Sederet Ruang dan Rasa Kerinduan Tika Dani (Kumpulan Puisi yang sempat berserak di Saku kemeja, Diselembar kertas, di halaman terakhir buku catatan, yang sempat hampir terbuang secarik kertas lusuh, di postingan media sosial baik itu caption maupun story, di screenshotan dan kutemukan di perkumpulan note benda pipih berwarna rose gold yang super canggih kepunyaanku. Untukmu, selamat menikmati rindu bertajuk temu menuai temu dalam kalbu selebihnya mungkin berisi petuah, cerita ambsurd beberapa tahun silam, curhatan penulis bisa juga, apapun itu aku menyebutnya sekumpulan kata yang banyak tidak berjudul dan bersertakan waktu kronologi secara lengkap yang terkemas menjadi sebuah buku berjudul sederet ruang dan rasa kerinduan)
KATA PENGANTAR Akhirnya, saya punya keberanian untuk mengumpulkan beberapa tulisan yang berserak di laptop yang entah dimulai sejak tahun kapan dan bulan keberapa semua ini termulai. Kurang lebih sekitar 2015an, saya sudah mulai sibuk menulis apapun yang terlintas dibenak saya. Kadang berupa puisi yang sangat indah, atau dialog absurd yang sedang berdendang di kepala saya yang mencoba saya tuliskan diselembar robekan kertas, kemudian tercecer di saku kemeja saya, di kolongkolong meja kamar saya. Bahkan pernah saya tuliskan di tembok-tembok tak bersalah di sudut rumah saya, di note hp saya menumpuk sebuah kata yang tak sempurna, digaleri hp saya yang berbentuk screenshootan gambar, dipercakapan chat kita semalam (hehe), diarsipan postingan Instagram bahkan akun lainnya dan dari mana saja yang sudah saya temukan. Saya kurang paham ini bernama apa, apa masih layak disebut sebuah buku yang berisi kumpulan beberapa puisi tak berjudul dari tempo dulu hingga penghujung 2022 tersudahi. Atau malah secarik lika-liku kisah saya sendiri tentang rindu, senja, dan surya beserta antek-antek yang mengerumuni pikiran saya beberapa tahun silam. Semoga, jika memang ini termasuk dalam bait yang indah, dapat dipastikan tersampaikan juga maknanya meskipun tidak se to-
the-point seperti sajak milik #Bandungtanpakamu dan milik Eyang Joko Pinurbo, yang membawa angkringan di Yogyakarta begitu hangat tertuang dalam sebuah bait bernada. Atau sajak filosofi kopinya dan sajak merdu kepemilikan Sang Maestro Eyang Sapardi Djoko. Tapi, semoga bait cacat ini mampu pembaca sempurnakan dengan memberikan judul yang indah sesuai situasi masing-masing. Maaf masih banyak kesamaan majas dan pembawaan kata yang tertulis, penulis masih banyak yang harus dipelajari terutama mengenal Bahasa baru untuk penyusunan karya yang lebih baik lagi. Selamat menikmati, tulisan ini, salam aksara. “Penulis dari buku yang sedang pembaca pegang saat ini bertipe sangat egois sebab tanpa mengenal dengan baik rasa pembaca namun sangat ingin sekali dikenang dan tidak mau menghilang dari peradaban dunia. Karena pikirnya, yang mati adalah tubuhnya bukan gagasan-gagasan, ide-ide dan jangan sampai mati tanpa meninggalkan sejarah atau kau akan benar-benar tidak tertulis dalam sebuah lajur kehidupan. Sebab pula, seorang penulis seperti saya menghasilkan karya bukan untuk dikenang melainkan melanjutkan satu nyawa dalam kehidupan yakni tanpa menghapuskan yang pernah merotasi dan melintasi pikirannya kecuali semua akan abadi.” -Tika Dani
#1 Aku tau. Aku mengerti! Dan aku paham! Bahwa dirimu tak layak ku sebut sebagai rindu.sebab ia begitu kuatmelawan waktu, mungkin kau adalah masa lalu. Namun dirimu pula taklayak diartikan kenangan sebab ia begitu indah dalam hayal. #2 Menuju senja diujung barat mata ini terpejam. Indahmu takkan pernah hilang. Seperti senyummu papa, yang kan slalu ada. Dari ufuk di sudut ketimuran mata ini memandang. Sinarmu tak kan tergantikan seperti kasihmu, ibu. Yang tak berpengganti. Larut malam menyamun rembulan. Pesonamu tak meragukan. seperti dirimu, yang kan slalu ku rindukan. #3 Aku tak tau, ucap selamat pagi semacam apa nan indah untukmu. Jelasku dalam relung rindu yang bermekaran selepas hujan akhir penutup tahun ini jikalau harapku nyata kan segera disemogakan namun sudah pasti pengharapan beriring kerasnya ku memberontak waktu, tetap ada kan selalu. Untuk perihal doa aku rasa lebih dari cukup aku pinta
denganbercucuran air menderai juga tutur yang terbata tanpa sempurna terlantunkan,dan sisanya dia singgah dihati tanpa ada kata pergi (lagi). Sampai nanti, januariku yang tak muda lagi #4 Ku mohon hujan jangan reda malam ini , agar tangis yang mengalir dipipi manismu tak lagi ada. Ku mohon agar hujan tak membawa tiupan angin kencang, agar saat aku pergi tak menyisakan keributan dihatimu. Ku mohon sekali lagi agar hujan tanpa beriring guntur kali ini, agar disaat aku benar benar hilang tak menimbulkan getaran yang mendalam. #5 Temui sahabatmu, sebisa mungkin. Jangan terlalu sering, tiada mengapa pabila kata sibuk adadiantara kita. Setidaknya satu atau dua di tiap tiap bulannya. itu sudah melegakan, asalkan pertemanan tak lenyap tergerus silih bergantinya waktu. Bisakan ? #6 Jelmaan rindu terukir nian pada pertengahan langkah, kuat seakan mengikat. Berat bagai tertepa ombak. Meragukan jika
ringan kau bilang sayang, tidakkah kau paham? Dia sangat hebat melawan waktu dan kilat dalam kehadiran. #7 Jika emang iya, inikah kebodohanku atau kesengajaanmu melukaiku? Atau campurtangan Tuhan untuk kasih tunjuk ke aku bahwa luka di awal pendewasaanku? Lalu bagaimana dengan pemjelasanmu? Pada secarik kertas pun tak berpatah ucap. Kau biarkan kosong begitu saja. Apa kau tak bergetar sedikitpun kala menatapku? Ku kira kau tuli. Perihal masih seputar utuh untuk mu, masa masih sering merujuk pada temu menemuimu. Lain halnya kerinduan, kau masih terngiang merdu seolah mengigilkan jari jemari. Pada pelupuk mata yang tak sampai kau menyamaratakan pelik rindu mu sebanding dengan kekasihmu. Lantas aku ini apa bagimu? Yang belakangan terjadi apa kau sungguh pikun? Apa semacam pelarianmu dalam merindu dan kau melukaiku. Benar! Memang aku pernah menyemai tawa dalam hatimu tapi yang demikian akankah dendammu terbalaskan? Kurasa kau pendendam yang hangat hingga memeluk erat aku lewat tumpukan temu dan lalu lenyap berlalu tertelan debu. #8
Jika kata rindu hanyalah penyempurna puisi lantas apa makna pertemuan ini? Akan kah dia sekedar pemanis belaka pada tiap tiap baitnya? Sedangkan disyairnya pun merujuk pada perpisahan. Lalu pantaskah aku menuntut untuk kedua hal tersebut tak hadir diantara kita? Sepertinya tidak! Aku pun tahu aku hanyalah manusia yang hanya bisa bersyukur atas pertemuan itu. #9 Tak perlu menghindar, kalau memang sudah tertangkap basah oleh tatapku yang mengugupkanmu. Justru,malah aku yang akan berlalu. Bilamana hadirku mengacaukan fikirmu juga impianmu. Bukan soal raguku akan setiamu tapi berbatas waktuku, apakah perlu aku dan kamu diteruskan oleh masa muda? Tidak kan? Jadi jangan hiraukan dan tetaplah berjuang, sayang. #10 Ceritakan padaku, indah senja tanpaku. Tidakkah kau cukup terdiam? Bisu? Tuli? Atau kah kau dungu? Tolong katakan sekali saja. Tidakkah kau mampu, bukan? Jika memang ia
sesempurna aurora kala itu, senja sore nanti tanpaku. Baiklah! Sesegera mungkin aku lenyap tergerus ombak. Atau harapmu aku adalah kesempurnaan dari senja yang kan berlalu?, hentikan dalam langkah menjauh sebab suryaku tersenyum denganmu. Dan biarkan waktu bak perantara surya menuai senja diantara kita. #11 Kau menyerupai pelangi, sedap dalam pandang mata. Hujan reda kau hadir , setelahnya hilang tak berkata. Tersisa indahmu hangat dalam ingatan. Kemiripan itulah yang kian menguatkan logikaku tuk lalai akanmu. Hanya saja , memang. Kau tak lagi bak rembulan penerang gulita dalam gelapku. Tapi tetap saja manismu berasa nian lekat dipangkal lidah. Terkadang pula, memang. Lelah menghentikan kau berkeliaran pada lingkar kepalaku. Ehh, lagi lagi kadar keasaman mu kembali mencuat. Dan menetralisirkan segala kepahitan dimasa itu. Hmm, kau ini! #12 Hei! Ku rasa kau telah pikun. Detik lalu kau bilang kan menjagaku. Lantas mengapa detik berlalu kau malah meninggalkanku? Bukankah itu membuatku terluka? Kau
tidak sedang mabukkan? Atau apakah kau tengah gila? Jangan seperti itu lagi, sebab aku tak menyukainya. Diamlah dan jangan berjanji apapun padaku,itu kan lebih baik. Pun juga, jika kau demikian maka detik berikutnya aku tak tau kau ini siapa. Paham! #13 Bicaralah pelan, aku akan dengarkan. Menangislah lirih, aku kan tenangkan. Lelahmu saat ini akan berbanding terbalik dengan apa yang kau dapat dimasa mendatang. Percayalah! Pastikan lebih dari kepastian yang kau harapkan. Jangan lengah dengan ucap permen kapas orang orang ia hanyalah pemanis. Juga jangan lemah akan cimbiran kolot orang orang ia pula hanyalah kicauan. Sebab ini bukan persoalan ia siapa dan kau siapa. Tapi mau jadi apa kau sebenarnya? Hanya itu. #14 Riuh pasar telah terdengar dikedua penjuru teinga. Pembuka hari dimusim kemarau berpantun nyanyian merdu jalak biru. Sambutku lucu, bersyair namamu. Berirama masa itu, bagai legenda kepulauan seribu kisahmu dalam relungku. Oh, betapa ku rasa. Sedini ini aku memetakan pemikiran bernarasi
olehmu. Semanis madu pula, hati bertanya tidakkah mimpi semalam tak cukup mengobati kanker kerinduan? #15 Kudapati, kau terpuruk hebat dalam balutan reruntuhan masalah. Nampak jelas dikejauhan,kau benar terluka sedalamlautan dangkal. Mengering dan gersang. Tak sampai hati aku menanyai, walau kode tanya berkeliling pada keningku. Aku mendekat, bisikku lirih. Untuk tidak disisimu sejak awal, maafkan aku. Setahuku, kau hanya perlu waktu untuk dirimu.tenangkan dan aku akan pergi. Bisakan aku mempercayaimu , sayang? Selesaikanlah dengan baik. #16 Akan hal itu ku pastikan tak sempat menjamur, sebab cuaca kembali menstabilkan cairan-cairan otakku yang bercecer keriuhan. Konektivitas hati dan pikiran pulih seketika menyaksikan kau bahagia. Seakan pandangku ternutrisi akan hadirmu lagi, khawatirku yang hebat menyisakan sejumlah pertimbangan untukmu akan membiarkan berlalu begitu saja. Terpapar jelas yang ku dengar, ucap akhir yang sempat mencuat kini terjerembab dan hilang dalam tegukmu. Sementara kini kau berfokus pada,aku bahagia.
#17 Dalam waktu yang lama ku ingin tak dipihakmu, sekejap aku segera berlalu. Berkutat padamu hanya akan merisaukan masa depanku. Pun juga dirimu. Tengoklah langkahmu dan benahilah. Aku pun demikian, agar tak terisak sesal dikemudian karena aku sadar, meninggalkanmu saat ini adalah keputusan. Dan aku tidak pernah menyesal karena itu adalah masa muda. #18 Jangan meronta pergi jika hanya akan kembali. dan jangan kau paksa kembali jika tlah pergi. Sebelum keadaan ada pada kerumitan nan teramat kacau. relakan jika memang tak pantas berdampingan,dan dampingi jika sulit untuk berpamitan. Sudahlah. Beranjaklah dari ketakutan, putuskan kesimpulan yang berdasar. Sebab, yang pantas tak akan pernah nyasar. #19 Jika kau paham, tiap tiap kata selalu kau dan senja yang memadu dengan penuh damai. Mungkin kini kau tak lagi bertanya tanya. Apa arti aku, kau dan senja. Sebab, senja kau indah bukan sesaat yang ku inginkan. Tapi, datang untuk
pergi dan pergimu untuk kembali, itulah yang ku harapkan. Pun demikian untuk dirimu. #20 Berhentilah menjelaskan jika itu hanya sebuah perumpamaan. Jangan salah, cinta dalam kata memang kaya akan perbandingan, berlebihan dan semacamnya. Tapi tidak dengan cinta yang sesungguhnya. Jadi belajarlah dari orang terdahulu. Benarkah itu cinta atau sebatas umpama? Temui aku kembali setelah memahami, tidak sedini ini. Iya, aku mengerti. #21 Kau menguruiku dalam hal menunggu, Ceh!. Yang benar saja? Bahkan kau bukan ahli waris si penunggu tua renta itu. Peduli apa kau tentang ku? Tak sewajarnya kau berucap, menunggu menyiksaku. Sebab itu mauku bukan maumu. Menghentikanku kali ini hanya akan melukaimu tuan. Jadi, kau tak perlu peduli. #22
Dan jangan hiraukan aku lagi. Biarkan aku tetap seperti ini, hingga si penanti lenyap tertelan sepi.Semanis permen kapas, mengembang dalam ruang dan mengempis oleh udara. Selembut ice cream, membeku dalam dingin dan meleleh oleh hangat. Aku menyukainya karena mereka manis dan lembut! Dan kau adalah keduanya. #23 Katamu, aku cantik lewat bait dalam bersajak. Aku indah pada alur syairnya, dan romantis dalam tiap penggal barisnya. Sudahlah, kau hanya tertipu. Tapi aku tak sedang menipumu pula aku tak ahli dalam hal mengelabuhi. Jujur tidak demikian barangkali kau memberikan reward pada karya karya dekilku. Terimakasih kataku. Dan jangan seperti ini lagi dalam menyanjung. Ku takut kau sampai hati namun pabila iya, kita ketemu dihari berikutnya ya? #24 Kau memilih celah kecil untuk berdamai pada segerombol kerumitan, dengan membiarkan yang berlalu lalang. Kau hanya menjabarkan keinginan dengan gamblang dalam diam dan menjabarkan kembali lewat tulisan. Awalnya aku tak paham, kode kode yang terkait pun tak dapat dirumuskan.
Perlahan aku menyadari dengan betul. Bahwa rasa sayang yang tak terucap itulah yang baik dan buruknya adalah tak pernah terungkap. Dan pada akhirnya hanya tertancap entah pada rasa yang sama atau rasa yang lainnya. #25 Padamu, ku tak berharap banyak. Cukup datang dan tenangkan ku kala letih mengerumuni tubuhku itu sudah lebih dari cukup sewajarnya. Bila mana amarahku meronta untuk didengar, ku mohon pahamilah. Jika tak sempat satu hal saja. Selanjutnya jangan kau perkeruh keadaan yang berlalu. Dan jika sibukmu tak sempat mendatangiku, aku tak akan merengek akan hal itu. Aku tau kau juga butuh waktu tanpa adanya aku. #26 Tumpukan rindu yang layu, menyemi kembali. Dan kian wangi hari bertambah hari. Oh, kapan kau kan berhenti? Seperti inikah? Benar, rindu memang perlu tapi mengapa teramat mengebu? Kumohon, sebelum temu tiba tepat waktu.
Rindu ku persilahkan kau pergi secepatnya. Karena apa yang aku rasa hanya akan menyiksa kan saja. Datanglah nanti, bila ia sudah tak kembali. Dan aku pun menerimanya masuk tuk memulai rindu yang tak sempat rampung kala itu. #27 Sengaja pergiku tanpa kata, agar kau tak terluka. Tentang secangkir kopi yang ku sedu tak bergula dimeja untukmu pagi lalu, aku pun sengaja agar kau tau rasa pahit diteguk akhiran yang mewarnai menghilangku yang tak berjejak lewat seberkas kata. Malang memang, berakhir terbuang dalam larutan ambas kopi hitam itu. Namun, itulah kesengajaanku yang beralasan agar disaat kau menyapa penyedu kopi lain disetiap pagimu kau tak perlu tau betapapun pahit yang terbayar atas pergiku. Namun juga berseling manis dipenutup seruputan akhir kopimu. Semoga, #28 Menyudahi yang sempat ada memang sulit. Sukar bagai menangkap semut dalam belukar. Tapi, bertahan pada patokan yang penuh benjolan itu menyakitkan. Kau tau itu kan? Tak dapat ditepis, mengawalinya dahulu lewat pintu mana. Tak kasat mata dirasa hanya tersisa kesudahan yang tak bermula.
Dan kini, membingungkan.oh kasih? Masihkah ada pelik serumit ini? Lantas sudahkah kata pantas akhir kita bahas hingga tuntas? #29 Terlalu dangkal pemikiranmu, hingga jingga berwujud biru kau pun tak tau. Apa mungkin? Pola pikirmu terbuat dari bebatuan yang runtuh bulan lalu? Alih alih kau tak sadar aku ini siapa bagimu. Pergi dan berlalu sebanyak yang kau mau pun juga tak merindu. Hah, kau sangat lugu.dan kini aku yang menanggung rindu olehmu. #30 Hmm, bukanlah pemilik kesempurnaan, sebab aku tak berkeinginan menjadi sempurna. Alih alih itu hanyalah menjadi kegagalan. Jika kau menyalahkanku keliru,kau salah! Tuhan tidak menginginkan makhluknya sempurna, tapi cukup jadi lebih baik dari dirimu yang sebelumnya melalui cara yang sempurna. Harusnya kau sudah paham bukan? #31
Perihal doa tetap sama. Kamu menduduki peringkat pertama setelah sang Pencipta dan keluarga. Ingat! Bukan prioritas utama, namun jelasnya syntax eror pada mesin kalkulator ponselku kala menghitung jumlah kali tambah namamu dalam lantunan doa. Perhitungan ? ah bukan itu. Hanya saja, tanda seruku melonceng nyaring akanmu. Jadi masihkah kau ragu akan ku? #32 Tentang tembok besar dicina? Bukan! Menara pizza yang miring? Bukan! Monas yang bertoping emas? Argh! Bukan bukan, bukan semua itu! LALU APA? Kamu tau cokelat ? heh iya. Lalu ini menyangkut apa dengan secuil cokelat? Ini perihal kita. Kita? Iya, aku menginginkan kita layaknya cokelat. Apa maksudmu? Dengan bertele-tele seperti ini? Dengar! Aku ingin kita layaknya secuil cokelat yang akan manis sepanjang masa. Pula, akan tetap sama walau waktu silih berganti. Kamu paham kan? #33 Pada sehelai kertas kau tuliskan, tembang rindu berpantun merdu dari temu waktu itu. Mengenai itu, tanyaku padamu
ialah masihkah sama hingga kini? Atau terusik oleh penghuni baru dalam sapamu dengan perkenalan diminggu lalu? #34 Jikalau benar lensa adalah luas dunia bagimu. Maka biarlah aku menjadi apa yang dapat kau simpan dalam signin mu, biarpun tak sesempurna lensa mata kita berdua tapi aku mampu sempurna pada potert itu. Dan aku paham, potertmu lah yang kau banggakan. #35 Barista bertanya, apa yang lebih pahit dari secangkir kopi tak bergula? Jawab pencinta kopi, rindu yang tak kunjung jumpa. Lalu, apa yang lebih berat dari rindu? Temu #36 Secukupnya saja, jangan terlalu sering. Pada dasarnya dialog rindu terbaik adalah yang menghangatkan bukan menghanyutkan. #37
Pergilah jika mau, namun jika rindu menyapamu tolong! Untuk tidak diabaikan, sebab ia terlampau jauh melawan waktu. Jadi merindulah secukupnya, jika dirasa kembali itu perlu. Kembalilah dan benahi pertemuanmu yang sempat membara oleh rindu sebelum layu termakan waktu. #38 Jadikan aku edelweiss untuk mu, maka aku akan menjadi keabadian dalam rasamu. #39 Jelasnya, merindumu aku mengenal warna akan waktu. Perdetiknya bernilai warna akan rasa dalam diamku lewat sekujur doa sepanjang bait terteta. #40 Sai baba bilang kalau hidup itu harus seperti lagu yang berirama disetiap harinya supaya tidak membosankan. Lantas jika saya memilih menjadi makna dalam setiap bait alunan nada lagumu bisakah saya menjadi penyempurna pada petikan melodimu? #41
Jika turun salju jangan mermbeli pakaian musim panas. Paham! Kalau sudah, setelah konsumsi buah jangan lupa makan dan minumlah dengan baik. Ingat bukan kopi tapi air putih sebanyak porsi tubuhmu membutuhkan, bukan 8 gelas per hari! #42 Pagi ini ku harap kau tak lagi melarutkan kopi hitam nan pahit itu. Sebab, masalahmu tak akan melarut ditiap seruputannya melainkan tetap singgah pada kasarnya ampas didasar cangkir. Filosofi kopi hanyalah obat penenang kala sepi bukan candu penghangat rindu. Sudahlah, jangan tertipu! #43 Pergilah malam ini, tapi ingat pergilah ke balkon rumah dan pandangilah langit malam bertajuk bintang beriring kunang tersenyumlah sang rembulan, indah bukan? Lalu masuklah, tutup pintu jendela kamarmu, bila dirasa udara kian mendingin. Maafkan aku, tak bisa temanimu pada malam berbintang kali ini. Setidaknya , besar ku dalam harap masih sama. Kelak dapat ku sambut indah malam bertajuk senyuman manismu.
#44 Bahkan saat ribuan bintang hadir, saat kunang menyala pun relung rinduku masih terdiami namamu. Tidakkah kau paham akan hal itu? Bahkan pula, kala surya menjelma dengan senja aku pun masih sama, diam diantara tawanan doa tentangmu. Namun, kau tak perlu tau. Biarlah waktu yang akan segera menyegerakan rasaku padamu entah untuk berlalu atau melanjutkan rindu itu. #45 Iya mungkin benar, kala itu adalah rinduku saat ini. Lantas mengapa ku menolak adanya temu? Oh sebab ku tak mampu melanjutkan pertemuan dimasa mendatang bila keadaan tak kunjung mengharapkan keduanya saling memandang. Setidaknya ku kan terdiam bersama rindunya hingga temu menjelang. #46 Anggap saja percakapan dulu dialog usang dihari ini, boleh saja kau mengulang tapi apakah mungkin?bila berulang indahnya mampu kah kau menghentikannya? Sementara kisah
itu terulang kian apik. Kurasa,tidak. Dan pada akhirnya buruk mengakhiri akankah kau mau perbaiki? Haha, itu pertanyaanmu hanya akan menyulitkanku. Ku mohon, tetap ditempatmu. Biarlah dulu dulu itu menjadisimpanan dimemori kita.dan aku kan berjalan dengan semestinya. Kelak dialog usang kembali terungkap. Ku ingin,kita hanya saling bercakap ringan sebagaimana seharusnya biarlah waktu mengambil peran utama dalam dialog kita, jangan lagi ada luka tersisa diantara aku, kamu, dan cerita. #47 Aku tak peduli akan ribuan hujatan dan cimbiran orang orang. Setahuku,mencintaimu bukan hal yang tabu. Itu saja , aku tau apa? Aku sendiripun tak menau. Bahkan aku bertindak seperti orang dewasa kebanyakan yang tak mau mengubris omong kosongku. Aku pun sama,aku tak khawatir akan ucapanmu. Sebab rasaku tak membutuhkan untuk kau cerna dengan baik. Hanya saja perlu kau sesali ketika nanti dipenutup kata namamu tak lagi terucap kembali,juga hati yang tak kau singgahi. Paham! #48
Barangkali benar, kau mampu membiarkan masa dulu lapuk seirama silih bergantinya waktu. Dan alunan rindu pun tak lagi mengebu. Harmoni harmoni cinta yang sempat terciptapun taklagi indah.seolah,masa dulu hanylah sebuah musik klasik untuk hari ini.bukankah ini lucu? Ku pikir,tak semudah itu menghentikan kisah kasih nan indah itu, seiring petikan melodi pada keenam senar gitarmu. Sayang, sudahlah lupakan jika memang itu bukan sebuah kepantasan dalam ingatanmu. Siapa tau kenangan itu menjadi topik seru untuk anak cucumu. #49 Dan parahnya lagi, rindu ini mengebu layaknya genderang perang. Hingga berujung tanpa pertemuan. Tragisnya lagi, rindu ini tak sempat terjamak oleh temu. Yang terfatal, pertemuan itu adalah peristiwa ku denganmu bukan masa lalu. #50 Sayang, tidakkah kau mampu mempercayaiku? Aku bukanlah yang lewat lalu merindu, bukan yang singgah kemudian berlalu, bukan pula yang sesaat lalu menghilang. Sebab, aku paham bagaimana rasanya jika hati ini ditaburi kenyamanan dan menyisakan kekacauan pada uluhati sesaat setelah
nyaman itu tercipta. Aku paham betul yang kamu rasakan bilamana pertemuan menghendaki persinggahan dan perpisahan membuntuti tepat dibelakangnya,tak sekedar sakit namun itu luka terhebat yang dirasa, aku pun sama. Aku pula korban persinggahansi penabur kenyamanan kala itu. Percayalah, #51 Namun percayalah, pada penutup kata dipenghujung salam sepanjang tiap tiap doaku bersemayam indah namamu, Kasih. #53 Untuk yang kali ini, rindu dan kamu adalah benar. Keduanya kembali hadir dengan mengatasnamakan hujan. dan ku biarkan bercampur hingga berpapasan dalam perjalanan pulang, lupa berpamitan. Tidakkah itu lebih menyakitkan yang tak berkabar? #54 Barangkali, perihal tolong adalah kata yang terlupakan selama ini, jika dirasa kamu membutuhkan pertolongan. segeralah meminta, lelah dalam perjuangan itu pasti. menangislah
sejenak pabila dirasa itu perlu,dan jangan terlalu sombong untuk meminta pertolongan. #55 Sungguh aku tak sedang bercita-cita sebagai penyair hebat, penulis terkenal, juga pujangga dengan sederet dialog penuh metaforanya. Namun, pabilakehendak waktu berizinkan akan restu dan diriku tersebut sebagai penyair, bisakah kau temui ku? Inginku berucap maaf padamu. Perihal karanganku yang candu tentangmu. Tak sepenuhnya, tapi sedikit lebih banyak semua topik dipenuhi topik akan dirimu. Ego kuyang payah kian menjadi jadi dan fikirku tertata apik seketika mengetikkan kamu dalam tulisan dekil ini, disana jua percikan rasa akanmu. Hmm, kurasa kau sangat mengasah otakku berwujud kumpulan abjad hingga kau ku biarkan mengalir menderas dengan lihainya. Sungguh hebat! #56 Tentang rasa yang tak kasat oleh mata,akan surya yang menanti senja dipucuk perbukitan, naskah cinta kau mengikrarkan. Penuh lantang kau kibarkan. Angin menerjang
takkau hiraukan.apakah benar rasamu kini sedalam lautan? Lantas mampukah kau menjadi air tuk mengairi luas lautan? Itu konyol bukan? #57 Bungkam aku dalam dunia yang kian primitif ini. Ajak aku kembali mengenal jati diri. Jangan lagi kau pengaruhi pemikiranku dengan seabrek peradaban yang kian curam. Tolong! Sebelum generasi semakin runyam, bawalah aku kearus kepositifan dalam pendewasaan. Sungguh aku tak mengharapkepedulian diatas pujian lewat sosial media atau sudut pandang orang ternama. Tunjukkan padaku , agar ketersesatanku kali ini tidak menjadi gejolak akan masa mendatang. Sekali lagi tolong, genggamlah aku dan antarkan aku keplosok yang masih berudu itu.dan aku kan mengulang masa dulu, sebab aku hanya rindu masa itu. Iya,masa yang tak berpandang pada pencitraan dan kesetaraan seperti generasi milenial sekarang ini. Sungguh menyedihkan, memang #58 Sungguh pun rasa ini masih sama, iya masih ku biarkan mengalir seperti air. Sebab aku pun masih sulit mengakui rasa ini adalah cinta. Tapi entah mengapa ketika terdengar kabar
burukmu dikedua pasang telingaku,turut pula aku berduka dan saat sudut mata ini memandangimu tengah baikan lewat celah kecil itu aku turut bahagia bahkan saat angin pasang barat mulai menuju kearah timurpun,hal serupa masih terjadi. Iya rasa ini masih milikmu,sungguh pun tanpa basa basi. Haruskah aku menunggu gertakan sang waktu agar aku mau menyadari bawasanya,aku tengah dilanda rasa tentangmu. Tak perlu selama itu, sebab hembusan angin yang dingin terkadang pula membawa kegersangan sudah menjadi pertanda bahwa aku jatuh cinta melebihi rasa itu sendiri. #59 Perihal rindu memang berat, apalagi rindu yang mengatasnamakan perjumpaan. Dan hingga si bisu pun berteriak akan ketidak terbendungnya kerinduan ini, juga si buta mampu menyaksikan pertemuan dikedua pasang bola matanya. Aku sungguh yakin, diamku akan rindu benar benar melemahkanku. Jujur aku mengakui, namun dan beribu kata namun selalu terngiang dalam otakku. Namun, alangkah indahnya pabila rindu itu hanya cukup aku yang rasa tanpa ada kata terpaksa. Sebab aku ingin berdamai pada dunia, bersahabat akan waktu, bersinggah berdasar akan doa. Sebab
pula perihal rindu tak dapat dituturkan hanya dengan kata melainkan hati yang saling terbuka. Untuknya, aku mengusahakan mampu terdiam dalamtumpukan rindu akan hadirmu. #60 Aku bukanlah penawar racun layaknya aloevera, bukan pula air kelapa penyejuk jiwa. Aku sekedar senyawa kimia yang cukup mematikanmu , bersamaan rindu ini lentera jiwa nian berhayal. Angan tak lagi tenang tersedak peluh rindu yang tak kunjung surut. Pikirku singkat, bahwa rindu untukmu tanpa kata akhir. Bahkan menyuratkanmu lewat kata tiadalah mengenal rampung disetiap baitnya. Tanya ku keras, akankah serupa yang kau rasa?oh sungguh, kamu adalah ujian bagi kewarasanku.sebab kebodohanku yang memberikan tanda tanya padamu. Kini pintaku, bisakah kau memetakan jawaban yang gamblang padaku? Oh ini perintah lebih gila, biarkan aku sendiri yang berkenal pada ujung, agar menceritakanmu dapat ku temui titik henti bilamana akhir ku tak berujung di kamu.itu saja #61
Aku adalah seorang penulis. Kamu adalah topik yang aku tuliskan. bersumber akan dirimu, aku mampu menuliskan sajak carut marut. Menyairkan bait demi bait tanpa metafora,hiperbola, dan sekawanannya. Melantukan tak bernada bagai kisah melodrama . bersinggah dalam kata, dan kamu adalah kesempurnaan pecahan kata nan porak poranda ini. Bilamana, kamu bukan biang keladi dari lahirnya puisi ataukah cerpen tak beratri ini. Kurasa bukan apapa yang terbaca oleh mata. Pun juga ini tak berguna. Maka, bisakah kau ku jadikan narasi dalam setiap bait kehidupanku? Sejenakpun tak mengapa, kan melegakan pa bila selamanya. #62 Seciduk asa penuh harap, oh wahai kata kapan kisah akannya kunjung lelap? Mengerikan hingga jingga berlalu kau masih saja bertengger penuh jantannya. Oh surya, kapan sambut hangat senyummu tak berpatok padanya? Lucu sekali, hingga terik menyengat kau bahkantak leleh secuilpun. Selang jingga terselang seling rerintikan hujan dan kau tetap hadir dengan angkuhnya. Oh tuhan inikah rindu? Atau hanya bayangselepas ucap perpisahan kala itu. Sungguh aku ragu #63
Akan luka lara yang kau derita. Hilirlah dalam ceruk ceruk kecil. Tersapu kabut, trsiram rintik embun kala buta. Biarkan! Jangan terlalu difikirkan, setebal apapun ia menyelimutimu. Kepakkan dan biarkan ia hinggap disarangnya. Harus kau ingat, tiada kepantasan kau menelan empedu yang kesekian kalinya! #64 Percayalah bukan perpisahan yang melemahkanmu, bukan pula rindu yang memberatkanmu. Namun secuil harap temu yang menyeretmu terjerembab dalam hasrat kala itu. #65 Tanyaku pada senja, mengapa surya tak menyambutku pagi ini? Apa dia terluka? Sedalam apa? Bagaimana bisa kokok ayam dan embun tak membersamainya? Pertanda buruk! Tidak bisakah ini disembuhkan? Apa dia terluka parah? Hingga pagiku bertemakan hujan mendung, lara apa yang tengah ia derita? Apa karena, sambutmu yang sesaat dan pergimu kilat? Bukan! Lantas? Apakah luka yang tak sempat mngering? Bukan itu, melainkan kau menyentuh.
#66 Jika kau sempat menyimak, hikayat lama dari tetua handal itu. Gaya penulis bahasa nan apik pun harmonis. Aku ingin selaras punjangga itu, tiap kata ia seragamkan senada seirama. Namun dayaku, tak sampai. Biarlah karya menjadikanku berpuisi lebih sekedar kata elok akanmu. Bila nantinya, kataku tak sampai pada telingamu. Bukan mala petaka bagiku, sejatinya memang harus begitu. Jikalau dimungkinkan, telingamu menyerap butir butir huruf remeh ini. Jadikan lapang didadamu tuk tetap membiarkanku menuliskan kamu pada selembar cerita nan romansa. Sebab topik seru yang selaras dalam ingatanku hanyalah kamu. Biarkan puisiku tetap bersyair akanmu. Tidakkah kau berkenan? Jika tidak, haruskah alasan lain ku berpuisi adalah bunuh diri secara perlahan? Oh ini gila #67 Bisakah kau membenarkan rasa yang kian menyimpang ini? jika mampu akankah kau benahi lewat kata? tidak jua, lantas pemikiran mana saja yang melenceng dari adabku? Tiada! Hanya saja, rasa seakan melilit luka yang sempat mengering dan laun menderai bercucuran darah lebih sekedar nastapa perih abad lampau. Lagi lagi, pancaran dari kedua belah tatap
diantara pasang mata kita penuh romansa saat dahulu kala meniup kembali semak belukar yang tak sempat menjalar disudut penjuru hati. Lain lagi, lantunan petikan gitar nan melo itu nyaris memecahkan gendang telingaku dari bahasa yang membeku oleh laras tempo dulu persembahan darimu. Tutur manis nasehat mengugah kunang disiangbolong hingga nalar tak lagi singkron pada jajaran pemikiranku yang pernah terstabilkan oleh rasa itu. Tertutup kata,ku mengupayakan puisiku takkan berunsurkan topik akan mu melainkan,apa yang hilang dariku mrncintaimu. K A M U #68 Biarlah masalalu merampungkan urusannya sendiri, tentang rindu yang tak sempurna. Biarlah cukup tinggal berjauhan pada rasa dan aku cukup tinggal disisi yang tak berpandang pada tatapmu. Perihal rindu tak perlu kau bicarakan selayaknya logaritma teorimatika bahkan rumusan senyawa kimia. Cukupkan satu hal, pastikan rasamu abadi dalam genggamku meski mengharap temu tak berpadu,bersatu pun tak mampu. Biarpun kini tetap menjadi semu, sanggupkan menunggu walau tak tentu bahkan kapanpun itu waktu tiadalah yang menau. Persoalan itu kan menjadi perbincangan hebat kala sepertiga malam bersama Tuhanmu.
Persemayaman terbaik namaku kau perutukan sebagai wanita mu pilihan Tuhanmu. Terimakasihku akan rasamu yang tanpa pandang bulu, pengakuan orang orang bukan hiraumu hanya saja komitmen telah kau biankan untukku. #69 Pagimu yang berkabut bercampur hujan ini aku ingin kamu tetap semangat dalam menyambut hari, karena surya menunggumu untuk bersinar. Kasih,meski aku kini bukan lah siapa siapa bagimu namun percayalah dimulai dari cuaca terburuk kali ini. Aku ingin kau mempercayai satuhal tentangku, bahwa aku benar benar ingin membahagiakanmu hingga senja tak lagi menyilaukan. Terkasihku, kamu. #70 Sederhana saja, katamu. Layaknya anak kecil, Biarlah rasa ini mengalir seperti air. Layaknya hujan tadi sore aku akan mereda,ku kan kembali tanpa terkecuali yang membenci. Seperti musim yang terus berganti,ku kan menanti seiring angin berhembus. seperti senja yang tenggelam, kukan menyingsing dengan semestinya mentari tersenyum kala pagi. #71
Beralihlah, tatapmu kian melamun. Bahkan saat senja tengah terik teriknyakau malah asyik akan silauannya. Memang bukan keahlian si buta menengok sengatan nan menyilaukan siang. Namun si dungu pun paham tatapmu yang tak lagi bersemayam dalam pandang, ini aneh. Akan kah rasa benar benar telah mematikan selaput penghantar cahaya dikelopak matamu? Lalu bagaimana dengan rindunya?! #72 Selepas itu, pelukmu tak lagi sehangat lalu, genggammu tak seerat yang lampau dan ucapmu tak seindah malam itu. Bagai tersambar petir kau berubah secepat kilat . tidakkah kau sadar? Janjimu bagaikan permen kapas yang terasa manis diawal, namun pahit pada kecap terakhir. Ingatkah? Sebelumnya apakah kau demikian?! #73 Dia bilang seseorang yang tak pernah menuliskan pemikirannya dalam secarik kertas pun semasa hidupnya bukanlah kesan yang baik. Untukku dia menguatkan. Namun, ketakutan tetap menjadi hantu bagi penulis labil sepertiku. Bilamana kata tak lagi berdansa dalam otak malasku ini. Aku
tau inspirasi motivasi juga inovasi itu di cari bukan dinanti. Akan tetapi, pada kenyataanya aku masih terus menanti. #74 Tersalamku pada angin yang semerbak bertiup rindu. Sungguh pun aku malu akan perihal itu, lagi lagi rindu. Tiada berdaya, isyarat cinta hanyalah misteri yang menjelma dalam sukma. Kala itu, bersikerasku melabuhkan pada lubuk hati yang tak terjajah oleh bujuk rayuan imajinasi pun sama sekali. Dan kini, aliran arus elektron kian merujuk pada gelombang temu kala itu. Oh takjubku, paparan radiasinya. Hingga menyisakan sebuah fatwa nyata bahwa sebuah rasa tak cukup dikata layaknya fatamorgana bahkan fenomena saat senja bersambut aurora pun tak cukup mengambarkan apa itu rasa. Sampai sampai, rindu hanya mampu terungkap ditengah lalu lalang keramaian namun kau tak dengar itu. Sekejap nafasku menghela, tuturku lirih. Aku rindu #75 Urusan diamku mengagumimu biarkan itu tetap menjadi masalahku, takapa padamu. Tenanglah. Sudah ku katakan kita berteman sampai kapanpun. Masa mudaku akan habis bila hanya ada satu tujuan, bersamamu. Bukan itu! Berintikan
kebahagiaanku kelak aku relatak sewajarnya remaja yang disana sini mengutarakan rasa. Maaf aku tak bisa, sebab cita cita masih harus tercipta untuk sang pencipta dan orang tua. Jadi dirimu cukuplah hinggap dalam secarik doa itu tak mengapa. Aku bersedia,asalkan masa muda tak berakhir percuma. #76 Dari pada melukaimu ada baiknya aku menghilang perlahan dari hidupmu, aku sadar bawasanya setiamu itu pasti. Aku pun memahaminya. Namun peruntukan cinta,aku hanya ingin sesederhana senja diufuk barat yang bersambut mentari surya kala pagi tiba dan sebaliknya saat fatamorgana sore tiba. Sebab jalan ku masih teramat panjang, terluka karena cinta itu hina. Hanya saja aku menginginkan lebih baik dari diriku sebelumnya. Sudah jangan seperti ini, aku tak pandai dalam agama,perihal akhlak masih jauh disana, cantik jelita tak pula ada padaku, ahli memasak bukanlah gayaku. Maafkan aku, satu hal yang pantas kau percaya bahwa seorang pemanah menancapkan peluru takkan pernah nyasar kecuali dia berhayal!
#77 Kelinglungan apalagi yang sengaja kau taruh dalam memoriku? Inikah kesengajaanmu, hingga persoalan rasa kau anggap remeh begitu saja. Kebingungan apalagi yang sengaja kau pilihkan untukku? Hingga ucap pamit kau mengiyakan. Keraguan apalagi yang sengaja kau tanamkan padaku? Hingga buih kepercayaan kau enyahkan. #78 Sebanyak rintik hujan kau berulang, terngiang dan mendaur ulang dalam ingatan. Sungguh aku tak tahan. Aku mengira,bak seklebat jelmaan tak beraturan. Kian dalam kian riuh difikirkan. Ku renungkan, hening kian mengiurkan.terpaan angin membumbui keabsahan tanpa kiasan. Bentak tokek, kek. Mengugah dan luluh lantahlah angan yang sempat gamblang. Lagi dan lagi ku dikejutkan oleh ingatan akanmu tanpa seklamit kata pamit. Sebaris denganmu, pemilik temu yang menghilang tanpa secuil kata pulang. Sungguh disayangkan. Huft #79
Aku memaknai rindu sebagai kelabu yang sangat lugu didasar kalbu beriring pilu penuh sembilu menyerupaimu. Awal perjumpaanmu bak semu. Mengenal kian mengebu,menjajaki bentangan temu yang sulit menyatu. Kau mulai ragu, pula aku lebih dari itu. Mengikat disegenap ruang relungku, menyingkap seolah tabu. Berlalu, terus seakan tak kau sedikit menghirau. #80 Kau bertanya apa mauku? Hanyalah kamu disini, dihati ini dan jangan kau pergi. Begitulah inginku. Selayaknya sore yanghinggap pada senja bercampur eloknya aurora. Bertajuk semilirnya angin, memadupadankan sesruput kopi racikan tanganku. Sembari memaknai rasa yang tengah berjuta ini. #81 Hah, menunggu? Itu urusanku! Kau tetaplah diam dalam egomu. Sudahlah, aku tak terbebani akan penantian. Yang ku takutkan cukup satu bila nanti kau bukan lagi sebuah alasan atas kata ku menunggu itu #82
Wacana hengkangmu, bisakah terealisasikan detik ini? Kalau tidak bisa, minimal secepatnya. Sebab aku sudah muak akan seabrek planning mu yang hanya berbusa dimulut saja. Namun jika dirasa sulit memungkiri, ku mohon segerakan benahi celotehanmu. pabila, mudah tuk berlalu. Pergilah! Jika kau kembali tanpa memperbaiki, aku akan tetap membiarkanmu permisi. Namun sebuah harap pasti tak dapat lagi kau huni. Ini hati bukan mainan, sayang. Aku pula tak tuli, #83 Senja yang kau nanti terawali surya pagi tadi. Apakah kau takjub akan aurora indah sang senja? Jika iya, suatu tanda tanya bilamana fajar terabaikan oleh ketidak kasatan matamu kali ini. Dan detik ini kau masih mengungkit puncak senja bersambut malam denganku? Yang benar saja, bahkan ribuan bintang tak memberi restu akan fajar yang menyilaukan bagimu. #84 Lagi, pendasaran logikamu tak bertepi. Beralunkan ritme yang sama mendaur ulang yang lama singgah disarangnya. Lantunan nadamu mengistirahatkan sendi sendi yang kian
melemah kali ini. Dan yang terjadi, sebaris puisi tak berarti tumbuh dari sudut relung mimpi menepi lalu bertengger didasar hati. Seolah selat selat penghubung pulau tiada lagi terarungi. Entah, apa yang tengah membingungkan ini? Siapa yang mengawali dan akhir yang bagaimana kan ku jumpai? Tanya itu pasti, sebab perihal namun tetap saja hadir,mengalir dan menghidrasi tulang yang lapuk akibat terpaan temu kala itu. Seperti lempeng bumi nan bertubrukan, tanpa gelombang elektromagnetik kau mengetarkan. Seolah terbakar , namun tak kunjung padam. Leleh? Hanya pernah, bahkan terlalu sering dan lalu beku seketika sesaat kau muncul secara acak dan berpola tersumbat dalam abjad ku bersua. Sungguhpun semumu hanyalah tipu daya. Bahkan, tuk sekedarmenelaah sungguh pun teramat paham. Tapi melumatkanmu dan berlalu, apakah itu dimungkinkan oleh ku? #85 Januari syahdu bukan karena temu melainkan sebuah rindu yang datang baik itu tersirat ataupun tersurat. 1 Januari 2020 #86 Logaritma cinta dan aritmatika duka. Masa, cinta dan asa. seisinya menjanjikan pengurangan disekeliling kubik runtun
waktu mengaku pasrah akan mata yang buta arah sementara hati porak-poranda. Perkalian rindu rimbun bak bagi kali beserta plus minusnya berakibat rerata yang mencekung cembungkan dari sederet kalimat ganjil dan genap. Ragu atau menguat, kaku 0 degree berimbuhan di ke dari per skala pembeda persoalan rindu apalagi harus menyandang rumus meta fisika dan senyawa anti depressants. Itu rindu yang memilukan sekaligus menyulitkan pemiliknya. 29 Februari 2020 #87 Aku tidak tahu rumus hidup yang bagaimana, yang diartikan sebuah bahagia. Sebab yang ku tahu, yang seperti ini saja sudah bahagia. Bisa menari diatas hujan dan menikmati setiap pembentukan morfologi yang terjalin 21 tahun silam, urusan sampai di titik mana aku mengapai apa saja. Itu cukup aku saja yang bertaburan keawan bebas selebihnya akanku bagikan seuntaian cinta dari doa-doa untukku dan aku benar benar lupa mengenai luka liku itu, terima kasih 11 maret 2020 #88 Hujan, gemercikmu menguggah jemariku untuk mengusapmu dengan lembut yang menempel di dahan pisang. Sentuhanmu
selekat embun pagi, menyingkap nafsu dalam hati. pengandaianmu tak sama, kamu menyejukkan jiwa jiwa yang phobia akan angin larut. Kau indah bising katak bersiul, tasbih alam berkumandang, gundah dan sepi berlantunan mesra pada putik bunga nan merekah pada malam berbintang yang tenggelam hilang. Seketika saat kau kepakkan mendung dan sekawanannya, menyumbat denyut yang sempat sedekat nadi. Oh, lagi! Wahai pelita lara jauhkanlah segala marabahaya, lengkapilah puing puing yang belum usai lalu aku akan tetap menunggu hingga kamu mengucap rindu kalau hujan menguyur tubuhku dan mendung sirna sekejab seperti saat kita pernah berbincang seerat pelukan. Wahai penguasa hujan, kembalikan aku dan kamu menjadi kita, takdirkan aku apapun itu asalkan memang itulah yang kau takdirkan untukku 14 maret 2020 #89 Aku tidak tahu lagi bahasa rindu yang kau dikte a i u e o itu, setahuku hanya seputar rindu untukmu entahlah aku tidak terngiang terlalu mendalam, dalam sebuah kalimat cinta yan masih berudu. Alegorimu benar mematikanku tanpa kutik, harus ku menolak? Atau menerima? Tapi tidakkah kau indahkan semua yang berlalu lalang semerbak wangi begitu
saja. aku tahu bahasa kalbumu sungguh rindang, tapi aku tak mampu bila harus mengenalmu dengan tabu atau dengan masa lalumu. Semua terserahmu, aku hanya akan menarik sejumlah rentetan cerita tawa (yang mungkin itu untukku) rupanya sekedar halu semata bahwasannya aku sangat rindu pada sepucuk surat yang tersirat dari pesan whatsapp, selebihnya kau pangkas habis habisan tanpa sisa secuilpun. bekasnya hanya ada cerita tentang aku kamu dan rindu yang terus membujuk pilu untuk terus bersatu padu kembali. Kau tahu? Ini zina, mata telinga mulut dan otakku ini kau bius hingga berbisa. Tapi kau tidak busuk hanya sekedar sehelai rambut dalam sulur. Aneh sekali. Sementara aku mengais rindu dengan seorang diri 15 maret 2020 #90 Aku rindu pada rindu yang tersematkan, aku cinta pada cinta yang terabaikan, aku luka pada luka yang mendalam, aku sembuh pada sembuh yang benar benar sembuh, aku sakit pada sakit yang menyakitkan, aku pergi pada pergi yang tak puang, aku datang pada datang yang tiba-tiba dan aku hilang pada hilang yang tak kau hiraukan. Lumpuh luka air mata dan nyawa bangkit pada bangkit yang menguncang. Selesai pada ujung yang akhir, mengangkat tema jenaka yang jinak dan
terarah, busur panah dan ranah hanyalah semburan patah yang patah pada hati, melumpuhkan jiwa jiwa sendu pada kirab awal yang mulus bak pokok dialog utama pelaku utama 27 maret 2020 #91 Dulu pernah seberjuang itu perihal cinta, tapi kanakkanak selalu meredup saat lara berangsur pulih. Segumpal luka sudah sirna dan separuhnya tersisa sebuah nyawa yang akan tetap membina, entah diri atau bahkan rasa. Kabar kaburnya selalu tak beralasan indah namun liku akan membeku akan sikapmu yang bukan milik dirimu sendiri. Jangan menjelma separuh dia dan dirinya jangan katakan cinta kalau terluka. aku memang remuk redam saat kalimat mesra itu bergejolak seakan memaksaku ditelinga. Secepat penolakan dan anggukan jawaban iya, lantas menyudutkanku pada sebuah siklus dimana aku terluka parah karena mengabaikanmu tapi apakah aku akan terluka saat aku benar berkata jujur atas will you merry me, mu itu? tak berdasar jika hanya seutas kata tidak, tapi aku muak! Perjelas ucapmu atau aku tetap kaku ditampatku. Aku pamit, jangan merengek. Bukankah kamu sudah sangat baligh memaknai kata bangkit? Jadi bangkitah. Selaraskan hatimu bukan nafsumu, apalagi logikamu. Karena
perkataan yang paling bijaksana ada di dalam hati kecil yang terbengkalai oleh ego. 3 april 2020 #92 Memberitahu boleh, apalagi membenarkan. Tapi kamu tidak bisa mengharuskan dia bertindak seperti maumu. Mungkin saja, apa yang kamu pinta benar dan baik, tapi sebuah penerimaan itu akan salah sasaran jika kamu tidak memaklumkannya jangan mengkerdilkan oranglain saat kamu sudah tahu suatu kebenaran, memberitahu terserah tapi mengharuskan itu maumu. Semua orang bebas berprasangka menyuruh dan menghardik namun berdasarkan perjalanan hidupnya kamu sangat tidak diminta memukul rata satu orang dengan yang satunya lagi yang kamu beritahu sebab muda belum tentu sepele dan dewasa belum tentu bijaksana. Jalan saja bisa kiri bisa kanan, bisa jauh bisa dekat, sama hal nya dengan argumenmu bisa diterima dan bisa ditolak bahkan mentah-mentah. Jadi posisikan dirimu sebagai sahabat karena dia bisa saja sepakat atau malah mengumpat jangan meminta orang buta untuk melihat jangan meminta orang tuli untuk mendengar dan jangan melatih bicara ke orang bisu karena itu bukan keahliannya 8 april 2020 #93
Terimakasih sang maha mencintai keindahan, engkau menciptakan kedua belah pasang mata dengan sengaja dikiri dan dikanan agar aku paham bahwa kau adalah pencipta yang maha adil sore ini kau kabulkan kirab laguku berujung mesra pada senja semburat jingga. Magichour selalu memberi kesan terindah dalam benak meskipun hamparan luas lautan juga cukup menantang namun senja kali ini benar membuatku takjub dan membius disekeliling aku melepas dekapan dingin embun tadi. Sebentar saja kau mengubah luka menjadi cerita indah aku suka kamu. 10 April 2020 #94 Bolehkah aku menata senja? Kali ini saja, aku mohon. Aku sangat rindu dia dan aku mau menungguinya hingga diselam malam berbintang, aku mohon hapuskan hujan satu hari saja kira-kira selepas bada ashar berkumandang hingga siluet magrib bersahut merdu. Aku suka dia, iya senja itu. perihal kealahpahamanku dengan mu besok akan urus dengan kepala dingin tentunya saat hujan tiba hingga reda aku mau bersama senja dengan baik seperti kirab angka 0 sampai syntax eror selebihnya aku hanya akan untukmu. Keesokan harinya hingga saling tertatih pada gumpalan harap yang naik turun. Aku sanggup menjamin untuk bersamamu sehidup hingga
jannah tapi apakah kamu bersedia untuk menjadi secangkir kopi hitam pekat dengan rasa pahit racikanku saat senja masih berwujud surya? Tentu saja, kamu bersedia. Sebab aku saja bersedia menemanimu menikmati getirnya kopi itu. alasannya karena aku mau membersamaimu saat mempermanis kopi hitam pekat itu di sore hari bersama kenangan pahit yang dengan sengaja ku buang ditengah pantai yang tak lupa berteman senja 12 April 2020 #95 Ada satu hal yang tidak dapat aku menjelaskan dengan mulut terbungkam, serapih itu rasa menyingkap gundah-gulana. Namun satu hal itu, membuat rasa angkuh jera. Merasa dikucilkan itu pasti, dianggap ada itu keberuntungan. Iya, itu adalah satu hal yang ku simpan dengan apik tanpa mampu aku ulas kembali selayaknya kenangan atau bahkan harapan. Pupus, remuk, redam. Mungkin itu sebuah gambaran gamblang mengenai pekik, pelik dan peluhnya terdiam. Seperti makhluk tak bernyawa saja, lagi pula aku ini apa? Hanya sekedar suatu kebetulan yang tak kau pastikan atau mungkin saja sebuah peran yang tak kau hiraukan, mungkin pula sebuah lelucon yang tak pernah bisa melukis senyuman manis diraut itu. bahkan sebait rasa ditulisan ini adalah
kalimat malatpetaka untukmu, barangkali aku semenganggu itu. 18 april 2020 #96 Desar-desir percakapan anak manusia pada sepasang yang berbeda. Indah ya, melodi pagi yang diseragamkan dengan kokok ayam dan kerlap-kerlip kunang bahkan imbuhan siulan burung-burung kian memperindah suasana hati. sudah porsi sempurna untuk memulai hari disusul semerbak sore yang padu, jingga kemerahan terlukis saat gelap menelan senja. Tidak bisa menghindarinya, penutup hari malah kian apik dan syahdu. Alam indahMu tidak pernah beralasan agar sia-sia saja namun makna yang terserap begitu menguggah pori-pori untuk bangkit dan tersenyum kembali menyambut esok pagi berikutnya. 3 mei 2020 #97 Pada senja yang menggiring riuh pasang surut air dipermukaan, aku ingin menari dipesisirnya yang sejuk beraturan. Aku ingin melepas segala sesuatu yang sempat tak bertepi, yang sudah menunjam dan nyaris menancap hebat. Satu kali saja, pesanku pada hari ini. kuatlah kala badai, jangan rapuh apalagi lapuk. Tetaplah segan menghadapi
waktu yang mungkin berat bagimu, sangguplah berbenah untuk raga ini dan membaik aku harap kau sudah cukup tenang dari sebelumnya saat persimpangan dan saat bergandeng tangan. Jika kemarin sudah kau simak pelajaran hidup, esok dan kelak kau akan semakin mulus dalam melangkah. Wahai jiwa bertahanlah ragaku hingga nanti aku memperlakukanmu dengan penuh hangat dan rasa syukur yang mendalam juga lebih dari itu. aku masih ingin melindungimu dari apapun marabahaya bahkan masalah sekalipun namun semoga jalanku selalu dipermudah. Akan ku pastikan kau akan baik-baik disana dan jangan kemana-mana. Aku akan segera pulang dan membiarkanmu bersemayam dalam kalbuku lebih lama dari waktuku. 7 mei 2020 #98 Seakan mendung gelap gulita ujung senja tadi adalah firasat yang dikabulkan oleh semesta. Malam ini butiran air membasahi bumi, menghapus dahaga dan menelan rindu yang masih saja sama. Dinginnya memaksaku untuk segera masuk dan mengunci rapat pintu kamar, namun balkon rumahku menarikku untuk segera naik dan bercerita mengenaimu beserta bagaiman kabarmu. Tak terasa, larut menjemput. Masih saja aku mengkisahkanmu di balkon rumahku. Saat itu
rintik mengeras bagai segenggam bongkahan es dilemparkan dari langit menuju atap rumah. Aku tetap membiarkan diri terguyur penuh sepi sembari merampungkan kabarmu yang tersirat dibalkon tanpa kedinginan. 10 mei 2020 #99 Kali ini kau sudah cukup hebat. Kau menempuh hidup yang mungkin menyulitkan, memberatkan, dan mendalam. Tapi ibu jari ini sudah bisa kutunjukkan untukmu. Kamu keren. Jaga makan dan minummu, tidurah dengan baik karena membaik agar lekas pulih juga butuh istirahat dengan cukup. Jangan menua hanya agar orang-orang meninggikanmu, jangan pula menua untuk lapuk. Kau luar biasa karena sudah bertanggungjawab atas dirim sendiri, jadi tetap simpan kanakkanakmu agar mudah persoalan memaafkan tetap menjadi tangan yang mengulurkan kebaikan dan tetaplah berbaik sangka pada semesta. 27 mei 2020 #100 Disana ada catatan bersejarah, baik itu akan diulas dikemudian hari atau sebagai mimpi buruk yang terjadi di hari itu. entah sejarah kita, kami dan dia entahlah mengenai suka atau kebencian sejalas-jelasnya yang telah diselamat