Ciri khas yang membedakan corak ganggong dengan ceplok adalah
adanya bentuk isen yang terdiri atas seberkas garis yang panjangnya tidak
sama, dan ujung garis yang paling panjang berbentuk serupa tanda +. Nama-
nama corak ganggong antara lain ganggong arjuna, ganggong madusari, dan
ganggong sari.
3. Corak Parang dan Lereng
Corak parang merupakan salah satu corak yang sangat terkenal dalam
kelompok corak garis miring. Corak ini terdiri atas satu atau lebih ragam bias
yang tersusun membentuk garis-garis sejajar dengan sudut kemiringan 45°.
Contoh corak parang dan lereng adalah parang rusak dan lereng ukel.
4. Corak Banji
Corak Banji berdasar pada ornamen swastika, dibentuk atau disusun
dengan menghubungkan swastika pada garis-garis, sehingga membentuk
sebuah corak. Swastika ini menggambarkan kekerasan yang diterima oleh
masyarakat pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.
Batik dengan corak banji memang berkembang pesat di saat terjadi
penjajahan Jepang. Di masa kini, corak ini tetap digunakan untuk
melambangkan perjuangan melawan ketidakadilan. Nama-nama corak banji
antara lain banji guling, banji bengkok, banji kerton, dan banji lancip.
b) Corak Hias Nongeometris
Pola nongeometris merupakan pola dengan susunan tidak terukur, artinya
polanya tidak dapat diukur secara pasti, meskipun dalam bidang luas dapat terjadi
pengulangan seluruh corak. Pola yang termasuk ke dalam golongan pola ini yaitu:
1. Corak Semen
Ragam hias utama yang merupakan ciri corak semen adalah meru, suatu
gubahan menyerupai gunung. Meru berasal dari nama Gunung Mahameru.
Hakikat meru adalah lambang gunung atau tempat tumbuh-tumbuhan bertunas
(bersemi) hingga corak ini disebut semen. Semen berasal dari kata dasar semi.
Ragam hias utama semen adalah garudo, sawat, lar, maupun mirong. Contoh
corak semen adalah semen jolen dan semen gurdha.
2. Corak Lung-lungan
Sebagian besar corak lung-lungan mempunyai ragam hias serupa dengan
corak semen. Berbeda dengan corak semen, ragam hias corak lung-lungan
tidak selalu lengkap dan tidak mengandung ragam hias meru. Corak lung-
lungan di antaranya adalah grageh waluh dan babon angrem.
3. Corak Buketon
Corak buketan mudah dikenali lewat rangkaian bunga atau kelopak bunga
dengan kupu-kupu, burung, atau berbagai bentuk dan jenis satwa kecil yang
mengelilinginya. Berbagai unsur tersebut tampil sebagai satu susunan yang
membentuk satu kesatuan corak.
4. Corak Pinggiran
Corak ini disebut corak pinggiran karena unsur hiasannya terdiri atas ragam
hias yang biasa digunakan untuk hiasan pinggir atau hiasan pembatas antara
bidang yang memiliki hiasan dan bidang kosong pada dodot, kemben, dan
udheg.
5. Corak Dinamis
Corak dinamis adalah corak-corak yang masih dapat dibedakan menjadi
unsur-unsur corak, tetapi ornamen di dalamnya tidak lagi berupa ornamen-
ornamen tradisional. Corak ini merupakan peralihan corak batik klasik dan
modern.
Corak-corak ini terus mengalami perkembangan dan perluasan sehingga semakin
memperbanyak corak batik di Indonesia. Namun secara umum, corak batik masih
berkisar pada corak-corak tersebut. Selain untuk mengembangkan kreativitas, corak-corak
baru dibuat untuk memperoleh pelanggan baru yang akan meningkatkan pemasaran batik.
F. Motif Batik
Motif batik di Indonesia sangat beragam. Apalagi di masa modern sekarang ini
motif batik ikut dimodernisasi dan dikreasikan sesuai perkembangan zaman. Semuanya
semakin memperkaya motif batik Nusantara.
Motif batik adalah suatu dasar atau pokok dari suatu pola gambar yang merupakan
pangkal atau pusat suatu rancangan gambar, sehingga makna dari tanda, simbol, atau
lambang dibalik motif batik tersebut dapat diungkap. Motif merupakan susunan terkecil
dari gambar atau kerangka gambar pada benda.
Motif terdiri atas unsur bentuk atau objek, skala atau proporsi, dan komposisi.
Motif menjadi pangkalan atau pokok dari suatu pola. Motif itu mengalami proses
penyusunan dan diterapkan secara berulang-ulang sehingga diperoleh sebuah pola.
Pola itulah yang nantinya akan diterapkan pada benda lain yang nantinya akan
menjadi sebuah ornamen. Di balik kesatuan motif, pola, dan ornamen, terdapat pesan dan
harapan yang ingin disampaikan oleh pencipta motif batik.
Motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan.
Motif batik disebut juga corak batik, kadang digunakan untuk penamaan corak batik atau
pola batik itu sendiri. Pada umumnya, motif batik di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Motif sawat.
2. Motif ceplok.
3. Motif gurdha (burung garuda).
4. Motif meru (gunung).
5. Motif truntum.
6. Motif udon liris.
7. Motif parang kusuma.
8. Motif parang rusak barong.
9. Motif slobog.
10. Motif tombol.
11. Motif ciptoning.
12. Motif parikesit.
13. Motif sido luhur.
14. Motif sido drajad.
15. Motif sido mukti.
16. Motif cuwiri.
17. Motif kawung.
18. Motif nitik karawitan.
19. Motif burung huk (burung merak).
20. Motif parang dan lereng.
21. Motif mega mendung.
22. Motif semen ramo.
23. Motif semen ageng.
24. Motif abstrak.
Selain motif-motif yang populer tersebut, masih ada banyak motif lainnya yang
beredar di pasaran batik. Terlebih di masa kini, motif batik sudah demikian modern dan
dikreasikan dengan berbagai corak, warna, serta bentuk. Bahkan modifikasi tersebut
sering kali tidak sesuai dengan pakem dan nilai-nilai filosofis yang terkandung di
dalamnya demi memperoleh nilai estetika yang diharapkan.
Indonesia harus bersyukur karena batik dengan motif berpakem tradisional
tersebut masih terus-menerus digunakan di kalangan tertentu, seperti lingkungan keraton.
Para penerus dan keturunan keraton masih banyak menggunakan batik-batik
dengan motif tertentu untuk melestarikan nilai-nilai filosofis yang terkandung di
dalamnya. Mereka masih menggunakan batik sesuai dengan pakem dan aturan, terutama
pada acara-acara keraton dan upacara-upacara adat yang mengharuskan mereka berbusana
sesuai dengan aturan yang ada di lingkungan keraton.
Pengembangan dan modifikasi terhadap motif, corak, dan warna batik harus
didukung sepenuhnya agar batik semakin memasyarakat dan dapat lestari. Pengembangan
tersebut selalu bertujuan baik, misalnya untuk mendapatkan nilai estetika yang
diharapkan, batik dibuat menggunakan bahan yang diinginkan serta menerobos jalur-jalur
klasik agar batik lebih dapat diterima di berbagai kalangan dengan beragam kepentingan.
Untuk itu, sangatlah penting untuk menghargai berbagai usaha yang dilakukan
oleh setiap pihak untuk mengembangkan batik. Bagaimana pun juga, batik di Indonesia
dapat bertahan dalam waktu yang lama karena masyarakatnya terus-menerus
melestarikannya. Tanpa adanya usaha tersebut, lambat laun batik bisa punah. Tentu kita
tidak menginginkan hal ini terjadi karena batik adalah kekayaan dan warisan budaya yang
sangat bernilai dan harus kita jaga kelestariannya demi identitas dan kejayaan Indonesia.
MAKNA FILOSOFIS DI BALIK MOTIF BATIK
Batik merupakan hasil seni budaya yang memiliki keindahan visual dan mengandung
makna filosofis pada setiap motifnya. Penampilan sehelai batik tradisional, baik dari segi
motif maupun warnanya, dapat mengatakan kepada kita dari mana batik tersebut berasal.
Motif batik berkembang sejalan dengan waktu, tempat, peristiwa yang menyertai, serta
perkembangan kebutuhan masyarakat.
Bering kali lokasi memberi pengaruh yang cukup besar pada motif batik. Meskipun
berasal dari sumber atau tempat yang sama, jika berkembang di tempat yang berbeda,
motifnya akan berbeda pula. Contohnya adalah motif nitik. Motif n/t/'/rsebenarnya berasal
dari pengaruh luar yang berkembang di pantai utara Laut Jawa, sampai akhirnya berkembang
pula di pedalaman dan menjadi suatu motif yang sangat indah.
Pada saat pedagang dari Gujarat (India) datang di pantai utara Pulau Jawa, mereka
membawa kain tenun dan bahan sutra khas Gujarat dalam barang dagangannya. Motif dan
kain tersebut berbentuk geometris dan sangat indah, dibuat dengan teknik dobel ikat yang
disebut patola yang dikenal di Jawa sebagai kain cinde. Warna yang digunakan adalah merah
dan biru indigo.
Motif kain patola memberi inspirasi para pembatik di daerah pesisir maupun
pedalaman, bahkan lingkungan keraton. Di daerah Pekalongan tercipta kain batik yang
disebut jlomprang, bermotif ceplok dengan warna khas Pekalongan. Oleh karena terinspirasi
motif tenunan, maka motif yang tercipta terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang yang
disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan anyaman yang terdapat pada tenunan
patola.
Kain batik jlamprang berkembang di daerah pesisir, sehingga warnanya pun
bermacam-macam, sesuai selera konsumennya yang kebanyakan berasal dari Eropa, Cina,
dan negara-negara lain. Warna yang dominan digunakan adalah merah, hijau, biru dan
kuning, meskipun masih juga menggunakan warna soga dan wedelan.
Selain terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang, nitik dari Yogyakarta juga
diperindah dengan hadirnya isen-isen batik lain, seperti cecek (cecek pitu, cecek telu), bahkan
ada yang diberi ornamen batik dengan klowong maupun tembokan, sehingga penampilannya,
baik bentuk dan warnanya, lain dari motif jlamprang Pekalongan. Nitik dari Yogyakarta
menggunakan warna indigo, soga (cokelat), dan putih. Seperti motif batik yang berasal dari
keraton lainnya, motif nitik kreasi keraton juga berkembang ke luar lingkungan keraton.
Lingkungan Keraton Yogyakarta yang terkenal dengan motif nitik yang indah adalah Ndalem
Brongtodiningrat. Batik nitik Yogyakarta yang terkenal adalah dari Desa Wonokromo, dekat
Kotagede.
Untuk membuat batikan yang berbentuk bujur sangkar dan persegi panjang,
diperlukan canting tulis khusus dengan lubang canting yang berbeda dengan canting biasa.
Canting tulis untuk nitik dibuat dengan membelah lubang canting biasa ke dua arah yang
saling tegak lurus.
Dalam pengerjaannya, setelah pencelupan pertama dalam warna biru, proses
mengerok hanya dikerjakan untuk bagian cecek saja atau bila ada bagian Wowong-nya. Agar
warna soga dapat masuk di bagian motif yang berupa bujur sangkar dan persegi panjang yang
sangat kecil tersebut, maka bagian tersebut ditekan-tekan sehingga pada bagian tertentu
malamnya dapat lepas dan warna soga dapat masuk ke dalamnya.
Oleh karena itu, untuk membuat batik nitik diperlukan malam khusus yaitu malam
yang kekuatan menempelnya antara malam klowong dan malam tembok. Langkah
selanjutnya adalah mbironi, menyoga, dan akhimya melorod.
Sampai saat ini terdapat kurang lebih 70 motif nitik. Sebagian besar motif nitik diberi
nama dengan nama bunga, seperti kembang kenthang, sekar kemuning, sekorrandu,
dansebagainya. Ada pula yang diberi nama lain, misalnya nitik cakar, nitik jonggrang,
tanjung gunung, dan sebagainya.
Motif nitik juga sering dipadukan dengan motif parang, ditampilkan dalam bentuk
ceplok, kothak, atau sebagai pengisi bentuk keyong, dan juga sebagai motif untuk sekar
jagad, tambal, dan sebagainya. Paduan motif ini terdiri dan satu macam maupun bermacam-
macam motif nitik. Tampilan yang merupakan paduan motif nitik dengan motif lain
membawa perubahan nama, misalnya parang seling nitik, nitik tambal, nitik kasatrian, dan
sebagainya.
Seperti halnya motif batik yang lain, motif nitik juga mempunyai arti filosofis.
Contohnya, nitik cakar yang sering digunakan pada upacara adat perkawinan ini diberi nama
demikian karena pada bagian motifnya terdapat ornament yang berbentuk seperti cakar.
Cakar yang dimaksud adalah cakar ayam atau kaki bagian bawah. Cakar ini digunakan untuk
mengais tanah mencari makanan atau sesuatu untuk dimakan.
Motif nitik cakar dikenakan pada upacara adat perkawinan, dimaksudkan agar
pasangan yang menikah dapat mencari nafkah dengan halal, sepandai ayam mencari makan
dengan cakarnya. Nitik cakar dapat berdiri sendiri sebagai motif dan satu kain atau sebagai
bagian dari motif kain tertentu, seperti motif wirasat atau sido drajat, yang juga sering
digunakan dalam upacara adat perkawinan.
Setiap motif batik memiliki makna filosofis. Makna-makna tersebut menunjukkan
kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai lokal. Hingga sekarang nilai-nilai tersebut masih
bertahan. Berikut ini akan dipaparkan beberapa makna filosofis motif batik yang populer di
kalangan masyarakat.
A. Motif Sawat
Sawat berarti melempar. Pada zaman dulu, orang Jawa percaya dengan para dewa
sebagai kekuatan yang mengendalikan alam semesta. Salah satu dewa tersebut adalah
Batara Indra. Dewa ini mempunyai senjata yang disebut wajra atau bajra, yang berarti
pula thathit (kilat). Senjata pusaka tersebut digunakan dengan cara melemparkannya
(Jawa: nyawatake).
Bentuk senjata Batara Indra tersebut menyerupai seekor ular yang bertaring tajam
serta bersayap (Jawa: mawa lar). Bila dilemparkan ke udara, senjata ini akan menyambar-
nyambar dan mengeluarkan suara yang sangat keras dan menakutkan.
Walaupun menakutkan, wajra juga mendatangkan kegembiraan sebab dianggap
sebagai pembawa hujan. Senjata pusaka Batara Indra ini diwujudkan ke dalam motif batik
berupa sebelah sayap dengan harapan agar si pemakai selalu mendapatkan perlindungan
dalam kehidupannya.
B. Motif Ceplok
Bentuk pola ceplok sangat kuno adalah pola kawung. Pola dengan motif-motif
ceplok ini terinspirasi oleh bentuk buah kawung (buah atap atau buah aren) yang dibelah
empat. Keempat bagian buah bersama intinya itu melambangkan empat arah (penjuru)
utama dalam agama Budha.
Pada dasarnya, ceplok merupakan kategori ragam bias berdasarkan pengulangan
bentuk geometri, seperti segi empat, empat persegi panjang, bulat telur, atau pun bintang.
Ada banyak varian lain dari motif ceplok, misalnya ceplok sriwedari dan ceplok keci.
Batik truntum juga masuk kategori motif ceplok. Selain itu, motif ceplok juga sering
dipadupadankan dengan berbagai bentuk motif lainnya untuk mendapat corak dan motif
batik yang lebih indah.
C. Motif Gurda
Gurda berasal dari kata garuda. Seperti diketahui, garuda merupakan burung
besar. Dalam pandangan masyarakat Jawa, burung garuda mempunyai kedudukan yang
sangat penting. Bentuk motif gurda ini terdiri dari dua buah sayap (/or) dan di tengahnya
terdapat badan dan ekor.
Motif batik gurda ini juga tidak lepas dari kepercayaan masa lalu. Garuda
merupakan tunggangan Batara Wisnu yang dikenal sebagai Dewa Matahari. Garuda
menjadi tunggangan Batara Wisnu dan dijadikan sebagai lambang matahari. Oleh
masyarakat Jawa, garuda selain sebagai simbol kehidupan juga sebagai simbol
kejantanan.
D. Motif Meru
Kata meru berasal dari Gunung Mahameru. Gunung ini dianggap sebagai tempat
tinggal atau singgasana bagi Tri Murti, yaitu Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Brahma,
dan Sang Hyang Siwa. Tri Murti ini dilambangkan sebagai sumber dari segala kehidupan,
sumber kemakmuran, dan segala sumber kebahagiaan hidup di dunia. Oleh karena itu,
meru digunakan sebagai motif batik agar si pemakai selalu mendapatkan kemakmuran
dan kebahagiaan.
E. Motif Truntum
Motif batik truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan
Paku Buwana III), bermakna cinta yang tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini
sebagai simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama terasa semakin
subur berkembang (tumaruntum).
Kain motif truntum biasanya dipakai oleh orang tua pengantin pada hari
pernikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi
kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk
"menuntun" kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru.
F. Motif Udan Liris
Motif ini mengandung makna ketabahan dan harus tahan menjalani hidup prihatin
biarpun dilanda hujan dan panas. Orang yang berumah tangga, apalagi pengantin baru,
harus berani dan mau hidup prihatin ketika banyak halangan dan cobaan. Ibaratnya
tertimpa hujan dan panas, tidak boleh mudah mengeluh. Segala halangan dan rintangan
itu harus bisa dihadapi dan diselesaikan bersama-sama.
Suami atau istri merupakan bagian hidup di dalam rumah tangga. Jika salah satu
menghadapi masalah, maka pasangannya harus ikut membantu menyelesaikan, bukan
justru menambahi masalah.
Misalkan, bila suami sedang mendapat cobaan tergoda oleh perempuan lain, maka
sang istri harus bisa bijak mencari solusi dan mencari penyelesaian permasalahan. Begitu
pula sebaliknya, jika sang istri mendapat godaan dari lelaki lain, tentu suami harus
bersikap arif tanpa harus menaruh curiga yang berlebihan sebelum ditemukan bukti.
G. Motif Parang Kusuma
Motif ini bermakna hidup harus dilandasi dengan perjuangan untuk mencari
kebahagiaan lahir dan batin, ibarat keharuman bunga (kusuma). Contohnya, bagi orang
Jawa, yang paling utama dari hidup di masyarakat adalah keharurnan (kebaikan)
pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan santun agar dapat
terhindar dari bencana lahir dan batin. Mereka harus mematuhi aturan hidup
bermasyarakat dan taat kepada perintah Tuhan.
Kondisi ini memang tidak mudah untuk direalisasikan, tetapi umumnya orang
Jawa berharap bisa menemukan hidup yang sempurna lahir batin. Mereka akan
mengusahakan banyak hal untuk mencapai kehidupan bahagia lahir dan batin.
Di zaman yang serba terbuka sekarang ini, sungguh sulit untuk mencapai ke
tingkat hidup seperti yang diharapkan karena banyak godaan. Orang pun lebih cenderung
mencari nama harum dengan cara membeli dengan uang yang dimiliki, bukan dari
tingkah laku dan pribadi yang baik.
H. Motif Parang Rusak Barong
Motif batik parang rusak barong ini berasal dari kata batu karang dan barong
(singa). Parang barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena
kesakralan filosofinya, motif ini hanya boleh digunakan untuk raja, terutama dikenakan
pada saat ritual keagamaan dan meditasi.
Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan
pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya dan kesadaran
sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.
Kata barong berarti sesuatu yang besar dan ini tercermin pada besarnya ukuran
motif tersebut pada kain. Motif parang rusak barong ini merupakan induk dari semua
motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat
mengendalikan diri.
I. Motif Slobog
Slobog bisa juga berarti lobok atau longgar. Kain ini biasa dipakai untuk melayat,
dengan tujuan agar yang meninggal tidak mengalami kesulitan menghadap Yang Maha
Kuasa. Hal ini sangat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip keagamaan bahwa setelah
kematian ada kehidupan lain yang harus dipertanggungjawabkan, yaitu menghadap Tuhan
Yang Maha Esa.
J. Motif Tambal
Ada kepercayaan bahwa bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut,
maka ia akan cepat sembuh. Tambal artinya menambah semangat baru. Dengan semangat
baru itu diharapkan harapan baru akan muncul sehingga kesembuhan mudah didapat.
Selain itu, dengan kehadiran para penjenguk, diharapkan si sakit tidak merasa
ditinggalkan dan memiliki banyak saudara sehingga keinginan untuk sembuh semakin
besar.
K. Motif Ciptoning
Motif ciptoning ini biasanya dipakai oleh orang yang dituakan maupun pemimpin.
Dengan memakai motif ini, pemakainya diharapkan menjadi orang bijak dan mampu
memberi petunjuk jalan yang benar pada orang lain yang dipimpinnya. Makna filosofis di
balik motif ini sebenarnya bukan hanya untuk pemimpin, tetapi juga untuk setiap orang
agar mampu memimpin (menempatkan) dirinya sendiri di tengah masyarakatnya.
L. Motif Pari Kesit
Motif ini mengandung makna bahwa untuk mencari keutamaan, harus dilandasi
dengan usaha keras dan kegesitan. Tentu usaha keras dan kegesitan itu tidak boleh
meninggalkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Usaha keras dan kegesitan
dengan cara kotor harus dihindari karena bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri.
M. Motif Sido Luhur
Motif ini mengandung makna keluhuran. Bagi orang Jawa, hidup memang
bertujuan untuk mencari keluhuran materi dan non materi. Keluhuran materi artinya
segala kebutuhan ragawi bisa tercukupi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan,
pangkat, derajat, maupun profesinya.
Keluhuran materi sebaiknya diperoleh dengan cara yang benar, halal, dan sah
tanpa melakukan kecurangan atau perbuatan yang tercela, seperti korupsi, merampok,
mencuri, dan sebagainya. Sebab walaupun merasa cukup atau bahkan berlebihan secara
materi, jika harta materi itu diperoleh secara tidak benar, keluhuran materi belum bisa
tercapai.
Keluhuran materi akan lebih bermakna lagi bila harta yang dimiliki itu bermanfaat
bagi orang lain dan bisa diberikan dalam berbagai bentuk, seperti sumbangan, donasi,
hibah, dan sebagainya. Artinya, sejak dulu masyarakat Indonesia sudah terbiasa saling
menolong.
Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran
nonmateri. Orang yang bisa dipercaya oleh orang lain atau perkataannya sangat
bermanfaat kepada orang lain tentu akan lebih baik daripada orang yang perkataannya
tidak bisa dipegang dan tidak dipercaya orang lain.
Orang yang bisa dipercaya oleh orang lain adalah suatu bentuk keluhuran
nonmateri. Orang Jawa sangat berharap hidupnya kelak dapat mencapai hidup yang
penuh dengan nilai keluhuran. Semua ini tidak lepas dari falsafah hidup orang Jawa,
bahwa orang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga, kerabat,
masyarakat, bahkan lingkungan, dan kepada Tuhan yang menciptakannya.
N. Motif Sido Drajad
Batik sido drajad dipakai oleh besan ketika upacara pernikahan. Cara pemakaian
batiknya juga memiliki nilai pendidikan tersendiri. Bagi anak-anak, batik dipakai dengan
cara sabuk wolo. Pemakaian jenis ini memungkinkan anak-anak untuk bergerak bebas.
Secara filosofi, pemakaian sabuk wolo diartikan bebas moral, sesuai dengan jiwa anak-
anak yang masih bebas, belum dewasa, dan belum memiliki tanggung jawab moral di
dalam masyarakat.
Ketika beranjak remaja, seseorang tidak lagi mengenakan batik dengan cara sabuk
wolo melainkan dengan jarit. Panjang jarit yang dipakai memiliki arti tersendiri. Semakin
panjang jarit, semakin tinggi derajat seseorang dalam masyarakat, dan semakin pendek
jarit, semakin rendah pula strata sosial orang tersebut dalam masyarakat.
Bagi orang dewasa, pemakaian batik memiliki pakem yang berbeda antara laki-
laki dan perempuan. Pada laki-laki, wiru diletakkan di sebelah kiri. Sedangkan pada
perempuan, wiru diletakkan di sebelah kanan, yang berarti nengeni, seorang putri tidak
boleh melanggar kehendak suami.
O. Motif Sido Mukti
Motif sido mukti mengandung makna kemakmuran. Bagi orang Jawa, hidup yang
didambakan selain keluhuran budi, ucapan, dan tindakan, tentu adalah pencapaian mukti
atau kemakmuran, baik di dunia maupun di akhirat.
Setiap orang pasti mencari kemakmuran dan ketenteraman lahir dan batin.
Kemakmuran dan ketenteraman itu tidak akan tercapai tanpa usaha dan kerja keras,
keluhuran budi, ucapan, dan tindakan.
Setiap orang harus bisa mengendalikan hawa nafsu, mengurangi kesenangan
menggunjing tetangga, berbuat baik tanpa merugikan orang lain, dan sebagainya agar
dirinya merasa makmur lahir batin. Kehidupan untuk mencapai kemakmuran lahir dan
batin itulah yang juga menjadi salah satu dambaan masyarakat.
P. Motif Cuwiri
Batik motif cuwiri biasa digunakan pada saat acara mitoni, sebuah tradisi
memperingati tujuh bulan usia bayi. Cuwiri artinya kecil-kecil. Diharapkan pemakainya
terlihat pantas dan dihormati oleh masyarakat. Sejak kecil, manusia di Jawa sudah
memiliki banyak aturan sesuai dengan falsafah hidupnya dengan tujuan mendapatkan
kemakmuran dan kebaikan.
Q. Motif Kawung
Motif kawung bermakna keinginan dan usaha yang keras akan selalu
membuahkan hasil, seperti rejekinya berlipat ganda. Orang yang bekerja keras pasti akan
menuai hasil, walaupun kadang harus memakan waktu yang lama.
Contohnya, seorang petani yang bekerja giat di sawah, jika tidak ada hama yang
mengganggu, tentu dia akan memanen hasil padi yang berlipat di kemudian hari. Kerja
keras untuk menghasilkan rejeki berlipat akan lebih bermakna jika dibarengi dengan
sikap hemat, teliti, cermat, dan tidak boros. Namun sayang, budaya kerja keras untuk
menuai hasil maksimal tidak dilakukan oleh semua orang. Apalagi di zaman sekarang, di
mana banyak orang ingin serba instan, orang ingin cepat kaya tanpa harus bekerja keras.
Oleh karena itu, ada saja mereka yang melakukan hal-hal tercela untuk mendapatkan
keinginannya.
R. Motif Nitik Karawitan
Kebijaksanaan menjadi inti dari filosofi batik bermotif nitik karawitan. Dengan
demikian, para pemakainya diharapkan akan menjadi orang yang bijaksana. Itulah
mengapa orang-orang yang dituakan di lingkungannya banyak menggunakan batik motif
ini.
S. Motif Burung Huk
Bentuk dasar ragam hias motif burung huk adalah seekor anak burung yang baru
menetas, menggeleparkan kedua sayapnya yang masih lemah, berusaha lepas dari
cangkang telurnya, serta separuh badan dan kedua kakinya masih berada di dalam
cangkang. Motif burung huk juga sering disebut dengan motif burung merok.
Ide dasarnya adalah pandangan hidup tentang kemana jiwa manusia sesudah mati.
Dari gambaran tersebut disimpulkan bahwa kematian hanyalah kerusakan raga,
sedangkan jiwanya tetap hidup menemui Sang Pencipta. Keunikan motif ini adalah ia
selalu nadir bersama dengan motif lainnya, misalnya ceplokan sebagai selingan motif
parang, dalam bentuk yang berbaur dengan motif lainnya.
T. Motif Parang dan Lereng
Batik parang atau lereng menurut pakemnya hanya boleh digunakan oleh sentono
dalem (anak dari ratu). Lereng berasal dari kata mereng (lereng bukit). Sejarah motif ini
diawali dari pelarian keluarga kerajaan dari Keraton Kartasura. Para keluarga raja
terpaksa bersembunyi di daerah pegunungan agar terhindar dari bahaya. Mereka berada di
daerah-daerah yang sulit dijangkau musuh. Motif ini berarti juga topo brata para raja yang
dilakukan di lereng-lereng pegunungan untuk mendapatkan wahyu atau wangsit. Dalam
topo brata itulah mereka dapat melihat pemandangan gunung dan pegunungan yang
berderet-deret sehingga menyerupai pereng atau lereng.
U. Motif Mega Mendung
Pada bentuk mega mendung, bisa kita lihat garis lengkung dari bentuk garis
lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) yang
menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang
beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik
dan turun).
Hal itu kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar atau
menjalani kehidupan sosial agama). Pada akhirnya, membawa dirinya memasuki dunia
baru menuju ke dalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) dan
pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah).
Dengan demikian, kita bisa lihat bentuk mega mendung selalu terbentuk dari
lengkungan kecil yang bergerak membesar keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi
menjadi putaran kecil, tetapi tidak boleh terputus.
Terlepas dari makna filosofis bahwa mega mendung melambangkan kehidupan
manusia secara utuh sehingga bentuknya harus menyatu, sisi produksi memang
mengharuskan bentuk garis lengkung mega mendung bertemu pada satu titik lengkung
berikutnya agar pewarnaan bisa lebih mudah.
V. Motif Semen Rama
Semen berasal dari kata semi, yaitu tumbuhnya bagian tanaman. Pada umumnya,
ornamen pokok pada pola batik motif semen adalah ornamen yang berhubungan dengan
daratan yang digambarkan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang berkaki empat, udara
digambarkan dengan awan (mega) dan binatang terbang, serta air atau laut digambarkan
dengan binatang air. Sedangkan rama yang merupakan nama motif semen berasal dari
nama Ramawijaya. Dalam motif semen rama terdapat pesan atau nasihat Ramawijaya saat
penobatan Wibisana sebagai Raja Alengka dalam cerita pewayangan.
Nasihat tersebut termaktub di dalam osto brata (delapan keutamaan bagi seorang
pemimpin), yaitu:
1. Endabrata, yaitu pemberi kemakmuran dan pelindung dunia. Dilambangkan dengan
pohon hayat.
2. Yamabrata, yaitu menghukum yang bersalah secara adil. Dilambangkan dengan awan
atau meru (gunung).
3. Suryabrata, yaitu watak matahari yang bersifat tabah. Dilambangkan dengan garuda.
4. Sasibrato, yaitu watak rembulan yang bersifat menggembirakan dan memberi hadiah
kepada yang berjasa. Dilambangkan dengan ornamen binatang.
5. Bayubrata, yaitu watak luhur. Dilambangkan dengan ornamen burung.
6. Dhanababrata atau kuwerabrata, yaitu watak sentosa dan memberi
kesejahteraan pada bawahan. Dilambangkan dengan ornamen bintang.
7. Pasabrata, yaitu berhati lapang tetapi berbahaya bagi yang mengabaikan.
Dilambangkan dengan kapal air.
8. Agnibrata, yaitu kesaktian untuk memberantas musuh. Dilambangkan dengan
ornamen lidah api.
W. Motif Semen Ageng
Motif ini tersusun atas beberapa unsur, yaitu pohon hayat yang menggambarkan
pohon kehidupan, kemakmuran, keadilan, dan kekuasaan, serta simbol kesuburan, burung
yang merupakan simbol angin yang bermakna berbudi luhur, serta garuda
menggambarkan matahari yang bersifat jantan bermakna kekuasaan dan kepemimpinan.
Motif ini memiliki makna seorang pemimpin yang bersifat baik dan berbudi luhur,
adil, dan tabah dalam menghadapi segala rintangan, mengayomi, dan melindungi
rakyatnya serta lingkungan alam sekitar. Motif ini biasanya digunakan oleh keturunan
raja sebagai dodot dan bebet keprajuritan pada saat menghadiri upacara kebesaran
keraton.
X. Motif Abstrak
Ini adalah motif yang paling bebas. Motif ini menggabungkan berbagai unsur dan
warna. Penciptanya mengarahkan arti ini pada kehidupan yang lain: hidup setelah mati,
sehingga penggambarannya abstrak. Walaupun ada beberapa motif tradisional yang
menggambarkan kehidupan setelah mati, misalnya motif burung huk, tetapi motif ini
sering dianggap tidak memiliki jiwa muda.
Oleh karena itu, banyak pencipta desain batik yang menggunakan motif abstrak
yang lebih bebas dan ekspresif dalam menggambarkan kehidupan setelah mati. Motif ini
biasanya digunakan pada lukisan dengan penggambaran yang bebas dan tidak
menggunakan pakem batik seperti pada umumnya.
Demikianlah makna-makna di balik motif-motif batik yang banyak beredar di
masyarakat sekarang ini. Sebenarnya masih banyak lagi makna-makna filosofis di balik
motif-motif batik lainnya, terlebih di masa kini dengan adanya banyak modifikasi dan
penambahan kreasi di setiap model corak dan motif batik. Namun pada dasarnya motif-
motif tersebut memiliki makna-makna filosofis yang ingin disampaikan oleh penciptanya.
Motif batik di Indonesia akan terus mengalami perkembangan sesuai dengan
perkembangan dan kemajuan industri. Ini merupakan hal yang sangat baik karena akan
mendorong masyarakat luas untuk lebih mencintai batik dan mendukung setiap kegiatan
untuk melestarikan batik.
PROSES PEMBUATAN BATIK
Dari dulu hingga sekarang, proses pembuatan batik tidak banyak mengalami
perubahan. Kegiatan membatik merupakan salah satu kegiatan tradisional yang terus
dipertahankan agar tetap konsisten seperti bagaimana asalnya. Walaupun motif dan corak
batik di masa kini sudah beraneka ragam, proses pembuatan batik pada dasarnya masih sama.
Berikut ini adalah uraian lebih detailnya:
A. Perlengkapan Membatik
Perlengkapan membatik tidak banyak mengalami perubahan. Dilihat dari
peralatan dan cara mengerjakannya, membatik dapat digolongkan sebagai suatu kerja
yang bersifat tradisional.
1) Gawangan
Gawangan adalah perkakas untuk menyangkutkan dan membentangkan mori
sewaktu dibatik. Gawangan terbuat dari kayu atau bambu. Gawangan harus dibuat
sedemikian rupa hingga kuat, ringan, dan mudah dipindah-pindah.
2) Bandul
Bandul dibuat dari timah, kayu, atau batu yang dimasukkan ke dalam kantong.
Fungsi pokok bandul adalah untuk menahan agar mori yang baru dibatik tidak mudah
tergeser saat tertiup angin atau tertarik oleh si pembatik secara tidak sengaja.
3) Wajan
Wajan adalah perkakas untuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam
baja atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan
diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain.
4) Kompor
Kompor adalah alat untuk membuat api. Kompor yang biasa digunakan adalah
kompor berbahan bakar minyak. Namun terkadang kompor ini bisa diganti dengan
kompor gas kecil, anglo yang menggunakan arang, dan lain-lain. Kompor ini
berfungsi sebagai perapian dan pemanas bahan-bahan yang digunakan untuk
membatik.
5) Taplak
Taplak adalah kain untuk menutup paha si pembatik agar tidak terkena tetesan
malam panas sewaktu canting ditiup atau waktu membatik.
6) Saringan Malam
Saringan adalah alat untuk menyaring malam panas yang memiliki banyak
kotoran. Jika malam tidak disaring, kotoran dapat mengganggu aliran malam pada
ujung canting. Sedangkan bila malam disaring, kotoran dapat dibuang sehingga tidak
mengganggu jalannya malam pada ujung canting sewaktu digunakan untuk membatik.
Ada bermacam-macam bentuk saringan, semakin halus semakin baik karena
kotoran akan semakin banyak tertinggal. Dengan demikian, malam panas akan
semakin bersih dari kotoran saat digunakan untuk membatik.
7) Canting
Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan,
terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya. Canting ini dipakai untuk
menuliskan pola batik dengan cairan malam. Saat ini, canting perlahan menggunakan
bahan teflon.
8) Mori
Mori adalah bahan baku batik yang terbuat dari katun. Kualitas mori
bermacam-macam dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang
dihasilkan. Mori yang dibutuhkan disesuaikan dengan panjang pendeknya kain yang
diinginkan.
Tidak ada ukuran pasti dari panjang kain mori karena biasanya kain tersebut d-
ukur secara tradisional. Ukuran tradisional tersebut dinamakan kacu. Kacu adalah
sapu tangan, biasanya berbentuk bujur sangkar.
Jadi, yang disebut sekacu adalah ukuran persegi mori, diambil dari ukuran
lebar mori tersebut. Oleh karena itu, panjang sekacu dari suatu jenis mori akan
berbeda dengan panjang sekacu dari mori jenis lain.
Namun di masa kini, ukuran tersebut jarang digunakan. Orang lebih mudah
menggunakan ukuran meter persegi untuk menentukan panjang dan lebar kain mori.
Ukuran ini sudah berlaku secara nasional dan akhirnya memudahkan konsumen saat
membeli kain batik. Cara ini dapat mengurangi kesalahpahaman dan digunakan untuk
menyamakan persepsi di dalam sistem perdagangan.
9) Malam (Lilin)
Malam (lilin) adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya
malam tidak habis (hilang) karena pada akhirnya malam akan diambil kembali pada
proses mbabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain.
Malam yang dipergunakan untuk membatik berbeda dengan malam (lilin)
biasa. Malam untuk membatik bersifat cepat diserap kain, tetapi dapat dengan mudah
lepas ketika proses pelorodan.
10) Dhingklik (Tempat Duduk)
Dhingklik (tempat duduk) adalah tempat untuk duduk pembatik. Biasanya
terbuat dari bambu, kayu, plastik, atau besi. Saat ini, tempat duduk dapat dengan
mudah dibeli di toko-toko.
11) Pewarna Alami
Pewarna alami adalah pewarna yang digunakan untuk membatik. Pada
beberapa tempat pembatikan, pewarna alami ini masih dipertahankan, terutama kalau
mereka ingin mendapatkan warna-warna yang khas, yang tidak dapat diperoleh dari
warna-warna buatan. Segala sesuatu yang alami memang istimewa, dan teknologi
yang canggih pun tidak bisa menyamai sesuatu yang alami.
Itulah jenis perlengkapan membatik yang harus ada. Proses membatik
memerlukan waktu yang cukup lama, terlebih kalau kain yang dibatik sangat luas dan
coraknya cukup rumit.
B. Proses Membatik
Di masa kini, pengusaha batik juga menyediakan pendidikan batik kilat pada
anak-anak sekolah dan masyarakat umum. Yang diajarkan adalah tata cara membatik
dengan benar, dan biasanya menggunakan kain selebar saputangan sebagai percobaan.
Dengan demikian, proses membatik itu dapat dikerjakan hanya dalam beberapa jam dan
biaya yang diperlukan pun sangat kecil. Tradisi ini sangat bagus untuk memperkenalkan
proses membatik kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Berikut ini adalah proses membatik yang berurutan dari awal hingga akhir.
Penamaan atau penyebutan cara kerja di tiap daerah pembatikan bisa berbeda-beda, tetapi
inti yang dikerjakannya adalah sama.
1) Ngemplong
Ngemplong merupakan tahap paling awal atau pendahuluan, diawali dengan
mencuci kain mori. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kanji. Kemudian
dilanjutkan dengan pengeloyoran, yaitu memasukkan kain mori ke minyak jarak atau
minyak kacang yang sudah ada di dalam abu merang. Kain mori dimasukkan ke
dalam minyak jarak agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna
lebih tinggi.
Setelah melalui proses di atas, kain diberi kanji dan dijemur. Selanjutnya,
dilakukan proses pengemplongan, yaitu kain mori dipalu untuk menghaluskan lapisan
kain agar mudah dibatik.
2) Nyorek atau Memola
Nyorek atau memola adalah proses menjiplak atau membuat pola di atas kain
mori dengan cara meniru pola motif yang sudah ada, atau biasa disebut dengan
ngeblat. Pola biasanya dibuat di atas kertas roti terlebih dahulu, baru dijiplak sesuai
pola di atas kain mori. Tahapan ini dapat dilakukan secara langsung di atas kain atau
menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Namun agar proses
pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses
batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini disebut ganggang.
3) Mbathik
Mbathik merupakan tahap berikutnya, dengan cara menorehkan malam batik
ke kain mori, dimulai dari nglowong (menggambar garis-garis di luar pola) dan isen-
isen (mengisi pola dengan berbagai macam bentuk). Di dalam proses isen-isen
terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat dengan
cara memberi titik-titik (nitik). Ada pula istilah nruntum, yang hampir sama dengan
isen-isen, tetapi lebih rumit.
4) Nembok
Nembok adalah proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena
warna dasar, dalam hal ini warna biru, dengan menggunakan malam. Bagian tersebut
ditutup dengan lapisan malam yang tebal seolah-olah merupakan tembok penahan.
5) Medel
Medel adalah proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna
secara berulang-ulang sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.
6) Ngerok dan Mbirah
Pada proses ini, malam pade kain dikerok secara hati-hati dengan
menggunakan lempengan logam, kemudian kain dibilas dengan air bersih. Setelah itu,
kain diangin-anginkan.
7) Mbironi
Mbimni adalah menutupi warna biru dan isen-isen pola yang berupa cecek
atau titik dengan menggunakan malam. Selain itu, ada juga proses ngrining, yaitu
proses mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu. Biasanya, ngrining
dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.
8) Menyoga
Menyoga berasal dad kata soga, yaitu sejenis kayu yang digunakan untuk
mendapatkan warna cokelat, Adapun caranya adalah dengan mencelupkan kain ke
dalam campuran warna cokelat tersebut.
9) Nglorod
Nglorod merupakan tahapan akhir dalam proses pembuatan sehelai kain batik
tulis maupun batik cap yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap
ini, pembatik melepaskan seluruh malam (lilin) dengan cara memasukkan kain yang
sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih. Setelah diangkat, kain dibilas
dengan air bersih dan kemudian diangin-anginkan hingga kering.
Proses membuat batik memang cukup lama. Proses awat hingga proses akhir
bisa melibatkan beberapa orang, dan penyelesaian suatu tahapan proses juga
memakan waktu. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kain batik tulis berharga cukup
tinggi.
INDUSTRI BATIK DI INDONESIA
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil
yang tersebar di sepanjang garis khatulistiwa. Penduduknya terdiri dari ratusan suku bangsa
dengan beragam adat istiadat. Masing-masing suku bangsa memiliki jenis busana yang
berbeda dengan ragam hias dan pola yang berbeda-beda pula.
Ragam hias yang bermacam-macam itu turut memperkaya motif kain batik yang
sudah lama ada di Indonesia. Industri batik di Indonesia secara tidak langsung telah muncul
sejak adanya tradisi membatik di Nusantara. Dengan perjalanannya yang panjang, industri
batik Indonesia tetap eksis hingga sekarang. Bahkan dengan adanya pengukuhan dari PBB
bahwa batik adalah warisan budaya dunia asli dari Indonesia, muncul semangat baru untuk
melestarikan dan mengembangkan batik.
Ir. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama pernah memprakarsai
penciptaan batik yang menampilkan desain motif khas Indonesia. Desain batik tersebut
dicontoh dari desain Solo dan Yogya dengan pewarnaan model Pekalongan sehingga menjadi
batik yang modern dan biasa disebut batik kemodelan. Batik ini sangat populer pada tahun
1950-an dan menyebabkan industri batik secara umum bangkit kembali.
Tahun 1970-an, batik Indonesia diunggulkan sebagai busana resmi di Indonesia oleh
Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Para pegawai lelaki di kantor Pemerintah Daerah DKI
Jakarta diwajibkan mengenakan kemeja batik berlengan panjang saat menghadiri acara-acara
resmi. Busana batik ini digunakan untuk menggantikan busana sipil lengkap yang biasa
dikenakan pada acara-acara resmi. Sedangkan untuk busana sehari-hari, dikenakan kemeja
batik berlengan pendek.
Busana batik kini telah berubah menjadi busana nasional Indonesia sebagai pengganti
jas pada acara-acara tertentu. Prakarsa ini dilandasi pemikiran-pemikiran sebagai berikut:
1. Suasana kemerdekaan yang menggugah semangat persatuan di seluruh bidang kehidupan
masyarakat.
2. Batik dapat menampilkan nilai seni budaya sebagai jati diri bangsa sekaligus
menyuarakan pesan persatuan Indonesia, dengan tujuan agar batik tidak hanya dikenal
sebagai batik dari daerah di Indonesia, tetapi juga mencerminkan persatuan Indonesia.
3. Mendorong semangat para seniman batik daerah untuk berkarya sekaligus
menumbuhkembangkan rasa memiliki warisan budaya leluhur pada seluruh bangsa
Indonesia.
4. Sebagai bahan sandang tradisional yang memiliki kekhasan tersendiri, batik
memungkinkan dijadikan busana nasional Indonesia.
Untuk mencapai tujuan dari pemikiran-pemikiran tersebut, maka diambillah langkah-
langkah sebagai berikut:
1. Mempertemukan pola tradisional batik keraton dengan proses batik pesisiran, serta
membebaskan adanya modifikasi dan pengembangan demi kebaikan dan estetika.
2. Mengubah pola-pola dari ragam hias tenun yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia,
yaitu Bali, Dayak, Papua, dan lain-lain.
3. Perkembangan selanjutnya, para desainer Indonesia telah mengembangkan batik dengan
memasukkan ragam hias yang berasal dari berbagai suku di Indonesia.
4. Dengan bertumpu pada pola batik keraton yang kaya makna dan ragam hias kedaerahan,
pewarnaan dilakukan dengan berbagai cara pada berbagai unsur pola batik. Pewarnaan
pada latar dilakukan dengan cara celupan, sedangkan pada bagian pola dalam beberapa
warna dilakukan secara coletan atau gabungan dari kedua cara pewarnaan tersebut.
Sejak itulah, semakin banyak seniman Indonesia melahirkan batik Indonesia dengan
ciri khasnya masing-masing. Beberapa nama yang sangat eksis sebagai seniman batik
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Bintang Soedibjo (Ibu Soed); dengan menghasilkan batik terang bulan, yaitu batik yang
bagian tengahnya hanya berupa bidang berwarna atau secara acak diisi dengan ragam hias
kecil yang merupakan bagian dari pola pinggirannya, sedang tepi kain dihias dengan pola
tradisional atau rangkaian bunga.
2. KPT Hardjonagoro, seorang budayawan dan pengusaha batik; dengan mendasarkan usaha
batiknya pada pola batik keraton dengan kehalusan batikan.
3. R.Ay. Kanjeng Harjowiratmo; menghasilkan batik wonogiren yang memadukan berbagai
ragam hias bebas dan natural dalam nuansa warna soga batik keraton dan memiliki latar
pecahan warna soga yang khas.
4. M.D. Hadi, pengusaha batik yang mengembangkan berbagai motif dan corak batik
dengan pembaharuan di berbagai bidang untuk modernisasi batik.
Batik Indonesia hadir dalam berbagai bentuk sandang, antara lain kain panjang dan
sarung. Setelan kain atau sarung dengan selendangnya sering digunakan dengan kebaya
sebagai busana nasional perempuan Indonesia.
Sekarang ini berkembang jenis batik yang menampilkan pola dan ragam hias daerah,
seperti pola dan ragam hias bunga-bunga khas Bali, ragam hias Asmat, dan ragam hias ukiran
Tana Toraja. Perkembangan pemakaian batik yang tidak hanya digunakan sebagai bahan
busana memungkinkan penerapan ragam-ragam hias kedaerahan sebagai penyusun pola
batik.
Batik Indonesia semula sebagian besar diproduksi di Yogya dan Solo, namun kini
dapat ditemukan dengan mudah di Pekalongan, Bali, Papua, Kalimantan, dan Sulawesi,
khususnya Toraja. Oleh para desainer Indonesia, batik dikembangkan secara luas menjadi
busana modern. Produk busana sehari-hari atau pun produk adi busana, yang dibuat untuk
kepentingan khusus atau terbatas (limitededition), dibuat dengan pola-pola batik, baik yang
berasal dari keraton maupun jenis batik lainnya, serta ragam hias daerah sesuai dengan
kepentingan.
Para desainer busana yang menggunakan dan mengembangkan batik untuk berkarya,
diantaranya sebagai berikut:
1. Iwan Tirta dari Jakarta.
2. Ardiyanto Pranata dari Yogyakarta.
3. Danar Hadi dari Solo, Jawa Tengah.
4. Samuel Wattimena dari Jakarta.
5. Asmoro Damais dari Yogyakarta.
6. Chossy Latu dari Jakarta.
7. Edward Hutabarat dari Jakarta.
Masih banyak lagi desainer busana di Indonesia yang menggunakan batik sebagai
salah satu bahan ekspresi, namun kebanyakan dari mereka tidak beriklan sehingga kurang
dikenal. Akibatnya, generasi muda Indonesia lebih mudah mengingat para desainer luar
negeri daripada desainer dalam negeri. Padahal, di kancah internasional, desainer Indonesia
tidak kalah pamor dengan desainer-desainer dari luar.
Industri batik di Indonesia sangat pesat dan tidak hanya terbatas pada produk sandang.
Kini batik telah digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai sandang: bahan busana tradisional, kain panjang, sarung, kerudung, selendang,
ikat kepala, busana utama, dan kemben.
2. Sebagai busana modern: rok, bahan untuk kain, gaun, scarf, dasi, saputangan, T-shirt,
dompet, kostum boneka, tas, dan sandal.
3. Sebagai barang kebutuhan rumah tangga: serbet, alas piring, alas gelas, taplak meja,
penutup berbagai barang rumah tangga (dispenser, tempat nasi, dan lain-lain), serta seprai
dan sarung bantal.
4. Sebagai pelengkap interior: gorden, penutup jok, bedcover, dan tutup lampu.
5. Sebagai elemen estetis: lukisan, hiasan dinding, map, dan lain-lain.
6. Sebagai seni kriya: patchwork, kartu bergambar, dan lain-lain.
Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, industri batik di Indonesia juga
diekspor untuk memenuhi kebutuhan luar negeri. Batik telah menjadi busana dunia yang
sangat populer. Kelebihan batik Indonesia dibandingkan dengan batik-batik dari negara lain
adalah keragaman motif dan desain penggarapannya yang cenderung halus, mengingat
Indonesia adalah negeri batik yang sudah ratusan tahun mengenal dan mengembangkan batik.
Salah satu faktor yang mempersulit perkembangan industri batik untuk ekspor adalah
rumitnya aturan birokrasi ekspor sehingga hanya sedikit pengusaha batik yang mengekspor
produknya. Usaha-usaha perbaikan untuk mempermudah ekspor tersebut terus dilakukan dari
tahun ke tahun sehingga memudahkan pengusaha batik untuk melakukan ekspansi. Industri
batik di Indonesia termasuk salah satu industri besar yang menampung banyak tenaga kerja.
Di dalam negeri, industri batik dapat ditemukan di berbagai daerah, baik di Jawa
maupun luar Jawa, baik dalam skala industri rumah tangga, skala industri kecil, menengah,
maupun besar. Perdagangan dan jual beli batik pun dapat ditemukan di setiap tempat, dari
pasar-pasar tradisional, grosir-grosir, toko-toko kecil, supermarket, sekolah mode, toko-toko
online, hingga butik-butik elit yang khusus menjual batik-batik tertentu.
Industri batik di Indonesia telah menjadi bagian erat dari kehidupan masyarakat
Indonesia. Batik di Indonesia telah menjadi barang yang sangat mudah didapatkan dengan
harga terjangkau. Tidak ada orang yang tidak bisa mendapatkan batik.
Sementara untuk ekspor batik ke luar negeri, tidak setiap perusahaan batik dapat
melakukannya. Hanya perusahaan-perusahaan yang telah memenuhi standar dan aturan untuk
melakukan eksporlah yang dapat melakukannya. Ini karena batik sebagai komoditas ekspor
tidak dilakukan secara massal, tetapi dibawa secara perorangan (atau perusahaan) melalui
pameran-pameran tekstil dan busana di forum internasional.
Apabila mereka memiliki kekurangan stok atas produk untuk ekspor, biasanya
perusahaan-perusahaan seperti ini akan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain
yang menjadi mitra binaannya. Dengan demikian, kebutuhan ekspor akan dapat dipenuhi.
Tentunya hal ini sangat membantu penyebarluasan batik sebagai komoditas ekspor
mengingat batik di luar negeri juga tidak hanya digunakan sebagai bahan pakaian, tetapi
cenderung sebagai bahan seni bernilai tinggi. Inilah yang menjadi tantangan besar bagi
industri batik di Indonesia. Para pengusaha dan perusahaan batik harus dapat melakukan
terobosan-terobosan agar batik Indonesia dapat dijadikan komoditas ekspor yang dikirim
secara massal.
Beberapa negara yang bukan negeri batik, seperti Malaysia, Thailand, Singapura,
Vietnam, Cina, bahkan Afrika Selatan, dan Polandia sudah dapat melakukan hal ini. Mereka
mengekspor batik buatan mereka ke mancanegara. Padahal, batik-batik tersebut banyak
dibuat di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kearifan dan kerja sama dari berbagai pihak,
baik pengusaha, pedagang, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi
pengekspor batik terbesar di dunia. Namun jika potensi ini tidak dikelola dengan baik dan
dibiarkan begitu saja, jangan heran kalau kemudian negara-negara lain yang bukan negeri
asal batik pun bisa menjadi negara pengekspor batik skala besar.
Tantangan besar lainnya dalam industri batik Indonesia adalah sumber daya manusia
(SDM). Generasi pembatik di Indonesia pada umumnya sudah berumur lanjut dan biasanya
tidak ada upaya regenerasi secara besar-besaran untuk mentradisikan proses membatik.
Akhirnya, banyak generasi pembatik yang tidak mewariskan apa-apa, selain karya-
karya batik yang sudah diperjualbelikan dan mungkin sudah rusak karena pemakaian.
Berkaitan dengan hal ini, sangat diperlukan upaya khusus untuk menggugah minat generasi
muda Indonesia agar ikut terjun ke usaha dan industri batik.
Di masa sekarang, sudah banyak upaya regenerasi yang dilakukan oleh pemerintah,
pihak swasta, maupun masyarakat pembatik secara umum. Banyak sekolah dan kursus
informal pembatikan yang dibuka khusus untuk anak-anak, remaja, dewasa, hingga
masyarakat umum. Waktu dan biaya yang diperlukan pun relatif singkat dan terjangkau.
Dengan demikian, makin banyak orang mengenal dan mengerti proses pembatikan. Dari sini
diharapkan makin banyak generasi muda yang bersedia menekuni usaha pembatikan dan
mengembangkannya demi kelestarian batik Indonesia.
Dari segi teknologi, industri batik di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan
industri pembatikan di negara-negara lain. Industri batik di Indonesia pada umumnya belum
melakukan perbaikan sistem dan teknik produksi agar lebih produktif dan mutunya bisa sama
untuk setiap lembar batik yang diproduksi. Penggunaan zat warna alam pada umumnya masih
belum dapat memberikan hasil yang stabil antara satu dengan lainnya. Jadi, terjadi perbedaan
kualitas dalam setiap produksi batiknya. Ini tentu sangat mengganggu bila ditujukan untuk
produksi massal.
Selain itu, ketersediaan bahan baku sutra-bahan baku batik yang sangat diminati di
luar negeri-juga masih sangat terbatas. Sebagian besar serat sutra masih harus diimpor.
Diperlukan upaya khusus untuk mengembangkan dan memperluas industri ternak ulat sutra
sehingga dapat menumbuhkan industri tekstil sutra. Industri batik memang tidak dapat
dipisahkan dengan industri-industri lainnya, seperti tekstil, zat-zat pewarna, dan lain-lain.
Dari segi pemasaran, industri batik Indonesia juga masih sangat bias, belum ada fokus
pemasaran untuk mengangkat batik Indonesia sebagai high international fashion. Dengan
demikian, batik Indonesia masih sering dianggap sebagai fashion tradisional yang dikenal di
lingkungan terbatas. Padahal, sebenarnya batik Indonesia telah mendunia. Telah banyak
desainer busana dari Indonesia yang menyelenggarakan pameran batik maupun fashion show
batik di luar negeri.
Permasalahan hak kekayaan intelektual motif batik juga menjadi tantangan yang tidak
ringan bagi industri batik Indonesia. Sudan begitu banyak motif batik Indonesia yang ditiru
dan dijiplak mentah-mentah oleh industri batik negara lain karena tidak adanya hak paten.
Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah berusaha
mendokumentasikan motif-motif batik Indonesia. Ada sekitar 3.000 motif batik telah
didokumentasikan. Jumlah motif ini akan terus bertambah dan berkembang karena adanya
berbagai modifikasi dan pengembangan yang dilakukan oleh para desainer maupun pelaku
kreatif lainnya di industri batik Indonesia.
Saat ini, terdapat kurang lebih 50 perusahaan batik yang terdata, dengan 300 unit
usaha dan menyerap sekitar satu juta tenaga kerja di berbagai pelosok Nusantara, terutama
dari kalangan perempuan. Jumlah ini tidak termasuk jaringan distribusi dan berbagai pihak
yang terlibat dalam pengembangan dan industri kreatif batik, seperti desainer busana,
pencipta motif, pencipta modifikasi bahan dan perlengkapan dari batik, dan lain-lain.
Berikut ini adalah beberapa perusahaan batik raksasa yang ada di Indonesia, yang
tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga telah melakukan ekspor batik ke
mancanegara; baik secara mandiri maupun bersama-sama dengan kelompok pengusaha
lainnya mengadakan pameran batik di ajang pameran tekstil internasional.
Penulisan nama perusahaan batik disini tidak membedakan segmentasi pasar; apakah
tujuan pasar mereka kelompok menengah ke bawah atau menengah ke atas. Hal ini
disebabkan ada perusahaan yang pada awalnya melakukan segmentasi pasar untuk tujuan
menengah ke atas, tetapi pada perkembangannya kemudian juga membidik pasar menengah
ke bawah atau memproduksi keluaran-keluaran tertentu secara massal untuk memenuhi
permintaan khalayak luas.
Beberapa Daftar Nama dan Alamat Perusahaan Batik di Indonesia:
1. ADMTex
Jl. Pekajangan XX No. 10, Kedungwuni, Pekalongan 51172, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0285-785178, 785198. Faks: 0285-785178.
2. Batik Allure
Jl. Kemang Raya No. 27 A, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-7181355. Faks: 021-7195725.
Gerai batik Allure tersebar di pusat-pusat perbelanjaan elite di kota-kota besar Indonesia
dan beberapa kota pusat mode di luar negeri.
3. Batik Cirebon
Jl. Kelapa Dua No. 20 RT 03/06, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11550, DKI Jakarta,
Indonesia.
Telp: 021-5301995. Faks: 021-5301995.
4. Batik Danar Hadi
Jl. RE Martadinata No. 60, Bandung 40115, Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 022-4261668, 4261665. Faks: 022-4230782.
Gerai batik Danar Hadi tersebar di kota-kota besar di Indonesia.
5. Batik El Rahma
Jl. Urip Sumoharjo No. 197, Pekalongan 51111, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0285-7997817.
6. Batik Ike
Jl. Trusmi Kulon No 129, Weru, Cirebon 45154, Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 0231-320307.
7. Batik Kencana Murni
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 37, Solo 57142, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-714045, 723230. Faks: 0271-742935.
8. Batik Kencana Ungu
Jl. Karet Kuningan No. 8, Jakarta Selatan 12940, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-3847756. Faks: 021-3915076.
9. Batik Margaria
Jl. Ahmad Yani No. 69, Yogyakarta 55122, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-512669. Faks: 0274-516026.
10. Batik Merak Manis
Jl. Sidoluhur No. 19 Laweyan, Surakarta 57148, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-719641.
11. Batik Nusa Indah
Perkampungan Industri Kecil Blok C No. 6, Penggilingan, Jakarta Timur 13940, DKI
Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-46822816. Faks: 021-46822816.
12. Batik Plentong
Jl. Tirtodipiran No. 48, Yogyakarta 55143, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-373777, 371912. Faks: 0274-371912.
13. Batik Riana Kusuma
Jl. Bintaro Utama Blok EB 1 -71 Sektor V, Jakarta Selatan 12330, Indonesia.
Telp: 021-7374356. Faks: 021-7342543.
14. Batik Sahabat
Tanah Abang Shopping Centre Blok D Los A G-1 No. 6, Jl. KH. Fachruddin No. 36,
Tanah Abang, Jakarta Pusat 10250, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-31937940, 3148265. Faks: 021-8298111.
15. Batik Sekar Wangi
Jl. Kadipaten No. 2, Yogyakarta 55132, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-374728. Faks: 0274-377818.
16. Batik Sinar Gunung Jati
Jl. Syekh Datul Kahfi No. 73, Plered, Cirebon 45154, Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 0231-321163. Faks: 0231-325578.
17. Batik Sri Timur
Jl. Parangtritis No. 71,Yogyakarta, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-385539, 376327, 374680. Faks: 0274-376327.
18. Batik Srihadi
Griya Bintara Indah Blok BB-2 No. 4, Jl. Bintara Raya, Bekasi Barat, Bekasi 17134, Jawa
Barat, Indonesia.
Telp: 021-8852367, 8852368. Faks: 021-8852368.
19. Batik Zainal
Jl. Raya Grogol Gang Seruni RT. 02/03, Solo 57552, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-622880, 621979, 621240. Faks: 0271-621089.
20. CV Batik Surya Kencana
Jl. Ngadinegaran MJ 3 No. 133, Yogyakarta 55143, Dl Yogyakarta, Indonesia.\
Telp: 0274-376798. Faks: 0274-377526.
21. CV Gino Valentine
Jl. Nangka Gg. Kenari V No. 17 Denpasar Timur, Denpasar 80231, Bali, Indonesia.
Telp: 0361-245233. Faks: 0361-244516.
22. CV Indah Rara Djonggrang
Jl. Tirtodipuran No. 18, Yogyakarta 55143, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-375209, 378653. Faks: 0274-378653.
23. CV Nadira
Jl. Kuta Resik No. 16, Indiahiang, Tasikmalaya 46132, Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 0265-331335. Faks: 0265-338225.
24. Jawa Dwipa
Jl. Danau Semayang No. 135, Pejompongan, Jakarta Pusat 10210, Indonesia.
Telp: 021-5736732, 5704203. Faks: 021-5736732.
25. Luwes Putra Batik
Jl. Mongkuyodan No. 45, Yogyakarta, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-378655, 376144. Faks: 0274-369023, 381231.
26. Mustika Dewie Trading Co.
Jl. Nyai Ahmad Dahlan NG IV No. 58, Yogyakarta 55261, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-373352. Faks: 0274-381380.
27. Nalendra Batik Galery
Jl. Mangunsarkoro No. 54, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0291-592781.
28. PT. Adi Luhur Batik
Jl. Anggrek IV No. 24, Jakarta Selatan 12940, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-5223047-8. Faks: 021-5223049.
29. PT. Alfa Manunggal Texindo
Jl. Kaliwingko RT 01 /01, Grogol, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-620877. Faks: 0271-620877.
30. PT. Batik Hajadi
Jl. Palmerah Utara No. 46, Slipi, Jakarta Barat 11480, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-5480656, 5480584. Faks: 021-5480816.
31. PT. Batik Kencana Ungu
Alfa Building No. 10, Proyek Tanah Abang, Jakarta Pusat 10160, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021 -31936078, 3847756. Faks: 021 -3915076.
32. PT. Batik Keris Utama
Kelurahan Cemani (Selatan Laweyan), Grogol, Solo 57100, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-715399, 714555, 714400. Faks: 0271-717182, 714551.
Galeri Batik Keris tersebar di seluruh kota besar di Indonesia dan beberapa negara Asia.
33. PT. Batik Semar
Jl. Adi Sucipto No. 101, Solo 57132, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-722937. Faks: 0271-721590.
Galeri Batik Semar tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.
34. PT. Binkomara Huma (Bin House)
Jl. Purworejo (Teluk Betung) No. 10, Jakarta Pusat 10310, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-31934948, 31935941. Faks: 021-3152493.
35. PT. Citra Mulia Arta Kencana
Agung Sedayu Complex Blok F No. 22, Jl. Mangga Dua Raya, Harco Mangga Dua,
Jakarta Pusat 10730, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021 -6121174, 6128603. Faks: 021 -6128653.
36. PT. Damiru Cipta Kreasi
Jl. Bendi Besar No. 30, Tanah Kusir, Jakarta Selatan 12240, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-7290686, 7394875. Faks: 021-7239655.
37. PT. Dwira Kencana Citra Mandiri
Grand ITC Permata Hijau Complex, Jl. Letjen Soepeno No. 15-16 PG, Jakarta Selatan
12210, Indonesia.
Telp: 021-53663981-3. Faks: 021-53663980.
38. PT. Fuji Semitexijaya
Jl. Karet Kuningan No. 4, Jakarta Selatan 12930, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-5255925, 5256184, 5254355. Faks: 021-5207597, 5225052.
39. PT. Graha Toms Silver
Jl. Ngeksigondo No. 60, Kotagede, Yogyakarta 55172, DI Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-377800, 372818. Faks: 0274-373070.
40. PT. Hanung Craft
Jl. Aria Putra No. 40 RT 02/02, Ciputat, Jakarta Selatan 12410, Indonesia.
Telp: 021-70806044, 7490963. Faks: 021-7490963.
41. PT. Praja Cipta Karya
Jl. Hang Lekir VI No. 5, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12120, Indonesia.
Telp: 021-7243680, 7398668. Faks: 021-7398668.
42. PT. Sakura Sarana Putra
Jl. Kyai Maja No. 51, Solo 57117, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0271-645621. Faks: 0271-654551.
43. PT. Santha Buana Bali
Jl. Imam Bonjol No. 339 C Denpasar Barat, Denpasar 80119, Bali, Indonesia.
Telp: 0361 -484653. Faks: 0361 -484165,483534.
44. PT. Tirtasuryatex Anggun
Jl. Karet Sawah I No. 30, Jakarta Selatan 12930, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-5225001, 5250611. Faks: 021-5225002.
45. PT Wieda Sejahtera
Jl. Batu Alam Jaya No. 43, Condet, Jakarta Timur 13520, DKI Jakarta, Indonesia.
Telp: 021-8090410, 8404866. Faks: 021-8090410.
46. Qonita Batik
Jl. Gajah Mada No. 49 Kramatsari, Pekalongan Barat, Pekalongan 51118, Jawa Tengah,
Indonesia.
Telp: 0285-423939, 422915. Faks: 0285-423939.
47. Ratna Dewi Tunggal Abadi
Jababeka Industrial Estate Blok W No. 10, Jl. Jababeka XII, Cikarang, Bekasi 17550,
Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 021-8934220. Faks: 021-8934541.
48. Ravena Batik Garmenindo
Jl. Pati Unus No. 46, Pekalongan 51123, Jawa Tengah, Indonesia.
Telp: 0285-428049. Faks: 0285-428048.
49. Rizki Ayu Batik
Jl. Langenarjan Lor No. 24, Keraton, Yogyakarta 55281, Dl Yogyakarta, Indonesia.
Telp: 0274-371685. Faks: 0274-371685.
50. Win-Win Batik Cirebon
Jl. Trusmi, Plered, Cirebon 45100, Jawa Barat, Indonesia.
Telp: 0231-3390483.
Demikian beberapa perusahaan batik yang ada di Indonesia. Selain daftar yang ada di
atas, masih sangat banyak usaha atau industri batik di Indonesia yang berskala kecil,
menengah, maupun industri rumah tangga. Bahkan ada pula yang melakukan usaha tanpa
nama, tetapi tetap membuat batik, memperjual-belikan, dan melakukan proses-proses yang
lain.
Jenis usaha rumah tangga seperti ini sangat banyak dan mungkin tak terhitung
jumlahnya. Sebagian besar dapat terus hidup karena keberadaan koperasi atau industri-
industri besar yang melindunginya sebagai bapak asuh. Namun, tidak sedikit pula yang
terpaksa mati karena kekurangan modal, tidak bisa memasarkan, berganti profesi, dan lain-
lain.
Kendala industri batik yang dirasa cukup memberatkan kalangan pembatik, terutama
mereka yang berprofesi sebagai buruh batik adalah upah membatik yang masih sangat
rendah. Merupakan kenyataan yang dapat dengan mudah ditemukan ditengah masyarakat di
lingkungan pembatik bahwa mereka membatik (memburuhkan tenaga kerjanya kepada
pengusaha), namun juga harus melakukan pekerjaan lainnya (seperti berdagang makanan,
menjadi buruh upahan kasar, dan lain-lain) karena upah dari membatik tidak mencukupi.
Para buruh batik tersebut terpaksa melakukan pekerjaan-pekerjaan lain untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Di siang hari, mereka bekerja sebagai pedagang
asongan, pedagang jajanan, buruh upahan kasar (tukang cuci, membersihkan rumah, pekerja
rumah tangga, buruh gendong di pasar, dan lam-lain), dan baru di malam harinya mereka
membatik.
Untuk mengatasi hal ini, tentunya diperlukan kesadaran pemerintah dan pihak terkait
untuk mengangkat kesejahteraan para buruh batik. Tujuannya agar mereka berkonsentrasi
membatik dan menghasilkan karya batik yang lebih bagus. Sungguhlah ironis kalau batik
Indonesia demikian berjaya di pentas nasional dan internasional, tetapi buruh-buruh batiknya
hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Para pengusaha batik yang mempekerjakan mereka
hendaknya juga lebih bijak menetapkan upah dan standar pembayaran. Tentu sangatlah tidak
adil kalau pengusaha memperoleh banyak keuntungan yang berlipat ganda tetapi para buruh
batiknya sangat miskin dan tidak bisa konsentrasi membatik karena kebutuhan hidupnya
tidak terpenuhi secara layak.
Konsep industri di mana pun akan sama, memperoleh hasil dan keuntungan sebesar-
besarnya dengan biaya seminimal mungkin. Namun rasanya konsep ini seharusnya tidak
diberlakukan di dalam industri batik mengingat para buruh batik itu tidak hanya bekerja,
tetapi mereka membatik-mereka memiliki keahlian membatik yang tidak dimiliki oleh setiap
orang. Coba pikirkan saja, berapa banyak biaya yang diperlukan oleh para pengusaha kalau
mereka harus mendidik tenaga-tenaga mentah yang tidak siap pakai untuk membatik. Jadi,
sangatlah bijaksana untuk mempertimbangkan upah buruh batik pada tingkat layak dan sesuai
dengan tingkat kesabaran dan keahliannya dalam membatik.
Selain itu, ada juga masalah yang berkaitan dengan desain-desain asli Indonesia yang
dengan mudah dibajak dan diambil oleh perusahaan-perusahaan batik di luar negeri karena
sedikitnya perlindungan paten terhadap karya anak bangsa. Permasalahan ini sering kali
dipicu oleh minimnya informasi tentang bagaimana mempatenkan karya asli mereka, biaya
yang cukup tinggi, serta birokrasi yang masih cukup sulit untuk berbagai urusan perizinan di
Indonesia.
Industri batik Indonesia juga terhadang oleh pasar global yang menyebabkan produk-
produk dari luar negeri, misalnya Cina, masuk secara bebas. Harga produk Cina yang lebih
murah, dengan berbagai corak dan motif, bila tidak disikapi bijaksana akan menghancurkan
industri kecil dan industri skala rumah tangga. Kita tidak mungkin menghindari pasar global,
tetapi harus menghadapinya dengan meningkatkan mutu, menambah pelayanan prima,
dengan harga yang bersaing sehingga pelanggan tetap memilih produk-produk batik
Indonesia. Mudah-mudahan di masa mendatang semua ini dapat terpecahkan dengan lebih
bijaksana. Apabila kondisinya sangat kondusif, pasti semakin banyak pihak yang tergerak
untuk menekuni dan mengembangkan industri batik.
Demikianlah gambaran singkat industri batik yang ada di Indonesia. Industri batik
telah mengalami perkembangan yang luar biasa dari masa ke masa. Kita harus berbangga
dengan hal ini, karena akan membantu pelestarian tradisi batik Indonesia. Namun di sisi lain,
kita juga tidak boleh menutup mata atas segala kekurangan, kelemahan, dan berbagai kendala
yang melingkupinya. Semua itu harus dijadikan sebagai tantangan dan peluang untuk
memajukan industri batik Indonesia.
BATIK SEBAGAI IDENTITAS BANGSA
Batik adalah bagian dari kebudayaan yang telah menjadi keseharian masyarakat
Indonesia. Dari masa Kerajaan Majapahit hingga masa kini, batik menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Batikdikenal dan digunakan secara
meluas setelah mengalami perkembangan dan jalan sejarah yang tidak singkat. Di masa lalu,
batik memang hanya identik sebagai pakaian para penguasa dan trah keraton. Namun dengan
perkembangan zaman, batik menjadi pakaian milik rakyat yang digunakan dalam berbagai
kesempatan.
Secara faktual, batik sebagai warisan budaya asli Indonesia tidaklah dapat dipungkiri.
Namun kenyataannya, kita sangat lemah dalam melindungi segala macam yang bersifat
"warisan" ini, sehingga membuat Malaysia mengklaim batik sebagai salah satu warisan
budaya mereka. Perselisihan dan persengketaan ini akhirnya diselesaikan oleh UNESCO
dengan menetapkan batik sebagai salah satu warisan dunia asli Indonesia pada tanggal 2
Oktober 2009. Tanggal 2 Oktober itulah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik
Nasional.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganjurkan seluruh pegawai di lingkungan
pemerintahan menggunakan batik sebagai pakaian kerja pada hari Jumat. Anjuran ini sebagai
salah satu usaha untuk memperkenalkan batik sebagai identitas bangsa. Tidak hanya pegawai
pemerintahan yang mengenakan batik pada hari Jumat, banyak juga pegawai di lingkungan
swasta yang menggunakan batik sebagai pakaian kerja di hari yang lain.
Penghargaan dunia terhadap batik Indonesia sangatlah membanggakan. Namun yang
terpenting adalah bagaimana agar kita sebagai bangsa yang besar mampu melestarikan batik
sebagai warisan budaya bangsa. Untuk itu, sangatlah penting membangun kesadaran bersama
agar batik tidak hanya menjadi euforia dan trensesaat yang kemudian hilang begitusaja. Batik
harus tetap dikembangkan agar identitas sebagai bangsa Indonesia tidak pudar dan kecintaan
terhadap batik juga tidak luntur. Dengan demikian, batik tidak hanya menjadi warisan sebagai
bagian masa lalu, tetapi tetap eksis di masa kini dan semakin berkembang di masa yang akan
datang.
Usaha untuk memperkenalkan batik sebagai salah satu identitas bangsa tidak hanya
dilakukan dengan mengenakan batik di berbagai kesempatan. Setiap pengusaha, pemerintah,
elite politik, desainer, model, dan berbagai pihak lainnya juga banyakberperansertadalam
memperkenalkan batiksebagai identitas bangsa Indonesia di forum internasional.
Indonesia terletak di Asia Tenggara dan merupakan bagian dari masyarakat dunia.
Keberadaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan negara-negara lainnya, baik negara-
negara tetangga, maupun negara-negara di belahan dunia lain. Sebagai bagian dari
masyarakat dunia, Indonesia pun turut berperan aktif dalam berbagai forum dan kancah dunia
untuk kemajuan.
Di forum-forum seperti inilah bangsa Indonesia menggunakan batik untuk
mengenalkan Indonesia. Pengenalan terhadap batik tentunya tidak hanya lewat pemakaian
batik di forum-forum internasional. Pengenalan itu dapat pula dilakukan melalui desain para
desainer handal dari Indonesia yang menggunakan batik sebagai bahan utamanya; dapat
dilakukan melalui pameran-pameran tekstil internasional; pembukaan gerai-gerai batik dari
Indonesia di negara-negara lain; ekspor batik; pengiriman tenaga-tenaga ahli batik untuk
memberikan pelajaran dan pengajaran tentang batik di luar negeri; penerbitan buku-buku
berbahasa Inggris tentang batik; pengenalan adanya industri dan wisata batik di Indonesia;
dan masih banyak lagi cara yang dapat ditempuh oleh setiap warga negara Indonesia untuk
turut serta menyebarluaskan batik.
Indonesia merupakan sumber utama inspirasi dunia dalam mengenai dan memahami
batik. Di Indonesia, tradisi membatiktelah diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan
adanya berbagai arti simbolis dalam wujud teknik, corak, proses pembuatan yang panjang,
pemakaian secara khusus dalam berbagai upacara adat, hingga berada di area kekuasaan,
seperti Keraton Yogya dan Keraton Solo, batik telah menjadi identitasyang memiliki
maknadari kehidupan budaya bangsa Indonesia.
Pengembangandan modifikasi batik dalam berbagai bentuk dalam keperluan
masyarakat juga telah banyak membantu memperkenalkan batik sebagai salah satu identitas
bangsa. Batik tidak lagi hanya dipakai dalam bentuk busana, tetapi segala macam keperluan
kehidupan untuk semua katangan. Dengan dernikian, batik sebagai identitas bangsa
diharapkan tidak luntur begitu saja.
Dengan corak batik yang saat ini beragam, cantik, fresh, dan memenuhi selera kaum
muda, generasi muda yang merupakan salah satu ujung tombak peiestarian batik dapat
berbangga hati dengan batik. Bahkan batik juga sudah banyak yang digunakan sebagai atribut
dalam kegiatan olahraga, seperti balap motor, balap mobil, basket, dan lain-lain yang sesuai
dengan selera kaurn muda.
Apa pun bentuk pengembangan dan modifikasi yang dilakukan terhadap batik, kita
patut berbangga hati dan terus mendukung. Dengan adanya kreativitas seperti itulah batik
dapat lestari.
BATIK DAN KEBUDAYAAN
Indonesia sangatlah kaya akan kebudayaan. Batik hanya salah satu dari sekian banyak
kebudayaan yang ada di Indonesia. Batik merupakan bagian kebudayaan asli Indonesia yang
diturunkan dari generasi ke generasi dengan cara yang sangat elegan, diajarkan dan dijadikan
tolok ukur kedewasaan seseorang.
Batik sebagai bagian dari kebudayaan bukan hanya digunakan untuk melatih
keterampilan lukis dan sungging, tetapi juga penuh dengan pendidikan etika dan estetika bagi
perempuan zaman dulu. Batik juga ikut menandai peristiwa-peristiwa penting dalam
kehidupan manusia, terutama di Jawa. Misalnya, batik corak sido mukti cocok digunakan
untuk upacara pernikahan. Tentunya ini bukan sekedar dipakai, tetapi digunakan untuk
menyampaikan maksud-maksud tertentu secara simbolis melalui motif-motif batik.
Kebudayaan Indonesia selalu mengalami perubahan dan perkembangan dari masa ke
masa. Kebudayaan bersifat sangat dinamis dan mengikuti perkembangan pemiliknya. Untuk
memahami kebudayaan, kita juga harus memahami makna, nilai, simbol, dan acuan yang
digunakan oleh komunitas pendukungnya. Nilai-nilai yang berkaitan dengan sesuatu yang
dianggap berharga dan simbol biasanya merniliki fungsi tertentu yang erat berkaitan dengan
identitas komunitas.
Pada umumnya, kebudayaan mengandung dua kemampuan sekaligus, yaitu
kemampuan untuk melestarikan dan kemampuan untuk mengembangkan. Satu kemampuan
mempertahankannya agar lestari, sementara daya yang lain menariknya untuk berkembang
lebih maju. Kemampuan tersebut akan sangat bergantung pada tingkat ketahanan budaya
masyarakatnya. Semakin rendah ketahanan budaya masyarakat, semakin kuat budaya luar
memengaruhi dan bahkan menghilangkannya secara perlahan-lahan.
Proses persentuhan budaya lokal dengan tradisi-tradisi besar di dunia telah melahirkan
keragaman budaya Nusantara, demikian pula yang terjadi pada batik. Baling silang budaya
itu telah membuat perubahan yang dinamis dalam tradisi batik Nusantara. Batik di Indonesia
telah mengalami perubahan yang demikian kreatif sehingga memunculkan berbagai bentuk
dan corak yang sangat asli Indonesia, seolah-olah tidak ada kebudayaan lain yang melatari
corak-corak dan motif-motif tersebut.
Berbagai jenis batik di Indonesia yang dipengaruhioleh India, Eropa, Asia, dan
berbagai bentuk karakterbusana tradisi-tradisi besardiduniatelahmengejawantah menjadi
dirinya sendiri. Mereka telah menjawab tantangan budaya global secara kreatif, sehingga
tidak terdesak tenggelam di dalam kebudayaan-kebudayaan besar tersebut.
Seni batik di Indonesia bukan hanya "seni yang indah dilihat" tetapi juga "seni yang
dapat dipakai". Seni batik telah berkembang sedemikian pesat sehingga tidak hanya menjadi
karakteristik keindahan, tetapi telah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan dengan sangat
mudah dapat diperhitungkan nilai jual belinya berdasarkan keindahan dan kegunaannya.
Keragaman corak, warna, hingga estetika yang membentuk batik pada masing-masing
daerah bukan saja merupakan identitas visual artistik dari keragaman batik itu sendiri, tetapi
sekaligus dapat dilihat sebagai identifikasi karakter budaya yang membentuknya. Selain itu,
ada pula filosofi, sejarah, dan nilai lainnya.
Kebudayaan yang maju di suatu negara akan semakin mendorong masyarakatnya
untuk terus bergerak kreatif. Dengan kekreatifan itu, diharapkan batik Indonesia akan
semakin menunjukkan jati dirinya sebagai salah satu warisan kebudayaan Indonesia yang
memiliki ciri, karakter, warna, corak, dan motif yang khas Indonesia.
BATIK DAN PARIWISATA
Dunia pariwisata Indonesia tidak dapat dilepaskan dari batik, teriebih sejak
dikukuhkannya batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. Batik telah begitu banyak
digunakan, sangat populer, dan menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia. Batik kerap
digunakan pada hari atau acara tertentu oleh seluruh komponen industri pariwisata di
Indonesia.
Keberadaan batik di Indonesia sangat menunjang industri pariwisata. Kita dapat
menemukan batik di setiap tempat wisata, meskipun batik sendiri bukan komponen utama
untuk pariwisata di daerah tersebut. Misalnya saja di Bali, kita dapat dengan mudah
menemukan batik di berbagai tempat; dari bandara, hotel, rumah makan, pakaian para
pelayan, suvenir, perabotan, berbagai atribut di tempat wisata, dan lain-lain. Batik telah ikut
membantu memperkenalkan pariwisata Indonesia di mata dunia.
Dengan berbagai atribut batik tersebut, mau tidak mau para wisatawan, baik
wisatawan domestik maupun wisatawan asing, teringat akan batik. Ingat batik berarti ingat
Indonesia. Secara tidak langsung, ini akan membantu promosi pariwisata Indonesia ke
wisatawan asing di luar negeri. Ikon penggunaan batik di Indonesia pasti sangatlah khas
dibandingkan dengan penggunaan batik-batik di negara lain.
Dan bila batik menjadi atribut yang ada di kota-kota batik, para wisatawan tidak
hanya melihat dan menikmati pemandangan tentang batik, tetapi mereka juga dapat mengenal
batik dengan lebih dekat. Mereka dapat berkunjung ke museum batik dan mengetahui sejarah
perbatikan, mengenali proses dan cara membatik, berbelanja batik dengan harga yang lebih
murah dan kualitas terbaik, dan berbagai macam hal yang berkaitan dengan batik. Dengan
demikian, mereka akan lebih mengenali batik yang di dalamnya terdapat berbagai nilai-nilai
dan makna filosofis yang adiluhung.
Pengenalan batik untuk memopulerkan pariwisata Indonesia tidak hanya dilakukan di
dalam negeri, namun juga gencar dilakukan di luar negeri. Berbagai elemen, mulai dari
pemerintah, pengusaha, dan masyarakat Indonesia di luar negeri juga ikut menggunakan batik
sebagai sarana mempromosikan Indonesia, terutama bidang pariwisata.
Di berbagai perwakilan Indonesia di luar negeri, tidak jarang diadakan kegiatan yang
bersifat mengenalkan batik dan pariwisata dalam rangka meningkatkan jumlah wisatawan
asing ke Indonesia. Pengenalan-pengenalan tersebut sering pula dilakukan oleh para pelajar
dan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Batik telah menjadi salah satu identitas Indonesia yang dapat digunakan untuk
mempromosikan pariwisata Indonesia. Batik yang khas Indonesia sangat memudahkan orang
asing mengingat segala sesuatu tentang Indonesia. Batik membuat orang yang awalnya sama
sekali tidak tahu tentang Indonesia ingin berkunjung ke Indonesia. Mungkin tujuan awal
mereka ke Indonesia hanya untuk mengenal batik secara intensif, tetapi tidak jarang
kemudian mereka meneruskan perjalanan wisata batiknya ke tern pat-tern pat wisata lain di
Indonesia.
Hal ini jelas sangat menguntungkan dunia pariwisata Indonesia karena pada
umumnya, sekali orang asing berkunjung ke Indonesia, mereka akan datang lagi di lain waktu
dengan rombongan yang lebih besar. Ini bisa terjadi karena mereka terpikat dengan Indonesia
yang begitu indah, ramah, memukau, dan penuh kebudayaan yang tiada bandingnya.
Selain batik, berbagai tari-tarian asli Indonesia yang menggunakan pakaian adat juga
turut membantu perkembangan pariwisata Indonesia. Masih ditambah lagi berbagai macam
ritual dan upacara adat.
Batik tidak dapat dilepaskan dari masyarakat Indonesia dan keberadaannya pun telah
membantu kemajuan dunia pariwisata Indonesia. Pariwisata Indonesia memang tidak
bergantung pada keberadaan batik, namun pengakuan dunia internasional atas batik sebagai
warisan budaya asli Indonesia telah mendorong industri pariwisata Indonesia berkembang
pesat dengan menggunakan batik sebagai pendukungnya.
BATIK DAN DUNIA FASHION
Di balik simbol-simbol dalam berbagai motif dan corak batik terdapat banyak makna
dan nilai-m'lai luhur yang ingin disampaikan. Batik di Indonesia telah melewati masa dan
sejarahyang panjang untuk sampai pada perkembangannya yang pesat dewasa ini. Semua
tidak lepas dari perkembangan zaman, pemikiran, teknologi, hingga kreativitas yang
mewarnai motif dan corak batik.
Kreativitas memang tanpa batas. Kreativitas mendorong seseorang menjelajahi alam
pikiran yang gaib dan membuat kejutan yang tidak terduga. Kreativitas para pelaku industri
batik terus berkembang menerobos ruang dan waktu tanpa mengabaikan nilai-nilai universal,
sehingga dapat bertahan dan semakin kokoh eksistensinya.
Merupakan suatu keniscayaan realitas bahwa kemudian batik Indonesia lebih mampu
mengaktualisasi diri sebagai satu bagian dari warisan budaya yang disenangi, menjadi tren,
berkembang pesat, dimodifikasi, dikembangkan, disebarluaskan, hingga menjadi semacam
budaya baru yang up-to-date. Batik tidak tenggelam dimakan usia karena adanya usaha terus-
menerus dari generasi ke generasi untuk melestarikannya, sesuai dengan perkembangan
pemikiran dan teknologi di masanya masing-masing.
Kenyataan ini semakin menemukan relevansi ketika dunia batik menjadi bagian dari
dunia mode dan dunia fashion. Didalamdunia mode dan dunia fashion, telah berkembang
adanya fashion design industry yang membuat batik semakin kokoh dan eksis. Batik telah
diakui sebagai bahan fashion yang diperhitungkan, tidak hanya di dalam Indonesia tetapi juga
di luar negeri, di pentas internasional.
Dengan adanya sistem industri tersebut, segala sesuatu yang berkaitan dengan urusun
komersial berjalan dengan sangat ketat, tidak hanya bergantung pada selera pencipta
(designer), tetapi juga melibatkan unsur-unsur lain secara terpadu, seperti konseptor, penata
gaya, pembuat, promoter, pemasar, kolektor, pemakai, pengamat, kritikus, hingga penulis.
Hubungan lain yang berkaitan dengan kerjasama tersebut adalah adanya industri batik yang
bersifat global, di mana batik Indonesia telah menjadi bagian dari liberalisesi perdagangan
tekstil dunia. Di sinilah diperlukan komitmen yang kuat dari berbagai unsur dan komponen
yang bekerja sama tersebut untuk tetap mempertahanan keteguhan hati dalam
mempertahankan unsur dan nilai budaya bangsa yang terkandung di dalam batik.
Perjalanan sejarah batik yang sangat panjang tentunya tidak dapat dilepaskan dari
masalah perekonomian. Bahkan di masa lalu, batik ikut menopang perekonomian masyarakat
saat negara dalam keadaan perang dan masih dalam masa penjajahan. Jadi, batik bukan
sekedar kain warisan yang tidak bernilai karena batik sarat akan kisah yang mendalam.
Para pelaku industri fahion batik harus selalu memperbarui komitmen mereka bahwa
batik merupakan jati diri mereka. Batik tetap harus kental dan menjadi karakter dari setiap
karya mereka walaupun batik sudah dibingkai dalam pola-pola liberalisesi maupun pasar
bebas atas dasar keuntungan komersial. Bagaimana pun juga, urusan industri dan
komersialisasi tidak harus mengabaikan nilai-nilai budaya adiluhung yang terkandung di
dalam batik.
Telah banyak pengusaha batik nasional yang mernpertahankan batik sebagai industri
mereka. Walaupun mereka mengeluarkan batik cap sebagai produksi massal dengan berbagai
desain yang modern dan tidak sesuai pakern, mereka juga tetap mengeluarkan batik tulis yang
setia pada nilai-nilai budaya dan menggunakan pakem batik yang sangat kental bahkan
cenderung konvensional.
Fashion batik juga terus mengalami perkembangan pesat. Batik tidak hanya menjadi
fashion golongan tertentu, namun batiktelah menjadi miliksemua orang, dari bayi, anak-anak,
remaja, dewasa, orang sampai tua. Dalam dunia busana pun sudah banyak perancang muda
yang serius menekuni fashion batik. Inilah yang mendorong perkembangan fashion batik.
Pengembangan terhadap batik tidak hanya berkaitan dengan busana. Batik sebagai
fash/on juga telah merambah home furnishing, misalnya piring dengan desain batik untuk
suvenir, corporate gift, taplak meja, bantal hias, serbet, quilted bedcover, dan lain-lain.
Semuanya itu akan berdampak besar bagi perekonomian Indonesia. Semakin banyak orang
yang terlibat dalam fashion batik, semakin banyak pula tenaga kerja yang terserap.
Perkembangan ini tentu sangat baik untuk terus ditingkatkan di masa-masa yang akan datang.
WISATA BATIK DI INDONESIA
Membicarakan wisata batik di Indonesia ibarat membicarakan seluruh kota yang ada
di Indonesia. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya setiap kota di Indonesia memiliki
daerah "wisata batik", meskipun hanya kelas kecil atau mungkin baru berupa beberapa tempat
perbelanjaan yang menyediakan batik.
Hampir di seluruh kota di Indonesia dapat ditemukan tempat yang memperjualbelikan
batik. Namun yang dimaksud dengan wisata batikdisiniadalah tempat yang dikenal sebagai
daerah tujuan wisata batik. Di tempat tersebut tidak hanya terjadi jual beli batik, tetapi juga
komponen atau unsur-unsur penunjang lainnya, seperti museum batik, cara pengenalan dan
pembuatan batik, sarana dan prasarana yang memadai untuk mencapai tempat tersebut, dan
lain-lain.
Berikut ini adalah tempat-tempatyang dikenali sebagai daerah wisata batik di
Indonesia. Daerah-daerah wisata batik pada umumnya terdapat di daerah-daerah yang
memiliki sejarah cukup panjang berkaitan dengan batik. Jadi, di sini akan dikemukakan
daerah-daerah wisata batik, yang di dalamnya terdapat berbagai fasilitas untuk mendapatkan
pengetahuan batik secara cukup lengkap. Baik dari sejarah, proses pembuatan, penjualan, dan
lain-lain yang berkaitan dengan batik.
A. Tulungagung
Tulungagung memiliki sejarah batik yang cukup panjang. Di kota yang terkenal
dengan industri marmernya ini terdapat beberapa tempat yang dapat dijadikan wisata
batik, di antaranya Desa Sembung dan Desa Majan.
Keberadaan wisata batik di Tulungagung ini dipelopori oleh Lintu Tulistyan-toro
dan Sigit, perajin batik dari Tulungagung. Mereka berusaha menumbuhkan kembali
semangat dan kecintaan terhadap batik tulungagung, yang memiliki nilai sejarah terhadap
perkembangan batik di Jawa Timur dan Nusantara secara umum.
Dengan adanya desa tersebut sebagai wisata batik, diharapkan perhatian
masyarakat terhadap batik semakin meningkat dan akan meningkatkan penjualan batik.
Dengan demikian, diharapkan secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan perajin
batik. Di sini, orang yang datang juga bisa belajar membatik, mengetahui sejarah singkat
batik, dan juga melakukan pembelian berbagai jenis dan bentuk batik.
Sebagian besar tempat wisata batik di Tulungagung menggunakan bahan-bahan
alam, meskipun tetap mengedepankan inovasi. Bahan-bahan alam tersebut digunakan
karena aman untuk lingkungan dan murah karena banyak terdapat di lingkungan sekitar.
Batik tulungagung berasal dari banyak daerah di sekitarnya. Daerah tertua
Bonorowo atau Mrowo memiliki ciri khas batik dengan tanaman atau binatang air.
Beberapa corak antara lain kalangbret dengan ciri khas kotongon (bentuk kosong tanpa
ada isen-isennya) dan kembang blinjo. Ada pula corak rowan dengan ciri khas tergantung
daerah yang membuat. Corak yang lain misalnya sekar jagad dengan ciri bunga-bunga.
Sedangkan batik di Desa Majan, mengadaptasi dari Jawa Tengah; ada corak sido luhur
jarot asem, merak biru kedah, banyak ndekem (sampek engtay), dan lain-lain. Umumnya,
batik di Tulungagung dan sekitarnya ini dipengaruhi corak-corak batik dari Solo dan
Yogya.
B. Mojokerto
Mojokerto adalah kota istimewa dalam sejarah Indonesia. Inilah kota yang pernah
menjadi ibukota Majapahit. Jadi, tidak mengherankan kalau di kota ini banyak sekali
peninggalan bersejarah, baik yang sudah ditemukan dan terdata maupun yang masih
terpendam dan tersebar di hampir seluruh wilayah Mojokerto.
Sayangnya, walaupun di masa lalu batik mojokerto berkembang cukup pesat, kini
hampir tidak tersisa jejaknya. Hanya ada satu keluarga yang secara turun-temurun
meneruskan tradisi membatik, dan diperlukan kesabaran bertanya untuk bisa menemukan
lokasinya karena warga setempat umumnya mengernyitkan dahi bila mendapat
pertanyaan tentang "wisata batik mojokerto".
Yang masih sangat aktif membatik adalah Erna, perempuan setengah baya yang
secara turun-temurun meneruskan tradisi membatik dengan canting di kediamannya di
kawasan Surodinawan. Bisa jadi, dia kini satu-satunya pembatik yang masih produktif di
Mojokerto. Batik yang biasa dibuatnya adalah batik khas Mojokerto dengan simbol Surya
Majapahit yang dicampur dengan motif merica belong, beras tumpah, dan motif-motif
primitif lainnya.
Di tempat ini, walaupun skalanya kecil, kita bisa mendapatkan banyak wawasan
tentang batik, mengerti dan mengikuti proses pembuatan batik, serta membeli atau
memesan batik yang kita inginkan.
C. Ponorogo
Di Ponorogo, hanya terdapat tempat belanja batik yang menyediakan batik-batik
khas Ponorogo, yang sebagian besar coraknya didominasi oleh gambar-gambar merak
yang populer. Namun demikian, banyak sekolah bahkan masyarakat pembatik yang
bersedia memberikan workshop batik secara berkala pada mereka yang memerlukan.
D. Yogya
"Yogya Kota Wisata". Sepertinya julukan itu tidak berlebihan untuk Yogya. Kalau
kita sudah ada di kota ini, ada banyak sekali tempat wisata yang dapat dinikmati, dari
kotanya yang sangat nyaman dengan berbagai tradisi dan budaya, pantai-pantai yang
menawan, hingga peninggalan-peninggalan sejarah yang sangat banyak. Tidak
ketinggalan pula wisata kulinernya yang luar biasa.
Wisata batik di kota ini juga sangat lengkap. Batik seperti apapun pasti dapat
ditemukan di kota ini. Ada banyak sentra industri batik yang menyediakan wisata batik.
Daerah yang biasa dijadikan tempat wisata batik antara lain Tirtodipuran, wisata batik
Kayu Krebet Bantul, Kampung Batik Giriloyo, Desa Kliwonan, dan museum batik yang
ada di Jl. Dr. Sutomo 13A Yogyakarta. Selain itu, wisatawan yang ingin mendapatkan
model batik dalam bentuk lukisan dapat menemukannya dengan mudah di Pasar Seni
Gabusan, sepanjang Jalan Malioboro, atau pun Pasar Beringharjo.
Selain tempat-tempat tersebut, ada pula tempat wisata batik yang cukup lengkap,
yaitu Museum Ullen Sentalu di Kaliurang (dekat Kali Boyong) yang menyimpan sejarah
kejayaan kerajaan yang lebih menonjolkan jati diri wanita-wanita keraton yang selama ini
belum banyak diketahui orang. Museum ini sudah dibuka dari tahun 1997 oleh KGPAA
Paku Alam VIII yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur DIY.
Di Yogya, para pengagum batik bisa puas mendapatkan segala sesuatu tentang
batik: sejarahnya, wisatanya, belanjanya, bahkan workshop pembelajaran tentang batik.
Membatik di Yogya bukanlah sesuatu yang aneh dan merupakan profesi yang cukup
populer. Membatik tidak lagi hanya dilakukan oleh nenek-nenek atau orang-orang tua
generasi lama. Di sini, membatik telah menjadi bagian dari kegiatan generasi muda. Di
berbagai tempat dapat ditemukan anak-anak muda sibuk membatik.
Di Yogya, para seniman dan pengusaha batik terus-menerus melakukan inovasi
dan terobosan di bidang batik. Dengan demikian, wisata batik di Yogya mengalami
perubahan dan perbaikan setiap saat. Semuanya dilakukan untuk dapat mempertahankan
usaha batik itu sendiri dan di sisi lain juga mencari hal-hal baru yang dapat dikembangkan
untuk memajukan batik secara umum.
E. Solo
Solo juga merupakan kota besar untuk batik. Di sini terdapat banyak sentra
industri batik sehingga wisata batik pun bisa dilakukan di banyak tempat di kota ini. Di
antaranya adalah wisata batik Kampung Kauman, wisata batik Kampung Laweyan, wisata
batik Museum Galeri Batik Kuno Danar Hadi, dan Pasar Klewer. Batik apa pin tersedia di
kota ini. Selain itu, dijamin harganya cukup murah dan masih bisa ditawar.
F. Kebumen
Saat ini terdapat sekitar 170 perajin batik tulis yang eksis di Kebumen. Mereka
terus melakukan produksi batik dengan kecepatan seminggu untuk corak yang sederhana
dan sebulan untuk corak yang rumit. Pusat industri batik yang dapat dijadikan sebagai
tempat wisata batik adalah Desa Tanuraksan, yang berada di Jalan Karangsambung Km
1,5 RT 04 RW 01 Tanuraksan, Depan Masjid Al Khayyu, Kebumen. Di tempat tersebut
ada kegiatan pembatikan, pemesanan, hingga jual beli batik.
G. Banyumas
Banyumas memiliki cukup banyak perajin batik, namun daerah yang paling
banyak menghasilkan batik adalah Desa Sokaraja. Di sini banyak sekali perajin batik
yang terus memproduksi batik, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan warga Banyumas,
tetapi juga untuk pesanan dari luar daerah.
Kalau ingin berwisata batik di Banyumas, pastikan mampir ke Sokaraja. Di
tempat ini kita bisa belajar membatik, membeli, hingga memesan batik. Walaupun wisata
batiknya belum dikelola secara profesional, ada kecenderungan tempat ini akan dijadikan
daerah wisata batik di masa-masa yang akan datang.
H. Pekalongan
Kalau ingin memanjakan keinginan tentang batik dan seluk-beluknya, kota yang
tak boleh dilewatkan adalah Pekalongan. Kota ini merupakan salah satu sentra industri
batik terbesar di Nusantara. Di sana banyak sekali industri dan pusat-pusat perdagangan
batik yang dapat dijadikan referensi wisata batik.
Biasanya sentra industri batik di Pekalongan disebut berdasarkan nama desa atau
kelurahannya karena hampir semua penduduk di daerah tersebut bekerja di bidang batik;
baik sebagai perajin, pengusaha, pedagang, hingga pemasok kain dan perabotan
keperluan batik. Sebut saja sentra industri batik Jenggot, sentra industri batik Kradenan,
sentra industri batik Kergon dan Pesindon, sentra industri batik Kauman, sentra industri
batik Landungsari, dan sentra industri batik Pasirsari.
Di tempat-tempat tersebut, para wisatawan dapat menikmati wisata batik dengan
lengkap, mulai dari mengetahui cara membatik, membeli batik, hingga pemesanan.
Segala jenis dan bentuk batik dapat ditemukan di tempat ini.
Apabila tidak cukup puas dengan mengunjungi sentra-sentra industri batik, jangan
khawatir. Di Pekalongan terdapat dua pasar grosir besar yang bisa memanjakan mata dan
keinginan kita untuk berbelanja batik, yaitu Pasar Grosir Setono dan Pasar Grosir Gamer.
Keduanya terletak di Jl. Dr. Sutomo, Pekalongan. Seharian mengelilingi pusat grosir ini
serasa tak puas karena ada begitu banyak batik yang ditawarkan.
Kalau masih merasa belum puasbelajarmembatikdan belanja batik dari sentra
industri maupun pasar grosir, wisata batik bisa dilanjutkan dengan mengunjungi Museum
Batik Nasional yang berada di Jl. Jetayu No. 3, Pekalongan. Museum terebut berisi segala
pengetahuan yang ingin kita ketahui tentang batik.
Secara umum, bangunan museum ini seperti bangunan museum lainnya. Tiket
masuk ke tempat ini sangat murah dan pelayanannya sangat memuaskan. Setelah
membayar tiket, pengunjung akan didampingi seorang guide untuk melihat seluruh
koleksi. Koleksi di museum tersebut selalu diperbaharui dan di-rolling. Demikian pula
dengan tatanan interiornya.
Museum ini telah menjadi salah satu aset nasional dan dikelola langsung oleh
pemerintah pusat dan bukan milik Pemda Pekalongan. Menurut statistik data pengunjung,
rata-rata per bulan terdapat sekitar 150 orang pengunjung dan sebagian merupakan
wisatawan asing. Di museum ini terdapat 4 ruang pamer, perpustakaan, dan ruang peraga.
Ruang pamer utama menampilkan gambaran umum batik, bahan pembuatnya, dan
aneka batik kuno, baik dari Indonesia maupun batik luar yang menurut ceritanya
didatangkan dari India. Ruang pamer kedua merupakan ruang batik Nusantara. Di sini
ditampilkan batik khas dari daerah di seluruh Indonesia. Ruang pamer ketiga adalah
ruang interior batik, menampilkan perangkat interior rumah dengan bahan dasar batik.
Terdapat juga batik koleksi seorang warga negara Australia bernama Digby Mackintosh
yang dihibahkan kepada Museum Batik Pekalongan. Ruang pamer yang terakhir adalah
ruang IwanTirta, berisi bermacam-macam kain batik hasil karya Iwan Tirta, seorang
desainer Indonesia yang memiliki kecintaan pada batik.
I. Tegal
Di kota Tegal terdapat sekitar 200 perajin batik tulis yang hampir semuanya
berada di kecamatanTegal Selatan. Mereka memproduksi batik untukkepentingan
masyarakat Tegal dan juga memenuhi pesanan dari luar Tegal. Tempat wisata batik di
Tegal dapat ditemukan di Griya Batik Tulis Tegal yang ada di Kelurahan Bandung,
Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal.
Griya ini didirikan oleh pemerintah Kota Tegal bersama Dewan Kerajinan
Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Tegal. Griya batik tulis ini merupakan pusat
perdagangan dan pendidikan batik tulis di Kota Tegal. Di sini para pengunjung dapat
mengetahui proses pembuatan batik tulis dan juga melakukan pembelian maupun
pemesanan batik.
J. Tasikmalaya
Tasikmalaya merupakan salah satu sentra industri batik di Indonesia. Setelah
penetapan Hari Batik dan penetapan dari Wali Kota Tasikmalaya agar para pegawai di
lingkungan pemerintahan dan swasta mengenakan batik pada hari Kamis dan Jumat, batik
menjadi semakin populer di Tasikmalaya.
Sejak itu, galeri batik bermunculan di Tasikmalaya sehingga mempermudah
wisatawanyang hendak belanja. Namun galeri batik yang dapat dijadikan rujukan sebagai
wisata batik adalah Galeri Batik Tasik Deden di sentra batik Cigeureung, Tasikmalaya.
Koleksi di galeri ini sangat lengkap dan selalu diperbarui. Selain itu, berbagai jenis bahan
batik ada di sini. Harganya juga sangat variatif dan dapat menyesuaikan kantong
pengunjung.
K. Ciamis
Di masa lalu, Ciamis pernah menjadi daerah sentra industri batik. Namun industri
batik ini sempat berhenti karena kalah saing dengan batik printing. Baru setelah
munculnya pengakuan UNESCO terhadap batik pada tanggal 2 Oktober 2009, industri
batik tulis mulai berkembang kembali. Ada salah satu tempat yang dapat dijadikan
sebagai tempat wisata batik, yaitu Sanggar Rukun Batik. Di sanggar ini dilakukan
produksi batik khas Ciamis dengan 20 orang pekerja.
Selain memproduksi batik, Sanggar Rukun Batikjuga membuka tempat untuk
belajar membuat batik sehingga batik ciamis dapat dilestarikan. Corak-corak batik ciamis
yang populer adalah galuh pakuan, parang sontak, ciung wanara, dan batu hiu.
L. Cirebon
Kota ini merupakan salah satu sentra industri batik nasional. Di kota ini terdapat
banyak perajin batikdengan gaya Cirebonan. Sangat mudah menemukan sentra-sentra
batik di kota ini, namun tempatyang dapat dijadikan rujukan sebagai wisata batik adalah
Desa Trusmi Kulon dan Desa Trusmi Wetan yang berada di Kecamatan Plered, Kota
Cirebon. Batik dari daerah ini sering disebut dengan batik trusmi. Tempat ini terletak
sekitar 5 km dari pusat kota Cirebon.
M. Garut
Kota ini merupakan salah satu sentra industri batik nasional. Di banyak tempat, di
kota ini dapat dengan mudah ditemukan sentra-sentra industri batik. Namun tempat yang
dapat dijadikan rujukan untuk wisata batik adalah Galeri Batik Tulis Garutan RM yang
ada di Jl. Papandayan 54, Garut. Batik yang diproduksi sebagian besar merupakan batik
tulis dan khas Garut, yang terkenal dengan nama batik garutan. Produksinya cukup
banyak karena gerainya tersebar di beberapa kota dan sudah melayani penjualan ke luar
negeri. Pengunjung di sini dapat membeli, memesan batik, juga dapat belajar membuat
batik.
N. Jakarta
Jakarta sebagai kota metropolitan dan ibukota negara memiliki banyak tempat
yang dapat dijadikan wisata batik. Namun wisata batik di Jakarta lebih bersifat wisata
belanja. Pasar-pasar grosir hingga butik-butik batik elite tersedia di Jakarta. Sebut saja
Pasar Grosir Tanah Abang, Pasar Grosir Mangga Dua, Pasar Grosir Jatinegara, Pasar
Grosir Cililitan, dan lain-lain.
Batik juga masuk ke berbagai mall elite, seperti di Senayan City, EX Plaza, FX
Plaza, Thamrin City, dan berbagai butik elite khusus batik yang tersebar di kawasan-
kawasan elite Jakarta, seperti Kemang. Selain itu, batik-batik dari gerai-gerai yang sudah
branded juga banyak terdapat di galeri-galeri hotel berbintang lima di seluruh Jakarta.
Koleksi batik di Jakarta pun sangat komplit. Kita bisa mendapatkan berbagai jenis
batik sesuai dengan keperluan dan dana yang disediakan, dari batik cap hingga batik halus
edisi terbatas. Jakarta merupakan pusat berkumpulnya berbagai batik dari daerah
produsen batik di Jawa sebelum kemudian dikirimkan ke luar Jawa.
Kota yang terjaga sepanjang waktu ini menyajikan pesona tersendiri untuk wisata
belanja batik. Tentu saja, kalau khusus untuk berbelanja batik, calon pembeli dapat
memilih gerai-gerai atau butik-butik khusus batik.
O. Riau
Batik riau yang cenderung terpengaruh oleh tradisi Melayu ini sebenarnya dapat
dengan mudah ditemukan di setiap tempat, terutama pusat-pusat perbelanjaan- biasanya
selalu ada tempat-tempat yang khusus melayani pembelian batik. Namun kalau ingin
berwisata batik, ada satu galeri yang dapat dijadikan rujukan yaitu Galeri Sri Puan yang
berada di Jl. Pantai Impian Gg. Lumba-lumba VI No 63, Tanjung Pinang, Riau.
Tempat ini memiliki koleksi batik yang relatif lengkap walaupun tempatnya tidak
mewah dan bukan didesain seperti gerai-gerai atau galeri batik. Tempat ini merupakan
tempat yang layak untuk berwisata batik.
Selain itu, ada juga yang menyediakan penjualan batikdan memberi pelajaran
tentang membatik, yaitu Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Riau yang berada di
Jl. Sisingamangaraja No. 140, Pekanbaru, Riau.
P. Jambi
Jambi merupakan salah satu kota penting dalam sejarah perkembangan batik
Nusantara. Di masa sekarang pun perkembangan industri batik di kota ini cukup pesat.
Batik Jambi disenangi tidak hanya oleh masyarakat Jambi, tetapi juga oleh masyarakat
dari berbagai daerah di luar Jambi. Tidak hanya itu, banyak pula wisatawan mancanegara
yang menyenangi batik Jambi.
Hal ini disebabkan karena coraknya yang khas didominasi oleh warna-warna
terang yang berbeda dengan batik-batik yang ada di Jawa. Wisata batikyang dapat
dikunjungi di kota ini adalah Desa Seberang Kota, yang berada tepat di jantung kota
Jambi yang terletak di pinggir Sungai Batanghari. Desa ini penuh dengan para perajin
batik tulisyang membawa dan menghadirkan kembali kejayaan batik kuno dari Kerajaan
Melayu Jambi.
Demikian populernya daerah ini hingga banyak birowisata yang menyediakan
paket wisata batik lengkap dengan workshop batiknya. Jadi, kalau berada di sekitar
Jambi, kita tak perlu jauh.-jauh ke Jawa untuk dapat berwisata batik. Belajar batik di sini
menjadi sangat khas karena cenderung ke arah membuat lukisan batik.
Q. Bengkulu
Bengkulu memiliki beberapa tempat yang dapat dijadikan tujuan untuk berwisata
batik. Berbeda dengan Jambi yang memiliki fasilitas belajar batik cukup lengkap, daerah
ini sebagian besar merupakan tempat belanja batik. Namun karena di wilayah Bengkulu
juga terdapat batik khas Bengkulu (besurek, dengan ciri bunga Raflesia), maka workshop
batik juga mungkin diberikan pada kesempatan tertentu.
Tempat-tempat yang dapat dijadikan rujukan untuk berwisata batik di Bengkulu
adalah Ovelia Galeri yang ada di Jl. Sutoyo No. 6, Tanah Patah, Bengkulu (Telp: 0736-
22387); Limura yang ada di Jl. S. Parman No. 16, Bengkulu (Telp: 0736 -342271);
Anggrek Biru yang ada di Jl. A. Yani No. 14, Bengkulu (Telp: 0736-343211); dan La
Mentique yang ada di Jl. Putri Gading Cempaka No. 30, Bengkulu (Telp: 0736-341081).
Selain itu, biasanya batik juga terdapat di mal yang ada di Bengkulu.
R. Pontianak
Kota ini memiliki kekhasan dalam hal batik. Tempat wisata batik yang dapat
dijadikan rujukan adalah Batik Insan di Jl. Nusa Indah III No. 61, Pontianak (Telp: 0561-
733417). Di sini terdapat koleksi batik khas Pontianak dan sekitarnya.
S. Bali
Bali merupakan salah satu tempat wisata yang paling spektakuler di Indonesia.
Kepopulerannya sebagai tempat wisata pantai yang eksotis di dunia telah membuat Bali
memiliki ciri tersendiri dalam hal batik. Di tempat ini, banyak terdapat gerai batik yang
dapat dijadikan tempat sasaran berbelanja, baik tempat-tempat yang berjejeran di
pinggiran jalan wisata hingga butik-butik khusus yang menyediakan batik.
Tentu saja yang dominan di sini adalah batik dengan corak kain-kain khas Bali
yang tidak dapat ditemukan di daerah lainnya. Namun di beberapa tempat juga tersedia
berbagai batik dari daerah lain di Indonesia, termasuk dari Yogya dan Solo.
Ada beberapa tempat di Bali yang dapat menjadi rujukan wisata batik, yaitu Pasar
Seni Sukowati; Pasar Seni Kuta; Pasar Seni Guwang; Pasar Badung; Pasar Kumbasari;
Uluwatu Handmade Balinese Lace yang berada di Jl. Legian, Jl. Pantai Kuta, Jl. D.
Tamblingan Sanur, dan Jl. Monkey Forest Ubud; Lucy's Batik di Jl. Basangkasa 88X,
Seminyak; Milo's di Kuta Square's; dan Prasada di Jalan Kunti, Seminyak.
Demikianlah tempat-tempat wisata batik yang ada di Indonesia. Jika ingin
berbelanja batik, hampir di setiap kota di Indonesia dapat ditemukan gerai, butik, atau pun