The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

“PUT Mandiri dan Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik” agar
dapat menjadi inspirasi bagi politeknik-politeknik lainnya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Budi Santoso, 2020-07-14 12:39:21

PUT Mandiri & Unggul Praktik Baik di 5 Politeknik

“PUT Mandiri dan Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik” agar
dapat menjadi inspirasi bagi politeknik-politeknik lainnya

Keywords: PUT Mandiri & Unggul

135Bab 7 | Technology Positioning

ikan. Berbagai bentuk kegiatan budi daya dilakukan oleh masyarakat, mulai
dari usaha kecil, menengah hingga skala besar, baik pembenihan maupun
pembesaran. Jenis ikan yang dibudidayakan juga sangat beragam, baik dari
ikan konsumsi seperti ikan nila, mas, lele, jelawat, bandeng, udang, kepiting
dan lain-lain maupun ikan hias seperti ikan arwana, ikan botia, ikan mas
koki, dan sebagainya.

Penerapan teknologi budi daya ikan di masyarakat saat ini sering
menemui kendala, di antaranya ketersediaan pakan dalam jumlah terbatas
dan harga tinggi, sulitnya mendapatkan benih berkualitas baik dengan
kuantitas yang cukup, produksi ikan konsumsi yang belum memenuhi
keamanan pangan, terbatasnya layanan laboratorium dalam uji kualitas air
budi daya ikan, dan uji kesehatan ikan. Hal ini menjadi faktor penghambat
dalam pengembangan budi daya ikan, khususnya di Kalimantan Barat.

Hadirnya Pusat Unggulan Teknologi (PUT) berusaha memberikan
solusi atas segenap permasalahan yang dialami oleh pembudi daya ikan
setempat. Dengan memanfaatkan Unit Budi Daya dan Produksi Pakan PUT
Polnep yang terletak di Mempawah, PUT mengadakan penelitian dan uji
coba terhadap berbagai jenis ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. PUT
membawahi dua unit, Unit Budi Daya dan Produksi Pakan PUT Polnep
di Mempawah dan unit laboratorium rujukan. Jadi, PUT berfokus ke arah
strategis untuk memudahkan masyarakat pembudi daya atau industri budi
daya perikanan dalam mengontrol dan meningkatkan kualitas hasil budi
daya perikanan. Pengembangan Laboratorium Rujukan diorientasikan pada
Laboratorium Kualitas Air, Laboratorium Uji Kesehatan Ikan, Laboratorium
Uji dan Produksi Pakan Ikan, serta Laboratorium Genetika dan Reproduksi
Ikan. Selain dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan guna meningkatkan
kompetensi lulusan Program Studi Budi Daya Perikanan, laboratorium
tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat/industri pembudi daya
ikan maupun instansi/unit usaha milik pemerintah dalam melakukan uji
laboratorium maupun pendampingan guna meningkatkan kualitas dan
kuantitas produksi budi daya ikan.

Ikan gabus termasuk ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, saat
ini sedang dikembangkan pada lahan sulfat masam dan pasang-surut
di beberapa wilayah Kalimantan Barat. Pengembangan daerah rawa di
Indonesia tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Besarnya potensi lahan pasang surut yang ada di Kalimantan Barat
merupakan peluang sekaligus tantangan yang perlu segera direspons. Pada
saat ini sebagian dari lahan-lahan tersebut sudah dimanfaatkan untuk budi

136 PUT Mandiri & Unggul:Praktik Baik di Lima Politeknik

Gambar 7.4 PUT perikanan Polnep.
Sumber Foto: PEDP Kemenristekdikti

daya tanaman, ternak, dan ikan. Namun secara umum produktivitasnya
masih relatif rendah. Rendahnya produktivitas perikanan pada lahan
tersebut dikarenakan adanya berbagai permasalahan, terutama buruknya
kualitas air, kondisi ini dapat diperbaiki dengan meningkatkan pH perairan.
Hasil dari disertasi salah satu staf pengajar menemukan bahan ameliorasi
untuk mengatasi pH air pada lahan rawa.

Selain itu, ada potensi ikan lain yang belum banyak diketahui orang,
yaitu ikan semah. Keberadaan ikan ini mulai langka. Negara tetangga paling
senang mengonsumsi ikan semah karena rasa dagingnya yang enak. Hasil

Gambar 7.5 PUT perikanan Polnep.
Sumber Foto: PEDP Kemenristekdikti

137Bab 7 | Technology Positioning

survei menunjukkan, untuk saat ini kisaran harga ikan semah ukuran 1—2
kg sebesar Rp100.000,00 per kg, ukuran 3—4 kg sebesar Rp300.000,00 per
kg dan ukuran 5—10 kg sebesar Rp1.200.000 per kg. Rata-rata berat ikan
semah yang hidup di alam lebih dari 2 kg, bahkan bisa mencapai 30 kg. Ikan
semah banyak hidup di daerah bebatuan hulu sungai.

B. Peralatan Pelacak DNA

Polnep memiliki alat Pelacak DNA yang bernama PCR (Polymerase Chain
Reaction). PCR digunakan oleh para peneliti bidang biologi molekuler
dan genetika. PCR dapat digunakan untuk amplifikasi urutan nukleotida,
menentukan kondisi urutan nukleotida suatu DNA yang mengalami
mutasi, bidang kedokteran forensik, dan melacak asal-usul ikan dengan
membandingkan finger print. PCR ini juga berguna untuk analisis genetik
suatu organisme, diagnosa kelainan genetik, serta diagnosa penyakit.
Dalam diagnosa penyakit, melalui PCR virus dalam jumlah sedikit pun
dapat terlihat sehingga dapat dilakukan langkah pencegahan sebelum
virus tersebut menyebar. Keunggulan dari teknik PCR ini dalam diagnosa
penyakit antara lain, tingkat akurasi yang tinggi (sensitivitas dan spesifikasi),
cepat, serta dapat mendeteksi keseluruhan mikroba.

Gambar 7.6 Mesin AAS milik Polnep.
Sumber Foto: PEDP Kemenristekdikti

138 PUT Mandiri & Unggul:Praktik Baik di Lima Politeknik

PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan suatu teknik perbanyakan
(amplifikasi) potongan DNA secara in vitro pada daerah spesifik yang
dibatasi oleh dua buah primer oligonukleotida. Primer yang digunakan
sebagai pembatas daerah yang diperbanyak adalah DNA untai tunggal yang
urutannya komplemen dengan DNA templatnya. Proses tersebut mirip
dengan proses replikasi DNA secara in vivo yang bersifat semi konservatif.
Keberadaan alat PCR ini digunakan untuk pengujian di Laboratorium
Kesehatan Ikan dan Lingkungan Budi Daya (uji penyakit ikan).

PCR digunakan oleh Polnep untuk meneliti dan mengidentifikasi
penyakit akibat adanya virus atau bakteri. Metode ini merupakan salah
satu teknik molekular dalam diagnosa penyakit. Tahapan diagnosa meliputi
isolasi DNA, amplifikasi PCR, elektroforesis DNA hasil PCR, dan visualisasi.
DNA merupakan substansi dasar yang membawa informasi genetik yang
akan menentukan fenotipe suatu organisme. Melalui PCR (Polymerase
Chain Reaction), DNA akan dapat diperbanyak secara in vitro dengan
bantuan enzim polymerase. Sebelum PCR dilakukan, terlebih dahulu harus
dilakukan ekstraksi DNA dari genom sel. Sel yang digunakan tersebut di
antaranya dapat berasal dari hati, otot, sirip, darah, dan kaki renang.

Tahun 2019, Polnep akan fokus untuk menjalani akreditasi sebagai
pengakuan formal terhadap laboratorium untuk melakukan pengujian
atau kalibrasi tertentu sesuai dengan metode standar tertentu dengan
manajemen mutu dantcara berlaboratorium yang baik. Melalui akreditasi
setiap laboratorium dipacu untuk memenuhi standar yang telah ditetapkan
sehingga dapat memberikan pelayanan yang bermutu/berkualitas dan
dapat dipertanggungjawabkan. Di sini peran laboratorium penguji
terakreditasi menjadi semakin penting karena laboratorium tersebut yang
memiliki core competency untuk memberikan pengakuan atas mutu suatu
produk berdasarkan uji yang dilakukannya.

Rencana ruang lingkup yang diusulkan adalah bidang lingkungan
pada laboratorium kualitas air, dengan peralatan yang digunakan antara
lain adalah AAS (Absorption Atomic Spectrophotometer). AAS merupakan
peralatan tercanggih yang dimiliki oleh Polnep. Atomic Absorption
Spectrophotometry (AAS) atau Spektrofotometri Serapan Atom adalah
salah satu jenis analisis spektrofometri di mana dasar pengukurannya
adalah pengukuran serapan suatu sinar oleh suatu atom, sinar yang tidak
diserap, diteruskan, dan diubah menjadi sinyal listrik yang terukur.

Prinsip dasar dari pengukuran secara AAS ini adalah proses
penguraian molekul menjadi atom dengan batuan energi dari api atau
listrik. Atom yang berada dalam keadaan dasar ini bisa menyerap sinar

139Bab 7 | Technology Positioning

yang dipancarkan oleh sumber sinar, pada tahap ini atom akan berada pada
keadaan tereksitasi. Sinar yang tidak diserap oleh atom akan diteruskan
dan dipancarkan pada detektor, kemudian diubah menjadi sinyal yang
terukur. Panjang gelombang sinar bergantung pada konfigurasi elektron
dari atom sedangkan intensitasnya bergantung pada jumlah atom dalam
keadaan dasar. Dengan demikian, AAS dapat digunakan baik untuk analisis
kuantitatif maupun kualitatif..

C. Mencari Celah Pemanfaatan

Sistem teknologi yang tepat akan mengarah ke teknik budi daya yang tepat.
Sistem budi daya ikan yang tepat untuk sungai Mempawah menggunakan
keramba terapung sehingga PUT membuat keramba terapung. Untuk
memenuhi kebutuhan pakan ikan yang dibudidayakan, PUT memproduksi
pakan ikan terapung dan tenggelam.

Salah satu keunggulan PUT adalah fokus pada produksi ikan dan pakan.
Inovasi terkait memberikan sesuatu yang baru, mencoba mengeluarkan
pakan ikan terapung dan tenggelam dengan bahan-bahan yang tidak
terpakai dari sekitar. Pelaksanaan produksi pakan dilaksanakan di rumah
pakan yang sudah dilengkapi dengan mesin produksi. Pakan yang dibuat
berupa pelet apung dan tenggelam dengan memanfaatkan bahan-bahan
lokal, berupa ikan rucah, dedak halus, bungkil, biji-bijian, umbi-umbian,
daun-daunan, dan bahan hewani lainnya.

Tahap awal akan dilaksanakan uji coba produksi dan pengujian mutu
pakan dengan mengamati laju pertumbuhan ikan, kualitas air, tingkat
kelangsungan hidup ikan, dan parameter ukur lainnya. Juga dilakukan uji
laboratorium terhadap kandungan nutrisi serta uji ketahanan pakan. Hal
ini bertujuan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan sebelum
dipasarkan. Pakan akan dipasarkan setelah mendapatkan sertifikat mutu.

Unit produksi pakan ikan PUT Polnep dapat memproduksi pakan
ikan terapung dan pakan ikan tenggelam dengan kapasitas produksi pakan
ikan terapung berkisar 100—150 kg per jam atau rata-rata 500—1.000 kg
per hari, dan produksi pakan ikan tenggelam dapat mencapai 150—200 kg
per jam atau rata-rata 750—1.500 kg per hari. Kedua, PUT menghasilkan
benih ikan nila yang tahan hidup dengan salinitas hingga 25 per mil. PUT
melakukan system treatment air sekitar satu sampai dua minggu untuk
mendapatkan benih ikan nila yang tahan pada salinitas hingga 25 ppt. Jadi,
sebenarnya PUT tidak melakukan intervensi terhadap DNA dan hanya
melakukan pengondisian lingkungan semata.

140 PUT Mandiri & Unggul:Praktik Baik di Lima Politeknik

Seiring berjalannya waktu, para pembudi daya banyak mengadopsi
benih-benih ikan dari PUT Polnep karena memiliki daya tahan terhadap
perubahan dan penurunan kualitas air di Sungai Mempawah. Penurunan
kualitas air di Sungai Mempawah kian menjadi perhatian pemerintah
daerah. Limbah yang berkontribusi terhadap pencemaran perairan pada
Sungai Mempawah bisa berupa limbah padatan dan partikulat karena
sumber masukan limbah yang masuk ke perairan umum tidak hanya semata
limbah yang dihasilkan dari KJA saja.

Setiap perairan memiliki daya dukung masing–masing. Untuk menjaga
agar ekosistem perairan tersebut tetap baik dapat melalui pengembangan
teknologi-teknologi yang terkait dengan ikan, pakan, lingkungan, dan
engineering, memonitor kualitas air (baik secara visual maupun secara
pengukuran langsung). Meskipun penjualan benih ikan belum dalam skala
besar, namun PUT telah memberikan pelayanan kepada para petani sekitar.
PUT sudah bisa memasarkan benih ikan nila berukuran 5—8 cm yang tahan
terhadap air di Sungai Mempawah. Oleh sebab itu, benih PUT dianggap
benih unggul oleh petani.

Terkait dengan beberapa inovasi yang sudah dikembangkan, PUT
mulai menerima penawaran yang berpotensi menjadi pemasukan finansial.
Sayangnya, tidak semua pesanan tertangani dengan baik karena ada
kendala modal dan hal lain sehingga produksi sempat terhenti. Salah
satunya modal untuk memproduksi pakan, padahal pakan yang dihasilkan
PUT sudah mendapat lisensi resmi dan siap jual.

PUT sudah memiliki struktur dan sistem manajemen yang bagus.
Pusat Unggulan Teknologi (PUT) Polnep merupakan bagian dari Politeknik
Negeri Pontianak yang memiliki garis koordinasi langsung di bawah
Direktur Politeknik Negeri Pontianak. PUT dipimpin oleh seorang Kepala
Unit yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Polnep. Dalam
urusan teknis, PUT didampingi oleh Kepala Laboratotium Rujukan dan
Kepala Unit Produksi Ikan, selanjutnya dalam urusan pelayanan ekternal,
selain oleh Ka. Lab dan Ka. Unit Produksi juga dibantu oleh Unit Penelitian,
Pelatihan, Dan Pengembangan, Unit QA, Unit Administrasi dan Keuangan,
serta Unit Pemasaran.

Untuk memasarkan hasil produksi, bidang pemasaran akan menangani
distribusi penjualan dan harga. Selain itu, PUT juga memiliki QA (quality
assurance) untuk mengevaluasi semua kegiatan. Saat ini PUT masih
berfokus untuk pelayanan mahasiswa dan riset dosen sehingga belum
mengarah ke pencapaian keuntungan atau bisnis secara nyata.

141Bab 7 | Technology Positioning

PUT berusaha menerapkan perkembangan ilmu terbaru untuk
mengatasi masalah yang ada di PUT. Contoh, PUT menerapkan sistem
resirkulasi untuk mengatasi masalah kekurangan air pada musim kemarau.
Penerapan sistem ini tidak membuang air. Jadi, air yang sudah terpakai
ditampung, dan digunakan kembali. Apabila volume air yang digunakan
sedikit berkurang, baru ditambahi air lagi sehingga menjadi sistem yang
tidak terputus.

Tantangan saat menerapkan sistem ini ialah membuat air ini tidak
bau untuk memelihara ikan dan udang. Solusi menghilangkan bau
adalah menekan ammonia dan menerapkan probiotik. Sekarang, PUT
memasukkan probiotik ke dalam bak-bak. Jadi, udang tidak dipelihara di
tambak, namun dipelihara di bak-bak beton. Hasil riset yang dilakukan oleh
Dr. Purnamawati, S.Pi., M.Si. menunjukkan survival rate udang vaname
dalam waktu dua bulan masih dalam kondisi 100% dengan pertumbuhan
yang bagus.

Perbaikan manajemen keuangan dan sistem, serta inovasi-inovasi
yang telah dikembangkan PUT membuat banyak kemajuan. Namun masih
ada kendala lain yang menghambat laju pertumbuhan PUT, yaitu terkait
dana. Sebisa mungkin Kepala PUT (Dr. Purnamawati, S.Pi., M.si.) tetap
mengupayakan berjalannya kegiatan dengan dana yang terbatas. Contoh,
PUT menggerakkan para dosen untuk melakukan riset di Mempawah,
kepala PUT bersama beberapa manajemen dan tenaga kerja mengelola
tambak dan keramba dengan menanamkan modal bersama. Melalui bagi
hasil, akan dialokasikan untuk modal dan operasional PUT.

Beruntungnya, para tenaga kerja bersemangat untuk sama-sama
mengelola tambak. Mereka pun mendapatkan bagi hasil dari penjualan
yang semakin meningkatkan semangat bekerja. Terlebih lagi, para tenaga
kerja bukan PNS, tapi tenaga honor. PUT hanya meminta 10% dari laba
untuk biaya perawatan. Sistem ini membangkitkan rasa cinta pada PUT,
rasa memiliki, sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

D. Antrean Calon Pengguna Jasa

Berbagai peralatan canggih yang dimiliki oleh PUT dalam kondisi yang
baik. Sayangnya, berbagai peralatan canggih yang ada ini belum mampu
digunakan secara maksimal karena adanya beberapa kendala. Kendala yang
ada meliputi kompetensi staf, kelengkapan peralatan, ketersediaan bahan,
dan sarana-prasarana yang mendukung penggunaan peralatan.

142 PUT Mandiri & Unggul:Praktik Baik di Lima Politeknik

Pertama, belum siapnya staf untuk mengoperasikan peralatan. Belum
semua staf PUT mendapatkan pelatihan langsung dari pemasoknya dan
memiliki kompetensi yang disyaratkan. Uji coba penggunaan peralatan-
peralatan tersebut sudah dilakukan, namun pihak PUT belum siap
menerima sampel dari luar. Sumber daya manusia PUT yang sudah
memiliki kompetensi mengoperasikan peralatan adalah tenaga analis untuk
menjalankan proksimat, empat orang untuk menjalankan AAS. Kelima
tenaga analis tersebut sudah memiliki keahlian khusus untuk menjalankan
peralatannya masing-masing. Setiap tenaga analis bertanggung jawab
terhadap keseluruhan rangkaian uji dan masalah yang timbul selama proses
tersebut.

Kendala kedua, terkait pengadaan bahan, yaitu belum semua
bahan tersedia untuk pengujian. PUT masih bergantung pada PEDP
terkait pengadaan bahan pengujian. Ke depannya, PUT berencana untuk
memaksimalkan potensi PUT lain agar lebih berdaya dalam pengadaan
bahan yang diperlukan.

Kendala ketiga, terkait peralatan adalah beberapa peralatan yang
masih menunggu kelengkapan dari pihak pemasok. Kendala lain terkait
peralatan adalah usul yang diajukan belum merupakan satu paket
lengkap. Contoh, pada AAS harus memiliki lampu-lampu tertentu dan
belum tersedianya bahan uji yang lengkap. PUT membutuhkan penstabil
tegangan untuk mengatasi kendala listrik ini. Kebutuhan listrik PUT menjadi
besar karena peralatan-peralatan tersebut membutuhkan lingkungan
operasional di dalam ruangan berpendingin/AC. Jika kendala listrik ini
teratasi, kelengkapan mesin dan bahan terpenuhi, tenaga analis siap, tentu
PUT akan mendapatkan banyak peluang yang akan meningkatkan laju
perkembangan.

Mahasiswa belum diperkenankan mengoperasikan peralatan-
peralatan tersebut secara mandiri meskipun PUT memang memiliki
kewajiban melayani mahasiswa. Mahasiswa masih dipandu oleh tenaga
analis dan tidak menggunakan berbagai peralatan tersebut secara langsung.
Sebab, perlu kompetensi yang memadai untuk menjalankan berbagai
peralatan tersebut dan menjaga kondisi peralatan tetap prima.

Meskipun PUT masih memiliki berbagai kendala dalam
mengoperasikan peralatan, hal ini tidak mengurangi minat dari pihak luar
untuk datang dan menggunakan jasa yang tersedia. Dosen, mahasiswa,
dan peneliti dari berbagai daerah telah datang untuk melakukan riset.
Peluang jasa penggunaan peralatan PUT masuk ke dalam kategori PNBP
(Penerimaan Negara Bukan Pajak). Pihak PUT telah memiliki manajemen

143Bab 7 | Technology Positioning

Gambar 7.7 Proses pemberian pakan di tambak Polnep.
Sumber Foto: PEDP Kemenristekdikti

144 PUT Mandiri & Unggul:Praktik Baik di Lima Politeknik

Gambar 7.8 Gedung utama Polnep.
Sumber Foto: PEDP Kemenristekdikti

145Bab 7 | Technology Positioning

untuk mengelola jasa tersebut. Kepala laboratorium memiliki bendahara
untuk mengelola pemasukan dari penggunaan jasa. Bendahara laboratorium
akan memberikan laporan secara lengkap dan terperinci kepada bendahara
PUT Polnep. Semua pengelolaan keuangan pada dua unit di bawah
pengelolaan PUT akan langsung ditangani oleh Bendahara PUT Polnep,
berdasarkan SOP bagan alur manajemen keuangan PUT Polnep

Peralatan canggih yang dimiliki oleh PUT menyimpan potensi luar
biasa yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Pemanfaatan berbagai
peralatan ini akan lebih optimal jika ada kerja sama lintas disiplin dengan
lembaga lain. Oleh sebab itu, pihak PUT membuka peluang kerja sama
dengan berbagai pihak. Dalam waktu dekat, PUT akan menandatangani
kesepakatan dengan Baristand Pontianak. Isi kesepakatan antara lain
Baristand sebagai pendamping dalam akreditasi laboratorium, memberikan
pelatihan penggunaan peralatan, pelatihan-pelatihan kompetensi tenaga
analis, laboratorium, ataupun dosen yang bersertifikat. Terakhir, kerja
sama dalam bidang riset dan penelitian. Banyaknya potensi kerja sama
pada masa depan membuat Kepala PUT berusaha membenahi sistem
dan manajemen terbaru. Ke depannya, PUT akan memiliki laboratorium
berjalan yang akan membantu riset di pelosok.

E. Permagangan Berbekal Hubungan Baik

Seperti halnya Politeknik lainnya, Polnep juga menerapkan standar 60%
untuk praktik kerja dan 40% teori yang diterima oleh mahasiswa. Mahasiswa
hanya menerima teori pada awal semester hingga menjelang UTS (Ujian
Tengah Semester), selanjutnya waktu yang ada digunakan untuk magang.
Setiap semester, mahasiswa memiliki tema yang berbeda untuk praktik
kerja.

Pengaruh peralatan canggih terhadap budaya kerja pada mahasiswa
tetap ada. Mahasiswa menerapkan SOP dan standar K3 saat praktik kerja
dengan menggunakan peralatan kerja lengkap. Mahasiswa memasuki
laboratorium dalam kondisi steril. Sebelum melakukan pekerjaan,
pengawasan tetap harus dilakukan. Selesai praktik, mahasiswa harus
melakukan pembersihan ruangan, menata, dan meletakkan peralatan pada
tempat semula. Sebelum mengembalikan peralatan, mahasiswa harus
mengecek kembali terkait penggunaan peralatan. Setelah peralatan dalam
kondisi baik, baru mahasiswa menyimpan di tempat semula.

146 PUT Mandiri & Unggul:Praktik Baik di Lima Politeknik

Praktik kerja lapangan atau magang mahasiswa dilakukan secara
integrasi. Dalam pelaksanaannya ada beberapa mata kuliah dilaksanakan
secara berintegrasi. Kalau praktik kerja mahasiswa sifatnya pemeliharaan
ikan dan udang, mahasiswa akan dibawa ke Mempawah.

Unit Pembesaran ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) merupakan
keramba percontohan pembesaran ikan, dan pemeliharaan ikan-ikan
lokal dalam upaya domestikasi. KJA ini juga digunakan untuk uji coba
pengembangan produk pakan, bahan-bahan pengkayaan pakan, dan imun
stimulan yang diaplikasikan pada ikan yang dibesarkan. Pada unit ini juga
dilengkapi 1 (satu) unit jongkong (jukung) untuk pengambilan sampel air
pada penelitian serta pengontrolan kualitas air.

Saat praktik kerja lapangan ataupun tugas akhir, kampus akan
menyebarkan mahasiswa ke beberapa balai terkait yang ada di seluruh
Indonesia pada umumnya dan Kalimantan Barat khususnya. Rata-rata
jumlah mahasiswa per angkatan sebanyak 24 orang, jika ada 4 kelas total
mahasiswa adalah 96 mahasiswa yang disebar ke berbagai tempat. Satu
tempat bisa didatangi oleh 4 atau 5 mahasiswa. Pada setiap semester,
ada nilai kompetensi yang harus dicapai mahasiswa. Pada semester 2,
mahasiswa akan melakukan kunjungan industri. Mahasiswa akan dikenalkan
tentang dunia perikanan, baik tawar, payau, maupun laut. Mereka akan
mengunjungi semua balai-balai, tapi tidak menjalani magang. Kunjungan
yang dilakukan semacam studi ekskursi.

Selanjutnya, pada semester 3 mahasiswa memasuki praktik kerja
lapangan air tawar. Mahasiswa akan menjalani magang kurang lebih satu
bulan. Mereka melakukan semua kegiatan yang berkaitan dengan perikanan
sesuai dengan judul seminar mahasiswa. Kalau ada mahasiswa yang dikirim
ke Balai Sukabumi misalnya, kampus akan mencari info terkait komoditas
yang ada di sana. Jadi, mahasiswa magang berdasarkan komoditas yang ada.
Dalam satu tempat, bisa jadi ada 6—8 mahasiswa. Jika ada 10 komoditas,
berarti ada 10 mahasiswa yang magang karena setiap mahasiswa meneliti
komoditas yang berbeda.

Memasuki semester 4, mahasiswa akan masuk di kompetensi air
payau. Mereka dibekali praktik terkait air payau dan diturunkan di balai-balai
yang mengelola air payau. Mahasiswa akan terjun ke tambak tradisional,
tambak di bawah binaan perusahaan, atau tambak di PUT. Pada semester
5, kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa adalah air laut. Mahasiswa
akan dibekali PKL air laut. Salah satu tempat yang biasanya digunakan
untuk magang adalah Sedau yang terletak sebelum Singkawang, budi
daya ikan keramba di daerah yang dikelola oleh masyarakat. Pihak kampus

147Bab 7 | Technology Positioning

bekerja sama dengan pihak tempat magang mahasiswa. Begitu mereka
masuk ke semester 6, mereka akan menyusun tugas akhir ke berbagai balai,
UPR, dan industri terkait.

Saat magang, mahasiswa akan menerapkan ilmu dari kampus sembari
menimba ilmu yang mereka temui. Kampus tidak memiliki kendala terkait
penyaluran mahasiswa saat magang. Ada beberapa tempat magang yang
meminta mahasiswa berbagi inovasi baru dari kampus. Sebaliknya, ada balai
yang sudah lebih mapan dengan segala pengalaman sehingga mahasiswa

tinggal mengikuti kegiatan yang ada.
Dulu, balai terbaik yang ada di Pontianak adalah UPIS (Unit
Pembenihan Ikan Sentral) Anjungan untuk air tawar. Akan tetapi, sekarang
UPIS sudah diserahkan ke kabupaten karena tupoksinya adalah air tawar.
Berkat hubungan baik PUT dengan berbagai balai dan lembaga lain, pihak
kampus mudah mengirimkan mahasiswa magang ke berbagai tempat.

F. Akreditasi Laboratorium

Kesiapan PUT untuk melaksanakan akreditasi tentunya juga ditinjau dari
kesiapan SDM yang ada. Jumlah asesor kompetensi yang dimiliki Polnep
berkisar 50-an orang dari semua jurusan. Polnep juga sudah memiliki skema
untuk 8 jurusan yang ada.

Meski para dosen sudah memiliki jaringan yang luas dengan berbagai
lembaga dan balai riset, ternyata belum ada bursa kerja alumni. Persatuan
alumni yang ada belum berbadan hukum dan terjalin via media sosial untuk
menyampaikan info lowongan kerja dan informasi riset yang membutuhkan
bantuan mahasiswa. Jumlah alumni yang menjadi pengusaha dalam kategori
cukup. Alumni banyak yang bekerja di Dinas Perikanan dan perbankan.

Sampai sekarang, kesiapan untuk pembentukan Badan Layanan
Umum belum dapat terlaksana. Saat ini PUT masih berfokus pada perbaikan
manajemen dan sistem. Selain itu, PUT diharapkan terus berjalan dengan
kegiatan yang ada. Dengan semakin baiknya sistem dan manajemen
yang ada, diharapkan dapat mempermudah bantuan dana untuk semakin
meningkatkan performa PUT.

Target pada tahun 2019 ialah adanya akreditasi laboratorium. Hal
ini terkait dengan kerja sama yang akan ditandatangani dengan pihak
Baristand Pontianak yang bersedia membantu PUT dalam memberikan
pelatihan alat-alat teknis dan pendampingan akreditasi. Persiapan
akreditasi akan membutuhkan waktu 6 bulan untuk persiapan dokumen
dan 3 bulan berikutnya untuk melakukan uji banding.

148 PUT Mandiri & Unggul:Praktik Baik di Lima Politeknik

Gambar 7.9 Kegiatan di PUT Mempawah.
Sumber Foto: PEDP Kemenristekdikti

BAB 8

FAKTOR-FAKTOR
KEUNGGULAN PUT

150 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

A. Kualitas dan Relevansi Pendidikan Vokasi

Peningkatan kualitas dan relevansi tenaga kerja Indonesia menghadapi
tantangan besar. Rilis statistik Indonesia 2018 bertajuk “The State of
Indonesia Employment in August 2018” yang baru saja dirilis Badan Pusat
Statistik (BPS) tanggal 5 November 2018 menunjukkan bahwa 7 juta orang
menganggur per Agustus 2018. Jumlah tersebut berkurang 40.000 orang
dibandingkan Agustus 2017. Secara relatif, jumlah tersebut ekivalen dengan
tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,5 persen (Agustus 2018) dan 5,34
persen (Agustus 2017) sebagai perbandingan tahun ke tahun.

Gambar 8.1 Persentase Pengangguran di Indonesia berdasarkan Jenjang Pendidikan

Laporan BPS tersebut menunjukkan gambaran yang suram tentang
tingginya angka pengangguran lulusan pendidikan vokasi. Trend ini terlihat
baik pada tingkat pendidikan menengah (SMK versus SMA) maupun
pada tingkat pendidikan tinggi (diploma versus universitas). Pada tingkat
pendidikan menengah pengangguran lulusan SMK bergerak pada rerata
2,71 persen lebih tinggi daripada pengangguran lulusan SMA. Pada bulan
Agustus 2018, tingkat pengangguran lulusan sekolah vokasi tercatat
11,24 persen, naik dari 8,92 persen pada Februari 2018, meski sedikit lebih
rendah daripada 11,41 persen pada Agustus 2017. Namun dari ketiga
periode tersebut, lulusan sekolah vokasi konsisten menunjukkan trend
pengangguran tertinggi dibandingkan tingkat pendidikan lainnya. Hal ini
menunjukkan masih jauh panggang dari api dalam hal link and match pada
sekolah vokasi.

Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT 151

Data BPS juga menunjukkan bahwa angka pengangguran pada
pekerja berpendidikan diploma, yang mewakili keluaran politeknik dan
sekolah tinggi, relatif lebih tinggi daripada lulusan universitas. Meskipun
angkanya tak bertaut jauh, namun kecenderungannya konsisten lebih
tinggi daripada pengangguran lulusan universitas. Pada tingkat pendidikan
tinggi, trend rerata pengangguran lulusan diploma lebih tinggi sekitar 1,15
persen daripada universitas.

Dari sisi angkatan kerja, pekerja berpendidikan sekolah dasar masih
mendominasi penduduk bekerja. Dari 124,01 juta penduduk bekerja, 50,46
juta (40,69 persen) berpendidikan SD. Dikuti oleh pekerja berpendidikan
SMP (18,09 persen), SMA (18,01 persen), SMK (11,03 persen), dan universitas
(9,4 persen). Pekerja dari lulusan diploma menempati porsi terkecil dengan
jumlah sedikit lebih dari 344 ribu orang atau 2,78% dari populasi pekerja.

Gambar 8.2 Persentase Penduduk Bekerja berdasarkan Jenjang Pendidikan

Salah satu fakta yang dikemukakan oleh Dinas Tenaga Kerja Batam
menunjukkan bahwa dari 410.000 pencari kerja di Batam, mayoritas
pencari kerja adalah lulusan sekolah vokasi. Di pulau tetangga Singapura
yang merupakan pusat industri ini, ketiadaan sertifikasi keterampilan yang
spesifik, diakui oleh pemerintah, dan dibutuhkan oleh penyedia lapangan
kerja dianggap merupakan salah satu kendala utama yang ditemui di
lapangan.

Masalah yang mengemuka dari data BPS adalah kurangnya sertifikasi
keterampilan yang relevan pada lulusan sehingga sesuai (link and match)
dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan minimnya pembekalan yang
menjurus pada sertifikasi keterampilan tertentu, status lulusan politeknik

152 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

masuk dalam kategori siap latih dan bukan siap kerja. Pada tataran ini,
lulusan politeknik kalah bersaing dari lulusan universitas di dunia kerja.
Sertifikasi keterampilan yang sudah berjalan melalui program yang sudah
ada juga perlu terus diperbaiki ketajamannya agar dapat sesuai dengan
kebutuhan dunia industri dan dunia usaha.

Menurut Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif INDEF, tingginya tingkat
pengangguran pada lulusan vokasi dapat disebabkan oleh kesenjangan
antara harapan pencari kerja dan tawaran pekerjaan yang tersedia di pasar.
Ekspektasi pencari kerja yang membatasi diri hanya ingin mendapatkan
pekerjaan pada sektor formal menjadi kontra produktif mengingat dunia
kerja pada sektor formal relatif mengalami stagnansi seiring dengan
melemahnya perekonomian dunia. Sektor yang masih cukup tumbuh adalah
lapangan kerja pada sektor informal. Saat angkatan kerja tidak mengambil
kesempatan pekerjaan pada sektor informal, terjadilah kenaikan tingkat
pengangguran.

Sebagai pemasok pekerja terampil, pihak politeknik maupun sekolah
vokasi perlu secara sistemik mengubah mindset lulusannya bahwa pekerjaan
identik dengan sektor formal. Politeknik perlu memberikan pengakuan
pada lulusannnya yang bekerja pada sektor informal, bahkan menjadi
entrepreneur. Pengakuan yang tidak sekedar basa-basi.

Hal lain yang sempat mengemuka adalah ketidaksesuaian keterampilan
yang dipasok dengan sektor industri yang siap menerima tenaga kerja. Data
dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017 mencontohkan
bagaimana pemasokan SDM vokasi di sektor bisnis dan manajemen jauh
melampaui permintaan yang ada. Suplai SDM terampil di bidang bisnis
dan manajemen mencapai 300.000 lulusan, sementara pasar hanya
membutuhkan 120.000 tenaga kerja. Sebaliknya, pada sektor kelautan dan
perikanan, tersedia lebih dari 3,3 juta lapangan kerja, di saat pendidikan
vokasi hanya mampu menyediakan 349.000 tenaga kerja terampil.

B. Audit Teknologi PUT

Dalam melakukan evaluasi dan pembahasan mengenai kualitas dan
relevansi kapasitas politeknik yang mendapat bantuan dari PEDP,
pendekatan yang digunakan adalah audit teknologi. Pendekatan audit
teknologi menindaklanjuti pendekatan Tingkat Kesiapan Teknologi
(Technology Readiness Level) yang menjadi dasar pengambilan kebijakan
PEDP sebelumnya. Beberapa aspek lain terkait dengan pihak luar dibahas.

Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT 153

Aspek-aspek yang dibahas dalam kunjungan kelima politeknik adalah:
1. Kompetensi Teknologi

Kompetensi teknologi adalah pengetahuan, keterampilan, dan
sikap yang dimiliki oleh individu untuk menyelesaikan latihan,
praktik-praktik yang diperlukan di bidang teknologi tertentu untuk
keberhasilan pencapaian bisnis, pekerjaan, atau tugas. Faktor-faktor
yangberpengaruh dalam pemebentukan kompetensi teknologi adalah
sebagai berikut.

a. Fokus:
Pilihan Jenis Teknologi terdefinisi, mengerucut menuju ke area
teknologi yang unik, terbentuknya program studi baru sebagai
hasil dari kerja sama yang dilakukan dengan dunia kerja.

b. Peralatan:
Peralatan yang tersedia dapat efektif digunakan, berkualitas,
relevan, terpakai, dan terawat.

c. Sumber Daya Manusia:
Dosen dan teknisi mampu mengoperasikan peralatan, mahasiswa
dididik kompeten, alumni diterima oleh industri, dan volume
kerjasama yang tinggi dengan industri.

d. Konvergensi Teknologi:
Ada kerjasama antar prodi, menghasilkan ide interdisplin, mewujud
dalam produk atau jasa, dan diminati pasar.

e. Budaya Kerja:
Aspek K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) diperhatikan,
Kesehatan dan keselamatan kerja adalah bidang yang
terkait dengan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan
manusia yang bekerja di sebuah institusi, proyek, maupun
lokasi pekerjaan.

Aspek 5S diperhatikan,
Program  5S  merupakan adopsi dari sistem manufaktur
Jepang sebagai suatu gerakan kebulatan tekad untuk
mengadakan pemilahan (seiri), penataan (seiton),

154 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

pembersihan (seiso), penjagaan kondisi yang mantap
(seiketsu), dan penyadaran diri akan kebiasaan yang
diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik
(shitsuke)
Logbook tersedia,
Pencatatan setiap proses dalam pekerjaan perlu
dilakukan, karena dari catatan praktik kerja akan
banyak hal dapat diungkap. Catatan praktik kerja
yang lengkap akan membantu mahasiswa dalam
mendeskripsikan apa yang terjadi selama praktik kerja.
Dari catatan praktik kerja mahasiswa dapat membahas
danberkonsultasidengandosenmaupunteknisimengenai
masalah yang timbul dan memberikan solusi yang tepat.
Manfaat buku catatan kegiatan praktik kerja (log book)
antara lain:
i. Sebagai bahan pembuatan laporan kegiatan;
ii. Sebagai alat untuk memudahkan penilaian, serta

pemantauan, dan evaluasi oleh dosen maupun
teknisi;
iii. Sebagai instrumen kendali untuk memperlancar
kegiatan praktik kerja supaya sesuai dengan jadwal
yang telah direncanakan.
Hal-hal yang perlu dicatat dalam catatan praktik kerja
antara lain:
i. Hari, tanggal;
ii. Nama kegiatan;
iii. Tujuan kegiatan;
iv. Uraian kegiatan (menggambarkan urutan kegiatan
harian atau mingguan, berupa desain eksperimen
serta analisa yang dilakukan, berikut penggunaan-
penggunaan waktu, orang, bahan, alat dan mesin,
dan lain-lain);
v. Hasil yang diperoleh (harian atau mingguan;
vi. Hambatan yang dialami, jika ada;
vii. Kesimpulan dan saran;
viii. Rencana kegiatan selanjutnya (sesuai kesimpulan
dan proposal);

Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT 155

ix. Dokumentasi berupa gambar atau foto dapat
ditempelkan tepat di balik lembar kegiatan yang
diisi; dan

x. Tanda tangan mahasiswa di dalam Buku Catatan
Praktik kerja dilakukan setelah selesai suatu
aktivitas/kegiatan.

2. Kemampuan Memberikan Solusi bagi Dunia Usaha dan Dunia Industri
Solusi bagi permasalahan industri adalah hasil dari proses sistematis
yang menggunakan kemampuan berpikir kritis untuk menyelesaikan
permasalahan industry dengan cara mempertanyakan asumsi, berpikir
menyamping (lateral), diskusi sumbang sarang (brainstroming), dan
metode lain yang relevan.
a. Inovasi:
Memberikan solusi teknis, solusi lateral, peningkatan kualitas,
produktivitas, efisiensi, waktu pengerjaan, dan fleksibilitas.

b. Inkubator Bisnis: Memiliki inkubator bisnis, yang melibatkan
dosen, mahasiswa, alumni, investor/perbankan, dan melakukan
proses sistematis pembentukan perusahaan startup dalam
rentang waktu tertentu.

c. Workshop: Penggunaan workshop sebagai inti dari pendidikan
terapan, mensinergikan peralatan dan SDM yang baik, mahasiswa
dihadapkan dengan kasus riil yang ada di industri, sehingga dapat
memberikan solusi terapan sesuai kebutuhan industri.

d. Konsultansi: Melibatkan dosen dan mahasiswa dalam
memecahkan permasalahan industri, secara terintegrasi
dengan pemakaian peralatan politeknik, yang dilakukan dengan
menggunakan mekanisme kelembagaan, dan menghasilkan PNBP
bagi politeknik.

3. Alih Teknologi
Alih teknologi adalah pemindahan pengetahuan melekat (tacit
knowledge) yang bersifat terapan dari pencipta ke pengguna, atau
dari pengguna n ke pengguna n+1. Alih teknologi umumnya terjadi
dari pihak yang lebih maju ke pihak yang masih berkembang. Karena
sifatnya yang tacit (melekat di pikiran individu) proses alih teknologi

156 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

umumnya sangat terkait dengan pendekatan antara individu yang
memegang posisi kunci. Beberapa faktor yang terkait dengan alih
teknologi adalah seperti di bawah ini.
a. Pelatihan: Studi banding, pelatihan ilmiah, terapan ilmu,

pengenalan produk, workshop penggunaan peralatan, dan
Pelatihan ToT.
b. Permagangan: Keberadaan tempat magang industri yang dapat
menjadi tempat belajar, relevan, bahkan meminta jatah mahasiswa
magang.
c. Kemitraan: Memiliki mitra industri yang dapat membawa
tantangan/masalah riil, relevan, mampu diberikan solusi, dan dari
sisi jumlah relatif cukup, bahkan terus berkembang.
d. Manajemen HaKI: Memiliki sistem kerjasama dengan pihak luar,
penetapan pembagian HaKI, jumlah HaKI, dan trend HaKI yang
terus berkembang.
e. Sertifikasi: Telah melakukan sertifikasi bagi mahasiswa, memiliki
LSP, asesor kompetensi, TUK, LDP, dan skema sertifikasi.

4. Kanal Teknologi
Kanal teknologi adalah jalur untuk menerima maupun menyebarkan
teknologi sehingga memungkinkan terjadinya proses alih teknologi.
Kanal dapat berupa individu, organisasi, komunitas ataupun platform
teknologi lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan
kanal teknologi adalah seperti di bawah ini.

a. Alumni: Memiliki instrumen berkomunikasi dengan alumni
(organisasi), event berkala, proyek kerjasama, dan bursa kerja
dengan alumni.

b. Pemasok atau Vendor: Diberi kepercayaan untuk mendapatkan
pelatihan ToT, melakukan sertifikasi, event berkala, proyek
kerjasama, dan , bursa kerja dengan supplier.

c. Komunitas: Memiliki komunitas teknologi, ruang yang disediakan
untuk komunitas, support dana untuk komunitas, melibatkan
calon investor/perbankan, dan inisiasi start-up.

d. Pengguna Industri: Industri sebagai penampung lapangan kerja,
tempat magang, kerjasama, pengujian produk, pembuatan
prototype, rujukan desain, dan rujukan riset industri.

Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT 157

e. Politeknik atau Otoritas Teknologi lainnya: Pertukaran SDM
dosen, bantuan teknis, forum dosen, hubungan kerjasama riset,
dan hubungan kerjasama proyek dengan politeknik lain.

5. Technology Positioning
Strategi manajemen teknologi yang bertujuan untuk mengukuhkan
kapasitas teknologi pada posisi yang unik untuk menciptakan ceruk
pasar, daya saing, dan kredibilitas jangka panjang.

Faktor-faktor yang mendukung technology positioning adalah
seperti di bawah ini.

a. Pasar: Memiliki segmen konsumen, value proposition yang jelas,
memiliki jalur komunikasi dengan konsumen, memiliki cara
memelihara konsumen, dan memperhatikan arus kas masuk.

b. Produk atau Jasa: Melakukan aktivitas jasa/pembuatan model,
prototype, desain, dan riset produk/jasa.

c. Daya Saing: Solusi terapan sesuai kebutuhan industri memuaskan
industri, terjadi repeat order, membentuk keunggulan politeknik,
positive feedback dan merangsang kasus industri untuk selalu
diselesaikan di kampus, sehingga membentuk kompetensi
teknologi pada PUT.

d. Keberlanjutan: Kasus-kasus solusi terapan dikompilasi dalam
sistem manajemen pengetahuan bukan lagi pada tingkat individu
dosen, tetapi pada tingkat lembaga, dan menghasilkan dana
masuk yang cukup untuk digunakan dalam operasional politeknik,
serta disistemkan dalam bentuk otonomi.

Kunjungan menggunakan metode sampling terstratifikasi berdasarkan
arahan dari para tenaga ahli di Project Management Unit (PMU) PEDP.
Lima politeknik yang menjadi subjek dalam pembahasan ini adalah Polman
Bandung (Politeknik Negeri Manufaktur Bandung), Polban (Politeknik
Negeri Bandung), PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya), PPNS
(Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya), dan Polnep (Politeknik Negeri
Pontianak). Wawancara yang dilakukan membahas kelima aspek yang
telah disebutkan di atas.

158

Tabel 8.1 Deskriptor Kompetensi Teknologi PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

NO FAKTOR 1 2 3 4 5
1 FOKUS
Pilihan Jenis Teknologi Pilihan Jenis Teknologi Pilihan Jenis Teknologi Pilihan Jenis Teknologi Pilihan Jenis Teknologi terdefinisi,
tidak terdefinisi terdefinisi terdefinisi dan mengerucut terdefinisi, mengerucut, dan mengerucut, program studi baru , dan

program studi baru diminati pasar

2 PERALATAN Tidak memiliki peralatan Peralatan yang tersedia Peralatan yang tersedia, Peralatan yang tersedia, relevan, Peralatan yang tersedia, berkualitas,
relevan
relevan dan berkualitas berkualitas, dan terpakai relevan, terpakai, dan terawat

Dosen dan teknisi tidak Dosen dan teknisi mampu Dosen dan teknisi mampu Dosen dan teknisi mampu
mampu mengoperasikan mengoperasikan peralatan, mengoperasikan peralatan, mahasiswa
3 SDM Dosen dan teknisi mampu mengoperasikan peralatan, mahasiswa dididik kompeten, dididik kompeten, alumni diterima oleh
peralatan dan alumni diterima oleh industri, dan volume kerjasama yang
mengoperasikan peralatan mahasiswa dididik
industri tinggi dengan industri
kompeten

Tidak ada kerjasama antar Ada kerjasama antar prodi, Ada kerjasama antar prodi, Ada kerjasama antar prodi, menghasilkan
prodi
4 KERJASAMA PRODI Ada kerjasama antar prodi menghasilkan ide menghasilkan ide interdisplin, ide interdisplin, mewujud dalam produk

interdisplin mewujud dalam produk atau jasa atau jasa, diminati pasar

5 SIKAP KERJA Tidak mendidik sikap kerja Aspek K3 diperhatikan Aspek K3 diperhatikan, Aspek K3 diperhatikan, Aspek 5S Aspek K3 diperhatikan, Aspek 5S
Aspek 5S diperhatikan diperhatikan, Logbook tersedia diperhatikan, Logbook tersedia,

Pengawasan dilakukan

Tabel 8.2 Deskriptor Solusi bagi Dunia Usaha dan Dunia Industri

NO FAKTOR 1 23 4 5
1 INOVASI Tidak memberikan solusi Memberikan solusi teknis, peningkatan
2 INKUBATOR BISNIS Memberikan solusi teknis, Memberikan solusi teknis, kualitas, produktivitas, efisiensi, waktu Memberikan solusi teknis, peningkatan
teknis. peningkatan kualitas, peningkatan kualitas, kualitas, produktivitas, efisiensi, waktu
3 WORKSHOP pengerjaan, fleksibilitas. pengerjaan, fleksibilitas, dan inovasi.
Tidak memiliki inkubator produktivitas, dan efisiensi. produktivitas, efisiensi, waktu
4 KONSULTANSI bisnis. pengerjaan. Memiliki inkubator bisnis, yang Memiliki inkubator bisnis, yang melibatkan
melibatkan dosen, mahasiswa, alumni, dosen, mahasiswa, alumni,
Memiliki inkubator bisnis, Memiliki inkubator bisnis, yang
investor/perbankan. investor/perbankan, dan melakukan proses
yang melibatkan dosen, melibatkan dosen, mahasiswa, sistematis pembentukan perusahaan startup

mahasiswa. alumni. dalam rentang waktu tertentu.

Tidak memiliki workshop. Penggunaan workshop Penggunaan workshop sebagai Penggunaan workshop sebagai inti dari Penggunaan workshop sebagai inti dari
sebagai inti dari pendidikan inti dari pendidikan terapan , pendidikan terapan , mensinergikan pendidikan terapan, mensinergikan
mensinergikan peralatan dan
terapan. peralatan dan SDM yang baik, mahasiswa peralatan dan SDM yang baik, mahasiswa
SDM yang baik. dihadapkan dengan kasus riil yang ada di dihadapkan dengan kasus riil yang ada di
industri, sehingga dapat memberikan solusi
industri.
terapan sesuai kebutuhan industri.

Tidak melakukan jasa Melibatkan dosen dan Melibatkan dosen dan Melibatkan dosen dan mahasiswa dalam Melibatkan dosen dan mahasiswa dalam
konsultansi bagi industri. mahasiswa dalam mahasiswa dalam memecahkan memecahkan permasalahan industri, memecahkan permasalahan industri, secara
memecahkan permasalahan industri, secara secara terintegrasi dengan pemakaian
terintegrasi dengan pemakaian peralatan politeknik, yang dilakukan terintegrasi dengan pemakaian peralatan
permasalahan industri. dengan menggunakan mekanisme politeknik, yang dilakukan dengan
peralatan politeknik. kelembagaan.
menggunakan mekanisme kelembagaan, dan Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT
menghasilkan PNBP bagi politeknik.

159

160

Tabel 8.3 Deskriptor Alih Teknologi PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

NO FAKTOR 1 2 3 4 5
1 PELATIHAN
Studi banding dan Studi banding, pelatihan Studi banding, pelatihan Studi banding, pelatihan ilmiah, Studi banding, pelatihan ilmiah, terapan
pelatihan ilmiah. ilmiah, dan terapan ilmu. ilmiah, terapan ilmu, dan terapan ilmu, pengenalan produk, ilmu, pengenalan produk, workshop

pengenalan produk. dan workshop penggunaan penggunaan peralatan, dan Pelatihan ToT
peralatan.

Kesulitan mencari tempat Keberadaan tempat Keberadaan tempat Keberadaan tempat magang industri Keberadaan tempat magang industri yang
magang industri bagi yang dapat menjadi tempat belajar dapat menjadi tempat belajar, relevan,
2 PERMAGANGAN mahasiswa. magang industri yang dapat magang industri yang dapat dan relevan dengan bidang keahlian bahkan meminta jatah mahasiswa magang.
3 KEMITRAAN
4 HaKI menjadi tempat belajar menjadi tempat belajar mahasiswa
5 SERTIFIKASI
mahasiswa mahasiswa

Tidak memiliki mitra Memiliki mitra industri Memiliki mitra industri Memiliki mitra industri yang dapat Memiliki mitra industri yang dapat
industri yang dapat membawa yang dapat membawa membawa tantangan/masalah riil, membawa tantangan/masalah riil, relevan,
tantangan/masalah riil, dan tantangan/masalah riil, relevan, mampu diberikan solusi. mampu diberikan solusi, dan dari sisi jumlah
relevan, dan mampu relatif cukup, bahkan terus berkembang.
relevan.
diberikan solusi.

Tidak memiliki sistem Memiliki sistem kerjasama Memiliki sistem kerjasama Memiliki sistem kerjasama dengan Memiliki sistem kerjasama dengan pihak
kerjasama dengan pihak dengan pihak luar. dengan pihak luar dan
penetapan pembagian pihak luar, penetapan pembagian luar, penetapan pembagian HaKI, jumlah
luar. HaKI.
HaKI, dan sejumlah HaKI. HaKI, dan trend HaKI yang terus berkembang.

Telah melakukan sertifikasi Telah melakukan sertifikasi bagi Telah melakukan sertifikasi bagi mahasiswa,
mahasiswa, memiliki LSP, asesor memiliki LSP, asesor kompetensi, TUK, LDP,
Tidak melakukan sertifikasi Telah melakukan sertifikasi bagi mahasiswa, memiliki
kompetensi, TUK, dan LDP. dan skema sertifikasi.
bagi mahasiswa. bagi mahasiswa. LSP, dan asesor

kompetensi.

Tabel 8.4 Deskriptor Kanal Teknologi

NO FAKTOR 12 3 4 5
1 ALUMNI
Tidak memiliki instrumen Memiliki instrumen Memiliki instrumen Memiliki instrumen berkomunikasi Memiliki instrumen berkomunikasi
berkomunikasi dengan berkomunikasi dengan berkomunikasi dengan dengan alumni (organisasi), event dengan alumni (organisasi), event
alumni (organisasi) alumni (organisasi), dan berkala, proyek kerjasama, dan bursa
alumni (organisasi) event berkala dengan berkala, dan proyek kerjasama
dengan alumni. kerja dengan alumni.
alumni.

2 SUPPLIER/VENDOR Tidak memiliki hubungan Diberi kepercayaan untuk Diberi kepercayaan untuk Diberi kepercayaan untuk Diberi kepercayaan untuk mendapatkan
kerjasama dengan supplier. mendapatkan pelatihan mendapatkan pelatihan mendapatkan pelatihan ToT, pelatihan ToT, melakukan sertifikasi,
ToT, melakukan sertifikasi ToT, melakukan sertifikasi, melakukan sertifikasi, event berkala, event berkala, proyek kerjasama, dan ,
dan event berkala dengan dan proyek kerjasama dengan bursa kerja dengan supplier .
oleh supplier .
supplier . supplier .

3 KOMUNITAS Tidak memiliki komunitas Memiliki komunitas Memiliki komunitas Memiliki komunitas teknologi, ruang Memiliki komunitas teknologi, ruang
teknologi. teknologi dan ruang yang teknologi, ruang yang yang disediakan untuk komunitas, yang disediakan untuk komunitas,
support dana untuk komunitas, dan support dana untuk komunitas,
disediakan untuk disediakan untuk
komunitas. komunitas, dan support melibatkan calon investor/perbankan. melibatkan calon investor/perbankan,
dana untuk komunitas. dan inisiasi startup.

4 CUSTOMER (INDUSTRI) Tidak memiliki kerjasama Industri sebagai Industri sebagai Industri sebagai penampung lapangan Industri sebagai penampung lapangan Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT
dengan industri. penampung lapangan kerja, penampung lapangan kerja, kerja, tempat magang, kerjasama, kerja, tempat magang, kerjasama,
pengujian produk, pembuatan pengujian produk, pembuatan
tempat magang, dan tempat magang, dan prototype, dan rujukan desain
kerjasama industri. kerjasama, pengujian industri. prototype, rujukan desain, dan rujukan
riset industri.
produk industri.

5 POLITEKNIK/OTORITAS Tidak memiliki kerjasama Pertukaran SDM dosen Pertukaran SDM dosen, Pertukaran SDM dosen, bantuan Pertukaran SDM dosen, bantuan teknis,
TEKNOLOGI LAIN dengan politeknik lain. dengan politeknik lain. bantuan teknis, dan forum teknis, forum dosen, dan hubungan forum dosen, hubungan kerjasama riset,
dosen dengan politeknik kerjasama riset, dengan politeknik dan hubungan kerjasama proyek dengan

lain. lain. politeknik lain.

161

162

Tabel 8.5 Deskriptor Positioning Teknologi PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

NO FAKTOR 1 2 34 5
1 PASAR
Tidak memiliki segmen Memiliki segmen Memiliki segmen konsumen, Memiliki segmen konsumen, value Memiliki segmen konsumen, value
konsumen, value konsumen, value value proposition yang jelas, proposition yang jelas, memiliki jalur proposition yang jelas, memiliki jalur
proposition yang jelas.
proposition tidakjelas. memiliki jalur komunikasi komunikasi dengan konsumen, komunikasi dengan konsumen,
dengan konsumen. memiliki cara memelihara konsumen. memiliki cara memelihara konsumen,
dan memperhatikan arus kas masuk.

2 PRODUK / JASA Tidak menawarkan Melakukan aktivitas Melakukan aktivitas jasa/ Melakukan aktivitas jasa/pembuatan Melakukan aktivitas jasa/pembuatan
3 DAYA SAING jasa/aktivitas pembuatan jasa/pembuatan model pembuatan model dan model, prototype, dan desain produk. model, prototype, desain, dan riset
4 KEBERLANJUTAN prototype produk.
produk. produk. produk.

Tidak memiliki keunggulan Solusi terapan bersifat Solusi terapan sesuai Solusi terapan sesuai kebutuhan Solusi terapan sesuai kebutuhan
teknis dibandingkan khusus dan unggul kebutuhan industri industri memuaskan industri, terjadi industri memuaskan industri, terjadi
politeknik lain. memuaskan industri, terjadi repeat order, membentuk keunggulan repeat order, membentuk keunggulan
dibandingkan politeknik repeat order, dan membentuk
lain. keunggulan politeknik. politeknik, dan menjadi positive politeknik, positive feedback dan
feedback dan merangsang kasus merangsang kasus industri untuk selalu
industri untuk selalu diselesaikan di
diselesaikan di kampus, sehingga
kampus. membentuk kompetensi teknologi

pada PUT.

Tidak pernah Kasus-kasus solusi terapan Kasus-kasus solusi terapan Kasus-kasus solusi terapan Kasus-kasus solusi terapan dikompilasi
menyelesaikan masalah dikoordinir oleh dosen, dikompilasi dalam sistem dikompilasi dalam sistem manajemen dalam sistem manajemen pengetahuan
menjadi keahlian manajemen pengetahuan pengetahuan bukan lagi pada tingkat bukan lagi pada tingkat individu dosen,
terapan di industri.
individual, serta memberi bukan lagi pada tingkat individu dosen, tetapi pada tingkat tetapi pada tingkat lembaga, dan
benefit finansial secara individu dosen, tetapi pada lembaga, dan menghasilkan dana menghasilkan dana masuk yang cukup
individual. tingkat lembaga, dan dibiayai masuk yang cukup untuk digunakan untuk digunakan dalam operasional
politeknik, serta disistemkan dalam
secara sharing dengan dalam operasional politeknik.
industri. bentuk otonomi.

Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT 163

a. Kompetensi Teknologi Utamanya Dibentuk Melalui Fokus

Teknologi
Fokus teknologi merupakan faktor utama dalam kemunculan
kompetensi teknologi dalam lembaga pendidikan vokasi. Strategi
lembaga dan leadership ikut menentukan fokus teknologi.
Leadership menentukan tingkat dan jejaring lobby yang dapat
dilakukan oleh figur pemimpin, sehingga dapat menarik
pembiayaan dan kerjasama dengan pihak luar. Faktor fokus
didukung berturut-turut oleh faktor peralatan dan SDM yang
secara sinergi menguatkan fokus yang telah ditetapkan.

FAKTOR KOMPETENSI
TEKNOLOGI
FOKUS TEKNOLOGI
PERALATAN 4,6
SDM 4,4
KERJASAMA PRODI 4
SIKAP KERJA 3,8
3,8

Gambar 8.3 Faktor-Faktor Kompetensi Teknologi

PUT Polnep berfokus pada bidang perikanan. Strategi yang
dipilih PUT di Polnep adalah dengan melakukan investasi pada
alat-alat berteknologi tercanggih untuk mendukung riset dalam
teknologi penerapan secara jangka panjang. Tentu strategi Polnep

164 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

tersebut memiliki risiko tinggi karena hasil nyata tidak dapat
dilihat secara cepat, namun baru akan terlihat setelah beberapa
tahun. Risiko lain adalah pengoperasian dan perawatan alat yang
tidak mudah untuk dilakukan. Cara Polnep ini sebenarnya sangat
positif karena keberadaan alat canggih dan langka yang dimilikinya
mampu menarik berbagai pihak, termasuk dunia industri untuk
datang dan ingin bekerja sama memanfaatkan peralatan yang
dimiliki PUT. Hal ini memaksa PUT untuk mempercepat proses
pembangunan kompetensi pengoperasian dan pemanfaatan
alat canggih yang dimiliki. Saat kompetensi tersebut berhasil
dicapai, pengembangan PUT diharapkan akan terakselerasi secara
signifikan.

Pilihan strategi pengembangan PUT Polnep melibatkan
pemilihan investasi alat yang canggih dan langka sehingga diadopsi
secara hati-hati. Pola seperti ini umumnya berisiko, karena harus
memperhitungkan kesiapan aspek SDM, pasokan bahan habis
pakai, pengoperasian, dan pemeliharaan peralatan agar PUT
dapat mengoperasikan dan memanfaatkannya secara optimal. Jika
kesiapan itu ada, pola Polnep ini bisa menjadi lompatan nyata bagi
kontribusi Politeknik terhadap pembangunan daerah sekitarnya.

b. Problem Dunia Kerja
Pendekatan perorangan (personal approach) ternyata merupakan
pintu masuk utama masuknya problem dunia kerja untuk dapat
dicarikan solusinya oleh politeknik. Perjalanan dosen politeknik
yang menjadi konsultan di luar dengan memanfaatkan keahliannya
secara individual, ternyata merupakan promosi untuk terjadinya
kerjasama dengan pihak dunia kerja. Pada salah satu politeknik,
berbagai pekerjaan yang masuk ke PUT berasal dari individu dosen
tersebut yang dikenal memiliki jejaring dan lobby luas di luar. Faktor
kepercayaan merupakan aset terpenting dalam kerjasama dengan
industri. Setelah terbentuknya rasa saling percaya, faktor inovasi
dan tingkat pelayanan menjadi faktor pendukung berikutnya,
yang membuat kerjasama yang telah diikat dapat terlaksana
dengan baik.

Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT 165

FAKTOR PROBLEM DUNIA
KERJA
INOVASI 4,2
INKUBATOR BISNIS
WORKSHOP 2,6
KONSULTANSI
4

4,4

Gambar 8.4 Faktor-Faktor Problem Dunia Kerja

c. Alih Teknologi
Dalam proses alih teknologi, dua faktor utama yang dikenali adalah
pelatihan dan sertifikasi. Pelatihan biasanya dimotori oleh pihak
luar yang berkepentingan untuk diadopsinya standar teknologi
tertentu oleh politeknik. Sementara sertifikasi memang merupakan
mekasnisme yang sedang secara sengaja dan sistematis diperkuat
oleh pihak pemerintah dalam meningkatkan kompetensi lulusan
politeknik. Untuk masa mendatang, tampaknya faktor sertifikasi
akan semakin dominan dengan bergeraknya pilar-pilar sertifikasi
di dalam kampus, seperti LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi), TUK
(Tempat Uji Kompetensi), dan politeknik sendiri yang dapat
mengambil posisi sebagai LDP (Lembaga Diklat Profesi). Asesor
kompetensi yang terus bertambah juga akan menjadi penguat
menggelindingnya bola salju sertifikasi, baik untuk skema SKKNI
yang telah ada maupun skema dan SKKNI baru.

166 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

Hal lain yang perlu dimunculkan adalah kendala terkait
permagangan. Beberapa politeknik menemui kesulitan
mendapatkan tempat magang yang relevan dan berkualitas.
Dalam kunjungan ke politeknik, hanya PENS dan Polman Bandung
yang secara eksplisit terbuka mengungkapkan jumlah industri
yang menjadi jejaring PUT mereka, dan memngungkapkan
rasio tempat magang bagi mahasiswanya. PENS bahkan berniat
menggandakan jumlah mitra industrinya dalam beberapa tahun
mendatang.

FAKTOR ALIH TEKNOLOGI
PELATIHAN 4,4
PERMAGANGAN 4
KEMITRAAN 4,2
HaKI 4,4
SERTIFIKASI 4,4

Gambar 8.6 Faktor-Faktor Alih Teknologi

Untuk politeknik lain seperti PPNS ditemui fakta adanya
“footloose” industri, yaitu ketiadaan industri pendukung pada
bidang yang menjadi kompetensi politeknik. Segmen pasar kapal
kecil yang menjadi target PPNS, didominasi oleh galangan rakyat.
Sehingga memagangkan mahasiswa pada industri galangan rakyat
adalah dilema yang perlu dipikirkan pemecahannya. Standar kerja
galangan rakyat yang lebih rendah, justru kemungkinan besar tidak

Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT 167

mampu memberikan manfaat keterampilan dan sikap kerja yang
lebih canggih bagi mahasiswa. Sementara di Polnep, sebagian
besar dari tempat permagangan dan praktik kerja dimiliki oleh
instansi pemerintah. Industri terkait masih sangat terbatas.

d. Alumni sebagai Kanal Utama Masuknya Teknologi
Pembahasan mengenai kanal teknologi, memunculkan faktor
dominan peran alumni yang begitu besar dalam membawa
teknologi baru ke politeknik. Jejaring supplier/vendor, customer,
komunitas, dan kerjasama dengan politeknik lain ternyata
menjadi cabang dari kanal alumni. Karenanya tidak berlebihan
apabila dikatakan bahwa alumni merupakan asset terbesar yang
bersifat eksternal bagi politeknik dalam mengembangkan kanal
teknologinya.

FAKTOR KANAL TEKNOLOGI
ALUMNI 4
SUPPLIER/VENDOR 4
KOMUNITAS 2
CUSTOMER/INDUSTRY 3,8
POLITEKNIK/OTORITAS
TEKNOLOGI LAIN 3,4

Gambar 8.7 Faktor-Faktor Kanal Teknologi

168 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

Beberapa temuan yang didapati dalam kunjungan adalah:
PPNS melakukan kerjasama pembuatan Low Cost Green Ship
dengan alumni. Polban dapat menjadi salah satu authorized
training center dari Software Tekla, yang merupakan salah satu
aplikasi software utama dalam desain teknik sipil, melalui jalur
alumninya yang telah bekerja di perusahaan tersebut. PENS juga
membentuk kemitraan dengan beberapa perusahaan start-up
dalam skema inkubator teknologi dengan menggunakan jejaring
alumni.

e. Technology Positioning
Pertama adalah kasus di PENS. Institusi ini memiliki keunggulan
pada reseach center yang dimilikinya. Pilihan program studi yang
dibuka dan tetap dipertahankan di PENS juga mencerminkan
fokusnya institusi dalam menjaga kompetisi intinya di bidang
elektronika. Dengan pendalaman pada bidang yang menjadi
unggulannya, maka PENS mampu membangun reputasi tinggi
baik di kalangan dunia pendidikan vokasi, maupun di kalangan
dunia industri. PENS juga mampu menanamkan brand awareness
yang tinggi ke masyarakat karena kompetensi tingginya di bida
elektronika. PUT yang dimilikinya didasarkan pada research
center yang telah ada lebih dahulu, sementara research centre ini
dibangun di atas core competence yang telah dibangun sejak awal
berdirinya PENS.
Pelajaran berharga yang didapat dari PENS ini bisa dijadikan
acuan bagi politeknik lainnya. Tidak mudah untuk membangun
reputasi tinggi di kalangan dunia pendidikan vokasi serta dunia
industri. PENS menunjukkan bahwa “setia” pada core competence
merupakan hal krusial untuk membangun politeknik yang hebat,
di mata masyarakat serta juga di mata kalangan industri. Reputasi
tinggi yang dimiliki oleh politeknik sebagai institusi induk akan
berpengaruh positif secara timbal balik terhadap PUT. PENS
menunjukkan bahwa PUT dapat bergerak cepat karena fondasi
kompetensi yang dimiliki PENS sebagai organisasi induk telah
kuat.
Kedua adalah Polman Bandung, politeknik ini telah memiliki
reputasi yang tinggi di bidang manufaktur terapan. Salah satu
kunci suksesnya adalah pada penerapan yang konsisten metode

Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT 169

pembelajaran berbasis industri. Kedekatan Polman Bandung
dengan kalangan dunia industri memungkinkan mereka
untuk membangun suasana belajar yang mirip dengan kedaan
sebenarnya di industri. Kekuatan ini kemudian menjadi dasar
yang kuat bagi PUT yang dikembangkan dengan melibatkan para
dosen, mahasiswa, serta teknisi dari industri. PUT yang dimiliki
Polman Bandung mampu menghasilkan produk dan jasa yang
sesuai harapan pelanggan karena dibangun di atas fondasi model
belajar yang telah berorientasi pada bisnis.

Politeknik lain dapat menjadikan pola ini sebagai acuan
karena PUT yang bisa diterima oleh kalangan industri adalah PUT
yang mampu memberikan produk dan jasa standar industri pula.
Standar tersebut tidak dapat dicapai tanpa kualitas kompetensi
dosen dan mahasiswa yang baik. Namun kualitas tersebut tidak
dapat dimiliki jika tidak ada kerja sama yang erat dengan kalangan
teknisi industri. Polman Bandung mampu membangun skema
yang kuat untuk membangun sinergi tersebut.

FAKTOR TECHNOLOGY
POSITIONING
PASAR
PRODUK/JASA 4
DAYA SAING
KEBERLANJUTAN 3,8

3,4

3,4

Gambar 8.8 Faktor-Faktor Technology Positioning

170 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

Selanjutnya Polban. Perguruan tinggi ini memiliki keunikan
tersendiri dengan fokus pada bidang sipil khususnya konstruksi
jalan. PUT dikembangkan berangkat dari keinginan untuk
memberikan solusi riil bagi Kota Bandung dalam hal desain jalan
yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi kota ini. Kunci
suksesnya adalah kerja sama dengan pihak industri asing dan lokal
untuk alih teknologi yang kemudian dikembangkan lebih lanjut
sesuai kebutuhan masyarakat.

Kemudian, kasus berikut adalah PPNS yang sukses
mengembangkan PUT bidang perkapalan. Keberhasilan PUT
ini sangat berhubungan dengan bidang kerja perkapalan yang
menjadi unggulan PPNS, khususnya galangan kapal yang masih
sangat dibutuhkan keberadaannya di Indonesia. Kebutuhan
masyarakat dan dunia industri sangat tinggi atas produk dan jasa
yang berkenaan dengan teknologi perkapalan karena besarnya
potensi ekonomi maritim Indonesia. Karenanya PUT di PPNS bisa
berkembang lebih cepat dibanding institusi lain. Pengembangan
riset yang dikaitkan dengan materi pembelajaran di PPNS selalu
diarahkan pada kebutuhan riil dunia industri, terutama lokal yang
terdiri dari kalangan UMKM. Ini menjadi kekuatan tersendiri
sehingga PUT tidak pernah sepi pelanggan. PPNS juga memiliki
jaringan alumni yang ikut terlibat aktif memberi kontribusi nyata
ke institusi, baik sebagai bagian dari advisory board maupun
sebagai pengguna jasa PUT.

Pelajaran yang dapat ditarik adalah pada pemilihan bidang
kerja spesifik yang benar-benar dibutuhkan oleh industri. PPNS
menunjukkan bahwa ada banyak sekali keuntungan yang didapat
apabila PUT memilih bidang yang sesuai real demand dari dunia
industri. Penting bagi politeknik lain untuk dapat melakukan
analisis yang tajam dalam memilih bidang yang akan dijadikan
fokus saat mulai mengembangkan PUT.

C. Praktik Terbaik di Polman Bandung dan PENS

Dari berbagai parameter yang digunakan dalam assessment teknologi,
benchmark Pusat Unggulan Teknologi mengerucut pada dua politeknik,
Yaitu Polman Bandung dan PENS. Hampir pada setiap kategori keduanya
unggul.

Bab 8 | Faktor-Faktor Keunggulan PUT 171

Menarik untuk diamati bahwa PENS meraih keunggulannya dengan
memanfaatkan skala ekonomi (economies of scale). Bidang studi yang
dikembangkan sangat fokus, namun pengembangan prodi dilakukan secara
masif. PENS telah melakukan technology deepening dengan membuka
beberapa prodi baru yang berasal dari suara konsumen (voice of customer),
seperti Teknik Elektronika Industri. Tingkat keahlian prodi ini juga telah
diperluas pada tingkatan Diploma 3 dan Diploma 4 yang menunjukkan
telah dikenalinya segmentasi kualifikasi dan keahlian pada bidang tersebut.

Polman Bandung menggunakan keunggulan “senioritas”-nya sebagai
salah satu pemain tertua di dunia pendidikan tinggi vokasi di Indonesia.
Fokusnya tidak bergerak, dan memanfaatkan keunggulan lingkup ekonomi
(economies of scope) di bidang manufaktur. Selain kesamaan, bahwa
keduanya merupakan politeknik pada sektor unggulan manufaktur.
Terdapat beberapa perbedaan mendasar dari cara keduanya memperoleh
keunggulan teknologi.

Polman Bandung relatif memiliki mahasiswa yang sedikit,
merupakan institusi yang matang dari segi pengalaman, dan mapan dari
sisi kelembagaan. Instrumen pengembangan jejaring teknologi yang
dikembangkan Polman Bandung relatif konservatif, seperti kemitraan
industri, sharing sumber daya dalam pembiayaan riset, jasa konsultansi,
jasa prototyping, dan sejenisnya.

Gambar 8.9 Perbandingan Jumlah Mahasiswa Politeknik Sektor Manufaktur

Sebaliknya PENS bergerak sangat agresif dengan mengakomodir
hampir semua instrumen pengembangan jejaring (komunitas, alumni,
supplier, customer, industri, kerjasama antarprodi, konsultansi, inkubator
bisnis, dan lain-lain) dan mempercepatnya dengan pemanfaatan internet

172 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

dan sosial media. Berbagai event dikembangkan, bahkan upaya untuk
menarik minat komunitas dikembangkan dengan penyediaan ruangan
khusus, dukungan sumber daya, dan membuka akses ke kampus secara 24
jam.

Sebaliknya PENS bergerak sangat agresif dengan mengakomodir
hampir semua instrumen pengembangan jejaring (komunitas, alumni,
supplier, customer, industri, kerjasama antarprodi, konsultansi, inkubator
bisnis, dan lain-lain) dan mempercepatnya dengan pemanfaatan internet
dan sosial media. Berbagai event dikembangkan, bahkan upaya untuk
menarik minat komunitas dikembangkan dengan penyediaan ruangan
khusus, dukungan sumber daya, dan membuka akses ke kampus secara 24
jam.

Good practices dari politeknik yang dibahas di laporan ini memiliki
potensi untuk direplikasi ke politeknik lain. Tentu saja tidak ada satu
solusi yang bisa dipakai secara seragam untuk seluruh institusi. Namun
beberapa kasus keberhasilan dapat dijadikan inspirasi dan acuan untuk
mengembangkan strategi yang sesuai dengan kondisi masing-masing
politeknik. Kesimpulan dan rekomendasi dari beberapa pengalaman dari
kunjungan kelima politeknik secara lebih generik disampaikan pada bab
selanjutnya.

BAB 9

MENUJU PUT
MANDIRI & UNGGUL

174 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

Dalam sepuluh tahun terakhir, terjadi trend penurunan kontribusi sektor industri
manufaktur dari kisaran 26-29 persen menjadi 18-20 persen terhadap PDB (Produk
Domestik Bruto). Beberapa pihak menyimpulkan data ini sebagai terjadinya trend
proses deindustrialisasi di Indonesia. Secara multisektor ekonomi Indonesia,
sejak masa orde baru sampai saat ini, telah terjadi penurunan porsi pengeluaran
dan belanja pemerintah dari kisaran 20 persen menjadi 15 persen terhadap PDB.
Data terakhir ini diterjemahkan oleh kebanyakan otoritas pemerintah sebagai
peningkatan partisipasi swasta dalam pembangunan. Namun memperhatikan
fakta terjadinya trend deindustrialisasi, kesimpulan yang didapat bisa jauh dari
optimis.

Selama dasawarsa terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia bergeser
dengan mengandalkan pertumbuhan sektor-sektor tersier seperti sektor jasa
dan investasi. Sektor tersier sebaran usahanya terkonsentrasi di perkotaan
dengan serapan tenaga kerja relatif rendah. Penghela perekonomian yang
mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar adalah sektor industri.
Sektor industri juga memiliki kelebihan lain karena dapat dirancang untuk
dikembangkan dengan sebaran yang lebih terencana sesuai potensi daerah,
sehingga perlu diprioritaskan.

Dalam sejarah perekonomian dunia, belum pernah ada negara yang
mampu melompat dari sektor primer (pertanian) ke sektor tersier (jasa), tanpa
melalui sektor sekunder (industri). Mengingat kompetisi global yang ada, sektor
industri (khususnya industri manufaktur) wajib diperkuat kembali. Idealnya,
pengembangan sektor manufaktur berfokus menuju ke ceruk teknologi
tertentu. Untuk mencapai hal ini, paling tidak ada dua hal mendasar yang harus
tetap diperhatikan: pertama adalah konsistensi kebijakan di bidang industri dan
teknologi manufaktur yang unggul dan fokus; dan kedua penguatan kapasitas
SDM di bidang manufaktur secara terarah dan berkelanjutan. Pengembangan
Pusat Unggulan Teknologi (PUT) di politeknik-politeknik berada dalam koridor
logika kebijakan di atas. Namun pengembangan ini, sebagaimana disebutkan
sebelumnya, menemui constraint keterbatasan dukungan dari APBN, sehingga
harus secara proaktif dicarikan sumber pembiayaan alternatif dari non-
pemerintah.

Pengembangan pembiayaan dari swasta bagi PUT terkendala paradigma
pendidikan vokasi, khususnya politeknik, di Indonesia yang umumnya masih
menganut pola supply-driven, bukan demand-driven yang idealnya dipakai.
Supply-driven vocational education adalah kenyataan yang tak terbantahkan
saat ini di pendidikan vokasi Indonesia. Institusi pendidikan mencetak lulusan
sesuai dengan ketersediaan SDM pendidik yang dimiliki oleh politeknik, bukan

175Bab 9 | Menuju PUT Mandiri & Unggul

berdasarkan kebutuhan pasar. Permasalahan sulitnya institusi pendidikan vokasi
seperi politeknik untuk menerapkan pola demand-driven bermuara pada dua
hal, yaitu (i) inersia yang disebabkan peninggalan struktur masa lalu (SDM,
sarpras, sistem, paradigma, dan lain-lain) yang sangat sulit diubah; serta (ii)
kesulitan mengajak dunia kerja (formal dan non-formal) untuk berdiskusi dan
mendapatkan proyeksi kebutuhan SDM mereka ke depan.

Selain itu, masih kental persepsi mengenai lingkup kebutuhan dunia kerja
adalah hanya pada kebutuhan “tradisional” dari dunia kerja formal, terutama
dari perusahaan swasta dan instansi pemerintah. Padahal di Indonesia justru
sebagian besar “industri” berada dalam kategori non-formal, yaitu industri
rumah tangga, perorangan, ataupun industri rumah/individu berbasis daring.
Ini menjelaskan betapa kompleksnya dunia kerja di Indonesia. Jika politeknik
ingin agar seluruh lulusannya terserap ke dunia kerja, maka keterserapan
haruslah mempertimbangkan semua jenis pekerjaan tersebut, tidak melulu
ke perusahaan yang besar, mapan, dan terdaftar sebagai badan usaha resmi.
Pemahaman ini akan mengerucut kepada bentuk ideal model kerjasama yang
dirasakan menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Politeknik perlu melaksanakan siklus demand identification secara lengkap.
Tahap paling awal adalah dengan melaksanakan identifikasi dan analisis
terhadap kebutuhan SDM di dunia kerja. Tahap ini membutuhkan kemitraan
yang erat dengan kalangan dunia kerja, serta kesediaan (serta kemampuan) para
pihak pengguna lulusan yang ada untuk memprediksi kebutuhan SDM dunia
kerja ke depan, secara kuantitas dan kualitas.

Keutamaan pentingnya pengenalan kebutuhan pasar terkonfirmasi dari
kunjungan ke lima politeknik (Polman Bandung, Polban, PPNS, PENS, dan
Polnep). Dari informasi tentang kebutuhan pasar ini, ditemui pula kenyataan
bahwa beberapa pilihan fokus teknologi yang tampak begitu masuk akal
dari sisi comparative advantage, ternyata tidak memiliki cukup industri yang
menopangnya. Fenomena yang dikenal sebagai footloose industry, struktur
industri tak berkaki. Hal ini terlihat pada PPNS, Polnep, dan kemungkinan besar
pada banyak PUT lain yang belum dikunjungi. Problem ini memunculkan inisiatif
politeknik untuk bergerak lebih agresif mengisi kekosongan ruang berpraktik
dengan membuat simulasi industri di dalam kampus. Modus operandi ini
dikenal dengan berbagai nama, teaching factory, teaching industry, production-
based education, dan mungkin ada istilah lainnya di berbagai politeknik. Model
pengelolaan ini menjadi populer karena sangat bermanfaat bagi para dosen/
laboran serta mahasiswa untuk dapat merasakan hands-on experience, langsung
terlibat dalam dunia kerja nyata meskipun masih di dalam lingkup institusi
pendidikannya sendiri.

176 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

Perjalanan unit usaha atau teaching factory yang telah berjalan selama ini
tentunya tak lepas dari berbagai kendala. Beberapa faktor penyebab diantaranya
adalah pada kekurangsesuaian kompetensi yang dimiliki (SDM, sistem, peralatan,
dan finansial) dengan kebutuhan di pasar. Kemudian faktor penyebab penting
lainnya adalah pada mentalitas SDM dan sistem yang ada di politeknik, mereka
bermental pendidik sementara untuk dapat melebur dengan unit usaha yang
berorientasi keuntungan diperlukan mentalitas bisnis yang sangat berbeda.

Terdapat tiga tujuan utama dari pendirian PUT yaitu: (1) Agar pendidikan
politeknik tetap relevan dengan kebutuhan industri; (2) Lulusan politeknik
memiliki keterampilan, kompetensi dan sikap yang relevan dengan kebutuhan
industri; dan (3) Peluang pendapatan untuk memperbaiki dan mempertahankan
layanan berkualitas dari politeknik. Berdasar tujuan tersebut, akan diuraikan
rekomendasi beberapa praktik terbaik untuk perbaikan dan pengembangan
program PUT sebagai bagian dari pengembangan politeknik secara keseluruhan.
Secara generik, anjuran tentang beberapa langkah dari praktik terbaik yang
disimpulkan dari kunjungan ke lima politeknik, diuraikan di bawah ini.

A. Penguatan Kelembagaan PUT untuk Lebih
Berorientasi Pasar

PUT akan menjadi antarmuka (interface) dengan dengan dunia kerja,
sehingga membutuhkan kelembagaan yang kuat dan fleksibel. Faktor
kelembagaan mencakup dua aspek, yaitu kelembagaan dalam arti
“organisasi”, dan kelembagaan dalam arti “aturan main”.

1. Memperbaiki Sistem Manajemen Organisasi

Dari sisi organisasi, unit antarmuka disarankan untuk memiliki tim dan
sumber daya yang siap berinteraksi dengan dunia kerja. Pendekatan
yang paling mudah dan terukur adalah memperbaiki sistem manajemen
organisasi, dengan mengadopsi sertifikasi sistem manajemen mutu
ISO 9001. Polman Bandung sebagai benchmark PUT di Indonesia telah
tersertifikasi ISO 9001 sejak tahun 2003. Keberadaan sistem mutu
merupakan simbol kesiapan Polman Bandung untuk bekerjasama
dengan dunia usaha.

Selain itu budaya dunia kerja yang sangat berbeda dengan dunia
politeknik, sedikit banyak akan menjadi kendala laten meleburnya
kedua sistem dalam satu proyek jangka pendek. Mentalitas yang

177Bab 9 | Menuju PUT Mandiri & Unggul

terkadang saling berbenturan antara dunia pendidikan dan dunia bisnis
di PUT, hal ini memang akan menjadi kendala laten yang akan terus
ada. Sebagai insan pendidikan yang dituntut bekerja dengan prinsip
nirlaba dan pengabdian, maka akan sulit bagi PUT untuk menuntut
para dosen/laboran untuk mengubah mentalitasnya menjadi seorang
pekerja berorientasi profit.

Faktor lain adalah belum terbiasanya institusi pendidikan vokasi
bekerja dalam sistem ganda pada saat bersamaan: pendidikan dan
bisnis. Perlu pengaturan manajemen dan penyesuaian agar dua sistem
yang berbeda prinsip tersebut dapat jalan berdampingan dalam satu
atap pengelolaan. Perubahan manajemen di tingkat institusi sangat
diperlukan agar dua tujuan yang tampak berseberangan, yaitu
pendidikan dan bisnis, dapat berjalan beriringan.
• Alternatif pertama pemecahan adalah dengan menyerahkan

tugas-tugas yang sepenuhnya membutuhkan mentalitas bisnis
kepada staf yang memiliki karakteristik sesuai. Dilakukan
rekrutmen SDM internal untuk mencari staf, dari staf yang ada,
yang memiliki mentalitas dan kompetensi bisnis kuat untuk posisi
pimpinan, keuangan, dan pemasaran PUT.
• Alternatif kedua adalah dengan memisahkan entitas pendidikan
dan PUT menjadi 2 unit yang terpisah sama sekali. Pendekatan
ini akan berpotensi memunculkan kendala dalam hal alokasi dan
pengaturan sumber daya politeknik, karena seperti kapal yang
memiliki dua nakhoda. Namun, cara ini memiliki kelebihan karena
akan membuat masing-masing unit dapat fokus pada tujuan
masing-masing.
• Alternatif ketiga adalah dengan memberlakukan manajemen satu
atap, di mana seorang Direktur Politeknik dapat membentuk
unit bisnis yang dipimpin seorang CEO setingkat Wakil Direktur.
Direktur akan berperan sebagai Komisaris seperti di perusahaan
komersial, yang hanya bertugas mengawasi Wakil Direkturnya.
Cara ini lebih mudah secara birokrasi karena semuanya berada
dalam satu unit manajemen.

Apapun pendekatannya, pada prinsipnya diperlukan kapasitas
organisasi yang mampu mengintegrasikan semua sumber daya yang
dimiliki politeknik, mulai dari SDM (dosen, teknisi, dan mahasiswa),
sarana prasarana, koneksi, finansial, dan lain-lain untuk dapat

178 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

dimanfaatkan sebagai sarana “berlatih” menjalankan bisnis; dan
pada saat bersamaan bisa mendapat pemasukan tambahan untuk
meningkatkan kualitas institusi.

2. Membentuk Badan Layanan Umum (BLU)

Dari sisi aturan main, bentuk organisasi yang dipilih oleh Polman
Bandung dapat menjadi benchmark bagi politeknik lain yaitu
pembentukan Badan Layanan Umum (BLU). Dari dua puluh satu
PUT yang ada, baru Polman Bandung yang telah bergerak menuju
BLU. BLU merupakan bentuk unit kerja pemerintah yang didesain
untuk memiliki fleksibilitas pengelolaan keuangan. Fleksibilitas ini
merupakan salah satu faktor penting, karena dalam kiprahnya BLU
sangat memerlukan kelincahan bergerak dan kecepatan pengambilan
keputusan dalam menanggapi permasalahan agar mampu memenuhi
kualitas pelayanan yang memuaskan dunia kerja.

Aturan mengenai BLU diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 23 Tahun 2005, tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum, yang diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun
2012. Menurut PP 23 Tahun 2005, definisi BLU adalah “instansi di
lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan
kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang
dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan
kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas”.
Sedangkan yang dimaksud PP tersebut tentang Pola Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU) adalah “pola pengelolaan
keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk
menetapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan
umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari
ketentuan pengelolaan keuangan negara pada umumnya”. Dari kedua
definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa BLU dikehendaki
menjadi entitas bisnis yang sehat, dioperasikan secara efisien/
produktif, dengan tujuan pelayanan kepada masyarakat.

Untuk dapat menjadi BLU, satuan kerja pemerintah, harus
memenuhi persyaratan substantif, persyaratan administratif dan
persyaratan teknis. Persyaratan substantif mensyaratkan bahwa
instansi pemerintah yang bersangkutan menyelenggarakan layanan
umum yang berhubungan dengan:

179Bab 9 | Menuju PUT Mandiri & Unggul

• Penyediaan barang dan/atau jasa layanan umum;
• Pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan

meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum;
dan/atau
• Pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi
dan/atau pelayanan kepada masyarakat.

Persyaratan teknis terpenuhi apabila:
• kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan fungsinya layak

dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya melalui BLU sebagaimana
direkomendasikan oleh menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD
sesuai dengan kewenangannya; dan
• kinerja keuangan satuan kerja instansi yang bersangkutan adalah
sehat sebagaimana ditunjukkan dalam dokumen usulan penetapan
BLU.

Sedangkan persyaratan administratif adalah kelengkapan
dokumen berikut:
• pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan,

keuangan, dan manfaat bagi masyarakat;
• pola tata kelola;
• rencana strategis bisnis;
• laporan keuangan pokok;
• standar pelayanan minimum; dan
• laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit

secara independen.

Dokumen persyaratan administratif di atas disampaikan kepada
menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD untuk mendapatkan
persetujuan sebelum disampaikan kepada Menteri Keuangan atau
pejabat lain, sesuai dengan kewenangannya.

B. Berfokus pada Konvergensi Teknologi

Konvergensi teknologi adalah fenomena dalam pengembangan teknologi
untuk mengintegrasikan beberapa jenis teknologi di bawah satu teknologi
inti atau ekosistem. Fenomena ini semakin dikenali seiring perkembangan
industri telekomunikasi, dengan bergabungnya beragam fungsi produk

180 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

lama menjadi satu produk baru. Contoh yang tak terbantahkan adalah
fungsi kamera, perekam suara, perekam video, telefon, kamus, alarm, arloji,
kalkulator menjadi satu produk yang bernama smartphone.

Apabila dianalisis secara jujur, sebagian besar inovasi teknologi dapat
dikategorikan sebagai konvergensi teknologi. Lihatlah daftar panjang
beberapa proses penemuan produk berikut ini:
1. pertemuan antara sistem mekanis sepeda pancal yang bertemu dengan

sistem motor bakar yang menghasilkan sepeda motor,
2. sistem energi kering yang berpadu dengan teknonologi otomotif

menghasilkan produk mobil listrik;
3. sistem pengukur denyut jantung dan pengukur tekanan darah

(teknologi kesehatan) bergabung dengan sistem telemetri (bidang
teknologi informasi) menghasilkan perangkat wearable kesehatan;
4. teknologi optik (kacamata) diperkaya dengan basis data spasial
menghasilkan kacamata Google Glass;
5. di PENS ditemui inovasi vending machine nasi kotak yang mengawinkan
teknologi pemanasan sederhana untuk membuat makanan tetap
hangat dengan teknologi smart card yang telah diterapkan di kampus
sebagai instrumen bertransaksi di dalam kampus.

Daftar di atas dapat bertambah sangat panjang. Namun ide dasarnya
adalah perlunya politeknik menyambut model inovasi teknologi yang tidak
lagi berorientasi untuk menemukan teknologi baru, tetapi bergabung
dengan disiplin ilmu atau teknologi lainnya untuk mengintegrasikan aplikasi
pemanfaatan baru dari teknologi-teknologi “lama” yang telah ditemukan.

Apakah yang harus dilakukan politeknik untuk dapat menarik manfaat
dari fenomena konvergensi teknologi ini?

Salah satu hal yang menarik untuk dibicarakan adalah keberadaan
prodi Mekatronika. Perlu diketahui bahwa sampai saat ini kata mechatronics
belum terdaftar sebagai kata resmi dalam kamus standar bahasa Inggris
seperti Merriam Webster. Mekatronika juga belum masuk dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia yang menjadi rujukan di tanah air. Artinya ia
merupakan kata baru, disiplin ilmu baru. Mekatronika adalah jurusan yang
ada di dua politeknik yang menjadi benchmark, yaitu PENS dan Polman
Bandung. Hal ini membanggakan, karena bidang mekatronika merupakan
bidang konvergensi teknologi yang sedang berkembang, dan kedua
politeknik di atas telah melembagakannya ke dalam bentuk prodi, yang
menunjukkan disiplin ilmu mekatronika telah memiliki “ekosistem” sendiri
di kedua politeknik tersebut.

181Bab 9 | Menuju PUT Mandiri & Unggul

Buku terkenal “The Black Swan” mengemukakan sebuah saran dan
kesimpulan dari hasil survei perusahaan-perusahaan di Lembah Silikon.
Nassem Nicholas Taleb, pengarang buku itu, menyarankan bahwa karena
rendahnya tingkat keberhasilan produk teknologi, hanya ada dua strategi
dasar yang dapat dilakukan oleh perusahaan start-up teknologi, yaitu: (1)
memasang “jaring” seluas-luasnya untuk terjadinya inovasi baru, dan (2)
segera melakukan scaling up saat inovasi baru tersebut memiliki momentum
untuk tumbuh secara bisnis. Jadi konsep dasarnya adalah membuat
sebanyak-banyaknya kemungkinan inovasi dengan memanfaatkan
berbagai kanal teknologi, dan menangkap peluangnya saat ditengarai
adanya momentum keberhasilan.

Dengan memakai pola pikir di atas, cara yang dapat dilakukan
politeknik untuk meningkatkan konvergensi teknologi adalah memfasilitasi
sebanyak mungkin instrumen-instrumen terjadinya pertemuan pemangku
kepentingan dari berbagai bidang teknologi maupun pengetahuan. PENS
dan Polman Bandung sebagai benchmark memanfaatkan instrumen berupa
inkubator teknologi dan event berkala dengan industri. PENS bahkan
memanfaatkan instrumen komunitas selaku hobbyist yang saat ini sangat
intens dimanfaatkan oleh perusahaan teknologi sebagai sumber ide
inovasinya.

Politeknik lain dapat meniru pola ini dengan mengembangkan
konvergensi teknologi sebagai basis inovasinya. Pola pembentukan prodi,
inkubasi perusahaan start-up, event dengan dunia kerja, dan fasilitasi
komunitas dapat menjadi cara-cara mengundang terjadinya konvergensi
teknologi. Cara lain mungkin dilakukan sesuai dengan kapasitas dan
keunikan politeknik masing-masing.

C. Konsultansi sebagai Pintu Masuk DUDI ke
Kampus

Darimana order dunia usaha masuk ke kampus? Diawali dari kerjasama
tenaga ahli yang “ngobyek” sebagai konsultan di luar jam kerja sebagai
pengajar di politeknik. Umumnya pengajar di politeknik memiliki paparan
yang tinggi dengan dunia kerja, karena proses kerja praktik mahasiswa
yang menempatkan mahasiswa di perusahaan sebagai tenaga magang.
Pihak perusahaan menganggap pengajar lebih memahami persoalan dan
lebih berpengalaman dalam memberikan solusi dibandingkan mahasiswa.
Sehingga hubungan tersebut banyak berlanjut secara personal sebagai

182 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

penasehat teknikal perusahaan. Karena perusahaan tidak membutuhkan
lagi institusi politeknik, yang pada titik ini bahkan dianggap sebagai sumber
biaya perantara (intermediary cost), umumnya kontrak lanjutan dilakukan
dengan pola konsultan individual, tanpa melibatkan pihak kampus. Apabila
di kemudian hari dibutuhkan pemakaian peralatan di politeknik dalam
penyelesaian atau proses pekerjaan, dapat dilakukan dengan metode
sewa, atau justru diikutkan sebagai bagian dari praktikum mahasiswa. Pola
ini merupakan pola yang umum didapati pada lembaga pendidikan dan
lembaga riset di Indonesia.

Pertanyaan mendasarnya adalah, salahkah praktik semacam itu?
Dari sisi prosedural praktik ini banyak dipandang tidak etis. Namun dari
sisi kemanfaatan, pola “ngobyek” para dosen merupakan embrio dari
terbentuknya kepercayaan antara pihak dunia usaha dengan politeknik.
Para konsultan individu adalah “tenaga pemasaran” politeknik yang
berkeliling mencari pasar. Apabila kontrak individual berjalan baik, umumnya
pekerjaan akan berlanjut ke tingkatan yang lebih besar. Pada titik dimana
skala pekerjaan tidak mungkin lagi ditangani pada skala individu, kontrak
akan dilakukan dengan pihak politeknik.

Manfaat tidak langsung lainnya juga terjadi, yaitu kontinuitas
diterimanya praktek kerja mahasiswa di perusahaan, karena hubungan
baik yang telah terbentuk. Perusahaan menyukai hal ini karena terjadi
kesinambungan penyelesaian permasalahan dunia kerja karena pihak dosen
selaku konsultan individual telah familiar dengan akar permasalahan dan
memahami sejarah dan langkah-langkah yang telah dilakukan sebelumnya.
Keunggulan semacam ini disebut sebagai path dependence advantage, yang
menurut banyak literatur ekonomi dipandang sebagai salah satu faktor
dominan dalam keberhasilan pelaksanaan kerjasama bisnis.

Dalam kunjungan di salah satu politeknik, manfaat dari faktor path
dependence advantage di atas terkonfirmasi. Hubungan baik yang telah
terbina sebagai rekan kerja di tempat kerja sebelumnya sebagai konsultan
di berbagai tempat disebutkan sebagai faktor yang sangat membantu
dalam mencari tempat kerja praktek mahasiswa di berbagai lembaga
mitra kerja. Faktor ini, lebih jauh lagi bahkan juga berpengaruh terhadap
masuknya permintaan pelayanan teknologi dari laboratorium yang dimiliki
politeknik tersebut.

183Bab 9 | Menuju PUT Mandiri & Unggul

D. Menjaga Kualitas Sertifikasi

Sertifikasi merupakan jembatan dari tiga domain sumber daya manusia
terampil, yaitu lembaga pendidikan, dunia kerja, dan asosiasi profesi.
Melalui sertifikasi dapat dihasilkan ekivalensi antara kualifikasi dan
kebutuhan yang ada pada masing-masing domain tersebut. Kualifikasi Kerja
Nasional Indonesia (KKNI) merupakan konsep yang baik dan telah terbukti
berjalan efektif di banyak negara. Hampir semua dari lima politeknik yang
dikunjungi mengusung kelembagaan LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi)
sebagai instrumen penjaminan kompetensi lulusannya.

Instrumen LSP akan berjalan dengan baik apabila kompromi-kompromi
untuk memaksakan kelulusan terhadap kualitas SDM yang buruk (belum
kompeten) tidak dilakukan. Mutu harus tetap menjadi panglima, dan
menjadi hal utama yang tidak bisa ditawar. Banyak konsep yang bagus di
atas kertas kurang berhasil menampilkan outcome yang diharapkan karena
kebersungguh-sungguhan dalam menjaga kualitas pekerjaan diabaikan.

Hal krusial yang juga harus diselesaikan saat ini adalah kesepakatan
untuk menentukan kriteria dan standar seorang lulusan dinyatakan
kompeten untuk “terserap” di dunia kerja. Dalam hal ini, perumusan
skema sertifikasi harus dilakukan secara tajam, terukur, dan terlacak
dalam penentuan unit-unit kompetensi yang relevan dalam bentuk skema
kompetensi yang efektif. Tajam bermakna sesuai dengan kebutuhan spesifik
yang ada di dunia kerja, terukur berarti dapat dibuktikannya kompetensi
asesi, serta terlacak menunjukkan kejelasan proses pencapaiannya.

Keterserapan lulusan ini harus menjaring kebutuhan semua bidang
yang menyediakan peluang lapangan kerja, yaitu sebagai pekerja formal,
pekerja non-formal, serta wirausaha (skala besar maupun perorangan).
Jangan sampai terjadi, sebagai contoh, suatu institusi tidak memasukkan
lulusannya yang bekerja sebagai mekanik sepeda motor panggilan yang
bekerja dari rumah, karena pekerjaan ini termasuk jenis pekerja perorangan
yang bersifat non-formal.

Relevansi keterampilan, pengetahuan, dan sikap lulusan kebutuhan
industri harus selalu dikembalikan kepada prinsip demand-driven. Institusi
pendidikan vokasi harus menetapkan terlebih dahulu industri seperti apa
yang yang akan dijadikan pasar bagi lulusannya kelak. Mengacu pada
begitu dinamisnya dunia kerja di Indonesia, maka poin ini bisa menjadi
kompleks. Politeknik idealnya harus mampu menyiapkan lulusannya agar
siap menjadi pekerja di industri formal, serta pada saat bersamaan harus

184 PUT Mandiri & Unggul: Praktik Baik di Lima Politeknik

mampu menyiapkan mereka untuk siap menjadi wirausaha formal dan non-
formal pula. Setiap jenis pekerjaan tersebut memiliki aspek keterampilan,
pengetahuan, dan sikap yang berbeda satu sama lain. Hal ini adalah
tantangan berat karena jam pembelajaran yang tersedia sangat terbatas,
peralatan yang sesuai dengan masing-masing jenis pekerjaan tersebut
berbeda, sehingga pengaturan waktu dan tempat praktik lapangan harus
terkelola dengan baik.

Pengembangan kurikulum di politeknik hendaknya menjamin
kompetensi SDM yang dihasilkan dari proses pendidikan sesuai dengan
curriculum development yang sudah tersedia. Namun permasalahannya
terletak pada kebelumsepakatan tentang jenis pekerjaan apa yang akan
dituju oleh lulusan politeknik kelak setelah lulus. Perlu dilakukan analisis
untuk menentukan kebutuhan riil SDM di wilayah sekitar politeknik berada,
melakukan needs assessment di dunia kerja yang membutuhkan lulusan
politeknik, kemudian menerjemahkannya ke dalam bentuk kurikulum
politeknik.

E. Memperkuat Jejaring dan Sinergi dengan Alumni

Marc Zukcerberg baru saja memulai mengantarkan pidatonya di acara
pelepasan wisudawan tahun 2017 di tengah hujan gerimis di lapangan
utama Universitas Harvard. Tepuk tangan membahana saat si pendiri
Facebook menyampaikan lelucon bagaimana ia “ditendang keluar” dan
akhirnya drop-out dari kampus di pinggiran sungai Charles di kota Boston
tersebut. Drop-out Universitas Harvard ini telah melahirkan jejaring sosial
terbesar di dunia dengan pengguna lebih dari 2 miliar penduduk bumi.

Di kampus-kampus terkemuka dunia, alumni umumnya merupakan
kebanggaan dan menjadi nilai jual universitas. Bahkan seorang drop-out
seperti Mark Zukcerberg dapat diberikan status khusus untuk mendongkrak
gengsi perguruan tinggi sekelas Harvard. Ia diundang menyampaikan
pidato pada acara wisuda, untuk meminta pendengar menjadi saksi
bagaimana ia mencintai kampus Harvard, tentang kebanggaan terbesar
ibunya karena ia pernah diterima di salah satu kampus terbaik di dunia
tersebut, dan bagaimana atmosfir kampus itu telah membuatnya jatuh
cinta dan menemukan pasangan hidupnya.

Di beberapa politeknik yang dikunjungi, ditemui fakta yang senada.
Bahwa alumni merupakan salah satu aset utama lembaga pendidikan. PPNS
memulai beberapa kerja sama produk inovasinya dengan alumni. PENS


Click to View FlipBook Version