BATIK : SELAYANG PANDANG
Pada saat mendengar kata batik, kita pasti sudah mengetahui apa yang dimaksud. Kita
akan langsung merujuk pada jenis kain yang dibuat secara khusus mengikuti motif-motif
tertentu. Betul, seperti itulah pengertian batik secara umum. Batik adalah sejenis kain tertentu
yang dibuat khusus dengan motif-motif yang khas, yang langsung dikenali masyarakat
umum.
Pada masa lampau, batik banyak dipakai oleh orang Indonesia di daerah Jawa. Itu pun
terbatas pada golongan ningrat keraton dengan aturan yang sangat ketat. Artinya, tidak
sembarang orang boleh mengenakan batik, terutama pada motif-motif tertentu yang
ditetapkan sebagai motif Jarangan bagi khalayak luas. Namun pada perkembangannya, batik
telah menjadi salah satu "pakaian nasional" Indonesia yang dipakai oleh bangsa Indonesia di
seluruh Nusantara dalam berbagai kesempatan. Batik enak disandang dan enak dipandang.
Itulah salah satu alasan mengapa batik banyak dipakai di berbagai kalangan. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2007), batik dijelaskan sebagai kain bergambar yang
dibuat secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam (lilin) pada kain, kemudian
pengolahannya diproses dengan cara tertentu; atau biasa dikenal dengan kain batik.
Di kamus tersebut dijelaskan pula perihal batik cap, yaitu batik yang dibuat dengan
alat cap. Batik tulis adalah batik yang dibuat dengan tangan (bukan dengan cap).
Kata yang berkaitan dengan batik adalah "membatik"yaitu membuat corak atau
gambar (terutama dengan tangan) dengan menerakan malam pada kain, membuat batik, atau
menulis dengan cara seperti membuat batik (sangat perlahan-lahan dan berhati-hati sekali)
karena takut salah.
Selain itu, ada pula kata-kata lainnya yang berkaitan, yaitu "batikan" adalah hasil
membatik; "pembatik" adalah orang yang membatik atau orang yang pekerjaannya membuat
kain batik; dan "pembatikan" adalah tempat membatik, perusahaan batik, atau bisa juga
proses, cara, dan perbuatan membatik.
Secara etimologi, kata batik berasaldaribahasaJawa, "amba"yang berarti lebar, luas,
kain; dan "titik" yang berarti titik atau matik (kata kerja membuat titik) yang kemudian
berkembang menjadi istilah "batik", yang berarti menghubungkan titik-titik menjadi
gambartertentu pada kain yang luas atau lebar. Batik juga mempunyai pengertian segala
sesuatu yang berhubungan dengan membuat titik-titik tertentu pada kain mori.
Dalam bahasa Jawa, "batik" ditulis dengan "bathik", mengacu pada huruf Jawa "tha"
yang menunjukkan bahwa batikadalah rangkaian dari titik-titikyang membentuk gambaran
tertentu. Berdasarkan etimologi tersebut, sebenarnya "batik" tidak dapat diartikan sebagai
satu atau dua kata, maupun satu padanan kata tanpa penjelasan lebih lanjut.
Batik sangat identik dengan suatu teknik (proses) dari mulai penggambaran motif
hingga pelorodan. Salah satu ciri khas batik adalah cara penggambaran motif pada kain yang
menggunakan proses pemalaman, yaitu menggoreskan malam (lilin) yang ditempatkan pada
wadah yang bernama canting dan cap.
Para sarjana ahli seni rupa, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing,
hingga saat ini belum mencapai kata sepakat tentang apa sebenarnya arti kata batik. Ada yang
mengatakan bahwa sebutan batik berasal dari kata "tik" yang terdapat di dalam kata titik,
yang berarti juga tetes. Dan memang, di dalam membuat kain batik dilakukan pula penetesan
malam di atas kain putih.
Ada juga ahli yang mencari asal kata batik di dalam sumber-sumber tertulis kuno.
Menurut pendapat ini, kata batik dihubungkan dengan kata tulis atau lukis.
Dengan demikian, asal mula batik dihubungkan pula dengan seni lukis dan gambar
pada umumnya.
Apa pun pemikiran dan pendapat yang lahir mengenai asal-usul nama batik, sekarang
ini batik sudah banyak dikenal luas, baik di dalam maupun di luar negeri. Di Indonesia, baik
perempuan maupun lelaki dari berbagai suku sangat senang memakai batik. Para turis asing
atau pun pejabat-pejabat asing yang tinggal di Indonesia juga senang mengenakan batik dan
sering membawanya pulang ke negara asal sebagai oleh-oleh.
-----
Lalu, bagaimana cara membuat batik? Untuk membatik, diperlukan alat yang disebut
canting. Canting terbuat dari bambu, berkepala tembaga, serta bercerat atau bermulut.
Canting ini berfungsi seperti sebuah pulpen yang dipakai untuk menyendok malam cair yang
panas, yang digunakan sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna. Sekarang
ini, selain canting tradisional, sudah ada canting elektrik.
Namun sebelum sang pembatik melelehkan malam dikain putih, banyak langkah yang
harus dikerjakan pada kain putih tersebut. Persiapannya berupa pencelupan kain dalam
minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda. Gunanya untuk memudahkan malam melekat
dan zat warna meresap. Setiap kali kain akan diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak
boleh terkena zat warna ditutup dengan malam, sehingga makin banyak warna yang dipakai
untuk menghias kain batik, semakin lama juga proses pekerjaan menutup tersebut. Pada taraf
penghabisan, malam dibuang dengan merebus kain dalam air mendidih. Sesudah itu, kain
batik dijemur dan terlihatlah hasilnya berupa batik dengan warna-warna yang indah dan pola-
pola yang telah ditentukan.
Pada masa sekarang, telah banyak modifikasi dan pengembangan teknik pembuatan
batik mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi tekstil. Namun demikian, masih ada
sekelompok tertentu perajin batik yang mempertahankan cara pembuatan batik secara
tradisional sebagai salah satu cara mertjaga warisan budaya. Kita tidak dapat memungkiri
bahwa seiring kemajuan zaman, batik telah banyak dibuat dengan cara cap, printing (sablon),
kain tekstil bercorak batik, batik dengan desain komputer, dan lain sebagainya.
Berbagai macam cara pembuatan batik tersebut telah membuat batik di Indonesia
semakin dikenal sangat luas. Batik digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dari kalangan
paling bawah hingga masyarakat dengan strata tertinggi. Pada masa lampau, ada jenis-jenis
batik tertentu yang hanya boleh dipakai oleh kalangan bangsawan dan penguasa, namun
sekarang hal itu tidak berlaku lagi. Batik telah menjadi busana adiluhung yang mencerminkan
cita rasa Indonesia yang indah dan elegan.
Batik di Indonesia memang telah dikenali secara luas, tetapi belum banyak
masyarakat yang mengerti dan tahu apa sesungguhnya batik tersebut. Bahkan, perhatian dan
konsentrasi untuk melestarikan batik di Indonesia pada umumnya masih sebatas perlakuan
normal memakai dan menggunakan batik. Padahal, di dalam batik ada banyak aspek
kehidupan yang bisa kita ungkapkan. Baik aspek historis, filosofis, wisata, maupun
kebudayaan.
Batik telah menjadi salah satu ikon budaya asli Indonesia. Sebelumnya, batik sempat
diklaim sebagai warisan budaya dari Malaysia. Pertikaian itu sempat memperkeruh hubungan
baik antara dua bangsa serumpun Melayu ini. Namun dengan berbagai bukti, tidaklah dapat
dipungkiri bahwa batik merupakan salah satu budaya asli Indonesia.
Dan akhirnya badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya
(UNESCO) mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia pada tanggal 2
Oktober 2009. Sejak itulah, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai "Hari Batik" di Indonesia.
Batik digunakan secara meluas di segala kalangan. Di lingkungan pegawai
pemerintah, setiap hari Jumat pegawai diwajibkan menggunakan seragam kerja berupa batik.
Kebiasaan ini banyak diikuti pula oleh perkantoran-perkantoran swasta, sehingga batik
semakin eksis dan meluas.
Demikian populernya batik, batik di masa kini tidak hanya dipakai sebagai baju atau
pakaian saja. Banyak bentuk modifikasi berbagai keperluan rumah tangga yang borasal dari
batik. Kita dapat menemukan dengan mudah berbagai bentuk olahan batik, seperti tas, sepatu,
sandal, sprei, sarung bantal, taplak meja, kerudung, aksesori, suvenir, lukisan, bahan dasar
berbagai kerajinan, dan lain-lain.
Batik telah menjadi bagian keseharian masyarakat Indonesia yang sangat berarti.
Batik telah menjadi aset kekayaan Nusantara. Keberadaan batik menjadi sangat penting bagi
perkembangan perekonomian di Indonesia. Industri batik di Nusantara telah menampung
jutaan tenaga kerja, terutama perempuan dengan industri-industri skala rumah tangga yang
tersebar di seluruh pelosok negeri. Belum terhitung pula jumlah mereka yang menjadi
pedagang batik, baik skala kecil, menengah, maupun besar.
Secara umum di dunia internasional, batikjuga telah menempati hati masyarakat dunia
sebagai salah satu warisan budaya asli Indonesia. Apalagi pengusaha batik nasional terus-
menerus melakukan terobosan untuk mengembangkan industri batik. Berbagai cara kreatif
terus dilakukan agar batik kita dapat menembus pasar internasional. Tentu saja, dengan
harapan batik mendapatkan penghargaan dan penghormatan yang layak, sebagai salah satu
fashion dunia yang pantas diperhitungkan.
Batik memang sangat istimewa. Bentuk kain bercorak itu bukan sekedar kain yang
tanpa makna. Di balik setiap motif dan jenisnya, ada berbagai makna filosofis yang memiliki
nilai dan sejarah yang panjang. Ada perjalanan sejarah yang dapat kita baca lewat tutu ran
corak dan motif batik. Corak dan motif batik tidak dapat dilepaskan dari unsur-unsur yang
melekat dari wilayah asal pembuatannya. Dan dapat dipastikan tidak semua orang mengerti
adanya sejarah panjang di balik batik. Selain adanya makna filosofis di dalamnya sesuai
dengan corak dan motifnya, batik juga memiliki sejarah panjang di Indonesia.
Dengan adanya sejarah panjang mengenai batik, sangat tepat jika batik disebut
sebagai salah satu tujuan wisata. Pasar Beringharjo Yogyakarta, Pasar Klewer Solo, dan
Pasar Grosir Batik Sentono Pekalongan merupakan contoh dari tempat penjualan batik yang
dapat menjadi tujuan wisata batik.
Di tempat-tempat tersebut, kita tidak hanya dapat berbelanja batik dengan murah,
tetapi kita juga dapat menemukan berbagai variasi bentuk dan modifikasi industri batik.
Selain itu, kalau kita memiliki banyak waktu, kita juga dapat belajar membatik, mengenal
sejarah, dan industri batik secara lebih luas.
Demi pelestarian batik ini, sudah ada satu museum nasional batik, yaitu Museum
Batik Nasional yang berada di Jalan Jetayu No. 3 Pekalongan. Museum ini diresmikan oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 12 Juli 2006. Banyak orang berkunjung
ke sini untuk mendapatkan pengetahuan yang lengkap mengenai batik. Museum Batik
Pekalongan ini mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai tempat terbaik untuk
pendidikan dan pelatihan batik bersamaan dengan pengakuan UNESCO atas batik sebagai
warisan dunia asli dari Indonesia.
Jadi, kalau kebetulan berkunjung ke kota Pekalongan untuk berbelanja batik atau
berbagai keperluan lainnya, singgahlah ke Museum Batik Nasional untuk mengerti batik
secara detail.
Batik memang istimewa. Batik adalah milik semua orang. Batikku, batikmu, batik
kita, batik dunia!
SEJARAH BATIK
Di Indonesia, batik memiliki sejarah dan riwayat yang panjang. Di setiap wilayah di
Nusantara, batik memiliki perkembangan dan kisah yang menarik. Keberadaan Kerajaan
Majapahit sebagai kerajaan yang besar, makmur, dan mengalami masa kejayaan selama
beberapa abad telah membuat tradisi dan kebudayaannya mengakar kuat di wilayah
Nusantara, termasuk di antaranya seni batik.
A. Perkembangan Umum
Sampai saat ini, sebenarnya kapan batik mulai tercipta masihlah menjadi tanda
tanya. Namun, motif-motif batik di Indonesia dapat ditemukan pada beberapa artefak
budaya, seperti pada candi-candi.
Motif dasar lereng dapat ditemukan pada patung emas Syiwa (dibuat abad IX) di
Gemuruh, Wonosobo. Dasar motif ceplok ditemukan pada pakaian patung Ganesha di
Candi Banon dekat Candi Borobudur (dibuat abad IX). Batik juga ditemukan pada titik-
titik dalam motif pada patung Padmipani di Jawa Tengah (menurut perkiraan patung
tersebut dibuat awal abad VIII-X). Motif liris ditemukan pada patung Manjusri,
Ngemplak, Semongan, Semarang (dibuat abad X).
Selanjutnya, batik semakin eksis pada masa Kerajaan Majapahit dengan wilayah
dan kekuasaan yang sangat luas. Namun data yang lebih pasti tentang sejarah dan
perkembangan batik di Indonesia mulai terekam jelas sejak masa Kerajaan Mataram
Islam, yang bersumber dari keraton, seperti motif parang rusak, semen rama, dan lain-
lain.
Pada awalnya, batik digunakan sebagai hiasan pada daun lontar yang berisi naskah
atau tulisan agar tampak lebih menarik. Seiring perkembangan interaksi bangsa Indonesia
dengan bangsa asing, maka mulai dikenal media batik pada kain. Sejak itu, batik mulai
digunakan sebagai corak kain yang berkembang sebagai busana tradisional, khusus
digunakan di kalangan ningrat keraton.
Dalam beberapa literatur, sejarah pembatikan di Indonesia sering dikaitkan
dengan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Hal ini
dibuktikan dengan penemuan area dalam Candi Ngrimbi dekat Jombang yang
menggambarkan sosok Raden Wijaya, raja pertama Majapahit (memerintah 1294-1309),
memakai kain batik bermotif kawung.
Oleh sebab itu, kesenian batik diyakini telah dikenal sejak zaman Kerajaan
Majapahit secara turun-temurun. Wilayah Kerajaan Majapahit yang sangat luas
menyebabkan batik juga dikenal luas di Nusantara. Berikut ini adalah beberapa kota di
Indonesia yang memiliki riwayat dan sejarah batik yang cukup panjang dan memiliki
kontribusi besar terhadap perkembangan batik di Indonesia.
1) Mojokerto dan Tulungagung
Dengan pusat kekuasaan Kerajaan Majapahit berada di Jawa Timur
(Trowulan, Mojokerto), tidak mengherankan kalau hampir setiap kota di Jawa Timur
mengenal batik. Daerah Jawa Timur, terutama Mojokerto, memiliki gaya pembatikan
yang khas karena sangat dekat dengan pusat kekuasaan Majapahit. Perkembangan
gaya batik ini hingga sekarang dapat ditelusuri di daerah Mojokerto.
Tulungagung memiliki riwayat sejarah khusus tentang keberadaan batik dan
Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu, daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari
rawa-rawa dikenal dengan nama Bonorowo. Pada saat Kerajaan Majapahit sedang
pada masa keemasan di bawah kendali Mahapatih Gadjah Mada, Bonorowo dikuasai
oleh Adipati Kalang yang tidak bergabung di bawah Majapahit.
Keinginan Gadjah Mada dengan Sumpah Palapa-nya adalah mempersatukan
Nusantara di bawah Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, Gadjah Mada pun bertekad
untuk menaklukkan Bonorowo atau Tulungagung. Sayangnya, Adipati Kalang tidak
mau tunduk kepada Majapahit begitu saja. Akhirnya, Majapahit memutuskan untuk
menyerang Bonorowo.
Dalam aksi penyerangan yang dilancarkan oleh Majapahit, Adipati Kalang
tewas dalam pertempuran. Dia meninggal di sekitar desa yang sekarang bernama
Kalangbret, berasal dari kata "Kalang" dan "disebret-sebret", yang artinya badan
Adipati Kalang yang dicacah-cacah sehingga tidak bisa utuh kembali dan dihanyutkan
ke sungai. Sejak saat itulah desa tersebut terkenal dengan nama Desa Kalangbret.
Setelah itu, Bonorowo masuk menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Para
tentara Majapahit dan keluarganya dari Kerajaan Majapahit banyak yang menetap di
Bonorowo. Mereka membawa kesenian membuat batik tulis. Keterampilan membatik
ini kemudian disebarluaskan pada masyarakat asli Bonorowo sehingga menjadi
keahlian dan mata pencaharian mereka. Pada perkembangannya, batik bonorowo
lebih banyak dipengaruhi oleh corak batik solo dan yogya karena adanya pelarian
pengikut Pangeran Diponegoro setelah kalah dalam Perang Diponegoro melawan
Belanda.
Bahan-bahan batik yang dipakai pada waktu itu adalah kain putih yang
ditenun secara tradisional dan pewarna alami dari soga jambal, mengkudu, nila torn
(tarum), nila tinggi, dan sebagainya. Obat-obat pembuatan batik dari luar negeri baru
dikenal sesudah Perang Dunia I yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di
Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar
negeri. Cap dibuat di Bangil (Pasuruan) dan pengusaha-pengusaha batik mojokerto
dapat membelinya di Pasar Porong, Sidoarjo.
Di masa lalu, sebelum krisis ekonomi dunia akibat Perang Dunia I, Pasar
Porong dikenal sebagai pasar yang ramai. Hasil produksi batik dari Kedungcangkring,
Jetis, Sidoarjo, dan sekitarnya banyak diperjual-belikan di Pasar Porong. Waktu krisis
ekonomi, pengusaha batik mojokerto ikut lumpuh karena mereka hanya pengusaha
kecil. Sesudah krisis, kegiatan pembatikan timbul kembali. Dan ketika Jepang
menduduki Indonesia, kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan
muncul lagi sesudah kemerdekaan dan Mojokerto sudah menjadi bagian dari Republik
Indonesia.
Secara umum, batik tulungagung dan rnojokerto hampir sama dengan batik-
batik keluaran Yogya, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya cokelat muda atau
biru tua. Tempat pembatikan yang dikenal sejak lama di Tulungagung adalah Desa
Majan dan Desa Simo. Sedangkan daerah pembatikan di Mojokerto terdapat di Kwali,
Mojosari, Betero, dan Sidomulyo.
Desa Majan di Tulungagung juga mempunyai riwayat sebagai tempat pelarian
dari para pengikut Pangeran Diponegoro. Ketika terjadi bentrok antara tentara
kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan Pangeran Diponegoro, sebagian dari
pasukan-pasukan Kyai Mojo melarikan diri ke arah timur dan sampai sekarang
bernama Desa Majan.
Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini, Desa Majan
berstatus desa perdikan (daerah istimewa) dan kepala desanya seorang kyai yang
memimpin secara turun-temurun. Pembuatan batik majan ini merupakan seni
membuat batik peninggalan zaman perang Diponegoro.
Batik majan dan simo sangat unik karena warna dasarnya merah menyala (dari
kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom (tarum). Salah satu sentra batik lainnya
adalah Desa Sembung. Para pengusaha batik di daerah ini kebanyakan berasal dari
Solo yang datang ke Bonorowo pada akhir abad XIX. Hingga sekarang masih terdapat
beberapa keluarga pembatik dari Solo yang menetap di Desa Sembung.
2) Ponorogo
Riwayat dan sejarah pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya yang cukup
berpengaruh adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran
Islam di daerah ini.
Pada waktu itu, ada seorang keturunan dari Kerajaan Majapahityang bernama
Raden Katong, adik dari Raden Patah. Raden Katong inilah yang membawa agama
Islam ke Ponorogo dengan mendirikan pesantren. Dia terkenal sebagai Kyai Hasan
Basri dan lebih dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini
selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang,
dan kesusasteraan. Seorang murid kesusasteraan yang terkenal dari Tegalsari adalah
Raden Ronggowarsito.
Kyai Hasan Basri kemudian menjadi menantu raja Keraton Solo. Lalu putri
Keraton Solo diboyong ke Tegalsari, diikuti oleh para pengiringnya. Dari sanalah
batik ponorogo menjadi sangat dipengaruhi oleh batik solo. Di samping itu, banyak
pula keluarga Keraton Solo belajar di Pesantren Tegalsari dan semakin menguatkan
pengaruh batik solo terhadap batik ponorogo.
Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari Keraton Solo menuju ke
Ponorogo. Saat pemuda-pemudi yang dididik di Pesantren Tegalsari lulus, mereka
membaur di tengah masyarakat dan menyumbangkan ilmunya di bidang pemerintahan
maupun agama. Mereka juga mengembangkan tradisi membatik sebagai salah satu
mata pencaharian. Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang adalah daerah
Kauman, yaitu Kepatihan Wetan hingga meluas ke Desa Ronowijoyo, Mangunsuman,
Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok,
Banyudono, dan Ngunut.
Saat itu, obat-obat yang dipakai dalam pembatikan adalah obat buatan dalam
negeri dari kayu-kayuan, antara lain pohon tom, mengkudu, dan kayu tinggi.
Sedangkan bahan kain putihnya juga memakai buatan lokal dari tenunan gendong.
Kain putih impor baru dikenal di Ponorogo pada akhir abad XIX.
Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah Perang Dunia I
berakhir. Daerah Ponorogo pada awal abad XX sangat terkenal dengan batiknya
dalam pewarnaan nila yang tidak luntur. Oleh karena itu, banyak pengusaha batik dari
Banyumas dan Solo yang memberikan pekerjaan kepada para pengusaha batik di
Ponorogo. Sejak masa itulah, batik ponorogo terkenal di seluruh Indonesia dengan
batik Cap Mori Biru.
Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam adalah banyak daerah pusat
perbatikan di Jawa merupakan daerah santri. Batik menjadi alat perjuangan ekonomi
oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda. Dengan adanya
industri batik yang dapat dilakukan di dalam rumah, usaha ini jauh dari pengintaian
Belanda sehingga memungkinkan ekonomi masyarakat tetap berkembang, walaupun
dalam masa peperangan.
Kejayaan Kerajaan Majapahit turut membantu menyebarluaskan seni batik.
Dan saat kerajaan ini kehilangan pamor dan kedigdayaannya, perkembangan batik di
Nusantara tidaklah surut. Di daerah-daerah pedalaman, di luar keraton dan di luar
daerah pesisir, batik terus berkembang dan semakin eksis.
Perkembangan batik di Nusantara kembali menggeliat dan mendapatkan titik
terang pada saat kelahiran Kerajaan Mataram Islam. Pusat kekuasaan kerajaan yang
berada di Jawa Tengah telah turut memengaruhi perkembangan batik secara umum.
3) Yogya dan Solo
Keberadaan batik di setiap kota tidak dapat dilepaskan dari sejarah kota
tersebut. Demikian juga dengan Yogyakarta yang dianggap sebagai cikal bakal batik
dengan adanya batik keraton. Batik di kota ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah
berdirinya Kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati.
Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Pajang ke Mataram, Panembahan
Senopati sering mengadakan taper brata (bertapa, bersemedi) di sepanjang pesisir
selatan, menyusuri Pantai Parangkusuma ke Dlepih Parang Gupita, menyisiri tebing
Pegunungan Seribu yang tampak seperti pereng atau tebing berbaris. Tempat
pengembaraan itu akhirnya melahirkan ilham pembuatan motif batik lereng atau
parang yang merupakan ciri khas batik mataram yang berbeda dengan batik-batik
sebelumnya.
Batik di keraton memang bukan sekedar lukisan tanpa makna, tetapi sering
dikaitkan dengan laku brata dan pengalaman spiritual penciptanya. Hak eksklusif
penggunaan batik parang tentu saja menjadi milik raja pembuatnya dan keturunannya.
Kalangan di luar keraton dilarang menggunakan batik motif parang tersebut.
Larangan tersebut pernah dicanangkan oleh Sri Sultan HB I pada tahun 1785, yang
antara lain termasuk kain batik motif parang rusak barong dan beberapa motif parang
lainnya.
Terakhir, Sri Sultan HB VIII menetapkan revisi larangan tersebut dengan
membuat Pranatan Dalem bab Namanipun Pengangge ing Nagari Ngayogyokarta
Hadiningrat, yang dimuat dalam Rijksblad van Dyogyakarto No 19 Tahun 1927.
Pranoton ini sampai sekarang tidak diperbarui dan menjadi semacam aturan tidak
tertulis yang menjadi tradisi di lingkungan keraton.
Di masa lalu, batik bukan hanya digunakan untuk melatih keterampilan lukis
(menggambar) dan sungging (mewarnai dengan cat), namun merupakan seni yang
sarat dengan pendidikan etika dan estetika bagi perempuan. Batik juga sering
digunakan untuk menandai adanya peristiwa-peristiwa penting di dalam kehidupan
manusia Jawa. Misalnya saja batik dengan corak truntum cocok untuk upacara akad
nikah. Sedangkan corak midodareni, grompol, semen rama, naga sari cocok untuk
pernikahan.
Selain itu, banyak aturan dan larangan yang berkaitan dengan penggunaan
batik. Batik dengan corak parang rusak dilarang dipakai saat pernikahan dengan
harapan agar terhindar dari rumah tangga yang rusak. Pada saat pernikahan biasanya
digunakan kain batik dengan corak sido mukti atau sido luhur dengan harapan agar
kehidupan anaknya kelak menjadi orang yang luhur dan terpandang. Dalam
perkembangan selanjutnya, batik dijadikan komoditi perdagangan.
Daerah pembatikan Yogya pertama kali berada di Desa Plered, Imogiri,
Bantul. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga keraton yang
dikerjakan oleh perempuan-perempuan pembantu ratu. Dari sini, pembatikan rneluas
pada tingkat pertama keluarga keraton lainnya, yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-
tentara kerajaan. Pada upacara resmi kerajaan, keluarga keraton baik lelaki maupun
perempuan memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik (kain tenun yang
coraknya berjalur-jalur).
Pada masa itu, rakyat terbiasa melakukan kunjungan atau seba pada waktu-
waktu tertentu ke keraton. Mereka melihat pakaian bagus yang dikenakan oleh
keluarga keraton. Dari sinilah mereka tertarik untuk membuatnya. Batik akhirnya
ineluas ke kalangan rakyat dan pembatikan pun keluar dari tembok keraton.
Batik solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya, baik batik cap
maupun batik tulis. Bahan-bahan yang digunakan untuk pewarnaan adalah bahan-
bahan dalam negeri, seperti soga. Motifnya yang terkenal adalah sido mukti dan sido
luruh.
Akibat dari peperangan pada masa awal Kerajaan Mataram I, baik keluarga
raja maupun rakyat mengungsi dan kemudian menetap di daerah-daerah baru. Mereka
pada umumnya menetap di Kebumen, Banyumas, Pekalongan, Ponorogo,
Tulungagung, dan sebagainya.
Meluasnya daerah pembatikan ini ke daerah-daerah tersebut dimulai pada
abad XVIII. Keluarga-keluarga keraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan
pembatikan ke seluruh pelosok Pulau Jawa. Perang Pangeran Diponegoro melawan
Belanda mendesak sang Pangeran dan keluarganya, serta para pengikutnya
meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah timur dan barat
Yogyakarta.
Di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut Pangeran Diponegoro
mengembangkan batik. Ke daerah timur, batik solo dan yogya menyempurnakan
corak batik yang telah ada di Tulungagung dan Mojokerto. Selain itu, juga menyebar
ke Gresik, Surabaya, dan Madura. Sedang ke arah barat, batik solo dan yogya
berkembang di Kebumen, Banyumas, Pekalongan, legal, dan Cirebon.
Di masa sekarang, Yogya dan Solo masih tetap menjadi "kiblat" industri batik
di Nusantara. Segala macam hal yang berkaitan dengan batik sering diidentikkan
dengan batik yogya dan batik solo. Meskipun pada kenyataannya, di luar daerah
tersebut terdapat berbagai modifikasi dan pengembangan batik yang tidak kalah
pesatnya.
4) Kebumen
Di Kebumen, batik dikenal sekitar awal abad XIX yang dibawa oleh
pendatang-pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah agama Islam. Mereka
mengembangkan batik di Kebumen. Batik pertama di Kebumen dinamakan tengobang
atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas atau Solo.
Pada permulaan ab4ad XX, batik kebumen mengalami perkembangan yang
pesat. Untuk membuat pola batik, digunakan kunyit dengan cap terbuat dari kayu.
Motif-motif batik kebumen pada umumnya adalah pohon-pohon dan burung-burung.
Bahan-bahan pewarna yang digunakan umumnya dari pohon mengkudu dan pohon
nila tom.
Pemakaian obat-obatan impor di Kebumen baru dikenal pada tahun 1920.
Obat-obatan impor ini diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia.
Pengenalan obat-obat impor inilah yang membuat para perajin batik meninggalkan
bahan-bahan alami buatan sendiri. Tujuannya demi menghemat waktu dan
meningkatkan mutu. Pemakaian cap dari tembaga di Kebumen dikenal pada tahun
1930. Daerah pembatikan di Kebumen antara lain di Watugarut dan Tanurekso.
5) Banyumas
Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja, dibawa oleh
pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830.
Bahan kain yang dipakai adalah hasil tenunan sederhana dan obat pewarna berasal
dari pohon tom dan mengkudu. Pewarna ini memberi warna merah bersemu kuning
(jingga).
Pembatikan pun meluas pada rakyat Sokaraja, dan pada akhir abad XIX, para
pembatik di Banyumas dapat berdagang dan berhubungan langsung dengan para
pembatik di daerah Solo dan Ponorogo. Perkembangan batik di Indonesia terus
meluas, meskipun terjadi pergantian kekuasaan, peperangan, maupun bencana alam.
Setelah Perang Dunia I, industri pembatikan mulai dilirik oleh orang Cina
yang semula hanya berdagang bahan-bahan dan alat keperluan batik. Mereka inilah
yang dalam masa Perang Dunia I merajai industri pembatikan di Nusantara.
6) Pekalongan
Pembatikan juga dikenal di Pekalongan. Dilihat dari proses dan desainnya,
batik pekalongan banyak dipengaruhi oleh batik dari Demak. Sampai awal abad XX,
proses pembatikan yang dikenal di Pekalongan adalah batik tulis dengan bahan mori
buatan dalam negeri dan sebagian impor. Setelah Perang Dunia I baru dikenal
pembuatan batik cap dan pemakaian obat-obat buatan Jerman dan Inggris.
Pada awal abad XX, yang pertama kali dikenal di Pekalongan adalah
pertenunan yang menghasilkan setagen (sabuk atau ikat pinggang perempuan yang
terbuat dari kain, panjangnya antara 3-5 meter berwarna polos, umumnya putih,
merah, hitam, hijau, dan lain-lain, yang dikenakan oleh mereka yang berkain) dan
benangnya dipintal secara sederhana.
Beberapa tahun berikutnya, barulah dikenal cara pembatikan yang dikerjakan
oleh orang-orang yang bekerja di sektor pertenunan ini. Pertumbuhan dan
perkembangan pembatikan di Pekalongan menjadi lebih pesat dari pertenunan
setagen. Akibatnya, buruh-buruh pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto lari ke
perusahaan-perusahaan batik karena upahnya lebih tinggi daripada upah bekerja di
pabrik gula.
Saat ini, Pekalongan merupakan salah satu sentra industri batik nasional
dengan jumlah produksi batik yang sangat besar. Batik-batik pekalongan tidak hanya
dibuat untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga diekspor ke Amerika,
Eropa, Timur Tengah, dan lain-lain. Di kota ini pula terdapat Museum Batik Nasional
yang dapat dijadikan sebagai rujukan tentang sejarah dan perkembangan batik di
Nusantara. Museum ini semakin memperkuat keberadaan Kota Pekalongan sebagai
salah satu kota batik terbesar di Indonesia.
7) legal
Pembatikan dikenal luas di legal pada akhir abad XIX. Pewarna yang dipakai
pada waktu itu diambil dari tumbuh-tumbuhan, seperti mengkudu, nila, dan soga
kayu. Kain yang digunakan merupakan tenunan sendiri dengan cara sederhana. Pada
awalnya, warna batik legal adalah sogan dan dasar abu-abu. Setelah dikenal pewarna
nila dari pabrik, warna meningkat menjadi merah dan biru.
Pasaran batik tegal waktu itu sudah menjangkau ke luar daerah, antara lain ke
Jawa Barat dan dibawa oleh para pengusaha dengan berjalan kaki atau menggunakan
andong dan dokar. Mereka inilah yang kemudian mengembangkan batik di
Tasikmalaya dan Ciamis, di samping pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota
batik di Jawa Tengah.
Pada awal abad XX, legal sudah mengenal mori dan obat-obat impor. Para
pengusaha batik di legal pada umumnya lemah dalam hal permodalan. Akhirnya,
mereka mendapatkan bahan baku dari Pekalongan dengan cara kredit dari orang-
orang Cina. Batik hasil olahan mereka pun dijual kepada orang Cina yang
memberikan kredit bahan baku. Konsep perdagangan saling menguntungkan sudah
terjadi sejak masa ini, walaupun secara umum dunia dalam keadaan perang.
Pada waktu krisis ekonomi melanda dunia akibat perang yang berkepanjangan,
industri pembatikan di legal ikut mengalami kelesuan. Ini terjadi karena mahalnya
bahan baku dan sedikitnya permintaan terhadap batik. Usaha tersebut baru
menghangat dan kembali beroperasi pada tahun 1934 sampai permulaan Perang Dunia
II. Waktu pendudukan Jepang di Indonesia, industri ini kembali tidak beroperasi
hingga awal kemerdekaan Indonesia, tahun 1945. Baru setelah Indonesia merdeka dan
kondisi ekonomi mulai meningkat, industri batik beroperasi kembali. Hingga
sekarang, legal masih memiliki banyak industri batik.
8) Purworejo
Pembatikan di Purworejo muncul pada awal abad XIX dengan datangnya para
pembatik dari Yogya dan Solo. Perkembangan kerajinan batik di Purworejo sangat
lambat dan sebagian besar hanya digunakan untuk konsumsi keluarga. Tidak banyak
perkembangan batik di wilayah ini, tetapi batik di sini menjadi penting karena
coraknya sangat dipengaruhi oleh gaya keraton. Hal ini terjadi karena pembatik di sini
sebagian besar adalah orang-orang. keraton yang ikut mengungsi ketika perang terjadi
di Yogya dan Solo.
Keberadaan batik keraton di Purworejo inilah yang membuat banyak
pedagang Cina melakukan pembelian di kota ini. Jadi, secara tidak langsung
Purworejo menjadi cukup populer di lingkungan pedagang dan pengusaha batik,
terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan batik keraton dengan harga yang lebih
murah.
Dengan keberadaan pesanan dari para pedagang dan pengusaha, para ibu yang
semula hanya membuat batik untuk konsumsi keluarga pun membuat lebih banyak
batik, meskipun tidak secara terang-terangan memproduksi dalam jumlah banyak
seperti industri batik yang terjadi di daerah-daerah lainnya. Dan jumlah pembatik
yang sedikit di kota ini pun tidak menyurutkan para pengusaha untuk datang karena
motif batiknya berbeda dan sangat kental dengan warna batik keraton. Suatu kekhasan
yang tidak banyak ditemukan dari daerah batik lainnya.
9) Tasikmalaya
Tasikmalaya merupakan daerah basis pembuatan batik. Di sana banyak pohon
tarum yang digunakan untuk pembuatan batik. Sentra pembuatan batik di
Tasikmalaya adalah Desa Wurug, Sukapura, Maronjaya, dan Kota Tasikmalaya. Batik
di Tasikmalaya sudah dipengaruhi oleh pembuatan pewarnaan dari soga karena
datangnya pengusaha-pengusaha batik dari Jawa Tengah, seperti Tegal, Pekalongan,
Banyumas, maupun Kudus.
Pengusaha-pengusaha batik ini pindah ke Jawa Barat ketika terjadi peperangan
di Jawa Tengah, yaitu pada abad XVII. Tidak mengherankan kalau produksi batik
tasikmalaya di masa sekarang merupakan batik-batik campuran, baik dalam segi
corak maupun warnanya. Batik tasikmalaya merupakan perpaduan antara batik
tasikmalaya dengan batik-batik asal Pekalongan, legal, Banyumas, Kudus, maupun
Kebumen.
10) Ciamis
Batik juga dikenal di daerah Ciamis mulai awal abad XIX setelah berakhirnya
Perang Diponegoro tahun 1830. Para pengikut Pangeran Diponegoro banyak yang
meninggalkan Yogya dan menuju selatan. Sebagian ada yang menetap di Banyumas,
sebagian yang lain meneruskan perjalanan menuju Ciamis atau Tasikmalaya.
Walaupun mereka telah berada di daerah baru, para pengikut Pangeran
Diponegoro tetap melanjutkan hidup dengan tata cara yang biasa mereka lakukan di
Yogya. Sebagian dari mereka ahli dalam pembatikan dan mengerjakannya sebagai
usaha rumah tangga. Lama kelamaan, pekerjaan tersebut berkembang pada penduduk
asli karena adanya interaksi dan pergaulan sehari-hari. Membatik telah meluas
menjadi pekerjaan keluarga, terutama di kalangan perempuan.
Bahan-bahan yang dipakai pada masa itu masih berupa bahan-bahan
tradisional. Kain yang digunakan adalah hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat
dari bahan alam, seperti dari pohon mengkudu, pohon torn, dan sebagainya. Motif
batik ciamis adalah campuran dari batik dari Jawa Tengah dan pengaruh daerah
Ciamis, terutama dalam hal motif dan warna. Di sinilah salah satu keistimewaan
batik-batik dari Ciamis. Perpaduan antara kedua tradisi yang sangat berbeda
menjadikan batik ciamis memiliki ciri khas.
Sampai pada awal abad XX, pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi
sedikit, ari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sekarang ini, batik ciamis
tidak banyak seperti di masa lampau.
Kenyataan bahwa masyarakat Ciamis lebih menyukai batik-batik dari Yogya,
Solo, atau Cirebon tidak menyurutkan atau mematikan keberadaan industri-industri
batik skala kecil di kota tersebut. Industri batik tetap memproduksi batik dan
memperluas pemasarannya ke luar daerah Ciamis. Kondisi ini semakin mantap karena
di kota ini terdapat koperasi batik yang beranggotakan para perajin batik, pedagang,
hingga pengusaha batik. Inilah yang menyokong agar industri-industri batik di Ciamis
tetap eksis.
11) Cirebon
Batik tumbuh sangat subur di daerah Cirebon. Batik cirebon berkaitan erat
dengan Kerajaan Kanoman, Kasepuhan, dan Keprabonan. Batik cirebon muncul di
lingkungan keraton dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar
keraton.
Batik di Cirebon sudah dikenal sejak abad XIII. Raja-raja dari kerajaan-
kerajaan di Cirebon sangat senang dengan lukisan-lukisan. Sebelum mereka mengenal
benang katun, lukisan menggunakan media daun lontar. Sangatlah dapat dimaklumi
kalau kemudian batik cirebon tetap eksis hingga saat ini, karena keberadaannya sudah
sangat lama dan terpelihara dalam lingkungan keraton maupun masyarakat
pendukungnya.
Sebagian besar batik cirebon bermotifkan gambar dengan lambang hutan dan
margasatwa. Corak-corak seperti merak ngibing sangat disenangi di kalangan
masyarakat Cirebon. Sedangkan motif laut dipengaruhi oleh alam pemikiran Cina
karena Kesultanan Cirebon di masa lampau pernah menyunting seorang putri dari
Cina. Batik cirebon yang bergambar garuda dipengaruhi oleh motif batik dari Yogya
dan Solo.
12) Garut
Garut adalah salah satu sentra pembuatan batik pesisiran yang sangat maju.
Sejak zaman kerajaan-kerajaan lama, di sini telah berkembang tradisi batik. Industri
batik di daerah ini sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang, 1942-1945. Namun
pada tahun 1949, usaha pembatikan pesisiran yang tumbuh pesat di Garut mulai
bergerak kembali dan dikerjakan oleh beberapa keluarga perajin.
Akhirnya, batik ini berkembang pesat di tahun 1960 sampai sekarang. Batik
Garut memiliki berbagai corak dan motif yang diproduksi secara massal untuk
kepentingan segala lapisan masyarakat.
Kemudian, banyak industri batik rumah tangga di kota ini yang berubah
menjadi industri menengah bahkan besar. Industri batik inilah yang turut
rnemperkokoh perekonomian masyarakat Garut secara umum.
13) Jakarta
Pembatikan di Jakarta dikenal dan berkembang bersamaan dengan
perkembangan batik di daerah-daerah lainnya, yaitu pada akhir abad XIX. Pembatikan
ini dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah. Daerah pembatikan yang
dikenal di Jakarta tersebar di sekitar Tanah Abang yaitu di daerah Karet, Bendungan
Hilir, Udik, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, dan Tebet.
Sebelum Perang Dunia I, Jakarta telah menjadi pusat perdagangan antar
daerah dengan pelabuhan Pasar Ikan. Setelah Perang Dunia I selesai, proses
pembatikan cap mulai dikenal di Jakarta. Produksi batik meningkat dan pedagang-
pedagang batik mulai mencari daerah pemasaran baru, yang meluas hingga ke luar
Pulau Jawa. Hal inilah yang turut mempercepat perkembangan batik di luar Pulau
Jawa.
Daerah pemasaran tekstil dan batik yang terkenal di Jakarta adalah Tanah
Abang, Jatinegara, dan Jakarta Kota. Yang terbesar adalah Pasar Tanah Abang.
Hingga sekarang pun, Pasar Tanah Abang masih menjadi pasar grosir tekstil terbesar
di Indonesia.
Batik-batik produksi daerah Solo, Yogya, Banyumas, Kebumen, Ponorogo,
Tulungagung, Mojokerto, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon, dan daerah-
daerah lain di Indonesia bertemu di Pasar Tanah Abang. Dari sini, pedagang-
pedagang besar mengirimnya ke daerah-daerah di luar Pulau Jawa.
Oleh karena pusat pemasaran batik sebagian besar di Tanah Abang dan bahan-
bahan baku batik diperdagangkan di tempat yang sama, timbullah pemikiran dari
pedagang-pedagang batik itu untuk membuka perusahaan batik di Jakarta yang
berdekatan dengan Tanah Abang.
Pengusaha-pengusaha batik yang muncul sesudah Perang Dunia I terdiri dari
bangsa Cina. Buruh-buruh batiknya didatangkan dari daerah-daerah pembatikan di
Kebumen, Pekalongan, Yogya, Solo, dan lain-lain. Selain dari buruh batik luar Jakarta
itu, maka diambil pula tenaga-tenaga setempat sebagai pembantu. Usaha pombatikan
kemudian meluas pada penduduk asli di sekitar Tanah Abang.
Motif dan proses batik Jakarta sesuai dengan asal para buruh. Bahan-bahan
baku batik yang dipergunakan adalah hasil tenunan tradisional dan obat-obatnya
merupakan hasil ramuan sederhana dari pohon mengkudu, kunyit, dan sebagainya.
Pengaruh kain dan budaya Betawi juga ikut memperkaya corak dan warna
batik-batik khas Jakarta. Para pengusaha Cina pada umumnya memberikan kebebasan
penuh kepada para buruh batiknya untuk melakukan kreasi terhadap pola, corak, dan
warna batik. Inilah yang membuat batik Jakarta berkembang lebih pesat dan
mendorong majunya perdagangan.
14) Padang
Permintaan batik yang terus meningkat di luar Pulau Jawa memicu
perkembangan industri batik di beberapa kota besar di luar Pulau Jawa, contohnya
Kota Padang, Sumatera Barat. Sebelumnya, daerah ini hanya merupakan daerah
konsumen batik, terutama batik-batik dari Pekalongan, Solo, dan Yogya.
Melihat tingginya permintaan batik, sebagian besar pengusaha asli Padang
mulai menggerakkan usaha batik. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah
pendudukan Jepang, sejak putusnya hubungan antara Sumatera dengan Jawa.
Dengan hasil karya sendiri dan penelitian yang saksama terhadap batik-batik
yang dibuat di Jawa, maka ditirulah pembuatan pola-polanya dan diterapkan pada
kayu sebagai alat cap. Obat-obat batik yang dipakai juga hasil buatan sendiri, yaitu
dari mengkudu, kunyit, gambir, damar, dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambil
dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan.
Setelah Padang dan kota-kota lainnya menjadi daerah pendudukan tahun 1949,
banyak pedagang batik membuka perusahaan-perusahaan batik dengan mengimpor
bahan dari Singapura melalui pelabuhan Padang dan Pekanbaru. Setelah hubungan
dengan Pulau Jawa terbuka kembali, para pedagang ini kembali berdagang dan
melupakan usaha batiknya. Hingga saat ini, produksi batik di Padang masih banyak
dan cukup maju, meskipun tetap kalah jauh bila dibandingkan dengan produksi batik
di kota-kota batik di Jawa.
15) Riau
Daerah Riau juga merupakan daerah sentra pembuatan batik. Pengembangan
ini berasal dari pedagang-pedagang batik di Padang. Perluasan usaha telah membuat
sebagian pedagang batik di Padang melirik kota ini untuk pengembangan batik. Batik
riau sangat khas, baik corak maupun warnanya, karena adanya pengaruh Melayu yang
sangat kuat.
Walaupun proses pembuatannya menggunakan cara yang sama dengan sistem
pembatikan, batik riau sering tidak diakui sebagai batik karena coraknya yang sangat
berbeda dengan motif batik pada umumnya. Warnanya yang lebih terang karena
pengaruh Melayu sering membuat batik dari daerah ini dianggap sebagai bukan batik,
tetapi kain yang bermotif batik.
Motif batik yang banyak digunakan pada batik riau adalah motif flora
(tumbuh-tumbuhan), rangkaian geometris, dan simbol-simbol lokal yang sangat kental
warna Melayu. Motif batik di sini sangat khas, sehingga tidak dapat dimasukkan
dalam golongan batik keraton maupun batik pesisiran.
Sebagian besar banyak yang mengatakan batik riau termasuk dalam batik
pedalaman. Batik ini memiliki ciri dan tanda-tanda yang khas, yang sangat berbeda
dengan batik keraton dan batik pesisiran. Namun keberadaan batik di Riau ini sangat
penting karena telah menunjukkan bagaimana tradisi melukis pada kain juga ada di
daerah Melayu dan memadukannya dengan unsur-unsur pembatikan yang sangat eksis
di Pulau Jawa.
16) Jambi
Batik di Jambi memiliki riwayat yang lebih kurang sama dengan batik di Riau.
Pengaruh Melayu sangat kuat, baik dalam motif maupun pewarnaannya. Namun batik
di Jambi dipengaruhi pula oleh tradisi Cina, sehingga batik-batik model encim yang
merupakan pakaian bangsa Cina banyak ditemukan di daerah ini. Corak khas Jambi
yang terang dan merah pun sangat banyak ditemukan di dalam batik ini. Namun, ada
juga beberapa corak yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Islam.
Sebagai daerah yang sudah banyak berinteraksi dengan bangsa asing, J.irnbi
mampu menampilkan corak batik yang sangat khas dan tidak ada duanya. Warna-
warna emas dan terang (terutama merah) sangat banyak digunakan dalam berbagai
keperluan. Ini juga dipengaruhi oleh tradisi Cina yang memiliki kopercayaan bahwa
warna merah terang membawa keberuntungan bagi para pemakainya.
17) Lampung
Walaupun Lampung cukup dekat dengan Jakarta, corak batik dan
perkembangan batik di daerah ini sangat jauh berbeda dengan Jakarta. Batik di sini
umumnya sangat dipengaruhi oleh kultur Lampung, didominasi dengan corak
geometris dengan warna dasar biru.
Perkembangan batik di sini cukup pesat untuk memenuhi kebutuhan di
lingkungan Lampung dan sekitarnya. Tradisi penggunaan pakaian adat yang cukup
megah dan memberatkan pun sangat memengaruhi perkembangan batik yang dirasa
praktis, mudah, dan sangat enak dipakai.
18) Pontianak
Pengaruh corak tekstil suku Dayak sangat kuat di daerah ini. Walaupun teknik
pembuatannya sama seperti batik, tetapi karena corak dan warnanya lebih mirip kain-
kain khas Kalimantan, batik dari daerah ini sering tidak dianggap sebagai batik sama
halnya dengan batik dari daerah Kalimantan lainnya.
Perlu diingat, batik di wilayah Nusantara sudah ada sejak zaman Majapahit.
Kalimantan sebagai bagian kekuasaan Majapahit juga mengenal tradisi pembatikan
ini, meskipun tidak sepesat dengan yang ada di Pulau Jawa.
Keberadaan kota ini sangat penting dalam perkembangan batik di Nusantara
karena di kota inilah batik lahir dengan corak dari Jawa yang dipadukan dengan
Warna serta corak yang khas dari Kalimantan.
19) Toraja
Toraja merupakan salah satu daerah di Sulawesi yang memiliki banyak
perkembangan batik. Batik toraja tidak sama dengan batik-batik di Jawa. Pada
umumnya, corak batik toraja adalah dasar terang dengan warna putih dengan gambar
berwarna biru. Motifnya lebih mirip tradisi zaman lampau, yaitu lukisan dari zaman
prasejarah yang meliputi manusia, hewan, tumbuhan dengan bentuk-bentuk yang
khas.
Di masa kini, batik toraja sering dianggap sebagai kain atau tekstil bercorak
batik. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar karena batik toraja juga menggunakan
proses pembuatan batik seperti cara membuat batik pada umumnya. Namun coraknya
yang tidak biasa membuatnya sulit untuk digolongkan ke dalam batik.
Di masa kini, dengan banyaknya banyaknya batik bercorak Jawa dijual di
Sulawesi, batik toraja semakin tidak dikenali. Namun peranan batik toraja di masa
lampau telah memperkaya khazanah batik dengan warna dan coraknya yang khas.
20) Makassar
Di Makassar, corak batik cenderung dipengaruhi oleh Islam. Penggambaran
makhluk-makhluk bernyawa selalu menggunakan simbol-simbol dalam bentuk
geometris yang tidak tampak sebagai makhluk bernyawa.
Sebagai bentuk kuatnya pengaruh Islam di daerah ini, corak-corak kain batik
di sini pun cenderung menggunakan motif flora, bunga-bunga, serta benda-benda
secara geometris. Walaupun cukup banyak batik di daerah ini, tetapi sebagian besar
hanya dikonsumsi secara terbatas di lingkungan keraton. Masyarakat tidak Uinyak
menggunakan batik karena mereka lebih senang menggunakan kain asli daerah
Makassar.
21) Bali
Bali sangat terkenal dengan pantainya yang indah dan tradisi ritual yang
kental. Kondisi ini juga sangat memengaruhi sejarah dan perkembangan batik di Bali.
Sebagian besar batik bali berwarna terang dengan motif flora dan binatang.
Model dan corak kain batik bali lebih mirip dengan kain-kain pantai di masa
klni. Sebagian lagi menggunakan model-model putri Bali yang sedang menari. Oleh
karena itu, batik bali sering dianggap bukan batik walaupun proses pembuatannya
sama dengan proses pembatikan di Jawa.
22) Flores
Kain tenun dari Flores sangatlah terkenal. Pola, motif, corak, hingga warna
kain tenun tersebut juga sangat memengaruhi perkembangan batik di daerah ini.
Corak-corak dengan warna gelap maupun warna kontras sangat banyak ditemukan di
daerah ini, walaupun ada beberapa corak yang mirip dengan batik jawa.
Batik flores sangat khas karena tidak hanya mengandalkan warna-warna yang
udah terbiasa digunakan di Jawa. Flores memiliki banyak tumbuhan khas yang dapat
digunakan sebagai bahan pewarna yang tidak ada di daerah lain. Keadaan lilah yang
menjadikan warna-warna batik flores sangat berbeda dengan warna batik-batik dari
Jawa.
23) Ambon
Cara pembuatan batik di daerah ini sama seperti proses batik di Jawa. Namun
perbedaan yang sangat menonjol di sini adalah corak-corak dan pewarnaannya.
warna-warna cerah dan terang sangat dominan pada batik-batik ambon.
24) Abepura (Papua)
Di Papua, tidak hanya ada pakaian suku Asmat yang biasa dikenal dengan
koteka. Namun di sana juga ada tradisi pembatikan, terutama di Abepura. Kebiasaan
ini memang hanya ada di lingkungan ningrat Papua. Jadi, tidak aneh kalau masyarakat
luas Papua secara umum tidak mengenal pembatikan.
Corak dan warna batik abepura juga sangat dipengaruhi oleh segala sesuatu
yang khas Papua. Corak-corak seperti patung Asmat, lingkungan alam, dan warna-
warna gelap sangat dominan di dalam batik abepura. Meskipun demikian, banyak
juga batik yang corak dan motifnya ditiru dari batik-batik Jawa, tetapi dimodifikasi
dan dikembangkan dengan warna lokal Papua.
Dengan tidak adanya catatan tertulis yang mencukupi tentang batik, asal mula
batik di Indonesia sampai saat ini sebenarnya masih belum jelas karena banyak perbedaan
pendapat. Satu hal yang pasti, batik telah dikenal di Indonesia sejak lama dan merupakan
tradisi serta warisan budaya turun-temurun yang asli dari Indonesia.
Di India Selatan, batik pertama kali dibuat pada tahun 1516, yaitu di Palekat dan
Gujarat dalam lukisan malam, yang kemudian disebut dengan kain palekat.
Perkembangan batik di India mencapai puncaknya pada abad XVII-XIX, sedangkan batik
di Indonesia sudah muncul sejak abad XIII dan mencapai kesempurnaan pada sekitar
abad XIV-XV, pada waktu Kerajaan Mataram Islam mulai eksis.
Batik di Jepang, disebut ro-kechi, diperkenalkan pada masa Dinasti Nara. Batik
juga muncul di Cina pada zaman Dinasti Tang. Selain itu, ada juga batik di Bangkok dan
Turkistan Timur. Desain batik dari daerah-daerah tersebut umumnya bermotif geometris.
Batik di Indonesia berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit
sebagai kerajaan besar yang kemudian diteruskan oleh kerajaan-kerajaan berikutnya.
Pertemuan bangsa Indonesia dengan berbagai bangsa, seperti Cina, Arab, Belanda,
Portugis, Spanyol, Inggris, India, Melayu, Jepang, dan lain-lain pada masa lampau telah
turut mewarnai perkembangan motif dan tata warna seni batik. Contohnya adalah batik
jlamprang yang terinspirasi dari negeri India dan negeri Arab. Ada pula batik encim dan
batik klengenan yang dipengaruhi oleh gaya berpakaian orang China. Serta batik pagi
sore dan hokokai yang berkembang di masa pendudukan Jepang.
Pada awalnya, batik ditulis dan dilukis pada daun lontar. Pada saat itu, pola atau
motif batik masih didominasi dengan bentuk tanaman dan binatang yang ada di sekitar
lingkungan. Seiring dengan perkembangan zaman, motif-motif tanaman dan binatang
tersebut berkembang menjadi motif abstrak, seperti awan, relief candi, wayang, dan lain-
lain.
Jenis dan corak batik tradisional sangatlah banyak dan tiap daerah penghasil batik
memiliki corak dan variasi sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing. Jadi,
dapatlah dimengerti kalau kemudian corak batik yogya berbeda dengan corak batik
cirebon, misalnya. Inilah yang justru menambah kekayaan corak dan motif batik di
Nusantara.
Sebelum dikenal teknik batik dengan menggunakan malam, telah dikenal cara
menahan warna pada kain dengan teknik yang lebih sederhana. Hal ini tampak dalam
pembuatan kain simbut di Banten yang menggunakan nasi pulut yang dilumatkan dan
dicampur air gula. Bukti ini mendukung bahwa batik di Indonesia memiliki cikal bakal
teknik pewarnaan yang asli dan membantah pandangan bahwa batik kita berasal dari
India karena pengaruh Hindu. Selain itu, penamaan batik yang berasal dari kata-kata
bahasa Jawa sebenarnya telah cukup bisa mematahkan berbagai argumentasi bahwa batik
di Indonesia lahir karena pengaruh asing.
Batik di Indonesia memperlihatkan bagaimana masyarakat Indonesia dengan arif
bijaksana mentransformasi budaya yang dikenalnya ke dalam budayanya masing-masing
tanpa meninggalkan jati diri dan warna lokalnya. Di dalam proses transformasi tersebut,
tampak adanya kekuatan besar untuk melahirkan budaya-budaya baru yang diterima oleh
kedua belah pihak yang saling memengaruhi.
Jadi, sangatlah tepat kalau UNESCO-pada tanggal 2 Oktober 2009-menetapkan
batik sebagai warisan budaya dunia asli dari Indonesia. Beberapa alasan yang menyatakan
bahwa batik adalah hasil budaya asli Indonesia yaitu sebagai berikut:
1. Teknik dasar batik, yaitu menutup bagian kain tidak berwarna, tidak hanya dikenal di
daerah-daerah yang langsung terkena kebudayaan Hindu (Jawa dan Bali), tetapi juga
dikenal di Toraja, Flores, dan Papua.
2. Pemberian zat warna dengan atau dari bahan-bahan tumbuhan setempat dikenal di
seluruh wilayah Nusantara.
3. Penggunaan malam sebagai penutup dalam pembatikan asli dari Indonesia berasal
dari Palembang, Sumbawa, dan Timor.
4. Teknik mencelup dengan cairan merah yang dingin beda dengan teknik pencelupan
panas yang dilakukan di India.
5. Pola geometris sudah dikenal di seluruh wilayah Nusantara, jauh sebelum terjadi
interaksi antara pedagang Nusantara dengan pedagang dari India.
6. Menurut sejarah, batik di Nusantara sudah dikenal dan berkembang pada masa
Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad XIII. Padahal perkembangan teknik celup di
India baru mulai abad XVII. Pada masa ini (abad XVII), batik nusantara telah menjadi
bagian budaya, baik di kalangan kerajaan maupun rakyat Nusantara. Artinya, jauh
sebelum abad tersebut, batik telah hidup dan berkembang subur di wilayah Nusantara
dengan adanya Kerajaan Majapahit.
7. Penggunaan batik sebagai busana pada saat itu membuat batik mengalami banyak
perkembangan bentuk dan pola. Pola yang ada memiliki perbedaan tersendiri antara
batik yang berkembang di keraton dan di luar keraton yang disebut juga batik
pesisiran. Selain kedua jenis batik ini, ada juga batik-batik lain yang berkembang
dengan bentuk dan pola khas yang berbeda dengan batik keraton atau pesisiran, yang
disebut batik pedalaman.
Untuk memudahkan pemahaman, maka sejarah batik di Nusantara dalam bab ini
akan dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu sebagai berikut:
1. Batik keraton (batik kalangan keraton, misalnya Keraton Yogya dan Keraton
Solo)yang memiliki ragam khusus, hiasan bersifat simbolis, berlatarkan budaya
Hindu, Budha, dan Islam, serta memiliki warna-warna yang cenderung netral atau
kalem seperti sogo (merah), indigo (biru), hitam, cokelat, dan putih.
2. Batik pesisiran (batik pekalongan, indramayu, cirebon, garut, lasem, dan madura)
yang memiliki ragam hiasan natural dan dipengaruhi oleh berbagai budaya asing
karena pesisir (pantai) adalah tempat pertemuan berbagai bangsa (pelabuhan). Warna-
warna di dalam batik pesisiran sangat beraneka ragam dan lebih berani tampil
mencolok.
3. Batik pedalaman (batik bali, lampung, abepura, dan lain-lain). Batik pedalaman
memiliki motif, corak, dan ragam hiasan yang berbeda dengan batik keraton maupun
batik pesisiran. Batik-batik ini sangat eksis di daerah masing-masing, tetapi sering
dianggap bukan batik, bahkan sering disebut kain bermotif karena corak dan
warnanya yang keluar dari pakem (aturan) corak dan warna batik,, meskipun cara dan
pembuatannya mengikuti proses pembuatan batik. Namun di luar semua itu,
keberadaan batik pedalaman ini telah ikut mewarnai sejarah perkembangan batik di
Nusantara.
Berikut ini adalah uraian lebih detail tentang sejarah perkembangan batik di
Nusantara berdasarkan tiga kelompok besar yang telah disebutkan.
B. Batik Keraton
Walaupun ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa batik dimulai di negara
lain, lalu dibawa dan dikembangkan di Indonesia, ada pendapat lain yang mengatakan
bahwa batik benar-benar asli Indonesia dan berkembang pesat akibat kekuasaan Kerajaan
Majapahit dan karena adanya pengaruh berbagai jenis pakaian dan pewarnaan, serta motif
corak dan kebudayaan bangsa lain yang datang ke Indonesia.
Perdebatan tersebut sangat masuk akal mengingat bahwa teknik pembuatan motif
dengan menggunakan malam dapat ditemukan di banyak tempat di seluruh dunia,
diantaranya Jawa, India, Mesir, Jepang, Srilanka, Cina, Turki, Afrika, bahkan di sebagian
besar daerah lain di Nusantara. Semua teknik pembuatan motif tersebut menghasilkan
kain sejenis batik.
Jawa, sebagai salah satu tempat penting dalam teknik pembuatan motif dengan
malam, memiliki sejarah perkembangan batik yang luar biasa. Kalau berbicara soal batik
di Indonesia, kita pasti tidak dapat memisahkan pembicaraan tersebut dengan batik jawa.
Batik jawa memang sangat istimewa, baik dari bentuk, motif, corak, maupun sejarah
panjang yang melingkupinya.
Semenjak berdirinya Kerajaan Mataram Islam di Jawa, batik jawa mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Selain berkembang pesat, batik di Jawa juga
mengalami persebaran yang meluas. Perkembangan itu semakin pesat pada awal abad
XIX. Kemajuan teknologi telah membuka kelancaran jalinan komunikasi antar daerah,
sehingga informasi pun dapat menyebar dengan pesat.
Implikasinya pada batik adalah kemudahan dalam memperoleh bahan baku hingga
pemasarannya. Inilah yang membuat batik berkembang semakin pesat.
Batik jawa (khususnya yogya dan solo) merupakan batik yang sarat dengan makna
perlambangan dan simbol-simbol filosofis. Batik keraton sangat erat kaitannya dengan
falsafah kebudayaan Jawa dan bersumber pada pemikiran masyarakat Jawa yang sentral
atau berpusat di keraton. Dengan demikian, batik jawa sering dianggap sebagai batik
keraton yang memiliki kandungan rohaniah, yaitu sebagai media perenungan dan
meditasi.
Kegiatan membatik bagi kalangan keraton adalah sebagai media untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Batik di kalangan keraton juga
berkaitan dengan tingkat keningratan atau kebangsawanan. Ada corak-corak tertentu yang
hanya boleh dipakai oleh raja dan keluarga dekatnyai Biasanya corak-corak seperti ini
disebut dengan corak larangan, artinya masyarakat umum yang bukan trah keraton atau
golongan bangsawan tidak boleh mengenakannya.
Keberadaan batik yogya tentu tidak lepas dari sejarah berdirinya Kerajaan
Mataram Islam oleh Panembahan Senopati (Hamengkubuwono I). Setelah memindahkan
pusat kerajaan dari Pajang ke Mataram, dia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau
Jawa, antara lain Parang Kusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelusuri tebing
Pegunungan Seribu yang tampak seperti "pereng" atau tebing berbaris. Sebagai Raja Jawa
yang tentu saja menguasai seni, keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan
pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman (pakaian) Mataram yang
berbeda dengan pola batik sebelumnya.
Oleh karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh
keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan
keturunannya di lingkungan keraton. Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan
Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Corak larangan biasanya digunakan di lingkungan
keraton sebagai busana kebesaran keluarga keraton, untuk keperluan upacara kelahiran,
upacara perkawinan, dan upacara kematian. Batik tersebut digunakan sebagai kain
panjang, sarung dodot, selendang, ikat kepala, maupun kemben.
Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta
dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana, termasuk di dalamnya adalah
batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal
inilah yang kemudian menjadikan Keraton Yogyakarta sebagai kiblat perkembangan
budaya, termasuk pula khazanah batik. Kalaupun batik di Keraton Surakarta memiliki
beragam inovasi, sebenarnya motif pakemnya lotap bersumber pada motif batik keraton
Yogyakarta.
Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas
dalam tampilan warna dasar putih yang sangat bersih. Pola geometri Kasultanan
Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian di antaranya diperkaya dengan parang
dan nitik.
Sementara itu, batik di Pura Pakualaman merupakan perpaduan antara pola hcitik
kasultanan Yogyakarta dan warna batik keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sojak
adanya hubungan keluarga yang erat antara Pura Pakualaman dengan Keraton Surakarta
ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X.
Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada
batik pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya. Dua pola pola yang
terkenal dari Pura Pakulaman adalah pola candi baruna yang terkenal sejak sebelum tahun
1920 dan peksi manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola
batik kasultanan Yogyakarta yang terkenal antara lain ceplok blah kedaton, kawung,
tambal nitik, parang barang bintang leider, dan lain-lain.
Batik keraton atau yang disebut juga batik klasik ini sarat akan nilai-nilai filosofi
akibat adanya pengaruh pemikiran religi dan sopan santun yang mencerminkan budaya
keraton. Batik keraton merupakan batik dengan motif tradisional, terutama yang semula
tumbuh dan berkembang di keraton-keraton Jawa.
Tata susunan ragam hias dan pewarnaan batik keraton merupakan paduan
mengagumkan antara karya seni, adat, pandangan hidup, dan kepribadian lingkungan
yang melahirkannya, yaitu lingkungan keraton. Sebagian besar motif batik keraton
mencerminkan pengaruh Hindu-Jawa yang pada zaman Pajajaran dan Majapahit
berpengaruh sangat besar dalam seluruh tata kehidupan dan kepercayaan masyarakat
Jawa. Kemudian, datangnya Islam di Pulau Jawa turut menampakkannuansa Islam dalam
bentukhiasanyang berkaitan dengan manusia dan satwa di dalam motif batik.
Pengaruh Hindu-Jawa tercermin jelas pada batik-batik keraton yang bermotif
semen. Burung garuda dan pohon hayat mencerminkan unsur mitologi Hindu-Jawa.
Sementara hiasan pengisi berupa ragam toru (tumbuh-tumbuhan) merupakan unsur asli
Jawa.
1) Perkembangan Batik Keraton
Pada awalnya, pembuatan batik keraton secara keseluruhan, yaitu sejak
penciptaan dan pembuatan ragam hias hingga pencelupan akhir, dikerjakan di dalam
keraton dan dibuat khusus untuk keluarga raja. Motif-motif dan pembatikannya
dikerjakan para putri keraton, sedangkan pekerjaan lanjutan dilaksanakan oleh para
abdi dalem. Dengan demikian, jumlah batikyang dihasilkan pun terbatas.
Seiring dengan kebutuhan batik di lingkungan keluarga kerabat keraton yang
semakin meningkat, pembuatan batik tidak mungkin lagi hanya bergantung pada para
putri dan abdi dalem keraton. Keadaan ini menyebabkan munculnya kcgiatan
pembatikan di luar keraton. Pembatikan di luar keraton mula-mula hanya dalam
bentuk kegiatan rumah tangga yang dikelola oleh para kerabat dan abdi dalem yang
tinggal di luar keraton.
Ketika kebutuhan batik meningkat pesat, usaha para kerabat dan abdi dalem
berkembang menjadi industri yang dikelola oleh para saudagar. Mereka
mempekerjakan para pembatik terampil dan mengawasi seluruh proses pombatikan.
Kehadiran saudagar pada batik di luar tembok keraton, yang semula hanya untuk
memenuhi kebutuhan lingkungan keraton, mendorong masyarakat di luar tembok
keraton yang semula memakai kain tenun untuk ikut mengenakan kain batik.
Gayung pun bersambut.. Para saudagar batik menangkap kesempatan dongan
membuat batik yang diperuntukkan bagi masyarakat luas. Sejak inilah batik keluar
dari keraton dan dapat digunakan oleh masyarakat luas, meskipun Masih dengan
aturan-aturan yang ketat, yaitu adanya motif-motif larangan untuk rakyat.
2) Batik Keraton Larangan
Perluasan pemakaian dan produksi batik di luar keraton menyebabkan pihak
Keraton Surakarta dan Yogyakarta membuat ketentuan mengenai pemakaian motif
batik. Ketentuan tersebutdiantaranya mengatursejumlah motif yang hanya boleh
dikenakan oleh raja dan keluarga keraton. Motif tersebut kemudian dikenal dengan
motif larangan. Motif larangan hanya terdapat di Keraton Yogyakarta dan Surakarta,
meskipun jenis masing-masing motif larangan tidak sama persis.
Pemberlakuan motif larangan di Keraton Yogyakarta lebih terperinci
dibanding yang berlaku di Keraton Surakarta. Pola batik yang termasuk larangan di
Keraton Yogyakarta antara lain motif parang besar, terutama motif parang rusak
barong, semen ageng, dan sawat gurdha. Semua motif parang, terutama parang rusak,
cemukiran, udan liris, dan berbagai motif semen yang menggunakan sawat ageng
merupakan motif larangan Keraton Surakarta.
Di luar aturan baku mengenai motif larangan di atas, motif sembagen huk juga
dianggap sebagai motif larangan. Anggapan ini kemungkinan besar muncul karena
rasa hormat kepada Sultan Agung Hanyakrakusuma, yaitu tokoh pencipta motif
tersebut.
Seiring dengan perkembangan zaman, pihak keraton melonggarkan kebijakan
mengenai motif larangan. Peraturan motif larangan sekarang hanya berlaku di dalam
keraton, terutama bila ada upacara-upacara adat atau upacara kebesaran. Motif
larangan sekarang menjadi motif batik yang dapat digunakan masyarakat umum.
3) Daerah Perkembangan Batik Keraton
Batik keraton sudah berkembang pada masa pemerintahan Sultan Agung
Hanyakrakusuma di Mataram awal pada abad XVII. Pada masa itu, Sultan Agung
Hanyakrakusuma menciptakan motif yang sebagian besar kemudian dikenal sebagai
motif larangan.
Politik pecah belah Belanda atas Mataram melahirkan Kasunanan Surakarta
dan Kasultanan Yogyakarta melalui perjanjian Giyanti tahun 1755. Berbagai motif
yang semula bersumber dari zaman Sultan Agung tersebut masing-masing
berkembang secara terpisah di kedua keraton sehingga menampilkan batik dengan
karya keindahan dan gaya yang berbeda.
a) Keraton Surakarta Hadiningrat
Batik keraton Surakarta penuh dengan isen halus. Warna batik surakarta
lembut, dari biru sampai kehitaman, krem, dan cokelat kemerahan. Motif batik
surakarta yang terkenal antara lain parang barong, parang curiga, parang sarpa,
ceplok burba, ceplok lung kestlop, candi luhur, srikaton, dan bondhet.
b) Pura Mangkunegaran
Motif Pura Mangkunegaran bergaya serupa dengan batik keraton
Surakarta, tetapi dengan warna soga cokelat kekuningan. Meski demikian, batik
dari Pura Mangkunegaran selangkah lebih maju dalam penciptaan motif. Hal ini
tampak dari motif batik yang beragam, antara lain buketan pakis, sapanti nata, ole-
ole, wahyu tumurun, parang kesit barong, parang sondher, parang klithik glebag
seruni, dan liris cemeng.
c) Keraton Yogyakarta
Batik keraton Surakarta dan Yogyakarta berasal dari satu sumber, yaitu
Kerajaan Mataram. Oleh karena itu, motif-motifnya memiliki banyak persamaan,
meskipun pada di kemudian hari terdapat beberapa perbedaan.
Batik yogyakarta mempunyai ciri khas, yaitu banyak bidang putih bersih
dan motif geometrisnya dibuat besar-besar, jauh lebih besar dibandingkan dengan
motif geometris di Surakarta. Beberapa contoh motif batik keraton Yogyakarta
yang terkenal antara lain ceplok belah kedaton, kawung, tambal nitik, ceplok noga
raja, parang kesit tumarutum.
d) Pura Pakualaman
Pada awalnya, wilayah Pakualaman merupakan bagian dari Kasultanan
Yogyakarta. Pada tahun 1813, Kasultanan dibagi menjadi Kasultanan
Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman sebagai akibat persengketaan antara
Kasultanan Yogyakarta dengan Letnan Gubernur Jenderal Inggris, Thomas
Stamford Raffles. Oleh karena itu, unsur budaya dan motif batiknya memiliki
banyak persamaan.
Gaya motif Pura Pakualaman berubah sejak Sri Paku Alam VII
mempersunting putri Sri Susuhunan Paku Buwono X. Motif batik pakualaman
kemudian tampil dalam paduan antara motif batik yogyakarta dan warna batik
keraton Surakarta. Motif batik pakualaman diantaranya canti baruna, peksi
manyura, parang barong seling sisik, parang klitik seling ceplok, parang rusak
seling huk, sawat manak, dan babon angrem.
e) Keraton Cirebon
Cirebon di bawah pemerintahan Sunan Gunung Jati merupakan pusat
kerajaan Islam tertua di Jawa dan sekaligus merupakan pelabuhan penting dalam
jal.ur perdagangan dari Persia, India, Arab, Eropa, dan Cina. Kedua keratonnya,
yaitu Kasepuhan dan Kanoman, menghasilkan batik dengan motif dan gaya yang
tidak terdapat di daerah lain.
Motif batik cirebon menunjukkan adanya pengaruh budaya Cina. Hal ini
tampak pada bentuk hiasan yang mendatar, seperti lukisan ragam hias khas mega
dan walasan dalam mega mendung dan walasan. Beberapa contoh batik lainnya
adalah batik hereto kasepuhan, kopal kandas, peksi naga liman, dan cento ponji.
f) Keraton Sumenep
Sumenep terletak di timur Pulau Madura yang masih memiliki keraton dan
terpelihara hingga sekarang. Berbeda dengan batik madura, batik sumenep
berwarna kecokelatan soga, hampir menyerupai batik dari Keraton Mataram.
Meski demikian, terdapat juga batik biru tua, hitam, dan putih, dengan tambahan
sedikit rona hijau dan merah.
Ragam bias sawat dan lar diperkirakan merupakan pengaruh Mataram
ketika Mataram menguasai Sumenep, walau kini ragam hias tersebut telah
mengalami banyak modifikasi. Beberapa contoh batik sumenep adalah lar, sekar
jagad, lereng, limar buket, dan corceno lobang.
C. Batik Pesisiran
Batik pesisiran adalah batik yang tumbuh subur di luar batik keraton. Pada
mulanya, batik pesisiran digunakan untuk kain panjang yang akan digunakan sebagai
kebaya dan sebagian besar untuk menggendong barang, menggendong anak, maupun
untuk bahan selimut. Fungsi ini tentu sangat berbeda dengan batik keraton yang tujuan
awalnya untuk kepentingan busana secara terbatas di lingkungan keraton.
Istilah "pesisir" muncul karena letaknya berada di daerah pesisiran utara pulau
Jawa seperti Cirebon, Indramayu, Lasem, dan lain sebagainya. Batik pesisiran ini lebih
kaya corak, simbol, maupun warna. Selain itu, batik jenis ini lebih moderat karena lebih
banyak dipengaruhi oleh corak-corak asing.
Pelabuhan dan pesisir sebagai tempat pertemuan berbagai bangsa dalam
perdagangan telah memunculkan berbagai perkembangan corak batik yang luar biasa.
Ragam hias pada batik ini biasanya natural yang merupakan gambaran tentang kehidupan
alam nyata, sebagai pengungkapan dari ciri-ciri bentuk alam dan peristiwa sehari-hari.
Warna dalam batik pesisiran juga sangat kaya ragam. Biasanya menggunakan
latar warna gading (jingga atau warna mangga yang hampir masak), biru tua, hijau tua,
cokelat tanah, hingga ungu. Sedangkan ragam hiasnya sangat dipengaruhi oleh unsur-
unsuryang menjadi ciri khas daerah yang bersangkutan, seperti letak geografis, keadaan
alam, falsafah penduduk, sifat masyarakat, pola penghidupan, dan kepercayaan
masyarakat.
Usaha batik pesisiran ini secara komersial telah tumbuh pesat sejak masa Kolonial
Belanda. Namun usaha ini pernah berhenti pada masa pendudukan Jepang, yaitu sekitar
tahun 1942-1945 dan mulai bangkit kembali setelah Indonesia merdeka, sekitar tahun
1946.
Perjalanan sejaran batik pesisiran dapat digambarkan seperti berikut. Pada lahun
1656, utusan VOC Belanda datang ke ibukota Mataram. Pada saat itu, kegiatan kerajinan
masyarakat sudah sangat maju, seperti tenun, bordir, menjahit, membatik, dan lain-lain.
Menurut laporan Van der Kamp, pada tahun 1915 dibentuk komisi untuk
industrialisasi. Namun komisi ini ditujukan untuk menggarap bahan mentah menjadi
bahan jadi untuk kepentingan pemerintah penjajahan Belanda. Kemudian pada tahun
1918, bagian Kerajinan dibentuk di bawah Departemen Pertanian, dan kerajinan yang
mendapatkan perhatian pemerintah Hindia Belanda adalah pertenunan, keramik, bata
merah, dan perkulitan.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1949, usaha pembatikan pesisiran yang
tumbuh pesat di Garut mulai bergerak kembali dan dikerjakan oleh beberapa keluarga
perajin. Akhirnya, batik ini berkembang pesat hingga di tahun 1960. Hingga sekarang,
batik pesisiran yang ada di Garut menjadi salah satu sentra industri batik pesisiran yang
memiliki berbagai corak dan motif yang diproduksi secara massal untuk kepentingan
segaia lapisan masyarakat. Contoh motif batik pesisiran antara lain motif lereng arben,
lereng calung, cupat manggu, gambir saketi, kurung ayam, patah tebu, dan lain-lain.
Selain Garut, Indramayu juga memegang peranan penting dalam perkembangan
batik pesisiran. Batik indramayu termasuk ke dalanr jenis batik pesisiran jika dilihat dari
jenis motif yang ada. Mayoritas motif batik yang digunakan pada batik indramayu
menggambarkan kegiatan nelayan di tengah laut. Motif-motif batik di Indramayu
mendapat pengaruh besar dari gambar atau kaligrafi Arab. Corak-corak asli dari Cina,
Jawa Tengah, dan Jawa Timur, juga turut memengaruhi motif-motif batik indramayu.
Ciri yang menonjol dari batik indramayu adalah ragam flora dan fauna yang
digambarkan secara datar, dengan banyak lengkung dan garis yang meruncing (riritan).
Selain itu, batik indramayu juga menggunakan latar putin dan warna gelap dengan banyak
titik yang dibuat dengan teknik cocolan jarum, serta bentuk isen-isen atau sawut yang
pendek dan kaku.
Motif etong misalnya, menggambarkan berbagai satwa laut yang biasa dibawa
pulang oleh kalangan nelayan seusai melaut, seperti ikan, udang, cumi-cumi, ubur-ubur,
dan kepiting. Motif kapal kandas menyiratkan kapal nelayan yang sedang berada di batu-
batu karang sehingga terancam kandas. Motif ganggeng, sesuai namanya,
menggambarkan berbagai ganggang lautyang terdapat di Pantai Utara Jawa. Sedangkan
motif kembang gunda merupakan tumbuhan yang hidup di pesisir pantai dan bisa
dijadikan lauk.
Selain menggambarkan kegiatan di pesisir, motif batik khas Indramayu juga
menggambarkan kegiatan sehari-hari. Contohnya adalah motif swastika, merak ngibing,
kereta kencana, dan jati rombeng. Motif swastika diilhami oleh masa penjajahan Jepang.
Swastika, menu rut para perajin batik di Indramayu, menggambarkan kekerasan dan
penjajahan yang terjadi selama masa pendudukan Jepang. Motif merak ngibing diilhami
oleh keindahan burung merak. Sedangkan motif hereto kencana merupakan
penggambaran Raja Wilarodra yang sedang mengendarai kuda mengelilingi kerajaannya.
Batik pesisiran berkembang pesat di daerah-daerah pesisir yang merupakan
tempat pertemuan banyak pedagang, terutama di daerah-daerah pelabuhan besar. Di sini,
segala macam kebudayaan berinteraksi, saling memengaruhi, dan saling memperkaya
satu dengan lainnya. Keragaman itulah yang juga memperkaya ragam hias batik di
Nusantara.
D. Batik Pedalaman
Penyebutan batik pedalaman tidak dimaksudkan untuk mengucilkan batik ini dari
batik keraton maupun batik pesisiran. Penyebutan ini mengacu pada batik-batik dengan
ciri-ciri khusus yang tidak ditemukan pada batik keraton maupun batik pesisiran. Oleh
karena itu, batik-batik tersebut tidak dapat dimasukkan pada golongan batik keraton
maupun batik pesisiran. Ciri khasnya sangat berbeda dengan kedua golongan batik
tersebut.
Batik-batik ini terutama berkembang di luar Jawa dengan mengutamakan unsur-
unsur lokal yang kental. Ciri unik ini dipengaruhi oleh unsur-unsur daerah yang berbeda
dengan ciri-ciri umum di Jawa maupun pesisiran.
Artinya, batik di Nusantara tidak hanya ditemukan di lingkungan masyarakat
Jawa. Batik dapat dijumpai dan ditemukan hampir di setiap daerah di Nusantara. Masing-
masing daerah memiliki cara penggarapan seni kain seperti yang dilakukan pada proses
pembatikan. Tentu saja, mereka menggunakan unsur-unsur yang ada di daerah asal
mereka untuk mewarnai corak dan ciri khas kain yang dibuatnya. Lihat saja misalnya
pada batik bali, batik Sulawesi, batik kalimantan, batik abepura, batik bengkulu, dan lain-
lain. Warna dan coraknya sangat khas.
Teknik pembatikan untuk batik di Indonesia sangat beragam dan berkembang
sejak zaman Kerajaan Majapahit. Haruslah diingat bahwa di masa lampau, Kerajaan
Majapahit pada masa kejayaannya memiliki daerah kekuasaan yang sangat luas. Tidak
hanya meliputi wilayah Nusantara, tetapi beberapa negara tetangga, seperti Tumasik
(Singapura), Malaysia, Laos, Brunei, Papua Nugini, dan beberapa daerah lainnya.
Dengan kemajuan seni budaya Majapahit pada masa itu, tidaklah mengherankan
kalau semua wilayah kekuasaannya juga terpengaruh oleh seni dan budaya Majapahit,
termasuk dalam pembuatan batik. Masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri,
baik corak maupun warnanya, yang berbeda dengan batik keraton maupun batik pesisiran.
Secara umum, teknik pembuatan batiknya tetap sama. Namun pewarnaan, motif,
dan pernak-pernik pembuatannya biasanya berbeda, disesuaikan dengan kondisi dan
tradisi di lingkungan pembuatannya. Perbedaan yang paling mencolok dari masing-
masing daerah adalah motifnya yang disesuaikan dengan topografi dan kekayaan alam
masing-masing. Pembaharuan selalu dilakukan untuk pengembangan seni perbatikan.
Pengaruh dari unsur budaya asing yang datang juga muncul di dalam batik-batik tersebut
tanpa menghilangkan jejak keasliannya.
Kekhasan karakter batik tersebut menjadikan batik mengalami kategorisasi ketat
dalam aspek estetik dan teknisnya. Bentuk-bentuk corak dan pencorakan yang bukan
mencerminkan gaya pencorakan tradisional khas batik sering kali sulrt mendapatkan
pengakuan sebagai batik. Bahkan sering disebut "bukan batik" meskipun segala proses
pembuatannya sama persis dengan batik.
Daerah-daerah yang tidak memiliki sejarah batik, walaupun memiliki tekad dan
niat sungguh-sungguh untuk membuat batik, tidak mudah mendapat pengakuan akan
produk batiknya selain dari masyarakat pembuat batik di daerah tersebut. Penggunaan
nama daerah di belakang batik, seperti batik jambi, batik papua, batik betawi, dan lain-
lain mengikuti cara penamaan batik di Jawa, seperti batik solo dan batik pekalongan,
tetap tidak menyebabkan batik-batik dengan ciri khusus ini diakui sebagai anggota
lingkaran dalam keluarga besar batik jawa.
Meskipun demikian, batik-batik daerah yang tersebar di seluruh Nusantara ini
secara otomatis tetap masuk di dalam lingkaran keluarga besar batik. Batik-batik tersebut
telah memperkaya batik di Nusantara, yang tidak dapat ditandingi dalam hal corak dan
ciri khasnya oleh batik-batik dari negara lain.
Kondisi di atas akan tampak jelas bila kita datang ke suatu pameran batik. Batik-
batik dari luar daerah lingkaran keluarga batik jawa (batik yogya, solo, pekalongan),
biasanya termarginalkan dan kurang mendapatkan perhatian. Walaupun sebenarnya kain-
kain tersebut juga merupakan seni batik yang menggunakan teknik batik sama seperti
yang digunakan untuk pembuatan batik di Jawa.
Uniknya, walaupun tidak menggunakan teknik batik (printing, cap, tenun, dan
lain-lain), kalau motifnya batik, maka kain tersebut tetap disebut sebagai "batik".
Pandangan seperti inilah yang membuat perkembangan dan sejarah batik dari luar Jawa
sering kali tidak diperhatikan. Meskipun demikian, batik-batik pedalaman ini tetap eksis,
tumbuh, dan berkembang secara perlahan.
Batik pedalaman akan semakin eksis jikalau generasi muda turut mengembangkan
dan melestarikannya. Dengan demikian, corak khas kedaerahan dapat ditonjolkan. Inilah
yang menjadikan batik-batik pedalaman dari masing-masing daerah memiliki ciri khas
yang berbeda dengan batik-batik dari daerah Indonesia lainnya.
Di masa lalu, produksi batik di setiap wilayah berulang kali menjawab tantangan
melalui kreativitas. Kreativitas itulah yang berhasil menjadikan informasi eksternal
sebagai energi untuk membuat corak dan pencorakan baru, bahkan medium baru.
Pencorakan kreatif yang menerobos ke masa kini, menciptakan pencorakan yang
baru berdasarkan sikap terbuka terhadap perubahan dan informasi yang tersedia. Kreasi
batik di masa lalu telah membuatnya eksis hingga masa kini, maka dengan kreativitas
pula batik mulai mendunia. Para pengusaha batik tidak henti-hentinya mengembangkan
kreativitas terhadap batik agar eksistensi batik dan usahanya terus meningkat.
Semangat mengikuti perubahan dan perbaikan itulah yang membuat usaha dan
industri batik di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat dari tahun ke
tahun. Motif dan corak yang diciptakan pun semakin banyak dan beraneka ragam. Setiap
tahun, semakin banyak motif dan corak batik kita yang dipatenkan agar tidak dicuri atau
diklaim oleh negara lain.
Untuk inilah, generasi muda harus mengenali batik. Kecintaan terhadap batik yang
telah menjadi sangat besar tidak boleh berhenti pada euforia belaka. Kecintaan itu harus
diwujudkan dalam berbagai kegiatan nyata untuk melestarikannya. mulai dari memakai,
mengembangkan, memasarkan, menyebarluaskan, menciptakan tren baru sehingga lebih
mudah diterima publik, dan lain-lain.
Demikianlah gambaran singkat mengenai sejarah perkembangan batik di
Nusantara. Batik telah ada di seluruh Indonesia, tidak hanya di Jawa dan terbatas pada
Yogya, Solo, dan Pekalongan saja. Namun, kita tidak dapat memungkiri bahwa ketiga
kota di Jawa tersebut merupakan basis industri batik nasional yang hingga saat ini tetap
dijadikan sebagai rujukan dan referensi utama dalam urusan batik, baik untuk pembuatan,
motif corak, hingga perkembangannya.
Satu hal yang penting untuk kita cermati, seperti apa puncara pembuatannya,
bentuk, corak dan motif, bahkan medianya, pada kenyataannya batik adalah milik
Indonesia. Batik merupakan salah satu ikon kekayaan warisan budaya yang sangat
berharga. Kita wajib melestarikan budaya batik demi kebanggaan dan kejayaan bangsa di
masa-masa mendatang.
Keanekaragaman batik yang ada di Nusantara adalah suatu anugerah yang harus
kita kembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan banyaknya jenis batik, ada banyak peluang dan kesempatan yang bisa
dimunculkan untuk mencari pangsa pasar baru, baik di dalam negeri maupun di luar
negeri. Banyaknya permintaan batik karena luasnya daerah pemasaran akan semakin
mendorong majunya industri pembatikan di Indonesia. Kalau sudah demikian, secara
tidak langsung batik akan mengangkat harkat, martabat, dan kesejahteraan para pelaku
industri batik secara umum.
RAGAM HIAS BATIK
Batik di Indonesia memiliki keragaman jenis, pola, motif, dan corak sesuai dengan
unsur-unsur daerah yang membentuknya. Batik bukan saja merupakan identitas visual artistik
dari keragamannya, tetapi juga merupakan identitas dan karakter budaya yang
membentuknya. Ragam hias batik sangat dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing yang
bersentuhan dengan budaya lokal.
Pada mulanya, batik memiliki ragam hias yang terbatas, baik corak maupun warnanya
dan hanya boleh digunakan oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisiran telah mampu
menyerap berbagai pengaruh luar, seperti dari para pedagang asing dan dari para penjajah.
Bangsa Eropa turut menaruh minat pada batik sehingga memengaruhi corak batik pada masa
itu. Ini terlihat dengan adanya corak bunga yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga
tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung dan kereta kuda), termasuk
warna-warna kesukaan mereka, seperti warna biru. Meskipun demikian, batik tradisional
tetap mempertahankan coraknya dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat.
A. Komponen Batik
Batik memiliki dua komponen utama, yaitu warna dan garis. Kedua komponen
inilah yang membentuk batik menjadi tampilan kain yang indah dan menawan. Tanpa
perpaduan warna dan garis yang serasi dan selaras, tidak mungkin ada hiasan-hiasan
maupun corak dan motif yang sesuai. Perpaduan tersebut sangat bergantung pada
pengolahan dan kreativitas sang pembatik.
1) Warna
Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya
sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan dari panjang gelombang
cahaya tersebut. Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia
berkisar antara 380-780 nanometer.Sebagai contoh, warna biru memiliki panjang
gelombang 460 nanometer.
Dalam peralatan optis, warna bisa pula berarti interpretasi otak terhadap
campuran tiga warna primer cahaya, yaitu merah, hijau, biru yang digabungkan dalam
komposisi tertentu. Misalnya pencampuran 100% merah, 100% hijau, dan 100% biru
akan menghasilkan interpretasi warna magenta.
Dalam seni rupa, warna bisa berarti pantulan tertentu dari cahaya yang
dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di permukaan benda. Misalnya pencampuran
pigmen magenta dan cyan (biru) dengan proporsi tepat dan disinari cahaya putih
sempurna akan menghasilkan sensasi mirip warna merah.
Setiap warna mampu memberikan kesan dan identitas tertentu sesuai kondisi
sosial pengamatnya. Masyarakat penganut warna memiliki pandangan dan pemikiran
yang berbeda-beda terhadap warna. Ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan,
pandangan hidup, status sosial, dan lain-lain. Pemikiran terhadap warna sering pula
dipengaruhi oleh kondisi emosional dan psikis seseorang.
Misalnya warna putih akan memberi kesan suci dan dingin di daerah Barat
karena berasosiasi dengan salju. Sementara di kebanyakan negara Timur warna putih
memberi kesan kematian dan sangat menakutkan karena berasosiasi dengan kain
kafan. Meskipun secara teoretis sebenarnya putih bukanlah warna, tetapi netral.
Di dalam ilmu warna, hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis
gelombang warna. Sementara putih dianggap sebagai representasi kehadiran seluruh
gelombang warna dengan proporsi seimbang. Secara ilmiah, keduanya bukanlah
warna, meskipun bisa dihadirkan dalam bentuk pigmen.
Secara psikologis, orang bisa memberikan pemikiran yang berbeda terhadap
warna. Orang yang sedang jatuh cinta sering disimbolkan dengan warna pink atau
merah muda. Namun kenyataannya, setiap warna dapat menjadi warna cinta bagi
orang yang sedang jatuh cinta.
Warna-warna yang ada di alam sangat beragam dan pengelompokannya
adalah sebagai berikut:
a. Warna netral, adalah warna-warna yang tidak lagi memiliki kemurnian warna atau
dengan kata lain bukan merupakan warna primer maupun sekunder. Warna ini
merupakan campuran ketiga komponen warna sekaligus, tetapi tidak dalam
komposisi yang tepat sama.
b. Warna kontras, adalah warna yang berkesan berlawanan satu dengan lainnya.
Warna kontras bisa didapatkan dari warna yang berseberangan (memotong titik
tengah segitiga), terdiri atas warna primer dan warna sekunder. Tidak menutup
kemungkinan pula membentuk kontras warna dengan mengolah nilai atau pun
kemurnian warna. Contoh warna kontras adalah merah dengan hijau, kuning
dengan ungu, dan biru dengan jingga. Warna kontras biasanya digunakan untuk
memberikan efek yang lebih "tampak" dan "mencolok" perhatian.
c. Warna panas, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam
lingkaran warna mulai dari merah hingga kuning. Warna ini menjadi simbol dari
keadaan riang, semangat, marah, dan sebagainya. Warna panas mengesankan
jarak yang dekat.
d. Warna dingin, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam
lingkaran warna mulai dari hijau hingga ungu. Warna ini menjadi simbol dari
kelembutan, kesejukan, kenyamanan, dan sebagainya. Warna sejuk mengesankan
jarak yang jauh. Kondisi ini juga mencerminkan keselarasan yang ingin
ditunjukkan melalui warna.
Warna dapat diperoleh dengan bermacam cara. Zat pewarna dapat dibedakan
menurut sumber diperolehnya zat warna tekstil, terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Zat pewarna alam, diperoleh dari alam, yaitu berasal dari hewan (lac dyes) atau
pun tumbuhan dapat berasal dari akar, batang, daun, buah, kulit, dan bunga. Zat
ini biasanya dibuat secara sederhana dan umumnya memiliki warna yang sangat
khas.
b. Zat pewarna sintetis, adalah zat warna buatan (zat warna kimia).
Oleh karena banyaknya zat warna sintetis, maka untuk pewarnaan batik harus
dipilih zat warna yang memenuhi syarat berikut ini:
1) Pemakaiannya dalam keadaan dingin, atau jika memerlukan suhu panas,
prosesnya tidak sampai melelehkan malam.
2) Obat bantunya tidak merusak malam dan tidak menyebabkan kesulitan pada
proses selanjutnya.
3) Zat pewarna tersebut tidak menimbulkan iritasi bagi pembatik dan pengguna
batik.
Sebagian besar warna tekstil untuk batik dapat diperoleh dari produk
tumbuhan. Di dalam tumbuhan terdapat pigmen penimbul warna yang berbeda,
tergantung menurut struktur kimianya.
Para perajin batik telah mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai
bahan tekstil sejak dahulu kala. Beberapa tumbuhan yang dijadikan sebagai bahan
pewarna adalah daun pohon nila (Indofera), kulit pohon soga tinggi (Ceriops
andolleana Arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis). kunyit (Curcuma), teh
(Camellia sinensis), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal
(Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelono), dan daun jambu biji (Psidium
guajava).
Namun tidak semua bagian tumbuhan dapat digunakan sebagai zat pewarna.
Pada umumnya, golongan pigmen tumbuhan adalah klorofil, karotenoid, flavonoid,
dan kuinon. Pewarna nabati yang digunakan untuk mewarnai tekstil dapat
dikelompokkan menjadi empat tipe menurut sifatnya, yaitu sebagai berikut:
a. Pewarna langsung dari ikatan hidrogen dengan kelompok hidroksil dari serat;
pewarna ini mudah luntur. Contoh: kunyit (Curcuma).
b. Pewarna asam dan basa yang masing-masing berkombinasi dengan kelompok
asam basa pada kain wol dan sutra sehingga warna asam dan basa dapat melekat
dengan baik pada wol dan sutra; sedangkan katun tidak dapat kekal warnanya jika
diwarnai. Contoh: pigmen-pigmen flavonoid.
c. Pewarna lemak yang ditimbulkan kembali pada serat melalui proses redoks,
pewarna ini sering memperlihatkan kekekalan yang istimewa terhadap cahaya dan
pencucian. Contoh: tarum.
d. Pewarna mordan yang dapat mewarnai tekstil yang telah diberi mordan berupa
senyawa etal polivalen; pewarna ini dapat sangat kekal. Contoh: alizarin dan
morindin.
Dalam pencelupan dengan zat warna alam, pada umumnya diperlukan
pengerjaan mordanting pada bahan yang akan dicelup atau dicap. Dan proses
mordanting ini dilakukan dengan merendam bahan ke dalam garam-garam logam,
seperti aluminium, besi, timah, atau kromium.
Zat-zat mordan ini berfungsi untuk membentuk jembatan kimia antara zat
warna alam dengan serat sehingga afinitas zat warna meningkat terhadap serat.
Perubahan sifat fisika dan kimia kain sutra akibat pewarna alami kulit akar mengkudu
menunjukkan bahwa penggunaan pewarna mordan dapat mengurangi kelunturan
warna kain terhadap pengaruh pencucian. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa
mordan mampu mengikat warna sehingga tidak mudah luntur.
2) Garis
Garis adalah suatu hasil goresan di atas permukaan benda atau bidang gambar.
Garis-garis inilah yang menjadi panduan dalam penggambaran pola dalam membatik.
Menurut bentuknya, garis dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Garis lurus (tegak lurus, horizontal, dan condong).
b. Garis lengkung.
c. Garis putus-putus.
d. Garis gelombang.
e. Garis zig-zag.
f. Garis imajinatif.
Garis-garis inilah yang membentuk corak dan motif batik sehingga menjadi
gambar-gambar yang indah sesuai dengan yang diharapkan. Tanpa garis-garis yang
menjadi panduan ini, tidaklah mungkin terbentuk pola-pola batik yang sesuai. Garis-
garis tersebut akan dibentuk dan dikreasikan sesuai dengan motif yang diinginkan.
B. Kain untuk Batik
Ada bermacam-macam jenis kain yang digunakan untuk batik. Kain tersebut dapat
terbuat dari bahan sutra, katun prima, primisima, polisima, dobi, paris, atau shantung.
Jenis-jenis kain tersebut ini berbeda-beda tekstur maupun bahan dasarnya.
1) Kain Katun
Katun merupakan kain yang umum digunakan untuk batik. Ada beberapa
tingkatan dalam kain katun. Kain katun primisima lebih bagus dari katun prima, dan
kain polisima merupakan yang paling bagus. Masing-masing katun tersebut memiliki
beberapa tingkatan pula. Ada yang kasar dan tipis, lebih halus, tebal, paling tebal, dan
halus. Semua bergantung dari campuran serat kapas yang digunakan dalam
pembuatan kain tersebut.
2) Kain Shantung
Tekstur kain ini halus dan dingin. Kain ini juga terbagi dalam beberapa
tingkatan, dari yang tipis hingga tebal. Serat kain katun lebih kuat daripada kain
shantung.
3) Kain Dobi
Dobi dapat dikatakan sebagai kain setengah sutra. Ada beberapa tingkatan
dalam kain ini, seperti halnya katun prima dan primisima. Ciri khas kain dobi terletak
pada tekstur kasarnya. Jadi, pada kain dobi yang paling halus sekalipun, kita akan
merasakan serat-seratnya yang menonjol dan cenderung kasar. Inilah kekhususan kain
dobi.
4) Kain Paris
Teksturnya lembut dan jatuh. Bahannya tipis dengan serat kain yang kuat.
Kain paris pun memiliki tingkatan-tingkatan seperti kain-kain yang lain.
5) Kain Sutra
Bahan dasar kain sutra sangat mahal. Teksturnya lembut dan jatuh serta
mengkilap. Sangat nyaman digunakan dan terlihat eksklusif.
6) Kain Serat Nanas
Tekstur serat nanas kasar mirip dengan dobi. Kain tersebut mengkilap dan
biasanya terlihat sulur-sulur. Hampir semua kain mempunyai tingkatan, dari yang
paling kasar sampai yang paling halus, tergantung dari pencampuran bahan dasar pada
saat pembuatan kain.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jenis tekstil yang sangat
banyak. Hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki
banyak tumbuhan yang dapat digunakan untuk industri tekstil.
Oleh karena itu, banyak jenis kain yang bisa digunakan untuk batik. Pemilihan
kain untuk membatik sering dikaitkan dengan kepentingan, siapa pemakainya, serta
biaya yang dianggarkan.
Kekayaan batik di Indonesia rasanya mustahil ditandingi oleh negara-negara
lain. Apalagi kalau Indonesia terus-menerus berkonsentrasi mengembangkan batik
untuk berbagai kepentingan yang memiliki nilai ekonomis.
C. Jenis Batik
Jenis batik di Indonesia sangatlah bermacam-macam. Berbagai pengaruh dari
tradisi klasik sampai yang modern dan abstrak turut menyemarakkan jenis batik di
Indonesia. Banyaknya jenis batik di Indonesia juga disebabkan karena batik telah lama
berada di Indonesia, sejak kelahirannya pada masa Kerajaan Majapahit sampai saat ini.
Selain itu, banyaknya jenis batik di Indonesia juga disebabkan oleh interaksi
bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa asing, baik melalui hubungan persaudaraan,
terjadinya pernikahan antar bangsa, perdagangan, hubungan diplomatik, maupun karena
penjajahan bangsa Barat di Indonesia.
1) Batik Pecinan atau Cina
Bangsa Cina sudah lama dikenal sebagai bangsa perantau. Mereka juga
dikenal teguh dalam melestarikan adat budaya leluhurnya. Biasanya di negeri
perantauan, mereka tetap melestarikan budayanya. Mereka terbiasa memadukan
budaya mereka dengan budaya lokal sebagai bentuk akulturasi budaya.
Demikian juga yang terjadi di Indonesia, khususnya pada batik. Keturunan
dari para perantau Cina di Indonesia biasanya memproduksi batik untuk komunitas
sendiri dan diperdagangkan. Batik produksi mereka yang disebut batik pecinan
memiliki warna yang cukup variatif dan cerah. Dalam selembar kain, mereka dapat
menampilkan bermacam warna.
Motif yang digunakan pun banyak memasukkan unsur budaya Cina, seperti
motif burung huk (merak) dan naga. Biasanya pola batik pecinan lebih rumit dan
halus. Pada zaman dulu, batik pecinan yang berbentuk sarung dipadukan dengan
kebaya encim sebagai busana khas para perempuan keturunan Cina di Indonesia.
Pekalongan cukup terkenal dengan produksi batik pecinan. Batik-batik model encim
di masa sekarang juga sering diangkat sebagai tren mode pada masa tertentu, terutama
bila menjelang tahun baru Cina atau imlek.
2) Batik Belanda
Pada zaman penjajahan Belanda, banyak warga Belanda yang tinggal dan
menetap di Indonesia. Mereka juga berinteraksi dengan budaya lokal Indonesia. Sama
seperti warga keturunan Cina, warga keturunan Belanda juga banyak yang membuat
dan memproduksi batik. Batik yang dihasilkan warga keturunan Belanda mempunyai
ciri khas tersendiri dan sering disebut dengan batik belanda.
Motif yang digunakan pada batik belanda biasanya bunga-bunga yang banyak
terdapat di Eropa, seperti tulip, dan tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di negeri
asalnya. Batik model ini sangat disukai di Eropa. Batik belanda juga sangat banyak
diproduksi di Pekalongan sepanjang abad XIX-XX.
3) Batik Jawa Hokokai
Batik jenis ini muncul pada masa pendudukan Jepang, yaitu tahun 1942-1945.
Modelnya pagi sore, yaitu dalam satu kain terdapat dua pola atau corak yang berbeda.
Motif yang terbanyak adalah motif bunga, seperti bunga sakura dan krisan.
Hampir semua batik jawa hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang
sangat detail, seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih
diisi lagi, misalnya motif jepun (bunga padi).
4) Batik Rifa'iyah
Batik rifa'iyah mendapat pengaruh Islam yang kuat. Dalam budaya Islam,
motif-motif yang berhubungan dengan benda bernyawa tidak boleh digambarkan
sama persis sesuai aslinya. Oleh karena itu, corak dalam batik rifa'iyah yang berupa
motif hewan terlihat kepalanya terpotong. Dalam ajaran Islam, semua wujud binatang
sembelihan yang dihalaikan harus dipotong kepalanya. Biasanya warga keturunan
Arab memproduksi batik ini.
5) Batik Keraton
Pembuat batik di Pekalongan sering membuat batik yang motifnya merupakan
ciri khas dari batik keraton Yogyakarta atau pun Surakarta. Motif gaya keraton yang
biasanya dipakai yaitu motif semen, cuwiri, parang, dan lain-lain. Walaupun bermotif
pengaruh keraton, teknik pembuatan dan pewarnaannya menggunakan gaya
Pekalongan.
Dengan demikian, batik keraton produksi Pekalongan ini menjadi lebih unik
dan menarik. Ini karena gaya Pekalongan adalah gaya pesisiran yang lebih bebas dan
banyak mendapat berbagai pengaruh dari luar. Akhirnya, batik keraton yang
dihasilkan Pekalongan memiliki ciri-ciri yang sama dengan batik-batik keraton dari
Solo maupun Yogya, namun karakteristiknya telah menunjukkan adanya perubahan
yang kontras dalam hal warna maupun bentuknya.
Pada umumnya, motif batik keraton mengandung makna filosofi hidup. Batik-
batik ini pada mulanya dibuat oleh para putri keraton dan juga pembatik-pembatik
ahli yang hidup di lingkungan keraton. Dan pada umumnya, motif yang dipakai
adalah motif larangan.
6) Batik Sudagaran
Motif larangan dari kalangan keraton merangsang seniman dari kaum
saudagar untuk menciptakan batik motif baru yang sesuai selera masyarakat. Mereka
juga mengkreasikan motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat
umum.
Desain batik sudagaran umumnya terkesan "berani" dalam pemilihan bentuk,
stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi
warna soga dan biru tua.
Batik sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan
dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik sudagaran mengubah batik
keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga
tercipta batik yang sangat indah.
7) Batik Jawa Baru
Batik jenis ini diproduksi sesudah era batik jawa hokokai. Motif dalam dan
warna batik ini menyederhanakan batik jawa hokokai, tetapi masih berciri khas pagi
sore tanpa tumpal (hiasan lain). Kebanyakan menggunakan motif rangkaian bunga
dan lung-lungan.
8) Batik Jlamprang
Motif-motif jlamprang atau yang di Yogyakarta dikenal dengan nama nitik
adalah salah satu batik yang cukup populer diproduksi di daerah Krapyak,
Pekalongan. Batik ini merupakan pengembangan dari motif kain patola dari India.
Sebagian besar dari motif-motif jlamprang berbentuk geometris dan kadang
berbentuk bintang atau mata angin serta menggunakan ranting yang ujungnya
berbentuk segi empat. Batik jlamprang ini diabadikan menjadi salah satu nama jalan
di Pekalongan. Ini terjadi karena banyaknya produksi batik jlamprang di Pekalongan.
9) Batik Terang Bulan
Desainnya berupa ornamen yang hanya ada di bagian bawah, baik itu berupa
lung-lungan atau berupa ornamen pasung, bagian atasnya kosong atau berupa titik-
titik. Batik terang bulan ini disebut juga dengan sebutan gedong atau rom-raman.
10) Batik Cap Kombinasi Tulis
Batik ini merupakan batik cap dengan proses kedua direntes atau dirining oleh
pembatik tulis sehingga batik kelihatan seperti ditulis. Hal ini dilakukan untuk
mempercepat produksi batik dan keseragaman. Namun, mereka yang terbiasa
menggunakan batik tulis tetap tidak menyenangi bentuk ini. Batik jenis ini biasanya
dikonsumsi oleh kalangan menengah ke bawah.
11) Batik Tiga Negeri Pekalongan
Seperti halnya batik-batik negara lain, batik ini memiliki beberapa warna
dalam satu kain, yaitu warna merah, biru, dan soga yang semua dibuat di Pekalongan.
Kadang-kadang warna biru diganti dengan warna ungu dan hijau.
12) Batik Sogan Pekalongan
Batik sogan Pekalongan adalah batik dengan proses dua kali. Proses yang
pertama, latar putih diberi coletan dan untuk proses kedua, batik ditandai penuh atau
diberikan ornamen plataran berupa titik halus, baru setelah itu disoga. Batik yang
disoga terlihat klasik. Demikian pula yang terlihat pada batik sogan Pekalongan.
Namun perlu diingat, ini bukan jenis batik keraton. Orang sering mengartikan bahwa
segala sesuatu yang klasik itu adalah batik keraton. Padahal, tidak demikian adanya.
13) Batik Tribusana
Batik tribusana merupakan batik gaya baru yang cara proses keduanya direntas
atau riningan dan sebagian besar motifnya berupa lung-lungan lonjuran. Batik
tribusana ini ada yang bercorak dan ada juga yang polos.
14) Batik Pangan atau Batik Petani
Batik ini dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah pada
saat tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan
"sedikit aneh", serta tidak halus. Motifnya bermacam-macam dan paling banyak
disesuaikan dengan kondisi daerah pembuatnya masing-masing.
Batik ini dikerjakan secara sembilan sehingga tidak profesional.
Pewarnaannya pun hanya dipasrahkan kepada saudagar yang menjual bahan pewarna.
Jenis batik ini adalah salah satu pembuatan batik yang kurang kreatif. Ini karena
pembuatnya adalah mayoritas perempuan petani yang tidak memiliki keterampilan
khusus untuk membatik dan membatik bukan mata pencaharian hidup mereka.
15) Batik Coletan
Dalam batik ini, pewarnaan di sebagian tempat menggunakan sistem colet
dengan kuas dengan hanya sekali pencelupan, kecuali warna sogo. Warna-warna
lainnya menggunakan colet.
16) Batik Kemodelan
Batik kemodelan merupakan batik-batik modifikasi dari batik-batik klasik,
baik itu batik dari gaya Yogya maupun Solo. Batik ini dibuat dengan komposisi baru
dengan pewarnaan Pekalongan dan kelihatan modern. Hal ini sangat populer di zaman
Presiden Soekarno. Batik jenis ini merupakan salah satu ide Presiden Soekarno untuk
menjadikan batik yogya dan solo tampil lebih modern dan cerah.
Batik kemodelan ini sampai sekarang masih dapat ditemukan di berbagai
tempat yang menyediakan batik. Batik jenis ini cenderung disenangi oleh mereka
yang menginginkan sesuatu yang klasik, tetapi tetap tampil sesuai dengan tren.
Sekarang, jenis batik kemodelan ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga
kaya corak dan warna.
17) Batik Osdekan
Batik ini memiliki berbagai warna bayangan. Dalam suatu kain batik akan
timbul satu warna yang sudah jadi, kemudian bagian atas kain batik tersebut akan
dibatik lagi, kemudian ditimpa lagi dengan warna lain.
Warna yang digunakan untuk menimpa pun bermacam-macam, bisa warna
tua, muda, maupun campuran. Inilah yang membuat batik menjadi sangat kaya warna
dan seperti ada bayang-bayang sehingga tampak indah dipandang. Namun jika
pencampuran warnanya tidak bagus, hasilnya akan kurang memuaskan.
18) Batik Modern
Proses pewarnaan dan pencelupan batik ini telah menggunakan sistem baru.
Sistem tersebut dapat berupa gradasi, urat kayu, maupun rintang broklat. Motif-motif
ini adalah motif baru yang berhubungan dengan estetika. Komposisi gaya bebas.
Batik ini sangat populer pada tahun 1980 dan hingga sekarang masih banyak
diminati. Batik modern inilah yang mendorong perkembangan batik di Indonesia
karena lebih ekspresif, lebih bebas, dan dimodifikasi dengan berbagai ma cam tekstil
yang dapat digunakan oleh kalangan anak muda.
19) Batik Kontemporer
Batik ini terlihat tidak lazim untuk disebut batik, tetapi proses pembuatannya
sama seperti membuat batik. Warna dan coraknya cenderung seperti kain pantai khas
Bali atau kadang warna dan coraknya seperti kain sasirangan. Batik kontemporer
banyak dikembangkan oleh desainer batik untuk mencari terobosan-terobosan baru
dalam mengembangkan batik dan mode pakaian yang didesain.
Jadi, tidaklah aneh kalau batik cap ini dapat diperoleh dengan harga murah.
Tapi, batik cap ini dapat ditemukan dipakai oleh banyak orang sehingga terkesan
"pasaran", walaupun ada juga yang dibuat secara terbatas untuk memenuhi
kepentingan tertentu. Oleh karena itu, kalangan menengah ke atas jarang
menggunakan batik cap ini.
20) Batik Tulis
Kain ini dihias dengan tekstur dan corak batik menggunakan tangan.
Pembuatan batik jenis ini memerlukan waktu lebih kurang 2-3 bulan. Batik ini sangat
eksklusif karena dibuat dengan tangan sehingga sangat khas dan dapat dibuat sesuai
pesanan. Harganya lebih mahal dan biasanya digunakan oleh kalangan menengah ke
atas. Semakin rumit corak dan warnanya, semakin mahal harganya.
21) Batik Lukis
Batik ini langsung dilukis pada kain putih. Namun, batik lukis ini jarang
digunakan untuk pakaian, karena kurang lazim. Biasanya batik jenis ini hanya
digunakan sebagai pajangan.
Sudah banyak pelukis yang menggunakan batik sebagai salah satu cara untuk
menuangkan ide kreatifnya. Industri kreatif ini juga sudah mulai banyak berkembang
di daerah Yogya dan sekitarnya. Lukisan yang diterakan dengan cara membatik ini
sangat bermacam-macam. Sebagian besar dibuat berdasarkan pesanan pembeli, tetapi
sebagian yang lain juga dibuat oleh pelukis dan kemudian dijual secara bebas.
Itulah jenis-jenis batik yang ada di Indonesia. Batik-batik tersebut memiliki
penggemarnya masing-masing. Semuanya turut memperkaya khazanah batik di
Indonesia. Masing-masing orang dapat memilih batik sesuai dengan keperluannya.
Batik tidak lagi harus dibeli dengan harga yang mahal, tetapi sangat terjangkau dan
dapat ditemukan dengan mudah di mana saja.
D. Pola Batik
Pola batik adalah gambar di atas kertas yang nantinya akan dipindahkan ke kain
batik untuk digunakan sebagai motif atau corak pembuatan batik. Artinya, pola ini adalah
gambar-gambar yang menjadi blue print pembuatan batik. Dan keragaman budaya dan
suku bangsa yang ada di Indonesia membuat pola dan motif batik kita sangat beragam
juga.
Kini, pola-pola batik yang digunakan pun berkembang mengikuti jalannya tren
mode yang ada. Berbagai unsur alam, teknologi, geometris, dan berbagai bentuk abstrak
kini menjadi hal yang biasa dalam pola batik. Setiap daerah di Indonesia memiliki pola-
pola pembuatan motif batik yang khas.
Daerah di luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua,
memiliki cara dan pola-pola yang unik untuk membuat batik. Itu semua sangat
dipengaruhi oleh keadaan alam, lingkungan, falsafah, pengetahuan, adat istiadat, dan
unsur-unsur lokal yang khas di setiap daerah. Pola-pola batik yang umum dikenal hingga
saat ini adalah sebagai berikut:
1. Batik pola sri katon (sri katonan).
2. Batik pola semen rama (klasik).
3. Batik pola semen rama (baru).
4. Batik pola sido mukti Yogyakarta.
5. Batik pola semen remeng (gurda, burung garuda).
6. Batik pola lung-lungan babon angrem.
7. Batik pola lung-lungan gragah waluh.
8. Batik pola semen klewer dengan gaya batik pedalaman.
9. Batik pola semen klewer dengan gaya batik pesisiran.
10. Batik pola burung huk (burung merak).
11. Batik pola kawung.
12. Batik pola parang dan lereng.
13. Batik pola parang rusak baron.
14. Batik pola nitik (geometris).
15. Batik pola abstrak.
Pola-pola inilah yang lazim digunakan dalam batik-batik di Indonesia. Tentu saja
dengan perkembangan dan kemajuan yang semakin modern, semua pola tersebut
mengalami modifikasi dan penyempurnaan, sesuai dengan keperluan. Tidak heran kalau
kemudian banyak batik dengan pola-pola yang keluar dari "pakem" batik. Namun,
janganlah menanggapi dengan negatif, karena pola-pola yang baru justru memperkaya
pola batik Indonesia.
E. Corak Batik
Batik Indonesia memiliki corak yang beraneka macam. Berbagai bentuk dan unsur
keragaman budaya yang sangat kaya dapat dilihat dalam corak batik. Corak batik adalah
hasil lukisan pada kain dengan menggunakan alat yang disebut dengan canting. Jumlah
corak batik Indonesia saat ini sangat beragam, baik variasi bentuk maupun warnanya.
Pada umumnya, corak batik sangat dipengaruhi oleh letak geografis daerah
pembuatan, sifat dan tata penghidupan daerah bersangkutan, kepercayaan dan adat
istiadat yang ada, keadaan alam sekitar, termasuk flora dan fauna, serta adanya kontak
atau hubungan antar daerah pembuat pembatikan.
1) Bagian Corak Batik
Pada sehelai kain batik, corak dapat dikelompokkan menjadi dua bagian
utama, yaitu:
a) Ornamen Utama
Ornamen utama adalah suatu corak yang menentukan makna motif
tersebut. Pemberian nama motif batik tersebut didasarkan pada perlambang yang
ada pada ornamen utama ini. Jika corak utamanya adalah parang, maka biasanya
batik tersebut diberi nama parang. Banyak sekali jenis corak utama, diantaranya
meru (gunung), api, naga, burung, garuda, pohon hayat (kehidupan), tumbuhan,
bangunan, parang, dan lain-lain.
b) Isen-isen
Isen-isen merupakan aneka corak pengisi latar kain dan bidang-bidang
kosong corak batik. Pada umumnya, isen-isen berukuran kecil dan kadang rumit.
Dapat berupa titik-titik, garis-garis, atau pun gabungan keduanya. Dahulu, ada
beragam jenis isen-isen, tetapi pada perkembangannya hanya beberapa saja yang
masih biasa dijumpai dan masih dipakai pada saat ini.
Isen-isen pengisi latar antara lain galaran, rawan, ukel, udar, belara sineret,
anam karsa, debundel atau cebong, kelir, kerikil, sisik melik, uceng mudik,
kembang jati, dan gringsing. Sedangkan isen-isen pengisi bidang kosong antara
lain cecek, kembang jeruk, kembang suruh (sirih), kembang cengkeh, sawat,
sawut kembang, srikit, kemukus, serit, dan untu walang. Pembuatan isen-isen
memerlukan waktu yang cukup lama karena bentuknya yang kecil dan rumit
membutuhkan ketelitian yang tinggi.
2) Penggolongan Corak Batik Berdasarkan Bentuknya
Secara garis besar, corak batik berdasarkan bentuknya dibagi menjadi dua
golongan, yaitu golongan ragam hias geometris dan non geometris.
a) Corak Hias Geometris
Corak hias geometris adalah corak hias yang mengandung unsur-unsur
garis dan bangun, seperti garis miring, bujur sangkar, persegi panjang, trapesium,
belah ketupat, jajaran genjang, lingkaran, dan bintang, yang disusun secara
berulang-ulang membentuk satu kesatuan corak. Yang termasuk ragam hias
geometris aclalah sebagai berikut:
1. Corak Ceplok
Corak ceplok atau ceplokan adalah corak-corak batik yang di dalamnya
terdapat gambaran-gambaran bentuk lingkaran, roset, binatang, dan
variasinya. Beberapa nama corak ceplok yaitu ceplok nogo sari, ceplok sup/t
urang, ceplok truntum, dan ceplok cakra kusuma.
2. Corak Ganggong
Banyak orang menganggap corak ganggong adalah corak ceplok
karena sepintas hampir sama. Namun kalau diperhatikan dengan detail, akan
terlihat perbedaan antara corak ganggong dengan corak ceplok. Biasanya
orang yang paham batik akan memerhatikan perbedaan ini, terutama bila batik
akan digunakan untuk kepentingan tertentu.