Prosiding Webinar Antarabangsa Tafsir Dan Hadis Nusantara 2.0
e ISBN 978-967-19878-2-7
mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan
(mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang
diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).
Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil
dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan)
yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka
mereka itulah orang-orang yang zhalim.
Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa umat Islam tidak diperbolehkan saling
mengolok-olok baik antara sesama muslim, antar agama dan budaya sekalipun, sebab
pada dasarnya tindakan tersebut merupakan tindakan tercela karena menyakiti hati
orang lain. Allah SWT melarang hambanya terhadap sesuatu tidak lain pasti karena
terdapat hal buruk dalam sesuatu tersebut yang akan membuat pelakunya dijauhi
Tuhannya atau makhluk lainnya. Selain itu, tindakan bullying akan berdampak
menimbulkan penyakit hati, seperti dendam, dengki, sombong, emosional, dan lain
sebagainya.
Dalam riwayatnya, ayat ini turun berkenaan dengan banyaknya nama-nama
gelaran pada zaman jahiliyah. Salah satunya, ketika Nabi SAW memanggil seseorang
dengan gelarnya, kemudian ada orang yang memberitahukan kepada Nabi bahwa
seseorang itu tidak menyukai gelar tersebut (Yaqien, 2018). Maka kemudian turunlah
Q.S. Al-Hujurat (49) : 11 ini yang melarang memanggil seseorang dengan gelar yang
tidak disukainya. Selain itu, ayat ini merupakan penegasan bahwa kita sebagai manusia
dilarang memperolok-olok manusia lainnya, sebab bisa saja orang yang diolok tersebut
lebih mulia disisi Allah dibandingan orang yang mengoloknya.
Dengan semakin berkembangnya zaman, saat ini tindakan bullying tidak hanya
dilakukan melalui kekerasan secara fisik, verbal, atau relasional saja, tetapi juga
melalui media sosial. Maraknya tindakan bullying yang terjadi kemudian menimbulkan
masyarakat yang menormalisasikan tindakan tersebut. Fenomena bullying merupakan
permasalahan yang sangat serius dan komplek karena bisa terjadi kapan saja, dimana
saja, dan kepada siapa saja. Hal ini menjadi perhatian besar banyak pihak, mulai dari
pelajar, orang tua, tenaga pendidik, dan lain sebagainya. Contoh kasus bullying yang
baru saja terjadi pada tahun lalu, tepatnya pada 14 Januari 2020, dimana seorang siswi
SMPN 147 Jakarta melompat dari lantai 4 gedung sekolahnya dan diduga siswi tersebut
nekat melakukan bunuh diri karena mengalami perundungan oleh teman-teman
sekolahnya, namun pihak sekolah terus membantah adanya tindak perundungan
terhadap siswi tersebut. Lalu, contoh kasus lain adalah tindak perundungan yang
dialami oleh MS seorang siswa SMPN 16 Malang yang terpaksa harus menjalani
operasi amputasi akibat tindak perundungan yang dilakukan oleh teman-temannya. Jari
tengah MS terluka serius dan sudah tidak bisa berfungsi lagi, sehingga dokter
memutuskan untuk melakukan amputasi. Meskipun begitu, pihak sekolah lagi-lagi
membantah adanya tindak kekerasan atau bullying yang menimpa MS. Hal ini menjadi
bukti bahwa masih lemahnya kebijakan di Indonesia terkait bullying dan masih
minimnya tindakan terintegrasi yang bertujuan untuk menghentikan tindakan bullying
dan menjamin rasa aman bagi korban.
Meskipun terdapat perbedaan, baik tindakan bullying pada zaman nabi maupun
pada saat ini, keduanya sama-sama merupakan tindakan tercela dan tidak bisa
dibenarkan apalagi dinormalisasikan karena menyakiti hati orang lain serta
memberikan dampak yang besar kepada banyak pihak. Untuk mengatasi permasalahan
terkait bullying ini perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak, seperti orang tua,
tenaga pendidik, pelajar, dan lain sebagainya.
232
Prosiding Webinar Antarabangsa Tafsir Dan Hadis Nusantara 2.0
e ISBN 978-967-19878-2-7
KESIMPULAN
Fenomena bullying yang marak terjadi saat ini menimbulkan dampak yang besar, tidak
hanya kepada korban, tetapi juga pelaku, dan pihak-pihak yang turut terlibat didalam
fenomena bullying. Korban bullying merupakan pihak yang sangat diprioritaskan untuk
ditangani karena tindakan bullying yang diterima dapat menimbulkan trauma yang
berkepanjangan kepada korban, mulai dari munculnya perasaan cemas dan ketakutan,
mempengaruhi konsentrasi belajar, mempengaruhi self-esteem pelajar, meningkatkan
isolasi sosial, menimbulkan perilaku menarik diri, menyebabkan pelajar rentan
terhadap stress dan depresi, serta timbulnya rasa tidak aman, dan bahkan dalam kasus
yang lebih ekstrim dapat mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri. Selain itu,
korban bullying juga berpotensi untuk menjadi pelaku bully ataupun tindakan kriminal
lainnya di masa depan. Maka dari itu, pelajar korban bullying sangat penting untuk
ditangani. Meskipun terdapat perbedaan, baik tindakan bullying pada zaman nabi
maupun pada saat ini, keduanya sama-sama merupakan tindakan tercela dan tidak bisa
dibenarkan apalagi dinormalisasikan karena menyakiti hati orang lain serta
memberikan dampak yang besar kepada banyak pihak. Untuk mengatasi permasalahan
terkait bullying ini perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak, seperti orang tua,
tenaga pendidik, pelajar, dan lain sebagainya.
RUJUKAN
Al-Asyhar, T. 2019. Apa Kata Islam Tentang Bullying? Kemenag.Go.Id.
https://kemenag.go.id/read/apa-kata-islam-tentang-bullying-8vxov
Andi, H. (2015). Persepsi pada bystander terhadap intensitas bullying pada siswa SMP.
Jurnal Psikologi, 42(2), 129–140.
Kawanku. 2014. Celebrate Your Weirdness Positeens: Positive Teens Against Bullying.
Gramedia.
Lestari, S. 2018. Bentuk dan faktor penyebab perilaku bullying. Jurnal Bimbingan
Konseling, 6(2).
Marta Efastri, S. 2015. Keefektifan konseling kelompok dengan pendekatan behavioral
untuk mengurangi perilaku bullying, perilaku agresif. Jurnal Bimbingan
Konseling, 4(2), 114–120.
Mintasrihardi. 2019. Dampak bullying terhadap perilaku remaja (Studi pada SMKN 5
Mataram). Jurnal Ilmu Administrasi Publik, 7(1), 44–55.
Salmi, S. 2018. Hubungan kontrol diri dengan perilaku bullying siswa. Counsellia:
Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 8(2), 88–99.
Sejiwa. 2008. Bullying, Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar
Anak. Gramedia.
Sondang, E. 2021. Anak Korban Bullying Berpotensi Jadi Pelaku Bully, Parents Harus
Waspada! TheAsianparent.
Susanti, Y. 2019. Prilaku Sosial Bullying Pada Pelajar. INA-Rxiv.
https://doi.org/https://doi.org/https://doi.org/10.31227/osf.io/wqm4c
Yaqien, M. A. (2018). Bullying Dalam Perspektif Alqura<N Dan Psikologi.
Zakiyah, E. Z. 2017. Faktor yang mempengaruhi remaja dalam melakukan bullying.
Jurnal Penelitian & PPM, 4(2), 129–389.
233
Prosiding Webinar Antarabangsa Tafsir Dan Hadis Nusantara 2.0
e ISBN 978-967-19878-2-7
BAB 23
Pemikiran Haji Abdul Malik Karim Amrullah Terhadap
Ayat-Ayat Korupsi dalam Tafsir Al-Azhar
1Muhammad Arief Rahman, 2Noorthaibah, 3Ramadiva Muhammad Akhyar,
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah
Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda
[email protected];[email protected];
[email protected]
ABSTRAK
Korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang permasalahannya tidak akan berakhir
secara universal di setiap negara. Latar belakang penelitian ini adalah bahwa kata
korupsi tidak disebutkan dalam Al-Qur'an, tetapi ada padanan kata atau istilahinologi
(istilah) lain dalam Al-Qur'an yang mengarah pada korupsi, baik ayat tersebut berbicara
tentang korupsi secara tekstual atau tidak. Metode penelitian ini menggunakan metode
library research (kepustakaan). Pada dasarnya, istilah korupsi dalam Alquran
merupakan bentuk-bentuk tindakan pidana yang dalam Islam, namun penyebutan yang
secara eksplisit tidak disebutkan teksnya di dalam Alquran, misalnya istilah
perampokan (al-harb), pencurian (al-sarq), istilah pengkhianatan (al-ghulul), dan
memakan harta dengan batil. Namun, mengingat definisi korupsi yang semakin
berkembang, maka istilah tersebut juga mengalami pergeseran makna yang cukup
besar, yaitu ketika istilah itu dimasukkan ke dalam ruang lingkup korupsi.
Kata Kunci: Korupsi, ghulul, harb, sarq, batil
PENGENALAN
Korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang permasalahannya tidak akan berakhir
secara universal di setiap negara. Latar belakang penelitian ini adalah bahwa kata
korupsi tidak disebutkan dalam Al-Qur'an, tetapi ada padanan kata atau istilahinologi
(istilah) lain dalam Al-Qur'an yang mangarah pada korupsi, baik ayat tersebut berbicara
tentang korupsi secara tekstual atau tidak (Ripai, 2018).
Kasus korupsi semakin meningkat setiap tahunnya di setiap negara, khususnya
Indonesia. Begitu pula jika melihat total kerugian keuangan nasional, tidak
menunjukkan penurunan, justru meningkat sangat pesat. Sebagaimana diketahui bahwa
korupsi secara umum mempunyai dampak yang luas, berskala besar, terstruktur,
terutama dalam menurunkan kualitas hidup dan kehidupan manusia, merusak nilai-nilai
kemanusiaan, meruntuhkan dasar-dasar penyelenggaraan negara dan kehidupan
demokrasi, menurunkan kualitas pelayanan publik, mengabaikan hak-hak dasar warga
negara, meningkatnya ketimpangan sosial dan banyak lagi (Wahid & Alim, 2016).
Indonesia merupakan salah satu negara terkorup di dunia. Laporan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) serta media massa nasional mengindikasikan telah
terjadi kebocoran anggaran baik di pemerintah pusat maupun daerah. Laporan
Indonesian Corruption Watch (ICW) menunjukkan korupsi di tanah air sudah mencapai
Rp. 26,83 triliun untuk semester I tahun 2021. Dibandingkan periode yang sama tahun
lalu, angka ini meningkat 47,63% atau Rp. 18,17 triliun. Selama kurun waktu tersebut,
234
Prosiding Webinar Antarabangsa Tafsir Dan Hadis Nusantara 2.0
e ISBN 978-967-19878-2-7
jumlah kasus korupsi yang dideteksi oleh aparat penegak hukum (APH) sebanyak 209
kasus dan total 482 tersangka yang diproses sesuai hukum (Mutia, 2021).
Korupsi dimungkinkan karena penegakan hukum yang buruk dan pejabat yang
rentan terhadap suap, ditambah dengan kebiasaan menggelembungkan dana, seringkali
menghasilkan produk atau proyek yang sangat mahal dengan kualitas yang buruk.
(Djelantik, 2008).
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas undang-undang
Nomor 31 Tahun 1999, mengenai pemberantasan tidak pidana korupsi, pada pasal 12
disebutkan bahwa pelaku korupsi dapat dipidana dengan penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun, serta pidana denda
paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) (JDIH, 2021). Hal tersebut bukan sesuatu yang
dianggap mudah, karena setiap ada perbuatan pasti ada balasan yang setimpal.
METODOLOGI KAJIAN
Dalam pembahasan ini, penulis menggunakan data dari penelitian kepustakaan
(libraries) karena penulis berusaha untuk secara akurat mengidentifikasi,
mengumpulkan, mengolah dan meninjau data yang ada terkait dengan masalah korupsi,
istilahasuk data primer dan sekunder. Sumber utama yang disebutkan adalah Al-Qur'an
al-Karim dan Tafsir al-Azhar Hamka. Data sekunder yang dimaksud adalah literatur
lain berupa buku-buku, hasil penelitian dan artikel-artikel lain yang pasti berkaitan
dengan masalah korupsi untuk memperkaya/melengkapi data asli. Penelitian ini juga
bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan tematik.
HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
Pengertian Korupsi
Kata korupsi berakar pada bahasa latin corruption atau dari kata asal corrumpere.
Secara etimologi, dalam bahasa latin kata corruption bermakna busuk, rusak,
menggoyahkan, memutar balik dan menyuap. Sedangkan dalam bahasa Inggris, kata
corrupt bermakna seseorang yang berbuat korupsi berkeinginan melakukan
kecurangan secara tidak sah untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Sedangkan secara istilahinologis, Robert Klitgaard mendefinisikan korupsi
adalah penyalahgunaan kekuasaan publik untuk keuntungan pribadi. Korupsi juga
berarti memungut biaya untuk layanan yang diberikan atau menggunakan kekuasaan
untuk tujuan ilegal (Klitgaard & dkk, 2002). Dari pengertian korupsi secara harfiah
dapat disimpulan bahwa korupsi merupakan istilah yang maknanya luas (Amelia,
2010).
Korupsi selalu memiliki ciri khas yang sifatnya beragam, antara lain
melibatkan lebih dari satu orang. Ciri lain adalah, tidak hanya terjadi di kalangan
pegawai negeri atau anggota birokrasi negara, juga terjadi di dalam organisasi usaha
swasta. Korupsi dapat berupa menerima suap, uang kopi, salam tempel, uang semit,
uang pelancar, baik dalam bentuk uang tunai, benda atau wanita. Korupsi juga
melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik yang tidak selalu berupa
uang. Tindakan Korupsi mengandung penipuan, biasanya pada badan publik. Di bidang
swasta, korupsi dapat berbentuk menerima pembayaran uang untuk membuka rahasia
perusahaan tempat seseorang berkerja, atau mengambil komisi yang seharusnya hak
perusahaan (Djelantik, 2008).
235
Prosiding Webinar Antarabangsa Tafsir Dan Hadis Nusantara 2.0
e ISBN 978-967-19878-2-7
Gambaran Perilaku Korupsi Pra-Islam
Madyan adalah orang Arab yang tinggal di kota Madyan: salah satu negara Ma'an, di
perbatasan Syam, dekat danau kaum Luth. Kaum Madyan datang setelah kaum Luth
dalam waktu yang berdekatan. Disana Nabi Syu’aib yang merupakan keturunan dari
Nabi Ibrahim diutus. (Amaliah, 2020).
Madyan adalah orang-orang kafir yang suka merampok, mengganggu
pengguna jalan yang lewat, dan memuja Aikah, sebuah pohon di tengah hutan yang
lebat. Penulis memilih cerita orang Madyan karena mereka adalah kelompok yang
memiliki karakter paling jahat yang berurusan dengan manusia. Mereka suka
mengurangi jumlah timbangan saat menjual dan mengambil tambahan saat membeli.
Oleh karena itu, pedagang dan petani kecil telah menjadi korban permainan para
pedagang besar dan pemilik modal. Akibatnya, yang kaya semakin kaya dan yang
miskin semakin miskin. Dalam kondisi yang seperti itu, berbagai tindak kejahatan dan
kemaksiatan mulai terjadi di masyarakat (Abdurrahman, 2013).
Akhirnya Allah mengutus Syu’aib as. untuk menyeru mereka beribadah
kepada Allah semata, melarang mereka melakukan perbuatan buruk, seperti
mengurangi hak orang lain, dan mengancam orang di tengah jalan. Sebagian di antara
kaumnya taat, tetapi kebanyakan di antara mereka kafir, sehingga azab kepada mereka
pun diturunkan. Mereka akhirnya mati bergelimpangan di rumahnya. Seperti saat
mereka belum pernah tinggal di tempat itu.
Dampak Korupsi
Gunnar Myrdal mengatakan bahwa negara yang korupsi pasti mengalami hal seperti
berikut:
i. Korupsi menciptakan dan memperbesar masalah yang disebabkan oleh
berkurangnya keinginan untuk terjun ke bidang usaha, serta pasar nasional
menjadi lemah.
ii. Permasalahan masyarakat yang banyak semakin dibuat parah oleh korupsi dan
sejalan dengan itu kesatuan negara juga melemah. Martabat pemerintah yang
menurun menyebabkan korupsi juga cenderung turut membahayakan stabilitas
politik.
iii. Karena unsur kesengajaan yang terjadi di antara para pejabat untuk menerima
suap dan menyalahgunakan kekuasaan, menyebabkan disiplin sosial menjadi
lemah, sementara efisiensi menurun tajam (Sugiyanto, 2019).
Biografi Singkat Haji Abdul Malik Karim Amrullah
Abdul Malik adalah nama panggilan bagi penulis Tafsir al-Azhar yang lahir di Sungai
Batang Maninjau-Sumatera Barat, pada tanggal 16 Februari 1908 M./13 Muharram
1326 H. Abdul Malik kemudian dikenal banyak orang dengan nama yang sebetulnya
akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah (selanjutnya Hamka).
Melihat ayahnya (Haji Rasul) yang merupakan seorang tokoh pembaharu di
Sumatera Barat, tidak heran jika Hamka lahir dan tumbuh dalam suasana pembaharuan
yang diperjuangkan ayahnya sejak tahun 1906 di Minangkabau—yaitu setelah ayahnya
pulang dari belajar di Mekkah dengan Syekh Ahmad Khatib—akibatnya, ketegangan
dan polarisasi sosial akibat penolakan ‘orang tua’ terhadap ide pembaruan ‘kaum
muda’ yang diprakarsai ayahnya juga turut membentuk jati diri seorang Hamka pada
masa mendatang.
Hamka masuk SD (sekolah desa) pada usia delapan tahun (1916). Dengan
bantuan ayahnya, ia pun masuk ke Madrasah Diniyah yang didirikan oleh Zainudin
236
Prosiding Webinar Antarabangsa Tafsir Dan Hadis Nusantara 2.0
e ISBN 978-967-19878-2-7
Labay El-Yunusi. Segera setelah itu, Hamka keluar dari sekolah desa dan dipindahkan
ke Madrasah Tawalib—Madrasah ini adalah musala tempat ayahnya mengajar—
ayahnya berniat untuk melatih Hamka agar di masa mendatang menjadi seorang ulama
besar. Menurut penjelasan Hamka, ia tidak tertarik dengan mata pelajaran di kedua
lembaga pendidikan tersebut, kecuali pelajaran ‘Arudl dan timbangan syair Arab
(Hamka, 1979). Hal ini tampaknya merupakan perwujudan dari kecenderungan
jiwanya terhadap dunia sastra dan puisi.
Pada usia 16 tahun, Hamkar pindah ke Jawa, khususnya Yogyakarta dan
Pekalongan (1924-1925). Rihlah ini pada akhirnya memiliki pengaruh besar terhadap
pandangan Islam Hamka. Di Yogyakarta, Hamka berkesempatan bertemu langsung
dengan tokoh-tokoh Islam terkemuka saat itu. Ki Bagus Hadikusumo; darinya Hamka
untuk pertama kali memperoleh cara baru dalam mempelajari tafsir, yang
menitikberatkan pada maksud/isi ayat Al-Qur'an daripada membaca tafsir dengan
nahwu yang benar—seperti yang dilakukannya di Padang Panjang—ia juga bertemu
dengan HOS Cokroaminoto (Pimpinan Syarikat Islam), RM. Suryopronoto dan Haji
Fachruddin (Tokoh Muhammad).
Dari ketiga tokoh tersebut, Hamka masing-masing mendapat nilai kehidupan
yang berbeda, Islam dan sosialisme, sosiologi, dan kajian Agama Islam. Di Pekalongan,
Hamka tidak pernah melupakan jasa Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang
mempertemukannya dengan aktivis pemuda Islam Osman Pujotomo, Muhammad Rum
dan Iskandar Idris. Secara keseluruhan, pengaruh beberapa tokoh tersebut turut
membentuk misi dan cita-cita hidup Hamka, yaitu “bergerak untuk kebangkitan
kembali umat Islam” ujarnya sendiri.
Hamka meninggal pada hari Jumat tanggal 24 Juli 1981, setelah menyelesaikan
84 buku yang meliputi agama, filsafat dan sastra yang ditulis selama 57 tahun. Sesaat
sebelum kematiannya, ia mengundurkan diri sebagai ketua umum MUI sehubungan
dengan kontroversi keputusan larangan partisipasi muslim merayakan natal, namun
pemerintah (dalam hal ini Menteri Agama RI) keberatan dengan keputusan tersebut
kemudian memerintahkan MUI untuk membatalkannya. Meskipun pada akhirnya
fatwa tersebut dibatalkan, namun perlu diingat, Hamka berkata “fatwa boleh dicabut,
tetapi kebenaran tak bisa diingkari (Hamka, 2001).
Seperti yang ditulis Gus Dur, kepribadian yang tak terbantahkan dari seorang
Hamka adalah kerja keras dan keuletannya. “bahwa pada dasarnya Buya Hamka adalah
seorang optimistis, dan dengan modal itulah ia mampu untuk terus-menerus
menghargai orang lain secara tulus, karena ia percaya bahwa pada dasarnya manusia
itu baik.” (Abdurrahman Wahid, 1984)
Karya-Karya Hamka
Arah pemikirannya meliputi pendidikan Islam, sejarah Islam, teologi, filsafat, tasawuf,
fikih, tafsir dan sastra. Sebagai penulis yang produktif, Hamka telah menulis puluhan
buku. Beberapa karyanya antara lain:
i. Tasawuf modern (1983), awalnya karyanya ini merupakan kumpulan artikel
yang dimuat dalam majalah Pedoman Masyarakat tahun 1937. Karena
permintaan masyarakat, artikel-artikel tersebut kemudian dibukukan.
ii. Lembaga Budi (1983). Buku yang ditulis pada tahun 1939 ini memiliki 11 bab.
Pembicaraan tersebut meliputi; budi yang mulia, sebab budi menjadi rusak,
penyakit budi, budi orang yang memegang pemerintahan, budi mulia yang
seyogyanya dimiliki oleh seorang raja (penguasa), budi pengusaha, budi
saudagar, budi pekerja, budi ilmuwan, tinjauan budi, dan percikan pengalaman.
iii. Falsafah Hidup (1950). Buku ini tersusun dari sembilan bab. Ia memulai buku
ini dengan penjelasan tentang hakikat kehidupan.
237
Prosiding Webinar Antarabangsa Tafsir Dan Hadis Nusantara 2.0
e ISBN 978-967-19878-2-7
iv. Lembaga Hidup (1962). Dalam bukunya ini, ia menuangkan pemikirannya
dalam 12 bab. Buku ini berisi berbagai kewajiban manusia kepada Allah,
kewajiban sosial umat manusia, hak milik, kewajiban dalam pandangan muslim,
kewajiban dalam keluarga, menuntut ilmu, bertanah air, Islam dan politik,
Alquran untuk zaman modern, dan diakhiri dengan deskripsi tulisan tentang
sosok nabi Muhammad.
v. Pelajaran Agama Islam (1952). Buku ini dibagi menjadi sembilan bab.
Pembahasan meliputi; umat dan agama, kemana mencari Tuhan, serta rukun
iman.
vi. Tafsir al-Azhar Juz 1-30. Karya ini adalah yang paling fenomenal. Buku ini
ditulis sejak tahun 1962. Sebagian besar isi dari tafsir ini diselesaikan di dalam
penjara, yakni saat menjadi tahanan pada tahun 1964-1967. Ia memulainya
dengan penjelasan tentang i’jaz Alquran. Kemudian secara berurutan
menjelaskan tentang isi mukjizat Alquran, haluan tafsir, alasan dinamakan Tafsir
al-Azhar, dan nikmat Ilahi. Setelah memperkenalkan dasar-dasar untuk
memahami tafsir, ia baru menguraikan tafsirnya secara panjang lebar.
vii. Ayahku; Riwayat Hidup Dr. Haji Amarullah dan Perjuangan Kaum Agama di
Sumatera (1958). Buku ini isinya tentang kepribadian dan perjalanan ayahnya,
Haji Abdul Karim Amrullah atau biasa disebut dengan Haji Rasul.
viii. Kenang-kenangan Hidup Jilid I-IV (1979). Buku ini adalah autobiografi Hamka.
ix. Islam dan Adat Minangkabau (1984). Ini merupakan kritikannya terhadap adat
dan mentalitas masyarakatnya yang dianggap tidak sesuai terhadap kemajuan
zaman.
x. Sejarah Umat Islam Jilid I-IV (1975). Buku ini merupakan usaha untuk
mengupas secara rinci sejarah umat Islam, yaitu sejak dari Islam era awal,
kemajuan, dan kemunduran Islam pada abad pertengahan. Ia juga menjelaskan
sejarah masuk dan perkembangan Islam di Indonesia.
xi. Studi Islam (1976), buku ini berisi tentang aspek politik dan kenegaraan Islam.
Isinya meliputi; syariat Islam, studi Islam, dan perbandingan antara hak-hak
asasi manusia deklarasi PBB dan Islam.
xii. Kedudukan Perempuan dalam Islam (1973). Buku ini membicarakan tentang
perempuan sebagai makhluk Allah yang dimuliakan keberadaannya. Si
Sabariyah (1926), buku roman pertamanya yang ia tulis dalam bahasa
Minangkabau. Roman; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1979), Di Bawah
Lindungan Ka’bah (1936), Merantau Ke Deli (1977), Terusir, Keadilan Illahi,
Di Dalam Lembah Kehidupan, Salahnya Sendiri, Tuan Direktur, Angkatan baru,
Cahaya Baru, Cermin Kehidupan.
xiii. Revolusi pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi,
Negara Islam, Sesudah Naskah Renville, Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman,
Dari Lembah Cita-Cita, Merdeka, Islam Dan Demokrasi, Dilamun Ombak
Masyarakat, Menunggu Beduk Berbunyi.
xiv. Di Tepi Sungai Nyl, Di Tepi Sungai Daljah, Mandi Cahaya Di Tanah Suci,
Empat Bulan Di Amerika, Pandangan Hidup Muslim.
xv. Artikel Lepas; Persatuan Islam, Bukti Yang Tepat, Majalah Tentara, Majalah
Al-Mahdi, Semangat Islam, Menara, Ortodox Dan Modernisme,
Muhammadiyah Di Minangkabau, Lembaga Fatwa, Tajdid Dan Mujadid, dan
lain-lain.
xvi. Antara Fakta Dan Khayal, Bohong Di Dunia, Lembaga Hikmat, dan lain-lain
(Ayu Trisnawati, 2018).
238
Prosiding Webinar Antarabangsa Tafsir Dan Hadis Nusantara 2.0
e ISBN 978-967-19878-2-7
Analisis Ayat Korupsi Menurut Tafsir al-Azhar
Pada dasarnya, istilah korupsi dalam Alquran merupakan bentuk-bentuk tindakan
pidana yang dalam Islam, namun penyebutan yang secara eksplisit tidak disebutkan
teksnya di dalam Alquran, misalnya istilah perampokan (al-harb), pencurian (al-sarq),
istilah pengkhianatan (al-ghulul), dan memakan harta dengan batil. Namun, mengingat
definisi korupsi yang semakin berkembang, maka istilah tersebut juga mengalami
pergeseran makna yang cukup besar, yaitu ketika istilah itu dimasukkan ke dalam ruang
lingkup korupsi. Alquran menjelaskan istilah tersebut sebagai berikut:
i. Pengkhianatan (Ghulul)
Surah Aتlْi I َبm َسrَكanذماayسaٍ tْف1 َن6ك1ُّ ُ:ُ ََوو َُمها ْمََ ََكل َن ُيلِ ْنَظ ِِلَ ٍبُم اَْو َْنن ذي ُغ ذل َۗ َو َم ْن ذي ْغ ُل ْل يَأْ ِت بِ َما َغ ذل يَ ْو َم الْقِ َٰي َمةِ ن ُث ذم تُ َوَ ّّٰف
(al-Quran, ali-Imran 3:161)
Artinya:
Dan tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan
perang). Barangsiapa berkhianat, niscaya pada hari Kiamat dia akan datang
membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian setiap orang akan diberi
balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya, dan mereka
tidak dizalimi. (Kementrian Agama).
Hamka dalam tafsirnya al-Azhar menjelaskan, dalam ayat ini terdapat kata
ghalla-yaghullu-ghallan, yaitu curang. Dalam kamus Arab, kata tersebut artinya
berkhianat (Kamus Arab Indonesia, 2012). Kalimat ini kemudian dipakai untuk orang-
orang yang mendapatkan harta rampasan perang (ganimah), kemudian
menyembunyikannya sehingga harta tersebut tidak termasuk dalam pembagian.
Keadaan ini sama artinya dengan mencuri, hal ini berdasarkan pada peraturan perang
saat itu, bahwa harta tersebut seharusnya dikumpulkan terlebih dahulu menjadi satu
baru kemudian dibagikan, tidak peduli harta banyak atau sedikit. Maka orang yang licik
tersebut dinilai sebagai pengkhianat (Hamka, 1989).
Tafsir al-Azhar juga menambahkan kisah mengenai ghulul ini, dikisahkan pada
zaman Nabi Musa, setelah menang berperang dan mendapat harta rampasan, di antara
mereka ada yang menyembunyikan ganimah ke dalam ikat pinggang sebab takut
barang tersebut nantinya didapatkannya. Lalu Nabi Musa memanggil barang-barang
tersebut, maka berlompatanlah barang-barang itu dari ikat pinggang si licik tadi.
Ayat dan kisah tadi menegaskan bahwasannya seorang Nabi tidak mungkin
berlaku seperti itu, terkhusus Nabi Muhammad saw. Ada berbagai riwayat yang
membahas tentang ayat ini. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu
Jarir dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini turun karena ketika perang badar setelah ganimah
dikumpulkan, ternyata sehelai selendang wol berwarna merah hilang, kain itu
digunakan untuk menutupi kepala pada musim dingin. Maka ada yang berkata
“mungkin Rasulullah sendiri yang mengambilnya untuk beliau.” ucapan tadi tidak ada
maksud menuduh atau memburukkan Rasul, hanya saja mereka menganggap bahwa
jika memang Rasul yang mengambilnya itu tidak masalah, sebab itu hak beliau. Namun
riwayat ini didaifkan sebagian mufasir, karena riwayat Ibnu Abbas ini tentang perang
Uhud.
239