The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tika Dani, Sederet Ruang dan Rasa Kerinduan (Kumpulan Puisi)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tikadani01, 2023-02-11 08:22:43

Sederet Ruang dan Rasa Kerinduan

Tika Dani, Sederet Ruang dan Rasa Kerinduan (Kumpulan Puisi)

Keywords: Kumpulan Puisi

tinggalkan akan tetap menjadi masa dimana kita tidak bisa kembali seperti semula dan sama persis. Sisanya hari ini dan esok lusa, agar aku dan kamu segera baik-baik saja agar dapat segera mengulas sejarah itu atau bahkan menuliskan sejarah baru sejujurnya aku masih saja sama. Dalam artian rasa, kamu tetap akan menjadi prioritas utamaku setelah sang pencipta, kedua orangtua dan keluarga. Inti pokoknya tersirat dalam kalimat yang aku ucapkan, jadi jangan khawatir kalau setelahnya aku akan tetap disisimu. Aku mengaminkan apa yang sudah digariskan, tinggal kita berjalan perlahan agar tidak kelelahan. Selanjutnya aku akan baik-baik saja percayalah 14 mei 2020 #101 Perihal rindu lalu, masih sama. Bergema dan bertebaran mesra, wahai hati bimbinglah fikirku dengan logic agar kelak jika rindu itu berangsur-angsur kembali segeralah baik-baik saja. jangan ada lagi pagi berkabut tebal dan jangan lagi timbul malam tak berbintang. Tolong sekali ini, biarkan harihari yang tak sempat mengembang berguguran perlahan jangan ada yang dipaksakan, jangan pula merasa ditekan sebab persoalan rasa itu timbul sedikit lalu banyaknya pertemuan menumpuk apik jadi jangan salahkan waktu


apabila tetap saja masih ada rindu yang sama untuk dirimu. Sepenuhnya, lekas berbaik sangka pada hatimu,ya. 18 mei 2020 #102 Cinta juga butuh berbenah, cintamu pada penciptamu. Cintamu pada yang melahirkanmu,cinta pada yang mencintaimu, cintamu pada kakak-kakakmu, pada sanakmu, pada sekelilingmu. Cintamu pada sebuah pertemanan, cintamu pada setiap sepersaudaraan, cintamu pada yang sudah berbuat baik padamu, cintamu pada dirimu sendiri, cintamu atas hidupmu, atas fikirmu dan juga hatimu, cintamu atas ciptaanNya dan cintamu pada seluruh penjuru dunia beserta kota tempat persinggahanmu. 27 mei 2020 #103 Api saja dengan air bisa padam, tapi kenapa batu yang keras harus terbentur dengan keras pula? Bukankah dengan kelembutan sikap keras itu akan meredam? Lalu kenapa manusia bertindak demikan, tidak mendengarkan penjelasan hanya ngamuk begitu saja. 4 juni 2020 #104


Jika cinta saja datangnya tiba-tiba, lantas bagaimana jika benci juga datang tiba-tiba? Mungkin saja benar bukan persoalan benci pada dia dan hatinya. Melainkan sikapnya yang barangkali acuh-tak acuh. Bisa saja yang kali ini, tidak ada duka sama sekali. Tapi sedetik saja bisa berulang hujan di bulan juni seperti apa kata Eyang Sapardi Djoko Damono namun ini tidak sebijak dan searif hujan bulan juni miliknya. Mungkin juga tidak setabah hujan bulan juni versinya. Sukharjo pada akar nan simpang-siur 6 juni 2020 #105 Bukan aku, tapi yang sudah berbekas itu tidak mungkin ku biarkan menghambur dengan seharusnya. Aku masih menyaksikan kau begitu lara dalam melepas yang sudah ada. tapi tidak mudah memang jika melampauinya sendirian. Masih lugu, aku tidak lagi ragu pada pernyataan sore itu. aku melanjutkannya pada berkas yang sudah bertitik satu saja. merangkul sebelum sia-sia. Aku mohon! Jangan kau menimpal balik tanya yang sesudahnya akan membuat runyam keadaan. Bukankah, yang tersudahi hingga detik ini adalah jawaban atas tanyamu yang mengebu-ngebu? Inilah jawabannya. Jawabanku untuk tanyamu. Sukoharjo selepas hujan, 2020 Juni 13


#106 Entahlah, seberapa kali aku melafalkan naskah cinta dari dalam rindu. Aku sudah tahu sebelumnya, tanpa kau atau siapapun itu mengabarkannya. Aku hanya lelah berjalan beriringan dengan angin, berpapasan dengan hujan nan begitu dingin. Aku bukannya tidak bisa hidup tanpa hadirmu, hanya saja pertemuan-pertemuan itu sudah hilir-mudik jadi tidak mudah untuk bertindak baik-baik saja setelah apa yang sudah tertulis dalam benak. Bukan sulit dalam hal melepaskan, namun bahasa rindumu begitu syahdu dalam bersekutu . nyanyian syair cinta itu sekarang mendadak merdu, bukan karena kalbuku dipenuhi oleh rasamu yang begitu candu. Namun, perihal keberadaan dan waktu selalu saja gagal membuatku wajar. Karena yang ada tidak akan bisa dihapus, bukankah seorang hamba pernah melewati masa lalu? Dan waktu menyediakan masa depan untuk berbenah bukan? Membaikkan hati yang sunyi, menata cercahan mimpi dan melanjutkan hidup dengan lebih pasti. Agar tidak berbunyi ikhfa’ lagi 16 juni 2020 #107


Dengar! Aku tidak hilang saat tak datang hujan, aku masih di tempatmu berulang janji. Jadi jemput aku disini, aku tetap ada dan akan terus ada. ya, walaupun tidak saksama, aku akan disisimu sampai semesta membantu mengucap doa-doa itu untuk kita. Jika nanti masing-masing dari kita saling meninggalkan, tetap biarkan saja! dua pasang insan ditakdirkan mengenal cinta bukan semata untuk disatukan. Kau tahu? Aku tidak ingin hilang menghilang seperti jingga pada pelangi, aku hanya mau saat hatimu lelah silakan pergi tanpa kembali dengan cinta dan beritanya. Namun, jika kau sudi tetap singgah. Tolong jangan singgah yang tak sungguh, perihal kepergian aku sudah sering kali berasumsi tapi kedatangan dan lalu hilang itu bukan apa-apa yang patut di perbincangkan hanya saja hati punya ruang pribadi untuk sembuh dan tersenyum lagi. Selebihnya jangan lupa katakan permisi, karena ini hati bukan tanki yang dapat kau isi bensin atau oli. 17 juni 2020 #108 Pada dedaunan yang berguguran tertimbun di bumi, yang terombang-ambing oleh gelombang angn entah timur atau barat daya. Ada kabar baik untuk kau dengar aku disini dengan hari-hari yang baik pula. Tapi keberadaanmu yang


belum sempat kau kabarkan untukku. Tolong untuk tidak terluka secuilpun. makan dan minumlah dengan baik. 18 juni 2020 #109 Wanita yang paling beruntung, sudah lama aku tidak mendengar letupan-letupan bergelora itu, lagi. Semenjak gerilya rasa dan nama sudah berbeda. Sekarang, saat rindu kembali memanas kau datang dengan sepucuk surat. Kau ingin merubah surgaku, katamu. Kau ingin mengambilku dari cinta pertamaku, kau mengatakan cinta itu lagi. Bahkan kau bersedia mengkhitbahku aku bahagia bukan kepalang mendengarnya. Kau bahkan sudi membahagiakanku dari sisi manapun, kau akan menjaga dan berjanji hingga sesurga nanti. Pada cintaMu yang begitu tulus digariskan untukku. Namun, aku bukanlah wanita akhir zaman yang bersahaja. Aku tidak banyak balas untuk sebuah rasa yang kau perlu, aku hanya mau.kau disisiku katakan aku diakhir dalam perbincanganmu dengan Rabbku. Semoga kita bisa berdoa disepanjang akhir sepertiga malam , itu saja. aku beruntung memiliki rasa, dan rasa itu hanya cukup untuk dia yang sedang Dia haturkan. 5 juli 2020 #110


Aku tidak pernah tahu bagaimana cara mencintai sepanjang jalan tak berujung. Aku akan berterima kasih padaNya karena telah menciptakan aku dirahim wanita hebat sepertimu, aku tidak akan pernah berhenti menjaminkanmu surga kelak. Seanjing apapun aku, kmohon jangan terluka lagi ya bund, dunia sudah mengecammu buruk bahkan hina jadi jangan terluka lagi, Bund. 6 juli 2020 #111 Tidak ada cinta yang tiada putusnya menyamaimu, tidak ada sesosok pemimpin yang tidak keras kepala sepertimu, tidak ada art sedarah tanpa rekah, tidak akan pernah ada penengah yang mengalah layaknya engkau dan yang termuda senantiasa mengubris itu, pucuk hingga pungkas, terurai dan mengurai tidak ada jalan cerita yang hina selain masa kecilku, tidak ada jalan yang terjal seusai kelahiranku tidak ada lebam yang menyakitkan selain ego. Pendeklarasian ikrar janji tidak membumi, biadab sekali anakmu ini! tidak tahu asal usul, hanya sesekali menengok dan sejenak melambai. Sementara, sikulus dedaunan terus membentuk crycle yang mengudara, didalam tanah gambut. Yang gersang hanyalah hati karena sedari jingga tenggelam bermesraan pada semburan lidag api yang meletup-letup dalam katup sedap malam. Tidak ada


runyam yang ruam tanpa goresan tangan. Apa maksut dari hingar-bingar ini? syahdu terkenang, rindang terasa, riang dalam ingatan. Selepas tidak yang bukan-bukan 23 juli 2020 #112 Maaf jika aku telah menuhankan rindu dalam deru resah menunggu tapi tidakkah itu adalah obat paling mujarab? Aku memulai rindu dengan rinduku seorang. Seruannya menawan, menyisakan banyak kenang. Setahun mendatang bagai jalang yang dipukul hebat dan berkobar tapi tak retak. Tipuanmu kini menghalusinasikan lekuk alur cerita dalam permai. Tanpa dosa, datang dan pergi sesuka hati dengan tetap beralegori seolah semesta ada dibalik campur tangannya. Silam lenyap tak sempurna, harusnya sudah lebih dulu sirna tapi apakah masih ada rasa yang sama hingga tercecer secara gamblang? Tidak lebih daripadanya, untaian rindu bersyair pilu. Jalan dua arah bisa saja menetap dan menempati harap, merintih maju menyusun percabangan temu bukan suatu kegagalan yang dianggap sempurna begitu saja. perihal dua nyawa dalam temu adalah bukan tanpa alasan, lalu bagaimana mungkin dinginnya pantai kala larut tak membuat riuh rindu pasang dan surut? Aku rasa bunga yang layu bukan tanpa air melainkan karena garisnya demikian, kita pula 28 juli 2020


#113 “Selamat malam, sayang. Makan dan minumlah dengan baik, jangan lupa selalu perbaiki hubungan sama Allah, ya, agar kita segera mendapatkan restuNya dan semesta lekas berpihak.” Ujar Val yang berhasil membuatku tertawa geli dibuatnya, dari pesannya dari whatapps waktu semalam 30 juli 2020 #114 I asked for the best from Allah and i got you. Teriak Wirya pada suatu ketika setengah berbisik, rasanya yang gemuruh seakan menggemparkan tantanan nalar. Deburan ombak sahut-sahutan dal lalu mencekam. Huft! Napasku mengalun bebas, terhempas dan memburu lega. Bukankah ini adalah hari-hari mimpi? Lalu apayang mengundangmu datang dengan partikel rindu? Gumamku dan menatap gawai. Aku datang untuk rindu, imbuhnya dari ujung sana. Happy 7920 days, dear, serunya kian nyata dibalik punggung tempatku menatap bebda pipih favoritku. Dia disini sekarang, didepan bayang pupil dan retina yang tengah beradu menyeimbangkan berkas-berkas sayu. Kau benar datang? Tanyaku mengebu


dalam dekap erat Wirya kembali berikrar dalam bisik I miss you until my stomach cake, baby. Akupun tersenyum malu dalam persembunyian hangat peluknya. I am a fan of you, Juan Prawirya Ardhi Ananta. 3 Agustus 2020 #115 Heii, aku melalui jalan rindu itu lagi. Rindu ruai bertahun silam, menapaki ruam-ruam pada riuh dan hangatnya pertemuan. Menyaksikan dirimu berjalan ditengah gentingnya malam, melaju dengan roda dua itu hingga saat ucap perpisahan kau kirabkan. Dedaunan yang berduyun-duyun mesra bersama dengan angin sepoi-sepoi kini menjadi gersang dan menyengat, mengering lalu tandus. Sungguhpun kau sudah tahu itu lebih dulu. seharusnya, yang berguguran di sana bukan lagi alang-alang. Tapi apa? Sekarang jiwa-jiwa yang ambruk kini mencoba pulih malah justru berhamburan. Aku mohon, simpankan rindu versimu itu untuk sebuah temu antara kita yang selanjutnya saja. jika memang tidak dapat saling mengenggam, aku harap kita masih saling mengenal dengan keramah-tamahan. Jadi tetaplah hidup pada rindurindu yang menumpuk berhari-hari penuh haru, yang sempat mengusung tawa kala senja. Selebihnya, sisa-sisa reruntuhan


hadirku dengan hadirmu biarkan merestorasi dengan sendirinya. Surakarta tanpa kamu 10 agustus 2020 #116 Tidak semua rindu dapat kau usapkan, tidak semua temupun bisa kau tiadakan begitu saja. karena setiap detik nyawamu berombak, tidak semua itu melulu pertanda lara. Kau mempunyai penawarnya sendiri, kau sanggup tanpa bersimpuh penuh rapuh. Ada atau tanpaku, tetaplah tersenyum dengan baik bukan untukku tapi untuk semua orang kesayanganmu. Tidak semua kalimat duka mampu kau rapalkan, tidak semua-muanya pula angan bisa kau kabulkan. Semua ada porsinya, jadi berdamailah dengan semesta karena dia penuh restu di kedua kakimu. Tidak semua singgah dapat kau arungi temu, tapi lautan nan membiru sanggup berpatuk terhadap sungguh, ketika segenap jiwa-jiwamu tengah mengeringkan duka. Sukoharjo bersamaan daun mengering 2020 26 agustus #117 Ada yang biasanya hidup terlunta-lunta, bukan apap-apa yang fanatik. Melainkan sebuah perkara rasa dan rindu, aku tidak akan pernah tahu sampai kapan temu ini akan terus


berkecamuk. Sebuah rindu yang meletup-letup kini menawan karbon kepenatan yang tergerus sudah akan titik temu. Hei, kau tahu? Aku menempuhnya seorang diri. Kau, lihatlah betapa hebatnya aku? Kerumunan itu seakan memperkeruh keadaan, damai cukup asing mencuat dan kau beradaptasi pada rindu yang lainnya lagi. Ingin sekali lagi, rasanya. Aku beritahu akan perihal rasa dan rindu itu, namun aku sudah cukup mengerti bagaimana waktu merestorasi bagianmu. Kau, kini dan dulu adalah amnesia yang lebat merayap, gundah kebiasaanmu, bahagia mungkin yang kau perlu dan detik ini kau merangkak seolah akar langkahmu singgang dan tak kokoh lagi. Lantas perwujudanmu yang sekarang bukan karena argumentasi orang-orang sekitar? Itu hanyalah sudut pandang orang ketiga. Sedang kau pemeran utama pelaku rindu dalam rasa yang sesungguhnya. Sukoharjo 29 Agustus 2020 #118 Sampai pada rindu-rindu yang tak sempat rampung mengulas dalam satu rumpun. Rumor dan romansa menggerus sekaligus mengepakkan ikrar lagi, aku memecah belahnya lagi dalam satu acuan yang berpaling menelantarkan cabik-cabikan. Yang lunglai itu sekarang bukan rindu, melainkan harap


selepas bada’ isya. Benar, jingga sore itu menjadi picisan yang beradu cukup riskan dalam temu bertumpu rindu. Huft! Yang benar saja! tidak bisakah rindu berucap salam terlebih dahulu? Hingga pada akhirnya, perpisahan menjadi ritual paling berkesan di sepanjang untaian jalan menuju pertemuan. Ritual rindu sudah pasti temu yang beruntun, dan perpisahan adalah penyedap rasa yang hilang. Tapi, rasa tidak semestinya melulu dipermanis dan mempermanis, kadang ia hambar bahkan malah hanya menyebabkan decak-decak sial saja. yeah, perjalananku baru sampai pada sebuah rindu. Baik itu tentangmu, ataupun tentang kisah yang lainnya. Sejatinya rindu memang begitu, ceh! Ada-ada saja. over dalam permulaan dan mengelak kasar dipenutupan. Namun karenamu, rindu, aku jadi tahu jarak dan waktu itu bagaimana. 2 september 2020 #119 Hujan rindu awal september. Buliran-buliran kasar kini mencuat begitu lebatnya, kadang memksa utnuk sejenak memejamkan mata dan merasakan tetesan demi tetesan rintik dari kaki langit. Terima kasih, atas petualangan seru sebelum ini. terima kasih, atas butiran yang melegakan malam ini. aku sudah berpapasan kembali penuh dingin seakan menari di


bawah hujan akan ku lakukan sekarang juga. Namun, asumsi orang-orang bisa saja aku disangka sedang dalam gangguan jiwa. Tergerus aliranmu sudah merong-rong denyut nadi ku yang memburu tersenggal seutas hadir. Rintikmu kadang melampaui daya serap akar-akar pohon dan bunga-bunga. Namun tidak apa, derasmu sudah mampu menetralkan kadar getirnya setiap tatap dan benar, kita menuainya malam ini. sukoharjo dalam derasmu malam ini 3 september 2020 #120 Jadi pendasaranmu selepas daun layu itu sudah pantaskah untuk di sakralkan? Apa perlu rindu aku buat berudu hingga kemudian hari bertajuk temu? Campurannya bukan zat kimia lagi, melainkan kemiringan lengkung yang meluruskan salah paham itu yang sudah mengacu pada gawai nan riuh di seperdelapan malam. Benda pipihmu kini melumatkan rindu yang kian berapi-api membentuk sigin yang jauh dari tatap tanpa mencuat. Seakan, unsur andai kian menyangkal. Menuding jenaka yang sempat berempati akan cinta. Syairnya merajuk pada sesapan-sesapan rendaman rembulan mengusung alur pemuda yang dilanda kegundahan dengan teramat kasar. Sudahlah, rindu demikian memang. Ingat, lajumu tidak boleh berunsur rindu atau kau akan kewalahan


menyisiri hari-hari penuh rindu. Memilah dengan apik dari kelopak hingga berakar konflik. Jangan pernah merengek, apalagi mengemis rindu atas temu. Akan tetapi cobalah untuk sejenak mengulas tepian cerita yang pernah ada, sertakan rindu yang baik-baik saja. sukoharjo gugur daun-daun rindu 9 september 2020 #121 Kadang ingin sekali bercerita, ketika langit bergetar dan bumi berporos lebih dari detik yang biasanya. Ketika carut-marut rindu lebur menjadi kepingan rindu berupa debu. Bukan kelabu, hanya saja waktu membiarkannya dengan naluri. Nalar sudah melenceng, hempas dari garis pena yang seharusnya. Prosesi genting berkemelut dingin, riuh dan menimbulkan hangat kekecewaan. Oh, ajudanmu kini tidak lagi menyapa. Hampa namun penuh warna, kemilau seakan pernuh dengan silaunya. Rupanya, temu belum sempat rampung di kebumikan teramat dalam. Logikanya, ketidak beraturannya rindu adalah buah dari salah paham nan malumalu. Jadi, rindu kian berdendang gemulai. Kutipan pujangga asal negeri Yuana, kini sudah lusuh berselimut luka berhamburan. Tapi, persekutuan kalimatnya tidak pernah usang terdengar. Gersang dari retakan ringan, berkecamuk


dengan penuh lihai lalu-lalang perbincangan. Berasumsi netif sedangkan pungkasnya tidak bergema layaknya perpaduan dua nadi yang bertatap dari hati ke hati berhari-hari. Sejenak melemah, terguncang dan lalu sempoyongan. Sukoharjo 10 september 2020 #122 Dunia mengecam, bahkan kau malah bertolak belakang, ini salahmu! Iya, salahmu! Ujung bada’ akan usai dan kau menanggalkan sia-sia. Saat semesta berpihak dan melafalkan takdirnya, kau bahkan elak dan bertindak seakan mati-matian terbawa lari. Oh! Maaf, sayang. Detik ini aku harus pergi dan kau akan tetap ku biarkan enyah. Mengertilah, ini sematamata bukan tersedak tahta melainkan mahkotamu berupa angkuh. Sudahku katakan berulangkali bukan? Kau tetap dengan terang-terangan mengusik gamblang. Jadi, kini terserah! Berhentilah ketika lelah dan teruskan setelahnya. Pulanglah tanpa anjungan, gejolak dan selaras pada rupanya. Kembali dengan seri itu lagi, namun jika masih utuh sepenuhnya untukku. Yakinlah, bahwa kita akan sama-sama kembali dari lapuk remuk ini. sembari memetik bunga mawar putih yang ku tanam menawan dan kau mengambilkan itu dari


duri-duri menyakitakannya untukku. Surakarta 13september 2020 akhir kering pekan lalu #123 Pada cinta yang berkecup mesra, buih-buih itu muncul bermekaran. Setelah iba berangsur padam dan paham, ganjil ini bergeming. Seiring angin yang mengugurkan perumpamaan semburat jingga. Membentuk segerombolan partikel melintasi katub bermuda segitiga purnama, takku indahkan bahkan melonglong pun ku tak sudi sepadan gayuhan merajuk rindu berudu itu, wahai pemilih pertikaian di dasaran palung lautan terbenam surya dengan hujan semi semu. Riuhnya pun mengadudombakan sebuah petualangan sajak. Merong-rong bak ombak garam nan terkikis. Mengigil katanya, seusai kepulangan jendela lamaku. Abai, sempat saja. wajar, jika tepat mengangga pada arus lengkung yang naik turun, kemustahilan sedang membual pada sekawanan kasih. Diantara bunyi kesunyian, dan diantaranya bulir debu menepuk halus. Redam berapi-api, sambutan perang badar berdendang sudah. Lunglai klamitan doa beribu halu, kini nalarku sedang bergejolak, hmm. Namun sudahlah. Bahkan hidup sedang mengerjakan takdirnya. Surakarta senja nan jingga, 20 september 2020


#124 Mencintaimu adalah menaik turunkan kadar gula darah. Tidak berhitung gram ataupun kilo, melainkan persekutuan muai luas rindu yang ruai kali ini, aku paham. Lewat temu yang berselisih rindu gersang mengurai terobati. Salah paham macam apa ini? bahkan jantungku menguatkan debaran yang kurang wajar. Ridnu kadang sekurang ajar itu dalam menepis temu, aish! Aku lupa menebak hari adalah erupsi, rupanya hari memang selaras pada rotasi. Sekali lagi, alunan nadamu begitu nyiur. Tidak kasat, tapi kau bahkan datang dengan sekelompok anak manusia untuk mengajakku berlari. Apa seperti ini, dewasamu dalam mengendalikan langkah? Semena-mena! Aku ragu, jika nantinya di bawah atap pada bangunan balok bertingkat itu bukanlah percakapan yang menenangkan. Aku menyerah pada kata pisah nan apik kau kemas, tapi satu hal. Aku bahkan enggan beranjak mencintai selain mu. Wahai penduduk bumi, mengertilah cintaku ini. 30 september 2020 #125 Dan aku pernah mencintaimu sedalam lautan, pernah juga mencintaimu setinggi atap bumi. Iya, aku menyerah sekarang. Menyerah pada waktu yang selalu kuhabiskan untuk


mencintaimu yang tidak perlu, aku halu. Melihatmu tersenyum karena mencintaiku dan menyaksikan senja bersama dengan kelopak mata yang bersinar dari cinta serupa. Seakan membudaya, bintang-bintang yang bertajuk itu berhiaskan gemulai rindu.seperti anak kandung saja di peluk dan diperjuangkan dengan getir, tabu rasanya kelelahan karena cinta yang bukan seharusnya. Allah saja membekaliku akal agar hidupku membaik namun apa, aku malah menggunakan akal itu hanya untuk mendapatkan cinta darimu. Allah masih menyimpan nyawa di jiwa ini agar aku dapat melangkah dalam ridhonya. Tumpang-tindih jiwa ini bahkan hanya aku pergunakan untuk merasakan cintamu yang belum jelas terasa hangat atau nyamanya. Allah, aku rindu padaMu. pukullah aku dari halusinasi dalam mencintainya, namun jangan kau hukum aku karena sudah mencintai selainMu dengan begitu terlalu. 1 oktober 2020 #126 Hanya aku yang terlalu riuh mengendalikan debaran. Tidak perlu risau, aku memerlukan sedikit waktu untuk berdiam diri sejenak seorang diri, setelahnya kau bisa berkabar melalui apapun, lewat sepaang kaleng susu yang tersambung dengan tali ramipun aku sudah akan baikan. Aku hanya butuh semenit


menghela napas yang memburu dan mengatur napas yang tersenggal janggal ini. aku tidak akan serapuh itu, termakan rayap. Aku akan kembali beranjak ketika sudah waktuku melakonkan peranku. Jadi kau tidak perlu lelah menasihatiku cukup sediakan telingamu yang budiman pada saat-saat dimana aku merasakan dititik terbangsatku. Dan mungkin ketika kita belum bisa meraih rindu-rindu dalam sepekan tertinggal, aku harap kau datang tepat waktu, bukan karena aku yang mencarimu ketika membutuhkan namun seharusnya kau lebih tahu bahwa hati ini bukanlah pagar hitam yang berdiri kokoh mengelilingi rumahmu. Bahkan, sekuat itu dia berkarat mengertilah 2 oktober 2020 #127 Dan semua tidak akan berguna, ikut-ikut yang bukan prioritasmu tentu saja akan mengusik damaimu sendiri bahkan ekonomimu aku yakin dapat dipastikan berantakan. Semua orang memang bebas meniru menjadi online shop menjadi mahasisiwa sekaligus pekerja menjadi IRT atau sepele saja membeli sesuatu untuk dianggap bisa melampaui rival kita. Termasuk bermuka dua tentunya atau lebih, muka satu aja burik masa mau muka dua burik kuadrad dong. Lebih dari itu


perkubik pangkat 3 seper delapan sigma in kian runyam sayang. #128 Filosofi kopi, ceh! Masih ingat saja, hari dimana sendirian di coffee shop dengan sepah kopi legam lekat bertemankan musik romansa sembari menunggumu yang sedang menemui orang lain adalah jenis kemoterapi melawan phobia diantara asmara kita berdua. Sukoharjo pada pertikor ruam tanpa terpejam 19 november 2020 #129 Temani aku menjajaki hari-hari sulit ini, jika memang tidak bersedia menjadi peluk untuk merangkul ceruk-ceruk lentera laraku. Tolong! Jadilah telingan budiman untukku, kau bahkan hanya hidup untuk mengasihaniku bukan mengasuh dan lalu membasuh. Kau malah menghilangkan peluk dan menambahkan sedikit pelik. Kau hanya menaburi janji yang kini jadi uji. Sumpahmu jadi sampah! 1 desember 2020 #130


Ada satu hal didunia ini yang membuat seseorang hilang respect, selain sikap. Kau mengusik sebuah kedamaian dijiwanya! Can’t respect about it! 6 desember 2020 #131 Kala itu, berpasang mata penuh terik menerkam pertikor riuhruai. Senyawa pluviophile nyaris mati merangkak, terbelalak sudah armadaku. Menelan sumpah serapah dan na’as sebuah ritme kematian sang pujangga. Perpaduan melodi rindu dan syahdu menyatu. Alegori, kini abadi pada gugusan-gugusan nadi nan ilusi. Sukoharjo, gugusan senja di kaki langit 8 desember 2020 #132 Sebuah perumpamaan rumpang kau coba tepiskan. Ceh! Namun maaf bukankah kau ahli memekik riuh? Lantas apa yangmengundangmu maju satu langkah melampauiku? Aku tidak sedang menggubri titisan-titisan milikmu, aku sedang menghajarmu pada ruai yang memuai oleh terik. Kembalilah, kau harus pulih. Pulanglah, bahkan aku tidak sedang mengajarkan sebuah kedatangan. Berdamailah pada jiwamu yang gundah, malam yang kau sirnakan tidaklah membuatku


mengigau hanya karena dingin. Tenang saja, aku sudah pasti menantikanmu pulang dalam pelukan. 10 Desember 2020 #133 Katanya, dewasa adalah pengurangan keluh. Ternyata salah besar. Itu hanyalah asumsi saja. terlanjur melekat dan mendarah daging, kadang bcah kemarin sore lebih pandai bersyukur dalam perihal apapun. Sayangnya manusia memiliki egoisme, hingga idealis kerap kali mencuat. Kadang, bocah kecil tahu bagaimana hidup berlaku dibumi. Sebenarnya siapa yang kerdil persoalan otak disini? Bahkan rasa mematikan nalar tuamu. Apa benar sebuah kagum akan mengusung unsur kanak-kanak? Kalau benar, lantas dewasa yang seperti apa yang harus dicantumkan dalam setiap kagum, cinta dan mencintai? Kemungkinan terburuk apakah dengan cinta tanpa petuah? Hiks. Sudahlah, kadang cinta banyak mengajarkan apa-apa juga. Yang pasti akan ada inti dari sebuah langkah sependek apapun ceritannya sepelan apapun alunannya segesit apapun lajunya dan sesesak apapun senggalan napasnya mengudara. Bukankah dunia akan selalu hadir berpasang-pasangan? 11 Desember 2020 #134


Seharusnya, ada dua pasang mata yang saling terperangkap. Namun tidak! Seperti terjebak, benar kian terjerembab penuh metafora, kini redup itu kaut damai itu menyeringai rindu masih ruai, investasi temu yang membahagiakan sepertinya, menanam sedikit tatap menuai penuh harap. Yah, dasarnya demikian. Bertambah satu perseratus gram perjumpaan, lipatan remuk menghujam deras melambai. 17 desember 2020 #135 Apapun yang telah digariskan, aku yakin bahwa rencana Allah memang terbaik untukku dan hidupku. Seperti apapun hidupku detik ini dan lusa, semua ada porsinya. Apapun yng terjadi bukan penghalang untukku membahagiakan orangtuaku. 23 juni 2020 #136 Pertikor sayup-sayup rindu merujuk nyiur nan nyaring pluviophile enggan menjamah ketika jingga beranak pinak membual dengan serapah yang kau rapal hingga mendarah daging. Selamat dengan sekarat katamu alibiku sudah membabit mesra dengan paksa, ingat? Kau kini telah mati suri dalam sunyi. 4 agustus 2020


#137 Apa boleh? Sekali saja, biarkan temu berdua menyatu. Semerbak bunga mawar, izinkan bermekaran seperti yang telah lalu. Menatapmu sedekat nadi berdegub syahdu, katamu benar, takdir dan rasa tidak bisa diganti jadi percuma, jika kau memintaku pergi. Perlahan, izinkan kita menyemainya. Restorasi rindu di cafe shop bersamamu kini kian apik di rapalkan hingga pada akhirnya aku selalu memaksa padaNya agar kau dan aku adalah sejalan, beribu temu menegaskan bahwa kita dimulai dari sembilu yang tercipta dan kau melafalkannya. Tidak ada jaminan akan ada pelangi setelah hujan? Kau selalu lantang menjaminkan pelangi untukku usai badai topan sore hari, kau berhutang sekarang. Janji bukan jaminan akan ada kita diantara aku dan kamu? hilir-hulu rindu mencuat hebat, mencekik seketika merinding. Kau hadir nyata terang-terangan. Kembali menyembuhkan bilur akibat dingin dengan jaket kesukaanmu itu. kau selalu gagal membuat benciku berakar. Apa benar, bahwa rindu yang beredar membuat hilang nalar? Ceh! Tidaklah demikian, mungkin 17 Desember 2020 #138


Aku tidak pernah marah padanya, aku tidak pernah menyalahkannya. Hanya saja, aku tidak suka akan caranya memperlakukanku, hanya itu bukan mempermasalahkan adilnya, bukan! Caranya saja yang terkadang mengusik damaiku, bahkan aku sangat menginginkan tikam tapi apa hidup hanya melulu tentang itu? bahkan merasakan dengan layak, aku tidak sepenuhnya. Jadi, wujud buah dari perkara lama ya ini. aku marah pada diriku, menghardik dan mematikan diriku sendiri. Bukan dirinya, bukan! aku tidak membencinya, sungguh. Merombak jahanam tapi aku tidak bisa tanpanya langkah ini akan cacat jika dirinya ikut serta berperan. 18 Desember 2020 #139 Sebuah peradaban belantara, singkat ucap diain tatap, singkat temu dalam waktu. Berudu kini kian lumpuh sengaja melinglungkan diri supaya berarti menepi. Menepi dari mderenisasi dan idealis sebab jiwa lunglai sudah akibat gumpalan dunia yang memburu dengan hebatnya lewat cimbiran hangat di sosial media dan lantas dirundung pilu akibat istananya terguncang. Jatisemi, 22 desember 2020 #140


Kau adalah alasanku untuk menjalani hari-hari layak. Kehidupan bahagia, dan mengusahakan diri untuk tidak terlunta-lunta apalagi meminta-minta. Kau adalah sebuah bait cacat yang terukir sempurna dalam sanubari. Aku kerap kali memaki bahkan untuk sekedar dihargai, ladang tandus kau hidupkan kembali seperti jeda yangku buat kau sambung dengan sekuat juang napasmu. Sebuah telepati rindu terkelupas getir, kau hadir sebagai obat mujarab menelan empedu. Iya, tidak pernah sempurna memang cintaku untukmu namun atas hidup yang kau semogakan dalam setiap denyut nadiku, aku berjanji untuk memiliki hidup bahagia dan layak untukmu. Ibu, 1 januari 2021 #141 Dibalik sepasang netra kecoklatan itu, berlabuhlah dua keping pelangi warna-warni. Kepingan pertama ada padamu sang pemilik mata yang indah penuh makna. Kepingan kedua, ada pada seorang gadis yang dengan sengaja mengukir lengkung indah untukmu. Kini, lengkung itu terbang bebas diangkasa pura menembus lentera raja. Membentuk bayang semu, dari pembiasan temu dan rindu. Disana, di khatulistiwa bersandar seonggok rongga penyelamat kirab yang hampir sekarat. Sepasang meta, menyaksikan riuh-ruai rindu semalam suntuk,


jingga hadir membawa rekah berhamburan, mewarnai berjuta bunga dialam mimpi. 16 januari 2021 #142 Kadang aku heran dengan semesta, kenapa sih ada orang baik malah disakiti. Ada orang mencintai malah nggak dicintai balik. Ada orang terluka malah tertawa, ada orang terlibat hutang nggak mau membayar. Ada yang ikhlas masih aja ngarep balasan, ada orang bego dilicikin. Yang pinter malah justru dibegoin. Hedon tapi miskin, insecure lupa syukur. Ada orang miskin di hina, yang kaya main penjara-pejara gitu aja. ada yang memalukan malah dimuliakan. Bukankah manusia diberi otak untuk berpikir dan mengendalikan hati? tapi maunya menang sendiri. Malam ini ada pukulan keras nan menguncang. Mengenai mati bisa saja karena rasa, dewasa bisa saja karena masalah pelik dan kenyataan. Dan omong kosong hanya ada di tong berbentuk gong, aku harap kau membiarkannya bersemayam ditempatnya. 18 januari 2021 #143 Sebuah tualang melawan rindu ruai yang membabi-buta diangkasa pura. Aku lupa perihal sakit yang kau derita lebih dari rindu tanpa temu. Semu itu kian nyata, alegorimu


bertaburan metafora. Seakan, tatap singkat hanyalah lelucon. Dan lengkung manis, hanyalah penyedap. Genggaman tangan tak lagi menghangatkan. Apa sesakit itu? hingga kau membiarkan rindu merong-rong di sekujur tubuhmu. Hei! Aku disini, tidak lama memang hanya sejenak saat kau hendak pamit, sedangkan kini menatap bola mata nan indah kecoklatan itu bukan lagi kesukaanku. Lantas, bagaimana kata pisah yangkau pasrahkan? Apa kau akan terluka lagi? Apa kau akan melukai dirimu lagi? Jangan gila! sejauh yangku tahu. Tidak pernah kau mencoba rampas dengan kembangkempis sebuah detik dimana kita berduka. Kali ini, kau mati! Mencekik segala harap-harap cemas dan memuai sendirian. Hilang silih berganti lalu memekik hati, perlahan rindu tuntas tanpa seklamit ucap sayang apa kabar? Sekarang, maaf karena tidak disisimu sejak awal. Surakarta 22 Januari 2021 #144 Sajak itu sudah lusuh, berbuku-buku debu melekat. Bait-bait cacat itu sudah semakin hancur, syair yang berkecamuk di hati tergerus halus. Usang dan terlewatkan perasaan damai gagal dan menyerah terukir disana. Tapi, yang tersisa hanyalah paragraf tanpa kalimat. Titik-titik lebam dan hamparan keindahan yang terekam dalam ingatan amburadul sudah,


kini. Alibiku meronta mengais kembali sayap-sayap rumpang dan mengikatnya perahan pada sebuah dahan. Esok, aku tiba usai sendu yang tiap kata tersusun dari amarah, piluh dan sebait senyuman. Sisanya, masing-masing menyeimbangkan dari sedih yang salah, gelisah yang payah dan sumpah bak sampah serapah. 22 januari #145 Jika memilihmu adalah luka, tentu saja sejak awal sudah ku perhitungkan konsekuensinya. Bukankah setiap kemasan apik cerita kita tumbuh dengan luka-liku? 24 januari #146 Pada dasarnya menjadi yang paling bodoh diantara orangorang pintar sungguh lebih baik dari pada pintar diantara orang-orang bodoh. Terlepas dari setiap orang adalah guru, dan semua tempat adalah kelas. Seberandalan apapun seseorang, jika dia dihargai feedbacknya tentu saja dia akan respect padamu. namun, jika dia tidak dihargai tentu saja kamu akan mati! Hasil rampasan perang tidaklah baik untuk dinafkahkan pada anak cucu, tapi sekeping hasil keringat sendiri itu sangat berarti, jadi hidup adalah tanaman yang harus kamu tuai dikemudian hari. 11 Februari 2021


#147 Tidak semua orang mudah menerima sebuah penerimaan dalam bentuk apapun. Nasihat, saran, masukan maupun keputusanmu bukan keharusan untuk di iyakan. Bahkan kau saja diberi masukan masih membangkang! Jadi berjalan dengan pikiran masing-masing dan respect, semua orang ada di kapasitas dirinya. Bangun tidur 1 menit lebih awal dari bangun tidurnya yang kemarin adalah sebuah pencapaian luar biasa baginya. Jadi, diam saja jika memberikan masukan hanya untuk mengekang. Orang tidak hidup dari masukan melainkan respect, paham? So, please respect. 20 Februari 2021 #148 Kutipan peristiwa berjuta detik lalu, huft! Hela napasnya terasa sesak, enggan berhembus tanpa senggal. Mestinya, tampak sama namun wanita paruh baya itu menelan rengkuh dan peluh. Sepasang mata sayup menahan isak siang dan malam, kiamat sudah ambisiku! Disibukkan oleh jiwa-jiwa resah harap-harap lungkrah. Apalagi? Rentetan duka mendalam sulit dienyahkan, membabi-buta dan menjelma bak pena. Pada dinding kamar tua, itu, adalah sayatan pedih dalam perih, getir lara huru-hara segumpal patah yang melemah.


Selebihnya, ada satu sunyi sebagai teman mimpi, bait cacat yang terikat, dan seklamit doa diangkasa raya. Ucap seseorang, aku terlalu naif untuk beruntung perihal menebus karma penuh kekalahan. Dan ia tepat sasaran, melawan sejuta cerita yang hampir rampas, lagi! Wanita paruh baya itu, dirundung pilu sembilu berminggu-minggu. Runtuh sudah tubuh ini. kau bahkan menguatkan. Sebuah kepura-puraan apa lagi ini, ceh! Kau ini batu! Membiarkan pedih merintih, agar aku tak tertatih. Lagi-lagi kau rapuh dan rintiknya pun keruh. Bahkan demikian kau baikan. 21 Februari 2021 #149 Tidak semua manusia di muka bumi ini mudah dalam menerima! Termasuk anda! Setiap yang anda terima belum tentu masuk langsung ke dalam logika, jadi kalau anda menerima saja masih penuh amarah. Jadi, jangan sok memberikan masukan dalam bentuk apapun. Saya pikir anda paham, bahwa yang dituakan akan mudah menerima penerimaan apapun, yang muda yang mencontoh. Namun apa? Prakteknya yang muda yang ditindas oleh perkataan dalam bentuk masukan, yang dituakan bertindak keras dan tidak logis dalam sebuah penerimaan. Saya dan anda adalah sama, tidak mudah dalam menerima. Bedanya saya masih


terlalu bocah dan anda sudah menua, jadi beda kepala beda isi apalagi beda generasi. Jangan hanya karena dituakan anda seenaknya saja dalam memberikan wawasan. Sekali lagi, saya manusia dan saya tidak mudah menerima penerimaan dalam bentuk apapun! Paham, kan? Awalnya saya pikir anda sangat keren dalam nalar, tapi ternyata sama saja. so, childish! 6 maret 2021 #150 Tidak ada penguat didunia ini yang perlahan minggat! Sebab, yang berucap menghardik akanku biarkan mencuat dan hanyut tanpa denyut. Disisiku, hanyalah punggung yang menopangku saat semesta menyinggung beribu ampun. Bukankah kau tumbuh dengan proses dan duniamu? Aku juga! Bahkan kau lebih dulu menua melebihi faseku saat ini, tentu saja kau menghirup kecewa melebihi porsi yang sudah aku terima. Bahkan kau juga yang memintaku untuk menjadikan lawanku sebagai teman baikku. Bukankan begitu? Aku hanya mau menerima mereka yang legowo dalam penyampaian bukan mereka yang sama-sama ahli dalam ego dan amukan. 14 maret 2021 #151


Aku kira setelah kepulanganku akan ada pundak yang terkuat menguatkan, akan ada pelukan ternyaman menghangatkan. Aku pikir dengan kembalinya aku disebuah hidup wanita paruh baya tercintaku akan menjadi sebuah kebahagiaan tiada kira. Dan aku kira dengan berdiam ditempat bernama rumah akan ada punggung terhebat yang akan terus menopang dengan saksama tanpa keluh tanpa keruh dan tanpa angkuh, tanpa amukan remuk-redam, dan kala dunia mengecamku pecundang akan ada yang senantiasa menghapus pelik penuh peluk. Dan definisinya sangat menyimpang sekarang. Sudahlah, bisa saja ini adalah sebuah ganjaran yang menguji nyaliku. Kadang, pencipta menyuguhkan semua ini agar aku menjadi kuat walaupun tanpa sesosok penguat disisiku. 5 april 2021 #152 MAMA Penguatku rapuh kini. Kau bahkan tak kuasa menopangku kala semesta berkecamuk hina di seluruh dunia dan mata manusia, Ma! Katamu, kau akan menemani hingga standar yang kau tetapkan untukku, tercapai. Memelukku dikala dilema akan sebuah juang yang melelahkan, kini pelik tengah melanda otakku yang picik, Ma. Anakmu payah! Akan bumi


yang terlewati dengan denyut nadi tak beraturan ini. anakmu gagal! Gagal menjadi satu dari milyaran juta makhluk juara di sebuah bilik kehidupan terjal. Bahkan getirmu terombangambing, aku tak acuh. Seakan, kini aku lalai pada seutas tali yang sempat mengancam detak jantungmu sesaat. Mengenai janji perihal disisimu sepanjang waktu, maaf tidak bisa tertepati dengan indah lagi saksama. Persoalan riuh rintih yang meronta duka, pintaku, lapangkan, Ma. Bahwasannya jiwa bertajuk itu kini tengah lengah, sudah mengelupaskan diri dari ambisinya. Namun, satu hal saja yang bahkan mungkin tak sanggup aku kirapkan padamu. sebab ketakutanketakutan itu selalu berhasil tepat sasaran dalam membatasi jemari menari. Tapi kau tetaplah alasan untukku hidup membaik dengan layak. Surakarta usai kartini yang tertunda 22 April 2021 #153 KIRAB ULANGTAHUNKU Aku hanya meminta sedikit waktu untuk sebuah keluh kesahku, meminta waktumu sejenak untuk memaafkan sebuah kecewa yang pernah terukir karena ego masing-masing. Jika boleh aku menuntut, tolong kembalikan waktu itu waktu dimana kau harus bekerja lebih keras dan menanggalkan


waktu terbaik di masa kecilku. Sekali lagi, tolong kembalikan waktuku yang habis tanpa kau isi dengan janji-janji yang tak ingkar berhari-hari. Kalau bisa, aku ingin merasakannya detik ini. namun, sudah tak sama. Bahkan aku kehilangan sesosok pendengar setia, kehilangan yang paling mengerti keluhkesahku dan kehilangan cinta terbaik dimasa senjanya. Peluk aku! Repuhmu kala itu benar menggrogoti punggungku, melemahkan otak jiwa dan ragaku. Aku tahu kau bahkan hidup penuh dengan getir kesengsaraan. Hingga kau berlomba agar aku baik-baik saja. akan tetapi aku hanya butuh waktu pagi yang panjang bersamamu dan waktu siang nan nyaman untuk kita berbincang. Selebihnya selepas bada magrib dan isya aku hanya ingin dipelukanmu. Mengertilah ibu, putrimu tengah terluka parah untuk yang kali ini. 1 juni 2021 #154 Biarkanlah aku menjadi romansa Yang hadir kala kelabumu tiba Agar sesuatu yang indah dapat disisimu Sewaktu-waktu terkenang Pikukmu biarkan berlalu layaknya debu


Tanpa membuat satu orangpun kelilipan akan taburannya #155 Kau adalah perasaan cinta yang mengalir begitu saja Namun, aku tidak paham Benar ini cinta, atau semacam rasa yang tabu Iya, benar Rasa yang tidak harus terucap Benar pula cinta tak mesti harus dimiliki #156 Di waktu-waktu yang baik aku berpapasan denganmu Tanpa sengaja jabat tangan kembali tertukar Terasa luluh lantah namun sesaat Dan mulai terbuka pada cakap penuh canggung Kau kikuk aku bingung Ingin segera berpamitan namun masih saja berucap kaku


Sekujur jari-jemariku membeku Astaga, temu ini menyejukkan namun sesak Pesonamu kian memperdaya lupaku yang terbujur kaku Kedasar ingatanku dalam #157 Terima kasih, senja Kau hadirkan sinar jingga menawan sore ini Entah seterik apapun tajukmu kala siang Namun, bagiku dipenutup petang Bersambut bintang bukanlah ilalang Apapun sambutmu dikala pagi Entah fajar entah Mentari entah sinar pagi Bagiku kau tetap senjaku yang tak pernah di penutup hari Singkatnya saja senja kali ini indah walaupun tak sampai menepi dalam fajar


Namun, aurora nan jelita sudah cukup melipur hati yang lara #158 Rindu Tanpa tahu arah kau melaju tak beraturan Asal membentur asal sudut Sembarang kau ketuk Permisimu tak berpenutup salam Risau muncul sesaat kau hilang Hiruk-pikuk nan lalu Lalang tiada hirau kau pedulikan Kegulanaan kepulanganmu terasa nyaman Tapi apakah mungkin? Kau bawa resah nan mengembirakan? #159 Pada pemilik rindu, aku berpesan Tak banyak memang, singkatnya


Jikalau memang kerinduan ini kembali tertanam Pada hati yang sempat hilang Ku mohon, tuk segera pulang Dengan sejuta kesederhanan nan membahagiakan Namun, apabila ia singgah pada hati yang melampaui Batas Rasa rinduku silam Harapku, cukup berpulanglah di persinggahan terbaikmu Dalam kerinduan yang melegakan #160 Bukan aku tak tahu arah pulang tanpa merindu Namun, terpaan temu yang menumpuk Kian menyubur dalam hati yang tengah menanti Bukan aku yang juga melupa lebih dulu Kelalaianku akanmu adalah pamit Yang kian memupuk


Secuil luka menuju lupa #161 Perihal rindu masih seputar utuh untukmu, masa masih sering merujuk pada temu menemuimu. Lain halnya kerinduan, kau masih terngiang merdu seolah mengigilkan jemari. pada pelupuk mata yang tak sampai kau menyamaratakan pelik rindumu sebanding dengan kekasihmu, lantas aku ini apa bagimu? Yang belakangan terjadi apa kau sungguh pikun? Apa semacam pelarianmu dalam merindu dan kau melukaiku. Benar, memang aku pernah menyemai tawa dalam hatimu namun yang demikian akankah dendammu terbalaskan? Aku rasa, kau pendendam yang hangat hingga memeluk erat diriku lewat tumpukan temu dan lalu lenyap berlalu tertelan debu. #162 Benci Aku tidak tahu begitu jelas mengenainya, setahuku Kau pemecah belah dari setiap rasa cinta Kau mencerai berai yang menyatu Kau gundah dirundung duka


Dan kau keadaan terburuk dalam setiap derap pijakan membaik Kau Pelepas harap yang menggebu Entahlah, lebih dalam dari itu. Aku membenci kata benci itu sendiri Sebab, ia bernilai take tis dalam fikir ini melangkah Kerap memang, ia hadir dari segala penjuru Relung hati seakan tak mampu mengelak oleh belenggu dengki Sudahlah, aku tak akan pernah mengerti siapa dia Juga, aku tak ingin memaknai benci lebih berarti dari segala mimpi Sebab, benci adalah benci. Bukan cinta, bukan rasa. Hanya saja rasa melupakan benci menjadi cinta. Itu saja #163 Hitam Penegasanmu teramat memukau


Bak gulma yang menggerombol terkoyak riuh angin Gelapmu menakutkan disekeliling mata memandang Kau kesan kelabu dalam tiap baris langkah Tapi, tanpamu adalah rancu. Sebab kau adalah keserasian dalam seni petikan gitar. Kau beriring merdu semabri warnawarni kemeja yang menempel ditubuh anak manusia. Kau juga pekat saat Guntur dan kilat petir menjelma sebelum hujan mengguyur hebat. #164 Kelam bermuara pada pelupuk mata sesaat setiba lampau mengusik. Kau isyarat luka ditepi danau penuh sembilu. Arah langkah menyeret enggan dalam segubrak mandate penuh redup. Kau kelabu dalam klasik dan kini membaik. Setelahnya, kau adalah sebuah harap selepas keputusaan. Penghujung kau kerap menjelma bagai mimpi yang tidak bisa ditebus secara Cuma-Cuma. Dan, kau tetap menghitam termakan gerus linimasa yang kian menua. Semakin ternganga seolah jinak namun kau lenyap tanpa sayap. Kau memang kelam, namun keindahan senantiasa ada disetiap corak noda


warnamu mengalir. Aksen notasi balok berirama, pada tuts piano bukan alasan pula untuk tak indah. #165 Jerembab kenang menyeret syahdu bak ombak dilautan Penuh gila lantang kau berkembang tanpa tawan Enyah seakan hanyalah seabrek pencitraan Pesonamu masih kerap hangat dalam pelupuk mata sesaat seusai temu tanpa lalu. Sebatas cerca cerita panjang dalam masa nan singkat, gebu membabibuta pada senja dipucuk aurora. Lagi, kau mengusik segala damai penuh ramai tanpa lalai. Bahagia memang, namun apakah mungkin temu adalah jawab dari segala harap? Pernah sempat, kau mundur dari segubrak pandang dan genggam secepat kilat waktu. Kembali menguak dongengdongeng merdu bersamamu sewaktu dulu begitu kuat merengkuh ambisi menikmati bisu dalam tiap detik rindu seolah jinak namun kau lenyap tanpa sayap. Kini, tersisa serpihan ingatan yang terkadang melinglungkan terkadang pula mengasikan. Diujung ulasku, mengulang kasih lewat nostalgia sedia kala penuh suka cita dalam klasik labilnya muda dan menua #166


aku suka sambutmu, yang begitu hangat menyapa seakan penuh cinta. Tatapmu yang sejuk membuatku tak bisa berhenti menikmati. Lembut setuhanmu semakin menjadi-jadi harap dalam pikir ini. Seakan fana, namun aku tak bisa berhenti mengalihkan tatap darinya. Damaimu dalam langkah menjadikanku tak mampu menelaah apa yang kian parah. Hingga patah tak sanggup menolak sembuh, kau menjelma bagai senja penuh asa dipelupuk mata. Argh! Kau ini benar mematikan lumpuh yang terdalam dan tertawan bujuk lengkung manismu. Aku tak bisa mengelak, berkaca-kaca aku membata dalam ungkapan rasa cinta. Ah, aku benci, ronamu dipenuhi gelombang magnetic dan kau menarikku kembali terjerembab dalam rindu. Sungguh, sepucuk surat kabar gembira pada surya di ufuk timur kian memaknai semburat senyumku. Jika benar kaulah tawanan luka, lantas untuk apa kau menemuiku lagi? Wajar ku bertanya, sebab rasa ini kian membiak kala menatapmu. Luruskan lengkung itu, karena akan menghipnotisku hingga aku lupa bahwa kau hanyalah sebatas segera dan semoga saja. #167 aku bertanya aku ini apa wahai kata? Aku penyempurnamu. Meski tak berpembuka, isi, dan penutup


Layaknya teks dalam pidato Akulah kesempurnaan baitmu, aku pula keindahan syair puisimu Tak kenal apa itu metafora. Terawali olehku, kau sempurna terbaca. Dan diakhiri olehku kau makin mengelorakan jiwa Aku tidak berisi pepatah roma picisan nan romatis untukmu. Namun, asal kata aku kau elok dalam pendengaran. Dalam pemisalan, hidangan tak bergaram, hambar adanya. Aku serupa garam, walau tak nampak namun berarti. Itulah tanda seru untukmu, bahwa aku selalu terlibat dalam tiap-tiap Bahasa kalbumu. Aku pula, pepatah rindu untukmu, tentangmu hanya aku dan mata yang tertera dalam setiap lembar karya kala tinta tercoret diatasnya. Harusku, bermajas dalam secercah puisimu bagai pujaan cinta kanak-kanak dimasa smp. Aku ialah hiperbola yang kau utarakan, tanpa pandang bulu aku hanya cukup beralegori tentangmu #168


Lagi-lagi sama, tawamu kala itu masih bak tanda tanya menyeru untuk benakku #169 Persoalanmu adalah hanya tentang perihal kerinduan #170 pagi yang berkabut, bercampur hujan ini Aku ingin, kamu tetap semangat dalam menyambut hari Sebab, surya tengah menunggu senyummu tuk bersinar Kasih, meski kini aku bukan siapa-siapa bagimu Namun, percayalah. Dimulai dari cuaca terdingin sedini ini Aku ingin, kau mempercayai satu gagasan tentangku Tentang aku yang bersungguh sudi mengukir bahagia hingga senja tidak menyilaukan Netra.


#171 secukunya saja, dalam menantimu Layaknya menanti surya bersinar kala fajar dari malam bersambut bintang Sederhana saja, dalam mengagumimu Layaknya takjubku saat Mentari jingga terbenam kala petang hari yang terhimpun dari teriknya siang #172 Seperti bait demi bait dalam puisi yang mengalun lembut kian indah, dari awal hingga pungkas. Semua itu berproses, tak sekaligus apik Namun perlu using termakan peliknya majas dirangkainya Begitu pula kejayaanmu, semua perlahan Jadi, lekaslah berproses. Asal yang kaku adalah target dan caranya akan menyesuaikan presisi, dan jangan terbalik. Sebab, flexsible itu caranya, target tatap kaku membidik.


#173 Perihal rindumu yang tak searah bahkan tak berarah Aku tak lagi merisaukannya Kebulatan tekadku, bila kerinduan ini nyata Hati akan sanggup melintasinya #174 Foot Be wise on your steps #175 Lekas menyemai rindu untuk sepucuk temu yang baru penuh haru #176 Namun, sayang, yang ku rasa ini terakhir kalinya Aku amnesia dan nyatanya, malah terpekik rindu di sudut ruang ulu waktu


#177 Pastikan kau bahagia layaknya Cinderella diatas kencana bersama pangerannya Dan pulang, tanpa tergesa-gesa bersama pasukan berkuda Semestinya dengan gejolak jiwa, demikian adanya Namun, tentang luka Tak dapat kau kembali merasakan apa itu suka cita bahgia dalam renjana. Maka, jangan mengerutu. Aku mengerti, kau terluka lebih dari sebelumnya Tapi, kau layak menebus dukamu dari duri-duri yang tergilas kedua kakimu dengan mengatasnamakan jati diri. Kau harus kembali #178 Katamu lebih sekedar manis layaknya permen kapas Sekejap sipukku tersenyum untukmu


Click to View FlipBook Version