BIBLIOGRAFI MINANGKABAU
Kumpulan Kearifanhttps://youtu.be/LqiL-mVFzT4
Lokal Kelas PII B 2018
Kearifan Lokal Di Sekitar Kita
BIBLIOGRAFI MINANGKABAU
Kumpulan Kearifan Lokal di Daerah
Masing-masing
MALTA NELISA, S.Sos, Mhum
Perpustakaan dan Ilmu Informasi
Kelas B 2018
PERPUSTAKAAN DAN ILMU INFORMAASI
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN
DAERAH
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2021
i
Kumpulan Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing Mahasiswa Perpustakaan dan
Ilmu Informasi 2018
Penulis:
PIIB
Bimbingan
MALTA NELISA, S.iSos, Mhum
Desain Cover:
PIIB
Penata Letak:
PIIB
Penerbit :
Jl. Prof. Dr. Hamka Air Tawar Padang, Sumatera Barat
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadiran Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan
karuniannya kepada seluruh umatnya. Shalawat beserta salam semoga tercurah kepada
nabi kita Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kebodohan sampai
zaman yang penuh ilmu pengetahuan seperti saat sekarang ini.
Alhamdulillah kami dapat menyusun e-book tentang kearifan lokal.
Dengan adanya e-book ini mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan bagi
pembaca dan terutama penulis dan semoga e-book ini dapat membuat pembaca
mengerti tentang kearifan lokal.
Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan
dalam penyusunan e-book ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman Kami.
Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca
demi kesempurnaan e-book ini.
Padang, 2021
Penulis
DAFTAR ISI
KEARIFAN LOKAL PIIB 2018 SESUAI DAERAH MASING- MASING ............. 2
A. HUBUNGAN DENGAN MAKANAN ................................................................... 2
B. HUBUNGAN DENGAN PENGOBATAN........................................................... 21
C. HUBUNGAN DENGAN MATA PENCARIAN.................................................. 32
D. HUBUNGAN DENGAN PERUMAHAN DAN BAGUNAN .............................. 35
E. HUBUNGAN DENGAN PAKAIAN.................................................................... 43
F. HUBUNGAN DENGAN FALSAFAH, TRADISI DAN KEPERCAYAAN ....... 44
G. HUBUNGAN DENGAN PERTANIAN............................................................. 125
G. HUBUNGAN DENGAN CERITA BUDAYA ............................................. 129
KEARIFAN LOKAL PIIB 2018 SESUAI DAERAH MASING- MASING
HUBUNGAN DENGAN MAKANAN
1. Gorengan “Sala Lauak “ Khas Pariaman.
Sala lauak adalah makana khas pariaman yang sangat popular, secara harifahnya kata sala
dapat diartikan sebagai gorengan, dan lauak yang berarrti ikan, meskipun secara bahasa
bermakna ikan goreng namun, sala lauak ini merupakan sebuah hidangan yang berbentuk bulat
seberar ibu jari yang terbuat dari adonan daging ikan yang dihaluskan dan di campur dengan
tepung serta beberapa penyedap lainnya. . Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Marlinda
selaku masyarakat local daerah pariaman mengatakan Sala lauak adalah gorengan khas
pariaman, gorengan ini sangat mudah di temuka di berbagai area sekitaran Pariaman, di
sekitaran pantai pariaman dan ulak an pun akan banyak ditemukan berbagai macam bentuk sala
lauak. Gorengan ini paling enak jika di padukan dengan lontong gulai ataupun nasi, oleh sebab
itu, di pariaman juga tersedia rumah makan khusus nasi salah yang dinamakan rumah makan
nasi sala piaman.
Gorengan ini memiliki beberapa bentuk yang berbeda, ada yang bundar, menonjol dan
lainnya, bahkan akan bentuk sala bulek seperti krupuk lalu terdapat
ikan di atasnya. Beberapa jenis sala pun ada yang berbaur dengan hidangan laut lainnya seperti
adonan sala bulek yang dibaurkan dengan kepiting, udang, ataupun telur puyuh. Jenis sala bulek
ini banyak tersedia di pinggiran pantai kota maupaun kab padang pariaman.
Rasa dari sala lauak ini gurih dan dominan memiliki banyak rasa asin dengan aroma
rempah-rempah yang tercium dari berbagaimacam jenis bumbu yang di tambahkan di dalamnya.
Cara pembuatan sala bulek yaitu sediakan bahan seperti tepung beras ikan, cabe giling
bawang putih dan merah, kunyi, jahe,lengkuas dan daun bawang daun kunyit lalu garam serta
penyedap rasa. Giling bawang merah dan putih serta kunyit, jahe, lengkuas dan ikan. Iris halus
daun bawang dan kunyit secara terpisah. Kemudian panaskan 4 gelas air hingga mendidih,
tambahkan bumbu yang telah di giling sebelumnya, setelah mendidih tambahkan daun bawang
dan daun kunyit kemudiantambahkan garam serta penyedap rasa.
Masukan air yang telah di rebus ke dalam tepung yang telah disangrai, sambal di aduk dan di
ulenkan hingga merata selagi panas. Bentuk bulat-bulat adoan tersebut, kemudian masukkan ke
dalam minyak yang telah di panaskan, usahakan gunakan banyak minyak untuk menggoreng agar
adonan sala bulek bisa terendam rata. Masak hingga berwarna keemasan. Selesai.
Dokumentasi :
Sumber foto : Atika Hayati Fermalinda
2. Ma-ampam
Tradisi memasak makanan oleh ibu-ibu yang terbuat dari tepung beras yang dinamakan ma-
apam menjelang memasuki Bulan Rajab di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar)
tetap terus dilestarikan."Benar, tradisi ma-apam hingga saat ini terus berlanjut setiap memasuki
Bulan Rajab. Tradisi ini perlu dilestarikan dalam rangka memupuk kebersamaan," kata Ketua Tim
Penggerak PKK Pasaman Barat, Yunisra Syahiran saat memasak apam di halaman rumah Wakil
Bupati Pasaman Barat, Senin.Ia mengatakan kegiatan ma-apam tersebut merupakan tradisi yang
sudah puluhan tahun berlangsung. Saat memasak apam itu nilai kebersamaan sangat
terlihat."Memasak apam itu asik, penuh canda tawa dan kebahagian. Tradisi ini akan terus lestari
jika semua ibui-ibu bisa melanjutkan tradisi ini. Selain itu, ada doa yang tersemat di balik tradisi
tersebut," ujarnya.Menurutnya tradisi yang sudah turun dan temurun tersebut selain mempererat
tali silaturahmi masyarakat, juga ikut mengajak meningkatkan persatuan dan kesatuan.Puluhan
tungku untuk memasak apam tersebut dikerumunani oleh ibu-ibu.Sambil memasak apam terlihat
tertawa bersama sambil mengaduk bumbu dan santan kental sebagai bahan dasar apam sebelum di
masak. Semua bahan dan cara yang digunakan terlihat masih sangat tradisional.Memasak apam
merupakan salah satu tradisi masyarakat Pasaman Barat yang dilakukan sekali dalam setahun,
tepatnya saat bulan Rajab.Biasanya setelah di masak apam disantap bersama-sama atau dibagikan
kepada masyarakat dan sanak keluarga.Salah seorang peserta memasak apam, Baidah berharap ke
depan generasi muda bisa mengenali dan melestarikan tradisi ini.Mulai dari tata cara mencari
bahan, mengolah dan memasak apam. Sehingga tradisi memasak apam bisa terus dilestarikan oleh
generasi penerus ke depan."Kami berharap apa yang kami lakukan hari ini bisa ditiru oleh generasi
penerus, agar tradisi ini tidak hilang begitu saja di tengah kemajuan zaman," ujarnya.Ia
menambahkan, sejak puluhan tahun lalu, saat memasuki bulan Rajab masyarakat Pasaman Barat
melakukan tradisi maapam alias memasak apam secara berkelompok di halaman rumah atau di
tempat yang lapang.Mereka memilih ruang terbuka, karena asap yang ditimbulkan dari bahan bakar
alami berupak daun kelapa kering cukup banyak. Jika memasak dilakukan di ruangan terbuka akan
lebih mudah."Bahan dasar pembuat apam terbilang sangat mudah didapat, seperti tepung beras
yang sudah ditumbuk, santan kelapa, garam, gula, dan sejumlah pemanis alami seperti gula
aren.Setelah di siapkan semua bahan diaduk menjadi satu dan berbentuk cairan putih,"
ujarnya.Kegiatan memasak apam bersama ini dihadiri langsung oleh Ketua Penggerak PKK
Kabupaten Pasaman Barat Yunisra Syahiran, dan Ketua GOW Pasaman Barat Sifrowati Yulianto,
Ketua DWP Harnina Manus Handri.Selain melestarikan tradisi, kegiatan maapan ini diharapkan
mampu menjalin silaturahmi antara sesama di Pasaman Barat.
lampiran
Sumber: ieka
3. Kue Palito Daun
Sumber:
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQS-
gWMvCinjTPFwEJyWxA4Y1b15U1PuaNkg9dnJBDW8syzA80vsfsKoVKQ4nmMD7
mDKWE&usqp=CAU
Kue palito daun adalah makanan khas daerah Provinsi Riau dari Kabupaten Kampar.Bahan
utamanya adalah tepung beras , bentuknya persegi dan ada juga bulat, warna kue bagian atas putih
diletakkan di atas daun pisang.Kue ini bahan-bahannya sama dengan kue talam, lemang basuong,
tetapi bentuk dan cara mengolahnya yang berbeda. cara memasaknya dengan mencampur tepung,
santan, gula, garam, dan vanili. Semua bahan diaduk hingga rata. Di samping itu, perlu
menyiapkan daun pisang yang dibentuk kotak dengan jumlah sesuai kebutuhan. Kemudian
dandang diisi air dan dimasak hingga mendidih. Sambil menunggu, kotak tadi diisi adonan, lalu
dikukus di dandang hingga matang.Kue ini dinamakan ‘’Kue Palito Daun’’ karena, apabila kita
buka daun pisangnya maka bagian bawah dari kue ini seperti sumbu palito. Sumbu ini terbuat dari
gula enau / gula aren yang dipotong– potong.Kue ini pernah mendapatkan rekor Musium Rekor
Indonesia (MURI) saat HUT Ke-63 Kabupaten Kampar pada 2013 silam. Kue pelito daun
terbanyak dengan jumlah 621.363 buah.
4. Golopuong Ondam
Sumber:
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Ftribunpekanbarutravel.tribun
news.com%2F2020%2F11%2F08%2Fgalopuong-ondam-kuliner-khas-kampar-bercita-
rasa-manis-dan-
gurih&psig=AOvVaw2L0rdyqdfx8QSGhhYOLe6g&ust=1617119318851000&source=
images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCKjPrJnt1e8CFQAAAAAdAAAAABAD
Golopuong ondam adalah salah satu kue tradisional khas Melayu, tepatnya berasal dari
Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Di daerah Sumatera Barat jajanan ini disebut onde-onde, dan di
beberapa daerah di Riau menyebut kue ini dengan sebutan kue Malaka, kue ini ternyata salah satu
jajanan khas Kampar yang dijual pada setiap bulan suci Ramadhan. Bagi masyarakat Kampar
tradisi menyediakan menu buka puasa khas daerahnya hingga saat ini masih tetap menjadi budaya,
di tengah maraknya makanan instan cepat saji, ngga melunturkan kecintaan masyarakat pada
jajanan tradisional daerah mereka tersebut. Untuk penyajian Galopuong Ondam ini direndam
dengan adonan santan dan sedikit tepung, sehingga terlihat kayak kue yang terendam.Makanan ini
dinamakan galopuong ondam karena galopuong/klepon tenggelam di kuah santannya makanya
disebut galopuong ondam, galopuong= klepon, ondam= tenggelam (khas kampar).
5. Kareh-Kareh
Kareh-kareh adalah makanan atau kudapan khas yang ada di Jorong Tanjung Balik
Kenagarian Salimpat.Kareh-karehmerupakan tipe kearifan lokal yang berhubungan dengan
makanan.Makanan yang terbuat dari tepung beras ini sudah ada sejak lama.Berdasarkan pernyataan
narasumber yang lahir pada tahun 1955, pada saat beliau masih anak-anak pun beliau sudah
menjumpai adanya kareh-kareh. Berarti bisa dikatakan bahwa kareh-karehadalah makanan yang
sudah ada sejak zaman nenek moyang dan sudah menjadi ke khas-an bagi Jorong Tanjung Balik
Kenagarian Salimpat.
Kareh-kareh dibuat dengan beberapa bahan yaitu, tepung beras, gula pasir, bubuk vanili,
bumbu speku dan juga air.Bahan-bahan ini kemudian dijadikan adonan yang tidak terlalu kental
dan tidak terlalu encer, sehingga nantinya kareh-kareh yang dihasilkan lebih gurih.Dalam
pembuatan kareh-kareh digunakan peralatan tertentu seperti tungku untuk memasak, kuali dan juga
sanduak atau sendok yang dibuat dengan batok kelapa yang dilubang-lubangi bagian bawahnya
dan diberi gagang kayu. Proses pembuatan kareh-kareh menurut nara sumber dilakukan dengan
cara memasukkan adonankareh-kareh kedalam sanduak. Kemudian letakkan sanduakdiatas kuali
yang telah berisi minyak panas dan berada diatas tungku. Lalu goyang kansanduak secara teratur.
Sanduak digoyangkan secara perlahan agar adonan yang keluar dari lubang-lubang sanduakterlihat
lebih rapi, tertata dan matang merata. Sembari menggoreng kareh-kareh dikuali, kita juga harus
pembentuknya menjadi bulat dengan bantuan kayu yang dibuat menyerupai dua sendok agar -
nantinya kareh-kareh terlihat seperti lingkaran yang rapi dan bagus. Jika Kareh-Kareh sudah
berwarna kecoklatan, segera angkat Kareh-Kareh dari kuali kemudian tiriskan.
Kareh-kareh dapat dijumpai pada saat adanya acara acara syukuran, baralek dan pada acara
mambilang hari. Disana kareh-kareh dijadikan sebagai pangacok/jamba yang dihidangkan untuk
para tamu Selain itu kareh-kareh juga diperjual belikan di pasar-pasar dan ada juga beberapa
diantara penjual kareh-kareh yang menjualnya di rumah mereka dengan mendirikan sebuah stand
dihalaman rumah atau dipinggir jalan. Kareh-kareh dijual sebagai oleh-oleh atau sebagai
kudapan.Kareh-kareh yang manis dan gurih disukai berbagai kalangan usia seperti anak-anak,
remaja, dewasa, dan orang tua. Kepada narasumber, saya menanyakan cara lain menikmati kareh-
kareh, beliau mengatakan jika beliau sendiri suka menikmati kareh-kareh dengan parutan kelapa.
Kareh-kareh dihancurkan kemudian ditaburi parutan kelapa dan kemudian bisa dinikmati bersama
keluarga. Atau berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya pernah menikmati kareh-kareh dengan
taburan adonan yang belum dimasak diatas kareh-kareh, itu terasa gurih, manis dan enak untuk
dinikmati.
Sumber : http://alahanpanjangkita.blogspot.com/2013/12/kalau-ke-alahan-panjang-jangan-
lupa.html
6. gulai pangek masin
Bentuk kearifan lokal masakan gulai pangek masin ini adalah kuliner.
gulai masin ikan atau gulai pangek masin atau cukup pangek masin adalah salah satu
hidangan yang berasal dari Sumatra Barat. Hidangan ini merupakan varian dari gulai
dengan bahan dasar utamanya adalah dari ikan. gulai pangek masin merupakan makanan
tradisional yang mempunyai kuah yang khas yaitu berwarna kuning yang di dapatkan dari
kunyit. makanan ini merupakan lauk yang sering di makan oleh masyarkat minang, Ikan
yang digunakan bisa ikan air laut maupun ikan air tawar, tetapi yang umum dipakai antara
lain tongkol, tenggiri, kakap, dan ikan mas. Ciri khas yang menonjol dari hidangan ini
adalah warna kuahnya yang kuning kental yang muncul karena penggunaan kunyit. Selain
itu hidangan ini memiliki rasa yang kompleks mulai dari gurih, sedikit asam, sedikit asin,
sedikit manis, dan pedas terdapat dalam hidangan ini. Selain itu, semua bagian dari ikan
bisa digunakan dalam hidangan ini baik utuh atau hanya beberapa bagian, yang mana
bagian paling favorit yang disukai masyarakat adalah bagian kepala ikan.
Untuk membuat hidangan ini, bahan utama yang diperlukan adalah
ikan berukuran sedang, dengan varian yang telah disebutkan di atas atau varian ikan
lain sesuai selera.
Bumbu gulai masin diantaranya
- santan,
- serai,
- cabai rawit,
-kunyit,
- jahe,
-bawang merah,
-daun kunyit,
-cabe merah yang diiris,
- asam kandis,
-tahu,
-garam,
- Lalu ditambahkan dengan daun singkong.
-Dan daun ruku-ruku biasanya turut ditambahkan sehingga aroma gulai masin
makin sedap.
Cara pembuatannya :
Kunyit ,jahe, dan cabe rawit dan bawang digiling halus, lalu masukkan kedalam wajan,
serai, daun kunyit dan daun ruku ruku masukkan juga kedalam wajan tersebut. Lalu remas
kelapa dan masukkan juga kedalam wajan. Cabe merah yang sudah diiris tadi masukkan
juga kedalam wajan. Lalu masak santan tersebut sampai mendidih , sesudah masak santan
masukkan ikan dan daun singkong dan tahu. Tunggu sampai masak dan siap disantap.
foto kearifan lokal:
Sumber: Ratih Irawan
7. Bir pletok
Sumber gambar:https://beergembira.com/beer-talk/kelompok-mahasiswa-ini-
menyulap-bir-pletok-menjadi-permen.html
` Bir pletok adalah minuman khas Betawi yang dibuat dari campuran
beberapa rempah, yaitu jahe, daun pandan wangi, dan serai.Minuman tradisional ini dikenal di
kalangan etnis Betawi. Agar warnanya lebih menarik, orang Betawi biasanya menggunakan
tambahan kayu secang, yang akan memberikan warna merah bila diseduh dengan air panas.
Walaupun mengandung kata bir, bir pletok tidak mengandung alkohol.Minuman ini berkhasiat
untuk memperlancar edaran darah.Masyarakat Betawi banyak mengonsumsinya pada malam hari
sebagai penghangat.
8. Gulai cubadak
Gulai cubadak adalah ciri khas masyarakat koto bangun. Masakan ini sudah
menjadi tradisi turun temurun. Gulai cubadak menjadi makanan pokok pada pesta
perkawinan, mandoa, atau acara lain yang menggundang orang banyak.
Cubadak merupakan bahasa minang dari buah nangka. Gulai cubadak merupakan
olahan masakan yang bahan dasar pengolahannya adalah buah nangka muda.
Makanan ini akan di masak oleh ibu-ibu secara bersama-sama pada sebuah pesta dan
pembuatannya bertempat di rumah warga yang akan melaksanakan acara baralek
tersebut, dan pembuatannya juga di olah dalam jumlah yang banyak di dalam kuali
besar yang disebut "kanca" . Kemudian gulai cubadak akan di bumgkus dengan
plastik dengan porsi kecil yang nanti akan di bagikan kepada warga yang telah hadir
pada acara baralek tersebut.
Foto kearifan local :
Sumber foto : facebook putry amini
9. Kearifan Lokal Gulai Pangek Masin (Kapalo Lauak)
*Sumber gambar: postingan facebook Ria Gustina
Gulai pangek masin merupakan masakan kearifan lokal masyarakat pasia nan
tigo. Gulai pangek masin di wilayah ini memiliki ciri khasnya tersendiri dengan
citarasa yang berbeda dari masakan gulai pangek daerah lain yaitu dengan rempah-
rempah pilihan yang terdiri dari (bawang merah yang sudah diiris, (asam kandis,
rawit, kunyit yang digiling halus), daun kunyit, ruku-ruku dan cabe keriting yang
diiris. Bahan pokok dari makanan ini adalah santan. Yang menjadi pembeda masakan
ini dengan masakan daerah lain yaitu masyarakat pasia nan tigo tidak menggunakan
bawang putih dan jahe. Masyarakat pasia nan tigo biasanya menggunakan ikan laut
yang segar sebagai pelengkap masakan ini.
1. Tipe Kearifan Lokal: Hubungan dengan makanan. Gulai pangek masin kapalo
lauak atau gulai kuning kepala ikan ini merupakan salah satu kearifan lokal
masyarakat perisir pantai daerah tempat saya tinggal. Masyarakat pesisir pantai
sangat terkenal dengan keahlian masakan gulai pangek masinnya. Biasanya
masakan ini menjadi hidangan utama untuk tamu jauh atau tamu penting yang
berkunjung kerumah.
2. Bentuk Kearifan Lokal: Kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya alam.
Karena merupakan daerah pesisir pantai tentunya ikan merupakan sumber daya
yang sangat cocok dengan iklim lingkungan dan bahan baku yang
dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu gulai kepala ikan ini
menjadi bentuk kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya alam.
3. Dimensi Kearifan Lokal: Dimensi Sumber daya Lokal. Masyarakat
menggunakan dan memanfaatkan sumber daya lokal sebagai pemenuhan
kebutuhannya dan untuk bertahan hidup. Masyarakat juga dituntut untuk
menjaga keseimbangan alam agar alam tidak rusak dan tidak berdampak buruk
kepada masyarakat itu sendiri. Misalnya dengan menjaga kebersihan pantai
dan mengambil ikan dengan cara yang baik dengan tidak merusak atau
mencemarkan laut dan makhluk hidup didalamnya.
10. Rendang Belalang
Masyarakat Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat mengolah
belalang menjadi masakan rendang atau dikenal sebagai rendang belalang makanan khas
daerah itu. Belalang sawah (Oxya Chinensis) merupakan sejenis serangga yang hidup di
sawah dan ladang. Selain itu, belalang juga dianggap sebagai hama yang merusak tanaman.
Sehingga banyak juga di antara petani yang membasminya. Berbeda dengan masyarakat di
Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumbar, khususnya di daerah Kumanih,
Tanjung Bonai Aur, Sisawah dan Sumpur Kudus mereka malah mengolah belalang menjadi
rendang. Bahkan rendang belalang telah menjadi makanan khas dan oleh-oleh bagi wisatawan
yang berkunjung ke daerah itu. Kendati demikian, menurut salah seorang warga di sana
Nurcahya Elita (63) ternyata tidak semua jenis belalang bisa diolah menjadi rendang dan
belalang yang bisa dikonsumsi masyarakat di sana adalah belalang sawah. Berdasarkan
penjelasan Elita ada beberapa jenis belalang yang tidak layak dikonsumsi salah satunya
belalang kunyit karena rasanya pahit dan habitatnya yang kotor dan banyak ditemukan di
pinggir jalan.
Pengolahan rendag belalang:
Sebelum mengolah belalang menjadi rendang, biasanya masyarakat Sumpur
Kudus melakukan penangkapan belalang sawah setelah musim panen padi dan
pada musim bertanam padi menggunakan jaring yang diletakkan di atas benih
suapaya belalang yang terbang akan terjerat jaring, kemudian dimasukan ke dalam
tabung yang terbuat dari bambu. Penangkapan belalang tersebut biasanya juga
dilakukan malam hari pukul 23.00 WIB di sawah yang telah selesai
panen. Karena pada waktu itulah semua belalang hinggap ke batang padi. Proses
penangkapan belalang dilakukan beramai-ramai dan saling bersorak satu sama
lain dengan membawa obor yang terbuat dari bambu dan dilubangi untuk
memasukkan belalang yang telah ditangkap.Sebelum direndang, belakang yang
sudah ditangkap tersebut disangrai terlebih dahulu hingga baunya berubah
menjadi tidak menyengat lagi. Kemudian dibersihkan membuang bagian kaki dan
sayap belalang.Selanjutnya mengolah belalang menjadi rendang. Cara pengolahan
rendang belalang hampir sama dengan pengolahan rendang pada umumnya, yakni
menyiapkan rempah-rempah rendang yang lengkap berupa, bumbu rendang,
bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, kelapa dan beberapa bumbu lainnya.
Namun perbedaannya biasanya rendang menggunakan daging, tetapi sekarang
diganti dengan belalang. Selain rendang belalang, di Kecamatan Sumpur Kudus
juga terdapat makanan lainnya dari olahan belalang seperti belalang gulai,
belalang goreng, dan belalang bakar.
Foto kearifan lokal (rendang belalang):
Sumber: Atikah Luqiana
11. kala luo.
Bentuknya kira-kira seperti gambar dibawah ini :
Sumber gambar https://kuenusantara.blogspot.com/2016/10/krasikan.html
Manfaat yang didapat dari pembuatan kala luo adalah untuk cemilan dan makanan
pencuci mulut yang sering ada disaat acara baralek/ perkawinan dan acara besar lainnya di
daerah simarasok.
Kedua tipe kearifan lokal yang saya temui di daerah simarasok, kecamatan baso,
kabupaten agam memiliki bentuk kearifan lokal berwujud nyata. Dimana kearifan lokal
yang ada berupa berhubungan dengan pengobatan, ramuannya merupakan tumbuhan dan
kearifan lokal berhubungan dengan makanan juga digolongkan ke bentuk kearifan lokal
berwujud nyata.
12. Rendang
Rendang adalah makanan khas dari sumatra barat rendang sendiri sudah terkenal
keseluruh dunia, Rendang atau ‘Randang’ dalam bahasa setempat lebih dikenal orang sebagai
makanan khas dari Padang sehingga seringkali penyebutan rendang adalah rendang padang,
bukan rendang Minangkabau, Rendang dalam Tradisi Adat Budaya Seperti halnya kain
tradisional batik, yang didalamnya coraknya mewariskan nilai ketekunan, keuletan, dan
kesabaran, begitupun rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang Sumatera
Barat. Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau yaitu
musyawarah dan mufakat.
Dalam tradisi Minangkabau, rendang adalah hidangan yang wajib disajikan dalam setiap
perhelatan istimewa, seperti berbagai upacara adat Minangkabau, kenduri, atau menyambut
tamu kehormatan.
Rendang memiliki ciri ciri atau bentuk daging rendang cenderung keras karena dimasak
sangat lama. Sebab, rendang sejatinya bukan suatu nama makanan, melainkan proses
memasak. Oleh karena itu, kata "rendang" biasanya diikuti oleh bahan utamanya, bisa seperti
rendang daging, rendang ayam, hingga rendang itik.
Sumber: Aisyah
13. Pinukuik Batang Kapas
Batang Kapeh merupakan salah satu kabupaten yang adan di Pesisir Selatan disana banyak terdapat
makan khas. Di daerah ini terdapat makan sejenis kue yang terkenal yaitu Pinukuik Batang Kapas.
Pinukuik ini mirip dengan pancake. Perbedaannya terletak pada cara penyajian dan bahan bakunya.
Rasa Pinukik ini sangat enak dengan harga yang murah meriah akan membuat kamu ketagihan untuk
memakannya.
Bahan utama makan ini yaitu kelapa yang dicampur dengan tepung beras, gula, vanili, dan tapai. Kue
ini dimasak dengan menggunakan sabuk kelapa yang sudah menjadi bara api.
Pinukuik ini banyak dijual oleh masyarakat setempat tepatnya di Jalan Raya Tepu Bandar Pasar Kuok.
Tidak hanya dimakan sebagai cemilan, makan ini akan lebih enak dimakan pada pagi hari dengan
segelas kopi atau teh
Dan kadang, banyak juga disajikan pada saat acara² ataupun perhelatan adat yang di gelar di daerah-
daerah setempat.
Sumber: Rosi putri
14. DAKAK- DAKAK
Dakak- dakak merupakan makanan ciri khas daerah langkitan. Dakak- dakak
berbentuk bulat yang berpadu dengan cita rasa gurih dengan sensasi sedikit asin, serta
tekstur yang renyah, yang mana biasannya dijadikan cemilan ketika bersantai. Dakak-
dakak yang cukup diminati oleh seluruh masyarakat lakitan. Biasanya dakak- dakak
juga dijadikan sebagai ole- ole dari lakitan.
Sumber: ulliya fikri zeris
Dari gambar terlihat jelas bahwa pada daerah lakitan dakak- dakak berbentuk
bulat, yang mana biasanya dijadikan sebagai cemilan.
B. HUBUNGAN DENGAN PENGOBATAN
1. Pengobatan tradisional
Sumber: https://i.ytimg.com/vi/pA3s9wenUZ4/hqdefault.jpg
Untuk pencegahan dan pengobatan, masyarakat Koto Baru masih percaya dengan
keampuhan dan kemanjuran dari obat tradisional seperti untuk obat panas dalam, masyarakat
Koto Baru meracik ramuan dari tanaman daun kacang tujuh jurai yang ditumbuk halus atau
di blender, kemudian di saring dan diminum airnya. Ramuan ini sangat umum digunakan
oleh masyarakat Koto Baru karena khasiatnya yang sudah terbukti mampu meredakan panas.
Selain dari ramuan diatas, masyarakat juga percaya tanaman-tanaman yang memiliki
khasiat untuk pengobatan adalah daun bungo rayo (bunga kembang sepatu), daun lansano,
daun pegago (pegaga), daun kumis kucing, dll. Tidak hanya tanaman, telur ayam kampung
juga dipercaya memiliki banyak khasiat untukpengobatan.
2. Daun Rambutan
Sumber google link:
https://media5.picsearch.com/is?RWz5Aj_k4UCGB91am6RfstsTnIIAvYu1RB_e3PMsLu
c&height=341
Daun rambutan sudah pasti akan lebih di dikenal dengan buahnya daripada daunnya itu
sendiri. Meskipun daun ini tidak begitu dikenal atau lebih sering diabaikan, tetapi benyak
pakar herbal yang sudah memanfaatkannya. Salah satunya sebagai mengobati demam akibat
gejala yang di timbulkan atas penyakit influenza. Hal ini sudah biasa dilakukan dari generasi
ke generasi terutama di daerah pasia nan tigo.
Tipe Kearifan Lokal: Hubungan dengan pengobatan. Daun rambutan merupakan
kearifan lokal yang berfungsi sebagai mengobati penyakit seperti demam. Pengobatan ini
masih banyak digunakan oleh masyarakat tempat saya tinggal. Biasanya daun rambutan ini
dijadikan ramuan untuk mandi seperti halnya mandi kembang bedanya pengobatan ini
menggunakan daun rambutan bukan kembang. Caranya yaitu dengan meremas daun rambutan
yang sudah dimasukan kedalam bak yang sudah terisi air untuk dimandikan, namun beberapa
orang juga ada yang mengambil air remasan daun rambutan itu untuk diminum sebanyak 3
tegukan.
3. BUNGO RAYO
Sumber : foto dari Fani Alivia
Bungo rayo adalah sejenis tanaman yang dijadikan oleh hampir semua masyarakat
sebagai obat tradisional. Tanaman bungo rayo dipercaya dapat mengobati gejala panas
dalam. Bagian tanaman bungo rayo yang diambil untuk obat panas dalam adalah
daunnya. Sudah sejak lama daun bungo rayo digunakan oleh masyarakat Kelurahan
Koto Katik, Kecamatan Padang Panjang Timur sebagai obat tradisional.
Menurut ibu Yuni Lastri sebagai narasumber mengatakan bahwa daun bungo rayo
dijadikan obat oleh masyarakat disekitar sini sudah sejak lama. Beliau mengatakan
bahwa orang tua beliau juga menggunakan daun bungo rayo untuk obat panas dalam.
Jadi dapat diketahui bahwa pengobatan tradisional yang memanfaatkan daun bungo
rayo sudah dilakukan dari generasi ke generasi dan turun temurun. Pengobatan
tradisional menggunakan bungo rayo merupakan kearifan lokal yang telah dilakukan
dan dipercayai oleh masyarakat dari generasi ke generasi. Bungo rayo termasuk
kedalam tipe kearifan lokal yang berhubungan dengan pengobatan untuk mencegah
penyakit.
Bungo rayo memiliki dua jenis, yaitu bungo rayo berwarna merah dan bungo
berwarna putih. Bungo rayo yang digunakan untuk obat adalah bungo rayo yang
berwarna putih. Masyarakat mempercayai bahwa hanya bungo rayo berwarna putih
saja yang digunakan untuk obat panas dalam. Cara menggunakan bungo rayo sebagai
obat yaitu :
a. Ambil daun bungo rayo 3-5 lembar
b. Cuci daun tersebut dengan air bersih
c. Rendam daun bungo rayo dengan air panas kuku sambil diperas
d. Setelah diperas maka air panas tadi akan berlendira
e. Langkah akhir saring air rendaman daun bungo rayo tadi, agar ampas daun
terpisah dengan air hasil perasan
f. Dan air perasan yang telah terpisah dari daun tadi bisa langsung diminum.
Efek yang dirasakan oleh masyarakat yang menggunakan bungo rayo untuk
menyembuhkan panas dalam sudah teruji kebenarannya. Masyarakat merasa lebih
baik setelah meminum air perasan daun bungo rayo tersebut.
4. DAUN SALISIH
Sumber : foto dari Fani Alivia
Tanaman salisih atau dalam minang disebut salisiah adalah tanaman yang
memiliki bunga berwarna ungu kecil-kecil berbentuk vertikal. Tanaman ini
merupakan kearifan lokal yang sampai sekarang masih dipercaya, digunakan dan
dimanfaatkan oleh msayarakat minangkabau untuk pengobatan. Masyarakat
mempercayai bahwa tanaman salisih memiliki khasiat untuk menyembuhkan demam.
Bagian tanaman salisih yang digunakan untuk pengobatan demam adalah daunnya.
Orang tua di Kelurahan Koto Katik menggunakan daun salisiah ketika ada anak
mereka yang sedang demam. Cara menggunakan daun salisiah yaitu mengambil daun
salisiah secukupnya, lalu daun tadi giling kasar atau ditumbuk kasar. Kemudian daun
yang sudah ditumbuk kasar tadi diletakkan dikening anak, agar demam anak hilang.
Daun ini biasanya ditempelkan pada malam hari sambil anak tidur. Pengobatan
dengan daun salisiah ini jarang digunakan pada orang dewasa, umumnya dilakukan
untuk anak-anak yang susah minum obat dokter.
5. Ubek tawa (Obat Penawar)
Adapun tumbuhan yang dibuatkan menjadi Ubek Tawa adalah
i. Sitawa : memiliki batang yang sedikit kemerahan, daun
tipis dan pada permukaan daun terdapat bulu-bulu halus.
ii. Sidingin : berbentuk seperti tumbuhan cocor bebek
namun bentuk daunnya tidak melebar, melainkan
menjari dan pada batang hingga daun mengandung
banyak air dan daun sedikit tebal.
iii. Sikarau : hidup di tempat berair seperti kolam dan sawah,
memiliki daun sepanjang dan sebesar telunjuk orang
dewasa dengan bagian tepid au sedikit bergerigi, dari
batang hingga dau semua berwarna hijau.
iv. Sikumpai : hidup ditempat berair seperti sawah atau kolam,
bentuk dau seperti rumput atau daun padi yang memanjang
namun lebih tipis dan tidak tajam dan berwarna hijau.
v. Sidukuang anak : daun berbentuk seperti daun pada
tumbuhan putri malu, namun pada batang tidak memiliki
duri. Disetiap sela-sela daun di belakang ruang rating
memiliki semacam buah berbentuk bulat-bulat kecil.
6. Panawa Angek Badan (Penawar badan saat
demam) Adapun bahan yang dibuatkan menjadi Panawa
adalah
1) Mato kunyik (Mata/ ujung kunyit)
2) Bareh saketek (beras sedikit)
3) Daun limau puruik (daun jeruk purut)
4) Aia (air)
5) Tampuruang karambia (batok kelapa)
6) Alu (alat untuk menumbuk/menghaluskan bahan obat )
Pertama sekali siapkan batok kelapa yang bersih seperti tampak pada
gambar. Masukkan semua bahan panawa kedalam batok tersebut. Kemudian
haluskan dengan alu sampai sedikit halus, tidak apa jika tidak terlalu halus. Cara
memakaikan panawa adalah pertama dengan mengusap air panawa yang telah
ditumbuk tadi dari bagian dahi hingga belakang kepala sebanyak 3 kali, kemudian
dari kepala bagian belakang hingga dahi sebanyak 3 kali, di bagian atas telinga
sebelah kanan ke atas kepala dan begitu juga pada bagian sebelah kiri. Boleh di
pakai sesering mungkin untuk cepat menawarkan sakit kepala atau demam dan
boleh digunaka untuk semua usia.
7. Ubek digigik saranggo (Obat digigit serangga)
Masyarakat yang saya temui mengaku mempercayai daun pugago
sebagai obat menyembuhkan digigit serangga seperti semut merah
dan ulat bulu. Daun pugago berbentuk melingkar dan dibagian tepi
daun sedikit bergerigi.
Cara membuat tumbuhan pugago dapat dijadikan obat adalah pertama-tama
cuci terlebih dahulu daun pugago, ambil daunnya saja. Kemudian campurkan sedikit
garam dan hancurkan bersama didalam nampan atau boleh hanya telapak tangan
saja, kemudian setelah daunnya hancur balurkan pada bagian tubuh yang digigit
serangga untuk mengurangi rasa gatal atau perih akibat gigitan serangga tersebut.
C. HUBUNGAN DENGAN MATA PENCARIAN
1. Manjamua pinang
Manjamua pinang ini atau menjemur pinang adalah suatu cara yang dilakukan
masyarakat sikucua sebagai mata pencarin. Kebiasaan ini masuk kedalam kearifan lokal di
bidang mata pencarian. Secara garis besar masyarakat sikucua bermata pencarian menjemur
pinang. Yang mana pinang yang dihasilkan dikeun atau ladang masing- masing nantinya
dibelah dua atau langsung dijemur. Yang mana jika sudah kering isi dari buah pinang itu akan
dikumpulkan dan dijual ditempat yang dinakamakan dengan toke pinang. Kearifan lokal ini
masih ada sampai saat sekarang ini, bahkan anak- anakpun sudah diajarkan untuk
melakukannya.
(gambar 4)
(Sumber: Nadia Erwani Fazri)
2. Sulaman Bordir Ampek Angkek
Di Nagari Balai Gurah, dari dahulu sampai saat ini kaum wanita umumnya
berprofesi sebagai penjahit sulaman. Kain sulaman biasanya akan dijadikan baju
kurung maupun selendang, yang digunakan pada acara-acara tertentu. Untuk
menyulam, masyarakat akan menggunakan sebuah alat yang bernama pamedangan.
Pamedangan memiliki ukuran 200 x 60 cm yang kerangkanya terbuat dari kayu.
Keempat kayu dirangkaikan menjadi empat persegi panjang dengan paku. Tinggi
pamedangan sekitar 30 cm mengikuti ukuran standar yang memudahkan bagi penyulam
untuk duduk bersimpuh ataupun meluruskan kakinya di bawah pamedangan pada saat
menyulam. Walaupun menyulam dengan pamedangan membutuhkan waktu yang lama
karena dijahit menggunakan tangan, tetapi hasil dari menyulam dengan menggunakan
pamedangan sangat rapi dan kuat dibandingkan dijahit menggunakan mesin.
Sebelum menyulam, motif sulaman akan dibuat terlebih dahulu diatas kertas
minyak proses ini disebut dengan malukih. Motif yang digunakan biasanya adalah
motif tumbuhan. Setelah proses malukih selesai baru hasil lukisan tadi dipindahkan ke
kain sulaman dan kemudian barulah proses menyulam dilakukan. Terdapat beberapa
jenis sulaman yaitu sulaman kapalo samek (kepala pniti), Sulam Suji Caia, Sulam
Terawang dan Sulam Bayang. Namun di Nagari Balai Gurah masyarakat biasanya
menggunakan jenis sulam suji dan sulam kapalo samek.
Filosofi dari kain sulaman bordir adalah motif yang digunakan pada kain
sulaman merupakan motif tumbuhan yang melambangkan kekayaan alam pada
masyarakat Minangkabau dan menggambarkan hubungan antara manusia dan alam.
Pam
Pamedangan Proses MenyulamMotif Sulaman Suji Caia
Sumber: Rahmatul AnnisaSumber: Rahmatul Annisa Sumber : Ibu Sri Deni Yetri
3. Nelayan dan Pedagang
Sumber gambar: google
https://media1.picsearch.com/is?TlgI7JtstalXBl8vi67tIFWBWbsCcfhGR0r5X-
LyjSY&height=227
Nelayan merupakan mata pencarian yang dimiliki oleh kebanyakan masyarakat di daerah
Pasia Nan Tigo. Masyarakat nelayan yang bermukim pada daerah paesisir pantai ini
memiliki kearifan lokal yang bersumber pada keyakinan dan berkembang melalui proses
adaptasi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Kearifan lokal ini diyakini dapat
menciptakan keselarasan, keserasian, keseimbangan dan kelestarian antara manusia,
lingkungan permukiman dan lingkungan alam di Pasia Nan Tigo.
1. Tipe Kearifan Lokal: Hubungan dengan sistem produksi. Nelayan dan pedagang
merupakan sistem produksi lokal yang tradisional, sebagai bagian upaya
pemenuhan kebutuhan dan manajemen tenaga kerja. Karena merupakan
masyarakat yang tinggal didaerah pesisir pantai maka sebagian besar
masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan juga pedagang.
2. Bentuk Kearifan Lokal: Kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya alam
(ikan). Dengan kehidupan masyarakat yang tinggal didaerah pesisir pantai maka
tidak heran bahwa sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan
pedagang karena memanfaatkan sumber daya yang ada serta demi memenuhi
kehidupannya.
3. Dimensi Kearifan Lokal: Dimensi Keterampilan Lokal. Setiap masyarakat
memiliki kemampuan untuk bertahan hidup (survival) untuk memenuhi
kebutuhan kekeluargaan masing-masing atau disebut dengan ekonomi substansi.
Hal ini merupakan cara mempertahankan kehidupan manusia yang bergantung
dengan alam mulai dari cara menangkap ikan, dan menjual ikan.
D. HUBUNGAN DENGAN PERUMAHAN DAN BAGUNAN
1. Rumah Gadang
Rumah gadang merupakan rumah adat minangkabau yang juga disebut dengan rumah
bagonjong, rumah ini berbahan kayu, berbentuk persegi panjang, pada bagian depan rumah
gadang terdapat tangga, rumah gadang memiliki bentuk atap yang khas yaitu atapnya berbentuk
melengkuk seperti tanduk yang runcing, bentuk atap yang runcing itu memiliki makna yaitu
tanduk tersebut seperti tanduk kerbau, kerbau yang memenangkan pertempuran adu kerbau.
Untuk menambah unsur seni pada dinding rumah gadang biasanya dibuat ukiran dengan motif
khas minangkabau. Pada pegangan tangga terdapat ukiran itik pulang petang, pada bagian luar
terdapat ukiran bunga dan pada pintu masuk kamar juga terdapat ukiran bunga.Rumah gadang
ini diwariskan antar generasi berdasarkan garis keturunan ibu atau yang disebut dengan
matrilineal. Rumah gadang merupakan rumah gadang kebesaran minangkabau dengan segala
filosofi yang terkandung didalamnya. Hampir dari setiap sudut bangunannya mempunyai arti
dan makna.Namun pada saat sekarang ini rumah gadang sudah tinggal hanya beberapa.
Rumah gadang ini termasuk kedalam bentuk kearifan lokal dalam seni arsitektur rumah
adat, karena pada rumah gadang tersebut terdapat seni pada dindingnya yaitu ukiran dengan
motif khas minangkabau, seperti pada pegangan tangga terdapat ukiran dengan gambar itik
pulang petang. Rumah gadang juga termasuk kedalam tipe kearifan lokal hubungan dengan
perumahan, bahan baku disesuaikan dengan bahan yang tersedia di wilayah tersebut, terkait
dengan rumah gadang yaitu bahan baku nya menggunakan kayu.
Tipe kearifan lokal rumah gadang termasuk kedalam hubungan dengan perumahan, dimana
rumah gadang ini terbuat dari kayu, karna banyaknya ketersediaan kayu, namun pada saat
keberadaan rumah gadang sudah tidak banyak.
Bentuk rumah gadang sumber: Mimi Marlina
2. Masjid Al-Jihad
Sumber: SIMAS (sistem informasi
mesjid)
Masjid al-jihad merupakan salah satu mesjid pemersatu umat islam di Nagari Koto
Baru yang didirikan pada tahun 1997. Luas bangunan masjid ini sekitar 441 m2 yang terdiri
dari 2 lantai yang mampu menampung jamaah sebanyak 1500 orang. Banyak kegiatan yang
ada di dalam masjid ini diantaranya adalah:
1) Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu
2) Menyelenggarakan Sholat Jumat
3) Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam
4) Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar
5) Menyelenggarakan Pengajian Rutin
6) Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan
Belajar Masyarakat)
7) Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf
3. Kearifan lokal museum Adityawarman
Bentuk kearifan lokal museum adityawarman ini adalah bangunan atau aristektual .
Museum Adityawarman adalah museum budaya provinsi Sumatra Barat yang terletak di
Kota Padang. Museum ini diresmikan pada 16 Maret 1977 mengambil nama besar salah
seorang raja Malayapura pada abad ke-14, Adityawarman yang sezaman dengan
Kerajaan Majapahit. Museum ini memiliki julukan Taman Mini ala Sumatra Barat
Koleksi utama yang terdapat di Museum Adityawarman dikelompokkan ke dalam
sepuluh macam jenis koleksi, meliputi geologika/geografika, biologika, etnografika,
arkeologika, historika, numismatika/heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, dan
teknalogika. Koleksi lain yang dimiliki oleh museum ini adalah benda purbakala
peninggalan Kerajaan Dharmasraya, yaitu berupa duplikat patung Bhairawa dan patung
Amoghapasa.
Museum ini dijadikan sebagai minat pengunjung masyarakat di berbagai daerah, masuk
kedalam museum ini membeli tiket seharga 5.000 ribu per orang. Setelah itu saat kita
memasuki museum ini kita memberikan tiket kepada petugas museum dan mengisi buku
pengunjung diantaranya nama, pekerjaan, alamat, tanda tangan.
Disini kita dapat mengenal berbagai pernak-pernik kehidupan masyarakat Minang dari
koleksi yang dimilikinya. Di salah satu sudut museum terdapat ruang peragaan
pelaminan. Tentu saja ruangan ini menjadi salah satu yang paling diminati oleh
pengunjung. Selain itu, di bagian ruangan lain terdapat koleksi-koleksi benda bersejarah
dan budaya dari Suku Mentawai. Meskipun masih sama-sama dalam satu daerah, yakni
Sumatra Barat, Suku Mentawai menerapkan adat istiadat yang sama sekali berbeda
yakni menerapkan sistem kekerabatan patrilineal. Rumah bagonjong sendiri merupakan
rumah panggung dengan atap meniru bentuk seperti tanduk kerbau yang bertumpuk.
Jumlah gonjong yang ada di atap museum ini sendiri berjumlah tujuh pucuk.
Khusus untuk hasil penjelajahan dan pengamatan terdapat alat-alat kesenian tradisional
Minangkabau. Keterangan tersebut bahwasanya alat musik tradisional Minangkabau
memiliki ragam dan kekhasan tersendiri. Dapat kita lihat pada masing-masing jenis alat
musik tersebut, yaitu :
a) Alat Musik Tiup
b) Alat Musik Pukul
c) Alat Musik Petik dan Gesek
Dari keterangan-keterangan tersebut dapatlah kita simpulkan kegiatan ke museum
dengan tujuan untuk mengetahui dan mengenal kekayaan warisan budaya merupakan
sesuatu yang penting dan hendaknya selalu dilakukan. Dalam rangka untuk mewariskan
dan melestarikan kekayaan tersebut di masa yang akan datang. Jadi bukan hanya budaya
Minangkabau saja yang dikenal, tetapi seluruh kebudayaan bangsa Indonesia
hendaknya.
Foto kearifan lokal:
Sumber: Ratih Irawan
4. Atok Rumbio (Atap Rumbia)
*sumber gambar:
https://external-
content.duckduckgo.com/iu/?u=https%3A%2F%2Ftse3.mm.bing.net%2Fth%3Fid%3DOIP.
k1EPEq2ErKsVgAGtSggM-wHaFj%26pid%3DApi&f=1
1. Tipe Kearifan Lokal: Hubungan dengan perumahan. Di daerah tempat saya
tinggal ini sangat banyak terdapat pohon sagu oleh karena itu banyak masyarakat
yang memanfaatkan daunnya untuk dijadikan sebagai atap rumah yang disebut
atok rumbio (atap rumbia). Oleh karena itu atap rumbia termasuk tipe kearifan
lokal yang hubungan dengan perumahan.
2. Bentuk Kearifan Lokal: Kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya alam.
Dengan banyaknya pohon sagu didaerah pasia nan tigo maka masyarakat
memanfaatkan sumber daya yang disediakan oleh alam ini guna memenuhi
kebutuhan masyarakatnya.
3. Dimensi Kearifan Lokal: Dimensi Sumber daya Lokal. Setiap masyarakat akan
menggunakan sumber daya lokal sesuai dengan kebutuhannya dan tidak akan
mengeksploitasi secara besar-besar atau dikomersialkan. Masyarakat dituntut
untuk menyimbangkan keseimbangan alam agar tidak berdampak bahaya
baginya.
4. BATAGAK KUDO-KUDO
Sumber : maswir.wordpress
Batagak kudo-kudo adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat minangkabau
saat membangun rumah yang mengikut sertakan orang banyak sehingga mencerminkan
sikap gotong royong masyarakat. Batagak kudo-kudo dilakukan saat kontruksi rumah
dan dinding rumah sudah siap. Batagak kudo-kudo itu sendiri adalah proses dimana
membuat atau merangkai kayu yang dijadikan untuk menahan atap. Batagak kudo-kudo
menginterprestasikan petuah-petuah minang seperti “barek samo dipikua, ringan samo
dijinjiang” yang diartikan untuk saling tolong menolong. Dan petuah lainnya seperti
“kabukik samo mandaki, kalurah samo manurun”.Batagak kudo-kudo termasuk
kedalam kategori tipe kearifan lokal berhubungan dengan sesama manusia.
Sebelum batagak kudo-kudo dilakukan, terlebih dahulu dirundingkan dengan
memberitahukan kepada mamak rumah, lalu mamak rumah akan menyebutkan ke
pangulu, setelah itu diberitahukan kepada orang-orang terdekat atau sapasukuan. Tujuan
dari perundingan ini untuk menentukan hari akan dilakukannya batagak kudo-kudo.
Warga akan bergotong royong untuk menegakkan kudo-kudo tersebut.
Bahan-bahan yang digunakan untuk melakukan tradisi batagak kudo-kudo ini yaitu :
a. Ayam, dimaknai agar rumah yang dibangun dan orang yang didalamnya
mendapat keselamatan.
b. Jurai pinang dimaknai agar rumah dan isinya adem dan baik.
c. Tebu dimaknai agar rumah dan isinya berjalan secara manis.
d. Kelapa dimaknai agar rumah dan isinya tahan dan kuat untuk terus bediri.
e. Kain putih yang dijadikan bendera yang dimaknai agar rumah tersebut suci.
Kelima benda ini diletakkan diatas kudo-kudo tuo atau tonggak tuo yang berada
ditangah-tangah kerangka atap. Bahan-bahan tadi tidak harus ada semuanya, jikapun
tidak ada proses batagak kudo-kudo tetap akan dilakukan. Sebenarnya sebelum batagak
kudo-kudo dilakukan, ada yang dilakukan secara bersama-sama yaitu manggali pilin
atau pondasi. Setelah pondasi selesai baru batagak kudo-kudo dilakukan.
5. Alek Cacak Perumahan (Batagak Parumahan)
Sumber : Anjela Fitriyanti
Di Nagari Kampung Pinang Alek Cacak Perumahan diadakan jika seseorang ingin
membangun rumah, dan ingin mengadakan alek cacak perumahan maka tuan rumah akan
mengundang masyarakat sekitar, sanak saudara untuk menghadiri acara tersebut. Orang-orang
yang hadir akan membantu dan bergotongroyong dalam proses pembuatan rumah pada hari
dilaksanakannya cacak parumahan. Dan ada juga masyarakat sekitar yang menghadiahkan
kepada tuan rumah berupa bahan bangunan (Semen, atap). Sebelum dilakukannya
gotongroyong, terlebih dahulu dilakukan penyembelihan seekor ayam, dimana darahnya
ditumpahkan ke batu sebagai batu pertama dalam mendirikan rumah. Pada alek cacak
parumahan juga diadakan makan bersama didekat rumah yang akan didirikan dengan
masyarakat sekitar yang telah menghadiri acara tersebut.
Alek Cacak Parumahan termasuk kedalam tipe kearifan lokal dalam hubungan sesama
manusia, adanya keterlibatan antar individu yang ada dilingkungan tersebut. Dimana
masyarakat akan ikut berpartisipasi dalam alek cacak parumahan, meskipun mereka tidak bisa
mengahadiahkan bahan bangunan, akan tetapi mereka bisa menyumbangkan tenaga dalam
proses pembuatan rumah pada hari dilaksanakannya cacak parumahan. Kepercayaan terkait
penyembelihan seekor ayam dan darahnya ditumpahkan ke batu sebagai batu pertama dalam
mendirikan rumah adalah agar rumah yang didirikan tersebut berdiri kokoh dan dihindari bala
(musibah).
E. HUBUNGAN DENGAN PAKAIAN
1. Tanduak Ameh
Di Minangkabau pakaian adat perempuan yaitu berupa baju beludru dan untuk dikepala
umumnya memakai sunting, pakaian adat sering digunakan waktu acara pesta pernikahan,
namun untuk bagian dikepala setiap daerah yang ada di Minangkabau memiliki keunikan
masing-masing, seperti di Lubuk Malako berupa tanduak ameh, dengan penggunaan tanduak
ameh bukan berarti dalam acara pesta pernikahan tidak memakai sunting, pengantin wanita
tetap memakai sunting namun ada tambahan pakaian adat berupa tanduak ameh dalam prosesi
tertentu yaitu pada saat prosesi baarak dan syukuran malam harinya.
Tanduak Ameh menyerupai tanduk kerbau namun memiliki cabang yangberbahan dasar
loyang dan dilapisi dengan emas. Jika suatu pernikahan tidak menggelar pesta atau baralek
gadang maka pengantin wanita tidak bisa memakai tanduka ameh.
Tanduak Ameh ini di belakangnya terdapat tanduak kain. Sebelum dipakaikan tanduak
ameh terlebih dahulu dibuatkan tanduak kain yang terdiri dari dua lembar kain panjang dan dua
lembar selendang, dalam pembuatan tanduak tidak sembarangan orang yang bisa umumnya
yang bisa membuat tanduak yaitu para orang tua (perempuan) yang paham tentang adat, setelah
tanduak jadi baru di depannya dipasangkan tanduak ameh.
Dokumentasi : Salmar Pepteti
F. HUBUNGAN DENGAN FALSAFAH, TRADISI DAN KEPERCAYAAN
1. Aqikah
Aqikah adalah menyembelih kambing untuk anak yang baru lahir, dicukur dan diberi nama
akan anak itu, pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Sembelih yang dilakukan sebagai
ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorng bayi, baik bayi laki- laki maupun bayi perempuan.
Jabang bayi yang telah lahir di dunia dengan ketentuan spesifik berdasarkan syariat ajaran
islam. Aqiqah bermaksud memotong hewan seperi kambing pada hari ke-7 saat kelahiran
jabang bayi. Berdasarkan bahasa, aqiqah bermaksud menyembelih. Hukum akikah ialah sunah
muakkad, menurut orang yang mampu dan seperti ulama mengatakan maka aqiqah ialah wajib.
Untuk bayi perempuan 1 ekor kambing, sedangkan untuk bayi laki- laki 2 ekor kambing.
Kearifan lokal ini berkaitan dengan siklus hidup. Di daerah sikucua acara aqiqah ini sudah
jarang ditemukan. Acara ini biasannya dilakukan oleh orang yang bisa dibilang orang
berkecukupan.
(gambar 2)
(sumber: https://4.bp.blogspot.com/-ID-
kWLK6vWI/WXr6aD4bCtI/AAAAAAAAALU/12VVlyG0fLARR1tJfKbh1qmlcUI0G_mRAC
LcBGAs/s640/10.jpg )
2. Malamang
Tradisi malamang atau bisa disebut memasak lemang sudah ada sejak dulu. Malamang
ini biasanya dilakukan di saat hari- hari tertentu, seperti hari besar keagamaan atau hari
kematian. Biasanya Masyarakat sikucua melakukan acara malamang saat ada acara maulid nabi
dan memperingati hari kematian. Tradisi malamang ini biasannya ada dua macam lemang yaitu
lemang ubi dan lemang ketan. Cara memasak lemang ini dengan mendirikan batang bambu
lemang di atas tungki khusus pembakaran. Tradisi ini masih ada dan masih dipertahankan
sampai saat ini.
(gambar 3)
(Sumber:Nadia Erwani Fazri)
3. Pusako Mudo
Pusako Mudo berasal dari dua suku kata yaitu pusako dan mudo.
Pusakoyang berarti warisan atau tradisi adat yang diwarisi secara turun
temurun. Sedangkan mudo berarti muda, kalangan pemuda atau karang
taruna nagari. Jadi pusako mudo bisa diartikan sebagai salah satu tradisi adat
di kalangan pemuda yang diwarisi secara turun temurun. pusako mudo
merupakan kegiatan pencarian induk atau keluarga angkat bagi seorang laki-
laki yang berasal dari luar nagari Lubuk Malako yang akan menikah dengan
perempuan dari nagari Lubuk Malako agar seadat dalam proses pelaksanaan
pernikahan nantinya.
Pusako Mudo ini terjadi apabila ada salah seorang pemuda dari luar nagari Lubuk
Malako akan menikah dengan perempuan yang ada di nagari Lubuk Malako, maka pemuda
tersebut harus di pusako mudo kan terlebih dahulu.Kegiatan pusako mudo bertujuan sebagai
pemastian identitas bahwa pemuda tersebut bukanlah orang yang bermasalah dan mau
menjalankan serta tidak merusak adat yang ada, namun jika pemuda pendatang merusak adat
maka para pemuda akan mendenda sesuai dengan ketentuan adat yang telah disepakati seperti
membayar denda berupa kebutuhan para pemuda. Proses pelaksanaan kegiatan pusako mudo
yaitu :