The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nanataryana785, 2023-09-04 00:45:02

KISI-KISI UP NOMOR 21-69 PAI 2023

KISI-KISI UP

24 perintahnya. Dengan demikian, tukang sihir dan syaitan merupakan teman setia yang bertemu dalam rangka kemaksitan kepada Allah. Jika Saudara perhatikan wajah tukang sihir, maka dengan jelas Saudara akan melihat gelapnya kekufuran yang memenuhi wajahnya, seakan-akan ia merupakan awan hitam yang pekat. Jika Saudara mengenali tukang sihir dari dekat, maka Saudara akan melihatnya hidup dalam kesengsaraan jiwa bersama istri dan anak-anaknya, bahkan dengan dirinya sendri. Dia tidak bisa tidur nyenyak karena terus merasa cemas dan gelisah. Selain itu seringkali syaitan akan menyakiti anak-anaknya atau istrinya serta menimbulkan perpecahan dan perselisihan di antara mereka. Selain ciri-ciri ini, ciri apa lagi yang bisa Saudara gali yang dapat menunjukan perbuatan atau bentuk dari sihir? Silahkan Saudara mencari lagi lebih banyak. 3. Dalil Sihir Sebagaimana ciri yang sudah dibahas, apakah Saudara sudah bisa menganalisis ciri sihir dan penyihir tersebut? Hal ini akan diperkuat dengan dalildalil yang menerangkan tentang sihir. Allah Swt. Berfirman dalam surah al-Baqarah [2] ayat 102: ا ْ و ُ ع َ ب َّ ات َ و ا َ م وا ُ ل ْ ت َ ت ُ ن ْ ِطي ٰ ي َّ الش ى ٰ ل ِك َ ع ْ ل ُ م َ ن ٰ م ْ ي َ ل ُ س ۚ ا َ م َ و رَ َ ف َ ك ُ ن ٰ م ْ ي َ ل ُ س َّ ِكن ٰ ل َ و َ ن ْ ِطي ٰ ي َّ الش ا ْ و رُ َ ف َ ك َ ن ْ و ُ ِ م ل َ ع ُ َس ي ا َّ الن رَ ْ ِ ح الس ا َ م َ و َ ِ ل ز ْ ن ُ ا ى َ ل َ ع ِ ن ْ ي َ ك َ ل َ م ْ ال َ ِل اب َ ِب ب ْ تَ و ُ ار َ ه ْ تَ و ُ ار َ م َ وَۗ ا َ م َ و ِ ن ٰ ِ م ل َ ع ُ ي ْ ِمن د َ ح َ ا ى ه ت َ ح ا َ ل ْ و ُ ق َ ي ا َ م َّ ِان ُ ن ْ ح َ ن ة َ ن ْ ِفت ا َ ل َ ف رْ ُ ف ْ ك َ تَۗ َ ن ْ و ُ م َّ ل َ ع َ ت َ ي َ ف ا َ م ُ ه ْ ِمن ا َ م َ ن ْ و ُ ق ِ ر َ ف ُ ي ه ِ ب َ ن ْ ي َ ب ِء رْ َ م ْ ِج ال ه ْ و َ ز َ وَۗ ا َ م َ و ْ م ُ ه َ ن ْ ي ِ ۤار ِضَ ب ه ِ ب ْ ِمن د َ ح َ ا ا َّ ِن ِال ْ ِذ ا ِ ب ِ ه اّٰللَۗ َ ن ْ و ُ م َّ ل َ ع َ ت َ ي َ و ا َ م ْ م ُ ه ر ضُ َ ي ا َ ل َ و ْ م ُ ه ُ ع َ ف ْ ن َ يَۗ ْ د َ ق َ ل َ و ا ْ و ُ ِ م ل َ ع ِ ن َ م َ ل ُ ىه ٰ ر َ ت ْ اش ا َ م ه َ ل ى ِ ف ْ ال ِة ِخرَ ٰ ا ْ ِمن اق َ ل َ َس خَۗ ْ ئ ِ ب َ ل َ و ا ْ و َ ر َ اش َ م ه ِ ب ْ م ُ ه سَ ُ ف ْ ن َ اَۗ ْ و َ ل ا ْ و ُ ان َ ك َ ن ْ و ُ م َ ل ْ ع َ ي Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.” Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu. (al-Baqarah [2]: 102)


25 Ayat ini menerangkan tentang penjelasan sihir dari mulai cara melakukannya dan hasil yang dicapai dari sihir, namun tetap saja walau hasilnya bersifat nyata, kenyataan tersebut masih berada di bawah ketetapan Allah. Pada kisah Nabi Musa a.s. juga terdapat kisah penyihir yang melawannya, namun Allah memberikan kabar bahwa Allah tidak akan membiarkan penyihir terus membuat kerusakan, seperti dalam surah Yunus [10] ayat 81: ا َّ م َ ل َ ف ا ْ و َ ق ْ ل َ ا َ ال َ ق ى ٰ س ْ و ُ م ا َ م ْ م ُ ت ْ ِجئ ِه ب َۗ ِ رُ ْ ِ ح الس َّ ِان َ ه اّٰلل َۗ ه ُ ِطل ْ ب ُ ي َ س َّ ِان َ ه اّٰلل ا َ ل ُ ِح ل ص ْ ُ ي َ ل َ م َ ع َ ن ْ ِسِدي ْ ف ُ م ْ ال ࣖ ِحق ُ ي َ و ُ ه اّٰلل َّ ق َ ح ْ ال ه ِ ت ٰ ِم ل َ ِك ب ْ و َ ل َ و َ ه ِ ر َ ك َ ن ْ و ُ م ِ ر ْ ج ُ م ْ ال Setelah mereka melemparkan, Musa berkata, “Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu. Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan.” (Yunus [10]: 81) Ayat tersebut membuat hati kaum muslimim menjadi lebih tenang karena ada pertolongan Allah. Allah juga memberikan penangkal sihir dalam surah al-Falaq [113] ayat 1-5: ْ ل ُ ق ُ ذ ْ و ُ ع َ ا ِرَ ب ِ ب ِ ق َ ل َ ف ْ ال ْ ِ ِمن ر َ ش ا َ م َ ق َ ل َ خ ْ ِمن َ و ِ ر َ ش ِسق ا َ غ ا َ َب ِاذ َ ق َ و ْ ِمن َ و ِ ر ِت َ ش ٰ ث ه ف َّ الن ى ِ ف ِد َ ق ُ ع ْ ال ْ ِمن َ و ِ ر َ ِس د ش ا َ ح ا َ ِاذ َ د سَ َ ح ࣖ 1. Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar); 2. dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan; 3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita; 4. dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya); 5. dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (al-Falaq [113]: 1-5) Allah menjelaskan bahwa setiap orang beriman perlu menyerahkan perlindungan kepada Allah agar terlindungi dari sihir dan berbagai kejahatan. Sebagai bahan dasar materi sihir, Saudara bisa juga menggali lebih banyak lagi dalil yang berkaitan. 4. Contoh Sihir Setelah menganalisis dalil tentang sihir, Saudara bisa melihat contoh perbuatan sihir yang terjadi di masyarakat sebagai berikut: a. Memisahkan pasangan suami istri baik yang baru menikah maupun yang sudah lama menikah, serta membuat keluarganya tidak pernah tentram. b. Sihir cinta (pelet) membuat orang yang terkena sihir jatuh cinta, selalu merasa rindu dan ingin dinikahi oleh orang yang menyihir. Bahkan dalam beberapa kasus, jika yang menyihir tidak menikahi, yang terkena sihir akan mengalami depresi sampai gangguan jiwa.


26 c. Sihir khayalan/ilusi, membuat objek yang dilihat atau di rasa tidak seperti aslinya. Seperti penyihir yang melawan Nabi Musa a.s., menjadikan tongkat mereka sebagai ilusi menyerupai ular. Mukjizat Nabi Musa a.s. benar-benar mengubah tongkat menjadi ular yang nyata, bukan ilusi. d. Sihir santet/teluh atau sejenisnya, membuat yang terkena sihir mengalami sakit bahkan sampai meninggal dunia. Pada beberapa kasus ada yang disihir santet ini selama bertahun-tahun dan mengalami sakit yang berkepanjangan. Selain contoh-contoh ini, Saudara bisa mengeksplor lagi sebanyak-banyaknya contoh perbuatan sihir yang terjadi di masyarakat untuk menambah wawasan. 5. Hikmah Mempelajari Materi Sihir Ketika Saudara menganalisis materi sihir ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa ada kengerian dari perbuatan sihir ini? Apakah saudara membayangkan ada orang yang dikenal dan menjadi korban sihir ini? Jika iya, bukankah ini sangat mengerikan? Sangat jahat dilakukan? Tentu tidak ada satu pun orang yang mau menjadi target sihir, termasuk tukang sihir sendiri. Oleh karenanya, sebagai pendidik perlu menjadikan materi sihir ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan kewaspadaan, serta menyampaikan kepada peserta didik agar berhati-hati dari sihir. Bisa juga sebagai modal membentengi diri dari sihir dengan memohon pertolongan Allah. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!


2 URAIAN MATERI A. Kiamat Sugra Etimologi kiamat terserap dari kosakata bahasa Arab, qāma – yaqūmu - qiyāman, yang berarti berdiri, berhenti, atau berada di tengah. Kiamat (al-qiyāmah) diartikan sebagai kebangkitan dari kematian, yaitu dihidupkannya manusia pascakematian. Hari kiamat (yaumulqiyāmah) berarti hari atau saat terjadinya kebangkitan (manusia) dari kubur. Para ulama mengklasifikasikan kiamat kepada dua macam: kiamat kecil (qiyamah al-shugra) dan kiamat besar (qiyamah al-kubra). Quraish Shihab dalam Perjalanan Menuju Keabadian menulis, “Para ulama menjelaskan bahwa ada dua macam kiamat: kecil (sughro) dan besar (kubro). Kiamat kecil adalah saat kematian orang per orang, sedang kiamat besar adalah yang bermula dari kehancuran alam raya.” 1. Pengertian Kiamat Sugra Kiamat kecil ialah kematian. Bagi siapa yang sudah menemui ajal, sejatinya dia sudah mengalami kiamat kecil. Hal ini berdasarkan hadis riwayat ‘Aisyah yang berkata: “Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw. sembari bertanya perihal kiamat (al-sa’ah). Seketika itu juga, Rasul melihat kepada anak kecil yang berada di antara mereka dan berkata, ‘Anak ini akan meninggal sebelum masa tuanya, hingga kalian akan menemui ajal masing-masing (‘alaikum sa’atukum)”, (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Mayoritas ulama memahami kata al’sa’ah dalam hadis ini dengan kiamat kecil, yang berati kematian. Ibnu Katsir berpendapat bahwa kiamat kecil ialah berakhirnya kehidupan manusia di bumi, dan masuk kepada hari akhirat. Setiap orang yang meninggal, sebenarnya mereka sudah memasuki pintu akhirat. Dalam hal ini, Ibnu Katsir mengkritik pendapat orang ateis yang mengatakan kematian adalah kiamat yang tidak ada lagi kehidupan (kiamat) setelahnya. Berdasarkan keyakinan umat Islam, suatu saat umat manusia akan dibangkitkan dari kuburnya dan dikumpulkan pada satu tempat, peristiwa ini disebutkan dengan kiamat besar (qiyamah al-kubra). Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyamakan kiamat kecil dengan alam barzah (albarzakh) atau tahap awal tempat kembali manusia (ma’ad al-awwal). Allah Swt. menyediakan dua fase (tahapan) setelah manusia meninggal dunia, pada dua fase ini Allah Swt. akan membalas setiap amalan baik dan buruk yang dikerjakan manusia semasa hidupnya. Fase pertama ialah perpisahan antara ruh dan badan, sebagai salah satu cara untuk masuk kepada fase pertama, Ibnu Qayyim mengistilahkannya dengan al-jaza` al-awwal (hari pembalasan tahap awal). 2. Dalil Kiamat Sugra Tanda-tanda Kiamat (Asyrāth as-Sa’ah) adalah indikasi-indikasi Kiamat yang mendahuluinya dan menunjukkan kedekatan (waktu)-nya. Sementara Kiamat


3 (as-Sa’ah) dapat dipisahkan menjadi 3 (tiga) makna, yaitu: Pertama, Kiamat Kecil (as-Sa’ah ash-Shughra) yaitu kematian manusia. Kedua, Kiamat Sedang (as-Sa’ah alWushtha) yaitu meninggalnya generasi satu abad tertentu. Ketiga, Kiamat Besar (as-Sa’ah al-Kubra) yaitu dibangkitkannya manusia dari kubur mereka untuk dihisab (al-hisab) dan dibalas (al-jaza’) amalan-amalannya di dunia. Klasifikasi Tanda-Tanda Kiamat terbagi menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, tanda-tanda kecil (asyrath shughra), yaitu (tanda-tanda) yang mendahului Kiamat dengan (jarak) waktu yang lama dan menjadi hal yang berulang-ulang (biasa terjadi). Seperti hilangnya ilmu, merebaknya kebodohan dan minuman khamer, saling berlomba meninggikan bangunan, serta lain sebagainya. Terkadang sebagian tanda-tandanya muncul berbarengan dengan tanda-tanda Kiamat besar (asy-asyrath al-kubra) atau (ada juga yang) setelahnya. Kedua, tanda-tanda besar (asyrath kubra), yaitu perkara-perkara besar yang muncul menjelang terjadinya kiamat (qurba qiyam as-sa’ah), dan kejadiannya tidak berulang-ulang. Seperti kemunculan ad-Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa a.s., keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya Matahari dari arah barat. Sebagian ulama membagi tanda-tanda kiamat dari perspektif kemunculannya menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu: Pertama, klasifikasi yang telah muncul dan telah berakhir. Kedua, klasifikasi yang telah muncul dan terus berlangsung, bahkan semakin banyak. Ketiga, klasifikasi yang belum terjadi hingga sekarang. Adapun dua klasifikasi pertama masuk dalam tanda-tanda Kiamat kecil (asyrath as-sa’ah ash-shughra), sedangkan klasifikasi ketiga terhimpun di dalamnya tanda-tanda besar (al-asyrath al-kubra) dan sebagian tanda-tanda kecil (al-asyrath ash-shugra). 3. Tanda-tanda Kiamat Sugra Tanda-tanda kiamat sugra berdasarkan hadis Nabi saw. adalah sebagai berikut: a. Diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu bertutur, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ا َ ن َ أ تُ ْ ِعث ُ » ب ى َ ط س ْ ُ و ْ ال َ و َ ة َ اب َّ ب السَّ َّ م ضَ َ :( و َ ال َ «. )ق ِ ن ْ ي َ ات َ ه َ ك ُ ة َ اع السَّ َ و ‘(Masa) diutusnya aku dan (hari terjadinya) Kiamat seperti dua (jari) ini’.” (Anas Radhiyallahu ‘Anhu) berkata, “Dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merapatkan jari telunjuk dengan jari tengahnya.” (HR. Muslim). b. Wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Dari ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bertutur, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


11 B. Kiamat Kubra dan Kehidupan Setelah Hari Akhir Beriman (meyakini) adanya hari akhir adalah bagian dari rukun iman. Iman kepada hari akhir ini adalah penting sekali. Sedemikian pentingnya maka dalam AlQur’an dan hadis keimanan pada hari akhir ini kerap disandingkan dengan keimanan kepada Allah. Dan memang ada dua hal pokok berkaitan dengan keimanan yang banyak dijabarkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu pembuktian tentang keesaan Allah, yang berarti ini tentang iman kepada Allah, dan kedua, uraian atau pembuktian tentang hari akhir. Al-Qur’an telah memberitakan kepada manusia bahwa alam semesta ini telah diciptakan dan akan sampai pada titik akhirnya (Q.S. al-Mukmin [40]: 59 dan Q.S. alHajj [22]: 7). Segala yang berawal maka akan berakhir, baik manusia, tumbuhan, hewan, alam semesta, maupun malaikat semuanya akan mati, hanya Allah saja yang tidak berawal dan tidak berakhir. Waktu yang ditetapkan dimana alam semesta dan segala makhluk di dalamnya mulai dari mikroorganisme sampai makhluk yang paling indah bentuknya yaitu manusia, termasuk bintang-bintang dan galaksi-galaksi semuanya akan hancur pada hari dan jam yang telah ditentukan oleh sang penciptanya dan hanya Dia yang mengetahuinya. Waktu atau hari tersebut dikenal dengan nama Hari Akhir atau Kiamat. 1. Pengertian Kiamat Kubra dan Hari Akhir Kiamat Kubra (kiamat besar) adalah pemusnahan seluruh kehidupan di alam ini. Setelah manusia dihancurkan, maka Allah Swt. akan membangkitkan manusia dari kuburnya, mereka akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah mereka lakukakan. Pada hari itu tidak ada yang dapat membantu manusia kecuali iman dan amalan saleh. Allah Swt. akan meyediakan surga bagi hambanya yang taat, dan memasukkan hambanya yang ingkar ke dalam api neraka. Al-Qur'an menyebut istilah al-yaum al-ākhir (االخر اليوم ,(hari akhir, sebanyak 26 kali dan menyebut istilah al-ākhirah (االخرة ,(akhirat, sebanyak 115 kali. Istilah ini, al-ākhir, secara kebahasaan, menurut ar-Rāgib al-Asfahānī, mengandung arti “akhir” atau “yang kemudian”, yang merupakan lawan dari perkataan “awal”. Istilah al-ākhir biasanya dihubungkan dengan istilah yaum (اليوم (sehingga menjadi al-yaum al-ākhir (االخر اليوم ,(berarti Hari Akhir atau Hari Kiamat. Sementara itu, istilah al-ākhirah (االخرة ,(akhirat sering dihubungkan dengan istilah dār yang berarti negeri atau kampung, seperti dalam ungkapan al-dār al-ākhirah, yang berarti negeri akhirat. Kiamat atau al-yaum al-ākhir (hari akhir) tidaklah seperti hari-hari di dunia yang 1 hari sebanding dengan 24 jam. Hari akhir merupakan hari yang terjadi pada kehidupan akhirat, yang 1 hari jika menggunakan ukuran hari-hari dunia bisa sangat relatif atau tidak terbatas, bisa sebanding dengan 1000 tahun (Q.S. as-


12 Sajdah [32]: 5); bahkan bisa berbanding dengan 50.000 tahun (Q.S. al-Ma‘ārij [70]: 4). Ini wajar saja, sebab ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (nirwaktu). Penyebutan al-yaum al-ākhir, yang dirangkai dengan iman kepada Allah, pada hakikatnya dimaksudkan sebagai hari perhitungan (al-hisāb) dan pembalasan (aljazā'), sehingga oleh Al-Qur'an ia dijadikan sebagai sarana yang efektif untuk menumbuhkan kejujuran, ketakwaan, kedermawanan, berani berkorban demi kebenaran dan keadilan, dan sebagainya. Artinya, seandainya seseorang bersikap jujur, lalu tidak mendapatkan hasil duniawi yang diinginkan, maka keimanan kepada hari akhir itulah yang menjadikan dirinya tetap sabar dan konsisten, sebab ia yakin ganjaran yang sesuai akan diperoleh di hari akhir kelak. Begitu juga, ia bisa dijadikan tameng dari perilaku-perilaku buruk, misalnya kemunafikan, riya’, dan sebagainya. Sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa firman Allah seperti: “Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 8). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kiamat diartikan sebagai: a. hari kebangkitan setelah mati (orang yang telah meninggal dihidupkan kembali untuk diadili perbuatannya); b. hari akhir zaman (dunia seisinya rusak binasa dan lenyap); c. celaka sekali, bencana besar, rusak binasa; d. berakhir dan tidak muncul lagi. Sedang dalam Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, kiamat diartikan keadaan makhluk dan alam semesta ketika berakhirnya kehidupan mereka di dunia. Dari pengertian ini, ada dua hal pokok terkait makna kiamat, yaitu: Pertama, kiamat merupakan kebangkitan manusia dari kematian atau dari kuburnya. Maknanya, pada hari itu semua manusia dibangkitkan dari kubur, tempat peristirahatan setelah kematiannya. Selanjutnya, mereka diadili dan diminta pertanggungjawaban atas semua perbuatannya di dunia. Yang banyak kebaikannya akan mendapat ganjaran kenikmatan, dan yang sebaliknya akan mendapat hukuman. Allah Berfirman: “Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (Q.S. al-Qāri‘ah [101]: 6-9). Kedua, kiamat adalah keadaan akhir zaman. Kiamat merupakan akhir dari alam semesta dan kehidupan semua makhluk. Artinya saat kiamat tiba, seluruh jagat raya beserta isinya, seperti planet, bintang, langit, bumi, manusia, dan semua yang ada, hancur binasa. Kehidupan makhluk pun tidak ada lagi. Ini merupakan bencana besar bagi alam raya dan yang ada di dalamnya. Seluruh kehidupan yang ada menjadi musnah karena hancurnya dunia dan isinya. Allah berfirman, Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan


13 apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan di bongkar. (Q.S. al-Infiţār [82]: 1-4). Sayyid Sābiq dalam al-Aqā’id al-Islāmiyyah menjelaskan, “Hari kiamat adalah suatu keadaan yang didahului dengan musnahnya alam semesta. Saat itu, seluruh makhluk yang masih hidup akan mati. Bumi pun akan berganti, bukannya bumi dan langit yang ada sekarang”. Sementara itu Didin Hafidhuddin menyatakan bahwa kiamat diawali dengan tiupan terompet sebagai tanda kehancuran alam. Dari beberapa penjelasan tersebut, dapat disimpulkan beberapa hal berikut: a. hari kiamat merupakan akhir kehidupan dunia; b. kiamat diawali tiupan sangkakala sebagai tanda permulaan hancurnya alam semesta; c. kiamat merupakan kehancuran jagat raya yang diawali dengan berguncangnya bumi, hancurnya semua benda angkasa, dan kematian seluruh makhluk hidup yang masih ada, sehingga semua yang ada di dunia musnah; d. setelah semuanya hancur dan musnah, bumi, langit, dan lainnya akan diganti dengan yang baru; dan e. kiamat merupakan awal kehidupan akhirat yang menggantikan kehidupan dunia. 2. Dalil Kiamat Kubra Kiamat adalah suatu yang pasti terjadi. Sebagai bukti kepastiannya adalah tercantum dalam Al-Qur’an dan hadis. Dalil-dalil ini menguatkan bahwa kiamat akan terjadi dan sebagai seorang muslim perlu memperbanyak amal saleh sebelum kiamat tiba. Allah adalah satu-satunya Zat yang tidak akan binasa, seluruh makhluknyalah yang akan binasa pada saatnya tiba, sebagaimana surah al-Qashash [28] ayat 88 berikut: ... ا َ ل َ ه ٰ ِال ا َّ ِال َ و ُ ه ُّ ل ُ ك ْيٍء َ ش ٌ اِلك َ ه ا َّ ِال ه َ ه ْ ج َ و ... “... Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah”. (Q.S. al-Qashash [28]: 88) Hari Akhir atau Hari Kiamat merupakan tahapan yang harus dilewati menuju Negeri Akhirat. Ungkapan al-dār al-ākhirah merupakan lawan dari al-dār al-dunyā, sebagaimana termaktub di dalam ayat Al-Qur'an sebagai berikut: ا َ م َ و ِذِه ٰ ه ُ وة ٰ ي َ ح ْ ال ا َ ي ْ ن ُّ الد ا َّ ِال ٌ و ْ ه َ ب ل ٌ ِع َ ل َّ و َّ ِان َ و َ ار َّ الد َ ة ِخرَ ٰ ا ْ ِهَي ال َ ل ُ ان َ و َ ي َ ح ْ ال ْ و َ ل ا ْ و ُ ان َ ك َ ن ْ و ُ م َ ل ْ ع َ ي “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui”. (Q.S. al-‘Ankabūt [29]: 64) Hari akhir adalah hal yang harus diimani sebagaimana surah al-Baqarah [2] ayat 8 berikut: َ ِمن َ ِس و ا َّ الن ْ ن َ م ُ ل ْ و ُ ق َّ ي ا َّ ن َ م ٰ ا ِ ٰ اَّلل ِ ِم ب ْ و َ ي ْ ال ِ ب َ و ِ ِخر ٰ ا ْ ال ا َ م َ و ْ م ُ ه َ ن ْ ِي ِمن ْ ؤ ُ ِم ب


14 “Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 8) Saat kiamat terjadi, hal yang terjadi pada alam ini adalah kehancuran sebagaimana dalam surah al-Infiţār [82] ayat 1-4: ا َ ِاذ ُ اۤء َ م َّ الس رَ ت ْ َ ط َ ف ْ ان ا َ ِاذ َ اِك ُب و َ و َ ك ْ ال ت ْ َ ر َ ث َ ت ْ ان ا َ ِاذ َ و ُ ار َ ِ ح ب ْ ال ِ رَ ت ْ ج ُ ف ا َ ِاذ َ و ُ ر ْ و ُ ب ُ ق ْ ال ت ْ َ ِر ث ْ ع ُ ب 1. Apabila langit terbelah, 2. dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, 3. dan apabila lautan dijadikan meluap, 4. dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. (Q.S. al-Infiţār [82]: 1-4) Orang setelah hari kiamat akan ada akhirat yang ujungnya adalah tempat penempatan manusia berdasarkan amal ibadahnya, yang baik amalnya akan masuk surga, dan yang banyak dosanya ditempatkan di neraka, sebagaimana surah al-Qāri‘ah [101] ayat 6-9: ا َّ م َ ا َ ف ْ ن َ م ت ْ َ ل ُ ق َ ث ه ُ ين ِ از َ و َ م َ و ُ ه َ ْي ف ِ ف ٍة َ ش ْ ِعي ٍة َ ِضي ا َّ ر ا َّ م َ ا َ و ْ ن َ م ت ْ َّ ف َ خ ه ُ ن ْ ي ِ از َ و َ م ه ُّ م ُ ا َ ف ٌ ة َ ي ِ او َ ه 6. Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, 7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). 8. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, 9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (Q.S. al-Qāri‘ah [101] ayat 6-9) 3. Tanda-tanda Kiamat Kubra Kiamat merupakan peristiwa yang bila ditinjau dari sisi sains, maka potensi alam semesta ini berakhir akan sangat mungkin terjadi. Salah satu peristiwa alam yang menandai awal kiamat ialah guncangan dahsyat. Dalam buku Tafsir Ilmi “Kiamat dalam perspektif Al-Qur’an dan Sains” yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap mengenai keadaan Bumi pada hari Kiamat. Ada tanda-tanda yang bisa diamati oleh mata manusia sebelum terjadinya kiamat. Ilmuwan bahkan telah mengemukakan skema-skema yang terjadi seperti Bumi bertabrakan dengan planet lain atau hantaman asteroid dan sebagainya. Apapun skema atau teori yang diungkap ilmuwan, terdapat kekacauan besar yang akan dialami oleh Bumi. Salah satunya ialah guncangan yang dahsyat yang terjadi di Bumi. Ayat Al-Qur’an telah mengungkap mengenai peristiwa kiamat tersebut. “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)-nya.” (Q.S. AzZalzalah: 1-2). Kata az-Zalzalah (guncangan yang dahsyat) adalah ism masdar (bentuk kata benda) dari zalzala – yuzalzilu – zalzalatan, yang mengguncangkan. Dengan demikian, az-zalzalah berarti guncangan. Karena penyebutannya dalam


15 Surah az-Zalzalah diikuti oleh maf’ul mutlaq, maka kata ini dimaknai sebagai guncangan hebat yang terjadi di seluruh penjuru Bumi. Dalam Al-Quran, kata ini dengan semua bentuk jadiannya disebut sebanyak 6 kali, dua kali di antaranya disebut dalam Surah az-Zalzalah ayat 1. Ayat ini menerangkan bahwa peristiwa kiamat diawali dengan guncangan yang dahsyat yang meliputi seluruh Bumi. Fenomena gempa ini berbeda dengan yang selama ini terjadi, hanya bersifat lokal dan tidak menyeluruh ke seantero Bumi. Peristiwa ini menjadi penanda yang mengingatkan manusia bahwa akhir kehidupan dunia telah datang, yang diikuti kemudian oleh kehidupan akhirat. Tanda-tanda Kiamat Kubra (Kiamat Besar) lainnya adalah sebagai berikut: a. Terbitnya matahari dari arah barat. Rasulullah saw. bersabda, “Kiamat tidak akan datang, sebelum matahari terbit dari arah Barat. Apabila orang-orang melihat hal ini, maka semua orang yang ada di atasnya beriman. Hal ini pada saat tidak berguna lagi iman seseorang yang memang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu”. b. Kabut. Kabut tebal memenuhi antara langit dan bumi yang muncul sebelum kiamat datang, dimana akan mengambil nafas orang-orang kafir, sehingga mereka hampir tercekik sedangkan bagi orang-orang mukmin seperti mengalami pilek. Kabut ini berlangsung di bumi selama 40 hari. c. Munculnya binatang yang dapat berbicara dengan manusia. Keluarnya binatang dari dalam bumi yang dapat berbicara dengan manusia dengan bahasa yang fasih, yang dimana bahasa itu dapat dipahami oleh semua yang mendengarnya. Binatang atau Dabbah ini muncul di akhir zaman saat manusia telah mengalami kebobrokan. Di mana para manusia meninggalkan perintah-perintah Allah Swt., dan mengganti agama yang benar. Dabbah keluar dengan membawa tongkat Nabi Musa ‘alaihissalam dan cincin Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Dan wajah orang mukmin menjadi terang berkat tongkat tersebut, sehingga dapat dikenali antara orang mukmin dan orang kafir. d. Munculnya al-Masih Dajjal. Dinamai al-A’war ad-Dajjal karena dia buta sebelah matanya yang kanan. Fitnahnya merupakan fitnah terbesar yang menimpa orang-orang di akhir zaman. Al-A’war ad-Dajjal tidak hanya mengaku-aku sebagai nabi, bahkan dia juga mengaku-aku sebagai Tuhan. Muncul beberapa hal-hal yang luar biasa melalui kedua tangannya sebagai bentuk istidraj dari Allah Subhanahu wa ta’ala kepadanya dan sebagai ujian bagi para manusia. Dia mengelilingi seluruh permukaan bumi. Semua daerah yang dia masuki pasti dia berbuat kerusakan di dalamnya, kecuali Makkah dan Madinah.


16 e. Keluarnya Ya’juj Ma’juj. Ya’juj Ma’juj merupakan kabilah dari keturunan Yafits bin Nuh. Mereka keluar di akhir zaman setelah dinding penghalang yang dibuat oleh Dzulqarnain jebol. Lantas mereka membuat kerusakan di muka bumi dengan berbagai macam tindakan keji dan kerusakan. Saking banyaknya, mereka memakan makanan dan tanaman apa saja yang dijumpainya dan meminum danau Thabariyah sampai seakan-akan tidak pernah ada airnya. f. Keluarnya api yang menggiring manusia ke Padang Mahsyar. Api ini keluar dari tanah ‘Adn, merupakan api besar yang menakutkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat memadamkannya. Api ini menggiring manusia ke padang Mahsyar. Para ulama berbeda pendapat terkait urutan terjadinya tanda-tanda kiamat. Imam Al-Qurṭūbī mengatakan, tanda-tanda kiamat besar yang disebutkan secara bersamaan dalam berbagai hadis tidaklah berurutan, tidak terkecuali riwayat Muslim dari Hudzaifah. Salah satu hadis sahih yang berkaitan dengan kiamat (assāʽah) yang pasti adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya dan juga diriwayatkan oleh beberapa perawi hadis serta diakui oleh para ulama adalah hadis berikut, yaitu: َ ت َ ن ُ ن ْ ح َ ن َ ا و َ ن ْ ي َ ل َ ع َ م َّ ل سَ َ ِه و ْ ي َ ل َ ع ُ َّ ى اَّلل َّ ل صَ ُّ ي ِ ب َّ الن َ ع َ ل َّ اط َ ال َ ق ِ ِ ي ار َ ِغف ْ ِسيٍد ال َ أ ِ ن ْ ب َ ة َ ف ْ ي َ ذ ُ ح ْ ن َ ع ا َ م َ ال َ ق َ ف رُ َ اك َ ذ ِ إ َ ال َ ق َ ة َ اع السَّ رُ ُ ك ْ ذ َ وا ن ُ ال َ ق َ ون رُ َ اك َ ذ َ ت َ ال َّ ج َّ الد َ و َ ان َ خ ُّ الد رَ َ ك َ ذ َ ا ٍت ف َ آي َ ر ْ ش َ ا ع َ ه َ ل ْ ب َ ق َ ن ْ و رَ َ ى ت َّ ت َ ح َ وم ُ ق َ ت ْ ن َ ا ل َ ه َّ ن ُ ج َ أ َ ي َ و َ م َّ ل سَ َ ِه و ْ ي َ ل َ ع ُ َّ ى اَّلل َّ ل صَ َ م َ ي رْ َ م ِ ن ْ ى اب ِعيسَ َ ول ُ ز ُ ن َ ا و َ ه ِ ب ِ ر ْ غ َ م ْ ِس ِمن ْ م َّ الش َ وع ُ ل ُ ط َ و َ ة َّ اب َّ الد َ و وجَ ُ ج ْ أ َ م َ و وجَ وٍف سُ ُ خ َ ة َ اث َ ل َ ث َ و ْ ِمن رُجُ ْ خ َ ت ٌ ار َ ن َ ِلك َ ذ ِخرُ آ َ ِب و رَ َ ع ْ ِة ال يرَ ِ ز َ ِبج ٌ س ْ ف َ خ َ ِ ِب و ر ْ غ َ م ْ ال ِ ب ٌ س ْ ف َ خ َ و ِ ِ ق ر ْ ش َ م ْ ال ِ ب ٌ س ْ ف َ خ ْ ِهم ِ ر َ ش ْ ح َ م ى َ ل ِ َس إ ا َّ الن ُ د رُ ْ ط َ ت ِ ن َ م َ ي ْ ال “Dari Hudzaifah bin Asid al-Ghifari berkata, Rasulullah saw. menghampiri kami saat kami tengah membicarakan sesuatu. Ia bertanya, ‘Apa yang kalian bicarakan?’ Kami menjawab, ‘Kami membicarakan kiamat.’ Ia bersabda, ‘Kiamat tidaklah terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya.’ Rasulullah menyebut kabut, Dajjal, binatang (ad-dābbah), terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam a.s., Ya'juj dan Ma'juj, tiga gerhana; gerhana di timur, gerhana di barat dan gerhana di jazirah Arab dan yang terakhir adalah api muncul dari Yaman menggiring manusia menuju tempat perkumpulan mereka,” (H.R. Muslim). Tanda-tanda kiamat dalam hadis ini disebut sebagai tanda-tanda kiamat kubra (hari akhir). Ada sepuluh tanda kiamat yang disebutkan dalam hadis ini. Namun yang disebutkan dalam hadis tersebut hanya ada delapan: a. Munculnya kabut (dukhan)


17 b. Munculnya Dajjal c. Munculnya Dabbah d. Terbitnya matahari dari barat. e. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj f. Munculnya Isa bin Maryam; g. Adanya tiga gerhana, di timur; h. Gerhana di barat; i. Gerhana di jazirah Arab. j. Adanya api yang muncul dari Yaman kemudian menggiring manusia menuju tempat berkumpul. Al-Qurthubi menyebutkan bahwa ada hadis lain yang menyebutkan tandatanda tersebut secara berurutan, yakni hadis Muslim dari Hudzaifah dalam riwayat yang berbeda, yang menyebutkan bahwa tanda yang pertama kali muncul adalah tiga gerhana. Oleh Al-Qurthubi, kejadian ini sudah pernah terjadi di masa Rasul SAW. Sedangkan tanda-tanda setelahnya masih banyak diperdebatkan urutannya. Oleh karena itu, simpulan dari kajian hadis-hadis hanya terkait tanda-tanda kiamat, bukan pada urutannya. Begitu juga waktu kejadiannya. Ada yang menyebut bahwa sebagian sudah terjadi, ada juga yang menyebutnya belum terjadi, bahkan perdebatan ini sudah terjadi pada masa sahabat. Jika ada kejadian di masa sekarang yang sesuai dengan tanda-tanda kiamat yang disebutkan di atas, belum tentu itu menjadi tanda yang pasti. Bisa juga kejadian yang sama akan terjadi di masa mendatang karena Rasul sendiri tidak mengetahui kapan tanda-tanda tersebut terjadi. Hal ini sesuai dengan yang telah disebutkan oleh Al-Qur’an Surat al-Aʽrāf ayat 187 ketika Rasul saw. ditanya kapan terjadinya kiamat. “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah, ‘Sungguh pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.” Cara bijak memahami tanda-tanda kiamat yang berbeda-beda tersebut adalah dengan meninjau maksud nabi (maqasidi) ketika menyebutkan tanda-tanda tersebut kepada para sahabat. Saat itu para sahabat masih bertanya-tanya tentang kebenaran adanya kiamat. Jawaban Rasul saw. dengan menyebutkan tanda-tanda tersebut bertujuan agar para sahabat tidak menghabiskan waktunya untuk selalu memikirkan kiamat. Selain itu, tanda-tanda kiamat yang ada dalam hadis Rasul saw. ini sebagai penguat bahwa kiamat memang ada, tetapi tidak akan disebutkan kapan terjadi. Semuanya ini bertujuan agar orang Mukmin senantiasa beribadah kapan dan di mana saja tanpa mengenal waktu. Jika kiamat dan tanda-tandanya


29 D. Takdir Mubram dan Mu'allaq Apabila Allah menghendaki sesuatu akan terjadi pada seorang hamba-Nya, maka pasti sesuatu itu akan menimpanya, sekalipun orang tersebut bersedekah, berdoa, bersilaturrahim, dan berbuat baik kepada sanak kerabatnya, kepada ibunya, dan saudara-saudaranya, atau lainnya. Artinya, apa yang telah ditentukan oleh Allah tidak dapat diubah oleh amalan-amalan kebaikan bentuk apapun. Lalu bagaimana dengan hadis berikut: َ لا ُّ د رُ َ ي َ اء ضَ َ الق ٌ ىء َ ش إلا ُ اء َ ع ُّ الد )رواه الترمذي( “Tidak ada sesuatu yang dapat menolak Qadla kecuali doa” (HR. at-Tirmidzi). Qadla di dalam hadis ini adalah Qadlā Mu’allaq. Harus kita ketahui bahwa Qadla terbagi kepada dua bagian: Qadlā Mubram dan Qadlā Mu’allaq. 1. Pengertian dan Dalil Takdir Mubram dan Mu'allaq Takdir Mubram, ialah ketentuan Allah yang pasti terjadi dan tidak dapat berubah. Ketentuan ini hanya ada pada Ilmu Allah, tidak ada siapapun yang mengetahuinya selain Allah sendiri, seperti ketentuan mati dalam keadaan kufur (asy-Syaqāwah), dan mati dalam keadaan beriman (as-Sa’ādah), ketentuan dalam dua hal ini tidak berubah. Seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya mati dalam keadaan beriman maka itulah yang akan terjadi baginya, tidak akan pernah berubah. Sebaliknya, seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya mati dalam keadaan kufur maka pasti itulah pula yang akan terjadi pada dirinya, tidak ada siapapun, dan tidak ada perbuatan apapun yang dapat merubahnya. Allah berfirman: ْ و َ ل َ و َ اۤء َ ش ُ ٰ اَّلل ْ م ُ ك َ ل َ ع َ ج َ ل ً ة َّ م ُ ا ً ة َ ِحد ا َّ و ْ ِكن ٰ ل َّ و ُّ ِضل ُّ ي ْ ن َ م ُ اۤء َ ش َّ ي ِدي ْ ْ ه َ ي َ و ْ ن َ م ُ اۤء َ ش َّ ي َّ ن ُ َٔـل س ْ ُ ت َ ل َ و ا َّ م َ ع ْ م ُ ت ْ ن ُ ك َ ن ْ و ُ ل َ م ْ ع َ ت “Dan jika Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S. an-Nahl [16]: 93) Takdir Mu’allaq, yaitu ketentuan Allah yang berada pada lambaran-lembaran para Malaikat, yang telah mereka kutip dari al-Lauh al-Mahfuzh, seperti si fulan apa bila ia berdoa maka ia akan berumur seratus tahun, atau akan mendapat rizki yang luas, atau akan mendapatkan kesehatan, dan seterusnya. Namun, misalkan si fulan ini tidak mau berdoa, atau tidak mau bersilaturrahim, maka umurnya hanya enam puluh tahun, ia tidak akan mendapatkan rizki yang luas, dan tidak akan mendapatkan kesehatan. Inilah yang dimaksud dengan Qadlâ Mu’allaq atau Qadar Mu’allaq, yaitu ketentuan-ketentuan Allah yang berada pada lebaranlembaran para Malaikat. Dari uraian ini dapat dipahami bahwa doa tidak dapat merubah ketentuan (Taqdīr) Allah yang Azali yang merupakan sifat-Nya, karena mustahil sifat Allah


30 bergantung kepada perbuatan-perbuatan atau doa-doa hamba-Nya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu, tidak ada suatu apapun yang tersembunyi dari-Nya, dan Allah maha mengetahui perbuatan manakah yang akan dipilih oleh si fulan dan apa yang akan terjadi padanya sesuai yang telah tertulis di al-Lauh al-Mahfuzh. Namun demikian doa adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah atas para hamba-Nya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman: َ ة َ و ْ ع َ ُب د ِجي ُ ب أ ٌ ي ِ ر َ ِ ي ق ن ِ إ َ ِ ي ف ن َ اِدي ع َ ِعب َ ك َ ل َ أ ا سَ َ ذ ِ إ و اِع َ َّ الد ا َ ذ ِ إ ْ م ُ ه َّ ل َ ع َ ِ ي ل وا ب ُ ِمن ْ ؤ ُ ي ْ ل َ ِ ي و وا ل ُ ِجيب َ ت س ْ َ ي ْ ل َ ِن ف ا َ ع َ د َ ون ُ د ُ ش رْ َ ي “Dan jika hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat (bukan dalam pengertian jarak), Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memohon terkabulkan doa kepada-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga mereka mendapatkan petunjuk” (QS. al-Baqarah: 186). Ayat di atas menjelaskan bahwa seorang yang berdoa tidak akan sia-sia belaka. Ia pasti akan mendapatkan salah satu dari tiga kebaikan; dosa-dosanya yang diampuni, permintaannya yang dikabulkan, atau mendapatkan kebaikan yang disimpan baginya untuk di kemudian hari kelak. Semua dari tiga kebaikan ini adalah merupakan kebaikan yang sangat berharga baginya. Dengan demikian maka tidak mutlak bahwa setiap doa yang dipintakan oleh para hamba pasti dikabulkan oleh Allah. Akan tetapi ada yang dikabulkan dan ada pula yang tidak dikabulkan. Yang pasti, bahwa setiap doa yang dipintakan oleh seorang hamba kepada Allah adalah sebagai kebaikan bagi dirinya sendiri, artinya bukan sebuah kesia-siaan belaka. Dalam keadaan apapun, seorang yang berdoa paling tidak akan mendapatkan salah satu dari kebaikan yang telah disebutkan di atas. Situasi takdir muallaq berlainan dengan takdir mubram. Doa tidak dapat mengubah kenyataan yang digariskan dalam takdir mubram. Meskipun demikian, doa dipercaya dapat meminimalisir dampak bala yang timbul karena takdir mubram. Meskipun takdir terbagi dua, muallaq dan mubram, kita sebagai manusia tidak mengetahui mana takdir muallaq dan takdir mubram. Oleh karena itu, ahlusunnah wal jamaah memandang doa sebagai ikhtiar manusiawi yang tidak boleh ditinggalkan sebagaimana pada umumnya aliran ahlusunnah wal jamaah memandang perlunya ikhtiar dalam segala hal, bukan menyerah begitu saja. Dari sini, kita dapat memahami tiga permintaan atau doa yang lazim diamalkan masyarakat Indonesia di malam nisfu Syaban sebagai bentuk ikhtiar dalam menolak bala dan ikhtiar dalam mendatangkan kemaslahatan. Sementara aliran muktazilah tidak mempercayai peran dan manfaat doa karena kata ‘doa’ dalam Al-Quran itu adalah ibadah secara umum. “Siapa saja


31 yang beribadah, niscaya Allah akan menerimanya,” menurut mereka. Mereka tidak mengartikan ayat itu demikian, “Siapa saja yang berdoa, niscaya Allah akan mengabulkannya.” Meskipun demikian, kelompok ahlusunnah wal jamaah Asy’ariyah tidak menempatkan aliran muktazilah ke dalam aliran kufur karena mereka masih meyakini Al-Qur’an sebagai wahyu Allah. Semua pengertian yang diangkat oleh pendukung kelompok ahlusunnah wal jamaah Asy’ariyah ini dimaksudkan agar umat Islam tidak salah paham menempatkan signifikansi doa, peran ikhtiar manusia, dan dapat meningkatkan keimanan terhadap takdir di tengah peran atau ikhtiar manusiawi. Semua ini dijelaskan oleh pendukung kelompok ahlusunnah wal jamaah asy’ariyah agar masyarakat sunni tidak bersikap su'ul adab dan su'uzhan kepada Allah. 2. Hikmah Mempelajari Takdir Mubram dan Mu'allaq Ketika Saudara menganalisis materi mubram dan mu’allaq ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa bisa memilih jalan hidup? Apakah Saudara membayangkan apa jadinya jika Allah hanya menetapkan takdir mubram saja? Di antara hikmah mempelajarai materi ini adalah bisa membedakan takdir mubram dan mu’allaq. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuliakan diri sendiri, Allah, sesama manusia dan makhluk lain. Serta sebagai bahan mengajak orang lain mengupayakan dan memaksimalkan ikhtiar. Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!


32 E. Konsep Kebebasan Manusia dalam Konteks Takdir Allah Hampir setiap orang menginginkan kemauannya terwujud, baik itu kemauan yang baik maupun kemauan buruk. Hanya saja ada kemauan yang dapat terwujud dengan syarat-syarat tertentu. Di sini hukum kausalitas berlaku. Tetapi ada juga kemauan orang-orang tertentu yang terwujud tanpa bergantung pada syarat apapun. Meski demikian, kemauan yang terwujud itu tak mungkin berbenturan dengan takdir Allah Swt., sebagaimana hikmah berikut ini: سوابق الهمم لا تخرق أسوار الأقدار “Kemauan keras tak bisa menerobos pagar takdir.” 1. Kemauan Manusia dalam Konteks Takdir Allah Kalau mau dipetakan, menurut Syekh Zarruq kemauan manusia terdiri atas tiga macam. Pertama, ada kemauan yang tinggal kemauan tanpa upaya dan tanpa hasil. Kemauan seperti ini kerap kali kita dapati melekat pada banyak orang di sekitar kita terutama pada kebaikan sehingga kita sering mendengar orang mengatakan, ‘Saya sebenarnya ingin sekali menghadiri majelis taklim, menuntut ilmu,’ tanpa ada upaya riil. Kedua, kemauan kuat yang diiringi usaha nyata dengan atau tanpa hasil. Ini kita temukan pada pegawai kantoran, petani, nelayan, pengusaha, dan seterusnya. Ketiga, kemauan kuat tanpa upaya, tetapi membawa hasil. Kemauan seperti ini jarang kita temukan karena kemauan seperti ini hanya dimiliki oleh para rasul, wali Allah, dan para wali setan seperti penyihir dan lain sebagainya. Kemauan keras atau kemauan pada kategori ketiga dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama, kemauan untuk tujuan baik (kemauan mulia) seperti mencari rida Allah, kemakrifatan, dan seterusnya. Kedua, kemauan untuk tujuan buruk (kemauan tercela) seperti kesenangan duniawi dan seterusnya. Tetapi sekuat apapun kemauan keras itu, putusan dan takdir Allah tetap mengatasinya sehingga para rasul, para wali Allah, dan ahli makrifat lainnya–ketika kemauan kerasnya tak terwujud– tetap menjaga adab waktu. 2. Hukum Kausalitas dalam Konteks Takdir Allah Meskipun semua terjadi berdasarkan kehendak Allah, kita tetap harus mempertimbangkan hukum kausalitas, hukum alam sebagai ketetapan Allah. Pasalnya, hukum kausalitas dan hukum alam sebagai sunatullah cukup kuat dan kuasa. Syekh M Said Ramadhan Al-Buthi menjelaskan bahwa: “Jawabannya dapat diringkas bahwa sikap kita terhadap Allah harus sesuai dengan perintah-Nya. Sedangkan sikap kita terhadap sunatullah harus sesuai dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan oleh-Nya sebagai asas keteraturan alam. Allah memerintahkan kita untuk makan bila lapar, minum bila haus, mencari obat bila sakit, dan menjaga kesehatan serta waspada terhadap segala yang menyebabkan kita celaka dan sakit. Kemudian Allah


33 juga memerintahkan kita untuk mengetahui dengan ilmul yakin bahwa tidak ada satu pun yang berbuat sesuatu selain Allah, tiada sesuatu berpengaruh selain dengan sunatullah. Kita juga diperintahkan untuk meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan memerintahkan segala sesuatu di alam ini untuk menjalankan tugas sesuai amanah yang dititipkan padanya sebagai firman Allah pada Surat Al-Araf ayat 54, ‘Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya.” Syekh Said Ramadhan Al-Buthi menempatkan takdir dengan menyarankan memperhatikan hukum kausalitas dan hukum alam. Meskipun sakit dan sehat adalah kehendak Allah, kita sebagai manusia–menurutnya–harus tetap berupaya untuk menjaga kesehatan dan berupaya hidup sehat. Takdir mengajarkan kita menjadi manusia secara wajar dan fithri. Jangan sekali-kali tidak tertib lalu lintas. Jangan berdiam diri tanpa mencari obat ketika sakit meski kesembuhan ada di tangan Allah. Jangan coba-coba berdiam diri tidak belajar, tidak sekolah, tidak ngaji, tidak mondok. Akidah Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah yang menciptakan segalanya. Namun demikian ada beberapa paham yang berusaha mengaburkan kebenaran ini dengan mengutip beberapa ayat yang sering disalahpahami oleh mereka, di antaranya, mereka mengutip firman Allah: ُ ر ْ ي َ خ ْ ال َ ِدك َ ي ِ ب “Dengan kekuasaan-Mu segala kebaikan”. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 26). Dalam ayat di atas, terkesan Allah hanya menyebutkan kata “al-Khayr” (kebaikan) saja, tidak menyebutkan al-Syarr (keburukan). Dengan demikian maka Allah hanya menciptakan kebaikan saja, adapun keburukan bukan ciptaan-Nya. Kata al-Syarr (keburukan) tidak disandingkan dengan kata al-Khayr (kabaikan) dalam ayat di atas bukan berarti bahwa Allah bukan pencipta keburukan. Ungkapan semacam ini dalam istilah Ilmu Bayan (salah satu cabang Ilmu Balaghah) dinamakan dengan al-Iktifâ’; yaitu meninggalkan penyebutan suatu kata karena telah diketahui padanan katanya. Contoh semacam ini di dalam alQur’an firman Allah: ُ ٰ اَّلل َ و َ ل َ ع َ ج ْ م ُ ك َ ل ا َّ ِِم َ ق َ ل َ خ ا ً ل ٰ ِظل َ ل َ ع َ ج َّ و ْ م ُ ك َ ل َ ِ ن م ِ ال َ ِ ب ج ْ ال ا ً ان َ ن ْ ك َ ا َ ل َ ع َ ج َّ و ْ م ُ ك َ ل َ ل ْ ي ِ اب َ ر َ س ُ م ُ ك ْ ِقي َ ت رَّ َ ح ْ ال َ ل ْ ي ِ اب َ ر َ س َ و ْ م ُ ك ْ ِقي َ ت ْ م ُ ك سَ ْ أ َ ب َۚ َ ِلك ٰ ذ َ ك ُّ ِم ت ُ ي ه َ ت َ م ْ ِع ن ْ م ُ ك ْ ي َ ل َ ع ْ م ُ ك َّ ل َ ع َ ل َ ن ْ و ُ ِ م ل س ْ ُ ت “Dan Allah menjadikan tempat bernaung bagimu dari apa yang telah Dia ciptakan, Dia menjadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia menjadikan pakaian bagimu yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu agar kamu berserah diri (kepada-Nya)”. (Q.S. an-Nahl [16]: 81)


34 Yang dimaksud ayat ini adalah pakaian yang memelihara kalian dari panas, dan juga dari dingin. Artinya, tidak khusus memelihara dari panas saja. Demikian pula dengan pemahaman firman Allah: “Bi-Yadika al-Khayr” (QS. Ali ‘Imran: 26) di atas bukan berarti Allah khusus menciptakan kebaikan saja, tapi yang yang dimaksud adalah menciptakan segala kebaikan dan juga segala keburukan. Kemudian dari pada itu, dalam ayat lain dalam al-Qur’an Allah berfirman: ىء َ ش ل ُ ك َ ق َ ل َ خ َ و “Dan Dia Allah yang telah menciptakan segala sesuatu”. (Q.S. al-Furqan [25]: 2) Kata “Syai’”, yang secara hafiyah bermakna “sesuatu” dalam ayat ini mencakup segala suatu apapun selain Allah. Mencakup segala benda dan semua sifat benda, termasuk segala perbuatan manusia, juga termasuk segala kebaikan dan segala keburukan. Artinya, segala apapun selain Allah adalah ciptaan Allah. Dalam ayat lain firman Allah: ُ آء َ ش َ ن ت َّ ِِم َ ك ْ ل ُ م ْ ال ُ ِع نز َ ت َ و ُ آء َ ش َ ن ت َ م َ ك ْ ل ُ م ْ ي ال ِ ت ْ ؤ ُ ِك ت ْ ل ُ م ْ ِك ال اِل َ م َُّ ِ هَّللا َّ ل ُ ق “Katakanlah (Wahai Muhammad), Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki”. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 26). Dari makna firman Allah di atas: “Engkau (Ya Allah) berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki”, kita dapat pahami bahwa Allah adalah Pencipta kebaikan dan keburukan. Allah yang memberikan kerajaan kepada raja-raja kafir seperti Fir’aun, dan Allah pula yang memberikan kerajaan kepada raja-raja mukmin seperti Dzul Qarnain. Dalam hukum kausalitas, ada sesuatu yang dinamakan “sebab” dan ada yang dinamakan “akibat”. Misalnya, obat sebagai sebab bagi akibat sembuh, api sebagai sebab bagi akibat kebakaran, makan sebagai sebab bagi akibat kenyang, dan lain-lain. Akidah Ahlussunnah menetapkan bahwa sebab-sebab dan akibatakibat tersebut tidak berlaku dengan sendirinya. Artinya, setiap sebab sama sekali tidak menciptakan akibatnya masing-masing. Tapi keduanya, baik sebab maupun akibat, adalah ciptaan Allah dan dengan ketentuan Allah. Dengan demikian, obat dapat menyembuhkan sakit karena kehendak Allah, api dapat membakar karena kehendak Allah, dan demikian seterusnya. Segala akibat jika tidak dikehendaki oleh Allah akan kejadiannya maka itu semua tidak akan pernah terjadi. Dalam sebuah hadis Sahih, Rasulullah bersabda: ِن ا َِّلل )رواه ابن حبان( ْ أ بإذ ِ ر َ اء ب اء الد َ و َ َب د ْ ِصي ا أ َ إذ َ ف َ اء الد َ ق َ ل َ خ َ و َ اء َ و الد َ ق َ ل َ خ اَّللَ إن


35 “Sesungguhnya Allah yang menciptakan segala obat dan yang menciptakan segala penyakit. Apabila obat mengenai penyakit maka sembuhlah ia dengan izin Allah”. (H.R. Ibn Hibban). Sabda Rasulullah dalam hadis di atas, “… maka sembuhlah ia dengan izin Allah” adalah bukti bahwa obat tidak dapat memberikan kesembuhan dengan sendirinya. Fenomena ini nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita melihat banyak orang dengan berbagai macam penyakit, ketika berobat mereka mempergunakan obat yang sama, padahal jelas penyakit mereka bermacammacam, dan ternyata sebagian orang tersebut ada yang sembuh, namun sebagian lainnya tidak sembuh. Tentunya apabila obat bisa memberikan kesembuhan dengan sendirinya maka pastilah setiap orang yang mempergunakan obat tersebut akan sembuh, namun kenyataan tidak demikian. Inilah yang dimaksud sabda Rasulullah: “… maka akan sembuh dengan izin Allah”. Dengan demikian dapat kita pahami bahwa adanya obat adalah dengan kehendak Allah, demikian pula adanya kesembuhan sebagai akibat dari obat tersebut juga dengan kehendak dan ketentuan Allah, obat tidak dengan sendirinya menciptakan kesembuhan. Demikian pula dengan sebab-sebab lainnya, semua itu tidak menciptakan akibatnya masing-masing. Kesimpulannya, kita wajib berkeyakinan bahwa sebab tidak menciptakan akibat, akan tetapi Allah yang menciptakan segala sebab dan segala akibat. 3. Contoh Kebebasan Manusia dalam Konteks Profesi Keguruan Sebagai bahan gambaran dalam kehidupan yang dekat dengan kita, bisa dicontohkan kebebasan manusia sebagai berikut. Saudara saat membaca modul ini sedang menjalani nasib dan berada pada takdir Allah sebagai peserta yang bisa mengikuti kegiatan PPG. Ada calon peserta yang tidak lolos menjadi peserta. Saudara saat ini bebas menentukan, akan mengambil takdir Allah yang mana. Tentu Saudara tidak akan tau takdir apa, sampai takdir itu menghampiri. Yang Saudara bebas lakukan adalah memilih, bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan PPG ini atau melalaikan. Pilihannya hanya dua, tapi takdirnya tetap sesuai ketetapan Allah. Bisa saja saudara lulus PPG karena sungguh-sungguh, bisa juga tidak lulus karena lalai. Ketetapan Allah juga bisa saja terbalik, ketika Saudara sungguh-sungguh malah tidak lulus, jika lalai malah lulus. Tentu hasil ini adalah hasil tawakal kita kepada Allah, namun ikhtiar yang kita pilih adalah bersungguh-sungguh. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan memilih aktivitas terbaik. 4. Hikmah Mempelajari Kebebasan dalam Konteks Takdir Allah Ketika Saudara menganalisis materi ini, apa yang Saudara rasakan? Apakah Saudara merasa bebas mengambil langkah dalam hidup? Apakah Saudara


36 membayangkan apa jadinya jika Allah tidak menetapkan takdir makhluk-Nya? Di antara hikmah mempelajari materi ini adalah dapat memilih jalan hidup yang tepat agar takdir yang dialami adalah takdir terbaik yang ditetapkan. Sebagai pendidik perlu menjadikan materi ini sebagai modal, baik untuk diri sendiri maupun untuk peserta didik. Pelajaran penting ini bisa sebagai bahan memuliakan diri sendiri, Allah, sesama manusia dan makhluk lain. Serta sebagai bahan mengajak orang lain memilih jalan terbaik sesuai arahan Allah (ikhtiar). Selain hikmah ini, hikmah apa lagi yang bisa Saudara dapatkan dari materi ini? Silahkan analisis lebih dalam!


2 URAIAN MATERI A. Al-Qur’an 1. Pengertian Secara harfiah, Al-Qur’an berarti bacaan yang sempurna. Jumlah kosakata yang terdapat di dalamnya sebanyak 77.439 (tujuh puluh tujuh ribu empat ratus tiga puluh sembilan) kata yang tersusun dari 323.015 (tiga ratus dua puluh tiga ribu lima belas) huruf. Uniknya, seluruh kosakatanya memiliki jumlah yang seimbang antara sinonim dan antonimnya. Di antaranya kata akhirat terulang sejumlah 115 kali sebanyak kata dunya; kata hayat seimbang dengan kata mawt yang disebutkan sebanyak 145 kali; kata malaikat berjumlah sama dengan penyebutan kata syaithan sebanyak 88 kali; dan kata thuma’ninah (ketenangan) terulang dalam jumlah yang sama dengan kata dhiyq (kecemasan) sebanyak 13 kali (Shihab, 2007:4). Adapun secara istilah, Al-Qur’an adalah firman Allah yang bersifat mukjizat yang diturunkan kepada nabi dan rasul terakhir melalui perantara malaikat Jibril, ditulis dalam berbagai mushaf, disampaikan kepada kita secara mutawatir, bernilai ibadah bagi pembacanya dan diawali dengan surat alFatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas (al-Shabuni, 2003: 8). Definisi ini adalah definisi yang juga disampaikan mayoritas ulama, karena dianggap komprehensif dan mengandung seluruh unsur yang dapat menjelaskan AlQur’an. Dalam fungsinya sebagai hudan li al-muttaqin (petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa), Al-Qur’an memuat berbagai regulasi untuk mengatur kehidupan manusia. Hanya saja, pesan dan aturan yang disampaikan di dalam Al-Qur’an ada yang berupa pernyataan tegas dan adapula yang bersifat samar yang membutuhkan pemikiran mendalam. Dua bentuk pernyataan ini dalam terminologi ‘Ulum al-Qur’an disebut dengan ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. 2. Karakteristik Ayat-ayat Al-Quran a. Ayat-ayat Muhkamat


3 Kata muhkam sebagai bentuk tunggal dari muhkamat, secara etimologi berasal dari akar kata hakama-hukm yang berarti menetapkan, memutuskan atau memisahkan. Kemudian diformulasikan ke dalam wazan af’ala menjadi ahkama-ihkam yang berarti mencegah. Al-Hukmu artinya memisahkan antara dua hal. Jika seseorang dikatakan hakim maka karena ia mencegah kezaliman dan memisahkan antara dua orang yang berselisih serta membedakan antara yang benar dan salah. Menurut Manna’ Al-Qaththan, secara terminologi muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, mengandung satu makna dan dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan lain (AlQaththan, 1995: 207). Jadi, ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang mengandung makna yang kokoh, jelas dan fasih. Pengertian muhkam ini menjadi sifat Al-Qur’an yang disebutkan dalam surat Hud ayat 1: الٓرٰۚ ك تۡ ِ ت َ ٍ ك ۡ تِت ۡ ك حۡ ُ َّ ل ك ۡ ت ِ َتۡك ت ل حِّ حُ َّ ُ ح تٰ ا ٰ تۡك َ ِت ك حۡ ٌ ا ٰ ِكت Artinya: “Alif Lam Ra. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Tuhan yang Mahabijaksana dan Mahatahu.” b. Ayat-ayat Mutasyabihat Secara harfiah, mutasyabih yang merupakan bentuk tunggal dari mutasyabihat berasal dari kata syabaha yang berarti serupa. Syubhah - bentuk nomina dari syabaha- adalah keadaan tentang satu dari dua hal yang tidak dapat dibedakan dari lainnya karena ada kemiripan di antara keduanya secara konkret atau abstrak. Makna ini sejalan dengan sifat kedua Al-Qur’an yaitu kitaban mutasyabihan sebagaimana disebut dalam surat az-Zumar ayat 23:


4 ت اتِن ت َِّث ا ً ت تشاِبت ُِّٰ ا ً ٰتِ تثِكت ك ٰ ُت ت ك اۡل ت ۡ ت س ك تۡ زتل ا ت َّ نت ح ل تّلل ا ح ك ۡ ت ِ ُّ ر ت تشِ ك تۡ َت ك ٍ ح ِب َّ ت تۡ ر ك تشو ك تَي ت ۡ ك ٰ ذت َّ ال ح د ك َحو ح ج ت َ ت حُ َّ َ ح ۡي ك َح ح ج ت ل تر اّلل ك ِك ت ٰل ذ ت ا ك ٍ حح ِب ك َحو ح قت ت و ك ٍ ح حه د ؕ ك و ح تشآء َّ ٰ ك ۡ ت ِ ت ب ىك ُت ك ه ت ٰت ت ل تى اّلل ُ ح تك ه ت ؕ ل ذ ح ل تل اّلل ت َ ك ُّض ٰ ك ۡ ت ِ ت و اد ت ه ك ۡ ت ا لت ِ ت تَ ُ Artinya: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk.” Dengan demikian, ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang maknanya tidak atau belum jelas dan untuk memastikannya tidak ditemukan dalil yang kuat. Dari itu, para ulama menyebut ayat-ayat mutasyabihat secara ringkas dengan ungkapan hanya Allah yang mengetahui maknanya. Tentang keberadaan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat, AlQur’an sendiri menyampaikan dalam surat Ali ‘Imran (QS 3:7): ا ت ت تشاِبت ٰ ح ِ ح ر ت أحَ ت تب و ا ت ٰ م الِْت ُّ ۡ أح ح َّ ت ه ا ت ت ت حُْم تَِ آَي ح ْ ۡ ت تب ِ ا ت ٰ ْ تك الِْت َتۡ ت تل ع ت ْز ي أتنت ذت َّ ال ت و ح َِّا أت ت ت ه ۖ ُ ت اء ت غ ت ٰ ْ اب ت و ت ة ت ۡ ْ ٰت ت الْف ت اء ت غ ت ٰ ْ اب ح ْ ۡ ت ِ ت ت ت تشاب ا َ ت وتۡ ِ ح ِ ت ِ َّ ٰ ت ۡت ت ْ غ ُت ٰ ت ز ْ ٍ َحوِبتت ح تِف قت ت ٰۡ ذت َّ َت ال ْ ِ ت ا ٰت ت ِ ت و ت ت ْتوَٰ ّل ت ت َّ َ إ ح ْتوَٰت ت َ ح ٍ ّل أح ت َّ إ ح ذ َِّكر َّ ت ا ٰ ت ِ ت ا و ت ۡ ت ل ب ت ر ُْت ۡ عت ْ ۡ ت حِكلٌّ ِ ت ت َّا ب ۡ ت حولحوتۡ آِ ۡ ت َْتٍ ٰت ت وتۡ تِف الِْ ح استخ َّ الر ت و ح تب ا َّّلل ا ت ولحو اْْلتلِْ Artinya: “Dialah yang menurunkan al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat


5 yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” Kemudian, berkenaan dengan kategorisasi ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat, para ulama berbeda pendapat dalam menentukannya. Bisa jadi satu ayat dikategorikan sebagai ayat muhkamat oleh sebagian ulama, sementara mutasyabihat oleh ulama lain, seperti ayat tentang Jannah dan Nar, mayoritas menggolongkannya ke dalam ayat muhkamat, sementara bagi kelompok bathiniyyun mengategorikannya ke dalam mutasyabihat karena narasi tentang surga dan neraka adalah bentuk metafora. Perbedaan pandangan tersebut tentu didasari atas perbedaan tentang definisi dan kriteria ayat muhkamat dan mutasyabihat. AlZamakhsyari menggariskan kriteria ayat-ayat yang tergolong muhkamat adalah ayat-ayat yang berhubungan erat dengan hakikat (realitas); sedangkan mutasyabihat adalah ayat-ayat yang membutuhkan penelitan (tahqiqat). Secara lebih spesifik, al-Raghib al-Ashfahani membuat kriteria bagi ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang tidak diketahui hakikat maknanya, seperti ayat seputar kiamat; dan ayat-ayat yang hanya bisa diketahui maknanya dengan bantuan ayat muhkamat, hadis sahih atau disiplin ilmu lain, seperti ayat yang lafalnya terlihat aneh dan hukumhukumnya tertutup. Sementara ayat-ayat muhkamat menurutnya adalah ayat-ayat yang tidak termasuk ke dalam kategori mutasyabihat. Sekalipun terdapat ayat yang telah terang maknanya dan di saat yang bersamaan masih terdapat yang samar maksudnya, tetapi bisa dipastikan bahwa kebenaran Al-Qur’an bersifat absolut atau mutlak. Kemutlakan ini akan berubah menjadi relatif ketika sudah menjadi pemahaman manusia. Dari itu, perlu diketahui bahwa upaya memahami kandungan Al-Qur’an terdapat beberapa metode, yaitu tafsir, takwil dan terjemah. Walaupun terjemah bukan merupakan metode memahami Al-


10 Demikian juga dalam memahami qiraah yang memiliki dua wajah seperti pada surat al-Maidah ayat 6 dalam kaitannya dengan wudu: ت ٰ ُت ْ أتٰ ت و ْ حٍِ ت وه ح حج و ۟ َحوا ٱ ْغست ُ تٰل ت ت إ ْ َت حٍِ ح ْج أتر ت و ْ حٍِ وست ح ء ح ر ت ب ۟ وا ح ح ت ْس ٱِ ت تق و ت اُ ت ر ت تٰل ٱلَْ ت إ ْ حٍِ ۚ تْۡيت ِ ْ ٱلْ تِِ Artinya: “Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” Kata ْ ت حٍِ َ ح ْج أتر ت و) wa arjulakum) dibaca fathah lam-nya oleh mayoritas qiraah Hijaz dan ‘Iraq yang lazim kita baca saat ini. Sementara sebagian qiraah Hijaz dan ‘Iraq lainnya membaca dengan meng-kasrah lam ْ حٍِ ت َ ح ْج أتر ت و) wa arjulikum). Perbedaan dua qiraah ini berdampak terhadap hukum. Qiraah pertama dengan nashab karena ‘athaf terhadap wujuh dan aydiy yang berarti bahwa kaki termasuk bagian wudu yang harus dibasuh. Sedangkan qiraah kedua dengan khafadh karena ‘athaf terhadap ru’us yang berarti kaki cukup diusap seperti rambut (AlThabari, 2001: 188-200). Dari dua qiraah ini dapat dipahami bahwa salah satu rukun wudu adalah membasuh kaki. Tetapi membasuh kaki dapat diubah dengan mengusapnya bagi orang yang memakai khuffah (semacam sepatu pada zaman dahulu) bagi orang yang berperjalanan. Pengetahuan seperti ini tidak mungkin diketahui oleh seseorang yang tidak mengenal tentang ilmu qiraah. Karena itu, pengetahuan ilmu qiraah dan ilmuilmu lain dari Ulum al-Quran selain ilmu Bahasa Arab dan yang lainnya menjadi kemampuan dasar bagi seorang mufassir dalam menjelaskan ayat-ayat AlQur’an agar di dalam penafsirannya dapat terhindar dari kemungkinan terjadi kesalahan. C. Takwil 1. Pengertian Ta’wil yang kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi takwil menurut bahasa berasal dari kata awwala-yuawwilu-ta’wil yang


11 memiliki makna al-ruju’ atau al-’aud yang berarti kembali. Al-Qur’an menggunakan kata ini sebanyak 16 kali dalam tujuh surat dan 15 ayat (Izzan, 2009: 243). Kata takwil biasa digunakan dalam menjelaskan maksud dari sebuah peristiwa atau kisah. Misalnya, pada kisah Nabi Yusuf as ayat 100 saat menjelaskan peristiwa tunduknya keluarga dan saudarasaudaranya kepada Yusuf dinyatakan dengan kalimat “hadza ta’wilu ru’yaya min qabl qad ja’ala rabbi haqqan” (Ini adalah takwil mimpiku sebelumnya, sungguh Tuhan telah menjadikan mimpiku menjadi kenyataan). Demikian juga pada surat al-Kahfi ayat 78 tentang kisah seorang hamba Allah yang diberi ilmu dari sisi-Nya mengatakan kepada Nabi Musa as dengan kalimat “sa’unabbi’uka bita’wili malam tastathi’ alayhi sabran” (Aku akan menjelaskan takwil sesuatu yang engkau tidak dapat bersikap sabar terhadapnya). Memperhatikan penggunaan kata takwil di dalam Al-Qur’an, maka secara terminologi al-Jurjani dalam kitab al Ta’rifatnya memberikan definisi takwil sebagai berikut: ت اُ ت و ح راه ِ ت ي ٰ التذت ح ل تَت حٰ ح تۡ امل إذتاِكا ح َح تَت ٰ ْ تَي ً ًْن ِ ت ِ ت تر إٰل ت الظاه ح اه ت ۡ ْ ِ ت ِ ْ تۡ تظ ع ْ ف َّ حف الَ ْ ر تب ت ِٰا ت ص ًۡا ابل ة َّ ُّسۡ وال Artinya: Mengalihkan lafaz dari maknanya yang tampak kepada makna tersembunyi yang dikandung olehnya selama makna yang dimaksud tersebut dipandang sesuai dengan Al-Qur’an dan al-sunnah (Al-Jurjani, 2004: 46). Berdasarkan definisi di atas, takwil berarti mengungkap makna yang tidak tampak pada zahir lafaz Al-Qur’an. Lantas, apakah setiap orang berhak menerka-nerka makna di balik setiap ayat Al-Qur’an? Kemudian jika takwil juga mengungkap makna, apa bedanya dengan tafsir? Berikut penjelasannya. 2. Ketentuan Takwil Takwil berbeda dengan tafsir sekalipun keduanya menjelaskan maksud dari sebuah pernyataan dalam Al-Qur’an. Tafsir pada praktiknya menjelaskan makna zahir sementara takwil mengungkap makna batin. Perbedaan tersebut


12 dapat dilihat dalam memahami kalimat ۡۡاملِٰٰۡليۡاٰيرج) َmengeluarkan kehidupan dari yang mati). Penggalan ayat 19 dari surat al-Rum bisa dipahami dalam makna mengeluarkan seekor ayam yang menetas dari telur. Makna tersebut adalah tafsir. Tetapi, jika dipahami dengan takwil, maka bisa bermakna mengeluarkan seorang Mukmin dari kekafiran atau mengeluarkan yang pandai dari kebodohan (Al-Jurjani, 2004: 46). Dari contoh di atas terlihat jelas bahwa pada hakikatnya takwil dilakukan dalam rangka memahami ayat yang berarti juga melakukan kegiatan tafsir. Maka, takwil pada fungsinya sebagai tafsir yang dapat memudahkan dalam mencerna dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an sesuai dengan perkembangan zaman sekarang dan akan datang, juga tafsir pada praktiknya sebagai penjelas, keduanya adalah metode penting yang perlu dilakukan dalam memahami makna Al-Qur’an. Takwil lazim dilakukan terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Namun, apakah seluruh ayat-ayat mutasyabihat boleh atau harus ditakwil? Terkait ini Quraish Shihab menunjukkan bahwa QS. Ali Imran (3) ayat 7 yang telah disampaikan sebelumnya menimbulkan perbedaan pemahaman tentang boleh tidaknya takwil atas ayat-ayat mutasyabihat (Shihab, 1995: 91). Sebagian pendapat menyatakan bahwa semua ayat mutasyabihat bisa ditakwil seluruhnya, tetapi sebagian lagi berpendapat bahwa sebagian saja yang boleh ditakwil, itupun bila memenuhi persyaratan takwil termasuk siapa saja yang berhak melakukannya. Oleh karena takwil merupakan pekerjaan yang sulit, maka diperlukan syarat keahlian tertentu, antara lain pengetahuan mendalam tentang ilmu-ilmu keislaman termasuk kaidah bahasa Arab karena takwil tidak berdasar ra’yu (pendapat/akal) saja. Selanjutnya, terkait perbedaan cakupan antara tafsir dan takwil, AlRaghib al-Ashfahani dalam kitab Mufradat Alfadzi al-Qur’an mengemukakan bahwa tafsir lebih umum dari pada takwil (Al-Ashfahani, 2009: 636). Tafsir lebih banyak digunakan dalam kata dan kosakatanya. Sedang takwil banyak digunakan dalam makna dan susunan kalimatnya. Takwil lebih banyak


13 digunakan dalam Al-Qur’an, sedang tafsir tidak saja digunakan dalam AlQur’an tetapi juga dalam kitab-kitab lainnya (Shihab, 1995: 91). Penakwilan terhadap ayat Al-Qur’an dilakukan secara ketat berdasarkan kaidah dan dasar-dasar keilmuan. Jika kita menyetujui bahwa semua ayat-ayat mutasyabihat boleh ditakwil, maka ayat-ayat yang ditakwil tidak hanya teks-teks ayat yang pernah ditakwilkan oleh ahli tafsir terdahulu, melainkan dapat berkembang selama makna yang digagas tidak keluar dari akar kata redaksi bahasa ayat itu. 3. Contoh Takwil Agar memudahkan pemahaman, berikut disampaikan di antara contoh takwil yang dilakukan para ulama terhadap ayat Al-Qur’an. Pertama, surah alFil (QS. 105:3) sebagai berikut: و َّ ت ل ك ۡ ت ب ت تاب ا ا ً ك طتۡ ك تهٍ ك َتۡ ت ع ت ل ت س ك تر ا Artinya: “Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong.” Muhammad ‘Abduh dalam tafsir Juz Amma-nya memahami kata “اۡط“ di atas yang berarti burung yang terambil dari kata thara–yathiru (terbang) dengan sejenis virus atau bakteri yang beterbangan. Hal ini sah karena tidak keluar dari makna dasar kata tersebut. Contoh kedua penerapan takwil terhadap ayat mutasyabihat lainnya dilakukan M. Quraish Shihab dalam menafsirkan kata “كرسي “ِpada Q.S. AlBaqarah ayat 255 berikut: تض ك تر ك اّل ت تت و َّس َ و ال ح ُّ ۡ ست ك حِكر ت ع ست ت و Artinya: “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” Ia menakwilkan kalimat kursi Allah meliputi langit dan bumi sebagaimana Al-Thabathaba’i dalam Tafsir Al-Mizan dengan kedudukan Ilahiyah untuk mengendalikan semua makhluk-Nya. Luasnya kursi Allah


7 Menurut Ibn ‘Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalhah bahwa tafsir dari kata yu’minuna (mereka mengimani) adalah yushaddiquuna (mereka membenarkan). Sementara menurut Ma’mar sebagaimana diriwayatkan oleh al-Zuhri, maksud dari yu’minuna adalah iman yang disertai mengamalkan. Sedangkan menurut Abu Ja’far al-Razi dari Rabi’ Ibn Anas, yang dimaksud dengan yu’miuna adalah yakhsyauna yang berarti mereka takut (Ibn Katsir, 2006: 43) Adapun mengenai kitab tafsir yang menggunakan pendekatan bi al-ma’tsur dalam penafsirannya di antaranya adalah Tafsir Jami’ alBayan fi Tafsir Al-Qur’an karya Ibnu Jarir ath-Thabari dan Tafsir AlQur’an al-‘Azim karya Ibnu Katsir. Dua tafsir ini sangat popular dan menjadi rujukan yang otoritatif dalam kategori tafsir bi al-ma’tsur. b. Tafsir bi al-Ra’y atau tafsir bi al-Dirayah Al-Ra’y berarti pikiran atau nalar, karena itu tafsir bi al-ra’y adalah penafsiran seorang mufassir yang diperoleh melalui hasil penalarannya atau ijtihadnya, di mana penalaran sebagai sumber utamanya. Seorang mufassir di sini tentu saja adalah orang yang kompeten keilmuannya dan telah dianggap telah memenuhi persyaratan sebagai mufassir. Istilah tafsir bi al-ra’y pada dasarnya muncul untuk membedakan dengan tafsir bi al-ma’tsur. Perbedaan tersebut dalam konteks bahwa bukan berarti secara operasional dalam melakukan penafsiran Al-Qur’an para sahabat tidak menggunakan nalar, melainkan karena keistimewaan mereka yang tidak dimiliki oleh generasi sesudahnya (Shihab, 2013: 363). Sehingga sekalipun para sahabat sebagai generasi awal penerima Al-Qur’an menafsirkan AlQur’an dengan nalar dan bimbingan nabi, maka ulum al-qur’an tidak menyebutnya dengan tafsir bi al-ra’y. Sebagaimana pendekatan tafsir yang lain, pendekatan tafsir bi al-ra’y juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Di antara kelebihan


8 pendekatan ini adalah mempunyai ruang lingkup yang luas, dapat mengapresiasi berbagai ide dan melihat Al-Qur’an secara lebih lebar sehingga dapat memahaminya secara komprehensif. Kendatipun demikian, bukan berarti pendekatan ini tidak mempunyai kelemahan. Kelemahan pendekatan tafsir bi al-ra’y bisa terjadi ketika terjebak atau secara tidak sadar mufassir mengungkap petunjuk berdasarkan ayat yang bersifat parsial, sehingga dapat memberikan kesan makna Al-Qur’an tidak utuh dan pernyataannya tidak konsisten. Di samping itu, penafsiran dengan pendekatan ini juga sangat rentan dengan subjektivitas yang dapat memberikan pembenaran terhadap mazhab atau pemikiran tertentu sesuai dengan kecenderungan mufassir. Hal lain yang juga bisa menjadi kelemahan dari pendekatan tafsir bi al-ra’y ini adalah peluang masuknya cerita-cerita isra’iliyat karena kelemahan dalam membatasi pemikiran yang berkembang (al-Shabuni, 1999). Salah seorang mufassir yang menggunakan pendekatan bi alra’y dalam kitab tafsirnya adalah Abd al-Qasim Mahmud alZamakhsari (w. 538 H) pada tafsir al-Kasysyaf. Dalam melakukan penafsirannya, ia mengemukakan pemikirannya namun tetap didukung dengan dalil-dalil hadis atau ayat Al-Qur’an, baik riwayat yang berhubungan dengan sabab al-nuzul atau makna ayat. Meskipun demikian, ia tidak terikat oleh riwayat dalam penafsirannya. Dengan kata lain, jika ada riwayat yang mendukung penafsirannya ia akan merujuknya dan jika tidak, ia akan tetap konsisten dengan hasil penalarannya (Alfiyah, 2018). Selain al-Zamakhsari, mufassir yang juga menggunakan pendekatan ini adalah Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) dalam tafsirnya Mafatih al-Ghayb, al-Baidhawi (w. 691 H) dalam Tafsir Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil, Mahmud al-Nasafi (w. 701 H) dalam tafsir Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil, al-Khazin (w. 741) dalam


9 tafsir Lubab al-Ta’wil fi Ma’an al-Tanzil dan Abu Su’ud (w. 982 H) dalam tafsir Irsyad al-‘Aql al-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim. Apakah setiap tafsir yang berdasarkan ra’y dapat diterima? Para ulama membagi dua jenis tafsir ini, yakni tafsir bi al-ra’y al-madzmum (tercela) dan tafsir bi al-ra’y al-mahmud (terpuji) (Nur, 2020: 50). Jenis pertama maksudnya adalah tafsir bi al-ra’y yang dapat diterima selama menghindari hal-hal berikut ini: 1. Memaksakan diri untuk mengetahui makna yang dikehendaki Allah pada suatu ayat, padahl dia tidak memenuhi syarat untuk itu; 2. Mencoba menafsirkan ayat-ayat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah; 3. Menafsirkan Al-Qur’an dengan hawa nafsu dan sikap istihsan, yakni menilai bahwa sesuatu itu baik semata-mata berdasarkan persepsinya; 4. Menafsirkan ayat-ayat untuk mendukung suatu mazhab yang salah dengan cara menjadikan faham mazhab sebagai dasar sedangkan penafsirannya mengikuti faham mazhab tersebut; dan 5. Menafsirkan Al-Qur’an dengan memastikan bahwa makna yang dikehendaki Allah adalah demikian sebagaimana pendapatnya tanpa didukung dalil (al-Zahabi, 1976: 275). Sementara jenis kedua adalah kebalikannya, yakni tafsir bi al-ray yang melakukan hal terlarang tersebut. Menurut Al-Qaththan, tafsir jenis ini haram dan tidak boleh diikuti (al-Qaththan, 1995: 342). Contoh yang tampak dari tafsir dengan pendekatan bi al-ra’y adalah penafsiran al-Zamakhsyari dalam kitab tafsir al-Kasysyaf pada saat menjelaskan basmalah pada Surat al Fatihah sebagai berikut: بسم هللا الرحن الرحيم (١ ( Artinya:


10 “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Setelah menjelaskan silang pendapat antara penduduk Madinah, Basrah dan Syam dengan penduduk Makkah dan Kufah beserta para ahli fikihnya masing-masing tentang basmalah termasuk bagian dari surat al-Fatihah atau tidak sehingga berimplikasi terhadap cara pembacaannya ketika salat secara lantang atau pelan, al-Zamakhsyari kemudian menjelaskan urgensi dari adanya basmalah pada surat pembuka Al-Qur’an ini. Ia berpendapat bahwa basmalah pada awal surah pembuka merupakan bentuk mengawali aktivitas membaca, sama halnya dengan orang yang hendak berperjalanan memulai aktivitasnya dengan melafalkan basmalah dan penyembelih memulai penyembelihan dengan melafalkan basmalah. Lantas, apa hubungan basmalah dengan membaca? Dengan logika perumpamaan, AlZamakhsyari menyebut ada dua. Pertama, seperti hubungan antara pena dengan tulisan; dan kedua, seperti minyak dengan tumbuhan seperti dalam QS. Al-Mu’minun ayat 20. Pena dapat menghasilkan tulisan dan minyak dapat dihasilkan melalui tumbuhan. Dari itu, bagi orang mukmin dengan menyebut nama Allah-lah, zat yang memberikan kemampuan membaca. Membaca menjadi objek dari basmalah, yang berarti Allah-lah yang menghendaki. Kemudian, al-Zamakhsyari juga menyebut keberkahan dari basmalah dengan menyitir sebuah hadis riwayat Abu Dawud yang berbunyi: ُك ُّل أَ ْ م ر ِ ذ ْ َي ََل لِب ُ ز ْ َّ َ دأُ ِ ف ْ ي ِ ِِب ه ْ سِم َ ف ُ هللاِ ه َ و أَ ْ ب َُ ت Artinya: “Setiap sesuatu yang memiliki kebaikan yang tidak dimulai dengan bismillah, maka akan terputus (keberkahannya).” Selain dengan nalar perumpamaan serta menukil riwayat, alZamakhsyari juga berargumentasi dengan sejarah. Menurutnya, basmalah hadir sebagai tandingan terhadap kebiasaan orang Jahiliah


14 2. Jenis Metode Penafsiran beserta Contohnya Terdapat empat jenis metode penafsiran yang dilakukan mufassir, yaitu secara analitis atau tahlili, secara global atau ijmali, secara perbandingan atau muqaran dan secara tematik atau maudhu’i. Berikut penjelasannya secara rinci. a. Metode Tahlili (Analitis) Metode tahlili adalah suatu metode dalam menjelaskan ayat Al-Qur’an dengan cara menguraikan ayat demi ayat, surat demi surat, sesuai tata urutan dengan penjelasan yang cukup terperinci sesuai dengan kecenderungan masing-masing mufassir terhadap aspek-aspek yang ingin disampaikan. Misalnya, menjelaskan ayat disertai aspek qira’at, asbab alnuzul, munasabah, balaghah, hukum dan lain sebagainya. Contoh kitab tafsir yang disusun dengan metode ini adalah kitab Tafsir Jami li Ahkam Al-Qur’an karya al-Qurtubi, kitab Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an karya Ibnu Jarir at-Thabari, kitab Tafsir Al-Qur’an al-Karim karya at-Tusturi dan Tafsir Al-Qur’an al-Adzim karya Ibnu Katsir. Berikut adalah contoh penafsiran dalam kitab tafsir Ibnu Katsir terhadap Surat al Ahzab ayat 30: َ ْنيِ ف ْ ُب ِضَ َذا َ ا الَْ َ َ ْف ََل ُ َضاع ز ة َ ن ِ ر ي َ َّ ُ م َشة احِ َ ف ِ ن ب ْ َُ ه ن ِ ِت م ْ َ َي ْ ن َ ِ م ر هِب الن َ اء َ س ِ ن َ َ َي لَى َك ع ِ َن ذَل َكا َ و ا ً ري َسِ ز ا هَّللِ Artinya: “Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.” Allah Swt. berfirman menasihati istri-istri Nabi Saw. yang telah memilih Allah dan Rasul-Nya serta pahala di negeri akhirat, agar selanjutnya mereka tetap menjadi istri Rasulullah Saw. Maka sangatlah sesuai bila diceritakan kepada mereka ketentuan hukumnya dan keistimewaan mereka yang melebihi wanita-wanita lainnya. Disebutkan bahwa barangsiapa di antara mereka yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata -menurut Ibnu Abbas,


15 pengertian perbuatan keji ini ditakwilkan dengan makna membangkang dan berakhlak buruk- niscaya akan mendapatkan hukuman dua kali lipat dari wanita-wanita lainnya. Atas dasar hipotesis apapun, maka ungkapan ayat ini hanyalah semata-mata pengandaian. Sementara pengandaian itu tidak berarti pasti terjadi. Pengertiannya sama dengan firman Allah Swt. Dalam ayat yang lain, yaitu: َك لُ َ َم ن ع طَ ه َ َّ ْ َح َت لَي ْك َ ْشر أَ ْ ن ِ َك لَئ ِ ل ْ َّ َ ق ْ ن ِ م َ زن ذِ ه ََل ال ِ إ َ ْ َك و لَي ِ إ َ ي َ ْد أُوحِ لَق َ و ... Artinya: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalanmu...” (QS. Al-Zumar: 65) Seperti disebutkan juga dalam ayat lain: ْ م ُ ْه ن َ َط ع ِ َّ َ ُكوا َْل َ ْشر أَ ْ لَو َ و لُوَن َ م ْ َ َ ُوا ز َكان ا َ م Artinya: “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An'am: 88) Mengingat kedudukan istri-istri Nabi Saw. tinggi, maka sesuailah jika ada salah seorang dari mereka melakukan suatu dosa, siksaannya akan diperberat demi menjaga kehormatan mereka dan kedudukan mereka yang tinggi. Berdasarkan riwayat Malik dari Zaid ibnu Aslam dan Ibn Abi Najih dari Mujahid bahwa maksud dari siksaan itu berlaku di dunia dan akhirat. Hal yang demikian sangatlah mudah bagi Allah. b. Metode Ijmali (Global) Metode ijmali adalah sebuah metode dalam menjelaskan ayat Al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna secara global dengan bahasa yang ringkas supaya mudah dipahami. Di sini mufassir menjelaskan pesan-pesan pokok dari ayat secara singkat tanpa menguraikan panjang lebar. Metode ini seperti yang lazim dilakukan oleh Jalal al-Din al-Suyuthi dan Jalal al-Din


16 al-Mahalli dalam kitabnya Tafsir Jalalain dan Muhammad Farid Wajdi dalam Tafsir Al-Qur’an al-Azhim. Berikut adalah contoh penafsiran surat al-Fatihah ayat 3-7 dalam kitab Tafsir Jalalain: ِ ِك )الرحن الرحيم( أي ذي الرحة وهي إُادة اْلري ْلهله زوم الدزن( أي اِْاء وهو زوم ل َ )م فيه ْلحد إَل هلل تَاَل بدليل }ملن امللك اليوم ً ص ِبلذكر ْلنه َل ملك ظاهرا ه ُ القيامة، وخ ً هلل{ ومن قرأ }مالك{ فمَناه مالك اْلمركله ِف زوم القيامة أو هو موصوف بذلك دائما }كغافر الذنب{ فصح وقوعه صفة ملَرفة )إَيك نََّد وإَيك نسََني( أي خنصك ِبلََّادة من توحيد وغريه ونطلب املَونة على الََّادة وغريها )اهدان الصراط املسَقيم( أي أُشدان إليه . وزَّدل منه: )صراط الذزن أنَمت عليهم( ِبَلدازة وزَّدل من الذزن بصلَه )غري املغضوب عليهم( وهم اليهود )وَل( غري )الضالني( وهم النصاُى، ونََة الَّدل إفادة أن ً وَل نصاُى وهللا أعلم ِبلصواب وإليه املرجع واملآب، وصلى هللا على املهَدزن ليسوا زهودا ً، وحسَّنا هللا ونَم الوكيل ، وَل ً أبدا ً دائما ًكثريا سيدان حممد وعلى آله وصحَّه وسلم تسليما حول وَل قوة إَل ِبهلل الَلي الَظيم . Dalam penafsiran di atas tampak sekali penjelasan ayat disampaikan secara singkat dan global. Misalnya, kata al-rahman dan al-rahim dengan makna yang memiliki rahmat. Maksudnya yaitu yang berkehendak memberikan kebaikan kepada yang berhak mendapatkannya. Setelah itu, kemudian berganti kepada ayat berikutnya dan begitu seterusnya. Inilah tafsir dengan metode ijmali. c. Metode Muqaran (Komparatif) Metode muqaran adalah metode menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dengan membandingkan dengan ayat lain yang memiliki kedekatan atau kemiripan tema namun redaksinya berbeda; atau memiliki kemiripan redaksi tetapi maknanya berbeda; atau membandingkannya dengan penjelasan teks hadis Nabi Saw, perkataan sahabat maupun tabi’in. Di samping itu, metode ini juga mengkaji pendapat para ulama tafsir kemudian membandingkannya. Bisa juga berupa membandingkan antara


17 satu kitab tafsir dengan kitab tafsir lainnya agar diketahui identitas corak kitab tafsir tersebut. Tafsir muqaran dapat juga berbentuk perbandingan teks lintas kitab samawi, seperti Al-Qur’an dengan Injil/Bibel, Taurat atau Zabur (Ar-Rumi, 1419 H: 60). Metode tafsir muqaran memiliki cakupan sangat luas. Namun, selayakya sebuah metode, muqaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Di antara kelebihannya adalah bahwa dibanding dengan metode-metode lain, metode ini memberikan wawasan penafsiran yang relatif lebih luas kepada pembaca. Sebab melalui metode ini terlihat bahwa ayat-ayat al-Qur’an itu dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu sesuai kecenderungan mufassir. Sehingga, bahwa al-Qur’an ibarat samudera ilmu dan pendapat terasa benar adanya dan dapat menumbuhkan rasa toleran atas perbedaan. Adapun kekurangannya adalah bahwa tafsir dengan metode ini tidak cocok dinikmati oleh orang awam dan kurang bisa diandalkan untuk menjawab persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat karena memang metode ini lebih berorientasi pada perbandingan daripada pemecahan masalah (Hasibuan, dkk, 2020: 234-235). Agar lebih memudahkan pemahaman terkait tafsir muqaran, mari kita pelajari contoh berikut: ْ ََ ت ْ ُم َ ْ ُكن ا َ ِ َ ِب ة ه ن َ لُوا ا ْْ ُ ْخ اد ُ َُم ْ لَي َ ع ٌ لَٰم َ َن س ْ لُو ْ ُو ق َ ْ َنيۙز ِ َّ ِ ر ُ طَي ِٕى ََة ٰۤ لَٰ َ الْم ُ م ُ ىه َٰ ر ف َ َو َ َ ت َ ْن ز ذِ ه َن ال ْ لُو َ م Artinya: “(yaitu) Orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Nahl: 32) Sementara dalam penjelasan sebuah hadis yang diriwayatkan AlBukhari dari Abu Hurairah disebutkan: أَ َ ل ْدخِ ُ ز ْ ُوُل لَن ق َ ز َ م ه ل َ س َ و ِ ه ْ لَي َ ع ُ ى ا هَّلل ه ل َ وَل ا هَّللِ ص ُ س َ ْ ُت ُ َ اَل َْسِ َ َ ق ة َ ر ْ ز َ ر ُ ه َ ن أَِب أَ ه َ ة ه ن َ ا ْْ ُ لُه َ َم ا ع ً د َ ح ْن َل أَ ِه إ َ ََل أَان َ اَل ََل و َ ق وَل ا هَّللِ ُ س َ ُ َ َت َي ْ ََل أَن َ الُوا و َ ق ِ ب ُ ِِن ا هَّلل َ َهمد غ َ َ َ ز وا ُ اُِب َ ق َ وا و ُ د ردِ َ َس ف ة ْحَ َ ُ َ َ ْض ل و ف َ لََ َ ا ف ً يئ ُسِ هما م ِ إ َ ا و ً ْ َري َ خ اد َ د ْ ِ َ ْن ز أَ ُ ه ه ل َ لََ َ ا ف ً ن ُْحمسِ هما ِ ْ َت إ و َ الْم ْ ُدُكم َ ه أَح َ ني ه ن َ َم َ َ ََل ز َ و َ ِب َ ْ َ َ َ ْ َس ْن ز أَ ُ ه ه ل


18 Artinya: “Abu Hurairah berkata saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada seorangpun yang masuk surga karena amalannya.” Para sahabat bertanya; “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “tidak juga dengan diriku, kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya padaku, oleh karena itu berlaku luruslah dan bertaqarublah dan janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian, jika dia orang baik semoga saja bisa menambah amal kebaikannya, dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya) semoga bisa menjadikannya dia bertaubat.” (HR. al-Bukhari) Setelah dibandingkan, secara zahir redaksi seakan-akan terjadi pertentangan antara Al-Qur’an dengan hadis. Al-Qur’an dalam terjemah Kemenag di atas seolah menyebut bahwa masuk surga disebabkan amal. Sementara hadis sahih al-Bukhari menyebut tidak ada seorangpun yang masuk surga karena amalnya. Berkenaan dengan ini, M. Quraish Shihab melalui kanal resminya di youtube menjelaskan bahwa tidak mungkin terjadi pertentangan antara AlQur’an dan hadis. Kesan pertentangan keduanya tercipta hanyalah karena terjemahan yang tidak mampu mewadahi maksud seutuhnya dari AlQur’an. Ba’ pada bi ma kuntum ta‘malun diterjemahkan secara langsung dengan “disebabkan” adalah tidak tepat. Sebab, ba’ dalam bahasa Arab memiliki 14 makna. Ba’ bisa berarti sebab, sumpah, huruf yang menghubungkan dan banyak lagi makna lainnya. Oleh karena itu, akan tepat ayat tersebut jika dipahami bahwa amal kita dapat mengundang rahmat Allah, dan rahmat Allahlah yang akhirnya menjadi sebab bahwa seseorang masuk ke dalam surga. Lebih lanjut, Shihab menegaskan bahwa Amal tidak dapat menjadi tiket untuk masuk surga. Dampak amal baik kita sudah kita nikmati dalam hidup ini. Surga merupakan hak prerogatif Allah yang diberikan hanyalah karena rahmat Allah. Ia menyitir QS al-Mu’minun ayat 11 ketika Allah menjelaskan keuntungan orang mukmin bahwa salah satunya “mereka adalah orang-orang


19 yang mewarisi surga.” Ini menunjukkan bahwa surga adalah anugerah Tuhan dan Tuhan yang membagi-baginya. Melalui contoh ini kita melihat bahwa tafsir muqaran dengan metode perbadingannya dapat berperan baik menyelesaikan teks-teks keagamaan yang seolah bertentangan. Hadis selamanya tidak akan pernah bertentangan dengan Al-Qur’an, karena kebaradaannya sendiri merupaka penjelas bagi Al-Qur’an. d. Metode Maudhu’i (Tematik) Metode terakhir yang lazim digunakan dalam menafsirkan AlQur’an adalah metode maudhu’I atau metode tematik. Metode ini berupaya menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dengan mengambil suatu tema tertentu. Kelebihan metode ini mampu menjawab kebutuhan zaman yang ditujukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan, praktis dan sistematis serta dapat menghemat waktu, dinamis sesuai dengan kebutuhannya, serta memberikan pemahaman Al-Qur’an tentang satu tema menjadi utuh. Namun kekurangannya bisa jadi dalam proses inventarisasi ayat-ayat setema tidak tercakup seluruhnya, atau keliru dalam mengategorikan yang akhirnya membatasi pemahaman ayat. Al-Farmawi (al-Farmawi: tth, 62) telah merinci langkah-langkah yang harus ditempuh oleh seorang mufassir ketika melakukan proses penafsiran menggunakan metode tematik, sebagai berikut: 1) Menetapkan masalah yang akan dibahas; Permasalahan yang dibahas diprioritaskan pada persoalan yang menyentuh kehidupan masyarakat yang berarti bahwa seorang mufassir harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang masyarakat; 2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut; 3) Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asbab nuzulnya dan ilmu-ilmu lain yang mendukungnya;


20 4) Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing. Hal ini terkait erat dengan ilmu munasabat; 5) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (membuat out line); 6) Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan; dan 7) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama atau mengkompromikan antara yang ‘amm (umum) dengan yang khash (khusus), mutlak dan muqayyad (terikat), atau yang tampak pada lahirnya bertentangan sehingga seluruhnya dapat bertemu dalam satu muara tanpa perbedaan dan pemaksaan makna. Adapun di antara karya-karya tafsir yang telah menggunakan metode ini adalah karya Abbas Mahmud al-Aqqad yang berjudul al-Insan fi alQur’an dan al-Mar’ah fi al-Qur’an; dan karya Abu al-A’la Al-Maududi berjudul al-Riba fi al-Qur’an; karya al-Jashshash, berjudul Tafsir Ahkam alQur`an dan karya yang cukup populer dari Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurtuby yang berjudul al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an. Demikian, jelaslah pendekatan dan metode penafsiran Al-Qur’an. Metode penafsiran Al-Qur’an dengan masing-masing kelebihan dan kelemahannya tetap merupakan upaya ilmiah besar dan mulia dalam menyuguhkan pemahaman Al-Qur’an. REFLEKSI Setelah mempelajari pendekatan dan metode penafsiran Al-Qur’an, apakah hikmah atau nilai yang saudara mahasiswa dapatkan dan aplikasikan dalam pembelajaran PAI?


3 URAIAN MATERI A. Kriteria Kesahihan Hadis Kata sahih dalam bahasa Arab diartikan orang sehat antonim dari kata al-saqim yang berarti orang sakit, seolah-olah dimaksudkan hadis sahih adalah hadis yang sehat dan benar-benar tidak terdapat penyakit dan cacat. Adapun menurut istilah, hadis sahih adalah: ا َ م ِ ذ ْ ُش ُذو ِ ْ ن َغْي ِ م ُ اه َ َه ت ْ ن ُ إىل م ِ ه ِ ل ْ ث ِ م ْ َن ِ ِط ع ضاب ْدِل ال َّ َ ِل الْع ْ َق ن ِ ب ُ ه ُ َد ن َ س َ َل ص َّ ات َ و ٍ َّ ل َاَلعِ Artinya: “Hadis yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh orang adil dan dhabith (kuat daya ingatan) sampai kepada perawi terakhirnya, serta tidak ada kejanggalan dan maupun cacat.” (al-Thahhan, t.th: 30) Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa sebuah hadis dinilai sahih jika memenuhi lima kriteria berikut, yaitu: a. Sanadnya bersambung (ittishal al-sanad) b. Moralitas para perawinya baik (’adalah al-ruwwat) c. Intelektualitas para perawinya mumpuni (dhabt al-ruwwat) d. Tidak janggal (’adam al-syudzudz) e. Tidak cacat (’adam al-’illah) Pertama, yang dimaksud sanadnya bersambung adalah seluruh mata rantai periwayatnya dari setiap generasi ke generasi yakni nabi, sahabat, tabi’in dan tabi’ al-tabi’in tersambung tanpa ada satupun yang terputus. Jika ada satu mata rantai saja terputus atau diragukan ketersambungannya karena perawi satu dengan berikutnya tidak pernah bertemu tetapi hanya menyandarkan saja, maka kualitasnya bisa dipastikan tidak akan mencapai derajat sahih. Kedua, kualitas perawi harus ‘adil. Ini bukanlah maksud adil dalam definisi bahasa Indonesia. ‘Adil dalam istilah ulum al-hadits adalah kondisi perawi yang beragama Islam, mukallaf, melaksanakan ketentuan agama dan menjaga muru’ah (Ismail, 1992: 129-134).


4 Ketiga, dhab atau yang dalam bahasa Indonesia dabit merupakan kualitas intelektualitas personal perawi. Secara harfiah, dhabt berarti kokoh, kuat dan tepat. Sedang secara istilah adalah kekuatan hafalan perawi terhadap hadis yang diterimanya secara sempurna, mampu menyampaikannya kepada orang lain dengan tepat dan mampu memahaminya dengan baik. Muhammad Ibn ‘Alawi menyebutkan bahwa dhabt terbagi dua, yakni dhabt shadr, yaitu kekuatan hafalan yang dibuktikan dengan kemampuan melafalkan hadis yang dikuasainya kapanpun; dan dhabt kitabah yaitu kekuatan tulisan yang dibuktikan dengan buku yang dia miliki (Al-Maliki, t.th: 26). Keempat, tidak boleh ada syadz (kejanggalan). Imam al-Syafi’i sebagaimana dikutip al-Naisaburi menjelaskan bahwa kejanggalan dalam periwayatan adalah apabila sebuah hadis diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, namun bertentangan dengan mayoritas riwayat lain yang juga tsiqah (alNaisaburi, t.th: 199). Kelima, tidak boleh ada ‘illat (kecacatan). Cacat dalam periwayatan hadis bisa berupa sanad yang tampak tersambung dan sampai kepada Nabi, namun pada kenyataannya hanya sampai kepada sahabat atau tabi’in. Kecacatan juga bisa juga terjadi berupa kerancuan karena percampuran dengan hadis lain atau kekeliruan dalam menyebutkan nama periwayat yang memiliki kemiripan atau kesamaan dengan periwayat lain yang kualitasnya berbeda (Ismail, 2007: 85). Seluruh lima kriteria tersebut harus terpenuhi agar sebuah hadis dinilai sahih. Jika satu kondisi seluruhnya terpenuhi, hanya saja pada syarat ketiga yakni kualitas intelektual personal perawi (dhabt) tidak sebaik yang seharusnya, maka kualitas hadisnya bisa menjadi hasan. Namun, apabila ada salah satu syarat atau kriteria tidak terpenuhi, seperti terputus sanadnya atau didapati perawi yang benar-benar lemah atau juga terdapat kejanggalan maupun kecacatan, maka kualitas hadisnya bisa berkategori daif (lemah) bahkan maudhu’ (palsu). Agar lebih jelas mari pelajari jenis hadis berdasarkan kualitasnya berikut ini.


10 3. Hadis Daif a. Pengertian Secara bahasa, daif berarti lemah karena merupakan antonim dari al-qawiyy (kuat). Sedangkan menurut istilah, Al-Nawawi menyebut bahwa hadis daif adalah hadis yang di dalamnya tidak terdapat syaratsyarat hadis sahih maupun syarat-syarat hadis hasan. Searah dengannya, Nur al-Din ‘Itr mendefinisikan hadis daif sebagai hadis yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadis maqbul (sahih atau hasan). Jika kita menyepakati definisi yang terakhir ini yang secara tegas menyebut bahwa hadis daif adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu dari syarat kesahihan hadis, maka apabila lebih dari satu syarat yang tidak terpenuhi, kategori hadis tersebut bisa sangat lemah (Suparta, 2016: 150). b. Jenis Hadis Daif Oleh karena batas hadis daif adalah hadis yang tidak memenuhi syarat sahih dan hasan, maka varian dari hadis daif menjadi sangat banyak. Sebagian ahli hadis menghimpunya dan terkumpul 381 bentuk hadis daif. Namun, bentuk-bentuk tersebut mayoritas tidak aktual dan tidak menunjukkan ciri-ciri yang spesifik. Oleh karena itu, Ibnu Salah yang kemudian diikuti oleh al-‘Iraqi secara lebih realistis menyebut jumlah hadis daif tidak lebih dari 42 macam (al-Shalih, 2002: 158). Pun demikian, jumlah ini termasuk pengistilahannya terkadang digunakan secara tidak sama oleh para ulama. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan sebuah hadis dinilai daif sekaligus mengklasifikannya menjadi macam-macam hadis daif. Munzier Suparta (Suparta, 2016: 150-151) merincikannya sebagai berikut: 1) Pada Sanad a) Sanadnya tidak tersambung 1. Gugur pada sanad pertama, hadisnya disebut mu’allaq.


11 2. Gugur pada sanad terakhir (tingkat sahabat), hadisnya disebut mursal. 3. Gugur dua orang atau lebih dari rangkaian perawinya secara berurutan, hadisnya disebut mu’dhal. 4. Gugur dua orang atau lebih dari rangkaian perawinya secara tidak berurutan, hadisnya disebut munqathi’. b) Kecacatan pada keadilan dan atau kedabitan perawi 1. Dusta, hadis yang rawinya berdusta disebut maudhu’. 2. Tertuduh dusta, maksudnya perawi tersebut dikenal sering berdusta dalam kehidupan sehari-hari walau belum diketahui dia melakukan kedustaan dalam periwayatan atau tidak. Hadis daif sebab ini disebut matruk. 3. Fasik 4. Banyak salah 5. Lengah dalam menghafal, hadisnya disebut munkar. 6. Banyak wahm (kekeliruan tersembunyi), hadisnya disebut dengan mu’allal. 7. Menyalahi riwayat yang lebih tsiqah. Bentuk menyalahinya dapat berupa ada penambahan atau sisipan, maka hadisnya disebut mudraj. Bila karena diputarbaikkan, hadisnya disebut maqlub. Sebab rawi-rawinya tertukar-tukar disebut mudhtarib, sementara bila yang tertukar adalah huruf-syakal disebut muharraf; dan bila penambahan itu berupa titik atau kata disebut mushahhaf. 8. Tidak diketahui identitasnya, hadisnya disebut mubham. 9. Penganut bidah. 10. Tidak baik hafalannya, hadisnya disebut syadz dan mukhallith. 2) Pada Matan a) Mauquf, hadis yang secara kandungan hanya disandarkan sampai sahabat.


12 b) Maqthu’, hadis yang secara kandungan hanya disandarkan sampai tabi’in. Selanjutnya, berkenaan dengan hukum dari hadis daif ini, secara periwayatan para ahli hadis membolehkan untuk meriwayatkannya sekalipun dengan tanpa dijelaskan kedaifannya, kecuali yang berkategori maudhu’ harus disertai dengan penjelasannya. Kebolehan ini berlaku bia memenuhi dua syarat. Pertama, hadis daif tersebut tidak berkaitan dengan ‘akidah, seperti sifat Allah dan sebagainya; Kedua, tidak menjelaskan hukum syariat yang berkenaan dengan halal dan haram. Dari itu, hadis daif diperbolehkan untuk disampaikan yang kandungannya berisi tentang nasihat, motivasi, ancaman, kisah dan serupa itu. Kemudian perlu diperhatikan juga saat meriwayatkan atau menyampaikan hadis daif untuk tidak mengatakan “qala Rasulullah (Rasul berkata)”, tetapi cukup katakan diriwayatkan dari Rasul atau sampai kepada kami sebuah riwayat dan kalimat-kalimat serupa yang tidak menghubungkan secara langsung bahwa hadis daif tersebut berasal dari Rasulullah saw (al-Thahhan, tth: 54). Adapun dari sisi pengamalan hadis daif, para ulama berbeda pendapat. Mayoritas menghukumi mustahab (disenangi) mengamalkan hadis daif yang berhubungan dengan keutamaan amal, asalkan memenuhi tiga syarat yang digariskan oleh Ibn Hajar sebagaimana dikutip Mahmud al-Thahhan (Thahhan, tth: 54) berikut. Pertama, hadis daif tersebut bukan kategori daif sekali; Kedua, makna dari hadis daif tersebut tercakup dalam prinsip umum syariat; dan ketiga, tidak diyakini bahwa hadis daif tersebut merupakan ucapan Nabi saw, sebagai upaya hati-hati. Agar memudahkan kita tentang hadis daif ini, berikut disampaikan contohnya. c. Contoh Hadis Daif


13 Oleh karena hadis daif banyak sekali ragamnya, pada modul ini hanya akan disajikan satu contoh saja dari bentuk umum hadis daif. Untuk contoh bentuk-bentuk yang lain, saudara mahasiswa dapat memperkayanya dengan diskusi dan atau belajar mandiri. Perhatikan sebuah hadis riwayat al-Tirmidzi nomor 125 berikut: أَ ُ ْن ب ُ ز َْ َب َ و ي ْدِ ه َ م ُ ْن ِن ب َّ ْْحَ الر ُ د ْ ب َ ع َ و يد ِ ع َ س ُ ْن ب َ َْي ََي ا َ دث َن َّ َ ٌ ح ار َ ْد ن ُ ا ب َ دث َن َّ َ ا َ دث َن َ ح َّ الُوا ح َ ق د َ س َ َ ع ة َ ر ْ ي َ ر ُ أَِِب ه ْ َن ِ ع ي مِ ْ ي َ ُج اهل َ ٍ َ يم ِ أَِِب ََت ْ َن ع ِ م َ ي م اْْلَثْ ر َكِ ْ ح َن ع ِ ٍ َ لَم َ س ُ ْن ب ُ َْحَ ى اد َّ ل َ ِ ص َِّب الن ْ ن َ َر َ ْد َكف َق ا ف ً ن ِ َكاه ْ ا أَو َ ِره ُ ب ُ ِِف د ً أَة َ ر ْ ام ْ ًضا أَو ِ ائ َ َى ح أَت ْ ن َ اَل م َ ق َ م َّ ل َ س َ و ِ ه ْ لَي َ ع ُ لَ ا ََّّلل ى َ ِزَل ع ْ ا أُن َ ِ ِب َ م َّ ل َ س َ و ِ ه ْ لَي َ ع ُ ى ا ََّّلل َّ ل َ ََّمد ص ُُم Artinya: “Barangsiapa yang berhubungan badan dengan wanita haid atau melalui duburnya atau mengadu kepada dukun, makai ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.” Dalam hadis tersebut, al-Tirmidzi langsung menjelaskan bahwa hadis ini tidak diriwayatkan kecuali hanya melalui Hakim al-Atsram – Abu Tamimah al-Hujaymi – Abu Hurayrah. Al-Bukhari mendaifkan hadis ini sebab Hakim al-Astram para kritikus hadis sebagai perawi daif. Ibn Hajar al-‘Asqalanipun menilainya dengan “fih layyin” (padanya terdapat kelemahan) (Thahhan, tth: 53). Saudara mahasiswa dapat melakukan penelitian tentang kelemahan dari Hakim al-Atsram ini. Jika telah diketahui kelemahannya secara spesifik kemudian dapat dikategorikan kedaifan hadisnya. d. Kitab Hadis Daif Di antara kitab-kitab yang memuat hadis-hadis daif adalah alMarasil karya Abu Dawud al-Sijistani (w. 275 H), al-‘Ilal karya alDaruquthni (w. 385 H) dan Silsilah al-Ahadits al-Dha’ifah wa al-Mawdhu’ah karya al-Albani (w. 1420 H).


14 C. Hadis tentang Kewajiban Mencari Ilmu: Analisis Kesahihan Hadis Menganalisis kesahihan hadis dilakukan terhadap dua aspek, yaitu aspek sanad dan aspek matan. Sanad yang sahih harus memenuhi lima syarat yang telah dijelaskan sebelumnya yakni ketersambungan sanad, keadilan perawi, kedabitan perawi, tidak ada kejanggalan dan tidak ada cacat. Sementara dalam menguji matan, Salah al-Din Ibn Ahmad al-Adlabi dalam Manhaj Naqd al-Matan ‘ind ‘Ulama al-Hadits al-Nabawi menjelaskan empat aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, makna hadis tidak bertentangan dengan petujuk al-Qur’an. Kedua, makna hadis tidak bertentangan dengan hadis sahih lainnya dan sirah Nabi. Ketiga, makna hadis tidak bertentangan dengan akal sehat, indera dan fakta sejarah. Keempat, susunan pernyataannya menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian (Al-Adlabi, 1983: 230). Selanjutnya, sebagai praktik analisis, mari kita telaah hadis tentang kewajiban mencari ilmu. Di antara hadis yang sangat populer tentang kewajiban mencari ilmu adalah riwayat Ibn Majah sebagai berikut: َ دث َن َّ َ َن ح ا َ م ْ لَي ُ س ُ ْن ُص ب ْ ف َ ا ح َ دث َن َّ َ َ َّما ر ح ع ُ ْن ب ُ َشام ِ ا ه َ دث َن َّ َ ْ ح ب ُ ْي ِ ِْي ا ين َكث ِن سِ ْ ب ََّمدِ ُُم ْ َن ْي ع ِِْ ن شِ ُ ن ٌ َضٍ ِري َ ْلِم ف ِ الْع ُ طَلَب َ م َّ ل َ س َ و ِ ه ْ لَي َ ع ُ ى ا ََّّلل َّ ل َ وُل ا ََّّللِ ص ُ س َ اَل ر َ اَل ق َ ِ ك ق ال َ ِن م ْ ِس ب َ أَن ْ َن ع م ِ ل ْ ُس ِ م لَى ُكل َ ع )رواه ابن ماجه( Artinya: “Rasulullah saw bersabda: mencari ilmu itu wajib atas setiap orang Muslim” (HR. Ibn Majah, 220) Hadis yang diriwayatkan pertama kali oleh Anas bin Malik salah seorang sahabat terdekat Rasulullah ini dapat dijumpai di banyak kitab hadis, antara lain di Sunan Ibn Majah yang merupakan salah satu di antara enam kitab Hadis (al-Kutub al-Sittah) yang mu’tabar yakni diakui dan dijadikan referensi. Selain Anas bin Malik, sahabat Rasulullah yang juga meriwayatkan hadis ini adalah Abu Said al-Khudri sebagaimana disebutkan dalam kitab Musnad al-Syihab karya Muhammad Ibn Salamah Ibn Ja’far. Karena banyaknya kitab yang mencantumkan hadis ini, maka hadis inipun sangat


18 اَل َ اَل ق َ ق ُ ه َّ ِ ك أَن ال َ ِن م ْ ِس ب َ أَن ْ َن ع ْ ن ِ ن م َّ ِ إ َ م َّ ل َ س َ و ِ ه ْ لَي َ ع ُ ى ا ََّّلل َّ ل َ وُل ا ََّّللِ ص ُ س َ ر َ َع ف ْ ر ُ ْن ي أَ ِ ٍ َ َّساع ِط ال ا َ ْشر أَ ر .... )رواه الرتمذي( ْ َم َ َب ا ْْل ُ ْشر ت َ َ و َِن الز َ ْ ُشو ف َ ي َ و ُ ْل ه َ ا ْْل َ ر َ ِْه َ ي َ و ُ ْلم ِ الْع Artinya: “Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah hilangnya ilmu, merebaknya kebodohan, menyebarnya perzinaan, dan semakin banyak orang minum khamar.” (HR. Turmudzi) Hadis yang dinilai sahih oleh Imam al-Tirmidzi ini menjelaskan bahwa kiamat, kehancuran alam, tidak akan terjadi selama ilmu masih menjadi panduan kehidupan manusia. Sebaliknya, hilangnya ilmu merupakan salah satu sebab akan datangnya hari kehancuran tersebut. Hal ini karena dengan tanpa ilmu manusia akan mengalami kebodohan. Kebodohan inilah yang akan menyebabkan mereka melakukan pelanggaran dan perusakan di muka bumi. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh al- Bukhari dikatakan bahwa hilangnya ilmu akan menyebabkan terjadinya banyak pembunuhan. Semua tindakan negatif itu akan mengantarkan pada bencana yang lebih besar yaitu kehancuran alam semesta, atau yang disebut kiamat. Telah jelas kiranya hadis-hadis tentang kewajiban mencari ilmu berikut analisis kesahihannya. Dengan segala fungsinya, hadis tersebut menegaskan kepada kita bahwa bekal untuk dapat hidup dengan baik di dunia adalah ilmu. Kebaikan ini pula yang akan mengantarkan kepada kebaikan abadi di akhirat kelak. Selain berperan penting dan memberikan manfaat yang positif dalam kehidupan manusia, ilmu juga menempatkan pemiliknya pada kedudukan istimewa di antara manusia dan makhluk-makhluk Allah yang lain. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadis riwayat Abu Dawud berikut: َ و ْ ي َ ِن ح ْ ب ِ اء َ َج ر َ ْن ب َ ِصم ا َ ْ ُت ع ع َ ََسِ د ُ او َ د ُ ْن ب ا ََّّللِ ُ د ْ ب َ ا ع َ دث َن َّ َ ح د َ ه ْ ر َ ُس م ُ ْن ب ُ دد َّ َ ُس ا م َ دث َن َّ َ ْ ح َن ُُ ع َ دِ َ َُي ة َ َ ْشق م ِ د دِ ْجِ َس ِِف م ِ اء َ د ْ در أَِِب ال َّ َ ع َ ا م ً س ِ ال َ ُت ج ْ اَل ُكن َ س ق ْ ي َ ِن ق ْ ِْي ب ِ َكث ْ َن ي ل ع ِن ََجِ ْ ب َ د ُ او َ د ُ ه َ اء َ َج ف َ حلِ َ م َّ ل َ س َ و ِ ه ْ لَي َ ع ُ ى ا ََّّلل َّ ل َ وِل ص ُ َّس الر ِ ٍ َ ين دِ َ م ْ ن ِ ُ َك م ت ْ ئ ّن ِ جِ ِ إ ِ اء َ د ْ در ال َّ َ أَِب َ اَل َي َ َق ف ٌ ل ُ َج َ ر ِِن لَغ َ ٍ ب ي َك دِ َّ أَن


19 َ ْ ُت ر ع ََسِ ّن ِ ِ إ َ اَل ف َ ق ٍ َ اج َ ْ ُت حلِ ئ ا جِ َ م َ م َّ ل َ س َ و ِ ه ْ لَي َ ع ُ ى ا ََّّلل َّ ل َ وِل ا ََّّللِ ص ُ س َ ر ْ َن ع ُ ثُه َ دِ ُُت ُ ى ا ََّّلل َّ ل َ وَل ا ََّّللِ ص ُ س ْ ن ِ ا م ً ِريق طَ ِ ه ِ ب ُ َك ا ََّّلل لَ َ ا س ً ْلم عِ ِ يه ِ ف ُ طْلُب َ ا ي ً ِريق َك طَ لَ َ ْ س ن َ ُوُل م ق َ ي َ م َّ ل َ س َ و ِ ه ْ لَي َ ن َّ ِ ع طُ إ َ و ِ ٍ َّ ن َ ِِ ا ْْل ُ ر ِِف ال ْ ن َ م ُ لَه ُ ر ِ ْف غ َ ت ْ َس لَي َ ِ اِل َ ن الْع َّ ِ إ َ ْلِم و ِ ِب الْع ِ طَال ِ ًضا ل ا ِر َ َه ت َ ِح ن ْ أَج ُ َ َضع لَت َ َكٍ ِ ََلئ َ ِِف الْم ْ ن َ م َ ِت و ا َ و َ َّسم َ ْض َكف ِدِ اب َ لَى الْع َ ِ ع ِ اِل َ الْع َ َ ْضل ن ف َّ ِ إ َ و ِ اء َ ِف الْم ْ و َ ُن ِِف ج ا َ يت ا ْحلِ َ ِض و ْ ِر اْْلَر ِل ِ ائ َ لَى س َ ْدِر ع َ الْب َ لٍَ ْ ِر لَي َ َم الْق َ ا و ً ََه ْ ر ِ َاَل د َ ا و ً ار َ ين ِ ثُوا د ِ ر َ و ُ ي ْ َِل َ اء َ ي ِ ب ْ ن اْْلَن َّ ِ إ َ و ِ اء َ ي ِ ب ْ اْْلَن ُ ثٍَ َ ر َ و َ اء َ لَم ُ ن الْع َّ ِ إ َ ِب و اكِ َ الْ َكو ُ َذه َ أَخ ْ ن َ َم ف َ ْلم ِ رثُوا الْع َّ ر ِ اف َ و ظ َ َذ ِبِ َ أَخ Artinya: “Rasulullah saw bersabda: ‘Siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah menyertainya berjalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat merendahkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap pencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang berilmu dimohonkan ampunan oleh makhluk-makhluk penghuni langit dan bumi bahkan oleh ikan di dalam air. Sungguh keutamaan seorang alim ahli ilmu) dibanding dengan seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti cahaya bulan purnama dibanding cahaya bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu, siapa mendapatkannya akan memperoleh keberuntungan yang besar.” (HR. Abu Dawud, 3157) Berdasarkan hadis tersebut, terdapat lima keistimewaan bagi orang yang berilmu, yaitu: 1. Diiringi perjalannya oleh Allah menuju surga Surga adalah kehidupan yang diidentikkan dengan keindahan, kesenangan, kenikmatan, kedamaian, kesejahteraan, kenyamanan dan sebagainya. Orang yang sedang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari ilmu dan bersabar serta tabah menghadapi segala kesulitan yang ada, akan dibantu oleh Allah sehingga dia berhasil menikmati buah ilmu itu di dunia maupun akhirat. Bangsa-bangsa yang makmur dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang hidup dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan. 2. Diridai oleh para malaikat


20 Malaikat selalu memberikan ilham, inspirasi dan bimbingan ke arah yang positif kepada manusia. Sebaliknya, setan selalu membisikan hal-hal jahat dan negatif. Dengan rida dari malaikat, pencari ilmu yang sungguhsungguh akan cenderung kepada hal-hal yang positif. 3. Didoakan oleh makhluk-makhluk yang ada di darat, di udara serta yang ada di dalam air Sering muncul berita di media massa bahwa sekelompok ilmuwan mengemukakan ide untuk melindungi jenis-jenis binatang dan berbagai macam tanaman dari kepunahan. Maka, lahirlah undang-undang dan peraturan-peraturan untuk konservasi alam. Ilmuwan pula yang terus mengingatkan bahaya pencemaran udara terhadap lapisan ozon yang pada jangka panjang akan berakibat buruk pada kehidupan bumi. Begitu juga para ilmuwan yang menyelamatkan ikan-ikan besar yang tersesat sehingga terdampar dan sekarat di pantai, lalu para ilmuwan itulah yang berinisiatif membawa mereka kembali ke tengah lautan. Pemikiran untuk menyelamatkan binatang tumbuhan, atau air dan udara tidak lahir dari pengusaha, pedagang atau pemburu yang hanya memikirkan bagaimana mengambil keuntungan dan kesenangan dari semua itu. Melainkan dari orang yang mengerti dan memahami untuk keberlangsungan hidup dan alam dalam jangka panjang. 4. Dinilai lebih utama dibanding ahli ibadah Argumen yang paling rasional untuk pernyataan ini adalah bahwa manfaat dari ilmu yang dimiliki seorang alim dirasakan bukan hanya oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang banyak. Sedangkan manfaat ibadah seseorang lebih dirasakan oleh dirinya sendiri, meskipun dapat pula memberi inspirasi pada orang lain. 5. Dinyatakan sebagai pewaris para nabi Keberlangsungan ajaran para nabi dijaga oleh para ulama yang secara turun temurun dari generasi ke generasi mengajarkan konsep-konsep


21 akidah, tata cara beribadah, prinsip-prinsip akhlak, dan aturan-aturan bermuamalah yang telah disampaikan para nabi. Karena itulah mereka disebut pewaris nabi; dan hal itu merupakan kehormatan yang besar. Demikian, jelaslah bahwa orang yang berilmu diberikan banyak maziya (keistimewaan). Keistimewaan ini semata diberikan oleh Allah karena ilmu yang dimilikinya. Maka, tatkala ilmu itu hilang, hilang pulalah keistimewaannya. REFLEKSI Saudara mahasiswa, apakah pelajaran dan nilai yang anda dapatkan setelah mempelajari kriteria kesahihan hadis di atas yang dapat saudara aplikasikan pada pembelajaran PAI? Setidaknya, kualitas hadis dengan segala persyaratannya yang sangat ketat mengajari kita untuk selektif menerima dan berhati-hati dalam menyampaikan informasi. Apalagi di era media sosial ini, informasi begitu mudah disebar dan diterima tanpa diketahui kebenarannya. Pembelajaran PAI adalah peluang terbaik kita sebagai seorang guru untuk menitipkan pesan Al-Quran dan hadis tentang pentingnya klarifikasi informasi kepada peserta didik. Pesan ini juga berlaku untuk kita sebagai guru bahwa mengajar PAI harus berdasarkan sumber yang tepat, diketahui secara pasti kebenarannya dan disampaikan secara sungguh-sungguh dalam rangka menjaga kesahihan ilmu. Sikap di atas termasuk bentuk implementasi dari nilai moderasi beragama ishlah. Ishlah merupakan upaya perbaikan yang dilakukan dalam menjaga kemaslahatan, termasuk melakukan klarifikasi dalam perolehan informasi sebagaimana dicontohkan ulum al-hadis. Oleh karena itu, ishlah merupakan sikap yang mesti dimiliki oleh guru PAI. CONTOH SOAL Setelah menganalisis uraian materi, apakah saudara sudah menguasai capaian pembelajaran pada kegiatan belajar ini? Agar dapat mengukur penguasaan saudara, dapat mengisi soal yang berkaitan dengan kegiatan belajar ini. Berikut sajian contoh


Click to View FlipBook Version