Manajemen Bisnis Islam 141 Islam, modal diperoleh melalui cara yang sah dan harus digunakan dalam usaha yang produktif dan bermanfaat secara sosial. Penggunaan modal harus bebas dari riba. Dalam berbagai metode perolehan modal, Islam mengatur sistem yang lebih baik dengan menggunakan kerja sama mudharabah atau musyarakah. Tujuannya adalah menjaga hak produsen dan hak pemilik modal sehingga dapat mencapai kebaikan dalam aktivitas produksi. c. Tanah dan Sumber Daya Alam (Al-Ardh wa AlMawasit al-Tabi'iyyah): Mengacu pada sumber daya alam, seperti tanah, mineral, air, dan sumber daya lain yang digunakan dalam produksi. Dalam ekonomi Islam, pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya ini harus dilakukan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan hak-hak generasi mendatang. d. Kewirausahaan (Al-Risalah): Mengacu pada peran individu atau kelompok yang memulai dan mengorganisir kegiatan ekonomi. Ekonomi Islam mendorong kewirausahaan yang didasarkan pada prinsip-prinsip etis, seperti keadilan, kesetaraan, dan tanggung jawab sosial. e. Teknologi dan Inovasi (Al-Taqaddum wa Al-Bida'): Mengacu pada kemajuan dalam pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang berkontribusi pada peningkatan dan efisiensi proses produksi. Ekonomi Islam mendorong perolehan dan pengembangan pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat. Dalam ekonomi Islam, faktor produksi diarahkan oleh prinsip-prinsip etis dan harus digunakan dengan cara yang
142 Manajemen Bisnis Islam mendorong kesejahteraan dan keseimbangan individu serta masyarakat secara keseluruhan. Prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial menjadi bagian integral dalam pemanfaatan dan alokasi faktor produksi tersebut
Manajemen Bisnis Islam 143 Halal Haram Dalam Transaksi Bisnis slam adalah agama yang sempurna dan paripurna, semua sisi dalam kehidupan ini secara sempurna telah diatur dalam ajaran Islam. Mulai dari masalah yang berkaitan dengan privat, keluarga, masyarakat bahkan dalam konteks negara dan hubungan internasional antar negara, Islam telah memberikan panduan-panduannya secara umum, bahkan dalam ajaran ajaran tertentu dijelaskan secara jelas dan rigid. Secara umum, ada dua sisi dalam kehidupan yang dijelaskan oleh Allah, sisi halal merupakan bagian yang diperbolehkan dalam ajaran Islam dan sisi haram yang masuk kategori larangan larangan. Halal dan haram merupakan aturan Allah SWT, jika seseorang mentaati aturan itu, maka ia telah beribadah kepada Allah SWT. Aturan halal dan haram ditetapkan untuk menjaga kehormatan manusia dan mewujudkan kehidupan yang layak dan baik bagi mereka. Barang siapa mentaati dan menjalankan aturan halal dan haram, maka ia berhak mendapatkan pahala dari Allah yang konsekuensi-nya mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan baik ketika di dunia ataupun kelak di akhirat, karena orang yang I
144 Manajemen Bisnis Islam mentaati ketentua halal dan haram sesungguhnya telah beriman dan berada di jalan yang benar. Sebaliknya, orang yang menolak aturan halal dan haram, maka ia telah membangkang perintah Allah SWT dan telah melampaui batas yang telah ditentukan Allah SWT. Aturan halal dan haram meliputi semua dimensi kehidupan manusia, baik berkaitan beribadah seperti bersuci, zikir, shalat, puasa, zakat, umrah dan haji. Juga berkaitan dengan perilaku dan aktifitas muamalah yang mengantur antar sesame manusia seperti transaksi jual beli, hibah, wasiat, pernikahan, thalak, warisan, ataupun aturan aturan yang mengatur urusan negara ataupun urusan antar sesama negara dan hubungan lainnya. Aturan halal dan haram dijelaskan juga berkaitan dengan kekayaan yang diperlukan manusia untuk me-menuhi kebutuhan hidup. Kekayaan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam karena kekayaan adalah bagian dari tujuan tujuan syariah dan kualitas kedua dibawah agama, untuk memastikan kekayaan dapat keberkahan dan bermanfaat tidak dihindarkan atau dijauhi melainkan diikat dengan prinsip prinsip agama. Mulai dari proses mendapatkannya maupun proses dalam distribusinya. Untuk mendapatkan kekayaan, Islam mewajibkan manusia untuk bekerja. Bekerja diwajibkan Islam untuk memperoleh anugerah Allah dan rezki dengan cara yang benar. Dalam konteks beribadah kaidah yang berlaku adalah setiap sesuatu yang berkaitan dengan ibadah adalah haram, kecuali ada ketentuan dalil yang memperbolehkannya. Kaidah ini menjelaskan prinsip kehati hatian dalam melakukan ibadah sholat, puasa, haji dan lainnya. Tidak boleh dalam konteks ini melakukan sesuatu yang tidak ada dalil atau petunjuknya, prinsipnya melaksana yang ada perintah dari Allah dan
Manajemen Bisnis Islam 145 meninggalkan yang dilarang. Jangan melakukan sesuatu ibadah, atau menambahkan hal hal yang tidak di atur oleh Allah Swt. Berbeda dengan konteks ibadah, dalam prinsip muamalah e[c^[b s[ha \_lf[eo [^[f[b jlchmcj ^[f[g b[f go’[g[f[b m_go[ transaksinya adalah halal, selama tidak ada dalil yang secara jelas melarangnya. Semua transaksi bisnis apapun dibolehkan, selama tidak ada dalil yang melarangnya. Dalam konteks ini, diperbolehkan melakukan inovasi inovasi dalam produk dan pengembangan transaksi bisnis selama tidak ada dalil yang jelas jelas melarangnya. Kesempatan melakukan transaksi bisnis sangat terbut selama tidak melanggar prinsip prinsip syariah secara umum. A. Konsep Halal Haram dalam Islam Dalam kajian Islam istilah halal adalah segala sesuatu yang diizinkan atau dibolehkan dalam ajaran Islam meliputi semua tingkah laku, aktifitas dzohir atau batin, cara makan, cara berpakaian, cara mendapatkan rezeki dan sebagainya. Merujuk pada akar kata Halal berasal dari bahasa Arab dari [e[l e[n[ ―H[ff[ – Yahullu – Hallan wa Halalan yang berarti bertahalul (selesai dari ihram), dibolehkan atau diizinkan. (Ahmad, 1997)Jika kata tersebut dikaitkan dengan suatu barang maka berarti halal (dimakan atau diminum). Namun jika dikaitkan dengan tempat maka kata tersebut berarti berhenti, singgah, tinggal atau berdiam. Kata halal merupakan bahasa Arab yang sangat masyhur dan telah diserap menjadi bahasa Indonesia. Dalam Al-Qol‛[h, e[n[ b[f[f ^[h ^_lcp[mchs[ ^cm_\on sebanyak 48 kali dan terdapat pada 20 Surah serta memiliki arti atau makna yang berbeda-beda. (Hamshi). Perbedaan
146 Manajemen Bisnis Islam arti atau makna kata halal dalam Alquran dapat dikelompokkan menjadi dua; Pertama, yang memiliki makna atau arti berkaitan dengan makanan dan minuman seperti dalam surat Al- Baqarah ayat 168, surat Al-Maidah ayat 88, Surat Al-anfal ayat 69 dan Surat Al-Nahl ayat 114. Persoalan konsumsi ini menjadi salah satu hal yang cukup sering disinggung dalam al Quran. Ada 48 ayat yang terkait tentang makanan (عام ط (dan sebanyak 38 ayat yang berhubungan dengan minuman ( شراب ,( sebagian dari anjuran yang berkaitan dengan makanan ini adalah menjauhi makanan yang haram dan mengkonsumsi makanan yang halal. (Yanggo, 2013) Kedua, yang memiliki makna atau arti yang berkaitan dengan aktivitas, perilaku, atau tindakan seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 187 dan 275, surat An-nisaa ayat 19. Di antara contoh kata halal dalam Alquran yang berarti makanan atau minuman adalah firman Allah SWT yang [lnchs[: ‚H[c m_e[fc[h g[homca, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan karena sesungguhnya ms[cn[h cno [^[f[b gomob s[ha hs[n[ \[acgo.‛ (QS.Afbaqarah : 168). Sedangkan contoh yang berarti aktivitas adalah firg[h Aff[b s[ha [lnchs[: ‚< j[^[b[f Aff[b n_f[b g_hab[f[fe[h do[f \_fc ^[h g_hab[l[ge[h lc\[.‛ (QS.Afbaqarah : 275). Dalam surat Al-Baqarah ayat 168 ini menjelaskan bahwa perintah tersebut tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman saja, tetapi ditujukan untuk seluruh manusia. Ini menunjukkan bahwa bumi disiapkan Allah untuk seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang tidak beriman. Semua manusia diperintah untuk mengkonsumsi
Manajemen Bisnis Islam 147 makan yang halal yang ada di bumi. Segala makanan dan minuman yang akan dikonsumsi sudah mendapat standar kelayakan dari Allah SWT,yaitu halal dan tayyib (baik). Segala hal yang akan dikonsumsi orang yang beriman baik berupa makanan, minuman, pakaian, kendaraan haruslah berstandar halal dan tayyib (baik). B. Konsep Bisnis Syariah Bisnis dapat dikatakan sebuah kegiatan yang terorganisir karena didalam bisnis ada banyak kegiatan yang dilakukan. Bisnis menurut Hughes dan Kapoor ialah ‚Tb_ ila[hct_^ _``iln i` ch^cpc^o[fm ni jli^o]_ [h^ m_ff `il [ profit, the goods and services tb[n m[ncm`s mi]c_ns’m h__^m. The general term business refers to all such efforts within a society. (Priansa, 2012) Sedangkan menurut Straub dan Attner, bisnis adalah suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk mendapatkan keuntungan. Sedangkan secara etimologi, bisnis memiliki arti dimana seseorang atau sekelompok dalam keadaan yang sibuk dan menghasilkan keuntungan atau profit bagi dirinya atau kelompok. M_holon _ncgifiac, ms[lc’[b [lnchs[ [^[f[b d[f[h s[ha lurus atau jalan yang menuju mata air yang mengalir yang ingin diminum. jalan ke tempat pengairan, jalan yang harus ^cceonc, [n[o n_gj[n f[fo [cl moha[c. D[f[g Af Qol’[h ms[lc[n adalah per[nol[h [n[o d[f[h. ‚Kemudian Aku jadikan kamu berada di atas syariat (peraturan/jalan) yang merupakan
148 Manajemen Bisnis Islam \[ac[h ^[lc [a[g[, M[e[ ceoncf[b ms[lc[n cno<‛ (al-Jatsiyah: 18) Menurut istilah ialah hukum-hukum dan aturan Allah disyariahkan buat hambanya untuk diikuti dan hubungan mereka sesama manusia. Syaikh Yusuf Al- Qardhawi mendefinisikan kata syariah memiliki pengertian yang cukup luas dan sangat komprehensif. Di dalamnya mengandung pengertian aspek ibadah, muamalah, ekonomi, dan keluarga. bisnis berbasis syariah adalah kegiatan bisnis yang dilakukan oleh seseorang dengan berlandaskan syariat agama Islam, dimana setiap cara memperoleh dan menggunakan harta yang mereka dapatkan harus sesuai dengan aturan agama Islam (halal dan haram). Dalam bisnis syariah seseorang harus selalu mengingat dan menyerahkan semua hasil usaha yang telah dilakukan kepada Allah SWT, dengan berserah diri kepada Allah dan menganggap kerja sebagai ibadah seseorang akan selalu ikhlas dalam bekerja inilah yang dimaksud dengan tauhid uluhiyah. C. Landasan Halal Haram Dalam Bisnis Syariah Praktek bisnis syariah dijelaskan dalam banyak ayat AlQol’[h, \[ce n_hn[ha ^cj_l\if_be[hhs[ (b[f[f) [n[ojoh tentang larangan (haram) yang dilakukan dalam bisnis syariah. Salah satu contohnya ayat yang paling konkrit yaitu ayat tentang pengharaman riba dalam QS. Al- Baqarah ayat 275 s[ha g_gcfcec [lnc : ‚Ol[ha-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu,
Manajemen Bisnis Islam 149 adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-j_habohc h_l[e[; g_l_e[ e_e[f ^c ^[f[ghs[‛. Selanjutnya dalam Al-Qol’[h n_l^[j[n \_l\[a[c [s[n yang membahas tentang ekonomi atau bisnis berdasarkan prinsip syariah yang dapat digunakan dalam menyelesaikan berbagai masalah ekonomi/bisnis dan keuangan. Syauqi AlFanjari menyebutkan secara eksplisit ada 21 ayat yang berkaitan dengan bisnis syariah, yaitu : Al Baqarah ayat 188, 275, 279. An Nisa ayat 5 dan 32. Hud ayat 61 dan 116. Al Isra ayat 27 An Nur ayat 33. Al Jatsiah ayat 13. Ad Dzariah ayat 19. An Najm ayat 31. Al Hadid ayat 7. Al Hasyr ayat 7. Al Jogo[b [s[n 10. Af M[’[lc` [s[n 24, ^[h Af M[oh [s[n 1,2 ^[h 3. Selain terdapat pada Al-Qol’[h, H[^cm N[\c doa[ merupakan sumber hukum kedua dalam bisnis syariah. Di dalamnya terdapat penjelasan teoritis dan praktis terapan mengenai transaksi bisnis yang bernuansa syariah. Mcm[fhs[ m[\^[ N[\c : ‚Do[ il[ha s[ha g_f[eoe[h nl[hm[emc bisnis memiliki pilihan, tatkala keduanya masih berada di tempat. Jika mereka jujur dan memberikan gambaran (yang jelas tentang barang yang dibisniskan) maka transaksi yang mereka lakukan akan mendapat berkah, namun jika mereka menyembunyikan cacat yang ada maka transasksi mereka akan d[ob ^[lc \_le[b.‛ (HR Momfcg).
150 Manajemen Bisnis Islam Fikih merupakan sumber hukum yang dapat dipergunakan dalam menyelesaikan sengket ekonomi syariah. Sebagian kitab-ecn[\ `cecb s[ha go’n[\[l \_lcmc g[m[f[b muamalah yang dapat dijadikan acuan. Selain itu juga berbagai teori kaidah ushuliyah (usul fikih) adalah landasan hukum yang bersumber dari Al- Qol’[h ^[h H[^cm. Q[c^[bqaidah fiqhiyah yang biasa digunakan dalam akad bisnis Indonesia antara lain adalah: 1. Pada dasarnya segala sesuatu dalam muamalah boleh dilakukan sampai ada dalil yang mengharamkannya (As- Suyuthi, Al-Asybah wan Nadzair, 60). 2. Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaaan dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara (selama tidak bertentangan dengan syariat) 3. Tindakan imam (pemegang otoritas) terhadap rakyat harus mengikuti maslahat (As-Suyuthi Al-Asybah wan Nadzair, 121). Otoritas syariah tertinggi di Indonesia berada pada Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), yang merupakan lembaga independen dalam mengeluarkan fatwa yang berhubungan dengan segala permasalahan syariah agama Islam, baik masalah ibadah maupun muamalah, termasuk bisnis syariah. Pada saat ini sebagian besar kegiatan ekonomi Syariah/bisnis syariah merujuk pada fatwa DSN-MUI dalam operasionalnya, bahkan tidak sedikit dari fawa tersebut yang dijadikan bahan untuk membuat peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan operasionalisasi lembaga ekonomi syariah Indonesia.
Manajemen Bisnis Islam 151 D. Falsafah dan Prinsip-prinsip Bisnis Syariah ‚S_mohaaobhs[ mb[f[neo, c\[^[beo, bc^ojeo, g[nceo, e[l_h[ Aff[b‛, if_b e[l_h[ cno, m_nc[j om[b[ [j[ joh s[ha halal tidak terlepas dari tujuan memperoleh ridha Allah SWT. Demikianlah falsafah hidup pedagang muslim yang beriman dan bertakwa, berniaga, bejual beli atau melakukan gerak dalam bisnis, mata hatinya selalu terarah pada tujuan filosofis yang luhur itu. Pada dasarnya masyarakat Muslim mencari untung sebagaimana para pedagang pada umumnya, tetapi mereka tidaklah menjadikan keuntungan itu sebagai tujuan akhir. Mereka menjadikan keuntungan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun arah dan maksud didirikannya bisnis syariah bagi masyarakat muslim adalah Untuk ibadah, Untuk kemaslahatan umat manusia, mendapatkan profit yang layak, menjaga kelangsungan usaha (kontinuitas) pertumbuhan, membangun citra yang baik, ikut serta memecahkan masalah sosial, memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, menciptakan nilai tambah, memperoleh barokah, dan menciptakan manfaat dan kesejahteraan. Cara penggunaan sumber daya sesuai dengan syariat Islam adalah tertuang dalam prinsip-prinsip : Tidak boleh melampaui batas, sehingga mengganggu keselamatan dan e_m_d[bn_l[[h \_lm[g[ \[ac og[n g[homc[ (QS. Af A’l[` [s[n 31), Tidak boleh ditimbun, yang menimbulkan kerugian bagi masyarkat (At- Taubah ayat 34), Tidak boleh digunakan dengan cara penipuan (Al-[h’[g [s[n 152), Tc^[e \if_b ingkar janji atau sumpah (An Nahl ayat 94), Tidak boleh dengan mencuri (Al Maidah ayat 38), dan Tidak boleh kikir,
152 Manajemen Bisnis Islam dengan mengingat akan fungsi sosial sumber daya bagi orang fakir dan miskin (Q.S. Muhmmad ayat 38). E. Halal Haram Dalam Bisnis Islam Ilmu kehalalan dan keharaman dalam bisnis sangat di perlukan bagi para pelaku usaha. Khalifah Umar berpesan e_j[^[ e[og gomfcgch ‚b_h^[ehs[ nc^[ef[b \_l^[a[ha ^c pasar kita selain orang yang faham (halal haram dalam bisnis), bila tidak ia akan memakan riba. Dinukil dari oleh Ibnu Abdil Bar Al Maliky. (Zainal, 2018) Hal diperkuat oleh Ig[g Af Qolbo\c s[ha g_hd_f[me[h : ‚il[ha s[ha \i^ib tentang hukum bisnis, walaupun perbuatannya tidak dihalangi maka tidak pantas untuk diberi kepercayaan dalam mengelola hartanya, karena ia tidak dapat membedakan bisnis yang dihalalkan atau yang diharamkan, dan dikuatirkan melakukan transaksi haram seperti riba, hal ini juga berlaku bagi orang non muslim yang tinggal di negeri mayoritas Islam. Halal Haram juga dapat dipahami prinsip-prinsip sosial adalah prinsip-prinsip yang mengatur dan menjaga pelaku bisnis yang berkaitan dengan masyarakat secara umum, sehingga seorang pelaku bisnis akan komitmen dan menyebabkan kerusakan masyarakat dan ketidak stabilan dalam atauran-aturan yang ada di dalam masyarakat. Padahal tujuan bisnis dalam Islam adalah memberikan kemanfaatan kepada masyarakat dan mencegah keburukankeburukan yang ada. Secara umum ketentuan dalam bisnis yang diperbolehkan dalam Islam Ketika rukun dan syaratnya terpenuhi dalam Islam, salah satu rukun dalam akad bisnis
Manajemen Bisnis Islam 153 tidak terpenuhi akan merubah bisnis dari halal menjadi haram, termasuk jika ada unsur dalam syarat tidak terpenuhi maka akan menyebabkan kerusakan dalam transaksi bisnis. Kaidah yang berlaku dalam akad muamalah adalah boleh atau halal, selama tidak ada dalil yang melarangnya. Termasuk bisnis yang menjadi bagian dalam akad muamalah. Larangan-larangan apa yang di larang dalam kegiatan bisnis di dalam Islam ; Larangan kecurangan dalam timbangan, larangan terhadap praktek riba, larangan terhadap penimbunan komoditas. 1. Kecurangan Timbangan Salah satu keharaman dalam bisnis adalah kecurangan dalam timbangan. Dalam Al-Qol’[h Aff[b menjelaskan dalam surat al-Muthaffifin dengan suatu ancaman bagi orang–orang yang curang dalam timbangan (al-muthaffifin) ^_ha[h e[fcg[n ‚q[cf‛ artinya celakalah, suatu indikasi bahwa mereka akan mendapatkan siksaan dan azab yang pedih . Siapakah yang masuk kategori al-muthaffifin. Mereka adalah orang-orang yang jika menerima timbangan atau takaran mereka minta ditambah dan jika mereka menimbang atau menakar mereka mengurangi. Termasuk juga orang-orang yang curang dalam akad bisnis, mereka tidak beriman dengan adanya hari kiamat, hari kebangkitan, hari yang sangat besar, hari pertanggungjawaban atas apa yang diperbuat. Islam melarang adanya jual beli apabila dengan cara penipuan tersebut sudah sampai pada taraf yang keji, yakni apabila terjadi penipuan, maka belinya.
154 Manajemen Bisnis Islam Dalam jual beli, menurut agama Islam dibolehkan memilih, apakah akan meneruskan jual beli atau akan membatalkannya, disebabkan terjadinya oleh sesuatu hal, hal tersebut kemudian diistilahkan sebagai khiyar. (Suhendi, 2002) 2. Keharaman praktek riba Salah satu karakteristik dalam ekonomi Islam dan bisnis dalam Islam adalah menjauhi riba dalam segala transaksinya. Bahkan batasan yang paling mencolok antara bisnis secara umum dengan bisnis dalam Islam adalah masalah riba. Secara bahasa riba berarti bertambah, tumbuh, tinggi, dan naik. Sedangkan dalam istilah ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan di atas gi^[f s[ha ^cf[l[ha Aff[b So\b[h[bo q[ n[’[f[. Dasar pelarangan riba adalah Al-Qol’[h, Sohh[b, Ijma bahkan riba termasuk tujuh dosa besar yang menghancurkan. Di antara dasar pelarangan riba adalah : a. Al-Qol’[h Aff[b Sqn \_l`clg[h : ‚Ol[ha-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai
Manajemen Bisnis Islam 155 kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghunij_habohc h_l[e[; g_l_e[ e_e[f ^c ^[f[ghs[‛. (Q.S. AfBaqarah 2 : 275). Ayat di atas menjelaskan orang-orang yang makan riba tidak sekali-kali mereka bangkit dari kuburnya pada hari kiamat nanti melainkan seperti orang gila yang terbangun pada saat mendapat tekanan penyakit dan setan merasukinya. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi mereka sangat buruk. Gambaran ini menunjukkan larangan kita melakukan riba dengan berbagai bentuk dan sedikit mapun banyak. b. Hadits R[mofoff[b mb[ff[ff[bo ‘[f[cbc q[m[ff[g g_f[eh[n orang yang memakan riba, memberi makan riba (orang yang memberi riba kepada pihak yang mengambil riba), juru tulisnya, dan dua saksinya. Beliau g_ha[n[e[h: ‘M_l_e[ cno m[g[’.‛ *HR. Momfcg+ c. Idg[’ Para ulama dari dulu sampai sekarang dibelahan dunia telah mengharamkan riba. Hal ini dinukilkan dari para ulama. Imam Nawawi berkata : Ulama Muslim bersepakat tentang keharaman riba secara umum. Sedangkan mereka berbeda pandangan terkait batasanbatasannya. 3. Keharaman dalam Penimbunan Barang
156 Manajemen Bisnis Islam Monopoli atau ihtikar artinya menimbun barang agar yang beredar di masyarakat berkurang lalu harganya naik. Yang menimbun memperoleh keuntungan besar. Sedangkan pengertian secara istilah banyak definisi di kalangan ulama, tetapi saya ambil kesimpulannya adalah menimbun makanan dan barang lainnya kemudian harga menjadi naik padahal barang di kalangan masyarakat sangat membutuhkan dan penimbunmen dapatkan keuntungan yang sangat besar. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah penimbunan (ihtikar), ada dua pendapat : Ulama H[h[`cs[b ^[h M[fcecs[b ^[h g[silcn[m Ss[`c’cs[b ^[h Hanabilah, Dzhohiriyah, Zaidiyah dan mayoritas Imamiyah mengatakan hukum penimbunan adalah haram. Mereka beralasan dengan beberapa dalil di antaranya kaidah-kaidah dalam Al-Qol’[h s[ha menjelaskan tentang kezdaliman dan transaksi secara batil termasuk transaksi batil adalah ihtikar. Kemudian beberapa hadits yang secara jelas melarang transaksi tersebut di antaranya adalah ; Dclcq[s[ne[h ^[lc Ug[l R[^cs[ff[bo ‘Ahbo bersabda : Rasulullah Saw. Bersabda orang yang mengambil barang dari luar kota diberkahi rezkinya sedangankan yang melakukan monopoli di laknat. (HR. IbnuMajah) Uf[g[ m_\[ac[h ms[`c’cs[b, j_h^[j[n Img[’cfcs[b dan sebagian Imamiyah mengatakan hukum Ihtikar adalah makruh. Dengan alasan bahwa hadits-hadits
Manajemen Bisnis Islam 157 yang melarang monopoli hanya bersifat peringatan tidak sampai kepada pengharaman. F. Barang-barang yang termasuk Monopoli Apakah semua barang bisa masuk kategori monopoli, dalam hal ini para ulama berbeda pendapat dalam memahami obyek yang ditimbun yaitu: kelompok pertama mendefinisikan al-Ihtikar secara umum yaitu menimbun segala barang-barang keperluan manusia baik primer mapun sekunder. Di antara kelompok ulama yang mendefinisikan al-Ihtikar lebih luas dan umum diantaranya adalah imam Abu Yusuf (ahli fikih mazhab Hanafi) dan ulama dari mazhab Maliki. Beliau menyatakan bahwa larangan ihtikar tidak hanya terbatas pada makanan, pakaian dan hewan, tetapi meliputi seluruh produk yang dibutuhkan masyarakat. Menurut mereka, alasannya dalildalil yang melarang ihtikar sebagian ada yang bersifat muthlak dan sebagian bersifat muqoyyad (terbatas pada makanan), hal tidak bisa merubah makna muthlak ke dalam makna muqoyyad sebagaimana kaidah menurut mayoritas ulama jadi tetap yang digunakan adalah makna muthlak. Joa[ s[ha g_hd[^c ‘cf[n (gincp[mc boeog) ^[f[g f[l[ha[h melakukan ihtikar tersebut adalah kemudaratan yang menimpa orang banyak. Oleh karena itu kemudaratan yang menimpa orang banyak tidak hanya terbatas pada makanan, pakaian dan hewan, tetapi mencakup seluruh produk yang dibutuhkan. Bahkan produk lain selain makanan justru lebih banyak menyebabkan kerusakan di pasar. Kelompok kedua ulama yang mendefenisikan al-Ihtikar terbatas pada makanan pokok antara lain adalah Mayoritas
158 Manajemen Bisnis Islam of[g[ `ckcb ^[lc g[tb[\ Ss[`c’I, b[h\[fc ^[h doa[ b[h[`c dimana beliau berpendapat bahwa yang dimaksud al-Ihtikar hanyalah terbatas pada bahan makanan pokok saja. Sedangkan selain bahan makanan pokok (sekunder) seperti, obat-obatan, jamu-jamuan, wewangian, dan sebagainya tidak terkena larangan meskipun termasuk barang yang dimakan. Alasan mereka adalah karena yang dilarang dalam nash hanyalah makanan . Menurut mereka masalah ihtikar adalah menyangkut kebebasan pemilik barang untuk menjual barangnya. Maka larangan itu harus terbatas pada apa yang ditunjuk oleh nash. Alasan lainnya yang menjadi ‘cf[n (gincp[mc boeog) ^[lam larangan melakukan ihtikar tersebut adalah kemudaratan yang menimpa orang banyak, kebanyakan yang menyebabkan kerusakan adalah makanan pokok sedangkan barang lainnya tidak mempengaruhi gejolak pasar.
Manajemen Bisnis Islam 159 DAFTAR PUSTAKA Afc, M. 2016, ‚Kihm_p Makanan Halal dalam Tinjauan Syariah dan Tanggung Jawab Produk Atas Produsen Industri H[f[f,‛ AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah, vol. 16, no. 2, pp. 291–306. Abdullah, M. A. (2015). Halal Food Certification: An Overview. Journal of Islamic Marketing, 6(1), 133-149. Ali, M. (2017). Halal Food Certification: A Review of the Current State of the Art. Journal of Food Science and Technology, 54(2), 375-381. Amalia, M. R., & Mariani, M. (2022). Pengaturan Jaminan Produk Halal Di Indonesia. Al-Banjari: Jurnal Ilmiah IlmuIlmu Keislaman, 21(1), 1-11. Aziz, A., & Hipni, M. (2022). Potret Pemahaman Masyarakat Kamal Bangkalan Terhadap Pola Hidup Halal Lifestyle. LP2M UST Jogja, 591–601. Al-Zuhaili, Wahbah, 1998, Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa AlSs[lc’[b q[ Af-manhaj. Beirut: Dar Al-Fikr al-Mo’[mbcl, Vol 3 Ahnihci, Ss[`c’c, 2001, Bank Syariah: dari teori ke Praktik, Gema Insani Press, Jakarta, Cetakan pertama Al-Quran dan terjemahannya, Jakarta, Departemen Agama RI
160 Manajemen Bisnis Islam Asnawi, Nur dan M Asnan Fanani. 2017. Pemasaran Syariah, Depok: Rajawali Press Amalina, N., Wani, A. R., & Lestari, D. (2022). Analisis Fashion Muslim Di Era Millenial Dalam. Jurnal Ekonomi, Akuntansi Dan Manajemen, 1(3). Amrullah, E. F. (2008). Indonesian Muslim Fashion. Isim Review, AUTUMN, 22–23. Akbar, A. W.-F. (2018). Tafsir Ekonomi Kontemporer : Menggali Teori Ekonomi Dari Ayat-ayat Al-Qur'an. Depok: Gema Insani. Ash-Shawi, A. A.-M. (2015). Fikih Ekonomi Islam. Jakarta: Darul Haq. Badan Standardisasi Nasional. (2014). SNI 7276:2014 Tata Cara Penyembelihan Hewan Halal. Jakarta: BSN. BPJPH (2022) Panduan Penggunaan Aplikasi SIHALAL Modul Pelaku Usaha Dalam Negeri. Bergeaud-Blackler, F., Fischer, J., & Lever, J. (2015). Halal Matters: Islam, Politics and Markets in Global Perspective. Routledge. Diana Susanti, S. H., & Kn, M. (2021). Kebijakan Hukum Produk Halal di Indonesia. Sinar Grafika. Depag RI. 2012. Al-Qol’[h ^[h Terjemah, Bandung: Diponegoro. Didin Hafidhuddin & Hendri Tanjung, Manajemen Syariah dalam Praktek (Jakarta: Gema Insani, 2003) Damayanti, S. I. (2014). Perkembangan Desain Busana Muslim Dalam Tinjauan Sosiologis. Corak, 3(1), 53–63. https://doi.org/10.24821/corak.v3i1.2344
Manajemen Bisnis Islam 161 Devi, A., & Nawawi, K. M. (2018). Halal Certification Implementation Strategies for Fashion Product. Transforming Islamic Economy and Societies, Pages, Iciebp 2017, 645–649. https://doi.org/10.5220/0007087306450649 Djazuli, H. A. (2011). Kaida-kaidah Fikih : Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-masalah Yang Praktis. Jakarta: Kencana. Dch[l Sn[h^[l^ [h^ S[f[g G[n_q[s (2022) ‘Sn[n_ i` nb_ Gfi\[f Imf[gc] E]ihigs R_jiln: Uhfi]echa Ojjilnohcns’, State of the Global Islamic Economy Report 2020/21, pp. 4–202. Available at: https://haladinar.io/hdn/doc/report2018.pdf. Fathoni, M. A. (2020). Potret Industri Halal Indonesia: Peluang dan Tantangan. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 6(3), 428. https://doi.org/10.29040/jiei.v6i3.1146 Faried, A. I., Sembiring, R., & Nasution, L. N. (2019). Enhance Of Halal Rule Development Model On Fashion Industry Indonesia. International Halal Conference & Exhibition 2019, 24(9), 26–32. https://jurnal.pancabudi.ac.id/index.php/ihce/article/ view/630 Fauzia, I. Y. (2013). Etika Bisnis Dalam Islam. Jakarta: Kencana. F[nbihc, M.A. (2020) ‘Pinl_n Ih^omnlc H[f[f Ih^ih_mc[: P_fo[ha ^[h T[hn[ha[h’, Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 6(3), p. 428. Available at: https://doi.org/10.29040/jiei.v6i3.1146. Faridah, H. D. (2019) ‘S_lnc`ce[mc H[f[f ^c Ih^ih_mc[: S_d[l[b, P_le_g\[ha[h, ^[h Igjf_g_hn[mc’, Journal of Halal Product and Research, 2(2), pp. 68–78.
162 Manajemen Bisnis Islam Guanabara, E., Ltda, K., Guanabara, E., & Ltda, K. (n.d.). Peluang Usaha Produk Halal di Pasar Global: Perilaku Produsen dalam Memproduksi Produk Halal Hakim, A. 2021. "Dasar Hukum Halal Dan Penerapannya Di Indonesia." Adaptasi dan Sinkronisasi Kebijakan Pembangunan Memanfaatkan Momentum New Normal Pasca Covid-19: 83-94. Harahap, Sofyan Safri,2004, Akuntansi Islam, Jakarta, PT. Bumi Aksara Husna, A., Mohd Ashmir Wong, M. S., & Osman, A. S. (2022). The Enforcement of Halal Compliance by Authorities in the Halal Industry. Environment-Behaviour Proceedings Journal, 7(SI7), 543–548. https://doi.org/10.21834/ebpj.v7isi7.3829 Hutama Syam, A. P., & Ichwan, M. N. (2023). the Korean Wave Phenomena in Youth and Halal Industry: Opportunities and Challenges. LIKUID: Jurnal Ekonomi Industri Halal, 3(1), 1–17. https://doi.org/10.15575/likuid.v3i1.21548 Haneef, M. A. (2010). Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer. Rajawali. H[l[b[j, R.S.P. (2020) ‘P_ha[lob L[\_f H[f[f T_lb[^[j Keputusan Masyarakat Membeli Produk Makanan Dan Minuman (Studi Kasus Lingkungan Vi Kelurahan Nangka Bind[c Un[l[)’, AT-TAWASSUTH: Jurnal Ekonomi Islam, 5(2), p. 354. Available at: https://doi.org/10.30829/ajei.v5i2.8447.
Manajemen Bisnis Islam 163 Ikatan Akuntan Indonesia, 2007, Pernyataan Standart Akuntansi Keuangan dan Penyajian Laporan Keuangan, IAI, Jakarta Islamic finance develojg_hn l_jiln (2021) ‘Imf[gc] `ch[h]_ ^_p_fijg_hn l_jiln 2021: A^p[h]cha _]ihigc_m’, Refinitiv: An LSEG Business, p. 78. Available at: https://www.refinitiv.com/content/dam/marketing/en _us/documents/gated/reports/report-2021-allcolor2.pdf. Ibrahim, A., Amelia, erika, Akbar, N., Kholis, N., Utami, S. A., & Nofrianto. (2021). Pengantar Ekonomi Islam. Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah - Bank Indonesia. Ishak, K. (2015). Konsep Etika Produksi Dalam Sistem Ekonomi Islam Menurut Afzalur Rahman Dan Yusuf Qordhowi. IQTISHADUNA: Jurnal Ilmiah Ekonomi Kita, 4(1), 40– 69. Iqmal, M. et al. (2021) 3 rd International Halal Management Conference (3 rd IHMC 2021). Ifb[g, B. U. (2022) ‘P_h^[gjcha[h S_lnc`ce[mc H[f[f S_f` D_]f[l_ pada Usaha Mikro dan Kecil Binaan Pusat Layanan Um[b[ T_lj[^o Sof[q_mc S_f[n[h’, Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia, 5(1), p. 20. doi: 10.36722/jpm.v5i1.1753. Ifs[m, M. (2018) ‘S_lnc`ce[mc ^[h L[\_fcm[mc Pli^oe H[f[f P_lmj_enc` M[mf[b[n’, Jurnal Al-Qadau: Peradilan dan Hukum Keluarga Islam, 4(2), p. 357. doi: 10.24252/alqadau.v4i2.5682. Imnc[h[b, I. [h^ D_qc, G. (2022) ‘Ah[fcmcm M[ṣlahah Pada Konsep
164 Manajemen Bisnis Islam Halal Self-Declare Sebelum Dan Pasca Enactment Undang-Uh^[ha Ccjn[ K_ld[’, Al-Adl : Jurnal Hukum, 14(1), p. 85. doi: 10.31602/al-adl.v14i1.5870. Ismanto. 2009. Manajemen Syari'ah: Implementasi TQM dalam lembaga keuangan Syariah (Yogyakarta:2009) Jurjani, al-, ‘Afî c\h Mob[gg[^ c\h ‘Afî, Af-T[‘lî`ân, T[bkîk Ibrâhîm al-Abyarî, Bayrût: Dâr al-Kitâb al- ‘Al[\î, 1405 H. Kartina, K., Nurjannah, N., & Nurmaisah, N. (2020). Peningkatan Pemahaman Pelaku Umkm Dan Masyarakat Atas Produk Halal Dan Aman Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Di Kelurahan Juata Laut, Tarakan-Kalimantan Utara. Jurnal Pengabdian Masyarakat Borneo, 4(1), 15–22. https://doi.org/10.35334/jpmb.v4i1.1485 Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran edisi 13 jilid 1, Jakarta: Erlangga, 2021 KemenKopUKM. (2023). Kolaborasi Menjadi Kunci Wujudkan Indonesia Kiblat Fesyen Muslim Dunia. Smesta.Kemenkopukm. https://smesta.kemenkopukm.go.id/kolaborasimenjadi-kunci-wujudkan-indonesia-kiblat-fesyenmuslim-dunia/ Karim, A. (2010). Bank Islam Analisis Fiqih Dan Keuangan. Jakarta: Rajawali Press. Katsir, I. (1999). Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim. Darut Thaybah Li anNasyr wa at-Tauzi.
Manajemen Bisnis Islam 165 KNKS (2019) Strategi Nasional Pengembangan Industri Halal Indonesia. Kartika Rahajeng, D. (2022) Sertifikasi Halal, Sertifikasi Halal. Edited by Maria Ulfa. Yogyakarta: SHAFIEC UNU. Koeswinarno, D. (2020) Sertifikasi Halal Yes or No. Edited by R. Tabroni. Jakarta: Litbangdiklat Press. Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia. (2012). Pedoman Umum Halal MUI. Jakarta: LPPOM MUI. Larasati, P., & Gunanto, E. Y. A. (2021). Faktor Penentu Keputusan Berbisnis Fashion Muslim Dengan Pendekatan Ahp. Jurnal Ekonomi Syariah Teori Dan Terapan, 8(6), 669. https://doi.org/10.20473/vol8iss20216pp669-685 Mailin, M. (2022). Pemahaman Masyarakat Muslim Kota Medan Terhadap Makna Halal dan Tayib. Jurnal Komunika Islamika : Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Kajian Islam, 9(1), 49. https://doi.org/10.37064/jki.v9i1.12070 Mochtar, S. S. (2020). Studi Komparasi Pemikiran Keynes dan Qardhawi tentang Produksi. Li Falah: Jurnal Studi Ekonomi Dan Bisnis Islam, 4(2). https://doi.org/10.31332/lifalah.v4i2.1522 Misaroh. (2021). Pemahaman Masyarakat Muslim Kota Pekanbaru Terhadap Bahan Dan Proses Produk Halal Berdasrkan UU Republik Indonesia No.33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal. 5(3), 248–253. Muhammad, 2005, Pengantar Akuntansi Syariah, Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta
166 Manajemen Bisnis Islam Moenir, 2013, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Bumi Aksara, Jakarta Muhammad. (2014). Dasar-dasar Keuangan Syariah. Yogyakarta: Ekonisia. Mom[n[efcg[, M. (2021) ‘S_f`-Declare Halal Products for Small and Micro Enterprises: Between Ease of Doing Business [h^ Ammol[h]_ i` Cihmog_l Sjclcno[f Rcabnm’, De Jure: Jolh[f Hoeog ^[h Ss[l’c[b, 13(1), pp. 32–52. Nisha, N., & Iqbal, M. (2017). Halal ecosystem: Prospect for growth in Bangladesh. International Journal of Business and Society, 18(S1), 205–222. Nadha, C. (2021) Mengenal Auditor Halal, Bagaimana Peran dan Fungsinya?, https://halalmui.org/mengenal-auditorhalal-bagaimana-peran-danfungsinya/#:~:text=Auditor%20halal%20merupakan% 20orang%20yang,dalam%20proses%20sertifikasi%20h alal%20produk. Nurlaela, Pettenreng, H. A. M. A. and Hamid, A. H. (2021) Produk Halal Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen. Available at: https://repository.unibos.ac.id/xmlui/handle/12345678 9/855. Pengabdian, J., & Vol, M. (2022). 1 , 2 1,2. 2(1), 21–28. Peraturan Pemerintah (PP) No. 31 Tahun 2019 Pemerintah Republik Indonesia (2014) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal.
Manajemen Bisnis Islam 167 Presiden Republik Indonesia (no date) Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Jaminan Produk Halal, Presiden Republik Indonesa. doi: 10.31602/al-adl.v15i1.7072. Puspita, N. F. et al. (2021) ‘P_h^[gjcha[h M_hodo S_lnc`ce[mc H[f[f j[^[ Pli^oe ‚Si]if[n‛ UMKM Pih^ie Mi^_lh Sumber Daya At-T[kq[’, JPP IPTEK (Jurnal Pengabdian dan Penerapan IPTEK), 5(1), pp. 17–24. doi: 10.31284/j.jpp-iptek.2021.v5i1.1611. Qardhawi, Y. (2007). Halal Dan Haram Dalam Islam. Surabaya: PT Bina Ilmu Surabaya. Qihc[b, R. (2022) ‘T[hn[ha[h ^[h Snl[n_ac P_hchae[n[h Eemjil Produk Halal Indonesia di Pasar Glob[f’, Halal Research Journal, 2(1), pp. 52–63. Available at: https://doi.org/10.12962/j22759970.v2i1.246. Rachman, A. (2020). Halal Branding; A Religious Doctrine in the D_p_fijg_hn i` Imf[gc] D[’q[b. Journal of Digital Marketing and Halal Industry, 2(2), 133. https://doi.org/10.21580/jdmhi.2020.2.2.6149 Riaz, M. N., & Chaudry, M. M. (2017). Handbook of Halal Food Production. John Wiley & Sons. Rozalinda. (2019). Ekonomi Islam Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi. PT RajaGrafindo Persada. R[`c[hnc, F., Klcmh[, R. [h^ R[^cnsi, E. (2022) ‘Dch[gce[ Pendampingan Manajemen Halal Bagi Usaha Mikro ^[h K_]cf M_f[foc Plial[g S_f` D_]f[l_’, Jurnal Sains Sosio Humaniora, 6(1), pp. 636–643. doi: 10.22437/jssh.v6i1.19732.
168 Manajemen Bisnis Islam Rusyd, I. (2007). Bidayatul Mujtahid Analisa Fiqih Para Mujtahid. Jakarta: Pustaka Amani. Ribcg, A.N. [h^ Plcs[nhi, P.D. (2021) ‘Pif[ Kihmogmc ^[f[g Igjf_g_hn[mc G[s[ Hc^oj H[f[f’, Maro: Jurnal Ekonomi Syariah dan Bisnis, 4(2), pp. 26–35. Available at: https://doi.org/10.31949/maro.v4i2.1302. Semmaila, B., Muchlis, N., & Nuraeni. (2022). Pemahaman dan Kesadaran Halal Pengguna Jasa Makanan Online. SEIKO : Journal of Management & Business, 4(3), 616– 622. https://doi.org/10.37531/sejaman.v4i3.2498 Sula, Muhammad Syakir dan Hermawan Kartajaya, Marketing Syariah, Bandung: Mizan, 2006 Sofiana, R., Utama, S., & Rohim, A. (2021). The Problems of Halal Certification Regarding Consumer Protection in Malaysia and Indonesia. Journal of Human Rights, Culture and Legal System, 1(3), 180–193. https://doi.org/10.53955/jhcls.v1i3.16 Sumarliah, E., Li, T., Wang, B., Moosa, A., & Sackey, I. (2021). The impact of customer halal supply chain knowledge on customer halal fashion purchase intention. Information Resources Management Journal, 34(3), 79–100. https://doi.org/10.4018/IRMJ.2021070105 Sarwat, A. (2014). Halal Atau Haram? Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Syafe'i, R. (2001). Fiqih Muamalah. Bandung: CV Pustaka Setia. Ss[`lc^[ (2016) ‘S_lnc`ce[n H[f[f P[^[ Pli^oe M[e[h[h D[h Minuman Memberi Perlindungan Dan Kepastian
Manajemen Bisnis Islam 169 Hukum Hak-H[e Kihmog_h Momfcg’, ADIL: Jurnal Hukum, 7(2). Triono, DC, 2020, Rekonstruksi Perbankan Syariah dan BMT, Irtikaz, Yogyakarta Tisnawati, E., & Saefullah, K. (2005). Pengantar Manajemen. In Kencana Prenada Media (Vol. 94). Turmudi, M. (2017). Produksi Dalam Prespektif Ekonomi Islam. Jurnal Islamadina, 18(1). Tarmizi, E. (2012). Harta Haram Muamalat Kontemporer. Jakarta: PT Berkat Mulia Insani. W[bc^[nof ’[cf[b, M. (2019). P_g[b[g[h Kihm_j H[f[f ^[h H[f[f Awareness dalam Perilaku Konsumen Muslim BreadTalk di Surabaya. Jurnal Uin, 18, 53. Widayat, W., Suzery, M., & Ardianto, H. T. (2022). Analisis Pemahaman UMKM di Kota Semarang terhadap Kebijakan Produk Halal. Jurnal Riptek, 16(2), 153–160. https://doi.org/10.35475/riptek.v16i2.170 Widayat, W. et al. (2020) ‘P_h^[gjcha[h S_lnc`ce[mc H[f[f P[^[ UMKM Hanum Food (Halal Certification Support in UMKM H[hog Fii^)’, Indonesian Journal of Halal, 3(1), pp. 83–87. Available at: https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/ijh/article/vie w/9189. Yaya, R. Martawireja, A.E. Abdurahim, A, 2014, Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer, alemba Empat, Jakarta Zakaria, A. (2012). Etika Bisnis Dalam Islam. Garut: Ibn Azka Press.
170 Manajemen Bisnis Islam Zofb[g (2016) ‘S_f` D_]f[l_ ^[h P_l[h N_a[l[ ^[f[g e_\cd[e[h Sertifikasi H[f[f’, ch Dinamika Sertifikasi Halal dalam Perspektif Hukum Islam dan Peraturan PerundangUndangan. Depok: ADHII, pp. 1–23.
Manajemen Bisnis Islam 171 TENTANG PENULIS Elis Nurhasanah, S.Sy., M.Si. Penulis lahir di Garut, pada bulan Oktober 1993. Penulis telah menikah dengan Abdul Aziz KM, S.Kom.I dan telah dikarunia dua orang anak (Muhammad Alp Arslan Ashidiq dan Rumaysha Hamnah Shidqiya). Penulis adalah dosen aktif pada Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Siliwangi. Penulis menyelesaikan pendidikan Sarjana di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan pendidikan Magister di Univeristas Indonesia. Beliau merupakan Awardee Beasiswa Bidikmisi dan LPDP. Sampai saat ini beliau aktif melakukan kegiatan tridharma baik pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian. Penulis juga merupakan Editor In Chief di Jurnal terindeks Sinta 4, dan Reviewer di beberapa Jurnal baik terakreditasi maupun jurnal nasional. Penulis dapat dihubungi di: [email protected].
172 Manajemen Bisnis Islam Siti Murtiyani, SE.,M.Si.,Akt.,Ph.D, Lahir di Sleman, 24 Juni 1964, Pendidikan Doktor Bidang Akuntansi Keuangan Syariah di Fakulty Ekonomi dan Perniagaan University Kebangsaan Malaysia tahun 2009, Magister Akuntansi di Universitas Gadjahmada tahun 2000, Pendidikan Profesi Akuntan di STIE YKPN tahun 2005, dan Sarjana Ekonomi pada Program Studi Akuntansi YKPN tahun 1988. Saat ini aktif sebagai Dosen tetap dan mengajar di STEI Hamfara, dan juga sebagai team Dosen Mata Kuliah Akuntansi Syariah di Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pernah mengajar Mata Kuliah Akuntansi Syariah di Magister Akuntansi Universitas Soedirman Purwokerto, Akuntansi Perbankan Syariah di Pasca Sarjanan IAIN Surakarta. Selain mengajar juga mengisi trainingtraining manajer dan juga UMKM dibidang Akuntansi Syariah, Perbankan Syariah, Manajemen Keuangan, Studi kelayakan bisnis bidang keuangan. Selain itu aktif juga dalam kegiatan riset dan karya ilmiah dibidang Akuntansi Keuangan Syariah, Manajemen Keuangan Syariah. Prestasi yang diperoleh antara lain: Best Paper Award di Forum Riset Perbankan Syariah, Bank Indonesia tahun 2010, Best Paper Award I pada Simposium Ekonomi Islam IV di UII tahun 2009. Best Paper Award di KLIFF (Kualalumpur Internasional Islamic Finance Forum), IRTI dan IDB, tahun 2007, dan lain-lainnya.
Manajemen Bisnis Islam 173 Nur Ayu Anggraeni Utarto, M.IKom, lahir di Batang pada tanggal 17 November 1991, saat ini tinggal bersama keluarga kecilnya di Jakarta. Penulis merupakan anak pertama dari 4 bersaudara, menyelesaikan pendidikan formalnya di SDN 026 Pandau Jaya, Pekanbaru, Riau yang sekarang sudah berganti nama menjadi SDN 017 dan selesai pada tahun 2003, kemudian melanjutkan ke SMPN 4 Siak Hulu, Kampar, Riau selesai pada tahun 2006, kemudian melanjutkan ke Pondok Modern Darussalam Gontor Putri di Jawa Timur selesai pada tahun 2011 dan mengabdi sebagai pengajar di Gontor sampai tahun 2012. Pada tahun 2012 akhir penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Marketing Komunikasi di London School of Public Relations Jakarta (LSPR) selesai tahun 2016. Selama menjadi mahasiswa penulis juga aktif didalam kegiatan club kampus yakni LSPR TV dan LSPR Radio. Dan pada tahun 2017 penulis menyelesaikan studi S2 di kampus yang sama jurusan Bisnis Komunikasi. Penulis juga merupakan lulusan dari Tantowi Yahya Public Speaking School (TYPSS Public Speaking School) yang terletak di Jakarta Selatan. Penulis juga pernah bekerja dan magang di PT. Haier Sales Indonesia sebagai staf Marketing Komunikasi pada tahun 2016. Untuk saat ini selain menjadi MC di berbagai acara baik formal ataupun non-formal penulis juga fokus pada bisnis yang di jalani yaitu souvenir dan percetakan, selain itu penulis juga memiliki usaha keripik ikan asin dengan merek Bintang Laut, dan penulis juga menjalani usaha agribisnis jahe merah yang di rintis bersama suami. Penulis juga merupakan Tutor di Universitas Terbuka sejak tahun 2022. Motto hidup ‚ASPIRE ni INSPIRE \_`il_ q_ EXPIRE‛
174 Manajemen Bisnis Islam Trisna Wijaya, S.E.I.,M.E.Sy., lahir di Tasikmalaya, 11 September 1985. Berdomisili di Tugujaya Kecamatan Cihideung kota Tasikmalaya kode pos 46126. E-mail: [email protected] [email protected] Menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) di Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Siliwangi Tasikmalaya tahun 2008 ; Magister (S2) di Prodi Ekonomi Syariah Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung tahun 2013. Berprofesi sebagai Dosen Tetap PNS di Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Pernah Mengajar sebagai dosen tamu di IAI Cipasung Tasikmalaya (2014-2018) dan STAI Tasikmalaya (2017-2018). Muhammad Dzulfaqori Jatnika lahir di Bandung, 26 Januari 1995. Penulis menyelesaikan studi S-1 pada Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pendidikan Indonesia dan S-2 pada Program Studi Sains Ekonomi Islam Universitas Airlangga. Saat ini penulis sebagai dosen pada Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Siliwangi dan Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Bandung. Penulis juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai juara dua lomba karya tulis inovatif nasional yang diselenggarakan oleh Bappeda Kota Tangerang pada tahun 202
Manajemen Bisnis Islam 175 Abi Suryono, SE., Ak., M.Ak., AWP., CA. Lahir di Mataram pada tanggal 30 Mei 1989, anak dari ayah bernama Soedjawo (Almarhum) dan Ibu bernama Maesum, anak pertama dari 2 bersaudara. Menamatkan pendidikan dasar di SD Negeri Tanak Tepong lulus pada tahun 2021, setamat dari Sekolah Dasar melanjutkan ke SMP Negeri 2 Mataram lulus tahun 2004, dan selanjutnya menempuh pendidikan di SMA Negeri 5 Mataram lulus tahun 2007. Pada tahun 2007 penulis diterima pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Indonesia. Gelar Sarjana Ekonomi diperoleh pada tahun 2011. Selanjutnya penulis melanjutkan study Pendidikan Profesi Akuntansi dan S-2, Gelar Magister Akuntansi di Universitas Islam Indonesia pada tahun 2015. Saat ini penulis sedang mengambil Program Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Islam Indonesia juga. Pengalaman bekerja diawali di Kantor Konsultan Pajak Hari Triwanta kemudian saat ini penulis menjadi Dosen Prodi Akuntansi Universitas Alma Ata sejak tahun 2016 sampai saat ini. Agustin Widianingsih, S.T., M.M. menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Teknik Industri dan S2 di Magister Manajemen konsentrasi Keuangan Syariah di Universitas Islam Jakarta. Ia memulai karir sebagai staf pengajar di TPA Baitut Taqwa Johar Baru, Jakarta Pusat dan kemudian mengajar di SMK Tunas Bangsa Jakarta Timur. Pada tahun 2000 beralih menjadi distributor produk dari PT Ahadnet Internasional hingga tahun 2003. Sebelum mengajar di Universitas Islam Jakarta pada Prodi Ekonomi Syariah Ia bekerja di bidang manajemen keuangan
176 Manajemen Bisnis Islam perusahaan (2003-2014). Selain mengajar, Ia aktif mengikuti pelatihan, seminar dan melakukan penelitian. Penelitian n_l\[lohs[ s[cno ‚Ojncg[fcm[mc P_g\_l^[s[[h Eeihigc Masyarakat Berbasis Community Development (Studi Pada Pihj_m M[h\[of Ufog Kin[ Ccl_\ih)‛ ^[h ‚Erjfilcha Tb_ Potential of Strengthtening for Batik Industry In Digital Era (Study of Handmade Batik Kulon Progo of Jogjakarta). Muhamad Wawang Darmawan, Lc, MESy K_f[bcl[h J[e[ln[, P_h^c^ce[h S1 ^c Mo’n[b University, Faculty of Syaria (Islamic Lac), The Hashemite Kingdom of Jordan. Pendidikan S2 di Universitas Azzahra, Jakarta Konsentrasi Ekonomi Syariah. Dosen Tetap Ekonomi Syariah di Universitas Islam Jakarta (UIJ) dan Dosen Agama di Akper Pasarrebo dan Akper Hermina. Selain itu menjadi Konsultan Syariah di satu perusahaan bilangan timur Jakarta sejak 2005 – sekarang. Penulis pernah menulim Boeo Ad[l B[b[m[ Al[\ ‘LUGHATUNA ARABIYYA’ untuk kelas X-XI-XII SMA (2015). Penulispun aktif sebagai pengasuh MT Darul Mahmudiyyah, Jakarta sejak 2015 – sekarang. E-Mail : [email protected] Dr. H. Acep Zoni Saeful Mubarok, M.Ag. Berkelana dalam kajian Islam (Islamic Studies), khususnya hukum Islam sudah menjadi tradisi semenjak kecil. Dididik di lingkungan Pesantren kecil di Kota Tasikmalaya diperkuat dengan melanjutkan studi S1 dan S2 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam kajian Syariah (Hukum Islam) selesai tahun 2000. Kemudian pada tahun 2019 penulis menyelesaikan studi S3
Manajemen Bisnis Islam 177 dengan meraih Doktor bidang Syariah (Hukum Islam) pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengalaman bekerja penulis dimulai dari Staf Kementerian Agama Kota dan Kab Tasikmalaya sampai menjadi Dosen di Universitas Siliwangi, satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri di wilayah Priangan Timur. Sebagai dosen profesional, penulis pun aktif melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi baik sebagai pengajar, peneliti, maupun pegiat pengabdian masyarakat. Beberapa penelitian banyak yang sudah publish di jurnal terakreditasi. Selain itu, penulis juga aktif menulis dan mengedit (editor) beberapa buku, baik secara mandiri maupun book chapter. Sejak tahun 2018 sampai sekarang, penulis diamanahi tugas dari Universitas Siliwangi sebagai Ketua Satuan Pengawas Internal (SPI). Selama bergelut di dunia kampus penulis pernah mengampu beberapa mata kuliah diantaranya Pendidikan Agama Islam, Maqashid Syariah, Kaidah Fiqih Ekonomi, Aspek Hukum dalam Zakat dan Wakaf, serta Pendidikan Anti Korupsi. Selain itu penulis pun aktif di beberapa organisasi profesi dan kegamaan baik tingkat lokal, regional maupun nasional. Untuk memperkuat kompetensi penulis menyandang beberapa sertifikasi kompetensi diantaranya sertifikasi pendidik (dosen), Pembimbing Haji Profesional, CRA, CRP, CLA, CIAP, editor buku, Dewan Hakim MTQ dan Nazhir Wakaf Profesional, lulus Pelatihan Pendamping PPH BPJPH Kemenag RI. Email Penulis: [email protected] & [email protected] Qiny Shonia Az Zahra. Penulis menyelesaikan studi S1 di prodi Manajemen, konsentrasi Manajemen Operasional, FEB Universitas Siliwangi pada tahun 2015. Setelah bekerja selama setahun di sektor perbankan konvensional, penulis mulai tertarik mendalami Ekonomi Syariah. Sehingga tepat pada 2016 melanjutkan studi S2 di pasca sarjana Ekonomi Islam UIN Sunan
178 Manajemen Bisnis Islam Gunung Djati Bandung dan lulus pada 2018 silam. Selain aktif sebagai Dosen di Prodi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Siliwangi sejak 2019-sekarang, passion-nya dalam menulis mengantarkan esainya menjadi penutup Narasi Praktik Baik Penggiat Literasi Nusantara Kemendikbud, yakni dalam buku Realitas Virtual Era Revolusi Industri 4.0 (2018), Dakwah Literasi Digital (2018), Literasi Dalam Saku (2018), dan Keliyanan Literasi (2018). Karya yang telah publish bersama penulis lainnya adalah Manajemen Bisnis Kontemporer: Konsep Syariah (Media Sains, 2022), Pengantar Ekonomi Islam (Penamuda Media, 2023), Pemasaran Syariah: Teori dan Aplikasi dalam Ekonomi Islam (Media Sains, 2023). Email penulis: [email protected] [email protected] Mohamad Ainun Najib, Lc., M.S.I Dosen di jurusan ekonomi syariah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten. Mengawali studi S1 nya di Universitas Al Azhar Mesir, mengikuti kursus ekonomi syariah di beberapa Lembaga di antara Lembaga riset Sholah Kamil, menlanjutkan s2 di Universitas Omdurman Sudan Mesir dengan tesis telaah prinsip syariah pada produk perbankan syariah di Indonesia.
Manajemen Bisnis Islam 179