The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by vidog46526, 2022-07-02 18:02:31

_02072022

_02072022

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM FILM SANG
PENCERAH KARYA HANUNG BRAMANTYO

OLEH

MUHAMMAD RASYID RIDHA

NIM : 18.04.06484

NIRM : 18.11.04.0101.07033

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
RASYIDIYAH KHALIDIYAH
AMUNTAI
2022 M/1443 H

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM FILM SANG
PENCERAH KARYA HANUNG BRAMANTYO

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Tugas-Tugas

dan Syarat-Syarat Guna Mencapai Gelar
Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

MUHAMMAD RASYID RIDHA

NIM : 18.04.06484

NIRM : 18.11.04.0101.07033

Program Studi : S1 Pendidikan Agama Islam

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
RASYIDIYAH KHALIDIYAH
AMUNTAI
2022 M/1443 H

i

TANDA PERSETUJUAN

Skripsi yang Berjudul : NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM FILM

SANG PENCERAH KARYA HANUNG

BRAMANTYO

Ditulis oleh : MUHAMMAD RASYID RIDH

NIM : 18.04.06484

NIRM : 18.11.04.0101.07033

Program Studi : S1 Pendidikan Agama Islam (PAI)

Alamat : Jl. H. Saberan Effendi Komplek Citra Permata Sari

Blok B/23 RT. 21 Kelurahan Sungai Malang

Kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai

Utara Provinsi Kalimantan Selatan Indonesia.

Setelah diteliti kembali dan diadakan perbaikan seperlunya, kami dapat
menyetujui untuk diajukan dan dipertahankan didepan sidang Tim Penguji Skripsi
Sekolah Tinggi Agama Islam Rasyidiyah Khalidiyah (STAI RAKHA) Amuntai
untuk memenuhi sebagian syarat-syarat dan tugas-tugas guna mencapai Gelar
Sarjana Pendidikan (S.Pd.).

Amuntai, 29 Juni 2022 M

29 Dzulkaidah 1443 H

Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs. H. MUNADI SUTERA ALI, M.M.Pd. RAHMANI ABDI, S.S., M.Pd.

Mengetahui
Ketua STAI Rakha Amuntai,

H. RIF’AN SYAFRUDDIN, Lc., M.Ag
ii

TANDA PENGESAHAN
...

iii

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM FILM SANG PENCERAH
KARYA HANUNG BRAMANTYO

ABSTRAK
Penelitian ini dilatar belakangi dari banyaknya produksi film yang sehingga
membuat seseorang harus lebih terampil dalam memilih tayangan yang bermutu
dan mengandung nilai-nilai di dalamnya. Salah satu film yang banyak mengandung
nilai-nilai pendidikan adalah film Sang Pencerah. Film Sang Pencerah ini
menceritakan perjalanan kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dalam membela
kebenaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan Islam
dan pendidikan Karakter dalam film Sang Pencerah. Penelitian ini merupakan jenis
penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian pustaka (library
research), yang bersumber dari rekaman video film Sang Pencerah produksi oleh
Raam Punjabi di bawah naungan PT. Multivision Plus (MVP), sedangkan analisis
yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, dengan sumber data
primer adalah dengan memutar film Sang Pencerah, sumber data sekunder adalah
bahan bacaan yang berhubungan dengan objek pembahasan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) nilai-nilai pendidikan Islam yaitu
a) nilai-nilai akidah berupa larangan berbuat syirik/menyekutukan Allah dan
berserah diri kepada Allah, b) nilai-nilai ibadah berupa perintah mendirikan shalat
dan perintah amar ma’ruf nahi munkar, dan c) nilai-nilai akhlak berupa akhlak
kepada Allah dan akhlak kepada Manusia. 2) nilai-nilai pendidikan Karakter yaitu
a) cinta damai, b) peduli sosial, dan c) toleransi.

iv

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : MUHAMMAD RASYID RIDHA

NIMKO : 18.11.04.0101.07033

Program Studi : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan belum pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan, dan dalam tulisan skripsi ini tidak
terdapat hasil karya atau pendapat orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam
tulisan ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari pernyataan ini ternyata tidak benar, maka saya bersedia
menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Amuntai, 29 Juni 2022
Yang Membuat Pernyataan,

Muhammad Rasyid Ridha

v

KATA PENGANTAR

‫بسم الله الرحمن لرحيم‬
‫الحمد لله ربالعالمي والصلاة والسلام على اشرف الأنبياءوالمرسلي سيدنا ومولانامحمد‬

‫أما بعد‬،‫وعلى اله وأصحابه أجمعي‬

Alhamdulillah berkat Taufik dan Inayah Allah jualah penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dalam rangka memenuhi tugas dan melengkapi
persyaratan mencapai gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Sekolah Tinggi Agama
Islam Rasyidiyah Khalidiyah (STAI RAKHA) Amuntai.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini banyak menerima
bantuan dari segenap pihak baik berupa bimbingan, dukungan dan motivasi maupun
saran-saran yang sangat besar nilainya. Oleh karena itu penulis menyampaikan
penghargaan dan ucapan terima kasih, terutama kepada:
1. Bapak H. Rif’an Syafruddin, Lc., M.Ag. sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama

Islam Rasyidiyah Khalidiyah (STAI Rakha) Amuntai yang telah menerima dan
menyetujui ini.
2. Bapak Drs. H. Munadi Sutera Ali, M.M.Pd. dan Bapak Rahmani Abdi, S.S.,
M.Pd. sebagai pembimbing I dan II yang telah banyak memberikan bimbingan
dan petunjuk dalam penulisan skripsi ini.
3. Pimpinan dan karyawan perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Islam Rasyidiyah
Khalidiyah (STAI Rakha) Amuntai yang telah membantu penulis dalam
peminjaman literatur.
4. Semua pihak yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak
memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam
penyelesaian skripsi ini.

Atas segala bantuan yang diberikan, penulis memanjatkan do’a semoga
mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT dan semoga skripsi ini dapat
bermanfaat adanya.

Amuntai, 29 Juni 2022
Penulis

vi

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
TANDA PERSETUJUAN ............................................................................... ii
TANDA PENGESAHAN ................................................................................ iii
ABSTRAK ....................................................................................................... iv
SURAT PERNYATAAN................................................................................. v
KATA PENGANTAR ..................................................................................... vi
DAFTAR ISI.................................................................................................... vii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah dan penegasan judul ............................... 1
B. Perumusan masalah ....................................................................... 7
C. Alasan pemilihan judul.................................................................. 7
D. Tujuan penelitian........................................................................... 8
E. Signifikansi penelitian................................................................... 8
F. Kajian pustaka ............................................................................... 9
G. Metode penelitian.......................................................................... 11
H. Sistematika penulisan.................................................................... 15

BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Nilai............................................................................. 17
B. Pengertian Pendidikan Islam......................................................... 18
C. Macam-macam Pendidikan Islam ................................................. 21
D. Pengertian Pendidikan karakter..................................................... 30
E. Macam-macam Pendidikan Karakter ............................................ 34
F. Pengertian Film ............................................................................. 38
G. Film sebagai media pendidikan..................................................... 40

BAB III FILM SANG PENCERAH
A. Sejarah Film Sang Pencerah.......................................................... 46
B. Karakter para tokoh dalam film Sang Pencerah............................ 47
C. Alur cerita film Sang Pencerah ..................................................... 48

BAB IV NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DAN NILAI-NILAI
PENDIDIKAN KARAKTER
A. Nilai-Nilai Pendidikan Islam......................................................... 54
B. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter.................................................... 80

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 96
B. Saran.............................................................................................. 97
C. Penutup.......................................................................................... 97

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 98
LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................... 103

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah dan Penegasan judul
1. Latar belakang masalah
Pengertian pendidikan menurut Undang-Undang Republik
Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Pasal 3 berbunyi:
Pendidikan merupakan suatu tempat yang di dalamnya terdapat
keterkaitan secara terpadu yang berasal dari berbagai pihak, baik itu
pemerintah, satuan pendidikan, pendidik, maupun peserta didik
dalam berusaha untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.1
Jadi, pendidikan adalah sebuah wadah yang di dalamnya
terdapat kerja sama dalam usaha mencapai tujuan pendidikan nasional
yang berasal dari berbagai pihak, entah itu pemerintah, satuan
pendidikan, maupun peserta didiknya.
Fungsi dari pendidikan nasional menurut Undang-Undang
Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 3 berbunyi: “Fungsi dari pendidikan nasional adalah
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa”.2
Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa fungsi dari
pendidikan nasional adalah pengembangan kemampuan dan
menciptakan watak serta kebudayaan bangsa yang bermartabat dalam
usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

1

2

Tujuan dari pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.3

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun
2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 1 berbunyi:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.4
Jadi, pendidikan adalah sebuah wadah yang di dalamnya
terdapat kerja sama yang dimulai dari pemerintahan pusat hingga ke
para pendidik, yang sama-sama berusaha untuk mencapai cita-cita
bangsa “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Adapun fungsi dari
pendidikan adalah pengembangan kemampuan dan menciptakan watak
serta kebudayaan yang bermartabat dalam usaha untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan
potensi yang dimiliki oleh peserta didik untuk menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak
mulia.
Oleh sebab itu, pendidikan merupakan sebuah tahapan proses
yang dilalui oleh peserta didik dalam mengembangkan potensi yang
dimilikinya. Pengembangan potensi seorang anak didik dilakukan

3

dengan melalui proses pendidikan formal, non-formal, dan informal.
Pada proses pendidikan tersebut sumber pendidikannya tidak hanya
bersumber dari guru melainkan juga melalui media pendidikan baik
media cetak, elektronik maupun internet di mana berperan penting
dalam pendidikan.

Salah satu karya yang dihasilkan oleh media elektronik adalah
film. Film adalah suatu massa elektronik yang berupa media audio
visual yang mampu menampilkan kata-kata, bunyi, citra, dan
kombinasinya.

Menurut Alex Sobur, “Film juga merupakan salah satu bentuk
komunikasi modern yang kedua muncul di dunia”.5

Menurut McQuail,
Film berperan sebagai sebuah sarana baru yang digunakan untuk
menyebarkan hiburan yang sudah menjadi kebiasaan terdahulu,
serta menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak, dan
sajian teknis lainnya kepada masyarakat umum.6
Menurut Effendy, “Film adalah medium komunikasi massa
yang ampuh sekali, bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk
penerangan dan pendidikan”.7 Film mempunyai suatu dampak tertentu
terhadap penonton, dampak-dampak tertentu terhadap penonton,
dampak-dampak tersebut dapat berbagai macam seperti dampak
psikologis, dan dampak sosial.8
Secara garis besar, film terbagi menjadi beberapa hal. Yang
pertama, film dibedakan berdasarkan media yaitu layar lebar dan layar
kaca. Yang kedua, film dibagi berdasarkan jenisnya, yaitu film non fiksi

4

dan fiksi. Film non fiksi dibagi menjadi tiga, yakni film dokumenter,
dokumentasi, dan film untuk tujuan ilmiah. Sedangkan film fiksi sendiri
dibagi lagi menjadi dua jenis, yakni eksperimental dan genre.9
Sepengetahuan penulis sebenarnya film memiliki banyak sekali
kategori dimulai dari film action, animation, biography, comedy,
drama, romance, hingga thriller.

Film cerita yang dibuat dengan tujuan komersial sekalipun
biasanya memberikan pesan moral yang terselip di dalamnya. Film
cerita action yang erat kaitannya dengan adegan kekerasan sekalipun
juga terkandung suatu makna atau pesan moral tertentu. Film
diproduksi tidak mungkin tanpa adanya tujuan tertentu, walaupun film-
film yang beredar di pasaran bersifat komersial, tetapi tak dapat
dipungkiri bahwa perannya sangat penting dalam kehidupan.10

Seperti halnya media film, film merupakan media yang
berpengaruh dalam kehidupan kita, karena film dapat dilihat secara
langsung gerak-gerik, tingkah laku, dan kehidupan yang ada dalam
film, sehingga kemungkinan akan mudah untuk ditiru. Saat ini,
perfilman semakin mudah untuk diakses, baik melalui TV maupun
Internet kita dapat mengaksesnya, dan menonton film di bioskop
merupakan tempat favorit masyarakat saat ini. Lalu, sekarang sudah
banyak film yang telah diciptakan oleh beberapa ahli di bidang
perfilman ini, mulai dari sejarah, sinetron religi hingga sinetron
percintaan. Mirisnya banyak orang tua yang memanjakan anaknya

5

dengan menyediakan internet, HP, televisi, dan DVD di kamar mereka.
Akibatnya karena sudah terbiasa dengan suguhan film yang ada di
internet, televisi maupun alat elektronik lainnya mereka anggap apa pun
tayangan yang muncul sudah dijadikan hal biasa.

Berkaitan dengan hal ini, banyak orang tua yang memanjakan
anaknya, padahal terdapat bahaya tersembunyi akibat dari sikap
tersebut memanjakan. Semua orang tua mencintai anak-anak mereka
dan menginginkan yang terbaik untuk mereka.11 Diberikan kebebasan
kapan pun anak-anak inginkan untuk mereka menonton padahal
perkembangan anak masih harus dikontrol baik itu tingkah lakunya,
pola hidup maupun tontonan yang disukai. Orang tua harus mempunyai
tontonan film yang sehat, untuk membawa anak-anaknya pada
perkembangan fisik dan kejiwaan yang positif. Jadi, peran pengawasan
orang tua terhadap tontonan anak sangat penting jika anak sedang di
rumah, namun pendidik pun mempunyai peran yang sama.

Salah satu film hasil karya anak bangsa yang mengandung nilai-
nilai pendidikan Islam dan pendidikan karakter yaitu film Sang
Pencerah, film ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat pada
sebuah desa di daerah Yogyakarta, di mana di dalamnya terdapat
seorang tokoh nasional yaitu K.H. Ahmad Dahlan, film ini
menceritakan perjalanan hidup K.H. Ahmad Dahlan dalam membela
kebenaran, di mana saat itu masyarakat Islam di sana terpengaruh ajaran
Islam Kejawen. Lalu terjadilah masyarakat di sana yang meyakini

6

ajaran agama yang tidak tepat misalnya mistik, takhayul, bidah, dan
sebagainya. Pada film ini banyak mencerminkan nilai-nilai pendidikan
Islam seperti nilai pendidikan akidah (keimanan), nilai pendidikan
syariat (ibadah), dan nilai pendidikan akhlak (budi pekerti) dan juga
film ini terdapat nilai-nilai pendidikan karakter seperti nilai cinta damai,
peduli sosial, dan toleransi. Tak hanya itu, film ini tidak hanya dijadikan
sebagai tontonan semata bagi masyarakat, tetapi juga merupakan
tuntunan kehidupan.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengangkat
judul “Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Film Sang Pencerah Karya
Hanung Bramantyo”
2. Penegasan judul
a. Nilai-nilai pendidikan

Maksud dari nilai-nilai pendidikan adalah segala sesuatu hal yang
berkaitan dengan baik dan buruk serta berguna bermanfaat
terhadap kehidupan seseorang yang terdapat hubungannya dengan
Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri maupun sesama manusia.
Dalam penelitian ini nilai-nilai pendidikan Islam yang dimaksud
yaitu nilai-nilai pendidikan akidah, ibadah dan akhlak serta
pendidikan Karakter yaitu cinta damai, peduli sosial, dan toleransi.
b. Film Islami
Maksud dari film Islami adalah film yang menayangkan suatu
kisah kehidupan maupun sejarah yang dikaitkan dengan ajaran-

7

ajaran Islam sehingga penonton mengetahui ajaran Islam yang
sesungguhnya. Pada film Islami ini peneliti akan menganalisis film
Islami yaitu film Sang Pencerah, di mana pada film tersebut
terkandung nilai-nilai pendidikan.

B. Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana nilai-nilai pendidikan Islam dalam film Sang Pencerah

karya Hanung Bramantyo?.
2. Bagaimana nilai-nilai pendidikan karakter dalam film Sang Pencerah

karya Hanung Bramantyo?.

C. Alasan pemilihan judul
Adapun alasan pemilihan judul adalah sebagai berikut:

1. Mengingat dimasa sekarang film tidak bisa dipisahkan dari kehidupan
masyarakat, sehingga tonton akan mempengaruhi penontonnya.

2. Mengingat banyaknya film-film yang telah diciptakan oleh generasi
bangsa saat ini, maka diperlukan untuk mengetahui hal apa saja yang
hal positif dan negatif sebuah film tersebut dalam hal ini adalah film
Sang Pencerah.

8

3. Film Sang Pencerah adalah film yang menyampaikan pesan islami
kepada penonton dan juga judul memiliki relevansi terhadap jurusan
dan pendidikan peneliti yaitu Pendidikan Agama Islam.

D. Tujuan penelitian
Setiap diciptakannya sebuah karya tulis ilmiah tentunya mempunyai

tujuan. Adapun beberapa tujuan yang ingin diperoleh dalam pembuatan
karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan Islam dalam film Sang

Pencerah karya Hanung Bramantyo.
2. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter dalam film Sang

Pencerah karya Hanung Bramantyo.

E. Signifikansi penelitian
Adapun signifikansi penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi pendidik dan praktisi pendidikan: Penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan sebagai bahan informasi, pertimbangan, maupun masukan
dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam.

2. Bagi STAI Rakha: Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna, antara
lain sebagai berikut: Kiranya hasil penelitian ini dapat berguna dan
memperkaya khazanah perpustakaan STAI RAKHA Amuntai.

9

F. Kajian pustaka
Sepanjang penelusuran penulis, sudah ada karya tulis ilmiah yang

membahas dengan tema yang sama dan ada kaitannya dengan penelitian
yang akan dilakukan penulis. Di antaranya sebagai berikut:

1. Khairunnisa (2021), IAIN Palangka Raya berjudul “Analisis Nilai-
Nilai Pendidikan Dalam Film Sang Pencerah Arahan Hanung
Bramantyo”.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan cerita pada film
Sang Pencerah serta mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan Islam
dalam film Sang Pencerah. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa
observasi dan dokumen. Subjek penelitian ini yaitu film Sang
Pencerah dan objeknya adalah nilai-nilai pendidikan dalam film
Sang pencerah, yaitu nilai-nilai pendidikan akidah, nilai-nilai
pendidikan akhlak, dan nilai-nilai pendidikan ibadah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Cerita yang terdapat
pada film Sang Pencerah adalah perjuangan K.H Ahmad Dahlan
dalam meluruskan agama Islam dan membuka wawasan baru yang
lebih modern agar tidak terjadi kesalahpahaman seseorang dalam
mengenal Islam. 2) Ditemukan dalam film Sang Pencerah terdapat
nilai-nilai pendidikan Islam, yaitu; a) nilai-nilai akidah berupa;
larangan berbuat syirik/menyekutukan Allah SWT dan berserah diri
kepada Allah, b) Nilai-nilai ibadah berupa; mendirikan salat tepat

10

waktu, pengajian, menunaikan ibadah haji dan menikah, c) nilai-
nilai akhlak berupa; tolong menolong, sedekah, sabar, saling
menghargai, dan berlaku sopan dalam perkataan dan perbuatan.
2. Ihsanul Huda (2021, IAIN Palangka Raya berjudul “Analisis Nilai
Pendidikan Islam Pada Film Sang Pencerah Garapan Sutradara
Hanung Bramantyo”.

Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian kualitatif
dengan menggunakan metode penelitian pustaka (Library
Research), yang bersumber dari rekaman video film “Sang
Pencerah” diproduksi oleh Raam Punjabi di bawah naungan PT
Multivision Plus (MVP), serta sumber lainnya berupa novel Sang
Pencerah. Sedangkan analisis yang akan peniliti gunakan dalam
pengambilan data adalah analisis isi (content analysis), yaitu dengan
memutar film “Sang Pencerah” untuk diamati mengenai hal-hal
yang berkenaan dengan pendidikan Islam. Kemudian peneliti
menganalisis isi dialog atau narasi dari film yang diklarifikasikan
dalam nilai pendidikan Keimanan (Aqidah), nilai pendidikan Ibadah
(Syari’ah), dan nilai pendidikan Akhlak, serta dihubungkan dengan
teori-teori yang relevan.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dari beberapa scene
yang ada pada film “Sang Pencerah” menunjukkan adanya nilai-
nilai pendidikan Islam. Nilai-nilai pendidikan Islam itu kemudian di
kelompokkan menjadi tiga kategori utama, yaitu 1) Nilai Pendidikan

11

Keimanan (Aqidah), adalah larangan menyekutukan Allah dan
meyakini adanya tempat kembali (Hari Akhir). 2) Nilai Pendidikan
Ibadah (Syari’ah) meliputi perintah mendirikan salat dan perintah
Amar Ma’ruf Nahi Munkar. 3) Nilai Pendidikan Akhlak, bentuk
perilaku yang ditampilkan adalah akhlak kepada Allah, Akhlak
kepada sesama manusia.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti
terdahulu, maka perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian
terdahulu terletak pada rumusan masalahnya di mana penelitian
yang akan dilakukan penulis tidak hanya berfokus kepada nilai-nilai
pendidikan Islam namun juga nilai-nilai pendidikan karakter.

G. Metode penelitian
1. Pendekatan dan jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi
pustaka (library research), yaitu mengumpulkan data dengan
memahami, membaca, menganalisis dan menelaah data-data yang telah
ditemukan atau tulisan-tulisan baik dari surat kabar, majalah mengakses
situs-situs internet maupun dengan dokumen-dokumen yang berkaitan
dengan penelitian ini.
Pendekatan yang akan digunakan adalah pendekatan kualitatif,
sebab peneliti tidak bermaksud untuk menarik kesimpulan yang
sifatnya umum akan tetapi untuk menggali dan mendalami nilai-nilai

12

pendidikan Islam dan pendidikan karakter yang terdapat dalam film
Sang Pencerah. Untuk itulah penelitian ini bersifat deskriptif analisis,
yaitu suatu usaha untuk mengumpulkan dan menyusun data, kemudian
diusahakan pula adanya analisis interpretasi terhadap data-data
tersebut. Dengan demikian akan dapat di deskripsikan secara detail dan
mendalam tentang nilai-nilai pendidikan Islam dan pendidikan karakter
dalam film Sang Pencerah.
2. Sumber data

Sumber data penelitian ini terdiri dari:
a. Sumber data primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari
responden atau objek yang diteliti, atau ada hubungannya dengan
yang diteliti. Dalam penelitian ini data primer yang digunakan
adalah data yang bersumber dari film Sang Pencerah.
b. Sumber data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak
langsung dari sumber objek yang diteliti. Perpustakaan, arsip
perorangan dan sebagainya. Sedangkan data sekunder dalam
penelitian ini diambil dari sebagian bahan bacaan seperti buku-
buku, artikel, internet dan hal lain yang berhubungan dengan objek
pembahasan.

13

3. Teknik pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah metode dokumentasi yaitu mencari data-data mengenai hal-hal
atau variabel yang berupa catatan, transkrip, surat kabar, buku, majalah
dan sebagainya. Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap
film Sang Pencerah, catatan dan bukti dalam video serta buku-buku
yang ada kaitannya dengan penelitian.

Secara terinci, langkah-langkah pengumpulan data yang dimaksud
adalah:
a. Memutar film yang dijadikan objek penelitian
b. Mengubah rekaman (gambar) ke dalam bentuk tulisan
c. Menganalisis isi untuk kemudian mengklasifikasikan berdasarkan

pembagian yang telah ditentukan
d. Mencocokkan dengan buku-buku bacaan yang relevan
4. Teknik analisis data

Analisis data yang digunakan peneliti adalah analisis isi (content
analysis) yaitu penelitian yang dilakukan terhadap informasi, yang
didokumentasikan dalam rekaman, baik berupa gambar, suara maupun
tulisan. Kemudian dilakukan interpretasi secara deskriptif yaitu dengan
memberikan gambaran dan penafsiran serta uraian tentang data yang
telah terkumpul.

Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut:
a. Memutar film yang dijadikan objek penelitian

14

b. Mengubah rekaman ke dalam bentuk tulisan atau skenario
c. Menganalisis isi film dan mengklasifikasikannya mengenai materi

dan muatan-muatan pendidikan yang terdapat dalam film tersebut
d. Mengomunikasikannya dengan kerangka teori yang digunakan
5. Prosedur penelitian

Dalam penelitian ini, dilakukan beberapa tahap prosedur penelitian
sebagai berikut:
a. Tahap perencanaan

1) Konsultasi judul proposal skripsi
2) Membuat desain proposal dan diserahkan kepada dosen

pembimbing untuk diadakan koreksi judul
b. Tahap persiapan

1) Seminar proposal skripsi
c. Tahap pelaksanaan

1) Mengumpulkan data
2) Mengolah data dan menganalisis data
d. Tahap penyusunan laporan
1) Menyusun laporan hasil penelitian dalam bentuk skripsi
2) Diserahkan kepada dosen pembimbing untuk diadakan koreksi

dan persetujuan
3) Memperbanyak naskah skripsi
4) Mengajukan ke sidang munaqasah untuk diuji dan

dipertahankan

15

H. Sistematika penulisan

Untuk memudahkan penulis dalam memahami isi pembahasan pada

penelitian ini, maka penulis menggunakan sistematika penulisan skripsi

sebagai berikut:

BAB I :Berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, alasan

pemilihan judul, tujuan penelitian, signifikansi penelitian,

kajian pustaka, metode penelitian dan sistematika

penulisan.

BAB II :Berisi tinjauan umum tentang pengertian nilai, pendidikan

Islam, pendidikan karakter, film, film sebagai media

pendidikan.

BAB III :Berisi tentang sejarah film Sang Pencerah, karakter dalam

film Sang Pencerah dan alur cerita film Sang Pencerah.

BAB IV :Nilai-nilai pendidikan Islam dan pendidikan karakter

dalam film Sang Pencerah

BAB V :Berisi tentang kesimpulan dan saran.

16

SUMBER KUTIPAN BAB I

1Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Republik
Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2Ibid.
3Ibid.
4Ibid.
5Handi Oktavianus, “Penerimaan Penonton Terhadap Praktek
Eksorsis Di Dalam Film Conjuring”. Jurnal e-Komunikasi, Vol. 3, No.2,
2015, hlm. 3.
6Ibid.
7Ibid.
8Ibid.
9Ibid.
10Yoyon Mudjiono, “Kajian Semiotika Dalam Film”. Jurnal Ilmu
Komunikasi, Vol. 1, No. 1, April 2011, hlm. 137.
11Ema Fitria Agustina dan Dewi Ulya Mailasari, “Spoiled Children:
Problem Dan Solusi”. Jurnal ThufuLA, Vol. 5, No. 2, 2017, hlm. 333.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian Nilai
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Nilai adalah sifat-sifat (hal-

hal) yang penting dan berguna bagi kemanusiaan atau sesuatu yang
menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya”.1 Misalnya nilai etik,
yakni nilai untuk manusia sebagai pribadi yang utuh, seperti kejujuran, yang
berkaitan dengan akhlak, benar salah yang dianut sekelompok manusia.

Menurut Mulyana dalam bukunya berjudul Mengartikulasikan
Pendidikan Nilai mengemukakan bahwa, “Nilai merupakan pedoman dan
keyakinan dalam memilih suatu pilihan. Nilai adalah segala sesuatu yang
diinginkan sehingga menciptakan tindakan pada jiwa seseorang manusia”.2

Kemudian menurut Frankel dalam buku berjudul Strategi Klasifikasi
Nilai, “Nilai adalah sebuah landasan atau pijakan dalam bertingkah laku,
keadilan, keindahan, kebenaran dan efisiensi yang mengikat manusia dan sudah
seharusnya agar dijalankan dan dipertahankan”.3

Sedangkan menurut Tri Sukitman dalam jurnalnya yang berjudul
Internaslisasi Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran (Upaya Menciptakan
Sumber Daya Manusia Yang Berkarakter) mengemukakan bahwa,

Nilai merupakan sesuatu yang patut dijalankan dan dipertahankan,
sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki karakter khas dari pada
makhluk lainnya. Manusia mempunyai akal, hati nurani, perasaan, budi
pekerti, moral dan etika yang merupakan karakter khas seorang
manusia dengan manusia yang lain, dan karakter inilah yang melekat
pada jiwa manusia sebagai bentuk dari nilai itu sendiri.4

17

18

Jadi, menurut Tri Sukitman dapat diketahui bahwa nilai merupakan
sesuatu yang patut untuk dijalankan dan dipertahankan berupa akal, hati nurani,
perasaan dan budi pekerti yang melekat pada tiap-tiap orang. Nah karakter khas
masing-masing orang saling berbeda satu sama lain, dan karakter itu akan
terdapat pada dirinya dalam kehidupan sosialnya.

B. Pengertian Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan menurut pengertian Yunani adalah pedagogik, yaitu ilmu
menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu
mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang
dibawa waktu dilahirkan di dunia. Berbeda dengan bangsa Jerman melihat
pendidikan sebagai erziehung yang setara dengan educare, yakni
membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi
anak.5
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata
dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran,
pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Para ahli pendidikan
menemui kesulitan dalam merumuskan definisi pendidikan, kesulitan itu
antara lain disebabkan oleh banyaknya jenis kegiatan serta aspek
kepribadian yang dibina dalam kegiatan ini. JOE Park umpamanya
merumuskan pendidikan sebagai the art or process of imparting or
acquiring knowledge and habit through instructional as study. Pada definisi

19

ini disebutkan bahwa pendidikan sebagai seni atau proses dari
menyampaikan atau memperoleh pengetahuan dan kebiasaan melalui
kegiatan pendidikan sebagai pengajaran. Sedangkan segi kepribadian yang
dibina adalah aspek kognitif dan kebiasaan.

Theodore Mayer Grene dalam jurnal yang berjudul Pendidikan Islam
Intergrasi Nilai-Nilai Humanis, Liberasi dan Transendensi, mendefinisikan
bahwa pendidikan “sebagai usaha manusia untuk menyiapkan dirinya untuk
suatu kehidupan bermakna”. Di dalam definisi ini aspek pembinaan
pendidikan yang lebih luas.6

Menurut Ki Hajar Dewantara dalam jurnal yang berjudul Pendidikan
Islam Intergrasi Nilai-Nilai Humanis, Liberasi dan Transendensi,
mengartikan pendidikan “sebagai daya upaya untuk memajukan budi
pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan
hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan
masyarakatnya”.7

Dari etimologi dan analisis pengertian pendidikan di atas, secara
singkat pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan
manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam
berinteraksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya.
2. Pengertian Pendidikan Islam

Yusuf Qardhawi dalam jurnal yang berjudul Pendidikan Islam
Intergrasi Nilai-Nilai Humanis, Liberasi dan Transendensi, mengatakan
pendidikan Islam adalah “pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya,

20

rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya”. Karena pendidikan
Islam menyiapkan manusia untuk hidup, baik dalam keadaan aman maupun
perang, dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala
kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.8

Menurut Hasan Langgulung dalam jurnal yang berjudul Pendidikan
Islam Intergrasi Nilai-Nilai Humanis, Liberasi dan Transendensi,
mendefinisikan pendidikan Islam adalah “proses penyiapan generasi muda
untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam
yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan
memetik hasilnya di akhirat”.9

Sedangkan menurut Endang Syaifuddin Anshari dalam jurnal yang
berjudul Pendidikan Islam Intergrasi Nilai-Nilai Humanis, Liberasi dan
Transendensi mengemukakan pengertian pendidikan Islam,

Sebagai proses bimbingan (pimpinan, tuntunan, usulan) oleh subjek
didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, kemauan, perasaan, intuisi)
dan raga objek didik dengan bahan-bahan materi tertentu dan dengan
alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai
evaluasi sesuai dengan ajaran Islam.10
Jadi, menurut Endang Syaifuddin Anshari dapat diketahui bahwa
pendidikan Islam adalah proses bimbingan seorang peserta didik untuk
menuju kepada pribadinya disertai evaluasi sesuai dengan ajaran Islam.
Dari uraian di atas, dapat dilihat perbedaan-perbedaan antara
pendidikan secara umum dengan pendidikan Islam. Perbedaan utama yang
paling menonjol adalah bahwa pendidikan Islam bukan hanya
mementingkan pembentukan pribadi untuk kebahagiaan dunia, tetapi juga

21

untuk kebahagiaan akhirat. Selain itu pendidikan Islam berusaha
membentuk pribadi yang bernafaskan ajaran-ajaran Islam.11

Jadi, pendidikan Islam adalah proses pendidikan yang di dalamnya
terdapat 2 tujuan yakni memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat
yang berlandaskan kepada sumber ajaran-ajaran Islam.

C. Macam-Macam Pendidikan Islam

1. Pendidikan Akidah
Akidah menurut bahasa, “Diambil dari kata al-aqdu yang berarti asy-

syaddu (pengikatan), ar-babtu (ikatan), al-itsaaqu (mengikat), ats-tsubut
(penetapan), al-ihkam (penguatan)”.12 Sedangkan menurut istilah, “Akidah

berarti Iman. Semua sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap
sebagai salah satu akidah. Iman berarti membenarkan atau percaya”.13

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam buku yang berjudul

Syarah Aqidah Wasithiyah Buku Induk Akidah Islam mengemukakan bahwa:

ُ‫( اِ ْعتَِقاد‬keyakinan), wazan ُ‫ افْتُِعَال‬dari asal kata ‫ اَلْعَْق ُد‬yang berarti
mengikat dan mengencangkan. Ini dari segi pecahan kata (sharaf).

aAkdaalpyuanngsepcaasrtai.isDtiilkaaht,akmaank‫ا‬a‫َك َذ‬mُ‫ث‬en‫ت‬u‫ ْد‬r‫َق‬uَ‫ْعت‬tِ‫ا‬m(aekruekma,eiy’atikkiandi adalah hukum
ini), yakni aku

memastikan ini dalam hatiku. Jadi ia adalah keputusan hati yang pasti.

Jika ia sesuai dengan kenyataannya, maka ia benar (shahih), jika

menyelisihinya, maka ia rusak. Keyakinan bahwa Allah Esa adalah

benar dan keyakinan orang-orang Nasrani bahwa Allah adalah satu dari

tiga oknum adalah batil, karena menyelisihi kenyataan. Hubungan

makna secara istilah dengan makna secara bahasa adalah jelas, karena

orang yang meyakini sesuatu di dalam hatinya seolah-olah dia
mengikatnya dengan kuat sehingga ia tidak lepas darinya.14

22

Jadi, menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dapat
diketahui bahwa akidah keyakinan yang mengikat dengan kuat pada hati
seseorang sehingga ia tidak bisa lepas darinya.

Selanjutnya Nurnaningsih Nawawi dalam bukunya yang berjudul
Aqidah Islam Dasar Keikhlasan Beramal Shalih mengemukakan bahwa:

Aqidah artinya: Simpulan, yakni kepercayaan yang tersimpul dihati.
Aqaid adalah jama’ dari aqidah (akidah). I’tiqad berarti kepercayaan.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa perkataan: aqaid,
I’tiqad adalah kepercayaan (keimanan) yang tersimpul dalam hati. Ilmu
tauhid terkadang disebut juga “ilmu Aqaid” dan “ilmu I’tiqad”, karena
ilmu ini membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan
keyakinan yang terpatri dalam hati.15
Pendidikan akidah adalah proses membimbing dan mengarahkan fitrah
yang ada pada seseorang, sehingga akan tumbuh kepercayaan dan keyakinan
lurus yang tertanam kuat dalam hati sebagai pegangan dan landasan hidup.
Diharapkan dengan pendidikan akidah seseorang dalam bertingkah laku
didasari atas kepercayaan dan keyakinan.16
Dari beberapa pengertian yang ada diatas baik itu secara bahasa, istilah
hingga dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa pendidikan Akidah juga
disebut iman berupa pengajaran dan pegangan yang mengikat pada diri
seorang manusia namun keimanan tersebut tidak hanya ada di lisan saja akan
tetapi juga diikuti dengan tumbuh atau hadir dalam perbuatan dan di dalam
hati manusia.
Berikut merupakan hal yang dapat merusak keimanan adalah Syirik,
Melakukan sihir, Memakan harta riba, Membunuh jiwa manusia, Memakan

23

harta anak yatim, Melarikan diri dari perang (jihad), Menuduh wanita
mu’minat yang baik-baik berzina (qadzaf).

Akidah dalam Islam ada enam atau juga dikenal dengan rukun Iman
yaitu Iman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-
rasul-Nya, Hari akhir (kebangkitan setelah kematian), dan Iman kepada
Qadar baik dan buruk.
2. Pendidikan Ibadah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Ibadah adalah perbuatan
untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan
perintah-Nya dan menjauhi-Nya”.17

Kemudian menurut istilah, “Ibadah adalah segala sesuatu yang diridhai
dan disenangi oleh Allah SWT. baik berupa perbuatan, perkataan, maupun
bisikan dalam hati”.18

Menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya Fatwa-fatwa Seputar
Ibadah Mahdah Cetakan I mengemukakan bahwa:

Ibadah adalah suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai
puncaknya sebagai dampak dari rasa pengagungan yang bersemai
dalam lubuk hati seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia tunduk.
Rasa itu lahir akibat adanya keyakinan dalam diri yang beribadah
bahwa obyek yang kepadanya ditujukan ibadah itu memiliki kekuasaan
yang tidak dapat terjangkau hakikatnya.19
Jadi, menurut M. Quraish Shihab dapat diketahui bahwa ibadah adalah
suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang dilakukan oleh seseorang kepada
Tuhan-Nya.
Kemudian menurut Abdul Muin Salim dalam bukunya yang berjudul
Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera Cetakan I mengemukakan bahwa:

24

Ibadah dalam bahasa agama merupakan sebuah konsep yang berisi
pengertian cinta yang sempurna, ketaatan dan khawatir. Artinya, dalam
ibadah terkandung rasa cinta yang sempurna kepada Sang Pencipta
disertai kepatuhan dan rasa khawatir hamba akan adanya penolakan
Sang Pencipta terhadapnya.20
Menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam bukunya yang
berjudul Kuliah Ibadah mengemukakan bahwa, Pendidikan ibadah adalah
suatu usaha untuk memberikan kesadaran beribadah kepada manusia agar
mengerti tentang eksistensi dirinya sebagai seorang hamba Allah. Dengan
tunduk yang setinggi-tingginya.”21
Dari beberapa pengertian yang ada diatas baik itu secara bahasa, istilah
hingga beberapa pendapat para ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengertian ibadah adalah tuntunan terhadap segala perbuatan yang dilakukan
oleh setiap insan dalam kehidupannya yang disukai dan diridhai oleh-Nya.
Kemudian ibadah terbagi dalam tiga kategori antara lain:22
a. Ibadah hati (qalbiyah) adalah ketika seseorang telah memiliki rasa takut,
rasa cinta (mahabbah), mengharap (raja’), senang (raghbah), ikhlas, dan
berserah diri (tawakkal).
b. Ibadah lisan & hati (lisaniyah wa qalbiyah) adalah dalam bentuk zikir,
tasbih, tahlil, tahmid, takbir, syukur, berdoa, dan membaca ayat Al-
Qur’an.
c. Ibadah perbuatan fisik dan hati (badaniyah wa qalbiyah) adalah yang
dilaksanakan dalam bentuk salat, zakat, haji, berjihad, berpuasa.
Seperti yang kita tahu bahwa ibadah dalam agama Islam banyak sekali
yakni Salat, Zakat, Puasa, haji bagi yang mampu, hingga menikah. Ada

25

ibadah yang wajib dikerjakan dan ada juga ibadah yang tidak wajib
dikerjakan. Salat adalah ibadah yang wajib kerjakan oleh setiap insan yang
diberikan kehidupan serta kesehatan serta umur yang panjang dalam
kehidupannya sehingga salat merupakan ucapan syukur kepada-Nya atas
segala nikmat yang diberikan-Nya.

Adapun tujuan dari ibadah adalah pemeliharaan dan pelestarian
kesakralan yang ada dalam agama yang dianutnya, memenuhi kewajiban
agama atau cita-cita, memenuhi kebutuhan spiritual atau emosional,
memperkuat ikatan sosial, menyediakan pendidikan sosial dan moral,
menunjukkan rasa hormat atau penyerahan, memungkinkan seseorang untuk
menyatakan afiliasi seseorang. Dalam Islam tujuan beribadah tetaplah satu,
yaitu untuk mendapatkan ridho Allah SWT.23
3. Pendidikan Akhlak

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Akhlak adalah budi pekerti,
tabiat, kelakuan, dan watak”.24 Sedangkan beberapa ahli berpendapat tentang
akhlak sebagai berikut:25
a. Imam al-Ghazali

Akhlak adalah sifat yang tertanam dari dalam jiwa yang dari padatnya
lahir perbuatan-perbuatan yang spontan tanpa memerlukan pertimbangan
dan pemikiran. Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang
terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, ia dinamakan akhlak
yang baik, tetapi jika ia menimbulkan tindakan yang jahat, maka ia
dinamakan akhlak yang buruk.

26

b. Ibn Maskawih
Akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk
melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran
terlebih dahulu. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat
aslinya ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang.
Boleh jadi, pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan,
kemudian dilakukan terus menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.

c. Muhyiddin Ibn Arabi
Keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa
melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu. Keadaan tersebut pada
seseorang boleh jadi merupakan tabiat atau bawaan, dan boleh jadi juga
merupakan kebiasaan melalui latihan dan perjuangan.

d. Al Qurthubi
Akhlak adalah suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab
kesopanannya disebut akhlak, karena perbuatan itu termasuk bagian dari
kejadiannya.

e. Abuddin Nata
Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mendalam dan tanpa
pemikiran, namun perbuatan itu telah mendarah daging dan melekat
dalam jiwa, sehingga saat melakukan perbuatan tidak lagi memerlukan
pertimbangan dan pemikiran.26
Menurut Ali Abdul Halim Mahmud dalam bukunya yang berjudul

Tarbiyah al-Khuluqiyah mengemukakan pendidikan akhlak bahwa:

27

Pendidikan yang mengakui bahwa dalam kehidupan manusia
menghadapi hal baik dan hal buruk, kebenaran dan kebatilan, keadilan
dan kedzaliman, serta perdamaian dan peperangan. Untuk menghadapi
hal-hal yang serba kontra tersebut, Islam telah menetapkan nilai-nilai
dan prinsip-prinsip yang membuat manusia mampu hidup di dunia.
Dengan demikian manusia mampu mewujudkan kebaikan di dunia dan
di akhirat, serta mampu berinteraksi dengan orang-orang yang baik dan
jahat.”27

Jadi, menurut Ali Abdul Halim Mahmud dapat diketahui bahwa
pendidikan akhlak adalah pendidikan yang mampu mewujudkan
terciptanya kebaikan di dunia dan di akhirat, serta pedoman dalam
berinteraksi kepada sesama makhluk.
Jadi, pendidikan akhlak adalah bimbingan dan pengajaran berupa
perilaku seseorang terhadap hubungannya baik itu sikap maupun perilakunya
kepada Sang Pencipta, kepada sesamanya, dan lingkungannya yang telah
diajarkan dari sumber-sumber ajaran Al-Qur’an, Hadits, dan lainnya.
Dalam Islam secara garis besar akhlak manusia mencakup tiga sasaran,
yakni sebagai berikut:
a. Akhlak terhadap Allah SWT.
Menurut Abuddin Nata dalam bukunya berjudul Akhlak Tasawuf
mengemukakakn bahwa:
Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu
berkakhlak kepada Allah SWT., Pertama, Karena Allah SWT.
merupakan pencipta manusia. Kedua, Karena Allah SWT. adalah Tuhan
yang memberikan perlengkapan pancaindra, berupa pendengaran,
penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari, disamping anggota badan
yang kokoh dan sempurna kepada manusia. Ketiga, Karena Allah SWT.

28

telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi
kelangsungan hidup manusia seperti bahan makanan yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan sebagainya. Dan
keempat, Allah SWT. yang tekah memuliakan manusia dengan
diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan.28
Kemudian menurut Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul
Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Berbagai Persoalan Umat
mengemukakan bahwa:
Akhlak manusia terhadap Allah SWT. bertitik tolak dari pengakuan dan
kesadarannya bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. yang memiliki
segala sifat terpuji dan sempurna.29 Dari pengakuan dan kesadaran itu
akan lahir tingkat laku dan sikap sebagai berikut. Pertama,
mengagungkan Allah SWT dan memuji-Nya. Kedua, bertawakal
(berserah diri) kepada Allah SWT. setelah berbuat atau berusaha terlebih
dahulu. Dan Ketiga, berbaik sangka kepada Allah SWT. bahwa yang
datang dari Allah SWT. kepada makhluk-Nya hanyalah kebaikan.
b. Akhlak terhadap sesama manusia
Akhlak manusia terhadap sesamanya adalah sebagai berikut:30
Pertama, Akhlak terhadap orang tua. Misalnya memelihara keridhaan
orang tua, berbakti kepada orang tua (menaati dan melayaninya),
memelihara etika pergaulan dengan kedua orang tua (merendahkan diri
dan berkata lemah lembut serta tidak menyakiti mereka baik dengan
perbuatan maupun perkataan).

29

Kedua, Akhlak terhadap kaum kerabat. Misalnya mengadakan hubungan
silaturahmi dan berbuat baik terhadap mereka (mencintai mereka serta
turut merasakan suka dan duka mereka).
Ketiga, Akhlak terhadap tetangga. Misalnya tidak menyakiti tetangganya
baik dengan perbuatan maupun perkataan, berbuat kebaikan kepada
tetangga (melakukan ta’ziah ketika mereka mendapat musibah, tahniah
ketika mereka mendapatkan kegembiraan, menjenguk ketika sakit,
menolongnya ketika dimintai tolong, memberinya pinjaman ketika
dimintai pinjaman, dan tidak mendirikan bangunan yang menghalangi
sirkulasi udara rumah tetangganya tanpa seizinnya.
c. Akhlak terhadap lingkungan31
Yang dimaksud lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di
sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda
tak bernyawa. Pada dasarnya, akhlak diajarkan al-Qur’an terhadap
lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah.
Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan
sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti
pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan agar setiap makhluk
mencapai tujuan penciptaannya.
Dalam pandangan akhlak Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil
buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal
ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai
tujuan penciptaannya. Ini berarti manusia dituntut untuk mampu

30

menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua
proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia
bertanggung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan, bahkan
dengan kata lain “Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai
sebagai perusakan terhadap diri manusia sendiri”.

Dari beberapa pengertian yang secara bahasa, istilah maupun pendapat
dari beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa akhlak berarti segala budi
pekerti yang mengatur hubungan dengan Tuhan, tetapi juga budi pekerti yang
mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia maupun dengan alam
semesta.

Dari ketiga macam pendidikan Islam diatas, maka dapat kita ketahui
bahwa pada dasarnya pendidikan Islam meliputi pendidikan akidah, ibadah,
dan akhlak adalah proses untuk mengantarkan membuat manusia menjadi
sesuai dengan apa yang telah ditujukan yakni menjadi hamba-Nya yang
berbuat baik dan beramal shaleh dengan bersumber dari al-Qur’an, Hadits dan
sumber-sumber ajaran Islam yang lainnya.

D. Pengertian Pendidikan karakter
David Elkind & Freddy Sweet dalam jurnal yang berjudul Pendidikan

Karakter Perspektif Al-Qur’an berpendapat bahwa: “character education is the
deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core
ethical value”. Artinya, Pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan

31

dengan sengaja untuk membantu manusia memahami, peduli tentang, dan
melaksanakan nilai-nilai etika inti.32

Sedangkan Creasy dalam buku yang berjudul Desain Pendidikan
Karakter Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan ia berpendapat
bahwa:

Yang dimaksud dengan pendidikan karakter adalah upaya mendorong
peserta didik tumbuh dan berkembang dengan kompetensi berpikir dan
berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dalam hidupnya serta
mempunyai keberanian untuk melakukan yang benar meskipun
bertolak dengan tantangan yang dihadapinya.33
Jadi, menurut Creasy dapat diketahui bahwa pendidikan karakter adalah
upaya yang dilakukan kepada peserta didik untuk tumbuh dan berkembang
sesuai dengan kemampuan berpikir serta berpegang teguh pada prinsip-prinsip
moral dalam hidupnya.
Lalu Rianawati berpendapat bahwa, “pendidikan karakter adalah usaha
yang dilakukan oleh pendidik untuk menanamkan nilai-nilai karakter mulia pada
peserta didik”. Nilai-nilai karakter mulia di antaranya adalah kejujuran,
toleransi, disiplin, kemandirian, rasa ingin tahu, dan cinta tanah air.34
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.35 Lebih lanjut,
pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu
mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak
peserta didik yang mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru

32

berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai
hal terkait lainnya.36

Pendidikan karakter merupakan upaya yang dirancang dan
dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-
nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.37

Pendidikan karakter merupakan suatu usaha atau proses yang di sadari
ataupun sengaja, pendidikan ini dapat dilaksanakan dalam sebuah Lembaga atau
komunitas tertentu sehingga sifatnya terbebas ruang dan waktu. Pendidikan
karakter berupaya dalam pembentukan karakter, di mana karakter terbentuk
karena kebiasaan, dan kebiasaan itu terbentuk dari perbuatan yang sering
dilakukan secara berulang-ulang.38

Thomas Lickona dalam buku yang berjudul Pendidikan Karakter Anak
Sesuai Pembelajaran Abad ke-21 mengemukakan bahwa:

Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian
seseorang melalui pendidikan budi pekerti. Hasilnya dapat terlihat
dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur,
bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, dan kerja keras.39
Jadi, menurut Thomas Lickona dapat diketahui bahwa pendidikan
karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang terhadap
budi pekertinya berupa tingkah laku baik, jujur dan menghormati hak orang lain.
Salah seorang tokoh besar Islam yakni Imam Ghazali berpendapat
bahwa, “karakter dekat hubungannya dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia

33

dalam bersikap atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga
ketika muncul tidak perlu di pikirkan lagi”.40 Hakikat dari karakter adalah suatu
haiat atau bentuk dari suatu jiwa yang benar-benar meresap dan dari situlah
timbulnya berbagai perbuatan secara spontan dan mudah, tanpa dibuat-buat dan
tanpa membutuhkan pemikiran atau angan-angan. Jika haiat tersebut muncul
kelakuan-kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syariat dan akal
pikiran, maka haiat yang tersebut dinamakan dengan budi pekerti yang baik,
begitu pula sebaliknya.41

Menurut Nurkholis dalam jurnalnya yang berjudul Pendidikan Karakter
Pada Penceritaan Kisah Yusuf AS Dalam Al-Qur’an mengemukakan bahwa:

Pendidikan karakter adalah upaya penanaman kecerdasan dalam
berpikir, penghayatan dalam bersikap, dan berperilaku sesuai dengan
nilai-nilai luhur diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri
sendiri, antar sesama, dan lingkungannya. Oleh karenanya pendidikan
karakter tidak bisa hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan tetapi
perlu proses, contoh dan teladan, pembiasaan atau pembudayaan dalam
lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.42
Jadi, menurut Nurkholis dapat diketahui bahwa pendidikan karakter
adalah usaha dalam menanamkan kecerdasan dalam berpikir hingga berperilaku
sesuai dengan nilai-nilai luhur terhadap Tuhannya, diri sendiri, orang lain serta
lingkungannya.
Jadi, berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
pendidikan karakter adalah program pendidikan yang di dalamnya terdapat
proses untuk menciptakan ciri khas yang menjadi pembeda dengan proses
pendidikan lainnya, dengan menanamkan sikap atau perilaku contohnya
kejujuran, toleransi, disiplin, kemandirian, rasa ingin tahu, dan cinta tanah air.

34

E. Macam-Macam Pendidikan Karakter
Adapun pendidikan karakter menurut KEMENDIKNAS, yaitu:43

1. Religius, yaitu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap ibadah agama lain, dan hidup rukun
dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur, yaitu perilaku yang didasari upaya menjadikan diri sendiri sebagai
orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan
pekerjaan.

3. Toleransi, yaitu sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama,
suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dengan
diri sendiri.

4. Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada
berbagai aturan dan ketentuan.

5. Kerja keras, yaitu tindakan yang didasari dengan niat keberhasilan yang
tinggi, profesional, dan pantang menyerah.

6. Kreatif, yaitu berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau
hasil baru dari sesuatu yang telah ada.

7. Mandiri, yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang
lain.

8. Demokrasi, yaitu cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai hak
dan kewajiban dirinya dan orang lain.

35

9. Rasa ingin tahu, yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
mengetahui lebih dalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan
didengar.

10. Semangat kebangsaan, yaitu cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang
menempatkan kepentingan bangsa dan negara dari pada kepentingan diri
dan kelompoknya.

11. Cinta tanah air, yaitu cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan
kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,
lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa.

12. Menghargai prestasi, yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya
untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui,
serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/komunikatif, yaitu tindakan yang memperlihatkan rasa senang
berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14. Cinta damai, yaitu sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang
lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

15. Gemar membaca, yaitu kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca
berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli lingkungan, yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah
kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-
upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli sosial, yaitu sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan
pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

36

18. Tanggung-jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan
tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan terhadap diri sendiri,
masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang
Maha Esa.
Jadi, berdasarkan beberapa pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan

bahwa nilai-nilai dalam pendidikan karakter di antaranya ialah religius, jujur,
toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, hingga bertanggung-jawab.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Toleransi adalah “sifat atau
sikap toleran, menenggang (menghargai, membiarkan, memperbolehkan)
pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb.) yang
berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.”44

Menurut Umar Hasyim dalam bukunya yang berjudul Toleransi dan
Kemerdekaan Beragama dalam Islam Sebagai Dasar Menuju Dialog dan
Kerukunan Antar Umat Beragama mengemukakan bahwa:

Toleransi yaitu pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau
kepada sesama warga masyarakat untuk menjalankan keyakinannya
atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing,
selama dalam menjalankan dan menentukan sikapnya itu tidak
melanggar dan tidak bertentangan dengan syarat-syarat atas terciptanya
ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat.45

Jadi, menurut Umar Hasyim dapat diketahui bahwa toleransi adalah
pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau kepada sesama warga
masyarakat untuk menjalankan keyakinannya masing-masing.

Jadi, berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa toleransi adalah sifat atau sikap yang dimiliki oleh seorang individu atau

37

kelompok terhadap individu atau kelompok lainnya yang memiliki perbedaan
pandangan yakni pendapat, pemikiran dan sebagainya.

Cinta damai terdiri dari dua kata yakni cinta dan damai. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cinta adalah “suka sekali, sayang benar.”46,
kemudian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Damai adalah “tak ada
perang, aman, tentram, tenang, keadaan tidak bermusuhan.”47

Menurut Sahlan dan Angga dalam buknya yang berjudul Desain
Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter mengemukakan bahwa, Cinta
damai adalah “sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain
merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.”48

Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa cinta damai adalah perilaku, sikap
seorang individu atau kelompok yang membuat nyaman atas kehadiran mereka
terhadap individu lain atau kelompok lainnya.

Peduli sosial terdiri dari dua kata, Peduli dan Sosial. Kata Peduli
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ”mengindahkan,
memperhatikan, memperhatikan.”49, Kata sosial menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah “berkenaan dengan masyarakat, memperlihatkan kepentingan
umum.”50

Menurut Mukhlis Mukhtar dalam jurnalnya yang berjudul Kepedulian
Sosial dalam Perspektif Hadis mengemukakan bahwa, Peduli sosial adalah
“suatu sikap yang dimiliki setiap individu, kelompok atau organisasi untuk
memperhatikan orang lain, komunitas dan lingkungan sosialnya.”51

38

Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa peduli sosial adalah sikap atau
perbuatan yang dimiliki seseorang individu terhadap orang lain berupa
kepedulian.

F. Pengertian Film
Menurut Undang-Undang No. 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman dalam

pasal 1 berbunyi: “film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial
dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi
dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan”.52

Film adalah suatu bentuk komunikasi massa elektronik yang berupa
media audio visual yang mampu menampilkan bunyi, citra, kata-kata, dan
kombinasinya. Film juga merupakan salah satu bentuk komunikasi modern yang
lahir di dunia.53 Film mempunyai peran sebagai sebuah sarana baru yang dipakai
untuk menyebarkan hiburan yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang
terdahulu, serta menyajikan cerita, musik, peristiwa, drama, lawak, dan sajian
teknis lainnya kepada masyarakat umum.54

Menurut Effendy dalam bukunya yang berjudul Teori Komunikasi
Massa Suatu Pengantar Edisi Kedua mengemukakan bahwa, “film adalah
medium (alat) komunikasi massa yang manjur sekali, tidak hanya untuk hiburan
saja, namun juga untuk pendidikan dan penerangan”.55 Film mempunyai suatu
dampak tertentu terhadap penonton, dampak-dampak tersebut bermacam-
macam seperti, dampak sosial, dan dampak psikologis. Maksud film dijadikan
sebagai alat komunikasi sebagai pendidikan adalah bahwa film yang menjadi

39

tontonan seseorang diperkirakan akan memberikan efek kepada penontonnya,
misalnya menyaksikan aksi atau perilaku yang disaksikan oleh seseorang yang
mencerminkan perilaku baik maka akan memberikan efek yang baik pula kepada
penontonnya, begitulah juga jika sebaliknya.

Secara garis besar, film terbagi berdasarkan beberapa hal. Pertama, film
dibedakan berdasarkan media yaitu layar kaca dan layar lebar. Yang kedua, film
dibagi berdasarkan jenisnya, yaitu film fiksi dan non fiksi. Film non fiksi dibagi
menjadi tiga, yaitu film dokumenter dan film untuk tujuan ilmiah, sedangkan
film fiksi dibagi menjadi dua jenis, yaitu eksperimental dan genre.56

Genre film saat ini banyak mengalami perkembangan, hal ini
disebabkan karena mengikuti kemajuan teknologi.

Menurut Parista dalam bukunya yang berjudul Memahami Film
mengemukakan bahwa:

Genre film dibagi menjadi dua kelompok yaitu: genre induk primer dan
genre induk sekunder. Genre induk sekunder adalah genre-genre besar
dan populer yang merupakan pengembangan atau turunan dari genre
primer seperti film biografi, bencana, dan film-film yang digunakan
untuk kajian ilmiah, sedangkan untuk jenis film induk primer adalah
genre-genre pokok yang telah ada dan populer sejak awal
perkembangan sinema era 1900-an seperti: Film drama, aksi, epik,
sejarah, horor, komedi, kriminal, fantasi, gangster, musikal,
petualangan, dan perang.57

Jadi, menurut Parista dapat diketahui bahwa film terbagi
menjadi dua kelompok yakni induk primer dan sekunder. Induk primer
adalah film dengan kategori biografi, sedangkan induk sekunder adalah
film dengan kategori sejarah.

40

Jadi, berdasarkan beberapa pendapat di atas tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa film adalah sebuah karya seni terdapat di dalamnya gambar
bergerak dengan suara ataupun tanpa suara yang dapat dipertunjukkan kepada
orang banyak melalui perantara berupa layar tancap atau layar lebar, film
memiliki bermacam-macam genre misalnya genre aksi, horor, sejarah, komedi
bahkan pendidikan.

G. Film sebagai media pendidikan
Indikator kesuksesan dalam dunia pendidikan yakni yang diutamakan

adalah pendidikan karakter yang harus dimiliki oleh setiap masyarakat di
Indonesia. Sekarang permasalahan karakter kerap sekali dibicarakan oleh
masyarakat dikarenakan kurangnya karakter baik yang tercermin dalam
kehidupan zaman sekarang. Berbagai macam permasalahan terjadi disebabkan
kurangnya pendidikan karakter dan miskin ilmu budi pekerti, yang
mengakibatkan kehidupan masyarakat menjadi tidak terarah.58 Dalam proses
pembelajaran tidak hanya dapat diperoleh dari pendidik saja akan tetapi bisa juga
melalui tontonan atau film.

Media pembelajaran yang baik adalah media pembelajaran yang dapat
merangsang minat peserta didik dalam proses pembelajaran. Salah satu media
yang sangat tepat dalam mendukung pembentukan pendidikan karakter adalah
film karena media film dapat diterima dalam kalangan masyarakat sebagai media
audio visual yang terkenal dan banyak digemari oleh masyarakat. Film yang
dapat dijadikan bahan atau media pembelajaran adalah film yang memiliki

41

banyak nilai-nilai karakter yang patut untuk dicontoh dan dijadikan sebagai
pedoman dalam kehidupan. Cerita-cerita yang ada dalam sebuah film sangat erat
kaitannya dengan peristiwa yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.59
Nilai-nilai karakternya contohnya memiliki karakter yang jujur, disiplin,
berwibawa, bijaksana, cinta tanah air, toleransi, dan lain-lain.

Media film memiliki peranan yang sangat penting karena melalui film
bisa membentuk pendidikan karakter peserta didik. Cerita-cerita yang disajikan
dalam film mengandung pesan-pesan yang baik sehingga dapat dicontoh dan
diimplementasikan dalam kehidupan. Cerita-cerita yang ada dalam sebuah film
sangat erat hubungannya dengan peristiwa yang sering terjadi dalam kehidupan
sehari-hari.60

Jadi, film bisa dijadikan sumber pendidikan yang mana film yang bisa
dijadikan sebagai sumber pendidikan di dalamnya terkandung nilai-nilai yang
baik sehingga dapat dipakai dalam kehidupan sehari-harinya. Contoh nilai yang
baik adalah kejujuran, kedisiplinan dan toleransi.

42

SUMBER KUTIPAN BAB II

1Tim Redaksi, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), hlm.
1074.

2Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung,
Alfabeta, 2004), hlm. 11.

3H.U. Kartawiwsastra, Strategi Klasifikasi Nilai, (Jakarta, P3G Depdikbud,
1980), hlm. 32-35.

4Tri Sukitman, “Internalisasi Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran (Upaya
Menciptakan Sumber Daya Manusia Yang Berkarakter)”, JPSD: Jurnal
Pendidikan Sekolah Dasar, Vol. 2, No. 2, Agustus 2016, hlm. 87.

5M. Hadi Purnomo, Pendidikan Islam Integrasi Nilai-nilai Humanis,
Liberasi dan Transendensi, (Yogyakarta, Absolute Media, 2016), hlm. 16.

6Ibid.
7Ibid., hlm. 17.
8Ibid., hlm. 18.
9Ibid.
10Ibid.
11Ibid.
12Achmad Warson Munawwir dan Muhammad Fairuz, Al-Munawwir Kamus
Indonesia-Arab, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2007), hlm. 954.
13M. Hidayat Ginanjar dan Nia Kurniawati, “Pembelajaran Akidah Akhlak
dan Korelasinya Dengan Peningkatan Akhlak Al-Karimah Peserta Didik”, Jurnal
Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 06, No. 12, Juli 2017, hlm. 107.
14Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarah Aqidah Wasithiyah
Buku Induk Akidah Islam, (Jakarta: Darul Haq, 2016), hlm. 81.
15Nurnaningsih Nawawi, Aqidah Islam Dasar Keikhlasan Beramal Shalih,
(Makassar: Pusaka Almaida, 2017), hlm. 9.


Click to View FlipBook Version