43
16Rizki Ashar Yufranto, Pendidikan Aqidah Anak Dalam Al-Qur’an Surat
Luqman Ayat 13, (Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 2016),
hlm. 8-9.
17Tim Redaksi, Kamus Bahasa Indonesia, op. cit., hlm. 565.
18Zainal Abidin, Fiqh Ibadah, (Yogyakarta: Deepublish, 2020), hlm. 8.
19M. Quraish Shihab, Fatwa-fatwa Seputar Ibadah Mahdah Cet. I,
(Bandung: Mizan, 1999), hlm. xxi.
20Abdul Muin Salim, Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera Cet. I, (Jakarta:
Yayasan Kalimah, 1999), hlm. 73-74.
21Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Kuliah Ibadah, (Semarang: Pustaka
Rizki Putra, 2010), hlm. 23.
22Khotimatul Husna dan Mahmud Arif, “Ibadah dan Praktiknya dalam
Masyarakat”, Ta’lim: Jurnal Studi Pendidikan Islam, Vol. 4 No. 2 Juli 2021, hlm.
146.
23Ibid., hlm. 147.
24Tim Redaksi, Kamus Bahasa Indonesia, op. cit., hlm. 27.
25Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, (Jakarta: Amzah, 2016), hlm. 4.
26Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002),
hlm. 5.
27Ali Abdul Halim Mahmud, Tarbiyah al-khuluqiyah, hlm. 121.
28Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, op. cit., hlm. 147.
29M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Berbagai
Persoalan Umat, (Bandung: Mizan Media Utama, 2000), hlm. 261.
30Abdulloh Sadjad, “Pendidikan Akhlak Perspektif al-Imam Al-Ghazali”,
Transformasi: Jurnal Studi Agama Islam, hlm. 116-117.
31Ibid.
32Sulaiman, “Pendidikan Karakter Perspektif Al-Qur’an”, Jurnal Ilmu Al
Qur’an dan Hadist, Vol. 2, No. 1, Januari 2019, hlm. 42.
44
33Zubaidi, Desain Pendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasinya Dalam
Lembaga Pendidikan, (Jakarta: Kencana Pernada Media Group, 2011), hlm. 16.
34Rianawati, Implementasi Nilai-Nilai Karakter Pada Mata Pelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI) Di Sekolah Dan Madrasah, (Pontianak,
Pontianak Press, 2014), hlm. 20-21.
35Yuyun Yunita dan Abdul Mujib, “Pendidikan Karakter dalam Perspektif
Islam”, Jurnal Taujih Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 14, No. 1 Januari-Juni 2021,
hlm. 82.
36Ibid.
37Dwiyanto Djoko Pranowo, “Implementasi Pendidikan Karakter Kepedulian
dan Kerjasama Pada Matakuliah Keterampilan Berbicara Bahasa Prancis Dengan
Metode Bermain Peran”, Jurnal Pendidikan Karakter, Vol. 4, No. 2, Juni 2013,
hlm 4.
38Farid Setiawan, dkk., “Kebijakan Pendidikan Karakter Dalam
Meminimalisir Kenakalan Remaja”, Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan
Kajian Sosial Keagamaan, Vol. 18, No. 1 Januari-Juni 2021, hlm. 66.
39Otib Sariti Hidayat, Pendidikan Karakter Anak Sesuai Pembelajaran
Abad ke-21, (Jakarta: Edura-UNJ, 2020), hlm. 6.
40Saepuddin, Konsep Pendidikan Karakter dan Urgensinya dalam
Pembentukan Pribadi Muslim Menurut Imam Al-Ghazali, (Kepulauan Riau:
STAIN Sultan Abdurrahman Press, 2019), hlm. 25-26.
41Ibid., hlm. 30-31.
42Nurkholis, “Pendidikan Karakter Pada Penceritaan Kisah Yusuf AS Dalam
Al-Qur’an”, Dirasah, Vol. 5, No. 1 Februari 2022, hlm. 76.
43Kemendiknas, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa,
(Jakarta: Bapelitbang Puskur, 2010), hlm. 9-10.
44Tim Redaksi, Kamus Bahasa Indonesia, op. cit., hlm. 1722.
45Umar Hasyim, Toleransi dan Kemerdekaan Beragama dalam Islam
Sebagai Dasar menuju Dialog dan Kerukunan Antar Umat Beragama,
(Surabaya: Bina Ilmu, 1979), hlm. 22.
46Tim Redaksi, Kamus Bahasa Indonesia, op. cit., hlm. 285.
47Ibid., hlm. 309.
45
48Asmaun Sahlan dan Angga Teguh Prastyo, Desain Pembelajaran Berbasis
Pendidikan Karakter, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 39.
49Tim Redaksi, Kamus Bahasa Indonesia, op. cit., hlm. 1138.
50Ibid., hlm. 1496.
51Mukhlis Mukhtar, “Kepedulian Sosial dalam Perspektif Hadis”, Jurnal
Ushuluddin, Vol. 23, No. 1, Februari 2021, hlm. 85.
52Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia No.
33 Tahun 2009 Tentang Perfilman.
53Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2004), hlm. 126.
54Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar Edisi Kedua,
(Jakarta: Erlangga, 2003), hlm. 13.
55Onong U. Effendy, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 209.
56J. B. Kristianto, Katalog Film Indonesia, (Jakarta: Penerbit Nalar, 2007),
hlm. 6.
57Himawan Prasista, Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka,
2008), hlm. 13.
58Lenny Apriliany dan Hermiati, “Peran Media Film Dalam Pembelajaran
Sebagai Pembentuk Pendidikan Karakter”, Prosiding Seminar Nasional
Pendidikan Program Pascasarjana, 15-16 Januari 2021, hlm. 196.
59Ibid., hlm. 196-197.
60Ibid., hlm. 197-198.
BAB III
FILM SANG PENCERAH
A. Sejarah film Sang Pencerah
Film Sang Pencerah adalah film salah satu film karya Hanung
Bramantyo yang dimulai dari kisah sejarah perjuangan salah satu tokoh besar
Indonesia yakni K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendiri salah satu organisasi yang
besar di Indonesia yaitu Muhammadiyah. Kisah ini diangkat dan dikembangkan
oleh Hanung Bramantyo menjadi skenario film yang selanjutnya menjadi sebuah
film yang berjudul “Sang Pencerah”.
Film Sang Pencerah berdurasi selama ± 112 menit dan menghabiskan
biaya 12 Miliar ini ditulis dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini
disiarkan oleh Raam Punjabi yang dinaungi oleh PT. Multivision Plus (MVP)
dan mendapat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pemain film di antaranya adalah
Lukman Sardi, Zaskia Adya Mecca, Agus Kuncoro, Slamet Rahardjo, Dennis
Adhiswara, Muhammad Ihsan Tarore, Mario Irwinsyah, Ikranagara,
Abdurrahman Arif, Ricky Perdana, Yati Surachman, Sujiwo Tejo, Dewi Irawan,
Rukman Rosadi serta penampilan perdana dari Giring Ganesha (Giring Nidji).
Shooting perdana Film Sang Pencerah dimulai pada tanggal 21 Mei
2010 sekaligus menandai rangkaian proses produksi film yang dijadikan sebagai
kado istimewa Milad ke-100 warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Berbicara masalah proses pembuatan film serta sukses atau tidaknya dalam
proses produksinya, tentulah tidak terlepas dari peran tim kreatif yang terlibat.
46
47
Hal yang mendorong sutradara film ini adalah dikarenakan saat masa
kecilnya ia sering bermain di halaman Langgar Kidul yang menjadi pusat dari
kegiatan K.H. Ahmad Dahlan sebelum ada organisasi Muhammadiyah, lalu
ketika ia membaca risalah K.H. Ahmad Dahlan yang mencerminkan diri
seseorang yang memiliki pemikiran yang berbeda yang dihadapi pertama kali
bukanlah orang lain justru orang terdekat kita seperti keluarga dan orang-orang
seagamanya.1
B. Karakter para tokoh dalam film Sang Pencerah
Berikut merupakan nama-nama pemain dan perannya dalam film Sang
Pencerah yang memiliki berpengaruh adalah sebagai berikut:
1. Tokoh Kiai Haji Ahmad Dahlan, diperankan oleh Lukman Sardi dalam film
ini yang menggambarkan tentang seorang tokoh agama yang religius, yang
bersekolah ke Mekkah, setelah itu ia kembali ke tanah air. Kemudian ia
memberikan ajaran Islam, membuka sekolah, hingga mendirikan langgar
yang dijadikan pusat kegiatan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan.
2. Tokoh Muhammad Darwis, diperankan oleh Ihsan Taroreh dalam film ini
yang menggambarkan tentang seseorang yang mengalami sentuhan
kebudayaan atau tradisi orang-orang terdahulu pada masa pertambahan usia
hingga ia berusia 15 tahunan.
3. Tokoh Kiai Siraj Pakualaman, diperankan oleh Masroom Bara dalam film
ini yang menggambarkan tentang seseorang tokoh agama yang memiliki
48
sikap tertutup dengan dunia luar (menolak perkembangan ilmu pengetahuan
yang di temukan oleh orang non-Muslim).
4. Tokoh Kiai Penghulu Cholil Kamaludiningrat, diperankan oleh Slamet
Rahardjo Jarot dalam film ini menggambarkan tentang seseorang yang
dipengaruhi oleh orang terdekatnya mengenai perbedaan pendapat dan
akhirnya ia menerima perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka.
Dalam sebuah film pastinya tidak hanya terdapat 4 orang pemain, akan
tetapi ada beberapa pemain yang berperan dalam film Sang Pencerah ini. Para
karakter dalam film Sang Pencerah secara lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel
1.2
C. Alur cerita film Sang Pencerah
Alur cerita film Sang Pencerah, dalam film ini mengisahkan tentang
kehidupan di Yogyakarta, lebih tepatnya di Kauman yakni sebuah
perkampungan Islam yang terdapat sebuah masjid besar dijadikan sebagai pusat
kegiatan agama dipimpin oleh seorang penghulu bergelar Kamaludiningrat,
yang saat itu Islam terpengaruh ajaran Syeh Siti Jenar yang meletakkan Raja
sebagai perwujudan Tuhan, masyarakat meyakini titah Raja adalah sabda Tuhan
(perintah Raja adalah perintah Tuhan), syariat Islam bergeser ke arah Tahayul
dan Mistik, sementara itu kemiskinan dan kebodohan merajalela akibat politik
tanam paksa pemerintah Belanda, agama tidak bisa mengatasi keadaan karena
terlalu sibuk dengan tahayul yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah, hingga tiba suatu ketika terlahir seorang anak yang diberi nama
49
Muhammad Darwis yang ketika masa kecilnya hingga menuju ke masa usia
remaja yaitu menuju usia ke 15 tahunan, pada masa kecilnya ia mengalami
sentuhan tradisi atau kebudayaan orang-orang Jawa terdahulu. Setelah itu ia
berangkat dan bersekolah di mekah kurang lebih selama 5 tahun, selesai
bersekolah namanya diganti menjadi Ahmad Dahlan.
Tak lama setelah itu Ahmad Dahlan dinikahkan dengan Siti Walidah,
kemudian orang tua Ahmad Dahlan (Abu Bakar) meninggal dunia, Ahmad
Dahlan diangkat menjadi Khotib Masjid Besar Keraton Yogyakarta. Lalu ia
mendirikan sebuah langgar yang bernama Langgar Kidul. Saat ia memainkan
biola ada beberapa remaja yang penasaran siapa yang bermain biola tersebut,
ternyata orang itu adalah Ahmad Dahlan. Lalu masuklah beberapa remaja itu,
dan mendengarkan biola kemudian diberikan kesempatan satu persatu untuk
mencoba memainkan biola, ketika salah satu orang dari beberapa remaja tersebut
memainkan biola tidak bisa memainkannya kemudian ditertawakan oleh teman-
temannya. Ketika ditanya oleh Ahmad Dahlan “bagaimana rasanya?”, dijawab
“kacau kiai”. Lalu Ahmad Dahlan berkata “itulah agama kalau kita tidak
mempelajarinya dengan benar, itu akan membuat resah lingkungan kita, dan jadi
bahan tertawaan.”
Selanjutnya ketika Ahmad Dahlan pergi ke daerah Semarang, saat
memasuki waktu salat, ia pun masuk ke mesjid besar dan menemukan bahwa
arah kiblat yang ada di mesjid itu salah, kemudian diadakanlah forum sederhana
untuk membahas mengenai arah kiblat, tak lama setelah itu Ahmad Dahlan
memperlihatkan Peta yang mana membahas tentang arah kiblat, kemudian ada
50
orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu berada dimana-mana, dan hati
manusialah yang menghadap kepada Tuhan. Orang tersebut mengatakan bahwa
peta adalah hasil temuan dari orang Non-Muslim sehingga orang Muslim tidak
boleh menggunakannya.
Suatu saat ketika Ahmad Dahlan salat ia memiringkan arah salatnya,
dan ia pun di sebut dengan orang miring. Tak lama setelah itu, ketika Ahmad
Dahlan melakukan pengajian di Langgar Kidul, dan membacakan Q.S. Al-
Ma’un, dan kemudian ditanya muridnya “mengapa kita selama empat kali kita
pengajian mengapa hanya membaca Q.S. Al-Ma’un, padahal di Qur’an terdapat
114 surah?.” Dijawab Ahmad Dahlan, “sudah berapa banyak anak yatim dan
orang-orang miskin yang kalian santuni?.”, kemudian “buat apa kita mengaji
banyak surah tapi hanya untuk dihafal?.”
Setelah itu, ada yang menghasut pemikiran seorang pemuka agama
yang orang paling berperan di masyarakat, yakni Kiai Cholil. Saat itu ia
memerintahkan para jemaahnya untuk menyerang dan menghancurkan langgar
miliki Ahmad Dahlan, kemudian ia berencana untuk meninggalkan daerahnya.
Setelah itu, ia didatangi oleh saudaranya dan dimohon untuk pulang (bertahan)
di daerahnya.
Lalu, istrinya dan saudaranya menyisihkan sebagian harta mereka
untuk mendukung Ahmad Dahlan agar kembali membangun langgarnya, setelah
itu ia mundur dari jabatan sebagai khatib Mesjid Besar. Ahmad Dahlan
berangkat haji bersama Siradj, 5 tahun kemudian, sebuah perkumpulan yang
bernama Budi Utomo mulai populer hingga sampai kepada Ahmad Dahlan.
51
Perkumpulan itu awalnya hanya untuk pendidikan dan kesehatan. Setelah ia
memasuki perkumpulan itu, penampilannya pun berubah drastis, kemudian ikut
mengajar di sekolah yang dibuatkan oleh Belanda. Di sekolah Belanda itu ia
berencana untuk mengajarkan Agama Islam. Lalu ia meminta kesempatan untuk
mencoba sehari, saat mengajar ada anak murid di sekolah itu yang buang angin
(kentut) ketika ia mengucapkan salam. Dengan kesimpulan pelajaran yakni
tentang bersyukur atas nikmat diciptakan-Nya bagi setiap manusia dalam hal ini
adalah mengenai saluran pencernaan.
Tak lama setelah ia mengajar di sekolah Belanda ia dikatakan para
remaja di daerahnya sebagai “kiai kafir”, bahkan orang tua dari beberapa remaja
yang biasanya mengikuti pengajian Ahmad Dahlan dilarang oleh orang tuanya
untuk pergi ke langgar Kidul. Lalu, setelah Ahmad Dahlan dan beberapa remaja
itu berkumpul mereka bersama-sama membangun sebuah Madrasah Ibtidaiyah,
setelah selesai membangun Madrasah Ibtidaiyah ia mencari murid yang ada di
sekitar alun-alun kota. Kemudian ada seorang kiai yang datang berkunjung ke
Madrasah Ibtidaiyah Ahmad Dahlan yang mengatakan mengapa Madrasah
Ibtidaiyah menggunakan produk dari orang kafir?, dan ditanya balik oleh Ahmad
Dahlan Kiai datang ke Magelang ke Yogyakarta menaiki apa?, dijawab kiai itu
saya menggunakan kereta api, lalu dijawab oleh Ahmad Dahlan hanya orang
bodoh saja yang menyebut sekolah ini sekolah kafir, karena kereta api yang
membuat adalah orang kafir. Hingga akhirnya kiai tersebut langsung pergi
meninggalkan sekolah Ahmad Dahlan itu.
52
Kemudian ada pertemuan antara Kiai Cholil dengan Ahmad Dahlan,
yang dibahas mengenai perbedaan pandangan atau pemikiran terhadap yasinan
dan tahlilan. Dan tak berselang lama, Ahmad Dahlan mendirikan perkumpulan
yang bekerja sama dengan Budi Utomo, perkumpulan ini dinamakan
Muhammadiyah. Yang mana masyarakat di daerah Kauman memahami bahwa
Muhammadiyah diyakini akan menyebarkan pemahaman modern yang dibawa
oleh orang kafir. Lalu terjadilah perpecahan antara perkumpulan masjid besar
dengan Muhammadiyah. Tak lama setelah itu, akhirnya dua pihak yang saling
berbeda pandangan atau pemikiran mereka bersama-sama menghargai
pandangan atau pemikiran masing-masing pada pertemuan antara pemimpin
masing-masing.
Jadi, film Sang Pencerah ini menceritakan tentang perjuangan seorang
tokoh besar Islam Indonesia, yakni K.H. Ahmad Dahlan dalam menyebarkan
pemahaman Islam versi modern kepada masyarakat Islam yang masih berada
dalam kondisi Islam versi tradisional sehingga terdapat beberapa gesekan antara
pemikiran yang dibawa olehnya dengan pemikiran yang ada masyarakat
tersebut.
53
SUMBER KUTIPAN BAB III
1Metrotvnews, Mata Najwa: Belajar dari KH Ahmad Dahlan & KH Hasyim
As’ari (Part 2), diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=ZRpPYszovLs
2Multi Vision Plus (Produser), Raam Punjabi (Sutradara), Sang Pencerah,
Jakarta, 2010.
BAB IV
NILAI PENDIDIKAN ISLAM DAN PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM FILM SANG PENCERAH
A. Nilai Pendidikan Islam
Nilai Pendidikan Islam adalah segala sifat atau hal-hal yang mendasari
seseorang dalam kehidupannya yang bersumber dari sumber-sumber ajaran
Islam yakni Al-Qur’an, Hadits, hingga Ijtima’. Melalui beberapa sumber-
sumber ajaran Islam tersebut, maka manusia dalam kehidupannya
seharusnya melakukan segala hal sesuai dengan apa yang berasal dari
sumber-sumber tersebut. Nilai-nilai pendidikan Islam mencakup
pendidikan akidah, pendidikan ibadah, dan pendidikan akhlak.
1. Pendidikan Akidah
Akidah berarti keyakinan atau kepercayaan. Akidah merupakan apa
yang diyakini oleh seseorang tanpa adanya pengaruh dari luar, adapun
maksudnya adalah keadaan seseorang yang memiliki ketetapan tanpa
ada keraguan dalam mengambil keputusan, tindakan, dan perbuatan di
kehidupannya. Keyakinan juga disebut dengan keimanan.
Nurnaningsih Nawawi dalam bukunya yang berjudul Aqidah Islam
Dasar Keikhlasan Dalam Beramal Shalih mengemukakan bahwa:
Aqidah artinya: Simpulan, yakni kepercayaan yang tersimpul dihati.
Aqaid adalah jama’ dari aqidah (akidah). I’tiqad berarti kepercayaan.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa perkataan: aqaid,
I’tiqad adalah kepercayaan (keimanan) yang tersimpul dalam hati.
Ilmu tauhid terkadang disebut juga “ilmu Aqaid” dan “ilmu I’tiqad”,
karena ilmu ini membahas masalah-masalah yang berhubungan
dengan keyakinan yang terpatri dalam hati.1
54
55
Jadi, menurut Nurnaningsih Nawawi dapat diketahui bahwa aqidah
ialah simpulan yakni kepercayaan yang tersimpul dihati seseorang
terhadap sesuatu.
Pendidikan akidah adalah proses membimbing dan mengarahkan
fitrah yang ada pada seseorang, sehingga akan tumbuh kepercayaan dan
keyakinan lurus yang tertanam kuat dalam hati sebagai pegangan dan
landasan hidup. Diharapkan dengan pendidikan akidah seseorang
dalam bertingkah laku didasari atas kepercayaan dan keyakinan.2
Dalam hal ini berupa keimanan kepada Allah SWT., keimanan
kepada para Malaikat, keimanan kepada kitab-kitab Allah SWT.,
keimanan kepada Nabi dan Rasul, keimanan kepada hari akhir, dan
keimanan kepada Qada dan Qadar. Atau disebut juga rukun Iman.
Berikut merupakan ayat tentang pendidikan Akidah, Allah SWT
berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah: 186,
َُوإِذَاُ َسأَلَ َكُ ِعبَاِديُ َعِِّنُفَإِِِّنُقَِري ٌۖبُأ ِجيبَُد ۡعَوةَُٱل َّداِعُإِذَاَُد َعا ٌِۖنُفَ ۡليَ ۡستَ ِجيبواُِْل
ُُ3َوۡلي ۡؤِمنواُِْبُلََعَلّه ۡمُيَۡرشدوَُن
Menurut tafsir Jalalain, “Segolongan orang-orang bertanya kepada
Nabi ﷺ., “Apakah Tuhan kami dekat, maka kami akan berbisik kepada-
Nya, atau apakah Dia jauh, maka kami akan berseru kepada-Nya”.4
Menurut tafsir Ibnu Katsir, “Bahwa Allah SWT. tidak menolak dan
mengabaikan do’a seseorang, tetapi sebaliknya Dia Maha Mendengar
56
Do’a. Ini merupakan anjuran untuk senantiasa berdo’a, dan Dia tidak
akan pernah menyia-nyiakan doa hamba-Nya”.5
Dari beberapa pendapat menurut beberapa ahli serta beberapa
penafsir terhadap beberapa ayat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
pendidikan Akidah ialah pendidikan yang bersumber dari ajaran-ajaran
Islam yang bertujuan agar menciptakan manusia yang hanya
menyembah kepada-Nya saja dan selalu berserah diri kepada-Nya
dalam kehidupan ini.
Pendidikan Akidah meliputi meyakini bahwa Tuhan hanyalah Allah
SWT semata (tidak menyekutukan-Nya) dan berserah diri hanya
kepada-Nya. Adapun Nilai-nilai pendidikan akidah yang tercantum
dalam film Sang Pencerah adalah sebagai berikut:
a. Perbuatan menyekutukan Allah
Dalam film Sang Pencerah terdapat 4 adegan yang
menampilkan kegiatan yang terdapat perbuatan menyekutukan
Allah. Berikut merupakan adegan-adegan tentang larangan
menyekutukan Allah yang terdapat dalam film Sang Pencerah:
Pada adegan pertama menampilkan suami-istri yang sedang
memberikan sesaji dan berdoa sambil menyembah berhala yang
ada di sebuah candi. Adegan ini terdapat pada menit ke 00:02:02-
00:02:08, dapat dilihat pada Gambar 1.
Selanjutnya pada adegan kedua menampilkan masyarakat
Kauman yang berbondong-bondong dengan membawa beberapa
57
sesaji untuk melaksanakan ritual, seperti kemenyan, nasi tumpeng,
dan lain-lain. Adegan ini terdapat pada waktu 00:02:12-00:02:28,
dapat dilihat pada Gambar 2.
Kemudian pada adegan ketiga menampilkan suami-istri yang
sedang memberikan sesaji kepada sebuah pohon besar sambil
berdoa dengan membaca mantra agar diberikan keselamatan.
Adegan ini terdapat pada waktu 00:02:33-00:03:08, dapat dilihat
pada Gambar 3.
Dari ketiga adegan di atas tersebut, adegan-adegan tersebut
menampilkan keadaan masyarakat yang saat itu masih melakukan
penyimpangan terhadap syariat Islam sebelum hadirnya
pembaharuan yang dibawakan oleh K.H. Ahmad Dahlan.
Adapun adegan yang merupakan penolakan terhadap adegan-
adegan sebelumnya adalah pada adegan keempat yang
menampilkan Muhammad Darwis Saat berusia 15 Tahun
menggelengkan kepalanya pada saat ikut dalam kegiatan yang
dilakukan di sebuah candi. Adegan ini terdapat pada waktu
00:02:28-00:02:32, dapat dilihat pada Gambar 4.
Menurut kacamata ilmu semiotika ialah ilmu yang mengkaji
tentang tanda-tanda yang ditampilkan dalam bentuk visual
(gambar), maka sikap (K.H. Ahmad Dahlan) yang terdapat pada
adegan Gambar 4 (menggelengkan kepalanya) tersebut dapat
58
dikatakan sebuah penolakannya terhadap perilaku atau perbuatan
yang dilakukan oleh orang-orang dalam adegan pada film tersebut.
Larangan menyekutukan Allah artinya kita tidak boleh
bergantung segala hal maupun keadaan dalam kehidupan kita
kepada selain-Nya. Dalam kehidupan manusia seperti yang
digambarkan dalam beberapa adegan yang ada dalam film Sang
Pencerah ini di mana dalam adegan terdapat penyimpangan dalam
menyembah dan memohon yakni kepada berhala yang ada di candi
maupun kepada sebuah pohon besar. Mereka meyakini bahwa
kegiatan yang mereka lakukan terhadap berhala dan pohon besar
mempengaruhi segala hal dalam kehidupan mereka.
Menurut Hasiah dalam jurnalnya yang berjudul Syirik Dalam
Perspektif Al-Qur’an mengemukakan bahwa:
Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah SWT.
seperti berdoa atau meminta pertolongan kepada selain Allah
SWT. namun tetap meminta pertolongan kepada Allah SWT.
Atau memalingkan bentuk suatu ibadah, seperti bernazar,
berkorban dan sebagainya kepada selain Allah SWT.6
Jadi, menurut Hasiah dapat diketahui bahwa syirik merupakan
sikap menyamakan selain Allah dengan Allah SWT seperti berdoa
dan meminta pertolongan kepada selain-Nya.
Beriman berarti meyakini bahwa Tuhan hanyalah Allah SWT.
semata, sebagaimana Allah SWT. telah menegaskan tentang
larangan menyekutukan-Nya dalam Q.S. Luqman: 13 sebagai
berikut:
59
7َُوإِ ْذُقَا َلُلْق َمانُِِلبْنِِهَُوهَوُيَعِظهََُيبََّّنَُلا تُ ْش ِرْك بِالّهِلُإِ َّنُال ِِشْرَكُلَظلْمُعَ ِظيم
Menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya berjudul Tafsir Al-
Misbah mengemukakan bahwa:
Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dalam
keadaan dia dari saat ke saat menasihatinya bahwa wahai
anakku sayang! Janganlah engkau mempersekutukan Allah
dengan sesuatu apapun, dan jangan juga mempersekutukan-Nya
sedikit persekutuan pun, lahir maupun batin. Persekutuan yang
jelas maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya syirik yakni
mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang sangat besar.
Itu adalah penempatan sesuatu yang sangat agung pada tempat
yang sangat buruk.8
Jadi, menurut M. Quraish Shihab dapat diketahui bahwa ayat
tersebut menceritakan tentang Luqman menasihati anaknya untuk
tidak menyekutukan Allah, karena sesungguhnya perbuatan
tersebut adalah kezaliman yang sangat besar.
Kemudian menurut Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin
Muhammad Alu asy-Syaikh dalam bukunya berjudul Tafsir
Muyassar Jilid 2 mengemukakan bahwa:
Ingatlah, wahai Rasul, nasihat Luqman kepada putranya saat dia
menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan
sesuatu dengan Allah, karena dengan itu kamu menzhalimi
dirimu, sesungguhnya syirik benar-benar perbuatan dosa yang
paling besar dan paling buruk.9
Jadi, menurut Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad
Alu asy-Syaikh dapat diketahui bahwa ayat tersebut menceritakan
Luqman yang menasihati anaknya untuk tidak melakukan
perbuatan syirik karena perbuatan tersebut merupakan dosa besar
dan paling buruk.
60
Dari beberapa penafsiran yang disampaikan oleh beberapa
penafsir dari ayat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa syirik
merupakan perbuatan baik berupa perkataan maupun tindakan
seorang manusia yang menyekutukan Allah dengan makhluk yang
bernyawa maupun yang tidak bernyawa, padahal kita sebagai
manusia hanya menyembah Tuhan yang satu yaitu Allah SWT. dan
juga syirik merupakan dosa besar.
Perbuatan syirik yang digambarkan dalam film Sang Pencerah
adalah melakukan sembahan kepada berhala di sebuah candi,
melakukan sembahan pada sebuah candi dengan membawa sesaji
serta menyembah sebuah pohon besar. Adapun penolakan terhadap
perbuatan tersebut adalah dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan
dengan menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakan atas
apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut.
b. Berserah diri kepada Allah
Dalam film Sang Pencerah terdapat 2 adegan yang
menampilkan kegiatan yang terdapat berserah diri kepada Allah.
Berikut merupakan adegan-adegan tentang berserah diri kepada
Allah yang terdapat dalam film Sang Pencerah:
Pada adegan pertama, Muhammad Darwis ingin pergi ke
Mekkah dengan meminta izin kepada pamannya untuk
memperdalam Ilmu Agama. Adegan ini terdapat dalam waktu ke
00:07:48-00:07:53, dapat dilihat pada Gambar 5.
61
Lalu pada adegan kedua, terdapat saat Muhammad Darwis
berada di Mekkah, dan beliau berkata “jiwaku akan ku serahkan
kepada-Mu ya Allah, tapi kepada siapa, untuk siapa”. Adegan ini
terdapat dalam waktu ke 00:11:10-00:11:20, dapat dilihat pada
Gambar 6.
Dari kedua adegan di atas, maka perilaku berserah diri yang
dicontohkan oleh K.H. Ahmad Dahlan adalah menyerahkan
dirinya kepada-Nya yang dianggap olehnya sebagai penjamin
ketika ia masih hidup hingga kematiannya kelak.
Berserah diri kepada Allah artinya kita sebagai manusia
menyerahkan segalanya yang ada dalam kehidupan kita hanya
kepada Allah SWT semata. Misalkan kita berusaha menjadi
seorang pedagang, maka kita berusaha semaksimal kita dan
menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Berserah diri
mempunyai kata lain yang dikenal dengan istilah Tawakkal.
Menurut Dede Setiawan dan Silmi Mufarihah dalam jurnalnya
yang berjudul Tawakal dalam Al-Qur’an Serta Implikasinya dalam
Menghadapi Pandemi Covid-19 mengemukakan bahwa:
Tawakal adalah sikap berserah diri kepada Allah SWT. atas
segala sesuatu, setelah terlebih dahulu melakukan usaha dan
ikhtiar dibarengi dengan keikhlasan menerima apapun hasil
yang akan didapatkan.10
Berserah diri hanya kepada-Nya, sebagaimana Allah SWT.
berfirman tentang berserah diri kepada-Nya yakni sebagai berikut:
Dalam Q.S. Al-Maidah: 11 sebagai berikut:
62
ََُيأَُيَّهاُاَلّ ِذي َنُآَمنواُاذْكرواُنِْع َم َتُاََّّللُِعَلَيْك ْمُإِ ْذُ َه َّمُقَْومُأَنُيَْبسطواُإِلَْيك ْمُأَيْ ِديَه ْم
11فَ َك َّفُأَيْ ِديَه ْمُ َعنك ٌْۖمَُواَتّقواُاََّّلَۚلََُو َعلَى الِّل فَ ْليَتَ َوّك ِل الْ ُمْؤِمنُو َن
Menurut Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-
Syaikh dalam bukunya yang berjudul Tafsir Muyassar Jilid 1
mengemukakan bahwa:
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti
Rasul-Nya serta menjalankan syariat-Nya, ingatlah nikmat
stabilitas keamanan yang Allah limpahkan pada kalian dan
dilontarkannya rasa takut pada hati musuh-musuh kalian yang
hendak menyerang kalian. Lalu Allah memalingkan mereka dari
kalian dan menghalangi mereka untuk melancarkan apa yang
mereka rencanakan pada kalian. Dan bertakwalah kepada Allah
dan gentarlah kepada-Nya, serta bertawakkallah kepada Allah
dalam seluruh urusan agama dan dunia kalian, serta percayalah
terhadap bantuan dan pertolongan-Nya.12
Jadi, menurut Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad
Alu asy-Syaikh dapat diketahui bahwa ayat ini tentang isyarat
kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti
Rasul-Nya untuk mengingat atas nikmat yang berikan-Nya, serta
bertawakal kepada Allah dalam seluruh urusan agama dan dunia
manusia.
Menurut Mahmud Yunus dalam bukunya yang berjudul Tafsir
Quran Karim mengemukakan bahwa, “Dalam ayat ini Allah
menyuruh agar orang-orang Mu’min mengingat nikmat Allah itu,
supaya mereka mengucapkan syukur kepada Allah”.13
63
Dari beberapa penafsiran yang disampaikan oleh beberapa
penafsir dari ayat tersebut serta pendapat para ahli, maka dapat
disimpulkan bahwa berserah diri atau bertawakal kepada Allah
harus dilakukan oleh manusia di kehidupannya. Karena semua hal
yang terjadi saat ini maupun masa yang akan datang pastinya sudah
ditetapkan oleh-Nya, manusia hanya mampu berusaha semaksimal
dan semampunya, hasil akhir Tuhan-lah yang akan
menentukannya.
Gambaran perbuatan berserah diri atau bertawakal kepada Allah
dalam film Sang Pencerah adalah saat berkeinginan untuk
menuntut ilmu (memperdalam ilmu agama) ke Makkah serta ketika
K.H. Ahmad Dahlan menyerahkan dirinya kepada Allah saat ia
berada di Makkah.
2. Pendidikan Ibadah
Ibadah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan hubungan
manusia dengan Allah (Hablum Minallah) dan hubungan manusia
dengan manusia (Hablum Minannas) dalam kehidupan sosialnya.
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh manusia dalam menjalin
hubungan kepada Allah SWT. yaitu dengan beriman dan bertakwa.
Menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Fatwa-
Fatwa Seputar Ibadah Mahdah Cetakan I mengemukakan bahwa:
Ibadah adalah suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai
puncaknya sebagai dampak dari rasa pengagungan yang bersemai
dalam lubuk hati seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia
tunduk. Rasa itu lahir akibat adanya keyakinan dalam diri yang
64
beribadah bahwa obyek yang kepadanya ditujukan ibadah itu
memiliki kekuasaan yang tidak dapat terjangkau hakikatnya.14
Jadi, menurut M. Quraish Shihab dapat diketahui bahwa ibadah
adalah suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang dilakukan oleh
seseorang kepada Tuhan-Nya.
Menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam bukunya yang
berjudul Kuliah Ibadah mengemukakan bahwa, “Pendidikan ibadah
adalah suatu usaha untuk memberikan kesadaran beribadah kepada
manusia agar mengerti tentang eksistensi dirinya sebagai seorang
hamba Allah. Dengan tunduk yang setinggi-tingginya”.15
Dari pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan
ibadah adalah pendidikan yang utama dan pertama ditanamkan,
maksudnya dikarenakan ibadah adalah tanda bahwa seseorang itu taat
kepada-Nya dengan berlandaskan kepada sumber-sumber ajaran Islam
yaitu Al-Qur’an, Hadits, atau dalam kitab-kitab yang mengandung
hukum Islam yakni pada kitab-kitab fiqh.
Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan manusia untuk menjalin
hubungan kepada Allah SWT. adalah mendirikan salat, melaksanakan
Amar Ma’ruf Nahi Munkar (mengikuti perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya). Adapun nilai-nilai ibadah yang tercantum dalam film
Sang Pencerah adalah sebagai berikut:
a. Perintah mendirikan salat
Dalam film Sang Pencerah terdapat 3 adegan yang menampilkan
kegiatan yang terdapat perintah mendirikan salat. Berikut
65
merupakan adegan-adegan tentang perintah mendirikan salat yang
terdapat dalam film Sang Pencerah:
Pada adegan pertama, menampilkan situasi saat K.H. Ahmad
Dahlan sedang belanja di pasar dekat mesjid, kemudian ketika ia
melihat dan mendengar seorang laki-laki menabuh beduk yang
artinya waktu salat telah sampai (masuk), lalu ia langsung bergegas
bersuci (berwudu) dan memasuki masjid tersebut. Adegan ini
terdapat dalam waktu ke 00:24:28-00:24:36, dapat dilihat pada
Gambar 7.
Pada adegan kedua, menampilkan K.H. Ahmad Dahlan sedang
melaksanakan salat dengan berjamaah di Masjid Besar Kauman.
Adegan ini terdapat dalam waktu ke 00:31:20-00:31:24, dapat
dilihat pada Gambar 8.
Dari kedua adegan diatas, perilaku yang dicontoh oleh K.H.
Ahmad Dahlan adalah ketika azan sudah dikumandangkan ia
bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat secara
berjamaah dan tepat waktu.
Lalu pada adegan ketiga, menampilkan K.H. Ahmad Dahlan
sedang memberikan contoh kepada murid-murid tentang tata cara
shalat. Adegan ini terdapat dalam waktu ke 01:14:21-01:14:33, dapat
dilihat pada Gambar 9.
Pada adegan Gambar 9, menggambarkan K.H. Ahmad Dahlan
sedang memberikan pelajaran dengan memberikan contoh tata cara
66
shalat, hal tersebut merupakan sebuah kewajiban yang bukan hanya
berlaku kepada K.H. Ahmad Dahlan, akan tetapi juga berlaku
kepada kita untuk mencetak generasi umat Islam.
Menurut Ashadi Falih dan Cahyo Yusuf dalam bukunya Akhlak
Membentuk Pribadi Muslim Cetakan I mengemukakan bahwa,
“Shalat adalah amaliah ibadah kepada Allah SWT yang terdiri dari
perbuatan dan bacaan tertentu, dimulai dari takbiratul ihram dan
diakhiri dengan salam”.16
Jadi, menurut Ashadi Falih dan Cahyo Yusuf dapat diketahui
bahwa shalat merupakan amaliah ibadah kepada Allah SWT yang
terdiri dari perbuatan dan bacaan tertentu, dimulai dengan takbiratul
ihram dan diakhiri dengan salam.
Menurut Kafrawi dalam jurnalnya yang berjudul Nilai
Pendidikan Dalam Shalat Fardhu (Studi Tafsir Al-Misbah)
mengemukakan bahwa, “Shalat dinamai zikr atau mengingat Allah
karena ia mengandung ucapan-ucapan, seperti takbir, tahmid, dan
tasbih serta ayat-ayat Al-Qur’an yang harus diucapkan”.17
Jadi, menurut Kafrawi dapat diketahui bahwa shalat disebut juga
zikr karena terkandung ucapan-ucapan seperti takbir, tahmid, tasbih
serta ayat-ayat Al-Qur’an yang harus diucapkan.
Shalat merupakan bukti bahwa seseorang itu taat atau tidaknya
kepada Sang Pencipta, lalu ketika azan sudah berkumandang lebih
baiknya kita segera bergegas menuju tempat ibadah dan sebelum itu
67
kita usahakan untuk berwudhu terlebih dahulu, kemudian
mengajarkan bagaimana tata cara shalat itu wajib kita lakukan.
Berikut merupakan perintah mendirikan salat sebagaimana Allah
SWT berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah: 238 sebagai berikut:
ُ 18َحافِظواُ َعلَىُال َّصلََوا ِتَُوال َّصَلةُِالْو ْسطَ ٰىَُوقومواََُِّّللُِقَانِتِ َُي
Menurut tafsir Ibnu Katsir, “Allah SWT memerintahkan untuk
memelihara semua shalat pada waktunya masing-masing,
memelihara ketentuannya dan kamu mengerjakannya tepat pada
waktunya”.19
Dari penafsiran diatas mengenai ayat tersebut, maka dapat kita
simpulkan bahwa sebagai makhluk yang diciptakan-Nya kita
haruslah memelihara shalat kita baik itu terhadap waktu serta
ketentuannya. Maksudnya sebelum shalat apa yang harus kita
lakukan, contoh ketentuannya adalah sebelum shalat terlebih dahulu
kita berwudhu jikalau belum berwudhu.
Gambaran tentang perintah mendirikan shalat yang digambarkan
dalam film Sang Pencerah adalah ketika saat K.H. Ahmad Dahlan
sedang melakukan jual beli (urusan dunia) maka ketika ia
mendengarkan suara beduk (tanda tibanya waktu shalat) ia langsung
bergegas menuju masjid (urusan akhirat).
b. Perintah Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Dalam film Sang Pencerah terdapat 6 adegan yang menampilkan
kegiatan yang terdapat perintah Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Berikut
68
merupakan adegan-adegan tentang perintah Amar Ma’ruf Nahi
Munkar yang terdapat dalam film Sang Pencerah:
Pada adegan pertama, menampilkan saat K.H. Ahmad Dahlan
menikah dengan Siti Walidah. Adegan ini terdapat dalam waktu ke
00:14:48-00:14:55, dapat dilihat pada Gambar 10.
Pada adegan Gambar 10, perbuatan yang dicerminkan oleh K.H.
Ahmad Dahlan adalah menikahi seorang perempuan yang bernama
Siti Walidah, tanpa adanya hubungan seperti berpacaran ataupun
chattingan kepada lawan jenisnya seperti hal-hal yang dilakukan
oleh beberapa remaja sekarang ini, yang mana perbuatan tersebut
merupakan perbuatan yang dilarang jikalau sampai terlalu berlebih-
lebihan (secukupnya atau sewajarnya saja).
Pada adegan kedua, menampilkan ketika K.H. Ahmad Dahlan
melakukan pengajian dengan skala kecil bersama beberapa remaja
yang ada di sekitar langgarnya. Adegan ini terdapat dalam waktu ke
00:20:00-00:24:26, dapat dilihat pada Gambar 11.
Pada adegan Gambar 11, menggambarkan perilaku amar ma’ruf
nahi munkar, yakni remaja-remaja tersebut mengisi waktu mereka
dengan mengikuti pengajian yang diadakan oleh K.H. Ahmad
Dahlan.
Pada adegan ketiga, menampilkan ketika menjelang berbuka
puasa K.H. Ahmad Dahlan memimpin beberapa orang di lingkungan
langgarnya untuk membaca Al-Qur’an sambil melakukan pengajian
69
yang membahas tentang surah Al-Ma’un. Adegan ini terdapat dalam
waktu ke 00:36:13-00:37:00, dapat dilihat pada Gambar 12.
Pada adegan Gambar 12, menggambarkan perilaku amar ma’ruf
nahi munkar, yakni dengan mengisi waktu menjelang berbuka puasa
dengan membaca Al-Qur’an.
Pada adegan keempat, menampilkan K.H. Ahmad Dahlan yang
sedang memberikan makanan kepada anak-anak kemudian
mengajak mereka untuk belajar. Adegan ini terdapat pada menit ke
01:13:40-01:13:50, dapat dilihat pada Gambar 13.
Pada adegan kelima, menampilkan saat K.H. Ahmad Dahlan
sedang memberikan pelajaran Agama Islam yakni tentang tata cara
berwudu. Adegan ini terdapat pada menit ke 01:14:10-01:14:20,
dapat dilihat pada Gambar 14.
Pada adegan keenam, menampilkan saat K.H. Ahmad Dahlan
yang mengajarkan tentang tata cara salat dalam hal ini adalah
membahas mengenai keadaan bersujud dalam salat. Adegan ini
terdapat pada menit ke 01:14:20-01:14:35, dapat dilihat pada
Gambar 15.
Pada adegan Gambar 13, Gambar 14 dan Gambar 15,
menggambarkan perilaku amar ma’ruf nahi munkar yakni
memberikan makanan yang bertujuan untuk memberikan mereka
semangat dalam belajar, kemudian melakukan kegiatan pengajaran
dan pendidikan kepada anak-anak tentang bersuci dan shalat oleh
70
K.H. Ahmad Dahlan yang juga menjadi kewajiban bagi kita karena
anak-anak adalah penerus generasi umat Islam.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar ialah mengajak kepada perilaku
kebaikan dan menjauhkan kepada perilaku keburukan. Pengajian,
Menikah, Sedekah hingga Pendidikan adalah contoh kegiatan yang
akan mengajak orang menuju kepada perilaku kebaikan serta
menjauhkan kepada perilaku keburukan. Misalnya dalam Menikah
itu tujuan yang terdapat di dalamnya adalah mengubah yang semula
hal-hal yang dikategorikan haram menjadi halal.
Menurut Ibnu Taimiyah dalam buku yang berjudul Mu’jam Al-
Mufahras li Al-Fazhi Al-Qur’an mengemukakan bahwa:
Al-Ma’ruf adalah nama setiap perbuatan yang dipandang baik
menurut akal atau agama (syara’). Sedangkan al-munkar berarti
setiap perbuatan yang oleh akal sehat dipandang buruk atau jelek,
atau akal memandang itu baik akan tetapi agama (syari’at)
memandangnya jelek.20
Jadi, menurut Ibnu Taimiyah dapat diketahui bahwa Al-Ma’ruf
adalah setiap perbuatan yang dipandang baik menurut akal dan
sesuai syariat agama, sedangkan Al-Munkar adalah setiap perbuatan
yang baik atau buruk menurut akal akan tetapi tidak sesuai dengan
syariat agama.
Kemudian Allah SWT berfirman mengenai Amar Ma’ruf Nahi
Munkar sebagaimana diabadikan dalam Q.S. Ali Imran: 110 sebagai
berikut:
71
ُكنت ْمُ َخْْيَُأَّمٍةُأ ْخِرَج ْتُلِلَنّا ِسََُتْمرو َنُبِالْ َم ْعُرو ِف َوتَْن َهْو َن َع ِن الْ ُمن َك ِرَُوت ْؤِمنو َن
21ِبََّّلِۗلَُِولَْوُآَم َنُأَْهلُالْكِتَا ِبُلَ َكا َنُ َخًْْياَُّل َۚمُِِمنْهمُالْمْؤِمنوَنَُوأَ ْكثَرهمُالَْفا ِسقو َُن
Menurut tafsir Ibnu Katsir, “Allah SWT. memberitahukan
mengenai umat Muhammad SAW, bahwa mereka adalah sebaik-
baik umat”.22
Berdasarkan penafsiran tentang ayat diatas, dapat disimpulkan
bahwa sebagai umat Nabi Muhammad SAW. kita harus selalu
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, jadi kita
laksanakan dengan selalu melakukan kebaikan selama kita masih
diberikan kehidupan di dunia yang fana ini.
Gambaran perbuatan Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang
digambarkan pada film Sang Pencerah adalah menikah, pengajian,
serta melakukan pendidikan dan pengajaran.
3. Pendidikan Akhlak
Akhlak adalah sikap yang bisa menimbulkan kelakuan baik atau
buruk bagi orang lain maupun diri sendiri. Akhlak berarti juga sikap,
watak, perilaku, atau budi pekerti. Melalui akhlak maka terjadilah relasi
(hubungan) antara manusia dengan Sang Pencipta maupun dengan
sesama ciptaan-Nya.
Menurut Abuddin Nata dalam bukunya yang berjudul Akhlak
Tasawuf mengemukakan bahwa, “Akhlak adalah perbuatan yang
dilakukan dengan mendalam dan tanpa pemikiran, namun perbuatan itu
72
telah mendarah daging dan melekat dalam jiwa, sehingga saat
melakukan perbuatan tidak lagi memerlukan pertimbangan dan
pemikiran”.23
Pendidikan Akhlak menurut Ali Abdul Halim Mahmud dalam
bukunya yang berjudul Tarbiyah al-khuluqiyah mengemukakan bahwa:
Pendidikan yang mengakui bahwa dalam kehidupan manusia
menghadapi hal baik dan hal buruk, kebenaran dan kebatilan,
keadilan dan kedzaliman, serta perdamaian dan peperangan. Untuk
menghadapi hal-hal yang serba kontra tersebut, Islam telah
menetapkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang membuat manusia
mampu hidup di dunia. Dengan demikian manusia mampu
mewujudkan kebaikan di dunia dan di akhirat, serta mampu
berinteraksi dengan orang-orang yang baik dan jahat.24
Jadi, menurut Ali Abdul Halim Mahmud dapat diketahui bahwa
pendidikan akhlak adalah pendidikan yang mampu mewujudkan
terciptanya kebaikan di dunia dan di akhirat, serta pedoman dalam
berinteraksi kepada sesama makhluk.
Jadi, pendidikan akhlak adalah bimbingan dan pengajaran berupa
perilaku seseorang terhadap hubungannya baik itu sikap maupun
perilakunya kepada Sang Pencipta, kepada sesamanya, dan
lingkungannya yang telah diajarkan dari sumber-sumber ajaran Al-
Qur’an, Hadits, dan lainnya.
Adapun dalam kehidupan sosial manusia harus memiliki akhlak
yang baik seperti santun, ramah, tidak sombong, dan toleransi. Dengan
kata lain, jika akhlak baik maka relasi (hubungan) akan baik begitu pula
sebaliknya.
73
Nilai-nilai akhlak yang tercantum dalam film Sang Pencerah adalah
sebagai berikut:
a. Akhlak kepada Allah
Dalam film Sang Pencerah terdapat 3 adegan yang menampilkan
kegiatan yang terdapat akhlak kepada Allah. Berikut merupakan
adegan-adegan tentang akhlak kepada Allah yang terdapat dalam
film Sang Pencerah:
Pada adegan pertama, menampilkan ada suami-istri yang sedang
memberikan sesaji, berdoa menggunakan mantra untuk
keselamatannya kepada sebuah pohon besar. Adegan ini terdapat
dalam waktu ke 00:02:32-00:03:08, dapat dilihat pada Gambar 16.
Pada adegan kedua, menampilkan K.H. Ahmad Dahlan
mengambil sesaji yang diletakkan oleh suami-istri saat mereka pergi
(menjaga etika kepada orang lain). Adegan ini terdapat dalam waktu
ke 00:02:48-00:02:54, dapat dilihat pada Gambar 17.
Dari kedua adegan tersebut diatas, adegan-adegan tersebut
menggambarkan perilaku masyarakat sebelum hadirnya pemikiran
yang dibawakan oleh K.H. Ahmad Dahlan yakni masyarakat masih
melakukan perbuatan yang menyimpang dari syaria’at Islam.
Pada adegan ketiga, menampilkan murid-murid K.H. Ahmad
Dahlan sedang membaca Al-Qur’an. Adegan ini terdapat dalam
waktu ke 00:40:10-00:40:28, dapat dilihat pada Gambar 18.
74
Dari adegan Gambar 18 menampilkan contoh perbuatan akhlak
kepada Allah berupa menjalin hubungan dengan-Nya melalui
perbuatan mencintai Al-Qur’an, yang mana kita sebagai makhluk-
Nya tidak hanya membacanya saja, akan tetapi juga mengajarkan
dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini
pun juga menggambarkan wujud syukur kita sebagai makhluk atas
nikmat-Nya (kesehatan).
Menurut Jamalluddin Al-Qasmi dalam buku yang berjudul
Mauizatul Mu’minin min Ihya ‘Ulumuddin Terjemahan Moh. Abdai
Rathomy Bimbingan untuk mencapai tingkat Mukmin
mengemukakan bahwa, “Akhlak kepada Allah SWT. adalah
mencintai Allah SWT dengan jalan mencintai kitab-Nya.”25 Tanda
seorang Muslim berakhlak kepada Allah SWT. adalah dengan
memperbanyak rasa syukur.26
Syukur merujuk kepada bentuk terima kasih atas semua karunia
yang diberikan-Nya. Kemudian sebagai bentuk akhlak kepada Allah
SWT., seorang Muslim senantiasa takut dan berharap hanya kepada
Allah SWT saja.27
Menurut Muhammad Harmidi HRP, Tengku Sarina Aini binti
Tengku Kasim, dan Ahmad bin Yussuf dalam jurnalnya yang
berjudul Analisis Pendidikan Akhlak dalam Kitab Mau’izatul
Mu’minin min Ihya ‘Ulumuddin mengemukakan bahwa:
Antara akhlak kepada Allah SWT. yang perlu diamalkan oleh
setiap Muslim adalah takut dan hanya berharap kepada Allah
75
SWT. semata. Tiada hal lain yang perlu ditakuti di dunia ini, dan
tidak boleh bergantung harap kepada makhluk. Sesiapa sahaja
yang berharap kepada selain Allah SWT., maka pasti akan
menemui kekecewaan.28
Jadi, menurut Muhammad Harmidi HRP, Tengku Sarina Aini
binti Tengku Kasim, dan Ahmad bin Yussuf dapat diketahui bahwa
akhlak manusia kepada Allah adalah takut dan hanya berharap
kepada Allah, tidak boleh berharap kepada makhluk, karena pasti
akan mengalami kekecewaan.
Akhlak kepada Allah merupakan wujud perilaku atau sikap
bahkan perbuatannya antara Sang Makhluk kepada Sang Pencipta
contohnya adalah hendaknya kita meyakini dengan kuat bahwa
hanya Dialah yang mengatur segalanya dalam kehidupan serta kita
tidak boleh menyekutukannya. Kemudian lebih baiknya kita
perbanyak berbuat baik misalnya bersedekah dengan harapan agar
memperoleh kebaikan oleh-Nya.
Allah berfirman tentang Akhlak kepada Allah dalam Q.S. Al-
Baqarah: 83 sebagai berikut:
َوإِ ْذُأَ َخ ْذََنُِميثَا َقُبَِّنُإِ ْسَرائِي َلَُِلُتَ ْعبدو َنُإَِِّلُاََّّللََُوبِالَْوالِ َديْ ِن إِ ْح َساناا َوِذي الُْقْرََٰب
َُوالْيَتَاَم ٰى َوالْ َم َساكِ ِي َوقُولُوا لِلنّا ِس ُح ْسنااَُوأَقِيمواُال َّصَلةََُوآتواُالَّزَكاةََُُثُّتََوَلّيْت ْم
ُ 29إَِِّلُقَلِيًَلُِِمنك ْمَُوأَنتمُُّم ْعِرضو َُن
76
Menurut tafsir Ibnu Katsir,
Allah SWT. mengingatkan Bani Israil mengenai beberapa
perkara yang telah diperintahkan kepada mereka. Dia mengambil
janji dari mereka untuk mengerjakan perintah tersebut. Namun
mereka berpaling dan mengingkari semua itu secara sengaja,
sedang mereka mengetahui dan mengingatnya. Kemudian Allah
menyuruh mereka agar beribadah kepada-Nya dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dia juga
memerintahkan hal itu kepada seluruh makhluk-Nya. Dan untuk
itu pula (beribadah) mereka diciptakan. Itulah hak Allah SWT
yang paling tinggi dan agung, yaitu hak untuk senantiasa
diibadahi dan tidak disekutukan dengan sesuatu apapun, lalu
setelah itu hak antar sesama makhluk. Hak antar makhluk yang
paling ditekankan dan utama adalah hak kedua orang tua. Oleh
karena itu, Allah SWT memadukan antara hak-Nya dengan hak
kedua orang tua.30
Jadi, berdasarkan penafsiran ayat diatas dan pendapat beberapa
ahli, maka dapat kita simpulkan bahwa akhlak kepada Allah adalah
kita sebagai makhluk ciptaan-Nya yang berlaku kepada seluruh
makhluknya tentang tetaplah hanya menyembah kepada-Nya.
Gambaran yang digambarkan mengenai akhlak kepada Allah
dalam film Sang Pencerah adalah terdapatnya masyarakat yang
masih melakukan perbuatan yang menyimpang dari syariat Islam
(melakukan perbuatan syirik), sedangkan gambaran yang
mencerminkan akhlak kepada Allah adalah para murid K.H. Ahmad
Dahlan membaca Al-Qur’an yakni dengan mencintai Kitab-Nya
sebagai bentuk mencintai Allah.
b. Akhlak kepada manusia
Dalam film Sang Pencerah terdapat 4 adegan yang menampilkan
kegiatan yang terdapat akhlak kepada manusia. Berikut merupakan
77
adegan-adegan tentang akhlak kepada manusia yang terdapat dalam
film Sang Pencerah:
Pada adegan pertama, menampilkan K.H. Ahmad Dahlan
dimarahi ayahnya. Adegan ini terdapat dalam waktu ke 00:03:16-
00:03:43, dapat dilihat pada Gambar 19.
Pada adegan Gambar 19, akhlak yang digambarkan oleh K.H.
Ahmad Dahlan adalah duduk sambil mendengarkan ayahnya yang
sedang berbicara (tanpa memotong ataupun membantah atas apa
yang dikatakan oleh ayahnya). Atau dapat dikatakan sebagai sebuah
bentuk penghormatan kepada orang tuanya.
Pada adegan kedua, menampilkan K.H. Ahmad Dahlan sedang
melakukan forum dengan beberapa tokoh agama yang membahas
mengenai arah kiblat. Adegan ini terdapat dalam waktu ke 00:28:00-
00:31:08, dapat dilihat pada Gambar 20.
Pada adegan Gambar 20, akhlak yang digambarkan oleh K.H.
Ahmad Dahlan adalah sebelumnya ia meminta ijin kepada para
tokoh agama, lalu ia menjelaskan arah kiblat yang benar berdasarkan
ilmu yakni ilmu falak yang telah ia pelajari di Mekkah, tanpa ada
menggambarkan rasa kesombongan atas kemampuan dirinya, dan ia
akhiri dengan ucapan “kebenaran hanya milik Allah, manusia hanya
sebatas berikhtiar”.
Pada adegan ketiga, menampilkan saat K.H. Ahmad Dahlan
diberikan kesempatan mengajar di sekolah yang didirikan Belanda.
78
Sebelum memulai pelajaran ia diolok-olok oleh murid saat ia
mengucapkan salam bahkan ada murid yang terkentut. Adegan ini
terdapat dalam waktu ke 00:59:20-01:02:05, dapat dilihat pada
Gambar 21.
Pada adegan Gambar 21, akhlak yang digambarkan oleh K.H.
Ahmad Dahlan adalah ketika ia mengucapkan salam sebanyak dua
kali dan pada salam yang kedua ada murid yang kentut sehingga
menyebabkan murid-murid lainnya ribut adalah dengan sikap tenang
dan diam, kemudian murid-murid itu ditegur oleh “Menir” dengan
mengucapkan “jaga sopan santun kalian, anak-anak.”, lalu saat itu
“Menir Khoof Inspektur” mengatakan “biarkan saja.”, dan K.H.
Ahmad Dahlan mengatakan “tidak perlu”, kemudian ia melanjutkan
melakukan pengajaran kepada para murid tersebut.
Pada adegan keempat, menampilkan saat K.H. Ahmad Dahlan
dikatakan beberapa warga sebagai kiai kafir, remaja yang
bersamanya mau melawan warga tersebut, akan tetapi K.H. Ahmad
Dahlan menahan remaja tersebut untuk tidak melawan mereka.
Adegan ini terdapat dalam waktu ke 01:03:30-01:04:10, dapat
dilihat pada Gambar 22.
Pada adegan Gambar 22, akhlak yang digambarkan oleh K.H.
Ahmad Dahlan adalah dengan mencegah terjadinya perkelahian
yang menyebabkan setiap manusia saling bermusuhan.
79
Menurut Jamaluddin Al-Qasimi dalam buku yang berjudul
Mauizatul Mu’minin min Ihya ‘Ulumuddin Terjemahan Moh. Abdai
Rathomy Bimbingan untuk mencapai tingkat Mukmin
mengemukakan bahwa, “Akhlak kepada sesama adalah termasuk
memuliakan tetamu, rukun dalam bergaul, melaksanakan amar
ma’ruf nahi munkar, menjaga lisan, menjauhi sikap kikir”.31
Menurut Muhammad Harmidi HRP, Tengku Sarina Aini binti
Tengku Kasim, dan Ahmad bin Yussuf dalam jurnalnya yang
berjudul Analisis Pendidikan Akhlak dalam Kitab Mau’izatul
Mu’minin min Ihya ‘Ulumuddin mengemukakan bahwa,
“Kerukunan dalam pergaulan adalah hasil daripada budi pekerti.
Demikian pula kekacauan dalam pergaulan adalah disebabkan oleh
budi pekerti yang buruk”.32
Akhlak kepada manusia merupakan wujud perilaku atau sikap
bahkan tindakan yang dilakukan oleh seorang manusia kepada
sesamanya. Misalnya menghargai dan melayani kedua orang tua,
menghargai sesama makhluk, dan tidak suka berbuat kerusakan atau
perilaku buruk.
Dalam Q. S. Al-Maidah: 2 Allah SWT. berfirman tentang akhlak
kepada manusia sebagai berikut:
ُ 33...َُوتَعَاَونواُعَلَىُالِِِْبَُوالَتّ ْقَو ٌٰۖىَُوَِلُتَ َعاَونواُعَلَىُاِْلُِْثَُوالْع ْدَوا َِۚن...
80
Menurut tafsir Ibnu Katsir,
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan
dan takwa, dan jangan kamu tolong-menolong dalam berbuat
dosa dan pelanggaran. Allah SWT memerintahkan hamba-
hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa tolong-menolong
dalam berbuat kebajikan, itulah yang disebut dengan al-birru
(kebajikan), serta meninggalkan segala bentuk kemungkaran, dan
itulah dinamakan at-takwa. Dan Allah SWT melarang mereka
tolong-menolong dalam hal kebatilan, berbuat dosa dan
mengerjakan hal-hal yang haram.34
Jadi, menurut tafsir Ibnu Katsir dapat diketahui bahwa perintah
kepada para hamba-Nya untuk selalu berbuat baik dan meninggalkan
segala perbuatan buruk dalam kehidupan sosialnya.
Jadi, berdasarkan penafsiran ayat diatas menurut beberapa
penafsir dan pendapat dari beberapa ahli, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa akhlak kepada sesama ialah tolong-menolong
dalam hal kebaikan dan jangan tolong-menolong dalam keburukan.
Gambaran akhlak kepada manusia (sesama) yang digambarkan
dalam film Sang Pencerah adalah menghormati orang tua, sikap
bijaksana dalam mengajar serta mendidik anak-anak didik yang
termasuk dalam kategori kurang baik (susah diatur), menghindari
perkelahian yang menimbulkan perpecahan.
B. Nilai Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang
di tumbuh kembangan sejak tahun 2013 lalu. Pendidikan karakter adalah
proses pembelajaran yang menyediakan siswa dan guru di sebuah sekolah
81
untuk saling memahami, saling peduli, saling menghargai, berkeadilan, dan
bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang lain.
Berikut tokoh pendidikan mengatakan tentang pengertian pendidikan
karakter:
Thomas Lickona dalam buku yang berjudul Pendidikan Karakter Anak
Sesuai Pembelajaran Abad ke-21 mengemukakan bahwa:
Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian
seseorang melalui pendidikan budi pekerti. Hasilnya dapat terlihat
dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur,
bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, dan kerja keras.35
Jadi, menurut Thomas Lickona dapat diketahui bahwa pendidikan
karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang
terhadap budi pekertinya berupa tingkah laku baik, jujur dan menghormati
hak orang lain.
Menurut KEMENDIKNAS, macam-macam pendidikan karakter
adalah sebagai berikut:
Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri,
Demokrasi, Rasa ingin tahu, Semangat kebangsaan, Cinta tanah air,
Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif, Cinta damai, Gemar
membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab.36
Jadi, dapat kita tarik kesimpulan bahwa pendidikan karakter adalah
sebuah sistem pendidikan yang di dalamnya memiliki kekhasan yang
membedakan sistem ini dengan sistem pendidikan lainnya, yakni
menanamkan karakter kepada siswanya seperti toleransi, rasa ingin tahu,
saling peduli, dan bertanggung jawab atas dirinya dan orang lain. Adapun
82
nilai-nilai pendidikan karakter yang ada dalam film Sang Pencerah adalah
sebagai berikut:
1. Cinta damai
Dalam film Sang Pencerah terdapat 1 adegan yang menampilkan
perilaku cinta damai. Berikut merupakan adegan-adegan tentang
perilaku cinta damai yang terdapat dalam film Sang Pencerah:
Dalam adegan ini menampilkan dua orang murid K.H. Ahmad
Dahlan sedang ingin menempel brosur kegiatan, kemudian mereka
bertemu dengan beberapa remaja dikampung yang menyebut murid-
murid K.H. Ahmad Dahlan “kamu kafir” sehingga membuat salah satu
muridnya marah, kemudian dicegah oleh temannya. Adegan ini
terdapat dalam waktu ke 00:50:01-00:50:12, dapat dilihat pada Gambar
23.
Dalam adegan pada Gambar 23, salah satu murid K.H. Ahmad
Dahlan mencerminkan sikap cinta damai yakni dengan mencegah
terjadinya perkelahian diantara teman muridnya dengan beberapa
remaja yang ada dikampung tersebut.
Dalam bagian adegan cinta damai ini, kita ketahui bahwa
janganlah melakukan perbuatan merusak kehidupan di dunia ini dengan
pertikaian sehingga akan memisahkan kita dengan orang lain padahal
kita sebagai makhluk sosial memerlukan orang lain dalam kehidupan
kita.
83
Cinta damai terdiri dari dua kata yakni cinta dan damai. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cinta adalah “suka sekali, sayang
benar”.37, kemudian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Damai
adalah “tak ada perang, aman, tenteram, tenang, keadaan tidak
bermusuhan”.38
Menurut Sahlan dan Angga dalam bukunya yang berjudul Desain
Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter mengemukakan bahwa,
Cinta damai adalah “sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan
orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.”39
Menurut Loreta Navarro-Castro dan Jasmin Nario-Galace dalam
bukunya yang berjudul Peace Education: A Pathway to a Culture of
Peace mengemukakan bahwa:
Peace education, or an education that promotes a culture of
peace, is essentially transformative. It cultivates the knowledge
base, skills, attitudes and values that seek to transform people’s
mindsets, attitudes and behaviors that, in the first place, have
either created or exacerbated violent conflicts. It seeks this
transformation by building awareness and understanding,
developing concern and challenging personal and social action
that will enable people to live, relate, and create conditions and
systems that actualize nonviolence, justice environmental care
and other peace values.40
Yang artinya, Pendidikan kedamaian adalah pendidikan yang
memuat akan pengetahuan dasar, keterampilan, sikap yang
mengubah pola pikir, sikap, dan kebiasaannya. Dengan cara
membangun kesadaran dan pemahaman yang akan menciptakan
kehidupan masyarakat tanpa adanya kekerasan.
84
Jadi, menurut Loreta Navarro-Castro dan Jasmin Nario-Galace
dapat diketahui bahwa pendidikan kedamaian adalah pendidikan yang
terdapat pengetahuan dasar, keterampilan yang mampu mengubah pola
pikir melalui pendidikan untuk menciptakan kehidupan masyarakat
tanpa adanya kekerasan.
Berikut firman Allah tentang cinta damai dalam Q.S. Al-Hujurat:
10 sebagai berikut:
ُ 41إَِّنَاُالْمْؤِمنو َنُإِ ْخَوةُفَأَ ْصلِحواُبَْ َيُأَ َخَويْك َْۚمَُواَتّقواُاََّّللَُلَعََلّك ْمُت ْرََحوَُن
Menurut tafsir Ibnu Katsir,
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara,
maksudnya seluruh kaum muslimin merupakan satu saudara
karena agama. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu,
yaitu dua golongan yang saling bertikai. Dan bertakwalah kepada
Allah dalam seluruh urusan kalian, Supaya kamu mendapat
rahmat. Hal tersebut merupakan penegasan dari Allah Ta’ala, di
mana Dia akan memberikan rahmat kepada orang yang bertakwa
kepada-Nya.42
Jadi, menurut tafsir Ibnu Katsir dapat diketahui bahwa orang-
orang mukmin adalah bersaudara, maksudnya seluruh kaum muslimin
merupakan satu saudara karena agama.
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa cinta damai adalah perilaku,
sikap seorang individu atau kelompok yang membuat nyaman atas
kehadiran mereka terhadap individu lain atau kelompok lainnya.
Gambaran sikap cinta damai yang digambarkan dalam film Sang
Pencerah adalah saat salah satu murid K.H. Ahmad Dahlan mencegah
85
temannya untuk tidak berkelahi dengan beberapa remaja yang ada
dikampung tersebut.
2. Peduli sosial
Dalam film Sang Pencerah terdapat 1 adegan yang menampilkan
perilaku peduli sosial. Berikut merupakan adegan-adegan tentang
perilaku peduli sosial yang terdapat dalam film Sang Pencerah:
Dalam adegan ini menampilkan orang-orang yang ikut K.H.
Ahmad Dahlan membagikan makanan kepada orang-orang sambil
melakukan kegiatan belajar mengajar di tempat belajar sederhana yang
didirikan olehnya. Adegan ini terdapat dalam waktu ke 00:50:01-
00:50:12, dapat dilihat pada Gambar 24.
Dalam bagian adegan peduli sosial ini, dapat kita ambil hikmah
dari kegiatan yang ditampilkan pada Film ini yakni kita sisihkan
sebagian harta kita kepada mereka yang memerlukan bantuan kita,
tanpa mengharapkan balasan dari mereka.
Menurut Darmiyati Zuchdi dalam bukunya yang berjudul
Pendidikan Karakter dalam Perspektif Teori dan Praktek
mengemukakan bahwa, “Peduli sosial merupakan sikap dan tindakan
yang selalu ingin memberi bantuan kepada masyarakat yang
membutuhkan”.43
Menurut A. Tabi’in dalam jurnalnya yang berjudul
Menumbuhkan Sikap Peduli Pada Anak Melalui Interaksi Kegiatan
Sosial mengemukakan bahwa, “Kepedulian sosial adalah perasaan
86
bertanggung jawab atas kesulitan yang dihadapi oleh orang lain di mana
seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu untuk mengatasinya”.44
Jadi, menurut kedua ahli diatas dapat diketahui bahwa peduli
sosial merupakan dorongan berupa sikap yang selalu ingin membantu
sesamanya dalam menghadapi kesulitan di kehidupan sosialnya.
Peduli sosial terdiri dari dua kata, Peduli dan Sosial. Kata Peduli
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ”mengindahkan,
memperhatikan, memperhatikan”.45, Kata sosial menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia adalah “berkenaan dengan masyarakat,
memperlihatkan kepentingan umum”.46
Menurut Mukhlis Mukhtar dalam jurnalnya yang berjudul
Kepedulian Sosial dalam Perspektif Hadis mengemukakan bahwa,
Peduli sosial adalah “suatu sikap yang dimiliki setiap individu,
kelompok atau organisasi untuk memperhatikan orang lain, komunitas
dan lingkungan sosialnya”.47
Berikut firman Allah tentang peduli sosial dalam Q.S. An-Nisa:
86 sebagai berikut:
48َوإِذَاُحيِِيتمُبِتَ ِحَيٍّةُفَ َحُيّواُِبَ ْح َس َنُِمنْ َهاُأَْوُرُّدوَه ِۗاُإِ َّنُاََّّللََُكا َنُعَلَ ٰىُك ِِلُ َش ْيٍءُ َح ِسيبًا
Menurut tafsir Ibnu Katsir,
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka
balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah
(dengan yang serupa). Yaitu, apabila seorang muslim
mengucapkan salam kepada kalian, maka balaslah dengan salam
yang lebih baik, atau balaslah dengan salam yang sama. Sebab,
lebih dari itu amat dianjurkan, sedangkan membalasnya dengan
yang serupa adalah diwajibkan.49
87
Jadi, dari beberapa pendapat ahli dan beberapa penafsir terhadap
beberapa ayat diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa peduli
sosial adalah sikap atau perbuatan yang dimiliki seseorang individu
terhadap orang lain berupa kepedulian dan perhatian.
Gambaran sikap peduli sosial yang digambarkan dalam film Sang
Pencerah adalah perbuatan K.H. Ahmad Dahlan dan orang-orang yang
bersamanya membagikan makanan (bersedekah) kepada masyarakat
disekitar tempatnya melakukan pendidikan dan pengajaran.
3. Toleransi
Dalam film Sang Pencerah terdapat 3 adegan yang menampilkan
perilaku toleransi. Berikut merupakan adegan-adegan tentang perilaku
toleransi yang terdapat dalam film Sang Pencerah:
Pada adegan pertama, menampilkan Kiai Cholil memimpin
massa untuk melakukan perusakan terhadap Langgar K.H. Ahmad
Dahlan. Adegan ini terdapat dalam waktu ke 00:38:35-00:40:35, dapat
dilihat pada Gambar 25.
Pada adegan Gambar 25 tersebut merupakan contoh perbuatan
intoleransi, yang mana melakukan perusakan terhadap kepemilikan
oleh orang lain yang dikarenakan terjadinya perbedaan pemikiran yang
dibawa oleh K.H. Ahmad Dahlan yang mengganggu “kewibawaan”
mesjid besar (dibuktikan dengan banyaknya orang yang berpindah
untuk beribadah ke langgar Kidul milik K.H. Ahmad Dahlan).
88
Pada adegan kedua, menampilkan K.H. Ahmad Dahlan sedang
berbicara dengan Kiai Lurah Noor mereka membahas tentang
perbedaan pemikiran yang sedang terjadi, akan tetapi K.H. Ahmad
Dahlan menghormati siapa saja yang memiliki perbedaan pendapat
dengannya. Adegan ini terdapat dalam waktu ke 01:36:10-01:38:33,
dapat dilihat pada Gambar 26.
Pada adegan ketiga, menampilkan Kiai Cholil meminta maaf
kepada K.H. Ahmad Dahlan atas perilakunya, dan akhirnya mereka
saling berdamai atas perbedaan pemikiran diantara mereka. Adegan ini
terdapat dalam waktu ke 01:42:15-00:40:35, dapat dilihat pada Gambar
27.
Dari kedua adegan yakni adegan pada Gambar 26 dan Gambar
27, dalam adegan-adegan tersebut menunjukkan bahwa K.H. Ahmad
Dahlan merupakan orang yang memiliki sifat toleran terhadap
perbedaan.
Dalam bagian adegan toleransi, dapat kita ambil kesimpulan
bahwa kita sebagai makhluk hidup dimuka bumi ini harus menerima
segala perbedaan pemikiran maupun pendapat selama itu tidak
bertentangan ajaran yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Menurut Damiatun dan Bintoro dalam bukunya yang berjudul
Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah mengemukakan bahwa,
“Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan
89
agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang
berbeda dari dirinya”.50
Menurut Debralis Tumada, Wahyu Indrayatti, dan Siti Habibah
dalam jurnalnya yang berjudul Analisis Nilai-Nilai Pendidikan
Karakter dalam Kumpulan Teks Anekdot Lucu-Lucu Tokoh Dunia
Karya Isa AN. Tamami dan Implementasi Pada Siswa Kelas X
mengemukakan bahwa, “Toleransi adalah menerima dan menghargai
perbedaan orang lain, tidak memaksakan keyakinan orang lain, dapat
bersikap adil, objektif dan tidak menghakimi orang lain berdasarkan
latar belakangnya, penampilan atau kebiaasaan yang dilakukannya”.51
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Toleransi adalah “sifat
atau sikap toleran, menenggang (menghargai, membiarkan,
memperbolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan,
kebiasaan, kelakuan, dsb.) yang berbeda atau bertentangan dengan
pendirian sendiri”.52
Menurut Umar Hasyim bukunya yang berjudul Toleransi dan
Kemerdekaan Beragama dalam Islam Sebagai Dasar menuju Dialog
dan Kerukunan Antar Umat Beragama mengemukakan bahwa:
Toleransi yaitu pemberian kebebasan kepada sesama manusia
atau kepada sesama warga masyarakat untuk menjalankan
keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya
masing-masing, selama dalam menjalankan dan menentukan
sikapnya itu tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan
syarat-syarat atas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam
masyarakat.53
90
Jadi, menurut Umar Hasyim dapat diketahui bahwa toleransi
adalah pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau kepada
sesama warga masyarakat untuk menjalankan keyakinannya masing-
masing.
Berikut firman Allah tentang toleransi dalam Q.S. Al-Baqarah:
139 sebagai berikut:
ُ 54ق ْلُأَُتَا ُّجونَنَاُِفُاََّّلِلَُوهَوَُرُبّنَاَُوَرُبّك ْمَُولَنَاُأَ ْع َمالنَاَُولَك ْمُأَ ْع َمالك ْمَُوَْننُلَهُُمْلُِصو َُن
Menurut tafsir Ibnu Katsir,
Allah SWT. berfirman dalam rangka membina Nabi-Nya,
Muhammad SAW untuk menolak perdebatan orang-orang
musyrik, Katakanlah: Apakah kalian memperdebatkan dengan
kami tentang Allah. Artinya kalian mendebat kami mengenai
pengesaan Allah, ketulusan ibadah serta ketundukpatuhan
kepada-Nya, mengikuti semua perintah-Nya, dan menjauhi
semua larangan-Nya. Padahal Dia Adalah Rabb kami dan Rabb-
mu. Yaitu Rabb yang mengatur dan mengurus diri kami dan juga
kalian, hanya Dia-lah yang berhak atas pemurnian ibadah, tiada
sekutu bagi-Nya. Bagi kami semua amalan-amalan kami dan
bagimu amalan-amalan kamu. Artinya, kami berlepas diri dari
kalian dan apa yang kalian sembah, dan kalian juga lepas dari
kami. Bagi kami semua amalan-amalan kami dan bagimu semua
amalan-amalanmu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan
hati. Artinya, kami berlepas diri dari kalian sebagaimana kalian
berlepas diri dari kami, dan hanya kepada-Nya kami
mengikhlaskan hati, yaitu dalam beribadah dan menghadapkan
diri.55
Jadi, menurut tafsir Ibnu Katsir dapat diketahui bahwa ayat
tersebut mengenai toleransi terhadap berbagai perbedaan yakni bagi
kami amalan-amalan kami, bagi kamu amalan-amalan kamu dan hanya
kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.
91
Jadi, berdasarkan beberapa pendapat para ahli serta para penafsir
terhadap beberapa ayat di atas maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa
toleransi adalah sifat atau sikap yang dimiliki oleh seorang individu
atau kelompok terhadap individu atau kelompok lainnya yang memiliki
perbedaan pandangan yakni pendapat, pemikiran dan sebagainya.
Gambaran sikap toleransi yang digambarkan dalam film Sang
Pencerah adalah sikap yang dimiliki oleh K.H. Ahmad Dahlan yakni
berupa menerima segala perbedaan yang terjadi (bertoleransi).
92
SUMBER KUTIPAN BAB IV
1Nurnaningsih Nawawi, Aqidah Islam Dasar Keikhlasan Beramal Shalih,
(Makassar: Pusaka Almaida, 2017), hlm. 9.
2Rizki Ashar Yufranto, Pendidikan Aqidah Anak Dalam Al-Qur’an Surat
Luqman Ayat 13, (Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 2016),
hlm. 8-9.
3Departemen Agama RI, Al-Qur’an Transliterasi Latin Terjemah
Indonesia, (Jakarta: PT. Suara Agung, 2009), hlm. 53.
4Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Jilid I,
(Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2018), hlm. 95-96.
5M. Abdul Ghoffar dkk., Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, (Bogor: Pustaka Imam
Asy-Syafi’i, 2004), hlm. 351-352.
6Hasiah, “Syirik Dalam Perspektif Al-Qur’an”, Yurisprudentia, Vol. 3, No.
1 Juni 2017, hlm. 85.
7Departemen Agama RI, Al-Qur’an Transliterasi Latin Terjemah
Indonesia, op. cit., hlm. 838.
8M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Hlm.
125.
9Syaikh Shalih, Tafsir Muyassar Jilid II, (Jakarta: Darul Haq, 2016), Hlm.
331.
10Dede Setiawan dan Silmi Mufarihah, “Tawakal dalam Al-Qur’an Serta
Implikasinya dalam Menghadapi Pandemi Covid-19”, Jurnal Studi Al-Qur’an,
Vol. 17, No. 1, Januari 2021, hlm. 7.
11Departemen Agama RI, Al-Qur’an Transliterasi Latin Terjemah
Indonesia, op. cit., hlm. 205.
12Syaikh Shalih, Tafsir Muyassar Jilid I, (Jakarta: Darul Haq, 2016), Hlm.
323.
13Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung,
2004), Hlm. 148.