The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tika Dani, Sederet Ruang dan Rasa Kerinduan (Kumpulan Puisi)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tikadani01, 2023-02-11 08:22:43

Sederet Ruang dan Rasa Kerinduan

Tika Dani, Sederet Ruang dan Rasa Kerinduan (Kumpulan Puisi)

Keywords: Kumpulan Puisi

Dan lalu meluluh-lantahkan hatimu Tapi aku ragu, itukah kesungguhanmu Ataukah tipu dayamu yang menyerupai masa itu #179 Yang hilang akan tergantikan Entah yang lebih baik Atau Kamu sendiri yang akan memperbaiki itu Supaya lebih baik #180 kau lebih memilih kesalahpahaman daripada penjelasan Dan seakan mengutarakan kata lewat pesan mata tanpa terbaca pikiran itu adalah sebuah kalimat penjelas. Lantas seterusnya, kau hanya akan menghilang dalam diam Berujung, pada bisu


Kau datang penuh sesal Ada kata yang terlewat sebelum ucap selamat tinggalku kala itu Kini, tersisa memori yang tak sempat sempurna Dan aku yang tak akan pernah sama layaknya sedia kala #181 Kudengar alunan nadamu merdu meresahkan gendang telingaku Bising layaknya lebah bersarang disana Memungkiri banyak kronologi Aku mulai mempelajari Akan sebuah arti, iya arti rasa ingin dimiliki Bukan hati yang sekarang harus terisi Namun, yang harus dijaga agar terhuni akanmu yang kunanti Lihatlah, aku tengah membaik pada penciptamu


Aku harap kau tetap bahagia dengan adanya rasa yang bisu terhadapmu #182 Rindu Secarik kata kau bergelut mesra Berjuta kali gurindamku merdu Mendermagai terpaan temu yang menghujam Kepingan hujat kian mengompori keningku Hening mengerumuni sunyi, sepi menjelma dalam kelabu Lalu, sekelebatan mataku menerawang Terperosok ingatan belakangan silam Kemelut bayangmu utuh dalam samuderaku Hmm, lamun menyamunkan laksa Kau, kau menghambur bak layang Entahlah, kapan kau akan tertawan


Mungkinkah kau bertaburan tanpa pulang? Kurasa itu seberkas lalu-lalang sembunyi kenang #183 Seperti harus meninggalkan, pergi dan lalu hilang Entah kapan tahu ini terjadi, Jelasnya pengharapan manusia akan selalu menyakitkan Diamku menemukanmu, merindu tanpa menganggu Setahuku, itu cukup untukku dan kamu Jangan terluka lagi karena cinta, yaa Bukankah seharunya memang begitu? Aku akan membaik tanpa kesan rasa benci Kau tetap sekian dari sedikit atas banyaknya alasan untuk sebuah kepantasan Bukan tentang kekuranganmu, melainkan aku yang belum layak membersamai lebihmu


Jadi, kini, biarkan aku menjaganya lewat secarik doa Kapanpun itu lapangkanlah Jika aku tak mampu lengkap didirimu Namun, jika iya, dan aku masih dalam kurang membaik Persoalan moral dan lainnya, tolong tuntun Seandainya lebihmu hanya akan sempurna bersamaku bersama ajari aku memperdalam ajar penciptamu #184 Dialog rindumu nampak usang, dekil dipendengaran Namun, satu kepastian Akupun berucap ditempat yang sama Iya, kamu rinduku #185 Jelasnya, secarik kertas puluhan kosa-kata


tak akan sanggup terlukiskan olehnya tuturku terbata, seakan rindu melemahkan namun, pelik temu cukup menguatkan atasnya aku segan untuk sekedar merindukanmu #186 Jangan memaksa rindu seolah mati Ruang nantimu harus tetap hidup Tanpa lapuk secuilpun Sembari, mawas diri lalu pergi Dari segala sisi yang menghalangi # 187 Dan kau memilih diam dalam sejuta bahasamu Menolak segala gundah yang mengulma Hingga salah asumsi ini berlarut-larut


Seakan hiruk-pikuk yang menghantui pikirmu bukanlah gangguan Semua yang terjadi kau anggap tuli Bisu dan tak bergeming seakan aku ini mati Karena telah meniadakanmu dalam pandang Tapi, apa yang terjadi? Aku tidak sedang menanggalkanmu dalam potret netraku Namun perihal diam pada tiap ucap yang kau iyakan dalam inginku hanya kau tanggalkan begitu saja Egoismu menjadi-jadi hingga tersisa kecewa disini Tanpa pernah bergejolak sepeserpun Apa kau dungu? Hingga kau anggap ini lelucon Bahkan aku hanyalah bocah bodoh dihadapmu Yang hanya mengerti melowdrama bukan realita Sungguh batu! Luka kecil kau anggap remeh


Entah sampai kapan diam ini memuncak, dan akan berlangsung ucap bertubi-tubi mendobrakmu Tapi, aku rasa kau terlalu buta mengerti nada lirih mengenai rasa hati #188 Aku menyesal telah berani mencintaimu melampaui sang pencipta yang maha segalanya aku menyesal telah diam dalam cinta olehmu melebih-Nya mengirimkan nasib terbaik untukku disepanjang sebut doa mama melantun kau memampukanku melebihi kapasitas fikirku dalam puncak sesal yang riang #189 Tolong untuk tidak saling meninggalkan Pergi tanpa peduli kapan kembali


Harusnya, yang kau tanpa sepotong kebencian saja Agar aku tak mengurai sesak dan air mata Namun, seorang manusia memang tercipta atas segala kurang dan lebihnya Kurangnya, ia tak mampu lupa atas apa yang tak pantas dalam ingatan Lebihnya, sanggup menepis rindu mendalam seseduh temu Namun mengapa, lantas beranjak pergi? Sementara rasa ini sempat berbagi Bagaimana perihal kecewa? Tolong, jangan lagi kau usik sebuah tenang ini jangan menyapa mentari berseri jika tujuanmu saja sebuah kepergian aku takut, sesudah datangmu akan mengundang nyaman dan usai nyaman ini, kau hanya akan hadirkan kenyamanan dalam harap-harap cemasku saja


#190 Dan diantara ucapmu nan manis pemecah pilu Kala pisah terpampang nyata diantara kita Lagi, kau ucapkan nada mesra sebagai lalai Pada pamitmu yang perlahan Lalu, kuoyak semua yang berhamburan Tapi, kau tetaplah pisah pada yang sempat singgah Lantas, jika kau kembali Sanggupkah hati menerima segala penerimaan Atas enggan dan canggung yang membentang? Kalau itu akan sulit, tolong untuk yang kali ini Tolong, untuk tidak saling lari disaat tersematnya tawa Untuk tidak saling pergi berjauhan atas nama asa


Bukankah maksut hati adalah sama? Untuk tak saling pergi namun saling mengisi dan mewarnai #191 Dan aku akan selalu bahwasannya hidup tidaklah buruk, tidaklah pelik tidaklah rewel dan tidak pula hina kau tahu? Bahagia adalah selayar panah tepat penjuru yang seorang anak gadis kecil itu butuhkan namun, dia bukan mencari anak panah melainkan ibunya memang bait ini tidak nyambung, bukan? Satu rupa saja, merengek bagi mereka terlalu cemen Sebab apa? bocah kecil hanya tahu bagaimana berpikir tentang cara melemparkan kayu ke sungai Atau bagaimana cara berjalan tanpa penyangga dan bala bantuan


Tanpa tahu bagaimana membalas sebuah duka bernama dendam saat teman sebayanya adu pukulan Menyenangkan bukan? Jadi, menjadi bocah kecil pemaaf dan tuluslah intisarinya #192 Hujan Nyiur rintik, oh lagi Aku rindu sosokmu yang dingin dan lalu Menyejukkan hati yang gundah Sekian kau tak hadir, bagai mimpi bersamanya seolah mustahil Mustahil pula bagiku menemukanmu kembali Aku sudah lama tak mendengar gemercik derapmu menetes Menyaksikan embunmu menembus pori-pori bumi Membanjiri segala arah melaju Aku sungguh menunggumu datang


Mengembalikkan secuil kekecewaan yang sempat tak padam Lalu, kanku siramkan bersamamu Menderai dermaga lautan nan hampa Bukan, bukan aku mengharapmu meluap Lantas menampung debit yang tak mampu terkuras semalam Namun, satu hal, jika kelak dia kembali hanya sekedar memicu tetesan dipelupuk mataku ini, tolong hadirlah Agar aku tak lagi sendirian mengarungi ombak yang membekukan hati dan naluri Dan pula, tanpa ragu dalam peluh aku mampu mengusapnya dengan apik Tanpa ada sisa sepercikpun membasahi pipi Kecuali rintikmu yang mengguyur segenap rasa yang terjadi #193 Kelak jika menungguku tak berbuah manis denganmu Dan hanya akan menjadi cerita pada anak cucuku


Bahwa aku pernah menunggu hingga merindu orang sepertimu, selama itu #194 Perindu sempurna adalah hati Iya, hati yang telah pergi bukan mati Seiring gugur bunga, ia silih berganti Hanyut tergerus reruntuhan ranting Pada tiupan senja sore kali ini Seklebat terngiang temu akan kepulanganmu Namun, masihku sangat ragu katamu Besar tanda tanyaku dalam harap Perlukah kau kusebut rindu yang lebih dulu berlalu dan menuntutmu menyempurnakan itu dari masa lalu? Tapi, tunggu bila rindumu untuk temu, lantas pergimu untuk kerinduanmu bukan? Jika iya


Ada baiknya kau bijaksana dalam memperlakukan rasa Sebab, ia rentan akan kecewa #195 Singgah? Mauku begitu Dulu, sempat juga kau peduli akan kesinggahanku Namun, kini aku rasa hanyalah kalimat serapah Yang terjerembab dalam kesunyian Kala pikiran tak lagi netral Kuharap, pergipun juga bukanlah Kesia-siaan bagiku Tanpa harus merindu katamu, kala itu Aku malu bila harus berlalu, dan Seiring waktu malah justru merindu Aku heran, luka yang bagaimana yang benar-benar mematikan rasaku padamu? Nampaknya tidak ada.


Kalaupun sulit disembuhkan dan yang terhebat sekalipun Kau tetaplah penyesalan terindahku #196 Ingatan Di 2016 Aku pernah paling bodoh, kau pernah paling tuli Terdalam kau menukik tajam dalam ingatan. Seakan kebodohan terjerembab dalam penantian. Rasa? Aku tak paham, bodoh memang! Getaran-getaran hebat kian menghujam, tidakkah kau tergubris? Tersamarkan rinduku padamu. Berkas isyarat telah banyak terujarkan untukmu. Lewat anginku berpesan, lewat mataku menatap. Lewat ombak aku beriak. Bodoh! Sadarku, kau teramat tuli untuk mencerna semua ini. Tuli! Aku kian bodoh perihal rasa ini. Tolong berhenti! Keterlibatanku dalam hal bodoh pada ketulianmu teramat dalam. Berpamitan, itulah pelampiasan. Mengistirahatkan sendi-sendi otak dalam ketulian hingga bodoh menyubur dalam ingatanku kian menawan. Terakhir penyampian bodohku, tolong pahami! Jangan buat ku menanti atau aku pergi! Persoalan yang telah terjadi biarlah. Dan akan tetap menjadi ingatan terbaik dalam singgah-sanah kerinduanku padamu, tahun lalu.


#197 aku hanyalah sebuah luka yang kau torehkan lewat tinta sebuah tinta, pada papan bebatuan diantara rimbunnya tulisan. Selaras perputaran jarum jam, kau menambatkan peluh tentangku disana. Kau bumbui aroma tawaku kala itu. Tak lupa kecupan manismu mengikuti aliran pada setiap kata yang sengaja kau persembahkan untukku. Tak berhenti disitu, pada titik lemahmu, kau mulai tinggal dalam bayang akanku. Namun terkadang persinggahan terindahku didalam benakmu hanyalah pengandaian. Lalu, mengapa kau sengaja mengamblangkan kisah yang sempat ada? Kini, kau malah bertindak seolah lukisan kata yang kau suratkan adalah cinta. Mungkinkah iya? Tidakkah kau mampu menjeda ucapanmu? Sebab ketakutan itu pasti. Aku takut, jika mencintaimu terlalu dini nantinya tak sampai senja rasa itu tlah tiada. Dan lalu, kehilangan adalah bagian dari sebabku mencintaimu sedini mungkin. Agustus 2018, 03 pukul 5 sore #198 Sekali lagi, filosofi kopi hanyalah tipudaya bukan pelarut masalah apalagi masalalumu. Jadi pagimu nanti ngeteh bareng aja, ya. Hehe #199 Dihari ulangtahunmu Hey, ku dengar kau tengah bahagia, apa itu benar? Pantas saja, bulan kali ini tersenyum bersambut bintang. Kukira hingar-bingar apa eh ternyata hari lahirmu hadir. Tersenyumlah, aku tau tak bisaku hadirkan kawanmu yang


kau rindukan dihari specialmu ini. Berpuisi semanis cokelat dan selembut permen kapas untukmu aku tak mampu. Bukan tak mau, itulah kurangnya aku. Berbatas sajak usang ini, kutitipkan pada hembusan angin tuk menyegerakan harapmu. Pada setetes embun pagi, ku selipkan sejuk dihatimu agar tegar dalam langkahmu. Yang berlalu-lalang tak menghantuimu, yang menyilang terluruskan dalam sepatah doa tiap renungmu. Sesalkan menguatkanmu, masa lalu mendewasakanmu, pula genangan rindu memperbaiki temu dimasa yang tak kau tahu. Pada hujan, aku menitipkan segala piluh keluh dan kesahmu kan segera terurai dilautan. Pada bintang beraroma kunang aku ciptakan pesan kebahagiaan semoga menambah kehangatan. Selamat hari kelahiran, teruslah berjuang, sayang. Jangan patah dalam langkah. Untuk yang tersayang, 21 Mei 2018 #200 Bermuara dititik dialog kolosalmu Ragu menguatkan egoku selepas ucapmu tanpa tentu mencuat. Membisukan ruang tunggu yang sempat tak kau tahu. Terobsesi pada kata acapkaliku dengar, nyaring memang. Sudahlah, kau sekedar air raksa yang mematikan urat memori dalam ingatan. Di detik keberapa kau akan menghentikan kegilaan ini? Huh, sejengkal katapun tiada celoteh keluar dari bibirmu. Bisumu teramat menyiksa seisi ketulian yang ada. Bahkan penyamun terbebaspun, kau masih saja kau. Hey, kedunguanmu apakah sengaja? Atau hanya perantara? 29 Mei 2018 #201


Nyaring Lonceng Terdengar Mata berbinar menyaksikan fajar kembali bersinar, embun menggugur hilang tanpa kenang. Lamunku tersadar oleh kokok ayam. Kicau kenari pemanis nuansa pagi. Oh, penghantar senja nan seri Sepertinya senja menepati janji. Dan surya yang menemui walau, siangmu terik. Kau kedua pasang keindahan tak berakhiran. Meski, menuai malam. Kau tempat kerinduan para bintang di langit malam. Lebih sekedar pemanis, kau sinar pantulan nan menghangatkan. Lebih sekedar pelengkap, kau penguat hati yang sedang temaram. Hebatnya, kau surya dan senja yang tak saling bersama namun bergantian. Kesetiaanmu menunggu malam berlalu, hadir dan pergi untuk kembali. Sungguh aku iri. 30 Mei 2018 #203 Relung Temu Tertutup Rapat Sunyi, senyap, mati sesaat Seakan pemampatan memadat Dikedua pelupuk mata yang tak kasat, kerabunan kian mendekat


Menyapu habis gelombang pekat Maju, Inginkan lebih sekedar sekali Mundur, Tak akan mampu tanpa terjadi lagi Bimbang, Menderai dan bercecer sempoyongan Hilang, Seakan kembali, lagi dan berulang ribuan kali Jauh, Tidak! Memang sengaja membentengi diri Mati, Bukan hanya teramat tuli. Bodoh, Iya! Diri ini yang sengaja menanti engkau kembali 30, Mei 2018 #204 Kau Datang,


Seakan lenyap segala kelupaan Mengobrak-abrikkan secarik ingat dalam lelap. Menyamunkan lamunan, menyemukan pikiran. Runyam, permisi untuk kedua kalinya tak tergubris olehmu. Seolah merdu, namun inikah leluconmu? Berbekal keluguanku, anggukku masih seramah dulu. Akanmu Dan kau, menyeberangi melintas menyilang dalam ingatan nan lalu-lalang Terngiang, sekiranya satu mengirukan. Kenangan? Tersenyum manis menyapu bersih harap-harap yang sempat kau tuturkan. Ringan tanpa alasan, akankah ini pemanis buatan? Ataukah tipu-tipu nikmat kopi seruputan pagi harimu? Sudahlah jangan mengigau. Kau hanya bergurau, bukan keperluanku jika harusku hirau. Sebab terjadi kesamaan pada yang tlah lampau. 30 Mei 2018 #205 Gelutku mengacak kata, puing-puing gundah menderu resah. Bagai baling bambu yang menancap pada terumbu kala sore lalu. Ah, bisu. Ah, bukan-bukan. Diam selepas penat mengudara. Kiranya pradugamu benar. Peradaban menyuram dalam semak belukar. Tak berbekal, hujatan hayal menuai kerumunan. Otakku bodoh? Tidak! Hanya pernah. Seakan mencabik ulu hati nan peluh, menukar gandakan segala


lampau yang kian terlupakan. Benar, aku pernah bodoh. Tuli? Bukan aku. Iya, kamu yang pernah menjadi tuli. Sehelai permen kapas tergerus angin, kau mengiyakan tatap tanpa harap penuh erat. Kali lipatnya belukar memikat hebat, oh aku kian terperanjat. Seakan pemasok air tak lagi bersinyalir, bergilir dan mengalir sudut-sudut terpinggir. Anehnya, itu beraromakan manis bak bunga sedap malam penuh wewangian. Heran, bahkan itu cercaan tak berkesan. Ah, henitkan. Yang lalu-lalang barusan hanya sebagian. Selebihnya masih terngiang dalam kenang. Jangan mendermagai lajtan bergelombang atau tubuhmu terterjang melebihi dasar jurang. 31 Mei 2018 #206 Can you do me a favor? Barang kali itu kata yang terlupakan selama ini, jika dirasa kamu membutuhkan pertolongan segeralah meminta tolong. Lelah dalam perjuangan itu pasti. Menangislah sejenak dan jangan terlalu sombong untuk meminta sebuah pertolongan. 05 Mei 2018 #207 Itu benar, persoalanmu adalah hanya tentang perihal kerinduan. Kau tahu? Sudahku pastikan tidak! Namun ketahuilah, kerinduanku lebih dari sekedar mengharap temu. Menunggupun melebihi kata lama. Dan soal rasa tak lebih dari sekedar kata cinta namun kupastikan lebih dari sempurnanya orang mencintai. Bahkan aku mampu terdiam tentangmu lebih dari diamnya si bisu. Hmm. Aku tahu,


Melupakan adalah kesiasiaan waktu bagiku terlebih tentangmu. Apalagi berlalu tentangmu. Hhh, itu hanya mengulur waktuku saja. Namun, namun dan namun satu harap pasti. Di detik kesekian ini, aku mulai mengerti bahwa perihal tentangmu adalah sebuah pembelajaran. Darimu, kudapati pula sebuah ilmu Iya, ilmu Orang lain menyebut ilmu itu dengan sebutan ikhlas Karena menantimu pun membutuhkan ikhlas. Iya, ikhlas yang benar-benar ikhlas bukan pencitraan lagi. Bahkan ikhlas yang aku tidak bisa mengatakan kata ikhlas itu sendiri. Oh, mungkin nanti, jam dinding rumahmu akan menjawab jutaan tanya diotakku ini. Kapan? Entahlah. Jelasnya tak pantas mengharap yang tidak pasti. Camkan itu! 5 Mei 2018 #208 Don’t love me early too, ‘cause I just afraid if your love can not be able to long time until sunset. 6 Mei 2018 #209 Ketika itu, kau temui aku dalam keadaan baik, bahkan membaik. Kau menyapaku hangat, penuh sipu lembut dalam senyummu. Kau mulai mengenalku, terbiasa oleh candamu. Kau menilai semua baik adalah dalam diriku. Kau hanya belum paham


mengenai diriku, kau mengenal sedikit dari banyak apa yang tak kau lihat dariku. Ketakutanku hanya satu. Kelak jika kau paham buruknya aku. Kau kan menghambur bak tertiup angin entah kemana. Satuhal saja pujianmu terlalu berlebihan, aku masih teramat buruk untuk membuatmu merasa bahagia. Bukan berniat membuatmu terluka, kecewa atau membohongimu. Bahkan membodohimu, namun kau harus paham aku masih yang dalam keterpurukan. 27 Juni 2018 #210 Diselembar kertas kau kembali memaparkan, arah rindu kau buat menderu resah bergemuruh riang ditelingaku. Seakan lusuh, kau menyemai berseri kembali. Seakan layu, kau terhidrasi bersemi kembali. Seakan kering, terbasahi sulam kembali. Pernah, satu kata tanya sempat tersematkan pada benakku. Kau mengapa rindu melulu yang tertimbun bukan sapa bukan temu. Bahkan tidak bersalam tak berketuk pintu. Apa maumu? Katamu, hilangku adalah kekhawatiranmu, menemuiku sesaat lalu melayang selepasnya. Hey, aku masih rindu. Bisakah kau selipkan waktu sejenak disisiku? 28 Juni 2018. #211


Kemelut tiba di perawalan fajar menyingsing. Emun mengusap lembut, dingin udara pagi menyapa sedini ini. Kelabu mengelegar tak sedap di pengelihatan. Menerawang jauh, tersadarkan oleh puluhan kenang yang silam. Asam terasa yang tersisa. Hingga terik surya menembus rasa. Hangat tapi beku, rapuh namun batu, tahu meskipun dungu, mengerti seakan tuli. Hingga, penutup hari hadirkan senja nan cantik jelita. Dan masih sama, pendasaran yang ada masig lugas namun tak berbatas. Beralasan melainkan bisu, tak ubahlah esok hari entahlah. 29 Juni 2018 #212 Fajar Sinarmu terik kala siang Namun suryamu menghangatkan kala pagi Ribuan mata takjub akan sambutmu Walau ada sapamu yang kadang tak mengarapkan Kau masih sanggup tak mewarnai embun Bercampur kabut dipagi nan dingin Mentari, kilauanmu sungguh cantik Pujianmu tertuturkan pada setiap klebat mata Melebihi kekasih hati, kau amat memesona Sungguh penciptamu tak penah salah


Kau hadir kala mata teruka dari alam mimpinya Kesempurnaan pagi berpadu ria Pada musik klasik dan secangkir the Pelengkap indah kerinduan, sang pujaan bersama senyuman riangnya tepat dihadapan. Tak jarang, darimu pagiku mengasyikan. Aku penanti fajar tenggelam, 30 Juni 2018 #213 Bahwa sebaik-baiknya menunggu adalah kembalimu, sembari memperbaiki diri ini. Bukan malah pergi berlalu dan mencari yang lebih mampu. Tuhan sengaja hadirkan sosok lain dan mencoba mengiasi hati yang tengah menanti agar kita tahu dan rasakan cinta yang kau tunggu adalah kesungguhan atau hanya sebatas kicauan. Jika memang iya, cinta yang kau punya atas dasar ketulusan. Kau akan dengan sabar menunggu kepulangannya. Entah, kapanpun itu. Kelak lantunan doamu akan di iyakan oleh Tuhan. Entah dengannya atau kau disempurnakan dengan yang lain pilihan-Nya. 30 Juni 2018 #214 Tak Mudah Mencairkan suasana hatimu yang pelik oleh bayang semu. Satu keadaan pasti, kau butuh persandaran nyaman kali ini entah, kelabu apa yang tengah meramaikan otakmu. Tapi, apakah kembaliku masih perlu?


Sungguh, kali ini aku berkeinginan pulang. Terlintas kata namun aku ini bukan penghuni rumah lusuh itu lagi, Sayang Jadi aku tak pantas kembali, pulang dan lekas menemanimu lagi seperti sedia kala Tentang luka kecewa diwaktu lalu, masih singgah dihatiku namun sudahlah, ia akan segera hengkang Walau memang sukar untuk melarutkannya. Dan risaumu kali ini, harapku cukupkan sekian lekaslah menjalani harimu dengan baik. 7 Juli 2018 #215 Jika kau memilih berjalan pada dua arah yang bercabang, kuharap kau sanggup lakukan keseimbangan pada keduanya walaupun aku paham akan ada salah satu yang tertinggal. Namun, aku yakin kau bisa megusahakan yang kau tinggal dan mulai berjalan seiring seirama. Tanpa lupa alur nada pada tiap temponya. Kuatkan kakimu dalam langkah, kedepannya akan sulit bagimu beradaptasi pada hujatan nan meriuhkan pikiran. Entah duri entah kerikil atau pecahan kaca, kau akan temui luka pada kakimu diantara kedua arah itu. Bersiaplah, jangan sampai menancap dikakimu terlalu dalam.


Fokuslah pada arah tujuan, satu harap. Semoga kau temui kemilau diujung senja bersambut kasihmu yang dulu kau nantikan itu. 14 Juli 2018 #216 Aku yang mencintaimu tanpa berterus terang, kagumku hanya cukup berdiam dan doaku bersebut terus bersemayam. Namun, entahlah, ini benar atau salah kaprah. Kepada pengarapan-Nya aku mencoba beritndak layaknya orang dewasa yang mampu menemukan cinta sejati di hidupnya. Kanak-kanak masih saja cukup kuat acapkali timbunan rasa mengerumuni otak ini. Dan aku kira masih sama, sekedar memastikan luka yang belum sempat mengering di hari lalu penawar hari ini dan lekas membaik. Dan lagi, maafkan aku yang memperuntukkan namamu disepanjang bait harapku. Yang semestinya tidak begitu, bukan untuk kiasan atau mencipta penilaian orang tentangku yang pandai berakhlak mulia. Justru, aku malu menyerupai orang kebanyakan, yang rela menanti untuk mencapai ridho Ilahi. Aku pula sama, tapi maaf jika kelak harapku bersamamu kian nyata. Maafkan aku yang tak pandai perihal agama. Namun kini aku tengah bersibuk berbenah diri, bukan semata karenamu yang utama melainkan untuk keperluan diriku sendiri. 28 Juli 2018 #217 Rindu lebih sempurna menahan temu, diam lebih bising dari sekedar menunggu, dan kecewa lebih lama menahan duka lara. Segitu penuh raguku mencubit hati, aku tak peduli


Lagi, takut bertaburan deikerumunan otakku, aku mengibaskan Benturan tajam menukik, begitu bengis bujuk rayumu. Luluhlantah segenap yang ada Leleh seketika, sipumu tersumbat tatapku tanpa kecirian atupun jua. Dipesisir pantai kala itu, 24 Agustus 2018 #218 Kau Sepucuk rindu penuh tunggu menuai kaku dalam temu. Awal tanpa kenal akhir, tanpa harap dipisahkan. Kau, wajah arogan penuh salam dan sapaan. Yang lalu penuh kekanakan, kini larut perkembangan zaman. Era kita telah berubah, kawan. Terima kasih, kau canggung yang tak membosankan dalam kenang, terngiang secara gamblang dalam ingatan. Berpapasan tanpa tawanan ataupun perlawanan. Dan benar, kau lah yang terkenang tanpa buang, menyusur diam tanpa bungkam. Kau, alumniku, beserta yang lainnya 10 oktober 2018 #219 Dalam garis waktu kau mengetuk keras, “Hai, aku disini.” Ucapmu membuatku tuli, seakan sayap-sayap telah rapuh kembali. “Hei, coba kau ingat lagi, pantaskah aku menyapa dirimu kembali?” tanyamu seakan melumpuhkan sendi-sendi yang memulih. Tak janggal memang, namun pemikiran dangkal kerap kali lalai terusik hingga celah kecil mampu


menerobos dan bersemayam kembali. Pelan tapi menyesakkan. Ya, itulah kenang. Namun perihal kepedihan masih yang terdalam semoga lekas padam. Gunungkidul, 9 November 2018 #220 Pada Pukul 17.12 Ampunkanlah aku dalam resah rinduku nan membiru ini. Tuhan, memang benar kau telah siapkan yang terindah untukku menikmati senja ciptaan-Mu. Dan menemaniku mengarungi segala gundah tanpa lelah, lentera jiwa mulai terarah. Namun, Tuhan, aku memang pintamu yang paling tidak tahu malu. Harapku hanya satu, tidak akan lagi aku meminta yang paling terbaik, diberikan ganti yang lebih baik atau pun kau hadirkan sosok manusia yang sangat baik untukku. Sebab, yang selama ini menjadi penantianku sudah cukup baik. Tolong, segerakan engkau menuaikan tatap kita dalam rencana terbaikmu sesuai pilihan yang Kau pilihkan, Tuhan. Terima kasih. 24 Februari 2019, Pare, Kediri #221 waktu itu Iya, benar-benar waktu itu. Canda dan tawa lepas tanpa henti sedikitpun antara kita. Tanpa mau tuk tergerus waktu, tanpa pernah berharap akan jadi masa lalu. Tiada kata rindu, waktu itu hanya saja keluh dan amarah masih menyelimuti namun semua hanyalah perasa untuk kisah yang lebih berwarna dan bahagia. Lalu detik-detik berkerumun dalam waktu kian hari kian bergilir, menua sudah pertemuan kita tanpa ada saling


tatap dan kabar hanya kilas angin lalu. Tanpa pernah ada cerita nan mengelitikkan telinga diantara kita pula tiada rasa saling duka ketika satu diantara kita tengah terluka. Pernah suatu pagi, aku menatap surya dengan penuh harap semoga tidak ada kata lupa diantara kita. Usia bukan alasan untuk terpecah belah, ingat kita hanyalah tidak berjumpa demi sebuah asa dan asuh keluarga. Dan perkenalan kita kian menua namun jangan pernah sirna. Terima kasih dulu telah mengenalku. 2 Maret 2019 #222 Disini seperti surga, tanpa ada hinga. Sungguh aku menyukainya. Menikmati surya tanpa adanya jeda. Terima kasih, Sang Penciptaku kau izinkan membuka mata dipagi buta tuk tidak melupakan bahwasannya senja sebelumnya adalah surya. Ufuk timur bersambut hangat penuh siluet, ah, indah, ya. Kupetik sepotong harap sembari menatap cahaya yang menawan nan kian terik kala beduk berkumandang. Semoga, esok dan seterusnya, aku sanggup menatap sunrise diufuk timur tanpa ada rasa terluka dan melupakan semua yang melukai hati selama ini. Indahmu tak tersaingi oleh siapapun, surya akan benar-benar menyukaimu kali ini dan sampai kelak. 16 Maret 2019 #223 Hujan Ia, merintik. Guntur menyemai beriring sambaran kilat penuh hasrat. Angin sepoi penuh hentak mengalun bersusul ombak berderu resah penuh basah. Ah, sudahlah. Sekilas dahagaku


terhidrasi oleh gelombang pasang surut air. Memang tak biasa, sedia kala sewaktu senja mengatasnamakan kita. Berukir aurora bertajuk penuh silau, menyerap sinar dan kembali awan berhias bintang. Desah napas kunang mengundang lamunan yang sempat bersemayam hangat diufuk timur dan saat itu pula, denyut nadi kian mesra mengarungi jantung yang bertatap pelangi penuh emosi tanpa alegori dan rima sekecap pun. Selepas itu, debar tak beraturan menjamur merdu beralir cucuran keringat dari segala pori. Dan, kepakan sayap elang menampar penuh tajam. Aku sadar, ini sebatas hayalan. Tanpa dirasa, rundung malu penuh sipu menerobos ulu hati. Lalu, aku menyudahi segenap rasa ini. Kepulanganku yang berarah diikuti derap langkah berselimut hangat sang surya penuh bahagia, dan pada akhirnya. Kau hanyalah sebatas semoga yang bersyair indah dalam doa. 29 Maret 2019 #224 Dan aku mulai mempertanyakan temu Sementara rindu makin mengebu, saat butir debu tak lagi tertiup terjangan angin. Tapi, aku mempercayai sebuah pasti yang kian nyata, iya, kepastian akan kau. Yang akan datang dengan segera tanpa gesa, memang aku begitu mengenggam mesra tatap mat akita sedia kala. Namun, entahlah, yang kau isyaratkan itu apa saja. Belum juga kutahu secara pasti, kian hari kian mengisi hati yang sepi. Sepenggal kalimat terucap, namun tak smepat terserap bayang membabat tuntas tanpa secuilpun tercecer. Kau tertawan mimpi sambil lalu coba mengenyam rasa tanpa sirna tapi masih saja kau bersahaja. Jutaan elak, kutoreh demi lalai akanmu. Tetap saja, kau diam


tak bergejolak sejengkalpun dari sini. Iya, dari sini. Apakah kau tak paham? Aku disini tersakiti, menata hati yang membaur oleh sepi merintih penuh pedih menanti kepulanganmu disisi. Kuharap kau, lekas kembali. 30 Maret 2019 #225 Sudahlah bukan lagi perihal surya yang rindu akan senja Atau kamu yang bersajak tanpa menuai temu detik ini? Bukan! Tolong jelaskan perihal janji, iya, janjimu yang tak lagi menjadi pemanis dongeng si kancil anak nakal. Sebutkan sekali saja, asal mula kepastian tanpa sebab yang kau ungkit. Kendalimu kian liar tanpa cakram, apa kau tak paham rasa ini kian membinbangkan? Harusnya kau tahu, semua tatap tanpa ucap adalah tancap tak berikat. Kau makin melukaiku saja, rasanya inginku ludahi otak kolotmu itu. Semena-mena berpijak didasar hati hingga membuatku berambisi dan lalu pergi tanpa psah sepenggalpun. Oh, kapan aku bisa lagi menemuimu dan detik itu akanku maki habis segala harap yang kau ciptakan sampai sejauh ini. Tunggu saja, aku akan disana saat kau menginginkan aku segera reda akan luka. 30 Maret 2019 #226 Rindu Hmm, setiap bait selalu saja kamu, Rin. Entahlah, rindu kian candu bagiku. Kurasa, ia tak pernah cukup dikutip dalam satu buku. Tak akan pernah selesai


dalam tiap paragraph sedangkan dalam syair lagu kau tak selalu bertempo sekali saja. Kau tak cukup ruang tuk menempati porsi relungku, sebab kau rindu , tak mampu terperangkap oleh getar gendang telingaku. Bukan tuli, namun kau kuat melawan rasa hati. Hingga tak lagi sunyi, berduyunduyun kau berbisik dan terlelap dalam hangat peluk mimpiku. Argh! Kau mengagetkanku saja, dimana letak tata krama mu? Seakan kenang yang sempat terlupakan kembali kau luapkan. tapi, aku menyalahkanmu adalah sebuah kesalahan. lalu rindu ini milik siapa? Jika memang temu adalah obat mujarabnya dan waktu adalah jawabannya, lantas dimana aku akan menuai rindu dari segala temu waktu itu? Katamu, waktu dimana bukan masa lalu. Iya, kau benar, rindu. Kau selalu benar, aku tak pantas merengek untuk disegerakan sebab temu memang dicipta untuk sejenak merindu. Ngobaran, 30 Maret 2019 #227 Benar, rabun mata ini ketika mengulas kembali masa dimana dunia lebih indah dari segalanya. Aku menatap surya dan lalu berkata, bukankah sang pencipta adalah maha adil? Ia ciptakan surya diufuk timur untuk senja yang menakjubkan kala petang sebagai pelengkap siang kala terik mentari. Malam menjelang bertabur bintang memang, namun ada satu kejanggalan lagi dihati, terkoyak sepi kian merajalela diotakku ini. Iya, perihal dunia aku amnesia urusan apapun. Bahkan hingga dipuncak malam larut usai surya tersenyum dan menyapaku penuh hangat. Aku berbenah dari segala putus tak berasa waktu-waktu silam. Kini, izinkanlah aku menjadi makhluk-Mu yang pandai berterima kasih atas segala


syukurku. Memang aku adalah yang paling pandai meminta. Namun akan segala adilmu dan semogaku aku mempercayai satu hal, dunia tidaklah kekal. Aku pula pembangkang terhebat dati semua yang hebat, maaf yang telah menyia akan segala nikmat. 1 April 2019 #228 Rasa sayangku terlalu kaku untuk menguak segala ucap penuh nasihat tiap bait mulutmu mengeja kumpulan abjad, balasku teramat enggan untukku tebus segala kasih dan cinta yang kau curahkan. Segala khawatirku ciptakan demi sebuah ingin yang harus kau segerakan. Kan lalai yang takku pertanggungjawabkan dan tanpa aku pertanyankan seklamitpun. Resahmu melebihi dari raguku dalam tiap alunan langkah mengetuk keras akan dunia yang kejam. Bimbangmu melampauiku memilih dua keputusan dalam sekejap. disaat doamu melantun tinggi pada sang pencipta menembus lapisan langit ketujuh, aku malah terbata mendoakanmu. Sungguh, kau memberikanku apa arti kaya yang sebenarnya. Dan setahuku, kaulah wanita terkaya didunia ini yang berani merawatku tanpa imbal sedikitpun. Dari mana, kau dapati hati sekaya ini, Ma? Sungguh aku tak berhati dan tak mampu sedemikian rupa. Ajari aku sehebat dirimu, Ma. Walaupun kenyataannya aku tak mampu menjadi sehebat dirimu. Betapapun aku berucap terima kasih dengan sangat pada pencipta yang telah menciptakanku oelh wanita hebat yangku sebut Mama selama ini. Secarik bait untuk sang Mama tercinta, 2 April 2019 #229


Pernah pada satu titik aku mencintaimu namun pada titik lain aku melupakanmu. Kurang begitu pasti, pada titik yang mana harusku mulai. Sedang dikananku ada penantian dan dikiriku ada penghianatan dalam jalin persahabatan. Entah, canduku melupakanmu memang menyulitkanku namun kejujuranku mengunkap semua rasa yang ada kian menyudut pada retak sebuah keakraban. Lalu, jika aku memilih diam, pihak mana yang akan menguak semua gelisah dan kerasku berpikir tentangmu? Jika benar ada, lantas pada siapa yang dihuni salah? Sungguh bukan khianat yang kutabur namun cinta direlung tanpa kata permisi. Sungguh, aku memang mencintaimu namun bagaimana dengannya? Takutku tak mampu melawan segenap benci diantara kalian sebab kepada kalianlah aku pula berbincang soal rasa, apakah pantas kumembalas dengan menuai rindu bersamamu? 3 April 2019 #230 Perihal lama, aku memang sudah cukup lama menunggu. Namun, bukan menunggu jika sebentar saja. Titik jenuh memang ada bahkan selalu ada, tapi dari sini aku memaknai arti kehilangan. Iya, kehilangan rasa ini. Disaat tak lagi ada secuil pun cinta tersisa ketika itu pula dirimu hengkang dari ketidakpekaanmu menanggapi hati ini. Lantas, ku peroleh sesal yang sesaat sesak. Benar, perihal menepati janji aku tak fasih untuk itu, maafkan hati bilamana rasa yang terbina lewat tatap kita sudah benar-benar sirna. Bukan sia bagiku mendiami relung sepimu tanpa hentakan syair pantun cintamu namun waktu beriring kata tak senada pada yang dirasa. Jadi, jika kau muncul kala lalaiku akanmu tolong jangan sampai kau memilih mati dalam seklamit abjad sayang untukku yang


tak sempat kau tuai. Sungguh itu bukan mauku, membimbangkanmu saat tak ada apapun dihatimu dan mengecewakanmu disaat detik waktu tak lagi berdenyut padamu. Mungkin, kita tak menyatu dihadapan penghulu dan wali-wali nikahku juga akadmu memang bukan bersamaku. 5 April 2019 #231 Aku tak tahu lagi secara pasti mengenai ujung senja terindah penilaian mat aini. Dan lagi aku dibisukan oleh ucap selamat pagi termanis persembahan darimu kala singsing surya menyemai bumi penuh cinta. Pula, aku tak menduga terik siang mampu terterobos olehmu tanpa ragu sedikitpun yangku tahu kau hanya akan melukai dirimu sendiri. Sesak yang kau tuai dalam timbunan temu selepas hujan kembali muncul dalam pandangku. Lagi-lagi, kau semerbak wangi penuh sunyi kala sepi berhari-hariku menerawang panjang tentang akhir yang singkat. Tanpa paham betul kapan dedaunan akan berguguran, ingatan kembali berjatuhan bak dahan jati kala lebat badai menghampiri. Namun, pokok pangkal indah relung senyap ini. Bagaimana sekeras ini kau mengetuk dan mengerumuni otakku dalam denyut yang menguat oleh waktu menetapmu. Sementara singgahmu tanpa ada nada penuh ria secuilpun, motif apa lagi yang kau kelabuhi tuk menyulam yang telah rapuh ini. Tolong kelarkan secepatnya, tanpa ada kata luka. 6 April 2019 #232 Tuhan memang menjanjikan sebuah bahagia penuh usaha bersanding doa. Namun, bila hati tak sanggup mengusahakan


pertemuan disudut waktu. Apakah mengkin doa saya Tuhan mampu mengabulkan semua yangku utarakan? Tuhan bilang, berdoalah dan aku akan menemukanmu keajaiban dalam tiap bait doa yang terpanjatkan pada penghujung malam penuh kekhusyukan. Namun hambar rasanya bila aku hanya berdoa dan lalu merengek dikabulkan. Namun, pula aku yakin semua akan teraminkan sembari menikmati penantian dengan perbaikan. Aku memang tak begitu teliti dalam beragama akan tetapi masih saja meminta lebih padaNya selama ini. Memang Tuhan penyayang segala umatNya yang mencoba membaik walau belum baik. Semoga saja do aini kian nyata ketika Tuhan telah berkata “Sudah saatnya tiba, Nak.” 7 April 2019 #233 Aku memilih diam dalam sejuta bahasamu menolak segala kepastian, bukan berarti aku mundur dari segubrak mandate yang tak terusahakan olehku. Namun, satu hal saja. Mengertilah porsiku yang bukan lagi gubrismu menguak semua lemah dalam selimut malasku. Aku harap, kau tahu diri ini tak sampai hati menilaimu bagai berandal tak beretikat budi nurani penuh santun dan harga diri. dan ketahuilah, kau memilih cekcok seteru tanpa lega dihatimu selalu. Apa kau sehina ini? Memecah yang tak pantas bercerai, memutus ikat yang sempat kuat. Peduli apa kau perihal kecewa? bahkan detik ini kau masih pikun oleh jelmaan janji yang kau anggap mimpi semalam. Iya, memang diri ini tak berkutik seketika derap langkahmu menyelimuti telinga dan mata terperangkap oleh tatap mu yang kian hangat. Sehanyut inikah kau menyeretku? Dan lalu kau menyamaratakan aku tenggelam


dalam masa lalumu tanpa ragu sedikitpun pada hari kecilmu. Aku rasa kau sama mempersembahkan keindahan dan lalu pergi selepas hadir pelangi tanpa ada kata singgah lagi. 8 April 2019 #234 Tentang akhir aku juga takt ahu pasti, mengenai ujung pula aku tak menahu lebih mendalam dari sedari dulu. Perihal bersama selamanya bukan suatu bukti tentang harap yang musti terjadi. Namun, persoalan semoga aku muali berjalan seimbang mengarungi waktu dipenuhi sepi tengah rintik kala ini dan seterusnya, tak lama pula aku bersemayam dalam doa seribu pintakan membersamaimu setiap denyut napasmu. Itu bukan suatu janjiku padamu namun aku akan selalu menyemogakan kelak bersamamu. 9 April 2019 #235 Aku tak tahu ucap selamat pagi semacam apa yang indah untukmu, jelasku dalam relung rindu yang bermekaran selepas hujan akhir penutup tahun ini jikalau harapku nyata akan segera disemogakan namun sudah pasti pengahrapan beriring kerasnya ku memberontak waktu tetap ada dan akan selalu, untuk perihal doa aku rasa lebih dari cukup aku pinta dengan bercucuran air menderai juga tutur yang terbata tanpa sempurna terlantunkan. Dan sisanya dia singgah dihati dan tak akan pergi lagi. Sampai nanti, januariku yang tak muda lagi. 10 April 2019 #236


Penutup senja pernak Pernik dunia dan segala halusinasinya. hangat terang namun sedikit dari banyak kenyamanan bukanlah dititik keramaian yang menyudutkan sunyi namun lenggang-lenggok khalayak kian memporak-porandakan jiwa yang terbelenggu sepi. Lalu-lalang mengharuskan peran mencari kedejukan, tegur pencipta lewat segubrak problematika yang menjalar ke urat syaraf dan seketika pundipundi fana mati. Dan lalu, mengais sunyi lewat sepi. Alam sadar menguak, bahwa pintu terketuk keras lonceng nyaring berdering. Kuasa memberi isyarat lekaslah kembali. 11 April 2019 #237 Semoga saja rinduku tak sampai hati hanya jeda berkerumun lewat mimpi. Aku tak tahu pasti, hanya saja pagi kau lenyap dalam jangkauanku. Terlelap, seakan kau kembali berkelimang kenang lewat hayal. Satu besikerasku, masih bisakah rasa ini menahan rindu dengan sepercik temu lewat mimpi bukan hati. 12 April 2019


#238 jangan menuggu fajar menyambut pagimu, lelaplah bukankah kau lelah seharian menyongsong kehidupan? Jadi jangan hanya menyaksikan senja menjadi alasan Sudah, cukup simpan dulu dan kemasi yang berserak dengan apik dialmarimu Kapanpun kau membuka, bukalah semaumu Asalkan jangan sekarang, kau masih tak cukup kuat Kau masih kelelahan dalam sisa berjuang sendirian Maka, tidurlah dan bermimpi indah Barangkali, esok tiba saatnya tenagamu kan pulih sepnuhnya Untuk segenap lupa yang harus kau melupakannya #239 Beda dari rasa dan kata aku lupa perihal bahagia, tanpamu


pula, aku bisa bahagiakah ada atau tanpamu seruput kopi berombak tertiup desir hela napas ketika hentak mengeruk begitu dalam ingatan genang membanjiri otak yang sempat gersang tersibak benih pasir berdebu penuh bimbang nampak yakin aku mengeroyok mimpi-mimpi yang sempat mati tak bersemi kini meratap penuh sepi, kau tak kunjung pergi dari hati hari ini ku lalui nan lampau kau tertinggal dalam bayang dan kau tak segera datang sayang, tidakkah kau rasa resah gulana? Jiwa ini akan kepulanganmu Betapapun letih raga ini merintih, merintis segala tangis Menjadi pemecah keheningan dalam kesendirian Apakah kau dungu?


Hingga kini kau tetap bisu atas Lukaku dalam merindukanmu #240 Kepastian memang selalu aku ragukan Apalagi kau bukanlah yang bisaku pandang sedia kala Kau tidak pernah ada dalam genggam Tak pernah hadir dalam tiap pelukan Pelupuk rindu mulai menerka dengan gontainya Aku heran, kenapa selalu saja kau dan rindu Terpaparkan seolah gamblang Padahal, nyatanya kau teramat absurd Untukku ukirkan dalam pahat penuh cinta Gundahku akanmu melampaui kekacauan pikirmu Kala tanggungjawab tak rampung dalam sekejap Kini, merintih rindu sendiri secara diam adalah


Terindahku memandangmu pada pori kecil yang tak kasat sekalipun kau menerawangnya dengan teleskop Tentang tidak adanya aku saat kau terluka Maafkan aku belum bisa disisimu Kelak relungku akan segera menyudahi rindu klasik penuh misteri ini #241 Mungkin benar kata orang, aku akan lebih sulit dalam menantimu detik ini Akan banyak kekeliruan yang terus melaju, Kian memikunkan otakku, bisa saja Namun, soal sang pencipta Aku yakin, Dia telah menyiapkan jawaban terbaik Atas permohonanku dan peraduanku selama ini Bukan sekedar halu, tapi ini persoalan tentang apa yang sudah Tuhanku janjikan akan kun fayakunnya


#242 Wanita paruh baya bernama Mama Dalam sudut rumah yang penuh enggan dan angan Kau menuturkan lantunan kisah hidupku Penuh liku disetiap denyut nadimu Ucap doa terungkap seakan penuh ambisus Ku terpa, ku berontak melukai pundi relung jiwa ragamu Luka menjamur dan belati menancap hebat Pada ulu hatimu tiap detik waktumu berhadapan denganku Namun, luas Samudra terbentang memaafkan Harap dan doa khitmat untukku tanpa peduli Iba dan berbalas di masa senjamu terhadapku Maafkan, aku. #243 PERISTIWA 13 OKTOBER 2022


Bahasa kalbu lewat pertemuan semu Ah aku rasa nyata, adanya Hanya saja rasamu memburu bak peluru Kemudian membujur kaku, dan hilang seketika tanpa deru Yang benar saja, ceh! Tiga bulan, kau anggap cinta? Sedang yang kemarin saja tuntas belum seketika Kini, tersisa kiasan dari makna apa itu rima dalam rindu senada rayumu. Hanya ada terapi healing, ya, kamu pergilah Boleh jadi, aku akan benar-benar membaik Tidak akan salah lagi Dalam pilih yang lukanya tak lama pulih #244 You’re my sky


Kunamai kau langit, bukan tentang edarmu nan tinggi menjulang Yang tak bisa aku gapai, dan aku akan kewalahan meraihmu Bukan tentang letakmu, nan jauh disana, yang selalu ditinggikan Melainkan tentang kamu, langitku Langit favoritku, yang tidak akan selamanya mendung Pasti akan senantiasa ada cerahnya, juga. #245 Sebait rumpun cacat perihal sesal Tentang kabar buruk, kepada siapapun yang akan pergi hilang tanpa ganti Mengenai luka purbakala, kalaku, seorang berandalan. Dan perihal kecewa yang amblas menyayatmu Terpupuk, mandarah daging Mohon, ampunkan binasa ini


Daya tamping otakku, terlalu picik melumatkan akar-akar dengki Sementara daya ingat berguguran gersang Lantas, menyengsarakan koloni abadi Seakan keserakahan emosi tidak senaas ini Sedang, yang di penjuru bumi Berombak memukuli tuli ini Bejat, memang! Senja tewas terhempas hamparan ketidaklapangan Jiwa akan porak-poranda ini Surya sudah mengasingkan diri dari habitatnya Mencampuri urusanku didunia ini Terlebih kau, sepasang telinga yang berjuta kali Terbesit remuk-redam akan egoku Sepasang mata yang merekam selaksa idealis


Nan mengacaukan tatanan nalar Sepasang tangan yang mendekap erat Beriring kecemasanku yang tak sesakit haturku padamu Sepasang kaki yang senantiasa kuat Menuntunku dari lembah memilukan Aku sedikit paham, bahwa egoku tidak melulu harus diluapkan Sehingga mematikan rasa kasih dan sayang yang menancap tertanam rapih nan lebat di dasar hati Aku mulai belajar, perihal tutur sesabar yang terdengar Lewat bibirmu nan penuh pesan menenangkan Maaf, atas kanak-kanak dalam bersolah Maaf, karena tolol ini kerap kali merajuk ingin di dengar Sedang, diriku masih tak cukup sanggup ditempa oleh minusnya empati dan simpati Apalagi dianggap mati


Aku mohon, maafkan setan bejat disetiap gerak-gerikku Jangan kecewa lagi, Tolong, aku sungguh memohon pada kau yang begitu piluh menyaksikan betapa menyedihkannya aku diberi nyawa Jika hanya akan sia-sia tanpa restumu Bahkan sejauh ini, aku masih memperkarakan Sebuah hina terhadap kau yang begitu mulia. #246 Perihal Rindu Berlalu oleh waktu, menumpuk harap temu Memupuk kelabu nan membiru Dan kau, Isyarat cinta nan memburu Untuk sebuah tunggu, bernama rindu


Click to View FlipBook Version