The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E book ini mendeskripsikan tentang perencanaan untuk membuat jembatan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by jamalsemarang2017, 2020-11-12 09:01:42

Perencanaan Konstruksi Jembatan

E book ini mendeskripsikan tentang perencanaan untuk membuat jembatan

Keywords: e book tugas simdig

PERENCANAAN JEMBATAN

DIREKTORAT JEMBATAN
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

PERENCANAAN TEKNIK JEMBATAN

1. PENGANTAR PERENCANAAN JEMBATAN
2. PERENCANAAN BANGUNAN ATAS
3. PERENCANAAN BANGUNAN BAWAH
4. PERENCANAAN PONDASI

ACUAN NORMATIF

Permen PU No 19 PRT M 2011 Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan
 Permen PUPR No. 41 PRT M 2015 Penyelenggaraan Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan
 SE Menteri PUPR No 07-SE-M-2015 Pedoman Persyaratan Umum Perencanaan Jembatan
 SNI 1725 – 2016 Pembebanan Untuk Jembatan
 SNI 2833 – 2016 Perencanaan Jembatan Terhadap Beban Gempa
 SNI 03-2850-1992 Tata Cara Pemasangan Utilitas di Jalan
 SNI 8460 – 2017 Persyaratan Perancangan Geoteknik
 RSNI T-03-2005 Standar perencanaan struktur baja untuk jembatan
 RSNI T-12-2004 Standar perencanaan struktur beton untuk jembatan
 BMS 92 Bridge Design Code vol 1 dan 2
 BMS 92 Bridge Manual Design vol 1 dan 2
 AASHTO LRFD Bridge Design Specifications 2017

Pengantar Perencanaan Jembatan

PENGERTIAN JEMBATAN

JEMBATAN adalah suatu konstruksi yang dibangun untuk melewatkan massa (lalu-lintas, air)
lewat atas suatu penghalang.
KONSTRUKSI dibedakan atas Bangunan Atas dan Bangunan Bawah.
NOMENKLATUR, Penamaan konstruksi jembatan ditentukan oleh jenis bangunan atas dan
material (Gelagar Beton, Komposit, Pelengkung Beton, Prestressed, Rangka Baja, Gantung Baja,
Cable-Stayed)

Pengantar Perencanaan Jembatan

PEDOMAN UMUM BENTANG EKONOMIS

Bentang ekonomis jembatan ditentukan oleh
penggunaan/pemilihan Tipe Main Structure
& Jenis Material yang optimum.
Apabila tidak direncanakan secara khusus
maka dapat digunakan bangunan atas
jembatan standar Bina Marga sesuai
bentang ekonomis dan kondisi lalu lintas air
di bawahnya.

Pengantar Perencanaan Jembatan

KONDISI BATAS

KONDISI BATAS ULTIMIT KONDISI BATAS LAYAN

Aksi-aksi yang menyebabkan sebuah jembatan menjadi tidak aman Keadaan batas layan akan tercapai ketika reaksi jembatan sampai
disebut aksi-aksi ultimit dan reaksi yang diberikan jembatan terhadap pada suatu nilai sehingga:
aksi tersebut disebut dengan keadaan batas ultimit. a) mengakibatkan jembatan tidak layak pakai, atau
1. Kehilangan keseimbangan statis karena sebagian atau seluruh b) menyebabkan kekhawatiran umum terhadap keamanan jembatan,
atau
bagian jembatan longsor, c) secara signifikan mengurangi kekuatan atau masa layan jembatan.
2. terguling atau terangkat ke atas; Keadaan batas layan adalah suatu kondisi pada saat terjadi:
3. Kerusakan sebagian jembatan akibat lelah/fatik dan atau korosi a) perubahan bentuk (deformasi) yang permanen pada pondasi atau
pada sebuah elemen penyangga utama setempat,
hingga suatu keadaan b) kerusakan permanen akibat korosi, retak, atau kelelahan/fatik,
4. yang memungkinkan terjadi kegagalan; c) getaran, dan
5. Keadaan paska elastik atau purnatekuk yaitu satu bagian d) banjir pada jaringan jalan dan daerah di sekitar jembatan yang
rusak karena penggerusan pada dasar saluran, tepi sungai, dan jalan
jembatan atau lebih mencapai hasil timbunan.
6. kondisi runtuh. Pada keadaan plastis atau purna tekuk, aksi dan

reaksi jembatan diperbolehkan untuk didistribusikan kembali
dalam batas yang ditentukan dalam bagian perencanaan bagi
material yang bersangkutan;
7. Kehancuran bahan fondasi yang menyebabkan pergerakan yang
berlebihan atau
8. kehancuran bagian utama jembatan.

Pengantar Perencanaan Jembatan

UMUR RENCANA JEMBATAN

Umur rencana jembatan dibuat untuk masa layan selama 75 tahun, kecuali:
 Jembatan sementara atau jembatan yang dapat dibongkar/pasang dibuat dengan umur

rencana 20 tahun
 Jembatan khusus yang memiliki fungsi strategis yang ditentukan oleh instansi yang

berwenang, dibuat dengan umur rencana 100 tahun
 Terdapat peraturan dari instansi yang berwenang yang menetapkan umur rencana yang lain

Pengantar Perencanaan Jembatan

POKOK-POKOK PERENCANAAN

 Kekuatan dan stabilitas struktur KRITERIA PERENCANAAN:
 Keawetan dan kelayakan jangka panjang  Peraturan yang digunakan
 Kemudahan pemeriksaan dan pemeliharaan  Material/bahan yang digunakan
 Kenyamanan bagi pengguna jembatan  Metode dan asumsi dalam perhitungan
 Ekonomis  Metode dan asumsi dalam penentuan
 Kemudahan pelaksanaan
 Estetika tipe bangunan atas, bangunan bawah
 Dampak lingkungan minimal
dan pondasi
 Pengumpulan data lapangan
 Program komputer yang digunakan
 Metode pengujian pondasi

Pengantar Perencanaan Jembatan

GAMBAR RENCANA

1. Standar pendetailan, khususnya untuk baja dan beton bertulang, harus konsisten untuk seluruh gambar.
2. Komponen jembatan harus digambar sebagaimana tampak sebenarnya, hindari gambar bayangan dan pandangan

dari sisi yang berlawanan.
3. Tiap dimensi ukuran ditunjukkan hanya satu kali saja.
4. Tiap komponen jembatan harus digambarkan secara detail sebisa mungkin pada 1 lembar kertas.
5. Seluruh gambar harus memiliki skala dan skala tersebut tercantum dalam gambar (misalnya skala 1:100 untuk

potongan melintang dan denah jembatan serta skala 1:20 untuk gambar detail).
6. Prosedur standar (SOP) harus digunakan dalam menggambar jembatan dan membuat dimensi komponen

termasuk format ukuran gambar, sampul, daftar isi, petunjuk arah, daftar simbol, rangkuman volume

SPESIFIKASI

Spesifikasi dan gambar-gambar harus dapat menjelaskan pekerjaan dengan jelas, menyeluruh, dan tanpa ada
interpretasi ganda. Spesifikasi harus menjelaskan metode-metode pelaksanaan, prosedur-prosedur dan toleransi-
toleransi agar pembuatan dan pengawasan mutu terjamin.

Pengantar Perencanaan Jembatan

PENYELIDIKAN LINTASAN AIR

Penyelidikan lapangan harus dilakukan pada seluruh rencana lokasi jembatan dengan
mempertimbangkan :
1. Karakteristik hidraulik dari lintasan penyeberangan, termasuk permasalahan yang terjadi sebelumnya

dan yang berpotensi akan terjadi, pada dan dekat dengan penyeberangan;
2. Kinerja hidraulika dari struktur yang ada di lokasi penyeberangan;
3. Hal-hal lain yang berhubungan dengan perencanaan hidraulika struktur.

PENEMPATAN PILAR DAN KEPALA PILAR JEMBATAN

Pilar harus direncanakan sedemikian sehingga :
a. Meminimalkan gangguan terhadap jalannya air;
b. Menghindari terperangkapnya benda yang hanyut;
c. Mengurangi rintangan terhadap navigasi; dan
d. Diletakkan secara paralel terhadap arah aliran sungai selama kondisi banjir rencana.

Pengantar Perencanaan Jembatan

PENENTUAN LEBAR, KELAS DAN MUATAN
JEMBATAN

Penentuan Lebar Jembatan

LHR Lebar jembatan (m) Jumlah lajur

LHR < 2.000 3,5 – 4,5 1
2.000 < LHR < 3.000 4,5 – 6,0 2
3.000 < LHR < 8.000 6,0 – 7,0 2
8.000 < LHR < 20.000 7,0 – 14,0 4
>4
LHR > 20.000 > 14,0

Berdasarkan Lebar lalu-lintas Lebar minimum untuk jembatan pada jalan nasional
(SE DBM 21 Maret 2008 )
- Kelas A = 1,0 + 7,0 + 1,0 meter
- Kelas B = 0,5 + 6,0 + 0,5 meter
- Kelas C = 0,5 + 3,5 + 0,5 meter

Berdasarkan Muatan/Pembebanan

- BM 100% : untuk semua jalan Nasional & Provinsi
- BM 70% : dapat digunakan pada jalan Kabupaten dan daerah Transmigrasi

Pengantar Perencanaan Jembatan

PEMBEBANAN RENCANA

BEBAN PERMANEN BEBAN TRANSIEN

MS beban mati komponen struktural dan non SH Beban akibat susut/rangkak SE Beban akibat penurunan
struktural jembatan

MA beban mati perkerasan dan utilitas TB Beban akibat rem ET Gaya akibat temperature gradient

TA gaya horizontal akibat tekanan tanah TR Gaya sentrifugal EU Gaya akibat temperature seragam

PL gaya-gaya yang terjadi pada struktur TC Gaya akibat tumbukan EF Gaya apung
jembatan akibat pelaksanaan kendaraan

PR prategang TV Gaya akibat tumbukan kapal EWS Beban angin pada struktur

EQ Gaya gempa EWL Beban angin pada kendaraan

BF Gaya friksi EU Beban arus dan hanyutan

TD Beban lajur “D”

TT Beban lajur “T”

TP Beban pejalan kaki

Pengantar Perencanaan Jembatan

BERAT JENIS MATERIAL

Pengantar Perencanaan Jembatan

KOMBINASI PEMBEBANAN

Pengantar Perencanaan Jembatan

KOMBINASI PEMBEBANAN (CONT.)

KEADAAN BATAS LAYAN:
Keadaan batas layan disyaratkan dalam perencanaan dengan melakukan pembatasan pada tegangan, deformasi,
dan lebar retak pada kondisi pembebanan layan agar jembatan mempunyai kinerja yang baik selama umur
rencana.
KEADAAN BATAS FATIK:
Keadaan batas fatik disyaratkan agar jembatan tidak mengalami kegagalan akibat fatik selama umur rencana.
Untuk tujuan ini, perencana harus membatasi rentang tegangan akibat satu beban truk rencana pada jumlah
siklus pembebanan yang dianggap dapat terjadi selama umur rencana jembatan.
KEADAAN BATAS KEKUATAN:
Keadaan batas kekuata disyaratkan dalam perencanaan untuk memastikan adanya kekuatan dan kestabilan
jembatan yang memadai, baik yang sifatnya local maupun global, untuk memikul kombinasi pembebanan yang
secara statistic mempunyai kemungkinan cukup besar untuk terjadi selama masa layan jembatan.
KEADAAN BATAS EKSTREM:
Keadaan batas ekstrem diperhitungkan untuk memastikan struktur jembatan dapat bertahan akibat gempa besar.

Pengantar Perencanaan Jembatan

PETA GEMPA 2017

UNTUK JEMBATAN: PERIODE ULANG GEMPA YANG
DIGUNAKAN ADALAH PERIODE ULANG 1000 TH.
(SNI 2833 – 2016)

Pengantar Perencanaan Jembatan

SEISMIC HAZARD

Respon spektra percepatan dapat ditentukan baik dengan prosedur umum atau berdasarkan
prosedur spesifik-situs. Prosedur spesifik-situs dilakukan jika terdapat kondisi sebagai berikut:
 Jembatan berada dalam jarak 10 km dari patahan aktif.
 Situs termasuk dalam kategori situs kelas F sesuai tabel di bawah ini.

Pengantar Perencanaan Jembatan

TAHAPAN ANALISIS STRUKTUR

A. Analisis Statik

 Dilakukan untuk dua kondisi, yaitu kondisi batas layan dan kondisi batas ultimate (dengan faktor-faktor
beban yang disesuaikan)

 Model dibuat untuk keseluruhan struktur dengan berbagai kondisi pembebanan, termasuk beban angin
yang dianggap pendekatan angin statik dan gempa statik ekivalen jembatan.

B. Analisis Dinamik

Dilakukan untuk jembatan khusus dengan :
 Gempa dinamis, menggunakan simulasi pada computer (Non Linear Time History Analysis & Multi Modal
Pushover Analysis).
 Angin dinamis, menggunakan simulasi pada komputer dan analisa model pada wind tunnel test
dilaboratorium uji (BS 6399-2: 1997, Loading for Buildings – Part 2: Code of practice for wind loads).

C. Analisis Pada Masa Konstruksi

 Dilakukan sesuai dengan tahap-tahap pengerjaan struktur sehingga setiap elemen struktur terjamin
kekuatan maupun kekakuannya selama masa konstruksi (Forward & Backward Analysis).

Pengantar Perencanaan Jembatan

ALUR PEMBEBANAN
(LOADS TRANSFER MECHANISM)

BANGUNAN ATAS

(pelat lantai, gelagar, cross beam, landasan)

BANGUNAN BAWAH

(kepala pilar, pilar, pile cap)

PONDASI

(telapak, sumuran, tiang pancang, bor pile)

Pengantar Perencanaan Jembatan

PERENCANAAN JEMBATAN

Pengantar Perencanaan Jembatan

TEORI DASAR PERHITUNGAN STRUKTUR

Persyaratan yang harus dipenuhi dalam melakukan perhitungan struktur jembatan:
 Kesetimbangan, besarnya aksi yang bekerja sama dengan reaksi yang terjadi.
 Kompatibilitas, untuk setiap level regangan, regangan yang terjadi pada baja tulangan nilainya

harus sama dengan regangan yang terjadi pada beton.
 Hubungan tegangan dan regangan (beton dan baja).

Pengantar Perencanaan Jembatan

TINJAUAN GAYA DALAM

 AKSIAL
 LENTUR
 GESER
 KOMBINASI GESER + LENTUR (BALOK)
 KOMBINASI AKSIAL + LENTUR (KOLOM)
 TORSI

Pengantar Perencanaan Jembatan

PERENCANAAN BANGUNAN ATAS

STANDAR PERENCANAAN TEKNIS

Acuan perencanaan struktur jembatan

1. Bridge Design Code BMS’92, dengan revisi:

 Pembebanan jembatan, SNI 1725-2016
 Perencanaan Struktur Beton jembatan, SK.SNI T-12-2004 (Kepmen PU No. 260/KPTS/M/2004)
 Perencanaan Struktur baja jembatan SK.SNI T-03-2005 (Kepmen PU No. 498/KPTS/M/2005

2. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk jbt, SNI 2883-2016
3. Bridge Design Manual BMS’92

Peraturan Perencanaan Jembatan Indonesia

 Bertujuan menjamin tingkat keamanan, kegunaan dan tingkat penghematan yang masih dapat
diterima dalam perencanaan struktur

 Mencakup perencanaan jembatan jalan raya & pejalan kaki
 Jembatan bentang panjang lebih dari 100 m dan penggunaan struktur yang tidak umum atau yang

menggunakan material dan metode baru harus diperlakukan sebagai jembatan khusus

Perencanaan Bangunan Atas

TIPE BANGUNAN ATAS JEMBATAN

Perencanaan Bangunan Atas

STANDAR BANGUNAN ATAS JEMBATAN

1. Standar Bangunan Atas
 Gelagar beton bertulang tipe T (6 – 25m)
 Gelagar beton pratekan tipe I dan T (16 – 40m)
 Girder komposit bentang 20 s/d 30m
 Voided slab bentang 6 s/d 16m
 Rangka baja bentang 40 s/d 60m

2. Standar Bangunan Pelengkap
 Standard gorong-gorong persegi beton bertulang (box culvert) Single, Double, & Triple
`

Revisi dan pengembangan standar jembatan Bina Marga
 Gelagar beton bertulang tipe T (simple & continuous beam)
 Gelagar beton pratekan tipe I dan U
 Girder komposit bentang 15 s/d 35m (simple & continuous beam)
 Voided Slab Bentang 6 s/d 16m

Perencanaan Bangunan Atas

PENAMAAN JEMBATAN BINA MARGA

Perencanaan Bangunan Atas

Perencanaan Bangunan Atas

RUANG BEBAS HORISONTAL & VERTIKAL

Ruang bebas horisontal dan vertikal di bawah jembatan disesuaikan kebutuhan
lalu lintas kapal dengan mengambil free-board minimal 1,0 meter dari muka air
banjir.
Ruang bebas vertikal jembatan di atas jalan minimal 5,1 meter.

Horizontal Clearance
 Ditentukan berdasarkan kemudahan navigasi kapal
 US Guide Specification, horizontal clearance minimum adalah

 2 – 3 kali panjang kapal rencana, atau
 2 kali lebih besar dari lebar channel

Vertical Clearance
 Ditentukan berdasarkan tinggi kapal yang lewat dalam kondisi balast dan

permukaan air tinggi
 Tinggi kapal memperhitungkan kondisi kapal yang ada & proyeksi ke depan

Perencanaan Bangunan Atas

KERUSAKAN JEMBATAN AKIBAT CLEARANCE

Perencanaan Bangunan Atas

PEMBEBANAN RENCANA

Perhitungan pembebanan rencana mengacu SNI 1725-2106, meliputi Beban rencana permanen, Lalu lintas,
Beban akibat lingkungan, dan Beban pengaruh aksi-aksi lainnya.

1) Aksi dan Beban Tetap

 Berat sendiri (baja tulangan, beton, tanah)
 Beban mati tambahan (aspal)
 Pengaruh penyusutan dan rangkak
 Tekanan tanah. Koefisien tekanan tanah nominal harus dihitung dari sifat-sifat tanah

(kepadatan, kelembaban, kohesi sudut geser dan lainnya)

Perencanaan Bangunan Atas

2) Beban Lalu-lintas

a) Beban Lajur "D" ( UDL dan KEL) Beban Lajur D

 Beban merata (UDL) Beban lalu-lintas terpilih adalah yang memberikan total
gaya dalam yang maksimum pada elemen elemen
L < 30m q = 9 kPa struktur jembatan.

L > 30m q = 9 x ( 0,5+15/L ) kPa
 Beban garis (KEL) P = 49 kN/m

 DLA (KEL) = 0.4 untuk L < 50 meter

b) Beban Truk "T“ (semi trailer)

 T = 500 kN
 DLA (T) = 0.3

Beban Truk T

Perencanaan Bangunan Atas

c) Beban Rem
Nilai terbesar dari:
1. 25% berat gandar truk desain
2. 5% berat truk rencana ditambah beban lajur terbagi rata
Bekerja setinggi 1800 mm di atas permukaan perkerasan.

c) Beban Pejalan Kaki
Intensitas beban pejalan kaki 5 kPa.

e) Beban Tumbuk pada Fender Jembatan
Pengaruh tumbukan kapal yang ditentukan oleh pihak yang
berwenang/relevan

Perencanaan Bangunan Atas

3) Aksi Lingkungan

Aksi lingkungan termasuk pengaruh temperatur, angin, banjir, gempa, dan penyebab-
penyebab alamiah lainnya.
 Beban Perbedaan Temperatur

Perbedaan temperatur diambil sebesar 250C (temperature rata-rata minimum
adalah 150C dan temperature rata-rata maksimum adalah 400C).
 Beban Angin
 Beban Gempa
Pengaruh gempa rencana hanya ditinjau pada keadaan batas ultimit. Pemodelan
beban gempa menggunakan analisa pendekatan statik ekivalen beban gempa:
Teq = (C . I . WT)/R
 Gaya aliran sungai
 Hanyutan
 Tekanan Hidrostatik dan Gaya Apung

Perencanaan Bangunan Atas

4) Aksi-Aksi Lainnya

 Gesekan pada perletakan
Gesekan pada perletakan termasuk pengaruh kekakuan geser dari perletakan
elastomer.

 Pengaruh getaran
 Beban pelaksanaan

Beban pelaksanaan terdiri dari beban yang disebabkan oleh aktivitas pelaksanaan
itu sendiri dan aksi lingkungan yang mungkin timbul selama pelaksanaan.

Perencanaan Bangunan Atas

FAKTOR BEBAN

Perencanaan Bangunan Atas

DAFTAR BERAT BANGUNAN ATAS

1. Rangka baja 2. Girder baja

Panjang Permanen Berat Baja Transpanel Panjang A Berat Baja C

AB Semi (ton) (m) (ton) B (ton)
Permanen
(m) (ton) (ton) 8 15.0 15 (ton) 11
(ton) 15 17.5 19 13
10 - - 32 20.0 23 13 16
20 - - - - 22.5 28 17 19
30 - - - 49 25.0 35 20 24
35 - - 30 61 27.5 42 24 28
40 95 75 34 - 30.0 50 30 33
45 110 85 38 - 32.5 63 35 43
50 122 97 43 - 35.0 71 41 48
55 145 112 50 - 37.5 80 53 54
60 165 129 58 - 40.0 89 60 60
80 - - 65 67
100 - - - 75
-

Perencanaan Bangunan Atas

Pelengkung baja

Type Lokasi Berat (ton) Sket Jembatan

Bentang
(m)

B 120 Rumbai Arch : 293
Floor : 180
Hanger : 26

Total : 500
Rata-rata : 4,16 ton/m

A 150 Kahayan Arch : 382
A 200 Martadipura Truss : 398

Total : 780
Rata-rata : 5,2 ton/m

Arch : 680
Floor : 399
Hanger : 57

Total : 1136
Rata-rata : 5,7 ton/m

Perencanaan Bangunan Atas

PERENCANAAN BANGUNAN ATAS

 APLIKASI SOFTWARE

PEMODELAN STRUKTUR JEMBATAN

Metode Pendekatan (Aproksimasi)

Akurasi model tergantung pada asumsi awal
yang digunakan

Selalu mulai dari model-model sederhana
agar perilaku model dapat diuji keakuratannya

Perencanaan Bangunan Atas

PROGRAM ANALISIS STRUKTUR

Struktur Analisis Soil Structure
Penampang Interaction
• RM Bridge
• Midas Civil • Midas GSD • Plaxis
• CSI Bridge • Section • Midas GTS
• SAP 2000 • LPile
• Lusas Bridge Builder • All Pile
• GT Strudl • PCA Col • FB Pier
• Response • MS Excel

2000

Perencanaan Bangunan Atas

TIPE PERHITUNGAN

STATIK • SERVICE/CONSTRUCTION
CONDITION
◦ LINEAR STATIK
◦ NON LINEAR STATIK – STRESS
– DEFORMATION
DINAMIK – CRACK WIDTH

◦ MODAL ANALYSIS • ULTIMATE CONDITION
◦ NON LINEAR TIME HISTORY
◦ WIND LOAD – SECTION CAPACITY
– NEED OF REINFORCEMENT
STRUKTUR KABEL – PERFORMANCE

BEBAN TEMPERATUR

LARGE DEFORMATION

◦ P  ANALYSIS
◦ BUCKLING

Perencanaan Bangunan Atas

CONTOH DESAIN JEMBATAN

Desain jembatan beton dengan bentang 10 m dan potongan melintang seperti pada gambar di bawah
ini. Jembatan berada di lingkungan yang korosif. Mutu beton yang digunakan adalah fc’ = 35 Mpa.

1000 7000 1000

1000
200

600 500 1850 1850 1850 1850 800
800
Balok Gelagar

9000

Satuan dalam mm

PERENCANAAN BANGUNAN ATAS

 BETON PRATEKAN

Beton Pratekan

 Latar belakang dan konsep dasar;
 Philosophi dasar dari Analisis dan Desain;
 Material: Beton dan Baja Prategang;
 Sistem Penegangan
 Syarat-syarat perencanaan

Konsep Dasar

Beton lebih kuat dalam kondisi tekan, namun lemah dalam kondisi Tarik, diberi tegangan
tekan untuk mengimbangi/mengurangi tegangan tarik yang timbul

Keuntungan Beton Prategang

 Tak ada retak terbuka, sehingga lebih tahan korosi.
 Permukaan jembatan Lebih kedap air.
 Ada chamber untuk mengurangi lendutan.
 Penampang struktur lebih kecil/langsing, karena seluruh luas

penampang dapat digunakan secara efektif.
 Bisa digunakan untuk bentang lebih panjang dibandingkan beton

bertulang.
 berat baja prategang jauh lebih kecil daripada jumlah berat besi beton.

Material

 Beton: mutu normal (35-60MPa) dan mutu tinggi (>60 MPa).
 Tulangan prategang: sesuai dengan ASTM A421 (Kawat, strand, dan batang tulangan).

Penampang Balok Prategang

Penampang I dan T-bulb

Penampang Span A I Yb Sb St
AASHTO 1 ft / in2 / in4 / in / in3 / in3 /
AASHTO 2 (m) (cm2) (cm4) (cm) (cm3) (cm3)
AASHTO 3
AASHTO 4 30 - 45 276.00 22,744.13 12.59 1,806.61 1,475.87
AASHTO 5 (9.1) - (13.7) (1780.64) (946,682.12) (31.98) (29,605.09) (24,185.22)
AASHTO 6 15.83
40 - 60 369.00 50,978.74 (40.21) 3,220.54 2,527.36
(12.2) - (18.3) (2380.64) (2,121,895.52) 20.27 (52,775.15) (41,416.05)
(51.49)
55 - 80 559.50 125,390.35 24.73 6,184.95 5,071.08
(16.8) - (24.4) (3609.67) (5,219,140.35) (62.82) (101,353.19) (83,100.16)
31.96
70 - 100 789.00 260,740.61 (81.17) 10,541.86 8,909.29
(21.3) - (30.5) (5090.31) (10,852,843.43) 36.38 (172,750.08) (145,997.05)
1,013.00 (92.41)
90 - 120 (6535.47) 521,162.59 16,308.47 16,788.17
(27.4) - (36.6) 1,085.00 (21,692,424.73) (267,247.90) (275,108.88)
(6999.99)
110 - 140 733,320.29 20,156.88 20,587.69
(33.5) - (42.7) (30,523,095.12) (330,312.08) (337,371.82)

Penampang Box

Tulangan Prategang dan Angkur

(a) strand (7-wires strand) (b) kawat tunggal
(c) high-strength bar

Strand, Baji dan Kepala
Angkur


Click to View FlipBook Version