The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

by Ronal Watrianthos (editor)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-10-25 23:04:15

Ilmu Kesehatan Anak

by Ronal Watrianthos (editor)

Bab 4

Komunikasi pada Anak dan
Keluarga

4.1 Pendahuluan

Pada hakekatnya keluarga diharapkan mampu berfungsi untuk mewujudkan
proses pengembangan timbal balik rasa cinta dan kasih sayang antara anggota
keluarga, antar kerabat, serta antar generasi yang merupakan dasar keluarga
yang harmonis. Karena sebagai unit yang terkecil dari masyarakat, maka
kedudukan keluarga menjadi inti yang paling penting dari suatu masyarakat.
Dengan demikian maka kehidupan suatu masyarakat merupakan pantulan dari
kehidupan sejumlah keluarga yang terikat di dalamnya. Hubungan kasih
sayang dalam keluarga merupakan suatu keperluan bersama diantara para
anggotanya sebagai jembatan komunikasi menuju rumah tangga yang bahagia.
Dalam kehidupan keluarga, komunikasi pada anak sangat penting diperhatikan
dalam memenuhi tumbuh kembang anak secara maksimal. Komunikasi yang
terjalin pada anak dan keluarga diharapkan menghindari terjadinya
kesalahpahaman dalam penerimaan pesan, membantu mengatur tata krama
pergaulan dalam keluarga maupun di masyarakat. Komunikasi pada anak
membutuhkan dan memerlukan bimbingan dari orang tua maupun dari pihak
anggota keluarga yang lain. Kehidupan keluarga merupakan tempat yang

36 Ilmu Kesehatan Anak

pertama dan utama pada anak untuk belajar berkomunikasi. Pemahaman
keluarga terhadap pentingnya memberi bimbingan dan arahan komunikasi
pada anak dapat memberikan pondasi yang kuat pada anak sebagai generasi
penerus yang penuh tata krama, dan mampu bertutur kata yang sopan dalam
setiap interaksinya kepada siapa pun.

4.2. Pengertian Komunikasi pada Anak

1. Komunikasi adalah keseluruhan bentuk perilaku seseorang secara
sadar maupun tidak sadar yang dapat memengaruhi orang lain tidak
hanya komunikasi yang diucapkan dan ditulis, tetapi juga termasuk
gerakan tubuh serta tanda-tanda somatik dan simbol-simbol (Jurgen
Ruesch (1972) dalam (Anjaswarni 2016).

2. Komunikasi adalah suatu proses yang melibatkan usaha-usaha untuk
mengelompokkan, memilih-milih dan mengirimkan lambang-
lambang sedemikian rupa yang dapat membantu seorang pendengar
atau penerima berita mengamati atau menyusun kembali dalam
pikirannya arti atau makna yang terkandung dalam pikiran
komunikator (Anjaswarni 2016).

3. Komunikasi adalah suatu pertukaran pikiran atau keterangan dalam
rangka menciptakan rasa saling mengerti serta saling percaya demi
terwujudnya hubungan yang baik antara seseorang dengan orang
yang lainnya (Taufik, 2007) dalam (Anjaswarni 2016).

4. Komunikasi anak yaitu usaha, tingkah laku atau kegiatan
penyampaian informasi mengenai pikiran, makna atau perasaan pada
anak terutama anak usia dini. Komunikasi di keluarga, peran orang
tua menjadi sangat penting kualitas komunikasi anak sangat
dipengaruhi oleh sejauh mana orang tua berkomunikasi kepadanya.
Komunikasi akan sukses apabila orang tua memiliki kredibilitas di
mata anaknya. Komunikasi dalam keluarga dapat berlangsung secara
timbal balik dan silih berganti, bisa dari orang tua ke anak atau anak
ke orang tua, atau anak ke anak. Dalam komunikasi keluarga
tanggung jawab orang tua adalah mendidik anak, maka komunikasi

Bab 4 Komunikasi pada Anak dan Keluarga 37

yang terjadi dalam keluarga bernilai pendidikan. Ada sejumlah norma
yang diwariskan orang tua kepada anak misalnya norma agama,
norma akhlak, norma sosial, norma etika, dan juga norma moral
(Djamarah 2004

4.3 Perkembangan Komunikasi pada
Anak

Fase pertumbuhan dan perkembangan komunikasi pada anak meliputi: fase
prelinguistic (fase sebelum bicara), kata pertama, kalimat pertama,
kemampuan bicara egosentris dan memasyarakat, serta perkembangan
semantik (Tyastuti 2011).

4.3.1 Fase Prelinguistic (fase sebelum bicara)

Suara pertama yang dikeluarkan bayi baru lahir adalah tangis sebagai reaksi
sehubungan perubahan tekanan udara dan suhu luar uterin. Kebutuhan
dikomunikasikan lewat tangis sampai usia satu tahun, pada saat usia anak dua
sampai tiga minggu seharusnya orang tua sudah dapat membedakan tangis
bayi. Biasanya bayi menangis karena lapar, bokong basah, kesakitan atau
minta perhatian. Untuk dapat membedakan kita harus mengenali tangisan bayi,
antara lain:

1. Tangis lapar biasanya bayi menangis dengan suara mendatar dan
meningkat sesuai kebutuhan

2. Tangis kesakitan, bayi mengeluarkan teriakan yang mendadak karena
bayi terkejut

3. Tangis tidak nyaman atau minta perhatian, bayi akan menangis yang
berlangsung terus menerus

4.3.2 Kata Pertama

Kata pertama pada bayi biasanya pada usia 10-12 bulan, dan tumbuh
pengertian pasif dari bahasa. Bayi memberi respon terhadap kata yang
familiar, bila disebut ibu maka dia akan berusaha mencari ibunya. Kata

38 Ilmu Kesehatan Anak

pertama mungkin tidak disadari oleh orang tuanya karena anak banyak akal.
Untuk mengerti perlu mendengar apa yang dikatakan anak sehubungan dengan
apa yang dikerjakan, misal mamm bias berarti mama, bias berarti makan.

4.3.3 Kalimat Pertama

Usia dua tahun anak mulai menyusun kata, dan periode ini dikenal sebagai
permulaan pembicaraan komplit. Kalimat anak seperti juga kata pertama,
punya arti pribadi dan tidak ikut aturan tata bahasa. Misal anak bilang makan
berarti aku mau makan. Jadi orang tua atau orang di sekitarnya harus tanggap
terhadap kata-kata anak tersebut.

4.3.4 Kemampuan Bicara Egosentris dan Memasyarakat

Psikolog Perancis Jean Peeget mengkategorikan anak usia empat sampai
sebelas tahun ke atas berbicara egosentris dan memasyarakat. Kemampuan
bicara egosentris (berpusat pada diri sendiri) dibedakan 3 macam:

1. Repetitif (pengulangan), kata yang didengar diulang-ulang
2. Monolog (berbicara satu arah) biasanya pada anak pra sekolah, anak

bicara sendiri memainkan banyak peran dengan berkata-kata sendiri.
3. Monolog kolektif, beberapa anak berkumpul dalam suatu tempat tapi

mereka bicara sendiri-sendiri, biasanya asyik memainkan mainannya
sendiri.

Anak pra sekolah bicara egosentris semakin kurang dan kemampuan bicara
memasyarakat lebih menonjol. Hal ini perlu karena anak mulai pendidikan
formal dan mampu menyesuaikan diri dengan peraturan sekolah.

4.3.5 Perkembangan Semantik

Semantik adalah pengetahuan yang mempelajari arti dari kata pada bahasa
yang diajarkan. Anak pertama kali memahami arti konkrit dan jenis kata
konkret kemudian mulai mengetahui arti dan jenis kata abstrak, misal anak
akan lebih memahami kucing yang bisa dilihat daripada pahit, manis dan
lainnya. Kata abstrak dipelajari setelah pada masa pra sekolah. Kata yang sulit
untuk anak pra sekolah adalah kata yang selain punya arti fisik juga punya arti
psikologis. Contohnya manis bisa berarti sikap, tapi juga berarti rasa.

Bab 4 Komunikasi pada Anak dan Keluarga 39

4.4 Langkah – Langkah Komunikasi
pada Anak

Adapun langkah-langkah dalam komunikasi pada anak sebagai berikut
(Anjaswarni 2016):

4.4.1 Teknik Verbal

1. Pesan “saya”
Pergunakanlah istilah “saya” dan hindari penggunaan kata
“anda”/”kamu”. Penggunaan kata “anda” memberikan kesan
menghakimi

2. Teknik orang ketiga
Teknik ini biasanya dipakai untuk klien usia infant dan toddler.
Perawat dapat menggunakan orang terdekat seperti ayah atau ibu
sebagai fasilitator dalam berkomunikasi. Teknik ini dianggap lebih
bersahabat dan kurang mengancam dibandingkan dengan bertanya
secara langsung kepada anak. Teknik ini membuat anak lebih merasa
nyaman dan dapat mengungkapkan perasaannya secara lebih terbuka.
Contoh:
Anak biasanya malu ketika pertama kali bertemu perawat, ketika
menanyakan nama anak, perawat dapat berbicara kepada ibunya atau
kepada boneka/mainan kesayangan anak terlebih dahulu:
Assalamualaikum, selamat pagi, boneka cantik ini siapa ya namanya?
(anak menjawab). Kemudian perawat dapat melanjutkan bertanya
melalui perantara boneka tersebut nama anak, apa yang dirasakannya
dan sebagainya.

3. Respon fasilitatif
Respon fasilitatif merupakan upaya petugas dalam memberikan
feedback terhadap ungkapan perasaan anak. Dalam memfasilitasi
petugas harus mampu memberikan respon positif dan
mengekspresikan perasaannya dengan tidak mendominasi
percakapan. Gunakan teknik mendengar dengan perhatian, empati,
dan cerminkan kembali pada pasien perasaan dan isi pernyataan yang

40 Ilmu Kesehatan Anak

mereka ungkapkan. Respon yang dilakukan oleh petugas tidak boleh
menghakimi.
Contoh:
Bila anak berkata, “Saya benci ketika perawat datang dan
menyuntikkan obat” respon fasilitatifnya adalah: “Kamu merasa
tidak senang ya dengan yang dilakukan oleh perawat padamu”.
“Apakah kamu bisa menceritakan apa yang membuatmu tidak
senang?”.
4. Storytelling (bercerita)
Anak – anak sangat menyukai cerita. Dengan menggunakan cerita,
harapannya pesan dapat diterima lebih mudah oleh anak. Namun
demikian, perlu diperhatikan, cerita yang disampaikan hendaknya
sesuai dengan pesan yang akan disampaikan, yang dapat
diekspresikan melalui tulisan maupun gambar. Gunakan bahasa yang
mudah dipahami anak dapat masuk ke dalam area berpikir mereka
dan menembus batasan kesadaran atau rasa takut anak.
Contoh:
Gunakan gambar seperti seorang anak di rumah sakit dengan orang
lain di suatu ruangan, dan minta mereka untuk menggambarkan
situasinya; “atau” potong cerita komik, buang kata-katanya, dan
minta anak menambahkan pernyataan untuk ilustrasi tersebut.
5. Saling bercerita
Pendekatan yang lebih terapeutik dibandingkan bercerita karena ada
respon timbal balik dari perawat. Mulailah dengan meminta anak
menceritakan pengalamannya di rawat dirumah sakit, ikuti dengan
cerita lain yang diceritakan perawat yang hampir sama dengan cerita
anak tetapi dengan perbedaan yang membantu anak untuk
mengidentifikasi area masalah.
Contoh:
Cerita si anak adalah tentang di rawat di rumah sakit dan jarang
melihat orang tua. Cerita si perawat juga tentang anak (dengan
menggunakan nama yang berbeda tetapi situasinya serupa) di rumah
sakit yang orang tuanya berkunjung setiap hari (pada sore hari setelah

Bab 4 Komunikasi pada Anak dan Keluarga 41

bekerja), sampai anak tersebut merasa lebih baik dan akhirnya pulang
ke rumah bersama mereka.
6. Biblioterapi
Perawat dapat menggunakan buku/majalah untuk membantu anak
mengekspresikan perasaan, dengan menceritakan isi buku atau
majalah yang sesuai dengan pesan yang akan disampaikan kepada
anak. Pedoman umum untuk menggunakan biblioterapi adalah
sebagai berikut:
a. Kaji perkembangan emosi dan kognitif anak untuk mengukur

kesiapan anak untuk memahami pesan dari buku.
b. Kenali isi buku (pesan yang disampaikan dan tujuannya)
c. Pilih buku yang sesuai dengan usia anak.
d. Bacakan buku tersebut bila si anak tidak dapat membaca.
e. Gali makna buku bersama –sama dengan anak.
7. Dreams (mimpi)
Dorong anak untuk menceritakan tentang mimpi atau mimpi buruk
yang dialaminya selama di rawat di rumah sakit. Terkadang perasaan
stress anak dapat terbawa dalam mimpi. Gali bersamanya tentang
kemungkinan arti mimpi tersebut. Hal ini dapat membantu anak
untuk mengungkapkan perasaanya.
8. “What if” questions
Teknik ini dapat membantu anak menentukan pilihan pemecahan
masalah yang ada.
Contoh:
“Bagaimana jika kamu sakit dan harus pergi ke rumah sakit?”
Respons anak menunjukkan apa yang sudah mereka ketahui dan apa
yang ingin mereka ketahui, pertanyaan ini juga memberi kesempatan
untuk membantu anak mempelajari keterampilan koping, terutama
pada situasi yang sulit.
9. Harapan
Anak didorong untuk mengungkapkan harapannya, dengan ini,
keinginan dan keluhan anak dapat diketahui. Harapan tersebut dapat
menunjukkan perasaan dan pikiran saat itu. Libatkan pertanyaan

42 Ilmu Kesehatan Anak

“Bila kamu memiliki tiga hal di dunia ini, hal apa sajakah itu?”
Tanyakan kepada anak harapan khusus tersebut.
10. Menggunakan skala
Teknik ini sering digunakan untuk mengukur nyeri pada anak.
Gunakan beberapa tipe skala peringkat (angka, wajah sedih, sampai
senang) untuk rentang kejadian atau perasaan.
Contoh:
Skala nyeri (pada skala 1 sampai 10, dengan 10 adalah hari yang
paling nyeri).
11. Melengkapi kalimat
Libatkan pernyataan sebagian dan minta anak untuk melengkapinya.
Beberapa contoh pernyataan tersebut sebagai berikut:
”Yang paling saya sukai tentang sekolah adalah.....”
“Makanan yang paling saya sukai adalah.....”
“Sesuatu yang paling lucu yang pernah saya lakukan adalah.....”
12. Pro dan kontra/baik-buruk
Penggunaan teknik ini sangat penting untuk mengetahui perasaan dan
pikiran anak, dengan mengajukan pada situasi yang menunjukkan
pilihan yang positif dan negatif sesuai dengan pendapat anak.
Contoh:
Pilihlah topik, misalnya:
Berada di rumah sakit, minta anak menyebutkan lima hal yang baik
dan lima hal yang buruk tentang hal tersebut.

4.4.2 Teknik Non Verbal

Dalam (Anjaswarni 2016) ada beberapa teknik non verbal yang digunakan
dalam komunikasi pada anak dan keluarga antara lain:

1. Menulis
Merupakan pendekatan komunikasi alternatif untuk anak yang lebih
besar/sudah dapat menulis dengan lancar. Anak dapat didorong untuk
mengungkapkan apa yang ia rasakan ke dalam buku diary/jurnal.

Bab 4 Komunikasi pada Anak dan Keluarga 43

2. Menggambar
Merupakan salah satu bentuk komunikasi paling sesuai dengan anak.
Secara non verbal (dari melihat gambar) maupun verbal (dari cerita
anak tentang gambar), perawat dapat mengetahui perasaan anak.
Gambar anak menceritakan semua tentang mereka, karena gambar ini
adalah proyeksi diri mereka dari dalam.

3. Magis/sulap
Gunakan trik sulap sederhana untuk membantu dalam membina
hubungan dengan anak, mendorong kepatuhan dengan intervensi
kesehatan dan memberikan distraksi efektif selama prosedur yang
menyakitkan.

4. Bermain
Anak menunjukkan jati diri mereka melalui aktivitas bermain.
Bermain yang dimaksud disini adalah bermain terapeutik yang dapat
memberikan manfaat pada regimen keperawatan (contohnya: meniup
balon untuk anak dengan asma). Dengan arahan yang lebih spesifik,
seperti memberi peralatan medis (yang tidak berbahaya) atau boneka
untuk memfokuskan/memfasilitasi anak, seperti menggali rasa takut
anak terhadap injeksi atau menggali hubungan keluarga.

4.5 Prinsip – Prinsip Komunikasi pada
Anak

Berikut prinsip-prinsip komunikasi pada anak adalah (Indarwati 2018):
1. Sesuai dengan usia tumbuh kembang

Pada saat berkomunikasi dengan anak, perawat perlu memperhatikan tahapan
tumbuh kembang anak karena anak memiliki kemampuan yang berbeda untuk
komunikasi sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya.

44 Ilmu Kesehatan Anak

2. Memandang anak secara holistik

Ketika berkomunikasi dengan anak, perawat perlu memandang anak secara
holistic. Misalnya ketika sakit, anak tidak hanya sakit secara fisik melainkan
juga dapat sakit secara psikososial (karena perpisahan/kehilangan teman).

3. Positif dan mengutamakan kekuatan (strength-based approach)
Mengandalkan kekuatan atau kelebihan anak adalah penting agar anak merasa
adekuat saat dirawat di rumah sakit.

4. Mampu memenuhi kebutuhan anak termasuk anak dengan
disabilitas/ketidakmampuan yang lain.

Selain anak memiliki tahapan tumbuh kembang yang spesifik beberapa anak
mungkin memiliki keterbatasan yang dapat mengganggu proses komunikasi.
Perawat perlu memperhatikan hambatan ini supaya dapat
menyiapkan/memfasilitasi proses komunikasi agar lebih efektif.

4.6 Faktor –Faktor yang Memengaruhi
Komunikasi pada Anak dan Keluarga

Dalam proses komunikasi kemungkinan ada hambatan selama komunikasi,
karena selama proses komunikasi melibatkan beberapa komponen dalam
komunikasi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya (Tyastuti 2011:

1. Intelegensi (Kecerdasan)
Ini jelas memengaruhi bahasa, anak yang mempunyai kemampuan
intelektual rendah, misalnya idiot akan lebih lambat perkembangan
bahasanya dibanding anak-anak yang punya intelegensi normal atau
tinggi.

2. Jenis Kelamin
Tahun pertama tidak banyak perbedaan, setelah itu wanita lebih
superior. Usia sekolah akhir setara kembali dalam perbendaharaan
kata, laki-laki lebih unggul dalam kata-kata tertentu, wanita unggul
dalam tata bahasa

Bab 4 Komunikasi pada Anak dan Keluarga 45

3. Rangsangan atau dorongan orang tua
Ibu yang orientasi objek dan tidak kritis/konstruktif, anak lebih cepat
dalam perkembangan bahasa.

4. Pengetahuan
Merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indera yang
dilakukan seseorang terhadap objek tertentu untuk dapat
menghasilkan pengetahuan dan keterampilan. Faktor pengetahuan
tersebut dalam proses komunikasi dapat memengaruhi pemahaman
klien tentang informasi yang disampaikan. Informasi akan jelas dan
mudah diterima oleh penerima apabila pengetahuan baik demikian
sebaliknya apabila pengetahuan kurang maka informasi yang dapat
diterima/dipahami kurang.

5. Sikap
Sikap dalam komunikasi dapat memengaruhi proses komunikasi
berjalan efektif atau tidak, hal tersebut dapat ditunjukkan bila perawat
menunjukkan sikap kurang baik akan menyebabkan klien kurang
percaya terhadap perawat, demikian sebaliknya apabila dalam
komunikasi menunjukkan sikap yang baik maka dapat menunjukkan
kepercayaan dari penerima pesan atau informasi. Sikap yang
diharapkan dalam komunikasi tersebut seperti terbuka, percaya,
empati, dan menghargai.

6. Usia dan tahapan tumbuh kembang
Usia Tumbuh Kembang dapat memengaruhi proses komunikasi.
Semakin tinggi usia perkembangan anak, kemampuan dalam
komunikasi semakin kompleks dan sempurna.

7. Status Kesehatan Anak
Status kesehatan sakit dapat menimbulkan gangguan psikologis maka
cenderung anak kurang komunikatif atau sangat pasif, dengan
demikian dalam komunikasi membutuhkan kesiapan secara fisik dan
psikologis untuk mencapai komunikasi yang efektif.

8. Budaya
Budaya dapat memengaruhi proses komunikasi seperti orang batak
dengan orang Madura ketika berkomunikasi dengan bahasa

46 Ilmu Kesehatan Anak

komunikasi yang berbeda dan sama – sama tidak memahami bahasa
daerah maka akan merasa kesulitan untuk mencapai tujuan dari
komunikasi.
9. Lingkungan
Lingkungan dalam komunikasi yang dimaksud di sini dapat berupa
situasi, ataupun lokasi yang ada. Lingkungan yang tenang akan
memberikan dampak berhasilnya tujuan komunikasi sedangkan
lingkungan yang kurang baik akan memberikan dampak yang kurang.
Contoh: apabila kita berkomunikasi dengan anak pada tempat yang
bising, maka proses komunikasi tidak akan bisa berjalan dengan baik
karena suara tidak jelas, sehingga pesan yang akan disampaikan sulit
untuk diterima oleh anak maupun orang tua.

Menurut Lunandi (1994) dalam (Fitriana n.d.) faktor-faktor yang
memengaruhi komunikasi adalah sebagai berikut:

1. Citra diri
Manusia belajar menciptakan citra diri melalui hubungan dengan
orang lain di lingkungan. Melalui komunikasi dengan orang lain,
seseorang akan mengetahui apakah dirinya dibenci, dicintai,
dihormati, diremehkan, dihargai, atau direndahkan.

2. Lingkungan fisik
Perbedaan tempat akan memengaruhi pola komunikasi yang
dilakukan cara untuk menyampaikan pesan, isi, informasi,
disesuaikan dengan tempat di mana komunikasi itu dilakukan karena
setiap tempat mempunyai aturan, norma atau nilai-nilai sendiri.

3. Lingkungan sosial
Penting untuk dipahami, sehingga pihak-pihak yang terlibat dalam
komunikasi dalam keluarga memiliki kepekaan terhadap lingkungan
sosial. Lingkungan sosial dapat berupa lingkungan masyarakat,
lingkungan kerja dan lingkungan keluarga.

4. Suasana psikologis
Suasana psikologis diakui memengaruhi komunikasi. Komunikasi
sulit berlangsung apabila seseorang dalam keadaan sedih, bingung,

Bab 4 Komunikasi pada Anak dan Keluarga 47

marah, merasa kecewa, merasa iri hati, diliputi prasangka dan
suasana psikologis lainnya.
5. Kepemimpinan
Seorang pemimpin, tidak hanya dapat memengaruhi anggota keluarga
lainnya yang dipimpin, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi dan
suasana kehidupan sosial dalam keluarga. Dinamika hubungan dalam
keluarga dipengaruhi oleh pola kepemimpinan. Karakteristik seorang
pemimpin akan menentukan pola komunikasi bagaimana yang akan
berproses dalam kehidupan yang membentuk hubungan-hubungan
tersebut.
6. Bahasa
Dalam komunikasi verbal orang tua atau anak pasti menggunakan
bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan sesuatu pada suatu
kesempatan yang dipergunakan oleh orang tua ketika berbicara pada
anaknya dapat mewakili suatu objek yang dibicarakan secara tepat.
7. Perbedaan usia
Komunikasi dipengaruhi oleh usia, setiap orang tidak bisa berbicara
sekehendak hati tanpa memperhatikan siapa yang diajak bicara.
Berbicara kepada anak kecil berbeda ketika berbicara kepada remaja.
Dalam berkomunikasi orang tua tidak bisa menggiring cara berpikir
anak dalam cara berpikir orang tua karena anak belum mampu untuk
melakukannya.

4.7 Faktor – Faktor yang Menghambat
Komunikasi pada Anak dan Keluarga

Hambatan komunikasi dalam keluarga merupakan salah satu faktor yang
dianggap memberi pengaruh besar terhadap terbentuknya penelantaran anak.
Anak-anak terlantar memang memiliki kesempatan sangat terbatas untuk
berkomunikasi, khususnya dengan orang tua mereka. Bahkan ada sejumlah
kasus penelantaran anak yang menunjukkan bahwa orang tua mereka hampir
tidak pernah berkomunikasi dengan anak. Orang tua hanya melakukan

48 Ilmu Kesehatan Anak

komunikasi dengan anak seperlunya saja. Kadang-kadang kesibukan orang tua dan
banyaknya masalah yang dihadapi, perhatian terhadap anak jadi berkurang. Kalau
setiap saat mau menceritakan sesuatu tidak diperhatikan atau dibantah, akibatnya
anak tidak mau lagi bercerita. Lama kelamaan akan timbul gangguan pada anak. Ia
akan menutup diri terhadap orang tuanya, sehingga komunikasi antara orang tua
dan anak ini biasanya akan menyebabkan anak bertingkah laku agresif dan sukar
mengadakan kontak dengan orang tuanya apalagi komunikasi yang melalui sebuah
perantara media (Moekijat n.d.).

Penggunaan media untuk menyampaikan pesan dapat mengalami gangguan, yang
dalam bahasa inggris disebut noise. Gangguan adalah “segala sesuatu yang
menghambat atau mengurangi kemampuan kita untuk mengirim dan menerima
pesan”. Gangguan komunikasi itu meliputi (Moekijat n.d.):

1. Pengacau indra, misalnya suara terlalu keras atau lemah; di tempat

menerima pesan, bau menyengat, udara panas, dan lain-lain.

2. Faktor-faktor pribadi, antara lain, prasangka, lamunan, perasaan tidak

cakap.

4.8 Teknik dalam Memberikan
Aktif pada
Dukungan Rangsang
Komunikasi Anak

Dalam (Tyastuti 2011) ada beberapa teknik dalam memberikan dukungan
rangsang aktif pada komunikasi anak yaitu:

1. Memperbaiki model orang tuanya: orang tua didorong untuk melengkapi
diri dan jadi model yang baik, mempelajari bahasa yang baik,
komunikatif sesuai tingkat perkembangan anak

2. Mendorong kemampuan komunikasi, baik verbal maupun non verbal
3. Berikan anak pengalaman untuk dapat berbicara
4. Mendorong anak untuk mendengar
5. Mendorong anak berbicara sebagai pengganti tindakan/aksi
6. Gunakan kata yang pasti dan benar, meskipun anak belum bisa

menyebutkan. Misal motol untuk menyebut motor, tapi orang tua harus
tetap menyebutnya motor.

Bab 5

Pola Bermain Pada Anak

5.1 Pendahuluan

Antara anak dan bermain memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak dapat
dipisahkan dari tahap perkembangan, karena pada dasarnya dunia anak itu
sendiri merupakan dunia bermain. Permainan pada anak hendaknya bersifat
aktif, fleksibel dan tidak kaku, sehingga anak dapat dengan leluasa membuat
inovasi baru atau bertindak dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
Dengan bermain akan ada efek positif yang dibawa anak dan akan
menghilangkan stress karena anak-anak merasa terhibur, tertawa dan
menikmati apa yang mereka lakukan. Piaget berpendapat bahwa kegiatan
bermain pada anak adalah wujud refleksi dari aktivitas dalam berpikir
sehingga bermain dapat dikatakan sebagai proses pembelajaran untuk
membangun pengetahuan dan keterampilannya (Daniati, 2013). Pada masa ini,
seorang anak tidak bisa dipaksakan untuk melakukan aktivitas belajar seperti
halnya yang dilakukan oleh orang dewasa. Saat bermain sebenarnya tanpa
disadari juga merupakan proses pembelajaran bagi si anak. Anak dapat belajar
dengan bebas, tanpa paksaan dan melalui cara yang menyenangkan.
Selain sebagai media pembelajaran, bermain juga dapat digunakan sebagai
media terapi, komunikasi serta konseling, karena anak juga dapat mengalami
berbagai permasalahan sebagaimana yang dialami oleh orang dewasa,
terutama pada tahap perkembangan mulai dari tingkatan ringan hingga berat.

50 Ilmu Kesehatan Anak

Permasalahan pada tahapan ini dapat berupa gangguan koordinasi motorik
kasar atau halus, interaksi sosial, komunikasi, konsentrasi sampai dengan
gangguan genetik seperti autisme dan down syndrome. Pola bermain dengan
menggunakan berbagai media kerap kali digunakan sebagai alat oleh terapis
dalam menangani berbagai permasalahan yang mungkin dihadapi (Saputro &
Fazrin, 2017).

5.2 Bermain

5.2.1 Definisi Bermain

Bermain dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata main
yang memiliki arti aktivitas atau kegiatan yang menyenangkan hati. Bermain
dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan atau
tanpa menggunakan media atau alat yang dapat menghasilkan atau
memberikan informasi melalui pemberian kesenangan untuk mengembangkan
imajinasi anak secara spontan dan tanpa beban. Bermain dapat dikatakan
sebagai bagian dari cara melatih keterampilan dan mengembangkan ide serta
imajinasi anak secara mandiri maupun berkelompok. Bermain merupakan
tingkah laku berupa motivasi intrinsik yang dipilih secara bebas dan berfokus
pada proses yang disenangi. Bermain dapat menjadi suatu wadah bagi anak
untuk mengekspresikan berbagai perasaan seperti emosi, senang, sedih,
bergairah, kecewa, bangga, marah dan lain sebagainya. Anak akan merasa
gembira saat bermain, dan dapat mempelajari banyak hal serta pengalaman
(Kartadinata, 2012). Namun daripada itu, harus tetap ada nya perhatian khusus
bahwa permainan yang dilakukan haruslah memiliki nilai yang bersifat
edukatif agar tujuan belajar sambil bermain tetap tercapai.

5.2.2 Manfaat Bermain

Bermain dapat memengaruhi dan meningkatkan tahap perkembangan anak,
antara lain:

1. Sebagai media pembelajaran, bermain memberikan kesempatan pada
anak untuk dapat mempelajari berbagai hal dan membangun
pengetahuan dari lingkungan sekitar

Bab 5 Pola Bermain Pada Anak 51

2. Melalui bermain, anak dapat bergerak secara bebas namun tetap
mampu mengkoordinasikan gerakannya sehingga dapat
meningkatkan kemampuan motorik kasar dan halus

3. Meningkatkan perkembangan kognitif atau kemampuan berpikir pada
anak melalui interaksi terhadap setiap objek di sekitar lingkungannya
dengan memaksimalkan penggunaan panca indera untuk mengetahui
sifat-sifat dari objek tersebut (Ilyas et al., n.d.).

4. Membentuk sikap mental, perilaku dan nilai-nilai kepribadian anak.
Bermain dapat membangun karakter anak untuk menyadari
komitmen, disiplin, aturan serta belajar menyelesaikan masalah atau
problem solving dan menghadapi risiko kekalahan dari setiap
permainan (Susanto, 2011).

5. Membangun kreativitas untuk mewujudkan imajinasi dan ide dengan
bereksperimen menggunakan media benda maupun alat yang terdapat
di lingkungan sekitar (Wiwik Pratiwi, 2017)

6. Mengembangkan kemampuan dalam berkomunikasi dan
menggunakan bahasa. Dengan bermain secara langsung atau tidak
langsung anak akan melakukan interaksi dan berkomunikasi dengan
teman sepermainannya. Melalui bermain anak juga dapat belajar
untuk mengutarakan pendapat dan perasaannya atau emosional
dengan bahasa yang baik dan dapat dimengerti sehingga secara
otomatis kemampuan dalam berkomunikasi anak dapat berkembang
lebih baik.

5.2.3 Risiko Bermain

Bermain memang kegiatan yang menghibur dan menyenangkan, namun
terlepas dari itu setiap kegiatan apapun bentuknya tentu memiliki risiko.
Beberapa hal yang perlu diwaspadai dan dapat mengarah pada dampak yang
buruk pada anak antara lain :

1. Lalai terhadap waktu
Perasaan menyenangkan yang ditimbulkan saat bermain kerap kali
menimbulkan sikap lupa terhadap batasan waktu saat bermain,

52 Ilmu Kesehatan Anak

bahkan dapat mengakibatkan anak menjadi lupa terhadap tugas dan
aktivitas lainnya.
2. Ketidakseimbangan antara porsi bermain sendiri dengan bermain
bersama orang lain
Bermain berkelompok dengan teman sebaya memang penting untuk
mengasah kemampuan sosial dan komunikasi anak, namun anak juga
membutuhkan waktu untuk bermain seorang diri. Melalui bermain
sendiri, anak memiliki kesempatan untuk lebih mengembangkan
personal dan berimajinasi dengan bebas. Jadi, kedua proses bermain
ini harus dilakukan dengan seimbang.
3. Tuntunan bermain sesuai dengan gender
Mayoritas orang tua memiliki pemikiran bahwa anak hanya boleh
memainkan permainan yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Sebagai
contoh anak perempuan hanya memainkan permainan yang feminis,
seperti: bermain boneka dan laki-laki memainkan permainan yang
maskulin, seperti: mobil-mobilan atau pedang-pedangan. Padahal
setiap anak juga berhak untuk diperkenalkan pada jenis permainan
yang berbeda.
4. Alat yang tidak tepat
Penggunaan alat permainan tidak tepat apabila menimbulkan bahaya,
biasanya mengandung zat beracun, terlalu memaksakan pilihan orang
tua, jenis yang terlalu sedikit, terpaku hanya pada label usia yang
tertera pada kemasan mainan padahal kebutuhan setiap anak
sangatlah berbeda, penggunaan yang terlalu rumit atau terlalu mudah
dan terlalu rapuh sehingga mudah rusak dan anak menjadi cepat
bosan
5. Turut campur orang tua yang berlebihan
Terdapat berbagai jenis tipe orang tua dalam membimbing anaknya
bermain. Ada orang tua yang menganggap bahwa anak sudah paham
dan mengerti cara memainkan mainannya sehingga merasa tidak
perlu memberikan arahan, anak akan cepat bosan karena tidak tahu
cara lain untuk memainkannya. Ada yang merasa anaknya tidak tahu
apa-apa sehingga perlu dibimbing secara detail dan terus menerus,

Bab 5 Pola Bermain Pada Anak 53

sehingga juga akan timbul kebosanan pada anak karena tidak dapat
mengeksplorasi diri untuk memainkannya, anak akan merasa tidak
bermain karena terlalu banyaknya hal yang diajarkan, diwanti-wanti
dan dilarang (Musfiroh, 2008).

5.3 Pola Bermain

5.3.1 Tahap Perkembangan Pola Bermain

Tahap-tahap dalam perkembangan pola bermain anak dapat dikategorikan
menjadi 5:

1. Perkembangan sensorik (Sensory Motor)
Tahap ini berlangsung pada anak dalam rentang usia 0-5 bulan
dimana fokus perkembangan adalah pada fungsi dari panca indera
dan gerakan tubuh, seperti: melihat, merasakan, mencium, merasakan
dan gerakan-gerakan ringan.

2. Keterampilan penguasaan (Mastery Play)
Tahap ini berlangsung pada anak dalam rentang usia 6-24 bulan.
Penguasaan yang dimaksudkan adalah kegiatan bermain yang
berfokus pada keterampilan pada penguasaan fungsi dari panca
indera secara lebih optimal

3. Bermain kasar dan jatuh (Rough and Tumble Play)
Tahap ini berlangsung pada anak dalam rentang usia 2-3 tahun.
Bermain kasar yang dimaksud adalah kegiatan bermain lebih
dominan melibatkan fungsi motorik kasar, seperti: berlari, melompat,
bermain ayunan dan lain sebagainya.

4. Perkembangan sosial (Social Play)
Tahap ini berlangsung pada anak dalam rentang usia 3-4 tahun. Pada
tahap ini anak sudah mulai berinteraksi bersama teman sebaya di
lingkungan sekitar dalam bermain. Anak sudah mulai dapat
melakukan aktivitas secara berkelompok dan menumbuhkan sifat
kerjasama (kooperatif).

54 Ilmu Kesehatan Anak

5. Bermain peran (Dramatic Play)
Tahap ini berlangsung pada anak usia lebih dari 4 tahun. Pada tahap
ini anak mulai melibatkan logika dengan mengembangkan ide dan
imajinasi dengan memainkan peran seolah-olah menjadi orang lain,
seperti: memerankan superhero favorit mereka (Fadillah, 2017)

Berdasarkan beberapa tahap diatas dapat disimpulkan bahwa semakin
bertambahnya usia anak maka semakin meningkat fungsi panca indera dan
kemampuan fisik, motorik, kognitif, sosial serta komunikasi anak dan secara
otomatis tahapan kegiatan dalam pola bermainnya semakin bervariasi dan
berkembang.

5.3.2 Karakteristik Pola Bermain

Berikut ini adalah beberapa karakteristik yang dikembangkan anak dalam pola
bermain

1. Motivasi intrinsik
Motivasi seorang anak dalam kegiatan bermain berasal dari keinginan
mereka sendiri. Keinginan untuk mencapai kepuasan dalam
memenuhi kebutuhan.

2. Bebas Memilih
Setiap anak memiliki kebebasan dalam menentukan apakah
permainan yang akan dilakukan, dengan siapa mereka akan bermain
serta bagaimana permainan itu akan dilangsungkan. Mereka
cenderung bermain apa saja yang mereka sukai. Jika bermain
dilakukan dalam suatu tuntutan atau paksaan, mereka tidak
merasakan keindahan dan kesenangan dari kegiatan bermain tetapi itu
sebagai satu tugas atau kewajiban.

3. Menarik
Pola bermain haruslah menarik agar mendapatkan perhatian dan
timbulnya fokus pada anak dalam melakukan kegiatan permainannya.

4. Simbolik
Kegiatan bermain melibatkan beberapa elemen tertentu. Elemen
tersebut dapat berupa suatu alat atau benda nyata yang dapat

Bab 5 Pola Bermain Pada Anak 55

dibayangkan sebagai suatu simbol atau penanda dalam
permainannya.
5. Terlibat secara aktif
Anak akan terlibat aktif bermain secara fisik dan melibatkan perasaan
yang mereka rasakan, bukan bersifat pasif dan tidak memberikan
reaksi dalam bermain (Susanto, 2011).

5.3.3 Bentuk Pola Bermain

Pattern mengkategorikan bentuk-bentuk pola bermain pada anak yaitu :

1. Functional play
Pola bermain ini dilakukan ketika anak melibatkan fungsi objek yang
mereka temukan dan kegiatan berfokus pada fungsi motorik.

2. Constructive play
Anak menggunakan dan memanfaatkan sebuah objek untuk
menghasilkan sesuatu. Pola ini bersifat konstruktif atau membangun
dengan menguji fisik dan kognitif serta melatih motorik halus.

3. Parallel play
Pada pola ini setiap anak menggunakan jenis permainan yang sama
dalam waktu yang bersamaan namun tidak melakukan interaksi
antara satu sama lain. Anak fokus dalam memainkan mainan mereka
masing-masing, seperti: memainkan permainan di gadget masing-
masing.

4. Onlooker play
Pada pola ini anak hanya sebagai penonton dan sebagai berperan
layaknya kritikus dalam permainan yang dilakukan teman sebayanya.
Pola ini biasanya berlaku pada tahap pra-sekolah.

5. Associative play
Anak berinteraksi dan bermain dengan teman sebayanya tetapi model
permainan yang mereka lakukan berbeda.

6. Cooperative play
Anak melakukan permainan secara langsung dengan teman. Pada
pola ini anak lebih mengembangkan kemampuan sosial dan
komunikasi berupa sikap kooperatif, sportif dan banyak melakukan

56 Ilmu Kesehatan Anak

interaksi serta penyusunan strategi dalam kelompok (Due et al.,
2018).

5.3.4 Faktor Yang Memengaruhi Pola Bermain

Banyak faktor yang dapat memengaruhi pola bermain setiap anak yaitu:

1. Kondisi kesehatan fisik
Ketika anak memiliki kondisi kesehatan fisik yang fit, baik atau
paripurna maka semakin banyak energi yang mereka hasilkan, anak
akan semakin aktif, bervariasi dalam melaksanakan pola bermain
yang akan dilakukan dan sebaliknya.

2. Perkembangan Motorik
Setiap bentuk pola bermain memiliki koordinasi motorik yang
berbeda dalam pelaksanaannya. Pola bermain yang akan dilakukan
sangat tergantung pada perkembangan dan pengendalian motorik
masing-masing anak.

3. Perkembangan kognitif atau intelegensi
Anak yang memiliki perkembangan kognitif atau intelegensi yang
baik biasanya lebih aktif dalam bermain dan pola bermain yang
dilakukan lebih cenderung membutuhkan kecerdasan dan
kemampuan berpikir. Anak yang memiliki perkembangan kognitif
atau intelegensi yang baik juga akan menunjukkan perhatian dan
konsentrasi yang seimbang dalam menyelesaikan suatu permainan.

4. Gender
Anak laki-laki lebih cenderung menyukai pola bermain yang
melibatkan aktivitas fisik dan menggunakan motorik kasar,
sedangkan anak perempuan lebih menyukai pola bermain yang lebih
melibatkan imajinasi dan penggunaan motorik halus.

5. Lingkungan sosial budaya
Anak yang dibesarkan di lingkungan pedesaan biasanya lebih
cenderung melakukan aktivitas pola bermain konstruktif yang
membutuhkan kreativitas yang menghasilkan sesuatu dengan
menggunakan elemen-elemen yang ada disekitar. Sedangkan anak di

Bab 5 Pola Bermain Pada Anak 57

perkotaan lebih menggunakan pola bermain paralel dengan
menggunakan mainan yang telah jadi atau gadget (Huda et al., 2016).
6. Status sosial ekonomi
Anak yang dibesarkan pada kondisi keadaan sosial ekonomi yang
lebih tinggi dan stabil cenderung menyukai kegiatan bermain yang
mewah, seperti: permainan atletik (berkuda atau bersepatu roda)
sedangkan anak dengan kondisi ekonomi rendah bermain dengan
kegiatan yang tidak membutuhkan biaya besar dan memanfaatkan
segala objek yang terdapat di sekitarnya (Fadillah, 2017).

58 Ilmu Kesehatan Anak

Bab 6

Imunisasi Pada Anak

6.1 Pendahuluan

Perkembangan dan penggunaan vaksin diakui sebagai salah satu keberhasilan
kesehatan masyarakat dan merupakan salah satu pencapaian besar pengobatan
modern (Ball, Bindler and Cowen, 2012; Stratton et al., 2012). Hal tersebut
secara signifikan mengurangi morbiditas dan mortalitas dari berbagai bakteri
dan virus. Penyakit yang pernah menjadi penyebab banyak wabah, penyebab
umum hilangnya kesehatan dan nyawa kini jarang terlihat karena berhasil
dicegah dengan menggunakan vaksin (Stratton et al., 2012). Beberapa vaksin
untuk mencegah lebih dari 20 penyakit yang mengancam jiwa sudah
dikembangkan untuk membantu orang dari segala usia untuk hidup sehat.
Imunisasi sampai saat ini telah berhasil mencegah sekitar dua hingga tiga juta
kematian tiap tahunnya akibat penyakit-penyakit seperti DPT (Difteri, Tetanus,
Pertusis), influenza dan campak (World Health Organization (WHO), 2020).
Imunisasi adalah komponen kunci dari perawatan kesehatan primer dan
merupakan hak asasi manusia. Imunisasi adalah suatu bentuk investasi
kesehatan yang terbaik dan merupakan teknik pencegahan dan pengendalian
wabah penyakit menular (World Health Organization (WHO), 2020). Vaksin
adalah memasukkan antigen (zat asing yang memicu respon sistem kekebalan)
kedalam tubuh, sehingga orang yang divaksinasi menghasilkan antibodi yang
memberikan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit tanpa menderita penyakit

60 Ilmu Kesehatan Anak

klinis. Ketika seorang anak membutuhkan antibodi lebih cepat dari
kemampuan tubuh mengembangkannya, kekebalan pasif dapat diberikan
dengan memberikan anak antibodi yang diproduksi oleh manusia atau hewan
lain (misalnya imunoglobulin). Pendekatan ini digunakan dengan anak-anak
yang berisiko terkena penyakit untuk mencegah penyakit terjadi atau untuk
mengurangi keparahannya setelah terpapar. Sebagai contoh, jika balita yang
tidak diimunisasi yang sedang menerima kemoterapi untuk kanker terkena
cacar, maka anak tersebut membutuhkan perlindungan segera atau dinamakan
imunitas pasif. Sejak vaksin pertama dikembangkan pada akhir tahun 1800an,
kejadian banyak penyakit telah menurun secara dramatis. Rata-rata bayi yang
lahir pada tahun 2016 menerima vaksin untuk 14 penyakit anak pada usia 6
tahun. Vaksin telah dikembangkan untuk seluruh kalangan usia yang gunanya
untuk melindungi dari individu dari pertusis, meningokokus, human papilloma
virus, pneumokokus dan herpes zoster. Vaksin meningkatkan kesehatan anak
dan mengurangi beban orang tua dalam merawat anak yang sakit.

6.2 Imunisasi

Imunisasi adalah proses memasukkan beberapa bentuk organisme penyebab
penyakit kedalam sistem seseorang untuk mendorong perkembangan antibodi
yang akan melawan penyakit. Secara teori, proses imunisasi diberikan dengan
tujuan membuat seseorang kebal terhadap penyakit menular tertentu dengan
melawan agen penyebab penyakit menular tertentu. Tujuan umum dari
imunisasi yaitu mengurangi angka kesakitan, kematian dan kecacatan yang
diakibatkan oleh berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Tujuan khusus pemberian imunisasi menurut Ball, Bandler and Cowen, (2012)
adalah: a) Tercapainya target Universal Child Immunization (UCI) yang
dimaksud adalah imunisasi lengkap minimal 80% merata pada seluruh bayi, b)
tervalidasi eliminasi tetanus maternal dan neonatal, c) eradikasi polio, d)
tercapainya eliminasi campak pada tahun 2015, e) terselenggaranya pemberian
imunisasi yang aman.

6.2.1 Imunisasi Wajib

Pemerintah telah menetapkan imunisasi wajib yang bertujuan untuk
melindungi diri dari penyakit menular. Ada tiga imunisasi yang termasuk

Bab 6 Imunisasi Pada Anak 61

imunisasi wajib yaitu imunisasi rutin, imunisasi tambahan dan imunisasi
khusus.

1. Imunisasi Rutin
Imunisasi rutin adalah bentuk imunisasi yang pelaksanaannya dibuat
secara terjadwal. Adapun yang termasuk dalam imunisasi rutin
adalah imunisasi dasar dan lanjutan. Vaksin-vaksin yang termasuk
dalam imunisasi dasar meliputi BCG, DPT, hepatitis B, polio,
campak. Imunisasi lanjutan adalah imunisasi ulangan yang digunakan
untuk mempertahankan kekebalan dan melindungi individu.
Imunisasi lanjutan diberikan pada batita (anak dibawah usia tiga
tahun), anak-anak sekolah dasar dan wanita di masa usia subur (Pusat
Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Kementerian kesehatan
RI, 2014).
Imunisasi lanjutan diberikan adalah vaksin DPT/HB/Hib di usia 18
bulan sedangkan campak diberikan di usia 24 bulan. Vaksin yang
diberikan di imunisasi lanjutan adalah vaksin DT, Td, TT. Imunisasi
lanjutan diberikan pada pekan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah)
adalah vaksin DT saat kelas 1 SD, vaksin Td disaat kelas 2 SD dan
vaksin Td selanjutnya kelas 3 SD. Sedangkan untuk imunisasi
lanjutan Tetanus Toksoid (TT) diberikan saat bayi (TT1), di usia 3
tahun (TT2), di usia 5 tahun (TT3), di usia 10 tahun (TT4), dan usia
25 tahun (TT5).

Tabel 6.1: Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar (KEMENKES RI,
2014)

Usia Jenis Imunisasi
0-7 hari Hepatitis
1 Bulan BCG, Polio 1
2 Bulan DPT-HB1, Polio 2
3 Bulan DPT-HB2, Polio 3
4 Bulan DPT-HB2, Polio 4
9 Bulan Campak

62 Ilmu Kesehatan Anak

2. Imunisasi Tambahan
Imunisasi yang diberikan kepada komunitas dengan umur yang
beresiko terkena penyakit tertentu dinamakan imunisasi tambahan.
Imunisasi tambahan termasuk kegiatan backlog fighting, crash
program campak untuk anak balita di daerah resiko tinggi, Pekan
Imunisasi Nasional, Sub-PIN, catch up campaign campak untuk anak
sekolah dan imunisasi penanganan Kasus Luar Biasa (KLB).

3. Imunisasi Khusus
Imunisasi khusus diberikan pada golongan atau kalangan khusus
yang akan bepergian ke daerah tertentu seperti pada persiapan
keberangkatan calon jemaah haji/umrah. Jenis imunisasi khusus yang
dapat diberikan adalah meningitis, meningokokus, demam kuning
dan anti rabies.

6.2.2 Imunisasi Pilihan

Imunisasi pilihan adalah imunisasi yang pemberiannya disesuaikan dengan
kebutuhan individual. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan individu dari
kemungkinan penyakit menular. Adapun vaksin yang biasa diberikan adalah
MMR, Hib, Hepatitis A, varisela, Influenza, Pneumokokus, Rotavirus, Tifoid,
HPV (Human Papilloma Virus) dan Japanese Encephalitis.

6.3 Jenis-Jenis Vaksin

Berikut adalah daftar dari jenis vaksin yang digunakan (Stratton et al., 2012):

1. Vaksin virus mematikan
Mikroorganisme telah dibunuh tetapi masih mampu menyebabkan
tubuh manusia memproduksi antibodi. Contoh: virus polio yang tidak
aktif.

2. Toxoid
Toksin telah diolah (dengan panas atau kimiawi) untuk melemahkan
efek toksiknya tetapi mempertahankan antigen yang efektif. Contoh
toksoid tetanus.

Bab 6 Imunisasi Pada Anak 63

3. Vaksin Virus Hidup
Mikroorganisme berada dalam bentuk hidup tetapi dilemahkan.
Contoh: vaksin campak dan varicella.

4. Bentuk Rekombinant
Organisme yang diubah secara genetik digunakan dalam vaksin.
Contoh: vaksin hepatitis B dan pertusis aseluler (vaksin yang
menggunakan protein pertusis daripada sel untuk merangsang
kekebalan aktif).

5. Bentuk terkonjugasi
Organisme yang diubah bergabung dengan zat lain untuk
meningkatkan respon imun. Contoh: vaksin haemophilus influenza
tipe b (hib) dikonjugasikan dengan pembawa protein seperti tetanus
toksoid. Tidak ada kekebalan terhadap tetanus yang berkembang
dengan vaksin ini.

6.4 Tipe Vaksinasi pada Anak

6.4.1 BCG (Bacillus Calmette Guerin)

Vaksin BCG mengandung Mycobacterium bovis yang dilemahkan. Vaksin ini
diberikan untuk memberi kekebalan aktif terhadap tuberkulosis. Efek samping
dari pemberian vaksin ini adalah timbul bisul kecil (papula) sekitar dua sampai
enam minggu setelah imunisasi yang selanjutnya dapat terjadi ulserasi dalam
waktu 2-4 bulan. Bekas suntikan akan menjadi jaringan parut dengan diameter
2-10 mm. Jika ulkus mengeluarkan cairan maka dapat dikompres dengan
cairan antiseptik, jika cairan bertambah banyak, anak perlu dibawa ke tenaga
kesehatan.

6.4.2 Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT)

Sebelum vaksinasi difteri tersedia di tahun 1980an, diperkirakan ada sekitar
satu juta kasus terjadi di negara-negara Eropa Timur setiap tahunnya.
Meskipun difteri masih ada di beberapa negara Eropa dan epidemi di Eropa
Timur selama tahun 1990an, penyakit ini berkurang dengan signifikan setelah

64 Ilmu Kesehatan Anak

adanya vaksinasi. Vaksinasi difteri, pertusis dan tetanus paling cepat dapat
diberikan pada usia 6 minggu. Vaksin DTPa diberikan pada usia 2, 4 dan 6
bulan. Anak usia diatas 7 tahun diberikan vaksin Td atau Tdap. Selanjutnya
DTP 6 dapat diberikan Td/Tdap di usia 10-12 tahun dan booster Td diberikan
setiap 10 tahun. Efek samping yang ditimbulkan dari vaksin ini adalah
kemerahan, nyeri, bengkak, anak mengantuk, kemungkinan anak rewel dan
sulit makan dalam 2 hari setelah injeksi. Penanganan efek samping dapat
berupa memberikan anak minum lebih banyak, mengenakan pakaian yang
tipis jika anak demam dan berikan parasetamol, mengompres dingin area
suntikan dan membawa ke dokter jika reaksi memberat.

6.4.3 Rotavirus

Vaksin rotavirus telah terbukti sangat efektif dengan dampak yang besar.
Pemberian vaksin rotavirus membuktikan efektivitas dalam penurunan rawat
inap rumah sakit untuk gastroenteritis di beberapa negara Eropa. Pemberian
vaksin rotavirus monovalen diberikan dua kali, dosis awal diusahakan tidak
diberikan lebih dari 15 minggu sehingga dianjurkan diberikan pada usia 6 -14
minggu, dosis selanjutnya diberikan dengan interval minimal empat minggu.
Batas akhir pemberian pada usia 24 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen
diberikan 3 kali, dosis pertama diberikan usia 6 -14 minggu, dosis kedua dan
ketiga diberikan dengan interval 4 -10 minggu. Efek samping yang biasanya
timbul adalah batuk, kehilangan nafsu makan, pilek dan muntah.

6.4.4 Polio

Sejak pembentukan Global Polio Eradication Initiative pada tahun 1988 oleh
WHO, kasus polio dilaporkan turun sebanyak 99% dengan kelumpuhan
dicegah pada sekitar 10 juta orang. Vaksin polio diberikan pada anak usia 2, 4,
12-18 bulan dan 4-6 tahun. Vaksin Polio diberikan secara oral melalui mulut,
jika anak muntah dalam waktu 30 menit maka dapat diberikan dosis ulang.
Pekan imunisasi Nasional (PIN) polio dilaksanakan karena banyaknya kasus
yang ditemukan tidak memiliki catatan vaksin polio. Untuk vaksin polio jarang
sekali ditemukan efek samping atau reaksi pada anak.

6.4.5 Varicella Virus

Vaksin ini diberikan pada usia 12-18 bulan, akan tetapi vaksin ini lebih baik
pemberiannya pada anak usia setelah 12 bulan. Usia paling terbaik
mendapatkan vaksin ini adalah usia sebelum anak masuk sekolah. Apabila

Bab 6 Imunisasi Pada Anak 65

diberikan pada usia lebih dari 13 tahun maka perlu dua dosis dengan interval
minimal 4 minggu. Vaksin ini bisa diberikan bersamaan dengan vaksin MMR
(Measles, Mumps & Rubella). Nyeri dan kemerahan merupakan efek samping
yang biasa muncul setelah injeksi dilakukan. Selanjutnya pada beberapa anak
mungkin mengalami demam.

6.4.6 Measles, Mumps, Rubella (MMR)

Vaksin MMR dapat diberikan bersamaan dengan vaksin varisela, atau paling
tidak berjarak 4 minggu. Vaksin ini diberikan pada anak berusia 12-15 bulan,
4-6 tahun. Jika vaksin campak diberikan pada usia 9 bulan maka MMR/MR
diberikan pada usia 15 bulan (minimal interval 6 bulan). Akan tetapi jika
sampai dengan usia 12 bulan belum menerima vaksin campak, maka dapat
langsung diberikan vaksin MMR/MR. Efek samping yang mungkin muncul
antara lain demam setelah injeksi dilakukan, kemerahan, nyeri di area injeksi
dan muncul ruam kulit.

6.4.7 Pneumokokkus (PCV)

Vaksin pneumokokus yang diberikan pada usia 7-12 bulan maka akan
mendapatkan dua kali dengan interval 2 bulan. Jika diberikan pada usia diatas
setahun maka cukup diberikan sekali. Keduanya perlu booster pada usia lebih
dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak usia 2
tahun PCV cukup diberikan satu kali.

6.4.8 Hepatitis B

Vaksin Hepatitis B paling baik diberikan 12 jam setelah lahir dengan
pemberian vitamin k minimal 30 menit sebelumnya. Pemberian vaksin HB
monovalen dimulai pada usia 0, 1 dan 6 bulan. Bayi yang lahir dari ibu HBsAg
positif, diberikan vaksin Hepatitis B dan imunoglobulin hepatitis B pada
ekstremitas yang berbeda. Efek samping bisa berupa rasa sakit, kemerahan,
pembengkakan di area penyuntikan dan hilang dalam waktu dua hari setelah
penyuntikan.

6.4.9 Campak

Vaksin campak adalah vaksin virus hidup yang dilemahkan. Vaksin ini
diberikan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak.
Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti diare, radang paru

66 Ilmu Kesehatan Anak

pneumonia, radang otak, kebutaan, gizi buruk bahkan kematian (Indonesian
Pediatric Society, 2015). Imunisasi campak diberikan diusia 9 bulan sampai
dengan kurang dari 15 tahun. Efek samping yang biasanya muncul adalah
anak bisa mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari.

6.4.10 Vaksin DT (Diphtheria Tetanus) & Td

Vaksin DT diberikan untuk kekebalan terhadap difteri dan tetanus pada anak.
Sedangkan vaksin Td adalah imunisasi ulangan terhadap tetanus dan difteri.
Vaksin ini diberikan secara intramuskular dengan dosis 0.5ml. Efek samping
yang dapat dialami anak adalah lemas dan kemerahan pada lokasi suntikan
yang hanya bersifat sementara.

6.4.11 Vaksin TT

Vaksin TT merupakan suspensi koloid homogen berwarna putih susu yang
mengandung toksoid tetanus murni yang teradsorpsi ke dalam alumunium
fosfat. Vaksin TT diberikan melalui rute intramuskular atau subkutan dengan
dosis 0.5ml. Jarang sekali terjadi efek samping setelah penyuntikan vaksin TT
akan tetapi jika pun ada maka gejala ringan seperti lemas dan kemerahan di
area suntikan.

6.5 Manajemen Keperawatan Anak yang
Menerima Imunisasi

6.5.1 Pengkajian Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan

Pengkajian dan diagnosa keperawatan adalah tanggung jawab perawat dalam
meninjau catatan kesehatan anak. Ball, Bandler and Cowen, (2012)
menyebutkan bahwa perawat perlu mengidentifikasi kemungkinan atau
potensi kontraindikasi terhadap vaksin dengan mengkaji hal berikut:

1. Apakah anak mengalami reaksi serius terhadap suatu vaksin? Apakah
anak sudah mendapat vaksinasi dalam 4 minggu terakhir?

2. Adakah alergi terhadap komponen vaksin (misal gelatin atau ragi)
atau lateks?

Bab 6 Imunisasi Pada Anak 67

3. Apakah anak mengalami kondisi medis yang serius (kejang, kanker,
infeksi HIV, penyakit kekebalan tubuh, kelainan darah, asma) atau
mengalami mengi dalam 12 bulan terakhir?

4. Apakah anak pernah menerima produk darah, imunoglobulin, atau
obat anti virus apapun dalam setahun terakhir?

5. Apakah anak ada mengkonsumsi kortison, prednison atau steroid lain
atau pengobatan kanker dan menjalani pengobatan radiasi dalam 3
bulan terakhir?

6. Apakah remaja putri kemungkinan hamil saat ini atau bulan depan?

Penyedia layanan kesehatan kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan
imunisasi pada anak-anak. Hal yang penting adalah mengkaji status imunisasi
anak-anak dan saudara kandung yang hadir selama dilakukan kunjungan
perawatan. Gunakan jadwal imunisasi untuk mengidentifikasi vaksin yang
dibutuhkan. Selanjutnya, hal penting lainnya setelah dilakukan imunisasi
adalah dengan memberikan edukasi pada orang tua.

Hal tersebut adalah:

1. Nyeri lokal, kemerahan dan bengkak seringkali terjadi. Gunakan es di
tempat suntikan untuk membantu mengurangi pembengkakan dan
nyeri. Ibuprofen dapat mengurangi demam dan nyeri. Gejala tersebut
dapat hilang dalam satu atau dua hari.

2. Anak mungkin mengalami demam, nyeri sendi, nyeri otot, atau
kelelahan dalam beberapa jam hingga hari setelah vaksin diberikan.
Berikan ibuprofen untuk mengatasi nyeri.

3. Reaksi alergi mungkin menunjukkan gatal-gatal disekitar area
suntikan. Reaksi alergi yang parah ditunjukkan dengan wajah yang
memerah, pembengkakan pada wajah, mulut atau tenggorokan. Hal
lainnya bisa menunjukkan kesulitan bernafas, tidak berespon hingga
tidak sadarkan diri. Hubungi gawat darurat, sementara itu minta anak
untuk berbaring dengan kaki terangkat lebih tinggi dari ketinggian
jantung sampai pertolongan tiba.

68 Ilmu Kesehatan Anak

6.5.2 Kebijakan Penyimpanan Vaksin

Vaksin harus diperlakukan dengan sangat spesial dan hati-hati sehingga setiap
anak yang menerimanya mendapatkan respon imun yang adekuat. Beberapa
hal berikut adalah kebijakan penyimpanan vaksin (Kemenkes RI, 2014):

1. Vaksin disimpan di lemari es atau freezer
2. Simpan vaksin dibagian rak tengah
3. Periksa suhu lemari es dan freezer dan catat suhu di buku pencatatan
4. Buatlah rencana darurat untuk penyimpanan vaksin jika listrik padam

6.5.3 Pemberian Vaksinasi

Pemberian vaksin harus mengikuti standar yang ditetapkan oleh masing-
masing fasilitas kesehatan. Menurut Ball, Bfndler and Cowen, (2012) beberapa
hal berikut adalah hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian vaksin:

1. Periksa masa berlaku dari vaksin sebelum digunakan. Ikuti saran atau
arahan yang ditetapkan oleh pabrik obat

2. Gunakan jarum suntik yang lebih kecil untuk bayi sehingga
pemberian vaksin rute intramuskular dapat mengenai kedalam massa
otot

3. Regangkan kulit untuk mengurangi jumlah jaringan subkutan yang
dilewati jarum

4. Ikuti pedoman penggunaan jarum suntik di masing-masing fasilitas
5. Gunakan bagian paha atas untuk injeksi pada bayi berusia kurang dari

12 bulan, menggunakan bagian trisep luar untuk anak yang lebih
besar usianya

Ketika orang tua menolak untuk menerima vaksin tertentu, mintalah orang tua
menandatangani dokumen penolakan yang diinformasikan. Jika wabah
penyakit terjadi, anak yang tidak diimunisasi harus dijauhkan dari sekolah
ataupun penitipan anak. Untuk setiap vaksin yang diberikan, perawat harus
menuliskan bulan, hari dan tahun pemberian, vaksin yang diberikan, pabrik,
tanggal kadaluarsa dari imunisasi yang diberikan, rute pemberian, nama yang
memberikan. Berikan catatan imunisasi anak kepada orang tua dan masukkan
informasi tentang vaksin yang diberikan ke dalam catatan perawatan
kesehatan.

Bab 6 Imunisasi Pada Anak 69

6.5.4 Menurunkan Nyeri dan Cemas pada Pemberian
Imunisasi

Usahakan agar setiap pemberian vaksin untuk mengurangi rasa sakit yang
berhubungan dengan suntikan dan area suntikan. Berikan imunisasi yang
sesuai kepada anak seefisien mungkin sambil memberikan dukungan pada
anak. Adapun saran yang bisa dilakukan untuk mengurangi atau menangani
nyeri berdasarkan Stratton et al., (2012) adalah :

1. Latih orang tua untuk memegang dan berbicara dengan anak selama
penyuntikan. Penggunaan mainan dan senyuman dapat mengurangi
ketegangan pada anak

2. Dorong orang tua untuk memberikan kenyamanan setelah
penyuntikan. Bayi bisa saja diberikan susu atau disusui selama
pemberian vaksinasi

3. Tekan area suntikan kurang lebih 10 detik sebelum injeksi diberikan
4. Usahakan proses pemberian vaksin dilakukan dengan tidak berlama-

lama
5. Berikan jawaban yang jujur pada anak bahwa jarum suntik

menyebabkan rasa sakit
6. Jika anak sudah bisa memilih, biarkan anak memilih area suntikan.

70 Ilmu Kesehatan Anak

Bab 7

Perubahan Fisiologi Bayi Baru
Lahir

7.1 Pola Pertumbuhan Neonatus

Kecepatan pertumbuhan tertinggi timbul selama kehidupan fetus, faktanya
perkembangan satu sel terfertilisasi menjadi 3,5 kg neonatus menunjukkan
peningkatan panjang hingga 5000 kali lipat, peningkatan pada luas permukaan
61 x 106, dan peningkatan berat 6 x 1012. Kecepatan pertumbuhan pasca lahir
terbesar terjadi segera setelah lahir, diikuti pertumbuhan yang lebih lambat
selama masa kanak-kanak, hanya untuk meningkat sekali lagi saat pubertas
sebelum akhirnya menghilang saat terjadinya penyatuan lempeng epifisis.
Perlambatan pertumbuhan cepat terjadi saat anak berusia 3-4 tahun (Elshazzly
and Caban, 2019).

7.1.1 Kendali hormonal pada pertumbuhan neonatus

Hormon yang memediasi pertumbuhan setelah kelahiran memainkan peran
yang sama pada pertumbuhan janin. Hormon pertumbuhan terdapat dalam
konsentrasi tinggi dalam janin, meskipun reseptor hormon pertumbuhan sangat
terbatas jumlahnya. Meskipun hal ini membatasi aktivitas hormon
pertumbuhan pada janin, hormon pertumbuhan tetap berperan pada

72 Ilmu Kesehatan Anak

pertumbuhan janin yang tercermin pada berat lahir rata-rata 1 SD di bawah
rata-rata pada bayi dengan defisiensi hormon pertumbuhan. Bayi dengan
sindrom laron (yaitu resistensi hormon pertumbuhan disebabkan kurang atau
ketiadaan reseptor hormon pertumbuhan) mengalami peningkatan hormon
pertumbuhan dan kadar faktor pertumbuhan IFG-1 serum yang rendah, dan
mereka memiliki penurunan panjang dan berat lahir. Defisiensi hormon tiroid
tidak secara langsung memengaruhi berat lahir bayi, namun pemanjangan
gestasi merupakan tanda dari hipotiroidisme kongenital, dan faktor ini akan
dengan sendirinya meningkatkan berat bayi. Laktogen plasenta tidak memiliki
efek yang bermakna pada ukuran lahir bayi. Namun konsentrasi hormon
pertumbuhan plasenta berkurang secara bermakna di dalam serum wanita
hamil yang mengandung janin dengan IUGR. Pada fase setelah lahir, hormon-
hormon ini penting, namun dengan peranan yang berbeda. Peningkatan
produksi Hormon pertumbuhan terjadi saat lahir dan menurun selama dua
minggu setelah lahir. Terjadi pelepasan hormon pertumbuhan dengan pola
pulsatile, namun tidak seperti pada orang dewasa, berbeda ritme sekresi
hormon pertumbuhan saat tidur. Saat usia 4 hari, sekresi hormon pertumbuhan
dan insulin saling memengaruhi, yang menunjukkan hubungan antara
pemberian makan dan sekresi hormon pertumbuhan. Peningkatan hormon
pertumbuhan tidak berhubungan dengan kecepatan pertumbuhan pada bayi
prematur, namun peningkatan persisten dari serum hormon pertumbuhan
dikaitkan dengan perkembangan retinopati pada bayi prematur. Bayi prematur
memiliki amplitudo semburan sekresi yang lebih tinggi, kecepatan produksi
yang lebih tinggi, dan massa sekresi hormon pertumbuhan yang lebih besar
dibandingkan bayi cukup bulan.

Meskipun serum hormon pertumbuhan meningkat pada bayi SGA, angka-
angka kembali normal dalam 1 bulan, dan meski peningkatan ini berhubungan
dengan pola pertumbuhan dalam rahim, hal ini tidak berhubungan dengan
pertumbuhan pasca lahir. Bayi lahir dengan SGA memiliki profil hormon
pertumbuhan dan IGF-1 yang berbeda dengan bayi dengan berat lahir normal,
saat lahir dan saat usia 3 hari, hormon pertumbuhan basal tinggi, amplitudo
puncak cukup rendah, dan frekuensi puncak dari hormon pertumbuhan lebih
tinggi, namun serum IGF-1, protein pengikat IGF (IGFBP)-3, dan leptin sangat
menurun (Beardsall and Dunger, 2007). Meskipun serum hormon
pertumbuhan lebih tinggi pada neonatus, namun reseptor hormon
pertumbuhan berkurang, ditunjukkan dengan serum GHBP yang rendah.
Peningkatan GHBP terjadi saat usia 6 bulan.

Bab 7 Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir 73

7.1.2 Termoregulasi

Bayi baru lahir memiliki kesulitan mempertahankan temperatur tubuh
disebabkan area permukaan tubuh yang relatif luas, regulasi suhu yang buruk
dan sedikit massa yang dapat digunakan sebagai penghasil panas. Kehilangan
panas dapat timbul disebabkan antara lain; evaporasi (bayi baru lahir yang
basah), konduksi (kulit kontak dengan permukaan yang dingin), konveksi
(aliran udara berhembus pada bayi), dan radiasi (kehilangan panas akibat dekat
dengan permukaan dingin, yang merupakan faktor paling sulit untuk
dikendalikan). Termos Netralitas adalah rentang temperatur yang dapat bayi
pertahankan dengan kecepatan metabolik minimal dengan kontrol vasomotor.
Temperatur kritis adalah temperatur yang membutuhkan respon metabolik
adaptif terhadap dingin sebagai usaha mengganti kehilangan panas. Bayi
menghasilkan panas dengan meningkatkan aktivitas metabolik dengan
menggigil (shivering) seperti pada orang dewasa, termogenesis non shivering,
dan pertukaran kecil dari ion-ion pada otot rangka. Jaringan lemak coklat
(BAT) dapat terlibat dalam termoregulasi pemberian makan dan siklus tidur
pada bayi dengan peningkatan temperatur tubuh memberikan sinyal
peningkatan akan kebutuhan metabolik. Pernafasan mitokondrial yang tidak
berpasangan yang timbul dalam BAT dimana energi tidak disimpan dalam
ATP namun dilepaskan sebagai panas dapat menjadi inaktif oleh vasopressor,
agen anestesi, dan kekurangan nutrisi. Kegagalan mempertahankan
termoneutralias mengarah pada konsekuensi metabolic dan fisiologis yang
serius (Lyon, 2004).

7.2 Sistem Respirasi

Pembentukan saluran pernafasan telah terjadi sejak usia embrio 4 minggu,
dimana terbentuk ventral bud di dalam foregut. Lalu muncul tabung epithelial,
membelah dan tumbuh menjadi mesenkim disekitarnya. Juga mulai terbentuk
hubungan pembuluh darah. Pada minggu ke 5-17 terjadi perkembangan
percabangan konduktor saluran udara, seiring dengan pembentukan
percabangan pembuluh darah. Pada bagian perifer mengandung prekursor
parenkim. Pada minggu 16-26, terjadi pertambahan pembentukan saluran
udara serta pembuluh darah, diferensiasi sel tipe I dan tipe II, pembentukan
barrier tipis air-darah, serta mulai diproduksi surfaktan. Pada minggu 25
hingga kelahiran, terjadi pertambahan pembentukan saluran udara, dilatasi

74 Ilmu Kesehatan Anak

ruang tempat pertukaran udara, serta maturasi sistem surfaktan. Pada minggu
36 hingga kelahiran juga mulai terbentuk alveolus. Pada saat lahir hingga 18
bulan pembentukan alveolus dari perkembangan septa sekunder(James and
Adamsons Jr, 1964). Paru-paru bayi baru lahir tidak memiliki alveolus dan
akan terbentuk setelah dilahirkan. Namun penelitian terakhir melaporkan
bahwa pembentukan alveolus dimulai sejak minggu 36 gestasi dan alveolus
pertama dapat dideteksi pada awal minggu 32 atau 34 Diperkirakan sekitar 50
juta alveolus saat lahir. Karena paru-paru dewasa memiliki 300 juta alveolus
atau lebih lebih dari 80% dari semua alveolus terbentuk setelah lahir. Dengan
kata lain, proses alveolisasi sebagian besar merupakan peristiwa setelah
lahir.(James, 1959).

Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah:

1. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar
rahim yang merangsang pusat pernafasan di otak.

2. Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi akibat kompresi dada
selama persalinan, yang menstimulasi masuknya udara ke dalam
paru-paru secara mekanis. Interaksi antara sistem respirasi,
kardiovaskuler, dan susunan saraf pusat menghasilkan pernafasan
yang ritmis dan kontinyu dan denyut yang dibutuhkan bagi
kehidupan.

3. Penumpukan karbondioksida (CO2). Usai bayi lahir, kadar CO2
meningkat dalam darah dan akan menstimulasi pernafasan.
Penurunan oksigen akan mengurangi gerakan nafas janin, namun
sebaliknya kenaikan karbondioksida akan meningkatkan frekuensi
dan kedalaman gerakan nafas janin.

4. Perubahan suhu. Temperatur dingin akan menstimulasi aktivitas
pernafasan.

Bayi aterm mengandung cairan dalam paru-parunya. Ketika bayi melewati
jalan lahir selama persalinan, sepertiga cairan ini dikompresi keluar dari paru-
paru. Bayi yang dilahirkan dengan seksio sesaria tidak mendapatkan manfaat
dari kompresi rongga dada dan bisa menderita paru-paru basah dalam waktu
yang lebih lama. Dengan beberapa tarikan nafas pertama, udara memenuhi
ruang trakea dan bronkus neonatus sehingga sisa cairan di paru-paru
dikeluarkan dari paru-paru dan diserap oleh pembuluh darah darah dan limfe.

Bab 7 Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir 75

Oksigen yang cukup adalah faktor yang penting dalam menjaga kecukupan
pertukaran udara. Bila terjadi hipoksia, pembuluh darah paru akan
berkontriksi. Akibatnya, sedikit pembuluh darah yang terbuka bagi pertukaran
oksigen di alveolus, sehingga menurunkan oksigenasi jaringan, yang akhirnya
memperburuk hipoksia. Peningkatan aliran darah paru akan memudahkan
pertukaran gas dalam alveolus dan akan membantu mengeluarkan cairan paru
serta menstimulasi perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.

7.3 Sistem Kardiovaskular

Setelah bayi lahir terdapat perubahan pada sistem peredaran darah, yaitu
foramen ovale pada atrium jantung menutup, disertai penutupan duktus
arteriosus yang menghubungkan arteri pulmonalis dan aorta. Perubahan
tersebut terjadi disebabkan tekanan pada seluruh sistem pembuluh darah,
dimana saat tali pusat dipotong, resistansinya akan meningkat dan tekanan
atrium kanan menurun disebabkan darah ke atrium berkurang, yang kemudian
menurunkan volume serta tekanan atrium kanan. Tahanan pembuluh pulmonal
menyebabkan penutupan foramen ovale setelah beberapa minggu, aliran darah
pada duktus arteriosus botali terbalik dari kiri ke kanan. Peristiwa ini disebut
sirkulasi transisi.

Penutupan duktus arteriosus secara fisiologi terjadi saat usia bayi 10-25 jam
yang disebabkan kontraksi otot polos pada ujung arteri pulmonalis dan secara
anatomis pada usia 2-3 minggu (Serón-Ferré et al., 2016). Pada bayi baru lahir,
reaksi pembuluh darah masih sangat rendah, sehingga kondisi kehilangan
darah dehidrasi, serta kelebihan volume sangat sulit untuk ditoleransi.
Pengaturan cairan pada neonatus harus dilakukan dengan teliti. Tekanan
sistolik merupakan indikator yang memadai untuk menilai volume sirkulasi
darah dan digunakan sebagai parameter yang cukup dalam penggantian
volume. Autoregulasi aliran darah otak pada bayi baru lahir tetap
dipertahankan normal pada tekanan sistemik 60-130 mmHg. Frekuensi nadi
bayi rata-rata 120x/menit dengan tekanan darah sekitar 80/60 mmHg.

76 Ilmu Kesehatan Anak

7.4 Sistem Renal

Cairan dan elektrolit

Pada usia 12 minggu gestasi, janin memiliki total air tubuh 94% dari berat
badan. Jumlah ini menurun hingga 80% pada usia 32 minggu gestasi dan 87%
saat lahir. Pengurangan lebih jauh sebanyak 3-5% dari total air tubuh timbul
pada 3-5 hari pertama kehidupan. Cairan tubuh berlanjut berkurang dan
mencapai kadar dewasa (kurang lebih 60% berat badan) pada usia satu
setengah tahun. Cairan ekstraseluler juga menurun pada usia 1-3 tahun. Bayi
prematur dapat mencapai kecukupan cairan dalam satu minggu setelah
kelahiran. Pengurangan pasca lahir pada volume cairan ekstraseluler secara
fisiologis sangat dominan, meski terjadi banyak variasi intake
cairan.(Chevalier, 1996)

Kecepatan filtrasi glomerulus (GFR) dan fungsi awal ginjal

Kecepatan filtrasi glomerulus (GFR) bayi baru lahir lebih lambat dibandingkan
dewasa. Dari 21 mL/menit/1,73m2 pada saat lahir pada bayi aterm, GFR
dengan cepat meningkat hingga 60 mL/menit/1,73m2 pada usia minggu 2.
GFR mencapai kecepatan dewasa pada usia 18 bulan hingga 2 tahun. Bayi
prematur memiliki GFR sedikit lebih rendah dibandingkan bayi cukup bulan.
Sebagai tambahan terhadap perbedaan GFR ini, kapasitas mengkonsentrasi
pada bayi prematur dan bayi cukup bulan di bawah kapasitas orang dewasa.
Bayi merespon kekurangan cairan dengan peningkatan osmolaritas urin hingga
maksimum 600 mOsm/kg. hal ini kontras dengan orang dewasa, yang
konsentrasi urinnya dapat mencapai 1200 mOsm/kg. perbedaan pada kapasitas
mengkonsentrasikan urin disebabkan tidak sensitifnya tubulus collecting pada
bayi baru lahir terhadap hormon antidiuretik. Meski bayi baru lahir tidak dapat
mengkonsentrasikan urin seefisien orang dewasa, bayi baru lahir dapat
mengekskresikan urin yang sangat encer pada 30-50 mOsm/kg. bayi baru lahir
tidak mampu untuk mengekskresikan kelebihan natrium, disebabkan oleh
defek tubulus. Bayi cukup bulan mampu menahan natrium, namun bayi
prematur tidak memiliki ekskresi natrium urin yang baik, meskipun dengan
pembatasan intake natrium.

Kalsium

Kalsium secara aktif dihantarkan melalui plasenta. Dari total kalsium yang
melewati plasenta, 75% timbul setelah usia gestasi 28 minggu. Hal ini
sebagian berperan pada tingginya kejadian hipokalsemia pada bayi prematur.

Bab 7 Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir 77

Neonatus terpapar dengan hipokalemia disebabkan terbatasnya penyimpanan
kalsium, imaturitas ginjal, dan hipoparatiroid relatif sekunder oleh sebab
supresi karena tingginya kadar kalsium janin. Beberapa bayi memiliki resiko
tinggi terhadap gangguan keseimbangan neonatus disebabkan oleh kelainan
genetik, kondisi patologis intrauterin, atau trauma lahir. Hipokalsemia
didefinisikan bila kadar kalsium terionisasi kurang dari 1,22 mmol/L (4,9
mg/dL). Resiko paling besar kejadian hipokalsemia terjadi pada bayi prematur,
pasien bayi yang mengalami pembedahan, dan bayi dari kehamilan dengan
komplikasi, seperti pada ibu diabetes atau yang menerima infus bikarbonat.
Kalsitonin, yang menghambat perpindahan kalsium dari tulang, meningkat
pada bayi prematur dan asfiksia.

Magnesium

Magnesium ditranspor aktif via plasenta. Setengah dari total magnesium tubuh
berada dalam plasma dan jaringan lunak. Hipomagnesium dijumpai pada
retardasi pertumbuhan, ibu diabetes, usai transfusi pertukaran, dan
hipoparatiroid. Mekanisme interaksi magnesium dan kalsium tidak diketahui
jelas, namun mereka saling terkait. Beberapa bayi yang beresiko hipokalsemia
juga memiliki resiko hipomagnesemia. Defisiensi magnesium diduga pada
bayi yang mengalami kejang yang tidak respon terhadap terapi kalsium.

7.5 Sistem Hematologi dan Hemostatik

Neonates mengalami perubahan yang signifikan pada sistem hematologi dan
hemostasis. Yang paling bermakna, adalah perubahan struktural dan
fungsional pada sel darah merah neonatal dan potensi dampak dari fetal
hemoglobin (HbF) pada penghantaran oksigen ke jaringan. Variasi juga
terlihat pada volume darah dan komponen sel darah serta pada parameter
hemostatik. Perubahan-perubahan ini meningkatkan resiko anemia,
tromboemboli, dan koagulopati pada neonatus. Peristiwa perubahan utama
bagi neonatus adalah penghentian sirkulasi plasenta dengan penjepitan (klem)
korda umbilikalis. Waktu dari penjepitan memengaruhi jumlah transfusi
plasenta dan diikuti volume plasma dan eritrosit neonatus. Saat kelahiran,
volume darah fetus berkisar 70-70 mL/KgBB; volume darah plasenta
mencakup 30% dari volume tersebut. Pada usia gestasi 30 minggu, sekitar
setengah dari volume ini berada dalam sirkulasi fetal, meningkat menjadi dua

78 Ilmu Kesehatan Anak

pertiga saat kelahiran. Volume darah pada neonatus normal berkisar 85
mL/Kg, bervariasi dari 50 hingga 100 mL/kg tergantung pada arah dan tingkat
transfusi darah antara fetus dan plasenta saat lahir.

Arteri umbilikalis berkontriksi saat lahir sebagai respon terhadap peningkatan
PaO2. Oleh sebab itu darah tidak mengalir dari janin ke dalam plasenta melalui
pembuluh darah ini. Vena umbilikus tetap berdilatasi, sehingga darah mengalir
dari plasenta menuju janin via gravitasi. Jika janin yang baru dilahirkan
dipertahankan pada tahu di bawah ketinggian plasenta, aliran darah dari
plasenta menuju fetus akan timbul selama tiga menit pertama setelah kelahiran.
Jika bayi baru lahir ditinggikan secara signifikan diatas plasenta, darah dalam
vena umbilikus dan mengalir kembali ke dalam plasenta.

Waktu penjepitan tali umbilikus dan posisi dari janin terhadap plasenta
memengaruhi transfusi plasenta. Jika posisi janin dipertahankan pada
ketinggian introitus (kurang lebih 10 cm) hingga saat tali dijepit atau
dipertahankan pada posisi 40 cm di bawah introitus selama tidak lebih dari 30
detik, janin menerima transfusi plasenta sebesar 80 mL. (Yao dan Lind).
Jumlah transfusi plasenta dapat diabaikan bila janin dipertahankan pada 50-60
cm di atas introitus. Dengan mempertahankan janin pada ketinggian introitus
atau sedikit di bawahnya, jika tali pusat dijepit selama 30-60 detik setelah
persalinan, transfusi plasenta meningkatkan volume darah bayi baru lahir
sebesar 15%-20%; penjepitan pada 60-90 detik menghasilkan peningkatan
25%; dan penjepitan pada 3 menit menghasilkan peningkatan 50-60%. Tidak
dijumpai efek buruk pada janin lahir tepat waktu yang diletakkan di atas perut
ibu dengan penundaan penjepitan hingga akhir pulsasi (transfusi
“intermediate”). Ada konsensus tentang waktu untuk penjepitan tali pusat.
Awal (sebelum 30 hingga 40 detik) dibandingkan akhir (setelah 3 menit)
penjepitan dapat berakibat pada perbedaan 30% volume darah dan massa
eritrosit.

Waktu penjepitan tali pusat dan tingkat transfusi plasenta memiliki efek
fisiologi dan klinis pada sistem tubuh. Tidak jelas signifikansi perubahan ini
pada janin sehat, namun tali pusat yang dijepit terlalu dini, menghentikan darah
menuju janin yang memiliki peran penting pada pembukaan paru-paru,
peningkatan perfusi pulmonal, peningkatan pembersihan cairan paru, dan
peningkatan pengiriman oksigen menuju jaringan janin. Potensi keuntungan
penjepitan tertunda dibandingkan dini telah dijabarkan. Penjepitan tali pusat
dini dapat memengaruhi penyelesaian transisi fisiologi normal saat lahir,
berakibat pada 25-30% penurunan volume darah. Penjepitan tertunda

Bab 7 Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir 79

dikaitkan dengan peningkatan inisial volume darah total, yang penting bagi
transisi inisial. Meskipun, pada hari ketiga setelah lahir, perbedaan pada
volume darah antara penjepitan awal dan tertunda adalah cukup kecil sebagai
akibat pergeseran cairan normal setelah kelahiran dengan sebuah penurunan
pada volume plasma. Papago menyebut bahwa penjepitan tertunda atau
penjepitan setelah pulsasi menghilang dikaitkan dengan peningkatan
polisitemia sementara hingga 12 jam setelah kelahiran, lalu kembali normal
dalam 24-36 jam. Tidak ditemukan efek buruk dari polisitemia sementara ini.
Besi yang disimpan pada usia 3 bulan tidak dipengaruhi dengan waktu
penjepitan tali pusat. Penjepitan tali pusat tertunda pada bayi aterm telah
dilaporkan mengurangi anemia pada usia dua hingga tiga bulan, terutama pada
janin dari ibu yang anemia.

Pada janin yang prematur, penjepitan tali pusat tertunda telah dilakukan karena
pertimbangan terhadap hiperbilirubinemia, disebabkan oleh peningkatan
volume eritrosit, dan distress pernafasan. Distress pernapasan dapat disebabkan
oleh pergerakan dari volume plasma yang berlebih yang tidak dapat
diakomodasi dalam kompartemen pembuluh darah ke dalam rongga
ekstravaskular, termasuk area di sekitar paru, dengan penurunan pada
komplians paru dan kapasitas residual fungsional. Meskipun, jika tali pusat
janin ini dijepit terlalu dini, mereka dapat menjadi hipovolemik, dengan
penurunan pada eritrosit, berakibat pada penurunan kapasitas membawa
oksigen, delivery oksigen, dan aliran darah pulmonal, membatasi
pengembangan paru. Meningkatkan transfusi plasenta-janin pada janin
prematur dengan tujuan meningkatkan pengembangan paru, menurunkan
kebutuhan akan transfusi kemudian dan pemaparan darah donor, serta
peningkatan sel stem autologus (terutama kaya dalam darah janin usia 25-31
minggu), yang memberikan keuntungan hematologis dan imunologis jangka
panjang. (wardrobe). Studi terakhir menyebutkan bahwa ada manfaat dari
tidak segera melakukan penjepitan tali pusat pada bayi prematur. Sebuah meta
analisis dari tujuh uji membandingkan penjepitan dini dan tertunda pada janin
prematur. Menunda penjepitan tali pusat hingga dua menit dikaitkan dengan
hematokrit yang lebih tinggi, lebih sedikit transfusi darah pada anemia (25%
dibandingkan 52%), dan lebih sedikit perdarahan intraventrikuler (17%
dibandingkan 26%).

Pada beberapa bayi, tidak terjadi peningkatan transfusi plasenta meski
dilakukan penundaan penjepitan. Misalkan pada bayi dengan hydrop fetalis
dimana cairan sudah berlebihan dan tidak dapat menerima volume tambahan.

80 Ilmu Kesehatan Anak

Transfusi plasenta pada bayi eritroblastosis dapat meningkatkan jumlah
antibodi maternal, yang merusak eritrosit janin dan neonatus. Meskipun bayi-
bayi ini sering anemis, pemberian PRC lebih tepat dalam usaha meningkatkan
eritrosit dibandingkan transfusi plasenta. Penjepitan dini dapat lebih tepat pada
bayi dengan resiko polisitemia, seperti bayi dari ibu diabetes atau bayi dengan
pertumbuhan yang sangat terganggu. Dengan kelahiran multiple, penjepitan
dini tali pusat direkomendasikan untuk melindungi janin yang belum
dilahirkan karena sirkulasi pada bayi-bayi ini dapat terhubung via plasenta.
Penjepitan dini juga dihindari pada bayi dengan asfiksia berat sehingga
tindakan resusitasi dapat segera dimulai, meski pada bayi-bayi demikian,
hipovolemik dan penurunan kapasitas pembawa oksigen juga harus dihindari.

7.5.1 Perubahan pada parameter hematologist

Parameter hematologis berbeda pada neonatus dan orang dewasa, berubah
cepat selama minggu pertama setelah kelahiran. Variasi terjadi pada setiap
bayi dan dalam bayi tersebut seiring waktu.

Volume darah

Volume darah berkisar 80-100 mL/KgBB pada bayi aterm dan 90-105
mL/KgBB pada bayi prematur. Variasi pada volume darah saat lahir
disebabkan terutama oleh transfusi plasenta dan usia gestasi. Volume darah
pada bayi prematur lebih tinggi disebabkan peningkatan volume plasma.
Volume plasma menurun seiring usia gestasi.

Sel darah merah

Jumlah eritrosit berkisar 4,6 hingga 5,2 juta/mm3 saat lahir, meningkat sekitar
500 ribu dalam jam-jam awal setelah lahir, kemudian menurun hingga sekitar
5,2 juta/mm3 pada akhir minggu pertama. Eritrosit berinti terlihat pada
kebanyakan bayi baru lahir selama 24 jam pertama, diduga sebagai respon
terhadap stress persalinan, menghilang dalam 4 hari pada bayi aterm dan
dalam 1 minggu pada kebanyakan bayi prematur. Peningkatan jumlah eritrosit
berinti juga ditemukan pada bayi yang lebih imatur (dan dapat bertahan lebih
dari satu minggu pertama) dan pada bayi dengan sindrom Down atau kelainan
kongenital. Eritrosit berinti juga terlihat pada neonatus sebagai respon stress
akut terhadap asfiksia, dengan anemia, dan perdarahan yang mengikuti. Pada
individu yang lebih tua, sel-sel ini jarang ditemukan dan dikaitkan dengan
eritropoiesis abnormal. Kecepatan pengendapan eritrosit (ESR) berkurang

Bab 7 Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir 81

pada neonatus disebabkan oleh perubahan pada viskositas plasma, konten
protein, dan hematokrit. Eritrosit neonatus berbeda dengan orang dewasa.

Hemoglobin dan hematokrit

Kadar hemoglobin pada bayi lebih tinggi, berkisar 13,7 hingga 20,1 g/dL (137
hingga 201 g/L), kebanyakan pada rentang 16,6 hingga 17,5 g/dL (166 hingga
175 g/L). kadar hemoglobin meningkat hingga 6 g/dL (60 g/L) dalam jam-jam
pertama setelah lahir. Peningkatan ini merupakan hasil dari pergeseran
distribusi cairan setelah lahir, dengan sebuah penurunan volume plasma dan
peningkatan eritrosit dan sebagian dikompensasi untuk transfusi plasenta.

Konsentrasi hemoglobin menurun pada akhir minggu pertama hingga nilainya
mendekati nilai pada kadar darah tali pusat. Kadar hemoglobin lebih tinggi
terlihat pada bayi dengan hipoksia berat, pada beberapa bayi dengan
pertumbuhan intrauterine terhambat (IUGR), dan pada bayi postterm, diduga
sebagai mekanisme kompensasi untuk meningkatkan oksigen yang tersedia
bagi jaringan. Kadar hemoglobin yang lebih rendah ditemukan pada bayi
prematur. Peningkatan baik dari hitung retikulosit atau angka eritrosit berinti
diatas nilai normal pada bayi, terlepas dari kadar hemoglobin, menunjukkan
sebuah respon kompensasi dan dapat mengindikasikan anemia.

Darah tali pusat bayi aterm mengandung 50-80% HbF, 15-40% HbA, dan
kurang dari 1,8% hemoglobin A2 (bentuk dewasa normal a minor). Tipe ke 4,
Hb Bart (kurang dari 0,5%), terlihat dalam jumlah sedikit pada beberapa bayi.
Kadar hemoglobin darah tali pusat bervariasi dengan usia gestasi. Bayi
prematur memiliki persentase HbF dibandingkan bayi aterm. HbF tidak
mengikat 2,3-DPG sebaik hemoglobin dewasa (HbA), menggeser kurva
disosiasi oksigen-hemoglobin janin dan neonatus ke kiri. Peningkatan
konsentrasi HbF terlihat pada bayi yang kecil menurut usia gestasi (SGA) dan
pada bayi lain yang telah mengalami hipoksia kronis dalam Rahim, diduga
disebabkan keterlambatan dalam pertukaran normal terhadap sintesis HbA saat
usia 32 minggu gestasi. Gangguan dalam HbF biasanya tidak terlihat pada bayi
dengan hipoksia intrapartum akut, karena semakin dini onset pada kondisi ini
tidak memberikan waktu yang cukup bagi bayi untuk mengkompensasi.
Peningkatan HbF terlihat pada bayi dengan trisomi 13 selama 2 tahun pertama
kehidupan, juga diduga disebabkan keterlambatan dalam sintesis HbA.
Penurunan HbF terlihat pada bayi dengan Sindrom Down. Peningkatan HbA
ditemukan pada bayi dengan eritroblastosis fetalis disebabkan penghancuran

82 Ilmu Kesehatan Anak

yang cepat dari eritrosit tua yang mengandung HbF dan penggantian sel-sel
baru mengandung konsentrasi HbA yang lebih tinggi.

Kadar hematokrit saat lahir normalnya berkisar 51,3-56%. Hematokrit
meningkat pada jam-jam atau hari –hari pertama disebabkan pergerakan cairan
dari intravaskuler menuju ruang interstisial. Hematokrit turun lagi menuju
kadar mendekati nilai darah tali pusat pada akhir minggu pertama.

Perubahan dalam 2,3-DPG

Meskipun kadar 2,3-DPG saat lahir pada bayi aterm serupa pada dewasa, 2,3-
DPG bayi kurang stabil dibandingkan orang dewasa. Konsentrasi 2,3-DPG
dapat turun drastis pada minggu pertama namun meningkat pada waktu bayi
berusia 2 hingga 3 minggu. P50 (PO2 pada 50% hemoglobin tersaturasi
oksigen) menurun saat lahir namun meningkat bertahap selama minggu
pertama setelah lahir. Perubahan pada P50 disebabkan terutama oleh
peningkatan 2,3-DPG selain dari persentase HbF. Sebagai perbandingan
dengan bayi aterm, bayi prematur memiliki P50 yang lebih rendah, penurunan
konsentrasi 2,3_DPG, dan peningkatan jumlah HbF. Oleh sebab itu, pada
minggu-minggu pertama setelah lahir, fraksi fungsional DPG pada bayi
prematur menjadi sangat berkurang.

Eritropoetin

Kadar Eritropoietin (Epo) lebih tinggi saat lahir pada bayi aterm dibandingkan
bayi prematur. Setelah hari pertama, kadar Epo menurun drastis, dan kadar
plasma pada bayi aterm sehat mencapai nadir saat usia minggu 4 hingga 6.
Stimulasi produksi Epo pada saat itu bersamaan dengan dimulainya kembali
aktivitas sumsum tulang dan produksi eritrosit. Kadar Epo tetap rendah untuk
waktu yang lebih lama pada bayi prematur. Pada bayi prematur, hati masih
merupakan tempat produksi utama, karena pertukaran ke produksi Epo renal
berkaitan dengan usia pasca konsepsi daripada usia pasca lahir. Produksi
hepatosit dari Epo sebagai respon terhadap stimulasi hipoksia hanya 10% dari
produksi sel-sel renal. Sebagai tambahan, hati membutuhkan stimulasi
hipoksia yang lebih lama untuk memproduksi Epo. Pada bayi prematur, hal ini
meningkatkan resiko anemia, namun dapat juga melindungi dari polisitemia.
Peningkatan kadar Epo ditemukan saat lahir pada bayi dengan Sindrom Down,
IUGR, atau anemia sekunder yang disebabkan eritroblastosis fetalis, dan bayi
yang dilahirkan dari wanita dengan diabetes atau preeclampsia. Pada 24 jam
pertama, Epo meningkat pada bayi dengan anemia berat atau defek jantung
kongenital sianotik. Peningkatan kadar disebabkan penurunan kapasitas

Bab 7 Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir 83

membawa oksigen (anemia) atau saturasi oksigen arteri yang rendah (defek
jantung kongenital), yang menstimulasi produksi lanjut dari Epo. Epo diduga
penting dalam pematangan saluran cerna dan perkembangan saraf.

Retikulosit

Hitung retikulosit meningkat saat lahir, dengan rentang 3-7% (nilai absolut
200.000 hingga 400.000/ μL.[200-400.109/L]) pada bayi aterm dan meningkat
8% hingga 10% (nilai absolut 400.000 hingga 500.000/μL. [400-500.109/L])
pada bayi prematur. Hitung retikulosit menurun hingga 0-1% (nilai absolut 0
hingga 50.000/μL.[0-50.109/L]) pada usia 1 minggu.

Besi dan serum ferritin

Kematangan, berat lahir, dan kadar hemoglobin menentukan status besi pada
neonatus. Kadar feritin serum tali pusat saat aterm lebih tinggi dibandingkan
nilai maternal dan meningkat lagi dalam 24 jam pertama dengan katabolisme
eritrosit dan pelepasan besi hemoglobin. Hemoglobin tali pusat dan kadar
ferritin serum berhubungan secara terbalik. Saat lahir, kadar folat serum pada
neonatus juga lebih tinggi dibandingkan dalam darah ibu. Simpanan pada bayi
prematur lebih rendah dan lebih cepat berkurang pada bulan-bulan pertama
disebabkan pertumbuhan yang cepat.

Sel darah putih

Dua dua cadangan leukosit dalam tubuh, cadangan dalam sirkulasi dan sel-sel
pada tepi kapiler pulmonal. Sel-sel biasanya bersirkulasi dalam darah selama
6-8 jam dan bertahan selama 24 jam di dalam jaringan. Hitung Leukosit
berkisar dari 10.000-26.000/mm3 pada bayi aterm dan 6000-19.000 /mm3
pada bayi prematur. Jumlah sel-sel meningkat selama 12 hingga 24 jam
pertama, kemudian menurun secara bertahap hingga kadar 6000-15.000/mm3
(rata-rata 12.000/mm3) dalam 4 hingga 5 hari pada baik bayi aterm maupun
prematur. Peningkatan awal leukosit dapat disebabkan pergantian sel-sel dari
tepi pembuluh darah besar dan serupa dengan perubahan yang terlihat pada
orang dewasa yang mengikut latihan berat. Stress persalinan dapat
mengakibatkan perubahan yang serupa pada bayi baru lahir. Awalnya, sekitar
60% leukosit merupakan neutrofil dengan variasi bentuk imatur. Selama 3-4
hari pertama, hitung neutrofil lebih tinggi pada bayi prematur dibandingkan
bayi aterm. Pada bayi aterm, neutrofil memuncak dalam 12 jam pada 7.800
hingga 14.500 sel/mm3, meskipun variasi individu dapat terlihat pada bayi
sehat. Nilai kurang dari 3000 pada 48 jam pertama dan kurang dari 1500

84 Ilmu Kesehatan Anak

setelah itu adalah abnormal. Bayi dengan berat lahir sangat rendah (VLBW)
menunjukkan puncak yang serupa namun puncak muncul belakangan (pada
18-20 jam). Pada bayi prematur, batas bawah bagi nilai normal adalah 2200
pada 12 hingga 24 jam pertama dan kurang dari 1100 setelah 60 jam. Bentuk
imatur neutrofil (misalnya band, metamielosit, mielosit) dapat terlihat pada
neonatus sehat selama 2-3 hari pertama. Jumlah monosit sedikit meningkat
selama 12 jam pertama, kemudian menurun bertahap.

Hitung eosinophil pada neonatus menunjukkan variasi individu yang besar,
dengan nilai berkisar dari 19 hingga 851 sel/mm3 pada bayi aterm dalam 12
jam pertama dan meningkat selama 4-5 hari pertama kehidupan hingga 100-
2500 sel/mm3. Eosinophilia (lebih dari 700/mm3) lebih umum terjadi pada
bayi prematur selama beberapa minggu pertama, dengan 75% memiliki nilai
lebih besar dari 700 sel/mm3. Eosinophil menghilang dari sirkulasi tepi terjadi
sebelum kematian. Monosit berkisar 0-2000 sel/mm3 saat lahir, memuncak
dalam 12 hingga 14 jam pertama, kemudian menurun drastis hingga 450-600
dalam minggu pertama. Setelah bersirkulasi dalam darah selama 72 jam,
monosit bermigrasi ke dalam jaringan dan menjadi makrofag.

Perubahan dalam hemostasis

Hemostasis neonatus berubah dan ditandai dengan kapasitas cadangan yang
rendah. Nilai untuk semua komponen berhubungan dengan usia gestasi dan
berubah secara bertahap setelah lahir, menuntut penggunaan tabel referensi
pasca lahir dan usia gestasi untuk penilaian akurat terhadap parameter individu.

Trombosit

Pada bayi aterm dan prematur yang sehat, hitung trombosit serupa orang
dewasa, berkisar pada dari 150.000 hingga 450.000 /mm3. Bayi prematur
cenderung memiliki nilai yang sedikit lebih rendah daripada bayi aterm,
namun tetap dalam batas normal. Hitung trombosit meningkat pada akhir
bulan pertama pada baik bayi aterm dan bayi prematur. Kadar lebih tinggi
dapat menetap selama 3 bulan pertama bayi. Hitung trombosit di bawah
150.000 /mm3 adalah abnormal pada neonatus. Megakariosit neonatus
berukuran kecil dan menghasilkan lebih sedikit trombosit dibandingkan orang
dewasa. Hitung trombosit normal (serupa dengan angka pada orang dewasa)
pada neonatus disebabkan oleh peningkatan kecepatan proliferasi oleh sel-sel
yang lebih kecil. Usia trombosit pada bayi sehat serupa dengan orang dewasa.
Respon thrombopoietin terhadap trombositopenia berkurang dengan
penurunan usia gestasi. Trombosit neonatus memiliki penurunan kapasitas


Click to View FlipBook Version