The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kearifan lokal PIIB 2018 di daerah sekitar

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by puskesmassikucur, 2021-04-07 04:31:35

Kumpulan Kearifan Lokal

Kearifan lokal PIIB 2018 di daerah sekitar

Keywords: kearifan lokal

Pertama sekali pemuda tersebut dicarikan induk atau mamaknya (keluarga
angkat), kemudian dari pihak keluarga angkat pemuda tersebut di doakan dengan
menyiapkan carano barulah dipanggil orang sekampung untuk menghadirinya. Setelah
itu, dari keluarga angkat pemuda tersebut (mamak) membawa pemuda tadi ketempat
para pemuda asli Lubuk Malako untuk dikenalkan agar “duduk sama rendah, berdiri
sama tinggi” dengan pemuda asal, kemudian mamak angkat pemuda yang di pusako
mudo kan meletakkan carano di depan ketua pemuda dengan percakapan:

Mamak : “ko siriah nan sakapu, pinang nan batami, mintak di santok dek ketua”

Katua Pemuda : “alah kami santok”

Mamak : “kanapo guno siriah nan sakapu pinang nan batami, kami dari mamak

pasukuan (disebutkan nama sukunya) mengantar kemenakan kami ke ketua pemuda

supayo nak sailia samudiak yo pemuda nan banyak”

Kemudia ketua pemuda tersebut menyampaikan kepada pemuda lainnya, jika semuanya
sudah sepakat untuk menerimanya maka ketua pemuda tadi menyampaikan kepada
mamak dengan kalimat “alah jania aia alah jinak ikan”. Barulah pemuda pendatang
membawakan rokok, pisang, air kopi dan teh. Dengan menghisap rokok dan memakan
pisang secara bersama-sama merupakan simbol peresmian telah diterimanya pemuda
pendatang.

Dokumentasi : Mutia Indra Juliani

4. Baralek

Sumber.travel.detik.com

Baralek adala salah satu bentuk kearifan lokal dalam bentuk hubungan sesama manusia,
seperti kata pepatah lain padang lain ilalangi, pepatah tersebut dapat menggambarkan sebuah
pernikahan.Biasanya setiap daerah pasti memiliki adatnya masing-masing untuk melaksanakan
rangkaian prosesi pernikahhannya. Disini saya membuat sesuia urutan hari untuk didaerah
Paninggahan resepsi diadakan pada hari kamis dan laki-laki pada hari jum’at, inilah susunan
harinya;

Selasa: Menasehati kedua mempelai yang laki-laki dinasehati oleh mamak kalau perempuan
dinasehatin oleh acik/etek(Bundo kanduang)

Kamis: Adalah acara resepsi dirumah perempuan

Jumat: Pihak anak daro menjemput marapulai(laki-laki) sekaligus mengantarkan/ menjemput
tando yang ditinggalkan pas acara mausai bubua tadi dengan jamba pengaduan dan kedua
mempelai makan baduo setelah selesai makan baduo kedua mempelai diarak kerumah laki-
laki,anak daro ditinggal nginap disana dan ditemani oleh teman atau keluarga dekat.

Sabtu: Manyirah artinya mempelai laki-laki pergi kerumah tetangga-tetangga untuk menyirah.
Tujuannya adalah agar tetangga tau kalau laki-laki tersebut adalah minantu dari pihak keluarga.

Setelah itu adalah acara maanntan jamba kerumah kedua belah pihak maksudnya
mempelai disini pergi berkunjung kerumah keluarga mereka dengan membawa hantaran.

5. Batagak pangulu

Batagak Pangulu merupakan upacara adat Minangkabau untuk mengangkat penghulu (kepala
adat/pimpinan sebuah suku) yang baru. Upacara tersebut dilakukan secara besar-besaran dengan
memotong kerbau dan bisa berlangsung selama 3-7 hari.

Gambar 1
Batagak Pangulu Suku Kutianyia 21 Februari 2021

(Dokumentasi Wira,2021)

Menurut adat Minangkabau, peresmian atau pengangkatan seorang penghulu
tidak dapat dilakukan oleh keluarga yang bersangkutan saja. Upacara harus
melibatkan KAN (Kerapatan Adat Nagari). Upacara haruslah berpedoman dalam
petitih adat Minang yakni Maangkek Rajo sakato alam, Maangkek Pangulu sakato
kaum. Tata tertib meresmikan penghulu dimulai dari rapat atau mufakat kaum,
kemudian dibawa kehalaman artinya dibawa masalahnya ke dalam kampung lalu
diangkat ke tingkat suku dan akhirnya di bawa dalam Kerapatan Adat Nagari
(KAN). Yang berhak memasangkan deta panghulu (tutup kepala kebesaran
penghulu) yang baru diangkat ialah pucuk adat (datuak ampek suku : suku caniago,
suku koto, suku melayu, suku kutianyia).Melalui petitih tersebut, upacara adat
Batagak Pangulu haruslah dihadiri oleh semua pihak bahkan para pejabat daerah
setempat. Untuk mengangkat seorang penghulu, ada beberapa syarat yang harus
dipenuhi menurut adat :

1. Penghulu haruslah seorang laki-laki.
2. Penghulu haruslah orang yang baik, dan berasal dari keluarga yang baik.
3. Telah baligh (dewasa) dan berakal.
4. Seorang penghulu haruslah orang yang berilmu.
5. Penghulu haruslah memiliki sifat adil, arif, dan bijaksana.

6. Penghulu haruslah memiliki sifat tablig, yaitu menyampaikan yang baik-baik
kepada masyarakat.

7. Seorang penghulu haruslah bersifat pemurah, tulus, dan sabar

Gambar 2
Batagak Pangulu Suku Kutianyia 21 Februari 2021

(Dokumentasi Wira,2021)

Selain itu, terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh dalam upacara Batagak
Pangulu:
1. Harus adanya musyawarah (Barundiang) yang dilakukan oleh keluarga besar

(musyawarah saparuik), dengan anak kemanakan penghulu (musyawarah
sapayuang), dan persukuan di bawah suku nan ampek (musyawarah suku).
2. Setelah melakukan musyawarah, maka dilakukan prosesi adat pemasangan
saluak yang diangkat oleh seorang datuk, pengambilan sumpah (pembai’tan),
dan penasehatan penghulu yang akan diangkat oleh Datuk Monti.
3. Berikutnya adalah Prosesi Bararak, yaitu memberitahukan kepada masyarakat
bahwa seorang datuk telah diresmikan menjabat sebagai penghulu suatu kaum.
4. Prosesi penjamuan dilaksanakan dengan memberikan jamuan kepada setiap yang
hadir dalam upacara Batagak Pangulu tersebut, penjamuan dilakukan setelah
prosesi bararak selesai dilaksanakan.
5. Terakhir adalah prosesi naik ke balairung sari di balailamo, prosesi ini seorang
penghulu yang diangkat akan disahkan sebagai anggota KAN.

Gambar 3
Batagak Pangulu Suku Kutianyia 21 Februari 2021

(Dokumentasi Wira,2021)

Pergantian atau penggantian Pangulu dalam adat Minangkabau dilakukan karena
4 (empat) faktor:

1. Karena wafatnya Pangulu terdahulu (baputiang diateh tanah sirah)
2. Karena pangulu terdahulu berhalangan tetap (Hiduik bakurilaan-Mati

batungkek budi)
3. karena berkembangnya jumlah anak-kamakan yang dipimpin (gadang

manyusu atau gadang manyimpang, atau basiba langan baju, padi sarumpun
disibak duo)
4. Membentuk pangulu baru (mambuek kato nan baru)

Pengangkatan penghulu dapat juga dilakukan dengan pedoman “iduik bakarilaan,
mati batungkek mati” artinya, jika seseorang penghulu sudah tidak mampu lagi menjalankan
tugasnya, mungkin karena kesibukan lain/mungkin karena kesehatan tidak mengizinkan atau
juga karena bekerja di rantau dan sebagainya, maka dia boleh menyerahkan jabatan itu kepada
calon penggantinya. Biasanya calon pengganti itu kemenakannya (putra saudara
perempuannya) yang sudah dewasa.

Secara umum Batagak pangulu bukan agenda rutin yang memiliki waktu tertentu
melainkan bersifat fleksibel sesuai kebutuhan atau situasi masyarakat sehingga upacara Batagak
pangulu hanya akan dilaksanakan apabila seorang pangulu adat sudah layak di ganti.

Upacara malewakan gala atau menegakkan penghulu adalah suatu kegiatan yang
dilakukan oleh keluarga dan masyarakat nagari untuk mengukuhkan sako (gelar pusaka) pada
suatu kaum. Menegakkan sako dapat dilakukan atas tiga hal seperti:

1. Hiduik bakarelaan (mengganti penghulu yang masih hidup)
2. Mati batungkek budi (mengganti penghulu yang sudah meninggal dunia)
3. Gadang manyimpang (pengankatan penghulu baru).

Malewakan gala bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat atas
pelantikan pemimpin baru suatu kaum dan pangulu tersebut akan memimpin nagari secara
kolektif bersama dengan pangulu lainnya. Seorang pangulu pada hakekatnya “tumbuah dek
batanam, tinggi dek baanjuang, gadang dek baambak” (tumbuh karena ditanam, tinggi karena
dianjung, besar karena digemburkan).

Kepemimpinan pangulu ditentukan oleh masyarakat kaumnya, perlu mendapatkan
dukungan dari anggota keluarganya untuk menjalankan roda pemerintahan keluarga kaum dan
nagari. Biasanya upacara pengankatan pangulu dilakukan selama tiga hari disertai dengan
pertunjukan kesenian untuk menghibur tamu dan makan bersama dengan cara menyembelih
seekor kerbau dan kepalanya digantungkan di tempat yang lebih tinggi sebagai tanda suksesnya
kegiatan. Semua keluarga dekat, keluarga jauh dan kerabat serta masyarakat lainnya dalam
nagari turut hadir memeriahkan terutama pada acara puncak seperti mendengarkan pidato adat
yang menyatakan tugas dan tanggung jawab pangulu baru tersebut. Dalam pidato adat pangulu
yang baru diangkat tersebut menyatakan bahwa ia berjanji tidak menyimpang dari kaedah adat
dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Gambar 4
Pidato sekaligus bersalaman dengan niniak mamak
Batagak Pangulu Suku Kutianyia 21 Februari 2021

(Dokumentasi Wira,2021)

Upacara ini biasanya membutuhkan biaya yang besar, demi meringankan biaya
dan lebih memeriahkan upacara batagak pangulu maka dilakukan secara bersama-sama yaitu
menegakkan beberapa pangulu sekaligus. Batagak pangulu haruslah hasil dari kesepakatan para
ninik mamak dalam selingkungan masyarakat. Kesepakatan ini biasanya akan menghasilkan
menjinjing yang ringan dan memikul yang berat.

Memakai gelaran penghulu adapula aturan adatnya, bila penghulu yang lama
bergelar Datuk Bagindo maka penghulu penggantinya memakai gelar misalkan, Datuk Bagindo
nan Panjang. Bila gelaran penghulu tersebut akan berkembang lagi maka diberi gelaran seperti:
Datuk Bagindo nan Kuniang, Datuk Bagindo nan Hitam. Gelaran penghulu yang seperti itu
dipakai bila mereka sama-sama berasal dari sebuah perut (sapasukuan). Demikianlah mengapa
kita sering mendengar gelaran penghulu ini disuatu negeri, karena dahulunya mereka berasal
dari satu kaum, sama-sama sebuah perut.

5. Bajapuik

Tradisi bajapuik dan uang hilang merupakan tradisi yang di laksanakan selama turun
temurun oleh masyarakat Pariaman. Tradisi bajapuik dianggap sebagai suatu kewajiban dari
pihak keluarga perempuan dengan menyediakan sejumlah uang yang sesuai dengan status
sosial untuk membayar calon suami sebelum akad dilangsungkan, uang ini disebut dengan
uang bajapuik. Uang japuik adalah nilai uang tertentu dari keluarga calon mempelai wanita
yang diberikan kepada keluarga mempelai pria, nilai uang tersebut tentunya akan
dikembalikan lagi setelah dilakukan acara pernikahan, pihak pria akan mengembalikan uang
tersebut dalam bentuk perhiasan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Marlinda selaku masyarakat local daerah pariaman

Adat ini berawal dari nenek moyang masyarkat pariaman, dulunya banyak perantau dari

daerah atas ( Bukittinggi, Padang Panjang, Payakumbuh dll) yang menetap dan tinggal di

daerah pariaman dan Bertani dengan penghasilan pokok yang mencukupi, sedangkan penduduk

asli pariaman rata-rata memiliki pekerjaan sebagai seorang nelayan yang berpenghasilan minim.

Suatu hari seorang gadis dari keluarga perantau ingin menikah dengan pria dari kalangan

masyarakat local pariaman, namun pria tersebut tidak memiliki banyak harta dan keadaan

ekonomi yang sangat pas-pas an. Untuk mengangkat derajat pria tersebut keluarga dari wanita

tersebut memberikan uang jemputan sebelum pernikahan.

Setelah pernikahan terlaksana pria ini puntinggal Bersama dengan wanita tersebut

dirumah keluarga wanita dan dipanggil sesuai gelar dari pria tersebut dengan sangat hormat.”

Namun zaman sekarang Sebagian dari keluarga pria ( tidak semua keluarga yang

melakukannya) uang japuik yang diberikan oleh calon mempelai wanita nantinya akan

dikembalikan dalam bentuk perhiasan seperti emas setelah pernikahan tersebut selesai

dilaksanakan.

Terdapat juga beberapa cerita lain mengenai sejarah uang hilang ini,ada yang

mengatakan bahwa sekitar tahun 50 an di daerah kampung perak kota pariaman terdapat

seorang gadis cacat dari keluarga kaya raya. Untuk menghilangkan aib keluarga karena malu

memiliki seorang gadis yang sudah melewati batas umur menikah namun belum juga menikah,

maka ayah dari gadis iini berusaha mencari seorang pria yang kiranya berkenan menikah

dengan anaknya. Dalam hal ini keluarga perempuan bersedia membiayai semua keperluan

pernikahan dan dana semua kebutuhan keluarga mereka. Oleh sebab itu dulunya uang

hilang/uang japuik disebut juga dengan uang dapur, karena hanya digunakan untuk keperluan

upacara pernikahan.

Cerita lain juga mengatakan bahwa adar uang japuik ini terinspirasi dari Bunda

Khadijah yang memberikan mahar Ketika hendak melamar Nabi Muhammad SAW.

Tradisi manjapuik laki- laki di daerah pariaman ini masih terlaksana dengan baik sesuai

adat secara turun temurun. Dengan di wakili oleh ninik mamak masyarkat setempat, proses

manjapuik masih terlaksana dengan sanagat baik sesuai dengan aturan adat. Begitu juga jika

seorang masyarkaat pariaman yang

merantau di daerah lain, biasanya Sebagian dari mereka tetap melaksanakan adat ini, hanya
saja uang pemberian dari calon pengantin wanita mungkin hanya untuk dijadikan syarat dalam
proses adat pernikahan demi terus melestarikan adat yang selalu terjaga selama turun temurun
ini.”

HARGA UANG JEMPUT

Zaman dulu harga uang japuik di dasari atas status social dari pria tersebut, namun
zaman sekarang uang jemput ini di sesuaikan dengan Pendidikan dan jabatan dari laki laki.
Semakin tinggi Pendidikan yang ditempuh oleh laki-laki tersebut maka akan semakin tinggi
pula harga yang di tawarkan, begitupula dengan jabatan yang mereka dapatkan, semakin tinggi
jabatan mereka maka akan semakin tinggi harga yang beli yang harus di sediakan oleh calon
mempelai wanita, yang paling tinggi adalah para sarjana yang diharapkan akan banyak
menghasilkan uang seperti dokter dan insinyur teknik. Bentuk dari uang japuik saat ini tidak
hanya dinilai dari uang dan emas melainkan bisa dalam bentuk rumah, sepeda motor dll.

Patokan dari harga uang japuik seorang pria local pariaman dimulai dari lulusan SD ±
5.000.000 s/d 10.000.000. Untuk SMA/SMK sederajat ± 10.000.000 s/d 20.000.000. dan
untuk sarjana beserta tergantung dari pekerjaan yang mereka miliki umumnya ± 25.000.000
s/d 45.000.000.

Sekali lagi harga dari setiap pria pariaman sangatlah beragam, uang japuik ini juga
dapat di pendekkan/ditawar sesuai dengan kemampuan dari keluarga calon mempelai wanita,
atau bisa juga dengan pertolongan dari keluarga mempelai laki-laki yang akan ikut membantu
menambahkan setengah dari harga uang japuik ini. “
PROSES PELAKSANAAN UANG JAPUIK DI PARIAMAN

Perkawinan ini dimulai dengan melamar kemudian melakukan adat sebelum
perkawinan yang dinamakan dengan maratok tanggo, mamendekkan hetongan, batimbang
tando dan menetapkan uang jemputan. Kemudian adat pernikahan di terdiri dari bakampuang
kampuangan, alek danam, malam bainai, badantam, bainduak bako, manjapuik marapulai,
akad nikah, basandiang di rumah anak daro, dan manjalang mintuo, Kemudian setelah
pernikahan terlaksana terdapat adat yang wajib di lakukan

oleh pengantin baru yaitu mengantar limau, berfitrah, mengantar perbukoan,dan bulan lemang.
Marantok tangg(menginjak tangga), Jika ada seorang wanita yang sudah siap menikah dengan
seorang pria dari pariaman maka keluarga perempuan tersebut akan mengunjungi kediaman
keluarga pria tersebut untuk mengenal calon suami dari perempuan dan jika di rasa cocok maka
mamak tungganai ( paman anak daro dari pihak ibu ) akan menyampaikan maksud dari
kunjungan serta bertanya mengenai harga uang japuik.

Mamendekkan hetongan (memendekan hitungan) keluarga dari calon pengantin wanita
akan Kembali berkunjung ke rumah calon mempelai pria dan melakukan musyawarah serta
persyaratan apa saja yang akan harus di sediakan.

Batimbo tando (meminang), keluarga perempuan akan kembali berkunjung kerumah
calon mempelai pria dengan membawa syarat dari pernikahan, setelah itu kedua calon
pengantin akan menerima tanda bahwa mereka akan menikah. Terdapat pembicaraan dengan
menggunakan petatah petitih yang diwakilinoleh kapalo mudo anak daro dan kapalo mudo
marapulai, keduanya meruapkan orang yang telah memahami tentang petatah petitih
Minangkabau.

Uang japuik (uang jemput), di tentukan berdasarkan dengan Pendidikan dan jabatan dari
laki laki.

Alek randam (persiapan) dan malam bainai. Keluarga dari calon mempelai wanita akan
menjemput pengantin pria dirumahnya dengan membawa pakaian pengantin serta uang
japuik yang akan di serahkan kepada ibu dari pengantin pria. Pengantin pria kemudian
dibawa ketempat akad nikah.
Baralek (pesta perkawinan), kedua pengantin bersanding di pelaminan rumah anak daro
dengan menggunakan pakaian adat.

Dokumentasi :

Sumber foto : http://virellp.blogspot.com/2019/02/tradisi-bajapuik-atau-uang-hilang-
di-pariaman.html?m=1

8. Kenduri Pusako (Pusaka).

Istilah sko berasal dari kata saka berarti keluarga atau leluhur dari pihak ibu dan biasa
disebut dengan khalifah ngan dijunnung dan waris yang dijawab. Sko sendiri dibagi menjadi
sko tanah dan sko gelar, dimana sko gelar dapat diberikan oleh ibu kepada saudara laki-laki
dari pihak ibu (mamak).Kenduri Sko dihadiri dan melibatkan masyarakat Kerinci. Kenduri sko
menggambarkan adanya keterpaduan, keakraban, kesadaran, kebersamaan dan keterbukaan
antara sesama anggota masyarakat dengan pemimpinnya sebagai falsafah negeri Kerinci. Dalam
kehidupan masyarakat Kerinci dikenal sistem sko tiga takah(tingkatan).Sistem sko tiga takah
adalah Depati atau setingkat Depati,Permenti atau Ninik Mamakdan Tengganai atau anak
jantan.Pada acara ini terdapat dua agenda pokok yaitu acara untuk menurunkan dan menyucikan
benda-benda pusaka, dan acara untuk mengukuhkan pada orang yang akan menerima gelar adat.
Acara penurunan benda pusaka biasanya dilaksanakan tiap setahun sekali, atau 5-10 tahun
sekali, bahkan 25 tahun sekali. Proses berlangsungnya upacara adat Kenduri Sko tersebut acara
penurunan dan kegiatan membersihkan benda pusaka dan arakan mengelillingi desa dengan
ninik mamak membawa benda pusaka tersebut.

Sumber Facebook: Anak Melayu Jambi, Arakan Benda Pusaka dan Atraksi Pencak Silat

Dibeberapa titik dilakukan aksi pencak silat oleh anak jantan yang masing-masing
memegang satu pedang mereka mempertontonkan keahlian bermain senjata tajam.Menurunkan
pusaka dari Rumah Gadang (dalam bahasa Kerinci Rumah Gedang disebut Umoh Deh)dibawa
ke Tanah Mendapo tempat upacara dilaksanakan. Oleh para sesepuh adat, pusaka itu lalu
dibuka satu persatu, dibersihkan dan dipertontonkan kepada masyarakat sambil menceritakan
asal usul atau sejarah pusaka tersebut. Selanjutnya tampilan tarian oleh anak butino masyarakat
kerinci seperti Tari Persembahan Tari Asyek, Tari Rangguk, danTari Massal. Kemudian
upacara penurunan benda pusaka negeri dari tempat penyimpanan di atas tulok bahae, tulak
balaho (loteng tinggi), guna dibersihkan dengan ramuan bermacam-macam limau. Upacara ini
dinamai mandai atau malimo puseko. Turunnya benda pusaka tersebut harus cukup genap

dapati ninik mamak dalam kampung/dusun penyelenggara kenduri sko. Acara yang terakhir
penobatan pemangku adat seperti Depati, Ninik Mamak dan tengganai.

9. Taman Tujuh
Taman Tujuh yang terletak di atas Bukit Jelatang. Taman tujuh (Telaga Purba) adalah suatu
peninggalan leluhur yang bersejarah. Taman tersebut terletak di desa Hiang Tinggi Kecamatan
Sitinjau Laut. Di desa Hiang Tinggi sekarang ada suatu tempat yang paling tinggi disebut “larik
tinggi”. Pada dahulu kala larik tinggi berdiri beberapa rumah dan inilah merupakan dusun tertua
yang merupakan asal mula Kerinci. Di sana terdapat 7 telaga berbentuk lubang yang berisi air
berada diatas ketinggian bukit Hiang Tinggi, telaga ini memiliki hubungan yang erat dengan
kehadiran nenek moyang orang suku Kerinci yang disebut Taman Tujuh. Disana juga terdapat
juga sebuah kuburan atau makam sejarah. Kuburan tersebut terdapat empat batu nisan. Menurut
cerita turun temurun, kuburan tersebut berisi dua orang yakni Nenek Hilang Dilaman dan
Nenek Jaburiah.

Sumber Potret: Khairul Mizam, Makam Nenek Hilang Dilaman dan Nenek Jaburiah

Pembentukan Taman Tujuh berawal dari Nenek Maharajo di rajo dan nenek Indarjati
berlayar ke negeri Rum ( Romawi ) Sampai ke pulau perca atau pulau Sumatra sekarang. Dan
menetap di Gunung emas atau Gunung Merapi Pariangan Padang panjang sekarang. Disinilah
Indarjati bertemu dengan seorang perempuan yang cantik sebagai penghuni gunung ini.
Perempuan tersebut bernama Indi jelatah, kemudian menikahlah Indar Jati dengan indi Jelatah.
Setalah beberapa tahun membina rumah tangga. Maka Indar Jati dan Indi Jelatah mendapatkan
dua orang anak yaitu Perpatih Nan Sebatang dan Indar bayo. Oleh Indarjati yang senantiasa
Ghaib Atau hilang entah kemana maka pada suatu hari datanglah ia kepada anak dan istrinya
dan bercerita ia pada istrinya. Bahwa ia telah menemukan suatu tempat atau gunung yang
paling tinggi, yaitu gunung Jelatang namanya, ditempat itu telah ada manusia yang
menghuninya, Indi Jelatah juga ingin melihat gunung tersebut. Mereka yang berangkat ke
gunung Jelatang tersebut adalah Indarjati dan istrinya Indijelatah serta anaknya yang bernama
Indarbayo, Sedangkan Perpatih nan sebatang tidak ikut karena sudah hampir dewasa.Indarjati
telah sampai di gunung Jelatang dan menetaplah ia disana.Setelah hari berganti hari, masa
berganti masa dan tahun berganti tahun, maka Indi jelatah melahirkan pula beberapa orang
anak, salah satunya Indartunggal atau Indar Bersusu Tunggal, Inilah yang biasa disebut “ Nenek
Bersusu Tunggal “. Setelah Indartunggal dewasa, maka ia menikah dengan perempuan
“Samiah”. Disaat keturunan dari Indartunggal masih anak-anak, ia selalu mandi di sungai-
sungai, Indartunggal sangat sayang pada anak-anaknya. Untuk menghindari anak-anaknya dari
bahaya mandi di sungai, Maka oleh Inadartunggal di buatlah tempat pemandian khusus untuk
anank-anaknya,sebanyak tujuh buah, inilah yang di sebut Taman tujuh atau telaga tujuh untuk
tempat pemandian anak-anaknya dari Nenek Indar bersusu tunggal.Karena perubahan alam dan
pergeseran bumi, Air menyusut akibatnya gunung Jelatang mengalami erosi besar-besaran
sebagian tanahnya hanyut, Itulah yang bias kita lihat tanah cogok pinggir danau kerinci, Tanah
Kampung, dan Tanah tinggi kemantan. Tinggallah sisa gunung Jelatang seperti yang ada
sekarang yang berbentuk bukit.

Sumber Potret: Khairul Mizam, Taman Tujuh di atas Bukit Jelatang

10. Mambarasiahan Pandam Pakuburan / Tanjuang

Tradisi Ziarah Kubur atau Mambarasiahan Pandam Pakuburan di masyarakat
Minangkabau merupakan sebuah tradisi lama yang terus berlangsung dan dilestarikan dan
bertahan sampai sekarang. Ziarah Kubur tetap dilestarikan dengan memasukkan unsur-unsur
keislaman yaitu mengingatkan kita akan kematian sehingga senantiasa berbuat baik dan
beribadah kepada Allah SWT. Ziarah artinya menengok, mengunjungi, atau mendatangi.
Sedangkan yang disebut Kubur adalah makam atau tempat orang yang dimakam disitu. Dengan
demikian yang disebut Ziarah Kubur artinya mengunjungi kuburan atau makam. Ziarah kubur
ni Minangkabau biasanya dilakukan menjelang datangnya bulan ramadhan. Tradisi ini disebut
juga dengan Mambarasiahan Pandam Pakuburan. Pandam yaitu lokasi disekitar pekuburan. Di
Sumatera Barat, lokasi perkuburan juga dikelompokan berdasarkan suku, tempat tinggal dan
nagari. Ziarah ini selain untuk mendoakan orang yang dikubur juga sebagai ajang saling
meminta maaf dan silaturahmi antara perziarah.

Sumber : Calista Salsabila

11. Balimau

Balimau adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di kalangan
masyarakat Minangkabau dan biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran
sungai dan tempat pemandian. Tradisi ini telah diwariskan secara turun temurun selama berabad
abad.

Latar belakang dari balimau adalah membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum
memasuki bulan Ramadan, sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu menyucikan diri sebelum
menjalankan ibadah puasa. Secara lahir, menyucikan diri adalah mandi yang bersih. Zaman
dahulu tidak setiap orang bisa mandi dengan bersih, baik karena tidak ada sabun, wilayah yang
kekurangan air, atau bahkan karena sibuk bekerja maupun sebab yang lain. Saat itu pengganti
sabun di beberapa wilayah di Minangkabau adalah limau (jeruk nipis), karena sifatnya yang

melarutkan minyak atau keringat di badan. Tempat populer di padang yang biasanya diajdikan
tempat balimau adalah Kawasan Lubuk Minturun.

Sumber : Dok

Sumber:Calista Salsabila

12. Malam Bainai

Malam bainai adalah suatu tradisi pernikahan di minangkabau, bainai yaitu
memakaikan inai pada pengantin wanita dimalam sebelum pernikahan dilaksanakan, inai adalah
daun yang dapat memerahkan kuku, daun yang ditumbuk halus terlebih dahulu, setelah
ditumbuk halus barulah bisa dipakaikan ke kuku. Pada awalnya, Bainai dipercayai sebagai
suatu cara untuk menghindari malapetaka bagi calon pengantin. Walaupun kepercayaan ini
sudah tidak populer, Malam Bainai masih dijalankan sebagai tradisi pernikahan khas
Minangkabau. Setiap kuku yang dipakaikan inai pun memiliki arti istimewa. Malam bainai
memberikan kecantikan dan warna dalam pernikahan, menunjukkan kalau dikehidupan rumah
tangga itu banyak lika liku yang tergambar pada motif yang digambar pada tangan, karena pada
saat ini tangan juga digambar dengan menggunakan inai. Pada saat sekarang inai pun sudah
tersedia dalam bentuk instant yang tinggal dipakai langsung, yang berbentuk pasta, dan jasa
pemakaian inai pun juga ada.

Malam bainai ini termasuk kedalam bentuk kearifan lokal dalam tradisi dan
kepercayaan, karena malam bainai merupakan tradisi masyarakat minangkabau dalam proses
pernikahan, malam bainai dilakukan pada malam hari sebelum pernikahan dilaksanakan. Pada
setiap pemasangan inai pada kuku pun dipercaya memiliki makna yang berbeda-beda.

Fot

o jari yang telah dipakaikan inai sumber: MahligaiIndonesia

13. Mandi Balimau

Mandi Balimau merupakan tradisi masyarakat minangkabau, kata balimau berasal dari
ba dan limau, dimana ba dalam bahasa minang berasal dari imbuhan kata ber, dan limau artinya
jeruk nipis, jadi balimau adalah mandi dengan menggunakan limau, diwariskan secara turun
temurun dan tradisi ini dipercaya berlangsung berabad-abad. Balimau ini dilakukan sehari atau
dua hari menjelang memasuki bulan Ramadhan, di sungai atau tempat-tempat pemandian
sangat ramai dikunjungi warga. Balimau berarti mandi dengan menggunakan limau (jeruk
nipis). Zaman dahulu, warga Minangkabau mandi dengan menggunakan jeruk nipis sebagai
pengganti fungsi sabun dan limau juga dapat melarutkan minyak atau keringat di badan.
Balimau memiliki makna bahwa ia mandi benar-benar bersih. Itulah yang kemudian dikaitkan
dengan ajaran agama Islam, yakni sebagai simbol benar-benar membersihkan diri lahir dan
batin menjelang melaksanakan ibadah puasa. Namun pada saat ini balimau menimbulkan pro
dan kontra, balimau saat ini tidak dianjurkan bahkan dilarang karena bercampurnya laki-laki
dan perempuan di sungai atau di tempat pemandian tersebut, bahkan sebagian remaja

menjadikan tradisi ini sebagai kesempatan untuk jalan-jalan dan bahkan mandi-mandi bersama
pacar atau lawan jenis yang bukan muhrimnya.

Mandi balimau ini termasuk kedalam bentuk kearifan lokal dalam tradisi dan
kepercayaan, karena tradisi ini sudah berlangsung berabad-abad danmerupakan kebiasaan
masyarakat yang dilakukakan sehari atau dua hari menjelang bulan Ramadhan dan mempunyai
makna yaitu membersihkan diri lahir dan bathin menjelang bulan suci Ramadhan.

Foto balimau di sungai sumber: kompasiana.com

14. Badoncek

Badoncek merupakan sebuah tradisi tolong - menolong dalam bentuk sumbangan secara

material kepada orang lain yang sedang mengadakan suatu kegiatan yang memerlukan biaya.

Dalam pengertian yang lainnya. Badoncek merupakan tradisi Minangkabau, yaitu memberikan

sesuatu kepada orang lain sebagai wujud kebersamaan dan kegotongroyongan yang

berlandaskan ajaran adat barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang

Tradisi badoncek di nagari kasang dilakukan pada malam hari sebelum mengadakan

pernikahan, sebelum pembangunan infrastruktur untuk sosial dalam suatu masyarakat, dan

untuk membantu orang lain yang tertimpa musibah dan Badoncek merupakan tradisi yang

diwariskan secara lisan oleh masyarakat di nagari kasang

Sumber: Redaksi Daerah
Semangat gotong royong masyarakat dalam memperbaiki akses jalan

15. Bungo Lado
Bungo lado merupakan sebuah bentuk representasi masyarakat terhadap kebudayaan
Islam bagi masyarakat di Kenagarian Kasang, Padang Pariaman. Bungo Lado atau yang
disebut dengan bunga cabai, merupakan sebuah pohon hias yang berdaunkan uang yang
kemudian disebutkan menjadi pohon uang. Ini merupakan salah satu bentuk euforia
masyarakat dalam menyambut hari lahirnya nabi besar Muhammad SAW. Dalam
pelaksanaanya sendiri,tiap kelompok masyarakat saling berlomba untuk
menyumbangkan sebagian dari penghasilannya untuk disumbangkan dengan cara
menghiaskan uang sumbangan tersebut ke sebuah dahan ranting sebagai wujud
kegembiraan.

Sumber: Hidayatuna
Salah satu bentuk dari tradisi sedekah bungo lado (pohon uang) dipasa limau

16. TambuaTansa
Salah satu bentuk kesenian yang tidak pernah tinggal dalam acara- acara yang digelar
masyarakat Koto Baru adalah Tambua Tansa. Tambua tansa merupakan alat musik perkusi
yang terdiri dari dua alat musik perkusi yang terdiri dari dua alat musik yaitu gandang tambua
dan gandang tansa. Alat musik ini dimainkan dalam group yan ditabuh secara terus menerus
dalam formasi berdiri dari 7 (tujuh) orang penabuh yang terbagi menjadi 6 (enam) orang
pemain gandang tambua dan 1(satu) orang lagi pemain tambuatansa.

Sumber:
https://www.dictio.id/uploads/db3342/original/3X/d/f/df7cfa01c0dd29620f25d24c188c
02a6765a58eb.jpeg

Gandang tambua bentuknya seperti tabung yang tebuat dari bahan kayu ringan (Kayu
tarantang) sejenis batang kapas dengan badan gandang berbentuk drum yang mempunyai dua
sisi masing-masingnya ditutupi oleh kulit kambing. Gandang tambua biasanya dimainkan
dengan cara disandang di salah satu bahu pemain dalam posisi berdiri dengan menggunakan
dua pemukul tambua, semacam pemukul yang terbuat dari bahan kayu. Sedangkan tansa ialah
alat pukul yang bermuka satu badannya berbentuk seperti kuali (vessel drum). lebih mirip
setengah bola yang hanya memiliki satu sisi kulit (single headed drum). Sekarang ini bahan
yang digunakan dalam pembuatan tasa telah lebih praktis, seperti kulit yang dulunya dari kulit
binatang sekarang diganti dengan Fiber yaitu plastik khusus sehingga keindahan bunyi dapat
bertahan lebih lama. tansa dikalungkan dileher pemain dengan posisi berdiri sehingga tasa
terletak disekitar depan perut dan dipukuldengan stick yang berjumlah dua yang terbuat
daribambu.

Pertunjukan kesenian tambua tansa biasanya dilakukan oleh pemuda- pemuda setempat
bertujuan untuk mengundang perhatian para pengunjung agar tercipta suasana keramaian
dalam berbagai acara adat dan keagamaan seperti upacara pengangkatan penghulu, upacara
penyambutan tamu agung, upacara khatam al-qur’an, upacara adat nagari dan upacara
perkawinan.

17. Batu Basanggua (Batu Bersanggul)

Sumber: Kurnia
Batu basanggua merupakan batu yang bentuknya memiliki konde atau sanggul di
bagian atas atau batu yang memiliki bentuk seperti angka satu yang berukuran kira-kira
setinggi lutut orang dewasa. Batu ini disimpan di mushala al-ikhlas di Nagari Koto Baru. Dulu

disimpan di gudang mushala, namun sekarang sudah di pajang di depan mushala al-ikhlas.
Batu Basanggua digunakan sebagai nama salah satu desa yang ada di Nagari Koto Baru yaitu
desa Batu Basanggua, karena batu ini dulu dipercaya masyarakat setempat memiliki roh yang
bisa membuat batu ini terus tumbuh dan bisa berpindah tempat. Dulu dipercaya batu ini
berukuran pendek dan belum setinggi yang sekarang, dan dulu batu ini terdiri dari dua batu
namun yang satu nya lagi hilang dicuri orang.

Karena kepercayaan masyarakat setempat bahwa batu ini memiliki roh, maka setiap
hari raya idul adha, setelah pelaksanaan kurban di teras mushala ini, masyarakat setempat
mempunyai tradisi sendiri dengan melumuri batu basanggua dengan darah sapi kurban.

18. Pakan akad (Pasar di hari minggu)

Sumber: Info Publik
Pasar Pakan Ahad, Nagari Koto Baru, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam merupakan
pasar tradisional terbaik I tingkat Sumatera Barat tahun 2018. Sebelumnya, pasar ini adalah
pasar ninik mamak, kemudian diserahkan kepada nagari dan dikelola sebagaimana arahan
Pemkab Agam sesuai Perda nomor 1 tahun 2014 tentang pengelolaan pasar.
Selain tempat jual beli, pasar ini juga dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan lainnya
seperti, kegiatan olahraga dan seni budaya, bahkan pernah jadi tempat penelitian bagi
mahasiswa. Kedepan pengurus akan terus meningkat kan kedisiplinan, kerapian, keindahan
pasar, agar konsumen merasa nyaman saat berbelanja, begitu juga dengan pedagang agar dapat
melayani konsumennya dengan ramah. Pengurus bahu membahu dengan maysarakat untuk
mengelola pasar tersebut, sehingga paremanisme tersingkir dengan sendirinya. (AGAM, 2018)

19. BABAKO
Babako merupakan bagian dari acara pernikahan ataupun sunatan rasul dalam masyarakat
Tapan. Babako adalah mengarak marapulai dan anak daro ke tempat pesta pernikahannya, serta
juga mengarak anak laki-laki yang melakukan sunatan rasul. Babako adalah salah satu tradisi
masyarakat Tapan yang sampai sekarang masih di lestarikan secara turun-temurun.

Babako ini juga di laksanakan bagi orang kampung yang pergi merantau sudah lama,
mereka juga wajib melakukan tradisi babako di tempat perantauannya. Mungkin dia mencari
induk atau mencari keluarga yang bisa membantu dia dalam segala hal. Atau di dalam bahasa
Tapan di sebut juga dengan “Mangakung Ba Induk” artinya kita mencari ibu atau orang yang
bisa kita jadikan pengganti ibu-ibu kita di kampung. Karena Induk inilah yang mengurus kita di
saat ada acara pernikahan atau sunatan rasul nantinya.

20. BALIMAU

Balimau merupakan suatu tradisi masyarakat Tapan dalam menyambut bulan ramadhan,
biasanya di lakukan satu hari sebelum masuk bulan ramadhan. Balimau ini bisa dikatakan
sebagai ciri khas dari masyarakat Tapan dalam tradisi Balimau. Setiap orang wajib
melaksanakan Balimau baik di rumah maupun di tempat sungai yang nyaman dan adem.
Karena apabila tidak di lakukan Balimau ini, maka itu bisa menganggap bahwa puasa kita ini
tidak sempurna. Ingat tujuan dari Balimau adalah untuk membersihkan diri menjadi suci.

Sumber: jayandri

Pada zaman dulu sekitar tahun 1980-an, acara balimau sebenarnya itu tidak ada atau belum
terkenal. Tetapi ada sekelompok anak muda yang melakukan Balimau ini di tempat sungai atau
di tempat yang ada airnya. Dimana mereka melakukan hal tersebut tepat sebelum kedatangan
bulan ramadhan atau satu hari menjelang bulan ramadhan. Kemudian hal tersebut mulai di
kenalkan atau di sebarkan dari satu orang ke orang lain, sehingga sudah banyak orang yang
mengetahui Balimau ini.

Jadi dengan adanya nilai-nilai positif yang di lakukan pada acara balimau ini, banyak
masyarakat yang tertarik serta ingin merasakan yang namanya acara Balimau ini. Sehingga
lama kelamaan acara balimau ini berkembang dan sudah melebar luas ke daerah lain. Sehingga
acara Balimau ini sekarang sudah menjadi kebiasaan atau menjadi Tradisi Dearah Tapan dalam
menyambut bulan ramadhan.

Zaman sekarang acara balimau banyak di lakukan oleh anak-anak muda atau generasi yang
memeriahkan acara balimau di suatu tempat yang nyaman dan adem, bahkan di meriahkan
dengan pergi jalan-jalan dengan teman-teman serta dengan pacar di tempat yang ingin di
kunjungi.

21. NINJAU ANAK

Ninjau anak merupakan suatu tradisi daerah Tapan dalam menjenguk atau melihat bayi
yang baru lahir atau juga bisa di lakukan sampai bayi berumur 1 tahun. Ninjau anak ini juga di
lakukan oleh pihak dari keluarga laki-laki atau keluarga dari bako.

Sumber:jayandri
Ninjau anak juga sama dengan babako tadi, ninjau anak ini berasal dari pihak keluarga laki-

laki atau pihak dari keluarga bako. Ninjau anak ini di lakukan di saat anak baru lahir dan anak
yang pertama, dimana yang maninjau ko adalah dari keluarga bakonya. Dalam ninjau anak ini
juga ada di bawa seperti cincin ¼ berbeda dengan sunatan rasul dengan pernikahan tadi. Dan
ada juga pihak keluarga bako yang memberikan cincin ½ kepada anak ini, tetapi kebanyak yang
memberikan cincin ¼.

Ninjau anak ini dahulunya di lakukan oleh keluarga kecil, yang hanya beberapa orang
melakukan ninjau anak yang baru lahir ke tempat rumah anak tersebut. Berjalan nya waktu
banyak masyarakat atau tetangga yang melihat hal tersebut, kemudian mereka penasaran dan
bertanya kepada pihak keluarga yang melaksanakan acara Ninjau Anak ini. Sehingga membuat
tetangga tertarik dan memberikan manfaat kepada mereka. Akhirnya kegiatan ini di
sebarluarkan oleh orang-orang kepada orang lain sehingga sampai sekarang menjadi suatu
tradisi masyarakat Tapan dalam Ninjau Anak yang baru lahir.

Dahulu ninjau anak ini di tinjau dalam umur 1 minggu sampai 1 bulan yang kemudian
mereka menginap di tempat anak tersebut satu malam. Yang bertujuan untuk melihat cucunya
yang baru lahir, menemani cucu dan keluarga bayi tersebut serta membantu pihak ibu bayi
dalam mengurus bayi nya. Dengan semakin bertambahnya tahun dan canggihnya zaman, acara
Ninjau Anak ini sekarang di laksanakan mulai dari bayi itu lahir sampai berumur 1 tahun.

Karena ini juga mempertimbangkan pihak bako yang mungkin memiliki acara lain ataupun
melihat keadaan ekonomi bakonya pada waktu itu.

22. NIGU AGHING DAN NUJUH AGHING
Nigu Aghing dan Nujuh Aghing sering juga di sebut dengan 3 hari dan tujuh hari orang
yang sudah meninggal dunia. Dimana Nigu Aghing dan Nujuh Aghing ini merupakan tradisi
dari Daerah Tapan dalam Kematian. Muli dari malam pertama, kedua, ketiga, ke empat, kelima,
ke enam dan ke tujuh ini dilakukan suatu pengajian atau tadarus bersama yang di laksanakan
oleh anak-anak muda. Yang kemudia disitu mereka juga belajar tentang Al-Qur’an dan Agama,
bahkan tentang adat-adat minangkabau dan petatah-petitih.

Sumber: jayandri
23. Mandi Balimau Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Dalam Islam bulan Ramadhan dipercayai sebagai bulan yang palingdimuliakan di antara
bulan-bulan yang lainnya. Dalam bulanramadhan seluruh umat Islam diwajibkan berpuasa
sebulan penuh.Selain sebagai kewajiban, berpuasa di bulan ramadhan merupakan amalanyang
sangat banyak keutamaannya.Dengan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya, bulan
Ramadhanmenjadi bulan yang sangat ditunggu dan disambut kedatangannya. Adabanyak
bentuk “penyambutan” bulan Ramadhan sebagai “tamu agung” olehumat Islam.Salah satu
bentuk penyambutan tersebut bahkan sudah menjaditradisi setiap tahunnya,seperti tradisi Mandi

Balimau di masyarakat MinangKabau.Tadisi ini sendiri merupakan bentuk rasasyukur dan
perayaan datangnyabulan ramadhan.

Tradisi Mandi Balimau ini sangat sarat dengan nilai historis,khususnya terkait
bagaimana dakwah Islam di daerah Sumatera Barat yang dimasuki oleh agama Islam. Hal ini
karenatradisi ini diyakini sudah ada selama berabad-abad sejak Islam datangpertama kali di
Indonesia. Selain itu, tradisi ini juga terkait dengan ajaranIslam. Hal ini karena tradisi Mandi
Balimau di masyarakat Minangkabau diyakinidasarnya adalah bersumber dari salah satu hadis
Nabi.

24. Mengenal Mandi Balimau

Mandi Balimau berarti mandi menggunakan jeruk.Menurut Buk Novriyeni , warga
Tanah Sirah dahuluorang menggunakan limau (jeruk) sebagai alat untukmembersihkan badan
dan kepala serta sebagai pengharum.Sehingga Mandi Balimau secaraliteral berarti mandi
dengan menggunakan jeruk, baikdigunakan untuk pencuci rambut danatau kepala, atau juga
digunakanuntuk pencuci badan seperti sabun dan juga sebagaipengharum.Namun setelah Islam
menjadi agama yang dianut oleh masyarakat istilah Mandi Balimau kemudian digunakan untuk
menyebut salahsatu tradisi tahunan yang ada dimasyarakat Kuntu untuk menyambut bulan
ramadhan sebagai bentuk rasa gembira akan datangnya bulan yang agungdengan membersihkan
diri dengan cara mandi menggunakan jeruk sebagaimana arti literal dari istilah tersebut.Untuk
menjadikan kegiatan Mandi Balimau menjadi semarak selayaknya acara penyambutan tamu
yang agung, maka acara Mandi Balimau tersebut kemudian dilaksanakan dengan bersama-sama
dengan caramandidisepanjang sungai yang terdapat di sekitar daerah masing-masing,Tradisi
mandi balimauuntuk menyambut bulan ramadhan di Minang terutama di Tanah sirahini
diperkirakan sudah ada sejak lama dan menjadi tradisi turun temurun, Acara ini pada awalnya
jugadigunakan untukmenyiarkan Islam denganharapan masyarakat akan semakin
bersemangatmenggunakan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu,
seluruhmasyarakat bisa menyaksikan dan merasakankegimbaraan dankemeriahannya
menyambut bulan suci ramadhan. Keistimewaan mandi Balimau merupakan acara adat yang
mengandung nilai sakral yang khas.

Wisatawan yang mengikuti acara ini bisa menyaksikan masyarakat Minangkabau dan
sekitarnya berbondong-bondong menuju pinggir sungai untuk melakukan ritual mandi bersama.
Tradisi Balimau bertujuan untuk kebersihan hati dan tubuh manusia dalam rangka
mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa. Dalam proses pelaksanaan upacara
Balimau pada masyarakat Minangkabau, bila di daerah asal maupun pada masyarakat

Minangkabau di Kecamatan Tanah Sirah Lubuk Begalung, proses pelaksanaannya sama saja,
yakni dilaksanakan pada waktu sore hari yang diikuti oleh masyarakat Minangkabau di daerah
tersebut, akan tetapi cara pelaksanaannya sengatlah berbeda dimana pada masyarakat Minang
yang berada di Sumatera Barat masih dipimpin oleh ketua adatnya, sedangkan di perantauan ini
masyarakat melakukannya sendiri-sendiri. Prosesnya dilaksanakan dengan perencanaan atau
persiapan yang diperlukan dalam proses Balimau, setelah terpenuhi akan persiapan maka
merencanakan tahap pelaksanaan. Pada tahap pelaksanaan sesuai dengan waktu yang ditentukan
danmasyarakat peserta acara Balimau sudah siap maka dilaksanakanlah acara Balimau. Dalam
acara yang terakhir ada penutupan, dengan dilaksanakannya acara penutupan maka selesailah
proses kegiatan acara Balimau.

Sumber : Kompasiana.com
25. Tahlilan 7hari, 40hari, 100hari Orang Meninggal

Tahlilan merupakan suatu acara mendoa (berdoa bersama) yang dilakukan salah satunya
ketika ada orang yang meninggal. Tahlilan ini dilakukan di rumah orang yang berduka dengan
mengundang tetangga-tetangga sekitar dengan tujuan untuk mengirim doa kepada orang yang
sudah meninggal. Biasanya tahlilan ini dilakukan dengan makan-makan bersama sebagai tanda
sedekah dari keluarga yang berduka.Tahlilan pada orang yang meninggal ini dilakukan pada
hari ke-7, ke-40, dan hari ke-100, atau juga dapat disebut sebagai tahlilan 7harian, 40harian, dan
100harian.Tahlilan 7harian, 40harian, Masyarakat Jawa di Bukitsari melakukan tahlilan 7harian
semenjak orang meninggal itu dilakukan secara 7 hari berturut-turut.Dilakukannya tahlilan 7
hari berturut-turut ini karena masyarakat masih mempercayai bahwa arwah orang yang
meninggal tersebut masih berada dalam rumah selama 7 hari itu. Dengan diadakannya tahlilan

tersebut ialah untuk mendoakan supaya arwah orang yang meninggal tersebut dapat diterima di
sisi Allah, dan dapat menuju surga-Nya Allah.
Dokumentasi :

(Sumber Foto : Bapak Sunarto)

26. Seni Pertunjukan Wayang Kulit
Wayang kulit merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional yang berkembang di
masyarakat Jawa salah satunya di Desa Bukitsari ini, Wayang Kulit biasanya ditampilkan pada
suatu acara-acara tertentu. Seperti yang ada di Desa Bukitsari ini Wayang Kulit digunakan pada
acara hajatan, bersih desa(Ulang Tahun Desa). Kesenian Wayang kulit ini biasanya melibatkan
dalang(orang yang mempunyai keahlian dalam memainkan wayang) serta sinden(orang yang

mengiringi acara wayang kulit dengan bernyayi). Masyarakat Jawa di Bukitsari ini
mempercayai bahwa peragaan wayang kulit itu diibaratkan sebagai alur kehidupan
manusia.Pertunjukan wayang kulit ini mengandung unsur filsafat dan sendratari.Wayang itu
diartikan sebagai gambaran orang hidup yang menggambarkan perilaku seseorang dari perilaku
yang baik sampai perilaku yang tidak baik.
Dokumentasi :

(Sumber foto : Bapak Nasir)

27. Panjat Pinang

Sumb

er: widya

Panjat Pinang merupakan salah satu lomba tradisional di Sumatera Barat, termasuk di
daerah Tiga Alur, Nagari Batu Balang, Kec. Harau. Lomba ini biasanya dilakukan di tempat
yang lapang atau di lapangan.Panjat pinang ini dilakukan 2x setahun yaitu saat sebelum puasa
sebagai bentuk perayaan datangnya bulan Ramadhan dan saat memperingati hari Kemerdekaan
tanggal 17 Agustus. Hadiah-hadiah yang disediakan di lomba tersebut seperti baju, celana,
makanan ringan, peralatan sehari-hari, dan lain-lain yang diikatkan di daun kelapa yang
digantung di sekeliling pohon pinang. Dibagian puncak pohon ada satu hadiah istimewa yang
tentunya yang paling mahal dari semua hadiah yang disediakan tergantung dana yang ada.Dana
untuk melaksanakan acara tersebut didapat dari sumbangan yang diminta di jalan dan terkadang
dari sponsor.Lomba tersebut diadakan oleh pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna,
siapa pun boleh mengikuti lomba ini dan nantinya akan dibagi menjadi 2 kategori yaitu untuk
dewasa dan anak-anak.Untuk dewasa tinggi pohon pinangnya sekitar 8 meter dan untuk anak-
anak ukurannya sekitar 6 meter. Pohon tersebut biasanya diolesi sabun atau oli.Peserta lomba
maupun panitianya biasanya semuanya laki-laki. Siapa pun bebas menonton perlombaan
tersebut tanpa dipungut biaya sepersen pun.Lomba panjat pinangdimulai setelah Ashar sampai
dengan Magrib. Persiapan lomba dilakukan sehari sebelum acara dimulai, dimulai dari mencari
pohon pinang, mendirikan pohonnya, menggantungkan hadiah-hadiah sampai mengolesi pohon
pinang dengan sabun atau oli.

28. Pacu Jawi

Sumber: Widya

Pacu Jawi atau dalam bahasa Indonesia berarti balapan sapi merupakan perlombaan
tradisional dari Sumatera Barat. Dalam acara ini, sepasang sapi berlari di lintasan sawah
berlumpur yang belum ditanami padi dengan panjang sekitar 60–250 meter, sementara seorang
joki berdiri di belakangnya dengan memegang kedua sapi. Joki adalah sebutan bagi orang yang
mengendalikan jawi di perlombaan tersebut dan merupakan pemilik dari jaw. Pacu jawi tersebut
diadakan sebagai pengganti bajak sawah.Acara tersebut diadakan oleh masyarakat setempat
khususnya bapak-bapak.Acara tersebut diadakan tidak menentu, diadakan hanya ketika ada
dana yang cukup dan ada yang mensponsori.Acaranya berlangsung sekitar 2 hari dengan
persiapan seminggu sebelum acara dimulai.Tidak semua jawi bisa mengikuti perlombaan
tersebut, jawi yang dilombakan adalah jawi khusus yang dilatih untuk perlombaan.Lomba
tersebut dibuka untuk umum, siapa pun bisa mengikuti lomba tersebut dengan syarat tentunya
memiliki jawi yang sudah terlatih dengan mendaftarkan diri kepada panitia lomba. Perlombaa
tersebut membutuh biaya yang besar maka acara tersebut hanya sekali-sekali diadakan, hadiah
untuk pemenangnya juga besar sesuai dengan dana dan sponsor yang ada.

29. TABUIK
Festival Tabuik merupakan salah satu tradisi tahunan masyarakat Pariaman. Festival ini
sudah berlangsung puluhan tahun dan diperkirakan sudah ada pada abad ke-19 Masehi. Upacara
tersebut merupakan bagian dari peringatan hari-hari cucu Nabi Muhammad SAW yaitu Hussein
bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Sejarah mencatat, Hussein dan keluarganya
tewas dalam perang di gurun Karbala. Tabu sendiri diambil dari bahasa arab 'tabut' yang artinya
kayu. Nama tersebut mengacu pada penampilan legendaris dari makhluk bersayap dan
berwujud manusia yang disebut buraq. Legenda menceritakan fakta bahwa setelah kematian

cucu Nabi, kotak kayu itu berisi potongan-potongan mayat Hussein yang diterbangkan oleh
Buraq. Berdasarkan legenda ini, setiap tahun masyarakat Pariaman menirukan burraq yang
sedang membawa baju kusut di punggungnya.

Menurut cerita yang diterima masyarakat secara turun-temurun, ritual ini diperkirakan
muncul di Pariaman sekitar tahun 1826-1828 M. Tabuik saat itu masih kental dengan pengaruh
Timur Tengah yang dibawa oleh keturunan India penganut Syiah. Pada tahun 1910 muncul
kesepakatan untuk mencocokkan perayaan Tabuik dengan tradisi Minangkabau, sehingga
berkembang seperti sekarang ini. Tabuik terdiri dari dua macam, yaitu TabuikPasadan
TabuikSubarang. Keduanya berasal dari dua wilayah berbeda di Kota Pariaman. TabuikPasa
(pasar) adalah sebuah kawasan di sisi selatan sungai yang membelah kota hingga tepi Pantai
Gandoriah. Wilayah Pasadi dianggap sebagai daerah tradisional. Adapun Tabuik Subarang
berasal dari daerah Subarang (seberang) yaitu daerah di sisi luar sungai atau daerah yang
disebut dengan desa jawa.

Mulai tahun 1982, perayaan Tabuik dijadikan bagian dari kalender pariwisata di Kabupaten
Padang Pariaman. Karena sudah ada berbagai penyesuaian, satu-satunya yang dilakukan adalah
pada pelaksanaan acara puncak rangkaian ritual bikini. Jadi, meski proses awal ritual tabuik
masih dimulai pada tanggal 1 Muharram, namun pada saat perayaan tahun baru Islam,
pelaksanaan acara puncak dari tahun ke tahun berfluktuasi, tidak lagi harus pada tanggal 10
Muharram. Rantai adat di Pariaman terdiri dari tujuh tahapan ritual tabuik, yaitu mencabut
tanah, menebang pohon pisang, mataam, mengarak jari, merawat sesajen, tabuiknaikpangkek,
hoyaktabuik, dan menyia-nyiakan laut. Proses pengambilan tanah dilakukan pada 1 Muharram.
Penebangan batang pisang dilakukan pada tanggal 5 Muharram. Mataamp pada hari ke 7,
dilanjutkan dengan jari pada malam hari. Keesokan harinya dilaksanakan ritual
mangaraksorban.

Pada puncaknya dilakukan ritual tabuiknaikpangkek, kemudian dilanjutkan dengan
hoyaktabuik. Hari puncak mendahului tanggal 10 Muharram, tetapi kadang-kadang setiap tahun
berubah antara 10-15 Muharram, biasanya sesuai dengan akhir minggu. Sebagai ritual penutup,
maghribtabuik yang mendekat diarak menuju nyanyian dan tiang laut. Setiap tahun puncak
acara tabu tersebut selalu disaksikan oleh puluhan ribu pengunjung yang datang dari berbagai
penjuru Sumatera Barat. Tak hanya masyarakat setempat, festival ini juga banyak mendapat
perhatian dari berbagai undangan mancanegara yang menjadikannya paling ditunggu-tunggu
setiap tahunnya.

Pantai Gandoriah yang menjadi pusat perhatian seolah menjadi pusat perhatian manusia
laut, terutama menjelang proses menuju pantai. Oleh karena itu, jika ada kesempatan, tidak
masalah jika festival tabu menjadi salah satu alternatif agenda perjalanan Anda di tahun
mendatang.

Sumber: tomas yundra putra
30. Peran mamak

Seorang laki-laki yang sudah berumah tangga tetap berada dalam kerabat ibunya
memiliki posisi sebagai paman (dengan sebutan mamak). Mamak merupakan pemimpin bagi
keluarganya, bagi kemenakan atau anak saudara perempuannya. Oleh karena itulah penyebutan
mamak kepada setiap laki-laki yang lebih tua juga dimaksudkan sebagai penghormatan orang
muda kepada yang lebih tua yang dipandang sebagai pemimpinnya. Dimana pun juga di
Minangkabau, anak kemenakan selalu menghormati mamaknya bahkan terkadang akan lebih
mematuhi mamaknya dari pada kepada perangkat pemerintah di desanya. Sesuai dengan fungsi
dan tugasnya, mamak di Minangkabau dapat diklasifikasikan menjadi 3 golongan, yakni:

a. Mamak rumah, adalah saudara kandung laki-laki ibu atau segaris ibu yang serumah
gadang yang dipilih menjadi wakil pembimbing garis ibu terdekat. Mamak rumah ini
menguasai/mengelola sejumlah potensi produktif keluarga yang dikerjakan keluarga
(paruik) termasuk harta pusaka keluarga. Mamak rumah ini biasa disebut dengan
tungganai
b. Mamak kaum (penghulu) adalah seseorang yang dipilih diantara beberapa mamak
rumah yang terikat dalam hubungan darah yang disebut kaum. Sehingga mamak kaum

ini disamping berfungsi sebagai mamak bagi keluarga atau paruik dan juga bertugas
mengurus kepentingan-kepentingan kaum.

c. Mamak suku, yang menjadi pimpinan suku. Apabila anggota-anggota sebuah paruik
telah berkembang menjadi sangat banyak, sehingga timbullah cabang dari paruik-paruik
itu sebagai kesatuan baru, dan apabila itu terus berkembang lebih jauh lagi sepanjang
perjalanan masa, maka akhirnya menjadi suatu lingkungan baru yang anggota-
anggotanya terikat satu sama lain menurut garis ibu. Lingkungan baru ini dipimpin oleh
mamak suku.

Merujuk tulisan sebelumnya, seorang laki-laki Minangkabau memiliki posisi sebagai
mamak rumah bagi kemenakannya dan saudara garis ibu "serumah gadang". Mamak bertugas
mengampung, yang artinya memelihara, membina, serta memimpin kehidupan dan kebahagiaan
kemenakan dan seluruh anggota keluarganya. Mamak berkewajiban membimbing anak
kemenakan di dalam segala lapangan kehidupan.

Peran laki-laki di minangkabau

a. Peran Laki-Laki Sebagai Kemenakan
Di dalam rumah ibunya (jurai), dalam lingkungan paruik dan dalam lingkungan
kaumnya, seorang laki-laki Minangkabau mengawali hidupnya sebagai kemenakan yang
harus mematuhi segala pranata yang berlaku di lingkungan paruik dan kaum tersebut.
Seseorang tidak dapat dipandang sebagai orang Minangkabau kalau tidak mempunyai
suku (Fatimah, 2011). Jurai merupakan gabungan beberapa ibu yang masih terikat
hubungan keluarga (kakakberadik), himpunan beberapa jurai disebut paruik (perut) yang
anggota-anggotanya terhimpun berdasarkan asal keturunan ibu yang sama, sedangkan
beberapa paruik akan berhimpun dalam sebuah kaum. Dalam posisinya sebagai
kemenakan, laki-laki harus belajar dan mengetahui semua kekayaan jurai-nya, paruik-
nya sampai harta pusaka kaumnya. Kemenakan juga harus mengenal semua anggota
keluarga kaumnya, yang kelak menjadi tanggung jawabnya bila tiba waktunya menjadi
seorang mamak. Untuk itulah lazim disusun sebuah Ranji kaum.

b. Dalam hubungan antara mamak dengan kemenakan terdapat aturan bermamak
kemenakan antara lain tercermin dalam beberapa petuah adat sebagai berikut, pertama,
“mamak kayo di adat kemenakan murah menurut”. Untuk melaksanakan perannya
setiap mamak dituntut memiliki pengetahuan tentang adat Minangkabau, tambo

Minangkabau, silsilah keturunan nenek moyangnya, serta tambo dari nagari
kelahirannya. Sedangkan kemenakan harus senantiasa patuh dan mentaati segala
ketentuan adat yang berlaku. Kedua, “kemenakan seperintah mamak, mamak seperintah
penghulu, penghulu seperintah bana”.Pepatah ini mencerminkan sifat demokratis
masyarakat Minangkabau yang berjenjang. Apabila terjadi permasalahan, kemenakan
meminta nasihat mamak nya. Jika mamak tidak dapat memberi penyelesaian, bersama-
sama mereka meminta bantuan mamak penghulu, sampai ditemukan solusi yang tepat
untuk penyelesaian masalah tersebut. Ketiga, “mamak manunjuak mengajari, malam
danga-dangakan siang caliakcaliakan”. Mamak berkewajiban membimbing dan
mengajari kemenakan, agar berperilaku sesuai dengan pranata yang berlaku. Selain itu
juga mamak yang menentukan perjodohan kemenakannya, serta mengatur perhelatan
perkawinan kemenakan. Keempat,”mamak pai tampak pungguang pulang tampak
muka”. Mamak rumah ataumamak kepala waris yang pergi merantau berkewajiban
untuk memberitahukannya kepada para kemenakan. Apabila terjadi masalah di kalangan
kemenakan yang ditinggalkannya akan diselesaikan oleh wakilnya.

Sumber: Marzuki
31. Mandi balimau

Mandi balimau merupakapan suatu kearifan local yang ada di riau dan di lakukan oleh
masyarakat melayu riau. Mandi balimau ini dilaksanakan menjelang 1 minggu atau 1 hari
sebelum bulan Ramadhan atau bulan puasa. Artinya mandi balimau ini dilakukan 1 kali dalam
setahun. Biasanya mandi balimau ini di lakukan di sungai atau Kuantan secara bersama-sama.
Mandi balimau bisa saja dilakukan seorang diri atau dilakukan secara mandiri,tetapi ada rasa

yang kurang dari hal ini, karena mandi balimau identic dengan bersama-sama atau ramai-ramai
dalam melaksanakannya. Bahan yang dibutuhkan tentu saja limau untuk mandi balimua. Tidak
ada aturan khusus yang mangatakan jumlah limau yang dipakai dalam mandi balimau.

Siapapun dapat melakukan mandi balimau, tidak ada batasan usia dan aturan khusus dalam hal
ini. Terdapat larangan mandi balimau bagi wanita yang sedang datang bulan atau haid tidak
boleh melakukan mandi balimau. Dengan adanya mandi balimau ini akan semakin mempererat
tali silaturahmi dan kebersamaan. Dengan melakukan mandi balimau dipercaya sebagai
pensucian atau pembersihan diri sebelum atau dalam menyambut bulan Ramadhan atau bulan
puasa. Dalam mandi balimau yang diutamakan yaitu pada kepala yang diberi limau baru ke

bada
n
atau
pada
bada
n
bisa
digan
ti
deng
an
sabu
n
baru setelah itu membilas diri dengan menyelan atau menyiramkan air di badan di sungai atau
kuntan.

32. epung tawar
Tradisi tepung tawar juga merupakan salah satu kearifan local yang ada di riau. Tepung
tawar ini biasanya dilakukan untuk bayi yang berumur 1 minggu atau lebih, pada sunatan atau
nikahan yang biasanya diiringi juga dengan acara kenduri atau rebana. Tradisi ini dilakukan
dengan maksud untuk mengusir hal-hal jahat atau sesutau yang tidak diinginkan. Hal yang perlu
dipersiapkan dalam tradisi ini yaitu beras yang diberi kunyit, air, gunting, irisan pandan serta
bunga dan bedak tabur. Bunga yang digunakan bisa apa saja yang tersedia, tapi akan lebih

bagus dengan bunga mawar, kenanga, melati. Tradisi ini biasanya dipandu oleh seseorang, dan
yang dapat berpartisipasi yang utama yaitu orang tua, kaken nenek, saudara-saudara baru
setelah itu rombongan pemain rebana. Tradisi ini dapat dilakukan di pendopo, rumah yang
bersangkutan atau di panggung. Tidak ada aturan khusus dalam pelaksanaan tradisi tepung
tawar ini. Diharapkan yang menghadiri tradisi tepung tawar ini dapat ikut mendoakan yang baik
untuk yang menjalankan tradisi ini. Tata cara pelaksanaan tepung tawar ini yaitu dengan sedikit
memotong rambut.

Contoh tepung tawar pada bayi. Rambut yang sudah dipotong lalu dimasukkan kedalam air
yang sudah disediakan di baskom atau diwadah lain. Baru bayi tersebut sedikit dilempar beras
dan bunga tadi. Setelah itu air yang di ada rambutnya disiramkan kepada ari-ari sibayi. Bayi
biasanya digendong dalam acara ini, setelah selesai melaksanakan tardisi ini baru di letakkan di
buaian atau ayunan yang sudah diada. Rebana dalam tradisi ini biasanya menyenandungkan

shola
wat.

33. S
i
l
e
k

S
ejak
dahul
u,
adat
Mina
ngka
bau menjadikan silek merupakan warisan dari ninik mamak kepada anak kemenakan dalam
kaumnya. Hal ini berkaitan dengan persoalan bahwa di dalam tatanan adat Minangkabau sangat
rentan terjadi perkelahian baik dalam soal perebutan waris pusaka, maupun tapal batas antar

nagari, sehingga penghulu pucuk pimpinan adat, para datuk dan ninik mamak Minangkabau
pada umumnya menguasai silek sebagai tradisi yang senantiasa dilestarikan untuk
keberlangsungan kehidupan mereka.

Silek juga merupakan pengetahuan dan keterampilan yang menjadi kekayaan lahir dan batin
dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungan. Ajaran
silek meliputi silik dan suluk. Silek adalah ilmu mempelajari/ mengenal diri lahiriah, silik
adalah Ilmu mempelajari/mengenal diri batiniah, dan suluk adalah Ilmu mempelajari/mengenal
diri lahir batin.

Sumber: Radika
34. Bainai
Bainai secara harafiah berarti memakaikan inai, yaitu tumbuhan yang biasa digunakan
untuk memerahkan kuku, namun tradisi Malam Bainai bagi calon pengantin Minang tentu lebih
dari itu. Malam Bainai merupakan malam terakhir calon pengantin perempuan sebagai seorang
gadis lajang, maka dapat dikatakan bahwa Malam Bainai merupakan versi Minang dari sebuah
pesta lajang.

Pada awalnya, Bainai dipercayai sebagai suatu cara untuk menghindari malapetaka bagi
calon pengantin. Walaupun kepercayaan ini sudah tidak populer, Malam Bainai masih
dijalankan sebagai tradisi pernikahan khas Minangkabau. Pada malam ini, sang calon pengantin
perempuan, yang disebut dengan anak daro wajib mengenakan busana tradisional bernama baju
tokah dan hiasan kepala yang bernama suntiang.

Makna Tradisi Malam Bainai dari Adat Minang

Seperti tradisi pernikahan pada umumnya, tradisi yang berasal dari Sumatra Barat ini terdiri
dari beberapa prosesi. Anak daro akan melewati proses mandi-mandi yang menyerupai proses
siraman Jawa, namun pada proses mandi-mandi, calon pengantin hanya diberi percikan air. Air

ini harus menggunakan daun sitawa sidingin dan dipercikan oleh sesepuh yang berjumlah
ganjil. Hal ini karena angka ganjil diasosiasikan dengan hal sakral, seperti sholat 5 waktu untuk
kaum Muslim. Percikan terakhir pada sang anak daro dilakukan oleh orang tuanya.

Seusai proses mandi-mandi, anak daro dibawa melewati kain jajakan kuning oleh kedua
orang tuanya menuju pelaminan. Proses ini melambangkan perjalanan hidup sang calon
pengantin. Kain yang telah dilewati kemudian akan digulung oleh dua saudara laki-laki untuk
melambangkan bahwa pernikahan cukup dilalui satu kali saja. Sesampainya di pelaminan, anak
daro akan disambut oleh kerabat wanita yang dituakan atau dikenal akan kebijakannya. Malam
Bainai juga menjadi kesempatan bagi keluarga dan kerabat untuk memberi petuah-petuah pada
sang anak daro. Maka pada proses ini, para saudara wanita yang membubuhkan pacar pada
kuku sang calon pengantin akan melakukannya sembari berbagi berbagai petuah pernikahan.

Sumber: Radika

35. Balimau Kasai

Sumber:
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fkebudayaan.kemdikbud.go.id
%2Fbpnbkepri%2Fbalimau-kasai-tradisi-orang-kampar-sambut-
puasa%2F&psig=AOvVaw1Yjw2XkZneapltbaPqc0aF&ust=1617790954844000&sourc
e=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCOCroo-z6e8CFQAAAAAdAAAAABAD
Balimau Kasai adalah sebuah tradisi yang istimewa bagi masyarakat Kampar di provinsi
Riau untuk menyambut bulan suci ramadhan.Acara ini biasanyadilaksanakan sekali dalam

setahun yaitu sehari menjelang masuknya bulan puasa, tradisi ini selain sebagai ungkapan rasa
syukurdan kegembiraan memasuki bulan puasa juga merupakan simbol penyucian diri.Balimau
bermakna mandi dengan menggunakan air yang di campur jeruk yang oleh masyarakat Kampar
sendiri disebut limau. Jeruk yangbiasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk
kapas. Sedangkan kasai adalah wangi-wangian yang biasanya dipakai kewajah dan tangan atau
semacamlulur. Bagi masyarakat Kampar pengharum badan(kasai)ini dipercayai dapat mengusir
segala macam rasa dengki yang ada dalamkepala, sebelum memasuki bulan puasa.

33. Bacarotai di Nagari Sungai Tanang
Kegiatan Bacarotai merupakan sebuah kearifan lokal berbentuk tradisi menangkap ikan
secara bersama-sama menggunakan alat jaring (Tangguak) di Tabek Gadang dengan waktu

yang telah di tentukan. Tabek Gadang ini terletak di Nagari Sungai Tanang, Kecamatan
Banuhampu, Kabupaten Agam. Tabek Gadang dijadikan tempat berbagai budidaya ikan, ikan
yang dibudidayakan merupakan ikan larangan jika seseorang mencuri ikan di kolam Tabek
Gadang, maka ikan yang di curinya akan di gantung di depan beduk yang terletak di depan
Masjid Jami’ dan akan di beri denda.

Kegiatan Bacarotai berawal dari kegiatan pembersuhan Tabek Gadang dari lumpur yang
menyebabkan Tabek Gadang menjadi semakin dangkal. Proses pembersihan ini dilaksanakan
oleh mamak dan pengurus masjid. Ikan yang ditangkap pada saat proses pembersihan ini di jual
ke pasar, namun tidak semua ikan dijual, sebagian ikan disisakan untuk masyarakat dan
masyarakat dapat dengan bebas mengambil ikan ini. Para masyarakat sekitar sepakat untuk
menyebut kegiatan ini Bacarotai.

Nilai luhur yang terkandung dalam kegiatan bacarotai ini sangat condong ke pada nilai-
nilai sosial, seperti: kebersamaan, mencintai lingkungan, gotong royong, saling menghargai
pendapat, menghargai adat, melatih kedisiplinan, menjaga kelestarian alam sekitar.

Kegiatan bacarotai ini memiliki sebuah kendala. Sawah-sawah yang terdapat di sekitar
tabek gadang memerlukan air dari tabek gadang menajdi terganggu karena pada proses
Bacarotai tabek gadang akan dikosongkan airnya. Selain itu saat pelaksanaan bacarotai akan
tejadi kemacetan di sekitar tabek gadang, karna jumlah pengunjung bacarotai yang sangat
banyak.

34. Ikan Sakti di Nagari Sungai Janiah
Ikan sakti ini merupakan sebuah legenda yang telah di ceritakan secara turun temurun di
setiap generasi oleh masyarakat nagai Sungai Janiah, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam. Ikan
sakti ini juga banyak menarik wisatawan dari daerah lain yang merasa penasaran akan ikan sakti
ini.
Menurut legenda, ikan sakti ini jumlahnya mencapai ribuan ekor dan berbgai macam
ukuran. Masyarakat sekitar percaya ada ikan sakti yang ukurannya hingga sebesar kerbau
dengan berat sekitar 200 kilogram. Kisah ini selalu diceritakan oleh masyarakat sekitar kepada
wisatawan yang mengunjungi kolam ikan sakti. Kolam Ikan Sakti Sungai Janiah ini merupakan
salah satu objek wisata yang cukup ramai dikunjungi sebelum pendemi.

Masyarakat setempat sangat meyakini bahwa ikan sakti itu berasal dari balita. Sampai
sekarang ikan yang bentuknya sejenis garing itu dipantangkan untuk ditangkap, apalagi
dimakan. Siapa yang melanggar pantangan atau berani menangkap ikan itu, maka niscaya yang
bersangkutan akan celaka. Dapat kutukan seperti mati mendadak atau sakit berkepanjangan.
Demikian yang dipercayai masyarakat setempat.

Keyakinan akan ikan sakti itu juga diperlihatkan warga setempat dengan melakukan
ritual khusus ketika ada ikan yang mati. Ikan itu tidak dibuang begitu saja melainkan dilakukan
prosesi seperti penyelenggaraan jenazah manusia, yakni dikafani lalu dikuburkan, namun ikan
yang mati itu tidak disalatkan.

Sumber:sintia
Tentang ikan sakti sebesar kerbau, menurut orang tua-tua di sana, sangat jarang muncul ke
permukaan. Konon, dia hanya menampakkan diri pada hari-hari besar saja. Tentu saja,
pengunjung ada yang percaya dan ada yang tidak, itu sah-sah saja. Namun, demikianlah kisah
dan legenda yang dipercayai masyarakat setempat secara turun-temurun sejak dulunya.

35. Mambilang hari
Mambilang hari adalah sebuah tradisi peringatan kematian dan do’a bersama yang
diiringi dzikir dan tahlilyang sudah sejak dulu dilakukan. Tradisi mambilang hari mengandung
maknakepedulian kita terhadap sesama, bentuk simpati dan juga sebagai bentuk penghormatan
terakhir kepada jenazah, maka dari itu pada acara mambilang haridilakukan doa bersama yang
diirigi oleh dzikir dan tahlil. Selain itu tradisi mambilang hari juga mengingatkan kita bahwa
kematian pasti akan datang.
Tradisi mambilang hari terbagi menjadi beberapa waktu tertentu seperti pada hari ke-
tiga kematian yang disebut dengan manigo hari, pada hari ke-tujuh yang disebut manujuah
hari, pada hari ke-empat belas disebut dengan maampek baleh, pada hari ke-empat puluh
disebut dengan maampek puluah dan pada hari ke-seratus disebut dengan
manyaratuih.Kegiatan yang dilakukan pada saat mambilang hari adalah berdoa bersama dengan
diiringi bacaan dzikir dan juga tahlil dirumah duka atau dirumah saudara dari jenazah.Biasanya
acara ini memang dilakukan oleh pihak keluarga yang ditinggalkan.
Pada saat Manigo hari ,manujuah hari dan maampek baleh hari itu biasanya hanya
dilakukan do’a, dzikir, dan tahlil bersama, dan tuan rumah hanya akan menghidangkan
pangacok/jamba. Tidak jauh beda dengan manigo,manujuah dan maampek baleh hari, pada

saat maampek puluah hari juga dilakukan do’a, dzikir, dan tahlil bersama, tetapi bedanya tuan
rumah sudah mulai mamanggia atau mengundang orang ke acara maampek puluah dan tuan
rumah juga tidak hanya memberi pangacok/ jamba tuan rumah juga menghidangkan nasi dan
sambal seperti acara syukuran pada umumnya. Sedangkan pada hari ke-seratus atau hari
terakhir tradisi mambilang hari, kegiatan yang dilakukan hampir sama dengan maampek
puluah, tetapi pada acara ini diberikan hantaran pada alim ulama yang menuntun doa, dzikir,
dan tahlil selamamambilang hari. Hantaran ini biasa disebut baban palapeh.Baban palapeh
berisi pangacok/jamba ataubiasa disebut dengan kudapan atau cemilan yang dihidangkan pada
saat acara, kemudian ada masakan/sambal, dan beberapa kebutuhan dari alim ulama itu seperti,
baju koko, kain sarung, kopiah, paying,dll.Baban palapeh diberikan sebagai ungkapan
terimakasih kepada ulama, dan ucapan rasa syukur karna mambilang hari sudah terlaksana
dengan baik.

Sumber :https://www.picuki.com/tag/minangkabauculture

36. Tradisi malam bainai di minangkabau



Sumber : https://www.jurnaland.com/2018/12/tradisi-pernikahan-adat-minang.html

Dalam hasil observasi yang telah dilakukan , pada hasil wawancara ini terdapat
kearifan lokal minangkabau dalam bentuk tradisi yaitu malam bainai. Malam bainai
merupakan sebuah ritual yang diterapkan kepada calon mempelai wanita yang dilakukan
sebelum hari setelah pernikahan dimulai. Tardisi malam bainai ini terdapat tumbukan pacar
kuku atau daun inai yang dipakai ke dua tangan dengan dihiaskan berbagai bentuk bunga dan
lain-lainnya. Malam bainai ini juga ada ritual bamandi-mandi. Tujuan dari tradisi malam

bainai ini agar terjaganya anak daro dan dia tidak bisa lagi sebelum acara perkawinan dan
untuk menjaga ana daro dari kejahatan yang terlihat maupun tidak terlihat.

37. Tradisi batagak gala di minangkabau
Sumber : https://www.sumbarnet.com/2020/02/acara-tagak-gala-rahmat-efendi-dihadiri.html

Dari hasil observasi yang dilakukan , dalam kearifan lokal minangabau terdapat
tradisi batagak gala ( bergelar ) dimana seorang mempelai laki-laki harus diberikan gala
(gelar) yang dilakukan secara sesama. Dalam pelaksana nya mempelai laki-laki akan
berteriak ke semua orang yang berada disekitar rumah nya dan menyebutkan gelar yang baru
saja di sandangnya. Dan ada 3 jenis gala yaitu gala sako, gala sangsako, dan gala mudo.

38.mandi balimau

Tradisi mandi balimau menyosong ramadhan.

sumber : https://koran.tempo.co/read/ramadhan/430870/mandi-balimau-untuk-

menyongsong-ramadan

Dari observasi yang dilakukan, dalam kearifan lokal minangkabau terdapat tradisi
mandi balimau menjelang bulan suci ramadhan, dimana mandi balimau ini merupakan tradisi
mandi yang menggunakan jeruk nipis yang dilaksanakan oleh masyarakat minangkabau.
Tujuannya agar bisa mensucikan diri sebelum memasuki bulan suci ramadhan.

38. Tradisi Manjapuik Bagi Urang yang Kamatian Bini
Tradisi manjapuik merupakan kearifan lokal tipe hubungan sesama manusia.

Tradisi Manjapuik Bagi Urang yang Kamatian Bini menjadi salah satu bagian dalam
upacara kematian yang saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat di Nagari Balai
Gurah. Tradisi ini melambangkan bahwa dahulu ketika acara pernikahan, suami di
antarkan secara adat kerumah istrinya maka pada saat istrinya telah meninggal suami juga
akan dijemput secara adat.

Tradisi manjapuik adalah tradisi yang dilakukan terhadap suami yang istrinya telah
meninggal dunia. Tradisi ini dilakukan oleh keluarga pihak suami. Keluarga suami akan
datang kerumah istri tepat setelah 100 hari kematian istri.Keluarga suami akan membawa
nasi dan lauk pauk berupa rendang, ayam goreng, pangek ikan, perkedel dan sayuran


Click to View FlipBook Version