Dengan demikian, jelaslah bahwa hadis dan Al-Qur’an memiliki hubungan yang integral dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Hal ini karena keduanya berdasarkan wahyu yang datang dari Allah swt kepada Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada umatnya yang tidak mungkin kontradiktif antara satu dan lainnya. Hal yang membedakan hanyalah proses penyampaian dan periwayatannya. C. Hadis tentang Menanggung Anak Yatim: Analisis Fungsi dan Kandungan Hadis Anak yatim mendapatkan perhatian khusus dalam syariat Islam. Dalam banyak landasan normatif Al-Qur’an dan hadis masalah sosial anak yatim ini dibahas. Di antara hadis yang menyoal ini adalah riwayat al-Bukhari nomor 2560 berikut: ِ ِ ِِن َ د َ الْم د ْ ي َ ِن ز ْ ِر ب ْ ث َو ْ َن ََل ل ع ِ ب ُ ْن ُن ب ا َ م ْ لَي ُ دثَِِن س َّ َ اَل ح َ ق ا ََّّللِ دِ ْ ب َ ع ُ ْن ِزيِز ب َ الْع ُ د ْ ب َ ا ع َ دث َن َّ َ ِث ح ْ ي َ أَِِب الْغ ْ َن ع َ ة َ ر ْ ي َ ر ُ أَِِب ه ْ َن ع وا ال ُ ب ِ ن َ ت ْ اَل اج َ ق َ م َّ ل َ س َ و ِ ه ْ لَي َ ع ُ ى ا ََّّلل َّ ل َ ِ ص ِ َِّب الن ْ َن ع ُ ْه ن َ ع ُ ا ََّّلل َ ِضي َ ر وَل ُ س َ ر َ الُوا َ َ ِت ق ا َ وبِق ُ الْم َ ع ْ َّسب أَ َ ِ و ِ ق َ َل َِب ْْل َِّ إ ُ ا ََّّلل َ م َّ ر َ َِِّت ح ِس ال ْ َّ ف الن ُ َْ ت َ ق َ و ُ ر ْ ِح ِ الس َ و ُك َِبََّّللِ ْ ر ِشِ اَل ال َ ن ق َّ ُ ا ه َ م َ و يِم ْك ا ََّّللِ ِ ت َ ِل الْي ا َ م ُ ْكَ أَ َ و َ َِب ِ الر ُ َ ََل ِت ِ اف َ ِت الْغ ا َ ن ِ م ْ َؤ ُ ِت الْم ا َ ن َ ْص ُح َْذ ُ ِۚ الْم ق َ ُِ و ْ زح الَّ َ م ْ و َ ي ِّل ِ َ َّ و الت َ و Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Jauhilah tujuh dosa besar yang membinasakan”. Para sahabat bertanya “Apa dosa-dosa itu”? Rasulullah menjawab: “Syirik, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina terhadap orang-orang perempuan yang menjaga kehormatannya”. (HR. Bukhari, 2560) Hadis ini berfungsi ta’kid/taqrir karena menegaskan dan menguatkan ketentuan syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an surat al-An’am ayat 152 berikut: دُ. َّ ُش أَ َ لُغ ْ ب َ َّت ي َّ َ ن ح َ ْس أَح َ ي ِ َِِّت ه َل َِبل َِّ ِم إ ْ ي ِ ت َ اَل الْي َ وا م ُ ب َ ْر َق ََل ت َ و Artinya:
“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat), hingga sampai ia dewasa.” Terkait harta anak yatim, syariat jelas melarang untuk menguasai dan menzaliminya. Sebaliknya anak yatim harus diasuh dan disantuni. Bagi orang yang berlaku demikian akan mendapatkan kenikmatan di akhirat kelak seperti gambaran hadis berikut: ْ َن ع َ َْ ه َ س َ ْن ب ْد ع َ ْ س َن ع ِ ِ َِّب ى الن َّ ل َ ُ ص ا ََّّلل ِ ه ْ لَي َ ع َ م َّ ل َ س َ اَل َ َ و ق أََّن ُ َ ِ َكاف َ و يِم ِ ت َ ِف الْي ِ ة َّ ن َ ا ْْل َك َذا َ اَل َ ه - ق َ و ِ ه ْ ي َ ع ُ ْصب ِِبَ ِ ة َ َّاب َّسب ْطَ ال ى )رواُ البخاري والَتمذي( س ُ الْو َ و Artinya: “Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah saw bersabda: Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim akan berada di surga seperti ini –Rasulullah bersabda demikian dengan sambil merekatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.” (HR Bukhari dan al-Tirmidzi) Berkenaan dengan ini, al-Ahwadzi dalam menjelaskan bahwa maksud dari kata “Kafil al-Yatim” adalah orang mengurus keperluan anak yatim dan yang mendidiknya. Dalam hadis di atas, Rasulullah memberikan dorongan agar kita mau menjamin dalam arti yang tidak hanya membesarkan secara fisik, tetapi mencakup berbagai hal yakni memelihara, membiayai kebutuhannya, mendidiknya, dan mengatur kemaslahatannya. Orang yang mau berbuat demikian dijanjikan akan masuk surga berdampingan dengan Rasul. REFLEKSI Setelah mempelajari KB-4 tentang Kedudukan Hadis dan Fungsinya terhadap AlQur’an ini, apakah pelajaran atau nilai yang saudara mahasiswa peroleh dan dapat diterapkan dalam pembelajaran PAI? Dari segala fungsi hadis terhadap Al-Qur’an yang ada menunjukkan bahwa memahami Al-Qur’an tidak bisa hanya melalui terjemah melainkan memerlukan hadis sebagai penjelas yang dijabarkan oleh para ulama ahli tafsir dan hadis. Apabila memahami Al-Qur’an sudah sesuai dengan panduan ini akan menghindarkan kita dari pemahaman ekstremis yang hanya berdasarkan zahir teks.
Sikap ini merupakan bentuk implementasi nilai moderasi beragama i’tidal. I’tidal merupakan sikap tegak lurus, adil dan tidak memihak. Artinya, memahami teks-teks keagamaan secara seimbang antara teks dan konteks, tidak berat ke teks saja tanpa mempertimbangkan konteks atau sebaliknya. Sikap ini sangat tepat dimiliki oleh seorang guru PAI sebagai transmiter pengetahuan dan agama Islam. Selain itu, dari sini kita juga mendapatkan spirit bahwa dalam mengajar PAI, kita dapat mengadaptasikan pola penjelasan seperti fungsi hadis terhadap Al-Qur’an, yakni bermula dari merincikan yang global, membatasi yang mutlak, mengkhususkan yang umum dan seterusnya dengan metode-metode yang relevan agar pembelajaran (pesan) dapat dimengerti peserta didik sebagai penerima pesan (komunikan). CONTOH SOAL Setelah menganalisis uraian materi, apakah saudara sudah menguasai capaian pembelajaran pada kegiatan belajar ini? Agar dapat mengukur penguasaan saudara, dapat mengisi soal yang berkaitan dengan kegiatan belajar ini. Berikut sajian contoh soal pada modul ini sebagai bahan latihan saudara dalam menganalisis pertanyaan dan jawaban, serta sebagai contoh pembuatan soal tes formatif yang akan dibuat oleh dosen pengampu. Sebagai sumber hukum Islam, Al-Qur’an mengandung banyak ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum. Hanya saja, beberapa ketentuan dan hukum tersebut masih bersifat global atau umum. Sebagaimana ayat berikut (QS. 5: 3): ِر ۡ ِزي ۡ ن ِ ۡ اْل ُ م ۡ َْل َ و ُ دم ال َّ َ ُ و ة َ ت ۡ ي َ م ۡ ال ُ ُكم ۡ لَي َ ع َتۡ ِم ِ ر ُ ح ... Dijelaskan oleh hadis berikut: ْ ي َ ز ُ ْن ِن ب َّ ْْحَ الر ُ د ْ ب َ ا ع َ دث َن َّ َ ح ْج ي َ ر ُ ا س َ دث َن َّ َ ْ ح ِن ِن اب َ ع َ لَم ْ ِن أَس ْ ب دِ ْ ي َ ز ْ َن ع َ لَم ْ ِن أَس ْ ب ى ِ َّ د ل َ وُل ا ََّّللِ ص ُ س َ اَل ر َ اَل ق َ ق َ ر َ ُم ع د َّما ال َّ أَ َ و ُ اد َ ر َ ا ْْل َ ُت و و ُ ا ْْل َ ف انِ َ ت َ ت ْ ي َ َّما الْم أَ َ ف انِ َ م َ د َ و انِ َ ت َ ت ْ ي َ ا م َ ْت لَن َّ ل أُحِ َ م َّ ل َ س َ و ِ ه ْ لَي َ ع ُ ا ََّّلل ا ُل َ ِح الطِ َ ُ و ِد الْ َكب َ ف انِ َ م Fungsi hadis sebagai penjelas terhadap ayat tersebut secara spesifik adalah ….. A. Tafshil al-Mujmal