PERENCANAAN JEMBATAN
DIREKTORAT JEMBATAN
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA
PERENCANAAN TEKNIK JEMBATAN
1. PENGANTAR PERENCANAAN JEMBATAN
2. PERENCANAAN BANGUNAN ATAS
3. PERENCANAAN BANGUNAN BAWAH
4. PERENCANAAN PONDASI
ACUAN NORMATIF
Permen PU No 19 PRT M 2011 Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan
Permen PUPR No. 41 PRT M 2015 Penyelenggaraan Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan
SE Menteri PUPR No 07-SE-M-2015 Pedoman Persyaratan Umum Perencanaan Jembatan
SNI 1725 – 2016 Pembebanan Untuk Jembatan
SNI 2833 – 2016 Perencanaan Jembatan Terhadap Beban Gempa
SNI 03-2850-1992 Tata Cara Pemasangan Utilitas di Jalan
SNI 8460 – 2017 Persyaratan Perancangan Geoteknik
RSNI T-03-2005 Standar perencanaan struktur baja untuk jembatan
RSNI T-12-2004 Standar perencanaan struktur beton untuk jembatan
BMS 92 Bridge Design Code vol 1 dan 2
BMS 92 Bridge Manual Design vol 1 dan 2
AASHTO LRFD Bridge Design Specifications 2017
Pengantar Perencanaan Jembatan
PENGERTIAN JEMBATAN
JEMBATAN adalah suatu konstruksi yang dibangun untuk melewatkan massa (lalu-lintas, air)
lewat atas suatu penghalang.
KONSTRUKSI dibedakan atas Bangunan Atas dan Bangunan Bawah.
NOMENKLATUR, Penamaan konstruksi jembatan ditentukan oleh jenis bangunan atas dan
material (Gelagar Beton, Komposit, Pelengkung Beton, Prestressed, Rangka Baja, Gantung Baja,
Cable-Stayed)
Pengantar Perencanaan Jembatan
PEDOMAN UMUM BENTANG EKONOMIS
Bentang ekonomis jembatan ditentukan oleh
penggunaan/pemilihan Tipe Main Structure
& Jenis Material yang optimum.
Apabila tidak direncanakan secara khusus
maka dapat digunakan bangunan atas
jembatan standar Bina Marga sesuai
bentang ekonomis dan kondisi lalu lintas air
di bawahnya.
Pengantar Perencanaan Jembatan
KONDISI BATAS
KONDISI BATAS ULTIMIT KONDISI BATAS LAYAN
Aksi-aksi yang menyebabkan sebuah jembatan menjadi tidak aman Keadaan batas layan akan tercapai ketika reaksi jembatan sampai
disebut aksi-aksi ultimit dan reaksi yang diberikan jembatan terhadap pada suatu nilai sehingga:
aksi tersebut disebut dengan keadaan batas ultimit. a) mengakibatkan jembatan tidak layak pakai, atau
1. Kehilangan keseimbangan statis karena sebagian atau seluruh b) menyebabkan kekhawatiran umum terhadap keamanan jembatan,
atau
bagian jembatan longsor, c) secara signifikan mengurangi kekuatan atau masa layan jembatan.
2. terguling atau terangkat ke atas; Keadaan batas layan adalah suatu kondisi pada saat terjadi:
3. Kerusakan sebagian jembatan akibat lelah/fatik dan atau korosi a) perubahan bentuk (deformasi) yang permanen pada pondasi atau
pada sebuah elemen penyangga utama setempat,
hingga suatu keadaan b) kerusakan permanen akibat korosi, retak, atau kelelahan/fatik,
4. yang memungkinkan terjadi kegagalan; c) getaran, dan
5. Keadaan paska elastik atau purnatekuk yaitu satu bagian d) banjir pada jaringan jalan dan daerah di sekitar jembatan yang
rusak karena penggerusan pada dasar saluran, tepi sungai, dan jalan
jembatan atau lebih mencapai hasil timbunan.
6. kondisi runtuh. Pada keadaan plastis atau purna tekuk, aksi dan
reaksi jembatan diperbolehkan untuk didistribusikan kembali
dalam batas yang ditentukan dalam bagian perencanaan bagi
material yang bersangkutan;
7. Kehancuran bahan fondasi yang menyebabkan pergerakan yang
berlebihan atau
8. kehancuran bagian utama jembatan.
Pengantar Perencanaan Jembatan
UMUR RENCANA JEMBATAN
Umur rencana jembatan dibuat untuk masa layan selama 75 tahun, kecuali:
Jembatan sementara atau jembatan yang dapat dibongkar/pasang dibuat dengan umur
rencana 20 tahun
Jembatan khusus yang memiliki fungsi strategis yang ditentukan oleh instansi yang
berwenang, dibuat dengan umur rencana 100 tahun
Terdapat peraturan dari instansi yang berwenang yang menetapkan umur rencana yang lain
Pengantar Perencanaan Jembatan
POKOK-POKOK PERENCANAAN
Kekuatan dan stabilitas struktur KRITERIA PERENCANAAN:
Keawetan dan kelayakan jangka panjang Peraturan yang digunakan
Kemudahan pemeriksaan dan pemeliharaan Material/bahan yang digunakan
Kenyamanan bagi pengguna jembatan Metode dan asumsi dalam perhitungan
Ekonomis Metode dan asumsi dalam penentuan
Kemudahan pelaksanaan
Estetika tipe bangunan atas, bangunan bawah
Dampak lingkungan minimal
dan pondasi
Pengumpulan data lapangan
Program komputer yang digunakan
Metode pengujian pondasi
Pengantar Perencanaan Jembatan
GAMBAR RENCANA
1. Standar pendetailan, khususnya untuk baja dan beton bertulang, harus konsisten untuk seluruh gambar.
2. Komponen jembatan harus digambar sebagaimana tampak sebenarnya, hindari gambar bayangan dan pandangan
dari sisi yang berlawanan.
3. Tiap dimensi ukuran ditunjukkan hanya satu kali saja.
4. Tiap komponen jembatan harus digambarkan secara detail sebisa mungkin pada 1 lembar kertas.
5. Seluruh gambar harus memiliki skala dan skala tersebut tercantum dalam gambar (misalnya skala 1:100 untuk
potongan melintang dan denah jembatan serta skala 1:20 untuk gambar detail).
6. Prosedur standar (SOP) harus digunakan dalam menggambar jembatan dan membuat dimensi komponen
termasuk format ukuran gambar, sampul, daftar isi, petunjuk arah, daftar simbol, rangkuman volume
SPESIFIKASI
Spesifikasi dan gambar-gambar harus dapat menjelaskan pekerjaan dengan jelas, menyeluruh, dan tanpa ada
interpretasi ganda. Spesifikasi harus menjelaskan metode-metode pelaksanaan, prosedur-prosedur dan toleransi-
toleransi agar pembuatan dan pengawasan mutu terjamin.
Pengantar Perencanaan Jembatan
PENYELIDIKAN LINTASAN AIR
Penyelidikan lapangan harus dilakukan pada seluruh rencana lokasi jembatan dengan
mempertimbangkan :
1. Karakteristik hidraulik dari lintasan penyeberangan, termasuk permasalahan yang terjadi sebelumnya
dan yang berpotensi akan terjadi, pada dan dekat dengan penyeberangan;
2. Kinerja hidraulika dari struktur yang ada di lokasi penyeberangan;
3. Hal-hal lain yang berhubungan dengan perencanaan hidraulika struktur.
PENEMPATAN PILAR DAN KEPALA PILAR JEMBATAN
Pilar harus direncanakan sedemikian sehingga :
a. Meminimalkan gangguan terhadap jalannya air;
b. Menghindari terperangkapnya benda yang hanyut;
c. Mengurangi rintangan terhadap navigasi; dan
d. Diletakkan secara paralel terhadap arah aliran sungai selama kondisi banjir rencana.
Pengantar Perencanaan Jembatan
PENENTUAN LEBAR, KELAS DAN MUATAN
JEMBATAN
Penentuan Lebar Jembatan
LHR Lebar jembatan (m) Jumlah lajur
LHR < 2.000 3,5 – 4,5 1
2.000 < LHR < 3.000 4,5 – 6,0 2
3.000 < LHR < 8.000 6,0 – 7,0 2
8.000 < LHR < 20.000 7,0 – 14,0 4
>4
LHR > 20.000 > 14,0
Berdasarkan Lebar lalu-lintas Lebar minimum untuk jembatan pada jalan nasional
(SE DBM 21 Maret 2008 )
- Kelas A = 1,0 + 7,0 + 1,0 meter
- Kelas B = 0,5 + 6,0 + 0,5 meter
- Kelas C = 0,5 + 3,5 + 0,5 meter
Berdasarkan Muatan/Pembebanan
- BM 100% : untuk semua jalan Nasional & Provinsi
- BM 70% : dapat digunakan pada jalan Kabupaten dan daerah Transmigrasi
Pengantar Perencanaan Jembatan
PEMBEBANAN RENCANA
BEBAN PERMANEN BEBAN TRANSIEN
MS beban mati komponen struktural dan non SH Beban akibat susut/rangkak SE Beban akibat penurunan
struktural jembatan
MA beban mati perkerasan dan utilitas TB Beban akibat rem ET Gaya akibat temperature gradient
TA gaya horizontal akibat tekanan tanah TR Gaya sentrifugal EU Gaya akibat temperature seragam
PL gaya-gaya yang terjadi pada struktur TC Gaya akibat tumbukan EF Gaya apung
jembatan akibat pelaksanaan kendaraan
PR prategang TV Gaya akibat tumbukan kapal EWS Beban angin pada struktur
EQ Gaya gempa EWL Beban angin pada kendaraan
BF Gaya friksi EU Beban arus dan hanyutan
TD Beban lajur “D”
TT Beban lajur “T”
TP Beban pejalan kaki
Pengantar Perencanaan Jembatan
BERAT JENIS MATERIAL
Pengantar Perencanaan Jembatan
KOMBINASI PEMBEBANAN
Pengantar Perencanaan Jembatan
KOMBINASI PEMBEBANAN (CONT.)
KEADAAN BATAS LAYAN:
Keadaan batas layan disyaratkan dalam perencanaan dengan melakukan pembatasan pada tegangan, deformasi,
dan lebar retak pada kondisi pembebanan layan agar jembatan mempunyai kinerja yang baik selama umur
rencana.
KEADAAN BATAS FATIK:
Keadaan batas fatik disyaratkan agar jembatan tidak mengalami kegagalan akibat fatik selama umur rencana.
Untuk tujuan ini, perencana harus membatasi rentang tegangan akibat satu beban truk rencana pada jumlah
siklus pembebanan yang dianggap dapat terjadi selama umur rencana jembatan.
KEADAAN BATAS KEKUATAN:
Keadaan batas kekuata disyaratkan dalam perencanaan untuk memastikan adanya kekuatan dan kestabilan
jembatan yang memadai, baik yang sifatnya local maupun global, untuk memikul kombinasi pembebanan yang
secara statistic mempunyai kemungkinan cukup besar untuk terjadi selama masa layan jembatan.
KEADAAN BATAS EKSTREM:
Keadaan batas ekstrem diperhitungkan untuk memastikan struktur jembatan dapat bertahan akibat gempa besar.
Pengantar Perencanaan Jembatan
PETA GEMPA 2017
UNTUK JEMBATAN: PERIODE ULANG GEMPA YANG
DIGUNAKAN ADALAH PERIODE ULANG 1000 TH.
(SNI 2833 – 2016)
Pengantar Perencanaan Jembatan
SEISMIC HAZARD
Respon spektra percepatan dapat ditentukan baik dengan prosedur umum atau berdasarkan
prosedur spesifik-situs. Prosedur spesifik-situs dilakukan jika terdapat kondisi sebagai berikut:
Jembatan berada dalam jarak 10 km dari patahan aktif.
Situs termasuk dalam kategori situs kelas F sesuai tabel di bawah ini.
Pengantar Perencanaan Jembatan
TAHAPAN ANALISIS STRUKTUR
A. Analisis Statik
Dilakukan untuk dua kondisi, yaitu kondisi batas layan dan kondisi batas ultimate (dengan faktor-faktor
beban yang disesuaikan)
Model dibuat untuk keseluruhan struktur dengan berbagai kondisi pembebanan, termasuk beban angin
yang dianggap pendekatan angin statik dan gempa statik ekivalen jembatan.
B. Analisis Dinamik
Dilakukan untuk jembatan khusus dengan :
Gempa dinamis, menggunakan simulasi pada computer (Non Linear Time History Analysis & Multi Modal
Pushover Analysis).
Angin dinamis, menggunakan simulasi pada komputer dan analisa model pada wind tunnel test
dilaboratorium uji (BS 6399-2: 1997, Loading for Buildings – Part 2: Code of practice for wind loads).
C. Analisis Pada Masa Konstruksi
Dilakukan sesuai dengan tahap-tahap pengerjaan struktur sehingga setiap elemen struktur terjamin
kekuatan maupun kekakuannya selama masa konstruksi (Forward & Backward Analysis).
Pengantar Perencanaan Jembatan
ALUR PEMBEBANAN
(LOADS TRANSFER MECHANISM)
BANGUNAN ATAS
(pelat lantai, gelagar, cross beam, landasan)
BANGUNAN BAWAH
(kepala pilar, pilar, pile cap)
PONDASI
(telapak, sumuran, tiang pancang, bor pile)
Pengantar Perencanaan Jembatan
PERENCANAAN JEMBATAN
Pengantar Perencanaan Jembatan
TEORI DASAR PERHITUNGAN STRUKTUR
Persyaratan yang harus dipenuhi dalam melakukan perhitungan struktur jembatan:
Kesetimbangan, besarnya aksi yang bekerja sama dengan reaksi yang terjadi.
Kompatibilitas, untuk setiap level regangan, regangan yang terjadi pada baja tulangan nilainya
harus sama dengan regangan yang terjadi pada beton.
Hubungan tegangan dan regangan (beton dan baja).
Pengantar Perencanaan Jembatan
TINJAUAN GAYA DALAM
AKSIAL
LENTUR
GESER
KOMBINASI GESER + LENTUR (BALOK)
KOMBINASI AKSIAL + LENTUR (KOLOM)
TORSI
Pengantar Perencanaan Jembatan
PERENCANAAN BANGUNAN ATAS
STANDAR PERENCANAAN TEKNIS
Acuan perencanaan struktur jembatan
1. Bridge Design Code BMS’92, dengan revisi:
Pembebanan jembatan, SNI 1725-2016
Perencanaan Struktur Beton jembatan, SK.SNI T-12-2004 (Kepmen PU No. 260/KPTS/M/2004)
Perencanaan Struktur baja jembatan SK.SNI T-03-2005 (Kepmen PU No. 498/KPTS/M/2005
2. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk jbt, SNI 2883-2016
3. Bridge Design Manual BMS’92
Peraturan Perencanaan Jembatan Indonesia
Bertujuan menjamin tingkat keamanan, kegunaan dan tingkat penghematan yang masih dapat
diterima dalam perencanaan struktur
Mencakup perencanaan jembatan jalan raya & pejalan kaki
Jembatan bentang panjang lebih dari 100 m dan penggunaan struktur yang tidak umum atau yang
menggunakan material dan metode baru harus diperlakukan sebagai jembatan khusus
Perencanaan Bangunan Atas
TIPE BANGUNAN ATAS JEMBATAN
Perencanaan Bangunan Atas
STANDAR BANGUNAN ATAS JEMBATAN
1. Standar Bangunan Atas
Gelagar beton bertulang tipe T (6 – 25m)
Gelagar beton pratekan tipe I dan T (16 – 40m)
Girder komposit bentang 20 s/d 30m
Voided slab bentang 6 s/d 16m
Rangka baja bentang 40 s/d 60m
2. Standar Bangunan Pelengkap
Standard gorong-gorong persegi beton bertulang (box culvert) Single, Double, & Triple
`
Revisi dan pengembangan standar jembatan Bina Marga
Gelagar beton bertulang tipe T (simple & continuous beam)
Gelagar beton pratekan tipe I dan U
Girder komposit bentang 15 s/d 35m (simple & continuous beam)
Voided Slab Bentang 6 s/d 16m
Perencanaan Bangunan Atas
PENAMAAN JEMBATAN BINA MARGA
Perencanaan Bangunan Atas
Perencanaan Bangunan Atas
RUANG BEBAS HORISONTAL & VERTIKAL
Ruang bebas horisontal dan vertikal di bawah jembatan disesuaikan kebutuhan
lalu lintas kapal dengan mengambil free-board minimal 1,0 meter dari muka air
banjir.
Ruang bebas vertikal jembatan di atas jalan minimal 5,1 meter.
Horizontal Clearance
Ditentukan berdasarkan kemudahan navigasi kapal
US Guide Specification, horizontal clearance minimum adalah
2 – 3 kali panjang kapal rencana, atau
2 kali lebih besar dari lebar channel
Vertical Clearance
Ditentukan berdasarkan tinggi kapal yang lewat dalam kondisi balast dan
permukaan air tinggi
Tinggi kapal memperhitungkan kondisi kapal yang ada & proyeksi ke depan
Perencanaan Bangunan Atas
KERUSAKAN JEMBATAN AKIBAT CLEARANCE
Perencanaan Bangunan Atas
PEMBEBANAN RENCANA
Perhitungan pembebanan rencana mengacu SNI 1725-2106, meliputi Beban rencana permanen, Lalu lintas,
Beban akibat lingkungan, dan Beban pengaruh aksi-aksi lainnya.
1) Aksi dan Beban Tetap
Berat sendiri (baja tulangan, beton, tanah)
Beban mati tambahan (aspal)
Pengaruh penyusutan dan rangkak
Tekanan tanah. Koefisien tekanan tanah nominal harus dihitung dari sifat-sifat tanah
(kepadatan, kelembaban, kohesi sudut geser dan lainnya)
Perencanaan Bangunan Atas
2) Beban Lalu-lintas
a) Beban Lajur "D" ( UDL dan KEL) Beban Lajur D
Beban merata (UDL) Beban lalu-lintas terpilih adalah yang memberikan total
gaya dalam yang maksimum pada elemen elemen
L < 30m q = 9 kPa struktur jembatan.
L > 30m q = 9 x ( 0,5+15/L ) kPa
Beban garis (KEL) P = 49 kN/m
DLA (KEL) = 0.4 untuk L < 50 meter
b) Beban Truk "T“ (semi trailer)
T = 500 kN
DLA (T) = 0.3
Beban Truk T
Perencanaan Bangunan Atas
c) Beban Rem
Nilai terbesar dari:
1. 25% berat gandar truk desain
2. 5% berat truk rencana ditambah beban lajur terbagi rata
Bekerja setinggi 1800 mm di atas permukaan perkerasan.
c) Beban Pejalan Kaki
Intensitas beban pejalan kaki 5 kPa.
e) Beban Tumbuk pada Fender Jembatan
Pengaruh tumbukan kapal yang ditentukan oleh pihak yang
berwenang/relevan
Perencanaan Bangunan Atas
3) Aksi Lingkungan
Aksi lingkungan termasuk pengaruh temperatur, angin, banjir, gempa, dan penyebab-
penyebab alamiah lainnya.
Beban Perbedaan Temperatur
Perbedaan temperatur diambil sebesar 250C (temperature rata-rata minimum
adalah 150C dan temperature rata-rata maksimum adalah 400C).
Beban Angin
Beban Gempa
Pengaruh gempa rencana hanya ditinjau pada keadaan batas ultimit. Pemodelan
beban gempa menggunakan analisa pendekatan statik ekivalen beban gempa:
Teq = (C . I . WT)/R
Gaya aliran sungai
Hanyutan
Tekanan Hidrostatik dan Gaya Apung
Perencanaan Bangunan Atas
4) Aksi-Aksi Lainnya
Gesekan pada perletakan
Gesekan pada perletakan termasuk pengaruh kekakuan geser dari perletakan
elastomer.
Pengaruh getaran
Beban pelaksanaan
Beban pelaksanaan terdiri dari beban yang disebabkan oleh aktivitas pelaksanaan
itu sendiri dan aksi lingkungan yang mungkin timbul selama pelaksanaan.
Perencanaan Bangunan Atas
FAKTOR BEBAN
Perencanaan Bangunan Atas
DAFTAR BERAT BANGUNAN ATAS
1. Rangka baja 2. Girder baja
Panjang Permanen Berat Baja Transpanel Panjang A Berat Baja C
AB Semi (ton) (m) (ton) B (ton)
Permanen
(m) (ton) (ton) 8 15.0 15 (ton) 11
(ton) 15 17.5 19 13
10 - - 32 20.0 23 13 16
20 - - - - 22.5 28 17 19
30 - - - 49 25.0 35 20 24
35 - - 30 61 27.5 42 24 28
40 95 75 34 - 30.0 50 30 33
45 110 85 38 - 32.5 63 35 43
50 122 97 43 - 35.0 71 41 48
55 145 112 50 - 37.5 80 53 54
60 165 129 58 - 40.0 89 60 60
80 - - 65 67
100 - - - 75
-
Perencanaan Bangunan Atas
Pelengkung baja
Type Lokasi Berat (ton) Sket Jembatan
Bentang
(m)
B 120 Rumbai Arch : 293
Floor : 180
Hanger : 26
Total : 500
Rata-rata : 4,16 ton/m
A 150 Kahayan Arch : 382
A 200 Martadipura Truss : 398
Total : 780
Rata-rata : 5,2 ton/m
Arch : 680
Floor : 399
Hanger : 57
Total : 1136
Rata-rata : 5,7 ton/m
Perencanaan Bangunan Atas
PERENCANAAN BANGUNAN ATAS
APLIKASI SOFTWARE
PEMODELAN STRUKTUR JEMBATAN
Metode Pendekatan (Aproksimasi)
Akurasi model tergantung pada asumsi awal
yang digunakan
Selalu mulai dari model-model sederhana
agar perilaku model dapat diuji keakuratannya
Perencanaan Bangunan Atas
PROGRAM ANALISIS STRUKTUR
Struktur Analisis Soil Structure
Penampang Interaction
• RM Bridge
• Midas Civil • Midas GSD • Plaxis
• CSI Bridge • Section • Midas GTS
• SAP 2000 • LPile
• Lusas Bridge Builder • All Pile
• GT Strudl • PCA Col • FB Pier
• Response • MS Excel
2000
Perencanaan Bangunan Atas
TIPE PERHITUNGAN
STATIK • SERVICE/CONSTRUCTION
CONDITION
◦ LINEAR STATIK
◦ NON LINEAR STATIK – STRESS
– DEFORMATION
DINAMIK – CRACK WIDTH
◦ MODAL ANALYSIS • ULTIMATE CONDITION
◦ NON LINEAR TIME HISTORY
◦ WIND LOAD – SECTION CAPACITY
– NEED OF REINFORCEMENT
STRUKTUR KABEL – PERFORMANCE
BEBAN TEMPERATUR
LARGE DEFORMATION
◦ P ANALYSIS
◦ BUCKLING
Perencanaan Bangunan Atas
CONTOH DESAIN JEMBATAN
Desain jembatan beton dengan bentang 10 m dan potongan melintang seperti pada gambar di bawah
ini. Jembatan berada di lingkungan yang korosif. Mutu beton yang digunakan adalah fc’ = 35 Mpa.
1000 7000 1000
1000
200
600 500 1850 1850 1850 1850 800
800
Balok Gelagar
9000
Satuan dalam mm
PERENCANAAN BANGUNAN ATAS
BETON PRATEKAN
Beton Pratekan
Latar belakang dan konsep dasar;
Philosophi dasar dari Analisis dan Desain;
Material: Beton dan Baja Prategang;
Sistem Penegangan
Syarat-syarat perencanaan
Konsep Dasar
Beton lebih kuat dalam kondisi tekan, namun lemah dalam kondisi Tarik, diberi tegangan
tekan untuk mengimbangi/mengurangi tegangan tarik yang timbul
Keuntungan Beton Prategang
Tak ada retak terbuka, sehingga lebih tahan korosi.
Permukaan jembatan Lebih kedap air.
Ada chamber untuk mengurangi lendutan.
Penampang struktur lebih kecil/langsing, karena seluruh luas
penampang dapat digunakan secara efektif.
Bisa digunakan untuk bentang lebih panjang dibandingkan beton
bertulang.
berat baja prategang jauh lebih kecil daripada jumlah berat besi beton.
Material
Beton: mutu normal (35-60MPa) dan mutu tinggi (>60 MPa).
Tulangan prategang: sesuai dengan ASTM A421 (Kawat, strand, dan batang tulangan).
Penampang Balok Prategang
Penampang I dan T-bulb
Penampang Span A I Yb Sb St
AASHTO 1 ft / in2 / in4 / in / in3 / in3 /
AASHTO 2 (m) (cm2) (cm4) (cm) (cm3) (cm3)
AASHTO 3
AASHTO 4 30 - 45 276.00 22,744.13 12.59 1,806.61 1,475.87
AASHTO 5 (9.1) - (13.7) (1780.64) (946,682.12) (31.98) (29,605.09) (24,185.22)
AASHTO 6 15.83
40 - 60 369.00 50,978.74 (40.21) 3,220.54 2,527.36
(12.2) - (18.3) (2380.64) (2,121,895.52) 20.27 (52,775.15) (41,416.05)
(51.49)
55 - 80 559.50 125,390.35 24.73 6,184.95 5,071.08
(16.8) - (24.4) (3609.67) (5,219,140.35) (62.82) (101,353.19) (83,100.16)
31.96
70 - 100 789.00 260,740.61 (81.17) 10,541.86 8,909.29
(21.3) - (30.5) (5090.31) (10,852,843.43) 36.38 (172,750.08) (145,997.05)
1,013.00 (92.41)
90 - 120 (6535.47) 521,162.59 16,308.47 16,788.17
(27.4) - (36.6) 1,085.00 (21,692,424.73) (267,247.90) (275,108.88)
(6999.99)
110 - 140 733,320.29 20,156.88 20,587.69
(33.5) - (42.7) (30,523,095.12) (330,312.08) (337,371.82)
Penampang Box
Tulangan Prategang dan Angkur
(a) strand (7-wires strand) (b) kawat tunggal
(c) high-strength bar
Strand, Baji dan Kepala
Angkur