The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tika Dani-Just An Introvet Of Love

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tikadani01, 2023-02-14 08:43:34

An Introvert Of Love

Tika Dani-Just An Introvet Of Love

Keywords: Novel

Just An Introvert Of Love By Tika Dani KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya yang diberikan tiada putus-putusnya sehingga terselesaikan cerita ini sampai ending. Masih banyak kekurangan dari karya ini, namun semoga kedepannya mampu memberikan sebuah sembangsih karya yang lebih baik lagi dan berkenan dihati pembaca. Terima kasih saya ucapkan kepada kedua orangtua dan kakak-kakak yang senantiasa memberikan support terhadap apa yang sedang saya upayakan. Sehingga membuahkan karya dengan judul Just An Introvert Of Love yang sedang rekan-rekanku baca saat ini. Terima kasih, kepada semua pihak yang terlibat dalam terciptanya karya ini dari awal hingga terbit. Kepada sahabat-sahabat saya yang senantiasa memberikan pacuan sehingga tulisan ini lahir menjadi sebuah buku, tanpa kalian mungkin saat ini masih menumpuk di laptop saya dan tidak tersentuh oleh pembaca. Tidak berhenti hanya di buku saya yang ketiga ini, penulis akan terus belajar dan mengali kemampuan demi terciptanya karya-karya yang semakin nyaman untuk rekan-rekan baca. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan penuh kebahagiaan.


DAFTAR ISI Kronologi Blurb Episode 1 Introvert Of Love Episode 2 Mengapa Aku Jatuh Cinta Episode 3 Tetap Diam Atau Merelakan Episode 4 Situasi Yang Mendebarkan Episode 5 Menunggu Pesan Darimu Episode 6 Kerandoman Di Kelasku Episode 7 Sedang Tidak Baik-baik Saja Episode 8 Sadar Diri Episode 9 Turut Berbahagia Untukmu Episode 10 Kirab Kelulusan Putih Abu-abuku Episode 11 Romansa Masa SMA Episode 12 Lembar Cerita Baru Episode 13 Menyatukan Yang Layak Bersatu Episode 14 Menjadi Sarjana dan Rasaku Masih Sama, Untukmu? Episode 15 Bersamamu Lebih Dekat Episode 16 Perihal Rasa Yang Masih Sama Episode 17 Ternyata Hanya Mimpi Episode 18 Persoalan Diamku, Kini Aku Berserah Episode 19 Menjadi Milikmu Sekejap Malam


Episode 20 Melepas Masa Lajang Tentang Penulis


Kronologi Fita adalah seorang siswa pendiam di kelas IPS 2, SMA Bhakti. Dia teramat mendiam saking pendiam dia hanya sibuk didalam kelas dan bergaul dengan teman sekelasnya saja. Ia memiliki 4 orang sahabat di kelasnya, mereka bernama Mita, Dewi, Ratna, dan Wulan. Satu sahabat yang nyaman banget buat deep talk adalah Wulan. Perjalanan cinta mereka di masa putih abu-abu yang hampir mirip membuat keduanya erat dan nyambung dalam memahami satu sama lain. Ketercimpungan Wulan dalam sebuah organisasi intrasekolah membuatnya mengenal kakak kelas lebih banyak ditambah lagi sahabat karib dari Fita ini memiliki seorang kakak yang satu SMA juga dengan mereka membuat Wulan memiliki relasi di kalangan kakak tingkatnya. Hal ini membuat Fita sebagai seorang introvert semakin antusias ketika mendengarkan cerita dari Wulan, termasuk perihal Kak Arman. Kakak kelas idaman seorang Fita, Ia sungguh menaruh hati sangat mendalam pada kakak kelas yang satu ini. Akankah keduanya bersatu atau akan tetap menjadi cinta dalam diam semasa putih abu-abu? Let’s see the ending


Blurb Aku harap setelah kau baca surat dariku, tidak ada lagi luka dihati Cukup sudahi luka ini, kau sudah ada pengganti Aku akan pergi dari sini, dari hatimu kekasih Agar, tidak lagi kau merintih Lupakan aku, atau tidak akan kau jumpai Laki-laki sebaik Punky Aku paham, rasamu padaku hanya kagum Jadi jangan lagi kau ulangi cinta seperti ini Kumohon, aku akan melihatmu dipernikahanmu nanti Aku janji, ketika hatimu yang pedih sudah pulih Dari yang pernah menjadi kekasihmu sehari saja, Arman.


Episode 1 Introvert Of Love Aku adalah seorang siswi biasa-biasa saja yang singgah di kelas IPS 2, SMA Bhakti. Tidak banyak orang mengenalku kecuali kita memang satu kelas, kadang temen kelas sebelah saja hanya sekedar say hello kalau nggak penting-penting amat. Namun, ada yang salah menanggapi persoalan hati. Aku menyukai seseorang, pesonanya yang keren dan perawakannya yang tinggi membuat kaum hawa klepek-klepek ketika hanya sekedar berpapasan pas di kantin. Memang selebay itu buat temen-temen yng ngelihat tingkah polahku saat melihatnya. Aku ingin dekat denganya, ingin banget punya nomornya agar bisa chat sama dia. “Ngimpi lo Fin!” amukku merutuki diriku sendiri. Rasa kagum ku padanya sangat tidak wajar semkin hari, apalagi aku banyak mencari tahu dia tengah dekat dengan siapa saja. Aku kepoin akun instagramnya, ternyata dia sudah menjalin hubungan dengan kak Lidia anak dewan ambalan yang cantik dan lucu itu pinter pula. Mereka sangat mesra bahkan teman sekelasnya mendukung hubungan keduanya. Tapi, aku tidak patah semangat akan kedekatannya. Senekat itu perihal rasa, aku sempat mencari tahu letak rumahnya dengan teman-teman gengku. Kalau dibilang bego, bego banget parah, unfaedah banget ketika udah susah-susah nyari jalan menuju rumahnya dan ketemu abis itu balik, udah gitu aja. Seketika ngelihat genteng nya saja udah senengnya nggak karuan, sehisteris itu. Apa memang cinta seheboh ini?


Kakakku saja sampai mikir kalau adik satu-satunya ini rada kurang, haha. Kakakku tahu semua tentangku, kisah percintaanku sudah menjadi makanan wajib untuk ia dengarkan. Terlepas dari semua itu, aku punya temen kelas bernama Wulan. Teman yang senasib dan seperjuangan, karena kita berdua sama-sama mengenal cinta yang tidak langsung diterima dengan gamblang. Mencintai dengan cara sendiri, yakni menicintai seseorang dengan diam-diam. Sekonyol ini memang, entah akan seperti apa penghujung dengan pembuka yang akan beresiko untuk kelangsungan cinta ini. Sebab, bagaimanapun aku hanyalah yang pantas mencintai Kak Arman dalam diam tanpa harus merengek untuk didengar. Sama halnya dengan Wulan, dia yang begitu mencintai teman sekelasnya yang juga teman satu Osisnya. Baginya bukan suatu hal yang tabu, karena memang keduanya berjalan seimbang sama-sama anak hits yang dikenal akan prestasinya. Lain halnya denganku, yang tidak berkecimpung di kegiatan apapun bahkan enggan untuk Kak Arman mengenalku lebih dari caraku mencintainya. Bukan apa-apa yang harus diajaknya untuk kita saling mengenal, ini hanyalah sebuah mimpi manis yang tidak akan pernah menjadi nyata. Begini saja aku sudah merasa cukup, karena bagiku mencintai lewat celah kecil adalah suatu seni untuk tetap disisinya dalam keadaan tidak kasat mata layaknya rasa cinta itu sendiri. “Oi!” seseorang membuyarkan lamunanku yang sedang berapi-api ini. “Eh, kalian.” singkatku


“Makan yuk.” ajak Mita “Hayukkk!” sahut Dewi dengan antusiasnya Aku, Wulan dan Ratna mengikut saja untuk menyangkan seorang teman yang datang terlambat dan belum sempat sarapan. Mereka adalah Dewi dan Mita, karena memang keduanya tinggal agak jauh dari sekolahan kami. “Eh, Fin. Lihat yang di pojokan deh, siapa tuh.” senggol Wulan memberitahukan Kak Arman yang sedang makan di kantin yang sama dengan kami berlima “Sttt, Masha Allah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.” gumamku yang terpesona dengan ketampanan yang melekat di wajahnya “Inget, dia ada yang punya, Fin.” sahut Mita “Iya, gue sadar diri kok gue siapa, Mit.” balasku dengan pasrah “Fina, selama janur kuning belum melengkun itu artinya lo masih bisa pepet dia. Tinggal lonya aja yang kurang gercep, gas pol sayang!” sahut Ratna “Bener, kata Ratna, Fin. Gaspuollll pokoknya mah!” seru Dewi “Dew, pelanin dikit tuh suara. Dia nengok tuh kesini.” tegurku “Ups, sorry-sorry.” balasnya “Eh, Cuk. Sidiq tuh nyariin, jangan-jangan Bu Arum udah masuk.” seru Mita “Ayo masuk, guys!” imbuh Wulan usai membayar jajan kami, biasa dia memang terkenal dengan royal dan loyalnya secara anak sultan jadi uang jajan sampai tumpah-tumpah


“Guys, buruan masuk kelas. Kalian tuh dicariin sama Bu Arum, hobby banget bikin geram macan tutul.” Ucap Sidiq yang datang untuk menyuruh kami segera ke kelas bersama Imron “Sorry, Pak.” balas Ratna dan kami berlalu dari kantin Pak Dul “Dek-dek, tunggu!” seru seorang kakak kelas menghentikan langkahku dan Wulan karena kita yang paling belakang berjalan Sepontan kita berdua menoleh ke arah kakak yang sedang menahan laju langkah kita “Bukan kepalang, pujaan hatiku sedang di depan mata.” batinku, seakan jantung ini mau copot begitu melihatnya dengan pesona khas miliknya. “Ada apa, Kak Arman memanggil kita?” tanya Wulan dengan tenang, karena memang keduanya sudah saling mengenal Episode 2 Mengapa aku jatuh cinta? Kak Arman adalah seorang yang aku kenal dari Dewan Ambalan Penegak, awal aku masuk sekolahan ini yang paling pertama menyapa dengan hangatnya adalah dirinya dengan segala pesonanya yang berhasil meluluh-lantahkan benteng hatiku. Dia yang aku kenal begitu welcome dan ramah pada setiap orang yang belum dia kenal. Sikapnya nan hangat sempat mengusung rasa yang menyelinap mesra dan menimbulkan debaran hebat dalam dada. “Ini dompetnya ketinggalan.” ujar Kak Arman dan menydorkan dompet berwarna merah jambu pada Wulan


Sedangkan diri ini masih terhenti pada tatapannya yang begitu hangat, mata ini tidak sedetikpun berkedip menyaksikan ketampanan yang hakiki yang dimiliki Kak Arman. Postur tubuhnya yang tinggi dan sedikit berisi semakin memberikan pesona yang luar biasa bagi hatiku ini. “Fina, ini milikmu?” tanya Wulan padaku Aku masih tetap dengan tatapan yang lekat untuk Kak Arman. Alis yang tebal sungguh sangat mempertampan wajahnya, sepasang mata dengan berkas-berkas sinar sungguh terpancarkan aura cinta yang kian membara padanya. “Halo,” panggil Kak Arman hingga membuyarkan tatapan ini Sepontan sepasang mata ini mengerut dan lalu menyadarkan diri bahwa aku ini bukan sebuah permata yang menarik simpatinya. “I-iya, kenapa, Kak?” tanyaku pada Kak Arman “Dompet yang di bawa Wulan itu, apakah milikmu?” tanyanya lirih “Oh, iya, Kak. Ini dompetku,” balasku sambil mengambil dompetku dari tangannya Wulan “Lain kali jangan sampai selebor, Dek.” ucap Kak Arman memberitahuku “Baik, Kak. Terima kasih,” balasku dengan sedikit malu-malu “Kita duluan, ya, Kak.” imbuh Wulan “Iya, jagain temennya.” Balas Kak Arman dan kita berlalu “Eh, Lan, barusan Kak Arman bilang sama lo. Jagain temennya, emang lo bilang apa sama dia sebelumnya?” tanyaku pada Wulan


“Oh, itu. Gue bilang kalau lo lagi sakit jadi banyak ngelamun hari ini, hehe.” balas Wulan dengan cengiran “Hmm, karena lo temen gue. It’s okaylah, tapi lain kali jangan sampai lo bilang gue itu cewek yang lemah kek Kak Arman.” ucapku “Sipo!” teriaknya di telinga kanakku dan berlari mendahuluku “Dasar!” amukku Aku mendengar di dalam kelas tidak seorangpun berkata dengan damai, hanya kegaduhan yang terjadi. Rupanya Ibu Arum tidak sedang mengajar di kelasku lebih lama dari jam pelajarannya. “Lan, Wulan. Ditungguin Aldo di RO!” seru Pita memberitahu Wulan “Oh, Ok. Thanks, Pita.” balas Wulan dan langsung pergi menyusul Aldo di RO Sementara kami tetap mengerjakan tugas dari pak Tomo hingga jam sekolah usai. Sudah selama ini Wulan dan Aldo tidak kembali ke kelas, sedangkan ada tugas yang harus keduanya kumpulkan sekarang juga. Tapi, bukan itu yang sedang aku harapkan dari kedatangannya. Aku hanya ingin mendengarkan Kak Arman hari ini, bagaimana dia menjalani hari ini, hanya itu. Penghujung mereka tidak segera kembali kekelas padahal bel pulang sekolah sudah dibunyikan, bahkan Wulan tidak kunjung kemari untuk sekedar mengambil tasnya dan sejenak menemuiku. “Fin, ngapain? Nungguin Wulan? Wulan mah ntr sorean pulangnya.” seru Dewi di pojok parkiran sambil mengenakan jaket


“Duluan aja, Dew. Gue ada perlu sama Wulan.” teriakku yang masih menunggu Wulan di teras depan kelas sambil mengetikkan pesan pada Wulan “Yaudah, duluan ya!” sahut Dewi Sudah sejam aku menunggui Wulan di teras, harusnya aku sudah sampai dirumah dan meminum segelas susu hangat yang sudah Mama siapkan untukku. Namun, apa yang sedang aku lakukan sekarang? Menghabiskan waktu demi sesuap kabar baik dari harihari yang dilalui pujaan hati. Tidak peduli bagaimana Mama menunggu putrinya pulang, aku sedang dibuat bodoh dengan cinta yang ku puja ini. “Fina, udah lama nungguin Wulan?!” seru Aldo yang datang menyapaku “Iya, Do. Wulan kapan pulangnya?” tanyaku “Nggak tahu pasti sih, Fin. Gue aja mau ambilin tasnya dia terus balik lagi ke RO, Wulan lagi banyak kerjaan disana. Apa lo ngobrol bentar, biar gue panggilin?” usulnya “Hmm, nggak usah, Do. Bilangin aja ke Wulan suruh buka hp.” balasku “Lo yakin? Gue tahu pasti ada hal penting yang ingin lo sampaikan padanya hingga lo bela-belain nungguin dia hingga sore kek gini.” Ucap Aldo memastikan “Gue nggak mau ganggu Wulan yang sedang sibuk dengan proposalnya, jadi bilangin ke dia aja suruh buka hp.” balasku “Ok, pasti gue sampaikan.” balasnya


“Kalau gitu gue duluan, ya, thanks, Do.” ucapku dan berlalu dari Aldo “Fin, lo nggak papa? Pucat banget muka lo.” tanya Aldo menghampiriku yang berjalan tertatih menuju parkiran “Nggak papa, Do. Aman, kok.” tolakku “Pinjem ponsel lo.” ucap Aldo dan memboyongku kembali duduk diteras “Halo, Lan. Gue butuh bantuan lo, cepetan ke kelas sekarang juga!” ucap Aldo yang sedang menghubungi Wulan dan menyuruhnya segera ke kelas menemui kita berdua Aku sungguh tidak berdaya, rasanya mau pingsan. Tidak biasanya aku demikian, selemah ini tubuhku menderita sekarang. Apa ini? aku bahkan tidak sedang menyiksa tubuhku melmpaui batas, apa yang sedang terjadi dengan diriku? “Do! Kenapa dengan Fina?” teriak Wulan “Kita harus bawa Fina ke klinik dan membawanya pulang, buruan, Lan!” suruh Aldo dengan paniknya Wulan malah justru menghubungi seseorang “Cepetan, Lan. Lo malah telfon siapa, sih!” amuk Aldo “Fina, bertahan sebentar, ya.” bisik Wulan padaku “Itu dia, Bang Kennan. Aldo, bawa Fina ke mobil.” suruh Wulan “Bang, ayo, buruan!” seru Wulan “Aldo, lo bawa motornya Fina, ya, kita mampir di puskesmas dulu.” ucap Wulan “Fina, bertahanlah.” rengek Wulan sepanjang perjalanan


Tubuhku sejenak dibaringkan di ranjang pasien untuk mendapatkan pemeriksaan. Aku terbangun dari lemahnya tubuhku usai meminum obat pil pemberian suster, Bang Kennan dan Wulan memboyongku pulang kerumah agar orang-orang dirumah tidak mencemaskanku. “Ya Allah, Mas Kennan, Wulan. Fina kenapa?” tanya Mama yang ternyata tengah mengkhawatirkanku “Tadi Fina pingsan, Tante. Kami sudah membawanya ke puskesmas, kata dokter Fina hanya kecapekan. Dia hanya perlu makan yang teratur dan tidur yang cukup, jangan lupa perbanyak minum air putih.” jelas Wulan “Syukurlah kalau tidak ada hal serius, akhir-akhir ini memang Fina suka belajar hingga larut dan sering lupa makan.” tutur Mama “Fina, kita pulang, ya, lo cepet sembuh.” ucap Wulan pamit dan memelukku Aku hanya mengangguk pelan “Buru-buru banget, Nak. Diminum dulu, udah dibuatkan minum Kakaknya Fina, Nak.” sahut Mama yang menahan Bang Kennan, Wulan dan Aldo untuk sejenak singgah dan meminum sugguhan yang sudah terlanjur di sajikan Sejenak mereka bertiga tinggal di ruang tamu dan meminum minuman yang sudah disajikan takut mubazir terbuang. “Om, Tante, Kakak. Terima kasih sudah repot-repot membuat wejangan untuk kami, kebetulan masih ada kegiatan di sekolah jadi kami harus buru-buru kembali.” pamit Bang Kennan


“Tidak repot, nak. Malah justru kami berterima kasih pada kalian sudah mengantar putri kami pulang.” ujar Papa “Sama-sama, Om, Tante. Sudah sepantasnya seorang teman membantu teman yang sedang membutuhkan bantuan kita.” balas Wulan “Kami permisi pulang, Om, Tante. Assalamualaikum,” imbuh Aldo “Waalaikumsalam, hati-hati, ya, nak.” balas Mama Wulan prov “Lan, lo kenal sama keluarganya Fina?” tanya Aldo membuka bicara “Kenal dong, Dek. Fina itu sering banget main kerumah, jadi wajar kalau keluarganya memang mengenal kami. Karena kata nyokap dan bokap memang sejatinya anak gadisnya harus mengenalkan siapasiapa saja teman dekatnya, selain untuk kejadian barusan yang terjadi pada Fina juga untuk pergaulan yang nantinya mengarah pada halhal yang baik untuk putrinya.” jelas Bang Kennan “Sok tahu, dasar lonya aja yang protektif. Sekolah dari kecil suruh bareng, apa-apa diatur.” ketusku “Tuh dengerin, Dek. Selalu salah paham, padahal maksut orangtua itu baik supaya anak gadisnya aman. Apalagi dia sering pulang malem-malem, musim begal. Makanya gue antar jemput.” sahut Bang Kennan “Haha, iya, Bang. Pada dasarnya memang mendidik anak gadis itu harus lebih intens di bandingin anak cowok. Karena gue juga punya adik cewek, Bang, jadi Mama selalu mewanti-wanti Tia kalau cewek itu seperti kaca yang sekalinya pecah, ya, pecah tapi kalau cowok


seperti besi, kalau salah pergaulan paling cuma bengkok dong nggak pecah.” imbuh Aldo “Dengerin, tuh.” seru Bang Kennan “Gue nggak budek kali.” ketusku “Kalian berdua emang suka gini, ya, Lan?” tanya Aldo padaku “Iya gini, beda umur setahun doang kek temen sendiri, ya, Bangke.” balasku “Bangke, bangke. Abang sayang sekali-kali gitu.” ketus Bang Kennan “Bodo!” balasku “Enak, ya, punya kakak cowok seumuran, Lan. Ada yang jagain,” sahut Aldo “Ada enaknya ada nggaknya sih, Do. Enaknya emang pertama ada yang jagain, terus juga kita, kan, satu sekolahan sama-sama anak IPS jadi ilmunya dia bisa gue sabotase gitu. Terus kakak kelas pada kenal gue sebagai adiknya Ucul yang cantik jelita dan pintarnya minta ampun.” balasku dengan bangganya “Tapi, nggak enaknya uang jajan suka di jadiin satu terus dia yang bawa. Dianya enak gue apes, terus kalau bawa motor trailnya suka habis bensin, udah berangkatnya jam 7 pas eh pake acara bensin abis. Kelar kalau jamnya Ibu Arum. Terus kalau gue habis pulang sekolah harus jadi nyamuknya sama Kak Ida, gila sih. Udah pulang nggak boleh kemana-mana eh malah suruh jadi nyamuk. Ceh! Tapi, tetep secuek apapun buat gue dia kakak yang baik dan perhatian sama adeknya. Gue suka tengil dan rese dia yang ngasih masukan kalau


harusnya gini, kalau pas jemput pulang melem diajak makan dulu. Apa-apa dia ngerti gitu kondisi gue gimana dan gue harap setelah nanti dia menikah tetep masih sayang kek gini sama gue. Tetep jadi kakak yang paling gue takuti.” celoteh Wulan yang super panjang lebar “Yang terakhir gue suka,” sahut Bang Kennan “Maunya.” ketusku “Mulai resenya.” balas Bang Kennan “Sekarang gue yang berasa jadi nyamuknya disini.” sahut Aldo Kami bertiga tertawa ria “Gue di belakang berasa dikacangin, Do.” timpalku “Gue berasa sopirnya. Ceh!” imbuh Bang Kennan “Udah, ah. Udah sampai masih mau ledek-ledekan, bye.” ucapku dan langsung turun dari mobil “Thanks, Bang Kennan.” ucap Aldo “Nggak ada yang perlu berterima kasih, buru ke RO. Gue mau voli dulu sama anak-anak.” suruh Bang Kennan “Siap, deh, Bang.” balas Aldo dan menyusulku di RO “Cepetan!” teriakku “Tuh, baru aja semobil udah kangen aja.” gedeg Bang Kennan “Cewek, Bang. Pengennya bareng mulu.” balas Aldo dan keduanya saling tertawa “Oi! Malah ngegosip, buruan keburu kepsek balik!” teriakku “Bawel, lo.” timpal Bang Kennan dan Aldo berjalan menuju RO dengan tertawa


“Malah ketawa, dasar bucin kalian.” balasku “Bucin-bucin gini lo juga mau nungguin gue.” ledek Aldo “Aldo, Wulan. Malah gombal-gombalan, ayo mulai rapat lagi.” tegur Syafa sang wakil ketua MPK “Siap, Ibu pengawas.” ledekku “Gue tahu lo cemburu, Fa.” batinku dan mulai duduk di samping Syafa “Duduk deket Abang, nak sini-sini.” goda Aldo Aku tanpa mikirin perasaan Syafa, langsung duduk di dekat Aldo. “Enak juga disuruh jadi orang egois sekali ini, selebihnya mungkin gue akan mengatakan pada lo, Fa. Mengenai cintaku pada Aldo, karena bagi gue sudah nggak jaman mikirin lo yang juga sama sekali tidak pernah mikirin bagaimana gue terluka mengalah demi lo, Fa.” batinku Episode 3 Tetap diam atau merelakan Semseter ganjil berjalan dengan rasa yang sama persis untuk kak Arman. kalau kredit motor udah mau lunas, eh nggak ding. Sebelum libur semester tiba, aku denger-denger dari Ratna kalo kak Arman sedang galau merana karena diputusin sama Kak Lidia. Peluang emas untuk aku, seorang siswi yang biasa-biasa saja ini. Meskipun bukan anak organisasi manapun dan nggak hits kek cewek-cewek di sekeliling kak Arman, aku optimis kalau bisa mendapatkan pin BBM miliknya. Spik-spik kelar, segampang itu pikirku dalam mengatur


strategi. Hingga masa kenakian kelas aku tidak berhasil mendapatkan pin BBM miliknya, habis dong kesempatan emasku. “Dia, kan, udah nggak sekolah disini, payah lo, Fin.” batinku “Dek, lo ngapain gelisah gitu?” tanya Kak Fita “Oh, just nothing.” singkatku “Yakin?” tanya Kak Fita “Emm, Kak Arman udah lulus tahun ini. Artinya besok gue kelas 12 dia udah nggak ada di sana dong, Kak.” balasku pasrah “Elahh, hmm. Kasmaran tingkat akut ya gini.” ledek Kak Fita sambil mengecek jidatku “Punya kakak satu bukannya ngasih solusi, malah bikin bete aja.” ketusku “Udah tinggalin aja, cowok nggak cuman dia doang kali, Dek.” balas Kak Fita “Itu bukan solusi sama sekali.” balasku geleng-geleng kepala “Udah ah lupain dia dan fokus UN. Selesai kan? Udah, Kakak mau ke sekolahan piket dulu, bye.” imbuhnya dan pergi Malam berganti pagi, ada serangkaian harap-harap cemas dari seorang anak manusia. Menyingkap rindu-rindu kelas baru, dengan keluarga yang tetap sama. Masih memaknai rasa pada pandangan pertama sejak aku berada di SMA Bakti. Aku menemukan sebuah kegelisahan mengenai seorang lawan jenis dari sudut pandang cinta. Aku rasa sirna sudah, namun kepo-kepo sosial medianya belum lekas padam. Membara berkibar hebat dengan lebat, keindahan ciptaan Tuhan sudah semakin sulit dipandang. Sementara hati menginginkan


tuk segera datang dan mengetuk pintu hatinya secara paksa agar menerimaku. “Ceh, cinta memang menggilakan kewarasku.” batinku tanpa menggubris yang disekelilingku “Fitaaaaa!” teriak Wulan mendekapku dari balik punggungku termenung Ratna, Dewi dan Mita menyusul dengan teriakan yang sama, mungkin ini rindu pada masing-masing sahabatku “I miss you, guys.” ini suara Ratna “More, more and more.” yang ini suara Mita “Wait-wait, gue ada kabar baik buat lo, Fin.” imbuh Dewi melepaskan pelukan perlahan sambil membuka ponselnya “Apaan Dew?” tanyaku kepo “Ntar, Kak Arman dan temannya bakalan kesini untuk sosialisasi.” sahut Ratna menjelaskan “Serius lo, Rat?” tanyaku memastikan “Seriuslah, nih di grup OSIS gue baru aja di share.” imbuh Wulan yang mengetahui lebih dulu “Oh my god, plis anterin gue ke toilet bentar dong girls.” seruku grogi sambil mengajak Wulan untuk menemaniku ke toilet “Sana pergi sendiri ah.” tolak Wulan “Eh, itu mereka. Udah ada yang masuk ke kelas sebelah, kuy masuk gais!” seru Mita menarik Ratna masuk dan yang lain mengikuti “Gue gimana?!” seruku panik “Lan, temenin Fina sono, nangis ntar.” suruh Ratna


Wulan menemaniku ke toilet, sedangkan yang lain udah pada masuk karena kakak-kakak dari Universitas negeri di kotaku datang untuk bersosialisasi kepada kami anak-anak kelas 12. “Udah?” tanya Wulan Aku mengangguk sambil merapikan baju, menarik Wulan ke kelas dengan tergesa “Ceklek. Permisi, Kak,” aku membuka pintu dan berucap permisi dengan sopan di hadapan kakak-kakak yang sedang mensosialisasikan kampusnya “Dari mana ini?” tanya Kak Arman yang membuatku salah tingkah “Maaf, Kak. Kita baru saja dari toilet.” sahut Wulan menjelaskan pada Kak Arman “Dari toilet apa dari Pak Dul?” tanya Kak Arman menggoda kita berdoa “Serius nggak bohong, Kak.” balasku mulai tegang tak karuan “Oke karena kalian terlambat masuk kelas, kalian aku hukum. Perkenalkan diri kalian pada kami, mulai dari kamu.” suruh Kak Arman memintaku untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu “Perkenalkan nama saya Alfina Lingga Putri, panggil saja Fina. Terima kasih,” ucapku dengan berseling debaran yang tidak wajar “Udah gitu doang?” tanya Kak Arman menggodaku Aku hanya tersenyum sambil dag-dig-dug tak karuan “Silakan duduk.” suruhnya “Baik, Kak.” balasku dan duduk di bangkuku


“Kak, aku juga boleh duduk kan?” sahut Wulan yang masih berdiri didepan kelas “Perkenalan dulu, nama sama rencanamu setelah lulus dari sini. Mulai, oh iya satu lagi adik dari siapa juga harus dijelaskan.” suruh Kak Arman pada Wulan “Ini nggak adil, Fina aja suruh duduk. Sok-sokan nggak kenal lo, Kak.” balas Wulan “Kata siapa, Anya lo kenal sama dia?” sangkal Kak Arman dan bertanya pada Kak Anya yang entah alumni SMA mana “Nggak, siapa ya?” tanya Kak Anya meledek Wulan “Tuh, nggak kenal, kan? Ayo perkenalkan, kamu anak Osis atau Mpk.” suruh Kak Arman dengan sedikit rese pada Wulan “Baiklah, Perkenalkan nama saya Arwulan Syafa Aldila Imawan, adik dari Kennan Syafiq Alfaro Imawan alias Ucul. Rencana saya setelah lulus dari SMA Bakti ingin melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia jurusan Sastra Indonesia, terima kasih.” Ujar Wulan memperkenalkan diri “Udah?” tanya Kak Arman “Nambah juga boleh, Kak.” canda Wulan “Modus, nggak mempan. Btw serius lo adiknya Ucul?” goda Kak Arman “Iyalah!.” ketus Wulan “Nggak mirip sama sekali melencengnya jauh, cantik-cantik adiknya Ucul.” goda Kak Arman


“Awas Kak ada yang cemburu nih!” seru Riyan yang juga anak Osis, yang sama-sama tahu kedekatan Wulan dan Aldo “Do, cemburu, ya,” ledek Kak Arman pada Aldo “Dek, minta nomornya dong.” imbuh Kak Arman sambil terus meledek Aldo “Selesai ini, sepertinya perlu sedikit pemanasan, Pak.” sahut Aldo “Jadi nggak nih.” imbuh Wulan yang malah meledekku “Jadi dong, jangan pada salah paham. Ini urusan gue sama Abangnya,” ujar Kak Arman sambil menyodorkan ponselnya pada Wulan “Kak!” seru Mita “Iya, apa?” tanya Kak Arman “Yang lebih butuh nomor lo sebenernya bukan Wulan.” balas Mita “Tapi, Fina, Kak.” sahut Dewi “Fina bukannya yang tadi, ya?” tanya Kak Arman dan menatap ke arahku Dalam waktu yang bersamaan hatiku bergejolak, betapapun tatapan milik Kak Arman sungguh memabukkanku “Lo pada apa-apaan sih.” ketusku pada Mita dan Dewi usai tatapan itu memudar “Udah, Kak.” ucap Wulan dan mengembalikan ponsel Kak Arman usai mendial nomornya disana “Hiya-hiya, Lan-Wulan. Jangan temen makan temen, ya.” seru Ratna dan menatapku “Kak Arman, awas nanti jatuh cinta loh!” sahut Roni


“Aldo kurang gercep!” timpal Tata dan yang lain “Oh jadi ini to, Do?” tanya Kak Arman mengkode Aldo dan Wulan Aldo hanya cengar-cengir nggak jelas. “Sudah-sudah, kita lanjut ya,” seru temannya kak Arman menenangkan kegaduhan kelasku Kak Arman mulai menjelaskan dengan gamblang tentang fakultas yang ada di kampusnya apa aja, jalur masuk PTN dengan cara apa aja dan lain-lain. setelahnya sesi pertanyaan usai kak Arman menjelaskan di berikan pada kami yang belum jelas. Dari kami banyak yang bertanya bagaimana jalur masuk PTN maupun PTS. Ada juga yang menanyakan mengenai beasiswa bidikmisi dan apapun itu, aku menanyakan kak Arman yang sedang di deretan mejaku mengenai jurusan apa saja yang ada di kampusnya sebenarnya di brosur yang dia bagikan sudah cukup untuk menjelaskan tapi yang bikin nggak paham-paham itu ketampanannya auto gagal fokus aku tuh. Melenceng dari dugaan, dia datang mendekat tepat di bagkuku dan agak menunduk sambil menatapku, menjelaskan secara gamblang padaku dengan lembut. Ada debaran hebat dalam jiwaku, hampir saja memuncak dan membuatku salah tingkah di buatnya. “Gimana, Dek?” tanyanya “Kak, pengen lebih jelas dong soal D3 pajak dan ketentuan ambil jurusan ini gimana.” ujarku sekedar basa-basi padanya “Kebetulan ini jurusan yang aku ambil. Jalur masuknyapun sama, ada SNMPTN, SBMPTN dan ada juga mandiri. Kalau SNMPTN


memang dari nilai, Dek. Nanti kalau tidak lolos kita bisa daftar lagi melalui SBMPTN. Kurang lebih ketentuan dan apapun itu sama untuk semua jurusan, yang penting kitanya gimana. Misal kalau kamu, kan, mau ambil pajak nah pastinya kamu udah persiapkan ini jauh-jauh hari prospek kedepannya dari pajak ini gimana, selebihnya kalau D3 pajak atau akuntansi dia lebih condong ke prakteknya kalau program strata lebih banyak ke teori. Gitu, ada lagi?” jelas Kak Arman “Jurusan yang sama nggak berpengaruhkan, Kak? Mau jalur SNM atau SBM?” tanyaku lagi “Nggak masalah kalau soal itu, Dek.” singkat Kak Arman “Terus yang SBM itu dimana kita bisa tahu kapan di laksanakannya, Kak? Dan kalau misal saja nggak lolos di SBM apa masih ada cara lain untuk masuk di PTN?” imbuhku “SBMPTN biasanya akan dilaksanakan setelah pengumuman lolos SNMPTN, nanti di lakukan serentak dan akan di berikan pemberitahuan lebih lanjut, Dek. Kalau misalnya gagal keduanya kita bisa ikut jalur UM atau ujian mandiri. Jadi kita harus mengkuti serangkaian tes di kampus pilihan kita. Gitu, dek.” Jelas Kak Arman “Masih kurang jelas,ya,” gumamku “Atau gini aja, nanti kamu minta nomorku ke Wulan supaya bisa tanya-tanya seputar kampus, gitu aja ya, dek? Udah mau habis waktu kita sharing di sini soalnya.” balas Kak Arman “Baik, Kak. Terima kasih.” balasku Detakan jantung mulai tidak waras terasa seketika Kak Arman akan meminta nomorku dari Wulan. Langsung, empat pasang bola mata


memandangku penuh arti apalagi kalau bukan untuk meledekku. “Ini bukan mimpi, benar-benar real.” batinku “2 pertanyaan lagilah, ayo siapa lagi?” seru Kak Megi teman Kak Arman bersosialisasi “Aku pengen dijelasin lagi mengenai D3 pajak dong, Kak.” seru Arul mengangkat tangan kanannya. Eh Kak Arman yang ngejelasin ke Arul bukan Kak Megi, tapi untung saja bukan Dian anak Osis yang sok beken itu yang bertanya. Secara Dian, kan, fanatik banget sama Kak Arman dan dia juga pengen banget masuk di kampusnya Kak Arman. “Kak, tanya dong, kalau daftar satu jurusan yang sama kayak jurusan Kak Arman besok kita bisa ketemu nggak kira-kira?” acung Dewi sambil meledek ke arahku “Dewi, nggak usah mancing-mancing deh.” celetuk Dian “Waduh, Man, atasi satu pertanyaan ini.” sahut Kak Megi melemparkan ke Arman “Bisalah, Nggak harus satu jurusan kalau udah sekampus bisa dong mlipir sebentar.” goda Kak Arman “Tuh, bisa, Fin. Tenang aja, besok mlipir!” seru Ratna “Kan ada Wulan, bisa dong jadi perantara.” imbuh Mita Suasana kelas makin heboh. Tak lama, 2 jam waktu yang diberikan mereka untuk mensosialisasikan kampusnya sudah habis. Terakhir, ritual foto bersama sebagai wejangan penutup acara. “Tidak mengapalah, yang penting Wulan bakal kasih wa gue ke Kak Arman.” Batinku, seiring


lirikan Liana yang tengah menggodaku. Usai foto-foto, Kak Arman dan yang lain berlalu. Masih suasana keributan milik kelasku saat jam kosong membuatku ingin keluar mencari udara segar saja. Tapi mager, “Huft!” aku menghela napas. Aku mendekati Wulan yang sedang bergerombol di bangku Mita bersama squad-squad yang lain. Tiba-tiba Aldo mendekati Wulan dengan tangannya membawa sebuah proposal kegiatan. “Wulan, ikut gue ke lobby yuk.” panggil Aldo menghampiri bangku Wulan yang tepat di depan bangkuku, “Uhuk” batuk jaim Mita, “Ihirrr, kemajuan Dew!” sahut Netik temanku sekelas yang berusaha ingin nyomblangin Aldo sama Wulan karena memang Netik adalah teman terdekat Aldo “Sekarang?” tanya Wulan dengan pipi merah jambunya “Iyalah, nyari acc prokernya Rintan.” balas Aldo memperlihatkan proposal “Agak bentaran dikit emangnya nggak bisa, ya? Mager gue, Do.” elak Wulan “Ayo, ah. Ntar keburu gue yang mager, Lan.” balas Aldo “Nggak mau, pengennya dipaksa.” goda Wulan pada Aldo “Manja, deh. Ya udah, Wulan temenin Aldo ke lobby yuk.” pinta Aldo super niat “Kurang maksanya itu mah.” Wulan merajuk “Wulan cantik, adik Bang Kennan, temenin Aldo yang ganteng ini ke lobby dong, mau yaa.” ucap Aldo sedikit diimut-imutin mukanya “Bener-bener ini bocil.” sahut Mita sambil geleng-geleng kepala


“Semua-semua aja di bucinin, Lan.” imbuhku “Mau nggak ini?” tanya Aldo “Kamu ih ganggu aku sama temen-temen aja, Do.” keluh Wulan dan beranjak dari bangkunya “Bentar doang, Lan. Harus sama kamu ini nyarinya.” rengek Aldo “Cieleh, udah aku kamuan.” goda Dewi “Apaan sih, nggak gitu maksutnya.” sangkal Wulan “Udah, sana, keburu Kepsek cabut tuh.” suruh Ratna “Ya udah gue tinggal dulu ya.” imbuh Wulan dan berlalu bersama Aldo Biasalah Wulan emang suka gitu, bercanda pada siapa saja termasuk Aldo pujaan hatinya. Dia pikir dengan membawa santai pada setiap suasana yang terjadi di hatinya akan semakin nyaman dalam dia menyimpan rasa cintanya pada seseorang atau menyembunyikan kebenciannya dengan orang yang dia benci. Itu dia tunjukkan saat dia sedang berbicara dengan Reyhan orang yang dia benci karena pernah begitu antusias dengan Wulan untuk menjadikannya kekasih hati. Cara dia memperlakukan orang yang dia sangat bencipun terbilang masih santai dan asyiknya lagi kalau dia ada masalah serius dengan seseorang langsung dia temuin, mengajaknya sharingsharing. Aku banyak belajar darinya. “Fin, kalah gercep lo sama Wulan. Dia aja udah digandeng.” goda Mita “Digandeng nggak jadian sama aja bucin doang , Mit.” balasku membercandainya


“Fina juga udah ada kemajuan, buktinya tuh lagi ngesave nomer mas gantengnya.” sahut Ratna meledek Mita pun menarikku mengajak ke kantin, aku sempat menolak. Namun, mencium bau-bau kebahagiaan di kantin aku ngikutin aja. Semesta kali ini sungguh berpihak pada seorang remaja yang tengah kasmaran bukan kepalang ini. Tidak ada lagi yang harus segera dituruti persoalan kata hati, rindu kelabu benar menyekap ku pada mata yang tidak terlepas dari bayang-bayang Kak Arman. Membuatku bego dan linglung seketika, memabukan ku habishabisan. Kadang waras menolak buta, pada akhirnya nanti semesta bisa saja menjodohkan ku pada seorang pria idaman Mama dan Papa yang terbaik versi Tuhanku. Layaknya seorang remaja anak SMA, hati ini masih saja bergetar untuk Kak Arman yang mungkin saja ini hanya sebatas perasaan kagum tidak lebih. Aku masih dengan pedenya mengejarnya agar mudah tuk ku gapai. “Beuh, Kak Arman, Fin.” senggol Dewi yang melihat Kak Arman lebih dulu “Mungkinkah kita akan pindah atau tetap makan di kantin ini?” goda Ratna “Udah disini aja, mau makan ribet amat.” balasku sambil mengambil beberapa gorengan “Lan bawain es tehnya!” seruku menyuruh Wulan yang baru saja datang menghampiri kami “Berapa? Lo udah belum, Rat?” seru Wulan


“Udah ini, sotonya udah gue ambilin juga!” teriak Ratna sambil terus menuangkan kecap di sotonya “Thankyou Wulan.” balasku sambil menarik segelas es teh yang baru di letakkan di meja oleh Wulan “Sipo, Bep.” balasnya dengan sesendok soto disuapkan “Eh, Lan. Btw lo udah berduanya sama Aldo?” tanya ku “Udah, minta acc kepsek doang ngapain lama-lama.” balasnya yang fokus pada soto di hadapannya “Nggak lo pepet sekalian, Lan?” sahut Mita “Apaan sih kalian, gue, kan, sama Aldo beneran nggak ada apa-apa guys.” balas Wulan santai “Jadi yang semalam boncengan berdua itu nggak ada apa-apa?” sindir Dewi yang tahu persis semalam Aldo mengantarkan Wulan kerumah karena motornya mogok “Dasar paparazi lo, Dew. Semalem karena Bang Kennan lembur terus langsung ke kampus jadi nggak bisa jemput gue. Kalau bukan karena motor gue mogok mah mana mungkin,” ujar Wulan agak sedikit nyolot pada Dewi “Santai aja, Cuk. Pake nyolot aja.” sahut Mita menegur Wulan “Abisnya gue kesel sama Bang Ke, udah nggak bisa jemput eh pulang sama Aldo kemaleman masih aja ngomel. Katanya main dulu lah, pacaran dulu lah, bla-bla-bla. Boro-boro pacaran digantungin doang ni hati, sakit tahu nggak sih.” omel Wulan “Hari ini lo bawa motor nggak?” tanya Ratna “Nggak, motor gue masih dibengkel.” balas Wulan


“Ntar kalau lo dianterin Aldo lagi, bilang ke dia. Ini hati, Do. Bukan gantungan jemuran, haha.” imbuh Ratna dengan ledekan yang berhasil membuat kami tertawa “Ogah, lagi pula gue nggak bawa motor karena hari ini gue bawa mobil.” ujar Wulan sambil menunjukkan kunci mobilnya “Bocil, lo bawa mobil. Ntar salah ngerem berabe dong,” ledek Mita “Iya ni bocil, belum punya SIM juga.” imbuh Dewi “Kata siapa, nih SIM motor sama mobil.” balas Wulan sambil menunjukkan SIMnya “Percaya deh, anak sultan mg.” sahutku “Fin, fix disini temen gue cuman elo.” ucap Wulan sambil merangkulku “Udah deh, habisin tuh soto lo, Lan. Gue yang bayar deh, asal ntar sepulang sekolah ajakin gue mobil-mobilan, hehe.” sahut Fina dan kami tertawa Episode 4 Situasi yang mendebarkan Kami sibuk menghabiskan soto masing-masing, hingga kedatangan Kak Adit pacarnya Ratna membuat ketenangan kami sedikit terusik. Ratna bukannya pergi ke meja lain malah asik ngobrol sama kak Adit. “Guys, gue cabut duluan mau ada rapat Re-Or. Mwahh!” seru Wulan usai membayar dan pergi ke RO dengan Aldo yang sudah menungguinya sedari tadi di depan kantin Pak Dul


“Dasar bucin! Bilangnya nggak ada apa-apa, baru aja berdua udah di samperin aja.” teriak Mita “Tenang aja, just wait and see.” seru Wulan Kami hanya mengacungkan jempol tanda setuju “Eh guys, lo ngerasa aneh nggak sih sama Wulan?” tanya Mita seusai Wulan berlalu jauh “Nggak sih, gue pikir sebatas ketos dan anak buahnya. Maybe like that,” balas Dewi cuek bebek “Tapi gue ngerasa ada something gitu deh.” sahut Ratna nimbrung “Ya, kalau jadian. Alhamdulillah gitu aja, akhirnya bisa jadi pacar seorang Aldo yang paling tampan kece badai se SMA Bhakti.” balasku “Dan kalau bener mereka jadian, semoga aja langgeng sampai nikah. Terus elo bisa buat novel judulnya dari sekelas jadi seatap.” sahut Dewi “Belum kelar sekolah udah menjurus nikah aja lo, Dew.” balasku “Iya, Dew. Nggak jelas,” timpal Ratna “Kalian gimana sih, Wulan itu, kan, temen kita. So wajar dong berharap yang baik-baik tentang hubungannya sama Aldo.” balas Dewi “Iya, aamiin kalau itu mah. Tapi,” sahut Mita “Nggak-nggak, Nggak mungkin, Fin.” imbuh Mita yang masih tidak yakin bahwa Aldo akan membalas cintanya Wulan “Nggak ada yang nggak mungkin, guys.” balas Ratna


“Udah ah, bahas Wulannya nanti aja. Kita masuk kelas dulu, soalnya kampus Kak Adit mau sosialisasi di kelas kita, bye.” imbuh Ratna dan berlalu ke kelas lebih dulu Kami masuk kelas, tepat di mejaku ada sebuah ponsel sedang berdering. “Gawat, kok bisa diatas sih hp, gue. Bisa kena bk ntr.” timpalku sendiri dan segera menyembunyikan ponsel. “Loh, ini bukan punya gue.” gumamku yang ternyata bukan ponsel milik ku, “Mit lo tahu ini handphone punya siapa?” tanyaku binggung, “Paling punya Wulan lupa masukin di tas.” balas Mita “Wulan nggak bawa hp, goblok.” timpal Ratna “Kali aja dia hari ini bawa,” sahut Mita “Bentar-bentar, ini mah bukan punya Wulan. Hp Kak Arman pasti, tadikan dia kesini.” imbuh Ratna sambil mengecek isi dalam ponsel itu untuk memastikan ponsel Kak Arman “Liat, tuh ada foto Kak Arman. Fix itu ponsel dia ketinggalan disini.” seru Dewi yang ikut kepo-kepo ponsel itu “He-em, hp Kak Arman ini, Fin. Sono buru balikin.” suruh Ratna dan menyodorkan hp Kak Arman padaku “Lo kasih aja, paling masih dikelas sebelah.” imbuh Dewi “Gue? Nggak ah tengsin.” elakku “Ayo, gue temenin.” ajak Mita ”Yaudah ayo, inget lo harus stay sama gue sampai gue balikin ini hp.” ancamku


“Iya-iya, santuy nggak usah sok-sok panik gitu ah.” singkat Mita dan berjalan perlahan lalu berbalik ke kelas, dia membiarkanku menemui Kak Arman seorang diri “Ceh! Rese lo, Mit.” geramku “Permisi, tok-tok-tok.” aku mengetuk pintu kelas IPS 3 dengan gemetar dan sedikit ketakutan “Masuk.” balas salah satu kakak yang sedang bersosialisasi di kelas IPS 3 “Kak, saya mencari Kak Arman.” ucapku mendekati Kak Anya “Oh, tadi dia masih di kantin atau ke toilet keknya, Dek. Atau coba di tunggu bentar.” balas Kak Anya “Emmm, ya udah, Kak. Biar nanti saya kembali kesini lagi, permisi, Kak.” balasku pamit dengan rasa kikuk berdentum hebat di ulu hati dan saat aku berbalik ternyata aku menabrak Kak Arman yang nampak terburu-buru, aku hampir terlempar dari teras untung saja Kak Arman langsung memelukku erat-erat kalau nggak bisa korengan aku. Kedua pasang mata milik kita berhasil menuai titik temu satu sudut, napas kita saling memburu. Aku sungguh habis gaya ditatap oleh bayangan hangat yang selama ini lebam membiru penuh riuh rindu. Peluknya nan hangat menyejukkan jiwa, alih-alih dia hampir membuatku gila bersamaan dengan tatapannya itu. “M-maaf, Kak.” aku membuyarkan tatapan kita yang hampir saja akan syahdu terasa, buru-buru aku melepaskan peluknya dan menundukkan pandangan. Dihadapannya, kini yang bisaku lakukan hanyalah menunduk agar Kak Arman tidak melihat bagaimana


pipiku berwarna merah jambu dan jidatku bercucuran keringat dingin tak karuan. “Kamu nggak papa, kan?” tanyanya lembut “A-ku nggak papa, Kak. Terima kasih sudah menolong saya, Kak.” balasku dengan menundukkan kepala “Kamu yakin tidak terjadi apa-apa?” dia memastikan kondisiku benar-benar aman “Iya, Kak. Aku nggak papa,” balasku dan berusaha menetralkan kikuk berhadapan dengannya agar dia tidak curiga “Ini ponsel milikmu, Kak. Barusan tertinggal ditempatku.” imbuhku dan menyodorkan ponsel miliknya “Oalah, Dek. Terima kasih, ya, dari tadi aku cariin di kantin ternyata tertinggal di kelasmu.” balasnya dengan mengedarkan senyuman “Sama-sama, Kak.” singkatku dan berlalu dari Kak Arman Jarum jam di kelas mengarah angka 02.00 bel pulang sekolah berdering, inilah saatnya para antusiasme siswa melaju kencang. Menghambur dari masing-masing penjuru kelas, membubarkan diri pulang ke rumah pertamanya. Aku menunggui Wulan dengan menenteng tasnya di tangan, duduk di teras depan kelas bersamaan sepucuk harapan. “Fin lo belum balik?” seru Wulan dari balik punggung dengan menata napas usai berlari dari ruang Osis, “Astagfirullah, Wulan ngagetin aja.” keluhku dengan tatanan jantung nan memburu “Sorry-sorry, Fin. Gue buru-buru soalnya mau ngambil tas, eh elo malah masih di sini.” balasnya yang masih membenarkan detak jantung


“Nih, kurang baik apa coba jadi temen lo.” balasku menyodorkan setengah melempar tas miliknya “Jadi, lo nungguin gue sejak tadi Fin?” tanyanya sambil mengenakan tas dipunggungnya “Lo kira!” ketusku dengan bersender pada tiang teras kelas “Ada apa lagi?” tanyanya lirih “Gue kayaknya harus lupain Kak Arman deh, Lan.” balasku pasrah “Loh, tapi kenapa Fin? Lo udah melaju sejauh ini, gue tahu memang tidak mudah mengejar sesuatu yang tidak pasti seperti ini. Gue harap lo pikirin keputusan lo dengan baik lagi. Satu langkah lagi lo nyampe finish.” ujar Wulan yang malah menguatkan “Lo tahu sendiri, gue ini siapa sih, Lan. Nggak penting banget, gue pikir mencintai Kak Arman adalah sebuah kesalahan besar. Lo juga ngerti itu, gue bukan siapa-siapa yang dikenal sama Kak Arman. Sakit, Lan, menyaksikan dia baik-baik saja sementara gue, menanggung luka dari sebuah rasa dalam mencintai diam-diam seperti ini.” kataku dengan meronta sedikit marah dan merintih “Lo lihat gue! Tatap gue, bagaimana gue bertahan dari semua terpaan orang-orang. Lo lebih tahu seperti apa rasa gue ke dia. Kurang lebih kita sama, bedanya disini lo berusaha mundur sedangkan gue bersamaan perasaan ini terus menguat. Urusan berjodoh atau tidak jujur gue mundur, tapi yang ada sekarang bagaimanapun gue terluka. Gue harus berjuang, bukankah cinta juga harus diperjuangkan? Tidak hanya sekedar menunggu cinta itu datang menyapa, kan,” balas Wulan menguatkanku


“Lo tahu, di sosmed gimana, kan? Adik kelas yang tidak menahu apa-apa tentang hubunganku dengan Kak Arman, bisa-bisanya dia nyinyirin gue yang ganggu-ganggu hubungannya sama Kak Armanlah. Dan semuanya, sekarang gue sungguh harus mundur, Lan.” rengekku “Sini, peluk gue. Lo harus yakin dan lo harus tunjukan ke adik tingkat itu bahwa lo tidak seperti yang mereka pikir, lo nggak seperti yang mereka sebarakan disosmed. Gue disini, disisi lo, gue percaya lo bisa. Jangan nyerah kek gini lagi, kita berjuang sama-sama.” bisik Wulan menguatkanku lagi sambil memelukku erat “Ehem,” dahem Aldo yang baru datang memecah sendu diantara aku dan Wulan, rupanya Aldo sudah menunggunya di RO cukup lama. Karena mereka harus mencari tanda tangan Pak Kepsek untuk acc proposal kegiatan lagi. “Eh Aldo, lo udah lama?” tanya Wulan agak kikuk sambil melepaskan pelukan kami perlahan “Baru aja, ayo keburu Pak Kepsek pulang.” ajak Aldo “Sebentar,” balas Wulan sambil menatapku “Fin, lanjut ntr wa, ya. Gue harus pergi sekarang, lo pulangnya hatihati, ya.” imbuhnya dengan rasa yang masih ingin bercerita lagi “It’s okay bep, lo juga ya. Gue duluan, semangat!” balasku sambil berdiri merapikan baju dan menyemangatinya, lalu berpelukan “Udah, besok masih ketemu juga pake pelukan dasar cewek.” sahut Aldo “Lo sirik aja, emang cewek, ya, gini.” balasku


“Bukan sirik, Fin. Masalahnya ini menyangkut hidup dan mati gue.” sangkal Aldo “Udah-udah, buruan katanya keburu pulang.” lerai Wulan “Awas baper salah satu bahaya,” goda Fina “Mulai rese, kan, buru pulang. See you soon, bay.” balas Wulan “Hehe, see you soon baby.” balasku “Do, jagain temen gue. Awas nyakitin dia, urusan lo sama gue. bye!” imbuhku mengancam Aldo dengan mengepalkan tangan kananku “Tanpa lo suruh, gue pasti jagain dia. Soalnya, Wulan, kan,” balas Aldo dan lalu tidak melanjutkan ucapannya “Soalnya, gue apa?” tanya Wulan sedikit melotot “Ya, soalnya dia, kan, cewek. Sekuat apapun seorang cewek, dia tetep harus dilindungin.” sangkal Aldo “Gombal, Do, ayo buruan.” balas Wulan dengan sedikit salah tingkah dan langsung menarik Aldo “Couple terbucin emang, lo berdua.” ledekku dan berlalu dari mereka Episode 5 Menunggu Pesan Darimu Aldo dan Wulan hanya tertawa dikejauhan, aku pun pulang dengan setidaknya sedikit kelegaan didalam hati, “Oh jadi sesesak ini menjadi pengagum rahasiamu, Kak.” gumamku dalam perjalanan pulang. Setibanya di rumah, aku disibukkan dengan ritual anak SMA kelas 12 yang bentar lagi lulus. Selain segubrak tugas yang harus di rampungkan, ada tambahan berbuku-buku latihan soal yang barusan


aku pinjam dari perpustakaan. Segelas jus jambu dan sedikit cemilan sudah cukup untuk teman belajar, aku mengulas sedikit pelajaran di hari pertama masuk kelas 12 ini. Memang kebanyakan hanya di isi untuk sosialisasi kakak-kakak alumni yang sekarang sudah kuliah di kampus-kampus ternama baik itu di kotaku atau kota-kota lain. “Loh inikan brosur dari Kak Arman,” gumamku saat menemukan selembar kertas brosur pemberian Kak Arman, “Save nomornya, ah.” Gumamku sambil mengetikkan nomor dalam ponsel. “Gue wa sekarang apa nanti aja ya, gimana ya?” binggungku yang masih malu-malu untuk memulai percakapan. “Kak aku Fina temannya Wulan yang adiknya teman kak Arman.” ketikku “Nggak ah kepanjangan,” “Apa ya,” aku mencoba memikirkan kata-kata yang pas untuk mengawali chatingan setelah sekian kali merangkai kata dan ku hapus berulangkali. “Selamat siang, Kak,” tulisku dan ibu jariku terlalu frontal mengirimkan pesan untuk Kak Arman, “Waduh, gawat udah centang dua lagi.” panikku tak karuan, mondar-mandir di dalam kamar sambil gigit jari “Tungkling!” seketika bulu kuduk ku tegang beriring debaran jantung yang tidak wajar, aku mulai meraih ponselku di ranjang. Aku buka, melirik deretan pesan yang masuk. “Astaga, Mitaa!” kesalku dengan mata terbelalak lebar-lebar sambil membalas pesan dari Mita. Aku tutup lagi aplikasi whatsapp milikku, menenangkan diri dengan sesruput jus jambu dan fokus mengerjakan soal-soal UN. “Tungkling!”notif pesan masuk di ponselku, “Woalah Mitaaaa, gue lupa silent ponsel lagi hih.” geramku kesal sambil meraih ponselku


di meja. Aku pikir Mita akan mengajakku berkencan malam nanti, nggak biasanya dia seaktif ini cahtingan dengan ku. “Selamat siang, maaf dengan siapa ini?” tanya kak Arman dalam chatnya sepontan aku merasakan nadi berdebar hebat sambil mengigit bibir bawahku. “Oh my god, gue pikir Mita. Nyeselkan jadinya.” Gumamku “Huhh, oke Fina. Lo harus rilex. Tarik sis, semongko.” Ucapku yang ngelantur saking groginya dapet balasan dari Kak Arman “Eh bukan itu, tenang-tenang. Huft! Tarik napas, bismillah.” aku menarik dalam-dalam napas yang memburu dan membuangnya keras-keras lalu memulai membuka lagi pesan balasan dari Kak Arman. “Ini Fina, Kak. Kelas IPS 2 yang tadi tanya sama, Kak Arman.” balasku penuh getaran-getaran jiwa, “Oh iya-iya, Fina. Gimana?” balasnya fast respon, “Kak Arman ngambil jurusan apa sekarang?” balasku ngasal, “Aku ngambil jurusan pajak, Dek.” singkat Kak Arman, aku sok-sokan tanya bagaimana jurusan pajak itu. Kak Arman pun menganggapinya dan menjelaskan sedetail mungkin, membuatku semakin klepek-klepek. Berulangkali aku bertanya pada Kak Arman mengenai jurusannya dan apapun itu yang menyangkut jurusan di kampusnya agar percakapan tidak terkesan garing. Semakin lama mengenal Kak Arman, aku paham ternyata dia tidak secuek yang ku pikirkan, dia asik orangnya. Bahkan aku bertanya apapun dia merespon dengan sangat baik, di bawa enjoy jadinya nggak harus berdebar akut lagi deh. Rasanya, membahas mengenai jurusan yang sangat memusingkan otak akan benar-benar mengundang dingin suasana


chattingan dengannya, aku coba ceritakan mengenai tujuanku setelah lulus. Dia menganggapi dengan baik, Kak Arman juga memberikanku wawasan dan memotivasiku. Dan, itu poin plusnya, saat aku coba menceritakan adik tingkat yang menyindriku lewat twitter, diapun menenangkan dengan baik. Rasanya semangatku meronta-ronta, walaupun tidak berulangkali perhari dia chat, tapi setidaknya dia mau menanggapi rasaku yang kian dalam hal ini seiring dengan kondisi kelas 12 yang penuh dengan tryout-tryoutnya, praktikum dan persiapan UN. Kian keras aku melaju, membuatku semakin sadar dan menguatkan akar-akar untuk melumatkan namanya di dalam hati yang sempat mengisi sedalam ini. Bodohnya aku tidak pernah bisa berkata-kata ketika Kak Arman sedang chat denganku. Otakku enggan untuk menyuratkan cintaku yang diamdiam ini padanya. “Cuk, lo merenungin apaan diem-diem bae!” seru Mita dari belakang punggungku “Nggak, capek aja, Mit.” singkatku “Eh, Mit ntr habis kelas kata Siska kita ada latihan.” sahut Dewi memberitahu pesan dari Siska anak taekowndo kelas sebelah dengan keadaanku yang tetap melamun dengan Wulan yang menyenderkan kepalanya dipundakku “Kapan dia ngasih tahunya?” tanya Mita sambil duduk di belakang punggungku “Barusan.” singkat Dewi


“Ya udah, kita temuin Siska bentar dikelasnya.” ajak Mita, merekapun berlalu Tak lama dia kembali, mengagetkan aku dan Wulan yang berkemelut hening “Woy, ngelamun aja. Kesambet ntr!” tegur Mita mendorongku dan Wulan hingga terjatuh dari teras depan kelas “Demittttt!” teriakku kesal “Sakit, peak!” amuk Wulan Ratna dan Dewi yang datang bersama Mita barusan malah mentertawai kita “Hati boleh ancur, tapi semangat harus 45!” seru Mita meledekku dan Wulan “Belum ngrasain aja jadi kita ya, Fin.” sambung Wulan “Gue aja putus sama Adit malah happy!” seru Ratna “Lo putus sama Kak Adit, Rat, terus-terus?” aku dan Wulan mendekati Ratna kepo-kepo “Kepo aja ni bocil dua.” balasnya geli “Turut berduka cita, ya, Nyet” imbuh Dewi “Lo pikir kematian, berduka cita!” amuk Ratna dengan konyolnya “Iyalah berduka cita, kematian hati lo buat dia haha.” balas Mita “Guis, Pak kepsek keliling, ayo masuk.” senggol Wulan yang melihat Pak kepsek berjalan dari kelas bahasa menuju kelas kami “Gawat, Cuk. Masuk-masuk!” seru Dewi tergesa masuk kelas dan kami mengikuti “Oh, siapa Mit siapa?” kepo Dita yang haho ketika panik


“Pak kepsek, Cuk!” balasnya setengah berteriak “Makannya kalau jamkos jangan pada nongkrong di teras, bangunin macam tidur aja!” ketus Sidiq ketua kelas “Iye!” garang Dewi Episode 6 Kerandoman Di Kelasku Suasana gaduh di kelas kami memang benar-benar sudah mendarah daging, sekarang dengan adanya jam kosong. Kami sekelas sepakat menggelar tikar andalan di belakang kelas dan tidur berjamaah, sisanya ada yang sholat ke masjid sekolah sisanya lagi nongki ke kantin. Kelas 12 unfaedah, harusnya sudah sibuk menyiapkan materi untuk tryout minggu depan nah ini malah kompak dalam keburukan. Tapi memang baru kerasa banget kekeluargaan kami, setelah sebelumnya bentrok menjadi dua pihak karena rebutan cewe dikelas. Sekarang tinggal menghitung bulan pisah malah makin kompak, apaapa rapat sekelas. Kali ini kami sedang berdebat masalah foto yearbooks, ada yang kisruh milih kelompok. Pengennya pada segeng, yang hitz sama yang hitz yang bar-bar bareng bar-bar juga. Biasalah geng-gengan, kelompok pendiam dan pintar sudah tersusun dengan sendirinya. Kalau aku sih masih bersatu dengan geng somplakku, Ratna, Dewi, Wulan dan Mita. Urusan tempat dan temanya sekelas masih saling beradu pendapat, aku segeng kesel mendengar semua ini. Akhirnya ke kantin berlima colut, Aldo merasa kelas dengan kami berlima karena merasa tidak dihargai sebagai ketua panitia yearbook.


Ditambah pula Wulan yang anak Osis, emosi Aldo memuncak. Juga Sidiq dengan emosinya yang kurang baik marah-marah dan pergi entah kemana. “Wulan, lo gimana sih, pimpin dong geng lo!. Dan lo Mita, Ratna, Dewi, Fina lo ngapain pergi-pergi gitu aja. Gue ini udah mumet mikirin panitia dan kelas 12 lainnya. Mohon pengertian sedikit dong, ini kita pusing mikirin acc kepsek dan lain-lainnya. Kalian tinggal rundingin sekelas, malah ke kantin inilah, itulah!” amuk Aldo, “Do sorry ya, kita emang salah tapi lo juga jangan melihat kita aja. Lo lihat yang lain, pada kemana mereka semua?! Apa lo cuman bisanya nyerang kita, lo nggak ada nyali bilang ke mereka. Disini kita nggak salah, kita pergi bilang kan?! Kasar banget sama cewe!” amuk Mita sambil meneruskan langkah ke mejanya “Sekarang terserah elo-elo pada, kalau maunya memang menangnya sendiri. Gue capek, ngurusin kalian, disini gue bukan ketua kelasnya, tapi apa-apa nyerang gue. Gue tegasin ke kalian, gue ini ketua Osis buka ketua kelas. Jadi, tolong kerja samanya dong, guys.” Ucap Aldo merasa kecewa dengan kelas kami “Do, nggak guna lo ngoceh di sini. Percuma Sidiq nggak ada disini, jadi stop ngocehnya. Oke, gue sama yang lain minta maaf kalau barusan pergi saat rapat kelas. Gue ngaku gue dan temen-temen salah, jadi Osis nggak benerlah dan yang lain, maaf.” ucap Wulan yang maju di depan kelas dan memohon maaf pada mereka semua “Gue harus pergi cari Sidiq, lanjutin rapatnya.” imbuh Wulan


“Lan, tunggu.” seru Aldo mencoba mencegah tindakan Wulan yang ingin mencari Sidiq, karena jujur akupun khawatir nanti Wulan bakal kena damprat sama ketua kelas emosian itu “Ihir, drama couple bucin dimulai.” seru Rintan “Do, sebaiknya lo masuk dan rapatin kelas. Karena gue yakin Sidiq nggak akan ngomong lagi setelah ini, dia butuh waktu dan gue pihak yang harus bicara, gue harus minta maaf sama dia.” balas Wulan dan pergi mencari Sidiq, kami sekelas melanjutkan rapat Hari ini aku begitu antusias mengikuti sepanjang jam pelajaran, dengan iming-iming akan menjadi pendengar yang budiman untuk Wulan usai jam pelajaran rampung siang ini. Aku berharap, Wulan mengabarkan kebahagiaannya dengan Aldo dan mereka akan jadian lalu langgeng hingga menikah. “Aish, terlalu jauh pikiranku.” batinku, “Fin,” Dimas berbisik saat Ibu Maria menjelaskan mata pelajaran sejarahnya. “Apa?” tanyaku, Dimas menyodorkan surat padaku. “Apa ini?” tanyaku lirih, “Baca aja.” balas Dimas “Fin, suruh Wulan bangun. Gue nggak mau dia kena hukum sama Ibu Maria.” Isi dari surat Dimas untuk Wulan, aku hanya mengajungkan sempol dan menendang kursinya Wulan dari belakang. “Lan-Wulan,” bisikku sambil menunduk di balik punggungnya. “Apa, Fin?” tanya Wulan lirih menengok kearahku, “Dapet surat dari Dimas, xixi.” godaku pada Wulan yang masih setengah sadar. “Apa ini?” tanyanya bingung, “Ambil dan baca itu di bangku lo.” balasku, “Fina! Wulan! Itu apa?! Bawa kedepan!” seru Ibu Maria yang melihat kita bercakap saat beliau menjelaskan pada


kami. “I-ni sobekan catatan saya yang kebawa sama Fina, Bu.” balas Wulan, “Iya, Bu, bukan apa-apa kok.” imbuh Fina “Bawa sini!” kekeh Ibu Maria “Baik, Bu.” balas Wulan panik dan melangkah perlahan ke meja Ibu Maria “Mana, biar Ibu baca.” Ibu Maria meminta surat itu, rasanya aku disini tidak tenang bahkan keringat dingin bercucuran. “Ini catatan apa?!” tanya Ibu Maria dengan tertawa “Ma-af, Bu.” balas Wulan sambil menunduk “Siapa yang nulis surat ini?” tanya Ibu Maria “Saya hanya dapat dari Fina, Bu.” Balas Wulan “Fina, ini siapa yang nulis?” tanya Ibu Maria padaku “Temen tidur dijam pelajaran saya, dan ini malah di lindungin suruh bangun.” imbuh Ibu Maria “Maaf, Bu. Saya hanya disuruh Dimas,” balasku sambil berdiri “Ok, duduklah.” balas Ibu Maria “Dimas,” panggil Ibu Maria pada Dimas “I-iya, Bu.” Balas Dimas dan berdiri “Kamu pacarnya Wulan?” tanya Ibu Maria sedikit meledek “Haha, pacaran jaman milenial masih surat-suratan.” seru Rilo dan yang lain tertawa meledek Dimas dan Wulan “Nggak, Bu.” sangkal Wulan “Wulan, kamu ini pilih Aldo apa Dimas?” tanya Ibu Maria pada Wulan meledek


“Hahaha, pilih salah satu, Lan. Jangan semuanya,” sorak tementemen sekelas “Cewek mah gitu, jinak-jinak merpati.” sahut Aldo “Aldo ada masalah?” tanya Ibu Maria “O-oh, nggak, Bu.” jawab Aldo dengan sedikit nyengir “Bu, jadi cowok itu jangan hanya ngasih kode doang, ya, Bu.” sahut Mita “Cewek digantungin doang, hu!” seru Dewi “Sudah-sudah, semuanya bisa diam.” seru Ibu Maria “Wulan, silakan kembali.” pinta Ibu Maria menyuruh Wulan duduk kembali “Baik, Bu. Terima kasih.” balas Wulan sambil tertawa ringan dengan Ibu Maria “Dimas jangan nembak cewek pas jam saya, ya, Aldo juga kamu seorang ketua Osis jangan mau kalah.” ledek Ibu Maria Lega, jam pelajaran Ibu Maria sudah usai dan angin segar dari Pak Kamil sepertinya sedang semesta kabulkan. Jam kosong, iya itulah yang melegakan, aku dan geng yang lain pergi ke kantin untuk nongkrong. Nggak tahunya, Sidiq mengadakan rapat yearbook. “Sidiq, gue izin ke UKS.” seru Wulan, yang entahlah dari tadi nampak murung dan tidak berdaya. Aldo juga kelihatan sedang mengkhawatirkan Wulan, soalnya sejak tadi dia terus memperhatikan Wulan. “Lo sakit, Lan?” tanya Sidiq “Iya ni, pusing banget gue. Sorry, ya, Diq.” jawab Wulan


“Nggak papa, Lan. Santai aja, cepet sembuh, ya,” balas Sidiq “Lan, mau gue anterin?” tawarku “Nggak usah, Fin. Lo rapat aja sama temen-temen,” balas Wulan dan berjalan perlahan seorang diri “Fin, temenin Wulan.” suruh Sidiq dan membiarkanku pergi menemani Wulan Entahlah, apa yang terjadi pada Sidiq yang begitu care banget dengan Wulan. Aku juga heran dengan Aldo, nampak jelas dia memikirkan keadaan Wulan yang begitu dingin padanya. Aku yakin, pasti kemarin setelah rapat ada sesuatu yang janggal dan Wulan akan bercerita masalah ini padaku. “Lo ngapain sih, Fin. Dikelas lagi rapat, lo malah kesini nemenin gue.” ucap Wulan “Sidiq yang nyuruh gue buat jagain lo disini.” balasku “Lan,” imbuhku memanggil Wulan lirih “Apa, Fin?” tanyanya “Lo kenapa hari ini, nggak biasanya lo semurung ini bahkan gue nggak pernah lihat lo sampai ketiduran di kelas kek tadi. Apa ini ada hubungannya dengan Aldo?” balasku dan menanyainya “Gue nggak papa, Fin. Gue hanya pusing karena kecapekan,” singkat Wulan “Gue nggak percaya, lo sembunyiin sesuatukan dari gue?” balasku “Fin, gue bakal ceritain semuanya nanti. Jangan sekarang, gue beneran pusing untuk yang kali ini.” balas Wulan


“It’s okay, sekarang lo tidur dulu. Gue ke kantin dulu beliin lo teh hangat, ya,” balasku dan pergi ke kantin Episode 7 Sedang Tidak baik-baik saja Wulan prov Bertemakan lesu pikiran dan suntuk akan keadaan, sungguh aku muak untuk berhadapan dengan waktu yang berputar hari ini. Terpaksa, aku harus mengelabuhi Sidiq dan menghindari manusia tempramental seperti Aldo. Sejenak aku berbaring, Fina meninggalkanku ke kantin membelikan teh hangat sebagai penenang. Tanpa terbesit dibenakku bahwa Aldo akan datang ke UKS menemuiku dan mengucapkan permohonan maaf karena kejadian sore lalu. “Lan, lo kenapa?” tanya Aldo yang menemuiku di UKS “Lo ngapain ke sini, gue mau tidur.” Ketusku tanpa menatapnya “Nggak, gue akan tetap di sini jagain lo sampai lo bilang apa yang sebenarnya terjadi sama lo.” kekeh Aldo “Terserah!” singkatku “Lan, gue mohon. Apa karena kemarin gue bentak-bentak lo? Kalau karena itu gue minta maaf, gue kemarin kebawa emosi udah hampir malem dan helm gue nggak ada di motor. Gue marah sama lo karena minjem nggak bilang, itu aja. Maaf, Lan.” Aldo merajuk sambil mengenggam tanganku dengan lembutnya “Gue nggak masalah soal helm itu, karena gue yang salah. Gue bahkan tidak minjem dulu, maaf, Do dan thanks.” balasku


“Gue butuh penjelasan, agar gue tidak akan pernah lagi buat lo kecewa. Cukup sore itu, selebihnya gue akan meminta penjelasan sebelum emosi gue memuncak.” rengeknya “Gue rasa lo harus menemui Rendi, bukan gue!” ketusku “Nggak, kamu jelas yaa, aku dengerin. Kamu kenapa?” ujarnya merengek dan duduk disebelahku “Oh, iya. Satu hal, Do. Gue sudah titip pesen ke Rendi suruh bilangin ke elo kalau gue pinjem helm karena kemarin gue bener buru-buru sama Vero buat ke bimbel. Kemarin gue boncengan sama Vero karena motor gue masih di parkiran sedangkan kita harus segera tiba di sana secepatnya makannya gue pinjem helm terdekat dan yang di depan lobby adanya helm lo, Vero suruh ambil cepetan dan lo nggak ada akhirnya gue nitip pesen ke Rendi nggak tahunya dia lupa nyampein ke elo, terus pas dijalan lo cegat gue sebenernya gue mau jelasin itu lo udah kalab dengan marah, sekarang udah gue jelasin, kan? Jadi, maaf dan berhenti bentak gue lagi. Gue kecewa sama lo, Do.” jelasku mencuat bebas penuh tangis “Sekarang lo pergi, gue udah nggak butuh lo. Satu lagi, soal yearbook gue mundur. Cari wakil yang lain yang lebih kompeten seperti yang lo bilang.” ucapku “Lan, nggak bisa, kah, lo pikirin ini lagi? Ayo, kita selesaikan dengan kepala dingin.” Aldo merajuk “Keputusan gue udah bulat, bukankah elo yang seharusnya menyelesaikan masalah ini sedingin mungkin? Bukan emosi!” sengakku


Click to View FlipBook Version