The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

by Ronal Watrianthos (editor)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-10-25 23:04:15

Ilmu Kesehatan Anak

by Ronal Watrianthos (editor)

Bab 7 Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir 85

cadangan fungsional dan respon hipoaktif terhadap stimulus dalam hari-hari
pertama. Agregasi dan perlekatan trombosit, seperti juga pelepasan substansi
yang meningkatkan kaskade pembekuan, dapat juga terganggu. Hiperaktivitas
trombosit cenderung membaik dalam 10 hari. Walaupun, jika bayi sedang
sakit atau imatur, pembatasan ini meningkatkan resiko perdarahan dan
koagulopati. Koagulasi pada neonatus dapat terganggu oleh obat-obatan yang
diminum ibu, misalnya aspirin, yang menghambat aktivitas agregasi trombosit
dan faktor IIX (faktor kontak).

Koagulasi

Faktor pembekuan II-bergantung vitamin K (protrombin), VII, IX, dan X
berkisar 50% dari nilai plasma orang dewasa saat lahir dan pada minggu-
minggu awal setelah lahir. Penurunan ini lebih besar pada bayi prematur,
karena konsentrasi faktor bergantung vitamin K berhubungan dengan usia
gestasi. Faktor-faktor kontak terlibat dalam inisiasi kaskade pembekuan (XI,
XII, prekallikrein, dan kininogen berat molekul besar) kurang dari 50% nilai
plasma dewasa saat lahir. Kadar fibrinogen neonatus serupa dengan orang
dewasa atau sedikit meningkat saat lahir. Konsentrasi plasma dari faktor Von
Willebrand (vWF) meningkat pada minggu pertama. Kadar Faktor V, VIII,
dan XIII lebih besar dari 70% nilai dewasa atau tidak berbeda dari nilai
dewasa. Sebagai hasil dari perubahan-perubahan ini, berakibat pada resistensi
terhadap heparin dan peningkatan resiko perdarahan. aktivitas ini kemudian
menghilang dengan penurunan usia gestasi dan neonatus yang sakit berat.

Inhibitor koagulasi juga terganggu. Kadar antitrombin (sebuah inhibitor
protease yang menetralkan faktor pembekuan yang teraktivasi) dan kofaktor
heparin II (HCII) berada pada 50% nilai dewasa. Protein C dan S (inhibitor
faktor-faktor VII dan V dan faktor-faktor bergantung vitamin K) juga menurun
hingga kurang dari 30% dari nilai dewasa. Protein C ditemukan dalam bentuk
fetus dalam sirkulasi neonatus. Protein S ditemukan terutama dalam bentuk
bebas dalam neonatus (dibandingkan protein yang terikat pada orang dewasa)
karena ketiadaan protein pengikatnya. Hal ini merupakan keuntungan bagi
neonatus, karena peningkatan kadar protein S bebas berakibat pada aktivitas
bersih yang merupakan 75% dari nilai dewasa meskipun nilai absolut lebih
mendekati 25% kadar dewasa. Kadar Inhibitor lain, α1-macroglobulin,
meningkat dua kali dari nilai dewasa, yang membantu mengkompensasi
perubahan pada antithrombin, protein C, protein S, dan kofaktor heparin II.
Mekanisme terhadap perubahan ini pada koagulasi termasuk penurunan
sintesis faktor, percepatan pembersihan (disebabkan peningkatan basal

86 Ilmu Kesehatan Anak

metabolic rate), dan aktivasi serta peningkatan konsumsi komponen koagulasi
saat lahir. Perubahan-perubahan ini meningkatkan resiko untuk keadaan
hiperkoagulasi dan pembentukan trombus. Inhibisi thrombin lebih lambat pada
bayi baru lahir, namun diseimbangkan dengan peningkatan pengikatan
thrombin dengan peningkatan α1-macroglobulin. Pembentukan trombin pada
neonatus mirip dengan pada orang dewasa yang menerima dosis terapeutik
warfarin atau heparin.

Prothrombin time (PT), Thrombin clotting time (TT), dan activated partial
thromboplastin time(aPTT) memanjang, seiring dengan penurunan usia
gestasi. Meski demikian, nilai-nilai spesifik untuk tes-tes ini bervariasi antara
laboratorium dan dengan perbedaan pada sampel tali pusat dibandingkan
sampel neonatus, reagen yang digunakan, dan kondisi pemeriksaan. Nilai-nilai
referensi tersedia untuk bayi aterm dan prematur dari berbagai usia lahir. Perlu
diperiksa lebih lanjut bila PT lebih besar dari 17 detik pada usia gestasi apapun
atau PTT lebih besar dari 45 detik hingga 50 detik pada bayi aterm. PTT
umumnya bukan merupakan parameter yang berguna pada bayi prematur. PTT
mengukur semua faktor koagulasi kecuali VII dan XIII dan abnormal jika
salah satu faktor kurang dari 20-40% nilai normal.

PTT dipengaruhi oleh penurunan dalam faktor kontak, seperti yang terlihat
pada banyak bayi prematur sehat. Meskipun terjadi pemanjangan APTT, PT,
dan TT, waktu pembekuan seluruh darah bayi baru lahir sedikit lebih lebih
pendek dibandingkan nilai dewasa (rata-rata 80±5,1 pada bayi aterm).
Mekanisme untuk temuan paradoksal ini tidak diketahui, namun hal ini
menggambarkan sedikit ketidakseimbangan dengan kecenderungan mengarah
pada thrombosis (penurunan antitrombin dan protein C dan S) dibandingkan
dengan hipokoagulativitas fisiologis (kadar faktor II,VII,IX,dan X yang
rendah) sama seperti peningkatan kadar dan fungsi vWF dan peningkatan
ukuran dan jumlah eritrosit.

Fibrinolisis

Aktivitas sistem fibrinolitik sedikit meningkat saat lahir. Namun, secara
umum, fibrinolysis kurang efektif pada bayi baru lahir disebabkan oleh
keberadaan plasminogen fetus, rendahnya plasminogen dan activator
plasminogen jaringan, dan peningkatan inhibitor fibrinolysis (inhibitor
activator plasminogen-1 dan α2-antiplasmin). Kadar inhibitor aktivator
plasminogen (PAI-1) dan tPA adalah dua kali kadar dewasa, berkurang dalam
5 hari; PAI-1 meningkat lagi setelah 5 hari menjadi dua kali nilai dewasa

Bab 7 Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir 87

dalam 6 bulan. Fibrinogen fetus juga dapat lebih resisten terhadap lisis
dibandingkan fibrinogen dewasa. Sebagai tambahan, pembersihan dari debris
kolagen, fibrin, dan sel-sel rusak menjadi terhambat, secara sekunder terhadap
imaturitas dari sistem pengaktivasi retikuloendotelial dan kadar fibronectin
yang rendah (glikoprotein terlibat dalam pembersihan debris dari kerusakan
jaringan dan peradangan). Gangguan pada bayi prematur yang sehat sama
dengan atau kurang dibandingkan pada bayi baru lahir yang aterm. Namun,
aktivitas mekanisme fibrinolitik dapat menurun pada beberapa bayi, terutama
bayi prematur dengan sindrom distress pernafasan berat atau pada bayi yang
mengalami kondisi iskemik-hipoksia, selama paling tidak 24 jam setelah lahir
dan kemungkinan lebih lama. Kadar plasminogen sebanyak 60-70% nilai
dewasa pada saat lahir dan menurun lebih jauh pada bayi SGA dan bayi-bayi
prematur, meningkatkan resiko terhadap gangguan hemostatik.

Jaundice

Dalam hepatosit, bilirubin yang berasal dari hemolisis dikonjugasi menjadi
asam glukoronat dan menjadi larut air. Bilirubin terkonjugasi (disebut juga
direk) diekskresikan dalam empedu. Bilirubin tidak terkonjugasi mengganggu
respirasi seluler, dan bersifat toksik bagi sel saraf. Kerusakan sarafnya disebut
kern ikterus menyebabkan cerebral palsy, kejang, kehilangan pendengaran
sensorineural, dan jarang menyebabkan kematian. Hati bayi baru lahir
memiliki kapasitas ekskretorik bilirubin yang terbatas. Bahkan bayi cukup
bulan yang sehat umumnya memiliki kadar bilirubin tidak terkonjugasi yang
tinggi. Hal ini memuncak pada hari ketiga hidup pada sekitar 6,5-7 mg/dL dan
tidak kembali normal hingga hari ke sepuluh kehidupan. Kadar bilirubin total
lebih besar dari 7 mg/dL pada 24 jam pertama atau lebih besar dari 13 mg/dL
pada saat apapun pada bayi cukup bulan sering harus diperiksa penyebabnya.
Bayi yang disusui umumnya memiliki kadar bilirubin serum 1-2 mg/dL lebih
besar dibandingkan bayi dengan susu formula. Penyebab umum pemanjangan
hiperbilirubinemia indirek antara lain, jaundice ASI, penyakit hemolitik,
hipotiroidisme, stenosis pilorus, sindrom crigler-najjar, dan darah
ekstravaskular. Jaundice patologis dalam 36 jam pertama kehidupan biasanya
disebabkan produksi yang berlebihan dari bilirubin. Hiperbilirubinemia diatasi
berdasarkan berat badan bayi. Kadar bilirubin absolut yang memicu transfuse
pertukaran masih belum ditetapkan, namun kebanyakan keputusan transfusi
pertukaran berdasarkan pada kadar bilirubin serum dan kecepatan
kenaikannya.

88 Ilmu Kesehatan Anak

7.6 Sistem Imunitas

Pada usia janin 8 minggu telah dijumpai limfosit, seiring perkembangan
kehamilan, limfosit banyak ditemukan di perifer dan terdapat juga limpa. Sel-
sel limfoid menghasilkan molekul imunoglobulin G yang merupakan
gabungan immunoglobulin A dan M. Gamma Globulin G dibentuk terbanyak
setelah dua bulan bayi lahir. immunoglobulin G janin didapatkan dari ibu
melalui plasenta. Saat terjadi infeksi, janin bereaksi dengan plasmasitosis,
proliferasi folikel limfoid, dan immunoglobulin M. Immunoglobulin A (IgA)
telah dibentuk pada usia kehamilan 2 bulan, dan banyak ditemukan segera
setelah lahir, khususnya pada sekret dari saluran pencernaan, pernafasan,
kelenjar ludah, pankreas, dan saluran urogenital (Polin, Fox and Abman,
2011). IgM meningkat segera setelah bayi lahir, setara dengan keadaan flora
normal dalam saluran pencernaan. Namun bayi hanya dilindungi oleh IgG dari
ibu dan kadarnya terbatas juga. Kekurangan IgA sering menyebabkan
neonatus rentan mengalami infeksi dan sepsis. Sistem imunitas bayi baru lahir
masih belum matur, berakibat neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan
alergi. Sistem kekebalan yang matur memberikan kekebalan alami maupun
didapat. Kekebalan alami juga terjadi pada tingkat seluler, yaitu oleh sel darah
yang membantu neonatus mengatasi mikroorganisme asing. Namun pada
neonatus, sel-sel darah ini masih belum matur, sehingga neonatus belum
mampu mengenali dan mengatasi infeksi dengan efisien.

Kekebalan yang didapat akan timbul kemudian. Neonatus dengan kekebalan
pasif yang berasal dari ibunya. Reaksi antibodi terhadap antigen secara
keseluruhan masih belum dapat berjalan hingga awal kehidupan anak. Salah
satu aktivitas utama selama masa bayi adalah pembentukan sistem kekebalan
tubuh. Bayi memiliki immunoglobulin waktu lahir, namun aktivitasnya dalam
rahim terbatas. Hanya IgG yang cukup kecil melewati sawar plasenta, IgG
merupakan golongan antibodi yang sangat penting dan merupakan 75% dari
seluruh antibody. Pada waktu lahir, kadar IgG bayi sama atau sedikit lebih
banyak daripada ibu. Kadar IgG ini menyediakan kekebalan pasif selama
beberapa bulan kehidupan. IgM dan IgA tidak melewati sawar plasenta,
namun dihasilkan oleh janin. Kadar IgM pada janin berkisar 20% kadar
dewasa, dan dalam 2 tahun kadarnya akan sama dengan orang dewasa. Kadar
IgA sangat rendah pada bayi, dan meski kadar sekresi saliva mencapai kadar
orang dewasa dalam 2 bulan, produksi IgA lama baru dapat menyamai. IgD
dan IgE tidak begitu berkembang pada masa awal bayi baru lahir.

Bab 7 Perubahan Fisiologi Bayi Baru Lahir 89

7.7 Sistem Gastrointestinal

Janin aterm menunjukkan kemampuan menghisap dan menelan dalam rahim.
Saat lahir, refleks muntah serta batuk yang matur telah menghilang.
Kemampuan bayi baru lahir aterm dalam menelan dan mencerna sumber
makan dari luar sangat terbatas. Keterbatasan tersebut disebabkan kekurangan
enzim dan hormon pencernaan yang terdapat dalam saluran pencernaan (dari
mulut hingga usus) (Beath, 2003). Kemampuan penyerapan karbohidrat pada
bayi baru lahir kurang efisien, namun penyerapan monosakarida (glukosa)
sudah efisien. Regurgitasi pada bayi baru lahir disebabkan oleh sfingter
jantung, sambungan esofagus bawah, dan lambung yang tidak sempurna.
Kapasitas lambung pada bayi baru lahir relatif kurang matur serta sistem otot
yang menyusun organ tersebut lebih tipis dan kurang efisien dibandingkan
pada orang dewasa, akibatnya gerakan peristaltik sulit untuk diprediksi.
Lipatan dan vili dinding usus belum berkembang sempurna. Sel-sel epitel yang
melapisi usus halus bayi baru lahir tidak beregenerasi dengan cepat sehingga
meningkatkan absorpsi dengan efektif. Inisiasi pemberian makan oral
merangsang lapisan usus agar matur dengan meningkatkan pergantian sel yang
cepat dan produksi enzim mikrovili. Epitel sel yang tidak matur memengaruhi
usus untuk melindungi dirinya dari zat-zat yang iritatif (Pattola et al., 2020).

Pada awal kehidupan, bayi baru lahir mengalami proses penutupan usus
(permukaan epitel usus menjadi tidak permeabel terhadap antigen). Sebelum
penutupan, usus bayi akan rentan terhadap infeksi virus/bakteri dan terhadap
stimulasi allergen melalui penyerapan molekul-molekul besar oleh usus. Kolon
bayi baru lahir kurang efisien dalam penyimpanan cairan dibandingkan kolon
orang dewasa, berakibat bayi rentan mengalami komplikasi hilangnya cairan,
misalnya pada diare.

Metabolisme glukosa

Janin mempertahankan kadar glukosa darah 70-80% dari kadar ibu dengan
difusi difasilitasi via plasenta. Terdapat penyimpanan glikogen yang terkumpul
pada hati, otot rangka, dan otot jantung selama tahap akhir perkembangan
janin, namun sedikit gluconeogenesis. Bayi baru lahir harus bergantung pada
glikolisis sampai glukosa eksogen diberikan. Setelah persalinan, simpanan
glikogen hati berkurang dalam dua hingga tiga jam. Bayi baru lahir sangat
terbatas kemampuannya dalam menggunakan lemak dan protein sebagai
substrat untuk mensintesis glukosa. Ketika nutrisi parenteral total (TPN)

90 Ilmu Kesehatan Anak

dibutuhkan, kecepatan infus glukosa sebaiknya dimulai pada 4-6 mg/kg/menit
dan kemudian bertambah 1-2 mg/kg/menit hingga 12 mg/kg/menit. (Sulfianti
et al., 2020).

Bab 8

Pemeriksaan Fisik Bayi Baru
Lahir

8.1 Pendahuluan

Bayi baru lahir membutuhkan observasi yang cermat dan terampil untuk
memastikan penyesuaian yang memuaskan untuk kehidupan ekstrauterin.
(Hockenberry dan Wilson, 2013). Pemeriksaan fisik lengkap merupakan
bagian penting dari perawatan bayi baru lahir. Setiap sistem tubuh diperiksa
dengan cermat untuk melihat tanda-tanda kesehatan dan fungsi normal.
Penyedia layanan kesehatan juga mencari adanya tanda-tanda penyakit atau
cacat lahir. Pengkajian fisik harus dilakukan secara sistematis serta dievaluasi
pada setiap sistem. Pemeriksaan fisik lengkap harus dilakukan dalam 24 jam
setelah lahir, setelah temperatur bayi stabil, atau berada pada lingkungan yang
lebih hangat. Tempat pemeriksaan yang digunakan harus memiliki
pencahayaan yang cukup, hangat dan bebas dari aliran udara (Lowdermilk,
Perry & Cashion, 2013). Urutan dalam pemeriksaan fisik akan memberikan
informasi yang penting terhadap bayi baru lahir. Saat melakukan pemeriksaan,
bayi berada dalam posisi supine pada meja pemeriksaan atau penghangat
dengan pemanas di bagian atas kepala. Bayi dalam keadaan telanjang kecuali
diaper (diaper akan dilepas untuk mengetahui posisi tubuh dan kesimetrisan
tubuh) .

92 Ilmu Kesehatan Anak

8.2 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik bayi baru lahir sering kali mencakup penilaian sebagai
berikut:

8.2.1 Tanda Vital dan Ukuran Bayi

Tanda vital meliputi nadi, pernapasan, dan suhu tubuh. Tekanan darah tidak
diperiksa jika tidak ada masalah jantung yang dicurigai. Denyut nadi dan
pernapasan bervariasi sesuai dengan periode reaktivitas dan perilaku bayi
tetapi biasanya dalam kisaran 120-140 x/menit dan pernapasan antara 30-
60x/menit (Hockenberry dan Wilson, 2013). Nadi pernapasan dihitung selama
60 detik/1 menit penuh untuk mengetahui irama yang tidak teratur. Denyut
jantung dapat didengarkan dengan stetoskop pada daerah apikal dan nadi
perifer diraba pada arteri femoralis, brakhial, poplitea, dan tibia posterior
(Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013). Pemeriksaan suhu pada bayi baru lahir
dilakukan pada daerah aksilaris dengan suhu rata-rata bayi baru lahir antara
36,5°-37,2°C.

Saat melakukan pemeriksaan suhu, perawat dapat mempertimbangkan adanya
variabel yang terlibat (Hockenberry dan Wilson, 2013):

1. Tempat pemeriksaan suhu: ketiak, rektal, timpani, dan kulit
2. Lingkungan: hangat bercahaya, boks bayi terbuka, inkubator,

pakaian, atau menggunakan selimut/pembungkus.
3. Tujuan pemeriksaan: demam, kemungkinan sepsis (dalam hal ini

suhu mungkin lebih rendah dari biasanya pada bayi baru lahir), dan
termoregulasi di fase transisi.
4. Termometer yang digunakan: elektronik, digital, atau inframerah.

Berat badan, Panjang dan lingkar kepala diukur dan dimasukan dalam grafik
pertumbuhan sesuai usia bayi. Sebelum melakukan pengukuran berat badan,
pastikan meletakkan kain pelindung pada timbangan serta skala timbangan
pada angka 0 gram atau pon serta ons. Berat badan normal pada bayi baru lahir
sekitar 2500-4000 gram (Perempuan: 3400 g; Laki-laki: 3500 g). Kehilangan
berat badan yang dapat diterima 10 % atau kurang pada 3-5 hari pertama
karena kehilangan cairan ekstraseluler dan mekonium, serta asupan makanan
yang terbatas terutama pada bayi dengan asupan ASI. Berat badan akan
bertambah kembali dalam 2 minggu pertama (Hockenberry dan Wilson,

Bab 8 Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir 93

2013). Panjang kepala hingga tumit juga diukur. Posisi bayi biasanya tertekuk,
maka penting untuk meregangkan kaki sepenuhnya saat mengukur panjang
tubuh. Pengukuran sulit dilakukan pada bayi matur karena adanya proses
molding, dan ekstensi yang tidak lengkap pada lutut. Panjang rata-rata bayi
baru lahir adalah 48 sampai 53 cm (19–21 inci) (Hockenberry dan Wilson,
2013). Untuk bayi cukup bulan, rata-rata lingkar kepala adalah antara 33 dan
35,5 cm (13 dan 14 inci). Lingkar kepala berkurang segera setelah lahir karena
proses molding yang terjadi selama persalinan pervaginam. Biasanya pada hari
kedua atau ketiga, tengkorak memiliki ukuran dan kontur yang normal
(Hockenberry dan Wilson, 2013). Lingkar dada adalah 30,5 hingga 33 cm (12-
13 inci) tetapi tidak secara rutin dilakukan pada bayi cukup bulan. Lingkar
kepala biasanya sekitar 2 sampai 3 cm (≈1 inci) lebih besar dari lingkar dada.
Karena molding selama proses kelahiran, ukuran lingkar dada dan kepala
awalnya tampak sama. Namun, jika kepalanya signifikan lebih kecil dari dada,
maka mikrosefali atau penutupan prematur dari sutura (craniosynostosis) bisa
menjadi kemungkinan. Jika kepala lebih dari 4 cm (1,6 inci) lebih besar dari
dada dan ini tetap atau meningkat selama beberapa hari, maka hidrosefalus
harus menjadi pertimbangkan. Penyebab lain dari peningkatan lingkar kepala
adalah caput succedaneum, cephal hematoma, perdarahan subgaleal, dan
hematoma subdural (Hockenberry dan Wilson, 2013). Lingkar dada diukur
sejajar dengan puting susu (Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013) .

8.2.2 Penampilan secara Umum

Penampilan keseluruhan pada bayi baru lahir dapat memberikan petunjuk
berharga tentang status fisik bayi. Pada neonatus cukup bulan, postur tubuh
adalah posisi fleksi (Hockenberry dan Wilson, 2013). Pengkajian terkait
penampilan tubuh yang simetris, posisi spontan dan pergerakan yang spontan
bisa dikaji juga pada bayi baru lahir. Observasi posisi, kesimetrisan wajah serta
tangisan bayi yang kuat dan sehat (Jarvis & Eckhardt, 2016). Tekstur kulit bayi
baru lahir sangat halus dan lembut seperti beludru terutama pada bagian mata,
tungkai, bagian punggung tangan dan kaki, dan skrotum atau labia. Warna
kulit tergantung ras dan keluarga. Secara umum bayi biasanya berwarna merah
jambu sampai merah. Saat lahir, sebagian kulit mungkin tertutup warna putih
keabu-abuan, zat mirip keju yang disebut vernix caseosa, campuran sebum dan
deskuamasi sel. Ini diserap selama 24 hingga 28 jam. Rambut halus berbulu
halus disebut lanugo mungkin ada di kulit, terutama di dahi, pipi, bahu, dan
punggung (Hockenberry dan Wilson, 2013). Observasi kulit terhadap adanya
jaundice, adanya tanda lahir, tanda memar (ukuran, distribusi, karakteristik dan

94 Ilmu Kesehatan Anak

warna), keutuhan kulit, tekstur, adanya edema, daerah tekanan jika sakit atau
pada imobilisasi serta turgor kulit (dilakukan dengan mencubit kulit dengan
lembut bagian abdomen dan paha bagian dalam yang akan kembali dengan
cepat setelah cubitan dilepaskan) (Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013).

8.2.3 Kepala dan Wajah

Pemeriksaan fisik pada area ini dimulai dengan mengobservasi posisi dan
kesimetrisan bentuk wajah pada saat bayi istirahat dan ketika menangis.
Inspeksi dan palpasi fontanel, sutura dan adanya pembengkakan. Catat adanya
molding setelah proses kelahiran, adanya pembengkakan pada cranium,
penonjolan fontanel saat menangis atau saat istirahat (Jarvis & Eckhardt,
2016). Fontanel anterior 5 cm, berbentuk berlian, meningkat ketika molding
menghilang. Fontanel posterior berbentuk segitiga, lebih kecil dari anterior.
Sutura teraba dan terpisah (Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013).

Gambar 8.1: Lokasi Sutura dan Fontanel dan Palpasi Sutura Anterior
(Hockenberry dan Wilson, 2013)

8.2.4 Mata

Untuk membuka mata pada neonatus, topang kepala dan bahu dan turunkan
perlahan bagian punggung bayi atau tanyakan orang tua untuk memegang bayi
diatas bahu ketika pemeriksa berdiri diantara orang tua (Jarvis & Eckhardt,
2016). Pada bagian mata, periksa letak pada wajah dimana mata serta jarak
antar mata masing-masing `1/3 jarak dari kantus luar ke kantus luar lainnya.
Observasi kesimetrisan pada ukuran dan bentuk mata; periksa ukuran, gerakan,

Bab 8 Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir 95

kedipan bola mata (adanya refleks mengedip); periksa adanya sekret dan
evaluasi adanya bola mata, ukuran dan bentuknya (ukuran kedua mata sama,
sama-sama bulat dan kenyal) (Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013). Dengan
menggunakan penlight, cek adanya refleks pupil, refleks kornea; periksa
adanya pergerakan karena gerakan cahaya. Oftalmoskop digunakan untuk
melihat adanya red reflex (tidak adanya refleks ini mengindikasikan adanya
katarak, glaukoma, kelainan retina, atau retinoblastoma) (Hockenberry dan
Wilson, 2013).

8.2.5 Telinga

Telinga diperiksa ukuran, bentuk, kesejajaran daun telinga dimana garis yang
ditarik melalui kantus mata dalam dan luar sejajar ujung atas telinga, serta
kepatenan kanalis auditoris (Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013). Catat
adanya refleks kejut saat mendengar suara keras. Daun telinga teraba kenyal
(Jarvis & Eckhardt, 2016).

8.2.6 Hidung

Periksa bentuk, letak dan patensi dari lubang hidung. Catat ada cairan yang
keluar dari hidung, bersin dan bernapas lewat hidung (Jarvis & Eckhardt,
2016).

8.2.7 Mulut dan Tenggorokan

Inspeksi bibir dan gusi (bibir simetris, tidak tampak adanya sianosis, gusi
berwarna pink). Periksa keutuhan arkus (lengkungan) palatum, mukosa pipi,
ukuran lidah, frenulum lidah; catat jika tidak terdapat atau minimal saliva bayi.
Catat adanya refleks rooting dan refleks sucking saat jari dimasukan ke dalam
mulut bayi (Jarvis & Eckhardt, 2016).

8.2.8 Leher

Pada pemeriksaan leher, angkat bahu dan biarkan kepala mengarah ke
belakang untuk memeriksa leher: perhatikan garis tengah trakea, lipatan kulit,
dan benjolan. Palpasi nodus limfatik, tiroid, dan adanya massa pada daerah
leher. Ketika bayi dalam posisi supine, cek kelenturan leher dengan adanya
pergerakan (Jarvis & Eckhardt, 2016).

96 Ilmu Kesehatan Anak

Gambar 8.2: Posisi Bayi pada Pemeriksaan Leher (Jarvis & Eckhardt, 2016).

8.2.9 Dada dan Jantung

Pemeriksaan pada dada dimulai dengan melihat bentuk dada (hampir
melingkar, berbentuk tong), adanya pergerakan pernapasan dengan melihat
gerakan dada simetris, gerakan dada dan abdomen sinkron pada pernapasan.
Evaluasi klavikula (klavikula utuh), cek tulang iga (kerangka iga simetris,
utuh, terdapat pergerakan saat bernapas), puting susu (puting susu menonjol,
simetris, bentuknya sempurna), jaringan payudara (nodul payudara: sekitar 6
mm pada bayi matur) (Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013). Selain itu,
auskultasi bunyi jantung juga dapat dilakukan pada bagian apeks (katup
mitral), ICS (Intercostal space/sela iga) kedua sinistra (katup pulmonal), ICS
kedua dextra (katup aorta) dan penghubung antara prosesus xifoideus dan
sternum (katup trikuspid), suara jantung yang didengarkan bunyi jantung
pertama (penutupan katup mitral dan trikuspid) dan bunyi jantung kedua
(penutupan katup aorta dan pulmonal) tajam dan bersih. Murmur juga dapat
terdengar terutama pada dasar atau batas kiri sternum pada sela iga ketiga dan
keempat (foramen ovale menutup secara anatomis pada usia sekitar 1 tahun).
Suara napas yang didengarkan bronkial, keras dan bersih. Suara ronki dapat
terdengar setelah bayi lahir (Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013).

Bab 8 Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir 97

8.2.10 Abdomen

Abdomen diperiksa dengan melihat ukuran abdomen dan kondisi kulit (bentuk
bulat, menonjol, berbentuk kubah karena otot-otot abdomen belum terbentuk
sempurna; hati mungkin dapat dipalpasi 1-2 cm di bawah batas kosta kanan;
tidak ada massa yang terpalpasi, tidak ada distensi, sedikit vena yang terlihat
pada permukaan abdomen). Inspeksi dan palpasi tali pusat (batas tegas antara
tali pusat dan kulit, tidak ada struktur intestinal pada tali pusat, kering di dasar,
mengering, tidak berbau). Auskultasi bising usus dan perhatikan jumlah,
frekuensi dan karakter feses (bising usus muncul dalam beberapa menit setelah
lahir pada bayi matur yang sehat, mekonium keluar dalam 24-48 jam setelah
lahir) (Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013).

8.2.11 Ekstremitas Atas

Pada pemeriksaan ekstremitas atas, lakukan pemeriksaan menyeluruh meliputi
inspeksi adanya ROM, tonus otot, dan tidak adanya tanda scarf sign (siku tidak
mencapai garis tengah tubuh). Hitung jari-jari, catat warna jari kuku dan
tangan. Untuk melihat adanya reflex grasp (menggenggam) dapat dilakukan
dengan cara meletakkan ibu jari ke telapak tangan bayi dan melihat respon
menggenggam pada bayi (Jarvis & Eckhardt, 2016).

8.2.12 Ekstremitas Bawah

Pada pemeriksaan ekstremitas bawah, lakukan pemeriksaan menyeluruh pada
kaki dan jari-jari meliputi inspeksi adanya ROM, tonus otot, dan kondisi kulit.
Catat kesejajaran kaki dan jari-jari, lihat adanya telapak kaki datar, hitung jari-
jari dan catat adanya syndactyly (adanya dua atau lebih jari yang menyatu)
(Jarvis & Eckhardt, 2016). Perhatikan keutuhan femur (kepala femur ketika
tungkai fleksi dan abduksi , terletak pada acetabulum. Perhatikan lipatan
gluteus mayor (lipatan sama kanan-kiri), telapak kaki terdapat garis-garis
tegas/berkerut pada dua pertiga kaki bayi matur. Evaluasi pada sendi (rentang
pergerakan penuh), paha kontur simetris. Cek adanya refleks graps (sentuhan
pada telapak kaki di dekat pangkal digit menyebabkan fleksi atau
menggenggam (Hockenberry dan Wilson, 2013)) dan refleks babinski
dilakukan dengan mengelus telapak luar kaki ke atas dari tumit melintasi mata
kaki menyebabkan ibu jari kaki dorsiflexion dan jari-jari kaki lainnya menjadi
menyebar (Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013).

98 Ilmu Kesehatan Anak

Gambar 8.3: Refleks Grasp dan Refleks Babinski (Hockenberry dan Wilson,
2013)

8.2.13 Genitalia Perempuan

Pemeriksaaan pada tahap ini dimulai dengan menginfeksi dan mempalpasi
pada bagian labia mayora dan minora. Penampilan umum klitoris dan labia
mayora biasanya terjadi edema serta labia mayora menutupi labia minora pada
bayi matur. Labia minora dapat menonjol keluar dari labia mayora
(Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013). Keputihan mungkin terjadi selama
minggu pertama kehidupan. Ini merupakan pseudomenstruation (manifestasi
dari penurunan mendadak hormon ibu dan biasanya menghilang pada usia 2
sampai 4 minggu). Meatus urinarius di bawah klitoris, sulit terlihat. Periksa
urine, berkemih 2-6 kali/hari selama 1-2 hari pertama; berkemih 6-10 kali/hari
pada hari ke-5 atau 6 (Hockenberry dan Wilson, 2013).

8.2.14 Genitalia Laki-laki

Pemeriksaan genitalia pada laki-laki dimulai dengan melihat bagian penis
dimana pada penis kulit penutup glans dan meatus berada di ujung penis.
Preputium menutupi glans penis dan tidak dapat ditarik. Skrotum besar, ada
edema, pendulum pada bayi matur dan diliputi oleh rugae (kerutan). Testis
teraba pada kedua sisi. Periksa urine: berkemih dalam 24 jam, aliran adekuat
(Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013).

Bab 8 Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir 99

8.2.15 Tulang Belakang dan Rektum

Pemeriksaaan dilakukan dengan inspeksi dan palpasi, tulang belakang lurus
dan mudah fleksi; Bahu, scapula, dan krista iliaka berada pada bidang yang
sama. Rektum dilakukan inspeksi dan palpasi letak, potensi, adanya respons
sfingter (satu anus dengan tonus sfingter yang baik, pengeluaran mekonium
dalam 24 jam setelah lahir, terdapat ‘kedutan” anus, lubang anus paten)
(Lowdermilk, Perry & Cashion, 2013).

Gambar 8.4: Pemeriksaan Tulang Belakang (Jarvis & Eckhardt, 2016)

8.2.16 Neurologi

Menilai status neurologis adalah bagian penting dari pemeriksaan fisik bayi
baru lahir. Sebagian besar pengujian neurologis dilakukan selama evaluasi
sistem tubuh yang lainnya, seperti memunculkan refleks lokal dan mengamati
postur tubuh, tonus otot, kontrol kepala, dan gerakan. refleks Babinski
(Hockenberry dan Wilson, 2013). Pemeriksaan refleks primitif juga dilakukan.
Refleks Primitif merupakan mediasi batang otak, sebagai respon pertahanan,
dan respon refleks motorik untuk bertahan hidup yang muncul sebagai respons
terhadap rangsangan sensorik tertentu. Refleks primitif memberikan informasi
tentang batang otak dan fungsi kortikal neonatus. Refleks primitif untuk
bertahan hidup seperti refleks rooting (memberikan usapan pada pipi dekat
mulut yang menyebabkan kepala berputar ke arah rangsangan) dan refleks
menghisap (sucking). Refleks untuk pertahanan diri seperti refleks
menggenggam (grasp) pada telapak tangan dan kaki , refleks Moro, refleks

100 Ilmu Kesehatan Anak

Tonic neck, dan gag. Tidak adanya refleks yang diharapkan pada neonatus
dapat menunjukkan depresi umum dari fungsi motorik sistem saraf pusat atau
perifer (yaitu, fungsi neuron motorik bawah, saraf, dan otot). Asimetri dapat
mengindikasikan lesi korteks motorik atau trauma yang berhubungan dengan
cedera tulang atau saraf. Refleks Moro, muncul dengan tiba-tiba pada neonatus
saat diberikan kejutan atau gerakan. Bayi akan berespon dengan membuka
tangan dan kakinya seperti gerakan memeluk. Neonatus akan menangis saat
refleks Moro diberikan. Respons yang tidak ada atau asimetris dapat
mengindikasikan kelainan neuron motorik atas (Hawes, Bernado & Wilson,
2020).

Gambar 8.5: Pemeriksaan Tulang Belakang Refleks Moro (Hockenberry dan
Wilson, 2013)

Bab 9

Penyakit yang Lazim pada
Anak

9.1 Pendahuluan

Penyebab utama kematian pada anak bervariasi menurut usia. Anak-anak di
bawah usia 5 tahun sangat rentan terhadap penyakit menular seperti malaria,
pneumonia, diare, HIV, dan tuberkulosis. Untuk anak yang lebih tua, penyakit
tidak menular, cedera dan konflik merupakan ancaman yang signifikan.
Meskipun sepenuhnya dapat dicegah dan diobati, penyakit menular umum
masih membunuh anak-anak dalam jumlah besar. Pada tahun 2018
pneumonia, diare, dan malaria menyebabkan 29 persen kematian global pada
anak di bawah usia 5 tahun (UNICEF, 2020). Pada 2019 diperkirakan 5,2 juta
anak di bawah usia 5 tahun meninggal sebagian besar karena penyebab yang
dapat dicegah dan diobati. Terdapat 1,5 juta kematian pada anak berusia 1
hingga 11 bulan dan 1,3 juta kematian pada anak berusia 1 hingga 4 tahun, dan
terdapat 2,4 juta kematian pada bayi baru lahir (di bawah 28 hari). Indonesia
termasuk 10 negara teratas dengan jumlah kematian tertinggi pada anak di
bawah 5 tahun pada tahun 2019 (WHO, 2020a). Beberapa masalah kesehatan
yang biasa terjadi pada anak namun dapat menyebabkan kematian akan
dibahas dalam bab ini.

102 Ilmu Kesehatan Anak

9.2 Penyakit Infeksius

9.2.1 Pneumonia

Anak kecil sering mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang
sebagian besar merupakan infeksi saluran pernapasan pada bagian atas
(Simoes et al., 2006). Pneumonia merupakan penyakit infeksi menular dan
penyebab kematian terbesar pada balita di dunia (Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, 2014). Pneumonia adalah salah satu bentuk infeksi
saluran pernapasan akut yang paling sering disebabkan oleh virus atau bakteri.
Jumlah kematian anak di bawah usia 5 tahun pada tahun 2017 akibat
pneumonia sebanyak 808.000 anak. Pada tahun 2020 diperkirakan terdapat
120 juta kasus pneumonia setiap tahun di seluruh dunia yang mengakibatkan
1,3 juta kematian pada anak.

Dalam banyak kasus, keluhan yang terkait dengan pneumonia tidak spesifik,
yaitu (Ebeledike, Chiemelie ; Ahmad, 2020):

• Batuk
• Demam

• Takipnea
• Kesulitan bernapas.

• Anak kecil mungkin datang dengan gejala sakit perut.

Riwayat kesehatan anak perlu dikaji termasuk durasi gejala, pajanan,
perjalanan, kontak dengan orang sakit, gejala berulang, riwayat imunisasi,
kesehatan ibu, atau komplikasi kelahiran pada neonatus. Pneumonia
disebabkan oleh sejumlah agen penular, termasuk virus, bakteri, dan jamur.
Yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae (penyebab paling
umum dari pneumonia bakteri pada anak-anak), Haemophilus influenzae tipe
b (Hib) (penyebab paling umum kedua dari pneumonia bakteri), dan virus
pernapasan syncytial adalah penyebab virus paling umum dari pneumonia.
Virus adalah penyebab utama pneumonia pada bayi dan balita yang berusia
antara 30 hari dan 2 tahun (Ebeledike, Chiemelie ; Ahmad, 2020). Pneumonia
dapat menyebar dengan berbagai cara. Virus dan bakteri dapat menginfeksi
paru-paru jika terhirup oleh anak yang sehat. Pneumonia juga dapat menyebar
melalui droplet saat anak batuk atau bersin. Risiko penularan melalui droplet
dari orang ke orang juga meningkat di ruangan yang penuh dengan kerumunan

Bab 9 Penyakit yang Lazim pada Anak 103

orang (Gereige and Laufer, 2013). Selain itu, pneumonia juga dapat menyebar
melalui darah, terutama selama dan segera setelah lahir. Sebagian besar anak
sehat dapat melawan infeksi dengan kekebalan tubuh mereka, sedangkan anak
yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah berisiko lebih tinggi terkena
pneumonia (American College of Gastroenterology, 2020; Ebeledike,
Chiemelie ; Ahmad, 2020). Sistem kekebalan anak dapat menurun karena
malnutrisi atau kekurangan gizi, terutama pada bayi yang tidak mendapat ASI
eksklusif. Penyakit yang sudah ada sebelumnya, seperti infeksi HIV bergejala
dan campak, juga meningkatkan resiko anak tertular pneumonia. Faktor
lingkungan juga meningkatkan kerentanan anak terhadap pneumonia seperti
polusi udara dalam ruangan yang disebabkan oleh memasak dan pemanasan
dengan bahan bakar seperti kayu, tinggal di rumah yang padat, dan
mempunyai orang tua yang merokok. Pneumonia harus diobati dengan
antibiotik. Rawat inap hanya disarankan untuk kasus pneumonia yang parah.
Pneumonia dapat dicegah dengan imunisasi, nutrisi yang cukup, dan dengan
mengatasi faktor lingkungan. (WHO, 2020b).

Pencegahan pneumonia pada anak merupakan komponen penting dari strategi
menurunkan angka kematian anak, yaitu:

1. Imunisasi

2. Nutrisi yang cukup adalah kunci untuk meningkatkan sistem

kekebalan alami anak, dimulai dengan pemberian ASI eksklusif

selama 6 bulan pertama kehidupan.

3. Mengatasi faktor lingkungan seperti polusi udara dalam ruangan

(dengan menyediakan kompor bukan dari bahan kayu) dan menjaga

kebersihan rumah.

4. Pada anak yang terinfeksi HIV, antibiotik kotrimoksazol diberikan

setiap hari untuk menurunkan risiko tertular pneumonia.

Pneumonia biasanya penyakit yang sembuh sendiri (self-limited disease).
Penatalaksanaan terapeutik pada anak dengan pneumonia yang tidak terlalu
berat meliputi antipiretik, hidrasi yang adekuat, dan observasi ketat. Bahkan
pneumonia bakteri dapat ditangani dengan baik di rumah jika status pernafasan
dan saturasi oksigen normal. Namun, rawat inap diperlukan bagi anak dengan
pneumonia yang lebih berat. Anak dengan takipnea, ada retraksi, asupan oral
yang buruk, atau lesu mungkin memerlukan rawat inap di rumah sakit untuk
pemberian oksigen tambahan, hidrasi, dan antibiotik (Kyle and Carman, 2015).

104 Ilmu Kesehatan Anak

Pneumonia pada anak sering kali tidak diobati sehingga menyebabkan
morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Orang tua perlu diedukasi untuk
menghindari merokok. Selain itu, dokter yang merawat anak harus
menekankan pentingnya pemberian vaksinasi pneumokokus dan influenza
pada anak (Ebeledike, Chiemelie ; Ahmad, 2020).

9.2.2 Diare

Diare merupakan peningkatan jumlah tinja atau adanya tinja yang lebih
banyak dari biasanya pada individu, yaitu lebih dari tiga kali buang air besar
setiap hari. Diare akut adalah diare yang terjadi kurang dari 3 minggu. Bila
diare berlangsung lebih dari tiga minggu, itu dianggap kronis (American
College of Gastroenterology, 2020). Penyakit diare merupakan penyebab
kematian nomor dua pada balita. Diare dapat dicegah dan diobati. Salah satu
tindakan preventif dari penyakit diare adalah melalui air minum yang aman
dan sanitasi atau kebersihan yang memadai. Diare merupakan penyebab utama
malnutrisi pada anak balita (WHO, 2013b). Secara global, terdapat hampir 1,7
miliar kasus penyakit diare pada anak setiap tahun. Diare biasa terjadi pada
anak di seluruh dunia dan setiap tahun kurang lebih 4 juta anak meninggal
karena dehidrasi terkait dengan diare (Ball, Bfndler and Cowen, 2012). Di
Indonesia, diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat, karena
morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi (Kemenkes RI, 2011). Faktor
risiko diare termasuk perjalanan ke luar negeri, berenang, penitipan anak,
sekolah, serta kontak di rumah sakit. Penggunaan antibiotik baru-baru ini juga
dapat membuat anak rentan terkena diare (American College of
Gastroenterology, 2020). Anak yang mengalami diare berisiko mengalami
dehidrasi, yang terjadi ketika anak tidak dapat mengonsumsi cukup cairan
secara oral untuk memenuhi kebutuhan cairan harian.

Tanda-tanda dehidrasi meliputi (American College of Gastroenterology,
2020):

• Penurunan output urine

• Bibir dan mulut kering

• Tidak ada air mata saat menangis

• Anak rewel dan kurang mau diajak bermain

• Tampak mengantuk/ penurunan tingkat energi

Bab 9 Penyakit yang Lazim pada Anak 105

Diare biasanya disertai dengan (American College of Gastroenterology, 2020):

• Urgensi buang air besar, artinya anak merasa harus segera ke kamar
mandi

• Sakit perut dan /atau kembung
• Nyeri pada rektal
• Mual dan /atau muntah
• Penurunan berat badan
• Demam

Pada anak yang mengalami diare perlu mengkaji riwayat pemberian makanan
dan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai (WHO, 2013a):

• Frekuensi buang air besar
• Lamanya diare
• Adanya darah dalam feses
• Adanya laporan wabah kolera di daerah tersebut
• Pengobatan antibiotik
• Bayi menangis disertai dengan pucat

Tiga elemen penting dalam penatalaksanaan anak dengan diare adalah terapi
rehidrasi, suplementasi zinc dan konseling. Pada diare, terjadi kehilangan air,
elektrolit (natrium, kalium, dan bikarbonat) dan seng dalam feses yang
berbentuk cair (WHO, 2013a). Penatalaksanaan anak dengan diare adalah
LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare) (Kemenkes RI, 2011):

1. Berikan oralit
Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk
mengganti cairan yang hilang. Bila penderita tidak bisa minum harus
segera dibawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan
cairan melalui infus.

2. Berikan zink
Pemberian zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan
tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar,
mengurangi volume tinja, serta menurunkan kekambuhan kejadian
diare pada 3 bulan berikutnya

106 Ilmu Kesehatan Anak

3. Pemberian ASI/ makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi
pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta
mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum Asi
harus lebih sering diberikan ASI. Anak yang minum susu formula
juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau
lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus
diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih
sedikit dan lebih sering (American College of Gastroenterology,
2020)

4. Pemberian antibiotik (jika ada indikasi)
Antibiotik dapat diberikan bagi anak jika terdapat bakteri atau parasit
dalam feses, seperti kolera (American College of Gastroenterology,
2020). Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya
kejadian diare pada balita yang disebabkan oleh bakteri.

5. Pemberian nasehat
Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi
nasehat tentang cara memberikan cairan dan obat di rumah, kapan
harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan (bila diare lebih
sering, muntah berulang, haus berlebihan, makan/minum sedikit,
demam, darah dalam feses, tidak ada perbaikan dalam 3 hari.

9.3 Penyakit Non Infeksius

9.3.1 Thalassemia

Thalasemia adalah kelainan darah yang diturunkan ditandai oleh defisiensi
produksi rantai globin pada hemoglobin. Kekurangan oksigen dalam aliran
darah menyebabkan tanda dan gejala thalasemia. Kekurangan oksigen terjadi
karena tubuh tidak membuat cukup sel darah merah dan hemoglobin yang
sehat. Anak dengan thalasemia sering merasa lelah, lemah atau sesak napas.
Ini adalah kondisi yang disebut anemia. Anak dengan thalasemia mungkin
mengalami anemia ringan atau berat. Anemia yang parah dapat merusak organ

Bab 9 Penyakit yang Lazim pada Anak 107

dan mengakibatkan kematian. Tingkat keparahan gejala tergantung pada
tingkat keparahan gangguan (CDC, 2020). Thalassemia juga paling sering
menyerang orang-orang keturunan Afrika, tetapi juga memengaruhi individu
dari Karibia, Timur, Asia Selatan, dan Mediterania. Terdapat dua tipe dari
thalasemia yaitu thalasemia alfa dan thalassemia beta.

Pada thalasemia alfa terjadi penurunan sintesis dalam rantai alfa. Gejala pada
thalasemia ringan lebih sedikit jika dibandingkan dengan thalasemia beta.
Sedangkan pada thalassemia beta terjadi penurunan pada rantai beta.

Kemudian, thalassemia beta dibagi kembali menjadi tiga jenis, yaitu (Kyle and
Carman, 2015):

1. Thalassemia minor/ thalassemia trait ditandai oleh anemia mikrositik,
bentuk heterozigot, dan biasanya tidak menimbulkan gejala

2. Thalassemia intermedia ditandai oleh adanya splenomegali, anemia
berat, dan berbentuk homozigot

3. Thalasemia mayor anemia berat, bentuk homozigot, anak tidak dapat
hidup tanpa transfusi, dan biasanya menimbulkan gejala klinis yang
khas.

Perawatan untuk thalasemia sudah berubah, saat ini anak dengan thalasemia
sedang atau berat dapat hidup lebih lama dan memiliki kualitas hidup yang
lebih baik. Faktor risiko dari thalasemia adalah riwayat keluarga. Thalassemia
diturunkan melalui gen yang berasal dari orang tua kepada anaknya.
Thalassemia paling sering terjadi pada orang-orang keturunan Italia, Yunani,
Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika. Tidak dapat dicegah karena
thalasemia adalah kelainan yang diturunkan dari orang tua ke anak melalui
gen, namun, tes prenatal bisa mendeteksi kelainan darah tersebut sebelum lahir
(CDC, 2020). Saat ini perawatan anak dengan thalasemia sudah lebih baik
sehingga memungkinkan orang yang menderita thalasemia sedang dan berat
untuk hidup lebih lama.

Komplikasi dari thalasemia adalah (CDC, 2020):

1. Penyakit jantung dan hati
Transfusi darah secara teratur adalah pengobatan standar untuk
thalassemia. Transfusi dapat menyebabkan penumpukan zat besi di
dalam darah (kelebihan zat besi). Ini bisa merusak organ dan

108 Ilmu Kesehatan Anak

jaringan, terutama jantung dan hati. Penyakit jantung yang
disebabkan oleh kelebihan zat besi merupakan penyebab utama
kematian pada penderita thalasemia. Penyakit jantung termasuk gagal
jantung, aritmia (detak jantung tidak teratur), dan serangan jantung
2. Infeksi
Di antara anak yang menderita thalasemia, infeksi adalah penyebab
utama penyakit dan penyebab kematian kedua yang paling umum.
Anak dengan spleen removal memiliki risiko lebih tinggi karena
tidak lagi memiliki organ yang melawan infeksi
3. Osteoporosis
Banyak penderita thalasemia mengalami masalah tulang, termasuk
osteoporosis, ini merupakan kondisi di mana tulang menjadi lemah
dan rapuh serta mudah patah.

Penatalaksanaan dari thalasemia adalah (Kyle and Carman, 2015; CDC, 2020):

1. Transfusi darah
Transfusi sel darah merah adalah pengobatan utama bagi anak
dengan thalasemia sedang atau berat. Anak dengan beta thalassemia
intermedia akan memerlukan transfusi darah pada saat tertentu.
Misalnya, anak mengalami infeksi infeksi atau penyakit lain, atau
saat anemia anak cukup parah sehingga menyebabkan kelelahan.
Anak dengan thalasemia beta mayor (anemia Cooley), kemungkinan
besar memerlukan transfusi darah secara teratur (sering kali setiap 2
hingga 4 minggu). Transfusi ini membantu mempertahankan kadar
hemoglobin dan sel darah merah dalam kondisi normal.

2. Iron chelation therapy
Hemoglobin dalam sel darah merah adalah protein yang kaya akan
zat besi. Transfusi darah secara teratur dapat menyebabkan
penumpukan zat besi dalam darah. Kondisi ini disebut iron overload.
Ini dapat merusak hati, jantung, dan bagian tubuh lainnya. Sebagai
pencegahan digunakan iron chelation therapy untuk menghilangkan
kelebihan zat besi dari tubuh. Jenis obat yang digunakan adalah
deferoxamine dan deferasirox.

Bab 9 Penyakit yang Lazim pada Anak 109

3. Folic acid supplements
Asam folat adalah vitamin B yang meningkatkan jumlah sel darah
merah.

Pengobatan lain untuk thalassemia yang telah dikembangkan namun jarang
digunakan adalah Blood and Marrow Stem Cell Transplant. Tetapi hanya
sejumlah kecil anak dengan thalasemia parah yang dapat menemukan donor
yang cocok. Asuhan keperawatan pada anak penderita thalasemia terutama
ditujukan untuk mendukung keluarga dan meminimalkan efek penyakit (Kyle
and Carman, 2015).

9.3.2 Leukemia

Leukemia adalah kanker paling umum pada anak-anak dan remaja.
Berdasarkan perjalanan penyakit, leukemia dibagi menjadi (Yuliastati;Arnis,
2016):

1. Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)
2. Leukemia Mieloblastik Akut (LMA)
3. Leukemia Limfoblastik Kronik (LLK)
4. Leukemia Mieloblastik Kronik (LMK).

Kebanyakan leukemia pada masa anak-anak adalah Acute Lymphocytic
Leukemia (ALL) (Society, 2020). Etiologi leukemia pada masa anak-anak
tidak diketahui dan dianggap berhubungan dengan faktor genetik dan
lingkungan (Marcdante, Karen; Kliegman, 2019):

1. Faktor genetik
Beberapa kelainan genetik yang meningkatkan risiko anak
mengalami leukemia adalah down syndrome (trisomy 21) dan Li-
Fraumeni syndrome. Anak dengan down syndrome memiliki risiko
15 kali lebih tinggi terkena ALL dibandingkan dengan populasi
umum (Kaplan, 2019).

2. Lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat meningkatkan risiko leukemia adalah
radiasi.

110 Ilmu Kesehatan Anak

Tanda dan gejala leukemia akut berhubungan dengan infiltrasi sel leukemia ke
jaringan normal sehingga mengakibatkan gagal sumsum tulang (anemia,
neutropenia, trombositopenia) dan /atau infiltrasi jaringan spesifik (kelenjar
getah bening, hati, limpa, otak, tulang, kulit, testis). Gejala umum adalah
demam, pucat, petechiae dan /atau ekimosis, lesu, malaise, anoreksia, dan
nyeri tulang/ sendi (Marcdante, Karen; Kliegman, 2019). Anemia juga dapat
menyebabkan pucat, kelelahan, dispnea saat beraktivitas, sakit kepala, pusing,
dan sinkop. Meskipun trombositopenia dapat terjadi, namun kebanyakan
pasien leukemia tidak datang dengan perdarahan. Banyak pasien bisa
mengalami memar dan petechiae, tetapi pendarahan serius jarang terjadi.
Demam sangat umum terjadi pada pasien leukemia dan harus menjadi bagian
dari diagnosis banding dari demam yang tidak diketahui asalnya. Meskipun
terkadang terjadi neutropenia yang parah, infeksi atau sepsis saat diagnosis
jarang terjadi (Kaplan, 2019). Pemeriksaan fisik sering menunjukkan
limfadenopati dan hepatosplenomegali. Diagnosis ALL dipastikan dengan
temuan sel blast yang belum matang pada apusan darah tepi, bone marrow
aspirate, atau bisa saja keduanya. Kebanyakan pasien memiliki blood counts
yang abnormal, anemia dan trombositopenia sering terjadi (Marcdante, Karen;
Kliegman, 2019). Penatalaksanaan terapeutik pada anak dengan ALL berfokus
pada pemberian kemoterapi untuk membunuh sel kanker dan memulihkan
keadaan normal fungsi sumsum tulang. Kemoterapi dapat menyebabkan
neuropati perifer dan sakit kepala. Pungsi lumbal dan bone marrow aspiration
yang dilakukan secara berkala selama pengobatan juga dapat menyebabkan
nyeri. Area nyeri yang paling umum adalah kepala dan leher, tungkai, dan
perut. Sebagai perawat sebaiknya menggunakan teknik mengurangi nyeri
seperti mendengarkan musik, menonton TV, atau bermain game, untuk
membantu mengalihkan pikiran anak dari rasa sakit. Asuhan keperawatan anak
dengan ALL berfokus pada penanganan komplikasi penyakit seperti infeksi,
nyeri, anemia, perdarahan, dan hiperurisemia dan efek samping lain yang
berhubungan dengan pengobatan (Kyle and Carman, 2015).

Bab 10

Hospitalisasi Pada Anak dan
Dampaknya Pada Keluarga

10.1 Pendahuluan

Rawat inap, apakah itu direncanakan sebelumnya, atau akibat dari keadaan
darurat atau trauma, membuat stress anak-anak dari segala usia dan juga
keluarganya. Kebanyakan kondisi pediatrik dapat dikelola di rumah dan
komunitas, sehingga rawat inap tidak selalu diperlukan untuk merawat anak
yang sedang sakit, bahkan banyak prosedur tindakan bedah anak dilakukan
secara rawat jalan. Berkat kemajuan teknologi kedokteran dalam beberapa
tahun terakhir, angka harapan kelangsungan hidup anak-anak dengan kondisi
gangguan kesehatan yang kompleks meningkat. Namun, tak dapat dipungkiri,
disisi lain dampak perkembangan teknologi juga menyebabkan terjadinya
peningkatan angka penyakit kronis anak-anak yang membutuhkan rawat inap
yang sering dan terkadang memerlukan perawatan jangka panjang (Legrow et
al., 2014).
Anak-anak yang harus dirawat di rumah sakit umumnya akan mengalami
berbagai perubahan keadaan emosi karena mereka berada di lingkungan yang
sama sekali asing bagi mereka, berada diantara orang yang belum dikenal,
peralatan yang asing dan kadang-kadang menakutkan, dan pemandangan serta

112 Ilmu Kesehatan Anak

suara yang menakutkan. Anak-anak yang dirawat kerapkali harus mengalami
prosedur yang tidak menyenangkan, beberapa diantaranya berupa tindakan
invasif yang menyakitkan dan bahkan mungkin memerlukan tindakan
pembedahan. Keadaan dirawat baik untuk anak-anak maupun keluarga, akan
mengganggu rutinitas harian yang normal dan menguji strategi koping.
Perawat saat ini ditantang untuk memberikan perawatan individual untuk anak
yang dirawat di rumah sakit dengan kondisi medis yang kompleks, penyakit
akut, atau cedera. Sebagai aspek kunci dari peran itu, perawat juga dituntut
harus mengatasi masalah psikososial dan perkembangan anak selama masa
rawat inap. Untuk meminimalkan stres rawat inap, perawat perlu memberikan
dukungan dan edukasi kepada anak dan keluarga mereka sebelum masuk
dirawat, selama, dan setelah masa rawat inap. Selama dirawat di rumah sakit,
perawat menggunakan sistem yang berpusat pada pendekatan keluarga.
Perawat bekerja sama dengan orang tua untuk menerapkan berbagai strategi
yang meningkatkan mekanisme koping juga adaptasi dan mempersiapkan
anak untuk kooperatif terhadap prosedur tindakan yang diperlukan. Perawat
juga bekerja sama dengan tim multidisiplin yang terlibat dalam perawatan
anak dan bermitra dengan keluarga untuk mempersiapkan mereka pulang atau
dipindahkan ke fasilitas perawatan atau ke unit rehabilitasi jangka panjang
(Ball, Bfndler and Cowen, 2012).

10.2 Pemahaman Anak-Anak Tentang
Sehat dan Sakit

Anak-anak kecil memiliki keterbatasan pengetahuan tentang tubuh dan
hubungannya dengan kesehatan dan penyakit. Mereka belum memahami apa
yang menyebabkan mereka sakit. Pemahaman anak-anak terutama didasarkan
pada kemampuan kognitif mereka pada tingkat tahap perkembangan dan
pengalaman mereka sebelumnya dengan profesional kesehatan. Seiring
bertambahnya usia anak-anak, maka pemahaman mereka akan penyakit
semakin berkembang lebih akurat dan lebih luas. Misalnya, seorang remaja
percaya bahwa dirinya tidak akan mengalami sakit atau kecelakaan; atau
mungkin remaja akan takut mengalami kecelakaan mobil seperti yang dialami
temannya. Pengetahuan tentang pemahaman kesehatan dan penyakit pada
anak sangat penting dalam membantu anak beradaptasi dengan pengalaman
dirawat di rumah sakit. Rawat inap dan segala prosedur tindakan pengobatan

Bab 10 Hospitalisasi Pada Anak dan Dampaknya Pada Keluarga 113

yang menyertainya menjadi sesuatu yang sangat menegangkan bagi anak-
anak, terutama anak-anak yang sangat muda seperti balita dan anak
prasekolah. Upaya seorang anak untuk berhadapan dengan stressor tersebut
berdampak, baik secara psikologis maupun fisiologis terhadap kesejahteraan
anak. Bayi, balita, dan anak prasekolah memiliki keterampilan kognitif yang
masih kurang untuk memahami rawat inap dan merupakan kelompok usia
yang paling mungkin menunjukkan perilaku regresif. Anak kecil memiliki
stressor dan kecemasan yang berhubungan dengan hal-hal seperti kegelapan,
orang asing, dan monster. Lingkungan rumah sakit yang asing dapat
memperburuk kecemasan tersebut.

Stresor yang signifikan untuk anak-anak yang dirawat di rumah sakit meliputi
(Kyle and Carman, 2015):

• Perpisahan dari orang tua, pengasuh utama, atau anggota keluarga

• Hilangnya kendali / kontrol diri, otonomi, dan privasi

• Prosedur yang menyakitkan atau invasif

• Takut akan cidera dan kerusakan tubuh

Asuhan keperawatan pada anak yang dirawat di rumah sakit berfokus pada
meminimalkan ketakutan, kecemasan, dan gangguan terhadap kebiasaan pola
anak yang rutin, dan mendukung keluarga melalui pengalaman stress
hospitalisasi. Strateginya termasuk meminimalkan kecemasan akan
perpisahan, kehilangan kontrol, nyeri terkait prosedur, dan ketakutan.

10.2.1 Bayi / Infant

Pada usia sekitar 6 bulan, bayi telah mulai memahami rasa terpisah dari
orangtua. Bayi mulai mampu mengidentifikasi siapa pengasuh utama dan
merasa cemas saat ada kontak dengan orang asing. Rawat inap bisa menjadi
saat yang traumatis untuk bayi, terutama jika orang tuanya tidak tinggal
bersamanya. Bayi pun bisa merasakan kecemasan yang dialami orang tuanya
selama rawat inap. Edukasi orangtua untuk mengunjungi bayi mereka sesering
mungkin. Jelaskan dan tekankan pentingnya keterikatan orang tua dengan bayi
sejak bayi baru lahir. Stresor umum pada bayi termasuk prosedur yang
menyakitkan, imobilisasi ekstremitas, dan menyebabkan terganggunya pola
dan rutinitas tidur bayi. Namun, penyebab stres paling umum dari rawat inap
adalah terpisahnya bayi dari orang tua. Manifestasi kecemasan tersebut terlihat
melalui tiga fase yaitu kecemasan akan perpisahan terutama jika orang tua

114 Ilmu Kesehatan Anak

tidak bersama dengan anak, kecemasan atau kewaspadaan terhadap orang
asing (saat bertemu dengan petugas kesehatan), kecemasan akan lingkungan
yang asing. Doronglah anggota keluarga untuk terlibat aktif dalam masa
perawatan bayi yang dirawat di rumah sakit melalui sentuhan, penglihatan, dan
suara. Bayi mendapatkan kepuasan dari pemenuhan kebutuhan oral mereka,
sehingga orang tua dan perawat harus memberikan sumber stimulasi oral,
seperti empeng dan mainan tumbuh gigi yang sesuai dengan usia. Bayi itu
perlu diayun dan disentuh dengan usapan ringan untuk memberi stimulasi
taktil untuk pertumbuhan perkembangan. Minimalkan kebisingan yang
berlebihan dan rangsangan yang berkepanjangan untuk memungkinkan bayi
mendapatkan periode istirahat yang adekuat (Kyle and Carman, 2015).

10.2.2 Balita atau Toddler

Balita adalah kelompok yang paling berisiko mengalami stress akibat penyakit
dan rawat inap. Kelompok usia ini sudah cukup tua untuk memahami bahwa
rutinitas mereka telah terganggu, tapi mereka belum mengerti kenapa hal
tersebut terjadi. Terpisah dari orang tua adalah stresor utama, dan balita protes
keras ketika orang tua mereka pergi. Ketika salah satu atau kedua orang tua
tidak ada bersama balita, mereka dapat meninggalkan sesuatu atau hal lain
untuk menghibur anak. Sesuatu tersebut dapat berupa sebuah benda milik
orang tua seperti gambar, kaset audio atau rekaman video dengan pesan dari
orang tua. Terganggunya rutinitas juga menjadi penyebab stres pada balita.
Perawat mendorong orang tua untuk tetap hadir sesering mungkin untuk ritual
rutinitas normal penting seperti ke toilet, mandi, saat akan tidur, dan
menyanyikan lagu favorit anak-anak, serta aktivitas lainnya. Kelompok usia
balita akan merasa terancam terutama jika mengalami kegiatan yang terbatas
dan dibatasi ruang geraknya. Berikan pilihan pada toddler bila memungkinkan,
seperti memilih warna gaun atau piyama mana yang akan dipakai (Kyle and
Carman, 2015).

10.2.3 Anak prasekolah

Pemicu stres terbesar bagi anak-anak prasekolah adalah ketakutan mereka,
seperti: takut sendirian, takut berada dalam kegelapan, takut ditinggalkan, takut
kehilangan kendali diri yang berhubungan dengan tubuh dan emosi, dan
ketakutan cedera tubuh atau mutilasi. Kelompok usia ini mungkin juga merasa
bersalah tentang sakitnya, atau mereka mungkin memandang penyakit dan
rawat inap sebagai hukuman akibat perbuatan mereka. Mirip dengan balita,

Bab 10 Hospitalisasi Pada Anak dan Dampaknya Pada Keluarga 115

anak prasekolah menginginkan rutinitas yang normal, dan perawat dapat
bekerjasama dengan keluarga untuk menjaga rutinitas sebagai sebanyak
mungkin. Secara perkembangan, anak-anak prasekolah menunjukkan rasa
inisiatif saat mereka menjelajahi dunia di sekitar mereka. Untuk mendukung
inisiatif itu, perawat dapat mendorong kemandirian anak dengan menawarkan
pilihan seperti, “Sekarang. kamu mau minum obat yang berwarna merah atau
obat warna ungu dulu?” Orang tua harus didukung untuk tinggal mendampingi
anak jika memungkinkan. Bagi orangtua atau keluarga yang tidak bisa tinggal
karena alasan kesibukan, anak prasekolah perlu diberitahu kapan untuk
mengharapkan orang tua mereka datang kembali ke rumah sakit. Karena
sebagian besar anak prasekolah tidak memiliki pemahaman tentang ukuran
waktu seperti "2 jam", "Jam setengah lima" atau "jam 3". Tanggapi dengan
pernyataan yang lebih sederhana tentang waktu, seperti "setelah makan
malam" atau "setelah pulang kantor” atau “sebelum sarapan". Dorong orang
tua untuk menelepon atau lewat media komunikasi lain ke anak jika
memungkinkan. Orangtua juga dapat menelepon dari kantor.

Anak-anak prasekolah akan mendapatkan rasa aman saat mendengar suara
orang tua mereka mengonfirmasi bahwa orang tua akan datang lagi ke rumah
sakit. Sebagian orang tua sering berpendapat lebih baik meninggalkan kamar
rumah sakit setelah anak mereka tertidur, karena kepergian mereka tidak akan
membuat stress anak. Padahal justru sebaliknya, jika seorang anak terbangun
dan menemukan orang tua sudah tidak disamping mereka, anak mungkin
menjadi cemas dan mungkin akan menjadi kehilangan kepercayaan karena
dianggap orangtua berbohong. Sebaliknya, dorong orang tua untuk memberi
tahu anak mereka ketika mereka harus pergi dan mengapa (misalnya, harus
pergi bekerja atau pulang). Dengan memberi informasi yang jujur kepada
anak, orang tua atau pengasuh menunjukkan bahwa mereka dapat dipercaya
dan tidak mengabaikan mereka (Kyle and Carman, 2015).

10.2.4 Anak Usia Sekolah

Anak usia sekolah bergantung pada orang tua dan orang lain untuk menemani
dan memberikan pemahaman untuk setiap prosedur stress yang dijalani di
rumah sakit. Meskipun anak berusaha untuk tenang selama prosedur invasif
yang menyakitkan, umumnya mereka masih membutuhkan dukungan yang
banyak dan besar dari orang terdekatnya.

116 Ilmu Kesehatan Anak

Sumber utama stres untuk anak sekolah yang dirawat di rumah sakit meliputi:

• Kehilangan kendali terkait dengan fungsi tubuh

• Masalah privasi

• Takut akan cedera tubuh, rasa sakit, dan kekhawatiran yang
berhubungan dengan kematian

• Kecemasan akan perpisahan dari keluarga dan teman

Anak usia sekolah sudah memiliki konsep yang cukup baik tantang berpisah,
sehingga orang tua atau anggota keluarga yang tidak bisa tetap mendampingi
mereka perlu menjelaskan pada anak kapan dan jam berapa mereka akan
kembali dan memberi tahu anak jika ada perubahan waktu. Para orang tua
didorong untuk selalu siap sedia melalui panggilan telepon untuk memberikan
dukungan dan kenyamanan kepada anak mereka. Stres prosedur dapat
menyebabkan regresi atau perubahan perilaku lainnya, meskipun ini lebih kecil
kemungkinannya dibandingkan dengan anak-anak yang lebih muda.
Informasikan orang tua bahwa perilaku ini normal selama situasi stres. Secara
perkembangan, anak usia sekolah menunjukkan tahap industrial, bangga
dengan pencapaian mereka di rumah, di sekolah, dan dalam olahraga. Untuk
menumbuhkan rasa industrial itu, biarkan anak-anak berpartisipasi dalam
kegiatan mereka sebanyak mungkin. Perawat dapat mendorong anak untuk
mengerjakan tugas sekolah dan membantu dalam tugas kreatif seperti karya
seni atau kerajinan (Kyle and Carman, 2015).

10.2.5 Remaja

Fokus dengan penampilan dan citra tubuh adalah hal yang terpenting dalam
kelompok usia ini. Dengan memberikan edukasi kesehatan dan penjelasan
yang fokus pada masalah ini, perawat dapat memberikan jaminan perawatan
yang signifikan untuk remaja. Namun demikian, remaja seringkali berusaha
mempertahankan kemandirian dan pengendalian diri yang kaku saat menjalani
pemeriksaan dan tindakan prosedur invasif. Karena pengaruh dirawat di rumah
sakit dapat meningkatkan ketergantungan anak pada orangtua mereka, remaja
mungkin menanggapi dengan frustrasi dan kemarahan. Perawat yang
memahami dan menghargai kekhususan dan kebutuhan remaja terkait privasi
dan kemandirian mereka, seringkali berhasil dalam membangun hubungan
saling percaya dan membantu remaja untuk mengatasi masalah rawat inap dan
penyakit mereka. Dorong remaja untuk mendiskusikan pikiran dan perasaan

Bab 10 Hospitalisasi Pada Anak dan Dampaknya Pada Keluarga 117

tentang pengalaman mereka. Mendengarkan dengan cermat sangat penting
dilakukan perawat untuk membangun hubungan yang positif.

Stresor utama untuk remaja yang dirawat di rumah sakit meliputi:

• Hilangnya kebebasan, kendali, dan privasi

• Takut akan cedera tubuh atau perubahan citra tubuh

• Takut cacat, sakit, dan bahkan kematian

• Pemisahan dari teman sebaya, rumah, dan sekolah

Remaja sedang dalam proses membangun identitasnya dan menjadi mandiri
dari pengaruh orang tua, jadi kendali diri lebih pada aspek perawatan mereka
adalah penting. Bersama keluarga dan tim multidisiplin yang merawat remaja,
pastikan remaja terlibat aktif dalam pengambilan keputusan dan rencana
perawatan untuk dirinya. Remaja sangat konsern terhadap privasi dan
penghargaan pada diri mereka, seiring dengan karakterisitk fisik remaja yang
berubah dengan cepat. Untuk menghormati privasi mereka, ketuk pintu
sebelum masuk ke kamar mereka dan minta izin sebelum melakukan
pemeriksaan atau prosedur lainnya. Hargai citra diri remaja dengan
memberikan pilihan akan pakaian, rambut, dan musik yang mereka sukai.

Kelompok teman sebaya merupakan pengaruh utama dalam kehidupan
remaja. Memberikan jam berkunjung yang fleksibel untuk teman membantu
remaja mempertahankan jaringan sosial mereka dan memberikan dukungan
yang dibutuhkan. Saat teman mereka tidak dapat berkunjung, sediakan sarana
internet untuk remaja dapat mengakses teman mereka untuk mendapatkan
dukungan. Bila tersedia fasilitas ruang tunggu untuk berkumpul dan rekreasi,
dorong keterlibatan remaja untuk menggunakan fasilitas tersebut untuk
bertemu dengan teman sebaya sebagai peluang dukungan kelompok selama
masa rawat inap (Kyle and Carman, 2015).

118 Ilmu Kesehatan Anak

Tabel 10.1: Penyebab stres utama rawat inap untuk anak-anak pada setiap
tahap perkembangan (Kyle and Carman, 2015)

Tahap Respon Manajemen keperawatan

perkembangan Bayi perlu stimulus luar untuk
perkembangannya.
dan stressor Dorong orangtua dan keluarga untuk
selalu hadir.
Bayi / Infant Sedapat mungkin sesuaikan dengan
kebiasaan bayi dirumah sebanyak
Cemas karena Siklus bangun-tidur mungkin.
Gunakan anestesi topical atau sedasi
perpisahan terganggu praprosedur sesuai resep dokter.
Ciptakan lingkungan yang tenang dan
Cemas akan situasi Kebiasaan makan kurangi stimulus yang berlebihan.

dan orang asing terganggu Dorong orangtua untuk hadir disamping
anak.
Nyeri, prosedur Menunjukkan iritabel Izinkan orangtua untuk memeluk
anaknya dalam pangkuan mereka ketika
invasif Immobilisasi yang berlebihan dilakukan pemeriksaan atau tindakan
jika mungkin.
Gangguan pola tidur, Gunakan anestesi topical atau sedasi /
penenang pra-prosedur sesuai resep.
sensitive berlebihan Dekati anak secara perlahan, libatkan
orangtua dalam perkenalan awal dan
Balita / Toddler setiap ada intervensi.
Jelaskan semua prosedur dengan bahasa
Cemas akan Menangis jika orangtua yang mudah sesuai tahap
perkembangan anak.
perpisahan. pergi dari sisi tempat Nyalakan lampu yang teduh saat
malam.
Kehilangan kendali tidurnya.

diri Ketakutan saat diminta

Immobilisasi. untuk tidur terlentang /

Nyeri pada prosedur supine.

invasive Bertanya kenapa

Takut akan cidera orangtuanya tidak datang

tubuh atau mutilasi. menolong dirinya. Ini

Takut suasana gelap berkaitan dengan rasa

nyeri dan rasa dihukum.

Bab 10 Hospitalisasi Pada Anak dan Dampaknya Pada Keluarga 119

Prasekolah /

Preschool Menunjukkan kesulitan Dorong kehadiran orangtua disamping
anak.
Cemas akan pemahaman akan Tawarkan beberapa pilihan jika
mungkin.
perpisahan dan takut perpisahan yang nyata Gunakan anestesi topical atau penenang
pra-prosedur sesuai resep dokter.
ditinggalkan. dengan perpisahan Jelaskan semua prosedur yang akan
diterima.
Kehilangan kendali fantasi. Nyalakam lampu malam saat akan
tidur.
diri Takut akan adanya hantu
Dukung partisipasi orangtua.
Takut akan cidera atau monster. Ijinkan anak memilih jika
memungkinkan.
tubuh atau mutilasi. Takut kalau kulit tidak Jelaskan semua prosedur dan tawarkan
jaminan
Nyeri pada tindakan utuh / luka maka tubuh Gunakan anestesi topical atau penenang
pra-prosedur sesuai resep dokter.
invasive. akan bocor. Dukung / ciptakan interaksi
peer/kelompok sebaya melalui internet,
Takut gelap dan Takut kalau selang yang percakapan telefon, whatsapp dan cara
komunikasi lainnya.
adanya monster. terpasang ditubuhnya
Libatkan remaja dalam rencana
akan melekat selamanya. perawatan, tawarkan pilihan njika
memungkinkan.
Bersikap menarik diri, Dukung remaja mendiskusikan rasa
takut dan kecemasan.
proyeksi, agresif dan Jelaskan seluruh prosedur yang akan
diterima.
regresif. Tanyakan remaja tentang harapan atau
keinginan akan keterlibatan orangtua.
Usia Sekolah Dukung interaksi peer / kelompok
sebaya.
Kehilangan kendali Menunjukkan
pengingkatan sensitifitas
Kehilangan privasi terhadap lingkungan
Mendemonstrasikan
dan kendali atas tubuh pengamatan /ingatan

dan fungsi tubuh yang detail terhadap yang
terjadi pada diri sendiri
sendiri dan orang lain.

Cidera tubuh

Terpisah dari keluarga

dan teman-teman

Merasa nyeri,

prosedur invasive

Takut mati

ADOLESCENT /

REMAJA Menunjukkan sikap

Kehilangan kendali menyangkal, regresi,

Takut akan perubahan menarik diri,

gambaran tubuh, intelektualisasi, proyeksi

kecacatan, kehilangan dan tersisih.

kemampuan dan

kematian.

Terpisah dari

kelompok sebaya.

Kehilangan privasi

dan identitas.

120 Ilmu Kesehatan Anak

Tabel 11.2: Tingkat Kecemasan Anak Akan Perpisahan Hospitalisasi (Kyle
and Carman, 2015)

Protest Despair Detachment

Menjerit ; Menangis : Diam dan sedih yang Tidak protes lagi saat
Menempel pada orangtua ; tampak menetap ; orangtua pergi; Tampak
Menarik diri atau bergembira dan kontak
Mungkin menolak
patuh ; Menangis saat dengan orang lain ;
kehadiran orang dewasa orang tua datang. Menunjukkan minat pada
lain untuk lingkungan ; Hubungan

menenangkannya. dekat tidak terjalin.

10.3 Respon Keluarga Terhadap

Hospitalisasi

Rawat inap seorang anak umumnya akan mengganggu rutinitas normal
keluarga. Peran orang tua berubah ketika anak sakit dan dirawat di rumah
sakit, staff perawat mengambil peran melakukan seluruh asuhan perawatan
pada anak mereka. Peran keluarga dapat berubah ketika salah satu orang tua
harus tinggal di rumah sakit bersama anak mereka yang sakit, sementara orang
tua atau saudara kandung lainnya mengambil alih tugas tambahan di rumah.
Anggota keluarga mungkin mengalami kecemasan dan ketakutan, terutama
bila hasil pemeriksaannya tidak diketahui atau perubahan kondisi kesehatan
anak berpotensi serius muncul saat rawat inap. Kemampuan koping anggota
keluarga diuji oleh keadaan darurat yang serius, penyakit yang
berkepanjangan, kondisi kronis, prognosis yang buruk, kurangnya dukungan
keluarga, dan masalah krisis keuangan atau layanan komunitas. Stres pada
orang tua dapat diperburuk oleh beban kerja yang menumpuk, perhatian yang
terpecah, biaya tambahan, dan kekhawatiran tentang pemberian makan dan
merawat anak-anak lainnya di rumah. Stres mengganggu kemampuan orang
tua untuk memberikan dukungan kepada anak yang dirawat di rumah sakit
(Agazio and Buckley, 2012). Penting bagi perawat untuk menilai kebutuhan
dan perhatian orang tua untuk membangun hubungan saling percaya. Orangtua
yang mendapat dukungan dari staf perawat memiliki lebih sedikit kecemasan,
lebih percaya diri, dan lebih siap untuk membuat keputusan dan berpartisipasi
dalam perawatan anak mereka. Perawat juga perlu peka terhadap nilai budaya
yang dianut keluarga tentang kesehatan, penyakit, dan penyebab penyakit,

Bab 10 Hospitalisasi Pada Anak dan Dampaknya Pada Keluarga 121

yang dapat memengaruhi respons mereka terhadap rawat inap dan pengelolaan
pengalaman keluarga. Pengaruh budaya juga dapat menentukan anggota
keluarga mana yang menjadi pengambil keputusan tentang praktik perawatan
kesehatan, dan memberikan pedoman untuk perawatan yang dapat diterima
(Kyle and Carman, 2015).

Saudara kandung dari anak yang dirawat di rumah sakit mungkin menerima
sedikit perhatian dari orang tua yang kewalahan dan cemas kesehatan anak
mereka yang dirawat di rumah sakit. Bagaimana tanggapan saudara kandung
tergantung pada tingkat perkembangan dan kemampuan untuk memahami apa
yang sedang terjadi. Saudara yang lebih muda tidak mengerti penyebab sakit
saudaranya sehingga harus dirawat di rumah sakit mungkin merasa bersalah
karena sermpat berkelahi dengan atau bersikap kejam kepada saudara laki-laki
atau perempuan mereka di masa lalu. Beberapa mungkin percaya bahwa
mereka berperan dalam penyakit atau cedera saudara mereka yang dirawat dan
membutuhkan kepastian bahwa bukan mereka penyebabnya. Jika saudara
kandungnya dalam beberapa hal berkontribusi pada penyakit atau cedera,
bantulah anak mengatasi rasa bersalahnya dengan memberikan kesempatan
untuk mendiskusikan perasaan tersebut. Rujukan untuk konseling kesehatan
mental mungkin diperlukan.

Karena rawat inap menyebabkan peran dan rutinitas keluarga berubah, saudara
kandung mungkin merasa tidak aman dan cemas. Edukasi dan dukungan
untuk saudara kandung dari anak-anak yang dirawat di rumah sakit
mendorong penanganan dan adaptasi terhadap penyakit saudara kandung. Jika
tidak masalah, berikan dorongan bagi saudara kandung untuk mengunjungi
saudara mereka yang sedang dirawat. Kunjungan yang intens sangat
dianjurkan jika anak dalam keadaan sakratul maut/ berpotensi meninggal, hal
ini memungkinkan saudara kandungnya sempat untuk mengucapkan selamat
tinggal. Kunjungan siblings ini sering membantu meningkatkan mood anak
yang dirawat di rumah sakit dan membantu saudara kandungnya dalam
mengatasi kesalahpahaman atau emosi negatif. Karena fantasi anak-anak
seringkali lebih buruk daripada kenyataan, ketakutan yang tidak berdasar dapat
diatasi dengan dilakukannya kunjungan (Kyle and Carman, 2015).

Sebelum berkunjung, persiapkan saudara-saudara dengan menjelaskan apa
yang harus mereka lakukan saat akan bertemu. Jelaskan tentang lingkungan
rumah sakit, peralatan yang ada, suara, dan bau rumah sakit. Jelaskan
bagaimana kondisi sakit saudara mereka. Jika anak yang dirawat di rumah
sakit bersikap, bergerak, berbicara, atau penampilannya berbeda dari sebelum

122 Ilmu Kesehatan Anak

dirawat, berikan penjelasan yang memadai sebelumnya. Pertimbangkan untuk
menggunakan boneka, gambar-gambar, atau menunjukkan foto sebenarnya
dari anak yang dirawat di rumah sakit untuk membantu mempersiapkan
saudara kandung.

Selama kunjungan, peragakan cara berbicara dan menyentuh anak yang sakit
untuk mendorong saudara kandung melakukan hal yang sama. Peringatkan
saudara kandung jika anak yang dirawat di rumah sakit tidak bisa berbicara.
Beri penjelasan seperti, "Adik Joy tidak bisa bicara sekarang. Dia sepertinya
sedang tidur dalam. Dia mungkin bisa mendengar, jadi…kamu bisa
menyentuhnya dan berbicara dengannya.” Setelah berkunjung, diskusikan
dengan saudara kandung apa yang mereka lihat dan rasakan, dan berikan
respon terhadap pertanyaan apapun yang mungkin mereka miliki.

Bagi saudara kandung tidak dapat berkunjung, kontak dengan anak yang
dirawat di rumah sakit dapat dipertahankan dengan mengirimkan gambar,
kartu, dan pesan yang direkam di perangkat elektronik lainnya, melalui email,
pesan singkat atau webcam. Jika orang tua harus tinggal di rumah sakit dengan
anak yang dirawat, dampingi mereka untuk membantu membangun rutinitas
komunikasi yang baik dengan saudara kandung. Komunikasi yang baik, rutin
dan teratur bersama saudara kandung akan memberikan kesempatan bagi
mereka yang di rumah berbagi hari mereka, menerima perkembangan keadaan
saudara mereka yang dirawat, mempertahankan hubungan perasaan dan
mungkin meminimalkan perasaan khawatir dan benci. Kontak telepon yang
teratur menawarkan saudara kandung hubungan yang konsisten dengan orang
tua yang sedang terpisah dan kepastian bahwa mereka itu penting dan dicintai
(Kyle and Carman, 2015)

10.4 Pengkajian Keluarga

Untuk mendukung anak yang dirawat di rumah sakit dan menyediakan asuhan
keperawatan yang berpusat pada keluarga, perawat harus memahami tentang
dinamika keluarga dan mengkhususkan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan anak dan keluarga. Untuk mengembangkan rencana perawatan
yang melibatkan semua orang anggota keluarga, perawat mengkaji dan menilai
dampak penyakit anak atau rawat inap pada keluarga.

Bab 10 Hospitalisasi Pada Anak dan Dampaknya Pada Keluarga 123

Hal yang perlu dikaji pada keluarga dengan anak yang menjalani hospitalisasi
adalah:

• Peran dalam keluarga
• Dinamika keluarga
• Sistem pendukung
• Efek pada saudara kandung.

Berkolaborasi dengan keluarga untuk menentukan sumber daya mereka,
seperti

• Strategi koping dalam anggota keluarga
• Metoda mengelola stres
• Kualitas komunikasi keluarga
• Sumber keuangan
• Akses ke pelayanan perawatan kesehatan
• Faktor risiko
• Kaji tingkat pemahaman anggota keluarga terkait rawat inap anak

dan terapi yang bisa diantisipasi.
• Ketersediaan sumber layanan masyarakat

Ada keluarga dengan dukungan keuangan yang terbatas dapat mengelola
masalah mereka dengan cukup baik karena mereka memiliki strategi koping
yang efektif, sedangkan keluarga lain dengan sumber keuangan yang lebih
besar dapat mengalami kesulitan jika strategi koping mereka tidak efektif.
Keluarga dengan komunikasi yang terbuka lebih dapat beradaptasi dengan
keadaan dan mampu mengembangkan serta mengelola koping dan adaptasi
terhadap stress dengan baik serta menemukan solusi yang tepat.

Kondisi keluarga dengan anak yang dirawat di rumah sakit dapat menguras
finansial orang tua jika salah satu atau keduanya harus mengambil cuti dari
pekerjaan, mangkir dari jadwal hari kerja, atau harus bolak-balik pergi ke
rumah sakit. Biaya tambahan mungkin termasuk kamar hotel, makan, biaya
parkir, dan penitipan anak-anak lainnya. Kaji kemampuan keluarga untuk
mengelola tambahan biaya dan gunakan pendekatan multidisiplin, yang dapat
meningkatkan akses ke sumber daya komunitas dan dukungan untuk keluarga
(Kyle and Carman, 2015).

124 Ilmu Kesehatan Anak

10.5 Strategi Meningkatkan Koping dan
Tahap Perkembangan yang Normal
Selama Masa Hospitalisasi

Selama rawat inap, perawatan anak tidak hanya berfokus pada memenuhi
kebutuhan fisiologis, tetapi juga pada pertemuan psikososial dan kebutuhan
perkembangan. Perawat dapat menerapkan beberapa strategi untuk membantu
anak beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit, mempromosikan
penanganan yang efektif, dan memberikan kegiatan yang sesuai dengan
perkembangan, seperti (Kyle and Carman, 2015):

• Rawat gabung (rooming in)

Setting perawatan yang memungkinkan anak dan orangtua tergabung dalam
satu ruang perawatan untuk meminimalisir kecemasan akan perpisahan.

• Program kehidupan anak (Child Life Program)

Program ini berfokus pada kebutuhan psikososial anak-anak yang dirawat di
rumah sakit. Petugas yang tergabung dalam program ini terdiri dari
professional spesialis, paraprofessionals, dan sukarelawan. Seorang spesialis
kehidupan anak merencanakan kegiatan untuk menyediakan waktu bermain
yang sesuai dengan usia anak baik di kamar anak atau di ruang bermain
khusus.

• Permainan terapeutik, dan Rekreasi terapeutik

Beberapa kegiatan dirancang untuk membantu anak-anak bercerita
mengungkapkan perasaan tentang penyakitnya. Contohnya termasuk bermain
dengan peralatan medis, memerankan prosedur atau perawatan pada boneka,
menggunakan permainan untuk memerankan perasaan, atau menggambar
tentang rumah sakit perawatan.

Adapun peran perawat anak selama merawat anak pada fase hospitalisasi
adalah:

Bab 10 Hospitalisasi Pada Anak dan Dampaknya Pada Keluarga 125

• Mempersiapkan anak dan orangtua sebelum masuk ruang perawatan
dengan memberikan informasi detail mengenai ruang rawat dan
peraturan serta kekhususan perawatan yang akan diterima.

• Merawat anak sakit dengan pendekatan yang sesuai dengan penyakit
yang dialami dan tahap perkembangan anak.

• Menciptakan suasana lingkungan yang mendukung perawatan dan
perkembangan anak sakit.

• Mendorong orangtua dan keluarga untuk selalu mendampingi anak
selama dirawat di rumah sakit.

• Membantu anak sakit untuk tetap dapat bersosialisasi dengan
lingkungan untuk mendukung masa perkembangan.

• Menyediakan dan memanfaatkan media stimulus yang sesuai untuk
terapi bermain.

• Mendapatkan informed concent keluarga untuk setiap tindakan
pengobatan yang diberikan pada anak.

• Mencegah anak dari injury (jatuh) dengan mempertahankan
keamanan dan kenyamanan lingkungan perawatan.

• Mendokumentasikan seluruh asuhan keperawatan yang diberikan
pada anak.

• Memberikan edukasi kesehatan yang mudah dimengerti anak sesuai
tahap perkembangannya.

• Melakukan pendekatan atraumatic care pada anak sakit.
• Mempersiapkan dengan detail baik keluarga maupun anak saat akan

direncanakan.

126 Ilmu Kesehatan Anak

Bab 11 Terpadu Balita

Manajemen
Sakit

11.1 Pendahuluan

Derajat kesehatan masyarakat dapat diukur salah satunya dengan melihat
angka kematian balita. Semakin tinggi angka kematian balita di suatu daerah,
maka derajat kesehatan masyarakat semakin rendah. Berdasarkan hasil Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), menunjukkan bahwa angka
kematian balita termasuk kategori tinggi jika dibandingkan dengan angka
kematian balita di negara-negara Asia Tenggara, yaitu 32 per 100- kelahiran
hidup. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia
(Kementerian Kesehatan RI, 2020). Dalam rangka menurunkan angka
kematian bayi dan balita, maka pemerintah menetapkan intervensi pada tingkat
keluarga dan masyarakat, di tingkat pelayanan kesehatan dasar, serta ditingkat
pelayanan kesehatan rujukan. Salah satunya Manajemen Terpadu Balita Sakit
(MTBS) yang ada di pelayanan kesehatan dasar di masyarakat. Intervensi ini
memerlukan peran aktif masyarakat, yang mana peran aktif tersebut diatur
sesuai dengan standar dalam Permenkes No. 70 tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Manajemen Terpadu Balita Sakit berbasis-Masyarakat
(Kementerian Kesehatan RI, 2014).

128 Ilmu Kesehatan Anak

Selain itu juga, salah satu upaya menurunkan angka kematian balita yaitu
dengan cara meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan yang menangani
balita sakit, terutama bidan dan perawat baik itu di puskesmas maupun
ditingkat pelayanan kesehatan yang lain. Dalam hal meningkatkan
keterampilan bidan, perawat maupun tenaga kesehatan yang lain dapat
dilaksanakan di MTBS (Suparmi, 2018). Sejak tahun 1997, Indonesia sudah
mulai mengembangkan metode MTBS oleh Kementerian Kesehatan RI yang
bekerja sama dengan WHO, UNICEF, dan IDAI. MTBS bukan merupakan
suatu bentuk program kesehatan untuk penanganan masalah pada balita, tetapi
merupakan bentuk standar dalam pelaksanaan dan penanganan balita yang
sakit yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas, atau
pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pada pelayanan kesehatan tingkat
pertama, MTBS memiliki komponen utama yang menjadi standar, yaitu
adanya peningkatan keterampilan petugas kesehatan, peningkatan dukungan
sistem kesehatan, serta peningkatan keterampilan keluarga dalam menangani
balita sakit di rumah (Kemenkes RI, 2019).

Berdasarkan Permenkes No. 70 tahun 2013, MTBS dilaksanakan oleh
puskesmas dengan memberdayakan para kader yang berada di wilayah binaan
puskesmas tersebut yang sudah mendapatkan pelatihan yang dilakukan oleh
puskesmas tersebut. Tujuannya adalah meningkatkan akses dalam
mendapatkan pelayanan kesehatan untuk balita yang sakit pada masyarakat
yang sulit untuk mengakses pelayanan kesehatan (Kementerian Kesehatan RI,
2014). Di Puskesmas Indonesia bagian Timur, sebagian besar sudah
melaksanakan MTBS dalam pelayanan kesehatan balita, namun masih banyak
kekurangan dalam hal kepatuhan petugas dalam pengisian formulir, serta
kurangnya fasilitas sarana dan prasarana, sehingga keberhasilan MTBS ini
masih sangat kurang. Oleh karena itu perlu monitoring yang lebih terhadap
MTBS di Indonesia, agar mencapai tujuan dalam menurunkan angka kematian
balita (Suparmi, 2018).

11.2 Manajemen Terpadu Balita Sakit

Manajemen Terpadu Balita Sakit, atau dalam bahasa inggris disebut Integrated
Management Of Childhood Illness (IMCI) merupakan suatu manajemen
terintegrasi dalam penatalayanan terhadap balita yang datang pada pelayanan
kesehatan dengan keluhan mengenai penyakit, status gizi, status imunisasi,

Bab 11 Manajemen Terpadu Balita Sakit 129

cara penangan dan konsultasi. Upaya yang dilaksanakan pada pelayanan
MTBS ini berupa pelayanan kuratif, promotif, dan preventif. Kuratif
merupakan pelayanan untuk mengatasi masalah kesehatan balita dengan
pengobatan pada penyakit pneumonia, diare, malaria, DBD, campak, dan
masalah gizi. Pelayanan promotif dan preventif dilaksanakan dengan
pemberian pelayanan konseling gizi, pemberian vitamin A atau imunisasi
untuk mencegah penyakit (Hidayati & Wahyono, 2011).

Di Indonesia masih banyak wilayah yang tidak memiliki akses untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan oleh tenaga dokter untuk mengatasi
masalah kesehatan pada bayi dan balita. Permasalahan akses untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan menjadi salah satu hal yang menyebabkan
meningkat dan tingginya angka kesakitan dan kematian bayi dan balita di
Indonesia. Dengan adanya MTBS yang pelayanan diletakkan pada unit
kesehatan dasar, dapat menjangkau masyarakat lebih dekat lagi untuk
mengakses pelayanan kesehatan pada balita, sehingga bidan dan tenaga
perawat diberikan wewenang oleh pemerintah untuk memberikan penanganan
terhadap keluhan pada balita melalui MTBS ini (Kementerian Kesehatan RI,
2014). MTBS bertujuan untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian pada
bayi dan balita, serta juga meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di
tingkat pelayanan kesehatan dasar, yaitu puskesmas. Selain itu tujuan dari
MTBS juga, memperbaiki status gizi, meningkatkan pemanfaatan masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan, memperbaiki kinerja pelayanan kesehatan, serta
memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan dasar dengan harga terjangkau.
Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, masih terhambat oleh keterampilan
para petugas kesehatannya. Pelayanan MTBS ini akan semakin efektif jika
didukung oleh orang tua atau keluarga yang aktif membawa bayi dan balita
untuk mendapatkan pertolongan kesehatan pada balita (Munjidah, 2016).

Intervensi inti yang diterapkan dalam pelayanan MTBS ini berupa
perlindungan tetanus neonatus, persalinan oleh tenaga kesehatan, inisiasi
menyusui dini, kunjungan neonatal pertama, pemberian ASI Ekslusif,
makanan pendamping ASI, imunisasi DPT-HB3, cakupan imunisasi campak,
balita yang tidur dibawah kelambu yang berinsektisida, pemberian oralit dan
zinc pada balita diare, balita yang mendapat pengobatan malaria, rumah tangga
yang memiliki fasilitas sanitasi, dan rumah tangga yang memiliki fasilitas air
bersih (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Berpedoman dengan bagan MTBS
yang dikeluarkan oleh Kementerian RI, petugas pelaksana MTBS harus

130 Ilmu Kesehatan Anak

memiliki keterampilan dalam menangani balita sakit dan bayi baru lahir sakit,
seperti:

1. Menilai tanda dan gejala penyakit, mengkaji status imunisasi, status
gizi dan pemberian vitamin A.

2. Membuat klasifikasi
3. Menentukan tindakan sesuai dengan klasifikasi anak dan menentukan

apakah anak tersebut layak untuk dilakukan rujukan
4. Memberikan pengobatan penting sebelum dibawa ke tempat rujuk,

seperti memberikan dosis awal antibiotik, memberikan vitamin A,
dan memberikan perawatan mencegah penurunan gula darah pada
anak
5. Melakukan tindakan di pelayanan kesehatan berupa kuratif dan
preventif
6. Mengajari ibu dalam memberikan pengobatan di rumah, serta
melakukan perawatan pada bayi baru lahir
7. Memberikan konseling kepada ibu dalam cara pemberian makan pada
anak, serta cara memberikan ASI dan menentukan kapan ibu harus
berkunjung kembali

Kegiatan MTBS yang menguntungkan berupa meningkatkan keterampilan
petugas kesehatan dalam menangani balita sakit, selain dokter. Sistem
kesehatan dapat menjadi lebih baik, karena dalam pelaksanaannya MTBS
mengintegrasi banyak program kesehatan di setiap pemeriksaan balita. MTBS
juga memperbaiki bagaimana keluarga atau masyarakat merawat balita sakit di
rumah serta melatih bagaimana upaya menanganinya sehingga meningkatkan
pemberdayaan masyarakat dalam mengatasi balita sakit (Kemenkes RI, 2019).

11.3 Jenis Manajemen Terpadu Balita
Sakit

Jenis yang dimaksud, bukan berarti pelayanan kesehatan memilih untuk
memakai yang mana, namun pelayanan kesehatan harus memiliki standar
pelayanan ini untuk mengatasi permasalahan pada balita sakit, sehingga bisa

Bab 11 Manajemen Terpadu Balita Sakit 131

mencapai tingkat kesehatan yang baik pada balita sakit. Pelayanan MTBS,
berupa pelayanan untuk anak umur 2 sampai 5 bulan, kemudian untuk anak
yang berusia kurang dari 2 bulan. Serta pelaksanaan MTBS yang berbasis
masyarakat, perlu diterapkan agar MTBS dapat dengan tepat menjangkau
masyarakat dengan pendekatan keluarga sehingga MTBS dapat berada di
pelayanan kesehatan dasar yang menjadi pelayanan kesehatan terdekat
masyarakat.

11.3.1 Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Untuk
Anak Umur 2 Bulan sampai 5 Tahun

Pada pedoman penggunaan MTBS untuk mengatasi masalah kesehatan balita,
dimulai dengan melakukan pengkajian. Pengkajian yang dilakukan untuk
balita dengan umur antara 2 bulan sampai 5 tahun terdiri dari penilaian tanda
dan gejala, penentuan klasifikasi dan tingkat kegawatan, penentuan tindakan
dan pengobatan, pemberian konseling dan tindak lanjut untuk masalah
pneumonia, diare, demam malaria, dan campak, DBD, status gizi, memeriksa
anemia, dan status imunisasi (Yuliastati & Arnis, 2016).

Hal pertama dalam pelaksanaan MTBS ini adalah melakukan pengkajian yang
dilakukan petugas pelaksana MTBS sesuai dengan pedoman MTBS yang
dilakukan pada bayi berusia 2 bulan sampai 5 tahun berdasarkan Kemenkes
2019 (Yuliastati & Arnis, 2016), sebagai berikut;

1. Pneumonia
Jika anak mengalami pneumonia, maka anak akan mengalami batuk
atau sukar bernafas, maka petugas harus mengkaji tingkat kesadaran
anak, saat bernafas apakah ada bantuan otot pernafasan seperti
tarikan dada ke dalam, kemudian petugas harus menghitung jumlah
pernafasan dalam 1 menit, terdengar bunyi stridor atau tidak.

2. Diare
Jika mengalami diare, petugas harus menanyakan sudah berapa lama
mengalami diare dan apakah mengeluarkan darah. Kemudian lakukan
inspeksi melihat keadaan umum dan tingkat kesadaran anak, serta
adanya gelisah dan cekung pada mata. Kemudian lakukan palpasi
untuk melihat turgor kulit pada perut bayi.

132 Ilmu Kesehatan Anak

3. Demam
Pengkajian pertama dilakukan untuk melihat anak tingak di daerah
yang berisiko untuk terkena malaria atau mengunjungi daerah
berisiko lebih dari 2 minggu. Jika balita demam, kaji berapa lama
menderita demam, jika lebih dari 7 hari, tanyakan obat yang sudah
dikonsumsi, seperti obat malaria, kemudian tanyakan riwayat
kesehatan apakah menderita campak dalam 3 bulan terakhir. Lakukan
inspeksi untuk melihat kaku kuduk, pilek, ruam di kulit. Jika
menderita campak, kaji disekitar mulut untuk melihat adanya luka.

4. Demam Berdarah Dengue
Pengkajian dengan menanyakan lama demam berlangsung, tanyakan
ciri khas demam (mendadak tinggi), tanyakan riwayat perdarahan di
gusi dan muncul bintik merah pada kulit, kaji riwayat muntah (warna
dan frekuensi muntah), kaji rasa nyeri di ulu hati. Lakukan inspeksi
untuk melihat anak tampak gelisah atau tidak, ada perdarahan di
hidung atau gusi, dan petekie. Jika terdapat sedikit petekie,
melakukan uji tourniquet. Lakukan palpasi untuk menghitung denyut
nadi dalam satu ment, dan kekuatan nadi (lemah, kuat, atau tidak
teraba), kaji ujung ekstremitas teraba hangat atau dingin.

5. Masalah Telinga
Pengkajian dengan menanyakan, apakah terasa nyeri pada telinga,
kemudian lakukan inspeksi untuk melihat keluaran nanah pada
telinga. Kemudian lakukan palpasi untuk merasakan adanya
pembengkakan pada daerah telinga.

6. Masalah Status gizi
Lakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan anak, kemudian
dengan panduan grafik anak sesuai jenis kelamin dan usia. Untuk
menilai proporsional berat badan anak. Lakukan inspeksi untuk
melihat kondisi tubuh anak tampak kurus atau tidak, kemudian
lakukan palpasi untuk meraba pembengkakan pada kaki.

7. Anemia
Lakukan inspeksi pada telapak tangan, terlihat pucat atau sangat
sangat pucat

Bab 11 Manajemen Terpadu Balita Sakit 133

8. Memeriksa status imunisasi
Tanyakan pada ibu, kelengkapan status imunisasi, dan riwayat anak
dalam mendapatkan vitamin A setiap bulan februari dan agustus.

Setelah dilakukan pengkajian, petugas kemudian melakukan klasifikasi atau
pengelompokan, berdasarkan hasil pengkajian kemudian melakukan tindakan
pertama sesuai dengan pedoman bagan yang sudah dikeluarkan pemerintah
(Yuliastati & Arnis, 2016):

a. Klasifikasi pneumonia
Termasuk pneumonia berat jika terdapat tanda dan gejala adanya
tarikan dada ke dalam dan terdengar bunyi stridor. Jika hanya
pneumonia saja, frekuensi napas sangat cepat. Jika hanya keluhan
batuk, maka tidak termasuk pneumonia. Tindakan yang dilakukan
jika ditemukan pneumonia berat, maka pemberian antibiotik dosis
pertama dan lakukan rujukan. Jika termasuk pneumonia saja, maka
berikan antibiotik untuk 5 hari, pelega tenggorokan, dan anjurkan
untuk kembali lagi ke petugas kesehatan setelah 2 hari. Jika hanya
batuk biasa, berikan obat batuk biasa dan pelega tenggorokan
kemudian lakukan pemeriksaan lanjut dan setelah itu anjurkan orang
tua untuk membawa anaknya kembali 5 hari kemudian.

b. Klasifikasi dehidrasi
Pada kasus diare, yang termasuk dehidrasi berat, jika anak letargi
atau tidak sadar, mata cekung, dan turgor kulit sangat jelek. Pada
kasus dehidrasi ringan anak gelisah dan rewel, mata cekung, haus,
dan turgor jelek. Jika diare tanpa dehidrasi dilihat dari tanda dan
gejala dehidrasi tidak banyak. Penanganan yang dilakukan, berikan
terapi cairan terencana sesuai anjuran kemenkes RI, dan berikan
tablet Zinc. Jika dehidrasi berat maka lakukan rujukan.

c. Klasifikasi disentri
Tanda dan gejala yang sama dengan diare, namun disertai dengan
keluarnya darah. Pengobatan yang diberikan dengan memberikan
antibiotik yang sesuai kemudian anjurkan ibu untuk untuk melakukan
kunjungan ulang ke petugas kesehatan setelah 2 hari.

134 Ilmu Kesehatan Anak

d. Klasifikasi risiko malaria
Klasifikasi resiko tinggi malaria, yaitu ditemukan adanya demam
berat dan ditemukan kaku kuduk, risiko rendah malaria, jika demam
biasa dan tidak ditemukan tanda bahaya umum dan tidak ada kaku
kuduk. Jika dengan resiko tinggi, maka diberikan suntikan artemeter
dan antibiotik, dosis pertama parasetamol dan dilakukan rujuk.
Resiko rendah diberikan obat paracetamol biasa. Sesuai dengan dosis
yang sesuai dengan berat badan anak.

e. Klasifikasi campak
Klasifikasi campak dengan komplikasi berat jika ditemukan tanda
bahaya umum, keruh pada kornea mata, luka yang luas pada daerah
mulut dalam, rumah yang menyeluruh pada kulit, demam, batuk pilek
dan mata merah. Klasifikasi campak dengan komplikasi adanya
nanah pada area mata dan mulut. Klasifikasi campak tanpa
komplikasi jika hanya ditemukan tanda campak biasa. Pengobatan
yang diberikan petugas kesehatan, untuk klasifikasi campak dengan
komplikasi berat yaitu memberikan vitamin A, antibiotik yang sesuai,
salep mata jika ditemukan kekeruhan pada kornea, dan lakukan
rujukan. Jika hanya terdapat luka pada mulut, maka dapat diberikan
gentian violet. Jika tidak komplikasi, maka dapat diberikan vitamin A
saja.

f. Klasifikasi demam berdarah dengue
Klasifikasi demam DBD jika terdapat demam kurang dari 7 hari,
kemudian ditemukan petekie yang banyak setelah uji tourniquet tes
(tourniquet test positif), ditemukan tanda syok yaitu ekstremitas
dingin, nadi lemah bahkan tidak teraba, perdarahan pada mulut dan
gusi. Pengobatan yang dilakukan, jika terdapat tanda syok, maka
lakukan pemberian terapi intravena, berikan oksigen 2-4 L/menit dan
lakukan rujukan. Termasuk klasifikasi kemungkinan DBD jika
terdapat nyeri ulu hati, petekie sedikit. Jika tidak terdapat tanda gejala
DBD, nya demam saja, maka termasuk klasifikasi demam biasa.
Pengobatan yang dilakukan jika kemungkinan bukan DBD,


Click to View FlipBook Version