The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Dalam buku "Manajemen Bisnis Halal" para pembaca akan diajak untuk memahami dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen bisnis yang berlandaskan pada nilai-nilai halal.
Di tengah perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, buku ini menjadi panduan yang sangat relevan bagi para pemilik bisnis, manajer, akademisi dan para
profesional yang ingin membangun bisnis yang sesuai dengan prinsip-prinsip kehalalan.
Buku ini tidak hanya mengulas konsep dasar tentang manajemen bisnis halal, tetapi juga membahas berbagai aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam menjalankan bisnis yang halal. Mulai dari pemahaman tentang konsep dasar halal, hingga pendampingan proses produk halal. Buku ini juga membahas tentang pentingnya sertifikasi halal,
pemasaran dan branding yang halal, serta etika bisnis yang sesuai dengan prinsip-prinsip halal.
Buku ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memberikan inspirasi dan
motivasi bagi pembaca untuk melihat peluang bisnis yang lebih luas di pasar yang semakin sadar akan kehalalan.
Dengan pembahasan yang mendalam dan berimbang, buku ini mendorong pembaca untuk memahami pentingnya integritas, kepatuhan terhadap hukum agama, dan tanggung jawab sosial dalam menjalankan bisnis. Pembaca juga akan diajak untuk mempertimbangkan dampak bisnis mereka terhadap lingkungan dan masyarakat secara keseluruhan.
Ditulis oleh para ahli dan praktisi bisnis yang berpengalaman di bidang manajemen bisnis halal, buku ini menyajikan konten yang dapat diaplikasikan dalam berbagai sektor bisnis dan skala usaha. Dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami, buku ini cocok untuk para pembaca yang tertarik dalam mengembangkan bisnis yang berkesinambungan,
menjunjung tinggi prinsip kehalalan, dan meraih keberkahan dalam bisnis mereka.
"Manajemen Bisnis Halal " adalah buku yang wajib dibaca bagi para pemilik bisnis,
manajer, dan siapa pun yang ingin memahami dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen bisnis halal. Dengan panduan praktis dan wawasan mendalam, buku ini akan membantu pembaca meraih kesuksesan yang berkelanjutan dalam bisnis mereka sambil tetap
memegang teguh prinsip-prinsip kehalalan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penamudamedia, 2023-07-17 04:05:40

MANAJEMEN BISNIS HALAL

Dalam buku "Manajemen Bisnis Halal" para pembaca akan diajak untuk memahami dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen bisnis yang berlandaskan pada nilai-nilai halal.
Di tengah perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, buku ini menjadi panduan yang sangat relevan bagi para pemilik bisnis, manajer, akademisi dan para
profesional yang ingin membangun bisnis yang sesuai dengan prinsip-prinsip kehalalan.
Buku ini tidak hanya mengulas konsep dasar tentang manajemen bisnis halal, tetapi juga membahas berbagai aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam menjalankan bisnis yang halal. Mulai dari pemahaman tentang konsep dasar halal, hingga pendampingan proses produk halal. Buku ini juga membahas tentang pentingnya sertifikasi halal,
pemasaran dan branding yang halal, serta etika bisnis yang sesuai dengan prinsip-prinsip halal.
Buku ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memberikan inspirasi dan
motivasi bagi pembaca untuk melihat peluang bisnis yang lebih luas di pasar yang semakin sadar akan kehalalan.
Dengan pembahasan yang mendalam dan berimbang, buku ini mendorong pembaca untuk memahami pentingnya integritas, kepatuhan terhadap hukum agama, dan tanggung jawab sosial dalam menjalankan bisnis. Pembaca juga akan diajak untuk mempertimbangkan dampak bisnis mereka terhadap lingkungan dan masyarakat secara keseluruhan.
Ditulis oleh para ahli dan praktisi bisnis yang berpengalaman di bidang manajemen bisnis halal, buku ini menyajikan konten yang dapat diaplikasikan dalam berbagai sektor bisnis dan skala usaha. Dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami, buku ini cocok untuk para pembaca yang tertarik dalam mengembangkan bisnis yang berkesinambungan,
menjunjung tinggi prinsip kehalalan, dan meraih keberkahan dalam bisnis mereka.
"Manajemen Bisnis Halal " adalah buku yang wajib dibaca bagi para pemilik bisnis,
manajer, dan siapa pun yang ingin memahami dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen bisnis halal. Dengan panduan praktis dan wawasan mendalam, buku ini akan membantu pembaca meraih kesuksesan yang berkelanjutan dalam bisnis mereka sambil tetap
memegang teguh prinsip-prinsip kehalalan.

Manajemen Bisnis Islam 41 4. Manfaat tidak boleh menghilangkan zat sumber manfaat 5. Manfaat harus mempunyai nilai (Mutaqawwam) 6. Manfaat harus dapat dinikmati yang menyewa (gomn[’tcl) G. Mekanisme Transaksi Samsarah (Makelar) Menurut n[’lc` ms[l’c Samsarah (brokerage) adalah suati profesi (pekerjaan) dimana pelakunya menjadi perantara antara penjual dan pembeli. Syarat Samsarah meliputi: 1. Pekerjaan simsar harus jelas (g[’fog) 2. Upah (ujrah) atau komisi yang diterima oleh simsar harus jelas (g[’fog) 3. Upah bagi samsarah tersebut tidak terlalu tinggi (ghaban fahisy) atau mengekploitir kebutuhan masyarakat 4. Samsarah yang dilakukan tidak termasuk samsarah yang diharamkan 5. Tidak boleh ada unsur samsarah ala samsarah (makelar yang memakelari makelar) H. Mekanisme Transaksi Shirkah (kerjasama usaha) Menurut n[’lc` ms[l’c syirkah adalah suatu akad antara dua pihak atau lebih yng bersepakat untuk melakukan suatu usaha atau bisnis dengan tujuan memperoleh keuntungan. Rukun syirkah antara lain: 1)Dua pihak yang berakad dengan syarat memiliki kecakapan melakukan tindakan


42 Manajemen Bisnis Islam hukum (ahliyah at-tasharruf). 2)Obek akad, mencakup pekerjaan (amal) dan atau modal (x). 3)Ijab dan Kabul. Jenis-jenis Syirkah yang pertama Syirkah Amlak, kepemilikan bersama oleh dua pihak atau lebih atas suatu barang yang diperoleh melalui salah satu sebab kepemilikan, seperti hibah, jual beli, waris dan lainnya. Kedua syirkah akad, yaitu akad antara dua pihak atau lebih dalam pekerjaan (amal) dan atau modal (mal) untuk memperoleh keuntungan. I. Mekanisme Transaksi Qardh (Pinjaman) Menurut T[’lc` Ss[l’c Pinjaman (Qardh) adalah apa-apa yang kamu berikan berupa harta mitsliyat (harta semisal) untuk dikembalikan kepadamu harga yang semisalnya pada masa yang datang. Ketentuan dalam Qardh: 1. Qardh (pinjaman) adalah harta yang diberikan kepada seseorang agar dia mengembalikan harta yang semisalnya. 2. Qardh dapat terjadi pada uang atau barang


Manajemen Bisnis Islam 43 3. Qardh terjadi pada harta yang semisal (mitsliyat) Rukun Qardh antara lain:1)Pemberi pinjaman dan peminjam, 2)Harta yang dipinjamkan, 3)Shigat (Ijab Kabul). Syarat bagi yang berhutang antara lain: 1. Pihak yang berhutang harus berniat untuk melunasi Utangnya. 2. Pihak yang berhutang mempunyai dugaan yang kuat bahwa dia mampu melunasi utangnya. 3. Utang yang dilakukan tersebut adalah utang yang ada dalam perkara ysng disyariahkan Dalam praktik keuangan Syariah pada Perbankan Syariah dan Lembaga keuangan Syariah lainnya, Qordh merupakan produk berorientasi sosial. Tujuannya memberikan solusi altenatif bagi masyarakat yang memerlukan dana dengan pengembalian tanpa ada tambahan apapun. Dana QOrdh diperoleh dari Infak atau Sadaqah dari Masyarakat.


44 Manajemen Bisnis Islam Mekanisme Pemasaran Syariah A. Pengertian Mekanisme Pemasaran Syariah Mekanisme berasal dari kata dalam bahasa Yunani mechane yang memiliki arti instrumen, mesin pengangkat beban, perangkat, peralatan untuk membuat sesuatu dan dari kata mechos yang memiliki arti sarana dan cara menjalankan sesuatu. Menurut Moenir, (2013) menyatakan bahwa, ‚M_e[hcmg_ adalah suatu rangkaian kerja sebuah alat untuk menyelesaikan sebuah masalah yang berhubungan dengan proses kerja untuk mengurangi kegagalan sehingga menghasilkan h[mcf s[ha g[emcg[f.‛ Pengertian pemasaran menurut Kotler adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya, setiap individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka


Manajemen Bisnis Islam 45 butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk dengan pihak lain (Kotler, 2021). Pemasaran syariah atau marketing syariah adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan value dari suatu inisiator kepada stakeholders, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip- prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam. Artinya bahwa dalam pemasaran syariah, seluruh proses baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai (value) tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah yang islami. Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimpangan prinsip-prinip muamalah islami tidak terjadi dalam suatu interaksi atau dalam proses suatu bisnis, maka bentuk transaksi apa pun dalam pemasaran dapat dibolehkan. (Hermawan, M. Syakir, 2006). Konsep pemasaran syariah sangat berbeda dengan pemasaran konvensional terutama terletak pada aspek epistemologi dan aksiologinya. Jika pemasaran konvensional lebih bersifat ada dorongan dari keinginan pasar sehingga orientasinya adalah pemenuhan kebutuhan dan keinginan pasar meski dengan menggunakan berbagai cara yang halal maupun tidak halal, maka pemasaran syariah lebih berorientasi pada sisi bagaimana pemenuhan dan keinginan pasar tersebut dapat dipenuhi berlandaskan pada prinsip dan etika yang luhur yang bersumber pada kaedah-kaedah berekonomi yang baik dari Al-Qur'an dan hadits. Pada fase ini pemasaran syariah berfokus terhadap penggunaan etika dan ketentuan yang lebih


46 Manajemen Bisnis Islam mengedepankan kejujuran, keadilan sosial, keseimbangan mekanisme pasar, interaksi yang baik antara produsen dan konsumen, dan lainnya. Hal ini berarti bahwa dalam pemasaran syariah, seluruh proses, baik proses penciptaan, penawaran, maupun perubahan nilai (value), tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah Islam. Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimpangan prinsip-prinsip muamalah Islami tidak terjadi dalam suatu transaksi atau dalam proses suatu bisnis, maka bentuk transaksi apapun dalam pemasaran dapat dibolehkan. Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mekanisme pemasaran syariah adalah serangkaian perangkat kerja dan disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan value dari suatu inisiator kepada stakeholders, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip- prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam yang digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan proses kerja serta interaksi satu bagian dengan bagian yang lainnya. B. Karakteristik Pemasaran Syariah Ada empat karakteristik pemasaran syariah yang dapat menjadi panduan bagi para pemasar, yaitu (Hermawan, M. Syakir, 2006): 1. Teistis (rabbaniyah) Salah satu ciri khas pemasaran syariah yang membedakan dengan pemasaran konvensional yang


Manajemen Bisnis Islam 47 dikenal selama ini adalah sifatnya yang religius (diniyyah). Dapat diartikan bahwa pemasaran syariah dibangun oleh sebuah kesadaran akan nilai-nilai ketuhanan dan religiusitas. Kedua hal ini selanjutnya mewarnai setiap aktifitas pemasaran syariah agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dapat merugikan orang lain. Jiwa seorang pemasar syariah berkeyakinan bahwa hukum hukum syariat yang teistis atau bersifat ketuhanan ini adalah hukum yang paling adil, paling sempurna, paling selaras dengan segala bentuk kebaikan, paling dapat mencegah segala bentuk kerusakan, paling mampu mewujudkan kebenaran, memusnahkan kebatilan, dan menyebarluaskan kemaslahatan. Seorang pemasar syariah akan menjadikan prinsip ini sebagai ruh aktifitasnya ketika merencanakan hingga mengaplikasikan kegiatan pemasaran syariahnya dimana dia akan bertanggungjawab atas segala tindakan, memikirkan dampak tindakan yang dilakukan, dan memastikan kebaikan dalam hal yang dilakukannya. 2. Etis (akhlaqiyyah) Berarti bahwa pemasaran syariah mengedepankan aspek etika, moral, dan budaya ke dalam seluruh aspek kehidupannya. Sifat etis ini sebenarnya merupakan turunan dari sifat teitis (rabbaniyyah) maka dari itu pemasaran syariah merupaka konsep yang sangat mengedepankan nilai-nilai moral dan etika, tidak peduli apapun agamanya. Maka seorang pemasar syariah akan senantiasa menjaga dan memelihara moral, etika, dan budaya saat berucapa, berprilaku, dan


48 Manajemen Bisnis Islam mengambil keputusan atau kebijakan sehingga tidak merugikan orang lain. 3. Realistis (al-q[kc’yyah) Dapat diartikan bahwa pemasaran syariah bukanlah konsep yang eksklusif, fanatis, anti modernitas, dan kaku. Pemasaran syariah merupakan konsep pemasaran yang fleksibel, sebagaimana keluasan dan keluwesan syariah Islamiyyah yang melandasinya. Seorang pemasar syariah bekerja dengan profesional dan mengedepankan nilai-nilai religius, kesalehan, aspek moral, dan kejujuran dalam segala aktivitas pemasarannya. 4. Humanistis (al-insaniyyah) Dapat diartikan bahwa humanistis (al-insaniyyah) adalah bahwa syariah diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat kemanusiaannya terjaga dan terpelihara, serta sifat-sifat kehewanannya dapat terkekang dengan panduan syariah. Dengan memiliki nilai humanistis Syariah marketer menjadi manusia yang terkontrol, dan seimbang (tawazun), bukan manusia yang serakah, yang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan yang Etis (akhlaqiyyah) Keistimewaan yang lain dari pemasaran syariah selain karena teitis (rabbaniyyah), juga karena syariah sebesar-besarnya. Bukan menjadi manusia yang bisa bahagia di atas penderitaan orang lain atau manusia yang hatinya kering dengan kepedulian sosial. Selain hal di atas, karakteristik pemasaran syariah terwujud pada etika-etika yang dipedomani oleh syariah marketer dalam menjalankan fungsi-fungsi pemasarannya, yaitu: memiliki kepribadian religius, berperilaku


Manajemen Bisnis Islam 49 baik dan simpatik, bersikap adil dalam bisnis; memiliki kerendahan hati dalam melayani konsumen, selalu menepati janji dalam transaksi, berprilaku jujur dan amanah, tidak mudah berburuk sangka dan menjelekkan konsumen maupun mitra bisnis, dan tidak melakukan suap menyuap. C. Prinsip Pemasaran Syariah Dalam islam peningkatan spiritualitas manusia merupakan unsur penting dari kesejahteraan manusia dan usaha apapun yang dilakukan untuk mencapai tujuan kiranya bertentangan dengan ajaran Islam akan berakhir dengan kegagalan dan kerusakan. Dalam praktiknya, mekanisme pemasaran syariah harus sesuai dengan prinsipprinsip pemasaran syariah. Prinsip-prinsip pemasaran syariah menurut Nur asnawi dan Asnan Fanani yaitu meliputi prinsip kesatuan (Tauhid), prinsip kebolehan (Ibahah), prinsip keadilan ([f’A^f), prinsip kehendak bebas (Al Hurriyah), prinsip pertanggung jawaban, prinsip kebajikan dan kejujuran, prinsip kerelaan (Ar-ridha), prinsip kemanfaatan dan prinsip haramnya riba. Prinsip tersebut diuraikan sebagai berikut: 1. Prinsip Kesatuan (tauhid) Prinsip ini adalah prinsip yang utama, kegiatan apaun yang dilakukan manusia harus didasarkan pada nilai-nilai Tauhid. Prinsip ini akan melahirkan tekad bagi pelaku bisnis atau pemasran untuk tidak berlaku diskriminasi pada semua pelaku bisnis sebagaimana QS Al-Hujurat [49]:13, tidak melakukan praktik bisnis yang terlarang karena takut akan pengawasan Allah Swt dan


50 Manajemen Bisnis Islam menghindari sifat serakah dan gemar melakukan penimbunan karena kekayaan adalah amanah Allah dan hanya milik Allah Swt. 2. Prinsip Kebolehan (Ibahah) Prinsip ini memberikan kebebasan bagi pelaku pemasaran untuk melakukan kegiatan bisnis apapun, kecuali jika terdapat dalil yang tegas melarangnya. Prinsip ini berhubungan dengan kehalalan dalam melakukan transaksi baik secara proses maupun secara objek yang ditransaksikan. Dalam prinsip ini dinamisasi kebutuhan manusia diakomodir. Manusia sebagai pelaku bisnis diberikan kebebasan dalam melakukan aktivitas bisnis dan berhubungan atara yang satu dengan yang lainnya. Namun demikian perlu diketahui bahwa apapun bentuk transaksinya pada dasarnya diperbolehkan oleh islam kecuali ada dalil syari yang secara tegas melarangnya. Dalam melarang kegiatan pemasaran ini ada beberapa hal yang harus dipedomani bagi kegiatan bisnis yang dilarang, antara lain dilarang karna barang atau zatnya sudah jelas dilarang untuk diperdagangkan, bentuk usaha yang memang dilarang dan cara-cara bisnis yang memang tegas dilarang. 3. Prinsip Keadilan (Af’A^f) Prinsip ini menekankan pada pentingnya pelaku pemasaran untuk melakukan aktivitasnya lebih mengutamakan pada kemanfaatan. Islam memberikan kebebasan dalam melakukan transaksi, tetapi nilai keadilan, aturan agama dan etika tetap harus dipegang secara kuat. Keadilan menekankan pemahaman tentang memperbolehkan sesuatu sesuai dengan halnya. Oleh karena itu, transaksi yang dilakukan untukmemenuhi rasa keadilan harus


Manajemen Bisnis Islam 51 transparan, jujur, wajar, dan tidak berlebihan. Dengan prinsip keadilan maka keseimbangan akan terwujud dan keseimbangan ini merupakan landasan dasar dalam mengembangkan harta melalui kegiatan pemasaran. Keseimbangan akan melahirkan harmonisasi dalam sirkulasi harta. Harta tidak menumpuk pada salah satu pihak saja, justru harta akan didistribusikan secara merata sesuai dengan proposisinya sehingga dapat menjadi media untuk menuju penyempurnaan jiwa (khalifatullah). 4. Prinsip Kehendak Bebas (Al-Hurriyah) Kehendak merukakan keinginan fitrah manusia. Kebebasan adalah konstribusi yang diberikan Islam kepada manusia. Berdasarkan prinsip ini manusia sebagai pelaku pemasar diberikan wewenang untuk melakukan kegiatan bisnis dengan cara melakukan janji, sehingga implikasinya adalah menepatinya maupun sisi lain yang terkadang juga mengingkarinya. Sebagaimana firman Allah Swt: (QS An-Nahl [16]: 91) yang dikutip dalam buku Pemasaran Syariah karangan Nur Asnawi dan Asnan Fanani: ‚D[h n_j[ncf[b j_ld[hdc[h ^_ha[h Aff[b [j[\cf[ eamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpahsumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Aff[b g_ha_n[boc [j[ s[ha e[go j_l\o[n.‛


52 Manajemen Bisnis Islam 5. Prinsip Pertanggung Jawaban Kebebasan mutlak adalah sangat mustahil dalam dunia ini. Dalam Islam sebuah perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak, termasuk kegiatan bisnis yang dilakukan manusia. Prinsip pertanggung jawaban ini akan merubah perhitungan dalam perspektif ekonomi dan bisnis. Hal ini dikarnakan segala sesuatu dituntut untuk terus mengacu pada prinsip keadilan. Pada tataran praktisnya pelaku bisnis harus menghitung margin secara benar, mengambil keuntungan secara wajar, memberikan upah secara benar, sistem sharing melalui alat secara sah, melarang semua transaksi yang mengandung unsur gharar, tadhlis, ihtikhar, ba‟i najasy serta praktik penipuan dan spekulasi. 6. Prinsip Kebajikan dan Kejujuran Kebenaran dalam pelaksanaan bisnis meliputi niat, sikap, prilaku proses, akad, transaksi, penetapan margin dan keuntungan. Realisasi dalam prinsip kebajikan ini mendorong para pelaku bisnis untuk bersikap terbuka dan ramah. Islam sangat menjaga dan melakukan preventif terhadap kemungkinan adanya wanprestasi dalan praktek bisnis. Al-Qol’[h menekankan dengan tegas agar praktik pemasaran tidak dilakukan dengan cara yang batil, merusak dan dzalim. Sebaliknya praktik pemasaran dituntut untuk menjunjung tinggi kejujuran. Sikap jujur merupakan aset peting dan menguntungkan secara jangka panjang bagi pelaku bisnis. Kepercayaan akan mendorong bertambahnya relasi bisnis serta mendorong bertambahnya nilai transaksi kegiatan bisnis yang pada


Manajemen Bisnis Islam 53 akhirnya akan meningkatkan profitabilitas secara kesinambungan. 7. Prinsip Kerelaan (Ar-Ridha) Prinsip ini mengedepankan pada kejelasan semua pelaku bisnis. Praktik bisnis yang ditekankan dalam Islam harus dilakukan rela sama rela tanpa adanya paksaan dan intimidasi. Kaidah sama-sama rela (antharaddin minkum) merupakan unsur penting dalam melakukan perjanjian akad (ijab dan Kabul). Prinsip kerelaan ini merupakan dasar penerimaan objek transaksi yang jelas, bersifat halal dan tidak bertantangan dengan ajaran Islam. Penerapan prinsip kerelaan diletakkan setelah prinsip kehalalan objek yang diteransaksikan telah memenuhi. Dalam aplikasinya, jika pelaku pemasaran berinteraksi atas dasar antharaddin minkum maka secara syar‟i akan sah dan berimplikasi pada ke-maslahat-an transaksi jual beli itu sendiri dan juga ke-maslahat-an pasca transaksi yang dilakukan dua belah pihak. 8. Prinsip Kemanfaatan Islam mengutamakan prinsip ini. Dengan adanya aturan yang tegas dari Allah, pastinya Allah sangat menyukai kemanfaatan dari pada kemudharat-an. Kemanfaatan akan melahirkan kesejahteraan manusia pada umumnya dan keseimbangan pada seluruh dimensi alam. Penerapan prinsip manfaat dalam kegiatan pemasaran berkaitan dengan objek transaksi bisnis. Objek yang ditransaksikan dalam bisnis tidak hanya berlabael halal tetapi juga meberikan manfaat bagi konsumen (halalal-thayiban). Jika terdapat objek transaksi yang memenuhi syarat kehalalan tetapi


54 Manajemen Bisnis Islam mendatangkan kerusakan maka juga dilarang oleh Islam. 9. Prinsip Haramnya Riba Prinsip ini merupakan salah satu implementasi dari prinsip keadilan praktik riba ini dalam aktivitas ekonomi terdapat unsur dzalim didalamnya. Artinya praktik riba ini ada pihak yang menzhalimi dan terdzalimi, persoalan riba tidak hanya menyangkut masalah ekonomi tetapi juga menyangkut moral. Oleh karena itu Islam memberikan solusi dengan menerapkan prinsip mudharabah dan musyarakah dalam menjalankan bisnis dan investasi. Dengan demikian, melalui akad yang dilaksanakan melalui mekanisme secara Islam akan memperhitungkan pula profit dan loss sharing juga. Melalui akad yang disepakati secara suka rela dari kedua belah pihak akan menerima juga ketentuan dan pembagian yang berkenaan dengan resiko kerugian dan keuntungan yang dihasilkan. D. Tujuan Pemasaran Syariah Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan pemasaran syariah adalah: 1. Menarik secara maksimal kuantitas konsumen yang bersedia menggunakan produk yang ditawarkan. Kegiatan pemasaran syariah dilakukan guna merangsang dan menarik konsumen membeli produk dan menjadi pelanggan yang terpuaskan dengan manfaat produk yang dibeli sehingga secara berulangoleh konsumen tersebut;


Manajemen Bisnis Islam 55 2. Mengoptimalkan berbagai bentuk layanan bagi konsumen. Semakin banyak variasi layanan yang diberikan maka semakin gencar kegiatan pemasaran syariah yang harus dilakukan; 3. Memenangkan persaingan dengan perusahan lain melalui ragam pilihan produk yang disediakan perusahaan. Semakin banyak pilihan pilihan produk akan membuat konsumen merasa membutuhkan dan pada akhirnya tertarik untuk menggunakan produk yang ditawarkan; 4. Membantu konsumen dalam mendapatkan berbagai kemudahan pemenuhan kebutuhan hidupnya sehingga berjalan secara efektif dan efesien. Menurut Arkam dalam buku Pemasaran Syariah kerangan Asnawi dan Asnan Fanani berpendapat bahwa pada dasarnya mempopulasikan tujuan pemasaran Islam merupakan tantangan, namun karena tujuannya baik maka apapun yang dilakukan harus selaras dengan prinsipprinsip hukum Islam. untuk itu tujuan pemasaran dalam Islam antara lain: 1. Memformulasikan dan membawa teori pemasaran menuju dunia baru sebagai bagian dari disiplin pemasaran moderen sesuai dengan ajaran Islam. 2. Implementasi pemasaran syariah harus mampu menjadi bagian dari upaya untuk mewujudkan keadilan sosial Berdasarkan hal di atas dapat dikatakan bahwa tujuan pemasaran syariah bukan semata tercapainya kepuasan konsumen saja namun juga untuk kepentingan kemajuan perusahaan. Kedua hal ini berjalan secara timbal balik,


56 Manajemen Bisnis Islam dalam arti konsumen yang merasa butuh dan puas menggunakan produk yang ditawarkan maka akan memberi dampak menguntungkan bagi perusahaan. Namun demikian, yang tidak boleh dilupakan adalah kegiatan pemasaran syariah memiliki unsur etis dan ketuhanan. Artinya, kegiatan pemasaran syariah bukan semata-mata didorong dan dilakukan untuk pencapaian kepentingan ekonomi semata yaitu mencari keuntungan sebanyakbanyaknya. Namun ada unsur etis yang harus dipenuhi dan dilandaskan pada keinginan mendapatkan ridha Tuhan. E. Mekanisme Pemasaran Syariah Dalam konteks pemasaran syariah, unsur etis dan ketuhanan tercermin pada strategi pemasaran yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu: 1. Menjadikan kejujuran sebagai identitas atau brand. Rasulullah Saw dikenal sebagai pelaku ekonomi yang senantiasa berlaku jujur saat berdagang. Sikap ini tercermin saat beliau berhubungan dengan customer maupun pemasok. Ketika memasarkan barang dagangannya beliau menjelaskan semua keunggulan dan kelemahan barang yang dijualnya. 2. Mencintai customer. Ketika memasarkan dagangan Rasulullah Saw senantiasa melayani pembeli sepenuh hati, memudahkan dalam tawar menawar harga, dan menjauhi usnur penipuan demi keuntungan diri sendiri; 3. Memegang janji. Dalam konteks pemasaran syariah, hal ini beliau lakukan dengan memberikan kualitas barang yang sama seperti yang diiklankan atau


Manajemen Bisnis Islam 57 dijanjikan. Dalam banyak kesempatan saat inspeksi pasar beliau memarahi para penjual yang mencoba mendisplay barang dagangan secara tidak benar atau mengurangi takaran. Hal ini beliau lakukan untuk menjamin tercapainya customer satisfaction (kepuasan pelanggan); 4. Menjamin kualitas produk. Rasulullah Saw sangat teliti dalam hal kualitas produk, di antaranya ditunjukkan oleh teguran beliau kepada pedagang yang menyembunyikan jagung basah di sela-sela jagung kering. Mestinya kedua jenis produk tersebut dipisahkan tempatnya dan dijelaskan kepada konsumen bahwa barang (jagung) ini bagus karena ini, dan barang (jagung) ini kurang bagus, sebab suatu hal yang karenanya harganya murah. Snl[n_ac j_g[m[l[h ms[lc’[b [^[f[b ][l[ s[ha ditempuh dalam rangka menawarkan dan menjual kepada masyarakat produk-produk yang diwujudkan dalam bentuk tindakan dan langkah-langkah kebijakan yang sejalan dengan prinsip-jlchmcj ms[lc’[b ^[h nc^[e \if_b e_fo[l kecuali tunduk mengikuti prinsip-prinsip tersebut. Strategi pemasaran di atas seyogyanya menjadi ciri khas pemasaran syariah. Pemasaran syariah dalam memberikan pelayanan maupun penawaran produk yang diberikan dilandaskan pada semangat kejujuran, transparansi, mengutamakan kepentingan konsumen, memegang teguh janji dan amanah yang diberikan kepada konsumen, serta memastikan produk yang ditawarkan bernilai manfaat dan menguntungkan konsumen. Prinsip yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW, adalah personal selling, iklan, pemasaran dan humas. Namun strategi pemasaran yang


58 Manajemen Bisnis Islam ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW sudah mulai berbeda dengan strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan–perusahaan pada saat ini. Cara yang dilakukan Nabi Muhammad SAW tidak lepas dari nilai–nilai moralitas sementara perusahaan–perusahaan saat ini hanya mengutamakan nilai–nilai keuntungannya terlebih dahulu. Berkenaan dengan strategi pemasaran syariah dapat dijelaskan bahwa secara umum pemasaran syariah ditujukan untuk memperbesar dan mengembangkan celah pasar sehingga produk yang ditawarkan digunakan oleh konsumen dan mendapatkan keuntungan sebesarbesarnya. Maka guna meraih tujuan tersebut banyak strategi dalam pemasaran yang mesti dilakukan melalui sebuah mekanisme pemasaran syariah sebagai berikut: Gambar 1. Mekanisme Pemasaran Syariah 1. Menembus dan mengembangkan pasar. Strategi ini dapat digunakan dalam rangka memperlebar ceruk pasar terutama saat diketahui masih sasaran konsumen yang dapat dibidik agar menggunakan produk yang ditawarkan. Atau apabila diketahui bahwa konsumen lama juga telah disasar oleh pesaing yang menawarkan produk yang sama dengan harga kompetitif. Menembu s dan mengemb angkan pasar Pengemb angan produk Diversifikasi Biaya murah Memfokuskan pasar


Manajemen Bisnis Islam 59 2. Pengembangan produk Strategi ini dilakukan dengan melakukan inovasi dan kreasi produk agar lebih bernilai guna bagi konsumen, meski barangkali cara produksi yang digunakan sama dengan sebelumnya; 3. Diversifikasi Artinya, mengembangkan produk turunan dari produk lama yang ditawarkan kepada konsumen untuk mengisi pasar yang baru atau menggaet sasaran konsumen yang mungkin terbaikan; 4. Biaya murah Strategi ini digunakan dengan cara memproduksi produk dengan biaya rendah namun tetap memiliki standar kualitas yang tinggi. Hal ini dapat dicapai dengan kepemilikan modal besar, penggunaan teknologi tinggi, dan menjalin kemitraan dalam hal distribusi; 5. Memfokuskan pasar Strategi ini dilakukan dengan memberikan pelayanan pada segmen terbatas dan tertentu sesuai dengan karakter dan fokus produk yang ditawarkan. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa di antara konsep dasar dalam j_g[m[l[h ms[lc’[b [^[f[b value to heart, artinya pemasaran yang dilandaskan pada nilai- nilai agama dan dilaksanakan dengan sepenuh hati dalam segala transaksi hingga mampu memuaskan konsumen dan stakeholder. Pemasaran syariah bukanlah semata-mata kegiatan pemasaran


60 Manajemen Bisnis Islam yang sekedar menempelkan hal-hal yang bersifat spiritual dan religius sebagai pemanis kemasan. Pemasaran syariah bukan pula sebatas etika bermarketing saja. Namun pemasaran syariah memiliki misi yang mendalam dan memiliki cakupan luas yaitu sebagai sebuah sistem ekonomi yang memberi kemanfaatan dan kemaslahatan bagi seluruh manusia (rahmatan lil 'alamin). Pemasaran syariah memastikan segala hal yang berkaitan dengan kegiatan pemasaran dari awal (perencanaan) hingga akhir (produk yang ditawarkan) berjalan sesuai aturan syariat dan berdampak baik pula bagi konsumen dan terutama masyarakat luas. F. Etika Pemasaran Syariah Dalam Al-Quran ada ketentuan-ketentuan yang mewakili apa yang dimaksud dengan etika ataupun bisnis. Diantara term-term bisnis terdapat kata al-tijarah, dalam praktiknya pelaku bisnis akan senantiasa mempertimbangkan segala aktivitasnya apakah berada dalam bingkai ajaran islam dengan prinsip-prinsip moralnya atau sebaliknya, karena hal ini sangat berimplikasi pada seluruh aspek kehidupan manusia secara keseluruhan. (Ismanto, 2009).Etika terdiri dari nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral seseorang bukan perintahperintah sosial. Prinsip-prinsip pemasaran islami ada sembilan menurut Abdullah Gymnastiar dan Hermawan Kertajaya adalah :


Manajemen Bisnis Islam 61 1. Memiliki Kepribadian Spiritual (Takwa) Semua kegiatan bisnis hendaklah selaras dengan moralitas dan nilai utama yang digariskan Al-Quran. Al-Quran menegaskan bahwa setiap tindakan dan transaksi hendaknya ditunjukan untuk tujuan hidup yang lebih mulia. Umat muslim diprintahkan untuk mencari kebahagian akherat dengan cara menggunakan nikmat yang Allah karuniakan kepadanya dengan jalan yang sebaikbaiknya. Seorang muslim diperintahkan untuk selalu memliki kesadaran tentang Allah (ingat Allah, dzikrullah) meskipun ia sedang sibuk mengurusi kekayaanya. a. Berprilaku baik, sopan santun dalam pergaulan adalah pondasi daar dan inti dari kebaikan tingkah laku. Al-Quran juga mengharuskan pemelukanya untuk berlaku sopan dalam setiap hal bahkan dalam melakukan transaksi bisnis dengan orang-orang yang bodoh (So`[b[’), tetap harus bebricara dengan ucapan yang baik. b. Berlaku adil(Al-Adl) Pada dasarnya kompetitor akan memperbesar pasar, sebab tanpa kompetitor industri tidak dapat berkembang dan kompetitor ini perlu diikuti mana yang bagus dan mana yang jelek, dimana kompetitor yang bagus perlu ditiru. Islam telah mengharamkan setiap hubungan bisnis yang mengandung ke dzaliman dan mewajibkan terpenuhinya keadilan yang terselipkan dalam setiap hubungan dagang dan kontrak-kontrak bisnis. Oleh karena itu, islam melarang bai al- gharar (jual beli yang tidak jelas


62 Manajemen Bisnis Islam sifat-sifat barang yang ditransaksikan atau dijual belikan) karena mengandung unsur ketidakjelasan yang membahayakan atau erugikan salah satu pihak yang melakukan transaksi. (Kartajaya, 2006) c. Bersikap Melayani dan Rendah Hati (Khidmah) Sikap melayani merupakan sikap utama dari seseorang pemasar. Tanpa sikap melayani, yang melekat dalam keperibadiannya, dia bukanlah seorang yang berjiwa pemasar. Melekat dalam sikap melayani ini adalah sikap sopan, santun, dan rendah hati. Orang yang beriman diperintahkan untuk selalu bermurah hati, sopan dan bersahabat saat berelasi dengan mitra bisnisnya. d. Tanggap terhadap perubahan Selalu ada perubahan dalam kegiatan perindustrian, sehingga langkah bisnis akan terus berubah untuk menyesuaikan dengan pasar.Kompetisi yang semakin sengit tidak dapat dihindari, arus globalisasi dan teknologi akan membuat pelanggan semakin pintar dan selektif sehingga jika kita tidak sensitif terhadap perubahan maka kita akan kehilangan pelanggan. e. Berbuat yang terbaik dari sisi produk dan harga. Dalam konsep pemasaran islami, tidak diperbolehkan menjual barang jelek dengan harga yang tinggi, hal ini dikarenakan


Manajemen Bisnis Islam 63 pemasaran islami adalah pemasaran yang fair dimana harga sesuai dengan barang/produk. f. Rela sama rela dan adanya hak khiyar pada pembeli (hak pembatalan terhadap transaksi). Pada prinsip ini, marketer yang mendapatkan pelanggan haruslah memelihara hubungan yang baik dengan mereka. Dan dipastikan pelanggan puas terhadap pelayanan yang diberikan, sehingga pelanggan menjadi lebih royal. Dengan arti lain keep the costumer, namun keep the costumer saja tidaklah cukup, perlu pula grow the costumer, yaitu value yang diberikan kepada pelanggan perlu ditingkatkan sehingga dengan bertambahnya pelayanan, pelanggan juga akan mengikuti pertambahan tersebut. g. Menepati janji dan Tidak curang(Tahfif) Dalam pemasaran islami tadlis sangatlah dilarang, seperti penipuan menyangkut kuantitas, kualitas, dan waktu penyerahan barang dan harga. Amanah bermakna keinginan untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan. Secara umum, amanah dari Allah SWT kepada manusia itu ada dua, yaitu Ibadah dan Khilafah. Dan juga Amanah merupakan sebuah kepercayaan yang dipercayakan kepadamu agar orang yang memahaminya percaya dan yakin karena unsur kepercayaan sangat penting dalam sebuah bisnis dan hendaklah selalu bertaqwa kepada Allah SWT. h. Berorientasi pada kualitas dan tidak suka menjelek-jelekan (Ghibah)


64 Manajemen Bisnis Islam Tugas seorang marketer adalah selalu meningkatkan QCD agar tidak kehilangan pelanggan. QCD yang dimaksud adalah quality, cost, dan delivery. Bagi syariah marketer atau marketing syariah, ghibah adalah perbuatan siasia, dan membuang-buang waktu. Akan lebih baik baginya jika menumpahkan seluruh waktunya untuk bekerja secara professional, menempatkan semua prospeknya sebagai sahabat yang baik, dan karenanya ia harus memperlihatkan terlebih dahulu bagaimana menjadi sahabat yang baik, berbudi pekerti, dan memiliki akhlaq kharimah (akhlak yang mulia). Orang yang memiliki akhlaq kharimah pasti disenangi semua orang, dan orang sering mengenangnya karena kebaikan prilakunya tersebut. (Kertajaya, 2004)


Manajemen Bisnis Islam 65 Mekanisme Halal Produk Fashion i dunia yang semakin mengglobal saat ini, ekonomi Islam terus berkembang dan menuntut perusahaan untuk menyediakan produk dan layanan yang memenuhi kebutuhan berbasis agama mereka. Dua sektor inti yang secara struktural dipengaruhi oleh persyaratan konsumen Muslim ini adalah industri Halal, yang sebagian besar terdiri dari makanan, gaya hidup dan perjalanan, dan industri keuangan Islam (Nisha & Iqbal, 2017) Industri Halal merupakan pasar yang memiliki potensi besar di masa depan untuk menyediakan barang dan jasa baik domestik maupun internasional. Sebagai upaya keberlanjutan industri halal, lembaga hisbah penting untuk dikembangkan bagi masyarakat dan negara. Pelaksanaan hisbah terhadap otoritas yang terlibat dalam pelaksanaan untuk menegakkan keadilan. Dalam menjalankan tugasnya lembaga hisbah memikul tanggung jawab yang berat karena menyangkut hak Allah dan hak manusia. D


66 Manajemen Bisnis Islam Hisbah berarti pelaksanaan amaar maaruf nahi munkar untuk mencegah kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan jika bertentangan dengan syariah dan bertentangan dengan konsep halal.(Husna et al., 2022) Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar secara global yaitu 190.113.060 dari 237.641.326 jiwa atau 80% (Rachman, 2020). Berdasarkan hasil riset banyak ditemukan generasi muda yang ada di rentang Generasi Y atau milenial dan Generasi Z. Milenial adalah generasi yang lahir antara tahun 1977- 1996, dan usia termuda saat ini adalah 26 tahun. Milenial adalah a_h_l[mc s[ha ‚g_f_e n_ehifiac‛. H[mcf lcm_n s[ha ^clcfcm Pew Research Center dengan gamblang menjelaskan keunikan generasi milenial dibandingkan generasi sebelumnya. Dibandingkan generasi sebelumnya, yang mencolok dari generasi milenial ini adalah penggunaan teknologi dan pop culture/musik. Kehidupan generasi milenial tidak lepas dari teknologi khususnya internet, hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini.(Hutama Syam & Ichwan, 2023). Indonesia dengan populasi Muslim terbesar diperkirakan memiliki halal modest fashion sebagai kontribusi terbesar Indikator Ekonomi Islam Global. Analisis lain ditangkap oleh jumlah volume interaksi milenial yang tercatat berdasarkan negara dan sektor, di mana Indonesia menduduki peringkat tertinggi dalam indikator ini. Indikator Global Islamic Economy 2016/2017 menunjukkan bahwa 54% interaksi milenial Indonesia terkait dengan sektor Modest Fashion. Data ini tentunya akan menjadi data dasar untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki permintaan tertinggi terhadap produk modest fashion.(Devi & Nawawi, 2018). Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Upaya Indonesia sebagai Kiblat Fashion Muslim.


Manajemen Bisnis Islam 67 A. Metode Penelitian ini menggunakan metode kajian literature. Artikel dikumpulkan dengan menggunakan mesin pencari seperti Google Scholar, Portal Garuda Kemdikbud, dan Research Gate. Kriteria artikel yang digunakan adalah artikel yang diterbitkan tahun 2018-2022 baik dari jurnal nasional, jurnal internasional, maupun ebook. Teknik analisa data yang digunakan yaitu teknik deskriptif kualitatif. B. Hasil No Penulis Judul Hasil 1 (Sumarliah et al., 2021) The impact of customer halal supply chain knowledge on customer halal fashion purchase intention konsumen global akan lebih memperhatikan fashion yang mereka kenakan. Karena pelanggan menjadi lebih berpengalaman, produsen fesyen halal harus lebih berkonsentrasi pada kualitas produk mereka, dengan fokus pada manufaktur dan distribusi fesyen halal. Artinya, mereka perlu mencermati aliran proses bahan baku hingga penyimpanan dan pengemasan fashion halal berdasarkan hukum Islam. 2 (Sofiana et al., 2021) The Problems of Halal Certification Regarding Consumer Protection in Malaysia and Indonesia dari segi sistem tata kelola, sertifikasi halal yang dilakukan oleh Malaysia lebih terorganisir dan sistematis dibandingkan dengan Indonesia. Penegakan hukum Republik Indonesia yang disusun dalam Omnibus Law 2020 berdampak positif bagi proses sertifikasi halal. Namun,


68 Manajemen Bisnis Islam bukan jaminan yang tepat atas sistem pemerintahan yang prima karena statusnya pasca putusan Mahkamah Konstitusi tahun 2020 yang menangguhkan konstitusionalitas Omnibus Law ini. 3(Devi & Nawawi, 2018) Halal Certification Implementation Strategies for Fashion Product Sertifikasi halal untuk produk fesyen dinilai dapat meningkatkan kepercayaan muslim terhadap produk fesyen. Sebaliknya, sertifikasi halal dinilai bisa menimbulkan biaya tambahan bagi sebagian pelaku mode. Namun di sisi lain, sertifikasi halal juga dianggap bisa menambah pemasukan bagi para produsen modest fashion. Persepsi kontaminasi budaya mengambil prioritas tertinggi dari kelompok perlakuan; Oleh karena itu, produsen fashion muslim dan pemerintah perlu mempertimbangkan dengan baik persepsi masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Dengan diterapkannya sertifikasi halal pada produk fesyen, sudah sewajarnya pemerintah khususnya (MUI) akan menghadapi pro dan kontra dari masyarakat. 4(Amalina et al., 2022) Analisis Fashion Muslim Di Era Millenial Dalam Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tren hijrah dan alasan orang berhijrah mempengaruhi bagaimana konsumen Muslim berperilaku saat membeli pakaian Muslim karena mereka adalah elemen pribadi dan psikologis, yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen.


Manajemen Bisnis Islam 69 5(Larasati & Gunanto, 2021) Faktor Penentu Keputusan Berbisnis Fashion Muslim Dengan Pendekatan Ahp Berdasarkan temuan observasi yang dilakukan terhadap lima pengusaha fashion muslim sebagai responden untuk memastikan pengaruh yang paling kuat terhadap keputusan mereka memilih industri fashion muslim. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa agama, yang menyumbang 51,4% tanggapan responden, dan kepercayaan, yang menyumbang 45,6% tanggapan, adalah dua faktor yang paling kuat terkait dengan pengambilan keputusan kewirausahaan di kalangan pemilik bisnis busana muslim. Dengan persentase pilihan sebesar 22,0%, efikasi diri merupakan unsur kedua, dan kepercayaan diri merupakan tanda terbesar dengan persentase pilihan sebesar 48,7%. Halal living, yang memiliki persentase preferensi 15,5%, merupakan komponen ketiga dan prediktor tren terkuat dengan persentase preferensi 50,9%. C. Pembahasan 1. Sejarah Desain Fashion Halal Indonesia Dimulai sekitar akhir 1990-an dan awal 2000-an, Indonesia menjadi saksi lahirnya desain busana Islami yang menawan. Pada tahun 1993, didirikan sebuah asosiasi perancang mode Indonesia bernama APPMI (Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia) yang


70 Manajemen Bisnis Islam menaruh perhatian besar pada gaya berpakaian Islami dan mendorong perkembangannya menjadi komoditas modern. Pada tahun 1996, APPMI membentuk divisi khusus busana muslim yang memberikan suasana kondusif bagi pertumbuhan industri busana muslim di Indonesia. Para desainer yang aktif di divisi ini kebanyakan adalah wanita. Desainer wanita ini tidak hanya mendesain pakaian untuk wanita muslim tetapi juga untuk pria, remaja, dan anak-anak. Namun busana muslimah yang didesain khusus untuk pria di Indonesia tidak sepopuler busana muslimah untuk wanita. Busana muslim pria biasanya hanya dikenakan pada acara-acara khusus seperti pada hari raya Islam.(Amrullah, 2008) Akhir-akhir ini terjadi modifikasi yang cukup besar dalam perkembangan busana muslim di Indonesia. Di Indonesia, model pakaian Islami disesuaikan secara fleksibel agar sesuai dengan budaya lokal. Model busana muslimah yang awalnya berlandaskan syariat agama, berpotensi berkembang menjadi trend fashion dan mungkin menciptakan trend baru di masyarakat. Seiring dengan perubahan tren fashion yang mainstream, tren fashion muslim terus berkembang. Muslim berpakaian dalam berbagai bentuk, jenis, warna, dan bahan yang sangat berbeda dari yang digunakan di dunia Arab, di mana Islam dipraktikkan sampai ke intinya.(Damayanti, 2014) Tabel 1 menunjukkan konsep halal fashion supply chain yang diadopsi dari integritas halal supply chain yang digagas oleh Soon et al. (2017) dalam (Sumarliah et al., 2021). Terlihat dari Tabel 1 bahwa setiap tahapan rantai pasokan, mulai dari bahan baku, produksi,


Manajemen Bisnis Islam 71 penanganan, penyimpanan, pengemasan, logistik, dan ritel hingga titik pelanggan, harus memastikan prinsip halal. Selain itu, sistem perbankan dan keuangan dalam rantai pasokan juga harus memenuhi persyaratan halal, dan keabsahan juga mencakup kejujuran dan kepercayaan dalam bisnis, tidak ada penipuan, dan niat jahat untuk merugikan pelanggan. Tabel 1. Aspek Konsep Rantai Pasokan Fashion Halal Aspek Rantai Pasokan Fashion Halal Fokus Ini mencakup segala hal mulai dari perencanaan dan pelaksanaan bahan halal yang akan diproduksi hingga pengiriman produk akhir kepada konsumen berdasarkan hukum Islam. Target Untuk menjaga komitmen produk halal dengan cara halal sehingga dapat menghilangkan keraguan di kalangan konsumen Muslim pada saat membeli produk fashion halal Penggerak bisnis berfokus pada hukum Islam di seluruh tahapan rantai pasokan; misalnya, penggerak bisnis terkait dengan aturan berpakaian Islami seperti: • K_mij[h[h • K_[\m[b[h \[b[h • K_m_mo[c[h desain dan gaya • K_\_lmcb[h j_hscgj[h[h ^[h


72 Manajemen Bisnis Islam tampilan • Liai/m_lnc`ce[mc b[f[f Mitra bisnis memastikan bahwa mitra bisnis, yaitu pemasok, perancang, penjahit, produsen, perusahaan jasa pengemasan, perbankan, distributor, dan pengecer yang menerapkan hukum Islam Insiden polusi mencegah interaksi fisik dan menangani risiko polusi antara produk halal dan haram. Kebutuhan pemisahan memisahkan barang halal dari barang haram dan memberikan layanan halal dengan penuh ketulusan Sumber: (Sumarliah et al., 2021) 2. Upaya Indonesia sebagai Kiblat Fashion Muslim Mengingat bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki banyak potensi dan peluang untuk mengembangkan sektor fashion halal. Jumlah penduduk yang besar memberikan potensi bagi Indonesia, khususnya dalam bentuk sumber daya yang memadai baik sebagai penyedia maupun konsumen fashion halal. Selain itu, Negara-negara dengan muslim sebagai mayoritas penduduk dapat menghadirkan target pasar yang layak dan cukup besar, terutama di sektor barang konsumsi, fashion, dan pariwisata.(Faried et al., 2019) Sertifikat halal juga banyak ditemukan di negaranegara dengan minoritas Muslim yang signifikan,


Manajemen Bisnis Islam 73 termasuk Amerika Serikat, Kanada, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Selandia Baru, Belanda, Australia, dll. Makanan, kosmetik, perawatan kesehatan, mode, dan bahkan pariwisata semuanya membutuhkan halal sertifikasi. Semua kalangan telah merasakan manfaat dari ide Halal, baik di bidang ekonomi maupun kesehatan. Akibatnya, banyak produk berlabel Halal. Produk dengan merek halal akan menonjol dari produk serupa tanpa merek. Produsen harus bersertifikat halal barangnya untuk mendapatkan label halal dari lembaga sertifikasi halal, seperti LPPOM MUI. (Rachman, 2020) Konsumsi pakaian muslim di Indonesia diperkirakan mencapai 20 miliar dolar AS (AS), atau Rp 286,9 triliun, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 18,2 persen. Para pelaku industri kreatif dan fashion muslim di Indonesia terinspirasi untuk melebarkan sayapnya dengan kemungkinan ini. Perancang busana muslim asal Indonesia terus menorehkan prestasi membanggakan. Namun, hanya sekitar 3,8% pasar global untuk barang halal yang saat ini dipasok oleh ekspor Indonesia. Kementerian Koperasi dan UKM bekerja untuk membantu pengembangan ekosistem dari hulu ke hilir guna memaksimalkan potensi produk halal, salah satunya fashion.(KemenKopUKM, 2023) D. Kesimpulan Dari data dan pembahasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa selain memenuhi persyaratan ajaran Islam, fashion halal juga memiliki makna budaya bagi komunitas Muslim di seluruh dunia. Selain itu, konsep


74 Manajemen Bisnis Islam halal dapat menjadi fasilitator untuk transformasi gaya hidup masyarakat dan pemahaman tentang keselamatan, kesehatan, kualitas, dan ekosistem, yang sangat penting karena hukum Islam mewajibkan umat Islam untuk menggunakan dan memakai hanya yang diizinkan (halal), bersih, nyaman/aman, dan produk berkualitas. Dalam hal produk fashion, konsep fashion halal mengacu pada tata cara berbusana yang sopan bagi seluruh umat Islam sesuai dengan perintah Allah SWT yang tertuang dalam Al-Qur'an. Selain itu, upaya yang dilakukan Indonesia dalam meningkatkan produk fashion halal dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM yang berupaya untuk membantu pengembangan ekosistem dari hulu ke hilir guna memaksimalkan potensi produk halal, salah satunya fashion


Manajemen Bisnis Islam 75 Pemahaman Konsep Dasar Halal A. Hukum Bisnis Dalam Islam Islam dengan kesempurnaanya mengatur manusia dalam seluruh aspek kehidupan. Ajaran Islam tidak hanya mencakup ritual ibadah mahdhoh yang bersifat transendental saja, akan tetapi Islam juga mencakup muamalah yang mengatur urusan manusia dengan manusia lainnya (ghairu mahdhoh). Sebagai hamba Allah swt, manusia harus diberi pedoman agar hidupnya tidak menyimpang dan selalu ingat bahwasanya manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah swt. Sebagai khalifah fi al-ardh manusia memiliki tugas untuk memakmurkan kehidupan (Djazuli, 2011). Kedua fungsi yang dimiliki manusia ini merupakan amanah Allah swt yang harus ditunaikan untuk mencapai kebahagiaan di


76 Manajemen Bisnis Islam dunia dan akhirat. Dan hal itu bisa tercapai jika manusia berpegang kepada pedoman utama yaitu al-Quran dan asSunnah. Bisnis merupakan suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi atau melembaga, untuk menghasilkan dan menjual barang atau jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat (Fauzia, 2013). Dalam al-Quran, bisnis disebut dengan kata tijarah yang mencakup dua makna, yaitu perniagaan secara umum yang mencakup perniagaan antara manusia dengan Allah swt, dan perniagaan secara khusus yang berarti perdagangan atau jual beli antar manusia (Fauzia, 2013). Dalam pandangan Islam, bisnis termasuk kedalam lo[ha fchaeoj `cecb go’[g[f[b. M_holon Mob[gg[^ Yomo` Mom[ ^[f[g R[]bg[n Ss[`_c, go’[g[f[b [^[f[b j_l[nol[hperaturan Allah yang diikuti dan ditaati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia. (Syafe'i, 2001). Berdasarkan pengertian tersebut bisa ^ce_n[boc \[bq[ go’[g[f[b g_loj[e[h m_j_l[hae[n [nol[h Allah swt yang mengatur kehidupan manusia dalam urusan keduaniawian. Pada prinsipnya Islam tidak memisahkan antara amalan dunia dan akhirat karena tujuan dari kedua amalan tersebut adalah untuk beribadah kepada Allah swt sesuai dengan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba Allah swt. Dce[l_h[e[h \cmhcm g_loj[e[h l[h[b `cecb go’[g[f[b, [^[ e[c^[b `cecb ebomom ^[f[g \c^[ha go’[g[f[b s[ha menjadi pegangan, yakni :


Manajemen Bisnis Islam 77 ‚Hoeog [m[f ^[f[g m_go[ \_hnoe go[g[f[b [^[f[b \if_b ^cf[eoe[h e_]o[fc [^[ ^[fcf s[ha g_hab[l[ge[hhs[‛ (Djazuli, 2011) Maksud dari kaidah ini adalah bahwa setiap kegiatan muamalah dan transaksi bisnis seperti jual beli, sewa menyewa, gadai, mudharabah dan musyarakah hukumnya adalah boleh, kecuali bilamana terdapat dalil yang melarang kegiatan bisnis tersebut. Manusia diberikan kebebasan untuk berinovasi dan berkreasi dalam berbisnis dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendapatkan keuntungan yang halal sehingga akan menciptakan kesejahteraan masrakarakat. Dengan demikian ketika melakukan bisnis para pelaku bisnis harus mengetahui dan memahami transaksi-transaksi bisnis yang dilarang dalam ajaran agama Islam. B. Bisnis Halal Merupakan Suatu Kewajiban Bagi Muslim Sebagai hamba Allah swt, manusia harus senantiasa taat pada aturan Allah swt dalam seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali pada aktifitas bisnis. Ajaran Islam sudah memberikan keleluasaan bagi umatnya untuk berinovasi dalam aktivitas bisnis yang ditekuninya. Namun, syariat Islam sudah memberikan batasan-batasan baik dalam alQuran, hadits dan ijtihad para ulama agar aktifitas bisnis yang dilakukan tidak terjerumus kepada praktik yang berstatus haram. Dengan demikian aktifitas bisnis yang dilakukan senantiasa berada dalam koridor syariah Islam. Inilah yang dimaksud dengan bisnis halal yang merupakan


78 Manajemen Bisnis Islam sebuah kewajiban bagi pelaku bisnis yang beragama Islam. Allah swt berfirman : يُّ َها ٱلن َ أ ُكْم َٰٓ ِن هُۥ لَ ِن يَ ۚ إ ِت ٱل شْي َط ُخ ُط َو ۟ ِعُوا اًل َطيِّباا َوََل تَت ب ْر ِض َحلَ ِم ما فِى ٱ ْْلَ ۟ ُس كُلُوا ا ِي ن َع ُدٌّو ُّمب ‚H[c m_e[fc[h g[homc[, g[e[hf[b s[ha b[f[f f[ac \[ce dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya ms[cn[h cno [^[f[b gomob s[ha hs[n[ \[acgo.‛ (Al-Baqarah : 168) Melalui ayat di atas Allah swt memerintahkan manusia untuk mengkonsumsi makanan yang halal dari segi zatnya atau cara mendapatkannya, dan thoyyib (baik). Maksud dari thoyib adalah baik untuk kesehatan, aman untuk dikonsumsi dan tidak berlebihan saat mengkonsumsinya. Contohnya seperti sea food (ikan laut, cumi, udang, dll), status hukumnya halal dikonsumsi, akan tetapi tidak thoyib bagi penderita alergi sea food. Gula halal dikonsumsi, akan tetapi tidak thoyib jika dikonsumsi berlebihan karena berpotensi menyebabkan diabetes. Pada al-Quran surat al-Qashash ayat 77 Allah swt berfirman : ِصيبَ َك َر ٱ ْل َءا ِخ َزةَۖ َوََل تَى َس وَ ٱن هدا فِي َمآ َءاتَٰى َك ٱ هَّللُ ِ ْح ِسه َك َوٱ ْبتَغ َمآ َ ِم َه ٱن ُّدْويَاۖ َوأ ُم ْف ِسِدي َه ََل يُ ِح ُّب ٱنْ ْر ِضۖ إِ هن ٱ هَّللَ َسا َد فِى ٱْْلَ ٱنْفَ ِ ْي َكۖ َوََل تَ ْبغ إِنَ ْح َس َه ٱ هَّللُ َ أ ‚D[h ][lcf[b j[^[ [j[ s[ha n_f[b ^c[hoa_l[be[h Aff[b kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak


Manajemen Bisnis Islam 79 menyukai orang-orang yang berbuat kerusakah.‛ (QS. AlQashash : 77) Ayat ini memerintahkan manusia agar mencari kehidupan akhirat dengan apa yang telah Allah swt berikan berupa harta. Akan tetapijangan sampai manusia melupakan urusan duniawi, karena dunia adalah ladang akhirat. Maksudnya dunia merupakan tempat bagi manusia untuk beramal dan mengumpulkan bekal untuk kebahagiaan di akhirat nanti (Akbar A. W.-F., 2018). Ayat ini juga memberikan justifikasi bahwa kegiatan ekonomi atau bisnis adalah suatu keharusan yang harus dijalani oleh setiap muslim. K[fcg[n ‘ض ِرْ َسا َد فِى ٱْْلَ ٱنْفَ ِ penjelasan sebagaimanaَ ’ وََل تَ ْبغ Ibnu Katsir maknanya adalah untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi dan berbuat jahat kepada makhluk Allah (Katsir, 1999). Adapun Ibnu Abbas mengartikan jangan berbuat maksiat dan menentang perintah Allah swt. Bilamana kegiatan bisnis disertai dengan kezaliman (mencuri, merampas, berbuat kerusakan) dan maksiat (riba, judi, dll), maka hasil dari bisnis tersebut juga status hukumnya bisa menjadi haram. Di tangan pebisnis muslim yang senantiasa melakukan aktifitas bisnis halal, harta tidak akan berubah menjadi alat perusak kehidupan masyarakat dan merusak generasi. Namun harta akan berfungsi sebagaimana yang Allah swt kehendaki dan senantiasa memancarkan keberkahan dan kenikmatan, sehingga umat manusia mendapatkan kemaslahatan dari aktifitas bisnis halal tersebut (Ash-Shawi, 2015). Itulah tujuan dari implementasi syariat Islam dalam


80 Manajemen Bisnis Islam kehidupan manusia, yang sejalan dengan karkateristik Islam s[ha l[bg[n[h fcf ‘[f[gch. Selain itu, Allah swt melarang hamba-Nya memakan atau mengambil harta orang lain dengan cara yang bathil. Cara yang sesuai dengan syariat Islam agar diperbolehkan memakan atau mengambil harta orang lain yaitu dengan jalan perniagaan yang didasari suka sama suka (saling ridho), tidak ada paksaan dari salah satu pihak yang berniaga, atau pihak yang lain. Sebagaimana firman Allah swt : َ هَٓل أ ِط ِم إِ ٰ بَ ِٲنْ ُكم ب ُكم بَ ْيىَ نَ ْم َى ٰ َ أ ۟ ٓىا كُهُ ْ ََل تَأ ۟ َمىُىا ِذي َه َءا يُّ َها ٱنه َ أ َزا ٍض ٰٓ َعه تَ يَ َزةً ن تَكُى َن تِ َج ٰ ُكْم َر ِحي ًما ِ َكا َن ب َس ُكْمۚ إِ هن ٱ هَّللَ وفُ َ أ ۟ ٓىا ِّمى ُكْمۚ َوََل تَ ْقتُهُ ‚H[c il[ha-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka samasuka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang e_j[^[go.‛ (QS. Annisa : 29) C. Transaksi-transaksi Bisnis Yang Diharamkan Dalam Islam 1. Riba a. Pengertian Riba Secara etimologi riba memiliki arti az-ziyaadah (tambahan). Sedangkan secara terminology, terdapat berbagai definisi tentang riba, diantaranya : 1) Ulama Hanafiyah, mendefinisikannya sebagai ‚n[g\[b[h j[^[ b[ln[ j_haa[hnc ^[f[g j_lnoe[l[h b[ln[‛ (Syafe'i, 2001).


Manajemen Bisnis Islam 81 2) Ulama Hanabilah memberikan definisi ‚j_ln[g\[b[h m_mo[no s[ha ^cebomome[h‛ (Syafe'i, 2001) 3) Pembayaran hutang yang harus dilunasi oleh yang berhutang lebih besar dari jumlah pinjamannya sebagai imbalan daripada tenggang waktu dan kelebihan itu dapat terus meningkat berlipatganda apabila lewat waktu (Zakaria, 2012). b. Dalil Tentang Keharaman Riba 1) Alquran a) QS. Albaqarah ayat 275 ُطهُ ِذى يَتَ َخب َل َكَما يَقُو ُم ٱل ِ ََل يَقُو ُمو َن إ ۟ ِّربَ وا كُلُو َن ٱل ْ ِذي َن يَأ ٱل َح ل ٱ َّللُ َ ۗ َوأ ۟ ِّربَ وا ُل ٱل َما ٱلْبَ ْي ُع ِمثْ ِن إ ۟ َٰٓوا الُ ُه ْم قَ ن َ ِأ ِل َك ب َم ِّسۚ ذَ ُن ِم َن ٱلْ ٱل شْي َط َمن َجآَٰ َءهُ ۚ فَ ۟ ِّربَ وا ٱل هُۥ َما ْبَ ْي َع َو َح ر َم ٱل لَ ٱنتَ َه ى فَ ِّمن ربِّ ِهۦ فَ ۥ َم ْو ِع َظة ِرۖ ُه ْم فِي َها ُب ٱلن ا ْص َح َ ئِ َك أ َٰٓ ۟ولَ ُ أ ِلَى ٱ َِّللۖ َو َم ْن َعا َد فَ ْم ُرهُۥَٰٓ إ َ َف َوأ َسلَ ِل ُدو َن َخ Artinya : ‚Ol[ha-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan


82 Manajemen Bisnis Islam urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka e_e[f ^c ^[f[ghs[‛. Ayat ini tergolong ayat madaniyah, yaitu ayat yang diturunkan Allah swt setelah rasulullah saw hijrah ke Madinah. Pada ayat tersebut Allah menjelaskan tentang gambaran pelaku atau pemakan riba, pengharaman riba dan menegaskan bahwa jual beli tidak sama dengan riba sebagaimana yang disangkakan para pemakan harta riba. Pada ayat ini juga Allah swt telah mengharamkan riba secara mutlak tanpa membedakan apakah kelebihannya berlipat ganda atau tidak, juga tidak membedakan yang berbunga rendah atau tinggi (Sarwat, 2014). Dengan demikian pendapat bahwa riba diperbolehkan dengan syarat tidak berlipat ganda terbantahkan oleh ayat ini. Ibnu Katsir memberikan gambaran bagi pemakan riba berdasarkan ayat di atas bahwa pada hari kiamat, mereka yang memakan riba tidak akan bangkit dari kubur, melainkan seperti berdirinya orang gila dan setan merasukinya (Akbar A. W.-F., 2018). Penulis berpendapat dengan digambarkan seperti orang gila yang kerasukan setan, Allah swt akan memberikan azab dan kehinaan bagi pelaku dan pemakan riba pada saat hari kiamat


Manajemen Bisnis Islam 83 nanti. Karena praktik riba yang jelas pengharamannya dalam al-Quran akan merugikan debitur (peminjam), dan bila diimplementasikan secara luas mampu memberikan dampak negatif terhadap perekonomian secara makro. 2) Hadits Terdapat beberapa hadits yang menyatakan keharaman riba serta bahayanya, diantaranya adalah: a) Dari Abu Hurairah r.a berkata, bahwa Nabi saw bersabda ‚Tchaa[fe[hf[b nodob ^im[ s[ha ^[j[n g_g\ch[m[e[h‛. Sababat bertanya, ‘Aj[e[b cno s[ R[mofoff[b?’, jawab Nabi, ‚Ssclce (mempersekutukan Allah), berbuat sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali yang hak, makan harta riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari perang jihad pada saat berjuang, dan menuduh wanita mukminat yang mij[h (\_le_fo[la[) ^_ha[h no^ob[h tch[.‛ (HR. Bukhari) b) ‚Dclcq[s[ne[h ^[lc I\h M[m’o^ l.[, \[bq[ Rasulullah saw telah melaknat pemakan riba, yang meq[ecfchs[, m[emchs[ ^[h j_hofcmhs[.‛ (HR. Abu Dawud dan lain-lain) 3) Fatwa Ulama a) Macam-macam Riba Para ulama sepakat, bahwa riba terdapat pada dua perkara, yaitu pada transaksi jual beli dan atau pada pinjaman, dan pada hal lain yang berada dalam tanggungan (Rusyd, 2007).


84 Manajemen Bisnis Islam Zuhaili dalam Abdul Wahid dan Nasr Akbar (Akbar A. W.-F., 2018) membagi riba menjadi dua macam, yaitu riba h[mc’[b dan riba fadhl. Riba h[mc’[b adalah suatu tambahan pada salah satu diantara dua barang yang dipertukarkan (iwadh) karena penundaan jatuh tempo pelunasan atau penangguhan serah terima barang meski tanpa adanya tambahan. Riba ini terjadi pada transaksi utang-piutang dan jual beli. Sedangkan riba fadhl adalah dijualnya harta tertentu seperti emas, perak, gandum dan lain-lain, dengan adanya tambahan pada salah satu iwadh. Ibnu Qayyim membagi riba menjadi 2 macam, yaitu riba jaly dan riba khafy. Yang dimaksud dengan riba jaly adalah riba h[mc’[b, dan yang dimaksud riba khafy adalah riba fadhl. Dalam pandangan Ibnu Qayyim, riba jaly diharamkan karea mengandung kemudharatan yang besar, sedangkan riba khafy diharamkan karena bisa menjadi sebab munculnya riba jaly (Zakaria, 2012). c. Bunga Bank Secara bahasa, bunga adalah terjemahan dari kata interest atau. Secara istilah, bunga adalah tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan persentase dari uang yang dipinjamkan (Muhammad, 2014). Dalam fatwa MUI nomor 1 tahun 2004 tentang \oha[, \oha[ ^c^_`chcme[h ^_ha[h ‚n[g\[b[h s[ha dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang diperhitungka dari pokok pinjaman tanpa


Manajemen Bisnis Islam 85 mempertimbangkan pemanfaatan / hasil pokok tersebut berdasarkan tempo waktu, diperhitungkan secara pasti di muka, dan padda umumnya berdasarkan jl_m_hn[m_‛. Boha[ \[he [^[f[b \_m[l[h \c[s[ s[ha diberikan bank konvensional kepada nasabah yang menggunakan jasa atau produknya, baik itu berupa simpanan atau pinjaman. Melalui fatwa MUI nomor 1 tahun 2004, MUI dengan tegas menyatakan bahwa hukum bunga adalah haram. Dengan alasan bahwa praktik bunga saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada zaman Rasulullah saw, yakni riba nasiah. Pengharaman bunga ini berlaku untuk bunga yang diberlakukan oleh lembaga keuangan sepertibank, asuransi, pegadaian, pasar modal, koperasi, atau yang dilakukan oleh individu. 2. Gharar Secara etimologi, gharar memiliki arti sebagai almukhtarah (pertaruhan) dan al-jahalah (ketidak jelasan). Secara terminology, gharar atau taghrir adalah situasi dimana terjadi informasi yang tidak lengkap karena adanya ketidakpastian dari kedua belah pihak yang berakad atau bertransaksi (Karim, 2010). Sehingga pihak yang berakad tidak mengetahui dengan jelas mengenai objek akad meliputi kondisi, kualitas, jumlah/ kuantitas, harga, waktu penyerahan, dan atau wujud barang yang ditransaksikan. Ketidakpastian dalam transaksi ini diakibatkan oleh tidak terpenuhinya ketentuan syariah dalam transaksi tersebut. Oleh karena itu, praktik gharar mengandung unsur spekulasi


86 Manajemen Bisnis Islam yang dikenal oleh masyarakat luas dengan istilah menjual/ membeli kucing dalam karung atau jual beli untung-untungan (Zakaria, 2012). Praktik bisnis seperti berpotensi merugikan salah satu pihak yang bertransaksi. Oleh karena itu Rasulullah saw dengan tegas melarang praktik tersebut sebagaimana dalam hadits : Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata ‚R[mofoff[b m[q telah melarang jual beli dengan cara lemparan batu/e_lcecf ^[h h[\c m[q g_f[l[ha do[f \_fc ab[l[l‛ (HR. Muslim) Adapun bentuk-bentuk gharar dalam aktivitas bisnis antara lain : a. Jual beli yang belum/ tidak jelas takarannya Melakukan transaksi jual beli yang belum atau tidak jelas takarannya dilarang oleh Rasulullah saw, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Muslim : Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : ‚B[l[ha mc[j[ s[ha membeli makanan maka janganlah ia membeli m[gj[c d_f[m n[e[l[hhs[‛ (HR. Muslim) b. Menjual ikan yang masih dalam kolam Rasulullah saw juga telah melarang jual beli ikan yang masih berada di dalam kolam, dikarekan timbangan dan jumlahnya belum jelas. Sebagaimana dalam hadits : D[lc I\ho M[m’o^ l.[, c[ \_le[n[ R[mofoff[b m[q bersabda : ‚J[ha[hf[b e[go g_g\eli ikan dalam [cl (eif[g), e[l_h[ cno n_lg[moe ab[l[l‛ (HR.Ahmad)


Manajemen Bisnis Islam 87 c. Menjual apa yang masih ada di dalam perut binatang D[lc S[’c^ [f-Khudzriy r.a, bahwasanya Rasulullah saw melarang : ‚g_hdo[f [j[ s[ha [^[ dalam perut binatang (janin) sampai ia melahirkan, menjual air susu yang masih ada dalam teteknya (yang belum diperah), menjual hamba sahaya yang kabur, menjual ghanimah (harta rampasan perang) sampai dibagikan, menjual harta zakat sampai ^cn_lcg[ ^[h g_hdo[f b[mcf g_hs_f[g‛ (HR. Ibnu Majah) d. Menjual secara Muhaqalah, Mukhadharah, Mulamasah, Munabadzah dan Muzabanah Muhaqalah adalah menjual biji-bijian yang masih dalam tangkainya yang belum dipanen. Mukhadharah adalah menjual biji-bijian atau buahbuahan yang masih hijau yang belum layak untuk dipanen dan dikonsumsi. Mulamasah adalah jual beli kain dengan cara diraba saja tanpa melihat dan mengetahui kualitas kain tersebut. Munabadzah adalah jual beli dengan cara lemparan batu. Muzabanah adalah menjual kurma segar yang masih ada di pohon dengan harga kurma kering yang telah dipanen. Dalam ajaran Islam, transaksi-transaksi tersebut dilarang berdasarkan hadits : Dari Anas r.a, ia berkata : ‚R[mofoff[b m[q n_f[b melarang muhaqalah, mukhadharah, mulamasah, goh[\[^t[b ^[h got[\[h[b‛ (HR. Bukhari)


88 Manajemen Bisnis Islam 3. An-Najsy An-Najsy adalah rekayasa pasar dalam permintaan atau disebut juga dengan permintaan palsu (Karim, 2010). Yaitu ketika si produsen atau penjual menciptakan permintaan palsu dengan bekerjasama dengan pihak lain agar seakan-akan ada banyak permintaan sehingga harga jual produk itu naik. Modus yang lainnya yaitu penjual menggunakan orang suruhan untuk menawar produknya dengan harga tinggi agar orang lain tertarik membeli barangnya dan merasa harganya tidak kemahalan, padahal dia sendiri tidak bermaksud untuk membeli barang tersebut. Oleh orang sunda praktek najsy ini disebut dengan jontrot (Zakaria, 2012). Mengenai hal ini Rasulullah saw sudah dengan tegas mengharamkannya, berdasarkan hadits : Dari Ibnu Umar r.a, bahwa ia berkata : ‚R[mofoff[b m[q g_f[l[ha do[f \_fc ^_ha[h ][l[ h[dms.‛ (HR. Bukhari dan Muslim) Contoh lain dari praktek najsy adalah dalam bursa saham dengan goreng-menggoreng saham. Modusnya bisa dengan menyebarkan isu, melakukan order pembelian bahkan sampai melakukan pembelian pancingan agar investor banyak yang tertarik dan membeli saham tertentu. Setelah harga sudah naik sesuai level yang diinginkan, mereka akan mengambil keuntungan dengan menjual kembali saham yang mereka beli. 4. Jual Beli Barang Haram Barang atau benda yang Allah swt dan Rasulullah saw haramkan, maka haram pula bilamana benda


Manajemen Bisnis Islam 89 tersebut dijadikan sebagai objek transaksi jual beli, apakah diharamkan karena zat-nya atau karena faktor yang lain. Ada sebuah prinsip yang telah diakui oleh Islam, yaitu jika Islam telah mengharamkan sesuatu, wasilah dan cara apapun yang dapat membawa pada perbuata haram hukumnya adalah haram (Qardhawi, 2007). Secara umum, barang haram dibagi menjadi dua bagian, yaitu : a. Haram karena zatnya (li dzatihi) Islam melarang umatnya untuk menjadikan barang yang secara zatnya diharamkan oleh dalil sebagai objek transaksi jual beli. Pengharaman karena zatnya bisa dibagi lagi menjadi dua kriteria (Sarwat, 2014), yaitu : 1) Kriteria umum Kriteria ini berlaku untuk semua jenis barang, baik itu makanan, minuman yang berasal dari hewan, tumbuhan atau benda yang lazim dikonsumsi oleh manusia. Ada beberapa sebab pengharamannya, bisa karena sifatnya yang najis, memabukan atau mendatangkan madarat bagi yang mengkonsumsinya. Contohnya adalah khamr/ minuman keras, rokok dan narkoba. Sebagaimana hadits nabi saw (Ash-Shawi, 2015) : Diriwayatkan dari Jabir r.a bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : ‚S_mohaaobhs[ Aff[b g_hab[l[ge[h g_hdo[f


90 Manajemen Bisnis Islam gchog[h e_l[m, \[hae[c, \[\c ^[h j[noha‛ (HR. Bukhari) 2) Kriteria khusus Kriteria khusus ini berkaitan dengan barang atau makanan yang berasal dari hewan. Contoh hewan yang termasuk dalam kriteria ini diantaranya adalah : a) Babi ِر ِزي ِخن ْ ٱل َ ْحم َ َولَ َوٱل َّدم َمْيتَةَ ْ ْي ُكُم ٱل َ َعلَ َح َّرم َما ِنَّ إ ‚S_mohaaobhs[ Aff[b b[hs[ mengharamkan bagimu bangkai, darah dan (^[acha) \[\c‛ (QS. Al-Baqarah : 173) Meskipun dalam ayat ini hanya disebutkan daging babi, akan tetapi para ulama sepakat semua yang ada pada babi tersebut adalah haram. Begitupun juga semua makanan yang merupakan turunan dari daging babi adalah haram. Contoh makanan yang merupakan turunan dari babi adalah marshmallow dan gelatin. b) Hewan yang tidak disembelih dengan benar Para ulama telah menegaskan bahwa hewan yang halal dimakan harus disembelih dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam. Semua hewan yang halal dimakan, jika tidak disembelih dengan cara yang benar, haram hukumnya untuk dimakan. Ada beberapa ketentuan


Click to View FlipBook Version