“Lan, apalagi, gue udah coba minta maaf. Lo malah ngungkitngungkit masalah lain yang sama sekali gue nggak paham!“ amuk Aldo mencuat seketika dan membuat aku semakin tersiksa dengan emosinya “Terserah, kalau lo mau lepas tanggung jawab. Capek gue.” imbuh Aldo dan bangkit dari kursinya “Oi! Do, lo nggak bisa ngomong sama Wulan baik-baik!?” bentak Fina yang datang dengan segelas teh hangat dan sebungkus roti “Fin, lo baru dateng jadi nggak usah ikut campur dulu.” balas Aldo “Gue udah denger semuanya barusan, harusnya lo nggak bentakbentak Wulan karena dia,” ucap Fina terputus “Fina, jangan, tolong.” Sahutku mengehentikan ucapan Fina yang akan menjelaskan penyakitku “Karena apa? Wulan, lo sakit?” tanya Aldo dengan nada khawatir dan mendekatiku “Lo pergi aja, gue nggak papa.” ketusku “Denger nggak? Awas!” usir Fina Aldo tanpa ucap langsung berlalu dari UKS. “Lan, are you okay?” tanya Fina mencemaskanku “Gue nggak papa, Fina.” balasku “Gue cuma agak sesak aja, udah mendingan ini. Huft, gue nggak ngerti ada cowok yang ngomong sekasar itu sama cewek. Sama sekali nggak bisa respect, persis kek bokap gue.” ujarku “Lo tenang aja, gue bakal cari perhitungan sama dia. Gue paling nggak bisa lihat lo dibentak-bentak kek tadi, untung gue cepet
datengnya. Gimana kalau lebih lama dari ini, bagaimana dengan sakit yang lo derita? Lo paling nggak bisa dibentak, dengan ucapan apapun, Lan.” ucap Fina dengan mengepalkan tangannya “Fina, udah biarin dia, kan, nggak tahu apa-apa soal ini. Ya, walaupun hampir aja sesak gue kambuh. Tapi, yang penting sekarang gue nggak papa. Thanks, Fin, for everything.” balasku sambil merangkulnya “Anytime, Wulan.” balas Fina Aldo prov “Maaf, Lan.” batinku, nggak tahu kenapa memaki Wulan kemarin sore itu akan membuatku sepecundang ini. Seumur-umur aku nggak pernah buat cewek nangis kek Wulan barusan, “Dan kenapa lo nggak bilang tentang penyakit lo ini, kenapa lo nggak bilang kalau lo paling nggak bisa dibentak.” ucapku dalam hati penuh sesal dan berlalu dari UKS. “Setelah ini, gue pasti obatin sakit lo minimal dengan nggak bentak lo lagi, Lan.” batinku lagi Pagi beranjak, kini menapaki detik-detik ujian nasional yang kian dekat. Aku sedang disibukkan waktu yang membelengu, dituntut lulus tanpa beban pikiran setelahnya. Aku hanya berharap satu atau dua hal, pertama bisa lulus dan diterima di sebuah PTN ternama di kotaku dan kedua rasa yang gugur ini akan sirna dengan baik-baik saja sejalan pada jarum waktu berporos. Untuk cinta yang sengaja aku kemasi secara diam-diam ini, aku hanya berteriak dalam batin agar segera Kak Arman ketahui selepas itu semua akan baik-baik saja pula, benar kata sahabatku, Wulan bahwa memang urusan jodoh
nggak ada yang tahu itu semua rencanya Tuhan. Aku dan Wulan makhlukNya yang dianugerahi cinta sisanya kita menyesuaikan mengenai jodoh atau tidaknya itu terserah yang maha kuasa setidaknya sejauh ini kita sudah saling berjuang. “Lan, nanti makan ke Cafe Tiar yuk.” ajakku pada Wulan “Sama siapa aja?” tanyanya “Seperti biasa.” balasku enteng “Ya udah, lagi pula gue juga mumet banget. Itung-itung refreshlah.” balas Wulan Benar, kami berlima pergi untuk sekedar melegakan hati yang rapuh juga karbon yang penat ini. Luka itu akan mengering, membaik dan tidak halusinasi melebihi angkasa pura lagi. “Kling! Kling!” dering ponselku “Fina, sama Wulan nggak?” tanya Aldo dari sambungan telefon “Iya gue lagi sama Wulan, kenapa?” tanyaku balik “Kalian dimana? Gue ada perlu sama Wulan, biar gue jemput dia, ini soal Re-Or.” “Kita lagi di Jogja, mungkin tiba di rumah petang. So jangan ganggu kita!” ketusku dan langsung menutup sambungan telefon dengan Aldo “Telefon dari siapa, Fin?” tanya Mita “I-ini dari Mama, katanya jangan pulang malem.” sangkalku “Oh, gue kira dari Kak Arman.” sahut Ratna Episode 8 Sadar Diri
Larut kian dingin, kami harus segera tiba di rumah sebelum bada magrib berkumandang. Aman, perjalanan bisa diskip dengan gas yang begitu yak-yakan mungkin ini tindakan kriminal dalam berkendara. Tapi, bagi kami adalah hal yang paling menyenangkan. Kami berpisah di persimpangan jalan karena arah kami berlawanan semua, aku seorang diri menerabas angin malam yang menakutkan, menepis lalu-lalang kendaraan para pekerja pulang dan aku menikmati setiap sentuhan tepian jalan. Hidup sekali seumur hidup, aku rasa akan habis menuai kematian kalau hanya berkutat pada waktu. Sisanya hanya menuggu antrian untuk mati, aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak akan menghabiskan rasa untuk cinta dalam diam, menguras tenaga untuk menunggunya dan susah karena merasa yang paling terabaikan. Aku akan menikmatinya dengan baik, ya, paling tidak untuk membenarkan bahwa rasaku sudah begitu payah padanya. Ada satu nyawa yang mendoakan aku sepanjang waktu agar sukses dan juara, ada bahu legam yang mungkin sekarat agar aku bahagia dan ada satu pelukan hangat untuk kepulanganku dengan kelelahan. Sejauh ini yang muncul dibenak adalah bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan cinta dari dia, orang yang aku cintai diam-diam. Tidak pernah sekilaspun terbesit bagaimana susah payahnya kedua orangtuaku agar aku bersekolah dengan layak, tanpa kurang suatu apapun dan tanpa tapi. Aku sudah cukup dewasa menepis pedihnya mencintai, jadi bagaimanapun nanti, aku harus bisa membuat Mama
dan Papa bangga terlebih dahulu. Sudah saatnya aku sadar, Kak Arman memang sulit untuk aku gapai. “Lo harus ngaca, Fin. Lo ini siapa Kak Arman siapa, semangat move on demi Mama dan Papa!” batinku Pagi yang indah untuk menyambut malasnya hari-hari, “Semangat!” gumamku dan bergegas sekolah, hari ini adalah hari tryout terakhir artinya beberapa minggu lagi akan diadakan ujian sekolah. Fokus dan fokus, semangat dan pantang. Ketiga kata itulah yang memukulku agar tidak loyo sampai aku masuk PTN nantinya. “Guys, lo tadi nomor 13 jawab apa?” teriak Dewi usai tryout rampung “Gue jawab A, Matematika, kan?” sahut Mita “Tanya Rima coba, divanya matematika dia mah.” imbuh Ratna “Rim, nomor 13 lo jawab apa?” tanya Fina ke Rima “Oh, gue jawab A. Udah mumet gue tadi mikirin soal itu.” balas Rima “Ya udah sama, gue juga A.” singkat Rima “Eh, Pak Umar. Masuk-masuk!” seru Rima dan kami semua duduk di bangku masing-masing “Selamat pagi agak siang anak-anak.” salam Pak Umar yang masuk di kelas kami “Pagi, Pak.” seru kami “Ada yang ingin Bapak sampaikan disini. Ujian sekolah akan dilaksanakan bulan depan, anak-anakku semua. Jadi kurang lebih ada
sisa waktu 2 mingguan buat kalian belajar yang rajin.” jelas Pak Umar “Ketua kelasnya mana?” tanya Pak Umar “Saya, Pak.” Sidiq mengajungkan jari “Tolong, bagikan jadwal terbaru UN ke temen-temen.” pinta Pak Umar “Baik, Pak.” balas Sidiq dan membagikan pada kami satu persatu “Bapak hanya berpesan pada kalian selaku wali kelas, semangat dan jangan lupa belajar. Jaga kesehatan, mentang-mentang udah mau lulus malah main nggak tahu waktu. Dirumah belajar dengan giat, ujian kelar. Enak, kan? Yang mau nikah, nikah. Kuliah bisa langsung kuliah. Bapak berharap yang terbaik dari kalian, buktikan itu.” tutur Pak Umar memberikan kami nasihat dan semangat “Baik, Pak.” seru kami Terik berselang kami tentu sudah membubarkan diri dari kelas sedari tadi, kini tersisa aku dan Wulan yang sedang berbincang masalah hati. Di ruang lain, ada sepasang percakapan yang satu frekuensi, mereka bukanlah kekasih melainkan Dimas dan Aldo. Memang yang aku tahu dari Wulan keduanya bersahabat dengan baik layaknya kita berdua. Tak lama, mereka menemui kita berdua. Aku tahu Aldo sedang ada pokok pembicaraan dengan Wulan, yang ku tahu juga Dimas menyukai Wulan. Segitiga cinta nanti jadinya, bagaimana bisa terjadi kisah serumit ini pada Wulan. “Semoga saja mereka adem-ayem.” batinku yang melihat Aldo dan Wulan dari kejauhan bersama Dimas
“Udah meetingnya?” tanya Dimas begitu mereka mendekati kita “Udah.” singkat Aldo “Ya udah, ayo balik, Lan.” ajak ku “Duluan, Dim, Do.” pamit Wulan pada Dimas dan Aldo “Duluan, ya, bye.” imbuhku “Ti-hati lo berdua.” seru Dimas Aku dan Wulan ke parkiran, sambil mengenakan jaket sejenak aku mencoba kepo-kepo dengan sahabatku itu. “Lan, Aldo ngomongin apa hayo.” ledekku “Ada deh,” balas Wulan dengan cengar-cengir “Gesrek lo, ya,” balasku “Jadi, Aldo barusan ngajakin gue makan pas malem minggu sebagai permintaan maafnya gitu.” jelas Wulan dengan senyuman terindahnya “Cie, good job, baby.” balasku “Terus lo gimana sama Kak Arman?” tanya Wulan “Oh, ya gitu-gitu aja sih, Lan.” pasrahku “Gitu-gitu gimana sih, lo nggak mau cerita ke gue?” tanya Wulan dengan manyunnya “Ntar malem aja, gue janji ceritain semuanya sama lo.” balasku sambil mengenakan helm “Ok, gue tunggu. Ti-ati lo,” balasnya Kita pulang, sorenya aku menepati janji pada Wulan. Aku ceritakan semuanya termasuk keinginanku buat hengkang dari Kak Arman, karena ini semua tidak akan ada akhirnya. Hanya menunggu-
menunggu melulu, padahal pengedar cinta itu tidak boleh sendirian minimal harus ada yang kecanduan. Hasilnya nihil, Kak Arman memang tidak melihatku sebagai bakal kekasih melainkan sebagai adik kelas. Hanya itu dan nggak lebih, nggak akan pernah ada lebihnya. Tidak ingin aku melangkah jauh yang sia-sia dan tiada berarti begini, sebelum mundur akan menyudutkan antara hati dan rasa ini. Baiknya aku mundur teratur sekarang juga, sebelum aku akan merengek pada Tuhan lalu menyalahkan dewa cinta. “Huft”, aku menarik napas dalam-dalam, “Hari yang indah untuk melanjutkan mimpi terindah di minggu pagi.” gumamku sambil menenangkan hati yang tengah rapuh ini. “Wait-wait, semalam harusnya Wulan pergi berkencan dong. Gue chat ah.” gumamku dan beranjak dari ranjang dan mengirimkan pesan untuk Wulan. “Yah, nggak ada respon. Mungkin dia lelah, semoga kabar baik, ya, Lan.” gumamku dan kembali meluruskan punggung. Episode 9 Turut Berbahagia Untukmu 2 minggu sudah menjalani hari dengan garing dan gabutnya, tapi ada aksen yang begitu bernada riang apalagi kalau berkabar dengan bahagia bersama Wulan. Hatinya sedang berbunga kini, sebuah rekah bertaburan seirama dengan tawa. Dunia sedang berdamai dengan Aldo katanya, aku sungguh bahagia mendengarnya. Sudah-sudah, biar nanti aku gamblangkan, tunggu aku minggu depan usai ujian sekolah tutup usia dan kita bisa bersenang-senang sedikit saja. Hari
ini hari senin, awal pertarungan dimulai, mental kentang ini siap siaga dong. “Argh! Hari yang memusingkan.” keluhku sambil molet “Ya udah, pulang yuk.” ajak Mita “Dewi mana?” tanya Ratna “Udah balik paling sama Wulan.” sahutku “Oi!” seru Dewi dan Wulan “Gue kira udah pada balik,” balasku “Dari KM, biasa ceue.” santai Dewi “Yuk cus balik.” ajak Wulan “Lo nggak meeting-meetingan dulu sama dee.” goda Ratna “Buat apa, gue ingin menikmati detik-detik putih abu-abuku yang akan usai ini sama kalian. Sorry, ya, udah ninggalin kalian dalam 2 tahun terakhir, bay.” balas Wulan dan merangkul kami “2,5 tahun sayang, pede 2 tahun doang.” sindir Mita “Iya itu deh, I am so sorry baby.” balas Wulan dan kami saling merangkul “Udah-udah, bubar, haha.” sahut Dewi dan berjalan seiring menuju parkiran “Gini terus, ya, sampai nanti kita udah pada kuliah, kerja, nikah, punya anak, cucu.” imbuh Wulan “Kejauhan lo mikir, kuliah dulu.” timpal Ratna “Eh wait, guys.” ucap Dewi yang membuat langkah kami terhenti “Apaan sih, Dew?” tanyaku “Kita, kan, udah full. Gimana kalau foto box dulu,” usul Dewi
“Kadang otak lo cemerlang juga, Dew.” sahut Mita “Iyalah, makannya banyakin gaul sama Wulan biar pinteran dikit. Gaul sama lo, bego jadinya.” timpal Dewi “Ehem,” jaim Wulan “Bocil, iya-iya lo pinter.” ketus Mita “Ayo, foto malah pada gibah mulu.” ajakku “Ayo, ketempatnya Mas Mike aja. Foto studio sekali-kali biar agak kelas.” sahut Ratna “Ya udah, cus.” ajak Wulan “Dewi depan, biar nggak mabuk.” suruh Wulan “Nggak ah, gue bawa motor aja.” elak Dewi “Gue anterin, dari pada nungguin bus kelamaan ntar.” paksa Wulan “Gue juga, Lan.” sahut Mita “Emang lo nggak bawa motor, Mit?” tanya Fina “Nggak, udah gue setting tadi. Udah ada sopir ngapain sih bawa motor, sopir let’s go!” balasnya “Siap sultan, eh btw gue ini yang jadi kacung?” tanya Wulan “Lo kira, iyalah.” seru Mita, Ratna, dan Dewi “Nasib-nasib.” ucap Wulan “Ayo, buruan gas, Lan. Keburu Ratna mojok loh.” sindirku “Fina, mulai deh.” sahut Ratna “Lo kek nggak pernah mojok aja, Fin.” imbuh Dewi “Gue mah nggak kenal begituan.” balasku “Sopirnya keknya sering tuh mojok.” seru Dewi menyindir Wulan “Gue diem masih aja dibawa-bawa.” balas Wulan
“Ngaku aja sih, Lan sama kita-kita.” imbuh Ratna “Kalau Wulan mah mojok terhormat, ya, nggak, Lan.” Sahutku “Paparazi, lo, Fin.” balas Wulan “Oh, jadi yang bikin personil kita nggak lengkap terus tuh karena mojok.” timpal Ratna “Mojoknya, kan, berfaedah, Cuk. Dari pada Ratna,” ledek Wulan “Gue habisin lo, bocil.” balas Ratna “Awas, Lan. Bercanda mulu lo, fokus nyetir. Baru aja personil lengkap, masa iya,” tegur Dewi pada Wulan “Masa iya, apa?” tanya Wulan “Masa iya mau foto bertiga, namanya personil nggak lengkap dong.” balas Dewi dengan pernyataan nggak nyambung “Diem lo, Dew. Gaje!” balas Mita Episode 10 Kirab kelulusan putih abu-abuku Perjamuan kirab masa putih abu-abu usai sudah, petang hari setelah kelulusan itu tiba. Kami semua tidak menyangka bahwa salah satu diantara geng kami ada yang masuk kandidat 3 besar dengan lulusan terbaik, ini konyol. Aku pikir bakalan Risma, Topan dan Guruh. Diantara ketiganya bahkan tidak masuk sama sekali, sungguh Mita adalah lulusan dengan nilai terbaik diantara kami seangkatan IPS. Kaget bukan kepalang, Mita yang terkenal dengan ugal-ugalan di geng kami sungguh membuat keheranan sekaligus bangga. “Gilaks! Keren-keren , lo keren banget Mita!.” seru Ratna sambil merangkul bangga Mita
“Gue pikir bakalan Wulan atau Fina, ternyata elo.” sahut Dewi “Selamat, Demitkuhh.” imbuh Wulan dan kami saling memeluk “Sumpah, gue masih nggak habis pikir, Cuk.” ledek Dewi “Ikutan anak-anak IPA konfoi, yuk.” usul Mita “Ayo!” balas Wulan antusias “Dew, lo sama Wulan. Gue sama Fina, biar Ratna sama Wati. Gimana?” usul Mita “Kalian semua pada yakin mau ikutan mereka?” tanyaku ragu “Iyalah, Fin. Kapan lagi coba,” balas Ratna “Nggak ah, di depan ada polisi.” tolakku “Apa kita konfoi sama anak MPK-Osis aja, lagi pula mereka aman di sini sama keliling komplek sekolahan pake ontel.” usul Wulan “Nggak asik, Lan. Plis deh, ayolah Fin.” ajak Mita “Gini aja, kita semua keluar dulu bawa motor masing-masing. Nanti sekiranya Fina yakin, kita baru titipin motor yang nggak dipake di tempat foto copy depan situ.” sahut Wati yang sudah ikut ngumpul bareng kami “Ya udah gitu aja.” balas ku Ternyata aku ragu begitu menyaksikan polisi berlalu-lalang memperketat penjagaan sekolah kami. Aku benar-benar tidak mau ambil resiko, aku terpaksa menghindar dari Mita dan yang lain. Mengambil arah pulang dengan Wati adalah sebuah solusi yang baik sekarang, nanti biar ku kabarin Wulan ketika tiba di rumah. “Maaf, guys.” Batinku dan berlalu pulang. “Fin, lo kenapa pulang gitu aja?” tanya Mita di grup wa geng kami
“Iya, Fin. Malah colut sama Wati.” imbuh Wulan “Sorry, guys. Gue nggak jadi ikut.” balasku “Nggak papa, Fin. Besok kita-kita aja konfoi berlima.” imbuh Ratna “Haha, sipoooo.” balasku “Ini Dewdew kemana nggak nonggol sendiri?” tanya Wulan “Lagi berak maybe.” balas Mita “Hus, nggak sopan.” sahutku “Udahan aja, ya, capek aku tuh.” balas Mita “Iya-iya yang lulusan terbaik, good job, sayangkuh.” balas Ratna “Oi, udah bahas apa ini? Sorry gue barusan ketiduran.” sahut Dewi yang baru buka chat “Telat-telat, bye.” Seruku “Bye!” balas Wulan “Duain.” imbuh Ratna “Tigain.” tambah Mita “Hoam.” balas Dewi “Apa sih, Dew? Nggak jelas!” voice note dari Mita “Kuy, gelud!” balas Dewi “Grup bobrok!” timpal Ratna “Dewi yang ngajarin!” sahut Mita “Apaan, Ratna!” timpal Dewi “Ya udah, gue aja.” sahut Wulan “Nggak, gue aja, Lan.” Sambungku “Gue.” balas Mita “Gue aja, lo nggak akan kuat.” imbuh Dewi
“Nggak akan ada ujungnya ini mah, tutup aja.” sahut Ratna “Night!” balas ku sebagai penutup perbincangan geng absurd ini Setelah sekian purnama menelan lelah, kini aku sudah menjadi remaja SMA yang wajar. Tidur tidak ada aturan, main tak kenal waktu, menikmati pagi indah tanpa segubrak tugas akhir dan menutup jumpa sore dengan damai. Tinggal menunggu hari dimana cap tiga jari untuk ijazah dan melanjutkan masuk tes PTS karena aku tidak masuk jalur apapun di PTN. Tapi masih ada satu lagi jalur UM, tapi mana mungkin? Aku ragu akan hal itu, jadi memilih PTS ternama di kotaku adalah solusi terbaik. Lagi pula Mama dan Papa memang mengarahkan ku untuk ke sana. Meskipun dengan berat hati, ya harus di terima selapang mungkin bahwasanya kapasitas diriku memang di sana. Tidak akan ku temui lagi Kak Arman dengan canda dan tawanya, nggak papa Tuhan ada cara lain untuk menemukan orang ganteng itu, ya, meskipun dengan cara merindu. “Fin, gue besok mau ke jogja buat daftar PKN-STAN and do you know?” tanya Wulan di teras depan kelas IPS 2 usai cap 3 jari “I mind sesuatu yang membahagiakan,” terka ku “Yes, besok Aldo mau nganterin gue. Awalnya Dimas yang mau nganter karena dia tahu tempat pendaftarannya, tapi dia terlalu sibuk, jadi Aldo deh yang nganter. Bukan kepalang.” jelas Wulan sambil cengar-cengir “Wih, keren lo. Jangan malu-maluin, awas nanti pas di suruh pegangan erat mengangnya pundak.” ledekku “Iya, gue paham kalau yang ini.” balasnya girang
“Jangan panas dingin, ntar salah masukin nama di form lagi.” godaku lagi “Iya, ngecengin gue mulu lo tuh.” balasnya “Kemajuan ples-ples lo.” seru Mita yang ikut nimbrung “Ssst! Keraskan suara, biar Aldo denger betapa girangnya hati temanku ini.” ledek Ratna “Ratna, Sttt!. Jaga image dong sebagai ceue harus tampil biasa-biasa aja.” sahut Dewi “Dah lah, gue mau balik nyiapin mental buat besok.” balas Wulan dan berlalu dengan kegirangan “Iya-iya yang udah makin lengket!” seruku “Oi, lo pada ngapain sih berisik sampai kedengeran di kelas.” tegur Sidiq “Sirik aja!” culas Mita “Kalau udah selesai cap tiga jari cepet pulang!” sahut Adam “Hu!” seru kami “Eh, Mit, lo tahu Wulan kemana?” tanya Aldo yang datang dari arah RO “Kenapa, lo kangen sama dia?” tanya balik Mita meledeknya “Udah pulang anaknya.” sahutku “Iya, baru aja. Paling masih di parkiran, Do.” imbuh Dewi “Thanks, ya,” balasnya lalu pergi menyusul Wulan “Mereka berdua bener-bener lagi kasmaran kali, ya,” gedeg Ratna “Udah deh, malah cemburu.” senggolku “Pulang-pulang.” ajak Dewi
Episode 11 Romansa Masa SMA Wulan prov “Hai, Lan.” sapa Aldo yang menemuiku di parkiran “Aldo, ada apa?” tanyaku dengan debaran cinta yang naik turun “Ini, gue mau ngobrol sebentar, lo ada waktu nggak hari ini?” tanyanya ragu “Oh, bisa-bisa ngobrol aja.” balasku “Jangan disini, diluar aja yuk.” ajak Aldo “Ya udah, gue tunggu di depan, ya,” balasku dan menyalakan motor “Oh, oke. G-gue ambil motor dulu.” balas Aldo “Mana sih, lama banget.” keluhku yang sudah menunggu di depan gerbang “Lan, kita mendingan boncengan aja. Biar gue titipin motor lo di Mbak foto copyan, gimana?” tanya Aldo begitu tiba di sambingku dengan motornya “Ya udah, ayo.” ajakku “Mbak, titip motor, ya,” ucap Aldo “Hayo, pada mau kemana.” goda Mbak Erin sang pemilik foto copyan Aku hanya tersipu malu-malu dengan sedikit tersenyum pada Mbak Erin “Bisalah, Mbak, duluan.” balas Aldo sambil sedikit menatapku “Awas jangan kebablasan,” seru Mbak Erin terus menggoda Aldo dan aku
“Pastilah, Mbak.” balas Aldo sambil mengacungkan jempol kanannya dan menstater klx kesayangannya “Ayo, naik.” pintanya lembut “Duluan, Mbak.” seruku pamit pada Mbak Erin “Iyaa.” balasnya “Udah belom?” tanya Aldo memastikan aku sudah membonceng atau belom “Udah.” ketusku “Kok nggak berasa, kirain belum naik.” goda Aldo yang berhasil menggodaku “Apaan sih.” balasku sambil sedikit salah tingkah “Pegangan yang erat, ngebut nih.” pintanya lagi dengan mengodaku “Iya, ini udah ayo jalan.” balasku sambil berpegang pada pundaknya “Pegangan apaan itu, gini loh biar aman pas gue ngebut.” godanya lagi sambil menarik tanganku, dipelukannya dengan erat “Dasar modus!” ketusku “Emang.” balasnya “Ngeres lo, Do.” Ketusku dan buru-buru melepas pelukan darinya “Oh jadi nggak mau pengangan, baiklah.” alas Aldo “Buru jalan!” seruku tepat di telinga kirinya “Tunggu aja, gue bakalan balas ini.” ancamnya dengan nakal “Coba aja.” balasku Aku pengangan di pundaknya, tanpa aba-aba Aldo langsung menancapkan gas seperti anak panah yang di tembakan dengan satu
kali kode. Aku berhasil memeluknya erat, dengan napas tersenggal dan sedikit kaget karena tindakannya. “Aldo!” amukku “Apa?” tanyanya sambil tersenyum “Rusuh lo, ya! Aldo rusuh!” teriakku tepat di telinga kirinya “Nggak papalah dibikin budek sama lo, yang penting pelukannya. Uwu!” godanya “Ceh! Enakan di elunya ini mah.” ketusku dan melepaskan pelukan “Malah dilepas, sih. Pegangan yang erat biar nggak jatuh, jatuh, kan, sakit.” ucapnya sambil menarik tanganku dan memelukan ditubuhnya “Kita makan, ya. Lo laper, kan?” imbuhnya “Gue udah makan, katanya lo mau ngobrol. Berhenti terus ngobrol, clear, kan,” balasku “Yakin lo udah makan?” tanyanya sambil menatapku jahil lewat kaca spionnya “Terus yang bunyi itu perut siapa?” imbuhnya usai menghentikan kendaraannya di tepian jalan sambil menoleh kearahku “Hehe, perut gue.” balasku dengan nyengir saking malunya ketahuan laper sama Aldo “Do, kenapa lo secare ini ke gue? Apa lo juga ada rasa ke gue, perhatianmu sungguh membuat hatiku linglung, Do. Ini bentuk cinta mu untukku, kah? Aku takut jika ini hanya sebuah lelucon bagimu sedangkan hatiku sudah luluh-lantah.” batinku “Lan, Wulan.” panggil Aldo
“Apa lo suka sama gue, Do? Kita sudah hampir tercerai-berai untuk menyongsong masa depan yang cerah setelah abu-abu ini, aku tidak yakin rasaku biasa-biasa saja ketika masuk kampus yang mungkin berbeda dari kampusmu. Jujur, aku merasa tidak layak untuk mencintaimu sekeras ini. Insecure itu yang aku rasakan saat ingin mencintaimu dengan lebih, aku bukanlah apa-apa dan aku juga bukan siapa-siapa. Dan elo, apa gue bisa jatuh dalam cinta yang bukan elo setelah ini, Do?” batinku yang kian hanyut dalam lamunan dan pelukan hangat bersama Aldo “Wulan, hey,” panggil Aldo yang samar-samar dalam lamunku “Wulan!” panggilnya agak keras “Oh, sorry, Do.” seketika lamunanku ambyar seiring Aldo menyapaku keheranan “Lo ngelamunin apa sih? Sampai berkaca-kaca kek gini.” tanyanya berhasil membuatku hilang akal untuk berselak “Nggak, ini kelilipan doang.” sangkalku sambil mengusap sedikit rintik yang menyambar “Lo nggak sedang berbohong ke gue, kan?” tanyanya seakan khawatir “Nggak, gue serius nggak papa, Do. Ayo jalan, katanya mau makan.” sangkalku dan menyuruhnya menarik gas klx miliknya itu “Ok, tapi lo harus janji ke gue. Kapan lo butuh teman curhat atau pengen sekedar ngilangin penat, plis janji ke gue. Lo bakal ceritain itu ke gue, jangan terluka lagi, ya,” balasnya yang malah turun dari motor dan memelukku erat
“I-iya, Do.” Bisikku “Kenapa lo kek gini, Do? Gue jadi nggak ada alasan yang kuat buat lupain lo, apa yang ada di pikiran lo. Kenapa lo selalu saja berhasil membuatku jatuh berulang kali dalam cintamu, Do.” rengekku dalam hati “Menangislah, jika tangismu melegakan. Tapi, lo harus janji satu hal. Setelah tangis ini, lo harus berikan senyum termanis lo di hadapan gue.” bisiknya Tangisku kian meronta, rasa ini berapi-api ingin segera di ketahui dan aku lelah terperangkap pada cinta yang diam-diam ini. “Maaf, Do. Maaf kalau gue udah buat lo khawatir, soal ini, thanks. Gue nggak akan lupa, bahwa lo ada disisi gue dalam kondisi terpuruk seperti hari ini dan gue janji bakal kasih senyuman manis ini buat lo karena lo udah nenangin gue. Sekali lagi, terima kasih, Aldo.” balas ku “Ok, gue tagih senyuman itu ketika hujan lebat nanti.” balasnya sedikit menggodaku “Janji.” balasku “Jadi makan nggak ini?” godanya lagi “Jadi dong.” jawabku dengan tersenyum “Let’s go!” serunya Aldo benar mengajakku makan hari ini, selain dia sudah membuatku makin jatuh hati, kini Aldo sungguh mengubah pesimis itu menjadi kelegaan. Aku tidak paham akan rasa yang dia hadirkan berulangulang kali, yang ku tahu dia begitu respect pada seorang perempuan.
Saat ini, aku berterima kasih padaNya karena telah diizinkan mengenal laki-laki tampan dan baik hati bernama Aldo itu. Tidak akan cemas aku percaya bahwa sang pengedar cinta memang adil adanya. “Yah, Mbak Erin udah tutup, Do.” keluhku “Gue anterin lo aja, besok gue minta tolong Dimas buat nganteri motor lo.” balasnya “Nggak ngrepotin?” tanyaku “Nggaklah santai aja kek baru kenal.” balasnya ringan “Dimas gimana?” tanyaku lagi “Bentar, biar gue chat dulu.” balas Aldo sambil mengetikkan pesan pada Dimas “Dia bisa malam ini, lo nggak papa, kan, kita tunggu Dimas bentar?” tanya Aldo takut aku kena marah Mamaku “Do, btw kita nungguin Dimas buat apaan sih?” tanyaku mendadak bingung “Kan, Mbak Erin udah tutup. Percuma dong lo panggil Dimas,” imbuhku “Sengaja biar lebih lama sama elo.” balas Aldo “Nggak jelas lo, Do.” ketusku “Udah lo tenang aja, gue udah hubungin Mbak Erin. Dia baru kekondangan, paling bentar lagi nyampe.” jelas Aldo “Oh, baguslah.” singkatku “Lan,” panggilnya lirih “Apa?” tanyaku
“Thanks, ya,” balasnya seakan membuatku ingin terus bertanya “Buat?” tanyaku “Buat waktu lo, untuk hari ini yang begitu indah.” balasnya sambil menatapku dengan senyuman yang penuh dengan misteri bagiku “Aku pikir senyuman seorang kekasih, entahlah. Nggak-nggak mungkin, tapi apa iya Aldo juga ada rasa.” Batinku sambil gelenggeleng “Lan, lo kenapa?” tanya Aldo menatapku “Oh, nggak-nggak papa kok.” sangkalku gugup “Eh tuh anak udah dateng, naik, Lan.” ucap Aldo sambil menunjuk pada Dimas yang masih agak jauh dari tempat kita menunggunya dan menyuruhku untuk segera naik ke motor “Mana?” tanyaku sambil meraba-raba motor yang di tumpangi Dimas “Ini dia, lama banget cuk.” balas Aldo dan menyapa Dimas “Wehe, Anjas, ya, gimana kabarnya brow.” sapa Aldo pada temannya Dimas “Baik, brow, lo gimana? Cewek lo, ya,” balas Anjas “Oh, ini Wulan, Lan. Ini temennya Dimas, Anjas.” balas Aldo dan memperkenalkan aku dengan Anjas “Wulan,” sapaku dan menyalami Anjas dengan sedikit senyuman “Anjas,” balasnya “Ya udah, mana motor lo, Lan?” tanya Dimas “Masih di dalem, Mbak Erin belum balik dari kondangan katanya.” sahutku
“Udah di jalan ini, tunggu bentar.” imbuh Aldo “Hayo, pacaraan aja.” seru Mbak Erin yang baru tiba “Hehe, maaf, ya, Mbak.” balasku “Biar gue ambil aja, Lan.” sahut Dimas dan meminta kunci padaku “Mbak Erin, terima kasih, ya, Mbak. Sekali lagi kami minta maaf.” ucapku agak sungkan “Iya, besok-besok di ulangin lagi.” ledek Mbak Erin “Siap kalau itu, Mbak.” sahut Aldo “Ya udah, mari, Mbak.” seru kami “Ti-ati kalian.” balas Mbak Erin dan kami berlalu Berboncengan dengan Aldo adalah hal yang menghangatkan dimalam dingin tak berbintang ini. “Gini terus, ya, Do.” batinku dan memeluknya erat, dibelakang tersorot Dimas yang membawa motorku. Dia seperti sedang mencoba meledekku dan Aldo dengan memainkan lampu jarak dekat dan jarak jauhnya. Sementara, Anjas sudah pulang dengan motornya Dimas. Seketika Aldo melambatkan kecepatan untuk mengimbangi Dimas, aku yang tidak menahu Aldo tiba-tiba mengurangi kecepatannya sepontan kaget dan memeluknya dengan erat. “Lo kenapa, Lan?” tanyanya nakal, “Modus lo, kan.” ketusku dan melepaskan pelukan, “Oi, malem-malem jangan duaduaan gini dijalan.” teriak Dimas yang berhasil mengimbangi Aldo “Kenapa? Takut yang ketiga setan,” ledek Aldo “Gue gitu setannya? Ceh!” balas Dimas “Iyalah, masa Wulan setannya.” sahut Aldo dan tertawa Aku memukul helmnya
“Aduh, lo gimana sih, Lan? Pala gue malah dipukul.” balas Aldo “Abis lo katain gue setan.” ketusku “Kan, bercanda, Lan.” sangkal Aldo “Mampus lo, Do. Ngambek lagi, Wulan.” ledek Dimas “Marah aja terus.” imbuh Aldo Tak lama percakapan kami bertiga usai karena sudah sampai di rumahku. Mereka sejenak mampir dan berbincang sedikit dengan Mama dengan teh hangat untuk melawan dinginnya malam tanpa kekasih yang merindu. “Tante, terima kasih atas wejangannya, kita mohon pamit sudah malam takut Mama nyariin.” ucap Aldo berpamitan pada Mamaku “Hati-hati, Nak. Terima kasih, Aldo, Dimas sudah nganterin Wulan sampai rumah.” balas Mama sembari Aldo dan Dimas mencium tangan Mama tanda pamitan “Sama-sama, Tan. Selamat malam.” balas Dimas “Ma, Wulan anter mereka kedepan dulu, ya,” ucapku “Iya, sayang.” balas Mama “Lan, ketemu besok pagi, ya,” ucap Aldo mengingatkan “Ok, hati-hati, Do, Dim.” balasku sambil melambaikan tangan beriring Aldo dan Dimas berlalu Tidak akan pernahku lupa detik akhir terindah bersamamu, Aldo. Bersama dengan perasaan ini, nanti kita dapat berjumpa sebagai takdir yang saling bahagia. Ya, mungkin memang kamu bukanlah akhirnya tapi cepat atau lambat, waktu atau malah justru aku sendiri akan menjelaskan betapa berartinya kau untuk ku. Bahwasannya aku
yang ingin menjadi tumpahan kopi di meja kerjamu, menjadi jam sibukmu di kantor, menjadi matahari pukul 5 yang terbit malu-malu, menjadi senja yang kau siratkan jingganya. Menjadi apa yang bisa melukis lengkungan bahagia di bibir manis milikmu, itu. Pukul 6 pagi, “Argh! Embun pagi ini berhasil melunakan semangatku untuk tidak langsung menemuimu dengan segera.” gumamku dan membiarkan kantuk menyelimuti kepalaku lagi, mata seperti di lem dengan pulut hingga tidak sanggup untuk melek. Ketukan pintu khas di kamarku kala pagi menyapa, iya Mama membangunkanku setiap kali pembuka hari dimulai untuk segera sarapan dan lalu beraktivitas dengan sempurna. Tapi, ini beda, Mama mengetuk pintu kamarku untuk menyambut pangeran tampanku yang menunggu di ruang tamu 15 menit yang lalu. Kata Mama, aku terlalu lena di waktu surya hingga kedatangannya sedini ini pun tidak kunjung bersambut hadirku. Menarik tas dan sebungkus criptos kesukaanku lantas menemui Aldo segera, seyuman manis yang ku sukai itu. Kini ada disini, didepan mata dengan sambutan mesra. Berharap waktu tidak larut berputar, agar aku dapat menikmati keindahan ciptaan Tuhan dengan baik. Lamunanku terbang bebas di langit-langit, melukis senyum itu dan mengukir namamu di atas angkasa pura seolah tidak akan pernah paripurna. Kali ini akan menjadi judul novel remaja dari satu kelas menjadi satu atap atau bisa juga berawal teman kelas berujung teman hidup. “Ah, ini hanya sekedar angan.” batinku
“Lan,” seseorang memanggilku dengan khas, aku sudah merasakan orang di hadapanku berkali-kali memanggilku. Namun aku hanyut dalam halusinasi tentangnya, hingga aku lalai mencintainya secara rahasia adalah sebuah keputusan yang melenceng dari rasa itu sendiri. “Wulan!” panggil Aldo “Eh, iya.” Lamunanku buyar seketika saat namaku di panggil oleh Aldo “Sudah siap?” tanya Aldo “Pasti dong!” balasku mantap “Let’s go!” ajaknya “Nanti urusan lolos atau tidak biar aku tanggung, asal yang kali ini aku tidak akan membiarkan sedetikpun waktu ku habis tanpa hadirmu, Aldo.” batinku seiring perjalanan Pemandangan yang riuh, para peserta yang mendaftarkan diri berhimpitan untuk mendapatkan nomor antrian. Aku pikir tidak akan merayap seperti yang terlihat segamblang ini, dari sekian peserta yang akan diterima hanya 300 mahasiswa/i PKN-STAN. “Oh, my god. Mereka semua saingan gue, Do.” ucapku shock “Iyalah, lo pikir mereka antri sembako.” balas Aldo “Sebanyak ini!? sedangkan kuotanya hanya untuk 300 mahasiswa.” imbuhku yang masih kaget dan pesimis “Kalau gini mendingan nggak usah daftar, Do. Lihat mereka, udah sedewasa itu. Apa kabar gue? IQ biasa-biasa aja ngarep STAN.” timpalku dengan terus merutuki diriku sendiri
“Katanya mau buat bangga nyokap lo dan sekarang lo malah pesimis gini. Kemarin semangatnya kemana?” tanya Aldo “Tapi, Do.” sangkalku Suasana percakapan aku dan Aldo hening, setelah perjuangan Aldo bela-belain pagi-pagi jemput ke rumah buat nganterin aku kesini dan aku malah ngeluh, pesimis nggak jelas. “Aldo pasti kecewa sama gue, gimana, ya?” batinku “Do,” panggiku lirih “Iya, kenapa?” tanyanya “M-maaf, ya,” pintaku “Buat apaan?” tanyanya “Udah pesimis, harusnya gue nggak nyerah gitu aja. Lo udah nganterin gue ke sini, lo udah bantuin gue eh gue malah nggak ada semangat sama sekali.” ucapku “Iya, santai aja kali, Lan.” balasnya dengan fokus pada ponselnya “Terima kasih, Do.” balasku “Sama-sama.” balas Aldo dan menutup ponselnya “Lan, kalau lolos beliin gue camera cannon seri terbaru, ya,” imbuhnya dan menatapku “Siap! Tapi kalau nggak lolos gimana?” tanyaku pasrah “Pasti, lolos. Semangat!” balasnya memberikanku infus “Aamiin, Thanks, Do.” balasku Setelah antrian panjang yang melelahkan, akhirnya aku bisa mengumpulkan berkas-berkas dan mengisi formulir. Meskipun nyampe sore juga kelarnya dan Aldo sempet kambuh alerginya.
Untungnya, dia kuat demi aku. Sekitaran pukul 15.00 WIB, aku segera menyusul Aldo dan pulang. Aku takut terjadi apa-apa dengannya, karena meskipun dia nggak ngeluh tapi jelas banget dia pucat dan nampak nggak semangat gitu. Pas aku tadi masuk ngantir buat ngumpulin berkas, Aldo bilang pusing dan sampai tidur di masjid deket tempat pendaftaran. “Do, lo beneran nggak papa?” tanyaku “Atau biar gue yang di depan.” imbuhku “Emang bisa pake kopling?” godanya “Ya, dikit-dikit bisa sih.” balasku “Bilang aja nggak bisa, udah lo naik.” pintanya “Tapi lo serius bisa?” tanyaku lagi saking khawatirnya “Serius, Wulan. Gue nggak papa, aman kok.” balasnya meyakinkanku “Kita ke klinik, ya,” paksaku “Lo ini, berlebihan. Cuman alergi panas kek gini pake dibawa ke klinik, udah biasa gue kalau sering kepanasan suka kambuh. Lo tenang aja.” balasnya “Ya udah, bawa motornya hati-hati aja.” ucapku “Dih, modus lo, ya,” ledek Aldo “Tuh, kan, sakit juga masih ngeledek mulu.” ketusku “Bukan ngeledek, kalau pelan-pelan mah enak di elonya. Bisa pelukpeluk gue, atau lo seneng kali, ya, kalau alergi gue makin parah.” balasnya dengan tatapan nakal
“Hadeh, lo dalam keadaan sakit gini masih aja ngira gue modus. Gue tuh cuma khawatir sama kondisi lo, nggak ada maksut mau modusin elo.” balasku “Ya udah, naik. Mau pulang, kan?” tanyanya dengan senyuman jahil “Lo, pengen gue cubit ginjal lo. Hih!” geramku “Haha, maaf deh. Ngeng.” balasnya sambil ketawa dan langsung ngegas begitu aku ngeboncenginya “Aldo!” teriakku “Suka, ya, bikin anak orang jantungan.” omelku sambil memukuli helmnya Aldo hanya cekik-kikan “Malah ketawa.” tegurku “Aldo-Aldo, coba aja kalau sekarang kita adalah sepasang kekasih. Pasti aku akan selalu bahagia di ledekin kamu terus kek gini.” batinku sambil cengar-cengir sepanjang perjalanan dan membayangkan masa indah bersama Aldo “Kenapa lo girang gitu? Terpesona dengan ketampanan gue?” tanya Aldo yang sedari tadi memantauku lewat sepion “Dih, ge-er lo.” sangkalku “Lan, lo tahu nggak?” tanyanya “Ya nggaklah, dikasih tahu aja belom.” balasku “Ya udah, kalem. Gue kasih tahu, majuan dikit. Pegangan yang erat.” imbuhnya dan menyuruhku untuk lebih deketan duduk diboncengan Tanpa elakan aku mendekat dan memeluknya erat. “Apa?” tanyaku berbisik
“Bayangin kalau orang yang dimobil depan itu, keluar pake mantol.” ucap Aldo “Haha, lo aneh-aneh aja, Do.” balasku dengan tertawa “Nah, ini yang gue suka.” sahutnya dan memengang tanganku yang sedang memeluknya “Sentuhan lembut tanganmu, seakan membiarkan waktu melambat begitu saja. Sungguh, aku masih ingin berlama-lama dalam mencintaimu dengan baik, Do.” batinku “Gini terus, ya, Lan.” ucapnya “Benar, aku juga ingin seperti ini lebih lama dari waktu seharian suntuk menantimu, Do.” lagi aku terjebak dengan ucapan yang tersembunyi dalam diam, seolah Aldo kini adalah orang yang paling mengerti bahasaku diam-diam mencintainya dengan syahdu. Episode 12 Lembar Cerita Baru Terbangun sudah dari harap-harap cemas dan mimpi indah ku bermalam, sekarang sudah saatnya menyemai rindu, mengurai pilu. Setelah sekian luka mendewasakan, aku harap hati kian sabar menunggu pujaannya pulang. Satu tahun perjalanan ku menjadi seorang mahasiswa di kampus swasta, not bad lah. Menyapa orangorang baru, nambah sahabat dekat dan mengenal jatuh cinta pada orang lain. Aku memang sudah memutuskan hengkang dari bayangbayangan semu Kak Arman supaya hatiku tidak sesak melulu. Ternyata perkenalanku dengan Dirga membuahkan benih cinta yang
membara sembari menutup dalam-dalam cinta dalam diamku ini, aku menemukan cinta pada dirinya. Rasa ini mengalir begitu saja, kian bertambah deras saat perhatian-perhatian kecil yang Dirga berikan seakan sekecil apapun yang dia lakukan bernilai cinta terhadapku. Namun, cinta Dirga yang aku pikir akan selalu sejalan dengan pikiranku, kita sudah semakin melenceng dari peradaban aku rasa. Aku tidak bisa bertahan dengan ego masing-masing dan memaksakan untuk tetap sejalan, ini konyol perasaan bisa ku gadaikan dengan Dirga yang semakin tidak ku kenal sejauh ini. Aku ungkapkan semuanya pada Dirga tentang perasaanku yang mulai ganjil sekarang, bukan karena ada orang lain yang menyelinap ke dasar hati melainkan dia yang sudah tidak bisa diajak kompromi, aku mengadakan upacara hati untuk kirab laguku ini. semakin hari malah justur memuakkan ku saja, berhari-hari aku coba bertanya pada hatiku ini. Intinya masih pada topik ketidak nyamanku pada Dirga, aku luapkan sepersenpun yang terasa tentang dirinya. Bisu saja dia selama mejalin cinta bersamaku, apa seperti ini sesugguhnya cinta? Tidak mungkin, cinta itu saling. Jadi berakhir adalah yang terbaik untuk kita berdua. Rasanya lega bisa mengungkapkan segala kegundah-gulananku selama ini bersamamu. Ya, dulu harusnya aku meluapkan rasaku yang diam-diam ini pada Kak Arman biar plong. Namun, sudahlah. Aku sudah mundur dengan baik dari Kak Arman. Sekarang, aku baik-baik saja dan berdamai dengan hati juga cukup melegakan hatiku.
“Kling.” notif pesan dari Wulan, entah ada kabar apa yang dia utarakan sekarang. Sejauh ini, dia sudah melupakan Aldo atau belum aku juga tidak paham. Aku hanya mendengar beberapa kali dia mengabarkan Aldo tengah bersamanya. “Fin, lo sibuk nggak?” tanyanya dalam pesan Aku langsung menelfonnya, masih berharap bahwa Wulan akan menyampaikan kabar baik-baik saja. “Kenapa?” tanyaku melalui sambungan telefon “Ini soal, Aldo.” balasnya “Sudah gue duga, kenapa?” tanyaku “Gue kangen sama dia, tapi lo tahu, kan, kita udah lost kontak sejak gue ganti nomor.” Balas Wulan pasrah “Tapi lo masih nyimpen, kan, nomornya?” tanyaku “Iya, masih. Tapi canggung, Fin. Lo tahu selama ini gue udah berusaha menghindar dari dia, acara reuni yang melibatkan diapun gue udah nggak mau ikut campur. Tapi, perasaan ini susah buat mundur dan nyerah gitu aja, ya, nggak segampang itu. Kalau bertahan, ya, gini-gini aja.” jelas Wulan “Sekarang gini, lo mau perasaan lo di denger. Tapi lo malah berusaha menghindarinya, itu nggak lucu, Lan. Gue pernah mencintai seseorang dan dia bukan Kak Arman, gue jelasin semua isi hati dan perasaan gue selama ini. Dia ngerti, dan jalan satu-satunya berakhir, setelah gue ungkapin rasa yang ada termasuk keluh-kesah gue mengenalnya. Udah, rasanya puas aja, lega, plong. Dan sekarang kita berteman baik, nggak aja gejolak saat pertemuan.” balasku
“Jadi, lo juga harus jelasin seluruh isi hati lo ke Aldo. Lo ngerasa canggun kek gini terus kangen, kek semuanya serba was-was. Ya karena gue tahu perasaan lo gimana sekarang, gue juga awalnya kek gitu, Lan. Terus setelah jelasin semuanya ke dia, hati gue tuh jadi lega, plong. Makannya lo harus jelasin ke dia, perasaan lo selama ini gimana. Supaya lega aja, lo nggak mungkin dong bertahan dalam cinta diam-diam lo ini. Kapan Aldo ngeh, kalau lo malah justru menghindarinya kek gini.” imbuhku “Tapi, Fin. Nggak semudah itu, buat ngejelasin itu semua. Mungkin gue bisa tapi nggak sekarang, nggak mungkin, Fin. Jujur buat ngomong ini, gue masih ngerasa ada batasan yang berdiri kokoh diantara gue dan Aldo. Makannya buat ngehancurin batasan itu gue nggak bisa.” sangkal Wulan “Iya, I know your feeling, Lan. Iya, nggak sekarang juga. Tapi, coba deh lo renungin. Selama ini lo pikirin dia, apa itu nggak membuat lo ngerasa kalau kedepannya bakalan gimana-gimana?” ucapku “Gimana, maksut lo?” sahutnya “Ya intinya, gue dukung keputusan lo. Gue tahu keputusan lo adalah yang terbaik buat lo, gue akan seneng kalau rasa lo segera bertuan. Semangat, lo pasti akan ada ruang yang begitu tenang buat lo ungkapin isi hati lo ke Aldo di ruang itu dan hanya kalian berdua saja.” sangkalku memberikan support padanya “Iya, thanks, Fin.” singkat Wulan Menenangkan seorang sahabat dan memberikan support adalah hal yang melegakan juga. “Semoga lo dan Aldo akan segera ada
ujungnya, Lan.” batinku dan tersenyum ringan, lima tahun lalu Wulan selalu memberikan mantra cinta yang sempurna agar aku tidak menyerah untuk Kak Arman. Yah, kurang lebih kita sefrekuensi perihal cinta. Bedanya aku orang asing yang terangterangan mencintai Kak Arman, aku begitu payah memang. Tapi, Wulan sanggup mencintai Aldo yang dia kenal dengan baik. Wajar jika cintanya tumbuh, karena Aldo memang menempatkan Wulan pada yang istimewa. Perlakuannya terhadap sahabatku pun juga selalu berhasil membuat Wulan berhamburan entah kemana, harapan besar ada pada ujung jalan cinta keduanya. Kalau berjodoh, Aldo akan membahagiakan Wulan dengan sebahagia mungkin. Kalau tidak, Tuhan bakal kasih hadiah terindah yang tiada kiranya untuk Wulan. Sama sepertiku, berharap dan berjuang untuk hasil yang mengakjubkan. Meski kadang suka behenti dalam kurun waktu yang lama saking lelahnya, hehe. Episode 13 Menyatukan yang layak bersatu Sepanjang semester aku lalui, menginjak semester 5 yang begitu memilukan dan luar biasa mumetnya. Sampai nagis-nagis dengan deadline yang beruntun, perjuangan segera berakhir. Huft! Aku menghela napas dalam-dalam, menyiksa karbondioksida yang larut dengan beban mahasiswa pertengahan. Ceh! Seperti pujangga saja, yang merasakan terpaan dunia perkuliahan dengan syair rindu dan
sisanya puisi-puisi merdu yang enak di dengar. Tentu saja buka aku, aku hanyalah mahasiswa biasa dengan banyak mimpi. “Fin, apa kabar?” tanya Wulan setelah sekian purnama tak jumpa “Alhamdulillah, baik, Wulan. Lo apa kabar, sayang?” tanyaku sambil memeluknya “Seperti yang nampak, masih sedikit rapuh.” balasnya dan tertawa “Semangat.” balasku dan merangkul Wulan masuk ke sebuah coffee shop Berbincang panjang mengenai semester 5 ku dan semester 3 nya. Tidak lupa persoalan cinta turut serta, ikrar janji yang katanya akan segera di jawab namun sekedarnya saja. Baper dan bucin semata, memang dulu hanyalah persoalan waktu. Masa abu-abu memang suka bercanda, cintanya pun jua masih kanak-kanak. Kini cinta diam-diamlah yang menyadarkan, bahwa tidak semua cinta harus bersanding di pelaminan. “Nggak nyangka, ya, Lan. Cepet banget waktunya, rasanya baru kemaren kita masuk SMA.” ujarku “Iya, waktu begitu buru-buru.” gumamnya “Eh, Lan. Itu Aldo bukan sih?” tanyaku pada Wulan memastikan sambil menunjuk ke arah Aldo “Mana?” tanya Wulan masih meraba-raba “Itu.” tunjukku “Eh, iya. Aldo itu, Fin.” girang Wulan “Tapi, kita pulang aja yuk, Fin.” imbuhnya dan mengajakku agar segera beralih dari tempat itu
“Kenapa, Lan. Bahkan kita belum sempat memesan?” tanyaku yang masih bingung dengan Wulan “Udah deh, ayo!” paksa Wulan Tiba-tiba ada seseorang memanggil kita berdua, seketika aku dan Wulan menoleh ke sumber suara. Rupanya seorang cowok seusia kita tengah duduk di meja tempat kita berbincang barusan, ponsel Wulan tertinggal di sana. “Ada apa, Mas?” tanya Wulan mendekati cowok itu “Ponsel anda tertinggal disini.” cowok itu menyodorkan ponsel pada Wulan “Thanks.” Singkat Wulan Keduanya sama-sama saling tatap, Wulan prov “Mati, gue. Udah lari-larian menghindar malah ketemu, apa Tuhan punya rencana lain dari pertemuan ini?” batinku “Wulan!? “Aldo!?” “Lo apa kabar?” tanya Aldo “Baik, Alhamdulillah. Lo gimana?” tanyaku “Baik juga, lo sama siapa, sendirian?” tanya Aldo sambil celingukan “Nggak kok, gue sama Fina kesini.” balasku Tak lama Fina datang mendekati perbincangan aku dan Aldo yang begitu dingin ini. “Lan, udah?” tanya ku yang barusan dari toilet “Udah, ayo pulang.” ajak Wulan
“Ya udah, yuk.” balasku “Kok pada buru-buru amat sih, ayo gabung sama kita.” sahut Aldo mencegah aku dan Wulan pergi “Sorry, Do. Kita masih ada urusan, next time aja.” tolak Wulan “Iya, Do. Lagian ntar malah ngangguin yang lagi pacaran.” imbuh ku “Pacaran?” tanya balik Aldo “Dek, aku hampir tidak mengenalimu. Masha Allah cantik banget kamu sekarang, Dek.” sahut Wulan dan memeluk Tia “Lan, lo kenal sama dia?” tanyaku yang masih nggak ngerti kenapa Wulan seakrab ini dengan kekasih Aldo “Ini Tia, Fina. Adiknya Aldo, masa elo lupa sih.” balas Wulan “Payah lo, Fin.” sambung Aldo “Kak, sumpah kangen banget aku tuh. Setelah ini kita harus meet up, harus. Mana-mana nomornya, Kak.” ucap Tia yang langsung menyodorkan ponselnya “Pastilah, nih.” balas Wulan dan mendial nomornya di ponsel Tia “Ya udah kita duluan, ya,” imbuh Wulan dan pamit “Lan, nggak bisakah tinggal sejenak?” rengek Aldo “Kita buru-buru, Do. Sorry, ya,” balas Wulan “Ya udah, hati-hati lo berdua.” ucap Aldo Kita berlalu dari kakak beradik itu, sedikit menjauh dari kerumunan. Terhenti dimana masa lalu mengebu tak kunjung padam, Wulan terdiam dan merenung entahlah apa yang dia renungkan. Sembari menatap gerbang bagunan yang penuh canda dan tawa itu, tersenyum
ringan sesat setelah menyaksikan betapa bahagianya masa putih abuabu milik kita dulu. “Lan, boleh nanya nggak?” tanyaku lirih “Tentang gue yang terus menghindari Aldo, kan?” tanyanya balik “Bukan itu, soal Tia. Kok lo bisa kenal deket gitu?” tanyaku “Oh, kita udah kenal lama. Sejak dia masuk di SMA Bhakti terus jadi anak Mpk, bahkan kita sudah seperti adik dan kakak. Ya begitulah, karena persoalan rasa yang begitu ingin gue lenyapkan akhirnya gue dan Tia lama nggak ketemu. Eh barusan malah ketemu sama Aldo, huft.” jelas Wulan “Justru ini kesempatan dong buat lo, Lan. Lewat Tia lo bisa lebih deket lagi dengan Aldo.” ujarku “Nggak, Fin. Awalnya emang gue pikir dengan mengenal Tia lebih deket bisa bikin perasaan gue ke Aldo semakin deket pula, tapi semakin kesini gue udah terlanjur anggep dia kek adik gue sendiri. Mana mungkin sih gue tega manfaatin dia, Fin. Gue nggak bisa menemuinya terlalu lama, Fin. Gue nggak mau jadiin Tia pelampiasan, yang ada gue malah makin benci ke dia karena perasaanku ini. Ya mungkin Tia udah tahu perasaan gue ke Aldo dan dia berusaha keras untuk nyatuin gue dengan Kakaknya itu. Tapi, ya udahlah, Fin, gue udah muak memendam rasa dan nggak tahunya perasaanku malah justru mengantarkanku ke tempat ini, tempat yang semakin menguatkan ingatanku ke Aldo.” jelasnya sambil merintih Aku memeluknya erat, tak kan ku biarkan sahabatku tertatih untuk berjuta kalinya.
“Lan, maaf kalau gue udah lancang. Tapi, tolong jawab pertanyaan gue sekali ini saja. Sampai detik ini jujur ke gue, lo nggak bersungguh-sungguh melupakannya, kan?” tanyaku pada Wulan Dia hanya mengangguk dan sesenggukan “Mau sampai kapan lo terluka kek gini, gue cuma nggak mau lo terus-terusan nangisin dia. Mungkin dia nggak bikin kesalahan fatal apapun, tapi rasamu sudah mulai salah. Bahwasanya hakikat cinta adalah mencintai dan dicintai, bukan sendiri-sendiri, bukan pula berjuang sendiri, Lan.” ujarku “Gue tahu ini pilihan lo, konsekuensi lo yang sudi lo tanggung. Tapi, gue sahabat lo, gue nggak terima lo terus-terusan terluka dalam diam kek gini. Didepannya lo baik-baik saja, tapi hati lo meronta untuk didengarkan. Kadang pula ketika lo terluka, maunya gue jadi pendengar lo yang budiman. Tapi untuk saat ini gue nggak mau, Lan. Gue hanya akan terus meminta lo mundur dari penantian lo kalau sejauh ini sekatapun tidak terus-terang pada Aldo. Berhenti membisu, di hadapannya. Stop menjadi bodoh dalam mencintainya, Lan.” imbuhku “Wulan, Fina, hey kalian di sini juga.” sapa Dimas menghampiri kita yang terduduk di lobby “Dimas, iya kebetulan gue sama Wulan mampir.” balasku “Lo apa kabar?” tanya Dimas “Baik, Alhamdulillah, Dim. Lo gimana?” tanyaku “Alhamdulillah, seperti yang lo lihat, Fin.” sahut Dimas dengan senyuman
“Fin, gue duluan, ya, Kak Kennan tiba-tiba nyuruh gue pulang. Katanya suruh nemenin ke kampusnya.” sahut Wulan tanpa ucap selebihnya dan meninggalkan aku di lobby dengan Dimas “T-tapi, Lan.” elakku yang berusaha menahannya, namun tetap tidak di gubrisnya “Wulan kenapa, Fin?” tanya Dimas dengan kebingungan “Oh, nggak. Masalah cewek biasa, lah, Dim.” sangkalku pada Dimas “Apa ini menyangkut Aldo?” tanya Dimas menatapku “Bukan kok, Dim.” sangkalku lagi “Fin, lo nggak usah menyangkal. Gue tahu yang sebenarnya terjadi, lo tahu, kan, perasaan gue ke Wulan persisnya kek apa? Gue tahu persis juga mengenai perasaan Wulan ke Aldo, selama ini gue udah diem tanpa gubris. Tapi, apa yang Aldo lakukan ke Wulan? Nyakitin terus, Fin. Gue udah mundur buat nyatain cinta ke Wulan dengan harapan Aldo bisa ngebahagiain dia. Tapi apa, di hanya semakin melukain Wulan.” jelas Dimas “Dim, tunggu-tunggu. Jadi, Aldo udah tahu kalau Wulan ada perasaan sama dia?” tanyaku “Dia tahu dari Rika, soalnya dulu, kan, Rika cinta mati banget sama Aldo. Tapi, Aldo malah suka sama Wulan. Gue pikir mereka sudah jadian sejauh ini, eh malah sakit mulu yang Wulan rasain. Soal sahabatnya yang satu organisasi pas SMA, kan, juga tergila-gila banget sama Aldo. Mungkin juga Aldo punya alasan tersendiri buat nggak nyatain cinta ke Wulan.” ujar Dimas lagi “Berarti fix, mereka harus kita temuin, Dim.” balasku
“Lo yakin?” tanya Dimas yang nampak mencemaskan keadaan Wulan nantinya “Sekarang, lo coba sabotase wa nya Aldo. Nah, intinya Aldo ngajak Wulan ketemuan. Nanti, urusan Wulan sama gue. Gimana?” balasku “Ya udah, yang penting Wulan bahagia dan sohib gue, Aldo juga bahagia.” ujar Dimas pasrah “Ini nih, baru definisi mencintai.” balasku “Terus kita temuinya kapan?” tanya Dimas antusias “Gini aja, kan, mereka nggak saling save kontak. Kita sabotase dulu biar mereka save-savean. Nanti, sekiranya waktu udah mendukung kita baru susun rencana nemuin mereka.” usulku “Ok, ntar lo kirim aja nomor barunya Wulan. Gue juga nggak punya soalnya, biar ntar malem gue eksekusi si Aldo. Atau malah gue urus sama Tia, gampanglah.” ucap Dimas setuju Satu langkah terlaksana, Wulan mulai mengabariku kalau Aldo mengirim beberapa gombalan hingga tengah malam padanya. Kabar baik menuai seketika, mendengar mereka sudah dekat lagi rasanya sebagai seorang sahabatnya Wulan. Aku ikut bahagia bukan kepalang. Jalan 1 bulan, aku dan Dimas menjalankan aksi untuk menyatukan dua insan yang saling merindukan. Malam minggu tiba, aku menemani Wulan ke alun-alun jantung kota untuk menemui Aldo. Nampak kecemasan dan keringat dingin berkerumun di benak Wulan, aku mencoba menepis segala gudahnya dan mulai memberikan wawasan. Agar nanti Wulan sanggup mengungkapkan isi hatinya pada Aldo tanpa gejolak jiwa, karena
yang aku pikirkan adalah kemungkinan terburuknya Aldo mengabaikan pertemuan yang sudah ku rancang sedemikian sepesial bersama Dimas. Aku pantau terus gerak-gerik Aldo dan Wulan, memastikan apakah alur ceritanya merujuk pada cinta keduanya. Aku dan Dimas benar-benar seperti tikus got untuk memperjuangkan kebahagiaan sahabat kita. Setelah drama yang cukup lama, Aldo membuka bicara dengan serius. “Wulan, gue pengen bicara serius sama lo.” ucap Aldo sedikit bergetar “Do, sebenarnya ada yang pengen gue sampaikan pada malam hari ini.” balas Wulan “Ya udah, ladies first.” balas Aldo “Do, maaf jika gue lancang. Sedari awal gue ketemu sama lo, gue merasakan sebuah rasa yang janggal dan rasa itu adalah cinta. Iya, gue cinta sama lo selama ini. Udah lama gue simpen cinta diam-diam ini, malem ini gue beranikan diri buat jelasin semuanya. Lo boleh buat abaikan perasaan gue dan lo mungkin risi dengan ucapan ini. Gue jatuh pada hatimu sejak pertama kali, dari perhatian kecil itu, dari cara lo memperlakukan gue dan dari apa adanya lo. Intinya, gue sayang sama lo tanpa tapi, yang barusan hanya sebuah pemanis supaya kisah kita semakin nyaman dan terkenang syahdu, Do. Terlepas dari itu, gue salah menempatkan hati. Terima kasih untuk semua yang terjadi diantara kita, Do. Untuk tak pergi dari sisiku ketika itu, maaf jika cintaku mengusik damaimu.” jelas Wulan
Aldo hanya memeluk erat Wulan tanpa berucap begitu lama. Aku semakin yakin bahwa mereka akan jadian malam ini juga. “Terima kasih sudah cinta sama aku, Lan. Aku juga sayang dan cinta sama kamu, tapi satu hal. Aku tidak akan membuatmu terluka lebih dari sebelumnya, aku tak ingin pacaran karena kamu tidak layak untuk menjadi pacarku. Jadi, tunggu saja dirumahmu kalau kita memang berjodoh. Aku akan datang untuk melamarmu.” bisik Aldo “Lo yakin nggak risi dengan perasaanku ini?” tanya Wulan yang entah kelewat polos atau gimana “Mana mungkin, aku risi sama cewek cantik yang sangat aku cintai ini.” balas Aldo “Jangan hanya memuji seperti ini.” balas Wulan “Bukan memuji memang benar kamu begitu cantik, Lan.” imbuh Aldo dan menatap Wulan lekat-lekat “Thanks, Lan.” imbuhnya lagi “Untuk apa?” tanya Wulan “Untuk semuanya, maaf jika dalam mencintaiku kamu terluka parah.” balas Aldo Ku anggap yang terpampang nyata malam ini sesuatu hari dimana shabatku bahagia tiada kira. Selugas itu dia menyuratkan rasa, aku bangga. Wulan, aku banyak belajar darimu. Bahkan aku yang mencintai Kak Arman malah justru tidak sanggup menyuratkan padanya. Tapi, satu hal baik yang singgah di sepasang mata kelabunya sudah sirna, aku akan terus memintakanmu pada Tuhan
agar berjodoh dengan Aldo dan hidup bahagia. Seperti dongeng roman picisan, bedanya kamu mencintai diam-diam. Episode 14 Menjadi Sarjana dan rasaku masih sama, untukmu? Sebuah berkah yang pasti di tahun 2020, aku resmi menjadi seorang sarjana. Alhamdulillah, ucap yang melegakan selain menyatakan cinta, ya, skripsiku di acc dosen. Perlahan, pikiran menenangkan diri dengan sendirinya menempatkan perasaan yang damai dan menyegarkan. Perjalanan panjang di waktu yang singkat memang, intinya di penghujung tahun aku mendapatkan kebahagiaan dari rampungnya studi sarjana ku. “Terima kasih pada jiwa yang sepi, sudah berjuang sejauh ini. Mama dan Papa, Kakakku dan orang-orang yang berbaris dalam setiap juangku.” gumamku saat tali toga yang aku kenakan berhasil putar kekiri. “Brak!” ponselku terlempar jauh dari genggamanku Seseorang menabrakku dengan buku-bukanya yang berserak di lantai, sebuah mall di pusat kotaku. Sore hari dengan semburat senja yang penuh jingga, konflik batin sedang dimulai. Seseorang yang menabrak hingga ponselku terlempar jauh dari genggamanku adalah Kak Arman. Cinta diam-diam bergejolak kembali, mungkin itu judul novel yang pas untuk mendeskripsikan perasaan nan hilir mudik senada dengan alunan lagu rindu yang mengalun merdu. “Maaf, ya, Mbak.” ucap Kak Arman merasa bersalah “Maaf, Ma. Aku yang salah tadi.” balasku dan memungut ponsel ku
“Yah, retak gini.” keluhku “Kamu, temennya Wulan, ya,” tebak Kak Arman “Iya, Kak.” Balasku “Wolah, dek. Maaf, ya,” balas Kak Arman merasa bersalah “Nggak papa, Kak.” balasku “Coba lihat ponselmu,” pintanya “Ini parah rusaknya, biar aku yang tanggung jawab, Dek. Aku bawa dulu sementara, nanti kalau udah selesai dibenerin, aku balikin.” imbuh Kak Arman “Nggak udah, Kak. Lagi pula aku juga jalan nggak meleng tadi, Kak.” tolakku “Nggak, ini salah ku, Dek. Jadi, kamu pake ponselku dulu, ini kartumu. Nanti aku hubungin lagi kalau udah beres.” kekehnya sambil menyodorkan ponsel miliknya dan menukarkan sim card milikku di ponselnya “Ya udah, aku buru-buru, Dek. Gini aja, jaminannya kamu bawa dompetku.” imbunya sambil menyodorkan dompetnya “Ya ampun, Kak. Nggak perlu, Kak, aku udah percaya sama Kakak lagi.” balasku “Nanti kalau aku kabur gimana, hayo” ledek Kak Arman “Untung di aku dong, Kak. Dapet tukar iphone, punyaku, kan, cuma hp kentang. Hehe,” balasku “Ya udah, Dek. Maaf banget nih aku buru-buru, jadi besok pas balikin hpmu kita bincang sambil nongkrong aja. Kalau sekarang sok sibuk aku, Dek.” balas Kak Arman yang nampak gelisah
“Iya, Kak nggak papa santai aja kali.” ucapku “Duluan, ya, dek.” pamit Kak Arman “Hati-hati, Kak.” balasku Sebuah degub mesra yang menguatkan seisi rindu kembali mencekik dengan hangatnya tanpa permisi, iya, aku jatuh cinta lagi. Pada senja yang mengantarkan perumpamaan ini menjadi petang, tolong beri aku kekuatan untuk terus berjuang. Mengalahkan cinta yang timbul berjuta kalinya, menelan harap-harap cemas dan lalu menempatkan rasa itu pada nastapa yang pernah perih sebelumnya. “Dek, ponselnya sudah jadi. Ketemu sekarang bisa?” “Maaf, Kak. Hari ini aku sedang pergi, nanti malam gimana, Kak?” “Ok, Dek. Kabarin aja tempatnya dimana, ya,” Minggu malam yang syahdu, aku mengajak Kak Arman untuk bertemui di jantung kota saja. Alun-alun, bersama Wulan yang menunggu di dalam mobil. Aku menetralkan kadar keasaman lambung akibat salah harapan, membiasakan diri dengan sebiasa mungkin saat menatap Kak Arman. “Dek, sudah menunggu lama, ya?” “Nggak kok, Kak. Baru aja,” “Ya udah, ini ponselnya.” “Jadi berapa, Kak?” “Apanya?” “Ponsel yang Kakak tebus habis berapa?” “Nggak udah, Dek.” “Terima kasih, Kak.”
“Ok, sama-sama. Oh, iya sebagai permintaan maaf aku ke kamu, malam ini aku ajak kamu makan malam, ya, tempatnya udah aku pilihin sepesial buat kamu, Dek. Tapi, bukan disini.” “Apa tidak mengusik kedamaian kekasih, Kak Arman nantinya?” “Kekasih dari mana, udah deh. Ini bentuk permintaan maaf, aku ke kamu. Jangan menolak.” “Baik, Kak.” “Ya udah, kamu tadi kesini naik apa atau sama siapa?” “Barusan dianterin sama Wulan, Kak.” “Sekarang, Wulannya mana?” “Sudah pulang, katanya ada urusan sama Kakaknya. Dia minta aku buat naik taksi online pulangnya, Kak.” “Ya udah, biar nanti kamu pulang sama aku aja. Jadi, let’s go!” Kak Arman mengemudikan stirnya entah kemana, pastinya ke suatu tempat yang jauh dari jantung kota. Entah, dia akan membawaku ke arah mana saja yang jelas ada sebuah bahagia tiada kira malam ini untukku. Hasrat untuk memeluknya erat, seketika muncul dan aku sudah mulai berlebihan terhadap jumpa pertama tanpa di sengaja setelah satu abad masehi lalu. Debaran gelombang naik turun nggak jelas adanya, mestinya mobil yang ber ac milik Kak Arman akan menyejukkan nggak tahu kenapa keringat dingin bercucuran di jidatku. Gejolak jiwa yang ragu-ragu itu, kini kian memburu, pola pikir begitu ngawur dan mau di bawa kemana rasa yang berangsurangsur meronta ini. Minggu malam yang pertama dan yang tidak akan pernah terlupakan sejumputpun meski dalam kering gersang,
aku tidak akan pernah membiarkan minggu malam perdanaku bersama Kak Arman ini tertumpuk debu berbuku-buku, tak kan ku biarkan siapapun menyentuh bahagiaku malam ini. Sekalipun dia adalah Wulan, sahabatku. Karena kata Wulan, rasa boleh di bagi tapi setiap pertemuan yang terjalin adalah milik kita pribadi. Dan, Kak Arman bersamaku malam ini, malam ini adalah milikku sendiri. “Have fun, Beb.” pesan dari Wulan “Sipooo, btw lo udah nyampe rumah, Lan? Cepet banget, ngebut pasti. Hmm!” balasku “Lo kek nggak tahu gue gimana bawa mobil, haha.” balasnya “Terus nyokap gue gimana, lo udah telfon, kan?” tanyaku memastikan orang rumah tidak cemas “Aman, udah deh. Malam ini adalah milikmu, jadi berhenti mengusik malmingku yang penuh halu ini!.” balas Wulan Aku tersenyum membaca pesan dari Wulan, sedikit cekikan sampai membuat Kak Arman menanyaiku. “Chat, sama siapa sih, Dek. Sampai cekikan kek gitu?” tanya Kak Arman sambil fokus mengendalikan kemudinya “Oh, ini, Kak. Aku chat sama Wulan, maaf membuat Kakak terganggu.” balasku “Emang bahas apa sih? kok keliatan seru banget.” tanya Kak Arman sedikit tersenyum “Wulan mah, ada aja bahasan serunya, Kak.” balasku sambil tersenyum
“Ya udah, lanjutin aja. Nggak ganggu sama sekali kok, santai aja kali, Dek sama aku.” balas Kak Arman “Udah kok ini. Oh, iya, sekarang Kakak sibuk apa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan “Masih nganggur ini, Dek. Rencana mau transfer S1, tapi nggak tahu besok gimana.” balas Kak Arman santai “Kemaren bukannya kerja di tempat Kakaknya Wulan, ya, Kak?” tanyaku “Oh, Kak Tama. Iya, udah habis kontrak, Dek. Disana admin kontrak kerjanya 6 bulan doang. Ya udah, nganggur gini, Dek.” jelas Kak Arman “Kalau kamu, udah lulus, ya, sekarang?” imbuhnya menanyaiku “Iya, Kak. Alhamdulillah, baru bulan lalu lulusnya.” sahutku “Kuliah dimana sih, dek?” tanya Kak Arman “Di Universitas Pembangunan, Kak. Cuma di PTS, Kak.” balasku pasrah “Jangan cuma, semua kampus itu sama yang beda adalah isi kepala dari masing-masing mahasiswanya, Dek.” ujar Kak Arman “Iya, Kak.” singkatku “Ambil jurusan apa di sana?” tanya Kak Arman “FKIP, PGSD, Kak.” balasku “Jadi malam ini aku ngobrol sama Ibu guru, ya,” goda Kak Arman “Kak Arman bisa aja,” balasku dan tersenyum “Nah, gitu dong senyum. Nggak usah canggung gitu, Dek. Kalau perlu panggil Arman aja nggak papa.” balas Kak Arman
“Ya nggak sopan itu, Kak.” balasku “Siapa bilang?” tanyanya “Nggak ada sih, hehe.” balasku sambil nyengir “Dah sampai, ya turun.” ajak Kak Arman dan segera turun untuk membukakan pintu mobil untukku “Terima kasih, Kak.” singkatku “Ayo,” Kak Arman menggandeng tanganku dengan kelembutan yang berhasil membuatku klepek-klepek “Beuh! Mimpi apa gue semalem, bisa menjadi yang paling di istimewakan sama Kak Arman.” batinku beriringan dengan senyuman yang melegakan di dasar hati Episode 15 Bersamamu lebih dekat Mimip manis yang nyata, menatap Kak Arman adalah perihal yang samar bagiku. Namun, kini menatapnya lekat-lekat dengan jarak tidak lebih dari setengah meter. Memandanginya hangat dan sejuk, Masha Allah. Kearifan lokal dariNya yang begitu sia-sia untuk disamarkan, pesonanya sungguh memintaku untuk selalu fokus padanya, senyuman di bibirnya teramat manis sekali, kedua bola mata itu sesekali menangkap sinar netraku yang begitu candu padanya dan ini nyata. Ya Tuhan, sebuah rembulan jatuh dan aku membiarkannya menyekapku dengan redupnya. Sayup-sayup, wajahnya begitu berseri. Aroma kopi yang melekat di badanya dan sedikit sentuhan pomade mempertegas pesona miliknya. Aku suka pada aroma kopi yang begitu nikmat di hirup, kamu seperti seorang