalah Icha.
Icha sosok anak kecil berparas seperti orang
belanda, cantik, putih, berambut sebahu dan memiliki
sifat yang lemah lembut. Icha adalah teman sejatiku.
Walau aku tahu kita sudah berbeda alam, aku masih
sangat menyayangi.
************
88 |B u n g a R a m p a i
11.RAJIN BELAJAR
Karya :Fanesa Ambarani
Hari Senin yang cerah setelah anak-anak upacara
bendera, mereka menuju kelasnya masing masing untuk
mendapatkan mata pelajaran dari guru. Hari ini ada mata
pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa,
dan PPKN.Mata pelajaran pertama adalah matematika. Ibu
guru memberikan tugas untuk mengerjakan halaman 5
sampai dengn 6. Suasana kelas tampak hening ketika siswa
sedang mengerjakan soal,guru memberikan bimbingn dan
nasihat. “ Anak-anak, bila tugas Kalian sudah selesai
silakan mempelajari materi perkalian dan pembagian
dengan soal cerita karena sewaktu-waktu bisa diadakan
tes mendadak.”pesan guru.” Biasakan untuk menggunakan
waktu sebaik-baiknya.” Secara serentak anak-anak
menjawabnya dengan kompak.
Dering bel berbunyi tanda pelajaran hari itu
sudah selesai, siswa diperbolehkan pulang
Tika, Dwi, dan Rima pulang bersama berjalan kaki karena
jarak rumah mereka yang tak jauh dari sekolah.
“Habis makan siang nanti kita bermain yuk. Di
rumahku ada boneka baru yang dibelikan ibuku dari
Bandung.” pinta Rima pada kedua sahabatnya.
“Asyik.” Ucap Dwi dengan penuh kegembiraan.
“Gimana, Tik, kamu bisa ikut tidak?”
“Aku tidak ikut saja. Mau belajar di rumah karena
tadi kan ibu guru berpesan untuk belajar karena siap-siap
jika ada tes dadakan.” kata Tika dengan polosnya.
Sesampai di rumah masing-masing, Tika langsung
ganti baju, makan siang, sholat, sejenk istirahat siang
B u n g a R a m p a i | 89
sebentar agar malamnya dia bisa belajar dengan tenang
dan konsentrasi. Sesekali dia bertanya kepada kakaknya
jika kurang paham dengan materi di buku.Berbeda dengan
Dwi dan Rima bermain boneka sampai larut sehingga tidak
sempat mempelajari materi. Keesokan harinnya mereka
berangkat bersama .Benar pa yang disampaikan guru di
kelas kemarin,ternyata memang ada tes mendadak. Dwi
dan Rima merasa kesulitan dalam mengerjakan soal
akhirnya mereka berdua memperoleh nilai jelek sehingga
harus mengulang tes susulan.Lain halnya dengan Tika. Dia
mendapat nilai terbaik di kelas karena dia sudah belajar
dengan rajin sesuai nasihat gurunya. Ibu guru meminta
agar Dwi dan Rima belajar dengan temannya, Tika.
“Wah, Tik, selamat ya, nilaimu 10. Besok kita ikut
belajar denganmu ya.” ucap Rima pada Tika.
Dwi,Rima ,dan Tika bersahabat sejak dulu.Mereka
saling mengingatkan bila ada kekeliruan dalam hal apa
pun.Namun setiap orang pasti mempunyai kebiasaan dan
karakter yang berbeda.Di antara mereka tidak merasa
keberataan jika diingatkan satu sama lain.Kalau Tika
memang sosok gadis yang rajin.Dia hidup dari keluarga
sederhana yang orang tuanya bekerja srabutan. Ayahnya
seorang tukang becak , sedangkan ibunya biasa menjadi
tukang cuci dari tetangga yang membutuhkan jasanya,di
samping itu membuat kue donat bila ada pesanan serta
untuk dijual dititipkan di kantin sekolah Tika.Untuk
memenuhi kebutuhan keluarganya Tika juga setiap hari
tanpa malu membantu ibunya membawa kue donat untuk
dibawa ke kantin sekolahnya. Di samping itu Tika sering
juga menawarkan kue donat itu kepada teman-temannya
lewat sosial media.
90 |B u n g a R a m p a i
Semenjak Tika mengenal sosial media mempunyai
keinginan untuk membantu ekonomi keluarnganya.Tika
mendapat hadiah HP Android dari memenangkan lomba
matematika di LBB saat promo.”Wah dengan Android ini
Inshaa Allah aku harus berubah lebih maju”
gumamnya.Tika sering membuka situs-situs yang bisa
menginspirasinya untuk bisa berbuat lebih berhaga dalam
hidupnya.Tika memanfaatkan Android untuk belajar.Tika
menyadari akan kekurangan dari keluarganya.Makaanya
Tika harus rajin belajar dalam segala hal.Semoga ke
depannya ia bisa sukses.
*********
12. DOMPET TEMUAN PENGUBAH NASIB
Karya : Revano
Menunggu adalah pekerjaan yang
menjenuhkan.Namun harus kulakukan. Berbulan-bulan
sudah aku menanti panggilan kerja. Hari-hariku hanya
berbaring di kamar tanpa tujuan hidup yang jelas. Seakan-
akan semua menjadi sangat membingungkan untuk
dijalani. Setiap malam sebelum tidur aku selalu
memikirkan tentang apa yang harus kulakukan. Pernah
terpikir untuk membuka usaha namun modal yang sama
sekali tidak ada.
Setiap hari aku selalu gelisah atas keadaanku yang
menderita ini. Aku tidak kuat untuk memendamnya
sendiri, aku ingin menceritakan ini semua kepada sahabat
baikku, Adi. Adi adalah sahabatku yang sangat baik. Dia
selalu menolongku dan memberikan saran kepadaku jika
aku mengalami kesulitan. Akhirnya aku memutuskan untuk
B u n g a R a m p a i | 91
pergi ke rumah Adi untuk menceritakan apa yang
kurasakan.
Aku berjalan menuju rumah Adi karena rumahnya
tidak terlalu jauh dan sekalian aku berolahraga lari-lari
kecil. Setelah setengah perjalanan aku melihat dari
kejauhan seperti ada kain berwarna coklat. Karena aku
penasaran, kuputuskan untuk mendekati kain tersebut dan
mengeceknya. Betapa terkejutnya aku ternyata kain yang
kulihat dari kejauhan itu adalah dompet seseorang yang
jatuh. Aku buka dompet itu, betapa melongonya aku
melihat isi dompet tersebut. Dompet tersebut berisi uang
kurang lebih Rp 1.000.000, tabungan yang isinya sangat
banyak, sebuah kartu kredit serta surat-surat penting
seperti SIM, KTP, STNK. Aku sangat tergila-gila dengan
dompet itu. Di sisi negatifku, aku memilih untuk
mengambilnya agar hidupku tak lagi menderita. Namun ,di
sisi positifku berpikiran bahwa jika aku mengambilnya
atau lebih tepatnya mencuri, mungkin hidupku akan lebih
sengsara daripada yang sekarang. Aku mulai bingung untuk
menentukan tindakan manakah yang harus aku ambil.
Akhirnya aku pun melanjutkan perjalananku menuju
rumah Adi. Aku pun berjalan tergesa-gesa karena aku
tidak sabar mendengar jawaban dari Adi.
Setelah tak lama kemudian aku berjalan dibawah
terik matahari, aku pun sampai. Dipersilahkanlah aku
untuk duduk di sofa yang sangat empuk dengan suguhan
jajan dan minuman. Di ruang tamu kami mengobrol
bersama berbagi cerita lucu. Saat sudah kehabisan cerita
keadaan pun terasa sunyi. Aku ingin menceritakan apa
yang aku rasakan kepada Adi tetapi aku benar-benar ragu
untuk menceritakannya. Karena bingung mau bagaimana
lagi, akhirnya aku bercerita kepada Adi. Adi pun hanya
92 |B u n g a R a m p a i
duduk terdiam, dia kaget karena aku baru menceritakan
sekarang bukan sejak dulu.
Tanpa menunggu dijawab, aku pun langsung
menceritakan atas temuan dompet seseorang yang jatuh
tadi. Tanpa pikir panjang Adi dengan tegas mengatakan
“kembalikan saja dompet itu kepada yang punya!”.
Akhirnya aku menuruti apa yang dikatakan Adi tadi.
“Bagaimana caraku untuk mengembalikannya jika
rumah dia saja tidak tahu.” Tanyaku dengan kepolosanku.
“Hahaha, masa gitu doang nanya.” Jawaban Adi
dengan tertawa tipis-tipis.
“Hemm… gimana ya caranya?” Karena aku masih tidak
paham kepada Adi, aku memintanya supaya meenjelaskan
yang lebih jauh.
Adi pun menjawab dengan kesal karena kepolosanku,
“caranya adalah kamu hanya perlu melihat kartu KTP
seseorang yang kehilangan dompetnya.”
Aku pun sedikit ketawa atas kepolosanku yang
membuat Adi marah.
Akhirnya aku berpamitan , untuk segera
mengembalikan dompet tersebut. Aku pulamg untuk
mengambil motor. Sebelum berangkat kucoba mencari
alamat rumah itu melalui GPS.Setelah mengetahui titik
alamat tersebut berangkatlah aku.Agak lama kumencari,
akhirnya rumah orang yang kehilangann dompetnya
berhasil kutemukan. Betapa terkejutnya aku melihat
rumah sang pemilik dompet tersebut. Rumah yang sangat
besar dan elegan membuatku melongo di depan pagar
rumahnya. Kendaraan yang berjajar sangat rapi
membuatku malu karena aku datang disitu hanya
mengendarai sepeda motor bebek.
B u n g a R a m p a i | 93
Setelah lama aku mengagumi rumah tersebut,
kutekanlah tombol bel yang ada disamping pagar tersebut.
Tak lama kemudian orang berseragam layaknya security
menghampiriku.
Dia bertanya, “ada keperluan apa kamu kesini?”
Sambil membaca kembali nama pemilik dompet
tersebut aku menjawab, “Ee.. itu Pak… apakah benar ini
rumahnya Bapak Agus?”
“Iya benar, apakah Anda ingin menemuinya?” tanya
security
Tentu saja kujawab “Iya,saya ingin menemuinya.”
Security pun menyuruhku untuk menunggu beberapa
menit untuk boleh masuk karena penjagaan disitu sangat
ketat. Security tersebut kembali dan mengizinkan untuk
bertemu dengan Bapak Agus. Aku pun masuk seperti orang
gembel yang tidak pantas untuk masuk ke rumahnya.
Setelah berjalan melewati halaman rumah itu, akhirnya
aku bertemu dengan Pak Agus.
“Apakah benar dengan pak Agus?” tanyaku untuk
memastikan.
“Iya benar, ada apa ya?” jawab Pak Agus
“Ngomong-ngomong apakah bapak kehilangan dompet
berwarna coklat?” tanyaku kepada Pak Agus.
“Hah? Kok kamu tahu kalau bapak sedang kehilangan
dompet, sejak kemarin bapak mencari dompet tersebut.”
Pak Agus menjawab dengan sangat terkejut.
“Ohh iya Pak, kemarin kebetulan waktu saya jalan,
saya menemukan dompet Bapak dan untungnya rumah
Bapak ketemu hehe” jawabku menjelaskan.
“Ini Pak dompetnya saya kembalikan, tolong dicek
apabila ada yang hilang.” Tambahku
94 |B u n g a R a m p a i
Bapak Agus pun dengan sangat senang mengecek
dompet tersebut. Setelah dicek ternyata dompetnya
masih sama dengan kondisi waktu sebelum hilang.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Nak, ternyata masih
ada orang yang jujur seperti Kamu di dunia ini.” Ucapan
syukur dan terima kasih Pak Agus yang sangat senang atas
kembalinya dompet teresebut.
“Iyaa Alhamdulillah Pak Agus, sama-sama. Hehe iya
Pak, tolong hati-hati dengan barang pribadi nya ya”
jawabanku kepada Pak Agus.
Pak Agus dengan semangat menjawab “Siapp dong
pastinyaa…”
“O,iya Kamu udah kerja ya?” tambahnya dengan
serius.
“Hemm hehe udah waktunya kerja sih Pak, cuman
udah lama ga dapet-dapet pekerjaan.” jawabku dengan
malu.
“Ohh gitu yaa, kalo gitu besok ketemu bapak yaa di
kantor Mekar Sari.” kataBapak Agus.
Aku pun bingung kenapa aku disuruh ke kantor,
akhirnya aku bertanya.
“Kalau boleh bertanya, ada kepentingan apa ya kok
saya disuruh ke kantor”
“karena Kamu belum mendapat pekerjaan, mumpung
di kantor saya masih membutuhkan karyawan jadi Kamu
akan bekerja di kantor saya.” kataPak Agus
“Ooo iya, Pakk siapp, makasih banyakk ya Pak. Nggak
saya sangka saya bisa dapet pekerjaan.” jawabku dengan
terharu.
“Hehe iyaa sama-samaa” jawab Pak Agus
Betapa senang nya aku bisa mendapatkan pekerjaan
dengan cara yang sangat mudah . Aku sangat bersyukur
B u n g a R a m p a i | 95
karena setelah sekian lama aku tidak memiliki pekerjaan
akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang setidaknya
layak untukku. Aku sangat bersemangat setiap bekerja.
Gajiku juga sudah mencukupi untuk kebutuhan pribadi.
Ternyata hal kecil yang sangat sederhana pun bisa
membuat nasibku berubah. Kita akan senang sekali jika
perbuatan yang kita lakukan baik dan sebaliknya, jika
perbuatan yang kita lakukan jelek maka di kemudian hari
kit akan mendapatkan perilaku yang tidak mengenakkan
dan membuat kita menyesal.
*******************
13. MERANTAU
Karya :Syabilla Dinda Rahmad T
Malam berlalu, kulihat awan kelabu, menemani
sepi dalam lamunanku di teras depan rumahku. Namaku
Ricky, ini sepenggal kisah yang entah berapa tahun yang
lalu, waktu itu aku kelas XI SMA, namun terpaksa aku
harus berhenti sekolah.Mengingat waktu itu keluargaku
sedang dalam keadaan krisis ekonomi, dan sudah 6 bulan
SPP belum kulunasi, terpaksa aku tak melanjutkan
sekolahku lagi. Malam itu seakan menjadi wadah untuk
aku membuang semua mimpi dan harapanku, dan
membiarkan malam itu menjadi perpisahanku dengan
semua cita-citaku sebelum akhirnya esok hari nanti
kuhadapi kenyataan itu. Tak lama kudengar langkah kaki
dari dalam rumah dan menghampiriku.“Maafkan Ayah, ini
memang sudah menjadi kenyataan, Ayah tahu Kamu
96 |B u n g a R a m p a i
mempunyai mimpi yang sangat besar, namun Ayah juga
yakin perlahan Kamu 97amp memahami semua ini!” cetus
ayahku sambil mengusap bahuku. Namun aku hanya
tersenyum sesekali aku mempunyai rasa sesal terhadap
hidup ini. “Sudah jangan terlalu dipikirkan, waktu sudah
malam cepatlah masuk kamar!” sambungnya, dan berlalu
meninggalkanku.Dalam hening aku berpikir, memang
benar kata ayahku, aku harus menerima semua ini. Dan
semangatku kembali tumbuh kala kuingat kedua adikku.
Lalu kuberpikir bagaimana untuk mereka ke depannya,
kalaulah semuanya tetap seperti ini? Aku memang harus
bertindak, mungkin di situlah pola pikirku berubah, yang
sebelumnya menyesali keadaan kini aku menjadi punya
pandangan akan arah masa depanku, dan perlahan
kusingkirkan egoku.Hari berlalu aku terus berpikir
bagaimana caranya aku melangkah dan kemana aku harus
pergi? Aku harus 97amp membantu ibu dan ayah
menghidupi adik-adikku.
Saat aku masih terlarut dalam renunganku, tiba-
tiba 97ampon seorang temanku, Deni. Ia menghampiriku,
“Apa kabar Ky?” sapanya sambil menjabat tanganku, ia
memang sudah lama tak berjumpa denganku, mengingat
ia sibuk bekerja di Jakarta. “Hai, Den! Kapan 97ampon
Kamu?” jawabku. “Tadi sore! Eh kita nongkrong yuk!” seru
Deni. “Ah, nanti lah.. belum mandi nih!” jawabku. “Uda
gak papa, yukkk!” jawabnya sambil menarik tanganku
memakasa untuk ikut dengannya. Dengan menumpangi
motornya sampailah aku di jembatan ujung desaku, dan
memang di situlah tempat kami menghabiskan waktu kala
senja. “Kamu lagi ada masalah Ky?” tanyanya. “Iya Den,
aku juga bingung, apa yang harus aku lakukan saat ini?”
jawabku. “Emang kamu, gak lanjut sekolah lagi?”
B u n g a R a m p a i | 97
sambungnya.“Aku mau kerja Den!” ujarku. Namun ia
hanya tertawa mendengar ucapanku, entah apa yang ia
pikirkan. “Kenapa ketawa Den?” sambungku.“Emangnya
Kamu mau kerja apa? Lagian di 98ampong palingan
kerjaan Cuma nyangkul, dan gak lebih bercocok tanam!”
jawabnya.“Ya aku sih, maunya kerja di Jakarta Den!
Gimana kalau aku ikut kerja di tempat kerja Kamu Den?”
seruku. Dia 98ampon diam mendengar jawabanku itu, lalu
ia mengizinkan aku ikut kerja dengannya. “98ampong98
orangtua kamu mengizinkan, kalau kamu merantau ke
Jakarta?” 98ampo dia.“Gampang itu, 98amp diatur! Tapi
kapan Kamu mau berangkat lagi ke sana?”
jawabku.“Seminggu lagi paling!” jawabnya. Akhirnya ada
jalan juga untuk semua resahku ini, setelah senja pergi
dan adzan maghrib berkumandang, kami pun bergegas
pulang.Sesampainya di rumah, aku tanyakan lagi pada ibu
dan ayahku. “Bu, nanti Ricky mau ikut Deni ke Jakarta,
boleh kan Bu?” tanyaku pada ibu, yang kebetulan ibu baru
selesai menunaikan shalat. “Apa gak sebaiknya kamu,
sabar dulu! Barangkali nanti Ayahmu dapat pinjaman dari
saudaranya, kamu kan harus lanjut sekolah lagi.”
Jawabnya.“Enggaklah Bu, pikiranku sudah bulat ingin
kerja, lagi pula kalau pun Ayah dapat pinjaman untuk
sekolahku, lalu bagaimana untuk kedepannya Bu, Ricky
gak mau bikin susah Ibu dan Ayah!” jawabku. “Ya,
sudahlah, nanti kamu bilang dulu Ayah kamu, Ibu gak
98amp izinkan kamu begitu saja, Ayahmu juga harus
tahu!” jelasnya. Aku pun menghampiri ayah 98ampon
tanyakan hal yang sama, akhirnya ayah dan ibu ku
mengizinkan aku pergi nanti dengan Deni.
Hari demi hari berlalu, tibalah saatnya aku
berangkat ke Jakarta. Kebetulan waktu itu Travel yang
98 |B u n g a R a m p a i
akan mengantarku sudah 99ampon bersama dengan Deni
di dalamnya. “Bu, Ricky pamit ya, doakan Ricky biar
betah di sana, Ricky janji kalau nanti udah kerja, pulang
dari sana Ricky bawain baju buat ibu, ayah dan adik-adik
Ricky!” ucapku menguatkan ibu. “Jaga diri kamu, baik-
baik di sana, kalau Kamu gak betah pulanglah, jangan
sampai membuat ibu khawatir ya Nak!” kata ibu dengan
berurai air mata. Dan aku pun terbawa haru menangislah
aku di pelukan ibuku. “Sudah, kasihan Deni nunggu lama
tuh, Ricky. Jaga diri Kamu di sana! Hati-hati di jalannya!”
pesaan ayahku. Akhirnya akupun melangkah meninggalkan
tempat tinggalku, meninggalkan mereka orang-orang
terkasihku. Dengan tas di bahu kumelangkah menuju
mobil di depan rumahku, yang kebetulan sudah menanti
dari tadi. Di dalam mobil masih air mata membanjiri
pipiku, kulambaikan tangan kepada ibu, sebelum akhirnya
perlahan mobil yang kutumpangi beralu meninggalkan
desaku. Delapan jam berlalu sampailah aku di Jakarta,
kota yang kata mereka kejam, bila kalau tak kenal maka
tak 99ampon, berbagai orang dari penjuru bumi ibu
pertiwi singgah di sini, tak lain untuk mengadu nasib.
Tak lama setelah kusampai di tempat temanku
Deni, hujan yang deras menyapa kedatanganku. Waktu
berlalu namun hujan hingga malam belum reda, tak lama
banjir pun melanda tempat tinggal kawanku Deni,
kebetulan Deni tinggal di kawasan 99ampong barat, di situ
memang terkenal banjir tahunannya. Seminggu berlalu
banjir tak juga surut, ku 99ampo ibu kota tak berharap
menerima kedatanganku. Rencanaku hendak ikut kerja
dengan kawanku, tapi karena banjir yang merendam ibu
kota, juga merendam 99amp tempat kerja temanku, maka
barang-barang di dalamnya ikut terendam, hingga
B u n g a R a m p a i | 99
akhirnya tak 100amp untuk dijual.Banjir surut pagi itu ada
surat 100ampon, takdir yang menimpa diriku seakan silih
berganti deritaku di sini. Surat itu berisikan bahwa
100amp elektronik tempat kawanku kerja akan ditutup
(gulung tikar) dan itu kabar buruk sekali bagiku,
bagaimana nasibku dan temanku? Kami berdua hanya
100amp merenung bingung, sesekali aku lihat surat itu
untuk meyakinkan bahwa itu surat dari kantor temanku.
Waktu terus berputar, ketika pikiran penuh keseriusan
untuk mencari solusi, di sisi lain cacing di perut tak henti
menganggu konsentrasi. Maklum kami berdua sudah dua
hari tak menyantap nasi, hanya cemilan-cemilan dan mie
instan saja, hingga kini saat perut keroncongan uang pun
tak ada, seakan membenarkan bahwa hidup di ibu kota
memang keras.Entah ke mana aku tak melihat temanku
Deni. Untuk menahan lapar aku cobalah untuk tidur,
selang beberapa menit aku tidur, datanglah Deni, dengan
membawa setenteng makanan.“Wahh!!” Sambutku ketika
melihat makanan yang dibawa Deni. Ketika sedang
menyantap makanan itu, serentak aku menghentikan
suapan nasi yang saat itu aku genggam, ketika kulirik
Deni, aku bertanya. “Hey Den.. dari mana kamu dapat
makanan ini? Bukankah uang kita sudah habis?” tanyaku.
Deni pun hanya menggelengkan kepala, seakan
menyuruhku untuk melanjutkan makan. Selesai makan aku
kembali menanyakan hal yang sama, Deni pun akhirnya
bercerita bahwa makanan yang ia dapat itu hasil iya
menjual handphone-nya. Benar-benar merasa membebani
sekali hidupku. Kalau saja kutahu Deni ingin menjual
handphone-nya untuk makan, aku pun akan menitipkannya
sepatuku, barangkali 100amp untuk membeli makan esok
hari.Deni memang kawan yang baik, ia segera bergegas
100 |B u n g a R a m p a i