Hati dengan bantuan enzim arginase dan air akan mengubah arginin
menjadi ornitin dan urea. Urea akan dibuang melalui ginjal, sedangkan ornitin
akan mengikat amonia dan membawanya ke dalam empedu atau dibawa keluar
bersamaan dengan urin.
E. Gangguan Kesehatan pada Hati (Hepar) yang Berkaitan dengan
Sistem Ekskresi
•A ’ , yaitu suatu kondisi langka dimana saluran empedu
menyempit dan memburuk yang mengakibatkan aliran terhambat ke kantong
empedu dan berbalik ke belakang dan menimbulkan kerusakan sel hati.
Penderita penyakit ini pada umumnya penderita adalah bayi baru lahir.
Perbandingan penderita penyakit ini yaitu 1 dari 1 juta orang di dunia.
• Biliary Atresia, yaitu kelainan bawaan lahir dimana saluran empedu yang
terbentang dari hati ke usus halus terlalu sempit atau bahkan tidak ada sama
sekali, sehingga terjadi sumbatan aliran cairan empedu. Akibatnya, cairan
empedu akan menumpuk di dalam hati dapat menyebabkan kerusakan hati
permanen atau sirosis.
F. Penyembuhan Gangguan Kesehatan pada Hati (Hepar) yang
Berkaitan dengan Sistem Ekskresi
•A ’
Belum ada dokter yang mengatakan bahwa lagille’s syndrome ini bisa
disembuhkan. Namun, dengan di gantikan dengan hati baru maka akan
menggantikan fungsi yang baru. Meski demikian kerusakan di pembuluh darah
ini abnormality di dalam jantung, dalam ginjal, otak dan lainnya akan
menyebabkan gangguan kehidupan.
• Biliary Atresia
196
Penanganan atresia bilier hanya bisa dilakukan dengan operasi. Salah
satu teknik operasi yang dapat dilakukan untuk menangani atresia bilier adalah
teknik operasi Kasai. Teknik operasi ini bisa dilakukan melalui bedah
konvensional atau menggunakan laparoskopi.
Pada kasus atresia bilier yang parah, hati bayi bisa menjadi semakin
rusak dan seiring waktu dapat memicu gagal hati. Untuk menangani kondisi
tersebut, bayi perlu menjalani operasi transplantasi hati.
Kulit
A. Pengertian Kulit
Kulit merupakan organ tubuh terbesar yang menutupi seluruh permukaannya.
Kulit berfungsi sebagai pelindung tubuh dari cedera dan patogen. Kulit juga mengatur
suhu tubuh, mengendalikan kehilangan cairan yang tak terasa (insensible fluid loss),
serta menyimpan vitamin D, lemak, dan air. Kulit menutupi area tubuh seluas 1,67 m²
dan berat sekitar 4,5 kg pada laki-laki dengan berat badan 75 kg.
B. Fungsi Kulit
• Alat pengeluaran(ekskresi) dalam bentuk keringat.
• Pelindung tubuh dari gangguan fisik(sinar, tekanan, dan suhu), gangguan
biologis(jamur), dan gangguan kimiawi.
• Mengatur suhu badan.
• Tempat pemberntukan vitamin D dari provitamin D dengan bantuan sinar matahari.
• Tempat menyimpan kelebihan lemak.
• Sebagai indra peraba.
C. Struktur Kulit (Hepar)
Kulit terdiri atas beberapa lapisan, yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis
(subkutaneus).
197
1. Epidermis
Bagian terluar kulit yang tersusun dari sel sel epitel pipih (skuamosa) berlapis
banyak dengan susunan yang sangat rapat, dan mengalami keratinasi. Jaringan
ini tidak memiliki pembuluh darah. Epidermis yang sangat tebal terdapat pada
telapak kaki dan tangan. Epidermis terdiri atas lima lapisan, yaitu:
• Stratum korneum, lapisan epidermis paling atas, terdiri atas 25 - 30
lapisan sisik dari sel-sel yang tidak hidup. Lapisan ini akan diganti
oleh sel-sel dari dasar ke atas setiap 15 - 30 hari.
• Stratum lusidum, lapisan jernih dan transparan, terdiri atas 4-7
lapisan sel-sel pipih tidak berinti yang mati atau hampir mati.
• Stratum granulosum, terdiri atas 3 - 5 lapisan sel-sel bergranula
keratohialin yang merupakan precursor dalam pembuatan keratin.
• Stratum spinosum, lapisan sel-sel spina (tanduk), memiliki tonjolan
penghubung intraseluler (desmosom).
• Stratum basalis (germinativum), lapisan sel-sel melekat pada
jaringan ikat dari lapisan kulit di bawahnya yang (dermis).
Pembelahan sel-sel ini berlangsung sangat cepat dan sel-sel baru
didorong masuk ke lapisan berikutnya. Di bawah dan di antara sel-
sel stratum basalis terdapat melanosit yang menghasilkan pigmen
melanin.
2. Dermis
Dipisahkan oleh membran dasar (lamina) yang matahari. Tersusun dari dua
lapisan jaringan ikat, yaitu:
• Lapisan papilar, jaringan ikat areolar renggang dengan fibroblas,
sel mast, dan makrofag. Papila kulit ada yang menyerupai jari
menonjol ke dalam lapisan epidermis, mengandung banyak
pembuluh darah, dan reseptor sensor caktil (sentuhan).
• Lapisan retikuler, tersusun dari jaringan ikat ireguler yang rapat,
kolagen, dan serat elastik. Sejalan dengan bertambahnya usia,
deteriorasi (penurunan mutu) simpul kolagen dan serat elastik
menyebabkan pengeriputan kulit.
198
3. Hipodermis (subkutaneus)
Lapisan yang mengikat kulit secara longgar dengan organ-organ yang terdapat
di bawahnya. Lapisan ini banyak mengandung sel lemak, pembuluh darah. dan
ujung saraf.
D. Mekanisme Pengeluaran Keringat pada Kulit
Proses pengeluaran keringat diatur oleh hipotalamus (otak). Hipotalamus dapat
menghasilkan enzim bradikinin yang bekerja mempengaruhi kegiatan kelenjar
keringat. Jika hipotalamus mendapat rangsangan, misalnya berupa perubahan suhu
pada pembuluh darah, maka rangsangan tersebut diteruskan oleh saraf simpatetik ke
kelenjar keringat. Selanjutnya kelenjar keringat akan menyerap air garam dan sedikit
urea dari kapiler darah dan kemudian mengirimnya ke permukaan kulit dalam bentuk
keringat.
199
BAB IX
SISTEM KOORDINASI
Jurnal Biologi 1
Bab 9
Nama : Muhammad Zinedine Ismail
Kelas : XI IPA 5
Tanggal : Jumat, 26 Maret 2021
1. Pembicaraan :
Jumat, 26 Maret 2021, adalah hari pertama pembelajaran biologi di BAB 9 bersama Bu
Puspa. Jam pelajaran ini berlangsung dari jam pelajaran 5 sampai ke 6 bersama dengan kelas XI
IPA 4 dan juga merupakan jam pelajaran terakhir pada hari Jumat.
Pada pertemuan kali ini, kami memulai pertemuan dengan Bu Puspa yang membahas
tentang ulangan harian BAB 8 kemarin. Setelah itu, Bu Puspa mulai memasuki materi BAB 9
tentang sistem koordinasi. Bu Puspa menjelaskan bahwa sistem koordinasi dibagi menjadi sistem
saraf, sistem hormon, dan sistem indra. Bu Puspa memberikan pertanyaan tentang apa itu sistem
koordinasi kepada salah satu murid IPA 4 yaitu Louis. Setelah Louis menjawab, Bu Puspa
menjelaskan tentang fungsi sistem koordinasi. Bu Puspa juga membahas tentang sel saraf, struktur
sel saraf, sistem saraf, serta pembagian neuron berdasarkan fungsi dan berdasarkan struktur.
Setelah itu Bu Puspa memberikan beberapa refleksi dan menutup pelajaran hari ini.
2. Kesan dan Pesan :
Pembelajaran pada hari ini berlangsung dengan lancar dan juga materi yang disampaikan
sudah jelas dan juga bisa dipahami. Saya berharap agar pada BAB 9 ini semua murid memahami
materi dengan baik dan juga mendapatkan nilai yang lebih meningkat dari nilai-nilai kemarin.
200
Bukti Screenshot :
201
Jurnal Biologi 2
Bab 9
Nama : Muhammad Zinedine Ismail
Kelas : XI IPA 5
Tanggal : Jumat, 16 April 2021
1. Pembicaraan :
Jumat, 16 April 2021, adalah hari kedua pembelajaran biologi di BAB 9 bersama Bu Puspa.
Jam biologi ini berlangsung dari jam pelajaran 5 sampai ke 6 bersama dengan kelas XI IPA 4. Pada
hari-hari sebelumnya, jam pelajaran Biologi tidak dilakukan meet melainkan Bu Puspa
memberikan tugas kepada para siswa tentang sistem koordinasi, sistem hormon, dan juga sistem
indra pada manusia. Akhirnya pada hari ini Bu Puspa bisa kembali melakukan pembelajaraan
dengan menggunakan meet.
Saat pembelajaran dimulai, Bu Puspa memulai pembahasan tentang sistem saraf pusat. Bu
Puspa juga meminta Aaliyah IPA 4 untuk menjelaskan tentang sistem saraf pusat. Ghina IPA 4
juga diminta Bu Puspa untuk menjelaskan materi tentang bagian otak. Setelah itu, Bu Puspa
meminta salah satu siswa untuk membahas tentang sumsum tulang belakang, siswa yang ingin
menjelaskan adalah Engeline IPA 4. Setelah itu, Bu Puspa memberikan beberapa pertanyaan
mengenai materi ini. Siswa yang menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Bu Puspa yaitu Thezar
IPA 5, Aaliyah IPA 4, Candyle IPA 4, Engeline IPA 5. Setelah semua pertanyaan yang diberikan
oleh Bu Puspa sudah dijawab, pembelajaran pun ditutup.
2. Kesan dan Pesan :
Pertemuan hari ini berlangsung dengan lancar dan juga materi yang disampaikan oleh
siswa serta Bu Puspa sudah jelas dan dapat dipahami. Bu Puspa juga memberikan pertanyaan
berbobot, hal ini pun membuat para siswa dapat mengetahui hal-hal yang tak terpikirkan tentang
materi ini. Saya berharap agar pada BAB 9 ini semua murid memahami materi dengan baik dan
juga mendapatkan nilai yang lebih meningkat dari nilai-nilai kemarin.
202
Bukti Screenshot :
Pada pertemuan ini, saya menggunakan HP. Namun, kamera HP saya sedang bermasalah jadi
saya tidak bisa menyalakan kamera.
203
Jurnal Biologi 3
Bab 9
Nama : Muhammad Zinedine Ismail
Kelas : XI IPA 5
Tanggal : Rabu, 28 April 2021
1. Pembicaraan :
Rabu, 28 April 2021, adalah hari ketiga pembelajaran biologi di BAB 9 bersama Bu Puspa.
Jam biologi ini berlangsung dari jam pelajaran 5 sampai ke 6 bersama dengan kelas XI IPA 4 dan
merupakan jam terakhir.
Setelah memasuki meet, Bu Puspa memulai pembahasan tentang sistem hormon. Bu Puspa
memilih Adastra IPA 4 untuk menjelaskan tentang hipofisis, Bu Puspa juga memberikan
pertanyaan tentang hubungan sistem hormon dengan sistem koordinasi dan dijawab oleh Aaliyah
IPA 4. Setelah itu Bu Puspa meminta Rania IPA 4 untuk menjelaskan tentang tiroid. Engeline IPA
4 juga mengajukan diri untuk membahas tentang paratiroid, dilajutkan dengan Afif IPA 4 yang
membahas tentang pankreas. Setelah itu Bu Puspa mempersilahkan para siswa untuk bertanya, Bu
Puspa juga meminta Candyle IPA 4 untuk menjelaskan tentang adrenal. Setelah membahas tentang
sistem hormon, Bu Puspa mulai memasuki sistem indra, Bu Puspa juga meminta 5 siswa untuk
menjelaskan tentang 5 indra. Candyle IPA 4 membahas mata, Sofha IPA 4 membahas tentang
telinga, Adel IPA 4 membahas tentang hidung, Raisa IPA 4 membahas tentang kulit, dan indra
yang terakhir yaitu lidah dibahas oleh Bu Puspa sendiri. Setelah ke 5 indra sudah jelasakan Bu
Puspa menutup pembelajaran hari ini.
2. Kesan dan Pesan :
Pertemuan hari ini berlangsung dengan lancar dan juga materi yang disampaikan mudah
dipahami. Siswa-siswa yang memberi penjelasan menurut saya sudah sangat baik. Saya berharap
agar pada BAB 9 ini semua murid memahami materi dengan baik dan juga mendapatkan nilai
yang lebih meningkat dari nilai-nilai kemarin.
204
Bukti Screenshot :
205
BIOLOGI KELAS XI
Sistem Koordinasi
Nama : Muhammad Zinedine Ismail
Kelas : XI IPA 5
Guru : Puspani, M.Pd
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA NEGERI 1 BALIKPAPAN
TAHUN 2021
206
Sel Saraf (Neuron)
Neuron merupakan unit fungsional sistem saraf, berukuran sekitar 39 inci, serta terdiri atas
bagian badan sel, dendrit, panjang dan akson (neurit).
• Badan sel (perikarion), berfungsi mengendalikan metabolisme keseluruhan neuron.
Badan sel memiliki nukleus (inti) ditengah dan nukleolus yang menonjol. Nukleus tidak
memiliki sentriol dan tidak dapat bereplikasi. Sitoplasma mengandung badan Nissl, berupa
tumpukan retikulum endoplasma granuler dan ribosom yang berfungsi untuk sintesis
protein. Organel lain pada badan sel adalah badan Golgi, mitokondria, dan neurofibril.
• Dendrit merupakan juluran sitoplasma yang relatif pendek, barcabang-cabang, dan
berfungsi untuk menerima impuls (sinyal) dari sel lain untuk dikirimkan ke badan sel.
Neurofbril dan badan Nissl dari badan sel, memanjang ke dalam dendrit.
• Akson merupakan juluran sitoplasma yang panjang (berkisar 1 mm - 1 m) atau cabang
tunggal berbentuk silindris yang berasal dari badan sel. Ujung akson bercabang-cabang
seperti ranting, berfungsi mengirimkan impuls ke sel neuron lainnya. Pada umumnya akson
dibungkus oleh substansi lemak berwarna putih kekuningan yang disebut selubung mielin.
Pada bagian tertentu dari akson tidak diselubungi mielin, disebut nodus Ranvier. Nodus
Ranvier berfungsi mempercepat jalannya impuls. Selubung mielin ditutupi oleh rangkaian
sel- sel Schwann yang berinti gepeng, disebut selubung Schwann (neurilema). Akson
berasal bagian hillock akson (bukit akson) dari badan sel, yaitu bagian yang tidak
mengandung badan Nissl.
Neuron tidak dapat membelah secara mitosis, tetapi serabutnya dapat beregenerasi jika
badan selnya masih utuh. Jika akson mengalami kerusakan berat, neurilema (lapisan sel-sel
Schwann) melakukan pembelahan mitosis untuk menutup luka.
207
Berdasarkan fungsinya, neuron dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
• Neuron sensor (aferen), berfungsi menghantarkan impuls dari organ sensor ke pusat saraf
(otak atau sumsum tulang belakang).
• Neuron motor (eferen), berfungsi menghantarkan impuls dari pusat saraf ke organ motor
(otot) atau kelenjar.
• Neuron konektor (interneuron), berfungsi menghubungkan neuron yang satu dengan
neuron lainnya.
Berdasarkan strukturnya (juluran sitoplasma), neuron dapat dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu:
• Neuron multipolar, memiliki satu akson dan dua dendrit atau lebih. Contohnya, neuron
motor yang terdapat di otak dan medula spinalis (sumsum tulang belakang).
• Neuron bipolar, memiliki dua juluran berupa dendrit akson. Contohnya, neuron pada
organ indra seperti mata, hidung, dan telinga.
• Neuron unipolar (pseudounipolar), merupakan neuron bipolar yag tampak hanya
memiliki satu juluran dari badan sel karena akson dan dendritnya berfusi. Contohnya,
neuron pada embrio fotoreseptor mata.
208
Sistem Saraf Pusat (SSP)
Sistem saraf pusat meliputi otak (serebral), dan sumsum tulang belakang (medula spinalis).
Otak dilindungi oleh tulang tengkorak, sedangkan medula spinalis dilindungi oleh ruas-ruas
tulang belakang. Pada otak maupun medula spinalis terdapat lapisan pelindung dari jaringan ikat
yang disebut meninges. Meninges terdiri atas tiga lapisan, yaitu:
• Pia mater adalah lapisan terdalam yang halus dan tipis, mengandung banyak pembuluh
darah, serta melekat pada otak atau medulla spinalis.
• Araknoid adalah lapisan tengah, mengandung sedikit pembuluh darah. Araknoid memiliki
ruang subaraknoid yang berisi cairan serebrospinalis, pembuluh darah, dan selaput jaringan
penghubung yang mempertahankan posisi araknoid terhadap pia mater di bawahnya.
Cairan serebrospinalis menyerupai plasma darah dan cairan interstisial, tidak mengandung
protein, berfungsi sebagai bantalan, serta media pertukaran nutrien dan zat sisa antara darah
dengan otak maupun medula spinalis.
• Dura mater adalah lapisan terluar, tebal dan kuat, serta terdiri dari dua lapisan. Pada dura
mater terdapat ruang subdural yang memisahkan dura mater dari araknoid. Lapisan yang
terluar melekat pada permukaan dalam kranium.
Otak maupun medula spinalis memiliki substansi abu-abu dan substansi putih.
• Substansi abu-abu, membentuk bagian luar (korteks) otak dan bagian dalam medula
spinalis. Substasi abu-abu mengandung badan sel neuron, serabut bermielin dan tidak
bermielin, astrosit protoplasma, oligodendrosit, dan mikroglia.
• Substansi putih, membentuk bagian dalam otak dan bagian luar medula spinalis.
Substansi putih didominasi oleh serabut bermielin maupun tidak bermielin, mengandung
oligodendrosit, astrosit fibrosa, dan mikroglia.
1. Otak
Otak manusia diperkirakan mencapai 2% dari keseluruhan berat tubuh, mengonsumsi 25%
oksigen, dan menerima 1,5% darah dari jantung. Otak tersusun dari 100 milyar neuron yang
terhubung oleh sinapsis membentuk anyaman kompleks. Neuron di otak berkomunikasi secara
kimiawi atau berupa muatan listrik yang memungkinkan kita mengalami emosi, berpikir dan
209
mengingat, mengetahui dan mengatur keadaan tubuh sendiri dan lingkungannya, serta secara
sadar mengontrol gerakan tubuh.
Sistem saraf primitif mulai terbentuk sejak embrio pada minggu ke-3 masa kehamilan,
selanjutnya pada minggu ke-4 akan terbentuk tabung saraf yang akan menjadi otak dan medula
spinalis. Bagian kranial pada tabung saraf membentuk tiga bagian yang membesar (vesikel)
yang berdeferensiasi membentuk otak depan, otak tengah, dan otak belakang.
a. Bagian-bagian otak
1) Serebrum (Otak Besar)
Serebrum mengisi bagian depan dan atas rongga tengkorak. Bagian luarnya tersusun dari
substansi abu-abu yang disebut korteks serebral, sedangkan bagian dalamnya tersusun
dari substansi putih yang disebut nukleus basal (ganglia basal).
• Korteks serebral, menempati 80% dari total massa otak, memiliki ketebalan sekitar
5 mm, serta memiliki pelekukan yang meningkatkan luas permukaannya (sekitar 0,5
m2, sering dikaitkan dengan kecerdasan). Korteks serebral terbagi menjadi dua
belahan (hemisfer serebral), yaitu sisi kanan dan kiri yang dihubungkan oleh serat
pita tebal dari bahan putih serebrum yang disebut korpus kalosum. Setiap belahan
terdiri atas empat lobus yang terpisah. Setiap hemisfer memiliki fisura (ceruk dalam)
dan sulkus (ceruk dangkal). Permukaan jaringan otak membentuk bagian bulat
menonjol yang disebut girus. Para peneliti telah mengidentifikasi sejumlah area
fungsional pada lobus masing-masing.
Area fungsional korteks serebral
a. Area motor primer. Bagian lobus frontal (dahi) dari girus presentral,
mengendalikan kontraksi volunter (di bawah kesadaran) otot rangka. Di sisi
anterior girus presentral, mengendalikan aktivitas motor yang terlatih dan
berulang, misalnya kemampuan mengetik. Area Broca (lobus frontal bagian
girus frontalis superior) mengendalikan kemampuan bicara.
b. Area sensor korteks, meliputi:
➢ Area sensor primer, terdapat pada girus postsentral, berfungsi menerima
informasi nyeri, tekanan, suhu, dan sentuhan.
210
➢ Area visual primer, terdapat di lobus oksipital (kepala belakang), berfungsi
menerima informasi dari retina mata.
➢ Area auditori primer, terdapat pada tepi atas lobus temporal (pelipis),
berfungsi menerima impuls pendengaran (suara).
➢ Area olfaktori primer, terdapat pada permukaan medial lobus temporal,
berkaitan dengan indra penciuman.
➢ Area pengecap primer (gustatori), terdapat di lobus parietal (ubun-ubun),
di dekat bagian inferior girus postsentral. Area ini berfungsi untuk persepsi
rasa seperti manis, asin, asam, dan pahit.
c. Area asosiasi, dipetakan menurut klasifikasi Brodmann sebagai berikut.
➢ Area asosiasi frontal, terdapat pada lobus frontal, berfungsi sebagai pusat
intelektual dan fisik.
➢ Area asosiasi somatik, terdapat pada lobus parietal, berfungsi sebagai
pusat interpretasi (penafsiran) bentuk dan tekstur suatu objek.
➢ Area asosiasi visual (pada lobus oksipital) dan area asosiasi auditorik (pada
lobus temporal), berfungsi sebagai pusat interpretasi visual dan auditori.
➢ Area wicara Wernicke, terdapat pada bagian superior lobus temporal,
berfungsi sebagai pusat bahasa dan wicara
• Nukleus basal, merupakan pusat untuk koordinasi motor. Jika bagian ini rusak,
seseorang akan menjadi pasif dan tidak mampu bergerak karena nukleus basal tidak
mampu lagi mengirimkan impuls motor ke otot, contohnya penyakit Parkinson.
2) Diensefalon
Diensefalon terletak di antara serebrum dan otak tengah, tesrsembunyi di balik hemisfer
serebral. Bagian-bagian diensefalon meliputi:
• Talamus, berfungsi menerima dan meneruskan impuls ke korteks otak besar,
serta berperan dalam sistem kesadaran dan kontrol motor.
• Hipotalamus, memiliki fungsi:
➢ Mengendalikan aktifitas sistem saraf otonom atau tak sadar, seperti
pengaturan frekuensi jantung, tekanan darah, suhu tubuh, homeostatis
dan pencernaan makanan.
211
➢ Sebagai pusat pengaturan emosi, seperti kesenangan, kegembiraan, dan
kemarahan.
➢ Mempengaruhi keseluruhan system endokrin (hormone).
• Epitalamus, pita sempit jaringan saraf yang membentuk atap diensefalon dan
berperan dalam dorongan emosi. Pada epitalamus juga terdapat badan pineal
yang berperan dalam fungsi endokrin
3) Sistem Limbik (rinensefalon)
Sistem limbik adalah cincin struktur-struktur otak depan yang mengelilingi otak dan
saling berhubungan melalui jalur-jalur neuron yang rumit. Sistem limbik berfungsi dalam
pengaturan emosi, mempertahankan kelangsungan hidup, pola perilaku sosioseksual,
motivasi, dan belajar.
4) Mesensefalon (otak tengah)
Otak tengah adalah bagian otak pendek yang menghubungkan pons dan serebelum (otak
kecil) dengan serebrum (otak besar). Mesensefalon berfungsi sebagai jalur penghantar dan
pendengaran. Otak tengah, pons, dan medula oblongata disebut batang otak.
5) Pons varolii (Jembatan Varol)
Hampir seluruh bagiannya tersusun dari substansi putih yang berisi serabut saraf yang
menghubungkan otak kecil kiri dan kanan, serta menghubungkan otak besar dan sumsum
tulang belakang. Pons Varolii berfungsi untuk mengatur frekuensi dan kekuatan bernapas
6) Serebelum (Otak Kecil)
Serebelum adalah bagian otak yang sangat berlipat, terletak di bawah lobus oksipital dan
melekat di bagian punggung atas batang otak. Serebelum berfungsi untuk mempertahankan
keseimbangan, kontrol gerakan mata, meningkatkan tonus (kontraksi) otot, serta
koordinasi gerakan sadar yang berkaitan dengan keterampilan (misalnya mengetik, main
piano, berlari).
7) Medula Oblongata
Bagian yang menjulur dari pons hingga medula spinalis, dengan panjang sekitar 2,5 cm.
Medula oblongata berfungi dalam pengendalian frekuensi denyut jantung, tekanan darah,
pernapasan, gerakan alat pencernaan makanan, menelan, muntah, sekresi kelenjar
pencernaan makanan, serta mengatur gerak refleks seperti bersin, batuk, dan berkedip.
212
8) Formasi Retikuler
Jaring-jaring serabut saraf dan badan sel yang tersebar di seluruh bagian medula oblongata,
pons, dan otak tengah. Formasi retikuler berfungsi untuk memicu dan mempertahankan
kewaspadaan serta kesadaran.
2. Medula Spinalis (Sumsum Tulang Belakang)
Medula spinalis berbentuk silinder langsing yang memanjang dari batang otak medula
oblongata hingga ruas ke-2 tulang pinggang. Panjang medula spinalis sekitar 45 cm dengan
diameter 2 cm. Fungsinya mengendalikan berbagai aktivitas refleks dalam tubuh, komunikasi
antara otak dengan semua bagian tubuh, serta menghantarkan rangsangan koordinasi antara
otot dan sendi ke serebelum.
Impuls sensor dari reseptor dihantarkan masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk
dorsal, sedangkan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral
menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor)
yang akan menerima impuls dari sel saraf sensor dan akan menghantarkannya ke saraf motor.
Medula spinalis bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berwarna abu-abu
dan berbentuk seperti huruf H.
a. Struktur bagian dalam (substansi abu-abu)
• Tanduk abu-abu posterior (dorsal), batang vertikal atas, mengandung badan
sel yang menerima impuls melalui saraf spinal dari neuron sensor.
• Tanduk abu-abu anterior (ventral), batang vertikal bawah, mengandung
neuron otor yang aksonnya mengirimkan impuls melalui saraf spinal ke otot
dan kelenjar.
• Tanduk lateral substansi abu-abu, bagian antara tanduk posterior dan
anteriot, mengandung badan sel neuron system saraf otonom (SSO).
• Komisura abu-abu, menghubungkan substansi abu-abu sisi kiri dan kanan
medula spinalis.
b. Struktur bagian luar (substansi putih)
Substansi putih tersusun dari akson yang bermielin. Bagian ini terbagi
menjadi funikulus (kolumna) anterior (ventral), posterior, ventrolateral, dan lateral.
Dalam funikulus terdapat traktus (fasikulus) spinal, yaitu:
213
• Traktus sensor (asenden), berperan dalam penyampaian informasi dari
tubuh ke otak. Informasi tersebut, misalnya sentuhan, suhu, nyeri, tekanan,
posisi tubuh, keseimbangan, dan arah gerak.
• Traktus motor (desenden), berperan membawa impuls motor dari otak ke
medula spinalis dan dari saraf spinal menuju ke tubuh. Traktus motor
berfungsi menghantarkan impuls untuk koordinasi dan ketepatan gerakan
volunter (sadar), serta mempertahankan tonus (kontraksi) otot dalam
aktivitas refleks.
Sistem Saraf Tepi (SST)
Sistem saraf tepi (sistem saraf perifer) terdiri atas jaringan saraf yang berada di luar otak
dan di luar medula spinalis. Sistem ini meliputi saraf kranial yang berasal dari otak dan saraf
spinal yang berasal dari medula spinalis. Pada sistem saraf tepi terdapat ganglion (ganglia =
jamak), yaitu struktur lonjong yang mengandung badan sel neuron dan sel glia yang ditunjang oleh
jaringan ikat.
1. Saraf Kranial
Saraf kranial (cranial nerve, CN) terdiri atas 12 pasang saraf. Sebagian besar tersusun dari
serabut sensori dan motor, tetapi beberapa saraf hanya tersusun dari serabut sensori. Saraf-
saraf tersebut diberi nama dan disusun dengan angka romawi.
2. Saraf Spinal
Setiap saraf spinal terdiri atas satu radiks dorsal (posterior) dan ventral (anterior). Setiap
radiks yang memasuki atau meninggalkan korda membentuk 7 - 10 cabang radiks (rootlet).
Radiks dorsal terdiri atas kelompok serabut sensori yang memasuki korda, sedangkan radiks
ventral terdiri atas kelompok serabut motor dari korda. Bagian yang membesar pada radiks
dorsal disebut ganglion radiks dorsal yang mengandung neuron sensor.
Saraf spinal terdiri atas 31 pasang saraf yang muncul dari segmen-segmen medula spinalis
dan diberi nama sesuai nama ruas tulang belakang. SST meliputi serat-serat saraf yang
membawa informasi antara sistem saraf pusat dan bagian tubuh lainnya. Berdasarkan arah
impuls yang dibawanya, SST dibagi menjadi divisi aferen dan eferen.
214
Sistem saraf eferen dibagi menjadi sistem saraf somatik dan sistem saraf otonom. Sistem
saraf somatik terdiri atas serat-serat neuron motor yang terdapat pada otot rangka. Sementara
itu, system saraf otonom terdiri atas serat-serat yang terdapat pada otot polos, otot jancung,
dan kelenjar. Sistem saraf otonom dibagi menjadi dua jenis berdasarkan fungsinya, yaitu
sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis.
a. Sistem Saraf Simpatis
Serat saraf simpatis berasal dari segmen toraks dan lumbar medula spinalis.
Sebagian besar serat praganglion sangat pendek, memiliki sinapsis, dan memiliki badan
sel neuron pascaganglion yang berada di dalam ganglion pada rantai ganglion simpatis
di sepanjang kedua sisi medula spinalis. Serat pascaganglion panjang. berasal dari
rantai ganglion, dan berakhir di organ efektor. Serat aganglion mengeluarkan
neurotransmiter, asetilkolin, sedangkan serat pascaganglion mengeluarkan
noradrenalin (norepinefrin) Neuron sensori membawa informasi dari otot laring, faring,
trapezius (punggung), dan sternokleidomastoid (leher depan). 12 Saraf hipoglosal (CN
XII) Sensor, motor Neuron motor membawa impuls dari medula ke otot lidah. Neuron
sensori membawa informasi dari spindel otot lidah. sehingga disebut serat adrenergik.
Baik asetilkolin maupun norepinefrin, berfungsi sebagai pembawa pesan kimiawi.
Sistem simpatis mendorong respons-respons yang mempersiapkan tubuh untuk
beraktivitas fisik berat dalam situasi darurat atau stress, yang disebut respons lawan
(respons lari).
Oleh karena itu, tubuh membutuhkan hal-hal yang mendukung situasi tersebut,
misalnya jantung berdenyut lebih cepat dan kuat, tekanan darah meningkat, saluran
napas membuka lebar, glikogen dan simpanan lemak diuraikan untuk menghasilkan
energi, dan keringan meningkat.
b. Sistem Saraf Parasimpatis
Serat saraf parasimpatis berasal dari area kranial (otak) dan sacrum (di bagian
bawah medulla spinalis). Serat praganglion parasimpatis lebih panjang dari pada serat
praganglion simpatis. Serat praganglion maupun pascaganglion pada sistem saraf
parasimpatis mengeluarkan neurotransmitter yang sama, yaitu asetilkolin sehingga
disebut serat kolinergik.
215
Sistem parasimpatis bekerja pada keadaan tenang dan mendorong fungsi tubuh
untuk istirahat dan mencerna. Jadi, fungsi sistem parasimatis berlawanan dengan sistem
simpatis.
216
BIOLOGI KELAS XI
Sistem Hormon
Nama : Muhammad Zinedine Ismail
Kelas : XI IPA 5
Guru : Puspani, M.Pd
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA NEGERI 1 BALIKPAPAN
TAHUN 2021
217
Sistem Endokrin (Hormon)
Sistem endokrin adalah sekumpulan kelenjar dan organ yang memproduksi hormon. Hormon
(Yunani, horman = yang menggerakkan) adalah senyawa organik pembawa pesan kimiawi di
dalam aliran darah menuju ke sel-sel atau jaringan tubuh. Hormon hanya dapat memengaruhi sel-
sel target yang memiliki reseptor khusus. Pengaruh hormon terhadap jaringan tubuh tersebut
dapat terjadi dalam waktu singkat (beberapa detik) hingga beberapa tahun. Jumlah hormon
dalam aliran darah hanya sedikit jika dibandingkan dengan jumlah glukosa atau kolesterol.
Sistem endokrin berinteraksi dengan sistem saraf berfungsi mengatur aktivitas tubuh seperti
metabolisme, homeostasis (misalnya pengendalian tekanan darah dan kadar gula darah),
pertumbuhan, perkembangan seksual dan siklus reproduksi, siklus tidur, serta siklus nutrisi.
A. Karakteristik Kelenjar Endokrin
Kelenjar endokrin memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut.
• Merupakan kelenjar buntu, karena tidak memiliki saluran (duktus) dan
menyekresikan hormon langsung ke dalam cairan di sekitar sel-sel.
• Pada umumnya menyekresi lebih dari satu jenis hormon, kecuali kelenjar
paratiroid yang hanya menyekresi hormone paratiroid.
• Memiliki sejumlah sel sekretori yang dikelilingi banyak pembuluh darah
dan ditopang oleh jaringan ikat.
• Masa aktivitas kelenjar endokrin dalam menghasilkan hormon berbeda-
beda, ada yang seumur hidup (contohnya hormon metabolisme), dimulai
pada masa tertentu (contohnya hormone kelamin), atau bekerja sampai
masa tertentu (contohnya hormon pertumbuhan).
• Sekresi hormon dapat distimulasi atau dihambat oleh kadar hormon lainnya
dan senyawa nonhormon (misalnya glukosa dan kalsium) dalam darah, serta
impuls saraf.
B. Kelenjar Endokrin dan Sekresi Hormon
Kelenjar endokrin pada manusia meliputi hipofisis (pituitari), tiroid,
paratiroid, adrenal, pankreas, pineal, dan timus.
218
1. Hipofisis (pituitari), organ berbentuk oval, melekat di bagian dasar hipotalamus otak,
sebesar kacang, memiliki berat 0,5 gram. Hipofsis terbagi menjadi tiga bagian, yaitu
lobus anterior, intermedia, dan posterior.
a. Hipofisis lobus anterior, menghasilkan hormon-hormon sebagai berikut.
(1) Hormon pertumbuhan (growth hormone / GH) atau hormon
somatotropin (STH) yang berfungsi:
• Mengendalikan pertumbuhan dan perbanyakan sel-sel tubuh.
Contoh pada pertumbuhan tulang dan pertambahan massa otot
rangka.
• Menyebabkan hati memproduksi somatomedin yang berperan
dalam pertumbuhan tulang dan kartilago.
• Mempercepat laju sintesis protein dengan cara meningkatkan
pemasukan asam amino melalui membran sel.
• Menurunkan laju penggunaan karbohidrat oleh sel-sel tubuh,
sehingga menambah kadar glukosa darah.
• Meningkatkan pemakaian lemak untuk energi.
Abnormalitas sekresi growth hormone / GH:
• Kerdil (dwarfism), jika kekurangan (hiposekresi) GH selama
masa anak-anak sehingga pertumbuhan terhenti.
219
• Gigantisme, akibat kelebihan (hipersekresi) GH selama masa
remaja sebelum penutupan cakram epifisis yang menyebabkan
pertumbuhan tulang panjang berlebihan.
• Akromegali, pembesaran tulang yang tidak proposional seperti
penambahan ketebalan tulang pipih pada wajah, serta
pembesaran pada tangan dan kaki. Akromegali terjadi akibat
hipersekresi GH selama masa remaja setelah penutupan cakram
epifisis.
(2) Hormon perangsang tiroid (tirotropin, thyroid stimulating hormone
/ TSH).
Hormon TSH berfungsi meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan
sel-sel kelenjar tiroid (kelenjar gondok), laju produksi hormonnya
(tiroksin), dan metabolisme sel. Pajanan udara dingin dalam waktu lama
akan merangsang produksi tiroksin sehingga mempercepat metabolimse
untuk menghangatkan tubuh.
(3) Hormon adrenokortikotropik atau kortikotropin
(adrenocorticotropic hormone / ACTH). Hormon ACTH berfungsi
merangsang kelenjar korteks adrenal untuk menyekresi glukokortikoid
(hormon untuk metabolisme karbohidrat).
(4) Hormon gonadotropin atau gonadotropik yang mengatur fungsi
gonad. Hormon gonadotropin terdiri atas:
FSH (follicle stimulating hormone)
• Pada wanita : FSH berfungsi untuk menstimulasi pertumbuhan
folikel ovarium dan memproduksi hormon estrogen.
• Pada laki-laki : FSH berfungsi untuk menstimulasi pertumbuhan
dan perkembangan spermatozoa dalam tubulus seminiferous
testis.
LH (luteinizing hormone)
• Pada wanita : LH bekerja sama dengan FSH menstimulasi
produksi estrogen. LH berperan dalam ovulasi dan sekresi
progesteron.
220
• Pada laki-laki : LH menstimulasi sel-sel interstisial tubulus
seminiferous testis untuk memproduksi androgen (testosteron).
(5) Hormon prolactin (PRL), disekresikan pada saat hamil dan menyusui.
b. Hipofisis lobus intermedia (tengah), menghasilkan endorfin dan melanocyte
stimulating hormone (MSH). Hormon ini juga dihasilkan di lobus anterior.
• Endorfin, zat penghilang nyeri alamiah, merespons stres, dan aktivitas
seperti olahraga.
• MSH, merangsang pembentukan pigmen dan penyebaran sel-sel
penghasil pigmen (melanosit) pada epidermis.
c. Hipofisis lobus posterior, menghasilkan hormon ADH (antidiuretic hormone)
dan oksitosin.
• ADH, berfungsi untuk menurunkan volume air yang hilang dalam urine
melalui peningkatan reabsorpsi air dari tubulus kontortus distal dan
duktus kolektivus di ginjal. Hiposekresi ADH menyebabkan diabetes
insipidus (produksi urine berlebihan) disertai rasa haus yang terus
menerus. Hipersekresi ADH menyebabkan peningkatan volume darah.
• Oksitosin, berfungsi menstimulasi kontraksi otot polos saat melahirkan
dan pengeluaran ASI. Pelepasan oksitosin dan ASI dihambat oleh stres
emosional.
2. Tiroid (kelenjar gondok), terdiri atas folikel-folikel dalam dua lobus lateral yang
terletak dibawah laring. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin
(tetraiodotironin/T4) sebanyak 90% dan triiodotironin (T3) sebanyak 10% dari seluruh
sekresi tiroid. Hormon tersebut terbuat dari asam amino tirosin yang mengandung
iodin. Jika kekurangan iodin dalam waktu yang lama, tiroid akan membengkak
(penyakit gondok/goiter). Hormon tiroksin berfungsi meningkatkan laju metabolisme
sel, menstimulasi konsumsi oksigen, meningkatkan pengeluaran energi panas, serta
mengatur pertumbuhan dan perkembangan normal tulang, gigi, jaringan ikat, dan saraf.
Abnormalitas sekresi tiroid:
221
• Hipotiroidisme (penurunan sekresi hormon),menyebabkan penurunan
metabolisme, konstipasi, reaksi mental lambat, dan peningkatan simpanan
lemak. Pada anak-anak menyebabkan kretinisme yang ditandai dengan
keterlambatan mental dan fisik. Pada orang dewasa menyebabkan miksedema
yang ditandai dengan terjadinya edema (akumulasi air dan musin di bawah
kulit).
• Hipertiroidisme (sekresi hormon berlebihan),menyebabkan peningkatan
metabolisme, berat badan menurun, gelisah, diare, frekuensi denyut jantung
meningkat, toksisitas hormon, dan penyakit Grave (pembengkakan jaringan di
bawah kantong mata sehingga bola mata menonjol).
3. Paratiroid (kelenjar anak gondok), terdiri atas empat organ kecil berukuran sebesar
biji apel, terletak pada permukaan belakang tiroid. Paratiroid menyekresikan hormon
parathormon (Parathyroid hormone / PTH). PTH berfungsi mengendalikan
keseimbangan kalsium dan fosfat dalam tubuh melalui:
• Stimulasi aktivitas osteoklas (sel penghancur tulang) yang menyebabkan
pengeluaran kalsium,
• Pengakifan vitamin D yang diperlukan untuk mengabsorpsi kalsium dalam
makanan, dan
• Stimulasi reabsorpsi kalsium dari tubulus ginjal sehingga menurunkan
kehilangan ion kalsium dalam urine dan meningkatkan kadar kalsium dalam
darah.
Abnormalitas sekresi PTH:
• Hiperparatiroidisme, menyebabkan peningkatan aktivitas osteoklas dan
pelemahan tulang.
• Hipoparatiroidisme, menyebabkan penurunan kadar kalsium dalam darah,
peningkatan iritabilitas sistem neuromuskular, dan tetanus (kejang otot rangka).
4. Adrenal (suprarenalis/kelenjar anak ginjal), terletak di kutub atas ginjal, berwarna
kuning, dan tertanam pada jaringan adiposa. Kelenjar adrenal terdiri atas korteks di
bagian luar dan medula di bagian dalam.
222
Kelenjar adrenal bagian medula menghasilkan hormon:
• Adrenalin (Epinefrin), meningkatkan frekuensi jantung, metabolisme, dan
konsumsi oksigen.
• Noradrenalin (Norepinefrin), meningkatkan tekanan darah dan menstimulasi
otot jantung.
Kelenjar adrenal bagian korteks menghasilkan hormon:
• Aldosteron, mengatur keseimbangan air dan elektrolit melalui pengendalian
kadar natrium dan kalium dalam darah.
• Glukokortikoid (kortisol, kortison, dan kortikosteron), memengaruhi
metabolisme glukosa, protein, lemak, serta menjaga membran lisosom sehingga
mencegah kerusakan jaringan.
• Gonadokortikoid (steroid kelamin), sebagai prekursor pengubahan
testosteron dan estrogen oleh jaringan lain.
Abnormalitas sekresi tiroid:
• Hiposekresi menyebabkan penyakit Addison, dengan gejala
ketidakseimbangan natrium dan kalium dalam darah sehingga kulit menghitam.
• Hipersekresi menyebabkan peningkatan tekanan darah, cushing disease
(kelemahan otot serta penumpukan lemak di leher dan wajah), sindrom
adrenogenital (terjadi pubertas dini), serta perempuan dewasa yang memiliki
karakteristik pria (tumbuh rambut di wajah, suara menjadi berat, dan
perkembangan otot).
5. Pankreas, organ berbentuk pipih dan terletak di bagian belakang bawah lambung.
Pankreas sebagai endokrin menghasilkan hormon, yaitu:
• Glukagon, dihasilkan oleh sel alfa, berfungsi meningkatkan penguraian
glikogen hati menjadi glukos sehingga kadar gula darah meningkat, dan sintesis
glukosa dari sumber nonkarbohidrat dalam hati.
• Insulin, dihasilkan oleh sel beta, berfungsi menurunkan katabolisme lemak dan
protein, menurunkan kadar gula darah, serta meningkatkan sintesis protein dan
lemak.
223
• Somatostatin, dihasilkan oleh sel delta, merupakan penghalang hormon
pertumbuhan dan penghambat sekresi glukagon dan insulin.
• Polipeptida pankreas, hormon pencernaan yang dilepaskan setelah makan,
fungsi belum diketahui
Abnormalitas sekresi tiroid:
Defisiensi Insulin menyebabkan diabetes mellitus. Diabetes mellitus dapat disebabkan
oleh faktor genetik, obesitas, penyakit autoimun, virus, lingkungan, ekonomi, dan
budaya.
6. Pineal (epifisis serebri), terletak di langit-langit otak, menghasilkan melatonin yang
berpengaruh pada pelepasan gonadotropin dan menghambat produksi melanin.
Produksi melatonin terendah terjadi pada siang hari dan terbesar pada malam hari.
7. Timus, terdiri atas dua lobus berwarna kemerah-merahan, terletak di bagian posterior
toraks di atas jantung. Pada bayi yang baru lahir, bentuknya sangat kecil, hanya sekitar
10 gram. Ukurannya bertambah pada masa remaja/pubertas, menjadi sekitar 30 – 40
gram. Namun, setelah dewasa berangsur-angsur menyusut. Timus menghasilkan
timosin untuk pengendalian perkembangan sistem imun.
8. Ovarium, testis, dan plasenta. Ovarium menghasilkan hormon estrogen dan
progesteron. Testis menghasilkan hormon testosteron. Plasenta menghasilkan
gonadotropin korion, estrogen, progesteron, dan somatotropin.
224
BIOLOGI KELAS XI
Sistem Indera
Nama : Muhammad Zinedine Ismail
Kelas : XI IPA 5
Guru : Puspani, M.Pd
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA NEGERI 1 BALIKPAPAN
TAHUN 2021
225
Struktur dan Fungsi 5 Indera Sebagai Sistem Koordinasi
A. Indra Penglihat (Mata)
Mata adalah sistem optik yang memfokuskan berkas cahaya pada fotoreseptor dan
mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf.
Mata adalah indera yang berfungsi untuk melihat lingkungan sekitarnya dalam
bentuk gambar, sehingga dengan mata bisa mengenali benda-benda yang ada di
sekitarnya dengan cepat.
Struktur Mata dan Fungsinya:
a. Lapisan luar bola mata:
• Tunika fibrosa, lapisan terluar yang keras
• Sklera, bagian dinding mata yang tersusun dari jaringan ikat
fibrosa berwarna putih, memberikan bentuk pada bola mata, dan
sebagai tempat perlekatan otot ekstrinsik.
• Kornea, untuk mentransmisi dan memfokuskan cahaya.
226
b. Lapisan tengah bola mata yang terdiri atas koroid, badan siliari, iris,
dan pupil
c. Lensa, struktur bikonveks yang bening di belakang pupil dan bersifat
elastis. Berfungsi untuk meneruskan dan memfokuskan pada cahaya agar
bayangan benda jatuh ke lensa mata.
d. Rongga mata, ruang aterior berisis aqueous humor (cairan bening yang
mengandung nutrisi untuk lensa dan kornea), sedangkan ruang posterior
berisis vitreous humor (gel transparan untuk mempertahankan bentuk
bola mata dan posisis retina terhadap kornea)
e. Retina (selaput jala), lapisan terdalam mata, tipis dan transparan.
Berfungsi untuk membentuk sebuah bayangan benda yang kemudian
dikirim oleh saraf mata ke otak. Retina tersusun dari:
• Bagian luar
• Bagian dalam
• Lutea makula
• Fovea sentralis (bintik kuning)
• Saraf mata
• Bintik buta (diskus optik)
B. Indra Pembau (Hidung)
Hidung (nasal) sebagai indra pembau (penciuman) memiliki kemoreseptor
olfaktori yang berfungsi menerima rangsangan berupa bau atau zat kimia yang berbentuk
gas . Kemoreseptor olfaktori merupakan neuron khusus yang terletak pada epitelium
olfaktori di langit-langit rongga hidung. Epitelium olfaktori mengandung sel penunjang,
sel basal, dan sel olfaktori. Sel olfaktori berupa neuron bipolar yang berakhir pada
rambut-rambut halus (silia) yang menonjol ke dalam mukus di dalam rongga hidung.
Struktur Hidung dan Fungsinya:
227
• Lubang hidung, mempunyai fungsi untuk keluar masuknya sebuah udara.
• Rambut hidung, mempunyai fungsi untuk menyaring sebuah udara yang
masuk ketika bernapas.
• Selaput lendir, mempunyai fungsi sebagai tempat menempelnya sebuah
kotoran dan sebagai indra pembau.
• Serabut saraf, mempunyai fungsi untuk mendeteksi zat kimia yang ada
pada udara pernapasan.
• Saraf pembau, mempunyai fungsi untuk mengirimkan bau-bauan ke
bagian otak.
C. Indra Pengecap (Lidah)
Lidah sebagai indra pngecap memiliki kemoreseptor berupa kuncup pengecap
(taste bud). Kuncup pengecap terdapat pada papila lidah, palatum (langit-langit) lunak,
epiglotis, dan faring. Papila lidah dapat dibedakan menjadi empat macam berdasarkan
bentuknya, yaitu:
• papila filiformis, berbentuk kerucut, kecil, menutupi bagian dorsum lidah
(permukaan atas), dan tidak mengandung kuncup pengecap
• papila fungiformis, berbentuk bulat, banyak terdapat di dekat ujung lidah,
mengandung lima kuncup pengecap pada setiap papila
228
• papila sirkumvalata, berbentuk menonjol dan tersusun seperti huruf V,
banyak terdapat di bagian belakang lidah, serta mengandung 100 kuncup
pengecap.
• papila foliata, berbentuk seperti daun, terletak di bagian tepi pangkal
lidah, dan mengandung sekitar 1.300 kuncup pengecap di setiap
lipatannya.
Kuncup pengecap terdiri atas sel-sel penunjang dan sel sensor (sel pengecap)
yang berambut. Substansi yang dirasakan harus berbentuk cairan atau larut dalam air
ludah. Area kepekaan rasa pada lidah sebagai berikut.
• Pengecap rasa manis, terdapat di bagian ujung lidah.
• Pengecap rasa asin, terdapat pada hampir seluruh area lidah, tetapi
reseptor banyak terkumpul di bagian samping.
• Pengecap rasa asam, terdapat di bagian samping lidah agak ke belakang
• Pengecap pahit, terdapat di bagian belakang pangkal lidah.
D. Indra Pendengar (Telinga)
Telinga berfungsi sebagai indra pendengar yang mampu mendeteksi gelombang
bunyi/suara, serta berperan penting dalam keseimbangan dan menentukan posisi tubuh.
229
Struktur Telinga :
a. Telinga bagian luar, terdiri dari daun telinga, lubang telinga dan liang
pendengaran
b. Telinga bagian tengah, terdiri dari gengdang telinga, 3 tulang pendegar
(martil, landasan, dan sanggurdi) dan saluran eustachius.
c. Telinga bagian dalam, terdiri dari alat keseimbangan tubuh, tiga saluran
setengah lingkaran, tingkap jorong, tingkap bundar dan rumah siput
(koklea).
Fungsi Bagian pada Telinga :
a. Daun telinga, lubang telinga, dan liang pendengaran mempunyai
fungsi untuk menangkap dan mengumpulkan suatu gelombang bunyi.
b. Gendang telinga ini mempunyai fungsi untuk menerima sebuah rangsang
bunyi dan meneruskannya ke bagian yang lebih dalam.
c. Tiga tulang pendengaran (tulang martil, landasan, dan sanggurdi)
mempunyai fungsi untuk memperkuat sebuah getaran dan meneruskannya
ke koklea atau rumah siput.
d. Tingkap jorong, tingkap bundar, tiga saluran setengah lingkaran, dan
koklea (rumah siput) mempunyai fungsi untuk mengubah impuls dan
diteruskan ke otak. pada Tiga saluran setengah lingkaran juga mempunyai
fungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh.
230
e. Saluran eustachius berfungsi untuk menghubungkan suatu rongga mulut
dengan telinga bagian luar.
E. Indra Peraba (Kulit)
Kulit adalah salah satu alat indera yang mampu untuk menerima sebuah
rangsangan temperatur suhu, sentuhan,rasa sakit, tekanan, tekstur, dan lain sebagainya.
Pada kulit terdapat sebuah reseptor yang peka terhadap sebuah rangsangan
fisik (mekanoreseptor).
Contohnya yaitu pada sentuhan, tekanan, panan, dingin, dan nyeri. Reseptor ini
juga berupa ujung saraf yang bebas ataupun ujung saraf yang diselubungi sebuah kapsul
jaringat ikat.
Umumnya pada setiap jenis reseptor hanya bisa menerima satu jenis rangsang
saja. Kulit mempunyai fungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya pada otot
dan tulang, dan sebagai alat peraba dengan dilengkapi berbagai macam reseptor yang
peka terhadap berbagai suatu rangsangan yaitu sebagai alat ekskresi serta untuk pengatur
suhu tubuh.
Struktur Kulit dan Fungsinya:
• Kulit ari, mempunyai fungsi untuk mencegah masuknya sebuah bibit
penyakit dan untuk mencegah penguapan air dari dalam tubuh.
• Kelenjar keringat, mempunyai fungsi untuk menghasilkan suatu
keringat.
• Lapisan lemak, mempunyai fungsi untuk menghangatkan suatu tubuh.
231
• Otot penggerak rambut, mempunyai fungsi untuk mengatur sebuah
gerakan rambut.
• Pembuluh darah, mempunyai fungsi untuk mengalirkan darah keseluruh
tubuh.
232
BAB X
SISTEM REPRODUKSI
Jurnal Biologi 1
Bab 10
Nama : Muhammad Zinedine Ismail
Kelas : XI IPA 5
Tanggal : Rabu, 5 Mei 2021
1. Pembicaraan :
Rabu, 5 Mei 2021, adalah hari pertama pembelajaran biologi di BAB 10 bersama Bu Puspa.
Jam pelajaran ini berlangsung dari jam pelajaran 5 sampai ke 6 bersama dengan kelas XI IPA 4
dan juga merupakan jam pelajaran terakhir pada hari Jumat.
Pada awal pertemuan, Bu Puspa menyampaikan bahwa akan diadakan UAS dari tanggal
24 Mei sampai 5 juni, Bu Puspa juga membahas tentang ulangan harian BAB 9 kemarin. Disini
Bu Puspa membahas tentang pengumpulan tugas tugas jurnal serta portofolio selama pembelajaran
biologi di kelas 11 yang akan disatukan dan dikumpul nantinya dalam bentuk buku. Setelah itu Bu
Puspa pun mulai membahas tentang materi BAB 10 yaitu tentang sistem reproduksi, Bu Puspa
memulai dengan meminta Afif IPA 4 untuk mempresentasikan powerpoint tentang sistem
reproduksi. Setelah selesai membahas sistem reproduksi pembelajaran pun ditutup.
2. Kesan dan Pesan :
Pembelajaran pada hari ini berlangsung dengan lancar dan juga materi yang disampaikan
sudah jelas dan juga bisa dipahami. Saya berharap agar pada BAB 10 ini semua murid memahami
materi dengan baik dan juga mendapatkan nilai yang lebih meningkat dari nilai-nilai kemarin.
Saya juga berharap agar tugas-tugas semua siswa dapat dikumpulkan dengan lengkap dari
pertemuan paling awal hingga paling akhir.
233
Bukti Screenshot :
234
BAB XI
SISTEM PERTAHANAN TUBUH
Jurnal Biologi 1
Bab 11
Nama : Muhammad Zinedine Ismail
Kelas : XI IPA 5
Tanggal : Jumat, 7 Mei 2021
1. Pembicaraan :
Jumat, 7 Mei 2021, adalah hari pertama pembelajaran biologi di BAB 11 bersama Bu
Puspa. Jam pelajaran ini berlangsung dari jam pelajaran 5 sampai ke 6 bersama dengan kelas XI
IPA 4 dan juga merupakan jam pelajaran terakhir pada hari Jumat.
Pada pertemuan kali ini, Bu Puspa menyampaikan bahwa Bu Puspa tidak akan menyalakan
kamera dikarenakan untuk hari ini Bu Puspa ingin agar siswa yang aktif berbicara sehingga pada
hari ini, masing-masing siswa di meet diminta untuk memberikan satu penjelasan mengenai sistem
pertahanan tubuh. Bu Puspa juga menyampaikan bahwa setiap penjelasan yang diberikan oleh satu
siswa harus dicatat oleh siswa yang lainnya. Setelah itu kegiatan ini dimulai dengan absen pertama
kelas IPA 4, dilanjutkan absen pertama IPA 5, dan dilanjutkan seterusnya secara selang seling.
Setelah semua siswa sudah menyampaikan penjelasan, Bu Puspa menyampaikan bahwa akan
diberikan 10 pertanyaan tentang kata kunci dari kalimat yang disudah disampaikan tadi. Bu Puspa
memberikan pertanyaan-pertanyaan ini di chat meet dengan menyebutkan nama salah satu siswa,
dan para siswa harus menjawab dengan kata kunci dari kalimat yang dibaca oleh siswa yang
disebut oleh Bu Puspa tersebut. Setelah selesai memberikan pertanyaan dan juga sudah dijawab,
pembelajaran pun ditutup.
2. Kesan dan Pesan :
Pembelajaran pada hari ini berlangsung dengan lancar. Cara belajar yang dilakukan hari
ini pun berbeda. Menurut saya, cara pembelajran ini membuat siswa agar lebih aktif dan
memerhatikan setiap kalimat yang disampaikan di meet. Saya berharap agar semua siswa
mendapatkan nilai yang baik di BAB 11 ini maupun di UAS nanti.
235
Bukti Screenshot :
236
BIOLOGI KELAS XI
Portofolio Bab 11
Nama : Muhammad Zinedine Ismail
Kelas : XI IPA 5
Guru : Puspani, M.Pd
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA NEGERI 1 BALIKPAPAN
TAHUN 2021
237
Sistem Pertahanan Tubuh
1. Aaliyah Vayza Suryo:
Sistem pertahanan tubuh adalah sistem pertahanan yang berperan dalam mengenal,
menghancurkan, serta menetralkan benda asing atau sel abnormal yang berpotensi
merugikan tubuh.
2. Albert Sanjaya Ong:
Fungsi sistem pertahanan tubuh yaitu mempertahankan tubuh dari patogen invasif,
misalnya virus dan bakteri, melindungi tubuh terhadap suatu agen dari lingkungan
eksternal, menyingkirkan sel sel yang sudah rusak akibat suatu penyakit atau cedera, dan
mengenali dan menghancurkan sel abnormal seperti kanker.
3. Adastra Peraspera Tarigan:
Alat yang menghalangi dalam imunitas bawaan, seperti kulit, air mata, mukus (cairan
lengket dan tebal yang disekresikan oleh membran dan kelenjar mukosa), dan air ludah.
Mereka berfungsi untuk mencegah laku peradangan setelah terjadi luka atau infeksi.
4. Aldinan Ihsan Yustono:
Tubuh memiliki 2 macam mekanisme pertahanan dalam tubuh, yaitu pertahanan non
spesifik (alamiah) dan pertahanan spesifik(adaptif). Pertahanan non spesifik merupakan
imunitas bawaan sejak lahir,berupa komponen normal tubuh yang ditemukan di individu
sehat.
5. Afif Dzulfiqar Al-Fajr:
Pertahanan nonspesifik meliputi pertahanan fisik, kimia, dan mekanisme terhadap agen
infeksi; fagositosis, inflamasi; serta zat antimikroba spesifik yang diproduksi tubuh
6. A ’ D
Pertahanan fisik dan alamiah meliputi kulit yang sehat dan Utuh, Membran mukos,
Cairan tubuh yang mengandung zat kimia Antimikroba, Pembilasan oleh air mata salivah
dan urin.
7. Alfonsus Dwi Saputro:
Kekebalan adalah kemampuan tubuh untuk menahan atau menghilangkan benda asing
serta sel sel abnormal disebut imunitas atau kekebalan.
238
8. Alya Herliani Putri:
Inflamasi adalah reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cidera yang disebabkan
terbakar, toksin, produk bakteri, dan gigitan serangga, atau pukulan keras.
9. Alya Rahimah:
Zat antimikroba nonspesifik yang diproduksi tubuh dapat bekerja tanpa adanya interaksi
antigen dan antibodu sebagai pemicu, contoh: interferon dan komplemen.
10. Andi Ailman El-Barr:
Komponen respon imunitas spesifik melibatkan dua komponen, yaitu antigen dan
antibodi.
11. Alya Sakila:
Di dalam interaksi antibodi dan antigen, terdapat fiksasi komplemen yaitu aktivasi sistem
komplemen (± protein serum) oleh antibodi, yang jika terjadi infeksi, protein pertama
dalam rangkaian protein komplemen diaktifkan, kemudian memicu aktivasi protein-
protein berikutnya, hasilnya merupakan virus dan sel-sel patogen yang mengalami lisis.
12. Ashaz Feroz Modak:
Hipersensitivitas adalah peningkatan sensitivitas atau reaktivitas terhadap antigen yang
pernah dipanjankan atau dikenal sebelumnya.
13. Aurelia Feodora Quon Sarapil:
Interaksi antibodi dan antigen ada fiksasi komplemen, netralisasi, aglutinasi, dan
presipitasi.
14. Boeih Poernama:
Jenis imunitas terhadap penyakit (patogen) dapat dibedakan menjadi 2 macam :
• Imunitas aktif (alami dan buatan)
• Imunitas pasif (Alami dan buatan)
15. Brandon Adhitya Sugiarto :
Pertahanan spesifik(adaptif) dapat dibedakan menjadi 2 macam,yaitu imunitas yang
diperantarai oleh antibody dan imunitas yang diperantarai oleh sel.
16. Cantika Fitria Putri Fardi:
Sel-sel yang terlibat dalam respons imunitas adalah sel B, sel T, makrofag, dan sel
pembunuh alami.
17. Candyle Gita Royani Tomme:
239
Faktor yang memengaruhi sistem pertahanan tubuh yaitu Genetik (keturunan), Fisiologis,
Stress, Usia, Hormon, Olahraga, Tidur, Nutrisi, Pajanan zat berbahaya, Racun tubuh,
Penggunaan obat-obatan.
18. Deswita Istiyanti :
Mekanisme respons imunitas seluler (diperantarai sel), ada 2, yaitu: Ekstraseluler (jika
antigen dicerna oleh makrofag) Intraseluler (jika antigen menginfeksi sel)
19. Dwi Aisyah Maharani:
Mekanisme respons imunitas seluler yang ekstraseluler ada antigen,makrofag membentuk
molekul MHC,MHC kelas II dan sel T.
20. Dicky Hausiyah:
Ekstraseluler atau jika antigen dicerna oleh makrofag terdiri dari antigen, makrofag,
MHC kelas 2, sel T.
21. Elvina Widyanti:
Makrofag dapat dibedakan menjadi 3 yaitu makrofag jaringan ikat, makrofag dan
prekursornya, dan sistem fagosit mononukleus.
22. Dina Akrimna:
Imunitas aktif yaitu tubuh memproduksi antibodi akibat kontak langsung dengan
patogen.Imunitas pasif didapatkan melalui transfer antibodi.
23. Engeline Nauli Zefanya Siahaan:
Gangguan sistem pertahanan tubuh meliputi hipersensitivitas, penyakit autoimun dan
imunodefisiensi.
24. Faisal Ridho Pradana:
fagositosis memiliki beberapa jenis makrofag, yaitu makrofag jaringan ikat atau histiosit,
makrofag dan prekusornya atau monosit, dan sistem makrofag mononukleus.
25. Fajar Hamdan Syaquro:
Pertahanan non spesifik terbagi menjadi pertahanan fisik,kimia, dan mekanis terhadap
agen infeksi,fagositosis,inflamasi, dan antimikroba non spesifik yang diproduksi tubuh.
26. Fani Citra Hati:
Faktor yang mempengaruhi sistem pertahanan tubuh yaitu genetik, fisiologis, stress, usia,
hormon, olahraga, tidur, dan nutrisi.
27. Farren Lyrananda Rachman:
240
Gangguan sistem pertahanan tubuh meliputi hipersensitivitas (alergi), penyakit autoimun,
dan imunodefisiensi.
28. Gabriel Halim:
Sistem pertahanan tubuh spesifik yaitu limfosit. Limfosit ada 2 macam yaitu Limfosit B
dan Limfosit T.
29. Ghina Suhaimah Amin:
Sel T efektor ada tiga jenis, yaitu sel T sitotoksik, sel T penolong, sel T supresor.
30. Gita Smaradhana Iyana:
Antigen masuk kedalam tubuh dibawa ke limfosit B → limfosit B menghasilkan tiruan
sel B → sel B yang menyekresikan antibodi menjadi sel plasma → sel plasma
menyekresikan antibody untuk dibawa ke lokasi infeksi.
31. Ivan Hendrawan Tan:
Sel pembunuh alami (NK) yaitu sekumpulan limfosit non-T dan non-B yang bersifat
sitotoksik.sel ini tidak perlu berinteraksi dengan antigen atau limfosit untuk
menghancurkan sel tertentu.sel ini berperan dalam menghancurkan sel
kanker,virus,jamur, dan parasut lainnya.
32. Juan Carlos:
Merupakan peningkatan sensitivitas atau reaktivitas terhadap antigen yang pernah
dipanjankan atau dikenal sebelumnya. Pada umumnya terjadi pada beberapa orang saja
dan tidak terlalu membahayakan tubuh.
33. Je ivan Dhamma Pratama:
Penyakit auto imunitas adalah kegagalan sistem imunitas untuk membedakan sel tubuh
dengan sel asing sehingga sistem imunitas menyerang sel tubuh sendiri Contohnya artritis
rematoid, penyakit grave, anemia pernisiosa, penyakit addison, sistem lupus
ertythematosus, diabetes melitus tergantung insulin(DM tipe 1) dan multiple sclerosis
(MS, penyakit neurologis kronis).
34. Louis Michael kwan:
Imunal defisiensi adalah kondisi menurunnya keefektifan sistem imunitas atau
ketidakmampuan sistem imunitas untuk merespons antigen, contonya efisiensi imun
kongenital dan AIDS.
35. Khansa Zhavira Devi:
241
Steven Johnson Sydrome (SJS) merupakan penyakit kulit dan mukosa yang berbahaya
dan dapat mengakibatkan kematian.
36. Marcellino Adithya Nugraha Bang:
Jenis imunisasi polio dapat mencegah polio melitis atau pelumpuhan.
37. Madinah Salsabillah Wahid:
Imunisasi BCG mencegah tuberkolosis, imunisasi hepapatitis B mencegah infeksi organ
hati dan imunisasi polio mencegah melitis atau pelumpuhan.
38. Modestine Tabitha Hutagalung:
Tujuan akhir inflamasi adalah untuk mengisolasi, menghancurkan, menginaktifkan agen
penyerang, membersihkan sel-sel debris, serta mempersiapkan proses penyembuhan dan
perbaikan jaringan.
39. Muhammad Andri Adi Jailani:
Antibodi merupakan protein plasma yang disebut monoglobulin(Ig) yang terdiri atas 5
kelas yaitu:IgA melawan mikroorganisme,IgB membantu memicu respon imunitas,IgE
menyebabkan pelepasan histamin dan mediator kimia lain,IgG berjumlah paling banyak
sekitar 80%,IgM antibody pertama yang tiba di lokasi infeksi.
40. Muhammad Salman Ranggadani Amrullah:
Antigen merupakan zat yang merangsang respons imunitas terutma dalam menghasilkan
antibodi. Bagian-bagian dari antigen terdiri atas determinan antigen (epitop) dan hapten.
41. Muhammad Fawwaz Aryaputra Pravito:
Jika kekurangan tidur akan menyebabkan perubahan pada jaringan sitokin yang dapat
menurunkan imunitas seluler, sehingga kekebalan tubuh menjadi melemah.
42. D’A
Merupakan imunisasi untuk mencegah 3 macam penyakit yaitu difteri, tertusis dan
tetanus yang diberikan pada usia balita (6 minggu, 4 bulan, hingga 6 bulan).
43. Muhammad Rafi Rizqullah:
Contoh imunodefisiensi adalah defisiensi imun kongenital,yaitu keadaan tidak memiliki
sel B maupun sel T sejak lahir.Jadi,penderita harus hidup dalam lingkungan yang steril
44. Oriza Sativa Dewi:
Kekebalan tubuh ada dua. Aktif: kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh sendiri dimana
jika seseorang sakit karna terinfeksi patogen, tubuh akan membuat antibodi. Pasif:
242
kekebalan yang diperoleh setelah mendapat antibodi dari luar contohnya kekebalan tubuh
bayi yang didapat dari air susu ibu.
45. Muhammad Rafli Dwi Dafa:
Magnesium diketahui dapat mendukung sistem kekebalan tubuh yang sehat. selain itu,
magnesium juga dapat membantu menjaga otot normal dan fungsi saraf, menjaga irama
jantung agar tetap stabil, menjaga tulang yang kuat,mengatur tingkat gula darah,mengatur
tekanan darah.
46. Muhammad Zinedine Ismail:
Respons kekebalan humoral melibatkan aktivasi sel B yang akan menghasilkan antibodi
dalam plasma darah dan limfa.
47. Raisya Annisa Putri:
Imuno difiensi adalah salah satu penyakit sistem pertahanan tubuh Yaitu kondisi
menurunnya keefektifan sistem imunitas atau ketidakmampuan sistem imunitas untuk
merespons antigen. Ada 2 jenis imunodefisiensi, yaitu defisiensi imun kongenital dan
AIDS.
48. Nadia Prasista Agustin:
Vaksin adalah patogen yang mati atau dilemahkan atau toksin yang telah diubah.
49. Rania Puspita Sutanto:
Imunisasi PCV yaitu untuk mencegah penyakit radang selaput otak, infeksi darah, dan
radang paru-paru.
50. Nanda Estiningtyas Athallah:
Seperti vitamin dan mineral diperlukan dalam pengaturan sistem imunitas. DHA
(docosahexanoic acid) dan asam arakidonat memengaruhi maturasi (pematangan) sel T.
protein diperlukan dalam pembentukan immunoglobulin dan komplemen. Namun, kadar
kolesterol yang tinggi dapat memperlambat proses penghancuran bakteri makrofag.
51. Naura Istitah Muhtasyam:
Pencegahan terbaik untuk stevens johnson adalah tidak mengonsumsi obat-obatan
sembarangan dan lebih baik memberitahukan kepada dokter jika memiliki alergi terhadap
suatu jenis obat, makanan, atau bahan-bahan kimia tertentu.
52. Ruth Rispauli Abigail Sitompul:
243
Salah satu program imnusisasi adalah Hep A untuk mencehmgah Hep A. Hep A adalah
penyakit yang disebabkan oleh virus Hep A.
53. Patricia Maulina:
Program dan jenis imunisasi campak berfungsi untuk mencegah terjadinya penyakit
campak, Tifoid untuk mencegah penyakit tifus, dan Varisela untuk mencegah penyakit
cacar.
54. Samuel Benedicto Siahaan:
Patogen dapat berevolusi secara cepat dan mudah beradaptasi agar terhindar dari
identifikasi dan penghancuran oleh sistem imun.Tetapi,sistem pertahanan tubuh juga
berevolusi untuk mengenali dan menetralkan patogen tersebut.
55. Raina Elvira Maulidinda:
Contoh alergen yaitu spora kapang, serbuk sari, rambut hewan, kotoran serangga, karet
lateks, obat-obatan, dan bahan makanan (telur, susu, kacang, udang, dan kerang).
56. Raisha Azka Prawira:
Salah satu faktor yang mempengaruhi sistem pertahanan tubuh adalah pajanan zat
berbahaya seperti bahan radioaktif, pestisida, rokok, minuman beralkohol, dan bahan
pembersih kimia yang dapat menurunkan imunitas.
57. Skyleen Hertanto Tan:
Dalam pertahanan spesifik adaptif terdapat sel-sel yang terlibat dalam respons imunitas
salah satunya adalah Makrofag, Makrofag adalah sel fagosit besar dalam jaringan, yang
berasal dari perkembangan sel darah putih, dan berfungsi untuk menelan antigen atau
bakteri untuk dihancurkan secara enzimatik.
58. Sakhi Zamroni:
Presipitasi atau pengendapan yaitu pengikatan silang molekul-molekul antigen yang
terlarut dalam cairan tubuh.
59. Yohanes Jeremy Jason Manurung:
Cara meningkatkan imunitas tubuh adalah perbanyak makan buah dan sayur, berolahraga,
istirahat cukup, hindari rokok dan alkohol, hindari stress.
60. Thezar Rifqi Izaati:
244
Pada beberapa kasus ini disebabkan beberapa jenis obat-obatan diantaranya penisilin,
sentonisin, sulfanamida, tetrasilin, metamizole, antalgin, parasetamol, klorpromazin,
kabmazepin, dan beberapa turunan dari obat-obatan tersebut.
61. Wahyu Dwi Nurcahyo:
Struktur antibodi tersusun atas dua macam rantai polipeptida yang identik dimana
terdapat dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi
dihubungkan oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya menyerupai huruf Y.
62. Yuniar Angraeni:
Hormon bergantung pada jenis kelamin wanita memproduksi hormon estrogen yang
meningkatkan sintesis igG dan igA sehingga menjadi lebih kebal terhadap infeksi
daripada pria. Sementara itu,pria memproduksi androgen yang bersifat memperkecil
risiko autoimun,sehingga penyakit autoimun lebih sering dijumpai pada Wanita.
245