The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Model pembelajaran dalam buku ini adalah model pembelajaran osborn. Model ini merupakan model pembelajaran menggunakan teknik brainstorming. Buku ini menyajikan tentang penerapan model pembelajaran
osborn, media pembelajaran yang dapat diselaraskan dengan model pembelajaran osborn, penggunaan
pertanyaan dalam pembelajaran osbon, dan penggunaan media berbasis teknologi dalam pembelajaran osborn.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Lima Aksara Penerbit, 2023-01-13 22:18:44

Model Pembelajaran Osborn dan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi

Model pembelajaran dalam buku ini adalah model pembelajaran osborn. Model ini merupakan model pembelajaran menggunakan teknik brainstorming. Buku ini menyajikan tentang penerapan model pembelajaran
osborn, media pembelajaran yang dapat diselaraskan dengan model pembelajaran osborn, penggunaan
pertanyaan dalam pembelajaran osbon, dan penggunaan media berbasis teknologi dalam pembelajaran osborn.

Keywords: Model Pembelajaran,Osborn,Learning Models,Pembelajaran,Learning

i Model Pembelajaran Osborn dan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Harfin Lanya, S.Pd., M.Pd. Dr. Moh. Zayyadi, M.Pd. Abd. Wahab Syahroni, M.Kom. PENERBIT LIMA AKSARA


ii Judul: Model Pembelajaran Osborn dan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Penulis: Harfin Lanya, S.Pd., M.Pd. Dr. Moh. Zayyadi, M.Pd. Abd. Wahab Syahroni, M.Kom. ISBN Editor: Harfin Lanya, S.Pd., M.Pd. Penyunting: Khusnul Khotimah Ashlihah, S.E, M.M Desain sampul dan tata letak Limax Media Penerbit: Lima Aksara Redaksi: Pratama Residence Blok C23/B19 PlosogenengJombang | 0814-5606-0279 | https://limaaksara.com Distributor tunggal: CV. Lima Aksara | Pratama Residence Kav C23/B19 Plosogeneng-Jombang | 081456060279 Anggota IKAPI No.315/JTI/2021 Cetakan pertama Oktober 2022 Hak cipta dilindungi undang-undang. Plagiasi dipertanggunjawabkan secara utuh oleh penulis. Dilarang memperbanyak isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya dalam bentuk apapun tanpa Izin tertulis dari Penerbit. 978-623-5555-88-1


iii Dalam pembelajaran inovasi menjadi salah satu bentuk dalam mengembangkan hasil belajar siswa. Inovasi dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan pengembangan model pembelajaran. Tentu sudah banyak model pembelajaran yang sudah dikembangkan oleh para peneliti lain yang dalam penerapannya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pengembangan model pembelajaran juga harus selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. Selain itu, juga dapat beradaptasi dengan media yang dapat membantu tujuan dari pengembangan model tersebut. Model pembelajaran dalam buku ini adalah model pembelajaran osborn. Model ini merupakan model pembelajaran menggunakan teknik brainstorming. Buku ini menyajikan tentang penerapan model pembelajaran osborn, media pembelajaran yang dapat diselaraskan dengan model pembelajaran osborn, penggunaan pertanyaan dalam pembelajaran osbon, dan penggunaan media berbasis teknologi dalam pembelajaran osborn. Penulis berharap buku ini dapat memberikan sumbangan pemilikiran, perubahan mindset, dan contoh praktis yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah dan perguruan tinggi. Pamekasan, September 2022 Penulis KATA PENGANTAR


iv Kata Pengantar | Iii Daftar Isi | Iv Implementasi Model Pembelajaran Osborn Berbantuan Aplikasi VBA Microsoft Excel Untuk Meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar Siswa Di Sekolah Berbasis Pesantren | 1 Pengajuan Pertanyaan Sebagai Alat Menumbuh kembangkan Gagasan Pada Model Pembelajaran Osborn | 13 Aplikasi Google Form Dan Quizizz Untuk Pembuatan Kuis Dan Jawaban Secara Otomatis Yang Menyenangkan | 29 Aplikasi Quizizz Pada Pembelajaran Matematika Materi Bilangan Bulat | 85 Implementasi Quizwhizzer Sebagai Media Pembangun Interaktif Siswa Dalam Pembelajaran Matematika | 97 Aplikasi Wordwall Dalam Pembelajaran Matematika Pada Materi Operasi pecahan Dan Splsv | 109 Penerapan Aplikasi Kahoot Dalam Pembelajaran Matematika Pada Materi barisan Dan Deret | 122 DAFTAR ISI


1 IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN OSBORN BERBANTUAN APLIKASI VBA MICROSOFT EXCEL UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA DI SEKOLAH BERBASIS PESANTREN Harfin Lanya, Sisca Dwi A. Pendidikan Matematika, Universitas Madura ------------------------------------------ Abstrak Adanya mata pelajaran umum seperti Matematika di sekolah berbasis pesantren membuat guru harus pintar dalam menciptakan model pembelajaran yang menarik seperti menerapkan model pembelajaran Osborn dengan media ICT VBA Microsoft Excel. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah deskriptif-analitis dan data diperoleh dari beberapa kajian literatur. Dari kajiankajian ini, diperoleh hasil bahwa pembelajaran Osborn dapat meningkatkan kemampuan matematis dan hasil belajar siswa, serta media ICT VBA Microsoft Excel dapat membuat minat, kemampuan generalisasi, penguasaan konsep, dan hasil belajar siswa menjadi meningkat. Dengan demikian, pembelajaran Osborn dengan media VBA Microsoft Excel dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa di sekolah berbasis pesantren. Kata kunci: VBA Microsoft Excel, Model Pembelajaran Osborn, Sekolah Berbasis Pesantren 1.1 Pendahuluan Menurut Dimayanti & Mudjiono (dalam Oktaviani & Dewi, 2020), motivasi merupakan unsur penting dalam belajar karena berfungsi: menyadarkan siswa akan


2 pentingnya belajar, membuat semangat siswa meningkat, dan memberikan informasi yang menambah pengetahuan. Menurut Yusuf (dalam dalam Oktaviani & Dewi, 2020), salah satu faktor yang empengaruhi motivasi adalah faktor eksternal seperti guru, teman, orangtua, lingkungan, sekolah, sarana dan prasarana, mencakup metode/media pembelajaran yang dipakai. Oleh sebab itu, guru harusnya membuat suatu inovasi dalam pembelajaran yang membuat siswa lebih termotivasi untuk belajar sehingga meningkatkan hasil belajarnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran Osborn. Model pembelajaran Osborn merupakan model pembelajaran yang menggunakan teknik brainstorming, dimana teknik ini diperkenalkan oleh Alex F. Osborn. Model ini bisa digunakan di pembelajaran Matematika karena dapat meningkatkan kemampuan matematis siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nurafifah dkk (2016), respon siswa terhadap pembelajaran Osborn ini adalah positif dan kemampuan matematis siswa juga lebih baik daripada saat diterapkan pembelajaran konvensional. Model pembelajaran ini, dapat diterapkan bersama dengan media ICT (Information Comunication technology). Seperti yang kita ketahui, bahwa perkembangan teknologi semakin pesat dan penggunaan media ICT di sekolah-sekolah sudah marak dilakukan. Menurut Hikmah (2020:43), penggunaan media ICT membuat siswa lebih mudah mencari informasi yang diperlukan dalam pembelajaran dan diharapkan mampu membuat pembelajaran lebih kreatif dan kompetitif. Salah satu contoh media ICT yang dapat digunakan dalam pembelajaran Matematika adalah VBA Microsoft Excel. Menurut Bernard & Senjayawati (dalam Oktaviani & Dewi, 2020), media ini


3 membantu guru membuat alat peraga yang praktis, efisien, dan membantu guru memberikan gambar interaktif berkaitan dengan materi Matematika di sekolah. Penerapan model pembelajaran Osborn dengan media VBA Microsoft Excel ini dapat diterapkan di sekolah berbasis pesantren. Menurut Fachrudin (2021:93), sekolah berbasis pesantren merupakan gabungan sistem pesantren dan sistem sekolah. Hal ini berarti, di sekolah ini tidak hanya diajarkan ilmu agama tetapi juga ilmu umum seperti Matematika. Matematika sendiri merupakan salah satu ilmu yang sangat penting karena penggunaannya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membuat artikel berjudul “Implementasi Model Pembelajaran Osborn Berbantuan Aplikasi VBA Microsoft Excel untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa di Sekolah Berbasis Pesantren.” 1.2 Sekolah Berbasis Pesantren Salah satu lembaga pendidikan yang ada di Indonesia adalah pondok pesantren. Menurut Baharuddin (Fachrudin, 2021), faktor-faktor yang menyebabkan kelemahan pondok pesantren, yaitu: lemah di bidang manajerial, sifat sistem pendidikan ekskusif dan kurang terbuka; rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM); rendahnya kualitas prestasi; dan belum bagusnya dukungan masyarakat. Seiring berjalannya waktu, makna dari pondok pesantren dalam konteks pendidikan semakin meluas. Menurut Nizar (dalam Fachrudin, 2021), Madrasah, kursus, universitas, gedung pertemuan, tempat olahraga, bahkan sekolah umum kadang menjadi unsur seperti sebuah pesantren. Salah satu perkembangan dalam dunia pesantren adalah adanya Sekolah Berbasis Pesantren (SBP). SBP merupakan sekolah yang mengintegrasikan keunggulan


4 sistem sosial pesantren dan sekolah. Model pendidikan ini memiliki tujuan untuk menciptakan SDM yang agamawan dan ilmuwan secara utuh yang nantinya dapat berperan utuh dalam kemasyarakatan. Sekolah dan pesantren memiliki keunggulan yang berbeda dan apabila keunggulan tersebut dipadukan, akan tercipta suatu kekuatan pendidikan yang kuat serta mampu menghasilkan generasi yang unggul, handal, dan berkarakter (Fachrudin, 2021:93). Menurut Jeremo S. Arcato (dalam Fachruddin, 2021), mutu dalam konteks pendidikan meliputi input, proses, dan output pendidikan. Menurut Edward (dalam Fachruddin, 2021), mutu adalah masalah pokok yang nantinya menjamin perkembangan suatu sekolah untuk mencapai status di tengah-tengah kerasnya persaingan dunia pendidikan. Menurut Fachrudin (2021:104), “Faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen mutu sekolah berbasis pesantren meliputi: sumber daya manusia yaitu: kiai, kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi, sarana prasarana sekolah, siswa, keuangan, kurikulum, keorganisasian, lingkungan fisik, perkembangan ilmu pengetahuan, peraturan, partisipasi, atau peran serta masyarakat, dan kebijakan pendidikan.” Karena guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi mutu sekolah, maka penting bagi guru untuk meningkatkan keprofesionalannya dalam mengajar. Salah satu cara yang dapat guru lakukan dengan mengembangkan model pembelajaran yang membuat siswa lebih termotivasi dan berminat untuk terus belajar. 1.3 Model Pembelajaran Osborn Model pembelajaran Osborn merupakan model pembelajaran menggunakan teknik brainstorming. Brainstroming sendiri mengacu pada proses menghasilkan


5 beberapa ide baru untuk memecahkan masalah. Menurut Guntar (dalam Nurafifah dkk, 2016), teknik brainstorming merupakan “Teknik untuk menghasilkan gagasan yang mencoba mengatasi segala hambatan dan kritik. Kegiatan ini mendorong munculnya banyak gagasan, termasuk gagasan yang nyeleneh, liar, dan berani dengan harapan bahwa gagasan tersebut dapat menghasilkan gagasan yang kreatif. Brainstorming sering digunakan dalam diskusi kelompok untuk memecahkan masalah bersama. Brainstorming juga dapat digunakan secara individual.” Menurut Hughes (dalam Alfian, E dkk, 2020:57), Model brainstorming adalah teknik dalam proses pembelajaran dimana terjadi komunikasi multi arah antara guru dan siswa. Model ini seringkali diterapkan dalam diskusi kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan tetapi juga dapat digunakan secara individu. Saat diskusi kelompok, setiap individu mempunyai kesempatan yang sama dalam menyampaikan ide atau gagasan mereka yang kemudian kelompok berdiskusi dalam menentukan solusi yang dianggap paling tepat. Sementara pada individu, pada tahap penampungan ide atau gagasan dilakukan oleh guru dan dicatat sampai ditentukan solusi yang sesuai. Menurut Osborn (dalam Pratiwi dkk, 2016), model Osborn adalah model yang digunakan dengan mengumpulkan ide dari tiap anggota secara spontan untuk memperoleh beberapa ide kreatif dalam pemecahan masalah. Prosedur-prosedur dalam memecahkan masalah menurut Osborn (Nurafifah dkk, 2016), yaitu: “Menemukan fakta, melibatkan penggambaran masalah, mengumpulkan dan meneliti data dan informasi yang bersangkutan; menemukan gagasan, berkaitan dengan memunculkan dan memodifikasi gagasan tentang strategi pemecahan masalah; dan menemukan solusi, yaitu proses evaluatif sebagai


6 puncak pemecahan masalah.” Menurut Dahlan (dalam Nurafifah dkk, 2016:96), beberapa tahapan pembelajaran untuk memulai brainstorming, antara lain: a. Tahap orientasi, penyajian masalah oleh guru kepada siswa. b. Tahap analisa, siswa mengidentifikasi masalah. c. Tahap hipotesis, guru mempersilahkan siswa dalam berpendapat atas permasalahan yang diberikan. d. Tahap pengeraman, siswa bekerja mandiri dalam kelompok guna membangun kerangka berpikir. e. Tahap sintesis, guru membuat diskusi kelas, dimana siswa diminta memberi dan menulis pendapatnya dan kemudian diajak berpikir bersama terkait mana pendapat yang terbaik. f. Tahap verifikasi, pemilihan keputusan oleh guru terhadap gagasan siswa sebagai pemecahan masalah terbaik. Menurut Pratiwi dkk (2016:165), dalam penerapannya, model pembelajaran Osborn menyediakan lingkungan bebas dan terbuka yang membuat siswa lebih aktif berpartisispasi dalam berpendapat, menyumbangkan ide atau gagasan yang unik, dan hasil gagasan dari siswa itu dihargai walaupun tidak masuk akal. Hal ini tentunya meningkatkan kepercayaan diri peserta didik untuk memberi pendapat dan mengembangkan pikirannya untuk mencari solusi dari suatu permasalahan sehingga membuat siswa terlatih dalam berpikir divergen dan konvergen. Model pembelajaran Osborn ini dapat digunakan pada pembelajaran Matematika karena model pembelajaran ini dianggap dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Soeviatulfitri & Kashardi (2020:35) menyatakan, pembelajaran dengan model Osborn memberikan hasil


7 kemampuan berpikir kreatif matematis siswa lebih baik dibandingkan model pembelajaran Problem Based Learning dan konvensional. Menurut Nurafifah dkk (2016:101), ”Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran Osborn lebih baik dari menggunakan pembelajaran konvensional”. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi dkk (2016:169) bahwa ada peningkatan berpikir kreatif matematis siswa yang menggunakan pembelajaran Osborn dan peningkatannya lebih baik daripada yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Dengan meningkatnya kemampuan berpikir matematis ini, tentunya hasil belajar Matematika siswa juga meningkat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Alfian dkk (2020:63), siswa yang tidak diajar dengan metode brainstorming rata-rata hasil belajarnya 64,73 sebelum perlakuan dan 58,82 setelah perlakuan. Sementara siswa yang diajarkan dengan metode brainstorming, hasil belajarnya diperoleh rata-rata sebesar 60,74 sebelum perlakuan dan setelah perlakuan sebesar 81,73. Menurut Hidayah & Firmansyah (2021:112), siswa yang menggunakan model pembelajaran Osborn, keaktifan dan hasil belajarnya lebih meningkat daripada siswa yang diterapkan model pembelajaran konvensional. Menurut Nurafifah dkk (2016:101), kelebihan dari model ini adalah: siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri, bebas mengeluarkan pendapat, serta dapat berdiskusi dan bekerjasama dengan teman sekelas. Sedangkan kelemahannya, yaitu: membutuhkan banyak waktu untuk diskusi dan menyajikan hasil sehingga dibutuhkan manajemen waktu yang efektif dan efisien. Dalam penerapannya, model pembelajaran Osborn ini bisa


8 diintegrasikan dengan penggunaan ICT untuk hasil yang lebih baik. 1.4 Media ICT VBA Microsoft Excel Media belajar berbasis ICT (Information Comunication technology) atau TIK (Tekhnik Informasi dan Komputer) merupakan cara menyajikan materi pelajaran menggunakan media komputer yang melibatkan perangkat komputer dan brainware. Menurut Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Hikmah, 2020), ICT adalah semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran dan penyajian informasi. Menurut Hikmah (2020:45), ICT membuat pandangan terkait pembelajaran yang awalnya terjadi di ruang kelas yang sering membuat siswa bosan dengan penjelasan guru di kelas, saat ini dapat memanfaatkan ICT yang mana pembelajaran tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sekarang, pembelajaran tidak hanya berpusat pada satu sumber (guru) tetapi dapat melalui beragam sumber yang didukung oleh fasilitas sekolah dan akses internet untuk menunjang proses pembelajaran, terutama pada Matematika. Berikut adalah hal-hal yang harus diwujudkan sebelum memanfaatkan ICT di pembelajaran Matematika: a. Guru dan siswa harus memiliki akses teknologi digital dan internet di sekolah. b. Tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan untuk siswa dan guru. c. Guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan ICT dalam pembelajaran. Inovasi media ICT pada pembelajaran Matematika salah satunya mennggunakan VBA (Visual Basic of Application) pada Microsoft Excel. Menurut Romlah dkk


9 (2019), perangkat lunak di Microsoft Excel kaya akan fungsi Matematika dan penggunaannya memiliki manfaat di beberapa bidang seperti statistik, keuangan, teknik, dan logika Matematika. Microsoft Excel merupakan salah satu perangkat lunak yang bisa dijadikan alat dalam belajar Matematika. Menururt Pertiwi dkk (2018:375), Microsoft Excel merupakan program komputer yang dimanfaatkan dalam menghitung, memproyeksikan, menganalisa, dan mempresentasikan suatu data. Penggunaan Software VBA Microsoft Excel ini merupakan salah satu inovasi dalam pembelajaran Matematika agar pembelajaran lebih menarik untuk disimak dan kualitas pemahaman siswa meningkat. Salah satu fungsi dari media ini yaitu membuat aplikasi khusus untuk memvisualisasikan konsep-konsep pada Matematika. Menurut Oktaviani & Dewi (2020:134), VBA adalah bahasa program di Microsoft Excel yang mengatur beberapa objek gambar yang interaktif sehingga bisa digunakan sebagai fungsi-fungsi Matematika. Pertiwi dkk (2018) menyatakan, "Keunggulan dari pembelajaran ini adalah pembelajaran yang lebih interaktif, alat peraga yang memiliki karakteristik benda-benda semi konkret dan dapat dimanipulasi langsung oleh pendidik atau siswa dalam proses pembelajaran melalui pengubahan media pembelajaran konkret ke dalam bentuk media pembelajaran berbasis ICT, sebagai contoh pembuatan media pembelajaran maya untuk materi pembuktian teorema pythagoras.” Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mutakien & Sumiati (2011:79), penggunaan media ICT membuat hasil belajar Matematika siswa lebih baik dibandingkan yang menggunakan media konvensional. Menurut Rizki (dalam Romlah dkk, 2019), pembelajaran berbasis ICT sangat baik


10 digunakan, dari hasil analisisnya diperoleh bahwa terdapat pengaruh yang sangat signifikan pada motivasi belajar siswa dan penggunaan ICT terhadap hasil belajar. Dengan menggunakan media belajar yang refresentatif, minat belajar siswa meningkat dan hal ini tentunya berdampak pada hasil belajar. Pada penyajian bahan ajar berbasis ICT ini, kita dapat menggunakan Visual Basic of Application (VBA) pada Microsoft Excel. Menurut Senjayawati (dalam Romlah dkk, 2019), dengan menggunakan VBA Excel dalam pembelajaran, siswa lebih tertarik dan termotivasi dalam belajar Matematika sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani & Dewi (2020) yang menyatakan bahwa penggunaan media VBA Microsoft Excel pada materi pecahan mendapat respon positif dan motivasi siswa termasuk kuat dengan presentase 69,5%. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Romlah (2019), diperoleh bahwa penggunaan VBA Microsoft Ecxel di pembelajaran Matematika, bisa meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini juga selajalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pertiwi dkk (2018), bahwa penggunaan VBA Microsoft Excel membuat proses pembelajaran jadi lebih interaktif, kreatif, dan membuat siswa lebih semangat belajar dan tampil di depan kelas. Selain itu, penggunaan VBA Microsoft Excel dapat meningkatkan kemampuan generalisasi matematik dan self-concept siswa, serta menjadikannya lebih baik dari siswa yang memperoleh pembelajaran biasa. 1.5 Kesimpulan Sekolah berbasis pesantren merupakan gabungan sekolah formal dan pondok pesantren. Salah satu faktor yang mempengaruhi mutu pendidikannya adalah guru dan


11 siswa. Untuk meningkatkan prestasi siswa, guru bisa menerapkan model pembelajaran Osborn dengan media ICT. Model pembelajaran Osborn dapat meningkatkan kemampuan matematis dan hasil belajar siswa. Penggunaan media ICT VBA Microsoft Excel dapat membuat minat siswa untuk belajar Matematika lebih meningkat. Selain itu, penggunaannya juga meningkatkan kemampuan generalisasi matematik dan penguasaan konsep. Hal ini tentunya menyebabkan hasil belajar siswa juga meningkat. Oleh karena itu, pembelajaran Osborn dengan media VBA Microsoft Excel dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa di sekolah berbasis pesantren. Referensi Mutakien, T. Z & Sumiati, T. (2011). Pengaruh Penggunaan Media Belajar dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika. Jurnal Formatif, 1(1), 70-81. Romlah, S, Nugraha, N, Nurjanah, S & Setiawan, W. (2019). Analisis Motivasi Belajar Siswa SD Al-Barokah 448 Bandung dengan Menggunakan Media ICT Berbasis FOR VBA EXCEL Pada Materi Garis Bilangan. Jurnal Cendikia: Jurnal Pendidikan Matematika, 3(1), 221-225. Pertiwi, C.M, Jayanti, R.A & Afrilianto, M. (2018). Asosiasi Antara Kemampuan Generalisasi Matematik dengan Self-Concept Siswa SMP yang Menggunakan Strategi Pembelajaran Berbasis VBA microsoft Excel. Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif, 1(3), 371- 379. Hikmah, U.L. (2020). Pemanfaatan ICT pada Pembelajaran Matematika di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Palembang. Journal of Primary Education, 3(1), 43- 45.


12 Alfian, E, Kaso, N, Raupu, S & Arifanti, D.R. (2020). Efektivitas Model Pembelajaran Brainstorming dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika. Siswa. Al asma: Journal of Islamic Education, 2 (1), 63. Nurafifah, L, Nurlaelah, E & Usdiyana, D. (2016). Model Pembelajaran Osborn untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa. MATHLINE: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matmatika, 1(2), 95-101. Soeviatulfitri & Kashardi. (2020). Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa melalui Model Problem Based Learning (PBL) dan Model Pembelajaran Osborn di SMP. Jurnal Pendidikan Matematika Raflesia, 5(3), 35. Pratiwi, N.Y, Widyatiningtyas, R & Irmawan. (2016). Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Osborn Terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMK. Seminar Nasional Pendidikan Matematika Ahmad Dahlan, 164-169. Hidayah, N & Firmansyah. (2021). Model Pembelajaran Osborn untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematis Siswa pada Materi Segiempat. Jurnal Math Education Nusantara, 4 (2), 108. Fachrudin, Y. (2021). Strategi Peningkatan Sekolah Berbasis Pesantren. Dirasah, 4(2), 91-107. Oktaviani, R & Dewi, D.P. (2020). Analisis Motivasi Belajar Siswa SMPN 8 Cimahi Menggunakan Media Visual Basic for Application Berbasis Microsoft Excel pada Materi Pecahan. Journal for Research in Mathematics Learning, 3(2), 133-138.


13 PENGAJUAN PERTANYAAN SEBAGAI ALAT MENUMBUHKEMBANGKAN GAGASAN PADA MODEL PEMBELAJARAN OSBORN Moh Zayyadi, Harfin Lanya, Durroh Halim, Yanti Linarsih Pendidikan Matematika, Universitas Madura ------------------------------------------ Abstrak Guru juga memberikan pertanyaan pada siswa dalam proses pembelajaran. Adapun tujuan pertanyaan yang dilakukan guru pada siswa dalam proses pembelajaran ialah agar siswa belajar, memperoleh pengetahuan, mendapat informasi dari siswa, dan meningkatkan kemampuan berpikir. Penemuan gagasan sebagai salah tahapan pada model pembelajara osborn. Pada langkah ini, siswa diharapkan dapat menemukan sebanyak mungkin gagasan yang pada akhirnya digunakan sebagai solusi dari masalah yang ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah systematic review. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah studi pustaka. Adapun pengambilan data hasil penelitian dengan metode systematic review melalui searching di internet. Data yang diperoleh dikompulasi, dianalisis, dan disimpulkan sehingga mendapatkan kesimpulan mengenai studi literatur. Artikel yang relevan dengan topik penelitian sejumlah dua belas artikel. Dalam tahapan pembelajaran osborn, ada tahapan penemuan gagasan yang dapat dikembangkan melalui kegiatan pengajuan pertanyaan. Dalam tahapan ini, siswa dapat menyampaikan pendapat dan saran dengan melalui pertanyaan sehingga dapat


14 meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalan memecahkan masalah. Kata kunci: Pengajuan Pertanyaan, Penemuan Gagasan, dan Osborn. 1.1 Pengajuan Pertanyaan Bertanya adalah kegiatan yang biasa terjadi di dalam kehidupan sehari-hari (Cahyani dkk, 2015). Tujuan bertanya dalam kehidupan sehari-hari adalah memperoleh informasi mengenai hal yang belum diketahui. Dengan keterampilan bertanya, seseorang bisa mempelajari tentang dunia di sekelilingnya, membina hubungan yang baik di antara sesama manusia, dan menciptakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia (Hardjana 2003). Bertanya juga terjadi dalam kegiatan belajar mengajar. Bahkan proses interaksi belajar-mengajar yang baik adalah proses mengajar dengan menggunakan pola dua arah dimana komunikasi datang dari guru ke siswa dan dari siswa ke guru (Sudiana, 2006). Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan (Sanjaya, 2006). Siswa bertanya pada guru biasanya bertujuan untuk mendapatkan penjelasan. Sehingga dalam proses belajar siswa dapat memperoleh pengetahuan baru dari pengetahuan sebelumnya (Anthony, 1996). Sebaliknya, guru juga memberikan pertanyaan pada siswa dalam proses pembelajaran. Adapun tujuan pertanyaan yang dilakukan guru pada siswa dalam proses pembelajaran ialah agar siswa belajar, memperoleh pengetahuan, mendapat informasi dari siswa, dan meningkatkan kemampuan berpikir. Hal ini sejalan dengan Yunarti (2009) bahwa seseorang akan berpikir jika dihadapkan oleh suatu masalah. Jadi, keterampilan bertanya guru juga berpengaruh pada kemampuan siswa dalam menjawab


15 pertanyaan. Selain itu, guru juga harus mempertimbangkan jawaban siswa selama proses pembelajaran dan berusaha memahami kontribusi yang diberikan siswa dan menanggapi langkah-langkah yang telah dilakuakan siswa dalam belajar (Nicol, 1998). Melontarkan pertanyaan dapat membangun komunitas kelas yang mendatangkan partisipasi aktif siswa, kepercayaan diri siswa, dan kemajuan dalam belajar (Konming, 2003). Mungkin ada yang masih memiliki pemikiran bahwa dengan mengajarkan matematika secara tradisional sudah membuat siswa berpikir. Dengan kata lain, tidak diperlukan keterampilan khusus dalam mengajar karena matematika sendiri sudah memuat logika berpikir. Hal ini merupakan pemikiran yang salah (Yunarti, 2009). Pertanyaan merupakan elemen penting dalam pembelajaran di semua mata pelajaran, terutama yang memerlukan logika berpikir, komunikasi matematis, dan kemampuan pemecahan masalah seperti matematika. Dalam pembelajaran, pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dimunculkan baik oleh guru maupun siswa. Brown dalam bukunya yang terbit pada tahun 1975 mengelompokkan pertanyaan sebagai berikut (Matra, 2014): (1) Pertanyaan Tingkat Rendah yang terdiri dari (a) Pertanyaan Retoris, dimana siswa tidak diharapkan untuk menjawab; (b) Pertanyaan Hafalan, untuk melihat apakah siswa dapat mengingat apa yang telah dibaca atau dilihat; (c) Pertanyaan Pemahaman, untuk melihat apakah siswa dapat memahami apa yang diingat; (d) Pertanyaan Aplikasi, untuk melihat apakah siswa dapat menggunakan aturan dan teknik tertentu untuk memecahkan permasalahan dengan satu jawaban benar. (2) Pertanyaan Tingkat Tinggi yang terdiri dari (a) Pertanyaan Analisis, untuk melihat apakah siswa dapat mengidentifikasi motif dan penyebab, membuat


16 kesimpulan dan memberi contoh untuk mendukung pernyataannya; (b) Pertanyaan Sintesis, untuk melihat apakah siswa dapat membuat prediksi, menyelesaikan masalah atau menghasilkan ide dan gambaran; (c) Pertanyaan Evaluasi, untuk melihat apakah siswa dapat menilai kualitas suatu ide, pemecahan masalah, atau hasil seni, dan apakah siswa dapat memberi opini mengenai isu atau kontroversi berdasarkan rasional. Namun secara pratical penelitian melaporkan bahwasannya guru tidak menggunakan pertanyaan tingkat tinggi dalam mengajar (Galton dkk, 1999; Walsh dan Sattes, 2005). Sedangkan berdasarkan kaidah taksonomi Bloom edisi revisi, pertanyaan dapat digolongkan menjadi pertanyaan mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta (Guspatni, 2017). Fakta yang terjadi di lapangan tentu sangat bervariasi, mulai dari bagaimana seorang guru memberikan pertanyaan untuk siswa, bagaimana tiap guru memiliki jenis pertanyaan yang berbeda-beda dalam proses pembelajaran yang berhubungan dengan pengalaman mengajar masingmasing, atau pertanyaan yang diajukan siswa dalam proses pembelajaran, serta faktor-faktor siswa aktif dan kurang aktif dalam bertanya, dan lain sebagainya. Sebagai contoh adalah respon siswa saat guru memberikan pertanyaan tingkat rendah atau sulit. Jika pertanyaan itu sulit dan membutuhkan jawaban yang mendalam, siswa enggan menjawabnya sehingga seringkali guru menjawab pertanyaan itu sendiri. Terkadang walaupun guru telah memberikan kesempatan untuk bertanya, tidak serta merta membuat siswa mau bertanya. Terdapat banyak tekanan yang membuat siswa enggan bertanya, seperti rasa malu, takut, rendah diri, dan ketidakpedulian merupakan faktorfaktor yang banyak dijumpai dalam banyak kasus (Yunarti,


17 2009). Oleh karena itu, penelitian ini mengenai analisis pertanyaan dan bertanya dalam pembelajaran Matematika di semua jenjang. Penelitian ini menganalisis pertanyaan yang diberikan oleh siswa, guru, jenis pertanyaan yang diberikan, dan faktor yang mempengaruhinya melalui dengan metode studi literatur. Peneliti mengumpulkan artikel-artikel yang berkaitan dengan bertanya dan pertanyaan dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini diharapkan dapat membantu guru dalam menentukan dan mengevaluasi pertanyaan yang akan diberikan untuk perkembangan cara berpikir siswa yang lebih baik dan menjadi jalan untuk studi yang akan datang. 1.2 Model Pembelajaran Osborn Model pembelajaran Osborn salah satu model pembelajaran yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar. Model Osborn merupakan model pembelajaran dengan menggunakan metode Brainstorming. Model Osborn secara logis dapat dilakukan melalui enam langkah, yaitu: (1) penemuan tujuan, (2) penemuan fakta, (3) pemecahan masalah, (4) penemuan gagasan, (5) penemuan solusi, dan (6) penerimaan (Huda, 2014). Secara detail langkah model pembelajaran ini adalah 1) Penemuan Tujuan: mengidentifikasi tujuan, tantangan, dan arah masa depan. 2) Penemuan fakta: mengumpulkan data tentang masalah, mengobservasi masalah seobjektif mungkin. 3) Pemecahan masalah: menguji berbagai problem untuk memisahkannya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, seraya mnenguraiakan problem tersebut secara terbuka. 4) Penemuan gagasan: menciptakan sebanyak mungkin gagasan terkait dengan masalah tersebut, brainstorming. 5) Penemuan solusi: memilih solusi yang paling sesuai, dengan mengembangkan dan memilih kriteria untuk menilai apa


18 saja solusi alternative yang dianggap terbaik. 6) Penerimaan: membuat rencana tindakan Fokus penulis dalam hal ini adalah pada langkah penemuan gagasan pada model pembelajara osborn. Pada langkah ini, siswa diharapkan dapat menemukan sebanyak mungkin gagasan yang pada akhirnya digunakan sebagai solusi dari masalah yang ada. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengajukan pertanyaan. Oleh karena itu, pembahasan ini adalah pengajuan pertanyaan sebagai salah satu penemuan gagasan dalam model pembelajaran osborn. 1.3 Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah systematic review. Systematic review adalah metode penelitian yang merangkum hasil-hasil penelitian primer untuk menyajikan fakta yang lebih komprehensif dan berimbang. Systematic review sangat bermanfaat untuk melakukan sintesis dari berbagai hasil penelitian yang relevan, sehingga fakta yang disajikan kepada menjadi lebih komprehensif dan berimbang. Dalam systematic review terdapat metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif systematic review digunakan untuk mensintesis hasil-hasil penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Sementara itu, pendekatan kualitatif dalam systematic review digunakan untuk mensintesis (merangkum) hasilhasil penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif (Siswanto, 2010). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah studi pustaka. Adapun pengambilan data hasil penelitian dengan metode systematic review melalui searching di internet (Siswanto, 2010), seperti Google Scholar dan sumber lainnya. Data yang


19 diperoleh dikompulasi, dianalisis, dan disimpulkan sehingga mendapatkan kesimpulan mengenai studi literatur. Artikel yang relevan dengan topik penelitian sejumlah dua belas artikel. 1.4 Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil studi literatur pada artikel yang berkaitan dengan pertanyaan dan bertanya dalam pembelajaran matematika, sebagai berikut: Tabel 1. Berdasarkan Jenjang Pendidikan Jenjang Artikel Presentase Penulis SD 5 41,67% Astuti (2015); Andriyani, Darsana, & Suardika (2015); Nalole (2010); Hendriani (2019); Loliyana, Septianti, & Efendi (2020) SMP 3 25% Addini, Sukayasa, & Usman (2018); Nurdiansyah, Johar, & Saminan (2019); Purnawati & Nusantara (2020) SMA 3 25% Novarina & Sujadi (2015); Noviliya (2018); Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016) Perguruan Tinggi 1 8,33% Aminah, Dewi, & Santi (2017) Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa mayoritas artikel meneliti tentang permasalahan bertanya dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Sekolah Dasar merupakan jenjang yang tepat untuk mengasah kemampuan siswa sejak dini. Kemampuan bertanya yang baik diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika oleh Depdiknas (2006) di sekolah di Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidiyah (MI) yakni: 1) memahami konsep matematika, mengetahui keterkaitan


20 antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma matematika itu secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, 2) menggunakan penalaran dan melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, 3) memecahkan masalah, 4) mengkomunikasikan gagasan dan 5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. Tabel 2. Berdasarkan Latar Belakang Permasalahan Aktor Masalah Penulis Siswa Siswa pasif di dalam kelas Novarina & Sujadi (2015); Astuti (2015) Siswa kurang dapat mengembangkan kemampuan bertanya/ keterampilan bertanya rendah Noviliya (2018); Loliyana, Septianti, & Efendi (2020); Astuti (2015) Hasil pembelajaran kurang optimal Andriyani, Darsana, & Suardika (2015) Mahasiswa Rendahnya penguasaan keterampilan bertanya dalam kegiatan belajar mengajar Aminah, Dewi, & Santi (2017) Guru Mengajukan pertanyaan yang monoton Novarina & Sujadi (2015) Perbedaan pertanyaan yang diajukan guru pemula dan guru berpengalaman Addini, Sukayasa, & Usman (2018); Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016) Guru belum menguasai kemampuan bertanya secara optimal Nalole (2010); Nurdiansyah, Johar, & Saminan (2019); Kesulitan guru dalam meningkatkan kemampuan siswa Hendriani (2019) Berdasarkan tabel 2, artikel bertanya memiliki beragam latar belakang masalah yang beragam. Masalah yang paling banyak melatar belakangi artikel adalah siswa


21 yang kurang dapat mengembangkan kemampuan bertanya/ keterampilan bertanya rendah. Padahal keterampilan bertanya berkolerasi dengan kegiatan pembelajaran yang aktif. Ini sesuai dengan pernyataan Loliyana, dkk. (2020), kemampuan pemecahan masalah matematika membutuhkan kegiatan atau proses pembelajaran yang aktif dan kegiatan pembelajaran yang aktif tidak lepas dari kegiatan tanya jawab. Tabel 3. Berdasarkan Tujuan Penelitian Tujuan Penulis Mengetahui kemampuan guru menerapkan keterampilan bertanya dalam pembelajaran matematika. Nalole (2010) Mengetahui perbedaan hasil belajar antara dua jenis pertanyaan berbeda. Andriyani, Darsana, & Suardika (2015) Memperoleh deskripsi tentang keterampilan bertanya berdasarkan karakteristik jenisjenis pertanyaan antara guru berpengalaman dan guru pemula Addini, Sukayasa, & Usman (2018); Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016) Mendeskripsikan jenis-jenis pertanyaan yang diajukan guru pada kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Novarina & Sujadi (2015) Mendeskripsikan kemampuan bertanya guru dalam pelajaran matematika Nurdiansyah, Johar, & Saminan (2019) Menganalisis jenis pertanyaan guru pada pembelajaran daring Purnawati & Nusantara (2020) Menganalisa keterampilan bertanya mahasiswa pada perkuliahan pembelajaran mikro Aminah, Dewi, & Santi (2017) Meningkatkan kemampuan bertanya siswa melalui penerapan pembelajaran tertentu Noviliya (2018); Loliyana, Septianti, & Efendi (2020); Astuti (2015); Hendriani (2019)


22 Berdasarkan tabel 3, tujuan penelitian yang paling banyak adalah untuk meningkatkan kemampuan bertanya siswa melalui penerapan pembelajaran tertentu. Hal ini karena model pembelajaran adalah suatu perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat Mazer dalam Loliyana, dkk. (2020) yang menjelaskan bahwa pemilihan model pembelajaran dalam proses pembelajaran yang melibatkan peserta didik sangat penting dalam memunculkan keterampilan bertanya agar peserta didik dapat mengembangkan pemahamannya sendiri. Tabel 4. Berdasarkan Jenis Pertanyaan yang Digunakan oleh Guru Kaidah Jenis Pertanyaan Penulis Taksonomi Bloom (Sebelum Revisi) Pengetahuan Novarina & Sujadi (2015); Purnawati & Nusantara (2020); Nalole (2010) Pemahaman Novarina & Sujadi (2015); Purnawati & Nusantara (2020); Nalole (2010) Penerapan Novarina & Sujadi (2015); Purnawati & Nusantara (2020); Nalole (2010) Analisis Novarina & Sujadi (2015); Purnawati & Nusantara (2020) Sintesis Novarina & Sujadi (2015); Nalole (2010) Evaluasi Novarina & Sujadi (2015); Purnawati & Nusantara (2020); Nalole (2010) Taksonomi Bloom (Edisi Revisi) Mengingat Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016) Memahami Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016) Menerapkan Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016) Menganalisis Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016)


23 Mengevaluasi Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016) Menurut Maksud Pertanyaan Pertanyaan permintaan Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016); Nalole (2010); Pertanyaan retoris Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016); Nalole (2010); Pertanyaan mengarah Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016); Nalole (2010); Pertanyaan penggali Zahra, Kusmayadi, Usodo (2016); Nalole (2010); Pertanyaan penuntut Menurut Jawaban yang Diinginkan Pertanyaan tertutup Addini, Sukayasa, & Usman (2018) Keterampilan Bertanya Pausing Nurdiansyah, Johar, & Saminan (2019) Prompting Nurdiansyah, Johar, & Saminan (2019) Probing Nurdiansyah, Johar, & Saminan (2019) Tujuan Pertanyaan Pemikiran Addini, Sukayasa, & Usman (2018) Peduli Addini, Sukayasa, & Usman (2018) Menyelidiki Addini, Sukayasa, & Usman (2018) Berbagi Addini, Sukayasa, & Usman (2018) Mengelola Addini, Sukayasa, & Usman (2018) Berdasarkan tabel 4, yang paling banyak digunakan dalam pembahasan artikel adalah kaidah Taksonomi Bloom sebelum revisi. Terdapat perbedaan pada penggunaan jenis kata pada Taksonomi Bloom sebelum dan sesudah revisi. Taksonomi Bloom sebelum revisi menggunakan kata benda pada masing–masing levelnya, sedangkan Taksonomi Bloom sesudah revisi menjelaskan masing–masing level proses kognitif dengan kata kerja. Dengan kata lain, Taksonomi Bloom sesudah revisi lebih menekankan adanya proses kognitif pada tiap levelnya. Jadi, tujuan pendidikan dari Taksonomi Bloom edisi revisi bukan sebagai hasil dari


24 kegiatan kognitif melainkan kegiatan kognitif itu sendiri (As’ari, Dkk., 2021). Bisa disimpulkan bahwa guru masih lebih terbiasa mementingkan hasil akhir daripada proses kognitif yang terjadi selama proses pembeljaran. Selain itu, guru cenderung memberikan pertanyaan tertutup. Pertanyaan tertutup memiliki kemungkinan dijawab dengan waktu yang lebih singkat daripada pertanyaan terbuka dan siswa yang aktif dalam mencoba menjawab lebih banyak sehingga proses pembelajaran berjalan sesuai dengan yang guru rencanakan. Ini sesuai dengan pernyataan Rodrigues (2010) dimana pertanyaan tertutup dan pertanyaan tingkat rendah mempunyai kecenderungan untuk menghasilkan respon yang cepat dari peserta didik. Namun pertanyaan tersebut tidak dapat membuat peserta didik berpikir kritis dan aktif. Sebaliknya, pertanyaan terbuka dan pertanyaan tingkat tinggi merupakan hal yang sulit bagi peserta didik. Idealnya, pertanyaan terbuka dan tingkat tinggi juga diajukan karena pertanyaan ini menuntut peserta didik untuk berpikir kritis. Namun peserta didik cenderung diam karena tidak tahu atau tidak yakin dengan jawaban pertanyaan jenis ini (Guspatni, 2017). Keterampilan bertanya juga sangat diperlukan dalam pembelajaran yakni pausing, prompting, dan probing. Penggunaan ini memiliki tujuan agar pelaksanaan kegiatan bertanya antara guru kepada siswa berjalan dengan efektif. Sesuai dengan pernyataan Nasution (2019) bahwa dalam kegiatan pausing guru dapat mengajukan pertanyaan lalu peserta didik diminta diam dan tenang sebentar, ini bertujuan untuk memberikan kesempatan berpikir mencari jawaban secara komplit dan dapat menurunkan jawaban. Promting sangat perlu dilakukan guru agar dapat mengajukan pertanyaan “sulit”, sehingga tidak ada peserta


25 didik yang dapat menjawab, karena sulitnya, atau karena pertanyaan tidak jelas. Oleh sebab itu guru harus melakukan “prompt” mengarahkan dan mendorong, sehingga situasi diskusi tidak hanya berjalan lancar tetapi guru mampu memfasilitasi semua siswa dan mengantarkan siswa kepada pengetahuan baru yang ingin dicapai sebagai hasil dari proses berpikir. Probing dilakukan karena belum diperoleh jawaban yang memuaskan. Untuk memperoleh jawaban yang sempurna, maka guru menunjuk peserta didik lain untuk menjawab. Apabila belum puas, guru menunjuk peserta didik lain sampai akhirnya menemukan jawaban sempurna (Nasution, 2019; Zayyadi, et al, 2019). Penggunaan kegiatan bertanya antara guru kepada siswa atau sebaliknya dapat memberikan dan menumbuhkan gagasan baru. Dalam tahapan pembelajaran osborn, ada tahapan penemuan gagasan yang dapat dikembangkan melalui kegiatan pengajuan pertanyaan. Dalam tahapan ini, siswa dapat menyampaikan pendapat dan saran dengan melalui pertanyaan sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalan memecahkan masalah. Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajaran osborn (Amanah, 2017). Pengajuan pertanyaan dalam pembelajaran osborn dapat menggunakan branstorming. Brainstorming dalam hal ini kegiatan berkelompok dimana siswa saling bertanya dengan siswa yang lain untuk bertukar ide dalam pemecahan suatu masalah. 1.5 Kesimpulan Dalam penelitian mengenai bertanya dalam pembelajaran matematika, latar belakang yang mendasari sangat beragam dengan tujuan penelitian yang beragam


26 pula di segala jenjang pendidikan. Dengan melakukan studi literatur di berbagai artikel mengenai bertanya dalam pembelajaran matematika, maka jenis problematika dan solusi yang diperlukan menjadi diketahui. Dalam tahapan pembelajaran osborn, tahapan penemuan gagasan yang dapat dikembangkan melalui kegiatan pengajuan pertanyaan. Akan tetapi, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang hal tersbut. Referensi Anthony, G. 1996. Active Learning in a Constructivist Framework. Educational Studies in Mathematics, 31(4), 349-369. https://doi.org/10.1007/BF00369153 Amanah, G. N. 2017. Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMK dengan Menggunakan Model Pembelajaran Osborn. INTERMATHZO, 2(2), 10-14. As’ari, A. R., Zayyadi, M., Puspa, R. D., & Purnawati, L. 2021. Bertanya dan Berpikir (Pengembangan High Order Thinking Skill). Pamekasan: Duta Media Publishing. Cahyani, P. A. H. I., Nurjaya, I. G., & Sriasih, S. A. P. 2015. Analisis Keterampilan Bertanya Guru dan Siswa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas X TAV 1 SMK Negeri 3 Singaraja. e-Journal Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(1). Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: Depdiknas. Galton, M., Hargreaves, L., Wall, D., & Comber, C. 1999. Inside the primary classroom: 20 years on (2nd ed.). Boston: Routledge.


27 Guspatni. 2017. A Literary Study on the Nature of Question and Its Techniques in Learning. Jurnal Ta’dib, 20(1), 20-31. Hardjana, A. M. 2003. Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Kanisius. Hillsdale, N.J: Erlbaum. Galton, M., Hargreaves, L., Wall, D., & Comber, C. 1999. Inside the primary classroom: 20 years on (2nd ed.). Boston: Routledge. Kon-ming, T. 2003. Empowering Student Thinking in Learning Mathematics by Effective Questioning. EduMath, 17, 16-31. Loliyana, Septianti, F., & Efendi, U. 2020. Pengaruh Model GDL terhadap Keterampilan Bertanya dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika SD. Terampil: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar, 7(2), 2020, 89-96 Matra, S. D. 2014. Teacher Questioning in Classroom Interaction. Celt, 14(1). Nasution, M. 2019. Keterampilan Guru dalam Bertanya pada Pembelajaran Matematika. Logaritma: Jurnal Ilmuilmu Pendidikan dan Sains, 7(1), 83-96 Nicol, C. 1998. Learning to Teach Mathematics: Questioning, Listening, and Responding. Educational Studies in Mathematics, 37(1), 45-66. Available at: http://www.jstor.org/stable/3482682 https://doi.org/10.1023/A:1003451423219 Sanjaya, W. 2006. Model Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media. Siswanto. 2010. Systematic Review Sebagai Metode Penelitian untuk Mensintesis Hasil-Hasil Penelitian (Sebuah Pengantar). Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 13(4), 26–333.


28 Sudiana, I. N. 2006. Interaksi Belajar Mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Sidoarjo: Media Ilmu. Walsh, J. A., & Sattes, B. D. 2005. Quality questioning: Research-based practice to engage every learner. London: Corwin Press. Yunarti, T. 2009. Fungsi dan Pentingnya Pertanyaan dalam Pembelajaran. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY 5 Desember 2009. 174-184. Zayyadi, M., Nusantara, T., Hidayanto, E., Sulandra, I. M., & Asari, A. R. (2019). Exploring prospective student teacher's question on mathematics teaching practice. JOTSE, 9(2), 228-237.


29 PENGGUNAAN APLIKASI GOOGLE FORM DAN QUIZIZZ UNTUK PEMBUATAN KUIS DAN JAWABAN SECARA OTOMATIS YANG MENYENANGKAN Abd. Wahab Syahroni Informatika, Universitas Madura -------------------------------- Abstrak Pada era Revolusi Industri 4.0 seperti saat ini, Seorang Guru sudah seharusnya tidak mengalami kesulitan untuk melakukan evaluasi dan analisa dari hasil kegiatan belajar mengajar. Dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat serta aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan maka Seorang Guru dapat dengan cepat melakukan evaluasi dan analisa terhadap daya tangkap siswa pada materi yang telah di sampaikan saat kegiatan belajar mengajar saat itu juga tanpa menunggu harus melakukan pengecekan satu persatu siswa. Penggunaan aplikasi google form dan quizizz untuk memberikan soal dan jawaban secara otomatis akan membuat guru lebih cepat mengetahui materi apa yang belum dimengerti oleh setiap siswa. Dengan menggunakan kedua aplikasi tersebut, guru dan siswa dapat melihat langsung hasil daya tangkap dari pemahaman materi yang telah diberikan saat itu juga dengan membuatkan soal kuis. Untuk mendukung keberhasilan model pembelajaran osborn maka setiap guru dan siswa sangat perlu untuk diberikan pelatihan penggunaan aplikasi google form dan quizizz. Kata kunci: Revolusi Industri 4.0, Guru, Aplikasi, Evaluasi, Analisa hasil belajar.


30 1.1 Pendahuluan Perkembangan teknologi telah mengubah dunia pendidikan, terutama pada pemanfaatan komputer, smartphone dan internet dalam mendukung proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pada era revolusi industri 4.0 seperti saat ini sudah seharusnya juga telah melahirkan revolusi pada kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tren pembelajaran pun juga sudah mulai berubah, apalagi jika hanya ingin mencari sebuah materi, seorang siswa hanya tinggal mengetik kata kunci di pencarian google, bahkan saat ini, juga bisa dilakukan dengan memberikan perintah suara pada pencarian google tanpa mengetikanya lagi. (Agustina dan Rusmana, 2020) Bahkan dengan mencari materi di youtube, tidak hanya materi berbentuk teks yang siswa peroleh, melainkan juga dalam bentuk video. Saat ini, Siswa benar benar sudah dapat belajar tanpa mengenal ruang dan waktu, kapanpun dan dimanapun selama memiliki jaringan internet dan kemauan maka mereka dapat belajar melalui komputer atau smartphone yang mereka miliki. Pendekatan pembelajaran Teacher Center Learning dimana guru sebagai sumber ilmu utama dirasa sudah kurang tepat lagi. Pendekatan pembelajaran Student Center Learning dimana guru hanya sebagai fasilitator dan mitra pembelajaran dirasa lebih tepat untuk siswa generasi saat ini, Siswa bertanggung jawab atas pembelajarannya dan menciptakan kemitraan antara siswa dan guru. Model pembelajaran osborn merupakan salah satu model dengan pendekatan pembelajaran Student Center Learning. Untuk mengukur daya tangkap siswa terhadap topik pembelajaran pada setiap pertemuan, maka Seorang Guru perlu memiliki cara agar dapat mengukur dengan


31 cepat. Salah satu cara untuk mengukur daya tangkap siswa terhadap topik pembelajaran adalah dengan membuatkan soal atau kuis. Selama ini, seorang guru membuat soal pada sebuah kertas kemudian melakukan koreksi pada setiap jawaban siswanya satu per satu, kemudian melakukan evaluasi dan analisa. Cara seperti itu merupakan cara konvensional, memakan banyak waktu dan tenaga serta membosankan baik bagi guru maupun bagi siswa. Agar dapat beradaptasi dengan seiring berkembangnya teknologi dan informasi, Seorang guru harus mengikuti tantangan pembelajaran berbasis digital, sehingga seorang guru dapat memanfaatkan media pembelajaran yang efektif, efisien dan inovatif. oleh sebab itu diperlukan sebuah media pembelajaran yang berbasis digital supaya bisa dimanfaatkan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun media pembelajaran yang baik dan menarik, harus memiliki sifat interaktif yang mengutamakan interaksi, komunikasi dan kerjasama melalui permainan yang mempunyai keunikan untuk menciptakan semangat dalam belajar seperti keingintahuan, tantangan dan hayalan (Irwan dkk, 2019). 1.2 Google Form Google form merupakan situs yang berbasis web yang disediakan oleh google secara gratis. Dengan google form, setiap orang bisa membuat kuesioner maupun kuis secara online secara cepat dengan hanya menggunakan komputer atau smartphone (Parinata dan Puspaningtyas, 2021). Dengan menggunakan google form ini maka Seorang Guru tidak perlu lagi menggunakan kertas lagi untuk mencetak soal atau kuis yang sedang dibuatnya. ini akan lebih menghemat banyak waktu baik dalam hal


32 membagikan soal, pengumpulan kembali soal maupun menganalisis hasil soal. Google form sangat sesuai jika digunakan untuk mengumpulkan pendapat responden, mengelola pendaftaran, mengumpulkan sebuah data membuat kuis dadakan, mengulas soal lebih sederhana dan lain sebagainya (Bulan dan Zainiyati, 2020). Keunggulan google form untuk digunakan sebagai penilaian pada proses pembelajaran antara lain 1) tampilan yang menarik, pada google form, user dapat menambahkan profil seperti nama dan foto, memiliki template untuk kuis maupun kuesioner. 2) tipe jawaban dari kuis yang dibuat bermacam macam seperti pilihan ganda, uraian, cek list, dropdown, tanggal, waktu, gambar dan lain lain. 3) gratis, dapat digunakan untuk membuat kuis atau kuisioner online yang mudah sekali untuk mengaksesnya, hanya cukup menggunakan laptop atau smartphone yang terhubung dengan internet. user lain dapat memberikan tanggapan atau jawaban dimanapun dan kapanpun dengan hanya membuka link yang dibagikan. semua tanggapan atau jawaban user lain akan disimpan dan disusun oleh google form dengan cepat dan aman. 4) tampilan yang responsive dan profesional, yaitu tampilan yang menyesuaikan secara otomatis ketika di akses bagik dari smartphone, tablet, laptop maupun komputer dekstop. 5) Tanggapan hasil kuesioner atau kuis terkumpul dengan rapi, disertai dengan grafik hasil tanggapan. 6) dapat di cetak ke excel. 7) jika berbentuk kuis, dapat menghasilkan nilai secara otomatis. 8) pemilik kuis dapat melakukan pengaturan untuk menampilkan hasil penilaian secara langsung kepada user lain atau tidak, serta dapat menampilkan jawaban yang benar dan salah. Tidak hanya google form saja, namun masih banyak aplikasi berbasis web ataupun aplikasi yang mudah


33 dipelajari serta dapat digunakan oleh Seorang Guru untuk mendukung proses kegiatan belajar mengajar terutama dalam membuat kuis seperti quizizz. 1.3 Quizizz Quizizz adalah sebuah aplikasi berbasis web yang dibangun untuk membuat kuis secara online dan interaktif yang memiliki karakteristik permainan seperti avatar, tema, meme, dan musik yang sangat menghibur dalam proses pembelajaran, tidak hanya itu, dengan quizizz, siswa dapat saling bersaing dan memotivasi saat pengerjaan kuis berlangsung (Rahman dkk, 2020). Quizizz merupakan aplikasi pendidikan dalam bentuk permainan yang sifatnya fleksibel dan naratif, selain bisa digunakan untuk penyampaian materi, Quizizz juga dapat dimanfaatkan sebagai media evaluasi pembelajaran yang menyenangkan dan menarik (Salsabila, dkk. 2020). Kuis interaktif yang dibuat di quizizz dapat memiliki minimal 4 pilihan jawaban termasuk jawaban yang benar, serta dapatkan ditambahkan gambar pada latar belakang pertanyaannya. Quizizz juga memiliki beberapa kesamaan dengan google form seperti dalam hal memberikan data dan statistik tentang kinerja siswa pada soal kuis yang telah dikerjakan. Seorang Guru juga dapat melacak setiap siswa yang telah menjawab soal pada nomor soal tertentu, soal yang belum di jawab, soal yang dijawab dengan benar dan soal yang di jawab dengan salah. Seorang guru juga dapat mendownload statistik hasil pekerjaan siswa dalam bentuk Excel. Perbedaan yang mencolok antara quizizz dan google form hanya pada saat pengerjaan soal berlangsung, quizizz lebih interaktif karena antara siswa yang satu dengan yang lain dibuat seperti berkompetisi,


34 ditampilkan langsung klasemen dan peringkat siswa dengan nilai tertinggi saat pengerjaan kuis berlangsung. Untuk mendukung model pembelajaran osborn, sudah seharusnya jika sekolah mewajibkan guru dan siswanya untuk mempelajari penggunaan aplikasi google form dan quizizz dalam proses kegiatan belajar mengajar. Oleh sebab itu, dalam bab ini akan dibahas tentang bagaimana cara menggunakan google form dan quizizz untuk membuat kuis. 1.4 Metode Metode penelitian kualitatif adalah pendekatan yg dilakukan dalam suatu penelitian yang berorientasi kepada gejala yang bersifat alami (Nurani, dkk. 2020). Penelitian kualitatif studi pustaka dan studi lapangan digunakan dalam penelitian ini. Pada penelitian kualitatif studi pustaka, cara pengumpulan informasi dan data dilakukan dengan menelaah jurnal ilmiah, karangan ilmiah, literatur, serta sumber terpercaya lainnya seperti situs drive.google.com dimana google form berada dan situs quizizz.com yang merupakan alamat web dari aplikasi quizizz. Sedangkan penelitian kualitatif studi lapangan dilakukan di SMP Islam Plus Nurul Karomah, dengan responden semua guru di SMP Islam Plus Nurul Karomah dan pada mata pelajaran matematika. Penelitian kualitatif studi pustaka dilakukan terlebih dahulu sebelum akhirnya mengimplementasikan penelitian kualitatif studi lapangan. 1.5 Hasil dan Pembahasan SMP Islam Plus Nurul Karomah merupakan satuan pendidikan tingkat SMP yang terletak di desa Buddagan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Sekolah ini berada di bawah naungan yayasan pondok


35 pesantren nurul karomah. Sekolah ini sudah memiliki infrastruktur internet menggunakan provider telkom speedy, sehingga guru dapat menggunakan internet dalam kegiatan sehari hari di sekolah, hanya saja fasilitas yang ada saat ini belum digunakan dengan baik dan maksimal terutama dalam mendukung kegiatan belajar mengajar. Permasalahan saat ini yang di hadapi oleh mitra kami yaitu SMP Islam Plus Nurul Karomah adalah kurangnya minat belajar siswa dan kurangnya penggunaan media berbasis teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Ditambah lagi, suasana kelas yang homogen (ada yang laki laki semua, ada yang perempuan semua), ini sangat membosankan karena guru kurang berinovasi dalam pembelajaran, kurang menggunakan model pembelajaran yang berbasis SCL (Student Center Leaning) dalam kegiatan belajar mengajarnya, serta kurangnya penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi. Pemanfaatan teknologi mempermudah guru dalam melaksanakan pembelajaran, baik sebagai media untuk menyampaikan materi maupun sebagai media untuk melakukan evaluasi daya tangkap kemampuan siswa pada materi yang telah disampaikan. bahkan evaluasi dapat dilakukan dengan cepat saat itu juga jika dilakukan dengan menggunakan bantuan teknologi yang tepat seperti menggunakan aplikasi google form dan quizizz. Penggunaan google form sebagai media evaluasi adalah dengan memanfaatkannya sebagai kuis. Guru membuat soal kuis di google form, share link ke siswa dan siswa mengerjakannya, jawaban siswa akan diproses secara otomatis oleh google form seperti menampilkan jawaban yang benar, jawaban yang salah, feedback, rekomendasi jawaban yang benar, banyaknya siswa yang menjawab benar dan salah pada setiap soal, dan nilai serta dapat


36 mengekspor soal dan jawaban kedalam bentuk spreadsheet atau excel. 1.5.1 langkah langkah memanfaatkan google form sebagai kuis Untuk memanfaatkan fitur yang dimiliki oleh google, anda harus sudah memiliki akun google melalui gmail. Kemudian buka browser seperti google chrome dan ketikkan di bagian URL alamat mail.google.com, berikut tampilan dari gmail Pada icon titik sembilan seperti yang ditunjukkan oleh panah merah pada gambar diatas, klik dan pilih google drive


37 Atau bisa juga dengan langsung mengetik di URL browser anda alamat dari google drive yaitu drive.google.com Berikut tampilan dari google drive Pertama kita akan membuat folder terlebih dahulu dengan cara Klik pada tombol + new seperti ditunjuk oleh tanda


38 panah merah, pilih + folder, dan beri nama misal belajar kuis Klik tombol create, maka folder dengan nama Belajar Kuis akan dibuat. Untuk masuk ke dalam folder belajar kuis, klik 2x pada nama folder tersebut, berikut tampilan dari folder belajar kuis


39 Silahkan coba membuat folder baru lagi, anda bisa menggunakan perintah yang sama dengan cara membuat folder sebelumnya, klik tombol + New, pilih +Folder, beri nama folder dan tekan tombol create. Atau anda bisa menggunakan cara baru seperti berikut: Klik kanan pada area kosong seperti yang diberi tanda kotak merah, pilih menu apapun yang anda inginkan, hanya saja karena kita akan membuat folder baru maka pilih +Folder. Berin nama folder dan tekan tombol create, misal kita akan membuat folder baru dengan nama kuis 1 Seperti tampak pada gambar dibawah ini. Beri nama folder misal kuis 1 seperti gambar dibawah ini. Setelah menekan tombol create, folder kuis 1 berhasil dibuat seperti gambar dibawah ini. Klik 2x pada folder kuis 1 tersebut untuk masuk ke dalam folder kuis 1


40 Sekarang, kita akan membuat sebuah kuis dengan google formulir yang akan kita letakkan didalam folder kuis 1 (pastikan anda berada di dalam folder kuis 1 ya bapak/ibu). Ada beberapa cara untuk membuat kuis dengan google formulir, yang pertama dengan menggunakan formulir kosong (blank form), dan yang kedua menggunakan kuis kosong (blank quiz). 1. Membuat Kuis Menggunakan Formulir Kosong (Blank Form)


41 a. Pilih area kosong di dalam folder kuis 1, klik kanan, pilih google formulir (google forms), pilih formulir kosong (Blank Form). b. Maka akan dibuka tab baru pada browser anda, dengan menampilkan hasil dari google formulir


42 Tanda panah A merupakan nama file saat formulir ini nanti disimpan, tanda B merupakan tab tempat pertanyaan berada, tanda panah C merupakan tab untuk menampilkan respons atau jawaban dari pertanyaan atau kuis yang dibuat, pada tab C inilah nanti hasil analisis dari pertanyaan atau soal atau kuis yang telah kita buat berada, tanda panah D merupakan tab settings atau pengaturan, di tab D inilah nanti kita perlu melakukan settingan agar pertanyaan, atau soal atau kuis yang akan kita buat sesuai dengan keinginan kita, tanda panah E merupakan tempat pertanyaan atau soal atau kuis dibuat. Tanda panah F merupakan icon bergambar mata, yaitu untuk melihat hasil dari pertanyaan atau soal atau kuis yang telah kita buat, bahkan LINK/URL dari hasil icon gambar mata inilah yang akan kita share ke siswa kita nantinya. c. Berikut contoh menambahkan 1 soal pada formulir kosong yang telah kita buat, perhatikan yang diberikan tanda panah.


43 Ingat, karena kita membuat formulir ini dari formulir kosong, maka soal yang sudah kita buat ini masih belum berbentuk kuis (belum ada point atau nilai serta jawaban dari pertanyaan atau soal yang telah kita buat). Cara merubah pertanyaan pada formulir menjadi kuis Klik tab setting (lihat tanda panah D), kemudian lakukan setting sebagai berikut. Aktifkan tombol pada bagian make this a quiz dengan cara mengklik tombol slide seperti yang diberi tanda kotak merah diatas. Ini artinya, anda akan menjadikan pertanyaan yang dibuat pada formulir ini menjadi sebuah kuis yang memiliki point dalam setiap soal dan jawaban yang dibuat. Sedangkan untuk bagian yang lain biarkan saja mengikuti defaultnya saja terlebih dahulu, namun anda sebenarnya bisa berinovasi pada bagian ini jika anda sudah memahami apa maksut dari kita mengaktifkan bagian bagian tersebut seperti


44 mengaktifkan missed questions, correct answer dan lain. Setelah di rasa cukup, silahkan klik kembali tab Questions (tanda panah B) untuk kembali lagi ke pertanyaan yang sedang dibuat. d. Tampilan tab question yang sudah berbeda setelah pertanyaan dijadikan kuis, yakni terdapat tombol answer key. e. Cara memberi nilai dan jawaban yang benar pada setiap pertanyaan


Click to View FlipBook Version