yang dibawa menggunakan sebuah katidiang yang dijujung. Makanan ini nantinya akan
dimakan bersama dengan keluarga istri. Setelah makan bersama, ninik mamak dan
keluarga suami akan melakukan pasambahan. Pasambahan ini akan membahas tentang
pembagian harta warisan dan kedudukan suami dirumah istrinya. Setelah pasambahan
selesai, katidiang tadi akan dipukul di depan pintu rumah sang istri, ini bertujuan agar
tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada suami. Kemudianbaju atasan dan bawahan dari
suami akan dimasukan kedalam katidiang tadi dan dibawa pulang oleh keluarganya yang
melambangkan tradisi manjapuik telah dilakukan. Masyarakat beranggapan tujuan
dilakukannya tradisi ini agar sang suami tidak kebingungan dan linglung seusai ditinggal
sang istri.
Filosofi dari tradisi ini adalah untuk menjelaskan kedudukan suami karena suami
adalah seorang sumando di rumah sang istri, suami yang ditinggal merasa dihargai
dalam keluarganyamaupunkeluarga istrinya dan walaupun sang istri telah meninggal
hubungan silaturahmi antara kedua keluarga tidak akan terputus terlebih apabila pasangan
suami istri ini telah memiliki anak.
Pasambahan di Acara Manjapuik
Sumber : Ibu Sri Deni Yetri
39. Baralek
Baralek merupakan istilah acara pernikahan pada masyarakat Minangkabau.
Baralek merupakan tipe kearifan lokal dalam hubungan sesama manusia, karena dalam
acara baralek tidak hanya melibatkan kedua anggota keluarga saja, namun semua kerabat,
tetangga dan orang kampung akan datang untuk membantu memasak dan mempersiapkan
acara baralek.
Dimasing-masing daerah di Minangkabau, memiliki adat yang berbeda-beda
dalam tradisi pernikahan. Seperti pada acara maminang dan batimbang tando. Di Nagari
Balai Gurah dalam acara maminang dan batimbang tando, pihak dari keluarga perempuan
akan mengunjungi pihak laki-laki. Di sebagian daerah di Minangkabau, memberi Gala
kepada marapulai biasanya dilakukan pada malam manjapuik marapulai, namun di
Nagari Balai Gurah memberi Gala dilakukan pada saat Batimbang Tando.
Pada acara manjapuik marapulai, diawali dengan manukeh. Manukeh merupakan
tradisi dimana perwakilan dari pihak keluarga anak daro akan menjemput marapulai ke
rumahnya dengan tujuan untuk mengajak marapulai tinggal di rumah anak daro. Setelah
manukeh barulah dilakukan malam manjapuik marapulai.
Setelah acara pernikahan selesai, keesokan harinya akan diadakan tradisi Maantam
Janjang. Maantam janjang atau makan senggang ayam adalah tradisi makan bajamba di
rumah anak daro yang diikuti oleh laki-laki dan perempuan terdiri dari keluarga, para
sumando, dan beberapa orang kampung dari pihak marapulai. Laki-laki biasanya makan
senggang ayam di malam hari, sedangkan kaum perempuan makan senggang ayam di
siang hari. Setelah makan selesai pihak marapulai akan memberikan uang kepada anak
daro. Tujuan tradisi maantam janjang ini adalah untuk memperkenalkan menantu kepada
keluarga dan orang kampung.
Acara terahir dari rangkaian acara pernikahan adalah mangumbalian tando.
Mangumbalian tando merupakan acara pengembalian tando yang diberikan pada saat
prosesi batimbang tando, yang menandakan bahwa rangkaian acara pernikahan telah
selesai dan mereka telah sah menjadi pasangan suami dan istri
Dari berbagai rangkaian acara baralek di Nagari Balai Gurah, filosofinya adalah
dengan acara baralek ini, akan menyatukan dua keluarga yang dahulunya tidak saling
mengenal akan saling mengenal dan memiliki hubungan kedekatan. Dan melalui acara
baralek rasa kebersamaan dan nilai gotong royong di masyarakat akan terus terjaga
dengan baik.
Batimbang Tando
Sumber:https://4.bp.blogspot.com/NQzsiGQIhs8/WAnTZmYN9FI/AAAAAAAABGw/6
g0tzrG4fOIK1e6v30Cez8pTJ-aNUt2nwCLcB/s1600/ttd.jpg
Manjapuik Marapulai
Sumber:https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.
com%2Fwatch%3Fv%3DKDEeGsdLqIc&psig=AOvVaw2NM8NeviRR0orBiUjW6OzK
&ust=1617413586717000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCLjijsm13u
8CFQAAAAAdAAAAABAq
Makan Senggang Ayam
Sumber:https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fgasbanter.com%2Fup
acara-adat-
sumaterabarat%2F&psig=AOvVaw1OmGq9XjbWyfb9OCicJhy8&ust=16172863425870
00&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCODouqvb2u8CFQAAAAAdAAA
AABAD
40. Maantaan Pabukoan
Maantaan pabukoan merupakan kearifan lokal tipe hubungan sesama manusia.
Maantaan pabukoan adalah tradisi dimana menantu perempuan akan mengantarkan
pabukoan atau makanan berbuka puasa kerumah mertuanya. Sebelum menantu
mengantarkan pabukoan kerumah mertua, mertua akan mengantarkan pusaran terlebih
dahulu kepada menantunya. Pusaran ini dapat berupa beras maupun uang. Pusaran ini
memiliki makna bahwa si menantu diminta untuk mengantarkan pabukoan ke rumah sang
mertua. Dalam maantaan pabukoan, pabukoan atau makanan yang dibawa oleh menantu
terdiri dari rendang daging, rendang hati dan ketan sarikayo. Pabukoan ini akan dibawa
menggunakan rantang. Setelah maantaan pabukoan, nantinya mintuo beserta keluarga
juga akan berbuka puasa bersama di rumah menantunya. Maantaan pabukoan biasanya
akan dilakukan pada rentang waktu puasa hari ke-10 sampai puasa hari ke-15.
Filosofi dari tradisi ini adalah untuk mempererat hubungan silaturrahmi antara
mertua dengan menantunya. Terlebih di bulan suci ramadhan, silaturahmi sangat penting
untuk dilakukan.
Tradisi Maantaan Pabukoan
Sumber : Rahmatul Annisa
41. Tradisi Mangajian Anak dan Tradisi Khatam Al-Qur’an
Tradisi Managajian Anak dan Khatam Al-Qur’an merupakan kearifan lokal dalam
falsafah, tradisi dan kepercayaaan. Tradisi ini menjadi sebuah bentuk kearifan lokal
karena Tradisi Mangajian Anak dan Khatam Al-Qur’an telah menjadi sebuah norma yang
berlaku di dalam masyarakat Nagari Balai Gurah sehingga wajib untuk dilakukan setiap
tahunnya. Tradisi Mangajian Anak dan Khatam Al-Qur’an adalah tradisi yang dilakukan
oleh masyarakat Nagari Balai Gurah agar anak-anaknya memiliki pengetahuan agama
serta mampu dalam membaca Al-Qur’an.
Nagari Balai Gurah dikenal dengan masyarakatnya yang pandai dalam membaca
Al-Qur’an. Nagari Balai Gurah memiliki sebuah perguruan Qur’an tertua yang bernama
Perguruan Qur’an Awwaliyah Balai Banyak Balai Gurah. Perguruan Qur’an ini didirikan
pada tahun 1948 beberapa tahun pasca perang oleh para ulama dari Nagari Balai Gurah.
Ulama Minangkabau yang bernama H. Latief Syakur juga terlibat dalam pembangunan
perguran Qur’an ini. Para ulama mendirikan Perguruan Qur’an dengan tujuan agar anak-
anak di Nagari Balai Gurah dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar serta
memiliki pengetahuan agama. Nagari Balai Gurah memegang prinsip adat basandi syara’,
syara’ basandi kitabullah. Sehingga setiap tahun, anakyang berumur 9 tahun diwajibkan
untuk belajar mengaji.
Karena kebiasaan untuk memasukan anak mengaji maka ini menjadi sebuah tradisi
di masyarakat. Tidak hanya anak-anak yang tinggal di Nagari Balai Gurah saja, anak
rantauyang orang tuanya berasal dari Balai Gurah, akan memasukan anaknya mengaji.
Anak-anak dari luar Sumatera Barat juga menempuh pendidikan disini, diantaranya
adalah anak-anak dari Tapanuli dan Jakarta. Mereka mengetahui keberadaan Perguruan
Qur’an ini dari para perantau Nagari Balai Gurah.Nagari Balai Gurah memiliki sistem
mangaji satu tahun tamat, maka dari itu banyak yang anak rantau yang berminat mengaji
di Perguruan Qur’an Nagari Balai Gurah.
Setelah tamat, maka akan diadakan tradisi Khatam Al-Qur’an. Pada saat ini para
pemuda pemudi akan bergotong royong untuk kesuksesan acara. Masyarakat akan
bergotong royong dalam memasak. Biasanya satu ekor sapi akan disembelih untuk
dijadikan lauk. Pada pagi hari akan dilakukan acara baarak sekeliling nagari Balai Gurah,
setelah itu pada siang harinya akan diadakan makan bersama yang dihadiri oleh para
peserta khatam, orang tua peserta, ninik mamak, para datuak, para perantau serta
masyarakat Balai Gurah. Tradisi ini adalah tradisi yang akan diadakan setiap satu tahun
sekali.
Filosofi dari tradisi mangajian anak ini adalah agar sang anak memiliki
pengetahuan agama dan mampu membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang baik dan benar.
Sedangkan tradisi Khatam Al-Qur’an memiliki filosofi bahwa masyarakat
terusmembangun jiwa gotong royong, karena pada acara ini semua generasi mulai dari
yang muda sampai yang tua akan terlibat dalam bekerjasama demi kesuksesan acara
Khatam Al-Qur’an ini. Selain itu dengan tradisi Khatam Al-Qur’an ini, menjadi ajang
silaturahmi masyarakat Nagari Balai Gurah.
Perguruan Qur’an Awaliyah Balai
Banyak Balai Gurah
Sumber : Rahmatul Annisa
Kegiatan Pawai Khatam Al-
Qur’an
Sumber : Rahmatul Annisa
42. Mitos Inyiak
Pada masing-masing daerah, masyarakat pasti akan memiliki suatu kepercayaan
maupun Mitos yang mereka yakini. Di Nagari Balai Gurah masyarakat mempercayai Mitos
keberadaan Inyiak. Mitos inyiak merupakan bentuk kearifan lokal dalam mitos masyarakat.
Masyarakat Balai Gurah menggambarkan Inyiak sebagai seekor harimau, dengan tubuh
yang sedikit lebih kecil dari harimau pada umumnya. Inyiak tidak akan memangsa manusia,
apabila inyiak berpapasan dengan manusia, maka tubuh nya akan berubah menyerupai asap
dengan mata yang sangat terang.
Inyiak merupakan peliharaan orang zaman dahulu. Masyarakat percaya bahwa inyiak
merupakan harimau penjaga nagari dan penjaga masyarakat, terutama menjaga keturunan
dari si pemiliknya. Apabila ada seseorang yang berniat jahat, maka inyiak akan
menampakan dirinya. Dan jikaada binatang buas yang turun dari gunung ke pemukiman
warga, maka inyiak akan mengusirnya. Masyarakat percaya bahwa inyiak bukanlah mitos
semata, keberadaannya memang ada. Siklus hidup inyiak sama dengan makhluk hidup
lainnya, ketika dia mati maka akan ada anak yang akan menggantikannya untuk terus
menjaga keturunan dari si pemiliknya.
Filosofinya yaitudalam kehidupan kita akan hidup berdampingan dengan makhluk
ciptaan tuhan lainnya. Setiap daerah mungkin memiliki penjaga yang bertugas untuk
menjaga kampung. Maka dari itu kita juga harus mampu menjaga sikap, jangan berlaku
yang tidak baik terlebih apabila kita datang ke daerah yang baru. Serta jangan mengusik
keberadaannya.
43. Kearifan Lokal Silek Tuo
Bentuk kearifan lokal silek tuo ini adalah bentuk tradisi Minangkabau baik di
Sumatera Barat maupun diluar Sumatera Barat. Bentuk pertunjukan atraksi seni dalam
berbagai kegiatan kesenian dan kebudayaan.
Silek Tuo adalah versi silek paling tua. Gerakan silek itu diambil dari berbagai
macam hewan yang ada di Minangkabau, contohnya Silek Harimau, Kucing dan Silek
Buayo (Buaya). Namun dalam perkembangannya, ada sasaran silek, umumnya silek
yang berasal dari kalangan tarekat atau ulama menghilangkan unsur-unsur gerakan
hewan di dalam gerakan silek mereka, karena dianggap bertentangan dengan ajaran
agama Islam. Karena orang Minang menganut falsafah Alam takambang jadi guru .
Falsafah itu merupakan konsep universal dari budaya alam Minangkabau. Kata “alam”,
berasal dari bahasa Sanskerta artinya sama dengan lingkungan kehidupan atau daerah.
Konsep ini juga diterjemahkan oleh para pendiri silat pada masa dahulunya menjadi
gerakan-gerakan silat. Antara silat dan produk budaya lain di Minangkabau adalah satu
kesatuan filosofis, jadi untuk menerangkan silat, pepatah-pepatah yang biasa diucapkan
dalam upacara adat bisa digunakan.
FILOSOFI: Silek Minangkabau mengajarkan nilai-nilai etik interaksi yang
fundamental, sebab filosofi yang diajarkan adalah " Lahienyo Mancari Kawan,
Bathinnyo Mancari Tuhan ( Lahirnya Mencari Kawan Bathinnya Mencari
Tuhan)."Hablumminannas dan Hablumminallah". Pada tataran prakteknya, silek
diwariskan melalui proses belajar, menuntut kesungguhan, keterampilan fisik dan lidah
serta kematangan psikologis. Silek dalam pengunaannya memiliki konsekuensi yang
besar, yakni menciderai dan dapat mematikan. Oleh sebab itu, silek hanya
dipergunakan dalam keadaan terdesak membela diri. Namun bila terdesak gerakan silek
bisa digunakan pula- munculah ungkapan "Musuah Indak Dicari Jikok Basuo
Pantang Diilakkan" ( Musuh Tidak Dicari Kalau Bertemu Pantang Dielakkan).
Foto kearifan Lokal:
Sumber: Ratih Irawan
44. Palang Pintu
Sumber gambar:https://www.kabarindo.com/post/gebyar-budaya-betawi-2019-ajang-
kolaborasi-/16743
Tradisi palang pintu merupakan sebuah kesenian Betawi yang merupakan paduan antara silat
dan seni sastra pantun.Palang pintu hadir menjadi salah satu rangkaian dalam pernikahan orang
Betawi. Di sini, setiap pengantin pria akan mendapat tantangan dari mempelai wanita untuk
menguji kepiawaian bela diri dan juga kepandaian dalam mengaji.Dalam tradisi ini, jawara yang
bertindak sebagai perwakilan mempelai laki-laki dan perempuan akan saling menunjukan
kemampuan memperagakan gerakan silat dan melontarkan pantun satu sama lain.Tradisi pala ng
pintu menyimbolkan ujian yang harus dilalui mempelai laki-laki untuk meminang pihak
perempuan.Jawara dari daerah asal laki-laki harus bisa mengalahkan jawara yang berasal dari
daerah tempat tinggal perempuan.
45. Ondel-Ondel
Sumber gambar:https://wartakotatravel.tribunnews.com/2020/02/24/nyok-nonton-
rumah-pembuat-ondel-ondel-di-setu-babakan.
Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan
dalam pesta-pesta rakyat. Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar 2,5 meter
dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga
mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala
dibuat dari ijuk.Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang
perempuan warna putih.Warna merah memiliki arti marah.Wajah ini awalnya dibuat untuk
menakut-nakuti setan atau roh-roh jahat.Sedangkan warna putih pada wajah ondel-ondel
perempuan menggambarkan sifat keibuan yang lembut.
Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang
gentayangan.Ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau
untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun.
Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel masih bertahan dan menjadi penghias wajah
kota metropolitan Jakarta.
46. TABUIK DI PARIAMAN.
Festival Tabuik merupakan salah satu tradisi tahunan di dalam masyarakat Pariaman.
Festival ini telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan diperkirakan telah ada sejak abad ke-19
Masehi. Perhelatan tabuik merupakan bagian dari peringatan hari wafatnya cucu Nabi Muhammad
SAW, yaitu Hussein bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Sejarah mencatat, Hussein
beserta keluarganya wafat dalam perang di padang Karbala. Tabuik sendiri diambil dari bahasa
arab ‘tabut’ yang bermakna peti kayu. Nama tersebut mengacu pada legenda tentang kemunculan
makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang disebut buraq. Legenda tersebut
mengisahkan bahwa setelah wafatnya sang cucu Nabi, kotak kayu berisi potongan jenazah Hussein
diterbangkan ke langit oleh buraq. Berdasarkan legenda inilah, setiap tahun masyarakat Pariaman
membuat tiruan dari buraq yang sedang mengusung tabut di punggungnya.
Menurut kisah yang diterima masyarakat secara turun temurun, ritual ini diperkirakan
muncul di Pariaman sekitar tahun 1826-1828 Masehi. Tabuik pada masa itu masih kental dengan
pengaruh dari timur tengah yang dibawa oleh masyarakat keturunan India penganut Syiah. Pada
tahun 1910, muncul kesepakatan antar nagari untuk menyesuaikan perayaan Tabuik dengan adat
istiadat Minangkabau, sehingga berkembang menjadi seperti yang ada saat ini. Tabuik terdiri dari
dua macam, yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Keduanya berasal dari dua wilayah berbeda
di Kota Pariaman. Tabuik Pasa (pasar) merupakan wilayah yang berada di sisi selatan dari sungai
yang membelah kota tersebut hingga ke tepian Pantai Gandoriah. Wilayah Pasa dianggap sebagai
daerah asal muasal tradisi tabuik. Adapun Tabuik Subarang berasal dari daerah Subarang
(seberang), yaitu wilayah di sisi utara dari sungai atau daerah yang disebut sebagai Kampung Jawa.
Mulai tahun 1982, perayaan tabuik dijadikan bagian dari kalender pariwisata Kabupaten
Padang Pariaman. Karena itu terjadi berbagai penyesuaian salah satunya dalam hal waktu
pelaksanaan acara puncak dari rangkaian ritual tabuik ini. Jadi, meskipun prosesi ritual awal tabuik
tetap dimulai pada tanggal 1 Muharram, saat perayaan tahun baru Islam, tetapi pelaksanaan acara
puncak dari tahun ke tahun berubah-ubah, tidak lagi harus pada tanggal 10 Muharram. Rangkaian
tradisi tabuik di Pariaman terdiri dari tujuh tahapan ritual tabuik, yaitu mengambil tanah, menebang
batang pisang, mataam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik,
dan membuang tabuik ke laut. Prosesi mengambil tanah dilaksanakan pada 1 Muharram.
Menebang batang pisang dilaksanakan pada hari ke-5 Muharram. Mataam pada hari ke-7,
dilanjutkan dengan mangarak jari-jari pada malam harinya. Pada keesokan harinya dilangsungkan
ritual mangarak sorban.
Pada hari puncak, dilakukan ritual tabuik naik pangkek, kemudian dilanjutkan dengan
hoyak tabuik. Hari puncak ini dahulu jatuh pada tanggal 10 Muharram, tetapi saat ini setiap
tahunnya berubah-ubah antara 10-15 Muharram, biasanya disesuaikan dengan akhir pekan. Sebagai
ritual penutup, menjelang maghrib tabuik diarak menuju pantai dan dilarung ke laut. Setiap
tahunnya puncak acara tabuik selalu disaksikan puluhan ribu pengunjung yang datang dari berbagai
pelosok Sumatera Barat. Tidak hanya masyarakat lokal saja, festival ini pun mendapat perhatian
dari banyak turis asing yang membuatnya menjadi perhelatan besar yang ditunggu-tunggu setiap
tahunnya.
Pantai Gandoriah yang menjadi titik pusat perhatian seakan menjadi lautan manusia,
khususnya menjelang prosesi tabuik diarak menuju pantai. Karenanya, jika ada kesempatan, tidak
ada salahnya jika festival tabuik ini menjadi alternatif agenda wisata Anda di tahun yang akan
datang.
Sumber: Faradila
47. Baoguang
Bentuk kearifan lokal baoguang . Pada kegiatan baoguang ini dimainkan alat
musik tradisional Minangkabau seperti gendang,gong dan Talempong.
Baoguang merupakan ciri khas masyarakat koto bangun. Baoguang biasanya
ditampilkan pada upacara-upacara adat seperti upacara pengangkatan penghulu, pesta
perkawinan(baralek) ,pesta sunatan. Salah satu tujuan penyajian kesenian Oguang
adalah sebagai sarana hiburan. Dalam berbagai acara adat baoguang biasanya
ditampilkan pada malam hari yaitu setelah sholat isya sampai sebelum waktu sholat
subuh karea waktu tersebut bertepatan dengan waktu masak memasak untuk
keperluan hajat pada esok harinya. Pada awalnya oguang bertujuan untuk menghibur
ibu-ibu yang sedang memasak agar tidak mengantuk. Selain itu Ba Ogung juga dapat
megikat kan tali silahturrahmi masyarakat degan kerabat yang datang dari perantauan.
Serta melalui baoguang sekaligus bisa memperkenalkan alat musik tradisional
Minangkabau.
Dalam pertunjukannya oguang ditampilkan pada area sekitar rumah yang
mempunyai hajat seperti di teras rumah, dan lingkungan sekitar rumah. Pada acara
pernikahan biasanya baoguang dilaksanakan selama 2 malam berturut –turut
menjelang akad diadakan. Alat music yang digunakan dalam kesenian baoguang ini
terdiri dari 6 buah talempong, 2 buah gendang panjang dan dua buah gong yang
digantung pada tunggak. Foto baoguang :
Sumber : https://www.auralarchipelago.com/auralarchipelago/talempongunggan
Sumber foto : https://rm.id/images/berita/750x390/andalkan-pelat-seng-perajin-
gamelan-tradisional-ini-tetap-eksis_16647.jpg
48. Pacu sampan
Pacu sampan menjadi salah satu kearifan lokal di nagari koto bangun. Secara
umum pengertian Pacu sampan adalah pertandingan, perlombaan, pertarungan untuk
mencapai kemenangan. Biasanya pacu sampan diadakan 6 hari setelah hari raya idul
fitri. Pacu sampan ini diikuti oleh pemuda se nagari koto bangun. Sampan yang
digunakan merupakan sampan milik pribadi . Karena pada umumnya trasnportasi
masyarakat sekitar menggunakan sampan. Acara pacu sampan ini diadakan disungai
sosa tepatnya di jorong 1 nagari koto bangun.
Masyarakat yang hadir akan menonton ditepian sungai. Dalam pacu sampan
terdapat pemenang. Pihak yang berhak menentukan pemenang Pacu sampan ialah
juri . Juri terdiri dari para pejabat, pemuka masyarakat dan wakil dari desa yang
punya sampan. Juri ini yang memberikan keputusan tentang pemenang dalam suatu
perlombaan Jalur sampan.
Adapun nilai yang terkandung dalam pacu sampan ini adalah
a. Nilai sosial
Pelaksanaan Pacu sampan diperlukan kerja sama yang erat antara pemuka
masyarakat, termasuk pimpinan dan anak pacu . Kerja sama dan kegotong royongan
sangat dominan dalam Pacu sampan.
b. Memupuk rasa sabar dan lapang dada menerima keputusan (lomak dek awak
lomak pulo dek urang, ketuju dek awak ketuju pulo dek urang)
c. Adanya rasa kebersamaan (pekerjaan berat menjadi ringan)
Sumber foto : halloriau.com
Sumber foto: facebook Syaroni Adiwijaya
49. balimau di Minangkabau
Di ranah Minang ada kalimat adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak
mangato, adat mamakai, alam takambang jadi guru. Setelah masuknya islam ke Minangkabau
dan telah disatukan antara adat dengan agama yang saling terhubung satu sama lain. Jadi setiap
akan memasuki bulan suci ramadhan, yang menurut agama Islam setiap muslim wajib
mensucikan diri dan memperbaiki serta membersihkan hubungan dengan orang tua, saudara,
teman-teman, dan kenalan lainnya. Kemudian menurut adat, ada yang namanya balimau yaitu
membersihkan diri dengan mandi dengan ramuan tertentu seperti daun pandan, bunga-bunga
yang harum, jeruk nipis (limau kapeh) yang diracik kemudian diletakkan di dalam mangkok
lalu dibawa ke sungai. Saat ujung rambut sampai ujung kaki sudah basah, diambil ramuan tadi
lalu digosokka ke kepala dengan tujuan membersihkan isi kepala dari pikiran buruk seperti iri,
dengki. Alasan digunakan jeruk nipis karena jeruk nipis gunanya untuk membersihkan yang
berkarat dan kotor dan akan menghasilkan wangi yang harum.
Tujuan utama dari kearifan lokal balimau adalah untuk memperbaiki serta mebersihkan
hubungan habliminannas antara sesama manusia supaya hubungan yang awalnya buruk
menjadi kembali baik. Sebagian besar masyarakat yang telah menyelesaikan tradisi balimau
datang mengunjungi orang tua untuk meminta maaf lahir dan bathin.
Cara mempertahankan tradisi balimau saat ini maupun masa yang akan datang
Untuk mempertahankan tradisi balimau memang harus ada usaha yang dilakukan oleh
para ahli agar masyarakat tidak salah kaprah. Seperti tata cara mandi balimau yang awalnya
menurut adat asli Minangkabau, perempuan diwajibkan menutup dada sampai telapak kaki
menggunakan kain. Sebenarnya, mandi balimau bisa dilakukan di kamar mandi sendiri tanpa
perlu pergi ke sungai sehingga tercampur antara pria dan wanita a pria dan wanita yang bukan
mukhrim. Ada beberapa masyarakat di Minangkabau yang mengatakan kalau balimau itu
bid`ah karena tidak paham maksud dan tujuan sebenarnya. Namun ada juga yang berpendapat
kalau balimau itu tradisi yang harus dilestarikan karena sudah ada sejak lama dan diturunkan
secara turun temurun.
Selain usaha para ahli, generasi muda yang tertarik dengan adat juga bisa
mensosialisasikannya kepada masyarakat dengan syarat sudah mengetahui secara pasti dan
tidak menyebarkan kebohongan. Kebijaksanaan pemerintah juga harus ada dengan
mempertahankan mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau yang sayangnya pada saat ini
sudah tidak lagi ada padahal mata pelajaran tersebut berperan besar agar anak-anak mulai
paham mengenai adat mereka.
Gambar 2. Tradisi mandi balimau di kolam pemandiam umum
Sumber:
https://thr.kompasiana.com/image/dila17052/5cd45dd06db8431b3d77f0f
8/balimau-tradisi-minangkabau-yang-tak-pernah-mati
50. IKAN NIAT (Ikan Didoakan)
Tipe kearifan lokal tradisi
Sumber : grup facebook kokas (koto katik sekitar)
Ikan niat atau ikan uduhan atau ikan larangan merupakan tradisi turun temurun yang
sudah dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Koto Katik, Kecamatan Padang Panjang
Timur demi menjaga kelesatarian ikan sungai endemik. Ikan yang diniatkan adalah ikan
yang berada disepanjang sungai yang melintasi Kelurahan Koto Katik yang memiliki
panjang kurang lebih 1 km. Ikan niat termasuk kearifan lokal yang dijaga kelestariannya
oleh masyarakat. Kearifan lokal ini termasuk kedalam bentuk
kearifanlokaldalampemanfaatansumberdayaalam, karena tradisi ikan niat dilakukan
dengan tujuan agar sumber daya alam yang ada di sungai tidak dimanfaatkan secara
berlebihan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Zainahar sebagai salah satu warga
Kelurahan Koto Katik yang ikut serta dalam tradisi ini mengatakan bahwa hal yang
dilakukan sebelum ikan diniatkan adalah melakukan musyawarah dengan pemuka
masyarakat dan pemuda didaerah tesebut. Musyawarah dilakukan untuk menjelaskan
tentang proses ritual meniatkan ikan. Proses ini dinamakan dengan ritual penanaman
sesuatu oleh pawang yang ditunjuk sebagai orang yang akan mendoakan sesuatu
tersebut (biasanya berbentuk bubuk bewarna putih). Setelah bubuk tersebut didoakan,
langkah selanjutnya adalah pemuda diminta untuk menaburkannya kedalam sungai,
sehingga dapat dimakan oleh ikan. Ikan yang keluar dari wilayah sungai Kelurahan
Koto Katik tidak akan berlaku niatnya tadi atau sudah telepas niatnya. Masyarakat
percaya bahwa ikan yang sudah tidak diwilayah Kelurahan Koto Katik, efek niatnya
tidak akan berlaku lagi atau telah lepas.
Setelah ritual tersebut selesai, hal yang harus diingat oleh masyarakat Kelurahan
Koto Katik bahwa ikan yang sudah diniatkan tadi tidak boleh diambil, dipancing, dijala,
atau ditangkap sesuai ketentuan waktu yang sudah ditetapkan. Ada sanksi yang
didapatkan ketika larangan tersebut dilanggar seperti sanksi sosial dan denda. Jika tetap
ada yang melanggar pantangan tersebut masyarakat percaya bahwa yang memakan ikan
tersebut akan sakit dan meninggal. Dari yang dikatakan bapak Zainahar bahwa ada
kasus salah seorang warga menangkap ikan niat tesebut dan besoknya warga tersebut
meninggal dunia.
51. LAPEH IKAN NIAT (PEMBUKAAN IKAN NIAT)
Tipe kearifan lokal tradisi
Sumber : ig @kominfopadangpanjang
Lapeh ikan niat adalah tradisi yang dilakukan masyarakat Kelurahan Koto Katik
setelah ikan diniatkan (ikan didoakan) atau dilarang ditangkap. Ini termasuk kearifan
lokal dalam bentuk pelestarian sumber daya alam. Lapeh ikan niat merupakan momen
dimana ikan yang didoakan sebelumnya, dilepaskan larangannya dan masyarakat
dibolehkan untuk memancingnya. Sebelum pembukaan ikan larangan ini, dilakukan
musyawarah dengan pemuka masyarakat untuk menentukan kapan dan aturan-aturan
yang harus dipatuhi oleh masyarakat saat memancing. setelah itu warga akan bergotong
royong untuk membersihkan lingkungan disepanjang sungai.
Aturan dalam memancing adalah pemancing hanya boleh memakai joran sebagai
alat pancing. Pemancing tidak diperkenankan untuk menjala atau meracun ataupun
menyentrum ikan. Pemancing diperkenankan memancing dimanapun jika daerah
tersebut masih termasuk kedalam Kelurahan Koto Katik. Lapeh ikan niat dimulai pukul
07.00 sampai 18.00 WIB.
Pembukaan ikan larangan ini dilakukan rutin satu kali dalam setahun dengan waktu
bukanya selama satu minggu saja yang sudah berjalan selama kurang lebih 22 tahun. Sebelum
resmi dibuka dibentuklah panitia acara untuk mengkoordinasikan dan pengawas acara lapeh
ikan niat ini. Siapapun boleh datang dan ikut memancing di sungai ini tidak hanya warga lokal
saja dengan membayar insert yang disetiap insertnya berbeda-beda keuntungan. Pihak panitia
menetapkan uang sumbangan kepada pemancing dengan sehari Rp. 50.000 dan Rp. 100.000
untuk seminggu penuh, panitian akan memberikan sebuah kertas kecil seperti karcis sebagai
bukti kalau pemancing sudah mendaftar. Keuntungan yang didapat warga lokal adalah gratis
memancing hanya di malam hari, untuk siang hari warga lokal tetap membayar.Insert dari
peserta mancing akan digunakan untuk kemakmuran masjid Aufu Bil Uqud yang ada di
Kelurahan Koto Katik, seperti biaya untuk pembangunan, renovasi dan operasionl lainnya.
Setelah satu minggu ikan akan diniatkan lagi atau dilarang lagi.
52. . Balarak
Foto kearifan lokal
Sumber : https://1.bp.blogspot.com/-
ejNth59o43E/XBP9Bwh6QqI/AAAAAAAAYo8/FnrSjo9hlkAtRZffTyqRBoVC8E5O4SaDgC
LcBGAs/s1600/Baralek-gadang-jurnaland-5.jpg
53. Acara Turun Mandi
Foto kearifan lokal
Sumber :
http://fs.genpi.co/uploads/news/watermark/2019/04/02/2bc6beae5443dd9ee0b02a4180f6d88a.j
pg
Upacara Turun Mandi, Acara turun mandi biasanya dilakukan untuk bayi yaitu bayi yang
baru lahir misalnya tujuah hari, lima belas hari, tiga puluh hari, empat puluh hari atau umur
bayi masih dari baru lahir sampai belum bisa ngapa-ngapain orang biasanya melakukan
upacar atau acara turun mandi.
Acara turun mandi ini dilakukan bersama dengan bako dari si bayi tersebut bersama
dengan keluarga dari ibu si bayi juga, turun mandi ini merupakan upacara untuk memper
erat tali kekerabatan antara keluarga ayah dan keluarga ibu si bayi dan masyarakat sekitar.
Biasanya upacara turun mandi ini hampir sama dengan acara baralek, karena oerang-orang
di kampung sini biasanya juga mengundang orang-orang untuk datang ke rumahnya
memperingati acara turun mandi anak nya dari orang tua.
Acara turun mandi ini dilakukan menurut orang-orang terdahulu agar kalau sudah
melaksanakan upacara turun mandi maka si bayi sudah bolej dibawa untuk pergi ke luar
rumah, dan jika kalau belum melakukan upacara turun mandi maka sibayi belum dibolehkan
untuk dibawa ke luar rumah nya, karena sudah dari nenek moyang terdahulu masyarakat
dari sini mempercayai seperti itu , dari zaman dulu biasanya acara turun mandi ino
dilakukan ke luar rumah seperti memandikan bayi kesungai dan sekarang sudah jarang
sekali yang saya lihat memandikan bayi ke sungai pas acara turun mandi.
Sekarang karena sudah hampir disetiiap rumah masyarakat di sini rata-rata sudah
memiliki wc, toilet, bak mandi maka upacara ini dilakukan dengan membawa si bayi ke
luarr rumah saja atau di halaman rumah, dan melakukan acara turun mandi si bayi di sana
saja.
54. Mandoa ke pohon beringin
tradisi mendoa ke pohon beringin/katampek. Masyarakat disini masih ada yang percaya
dengan tradisi ini dengan menggelar acara mendoa ke pohon beringin/katampek yang sudah
turun temurun dengan datang ke kuburan untuk menggelar tradisi mendoa katampek untuk
keselamatan serta mendoakan mereka yang telah tiada, mereka datang melaksanakan tradisi
tersebut yang dilakukan kaum perempuan dan anak-anak dengan membawa makanan atau bisa
juga langsung memasak disana. Setelah memasak bersama mereka langsung menghidangkan
makanan dan melakukan doa bersama,setelah melakukan doa bersama mereka langsung
menyantap makanan tadi dan mengucap rasa syukur.
Kearifan lokal akan tetap bertahan apabila masyarakat tetap mempertahankan serta
melaksanakan pandangan, aturan, nilai, norma yang ada. Perkembangan budaya ditengah
perkembangan jaman kadang membuat kearifan lokal semakin dilupakan oleh masyarakat,
kearifan lokal ada dengan proses yang sangat panjang dan memiliki nilai-nilai leluhur yang ada
didalamnya dengan adanya kebudayaan sebagai bukti nyata, namun semakin lama budaya
hanya digunakan sebagai suatu benda ataupun simbol tanpa memiliki artian penting lagi. Fakta
tersebut membuat nilai kearifan lokal yang terkandung dalam kebudayaan semakin terlupakan
oleh generasi berikutnya yang hanya mementingkan suatu perkembangan tanpa melihat
kebudayaan maupun kearifan lokal.
55. Baralek
Sumber : Anjela Fitriyanti
Baralek merupakan tipe kearifan lokal dalam hubungan sesama manusia, karena Barek
tidak hanya berkaitan antara dua keluarga yang berbeda saja akan tetapi banyak juga orang-
orang yang berperan didalamnya, baik itu dari kerabat, sanak saudara maupun masyarakat
sekitar atas kesuksesan baralek. Filosofi dari baralek adalah adanya nilai gotongroyong yang
diterapkan, seperti saat masak-masak untuk makanan baralek, masak-masak tersebut ditolong
oleh masyarakat yang tinggal didekat diadakannya baralek. Ada dari ibuk-ibuk yang menolong
memasak rendang, membuka bawang, mencuci piring dll. Untuk bapak-bapak serta pemuda ada
yang menolong membersihkan perkarangan tempat baralek, membantu mendirikan bendera
marawa.
Baralek merupakan istilah yang digunakan pada adat perkawinan masyarakat
minangkabau. Baralek sama dengan pesta perkawinan yang diadakan untuk marapulai
(mempelai laki-laki) dengan anak daro (mempelai perempuan) yang duduk bersanding di
palaminan, ada yang menyelenggarakannya secara sederhana, dan ada yang mewah.
Jika dilihat dari adat istiadat atau cara pelaksanaan baralek tentu saja ada sedikit
perbedaan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya, itu semua tergantung kepada adat
istiadat yang berkembang di daerah tersebut. Contoh dari perbedaan tersebut dapat dilihat dari
salah satu rangkaian adat istiadat baralek adalah pada kegiatan lamaran, dimana lamaran di
Nagari Kampung Pinang pihak dari laki-lakilah yang mendatangi pihak perempuan. Sedangkan
di Nagari Lubuk Basung, pihak perempuanlah yang mendatangi pihak laki-laki.
Terlepas dari perbedaan tersebut, sebelum mengadakan baralek ada beberapa kegiatan
atau proses adat yang harus dijalani terlebih dahulu, seperti:
a. Manapuak Bandua
Ini merupakan tahapan awal sebelum baralek, manapuak bandua ini sama dengan istilah
perkenalan antara orangtua dari mempelai pria dan mempelai wanita. Perkenalan ini
dilakukan dirumah kedua belah pihak, dilakukan secara bergantian. Dimana diadakan
terlebih dahulu itu tergantung kesepakatan kedua belah pihak. Untuk mengujungi
kediaman terkait perkenalan tersebut keluarga hanya membawa sedikit buah tangan
untuk tuan rumah, seperti kue ataupun buah-buahan.
b. Maminang (Batamu Mamak)
Setelah manapuak bandua, proses selanjutnya adalah batamu mamak (maminang).
Batamu mamak dilakukan antara mamak pusako (kakak/adik laki-laki dari ibu), baik
mamak pusako mempelai laki-laki dengan mamak pusako mempelai perempuan. Di
Nagari Kampung Pinang batamu mamak dilakukan dengan cara mamak pusako
mempelai laki-laki mendatangi mamak pusako dari mempelai perempuan. Pada batamu
mamak ini terjadilah perundingan antaro mamak sako kedua belah pihak, yang dibahas
adalah masalah uang adat yang diberikan oleh kedua belah pihak mempelai, biasanya
uang adat ini senilai dengan harga seperempat emas yang harus dibayar oleh masing-
masing pihak. Uang adat ini akan diberikan kepada masing-masing mamak sako yang
digunakan sebagai uang untuk mengurus surat menyurat yang berhubungan dengan
proses pernikahan tersebut. Batamu mamak juga membahas kapan akan diadakan
manyiriah, akad pernikahan dan baralek.
c. Manyiriah
Sebelum diadakannya baralek (sahari sebelum baralek diadakan) berkumpullah mamak-
mamak pusako untuk mengundang masyarakat kampung, kerabat, sanak saudara, itulah
yang dinamakan manyiriah. Manyiriah ini memberitahukan kepada masyarakat
kampung kapan diadakannya akad dan baralek.
d. Akad
Sumber : Anjela Fitriyanti
Akad nikah merupakan prose ijab kabul untuk menyatukan mempelai laki-laki dengan
mempelai wanita secara sah dimata agama. Akad nikah dapat diselenggarakan di kantor
KUA atau di kediaman mempelai wanita, itu tergantung kepada kesepakatan kedua
belah pihak.
e. Manjapuik Marapulai
Sumber : Anjela Fitriyanti
Setalah akad nikah masing-masing mempelai akan pulang kerumah masing-masing,
barulah proses selanjutnya manjapuik marapulai. Proses manjapuik marapulai dilakukan
sebelum alek pacah (Baralek dimulai), di Nagari Kampung Pinang manjapuik marapulai
dilakukan pada malam hari. Mamak pusako dari pihak mempelai perempuan akan
mendatangi kediaman mempelai laki-laki dengan tujuan menjemput mempelai
(manjapuik marapulai). Proses manjapuik marapulai ini diawali dengan pasambahan
antar mamasak pusako kedua mempelai dan ditutup juga dengan pasambahan. Setelah
itu barulah mempelai laki-laki dibawa ke kediaman mempelai wanita, pakaian yang
dikenakan biasanya kemeja putih, sarung, peci serta lengkap dengan sepatu dan kaus
kaki.
f. Baralek
Setelah proses manjapuik marapulai dilakukan, barulah mempelai laki-laki duduk
bersanding dengan mempelai wanita di palaminan, inilah yang dinamakan baralek.
Akan datang para tamu undangan untuk mengahadiri baralek, mereka akan
mengahadiahkan uang, beras yang dibawa dengan kampia, atau kain sarung maupun
kain panjang. Para tamu undangan akan dihidangkan makanan khas baralek¸ seperti
rendang, sampadeh ikan/daging, gulai ikan, dll
g. Baralek Bako
Sumber : Anjela Fitriyanti
Ada juga istilah baralek bako, ini merupakan istilah dimana mempelai laki-laki atau
wanita (kebanyakan mempelai wanita) dijemput oleh keluarga dari pihak ayah mempelei
(bako). Biasanya dijapuik bako di Nagari Kampung Pinang, kedua mempelai akan
diarak dengan tambua dari rumah bako menuju tempat baralek. Sebagai hadiah
pernikahan, bako biasanya memberikan sapi, kambing atau paling tidak emas. Dan ada
juga bako yang menghadiakan sapanatiangan (terdiri dari piring, mangkok, gelas,
sendok), makna diberikan sapanatiangan adalah alat-alat tersebut bisa dimanfaatkan
dalam rumah tangga mempelai.
h. Manutuik Alek
Ini merupakan proses tarakhir, manutuik alek (penutupan baralek) di Nagari Kampung
Pinang dilakukan pada malam hari dirumah mempelai perempuan. Ini semacam
syukuran yang dilakukan oleh pihak keluarga.
56. Balimau
Tempat Balimau
Sumber : https://images.app.goo.gl/SXf8d36nYNGVzbk1A
Balimau merupakan salah satu tradisi yang ada di Nagari Kampung Pinang, tetapi tradisi
ini juga berkambang di daerah lain. Balimau yang dimaksud adalah masyarakat disini akan
mengunjungi Pantai Tiku untuk berkumpul dengan sanak-saudara ataupun masyarakat
setempat, mereka akan berbondong-bondong mengunjungi pantai tersebut. Selama di berada di
Pantai Tiku tersebut, masyarakat akan bersantai-santai bagi orang dewasa, sedangkan bagi
anak-anak mereka akan berenang di pantai. Tradisi ini dilakukan setiap tahun, sehari sebelum
masuknya bulan ramadhan. Sepulang dari Pantai Tiku, masyarakat akan mandi (membersihkan
diri) lalu setelah itu mereka akan menggunakan limau (jeruk nipis), bunga kenanga, daun
pandan dan akar tanaman gambelu. Bahan-bahan tersebut disatukan kedalam air, lalu
dibasahkan ke rambut.
Balimau merupakan bentuk kearifan lokal dalam falsafah, tradisi dan kepercayaan.
Filosofi balimau adalah untuk mensucikan diri dalam rangka mempersiapkan diri untuk
menyambut bulan ramadhan dan menunaikan ibadah puasa dan sholat tarawih. Dan sebagai
sarana mempererat rasa persaudaraan dengan saling mengunjungi dan minta maaf.
57. Manjalang Mintuo
Sumber : Anjela Fitriyanti
Manjalang mintuo dilakukan setelah beberapa hari sepasang suami istri menikah. setelah
menikah biasanya sepasang suami istri tinggal di rumah kediaman keluarga istri, seorang suami
akan menjadi sumando disana. Untuk tetap mengikat silaturahmi antara menantu dengan
keluarga dari suami, maka dari itu adanya tradisi manjalang minto. Manjalang mintuo sama
artinya dengan mengunjungi mertua, suami istri tersebut akan datang kerumah keluarga dari
suami (mertua istri), dengan berpakaian sopan, kebaya untuk perempuan dan kemeja serta peci
untuk laki-laki. Untuk manjalang mintuo ini suami istri yang baru menikah tersebut
membawakan rantang yang berisi makanan dan kue (pelengkap) sebagai buah tangan dari
menantu untuk mertua (mintuo).
Rantang makanan yang diberikan biasanya ada 4 tingkat, yang berisi nasi, rendang, satu
ekor singgang ayam, telur mata sapi. Rantang makanan tidah hanya diberikan kepada mertua
atau orangtua dari suami, akan tetapi juga diberikan kepada keluarga inti, seperti adik atau
kakak dari ibuk mertua (mamak atau etek suami) dalam porsi rantang yang sedikit
dibandingkan rantang untuk mertua. Sebelum pulang dari rumah mintuo rantang yang diberikan
tersebut biasanya akan dibalas oleh orang yang menerimanya, meskipun kadang ada sebagian
menantu yang terang-terangan menolak rantangnya dibalas oleh mertua, akan tetapi karena
sudah menjadi tradisi maka mertua tetap memberi balasan untuk rantang yang diberikan
menantu. Maksud membalas disini adalah mertua akan membalas isi dari rantang dengan
mengisikan sejumah uang dan beras kedalam rantang. Beras yang diisi memenuhi besar rantang
tersebut, biasanya beras di isi paling sedikit 2 tingkatan rantang dan untuk jumlah uang yang
diberikan tergantung kemampuan dari mertua, paling sedikit Rp. 100.000.
Manjalang mintuo ini termasuk kedalam tipe kearifan lokal hubungan sesama manusia.
Filosofinya adalah meskipun pasangan tersebut sudah sah dalam ikatan pernikahan, mereka
tidak boleh melupakan kedua orangtua, khususnya seorang istri terhadap orangtua suami
(mintuo). Ikatan silaturahmi tetaplah dijaga, maka dari itu tradisi manjalang mintuo tetap ada
sampai saat sekarang ini.
58. Bulan Lamang
Sumber : Anjela Fitriyanti
Bulan lamang dilakukan sebelum memasuki bulan suci ramadhan, acara yang dilakukan
seperti membuat lamang dan mandoa (tahlilan). Tradisi bulan lamang ini dilakukan oleh
keluarga-keluarga tertentu, pada saat ini banyak juga orang yang mengadakan bulan lamang.
Bulan lamang identik dengan pembuatan lamang, dimana para ibuk-ibuk akan membantu
proses pembuatan lamang tersebut. Lamang dibuat menggunakan talang yang telah disediakan,
didalam talang tersebut dialas menggunakan daun pisang lalu dimasukkkan lah beras puluik ke
dalam talang dan disusul dengan memasukkan santan kedalam talang, barulah talang dibakar
sampai lamang tersebut masak.
Selain membuat lamang, ibuk-ibuk juga memasak sejumlah makanan untuk mandoa
(tahlinan) yang akan diadakan pada malam harinya. Makanan yang dimasak adalah makanan
untuk makan malam, seperti nasi, rendang, gulai ayam/ikan dll. Tuan rumah akan mengundang
kaum bapak-bapak dan ibuk-ibuk disekitar rumah untuk menghadiri acara tahlilan di bulan
lamang. Pada acara tahlilan tersebut diawali dengan acara berdoa bersama untuk menyambut
bulan suci ramadhan yang biasanya dipimpin oleh seorang labai (tokoh agama dalam suatu
suku), barulah makan bersama dilakukan dan hadirin juga menikmati lamang yang dibuat tadi.
Setelah acara mandoa selesai, ibuk-ibuk yang menolong dalam proses pembuatan lamang,
masak-masak untuk mandoa diperbolehkan untuk membawa sejumlah makanan dan lamang
yang ada.
Bulan lamang merupakan salah satu kearifan lokal dalam falsafah, tradisi dan
kepercayaan. Filosofi yang ada di tradisi ini adalah nilai sosial yang terkandung dalam tradisi
tersebut. Ibuk-ibuk atau tetangga saling membantu dalam proses pembuatan lamang, masak-
masak untuk mandoa, disini juga ajang silaturahmi bagi tetangga untuk saling meminta maaf
untuk menyambut bulan suci ramadhan.
59. Perkawinan
Perkawinan dalam adat Minangkabau merupakan salah satu hal yang penting karena
berhubungan erat dengan sistem kekerabatan matrilineal dan garis keturunan. Menurut alam
pikiran orang Minangkabau, perkawinan yang ideal ialah perkawinan antara keluarga
terdekat seperti dikenal dengan istilah pulang kamamak ataupulang kabako Dengan tujuan
akan lebih kukuh perkawinan yang dibentuk dan tidak akan merusak struktur adat yang dianut.
Pada dasarnya sebuah perkawinan berguna secara biologis antara dua lawan jenis sehingga
dapat melanjutkan keturunan mereka, perkawinan juga untuk mempererat dan memperluas
hubungan kekerabatan.
Sumber:mutiara anisa mahendra
60. Pernikahan
Dalam adat pernikahan di minangkabau tipe dalam kearifan lokalnya yaitu Kearifan lokal
dalam hubungan sesama manusia karena penikahan di minangkabau memiliki kesepakatan
bersama dalam perencanaan dan pelaksanaan pernikahan yang umumnya melibatkan sejumlah
besar anggota keluarga, terutama dari sisi mempelai wanita. Ini merupakan adat bagi wanita di
Minangkabau dan keluarganya untuk terlibat dalam sebagian besar rencana pernikahan,
termasuk dalam lamaran pernikahan, sesuai dengan budaya Minangkabau yang matrilineal.
Bentuk dari kearifan lokal adat pernikahan di minangkabau yaitu Berwujud Nyata
(Tangible) karena adat pernikahan di minangkabau memiliki nilai- nilai filosofi dan merupakan
prosedur yang dilakukan untuk melakukan pernikahan dan sudah banyak ditulis dalam beberapa
buku- buku tentang kearifan lokal minangkabau.
Sumber: Endi Kurnia
G. HUBUNGAN DENGAN PERTANIAN
1. Membajak sawah Menggunakan Kerbau
Membajak sawah mengguanakan kerbau merupakan suatu kebiasaan tradisional yang
biasa dilakukan oleh masyarakat Sikucua. Dengan kemajuan teknologi seperti saat ini membuat
kearifan lokal ini semakin ditingalkan dan berganti dengan mesin pembajak. Padahal membajak
sawah menggunakan kerbau ini merupakan suatu kearifan lokal yang harus di lestarikan agar
generasi penerus juga mengetahui dan bisa melakukan kearifan lokal ini. Membajak sawah
menggunakan kerbau ini masuk kedala kearifan lokal dalam bidang pertanian.
Di daerah sikucua ada beberapa petani yang masih mengunakan kerbau untuk membajak
sawah miliknya. Meskipun perkembangan zaman sekarang sudah semakin canggih dengan
menggunakan mesin bajak agar lebih praktis. Seperti yang dilakukan oleh bapak erwan, beliau
masih menggunakan kerbau dalam mebajak sawah miliknya dengan cara tradisional. Menurut
beliau ada ketertarikan tersendiri jika membajak sawah dengan kerbau. Kearifan lokal ini sudah
jarang ditemukan, para petani sekarang lebih suka mengunakan mesin bajak.
(Gambar 1)
(Sumber: https://3.bp.blogspot.com/-
jpL4iSpcCnE/VcP8dS8zMHI/AAAAAAAATVg/CzXn4Uz4rYk/w1200-h630-p-k-no-
nu/Petani-membajak-sawah-dengan-kerbau.JPG )
2. rangkiang
Rangkiang adalah lumbung padi yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau untuk
menyimpan padi hasil panen Bangunan ini pada umumnya dapat ditemui halaman Bentuknya
mengikuti bentuk rumah gadang dengan atap bergonjong dan lantai yang ditinggikan dari atas
tanah.Rangkiang melambangkan kesejahteraan ekonomi dan jiwa sosial yang dimiliki oleh
orang Minangkabau.
Rangkiang didirikan di halaman rumah gadang, rumah adat tradisional Minangkabau.
Seperti rumah gadang, bangunan ini memiliki atap berbentuk gonjong yang terbuat dari ijuk.
Dindingnya terbuat dari anyaman bambu tanpa jendela dan pintu. Pada salah satu dinding
singkok atau loteng, terdapat bukaan kecil berbentuk persegi tempat memasukkan padi hasil
panen. Untuk menaikinya, digunakan tangga yang terbuat dari bambu. Tangga ini dapat
dipindahkan bila tidak digunakan dan disimpan di bawah kolong rangkiang.
Ukuran rangkiang berbeda-beda menurut jenisnya. Rangkiang Si Bayau-bayau
merupakan yang terbesar dari semua rangkiang. Rangkiang ini ditopang oleh enam tiang atau
lebih, seperti pada rangkiang istana paga ruyang yang memiliki dua belas tiang. Rangkiang Si
Tangguang Lapa dan Rangkiang Si Tinjau Lauik berbentuk identik dan sama-sama ditopang
oleh empat tiang. Adapun Rangkiang Kaciak memiliki ukuran lebih kecil dan rendah.
Fungsi dari beberapa jenis rangkiang yakni:
Rangkiang Si Bayau-bayau: menyimpan padi yang akan digunakan untuk makan sehari-hari.
Rangkiang Si Tangguang Lapa: menyimpan padi cadangan yang akan digunakan pada musim
paceklik.
Rangkiang Si Tinjau Lauik: menyimpan padi yang akan dijual. Hasil penjualan digunakan
untuk membeli barang atau keperluan rumah tangga yang tidak dapat dibikin sendiri.
Rangkiang Kaciak: menyimpan pada yang akan digunakan untuk benih dan biaya mengerjakan
sawah pada musim berikutnya.
https://images.app.goo.gl/RK5CQ2emJRrGGaD56
3. Manyadu Aia Sawah
Manyadu aia sawah merupakan sistem pertanian yang dilakukan oleh masyarakat
Balai Gurah. Manyadu aia sawah merupakan bentuk kearifan lokal dalam bidang
pertanian. Manyadu aia sawah adalah sistem pertanian dengan metode bagi hasil antara
si pemilik sawah dengan si penggarap sawah. Apabila si pemilik sawah tidak mampu
untuk menggarap sawahnya maka si pemilik akan mencari orang yang mampu untuk
menggarap sawahnya. Untuk biaya penggarapan sawah seperti keperluan membeli
pupuk dan benih padi, si pemilik yang berkewajiban untuk mengeluarkan biayanya.
Mengenai upah si penggarap sawah, akan dibayar dengan cara membagi dua hasil panen
tadi dengan si pemilik sawah.
Filosofi dari tradisi Manyadu Aia Sawah ini adalah kita sebagai manusia tidak
dapat hidup sendiri, kita pasti membutuhkan orang lain dalam kehidupan. Selain itu
dengan adanya sistem manyadu sawah ini, tidak hanya pemilik sawah yang
diuntungkan, namun si penggarap juga merasakan keuntungannya, hal ini terlihat
dengan hasil panen yang dibagi dua, sehingga hasil panen tidak hanya dinikmati oleh si
pemilik sawah saja, namun si penggarap sawah juga dapat merasakannya
Kegiatan Panen Padi
Sumber : Bapak Zetria Edison
4. katompat
Pada mula tradisi katompat ini dilakukan setelah semua masyarakat
memanen padi. Tradisi katompat diawali dengan membantai seekor atau
beberapa ekor kabau (kerbau). Setelah kerbau dibantai, kemudian daging kerbau
di bagi menjadi dua bagian. Yang pertama setengah daging kerbau di masak oleh
ibu-ibu dari perwakilan suku yang ada di Sungai Lansek dan setengahnya lagi
daging kerbau dibagi sama rata kepada seluruh masyarakat di Sungai Lansek.
Kemudian pada malam hari setelah memotong kerbau, diadakannya acara pentas
seni yang menanpilkan tari kreasi adat Minangkabau yang diikuti oleh para
anak-anak dan remaja di Sungai Lansek.
Pada hari kedua atau puncak acara katompat terdapatnya banyak
kegiatan. Pertama, ibu-ibu dari masing-masing kaum mempersiapkan dan
membawa jamba (tempat makanan yang berbentuk lingkaran besar)dari rumah
masing” dan berkumpul pada suatu tempat. Yang dijadikan tempat
berkumpulnya ibu-ibu yang membawa jamba adalah di pasar Sungai Lansek.
Setelah berkumpulnya para ninik mamak, alim ulama, perangkat nagari. Maka
arakan tersebut mulai berjalan menuju makam tompat Koto Tuo. Kemudian
arakan tersebut diiringi dengan canang, beragam alat musik khas Minang dan
tari-tarian. Setelah sampainya para rombongan tadi di gerbang makam tompat
Koto Tuo, maka para pemuka adat Sungai Lansek disambut dengan tari
pasambahan dan memberikan sirih pada masing pemuka adat nagari Sungai
Lansek.
Setelah itu, para arakan langsung memasuki makam tompat dan duduk sesuai
tingkatan. Kemudian dimulai dengan kata pembukaan dari datuak dan wali
nagari Sungai Lansek. Selanjutnya ibu-ibu yang membawa jamba yang berisi
rendang kerbau, buah-buahan, minum, nasi dan terakhir lemang yang dihiasi
untuk diberikan kepada pada pemuka adat untuk sebagai oleh dibawa ke
rumahnya masing-masing. Kemudian setelah jamba diberikan satu persatu pada
setiap para pemuka adat dan para masyarakat yang berada di makan tompat
melakukan makan basamo (bersama). Setelah makan bersama, dilakukan doa
bersama yang dipimpin satu orang. Sebagai wujud rasa syukur masyarakat
Sungai Lansek kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat
pada masyarakat Sungai Lansek. Dan acara yang terakhir sebagai hiburan dan
penutup terdapatnya acara panjat pinang yan
g dilakukan para pemuda Sungai Lansek untuk menghibur masyarakat nagari
Sungai Lansek.
Perlengkapan dalam tradisi katompat, bentuk penyelenggaraan katompat
di kerjakan dengan baik oleh masyarakat Sungai Lansek sendiri. Sebagai salah
satu bentuk tradisi yang memiliki nilai-nilai kebersamaan yang di turunkan
secara turun temurun dan dipertahankan kedudukannya ditengah-tengah
kehidupan masyarakat Sungai Lansek sampai saat sekarang ini. Dalam
penyelenggaraan Tradisi Katompat ini adapun perlengkapan yang harus
disediakan yaitu: satu ekor atau beberapa ekor kerbau untuk dimasak, jamba
yang berisikan rendang daging kerbau, lemang nasi, buah-buahan dan minum.
Jamba yang berisikan makanan tersebut diberikan datuk pada masing-masing
suku yang menghadiri acara tersebut.
Foto Kearifan Lokal: Katompat
Sumber:atika luqiana
G. HUBUNGAN DENGAN CERITA BUDAYA
H. Cerita Maling Kundang
Cerita budaya malin kundang di minangkabau.
Sumber : https://www.inews.id/travel/destinasi/wisata-pantai-air-manis-di-tanah-minang-
melihat-batu-malin-kundang
Dari observasi yang dilakukan , dalam kearifan lokal minangkabau terdapat bentuk
cerita budaya yang terdapat di minangkabau yaitu malin kundang. Malin kundang ini terdapat
di pesisir pantai air manis tepatnya di kota padang, dimana patung ini sudah di perbarui oleh
masyarakat sekitar, karena terjadinya air laut yang abrasi sehingga membuat patung
malin kundang yang asli semakin lama semakin memudah, oleh karena itu
masyarakat berisiatif untuk membuatan patung baru dan menjadikan itu sebagai
tempat objek wisata. Ada alur cerita terjadinya malin kundang dikutuk oleh ibu nya
karena telah durhakan kepada ibu nya. Ada juga pesan moral yang dapat kita ambil
dari kisah malin kundnag ini.
2. Carito Ambuang Baro Jo Puti Intan
Carito Ambuang Baro Jo puti Intan adalah cerita rayat asli dari Nagari
Balai Gurah. Carito Ambuang Baro Jo puti Intan termasuk kedalam kearifan
lokal dalam bentuk cerita budaya, petuah, dan sastra. Carito Ambuang Baro Jo
Puti Intan adalah kisah nyata yang berasal dari suku Piliang Nagari Balai Gurah
yang masih diingat oleh orang tua di Kapalo Koto Balai Gurah.Hal ini juga
didukung dengan adanya kuburan tua disebuah kolam di dekat Masjid Kapalo
Koto Nagari Balai Gurah, yang berukuran 50cm yang dipercaya sebagai tempat
terkuburnya kepala Ambuang Baro dan memiliki batu nisan setinggi lutut.
Cerita ini merupakan kisah cinta antara Puti Intan dengan Sutan
Pamuncak. Dikisahkan tentang seorang gadis bernama Puti Intan menolak
perjodohan dengan seorang pria bernama Sutan Talauik Api. Setelah mendengar
kabar bahwa dia akan dijodohkan dengan Sutan Talauik Api, Puti Intan
mengadu kepada kakak laki-laki nya yang bernama Ambuang Baro. Ambuang
baro juga tidak menyetujui perjodohan ini.
Dengan adanya penolakan tersebut, Sutan Taluik Api merasa tersinggung
dan sangat marah sehingga memicu perselisihan sehingga terjadi sebuah
pertarungan hebat antara Sutan Talauik Api dengan kakak Puti Intan yaitu
Ambuang Baro. Pada saat perkelahian, Deta dari Ambuang Baro yang dianggap
sakti, tiba-tiba lepas dari kepalanya sehingga menyebabkan Ambuang Baro
kalah dan ahirnya kemenangan dari Sutan Talauik Api ditunjukan dengan
memenggal kepala Ambuang Baro.
Untuk merayakan kemenangan ini, Sutan Talauik Api mengadakan pesta
besar-besaran. Untuk membela keluarganya, Puti Intan menyelinap masuk ke
pesta tersebut dan menyamar sebagai seorang pedagang. Puti Intan menyelinap
dengan tujuan untuk mengambil potongan kepala Ambuang Baro dan
memakamkannya dengan layak.
Karena kekalahan Ambuang Baro, Puti Intan terpaksa menikahi Sutan
Talauik Api dengan tujuan ingin membalas dendam. Disaat Sutan Taluik Api
sedang mandi, Puti Intan memenggal kepalanya, seperti sutan talauik api
memenggal kepala Ambuang Baro yang menyebabkan sutan talauik api
meninggal dunia.
Tidak lama setelah itu, ahirnya Puti Intan dengan Sutan Pamuncak
menikah. Namun mantan istri dari Sutan Pamuncak yang benama Reno Bungalai
tidak menyukai pernikahan tersebut. Sehingga pada suatu hari Reno Bungalai
memasukan racun ke makanan Puti Intan dan Sutan Pamuncak dan
menyebabkan Sutan Pamuncak meninggal pada saat itu juga, sementara Puti
Intan menjadi sakit-sakitan dan beberapa minggu setelah itu Puti Intan juga
Meninggal Dunia.Agar Carito Ambuang Baro tidak dilupakan oleh masyarakat,
carito ini biasanya akan dipamerankan dalam bentuk teater drama pada saat
acara khatam Al-Qur’an agar generasi sekarang juga dapat mengetahui carito
ambuang baro jo puti nilam.
Filosofi dari cerita Ambuang Baro dan PutiIntan adalah dalam kehidupan
kita tidak boleh memiliki sikap dendam terlebih memiliki niat untuk balas
dendam. Karena apa yang kita lakukan tentu akan ada ganjarannya. Seperti yang
dilakukan oleh Puti Intan yang berhasil membalaskan dendamnya kepada Sutan
Talauik Api, pada ahirnya dia juga mati terbunuh karena diracuni oleh Reno
Bungalai.
Buku Cerita Ambuang Baro dan Puti Intan
Sumber:https://s1.bukalapak.com/img/1638586702/large/ORIGINAL_BEKAS_
AMBUANG_BARO_DAN_PUTI_INTAN.jpg
Anak Nagari Balai Gurah yang terlibat dalam Drama Ambuang Baro
Sumber:https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F%2Frimbb-
bbr.blogspot.com%2F2012%2F07%2Fambuang-baro-dan-puti-
intan.html&psig=AOvVaw3xUw5728MXd9VFYta4zEHo&ust=1617413943064000&s
ource=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCMCBrNm23u8CFQAAAAAdAAAA
ABAh
3. Ungkapan Kepercayaan Rakyat
Ungkapan kepercayaan rakyat dapat dilihat dari segi struktur, makna
dan fungsinya. Hand (dalam Danandjaja, 1984:155) menggolongkan
kepercayaan rakyat menjadi empat golongan yaitu;
(1) takhyul atau kepercayaan di sekitar lingkaran hidup manusia,
(2) takhyul atau kepercayaan mengenai alam gaib,
(3) takhyul atau kepercayaan mengenai alam semesta atau dunia, dan
(4) jenis tahyul lainnya.
Menurut Hand (dalam Danandjaja, 1984:155—156), takhyul atau
kepercayaan di sekitar lingkaran hidup manusia dibagi dalam tujuh kategori,
yaitu
(1) lahir, masa bayi, dan masa kanak-kanak,
(2) tubuh manusia dan obatobatan rakyat,
(3) rumah dan pekerjaan rumah tangga,
(4) mata pencaharian dan hubungan sosial,
(5) perjalanan dan perhubungan,
(6) cinta, pacaran, dan nikah, dan
(7) kematian dan adat pemakaman.
Berikut ungkapan kepercayaan masyarakat koto pandan tentang kearifan
lokal budaya masyarakat sekitar yaitu :
ungkapan kepercayaan rakyat yang berkategori rumah dan
pekerjaan rumah tangga yang ditemukan sebagai berikut.
Jan mangambang payuang di dalam umah, beko di tembak wek patuih
(Tidak boleh membuka atau mengembang payung di dalam rumah, karena nanti
rumahnya akan disambar oleh petir)
Stuktur dari ungkapan tersebut adalah sebab akibat, yakni: Jan
mangambang payuang di ateh rumah= S,beko di tembak dek patuih= A.
Ungkapan ini merupakan seputar kegiatan yang dilakukan di rumah. Adapun
makna sebenarnya adalah bahwa mengembangkan payung di dalam rumah itu
bukanlah suatu pekerjaan yang pantas. Kalau ada anak-anak yang bermain-main
payung dalam rumah nanti terkena mata orang yang berada didalam rumah, dan
menyebabkan kerusakan paying bisa jadi karena tersangkut oleh benda dalam
rumah. Payung digunakan di luar rumah dan bukan di dalam rumah. Payung
adalah alat untuk melindungi tubuh dari hujan. Fungsinya juga tergolong dalam
pendidikan, yakni mendidik anak-anak yang suka bermain-main payung di
dalam rumah supaya mereka berhenti melakukan hal itu makanya dibuatlah
sebuah alasan bahwa nanti akan disambar petir bila bermain-main payung
tersebut.
Gambar : tagar.id
Dak bulih manjaik baju lakek di badan, ndak lapeh dari utang do (Tidak
boleh menjahit baju yang sedang dipakai, nanti hutang kita tidak akan lunas)
Ditinjau dari segi strukturnya menyatakan sebab akibat, yaitu: dak bulih
manjaik baju lakek di badan = S,ndak lapeh dari utang do = A, sedangkan
kategorinya termasuk ke dalam rumah dan pekerjaan seputar rumah tangga.
Maknanya bahwa pekerjaan menjahit baju yang sedang dipakai di badan itu
bukanlah pekerjaan yang tepat. Sebab Kalau hal itu dilakukan nanti di badan
akan tertusuk oleh jarum. Apabila baju yang dipakai robek, kalau kita ingin
menjahitnya, sebaiknya di buka dahulu. Fungsinya juga untuk melarang agar
suatu pekerjaan yang berbahaya terhadap diri kita tidak dilakukan. Selai itu,
Dak buliah mancakuak samba di kuali, beko buruak jadi anak daro atau
marapulai (Jangan suka mencicipi sambal yang ada dalam kuali, nanti akan
terlihat kurang bagus sewaktu menjadi pengantin)
Berdasarkan ungkapan tersebut terlihat struktur sebab dan akibatnya,
yakni:dak buliah mancakuak samba di kuali= S,beko buruak jadi anak daro atau
marapulai = A.Makna sebenarnya bahwa mencicipi sambal yang ada dalam
kuali itu merupakan sikap yang tidak sopan dan tidak patut untuk ditiru.
Sebaiknya sambal yang telah dimasak di dalam kuali itu dipindahkan terlebih
dahulu ke dalam piring/tempat sambal. Dari sinilah baru kita diperbolehkan
untuk mencicipinya. Fungsi juga untuk mendidik. Mendidik disini bertujuan
untuk membentuk sikap seseorang itu supaya tidak berbuat yang tidak sesuai
dengan yang semestinya.
Gambar : monika meldawani
ungkapan kepercayaan rakyat yang berkategori cuaca
Baka garam, buliah taduah hujan (membakar garam agar hujan berhenti)
Ungkapan di atas mempunyai struktur sebab akibat, yakni Baka garam =
S,buliah taduah hujan = A. Makna sebenarnya adalah tidak ada hubungan antara
membakar garam dengan hujan yang akan teduh. Ini hanya merupakan jawaban
sementara dari teka-teki alam yang tidak terpecahkan oleh pikiran manusia.
Fungsi dari ungkapan in adalah untuk mengingatkan sekaligus menyuruh.
ungkapan kepercayaan rakyat berkategori kehamilan/kelahiran
yang ditemukan sebagai berikut.
Jan suko makan kalang ayam, beko kareh basunat (Jangan suka makan
ampela ayam, nanti akan keras sewaktu disunat)
Ungkapan ini terdiri dari dua struktur sebab dan akibat, yaitu: Jan suko
makan kalang ayam = S,beko kareh basunek = A. Adapun maknanya bahwa
tidak ada hubungan antara makan perut ayam dengan keras sewaktu akan
disunat, tetapi ini adalah perbandingan dari pikiran masyarakat terhadap sesuatu
hal yang dilihat mereka. Fungsinya sebagai sistem proyeksi khayalan suatu
kolektif yang berasal dari halusinasi seseorang.
ungkapan kepercayaan rakyat lainnya yang berkaitan dengan
makanan.
Jan suko manggatok padi, beko sakik talingo (Jangan suka memakan
padi, nanti telinga akan sakit)
Ungkapan ini mempunyai struktur sebab akibat, yaitu: Jan suko
manggatok padi= S,beko sakik talingo = A. Makna ungkapan ini bahwa kalau
sering makan padi akan merusak gigi sekaligus gusi. Gusi akan luka dan sakit
terkena sekam padi tersebut. Lebih baik makan beras yang sudah ditanak
menjadi nasi. Fungsinya tergolong pada fungsi mengingatkan.
ungkapan kepercayaan rakyat berkategori kehamilan/kelahiran
Urang manganduang ndak buliah duduak di batu, beko lakek anak
(Orang yang sedang hamil tidak boleh duduk di atas batu, nanti anak dalam
kandungan akan kembar siam)
Ungkapan ini termasuk kategori tutur. Tutur kata diperjelas dengan
struktur yang terdiri atas tanda atau sebab yang kemudian akan terjadi akibatnya.
Misalnya jika kita membakar kain bekas (sebab), maka akan segera timbul bunyi
petir (akibat). Kemudian ada juga strukturnya yang tiga bagian, yaitu yang
terdiri dari tanda, perubahan dari suatu keadaan ke keadaan lain (converst) dan
akibat misalnya “bila engkau melihat bintang jatuh (tanda), engkau harus
menepuk-nepuk kantong sambil berkata “penuh-penuh” (konversi) dan engkau
akan mendapat uang nantinya (akibat)” (Danandjaja, 1984:154). “Sebab akibat”
selanjutnya disingkat dengan S, A sedangkan “sebab, konversi, akibat”
selanjutnya disingkat dengan S, A, K Ungkapan ini juga mempunyai dua
struktur, urang manganduang ndak buliah duduak di batu = S,beko lakek anak =
A. Adapun makna sebenarnya bahwa orang hamil yang duduk di atas batu itu
tidak bagus dipandang mata, Lagi pula hal itu akan membuat pantat terasa sakit
nantinya dan perut akan tertekan oleh lutut. Ini akan mengakibatkan gangguan
terhadap janin yang ada dalam rahim. Untuk fungsinya untuk mengingatkan agar
orang yang hamil tersebut menjaga cabang bayi yang ada dalam kandungannya.
Urang manganduang dianjua makan jo piriang ketek-ketek, supayo
bisuak ketek muncuang anak (Orang hamil harus makan dengan piring kecil,
supaya kecil mulut anaknya nanti)
Ungkapan ini merupakan kebalikan dari ungkapan sebelumnya. Dalam
hal struktur masih sama, yakni sebab akibat: Urang manganduang makan jo
piriang ketek-ketek= S,supayo ketek muncuang anak = A. Dari segi kategorinya
juga dalam kategori pekerjaan yang dilakukan di rumah. Makna sebenarnya
adalah bahwa kalau makan di piring kecil akan terlihat kesopanan sikap sewaktu
makan. Sifat rakus tidak akan tergambar dalam diri kita bila makan dengan
piring yang kecil. Fungsinya adalah sebagai penebal emosi dari kepercayaan
terhadap orang sedang hamil dalam bersikap.
Urang manganduang kalau bajalan, jan bulak-baliak di muko pintu,
beko tarusuik-suruik anak di dalam paruik (Orang hamil kalau berjalan, jangan
bolak-balik di depan pintu, anak yang ada dalam perutnanti akanterbolak-balik)
Ungkapan kepercayaan rakyat ini mempunyai struktur yang berbeda dari
ungkapan kepercayaan yang dijelaskan sebelumnya. Perbedaan itu terletak dari
segi strukturnya sebab konversi dan akibat, yakni: Urang manganduang kalau
bajalan = S,janbulak-baliak di muko pintu= K, beko tarusuik-suruik anak di
dalam paruik = A. Maknanya adalah bahwa orang yang sedang hamil
sebenarnya harus banyak beristirahat dan dilarang untuk bergerak-gerak.
Jan suko mandukuang anak mancengkang, beko kambang kaki anak
(Jangan suka suka menggendong anak secara mengangkang, nanti kaki anak
akan mengembang)
Ungkapan ini berstruktur sebab dan akibat, yakni: Jan suko mandukuang
anak mancengkang = Sbeko kambang kaki anak= A. Makna sebenarnya adalah
bahwa menggendong anak di samping kiri/kanan itu tidak baik untuk
pertumbuhan anak. Hal ini akan mengakibatkan gangguan pada kaki anak.
Fungsi dari ungkapan ini sebagai penebal emosi kepercayaan pada suatu
masyarakat. Di samping itu fungsinya juga untuk mengingatkan supaya tidak
menggendong anak dengan cara yang seperti itu.
ungkapan kepercayaann tentang tubuh manusia lainnya.
Jan lalok bakaluak, beko cirik bungkuak (Jangan tidur membungkuk,
nanti tai juga akan bungkuk)
Berdasarkan ungkapan tersebut strukturnya masih tetap sama yaitu
sebab dan akibat, yakni: Jan lalok bakaluak = S,beko cirik bungkuak = A.
Maknanya adalah bahwa tidur secara membungkuk tersebut tidak baik untuk
kesehatan. Perkembangan tulang punggung tidak rata dan akan menjadi
bungkuk. Tidur tersebut sebaiknya secara telentang dan lurus. Fungsinya adalah
untuk mengingatkan agar seseorang menjaga kesehatannya dalam tidur.
Gambar : klikdokter.id
ungkapan kepercayaan rakyat berkategori binatang dan
peternakan yang ditemukan sebagai berikut.
Jan mandikan kuciang, beko hujan labek turun (Jangan memandikan
kucing, nanti akan turun hujan lebat)
Ungkapan ini menyatakan struktur sebab dan akibat yaitu: Jan mandikan
kuciang = S beko hujan labek turun = A. Makna sebenarnya adalah bahwa
pekerjaan yang memandikan kucing itu merupakan pekerjaan yang menyiksa
binatang. Hewan peliharaan tersebut seharusnya di pelihara dengan baik dan
bukan disakiti. Fungsinya untuk mendidik anak-anak yang suka usil terhadap
hewan-hewan peliharaan yang ada di rumah.
Ungkapan kepercayaan rakyat juga merupakan hasil kebudayaan atau
tradisi masyarakat di desa Koto Pandan, Kenagarian Inderapura Timur,
Kabupaten Pesisir Selatan yang sifatnya turun-temurun. Ungkapan tersebut
berbahasa daerah atau bahasa Minangkabau yang disampaikan sesuai dengan
sifat dan tingkah laku masyarakat itu sendiri. Sifat dan tingkah laku itu
tergambar dari cara mereka menuturkan atau mengucapkan sesuatu. Aneka
sikap, perilaku, dan tindak tutur setiap penutur bahasa dapat dipersentasikan
melalui ungkapan. Ungkapan yang disampaikan tersebut secara lisan dalam
bentuk santun yang telah dibuat dan diatur oleh masyarakat penuturnya. Dapat
dikatakan bahwa sebagian besar ungkapan kepercayaan rakyat yang ditemukan
di Desa Koto Pandan Kenagarian Inderapura Timur merupakan ungkapan yang
bersifat larangan. Ungkapan larangan ini mempunyai keunikan tersendiri.
Seseorang takut untuk melanggar ungkapan larangan tersebut. Apabila larangan
itu dilanggar maka masyarakat percaya bahwa yang ditakutinya tersebut akan
mendapatkan akibatnya.
Nama- nama anggota
1. Nadia Erwani Fazri 18234094 22. Atikah Luqiana 18234044
2. Fahmiya Azlin 18234004 23. Mutia Indra Juliani 18234052
3. M.Octa Geofani 18234090 24. Prayumi wikanti asning
4. Sally Dwi Febriyanti 18234106 18234014
5. Atika Hayati Femalinda 25. Widya Putri 18234018
18234068 26. Yovita Melamanda 18234060
6. Riskia hafifahreza 18234104 27. Alvina Luthfiah Firdausi
7. Dinda Aprilya 18234076 18234042
8. Isra'tu Pujatry Khaira 28. Kurnia 18234040
18234114 29. Fani Alivia 18234046
9. Fajri Maulana (18234020) 30. Chintia Febriyanti 18234028
10. Sri Azizah 18234056 31. Calista Salsabila 18234070
11. Rahmatul Annisa 18234100 32. Irvan Muhammad Rivani
12. Anjela Fitriyanti 18234066 18234008
13. Tri Olvy Hafiza Fitri 33. Jayandri 18234086
18234036 34. Fediantos 18234082
14. Ratih irawan 18234102 35. Ieka ratna hayati 18234006
15. Chindy Komala Sari 18234072 36. Thomas yundra putra
16. Muhammad marzuki 18234108
18234092 37. Aisyah nur safitri 18234062
17. Mutiara Rahmadanty 38. Mutiara annisa' mahendra
18234012 18234032
18. Hanif aniq Arrahman 39. Monika meldawani 18234010
18234048 40. Endi Kurnia (17234012)
19. Nur afifah 18234054 41. ulliya fikri zeris 18234110
20. Siti Hafifah 1823403 42. Rosi Putri 18234016
21. Radika maulana 18234098 43. Faradhilla Arivia 18234079
P
I
I
B
2
0
1
8 kearifan lokal merupakan tata nilai kehidupan yang terwarisi dari satu
generasi berikutnya yang berbentuk religi, budaya ataupun adat istiadat yang
umumnya dalam bentuk lisan dalam suatu bentuk sistem sosial suatu masyarakat.
Keberadaan kearifan lokal dalam masyarakat merupakan hasil dari proses adaptasi
turun temurun dalam periode waktu yang sangat lama terhadap suatu lingkungan
dimana sering terjadi interaksi di daalamnya.