hadir pada semua posisi iaitu di awal, di tengah dan di akhir kata. Manakala geseran
glotis tidak bersuara /h/ hanya hadir pada posis akhir kata sahaja. Contoh seperti dalam
perkataan-perkataan berikut:
(52) Kehadiran geseran gusi-lelangit keras tidak bersuara /s/
Awal [səbaɁ] ‘nampak’
[salu͡i] ‘perahu’
[sana͡u] ‘batu’
Tengah [asaɁ] ‘pakaian’
[asuʷəɁ] ‘papan’
[pisam] ‘masak’
Akhir [anus] ‘asap’
[aɣus] ‘sampah’
[buɣus] ‘ceret’
80
(53) Kehadiran geseran velar bersuara /ɣ/
Awal [ɣaman] ‘hanyut’
[ɣəga͡u] ‘tinggi’
[ɣuwaɁ] ‘membazir’
Tengah [məɣa͡u] ‘perempuan’
[ǰiɣiʸəɁ] ‘tarik’
[kəɣan] ‘miang’
Akhir [ǰaɣ] ‘baling’
[paɣ] ‘pukul’
[təgaɣ] ‘karat’
81
(54) Kehadiran geseran glotis tidak bersuara /h/
Akhir [aɣuh] ‘jalan’
[asuh] ‘beritahu’
[butah] ‘belakang’
3.2.4.6 Letusan Lelangit Keras Bersuara /ǰ/
Dalam BMR, hanya terdapat satu bunyi letusan iaitu letusan lelangit keras bersuara /ǰ/.
Letusan lelangit keras bersuara /ǰ/ mempunyai fitur-fitur [+kons, -son, -ant, +kor, -kont,
+sua, +l.lew]. Bunyi ini hanya hadir pada posisi awal dan tengah kata sahaja. Contohnya
dalam perkataan-perkataan berikut:
(55) Kehadiran letusan lelangit keras bersuara /ǰ/
Awal [ǰaŋa͡i] ‘nakal’
[ǰaɣ] ‘baling’
[ǰəɣaɁ] ‘menyesal’
82
Tengah [maǰiʸəh] ‘habis’
[məǰ̃ ət] ‘kuat’
[puǰul] ‘tiup’
3.2.4.8 Sisian /l/
Bunyi likuida /l/ mempunyai fitur-fitur [+kons, +son, +ant, +kor, +kont, -sua]. Dalam
BMR, bunyi sisian atau likuida /l/ boleh hadir dalam semua posisi kata iaitu di depan, di
tengah dan di akhir kata. Contohnya dalam kata-kata berikut:
(56) Kehadiran sisian /l/
Awal [lasuʷəɁ] ‘panas’
[labiʸəɁ] ‘sampai’
[la͡u] ‘hari’
83
Tengah [təbalap] ‘peha’
[aluʷəɁ] ‘nanti’
[gulak] ‘tersungkur’
Akhir [gitil] ‘cubit’
[tul] ‘berudu’
[puǰul] ‘tiup’
3.2.4.9 Geluncuran Bibir /w/ dan Geluncuran Lelangit Keras /y/
Geluncuran bibir /w/ mempunyai fitur-fitur seperti [+kons, +tinggi, + bundar, +kont, -
ant, -kor]. Dalam BMR, bunyi geluncuran /w/ hadir pada posisi awal dan tengah kata
sahaja. Manakala geluncuran lelangit keras /y/ pula memiliki fitur-fitur [+kons, +ting, -
bund, +kont, -ant, -kor]. Bunyi geluncuran /y/ boleh hadir dalam semua posisi kata.
Kehadiran bunyi geluncuran dalam BMR dapat dilihat dalam contoh-contoh berikut:
84
(57) Kehadiran geluncuran bibir bersuara /w/
Awal [waŋ] ‘dalam’
[wa͡i] ‘rotan’
[wa] ‘emak saudara sulung’
Tengah [ǰawak] ‘comel’
[nawan] ‘orang’
[lawəŋ] ‘pintu’
(58) Kehadiran geluncuran lelangit keras /y/
Awal [yah] ‘yang’
[yuʷək] ‘ya’
[yai] ‘siapa’
85
Tengah [puyan] ‘dapur’
[kuyat] ‘monyet’
[buyaɁ] ‘kena’
Akhir [bay] ‘punya’
[sukay] ‘buka puasa’
3.2.4.10 Nasal /m/, /n/, /ŋ/, /ɲ/
Bunyi nasal yang wujud dalam BMR ialah /m/, /n/, /ŋ/ dan /ɲ/. Bunyi nasal /m/
mempunyi fitur-fitur [+kons, +nas, -kont, +ant, -kor, +sua]. Manakala bunyi nasal /n/
memiliki fitur-fitur [+kons, +nas, -kont, +ant, +kor, +sua]. Bunyi nasal /ŋ/ pula
mempunyai fitur-fitur [+kons, +nas, -kont, -ant, +kor, +suara] dan nasal /ɲ/ mempunyai
fitur-fitur [+kons, +nas, -kont, +ant, -kor, +suara]. Dalam BMR, bunyi nasal /m/, /n/ dan
/ŋ/ hadir pada semua posisi kata dan nasal /ɲ/ hanya hadir pada posisi awal dan tengah
kata sahaja. Contoh penyebaran bunyi nasal dalam kata-kata BMR adalah seperti berikut:
86
(59) Kehadiran nasal /m/
Awal [məǰ̃ uʷək] ‘jauh’
[maniʸək] ‘berak’
[maɲiʸət] ‘tajam’
Tengah [ama͡u] ‘atas’
[kəman] ‘makan’
[pamat] ‘lari’
Akhir [agəm] ‘tangan’
[gələm] ‘ketawa’
[biləm] ‘hitam’
87
(60) Kehadiran nasal /n/
Awal [naɁa͡i] ‘perut’
[nak] ‘jangan’
[naŋ] ‘memang’
Tengah [manuʷəɁ] ‘burung’
[anum] ‘air’
[anus] ‘asap’
Akhir [luwən] ‘bantal’
[ban] ‘bahu’
[dagən] ‘tengah’
88
(61) Kehadiran nasal /ŋ/
Awal [ŋadan] ‘nama’
[ŋakəl] ‘tipu’
[ŋə̃la͡u] ‘pening’
Tengah [paŋa͡i] ‘angin’
[baŋat] ‘ombak’
[buŋas] ‘ribut’
Akhir [lawaŋ] ‘pintu’
[aluʷəŋ] ‘punggung’
[kuʷəŋ] ‘kumpul’
89
(62) Kehadiran nasal /ɲ/
Awal [ɲak] ‘lemak’
[ɲipən] ‘gigi’
[ɲip] ‘gusi’
Tengah [kuɲap] ‘kunyah’
[iɲaŋ] ‘cari’
[bəɲa͡u] ‘kapur sirih’
3.3 Pola Suku Kata BMR
Pola suku kata BMR terdiri daripada struktur berikut:
(63) Struktur suku kata BMR ‘buang’
V [i.bət] ‘belakang’
KV [bu.tah]
90
VK [an] ‘buat’
KVK [yah] ‘yang’
3.4 Fitur-fitur Distingtif BMR
Berdasarkan kajian lepas, belum ada pengkaji yang menyenaraikan fitur-fitur distingtif
vokal dan konsonan BMR dalam kajian mereka. Oleh itu, pengkaji mencadangkan fitur
matriks distingtif dalam BMR seperti disenaraikan dalam Jadual 3.4:
Jadual 3.4
Fitur Distingtif Vokal dan Konsonan Bahasa Melanau Rejang
Sil. bdgpt kǰ s l ɣmn ɲ ŋ wy hɁi uə a
Kons.
Son. - - - - - - - - - - - - - - - - - - ++++
Nas. +++++++++++ ++++ +++- - - -
Bel. - - - - - - - - +++ ++++ +- - ++++
Dep. - - - - - - - - - - + +++- - - - - - - -
Ting. - - +- - +- - - +- - - +- - - - - +- -
++- ++- - - - - + +- - - - - - +- - -
- - +- - +++- - - - +++ +- - ++- -
Bund. - - - - - - - - - - - - - - + - - - - + - -
Ren. - - - - - - - - - - - - - - - - + - - - - +
Kont. - - - - - - - + + + - - - - + + + - + + + +
Ant. + + - + + - - + + - + + - - - - - - - - - -
Kor. - + - - + - + + + - - + + - - - - - - - - -
Strid. - - - - - - + + - - - - - - - - - - - - - -
Sua. + + + - - - + - + + + + + + + + - - + + + +
L.lew. - - - - - - + - - - - - - - - - - - - - - -
91
3.4.1 Analisis Fitur-fitur Distingtif BMR
Fitur-fitur distingtif yang digunakan dalam Jadual 3.4 di atas boleh dibahagikan kepada
empat kategori iaitu; ciri-ciri kelas utama, ciri-ciri rongga, ciri-ciri cara artikulasi dan
ciri-ciri sumber.
3.4.1.1 Ciri-ciri Kelas Utama
Ciri-ciri kelas utama boleh dibahagikan kepada tiga iaitu; silabik, konsonantal dan
sonoran.
3.4.1.1 (a) Silabik
Bunyi silabik dihasilkan apabila terdapat suatu penyempitan di dalam rongga mulut.
Dalam BMR, bunyi yang berfitur silabik ialah vokal sahaja. Jadi, semua vokal dalam
BMR memiliki fitur [+sil] iaitu vokal [i, u, ə, a]. Bunyi yang bukan silabik pula ialah
kebalikan daripada bunyi ini seperti bunyi geluncuran (glide) dan konsonan.
92
3.4.1.1 (b) Konsonantal
Bunyi konsonantal terhasil daripada penyempitan pada bahagian saluran suara (vocal
tract). Penyempitan ini sekurang-kurangnya sama dengan penyempitan semasa
menghasilkan bunyi-bunyi frikatif. Dalam BMR, bunyi ini terdiri daripada bunyi [b, d, g,
p, t, k, ǰ, s, l, ɣ, m, n, ɲ, w, y, h, Ɂ] iaitu bunyi yang keluar dengan adanyanya halangan di
bahagian saluran udara. Bunyi-bunyi yang termasuk dalam golongan bukan konsonantal
pula ialah bunyi yang keluar tanpa adanya halangan di bahagian saluran suara. Semua
vokal dalam BMR memiliki fitur [-kons].
3.4.1.1 (c) Sonoran
Bunyi ini dihasilkan apabila keadaan saluran suara begitu terbuka luas yang
menyebabkan berlakunya penyuaraan yang spontan, seperti bunyi vokal, glide, likuda
dan nasal. Dalam BMR, semua vokal memiliki fitur [+son] dan bunyi konsonan yang
memiliki fitur yang sama ialah [l, ɣ, m, n, ɲ, ŋ, w, y]. Bunyi bukan sonoran pula
dihasilkan dengan saluran suara menguncup yang menyebabkan tekanan udara di dalam
mulut lebih tinggi daripada tekanan udara di luar mulut. Bunyi ini adalah seperti bunyi
plosif, frikatif dan afrikat.
93
3.4.1.2 Ciri-ciri Rongga
Bunyi yang berfitur rongga terjadi melalui pergerakan daun lidah dan juga bibir. Ciri-ciri
rongga boleh dibahagikan kepada lapan, iaitu; koronal, anterior, tinggi, rendah, depan,
belakang, bundar dan nasal.
3.4.1.2 (a) Koronal
Bunyi koronal dihasilkan dengan cara menarik bilah lidah ke arah gigi atau ke arah
lelangit keras, seperti bunyi pada gigi, gusi, gusi-lelangit keras dan lelangit keras. Dalam
BMR, bunyi yang dikategorikan memiliki fitur koronal ialah bunyi-bunyi [t, d, ǰ, s, l, n,
ɲ]. Bunyi bukan koronal pula dihasilkan bukan dengan cara yang seperti dinyatakan.
Bunyi ini melibatkan bibir, lelangit lembut dan uvula.
3.4.1.2 (b) Anterior
Bunyi anterior dihasilkan dengan adanya penyempitan yang bermula dari hujung gusi
hinggalah ke bahagian depan. Bunyi ini melibatkan bibir, gigi dan gusi. Dalam BMR,
bunyi-bunyi berfitur [+ant] ialah [ b, d, p, t, s, l, m, n]. Bunyi bukan anterior pula
dihasilkan dengan penyempitan yang berlaku pada permulaan belakang hujung gusi
94
hinggalah ke bahagian belakang. Bunyi ini melibatkan gusi lelangit keras, lelangit keras,
lelangit lembut, uvula dan rongga tekak (faringeal).
3.4.1.2 (c) Tinggi
Bunyi tinggi dihasilkan dengan menaikkan kedudukan lidah ke arah lelangit. Dalam
BMR, bunyi yang memiliki fitur tinggi ialah konsonan lelangit keras, lelangit lembut,
vokal tinggi dan geluncuran tinggi. Bunyi-bunyi yang terlibat ialah bunyi [k, g, ǰ, ɲ, ŋ, w,
y, i, u]. Manakala bunyi bukan tinggi pula pengeluarannya adalah dengan cara tanpa
melakukan keadaan seperti penghasilan bunyi tinggi dan kumpulan bunyi ini ialah bunyi
selain daripada bunyi yang memiliki fitur [+ting].
3.4.1.2 (d) Rendah
Bunyi ini dihasilkan dengan meletakkan lidah jauh ke bawah daripada permukaan atas
mulut. Dalam BMR, bunyi yang memiliki fitur [+ren] hanya dua iaitu bunyi [h] dan [a]
sahaja. Bunyi selain daripada dua bunyi ini memiliki fitur [-ren]. Cara penghasilan bunyi
bukan rendah adalah bertentangan dengan cara penghasilan bunyi rendah seperti yang
dinyatakan di atas.
95
3.4.1.2 (e) Depan
Bunyi ini terhasil dengan menggerakkan daun lidah ke depan. Bunyi yang berfitur [+dep]
dalam BMR terdiri daripada bunyi vokal dan konsonan iaitu bunyi [p, b, t, d, m, n, i].
Bunyi yang dihasilkan tanpa menggerakkkan daun lidah ke dapan pula ialah bunyi yang
tidak memiliki fitur depan, iaitu bunyi selain daripada yang dinyatakan.
3.4.1.2 (f) Belakang
Bunyi belakang dihasilkan dengan lidah tertarik ke belakang. Bunyi yang tergolong
dalam kumpulan ini ialah bunyi velar, uvula, faringeal. Dalam BMR, fitur ini dimiliki
oleh bunyi [k, g, ŋ, w, u]. Bunyi bukan belakang pula dihasilkan dengan posisi lidah
terkedepan, iaitu bunyi selain daripada bunyi yang memiliki fitur [+bel].
3.4.1.2 (g) Bundar
Bunyi ini terhasil dengan memuncungkan atau membundarkan bibir. Dalam BMR, fitur
[+bund] hanya dimiliki oleh bunyi vokal dan geluncuran iaitu bunyi [u] dan [w]. Bunyi
bukan bundar pula dihasilakan tanpa memuncungkan bibir.
96
3.4.1.2 (h) Nasal
Bunyi ini terhasil apabila lelangit lembut direndahkan dan membolehkan udara keluar
melalui rongga hidung. Dalam BMR, fitur nasal atau sengau hanya dimiliki oleh bunyi
konsonan, iaitu [m, n, ɲ, ŋ]. Bunyi selain daripada ini dinamakan bunyi oral, iaitu bunyi
yang dihasilkan dengan menaikkan lelangit lembut untuk mengelakkan udara keluar
melalui rongga hidung. Bunyi-bunyi yang memiliki fitur [-nas] adalah keluar melalui
rongga mulut.
3.4.1.3 Ciri-ciri Artikulasi
Fitur yang dicirikan oleh cara artikulasi ada dua, iaitu; lepas lewat dan kontinuan.
3.4.1.3 (a) Lepas Lewat
Fitur ini digunakan untuk membezakan bunyi plosif dengan bunyi afrikat. Bunyi afrikat
dihasilkan secara gabungan antara bunyi plosif dengan bunyi frikatif, iaitu hentian udara
di rongga vokal dilepaskan setelah ditangguhkan beberapa ketika. Bunyi ini berbeza
dengan bunyi plosif yang dilepaskan secara serta-merta. Bunyi yang memiliki fitur [+l.
lew] dalam BMR ialah bunyi [ǰ] sahaja.
97
3.4.1.3 (b) Kontinuan
Bunyi kontinuan terhasil dengan keadaan rongga vokal yang dilalui oleh udara daripada
glotal hingga ke bibir tidak disempitkan dengan cara sekatan. Manakala bunyi bukan
kontinuan pula dihasilkan dengan cara pengaliran udara keluar melalui rongga vokal
menerima sekatan seperti bunyi plosif, afrikat dan frikatif. Dalam BMR, bunyi yang
memiliki fitur [+kont] ialah [s, l, ɣ, w, y, h, i, u, ə, a].
3.4.1.4 Ciri-ciri Sumber
Terdapat dua bunyi yang dikategorikan berdasarkan ciri-ciri sumber iaitu; suara dan
striden.
3.4.1.4 (a) Suara
Bunyi bersuara dihasilkan dengan keadaan penggetaran sempurna ke atas pita suara.
Dalam BMR, semua bunyi vokal memiliki fitur [+sua]. Bunyi-bunyi yang digolongkan
sebagai bunyi bersuara ialah bunyi [b, d, g, ǰ, l, ɣ, m, n, ɲ, ŋ, w, y, i, u, ə, a]. Manakala
bunyi bukan suara pula dihasilkan tanpa berlakunya penggetaran sempurna ke atas pita
suara.
98
3.4.1.4 (b) Striden
Bunyi ini dihasilkan dengan penyempitan yang kompleks dan memaksa pengaliran
udara menyentuh dua permukaan yang menyebabkan terhasilnya bunyi bergeser yang
amat bising dan tinggi. Fitur [+strid] ini hanya terdapat pada bunyi frikatif dan afrikat.
Dalam BMR, bunyi yang memiliki fitur ini ialah bunyi [ǰ] dan [s] sahaja.
3.5 Rumusan
Dalam bab ini telah diterangkan dan dihuraikan sistem vokal dan konsonan BMR. Maka
dapatlah dibuat kesimpulan bahawa dalam BMR terdapat empat vokal iaitu /i, a, ə, u/.
Vokal /i, u, a/ dapat hadir di semua posisi kata iaitu di awal, tengah dan akhir. Vokal /ə/
pula hanya dapat hadir pada posisi awal dan tengah kata sahaja.
Sistem konsonan dalam BMR pula terdiri daripada 17 fonem iaitu /p, b, t, d, ǰ, k, g, s, ɣ,
h, m, n, ŋ, ɲ, l, w, y/. Konsonan-konsonan yang dapat hadir pada semua posisi sama ada
posisi awal, tengah dan akhir kata ialah konsonan /p, t, k, s, ɣ, l, y, m, n, ŋ/. Manakala
konsonan yang hanya hadir pada posisi awal dan tengah kata sahaja ialah konsonan /b, d,
g, ǰ, w, ɲ/. Dalam bab ini juga telah diterangkan fitur-fitur distingtif BMR. Fitur-fitur
distingtif ini penting dalam memformulasikan rumus fonologi dalam bentuk notasi fitur.
Bab seterusnya akan membincangkan analisis proses fonologi yang berlaku terhadap
99
kata serapan BMB dalam BMR. Daripada proses-proses fonologi tersebut akan
melahirkan rumus-rumus fonologi.
100
BAB 4
PROSES FONOLOGI KATA SERAPAN BAHASA MELAYU BAKU DALAM
BAHASA MELANAU REJANG
4.0 Pendahuluan
Bab ini secara keseluruhannya akan membincangkan beberapa proses fonologi kata
serapan daripada BMB ke dalam BMR berdasarkan pendekatan atur rumus. Proses
fonologi yang melibatkan perubahan-perubahan kata serapan tersebut akan dibincangkan
secara penghuraian menggunakan rumus-rumus fonologi yang dapat menggambarkan
perubahan-perubahan segmen daripada tahap input (struktur dalaman) kepada tahap
outputnya (struktur permukaan). Untuk mendapat struktur permukaan maka struktur
dalaman hendaklah dikenal pasti terlebih dahulu. Tujuan struktur dalaman adalah untuk
mengenal pasti proses fonologi sebelum wujudnya struktur sebenar bunyi tersebut atau
struktur permukaan. Dari situ barulah akan diberikan rumus-rumus tertentu berdasarkan
proses fonologi yang berlaku. Proses fonologi ini akan dihasilkan dalam bentuk kelas
natural yang menerapkan notasi-notasi fitur dan notasi segmen.
Salah satu ciri penting dalam pendekatan atur rumus ini ialah adanya representasi yang
dikenali sebagai representasi perantara (intermediate representation). Menurut Zaharani
(1993:44), representasi perantara ialah representasi yang merujuk kepada struktur atau
101
bentuk yang diperoleh hasil daripada perlaksanaan rumus-rumus fonologi ke atas
representasi dalaman. Oleh sebab rumus-rumus itu dilaksanakan secara berurutan, maka
output yang diperoleh hasil daripada perlaksanaan rumus pertama ke atas representasi
dalaman akan menjadi input kepada rumus kedua, kemudian output kepada rumus kedua
itu pula akan menjadi input kepada rumus ketiga dan begitulah seterusnya sehinggalah
sampai ke peringkat terakhir, iaitu representasi permukaan yang merupakan bentuk
pengucapan yang sebenar. Representasi yang berada di antara representasi dalaman dan
representasi permukaan inilah yang dikenali sebagai representasi perantara. Oleh itu, bab
ini juga akan menunjukkan representasi perantara untuk menerangkan proses fonologi
daripada bentuk dalaman kepada bentuk luaran tentang perubahan kata serapan BMB ke
dalam BMR.
4.1 Proses-proses Fonologi
Kata-kata dalam BMR yang diterapkan daripada BMB banyak memperlihatkan
perubahan-perubahan daripada bentuk asalnya. Dalam bab ini pengkaji akan
membincangkan proses-proses fonologi yang terdapat dalam kata serapan BMB.
102
4.1.1 Penggantian Vokal dan Konsonan
Dalam bab 2 telah dibincangkan sisem vokal dan konsonan BMR. Vokal dalam BMR
terdiri daripada /a/, /ə/, /u/ dan /i/. Manakala konsonan BMR pula terdiri daripada 17
fonem iaitu ialah /p, b, t, d, k, g, m, n, ɲ, ŋ, s, h, ɣ, ǰ, l, w, y/. Dalam BMR, tidak terdapat
vokal separuh tinggi /o/ dan /e/ seperti mana dalam BMB. Begitu juga dengan konsonan
/č/ dan /r/, tidak terdapat dalam BMR. Oleh itu, perkataan BMB yang diserapkan ke
dalam BMR yang mempunyi vokal dan konsonan tersebut akan mengalami penggantian
kepada vokal dan kosonan yang terhampir dalam sistem vokal dan konsonan BMR.
4.1.1.1 Penggantian Vokal /o/ dan /e/
Oleh sebab dalam BMR tidak terdapat vokal separuh tinggi /o/ dan /e/, maka kata-kata
serapan BMB yang mengandungi vokal separuh tinggi /o/ dan /e/ diganti dengan vokal
tinggi [u] dan [i] yakni bunyi vokal yang terhampir dalam sistem vokal BMR. Contoh
seperti dalam perkataan-perkataan berikut:
103
(64) Penggantian vokal separuh tinggi /o/ dan /e/
BMB BMR ‘kopi’
/kopi/ [kupi] ‘roti’
/roti/ [ɣuti] ‘lori’
/lori/ [luɣi] ‘topi’
/topi/ [tupi] ‘kolam’
/kolam/ [kulam] ‘otak’
/otak/ [utak] ‘meja’
/meja/ [miǰa] ‘dewan’
/dewan/ [diwan] ‘sepak’
/sepak/ [sipak] ‘perak’
/perak/ [piɣak]
Contoh di atas menunjukkan bahawa vokal separuh tinggi /o/ dan /e/ boleh hadir di
posisi awal suku kata terbuka dalam BMB. Apabila kata-kata ini diterapkan ke dalam
BMR, maka berlaku perubahan pada vokal separuh tinggi /o/ → [u] dan /e/ → [i].
104
Namun, apabila vokal /o/ dan /e/ berada di posisi akhir kata, perubahan seperti dalam
data (64) tidak berlaku. Contohnya dalam data di bawah:
(65) Perubahan vokal /o/ dan /e/ di posisi akhir kata
BMB BMR
/soroŋ/
/goreŋ/ [suɣuʷəŋ] ‘sorong’ *[suɣuŋ]
/conteŋ/
[guɣiʸəŋ] ‘goreng’ *[guɣiŋ]
[sutiʸəŋ] ‘conteng’ *[sutiŋ]
Berdasarkan contoh di atas, vokal /o/ dan /e/ di posisi akhir kata dalam kata serapan
BMB terlebih dahulu berubah menjadi vokal [u] dan [i] dan kemudian mengalami
penyisipan geluncuran4.
Oleh itu, penggantian vokal separuh tinggi /o/ dan /e/ dalam kata serapan BMB
menjadi vokal tinggi /u/ dan /i/ hanya berlaku pada posisi awal suku kata terbuka
sahaja. Proses ini boleh diformulasikan menerusi rumus seperti berikut;
4 Proses penyisipan geluncuran akan diterangkan selanjutnya dalam 4.1.7 nanti.
105
(66) Rumus penggantian vokal /o/ dan /e/
o→ u / # K __$
e i
atau dalam bentuk notasi fitur
+sil → +sil / # K __$
-ting +ting
Rumus di atas menyatakan bahawa vokal separuh tinggi /o/ dan /e/ yang berada di posisi
awal suku kata menjadi vokal tinggi /u/ dan /i/.
4.1.1.2 Penggantian Konsonan Letusan Lelangit Keras /č/
Bunyi letusan lelangit keras /č/ tidak terdapat dalam sistem konsonan BMR. Oleh itu,
jika sesuatu kata serapan daripada BMR mengandungi bunyi letusan lelangit keras /č/ di
mana-mana posisi, bunyi tersebut akan berubah menjadi frikatif /s/ yakni bunyi
konsonan yang terhampir dalam sistem konsoanan BMR. Antara perkataan daripada
BMB yang diterapkan ke dalam BMR ialah:
106
(67) Penggantian konsonan lelangit keras /č/ kepada konsonan frikatif [s]
BMB BMR ‘cacat’
/čačat/ [sasat] ‘cat’
/čat/ [sat] ‘cerita’
/čərita/ [səɣitah] ‘cuba’
/čuba/ [suba] ‘cicit’
/čičit/ [sisit] ‘belacan’
/bəlačan/ [bəlasan] ‘beca’
/beča/ [bisa] ‘kacang’
/kačaŋ/ [kasaŋ] ‘racun’
/račun/ [ɣasun] ‘kaca’
/kača/ [kasa]
Contoh (67) menunjukkan kehadiran bunyi letusan lelangit keras /č/ dalam perkataan
BMB. Apabila perkataan ini diterapkan ke dalam BMR, konsonan letusan lelangit keras
/č/ mengalami penggantian kepada konsonan frikatif [s]. Proses penggantian konsonan
letusan lelangit keras /č/ kepada konsonan frikatif [s] dalam BMR dapat dirumuskan
seperti berikut:
107
(68) Rumus penggantian konsonan /č/ menjadi [s]
/č/ → [s]
atau dalam bentuk notasi fitur
+kons → +kons
-son -son
+ting -ting
-ant +ant
+kor +kor
Rumus ini menyatakan, mana-mana perkataan yang mengandungi konsonan letusan
lelangit keras /č/ akan berubah menjadi konsonan frikatif [s].
4.1.1.3 Penggantian Konsonan Getaran Lelangit Keras /r/
Dalam BMR, tidak terdapat bunyi getaran lelangit keras /r/ seperti mana dalam BMB.
Oleh itu, semua kata BMB yang memiliki bunyi konsoanan getaran lelangit keras /r/ di
posisi onset dan koda, apabila diterapkan ke dalam BMR akan diganti dengan bunyi
108
konsonan yang terhampir dalam sistem konsonan BMR iaitu konsonan velar [ɣ].
Contohnya dalam perkataan-perkataan berikut:
(69) penggantian konsonan getaran lelangit keras /r/ menjadikonsonan velar [ɣ]
BMB BMR
/rakit/ [ɣakit] ‘rakit’
/rəbus/ [ɣəbus] ‘rebus’
/rantai/ [ɣata͡i] ‘rantai’
/darah/ [daɣak] ‘darah’
/arak/ [aɣaɁ] ‘arak’
/duri/ [duɣa͡i] ‘duri’
/sayur/ [sayuɣ] ‘sayur’
/atur/ [atuɣ] ‘atur’
/pagar/ [pagaɣ] ‘pagar’
Contoh di atas menunjukkan kehadiran bunyi konsonan getaran lelangit keras /r/ dalam
perkataan BMB dan apabila perkataan ini diterapkan ke dalam BMR, maka berlaku
proses perubahan bunyi konsonan getaran lelangit keras /r/ menjadi bunyi konsonan
109
velar [ɣ]. Proses ini berlaku di semua posisi onset dan koda. Penggantian ini dapat
ditunjukkan dalam rumus berikut;
(70) Rumus penggantian konsonan getaran lelangit keras /r/ menjadi konsonan velar [ɣ]
/r/ → [ɣ]
atau dalam bentuk notasi fitur
+kons → +kons
+son +son
+dep -dep
+kor -kor
Rumus ini menyatakan bahawa konsonan getaran lelangit keras /r/ mengalami
penggantian menjadi konsonan velar [ɣ]. Perubahan ini berlaku di semua posisi kata
dalam BMR, sama ada pada posisi onset mahupun posisi koda.
110
4.1.2 Nasalisasi Vokal
Kebanyakan vokal dalam dialek-dialek Melayu akan mengalami proses nasalisasi vokal
apabila sesuatu vokal itu terletak selepas apa juga jenis nasal, kecuali dialek Kelantan
yang mengalami proses nasalisasi secara resesif atau bergerak ke belakang (Mataim,
2006: 126). Proses nasalisasi vokal berlaku apabila fitur [+nasal] daripada konsonan
nasal mengasimilasikan vokal yang bersebelahan dengannya. Dalam BMR semua vokal
yang mendahului konsonan nasal adalah berpotensi dinasalkan. Proses nasalisasi vokal
dalam BMR ini berlaku secara progresif, iaitu vokal menjadi nasal apabila menerima
fitur [+nasal] daripada konsonan nasal yang berada di sebelah kiri atau sebelumnya.
Berikut beberapa contoh perkataan yang mengalami proses nasalisasi vokal dalam BMR:
(71) Nasalisasi vokal kata asli BMR
/kəman/ [kəman] ‘makan’ ‘
/ɣaman/ [ɣaman] ‘hanyut’
/səluni/ [səluni] ‘tilam’
/anus/ [anus] ‘asap’
/ɲip/ [ɲip] ‘gusi’
/ɲipən/ [ɲipən] ‘gigi’
111
/baŋap/ [baŋap] ‘nganga’
/buŋas/ [buŋas] ‘ribut’
Proses nasalisasi vokal ini turut berlaku dalam kata serapan BMB. Contonya dalam kata-
kata berikut:
(72) Nasalisasi vokal BMR BMR ‘sambal’
BMB [samal] ‘kambing’
/sambal/ [kamin] ‘rambutan’
/kambiŋ/ [ɣamutan] ‘janda’
/rambutan/ [ǰana] ‘sandar’
/ǰanda/ [sanaɣ] ‘sundal’
/sandar/ [sunal] ‘kambing’
/sundal/ [kamin] ‘kuning’
/kambiŋ/ [kunin] ‘mahal’
/kuniŋ/ [maɁal] ‘bunuh’
/mahal/ [bunuk]
/bunuh/
112
Data di atas menunjukkan berlakunya proses nasalisasi terhadap vokal yang mendahului
konsonan nasal dalam kata serapan BMB. Proses nasalisasi vokal dalam BMR ini boleh
dirumuskan seperti berikut:
(73) Rumus nasalisasi vokal
V → V / K _____
[+nasal] [+nasal]
Atau dalam notasi fitur
[+sil] → +sil / +kons _______
+son +son
+nas +nas
Rumus ini menyatakan bahawa semua vokal akan menjadi vokal nasal apabila
mendahului konsonan nasal.
4.1.3 Perubahan Konsonan Frikatif /h/
113
Kata-kata serapan BMB yang mengandungi bunyi konsonan frikatif /h/, mengalami
proses perubahan bunyi konsonan frikatif /h/ kepada bunyi konsonan hentian glotis [Ɂ]
di awal kata, di tengah dan di akhir kata.
(74) Perubahan bunyi konsonan frikatif /h/ kepada bunyi konsonan hentian glotis [Ɂ] di
awal kata dalam kata serapan BMB
BMB BMR ‘halus’
/halus/ [Ɂalus] ‘hati’
/hati/ [Ɂata͡i] ‘hancur’
/hancur/ [Ɂasuɣ] ‘hidung’
/hiduŋ/ [Ɂiduʷəŋ] ‘hujan’
/huǰan/ [Ɂuǰan] ‘hujung’
/huǰuŋ/ [Ɂuǰuʷəŋ] ‘hutang’
/hutaŋ/ [Ɂutaŋ]
(75) Perubahan bunyi konsonan frikatif /h/ kepada bunyi konsonan hentian glotis [Ɂ]
di tengah kata dalam kata serapan BMB
114
BMB BMR ‘jahat’
/ǰahat/ [ǰaɁat] ‘mahal’
/mahal/ [maɁal] ‘dahan’
/dahan/ [daɁan] ‘pahit’
/pahit/ [paɁit] ‘tahun’
/tahun/ [taɁun]
(76) peruabahan konsonan frikatf /h/ menjadi konsonan hentian glotis [Ɂ] di akhir
kata dalam kata serapan BMB
BMB BMR ‘basah’
/basah/ [basaɁ] ‘tanah’
/tanah/ [tanaɁ] ‘asah’
/asah/ [asaɁ] ‘salah’
/salah/ [salaɁ] ‘darah’
/darah/ [daɣaɁ] ‘bunuh’
/bunuh/ [bunuʷəɁ]
115
/buluh/ [buluʷəɁ] ‘buluh’
/suluh/ [suluʷəɁ] ‘suluh’
/tuǰuh/ [tuǰuʷəɁ] ‘tujuh’
/ǰatuh/ [ǰatuʷəɁ] ‘jatuh’
/muntah/ [mutaɁ] ‘muntah’
/pəcah/ [pəsaɁ] ‘pecah’
/bəlah/ [bətaɁ] ‘belah’
Proses perubahan konsonan frikatif /h/ menjadi konsonan hentian glotis [Ɂ] pada posisi
awal kata, tengah kata dan akhir kata dalam kata serapan BMB dapat ditunjukkan dalam
rumus berikut:
(77) Rumus perubahan konsonan frikatif /h/ menjadi konsonan hentian glotis [Ɂ]
/h/ → [Ɂ] / ____
onset
koda
116
atau dalam bentuk notasi fitur
+kons → +kons / ____
-son -son onset
+kont -kont koda
-kor -kor
Rumus di atas menyatakan bahawa konsonan frikatif /h/ berubah menjadi konsonan
hentian glotis [Ɂ] pada posisi awal, posisi tengah dan posisi akhir kata.
4.1.4 Pengenyahan Asimilasi Konsonan Nasal Homorganik
Konsonan nasal homorganik adalah merujuk kepada istilah fonetik bagi gugusan
konsonan nasal-konsonan yang memiliki titik artikulasi yang sama. Dalam BMB
terdapat gugusan konsonan nasal-konsonan seperti /mp/, /mb/, /nt/, /nd/, /ŋk/, /ŋg/ dan
/nǰ/. Contoh dalam perkataan-perkataan berikut:
(78) /sampan/ ‘sampan’
/sambal/ ‘sambal’
/nanti/ ‘nanti’
117
/səndi/ ‘sendi’
/saŋkar/ ‘sangkar’
/taŋga/ ‘tangga’
/tunǰuk/ ‘tunjuk’
Namun, dalam BMR tidak terdapat gugusan konsonan nasal-konsonan. Oleh itu, semua
kata serapan BMB yang mengandungi konsonan nasal homorganik dalam kata dasar
akan mengalami proses pengenyahan asimilasi. Jenis pengenyahan asimilasi itu ialah
pengguguran konsonan bersuara dan pengguguran konsonan nasal dalam gugusan
konsonan nasal-konsonan.
4.1.4.1 Pengguguran Konsonan Bersuara
Dalam BMR, sekiranya perkatan itu mengandungi konsonan nasal homorganik,
konsonan bersuara /b, d, g, ǰ/ dalam gugusan /mb/, /nd/, /ŋg/ dan /nǰ/ digugurkan. Contoh
pengguguran konsonan bersuara dalam konsonan nasal homorganik bagi kata serapan
BMB adalah seperti berikut:
118
(79) BMB BMR ‘sambal’
/sambal/ [samal] ‘kambing’
/kambiŋ/ [kamin] ‘rambutan’
/rambutan/ [mutan] ‘janda’
/ǰanda/ [ǰana] ‘sandar’
/sandar/ [sanaɣ] ‘sundal’
/sundal/ [sunal] ‘tangga’
/taŋga/ [taŋak] ‘langgar’
/laŋgar/ [laŋaɣ] ‘tunjuk’
/tunǰuk/ [tuɲuʷəɁ] ‘banjir’
/banǰir/ [baɲiɣ]
Berdasarkan contoh-contoh di atas, konsonan bersuara /b/, /d/, /g/ dan /ǰ/ digugurkan
apabila mendahului konsonan nasal /m/, /n/ dan /ŋ/ dalam kata serapan BMB. Proses
pengguguran konsonan bersuara ini hendaklah berlaku terlebih dahulu sebelum
terhasilnya proses penasalan vokal dalam kata serpan BMB untuk menghasilkan struktur
permukaan yang tepat. Justeru, rumus-rumus ini mestilah di atur secara tertib. Contoh
perlaksanaan dan atur rumus adalah seperti berikut:
119
(80) Aturan yang betul /sambal/ /sandar/
Struktur Dalaman - sandaɣ
Penggantian /r/ samal sanaɣ
Pengguguran konsonan bersuara samal sanaɣ
Nasalisasi vokal [samal] [sanaɣ]
Struktur Permukaan
Sementara itu, jika rumus nasalisasi vokal dilaksanakan mendahului rumus pengguguran
konsonan bersuara, struktur permukaan yang tidak gramatis akan terhasil. Ini dapat
dibuktikan melalui atauran yang ditunjukkan seperti di bawah:
(81) Aturan yang salah /sambal/ /sandar/
Struktur Dalaman - sandaɣ
Penggantian /r/ - -
Nasalisasi vokal samal sanaɣ
Pengguguran konsonan bersuara *[samal] *[sanaɣ]
Struktur Permukaan
120
Proses pengguguran konsonan bersuara dapat diformulasikan seperti yang berikut:
(82) Rumus pengguguran konsonan bersuara
b →Ø / m _______
d n
g ŋ
ǰ
atau dalam notasi fitur
+kons → Ø/ +kons _______
+ant +nas
+sua
Rumus di atas menyatkan bahawa konsonan bersuara /b/, /d/, /g/ dan /ǰ/ akan digugurkan
apabila hadir mendahului konsonan nasal /m/, /n/ dan /ŋ/.
121
4.1.4.2 Pengguguran konsonan nasal
Kata serapan BMB yang mengandungi konsonan nasal homorganik iaitu gugusan /mp/,
/nt/, /ŋk/ dan /ŋs/, akan mengalami proses pengenyahan asimilasi. Proses pengenyahan
asimilasi dalam gugusan konsonan nasal-konsonan itu berlaku apabila konsonan nasal
diikuti oleh konsonan tidak bersuara /p, t, k, s/. Contohnya dalam perkataan berikut;
(84) BMB BMR ‘tampar’
/tampar/ [tapaɣ] ‘tumpul’
/tumpul/ [tupul] ‘kampung’
/kampuŋ/ [kapɔŋ] ‘gunting’
/guntiŋ/ [gutin] ‘santan’
/santan/ [satan] ‘lantai’
/lantai/ [latai] ‘menantu’
/mənantu/ [mənatau] ‘rantai’
/rantai/ [ɣatai] ‘muntah’
/muntah/ [mutak] ‘gantung’
/gantuŋ/ [gatɔŋ]
122
/kaŋkung/ [kakɔŋ] ‘kangkung’
/bəlaŋkas/ [bəlakas] ‘belangkas’
/aŋkat/ [akat] ‘angkat’
/saŋkar/ [sakaɣ] ‘sangkar’
/buŋkus/ [bukus] ‘bungkus’
/taŋsi/ [tasi] ‘tangsi’
/baŋsa/ [basa] ‘bangsa’
/koŋsi/ [kusi] ‘kongsi’
Berdasarkan contoh-contoh di atas, rumus pengguguran konsonan nasal dalam kata
serapan BMB yang mengandungi gugusan konsonan nasal-konsonan /mp/, /nt/, /ŋk/ dan
/ŋs/ adalah seperti berikut:
(85) Rumus pengguguran konsonan nasal
m → Ø / __ p
n t
ŋ k
s
123
atau rumus dalam bentuk notasi fitur,
+kons → Ø / _____ +kons
+nasal -son
+son -sua
+sua
Rumus ini menyatakan bahawa bunyi konsonan nasal /m/, /n/ dan /ŋ/ digugurkan
sekiranya hadir sebelum konsonan tidak bersuara /p/, /t/, /k/ dan /s/ dalam kata serapan
BMB.
4.1.5 Perubahanan Konsonan Nasal /ŋ/ di Akhir Kata
Dalam nahu bunyi BMR, konsonan nasal velar /ŋ/ yang hadir selepas vokal tinggi /i/ di
akhir kata menjadi konsonan nasal [n]. Contohnya dalam perkataan-perkataan berikut:
(86) /tatiŋ/ [tatin] ‘bantu pemberat kail’
/ladiŋ/ [ladin] ‘pisau kecil’
Namun, jika konsonan nasal /ŋ/ itu didahului vokal lain, selain daripada vokal tinggi /i/,
perubahan konsonan nasal /ŋ/ kepada konsonan nasal [n] di akhir kata tidak berlaku.
Contohnya seperti berikut:
124
(87) /ǰaluŋ/ [ǰaluʷəŋ] ‘bogel’
/pataŋ/ [pataŋ] ‘baring’
/buaŋ/ [buɁaŋ] ‘kosong’
Oleh itu, kata serapan BMB yang diakhiri oleh konsonan nasal /ŋ/ akan mengikut nahu
BMR seperti dinyatakan di atas. Contohnya dalam perkataan-perkataan berikut:
(88) BMB BMR
/pusiŋ/ [pusin] ‘pusing’
/dagiŋ/ [dagin] ‘daging’
/kuniŋ/ [kunin] ‘kuning’
/guliŋ/ [gulin] ‘guling’
/guntiŋ/ [gutin] ‘gunting’
/kambiŋ/ [kamin] ‘kambing’
Data di atas menunjukkan perubahan konsonan nasal /ŋ/ menjadi konsonan nasal [n]
dalam kata serapan BMB yang hadir sebelum vokal tinggi /i/ pada posisi suku kata akhir
125
tertutup. Namun perubahan itu tidak berlaku jika sebelum konsonan /ŋ/ dihadiri vokal
lain, selain daripada vokal tinggi /i/. Contohnya dalam perkataan-perkataan berikut:
(89) BMB BMR
/gunuŋ/ [gunuʷəŋ] ‘gunung’
/teruŋ/
/tunaŋ/ [təɣuʷəŋ] ‘terung’
/hutaŋ/
[tunaŋ] ‘tunang’
[Ɂutaŋ] ‘hutang’
Proses perubahan konsonan /ŋ/ menjadi konsoanan [n] pada suku kata tertutup di akhir
kata dalam kata serapan BMR dapat diformulasikan dalam rumus berikut;
(90) Rumus Pendepanan Nasal
/ŋ/ → [n] / V ____ #
+ting
+dep
126
atau dalam bentuk notasi fitur
+kons → +kons / +sil ____ #
+son +son +ting
+nas +nas +dep
-kor +kor
-ant +ant
Rumus di atas bermaksud konsonan nasal /ŋ/ di akhir kata sebelum vokal tinggi /i/
berubah menjadi konsonan nasal [n].
4.1.6 Pendiftongan
Dalam kata serapan BMB, proses pendiftongan berlaku selepas proses penyisipan vokal
rendah /a/ di antara konsonan dengan vokal tinggi /i/ dan /u/ di akhir kata. Dengan
berlakunya proses penyisipan vokal /a/ ini menyebabkan urutan vokal [ai] dan [ui]
terbentuk. Urutan vokal [ai] dan [au] ini dibunyikan sebagai diftong. Contoh dalam
perkataan berikut:
127
(91) BMB BMR ‘duri’
‘pipi’
/duri/ [duɣa͡i] ‘besi’
/pipi/ [pipa͡i] ‘kutu’
/bəsi/ [bəsa͡i] ‘baju’
/kutu/ [kuta͡u] ‘kayu’
/baǰu/ [baǰa͡u] ‘bulu’
/kayu/ [kaya͡u] ‘abu’
/bulu/ [bula͡u] ‘madu’
/abu/ [aba͡u]
/madu/ [mada͡u]
Contoh-contoh di atas memperlihatkan penyisipan vokal /a/ di antara konsonan dengan
vokal tinggi /i/ dan /u/ di akhir kata yang menghasilkan bunyi diftong [ai] dan [au].
Proses penyisipan vokal /a/ dalam kata serapan BMB tersebut dapat dirumuskan seperti
berikut:
128
(92) Rumus Pendiftongan
Ø → [a] / K ___ i#
u
atau dalam notasi fitur
Ø→ +sil / [+kons] ___ +sil #
-ting +ting
Rumus di atas menyatakan bahawa vokal /a/ menyisip di antara konsonan dengan vokal
tinggi [i] dan [u] di akhir kata yang menyebabkan urutan vokal terhasil dan dibunyikan
sebagai diftong.
Namun, ada beberapa contoh perkataan BMR yang vokal tinggi /i/ dan /u/ di akhir kata
tidak mengalami penyisipan vokal /a/ sebelumnya dan menolak rumus (92). Begitu juga
dalam kata serapan BMB, terdapat kata yang vokal tinggi /i/ di akhir kata tidak
mengalami proses yang sama. Contoh kata-kata BMR dalam (93) dan kata serapan
BMB dalam (94):
129