13 3. Pusat-pusat Peradaban Islam di Eropa Puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbasiyah sendiri, sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal kebangkitan Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat: (1) Maktab/ Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa. (2) Tingkat pendalaman. Para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Sejak pertama kali Islam menginjakkan kakinya di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana sekitar tujuh setengah abad lamanya, Islam memainkan peranan yang besar, baik dalam bidang kemajuan intelektual (filsafat, sains, fikih, musik dan kesenian, bahasa dan sastra), kemegahan bangunan fisik (Cordova dan Granada). D. Perkembangan Islam di Australia 1. Sejarah Masuknya Islam di Australia Islam pertama kali dibawa oleh para pelaut dari Makassar ke Australia. Pelautpelaut Makassar adalah yang pertama kali melakukan kontak dengan bangsa asli Australia yaitu Aborigin. Mereka mendarat di Australia bagian utara sekitar tahun 1700an. Kala itu mereka datang dengan sangat sopan dan meminta izin kepada penduduk asli, para pelaut dari Makassar itu datang untuk mencari teripang di pantai utara Australia, salah satunya di daerah Arnhemland. Mereka datang dan menetap beberapa lama di Australia untuk membeli teripang dari penduduk asli. Interaksi antara pelaut Makassar dan para warga abrigin pun tak bisa dihindarkan. Setelah itu, pengaruh Islam juga datang ke Australia dengan dibawa oleh para penunggang unta yang datang dari Pakistan dan Afghanistan sekitar tahun 1870- 1920. Para penunggang unta yang berjumlah lebih dari 2.000 orang itu datang untuk bekerja di proyek pembangunan jalur kereta yang tengah dikerjakan pemerintah Inggris. Kala itu unta dianggap sebagai hewan yang sangat berguna untuk dijadikan alat angkut material. Para penunggang unta yang dalam sejarah Australia disebut dengan kata “Camellers” berada cukup lama di daratan Australia. Sehingga, sedikit
14 banyak mereka juga membawa pengaruh spiritual. Bahkan, masjid pertama di Australia didirikan pada masa itu. Setelah itu, masuk ke tahun 1900an, Australia mulai didatangi buruh migran dari berbagai negara di timur tengah dan Afrika. Para imigran itu kebanyakan berasal dari Turki, Albania, Bosnia, Libanon dan beberapa negara lain di Afrika. Jumlah imigran yang terus bertambah seiring berjalannya waktu membawa pengaruh Islam di Australia. Hingga, Islam terus berkembang di negeri Kangguru tersebut. Hingga saat ini, Islam merupakan agama yang perkembangannya cukup pesat di Australia. Jumlah pemeluk agama Islam terus bertambah dan jumlah masjid dan sekolah Islam pun terus meningkat. Sejak dua tahun lalu, Islamic Museum Australia resmi dibuka. Tujuan awal didirikan museum itu adalah untuk mengenalkan wajah Islam seutuhnya kepada warga Australia. Ide awal didirikannya museum adalah untuk memberikan gambaran utuh tentang Islam kepada masyarakat. Pasalnya, selama ini masyarakat Australia banyak disajikan berbagai informasi miring tentang Islam dari berbagai media, terutama seringnya menghubungkan tindakan ekstrimisme dan terorisme dengan Islam. Padahal secara jelas tindakan-tindakan tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan Islam. Bagi orang-orang yang memiliki pandangan negatif tentang Islam, kami harap mereka datang ke museum ini dan buktikan apakah pandangan negatif tentang Islam itu benar atau tidak. 2. Strategi Dakwah dan Perkembangan Islam di Australia Islam telah menjadi bagian dari kehidupan warga Australia. Islam juga menjadi bagian sejarah dari negara berpenduduk asli bangsa Aborigin itu. Di Islamic Museum Australia, yang berada di Anderson Road, Thornbury, Victoria, dijelaskan detail tentang sejarah masuknya Islam di Australia. Islam pertama kali dibawa oleh para pelaut dari Makassar ke Australia. Pelaut-pelaut Makassar adalah yang pertama kali melakukan kontak dengan bangsa asli Australia yaitu Aborigin. Mereka mendarat di Australia bagian utara sekitar tahun 1700an. Kala itu mereka datang dengan sangat sopan dan meminta izin kepada penduduk asli. Para pelaut dari Makassar itu datang untuk mencari teripang di pantai utara Australia, salah satunya di daerah Arnhemland. Mereka datang dan menetap beberapa lama di Australia untuk membeli teripang dari penduduk asli. Interaksi antara pelaut Makassar dan para warga aborigin pun tak bisa dihindarkan. Sebagian besar pelaut dari Makassar beragama Islam dan karena mereka berinteraksi dengan suku asli, sehingga secara spiritual suku Aborigin di sebelah utara Australia terpengaruh agama Islam yang dipeluk para pelaut. Setelah itu, pengaruh Islam juga datang ke Australia dengan dibawa oleh para penunggang unta yang datang dari Pakistan dan Afghanistan sekitar tahun 1870-1920. Para penunggang unta yang berjumlah lebih dari 2.000 orang itu datang untuk bekerja di proyek pembangunan jalur kereta yang tengah dikerjakan pemerintah Inggris. Waktu itu unta dianggap sebagai hewan untuk dijadikan alat angkut material. Para penunggang unta yang dalam sejarah Australia disebut dengan kata 'Camellers' berada cukup lama di daratan Australia. Sehingga, sedikit banyak mereka juga membawa pengaruh spiritual. Bahkan, masjid pertama di Australia didirikan
15 pada masa itu. Setelah itu, masuk ke tahun 1900an, Australia mulai didatangi buruh migran dari berbagai negara di timur tengah dan Afrika. Para imigran itu kebanyakan berasal dari Turki, Albania, Bosnia, Libanon dan beberapa negara lain di Afrika. Jumlah imigran yang terus bertambah seiring berjalannya waktu membawa pengaruh Islam di Australia. Hingga, Islam terus berkembang di negeri kangguru tersebut. Hingga saat ini, Islam merupakan agama yang perkembangannya cukup pesat di Australia. Jumlah pemeluk agama Islam terus bertambah dan jumlah masjid dan sekolah Islam pun terus meningkat. 3. Pusat-pusat Peradaban Islam di Australia Buku Muslim Melayu Penemu Australia yang ditulis oleh Teuku Chalidin Yacob, seorang tokoh masyarakat Muslim dan pendidikan Islam di Australia, mengungkap fakta tersebut. Dalam penelitiannya, Chalidin mengungkap sejumlah bukti menarik di balik penelitiannya. Di antara yang dibahas adalah waktu kedatangan Muslim Melayu di Australia, apa motif kedatangannya, hingga kegiatan dan kisah sukses mereka serta bagaimana mengatasi masalah yang dihadapinya. Pada abad ke-17, sejumlah petualang Belanda mendarat di pantai utara dan barat benua Australia. Para petualang itu kemudian menyebutnya dengan New Holland. Tetapi, mereka tidak menetap di situ, hanya singgah. Sementara itu, orang kulit putih pertama yang mendarat di wilayah itu adalah Kapten James Cook yang mendarat di Pantai Timur (sekarang Sydney dan New South Wales) dan mengklaim wilayah itu sebagai wilayah Inggris. Jauh sebelum itu, orang-orang Aborigin (suku asli Australia berkulit hitam) sudah diam dan tinggal di sana. Aborigin yang memang sudah menetap di sana sejak beribu tahun lamanya sudah menyatakan bahwa wilayah itu adalah milik mereka sendiri. Pada 1788, tepatnya setelah Kapten James Cook mendarat di Botany Bay (sekarang Sydney), para pendatang yang merupakan narapidana Inggris membentuk koloni yang kemudian disebut dengan New South Wales. Pada tahun itu juga rombongan Inggris terus berdatangan untuk mencari tempat tinggal baru. Australia, sedikit demi sedikit, dikuasai oleh orang kulit putih, khususnya dari kerajaan Inggris Raya. Selain kekayaan alamnya Australia ternyata juga menyimpan harta yang tak kalah penting yaitu beberapa pusat peradaban Islam. Di benua Australia di antara ada pusat-pusat peradaban Islam di Australia, yaitu: a. Masjid Masjid pertama di Australia didirikan di Marree di sebelah utara Australia Selatan pada 1861. Masjid besar pertama dibangun di Adelaide pada 1890, dan satu lagi didirikan di Broken Hill (New South Wales) pada 1891. Pada abad 20 M perkembangan masjid-masjid di Australia cukup menggembirakan, karena dibuat oleh arsitek Australia sendiri, seperti Brisbone tahun 1907 didirikan mesjid yang indah oleh arsitek sharif Abosi dan Ismeth Abidin. Tahun 1967 di Quesland didirikan masjid lengkap dengan Islamic Center di bawah pimpinan Fethi Seit Mecca. Tahun 1970 di Mareeba diresmikan masjid yang mampu menampung 300 jamaah dengan imam Haji Abdul Lathif. Di kota Sarrey Hill dibangun Masjid Raya Faisal bantuan Saudi Arabia. Di Sidney dibangun masjid dengan biaya 900.000 dollas AS.
16 b. Pendidikan Di Brisbone didirikan “Quesland Islamic Society”. Pelajarnya bukan hanya dari Australia tetapi juga Indonesia, Turki, Pakistan, Afrika, Lebanon, India. Dan didirikan pula sekolah yang melahirkan guru-guru muda di Goulbourn. Pendidikan Islam di Australia diselenggarakan dengan tujuan agar dapat melestarikan pertumbuhan kehidupan agama Islam. Oleh karena itu, di Brisbane didirikan Queesland Islamic Society yang bertujuan menyadarkan anak-anak Muslim untuk melakukan shalat dan hubungan baik sesama manusia. Mereka selama 5-15 tahun menerima pelajaran AlQur’an dan tata kehidupan secara Islam. Pelajar terdiri atas anak-anak dari Indonesia, India, Pakistan, Turki, Afrika, Libanon, dan Australia. c. Organisasi Islam Australian Federation of Islamic Councils (AFIC), himpunan dewan-dewan yang berpusat di sydney. Federation of Islamic Societies, himpunan masyarakat muslim terdiri dari 35 organisasi masyarakat muslim lokal dan 9 dewan Islam negara-negara bagian. Moslem Student Asociation, himpunan mahasiswa muslim yang menerbitkan majalah “Al-Manaar”. Moslem Women Center, yang bertujuan memberikan pelajaran keislaman dan bahasa Inggris bagi masyarakat muslim yang baru datang ke Australia. Refleksi Setelah mempelajari kegiatan belajar 4 materi perkembangan Islam di dunia, apa hikmah atau spirit yang dapat saudara/i ambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Materi ini melingkupi perkembangan Islam di Afrika, Amerika, Eropa dan Australia. Faktor Islamisasi tampak jelas dengan kedatangan dan ekspansi Islam ke Afrika, Amerika, Eropa dan Australia yang disebarkan dengan penuh toleransi dan dengan sikap asertif, yaitu mampu bergaul menyesuaikan diri dan akomodatif dengan siapa pun tanpa harus kehilangan jati diri. Sikap asertif ini mewakili sikap seorang muslim yang moderat, seorang muslim yang moderat tentu saja harus mampu menyesuaikan diri dan akomodatif dengan orang-orang sekitarnya. Beberapa contoh pada perkembangan Islam di Afrika yaitu pembangunan mesjid sebagai dakwah dan perkumpulan umat muslim di Afrika tanpa membedakan ras. Pendirian mesjid di sini sebagai sarana dakwah dan mempererat persaudaraan antara sesama muslim di Afrika dan warga setempat pun bebas memilih agama yang diyakininya dan para ulama bisa berdakwah secara leluasa. Begitu juga di Amerika yang mendirikan organisasi bernama American Islamic Congress merupakan organisasi moderat yang memperkenalkan pluralism. Hal ini merupakan perwujudan dari sikap moderasi Tawassuth yang memegang teguh prinsip persaudaraan dan toleransi, hidup berdampingan dengan sesama umat Islam maupun warga negara yang memeluk agama lain. Contoh Soal HOTS Islam pertama kali masuk ke Australia dibawa oleh para pelaut dari Makassar. Pelautpelaut itu yang pertama kali melakukan kontak dengan penduduk Aborigin. Mereka mendarat di bagian utara Australia sekitar abad 17-an. Waktu itu mereka datang
2 URAIAN MATERI A. Akhlak al-Karimah Bagaimana Saudara, sudah siap untuk mengkaji definisi akhlak? Ingat, tidak ada yang susah kalau Saudara sungguh-sungguh, “ وجد جد من.“ 1. Pengertian Akhlak al-Karimah Baik, kita mulai pahami menurut bahasa terlebih dahulu. Menurut bahasa kata Akhlak dalam bahasa Arab merupakan jama’ dari خلق) khuluqun) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, sopan santun atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi persesuaian dengan perkataan خلق) khalqun) berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan خالق) khalik) yang berarti pencipta, demikian pula مخلوق) makhluqun) yang berarti yang diciptakan. Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khalik dengan makhluk (Mushtofa, Akhlak Tasawuf, 2008: 11) Sudah tergambar? Coba selanjutnya Saudara pahami beberapa definisi akhlak menurut para ahli berikut: a. Ibn Miskawih الخلق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر ولا روية “Akhlak adalah kondisi jiwa yang mendorong tindakan-tindakan tanpa perlu berpikir dan pertimbangan lagi” (Ibn Miskawaih, Thadzib al-Akhlaq, 1985; 25) Kondisi jiwa seseorang dalam definisi Ibn Miskawaih di atas merupakan kondisi jiwa yang sudah terbiasa melakukan tindakan-tindakan tertentu, sehingga tindakan-tindakan tersebut seakan sudah mendarah daging, mereka akan melakukannya secara sepontan ketika mendapatkan stimulus tertentu. b. Al-Ghazali ى َ ل ِ ٍة إ َ اج َ ِ ح ر ْ ي َ غ ْ ٍ ِمن ر سْ ُ ي َ ٍة و َ ول ُ ه ِسُ ب َ ال َ ع ْ ف َ أ ْ ال ُ ِدر ص ْ ُ ا ت َ ه ْ ن َ ع ٌ ة َ ِسخ ا َ ِس ر ْ ف َّ ِي الن ف ٌ ة َ ئ ْ ي َ الخلق عبارة عن ه ٍ ر ْ ِفك ٍة َّ ي ِ و َ ر َ و “Akhlak ialah gambaran keadaan jiwa berupa sifat-sifat yang sudah mendarah daging yang mendorong dilakukannya perbutan-perbuatan dengan mudah tanpa berfikir panjang” (Al-Ghazali, Ihya Ulum adDin/Rubuu’ al-Muhlikat, 2005; 890) Gambaran sifat-sifat jiwa yang sudah terlatih dan juga sudah mendarah daging yang dapat menjadi sumber inspirasi dan mendorong tindakantindakan yang bersifat spontan. Tindakan-tindakan seperti inilah yang dapat dikategorikan sebagai akhlak. Apabila seuatu perbuatan dilakukan dengan
3 mempertimbangkan dahulu, apa untung ruginya bagi si pelaku perbuatan tersebut, maka belum dikatakan sebagai akhlak. c. Prof. Dr. Ahmad Amin Seorang ahli Ilmu Akhlak modern, yakni Ahmad Amin dalam bukunya Kitab al-Akhlaq, menegaskan bahwa pada dasarnya akhlak adalah kehendak yang dibiasakan, bukan perbuatan yang tidak ada kehendaknya. Seperti bernafas, denyut jantung, kedipan mata dan lain-lain (Ahmad Amin, Kitab al-Akhlaq, 2012; 10). Akhlak merupakan perbuatan yang mudah dilakukan karena telah dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja dan melalui ikhtiar. Pelakunya mengetahui baik atau buruk dari perbuatan yang dilakukannya. Karena perbuatan akhlak juga termasuk perbuatan yang kelak akan dipertanggungjabawkan di hadapan Allah Swt. Selain tiga tokoh ahli dalam bidang akhlak di atas sebenarnya masih banyak, tetapi pada dasarnya sama bahwa akhlak unsurnya terdiri dari perbuatan sadar (ada iradah dan ikhtiar) yang didorong oleh sifat-sifat yang sudah terbiasa sehingga sekan-akan spontan dan terkesan tidak usah dipikirkan sebelumnya. Karimah berasal dari akar kata yang serupa dengan Karomah, dari bahasa arab كرم berarti kemuliaan, keluhuran, dan anugerah. Pengertian karimah menurut kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti baik, dan terpuji. Dengan demikian pengertian Akhlak al-Karimah adalah “Kemuliaan dan kebaikan yang dilakukan secara sadar karena dorongan jiwa yang sudah terbiasa tanpa harus dipertimbangkan”. Akhlak al-Karimah ini juga biasa dikenal dengan Akhlak Mahmudah. Selamat, Saudara telah berhasil memahami apa itu pengertian Akhlak alKarimah. Kalau masih ada waktu coba baca sekali lagi! 2. Dalil Akhlak al-Karimah Saudara, untuk meyakini hati bahwa Akhlak al-Karimah adalah sesuaitu yang penting, perlu merujuk pada dalil yang berkaitan. Salah satu tugas Rasulullah di utus ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak dan mengajarkan akhlak yang baik kepada seluruh manusia. Hal ini tertuang dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, nomor hadis 381 sebagai berikut: ْ ن َ ِ ع ي ب َ أ يرة رَ ُ ه َ ال َ ق : َ ال َ ق ُ رسول ِ َّ اّلل ى َّ ل صَ ُ َّ اّلل ِه ْ ي َ ل َ ع َ م َّ ل سَ َ و : ا َ م َّ ن ِ إ تُ ْ ِعث ُ ب َ ِ م م َ ت ُ ِلأ َ ِح ال ِ صَ اق َ ل ْ خ َ أ ْ ال Dari Abu Hurairah Berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Sesungguhnya aku (Rasulullah saw.) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 2/381)
4 Hadis ini bisa dijadikan dasar bahwa jika ingin menjalankan hidup seperti yang Rasulullah ajarkan adalah dengan memperbaiki akhlak atau selalu memastikan akhlak yang dimiliki adalah akhlak yang baik. Selain itu, sebagai gambaran seperti apa akhlak Rasulullah, dapat merujuk hadis dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz VI, hal. 163, hadis nomor 25341: ْ ن َ ِ ع ي ب َ أ اِء، َ د ْ ر َّ الد َ ال َ ق : تُ ْ ل َ أ َ س َ ة َ ِش ائ َ ع ْ ن َ ِ ع ق ُ ل ُ ِ خ ول سُ َ ر ِ َّ اّلل ى َّ ل َ ص ُ َّ اّلل ِه ْ ي َ ل َ ع ، َ م َّ ل سَ َ و ت ْ َ ال َ ق َ ف :“ َ ان َ ك ُ ه ُ ق ْ ل َ خ ، َ آن رْ ُ ق ْ ُب ال ضَ ْ غ َ ي ِه، ِ ب ضَ َ ل ى ِغ رْ ضَ َ ي َ و ُ اه ِ ضَ ِر ل “Dari Abu ad-Darda’, dia berkata: Saya pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang akhlak Rasulullah s.a.w.. Beliau pun menjawab: Akhlak beliau adalah al-Quran. Beliau (Rasulullah shalllallâhu ‘alaihi wa sallam) marah karenanya, dan beliau pun rida karenanya.” Hadis ini menjadikan rujukan kuat agar bisa melihat gambaran Akhlak Rasulullah adalah dengan melihat seluruh isi kandungan Al-Qur’an. Seluruh kebaikan dalam Al-Qur’an adalah wujud akhlak Rasulullah. Ayat dalam AlQur’an yang dapat menggambarkan akhlak Rasulullah sangat banyak, di antaranya adalah sebagai berikut: ْ د َ ق َ ل َ ان َ ك ْ م ُ ك َ ْي ل ِ ف ِ ل ْ و سُ َ ر ِ ٰ اّلل ٌ ة َ و س ْ ُ ا ٌ ة َ ن سَ َ ح ْ ن َ م ِ ل َ ان َ ك وا ُ ج رْ َ ي َ ٰ اّلل َ م ْ و َ ي ْ ال َ و ِخرَ ٰ ا ْ ال رَ َ ك َ ذ َ و َ ٰ اّلل ا ً ر ْ ِي ث َ ك Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Q.S. al-Ahzab [33]: 21) Ayat ini menggambarkan secara umum dalam diri Rasulullah terdapat Akhlak yang baik, dan dalam hadis sebelumnya menunjukkan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an. Artinya, Al-Qur’an dan Rasulullah tidak bisa dipisahkan dan saling menguatkan. 3. Ciri-ciri dan Contoh Akhlak al-Karimah Saudara, dalil Akhlak al-Karimah ini menjadi sangat penting karena akan menguatkan, bahwa berakhlak yang baik adalah hal yang perlu dilakukan. Ditinjau dari objeknya, penerapan akhlak berwujud sebagai pengaturan sebuah hubungan. Dalam mengatur hubungan ini, akhlak dibagi menjadi beberapa hubungan. a. Akhlak Manusia terhadap Dirinya Akhlak ini mendorong seriap individu memelihara dirinya secara fitrah, memenuhi hak, dan menjaga dari perbuatan dosa. Seseorang yang membuat dirinya sendiri menderita apalagi sampai bunuh diri adalah perbuatan dosa besar.
6 b. Akhlak Manusia terhadap Allah Sebagai makhluk, menghamba kepada pencipta adalah fitrah yang pasti akan dilakukan. Beribadah kepada Allah adalah wujud penghambaan dan akhlak kepada Allah. c. Akhlak Manusia terhadap Sesama Manusia Sebagai makhluk sosial yang satu sama lain saling bergantung, maka menjaga hati dan perasaan orang lain adalah bagian dari akhlak terhadap sesama. Saling tolong-menolong dan berbagi dalam kebaikan juga hal yang penting dilakukan. d. Akhlak Manusia terhadap Makhluk Lain Hubungan dengan makhluk lain yang Allah ciptakan diatur sedemikian rupa agar saling memberikan kebaikan. Makhluk lain yang dimaksud bisa hewan, tumbuhan, alam, bahkan makhluk tak terindra seperti malaikat dan jin perlu menggunakan akhlak al-Karimah. 4. Hikmah Mempelajari Akhlak al-Karimah Ketika Saudara menganalisis materi Akhlak al-Karimah ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa ada kebahagiaan mempelajari kebaikan yang bisa dilakukan? Apakah Saudara membayangkan apa jadinya jika Allah tidak mukutus Rasulullah saw dengan Akhlak al-Karimah? Di antara hikmahnya adalah seluruh manusia bisa belajar bahwa hubungan baik perlu dibangun dan dijalin dengan kemuliaan agar tercipta suasana masyarakat yang tentram dan saling menghargai. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuliakan diri sendiri, Allah, sesama manusia dan makhluk lain. Serta sebagai bahan mengajak orang lain berakhlak yang mulia. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!
7 B. Quwwah al-Ilmi (Potensi Berpikir) Setelah Saudara mendalami tentang Akhlak al-Karimah, kira-kira Bagaimana pendapat Saudara? Apakah akhlak seseorang bisa terbentuk dengan sendirinya? Ataukah harus dibentuk dengan mendidik dan membiasakan sampai betul-betul mendarah daging dalam diri? Tentunya Saudara akan setuju kalau akhlak seseorang itu harus dididik dan dibiasakan secara terus menerus dalam lingkungannya di mana ia tinggal sampai benar-benar melekat dalam jiwanya. Dalam rangka pembentukan akhlak seseorang, Saudara perlu terlebih dahulu memahami kekuatan-kekuatan jiwa yang dapat mendorong terbentuknya akhak. Baik, bacalah dengan saksama penjelasan berikut ini: Ibnu Miskawaih menjelaskan bahwa di dalam jiwa seseorang itu terdapat tiga kekuatan (al-quwwah) yang sangat penting dalam membentuk akhlak manusia. Sementara Imam Al-Ghazali menyebutkan sebagai Ummahat al-Akhlaq wa Ushuluha dengan ditambahkan satu kekuatan (al-quwwah) sehingga genap menjadi empat kekuatan (al-quwwah) (Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din/Rubuu’ al-Muhlikat, 2005; 936). Keempat kekuatan tersebut adalah Quwwah al-Ilmi, Quwwah al-Ghadhab, Quwwah asySyahwah, dan Quwwah al-‘Adl. 1. Pengertian Quwwah al-Ilmi Quwwah al-Ilmi adalah kekuatan yang berasal dari akal. Dengan akal inilah manusia dapat dengan mudah membedakan mana yang jujur dan mana yang bohong dalam berbicara, mana yang benar dan mana yang salah dalam mengambil keputusan, mana yang baik dan mana yang buruk dalam bertindak. Kekuatan inilah yang menjadi pembeda manusia dengan binatang. Dengan akal manusia dapat mencipta dan mengembangakan budaya sehingga terus berkembang ke arah yang lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya. Buahnya adalah hikmah, yakni pemahaman yang mendalam tentang segala sesuatu sesuai dengan syariat Allah Swt. 2. Dalil Quwwah al-Ilmi Quwwah al-Ilmi ini memiliki buah berupa hikmah sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah [2] ayat 269: ْ و ال ُ ول ُ ا أ َّ ل ِ إ رُ َّ ك َّ ذ َ ا ي َ م َ ا و ً ِير ث َ اك ً ر ْ ي َ َي خ ِ وت ُ أ ْ د َ ق َ ف َ ة َ م ْ ِحك ْ ال تَ ْ ؤ ُ ي ْ ن َ م َ و ُ اء َ ش َ ي ْ ن َ م َ ة َ م ْ ِحك ْ ي ال ِ ت ْ ؤ ُ ِب ي ا َ ب ْ ل َ أ “Dia berikan hikmah kepada yang Dia kehendaki dan Siapa yang diberikan al-hikmah maka sesungguhnya dia telah diberikan kebaikan yang sangat banyak. Dan hanya orang-orang memiliki akal fikiranlah yang mampu memahaminya”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 269) Al-Maraghi menjelaskan bahwa yang dimaksud hikmah adalah ilmu yang bermanfaat, yakni ilmu yang dapat mempengaruhi jiwa pemiliknya dan
8 membimbing kehendaknya untuk mendorong melakukan tindakan-tindakan yang dapat membawa manfaat dan kebahagiaan dunia akhirat (Al-Maraghi Jilid III, h. 40) Hikmah dalam pengertian di atas, apabila dimiliki seseorang bisa menjadi salah satu sumber penting dalam pembentukan akhlak yang mulia. Dan inilah tujuan utama diutusnya Nabi Kita Muhammad Saw. ke dunia ini, yaitu menyempurnakan akhlak. Coba perhatikan fenomena dunia zaman sekarang! Banyak orang kelihatannya berilmu, tapi ilmunya kurang atau bahkan tidak dapat membimbing kehendaknya untuk mendorong melakukan tindakantindakan yang dapat membawa manfaat dan kebahagiaan dunia akhirat. Kenapa? Jawabnya sederhanya, karena ilmunya tidak mengandung hikmah. 3. Turunan Quwwah al-Ilmi Bagaimana, sekarang sudah mulai paham? Kita lanjutkan, memahami konsep hikmah. Hikmah sebagai konsep itu mencakup empat turunan, yakni: husnu at-tadbir (baik pemikirannya), judat adz-dzihn (jernih pemikirannya), tsiqabah ar-ra’yi (tajam pemikirannya) dan shawab azh-zhann (tepat pemikirannya) (Al-Ghazali, Mizan al-‘Amal, 1964; h. 284) Mari kita analisis konsep turunan hikmah tersebut di atas satu persatu. a. Husnu at-Tadbir Seseorang yang memiliki hikmah akan menjadi husnu at-tadbir yakni cerdas dan lurus jalan pikirannya dalam meng-istimbat-kan (mengambil kesimpulan). Ia akan bisa mengambil yang terbaik, dan paling bermanfaat dalam berbagai urusan, sesulit apapun dan segawat apapun. Ia tidak sekedar cerdas (kayyis), tetapi mampu memikirkan hal-hal yang abstrak dengan benar sehingga dapat mengambil keputusan yang menghasilkan kebaikan-kebaikan yang agung dan akhir yang mulia dalam berbagai urusan kehidupan. b. Jaudat adz-Dzihn Seseorang yang memiliki hikmah akan menjadi jaudat adz-dzihn, yakni memiliki kemampuan untuk dapat berpikir memperoleh kebijaksanaan ketika dihadapkan pada pendapat yang mirip-mirip dan mengandung pertentanagan-pertentangan dalam implementasi. Ia akan selalu mendapatkan kosep yang memberikan manfaat sesamanya dan diterima oleh berbagai pihak. c. Tsiqabah ar-Ra’yi Seseorang yang memiliki hikmah akan menjadi tsiqabah ar-ra’yi, yakni mempunyai kecepatan kemampuan dalam menghubungkan data-data yang dimilikinya dengan sebab akibat yang mengasilkan kemaslahatan dalam kehidupan masyarakat.
9 d. Shawab azh-Zhann Seseorang yang memiliki hikmah akan menjadi shawab azh-zhann, yakni ia akan mendapatkan taufiq dari Allah Swt. dengan kesesuaian antara dugaan yang terdapat dalam alam pikirannya, dengan kebenaran hakiki tanpa harus lama-lama memikirkannya. Kebalikan dari Quwwah al-Ilmi adalah lemahnya ilmu atau kebodohan, terbagi dalam dua konsep, yaitu radzilah al-khibb dan radzilah al-balah. Radzilah alkhabb terdiri dari ad-dahaa (tertipu) dan al-jarbazah (lemah berfikir). Logikanya kurang sehat atau kurang lurus sehingga ketika mengambil kesimpulan sering kali tidak benar, apa yang dikatakannya baik ternyata buruk atau sebaliknya. Sementara radzilah al-balah terdiri dari tiga hal: pertama kebodohan sebab karena kurang pengalaman belajar; kedua kebodohan sebab dari bawaan seperti idiot; dan ketiga kebodohan sebab hilangnya akal atau gila. Ilmu dalam bentuk hikmah seperti dijelaskan di atas sangat penting dalam membentuk, menanamkan dan mendidik akhlak seseorang, karena ia dapat membentuk konsep diri (mindset) seseorang. Apabila konsep diri seseorang tentang perbuatan itu baik, maka kelak ia akan menjadi baik perbuatannya, sebaliknya apabila konsep dirinya buruk maka mereka akan menjadi buruk perbuatannya pula. 4. Contoh Quwwah al-Ilmi dalam Kehidupan Sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari Quwwah al-Ilmi yang diturunkan menjadi hikmah memiliki gambaran yang bisa kita saksikan. Di antaranya adalah jika kita dapati seorang guru yang dapat dengan tenang menghadapi berbagai kondisi, padahal dalam keadaan yang genting, bahkan saat mengambil keputusan malah memberikan keputusan yang baik. Contoh lain adalah seseorang yang bijaksana dalam mempersatukan perbedaan dan dapat diterima oleh berbagai kalangan. Hal ini bisa diraih dari hikmah yang Allah anugrahkan. Selain contoh-contoh ini, Saudara bisa mengeksplor lagi sebanyak-banyaknya contoh Quwwah al-Ilmi yang diturunkan menjadi hikmah, di lingkungan masyarakat untuk menambah wawasan. 5. Hikmah Mempelajari Quwwah al-Ilmi Ketika Saudara menganalisis materi Quwwah al-Ilmi ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa ada hikmah yang bisa diraih? Apakah Saudara membayangkan apa jadinya jika Allah tidak memberi hikmah pada orang yang tepat? Di antara hikmahnya adalah banyak orang beriman yang bijaksana dan menentramkan, ini juga membuat kehidupan menjadi saling memberi kebaikan. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting
12 c. Kibr an-Nafs (berjiwa besar), bukan sombong juga bukan rendah diri (mider). Ia berani menjadikan dirinya sebagai ahli dalam hal kemuliaan dengan penuh kerendahan hati dan menghindari perdebatan pada urusan-urusan yang sedikit manfaatnya. Ia sangat menghormati ulama. d. Al-Ihtimal (ketahanan dalam bekerja), berani bertanggung jawab menahan diri dalam menjalankan tugas, meski dirasa sangat berat. e. Al-Hilm (santun), ia dapat menahan emosi yang biasanya meledak-ledak, tidak terpancing dalam keadaan apapun dan marah. Sikapnya tetap santun dalam menghadapi semua orang, ia sudah dapat lepas dari sikap buruk dalam menghadapi orang lain atas gejolak jiwa, suka dan tidak suka. g. Al-Wiqar (tenang), menahan diri dari berbicara secara berlebihan, kesiasiaan, banyak menunjuk dan bergerak dalam perkara yang tidak membutuhkan gerakan. Mengurangi amarah, tidak banyak bertanya, menahan diri dari menjawab yang tidak perlu, menjaga diri dari ketergesaan dalam beramal, dan bersegera dalam seluruh perkara kebaikan. 3. Dalil Quwwah al-Ghadhab Quwwah al-Ghadhab yang diturunkan dalam bentuk saja’ah akan membentuk jiwa seseorang menjadi berani dan kuat, tentu ini akan membuatnya tidak lemah dan tidak mudah bersedih. Hal ini adalah yang seharusnya dimiliki seorang muslim sebagaimana surah Ali Imran [3] ayat 139 sebagai berikut: ا َ ل َ و ا ْ و ُ ن ِ ه َ ت ا َ ل َ و َ ت ا ْ و ُ ن َ ز ْ ح ُ م ُ ت ْ ن َ ا َ و َ ن ْ و َ ل ْ ع َ ا ْ ال ْ ِان ْ م ُ ت ْ ن ُ ك َ ن ْ ِي ِمن ْ ؤ ُّ م Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman. (Q.S. Ali Imran [3]: 139) Selain itu, seorang muslim juga harus berani berada di jalan yang benar. Keberanian yang ada adalah keberanian menegakkan kebenaran dan keadilan sesuai syariat, sebagaimana surah Hud [11] ayat 112 sebagai berikut: ٗ ه َّ ِان ا ْ و َ غ ْ ط َ ا ت َ ل َ و َ ك َ ع َ َب م ا َ ت ْ ن َ م َ و ِمرْ تَ ُ آ ا َ م َ ك ْ ِقم َ ت اس ْ َ ف ٌ ر ْ ِصي َ ب َ ن ْ و ُ ل َ م ْ ع َ ا ت َ ِم ب “Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Hud [11]: 112) 4. Contoh Quwwah al-Ghadhab dalam Kehidupan Sehari-hari Quwwah al-Ghadhab yang diturunkan dalam bentuk saja’ah akan membentuk jiwa seseorang menjadi berani dan kuat. Hal ini membuat contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari adalah pada sifat berani menyampaikan
13 atau melaporkan kecurangan yang dilakukan orang lain dalam rangkan memperbaiki tatanan kehidupan. Berani melawan penindasan yang dilakukan dalam rangka menguatkan diri dan lingkungan. Jika diajarkan kepada peserta didik, mereka berani bertindak yang benar di tengah-tengah peserta didik lain yang melakukan pelanggaran. Selain contoh-contoh ini, Saudara bisa mengeksplor lagi sebanyak-banyaknya contoh Quwwah al-Ghadhab yang diturunkan pada sifat saja’ah untuk menambah wawasan. 5. Hikmah Mempelajari Quwwah al-Ghadhab Ketika Saudara menganalisis materi Quwwah al-Ghadhab ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa ada keberanian yang menggebu? Apakah Saudara membayangkan apa jadinya jika Allah tidak memberi Saja’ah pada umah Islam terdahulu? Di antara hikmahnya adalah Islam bisa sampai pada kita melalui keberanian umat Islam terdahulu mendakwahkan Agama Islam. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuliakan diri sendiri, Allah, sesama manusia dan makhluk lain. Serta sebagai bahan mengajak orang lain mempelajari sumber terbentuknya akhlak, yaitu Quwwah al-Ghadhab. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam! 6. Quwwah asy-Syahwah (Potensi Syahwat) Al-Quwwah asy-Syahwah yaitu kekuatan yang ada dalam diri manusia yang mendorong perbutan-perbuatan untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan yang bersifat zhahir, yang dinspirasi oleh panca indranya seperti: mencari makanan dan minuman, mencintai lawan jenis dan lain-lainnya. Dengan kekuatan ini manusia menjadi lebih bergairah dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan. Quwwah asy-Syahwah yang baik disebut al-iffah. Seorang dikatakan sebagai orang yang ‘affih apabila yang mampu menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah Swt. Dengan demikian seorang yang 'afif adalah orang yang bersabar yakni taat muthlak kepada Allah Swt. baik dalam menjalankan perintah-perintah-Nya, maupun meninggalkan lawangan-Nya walaupun jiwanya (syahwatnya) sangat menginginkan untuk melanggarnya. 'Iffah merupakan akhlaq yang sangat dicintai oleh Allah Swt. Oleh sebab itulah sifat ini perlu dilatih sejak anak-anak masih kecil, sehingga memiliki kemampuan dan daya tahan terhadap keinginan-keinginan yang tidak semua harus dituruti karena akan membahayakan saat telah dewasa. Dari sifat 'iffah inilah akan lahir sifat-sifat mulia. Diantara sifat-sifat terpuji turunan dari sifat 'Iffah adalah sebagai berikut:
14 a. الحياء/haya’, adalah sifat malu untuk meninggalkan perbuatan yang diperintahkan oleh Allah Swt. dan sebaliknya malu melakukan perbutan yang dilarang oleh-Nya. Apabila jiwa manusia semua sudah memiliki sifat malu seperti ini, niscaya tidak ada lagi tindak kejahatan dimuka bumi ini. Sehingga bumi akan aman, tentram dan damai. Karena malu akan menjadi benteng terakhir bagi diri seseorang dalam melakukan kemaksiatan b. القناعة/qana'ah, adalah sifat menerima atau merasa cukup atas karunia Allah Saw., sekaligus menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kekurangan yang berlebih-lebihan. Qanaah muncul dalam kehidupan seseorang berupa sikap rela menerima keputusan Allah Swt. yang berlaku bagi dirinya. Bagi siapa yang dapat menjadikan dirinya qana'ah, maka ia akan dijamin akan mendapatkan hakekat dunia, menjadi orang yang beruntung, mudah bersyukur, terhindar dari sifat hasud dan terhindar dari problema kehidupan dunia. c. السخاء/sakha’, yaitu sifat dermawan senanga memberikan harta dalam kondisi memang wajib memberi, sesuai kepantasannya dengan tanpa mengharap imbalan dari yang diberi dalam bentuk apapun seperti pujian, balasan, kedudukan, ataupun sekedar ucapan terima kasih (QS. Al-Insan/76:9). Jadi seseorang disebut dermawan jika dapat memberi secara tulus ikhlas. Orang yang memberi karenan ingin balasan dari pihak yang diberi bukanlah dermawan tapi disebut berdagang. Sebab ia seolah-olah membeli balasan berupa pujian, kedudukan, ucapan terima kasih dan lainnya dengan hartanya. d. الورع/wara’, yaitu meninggalkan hal-hal yang syubhat karena khawatir membahayakan nasibnya di akhirat kurang baik. Meninggalkan yang syubhat, yakni sesutau yang hukumnya belum jelas halal atau haram yang berlaku dalam semua aktifitas manusia, baik yang berupa benda maupun perilaku. Dan lebih dari itu meninggalkan segala hal yang kurang atau tidak bermanfaat. Perlu Saudara ketahui juga bahwa Quwwah asy-Syahwah, dapat mendorong perbutan yang buruk bagi seseorang, antara lain; rakus, tabdzir, ria, hasud dan lain-lain. 7. Quwwah al-‘Adalah Menurut al-Ghazali, terbentuknya akhlak yang mulia pada diri seseorang diperlukan lagi satu kekuatan, yaitu Al-Quwwah al-‘Adalah, sebuah kekuatan penyeimbang dari ketiga kekuatan jiwa sebelumnya (Al-Ghazali, Ihya Ulum adDin/Rubuu’ al-Muhlikat, 2005; 935). Sementara Ibnu Miskawaih meskipun tidak
15 menyebutkan secara khusus adanya Al-Quwwah al-‘Adalah, tetapi dalam penjelasnnya juga mengkaitkannya dengan ketiga kekuatan jiwa tersebut. Tiga kekutan jiwa manusia yang menjadi dorongan tingkah lakunya akan menjadi baik kalau bersinergi secara adil (keseimbang). Quwwah al-Ilmi akan menjadi sumber kebaikan kalau sudah menuntun dengan mudah untuk membedakan yang benar dan yang salah dalam keyakinan, yang baik dan yang buruk dalam perbuatan serta yang jujur dan yang bohong dalam berkata-kata. Atau dengan kata lain ilmunya sudah menjadi hikmah. Quwwah al-Ghadhab, akan menjadi baik apabila dapat dikendalikan oleh akal yang sehat dan syariat, sehingga menghasilkan sifat (syaja’ah) yang menjadi sumber berbagai akhlah yang baik. Apabila tidak mengikuti tuntunan akal dan syariat condong pada hal yang berlebih, maka dinamakan tahawwur (nekad). Tetapi bila condong pada sifat lemah dan pengurangan, maka dinamakan jubn (takut yang berlebihan). Kemudian Quwwah asy-Syahwah, akan menjadi baik apabila dapat terdidik oleh akal dan syariat, maka ia akan menghasilkan sifat ‘iffah yang menjadi sumber dari berbagai akhlak yang mulia, seperti malu, sabar, qanaah, wara, zuhud dan lain-lain. Dan sebalikanya kalau tidak disinergikan dengan akal dan syariat, maka apabila congdong pada hal yang berlebihan disebut syarh (rakus) dan sebaliknya bila condong pada hal dikuran-kurangi disebut jumud (tidak ada kemajuan). Singkatnya siapa yang dapat memposisikan diri di tengah dengan lurus (‘itidal) dalam empat dasar akhlak di atas, maka akhlaknya akan menjadi baik semuanya. Keempat akhlak ini, yakni hikmah, syaja’ah, ‘iffah dan adl adalah sumber pokok keutamaan dan akhlak yang lainnya adalah berupa cabangcabangnya.
16 D. Iman sebagai Pondasi Amal Saleh dan Implementasinya Bagaimana Saudara, apakah sudah paham tentang potensi jiwa pembentuk akhlak? Selanjutnya mari dalami hal-hal yang terkait dengan nilai-nilai keimanan dan ubudiyyah yang harus melekat dan mendasari amal, sehingga amal kita dapat dikategorikan sebagai amal saleh. Manusia diciptakan oleh Allah Swt. tujuannya adalah supaya beribadah hanya kepada-Nya. Sebagaimana dinyataka dalam Al-Qur’an surah adz-Dzariyat [51]: 56 sebagai berikut: ِن و ُ د ُ ب ْ ع َ ِي ا ل َّ ل ِ َس إ ْ ِإن ْ ال َ و َّ ِ ن ج ْ ال تُ ْ ق َ ل َ ا خ َ م َ و Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu Oleh sebab itu semua amal perbuatan manusia yang beriman harus bernilai ibadah dan menjadi amal saleh. Amal yang hanya dipersembahkan kepada Allah Swt. dan penilaiannya diserahkan sepenuhnya hanya kepada-Nya. Adapun kisi-kisi penilaian amal saleh sebenarnya sudah disampaiakan dalam ajaran Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad saw., yakni amal yang dibingkai dengan iman; diawali rencana yang matang dan tawakkal, niat yang ikhlas, dikerjakan dengan sabar dan/atau syukur, serta akhirnya dapat menerima (rida) hasilnya sebagai bagian dari takdir Allah Swt. 1. Pengertian Amal Saleh Menurut bahasa “Amal Saleh”, berarti perbutan yang baik, bermanfaat, selamat, atau cocok. Sedang menurut istilah terdapat beberapa definisi. Menurut Zamahsyari’ amal saleh diartikan sebagai semua perbuatan yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Amal saleh juga disefinisikan sebagi perbuatan baik yang dilakukan seseorang karena Allah Swt. dengan tujuan untuk mendapatkan rahmat dan rida-Nya, baik menjalankan perintah maupun menjalankan perintah maupun menjauhi larangan-Nya. sesuai dengan aturanaturan ajaran Islam. Dilihat dari hubungan antara manusia sebagai makhluk dan Allah Swt. sebagai Khalik, maka amal saleh dapat didefinisikan dengan semua perbuatan yang dilakukan hamba kepada Allah Swt. sebagai bentuk pengabdiannya yang didasari dengan iman. Didasari dengan iman artinya disyaratkan dengan keyakinan dan pengetahuan yang benar. Siapapun yang amalnya ingin menjadi amal saleh, maka ia harus beriman kepada Allah Swt. terlebih dahulu, lalu memiliki ilmu yang cukup sebelum tawakkal. Ini sebagai syarat supaya pelaksanaannya dapat dikerjakan dengan benar. Kemudian ia harus ikhlas hanya karena Allah, bersabar dan atau
17 bersyukur dalam pelaksaannya. Dan terakhir rida terhadap semua keputusan Allah Swt. dengan hasil dari ikhtiar dan amal kita. 2. Sabar dalam Beramal Saleh Saudara, sebagai bagian dari amal saleh adalah sabar. Melaksanakan amal saleh perlu dilakukan dengan sabar agar amal amal yang dilakukan dapat bernilai. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sabar berarti tahan menghadapi cobaan, tidak lekas marah, putus asa atau patah hati. Sebenarnya kata sabar berasal dari bahasa Arab, yaitu sabara-yashbiru-shabran yang artinya menahan. Kata lainnya adalah alhabs yang artinya menahan atau memenjarakan. Maksudnya adalah menahan hatinya dari keinginan atau nafsunya. Kata sabar dengan aneka ragam derivasinya memiliki makna yang beragam antara lain: sabara bih yang berarti “menjamin”. Shabîr yang berarti “pemuka masyarakat yang melindungi kaumnya”. Dari akar kata tersebut terbentuk pula kata yang berarti “gunung yang tegar dan kokoh”, “awan yang berada di atas awan lainnya sehingga melindungi apa yang terdapat di bawahnya”, “batu-batu yang kokoh”, “tanah yang gersang”, “sesuatu yang pahit atau menjadi pahit”. Sedangkan menurut istilah sabar didefinisikan oleh para ulama, antara lain: a) Sabar adalah sikap tegar dalam menghadapai ketentuan dari Allah. Orang yang sabar menerima segala musibah dari Allah dengan lapang dada; b) Sabar adalah keteguhan hati yang mendorong akal pikiran dan agama dalam menghadapi dorongan-dorongan nafsu syahwat; c). Sabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan. Ada juga yang memahami bahwa sabar bermakna kemampuan mengendalikan emosi, sehingga sabar memiliki padananan nama yang berbedabeda sesuai dengan objeknya: a) Sabar adalah ketabahan menghadapi musibah, sehingga kebalikannya gelisah dan keluh kesah berarti tidak sabar; b) Sabar itu dhobith an nafs disebabkan mampu menghadapi dan menahan diri dari godaan hidup yang menyenangkan; c) Sabar dalam peperangan disebut pemberani, kebalikannya disebut pengecut; d) Sabar dalam menahan marah disebut santun (hilm), kebalikannya disebut pemarah (tazammur); e) Sabar dalam menghadapi bencana yang mencekam disebut lapang dada (rida); f) Sabar dalam mendengar gosip disebut mampu menyembunyikan rahasia; g) Sabar terhadap kemewahan disebut zuhud; dan h) Sabar dalam menerima yang sedikit disebut kaya hati (qana’ah), kebalikannya disebut tamak atau rakus. Dari pengertian-pengertian di atas dapat dipahami bahwa sabar itu merupakan kemampuan menahan atau mengatur diri, untuk dapat tetap taat terhadap aturan-aturan yang benar berdasarkan syariat dalam menjalankan
18 perintah Allah Swt., menjauhi larangan-Nya dan menerima cobaan, pada waktu tertentu mulai dari awal sampai selesai. Seperti sabar mengerjakan salat berarti mulai takbiratul ihram sampai salam. Seseorang dikatakan sabar dalam salat jika ia tidak melanggar aturan-aturan salat dari mulai takbiratul ihram sampai salam. Dan salatnya akan salah, batal atau rusak. Harus mengulang kembali dari awal sampai akhir tanpa ada pelanggaran, jika mau salatnya menjadi bagian amal saleh. 3. Syukur atas Nikmat Allah Saudara, selain bersabar dalam beramal saleh, perlu juga bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Bersyukur ini juga menjadi bagian dari proses mengamalkan amal saleh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), syukur diartikan sebagai: a) rasa terima kasih kepada Allah, dan b) untunglah (menyatakan lega, senang dan sebagainya). Sebenarnya kata syukur berasal dari bahasa Arab yakni dalam bentuk mashdar dari kata kerja syakara–yasykuru– syukran–wa syukuran–wa syukranan. Secara bahasa berarti pujian atas kebaikan dan penuhnya sesuatu. Syukur juga berarti menampakkan sesuatu kepermukaan. Dalam hal ini menampakkan sesuatu kepermukaan, yakni menampakkan nikmat Allah. Sedangkan menurut istilah syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah yang disertai dengan kedudukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan tuntunan dan kehendak-Nya. Dalam hal ini, hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat,” dan sebaliknya hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberi-Nya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberi-Nya dengan lidah. M. Quraish Shihab menegaskan bahwa syukur mencakup tiga sisi. Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya. Kaitannya dengan amal saleh, syukur itu menjadi landasan tauhid seseorang ketika diberikan fasilitas yang enak dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba di dunia ini. Dengan kata lain dalam beramal ketika fasilitasnya terbatas maka harus sabar, sementara kalau fasilitasnya cukup apalagi berlimpah maka harus bersyukur. Dalam perspektif amal saleh keduanya (sabar dan syukur) kedudukannya sama menjadi cara atau ukuran bagi orang yang beriman apakah tindakannya akan menjadi amal ibadah atau bukan. Rasulullah saw. bersabda:
19 ْ م َ أ ْ ِمن تُ ْ ِجب َ : " ع َ م َّ ل سَ َ ِه و ْ ي َ ل َ ع ى اّللُ َّ ل ا ِّلل صَ ُ ول سُ َ ر َ ال َ : ق َ ال َ ٍب ق ْ ي َ ه صُ ْ ن َ ع ُ ه َّ ل ُ ك ِ ِمن ْ ؤ ُ م ْ ال رَ ْ م َ أ َّ ِن ، إ ِ ِمن ْ ؤ ُ م ْ ال ِ ر ْ ِن إ َ ا، و ً ر ْ ي َ خ ُ ه َ ل َ ِلك َ ذ َ ان َ ، ك رَ َ ك َ ش ُ اء َّ ر َ س ُ ه ْ ت َ اب صَ َ أ ْ ِن ، إ ِ ِمن ْ ؤ ُ م ْ اِلل َّ ل ِ ٍد إ َ ح َ ِلأ َ ِلك َ َس ذ ْ ي َ ل َ ، و ٌ ر ْ ي َ خ ُ ه َ ل ُ اء َّ ر ضَ ُ ه ْ ت َ اب صَ َ أ ا ")رواه احمد( ً ر ْ ي َ خ ُ ه َ ل َ ِلك َ ذ َ ان َ ، ك َ ر َ ب صَ َ ف Dari Shuhaib berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Saya heran terhadap urusan orang yang beriman, sesungguhnya semua urusannya akan menjadi kebaikan, dan itu tidak dapat terjadi keculi bagi orang yang beriman. Jika ia memperoleh kesenangan lalu ia bersyukur, maka yang demikian itu akan menjadikan kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa keburukan lalu ia bersabar, maka yang demikian itu juga menjadi kebaikan (HR. Ahmad) Pernyataan Rasulullah saw. tersebut di atas, yang dimaksud menjadi kebaikan bagi orang yang beriman adalah menjadi amal yang bernilai ibadah. Karena memang tugas manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepadaNya. Dan nilai ibadah itu bentuknya adalah amal saleh, ketakwaan kepada-Nya. Selalu menjadi hamba yang saleh dalam kondisi apapun, baik sedang dalam kesusahan maupun sedang dalam kelapangan. Kesusahan dan kesenangan di dunia, bagi seorang yang beriman itu sama kedudukannya sebagai alat ujian untuk mendapatkan amal saleh sebanyak-banyaknya. 4. Rida atas Ketetapan Allah Menurut bahasa kata الرضا) rida) berasal dari bahasa Arab yang berarti senang, suka, rela. Ia merupakan lawan dari kata السخط) al-sukht) yang berarti kemarahan, kemurkaan, rasa tidak suka. Orang yang الرضا) rida) berarti orang yang sanggup melepaskan ketidaksenangan dari dalam hati, sehingga yang tinggal di dalam hatinya hanyalah kesenangan. Menurut istilah para ulama rida didefinisikan antara lain oleh: a) Dzunnun Al-Miṣri, beliau mengatakan bawa rida ialah kegembiraan hati dalam menghadapi qadha tuhan; b) Ibnu Ujaibah mengatakan bahwa rida adalah menerima kehancuran dengan wajah tersenyum, atau bahagianya hati ketika ketetapan terjadi, atau tidak memilih-milih apa yang telah diatur dan ditetapkan oleh Allah, atau lapang dada dan tidak mengingkari apa-apa yang datang dari Allah; c) Al-Barkawi berpendapat bawa rida adalah jiwa yang bersih terhadap apa-apa yang menimpanya dan apa-apa yang hilang, tanpa perubahan; d) Ibnu Aṭaillah as-Sakandari berkata, “rida adalah pandangan hati terhadap pilihan Allah yang kekal untuk hamba-Nya, yaitu, menjauhkan diri dari kemarahan. Dari definisi-definisi di atas dapat dipahami bahwa rida itu merupakan kondisi kejiwaan atau sikap mental yang senantiasa menerima dengan lapang dada atas segala keputusan Allah Swt. yang terkait dengan diri seorang hamba, baik berupa karunia yang baik berupa nikmat maupun yang buruk berupa bala’.
20 Ia akan senantiasa merasa senang dalam setiap situasi yang meliputinya. Sikap seperti inilah yang dapat menjadikan amal seorang hamba dapat diterima di sisi Allah Swt. dan merupakan akhlak yang mulia kepada Penciptanya. Orang yang rida terhadap cobaan dan musibah yang menimpanya sebenarnya merasakan apa yang dirasakan manusia pada umumnya. Akan tetapi dia rida dengan akal dan imannya, karena dia meyakini besarnya pahala dan balasan atas musibah dan cobaan tersebut. Oleh karena itu dia tidak menolaknya dan tidak gelisah. Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, “rida bukan berarti tidak merasakan bencana. Akan tetapi, rida itu berarti tidak menolak qada dan takdir. Orang yang jiwanya rela (puas) menerima apapun yang terjadi pada diri mereka, tidak ada sedikitpun kekecewaan yang melanda dirinya. Orang-orang seperti inilah yang disebut dengan orang yang rida. Orang yang rida sadar bahwa penderitaan yang menimpanya juga menimpa orang lain, namun dalam bentuk yang berbeda-beda. Sikap seperti itu muncul karena ia mengimani sepenuhnya rencana dan kebijaksanaan Allah. Apa yang menimpanya diyakini sebagai ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah kepadanya. Ia menerima dan mensikapi dengan senang hati sehingga ia dapat terhindar dari kebencian terhadap manusia, karena seseorang yang berusaha mencari rida Allah tidak peduli terhadap komentar apapun dari orang lain mengenai dirinya, dan hal itu tidak membuatnya sakit hati, sehingga hatinya menjadi tenang dan jauh dari gejolak dan gelisah. Bagaimana hubungannya dengan amal saleh? Rida terhadap keputusan Allah Swt. merupakan syarat diterimanya penghambaan seseorang. Siapa yang tidak rida dengan keputusan dan takdir-Nya dia tidak berhak mengakui Allah sebagai Tuhannya. Dan berarti amalnya akan didiskualifikasi, tidak akan dihitung dalam perhitungan di yaum al-hisab kelak. Karena Allah Swt. tidak rida dengan akhlaknya. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis Qudsi dari Anas bin Malik sebagai berikut: َ ل ْ ن َ ى: " م َ ال َ ع َ ت اّللُ َ ال َ : ق ُ ول ُ ق َ ي َ م َّ ل سَ َ ِه و ْ ي َ ل َ ع ُ َّ ى اّلل َّ ل ا ِّلل صَ َ ول سُ َ ر تُ ْ ِمع : سَ َ ال َ ٍك ق اِل َ م ْ ِن س ب َ ن َ َض عن أ رْ َ ي ْ م ِ ي ")رواه البيهقي( ر ْ ي َ ا غ ًّ ب َ ْس ر ِم َ ت ْ ل َ ي ْ ل َ ِ ي ف ر َ د َ ق َ ِ ي و ائ ضَ َ ق ِ ب Dari Anas bin Malik berkata, saya mendengan Rasulullah saw. bersabda, Allah Swt. berfirman, “Siapa yang tidak rida dengan keputusan dan takdirku, maka hendaknya mencari dan memohon doa kepada Tuhan selain Aku” (HR. Baihaki) 5. Hikmah Mempelajari Amal Saleh Ketika Saudara menganalisis materi Amal Saleh ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa sudah maksimal amal kebaikan yang
21 dilakukan? Apakah Saudara membayangkan apa jadinya jika Allah tidak memberi hidayah pada kita, sehingga kita bisa beramal saleh? Di antara hikmahnya adalah seluruh umat muslim dapat terus berbuat yang baik, kebaikannya diniatkan sebagai amal saleh yang juga sebagai bekal di kehidupan berikutnya. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuliakan diri sendiri, Allah, sesama manusia dan makhluk lain. Serta sebagai bahan mengajak orang lain beramal saleh. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!
22 E. Tawakkal 1. Pengertian Tawakkal Menurut bahasa kata tawakkal diambil dari Bahasa Arab كل ُّوَ َالت) tawakkul) dari َو َك َل kata akar (wakala) yang berarti lemah. Adapun كل ُّوَ َالت) tawakkul) berarti menyerahkan atau mewakilkan. Seperti seseorang mewakilkan urusan kepada orang lain atau menggantikannya. Artinya, dia menyerahkan suatu perkara atau urusannya dan dia menaruh kepercayaan kepada orang itu mengenai urusan tadi. Secara istilah tawakkal telah didefinisikan oleh ulama, antara lain Imam alGhazali. Beliau menyebutkan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin pada bab at-Tauhid wa at-Tawakkal, bahwa tawakkal itu adalah hakikat tauhid yang merupakan dasar dari keimanan, dan seluruh bagian dari keimanan tidak akan terbentuk melainkan dengan ilmu, keadaan, dan perbuatan. Begitupula dengan sikap tawakkal, ia terdiri dari suatu ilmu yang merupakan dasar, dan perbuatan yang merupakan buah (hasil), serta keadaan yang merupakan maksud dari tawakkal. Tawakkal adalah menyerahkan diri kepada Allah tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam kesulitan di luar batas kemampuan manusia. Berikutnya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dalam kitabnya Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa tawakkal merupakan amalan dan penghambaan hati dengan menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah Swt. semata, percaya terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan rida atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikan segala ‘kecukupan’ bagi dirinya, dengan tetap berikhtiar semaksimal mungkin untuk dapat memperolehnya. 2. Dalil tentang Tawakkal Allah Swt. berfirman: ْ م ُ ه ْ ن َ ع ُ ف ْ اع َ ف َ ِلك ْ و َ ح ْ وا ِمن ُّ ض َ ف ْ ان َ ِب ل ْ ل َ ق ْ ال ِيظ َ ل َ ا غ ًّ ظ َ ف تَ ْ ن ُ ك ْ و َ ل َ و ْ م ُ ه َ ل تَ ْ ِن ِ ل َّ اّلل َ ٍة ِمن َ م ْ ح َ ا ر َ م ِ ب َ ف ِفرْ ْ غ َ ت اس ْ َ و ِي ِ ل ك َ و َ ت ُ م ْ ب ال ُّ ِح ُ ي َ َّ اّلل َّ ِن ِ إ َّ ى اّلل َ ل َ ع ْ ل َّ ك َ و َ ت َ ف تَ ْ م َ ز َ ا ع َ ذ ِ إ َ ف ِ ر ْ م َ أ ْ ِي ال ف ْ م ُ ه ْ ر ِ او َ ش َ و ْ م ُ ه َ ل َ ن Maka sebab rahmat dari Allah, Engkau bersikap lemah lembut kepada mereka. Seandainya Engkau bersikap kasar lagi keras hati, niscaya mereka akan pergi dari sekelilingmu. Sebab itu maafkan mereka, mintakan ampunan baginya dan ajaklah bermusyawarah mereka dalam urusan itu (menentukan strategi perang). Lalu apabila Engkau telah memiliki tekad yang bulat, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal (Q.S. Ali Imran [3]: 159). Ayat di atas menempatkan tawakkal pada posisi penyusunan rencana tahap akhir setelah mempunyai keputusan dan tekad yang bulat. Hal ini menunjukkan
23 bahwa sebelum tawakkal manusia harus terlebih dahulu berikhtiyar secara zhahir, selanjutnya jangan lupa ikhtiar batin, yakni ikhtiar dan doa. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad saw., beliau melakukan rundingan dahulu dengan para sahabat dengan meminta pendapat atau buah pikiran mereka mengenai urusan peperangan dan lain-lain demi mengambil hati mereka dengan sikap lemah lembut, kemudian setelah keputusan diambil dan telah menetapkan hati, lalu bertawakkal kepada Allah dengan berserah kepadaNya. Dalam sebuah hadis Rasullah saw. diriwayatkan sebagai berikut: يَّ صَ ِ ب َّ الن َّ ن َ ٍك، أ اِل َ م ِ ن ْ ِس ب َ ن َ أ ْ ن َ ع ِ َّ اّلل ِ م ِس ْ ب َ ال َ ق َ ِِه ف ت ْ ي َ ب ْ ِمن ُ ل ُ ج الرَّ رَجَ َ ا خ َ ذ ِ : " إ َ ال َ ، ق َ م َّ ل سَ َ ِه و ْ ي َ ل َ ع ى اّللُ َّ ل ِقيتَ ُ و َ ، و ِفيتَ ُ ك َ ، و ِديتَ ُ ٍِذ: ه ئ َ ِحين ُ ال َ ق ُ : ي َ ال َ ِ ، ق َّ اّلل ِ ا ب َّ ل ِ إ َ ة َّ و ُ ا ق َ ل َ و َ ل ْ و َ ا ح َ ِ ، ل َّ ى اّلل َ ل َ ع تُ ْ ل َّ ك َ و َ ت ُ ه َ ى ل َّ ح َ ن َ ت َ ت َ ، ف ِط ا َ ي َّ َي الش "رواه ابو داود( ِ ق ُ و َ و ِ يَ ف ُ ك َ و ِديَ ُ ه ْ د َ ق ٍ ل ُ ج ِرَ ب َ ك َ ل َ ْف ي َ :ك رُ َ آخ ٌ ان َ ط ْ ي َ ش ُ ه َ ل ُ ول ُ ق َ ي َ ، ف ُ ين Dari Anas bin Malik berkata, bahwasannya Nabi Saw. bersabda, “Apabila seorang laki-laki keluar dari rumahnya, lalu membaca ‘ ت ْ َو هكل بِ ى هَِّللا، ْسِم هَِّللا، تَ َعلَ هَل بِا هِّلل ِ هوةَ إ ق ل ََو َل َوْح َل ,‘ََmaka pada saat itu dikatakan kepadanya: engkau telah diberi hidayah, engkau telah dicukupkan, engkau telah dijaga dan ditinggalkan syaitan. Dan syaitan yang lain berkata kepadanya, Bagaimana bisa menggoda dengan laki-laki ini yang sudah diberijamin hidayahnya, kecukupannya dan penjagaannya” (H.R. Abu Dawud) Hadis di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa tawakkal itu dilakukan sebelum melakukan aktivitas. Kita harus menyadari sematang apapun rencana yang kita buat, tetaplah rencana yang dibuat oleh manusia yang serba lemah, dan tidak dapat mengetahui semua unsur yang menentukan dan mempengarui keberhasilannya. Manusia hanya bisa berencana Allah yang menentukan segalanya. Sebab itu sebelum kita menjalankan rencana, sudah semestinya kita serahkan sepenuhnya kepada Dzat yang Maha Mengatur dan Menentukan, Allah Swt. 3. Ciri-ciri Tawakkal Tawakkal bukan berarti tinggal diam, tanpa kerja dan usaha, bukan menyerahkan semata-mata kepada keadaan dan nasib dengan tegak berpangku tangan duduk memekuk lutut, menanti apa-apa yang akan terjadi. Memohon pertolongan dan Bertawakkal tidaklah berarti meninggalkan upaya, bertawakkal mengharuskan seseorang meyakini bahwa Allah yang mewujudkan segala sesuatu, sebagaimana ia harus menjadikan kehendak dan tindakannya sejalan dengan kehendak dan ketentuan Allah Swt. Seorang muslim dituntut untuk berusaha tetapi di saat yang sama ia dituntut pula
24 berserah diri kepada Allah Swt., ia dituntut melaksanakan kewajibannya, kemudian menanti hasilnya sebagaimana kehendak dan ketentuan Allah. Seorang muslim berkewajiban menimbang dan memperhitungkan segala segi sebelum dia melangkahkan kaki dan mengerjakan sesuatu. Tetapi bila pertimbangannya keliru atau perhitungannya meleset, maka ketika itu akan tampil dihadapannya Allah Swt., Tuhan yang kepada-Nya yakni dengan bertawakkal dan berserah diri. 4. Contoh Tawakkal dalam Kehidupan Sehari-hari Sebagai seorang guru yang berupaya memperbaiki kemampuan diri dengan terus belajar dan mengikuti program keprofesian, adalah bentuk dari ikhtiar yang dilakukan. Ikhtiar mengikuti kegiatan PPG ini adalah bagian dari upaya meningkatkan kualitas diri dan memntaskan diri di hadapan Allah sebagai orang yang layak disebut guru profesional. Seluruh agenda yang disajikan diikuti dengan baik dan bahkan dengan hasil yang maksimal. Contoh tawakkal dari kondisi ini adalah selalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Soal dikerjakan dengan jujur dan maksimal, lalu hasilnya diserahkan pada Allah. Begitu pula pada saat ujian akhir kegiatan ini, setelah semua rangkaian dilalui dengan baik, maka bentuk tawakalnya adalah menyerahkan dan memasrahkan hasil kelulusannya kepada Allah. Lulus atau tidak adalah ketetapan Allah. Jika lulus, maka perlu bersyukur, jika tidak lulus maka perlu bersabar. Ini adalah salah satu contoh tawakal dalam kehidupan yang sangat dekat dengan kita. Selain contoh ini, Saudara bisa mengeksplor lagi sebanyak-banyaknya contoh tawakkal yang terjadi di masyarakat untuk menambah wawasan. 5. Hikmah Mempelajari Tawakkal Ketika Saudara menganalisis materi Tawakkal ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa sudah maksimal dalam menjalankan perintah Allah dan mempasrahkan segala hasilnya? Apakah Saudara membayangkan apa jadinya jika Allah tidak menolong dalam setiap ikhtiar kita? Di antara hikmah adanya tawakal ini adalah orang beriman akan lebih ringan dalam menjalankan aktivitas kehidupan, karena sudah meyakini bahwa hasilnya adalah segala kebaikan dari Allah. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuliakan diri sendiri, Allah, sesama manusia dan makhluk lain. Serta sebagai bahan mengajak orang lain mempasrahkan segala urusannya kepada Allah. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!
2 URAIAN MATERI A. al-Haya' (Malu) 1. Pengertian al-Haya' Menurut bahasa malu berarti merasa sangat tidak enak hati seperti hina atau segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, kepada pihak lain. Sedang menurut istilah adalah sifat yang mendorong seseorang merasa tidak enak apabila meninggalkan kewajiban-kewajiaban sebagai hamba Allah Swt. dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Malu adalah sifat atau perasaan yang membentengi seseorang dari melakukan yang rendah atau kurang sopan. Ajaran Islam mengajarkan pemeluknya memiliki sifat malu karena dapat menyebankan akhlak seseorang menjadi tinggi. Orang yang tidak memiliki sifat malu, akhlaknya akan rendah dan tidak mampu mengendalikan hawa nafsu. Perasaan malu muncul dari kesadaran akan perasaan bersalah tetapi sebenarnya perasaan malu tidak sama dengan perasaaan bersalah. Rasa malu merupakan perasaan tidak nyaman tentang bagaimana kita dilihat oleh pihak lain, yakni Allah semata. 2. Dalil tentang al-Haya' Salah satu landasan sifat malu ini adalah merasa melihat Allah atau merasa dilihat Allah. Sebagaimana konsep ihsan yang dijelaskan oleh Rasulullah sebagai berikut: .. َ اك َ ر َ ي ُ ه ه ن ِ إ َ ف ُ اه رَ َ ت ْ ن ُ ك َ ت ْ م َ ل ْ ِ ن إ َ ، ف ُ اه رَ َ ت َ ك ه ن َ أ َ ك َ ه اَّلل َ د ُ ب ْ ع َ ت ْ ن َ ...أ . )رواه مسلم( Kamu mengabdi (melakukan segala sesuatu perbuatan) kepada Allah Swt. seakanakan melihat kamu melihatnya, lalu jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Muslim) Ibnul Qoyyim menjelaskan dalam kitabnya Madarijus Salikin bahwa kuatnya sifat malu itu tergantung kondisi kualitas hatinya. Sedikit sifat malu disebabkan oleh kematian hati dan ruhnya, sehingga semakin hidup hati itu maka sifat malupun semakin sempurna. Beliau juga mengatakan, Sifat malu tergantung kepada pengenalan terhadap Rabbnya. Atau dengan kata lain, malu adalah sifat yang melekat pada diri seseorang terkait dengan kualitas imannya. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar dalam sebuah hadis Rasulullah saw. sebagai berikut: ُ ان َ ِإيم ْ ال َ و ُ اء َ ي َ ح ْ : »ال َ م ه ل سَ َ ِه و ْ ي َ ل َ ع ى اَّللُ ه ل صَ ُّ ي ِ ب ه الن َ ال َ : ق َ ال َ ا، ق َ م ُ ه ْ ن َ ع ُ ه ِضَي اَّلل َ ر رَ َ م ُ ع ِ ن ْ اب ِ ن َ ع ا، ً ِميع َ ا ج َ ن ِ ر ُ ق » رُ َ آخ ْ ال َ ِفع ُ ا ر َ م ُ ه ُ د َ ح َ أ َ ِفع ُ ا ر َ ذ ِ إ َ ف )رواه الحاكم(
3 Dari Ibn. Umar ra. Berkata, Nabi Saw. bersabda: Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya. (HR. Hakim) Islam menempatkan malu sebagai bagian dari iman. Orang beriman pasti memiliki sifat malu. Orang yang tidak memiliki malu berarti tidak ada iman dalam dirinya meskipun lidahnya menyatakan beriman. Rasulullah saw. bersabda, ''Iman itu lebih dari 70 atau 60 cabang, cabang iman tertinggi adalah mengucapkan 'La ilaha illallah', dan cabang iman terendah adalah membuang gangguan (duri) dari jalan, dan rasa malu merupakan cabang dari iman.'' (HR Bukhari-Muslim). Apabila seseorang hilang malunya, secara bertahap perilakunya akan buruk, kemudian menurun kepada yang lebih buruk, dan terus meluncur ke bawah dari yang hina kepada lebih hina sampai ke derajat paling rendah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. yang artinya: Dari Ibn. Umar bahwasannya Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah apabila hendak membinasakan seseorang, Dia mencabut rasa malu dari orang itu. Sesungguhnya apabila rasa malu seorang hamba sudah dicabut, kamu tidak menjumpainya kecuali dibenci. Apabila tidak menjumpainya kecuali dibenci, dicabutlah darinya sifat amanah. Apabila sifat amanah sudah dicabut darinya maka tidak akan didapati dirinya kecuali sebagai pengkhianat dan dikhianati. Kalau sudah jadi pengkhianat dan dikhianati, dicabutlah darinya rahmat. Kalau rahmat sudah dicabut darinya, tidak akan kamu dapati kecuali terkutuk yang mengutuk. Apabila terkutuk yang mengutuk sudah dicabut darinya, maka akhirnya dicabutlah ikatan keislamannya.'' (HR Ibn Majah). 3. Macam-macam al-Haya' Ada tiga macam malu yang perlu melekat pada seseorang, yaitu: a. Malu kepada diri sendiri ketika sedikit melakukan amal saleh kepada Allah dan kebaikan untuk umat dibandingkan orang lain. Malu ini mendorongnya meningkatkan kuantitas amal saleh dan pengabdian kepada Allah dan umat. b. Malu kepada manusia. Ini penting karena dapat mengendalikan diri agar tidak melanggar ajaran agama, meskipun yang bersangkutan tidak memperoleh pahala sempurna lantaran malunya bukan karena Allah. Namun, malu seperti ini dapat memberikan kebaikan baginya dari Allah karena ia terpelihara dari perbuatan dosa. c. Malu kepada Allah. Ini malu yang terbaik dan dapat membawa kebahagiaan hidup. Orang yang malu kepada Allah, tidak akan berani melakukan kesalahan dan meninggalkan kewajiban selama meyakini Allah selalu mengawasinya.
4 Sifat malu begitu penting karena sebagai benteng pemelihara akhlak seseorang dan bahkan sumber utama kebaikan. Maka dari itu, sifat ini perlu dimiliki dan dipelihara dengan baik. Sifat malu dapat meneguhkan iman seseorang. 4. Hikmah Mempelajari al-Haya' Ketika Saudara menganalisis materi al-Haya' ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa malu kepada Allah? Apakah Saudara membayangkan apa jadinya jika Allah mencabut rasa malu dari diri kita? Di antara hikmah mempelajari materi ini adalah agar menyadari bahwa memiliki rasa malu adalah bagian dari keimanan. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuliakan diri sendiri, Allah, sesama manusia dan makhluk lain. Serta sebagai bahan mengajak orang lain agar bisa merasa malu dan merasa dilihat Allah. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!
5 B. al-Khauf (Takut) 1. Pengertian al-Khauf Secara bahasa, khauf adalah lawan kata al-amnu. Al-Amnu adalah rasa aman, dan khauf adalah rasa takut. Khauf adalah perasaan takut terhadap siksa dan keadaan yang tidak mengenakkan karena kemaksiatan dan dosa yang telah diperbuat. Raja’ adalah perasaan penuh harap akan surga dan berbagai kenikmatan lainnya, sebagai buah dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bagi seorang muslim, kedua rasa ini mutlak dihadirkan. Karena akan mengantarkan pada satu keadaan spiritual yang mendukung kualitas keberagamaan. 2. Alasan Memiliki Sifat al-Khauf Kenapa kita harus mempunyai sifat khauf, ada beberapa alasan: Pertama, supaya ada proteksi diri. Terutama dari perbuatan kemaksiatan atau dosa. Karena, nafsu selalu menyuruh kita untuk melakukan perbuatan buruk dan tidak ada kata berhenti dalam menjerumuskan kita. Oleh karena itu, kita harus membuat nafsu menjadi takut. Seorang ahli hikmah berkata, “Suatu ketika nafsu mengajak berbuat maksiat, lalu ia keluar dan berguling- guling di atas pasir yang panas seraya berkata kepada nafsunya, “Rasakanlah! Neraka jahanam itu lebih panas dari pada yang anda rasakan ini.” Kedua, agar tidak ujub atau berbangga diri dan sombong. Sekalipun kita sedang dalam zona taat, kita harus selalu waspada terhadap nafsu. Perasaan paling suci, paling bersih dan paling taat adalah di antara siasat halus nafsu. Karena itulah nafsu harus tetap dipaksa dan dihinakan tentang apa yang ada padanya, kejahatannya, dosa-dosa dan berbagai macam bahayanya. 3. Dalil tentang al-Khauf Sebagai dasar sifat al-Khauf ini, Allah Swt. berfirman dalam surah an-Najm [53] ayat 32 sebagai berikut: ى َ ق ه ات ِ ن َ ِم ب ُ م َ ل ْ ع َ أ َ و ُ ه ْ م ُ ك سَ ُ ف ْ ن َ وا أ ُّ ك َ ز ُ ا ت َ ل َ ... ف “… Jangan engkau merasa paling suci, karena Aku tahu siapa yang paling bertakwa.” (Q.S. an-Najm [53]: 32). Berikutnya, kenapa manusia perlu memiliki sifat raja’. Alasannya adalah pertama, agar tetap bersemangat dalam ketaatan. Sebab berbuat baik itu berat dan setan senantiasa akan mencegahnya dengan berbagai cara. Allah Swt. berfirman: ا َ ل َ و ْ م ِ ِ ه ِل ائ َ م َ ش ْ ن َ ع َ و ْ م ِ اِنه َ م ْ ي َ أ ْ ن َ ع َ و ْ م ِ ِفه ْ ل َ خ ْ ِمن َ و ْ م ِ ِديه ْ ي َ أ ِ ن ْ ي َ ب ْ ِمن ْ م ُ ه ه ن َ ِي آت َ ل ه م ُ ث َ ين ِ اِكر َ ش ْ م ُ ه َ ر َ ث ْ ك َ أ ُ ِ د ج َ ت Kemudian pasti aku akan datangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engka tidak akan mendapatka mereka banyak bersyukur. (Q.S. Al-‘Araf [7]: 17)
6 Imam al-Ghazali berkata, “Kesedihan itu dapat mencegah manusia dari makan. Khauf dapat mencegah orang berbuat dosa. Sedang raja’ bisa menguatkan keinginan untuk melakukan ketaatan. Ingat mati dapat menjadikan orang bersikap zuhud dan tidak mengambil kelebihan harta duniawi yang tidak perlu”. Begitu pula orang-orang yang tekun beribadah, mereka akan berjibaku apabila ia teringat surga yang indah dengan berbagai kenikmatannya; kecantikan bidadaribidadarinya, kemegahan istananya, kelezatan makanan dan minumannya, keindahan pakaian dan keelokan perhiasannya dan semua yang disediakan Allah di dalamnya. Di waktu yang lain, Imam Al-Ghazali menjelaskan ketika ditanya, Manakah yang lebih utama di antara sikap khauf dan raja`? Sang Hujjatul Islam menjawab dengan pertanyaan balik. Mana yang lebih enak, roti atau air? Bagi orang yang lapar, roti lebih tepat. Bagi yang kehausan, air lebih pas. Jika rasa lapar dan haus hadir bersamaan dan kedua rasa ini sama-sama besar porsinya, maka roti dan air perlu diasupkan bersama-sama. 4. Hikmah Mempelajari al-Khauf Bagaimana kalau orang yang tidak memiliki rasa takut dan tidak punya harapan? Tentu dia akan sembarangan dalam beramal atau tidak mau berbuat apa-apa. Dan tentunya sulit dijelaskan bagaimana ia bisa menjadi orang yang sukses. Ketika Saudara menganalisis materi al-Khauf ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa takut jika tidak bisa memenuhi perintah Allah? Apakah Saudara membayangkan apa jadinya jika Allah tidak memberikan rasa takut akan kehilangan pertolongan Allah? Di antara hikmah mempelajari materi ini adalah agar menyadari bahwa setiap manusia membutuhkan pertolongan Allah. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuliakan diri sendiri, Allah, sesama manusia dan makhluk lain. Serta sebagai bahan mengajak orang lain selalu takut kepada Allah. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!
7 C. ar-Rahiim (Kasih Sayang) 1. Pengertian ar-Rahiim Kasih sayang merupakan karunia nikmat yang sangat didambakan oleh semua orang. Karena dengan sifat ini, dapat tercipta kepedulian, kedamaian dan rasa empati kepada orang lain. Tidak hanya itu, kasih sayang dapat mendorong manusia untuk saling membantu untuk meringankan penderitaan yang dialami oleh manusia lainnya. Tanpa adanya rasa kasih sayang, mungkin manusia akan menjadi sangat individualistis, egois dan tidak memikirkan kepentingan orang lain. Islam, sebagai agama yang sempurna, mempunyai konsep kasih sayang, memahami bahwa manusia merupakan makhluk yang sempurna, dibekali dengan akal, ghadhab dan nafsu. Karena manusia dibekali dengan akal dan nafsu, maka mereka tidak seperti malaikat yang selalu taat dengan perintah Allah, manusia terkadang lebih mengutamakan akal atau nafsunya dibandingkan perintah Allah. Untuk itu, Islam mengatur batas-batas kasih sayang yang diperbolehkan, supaya berakibat baik bagi semua pihak. Konsep ibadah harus dipahami sebagai prinsip dalam mengimplementasikan sifat kasih sayang di antara kita, yakni dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah swt. Dengan memegang prinsip tersebut, kita akan terbiasa untuk meniatkan diri beribadah kepada Allah dalam setiap hal yang kita lakukan, termasuk dalam hati atau perasaan kita. Tidak ada rasa kasih dan sayang yang kita berikan kepada makhluk lain kecuali untuk memperoleh rida Allah Swt. 2. Dalil tentang ar-Rahiim Hadis yang membicarakan kasih sanyang diantaranya yang artinya sebagai berikut: (1). “Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi”, (2)” Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia” (H.R. Thabrani). Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi seluruh alam, juga mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya berlaku antar manusia, melainkan juga pada hewan, tumbuhan dan lingkungan di sekitarnya. Pernah diceritakan Abu Bakar as-Shiddiq ra. berpesan kepada pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid, “Janganlah kalian bunuh perempuan, orang tua, dan anakanak kecil. Jangan pula kalian kebiri pohon-pohon kurma, dan janganlah kalian tebang pepohonan yang berbuah. Jika kalian menjumpai orang-orang yang tidak berdaya, biarkanlah mereka, jangan kalian ganggu”. Nasehat ini, yang diberikan dalam keadaan perang, sungguh mencerminkan makna kasih sayang yang diajarkan
8 oleh agama Islam. Kasih sayang tidak hanya untuk manusia, melainkan juga untuk lingkungan di sekitarnya. 3. Contoh ar-Rahiim dalam Kehidupan Sehari-hari Perlu digaris bawahi bahwa sifat kasih sayang yang tidak didasari dengan prinsip penghambaan diri kepada Allah, adalah tidak benar. Yang demikian itu justru akan memberikan energi negatif untuk beramal yang salah, tidak diterima oleh Allah, dan akan memberikan dampak buruk kepada semua orang bahkan makhluk yang lain. Sebagai contoh adalah Saudara menyayangi peserta didik Saudara sebagai anak didik yang membutuhkan perhatian dan bimbingan terbaik, dengan harapan Allah meridai. Kasih sayang yang dimaksud bukan kasih sayang terhadap lawan jenis dengan diselimuti hawa nafsu. Hal ini adalah perbuatan keliru karena tidak didasari prinsip penghambaan diri kepada Allah. Saudara bisa mengeksplor sebanyak-banyaknya contoh yang berkaitan dengan materi ini. 4. Hikmah Mempelajari ar-Rahiim Ketika Saudara menganalisis materi ar-Rahiim ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa selalu ingin menyayangi orang-orang di sekitar? Apakah Saudara membayangkan apa jadinya jika Allah tidak memberikan kasih sayangnya pada orang beriman? Di antara hikmah mempelajari materi ini adalah dapat menguatkan hati selalu memberikan kasih sayang yang didasari penghambaan pada Allah. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuliakan diri sendiri, Allah, sesama manusia dan makhluk lain. Serta sebagai bahan mengajak orang lain agar selalu saling menyayangi dalam ketaatan. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!
9 D. Pemaaf 1. Pengertian Pemaaf Pemaaf berarti orang yang rela member maaf kepada orang lain. Sikap pemaaf dapat dimaknai sikap suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa menyisakan rasa benci dan keinginan untuk membalasnya. Sebenarnya kata pemaaf, adalah serapan dari Bahasa Arab, yakni al-‘afw yang berarti maaf, ampun, dan anugerah. Maaf sejatinya mudah dipahami, tapi susah diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Hakikat maaf adalah rela, benar-benar merelakan kesalahan yang sudah orang lain lakukan, sudah terjadi dan biarlah terjadi. Memaafkan kesalahan orang lain berarti rida dengan kenyataan yang sudah terjadi dan tidak ada rasa marah lagi kepada orang yang berbuat salah. Pemaaf berarti orang yang dapat dengan mudah merelakan kejadian-kejadian buruk dan menyakitkan dirinya yang dilakukan oleh orang lain, karena dorongan dari dalam jiwanya yang taat kepada perintah Allah untuk bisa memaafkan siapapun. Meski sifat pemaaf itu sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, namun masih banyak orang susah untuk memaafkan kesalahan orang lain. Jika banyak di antara kita yang masih sulit memaafkan, maka jangan heran jika dendam di antara masyarakat kita tidak mudah hilang. Dan jangan berharap akan ada ketenangan dan ketentraman dalam masyarakat. Sebab itu memaksakan diri untuk belajar dan berlatih memiliki sifat pemaaf itu sangat perlu. Kita perlu belajar dan berlatih untuk bisa berlapang dada sebagai cerminan sifat pemaaf. Dalam rangka belajar bersifat pemaaf, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah para Rasul dan sahabatnya. 2. Dalil tentang Pemaaf Allah mengajarkan kepada kita agar menjadi pribadi yang pemaaf, melalui kisah cerita, seperti kisah Abu Bakar as-Shidiq yang menjadi sebab-sebab diturunkannya ayat berikut ini: ُ ق ْ ي ال ِ ول ُ وا أ ُ ت ْ ؤ ُ ي ْ ن َ ِة أ َ ع السه َ و ْ م ُ ك ْ ِمن ِ ل ضْ َ ف ْ و ال ُ ول ُ أ ِ ل َ ت ْ أ َ ا ي َ ل َ و ِ ه اَّلل ِ يل ِ ب ِي سَ ف َ ين ِ ِجر ا َ ه ُ م ْ ال َ و َ اِكين سَ َ م ْ ال َ ى و َ ب رْ ٌ ِحيم َ ر ٌ ور ُ ف َ غ ُ ه اَّلل َ و ْ م ُ ك َ ل ُ ه اَّلل ِفرَ ْ غ َ ي ْ ن َ أ َ ون ُّ ِحب ُ ا ت َ ل َ وا أ ُ ح َ ف ص ْ َ ي ْ ل َ وا و ُ ف ْ ع َ ي ْ ل َ و “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan member (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. an-Nur [24]: 22)
10 Selain kisah khalifah Abu Bakar, ada juga kisah dari Rasulullah saw.. Banyak kisah hidup beliau yang dapat diambil sebagai pelajaran hidup, termasuk salah satu sifat pemaafnya. Seperti kisah seorang wanita Yahudi yang mencoba meracuni Rasulullah dengan menabur racun dimakanan beliau, namun Rasulullah terselamatkan. Hingga wanita itu mengakui perbuatannya kepada Rasulullah, dan beliau memaafkan wanita itu tanpa menghukumnya. Memberi maaf kepada orang lain yang bersalah merupakan cara bagaimana kita bisa membangun kembali tatanan masyarakat yang rusak. Terutama dalam proses membangun keluarga di antara kita yang tentunya tidak luput dari kesalahan-kesalahan. Allah Swt. berfirman: َ ِذين ه ا ال َ ه ُّ ي َ ا أ َ ي وا ِفرُ ْ غ َ ت َ وا و ُ ح َ ف ص ْ َ ت َ وا و ُ ف ْ ع َ ت ْ ِن إ َ و ْ م ُ وه ُ ر َ ذ ْ اح َ ف ْ م ُ ك َ ا ل ًّ و ُ د َ ع ْ م ُ اِدك َ ل ْ و َ أ َ و ْ م ُ ِجك ا َ و ْ ز َ أ ْ ِمن ه ِن وا إ ُ ن َ آم ٌ ِحيم َ ر ٌ ور ُ ف َ غ َ ه اَّلل ه ِ ن إ َ ف “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Q.S. at-Taghabun [64]:14) Sebagai guru di zaman sekarang ini, dimana adab dan akhlak yang mulia mulai tercerabut dari sikap dan tingkah laku anak-anak sekolah. Sikap pemaaf sangat diperlukan supaya dapat menebar senyum dihadapan peserta didiknya. Sehingga menjadi panutan mereka. 3. Contoh Pemaaf dalam Kehidupan Sehari-hari Sebagai contoh pada kehidupan sehari-hari Saudara, bisa mengumpamakan dengan hubungan guru dan peserta didik. Mungkin saudara pernah dimarahi oleh guru Saudara di masa lalu, marahnya guru itu tidak akan terlupakan, namun sudah saudara relakan sebagai kejadian yang sudah terjadi, dan saudara tidak lagi marah atau dendam dengan guru Saudara. Begitu pula dengan perlakuan orang tua Saudara di masa lalu, mungkin ada hal yang membuat saudara marah kepada mereka, kejadiannya tidak terlupakan, namun Saudara rela dengan kejadian itu dan tidak ada lagi kemarah apalagi dendam kepada orang tua Saudara. Saudara bisa mengeksplor sebanyak-banyaknya contoh yang berkaitan dengan materi ini. 4. Hikmah Mempelajari Akhlak Pemaaf Ketika Saudara menganalisis materi pemaaf ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa masih ada kesalahan yang belum Saudara maafkan? Apakah Saudara membayangkan apa jadinya jika Allah tidak memaafkan kesalahan-kesalahan kita? Di antara hikmah mempelajari materi ini adalah
11 meyakinkan diri menjadi pribadi yang mudah memberi maaf kepada orang lain. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuliakan diri sendiri, Allah, sesama manusia dan makhluk lain. Serta sebagai bahan mengajak orang lain mudah memaafkan. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!
2 URAIAN MATERI A. Al-Asmā al-Husnā: al-Rahmān Saudara apakah sudah siap mengikuti kegiatan belajar ini? Kajian pertama ini adalah tentang Al-Asmā al-Husnā yang harus Saudara kuasai sebagai bekal mendidik. Apakah Saudara sudah mengetahui pengertian Al-Asmā al-Husnā? Mari kita analisis pengertian Al-Asmā al-Husnā ini. Al-Asmā al-Husnā (ى َ ن س ْ ُ ح ْ ال ُ اء َ م س ْ َ الأ (secara bahasa terdiri dari dua suku kata, yaitu al-asmā dan al-husnā. Kata asmā merupakan bentuk jamak dari ism yang berarti “nama diri” atau “lafẓun yu’ayyinu syakhṣan au ḥayawānan au syaian” (nama diri seseorang, binatang, atau sesuatu), sedangkan al-husnā berarti “yang paling bagus”, “baik”, “cantik”, jadi secara bahasa al-Asmā' al- Ḥusnā berarti “nama-nama yang terbaik”. Atabik Ali dan Zuhdi Muhdlor dalam Kamus Kontemporer Arab Indonesia mengartikan al-Asmā' al-Ḥusnā dengan “nama-nama Allah yang berjumlah 99 (sembilanpuluh Sembilan)”. Istilah ini diambil dari beberapa ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah mempunyai berbagai nama yang terbaik. Melalui nama itu, umat Islam bisa mengetahui keagungan Allah dan mengharap melalui keagungan nama-nama-Nya. Selain itu, kata al-ḥusnā menunjukkan bahwa nama-nama yang disandang Allah adalah sifat-sifat yang sempurna dan tidak ada kekurangan. Sebagai contoh, bagi manusia kekuatan diperoleh melalui sesuatu yang bersifat materi seperti otot-otot yang berfungsi dengan baik. Manusia membutuhkan hal tersebut untuk memiliki kekuatan, dengan meneladani Allah Yang Maha Kuat (al-Qawiyyu). Bagaimana dengan pengertian al-Asmā' al-Ḥusnā? Sudah tergambar? Mari kita lihat tentang jumlah al-Asmā' al-Ḥusnā. Berkenaan dengan jumlah bilangan al-Asmā' al-Ḥusnā, para ulama yang merujuk kepada Al-Qur’an, mempunyai hitungan yang berbeda-beda. Sebagaimana dijelaskan oleh Pakar Tafsir dari Indonesia, Muhammad Quraish Shihab, bahwa al-Thabathabai dalam tafsirnya Al-Mīzān menyatakan jumlah al-Asmā' al-Ḥusnā itu ada sebanyak 127 (seratus dua puluh tujuh) nama. Ibnu Barjam al-Andalusi menyebut dalam karyanya “Syarh al-Asmā' Al-Husnā” menghimpun 132 nama. Al-Qurthubi mengemukakan dalam bukunya Al-Kitab al-Asna fī Syarh al-Asmā' alHusnā, menghimpun lebih dari dua ratus nama, baik yang sudah disepakati, maupun yang masih diperselisihkan dan yang bersumber dari ulama-ulama sebelumnya. Adapun Riwayat yang populer menyebutkan bahwa bilangan al-Asmā' al-Ḥusnā adalah sembilan puluh sembilan. Pada subbab di bawah ini, akan dipaparkan dua alAsmā' al-Ḥusnā saja dari sembilanpuluh Sembilan, yaitu al-Rahmān, dan al-Mālik.
3 1. Pengertian al-Rahmān Kata al-Rahmān (من الرح (berasal dari kata Rahīma (رحيم (yang artinya menyayangi atau mengasihi. Terdiri dari huruf Rā, Hā, dan Mim, yang mengandung makna kelemahlembutan, kasih sayang, dan kehalusan. Di dalam Al-Qur’an kata al-Rahmān terulang sebanyak 57 kali. Apa arti al-Rahmān? Dalam bahasa Inggris, seringkali kata yang digunakan untuk menerjemahkan al-Rahmān adalah merciful atau benefactory. Namun kedua kata tersebut tidak bisa mengartikan makna al-Rahmān. Mercy itu maknanya kasih yang diberikan ketika seseorang melakukan kesalahan, padahal al-Rahmān itu tidak hanya diberikan setelah seseorang melakukan kesalahan. Lalu kata benefactory, hampir tidak pernah dipakai di keseharian. Sebagian dari asma-asma Allah ada yang dapat disandang oleh selain-Nya dan ada yang tidak boleh, seperti lafaz Allah, al-Rahmān, al-Razīq, al-Khalīq dan lain-lainnya yang sejenis. Telah diriwayatkan dari Ata Al-Khurrasani sebagai berikut: “Mengingat ada yang menamakan dirinya dengan sebutan al-Rahmān selain Allah, maka didatangkanlah lafaz al-Rahīm untuk membantah dugaan yang tidak benar itu, karena sesungguhnya tiada seorang pun yang berhak disifati dengan julukan al-rahmānirrahīm kecuali hanya Allah semata”. lbnu Jarir mengulas, “ada yang menduga bahwa orang-orang Arab pada mulanya tidak mengenal kata al-Rahmān sebelum Allah memperkenalkan diri-Nya dengan sebutan itu melalui firman-Nya”. Muhammad Quraish Shihab menguatkan pendapat yang menyatakan “baik al-Rahmān maupun al-Rahīm terambil dari akar kata Rahmat”. Dalam salah satu hadis qudsi dinyatakan bahwa Allah berfirman: “Aku adalah al-Rahmān, Aku menciptakan rahīm, kuambilkan untuknya nama yang berakar dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya (silaturrahim) akan Ku-sambung (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang memutuskannya Kuputuskan (rahmat-Ku baginya)”. (HR. Abudaud dan Attirmizi melalui Abdurrahman bin ‘Áuf). Quraish menguatkan pendapatnya dengan merujuk pendapat pakar Bahasa, Ibnu Faris (w. 395 H) “semua kata yang terdiri dari huruf-huruf Ra’ Ha’ dan Mim, mengandung makna “kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan”. Hubungan silaturahim adalah hubungan kasih sayang. Rahim adalah peranakan/kandungan yang melahirkan kasih sayang. Kerabat juga dinamai rahim, karena kasih sayang yang terjalin di antara anggota-anggotanya. Rahmat lahir dan nampak dipermukaan bila ada sesuatu yang dirahmati, dan setiap yang dirahmati pastilah sesuatu yang butuh, oleh karenanya yang butuh tidak dapat dinamai rahim.
4 2. Dalil tentang al-Rahmān Apakah Saudara sudah mulai menganalisis pengertian dari Al-Asmā al-Husnā: al-Rahmān ini? Untuk menguatkan analisis Saudara, perlu juga mendalami dalil berikut ini. Allah menyampaikan dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 110 bahwa Allah memiliki nama yang jelas, yaitu Allah atau al-Rahmān yang keduanya merupakan bagian dari Al-Asmā al-Husnā, sebagaimana ayat berikut. ىۚ ٰ ن س ْ ُ ح ْ ال ُ اۤء َ م س ْ َ ا ْ ال ُ ه َ ل َ ا ف ْ و ُ ع ْ د َ ا ت َّ ا م ًّ ي َ ا َۗ َ ن ٰ م ْ ح وا الرَّ ُ ع ْ اد ِ و َ ا َ ه وا اّٰلل ُ ع ْ اد ِ ل ُ ق ... Katakanlah, "Serulah Allah atau serulah al-Rahmān. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmā' al-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik)." (Q.S. Al-Isra: 110). Apakah Saudara sudah mulai merasa yakin bahwa nama “Allah” adalah nama yang diperkenalkan-Nya sendiri? Allah Swt. juga berfirman dalam rangka menerangkan eksistensinya sebagai Zat yang wajib disembah karena Maha Kasih dan Maha Sayang-Nya, sebagai berikut: ا َ ِاذ َ و َ ل ْ ِقي ُ م ُ ه َ ل ا ْ و ُ د ُ ج اس ْ ِ ن ٰ م ْ ح َّ ِللر ا ْ و ُ ال َ ق ا َ م َ و ُ ن ٰ م ْ ح الرَّ ُ د ُ ج س ْ َ ن َ ا ا َ ِم ل ا َ ن رُ ُ م ْ أ َ ت ْ م ُ ه َ اد َ ز َ و ا ً ر ْ و ُ ف ُ ن ۩ ࣖ Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Sujudlah kalian kepada Yang Maha Rahman (Pemurah)," mereka menjawab, "Siapakah Yang Maha Penyayang ini? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman). (Al-Furqan: 60). Orang-orang Quraisy pada zaman Rasulullah, belum mengetahui apa dan siapa yang dimaksud al-Rahmān, sebagaimana saat Perjanjian Hudaibiyyah dilaksanakan —yaitu ketika Rasulullah Saw. bersabda, "Bolehkah aku menulis (pada permulaan perjanjian) kata bismillāhirrahmānirrahīm (dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)?"— mereka mengatakan, "Kami tidak mengenal al-Rahmān, tidak pula al-Rahīm." Demikian menurut riwayat Imam Bukhari. Sedangkan menurut riwayat lain, jawaban mereka adalah, "Kami tidak mengenal al-Rahmān kecuali Rahmān dari Yamamah" (maksudnya Musailamah Al-Kazzab). 3. Bukti Allah memiliki Sifat al-Rahmān dalam Kehidupan Sehari-hari Bagaimana Saudara? Apakah sudah menganalisis dalil-dalil tentang alRahmān? Agar Saudara lebih menguasai lagi, silahkan Saudara mencari sumber tambahan tentang al-Rahmān. Berbekal dalil tersebut, mari kita lihat beberapa contoh sifat al-Rahmān dalam kehidupan sehari-hari. Al-Rahmān salah satunya berasal dari akar kata al-Rahm, saat seorang perempuan hamil, tempat janin bayinya disebut dengan rahim. Disebut rahim
5 karena janin tersebut dirawat, dilindungi, disayangi dalam berbagai hal. Hubungan sang ibu dan sang bayi kurang lebih seperti ini: 1) Apakah bayi tersebut mengenal/tahu ibunya? Tidak. 2) Apakah bayi tersebut sudah punya rasa cinta/sayang ke ibunya? Tidak. 3)Apakah ibunya sudah memperhatikan, melindungi dan merawat bayinya? Yes, in every way. The entire life of the child is taken care of by the mother. Dan bayi tersebut tidak tahu sama sekali bahwa ia sangat disayangi, bahwa ibunya mau melakukan banyak hal untuk bayinya, juga melindunginya dari setiap bahaya. Seluruh makhluk di seluruh semesta mendapat kasihnya Allah. Allah memberikan apa yang dibutuhkan tanpa memandang ketaatan atau tidak. Manusia yang tidak mengakui kebenaran wahyu Allah saja tetap diberi kesempatan menghirup oksigen. Selama mereka berbuat baik untuk orang lain, Allah tetap berikan balasan yang berlimpah sesuai kebaikannya. Namun kasihnya ini hanya diberikan di dunia. Selain bukti ini, Saudara bisa mengeksplor lagi sebanyak-banyaknya bukti Allah memiliki sifat al-Rahmān yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari, untuk menambah wawasan. 4. Hikmah Mempelajari Al-Asmā al-Husnā: al-Rahmān Ketika Saudara menganalisis materi al-Rahmān ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa ada kekaguman dari Maha Pengasihnya Allah? Apakah Saudara membayangkan jika Allah tidak memberikan kasih-Nya kepada seluruh makhluk? Oleh karenanya, sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya, serta sebagai bahan mengajak orang lain merenungi kebesaran Allah Swt.. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!
6 B. Al-Asmā al-Husnā: al-Mālik Saudara sudah mendalami Al-Asmā al-Husnā: al-Rahmān, apakah Saudara sudah mampu menguasai dan menganalisisnya? Jika belum, silahkan baca kembali agar lebih melekat! Jika sudah menguasai, apakah Saudara sudah siap mendalami Al-Asmā al-Husnā berikutnya? Bahasan berikutnya adalah Al-Asmā al-Husnā: al-Mālik. 1. Pengertian al-Mālik Al-Malik (الملك ,(secara umum diartikan raja atau penguasa. Kata "Malik" terdiri dari tiga huruf yakni Mim, Lam, dan Ka. Yang rangkaiannya mengandung makna kekuatan dan kesahihan. Kata Malik pada mulanya berarti ikatan dan penguatan. Kata "Malik" juga mengandung arti penguasaan terhadap sesuatu disebabkan oleh kekuatan pengendalian dan kesahihannya. Kata "Malik" yang biasa diterjemahkan raja adalah yang menguasai dan menangani perintah dan larangan, anugerah dan pencabutan. Karena itu, biasanya kerajaan terarah kepada manusia, tidak kepada barang yang tidak dapat menerima perintah dan larangan. Salah satu kata "Malik" dalam Al-Qur'an adalah yang terdapat dalam surah anNās, yakni "Malik al-nās" (Raja manusia). Salah satu kata yang berkaitan dengan al-Mālik adalah al-Mulku. Al-Mulku mengandung makna pokok “keabsahan dan kemampuan”. Dari makna yang berbentuk kata kerja adalah malaka – yamliku – mulkan, artinya menguasai. Dari sini diperoleh kata malik yang artinya “raja” dan mulk yang artinya “kekuasaan”. Imam Al-Gazali menjelaskan arti "Malik" adalah “yang butuh kepada-Nya, baik pada zat-Nya, sifat-Nya, wujud-Nya dan kesinambungan eksistensinya”. Bahkan wujud segala sesuatu, bersumber dari-Nya, maka segala sesuatu menjadi milikNya dan membutuhkan-Nya. Demikianlah raja yang mutlak. Di sini terlihat perbedaan antara "Malik" yang berarti "Raja" dan "Mālik" yang berarti "pemilik". Seseorang pemilik belum tentu menjadi raja, sebaliknya kepemilikan seorang raja melebihi kepemilikan selain raja. Oleh karenanya, Allah adalah raja sekaligus pemilik. Kepemilikan Allah berbeda dengan kepemilikan makhluk/manusia. Allah Swt. berwenang penuh untuk melakukan apa saja terhadap yang dimilikiNya. 2. Dalil tentang Al-Asmā al-Husnā: al-Mālik Apakah Saudara sudah mulai memahami pengertian al-Mālik? Mari kita lihat dalil tentangnya. Kata Malik menjadi dasar yang menunjukkan bahwa Allah memiliki nama al-Mālik. Di antara kata “Malik” ini dirangkaikan dengan kata "hak" dalam arti yang "pasti dan sempurna". Kedua kata tersebut terdapat dalam surah Thaha ayat 114 dan surah al-Mu’minun ayat 116: ى َ ل ٰ ع َ ت َ ف ُ ه اّٰلل ُ ِلك َ م ْ ال ۚ ق َ ح ْ ال ا َ ل َ و ْ ل َ ج ْ ع َ ِن ت ٰ ا رْ ُ ق ْ ال ِ ب ْ ِمن ِ ل ْ ب َ ق ْ ن َ ا ى ٰ ض ْ ق ي َ ك ْ ي َ ِال ه ُ ي ْ ح َ و ْ ل ُ ق َ َّ ب ِ و ِ ر ْي ن ْ د ِ ز ا ً م ْ ِعل
7 “Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur'an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku”. Ayat ini menerangkan bahwa Allah adalah sebenar-benarnya Raja yang Mahatinggi. Ayat berikutnya adalah surah al-Mu’minun ayat 116 sebagai berikut: ِ م ْ ي ِ ر َ ك ْ ِش ال رْ َ ع ْ ب ال َ ۚر َ و ُ ا ه َّ ِال َ ه ٰ اِال َ ۚل ق َ ح ْ ال ُ ِلك َ م ْ ال ُ ه ى اّٰلل َ ل ٰ ع َ ت َ ف “Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) ‘Arsy yang mulia”. Kedua ayat ini didahului dengan Mahatinggi dan setelahnya adalah “al-Haq”. Selain kedua ayat ini, ada ayat yang juga berkaitan dengan kata al-Mālik. Kata yang dekat dengan kata “Malik” ini adalah kata “Mulk” yang bermakna kerajaan atau kekuasaan. Ini bermakna bahwa bukan hanya penguasaan, akan tetapi juga kepemilikan. Makna tersebut berdasarkan pada Q.S. Ali Imran [3] ayat 26, sebagai berikut: ِ ل ُ ق َُّ ه ِك ك َ مِل ٰ ّٰللا ْ ل ُ م ْ ال ى ِ ت ْ ؤ ُ ت َ ك ْ ل ُ م ْ ال ْ ن َ م ُ اۤء َ ش َ ت ُ ِع ز ْ ن َ ت َ و َ ك ْ ل ُ م ْ ال ْ ن َّ ِِم ُ اۤء َ ش َ ت ِعز ُ ت َ و ْ ن َ م ُ اۤء َ ش َ ت ِذل ُ ت َ و ْ ن َ م ُ اۤء َ ش َ تَۗ َ ِدك َ ي ِ ب ُ ر ْ ي َ خ ْ الَۗ َ ك َّ ِان ى ٰ ل َ ع ِ ل ُ ك ْي ء َ ش ر ْ ِدي َ ق “Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai Tuhan yang memiliki kekuasaan! Engkaulah yang memberi kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah juga yangmemuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Dalam kekuasaan Engkau sajalah adanya segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”. Dalam ayat tersebut digambarkan bahwa Allah pemilik dari kekuasaan (malik-ul mulki) dan dapat memberikan atau mencabut kekuasaan tersebut kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dalam Al-Qur’an penggunaannya bisa dilihat pada surat al-Baqaraah [2] ayat 247: َ ال َ ق َ و ْ م ُ ه َ ل ْ م ُ ه ي ِ ب َ ن َّ ِان َ ه اّٰلل ْ د َ ق َ ث َ ع َ ب ْ م ُ ك َ ل تَ ْ و ُ ال َ ط ا ً ِلك َ مَۗ ا ْ و ُ ال َ ق ى ه ن َ ا ُ ن ْ و ُ ك َ ي ُ ه َ ل ُ ك ْ ل ُ م ْ ال ا َ ن ْ ي َ ل َ ع ُ ن ْ ح َ ن َ و ق َ ح َ ِك ا ْ ل ُ م ْ ال ِ ب ُ ه ْ ِمن ْ م َ ل َ و تَ ْ ؤ ُ ي ً ة َ ع سَ َ ن ِم َۗ ِ ال َ م ْ ال ... “Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu (malik).” Mereka menjawab, “Bagaimana Talut memperoleh kerajaan (mulku) atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan (mulki) itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” ........”.
8 Ayat ini menceritakan penolakan Bani Israil atas kepemimpinan Talut, karena memandang Talut tidak memiliki apa yang menurut mereka menjadi syarat kepemimpinan. Menurut ilmu politik dan ilmu Negara, malik dalam hal ini adalah raja, diartikan sebagai seorang yang mewarisi kekuasaan dari penguasa sebelumnya, kekuasaannya disebut mulk, kerajaan. Dalam Q.S. al-Hasyr [59] ayat 23 Allah memperkenalkan diri sebagai al-Mālik, sebagai berikut: َ و ُ ه ُ ه اّٰلل ِذي ْ َّ ال ا َ ل َ ه ٰ ِال ا َّ ِال َ و ُ ه ۚ ُ ِلك َ م ْ ل َ ْ ُس ا و د ُ ق ْ ال ُ م ٰ ل َّ الس ُ ِمن ْ ؤ ُ م ْ ال ُ ِمن ْ ي َ ه ُ م ْ ال ُ ز ْ ي ِ ز َ ع ْ ال ُ ار َّ ب َ ج ْ ال َۗ ُ ِ ر ب َ ك َ ت ُ م ْ ال َ ن ٰ ح ْ ب ُ س ِ ه اّٰلل ا َّ م َ ع َ ن ْ و ُ ِك ر ْ ش ُ ي “Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. Dengan melihat ayat tersebut bisa kita simpulkan bahwa suatu kekuasaan hakekatnya adalah milik Allah Swt. dan manusia hanyalah berkuasa dengan izin dari Allah Swt. Ayat-ayat Al-Qur’an menggunakan kata ini secara umum, artinya tidak hanya merujuk kepada kekuasaan politik saja. Allah juga menerangkan bahwa kekuasaan-Nya melebihi langit dan bumi, sebagaimana Firman-Nya dalam surah az-Zukhruf ayat 85: َ ك َ ر ٰ ب َ ت َ و ِذي ْ َّ ال ه َ ل ُ ك ْ ل م ِت ُ ٰ و ٰ م الس ِض َّ ْ ر َ ا ْ ال َ و ا َ م َ و ا َ م ُ ه َ ن ْ ي َ ب ۚ ه َ د ْ ِعن َ و ُ م ْ ِع ِةۚ ل َ اع َّ الس ِه ْ ي َ ِال َ و َ ن ْ و ُ ع َ ج رْ ُ ت “Dan Mahasuci (Allah) yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah ilmu tentang hari Kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Dalam ayat lain, tanda-tanda kepemilikan kerajaan adalah banyak yang memohon agar kebutuhannya terpenuhi dan agar persoalannya tertanggulangi. Allah Swt. melukiskan bahwa Yang Maha Kuasa itu melayani kebutuhan makhluk-Nya. Sebagaimana yang difirmankan dalam Q.S. al-Rahmān [55] ayat 29: ه ُ َٔـل س ْ َ ي ْ ن َ ف ِت ِ م ى ٰ و ٰ م َّ َۗ الس ِض ْ ر َ ا ْ ال َ و َّ ل ُ ك م ْ و َ ي َ و ُ ِ ه ْي نۚ ف ْ أ َ ش “Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan (memenuhi kebutuhan makhluk-Nya)”. Demikian pula Allah pemilik kerajaan akhirat, hal tersebut terdapat dalam surah al-An'am [6] ayat 73 sebagai berikut: َ و ُ ه َ و ِذي ْ َّ ال َ ق َ ل َ خ ِت ٰ و ٰ م َّ ْ َض الس ر َ ا ْ ال َ و َۗ ِ ق َ ح ْ ال ِ ب َ م ْ و َ ي َ و ُ ل ْ و ُ ق َ ي ْ ن ُ ۚ ك ُ ن ْ و ُ ك َ ي َ ف ُ ه ُ ل ْ و َ ق َۗ ق َ ح ْ ال ُ ه َ ل َ و ُ ك ْ ل ُ م ْ ال َ م ْ و َ ي ُ خ َ ف ْ ن ُ ي ى ِ ف َِۗ ر ْ و الص ُ ِ م ل ٰ ِب ع ْ ي َ غ ْ ال ِة َ اد َ ه َّ الش َ و َ و ُ ه َ و ُ م ْ ِكي َ ح ْ ال ُ ر ْ ي ِ ب َ خ ْ ال
9 “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar), ketika Dia berkata, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana, Mahateliti”. Dan surah al-Hajj ayat 56: َِۗ ه ِ ىِٕ ذ ّٰلل َ م ْ و َ ي ُ ك ْ ل ُ م ْ ل َ ا ِ م ْ ِعي َّ ِت الن ه ن َ ْي ج ِ ِت ف ٰ ِ ح ل ه وا الص ُ ِمل َ ع َ ا و ْ و ُ ن َ م ٰ ا َ ن ْ ِذي َّ ال َ ف َۗ ْ م ُ ه َ ن ْ ي َ ب ُ م ُ ك ْ ح َ ي “Kekuasaan pada hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di an-tara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan berada dalam surga-surga yang penuh kenikmatan”. Dalil-dalil tersebut sudah cukup kuat untuk menunjukkan bahwa Allah Swt. memiliki nama al-Mālik, raja dan pemilik kekuasaan seluruh alam semesta, isinya dan juga akhirat. 3. Bukti Allah memiliki Sifat al-Mālik dalam Kehidupan Sehari-hari Bagaimana Saudara? Apakah sudah menganalisis dalil-dalil tentang al-Mālik? Agar Saudara lebih menguasai lagi, silahkan Saudara mencari sumber tambahan tentang al-Mālik. Berbekal dalil tersebut, mari kita lihat beberapa bukti Allah memiliki sifat al-Mālik dalam kehidupan. Bukti bahwa Allah adalah pemilik alam semesta di antaranya adalah saat Allah memerintahkan ikan paus besar dari tempat yang jauh memakan Nabi Yunus a.s. dan bahkan tidak boleh sampai melukai Nabi Yunus. Ikan paus ini pun mematuhi perintah Allah dengan mengeluarkannya di tempat dan waktu yang ditentukan. Selain itu kekuasaan Allah sampai dasar laut yang dalam dan gelap, seluruh makhluk di dasar laut bertasbih memuji Allah. Kekuasaan Allah bukan hanya pada urusan yang sudah berjalan seperti biasanya, tetapi Allah juga berkuasa mengubahnya sebagai bukti bahwa Allah mampu melakukan apapun di alam semesta ini. Allah berkuasa memberikan mukjizat kepada para nabi agar manusia menyaksikan kekuasaan Allah. Allah memberikan karomah kepada orang-orang saleh agar semakin kuat keimanan manusia. Allah berkuasa memerintahkan alam semesta dan seluruh alam agar tunduk pada-Nya. Ketidakpatuhan hanya akan mendatangkan siksa dan hukuman. Selain bukti ini, Saudara bisa mengeksplor lagi sebanyak-banyaknya bukti Allah memiliki sifat al-Mālik yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari, untuk menambah wawasan.
10 4. Hikmah Mempelajari Al-Asmā al-Husnā: al-Mālik Ketika Saudara menganalisis materi al-Mālik ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa ada kebanggaan dari Maha Berkuasanya Allah? Apakah Saudara membayangkan jika Allah tidak mengatur kekuasaan-Nya dengan sangat baik? Oleh karenanya, sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuji kebesaran Allah atas segala kekuasaanNya, serta sebagai bahan mengajak orang lain mentafakuri ciptaan-ciptaan Allah Swt.. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!
17 D. Karomah Bagaimana Saudara? Apakah saudara sudah merasa bahwa mempelajari materi Mukjizat bermanfaat? Dan apakah Saudara sudah merasa materinya bisa dijadikan bahan mengajar dan mendidik? Sebagai bahan materi tambahan lainnya, perlu juga mengkaji Karomah sebagai berbandingan. Perbedaan mukjizat dengan karomah juga perlu diketahui. Sudah siap menganalisis karomah? Silahkan disimak sebagai berikut. 1. Pengertian Karomah Karomah merupakan istilah yang tidak asing bagi umat muslim, karena bagian dari agama Islam. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mempercayai adanya karomah karena datang dari sisi Allah. Karomah ini akan membentuk kharisma seseorang di mata umat. Islam mengakui tentang konsep karomah. Karomah untuk kiai dan wali sesungguhnya memanglah ada dan diperbolehkan. Hal ini dikarenakan karomah dianggap sebagai kejadian yang bersifat asumtif dan datang dengan tujuan bukan untuk merusak akidah. Selain itu, Allah menciptakan karomah untuk kekasih-kekasih-Nya. Karomah pada dasarnya dianggap bertentangan dengan adat kebiasaan, dan hanya diberikan kepada hamba-hamba Allah yang sholeh. Menurut Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, karomah adalah pemberian dari Allah Swt. dalam bentuk pertolongan-Nya kepada seseorang yang membela agama Allah. Sifat Karomah adalah kejadian di luar batas kemampuan manusia pada umumnnya atau keluar dari kebiasaan pada umumnnya. Karomah merupakan bagian dari Mawahib (anugerah) Allah yang didapat tanpa melalui proses usaha dan terjadi hanya sesekali saja. Karamah berasal dari bahasa arab كرم berarti kemuliaan, keluhuran, dan anugerah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengistilahkan karomah dengan keramat diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketaqwaanya kepada Allah. Menurut ulama sufi, karamah berarti keadaan luar biasa yang diberikan Allah Swt. kepada para wali-Nya. Wali ialah orang yang beriman, bertakwa, dan beramal saleh kepada Allah Swt. Ulama’ sufi meyakini bahwa para wali mempunyai keistimewaan, misalnya kemampuan melihat hal-hal ghaib yang tidak dimiliki oleh manusia umumnya. Allah Swt. dapat memberi karamah kepada orang beriman, takwa, dan beramal saleh menurut kehendaknya. Pengertian dari karomah itu sendiri menurut Abul Qasim al-Qusyairi yaitu merupakan suatu aktivitas yang dianggap sebagai hal yang bertentangan dengan adat kebiasaan manusia pada umumnya, yaitu dapat juga dianggap sebagai realitas sifat wali-wali Allah tentang sebuah makna kebenaran dalam situasi yang dianggap kurang baik. Karomah ini juga dapat dianggap sebagai hal yang sangat luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada kekasih-kekasih pilihan-Nya.
18 Said Hawwa juga menjelaskan bahwa karomah memang benar-benar telah terjadi dan akan tetap terjadi pada wilayah tasawuf. Karomah juga bisa terjadi pada orang yang belum sempurna istiqamahnya. Tapi bagi orang-orang yang benar-benar lurus, istiqamah, dan tampak karomahnya, barangkali karomahnya tersebut identik dengan tanda kewalian. Karomah dapat berarti juga peristiwa yang luar biasa, yang keluar dari hukum alam. Namun karomah juga bisa berupa akibat dari suatu sebab, tapi masih dalam lingkup manifestasi taufik Allah. Karomah memang identik dengan hal-hal yang tidak masuk nalar. Akan tetapi ia adalah nyata dan haqq, seperti halnya mukjizat para nabi. Bedanya, jika mukjizat disertai dengan pengakuan kenabian (nubuwwah), pada karomah hal itu tidak ada. Karomah ini oleh Allah diberikan kepada para wali yang benar-benar beriman dan bertakwa hanya kepada Allah. Firma Allah mengenai sifat-sifat dari wali Allah ini yaitu sebagai berikut: َ ا ء َ وِلي َ أ َّ ِن ا إ َ ل َ أ ٱ ِ َّ ّٰلل ا َ ل وف َ ِهم خ ي َ ل َ ع ا َ ل َ و م ُ ه َ ون ُ ن َ حز َ ي ٱ َ ِذين َّ ل ْ وا ُ ن َ ام َ ء ْ وا ُ ان َ ك َ و َ ون ُ ق َّ ت َ ي “Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa”. (QS. Yunus: 62-63). Berdasarkan ayat di atas, diketahui bahwa sifat-sifat dari wali Allah yaitu: “Orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para Rasul-Nya dan hari akhir serta beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” Menurut Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah, seorang wali tidak akan merasa nyaman dan peduli terhadap karomah yang dianugerahkan kepadanya. Meskipun demikian, kadang-kadang dengan adanya karomah, keyakinan mereka semakin bertambah sebab mereka meyakini bahwa semuanya itu berasal dari Allah. Bila ada seorang wali Allah yang hanya mengharapkan mendapatkan karomah, maka tidak termasuk dalam golongan wali yang tinggi derajatnya. Ibnu Athaillah pernah mengatakan bahwa: “Kemauan yang tinggi tidak sampai menembusi tembok-tembok takdir.” Maksud adalah karomah tidak akan bertentangan dengan takdir yang telah ditetapkan, karena semua yang terjadi di alam raya ini baik hal biasa maupun hal yang luar biasa, sumber utamanya adalah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Oleh karena itu, kemauan dari wali tidaklah pernah bertentangan dengan takdir yang telah ditetapkan Allah. 2. Ciri-ciri Karomah Dari pengertian karomah ini, apakah Saudara sudah bisa menganalisis maknanya? Mari menganalisis ciri-ciri orang yang memiliki karamah agar lebih paham dan menguasai materi ini.
19 Sebagian ciri-ciri seorang hamba memiliki karomah di antaranya: a) tidak memiliki doa-doa khusus sebagai suatu bacaan; b) karomah hanya terjadi pada seorang yang saleh; c) seseorang yang memiliki karomah tidak pernah secara sengaja mengaku-ngaku bahwa dirinya memiliki karomah. Maksud atau tujuan dari pemberian karomah tersebut kepada para wali ialah: a) dapat lebih meningkatkan keimanan kepada Allah; b) masyarakat menjadi lebih percaya kepada seorang wali Allah, yang senantiasa meneruskan perjuangan nabi Muhammad saw.; dan c) karomah merupakan bukti nyata meninggikan derajat seorang wali agar dirinya selalu tetap istiqomah di jalan Allah. Mbah Sholeh Darat dalam Kitab Sabil Al ‘Abid memberikan pertanyaan sebagai berikut: “Kenapa zaman akhir para wali banyak terlihat karomahnya? Kenapa zaman Sahabat dan Tabi’in tidak nampak wujud karomah wali?”. Jawabannya karena manusia di zaman akhir banyak kesalahan (dha’if) keyakinan agamanya. Maka mereka didampingi oleh para wali dengan karomahnya agar semakin kuat keyakinan agamanya dan patuh kepada orang saleh. Dengan demikian, generasi zaman akhir tidak mudah menghina para orang-orang saleh. Berbeda dengan orang-orang zaman al-awwalin (periode Sahabat dan Tabi’in) yang dalam hidupnya masih sangat yakin pada orang-orang saleh. Sehingga karamah para wali tidak diperlihatkan. Apalagi pada zaman Sahabat, dimana Rasulullah saw. masih hidup bersama mereka. 3. Dalil dan Contoh Karomah Karomah yang dimiliki orang-orang saleh ini tercatat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Dalil-dalil ini mencadi contoh nyata adanya karomah yang diberikan oleh Allah. Di antara dalil dan contoh ini adalah sebagai berikut: a. Karamah ibunda Nabi Musa a.s. yang muncul ketika mengandung, ini karena keyakinannya, dan Allah pun mengembalikan Nabi Musa a.s. padanya. Hal ini tercatat dalam surah al-Qashash [28] ayat 7: ا َ ن ْ ي َ ح ْ و َ ا َ و ى ٰٓ ِ ِال م ُ ا ى س ْ و ُ م ْ ن َ ِهۚ ا ْ ِضِعي ْ ر َ ا ا َ ِذ ا َ ِت ف ْ ِه ِخف ْ ي َ ل َ ع ِه ْ ِقي ْ ل َ ا َ ف ى ِ ف ِ م َ ي ْ ال ا َ ل َ ْي ِ و اف َ خ َ ت ا َ ل َ ْي و ِ ن َ ز ْ ح َ ت ۚ ا َّ ِان َ ر ُ ه ْ و ِك ۤاد ْ ي َ ِال ُ ه ْ و ُ ِعل ا َ ج َ و َ ِمن َ ن ْ ِي ل سَ رْ ُ م ْ ال Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul”. b. Kejadian yang dialami seorang ahli ilmu pada masa Nabi Sulaiman a.s.. Ketika Nabi Sulaiman a.s. sedang duduk dengan para tentaranya yang terdiri atas manusia, hewan, dan jin, beliau meminta kepada mereka
20 mendatangkan singgasana Ratu Bilqis. Ada seorang yang berilmu bernama Ashif bin Barkhaya berkata kepada Nabi Sulaiman a.s. dan menyanggupi permintaannya. Perkataan orang berilmu tersebut diabadikan Allah Swt. dalam firman-Nya Q. S. an-Naml [27] ayat 40: َ ال َ ق ِذي ْ َّ ال ه َ د ْ ِعن م ْ ِعل َ ِ ن ِب م ٰ ِكت ْ ال ا َ ن َ ا َ ك ْ ِي ت ٰ ا ه ِ ب َ ل ْ ب َ ق ْ ن َ ا َّ د َ ت رْ َّ ي َ ك ْ ي َ ِال َۗ َ ك ُ ف رْ َ ط ا َّ م َ ل َ ف ُ ه ٰ ا َ ر ا ًّ ِقر َ ت س ْ ُ م ه َ د ْ ِعن َ ال َ ق ا َ ذ ٰ ه ْ ِمن ِ ل ضْ َ ْي ف َۗ ِ ب َ ْي ر ِ ن َ و ُ ل ْ ب َ ِي ل رُ ُ ك ْ ش َ ا َ ء ْ م َ ا َۗ رُ ُ ف ْ ك َ ا ْ ن َ م َ و رَ َ ك َ ش ا َ م َّ ِن ا َ ف رُ ُ ك ْ ش َ ِس ي هۚ ْ ف َ ِن ل ْ ن َ م َ و رَ َ ف َ ك َّ ِن ا َ ْي ف ِ ب َ ر ِ ي ن َ غ م ْ ي ِ ر َ ك Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.” c. Kejadian yang dialami Maryam binti Imran, Nabi Zakaria a.s. menemukan makanan setiap hadir di mihrab Maryam binti Imran. Allah berfirman dalam Q.S. Ali Imran [3] ayat 37: ا َ ه َ ل َّ ب َ ق َ ت َ ف ا َ ه ب َ ر ل ْ و ُ ب َ ق ِ ب ن سَ َ ح ا َ ه َ ت َ ب ۢ ْ ن َ ا َّ و ا ً ات َ ب َ ن ا ً ن سَ َ ح ا َ ه َ ل َّ ف َ ك َّ و ا َّ ي ِ ر َ ك َ زَۗ ا َ م َّ ل ُ ك َ ل َ خ َ د ا َ ه ْ ي َ ل َ ع ا َّ ي ِ ر َ ك َ َب ز ا رَ ْ ِمح ْ ال َ د َ ج َ و ا َ ه َ د ْ ِعن ا ً ق ْ ز ِ رۚ َ ال َ ق ُ م َ ي رْ َ م ٰ ي ى ه ن َ ِك ا َ ل ا َ ذ ٰ هَۗ ت ْ َ ال َ ق َ و ُ ه ْ ِمن ِد ْ ِعن ِ ه اّٰللَۗ َّ ِان َ ه اّٰلل ُ ق ُ ز رْ َ ي ْ ن َ م ُ اۤء َ ش َّ ي ِ ر ْ ي َ ِغ ب ب ا ِحسَ Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. d. Kisah pemuda Ashabul Kahfi, peristiwa ini terjadi sesudah zaman Nabi Isa a.s.. Raja mereka tidak sepaham bahkan sangat benci sekali dengan apa yang mereka yakini. Mereka pun keluar menjauhi kerajaan dan masuk kedalam gua lalu tertidur di dalamnya selama 309 tahun. Kisah ini tercatat dalam surah al-Kahfi [18] ayat 25: ا ْ و ُ ث ِ ب َ ل َ ِ و ْي ف ْ م ِ ِفه ْ ه َ ك َ ث ٰ ل َ ث ة َ ِمائ َ ن ْ ِي ِسن ا ْ و ُ اد َ د ْ از َ و ا ً ع ِس ْ ت “Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun”.
21 4. Hikmah Mempelajari Karomah Ketika Saudara menganalisis materi karomah ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa ada kebahagiaan mempelajari kekuasaan Allah? Apakah Saudara membayangkan jika Allah tidak memberikan kekuasaan-Nya pada para wali atau orang saleh berupa karomah? Di antara hikmahnya adalah generasi masa kini akan menghormati orang saleh dan selalu ingin dekat kepada orang terkasih. Derajat wali pada hakikatnya titipan dari Allah, bukan predikat yang dipasang secara mandiri dan diumumkan. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan mengagumi kekuasaan Allah atas segala makhluk-Nya, serta sebagai bahan mengajak orang lain menggali kekuasaan Allah Swt.. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!
22 E. Sihir 1. Pengertian Sihir Sihir dalam bahasa Arab tersusun dari huruf س, ح, ر) siin, ha, dan ra), yang secara bahasa bermakna segala sesuatu yang sebabnya nampak samar. Oleh karenanya kita mengenal istilah ‘waktu sahur’ yang memiliki akar kata yang sama, yaitu siin, ha dan ra, yang artinya waktu ketika segala sesuatu nampak samar dan remang-remang. Seorang pakar bahasa, al-Azhari mengatakan bahwa, “Akar kata sihir maknanya adalah memalingkan sesuatu dari hakikatnya. Maka ketika ada seorang menampakkan keburukan dengan tampilan kebaikan dan menampilkan sesuatu dalam tampilan yang tidak senyatanya maka dikatakan dia telah menyihir sesuatu”. Para ulama memiliki pendapat yang beraneka ragam dalam memaknai kata ‘sihir’ secara istilah. Sebagian ulama mengatakan bahwa sihir adalah benar-benar terjadi ‘riil’, dan memiliki hakikat. Artinya, sihir memiliki pengaruh yang benarbenar terjadi dan dirasakan oleh orang yang terkena sihir. Ibnul Qudamah rahimahullah mengatakan, “Sihir adalah jampi atau mantra yang memberikan pengaruh, baik secara zohir maupun batin. Semisal membuat orang lain menjadi sakit, atau bahkan membunuhnya, memisahkan pasangan suami istri, atau membuat istri orang lain mencintai dirinya”. Namun ada ulama lain yang menjelaskan bahwa sihir hanyalah pengelabuan dan tipuan mata semata, tanpa ada hakikatnya. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakr Ar Rozi, “Sihir adalah segala sesuatu yang sebabnya samar dan bersifat mengalabui, tanpa adanya hakikat, dan terjadi sebagaimana muslihat dan tipu daya semata”. Al-Laits mengatakan, Sihir adalah suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada syaitan dengan bantuannya. Al-Azhari mengemukakan, Dasar pokok sihir adalah memalingkan sesuatu dari hakikat yang sebenarnya kepada yang lainnya. Ibnu Manzur berkata: Seakan-akan tukang sihir memperlihatkan kebathilan dalam wujud kebenaran dan menggambarkan sesuatu tidak seperti hakikat yang sebenarnya. Dengan demikian, dia telah menyihir sesuatu dari hakikat yang sebenarnya atau memalingkannya. Syamir meriwayatkan dari Ibnu Aisyah, dia mengatakan bahwa orang Arab menyebut sihir itu dengan kata asSihr karena ia menghilangkan kesehatan menjadi sakit. Ibnu Faris mengemukakan, Sihir berarti menampakkan kebathilan dalam wujud kebenaran. Di dalam kitab al-Mu’jamul Wasīth disebutkan bahwa sihir adalah sesuatu yang dilakukan secara lembut dan sangat terselubung. Sedangkan di dalam kitab Muhīthul Muhīth disebutkan, sihir adalah tindakan memperlihatkan sesuatu dengan penampilan yang paling bagus, sehingga bisa menipu manusia. Fakhruddin ar-Razi mengemukakan, menurut istilah Syari’at, sihir hanya khusus berkenaan dengan segala sesuatu yang sebabnya tidak terlihat
23 dan digambarkan tidak seperti hakikat yang sebenarnya, serta berlangsung melalui tipu daya. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan, Sihir adalah ikatan-ikatan, jampijampi, perkataan yang dilontarkan secara lisan maupun tulisan, atau melakukan sesuatu yang mempengaruhi badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa berinteraksi langsung dengannya. Sihir ini mempunyai hakikat, diantaranya ada yang bisa mematikan, membuat sakit, membuat seorang suami tidak dapat mencampuri istrinya atau memisahkan pasangan suami istri, atau membuat salah satu pihak membenci lainnya atau membuat kedua belah pihak saling mencintainya. Ibnul Qayyim mengungkapkan, Sihir adalah gabungan dari berbagai pengaruh ruh-ruh jahat, serta interaksi berbagai kekuatan alam dengannya. Dapat disimpulkan bahwa Sihir adalah kesepakatan antara tukang sihir dan syaitan dengan ketentuan bahwa tukang sihir akan melakukan berbagai keharaman atau kesyirikan dengan imbalan pemberian pertolongan syaitan kepadanya dan ketaatan untuk melakukan apa saja yang dimintanya. Setelah menganalisis pengertian sihir dari beberapa pendapat, silahkan Saudara menyimpulkan dan berpendapat sendiri tentang pengertian sihir ini agar lebih memahami. 2. Ciri-ciri Sihir Setelah Saudara menguasai pengertian, sihir ini dapat diidentifikasi dari ciricirinya, baik perbuatan sihir maupun pelaku sihir. Beberapa ciri tentang sihir ini dapat dilihat dari beberapa penjelasan berikut. Di antara tukang sihir itu ada yang menempelkan mushhaf di kedua kakinya, kemudian ia memasuki WC. Ada yang menulis ayat-ayat al-Qur’an dengan kotoran atau darah haid. Juga ada yang menulis ayat-ayat Al-Qur’an di kedua telapak kakinya. Ada juga yang menulis Surat al-Faatihah terbalik. Ada yang mengerjakan salat tanpa berwudu. Ada yang tetap dalam keadaan junub terusmenerus. Ada yang menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada syaitan dengan tidak menyebut nama Allah pada saat menyembelih, lalu membuang sembelihan itu ke tempat yang telah ditentukan syaitan. Ada yang berbicara dengan binatang-binatang dan bersujud kepadanya. Serta ada juga yang menulis mantra dengan lafazh yang mengandung makna kekufuran. Dari sini, tampak jelas bahwa jin itu tidak akan membantu dan tidak juga mengabdi kepada seorang penyihir kecuali harus memberikan imbalan. Setiap kali seorang penyihir meningkatkan kekufuran, maka syaitan akan lebih taat kepadanya dan lebih cepat melaksanakan perintahnya. Dan jika tukang sihir tidak sungguh-sungguh melaksanakan berbagai kekufuran yang diperintahkan syaitan, maka syaitan akan menolak mengabdi kepadanya serta menentang