The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

by Ronal Watrianthos (editor)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-10-25 23:04:15

Ilmu Kesehatan Anak

by Ronal Watrianthos (editor)

Bab 11 Manajemen Terpadu Balita Sakit 135

pemberian parasetamol, dan anjurkan untuk kunjungan kembali
setelah 2 hari kunjungan pertama.
g. Klasifikasi masalah telinga
Dikatakan klasifikasi mastoiditis jika ditemukan pembengkakan pada
telinga dan nyeri dibelakang telinga. Klasifikasi infeksi telinga akut,
terdapat nanah yang keluar dari telinga dan disertai nyeri selama
kurang dari 14 hari. Klasifikasi infeksi telinga kronis, jika keluar
nanah dan nyeri sudah berlangsung lebih dari 14 hari. Pengobatan
yang dilakukan dengan pemberian antibiotik, membersihkan telinga
kemudian melakukan rujukan.
h. Klasifikasi status gizi
Penentuan klasifikasi berupa klasifikasi sangat kurus dan atau edema
jika BB/PB (TB) ≤ 3SD dan bengkak pada kedua punggung kaki.
Kemudian klasifikasi kurus dengan hasil pengukuran BB/PB (TB) ≥
3SD sampai ≤ 2SD dan termasuk klasifikasi normal jika hasil
pengukuran BB/PB (TB) – 2SD sampai + 2SD. Pengobatan yang
dilakukan jika termasuk klasifikasi sangat kurus dan ada edema,
maka tindakan yang dilakukan adalah memberikan air gula, bolus
glukosa 10% jika ada tanda syok, kemudian pemberian vitamin A,
hangatkan badan anak dan lakukan rujukan. Selama perjalanan rujuk
anak harus tetap hangat dan diberi ASI. Jika termasuk klasifikasi
kurus maka dilakukan konseling pemberian makan sehat untuk balita
dan dianjurkan untuk kembali 5 dan 14 hari kemudian, serta
melakukan penimbangan berat badan teratur.
i. Klasifikasi anemia
Klasifikasi anemia berat, jika ditemukan telapak tangan sangat pucat,
kemudian klasifikasi anemia saja, jika telapak tangan tampak agak
pucat, kemudian klasifikasi bukan anemia, tidak ditemukan pucat
pada telapak tangan. Pengobatan yang dilakukan jika pada anemia
berat adalah segera melakukan ruju dan selama perjalanan rujuk anak
harus selalu diberi Asi jika masih menyusui. Untuk klasifikasi anemia
maka diberikan zat besi dan lakukan kunjungan ulang 2 hari setelah
kunjungan pertama.

136 Ilmu Kesehatan Anak

Selain tindakan pengobatan, pada MTBS juga dilakukan memberikan
konseling, konseling yang diberikan pada ibu untuk anak usia 2 bulan sampai
5 tahun berupa, konseling pemberian makan pada anak, edukasi tentang
masalah pemberian makan, edukasi ibu tentang kesehatan ibu, penggunaan
kelambu, mengajarkan ibu cara memberikan pengobatan di rumah,
mengajarkan ibu melakukan perawatan infeksi lokal di rumah, kemudian
mengajarkan ibu cara mencegah turunnya gula darah pada anak.

11.3.2 Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Untuk Bayi
Muda Kurang Dari 2 Bulan

Pengkajian yang dilakukan oleh petugas kesehatan pada pelaksanaan
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) untuk bayi berusia kurang dari 2
bulan berupa, pengkajian tanda dan gejala, penentuan klasifikasi dan tingkat
kegawatan, menentukan tindakan dan pengobatan, pemberian konseling dan
tindak lanjut pada kemungkinan penyakit berat, infeksi berat, diare, memeriksa
kemungkinan berat badan rendah, dan masalah dalam pemberian ASI
(Yuliastati & Arnis, 2016).

Pengkajian dan klasifikasi serta tindakan pengobatan, dilakukan oleh petugas
kesehatan berdasarkan pedoman dan bagan yang dikeluarkan oleh pemerintah
(Kemenkes RI, 2019), sebagai berikut:

1. Klasifikasi infeksi berat
Infeksi lokal berat, pada pengkajian akan ditemukan nanah pada
daerah mata, tali pusat yang mengalami kemerahan sampai di sekitar
kulit perut

2. Klasifikasi diare
Untuk diare pengelompokkan terdiri dari, diare dehidrasi berat
dengan tanda gejala, adanya letargi pada bayi atau penurunan
kesadaran, mata cekung dan turgor kulit jelek. Untuk yang termasuk
dehidrasi tidak ada letargi, bayi gelisah dan rewel, turgor kulit jelek,
mata cekung. Sedangkan diare dengan dehidrasi ringan hanya ada
satu tanda gejala dari dehidrasi berat yang terjadi pada balita.

3. Klasifikasi ikterus
Bayi dikatakan ikterus berat jika, ditemukan kuning pada bayi kurang
dari 24 jam setelah lahir, feses berwarna pucat serta telapak tangan

Bab 11 Manajemen Terpadu Balita Sakit 137

dan kaki tampak kuning. Ikterus ringan, jika terdapat kuning pada
bayi lebih dari 24 jam setelah lahir, tetapi tidak tampak kuning pada

telapak tangan dan kaki.

4. Klasifikasi berat badan rendah dan permasalahan dalam pemberian

ASI

Bayi dikatakan berat badan renda atau memiliki masalah dalam

pemberian ASI jika, berat badan tidak sesuai umur (kurang),

kesulitan dalam memberikan ASI, menghisap tidak efektif, ada luka

bercak putih di mulut.

Penanganan dilakukan setelah petugas melakukan pengkajian dan melakukan
klasifikasi dari gejala yang ditemukan. Dalam pelaksanaan penanganan harus
mengacu terhadap pedoman yang digunakan pelayanan kesehatan, sesuai
standar yang dikeluarkan pemerintah. Namun secara umum, petugas harus
memiliki kompetensi dalam hal menentukan perlunya tindakan rujukan
berdasarkan klasifikasi yang ditetapkan setelah pengkajian, melakukan
tindakan sebelum rujukan, melakukan rujukan dengan menulis surat rujukan,
melakukan tindakan untuk bayi yang tidak dirujuk baik dalam pemberian obat-
obatan dan cairan, memberikan imunisasi dan vitamin A, serta menentukan
jadwal untuk melakukan kunjungan ulang. Konseling juga dilakukan oleh
petugas MTBS kepada ibu dengan bayi berusia kurang dari 2 bulan sesuai
dengan kebutuhan berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan. Hal yang
akan dilakukan konseling berupa cara merawat infeksi bakteri lokal, cara
mengobati luka infeksi di mulut bayi, cara mengobati infeksi di tali pusat, cara
mengobati infeksi di mata, cara menyusui bayi yang baik dan benar, serta cara
meningkatkan produksi ASI (Yuliastati & Arnis, 2016).

11.3.3 Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Berbasis
Masyarakat

Dalam pelaksanaan Manajemen terpadu Balita Sakit ini, agar lebih dapat
menjangkau masyarakat dan lebih maksimal dalam pemberdayaan
masyarakat, maka pemerintah menetapkan program Manajemen Terpadu
Balita Sakit (MTBS) berbasis Masyarakat. Pelaksanaannya sama, yaitu
diperuntukkan bagi bayi berumur kurang dari 2 bulan, serta balita berumur 2
bulan sampai 5 tahun. Prinsip pelaksanaan MTBS-M ini adalah menjalin
kemitraan antara fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dengan

138 Ilmu Kesehatan Anak

masyarakat yang dilayaninya, Meningkatkan akses ketersediaan pelayanan dan
informasi kesehatan yang memadai di tingkat masyarakat serta memadukan
promosi perilaku kesehatan dalam keluarga untuk keberlangsungan hidup dan
tumbuh kembang anak (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Pelayanan
kesehatan dengan pendekatan MTBS-M ini memiliki kegiatan yang berfokus
pada mempromosikan perilaku pencarian pertolongan kesehatan, perawatan
balita di rumah, dan pelatihan kepada anggota masyarakat seperti kader. Kader
dilatih untuk dapat melakukan pengobatan sederhana seperti pada kasus bayi
muda dan balita sakit (diare, pneumonia, demam untuk malaria, dan masalah
pada bayi baru lahir lainnya). Kader ini nantinya akan dipilih oleh masyarakat
dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perorangan dan
masyarakat dan nantinya akan bekerja dalam lingkup pelayanan kesehatan dan
selalu terhubung dengan pelayanan kesehatan tingkat pertama (Kementerian
Kesehatan RI, 2014). Pelayanan kesehatan MTBS-M ini, didukung oleh
pemerintah tingkat daerah, dan dinas kesehatan kota bahkan provinsi, sehingga
kadar tidak bisa memanfaatkan tugasnya dalam MTBS-M sebagai usaha
perorangan untuk menarik keuntungan pribadi.

Hal yang perlu dipahami oleh kader dalam pelaksanaan MTBS-M ini menurut
Panduan Penyelenggara MTBS-M (Kementerian Kesehatan RI, 2014), adalah
sebagai berikut:

1. Memahami konsep waktu, sehingga bisa dalam menetapkan
pembatasan umur dalam memberikan pelayanan kesehatan yaitu bayi
pada umur kurang dari bulan dan usia 2 bulan sampai 5 tahun.

2. Mampu melakukan penilaian terhadap tanda dan gejala penyakit
pneumonia, diare dan demam.

3. Memahami dan menentukan tanda gejala penyakit pada balita sakit,
yaitu tanda gejala batuk pada pneumonia, dan diare dengan dehidrasi
serta diare tanpa dehidrasi

4. Menentukan tindakan yang tepat sesuai tanda dan gejala:
a. Menasehati ibu untuk menyiapkan obat batuk pelega tenggorokan
khusus balita jika terdapat batuk yang bukan batuk pneumonia
b. Memberi kotrimoksazol pada balita dengan batu pneumonia
sebelum melakukan rujukan
c. Memberikan oralit dan tablet zinc pada balita diare tanpa
dehidrasi dan hanya oralit pada bayi baru lahir.

Bab 11 Manajemen Terpadu Balita Sakit 139

d. Memberi kotrimoksazol pada balita dengan diare berdarah
sebelum dirujuk

e. Memberikan edukasi perawatan bayi baru lahir dirumah berupa
cara menghangatkan tubuh bayi, cara melakukan perawatan tali
pusat, menyusui bayi dengan baik dan meningkatkan produksi
ASI.

f. Melaksanakan Perawatan Metode Kanguru pada bayi baru lahir
dengan berat badan lahir rendah, kurang dari 2.500 gram tanpa
tanda bahaya

5. Mampu melakukan rujukan, dengan kriteria:
a. Bayi baru lahir yang memiliki salah satu dari tanda atau gejala:
tidak mau menyusu atau memuntahkan semuanya, ada riwayat
kejang, bergerak hanya jika disentuh, bernapas cepat 60 kali atau
lebih per menit, suhu > 37,5 0 C atau < 35,5 0 C, merintih, ada
tarikan dinding dada kedalam yang sangat kuat, mata bernanah,
ada pustul di kulit, pusar kemerahan atau bernanah,
diklasifikasikan diare dengan dehidrasi, bayi kuning atau berubah
menjadi kebiruan, terdapat luka di mulut atau celah bibir/langit-
langit atau kondisi bayi muda bertambah parah ketika kunjungan
ulang.
b. Balita yang memiliki salah satu dari tanda bahaya umum, masuk
pada penyakit pneumonia atau diare dengan dehidrasi, diare 14
hari atau lebih, diare berdarah, RDT memberikan hasil positif, 17
demam ≥ 38,50C atau kondisi balita bertambah parah ketika
kunjungan ulang.
c. Balita yang menunjukkan tanda dan gejala penyakit di luar materi
pelatihan yang diberikan kepada kader

6. Melakukan tindakan yang diperlukan sebelum melakukan rujukan
pada bayi baru lahir, seperti:
a. Melakukan edukasi kepada ibu post partum mengenai cara
menghangatkan bayi baru baru lahir selama dalam perjalanan
menuju tempat rujukan.

140 Ilmu Kesehatan Anak

b. Melakukan edukasi untuk pencegahan kadar gula darah bayi baru
lahir menurun dengan cara meminta ibu untuk tetap menyusui
atau memberikan asi perah jika tampak bayi masih mampu
menelan.

c. Membuat surat rujukan
7. Mampu mengisi formulir penanganan balita sakit dan bayi baru lahir.
8. Melakukan pencatatan penggunaan dan permintaan keperluan dalam

melakukan pelayanan MTBS-M.

Kader yang sudah dilatih dalam pelaksanaan MTBS-M ini, memiliki ketentuan
yang harus ditaati, yaitu berkomitmen melayani masyarakat, memperhatikan
kebutuhan masyarakat yang dilayani yang berhubungan dengan kesehatan,
melakukan penilaian, serta pendidikan kesehatan sesuai dengan pedoman yang
diberikan, tidak melakukan perbuatan atau tindakan yang tidak tercantum
dalam pedoman atau modul yang sudah diberikan, tidak menuntut imbalan
dari keluarga yang sudah dibantu, tidak melakukan perbuatan yang dapat
melanggar hukum, serta tidak melakukan pemberian obat kepada balita yang
tidak diperiksa.

Bab 12

Sistem Rujukan

12.1 Pendahuluan

Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyatakan dengan
jelas bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses
atas sumber daya bidang kesehatan (Republik Indonesia, 2009). Konsep
kesehatan bagi semua (Health For All) memungkinkan individu dan
komunitas memiliki akses ke pelayanan kesehatan berkualitas tinggi sehingga
dapat menjaga kesehatan sendiri dan kesehatan keluarga; petugas kesehatan
terampil yang memberikan perawatan berkualitas dan berpusat pada manusia;
dan pembuat kebijakan yang berkomitmen untuk berinvestasi dalam jaminan
kesehatan universal (World Health Organization (WHO), 2019). Untuk itu
pembangunan kesehatan perlu diarahkan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud dengan berdasar
kepada perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata,
pengutamaan dan manfaat (Republik Indonesia, 2012). Sistem kesehatan yang
baik berakar pada komunitas yang dilayani, tidak hanya berfokus pada
pencegahan dan pengobatan penyakit, tetapi juga membantu meningkatkan
kesejahteraan dan kualitas hidup (WHO), 2019). Sustainable Development
Goals (SDGs), di Indonesia dikenal sebagai tujuan pembangunan
berkelanjutan yang turut mempengaruhi Sistem Kesehatan Nasional (SKN).

142 Ilmu Kesehatan Anak

Pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia, dan dilakukan
dengan tiga pendekatan yaitu pembangunan ekonomi, keterbukaan dalam
tatanan sosial serta keberlangsungan lingkungan hidup (Nies, M.A. and
McEwen, 2019).

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 Tentang Sistem
Kesehatan Nasional mendefinisikan Sistem Kesehatan Nasional (SKN)
merupakan pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh semua
komponen bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna
menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
(Republik Indonesia, 2012). Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengelolaan
kesehatan diselenggarakan melalui pengelolaan administrasi kesehatan,
informasi kesehatan, sumber daya kesehatan, upaya kesehatan, pembiayaan
kesehatan, peran serta dan pemberdayaan masyarakat, ilmu pengetahuan dan
teknologi bidang kesehatan, serta pengaturan hukum kesehatan secara terpadu
dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya. Komponen pengelolaan kesehatan yang disusun dalam
SKN dikelompokkan dalam subsistem: a) upaya kesehatan, b) penelitian dan
pengembangan kesehatan; c) pembiayaan kesehatan, d) sumber daya manusia
kesehatan, e) sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, f) manajemen,
informasi, dan regulasi kesehatan, dan g) pemberdayaan masyarakat (Republik
Indonesia, 2012). Pelaksanaan SKN ditekankan pada peningkatan perilaku dan
kemandirian masyarakat, profesionalisme sumber daya manusia kesehatan,
serta upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan
rehabilitatif.

12.2 Upaya Kesehatan Anak

Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik, mental, intelegensi dan sosial,
dengan tiga level upaya kesehatan yaitu upaya kesehatan primer, upaya
kesehatan sekunder dan upaya kesehatan tersier yang diselenggarakan secara
terpadu, berkesinambungan dan paripurna melalui sistem rujukan (Kemenkes,
2009). Keputusan Menteri Kesehatan nomor 374 tahun 2009 tentang SKN
menjelaskan klasifikasi upaya kesehatan sebagai berikut:

Bab 12 Sistem Rujukan 143

1. Upaya kesehatan primer adalah pelayanan kesehatan di mana terjadi
kontak pertama, terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer
dan pelayanan kesehatan masyarakat primer.

2. Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan,
yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan
pelayanan kesehatan masyarakat sekunder.

3. Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan
yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan
pelayanan masyarakat tersier.

Setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, sehingga diperlukan upaya
kesehatan anak secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan yang
menjadi tanggung jawab Pemerintah dan melibatkan peran serta masyarakat.
Upaya kesehatan anak adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan
yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan anak dalam bentuk
pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat (Kemenkes, 2014).
Upaya kesehatan anak dilakukan sejak janin dalam kandungan sampai berusia
18 (delapan belas) tahun (Kemenkes, 2014).

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2014
Tentang Upaya Kesehatan Anak, disebutkan bahwa Upaya Kesehatan Anak
dilakukan melalui pelayanan sebagai berikut:

1. Kesehatan Janin Dalam Kandungan. Pelayanan ini dilaksanakan
melalui; pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai
asupan gizi seimbang, perilaku hidup bersih dan sehat, dan
penyalahgunaan zat adiktif selama kehamilan; pemeriksaan antenatal
pada ibu hamil paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan; dan
stimulasi fungsi kognitif pada janin dilakukan kepada ibu hamil sejak
kehamilan berusia 5 bulan hingga lahir.

2. Kesehatan Bayi Baru Lahir. Pelayanan kesehatan Bayi Baru Lahir
dilaksanakan melalui; pelayanan kesehatan neonatal esensial (pada
saat lahir sampai enam jam dan setelah lahir enam jam sampai 28
hari, berupa menjaga bayi tetap hangat, pemeriksaan bayi baru lahir,

144 Ilmu Kesehatan Anak

inisiasi menyusui dini dan pemotongan dan perawatan tali pusat,
pemberian suntikan vitamin K1 dan imunisasi hepatitis B0,
penanganan asfiksia bayi baru lahir dan merujuk kasus yang tidak
dapat ditangani), skrining Bayi Baru Lahir (paling sedikit meliputi
skrining hipotiroid kongenital), dan pemberian komunikasi,
informasi, edukasi kepada ibu dan keluarganya (berupa perawatan
bayi baru lahir, ASI Eksklusif, tanda bahaya bayi baru lahir,
pelayanan kesehatan bayi baru lahir dan skrining bayi baru lahir).
3. Kesehatan Bayi, Anak Balita, Dan Prasekolah. Pelayanan ini
dilakukan dengan; pemberian ASI Eksklusif hingga usia 6 bulan,
pemberian ASI hingga 2 tahun, pemberian Makanan Pendamping Air
Susu Ibu (MP ASI) mulai usia 6-24 bulan, pemberian imunisasi dasar
lengkap bagi Bayi, pemberian imunisasi lanjutan DPT/HB/Hib pada
anak usia 18 bulan dan imunisasi campak pada anak usia 24 bulan,
pemberian Vitamin A (dilakukan satu kali untuk anak usia 6-11bulan
dan 2 kali dalam setahun untuk anak usia 12-60 bulan), upaya pola
mengasuh Anak (konseling kepada orang tua yang diberikan oleh
tenaga kesehatan, Posyandu, PAUD, pemantauan pertumbuhan,
pemantauan perkembangan, pemantauan gangguan tumbuh kembang,
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), dan merujuk kasus yang
tidak dapat ditangani dalam kondisi stabil tepat waktu ke ke fasilitas
pelayanan kesehatan yang lebih mampu.
4. Kesehatan Anak Usia Sekolah Dan Remaja. Pelayanan ini dilakukan
melalui Usaha Kesehatan sekolah (UKS) dan Pelayanan Kesehatan
Peduli Remaja (PKPR). UKS meliputi kegiatan; pendidikan
kesehatan, pelayanan kesehatan; dan pembinaan lingkungan sekolah
sehat. PKPR dilakukan melalui pelayanan konseling, pelayanan klinis
medis, pelayanan rujukan, pemberian KIE kesehatan remaja,
partisipasi remaja dan keterampilan sosial.
5. Perlindungan Kesehatan Anak. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin
terpenuhinya hak-hak dan memberikan perlindungan kepada anak
dari kekerasan dan diskriminasi anak agar dapat hidup, tumbuh dan
berkembang sesuai harkat martabat manusia. Hal ini dilakukan

Bab 12 Sistem Rujukan 145

melalui; pelayanan kesehatan bagi korban KtA termasuk kasus tindak
pidana perdagangan orang/trafficking, pelayanan kesehatan bagi anak
berhadapan dengan hukum di lapas/rutan, pelayanan kesehatan bagi
anak dengan disabilitas, pelayanan kesehatan bagi Anak terlantar di
panti/lembaga kesejahteraan sosial anak, pelayanan kesehatan bagi
Anak jalanan/pekerja anak, dan pelayanan kesehatan bagi anak di
daerah terpencil dan tertinggal, perbatasan dan terisolir.

12.3 Standar Pelayanan Minimal

Keputusan Menteri Kesehatan nomor 4 tahun 2019 mengenai Standar Teknis
Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan menjelaskan bahwa Standar Pelayanan Minimal, yang selanjutnya
disingkat SPM adalah ketentuan mengenai Jenis dan Mutu Pelayanan Dasar
yang merupakan urusan pemerintahan wajib yang berhak diperoleh setiap
warga Negara secara minimal berdasarkan prinsip kesesuaian kewenangan,
ketersediaan, keterjangkauan, kesinambungan, keterukuran dan ketepatan
sasaran (Republik Indonesia, 2018). SPM merupakan salah satu program
strategis nasional dan menjadi hal minimal yang harus dilaksanakan oleh
Pemda untuk rakyatnya, maka target SPM harus 100% setiap tahunnya
(Kemenkes, 2016).

Pelayanan dasar adalah pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan dasar
warga negara dalam jenis pelayanan penyediaan barang dan/atau jasa
kebutuhan dasar yang berhak diperoleh oleh setiap warga Negara secara
minimal. Mutu pelayanan dasar adalah ukuran kuantitas dan kualitas barang
dan/atau jasa kebutuhan dasar serta pemenuhannya secara minimal dalam
pelayanan dasar sesuai standar teknis agar hidup secara layak (Republik
Indonesia, 2018).

146 Ilmu Kesehatan Anak

Tabel 12.1: Jenis Layanan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Di
Kabupaten/Kota (Kemenkes, 2016)

Pada tabel 12.1 tersaji bahwa jenis pelayanan dasar pada anak mencakup
pelayanan kesehatan bayi baru lahir, pelayanan kesehatan balita dan pelayanan
kesehatan usia pendidikan dasar. Satu persatu akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Pelayanan kesehatan bayi baru lahir sesuai standar adalah pelayanan

yang diberikan pada bayi usia 0-28 hari dan mengacu kepada
Pelayanan Neonatal Esensial sesuai yang tercantum dalam Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan

Bab 12 Sistem Rujukan 147

Anak, dilakukan oleh Bidan dan atau perawat dan atau Dokter dan
atau Dokter Spesialis Anak yang memiliki Surat Tanda Register
(STR). Pelayanan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan
(Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Bidan praktek swasta, klinik
pratama, klinik utama, klinik bersalin, balai kesehatan ibu dan anak,
rumah sakit pemerintah maupun swasta), Posyandu dan atau
kunjungan rumah.
2. Pelayanan kesehatan balita sesuai standar adalah pelayanan kesehatan
yang diberikan kepada anak berusia 0-59 bulan dan dilakukan oleh
Bidan dan atau Perawat dan atau Dokter/DLP dan atau Dokter
Spesialis Anak yang memiliki Surat Tanda Register (STR) dan
diberikan di fasilitas kesehatan (faskes) pemerintah maupun swasta,
dan UKBM. Pelayanan kesehatan, meliputi: a) Penimbangan minimal
8 kali setahun, pengukuran panjang/tinggi badan minimal 2 kali
setahun, b) Pemberian kapsul vitamin A sebanyak 2 kali setahun. c)
Pemberian imunisasi dasar lengkap.
3. Pelayanan kesehatan usia pendidikan dasar adalah penjaringan
kesehatan yang diberikan kepada anak usia pendidikan dasar,
minimal satu kali pada kelas 1 dan kelas 7 yang dilakukan oleh
Puskesmas. Standar pelayanan penjaringan kesehatan adalah
pelayanan yang meliputi : a) Penilaian status gizi (tinggi badan, berat
badan, tanda klinis anemia), b) Penilaian tanda vital (tekanan darah,
frekuensi nadi dan napas), c) Penilaian kesehatan gigi dan mulut, d)
Penilaian ketajaman indera penglihatan dengan poster snellen, e)
Penilaian ketajaman indera pendengaran dengan garpu tala.

12.4 Sistem Rujukan

Kasus kegawatdaruratan dan masalah Kesehatan yang serius pada anak kerap
kali membutuhkan sistem rujukan dalam tatalaksananya. Adapun kasus-kasus
tersebut antara lain; Syok Kardiogenik, Syok Septik Pediatrik, Status
Epileptikus Konvulsivus pada Anak, Acute Kidney Injury, Urtikaria dan

148 Ilmu Kesehatan Anak

Angioedema, Gagal Hati Akut, Ensefalopati Dengue (Pardede et al., 2013).
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 001 tahun 2012
mengenai Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan menjelaskan
bahwa sistem rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab
pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal.
Dalam rangka meningkatkan aksesibilitas, pemerataan dan peningkatan
efektivitas pelayanan kesehatan, rujukan dilakukan ke fasilitas pelayanan
kesehatan terdekat yang memiliki kemampuan pelayanan sesuai kebutuhan
pasien (Kemenkes, 2012).

Fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif,
kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah
daerah, atau masyarakat (Kemenkes, 2012). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 001 Tahun 2012 Tentang Sistem Rujukan
Pelayanan Kesehatan Perorangan membagi Pelayanan kesehatan perorangan
menjadi dari 3 tingkatan yaitu:

1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama merupakan pelayanan kesehatan
dasar yang diberikan oleh dokter dan dokter gigi di puskesmas,
puskesmas perawatan, tempat praktik perorangan, klinik pratama,
klinik umum di balai/lembaga pelayanan kesehatan, dan rumah sakit
pratama. Dalam keadaan tertentu, bidan atau perawat dapat
memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.

2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua merupakan pelayanan kesehatan
spesialistik yang dilakukan oleh dokter spesialis atau dokter gigi
spesialis yang menggunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan
spesialistik.

3. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga merupakan pelayanan kesehatan
subspesialistik yang dilakukan oleh dokter sub spesialis atau dokter
gigi sub spesialis yang menggunakan pengetahuan dan teknologi
kesehatan subspesialistik.

Dalam menjalankan pelayanan kesehatan, fasilitas kesehatan tingkat pertama
dan tingkat lanjutan wajib melakukan sistem rujukan dengan mengacu pada

Bab 12 Sistem Rujukan 149

peraturan perundang-undangan yang berlaku (Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS), 2014). Pada panduan praktis pelayanan Kesehatan BPJS
dijelaskan bahwa pelayanan rujukan dapat dilakukan sebagai:

1. Rujukan horizontal, yaitu rujukan yang dilakukan antar pelayanan
kesehatan dalam satu tingkatan apabila perujuk tidak dapat
memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien
karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan yang
sifatnya sementara atau menetap.

2. Rujukan vertikal, yaitu rujukan yang dilakukan antar pelayanan
kesehatan yang berbeda tingkatan, dapat dilakukan dari tingkat
pelayanan yang lebih rendah ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi
atau sebaliknya. Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih
rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi dilakukan apabila: a)
pasien membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik atau
subspesialistik; b) perujuk tidak dapat memberikan pelayanan
kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan
fasilitas, peralatan dan/ atau ketenagaan. Rujukan vertikal dari
tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke tingkatan pelayanan yang
lebih rendah dilakukan apabila: a) permasalahan kesehatan pasien
dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang lebih rendah
sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya; b) kompetensi dan
kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua lebih baik dalam
menangani pasien tersebut; c) pasien membutuhkan pelayanan
lanjutan yang dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan
yang lebih rendah dan untuk alasan kemudahan, efisiensi dan
pelayanan jangka panjang; dan/atau d) perujuk tidak dapat
memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien
karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan dan/atau ketenagaan.

150 Ilmu Kesehatan Anak

Gambar 12.1: Sistem Rujukan Berjenjang (BPJS, 2014)
Adapun tata cara pelaksanaan Sistem Rujukan Berjenjang yang diatur oleh
BPJS (2014) adalah sebagai berikut:
1. Sistem rujukan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang

sesuai kebutuhan medis, (lihat gambar 12.1) yaitu: a) Dimulai dari
pelayanan kesehatan tingkat pertama oleh fasilitas kesehatan tingkat
pertama, b) Jika diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka
pasien dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat kedua, c)
Pelayanan kesehatan tingkat kedua di faskes sekunder hanya dapat
diberikan atas rujukan dari faskes primer, d) Pelayanan kesehatan
tingkat ketiga di faskes tersier hanya dapat diberikan atas rujukan dari
faskes sekunder dan faskes primer.
2. Pelayanan kesehatan di faskes primer yang dapat dirujuk langsung ke
faskes tersier hanya untuk kasus yang sudah ditegakkan diagnosis
dan rencana terapinya, merupakan pelayanan berulang dan hanya
tersedia di faskes tersier.
3. Ketentuan pelayanan rujukan berjenjang dapat dikecualikan dalam
kondisi: a) terjadi keadaan gawat darurat; Kondisi kegawatdaruratan
mengikuti ketentuan yang berlaku, b) bencana; Kriteria bencana
ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Daerah, c)
kekhususan permasalahan kesehatan pasien; untuk kasus yang sudah

Bab 12 Sistem Rujukan 151

ditegakkan rencana terapinya dan terapi tersebut hanya dapat
dilakukan di fasilitas kesehatan lanjutan, d) pertimbangan geografis,
dan e) pertimbangan ketersediaan fasilitas.
4. Pelayanan oleh bidan dan perawat. a) Dalam keadaan tertentu, bidan
atau perawat dapat memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, b) Bidan dan
perawat hanya dapat melakukan rujukan ke dokter dan/atau dokter
gigi pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama kecuali dalam
kondisi gawat darurat dan kekhususan permasalahan kesehatan
pasien, yaitu kondisi di luar kompetensi dokter dan/atau dokter gigi
pemberi layanan kesehatan tingkat pertama.
5. Rujukan Parsial. a) Rujukan parsial adalah pengiriman pasien atau
spesimen ke pemberi pelayanan kesehatan lain dalam rangka
menegakkan diagnosis atau pemberian terapi, yang merupakan satu
rangkaian perawatan pasien di Faskes tersebut, b) Rujukan parsial
dapat berupa: 1) pengiriman pasien untuk dilakukan pemeriksaan
penunjang atau tindakan 2) pengiriman spesimen untuk pemeriksaan
penunjang, c) Apabila pasien tersebut adalah pasien rujukan parsial,
maka penjaminan pasien dilakukan oleh fasilitas kesehatan perujuk.

Perujuk sebelum melakukan rujukan harus:

a. Melakukan pertolongan pertama dan/atau tindakan stabilisasi kondisi
pasien sesuai indikasi medis serta sesuai dengan kemampuan untuk
tujuan keselamatan pasien selama pelaksanaan rujukan

b. Melakukan komunikasi dengan penerima rujukan dan memastikan
bahwa penerima rujukan dapat menerima pasien dalam hal keadaan
pasien gawat darurat

c. Membuat surat pengantar rujukan untuk disampaikan kepada
penerima rujukan (Kemenkes, 2012). Alur pelayanan rujukan antar
fasilitas kesehatan tingkat lanjutan tersaji pada gambar 12.2.

152 Ilmu Kesehatan Anak

Gambar 12.2: Alur Pelayanan Rujukan Antar Fasilitas Kesehatan Tingkat
Lanjutan (BPJS, 2014)

Bab 13

Family Centred Care Dalam
Perawatan Anak

13.1 Pendahuluan

Asuhan keperawatan yang dimulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi
dilakukan dengan adanya kolaborasi antara pasien dan keluarga pasien. Karena
seluruh asuhan yang diberikan berpusat pada pasien dan keluarga yang
merupakan pendekatan dalam melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi asuhan keperawatan yang diberikan berdasarkan kolaborasi atau
kemitraan antara profesional pelayanan kesehatan, pasien, dan keluarga.
Sistem kolaborasi ini akan memastikan bahwa perawatan yang diberikan
bersifat responsif terhadap prioritas dan nilai-nilai yang dianut oleh pasien dan
keluarga pasien. Konsep perawatan yang berpusat pada keluarga yang disebut
dengan family centred care merupakan dasar dalam keperawatan anak
diseluruh dunia.
Anak cenderung memiliki pengalaman trauma dalam perawatan dan selama
hospitalisasi anak, orang tua mengalami stres baik karena permasalahan fisik
(kelelahan, susah tidur, gastritis, mual) dan masalah psikologis (frustasi,
depresi, menyalahkan diri sendiri, tidak kooperatif). Sehingga untuk
meminimalkan hal tersebut, diterapkan family centred care. Oleh karena itu,

154 Ilmu Kesehatan Anak

dalam pemberian asuhan keperawatan, kolaborasi dengan orang tua dan
keluarga sangat dibutuhkan, karena keluarga itu adalah pusat kesejahteraan
anak. Beberapa penelitian di berbagai negara menyatakan bahwa family
centred care sangatlah bagus dilakukan karena setiap anak memiliki keluarga
dan sangat berpengaruh ketika mereka sakit. Kualitas hidup dalam komunitas
memiliki pengaruh yang besar dalam kemampuan anak untuk menerima
proses perkembangan dan menjadi anggota sosial yang berguna. Bagi
beberapa anak, komunitas merupakan kelompok yang erat yang terdiri dari
satu atau kedua orang tua, orang tua angkat, dan saudara kandung, dan bahkan
juga keluarga generasi lainnya seperti kakek-nenek, sepupu yang dapat
memberikan perawatan ke anak.

13.2 Definisi

Keluarga merupakan satu kesatuan, misalnya sebuah keluarga terdiri dari
orang tua dan satu orang anak. Akan tetapi keluarga tersebut tidak terdiri dari
tiga individu tetapi juga merupakan tempat interaksi. Interaksi tersebut terdiri
dari tiga pasangan (hubungan pernikahan, hubungan ibu dan anak, dan
hubungan ayah dan anak), serta hubungan ayah-ibu-anak yang disebut dengan
triangle (Hockenberry and Wilson, 2013). Pada umumnya, setiap anggota
keluarga bergantung pada masing-masing dukungan emosional, fisik, dan
ekonomi. Keluarga juga memiliki nilai dan keyakinan tentang pentingnya
suatu ide dan tradisi, dimana hal ini dipengaruhi oleh faktor luar seperti latar
belakang budaya, norma sosial, pendidikan, lingkungan, status sosio ekonomi,
serta keyakinan yang dimiliki oleh rekan kerja, politik pemimpin dan
masyarakat, serta individu yang berasal dari luar unit keluarga (Ball, Bindler
and Cowen, 2014).

Setiap tenaga medis, khususnya praktek keperawatan harus memahami koping
keluarga terhadap tantangan dan stresor setiap kehidupan, dimana pendekatan
teori keluarga meliputi sistem keluarga, perkembangan, stres dan koping
keluarga, struktur dan fungsional keluarga, serta interaksi.

Bab 13 Family Centred Care Dalam Perawatan Anak 155

Teori keluarga ini akan dikaji untuk mengembangkan suatu rencana asuhan
untuk mendukung kebutuhan keluarga (Bowden and Greenberg, 2009).
Menurut (Bowden and Greenberg, 2009; Ball, Bindler and Cowen, 2014;
Akorfa, Power and Raghu, 2019) menyatakan peran dari keluarga meliputi:

1. Merawat, mengasuh, dan mendidik anak. Misalnya anak yang sedang
sakit, orang tua menyadari bahwa perawat memiliki waktu yang
singkat untuk mendampingi mereka dalam perawatan. Orang tua
melakukan tugas dengan rutin dalam merawat fisik anak, seperti
mempertahankan kebersihan higiene anak melalui mandi, dandan,
mengganti popok dan menyiapkan pispot.

2. Menjaga keseimbangan hubungan bermasyarakat dengan
mentransmisikan pengetahuan, adat istiadat, nilai, dan keyakinan
keluarga kepada anak

3. Menerima dan memberi kasih sayang dan kenyamanan. Misalnya
orang tua memberikan semangat dalam memberikan perawatan yang
nyaman di rumah sakit untuk meringankan rasa sakit dan penderitaan
anak, terutama ketika anak mengungkapkan rasa sakit dan tidak
nyaman. Oleh karena itu, orang tua memberikan kata-kata yang
menenangkan, menggunakan kata-kata pengalihan, dan menjadi
kontak fisik dengan anak

4. Menyiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat yang produktif
5. Mendukung perkembangan anggota keluarganya dengan memenuhi

kebutuhan anggota keluarga baik pangan dan papan
6. Melayani antara anggota dan lingkungan dengan memberikan nasehat

dan menangani suatu sanggahan, tuntutan dalam kebutuhan masing-
masing anggota keluarga
7. Melaksanakan tugas perkembangan untuk pertumbuhan keluarga
melalui siklus hidup dan beradaptasi dengan kejadian berbahaya
seperti penyakit dan kematian

Family Centred Care (FCC) merupakan suatu filosofi perawatan kesehatan
dimana keluarga adalah dasar utama dalam intervensi keperawatan dengan
model kolaborasi antara keluarga, perawat, dan juga profesional lainnya yang
saling menguntungkan untuk mencari dan menetapkan kebutuhan dan prioritas

156 Ilmu Kesehatan Anak

pelayanan kesehatan pada (Bowden and Greenberg, 2009; Ball, Bindler and
Cowen, 2014). Pada umumnya FCC digunakan untuk menggambarkan proses
pemberian asuhan keperawatan yang optimal yang dialami oleh keluarga.
Contoh ilustrasi pasien (Kuo et al., 2012):

”Adam berusia 5 tahun, dilakukan tindakan trakeostomi karena
penyakit paru kronis, paralisis pita suara, dan aspirasi yang tidak
cukup. Setelah Adam menjalani operasi, selang trakeostomi terlepas
tiga kali selama malam pertama setelah operasi. Setelah ketiga kali
lepas, kemudian selang tersebut diikat disamping tempat tidur. Hal ini
membuat Adam kesakitan. Ketika selang keluar lagi, tim ahli bedah
dan keluarga berdiskusi untuk membahas tindakan dan pilihan yang
akan diambil. Sang ayah menyarankan bahwa dia dapat menahan
selang tersebut dan membuat Adam tenang. Setelah berdiskusi, ahli
bedah setuju untuk melakukan trakeostomi ulang, dan ayah Adam
dapat menahan selang tersebut ditempatnya selama 72 jam“

Kisah tersebut menggambarkan FCC dilakukan sangat baik, dimana terdapat
sharing informasi, kolaborasi, menghormati, dan negosiasi untuk mengambil
keputusan yang sulit. FCC juga merupakan bagaimana merawat anak dan
keluarganya dalam pelayanan kesehatan yang memastikan bahwa asuhan
direncanakan untuk seluruh keluarga, bukan hanya individu atau anak, dan
semua anggota keluarga diakui sebagai penerima asuhan (Shields, 2015).

Oleh karena itu, prinsip FCC selaras dengan tujuan dari pemberian asuhan
kesehatan yang efektif. Prinsip FCC yaitu (Kuo et al., 2012; IPFCC, 2017):

1. Berbagi informasi (information sharing) yaitu informasi itu harus
terbuka, objektif, dan tidak bias. Praktisi perawatan kesehatan
mengkomunikasikan dan berbagi informasi yang lengkap dengan
pasien dan keluarga dengan cara yang meyakinkan dan berguna.
Pasien dan keluarga harus menerima informasi yang tepat waktu,
lengkap, dan akurat agar mendapatkan perawatan dan pengambilan
keputusan yang efektif

2. Menghormati perbedaan (respect and honoring differences):
hubungan kerja ditandai dengan menghormati keberagaman, tradisi
budaya dan bahasa, keputusan, dan juga kepedulian.

3. Kemitraan dan kolaborasi (partnership and collaboration): prinsip ini
merupakan bagaimana keputusan diambil untuk melakukan tindakan

Bab 13 Family Centred Care Dalam Perawatan Anak 157

medis sesuai dengan kebutuhan, kekuatan, nilai, dan kemampuan
semua orang yang terlibat, termasuk keluarga. Oleh karena itu,
keterlibatan keluarga dan anak dalam perawatan mereka sendiri
sangat penting, dimana mereka saling bertanya, berpikir, dan
berdiskusi untuk tercapainya pelaksanaan asuhan yang efektif
4. Negosiasi: hasil yang diinginkan dari rencana perawatan medis yang
bersifat fleksibel atau tidak mutlak
5. Perawatan dalam keluarga dan komunitas (Care in Context of Family
and Community): perawatan medis yang diberikan secara langsung
dan dalam pengambilan keputusan mencerminkan anak dalam
konteks keluarga, rumah, sekolah, aktivitas sehari-hari, dan kualitas
hidup dalam komunitas

Berdasarkan hasil penelitian (Akorfa, Power and Raghu, 2019) bahwa ada tiga
kategori pandangan orang tua tentang komponen FCC (gambar 13.1).

Gambar 13.1: Persepsi Orang Tua Tentang Family Centred Care (Akorfa,
Power and Raghu, 2019)

Mengatur maupun mengelola emosi merupakan motivasi keluarga ketika
terjadi kecelakaan tak terduga, cedera traumatis, dan praktik rumah sakit yang
tidak jelas. Sikap menyalahkan diri dan rasa bersalah merupakan karakteristik
umum orang tua. Misalnya menyalahkan diri sendiri dikarenakan tidak cukup

158 Ilmu Kesehatan Anak

berhati-hati dalam pengawasan anak. Kemudian ketika seorang anak
mengalami kecelakaan, orang tua pasti akan cemas dan khawatir ketika
mendapat informasi dari orang lain. Akan tetapi dalam banyak kasus, ada
periode ketidakpastian dan kecemasan (Akorfa, Power and Raghu, 2019).
Keterlibatan orang tua merupakan sumber kekuatan dan dukungan kepada
anak dalam memenuhi kebutuhan psikososial dan perkembangan anak.
Adapun manfaat family centred care yaitu 1) membentuk dan membangun
kerjasama untuk meningkatkan kesehatan dan perkembangan anak, 2)
mendukung dalam pengambilan keputusan perawatan, 3) meningkatkan
kolaborasi antar profesional dengan keluarga, 4) meningkatkan kepuasan anak
dan keluarga atas pelayanan yang diterima (Tanaem, Dary and Istiarti, 2019).

13.3 Elemen Family Centred Care

Family centred care (FCC) sangat baik dipahami untuk menjelaskan
komponen atau elemen dari perawatan yang berpusat pada keluarga. Masing-
masing elemen FCC berfungsi untuk memperkuat, memfasilitasi, dan
melengkapi implementasi yang lain. Elemen FCC akan mengenali keunikan
setiap keluarga tentang kehidupan anak, dan menekankan pentingnya
penyediaan pelayanan yang menunjukkan adanya kolaborasi antara penyedia
pelayanan, anak, dan keluarga.

Elemen atau komponen dari FCC yaitu (Bowden and Greenberg, 2009;
Hockenberry and Wilson, 2018):

1. Berpusat pada keluarga (The Family at the Center). Adanya suatu
kebijakan dalam praktik keperawatan bahwa keluarga merupakan
sistem pendukung yang konstan dalam kehidupan seorang anak

2. Kolaborasi keluarga profesional (Family–Professional
Collaboration). FCC menjadikan fasilitas kolaborasi keluarga-
profesional di semua tingkat rumah sakit, rumah, dan perawatan
komunitas seperti perawatan anak, program pengembangan,
implementasi, evaluasi, dan evolusi, serta pembentukan kebijakan

3. Komunikasi keluarga profesional (Family–Professional
Communication). Pada sistem FCC harus bertukar informasi yang
lengkap dan tidak bias di antara keluarga dan profesional dalam

Bab 13 Family Centred Care Dalam Perawatan Anak 159

memberikan dukungan perawatan setiap saat. Komunikasi sangat
penting dilaksanakan untuk memahami atau mendapatkan informasi
tentang anak baik melalui observasi secara langsung terhadap anak
maupun komunikasi dengan orang tua. Komunikasi dengan orang tua
(misalnya wawancara) tidak hanya memberikan kesempatan untuk
menentukan status kesehatan dan perkembangan anak, akan tetapi
juga informasi tentang faktor yang mempengaruhi kehidupan anak.
Komunikasi terbuka dengan pertanyaan terbuka sangat dibutuhkan
dalam FCC. Akan tetapi tetap dalam berkomunikasi juga
memperhatikan budaya, legal dan etiknya.
4. Keanekaragaman budaya keluarga (Cultural Diversity of Families).
Pada pelaksanaan konsep FCC diterapkan kebijakan tentang
pengakuan dan penghormatan terhadap keragaman budaya, kekuatan,
dan individualitas dalam keluarga, seperti keberagaman etnis, ras,
spiritual, sosial, ekonomi, pendidikan, dan geografis
5. Koping terhadap perbedaan dan dukungan (Coping Differences and
Support). Tim pelayanan kesehatan harus mengakui dan
menghormati berbagai metode untuk mengatasi dan melaksanakan
kebijakan dan program secara komprehensif yang memberikan
dukungan akan perkembangan, pendidikan, emosional, lingkungan,
dan bahkan keuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
6. Dukungan teman yang berpusat pada keluarga (family centred peer
support). Mendorong dan memfasilitasi dukungan antar keluarga
7. Sistem layanan dan dukungan khusus (Specialized Service and
Support Systems). Artinya disini adalah setiap individu harus
memastikan bahwa rumah sakit, rumah, dan layanan masyarakat serta
sistem pendukung untuk anak-anak yang membutuhkan perawatan
kesehatan dan perkembangan yang fleksibel, mudah diakses, dan
komprehensif dalam menanggapi kebutuhan mereka
8. Perspektif FCC yang holistik. Maksudnya adalah menghargai
keluarga sebagai keluarga dan anak-anak sebagai anak, menyadari
mereka memiliki kekuatan, perhatian, emosi, dan aspirasi diluar
kebutuhan mereka akan pelayanan dan dukungan kesehatan.

160 Ilmu Kesehatan Anak

13.4 Manajemen Keperawatan Pada
Family Centred Care

FCC merupakan suatu filosofi caring yang dilaksanakan dalam suatu tindakan
keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat dirumuskan melalui pengkajian
keluarga untuk mengartikulasikan masalah yang diidentifikasi pada keluarga
yang menghadapi krisis situasional. Setiap tim antar disiplin dapat
menggunakan diagnosis tersebut untuk menjadi acuan dalam melakukan
intervensi untuk meningkatkan integritas keluarga terhadap masalah
perkembangan dan situasional yang dihadapi oleh keluarga dan anggotanya
(Bowden and Greenberg, 2009; Ball, Bindler and Cowen, 2014). Perawat
menilai kebutuhan keluarga dan mendokumentasikannya bagaimana FCC
diterapkan menentukan faktor-faktor yang mendukung atau menghambat
pelaksanaan FCC, dan efektivitas biaya FCC. Intervensi FCC menyadari
pentingnya keluarga dalam memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan
anak-anaknya, terutama kebutuhan perawatan kesehatan khusus (Bowden and
Greenberg, 2009).

13.4.1 Pengkajian dan Diagnosa Keperawatan

Perawat harus mengkaji kekuatan dan mekanisme dukungan keluarga untuk
mengidentifikasi strategi koping keluarga yang merupakan pembelajaran
strategi perilaku dan kognitif untuk mengelola stres keluarga. Kekuatan
keluarga merupakan hubungan yang positif dan proses yang mendukung dan
melindungi keluarga dan anggota keluarga selama mengalami kesulitan dan
perubahan. Perawat dapat menggunakan kekuatan keluarga untuk mengatasi
masalah dalam keluarga.

Ada empat kekuatan yang dapat keluarga kembangkan, beradaptasi terhadap
perubahan, dan koping terhadap tantangan yaitu (Ball, Bindler and Cowen,
2014):

1. Sifat individu dan keluarga dalam hal optimisme dan ketahanan yang
dimiliki keluarga. Kemampuan anggota keluarga untuk mendengar,
berdiskusi. Di dalam keluarga juga harus membagikan nilai-nilai dan
keyakinan mereka untuk saling memberikan harapan dan apresiasi
terhadap perubahan.

Bab 13 Family Centred Care Dalam Perawatan Anak 161

2. Keuangan keluarga
3. Kemampuan, keterampilan, dan kompetensi individu dan keluarga,

seperti dalam pemecahan masalah. Kemampuan keluarga untuk
bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan dan menerapkan
pengorbanan anggota keluarga untuk mendapatkan perawatan yang
baik. Sistem dukungan dalam keluarga, saling memiliki, dan
memiliki waktu keluarga juga sangat penting untuk dikaji
4. Motivasi keluarga.

Stres yang sering dialami orang tua ketika anak menjalani hospitalisasi seperti
perubahan peran orang tua dan permasalahan yang muncul saat anak dirawat
seperti emosi anak, tidak tahu cara merawat anak yang sedang sakit, masalah
perekonomian. Kurangnya komunikasi dan support system, serta komunikasi
dengan keluarga juga menimbulkan stres pada keluarga. Oleh karena itu,
perawat dapat mengkaji hal ini untuk mengetahui kebutuhan dari anak dan
juga keluarganya (Sarjiyah, Timiyatun and Hariyanti, 2018).

Pengkajian lain yang dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi atau data
seperti:

1. Tipe, struktur, peran, dan nilai – nilai dalam keluarga
2. Latar belakang budaya seperti norma-norma budaya yang dimiliki

keluarga, budaya kesehatan, keyakinan akan kesehatan, perilaku
mencari kesehatan, pelaksanaan asuhan, dan agama atau spiritualitas
keluarga
3. Sistem dukungan misalnya dari keluarga, teman, dan komunitas
4. Pola komunikasi seperti hambatan dalam berbahasa
5. Data lingkungan seperti kondisi tempat tinggal, pola tidur, area
bermain, karakteristik tetangga
6. Riwayat psikososial dan pola aktivitas sehari-hari keluarga dan anak

Keseluruhan data yang telah dikumpulkan, dikembangkan menjadi
perencanaan asuhan kepada anak dan keluarga dengan langkah berikut:

1. Menentukan apakah kondisi mempengaruhi fungsi keluarga
2. Mengidentifikasi bagaimana keseluruhan anggota keluarga

memberikan respon untuk kondisi akut dan ketidakmampuan anak

162 Ilmu Kesehatan Anak

3. Mengumpulkan informasi bagaimana keluarga mengelola perawatan
anak di rumah

4. Menentukan isu atau stressor keluarga lain yang diintegrasikan
dengan perencanaan perawatan

5. Mengidentifikasi harapan keluarga terhadap perbedaan kesehatan
profesional dan fasilitas kesehatan untuk membantu perawatan anak

Penerapan FCC pada setiap tahap perkembangan anak berbeda-beda seperti
pada bayi baru lahir, fase toddler dan preschool, usia sekolah dan adolescence.
Misalnya pengkajian pada bayi baru lahir meliputi: penilaian awal yang
mencakup penilaian APGAR Score, penilaian transisi selama periode
reaktivitas, penilaian usia kehamilan, dan pemeriksaan fisik secara sistematis.
Oleh karena itu, perawat harus menyadari keterkaitan antara bayi dan orang
tua. Tantangan yang terjadi ketika hospitalisasi yang singkat yaitu pencapaian
pengkajian bayi baru lahir secara menyeluruh dan pengajaran kepada orang tua
(Hockenberry and Wilson, 2018). Secara umum, diagnosa keperawatan yang
muncul yaitu:

1. Kesiapan meningkatkan koping keluarga
2. Gangguan interaksi sosial (anak dan orang tua)
3. Kesiapan meningkatkan peran orang tua
4. Kesiapan meningkatkan kesejahteraan spiritual

13.4.2 Perencanaan dan Implementati

Intervensi yang penting adalah membangun hubungan terapeutik dengan
keluarga dengan empati dan saling percaya untuk mencapai tujuan perawatan
anak. Perawat juga membantu keluarga membuat perencanaan perawatan
lanjutan dengan prinsip berpusat pada keluarga (family centered) yaitu:

1. Identifikasi pembuat keputusan utama untuk perawatan kesehatan
anak

2. Diskusikan tujuan keluarga untuk mengelola perawatan anak di
rumah

3. Pertimbangkan kekuatan keluarga dan pengalaman mengambil
keputusan yang dapat diintegrasikan pada intervensi

Bab 13 Family Centred Care Dalam Perawatan Anak 163

4. Pertimbangkan latar belakang budaya dan agama dalam
mengembangkan intervensi

5. Identifikasi tipe dukungan keluarga dan komunitas

FCC harus terus dilaksanakan untuk mendukung proses perawatan anak.
Adapun strategi meningkatkan Family Centred Care yaitu (Bowden and
Greenberg, 2009):

1. Mengubah kebijakan tentang kunjungan untuk mendukung kehadiran
keluarga selama perawatan anak

2. Membentuk kelompok dukungan keluarga agar dapat selalu hadir
selama perawatan anak

3. Mengembangkan aktivitas atau program untuk mendukung keluarga
yang mengalami perpindahan ruang rawat misalnya dari ruang ICU
ke ruang rawat inap biasa

4. Melibatkan orang tua di aktivitas bermain
5. Mengembangkan mekanisme dukungan secara regular antara anak

dan orang tua ketika di luar kota
6. Membuat papan informasi bagi orang tua yang berisi tentang

komunitas dan beberapa pamflet informasi kesehatan
7. Mendorong seluruh anggota keluarga untuk berpartisipasi pada

aktivitas di rumah
8. Menyediakan aktivitas-aktivitas seperti rekreasi, menonton, dan

kegiatan khusus untuk anak dan keluarganya sehingga tercipta
interaksi didalam keluarga khususnya yang memiliki penyakit kronis
atau akut pada anak
9. Mendorong keluarga untuk memantau perkembangan anak pada
grafik tumbuh kembang.

164 Ilmu Kesehatan Anak

13.4.3 Evaluasi

Adapun hasil atau capaian yang diharapkan dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan meliputi:
1. Kolaborasi anak dan keluarga dengan manajer kasus sehingga

intervensi yang dilaksanakan sebagai rekomendasi oleh perawat dan
tim kesehatan lainnya
2. Perawatan yang tepat diberikan oleh keluarga kepada anak
penyandang disabilitas

Daftar Pustaka

Agazio, J. B. and Buckley, K. M. (2012) ‘Revision of a parental stress scale for
use on a pediatric general care unit’, Pediatric Nursing.

Akhlaq, A., Malik, N. L., & Khan, N. A. (2013). "Family Communication And
Family System As Predictor of Family Satisfaction In Adolescents".
Sciene Journal Of Psychology. Al-Mseidin, K. I.

Al-Mseidin, K.I., Omar-Fauzee, M.S., & Kaur, A. (2017). "The Relation
Between Social And Academic Adjusment Among Secondary Female
Students In Jordan". European Journal Of Education Studies. 3(2).

American College of Gastroenterology (2020) ‘Diarrhea in Children’. Available
at: https://gi.org/topics/diarrhea-in-children/.

Anggraini, D.D., Sari, M.H.N., Ritonga, F., Yuliani, M., Wahyuni, W., Amalia,
R., Yuliani, D.R., Sitorus, S., Purba, D.H., Sulfianti, S. and Winarso, S.P.,
(2020). Konsep Kebidanan. Yayasan Kita Menulis.

Anjaswarni, Tri. 2016. Komunikasi Dalam Keperawatan. 1st ed. Jakarta: Pusdik
SDM Kesehatan.

Ardani Arjanggi, R & Kusumaningsih, L. P. S. (2016). "The Correlation
Between Social Anxiety And Academic Adjustment Among Freshmen.
Malaysia". Social and Behavioral Sciences, pp. 104–107.

Ardani, M. A. D. (2014). The Correlation Between Family Functioning And

Academic Adjustment Among Freshmen College Students Of Universitas

Indonesia. Jakarta. Available at:

http://www.lib.ui.ac.id/naskahringkas/2016-05/S58001- Margareta

Avenia Dinda .

166 Ilmu Kesehatan Anak

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) (2014) Panduan Praktis Sistem
Rujukan Berjenjang. Jakarta: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS).

Ball, J. W. et al. (2014) Child Health Nursing: Partnering with Children and
Families. Pearson (MyNursingLab Series).

Ball, J. W., Bfndler, R. C. M. and Cowen, K. J. (2012) Principles of Pedriatric
Nursing: Caring for Children, Journal of Chemical Information and
Modeling.

Beardsall, K. and Dunger, D. (2007) ‘The physiology and clinical management
of glucose metabolism in the newborn’, in Development of the Pancreas
and Neonatal Diabetes. Karger Publishers, pp. 124–137.

Beath, S. V (2003) ‘Hepatic function and physiology in the newborn’, in
Seminars in neonatology. Elsevier, pp. 337–346.

Bowden, V. and Greenberg, C. (2010) Children and Their Families: The
Continuum of Care. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Cazan, A. M. (2012). "Self Regulated Learning Strategies Predictors of
Academic Adjustment. Romania". College Student Journal. 33, pp. 104–
108.

CDC (2020) ‘What is Thalassemia?’ Available at:
https://www.cdc.gov/ncbddd/thalassemia/facts.html.

Chevalier, R. L. (1996) ‘Developmental renal physiology of the low birth weight
pre-term newborn’, The Journal of urology, 156(2), pp. 714–719.

Daniati, R. (2013). Peningkatan Kemampuan Kognitif Anak Melalui Permainan
Flannel Es Krim. Jurnal Spektrum Pls, 1 No 1.

DeFrain, Johann, Asay, S. M., & Olson, D. H. (2012). "Family Functioning".
Encyclopedia Of Human Relationships. Ed Thousan.

Desputri, F. Y. (2015). Studi Deskriptif Mengenai Academic Adjustment Pada
Mahasiswa Angkatan 2014 Fakultas Psikologi Universitas “X” Di Kota
Bandung. Universitas Kristen Maranatha.

Djamarah, Bahri. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua Dan Anak Dalam
Keluarga. Jakarta: PT Renika Cipta.

Daftar Pustaka 167

Due, R. A., Bunga, B. N., & Kiling, I. Y. (2018). Pola bermain anak usia dini
tunagrahita di Kupang. Researchgate.Net, May.
https://www.researchgate.net/profile/Indra_Kiling/publication/32400712
9_Pola_bermain_anak_usia_dini_tunagrahita_di_Kupang/links/5b04eafc
aca2720ba099e72e/Pola-bermain-anak-usia-dini-tunagrahita-di-
Kupang.pdf

Ebeledike, Chiemelie ; Ahmad, T. (2020) ‘Peddiatric Pneumonia’, NCBI.
Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK536940/.

Elshazzly, M. and Caban, O. (2019) ‘Physiology, Newborn’.

Fadillah, M. (2017). Bermain dan Permainan Anak Usia Dini (1st ed.).
Prenadamedia Group.

Fitriana, Fikri. n.d. “Faktor-Faktor Penyebab Tindakan…, Fiki Nurnaila
Fitriana, FKIP, UMP, 2017.” 6–33.

Gereige, R. S. and Laufer, P. M. (2013) ‘Pneumonia’, Pediatrics in Review. doi:
10.1542/pir.34-10-438.

Hawes, J., Bernardo, S., & Wilson, D. (2020). The Neonatal Neurological
Examination: Improving Understanding and Performance. Neonatal
network : NN, 39(3), 116–128. https://doi.org/10.1891/0730-
0832.39.3.116

Hidayati, A. N. & Wahyono, B., (2011). Pelayanan Puskesmas Berbasis
Manajemen Terpadu Balita Sakit Dengan Kejadian Pneumonia Balita.
Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(1), pp. 35-40.

Hockenberry, M. J., Wilson, D. and Rodgers, C. C. (2016) Wong’s Essentials
of Pediatric Nursing. Elsevier (Wong’s Essentials of Pediatric Nursing).
Available at: https://books.google.co.id/books?id=30-DjwEACAAJ.

Hockenberry, Marilyn J., Wilson, David. (2013). Wong’s essentials of pediatric
nursing / [edited by] Marilyn J. Hockenberry, David Wilson.—9th ed.
http://evolve.elsevier.com/Wong/essentials

Huda, N., Pelaksana, S., Rusdiana, L., Keguruan, F., Pendidikan, I., & Penerbit,
A. (2016). “FONEMA” (Jurnal Edukasi Bahasa dan Sastra Indonesia). 3
no.6, 274–347.

Ilyas, A. S., Makassar, S. A., & Kognitf, P. (n.d.). USIA PRA SEKOLAH DI
TAMAN KANAK-KANAK KENCANA KECAMATAN.

168 Ilmu Kesehatan Anak

Indarwati, Ferika. 2018. “Buku Ajar Konsep Komunikasi Dasar Keperawatan
Anak 1.” Buku Ajar 1–37.

Indonesian Pediatric Society (2015) DAFTAR PERTANYAAN SEPUTAR
IMUNISASI CAMPAK/MEASLES DAN RUBELLA (MR). Available
at: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-
seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr.

James, L. S. (1959) ‘Physiology of respiration in newborn infants and in the
respiratory distress syndrome’, Pediatrics, 24(6), pp. 1069–1101.

James, L. S. and Adamsons Jr, K. (1964) ‘Respiratory physiology of the fetus
and newborn infant’, New England Journal of Medicine, 271(27), pp.
1403–1409.

Jarvis, Carolyn., Eckhardt, Ann. (2020). Physical Examination & Health
Assessment 8th edition. St.Louis, Missouri: Elsevier.

Jeong, J. et al. (2016) ‘Paternal stimulation and early child development in low-
and middle-income countries’, Pediatrics, 138(4). doi: 10.1542/peds.2016-
1357.

Kaplan, J. A. (2019) ‘Leukemia in children’, Pediatrics in Review. doi:
10.1542/pir.2018-0192.

Kartadinata, S. (2012). The Role of Tradisional Games Kayu Do’I in Child
Counseling Processes, Proceeding 1st Interntional Seminar on Guidance
and Counseling (ISGC) UNY.

Kartika, L. et al. (2019) ‘The utilization of current technology in raising children
awareness of the needs of nutrition: A literature review’, Annals of
Tropical Medicine and Public Health, 22(11). doi:
10.36295/ASRO.2019.221135.

Kemenkes RI (2011) Situasi diare di Indonesia, Jurnal Buletin Jendela Data &
Informasi Kesehatan.

KEMENKES RI (2014) ‘InfoDATIN Pusat Data dan Informasi Kementerian
Kesehatan RI Situasi dan Analisis Imunisasi’.

Kemenkes RI, (2019). Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2009) Rancangan Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 374 tahun 2009 Tentang

Daftar Pustaka 169

Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2012) Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 001 Tahun 2012 Tentang Sistem
Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2014) Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2014 Tentang Upaya
Kesehatan Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2016) Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2016 Tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI, (2020). Kurikulum Pelatihan Manajemen Terpadu
Balita Sakit. Jakarta: DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA
Kementerian Kesehatan.

Kementerian Kesehatan RI, 2014. Pedoman Penyelenggara Manajemen
Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2014) ‘Pneumonia Balita’.

Available at:

https://www.kemkes.go.id/article/view/13010200020/pneumonia-

balita.html.

Kyle, T. and Carman, S. (2015) Essentials of pediatric nursing: Third edition,
Essentials of Pediatric Nursing: Third Edition.

Kyle, T. and Carman, S. (2017) Essentials of Pediatric Nursing. Wolters
Kluwer.

Legrow, K. et al. (2014) ‘Evaluating the feasibility of a parent-briefing
intervention in a pediatric acute care setting’, Journal for Specialists in
Pediatric Nursing. doi: 10.1111/jspn.12073.

Lowdermilk, Deitra Leonrd., Perry, Shannon. E., Cashion, Kitty. (2013). Buku
Keperawatan Maternitas Edisi 8. Singapore : Elsevier

170 Ilmu Kesehatan Anak

Lyon, A. (2004) ‘Applied physiology: temperature control in the newborn
infant’, Current Paediatrics, 14(2), pp. 137–144.

Maine Department of Health and Human Services. (2005). Supporting Maine’s
Infants & Toddlers: Guidelines for Learning & Development.

Marcdante, Karen; Kliegman, R. (2019) Nelson Essentials of Pediatric. Eight
Edit. Elsevier.

McKinney, E. S. et al. (2017) Maternal-Child Nursing. Elsevier. Available at:
https://books.google.co.id/books?id=WXMBvgAACAAJ.

Moekijat. n.d. “Drs. Moekijat, Teori Komunikasi, (Bandung, Mandar Maju,
1993), Hal 3. Ibid , Hal 2.” 1–20.

Mudhovozi, P. (2012). "Social and Academic Adjusment of Frist-Year
University Student. South Africa". J Soc Sci. 3(2), pp. 251–259.

Munjidah, A., (2016). Perbedaan Hasil Belajar Manajemen Terpadu Balita Sakit
(MTBS) Melalui Media Pembelajaran Visual Dan Audiovisual. Jurnal
Ilmiah Kesehatan, 9(1), pp. 1-6.

Musfiroh, D. T. (2008). Teori dan Konsep Bermain. In Bermain dan Permainan
Anak.

Mustapa, D. & Oriza, I. D. I. (2014). "Hubungan Antara Keberfungsian
Keluarga Dn Penyesuaian Diri Sosial Pada Mahasiswa Baru Di
Universitas Indonesia". Jurnal Psikologi.

Nguyen, P. H. et al. (2018) ‘Influences of early child nutritional status and home
learning environment on child development in Vietnam’, Maternal and
Child Nutrition, 14(1), pp. 1–11. doi: 10.1111/mcn.12468.

Nies, M.A. and McEwen, M. (2019) Keperawatan Kesehatan Komunitas dan
Keluarga - 1st Edition. Elsevier (Singapore) Pte Ltd.

Novrizal, I. (2018). Pengaruh Diskriminasi Etnik Terhadap Penyesuaian
Akademik Dimoderasi Strategi Coping. Universitas Muhammadiyah
Malang.

Pardede, S. O. et al. (2013) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Penyunting: Tata Laksana Berbagai
Keadaan Gawat Darurat pada Anak.

Daftar Pustaka 171

Pattola et al. (2020) Gizi Kesehatan dan Penyakit. 1st edn. Edited by A. Rikki.
yayasan kita menulis.

Pedraza, D. F. and Santos, I. S. (2017) ‘Avaliação da vigilância do crescimento
nas consultas de puericultura na Estratégia Saúde da Família em dois
municípios do estado da Paraíba, Brasil’, Epidemiologia e servicos de
saude : revista do Sistema Unico de Saude do Brasil, 26(4), pp. 847–855.
doi: 10.5123/S1679-49742017000400015.

Polin, R. A., Fox, W. W. and Abman, S. H. (2011) Fetal and Neonatal
Physiology: Expert Consult-Online and Print. Elsevier health sciences.

Pratiwi, A. B. R. (2014). Hubungan Fungsi Keluarga Terhadap Tingkat
Kecerdasan Emosional Para Pelajar Di SMP Jaya Suti Abadi Kabupaten
Bekasi. UIN Syarif Hidayatullah.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Kementerian kesehatan RI
(2014) Buku Ajar Imunisasi, Hari Aids Sedunia 2014.

Quan, L., Zhen, R., & Yao, B. (2014). "The Effect Of Loneliness And Coping
Style On Academic Adjustment Among College Freshment". Journal of
Social Behavior and Personality, 42(6), pp. 969–978.

Republik Indonesia (2009) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan. Republik Indonesia. Jakarta : Republik Indonesia

Republik Indonesia (2012) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72
Tahun 2012 Tentang Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta : Republik
Indonesia

Republik Indonesia (2018) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2
Tahun 2oi8 Tentang Standar Pelayanan Minimal. Jakarta : Republik
Indonesia

Ria, R. (2012). Hubungan Antara Family Functioning Dan Psychological Well
Being Pada Ibu Dari Anak Autis Usia Kanak-Kanak Menengah.
Universitas Indonesia.

Santos, E. and Noggle, C. A. (2011) ‘Cephalocaudal Principle BT -
Encyclopedia of Child Behavior and Development’, in Goldstein, S. and
Naglieri, J. A. (eds). Boston, MA: Springer US, p. 321. doi: 10.1007/978-
0-387-79061-9_494.

172 Ilmu Kesehatan Anak

Saputro, H., & Fazrin, I. (2017). Anak Sakit Wajib Bermain Dirumah Sakit.
Forum Ilmiah Kesehatan(FORIKES).

Serón-Ferré, M. et al. (2016) ‘Circadian rhythms in the fetus and newborn:
significance of interactions with maternal physiology and the
environment’, in Prenatal and postnatal determinants of development.
Springer, pp. 147–165.

Shore. (1997). Rethinking the Brain: New Insights into Early Development.
New York, NY: Families and Work Institute.

Simoes, E. A. F. et al. (2006) Disease Control Priorities in Developing
Countries : Acute Respiratory Infections in Children, Disease Control
Priorities in Developing Countries.

Society, A. C. (2020) ‘Leukemia in Children’. Available at:
https://www.cancer.org/cancer/leukemia-in-children.html.

Sopiyanti, F. (2011). "Pengaruh self efficacy terhadap penyesuaian akademik
mahasiswa. Bandung". Jurnal Ilmiah Psikologi. 4(1), pp. 289–3041.

Stewart, C. P. et al. (2019) ‘The effect of eggs on early child growth in rural
Malawi: The Mazira Project randomized controlled trial’, American
Journal of Clinical Nutrition. Oxford University Press, 110(4), pp. 1026–
1033. doi: 10.1093/ajcn/nqz163.

Stratton, K. et al. (2012) Adverse effects of vaccines: Evidence and causality,
Adverse Effects of Vaccines: Evidence and Causality. doi:
10.17226/13164.

Sulfianti et al. (2020) asuhan kebidanan pada persalinan. 1st edn. Edited by J.
Simarmata. yayasan kita menulis.

Sulfianti, S., Indryani, I., Purba, D.H., Sitorus, S., Yuliani, M., Haslan, H.,
Ismawati, I., Sari, M.H.N., Pulungan, P.W., Wahyuni, W. and Hutabarat,
J., (2020). Asuhan Kebidanan pada Persalinan. Yayasan Kita Menulis.

Sulviana, E. (2015). Hubungan Antara Self Efficacy Academic Dengan
Penyesuaian Akademik Pada Mahasiswa Uin Sunan Ampel Surabaya.
UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sumiaty, Pont, A. V and Sundari (2017) ‘Relationship of Mother Factors,
Breastfeeding and Stunting Pattern in Central Sulawesi’, International

Daftar Pustaka 173

Journal of Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR), 35(3), pp.
413–420.

Suparmi, (2018). Pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) pada
Puskesmas Di Regional Timur Indonesia. Media Penelitian Dan
Pengembangan Masyarakat, pp. 271-278.

Susanto, A. (2011). Perkembangan Anak Usia Dini. Prenamedia Group.

Tyastuti, Siti dkk. 2011. Komunikasi Dan Konseling Dalam Pelayanan
Kebidanan. V. edited by N. dkk Indra. Yogyakarta: Fitramaya.

UNICEF (2020) ‘Childhood Diseases’. Available at:
https://www.unicef.org/health/childhood-diseases.

Valka, S. (2015). "Management of International Students Academic
Adjustment: Challenges and Solutions. Latvia". European Scientific
Journal. 3.

WHO (2013a) Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines for the
Management of Common Childhood Illnesses, Guidelines for the
management of common illnesses.

WHO (2013b) ‘WHO | Diarrhoeal disease’, WHO South-East Asia Journal of
Public Health.

WHO (2020a) ‘Children: Improving Survival and Well-being’. Available at:
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/children-reducing-
mortality#:~:text=Top 10 countries with the,children under-5 years%2C
2019&text=Globally%2C infectious diseases%2C including
pneumonia,death for children under five.

WHO (2020b) ‘Pneumonia’. Available at: https://www.who.int/health-
topics/pneumonia#tab=tab_1.

Wilson, D. and Hockenberry, M. J. (2013) Wong’s Essentials of Pediatric
Nursing - E-Book. Elsevier Health Sciences. Available at:
https://books.google.co.id/books?id=b9TsAwAAQBAJ.

Wiwik Pratiwi. (2017). Konsep Bermain Pada Anak Usia Dini. Manajemen
Pendidikan Islam , 5, 106–117.

World Health Organization (2014) Distance Learning Course. Module 6.
Malnutrition and anaemia. Available at: www.who.int (Accessed: 4
December 2020).

174 Ilmu Kesehatan Anak

World Health Organization (WHO) (2019) ‘WHO | What is universal

coverage?’, WHO. Available at:

http://www.who.int/health_financing/universal_coverage_definition/en/

World Health Organization (WHO) (2020) Vaccines and Immunization.

Yuliastati & Arnis, A., (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan
"Keperawatan Anak". Jakarta: PUSDIK KEMENKES RI.

Yuliastati;Arnis, A. (2016) Keperawatan Anak. Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.

Zubir, D. M. (2012). Hubungan Antara Psychological Well-Being Dan College
Adjustment Pada Mahasiswa Tahun Pertama Universitas Indonesia.
Universitas Indonesia.

Biodata Penulis

dr. Deasy Handayani Purba dilahirkan di Medan,
Sumatera Utara pada tanggal 9 Desember 1992,
merupakan anak ke enam dari sembilan bersaudara,
buah hati dari Bapak Dr. Bonaraja Purba, M.Si dan
Ibu Romlah Sinaga, S.Pd.

Riwayat pendidikan penulis dimulai dari SD Sutomo
1 Medan (1999), SMP Sutomo 1 Medan (2005),
SMA Sutomo 1 Medan (2008), dan Fakultas
Kedokteran USU (2011).

Semasa kuliah, penulis aktif mengikuti kegiatan
ilmiah dan perlombaan ilmiah Fakultas Kedokteran
se-Indonesia di Universitas Hasanuddin, Makassar;
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; Universitas Padjadjaran, Bandung;
Universitas Udayana, Bali; dan Universitas Lambung Mangkurat; Banjarmasin.
Penulis pernah mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa di Negara Filipina
pada tahun 2014, dan terpilih menjadi Wakil 1 Duta Bahasa Provinsi Sumatera
Utara pada tahun 2015. Di sisi lain, penulis juga pernah menjadi bagian dalam
Program Ekspedisi Nusantara Jaya oleh Kemenko Kemaritiman di Pulau Pari,
Kepulauan Seribu, pada tahun 2017. Sejak tahun 2019 hingga saat ini, penulis
aktif mengabdi di Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK)
melalui Program Nusantara Sehat Kementerian Kesehatan.

Beberapa buku yang ditulis oleh penulis dan telah diterbitkan adalah
Manajemen dan Kepemimpinan dalam Keperawatan (2020), Konsep
Kebidanan (2020), dan Asuhan Kebidanan pada Persalinan (2020).

176 Ilmu Kesehatan Anak

Ns. Lia Kartika, M.Kep., Sp.Kep.An. Lahir di
Tangerang, Banten, Indonesia. Lia merupakan putri
kedua dari pasangan Samuel Manumpak Simbolon
dan Regia Flora Hutahaean. Perjalanan
pendidikannya cukup berliku. Lia mengawali
pendidikannya di D III Keperawatan (2000-2003).
Sambil bekerja sebagai seorang perawat, ia
melanjutkan kembali pendidikan Sarjana
Keperawatan di STIK St. Carolus, Jakarta (2006-
2009). Setelah berjibaku dalam pelayanan di rumah
sakit selama 10 tahun, Lia memutuskan untuk
melayani di ranah Pendidikan Keperawatan di Fakultas Keperawatan
Universitas Pelita Harapan. Dalam mendukung kompetensinya, Lia
melanjutkan pendidikan Magister Keperawatan dan mulai berkonsentrasi di
satu area yaitu dengan melanjutkan Program Spesialis Keperawatan Anak di
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia (2015-2018). Saat ini masih
aktif mengemban tugas sebagai salah satu dosen keperawatan dengan setia
melakukan tanggung Tri Dharma perguruan tinggi

Dr. Agus Supinganto, S.Kep.,Ns.,M.Kes. Lahir di
Lombok Barat pada tanggal 7 Agustus 1971 dari
pasangan M.Mulyoto (Alm) dan Hj. Supingani.
Mulai 1997 sebagai pendidik di STIKES YARSI
Mataram NTB. Selanjutnya menyelesaikan
pendidikan D4 Perawat pendidik di PSIK Universitas
Airlangga, S1 Keperawatan dan Profesi di STIKES
Muhammadiyah Gombong Jawa Tengah dan S2
AAK di FKM Universitas Airlangga. Tahun 2019
menyelesaikan pendidikan Doktoral S3 Ilmu Kedokteran Biomedik peminatan
Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Udayana Denpasar Bali. Memiliki
visi berperan aktif meningkatkan peran serta masyarakat dalam meningkatkan
derajat kesehatan dan aktif dalam kegiatan sosial dan menggemari bidang
pemberdayaan masyarakat.

Buku yang sudah di terbitkan Buku Ajar Keperawatan Komunitas,
Effectiveness of sex education knowledge toward adolescent, Didaktika
Indonesia: Dari Langit ke Bumi, Kajian Kesehatan Dalam Perspektif Opini
Kesehatan, Biologi Umum, Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa

Biodata Penulis 177

Kebidanan, Epidemiologi Penyakit Menular, Konsep Dasar keperawatan,
Masa-masa Covid-19 mengenal dan penanganan dari berbagai perspektif
kesehatan.

Dr. Hasnidar, S.ST., M.Kes lahir di Bone pada 3
Oktober 1976, sejak tahun 2010 hingga sekarang
tercatat sebagai Dosen Lembaga Layanan Dikti
Wilayah IX Sulawesi dengan DPK pada Akademi
Kebidanan Bina Sehat Nusantara, Bone dan
menduduki jabatan sebagai Direktur sejak tahun
2018 hingga sekarang. Menempuh pendidikan dasar
di SDN No. 79 Cenrana, Bone (1989), SMPN
Cenrana, Bone (1992), SMAN 2 Watampone (1995)
kemudian melanjutkan studi di AKPER Depkes
Banta-Bantaeng, Ujungpandang (1998), D.IV
Keperawatan Bayi dan Anak Universitas
Hasanuddin Makassar (2002), Magister Kesehatan UIT Makassar (2010), dan
terakhir mendapatkan gelar Doktor bidang Sosiologi dari Universitas Negeri
Makassar tahun 2016.

Wahyuni, S.ST, M.Biomed lahir di Bukittinggi,
Sumatera Barat pada tanggal 24 Februari 1986. Studi
Diploma III (A.Md, Keb) diselesaikan pada Program
Studi D.III Kebidanan Bukittinggi Poltekkes Padang
bulan April tahun 2018 kemudian melanjutkan Studi
Diploma IV (S.ST) pada Program Studi D.IV Bidan
Pendidik Poltekkes Kemenkes Padang dan
menyelesaikan proses bulan April tahun 2012. Pasca
Sarjana (M.Biomed) di selesaikan bulan April tahun
2016 pada Program Studi Ilmu Biomedik
Kedokteran Universitas Andalas Jurusan Reproduksi Kedokteran. Saat ini
penulis adalah Dosen tetap pada Universitas Fort De Kock Bukittinggi dan
pernah menjadi Tenaga Bidan salah satu rumah sakit yang ada di Kota
Bukittinggi tahun 2018-2019, Staff Dosen Kebidanan STIKes Perintis Sumatera
Barat tahun 2019-2012 dan Dosen tetap Akademi Kebidanan Pelita Andalas
Bukittinggi tahun 2012-2016.

178 Ilmu Kesehatan Anak

Buku yang pernah penulis hasilkan adalah Mikrobiologi dan Parasitologi,
Dasar-dasar Praktikum Mikrobiologi, Kebidanan Komunitas yang sudah ber-
ISBN, Ilmu Obstetri dan Ginekologi Untuk Kebidanan, Konsep Kebidanan,
Asuhan Kebidanan Persalinan, Keterampilan Dasar Kebidanan Teori dan
Praktik dan Mutu Pelayanan Kebidanan yang diterbitkan Yayasan Kita Menulis
serta beberapa buku ajar yang digunakan di lingkungan kampus dan diterbitkan
Fort De Kock Ekspress.

Selain melaksanakan tugas pendidikan khususnya mengajar, penulis juga aktif
menulis jurnal penelitian dan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada
masyarakat termasuk kegiatan organisasi, di antaranya: Ikatan Bidan Indonesia
(IBI), Dharma Wanita (DW) dan Perkumpulan Karir Dosen Indonesia.

Yenni Ferawati Sitanggang, BN., MSN-Palliative
Care. Lahir: Jakarta 17 Februari 1983,
menyelesaikan pendidikan S1 di STIKES Binawan
Jakarta (2004-2005), melanjutkan pendidikan
Bachelor of Nursing di University of Technology
Sydney-Australia (2006-2007) dan mendapatkan
Registrasi perawat (Registered Nurse) pada tahun
2007. Melanjutkan studi Master of Nursing di Sophia
Hemmet University Stockholm-Sweden dengan
kekhususan Perawatan Paliatif (Palliative Care) tahun
2015-2016. Saat ini bekerja di Universitas Pelita Harapan sebagai dosen
pengajar sejak 2016 – sekarang dengan Mata kuliah utama Keperawatan
Paliatif, Keperawatan Gerontik dan Keperawatan Komunitas Keluarga. Aktif
mengikuti berbagai Konfrens keperawatan, melakukan penelitian serta
pengabdian kepada masyarakat serta memiliki beberapa publikasi pada jurnal
nasional dan prosiding internasional.

Biodata Penulis 179

Agung Mahardika Venansius Purba lahir di
Medan, 2 April 1986. Lulus dari Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara tahun 2012. Saat ini
penulis bekerja dalam pelayanan kesehatan di Dinas
Kesehatan Deli Serdang, Sumatera Utara. Penulis aktif
mengikuti perkembangan ilmu kesehatan terutama di
bidang gizi dan kesehatan olahraga. Beberapa buku
yang telah ditulis dan diterbitkan adalah Gizi
kesehatan dan penyakit, Asuhan Kebidanan pada
Persalinan, Program KB di Indonesia.

Ns. Maria Maxmila Yoche Arkianti Apelaby,
S.Kep, M.Kep.. Lahir di Jakarta, 11 November 1985,
menempuh pendidikan sarjana keperawatan dan Ners
di STIK Sint Carolus, Jakarta (2004-2009) dan
melanjutkan pendidikan magister keperawatan di
STIK Sint Carolus, Jakarta (2018-2020). Saat ini
bekerja sebagai dosen pengajar di Universitas Pelita
Harapan dengan mata kuliah keperawatan medikal
bedah. Aktif mengikuti konferensi keperawatan dan
pengabdian kepada masyarakat.

Ns. Deborah Siregar, S.Kep., M.K.M. Lahir di
Tarutung, 19 Juli 1987, menyelesaikan pendidikan S1
dan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas
Padjadjaran (2005-2010). Kemudian melanjutkan
pendidikan Magister Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia (2014-2016). Pernah bekerja
sebagai perawat di Siloam Hospital Lippo Village
(2010-2013). Saat ini bekerja sebagai dosen di
Fakultas Keperawatan Universitas Pelita Harapan
sejak tahun 2016 dengan mata kuliah yang diampu
adalah Keperawatan Komunitas Keluarga, Health
Promotion Behavior, dan Introduction Nursing
Process and Theory. Aktif menjadi editor dalam Nursing Current Jurnal
Keperawatan UPH. Buku kolaborasi yang telah dihasilkan bersama penulis

180 Ilmu Kesehatan Anak

lainnya adalah Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Kebidanan (2020),
Konsep Dasar Keperawatan (2020), dan Gizi Kesehatan dan Penyakit (2020).

Ns. Fiolenty B Marulianna Sitorus,
M.Kep.Sp.Kep.MB. Lahir di Medan, 18 Oktober
1969, menyelesaikan pendidikan D3 Keperawatan di
Akademi Perawatan Sint Carolus (1988-1991) dan
melanjutkan pendidikan S1 Keperawatan di Fakultas
Ilmu Keperawatan UI (1999 -2002). Kemudian
melanjutkan pendidikan S2 Fakultas Ilmu
Keperawatan UI spesialisasi Keperawatan Medikal
Bedah (2011-2014). Aktif menjadi dosen yang
menekuni dunia wound care dan saat ini bekerja
sebagai Dosen di Fakultas Keperawatan Universitas
Pelita Harapan sejak 2008 – sekarang dengan mata kuliah yang diampu adalah
Keperawatan Medikal Bedah.

Ns. Evanny Indah Manurung, M. Kep., Lahir di
Lubuk Sikaping, 6 April 1990, menyelesaikan
pendidikan S1 dan profesi Ners di Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Padjadjaran (2008-2013).
Kemudian melanjutkan pendidikan Magister
Keperawatan di Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia (2017-2020). Pernah bekerja
sebagai perawat di Bethsaida Hospital Tangerang
(Februari 2014-Oktober 2014). Kemudian bekerja di
Fakultas Keperawatan Universitas Pelita Harapan
sebagai Clinical Educator (2014-2020), dan sekarang bekerja sebagai dosen di
Fakultas Keperawatan Universitas Pelita Harapan dengan mata kuliah yang
diampu, yaitu Keperawatan Komunitas dan Keperawatan Keluarga. Aktif
melakukan pengabdian kepada masyarakat, dan memiliki publikasi prosiding
international dan nasional.

Biodata Penulis 181

Ns. Martina Pakpahan, S. Kep., M.K.M lahir di
Jakarta, 26 Januari 1986. Penulis menamatkan
pendidikan Sarjana Keperawatan pada tahun 2008
dan pendidikan Profesi Ners pada tahun 2009 dari
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
(FIK-UI). Pada tahun 2016, penulis menamatkan
pendidikan magister kesehatan masyarakat dari
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia (FKM-UI). Penulis pernah bekerja sebagai
perawat di Rs. Jantung dan Pembuluh darah Harapan Kita (2009-2017). Saat ini
penulis bekerja sebagai dosen di Fakultas Keperawatan Universitas Pelita
Harapan (UPH) dengan mata kuliah yang diampu yaitu; Keperawatan
Komunitas, Keperawatan Keluarga, Health Promotion and Behaviour,
Communication in Healthcare, Introduction Nursing Process and Theory, Riset
dan Statistik. Penulis juga aktif di Fakultas sebagai sekretaris Research,
Community Service and Training Committee (RCTC) dan Editor Nursing
Current Jurnal Keperawatan UPH. Beberapa buku yang telah dihasilkan penulis,
berkolaborasi bersama penulis lainnya yaitu; Belajar dari Covid-19: Perspektif
Ekonomi & Kesehatan (2020), Ilmu Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan
(2020), Konsep Dasar Keperawatan (2020),

Ns. Adventina Delima Hutapea, M.Kep. Lahir di
Panei Tongah, 01 Desember 1985, pendidikan S1+
Profesi Ners (2003-2008) di Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara, dan melanjutkan
pendidikan S2 Keperawatan (2013-2015) di Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Saat ini
bekerja sebagai dosen di Faculty Of Nursing
Universitas Pelita Harapan sejak tahun 2019, dengan
mata kuliah yang diampu adalah Manajemen
Keperawatan, Professional Issue In Nursing,
Anatomi dan Fisiologi II.

182 Ilmu Kesehatan Anak


Click to View FlipBook Version